Hari-Hari Ziarah Haji (28)

Tawaf dan Ujiannya

Pada saat musim haji, orang yang tawaf sangat banyak. Mataf (tempat tawaf) dipenuhi jutaan manusia. Kelompok kami dalam satu bimbingan KBIH juga terdiri dari kurang lebih 200 orang. Mungkin ada jutaan yang tawaf di mataf pada satu waktu.

Kadang-kadang kami bertemu dengan orang lain, baik dia berkelompok ataupun sendirian. Macam-macam perilaku manusia saat tawaf. Yang penting, seseorang harus sabar dan mengikuti (menghormati) kode etika yang berlaku. Ini penting untuk menjaga kehormatan muslimin, yaitu kehormatan diri maupun kehormatan orang lain. Orang ysng bertawaf harus menghormati orang lain. Namun perilaku ini juga harus diterapkan di luar waktu haji.

Perilaku sabar seperti ini bukan hanya dilakukan saat haji. Perilaku sabar bukan hanya dilakukan karena menghadapi orang-orang yang besarnya seperti raksasa.

Ujian sabar seperti ini ada di berbagai tempat dan di berbagai waktu. Ujian seperti ini ada bukan hanya pada saat haji. Seseorang harus melatih mentalnya di berbagai tempat.

Tawaf sebagaimana di tempat lain adalah ujian setidaknya bagi sebagian orang. Sabar dan salat pun acap kali merupakan ujian bagi sebagian orang. Kita sering diuji di berbagai tempat. Kuncinya adalah diri kita sendiri. Grandmaster Josh Waitzkin berkata, “… (this is the matter of) how I respond to that moment.” Should I respond emotionally? Or shoud I respond that moment patiently?

Acap kali respon manusia pada momen-momen itu adalah respon mental sebelum respon tindakan. Akal dan emosi manusia bergelut untuk menghadapi momen atau situasi itu. Seseorang harus tafakur dahulu sebelum bertindak. Setelah bertindak pun seseorang bisa merenungkan perbuatan yang telah dilakukannya.

Dengan begitu, seseorang tidak menyesal dengan tindakannya. Setelah melakukan tindakan pun seseorang bisa bertsubat bila ia merasa bahwa tindakannya salah.

Leave a Reply