008 Al Anfal

Audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
AL ANFÃL
Barang Rampasan Perang
Surat ke-8, 75 ayat, Madaniyah.
Juz 9 beralih ke Juz 10 pada ayat 41
Catatan awal
Isi Surat ini tergambar dari judulnya, yaitu soal pembagian barang rampasan perang. Khusus pada peristiwa Perang Badar Kubra, yang terjadi pada tahun kedua Hijriah. Peristiwa perang ini sangat menentukan Sejarah Islam selanjutnya. Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a. Saat itu pasukan Islam masih sedikit. Tapi ternyata, Allah menetapkan memberi pertolongan kepada pasukan Islam, sehingga dapat mengalahkan kaum kafirin yang jumlahnya lebih besar. Pasukan Islam memperoleh barang rampasan perang yang banyak. Para sahabat Rasul menanyakan bagaimana cara membaginya. Isi Surat ini terkait juga dengan aturan atau hukum perang pada umumnya. Selain itu, pokok-pokok isinya sebagai berikut.
Keimanan: Allah selalu beserta orang-orang yang beriman, membimbing, melindungi, memberi pertolongan, memberi pengajaran; Allah berhak menetapkan hukum agama yang sesuai dengan kebutuhan hidup yang baik dari manusia; Allah menjamin kemenangan orang yang beriman; harus selalu ingat, bertawakal kepada Allah untuk meningkatkan ketahanan mental; Pertolongan Allah beserta ribuan Malaikat-Nya selalu menyertai orang-orang yang beriman; Allah mempersatukan hati orang-orang yang beriman; Setan selalu mengganggu dan menipu manusia. Syirik itu termasuk dosa besar.
Hukum: aturan membagi barang rampasan perang; Harta rampasan perang boleh dimakan; cara-cara Islam berperang menghadapi orang-orang kafir. Tidak diperkenankan berbalik ketika menghadapi orang-orang kafir yang menyerang; wajib menaati pemimpin perang; hal tawanan perang; antara perang dan damai; wajib bersiap, baik dalam keadaan perang maupun dalam keadaan damai; tujuan perang; dilarang khianat kepada Allah, Rasul, kepada amanat, dan perjanjian.
Kisah-kisah: Orang-orang Islam enggan berperang sebelum perang, saat berperang, sesudah perang. Keadaan Nabi Muhammad saw. saat belum hijrah, saat terjadi perang dengan kaum musyrikin. Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai. Kisah orang kafir, musyrikin, munafikin, fasiqin, dan Ahli Kitab.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang

yas-alũnaka = mereka akan menanyakan kepada kamu; ‘anil anfãli = tentang barang rampasan perang; qul = katakan; il anfãlu = barang rampasan perang; lillãhi = milik Allah; war rosũli = dan rasul-Nya; fattaqũllãha = maka bertawakallah kepada Allah; wa ashlihũ = dan perbaikilah; dzãta = hubungan; bainikum = di antara kamu; wa athĩ’ũllãha = dan taatlah kepada Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; in = jika; kuntum = kamu sekalian; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
yas-alũnaka ‘anil anfãli, qulil anfãlu lillãhi war rosũli, fattaqũllãha wa ashlihũ dzãta bainikum, wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ in kuntum mu’minĩn.
1. Mereka akan menanyakan kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul-Nya, maka bertawakallah kamu kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara kamu. Taatlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Segala sesuatu itu milik Allah. Rasul-Nya diberi kuasa untuk mengatur milik Allah itu secara adil. Harta rampasan perang itu disebut ganimah. Empat per lima dari ganimah itu diberikan kepada orang-orang yang terlibat langsung peperangan. Seperlima sisanya dibagikan kepada lima golongan: a. Untuk Allah dan Rasul-Nya (untuk kemaslahatan umat manusia); b. Untuk kerabat Rasul, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthallib; c. Untuk yatim-piatu; d. Untuk orang-orang fakir-miskin; e. Untuk musafir yang kehabisan bekal. Manusia, makhluk-Nya harus bertawakal hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Mahabijaksana, ketika makhluk-Nya menghadapi sebuah persoalan; makhluk-Nya harus berupaya menjalin hubungan dengan sesama makhluk dengan baik. Hindari kesalahpahaman, pertikaian dan permusuhan. Makhluk-Nya harus taat menjalankan hidupnya secara lurus, mengikuti perintah Allah dan Rasul, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Demikianlah, cara hidup makhluk beriman.

Innamã = sungguh hanya; al mu’minũna = orang-orang mu’min; al ladzĩna = orang-orang yang …; idzã = apabila; dzukirallãhu = disebut nama Allah; wajilat = gemetarlah; qulũbuhum = hati mereka; wa idzã = dan jika; tuliyat = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyãtuhũ = ayat-ayat-Nya; zadat-hum = ia menambahkan mereka; ĩmãnan = keimanan; wa ‘alã = dan kepada; robbihim = Rabbnya; yatawakkalũn = mereka bertawakal.
Innamãl mu’minũnal ladzĩna idzã dzukirallãhu wa jilat qulũbuhum wa idzã tuliyat ‘alaihim ãyãtuhũ zadat-hum ĩmãnan wa ‘alã robbihim yatawakkalũn
2. Sesungguhnya, orang-orang mu’min itu, apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan jika dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, menambah keimanannya, dan hanya kepada Rabnya mereka bertawakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang-orang yang beriman: a. Kalau mendengar nama Allah diucapkan, hatinya bergetar; b. Kalau dibacakan ayat-ayat Allah, imannya bertambah; c. Berserah diri, selalu berharap, dan takut hanya kepada Allah. Lihat ayat berikutnya, dan Q.s. Al Baqarah, 2 : 3.
alladzĩna = orang-orang yang …; yuqĩmuna = mendirikan; ash sholãta = salat; wa mimmã = dan dari apa; rozaqnãhum = telah Aku berikan rezeki kepada mereka; yunfiqũn = mereka menafkahkan.
alladzĩna yuqĩmunash sholãta wa mimmã rozaqnãhum yunfiqũn
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Aku berikan kepada mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang-orang yang takwa, yaitu orang-orang yang mendirikan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang didapat dari Allah. Lihat Q.s.Al Baqarah, 2 : 3,4.

ulã-ika = itulah; humu = mereka; al mu’minũna = orang-orang yang beriman; haqqon = sebenar-benarnya; lahum = bagi mereka; darojãtun = derajat (kehormatan); ‘inda = di hadapan; robbihim = Rabnya; wamaghfirotun = dan ampunan; wa rizqun = dan rezeki (kenikmatan); karĩm = mulia.
ulã-ika humul mu’minũna haqqol lahum darojãtun ‘inda robbihim wamaghfirotun wa rizqun karĩm
4. Mereka itulah orang-orang yang beriman yang sebenar-benarnya, mereka memperoleh derajat (kehormatan) di hadapan Rabnya dan ampunan serta rezeki (kenikmatan) yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang benar-benar beriman, cirinya lihat catatan ayat 2, dan 3. Orang-orang yang beriman mendapat kehormatan di hadapan Allah, mendapat ampunan, dan mendapat rezeki yang mulia dari Allah.

kamã = sebagaimana; akhrojaka = mengeluarkan kamu; robbuka = Rab kamu; min baitika = dari rumah kamu; bil haqqi = dengan kebenaran; wa inna = dan sesungguhnya; farĩqon = segolongan; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; lakãrihũn = benar-benar benci (tidak menyukai).
kamã akhrojaka robbuka min baitika bil haqqi, wa inna farĩqon minal mu’minĩna lakãrihũn.
5. Sebagaimana Rab kamu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran (menuju Perang Badar), sesungguhnya, sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pergi dari rumah” merupakan ungkapan halus dari “pergi berperang.” “sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya” pada hakekatnya orang-orang Islam itu tidak suka berperang. Namun dalam kondisi memaksa, maka perang itu harus dilakukan (atas perintah Allah, dan harus atas nama Allah) demi menjaga kehormatan (harga diri), mempertahankan kebenaran, menegakkan keadilan, menjaga keamanan dan ketertiban, mencegah kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Peperangan menciptakan perdamaian. Perdamaian menciptakan dinamika hidup berkembang yang positif. Saat damai, orang-orang yang beriman harus bersiaga, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan petunjuk dan, kehendak Allah.

yujãdilũnaka = mereka membantahmu; fil haqqi = tentang kebenaran; ba’da mã = sesudah apa; tabayyana = nyata; ka-annamã = seakan-akan; yusãqũna = mereka dipaksa; ilãl mauti = menuju ke kematian; wa hum = sedang mereka; yanzhurũn = mereka melihat.
yujãdilũnaka fil haqqi ba’da mã tabayyana ka-annamã yusãqũna ilãl mauti wa hum yanzhurũn.
6. Mereka membantahmu (Muhammad saw.) tentang kebenaran yang sudah nyata (keyakinan adanya perintah Allah, pasukan Islam dapat dipastikan menang). Seakan-akan mereka dipaksa untuk menghadapi kematian, sedang mereka memahami (sebab-sebab kematian itu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian Kaum Mukmin membantah untuk berperang, karena merasa didorong menghadapi kematian. Padahal peperangan dilakukan untuk membela kebenaran, atas perintah Allah. Peperangan ini sudah pasti terjadi karena Nabi Muhammad saw. yang menetapkannya atas wahyu dari Allah. Kematian di jalan Allah (berjihad) adalah kematian terhormat, dan dipastikan nanti di akhirat masuk surga. Hal ini sudah dipahami oleh orang-orang Islam.

wa idz = dan ingatlah ketika; ya’idukumullãhu = Allah menjanjikan kepadamu; ihda = salah satu; ath tho-ifataini = dua golongan itu; annahã = bahwa ia; lakum = untuk kamu semua (menjadi musuhmu); wa tawaddũna = sedang kamu semua menginginkan; anna = bahwa; ghoiro = tidak; dzãti = mempunyai; syaukati = kekuatan senjata; takũnu = adalah ia; lakum = untuk kamu semua; wa yuridullãhu = dan Allah menghendaki; an = untuk; yuhiqqa = membenarkan; al haqqo = yang benar; bi kalimatĩ = dengan ayat-ayat-Nya; wa yaqtho’a = dan Dia memusnahkan; dãbiro = seluruh; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
wa idz ya’idukumullãhu ihdath tho-ifataini annahãlakum wa tawaddũna anna ghoiro dzãtisyaukati takũnu lakum wa yuridullãhu an yuhiqqal haqqo bi kalimatĩ wa yaqtho’a dãbirol kãfirĩn.

7. Dan ingatlah, ketika Allah menjanjikan kepadamu, salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) menjadi musuhmu, sedang kamu menginginkan, yang tidak memiliki kekuatan senjatalah musuhmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar itu, dengan ayat-Nya, dan Dia memusnahkan orang-orang kafir semuanya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kelompok Nabi saw. akan menghadapi salah satu musuh, yaitu orang-orang kafir Qurais yang akan dikalahkan. Allah menghendaki Islam tegak dan berwibawa, dengan perintah memerangi orang kafir Qurais itu dan membinasakannya semua. Dua golongan itu adalah, pertama kelompok kafilah dagang dengan harta yang banyak, dan tidak bersenjata (al Ier). Kelompok kedua adalah orang-orang kafir (an Nafĩr) yang bersenjata, dan harus diperangi.

li yuhiqqa = Agar Dia membenarkan; al haqqo = yang benar; wa yubthila = dan membatalkan; al bathila = yang batil (musryik); wa lau = walaupun; kariha = tidak menyukai (benci); al mujrimũn = orang-orang yang berdosa
li yuhiqqal haqqo wa yubthilal bathila wa lau karihal mujrimũn.
8. Agar Dia menetapkan yang benar, dan membatalkan yang batil, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya (membencinya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang benar itu akidah Islam, harus ditegakkan, dimuliakan. Yang batil adalah kepercayaan syirik (menyekutukan Allah dengan benda-benda. Orang-orang yang berdosa adalah orang-orang musyrik. Mereka tidak suka kepercayaan syiriknya diubah.

idz = ketika; tastaghĩtsũna = kamu sekalian meminta pertolongan; robbakum = Rabb kamu; fãstajãba = maka Dia memperkennkan; lakum = bagimu; annĩ = sungguh Aku; mumiddukum = mendatangkan bantuan untukmu; bi alfin = dengan seribu; minal malãikati = dari Malaikat; murdifĩn = datang berduyun-duyun.
idz tastaghĩtsũna robbakum fãstajãba lakum annĩ mumiddukum bi alfim minal malãikati murdifĩn
9. (ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabmu, lalu Dia memperkenankan bagimu, (dan bersabda): “Sesungguhnya, Aku mendatangkan bala bantuan untukmu dengan seribu Malaikat yang datang berduyun-duyun.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau kamu memohon bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang baik (yang diridoi Allah), tentu Allah akan memberi bantuan. Allah mengirim bala bantuan sebanyak seribu Malaikat berduyun-duyun.

wa mã = dan tidak; ja’alahullãhu = Allah menjadikannya; illã = melainkan; busyrō = kabar gembira; wa litathma’inna = dan agar menenteramkan; bihĩ = dengannya; qulũbukum = hati kamu sekalian; wa mã = dan tidak; an nashru = pertolongan; illã = kecuali; min ‘indillãh = dari haribãn Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wa mã ja’alahullãhu illã busyrō wa litathma’inna bihĩ qulũbukum, wa maan nashru illã min ‘indillãh, innallãha ‘azĩzun hakĩm
10. Dan Allah tidak menjadikan bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira, dan agar menenteramkan hatimu. Dan tidak adalah kemenangan itu, kecuali karena dari Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bantuan itu berupa kabar gembira yang menenteramkan hati Nabi dan para pengikutnya. Kemenangan itu Allah Yang menentukan. Ketenteraman hati mengakibatkan hidup kreatif, teratur dan benar. Ketenteraman ini dapat dicapai dengan dzikrullah (mengingat Allah) dengan penuh keyakinan akan adanya pertolongan Allah. Yakin bahwa Allah itu Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahabijaksana. Selalu bersyukur atas segala limpahan karunia-nikmat-Nya yang terasa ataupun yang sudah tidak dirasa. Tilawah (membaca), Tasmi’ dan Tadzabur (mengambil pelajaran dari) Alquran dengan mengingat kebermaknaannya yang sempurna yang dapat menyejukkan, menenteramkan hati.

idz = ketika; yughosysyĩkumu = (Allah) menjadikan kamu; an nu’ãsa = mengantuk; amanatan = perasaan tenteram; min hu = dari-Nya; wa yunazzilu = dan Allah menurunkan; ‘alaikum = kepadamu; mina dari; as samã-i = dari langit; mã-an = air (hujan); liyuthohhirokum = untuk menyucikan kamu; bihi = dengannya; al aqdãm = telapak kaki (pendirian).
idz yughosysyĩkumun nu’ãsa amanatam min hu wa yunazzilu ‘alaikum minas samã-i mã-al liyuthohhirokum bihil aqdãm.
11. (Ingat) ketika Allah membuat kamu mengantuk, (akibat) perasaan tenteram dari-Nya, dan Allah menurunkan hujan dari langit, agar kamu dapat menyucikan dirimu, dan menghilangkan gangguan setan darimu, dan untuk menguatkan hatimu, memperteguh pendirianmu dengannya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, perasaan kantuk itu dapat menimbulkan tenteram. Kantuk ini dapat timbul juga karena kelelahan kerja, atau ada sesuatu yang membosankan. Kalau diikuti terus akibatnya tidak baik. Jadi, harus didorong untuk mempunyai keinginan, kemauan yang positif, mencapai sesuatu yang baik, berguna untuk hidup yang lebih baik. Perilaku yang positif pada orang yang tenang jiwanya adalah: a. Dzikrullah artinya mengingat Allah dengan menghadirkan nama-nama Allah yang baik (Asmaul Husna); b. Yaqin pada pertolongan Allah jika memerlukan pertolongan; c. Memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah di dalam diri sendiri, diri orang lain, makhluk lain, alam semesta; d. Selalu bersyukur kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisi yang dialami setiap saat (yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, yang menggembirakan atau yang mencekam, menakutkan); e. Tilawah Tasmi’ dan Tadabbur Alquran artinya mengulang-ulang isi Alquran yang bermakna mulia, mengagungkan isi Alquran yang banyak mengandung pelajaran, nasihat, petunjuk, penyejuk hati.
Air dapat digunakan untuk bersuci dan berbagai kegunaan lainnya yang banyak (menghilangkan gangguan setan, menguatkan hati, meneguhkan pendirian, menyeimbangkan metabolisme tubuh (menyehatkan), dan keperluan-keperluan lainnya (turbin tenaga listrik air, pengairan pada perkebunan, dan pesawahan, menyuburkan tanah, memasak, melarutkan berbagai obat, melarutkan berbagai minyak, membuat berbagai minuman). Ingat Arasy Allah di atas air (Q.s. Hũd, 11 : 7). Tentang arasy adalah akal, pikiran, rasa yang ada pada manusia yang menyadari keberadaan Allah di dalam dirinya, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 22 catatannya; At Taubah, 9: 129; Yunus, 10: 3; Hud, 11: 7; Ar Ra’d, 13: 2; An Nahl, 16: 3; Al Isrō’; 17: 42; Thãhã, 20: 5; As Sajdah, 32: 4; Al Buruj, 85: 15.

Idz = ketika; yũhĩ = mewahyukan; robbukka = Rab kamu; ilãl malãikati = kepada para Malaikat; annĩ = sesungguhnya, Aku; ma’akum = bersama kamu; fatsabbitũ = maka teguhkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = mereka beriman; sa-ulkĩ fĩ = kelak Aku jatuhkan; qulũbi = hati; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; ar ru’ba = rasa takut; fadhribũ = maka pukullah (penggallah); fauqo = di atas; al a’nãqi = leher, tengkuk; wadhribũ = dan pukullah (potonglah); min hum = dari mereka; kulla = tiap-tiap; banaanin = ujung jari
Idz yũhĩ robbukka ilãl malãikati annĩ ma’akum fatsabbitũl ladzĩna ãmanũ, sa-ulkĩ fĩ qulũbil ladzĩna kafarũr ru’ba fadhribũ fauqol a’nãqi wadhribũ min hum kulla banaanin
12. (Ingat) ketika Rab kamu mewahyukan kepada para Malaikat: “Sesungguhnya, Aku bersama kamu, maka teguhkanlah semangat (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku turunkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka, penggallah leher-leher mereka, dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melalui para Malaikat agar mengingatkan Nabi Muhammad, Allah bersamanya untuk menghadapi orang-orang pembangkang (kafir) pada Perang Badar. Nabi diminta menguatkan semangat dan pendirian orang-orang yang telah beriman (Kaum Muslimin) dalam menghadapi orang-orang kafir. Allah memberitahu akan membuat orang-orang kafir menjadi takut kepada pasukan Islam. Allah memerintah agar memenggal leher orang-orang kafir atau memotong ujung jari mereka sebagai hukuman di dunia, dan agar mereka tidak berdaya menggunakan senjata, dan agar mereka tidak selalu membuat kegaduhan, keonaran. Di akhirat, Allah yang menetapkan hukumannya. Banyak dijelaskan di dalam Alquran ini.
dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; syãqullaha = mereka menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa man = dan barang siapa; yusyãqiqillãha = menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; fa innallaha = maka sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōb = siksa.
dzãlika bi annahum syãqullaha wa rosũlahũ, wa man yusyãqiqillãha wa rosũlahũ fa innallaha syadĩdul ‘iqōb.
13. (Ketentuan) yang demikian itu, karena sesungguhnya, mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya, Allah sangat keras siksa-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan seperti pada ayat 11 di atas itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya.

dzãlikum = demikian itulah; fadzũqũhu = maka rasakanlah ia (siksa itu); wa anna = dan sesungguhnya; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãbannar = azab api neraka.
dzãlikum fadzũqũhu wa anna lil kãfirĩna ‘adzãbannar
14. Demikian itulah (hukuman Allah yang disegerakan di dunia ditimpakan atasnya, kaum kafir), maka rasakanlah, dan sesungguhnya, bagi orang-orang kafir, ada azab api neraka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukuman Allah (dipenggal leher atau ujung jari tangannya, agar mereka tidak dapat menggunakan tangannya untuk memerangi orang-orang Islam) karena mereka menentang perintah Allah dan Nabi Muhammad.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; idzã = jika; laqĩtumu = kamu sekalian bertemu; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; zahfan = maju menyerang; falã = maka jangan; tuwallũ = kamu sekalian berpaling dari; humu = mereka; al adbãro = punggung (ke belakang).
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã laqĩtumul ladzĩna kafarũ zahfan falã tuwallũ humul adbãro
15. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerang kamu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukum Allah dalam berperang melawan orang-orang kafir: menghadap, merapat, jangan berbalik ke belakang (mundur), kecuali kalau untuk bergabung dengan kelompoknya, atau untuk menata strategi, taktik berperang. Allah menyertai orang-orang yang berjihad.

waman = dan barang siapa; yuwallihim = berpaling dari mereka; yauma-idin = pada hari itu; duburahũ = belakangnya; illã = kecuali; mutaharrifan = berbelok; liqitãlin = untuk perang; au = atau; mutahayyizon = bergabung; ilã = kepada; fi-atin = golongan pasukan; faqod = maka sungguh; bã-a = dia kembali; bi ghodhonin = dengan kemurkaan; minallãhi = dari Allah; wa ma’wãhu = dan tempat kembalinya; jahannamu = jahanam; wa bi’sa = dan amat buruk; al mashĩr = tempat kembali.
waman yuwallihim yauma-idin duburahũ illã mutaharrifal liqitãlin au mutahayyizon ilã fi-atin faqod bã-a bi ghodhonim minallãhi wa ma’wãhu jahannamu wa bi’sal mashĩr.
16. Dan barang siapa mundur pada waktu perang itu, sungguh orang itu kembali dengan membawa murka dari Allah. Tempat kembalinya neraka jahanam, seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali berbelok (bersiasat perang) atau akan menggabungkan diri dengan pasukan lain.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berbalik dan berbelok untuk bersiasat dan bergabung dengan pasukan lain diperbolehkan. Melanggar aturan berperang, membawa kemurkaan Allah. Tempat kembalinya neraka jahanam, seburuk-buruk tempat kembali.

fa lam = maka bukan; taqtulũhum = kamu sekalian membunuh mereka; wa lãkinnallãha = akan tetapi Allah; kotalahum = membunuh mereka; wa mã = dan bukan; romaita = engkau yang melempar; idz = ketika; romaita = engkau melempar; walãkinallaha = akan tetapi Allah; romã = yang melempar; waliyublĩya = dan Dia hendak menguji; al mu’minĩna = hasanan = yang baik; innallaha = sesungguhnya Allah; samĩun = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
fa lam taqtulũhum wa lãkinnallãha wa mã romaita idz romaita, walã kinallaha romã, waliyublĩyal mu’minĩna min hu ba lã-an hasanan, innallaha samĩun ‘alĩm.
17. Maka bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar, ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar untuk memberi kemenangan yang baik kepada orang-orang mukmin. Sungguh, Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang di jalan Allah pada Perang Badar ini, atau pekerjaan apapun yang mengatasnamakan Allah, sesungguhnya pekerjaan itu, Allah yang mengerjakannya dengan hasil yang baik untuk bisa dinikmati orang-orang mukmin. Ibnu Jarir dan Ibnu Abas meriwayatkan, ketika Perang Badar Rasulullah melemparkan segenggam pasir ke arah pasukan kafir. Akibatnya, banyak pasukan kafir yang binasa. Pada peristiwa seperti itulah Allah menolong Nabi dan pasukannya. Nabi melemparkan pasir, sesungguhnya, Allah lah yang melemparkan pasir itu ke arah musuh pasukan Nabi.

dzalikum = demikianlah; wa annallãha = sesungguhnya Allah; mũhinu = menghinakan (melemahkan); kaidi = tipu daya; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
dzalikum wa annallãha mũhinu kaidil kãfirĩn.
18. Demikianlah, sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Demikianlah, Allah melimpahkan karunia kemenangan kepada orang-orang mukmin. Tipu daya orang kafir, mereka berpura-pura berpihak kepada orang-orang mukmin (masuk Islam) untuk menghancurkannya.

in = jika; tastaftihũ = kamu sekalian meminta keputusan; fa qod = maka sesungguhnya; jã-akumu = telah datang kepada kamu sekalian; al fat-hu = keputusan kemenangan; wa in = dan jika; tantahũ = kamu sekalian berhenti; fa huwa = maka itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu sekalian; wa in = dan jika; ta’ũdũ = kamu sekalian kembali; na’ud = Kami kembali; wa lan = dan tidak; tughniya = cukup mampu; ‘ankum = dan kamu sekalian; fi-atukum = golongan (pasukan kamu sekalian; syai-an = sedikit pun; wa lau = dan sekali pun katsurot = kamu sekalian banyak; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
in tastaftihũ fa qod jã-akumul fat-hu, wa in tantahũ fa huwa khoirul lakum, wa inta’ũdũ na’ud wa lan tughniya ‘ankum fi-atukum syai-an wa lau katsurot wa annallãha ma’al mu’minĩn.
19. Jika kamu meminta keputusan, maka keputusan kemenangan itu telah datang kepadamu, dan jika kamu sekalian berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali (menjadi kafir), niscaya Kami kembali (memberi pertolongan kepada orrang-orang mukmin), dan pasukanmu tidak akan dapat menolak bahaya sedikit pun, dan sekalipun jumlahnya (pasukanmu) banyak. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memberi kesempatan kepada orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad untuk bertobat (tidak memusuhi Rasul). Kalau tidak mau bertobat, maka bahaya akan selalu mengancamnya, meskipun jumlah pasukannya banyak.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; athĩ’ullãha = taatlah kamu sekalian kepada Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa lã = dan jangan; tawallau = berpaling; ‘anhu = dari-Nya; wa antum = dan kamu sekalian; tasma’ũn = kamu sekalian mendengar.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ athĩ’ullãha wa rosũlahũ wa lã tawallau ‘anhu wa antum tasma’ũn
20. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan jangan berpaling dari-Nya, dan kamu sekalian mendengar (perintah-perintah-Nya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah ini sering disampaikan dalam berbagai variasi susunan kata (ungkapannya)

wa lã = dan jangan; takũnũ = kalian menjadi’ kalladzĩna = seperti orang-orang yang; qōlũ = mereka berkata; sami’nã = kami mendengar; wa hum = dan (pada hal) mereka; lã yasma’ũn = mereka tidak mendengar.
wa lã takũnũ kalladzĩna qōlũ sami’nã wa hum lã yasma’ũn.
21. Dan jangan kalian menjadi seperti orang-orang yang berkata: “Kami mendengar.” Padahal mereka tidak mendengar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang kafir: a. Perkataannya tidak sesuai dengan isi hatinya; b. Janjinya tidak ditepati; c. Kalau diberi amanah tidak disampaikan.

Inna = sesungguhnya; syarro = seburuk-buruk; addawãbbi = binatang (makhluk); indallãh = di hadapan Allah; ish shumu = tuli; bukmu = bisu; al ladzĩna = makhluk yang …; lã ya’qilũn = mereka tidak mengerti.
inna syarrodda wãbbi indallãhish shumum bukmul ladzĩna lã ya’qilũn.
22. Sesungguhnya, seburuk-buruknya binatang (makhluk) di hadapan Allah adalah makhluk yang tuli dan bisu dan makhluk yang tidak mau mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tuli artinya tidak dapat mendengar karena ada gangguan indra pendengarannya. Pada ayat ini, arti tuli adalah orang yang dapat mendengar, tapi tidak mau mendengar apa yang diserukan kepadanya. Mereka tidak mau mengerti, tidak mau memahami, tidak mau memikirkan atau menghayati makna seruan kebaikan, keadilan yang didengar. Atau ada alasan lain, misalnya karena ada rasa permusuhan, membenci, mempunyai keyakinan lain, mempunyai pandangan lain yang berbeda. Istilah sekarang mengena kepada orang yang diberi nasihat, nasihatnya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Nasihat itu tidak berbekas. Bisu di dalam ayat ini berarti orang yang sudah memiliki pengetahuan tentang kebenaran,keadilan tapi mereka tidak mau mengamalkannya, atau menyampaikan, menyebarluaskannya kepada orang lain. Mereka tidak mau berbicara dan tidak dapat berbicara karena mempunyai keyakinan, kepercayaan, pandangan yang berbeda. Makhluk yang tidak mau mengerti itu karena kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad, ingkar dari petunjuk Allah, dinilai makhluk yang paling jelek.

wa lau = dan kalau; ‘alimallãhu = (sekiranya) Allah mengetahui; fĩhim = pada mereka; khoiron = kebaikan; la-asma’ahum = tentu Dia jadikan mereka mendengar; wa lau = dan kalau; asma’ahum = Dia jadikan mereka mendengar; la tawallau = tentu mereka berpaling; wa hum = sedang mereka; mu’ridhũn = orang-orang yang memalingkan diri.
wa lau ‘alimallãhu fĩhim khoirol la-asma’ahum, wa lau asma’ahum la tawallau wa hum mu’ridhũn.
23. Dan kalau sekiranya (ungkapan halus) Allah mengetahui pada kebaikan mereka, tentu Dia jadikan mereka mendengar, dan kalau Dia jadikan mereka mendengar, tentu mereka berpaling juga, sedang mereka, orang-orang yang memalingkan diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah pasti Maha Mengetahui mereka itu tidak ada kebaikan sedikit pun. Dengan cara apa pun, mereka tidak akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan tetap berpaling dari seruan Allah dan Rasul-Nya. Jadi, mereka ditulikan, dan dibutakan terhadap ayat-ayat-Nya. Sesungguhnya, yang membutakan dan menulikan itu diri mereka sendiri, akibat jalan pikirannya yang menyimpang dalam hal agama dan kepercayaannya.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; as tajĩbũ = penuhilah (seruan); lillãhi = dari Allah; wa lir rosũli = dan dari Rasul; idzã = jika (dia); da’akum = memanggil kamu sekalian; limã = kepad, a sesuatu; yuhyĩkum = yang menghidupkan kamu sekalian; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; yahũlu = membatasi; baina = antara; al mar-i = seseorang; wa qolbihĩ = dan hatinya; wa annahũ = dan sesungguhnya; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu sekalian.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũs tajĩbũ lillãhi wa lir rosũli idzã da’akum limã yuhyĩkum, wa’lamũ annallãha yahũlu bainal mar-i wa qolbihĩ wa annahũ ilaihi tuhsyarũn.
24. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, jika dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya, kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan yang sering dilakukan dalam berbagai variasi. “menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” artinya membuat hidup lebih berarti, bermanfaat untuk sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan hidup di dunia dan akhirat. Allah membatasi antara manusia dan hatinya, maksudnya antara diri seseorang dengan keinginan di dalam hatinya. Pelajari hati sendiri yang memiliki berbagai keinginan dan nafsu-nafsunya. Kepada Allah semua makhluk-Nya akan dikembalikan. Peringatan yang sering dikemukakan.

wattaqũ = dan takutlah kamu sekalian; fitnatan = fitnah (azab); lã tushĩbanna = tidak menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang …; zholamũ = mereka lalim; min kum = di antara kamu sekalian; khãshshatan = khusus; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōb = siksa-Nya.
wattaqũ fitnatal lã tushĩbannal ladzĩna zholamũ min kum khãshshatan, wa’lamũ annallãha syadĩdul ‘iqōb.
25. Dan takutlah kamu kepada fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Ketahuilah, Allah sangat keras azab-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan agar waspada pada fitnah, bencana, azab, ujian, cobãn-Nya yang tidak khusus hanya kepada orang-orang yang lalim. Harus dihadapi dengan bekal iman.

wadzkurũ = dan ingatlah; idz = ketika; antum = kamu; qolĩlun = sedikit; mustadh’afũna = orang-orang lemah; fil ardhi = di bumi; takhofũna = kamu sekalian takut; an = untuk; yatakhoth thafakumu = akan menculik kamu sekalian; an nãsu = orang-orang; fa-ãwãkum = maka Dia beri tempat kamu sekalian; wa ayyadakum = dan Dia kuatkan kamu sekalian; bi nashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; wa rozaqokum = dan Dia beri rezeki kamu sekalian; mina = dari; ath thoyyibãti = yang baik-baik; la’allakum = agar kamu sekalian; tasykurũn = kamu sekalian bersyukur.
wadzkurũ idz antum qolĩlum mustadh’afũna fil ardhi takhofũna an yatakhoth thafakumun nãsu fa-ãwãkum wa ayyadakum bi nashrihĩ wa rozaqokum minath thoyyibãti la’allakum tasykurũn.
26. Ingatlah, ketika kamu (Kaum Muhajirin) masih berjumlah sedikit dan tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang Mekah akan menculik kamu, maka Dia memberi tempat menetap (Madinah), dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya, dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik, agar kamu bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan masa lalu umat Islam untuk menjadi pelajaran dan agar bersyukur karena telah diberi pertolongan dan rezeki yang baik.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; lã takhũnũllãha = jangan mengkhianati Allah; war rosũla = dan Rasul; wa takhũnũ = juga jangan mengkhianati; amaanaatikum amanat yang dipercayakan kepadamu; wa antum = dan kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũ lã takhũnũllãha war rosũla wa takhũnũ amaanaatikum wa antum ta’lamũn.
27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, juga jangan kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman: “jangan mengkhianati Allah, Rasul, dan amanat yang dipercayakan. Khianat artinya sikap mental yang culas, curang, tidak jujur kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah; perbuatan tidak setia, tipu-daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji. Khianat mempunyai pengertian yang hampir sama dengan nifak. Bedanya, nifak berkonotasi pada ajaran agama secara umum, misalnya khianat kepada Allah dan Rasul-Nya, perilakunya tidak menjalankan syariat yang seharusnya. (Ragib al Isfahani, ahli bahasa). Akibat khianat, orang bisa kehilangan kepercayaan. Khianat itu perbuatan dosa, dapat merusak kehidupan bermasyarakat, menimbulkan permusuhan, saling mencurigai. Dampak pengkhianatan sangat buruk, seperti yang dilakukan Ubay bin Ka’ab pada waktu Perang Uhud. Pasukan Muslim berkurang sampai 300 orang, dan kemenangan yang diharapkan menjadi tidak tercapai.

wa a’lamũ = dan ketahuilah; annamã = hanyalah; amwãlukum = harta kamu sekalian; wa aulãdukum = dan anak-anak kamu sekalian; fitnatun = fitnah, cobãn, ujian; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ‘indahũ = di hadapan-Nya; ajrun = pahala; ‘azhĩm = yang besar.
wa a’lamũ annamã amwãlukum wa aulãdukum fitnatun wa annallãha ‘indahũ ajrun ‘azhĩm.
28. Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai ujian, sesungguhnya di hadapan Allah ada pahala yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, harta dan anak-anak itu ujian, cobãn yang harus dihadapi dengan sabar, dan harus mengikuti petunjuk Allah agar berhasil baik, selamat, dan mendapat pahala yang besar di dunia maupun di akhirat.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; in = jika; tattaqũllãha = kamu sekalian bertakwa kepada Allah; yaj’al = Dia menjadikan; lakum = untuk kamu; furqōnan = furqon; wa yukaffir = dan Dia menghapuskan; ‘ankum = dari kamu; sayyi-atikum = kesalahan-kesalahanmu; wa yaghfir = dan Dia mengampuni; lakum = untuk kamu; wallãhu = dan Allah; dzũl fadhli = mempunyai karunia; al ‘azhĩm = yang besar.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũ in tattaqũllãha yaj’al lakum furqōnan wa yukaffir ‘ankum sayyi-atikum wa yaghfir lakum, wallãhu dzũl fadhlil ‘azhĩm.
29. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu takwa kepada Allah, tentu Dia akan memberikan furqon = kemampuan membedakan berbagai hal kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Allah memiliki karunia yang besar
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman dan bertakwa akan diberi kemampuan untuk dapat membedakan berbagai hal di dunia ini, khususnya yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang jelek, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Karunia Allah yang besar itu upah dari iman dan takwa yang mengakibatkan dapat membedakan segala hal di muka bumi ini, selanjutnya akan dihapus segala kesalahannya, dan diampuni dosa-dosanya. Inilah salah-satu kunci pembuka pintu surga.

wa idz = dan (inratlah) ketika; yamkuru = merencanakan tipu-daya; bika = kepadamu; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; liyutsbitũka = untuk mereka menangkap dan memenjarakanmu; au yaqtulũka = atau mereka membunuhmu; au yukhrijũka = atau mereka mengusirmu; wa yamkurũna = dan mereka memikirkan tipu-daya; wa yamkurullãh = dan Allah membalas tipu-daya; wallãhu = dan Allah; khoiru = sebaik-baik; al mãkirĩn = pembalas tipu-daya
wa idz yamkuru bikal ladzĩna kafarũ liyutsbitũka au yaqtulũka au yukhrijũka wa yamkurũna wa yamkurullãh, wallãhu khoirul mãkirĩn
30. Dan ingatlah, ketika orang-orang kafir (Quraisy) merencanakan tipu-daya kepadamu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya, dan Allah membalas tipu-daya itu. Allah itu sebaik-baik pembalas tipu-daya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang perilaku orang-orang kafir dengan berbagai upaya tipu-dayanya. Allah membalas upaya tipu-daya orang-orang kafir dengan tipu-daya yang ajaib (bersifat gaib).Tipu-daya Allah lah yang terbaik yang menghasilkan kemenangan hidup di dunia dan di akhirat.

wa idzã = dan jika; tutlã = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyãtunã = ayat-ayat Kami; qōlũ = mereka berkata; qod = sesungguhnya; sami’nã = kami telah mendengar; lau = kalau; nasyã-u = kami mau; lakulnã = tentu kami dapat berkata; mitsla = seperti; hãdzã = ini; in = tidak lain; hãdzã = (Alquran) ini; illã = hanyalah; asaathĩru = satir (dongeng); al awwalĩn = zaman awal (zaman dahulu)
wa idzã tutlã ‘alaihim ãyãtunã qōlũ qod sami’nã lau nasyã-u lakulnã mitsla hãdzã, in hãdzã illã asaathĩrul awwalĩn.
31. Dan jika ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya, kami telah mendengar (ayat-ayat seperti ini), kalau kami mau, tentu kami dapat berkata seperti ini. (Alquran) ini tidak lain hanya dongeng orang-orang zaman dahulu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan, kalau Alquran yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, bila dibacakan kepada orang-orang yang telah menganut agama terdahulu, seperti Majusi, Zoroaster (penyembah api, Persia), Shinto (Jepang, penyembah matahari), Lao-ts [Tao Te Ching] (Cina), Hindu: Weda, yang ditulis Mpu Bharada [Mahabharata], Walmiki [Ramayana], Krisna [Baghawad Gita], Buddha: Sidharta Gautama [Tripithaka], Mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Daud [Zabur] disebut agama Samawi = Islam. Agama Yahudi: Musa [Taurat, Tauret, Taurit yang terbagi dalam lima bagian (Pentateuch], yaitu: Kejadian (Genesisi), Keluaran (Exodus), Amanat (Leviticus), bilangan (Numeri), Ulangan (Deuteonomium), Kristen: Isa ibnu Maryam [injil]. Mereka mengatakan, apa yang dibacakan itu seperti dongeng (ceritera bohong) orang zaman dahulu. Alquran itu sesungguhnya membenarkan Kitab-kitab terdahulu, artinya melanjutkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha-esa yang tidak tercampur syirik. Agama-agama terdahulu itu ternyata banyak tercampur dengan kepercayaan tahayul, dan khurafat sehingga Allah memperbaharui-Nya dengan Alquran melalui Nabi Muhammad, untuk meluruskan kembali kepercayaan yang sudah banyak menyimpang dari tuntunan Kitab-kitab yang terdahulu itu.

wa idz = dan ketika; qōlũ = mereka berkata; al lahumma = yã Allah; in = jika; kaana = adalah; hãdzã = ini; huwa = dia (Alquran); al haqqo = benar; min = dari; ‘indika = haribãn Engkau; fa amthir = maka hujanilah; ‘alainã = atas kami; hijãrotan = batu; mina = dari; as samã-i = langit; awi’tinã = atau datangkan kepada kami; bi ‘adzãbin = dengan azab; alĩm = yang sangta pedih.
wa idz qōlũl lahumma in kaana hãdzã huwal haqqo min ‘indika fa amthir ‘alainã hijãrotam minas samã-i awi’tinã bi ‘adzãbin alĩm.
32. Dan ketika mereka berkata: “Yã Allah, jika ini (Alquran) benar dari haribãn-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang sangat pedih.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beragama terdahulu, mereka meragukan Alquran itu dari Allah. Mereka menantang, agar mereka dituruni azab dari Allah, jika Alquran itu memang dari-Nya. Namun Allah amat Penyabar, tidak menuruti tantangannya.

wa mã kaanallãhu = dan Allah tidak; liyu’adzdzibahum = akan mengazab mereka; wa anta = sedang kamu; fĩhim = di antara mereka; wa mã kaanallãhu = dan Allah tidak; mu’adzdzibahum = mengazab mereka; wa hum = sampai mereka; yastaghfirũn = mereka meminta ampun.
wa mã kaanallãhu liyu’adzibahum wa anta fĩhim, wa mã kaanallãhu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfirũn.
33. Dan Allah tidak menghukum (mengazab) mereka, sementara kamu di antara mereka, Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sampai mereka meminta ampun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menunda azab, maksudnya memberi kesempatan mereka mau bertobat. Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan, maka pada saat yang tidak terduga, Allah menurunkan azab-Nya. Waspadalah! Allah Mahakasih, Maha-adil, Mahabijaksana, Maha Penyabar.

Wa mã lahum = dan apa yang ada pada mereka; allã = sehingga tidak; yu’adzdzibahumullãhu = Allah mengazab mereka; wa hum = padahal mereka; yashuddũna = mereka halangi; ‘anil masjidil harōmi = (orang-orang masuk) ke masjidil Kharo wa mã kaanũ = dan bukanlah mereka; auliyã-uhũ = penguasa-penguasanya; illã = hanyalah; al muttaqũna = orang-orang yang bertakwa; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum lã = tidak; ya’lamũn = mereka mengetahui.
Wa mã lahum allã yu’adzdzibahumullãhu wa hum yashuddũna ‘anil masjidil harōmi wa mã kaanũ auliyã-uhũ illãl muttaqũna wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.
34. Mengapa Allah tidak mengazab mereka, padahal mereka halangi (orang-orang masuk) ke Masjidil Haram, padahal mereka itu bukan penguasa-penguasanya. Tidak lain, yang berhak menguasainya, hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak mengazab orang-orang kafir sekarang ini untuk memberi peluang mereka insyaf mengenai kekeliruannya, dan mau bertobat sebelum ajal menjemputnya. Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan, Allah Mahaberat siksa-Nya. Masjidil Haram sekarang luasnya 328.000 m2 adalah masjid di tanah haram. Artinya tempat yang disucikan, dan diharamkan bagi umat lain. Tempat berdirinya Ka’bah sebagai arah kiblat umat Islam. Salat di masjid ini dinilai 100.000 kali lebih utama bila salat di masjid selainnya. Begitu juga kalau berdzikir, berdoa, bersedekah, atau beramal baik lainnya. Dapat menampung sebanyak 730.000 jamãh.

wa mã = dan tidak; kaana = ada lain; solãtuhum = salat mereka; ‘inda = di sekitar; al baiti = Baitul Haram itu; illã = hanyalah; mukã-an = siulan; wa tashdiyah = dan tepuk tangan; fadzũqũ = mzkz rasakanlah; al ‘adzãba = azab; bimã = dengan sebab; kuntum = kamu adalah; takfurũn = kamu kafir.
wa mã kaana solãtuhum ‘indal baiti illã mukã-an wa tashdiyah, fadzũqũl ‘adzãba bimã kuntum takfurũn.
35. Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di sini adalah azab dunia, dipenggal lehernya atau dipotong ujung-ujung jari tangannya karena mereka kafir, dan menentang Allah dan Rasul-Nya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = orang-orang kafir; yunfiqũna = mereka menafkahkan; amwãlahum = harti mereka; liyashuddũ = untuk mereka menghalangi; ‘an sabĩlillãh = dari jalan Allah; fa sayunfiqũ nahã = maka mereka menafkahkannya; tsumma = kemudian; takũnu = jadilah; ‘alaihim = bagi mereka; hasrotan = sesalan; tsumma = kemudian; yughlabũn = mereka akan dikalahkan; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = orang kafir; ilã = ke dalam; jahannama = Neraka Jahanam; yuhsyarũn = mereka dikumpulkan.
innal ladzĩna kafarũ yunfiqũna amwãlahum liyashuddũ ‘an sabĩlillãh, fa sayunfiqũ nahã tsumma takũnu ‘alaihim hasrotan tsumma yughlabũn, wal ladzĩna kafarũ ilã jahannama yuhsyarũn.
36. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi orang menuju jalan Allah. Mereka menafkahkan harta (demikian itu), kemudian akan menjadi sesalan bagi mereka. Mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di Neraka Jahanam.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir menafkahkan hartanya untuk menghalangi orang yang berjalan di jalan Allah, dan hanya untuk kepentingan dunia saja. Orang yang beriman menafkahkan hartanya untuk lancarnya menjalani syariat Allah, dan mengharapkan rido Allah. Hasil akhirnya, sudah jelas. Orang kafir akan menyesal, dimasukkan ke dalam api neraka jahanam. Orang beriman mendapatkan kesejahteraan yang tidak bertara di surga.

liyamĩzallãhu = karena Allah hendak memisahkan; al khabĩtsã = yang buruk; mina = dari; ath thoyyibi = dari yang baik; wa yaj’ala = dan Dia menjadikan; al khabĩtsa = yang buruk; ba’dhohũ = sebagiannya; ‘alã = atas; ba’dhin = sebagian yang lain; fa yarkumahũ = lalu menumpukkann-Nya; jamĩ’an = semuanya; fa yaj’alahũ = maka menjadikan-Nya; fĩ jahannam = dalam neraka Jahanam; ũlã-ika = mereka itu; humu = mereka; al khōsirũn = orang-orang yang merugi.
liyamĩzallãhul khabĩtsã minathoyyibi wa yaj’alal khabĩtsa ba’dhohũ ‘alã ba’dhin fa yarkumahũ jamĩ’an fa yaj’alahũ fĩ jahannam, ũlã-ika humul khōsirũn.
37. Karena Allah hendak memisahkan golongan yang buruk dengan golongan yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu Dia menumpukkannya semuanya, dan Dia menjadikannya (masuk) dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain” pernyataan ini dari Allah Yang menetapkan golongan yang buruk dalam arti tidak mau percaya apa yang sudah ditetapkan Allah. Sebagiannya mempunyai kemampuan kekayaan di atas yang lainnya untuk membiayai penolakan perjuangan Nabi Muhammad dalam mengemban amanat Allah menghapus kekafiran, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan. Mereka yang lebih mampu mamupun yang tidak mempu membiayai penolakan atas perjuangan Nabi Muhammad saw. itu, kedua golongan itu semua akan dimasukkan ke dalam api Neraka Jahanam. Rugilah mereka.

qul = katakanlah; lilladzĩna = kepada oraang-orang yang …; kafarũ = kafir; in = jika; yantahũ = mereka berhenti; yughfar = diampuni; lahum = bagi mereka; mã = apa (dosa-dosa) yang; qod = sungguh; salafa = sudah lalu; wa in = dan jika; ya’ũdũ = mereka kembali; fa qod = maka sungguh; madhat = berlaku; sunatu = sunah; al awwalĩn = orang-orang dahulu.
qul lilladzĩna kafarũ in yantahũ yughfar lahum mã qod salafa wa in ya’ũdũ fa qod madhat sunatul awwalĩn
38. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan rekan-rekannya), Jika mereka berhenti (dari kekafirannya; memerangi orang-orang Islam, memerangi Umat Muhammad saw.), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang lalu, dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh berlaku (kepada mereka) sunnatullah bagi orang-orang dahulu (dibinasakan).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Muhammad saw.. untuk mengatakan ayat ini kepada orang-orang kafir, sebagai peringatan.

wa qōtilũhum = dan perangilah mereka; hattã = sehingga, sampai; lã takũna = tidak ada lagi; fatnatun = fitnah; wa yakũna = dan adalah; ad diinu = agama; kulluhũ = semuanya; lillãh = bagi Allah; fa ini = maka jika; antahau = mereka berhenti; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; bimã = dengan apa yang …; ya’malũna = mereka kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.
wa qōtilũhum hattã lã takũna fatnatun wa yakũnad diinu kulluhũ lillãh, fa ini antahau fa innallãha bimã ya’malũna bashĩr.
39. Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah, maka jika mereka berhenti (menyebar fitnah), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Muhammad saw.. agar memerangi orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad. Tujuannya agar tidak ada lagi (berhenti menyebar) fitnah.

wa in = dan bila; tawallau = mereka berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; maulãkum = pelindungmu; ni’ma = sebaik-baik; al maulã = Pelindung; wa ni’ma = dan sebaik-baik; an nashĩr = Penolong.
wa in tawallau fa’lamũ annallãha maulãkum, ni’mal maulã wa ni’man nashĩr.
40. Dan bila mereka berpaling, maka ketahuilah, sesungguhnya Allah melindungimu. Dia adalah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mereka berpaling (tidak mau mengikuti seruanmu) Allah menghibur Nabi Muhammad bahwa hanya Allah yang akan melindungi dan menolong. Zaman sekarang juga demikian.

Juz 10

wa’lamũ = Dan ketahuilah; annamã = sesungguhnya; ghonimtum = kamu rampas dalam perang; minsyai-in = dari segala sesuaitu; fa anna = maka sesunggunya; lillahi = bagi Allah; khumusahũ = seperlimanya; wa lir rosũli = dan untuk Rasul; wa lidzi = dan untuk yang punya; al qurbã = kerabat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩni = dan orang-orang miskin; wabnis sabĩli = dan ibnu sabil; in kuntum = jika kalian adalah; ãmantum = kamu sekalian beriman; billãhi = kepada Allah; wa mã = dan kepada apa; anzalnã = Kami turunkan; ‘alã = kepada; ‘abdinã = hamba Kami; yauma = pada hari; al furqōni = pemisah; yauma = pada hari; al taqa = pertemuan; al jam’ãn = dua pasukan; Wallãhu = dan Allah; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.
wa’lamũ annamã ghonimtum minsyai-in fa anna lillahi khumusahũ wa lir rosũli wa lidzil qurbã wal yatãmã wal masãkĩni wabnis sabĩli in kuntum ãmantum billãhi wa mã anzalnã ‘alã ‘abdinã yaumal furqōni yaumal taqal jam’ãn. Wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.
41. Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, demikian itu jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqon, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi harta rampasan perang dengan syarat harus beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan-Nya di hari Furqon (yang membedakan. Surat ini diturunkan untuk menjelaskan perbedaan antara yang beriman dan yang kafir, dipertemukan dalam peperangan). Pembagian, seperti yang ditetapkan ayat ini bersifat waqi dan hakiki, bukan bersifat majas (kiasan), yaitu seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, dan empat per limanya dibagikan kepada orang-orang yang ikut bertempur.

idz = ketika; antum = kamu sekalian; bil ‘udwati = di pinggir lembah; ad dun-yã = yang dekat; wa hum = dan mereka; bil udwati = di pinggir lembah; al qushwã = yang jauh; war rokbu = sedang kafilah; asfala = lebih rendah; min kum = dari kamu sekalian; wa lau = dan sekiranya; tawã ‘ad tum = kamu sekalian saling mengadakan persetujuan; la-akhtalaftum = pasti kamu sekalian berselisih; fĩ almi’ãdi = dalam perjanjian itu; wa lã kin = akan tetapi; liyaqdhĩllãhu = karena Allah hendak menetapkan; amron = suatu urusan; kaana = adalah ia; maf’ũlan = dilaksanakan; liyahlika = agar binasalah; man = orang; halaka = binasa; ‘an = dengan; bayyimatin = keterangan nyata; wa yahyã = dan hiduplah; man = orang; hayya = yang hidup; ‘am bayyinah = dengan keterangan yang nyata; wa innallãha = dan sesungguhnya Allah; lasamĩ’un = sesungguhnya Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
idz antum bil ‘udwatid dun-yã wa hum bil udwatil qushwã war rokbu asfala min kum, wa lau tawã ‘ad tum la-akhtalaftum fĩ almi’ãdi, wa lã kil liyaqdhĩllãhu amron kaana maf’ũlal liyahlika man halaka ‘am bayyimatin wa yahyã man hayya ‘am bayyinah, wa innallãha lasamĩ’un ‘alĩm.
42. Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat, dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh, sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dikerjakan, yaitu agar yang binasa itu, binasa dengan bukti yang nyata, dan agar orang yang hidup itu, hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh Allah Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hatimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang binasa itu adalah orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hidup adalah orang yang mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya menjadi bukti yang nyata dari perilakunya masing-masing. Ada yang ditolong, dan ada yang dibinasakan Allah, sesuai dengan keimanan atau kekafirannya.

idz = ketika; yurĩkumullãhu = Allah menampakkan mereka kepadamu; fĩ = di dalam; manãmika = mimpimu; qolĩlan = sedikit; wa lau = dan seandainya; arōkahum = (Allah) menampakkan mereka kepadamu; katsĩron = banyak; la fasyiltum = pasti kamu sekalian menjadi gentar; wa latanãza’tum = dan pasti kamu sekalian berbantah-bantahan; fĩl amri = dalam urusan itu; wa lã kinnallãha = akan tetapi Allah; sallama = telah menyelamatkan; innahũ = sesungguhnya Dia; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bidzãti = dengan segala isi; ash shudũr = hati.
idz yurĩkumullãhu fĩ manãmika qolĩlan, wa lau arōkahum katsĩrol la fasyiltum wa latanãza’tum fĩl amri wa lã kinnallãha sallama, innahũ ‘alĩmum bidzãtish shudũr.
43. (Ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan seandainya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak, tentu kamu menjadi gentar, dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hatimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menolong makhluk-Nya dengan berbagai cara. Dalam ayat ini Allah menolong dengan cara memberi mimpi kepada Nabi yang dampaknya positif, menimbulkan semangat menghadapi dan mengalahkan lawan, tidak membuat gentar. Hal ini menjadi pelajar, peringatan bagaimana seorang pemimpin perang mengobarkan semangat berjuang bala tentaranya.

wa idz = dan ketika; yurrĩkumũhum = Allah menampakkan kepada kamu sekalian; idzi = ketika; al taqoitum = kamu sekalian berjumpa; fĩ = dalam; a’yunikum = penglihatankamu sekalian; qolĩlan = sedikit; wa yuqollilukum = dan Dia jadikan kamu sekalian sedikit; fĩ = dalam; a’yunihim = penglihatan mereka; liyaqdhiyallãhu = karena Allah hendak menetapkan; amron = suatu urusan; kaana = adalah ia; maf’ũlan = dilaksanakan; wa ilallãhi = dan kepada Allah; turja’u = dikembalikan; al umũr = segala urusan.
wa idz yurrĩkumũhum idzil taqoitum, fĩ a’yunikum qolĩlan wa yuqollilukum fĩ a’yunihim li yaqdhiyallãhu amron kaana maf’ũlan wa ilallãhi turja’ul umũr.
44. Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu, dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak harus melaksanakan suatu urusan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw.. bagaimana pertolongan Allah itu diturunkan kepada yang dikehendaki-Nya, dengan cara memperlihatkan musuh menjadi tampak sedikit, meskipun jumlahnya besar, sehingga memberi semangat juang yang tinggi. Dan bagaimana azab ditimpakan kepada musuh-musuh Allah dan Nabi-Nya dengan cara melalaikan mereka dalam menghadapi peperangan, karena mereka menganggap jumlah bala tentara kamu sedikit. Hal ini dapat diterapkan pada kejadian sehari-hari dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = jika; laqĩtum = kamu sekalian bertemu; fa-atan = pasukan; fatsbutũ = berteguh hatilah kamu sekalian; wadzkurũllãha = dan ingatlah kamu sekalian kepada Allah; katsiron = banyak-banyak; la’allakum = kamu sekalian; tuflihũn = kamu sekalian beruntung.
yã ayyuha al ladzĩna ãmanũ idzã laqĩtum fa-atan fatsbutũ wadzkurũllãha katsiron la’allakum tuflihũn.
45. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu sekalian bertemu dengan pasukan (kafir), berteguh hatilah, dan ingatlah (berdoalah) kamu sekalian sebanyak-banyaknya kepada Allah agar kamu sekalian beruntung (dapat mengalahkan musuh).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang orang yang beriman, jika bertempur menghadapi orang-orang kafir, agar selalu memanjatkan doa kepada Allah. Ingat kepada Allah dan berdoa harus menjadi kebiasaan sehari-hari

wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ = dan taatilah Allah dan Rasul-Nya; wa lã tanãza’ũ = dan jangan berbantah-bantahan; fatafsyalũ = yang menyebabkan kamu gelisah; wa tadzhab = dan hilang; rĩhukum = kekuatan kamu semua; wa ashbirũ = dan bersabarlah; innallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.
wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ wa lã tanãza’ũ fatafsyalũ wa tadzhab rĩhukum, wa ashbirũ, innallãha ma’ash shōbirĩn.
46. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan jangan kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi resah, sehingga kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada orang-orang yang sedang bertempur, dan pada saat-saat genting, penting, menghadapi persoalan-persoalan hidup.

wa lã = dan jangan; takũnũ = kamu sekalaian menjadi; kãlladzĩna = seperti orang-orang yang …; kharojũ = mereka yang keluar; min diyãrihim = dari kampung kediamannya (berperang); bathoron = rasa angkuh; wa ri-ã = dan riya; annãsi = manusia; wa yashuddũna = dan mereka menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãh = dari jalan Allah; wallãhu = dan Allah; bimã = dengan segala apa yang; ya’malũna = mereka kerjakan; muhĩthu = sangat mengetahui
wa lã takũnũ kãlladzĩna kharojũ min diyãrihim bathoron wa ri-ã-annãsi wa yashuddũna ‘an sabĩlillãh, wallãhu bimã ya’malũna muhĩthu.
47. Dan kamu jangan seperti orang-orang yang keluar dari kampung kediamannya (berperang) dengan rasa angkuh dan ingin dipuji (riya), dan menghalang-halangi orang dari jalan Allah. Allah sangat mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah: “jangan melakukan segala sesuatu yang disertai rasa angkuh (sombong), ingin dipuji, dan jangan menghalangi orang yang ingin mengikuti jalan Allah (lihat Q.s. ….. larangan ini sering diungkapkan

wa idz = dan (ingatlah) ketika; zayyana = pandangan menjadi baik; lahumu = bagi mereka; asy syaithōnu = setan; a’mãlahum = perbuatan mereka; wa qōla = setan berkata; lã = tidak ada; gholiba = yang menang; lakumu = bagi kamu sekalian; al yauma = pada hari ini; minannãsi = dari seorang manusia; wa innĩ = dan sesungguhnya aku (setan); jãrun = pelindung; lakum = bagi kamu; falammã = maka ketika; tarō-ati = saling melihat; al fi-ataani = kedua pasukan; nakashã = ia (setan) berbalik; ‘alã = atas; ‘aqibaihi = ke belakang; wa qōla = dan dia (setan) berkata; innĩ = sungguh saya; barĩ-um = berlepas diri; minkum = dari kamu sekalian; innĩ = sungguh saya; arō = saya (setan) melihat; mã lã = apa yang tidak; tarauna = kamu sekalian melihat; innĩ = sungguh saya (setan); akhōfullãh = saya (setan) takut kepada Allah; wallãhu = dan Allah; syadĩdun = sangat keras; al ‘iqōb = siksaan.
wa idz zayyana lahumusy syaithōnu a’mãlahum wa qōla lã gholiba lakumul yauma minannãsi wa innĩ jãrul lakum, falammã tarō-atil fi-ataani nakashã ‘alã ‘aqibaihi wa qōla innĩ barĩ-um minkum innĩ arō mã lã tarauna innĩ akhōfullãh, wallãhu syadĩdul ‘iqōb.
48. Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka (orang kafir) perbuatan dosa mereka dan mengatakan: “Tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sungguh, aku adalah penolongmu.” Maka ketika kedua pasukan itu telah saling melihat, setan berbalik ke belakang, seraya berkata: “Sesungguhnya, aku berlepas diri dari kamu. Aku dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh kamu, sesungguhnya, aku takut kepada Allah.” Allah sangat keras siksanya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan perbuatan setan yang selalu mencelaka-kan manusia. Sesungguhnya, setan itu takut juga kepada Allah. Hanya janji setan kepada Allah, akan menyeret sebagian besar manusia menjadi pengisi neraka. Berhati-hatilah terhadap musuh nyata setan ini.

idz yaqũlu = ketika berkata; al munãfiqũna = orang-orang munafik; walladzĩna = dan orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalam hatinya; marodhum = penyalit; ghorro = telah menipu; hã-ulã-i = mereka ini; diinuhum = agama mereka; wa man = dan siapa; yatawakkal = bertawakal; ‘alallãhi = kepada Allah; fa-innallãha = maka sungguh Allah; ‘azĩzun hakĩm = Mahaperkasa, Mahabijaksana.
idz yaqũlul munãfiqũna walladzĩna fĩ qulũbihim marodhum ghorrohã-u lã-i diinuhum, wa man yatawakkal ‘alallãhi fa-innallãha ‘azĩzun hakĩm.
49. (ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang mempunyai penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu agamanya.” (Allah bersabda): “Barang siapa bertawakal hanya kepada Allah, ketahuilah, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang munafik yang mempunyai penyakit di dalam hatinya, yang mempunyai prasangka jelek kepada orang-orang mukmin. Orang mukmin harus bertawakal hanya kepada Allah. Allah itu Maha dalam segala-Nya. Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang mukmin, dalam arti selalu menolong, dan melindungi orang mukmin.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; yatawaffa = mewafatkan; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; al malã-ikatu = para Malaikat; yadhribũna = mereka (para Malaikat) memukul; wujũhahum = muka mereka (orang kafir); wa adbãrohum = dan punggung mereka; wadzũqũ = dan rasakan oleh kamu sekalian; ‘adzãba = azab; al harĩq = membakar.
wa lau tarō idz yatawaffal ladzĩna kafarũ al malã-ikatu yadhribũna wujũhahum wa adbãrohum wadzũqũ ‘adzãbal harĩq.
50. Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka, (dan berkata), “Rasakanlah siksa neraka yang membakar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, memberitahu bagaimana kelak orang-orang kafir itu dicabut nyawanya, dan siksa neraka yang akan dideritanya.

dzãlika = demikian itu; bimã = karena apa yang …; qoddamat = perbuatan; aidiikum = tangan-tangan kamu sendiri; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; laisa = tidak (bukan); bi zhollãmin = tidak melalimi; lil ‘abĩd = kepada hamba-hamba.
dzãlika bimã qoddamat aidiikum wa annallãha laisa bi zhollãmil lil ‘abĩd.
51. Demikian itu karena perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya, Allah tidak melalimi hamba-hamba-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pelaliman kepada orang-orang musyrik itu karena perbuatan mereka sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

kada’bi = serupa dengan keadaan; ãli fir’auna = pengikut Fir’aun; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; kaffarũ = mereka mengingkari; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; fa-akhodzahumullãhu = maka Allah menyiksa mereka; bi dzunũbihim = karena dosa-dosa mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; qowiyyun = Mahakuat; syadĩdun = sangat keras; al ‘iqōbi = siksaan.
kada’bi ãli fir’auna, wal ladzĩna min qoblihim kaffarũ bi ãyãtillãhi fa-akhodza humullãhu bi dzunũbihim, innallãha qowiyyun syadĩdul ‘iqōbi.
52. Serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Sesungguhnya, Allah Mahakuat dan sangat keras siksa-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan siksa Allah itu sama dengan apa yang ditimpakan kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah. Mereka berasa kekuasaannnya menyamai Allah, lihat Q.s. ….

dzãlika = demikian itu; bi annallãha = karena sesungguhnya Allah; lam yaku = tidak akan ada; mughoyyiran = mengubah; ni’matan = suatu nikmat; an’amahã = Dia anugerahkan; ‘alã = kepada; qaumin = suatu kaum; hattã = sehingga; yughoyyirũ = mereka mengubah; mã = apa yang; bi-anfusihim = pada diri mereka sendiri; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; samĩ’un = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
dzãlika bi annallãha lam yaku mughoyyiran ni’matan an’amahã ‘alã qaumin hattã yughoyyirũ mã bi-anfusihim wa annallãha samĩ’un ‘alĩm.
53. Demikian itu, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perubahan suatu kaum dari baik menjadi buruk atau sebaliknya tergantung pada apa yang dilakukan kaum itu (lihat Q.s. ….). Allah Maha Mendengar apa yang mereka katakan, dan Allah juga Maha Mengetahui perilaku dan pekerjaan makhluk-Nya.

kada’bi = serupa dengan keadaan; ãli = pengikut; fir’auna = Fir’aun; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; min qoblihim = dari senbelum mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãti = dengan ayat-ayat; robbihim = Rabb mereka; fa-ahlaknãhum = maka Kami binasakan mereka; bi dzunũbihim = karena dosa-dosa mereka; wa aghroqnã = dan Kami tenggelamkan; ãla fir’auna = pengikut Fir’aun; wa kullun = dan semuanya; kaanũ = mereka adalah; zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
kada’bi ãli fir’auna wal ladzĩna min qoblihim, kadzdzabũ bi ãyãti robbihim fa-ahkaknãhum bi dzunũbihim wa aghroqnã ãla fir’auna, wa kullun kaanũ zhōlimĩn.
54. Serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka. Maka, Kami membinasakan mereka karena dosa-dosanya, dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya karena mereka orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Quraisy yang kafir itu nasibnya sama dengan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya, Mereka dibinasakan Allah karena dosa-dosanya. Mereka melalimi diri mereka sendiri.

inna = sesungguhnya; syarro = seburuk-buruk; ad dawãbbi = binatang melata; ‘indallãhi = di hadapan Allah; al ladzĩna = (adalah) orang-orang yang …; kafarũ = kafir; fahum = maka (dan) mereka; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
inna syarrodda wãbbi ‘indallãhil ladzĩna kafarũ fahum lã yu’minũn.
55. Sesungguhnya, binatang melata yang sangat buruk adalah orang-orang kafir, dan mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu disamakan dengan binatang melata.

alladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhadta = kamu terimat perjanjian; min hum = dengan mereka; tsumma = kemudian; yangqudhũna = mereka mengingkarinya; ‘ahdahum = janji mereka; fĩ = pada; kulli = setiap; marrotin = kali; wa hum = dan mereka; lã yattaqũn = mereka tidak takut.
alladzĩna ‘ãhatta min hum tsumma yangqudhũna ‘ahdahum fĩ kulli marrotin wa hum lã yattaqũn.
56. Orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, setiap kali mereka selalu mengingkarinya, karena mereka tidak takut kepada Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Salah satu ciri orang kafir adalah kalau berjanji mereka tidak menepatinya, mereka ingkar. Saat itu, orang-orang Yahudi berjanji untuk tidak menyerang, tidak memusuhi, ternyata mereka mengkhianati perjanjian itu. Oleh karena itu Umat Islam harus selalu berjaga-jaga, berhati-hati terus, namun jangan memulai menyerang. Tunjukkan Umat Islam beri’tikad baik untuk hidup bermasyarakat secara wajar, Islami.

fa immã = maka jika; tatsqofannahum = kamu sekalian menemui mereka; fil harbi = dalam peperangan; fa syarrid = maka cerai-beraikanlah; bihim = keadaan mereka; man = siapa saja; kholfahum = yang di belakang mereka; la’alahum = supaya mereka; yadzdzakkarũn = mereka mengambil pelajaran.
fa immã tatsqofannahum fil harbi fa syarrid bihim man kholfahum la’alahum yadzdzakkarũn
57. Maka, jika engkau (Muhammad) mengungguli mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka, dan lemahkanlah mereka, agar mereka mengambil pelajaran.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada Nabi Muhammad, kalau Umat Islam unggul dalam peperangan, orang-orang yang di belakang mereka (para pengikutnya) harus dilemahkan keyakinan atas apa yang sudah dilakukannya itu. Sesungguhnya mereka dalam posisi salah.

wa imma = dan jika; takhōfanna = kamu sekalian takut; min qaumin = dari kaum; khiyaanatan = yang berkhianat; fambid = maka kembalikan; ilaihim = kepada mereka; ‘alã sawã-in = dengan jujur; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al khō-inĩn = orang-orang yang berkhianat.
wa imma takhōfanna min qaumin khiyaanatan fambid ilaihim ‘alã sawã-in, innallãha lã yuhibbul khō-inĩn.
58. Dan jika kamu sekalian sungguh-sungguh takut pengkhianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pengarahan agar tidak terjadi lagi pengkhianatan, maka perjanjian itu harus disodorkan kembali agar ditaati, dan harus diingatkan bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berkhianat.

wa lã = dan janganlah; yahsabanna = mengira; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; sabaqũ = mereka terlepas dari; innahum = sesungguhnya; lã yu’jizũn = tidak dapat melemahkan (Allah).
wa lã yahsabannal ladzĩna kafarũ sabaqũ, innahum lã yu’jizũn.
59. Dan janganlah orang-orang kafir mengira, mereka akan dapat lepas dari kekuasaan Allah, Sungguh mereka tidak dapat melemahkan Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perjuangan berat Nabi Muhammad dan para pengikutnya sampai sekarang adalah meyakinkan orang-orang kafir atas kekuasaan Allah di alam semesta ini yang di dalamnya ada manusia yang mempunyai beraneka ragam keinginan, kemauan, kesukaan. Orang-orang kafir tidak akan dapat melemahkan Allah.

wa a’iddũ = dan siapkanlah; lahum = untuk mereka; mastatho’tum = apa yang kamu sanggupi; min quwwatin = dari kekuatan; wa mir ribãthi = dan dari yang ditambat; al khoili = kuda; turhibũna = kamu menggetarkan; bihĩ = dengannya; ‘aduwwallãhi = musuh Allah; wa ‘aduwwakum = dan musuh kamu; wa ãkhorĩna = dan orang-orang lain; min dũnihim = dari selain mereka; lã ta’lamũnahum = kamu tidak mengetahui mereka; allãhu = Allah; ya’lamuhum = mengetahui mereka; wa mã = dan apa yang; tunfiqũ = kamu menafkahkan; min syai-in = dari sesuatu; fĩ sabĩlillãhi = untuk jalan Allah; yuwaffa = dicukupkan; ilaikum = kepadamu; wa antum = dan kamu; lã tuzhlamũn = kamu tidak dianiaya.
wa a’iddũ lahum mastatho’tum min quwwatin wa mir ribãthil khoili turhibũna bihĩ ‘aduwwallãhi wa ‘aduwwakum wa ãkhorĩna min dũnihim lã ta’lamũna humullãhu ya’lamuhum, wa mã tunfiqũ min syai-in fĩ sabĩlillãhi yuwaffa ilaikum wa antum lã tuzhlamũn.
60. Dan siapkanlah kekuatan apa saja (fisik dan nonfisik) yang kamu sanggup mengadakan untuk menghadapi mereka, seperti kuda-kuda yang siap pakai (berperang), dengan cara itu kamu dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu, dan orang-orang lain selain mereka, yang kamu tidak mengetahui, sedang Allah mengetahuinya. Dan apa saja yang kamu nafkahkan untuk sesuatu di jalan Allah, akan dicukupkan balasannya, dan kamu tidak akan teraniaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Persiapan perang fisik dan nonfisik dengan berbagai ilmunya merupakan strategi yang harus dilakukan agar lawan Allah dan lawan orang yang beriman menjadi takut. Segala upaya, segala harta yang dinafkahkan untuk menghadapi lawan Allah dan lawan orang yang beriman akan mendapat balasan dari Allah.

wan in = dan jika; janahũ = mereka cenderung; lissalmi = kepada perdamaian; fajnah = maka hendaknya kamu cenderung; lahã = kepadanya; tawakkal = bertawakallah; ‘alãllãhi = kepada Allah; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wan in janahũ lissalmi fa-ajnah lahã tawakkal ‘alãllãhi, innahũ huwas samĩ’ul ‘alĩm.
61. Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka hendaklah kamu juga cenderung kepada perdamaian. Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, jika orang-orang kafir itu cenderung untuk mau berdamai, maka orang mukmin pun harus cenderung untuk mau berdamai. Tentunya harus selalu waspada, seperti yang disarankan ayat 60 di atas. Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui segala apa yang dilakukan makhluk-Nya.

wa in = dan jika; yurĩdũ = mereka bermaksud; an yakhda’ũka = mereka akan menipu kamu; fa inna = maka sesungguhnya; hasbakallãh = cukuplah Allah bagimu; huwa = Dia; al ladzĩ = Yang; ayyadaka = memperkuat kamu; bi nashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; wa bi = dan bersama; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
wa in yurĩdũ an yakhda’ũka fa inna hasbakallãh, huwal ladzĩ ayyadaka bi nashrihĩ wa bil mu’minĩn.
62. Dan jika mereka bermaksud akan menipu kamu, maka sesungguhnya, cukuplah bagimu, Allah (menjadi pelindung). Dialah Yang memperkuat kamu bersama orang-orang yang beriman dengan pertolongan-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw.. dan Kaum mukminin, kemungkinan orang-orang kafir itu akan menipunya. Allah menganjurkan agar selalu percaya bahwa Allah lah yang akan memberi kekuatan dan melindungi Nabi bersama orang-orang yang beriman.

wa allafa = dan Dia telah mempersatukan; baina = antara; qulũbihim = hati-hati mereka; lau = walaupun; anfaqta = kamu membelanjakan; mã = apa (kekayaan); fil ardhi = dari bumi; jamĩ’an = semuanya; mã allafta = kamu tidak dapat mempersatukan; baina = antara; qulũbihim = hati-hati mereka; wa lã kinnallãha = akan tetapi Allah; allafa = mempersatukan; bainahum = di antara mereka; innahũ = sesungguhnya, Dia; azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wa allafa baina qulũbihim lau anfaqta mã fil ardhi jamĩ’am mã allafta baina qulũbihim wa lã kinnallãha allafa bainahum, innahũ azĩzun hakĩm.
63. Dan Dia telah mempersatukan hati-hati mereka, walaupun kamu membelanjakan kekayaan yang ada di bumi ini semuanya, tentu kamu tidak dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan di antara mereka. Sesungguhnya, Dia Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang mempersatukan hati-hati manusia. Nabi Muhammad saw.. atau siapa pun, seandainya menggunakan semua kekayaannya di dunia ini, tidak akan dapat mempersatukan hati-hati manusia. Hanya Allah saja yang dapat melakukan segala sesuatu di alam semesta ini.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi; hasbukallãhu = cukuplah bagi kamu Allah (Yang menjadi penolong); wa mani = dan orang; at taba’aka = yang mengikuti kamu; mina = dari; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman
yã ayyuhan nabiyyu hasbukallãhu wa manit taba’aka minal mu’minĩn.
64. Wahai nabi, cukuplah Allah (Yang menjadi penolong) bagi kamu dan orang-orang beriman yang mengikuti kamu,
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah himbauan Allah kepada Nabi dan para pengikutnya agar selalu bergantung kepada-Nya. Upaya manusia, perkenan tercapainya juga tergantung pertolongan Allah.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi; harridhi = kobarkanlah semangat; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; ‘alal qitãli = untuk berperang; in yakun = jika ada; minkum = di antara kamu; ‘isyrũna = dua puluh; shōbirũna = orang-orang yang sabar; yaghlibũ = mereka mengalahkan; mi-ataini = dua ratus; wa in yakun = jika ada; minkum = di anrata kamu; mi-atun = seratus; yaghlibũ = mereka dapat mengalahkan; alfan = seribu; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; kafarũ = kafir; bi annahum = disebabkan mereka; qaumun = kaum (golongan); lã yafqohũn = orang-orang yang tidak mengerti (peperangan)
yã ayyuhan nabiyyu harridhil mu’minĩna ‘alal qitãli, in yakum minkum ‘isyrũna shōbirũna yaghlibũ mi-ataini, wa in yakum minkum mi-atun yaghlibũ alfam minal ladzĩna kafarũ bi annahum qaumul lã yafqohũn.
65. Wahai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh), dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, karena mereka itu orang-orang yang tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi agar mengobarkan semangat berperang orang-orang mukmin dengan bekal pemahaman tentang dasar dan tujuan perang serta kesabaran untuk mendapatkan rido Allah. Jumlah orang yang sedikit dapat mengalahkan jumlah orang yang berlipat-lipat banyaknya jika dibekali ilmu, hukum, tekad, dan kesabaran untuk mendapat rido dari Allah. Lihat ayat 64.

al ãna = sekarang; khaffafallãhu = Allah telah meringankan; ‘ankum = kepadamu; wa’alima = dan Dia telah mengetahui; anna = sesungguhnya; fĩkum = pada kamu; dho’fãn = kelemahan; fa in = maka jika; yakun = ada; min kum = di antara kamu; mĩ-atun = seratus; shōbirotun = orang-orang yang sabar; yaghlibũ = mereka mengalahkan; mi’ataini = dua ratus; wa in = dan jika; yakun = ada; min kum = di antara kamu; alfun = seribu; yaghlibũ = mereka mengalahkan; alfaini = dua ribu; bi ‘idznillãh = dengan izin Allah; wallãhu = dan Allah; ma’a = bersama; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.
al ãna khaffafallãhu ‘ankum wa’alima anna fĩkum dho’fãn, fa in yakum min kum mĩ-atun shōbirotun yaghlibũ mi’ataini, wa in yakum min kum alfun yaghlibũ alfaini bi ‘idznillãh, wallãhu ma’ash shōbirĩn.
66. Sekarang Allah telah meringankan untuk kamu, dan Dia telah mengetahui, dirimu ada kelemahan. Maka jika, ada di antara kamu seratus orang yang sabar, tentu mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh). Dan jika ada di antara kamu seribu (yang sabar), mereka dapat mengalahkan dua ribu (orang musuh) dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahakuat. Allah berhak membantu meringankan beban makhluk-Nya (Nabi Muhammad saw.. beserta para pengikutnya). Allah Maha Mengetahui kelemahan makhluk-Nya. Allah berhak menolong makhluk yang sabar dan diridoi untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak, atas izin Allah. Sabar menegakkan kebenaran.

mã kaana = tidak pantas; li nabiyyin = bagi seorang nabi; an yakũna = dia adalah; lahũ = baginya; asrō = tawanan; hattã = sehingga; yutskhina = ia memecah-belah; fĩl ardhi = di muka bumi; turĩdũna = kamu menghendaki; ‘arodhod dun-yã = harta benda duniawi; wallãhu = dan Allah; yurĩdul akhiroh = menghendaki akhirat; wallãhu ‘azĩzun hakĩm = dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
mã kaana li nabiyyin an yakũna lahũ asrō hattã yutskhina fĩl ardhi, turĩdũna ‘arodhod dun-yã, wallãhu yurĩdul akhiroh, wallãhu ‘azĩzun hakĩm
67. Tidak pantas bagi seorang Nabi yang dapat melumpuhkan dunia mempunyai tawanan di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedang Allah menghendaki (pahala) akhirat. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Untuk mencapai kemenangan, Nabi Muhammad saw.. tidak pantas menawan musuh. Soal barang rampasan perang dan tebusan itu aturan Allah, bukan kehendak Nabi, bukan bermaksud keduniaan, tapi untuk keberhasilan dakwah agama Islam, melaksanakan peraturan Allah, mengagungkan Allah. Demi pahala akhirat. Lihat ayat 64.

lau lã = kalau tidak ada; kitãbun = ketetapan; minallãhi = dari Allah; sabaqo = terdahulu; lamassakum = tentu menimpa kamu; fĩmã = karena apa; akhodz tum = kamu telah mengambil; ‘adzãbun = siksaan; ‘azhĩm = yang berat.
lau lã kitãbum minallãhi sabaqo lamassakum fĩmã akhodz tum ‘adzãbun ‘azhĩm.
68. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah (ghanimah), tentu kamu ditimpa siksaan yang berat karena apa (tebusan tawanan) yang kamu ambil.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan membagi barang rampasan perang dan tebusan tawanan itu dari Allah, bukan manusia yang membuat aturan, juga bukan dari Nabi.

fa kulũ = maka makanlah; mimmã = dari apa (sebagaian); ghonimtum = rampasan perang kamu sekalian; halalan = halal; thoyyiban = baik; wa taqullãh = dan bertakwalah; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofurun = Maha Pengampun; rohĩma = Maha Penyayang.
fa kulũ mimmã ghonimtum halalan thoyyibaw wa taqullãh, innallãha ghofurur rohĩma
69. Maka makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu peroleh itu sebagai makanan yang halal dan baik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah memakan sebagian rampasan perang sebagai makanan yang halal dan baik, bertakwa hanya kepada-Nya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi, qul = katakanlah; liman = kepada orang; fĩ aidiikum = dalam kekuasaanmu; minal asrō = dari tawanan; in = jika; ya’lamillãhu = Allah mengetahui; fĩ qulũbikum = di dalam hatimu; khoiron = kebaikan; yu’tikum = Dia akan memberikan kepadamu; khoirom = kebaikan; mimmã = dari apa; ukhida = telah diambil; minkum = dari kamu; wa yaghfir = dan akan mengampuni; lakum = kepada kamu; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.
yã ayyuhan nabiyyu qul liman fĩ aidiikum minal asrō in ya’lamillãhu fĩ qulũbikum khoiron yu’tikum khoirom mimmã ukhida minkum wa yaghfir lakum, wallãhu ghofũrur rohĩmu.
70. Wahai Nabi, katakanlah kepada orang-orang tawanan yang ada di dalam kekuasaanmu: “Jika Allah mengetahui kebaikan di dalam hatimu, Dia akan memberi kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu, dan Dia akan mengampuni kamu.” Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyampaikan pesan melalui Nabi untuk orang-orang kafir yang ditawan, agar tidak menimbulkan prasangka jelek yang terkait dengan peraturan ghonimah itu.

wa in = dan jika; yurĩdũ = mereka bermaksud; khiyaanataka = berkhianat kepadamu; faqod = maka sesungguhnya; khãnũllãha = mereka berkhiatan kepada Allah; min qoblu = dari sebelum; fa-amkana = lalu Dia menjadikan (kamu berkuasa); min hum = terhadap mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
wa in yurĩdũ khiyaanataka faqod khãnũllãha min qoblu fa-amkana min hum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
71. Dan jika mereka (tawanan) bermaksud berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka itu telah berkhianat kepada sebelum ini, lalu Dia menjadikan (kamu berkuasa) terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Nabi Muhammad saw.. tentang perilaku orang-orang yang ditawan agar hati beliau tetap tenang dan waspada.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa hãjarũ = dan mereka berhijrah; wa jãhadũ = dan berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fĩ sabĩlillãh = pada jalan Allah; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãwãu = memberikan perlindungan; wanashorũ = dan mereka memberikan pertolongan; ulã-ika = mereka itulah; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = menjadi pelindung; ba’dhin = sebgaian yang lain; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa lam = dan tidak; yuhãjirũ = mereka berhijrah; mã lakum = tidak ada bagimu; min walãyatihim = dari memberi pertolongan kepada mereka; min syai-in = dari sesuatu sedikit pun; hattã = sehingga; yuhãjirũ = mereka berhijrah; wa in = dan jika; istanshōrũkum = meminta pertolongan kepadamu; fid diini = dalam agama; fa’alaikumu = maka wajib bagimu; an nashru = memberi pertolongan; illa = kecuali; ‘alã qaumim = atas kaum; bainakum = antara kamu; wa bainahum = dan antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; Wallãhu = dan Allah; bimã = kepada apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.
innal ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wa jãhadũ bi amwãlihim wa anfusihim fĩ sabĩlillãh wal ladzĩna ãwãw wanashorũ ulã-ika ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin, wal ladzĩna ãmanũ wa lam yuhãjirũ mãlakum min walãyatihim min syai-in hattã yuhãjirũ, wa inistanshōrũkum fid diini fa’alaikumun nashru illa ‘alã qaumim bainakum wa bainahum mĩtsãqun. Wallãhu bimã ta’malũna bashĩr.
72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat perlindungan dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu sebagai pelindung dari sebagian yang lain. Dan orang-orang yang beriman dan mereka belum berhijrah, tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu memberi perlindungan kepada mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka (wajib) atasmu memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah Maha Melihat pada apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hijrah berarti: a. Pindah dari suatu tempat yang tidak aman ke tempat yang lebih aman; b. Pindah dari suatu keyakinan ke keyakinan yang lebih benar; c. Pindah dari pengetahuan yang gelap ke pengetahuan yang terang-benderang; Jihad berarti perjuangan menegakkan syari’at agama: a. Perang secara fisik menghadapi kejahatan dan kelaliman kaum kafir yang menyerang kaum Islam; b. Perjuangan melawan setan yang selalu menggoda manusia untuk dijerumuskan ke neraka; c. Perjuangan melawan nafsu-nafsu diri sendiri. Umat Islam diharapkan selalu ada upaya, bekerjasama untuk berhijrah dan berjihad seperti yang dijelaskan di atas melalu dakwah, dan lain-lain kegiatan.

wal ladzĩna kafarũ = dan orang-orang kafir; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = menjadi pelindung; ba’dhin = sebagian yang lain; illã = kecuali; taf’alũhu = kamu sekalian melaksanakannya; takun = terjadi; fitnatun = fitnah (kekacauan); fĩl ardhi = di bumi; wa fasãdun = dan kerusakan; kabĩr = yang besar.
wal ladzĩna kafarũ ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin illã taf’alũhu takun fitnatun fĩl ardhi wa fasãdun kabĩr.
73. Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain, (tidak ada jalan lain) kecuali, kamu melaksanakan (persaudaraan yang teguh), (jika tidak), akan terjadi fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian orang kafir menjadi pelindung sebagian yang lain. Jadi umat Islam juga harus berupaya mengeratkan persaudaraan, meningkatkan upaya dakwah positif agar menjadi cermin Islam yang sesungguhnya cemerlang agar tidak terjadi fitnah (kekacauan) dan kerusakan di muka bumi.

wal ladzĩna ãmanũ = dan orang-orang yang beriman; wa hãjarũ = dan berhijrah; wa jãhadũ = dan berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wal ladzĩna dan orang-orang yang …; ãwau = memberi perlindungan; wa nasharũ = dan mereka menolong; ũlã-ika = mereka itu; humu = mereka; al mu’minũna = orang-orang beriman; haqon = benar; lahu = bagi mereka; maghfirotun = ampunan; warizqun = dan rezeki; karĩm = yang mulia.
wal ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wa jãhadũ fĩ sabĩlillãhi wal ladzĩna ãwauw wa nasharũ ũlã-ika humul mu’minũna haqon, lahum maghfirotun warizqun karĩm.
74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi perlindungan dan mereka menolong (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah yang benar-benar beriman, Merekalah yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia adalah mereka yang benar-benar beriman yaitu mereka yang berhijrah, berjihad di jalan Allah, yang memberi perlindungan dan memberi pertolongan kepada kaum muhajirin.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; mimba’du = dari sesudah itu; wa hãjarũ = dan berhijrah; wajãhadũ = dan berjihad; ma’akum = bersamamu; fa ũlã-ika = maka mereka itulah; minkum = dari kamu; wa ũlũ = dan orang yang mempunyai; al arhami = hubungan kerabat; ba’dhuhum = sebagian mereka; aulã = lebih utama; bi ba’dhin = dengan sebagian yang lain; fĩ kitãbillãhi = di dalam Kitab Allah; inallãha = sesungguhnya Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wal ladzĩna ãmanũ mimba’du wa hãjarũ, wajãhadũ ma’akum fa ũlã-ika minkum, wa ũlũl arhami ba’dhuhum aulã bi ba’dhin fĩ kitãbillãhi, inallãha bi kulli syai-in ‘alĩm.
75. Dan orang-orang yang beriman setelah itu kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat, sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang orang yang termasuk golongan Islam, apakah berkerabat atau tidak berkerabat, akan menentukan haknya masing-masing, sesuai dengan ketentuan dalam Alquran.

Leave a Reply