Hari-Hari Ziarah Haji (45)

Kesombongan dalam Beragama

Salah satu masalah kritis dalam toleransi adalah kesombongan dalam beragama. Seolah-olah seseorang yang beragama merasa lebih baik daripada orang beragama lainnya, mazhab lainnya, sekte lainnya, kelompok lainnya, …. Lalu dia merasa surga adalah klaim, miliknya sendiri, sedang orang lain seolah tak berhak masuk surga.

Konon, hanya karena beda pilihan atau orientasi dalam pilgub atau pilpres pun membuat seseorang mengklaim surga. Padahal surga adalah otoritas Allah swt. yang tak seorang pun boleh mengklaimnya. Klaim pemilik surga adalah salah satu klaim paling parah dalam beragama. Juga klaim ikhtiar surga karena memilih salah satu calon gubernur atau calon presiden. Memang mungkin memilih satu calon masuk surga, namun tidak pasti. Mungkin, tidak pasti. Namun bukankah memilih calon lain juga berpotensi mendapat surga Allah swt.? Seandainya tidak masuk surga, tentu tak akan ada yang memilihnya.

Mengapa seseorang mengklaim surga untuk pilpres atau pilgub padahal tidak ada kriteria yang jelas tentang Prabowo atau Jokowi sebagai orang yang maksum. Seandainya Prabowo atau Jokowi maksum, mesti memilihnya adalah masuk surga dan menolaknya berpotensi masuk neraka.

Lalu orang (so called ulama, ustaz, ustazah) yang mengkampanyekan pilpres sebagai klaim agama pun bukanlah orang maksum. Jadi janji surga karena pilpres benar-benar absurd.

Berderma memang berpotensi masuk surga. Namun bila orang berderma sekaligus melakukan kejahatan (membunuh, memfitnah, putus asa dari rahmat Allah swt., dst) maka belum tentu dia masuk surga.

Kesombongan dalam beragama juga adalah memilih salah satu capres dengan keyakinan secara mutlak bahwa pilihannya itu akan membawanya ke surga. Dengan demikian, dia berpikir bahwa melilih capres lain akan membawa pemilihnya ke neraka. Sesimpel itu. Padahal hanya dengan mengikuti Nabi saw baru bisa membawa seseorang masuk surga. Itu juga dengan catatan bahwa keikutannya itu secara kafah, mutlak, dan konsisten. Bila mendapat cobaan, ia tidak goyah. Bila seseorang mengaku ikut Nabi saw., namun melanggar perintahnya dan melakukan larangannya, surga adalah mimpi baginya.

Leave a Reply