010 Yunus

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Yunus
Kisah Nabi Yunus: Makiyah; kecuali ayat 40, 94, 95 Madaniyah
Surat ke 10, 109 ayat
Juz 11 beralih ke Juz 12 di Surat Hud, 11: 6

Catatan Awal
Surat ini berisi kisah Nabi Allah Yunus a.s. beserta para pengikutnya yang beriman teguh, dan ada yang tidak beriman. Selain itu ada kisah Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dengan Firaun dan tukang-tukang sihirnya; dan kisah Bani Israil setelah keluar dari Mesir. Kisah para Nabi ini sebagai tamsil dan ibarat bagi kehidupan sekarang. Menegaskan keimanan pada Alquran itu benar, dan bukan sihir; Alquran tidak bisa ditandingi dengan karya-karya lain. Rasul hanya disuruh menyampaikan Risalah-Nya. Allah mengatur alam semesta di Arasy. Syafaat hanya atas izin Allah, para Nabi, dan para Wali Allah; Kegaiban Allah dijelaskan dengan diturunkannya Alquran ini yang dijamin murni. Allah menyaksikan dan mengamat-amati seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak. hukum: Allah menetapkan perhitungan waktu berdasarkan peredaran matahari dan bulan; Larangan mengada-adakan sesuatu atas Allah, dan larangan mendustakan ayat-ayat Allah. Kisah lainnya: Sifat manusia ada yang hanya ingat kepada Allah ketika mereka dalam keadaan susah, dan melupakan-Nya ketika mereka senang; Ada kisah orang-orang yang ketika di dunia berkelaku an baik dan yang berkelaku an jelek tampak di Hari Kiamat. Ada penyesalan bagi orang-orang yang tidak mengAku i adanya Allah dan Rasul-rasul-Nya.

a’udzu billãhi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
alif lãm rō = Allah Mahatahu maknanya; allahu = Allah; lã roibba = tidak ada keraguan; fihi = pada-Nya; tilka = ini; ãyãtu = ayat-ayat; al kitãbi = Alkitab; al hakĩm = hikmah (mengandung banyak ilmu).
allahu lã roibba fihi, tilka ãyãtul kitãbil hakĩm
1. Allah Mahatahu maknanya, Allah tidak ada keraguan pada-Nya; inilah ayat-ayat Alkitab yang penuh hikmah (mengandung banyak ilmu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alif lãm rã dapat dipanjangkan, disamping yang tersebut di atas, dengan Allãhu lã rodda = Allah keberadaan-Nya tak terbantah. Allah mengajari manusia berbahasa lisan dan tulisan. Pelajarilah beraneka bahasa sedini mungkin, untuk dapat berhubungan dengan sesama manusia agar dapat bekerjasama mendapatkan berbagai ilmu. Ayat-ayat Allah itu banyak mengandung ilmu. Pelajarilah, kembangluaskan!!! Besarkanlah Allah dengan karya-karyamu. Dalam Surat Al Baqarah, 2 : 2, 3, 4 Alquran merupakan petunjuk dari Allah untuk orang-orang yang takwa. Dalam Surat Ali Imran, 3 : 3, 4 Alquran membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Injil, Al Furqōn (Zen Avesta, Tao Te Ching, Tripitaka, dan Weda?). Dalam Surat Al A’rãf, 7 : 2 Alquran untuk memberi peringatan bagi orang-orang kafir, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

akaana = adakah (patutkah); linnãsi = bagi manusia; ‘ajaban = keheranan; an auhainã = ketika Aku mewahyukan; ilã = kepada; rojulin = seorang laki-laki; min = dari; hum = mereka; an andziri = agar ia (Muhammad saw.) memberi peringatan; an nãsa = manusia; wa basysyĩri = dan gembirakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; anna = bahwa; lahum = bagi mereka; qodama = kedudukan; shidqin = yang benar (tinggi); ‘inda = di hadapan; Robihim = Rob mereka; qōla = berkata; al kãfirũna = orang-orang kafir; inna = sesungguhyna; hãdzã = ini; lasãhirun = sungguh tukang sihir; mubĩn = yang nyata.

akaana linnãsi ‘ajaban an auhainã ilã rojulim min hum an andzirin nãsa wa basysyĩril ladzĩna ãmanũ anna lahum qodama shidqin ‘inda Robihim, qōlal kãfirũna inna hãdzã lasãhirum mubĩn.
2. Patutkah bagi manusia menjadi keheranan, ketika Aku mewahyukan kepada seorang laik-laki dari golongan mereka: “Berilah peringatan kepada manusia, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman, bagi mereka berkedudukan tinggi di hadapan Rob mereka.” Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya (Muhammad saw.) ini tukang sihir yang nyata.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada orang-orang di sekitar kehidupan Nabi Muhammad saw., ketika Dia mewahyukan kepadanya (memerintah memberi) peringatan dan berita gembira bagi manusia yang beriman. Ternyata orang-orang menjadi terheran-heran, dan orang-orang kafir mempunyai prasangka jelek. Mereka menganggap Nabi Muhammad saw. sebagai tukang sihir. Nabi Sulaiman a.s. (Q.s. Al Baqarah, 2 : 102), Nabi Isa a.s. (Al Maidah, 5: 110) juga dianggap tukang sihir oleh orang-orang yang tidak mempercayai beliau-beliau itu diutus oleh Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan diberi kedudukan tinggi di hadapan Allah.

inna = sungguh Aku ; robbãkuullahu = Tuhan kamu adalah Allah; al ladzĩ = Dia Yang …; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; fĩ sittati = dalam enam; ayyaamin = masa; tsumma = kemudian; istawã = Dia bersemayam; ‘alal ‘arsyĩ = di Arasy; yudabbiru = Dia mengatur; al amro = segala urusan; mã min syafĩ’in = tidak seorang pemberi safaat; illã = kecuali; mim ba’di = dari sesudah; idznihi = izin-Nya; dzãlikumullãhu = demikian itulah Allah; Robukum = Rob kamu; fa’budũhu = maka sembahlah Dia; afalã = apakah tidak; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
inna robbakuullahul ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardho fĩ sittati ayyaamin tsummastawã ‘alal ‘arsyĩ, yudabbirul amro, mã min syafĩ’in illã mim ba’di idznihi dzãlikumullãhu Robukum fa’budũhu, afalã tadzakkarũn.
3. Sungguh Aku , Rob kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tidak seorang pun yang memberi safaat kecuali setelah ada izin-Nya. Demikian itulah Allah, Rob kamu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Hitungan satu masa menurut perhitungan manusia di bumi meliputi jutaan tahun, Allah Yang Maha Mengetahui ketetapan-Nya, yaitu: 1. Masa Allah meniupkan udara yang bercampur dengan api, air, tanah, dan ruhullah berupa cahaya, berproses dengan cara berputar-putar, melingkar-lingkar; 2. Masa proses pengembunan, penyatuan dan pemisahan udara, air, api, tanah dan cahayanya; 3. Masa proses pencairan, penyatuan dan pemisahan air, udara, api, tanah dan cahaya; 4. Masa proses pemadatan, pendinginan tanah, pemisahan, dan penyatuan air, udara, api dan cahaya; 5. Masa proses pendinginan dan penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, pemisahan dan penyatuan tanah, udara, api, air dan cahaya; 6. Masa proses penciptaan manusia setelah pemisahan, pemadatan, dan penyatuan tanah, udara, api, cahaya, dan air semuanya siap, pas situasi dan kondisinya dengan fisik manusia. Proses pendinginan, pemisahan dan penyatuan api, cahaya, air, udara, dan tanah terus berlangsung. Manusia dengan ilmu yang diberi dan diizinkan Allah untuk digunakan, berupaya untuk mengelola dan menguasai dengan baik tanah (dengan mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatangnya), air, api, cahaya, udara agar kegunaannya efektif, lebih baik, lebih bermanfaat, terjaga, tertata dengan tertib dan teratur sampai akhir jaman. Allah bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan langit dan bumi. Makhluk-Nya memberi safaat kepada makhluk lain (saling membantu) atas izin-Nya. Allah memerintah agar semua makhluk-Nya, khususnya manusia, agar menyembah hanya kepada Allah. Semua kejadian di alam semesta ini harus menjadi pelajaran oleh manusia untuk kepentingan hidupnya.Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1 : 2; Q.s. Al A’rãf, 7 : 54; Q.s. Hud, 11 : 7; Q.s. al Furqon, 25 : 59; Q.s. as Sajdah, 32 : 4; Q.s. Qōf, 50 : 38; Q.s. al Hadid, 57 : 4; Q.s. An Nazi’at, 79 : 27; Q.s.Asy Syams, 91 : 5-10.
Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyaa’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
ilaihi = kepada-Nya; marji’ukum = tempat kembalimu; jamĩ’ãn = semuanaya; wa’dallãhi = janji Allah; haqqōn = benar; innahũ = sesungguhnya Dia; yabda’u = Dia memulai menciptakan; al khalqo = makhluk; tsumma = kemudian; yu’ĩduhũ = Dia mengembalikan; liyajziya = karena Dia hendak memberi balasan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; bil qisthi = dengan adil; walladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; lahum = bagi mereka; syarōbun = (disediakan) minuman; min = dari; hamĩmin = air mendidih; wa ‘adzãbun = dan azab; alĩmun = yang pedih; bimã = karena; kaanũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka kafir.
ilaihi marji’ukum jamĩ’ãn, wa’dallãhi haqqōn, innahũ yabda’ul khalqo tsumma yu’ĩduhũ liyajziyal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti bil qisthi, walladzĩna kafarũ lahum syarōbum min hamĩmin wa ‘adzãbun alĩmum bimã kaanũ yakfurũn.
4. Kepada-Nya tempat kembali kamu semua, sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya, Dia menciptakan makhluk pada awalnya, kemudian Dia mengembalikannya, karena Dia hendak memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh dengan adil. Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang mendidih, dan azab yang pedih karena mereka kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia, Beliau menciptakan berbagai makhluk, dan yang terakhir makhluk manusia dengan sebuah perjanjian yang harus ditepati. Segala makhluk akan kembali kepada-Nya pada saatnya, dan akan diberi balasan sesuai dengan perbuatannya.
huwalladzĩ = Dia lah yang; ja’ala = menjadikan; asy syamsa = matahari; dhiyaa-an = bersinar; wal qomaro = dan bulan; nũron = bercahaya; wa qoddarohũ = dan Dia menetapkannya; manãzila = tempat-tempat beredar; li ta’lamũ = agar kamu mengetahui; ‘adada = bilangan; as sinĩna = tahun; wal hisãba = dan perhitungan; mã kholaqollãhu = Allah tidak menciptakan; dzãlika = demikian itu; illã = kecuali; bil haqqi = dengan hak; yufashshilu = Dia menjelaskan; al ãyaati = tanda-tanda (kebesaran)-Nya; li qoumin = kepada kaum; ya’lamũn = mereka mengetahui.
huwalladzĩ ja’alasy syamsa dhiyaa-an wal qomaro nũron wa qoddarohũ manãzila li ta’lamũ ‘adadas sinĩna wal hisãba, mã kholaqollãhu dzãlika illã bil haqqi yufashshilul ãyaati li qoumin ya’lamũn.
5. Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tetapkan tempat-tempat beredarnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu, kecuali dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran)-Nya kepada kaum yang mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan segala sesuatu (api, air, udara, tanah, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, manusia, matahari, bulan, bintang) ada maksud dan tujuan-Nya. Salah-satunya menjelaskan kebesaran dan kekuasan-Nya. Harus menjadi ilmu yang beraneka macam. Makhluk-Nya agar berbakti hanya kepada-Nya. Semuanya harus menjadi obyek belajar, menjadi bahan penelitian, dicari manfaatnya. Makna bahasanya juga menjadi ladang ilmu yang luas. Semuanya untuk kepentingan hidup manusia.
inna = sesungguhnya; fikhtilãfi = pada pertukaran; al laili = malam; wan nahãri = dan siang; wa mã = dan apa; kholaqollãhu = Allah menciptakan; fissamãwãti = di langit; wal ardhi = dan bumi; la ayaatin = sungguh tanda-tanda; li qoumin = bagi kaum; yattaqũn = mereka bertakwa.
inna fikhtilãfil laili wan nahãri wa mã kholaqollãhu fissamãwãti wal ardhi la ayaatil li qoumin yattaqũn.
6. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, sungguh ada tanda-tanda bagi orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Waktu pagi, siang, sore, malam, dan segala apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi menjadi ayat-ayat yang harus diperhatikan, dan menjadi pelajaran, menjadi ilmu yang banyak, dan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang bertakwa.
innal ladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; la yarjũna = mereka tidak mengharapkan; liqō-anã = pertemuan dengan Kami; wa rodhũ = dan mereka rido; bil hayaati = dengan kehidupan; ad dunyaa = dunia; wathma-annũ = dan merasa tenteram; bihã = dengannya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; hum = mereka; ‘an ãyaatinã = dari ayat-ayat Kami; ghōfilũn = orang-orang yang lalai.
innal ladzĩna la yarjũna liqō-anã wa rodhũ bil hayaatid dunyaa wathma-annũ bihã wal ladzĩna hum ‘an ãyaatinã ghōfilũn.
7. Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan mereka merasa puas dengan kehidupan dunia, serta merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan Allah bagi orang-orang yang tidak mengharapkan adanya pertemuan dengan-Nya, orang-orang yang cukup merasa senang dengan kehidupan di dunia saja, dan melalaikan ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah yang lainnya. Manusia dianjurkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk menjadi pengetahuan yang berguna dalam menjalani hidupnya dengan berbagai kepentingannya. Jangan sampai melalaikan ilmu yang diperlukan untuk berbagai keperluan hidupnya di dunia dan di akhirat.
ũlã-ika = mereka itu; ma’wãhumui = tempat mereka; an nãru = api neraka; bimã = dengan apa (disebabkan); kaanũ = mereka adalah; yaksibũn = mereka kerjakan.
ũlã-ika ma’wãhumun nãru bimã kaanũ yaksibũn.
8. Mereka itu tempatnya di api neraka karena apa yang sudah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan penegasan akibat dari orang-orang yang mengabaikan kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan di dunia ini, sangat melimpah-ruah kesenangan. Namun, jangan terlalu terbuai oleh kesenangan dunia. Harus dikelola dengan baik dan teliti, agar manfaatnya meningkat, dan menciptakan kesejahteraan, keamanan, ketenteraman, kedamaian, kepuasan. Kita harus banyak mengingat kehidupan di dunia ini, untuk tujuan akhirat. Kita harus berupaya untuk menjalankan akhlak mulia, mengikuti sunah dan hadits Rasulullah Muhammad saw. dengan Alquran yang diwahyukan Allah kepadanya.
innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; yahdĩhim = mereka diberi petunjuk; Robuhum = Rob mereka; bi ĩmaanihim = dengan keimanan mereka; tajrĩ = mengalir; min tahtihimu = dari bawah mereka; al anhãru = sungai-sungai; fĩ jannãtin = dalam surga; na’ĩm = kenikmatan.
innalladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti yahdĩhim Robbuhum bi ĩmaanihim, tajrĩ min tahtihimul anhãru fĩ jannãtin na’ĩm.
9. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rab mereka karena keimanan mereka, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga kenikmatan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini berulang-ulang dinyatakan dalam berbagai variasinya, menjadi peringatan bagi pembacanya sejak awal.

da’wãhum = doa mereka; fĩ hã = di dalam sorga; sub-hanaka = Mahasuci Engkau; allãhumma = yaa Allah; wa tahiyyatuhum = dan salam penghormatan mereka adalah; fĩhã = di dalamnya; salãmun = salam sejahtera; wa ãkhiru = dan penutup akhir; da’wãhum = doa mereka; ani = adalah; al hamdulillãhi = segala puji bagi Allah; Robil ‘alamĩn = Penguasa seluruh alam.
da’wãhum fĩ hã sub-hanakallãhumma wa tahiyyatuhum fĩhã salãmun, wa ãkhiru da’wãhum anil hamdulillãhi Robil ‘alamĩn.
10. Doa mereka di dalam surga: “Mahasuci Engkau ya Allah”, dan salam penghormatan mereka: “salam sejahtera”, dan penutup doa mereka adalah: “segala puji bagi Allah Robil ‘alamin.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajari doa yang disukai-Nya kepada manusia yang menyukai-Nya.

wa lau = dan kalau; yu’ajjilullãhu = Allah menyegerakan; linnãsi = bagi manusia; asy syarro = kejahatan; isti’jãlahum = permintaan penyegeran mereka; bil khoiri = dengan kebaikan; laqudhiya = pasti diakhiri; ilaihim = kepada mereka; ajaluhum = ajal (umur) mereka; fa nadzaru = maka (akan tetapi) Aku biarkan; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yarjũna = mereka tidak mengharapkan; liqō-anã = pertemuan dengan Kami; fĩ thughyaanihim = dalam kesesatan mereka; ya’mahũn = mereka bingung.
wa lau yu’ajjilullãhu linnãsi asysyarrosti’jãlahum bil khoiri laqudhiya ilaihim ajaluhum, fa nadzarul ladzĩna lã yarjũna liqō-anã fĩ thughyaanihim ya’mahũn.
11. Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia (seperti) permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Akan tetapi, Aku biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung dalam kesesatan mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia, segala apa yang dilaku kan selalu diperhatikan-Nya. Manusia jangan sesat dalam mengikuti petunjuk dan peringatan-Nya. Manusia diberi hak hidup agar ada kesempatan untuk bertobat atas berbagai kesalahannya.

wa idzã = dan bila; massa = menimpa; al insaana = manusia; adh dhurru = bahaya; da’ãnã = dia berdoa kepada-Ku; lijambihĩ = dalam keadaan berbaring; au qōimaan = atau berdiri; fa lammã = maka setelah; kasyafnã = Aku hilangkan; ‘anhu = darinya; dhurrohũ = bahayanya; marro = dia melalui; ka-al lam = seakan-akan tidak; yad’unã = dia berdoa kepada Kami; ilã = untuk; dhurrin = bahaya; massahũ = menimpanya; kadzãlika = seperti demikianlah; zuyyina = memandang baik; lilmusrifĩna = bagi orang-orang yang melampaui batas; mã kaanũ = apa yang mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa idzã massal insaanadh dhurru da’ãnã lijambihĩ au qō’idan au qōimaan fa lammã kasyafnã ‘anhu dhurrohũ marroka-al lam yad’unã ilã dhurrim massahũ, kadzãlika zuyyina lilmusrifĩna mã kaanũ ya’malũn.
12. Dan bila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Aku dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, maka setelah bahaya itu Aku hilangkan darinya, dia kembali melalui (jalan sesat), seakan-akan dia tidak pernah berdoa kepada Aku untuk bahaya yang pernah menimpanya. Seperti demikianlah, orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik, apa yang selalu mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada manusia, berdoa itu harus dalam keadaan apapun, senang, susah, sedih, ketAku tan, marah, sengsara, sejahtera, bahagia, dan lain-lain. Doa itu menandakan adanya keimanan seseorang. Iman harus ditingkatkan terus dengan rajin belajar, bekerja, berjuang untuk suatu tujuan yang suci, atas nama Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; ahlaknã = telah Aku binasakan; al qurũna = kurun turunan (umat-umat); minqoblikum = dari sebelum kamu; lammã = ketika; zholamũ = mereka berbuat lalim; wa jã-at-hum = padahal telah datang kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinãti dengan keterangan-keterangan yang nyata; wa mã kaanũ = mereka tidak ada; li yu’minũ = hendak beriman; kadzãlika = seperti demikianlah; najzĩ = Akumemberi balasan; al qouma = kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa laqod ahlaknãl qurũna minqoblikum lammã zholamũ, wa jã-at-hum rusuluhum bil bayyinãti wa mã kaanũ li yu’minũ, kadzãlika najzĩl qoumal mujrimĩn.
13. Dan sesungguhnya Aku telah membinasakan umat-umat sebelum kamu ketika mereka berbuat lalim, padahal Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman. Seperti demikianlah, Akumemberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, dengan menceriterakan umat-umat yang terdahulu, yang dibinasakan karena mereka tidak mau percaya, tidak mau menjalankan petunjuk-petunjuk para Rasul Allah.

tsumma = kemudian; ja’alnãkum = Akumenjadikan kamu; kholã-ifa = khalifah (pengganti-pengganti); fil ardhi = di bumi; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; linanzhuro = supaya Akumemperhatikan; kaifa = bagaimana; ta’malũn = kamu beramal.
tsumma ja’alnãkum kholã-ifa fil ardhi mim ba’dihim linanzhuro kaifa ta’malũn.
14. Kemudian Aku jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Aku dapat memperhatikan, bagaimana kamu berbuat (beramal).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia-manusia sekarang ini sebagai pengganti manusia-manusia masa lalu yang tidak mau percaya, tidak mau menjalankan petunjuk-petunjuk Allah melalui para Rasul-Nya. Manusia-manusia sekarang harus lebih baik dari manusia-manusia masa lalu. Manusia-manusia sekarang harus mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-rasul-Nya.

wa idzã = dan jika; tutlã = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyaatunã = ayat-ayat Kami; bayyinãtin = yang nyata; qōla = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yarjũna = (mereka) tidak mengharapkan; liqō-‘ana = perjumpaan dengan-Ku; i’ti = datangkanlah; bi qur’ãnin = dengan Alquran; ghoiri = selain; hãdzã = ini; au baddilhu = atau gantilah ia; qul = katakanlah; mã yakũnu = tidak pantas; lĩ = bagiku; an ubaddilahũ = Aku untuk menggantinya; min tilqō-i = dari pihakku; nafsĩ = diri sendiri; in attabi’u = tidaklah Aku mengikuti; illã = kecuali; mã yũhã = apa yang diwahyukan; ilayya = kepada-Ku; innĩ = sesungguhnya Aku ; akhōfu = Aku tAku t; in = jika; ‘ashoitu = Aku mendurhakai; Robĩ = Robku; ‘adzãba = siksa; yaumin ‘azhĩm = Hari Kiamat.
wa idzã tutlã ‘alaihim ãyaatunã bayyinãtin, qōlal ladzĩna lã yarjũna liqō-‘ana’ti bi qur’ãnin ghoiri hãdzã au baddilhu, qul mã yakũnu lĩ an ubaddilahũ min tilqō-i nafsĩ in attabi’u illã mã yũhã ilayya, innĩ akhōfu in ‘ashoitu Robĩ ‘adzãba yaumin ‘azhĩm
15. Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Ku yang nyata, berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan-Ku: “Datangkanlah Alquran yang selain ini, atau gantilah ia.” Katakanlah: “Tidak pantas bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri, tidaklah aku mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya, aku takut, jika aku mendurhakai Robku dan terkena siksa Hari Kiamat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan orang-orang yang tidak percaya pada Hari Pertemuan dengan Allah (Hari Kiamat), dan memberitahu bagaimana menjawab persoalan yang disampaikannya.

qul = katakanlah; lau = kalau; syaa-allãhu = Allah menghendaki; mãtalautuhũ = tidak kubacakan dia (ayat); ‘alaikum = kepadamu; wa lã = dan tidak; adrōkum = Dia beritahukan kepadamu; bihĩ = dengannya; faqod = maka sesungguhnya; labisytu = Aku telah tinggal; fĩkum = bersamamu; ‘umuron = beberapa masa; min qoblihĩ = dari sebelumnya; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu berpikir.
qul lau syaa-allãhu mãtalautuhũ ‘alaikum wa lã adrōkum bihĩ, faqod labisytu fĩkum ‘umurom min qoblihĩ, afalã ta’qilũn
16. Katakanlah: “Kalau Allah menghendaki, tentu tidak kubacakan dia kepadamu, dan Dia (juga) tidak memberitahukannya kepadamu.” Maka sesungguhnya Aku telah tinggal beberapa masa yang lalu sebelumnya. Maka, apakah kamu tidak berpikir?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman sesudahnya (masa sekarang) untuk mengatakan seperti yang diwahyukan pada ayat 16 ini.
faman = maka siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimani = dari orang; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = dusta; au kadzdzaba = atau dia mendustakan; bi-ãyaatihĩ = terhadap ayat-ayat-Nya; innahũ = sesungguhnya dia; lã yuflihu = tidak beruntung; al mujrimũn = orang-orang yang berbuat dosa.
faman azhlamu mimanif tarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi-ãyaatihĩ, innahũ lã yuflihul mujrimũn
17. Maka siapakah yang lebih lalim dari pada orang yang mengadakan dusta kepada Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, orang-orang yang berbuat dosa itu tidaklah beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya, mereka itu orang-orang yang berbuat dosa. Mereka itu orang-orang yang tidak beruntung.

wa ya’budũna = dan mereka yang menyembah; min dũni = dari selain; allãhi = Allah; mã lã = sesuatu yang tidak; yadhurruhum = memberi mudarat kepada mereka; wa lã = dan tidak; yanfa’uhum = dan memberi manfaat kepada mereka; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; hã-ulã-i = mereka itu; syufa’ã-unã = pemberi safaat kepada mereka; indallãhi = di hadapan Allah; qul = katakanlah; atunabbi-ũna = apakah kamu mengabarkan; allãha = Allah; bimã = dengan apa; lã ya’lamũ = tidak Dia ketahui; fĩs samãwãti = di langit; wa lã fil ardhi = dan tidak di bumi; sub-hãnahu = Mahasuci Dia; wa ta’ãlã = dan Mahatinggi; ‘amã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka perserikatkan.
wa ya’budũna min dũnillãhi mã lã yadhurruhum wa lã yanfa’uhum wa yaqũlũna hã-ulã-i syufa’ã-unã indallãhi, qul atunabbi-ũnallãha bimã lã ya’lamũ fĩs samãwãti wa lã fil ardhi, sub-hãnahu wa ta’ãlã ‘amã yusyrikũn.
18. Dan mereka menyembah selain dari Allah, sesuatu yang tidak memberi mudarat, dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu pemberi safaat kepada-Kudi hadapan Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan apa yang tidak diketahui Allah di langit dan di bumi?” Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman tentang perilaku orang-orang kafir, dan apa yang harus dikatakan kepada mereka yang mengemukakan alasan, mengapa mereka menyembah selain Allah.
wa mã kaana = dan tidak ada; an nãsu = manusia; illã = kecuali; ummatan = umat; wãhidatan = satu; fahtalafũ = lalu mereka berselisih; walau lã = dan kalau tidak; kalimatun = kata (ketetapan); sabaqot = terdahulu; mir Robika = dari Rab kamu; laqudhiya = pasti telah diputuskan; bainahum = di antara mereka; fĩmã = tentang apa; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.
wa mã kaanan nãsu illã ummatan wãhidatan fahtalafũ walau lã kalimatun sabaqot mir Robika laqudhiya bainahum fĩmã fĩhi yakhtalifũn.
19. Dan tidak ada manusia (dahulunya), kecuali hanya satu umat, lalu mereka berselisih. Kalau tidak karena ada ketetapan yang terdahulu dari Rab kamu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pemberitahuan Allah kepada umat-Nya yang percaya kepada-Nya. Ada perselisihan di antara manusia, yaitu masalah ada-Nya Allah. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya.
wa yaqũlũna = dan mereka berkata; lau lã = mengapa tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; ãyatum = suatu ayat (keterangan); mir Robihĩ = dari Robnya; fa qul = maka katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; al ghoibu = yang gaib; lillãhi = milik Allah; fantazhirũ = maka tunggulah olehmu; innĩ = sesungguhnya Aku ; ma’Akum = bersamamu; min = dari (termasuk); al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.
wa yaqũlũna lau lã unzila ‘alaihi ãyatum mir Robihĩ, fa qul innamãl ghoibu lillãhi fantazhirũ innĩ ma’Akum minal muntazhirĩn.
20. Dan mereka bertanya: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad saw.) suatu ayat dari Rabnya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya, yang gaib itu milik Allah, maka tunggulah olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu, termasuk orang-orang yang menunggu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat artinya mu’zijat. Mu’zijat yang gaib dari Allah itu diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Tunggulah dengan penuh iman kepada-Nya.

wa idzã = dan bila; adzaqna = Aku beri rasakan; an nãsa = manusia; rohmatan = suatu rahmat; min = dari; ba’di = sesudah; dhorrō-a = bahaya; massat-hum = menimpa mereka; idzã = tiba-tiba; lahum = dari mereka; makrun = tipu-daya; fĩ ãyaatinã = pada ayat-ayat Kami; quli = katakan; illãhu = Allah; asrō’u = lebih cepat; makron = tipu-daya; inna = sesungguhnya; rusulanã = utusan-utusan Kami; yaktubũna = mereka menulis; mã = apa; tamkurũna = kamu tipu-dayakan.
wa idzã adzaqnaan nãsa rohmatam mim ba’di dhorrō-a massat-hum idzã lahum makrun fĩ ãyaatinã qulillãhu asrō’u makron, inna rusulanã yaktubũna mã tamkurũna.
21. Dan bila Aku beri rasa kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datang) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu-daya untuk (menentang) ayat-ayat-Ku. Katakanlah: “Allah lebih cepat (membalas) tipu-daya.” Sesungguhnya, utusan Malaikat-Ku (selalu) menulis apa yang kamu tipu-dayakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan tentang sifat manusia, ada yang selalu tidak mau menerima ayat-ayat Allah yang selalu datang kepadanya berupa berbagai kenikmatan dan bahaya. Kalau tidak beriman, mereka membuat tipu-daya, mengolok-olokkan ayat-ayat Allah itu. Allah mengingatkan, apa yang diolok-olokkan atas ayat-ayat Allah itu, ada malaikat yang mencatatnya. Orang yang beriman, saat menghadapi bahaya maupun rahmat (misalnya kesenangan) akan selalu ingat bahwa segala sesuatu itu, baik kesenangan, kesusahan, kebaikan, keburukan, keindahan, kejelekan asalnya dari Allah.

Huwa = Dia; al ladzĩ = yang; yusayyirukum = menjadikan kamu dapat berjalan; fil barri = di darat; wal bahri = dan di laut; hattã = sehingga; idzã = bila; kuntum = kamu adalah; fil fulki = di dalam bahtera; wa jaraina = dan meluncurlah; bihim = dengan mereka; bi rĩhin = dengan angin; thoyyibatin = yang baik; wa farihũ = dan mereka bergembira; bihã = karenanya; jã-atahã = datang kepadanya; rĩhun = angin; ‘ashifun = topan; wa jã-ahumu = dan menimpa mereka; al mauju = gelombang; min kulli = dari setiap (segenap); makaanin = tempat (penjuru); wa zhonnũ = dan mereka mengira; annahum = bahwa mereka; uhĩtho = terliputi (terkepung); bihim = dengan mereka; da’allãha = berdoa (kepada) Allah; mukhlishĩna = mengikhlaskan; lahu = kepada-Nya; addĩna = ketaatan agama; la-in = sesungguhnya jika; anjaitanã = Engkau menyelamatkan kami; min hãdzihĩ = dari ini; lanakũnanna = pastilah Akumenjadi; mina = dari (termasuk); asy syaakirĩn = orang-orang yang bersyukur.
huwal ladzĩ yusayyirukum fil barri wal bahri, hattã idzã kuntum fil fulki wa jaraina bihim birĩhin thoyyibatin wa farihũ bihã jã-atahã rĩhun ‘ashifun wa jã-ahumul mauju min kulli makaanin wa zhonnũ annahum uhĩtho bihim, da’allãha mukhlishĩna lahuddĩna la-in anjaitanã min hãdzihĩ lanakũnanna minasy syaakirĩn.
22. Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di darat dan di laut, sehingga bila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah ia membawa mereka dengan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, (tiba-tiba) datanglah badai dan gelombang dari segenap penjuru menimpa mereka, dan mereka mengira, mereka telah terkepung bahaya, lalu mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata (dan berkata): “Sesungguhnya, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang memungkinkan makhluk, khususnya manusia untuk dapat bepergian melalui darat, laut, atau udara. Setiap bepergian selalu ada kemungkinan bahaya mengancam kehidupan. Mungkin juga selamat. Oleh karena itu, selalulah berdoa sebelum berangkat, misalnya dengan doa: Bismilahi amantu billãh, tawakaltu alallah, lã khaula walã kuwwata ilã billãh. Kalau pulang dengan selamat, maka ucapkalah syukur alhamdulillahi Robil alamĩn.

fa lammã = maka setelah; anjãhum = Aku selamatkan mereka; idzã = tiba-tiba; hum = mereka; yabghũna = mereka melampaui batas; fil ardhi = di bumi; bi ghoiri = dangan tidak; al haqqi = benar; yaa ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; innamã = sesungguhnya hanyalah; baghyukum = keterlampauanbatasmu (kelalimanmu); ‘alã = kepada; anfusikum = dirimu sendiri; matã’a = kesenangan; al hayaati = kehidupan; ad dun-yaa = dunia; tsumma = kemudian; ilainã = kepada Kami; marji’ukum = tempat kembalimu; fanunabbi-ukum = lalu Aku jelaskan kepadamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu amalkan (kamu kerjakan).
fa lammã anjãhum idzã hum yabghũna fil ardhi bi ghoiril haqqi, yaa ayyuhan nãsu innamã baghyukum ‘alã anfusikum matã’al hayaatid dun-yaa, tsumma ilainã marji’ukum fanunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.
23. Maka setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat lalim di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kelalimanmu akan menimpa diri sendiri. (nikmat) kelalimanmu itu hanya kesenangan hidup di dunia, kemudian kepada Ku-lah tempat kembalimu, lalu Aku jelaskan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kebiasaan manusia yang jelek, melupakan nikmat keselamatan yang dikaruniakan Allah, menyebabkan perbuatan lalim di bumi. Kelaliman karena mencari kenikmatan di dunia itu akan menimpakan penderitaan diri sendiri, nanti di akhirat. Mungkin juga ketika masih di dunia.

innamã = sesungguhnya hanyalah; matsalu = perumpamaan; al hayaati = kehidupan; ad dun-yaa = dunia; kamã-in = seperti air (hujan); anzalnãhu = Aku turunkan air itu; mina = dari; as samã-i = langit; fakhtalatho = lalu ia bercampur; bihĩ = dengannya; nabãtu = tumbuh-tumbuhan; al ardhi = bumi; mimmã = di antaranya (darinya); ya’kulu = memakan; an nãsu = manusia; wal an’ãmu = dan binatang ternak; hattã = sehingga; idzã = bila; akhodzati = menunjukkan; al ardhu = bumi; zukhrufahã = keindahannya; wãzzayyanat = dan terhias ia; wa zhonna = dan menyangka; ahluhã = pemiliknya; annahum = bahwa mereka; qōdirũna = mereka menguasai; ‘alaihã = atasnya; atãhã = datang kepadanya; amrunã = perintah (azab) kami; lailan = malam; au nahãron = atau malam; fa ja’alnãhã = lalu Aku jadikan; hashĩdan = tanaman yang sudah disabit; ka-an = seakan-akan; lam taghnã = belum pernah tumbuh; bil amsi = kemarin; kadzãlika = demikianlah; nufash shĩlu = Aku jelaskan; al ãyaati = ayat-ayat; liqoumin = bagi kaum (orang-orang); yatafakkarũn = mereka berpikir.
innamã matsalul hayaatid dun-yaa kamã-in anzalnãhu minãs samã-i fakhtalatho bihĩ nabãtul ardhi mimmã ya’kulun nãsu wal an’ãmu hattã idzã akhodzatil ardhu zukhrufahã wãzzayyanat wa zhonna ahluhã annahum qōdirũna ‘alaihã atãhã amrunã lailan au nahãron fa ja’alnãhã hashĩdan ka-an lam taghnã bil amsi, kadzãlika nufash shĩlul ãyaati liqoumin yatafakkarũn
24. Sesungguhnya, perumpamaan kehidupan dunia itu, seperti air (hujan) yang Aku turunkan dari langit, lalu dengannya (air itu) bertumbuhkembang tumbuh-tumbuhan di bumi, di antaranya, ada yang dimakan ternak. Apabila menunjukkan keindahannya dan terhias dengan kehijuannya. Pemiliknya mengira, mereka pasti menguasainya, (tiba-tiba) datanglah kepadanya azab Aku di waktu malam atau siang. Lalu Aku jadikannya laksana tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah, Aku jelaskan ayat-ayat-Ku kepada orang-orang yang berpikir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perumpamaan hidup di dunia menurut Allah. Semua kejadian ditetapkan Allah, kapan pun. Ayat-ayat Allah itu ada di berbagai kejadian di alam semesta ini, apakah yang menyebabkan hati manusia bergembira-ria, bahagia atau sedih, susah; merasa nyaman, tenteram, sejahtera, damai atau merasa resah-gelisah-rusuh; merasa enak atau muak; merasa sejahtera atau sengsara; selamat atau celaka. Hidup itu harus berpikir tentang kehidupan pemberian-Nya.
wallãhu = dan Allah; yad’ũ = Dia menyeru; ilã = ke; dãri = rumah; as salãmi = keselamatan (kedamaian, ketenteraman, sejahtera); wa yahdĩ = dan Dia memberi petunjuk; man = orang (siapa); yasyaa-u = Dia kehendaki; ilã = ke; shirōtin = jalan; mustaqĩm = yang lurus.
wallãhu yad’ũ ilã dãris salãmi wa yahdĩ man yasyaa-u ilã shirōtim mustaqĩm
25. Dan Allah menyeru (manusia) menuju tempat selamat (damai, tenteram, sejahtera, bahagia) dan Dia memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyeru agar hidup selamat, dan memberi petunjuk agar menggunakan jalan yang lurus. Agar selamat harus mengikuti petunjuk dari Allah.
lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ahsanũl husnã = berbuat sangat baik; wa ziyaadah = dan tambahannya; wa lã yarhaqu = mereka itu tidak; wujũhahum = muka-muka mereka; qotarun = kehitaman; wa lã = dan tidak; dzillah = kehitaman; ũlã-ika = mereka itu; ash-hãbul jannah = penghuni surga; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.
lilladzĩna ahsanũl husnã wa ziyaadah, wa lã yarhaqu wujũhahum qotarun wa lã dzillah, ũlã-ika ash-hãbul jannah, hum fĩhã khōlidũn.
26. Bagi orang-orang yang berbuat baik mendapat (pahala) yang terbaik dan tambahan, dan muka mereka tidak tertutup dengan hitam derita, dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang berbuat baik mendapat berbagai macam kesenangan, ketenteraman, ketenangan, kemudahan tanpa cacat atau kekurangan apa pun.
wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kasabũ = mereka mengerjakan; as sayyi-ãti = kejahatan; jazã-u = balasan; sayyi-atin = kejahatan; bi mitslihã = dengan yang semisal; wa tarhaquhum = dan menutupi mereka; dzillah = kehinaan; mã lahum = tak ada bagi mereka; minallãhi = dari Allah; min ‘ãshimi = dari seorang pelindung; ka-annamã = seakan-akan; ughsyiyat = ditutupi; wujũhuhum = wajah-wajah mereka; qitho’an = sebagian; minal laili = dari malam; muzhliman = gelap-gulita; ũlã-ika = mereka itu; ash-hãbun nãri = penghuni api neraka; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = kekal.
wal ladzĩna kasabũs sayyi-ãti jazã-u sayyi-atim bi mitslihã wa tarhaquhum dzillah, mã lahum minallãhi min ‘ãshimi, ka-annamã ughsyiyah wujũhuhum qitho’am minal laili muzhlimã, ũlã-ika ash-hãbun nãri, hum fĩhã khōlidũn
27. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan kejahatan yang setimpal, dan mereka tertutup oleh kehinaan, tidak ada pelindung dari azab Allah bagi mereka. Muka mereka seakan-akan ditutupi gelap-gulitanya malam. Mereka itulah penghuni api neraka, mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang melakukan kejahatan akan dibalas dengan kejahatan lagi. Mereka menjadi sangat hina. Tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah. Berlindunglah kepada Allah agar tidak terkena azab Allah.
wa yauma = dan pada hari; nahsyuruhum = Aku kumpulkan mereka; jamĩ’an = semuanya; tsumma = kemudian; naqũlu = Aku berkata; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; asyrokũ = (mereka) mempersekutukan; makaanAkum = tempat kamu; antum = kamu; wa syurokã-ukum = dan sekutu-sekutu kamu; fazayyalnã = lalu Aku pisahkan; bainahum = di antara mereka; wa qōla = dan berkata; tsurokã-uhum = sekutu-sekutu mereka; mã kuntum = kamu tidak ada; iyyaanã = kepada kami; ta’budũn = kamu menyembah.
wa yauma nahsyuruhum jamĩ’an tsumma naqũlu lilladzĩna asyrokũ makaanAkum antum wa syurokã-ukum, fazayyalnã bainahum, wa qōla tsurokã-uhum mã kuntum iyyaanã ta’budũn.
28. Pada hari Akumengumpulkan mereka semua, kemudian Aku berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rob): Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.” Lalu Aku pisahkan di antara mereka, dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu tidak pernah menyembah kami.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada Hari Akhirat ternyata sekutu-sekutu orang kafir tidak merasa disembah oleh mereka yang menyembahnya.
fakafã = maka cukuplah; billãhi = dengan Allah; syahidan = menjadi saksi; bainanã = antara kami; wa bainAkum = dan antara kamu; inkunnã = bahwa kami; ‘an ‘ibãdatikum = dari penyembahan kamu; la ghōfilĩn = sungguh lalai (tidak tahu).
fakafã billãhi syahidam bainanã wa bainAkum inkunnã ‘an ‘ibãdatikum la ghōfilĩn.
29. Maka cukuplah Allah menjadi saksi antara Aku dan kamu. Aku tidak tahu tentang penyembahan kamu itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dunia manusia yang mempersukutukan Allah selalu diperingatkan oleh orang-orang yang beriman, agar jangan mempersekutukan Allah, melalui bermacam-macam cara. Para Nabi dengan Kitab-kitabnya menghimbau agar jangan mempersekutukan Allah. Ada yang tidak mau memperhatikan himbauan itu, tidak mau menghiraukan. Bagaimana berhala itu tahu, mereka itu benda mati, mungkin juga benda hidup, tapi memang mereka tidak tahu, ada manusia yang menyembahnya. Di dunia, Allah Yang mengatur. Di Hari Akhirat, Allah juga Yang mengatur. Kalau makhluk-Nya tidak mau mempercayai-Nya, suatu hal yang merugi.
hunãlika = di sanalah; tablũ = merasakan; kullu = tiap-tiap; nafsin = diri (jiwa); mã aslafat = apa yang telah terdahulu (dikerjakan); wa ruddũ = dan mereka dikembalikan; ilãllãhi = kepada Allah; maulãhumu = pelindung mereka; al haqqi = benar; wa dholla = dan lenyaplah; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang; yaftarũn = mereka ada-adakan.
hunãlika tablũ kullu nafsim mã aslafat, wa ruddũ ilãllãhi maulãhumul haqqi, wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.
30. Di sanalah setiap orang merasakan (pembalasan) dari apa yang telah dikerjakannya, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka, apa yang mereka ada-adakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, apa yang terjadi pada Hari Pembalasan. Kalau seseorang mengada-adakan sesuatu sebagai tandingan Allah, di sini dia akan merasakan penyesalan yang tidak akan ada berhentinya.

qul = katakanlah; man = siapa; yarzuqukum = memberi rezeki kepadamu; min = dari; as samã-i = langit; wal ardhi = dan bumi; amman = atau siapakah; yamliku = kuasa; as sam’a = pendengaran; wal abshōro = dan penglihatan; wa man = dan siapakah; yukhriju = mengeluarkan; al hayya = yang hidup; min = dari; al mayyiti = yang mati; wa yukhriju = mengeluarkan; al mayyita = yang mati; min = dari; al hayyi = yang hidup; wa man = dan siapakah; yudabbaru = mengatur; al amro = (segala) urusan; fasayaqũlũnallãhu = maka, mereka akan berkata: “Allah”; fa qul = maka katakanlah; afalã = mengapa tidak; tattaqũn = kamu bertakwa.
qul man yarzuqukum minas samã-i wal ardhi amman yamlikus sam’a wal abshōro wa man yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijul mayyita minal hayyi wa man yudabbarul amro, fasayaqũlũnallãhu, fa qul afalã tattaqũn.
31. Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang berkuasa (memberi) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang menghidupkan dari yang mati, dan yang mematikan dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka, mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar Nabi Muhammad saw. memberitahukan kepada orang-orang kafir tentang kekuasaan Allah, agar mereka mau bertakwa. Allah berhuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2 : 28, 73; Ali Imran, 3 : 109; Al A’rãf, 7 : 158; At Taubah, 9 : 116.

Fa = maka; adz dzãlikumu = itulah; allãhu = Allah; Robukumu = Rob kamu; al haqqu = yang sebenarnya; fa = maka; mãdzã = tidak ada; ba’da = sesudah; al haqqi = kebenaran; illa = kecuali; adh dholãlu = kesesatan; fa = maka; annã = bagaimana; tushrofũn = kamu disesatkan.
fadzãlikumullãhu Robukumul haqqu, famãdzã ba’dal haqqi illadh dholãlu, fa annã tushrofũn.
32. Maka, itulah Allah Rab kamu yang sebenarnya; maka, tidak ada kebenaran sesudahnya, kecuali kesesatan; maka, bagaimana kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penegasan tentang Allah kepada orang-orang yang sesat.

kadzãlika = demikianlah; haqqot = telah berlaku ; kalimatu = kata (pengetahuan, ilmu, hukum, ); Robika = dari Rob kamu; ‘alã = terhadap; al ladzĩna = orang-orang yang; fasaqũ = bodoh; annahum = sesungguhnya mereka; lã yu’minũn = tidak beriman.
kadzãlika haqqot kalimatu Robika ‘alãl ladzĩna fasaqũ annahum lã yu’minũn.
33. Demikianlah telah berlaku pengetahuan, ilmu, hukum, Rob kamu terhadap orang-orang bodoh, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak mau beriman, dicap oleh Allah sebagai orang yang bodoh. Pengetahuan, ilmu, hukum, Allah itu tersurat pada ayat-ayat sebelum ini. Perhatikanlah.

qul = katakanlah; hal = apakah; min = di antara; syurokã-ikum = sekutu-sekutumu; man = orang; yabda-u = memulai; al kholqo = penciptaan; tsumma = kemudian; yu’ĩduhu = ia mengmbalikannya; qulillãhu = katakanlah Allah; yabda-u = memulai; al kholqo = penciptaan; tsumma = kemudian; yu’ĩduhu = Dia mengembalikannya; fa-annã = maka, bagaimana; tu’fakũn = kamu dipalingkan.
qul hal min syurokã-ikum man yabda-ul kholqo tsumma yu’ĩduhu, qulillãhu
yabda-ul kholqo tsumma yu’ĩduhu, fa-annã tu’fakũn.
34. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu, ada yang dapat memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya?” Katakanlah: “Allahlah yang memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya, maka, bagaimana kamu dipalingkan?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya yang berbeda dengan makhluk-Nya.
qul = katakanlah; hal = apakah; min = dari; syurokã-ikum = sekutu-sekutu kamu; man = orang; yahdĩ = memberi petunjuk; ila = kepada; al haqqi = kebenaran; qulillãhu = katakanlah “Allah”; yahdĩ = memberi petunjuk; il haqqi = kepada kebenaran; afa = apakah; man = orang; yahdĩ = memberi petunjuk; ilã = kepada; al haqqi = kebenaran; ahaqqu = lebih berhak; an yuttaba’a = untuk diikuti; amman = ataukah orang; lã = tidak; yahidĩ = ia memberi petunjuk; illã = kecuali; an yuhdã = bahwa ia diberi petunjuk; fa mã lakum = maka mengapa kamu; kaifa = bagaimana; tahkumũn = kamu mengambil keputusan.
qul hal min syurokã-ikum man yahdĩ ilal haqqi, qulillãhu yahdĩ lil haqqi, afa man yahdĩ ilãl haqqi ahaqqu an yuttaba’a amman lã yahidĩ illã an yuhdã, fa mã lakum kaifa tahkumũn.
35. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memberi petunjuk kepada kebenaran?” Katakanlah: “Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada kebenaran.” Apakah orang yang memberi petunjuk kepada kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan keputusan orang-orang yang mengimani ada-Nya Allah yang tidak memerlukan sekutu, Allah mampu memberi petunjuk kebenaran, dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang diada-adakan oleh mereka sendiri. Seskutu-sekutu mereka tidak mampu memberi petunjuk.
wa mã = dan tidak; yattabi’u = mereka mengikuti; aktsaruhum = kebanyakan mereka; illã = kecuali; zhonna = sangkaan; innazh zhonna = sesungguhnya sangkaan; lã = tidak; yughnĩ = mampu (berguna); minal haqqi = dari kebenaran; syai-an = sedikit pun; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa mã yattabi’u aktsaruhum illã zhonna, innazh zhonna lã yughnĩ minal haqqi syai-an, innallãha ‘alimum bimã yaf’alũn.
36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti, kecuali sangkaan saja, sesungguhnya sangkaan itu tidak mampu (menyisihkan) kebenaran sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sangkaan (prasangka) baik atau jelek kebanyakan berakibat kurang baik bagi pelakunya. Jangan dibiasakan menyangka. Buktikan segala sesuatu dengan kenyataan yang ada.
wa mã = dan tidak; kãna = ada; hãdza = ini; al qur’ãnu = Alquran; an yuftarō = diada-adakan (dibuat); min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lãkin = dan bahkan; tashdiqo = ia membenarkan; al ladzĩ = yang; baina yadaihi = di antara kedua tangannya (sebelumnya); wa tafshila = dan menjelaskan; al kitãbi = Kitab; lã roiba = tidak ada keraguan; fĩhi = di dalamnya; mir Robil = dari Rab (Penguasa); ‘ãlamĩn = Penguasa alam.
wa mã kãna hãdzal qur’ãnu an yuftarō min dũnillãhi wa lãkin tashdiqol ladzĩ baina yadaihi wa tafshilal kitãbi lã roiba fĩhi mir Robil ‘ãlamĩn.
37. Dan tidak mungkin Alquran ini dibuat oleh selain Allah, dan bahkan ia membenarkan (Kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjelaskan kitab (pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab yang telah ditetapkan); tidak ada keraguan di dalamnya, dari Rab Penguasa alam.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kedudukan Alquran yang membenarkan Kitab-kitab sebelumnya dan menjadi sumber pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab untuk manusia dan seluruh alam.
am = atau; yaqũlũna = mereka mengatakan; aftarōhu = (Muhammad) yang membuatnya; qul = katakanlah; fa’tũ = maka datangkanlah; bi sũrotin = dengan sebuah surat; mitslihĩ = seperti Alquran; wad’ũ = dan panggillah; manistatho’tum = siapa-siapa kamu dapat; min dũnillãhi = dari selain Allah; in kuntum = jika kamu; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
am yaqũlũnaftarōhu, qul fa’tũ bi sũrotim mitslihĩ wad’ũ manistatho’tum min dũnillãhi in kuntum shōdiqĩn.
38. Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad yang membuatnya,’ Katakanlah: “Maka (cobalah) buatlah sebuah surat seperti Alquran, dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alquran dibuat langsung oleh Allah (lihat juga Surat Al Baqarah, 2 : …)
bal = bahkan; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bimã = dengan apa yang …; lam yuhĩthũ = mereka tidak mengetahui; bi ‘ilmihĩ = dengan pengetahuannya; wa lammã = dan belum; ya’tihim = datang kepada mereka; ta’wĩluhu = penjelasannya; kadzãlika = demikianlah; kadzdzaba = telah mendustakan; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = ia adalah; ‘ãqibatu = akibat (kesudahan); azh zhōllimĩn = orang-orang yang lalim.
bal kadzdzabũ bimã lam yuhĩthũ bi ‘ilmihĩ wa lammã ya’tihim ta’wĩluhu, kadzãlika kadzdzabal ladzĩna min qoblihim fanzhur kaifa kãna ‘ãqibatuzh zhōllimĩn.
39. Bahkan mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya betul-betul, dan belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah, orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan, maka perhatikanlah, bagaimana akibat orang-orang yang lalim itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelaliman itu akibat ada orang yang berdusta. Kelaliman mengakibatkan pelakunya mengalami (dikenai) penderitaan.
wa = dan; min hum = di antara mereka; man = orang; yu’minu = ia beriman; bihĩ = kepadanya; wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; lã yu’minu bih = ia tidak beriman kepadanya; wa Robuka = dan Rob kamu; a’lamu = Maha Mengetahui; bil mufsidĩn = dengan orang-orang yang membuat kerusakan.
wa min hum man yu’minu bihĩ wa min hum mal lã yu’minu bih, wa Robuka a’lamu bil mufsidĩn
40. Dan di antara mereka, ada orang yang beriman kepadanya (Alquran), dan di antara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman kepadanya (Alquran), dan Rob kamu lebih mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak beriman selalu membuat kerasakan di muka bumi. Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka lakukan.
wa in = dan jika; kadzdzabũka = mendustakan kamu; fakul = maka katakanalah; lĩ = bagiku; ‘amalĩ = pekerjaanku; wa lakum = dan bagi kamu; ‘amalukum = pekerjaanmu; antum = kamu; barĩ-ũna = berlepas diri; mimmã = dari apa; a’malũ = Aku kerjakan; wa ana = dan Aku ; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa in kadzdzabũka fAkul lĩ ‘amalĩ wa lakum ‘amalukum, antum barĩ-ũna mimmã a’malũ wa ana barĩ-um mimmã ta’malũn.
41. Dan jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku, bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri dari apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jika ada orang yang menganggap dusta, apa yang dikerjakan Nabi Muhammad saw. hendaknya dihimbau agar orang-orang itu percaya kepada kekuasaan Allah Yang Mahaesa, kalau mereka berkeras kepala, Allah menyarankan agar mengatakan hal yang diturunkan pada ayat 41 ini. Lihat juga pada Surat Al Kafirun (Q.s. 109).
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yastami’ũna = mereka memperdengarkannya; ilaika = kepadamu; afa = apakah; anta = kamu; tusmi’u = memperdengarkan; ash shumma = orang yang tuli; wa lau = bahkan; kãnũ = mereka adalah; lã ya’qilũn = mereka tidak mau mengerti.
wa min hum man yastami’ũna ilaika, afa anta tusmi’ush shumma wa lau kãnũ lã ya’qilũn
42. Dan di antara mereka, ada orang yang mendengarkan kamu. Apakah kamu dapat memperdengarkannya kepada orang-orang tuli, bahkan mereka tidak mau mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang bisa mendengar, tapi tidak mau mendengarkan apa yang harusnya didengar, dan tidak mau mengerti apa yang didengarnya. Dia dapat disebut orang tuli, walaupun pada hakekatnya mereka tidak tuli; Ada orang yang tidak bisa mendengar, tapi ingin bisa mendengar, dan yang sangat terpuji, ia ingin mengerti apa yang diperdengarkan seseorang. Inilah yang dipertanyakan Allah dalam ayat ini. Yang terpuji adalah orang yang bisa mendengar, mau mendengarkan, dan mau mengerti apa yang seharusnya didengar, dan dimengerti.
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yanzhuru = yang melihat; ilaika = kepadamu; afa-anta = apakah kamu; tahdĩ = memberi petunjuk; al ‘umya = orang yang buta; wa lau = walaupun; kãnũ = mereka adalah; lã yubshirũn = mereka tidak dapat melihat.
wa min hum man yanzhuru ilaika, afa-anta tahdĩl ‘umya wa lau kãnũ lã yubshirũn.
43. Dan di antara mereka, ada orang yang melihat kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat melihat (memperhatikan).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang dapat melihat, tapi tidak mau memperhatikan, dan tidak mau mengerti, apa yang dilihat, dan didengar. Orang seperti ini tidak mungkin menerima petunjuk, karena hati mereka tertutup. Allah membutakan mata dan hatinya. Ada orang yang tidak bisa melihat, tapi mau memperhatikan, dan ingin mengerti apa yang didengar dan dirasakan. Inilah yang dipertanyakan Allah dalam ayat ini. Orang buta dapat diberi petunjuk, dan dapat menerima petunjuk karena, atau kalau hati mereka terbuka, mau merasakan.
innalãha = sesungguhnya Allah; lã = Dia tidak; yazhlimun = menganiaya (melalimi); nãsa = manusia; syai-an = sedikit pun; wa lãkinna = akan tetapi; an nãsa = manusia itu; anfusahum = diri mereka sendiri; yazhlimũn = mereka melalimi (menganiaya)
innalãha lã yazhlimun nãsa syai-an wa lãkinnannãsa anfusahum yazhlimũn.
44. Sesungguhnya, Allah tidak menganiaya manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia sudah diberi akal, pikiran, dan hati untuk mengarungi hidup pemberian Allah. Hidup pemberian Allah ini banyak orang yang menelantarkannya. Mereka tidak menggunakan akal, pikiran, dan hatinya untuk mensyukuri hidup karunia Allah ini. Karena itu, Allah menegaskan, sesungguhnya, mereka menganiaya diri mereka sendiri.
wa yauma = dan pada hari; yahsyuruhum = (Allah) mengumpulkan mereka, ka-al = (mereka) seakan-akan; lam yalbatsũ = mereka belum pernah tinggal; illã = kecuali; sã’atan = sesaat; minan nahãri = di siang hari; yata’ãro fũna = mereka saling berkenalan; bainahum = di antara mereka; qod = sesungguhnya; khasiro = rugilah; al ladzĩna = orang-orang yang; kadz dzabũ = (mereka) mendustakan; biliqō-illãhi = pertemuan dengan Allah; wa mã = dan tidak; kãnũ = mereka ada; muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.
wa yauma yahsyuruhum ka-al lam yalbatsũ illã sã’atam minan nahãri yata’ãro fũna bainahum, qod khasirol ladzĩna kadz dzabũ biliqō-illãhi wa mã kãnũ muhtadĩn
45. Dan pada hari, ketika Allah mengumpulkan mereka, mereka merasa seakan-akan belum pernah tinggal (di dunia), kecuali sesaat saja di siang hari. (Di waktu itu) mereka saling berkenalan di antara mereka sendiri. Sesungguhnya, rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan saat manusia dikumpulkan di akhirat. Allah mengingatkan, rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan rugi pula mereka yang tidak mendapat petunjuk. Saat kita hidup, dan saling berkenalan, sebaiknya harus banyak membaca ayat-ayat Allah, agar kita mengingat Allah, dan mengingat, suatu saat akan ada pertemuan dengan-Nya, dan agar kita mendapat petunjuk untuk menjalani hidup ini.
wa immã = dan jika; nuriyannaka = Aku perlihatkan kepadamu; ba’dho = sebagian; al ladzĩ = yang; na’iduhum = Aku ancam mereka; au = atau; natawaffayannaka = Aku wafatkan kamu; fa-ilainã = maka kepada-Ku; marji’uhum = tempat mereka kembali; tsummallãhu = kemudian Allah; syahĩdun = menjadi saksi; ‘alã mã = atas apa; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa immã nuriyannaka ba’dhol ladzĩ na’iduhum au natawaffayannaka fa-ilainã marji’uhum tsummallãhu syahĩdun ‘alã mã yaf’alũn.
46. Dan jika Aku perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Aku ancamkan kepada mereka, atau Aku wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Aku lah tempat kembali mereka, kemudian Allah menjadi saksi, atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan ancaman siksa-Nya kelak di akhirat, dan tempat kembali makhluk itu kepada-Nya. Allah selalu mengawasi, dan akan menjadi saksi dari apa yang dikerjakan makhluk-Nya. Jadi, perjalanan hidup ini harus dilalui secara berhati-hati, jangan menyimpang dari jalan Allah.
wa likulli = dan tiap-tiap; ummatin = umat; rosũlun = Rasul; fa idzã = maka jika; jã-a = telah datang; rosũluhum = Rasul mereka; qudhiya = diputuskan; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = mereka tidak di aniaya.
wa likulli ummatir rosũlun fa idzã jã-a rosũluhum qudhiya bainahum bil qisthi wa hum lã yuzhlamũn.
47. Dan tiap-tiap umat mempunyai Rasul, maka jika telah datang Rasul mereka, diputuskan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak dianiaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, setiap umat mempunyai Rasul. Kalau semua orang mengikuti apa yang diarahkan oleh Rasul maka akan tercipta masyarakat yang adil, makmur, tenteram, damai, sejahtera, bahagia. Tidak ada orang yang teraniaya.

wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; matã = kapankah; hãdzã = ini; al wa’du = ancaman; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
wa yaqũlũna matã hãdzãl wa’du in kuntum shōdiqĩn.
48. Dan mereka (orang kafir) mengatakan: “Kapankah datangnya ancaman ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Suatu keanehan, setiap Rasul datang ke suatu umat, pasti ada orang yang tidak percaya pada apa yang disampaikan Rasul itu. Selalu ada orang yang menentang Rasul, tidak mau mengikuti petunjuknya, petunjuk dari Allah.
qul = katakanlah; lã amliku = Aku tidak berkuasa; li nafsi = bagi diriku; dhorron = mendatangkan mudarat; wa lã = dan tidak; naf’an = manfaat; illã = kecuali; mã = apa; syaa-allãh = kehendak Allah; likulli = bagi tiap-tiap; ummatin = umat; ajal = ajal; idzã = jika; jã-a = telah datang; ajaluhum = ajal mereka; fa lã = maka tidak; yasta’khirũna = mereka mengundurkan; sa’atan = sesaat; wa lã = dan tidak; yastaqdimũn = mereka mendahulukan.
qul lã amliku li nafsi dhorron wa lã naf’an illã mã syaa-allãh, likulli ummatin ajal, idzã jã-a ajaluhum fa lã yasta’khirũna sa’atan, wa lã yastaqdimũn.
49. Katakanlah: “Pada diriku tidak kuasa mendatangkan mudarat, dan tidak pula manfaat bagi siapapun, kecuali apa yang dikehendaki Allah’. Tiap umat mempunyai ajal, jika telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun, dan tidak pula mendahulukan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw., agar mengatakan apa yang dikemukakan ayat di atas, kalau ada orang yang mempertanyakan berita, seperti yang terungkap dalam ayat 46 di atas. Ajal manusia sudah ditetapkan saatnya oleh Allah.
qul = katakanlah; aro-aitum = apa pendapatmu; in atãkum = jika datang kepadamu; ‘adzãbuhũ = azab-Nya (siksa-Nya); bayaatan = di waktu malam; au nahãron = atau di waktu siang; mãdzã = apakah; yasta’jilu = minta disegerakan; min hu = darinya; al mujrimũn = orang-orang yang berdosa.
qul aro-aitum in atãkum ‘adzãbuhũ bayaatan au nahãrom mãdzã yasta’jilu min hul mujrimũn.
50. Katakanlah: “Apa pendapatmu, jika datang siksa-Nya kepadamu di waktu malam atau siang, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan darinya?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siksa Allah itu datangnya tak terduga. Orang yang tidak beriman berlalai-lalai saja. Hatinya jauh dari Allah. Yang demikan itu, hidupnya merugi di dunia maupun di akhirat. Sedangkan orang yang beriman, hatinya dekat dengan Allah. Mereka selalu berdoa jangn sampai terkena siksa Allah, dan doa untuk keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Inilah orang-orang yang beruntung.

atsumma idzã mã waqo’a ãmantum bihĩ, al-ãna wa qod kuntum bihĩ tasta’jilũn
atsumma idzã mã waqo’a ãmantum bihĩ, al-ãna wa qod kuntum bihĩ tasta’jilũn
51. Apakah setelah terjadi (azab itu), kemudian kamu baru percaya kepadanya? Apakah sekarang (saat terjadi azab) padahal kamu (sebelumnya) selalu meminta azab disegerakan datangnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian manusia ketika datang seorang Rasul kepada kaumnya untuk mengingatkan adanya azab, ada yang menolak, ragu-ragu, dan sebagian lagi ada yang percaya. Azab di dunia diturunkan Allah, untuk ujian, baik untuk orang yang beriman, atau untuk orang tidak beriman, dan yang ragu-ragu. Orang yang beriman menerimanya dengan penuh kesadaran, kesabaran, ujian ini datang dari Allah dengan tujuan untuk menguatkan keimanannya. Orang yang tidak beriman dan yang ragu-ragu mengadapi azab dengan hati yang penuh keluh-kesah, sumpah-serapah, menyalahkan, mencari-cari pihak-pihak yang bisa disalahkan. Padahal, diri merekalah yang menyebabkan turunnya azab itu. Di akhirat azab diturunkan hanya untuk orang-orang tidak beriman, dan yang ragu-ragu beriman sebagai balasan tingkah-lakunya yang mengakibatkan banyak kerusakan di bumi.

tsumma = kemudian; qĩla = dikatakan; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; zholamũ = (mereka) lalim; dzũqũ = rasakanlah olehmu; ‘adzãba = siksa; al khuldi = kekal; hal = tidaklah; tujzauna = kamu diberi balasan; illã = kecuali; bimã = dengan apa; kuntum = kamu adalah; taksibũn = kamu kerjakan.
tsumma qĩla lilladzĩna zholamũ dzũqũ ‘adzãbal khuldi, hal tujzauna illã bimã kuntum taksibũn.
52. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim: “Rasakanlah olehmu siksa yang kekal, tidaklah kamu diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pekerjaan orang kafir itu menyiapkan bahan bakar yang akan dinyalakannya untuk membakar dirinya sendiri selama-lamanya karena mereka tidak beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, para Malaikat-Nya.

wa yastambi-ũnaka = dan mereka menanyakan kepadamu; ahaqqu = apakah itu benar; huwa = ia (azab itu); qul = katakanlah; ĩ = ya; wa Robĩ = (benar) demi Robku; innahũ = sesungguhnya ia (azab itu); la haqqu = sungguh benar; wa mã = dan tidaklah; antum = kamu; bi mu’jizĩn = dengan orang-orang yang terlepas.
wa yastambi-ũnaka ahaqqu huwa, qul ĩwa Robĩ innahũ la haqqu, wa mã antum bi mu’jizĩn.
53. Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah azab itu?” Katakanlah: “Ya, benar demi Robku, sesungguhnya azab itu benar, dan kamu tidak dapat terlepas darinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Benar, azab itu dari Allah bagi orang-orang yang terbelenggu oleh kekafiran.
wa lau dan kalau; anna = bahwa; likulli = bagi tiap-tiap; nafsin = diri; zholamat = ia lalim; mã = apa; fil ardhi = di atas bumi; laftadat = tentu dia tebus; bihĩ = dengannya; wa asarru = dan mereka menyembunyikan; an nadãmata = penyesalan; lamma = tatkala (ketika); ro awu = mereka melihat; al ‘adzãb = azab (siksaan); wa qudiya = dan diberi keputusan; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = mereka tidak dianiaya.
wa lau anna likulli nafsin zholamat mã fil ardhi laftadat bihĩ, wa asarrun nadãmata lamma ro awul ‘adzãb, wa qudiya bainahum bil qisthi wa hum lã yuzhlamũn
54. Dan kalau setiap diri yang lalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia mau menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalan, tatkala melihat siksaan itu. Dan telah diberi keputusan secara adil di antara mereka, dan mereka tidak dianiaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siksaan itu tidak tertebus dengan kekayaan sejagat raya, tidak terbeli dengan penyesalan seberapa pun besarnya kalau sudah di akhirat. Penyesalan di dunia, masih mungkin menyelamatkan dari api neraka. Penyesalan itu harus dinyatakan dengan sungguh-sungguh dan tidak mancla-mencle. Jangan menjadi orang lalim, jangan kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad.

Alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; lillãhi = kepunyaan Allah; mã = apa; fis samãwãti = yang ada di langit; wal ardhi = dan bumi; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; wa’dallãhi = janji Allah; haqqun = benar; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
alã inna lillãhi mã fis samãwãti wal ardhi, alã inna wa’dallãhi haqqun wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.
55. Ingatlah, sesungguhnya, kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya, janji Allah itu benar, tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini sering diungkapkan (lihat Q.s. Al Fatihah, 1 : 1; Al Baqarah, 2 : 33, 96, 107, 115, 116, 142, 156, 234, 235, 255; 270, 283, 284 kerajaan langit dan bumi itu milik Allah. Manusia diberi kekuasaan di muka bumi ini untuk memelihara, menjaga sebagian kecil milik Allah untuk kepentingan hidupnya; 2 : 115, 142 Milik Allahlah timur dan barat; Ali Imran, 3 : 6, 29, 109, 116,129; dan An Nisa, 4 : 131; 132; 170.; Janji Allah itu benar, tapi tetap masih saja banyak yang tidak mengimani, dan banyak yang tidak mau tahu.
huwa = Dia; yuhyĩ = Yang menghidupkan; wa yumĩtu = Yang mematikan; wa ilaihi = dan kepada-Nya; turja’ũn = kamu dikembalikan.
huwa yuhyĩ wa yumĩtu wa ilaihi turja’ũn.
56. Dialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan, dan kepada-Nya kamu dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini juga sering dikemukakan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 28 (Allah Mahakuasa mematikan dan menghidupkan makhluk-Nya); 73 Allah berkuasa menghidupkan makhluk yang sudah mati; Al A’rãf, 7 : 158; Dia Yang menghidupkan, dan Yang mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya… At Taubah, 9 : 116; Dia menghdupkan dan mematikan… tidak ada pelindung dan penolong bagimu, selain Allah, dan lain-lain.
yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah datang kepadamu; mau’izhatum = pelajaran; mir Robikum = dari Rab kamu; wa syifã-un = dan penawar; limmã = bagi apa (penyakit); fish shudũri = dalam dada; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatun = dan rahmat; lil mu’minĩn = untuk orang-orang yang beriman.
yaa ayyuhan nãsu qod jã-atkum mau’izhatum mir Robikum wa syifã-ul
57. Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rab kamu, dan penawar bagi penyakit di dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini pun sudah sering diungkapkan, sebagai pelajaran, Q.s. Al Baqarah, 2 : 1 (catatannya); 4, 5, 7, 37, 50, 66, 87, 221, 269, 275; penawar Q.s. ..; petunjuk, Q.s. ….; rahmat, Q.s. Al Fatihah, 1 : 1, 2,
qul = katakanlah; bi fadhlillãhi = dengan karunia Allah; wa bi rohmatihĩ = dan dengan rahmat-Nya; fa bi dzãlika = maka dengan demikian; fal yafrohũ = hendaknya mereka bergembira; huwa = ia (karunia dan rahmat); khoirun = lebih baik; mimma = dari apa; yajma’ũn = mereka kumpulkan.
qul bi fadhlillãhi wa bi rohmatihĩ fa bi dzãlika fal yafrohũ, huwa khoirum mimma yajma’ũn.
58. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan demikian, hendaknya mereka bergembira. Karunia dan rahmat itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karunia dan rahmat Allah itu sesungguhnya, berupa petunjuk Allah di dalam Alquran dengan Hadits dan Sunah yang disampaikan Nabi Muhammad saw..
qul = katakanlah; aro-aitum = bagaimana pendapatmu; mã = apa; anjalallãhu = Allah yang melimpahkan; lakum = kepadamu; mir rizqin = tentang rezeki; fa ja’altum = lalu kamu jadikan; min hu = darinya; harōman = haram; wa halãlan = dan halal; qul = katakanlah; allãhu = Allah; adzina = memberi izin; lakum = kepadamu; am = atau; ‘alallãhi = kepada Allah; taftarũn = kamu mengada-adakan.
qul aro-aitum mã anjalallãhu lakum mir rizqin fa ja’altum min hu harōman wa halãlan qul allãhu adzina lakum, am ‘alallãhi taftarũn.
59. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu tentang rezeki Allah yang dilimpahkan kepadamu, lalu kamu jadikan haram dan halal sebagian darinya. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberi izin kepadamu, atau kamu mengada-adakan saja tentang Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rezeki Allah yang dilimpahkan kepada makhluk-Nya itu semula semuanya halal. Allah kemudian menentukan rezeki ada yang haram. Yang menentukan rezeki itu halal atau haram itu hanya Allah. Allah memberi petunjuk untuk itu, bukan manusia yang menetapkan halal dan haram rezeki.

wa mã = dan apa; zhonnu = dugaan; l ladzĩna = orang-orang yang; yaftarũna = (mereka) mengada-adakan; ‘alallãhi = tentang Allah; al kadziba = dusta; yaumal qiyaamah = pada Hari Kiamat; innallãha = sesungguhnya Allah; ladzũ = benar-benar mempunyai; fadhlin = karunia; ‘alannãsi = kepada manusia; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; yasykurũn = tidak bersyukur.
wa mã zhonnul ladzĩna yaftarũna ‘alallãhil kadziba yaumal qiyaamah, innallãha ladzũ fadhlin ‘alannãsi wa lãkinna aktsarohum yasykurũn.
60. Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah pada Hari Kiamat? Sesungguhnya, Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman percaya pada Hari Kiamat, Allah akan menghisab makhluknya dengan adil. Bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka merasa tidak perlu mengingat Allah, mereka tidak percaya ada-Nya Allah, dan Hari Kiamat. Sesungguhnya, sebelum manusia diciptakan, Allah telah mempersiapkan terlebih dahulu tempat tinggalnya, kebutuhan hidupnya. Inilah limpahan karunia Allah yang tidak terhingga, selama hidupnya di dunia. Tapi kebanyakan manusia tidak mengingat asal-usul hidupnya.

wa mã = dan tidak; takũnu = kamu adalah; fĩ sya’nin = dalam suatu situasi; wa mã = dan tidak; tatlũ = kamu membaca; minhu = dari suatu ayat; min qur’anin = dari alquran; wa lã = dan tidak; ta’malũna = kamu mengerjakan; min ‘amalin = dari suatu perbuatan; illã = melainkan; kunnã = Aku adalah; ‘alaikum = atas kamu; syuhũdan = menjadi saksi; idz = ketika; tufĩdũna = kamu melakukan; fĩh = padanya; wa mã ya’zubu = dan ia tidak luput; ‘ar Robika = dari Rob kamu; mim mitsqōli = dari sebarat; dzarrotin = zarah; fĩl ardhĩ = di bumi; wa lã = dan tidak; fis samã-i = di langit; wa lã = dan tidak; ashghoro = lebih kecil; min dzãlika = dari itu; wa lã = dan tidak; akbaro = lebih besar; illã = melainkan; fĩ kitãbim mubĩn = dalam kitab yang nyata.
wa mã takũnu fĩ sya’nin wa mã tatlũ minhu min qur’anin wa lã ta’malũna min ‘amalin illã kunnã ‘alaikum syuhũdan idz tufĩdũna fĩh, wa mã ya’zubu ‘ar Robika mim mitsqōli dzarrotin fĩl ardhĩ wa lã fis samã-i wa lã ashghoro min dzãlika wa lã akbaro illã fĩ kitãbim mubĩn.
61. Dan kamu tidak berada dalam suatu situasi, dan kamu tidak membaca suatu ayat Alquran, dan kamu tidak mengerjakan suatu perbuatan, melainkan Aku menjadi saksi atas apa yang kamu lakukan. Dan tidak lepas dari pengetahuan Rob kamu, walau sebesar zarah di bumi atau pun di langit, dan tidak ada yang lebih kecil, dan tidak pula yang lebih besar dari itu, semua ada catatannya dalam kitab yang nyata (di Lauh Mahfudz )
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui setiap gerak-gerik makhluk-Nya sesedikit, sekecil, atau sehalus apa pun, dan sebasar apa pun semuanya tercatat di dalam kitab-Nya di Lauh Mahfudz .

alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; auliyaa-allãhi = wali-wali Allah; lã khaufun = tidak khawatir; ‘alaihim = padanya; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = bersedih hati.
alã inna auliyaa-allãhi lã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.
62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran padanya, dan tidak pula bersedih hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, bahwa para Nabi, Wali Allah, karena sudah melaksanakan tugasnya memberi peringatan, menyampaikan berita dari Allah, maka hati mereka tidak merasa khawatir akan terkena azab Allah, dan tidak pula bersedih hati, walaupun orang-orang yang dihimbaunya tidak mau mengikuti nasihatnya. Mereka sudah terbebas dari tanggung jawab kerasulannya pada Hari Kiamat.
alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa kãnũ = dan mereka adalah; yattaqũn = mereka selalu bertakwa.
alladzĩna ãmanũ wa kaanũ yattaqũn.
63. (Yaitu) orang-orang yang beriman, dan mereka itu (selalu) bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman dan selalu takwa adalah orang-orang yang tidak merasa khawatir saat Hari Kiamat, dan tidak merasa sedih, walaupun penerangan, himbauannya ada yang tidak memperhatikan, ada yang tidak mau mendengar.

lahumu = bagi mereka; al busyrō = kabar gembira; fĩl hayaati = dalam kehidupan; ad dun-yaa = di dunia; wa fil ãkhiroh = dan di akhirat; lã tabdĩla = tidak ada perubahan; li kalimãti = pada kalimat-kalimat; allãh = Allah; dzãlika = demikian itu; huwa = ia; al fauzu = kemenangan; al ‘azhĩm = yang besar.
lahumul busyrō fĩl hayaatid dun-yaa wa fil ãkhiroh, lã tabdĩla li kalimãtil lãh, dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
64. Bagi mereka, berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat, tidak ada perubahan untuk kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu merupakan kemenangan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat-kalimat Allah itu tuntunan untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat yang membawa ke keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, kedamaian, kemuliaan abadi, tidak ada perubahan, tidak pernah berubah. Mereka yang mau membacanya, memahaminya, mempraktikkan segala petunjuk, arahan untuk dapat mencapai hidup sejahtera, tenteram, damai, sejahtera, sempurna.
wa lã = dan jangan; yahzunka = menyedihkan kamu; qouluhum = perkataan mereka; inna = sesungguhnya; al ‘izata = keemuliaan (kekuasaan); lillãhi = kepunyaan Allah; jamĩ’an = seluruhnya; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui;
wa lã yahzunka qouluhum, innal ‘izatalillãhi jamĩ’an, huwas samĩ’ul ‘alĩm.
65. Dan perkataan mereka, jangan membuat kamu sedih, sesungguhnya, seluruh kemuliaan itu kepunyaan Allah, Dia Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perkataan mereka: “perbuatan bodoh, mengolok-olok, menganggap bohong, menganggap penyihir, dongeng-dongeng kuno”, jang membuat sedih. Untuk mencapai kemuliaan, manusia harus berusaha dengan menggunakan jalan yang diarahkan Allah. Dunia ini tempat manusia mengalami kemuliaan dan kerendahan. Allah hanya memiliki Kemuliaan yang harus diraih makhluk-Nya, khususnya manusia.

alã = ingat; inna = sesungguhnya; lillãhi = kepunyaan Allah; man = apa-apa (orang); fĩs samãwãti = di langit; wa man = dan apa-apa (orang); fil ardhi = di bumi; wa mã yattabi’u = dan tidak mengikuti; al ladzĩna = orang-orang yang …; yad’ũna = (mereka) menyeru; min dũnil lãhi = dari selain Allah; syurokã-a = serikat-serikat (sekutu-sekutu); ina yattabi’ũna = mereka tidak mengikuti; illa = kecuali; azh zhonna = persangkaan; wa in hum = dan mereka tidak; illã = kecuali (hanyalah); yakhrushũn = mereka berdusta.
alã inna lillãhi man fĩs samãwãti wa man fil ardhi, wa mã yattabi’ul ladzĩna yad’ũna min dũnil lãhi syurokã-a, ina yattabi’ũna illazh zhonna wa in hum illã yakhrushũn.
66. Ingatlah, sesungguhnya, kepunyaan Allah apa-apa yang ada di langit dan di bumi, dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, mereka tidak mengikuti (suatu keyakinan), kecuali persangkaan belaka. Dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan makhluk-Nya tentang kekuasan-Nya. Jangan mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadi pendusta. “Menyeru” artinya memuliakan, memohon sesuatu, membesarkan namanya, menghormati, memuja-muja. Keyakinan kepada sesuatu selain Allah sesungguhnya, mereka membohongi dirinya sendiri (hati nuraninya).
huwa = Dialah; al ladzĩ = Yang; ja’ala = menjadikan; lakumu = bagi kamu; al laila = malam; li taskunũ = supaya kamu beristirahat; fĩhi = di saat itu; wan nahãra = dan siang; mubshiron = terang-benderang; inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = dari yang demikian; la-ayaatin = terdapat tanda-tanda; li qoumĩn = bagi kaum; yasma’ũn = mereka mendengar.
huwal ladzĩ ja’ala lakumul laila li taskunũ fĩhi wan nahãra mubshiron, inna fĩ dzãlika la-ayaatil li qoumĩn yasma’ũn.
67. Dialah Yang menjadikan malam bagimu, supaya kamu berisitirahat saat itu, dan (menjadikan) siang terang-benderang. Sesungguhnya, pada pembagian waktu itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi dan membeda-bedakan waktu untuk menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Orang yang menghargai waktu, berarti membesarkan Allah. Allah yang memiliki dan menguasai waktu. Manusia yang dapat menggunakan waktu, memanfaatkan waktu untuk keperluan hidupnya, harus bersyukur kepada Yang memberi waktu yaitu Allah.
qōlu = mereka berkata; it takhadzallãhu = Allah mengambil (mempunyai); waladan = anak; subhanahũ = Mahasuci Dia; huwal ghoniyyu = Dia Yang Mahakaya; lahũ = kepunyaan-Nya; mã = apa-apa; fis samãwãti = yang di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; in ‘indakum = kamu tidak mempunyai; min sulthōnim = dari hujjah (keterangan); bi hãdzã = dengan ini; ataqũlũna = apakah kamu mengatakan; alallãhi = tentang Allah; mã lã ta’lamũn = apa yang tidak kamu ketahui.
qōlut takhadzallãhu waladan, subhanahũ, huwal ghoniyyu, lahũ mã fis samãwãti wa mã fil ardhi, in ‘indakum min sulthōnim bi hãdzã, ataqũlũna alallãhi mã lã ta’lamũn.

68. Mereka berkata: “Allah mempunyai anak.” Mahasuci Dia. Dia Mahakaya. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah (keterangan) untuk ini. Apakah kamu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar jangan mengikuti pernyataan yang salah “Allah mempunyai anak”, “Allah memungut anak”. “Allah beranak”. Ada Allah Bapa, ada Allah Anak, ada Allah Rohul Kudus. Allah tidak memberi keterangan tentang ungkapan seperti itu. Pertanyaan pada ayat 88 di atas, menegaskan larangan: “jangan menirukan ungkapan yang tidak berasal dari Allah, atau ungkapan tentang Allah yang bukan berasal dari Allah. Allah Mahasuci, Allah Mahakaya. Semua apa yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah.
qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; yaftarũna = (mereka) mengada-adakan; ‘alallãhi = tentang Allah; al kadziba = orang dusta; lã yuflihũn = mereka tidak beruntung.
qul innal ladzĩna yaftarũna ‘alallãhil kadziba lã yuflihũn.
69. Katakanlah: “Sesungguhnya, orang-orang yang mengada-adakan dusta tentang Allah, mereka tidak beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Yunus, 10 :17, 39, 60, 66
matã’un = kesenangan; fid dun-yaa = di dunia; tsumma = kemudian; ilainã = kepada-Ku; marji’uhum = tempat kembali mereka; tsumma = kemudian; nudzĩquhumu = Aku merasakan kepada mereka; al ‘adzãba = azab; asy syadĩda = keras, berat, pedih; bimã = dengan apa (karena); kaanũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka kafir.
matã’un fid dun-yaa tsumma ilainã marji’uhum tsumma nudzĩquhumul ‘adzãbasy syadĩda bimã kaanũ yakfurũn.
70. (bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Aku lah tempat kembali mereka, kemudian Aku timpakan kepada mereka siksa yang berat, karena mereka kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga Q.s. Yunus, 10 : 7, 23. Hidup di dunia ini hanya sebentar, hanya sementara. Akhirnya harus kembali kepada Yang Menciptakan. Manusia harus mempertanggungjawabkan kekhalifahannya di dunia ini, kepada Penciptanya.
watlu = dan bacakan; ‘alaihim = untuk mereka; naba-a = berita; nũhin = Nuh; idz = ketika; qōla = berkata; li qoumihĩ = pada kaumnya; yaa qoumi = yaa kaumku; in kãna = jika ada; kaburo = terasa berat; ‘alaikum = untukmu; mãqōmĩ = kedudukanku; wa tadzkĩrĩ = dan peringatanku; bi-ãyaatillãhi = dengan ayat-ayat Allah; fa’alallãhi = maka kepada Allah; tawakkaltu = aku bertawakal; fa ajmi’ũ = maka kumpulkan; amrokum = keputusanmu; wa syurokã-Akum = dan sekutu-sekutumu; tsumma = kemudian; lã yakun = hendaknya jangan; amrukum = keputusanmu; ‘alaikum = bagimu; ghummatan = ragu-ragu (dirahasiakan); tsumma = kemudian; ukdhũ = lakukanlah; ilayya = kepadaku; wa lã tunzhirũn = dan jangan beri tangguh kepadaku.
watlu ‘alaihim naba-a nũhin idz qōla li qoumihĩ yaa qoumi in kaana kaburo ‘alaikum mãqōmĩ wa tadzkĩrĩ bi-ãyaatillãhi fa’alallãhi tawakkaltu fa ajmi’ũ amrokum wa syurokã-Akum tsumma lã yakun amrukum ‘alaikum ghummatan tsummakdhũ ilayya wa lã tunzhirũn.
71. Dan bacakanlah untuk mereka, berita tentang Nuh, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Jika terasa berat untukmu kedudukanku, dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka aku bertawakal hanya kepada Allah, karena itu, kumpulkanlah keputusanmu, dan sekutu-sekutumu (untuk membinasakan aku), kemudian janganlah keputusanmu itu menjadi ragu-ragu untukmu, lalu lakukanlah kepada diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh untukku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk membacakan berita tentang Nuh, maksud-Nya agar manusia mau bercermin pada kejadian masa itu. Orang-orang jaman Nabi Nuh banyak yang membangkang, berkebaratan, Nuh ditunjuk sebagai Nabi dan memberi peringatan dengan ayat-ayat Allah. Zaman Nabi Muhammad saw. juga demikian. Bacaan ini menjadi penghibur hati Nabi Muhammad saw.

fain = maka, jika; tawal laitum = kamu berpaling; fa mã = maka tidak; sa-altukum = Aku meminta kepadamu; min ajrin = upah dari; in ajriya = illã = ‘alãllãh = wa umirtu = an akũna = agar aku menjadi; minal muslimĩn = menjadi orang yang berserah diri.
fain tawal laitum fa mã sa-altukum min ajrin, in ajriya illã ‘alãllãh, wa umirtu an akũna minal muslimĩn
72. Maka, jika kamu berpaling, aku tidak meminta upah kepadamu. Upahku hanya dari Allah, dan aku diperintah agar aku menjadi orang yang berserah diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dari gambaran Nabi Nuh di atas, Nabi Muhammad saw. diberi contoh nyata, seandainya umat Muhammad saw. juga berpaling, maka beliau akan menirukan arahan dari Nabi Nuh itu. Pada Surat lain, ada smacam variasi dalam cara pengungkapannya.
fakadz dzabũhu = Maka, mereka mendustakan Nuh; fanajjainãhu = lalu Aku selamatkan dia; wa man = dan orang-orang; ma’ahũ = bersamanya; fil fulki = dalam bahtera; wa ja’alnãhum = dan Aku jadikan mereka; kholã-ifa = penguasa; wa aghroqnã = dan Aku tenggelamkan; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyaatinã = dengan ayat-ayat-Ku; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘ãqibatu = akibat (kesudahannya); al mundzarĩn = orang-orang yang diberi peringatan.
fakadz dzabũhu fanajjainãhu wa mam ma’ahũ fil fulki wa ja’alnãhum kholã-ifa wa aghroqnãl ladzĩna kadzdzabũ bi ãyaatinã, fanzhur kaifa kaana ‘ãqibatul mundzarĩn.
73. Maka, mereka mendustakan Nuh, lalu Aku selamatkan dia, dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Aku jadikan mereka penguasa, dan Aku tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku. Maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir dari orang-orang yang mendustakan Nabi Nuh, mereka dimusnahkan. Hal ini menjadi peringatan kepada umat Nabi Muhammad saw. .
tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mim ba’dihĩi = dari sesudah Nuh; rusulan = Rasul-rasul; ilã = kepada; qoumihim = kaum mereka; fa jã-ũhum = maka (Rasul-rasul) datang kepada mereka; bil bayyinãti = dengan (keterangan) yang nyata; fa mã kãnũ = maka tidak ada mereka; li yu’minũ = mereka hendak beriman; bi mã = karena; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bihĩ = kepadanya; min qoblu = dari dahulu; kadzãlika = demikianlah; nathba’u = Aku kunci mati; ‘alã qulũbi = pada hati; al mu’tadĩn = orang-orang yang melampaui batas.
tsumma ba’atsnã mim ba’dihĩi rusulan ilã qoumihim fa jã-ũhum bil bayyinãti fa mã kãnũ li yu’minũ bi mã kadzdzabũ bihĩ min qoblu, kadzãlika nathba’u ‘alã qulũbil mu’tadĩn.
74. Kemudian setelah Nuh, Aku utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak mau beriman, karena mereka sejak dulu mendustakannya. Demikianlah Aku kunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang dari zaman dahulu banyak yang tidak mau beriman, mendustakan agama, sampai sekarang pun banyak yang demikian karena hati-hati mereka dikunci oleh Allah.

tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mim ba’dihim = sesudah mereka (Rasul-rasul); mũsã = Musa; wa hãrũna = dan Harun; ilã fir’auna = kepada Fir’aun; wa mala-ihĩ = dan pemuka-pemukanya; bi ãyaatinã = dengan ayat-ayat-Ku; fastakbarũ = maka mereka menyombongkan diri; wa kãnũ = dan mereka adalah; qauman = kaum; mujrimĩn = orang-orang yang yang berdosa.
tsumma ba’atsnã mim ba’dihim mũsã, wa hãrũna ilã fir’auna wa mala-ihĩ bi ãyaatinã fastakbarũ wa kãnũ qaumam mujrimĩn.
75. Kemudian, sesudah Rasul-rasul itu, Aku utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya dengan (membawa) ayat-ayat- Ku, maka mereka menyombongkan diri, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya melambangkan pemuka-pemuka zaman sekarang yang menyombongkan diri dengan undang-undang, peraturan-peraturan yang dibuatnya. Mereka berdosa, karena undang-undang, peraturan-peraturan yang dibuatnya tidak berdasarkan Alquran, sunah, dan haditsnya.

fa lammã = maka, ketika; jã-ahumu = datang kepada mereka; al haqqu = kebenaran; min ‘indinã = dari-Ku; qōlũ = mereka berkata; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; la sihrun = adalah sihir; mubĩn = yang nyata.
fa lammã jã-ahumul haqqu min ‘indinã qōlũ inna hãdzã la sihrum mubĩn.
76. Maka, ketika datang kepada mereka kebenaran dari-Ku, mereka berkata: “Sesungguhnya, ini adalah sihir yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang perbuatan sihir (Q.s. Al Baqarah, 2 : 102. Segala perbuatan, tingkah laku harus bedasarkan ketentuan dari Allah. Jangan mengikuti ajaran manusia, betapa pun pandainya, seperti ajaran Harut dan Marut, zaman Nabi Sulaiman a.s.. Nabi Sulaiman a.s. sendiri melakukan segala sesuatu yang ajaib itu atas tuntunan Allah, atas izin Allah. Demikian juga kemampuan Nabi Isa a.s.. Orang-orang yang tidak beriman kepadanya menganggap perbuatan para Nabi itu sihir (Q.s. An Nisa’ 4 : 108; Al Maidah, 5 : 110). Padahal bukan sihir, karena ada tuntunan Allah, dan atas izin Allah. Undang-undang dan peraturan di dalam Alquran itu sesungguhnya dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat di mana pun, dan kapan pun. Maka tiap-tiap negara, tiap-tiap masyarakat di suatu daerah membuat undang-undang, dan peraturan yang selaras dengan apa yang ditetapkan di dalam Alquran. Setiap kegiatan, apakah itu perorangan, atau menyangkut kelompok, tentu ada aturannya yang menyangkut kepentingan pribadi, atau kepentingan hidup berkelompok. Semuanya menyangkut akhlak, individual, dan akhlak kelompok; kepentingan hidup pribadi, dan kepentingan hidup berkelompok. Semuanya menyangkut hajat hidup diri sendiri maupun menyangkut hajat hidup berkelompok. Semuanya, kalau didasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya akan menciptakan akhlakul karimah. Ini merupakan tujuan utama umat beragama. Namun, kalau kegiatan itu tidak cocok dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidak membina akhlakul karimah, maka undang-undang dan peraturan itu harus ditolak. Tidak dapat menjadi pedoman hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

qōla mũsã = Musa berkata; ataqũlũna = apakah kamu mengatakan; lilhaqqi = terhadap kebenaran; lammã = ketika; jã-Akum = databg kepadamu; asihrun = sihirkah; hãdzã = ini; wa lã yuflihu = dan tidak beruntung; as sãhirũn = ahli-ahli sihir.
qōla mũsã ataqũlũna lilhaqqi lammã jã-Akum, asihrun hãdzã wa lã yuflihus sãhirũn.
77. Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan sihir terhadap kebenaran yang datang kepadamu?, padahal ahli-ahli sihir itu tidak mendapat kemenangan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 102. Larangan ilmu sihir yang berasal dari Harut dan Marut, ahli sihir pada zaman Nabi Sulaiman; Al Baqarah, 2 : 103 Ilmu dari Allah yang dapat menghidupkan orang mati, bukan sihir. Ilmu penyembuhan karena buah takwa dan iman kepada Allah bukan sihir. Kemampuan mengobati, atas izin Allah dan untuk memaslahatan makhluk-Nya itu bukanlah sihir. Itu kebenaran yang datang dari Allah melalui Nabi, dan orang-orang yang dipercaya untuk itu.
qōlũ = mereka berkata; aji’tanã = apakah kamu datang kepada kami; li talfitanã = untuk memalingkan kami; ‘ammã = dari apa; wajadnã = Aku dapati; ‘alaihi = darinya; ãbã-anã = nenek-moyang kami; wa takũna = dan menjadikan; lakumã = bagi kamu berdua; al kibriyaa-u = pembesar (pengyasa); fil ardhi = di bumi; wa mã nahnu = dan Aku tidak; lakumã = kepada kamu berdua; bimu’minĩn = dengan mempercayai.
qōlũ aji’tanã li talfitanã ‘ammã wajadnã ‘alaihi ãbã-anã wa takũna lakumãl kibriyaa-u fil ardhi, wa mã nahnu lakumã bimu’minĩn
78. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati dari (pekerjaan) nenek-moyang kami, dan supaya kamu berdua menjadi penguasa di bumi? Dan kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alasan orang untuk tidak mempercayai para Rasul Allah.

wa qōla = dan berkata; fir’aunu = Fir’aun; i’tũnĩ = datangkanlah kepada-Ku; bi kulli = dengan tiap-tiap (semua); sãhirin = ahli-ahli sihir; ‘alĩm = yang berilmu.
wa qōla fir’aunu’tũnĩ bi kulli sãhirin ‘alĩm.
79. Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka-pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli sihir yang berilmu”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Fir’aun yang menyuruh para pembesarnya mendatangkan ahil-ahli sihir yang pandai. Ada peralihan tema?

fa lammã = maka setelah; jã-a = datang; as saharotu = ahli sihir; qōla = berkata; lahum = kepada mereka; mũsã = Musa; alqũ = lemparkan; mã antum = apa yang kamu; mulqũna = orang yang melemparkan.
fa lammã jã-as sahararotu qōla lahum mũsã alqũ mã antum mulqũna.
80. Maka, setelah ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah, apa yang akan kamu lemparkan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Musa dengan ahli-ahli sihir.

fa lammã = maka setelah; alqou = mereka melemparkan; qōla = berkata; mũsã = Musa; mã ji’tum = apa yang kamu datangkan; bihi = dengannya; as sihru = sihir; innallãha = sesungguhnya Allah; sayubthiluh = akan membatalkannya; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yushlihu = tidak membiarkan berhasil; ‘amala = pekerjaan; al mufsidĩn = orang-orang yangmembuat kerusakan.
fa lammã alqou qōla mũsã mã ji’tum bihis sihru, innallãha sayubthiluh, innallãha lã yushlihu ‘amalal mufsidĩn.
81. Maka setelah mereka melemparkan, Musa berkata: “Apakah yang kamu datangkan itu sihir? Sesungguhnya, Allah akan membatalkannya.” Sesungguhnya, Allah tidak akan membiarkan berhasil pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih cerita Nabi Musa a.s. dengan ahli sihir. Allah tidak menghendaki keberhasilan orang-orang yang akan membuat kerusakan di bumi.

wa yuhiqqu = dan membenarkan; allãh = Allah; al haqqo = yang benar; bi kalimãtihĩ = dengan kalimat-Nya; walau = walalupun; kariha = tidak menyukai; al mujrimũn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa yuhiqqullãhul haqqo bi kalimãtihĩ walau karihal mujrimũn.
82. Dan Allah membenarkan yang betul dengan kata-kata-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menghendaki yang benar-benar betul atau yang betul-betul benar. Allah itu benar ada-Nya. Para Nabi itu adanya benar. Para Malaikat itu benar adanya. Alquran itu benar dari Allah. Neraka dan surga itu benar adanya. Dan orang-orang yang suka berbuat dosa tidak menyukai hal yang demikian.

fa mã ãmana = maka, tidak ada yang beriman; li mũsã = kepada Musa; illã = kecuali; dzurriyyatun = anak cucu; min qoumihĩ = dari kaumnya; ‘alã = atas; khoufin = rasa takut; min fir’auna = dari Fir’aun; wa mala-ihim = dan penguasa-penguasa; an yaftinahum = akan memfinah (menyiksa) mereka; wa inna fir’auna = dan sesungguhnya, Fir’aun; la’alin = berbuat sewenang-wenang; fil ardhi = di bumi; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; la mina = sungguh dari; al musrifĩn = orang-orang yang melampaui batas.
fa mã ãmana li mũsã illã dzurriyyatum min qoumihĩ ‘alã khoufim min fir’auna wa mala-ihim an yaftinahum, wa inna fir’auna la’alin fil ardhi wa innahũ la minal musrifĩn.
83. Maka, tidak ada yang beriman kepada Musa, kecuali anak-cucu dari kaumnya (Musa) dengan perasaan takut, bahwa Fir’aun dan pemuka-pemukanya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya, Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di bumi, dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Riwayat Nabi Musa dan anak-cucunya di bawah kekuasaan Fir’aun yang sewenang-wenang.

wa qōla = dan berkata; mũsã = Musa; yaa qoumi = wahai kaumku; in kuntum = jika kamu adalah; ãmantum = kamu beriman; billãhi = kepada Allah; fa ‘alaihi = maka kepada-Nya; tawakkalũ = bertawakallah; in kuntum = jika kamu adalah; muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.
wa qōla mũsã yaa qoumi in kuntum ãmantum billãhi fa ‘alaihi tawakkalũ in kuntum muslimĩn.
84. Dan Musa berkata: “Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu orang-orang yang berserah diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Musa a.s. memberi nasihat kepada kaumnya, agar selalu beriman kepada Allah, dan selalu bertawakal kepada-Nya.

fa qōlũ = maka mereka berkata; ‘alallãhi = kepada Allah; tawakkalnã = Aku bertawakal; Robanã = ya Rab kami; lã taj’alnã = janganlah Aku Engkau jadikan; fitnatan = fitnah; lil qoumi = bagi kaum; adh dhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
fa qōlũ ‘alallãhi tawakkalnã Robanã lã taj’alnã fitnatal lil qoumidh dhōlimĩn.
85. Maka mereka berkata: kepada Allah, “Kami bertawakal, yaa Rab kami, janganlah kami, Engkau jadikan fitnah bagi kaum yang lalim”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman selalu berdoa membesarkan Nama Allah, dan agar dijauhkan dari fitnah oleh orang-orang yang lalim.
wa najjinã = dan selamatkanlah kami; bi rohmatika = dengan rahmat Engkau; mina = dari; al qoumi = kaum; al kãfirĩn = orang-orang yang kafir.
wa najjinã bi rohmatika minal qoumil kãfirĩn
86. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu-daya) orang-orang yang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa kaum Nabi Musa yang dilanjutkan oleh Umat Islam. Memang, orang-orang kafir itu selalu membuat tipu daya kepada orang-orang muslim karena kepentingan keyakinannya yang sebetulnya sudah menyimpang dari kepercayaan kepada Allah Yang Maha-esa. Mereka menjadi musyrikin.
wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã = kepada; mũsã = Musa; wa akhĩhi = dan saudaraanya; an tabawwa-ã = hendaknya kamu berdua membuat; li qoumikumã = bagi kaummu berdua; bi mishro = di Mesir; buyũtan = beberapa rumah; waj’alũ = dan jadikanlah; buyũtAkum = rumah-rumah kamu; qiblatan = kiblat; wa aqĩmũ = dan dirikan; ash sholãta = salat; wa basysyiri = dan gembirakanlah; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
wa auhainã ilã mũsã wa akhĩhi an tabawwa-ã li qoumikumã bi mishro buyũtan waj’alũ buyũtAkum qiblatan wa aqĩmũsh sholãta wa basysyiril mu’minĩn
87. Dan Aku wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Hendaknya kamu berdua membuat beberapa rumah di Mesir (di sebelah manaɁ) untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumah itu sebagai kiblat (tempat salat), dan dirikanlah salat, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s. agar membuat beberapa rumah di Mesir ( untuk tempat salat, dan agar menggembirakan orang-orang yang beriman.

wa qōla mũsã = dan Musa berkata; Robanã = yaa Rōb kami; innaka = sesungguhnya Engkau; ãtaita = telah engkau datangkan (berikan); fir’auna = Fir’aun; wa malã-ahũ = dan pemuka-pemukanya; zĩnatan = perhiasan; wa amwãlan = dan harta kekayaan; fil hayaati = dalam kehidupan; ad dun-yaa = dunia; Robanã = yaa Rob kami; li yudhillu = untuk mereka menyesatkan; ‘an sabĩlika = dari jalan Engkau; Robana = yaa Rob kami; athmis = binasakanlah; ‘alã amwãlihim = atas harta kekayaan mereka; wasydud = dan keraskan (kunci mati); ‘alã qulũbihim = atas hati mereka; falã = maka tidak; yu’minũ = mereka beriman; hattã = sehingga; yarowu = mereka melihat; al ‘adzãba = azab (siksa); al alĩm = pedih.
wa qōla mũsã Robanã innaka ãtaita fir’auna wa malã-ahũ, zĩnatan wa amwãlan fil hayaatid dun-yaa Robanã li yudhillu ‘an sabĩlika, Robanathmis ‘alã amwãlihim wasydud ‘alã qulũbihim falã yu’minũ hattã yarowul ‘adzãbal alĩm.
88. Dan Musa berkata; “Yaa Rob kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, yaa Rob kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau, yaa Rob kami, binasakanlah harta kekayaan mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran dari ayat ini, perhiasan dan harta kekayaan dunia dapat menyesatkan pemiliknya dalam mengikuti jalan Allah. Harta kekayaan dunia menyebabkan hati pemiliknya terkunci untuk dapat beriman kepada Allah. Harta dunia sebaiknya, dan seharusnya dijadikan sarana berinfak, bersodakoh, untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdakwah untuk membesarkan Allah.

Qōla = (Allah) bersabda; qod = sesungguhnya; ujĩbat = telah diperkenankan; da’watukumã = permohonanmu berdua; fastaqĩmã = maka tetaplah kamu berdua; wa lã tattabi’ãnni = dan janganlah kamu mengikuti; sabĩla = jalan; al ladzĩna = orang-orang yang …; la ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
qōla qod ujĩbat da’watukumã fastaqĩmã wa lã tattabi’ãnni sabĩlal ladzĩna la ya’lamũn.
89. Allah bersabda: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu berdua, maka tetaplah kamu berdua (pada jalan yang lurus), dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memperkenankan doa yang baik-baik dari hambanya, dan meminta hamba-Nya selalu berjalan di jalan yang ditunjuki-Nya, bukan jalan dari orang-orang yang tidak berpengetahuan.
wa jãwaznã = dan Aku seberangkan; bi banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; al bahro = laut; fa atba’ahum = lalu mereka diikuti; fir’aunu = Fir’aun; wa junũduhũ = dan tentaranya; baghyan = menganiaya; wa ‘adwan = dan memusuhinya; hattã = sampai; idzã = ketika; adrokahu = dia (Fir’aun) telah hampir; al ghoroqu = tenggelam; qōla = dia berkata; ãmantu = saya percaya; annahũ = bahwa; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = selain; al ladzĩ = Dia Yang; ãmanat = dipercaya; bihĩ = dengan-Nya; banũ isrō-ĩla = Bani Israil; wa ana = dan saya; minal muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.
wa jãwaznã bi banĩ isrō-ĩlal bahro fa atba’ahum fir’aunu wa junũduhũ baghyan wa ‘adwan, hattã idzã adrokahul ghoroqu qōla ãmantu annahũ lã ilãha illãl ladzĩ ãmanat bihĩ banũ isrō-ĩla wa ana minal muslimĩn.
90. Dan Aku seberangkan Bani Israil melalui laut, lalu mereka diikuti Fir’aun dengan bala tentaranya akan menganiaya dan memusuhinya, sampai ketika Fir’aun hampir tenggelam, berkatalah dia. “Saya percaya, tidak ada ilah kecuali Dia Yang dipercaya oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa Bani Israil yang dikejar-kejar Fir’aun dengan tentaranya melintasi Laut Merah, dan pengakuan Fir’aun tentang ada-Nya Allah. Secara panjang-lebar diceriterakan dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 40 – 123

al ãna = apakah sekarang; wa qod = padahal sesungguhnya; ‘ashoita = kamu telah durhaka; qoblu = sejak dulu; wa kunta = dan kamu; minal mufsidĩn = termasuk orang-orang yang membuat kerusakan.
al ãna wa qod ‘ashoita qoblu wa kunta minal mufsidĩn
91. Mengapakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya, kamu telah durhaka sejak dulu, dan kamu termasuk orang-orang yang membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pengakuan Fir’aun dinilai Allah terlambat. Jadi, dia tetap dianggap sebagai orang-orang yang membuat kerusakan. Dosanya tidak diampuni.

fal yauma = maka pada hari ini, nunajjĩka = Aku selamatkan kamu; bi badanika = dengan badanmu; litakũna = supaya kamu menjadi; liman = bagi orang; kholfaka = di belakangmu; ãyaatan = ayat-ayat (pelajaran); wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan; minan nãsi = dari manusia; ‘an ãyaatinã = dari ayat-ayat Kami; la ghōfilũn = sungguh mereka lalai.
fal yauma nunajjĩka bi badanika litakũna liman kholfaka ãyaatan, wa inna katsĩrom minan nãsi ‘an ãyaatinã la ghōfilũn.
92. Maka, pada hari ini, Aku selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang di belakangmu, dan sesungguhnya, kebanyakan manusia lalai dari ayat-ayat-Ku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyelamatkan badan Fir’aun untuk menjadi ayat-ayat (pelajaran) yang tidak terlupakan oleh manusia. Namun, banyak juga yang melalaikan ayat-ayat Allah. Banyak yang hidupnya bermalas-malas saja. Tidak bergairah mencari ilmu yang disediakan Allah di alam semesta ini. Padahal ilmu itu akan meningkatkan taraf hidup orang yang memilikinya.

wa laqod = dan sesungguhnya; bawwa’nã = Aku tempatkan; banĩ isrō-ila = Bani Israil; mubawwa’a = di tempat; shidqin = yang baik; wa rozaknãhum = dan mereka Aku beri rezeki; minath thoyyibãti = dengan yang baik-baik; famakhtolafũ = maka mereka tidak berselisih; hattã = sampai; jã-a = datang; humu = kepada mereka; al ‘ilmu = ilmu; inna = sesungguhnya; Robbaka = Rob kamu; yaqdhĩ = Dia memutuskan; bainahum = di antara mereka; yauma = hari; al qiayaamati = kiamat; fĩmã = tentang apa; kãnũ = mereka adalah; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.
wa laqod bawwa’nã banĩ isrō-ila mubawwa’a shidqin wa rozaknãhum minath thoyyibãti famakhtolafũ hattã jã-a humul ‘ilmu, inna Robbaka yaqdhĩ bainahum yaumal qiayaamati fĩmã kãnũ fĩhi yakhtalifũn.
93. Dan sesungguhnya, Aku telah menempatkan Bani Israil di tempat yang baik, dan Aku beri mereka rezeki yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, sampai datang kepada mereka pengetahuan (yang ada di dalam Taurat). Sesungguhnya, Rob kamu akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kelebihan kepada Bani Israil. Ceriteranya secara panjang-lebar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 :40 – 123.

fa in = maka jika; kunta = kamu adalah; fĩ syãkkin = dalam keraguan; mimmã = dari apa yang; anzalnã = Aku turunkan; ilaika = kepadamu; fas-ali = maka tanyakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; yaqro-ũna = (mereka) membaca; al kitãba = Kitab; min qoblik = dari sebelum kamu; laqod = sesungguhnya; jã-aka = telah datang kepadamu; al haqqu = kebenaran; mir robbika = dari Rob kamu; fa lã takũnanna = maka kamu jangan sekali-kali; mina = dari (termasuk pada); al mumtarĩn = orang-orang yang ragu.
fa in kunta fĩ syaakkim mimmã anzalnã ilaika fas-alil ladzĩna yaqro-ũnal kitãba min qoblik, laqod jã-akal haqqu mir robbika fa lã takũnanna minal mumtarĩn.
94. Maka, jika kamu (Muhammad saw.) dalam keraguan tentang apa yang Aku turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab dari (zaman) sebelum kamu. Sesungguhnya, telah datang kepadamu kebenaran dari Rob kamu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. agar jangan menjadi orang yang ragu menerima kebenaran dari Allah. Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. menanyakan kepada ahli Kitab, agar memahami bahwa memang kebenaran itu datangnya dari Allah.
wa lã = dan jangan; takũnanna = sekali-kali kamu adalah; mina = dari (termasuk); al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyaatillãhi = dengan ayat-ayat Allah; fa takũna = maka kamu menjadi; mina = dari (termasuk); al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.
wa lã takũnanna minal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtillãhi fa takũna minal khōsirĩn.
95. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. (Kalau demikian) kamu temasuk orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. agar jangan mendustakan ayat-ayat Allah, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi.
inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; haqqot = telah pasti; ‘alaihim = bagi mereka; kalimatu = kalimat (keputusan); robbika = Rob kamu; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
innal ladzĩna haqqot ‘alaihim kalimatu robbika lã yu’minũn
96. Sesungguhnya, orang-orang yang telah pasti bagi mereka, putusan Rob kamu, mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang-orang yang menetapkan dirinya menjadi orang yang tidak beriman. Allah memutuskan ketetapan-Nya berdasarkan ketetapan akal-pikiran orangnya.

wa lau = walau; jã-at hum = telah datang kepada mereka; kullu = tiap-tiap (segala); ãyatin = ayat (keterangan); hattã = sampai; yarowu = mereka melihat; al ‘adzãba = azab; al alĩma = yang pedih.
wa lau jã-at hum kullu ãyatin hattã yarowul ‘adzãbal alĩma.
97. Walau telah datang segala ayat keterangan kepada mereka, sampai mereka melihat siksaan yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hal yang aneh bagi manusia yang tidak mau beriman, walaupun sekian banyak keterangan ayat-ayat Allah diturunkan, tetap saja mereka tidak mau beriman kepada Allah dan para Nabi, sampai Hari Kiamat.

fa lau = maka kalau; lã = tidak; kãnat = adalah; qoryatun = suatu negeri; ãmanat = beriman; fanafa’ahã = maka (lalu) memberi manfaat kepadanya; imãnuhã = imannya; illã = melainkan; qouma = kaum; yũnusa = Yunus; lammã = ketika; ãmanũ = mereka beriman; kasyafnã = Aku angkat (hilangkan); ‘anhum = dari mereka; adzãba = azab (siksaan); al khizyĩ = yang menghinakan; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dun-ya = dunia; wa matta’nãhum = dan Aku beri kenikmatan (kesenangan) mereka; ilã = sampai; hĩn = waktu tertentu.
fa lau lã kãnat qoryatun ãmanat fanafa’ahã imãnuhã illã qouma yũnusa lammã ãmanũ kasyafnã ‘anhum adzãbal khizyĩ fil hayãtid dun-ya wa matta’nãhum ilã hĩn.
98. Maka, mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri yang beriman, lalu imannya memberi manfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Aku hilangkan dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Aku beri kesenangan mereka sampai pada waktu yang tertentu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Suatu keanehan, mengapa hanya kaum Yunus saja yang mau beriman kepada Allah? Mereka (kaum Yunus) tidak mendapat siksaan dunia, dan diberi kesenangan (kenikmatan) sampai waktu tertentu.

wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; robbuka = Rob kamu; la-ãmana = tentulah beriman; man = orang; fil ãrdhĩ = di bumi; kulluhum = semua mereka; jamĩ’ãn = seluruhnya; afa anta = apakah kamu; tukrihun = benci (paksa); nãsa = manusia; hattã = sehingga; yakũnũ = mereka adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman;
wa lau syã-a robbuka la-ãmana man fil ãrdhĩ kulluhum jamĩ’ãn, afa anta tukrihun nãsa hattã yakũnũ mu’minĩn.
99. Dan kalau Rob kamu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia sehingga mereka beriman?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbedaan agama di dunia, ternyata kehendak Allah, tidak usah dirisaukan. Persoalan iman kepada Nabi Muhammad saw. tidak usah dipaksakan. Allah telah memberi akal dan pikiran kepada manusia untuk menentukan pilihannya, sesuai dengan petunjuk di dalam Alquran. Allah memberi kebebasan, mau atau tidak mau membacanya. Da’wah Islamiah harus digalakkan dengan cara yang baik, memberi contoh, santun, tidak memaksa, tebarkan buku-buku petunjuk. Insya Allah iman mereka akan tumbuh.
wa mã kãna = dan tidak ada; li nafsin = bagi seseorang; an tu’mina = untuk dia beriman; illã = kecuali; bi idznillãh = dengan izin Allah; wa yaj’alu = dan (Allah) menimpakan; ar rijsa = siksaan; ‘alãl ladzĩna = kepada orang-orang yang …; lã ya’qilũn = (mereka) tidak menggunakan akal.
wa mã kãna li nafsin an tu’mina illã bi idznillãh, wa yaj’alur rijsa ‘alãl ladzĩna lã ya’qilũn.
100. Dan tidak ada seorang pun akan beriman, kecuali atas izin Allah. Dan Allah akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Iman atau tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. itu juga atas izin Allah. Allah akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
quli = katakanlah; un zhurũ = perhatikanlah; mãdzã = apa yang ada; fis samãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; wa mã tughnĩ = dan tidak berguna; al ãyãtu = ayat-ayat (keterangan); wan nudzuru = dan ancaman; ‘an qoumin = kaum (golongan); al lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
qulin zhurũ mãdzã fis samãwãti wal ardhi, wa mã tughnĩl ãyãtu wan nudzuru ‘an qoumil lã yu’minũn
101. Katakanlah: “Perhatikan, apa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidak berguna keterangan-keterangan dan ancaman bagi orang-orang yang tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan untuk memperhatikan segala apa (ilmu) yang ada di langit dan di bumi. Semua itu akan menentukan, apakah seseorang itu mau beriman atau tidak, selamat atau celaka. Pelajarilah sebanyak-banyaknya ilmu yang berserakan di langit dan bumi, termasuk yang ada di dalam dirinya sendiri, demi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Bagi orang-orang yang tidak beriman tidak ada gunanya berbagai keterangan, dan ancaman.

fa hal = maka tidakkah; yantazhirũna = mereka menunggu-nunggu; illa = kecuali; misyla = misal, seperti; ayãmi = kejadian, hari-hari; al ladzĩna orang-orang yang …; kholau = (mereka) yang terdahulu; min = dari; qoblihim = sebelum mereka; qul = katakanlah; fantazhirũ = maka tunggulah; innĩ = sesungguhnya aku ; ma’akum = bersama kamu; mina = dari (termasuk); al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.
fa hal yantazhirũna illa misyla ayãmil ladzĩna kholau min qoblihim, qul fantazhirũ innĩ ma’akum minal muntazhirĩn.
102. Maka tidaklah mereka menunggu-nunggu, kecuali kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu, dari masa sebelum mereka. Katakanlah, “Maka, tunggulah, sesungguhnya, aku beserta kamu, termasuk orang-orang yang menunggu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ungkapan ini sering dikemukakan (Q.s. Yunus, 10 : 20). Orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman, semua sedang menunggu janji dirinya, dan janji Allah.
tsumma = kemudian; nunajjĩ = Aku selamatkan; rusulanã = Rasul-rasul Kami; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; kadzãlika = seperti itu; haqqon = menjadi hak (kewajiban); ‘alainã = atas Kami; nunji = menyelamatkan; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
tsumma nunajjĩ rusulanã wal ladzĩna ãmanũ, kadzãlika haqqon ‘alainã nunjil mu’minĩn.
103. Kemudian, Aku selamatkan Rasul-rasul-Ku dan orang-orang yang beriman, seperti itu menjadi kewajiban-Ku, menyelamatkan orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian ini berulang-ulang terjadi di dunia ini. Allah selalu meneyelamatkan para Rasul dan orang-orang yang beriman
qul = katakanlah; yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; in kuntum = jika kamu adalah; fĩ syakkin = dalam keraguan; min dĩnĩ = dalam agamaku; fa lã ‘abudu = maka Aku tidak menyembah; al ladzĩna = orang-orang yang; ta’budũna = kamu menyembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; walãkin = tetapi; a’budũlãh = Aku menyembah Allah; al ladzĩ = yang; yatawaffãkum = Dia mewafatkan kamu; wa umirtu = dan Aku diperintahkan; an akũna = supaya Aku menjadi; minal mu’minĩn = dari orang-orang yang beriman.
qul yaa ayyuhan nãsu in kuntum fĩ syakkim min dĩnĩ fa lã ‘abudul ladzĩna ta’budũna min dũnillãhi walãkin a’budũlãhal ladzĩ yatawaffãkum, wa umirtu an akũna minal mu’minĩn.
104. Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keraguan tentang agamaku, maka aku tidak menyembah apa yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mewafatkan kamu dan aku, diperintahkan supaya aku menjadi orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan, seperti yang tersebut di dalam ayat ini, untuk menguatkan pendirian agama manusia. Allah memerintah Nabi Muhammad saw. agar beriman kepada-Nya.
wa an aqim = dan hendaknya hadapkan; wajhaka = mukamu; lidz dzĩni = kepada agama; hanĩfan = dengan ikhlas; wa lã takũnanna = dan sekali-kali jangan kamu; minal musyrikĩn = dari orang-orang yang musyrik.
wa an aqim wajhaka lidz dzĩni hanĩfan wa lã takũnanna minal musyrikĩn
105. Dan (aku diperintah): “Hadapkanlah mukamu ke agama itu dengan ikhlas, dan jangan sekali-kali kamu menjadi orang-orang yang musyrik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diperintah untuk memelihara, menekuni, memperhatikan, menegakkan dengan ikhlas, agama yang dianut dan ditetapkan Allah, dan larangan, jangan menjadi musyrik. Peringatan bagi orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, dan murtad.
wa lã tad’u = dan kamu jangan menyembah; min dũnilãhi = pada selain Allah; mã lã = tidak dapat; yanfa’uka = memberi manfaat kepadamu; wa lã = dan tidak; yadhurruka = memberi mudarat kepadamu; fa in = maka jika; fa’alta = kamu berbuat; fa innaka = maka sesungguhnya kamu; idzan = maka jika; mina = dari (termasuk); zhōlimĩn = orang-orang lalim.
wa lã tad’u min dũnilãhi mã lã yanfa’uka wa lã yadhurruka, fa infa’alta fa innaka idzam minazh zhōlimĩn.
106. Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat, dan tidak pula memberi mudarat kepadamu. Maka jika kamu berbuat demikian, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang lalim
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan larangan menyembah sesuatu dalam arti mengabdikan diri kepada makhluk (benda, manusia, harta). Perbuatan mengabdi kepada selain Allah adalah perbuatan orang-orang lalim.

wa in = dan jika; yamsaskallãhu = Allah menimpakan kepadamu; bi dhurrin = dengan kemudaratan; fa lã = maka tidak; kãsyifa = mengangkat (menghilangkan); lahũ = baginya; illã = kecuali; huwa = Dia; wa in = dan jika; yuridka = Dia menghendaki kepadamu; bi khoirin = dengan kebaikan; fa lã = maka tidak ada; rōdda = menolak (menyangkal); li fadhlihĩ = bagi karunianya; yushĩbu = Dia berikan; bihĩ = dengannya; man = siapa; yasyaa’u = Dia kehendaki; min ‘ibãdihĩ = dari hamba-hamba-Nya; wa huwa = dan Dia; al ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa in yamsaskallãhu bi dhurrin fa lã kãsyifa lahũ illã huwa, wa in yuridka bi khoirin fa lã rōdda li fadhlihĩ, yushĩbu bihĩ man yasyaa’u min ‘ibãdihĩ, wa huwal ghofũrur rohĩm.
107. Dan jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Dia menghendaki kebaikan kamu, maka tidak ada yang dapat menahan karunia-Nya. Dia memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki bagi hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kekuasaan Allah atas makhluk mutlak. Makhluk-Nya harus menerima apa yang dikehendaki-Nya. Makhluk-Nya harus berserah diri pada apa yang ditetapkan Allah.
qul = katakanlah; yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sesungguhnya; jã-akumu = telah datang kepadamu; al haqqu = kebenaran; mir Robikum = dari Rob kamu; fa mani = maka barang siapa; ihtadã = mendapat petunjuk; fa innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yahtadĩ = memberi petunjuk; li nafsihĩ = bagi dirinya sendiri; wa man = dan barang siapa; dholla = sesat; fa innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yadhillu = menyesatkan; ‘alaihã = atas dirinya sendiri; wa mã = dan tidak (bukan); ana = Aku ; ‘alaikum = atas dirimu; bi wakĩlin = penjaga.
qul yaa ayyuhan nãsu qod jã-akumul haqqu mir robikum, fa manihtadã fa innamã yahtadĩ li nafsihĩ, wa man dholla fa innamã yadhillu ‘alaihã, wa mã ana ‘alaikum bi wakĩlin
108. Katakanlah: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Alquran) dari Rob kamu. Maka, barang siapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya hanyalah memberi petunjuk bagi dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya hanya menyesatkan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga bagi dirimu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar menegaskan kebenaran petunjuk-Nya. Mereka yang menerima, akan mendapat petunjuk bagi masing-masing. Mereka yang tidak mau menerima, hidup mereka akan sesat. Nabi tidak bertanggung jawab pada kesesatan manusia, karena Nabi telah melaksanakan tugasnya untuk mengingatkan, mengabarkan, memberi tahu.
wat tabi’ = dan ikutilah; mã yũhã ilaika = apa yang diwahyukan kepadamu; washbir = dan bersabarlah; hattã = sampai; yahkumallãhu = Allah memberi keputusan; wa huwa = dan Dia; khoirul hãkimĩn = Hakim Yang sebaik-baiknya.
wat tabi’ mã yũhã ilaika washbir hattã yahkumallãhu, wa huwa khoirul hãkimĩn
109. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah sampai Allah memberi keputusan, dan Dialah Hakim Yang sebaik-baiknya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir Surat ini, Allah memerintahkan untuk mengikuti dengan kesabaran wahyu yang diberikan-Nya. Segala persoalan, Allah yang memutuskan pemecahannya. Allah lah Hakim Yang terbaik.

Leave a Reply