Home » 2019 » October

Monthly Archives: October 2019

Jawaban Argumen Organ Intoleran

Pertanyaan organ intoleran tentang tata negara
1. Baik mana Quran atau Pancasila? Daripada tidak mengamalkan Quran lebih baik mengamalkan Pancasila.

2. Baik mana Jokowi atau Nabi Muhammad saw? Jokowi lebih baik jadi presiden RI daripada mengklaim nabi.

3. Baik mana negara Islam atau negara sekular? Indonesia lebih baik berpenduduk musim yang bebas menjalankan syariatnya daripada negara lain.

Review Empat Perubahan Organ Intoleran
Organ intoleran ingin mengubah negara ini memjadi khilafah dengan perubahan radikal berikut.
1. Ubah kedaulatan di tangan rakyat menjadi kedaulatan di tangan Allah (maksudnya di tangan ulama?)

Ini konsep bagus. Cuma siapa ysng paham kehendak atau keridaan Allah swt? Ulamakah? Bagaimana bila ulama berselisih pendapat tentang suatu perkara? Bolehkah ulama mengklaim bahwa tafsirannya mutlak benar dan tafsiran ulama lain mutlak salah? Itu artinya ulama ini maksum. Padahal maksum itu doktrin syiah. Syiah meyakini 12 imamnya maksum. Para imam tak mungkin salah dalam mentakwil Quran atau meriwayatkan hadis.

Sebaliknya bila ulama berselisih pendapat tentang suatu perkara, berarti sama dengan negeri ini kini saat ulama atau pakar atau ilmuwan berbefa pendapat dengan ulama, pakar, ilmuwan lain.

Menegakkan hukum syariah dan meminggalkan hukum jahiliah. Pertanyaannya, bagaimana jika ulama penafsir Quran berselisih pendapat?

2. Ubah kekuasaan di tangan pemilik modal menjadi di tangan umat. Ini artinya sama saja karena pemilik modal adalah umat.

3 hancurkan (ubah) sekat-sekat nasionalisme yang telah memecah-belah. Pertanyaannya, maukah Indonesia di bawah daulah khilafah anu? Mengapa khalifah harus si A bukan si B? Maukah negara ini membuang undang-undang yang ada lalu menggantinya dengan peraturan khalifah?

4. Berikan kewenangan khalifah untuk mengambil putusan hukum terkuat dari ulama. Pertanyaannya, mutlakkah keputusan ulama? Mutlakkah keputusan khalifah? Bila mutlak berarti ulama atau khalifah itu maksum. Khalifah maksum itu doktrin syiah.

Islamisme adalah Islam untuk kepentingan politik ala HTI

1. Syariah sesuai mazhab, dengan tafsir tunggal

2. Jahiliah atau muslim

3. Hijrah atau anshar

4. Jihad qital atau jihadun nafs

4. Daulah Islam (negara Islam) atau ansharud daulah

Sajak Elegi Sopir Truk

Sebagai orang jalanan

Jangan sampai kalian tahu

Kerasnya hidup di jalanan

Pungli rawan kecelakaan

Bajing luncat perampok hutan

Bahkan aparat gadungan

Bukannya menambah aman

Harta benda, pekerjaan,

Dan nyawa jadi taruhan

Orang tidak mengerti bahwa stabilitas pasaran

Bergantung pada lancarnya truk di jalanan

Lalu menteri keuangan akan menentukan

Siapa yang terbawah dari giliran

Roda ekonomi kebangsaan

Beras murah hanya dengan mengorbankan kesejateraan petani di ladang dan pesawahan

Dan guru disejahterakan

Karena sebagian

mendapat sertifikat dan tunjangan

Profesional dalam pelayanan

Dan sopir truk hanya bisa ikut aturan

Rasulullah dan bangsa Arab

Adalah penggembala dan pedagang

Membeli barang di tempat asal

Dijual di tempat persinggahan

Berjual beli di perjalanan

Berkeliling melihat negeri-negeri permai nan jauh

Hingga sampai di negeri tujuan

Dan kembali bertahun-tahun kemudian

Teori ekonomi modern
Menjadikan sopir truk
Hanya sebagai distributor
Di antara produsen dan konsumen
Hanya digaji mengantar barang
Seharusnya kamilah penerus itrah Nabi saw
Dengan modal pinjaman atau investasi
Siti Khadijah di masa kini
Saling berbagi keuntungan
Menyediakan segala kebutuhan
Yang tak ada di tempat ini
Dan tidak ada di musim ini

Jembatan timbang bukan lagi pungutan liar
Tentara dan polisi bisa jadi bagian distributor
Karena pemerintah sadar
Bahwa harga yang diserahkan pada pasar
Hanya akan dikuasai oleh mafia pedagang besar

Sebenarnya hidup di dunia adalah perjalanan
Menimba ilmu, mencari guru
Menafakuri hidup
Menghadapi cobaan
Menemukan Tuhan
Di setiap wajah, satwa, tumbuhan, dan bebatuan
Di barang dagangan, koin, dan pakaian
Di lembaran buku, di ucapan orang-orang
Di lembah, gunung, sungai, oase, dan lautan

Ternyata hidup kita sesat tanpa bimbingan
Dari para imam

Tugas Pengabdian/Pelengkap Workshop Dosen Internasional dari SES

Senior Experten Service (SES) adalah lembaga dari Jerman yang memberi peluang untuk dosen tamu dengan ongkos sekitar 10 juta sebulan, yaitu 3–5 juta untuk sewa tempat tinggal, dan 10 usd untuk uang saku. Sisanya adalah untuk pelayanan seperti kuliner, rekreasi, mengunjungi paralayang, air terjun, Waduk Jatigede, Gunung Tampomas, kuliner sate Oon, Kartika, Saung Teko, Sederhana, kompleks kampus Jatinangor, Pantai Pangandaran, Jogja, Solo, atau Bali.

012 Yusuf

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Yũsuf
Kisah Nabi Yusuf
Makiyah
Surat ke-12, 111 ayat.
Juz 12 beralih ke Juz 13 pada ayat 53.

Catatan Awal
Seluruh ciptaan Allah di alam semesta diamati, diatur, diurus, dan dikuasai Allah. Dia menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, sesuai dengan jatah umur yang diberikan-Nya. Semua makhluk-Nya harus mempertanggungjawabkan segala tingkah-lakunya saat hidup di dunia, khususnya manusia, karena manusia ditetapkan Allah sebagai khalifah di muka bumi. Makhluk yang satu dapat menolong makhluk lain, khususnya hidup manusia bersama manusia lain, bersama makhluk selain manusia atas perkenan-Nya. Kesesatan dan dosa itu pilihan hidup manusia sendiri. Allah mempunyai hak memberi petunjuk. Namun, jika manusia tidak mau memperhatikan petunjuk-Nya, mereka akan dikenai siksa, setelah diberi peringayaan, dan kesempatan beberapa waktu untuk mau bertobat. Kalau tidak mau bertobat, baru mereka diazab. Hanya orang yang beriman dan bertakwa yang memperhatikan petunjuk dan menjauhi larangan-Nya yang akan diberi hadiah surga, hidup yang menyenangkan di akhirat nanti.
Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranya, dan Ya’qub, orang tuanya, ini diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. secara gaib, karena ada orang Yahudi yang menyuruh orang kafir menanyakan perihal kepindahan keluarga Ya’qub dari Syam ke Mesir, dan bagaimana sesungguhnya kisah Nabi Yusuf. Lihat Q.s. Al An’ãm, 6 : 84. Hal ini menjadi daya tarik bagi kaum non-Islam (Yahudi, dan lain-lain). Ada kesamaan dengan apa yang sudah diyakini dan yang sudah dipelajarinya. Kenabian beliau, sudah diisyaratkan Allah melalui mimpi orang tuanya, Ya’qub. Di dalamnya menceriterakan mu’zijat-mu’zijat Nabi Yusuf, rahmat dari Allah. Ceritera ini dapat menjadi hiburan, pelajaran, petunjuk, suri-teladan mulia bagi yang membaca, atau mendengarkannya. Nabi Muhammad saw. juga merasakan semuanya itu dalam cerita Nabi Yusuf.
Kewajiban manusia merahasiakan sesuatu yang mungkin menjadi fitnah. Barang dan anak temuan harus dipungut, tidak boleh dibiarkan, harus diberitahu kepada umum. Boleh berdalih yang tidak merugikan orang lain, untuk memperoleh suatu kemaslahatan. Agama tauhid mempunyai ketentuan yang sama, yaitu pengakuan ada-Nya Allah Yang Esa; pengakuan adanya Kitab Allah; adanya Utusan Allah berupa Malaikat, Nabi dan Rasul; adanya hari akhirat; adanya peribadatan kepada Allah, keharusan berpuasa, menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah (fĩ sabilillah); beramal saleh berupa zakat, fitrah, sedekah, tijaroh; melaksanakan ibadah haji (bagi yang mampu); adanya Qada’ dan Taqdir (Qadar) pada setiap makhluk Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan Q.s. 1 : 1

alif lãm ro = allãhu lã ilaha ila huwar ro-a ( Allah tidak ilah lain selain Dia Yang Maha Melihat); tilka = inilah; ãyãtu = ayat-ayat (tanda-tanda); al kitãbi = Kitab; al mubĩn = yang jelas.
alif lãm rō, tilka ãyãtul kitãbil mubĩn.
1. Alif lãm rō, inilah tanda-tanda rahasia Kitab yang jelas (dari Allah).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat pertama dimulai dengan pengenalan huruf-huruf Arab berahasia. Mungkin berupa singkatan. Lihat Al Baqarah, 2 : 1; Q.s. Yunus, 10 : 1; Hud, 11 : 1, lihat ayat 4, 30, 43. Kitab ini penuh rahasia yang harus digali, dicari keterangannya, ditafsirkan. Tanda-tanda rahasia Allah ini terbentang dari yang terang, jelas, ke yang samar, tidak jelas, sampai ke yang gelap, masih gaib. Ini hak Allah membuat Kitab, seperti ini. Allah sering memerintah makhluk-Nya, khususnya manusia untuk menggunakan akal-pikirannya (lihat ayat 2 di bawah, dan yang lainnya), agar mendapatkan kejelasan ayat-ayat yang berahasia seperti ini.

innã = sungguh Aku; anzalnãhu = menurunkannya; qur’ãnan = bacaan ini; ‘arobiyyan = bahasa Arab; la’allakum = agar kamu; ta’qilũn = kamu menggunakan akal (memahami).
innã anzalnãhu qur’ãnan ‘arobiyyal la’allakum ta’qilũn.
2. Sungguh, Aku menurunkannya berupa bacaan berbahasa Arab, agar kamu mau berpikir (memahaminya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bacaan (Alquran) ini menggunakan bahasa Arab. Mereka yang ingin menggali maknanya, harus menggunakan akal-pikirannya mempelajari bahasa Arab ini sebaik-baiknya, agar mengetahui hukum-hukumnya sehingga memahami hakekat maknanya, lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2 : 1

nahnu = Aku; naqushshu = Aku menceriterakan; ‘alaika = kepada kamu; ahsana = sebaik-baik; al qoshoshi = kisah (ceritera); bimã = dengan apa yang; auhainã = Aku mewahyukan; ilaika = kepadamu; hadza = ini; al. qur’ãna = bacaan; wa in = dan sungguh; kunta = kamu adalah; min qoblihĩ = dari sebelumnya; lamina = sungguh termasuk; al ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.
nahnu naqushshu ‘alaika ahsanal qoshoshi bimã auhainã ilaika hadzãl qur’ãna wa in kunta min qoblihĩ laminal ghōfilĩn.
3. Aku menceriterakan sebaik-baik kisah, dengan mewahyukan kepadamu (Muhammad saw.) bacaan ini, dan sungguh, sebelum ini kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini diceriterakan Allah kepada Nabi Muhammad saw. sebagai wahyu. Dalam bahasa Arab, ada al qushshu dan al qoshosh, artinya bekas jejak yang dapat diteliti jejak apa, ke mana, apa yang dilakukan pemilik jejak itu, di mana dilakukannya, mengapa melalui jalan atau jalur itu, bagaimana jalan ceriteranya, dan lain-lain. Semuanya mengandung berbagai informasi, tentang sejarah, fakta yang menyangkut berbagai konsep, persoalan, dan pemecahannya, serta hal-hal yang lainnya.
Allah Maha Mengetahui Nabi Muhammad saw., sebelum kisah ini diwahyukan kepadanya, termasuk orang yang lalai. Dengan kisah ini, Nabi Muhammad saw. banyak mendapatkan hiburan, pelajaran, nasihat, contoh, cermin sehingga tidak memiliki sifat lalai lagi, malah menjadi seorang yang amanah, siddiq, tabligh, fatonah. Kisah-kisah di dalam Alqur’an ini bukan kisah dusta, bukan karangan manusia. Harus didalami untuk mendapatkan manfaat yang banyak tentang proses, prinsip, persoalan hidup dan pemecahannya.

idz = ketika; qōla = berkata; yũsufu = Yusuf; li abĩhi = kepada ayahnya; yã abati = wahai ayahku; innĩ = sesungguhnya aku; ro-aitu = aku melihat; ahada ‘asyaro = sebelas; kaukaban = bintang-bintang; was syamsa = dan matahari; wal qomaro = dan bulan; roaituhum = kulihat mereka; lĩ = kepadaku; sãjidiin = bersujud.
idz qōla yũsufu li abĩhi, yã abati innĩ ro-aitu ahada ‘asyoro kaukaban was syamsa wal qomaro roaituhum lĩ sãjidiin.
4. Ketika Yusuf berbicara kepada ayahnya: “Wahai Ayahku, sesungguhnya, aku melihat (dalam mimpiku) sebelas bintang, matahari, dan bulan kulihat semua sujud kepadaku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera dimulai saat Yusuf mengisahkan mimpi kepada ayahnya. Mimpi Yusuf ini, menurut pandangan ayahnya merupakan kabar gembira, dia akan diangkat tinggi derajatnya di dunia maupun nanti di akhirat. Pandangan ayahnya ini merupakan pandangan seorang Nabi yang waskita, merupakan ramalan masa depan hidup anaknya.

qōla = (ayahnya) berkata; yã bunayya = wahai anakku; lã taqshush = jangan kamu ceriterakan; ru’yãka = mimpi kamu; ‘alã ikhwatika = kepada sudara-saudara kamu; fa yakĩdũ = maka akan membuat tipu-daya; laka = untukmu; kaidan = tipu-daya; inna = sungguh; asy syaithōna = setan itu; lil insaani = bagi manusia; ‘aduwwum = musuh; mubĩn = nyata;

qōla yã bunayya lã taqshush ru’yãka ‘alã ikhwatika fa yakĩdũlaka kaidan, innasy syaithōna lil insaani ‘aduwwum mubĩn.

5. Ayahnya berkata: “Wahai anakku, jangan engkau ceriterakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu-daya untukmu (membinasakan kamu). Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menceritakan seorang ayah yang menasihati anaknya, berdasarkan pandangannya atas mimpinya itu. “Jangan menceriterakan mimpimu kepada saudara-saudaramu.” Alasannya, mereka akan membuat tipu-daya untuk membinasakan kamu. Nasihat “setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” ayat ini (telah dikemukakan dalam beberapa ayat sebelumnya) lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 112, 142; al A’raf, 7 : 22, 36; dan surat-surat yang lainnya.

wa kadzãlika = dan demikianlah; yajtabĩka = memilih kamu; robbuka = Rab kamu; wa yu’allimuka = dan Dia mengajar kamu; min ta’wĩl = dari takwil; al ahōdĩtsi = kejadian (mimpi); wa yutimmu = dan Dia sempurnakan; ni’matahũ = nikmat-Nya; ‘alaika = kepada kamu; wa ‘alã = dan kepada; ãli = keluarga; ya’qũba = Ya’qub; kamã = sebagaimana; atammahã = Dia sempurnakan; alã = kepada; abawaika = kedua ibu-bapak kamu; min qoblu = dari sebelum ini; ibrōhĩma = (yaitu) Ibrahim; wa is-hãqo = dan Ishaq; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana
wa kadzãlika yajtabĩka robbuka wa yu’allimuka min ta’wĩlil ahōdĩtsi wa yutimmu ni’matahũ ‘alaika wa ‘alã ãli ya’qũba kamã atammahã alã abawaika min qoblu ibrōhĩma wa is-hãqo, inna robbaka ‘alĩmun hakĩm.
6. Demikianlah, Rab kamu memilih kamu (Yusuf) sebagai nabi, dan mengajarkan sebagian takwil mimpi, dan menyempurnakan (nikmatnya) kepadamu, dan kepada keluarga Ya’qũb, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang tuanya sebelum itu, yaitu Ibrahim dan Is-haq. Sungguh, Aku Rab kamu Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memilih Yusuf menjadi Nabi dan mengajari menakwilkan mimpi orang, seperti kepada bapak dan nenek-moyangnya Ya’qũb yaitu Ibrahim, Is-haq.
laqod = sungguh; kãna = adalah; fĩ = di dalam; yũsufa = Yusuf; wa ikhwatihĩ = dan saudara-saudaranya; ãyãtun = ayat-ayat (tanda-tanda); lissã-ilĩn = bagi orang-orang yang bertanya.
laqod kãna fĩ yũsufa wa ikhwatihĩ ãyãtul lissã-ilĩn.
7. Sungguh, dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya ada tanda-tanda kebesaran Allah.
idz = ketika; qōlũ = mereka berkata; la yũsufu = sesungguhnya Yusuf; wa akhũhu = dan saudaranya; ahabbu = lebih dicintai; ilã = kepada; abĩnã = bapak kita; minnã = daripada kita; wa nahnu = padahal kita; ushbatun = satu golongan; inna = sesungguhnya; abãnã = bapak kita; lafĩ = sungguh dalam; dholãlin = kesesatan; mubĩn = yang nyata.
idz qōlũ la yũsufu wa akhũhu ahabbu ilã abĩnã minnã wa nahnu ushbatun inna abãnã lafĩ dholãlim mubĩn.
8. Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya, Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai Bapak daripada kepada kita, padahal kita satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya, Bapak kita dalam kesesatan yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada prasangka Yusuf dan Bunyamin lebih dicintai Bapaknya daripada kepada saudara-saudaranya yang lain. Bapaknya dianggap melakukan perbuatan yang sesat.
aqtulũ = bunuhlah; yũsufa = Yusuf; awi = atau; ithrahũhu = buanglah ia; ardhon = di suatu tempat (di bumi); yakhlu = tertumpah (tertuju); lakum = kepadamu; wajhu = wajah (perhatian); abĩkum = bapakmu; wa takũnũ = dan kamu menjadi; mim ba’dihĩ = dari sesudah itu; qauman = kaum; shōlihĩn = yang saleh.
aqtulũ yũsufa awi uthrhũhu ardhon yakhlu lakum wajhu abĩkum wa takũnũ mim ba’dihĩ qauman shōlihĩn
9. “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat, agar perhatian Bapak melimpah kepadamu, dan setelah itu, kamu menjadi orang yang baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah ini muncul dari kata hati saudar-saudaranya. Pekerjaan jahat yang diperintahkan (dibisikkan) setan, kalau terlaksana, mereka diiming-imingi akan mendapat sesuatu yang baik dalam hidupnya. Padahal akan sebaliknya, berakibat jelek.
qōlã = berkata; qō-ilun = orang yang berbicara; min hum = di antara mereka; lã taqtulũ = jangan kamu bunuh; yũsufa = Yusuf; wa alqũhu = dan lemparkan dia; fĩ ghoyãbati = di dasar; al jubbi = sumur; yaltaqith-hu = memungutnya; ba’dho = sebagaian; as sayyãroti = orang-orang musafir; in kuntum = jika kamu sekalian; fã’ilĩn = hendak berbuat.
qōlã qō-ilum min hum lã taqtulũ yũsufa wa alqũhu fĩ ghoyãbatil jubbi yaltaqith-hu ba’dhos sayyãroti in kuntum fã’ilĩn.
10. Seorang pembicara di antara mereka berkata: “Jangan kamu bunuh Yusuf, (tetapi) masukkan dia ke dasar sumur, nanti dia dipungut oleh salah seorang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf di antara para pelaku, sudara-saudaranya.
qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; mã = apa; laka = bagi kamu; lã ta’manna = engkau tidak mempercayai kami; ‘alã yũsufa = atas Yusuf; wa innã = dan sungguh kami; lahũ = baginya; la nãshihũn = sungguh, orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya.
qōlũ yã abãnã mã laka lã ta’manna ‘alã yũsufa wa innã lahũ la nãshihũn.
11. Mereka berkata: “Hai Bapak kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami atas Yusuf, padahal, sesungguhnya, kami semua menginginkan kebaikan baginya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf di antara saudara-saudara dan bapaknya.
arsilhu = biarkanlah dia; ma’anã = bersama kami; ghodan = besok pagi; yarta’ = dia bersuka-ria; wayal’ab = dan dia bermain-main; wa innã = dan sesungguhnya kami; lahũ = kepadanya; la hãfizhũn = sungguh orang-orang yang menjaga.
arsilhu ma’anã ghodan yarta’wayal’ab wa innã lahũ lahãfizhũn.
12. Biarkanlah dia (pergi) bersama kami besok pagi, (agar) dia dapat bersuka-ria dan bermain-main. Sesungguhnya, kami akan menjaganya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata-kata tipuan, dan bujukan demikianlah, sebagai contoh dari orang-orang yang akan berbuat jahat.
qōla = (Ya’qub) berkata; innĩ = sesungguhnya aku; la yahzununĩ = amat menyedihkan aku; an tadzhabũ = karena kepergianmu; bihĩ = dengannya (Yusuf); wa akhōfu = dan aku khawatir; an ya’kulahu = bahwa memakannya; adzdzi’bu = ajag (serigala); wa antum = sedang kamu; ‘anhu = darinya; ghōfilũn = kamu semua lengah.
qōla innĩ layahzununĩ an tadzhabũ bihĩ wa akhōfu an ya’kulahu adzdzi’bu wa antum ‘anhu ghōfilũn.
13. Ya’qub berkata: “Sungguh amat menyedihkan aku, karena kepergian kamu semua dengan Yusuf, dan aku khawatir, serigala memakannya, sedang kamu semua lengah menjaganya.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub tampaknya sudah mempunyai firasat, apa yang akan terjadi terhadap Yusuf. Lihat ayat 5, 6 di atas.

qōlũ = (mereka) berkata; la-in = sesungguhnya, jika; akalahu = memakan dia; adz dzi’bu = ajag (serigala); wa nahnu = sedang kami; ‘ashbatun = pihak; innã = sesungguhnya kami; idza = jika demikian; la khōsirũn = sungguh termasuk orang-orang yang merugi.
qōlũ la-in akalahudz dzi’bu wa nahnu ‘ashbatun innã idzal la khōsirũn.
14. Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata: “Sesungguhnya, jika serigala memakan dia, sedang kami dari pihak (yang kuat), jika demikian sungguh, kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub meyakinkan bapaknya, bahwa mereka di pihak yang kuat, pasti mampu menjaga keselamatan Yusuf.

fa = maka; lammã = ketika; dzahabũ = mereka pergi; bihĩ = dengannya (Yusuf); wa ajma’ũ = dan mereka telah bersepakat; an yaj’alũhu = untuk memasukkannya (Yusuf); fĩ ghoyãbati = ke dasar; al jubbi = sumur; wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilaihi = kepadanya; la tunabbi-annahum = sungguh kamu akan menceriterakan kepada mereka; bi amrihim = dengan perbuatannya; hãdzã = ini; wahum = sedang mereka; lã yasy’urũn = tidak menyadari.

fa lammã dzahabũ bihĩ wa ajma’ũ an yaj’alũhu fĩ ghoyãbatil jubbi, wa auhainã ilaihi la tunabbi-annahum bi amrihim hãdzã wahum lã yasy’urũn.

15. Maka ketika mereka pergi bersama Yusuf, dan mereka telah bersepakat untuk memasukkannya ke dasar sumur. Dan (setelah Yusuf di dalam sumur) Aku wahyukan kepadanya: “Sesungguhnya kamu akan menceriterakan kepada mereka perbuatannya ini, sedang mereka tidak menyadari.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudara Yusuf ternyata sudah mempunyai rencana jahat terhadap Yusuf. Namun, Yusuf ternyata mendapat lindungan dan bimbingan Allah dalam menjalani hidupnya. Allah memberitahu Yusuf bahwa peristiwa dirinya, kelak akan diceriterakan Yusuf kepada saudara-saudaranya itu. Hal ini tidak disadari oleh saudara-saudara Yusuf yang diliputi nafsu amarah, cemburu kepada Yusuf.
wa jã-ũ = dan mereka mendatangi; abãhum = bapak mereka; ‘isyã-an = waktu isya (sore); yabkũn = mereka menangis.
wa jã-ũ abãhum ‘isyã-an yabkũn.

16. Dan mereka mendatangi bapak mereka, pada waktu isyã (sore) sambil menangis.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka datang sore hari kepada bapaknya, sambil berpura-pura. Salah satu ciri orang munafik.
qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; innã = sesungguhnya Aku; dzahabnã = kami pergi; nastabiqu = kami berlumba; wa taroknã = dan kami tinggalkan; yũsufa = Yusuf; inda = di sisi; matã’inã = barang-barang kami; fa-akalahu = lalu memakannya; adz dzi’bu = ajag (serigala); wa mã = dan tidak lah; anta = Bapak; bi mu’minin = orang-orang yang percaya; lannã = kepada kami; wa lau = walau pun; kunna = kami adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
qōlũ yã abãnã innã dzahabnã nastabiqu wa taroknã yũsufa inda matã’inã fa-akalahudz dzi’bu, wa mã anta bi mu’minil lannã wa lau kunna shōdiqĩn.

17. Mereka berkata: “Wahai Bapak kami, Sesungguhnya, kami pergi berlomba, dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan Bapak tentu tidak percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rangkaian kata-kata bohong meluncur dari mulut orang-orang yang suka berbohong untuk meyakinkan kenyataan yang tidak pernah terjadi, menjadi seperti benar-benar terjadi. Banyak perbuatan dosa yang sering dilakukan orang untuk mendapatkan berbagai keuntungan dunia, tetapi di akhirat, perbuatan itu akan mendapatkan hukuman dari Allah. Behati-hatilah.
wa jã-ũ = dan mereka datang; ‘alã qomĩshihĩ = dengan bajunya; bi damin = dengan darah; kadzibin = dusta, palsu; qōla = (Ya’qub) berkata; bal = bahkan; sawwalat = menunjukkan; lakum = bagi kamu sekalian; anfusukum = diri kamu sendiri; amron = perkara; fashabrun = maka kesabaran; jamĩlun = baik (bagus); wallãhu = dan Allah; al musta’ãnu = tempat memohon pertolongan; ‘alã = terhadap; mã = apa; tashifũn = kamu ceriterakan.
wa jã-ũ ‘alã qomĩshihĩ bi damin kadzibin, qōla bal sawwalat lakum anfusukum amron, fashabrun jamĩlun, wallãhul musta’ãnu ‘alã mã tashifũn.

18. Dan mereka datang dengan membawa bajunya yang berlumuran darah palsu. Ya’qub berkata:“Tidak, bahkan dirimu sendiri yang menunjukkan melakukan perkara ini, maka kesabaran itulah yang terbaik. Dan Allah sajalah tempat memohon pertolongan, terhadap apa yang kamu ceriterakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepura-puraan mereka ditolak oleh bapaknya, dengan perkataan “tidak”, yang diikuti pernyataan halus, bahwa perkara itu, mereka saja yang mempertunjukkannya, dengan pesan untuk semua makhluk, khususnya manusia yang mengkin menghadapi persolaan yang serupa, maka kesabaran dan kepercayaan, hanya kepada Allah Yang akan menolong memecahkan persoalan yang dihadapi.
wa jã-at = dan datanglah; sayyãrotun = sekelompok musafir; fa-arsalũ = lalu mereka menyuruh; wã ridahum = seorang pengambil air; fa-adlã = lalu dia mengulurkan; dalwahũ = timbanya; qōlu = Pengambil air itu berkata; yã busyrō = oh, berita gembira; hãdzã = ini; ghulãmun = seorang anak muda; wa asarrũhu = dan mereka menyembunyikannya; bi dhō’atan = dengan barang dagangan; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bimã = terhadap apa; ya’malũn = yang mereka kerjakan.
wa jã-at sayyãrotun fa-arsalũ wã ridahum fa-adlã dalwahũ, qōlu yã busyrō hãdzã ghulãmun, wa asarrũhu bi dhō’atan, wallãhu ‘alĩmum bimã ya’malũn.

19. Dan datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu diulurkanlah timbanya. Pengambil air itu berkata: “Oh, kabar gembira, ini (aku mendapat) seorang anak muda.” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf menjadi barang temuan, ditemukan, dan disembunyikan pengambil air, dan dijadikan barang dagangan. Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan.
wa syarauhu = dan mereka menjualnya; bi tsamanĩ = dengan harga; bakhsin = murah; darohima = (beberapa) dirham: ma’dũdatin = terhitung; wa kãnũ = dan mereka adalah; fĩhi = padanya; mina = termasuk; az zãhidiin = orang-orang yang tidak tertarik (senang)
wa syarauhu bi tsamanĩ bakhsin darohima ma’dũdatin wa kãnũ fĩhi minaz zãhidiin
20. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf dijual kepada musafir lain dengan harga murah, beberapa dirham saja, karena merasa tidak tertarik, hanya ingin segera meninggalkannya, dan mereka tidak mengetahui kedudukan Yusuf di sisi Allah.

wa qōla = dan berkatalah; al ladzĩ = orang yang; isytarōhu = membelinya; mim mishro = dari Mesir; limro-atihĩ = kepada istrinya; akrimi = muliakan dia; matswãhu = tempatnya; ‘asã = boleh jadi; an yanfa’anã = mungkin dia bermanfaat; au = atau; nattakhidzahũ = atau kita pungut; waladan = sebagai anak; wa kadzãlika = dan demikianlah; makkannã = Aku beri kedudukan; li yũsufa = kepada Yusuf; fil ardhĩ = di bumi; wa linu’allimahũ = dan karena Aku akan mengajarkan kepadanya; min ta’wĩli = dari tabir; al ahãdĩtsi = kejadian-kejadian mimpi; wallãhu = dan Allah; ghōlibun = berkuasa; ‘alã = atas; amrihĩ = urusan-Nya; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
wa qōlal ladzĩ isytarōhu mim mishro limro-atihĩ akrimi matswãhu ‘asã an yanfa’anã au nattakhidzahũ waladan wa kadzãlika makkannã li yũsufa fil ardhĩ wa linu’allimahũ min ta’wĩli al ahãdĩtsi, wallãhu ghōlibun ‘alã amrihĩ wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.
21. Dan berkatalah orang dari Mesir yang membelinya, kepada istrinya: “Muliakanlah dia, dan beri tempat yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita. Atau, kita pungut sebagai anak”. Dan demikianlah, Aku memberi kedudukan (yang baik) kepada Yusuf di muka bumi, dan karena Aku hendak mengajarkan tabir mimpi kepadanya. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kesenangan, kemuliaan, kedudukan manusia di muka bumi itu, Allah yang menetapkan. Allah menguasai segala urusan-Nya.

wa lammã = dan setelah; balagho = dia sampai balig; asyuddahũ = dewasa; ãtainãhu = Aku berikan kepadanya; hukman = hikmah (pengetahuan, kekuasaan); wa ‘ilman = dan ilmu; wa kadzãlika = dan demikian itu; najzĩ = Aku memberi balasan; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa lammã balagho asyuddahũ ãtainãhu hukman wa ‘ilman, wa kadzãlika najzĩl muhsinĩn

22. Dan setelah dia sampai usia dewasa, Aku berikan kepadanya hikmah (pengetahuan, kekuasaan) dan ilmu. Demikianlah, Aku berikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dewasa jasmani dan dewasa rohani artinya sudah matang dalam menggunakan ilmu, pengetahuan,dan hukum untuk memperjuangkan hidup pemberian Allah. Allah membalas segala usaha makhluk-Nya untuk berbuat baik dalam mencapai karunia yang dilimpahkan di alam semesta berupa ilmu, kekayaan, kebesaran, kekuasaan, kesenangan, kenikmatan, kesempurnaan.

warō wadat-hu = dan ia (perempuan) datang (menggodanya); al latĩ = (wanita) yang; huwa = dia (Yusuf); fĩ baitihã = di dalam rumahnya; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; wa ghollaqoti = ia menutup; al abwãba = pintu-pintu; wa qōlat = ia berkata; haitalak = kamu kemarilah; qōla = (Yusuf) berkata; ma’ãdzallah = (aku) berlindung kepada Allah; innahũ = sesungguhnya; robbĩ = tuanku; ahsana = sangat baik; matswã = tempatku; innahũ = sesungguhnya; lã yuflihu = tidak beruntung; adh dhōlimũn = orang-orang yang lalim.

warō wadat-hul latĩ huwa fĩ baitihã ‘an nafsihĩ wa ghollaqotil abwãba wa qōlat haitalak, qōla ma’ãdzallah, innahũ robbĩ ahsana matswã, innahũ lã yuflhudh dhōlimũn.

23. Dan ia (wanita; Zulaikhah) mendatangi (menggoda untuk menundukkan dirinya) Yusuf yang tinggal di rumahnya, dan ia menutup pintu seraya berkata: “Kemarilah kamu”, Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya, tuanku (Qitfir) telah memberikan tempat yang sangat baik kepadaku. Sesungguhnya orang-orang lalim tidak beruntung.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Wajar perempuan tertarik kepada laki-laki, atau sebaliknya . Tidak wajar, perempuan yang sudah bersuami tertarik kepada laki-laki yang bukan suaminya, atau sebaliknya. Zulaikhah, istri Qitfir menggoda Yusuf, pemuda tampan yang beriman kepada Allah. Yusuf berhutang budi kepada tuannya, yang telah memberi tempat yang baik. Maka godaan itu ditolak dengan memberi nasihat halus, bermohon untuk dilindungi Allah dari berbagai godaan kenikmatan, kesenangan, kedudukan yang tidak wajar. Orang yang menggoda untuk berbuat tidak senonoh disebut orang lalim, orang yang tidak beruntung dalam berjual-beli dengan Allah.
wa laqod = dan sesunguhnya; hammat = ia suka; bihĩ = kepadanya; wa hamma = dan dia suka; bihã = kepadanya; lau lã = kalau tidak; ar ro-ã = dia melihat; burhãna = tanda-tanda; robbihĩ = keburukan; kadzãlika = dan perbuatan keji; linashrifa = sesungguhnya dia; ‘anhu = termasuk hamba-hamba-Ku; as sũ-a = keburukan; wal fahsyã-a = dan perbuatan keji; innahũ = sesungguhnya dia; min ‘ibãdinã = termasuk hamba-hamba-Ku; al mukhlashĩn = orang-orang yang ikhlas.
wa laqod hammat bihĩ, wa hamma bihã lau lã ar ro-ãburhãna robbihĩ kadzãlika linashrifa ‘anhus sũ-a wal fahsyã-a, innahũ min ‘ibãdinãl mukhlashĩn.

24. Dan sesungguhnya, wanita itu suka kepadanya (Yusuf), dan Yusuf (juga) suka kepadanya (Zulaikhah), kalau dia (Yusuf) tidak melihat tanda-tanda Rabnya (tentu dia melakukan perbuatan itu). Demikianlah, karena Aku hendak memalingkan keburukan dan perbuatan keji darinya. Sesungguhnya, dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba-Ku yang ikhlas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Zulaikhah suka kepada Yusuf, Yusuf juga suka kepada Zulaikhah, namun Yusuf dibekali iman dan takwa kepada Allah, maka Yusuf tidak bertindak sesukanya. Ayat-ayat (petunjuk) Allah bentengnya. Maka perbuatan buruk, keji dapat dicegahnya. Yusuf menerima kadar hidupnya dengan ikhlas.
wastabaqo = keduanya berlumba; al bãba = (mencapai) pintu; wa qoddat = dan ia menarik hingga koyak; qomĩshohũ = gamis Yusuf; min duburĩn = dari belakang; wa alfayã = dan keduanya mendapati; sayyidahã = tuannya; lada = di depan; al bãbi = pintu; qolat = (wanita) berkata; mã jazã-u = apakah balasan; man = orang yang; arōda = bermaksud; bi-ahlika = dengan istri kamu; sũ-an = serong; illã = selain; an = agar (ia); yusjana = dipenjara; au = atau; ‘adzãbun = azab; alĩmu = yang pedih.
wastabaqol bãba wa qoddat qomĩshohũ min duburĩn wa alfayã sayyidahã ladal bãbi, qolat mã jazã-u man arōda bi-ahlika sũ-an illã an yusjana au ‘adzãbun alĩmu.
25. Keduanya berlumba menuju pintu, dan perempuan itu menarik bagian belakang gamis Yusuf sampai koyak, dan keduanya mendapati tuannya di depan pintu. Wanita itu berkata: “Apakah balasan atas orang yang bermaksud serong terhadap istrimu? Tidak lain ia harus dipenjara atau dihukum siksa yang pedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebohongan wanita itu memutarbalikkan kenyataan, Yusuf dikatakan akan berbuat serong terhadap dirinya. Padahal dirinya yang ingin kepada Yusuf, dan memaksanya untuk berbuat tak senonoh.
qōla = berkata; hiya = dia (Yusuf); rōwadatnĩ = menggodaku; ‘an nafsĩ = kepada diriku; wa syahida = dan memberi kesaksian; syahidun = seorang saksi; min ahlihã = dari keluarganya (perempuan); in kãna = jika adalah; qomĩshuhũ = gamisnya; qudda = koyak; min qubulin = dari depan; fa shodaqot = maka wanita itu benar; wa huwa = namun dia (Yusuf); minal kãdzibĩn = orang-orang yang dusta.
qōla hiya rōwadatnĩ ‘an nafsĩ, wa syahida syahidum min ahlihã in kãna qomĩshuhũ qudda min qubulin fa shodaqot wa huwa minal kãdzibĩn.
26. Dia (Yusuf) berkata: “Dia yang menggodaku, dan merayu diriku.” Seorang saksi dari keluarga wanita Itu memberi kesaksian: “Jika gamisnya koyak di bagian depan, maka wanita itu benar”. Namun dia (Yusuf) dianggap orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf berkata hal yang sesungguhnya, dan seorang saksi mengatakan sesuatu yang sesuai dengan fakta, namun Yusuf tetap dianggap dusta.
wa in = dan jika; kãna = ada; qomĩshuhũ = gamisnya; quddo = koyak; min dubũrin = di belakang; fakadzabat = maka (wanita) itu dusta; wa huwa = dan dia (Yusuf); mina = termasuk; ash shōdiqĩn = orang yang benar.
wa in kãna qomĩshuhũ quddo min dubũrin fakadzabat wa huwa minash shōdiqĩn.
27. “Dan jika gamisnya koyak di bagian belakang, maka wanita itu yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk yang benar”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini fakta yang sesungguhnya.

fa lammã = maka ketika; ro-ã = dia melihat; qomĩshohũ = gamisnya; quddo = koyak; min duburin = di belakang; qōla = dia berkata; innahũ = sesungguhnya (kejadian) itu; min kaidikunna = dari tipu daya kamu (wanita); inna = sesungguhnya; kaidakunna = tipu-daya kamu; ‘azhĩm = sangat memalukan.
fa lammã ro-ã qomĩshohũ quddo min duburin qōla innahũ min kaidikunna, inna kaidakunna ‘azhĩm.
28. Maka ketika dia (suami wanita itu) melihat gamisnya koyak di belakang, berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu tipu daya kamu (wanita), sesungguhnya, tipu daya kamu itu sangat memalukan”.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qitfir melihat kejadian itu sebagai tipu-daya istrinya yang sangat memalukan.
yusufu = Yusuf; a’ridh = berpalinglah (rahasiakanlah); ‘an hãdzã = dari kejadian ini; wastaghfiri = dan mohon ampunlah kamu (wanita); li dzambiki = atas dosa kamu (wanita); innaki = sesungguhnya kamu (wanita); kunti = kamu (wanita); mina = dari; al khothi-ĩn = orang-orang yang bersalah.
yusufu a’ridh ‘an hãdzã, wastaghfiri li dzambiki, innaki kunti minal khothi-ĩn.
29. Yusuf, rahasiakanlah kejadian ini, dan kamu (istri Qitfir) mohon ampunlah atas dosamu, sesungguhnya, kamu termasuk orang-orang yang bersalah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qitfir sebagai seorang yang terpandang, beriman meminta Yusuf merahasiakan kejadian yang memalukan dirinya yang berkedudukan terpandang. Beliau juga meminta istrinya agar memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah dibuatnya.
wa qōla = dan berkata; niswatun = wanita-wanita; fĩl madiinati = dari kota; amroatu = istri; al azĩzi = Pembesar Mesir; turōwidu = menggoda; fa tãhã = pembantunya; ‘an nafsihĩ = untuk (menuruti kehendak) dirinya; qod = sungguh; syaghofahã = sangat mendalam; huban = cintanya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōhã = sungguh Aku memandangnya; fĩ dholãlin = dalam kesesatan; mubĩnin = yang nyata.
wa qōla niswatun fĩl madiinati amroatul azĩzi turōwidu fa tãhã ‘an nafsihĩ, qod syaghofahã huban, innã lanarōhã fĩ dholãlim mubĩnin.

30. Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al Aziz (Pembesar Mesir) menggoda pembantunya untuk menuruti kehendak dirinya, sungguh cintanya sangat mendalam (kepada Yusuf). Sesungguhnya, kami melihat kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gosip wanita-wanita kota mengenai istri Pembesar Kota yang jatuh hati kepada pembantunya merebak. Mereka menilai perbuatan itu sangat tercela.

fa lammã = maka ketika; sami’at = wanita itu mendengar; bi makrihinna = cercaan mereka; arsalat = dia mengundang; ilaihinna = kepada mereka; wa a’tadat = dan dia menyediakan; lahunna = bagi mereka; muttaka-an = tempat duduk; wa ãtat = dan dia memberikan; kulla = masing-masing; wãhidatin = seorang; min hunna = dari mereka; sikkĩnan = sebuah pisau; wa qōlati = dan dia berkata; akhruj = keluarlah (tunjukkan dirimu); ‘alaihinna = kepada mereka; fa lammã = maka ketika; ro-ainahũ = mereka melihatnya; akbar nahũ = mereka kagum kepadanya; wa qotho’nã = dan mereka memotong; aidĩyahunna = jari-jari mereka; wa qulna = dan mereka berkata; hãsya = Mahasempurna; lillãhi = bagi Allah; mã hãdzã = bukanlah ini; basyaron = manusia; in hãdzã = tidak lain ini; illã = hanyalah; malakun = Malaikat; karĩmu = yang mulia.

fa lammã sami’at bi makrihinna arsalat ilaihinna wa a’tadat lahunna muttaka-an wa ãtat kulla wãhidatim min hunna sikkĩnan wa qōlati akhruj ‘alaihinna, fa lammã ro-ainahũ akbar nahũ wa qotho’nã aidĩyahunna wa qulna hãsya lillãhi mã hãdzã basyaron in hãdzã illã malakun karĩmu.

31. Maka ketika Zulaikhah mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu, dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (tunjukkan dirimu) kepada mereka.” Maka ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada ketampanan rupanya, dan mereka memotong (jari) tangan mereka, dan berkata: “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya, ia itu malaikat yang mulia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah istri yang merasa dirinya dicerca orang banyak, mencari akal, bagaimana agar mereka yang mencerca itu menyadari mengapa dirinya sampai berbuat tidak senonoh.
qōlat = wanita itu berkata; fadzãlikunna = maka itu dia; al ladzĩ = orang yang; lumtunnanĩ = kamu mencela aku; fĩhi = kepadanya; walaqod = dan sesungguhnya; rōwadtuhũ = aku telah menggoda dia; ‘an nafsihĩ = agar mengikuti kemauan diriku; fasta’shoma = namun dia menolak; wa la-il lam = dan jika tidak; yaf’al = dia melakukan; mã ãmuruhũ = apa yang aku perintahkan kepadanya; la yusjananna = niscaya dia dipenjara; wa layakũnan = dan niscaya dia menjadi; minash shōghirĩn = menjadi orang yang hina.
qōlat fadzãlikunnal ladzĩ lumtunnanĩ fĩhi, walaqod rōwadtuhũ ‘an nafsihĩ fasta’shoma, wa la-il lam yaf’al mã ãmuruhũ la yusjananna wa layakũnam minash shōghirĩn.
32. Wanita itu berkata, “Itulah orangnya yang (menyebabkan) aku (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya, aku telah menggodanya agar dia mengikuti kemauanku, namun dia menolak. Dan jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang terhina.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih lanjutan ceritera istri yang mencari akal untuk pembenaran perbuatan yang tidak senonohnya.
qōla = Yusuf berkata; robbi = Rabku; as sajnu = penjara; ahabbu = lebih aku sukai; ilayya = bagiku; mimmã = dari apa; yad’ũnanĩ = mereka seru kepadaku; ilaih = kepadanya; wa illã = dan jika tidak; tashrif = Engkau palingkan; ‘annĩ = dariku; kaidahunna = tipu-daya mereka; ashbu = aku cenderung; ilaihinna = kepada mereka; wa akun = dan aku menjadi; mina = termasuk; al jãhilĩn = orang-orang yang bodoh.
qōla robbis sajnu ahabbu ilayya mimmã yad’ũnanĩ ilaih, wa illã tashrif ‘annĩ kaidahunna ashbu ilaihinna wa akum minal jãhilĩn.
33. Yusuf berkata: “Wahai Rabku, penjara bagiku lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau palingkan dariku tipu-dayanya, (pasti) aku termasuk orang-orang yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi manusia berakhlak jelek memenuhi ajakan berbuat tidak senonoh lebih disukai, dan mereka tidak juga menyukai hidup di penjara. Bagi Yusuf, penjara lebih disukai daripada memenuhi ajakan melakukan perbuatan tidak senonoh. Inilah pilihan orang cerdas.

fa astajãba = maka memperkenankan doa; lahũ = kepadanya (Yusuf); robbuhu = Rabnya; fashorofa = maka Dia palingkan; ‘anhu = darinya (Yusuf); kaidahunna = tipu-dayanya; innahũ = sesungguhnya, Dia; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.
fa astajãba lahũ robbuhu fashorofa ‘anhu kaidahunna, innahũ huwas samĩ’ul ‘alĩm.
34. Maka Rabnya memperkenankan doa Yusuf, maka Dia palingkan Yusuf dari tipu-dayanya. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Maha Mendengar doa makhluk-Nya, Allah juga Maha Mengetahui segala apa yang dipikirkan, dirasakan, dikerjakan makhluk-Nya. Allah Maha Memperkenankan doa makhluk-Nya.
tsumma = kemudian; badã = timbul; lahum = bagi mereka; mim ba’di = dari sesudah; mã = apa yang; ro awu = mereka lihat; al ãyãti = tanda-tanda; layas jununnahũ = mereka harus memenjarakannya; hattã = sampai (hingga); hĩnin = beberapa waktu.
tsumma badãlahum mim ba’di mã ro awul ãyãti layas jununnahũ hattã hĩnin
35. Kemudian timbul (pikiran) bagi mereka, sesudah mereka melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), namun, mereka harus memenjarakan Yusuf, hingga beberapa waktu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Al Aziz dan para sabahatnya melihat berbagai bukti kebenaran, kejujuran Yusuf, namun mereka tetap memenjarakannya beberapa saat, maksudnya, agar tidak tersebar aib dan kejelekan keluarga Al Aziz. Manusia merencanakan sesuatu yang menuntut tanggung jawabnya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Merencanakan segala sesuatu kejadian di alam semesta ini.
wa dakhola = dan masuk; ma’ahu = bersama dia; as sijna = penjara; fatayaani = dua orang pemuda; qōla = berkata; ahaduhumã = salah-satu dari keduanya; innĩ = sungguh aku; arōnĩ = aku melihat (bermimpi); a’shiru = aku memeras; khamron = anggur (khamar); wa qōla = dan berkata; al akhoru = yang lain; innĩ = sungguh aku; arōnĩ = aku melihat (bermimpi); ahmilu = aku membawa; fauqo = di atas; ro’si = kepalaku; khubzan = roti; ta’kulu = memakan; ath thoiru = burung; minhu = sebagiannya; nabi’nã = beritakan kepada Aku; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; innã = sungguh Aku; narōka = Aku memandang kamu; minal muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa dakhola ma’ahus sijna fatayaani, qōla ahaduhumã innĩ arōnĩ a’shiru khamron, wa qōla al akhoru innĩ arōnĩ ahmilu fauqo ro’si khubzan ta’kuluth thoiru minhu, nabi’nã bi ta’wĩlihĩ, innã narōka minal muhsinĩn.
36. Dan bersama dia, masuk pula dua orang pemuda ke penjara. Salah-satunya berkata, “Sungguh, aku bernimpi memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” “Berikanlah takwilnya kepada kami. Sesungguhnya kami melihat kamu, termasuk orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf di dalam penjara bersama dua orang pemuda yang bermimpi dan meminta menakwilkannya karena mereka meyakini Yusuf memiliki kemampuan itu.
qōla = (Yusuf) berkata; lã ya’tĩkumã = tidak sampai kepada kamu berdua; tho’ãmun = makanan; turzaqōnihĩ = diberikan makanan itu; illã = melainkan; nabba’tukumã = aku beritakan kepada kamu berdua; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; qobla = sebelum; an ya’tiyakumã = makanan itu sampai kepada kamu berdua; dzãlikumã = yang demikian itu; mimmã = sebagian dari apa; ‘allamanĩ = mengajarkan kepadaku; robbĩ = Rabku; innĩ = sesungguhnya aku; taroktu = aku telah meninggalkan; millata = agama; qaumin = orang-orang; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa hum = sedang mereka; bil akhiroti = kepada ahir akhirat; hum = mereka; kãfirũn = orang-orang yang ingkar.
qōla lã ya’tĩkumã tho’ãmun turzaqōnihĩ illã nabba’tukumã bi ta’wĩlihĩ qobla an ya’tiyakumã, dzãlikumã mimmã ‘allamanĩ robbĩ innĩ taroktu millata qaumil lã yu’minũna billãhi wa hum bil akhiroti hum kãfirũn.
37. Yusuf berkata: “Telah dapat aku beritakan kepada kamu berdua tentang jenis makanan apa yang akan diberikan kepadamu berdua sebelum sampai makanan itu kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan oleh Rabku. Sesungguhnya, aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar terhadap hari akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf dapat menakwilkan jenis makanan apa yang akan diberikan, sebelum sampai kepada dua orang pemuda sambil mengikrarkan bahwa beliau mampu menakwilkan itu karena telah mendapatkan pelajaran dari Rabnya, artinya mengimani Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, serta dia sudah tidak menganut agama orang yang tidak percaya kepada Allah, dan pada hari akhirat.
wat taba’tu = dan aku mengikuti; millata = agama; ãbã-ĩ = bapak-bapakku; ibrōhĩma = Ibrahim; wa is-hãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; mã = tidak; kãna = pantas; lanã = bagi Aku; an = untuk; nusyrika = Aku menyekutukannya; bil lãhi = dengan Allah; min syai-in = dari sesuatu; dzãlika = yang demikian itu; min fadhlil lãhi = dari karunai Allah; ‘alainã = atas Aku; wa ‘alan nãsi = dan atas manusia; wa lãkinna = akan tetapi; akstaron nãsi = kebanyakan manusia; lã yasykurũn = mereka tidak bersyukur.
wat taba’tu millata ãbã-ĩ ibrōhĩma wa is-hãqo wa ya’qũba, mã kãna lanã an nusyrika bil lãhi min syai-in dzãlika min fadhlil lãhi ‘alainã wa ‘alan nãsi wa lãkinna akstaron nãsi lã yasykurũn.

38. Dan aku mengikuti agama nenek-moyangku Ibrahim, Is-haq, dan Ya’qub. Tidak pantas bagi Aku (para Nabi) menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah karunia dari Allah kepada Aku, dan kepada manusia (semuanya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mengikuti agama nenek-moyangnya. Para Nabi tidak pantas menyekutukan sesuatu apa dengan Allah. Tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu itu karunia Allah bagi semua makhluk-Nya. Tapi kebanyakan makhluk-Nya tidak bersyukur. Ini peringatan kepada semua manusia agar jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, dan harus bersyukur atas segala karunia-Nya.

yã shohibayi = wahai dua penghuni; as sijni = penjara; ‘a-arbãbun = apakah tuhan-tuhan; mutafarriqũna = yang bermacam-macam; khoirun = lebih baik; ami = ataukah; allãhu = Allah; al wãhidu = Yang Maha-esa; al qohhar = Mahaperkasa.
yã shohibayi as sijni ‘a-arbãbum mutafarriqũna khoirun amillãhul wãhidul qohhar.
39. Wahai dua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha-esa, Mahaperkasa?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan pilihan, mana yang terbaik bagi seseorang dalam mempercayai sesembahannya. Pertanyaan realistis dan demokratis serta pernyataan Allah itu Maha-esa, Mahaperkasa.
mã ta’budũna = janganlah kamu sekalian mengabdi (menyembah); min dũnihĩ = dari selain Dia; illa asmã-an = kecuali nama-nama; sammaitumũhã = kamu sekalian menamakannya; antum = kamu sekalian; wa ãbã-ukum = dan nenek-moyang kamu sekalian; mã = tidak; anzalallãhu = Allah menurunkan; bihã = dengannya; min sulthōnin = dari kekuatan; ini = tidaklah; al hukmu = hukum (keputusan) itu; illa = kecuali; lillah = kepunyaan Allah; amaro = Dia perintahkan; illã = agar jangan; ta’budũ = kamu sekalian sembah; illã = kecuali (selain); iyyãhu = kepada Dia; dzãlika = demikian itulah; ad diinu = agama; al qoyyimu = yang lurus; wa lã kinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
mã ta’budũna min dũnihĩ illa asmã-an sammaitumũhã antum wa ãbã-ukum mã anzalallãhu bihã min sulthōnin, inil hukmu illa lillah, amaro illã ta’budũ illã iyyãhu, dzãlikad diinul qoyyimu wa lã kinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

40. Apa yang kamu sembah selain Dia, hanya nama-nama yang dibuat-buat oleh nenek-moyang kamu. Allah tidak menurunkan keterangan tentang nama-nama itu. Ketentuan nama-nama hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintah, agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mendakwahi kedua tawanan itu, pada hakekatnya untuk semua manusia di dunia tentang Allah yang seharusnya disembah. Seharusnya semua makhluk di jagat raya, dan semua manusia mengetahui.

yã shōhibayis sijni = wahai dua penghuni penjara; ammã = adapun; ahadukumã = salah seorang dari kamu berdua; fa yasqĩ = akan menyediakan minum; robbahũ = tuannya; khamron = khamar; wa ammã = dan adapun; al ãkhoru = yang lain; fa yushlabu = maka akan disalib; fa ta’kulu = lalu memakan; ath thoirru = burung; min = sebagian; ro’sihĩ = kepalanya; qodhiya = diputuskan; al amru = perkara; al ladzĩ = yang; fĩhi = padanya; tastaftiyaan = kamu berdua menanyakannya.
yã shōhibayis sijni ammã ahadukumã fa yasqĩ robbahũ khamron, wa ammãl ãkhoru fa yushlabu fa ta’kuluth thoirru mir ro’sihĩ, qodhiyal amrul ladzĩ fĩhi astaftiyaan.

41. Wahai dua penghuni penjara, salah seorang di antara kamu berdua, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi , dia akan disalib, lalu burung akan memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah jawaban takwil mimpi kedua orang yang dipenjara. Yang bernimpi memeras anggur diampuni, dan yang bermimpi membawa roti di atas kepalanya, akan disalib. Sebagian kepalanya akan dimakan burung.
wa qōla = dan (Yusuf) berkata; lilladzĩ = kepada orang yang; zhonna = dia menyangka; annahũ = sesungguhnya ia; nãjin = selamat; min huma = di antara keduanya; udz kurnĩ = terangkan keadaanku; ‘inda = di hadapan; robbika = tuan kamu; fa ansãhu = maka menjadikan ia lupa; sy syaithōnu = setan; dzikro = menerangkan; robbihĩ = tuannya; falabitsa = maka (Yusuf) tetap; fis sijni = di dalam penjara; bidh’a = beberapa; sinĩn = tahun.
wa qōla lilladzĩ zhonna annahũ nãjim min humadzkurnĩ ‘inda robbika fa ansãhusy syaithōnu dzikro robbihĩ falabitsa fis sijni bidh’a sinĩn.

42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang disangkanya akan selamat di antara keduanya, “Terangkan (keadaan)ku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya, maka tetaplah Yusuf di dalam penjara beberapa tahun lamanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf yang mengharapkan kebebasan dengan meminta bantuan orang yang disangka selamat, agar memberitahukan kepada tuannya tentang keadaan Yusuf yang teraniaya dimasukkan penjara tanpa dosa. Namun, ujian bagi Yusuf, setan menjadikan orang tersebut lupa menerangkan keadaan Yusuf, sehinngga dia tetap berada di dalam penjara dalam beberapa tahun.

wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; innĩ = sesungguhnya, aku; arō = melihat (bermimpi); sab’a = tujuh; baqorōtin = sapi; simaanin = gemuk; ya’kuluhunna = memakan mereka; sab’un = tujuh; ‘ijãfun = kurus; wa sab’a = dan tujuh; sumbulãtin = tangkai; khudhrin = hijau; wa ukhoro = dan yang lain; yã bisaatin = kering; yã ayyuha = wahai; al malã-u = orang-orang terkemuka; aftũnĩ = terangkanlah kepadaku; fĩ ru’yãya = dalam mimpiku; inkuntum = jika kamu adalah; lir ru’yã = bagi mimpi; ta’burũn = kamu takbirkan.

wa qōlal maliku innĩ arō sab’a baqorōtin simaanin ya’kuluhunna sab’un ‘ijãfun wa sab’a sumbulãtin khudhrin wa ukhoro yã bisaatin, yã ayyuhal malã-u aftũnĩ fĩ ru’yãya inkuntum lir ru’yã ta’burũn

43. Raja berkata kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya: “Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. Wahai orang-orang terkemuka, terangkanlah kepadaku, takbir mimpiku itu, jika kamu dapat menakbirkan mimpi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah mimpi raja yang melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, ini berbeda dengan kisah sapi betina dalam Surat Al Baqarah, 2: 67 – 71

qōlũ = mereka berkata; adhghōtsu = kacau-balau; ahlamin = mimpi; wa mã nahnu = dan kami tidak; bi ta’wĩli = dengan takwil; al ahlãmi = mimpi; bi’ãlimĩn = orang-orang yang mengetahui.

qōlũ adhghōtsu ahlamin, wa mã nahnu bi ta’wĩlil ahlãmi bi’ãlimĩn.

44. Mereka berkata: “Mimpi itu kacau-balau, dan kami tidak mengetahui takwil mimpi itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mimpi raja dianggap mimpi yang kacau, tidak bisa ditakwilkan oleh para cerdik-pandai, orang-orang terkemuka yang hadir.
wa qōla = dan berkata; al ladzĩ = orang yang; najã = selamat; min humã = di antara keduanya; waddakaro = dan teringat; ba’da = sesudah; ummatin = umat; ana = aku; unabbi-ukum = aku akan memberitahukan kepadamu; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; fa arsilũn = maka utuslah aku.

wa qōlal ladzĩ najã min humã waddakaro ba’da ummatin ana unabbi-ukum bi ta’wĩlihĩ fa arsilũn.

45. Dan berkatalah orang yang selamat di antara keduanya, ketika teringat (kepada Yusuf) sesudah (melupakan) beberapa waktu lamanya, “Aku beritahu kepadamu orang yang pandai mentakwilkan mimpi itu. Maka, utuslah aku (menemuinya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera orang yang selamat dari hukuman dan teringat kepada Yusuf yang pandai menakwilkan mimpinya.

yũsufu = Yusuf; ayyuha = wahai; ash shiddĩqu = orang yang paling berpengetahuan; aftinã = terangkan kepada Aku; fĩ sab’i = tentang tujuh; baqarōtin = sapi betina; simaanin = gemuk; ya’kuluhunna = dimakan mereka; sab’un = tujuh; ‘ijãfun = kurus; wa sab’i = dan tujuh; sumbulãtin = tangkai; khudhrin = hijau; wa ukhoro = dan yang lain; yãbisaatin = kering; la’allĩ = agar aku; arji’u = akan kembali; ilaannãsi = kepada orang-orang; la’allahum = supaya mereka; ya’lamũn = mereka mengetahui

yũsufu ayyuhash shiddĩqu aftinã fĩ sab’i baqarōtin simaanin ya’kuluhunna sab’un ‘ijãfun wa sab’i sumbulãtin khudhrin wa ukhoro yãbisaatil la’allĩ arji’u ilaannãsi la’allahum ya’lamũn.

46. Hai Yusuf, orang yang paling berpengetahuan, terangkan kepada aku tentang tujuh sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum lainnya yang kering, agar jika aku kembali kepada orang-orang itu, mereka akan mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf diminta menerangkan takwil mimpi raja. Ash shiddĩqi artinya orang yang berilmu dan berpengetahuan luas.
qōla = (Yusuf) berkata; tazrō’ũna = kamu bertanam; sab’a = tujuh; sinĩna = tahun; da-aban = seperti biasa; fa mã = maka apa; hashodtum = kamu tuai; fadzarũhu = maka tinggalkan; fĩ sumbulihĩ = pada tangkainya; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimmã = dari apa yang; ta’kulũn = kamu makan.
qōla tazrō’ũna sab’a sinĩna da-aban fa mã hashodtum fadzarũhu fĩ sumbulihĩ illã qolĩlam mimmã ta’kulũn.

47. Yusuf berkata, “Kamu bertanam seperti biasa selama tujuh tahun, maka apa yang sudah kamu tuai, biarkan saja di tangkainya, kecuali sedikit (boleh diambil) untuk kamu makan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menyarankan agar selama tujuh tahun ke depan bertanam (artinya kebanyakan penduduk hidup dari hasil pertanian) seperti biasa. Setelah dipanen, biarkan gandum itu di tangkainya (artinya diawetkan, bisa disimpan dalam jangka waktu lama) kecuali sedikit boleh diambil hanya sekedar untuk makan.
tsumma = kemudian; ya’tĩ = datang; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu (demikian); sab’un = tujuh; syidãdun = amat sulit; ya’kulna = mereka memakan; mã qoddamtum = apa yang kamu sediakan; lahunna = bagi mereka; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimmã = dari apa (bibit); tuhshinũn = kamu simpan.
tsumma ya’tĩ mim ba’di dzãlika sab’un syidãdun ya’kulna mã qoddamtum lahunna illã qolĩlam mimmã tuhshinũn.

48. Kemudian sesudah itu datang tujuh (tahun) yang amat sulit (paceklik) yang menghabiskan (makanan) apa yang kamu sediakan bagi mereka, kecuali sedikit dari (bibit) yang kamu simpan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini takwil mimpi yang diperlukan. Manusia harus siaga (berjaga-jaga) untuk masa sulit yang akan datang. Perlu perkiraan untuk masa yang akan datang.
tsumma = kemudian; ya’tĩ = datang; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu (demikian); ‘ãmun = tahun; fĩhi = padanya; yughōtsu = diberi hujan; an nãsi = manusia; wa fĩhi = dan padanya; ya’shirũn = mereka memeras anggur.
tsumma ya’tĩ mim ba’di dzãlika ‘ãmun fĩhi yughōtsun nãsi wa fĩhi ya’shirũn.

49. Kemudian sesudah itu, datang tahun yang cukup (melimpah) hujan bagi manusia, waktu itu mereka memeras anggur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada masa makmur, manusia mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemenuhan berbagai kebutuhan lainnya.
wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; u’tũnĩ = bawalah kepadaku; bihĩ = dengan dia; fa lammã = maka ketika; jã-ahu = datang kepadanya; ar rosũlu = utusan; qōla = (Yusuf) berkata; irji’ = kembalilah; ilã robbika = kepada tuanmu; fas-alhu = maka tanyakanlah kepadanya; mã bãlu = bagaimana halnya; an niswati = wanita-wanita; al lãtĩ = yang; qoththo’na = mereka memotong; aidiyahunna = jari-jari tangannya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; bi kaidihinna = dengan tipu-daya mereka; ‘alĩmun = Maha Mengetahui.
wa qōlal maliku’ tũnĩ bihĩ, fa lammã jã-ahur rosũlu qōlarji’ ilã robbika fas-alhu mã bãlun niswatil lãtĩ qoththo’na aidiyahunna, inna robbĩ bi kaidihinna ‘alĩmun.

50. Dan raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka, ketika utusan itu datang kepadanya (Yusuf), Yusuf berkata, “Kembalilah kepada tuanmu, dan tanyakan kepadanya, bagaimana halnya wanita-wanita yang telah memotong jari-jari tangannya, sesungguhnya, Rabku Maha Mengetahui tipu-daya mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera raja yang ingin bertemu dengan Yusuf, dan Yusuf melalui pesuruh raja meminta penjelasan tentang wanita-wanita yang memotong jari-jari tangannya dahulu. Yusuf berkata: “Rabku Maha Mengetahui tipu-daya mereka.”

qōla = (Raja) berkata; mã = apa yang …; khothbukunna = (wanita-wanita) bicarakan; idz = ketika; rōwat tunna = kamu sekalian menggoda; yũsufa = Yusuf; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; qulna = mereka berkata; hãsya = Mahasempurna; lillãhi = bagi Allah; mã = tidak; ‘alimnã = Aku ketahui; ‘alaihi = atasnya; min sũ-in = dari keburukan; qōlat = berkata; imro-atu = istri; al azĩzi = Al Aziz; al ãna = sekarang; hosh-hosho = jelaslah; al haqqu = kebenaran; anã = aku; rōwat tuhũ = aku menggodanya; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; lamina = sungguh termasuk; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

qōla mã khothbukunna idz rōwat tunna yũsufa ‘an nafsihĩ, qulna hãsya lillãhi mã ‘alimnã ‘alaihi min sũ-in, qōlatimro-atul azĩzil ãna hosh-hoshol haqqu, anã rōwat tuhũ ‘an nafsihĩ wa innahũ laminash shōdiqĩn.

51. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), “Apa yang terjadi, ketika kamu menggoda Yusuf untuk (menundukkan) dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Mahasempurna Allah, aku tidak mengetahui suatu keburukan pun darinya.” Berkata istri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya (untuk menundukkan) dirinya, dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog raja, wanita-wanita, dan istri raja yang tergoda oleh kecakapan yang sempurna dari Yusuf.
dzãlika = yang demikian itu; liya’lama = agar dia (raja) mengetahui; annĩ = bahwa aku; lam akhunhu = tidak mengkhianatinya; bil ghoibi = ketika dia tidak ada; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; kaida = tipu-daya; al khō-inĩn = orang-orang yang berkhianat.
dzãlika liya’lama annĩ lam akhunhu bil ghoibi wa annallãha lã yahdĩ kaidal khō-inĩn.

52. Yang demikian itu agar dia (raja) mengetahui, bahwa aku tidak berkhianat kepadanya ketika dia tidak ada, dan Allah tidak memberi petunjuk tipu daya kepada orang-orang yang berkhianat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan khianat adalah perbuatan menutup-nutupi atau menyembunyikan kebenaran fakta atau suatu kejadian, mencari kemudahan, kesenangan, kenyamanan, kenikmatan dengan cara yang tidak terpuji, mengurangi timbangan atau sesuatu yang seharusnya diberikan, menahan atau mengambil hak orang lain, mencuri, tidak bertanggung jawab atas kewajibannya, tidak menepati janji, membocorkan rahasia, berdusta, melakukan tipu-daya, curang, murtad. Khianat dan dusta, curang, menipu, murtad melahirkan berbagai kejahatan, kejelekan, dan keburukan, merusak tata sosial di masyarakat, pemerintahan negara. Istri raja ternyata pandai mencari alasan yang baik, agar raja mengetahui, ia (istri raja) tidak berkhianat kalau raja sedang tidak ada, dan Allah tidak akan memberi petunjuk tipu daya kepada orang-orang yang berkhianat. Setan yang memberi petunjuk untuk orang-orang yang berkhianat. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hati manusia.

Juz 13
wa mã = dan tidak; ubarrĩ-u = aku membebaskan; nafsĩ = diriku (nafsuku); inna = sesungguhnya; an nafsa = nafsu itu; la ammãrotun = selalu menyuruh; bissũ-i = pada kejahatan; illã = kecuali; mã = apa yang; rohima = diberi rahmat; robbĩ = Rabku; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa mã ubarrĩ-u nafsĩ innan nafsa la ammãrotum bissũ-i illã mã rohima robbĩ inna robbĩ ghofũrur rohĩm.
53. Dan, aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya, nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabku. Sesungguhnya, Rabku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Istri raja ternyata menggunakan akal dan pikirannya, serta memberikan argumentasi tentang perilakunya yang demikian itu karena adanya nafsu yang ada dalam dirinya. Ada nafsu karena ajakan setan, dan ada nafsu yang dirahmati Allah, artinya nafsu yang terikat oleh Hukumullah dan Sunatullah (mengenal batas dan norma-norma hidup yang baik dan benar). Ada nafsu amarah (ingin memiliki, ingin menguasai), nafsu lauwamah (kenikmatan, kenyamanan), nafsu sufiah (keindahan, kemewahan, kemegahan, kemuliaan), nafsu mutmainnah (ketenangan, ketenteraman, kedamaian, kesantaian, kemalasan). Ajakan setan memenuhi nafsu secara berlebihan, tidak ada batas kepuasan. Nafsu yang dirahmati Allah adalah nafsu yang terkendali ada batas-batas yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi; dan benar, sesuai dengan aturan hidup, norma etika, emika, aestetika.
wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; a’tũnĩ = bawalah kepadaku; bihĩ = dengannya; astakhlish-hu = aku memilihnya; li nafsĩ = untuk diriku; fa lammã = maka ketika; kallamãhũ = bercakap-cakap dengan dia (Yusuf); qōla = dia (raja) berkata; innaka = sesungguhnya kamu; al yauma = hari ini; ladainã = di sisi Aku; makĩnun = kedudukan tinggi; amĩn = yang dipercaya.
wa qōlal maliku a’tũnĩ bihĩ astakhlish-hu li nafsĩ, fa lammã kallamãhũ qōla innakal yauma ladainã makĩnun amĩn.
54. Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, aku akan menetapkan agar dia (Yusuf) menjadi orang yang dekat denganku.” Maka, setelah raja bercakap-cakap dengan dia (Yusuf), maka raja berkata: “Sesungguhnya, kamu (Yusuf) mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di hadapanku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggerakkan hati raja agar Yusuf dekat dengannya, dan akan diberi kedudukan yang baik, tinggi, serta terpercaya. Kedudukan seseorang di dunia itu tergantung upaya, keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Allah akan menetapkan kedudukannya di dunia, dan nanti di akhirat.
qōla = (Yusuf) berkata; aj’alnĩ = jadikanlah aku; ‘alã = pada; khozã-ini = (jabatan) bendaharawan; al ardhi = di negara (Mesir); innĩ = sesungguhnya aku; hafĩzhun = seorang penjaga; ‘alĩm = yang berpengetahuan.
qōla aj’alnĩ ‘alã khozã-inil ardhi, innĩ hafĩzhun ‘alĩm.
55. Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesung-guhnya, aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menunjukkan kepribadian, kesanggupan, dan ke-mampuannya (jati dirinya), tidak dengan kesombongan, tapi dengan latar belakang ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliknya.
wa kadzãlika = dan demikianlah; makkannã = Aku memberi kedudukan; li yũsufi = kepada Yusuf; al ardhi = di dunia; yatabawwa-u = dia tinggal; minhã = di sana; hoitsu = dimana saja; yasyã-u = dia kehendaki; nushĩbu = Aku limpahkan; birohmatinã = dengan rahmat Aku; man = siapa yang …; nasyã-u = Aku kehendaki; wa lã = dan tidak; nudhĩ’u = Aku menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa kadzãlika makkannã li yũsufil ardhi yatabawwa-u minhã hoitsu yasyã-u, nushĩbu birohmatinã man nasyã-u, wa lã nudhĩ’u ajrol muhsinĩn.
56. Dan demikianlah, Aku (Allah) memberi kududukan kepada Yusuf di bumi (negeri Mesir), (dia berkuasa penuh) pergi ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir. Aku melimpahkan rahmat kepada yang Aku kehendaki, dan Aku tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Allah selalu membalas orang-orang yang berbuat baik dan benar dengan pahala yang tidak sia-sia, berlipat-ganda. Perbuatan baik dan benar seseorang yang tidak beriman kepada Allah, dan hari akhirat balasannya hanya di dunia saja, di akhirat menjadi sia-sia karena amal baik dan benarnya tidak tersangkut dengan kasih-sayang Allah Yang menciptakannya.

wa la ajru = dan sungguh pahala; al akhiroti = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa kaanũ = dan mereka yang …; yattaqũn = (mereka) bertakwa.
wa la ajrul akhiroti khoirul lilladzĩna ãmanũ wa kaanũ yattaqũn.
57. Dan sesungguhnya, pahala di akhirat, lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pahala akhirat itu lebih baik daripada pahala di dunia. Syaratnya harus beriman, dan selalu bertakwa. Beriman artinya harus selalu mengingat Allah Yang menciptakannya, membaca Kitab pada umumnya, khususnya Alquran, mengakui adanya Nabi-nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. , mengakui Malaikat-malaikat, mengakui Hari Akhir, mengakui adanya qodo dan qodar. Bertakwa artinya selalu memperhatikan dan melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya dengan bersungguh-sungguh dan sangat berhati-hati.
wa jã-a = dan datang; ikhwãtu = saudara-saudara; yũsufa = Yusuf; fadakholũ = lalu mereka masuk; ‘alaihi = ke tempatnya; fa’arofahum = maka dia mengenal mereka; wa hum = sedang mereka; lahũ = kepadanya; munkirũn = orang-orang yang tidak mengenal.
wa jã-a ikhwãtu yũsufa fadakholũ ‘alaihi fa’arofahum, wa hum lahũ munkirũn
58. Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) ke tempatnya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalnya lagi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketika musim paceklik, Ya’qub menyuruh anak-anaknya mencari bahan makanan sampai ke Mesir. Pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya, ternyata sudah diatur Allah. Yusuf sudah berkedudukan tinggi, kaya-raya, saudara-saudaranya memerlukan bantuan pangan. Yusuf mengenal saudara-saudaranya, sedang saudara-saudaranya tidak mengenalinya. Mereka dibutakan Allah.

wa lammã = dan ketika; jahhazahum = dia menyiapkan bahan makanan mereka; bi jahãzihim = dengan bekal mereka; qōla = (Yusuf) berkata; a’tũnĩ = bawalah kepadaku; bi akhin = dengan saudara; lakum = bagi kamu sekalian; min abĩkum = dari ayah kamu sekalian; alã = tidakkah; tarauna = kamu sekalian melihat; annĩ = bahwa aku; ũfĩ = aku menyempurnakan; al munzilĩn = penerima tamu

wa lammã jahhazahum bi jahãzihim qōla a’tũnĩ bi akhil lakum min abĩkum, alã tarauna annĩ ũfĩl kaila wa ana khoirul munzilĩn.

59. Dan ketika Yusuf menyiapkan bahan makanan dan bekal untuk mereka, ia (Yusuf) berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat, aku menyempurnakan sukatan, dan aku itu sebaik-baik penerima tamu?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf memuliakan, menjamu, dan melayani saudara-saudaranya dengan sebaik-baiknya. Kemudian, mereka (saudara-saudaranya Yusuf) memberitahu, bahwa mereka mempunyai saudara seayah yang tidak turut serta bersama mereka (Bunyamin). Yusuf melelengkapi sukatan, sesuai dengan jumlah keluarga yang disebutkan, namun dengan syarat, suadaranya yang tidak dibawa itu harus diperlihatkan kepada Yusuf. Maka Yusuf berkata: “Bawalah saudara seayah kamu kepadaku, bukankah aku telah menyempurnakan sukatan, menghormati, dan menerima kamu dengan sebaik-baiknya?”

fa illam = maka jika; ta’tũni = kamu bawa kepadaku; bihĩ = dengannya; fa lã = maka tidak ada; kaila = sukatan; lakum = bagi kamu sekalian; ‘indĩ = dariku; wa lã taqrobũn = dan kamu jangan mendekatiku.
fa illam ta’tũni bihĩ fa lã kaila lakum ‘indĩ wa lã taqrobũn.

60. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi dariku, dan jangan kamu mendekatiku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mengancam saudara-saudaranya, tidak akan mendapatkan jatah gandum, dan tidak boleh mendekat lagi kepadanya, jika mereka tidak membawa serta saudara seayahnya (Bunyamin).

qōlũ = mereka berkata; sanurōwidu = kami akan membujuk; anhu = darinya; abãhu = bapaknya; wa innã = dan sungguh kami; la fã’ilũn = benar-benar akan melaksanakan.

qōlũ sanurōwidu anhu abãhu wa innã la fã’ilũn.

61. Mereka berkata: “Kami akan membujuk bapaknya (agar dapat membawa saudaranya) darinya, dan sungguh. kami akan melaksanakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf berjanji akan bersungguh-sungguh membujuk bapaknya agar memberikan Bunyamin untuk dapat dibawa ke Mesir.
wa qōla = dan (Yusuf) berkata; li fit-yaanihi = kepada para pembantunya; aj’alũ = masukkan; bi dhō’atahum = dengan barang-barang (penukar) mereka; fĩ rihãlihim = ke karung-karung mereka; la ‘allahum = supaya mereka; ya’rifũ nahã = mereka mengetahuinya; idzã = ketika; anqolabũ = mereka telah kembali; ilã = ke; ahlihim = keluarganya; la’allahum = supaya mereka; yarji’ũn = (mudah-mudahan) mereka kembali.
wa qōla li fit-yaanihi aj’alũ bi dhō’atahum fĩ rihãlihim la ‘allahum ya’rifũ nahã idzã anqolabũ ilã ahlihim la’allahum yarji’ũn.

62. Dan Yusuf berkata kepada para pembantunya, “Masukkanlah barang-barang (penukar) mereka ke karung-karungnya, agar mereka mengetahuinya, ketika mereka telah kembali ke keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera taktik Yusuf agar saudara-saudaranya kembali lagi ke Mesir sambil membawa saudaranya yang bernaman Bunyamin. Yusuf memasukkan kembali barang-barang penukar bahan pangannya. Barang-barang penukar itu berupa kulit binatang yang telah disamak dan terompah.

fa lammã = maka ketika; roja’ũ = mereka kembali; ilã = kepada; abĩhim = bapak mereka; qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; muni’a = tidak diberi; minnã = dari kami; al kailu = sukatan; fa-arsil = maka kirimlah; ma’anã = bersama kami; akhōnã = saudara kami; naktal = kami mendapat sukatan; wa innã = dan sungguh kami; lahũ = kepadanya; lahōfizhũn = benar-benar orang yang menjaga.
fa lammã roja’ũ ilã abĩhim qōlũ yã abãnã muni’a minnãl kailu fa-arsil ma’anã akhōnã naktal wa innã lahũ lahōfizhũn.

63. Maka ketika mereka telah kembali kepada bapaknya (Ya’qub), mereka berkata: “Wahai Bapak kami, kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, jika tidak membawa saudara kami, karena itu, biarkanlah saudara kami pergi bersama kami, agar kami mendapat jatah, dan kami benar-benar akan menjaganya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub membujuk bapaknya agar memper-kenankan Bunyamin pergi bersama mereka ke Mesir untuk memenuhi syarat mendapatkan jatah gandum. Mereka berjanji akan menjaganya.

qōla = (Ya’qub) berkata; hal = bagaimana (apakah); ãmanukum = aku mempercayai kamu sekalian; ‘alaihi = atasnya; illã = kecuali; kamã = seperti (sebagaimana); ãmintukum = aku mempercayai kamu sekalian; ‘alã = atas; akhĩhi = saudaranya; min qoblu = dari dahulu (sebelumnya); fallãhu = maka Allah; khoirun = sebaik-baik; hãfizhon = penjaga; wa huwa arhamu = dan Dia Maha Penyayang; ar rōhimĩn = pãra penyayang.

qōla hal ãmanukum ‘alaihi illã kamã ãmintukum ‘alã akhĩhi min qoblu, fallãhu khoirun hãfizhon, wa huwa arhamur rōhimĩn.

64. Berkata (Ya’qub): “Bagaimana aku akan mempercayakan (Bunyamin) kepada kamu sekalian, seperti aku mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu. Maka, Allahlah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara bapak dan anak-anaknya. Bapaknya tidak ingin kehilangan anak untuk kedua kalinya. Akan tetapi karena hal itu menjadi syarat untuk mendapatkan jatah makanan yang diperlukan, maka ia (Bapaknya) bertawakal kepada Allah, dan menegaskan: “Allahlah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

wa lammã = dan ketika; fatahũ = mereka membuka; matã’ahum = barang-barang mereka; wa jadũ = mereka menemukan; bi dhō’atahum = barang-barang mereka; ruddat = dikembalikan; ilaihim = kepada mereka; qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak Aku; mã = apa yang; nabghĩ = Aku inginkan; hãdzihĩ = ini; bi dhō’atunã = barang-barang Aku; ruddat = dikembalikan; ilainã = kepada kita; wa namĩru = dan kita beri makan; ahlanã = keluarga kita; wa nahfazhu = dan Aku akan menjaga; akhōnã = saudara kita; wa nazdãdu = dan Aku mendapat tambahan; kaila = sukatan (seberat); ba’ĩrin = seekor unta; dzãlika = demikian itu; kailun = sukatan; yasĩru = yang mudah.

wa lammã fatahũ matã’ahum wa jadũ bi dhō’atahum ruddat ilaihim, qōlũ yã abãnã mã nabghĩ hãdzihĩ bi dhō’atunã ruddat ilainã wa namĩru ahlanã wa nahfazhu akhōnã wa nazdãdu kaila ba’ĩrin, dzãlika kailun yasĩru.

65. Dan ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan barang-barang penukar mereka dikembalikan kepada mereka, mereka berkata, “Wahai Bapak kami, apa lagi yang kita inginkan, ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita dapat memberi makan keluarga kita, dan kita dapat menjaga keluarga kita, dan kita akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta, itu suatu hal yang mudah (bagi Raja Mesir).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera anak-anaknya Ya’qub saat membuka bungkusan barang dari Raja Mesir.
qōla = (Ya’qub) berkata; lan = tidak akan; ursilahũ = aku melepaskannya; ma’akum = bersama kamu; hattã = sehingga; tu’tũni = kamu datangkan kepadaku; mautsiqon = janji yang teguh; minallãhi = dari Allah; lata’tunnanĩ = pasti kamu datangkan kepadaku; bihĩ = dengannya; illã = kecuali; an = bahwa; yuhãtho = dikepung; bikum = pada kamu; fa lammã = maka ketika; ãtũhu = mereka memberinya; mautsiqohum = janji mereka; qōlallãhu = (Ya’qub) berkata Allah; ‘alã = atas; mã = apa yang; naqũlu = kamu sekalian ucapkan; wakĩlun = saksi;
qōla lan ursilahũ ma’akum hattã tu’tũni mautsiqom minallãhi lata’tunnanĩ bihĩ illã an yuhãtho bikum, fa lammã ãtũhu mautsiqohum qōlallãhu ‘alã mã naqũlu wakĩlun

66. (Ya’qub) berkata: “Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu berjanji kepadaku atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali kamu dikepung (musuh).” Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya’qub) berkata: “Allah adalah saksi atas apa yang kamu ucapkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Ya’qub dengan anak-anaknya saat Ya’qub akan melepaskan Bunyamin. Ya’qub meminta anak-anaknya berjanji (bersumpah) atas nama Allah, bahwa mereka pasti akan membawa Bunyamin kembali kepadanya, kecuali mereka terkepung musuh (menghadapi bahaya besar). Janji (nadzar) dalam Islam, sama dengan sumpah, harus ditepati. Kalau tidak ditepati, ini merupakan salah satu tanda atau ciri dari orang munafik, lihat catatan Q.s Al Fatihah, 1 : 2, 3; Al Baqarah, 2 : Catatan Awal).
wa qōla = dan (Ya’qub) berkata; yã banĩnna = wahai anak-anakku; lã tadkhulũ = jangan kamu masuk; min = dari; bãbin = pintu; wãhidin = satu; wãdkhulũ = dan masuklah; min = dari; abwãbin = pintu-pintu; mutafarriqoh = yang berlainan; wa mã = dan tidak; ughnĩ = aku dapat melepaskan (mempertahankan); ‘ankum = dari kamu sekalian; minallãhi = dari (takdir) Allah; min = dari; syai-in = sedikit pun; ini = tidak ada; al hukmu = keputusan; illa = hanyalah; lillãh = dari Allah; ‘alaihi = kepada-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa ‘alaihi = dan kepada-Nya; falyatawakkali = hendaknya bertawakal; al mutawakkilũn = orang-orang yang bertawakal.
wa qōla yã banĩnna lã tadkhulũ mimbãbin wãhidin wãdkhulũ min abwãbim mutafarriqoh, wa mã ughnĩ ‘ankum minallãhi min syai-in inil hukmu illa lillãh, ‘alaihi tawakkaltu, wa ‘alaihi falyatawakkalil mutawakkilũn.

67. Dan Ya’qub berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu gerbang, dan masuklah dari gerbang-gerbang yang berbeda, namun demikian, aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanya dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya pula bertawakal orang-orang yang bertawakal.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub menasihati dan melarang anak-anaknya masuk dari satu pintu. Dia menyarankan masuk dari pintu-pintu yang berbeda. Namum Allah Mahakuasa dalam menetapkan takdir makhluk-Nya. Makhluk-Nya harus bertawakal kepada-Nya.

wa lammã = dan ketika; dakholũ = mereka masuk; min = dari; haitsu = sekiranya menurut; amarohum = perintah kepada mereka; abũhum = bapak mereka; mã = tidak; kãna = ada; yughnĩ = melepaskan; ‘anhum = dari mereka; minallãhi = dari Allah; min syai-in = sedikit pun dari; illã = hanyalah; hojatan = keinginan; fĩ nafsi = dari diri; ya’qũba = Ya’qub; qodhōha = dia tetapkan; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; ladzũ = dia mempunyai; ‘ilmin = pengetahuan; limã = karena apa yang; ‘allamnãhu = Aku telah mengajarkan; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaron = kebanyakan; nãsi = manusia; lã ya’lamũn = tidak mengetahui.

wa lammã dakholũ min haitsu amarohum abũhum mã kãna yughnĩ ‘anhum minallãhi min syai-in illã hojatan fĩ nafsi ya’qũba qodhōha, wa innahũ ladzũ ‘ilmil limã ‘allamnãhu wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

68. Dan ketika mereka masuk sesuai dengan perintah bapak mereka, (mereka masuk itu) tidak dapat menolak sedikit pun ketetapan Allah, (tetapi itu) hanya keinginan dari diri Ya’qub yang telah ditetapkan-Nya. Dan sesungguhnya, dia, Ya’qub mempunyai pengetahuan, karena Aku telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub berupaya menaati perintah bapaknya. Allah memberi pengetahuan kepada Ya’qub apa yang harus dilakukan anak-anaknya. Ini rahasia Allah, manusia lain tidak mengetahui rahasia ini. Allah dapat juga mengajarkan pengetahuan kepada para Nabi dan juga kepada umat manusia pada umumnya. Umat manusia pada umumnya, banyak yang dapat memanfaatkannya, banyak pula yang tidak dapat memanfaatkannya. Banyak pula yang tidak mengetahuinya.
wa lammã = dan ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alã = ke tempat; yũsufa = Yusuf; ãwã = ia membawa; ilaihi = kepadanya; akhōhu = saudaranya; qōla = (Yusuf) berkata; innĩ = sesungguhnya aku; anã = aku; akhũka = saudara kamu; fa lã = maka jangan; tabta-is = jangan sedih; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa lammã dakholũ ‘alã yũsufa ãwã ilaihi akhōhu, qōla innĩ anã akhũka fa lã tabta-is bimã kaanũ ya’malũn.

69. Dan ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, dia menempatkan saudaranya (Bunyamin) di tempatnya, dia (Yusuf) berkata: “Sesungguhnya, aku sauda-ramu, jangan engkau sedih atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera pertemuan Yusuf dengan saudaranya, Bunyamin. Pertemuan ini masih harus dirahasiakan.

fa lammã = maka ketika; jahhazahum = ia menyiapkan untuk mereka; bi jahãzihim = dengan persiapan mereka; ja’ala = ia masukkan; as siqōyata = tempat minum; fĩ rohli = di dalam karung; akhĩhi = saudaranya; tsumma = kemudian; adzdzana = berseru; mu-adzdzinun = seorang penyeru; ayyatuhã = wahai; al ‘ĩru = kafilah; innakum = sesungguhnya kamu (jamak); lasãriqũn = pasti para pencuri.
fa lammã jahhazahum bi jahãzihim ja’alas siqōyata fĩ rohli akhĩhi tsumma adzdzana mu-adzdzinun ayyatuhãl ‘ĩru innakum lasãriqũn.

70. Maka ketika telah disiapkan bahan makanan untuk mereka, dia (Yusuf) memasukkan piala ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang penyeru, “Wahai kafilah, sungguhnya kamu pasti pencuri,”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sandiwara yang dilakukan Yusuf, agar saudaranya (Bunyamin) tertahan di Mesir.
qōlũ = mereka bertanya; wa aqbalũ = sambil mereka menghadap; ‘alaihim = kepada yang menuduh; mãdzã = barang apa; tafqidũn = kamu kehilangan.
qōlũ wa aqbalũ ‘alaihim mãdzã tafqidũn.

71. Mereka bertanya sambil menghadap kepada yang menuduh: “Kamu kehilangan barang apa?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan perasaan tak bersalah saudara-saudara Bunyamin menghadapi orang yang menuduh.
qōlũ = mereka menjawab; nafqidu = Aku kehilangan; shuwã’a = alat takar; al maliki = raja; wa li man = dan barang siapa; jã’a = mengembalikan; bihĩ = barang itu; himlu = (makanan) seberat; ba’ĩrin = unta; wa ana = dan aku; bihĩ = dengan itu; za’imun = orang yang menjamin.
qōlũ nafqidu shuwã’al maliki wa li man jã’a bihĩ himlu ba’ĩrin wa ana bihĩ za’imun.

72. Mereka menjawab: “Aku kehilangan alat takar, dan siapa yang dapat me-ngembalikannya, akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku menjamin itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih terkait dengan sandiwara Yusuf. Alat takar itu berupa piala yang dapat dipakai tempat (wadah) minuman.

qōlũ = Saudara-saudara Yusuf menjawab; tallãhi = demi Allah; laqod = sesungguhnya; ‘alimtum = kamu (jamak) telah mengetahui; mã = tidak; ji’nã = kami datang; li nufsida = untuk membuat kerusakan; fil ardhi = di negeri ini; wa mã = dan bukan; kunnã = kami adalah; sãriqĩn = orang-orang yang mencuri.

qōlũ tallãhi laqod ‘alimtum mã ji’nã li nufsida fil ardhi wa mã kunnã sãriqĩn.

73. Mereka (saudara-saudara Yusuf) menjawab: “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui, kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri ini, dan kami bukanlah para pencuri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Reaksi saudara-saudaranya Yusuf yang merasa tidak melakukan pencurian.

qōlũ = mereka berkata; famã = maka apa; jazã-uhũ = balasannya; in = jika; kuntum = kamu adalah; kãdzibĩn = orang-orang yang berdusta.

qōlũ famã jazã-uhũ in kuntum kãdzibĩn.

74. Mereka berkata: “Tetapi apa hukumannya, jika kamu dusta.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog penuduh dengan yang dituduh.

qōlũ = mereka (para pejabat Negara Mesir) menjawab; jazã-uhũ = hukumannya; man = siapa yang; wujida = ditemukan; fĩ = di dalam; rohlihĩ = karungnya; fa huwa =maka dia; jazã-uhũ = balasannya; kadzãlika = demikianlah; najzĩ = Aku beri pembalasan; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

qōlũ jazã-uhũ man wujida fĩ rohlihĩ fa huwa jazã-uhũ, kadzãlika najzĩzh zhōlimĩn.

75. Mereka menjawab: “Hukumannya ialah, dalam karung siapa ditemukan (barang yang hilang), maka dialah sendiri yang menerima hukumannya. Demikianlah, Aku memberi hukuman kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Barang tersebut sudah direncanakan tempatnya oleh Yusuf, yaitu di dalam karung Bunyamin. Hukuman dalam syariat Nabi Ya’qub: “Orang yang mencuri, hukumannya dijadikan budak selama satu tahun.”

fa bada-a = maka (Yusuf) memulai; bi au’iyatihim = dengan karung-karung mereka; qobla = sebelum; wi’ã-i = karung; akhĩhi = saudaranya; tsumma = kemudian; astakhrojahã = ia mengeluarkannya (piala); min wi’ã-i = dari karung; akhĩhi = saudaranya; kadzãlika = demikianlah; kidnã = Aku mengatur; li yũsufa = untuk Yusuf; mã = tidak; kãna = dapat (pantas); li ya’khuda = untuk menghukum; akhōhu = saudaranya; fĩ diini = dalam peraturan; al maliki = raja; illã = kecuali; an = jika; yasyã’allãhu = Allah menghendaki; narfa’u = Aku tinggikan; darojãtin = derajat; man = siapa yang; nasyã-u = Aku kehendaki; wa fauqo = dan di atas; kulli = tiap-tiap; dzĩ = yang memiliki; ‘ilmin = ilmu; ‘alĩm = yang lebih mengetahui.

fa bada-a bi au’iyatihim qobla wi’ã-i akhĩhi tsumma astakhrojahã min wi’ã-i akhĩhi, kadzãlika kidnã li yũsufa, mã kãna li ya’khuda akhōhu fĩ diinil maliki illã an yasyã’allãhu, narfa’u darojãtim man nasyã-u, wa fauqo kulli dzĩ ‘ilmin ‘alĩm.

76. Maka memulailah dia (Yusuf memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan (piala raja) itu dari karung saudaranya. Demikianlah Aku mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut peraturan raja, kecuali jika Allah menghendakinya. Aku angkat derajat seseorang yang Aku kehendaki; dan di atas setiap orang yang berilmu, ada yang lebih banyak mengetahui (ilmu).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rencana Yusuf itu ternyata dari Allah. Semua peristiwa yang terjadi pada keluarga Ya’qub itu diketahui Allah. Pelaku-pelaku bertindak atas kehendak dan hasil pikirannya sendiri. Allah mengetahui semuanya. Allah mempunyai rencana mengangkat derajat seseorang yang dikehendaki. Derajat seseorang akan terangkat atau menurun sesuai dengan keimanan dan kebersihan pikiran, anugerah Allah. Semua menjadi ujian jalan hidup seseorang manusia yang dibekali akal dan pikiran beserta iman dan takwanya kepada Allah.

qōlũ = Mereka berkata; in = jika; yasriq = dia mencuri; fa qod = maka sungguh; saroqa = telah mencuri; akhun = saudaranya; lahũ = baginya; min = dari; qoblu = sebelumnya; fa asarrohã = maka menyembunyikannya; yũsufa = Yusuf; fĩ = di dalam; nafsihĩ = dirinya; wa lam = dan tidak; yubdihã = ia menampakkan; lahum = kepada mereka; qōla = ia berkata; antum = kamu semua; syarrun = lebih buruk; makãnan = kedudukan; wallãhu = dan Allah; a’lamu = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa yang; tashifũn = kamu terangkan.

qōlũ in yasriq fa qod saroqa akhul lahũ min qoblu, fa asarrohã yũsufa fĩ nafsihĩ wa lam yubdihã lahum, qōla antum syarrum makãnan, wallãhu a’lamu bimã tashifũn.

77. Mereka berkata: “Jika dia mencuri, maka sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Maka Yusuf merahasiakan isi hatinya, dan tidak ditunjukkan kepada mereka (saudara-saudaranya). Dia berkata di dalam hatinya (Yusuf): “Kedudukanmu justru lebih buruk. Allah Mahatahu apa yang mereka terangkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Percakapan saudara-saudaranya Yusuf dengan Yusuf. Yusuf merahasiakan isi hatinya

qōlũ = mereka berkata; yã ayyuha = wahai; al ‘azĩzu = Al Aziz; inna = sesungguhnya; lahũ = baginya; aban = bapak; syaihan = yang tua; kabĩron = sekali (superlatif); fa khud = maka ambillah; ahodanã = salah seorang di antara Aku; makãnahũ = kedudukannya (penggantinya); inna = sesungguhnya; narōka = Aku melihat kamu; mina = dari (termasuk); al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

qōlũ yã ayyuhal ‘azĩzu inna lahũ aban syaihan kabĩron fa khud ahodanã makãnahũ, inna narōka minal muhsinĩn.

78. Mereka berkata: “Wahai al Aziz, sesungguhnya, dia mempunyai bapak yang sudah lanjut usianya, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya, kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Bunyamin berupaya agar Bunyamin tidak ditahan. Sebagai penggantinya, mereka memohon kepada raja, agar mengambil salah seorang di antara mereka sebagai gantinya.
qōla = (Yusuf) berkata; ma’ãdza = memohon perlindungan; allãhi = Allah; an = bahwa; na’khudza = aku menahan; illã = kecuali; man = orang yang; wajadnã = aku dapati; matã’anã = harta bendaku; ‘indahũ = padanya; innã = sesungguhnya Aku; idzan = jika demikian; lazhōlimũn = tentu orang-orang yang lalim.
qōla ma’ãdzallãhi an na’khudza illã man wajadnã matã’anã ‘indahũ innã idzal lazhōlimũn.

79. Yusuf berkata: “Aku memohon perlindungan kepada Allah karena menahan seseorang, kecuali orang yang aku temukan hartaku padanya, jika aku tidak berbuat demikian, aku orang yang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf berdalih penahanan seseorang itu harus sesuai dengan hukum dan kenyataan temuannya.

fa lammã = maka ketika; astai-asũ = mereka berputus asa; min hu = darinya (keputusan Yusuf); kholashũ = mereka mengelompok; najiyyan = sambil berbisik-bisik; qōla = mereka berkata; kabĩruhum = yang tertua di antara mereka; alam = tidakkah; ta’lamũ = kamu sekalian ketahui; anna = bahwa; abãkum = bapak kamu; qod = sungguh; akhodza = telah mengambil; ‘alaikum = atas kamu; mũtsiqon = janji; minallãhi = dengan (nama) Allah; wa min = dan dari; qoblu = sebelum itu; mã = apa yang; farroth tum = kamu sekalian menyia-nyiakannya; fĩ = pada; yũsufa = Yusuf; fa lan = maka tidak akan; abroha = aku meninggalkan; al ardho = bumi (negeri); hattã = sehingga; ya’dzana = mengizinkan; lĩ abĩ = kepada bapakku; au = atau; yahkumallãhu = Allah memberi keputusan; lĩ = kepadaku; wa huwa = dan Dia; khoiru = sebaik-baik; al hãkimĩn = para hakim.

fa lammã astai-asũ min hu kholashũ najiyyan, qōla kabĩruhum alam ta’lamũ anna abãkum qod akhodza ‘alaikum mũtsiqom minallãhi wa min qoblu mã farroth tum fĩ yũsufa, fa lan abrohal ardho hattã ya’dzana lĩ abĩ au yahkumallãhu lĩ, wa huwakhoirul hãkimĩn.

80. Maka ketika mereka berputus-asa darinya (keputusan Yusuf) mereka mengelompok sambil berunding dengan berbisik-bisik: “Tidakkah kamu ingat bahwa bapakmu telah mengambil janji dari kamu dengan menyebut nama Allah, dan sebelum itu, kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Dan Dia adalah hakim yang terbaik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat rangkaian kejadiannya pada ayat 52, 61, 63, 66. Mereka menyadari bahwa Allah itu Hakim yang terbaik.
arji’ũ = kembalilah; ilã = kepada, ke; abĩkum = bapak kamu semua; faqũlũ = maka katakanlah; yã abãnã = wahai bapakku; inna = sesungguhnya; abnãka = anakmu; saroqo = telah mencuri; wa mã = dan tidak; syahidnã = kami menyaksikan; illã = selain, kecuali; bimã = dengan apa yang; ‘alimnã = kami ketahui; wa mã = dan tidaklah; kunnã = kami adalah; lil ghoini = kepada yang gaib; hãfidhin = orang-orang yang mengetahui.
arji’ũ ilã abĩkum faqũlũ yã abãnã innabnãka saroqo wa mã syahidnã illã bimã ‘alimnã wa mã kunnã lil ghoini hãfidhin.

81. Kembalilah kepada bapak kamu semua, dan katakanlah: “Wahai bapak kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan, apa yang kami ketahui, dan kami tidak mengetahui apa yang gaib (di balik) itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menyarankan saudara-saudaranya mengatakan seperti yang tersebut pada ayat ini.
was-alil = dan tanyakanlah; quryata = negeri; al latĩ = yang; kunnã = kami berada; fĩhã = di sana, di dalamnya; wal’ĩrō = dan kafilah; al latĩ = yang; aqbalnã = kami datang; fĩhã = di dalamnya; wa innã = dan sungguh kami; la shōdiqũn = sungguh orang-orang yang benar.
was-alil quryatal latĩ kunnã fĩhã wal’ĩrōl latĩ aqbal nã fĩhã, wa innã la shōdiqũn.

82. Dan tanyalah (penduduk) negeri tempat kami berada, dan kafilah yang bersama kami, bahwa kami sungguh orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub berupaya meyakinkan bapaknya, tentang apa yang telah dialami di negeri Mesir itu benar.
qōla = (Ya’qub) berkata; bal = sebenarnya, bahkan, hanya; sawwalat = memandang baik; lakum = bagi kamu semua; anfusukum = diri kamu semua; amron = perkara; fasobrun = maka kesabaraku; jamĩlun = yang tebaik; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an ya’tiyanĩ = akan mendatangkan kepadaku; bihim = dengan mereka; jami’an = semuanya; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al alĩmu = Maha Mengetahui; al hakĩm = Mahabijaksana
qōla bal sawwalat lakum anfusukum amron, fasobrun jamĩlun, ‘asallãhu an ya’tiyanĩ bihim jami’an, innahũ huwal alĩmul hakĩm.

83. Ya’qub berkata: “Sebenarnya, hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu. Maka kesabaranku itulah yang terbaik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub menanggapi apa yang disampaikan anak-anaknya itu dengan penuh kesabaran dan bijaksana.
wa tawallã = dan dia (Ya’qub) berpaling; ‘anhum = dari mereka (anak-anaknya); wa qōla = sambil berkata; yã asfã = ãduhai duka-citaku; ’alã = pada; yũsufa = Yusuf; wabyadhdhat = dan memutih; ‘ainãhu = kedua matanya; mina = karena; al huzni = kesedihan; fa huwa = maka dia; kazhĩmun = orang yang menahan marah.
wa tawallã ‘anhum wa qōla yã asfã’alã yũsufa wabyadhdhat ‘ainãhu minal huzni fa huwa kazhĩmun.

84. Dan ia (Ya’qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) sambil berkata: “Aduhai duka-citaku pada Yusuf,” dan kedua matanya memutih karena sedih, dia diam menahan amarah kepada anak-anaknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub berpaling dari anak-anaknya sambil berkeluh-kesah karena sedih sampai matanya memutih (menjadi buta).
qōlũ = mereka (anak-anak Ya’qub) berkata; tallãhi = demi Allah; tafta-ũ = engkau senantiasa; tadzkuru = engkau mengingat; yũsufa = Yusuf; hattã = sampai; takũna = engkau adalah; harodhon = penyakit yang berat; au = atau; takũna = engkau adalah; mina = termasuk; al hãlikĩn = orang-orang yang binasa.
qōlũ tallãhi tafta-ũ tadzkuru yũsufa hattã takũna harodhon au takũna minal hãlikĩn.

85. Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sampai engkau mengidap penyakit berat, atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anaknya juga berkeluh-kesah atas peri-laku bapaknya yang selalu mengingat Yusuf, sampai mereka seperti mengharapkan bapaknya menjadi sakit berat dan akan menemui ajalnya. Ahlaq jelek kalau anak mengharapkan orang tuanya sakit-sakitan, dan segera wafat.
qōla = (Ya’qub) berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; asykũ = aku mengadukan; batstsi = kesusahanku; wa huznĩ = dan kesedihanku; ilallãhi = kepada Allah; wa a’lamu = dan aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu sekalian mengetahui.
qōla innamã asykũ batstsi wa huznĩ ilallãhi wa a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

86. Ya’qub menjawab: “Hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu ketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jawaban Ya’qub kepada anak-anaknya. Ya’qub mengetahui apa yang tidak mereka (anak-anaknya) ketahui. Jadi, soal Yusuf dan kemudian Bunyamin, sesungguhnya Ya’qub sudah mengetahui keberadaannya.

yã banĩyya = wahai anak-anakku; adzhabũ = pergilah kamu sekalian; fatahassasũ = maka carilah (selidikilah); min yũsufa = tentang Yusuf; wa akhĩhi = dan saudaranya; wa lã = dan jangan; ta-iasu = kamu berputus asa; mir rōuhillãhi = dari rahmat Allah; innahũ = sesungguhnya; lã = tidak; ya-iasu = berputus asa; min = dari; rōuhillãhi = rahmat allah; illã = kecuali, melainkan; al qoumu = kaum; al kãfirũn = (orang-orang) yang kafir.
yã banĩyya adzhabũ fatahassasũ min yũsufa wa akhĩhi wa lã ta-iasu mir rōuhillãhi, innahũ lã ya-iasu mir rōuhillãhi illãl qoumul kãfirũn.

87. Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf, dan saudaranya, dan kamu jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub memerintah anak-anaknya agar mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya dengan nasihat (untuk semua manusia) jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.

fa lammã = maka ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alaihi = kepadanya (Yusuf); qōlũ = mereka berkata; yã ayyuha = wahai; al azĩzu = yang mulia; massanã = telah menimpa Aku; wa ahlana = dan keluarga Aku; adh dhurru = kesengsaraan; wa ji’nã = dan Aku datang; bibidhō’atin = dengan barang-barang; muzjãtin = tak berharga; fa aufi = maka sumpurnakanlah; lanã = untuk Aku; al kaila = takaran; wa tashoddaq = dan bersedekahlah; ‘alainã = kepada Aku; innallãha = sesungguhnya Allah; yajzĩ = memberi balasan; al mutashoddiqĩn = orang-orang yang bersedekah.
fa lammã dakholũ ‘alaihi qōlũ yã ayyuhal azĩzu massanã wa ahlanadh dhurru wa ji’nã bibidhō’atim muzjãtin fa aufi lanãl kaila wa tashoddaq ‘alainã, innallãha yajzĩl mutashoddiqĩn.

88. Maka ketika mereka masuk kepadanya (Yusuf), mereka berkata wahai yang mulia (Al Azizu), kesengsaraan telah menimpa kami dan keluaraga, dan kami datang dengan barang-barang tak berharga, maka penuhilah takaran (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah untuk kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf mengeluhkan kesengsaraan kepada Yusuf dan memohon sedekah agar dipenuhi takaran gandumnya meskipun dengan penukaran barang-barang yang kurang berharga.
qōla = (Yusuf) berkata; hal = apakah; ‘alimtum = kamu sekalian mengetahui; mã = apa yang; fa’altum = kamu sekalian lakukan; bi yũsufa = kepada Yusuf; wa akhĩhi = dan saudaranya; idz = ketika; antum = kamu sekalian; jãhilũn = tidak menyadari perbuatanmu.
qōla hal ‘alimtum mã fa’altum bi yũsufa wa akhĩhi idz antum jãhilũn.

89. Yusuf berkata, “tahukah kamu (kejelekan) apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari (akibat) perbuatanmu itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf membuka rahasia dirinya dengan pertanyaantentang hal yang sudah diperbuat saudara-saudaranya itu.

qōlũ = mereka berkata; a-innaka = apakah sungguh-sungguh kamu; la anta = benar-benar kamu; yũsufu = Yusuf; qōla = dia menjawab; ana = aku; yũsufu = Yusuf; wa hãdzã = dan ini; akhĩ = saudaraku; qod = sungguh; mannallãhu = Allah telah melimpahkan karunia-Nya; ‘alaina = kepada Aku; innahũ = sesungguhnya; man = barang siapa; yattaqi = bertakwa; wa yashbir = bersabar; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yudhĩ’u = Dia tidak menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

qōlũ a-innaka la anta yũsufu, qōla ana yũsufu wa hãdzã akhĩ, qod mannallãhu ‘alaina, innahũ man yattaqi wa yashbir fa innallãha lã yudhĩ’u akhrol muhsinĩn.

90. Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf”. Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada Aku. Sesungguhnya, barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya masih belum yakin bahwa yang ditemuinya itu Yusuf, dan Yusuf menegaskan kebenaran dirinya sambil memberi pelajaran bahwa Allah memberikan karunia kepada orang-orang yang bertakwa, bersabar, dan berbuat baik.

qōlũ = mereka berkata; tallãhi = demi Allah; laqod = sesungguhnya; ãtsarokallãhu = Allah telah melebihkan kamu; ‘alainã = di atas Aku; wa in = dan sungguh; kunnã = Aku itu; la khōthi-ĩn = sungguh orang-orang yang berdosa.

qōlũ tallãhi laqod ãtsarokallãhu ‘alainã wa in kunnã la khōthi-ĩn.

91. Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas Aku, dan sesungguhnya, Aku itu orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf akhirnya menyadari kesalahan yang pernah dilakukannya kepada Yusuf. Allah Mahabijaksana dalam mengaruniakan ilmu, kebijaksanaan, dan keutamaan pada makhluk-Nya. Kesalahan dan dosa seseorang itu akibat kesalahan cara berpikir atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya atas sesuatu. Untuk menghindari kesalahan seperti ini, seseorang harus benar-benar mengikuti petunjuk dari Allah, dan memohon kepada Allah agar diberi petunjuk dan tidak tersesat.

qōla = (Yusuf) berkata; lã = tidak; tatsrĩba = cercaan; ‘alaikumu = kepadamu; al yauma = hari ini; yaghfirullãhu = Allah mengampuni; lakum = kepada kamu sekalian; wa huwa = dan Dia; arhamun = Maha Penyayang; ar rōhimĩn = para penyayang.
qōla lã tatsrĩba ‘alaikumul yaghfirullãhu lakum, wa huwa arhamur rōhimĩn.
92. Yusuf berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan kepadamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah fakta menjadi jelas, Allah melalui Yusuf menyampaikan pesan kepada saudara-saudaranya (hakekatnya kepada semua manusia) seperti yang tersurat dalam ayat ini. Tidak ada hinaan, ejekan, cercaan atas apa yang sudah diperbuat. Manusia selama masih dalam keadaan hidup, dan sadar harus selalu berharap pada kemurahan Allah mengampuni perbuatan masa lalu yang salah, bahkan yang dirasa tidak salah, juga permohonan mãf, ampun harus selalu disampaikan kepada Allah. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

adzhabũ = pergilah kamu sekalian; bi qomĩshĩ = dengan gamisku; hãdzã = ini; fa alqũhu = maka usapkanlah gamis itu; ‘alã = pada; wajhi = wajahnya; abĩy = bapakku; ya’ti = gamis itu akan menyebabkan; bashĩron = dapat melihat; wa’tũnĩ = dan bawalah kepadaku; bi ahlikum = dengan keluarga kamu sekalian; ajma’ĩn =seluruh, semua.

adzhabũ bi qomĩshĩ hãdzã fa alqũhu ‘alã wajhi abĩy ya’ti bashĩron wa’tũnĩ bi ahlikum ajma’ĩn.

93. Pergilah kamu dengan membawa gamisku lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti gamis itu akan menyebabkan dapat melihat kembali, dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf memerintah saudara-saudaranya membawa gamisnya agar diusapkan ke wajah bapaknya. Gamis itu akan menjadi sebab sembuh bapaknya dari kebutaan. Kemudian Yusuf meminta seluruh keluarganya di bawa ke hadapannya.

wa lammã = dan ketika; fasholati = telah berangkat (menuju); al ‘ĩru = kafilah; qōla = berkata; abũhum = bapak mereka; innĩ = sesungguhnya aku; la-ajidu = aku tercium (mendapati); rĩha = bau (angin); yũsufa = Yusuf; lau = kalau, sekiranya; lã = tidak; an = bahwa; tufannidũn = kamu menuduh aku lemah akal.

wa lammã fasholatil ‘ĩru qōla abũhum innĩ la-ajidu rĩha yũsufa, lau lã an tufannidũn.

94. Dan ketika kafilah itu telah berangkat menuju negeri Mesir, bapak mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduh aku lemah akal (tentu kamu membenarkannya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub merasakan keberadaan Yusuf, seperti tercium aroma badan Yusuf. Padahal kafilahnya baru saja keluar dari Mesir, masih jauh jarak Ya’qub dengan gamis .

qōlũ = (mereka, keluarganya) berkata; tallãhi = demi Allah; innaka = sesungguhnya Bapak; la fĩ = benar-benar dalam; dholãlika = kekeliruan; al qodiim = seperti dahulu.

qōlũ tallãhi innaka la fĩ dholãlikal qodiim.

95. Mereka, keluarganya berkata, demi Allah, sesungguhnya Bapak benar-benar dalam kekeliruan seperti dahulu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub menganggap apa yang dirasakan Ya’qub itu tidak benar, karena terlalu menyayangi Yusuf secara berlebihan.
fa lammã = maka ketika; an = bahwa; jã-a = telah datang; al basyĩru = pembawa kabar gembira; al qōhu = ia meletakkannya; ‘alã = pada; wajhihĩ = wajahnya (Ya’qub); fa artadda = lalu dia kembali; bashĩron = dapat melihat; qōla = (Ya’qub) berkata; alam = tidakkah; aqul = aku katakan; lakum = kepada kamu sekalian; innĩ = sesungguhnya aku; a’lamu = aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu sekalian mengetahui.

fa lammã an jã-al basyĩrul qōhu ‘alã wajhihĩ fa artadda bashĩron, qōla alam aqul lakum innĩ a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

96. Maka, ketika telah datang pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya gamis itu ke wajahnya (Ya’qub), lalu dia kembali dapat melihat. Ya’qub berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu sekalian ketahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembawa kabar gembira bahwa Yusuf masih hidup datang, dan gamis Yusuf saat diusapkan ke wajahnya, maka Ya’qub pun dapat melihat kembali. Dengan rasa gembira, Ya’qub berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” Allah memberitahu seseorang tentang sesuatu, orang lain tidak diberitahu tentang sesuatu itu. Orang lain harus percaya, ada seseorang yang diberitahu tentang sesuatu dari Allah.
qōlũ = mereka berkata; yã = wahai; abãnã = Bapak kami; as taghfir = mohonkanlah ampunan; lanã = bagi kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; innã = sesungguhnya kami; kunnã = kami adalah; khōthi-ĩn = orang-orang yang bersalah.

qōlũ yã abãnãs taghfir lanã dzunũbanã innã kunnã khōthi-ĩn.

97. Mereka berkata, “Wahai Bapak kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya, kami ini orang-orang yang bersalah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub mohon diampuni kesalahannya melalui bapaknya.

qōla = (Ya’qub) berkata; saufa = nanti; astaghfiru = aku akan memohonkan ampun; lakum = untuk kamu sekalian; robbĩ = kepada Rabku; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

qōla saufa astaghfiru lakum robbĩ, innahũ huwal ghofũrur rohĩm.

98. Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu sekalian kepada Rabku, Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub (sebagai Nabi) berjanji akan memohonkan ampun bagi anak-anaknya. Ya’qub percaya, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Apakah Allah mengampuni yang bersangkutan? Allah yang menetapkan.

fa lammã = maka ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alã = ke (tempat); yũsufa = Yusuf; ãwã = dia hampiri (merangkul); ilaihi = kepadanya; abawaihi = kedua orangtuanya; wa qōla = dan berkata; adkhulũ = masuklah tuan-tuan sekalian; mishro = negeri Mesir; insyã-allãhu = jika Allah mengendaki; ãminĩn = keadaan aman.

fa lammã dakholũ ‘alã yũsufa ãwã ilaihi abawaihi wa qōla adkhulũ mishro insyã-allãhu ãminĩn.

99. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia (Yusuf) merangkul dan (menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya, seraya berkata, “Masuklah tuan-tuan sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera masuknya keluarga Ya’qub ke negeri Mesir, tergambar kesiapan, kesantunan dan kesigapan Yusuf dalam menyambut kedatangan orang tuanya.
wa rofa’a = dan dia menaikkan; abawaihi = kedua orang tuanya; ‘alã = ke atas; al ‘arsyi = singgasananya; wa kharrũ = dan mereka tersungkur; lahũ = kepadanya; sujjadan = bersujud; wa qōla = dan (Yusuf) berkata; yã abati = wahai Bapakku; hãdzã = inilah; ta’wĩlu = takwil; ru’yãya = mimpiku; min qoblu = dahulu; qod = sungguh; ja’alahã = telah menjadikannya; robbĩ = Rabku; haqqon = kenyataan; wa qod = dan sesungguhnya; ahsana = Dia telah berbuat baik; bĩ = padaku; idz = ketika; akhrojanĩ = Dia mengeluarkanku; mina = dari; as sijni = penjara; wa jã-a = dan Dia datangkan; bikum = dengan kamu sekalian; mina = dari; al badwi = dusun; mim ba’di = dari sesudah; an nazagho = bahwa mengganggu; asy syaithōnu = setan; bainĩ = antara aku; wa baina = dan antara; ikhwatĩ = saudaraku; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; lathĩfun = Mahalemah-lembut; limã = terhadap apa; yasyã-u = Dia kehendaki; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Maha Bijaksana.
wa rofa’a abawaihi ‘alãl ‘arsyi wa kharrũ lahũ sujjadan, wa qōla yã abati hãdzã ta’wĩlu ru’yãya min qoblu qod ja’alahã robbĩ haqqon, wa qod ahsana bĩ idz akhrojanĩ minas sijni wa jã-a bikum minal badwi mim ba’di an nazaghosy syaithōnu bainĩ wa baina ikhwatĩ, inna robbĩ lathĩful limã yasyã-u, innahũ huwal ‘alĩmul hakĩm.
100. Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata: “Wahai Bapak, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya, Rabku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya, Rabku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara, dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh, Rabku Mahalembut dalam apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Mereka tunduk bersujud kepada Yusuf” artinya saudara-saudaranya yang sebelas orang itu sujud kepada Yusuf, orang tuanya patuh melaksanakan perintah Yusuf menduduki singgasananya. Itulah takwil mimpi Yusuf dahulu. Allah selalu berbuat baik kepada semua makhluk-Nya. Allah Mahalembut dalam segala apa yang dilakukan dan Yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala peri-laku makhluk-Nya. Allah Mahabijaksana dalam segala pelaksanaan-Nya.

robbi = Rabku; qod = sungguh; ãtaitanĩ = Engkau talah menganugerai aku; mina = dari; al mulki = kekuasaan, kerajaan; wa ‘allamtanĩ = dan Engkau ajarkan kepadaku; min = dari; ta’wĩli = takwil (pengertian); al ahãdĩtsi = mimpi; faathiro = Pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; anta = Engkau; waliyyĩ = Pelindungku; fĩddunyã = di dunia; wal ãkhiroti = dan akhirat; tawaffanĩ = Engkau wafatkan aku; musliman = sebagai orang Islam; wa alhiqnĩ = dan kumpulkan aku; bish shōlihĩn = bersama orang-orang saleh.

robbi qod ãtaitanĩ minal mulki wa ‘allamtanĩ min ta’wĩli al ahãdĩtsi faathiros samãwãti wal ardhi anta waliyyĩ fĩddunyã wal ãkhiroti, tawaffanĩ musliman wa alhiqnĩ bish shōlihĩn.

101. Rabkuǃ, sungguh Engkau telah menganugerahi aku sebagian kekuasaan dan mengajariku sebagian tentang takwil mimpi. Yaa Allah, Engkau Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah dalam keadaan Islam, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab:: Yusuf menyadari, dia telah dianugrahi sebagian kekuasan-Nya. Allah telah mengajari memahami sebagian takwil mimpi. Yusuf menyadari bahwa Allah itu Pencipta langit dan bumi. Dia melindunginya di dunia sampai akhirat. Yusuf memohon agar diwafatkan dalam keadaan Islam, dan memohon dikumpulkan bersma-sama dengan orang-orang saleh.
dzãlika = itulah; min ambã-i = berita-berita; al ghoibi = gaib; nũhĩhi = Aku wahyukan kisah itu; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan tidak; kunta = kamu berada; ladaihim = di samping mereka; idz = ketika; ajma’ũ = mereka berkumpul, bermufakat; amrohum = perkara mereka (mengatur memasukkan Yusuf ke dalam sumur); wa hum = dan mereka; yamkurũn = mereka mengatur tipu-muslihat.

dzãlika min ambã-il ghoibi nũhĩhi ilaika, wa mã kunta ladaihim idz ajma’ũ amrohum wa hum yamkurũn.

102. Itulah sebagian berita gaib yang diwahyukan kepadamu (Muhammad saw.), padahal engkau tidak berada di samping mereka, ketika mereka bermufakat mengatur tipu-muslihat, memasukkan Yusuf ke dalam sumur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf ini disampaikan melalui wahyu gaib kepada Nabi Muhammad saw.
wa mã = dan tidak; aktsarũ = kebanyakan; an nãsi = manusia; wa lau = meskipun; haroshta = kamu sangat mengiginkan; bi mu’minĩn = untuk beriman.

wa mã aktsarũn nãsi wa lau haroshta bi mu’minĩn.

103. Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, meskipun kamu sangat menginginkannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. bahwa kebanyakan manusia tidak akan percaya pada kisah yang diwahyukan itu, meskipun ia (Muhammad saw.) menginginkan untuk dipercaya.
wa mã = dan tidak; tas-aluhum = kamu meminta (kepada) mereka; ‘alaihi = atasnya; min = dari; ajrin = upah; in = tidak lain; huwa = dia; illã = kecuali; dzikrun = pelajaran, mengingat; lil’ãlamĩn = bagi (Pencipta) semesta alam.

wa mã tas-aluhum ‘alaihi min ajrin, in huwa illã dzikrul lil’ãlamĩn.

104. Dan kamu tidak meminta imbalan apa pun kepada mereka, hanya untuk seruan mengingat (Pencipta) alam ini.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan secara halus kepada seluruh manusia, bahwa Nabi Muhammad saw. itu tidak meminta upah apa pun untuk mengingat ada-Nya Pencipta alam ini. Mengingat Pencipta alam ini juga berarti mempelajari, mengingat alam dengan seluruh isinya, termasuk diri manusia masing-masing.
wa ka-ayyin = dan banyak sekali; min = dari; ãyatin = tanda-tanda; fi = di; as samãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; yamurrũna = mereka melalui; ‘alaihã = di dalamnya; wa hum = dan mereka; ‘anhã = darinya; mu’ridhũn = orang-orang yang berpaling.

wa ka-ayyim min ãyatin fis samãwãti wal ardhi yamurrũna ‘alaihã wa hum ‘anhã mu’ridhũn.

105. Dan banyak dari tanda-tanda di langit dan di bumi yang mereka alami, namun mereka berpaling darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan banyak tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan di bumi yang dilihat, didengar, dirasakan; namun banyak manusia yang tidak memikirkannya, tidak memperhatikannya, tidak memanfaatkannya, tidak menggunakannya dengan baik.
wa mã yu’min = dan tidak beriman; aktsaruhum = kebanyakan mereka; billãhi = kepada Allah; illã wa hum musyrikũn = bahkan mereka itu orang yang musyrik mempersekutukan-Nya.
wa mã yu’min aktsaruhum billãhi illã wa hum musyrikũn.

106. Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka mempersekutukannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terbukti nyata banyak manusia di muka bumi ini yang tidak mempercayai ada-Nya Allah, bahkan ada yang mempersekutukan dengan berbagai makhluk-Nya.
afa-aminũ = maka, apakah mereka merasa aman; an = untuk; ta’tiyahum = datang kepada mereka; ghōsyiyatun = yang meliputi; min = dari; ‘adzãbillãhi = azab Allah; au = atau; ta’tiyahumu = datang kepada mereka; asy syã’atu = (sa’at) kiamat; baghtatan = dengan tiba-tiba; wa = dan; hum = mereka; lã yasy’urũn = mereka tidak menyadari.

afa-aminũ an ta’tiyahum ghōsyiyatum min ‘adzãbillãhi au ta’tiyahumusy syã’atu baghtatan wa hum lã yasy’urũn.

107. Maka, apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, ketika mereka tidak menyadari?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan Allah kepada orang-orang yang masih belum mau beriman.
qul = katakanlah (wahai Muhammad saw.); hãdzihĩ = ini; sabĩlĩ = jalanku; ad’ũ = aku menyeru; ilã = kepada; allãhi = Allah; ‘alã = atas, dengan; bashĩrotin = keyakinan; ana = aku; wa mani = dan orang-orang yang …; at taba’anĩ = mengikutiku; wa sub hãnallãhi = dan Mahasuci Allah; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; mina = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul hãdzihĩ sabĩlĩ ad’ũ ilãllãhi, ‘alã bashĩrotin ana wa manit taba’anĩ, wa sub hãnallãhi wa mã ana minal musyrikĩn.

108. Katakanlah (wahai Muhammad saw.), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu menuju Allah dengan keyakinan. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang mengikutinya mengucapkan kata-kata seperti pada ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya.
wa mã = dan tidak; arsalnã = Aku mengutus; min qoblika = dari sebelum kamu; illã = kecuali; rijãlan = orang laki-laki; nũhĩy = Aku beri wahyu; ilaihim = kepada mereka; min = di antara; ahli = para penduduk; al qurō = negeri; afalam = maka apakah tidak; yasĩrũ = mereka bepergian; fil ardhi = di bumi; fa yanzhurũ = lalu mereka melihat; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘aqibatu = kesudahan, akibat; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; wa ladãrul akhĩroti = dan sungguh kampung akhirat; khoirun = lebih baik; al lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; at taqau = mereka yang takwa; afalã = maka apakah tidak; ta’qilũn = kamu sekalian memikirkan.

wa mã arsalnã min qoblika illã rijãlan nũhĩy ilaihim min ahlil qurō, afalam yasĩrũ fil ardhi fa yanzhurũ kaifa kãna ‘aqibatul ladzĩna min qoblihim,wa ladãrul akhĩroti khoirul lilladzĩnat taqau, afalã ta’qilũn.

109. Dan Aku tidaklah mengutus dari sebelum kamu, melainkan orang-orang yang Aku beri wahyu di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian, lalu mereka melihat, bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul). Sungguh negeri akhirat itu, lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?
`
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, mengingatkan bahwa sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, Beliau pernah mengutus Rasul ke penduduk sebuah negeri yang mendustakannya. Kesudahannya mereka dimusnahkan. Allah juga mengingatkan bahwa negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Kita harus mengerti wahyu Allah.

hattã = sehingga; idzãstanasa = jika putus asa; ar rusulu = para Rasul; wa zhonnũ = dan mereka meyakini; annahum = bahwa mereka; qod kudzibũ = sungguh telah didustakan; jã-ahum = kedatangannya kepada mereka; nashrunã = pertolongan-Ku; fanujjiya = lalu dislamatkan; man = orang-orang yang; nasyã-u = Aku kehendaki; wa lã yuroddu = dan tidak ditolak; ba’sunã = siksa-Ku; ‘anil qoumi = dari kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

hattã idzãstanasar rusulu wa zhonnũ annahum qod kudzibũ jã-ahum nashrunã fanujjiya man nasyã-u, wa lã yuroddu ba’sunã ‘anil qoumil mujrimĩn.

110. Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (keimanan penduduknya), dan telah meyakini, mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan-Ku, lalu diselamatkan orang-orang yang Aku kehendaki. Siksa-Ku tidak bisa ditolak bagi orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memberi kesempatan agar orang mau beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Namun, jika sudah tidak ada harapan lagi, maka Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman, dan memberi azab bagi orang-orang yang mendustakan-Nya.

laqod = sungguh; kãna = adalah; fĩ = pada; qoshoshihim = kisah-kisahnya; ‘ibrōtun = pengajaran; li ũlil albãbi = bagi yang berakal; mã kãna = tidak; hadĩsan = ceritera-ceritera; yuftarō = dibuat-buat; wa lãkin = akan tetapi; tashdiqu = membenarkan; al ladzĩ = (Kitab-kitab) yang; baina yadaihi = pada sebelumnya; wa tafshĩla = dan menjelaskan; kulli = segala; syai-in = sesuatu; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; li qaumin = bagi kaum; yu’minũn = yang beriman.

laqod kãna fĩ qoshoshihim ‘ibrōtul li ũlil albãbi, mã kãna hadĩsan yuftarō wa lãkin tashdiqul ladzĩ baina yadaihi wa tafshĩla kulli syai-in wa hudan wa rohmatal li qaumin yu’minũn.

111. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu, terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukan ceritera yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (Kitab-kitab) sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah para Nabi (orang-orang suci) di dalam Alquran tidak dibuat oleh Nabi Muhammad saw. Kisah-kisah di dalam Alquran itu membenarkan, menjelaskan, memperbaiki, memberi petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang mempercayainya.

011 Hud

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Hud
Kisah Nabi Hud, Makiyah
Surat ke 11, 123 ayat.
Juz 11 berali ke Juz 12 pada ayat 6

Catatan Awal

Surat ini berisi penerangan tentang kedudukan para Nabi sebagai penyampai berita gembira, dan peringatan dengan meriwayatkan Nabi Hud a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Saleh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syu’aib a.s., dan Nabi Musa a.s. dan kaumnya.
Pembinaan keimanan dinyatakan dengan adanya Arasy Allah, penciptaan alam semesta dalam 6 masa; pada Hari Kiamat manusia bergolong-golongan. Ada orang yang kafir (tidak mau percaya) pada Alquran, membantah risalah para Rasul, ingkar dari aturan pokok agama. Kemudian diakhiri seruan untuk selalu mengikuti ajakan Rasul dengan penuh kesabaran, juga dalam menghadapi kejahatan orang-orang musyrik; istikomah dan bertawakal hanya kepada Allah.
Islam membolehkan manusia menikmati segala apa yang baik-baik, dan menggunakan perhiasan dengan syarat tidak berlebihan; tidak boleh sombong, hanya Allah yang mempunyai hak sombong; tidak boleh berdoa atau mengharapkan sesuatu di luar Sunatullah.
Manusia harus mengambil pelajaran, pembelajaran dari kisah-kisah para Nabi tersebut untuk tuntunan, peringatan. Air, tanah, api dengan cahayanya, udara, yang diciptakan Allah untuk sarana semua makhluk-Nya, khususnya manusia agar dapat hidup dengan baik, aman, menyenangkan, menenteramkan, mensejahterakan, membahagiakan, menyempurnakan. Harus dipelajari, diteliti, dicari guna dan manfaatnya sebanyak-banyaknya untuk kepentingan menunjang hidup semaksimal mungkin, dan untuk sarana pengabdian kepada Allah Pemiliknya.

a‘udzu billãhi min-nasy syami’il ‘alimi minnasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

alif lãm rō = hanya Allah yang memahami maknanya; (Allahu lã rodda = Allah tak terbantahkan keberadaan-Nya); kitãbun = Kitab ini; uhkimat = disusun dengan rapih; ãyãtuhũ = ayat-ayatnya; tsumma = kemudian; fush shilat = dijelaskan intinya; mil ladun = dari haribaan; hakĩmin = Mahabijaksana; khobĩr = Maha Mengetahui
alif lãm rō (Allahu lã rodda) kitãbun uhkimat ãyãtuhũ tsumma fush shilat mil ladun hakĩmin khobĩr.
1. alif lãm rō (Hanya Allah Yang memahami maknanya; Allah Yang keberadaan-Nya tak terbantah), inilah Kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapih, kemudian dijelaskan intinya, diturunkan dari (Allah) Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 1,2,3,4; Ali ‘Imran, 3 : 1,2,3,4; Al A’rãf, 7 : 1,2,3; Yunus, 10 : 1; Alquran adalah Kitab yang ayat-ayat-Nya tersusun secara rapih, dan dijelaskan intinya, disebut fushshilat menjadi nama surat yang ke 41 di dalam Alqur’an ini. Pernyataan Allah yang sangat meyakinkan pembacanya yaitu Muhammad saw. dan umatnya. Allah memang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui segala yang telah diciptakan-Nya.

allã ta’budũ = janganlah kamu mengabdi; illãllãh = kepada selain Allah; innanĩ = sesungguhnya Aku; lakum = untukmu; minhu = dari-Nya; nadzĩrun = pemberi peringatan; wa basyĩru = dan pembawa kabar gembira.
allã ta’budũ illãllãh, innanĩ lakum minhu nadzĩrun wa basyĩru.
2. Janganlah kamu (Muhammad saw. dan para pengikutnya) mengabdi kepada selain Allah. Sesungguhnya, aku (Muhammad saw.) pemberi peringatan dan kabar gembira dari-Nya, untukmu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang makhluk-Nya, khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada Nabi Muhammad saw. agar tidak mengabdi kepada selain Allah. Mengingatkan kembali Q.s. Al Fatihah, 1 : 5. Nabi Muhammad saw. adalah pemberi peringatan dan penyampai berita gembira bagi manusia yang beriman.

wa ani = dan hendaknya; istaghfirũ = kamu memohon ampun; robbakum = Rob kamu; tsumma = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaihi = kepada-Nya; yumatti’kum = Dia akan memberi kenikmatan kepadamu; matã’an = kesenangan; hasanan = yang baik; ilã = sampai; ajalin = pada waktu; musamman = tertentu; wa yu’ti = dan Dia akan memberikan; kulla = setiap; dzĩ fadhlin = mempunyai keutamaan; fadhlahũ = karunia-Nya; wa in = dan jika; tawallau = kamu berpaling; fainnĩ = maka sesungguhnya aku; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = untuk kamu; ‘adzãba = azab; yaumin kabĩr = Hari Besar (Kiamat).
wa anistaghfirũ robbakum tsumma tũbũ ilaihi yumatti’kum matã’an hasana ilã ajalim musamma wa yu’ti kulla dzĩ fadhlin fadhlahũ, wa in tawallau fainnĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumin kabĩr.
3. Dan, hendaknya kamu memohon ampun kepada Rob kamu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, tentu Dia akan memberi kenikmatan kepadamu dengan kesenangan yang baik, sampai waktu terentu, dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang mempunyai keutamaan. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya, aku (Muahmmad saw.) takut kamu (umatnya) akan ditimpa siksa Hari Kiamat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah, menyarankan kepada makhluk-Nya, khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada Muhammad saw. untuk selalu, atau sering memohon ampun, dan bertobat kepada-Nya. Allah akan memberi karunia kenikmatan sampai waktu tertentu. Jika berpaling, Nabi takut (khawatir), kamu (umatnya) akan ditimpa siksa di Hari Besar (Kiamat). Ada lebih dari 10 Surat yang berisi peringatan Hari Kiamat. Di samping itu, hampir di setiap surat, selalu ada peringatan akan datangnya Hari Kiamat ini. Ada kiamat sugro (untuk diri seseorang atau kelompok orang), ada kiamat qubro (semua maknluk-Nya akan dihadapkan ke haribaan-Nya).
ilãllãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kamu kembali; wa huwa = dan Dia; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.
ilãllãhi marji’ukum, wa huwa ‘alã kulli syai-in qodĩr.
4. Kepada Allah lah tempat kamu kembali, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berulang-ulang mengingatkan hal ini. “Allah tempat kamu kembali”, Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 28, 46, 156, 245, 281, 285; Ali ‘Imran, 3 : 14, 28, 55, 83; An Nisã’, 4 : 16, 46, 103; Al Ma’idah, 5 : 46, 103; Al An ‘Ãm, 6 : 36, 60, 62, 108, 164; Al A’rãf, 7 : 29; At Taubah, 9 : 94, 105; Yunus, 10 : 4, 23, 30, 46, 56, 70. dan lain-lain.
“Allah berkuasa atas segala sesuatu”, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 20, 106, 148, 231, 259, 282, 284; Ali ‘Imran, 3 : 26, 29, 165, 189; An Nisã’, 4 : 15, 32, 85, 176; Al Ma’idah, 5 : 15, 17, 38, 118; Al An’ãm, 6 : 164; At Taubah, 9 : 39; dan lain-lain.

alã = ingatlah; innahum = sesungguhnya mereka; yatsnũna = mereka membusungkan; shudũrohum = dada mereka; li yastakhfũ = untuk menyembunyikan dirinya; minhu = darinya; alã = ingatlah; hĩna = di waktu; yastaghsyũna = mereka menyelimuti diri; tsiyãbahum = pakaian mereka; ya’lamu = (Allah) mengetahui; mã yusirrũna = apa yang mereka sembunyikan; wa mã yu’linũn = dan apa yang mereka sembunyikan; innahũ = sesungguhnya Dia; ‘alimun = Maha Mengetahui; bidzãti = dengan isi (yang ada); ash shudũr = hati.
alã innahum yatsnũna shudũrohum li yastakhfũ minh, alã hĩna yastaghsyũna tsiyãbahum ya’lamu mã yusirrũna wa mã yu’linũn, innahũ ‘alimum bi dzãtish shudũr.
5. Ingatlah, sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) membusungkan dadanya untuk menyembunyikan diri darinya (Hud dan kemudian juga kepada Muhammad saw.). Ingatlah, ketika mereka menutupi dirinya dengan pakaiannya (agamanya), Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya, Allah mengetahui segala isi hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh umat Muhammad saw. mengingat sikap dan perbuatan orang-orang munafik. Pakaian di sini dapat berarti penyamaran diri seseorang (topeng). Allah Maha Mengetahui yang tersembunyi dan yang terlahir, dan Maha Mengetahui segala isi hati makhluk-Nya.
Al Juz-uts-tsaani ‘asyar
Juz 12

wa mã = dan tidak ada; min dãbbatin = dari seekor binatang melata; fil ardhi = di bumi; illã ‘alãllãhi = hanya Allah saja; rizquhã = memberi rezekinya; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mustaqorrohã = tempat berdiamnya; wa mustauda’ahã = dan tempat persembunyiannya; kullun = semuanya; fĩ = di dalam; kitãbin = Kitab; mubĩn = yang nyata.
wa mã min dãbbatin fil ardhi illã ‘alãllãhi rizquhã wa ya’lamu mustaqorrohã wa mustauda’ahã, kullum fĩ kitãbim mubĩn
6. Dan tidak satu pun binatang melata di bumi, hanya Allah saja lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya, dan persembunyiannya. Semua tertulis di dalam Kitab yang nyata (di Lauh Mahfuz).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Semua makhluk-Nya, yang kecil (binatang bersel satu, baksil, bakteri, virus) maupun yang besar (mastodon, mamuth, gajah, ikan paus) di bumi, dan di langit diberi rezeki. Allah Maha Mengetahui tempat persembunyiannya.

wa huwa = dan Dia lah; al ladzĩ = Yang; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; fĩ sittati = dalam tujuh; ayyãmin = masa (hari); wa kãna = dan adalah; arsyuhũ = arasy-Nya; ‘alã = di dalam; al mã-i = air; liyabluwakum = karena Dia hendak mengujimu; ayyukum = siapa di antara kamu; ahsanu = lebih baik; ‘amalan = amalnya; wa la in = dan jika; qulta = kamu berkata; innakum = sesungguhnya kamu; mab’ũtsũna = orang yang dibangkitkan; mim ba’di = dari sesudah; al mauti = maut (mati); la yaqũlanna = tentu akan berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; in hãddzã = ini tidak lain; illã = hanyalah; sihrun = sihir; mubĩn = yang nyata.
wa huwal ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhi fĩ sittati ayyãm, wa kãna arsyuhũ ‘alãl mã-i liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, wa la in qulta innakum mab’ũtsũna mim ba’dil maut, la yaqũlannal ladzĩna kafarũ in hãddzã illã sihrum mubĩn.
7. Dan Dia lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan arasy-Nya di dalam air, karena Dia hendak menguji, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, jika kamu berkata: “Sesungguhnya, kamu akan dibangkitkan sesudah mati.” Niscaya orang kafir akan berkata: “Tidak lain ini hanya sihir yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan proses penciptaan langit dan bumi dengan perbedaan penjelasan dalam berbagai Surat, a.l. Q.s. al A’rãf, 7 : 54, Yunus, 10 : 3; al as Sajdah, 32 : 4; Qōf, 50 : 39; Hadid, 57 : 4. Arasy Allah ada di dalam air, sehingga memberi manfaat yang banyak untuk bisa dipakai dalam hidupnya makhluk Allah. Ini merupakan ujian dari Allah. Bagaimana mendaya-gunakan air dengan percampurannya dengan tanah, udara, dan api dengan cahayanya. Air sangat berguna dalam hidupnya bersama orang lain, makhluk lain. Orang kafir selalu menganggap informasi yang disampaikan Allah itu sebagai sihir.
Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9

wa la-in = dan sesungguhnya jika; akhkhornã = Aku undurkan; ‘anhumu = dari mereka; al ‘adzãba = azab; ilã = kepada; ummatim = umat; ma’dũdati = tertentu; al layaqũlunna = tentu mereka akan berkata; mã yahbisuhũ = apa yang menghalanginya; alã = ingatlah; yauma = ketika (di hari); ya’tĩhim = datang kepada mereka; laisa = tidak; mashrũfan = menghindarkan; ‘anhum = oleh mereka; wa hãqo = dan dikurung; bihim = oleh azab; mã kaanũ = apa yang mereka; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = memperolok-olokkan.
wa la-in akhkhornã ‘anhumul ‘adzãba ilã ummatim ma’dũdatil layaqũlun na mã yahbisuh, alã yauma ya’tĩhim laisa mashrũfan ‘anhum wa hãqo bihim mã kaanũ bihĩ yastahzi-ũn.
8. Dan sesungguhnya, jika Aku undurkan azab mereka sampai pada waktu yang ditetapkan, tentu mereka akan berkata: “Apa yang menghalanginya?” Ingatlah, ketika azab itu datang kepada mereka, dan mereka tidak dapat menghindarinya. Mereka dikurung oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berhak mengundurkan atau memajukan azab bagi mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik atau murtad. Mereka tidak akan mampu menghindar dari azab Allah yang datang secara tiba-tiba. Dengan mengajukan pertanyaan seperti pada ayat ini, mereka (orang kafir) menunjukkan kesombongannya. Padahal Allah lah yang menetapkan azab bagi mereka, karena sikap, perbuatan, dan perilaku mereka sendiri. Yang menghalangi Allah menurunkan azab adalah karunia Allah, bagi orang yang menyadari kekeliruannya. Allah memberi kesempatan (bagi mereka yang diberi rahamat dan berkah) untuk bertobat serta memohon ampun kepada-Nya.

wa la in = dan jika; adzaqna = Aku memberi rasa; al insãna = manusia; minnã = dari Aku; rohmatan = rahmat; tsumma = kemudian; naza’nãhã = Aku cabut kembali; min hu = darinya; innahũ = sesungguhnya dia; la ya-ũsun = menjadi putus asa; kafũr = ingkar.
wa la in adzaqnal insãna minnã rohmatan tsumma naza’nãhã min hu innahũ la ya-ũsun kafũr.
9. Dan jika Aku memberi rasa rahmat kepada manusia, kemudian Aku cabut kembali darinya, sesungguhnya, dia menjadi putus asa dan lagi ingkar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi rasa rahmat atau mencabutnya, hal itu merupakan hak Allah, dan ujian bagi manusia, jangan sampai kufur (ingkar) kepada ketentuan Allah. Jangan sampai melakukan perbuatan tercela. Allah sangat suka, jika mahkluk-Nya selalu bersyukur, saat diberi rahmat, atau dicabut-Nya. Orang kafir tidak bersyukur kalau diberi rahmat. Kalau rahmat-Nya dicabut mereka mudah berputus asa. Lebih jauh lagi malah menjadi ingkar dari peraturan Allah.

wa la in = dan jika; adzaqnãhu = Aku beri rasa; na’mã-a = nikmat bahagia; ba’da = sesudah; dhorrō-a = bencana; massat-hu = menimpanya (menyentuhnya); la yaqũlanna = tentu dia akan berkata; dzahaba = telah hilang; as sayyi-ãtu = bencana-bencana; ‘annĩ = dariku; innahũ = sesungguhnya dia; la farihũn = sangat gembira; fakhũrun = bangga.
wa la in adzaqnãhu na’mã-a ba’da dhorrō-a massat-hu la yaqũlanna dzahabas sayyi-ãtu ‘annĩ, innahũ la farihũn fakhũr.
10. Dan jika Aku beri rasa bahagia, sejahtera kepadanya, sesudah bencana yang menimpanya, tentu dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dariku.” Sesungguhnya, dia sangat gembira dan bangga.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rasa gembira, bahagia, sejahtera dan rasa susah, sedih itu ujian dari Allah untuk selalu beriman kepada-Nya. Menanggapi ujian kegembiraan, kebahagiaan janganlah terlalu bergembira, berbahagia. Kalau ditimpa bencana jangan terlalu bersedih. Harus dihadapi dengan iman kepada Allah dan sabar yang selalu hadir di hati. Itulah yang disukai Allah.

illãl ladzĩna = kecuali orang-orang yang; shobarũ = sabar; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; ũlã-ika = mereka itu; lahum = bagi mereka; maghfirotun = ampunan; wa ajrun = dan pahala; kabĩrun = yang besar.
illãl ladzĩna shobarũ wa ‘amilũsh shōlihãti ũlã-ika lahum maghfirotuw wa ajrun kabĩrun.
11. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan beramal soleh, mereka itu beroleh pengampunan dan pahala yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 10. Orang sabar dan beramal saleh (artinya melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya) mudah memperoleh ampunan dan pahala besar.

fa la’allaka = maka dapat terjadi; tãrikun = meninggalkan; ba’dho = sebagian; mã yũhō = apa yang diwahyukan; ilaika = kepadamu; wa dhō-iqun = dan sempit; bihĩ = karenanya; shodruka = dadamu; an yaqũlũ = sebab mereka akan mengatakan; lau lã = mengapa tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; kanzun = kekayaan; au jã-a = atau datang; ma’ahũ = bersama dia; malakun = seorang Malaikat; innamã = sesungguhnya hanya; anta = kamu; nadzĩr = seorang pemberi peringatan; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; wakĩl = Pemelihara.
fa la’allaka tãrikum ba’dho mã yũha ilaika wa dhō-iqum bihĩ shodruka an yaqũlũ lau lã unzila ‘alaihi kanzun au jã-a ma’ahũ malak, innamã anta nadzĩr, wallãhu ‘alã kulli syai-iw wakĩl.
12. Maka dapat terjadi, kamu, Muhammad saw. mau meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit dadamu karenanya, sebab mereka akan menanyakan: ”Mengapa tidak diturunkan kekayaan kepadanya, atau datang bersama dia seorang Malaikat?” Sesungguhnya, kamu hanya seorang pemberi peringatan, dan Allah Pemelihara segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang mengimaninya tentang ulah orang-orang kafir, munafik, musyrik, munafik, dan murtad yang suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, membuat keraguan pada apa yang diwahyukan Allah, dan cenderung mengungkapkan ketidakpercayaan pada kenabiannya. Yakinlah, bahwa Allah itu Pemelihara segala sesuatu. Nabi dan para pengikutnya hanyalah pemberi peringatan.

am yaqũlũna = atau mereka mengatakan; if tarōhu = (Muhammad) membuat-buatnya; qul = katakanlah; fa’tũ = maka datangkanlah; bi ‘asyri = dengan sepuluh; suwarin = surat; mitslihĩ = yang semisal (sama); muftaroyãtin = yang dibuat-buat itu; wad’ũ = dan panggillah; man = orang-orang; istatho’tum = kamu anggap sanggup; min dũnillãhi = dari selain Allah; inkuntum = jika kamu; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
am yaqũlũnaf tarōhu, qul fa’tũ bi ‘asyri suwarim mitslihĩ muftaroyãtin wad’ũ manistatho’tum min dũnillãhi inkuntum shōdiqĩn.
13. Atau mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat (Alquran)”, Katakanlah: “Maka buatlah sepuluh surat yang menyamainya dengan yang (kau anggap) dibuat-buat itu, dan panggillah orang-orang yang kamu (anggap) sanggup (membantumu) selain Allah, jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad saw., apa yang harus dikatakan kepada orang-orang yang tidak mempercayainya. (lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 23, 24 hanya ditantang satu ayat saja).

fa illam = maka jika tidak; yastajĩbũ = mereka memperkenankan; lakum = kepadamu; fa’lamũ = maka ketahuilah; annamã = bahwa apa; unzilã = yang diturunkan; bi ilmillãhi = dengan ilmu Allah; wa an lã = dan tidak ada; ilãha = ilah; illa huwa = selain Dia; fahal = maka mengapakah; antum = kamu; muslimũn = orang-orang yang berserah diri.
fa illam yastajĩbũ lakum fa’lamũ annamã unzilã bi ilmillãh, wa al lã ilãha illa huwa, fahal antum muslimũn.
14. Maka, jika mereka tidak memperkenankan (ajakan)-mu, ketahuilah, Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan tidak ada ilah selain Dia, maka mengapa kamu (tidak mau) berserah diri (kepada Allah)?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mereka tidak berkenan mengikuti ajakan Nabi Muhammad saw., para pengikut Nabi harus menyadari bahwa Alquran itu mengandung banyak ilmu Allah yang harus digali dan ditumbuhkembangkan agar hidup ini lebih sempurna, menyenangkan, memuaskan. Hanya kepada Allah umat Islam berserah diri.
man = barang siapa; kãna = adalah; yurĩdu = menghendaki; al hayãta = kehidupan; ad dun-yã = dunia; wa zĩnatahã = dan perhiasannya; nuwaffi = Aku penuhi (sempurnakan); ilaihim = kepada mereka; a’mãlahum = pekerjaan mereka; fĩhã = di dunia; wahum = dan mereka; fĩhã = di dalamnya; lã yubkhasũn = mereka tidak dirugikan.
man kãna yurĩdul hayãtad dun-yã wa zĩnatahã nuwaffi ilaihim a’mãlahum fĩhã, wahum fĩhã lã yubkhasũn.
15. Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, (tentu) Aku penuhi bagi mereka, (balasan) pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak dirugikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Untuk kehidupan di dunia, Allah tidak membeda-bedakan (sangat adil). Semuanya diberi sesuai dengan kiprah upayanya.

ũlãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; laisa = tidak; lahum = bagi mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; illã = kecuali; an nãru = api neraka; wa habitho = dan lenyap; mã = apa; shona’ũ = yang mereka usahakan; fĩhã = di akhirat (di dalamnya); wa bãthilum = dan sia-sia (batil); mã kãnũ = apa yang mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
ũlãikal ladzĩna laisa lahum fil ãkhiroti illãn nãr, wa habitho mã shona’ũ fĩhã wa bãthilum mã kãnũ ya’malũn
16. Mereka tidak memperoleh pahala di akhirat, kecuali api neraka, dan di akhirat lenyaplah, apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Usaha dunia tidak untuk akhirat, maka pekerjaannya sia-sia. Di akhirat mereka mendapat api neraka.

afaman = apakah orang; kãna = adalah; alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir Robbihĩ = dari Rabnya; wa yatlũhu = dan membacakannya; syãhidun = seorang saksi; minhu = darinya; wa min qoblihĩ = dan dari sebelumnya; kitãbu mũsã = Kitab Musa; imãman = pedoman; wa rohmah = dan rahmat; ulã-ika = mereka itu; yu’minũna = mereka itu beriman; bihĩ = dengannya; wa man = dan barang siapa; yakfur = kafir; bihĩ = dengannya; minal ahzãbi = di antara golongan; fannãru = maka api neraka; mau’iduh = diancamkannya; fa lã taku = maka janganlah kamu; fĩ miryatin = dalam keraguan; minhu = dengannya; innahu = sesungguhnya dia; al haqqu = benar-benar; mir Robbika = dari Rab kamu; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
afaman kãna alã bayyinatim mir robbih, wa yatlũhu syãhidum minhu wa min qoblihĩ kitãbu mũsã imãmaw wa rohmah, ulã-ika yu’minũna bih, wa man yakfur bihĩ minal ahzãbi fannãru mau’iduh, fa lã taku fĩ miryatim minh, innahul haqqu mir robbika wa lãkinna aktsaron nãsi lã yu’minũn.
17. Apakah (orang-orang kafir itu) sama dengan orang-orang yang mempunyai bukti nyata (Alquran) dari Rabnya, dan membacakannya (Alquran) seorang saksi dari-Nya, dan sebelumnya telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman dengannya (Alquran). Dan barang siapa di antara golongan itu yang kafir dengannya (Alquran), maka merekalah orang yang diancamkan (neraka), oleh karena itu, janganlah kamu dalam keraguan (terhadap Alquran). Sesungguhnya (Alquran) benar-benar dari Rab kamu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan persamaan/perbedaan orang kafir dan orang beriman dengan bukti-bukti Alquran dan Kitab Musa yang telah dibacakannya. Mereka yang kafir kepada Alquran dan Kitab Musa (lihat Al Baqarah, dan lain-lain) diancam dengan neraka. Kemudian Allah menganjurkan, jangan ragu terhadap Alquran yang diturunkan dari Rab, meskipun kebanyakan manusia tidak mau beriman.

wa man = dan siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimmani = daripada orang; iftarō = membuat-buat; ‘alallãhi = atas Allah mereka; kadziban = dan berkata; ũlã-ika = para saksi; yu’rodhũna = mereka ini; ‘alã Robbihim = kepada Rab mereka; wa yaqũlu = dan berkata; al asyhãdu = para saksi; hã-ulã-i = mereka ini; alladzĩna = orang-orang yang; kadzabũ = mereka berdusta; ‘alã robbihim = atas Rab mereka; alã = ingatlah; la’natullãhi = kutukan Allah; ‘alazhzhōlimĩn = atas orang-orang yang lalim.
wa man azhlamu mimmanif tarō ‘alallãhi kadziba, ũlã-ika yu’rodhũna ‘alã robbihim wa yaqũlul asyhãdu hã-ulã-illadzĩna kadzabũ ‘alã robbihim, alã la’natullãhi ‘alazhzhōlimĩn.
18. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah. Mereka itu akan dihadapkan kepada Rab mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rab mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang membuat-buat dusta tentang Allah itu lebih lalim dari orang lalim. Berarti sama dengan fitnah yang sangat menyesatkan kepada orang lain. Allah sangat mengutuk orang-orang yang membuat dusta tentang Allah, dan yang membuat fitnah.

alladzĩna = orang-orang yang; yashuddũna = (mereka) menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; wa yabghũnahã = dan mereka menghendaki; ‘iwaja = bengkok; wa hum = dan mereka; bil ãkhiroti = dengan hari akhirat; hum = mereka; kãfirũn = orang-orang yang kafir (tidak percaya pada ada-Nya Allah, dan Rasul-Nya).
alladzĩna yashuddũna ‘an sabĩlillãhi wa yabghũnahã ‘iwaja, wa hum bil ãkhiroti hum kãfirũn.
19. Orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok, dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya dengan Hari Akhirat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam setiap zaman, selalu ada saja orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka menghendaki jalan Allah itu bengkok. Mereka dinilai sebagai orang yang tidak mau percaya pada Hari Akhirat.

ulã-ika = mereka itu; lam yakũnũ = mereka tidak mampu; mu’jizĩna = melepaskan diri; fil ardhi = di bumi; wa mã kãna = dan tidak ada; lahum = bagi mereka; min dũnillãhi = dari selain Allah; min auliyã-a = dari penolong; yudhō’afu = dilipatgandakan; la humu = bagi mereka; al ‘adzãb = siksa (azab); mã kãnũ = mereka tidak ada; yastathĩ’ũna = mereka sanggup; as sam’a = mendengar; wa mã kãnũ = dan mereka tidak; yubshirũn = mereka melihat (kebenaran).
ulã-ika lam yakũnũ mu’jizĩna fil ardhi wa mã kãna lahum min dũnillãhi min auliyã-a yudhō’afu la humul ‘adzãb, mã kãnũ yastathĩ’ũnas sam’a wa mã kãnũ yubshirũn.
20. Mereka itu tidak mampu melepaskan diri (dari bahaya) di bumi ini, dan tidak ada penolong bagi mereka, selain Allah. Siksa bagi mereka dilipatgandakan. Mereka tidak sanggup mendengar, dan mereka tidak dapat melihat kebenaran.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir tidak mampu melepaskan diri, dan tidak ada penolong dari bahaya di bumi, selain Allah. Siksa mereka di akhirat dilipatgandakan. Mereka tidak bisa mendengar, dan tidak bisa melihat kebenaran (Q.s. Al Baqarah, 2 : 18).
ulãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = (mereka) merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; wa dholla = dan lenyaplah; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang mereka; yaftarũn = mereka ada-adakan.
ulãikal ladzĩna khosirũ anfusahum wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.
21. Mereka itu orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, dan lenyaplah dari mereka, apa-apa yang selalu mereka ada-adakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir, musyrik, munafik, syirik, fasik, murtad itu merugikan diri mereka sendiri. Di Hari Kiamat, apa yang mereka ada-adakan itu lenyap. Tinggal penyesalan yang berkepanjangan.

la jaroma = tidak syak; annahum = sesungguhnya, mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; humu = mereka; al akhsarũn = orang-orang yang sangat rugi.
la jaroma annahum fil ãkhiroti humul akhsarũn.
22. Tidak diragukan, di akhirat nanti mereka menjadi orang-orang yang sangat rugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 21.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilu = dan berbuat; ash shōlihãti = baik; wa akhbatũ = dan mereka merendahkan diri; ilã robbihim = kepada Rab mereka; ulã-ika = mereka itu; ash-hãbul jannah = penghuni surga; hum fĩhã = mereka di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.
innal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti wa akhbatũ ilã robbihim ulã-ika ash-hãbul jannah, hum fĩhã khōlidũn.
23. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan berbuat baik, dan mereka merendahkan diri kepada Rab mereka, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan ini penguat dari ayat-ayat dalam surat-surat lainnya.
matsalu = perumpamaan; al farĩqoini = dua golongan; kal a’mã = seperti orang buta; wal ashommi = dan orang tuli; wal bashĩri = dan orang yang dapat melihat; was samĩ’i = dan yang dapat mendengar; hal = apakah; yastawiyaani = sama keduanya; matsalan = perumpamaan; afalã = tidakkah; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
matsalul farĩqoini kal a’mã wal ashommi wal bashĩri, was samĩ’i, hal yastawiyaani matsala, afalã tadzakkarũn.
24. Perumpamaan kedua golongan itu, seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat, dan mendengar. Apakah kedua perumpamaan itu, sama? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir, musyrik, syirik, munafik, fasik, murtad itu seperti orang buta dan tuli. Sedang orang yang beriman diumpamakan sebagai orang yang bisa mendengar dan melihat, kemudian merasakan ada-Nya Allah. Semua manusia harus mengambil pelajaran dari keadaan itu.

wa laqod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; nũhan = Nuh; ilã qoumihĩ = kepada kaumnya; innĩ = sesungguhnya aku; lakum = bagi kamu; nadzĩrun = pemberi peringatan; mubĩn = yang nyata bagimu.
wa laqod arsalnã nũhan ilã qoumihĩ innĩ lakum nadzĩrum mubĩn.
25. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata bagimu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dimulai ceritera Nabi Nuh yang diutus untuk kaumnya.

al lã = janganlah; ta’budũ = kamu mengabdi (beribadah, menyembah); illallãh = kepada selain Allah; innĩ = sesungguhnya; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = atas kamu; ‘adzãbi = azab, siksa; yaumin = di hari; alĩmin = menyedihkan.
al lã ta’budũ illallãh, innĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãbi yaumin alĩmin.
26. Janganlah kamu beribadah (menyembah) kepada selain Allah, sesungguhnya, aku takut, kamu akan ditimpa azab di hari yang menyedihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah disampaikan melalui Nabi Nuh dengan peringatan azab di Hari Kiamat. Lihat juga ayat 2, dan di dalam Surat-surat yang lainnya.

fa qōla = maka berkatalah; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qaumihĩ = kaumnya; mã narōka = kami tidak melihat kamu; illã = kecuali; basyaron = seorang manusia; mitslanã = seperti kami; wa mã narōka = dan kami tidak melihat kamu; it taba’aka = yang mengikuti kamu; illal ladzĩna = kecuali orang-orang yang; hum = mereka; arōdzilunã = yang hina di antara kami; badiya = tanpa; ar ro’yi = pemikiran; wa mã narōlakum = dan kami tidak melihat atas kamu; ‘alainã = pada kami; min fadhlin = dari kelebihan; bal = bahkan; nazhunnukum = kami mengira kamu; kãdzibĩn = orang yang berdusta.
fa qōlal mala-ul ladzĩna kafarũ min qaumihĩ mã narōka illã basyarom mitslanã wa mã narōkat taba’aka illal ladzĩna hum arōdzilunã badiyar ro’yi wa mã narōlakum ‘alainã min fadhlim bal nazhunnukum kãdzibĩn.
27. Maka, berkatalah pemuka-pemuka orang yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, hanya sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang mengikuti kamu, kecuali orang-orang yang hina, dan tidak dengan pikiran di antara kami. Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan di atas kami. Bahkan kami mengira, kamu itu orang yang berdusta”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera orang-orang kafir zaman Nabi Nuh menilai seorang nabi.

qōla = (Nuh) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; aro-aitum = bagaimana pikiranmu; in kuntu = jika aku adalah; ‘alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir robbĩ = dari Rabku; wa ãtãnĩ = dan aku diberi-Nya; rohmatan = rahmat; min ‘indihĩ = dari haribaan-Nya; fa’ummiyat = lalu disamarkan; ‘alaikum = atasmu; anulzimukumũhã = apakah akan aku paksakan kepadamu; wa antum = padahal kamu; lahã = padanya; kãrihũn = tidak menyukai.
qōla yã qaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir robbĩ, wa ãtãnĩ rohmatam min ‘indihĩ fa’ummiyat ‘alaikum anulzimukumũhã wa antum lahã kãrihũn.
28. Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada bukti nyata dari Rabku, dan aku diberi rahmat dari haribaan-Nya, lalu (rahmat itu) disamarkan bagimu, apakah akan aku paksakan kepadamu (menerimanya), padahal kamu tidak menyukainya?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terjadi dialog yang demokratis antara Nabi Nuh dan kaumnya. Yang menjadi bukti nyata atau keterangan yang jelas dari Rab untuk Nabi Nuh adalah wahyu yang diterimanya; Rahmat atau karunia Allah kepada Nabi Nuh adalah pangkat kenabian dan pemberian wahyu Allah. Yang dimaksud rahmat atau karunia yang disamarkan atau masih gelap bagi umat Nabi Nuh yang kafir adalah karena mereka tidak beriman atau tidak mau percaya, bahwa itu wahyu dari Allah. Allah dan Nabi Nuh tidak mau memaksa orang yang tidak mau, atau tidak menyukai bahwa wahyu itu dari Allah.
wa yã qaumi = dan, yaa kaumku; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atas seruanku; mãlan = harta; in ajriya = tidak lain upahku; illã = hanyalah; ‘alã = dari; allãhi = Allah; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; bi thōridi = dengan mengusir; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; innahum = sesungguhnya mereka; mulãqũ = mereka menemui; robbihim = Rab mereka; wa lãkinnĩ = akan tetapi aku; arōkum = aku memandangmu; qauman = suatu kaum; tajhalũn = yang belum mengetahui
wa yã qaumi lã as-alukum ‘alaihi mãlan in ajriya illã ‘alã allãhi, wa mã ana bi thōridil ladzĩna ãmanũ, innahum mulãqũ robbihim, wa lãkinnĩ arōkum qauman tajhalũn
29. Dan, hai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu untuk seruanku. Upahku, tidak lain, hanya dari Allah, dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, akan tetapi, aku memandangmu sebagai suatu kaum yang belum mengetahui. Sesungguhnya, mereka akan menemui Rab-nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Satu lagi dialog antara Nabi Nuh dengan kaumnya. Tugas Nabi dari Allah untuk umat manusia, ditujukan untuk memberi pengetahuan kepada kaum yang belum mengetahui, bagaimana orang hidup dengan agama di dalam masyarakat. Nabi Nuh a.s. tidak akan meminta upah dari manusia, karena tujuannya untuk membina hidup manusia agar sejahtera, tenteram, damai, memuaskan bagi semuanya di dunia dan di akhirat. Tentu saja, Nabi Nuh a.s. tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, meskipun mendapat desakan dari orang-orang kaya yang kafir, karena orang-orang yang telah beriman akan menjadi saudara seagama yang akan saling membantu, sehidup-semati dengannya.

wa yã qaumi = dan wahai kaumku; man = siapakah; yanshurunĩ = menolongku; minallãhi = dari (azab) Allah; in = jika; thorodtuhum = mengusir mereka; afalã = apakah tidak; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
wa yã qaumi man yanshurunĩ minallãhi in thorodtuhum, afalã tadzakkarũn.
30. Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari azab Allah, jika aku mengusir mereka, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 29. Manusia harus mengambil pelajaran dari Kisah Nabi Nuh dan kaumnya.

wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; lakum = kepada kamu; ‘indĩ = padaku; khozã inullãhi = perbendaharaan (ilmu) Allah; wa lã a’lamu = dan aku tidak mengetahui; al ghoiba = ilmu gaib; wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; innĩ = sesungguhnya aku; malakun = Malaikat; wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; tazdarĩ = rendah (hina); a’yunukum = penglihatanmu; lay yu’tiyahumullãhu = Allah tidak mendatangkan kepada mereka; khoiron = kebaikan; allãhu = Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan apa; fĩ anfusihim = pada diri mereka; innĩ = sesungguhnya aku; idzan = kalau begitu; lamina = tentu termasuk; azh zhōlimĩn = orang lalim
wa lã aqũlu lakum ‘indĩ khozã inullãhi wa lã a’lamul ghoiba wa lã aqũlu innĩ malakun wa lã aqũlu lilladzĩna tazdarĩ a’yunukum lan yu’tiyahumullãhu khoiron, allãhu a’lamu bimã fĩ anfusihim, innĩ idzal laminazh zhōlimĩn
31. Dan aku tidak mengatakan kepadamu, perbendaharaan (ilmu) Allah ada padaku. Aku tidak banyak mengetahui yang gaib, dan aku tidak pula mengatakan, bahwa aku ini sesungguhnya Malaikat, dan juga aku tidak mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina menurut penglihatanmu, bahwa Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui, apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya, kalau begitu, tentu aku termasuk orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Nabi Nuh dengan orang-orang yang tidak mau mempercayai kenabiannya.

qōlũ = mereka berkata; yã nũhu = wahai Nuh; qod = sesungguhnya; jãdaltanã = kamu telah berbantah dengan kami; fa aktsarta = maka kamu telah memperbanyak; jidãlanã = perbantahan dengan kami; fa’tinã = maka datangkanlah kepada kami; bimã = dengan apa (azab); ta’idunã = kamu ancamkan kepada kami; inkunta = jika kamu adalah; mina = termasuk; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
qōlũ yã nũhu qod jãdal tanã fa aktsarta jidãlanã fa’tinã bimã ta’idunã inkunta minash shōdiqĩn.
32. Mereka berkata: “Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperbanyak perbantahan terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbantahan diakhiri dengan tantangan orang-orang kafir, agar Allah mendatangkan azab yang diancamkan kepada mereka.

qōla = Nuh berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; ya’tĩkum = akan mendatangkan kepadamu; bihillhu = dengan azab Allah itu; insyã-a = jika Dia menghendaki; wa mã antum = dan kamu tidak; bi mu’jizĩn = dengan melepaskan diri;
qōla innamã ya’tĩkum bihillãhu insyã-a wa mã antum bi mu’jizĩn.
33. Nuh berkata: “Sesungguhnya, hanya Allah saja yang akan mendatangkan azab itu kepada kamu semua, jika Dia menghendaki, dan kamu tidak dapat melepaskan diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nuh berkata berdasarkan petunjuk dari Allah, seperti yang tertera pada ayat ini.

wa lã = dan tidak; yanfa’ukum = bermanfaat kepadamu; nush-hĩ = nasihatku; in arodtu = jika aku hendak; an anshoha = aku memberi nasihat; lakum = kepadamu; in kaanãllãhu = jika Allah ada; yurĩdu = menghendaki; an yughwiyakum = akan menyesatkan; huwa = Dia; robbukum = Rab kamu; wa ilaihi = dan kepada-Nya; turja’ũn = kamu dikembalikan.
wa lã yanfa’ukum nush-hĩ in arodtu an anshoha lakum in kaanãllãhu yurĩdu an yughwiyakum, huwa robbukum wa ilaihi turja’ũn.
34. Dan jika aku hendak memberi nasihat kepadamu, tidaklah bermanfaat nasihatku, seandainya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rab kamu, dan kepada-Nya, engkau akan dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata-kata Nabi Nuh a.s. kepada orang-orang kafir berdasarkan petunjuk dari Allah. Maknanya, bagaimana pun kuatnya Nuh memberi nasihat kepada seseorang, tetapi kalau Allah sudah menetapkan orang itu sesat, maka nasihat itu tidak ada manfaatnya.

am = atau; yaqũlũna = mereka mengatakan; iftarōh = dia membuat-buatnya; qul = katakanlah; iniftoituhũ = jika aku membuat-buatnya; fa’alayya = maka atasku; ijrōmĩ = dosaku; wa ana = dan aku; barĩ-um = berlepas diri; mimma = dari apa; tujrimũn = kamu berbuat dosa.
am yaqũlũnaftarōh, qul iniftoituhũ fa’alayya ijrōmĩ wa ana barĩ-um mimma tujrimũn.
35. Atau mereka mengatakan: “Dia membuat-buat (nasihat)”. Katakanlah: “Jika aku membuat-buat (nasihat), maka dosanya atasku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sangkaan orang kafir pada apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Nuh, dan jawaban Nabi Nuh kepada orang-orang kafir, atas petunjuk Allah.

wa ũhiya = dan diwahyukan; ilã nũhin = kepada Nuh; annahũ = bahwa; lan yu’mina = tidak akan beriman; min qaumika = dari kaummu; illã = kecuali; man = orang; qod = sungguh; ãmana = yang telah beriman; falã = maka jangan; tabta-is = kamu bersedih; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa ũhiya ilã nũhin annahũ lan yu’mina min qaumika illã man qod ãmana falã tabta-is bimã kaanũ yaf’alũn.
36. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwa tidak akan beriman dari kaummu, kecuali orang yang telah beriman saja, maka janganlah kamu bersedih atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Nabi Nuh, kaumnya tidak akan beriman kepada Allah, kecuali orang-orang yang sudah beriman saja. Allah menghibur Nabi Nuh a.s. agar jangan bersedih karena keadaan yang demikian itu.
washna’i = dan buatlah; al fulka = bahtera; bi a’yuninã = dengan pengawasan Aku; wa wahyinã = dan wahyu-Ku; wa lã = dan jangan; tukhãthibnĩ = kamu berbicara tentang Aku; fil ladzĩna = dengan orang-orang; zholamũ = yang lalim; innahum = sesungguhnya mereka; mughroqũn = akan ditenggelamkan.
wa ashna’il fulka bi a’yuninã wa wahyinã, wa lã tukhãthibnĩ fil ladzĩna zholamũ, innahum mughroqũn
37. Dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu dari Aku, dan jangan kamu bicarakan tentang Aku dengan orang-orang yang lalim itu, karena sesungguhnya, mereka akan ditenggelamkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Nuh a.s. membuat bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya. Allah juga melarang berbicara tentang-Nya kepada orang-orang lalim, karena Allah merencanakan akan menenggelamkan orang-orang lalim itu.

wa yashna’u = dan Nuh membuat; al fulka = bahtera; wa kullamã = dan setiap kali; marro = berjalan melewati; ’alaihi = atasnya; malã’un = pemuka-pemuka; min qaumihi = dari kaumnya; sakhirũ = mereka mengejek; minhu = kepadanya; qōla = berkata (Nuh); in tas kharũ = jika kamu mengejek; minnã = kepada Aku; fa-innã = maka sesungguhnya; nas-kharu = Aku mengejek; minkum = kepadamu; kamã = sebagaimana; tas-kharũn = kamu mengejek (Aku).
wa yashna’ul fulka, wa kullamã marro’alaihi malã’um min qaumihi sakhirũ minhu, qōla in tas kharũ minnã fa-innã nas-kharu minkum kamã tas-kharũn.
38. Dan Nuh membuat bahtera, dan setiap kali pemuka kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejek kepadanya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek Aku, maka sesungguhnya, Aku pun mengejekmu, sebagaimana kamu mengejek aku.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh membuat bahtera yang mendapat ejekan dari para pemuka kaumnya. Nuh pun mengejek, sesuai dengan petunjuk Allah, seperti ejekan kaum kepadanya.

fa saufa = maka kelak; ta’lamũna = kamu akan mengetahui; man = siapa; ya’tĩhi = menimpanya; ‘adzãbun = azab; yukhzĩhi = menghinakannya; wa yahillu = dan halal (menimpa); ‘alaihi = atasnya; ‘adzãbum = azab; muqĩm = yang kekal.
fa saufa ta’lamũna man ya’tĩhi ‘adzãbun yukhzĩhi wa yahillu ‘alaihi ‘adzãbum muqĩm.
39. Maka kelak, kamu akan mengetahui, siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya, dan siapa yang akan ditimpa azab kekal baginya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah kepada Nabi Nuh tentang siapa yang akan ditimpa azab di dunia dan azab yang kekal di akhirat.

hattã = sehungga; idzã = jika; jã-a = datang; amrunã = perintah-Ku; wa fãro = dan air memancar; attannũru = tanur; qulnã = Aku berpikir; ahmil = muatkanlah; fĩhã = di dalamnya (bahtera); min kullin = dari masing-masing; zaujaini = sepasang; synaini = dua; wa ahlaka = dan keluargamu; illã = kecuali; man = orang; sabaqo = terdahulu; ‘alaihi = baginya; al qaulu = perkataan; wa man = dan orang; ãmana = telah beriman; wa mã ãmana = dan tidak ada orang yang beriman; ma’ahũ = bersamanya (Nuh); illã = kecuali; qolĩlu = sedikit.
hattã idzã jã-a amrunã wa fãrottannũru qulnahmil fĩhã min kullin zaujainisynaini wa ahlaka illã man sabaqo ‘alaihil qaulu wa man ãman, wa mã ãmana ma’ahũ illã qolĩlu.
40. Sehingga, jika perintah-Ku datang, dan tanur bumi telah memancarkan air, Aku berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera dari masing-masing sepasang dua (binatang jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang terdahulu terkena baginya, dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Dan tidak ada orang-orang yang beriman bersama Nuh, kecuali sedikit.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah banjir zaman Nabi Nuh a.s. Air memancar dari perut bumi dan hujan lebat tidak berhenti-henti sampai Allah memerintahkan untuk berhenti.

wa qōla = dan berkata; irkabũ = naiklah kamu sekalian; fĩhã = ke dalam kapal; bismillãhi = dengan nama Allah; jrãhã = di waktu berlayarnya; wa mursãhã = berlabuhnya; inna = sesunggunya; robbi = Rabku; laghofũrur = sungguh Maha Pengampun; rohĩmu = Maha Penyayang.
wa qōlarkabũ fĩhã bismillãhi majrãhã wa mursãhã, inna robbi laghofũrur rohĩmu.
41. Dan (Nuh) berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera dengan nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya, Rabku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh memerintah para pengikutnya untuk menaiki bahtera, dengan pengajaran doa kalau mau berlayar, dan saat berlabuh.
wa hiya = dan bahtera itu; tajrĩ = berlayar; bihim = dengan mereka; fĩ maujin = dalam gelombang; ka-al jibãli = seperti gunung; wa nãdã = dan memanggil; nũhun = Nuh; ibnahũ = anaknya; wa kãna = dan ia adalah; fĩ ma’zilin = di tempat terpencil; yã bunayya = wahai anakku; irkab = naiklah; ma’anã = bersamaku; wa lã takum = dan kamu jangan berada; ma’a = bersama-sama dengan; al kãfirĩn = orang-orang yang kafir.
wa hiya tajrĩ bihim fĩ maujin kal jibãl, wa nãdã nũhun ibnahũ wa kãna fĩ ma’zil, yã bunayyarkab ma’anã wa lã takum ma’al kãfirĩn.
42. Dan bahtera itu berlayar dengan mereka (membawa penumpangnya) dalam gelombang seperti gunung. Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke bahtera) bersamaku, dan janganlah kamu bersama-sama orang-orang yang kafir.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh dengan anaknya (bernama Qana’an) yang tidak mau menaiki bahtera bapaknya.

qōla = (anaknya) berkata; sa ãwĩ = aku akan mencari perlindungan; ilã jabalin = ke gunung; ya’shimunĩ = yang memeliharaku; minal mã-i = dari air; qōla = (Nuh) berkata; lã ‘ãshima = tidak ada pelindung; al yauma = hari ini; min amrillãhi = dari perintah azab Allah; illã = selain; mar rohima = orang yang Dia kasihani; wa hãla = dan menghalangi; bainahuma = di antara keduanya; al mauju = gelombang; fa kaana = maka ia adalah; minal mughroqĩn = termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
qōla sa ãwĩ ilã jabalin ya’shimunĩ minal mã-i, qōla lã ‘ãshimal yauma min amrillãhi illã mar rohim, wa hãla bainahumal mauju fa kaana minal mughroqĩn
43. Anaknya berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air.” Nuh berkata: “Tidak ada pelindung dari azab perintah Allah hari ini, selain orang yang dikasihi-Nya. Dan gelombang menghalangi antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera anak Nabi Nuh yang ditenggelamkan Allah.

wa qĩla = dan (Allah) bersabda; yã ardhu = yã bumi; ibla’ĩ = telanlah; mã-aki = airmu; wa yã samã-u = dan wahai langit; aqli’ĩ = berhentilah; wa ghĩdho = dan disurutkan; al mã-u = air; wa qudhiya = dan diselesaikan; al amru = urusan (perintah); wastawat = dan bahtera berlabuh; ‘alal jũdiyyi = di atas bukit Judi; wa qĩla = dan dikatakan; bu’dan = jauh (binasalah); lil qaumi = bagi kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
wa qĩla yã ardhubla’ĩ mã-aki wa yã samã-u aqli’ĩ wa ghĩdhol mã-u wa qudhiyal amru wastawat ‘alal jũdiyyi wa qĩla bu’dal lil qaumizh zhōlimĩn.
44. Dan (Allah) bersabda: “Hai bumi, telanlah airmu; dan hai langit (hujan) berhentilah”. Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang lalim.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Membinasakan suatu umat bagi Allah mudah saja, dengan berbagai cara.

wa nãdã nũhu = dan Nuh berseru; ar robbahũ = kepada Rabnya; fa qōla = maka katanya; robbi = yaa Rabku; innãbnĩ = sesunggunya anakku; min ahlĩ = dari (termasuk) keluargaku; wa inna = dan sesunggunya; wa’daka = janji Engkau; al haqqu = benar; wa anta = dan Engkau; ahkamu = penghukum paling adil; al hãkimĩn = di antar para penghukum.
wa nãdã nũhur robbah, fa qōla robbi innãbnĩ min ahlĩ wa inna wa’dakal haqqu wa anta ahkamul hãkimĩn.
45. Dan Nuh berseru kepada Rabnya, maka katanya: “Yaa Rabku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya, janji Engkau adalah benar, dan Engkau paling adil di antara penghukum.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tragedi keluarga Nuh, anak dan istrinya ternyata tidak mau mengikuti seruannya. Anak-istrinya tetap kafir.

qōla = (Allah) bersabda; yã nũhu = wahai Nuh; innahũ = sesungguhnya dia; laisa = dia bukanlah; min ahlika = dari keluargamu; innahũ = sesungguhnya, dia; ‘amalun = perbuatan; ghoiru = tidak; shōlihĩn = saleh (baik); falã = maka janganlah; tas-alni = kamu menanyakan kepada-Ku; mã laisa = sesuatu yang tidak; laka = untukmu; bihĩ = dengannya; ilmu = pengetahuan; innĩ = sesungguhnya aku; a’izhuka = Aku menasihatimu; an takũna = kamu jangan menjadi; mina = termasuk menjadi; al jahilĩn = orang-orang yang bodoh.
qōla yã nũhu innahũ laisa min ahlik, innahũ ‘amalun ghoiru shōlihĩn, falã tas-alni mã laisa laka bihĩ ilm, innĩ a’izhuka an takũna minal jahilĩn.
46. (Allah) bersabda: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia tidak termasuk keluargamu, sesungguhnya dia melakukan perbuatan yang tidak baik. Maka janganlah kamu menanyakan kepada-Ku, sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya, Aku menasihatimu, agar kamu jangan termasuk orang-orang yang bodoh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nuh, bahwa anak-istri yang melakukan perbuatan tidak baik (menjadi kafir, tidak melakukan apa yang diingini, diperintah Allah) harus dianggap bukan anggota keluarga. Allah melarang menanyakan kepada-Nya, sesuatu yang tidak diketahui (mengapa anak-istrinya menjadi keras kepala, tidak mau mengikuti ajakannya, ajakan Allah). Allah mengetahui segala sesuatu yang gaib. Allah menasihati Nuh, agar jangan termasuk kepada orang-orang yang bodoh. Masalah menjadi kafirnya seseorang, hanya Allah Yang mengetahui. Ada orang yang beriman, tentu ada lawannya yaitu kafir. Kafir itu pilihan hidup seseorang berdasarkan pertimbangan bebas akal pikiran dirinya. Orang-orang kafir itu lahan pekerjaan bagi para penyeru kebenaran dan kebaikan arahan dari Allah.
qōla = (Nuh) berkata; robbi = yaa Rabku; innĩ = sesungguhnya aku; a’udzu = aku berlindung; bika = kepada Engkau; an as-alaka mã laisa = apa (sesuatu) yang tidak; lĩ = bagiku; bihĩ = dengannya; ‘ilm = pengetahuan (mengetahui); wa illã = dan sekiranya tidak; taghfir = Engkau memberi ampun; lĩ = bagiku; wa tarhamnĩ = dan Engkau belas-kasihan kepadaku; akun = aku adalah; mina = dari (termasuk); al khōsirĩn = orang-orang yang rugi.
qōla robbi innĩ a’udzu bika an as-alaka mã laisa lĩ bihĩ ‘ilm, wa illã taghfir lĩ wa tarhamnĩ akum minal khōsirĩn.
47. Nuh berkata: “Yaa Rabku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau, jika aku menanyakan kepada Engkau sesuatu yang tidak kuketahui (hakekatnya), dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) berbelas-kasihan kepadaku, tentu aku termasuk orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hakekat manusia itu lemah, tidak tahu apa-apa. Kalau tidak dibelaskasihani, tidak diberitahu, maka manusia tidak mempunyai kekuatan apa-apa, tidak mempunyai pengetahuan sesuatu apa pun. Oleh karena itu, banyaklah bermohon yang disertai upaya kepada Allah Pemilik segala sesuatu, agar hidupnya tidak merugi, baik di dunia maupun di akhirat.
qĩlã = (Allah) bersabda; yã nũhu = wahai Nuh; ihbith = turunlah; bi salãmin = dengan selamat; minnã = dari Aku; wa barokãtin = dan keberkatan; ‘alaika = kepadamu; wa ‘alã = dan kepada; umammim = umat-umat; mimman = dari orang-orang; ma’ak = bersamamu; wa umamun = dan umat-umat; sanumatti’uhum = akan Aku beri mereka kesenangan; tsumma = kemudian; yamassuhum = akan menimpa mereka; minnã = dari Aku; ‘adzãbun = azab; alĩm = pedih.
qĩlã yã nũhuhbith bi salãmimminnã wa barokãtin ‘alaika wa ‘alã umammim mimmam ma’ak, wa umamun sanumatti’uhum tsumma yamassuhum minnã ‘adzãbun alĩm.
48. Allah bersabda: “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari-Ku atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada lagi umat-umat yang Aku beri kesenangan, kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari-Ku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyampaikan ucapan selamat kepada Nuh beserta umat yang bersamanya. Ada umat yang diberi kesenangan, namun di kemudian hari mereka akan terkena azab yang pedih. Kalau ditebak, umat ini umat yang tidak menepati janji dengan Allah.

tilka = itulah; min ambã-i = dari sebagian berita-berita; al ghoibi = gaib; nũhĩhã = Aku wahyukan; ilaika = kepadamu; mã kunta = tidak ada kamu; ta’lamuhã = kamu mengetahuinya; anta = kamu; wa lã qaumuka = dan tidak kaummu; min qobli = dari sebelum; hãdzã = ini; fashbir = maka bersabarlah; inna = sesungguhnya; al ‘ãqibata = akibat (kesudahan); lil muttaqĩn = bagi orang-orang yang takwa.
tilka min ambã-il ghoibi nũhĩhã ilaik, mã kunta ta’lamuhã anta wa lã qaumuka min qobli hãdzã, fashbir, innal ‘ãqibata lil muttaqĩn
49. Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Aku wahyukan kepadamu (Muhammad), (padahal) kamu dan kaummu tidak mengetahuinya sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang takwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia (khususnya Nabi Muhammad saw. dan umatnya) harus bersabar menerima peringatan dari Allah, agar hidupnya selamat di dunia sampai akhirat. Orang-orang yang takwa, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 2 – 5.

wa ilã = dan kepada; ‘ãdin = Kaum ‘Ad; akhōhum = saudara mereka; hũda = Hud; qōla = ia berkata; yã qaumi = wahai kaumku; u’budũllãha = sembahlah Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilaihi = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; in antum = tidak lain kamu; illã = hanyalah; muftarũn = mengada-adakan.
wa ilã ‘ãdin akhōhum hũda, qōla yã qaumi’budũllãha mã lakum min ilaihi ghoiruh, in antum illã muftarũn.
50. Dan kepada Kaum ‘Ad, (Aku utus) saudara mereka Hud, ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu ilah selain Dia. Tidak lain, kamu (Kaum ‘Ad) hanyalah mengada-adakan belaka. ”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah agar manusia menyembah-Nya disampaikan kepada setiap kaum di dunia ini. Jangan mengada-adakan aturan, selain dari aturan Allah. Tentang Hud, lihat juga Al A’rãf, 7 : 65 – 72.

yã kaumi = wahai kaumu; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atas seruanku; ajron = upah; in ajriya = tidak lain upahku; illã = hanyalah; ‘alal ladzĩ = dari Yang; fathoronĩ = telah Menciptakan aku; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu menggunakan akal?
yã kaumi lã as-alukum ‘alaihi ajron, in ajriya illã ‘alal ladzĩ fathoronĩ, afalã ta’qilũn.
51. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini, tidak lain upahku hanyalah dari Yang telah Menciptakan aku. Apakah kamu tidak menggunakan akal?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Hud, 11 : 29 perintah Allah kepada Nabi Nuh a.s.. Agama Allah itu harus menggunakan akal dan pikiran yang harus selalu mempertanyakan “Siapakah aku, Siapa yang menciptakan aku, mengapa aku diciptakan, kapan aku diciptakan, di mana aku diciptakan.”
wa yã qaumi = ya kaumku; is taghfirũ = memohon ampunlah; robbakum = Rab kamu; summa = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaihi = kepada-Nya; yursili = Dia mengirim; as samã-a = hujan (langit); ‘alaikum = kepadamu; midroron = hujan deras; wa yazidkum = dan Dia menambah kamu; quwwatan = kekuatan; ilã quwwatukum = dengan kekuatanmu; wa lã = dan jangan; tatawallau = kamu berpaling; mujrimĩn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa yã qaumis taghfirũ Robbakum summa tũbũ ilaih, yursilis samã-a ‘alaikum midroron wa yazidkum quwwatan ilã quwwatukum wa lã tatawallau mujrimĩn
52. Dan, wahai kaumku, memohon ampunlah kepada Rab kamu, kemudian berobatlah kepada-Nya. Dia menurunkan hujan yang sangat deras kepadamu, dan akan menambah kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutus Hud saudara dari Kaum ‘Ad agar mereka memohon ampun dan bertobat karena menyekutukan-Nya. Allah memberitahu, Dia akan menurunkan hujan yang lebat yang akan menambah kekuatan Kaum Ad, dengan pesan jangan berpaling kepada orang-orang yang berbuat dosa; kafir, musyrik, fasik, murtad.
qōlũ = mereka berkata; yã hũdu = wahai Hud; mã ji’tanã = kamu tidak datang kepadaku; bi bayyinatin = dengan bukti yang nyata; wa mã nahnu = dan aku tidak; bi tãrikĩ = dengan meninggalkan; ãlihatinã = ilah sesembahan aku; an qaulika = karena seruanmu; wa mã nahnu = dan Aku tidak; laka = bagi kamu; bi mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman,
qōlũ yã hũdu mã ji’tanã bi bayyinatin wa mã nahnu bi tãrikĩ ãlihatinã an qaulik, wa mã nahnu laka bi mu’minĩn.
53. Mereka berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan bukti yang nyata kepadaku, dan aku tidak akan meninggalkan sesembahanku, karena seruanmu, dan aku sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap kali utusan datang mengingatkan suatu kaum, pasti selalu ada penolakan, selalu ada yang tidak mau percaya. Bukti yang nyata, maksudnya ancaman azab di dunia atau nanti di akhirat.

in naqũlu = Aku tidak mengatakan; illa = kecuali; i’tarōka = telah menyebabkan kepadamu; ba’dhu = sebagian; ãlihatinã = ilah sesembahanku; bi sũ-i = dengan bahaya (gila); qōla = (Hud) menjawab; innĩ = sesungguhnya aku; usyhidullãha = aku bersaksi kepada Allah; wasyhadũ = dan skasikanlah olehmu; annĩ = bahwa aku; barĩun = berlepas diri; mimmã = dari apa; tusyrikũn = kamu persekutukan.
in naqũlu illa’tarōka ba’dhu ãlihatinã bi sũ-i, qōla innĩ usyhidullãha wasyhadũ annĩ barĩum mimmã tusyrikũn.
54. Aku tidak mengatakan, kecuali bahwa sebagian sesembahanku telah menyebabkan kamu menjadi gila. Hud menjawab: “Sesungguhnya, aku bersaksi kepada Allah, dan saksikanlah olehmu, bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum ‘Ad menuduh Hud menjadi gila karena sesembahan mereka. Hud setelah mendakwahi mereka, menjawab tuduhan mereka dengan mengatakan “aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

min dũnihĩ = dari selain-Nya; fakĩdũnĩ = maka, tipu-dayakanlah aku; jamĩ’an = semua; syumma = kemudian; lã = janganlah; tunzhirũn = kamu memberi tangguh kepadaku.
min dũnihĩ fakĩdũnĩ jamĩ’an syumma lã tunzhirũn.
55. Dari selain-Nya, maka lakukanlah semua tipu daya kepadaku, kemudian janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud menantang kaumnya yang mengatasnamakan selain Allah untuk membuat tipu daya kepada dirinya, kapan saja, dan di mana saja.

innĩ = sesungguhnya aku; tawakkaltu = aku bertawakal; ‘alallãhi = kepada Allah; robbĩ = Rabku; wa robbikum = dan Rab kamu; mã min dãbbatin = tidak ada seekor binatang melata; illã = melainkan; huwa = Dia; ãkhidzun = memegang; binãshiyatihã = dengan ubun-ubunnya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ‘alã = di atas; shirōtin = jalan; mustaqĩm = yang lurus.
innĩ tawakkaltu ‘alallãhi robbĩ wa robbikum, mã min dãbbatin illã huwa ãkhidzum binãshiyatihã, inna robbĩ ‘alã shirōtim mustaqĩm
56. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Rabku dan Rab kamu, tidak ada seekor binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya, sesungguhnya Rabku di atas jalan yang lurus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berpegang teguh kepada Allah, Penguasa seluruh makhluk-Nya merupakan jalan yang benar, lurus. Tidak ada kekuatan yang dapat mengalahkan.

fa in = maka jika; tawallau = kamu berpaling; fa qod = maka sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; mã = apa; ursiltu = aku diutus; bihĩ = dengannya; ilaikum = kepadamu; wa yastakhlifu = dan akan mengganti; robbĩ = Rabku; qauman = kaum; ghoirokum = selain kamu; wa lã = dan tidak; tadhurrũnahũ = kamu dapat membuat mudarat kepada-Nya; syaian = sedikit pun; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; hafĩd = Maha Pemelihara.
fa in tawallau fa qod ablaghtukum mã ursiltu bihĩ ilaikum, wa yastakhlifu robbĩ qauman ghoirokum wa lã tadhurrũnahũ syaian, inna robbĩ ‘alã kulli syai-in hafĩd.
57. Bila kamu berpaling, maka sesungguhnya aku sudah menyampaikan kepadamu apa yang seharusnya aku sampaikan, sebagai utusan kepadamu. Dan, Rabku akan mengganti kamu dengan kaum yang selain kamu, dan kamu tidak dapat membuat mudarat sedikit pun kepada-Nya. Sesungguhnya Rabku Maha Pemelihara segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Maha dalam segala-Nya. Rasul-Nya kalau sudah menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, maka dia terbebas dari tanggung jawab kepada kaumnya, terutama kepada yang berpaling dari himbauannya. Mereka yang berpaling, tidak dapat membuat mudarat sedikit pun kepada Allah. Mereka yang berpaling akan diganti dengan kaum lain.
wa lammã = dan setelah; jã-a = datang; amrunã = keputusan-Ku; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa najjainãhum = dan Aku selamatkan mereka; min ‘adzãbin = dari azab; ghollĩzh = berat (keras).
wa lammã jã-a amrunã bi rohmatim minnã wa najjainãhum min ‘adzãbin.
58. Dan setelah datang keputusan-Ku, Aku selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari Aku. Dan Aku selamatkan mereka dari azab yang berat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Keputusan-Ku” adalah azab yang didatangkan Allah setelah diberi kesempatan, waktu untuk mau memohon ampun dan bertobat. Setelah kesempatan yang diberikan tidak dimanfaatkan, tapi mereka tetap kafir dengan berbagai perilaku merusak, maka azab pun datang secara tiba-tiba, di waktu siang atau pun malam. Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dengan penuh rahmat.

wa tilka = dan itulah; ‘ãdun = Kaum ‘Ãd; jahadũ = mereka mengingkari; bi ayãyãti = dengan ayat-ayat; robbihim = Rab mereka; wa ‘ashau = dan mereka mendurhakai; rusulahũ = Rasul-rasul-Nya; wattaba’ũ = dan mereka mengikuti; amro = perintah; kulli = semua; jabãrin = penguasa; ‘anĩdin = durhaka.
wa tilka ‘ãdun, jahadũ bi ayãyãti Robbihim wa ‘ashau rusulahũ wattaba’ũ amro kulli jabãrin ‘anĩdin.
59. Dan itulah (kisah) Kaum ‘Ãd yang mengingkari ayat-ayat Rab mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah, dan mereka mengikuti perintah semua penguasa yang durhaka (kepada Rab).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat-ayat di atas mengisahkan Kaum ‘Ãd.

wa utbi’ũ = dan mereka diikuti; fĩ hãdzihi = di dalam ini; ad dun-yã = dunia; la’natan = laknat (kutukan); wa yauma = dan hari; al qiyãmah = kiamat; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; ‘ãdan = Kaum ‘Ãd; kafarũ = mereka kafir; robbahum = Rab mereka; alã = ingatlah; bu’dan = jauh (binasalah); li’ãdin = bagi Kaum ‘Ãd; qaumi hũd = keluarga Hud.
wa utbi’ũ fĩ hãdzihid dun-yã la’natan wa yaumal qiyãmah, alã inna ‘ãdan kafarũ Rob ahum, alã bu’dal li’ãdin qaumi hũd.
60. Dan mereka diikuti dengan kutukan di dunia ini, dan di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya Kaum ‘Ãd itu kafir kepada Rab mereka. Ingatlah, kebinasaan lah Kaum ‘Ãd, keluarga Hud.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum ‘Ãd itu dibinasakan karena setelah diberi peringatan dengan kedatangan Rasul dari Keluarga Hud, mereka tetap kafir.
wa ilã = dan kepada; tsamũda = (Kaum) Samud; akhōhum = saudara mereka; sholihã = Saleh; qōla = (Saleh) berkata; yã qaumi = yã kaumku; u’budũllãha = sembahlah Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; huwa = Dia; ansya-akum = Dia menciptakan kamu; minal ardhi = dari tanah; was ta’marokum = Dia memakmurkan kamu; fĩhã = di dalamnya; fastaghfirũhu = maka memohonlah ampun kepada-Nya; summa = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaih = kepada-Nya; inna = sesungguhnya; robbi = Rabku; qorĩbun = amat dekat; mujĩb = mengabulkan (doa) hamba-Nya.
wa ilã tsamũda akhōhum sholihã, qōla yã qaumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, huwa ansya-akum minal ardhi, was ta’marokum fĩhã fastaghfirũhu, summa tũbũ ilaih, inna Robbi qorĩbum mujĩb.
61. Dan kepada (Kaum) Samud (Aku utus) saudara mereka Saleh, dia berkata: “Hai Kaumku, sembahlah Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah, dan memakmurkan kamu di dalamnya. Maka memohonlah ampun kepada-Nya, kemudian bertobatlah kamu kepada-Nya. Sesungguhnya, Rabku amat dekat, dan mengabulkan (doa) hamba-Nya.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Nabi Saleh dengan ajakannya (himbauan) kepada kaumnya. Lihat juga ayat 52, ajakan Nabi Hud kepada Kaum ‘Ãd. Pada ayat ini, manusia diciptakan dari tanah, menegaskan surat Al Baqarah, 2 : 30, Ali Imran, 3 : 59, Al A’rãf, 7 : 12.

qōlũ = Mereka (Kaum Tsamud) berkata; yã shōlihu = Wahai Saleh; qod = sesungguhnya; kunta = kamu adalah; fĩnã = di antara kami; marjuwwan = menjadi harapan; qobla = sebelum; hãdzã = ini; atanhãnã = apakah kamu melarang Aku; an na’buda = bahwa kami menyembah; mã ya’budu = apa yang disembah; ãbã-una = bapak-bapak kami; wa innanã = dan sesungguhnya kami; lafĩ = benar-benar dalam; syakkin = keraguan; mimmã = terhadap apa (agama); tad’ũnã = kamu serukan kepada kami; ilaihi = kepadanya; murĩb = menggelisahkan.
qōlũ yã shōlihu qod kunta fĩnã marjuwwan qobla hãdzã, atanhãnã an na’buda mã ya’budu ãbã-una wa innanã lafĩ syakkim mimmã tad’ũnã ilaihi murĩb.
62. Mereka (Kaum Samud) berkata: “Hai Saleh, sesungguhnya, di antara kami, kamu menjadi harapan sebelum ini. Apakah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah bapak-bapak kami? Sesungguhnya, kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Nabi Saleh ditanggapi negatif, ragu-ragu oleh Kaum Samud, karena mereka penyembah berhala.
qōla = (Saleh) berkata; yã kaumi = wahai kaumku; aro-aitum = bagaimana pikiranmu; inkuntu = jika aku adalah; ‘alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir robbi = dari Rabku; wa ãtaanĩ = dan Dia memberi aku; min hu = dari-Nya; rohmatan = rahmat; fa man = maka siapa; yanshurũnĩ = menolongku; minallãhi = dari Allah; in = jika; ‘ashoituhu = aku mendurhakai-Nya; fa mã = maka tidak; tazĩdũnanĩ = kamu menambah kepadaku; ghoiro = selain; takhsĩrin = kerugian.
qōla yã kaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir Robbi wa ãtaanĩ min hu rohmatan fa man yanshurũnĩ minallãhi in ‘ashoituh, fa mã tazĩdũnanĩ ghoiro takhsĩri.
63. Saleh berkata: “Hai Kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabku, dan diberi-Nya rahmat dari-Nya? Maka, siapakah yang menolongku dari (azab) Allah, jika aku mendurhakai-Nya? Maka, kamu tidak menambah apapun kepadaku, selain dari kerugian belaka.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seorang Nabi yang demokratis, meminta petimbangan pikiran kaumnya, jika perintah Allah tidak disampaikan. Tentu Nabi yang rugi.
wa yã qaumi = dan hai kaumku; hãdzihĩ = inilah; nãqotu = unta betina; allãhi = Allah; lakum = untukmu; ãyatan = ayat (tanda); fadzarũhã = maka biarkanlah ia; ta’kul = ia makan; fĩ ardhĩllãhi = di bumi Allah; wa lã = dan jangan; tamassũhã = kamu mengganggunya; bi sũ-in = dengan kejahatan (gangguan); fa ya’khudzakum = maka akan menimpa kamu; ‘adzãbun = azab; qorĩb = dekat.
wa yã qaumi hãdzihĩ nãqotullãhi lakum ãyatan fadzarũhã ta’kul fĩ ardhĩllãhi wa lã t amassũhã bi sũ-in fa ya’khudzakum ‘adzãbun qorĩb.
64. Dan, hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai tanda untukmu. Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, yang menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Unta betina dari Allah ini lambang kekuasaan, kebesaran Allah, lambang kebebasan hidup beragama di dunia, lambang kehendak suci Allah, lambang kemurahan Allah, agar manusia mempercayai keberadaan-Nya. Ujian dari Allah bagi manusia melalui larangan: “Kamu jangan mengganggu unta betina itu”. Kalau diganggu (kekuasaan, kebesaran, hidup beragama, kehendak suci Allah, kemurahan Allah itu), kamu akan ditimpa azab dunia, dan lebih-lebih nanti pada Hari Kiamat..
fa’aqorũhã = maka mereka menusuknya; faqōla = lalu (Saleh) berkata; tamatta’ũ = bersukarialah kamu; fĩ dãrikum = di rumahmu; tsalãtsata = tiga; ayyãmin = hari; dzãlika = demikian itu; wa’dun = janji; ghoiru = tidak; makdzũbin = didustakan.
fa’aqorũhã faqōla tamatta’ũ fĩ dãrikum tsalãtsata ayyãmin, dzãlika wa’dun ghoiru makdzũbin
65. Maka, mereka menusuk unta itu, lalu Saleh berkata: “Bersukarialah kamu di rumahmu selama tiga hari, demikian itulah janji yang tidak dapat didustakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena ketidakpercayaan orang kafir, maka larangan itu dilanggar. Berarti menantang perintah Allah. Mereka menusuk unta betina. Allah masih memberi peluang ampun dan bertobat bagi orang-orang kafir, selama tiga hari. Itulah janji Allah.
falammã = maka ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan-Ku; najjainã = Aku selamatkan; shōlihan = Saleh; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama dia; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa min khizyi = dan dari kehinaan; yaumi-idzin = pada hari itu; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; al qowiyyu = Yang Mahakuat; al ‘azĩz = Yang Mahaperkasa.
falammã jã-a amrunã najjainã shōlihan walladzĩna ãmanũ ma’ahũ bi rohmatim minnã wa min khizyi yaumi-idzin inna Robbaka huwal qowiyyul ‘azĩz.
66. Maka, ketika datang ketetapan-Ku, Aku selamatkan dari kehinaan di hari itu, Saleh dan orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari-Ku. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah tiga hari berlalu, permohonan ampun dan tobat tidak terucap dari mereka yang kafir, maka penghinaan kepada mereka pun terjadi. Nabi Saleh dan pengikutnya yang beriman diselamatkan Allah dengan rahmat-Nya.

wa akhodza = dan ledakan menimpa (mengambil); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamu = (mereka) lalim; ash shaihatu = suara keras (ledakan); fa-ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩ diyãrihim = di rumah mereka; jãtsimĩn = mati bergelimpangan.
wa akhodzal ladzĩna zholamush shaihatu fa-ashbahũ fĩ diyãrihim jãtsimĩn.
67. Dan suara ledakan keras menimpa orang-orang yang lalim itu, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah Hukumullah dan Sunatullah.

ka-an lam = seolah-olah belum; yaghnau = mereka berdiam; fĩhã = di tempat itu; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; tsamũdã = orang-orang Samud; kafarũ = mereka kafir; robbahum = Rab mereka; alã = ingatlah; bu’dan = kebinasaan; li tsamũda = bagi orang-orang Samud.
ka-an lam yaghnau fĩhã alã inna tsamũdã kafarũ robbahum, alã bu’dal li tsamũda
68. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu; ingatlah, orang-orang Samud, sesungguhnya mengingkari Rab mereka. Ingatlah, kebinasaan bagi orang-orang Samud.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia dengan peristiwa kebinasaan (kepunahan) Kaum Samud dan Kaum Nabi Saleh itu karena mengingkari Rab mereka.

wa laqod = dan sesungguhnya; jã-at = telah datang; rusulunã = utusan-utusan Aku; ibrōhĩma = Ibrahim; bil busyrō = dengan kabar gembira; qōlũ = mereka mengucapkan; salãman = selamat; qōla = (Ibrahim) menjawab; salãmun = selamat; fa mã labitsa = maka tidak lama kemudian; an jã-a = dia menyuguhkan; bi ‘ijlin = dengan daging anak sapi; hanĩdzĩn = dipanggang.
wa laqod jã-at rusulunã ibrōhĩma bil busyrō qōlũ salãman, qōla salãmun, fa mã labitsa an jã-a bi ‘ijlin hanĩdz.
69. Dan sesungguhnya telah datang utusan-utusan-Ku (Malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan “selamat.” Ibrahim menjawab “selamat.” Tidak lama kemudian (Ibrahim) menyuguhkan daging anak sapi panggang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah beralih ke Nabi Ibrahim yang didatangi para utusan Allah, Malaikat yang menyampaikan kabar gembira (lihat ayat-ayat berikutnya). Kedua pihak (Malaikat dahulu) menyapa dan membalas sapaan dengan kata salam “selamat”. Kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi panggang.

fa lammã = maka ketika; ro-ã = (Ibrahim) melihat; aidiyahum = tangan-tangan mereka; lã tashilu = tidak sampai; ilaihi = kepadanya; nakirohum = (Ibrahim) merasa aneh kepada mereka; wa au jasã = dan mereka mencurigakan; min hum = kepada mereka; khĩfatan = ketakutan; qōlũ = mereka berkata; lã takhaf = jangan kamu takut; innã = sesungguhnya kami; ursilnã = kami diutus; ilã = kepada; qaumi = kaum; lũthin = Luth.
fa lammã ro-ã aidiyahum lã tashilu ilaihi nakirohum wa au jasã min hum khĩfatan, qōlũ lã takhaf innã ursilnã ilã qaumi lũthin.
70. Maka ketika Ibrahim melihat tangan-tangan mereka tidak sampai ke daging anak sapi panggang itu, Ibrahim memandang aneh dan merasa curiga dan takut kepada mereka. Mereka berkata: “Jangan takut, sesungguhnya kami, Malaikat yang diutus untuk Kaum Luth.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Ibrahim dengan kejadian aneh, bahwa yang datang itu Malaikat yang diutus untuk Kaum Luth.
wamro atuhũ = dan istrinya; qō-imatun = berdiri (di sampingnya); fadhohikat = lalu tersenyum; fabasysyarnãhã = maka Aku sampaikan kabar gembira kepadanya; bi ishãqo = dengan (kehamilan) Ishaq; wa min warō-i ishãqo = dan sesudah Ishaq; ya’qũba = Ya’qub.
wamro atuhũ qō-imatun fadhohikat fabasysyarnãhã bi ishãqo wa min warō-i ishãqo ya’qũba.
71. Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu ia tersenyum. Maka, Aku sampaikan kabar gembira kepadanya, akan lahir Ishaq, dan sesudah Ishaq, Ya’qub.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kabar gembira itu tentang akan lahirnya Ishaq yang disusul dengan Ya’qub.

qōlat = (istrinya) berkata; yã wailatã = aduhai; ‘a-alidu = apakah aku akan melahirkan; wa anã = padahal aku; ‘ajũzun = sudah tua; wa hãdzã = dan ini; ba’lĩ = suamiku; syaikhan = sudah tua; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; la syãi-un = sungguh suatu; ‘ajĩb = sangat ajaib (aneh).
qōlat yã wailatã-a alidu wa anã ‘ajũzun wa hãdzã ba’lĩ syaikhan, inna hãdzã la syã-un ‘ajĩb.
72. Istrinya berkata: “Aduhai, apakah aku akan melahirkan anak? Padahal aku sudah tua, dan ini suamiku (pun) sudah tua. Sesungguhnya, ini suatu yang sangat aneh.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian yang ajaib (hamilnya istri Ibrahim), kalau kehendak Allah, maka terjadilah, meskipun pasangan Ibrahim dan istrinya itu sudah tua.
qōlũ = mereka (para Malaikat) berkata; ata’jabĩna = apakah kamu merasa heran; min amrillãh = tentang ketentuan Allah; rohmatullãhi = itulah rahmat Allah; wa barokãtuhũ = dan berkah-Nya; ‘alaikum = untukmu; ahlal baiti = wahai Ahli Bait; innahũ = sesungguhnya Dia; hamĩdun = Maha Terpuji; majĩd = (dan) Mahamulia.
qōlũ ata’jabĩna min amrillãh, rohmatullãhi wa barokãtuhũ ‘alaikum ahlal baiti, innahũ hamĩdum majĩd.
73. Mereka (para Malaikat) berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketentuan Allah? Itulah rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu wahai Ahli Bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji dan Mahamulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para Malaikat menegaskan tentang ketentuan Allah yang memberi rahmat dan berkah kepada makhluk-Nya.

fa lammã = maka setelah; dzahaba = hilang; ‘an ibrōhĩma = dari Ibrahim; ar rau’u = rasa takut; wa jã-athu = dan datang kepadanya; al busyrō = berita gembira; yujãdilunã = dia bersoal-jawab dengan (Malaikat) Aku; fĩ qaumi = tentang Kaum; luthin = Luth.
fa lammã dzahaba ‘an ibrōhĩmar rau’u wa jã-athul busyrō yujãdilunã fĩ qaumi luth.
74. Maka setelah rasa takut itu hilang dari Ibrahim, dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal-jawab dengan (Malaikat) Aku tentang Kaum Luth.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nabi Ibrahim yang bersoal-jawab dengan Utusan Allah (Malaikat) yang terkait dengan Kaum Luth.

inna ibrōhĩma = sesungguhnya Ibrahim; la halĩmun = benar-benar penyantun; awwãhun = penghiba; munĩb = orang-orang yang suka mendekat (kepada Allah)
inna ibrōhĩma la halĩmun awwãhum munĩb.
75. Sesungguhnya Ibrahim seorang yang benar-benar penyantun dan penghiba, dan suka mendekat kepada Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran pribadi Ibrahim. Perlu dicontoh, ditiru.
yã ibrōhĩmu = wahai Ibrahim; a’ridh = tinggalkanlah; ‘an hãdzã = soal-jawab ini; innahũ qod = sungguh-sungguh; jã-a = telah datang; amru = ketentuan; robbik = Rab kamu; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; ãtĩhim = datang kepada mereka; ‘adzãbun = azab; ghoiru = tidak; mardũd = ditolak.
yã ibrōhĩmu a’ridh ‘an hãdzã innahũ qod jã-a amru Robbik, wa innahum ãtĩhim ‘adzãbun ghoiru mardũd.
76. Wahai Ibrahim, tinggalkanlah soal-jawab ini, karena sesungguhnya, telah datang ketetapan Rab kamu, dan sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena sudah ada ketetapan Allah, Kaum Luth ini akan diazab yang sudah tidak dapat ditolak, maka Ibrahim diperitah Allah agar meninggalkan perdebatan tentang Kaum Luth itu. Ini berita dari masa lalu yang harus diingat, menjadi peringatan kita sekarang.

wa lammã = dan ketika; jã-at = datang; rusulunã = Utusan-utusan-Ku; lũthon = Luth; sĩ-a = dia merasa susah; bihim = dengan mereka; wa dhōqo = dan dia merasa sempit; bihim = dengan mereka; dzar’an = dada; wa qōla = dan dia berkata; hãdzã = ini; yaumun = hari; ‘ashĩb = amat sulit.
wa lammã jã-at rusulunã lũthon sĩ-a bihim wa dhōqo bihim dzar’a wa qōla hãdzã yaumun ‘ashĩb
77. Dan ketika datang Utusan-utusan-Ku (Malaikat) kepada Luth, dia merasa susah dengan kedatangan mereka, dia mengatakan: “Ini adalah hari yang amat sulit.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera ketika Luth kedatangan para utusan, Malaikat.
wa jã-ahũ = dan datang kepadanya; qaumuhũ = kaumnya; yuhro’ũna = mereka bergegas-gegas; ilaih = kepaqdanya; wa min qoblu = dari dahulu; kaanũ = adalah mereka; ya’malũna = mereka melakukan; as sayi-ãti = perbuatan-perbuatan keji; qōla = (Luth) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; hã-ulã-i = inilah; banãtĩ = putri-putriku; hunna = mereka; ath-haru = lebih suci; lakum = bagimu; fattaqullãha = maka bertakwalah kamu kepada Allah; wa lã tukhzũni = dan jangan kamu mencemarkanku; fĩ dhoifĩ = di hadapan tamu-tamuku; alaisã = apakah tidak; minkum = di antara kamu; rojulu = seorang laki-laki; ar rosyĩdu = cerdik.
wa jã-ahũ qaumuhũ yuhro’ũna ilaih, wa min qoblu kaanũ ya’malũnas sayi-ãt, qōla yã qaumi hã-ulã-i banãtĩ hunna ath-haru lakum, fattaqullãha wa lã tukhzũni fĩ dhoifĩ, alaisã minkum rojulur rosyĩd.
78. Dan datanglah kepadanya (Ibrahim) kaumnya (Luth) dengan tergesa-gesa, dan sejak dahulu, mereka (Kaum Luth) selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencemarkan namaku di hadapan tamu-tamuku ini, apakah tidak ada di antara kamu seorang yang berakal?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebiasan keji Kaum Luth itu suka pada kebiasan lesbian, dan homoseks. Nabi Luth mencegah, dan merelakan putri-putrinya untuk dinikahi dengan baik oleh laki-laki kaum Luth, agar tidak mencemarkan nama baiknya. Agama Allah itu harus diikuti dengan menggunakan akal dan pikiran yang baik

qōlũ = mereka berkata; laqod = sesungguhnya; ‘alimta = kamu telah mengetahui; mã lanã = tidak ada hak bagi kami; fĩ banãtika = pada putri-putrimu; min haqqin = dari hak; wa innaka = dan sesungguhnya kamu; la ta’lamu = tentu kamu mengetahui; mã nurĩd = apa yang kami kehendaki
qōlũ laqod ‘alimta mã lanã fĩ banãtika min haqqin, wa innaka la ta’lamu mã nurĩd
79. Mereka berkata: “Sesungguhnya, kamu telah mengetahui, kami tidak ada hak (bernafsu) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya, kamu tentu mengetahui apa yang kami kehendaki.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 78. Kaum Luth bersikeras mempertahankan kebiasaan kejinya.

qōla = (Luth) berkata; lau = kalau; anna = aku; lĩ = bagiku; bikum = untuk kamu; quwwatan = kekuatan; au ãwĩ = atau aku berlindung; ilã = kepada; ruknin = tiang (keluarga); syadĩd = yang kuat.
qōla lau anna lĩ bikum quwwatan au ãwĩ ilã ruknin syadĩd.
80. (Luth) berkata: “Seandainya aku mempunyai kekuatan, atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku menolak perbuatan kejimu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Luth tidak berdaya mencegah kebiasaan keji Kaum Luth.

qōlũ = (Para Malaikat) berkata; yã lũthu = wahai Luth; innã = sesungguhnya kami; rusulu utusan; robbika = Rab kamu; lan yashilũ = mereka tidak sampai; ilaika = kepadamu; fa-asri = maka berjalanlah; bi ahlika dengan keluargamu; bi qith’in = sepotong (di akhir); minal laili = dari malam; wa lã yaltafit = dan jangan berbalik; minkum = di antara kamu; ahadun = seorang; illãmro ataka = kecuali istri kamu; innahũ = sesungguhnya dia; mushĩbuhã = menimpanya; mã ashōbahum = apa yang menimpa mereka; inna = sesungguhnya; mau’idahumu = waktu yang dijanjikan bagi mereka; ash shub-hu = subuh; alaisa = bukankah; ash shub-hu = waktu subuh; bi qorĩb = sudah dekat.
qōlũ yã lũthu innã rusulu Robbika lan yashilũ ilaika, fa-asri bi ahlika bi qith’im minal laili wa lã yaltafit minkum ahadun illãmro atak, innahũ mushĩbuhã mã ashōbahum, inna mau’idahumush shub-hu, alaisash shub-hu bi qorĩb.
81. (Para Malaikat) berkata: “Wahai Luth, sesungguhnya, kami utusan Rab kamu, sekali-kali mereka tidak akan sampai (mengganggu) kamu, maka berjalanlah dengan keluargamu di akhir malam (waktu subuh), dan jangan ada seorang pun di antara kamu berbalik kembali, kecuali istrimu, sesungguhnya, dia akan ditimpa azab yang akan menimpa mereka. Sesungguhnya, waktu yang telah dijanjikan kepada mereka itu di waktu subuh. Bukankah waktu subuh itu sudah dekat?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Kaum Luth yang akan ditimpa azab.

fa lammã = maka ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan-Ku; ja’alnã = Aku jadikan; ‘aliyahã = di atasnya; sãfilahã = ke bawahnya; wa amthornã = dan Aku hujani; ‘alaihã = atasnya; hijãrotan = batu; min sijjĩllin = dari tanah yang terbakar; mandhũd = bertubi-tubi.
fa lammã jã-a amrunã ja’alnã ‘aliyahã sãfilahã wa amthornã ‘alaihã hijãrotam min sijjĩllim mandhũd.
82. Maka ketika datang ketetapan (azab)-Ku, Aku jadikan (negeri Kaum Luth) terputarbalik (yang di atas menjadi di bawah), dan Aku hujani mereka dengan hujan batu dan tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketetapan Allah memutarbalikkan tanah tempat tingggal Kaum Luth
musawwamatan = (batu itu) diberi tanda; ‘inda = oleh; robbika = Rab kamu; wa mã hiya = dan tidaklah ia; minazh zhōlimĩna = dari orang-orang lalim; bi ba’ĩd = jauh.
musawwamatan ‘inda robbik, wa mã hiya minazh zhōlimĩna bi ba’ĩd
83. (Batu itu) diberi tanda oleh Rabmu, dan ia tidak jauh dari orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Batu itu menjadi tanda bagi manusia-manusia yang selamat dan yang kemudian. Kaum Luth yang beriman tidak jauh dari Kaum Luth yang lalim.
wa ilã = dan kepada; madyana = (penduduk) Madyan; akhōhum = saudara mereka; syu’aiban = Syu’aib; qōla = (ia) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; a’budũllãha = beribadahlah kepada Allah; mãlakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruhũ = selain Dia; wa lã = dan jangan; tanqushũ = kamu mengurangi; almikyãla = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; innĩ = sesungguhnya aku; arōkum = aku melihat kamu; bi khoirin = dengan baik; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = atasmu; ‘adzãba = azab; yaumin = hari; muhĩth = tertutup.
wa ilã madyana akhōhum syu’aiba, qōla yã qaumi’budũllãha mãlakum min ilãhin ghoiruhũ, wa lã tanqushũ almikyãla wal mĩzãn, innĩ arōkum bi khoirin wa innĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumim muhĩth.
84. Dan kepada penduduk Madyan, (Aku utus) saudara mereka Syu’aib, ia berkata: Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah bagimu, selain Dia, dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya, aku (Syu’aib) melihat kamu (penduduk Madyan) dalam keadaan baik. Sesungguhnya, aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang tertutup (kiamat).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “A’budũllãha” bisa diterjemahkan sembahlah Allah. Perintah ini untuk setiap Nabi hampir sama. Ada variasi keterangan penjelasnya. Surat yang berisi perintah seperti ini terdapat pada ayat 2, 26, 50, 61, 84. Juga terdapat pada Q.s. Al Baqarah, 2 :21, Al A’rãf, 7 : 65, 73 dan lain-lain.
wa yã qaumi = dan hai kaumku; au fu = cukupkanlah; al mikyãla = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; bil qisthi = dengan adil; wa lã tabkhasũ = dan jangan kamu kurangi; an nãsa = manusia; asy-yã-ahum = suatu hak mereka; wa lã = dan tidak; ta’tsau = kamu melakukan kejahatan; fil ardhi = di bumi; mufsidĩn = membuat kerusakan.
wa yã qaumi au ful mikyãla wal mĩzãna bil qisthi, wa lã tabkhasun nãsa asy-yã-ahum wa lã ta’tsau fil ardhi mufsidĩn
85. Dan hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu kurangi hak-hak mereka sebagai manusia, dan jangan melakukan kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada kesamaan dan perbedaan tentang mengurangi takaran dan timbangan. Yang satu (ayat 85) berupa perintah dan larangan mengurangi hak-hak manusia lain, kemudian ada larangan “dan jangan melakukan kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan”; ayat 84 berupa larangan dengan nada peringatan tentang keadaan yang baik-baik, namun ada kekhawatiran akan terkena azab di Hari Kiamat.
baqiyyatullãhi = sisa (keuntungan) dari Allah; khoirun = lebih baik; lakum = bagimu; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang yang beriman; wa mã ana = dan aku bukanlah; ‘alaikum = bagimu; bi hafĩzh = sebagai penjaga.
baqiyyatullãhi khoirul lakum inkuntum mu’minĩn, wa mã ana ‘alaikum bi hafĩzh.
86. Sisa (keuntungan) dari Allah lebih baik bagimu, jika kamu orang yang beriman, dan aku bukanlah seorang penjaga dirimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sisa (keuntungan) yang didapat dari menggunakan timbangan dan takaran yang benar karena iman kepada Allah itu dinilai lebih baik, berarti mencari harta dunia untuk tujuan akhirat. Nabi itu bukan penjaga dari perbuatan yang bermacam-macam dari seseorang. Perbuatan orang itu, tanggung jawab masing-masing.

qōlũ = (mereka) berkata; yã syu’aibu = hai syu’aib; asholãtuka = apakah salatmu; ta’muruka = menyuruh kamu; an natruka = agar kami meninggalkan; mã ya’budu = apa yang menyembah; ãbã-unã = bapak-bapak kami; au an naf’ala = atau kamu berbuat; fĩ amwãlinã = tentang harta kami; mã nasyã’u = apa yang kami kehendaki; innaka = sesungguhnya kamu; la-anta = sungguh-sungguh kamu; al halĩmu = penyantun; ar rosyĩd = cerdik, berakal
qōlũ yã syu’aibu asholãtuka ta’muruka an natruka mã ya’budu ãbã-unã, au an naf’ala fĩ amwãlinã mã nasyã’u, innaka la-antal halĩmur rosyĩd.
87. Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah salatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan, apa yang disembah oleh bapak-bapak kami, atau (melarang) kami berbuat, apa yang kami kehendaki tentang harta kami, sesungguhnya, kamu itu orang yang sangat penyantun dan berakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “salat” di sini berarti hubungan (silaturahim) Syu’aib dengan Allah. Sebagian kaumnya merasa terusik, merasa dilarang dari kebiasaan yang sudah dilakukan oleh bapak-bapak mereka menyembah berhala. Juga dengan kebiasaan memiliki kekayaan dan menggunakan hartanya. Syu’aib memang sudah terkenal sangat penyantun dan berakal.

qōla = (Syu’aib) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; aro-aitum = apa pikiranmu; inkuntu = jika aku adalah; ‘alã = mempunyai; bayyinatin = bukti yang nyata; mir robbi = dari Rabku; wa rozaqonĩ = dan Dia memberi rezeki kepadaku; minhu = dari-Nya; rizqon = rezeki; hasanan = baik; wa mã = dan tidak; urĩdu = aku berkehendak; an ukholifakum = untuk aku menyalahi kamu; ilã mã = pada apa; anhãkum = aku larang kamu; ‘anhu = darinya; in urĩdu = tidaklah aku bermaksud; illã = kecuali; al ishlãha = perbaikan; mãstatho’tui = apa yang aku sanggup; wa mã = dan tidak; taufĩqĩ = taufik bagiku; illã = kecuali; billãh = dengan allah; ‘alaihi = kepad-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa ilaihi = dan kepada-Nya; unĩb = aku kembali.
qōla yã qaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir robbi wa rozaqonĩ minhu rizqon hasanan, wa mã urĩdu an ukholifakum ilã mã anhãkum ‘anhu, in urĩdu illãl ishlãha mãstatho’tu, wa mã taufĩqĩ illã billãh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unĩb.
88. Syu’aib berkata: “Hai kaumku, apakah pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabku, dan Dia memberi rezeki kepadaku dengan rezeki yang baik? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu pada apa yang aku larang terhadapmu. Tidaklah aku bermaksud, kecuali perbaikan sesuai dengan kesanggupanku, dan tidak ada taufik bagiku, kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Hanya kepada-Nya, aku bertawakal, dan kepada-Nya, aku kembali.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menuntun abdi-Nya Syu’aib agar mempunyai rasa demokrasi. Segala sesuatu selalu meminta pertimbangan kaumnya, ad Dien Allah berdasarkan pemikiran, pemilihannya harus dengan dasar norma agama yang benar. Yang dilarang berarti salah, tidak sesuai dengan norma agama yang benar. Perbaikan artinya yang biasa dilakukan oleh bapak-bapak mereka itu telah menyimpang dari norma agama yang benar. Rezeki diberikan Allah setelah melalui proses yang sesuai dengan kemampuan pemikiran makhluk-Nya. Maksud atau tujuan hidupnya hanya untuk kebaikan bagi dirinya, dan bagi semua makhluk-Nya. Perintah dan larangan Allah itu untuk kepentingan makhluk-Nya. Segala sesuatu dalam hidup ini tidak lepas dari petolongan Allah. Makhluk-Nya harus selalu betawakal kepada-Nya. Semuanya akan kembali kepada-Nya.

wa yã qaumi = dan, hai kaumku; lã yajri mannakum = jangan kesalahan (kejahatan)-mu; syiqōqĩ = perselisihanku; an yushĩbakum = akan menimpa kamu; misylu = seperti; mã ashãba = apa yang menimpa; qauma nũhin = Kaum Nuh; au qauma hũdin = atau Kaum Hud; au qauma shãlihin = atau Kaum Saleh; wa mã qaumu lũthin = dan tidak Kaum Luth; minkum = dari kamu; bi ba’ĩdin = dengan jauh.
wa yã qaumi lã yajri mannakum syiqōqĩ an yushĩbakum misylu mã ashãba qauma nũhin au qauma hũdin au qauma shãlihin, wa mã qaumu lũthim minkum bi ba’ĩd.
89. Dan, hai kaumku, jangan perselisihanku denganmu menyebabkan kamu menjadi jahat, sehingga kamu ditimpa (azab) seperti yang menimpa Kaum Nuh, atau Kaum Hud, atau Kaum Saleh. Sedang dengan tempat Kaum Luth, tempatmu tidak jauh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Syu’aib mengingatkan kaumnya agar tidak ditimpa azab seperti Kaum Nuh (dilanda banjir dan angin topan, atau Kaum Hud (kaumnya diganti oleh kaum yang lain), atau Kaum Saleh (tanahnya diputarbalikkan dengan hujan batu yang terbakar). Perbedaan pendapat, jangan menjadi perselisihan yang menimbulkan kejahatan. Kalau terjadi demikian, pasti Allah akan menetapkan, siapa yang akan kena azab-Nya.
wastaghfirũ = dan mohon ampunlah kamu; robbakum = kepada Rab kamu; tsumma = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaih = kepada-Nya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; rohĩmun = Maha Penyayang; wadũd = Maha Pengasih.
wastaghfirũ robbakum tsumma tũbũ ilaih, inna robbĩ rohĩmun wadũd.
90. Dan Mohon ampunlah kepada Rab kamu, kemudian berobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Rabku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Syu’aib menyarankan kepada kaumnya agar mau memohon ampun, kemudian bertobat kepada Rabnya.
qōlũ = (Kaumnya) berkata; yã Syu’aibu = hai Syu’aib; mã nafqohu = kami tidak mengerti; katsĩron = banyak; mimmã = tentang apa; taqũlu = kamu katakan; wa innã = dan sesungguhnya kami; la narōka = sungguh kami melihat kamu; fĩ nã = di antara kami; dho’ĩfan = lemah; wa lau lã = dan kalau tidak; rohthuka = keluargamu; la rojamnãk = tentu kamu, kami rajam; wa mã anta = dan kamu tidaklah; ‘alainã = atas kami; bi ‘azĩz = terhormat (berkuasa).
qōlũ yã Syu’aibu mã nafqohu katsĩrom mimmã taqũl, wa innã la narōka fĩ nã dho’ĩfan, wa lau lã rohthuka la rojamnãk, wa mã anta ‘alainã bi ‘azĩz.
91. (Kaumnya) berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya, kami melihat kamu seorang yang lemah di antara kami, dan kalau tidak karena keluargamu, tentulah kami merajam kamu, dan kamu tidak (bukan) seorang yang terhormat di atas kami.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaumnya Syu’aib mengaku tidak banyak mengerti tentang apa yang di da’wahkan Syu’aib. Mereka menganggap Syu’aib seorang yang lemah. Kalau tidak melihat keluarganya yang terhormat, tentu mereka akan merajamnya.
qōlũ = (Syu’aib) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; arohthĩ = apakah keluargaku; a’azzu = lebih terhormat; ‘alaikum = bagimu; minallãhi = daripada Allah; wattakhadz tumũhu = dan kamu meletakkan Dia; wa rō-akum = di belakangmu; zhihriyyan = punggungmu; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; bimã = terhadap segala apa; ta’malũna = kamu kerjakan; muhĩth = mencakup.
qōlũ yã qaumi arohthĩ a’azzu ‘alaikum minallãhi wattakhadz tumũhu wa rō-akum zhihriyyan, inna Robbĩ bimã ta’malũna muhĩth.
92. (Syu’aib) berkata: “Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat bagimu daripada Allah, dan kamu letakkan Dia di belakang punggungmu? Sesungguhnya, Rabku mencakupi segala apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Su’aib menjawab pernyataan kaumnya tentang dirinya. Sebagain kaumnya Syu’aib tampaknya belum memahami sifat Allah Yang Maha dalam segala-Nya, dan sebagian mereka tidak mengakui kenabiannya.
wa yã qaumi = dan, wahai kaumku; i’malũ = kamu berbuatlah; ‘alã makãnatikum = menurut kemampuanmu; innĩ = sesungguhnya aku; ‘ãmilun = seorang yang berbuat; saufa = kelak akan; ta’lamũna = kamu mengetahui; man ya’tĩhi = siapa didatanginya; ‘adzãbun = azab; yukhzĩhi = menghinakannya; wa man = dan siapa; huwa = dia; kãdzibun = berdusta; wa artaqibũ = dan tunggulah; innĩ = sesungguhnya aku; ma’akum = bersama kamu; roqĩbun = menunggu.
wa yã qaumi’malũ ‘alã makãnatikum innĩ ‘ãmilun, saufa ta’lamũna man ya’tĩhi ‘adzãbun yukhzĩhi wa man huwa kãdzibun, wa artaqibũ innĩ ma’akum roqĩbun.
93. Dan, wahai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya, aku juga berbuat. Kelak, kamu akan mengetahui siapa yang akan didatangi azab yang menghinakannya, dan siapa dia yang berdusta. Dan tunggulah (azab Allah), sesungguhnya, akupun menunggu bersama kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan menyuruh berbuat sekehendaknya, karena sebelumnya beliau sudah memberitahu, bagaimana seharusnya berbuat (mempercayai dirinya sebagai Nabi yang membawa berita gembira dari Allah). Kalau mereka berkeras kepala, tidak mau mempercayainya maka azablah yang akan menimpa mereka.
wa lammã = dan ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan Aku; najjainã = Aku selamatkan; syu’aiban = Syu’aib; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama dia; birohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa akhodzati = dan diambil (dibinasakan); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamu = (mereka) lalim; ash shoihatu = suara keras; fa ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩ diyãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mati bergelimpangan.
wa lammã jã-a amrunã najjainã syu’aiban walladzĩna ãmanũ ma’ahũ birohmatim minnã, wa akhodzatil ladzĩna zholamush shoihatu fa ashbahũ fĩ diyãrihim jãtsimĩn.
94. Dan ketika datang ketetapan-Ku, Aku selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat-Ku. Dan orang-orang yang lalim dibinasakan oleh suara ledakan keras, maka jadilah mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Hud yang kafir digantikan dengan kaum yang lain. Hud sendiri dengan kaumnya yang beriman diselamatkan dengan rahmat dari Allah; Kaum Samud dengan Nabinya bernama Saleh dimusnahkan dengan suara dentuman keras yang mematikan. Kaumnya Nuh dilanda banjir, dan angin putingbaliung, Kaum Luth tanahnya diputarbalikkan dan dihujani batu dan tanah yang dibakar, Kaum Syu’aib dengan ledakan keras.
ka-al lam = seakan-akan belum; yaghnau = mereka tinggal; fĩhã = di situ; alã = ingatlah; bu’da = jauh, binasa; li madyana = bagi orang Madyan; kamã = sebagaimana; ba’idat = jauh, binasa; tsamũd = Samud.
ka-al lam yaghnau fĩhã, alã bu’dal li madyana kamã ba’idat tsamũd
95. Seakan-akan mereka belum pernah tinggal di situ, ingatlah, kebinasaanlah bagi (penduduk) Madyan, sebagaimana Kaum Samud telah binasa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Samud dengan nabinya yang bernama Saleh binasa karena ada dentuman keras bergemuruh yang mematikan orang-orang lalim. Kaum Madyan binasa karena peristiwa yang sama dengan Kaum Samud.
wa la qod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; mũsã = Musa; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; wa sulthōnin = dan keterangan; mubĩn = nyata.
wa la qod arsalnã mũsã bi ãyãtinã wa sulthōnim mubĩn
96. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Musa dengan ayat-ayat-Ku dan keterangan yang nyata.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu bahwa Beliau telah mengutus Nabi Musa dengan membawa ayat-ayat dengan keterangan yang nyata, jelas. Lihat juga Al Baqarah, 2 : 153 dan surat-surat yang lainnya.
yaqdumu = ia mendahului; qaumahũ = kaumnya; yauma = hari; al qiyãmati = kiamat; fa aurodahumu = lalu ia memesukkan mereka; an nãro = api (neraka); wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al wirdu = kedatangan; al maurũdu = tampat yang didatangi.
yaqdumu qaumahũ yaumal qiyãmati fa aurodahumun nãro, wa bi’sal wirdul maurũdu
98. Ia mendahului umatnya di Hari Kiamat, lalu dimasukkan ke dalam neraka, dan neraka itu tempat terburuk yang didatangi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka dengan kemauannya sendiri, pada Hari Kiamat ke tempat mereka dimasukkan ke neraka, tempat kembali yang terburuk baginya.
wa utbi’ũ = dan mereka diikuti; fĩ hãdzihĩ = di dunia ini; la’natan = dilaknat, dikutuk; wa yaumal qiyãmati = dan Hari Kiamat; bi’ sa = seburuk-buruk; arrifdu = pemberian; al marfũdu = yang diberikan.
wa utbi’ũ fĩ hãdzihĩ la’natan wa yaumal qiyãmati, bi’ sa rrifdul marfũdu
99. Dan mereka diikuti oleh kutukan di dunia ini, dan begitu juga di Hari Kiamat. Kutukan itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dunia mengutuki orang-orang kafir, kaumnya Nabi Musa, karena mereka tidak mau bersyukur, atas apa yang dirasakan kenikmatannya di dunia itu.
dzãlika = seperti itu; min ambã-i = sebagian berita-berita; al qurō = negeri; naqush shuhũ = Aku ceriterakan; ‘alaik = kepadamu; minhã = dari-Nya; qōimun = berdiri (tegak); wa hashĩd = dan musnah.
dzãlika min ambã-il qurō naqush shuhũ ‘alaik, minhã qōimun wa hashĩd
100. Seperti itu sebagian berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang diceriterakan kepadamu (Muhammad), di antaranya ada yang masih berdiri tegak, dan (sebagiannya) telah musnah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah sejarah yang dapat lebih dijelaskan melalui penelitian arkeologi, paleontologi. Negeri-negeri yang masih tegak juga dapat dilihat sekarang ini. Peristiwa-peristiwa pemusnahan pun terus terjadi melalui tsunami, angin tornado (puting beliung), gempa, longsor, banjir, kebakaran, kecelakaan, penyakit.
wa mã = dan tidak; zholamnãhum = Aku melalimi mereka; wa lãkin = tetapi; zholamũ = mereka menganiaya; anfusahum = diri mereka sendiri; fa mã = maka tidak; aghnat = bermanfaat; ‘anhum = dari mereka; ãlihatuhumu = tuhan-tuhan mereka; al latĩ = yang; yad’ũna = mereka sembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; min syai-in = dari sesuatu; lammã = ketika; jã-a = datang; amru = ketetapan; robbik = dari Rab kamu; wa mã = dan tidak; zãdũhum = menambah mereka; ghoiro = selain, kecuali; tatbĩb = kebinasaan.
wa mã zholamnãhum wa lãkin zholamũ anfusahum, fa mã aghnat ‘anhum ãlihatuhumul latĩ yad’ũna min dũnillãhi min syai-il lammã jã-a amru robbik, wa mã zãdũhum ghoiro tatbĩb.
101 . Dan Aku tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, dan sedikit pun tidak bermanfaat tuhan-tuhan mereka, yang mereka sembah selain Allah, ketika datang ketetapan Rab kamu, sesembahanmu itu tidak menambah apa-apa, selain kebinasaan belaka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebinasaan, penganiayaan Allah itu akibat perbuatan manusianya sendiri, yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah.
wa kadzãlika = dan demikian itu; akhdzu = mengambil (azab); robbika = Rab kamu; idzã = jika; akhdza = Dia mengambil (mengazab); al qurō = negeri; wa hiya = dan dia (penduduknya); zhōlimatun = berbuat lalim; inna = sesungguhnya; akhdzohũ = azab-Nya; alĩmun = sangat pedih; syadĩd = keras.
wa kadzãlika akhdzu robbika idzã akhdza al qurō wa hiya zhōlimatun, inna akhdzohũ alĩmun syadĩd.
102. Dan demikian itulah azab Rab kamu, apabila Dia mengazab negeri yang penduduknya berbuat lalim. Sesungguhnya, azabnya sangat pedih dan keras
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan terakhir Allah dengan azab.
inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = dari kejadian itu; lã ãyata = sungguh ada tanda (pelajaran); liman = bagi orang-orang; khōfa = takut; ‘adzãba = azab; al ãkhiroh = akhirat; dzãlika = demikian itu; yaumun = hari; majmũ-un = dikumpulkan; lahu = untuk (mengalami)-nya; an nãsu = manusia; wa dzãlika = dan demikian itu; yaumun = hari; masyhũdun = disaksikan.
inna fĩ dzãlika lã ãyatal liman khōfa ‘adzãbal ãkhiroh, dzãlika yaumum majmũ-ul lahũn nãsu wa dzãlika yaumum masyhũdun.
103. Sesungguhnya, dari kejadian itu sungguh terdapat tanda (pelajaran), bagi orang yang takut kepada azab akhirat. Hari (Kiamat) itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk mengalaminya, dan hari itu adalah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah ketika sudah kiamat.
wa mã = dan tidak; nu-akhiruhũ = Aku mengundurkannya; illã = kecuali; li-ajalin = sampai waktu; ma’dũdin = ditetapkan.
wa mã nu-akhiruhũ illã li-ajalim ma’dũdin.
104. Dan Aku tidak mengundurkannya, kecuali sampai waktu yang ditetapkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebetulnya tidak ada pengunduran waktu terjadinya kiamat. Waktu itu sudah ditetapkan. Allah yang mempunyai kekuasaan menetapkan Hari Kiamat itu.

yauma = hari; ya’ti = datang; lã takallamu = tidak berbicara; nafsun = seseorang; illã = kecuali; bi idznihĩ = dengan izin-Nya; faminhum = maka di antara mereka; syaqiyyun = celaka; wa sa’ĩdun = dan yang bahagia.
yauma ya’ti lã takallamu nafsun illã bi idznihĩ, faminhum syaqiyyun wa sa’ĩdun
105. Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya, maka di antara mereka, ada yang celaka, dan ada yang berbahagia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketika kiamat datang, tak seorang pun dapat berbicara, kecuali atas izin-Nya.

fa ammã = dan adapun; al ladzĩna =orang-orang yang …; syaqqũ = mereka celaka; fafin nãri = maka di dalam neraka; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; zafĩrun = bekeluh kesah panjang; wa syahĩqun = dan merintih.
fa ammãl ladzĩna syaqqũ fafinnãri lahum fĩhã zafĩrun wa syahĩqun.
106. Adapun orang-orang yang celaka, maka di dalam neraka (tempatnya). Di dalamnya mereka berkeluh-kesah panjang, merintih kesakitan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya.
khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; mã dãmati = selama; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; illã = kecuali; mã = apa; syã-a = yang dikehendaki; robbuka = Rab kamu; inna = sesungguhnya; Robbaka = Rab kamu; fa’ãlun = Maha Pembuat; li mã = segala apa; yurĩdu = Dia kehendaki.
khōlidĩna fĩhã mã dãmatis samãwãtu wal ardhu illã mã syã-a robbuka, inna Robbaka fa’ãlul li mã yurĩdu
107. Mereka kekal di dalamnya, selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rab kamu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rab kamu Maha Pembuat segala apa Yang Dia kehendaki.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Neraka itu seperti keberadaan langit dan bumi. Apakah matahari, bintang-bintang yang bercahaya itu neraka dari makhluk-makhluk yang terdahulu yang disiksa karena membantah perintah Allah? Allah Maha Pembuat segala apa Yang Dia kehendaki. Mereka yang membantah perintah Allah terkena siksaan yang sangat lama. Lihat ayat 108.
wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang …; su’idũ = (mereka) berbahagia; fafil jannati = maka di dalam surga; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; mã dãmati = seperti keberadaan; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; illã = kecuali; mã = apa; syã-a = yang menghendaki; robbuka = Rab kamu; ‘athō-an = pemberian, karunia; ghoiro = tidak (bukan); majdzũdzin = putus-putus.
wa ammal ladzĩna su’idũ fafil jannati khōlidĩna fĩhã mã dãmatis samãwãtu wal ardhu illã mã syã-a robbuka, ‘athōan ghoiro majdzũdzin
108. Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tinggalnya) di surga, mereka kekal di dalamnya seperti keberadaan langit dan bumi, kecuali jika Rab kamu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tidak terputus-putus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Surga itu seperti juga keberadaan langit dan bumi. Allah Yang Berkehendak. Karunia Allah tidak terputus-putus. Mukhluk-Nya menikmati semua karunia-Nya. Lihat ayat 107.

fa lã taku = maka jangan kamu berada; fĩ miryatin = dalam keraguan; mimmã = tentang apa; ya’budu = menyembah; hã-ulã-i = mereka itu; mã = tidak; ya’budũna = mereka menyembah; illã = kecuali; kamã = sebagaimana; ya’budu = menyembah; ãbã-uhum = nenek-moyang mereka; min qoblu = dari dahulu; wa innã = dan sesungguhnya Aku; lamuwaffũhum = pasti akan menyempurnakan mereka; nashĩbahum = bahagian mereka; ghoiro = tidak (bukan); manqũshin = dikurangi
fa lã taku fĩ miryatim mimmã ya’budu hã-ulã-i, mã ya’budũna illã kamã ya’budu ãbã-uhum min qoblu, wa innã lamuwaffũhum nashĩbahum ghoiro manqũshin.
109. Maka, kamu jangan dalam keraguan tentang apa yang disembah mereka itu. Mereka menyembah sebagaimana dahulu nenek-moyang mereka menyembah. Dan sesungguhnya, Aku akan menyempurnakan balasan mereka, dengan tidak dikurangi sedikit pun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad s.a.w beserta umatnya agar tidak melakukan kebiasaan orang dahulu, menyembah kepada selain Allah. Balasannya kepada yang tidak beriman maupun kepada yang beriman tidak dikurangi sedikit pun.
wal laqod = dan sesungguhnya; ãtainã = Aku berikan; mũsa = Musa; al kitãba = Alkitab (Taurat); fa akhtulifa = maka (lalu) diperselisihkan; fihi = di dalamnya; walau = dan kalau; lã = tidak; kalimatun = ketetapan; sabaqot = terdahulu; mir robbika = dari Rab kamu; laqudhiya = niscaya ditetapkan; bainahum = di antara mereka; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; lafĩ = sungguh; syakkim = dalam keraguan; minhu = daripadanya; murĩb = kebimbangan.
wal laqod ãtainã mũsal kitãba fa akhtulifa fihi, walau lã kalimatun sabaqot mir robbika laqudhiya bainahum, wa innahum lafĩ syakkim minhu murĩb.
110. Dan sesungguhnya, Aku telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan di dalamnya. Dan kalau tidak ada ketetapan terdahulu dari Rab kamu, tentu diputuskan (persoalan itu) di antara mereka. Dan sesungguhnya, mereka dalam keraguan dan kebimbangan dari padanya
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dalam Taurat ada perselisihan tentang akan diutusnya seorang Nabi terakhir. Mereka dalam keraguan dan kebimbangan.
wa inna = dan sesungguhnya; kullan = masing-masing; lamã = tentu; layuwaffiyannahum = pasti akan menyempurnakan pekerjaan mereka; robbuka = Rab kamu; a’mãlahum = pekerjaan mereka; innahũ = sesungguhnya Dia; bimã = terhadap apa; ya’malũna = mereka kerjakan; khobĩr = Maha Mengetahui.
wa inna kullal lamã layuwaffiyannahum Robbuka a’mãlahum, innahũ bimã ya’malũna khobĩr.
111. Dan sesungguhnya, kepada masing-masing mereka, pasti Rab kamu akan menyempurnakan pekerjaan mereka. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui, apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui penyelesaian dari perselisihan itu. Yang mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-Nya akan masuk surga. Yang tidak mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-Nya yang terakhir (Nabi Muhammad saw.) akan masuk neraka.
fastaqim = maka kamu berlaku luruslah; kamã = sebagaimana; umirta = kamu diperintah; wa man = dan orang; tãba = bertobat; ma’aka = bersama kamu; wa lã = dan jangan; tathghou = kamu melampaui batas; innahũ = sesungguhnya Dia; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩrun = Maha Melihat.
fastaqim kamã umirta wa man tãba ma’aka wa lã tathghou, innahũ bimã ta’malũna bashĩrun
112. Maka kamu berlaku luruslah, sebagaimana kamu diperintah, dengan orang yang bertaubat bersama kamu, dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Dia Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah agar berlaku lurus, bertobat, dan melarang berbuat melampaui batas (dalam memutuskan perselisihan pada ayat sebelumnya).

wa lã = dan jangan; tarkanũ = kamu cenderung; ila = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang …; zholamũ = lalim; fatamassakumu = maka akan menyentuh kamu; nãru = api neraka; wa mã = dan tidak; lakum = bagi kamu; min dũnillãhi = dari selain Allah; min auliyã-a = dari seorang penolong; tsummã = kemudian; lã tunsharũn = kamu tidak diberi pertolongan.
wa lã tarkanũ ilal ladzĩna zholamũ fatamassakumun nãru wa mã lakum min dũnillãhi min auliyã-a tsummã lã tunsharũn.
113. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim, (yang menyebabkan) kamu disentuh api neraka, dan tidak ada bagimu seorang pelindung, selain dari Allah, kemudian kamu tidak diberi pertolongan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah, jangan cenderung menjadi orang lalim, artinya tidak mempercayai kehadiran Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul terakhir. Akibatnya akan disentuh (ungkapan halus) api neraka. Tidak ada yang dapat melindungi, dan tidak ada yang dapat menolong, kecuali Allah.
wa aqimish sholãta = dan dirikalah salat; thorofayi = pada kedua tepi; an nahãri = siang; wa zulafan = dan sebagian; minnal laili = dari malam; inna = sesungguhnya; al hasanãti = perbuatan baik; yudzhibna = menghapuskan; as sayyi-ãti = perbuatan baik; dzãlika = demikian itu; dzikrō = peringatan; lidz dzãkirĩn = bagi orang-orang yang mau ingat.
wa aqimish sholãta thorofayin nahãri wa zulafam minnal laili, innal hasanãti yudzhibnas sayyi-ãti, dzãlika dzikrō lidz dzãkirĩn.
114. Dan dirikanlah salat di kedua tepi siang (pagi dan petang) dan sebagian dari malam. Sesungguhnya, perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan buruk (dosa). Demikian itu peringatan bagi orang-orang yang mau ingat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah salat subuh, duha, dzuhur, maghrib, Isa, tahajud, dan subuh bagi orang-orang yang beriman. Salat dan perbuatan yang baik menghapus perbuatan dosa. Alquran itu pelajaran dan peringatan bagi orang yang mau ingat kepada Allah dan para nabi-Nya.
washbir = dan bersãbarlah; fa innallãha = karena sesungguhnya Allah; lã yudhĩ’u = tidak menyediakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.
washbir fa innallãha lã yudhĩ’u ajrol muhsinĩn
115. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah untuk bersabar saat beribadah, apa saja karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, seperti salat dan amal-amal baik lainnya (sedekah, zakat, fitrah).

fa lau lã = dan mengapa tidak; kãna = adalah; mina = dari; al qurũni = kurun keturunan; min qoblikum = dari sebelum kamu; ulũ = orang-orang yang mempunyai; baqiyyatin = peninggalan (sia-sia); yanhauna = mereka melarang; ‘anil fasãdi = dari kerusakan; fil ardhĩ = di bumi; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimman = di antara orang-orang; anjainã = Aku telah; minhum = di antara mereka; wattaba’a = dan mengikuti (menurutkan); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; mã = apa yang; utrifũ = mereka bersenang-senang; fĩhi = padanya; wa kãnũ = dan mereka adalah; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.
fa lau lã kãna minal qurũni min qoblikum ulũ baqiyyatin yanhauna ‘anil fasãdi fil ardhĩ illã qolĩlan mimman anjainã minhum wattaba’al ladzĩna zholamũ mã utrifũ fĩhi wa kãnũ mujrimĩn
116. Mengapa tidak ada umat-umat sebelum kamu, orang-orang yang mempunyai kesadaran untuk melarang pekerjaan yang merusak di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang Aku selamatkan di antara mereka. Dan orang-orang lalim hanya menurutkan apa yang menyenangkan mereka saja. Dan mereka itu orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengisahkan orang-orang masa lalu yang tidak mempunyai kesadaran memelihara alam semesta ini. Mereka suka merusak alam semesta ini, khususnya bumi, untuk kesenangan hati mereka saja. Mereka suka berbuat dosa, dan tidak mau bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, dan tidak mau bertobat, tidak mau berbuat kebaikan.
wa mã kaana = dan adalah tidak; robbuka = Rab kamu; liyuhlika = untuk membinasakan; al qurō = negeri-negeri; bi zhulmin = dengan aniaya; wa ahluhã = dan penduduknya; mushlihũn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa mã kaana robbuka liyuhlikal qurō bi zhulmin wa ahluhã mushlihũn.
117. Dan Rab kamu tidak membinasakan dengan aniaya negeri-negeri yang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, Beliau tidak membinasakan negeri-negeri yang penduduknya berbuat kebaikan.
wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; robbuka = Rab kamu; laja’ala = tentu Dia menjadikan; nãsa = manusia; ummatan = umat; wãhidatan = yang satu; wa lã yazãlũna = dan mereka senantiasa; mukhtalifĩn = orang-orang yang berselisih.
wa lau syã-a robbuka laja’alan nãsa ummatan wãhidatan, wa lã yazãlũna mukhtalifĩn.
118. Dan kalau Rab kamu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia, umat yang satu, dan senantiasa mereka berselisih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak membuat manusia satu umat agar menjadi ujian, apakah mau saling membantu, saling memberi, saling membutuhkan atau tidak. Sebaiknya jangan berselisih. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 30 Malaikat memperkirakan, manusia itu akan saling membunuh.
illã = kecuali; man = orang; rohima = diberi rahmat; robbuka = Rab kamu; wa li dzãlika = dan untuk itulah; kholaqohum = Dia menciptakan mereka; wa tammat = dan sempurna (ditetapkan); kalimatu = kalimat (keputusan); robbika = Rab kamu; la-amla-anna = sungguh Aku penuhi; jahannama = jahanam; mina = dari; al jinnati = jin; wannãsi = dan manusia; ajma’ĩn = semuanya.
illã mar rohima robbaka, wa li dzãlika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbikala-amla-anna jahannama minal jinnati wannãsi ajma’ĩn.
119. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rab kamu, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Dan keputusan Rab kamu telah ditetapkan: “Sungguh, akan Aku penuhi neraka jahanam dengan sejumlah jin dan manusia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan manusia untuk menjadi obyek pemberian rahmat. Namun, ada manusia yang tergoda setan dan jin, sehingga neraka juga akan dipenuhi sejumlah jin dan manusia yang membangkang kepada Allah. Mereka tidak bersyukur atas rahmat yang telah dinikmatinya.
wa kullan = dan masing-masing; naqushshu = dikisahkan ‘alaika = kepadamu; min ambã-i = dari sebagian berita; ar rusuli = para Rasul; mã = apa; nutsabbitu = yang Aku teguhkan; bihĩ = dengannya; fu-ãdaka = hatimu; wa jã-aka = dan telah datang kepadamu; fĩ = di; hãdzihi = dalam ini; al haqqu = kebenaran; wa mau’izhotun = dan pelajaran; wa dzikrō = dan peringatan; lil mu’minĩn = bagi orang-orang yang beriman.
wa kullan naqushshu ‘alaika min ambã-ir rusuli mã nutsabbitu bihĩ fu-ãdaka, wa jã-aka fĩ hãdzihil haqqu wa mau’izhotun wa dzikrō lil mu’minĩn.
120. Dan masing-masing, Aku kisahkan kepadamu dari sebagian berita para Rasul, yang dengannya, Aku teguhkan hatimu. Dan di dalamnya (surat ini) telah dijelaskan kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah para Rasul ini, untuk meneguhkan kebenaran, pengajaran, dan peringatan di hatimu (Muhammad saw.) untuk disampaikan kepada orang-orang yang beriman.
wa qul = dan katakanlah; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; i’malũ = bekerjalah; ‘alã = atas; makaanatikum = menurut kemampuanmu; innã = sesungguhnya aku; ‘ãmilũn = orang-orang yang bekerja.
wa qul lilladzĩna lã yu’minũna’malũ ‘alã makaanatikum innã ‘ãmilũn
121. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Bekerjalah menurut kemampuanmu, sesungguhnya, aku pun bekerja.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diminta mengatakan seperti yang dinyatakan di dalam ayat ini. Orang yang bekerja dengan menyebut nama Allah, hasilnya berbeda dengan orang yang menyebut nama Allah.
wa antazhirrũ = dan tunggulah; innã = sesungguhnya; muntazhirũn = aku pun menunggu (juga).
wa antazhirrũ innã muntazhirũn
122. Dan tunggulah, sesungguhnya, aku pun menunggu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hasil pekerjaan yang mengatasnamakan Allah, dinilai sebagai ibadah, sedang pekerjaanyang tidak mengatasnamakan Allah, hasilnya hanya bisa dinikmati di dunia. Di akhirat akan dipertanyakan kenikmatan yang dirasakan di dunia dari mana asalnya? Mereka tidak bersyukur atas nikmat yang diberi dari Allah, berarti mereka kufur nikmat. Balasannya neraka.
wa lillãhi = dan bagi Allah; ghoibu = kegaiban; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa ilaihi = dan kepada-Nya; yurja’u = dikembalikan; al amru = persoalan; kulluhũ = seluruhnya; fa’bud-hu = maka beribadahlah kepada-Nya; wa tawakkal = dan tawakallah; ‘alaihi = kepada-Nya; wa mã = dan tidak; robbuka = Rab kamu; bi ghōfilin = akan lalai; ‘ammã = dari apa yang; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa lillãhi ghoibus samãwãti wal ardhi wa ilaihi yurja’ul amru kulluhũ fa’bud-hu wa tawakkal ‘alaihi, wa mã robbuka bi ghōfilin ‘ammã ta’malũn.
123. Dan milik Allah kegaiban di langit dan di bumi, dan kepada-Nya lah seluruh persoalan dikembalikan. Maka, beribadahlah kepada Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Rab kamu tidak pernah lalai pada apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memiliki ilmu gaib, lihat Q.s. Hud, 11 : 31, sejarah masa lalu yang gaib, hanya Allah yang mengetahuinya, Q.s. Hud, 11 : 49. “Sembahlah Allah” dalam surat ini terdapat pada ayat 50, 61, 84. Perintah bertawakal kepada Allah, dalam Surat ini terdapat pada ayat 56, dan 88.