Hari-Hari Ziarah Haji (38)

Konsep Khilafah HTI Kontra Konsep Islam Lain

Apakah ada di grup ini yang mendukung konsep khilafah ala HTI?

Dapatkah konsep itu diperdebatkan atau hanya dogma yang tak bisa diperdebatkan?

🙏

Bagi saya, konsep khilafah HTI adalah utopia (impian) yang hingga kini diperdebatkan kebenarannya. HTI mengusung khilafah dan semacam dipaksakan kepada warga yang cukup kuat konsep NKRI-nya. Apa yang dijanjikan HTI? HTI mengklaim bahwa khilafah adalah sunah atau wasiat Nabi saw. Dengan begitu HTI berpendapat bahwa satu-satunya cara mencapai negara ilahi adalah khilafah ala HTI. HTI menganggap dirinya sebagai penafsir tunggal dari khilafah nubuwah. Benarkah hanya konsep HTI saja yang ada dalam Islam? Realitasnya negara khilafah ala HTI tak ada (atau belum ada) di dunia sekarang. Negara mana yang dijadikan model oleh HTI? Kerajaan Saudi melarang organisasi HTI. Sejumlah negara lain pun melarang organisasi HTI di negerinya. Sebagai tambahan dan catatan, okoh ormas keras Indonesia yang memasang bendera di rumahnya di Saudi juga diperiksa. Warga Saudi tak berani memasang bendera yang disebut bendera tauhid.

Penafsiran tentang khilafah pun berbeda-beda. Penafsiran syiah tentang khilafah pun berbeda dengan HTI. Iran yang merepresentasikan khilafah ala Syiah tak pernah memaksakan wilayatul faqih kepada orang lain atau negara lain. Sebagai catatan, Iran adalah negara demokrasi dengan mengakui dan melaksanakan pemilihan umum. Sedangkan khilafah ala HTI mulanya anti demokrasi karena menganggap demokrasi sebagai konsep barat. HTI menganggap demokrasi dan buahnya seperti presiden, gubernur, bupati, dan walikota sebagai togut. Bukti bisa dikonfirmasi, bertebaran di jejak elektronik mereka. Mulai dari pimpinan teratas HTI hingga akar rumput terbawah, jejak itu ada. Iran bahkan nenyiapkan warganya dengan pengetahuan wilayatul faqih sebelum konsep ini diberlakukan sebagai kebijakan negara.

Titik bahaya HTI adalah pemaksaan, alih-alih pemikiran. Kelompok lain juga ada yang biasa memaksakan, misalnya memaksakan fatwa. Satu fatwa yang dipaksakan adalah fatwa penista agama, fatwa haramnya Islam nusantara.

Imam Khomeini pernah mengeluarkan “fatwa” hukuman mati bagi Salman Rushdie. Salman Rushdie menista Islam dengan menghinakan figur Nabi Muhammad lewat novel Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses). Lalu orang sukarela melakukan atau menolaknya. Em, adakah yang menolaknya?

Kalaupun konsep khilafah ala HTI itu benar dan bagus, apakah mereka tidak hendak menyadarkan masyarakat dulu, alih-alih memaksakannya? Menapa mereka berpikir pakar-pakar tata negara kita tidak lebih tahu ihwal khilafah? Mengapa nereka tidak pernah menyampaikan bahwa khilafah islamiyah dalam sejarahnya penuh dengan darah dan pedang? Apakah pemilihan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali adalah pemilihan ideal musyawarah dan demokrasi? Apakah menurut HTI, musyawarah berbeda dengan demokrasi karena musyawarah adalah pemilihan perwakilan dan sedangkan demokrasi adalah pemilihan langsung?

Secara pribadi saya cenderung pada pemilihan langsung dan bukan pemilihan perwakilan. Bila dilakukan pemilihan perwakilan, maka calon hanya tinggal menyuap separuh+1 perwakilannya di dewan/majelis agar dia tetpilih. Beebagai ancaman bisa dilakukan kepada perwakilan untuk memenangkan pemilihan. Pada pemilihan langsung, calon tak mungkin mampu menyuap setengah warga+1 meski tetap saja ada berita tentang penyuapan.

Konsep khilafah seharusnya tidak dipaksakan. Konsep khilafah bisa dibicarakan namun seseorang tak boleh mengancam orang lain yang menolak khilafah.

Ketika Cak Nun dalam videonya yang sejuk, berbicara untuk merangkul HTI, itu adalah konsep yang sangat bagus. Namun jangan sampai dia malah menikam saat dirangkul. Contohnya, ketika bendera HTI dibakar (?) (ini juga jadi perdebatan bagi HTI) oleh Banser Ansor NU, sekelompok orang berdemo di depan kantor NU menuntut pembubaran Banser Ansor NU. Dalam videonya Gus Nuril menghadapi demonstran itu dan menghentikannya. Apakah konsep merangkul ala Cak Nun tidak berbahaya? Bukti menunjukkan bahaya itu. Lalu Banser Ansor NU pun harus waspada. Setiap orang harus waspada. Hingga kini, pembakaran bendera tetap diplintir. Lalu reuni 212 Desember nanti juga sudah diprovokasi untuk bawa bendera “tauhid” walau mereka tidak berani juga pasang bendera “tauhid” di negara Saudi.

Apa ada main paksa lagi?

Apa masih laku main paksa macam itu? Jika ada tentu sangat menyedihkan.

Leave a Reply