Hari-Hari Ziarah Haji (30)

Ada Jemaah dari Cina. Adakah Jemaah dari Jepang?

Saya sering melihat jemaah dari Cina. Beberapa kali saya menduga bahwa jemaah ini dari Jepang. Namun ketika ditanya, ternyata jemaah itu dari Cina.

Saya bertemu dengan jemaah Cina saat salat di depan kabah. Tentu saja salatnya di belakang mataf karena mutowif (orang yang tawaf) tidak ada habisnya. Selalu ada yang tawaf selama 24 jam. Orang berhenti tawaf saat salat fardu dilaksanakan.

Orang Cina ini berkali-kali salat. Selesai salat satu, setelah salam, segera ia bangkit dan salat lagi. Saya seperti tertahan untuk menyapanya. Umurnya sekitat 50 tahunan. Tubuhnya kurus dan tidak gemuk. Saya bisa menebaknya berasal dari Cina dan bukan Jepang. Saya yakin hal ini sejak awal mengamatinya. Ia berjenggot tipis.

Ketika adzan dikumandangkan, baru ia berhenti salat dan menunggu salat fardu. Saat itulah saya menyapanya. Saya bertanya benarkah ia dari Cina? Ia mengisyaratkan iya. Saya tanya lagi bisakah berbahasa Inggris, ia juga mengisyaratkan tidak. Ia berkomunikasi dengan isyarat seolah ia tidak suka berkomunikasi. Mungkin ia sedang berkomunikasi dengan Tuhan sehingga ia tak memperharikan komunikasi dengan manusia. Mungkin juga ia enggan betkomunikasi untuk menjaga emosi. Maklum saja, salat di depan kabah ini bisa “rebutan”. Barisan sudah padat juga mungkin ada orang yang minta geser untuk minta duduk. Barisan sudah padat juga kadang-kadang ada yang duduk di belakang kita atau di sekitar tempat sujud kita. Mungkin juga tindakan itu dilakukan dengan terpaksa karena lelah bertawaf dan mencari tempat istirahat. Mungkin juga sebagian orang memang mencari tempat salat dan meminta orang melapangkan majlis (tempat duduk) baginya. Ada yang dilakukan dengan terpaksa, namun itu juga acap mengganggu karena saf (barisan) jadi sesak.

Mungkin karena itu, orang Cina ini enggan berkomunikasi dengan saya. Padahal, saya tidak merebut tempat orang lain. Tempat duduk saya pun cukup lapang untuk duduk berdua dengannya.

Saya merasa bahwa perilaku Jepang banyak yang Islami meski mereka bukan Islam. Seandainya mereka bersyahadat, mungkin mereka akan menjadi salah satu kelompok muslim yang paling disiplin dan berbudaya. Warga kita masalah membuang sampah saja masih memalukan, apalagi masalah korupsi dengan semboyan maju terus pantang mundur bagi papa.

Saya menganggap bangsa Jepang sebagai saudara. Terutama karena mereka mempunyai perilaku yang baik. Selama mereka mempunyai perilaku yang baik dan mendukung kebenaran, maka mereka ada di pihak saya (atau saya ada di pihak mereka?). Pokoknya kebenaran akan bersatu dengan kebenaran lagi.

Saya menduga bahwa bangsa Indonesia dan Jepang dapat saling nengisi dan saling melengkapi. Bangsa-bangsa bisa saling menolong dalam kebaikan. Lalu bangsa-bangsa juga bisa bersama-sama melawan kejahatan. Saya melihat potensi Jeoang ke arah itu.

Sayangnya dalam peran perdamaian dunia, pemerintahan Jepang dianggap plin-plan. Pemerintahan Jepang bahkan mendukung sebagian kebijakan Israel dan AS termasuk kebijakan perangnya. Yang saya sampaikan adalah peran pemerintah Jepang.

Dulu Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno yang melawan penjajahan dan meletakkan dasar-dasar negara. Namun ketika kepempimpinan beralih, negara kita juga agak grogi membela Palestina. Pada era Jokowi terlihat pembelaan kepada Palestina kembali menguat. Namun pembelaan tidak semata berteriak. Pembelaan bisa saja dilakukan diam-diam sambil menjaga diri tetap waspada.

Di Arafah saya juga menemui jemaah Cina. Mereka ada di jalan besar yang ada pohon besar dekat tenda Indonesia. Di situ juga saya menemui jemaah haji dari tuan rumah Arab sendiri. Mulanya saya memduga bahwa jemaah ini adalah jemaah Jepang karena saya melihat ketenangam dan kerapian mereka. Ketika saya tanya, apakah mereka dari Cina, ternyata mereka mengkonfirmasi, mereka menjawab ya dari Cina. Jemaah Cina itu terdiri atas sejunlah pemuda yang cepak rambutnya dan cenderung tak berjenggot. Mereka sedang salat, zikir, dan tafakur di Arafah.

Ternyata cukup banyak jemaah haji dari Cina. Saya juga menemui jemaah ibu-ibu Cina yang saya tak berani menegurnya. Lelaki keluarganya ada di sekitarnya. Mereka saya temui di halaman Masjid Haram.

Jika bangsa-bangsa ini bertemu, mungkin bangsa-bangsa ini bisa saling bertukar informasi tentang perdamaian dunia, mengkonfirmasi berita, dan saling menahan diri bila ada informasi yang kurang berkenan.

Leave a Reply