Hari-Hari Ziarah Haji (33)

Izinkan Aku untuk Berbeda Mazhab

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik.

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik. Seeorang yang mengakui kewajiban salat namun tidak melaksanakannya tidaklah membuat dia keluar dari Islam. Seorang muslim yang berzina, minum khamr (tanpa mabuk), atau membunuh tidak serta merta keluar dari Islam. Ada fatwa yang mendasari hukum tentang kondisi seseorang keluar dari Islam.

Dalam berhaji juga mazhab berbeda-beda. Sungguhpun demikian ada peristiwa yang saya alami ihwal seorang jemaah haji yang tak dikenal menegur saya. Dia katakan cara berpakaian ihram teman Anda salah. Kondisi haji, orang yang tidak dikenal memperbaiki syariat orang lain. Di satu sisi, ada yang menganggapnya sebagai kasih sayang, persahabatan, persaudaraan; namun di sisi lain, potensi konflik mazhab bisa terjadi.

Mazhab (sekte, aliran, golongan, kelompok) sudah tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya. Mazhab satu berbeda dengan yang lain. Contoh perbedaan mazhab adalah sebagai berikut. Ada yang niatnya siri, ada yang zahar. Ada yang basmalah siri, ada yang zahar. Ada yang sedekap, ada yang tidak. Ada yang qunut, ada yang tidak. Ada yang tarawih 11 rakaat, ada yang 23 rakaat. Ada yang telunjuknya diam, ada yang bergerak-gerak. Ada yang ziarah kubur, ada yang tidak. Ada yang tahlil, ada yang tidak. Ada yang muludan, ada yang tidak. Ada yang tawasulan, ada yang tidak.

Selain fikih (furu, cabang), perbedaan mazhab juga disertai perbedaan pandangan akidah. Banyak ulama ahli kalam berbeda pendapat tentang masalah akidah. Setidaknya menurut sebagian ulama, akidah meliputi ketuhanan dan kenabian. Karena itu seorang menjadi muslim hanya karena dia telah bersyahadat yaitu dia mengakui Tuhan tunggal dan beriman kepada Muhammad (meyakini utusannya).

Contoh perbedaan akidah tentang ketuhanan di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini Tuhan itu berwajah, bertangan, turun dari arasy seperti turun meniti tangga, sifat Tuhan hanya 25, dan sebagainya. Sebagian muslim lain meyakini bahwa istilah wajah, tangan, arasy adalah simbol atau kias pada sesuatu.

Contoh perbedaan akidah tentang kenabian di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini nabi melakukan kesalahan meski maksum, Nabi bermuka masam ketika menghadapi orang buta, Nabi lupa dalam salatnya, nabi minta nasihat sahabat terkait teks azan, nabi salah dalam penyerbukan kurma, Nabi tersihir, Nabi tertarik kepada istri anak angkatnya, Nabi tak tahu hukum lalu menunggu wahyu. Mazhab yang diyakini mayoritas (?) muslim meyakini bahwa nabi maksum dan tak melakukan kekeliruan, pembesar Quraisy bermuka masam ketika orang buta datang, Nabi tak pernah lupa dalam salatnya, Nabi mendapat wahyu terkait teks azan, Nabi paham dalam penyerbukan kurma, Nabi tak pernah tersihir, Nabi tidak tertarik kepada istri anak angkatnya sampai mereka bercerai, Nabi tahu hukum ketika ditanya hukum oleh sahabat, semua ucapan Nabi adalah wahyu, semua perbuatan Nabi adalah wahyu. Wama yantiku anil hawa, in huwa illa wahyu yuha.

Masalah akidah lain di antaranya keyakinan pada rukun Iman dan rukun Islam. Rukun iman dan rukun Islam memang bersumber dari sabda Rasulullah. Namun penyebutan Rukun iman dan rukun Islam sebagai bagian dari akidah adalah rumusan ulama Asyariyah. Ulama Syiah pun merumuskan usuludinnya yang berbeda dengan Asyariyah, Murjiah, dan sebagainya. Jadi rukun Iman dan rukun Islam juga tak jadi akidah mutlak.

Melihat perbedaan itu, sungguh sepele bila ada perbedaan fatwa ihwal boleh tidaknya mencoblos Ahok, fatwa tentang seseorang adalah penista agama, fatwa wahabi (?) tentang larangan membakar bendera HTI/ISIS/tauhid, fatwa larangan mencoblos pendukung Cina (?), larangan mencoblos pelanggar janji (?), fatwa HTI tentang larangan berdemokrasi, fatwa HTI (?) tentang togutnya presiden, fatwa HTI (?) tentang togutnya simbol negara seperti bendera merah putih atau Garuda Pancasila, fatwa HTI tentang larangan menghormat bendera merah putih, atau beragam fatwa aneh lain di tahun demokrasi.

Jangan sampai menjadi keledai yang bisanya menyalahkan mazhab lain, bahkan mengkafirkan mazhab lain. Hanya gara-gara beda pilihan presiden, atau orientadi politik lalu dianggap kafir, musrik, dan sebagainya.

Satu fatwa setara dengan fatwa lainnya. Bila ada fatwa yang melarang berdemokrasi, maka fatwa yang membolehkannya pun setara. Seseorang bebas melilih fatwa berdasarkan mazhabnya. Fatwa tidak bisa lebih tinggi karena dipaksakan kepada pemeluknya, atau karena pemberi fatwanya galak dan melotot demi yang dianggapnya (so called) Islam lurus atau murni. Seorang ulama tak bisa mengklaim dirinya murni 100% karena dia tidak maksum. Buktinya adalah fatwanya berbeda dengan ulama lain. Bila ia mengklaim maksum, barulah ia bisa mengklaim fatwanya murni dan dia bisa menjamin seseorang masuk surga (?), orang yang mengikuti fatwanya berpotensi masuk surga. Orang yang mengikuti Rasulullah 100% pasti masuk surga.

Bila seseorang muslim berbeda dengan muslim lain pada tataran akidah ataupun fikih, maka orang itu tetap muslim. Bekalnya hanya syahadat. Dengan syahadat seseorang diakui sebagai muslim, darah dan kehormatannya wajib dijaga. Apakah syahadat harus disaksikan orang lain? Seseorang yang nonmuslim akan menjadi muslim dengan mengakui dua kalimat syahadat.

Oleh karena itu, izinkan saya berbeda mazhab, berbeda fikih, dan mungkin akidah.

Leave a Reply