Temukan Cintamu di Indonesia

Find Your Love in Indonesia

Tulisan ini atau video ini terinspirasi dari pemilik vlog bernama Nobita dengan akun youtube Find Your Love In Japan. Sebagian isi videonya adalah kritik tentang buruknya perilaku sebagian warga Jepang khususnya dalam berpasangan. Tulisan atau video ini bertujuan memberi arahan bagi warga dalam memilih pasangan dan menghadapi ujian dalam berpasangan. Mungkin juga bermanfaat bagi warga asing yang tertarik mencari cinta di Indonesia.

Salah satu sifat buruk warga Indonesia menurut penilaian subjektif adalah sebagai berikut. Banyak lelaki Indonesia, khususnya Jawa Barat (entah di tempat lain), lebih mementingkan fisik daripada mental. Lelaki seperti itu lebih mementingkan wajah cantik, bodi bagus, tinggi badan, berat badan, bentuk badan, bentuk tangan, bentuk kaki, bentuk rambut, dan daya tarik fisik lain. Mereka tidak mengeksplorasi mental. Bahkan mereka mengabaikan “cacat” mental seandainya gadis yang mereka pilih cantik secara fisik. Bagaimana cacat mental itu? Banyak bergaullah dengan lelaki dan perempuan maka seseorang akan tahu cacat mental. Cacat itu bahkan lebih dari penyskit karena penyakit relatif bisa disembuhkan. Sebenarnya cacat juga bisa disembuhkan bila Tuhan menghendaki.

Berikut ini contoh orang yang cacat mental. Sebagian orang yang cacat mental acap tidak menerima pasangannya jika kurang memberi cukup materi, kurang memberi perhatian, kurang memberi perlakuan khusus, lalu bersikap cemberut, merajuk, berpaling, berkata kotor, malas, berbuat seenaknya, tidak menghormati, dan seterusnya.

Sebenarnya memilih pasangan semata dari sisi fisik adalah kerugian. Begitu banyak perempuan cantik dari sisi fisik namun rusak secara mental. Bahkan selebritis, orang di sekitar kita, atau tokoh nasional pun ada yang seperti ini. Mungkin perempuan atau lelaki yang hanya bagus fisiknya saja hanya bisa dipajang untuk dilihat oleh mata. Mereka cuma pajangan di mata lahir namun bila mata batin melihat, mereka akan terlihat buruk bahkan menjijikkan. Pajangan seperti itu cukup dilihat dan harus dihindari dari komunikasi karena mungkin akan menimbulkan kerusakan. Mereka hanya bisa diarahkan dan diberi uang. Acap kali suami dianggap wajib memenuhi keinginan istri, termasuk keinginan pribadi mewah. Ada istri yang ingin dibelikan suaminya mobil mewah, ponsel mewah, berganti ponsel sesuai tren, atau kerap memberi belanjaan barang mewah: tas, dompet, pakaian, asesoris, …. Mungkin menurutnya itu imbalan bagi istri yang sudah mau dijadikan istri.

Perempuan yang dinilai hanya dari sisi fisiknya mungkin akhirnya menunjukkan sisi buruk mentalnya. Contoh sisi buruk mental adalah sifat materialis (matre), hanya mau foya-foya, minta duit, minta mobil, ponsel, pakaian, asesoris, dan sebagainya. Perempuan itu menutup mata atas kewajiban yang harus dilakukannya, katakanlah memasak, membersihkan rumah, merawat rumah, mengurus rumah, mengurus anak, atau berbagi pekerjaan dengan suami. Sebenarnya sifat seperti ini tidak didominasi perempuan. Lelaki juga ada yang mempunyai sifat seperti ini.

Lalu perempuan yang mempunyai sifat (mental) yang buruk juga susah diajak berkomunikasi. Bila keinginannya tidak terpenuhi dia akan “mabuk” dunia, susah diatur, susah diajak bicara, susah mengerti, meremehkan yang sulit, dan menyulitkan yang remeh. Problem remeh akan merembet pada serangkaian problem lain. Pandangannya jauh dari agama, pengorbanan, kesederhanaan, kerja keras, ingin belajar, atau toleransi.

Inikah yang didambakan laki-laki? Tidak.

Seseorang harus berkenalan dulu ketika baru mengenal perempuan yang membuatnya tertarik. Ia harus mengeksplorasi mental lawan jenisnya. Sabda Nabi saw, keimanan jauh lebih berharga daripada fisik, harta, dan nenek moyang. Mungkin dalam bahasa kuno disebut babat, bibit, bubut, bebet, bobot, eh …. Keimanan (mental, karakter) adalah paket lengkap yang dikehendaki Allah swt dari seseorang. Lengkap itu adalah kafah. Masuklah ke dalam Islam secara kafah.

Ada pula seorang perempuan (atau lelaki) yang konon baru terlihat sifat buruknya ketika sudah menikah, misalnya judes, egois, tak bisa bekerja, tak bisa masak, malas, tak bisa berkomunikasi, punya sifat menyebalkan, punya sifat menjijikkan.

Di satu area di Jawa Barat, seseorang cenderung memilih pangkat yang sederajat (sekufu) daripada memilih wajah. Bila tidak sekufu, ia seolah membeli atau dibeli orang lain (dengan menerima mahar atau memberi mahar). Bila seorang lelaki mempunyai uang, dia dapat “membeli” perempuan cantik, pekerja keras sesukanya. Ia dapat melamarnya atau akan berani melamarnya. Ia dapat “membeli” perempuan cantik. Namun bila cantik tidak dipaketkan dengan kesalehan, pekerja keras, mengabdi, kepandaian, keinginan belajar, keinginan mendengarkan, menerima pendapat, keinginan mengalah, … ia akan mendapati perempuan hanya mau berada di tempat tidur dan ia juga mungkin mendapati jalan berlubang, jurang atau mendaki. Mungkin ia tak bisa mengurus anak, tak bisa mendidik anak, keliru mendidik anak, tidak bisa merawat diri. Kerja di rumah juga tak bisa. Kerja di kantor juga bukan pekerjaannya. Diajak bicara toleran malah ngawur dan tidak mendengarkan.

Ada seorang lelaki yang dengan status ASN-nya seolah “membeli” perempuan sebagai istrinya. Namun kelakuan lelaki ini tidak hanya bekerja di kantor dan menafkahi anaknya. Dia melakukan perilaku buruk seperti berkata kasar kepada istri, main tangan (pukul), berkata seenaknya, dan egois. Sifat seperti ini turun pada anaknya yang lelaki dan perempuan, lalu tumbuh menjadi penyakit di masyarakat. Sampai saatnya dibasmi oleh kelompok agama (berakal) dengan cara yang ditentukan Tuhan (lembut atau dengan hukuman).

Di sisi lain, perempuan sarjana atau perempuan kaya acap bisa “membeli” lelaki tampan dan pekerja keras. Ini juga konon terjadi di Jepang. Seorang istri yang gajinya lebih besar bisa meremehkan suaminya di Jepang. Ada juga perempuan yang menikah dengan perjsnjian semacam gigolo di rumahnya. Lelaki itu dipelihara sebagai pemuas pasangannya dan dibatasi hak-haknya dengan sedikit pemberian yang cukup mrnyenangkannya. Lebih berbahaya lagi apabila anjing peliharaan ini diprlihara untuk meruntuhkan fondasi ketuhanan, agama, bangsa, atau hak orang lain.

Seorang lelaki remaja bisa hanya mencari perempuan yang cantik. Titik. Dia mengabaikan sifat buruk perempuan. Dia bertekad menerima perempuan sepenuhnya, apa adanya. Dia mengabaikan sifat buruk perempuan selama dia suka perempuan itu. Mungkinkah lelaki bisa bertahan menerima perempuan yang buruk sifatnya? Saya katakan pada Anda, mungkin Anda tak akan kuat menerima perempuan yang begitu buruk. Mungkin Anda bisa bertahan beberapa tahun. Namun Anda bisa tidak kuat. Lalu Anda bisa mengorbankan masa depan, waktu, anak kecil, kekerabatan, silaturahmi, juga materi. Perceraian bisa mengundang masalah, termasuk masalah materi, rebutan harta gono-gini. Sekalipun begitu, mungkin saja ada lelaki yang menganggap keburukan istri, anak, keluarga sebagai ujian yang harus dilaluinya. Tuhan memberinya ujian dengan berbagai cara. Tuhan memberi manusia ujian-ujian sesuai dengan jalan yang ditempuh manusia itu sendiri. Tuhan memberi ujian kepada setiap orang. Namun, apakah semua orang bisa memilih ujiannya dan melepaskan ujian yang tidak disukainya? Mungkinkah seseorang mempertahankan istri yang buruk dan tidak menceraikannya?

Ada sebuah cerita, seseorang (mungkin ulama atau sufi) menikah dengan perempuan yang begitu buruk. Begitu sering tindakan suami disalahkan. Selalu ada kesempatan bagi perempuan untuk mengomel. Namun lelaki ini menganggap semua itu sebagai takdir, ujian yang harus dihadapinya. Ia berharap keridaan Tuhan dari ular berbisa yang ada di rumahnya. Ini memang contoh manusia yang mampu menerima kadarnya.

Bila ada istilah ular berbisa di rumah, ada pula istilah lain yang bisa digunakan misalnya kalajengking, musuh, bahkan setan. Quran memperingatkan bahwa sebagian pasanganmu atau anakmu bisa menjadi musuhmu atau ujian bagimu. Pasangan bisa menjadi musuh dalam perdamaian atau perang. Musuh di dunia ataupun di akhirat.

Acap kali perempuan menipu lelaki dan sebaliknya lelaki menipu perempuan. Dalam drama Juragan Hajat karya Kang Ibing, tokoh Uje menipu Uneh dan mengaku sarjana, mengaku berteman dengan Acil Bimbo. Penipuan ini dilakukan untuk memikat pasangannya. Penipuan seperti ini semestinya tidak dibenarkan dalam agama. Perempuan pun bisa menipu dengan menampilkan sifat sederhana, menerima, ramah, salehah. Di balik itu, tersimpan sifat boros, foya-foya, tukang membantah, pemarah, dan judes.

Indonesia terdiri atas berbagai suku. Ada suku yang maju karena belajar, belajar agama, belajar di sekolah, belajar kepada ulama. Ada suku yang tradisional dan hanya mengenal tradisi. Ada suku yang berada di kota sehingga terancam budaya materialis. Ada pula suku yang memelihara sifat baik terutama yang sesuai dengan agama dan akal. Sifat ini diturunksn dari keluarganya. Anak belajar dari orang tuanya. Anak menguatkan karakter di sekolah. Anak mengkonfirmasi (mrmbenarkan) karakter di sekolah. Anak memperbaiki karakter di sekolah. Jangan sampai belajar di sekolah justru menjauhkan anak dari pengetahuan penting tentang kewajiban seseorang dalam keluarga. Kewajiban itu adalah kewajiban sebagai anak, istri, atau suami. Di samping itu ada pula hak anak, misalnya hak anak untuk mendapatkan rezeki dan kasih sayang.

Dalam cerita Mahabarata, ada raja menikah dengan putri raja. Tentu putri raja adalah bangsawan yang telah belajar tentang kewajibannya dalam hidup, juga kewajiban kepada pasangan hidupnya. Dalam pernikahan para raja, ada pernikahan politik, yaitu untuk mencegah perang di antara dua kerajaan. Ini pula yang dilakukan Raja Akbar dengan putri Jodha dalam film India Jodha–Akbar. Dalam cerita raja tidak ada peristiwa putri raja memarahi suaminya. Tuntunan agama jelas mengarahkan putri raja untuk bersikap baik kepada suaminya. Suami berperang juga adalah kewajibannya. Namun istri Raja Rahwana mengingatkan suaminya agar tidak berperang dengan Sri Rama untuk mempertahankan penculikan Dewi Sinta. Istri raja juga tak mau suaminya mati konyol gara-gara perang dalam kelaliman seperti itu.

Kini pada era media sosial dan internet ini, seorang anak acap terpaku dengan permainan di telepon pintar (game) dan angan-angan panjang. Sebagian muda-mudi tak paham apa yang harus dipelajari. Mereka juga tidak belajar tentang mencari pasangan. Akibatnya, anak acap menyalahkan orang tua yang dianggap tidak membimbing anaknya. Lagu Queen, “Spread Your Wings” menggambarkan hal itu. “Since he was small, had no luck at all, nothing came easy to him.” Dunia ini ternyata keras. Jika anak-anak tidak belajar dan berlatih menghadapinya, ia akan gagap menghadapinya. Anak-anak bisa saja menonton gosip di televisi. Lalu mereka berpikir bahwa kebahagiaan hanya bisa didapat dari menikahi perempuan yang cantik fisiknya saja. Anak-anak harus belajar mencari pasangan. Anak-anak harus punya pengalaman. Anak-anak pun harus tahu kewajibannya belajar, bekerja. Anak-anak tidak boleh hanya main game dan mengabaikan kewajibannya (taklifnya). Anak-anak harus memanfaatkan internet untuk belajar, termasuk belajar mencari pasangan yang terbaik. Mungkin pula orang luar negeri tertarik dengan orang Indonesia. Penyanyi Anggun Cipta Sasmi terkenal bukan hanya suara dan lagunya, namun juga karakternya. Karakter Indonesia begitu anggun di Perancis. Ketika selebritis mengumbar syahwat, seseorang datang dengan keterbatasan dan kesederhanaan. Ketika status artis menuntut seseorang untuk bersikap glamour, dia datang dengan menahan diri dari godaan materi. Mungkin suatu saat seseorang bisa terpikat pada Islam. Ada pula Dobson Family Kitchen, dan sebagainya. Karakter Indonesia di mata dunia harus kuat dengan pandangan dunia (filosofi) yang benar.

Bila di Jepang terjadi istri gajinya lebih besar daripada suami, maka istri dianggap lebih tinggi derajatnya daripada suami. Di Jepang juga sebagisn istri tidak tidur sekamar dengan suami. Di Indonesia, istri tidur satu kamar dengan suami. Mudah-mudahan di Jawa suami yang gajinya lebih rendah daripada istri selalu dihormati istri. Ini seperti si Kabayan uang meski pengangguran, kerjanya tidur, makan, bermain, dan malas-malasan, si Kabayan tetap menolak untuk menjadi borokokok. Sebsgian warga Jepang menyadari kesalahan filosofi masyarakatnya. Oleh karena itu Jepang membuka diri dari pekerja asing dan perkawinan campuran. Hal ini diharapkan akan mengoreksi kesalahan filosofi masyarakatnya.

Perilaku materialis akan meruntuhkan sendi keluarga sebagaimana cinta air di daun talas. Cinta seperti ini tidak akan ada bekasnya dan akan terlupakan oleh zaman, tergilas oleh zaman.

Ada juga perempuan yang mementingkan fisik seperti cowok ganteng atau berduit. Perempuan memilih lelaki berpendidikan tinggi atau yang sudah mapan bekerja karena harapan untuk sukses lebih tinggi. Perempuan akan menerima calon suami ASN atau usahanya besar. Jika pernikahan hanya didasarlan pada materi seperti ini maka pernikahan itu seperti kontrak kerja atau kontrak kesuksesan. Ini seperti kawin kontrak, temporary mariage, atau mutah dalam legenda Islam. Bila suami acap kali membawa sedikit uang, perempuan akan kecewa karena tak bisa menabung untuk membeli tambahan perhiasan. Bila suami tak punya tambahan penghasilan selama bertahun-tahun, istri bisa menuntut suami untuk mencari prngalaman kerja baru dan membawa pulang banyak uang. Pernikahan semestinya didasarkan pada nilai luhur seperti rida Allah swt, melewati batas kontrak materi.

Namun, si Kabayan tetap tidak bergeming dari sikap borokokok-nya.

Find your love in Infonesia.

Leave a Reply