Hari-Hari Ziarah Haji (29)

Bertemu dengan Orang India, Pakistan, Bangladesh

Salah satu hal yang mengejutkan adalah banyaknya jemaah dari India, Pakistan, dan Bangladesh (IPB). Merskipun di atas meja jumlah jemaah Indonesia psling tinggi, ternyata jemaah dari IPB ini juga sangat banyak. Seseorang yang berhaji akan sering menemui mereka.

Menurut berita dari Youtube, banyak orang India bisa berbahasa Inggris. Namun di Mekah, tidak semua jemaah dari India mampu berbahasa Inggris. Apakah muslim yang berhaji memang kurang berpendidikan atau hanya kebetulan, entahlah.

Kami (saya dan seorang teman dari Rancakalong) sempat bertemu dengan seorang pemuda India. Badanya besar, sterk, menurut temanku wajahnya juga tak kalah ganteng dengan bintang Bollywood, cambang dan janggutnya tidak tebal. Ia tengah berzikir di tempat teduh di depan kabah, yaitu mataf lantai satu. Kawan saya menyapanya. Mereka berbicara satu sama lain, mungkin menanyakan asal negara mereka. Saya akhirnya terlibat pembicaraan karena saya dianggap fasih berbahasa Inggris. Namun ternyata orang India ini juga kurang kemampuan bahasa Inggrisnya.

Kami senang karena dapat saling bertemu dengan jemaah dari negeri lain yang sama mengagungkan Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Orang India ini mengarahkan sesuatu tentang akidah dan fikih. Kami mencoba memahami uraiannya. Pada saat mau berpisah, ia minta nomor selular dan alamat maktab kami. Teman saya memberikan informasinya. Kami juga bertukar nomor telepon. Namun, pemuda India ini menggunakan media sosial IMO dan tidak menggunakan Whatsapp. Jadi cukup sulit untuk berkomunikasi.

Pada saat sai juga saya bertemu dengan jemaah India. Ia menegur saya agar memberi tahu teman yang bahu kanannya masih terbuka. Untuk sai, bahu kanan tak dibuka sedangkan untuk tawaf, bahu kanan harus terbuka. Mungkin teman lupa tidak menutup bahu kanannya ketika sai.

Saya juga bertemu dengan orang India yang merupakan seorang pustakawan. Kami bertemu di lantai empat Masjid Haram. Saya menduga dia juga aktif di kegiatan ilmiah. Mungkin juga ia menerbitkan jurnal semacam Scopus. Namun, teman saya di Indonesia mengatakan bahwa sejumlah reviewer sejawat guru besar mengemukakan kekurangan mutu publikasi jurnal ilmiah dari India, Pakistan, atau Bangadesh. Mungkin kekurangan itu bersumber dari tim kementerian.

Saya juga sering bertemu orang India, Pakistan, Bangladesh ketika sedang tawaf, ketika sedang di jalan, bahkan di Madinah saya sering bertemu mereka di maktab karena satu maktab dengan mereka. Tentu saja tidak setiap kesempatan bisa berkomunikasi dengan mereka. Saya biasa tabik dan mengucapkan salam. Saya juga tidak terlalu dekat dengan mereka.

Sebagian janggut orang India diberi warna oranye. Entah untuk apa. Namun saya mendapat kesan bahwa warna itu untuk menutupi putih (uban) pada janggut mereka. Buktinya jarang pemuda yang janggutnya diwarna oranye. Tentu pemuda belum punya uban.

Bendera India mirip dengan bendera Iran. Bila kalung bendera itu dipakai, kita harus memperhatikan dengan cermat, apakah warna bendera itu oranye atau merah. Warna oranye adalah bendera India sedangkan warna merah adalah bendera Iran. Namun sikap dan penampilan orang India berbeda dengan sikap orang Iran. Sering saya bisa dengan mudah membedakan India atau Irandari sikap dan penampilan mereka. Melihat penampilan adalah untuk mengkonfirmasi informasi ketika bendera di kalung mereka kurang jelas terlihat.

Leave a Reply