Sajak Fatwa Pujangga tentang Neokhawarij

Berkaitan dengan demo
Yang tanpa membawa bukti
Berupa kecurangan pemilu
Atau kezaliman rezim
Malah membawa bendera tawkhit

Dengan ini
Saya memgeluarkan
Fatwa pujangga
Bahwa demo itu
Cenderung neokhawarij

Berhati-hatilah …!

Dulu

Amirul Mukminin

Pecah kepalanya

Karena hantaman khawarij

Saat dia bersujud di masjid

Kini

Neokhawarij berteriak, “Bunuh. Halal darah” para pendukung lawan

Neokhawarij, berhati-hatilah!

Pohon Bidara

Pohon bidara menurut teman yang mengenalnya merupakan pohon yang berbuah sebesar kelereng. Tinggi pohon ini bisa setinggi orang atau dua meter. Daunnya kecil. Ada yang daunnya cukup lebar. Bahkan yang berdaun lebar, ada yang berbuah sampai sebesar kepalan. Rasanya asam manis. Pohon ini berpotensi untuk dijadikan kuliner berupa campuran makanan atau minuman yang menyegarkan.Menurut teman, pohon ini sudah langka. Saya menemukannya di sebuah SMK di Kota Kuningan. Teman saya adalah tutor yang berasal dari Cirebon.

Fatwa Pujangga

Beberapa minggu yang lalu saya berbincang-bincang dengan seorang dosen agama dari universitas agama negeri. Pada umumnya diketahui bahwa fatwa itu dikeluarkan oleh ulama dan tak perlu selamanya dikeluarkan oleh lembaga seperti MUI atau yang sejenisnya.

Jangan sampai pemuka agama tak tahu kedudukan ucapannya. Ucapan dokter tentang kesehatan pasien adalah fatwa bagi pasien. Ucapan arsitek tentang bangunan adalah fatwa bagi orang yang hendak membangun. Ucapan guru tentang pendidikan anak adalah fatwa bagi anak dan orang tuanya. Ucapan bandar saham kadang-kadang menjadi fatwa bagi naik atau turunnya harga saham.

Dengan begitu, fatwa ulama itu mencerminkan perilaku Nabi saw. Apapun yang diucapkan ulama bisa diklaim sebagai fatwa. Apapun pembiaran dan pelarangan yang dilakukan ulama bisa dinilai sebagai representasi Nabi saw (meski ulama-ulama bisa berbeda pendapat).

Kini ada “ulama” yang mengusir orang yang salat di masjid. Dia memprovokasi untuk benci dan mengkafirkan kelompok lawan. Fatwa apa ini?

Di sini berarti ulama tidak boleh gegabah bicara seperti menghina perbedaan, menghina kehormatan, tidak hati-hati mengkafirkan, menyuruh bunuh, mendorong penyiksaan kepada kelompok, dan sebagainya.

Saya sekarang bahkan kerap mendengar cuitan, komentar yang menyatakan orang ini harus dibunuh, pendukung ini harus dibunuh, perbedaan tidak boleh ada, orang muslim dikatakan kafir, dan sebagainya. Sayangnya ucapan seperti ini seolah ringan saja. Mungkin karena diungkapkan di media sosial Whatsapp yang anggotanya tertutup.

Seandainya hanya pujangga yang berkata mungkin itu cuma fatwa pujangga. Seandainya yang berbicara itu hanya orang biasa mungkin ucapan iti hanya fatwa awam. Seandainya dokter bicara agama mungkin tidak terlalu diperhatikan. Namun ulama harus hati-hati mengucapkan sesuatu berkaitan dengan agama dan hukum agama.

Apa jadinya bila orang awam memberi fatwa? Bisa jadi fatwanya jadi bahan tertawaan umat. Mungkinkah fatwa orang awam diikuti umat? Bahkan sekarang orang awam memprovokasi bunuh bagi seseorang. Ucapan seperti ini bisa ditindak dan memang ada orang-orang brutal yang mengatasnamakan agama. Seolah perbuatannya itu membela agama.