Hari-Hari Ziarah Haji (43) Puisi “Di Tanah Ini”

Di tanah ini

Aku melihat kemakmuran orang-orang yang jujur

Dan kematian orang-orang yang curang

Lalu aku melihat sawah ladang yang subur

dan tempat penggembalaan ternak

Pasar dan koperasi tanpa riba

Serta tempat tanpa pelacuran dan maksiat
Warga tak bergelimang harta

namun bersegera dalam bersedekah

Setiap hari bekerja dengan gembira

memenuhi panggilan Tuhannya

dan pulang membawa uang

keringat yang diberkahi tanpa korupsi

Mereka tak menumpuk-numpuk harta

dan selalu percaya pada janji Tuhannya

serta waspada dari bujuk rayu setan

yang jauh dari ulama

Tahukah engkau bahwa

karena tanah selalu bersambungan dengan tanah

maka di situlah tersambung dia

dengan kerajaan Tuhan

Tempat yang jauh dari gemerlap ibu kota,

bisingnya hiruk pikuk,

tak pernah matinya malam,

dan semerawut kemacetan

Aku melihat anal-anak yang berbakti

kepada kedua orang tuanya,

mengayomi saudara-saudaranya

Toleran adalah katarsis dari pengetahuan,

yang telah berkecambah, tumbuh, dan

menjadi pohon yang kuat

hingga sanggup menahan

terpaan angin dan terjangan banjir,

tegak berabad-abad

selama akal menjaga agama

dan wahyu membimbing akal

Di tanah ini

Aku melihat kehancuran para pendusta

Aku melihat jalan yang panjang

Jihad warga bersama walinya

Aku masih ingin melihat tanah ini

dan mencerna makrifat di dalamnya

Namun mataku berat dan semakin berat

Aku hanya bisa mengikuti kepastian

dari Tuhanku

Mekah, Madinah, Priangan, Yogyakarta, Surakarta, 2018

Hari-Hari Ziarah Haji (42)

Mahasegala, Kepada-Mu Aku Menyeru

Engkau berkata

Serulah Aku di malam yang sunyi

Niscaya aku akan mendengar

Mintalah kepadaku segala hajat-Mu

Niscaya aku kabulkan

Ingatlah Aku di masa sulitmu

Niscaya Aku menolongmu

Tolonglah agama-Nya dengan menolong dan melindungi warga

Niscaya Dia akan menolong dan melindungimu

Hadirkan Dia dalam setiap langkahmu

Niscaya jalanmu akan menjadi terang

Cintailah utusan dan para kekasihnya

Niscaya kau tak akan tersesat

Lihatlah dan dengarlah apa yang utusan dan kekasihnya lihat dan dengar

Niscaya mata dan telingamu akan menjadi mata dan telinga-Nya

Bicaralah sesuai yang dibicarakan utusan dan kekasih-Nya

Bertindaklah sesuai dengan tindakan utusan dan kekasihnya

Bergembiralah saat utusan dan kekasuh-Nya bergembira

Bersedihlah saat utusan dan kekasuh-Nya bersedih

Berperanglah saat kekasih dan utusan-Nya berperang

Berdamailah saat utusan dan kekasih-Nya berdamai

Niscaya kau tak akan menyimpang

Hari-Hari Ziarah Haji (41)

Saat Pertama Melihat Kabah

Sejak kecil saya sering melihat Kabah secara tidak langsung. Saya melihat Kabah di gambar, foto, atau televisi. Teknologi foto atau televisi membuat gambaran Kabah di benak menjadi jelas, sangat jelas. Saya juga melihat orang-orang yang ada di sekitar Kabah secara tidak langsung.

Pada usia sekolah dasar, tetangga Bapak saya pergi haji. Ketika mereka sudah pulang berhaji, saya mampir ke rumahnya. Saya melihat foto tetangga saya dengan latar belakang Kabah. Titik-titik putih di belakang tetangga saya adalah manusia-manusia di sekitar Kabah.

Saya ingat saya juga diberi sesloki air zam-zam. Waktu itu saya heran mengapa hidangan airnya begitu sedikit. Menurut saya, mestinya dicampur air biasa saja, tak apa, agar lebih memenuhi dahaga. Saya juga mencicipi kurma dan kudapan laib yang menurut saya asing atau kurang biasa rasanya.

Saya merasa tak asing dengan Kabah. Namun kali ini saya akan melihat Kabah secara langsung. Menurut sebagian guru dan ulama, sebagian jemaah yang melihat Kabah akan menangis. Terharu atau entah perasaan yang sukar digambarkan dengan kata-kata.

Saya sendiri teringat akan jejak Rasulullah saw. Beliau di kota ini lahir, besar, membawa Islam, menyampaikan Islam kepada manusia, berhati dan bersikap lembut namun keras pada kejahatan.

Mekah (mestinya) dipenuhi dengan jejak Nabi saw. Sungguhpun kini orang Mekah bepergian dengan mobil, mendapat air zam-zam melalui pipa, dikelilingi oleh gedung-gedung yang tinggi, dan sebagainya … Jejak Rasulullah saw ada di sana. Saya sekarang hendak menapaki jejak Rasulullah saw itu, mengikuti teladannya, dan mengambil berkahnya.

Saya membicarakan obsesi saya dengan teman sekamar maktab. Kami sekamar berempat, dan ada pula yang berlima. Saya membicarakan jejak Rasulullah saw meski kami berada di lantai 10 (?), naik turun dengan lift, mencuci baju dengan sabun dan mesin cuci di puncak maktab, bepergian dengan bus salawat, ….

Saya juga melihat ada jemaah yang membentuk barisan lalu berjalan menuju Kabah sambil meninggikan talbiah. Semangat atau gairah ibadah para jemaah sangat tinggi. Mereka berharap keridaan Allah swt melalui teladan Nabi saw.

Ketika saya pertama kali melihat Kabah, saya menguatkam ingatan saya tentang jejak Rasulullah saw di sini. Entah saya ingin menangis atas dosa atau bahagia karena bertemu dengan jejak Rasulullah saw. Saya menguatkan memori Rasulullah sebagai wasilah (perantara) antara saya (makhluk) dengan Allah swt.

Saya juga berusaha melihat jejak Rasulullah saw pada jemaah yang sedang beribadah di Kabah dan Mekah. Saya berusaha melihat jejak Rasulullah saw di mata mereka, pada tindakan mereka, pada ucapan mereka, dan pada diam mereka.

Hingga kini pun saya tetap berusaha melihat jejak itu.