Hari-Hari Ziarah Haji (36)

Orang yang Lugu dalam Beragama

Mereka itu adalah orang yang menganggap kelompoknya benar, seolah ayat dan tafsirnya demikian. Memang Islam dan mazhab harus diyakini yang benar. Namun sementara Nabi saw wafat, orang maksum manakah yang berani menjamin bahwa suatu golongan dijamin masuk surga sedang golongan lainnya masuk neraka?

HTI adalah kelompok demikian. Beberapa kelompok lain juga menunjukkan indikasi intoleran yang sama. Ini adalah keluguan dalam beragama. Intoleransi adalah keluguan dalam beragama. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok HTI dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok FPI dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok ulama dijamin masuk surga? Ada, tetapi kalian tidak tahu. Kuncinya adalah belajar mazhab, sejarah, Quran, hadis, dan sebagainya.

Orang-orang polos dalam beragama belum pernah belajar mazhab. Begitu dia tahu khilafah, maka selain khilafah disesatkan. Tidak cukup disesatkan, mereka teriak-teriak khilafah di depan telinga orang lain. Teriakan itu memancing perdebatan. Lalu dia juga tak pernah mau menerima perbedaan. Seolah mengklaim khilafah itu surga selainnya adalah neraka. Kalau bisa akur, tak mungkin negeri ini ribut oleh sekelompok kecil yang teriak khilafah. Banyak orang yang terganggu dengan teriakan khilafah itu.

Kunci perdamaian dalam agama dan mazhab adalah toleransi dalam agama dan mazhab. Nabi saw sekalipun tidak memaksa konsep Islam kecuali dengan menghargai pencapaian akal manusia. Orang menganut suatu agama karena memang batas akalnya sekian dan demikian. Mengapa sekarang ada sekelompok orang Islam yang mengkafirkan kelompok Islam lain padahal kedua kelompok itu sama-sama bersyahadat.

Fatwa suatu ulama tidak mungkin setara dengan hadis atau Quran karena ulama tidak maksum. Semakin banyak ulama semakin mungkin terjadi perbedaan di antara ulama. Sayangnya yang disebut dengan “ulama” itu justru tidak paham kedudukannya bahwa dia tidak setara dengan Nabi atau Quran.

Klaim seorang nabi sebagai maksum berarti nabi tersebut paham rida Tuhan dan tak mungkin melanggar rida-Nya. Kalaupun ada nabi yang melanggar, maka pelanggaran itu tidak seperti pelanggaran manusia biasa.

Jadi seorang nabi tidak mungkin berbeda pendapat dengan nabi lain tentang keridaan Tuhan. Seorang maksum tidak mungkin berbeda pendapat dengan maksum lain tentang keridaan Tuhan. Maksumin yang hidup sezaman tidak pernah berbeda pendapat. Nabi Zakaria tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Imran, Nabi Yahya, atau Nabi Isa. Nabi Musa tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Harun. Nabi Yakub tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Yusuf.

Namun ulama berbeda pendapat satu dengan lainnya.

HTI berargumen bahwa khilafah ala HTI adalah untuk menyongsong Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Sayangnya HTI tidak bisa berbeda pendapat ihwal khilafahnya dengan kelompok lain. Iran adalah negara mayoritas muslim syiah yang juga menyongsong Imam Mahdi. Wilayatul fakih sebagai konsep negara mereka jelas menyongsong munculnya Imam Mahdi. Namun, pernahkah seseorang mendengar konsep wilayatul fakih dipaksa untuk diterima atau diterapkan? Tak pernah. Konsep wilayatul fakih adalah konsep yang disusun ulama. Karena itu tidak boleh dipaksakan karena ulama harus menghargai pendapat ulama lain. Namun, dunia bisa melihat bahwa konsep wilayatul fakih diterima dan dijalankan di Iran tanpa memandang mazhab.

Leave a Reply