011 Hud

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Hud
Kisah Nabi Hud, Makiyah
Surat ke 11, 123 ayat.
Juz 11 berali ke Juz 12 pada ayat 6

Catatan Awal

Surat ini berisi penerangan tentang kedudukan para Nabi sebagai penyampai berita gembira, dan peringatan dengan meriwayatkan Nabi Hud a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Saleh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syu’aib a.s., dan Nabi Musa a.s. dan kaumnya.
Pembinaan keimanan dinyatakan dengan adanya Arasy Allah, penciptaan alam semesta dalam 6 masa; pada Hari Kiamat manusia bergolong-golongan. Ada orang yang kafir (tidak mau percaya) pada Alquran, membantah risalah para Rasul, ingkar dari aturan pokok agama. Kemudian diakhiri seruan untuk selalu mengikuti ajakan Rasul dengan penuh kesabaran, juga dalam menghadapi kejahatan orang-orang musyrik; istikomah dan bertawakal hanya kepada Allah.
Islam membolehkan manusia menikmati segala apa yang baik-baik, dan menggunakan perhiasan dengan syarat tidak berlebihan; tidak boleh sombong, hanya Allah yang mempunyai hak sombong; tidak boleh berdoa atau mengharapkan sesuatu di luar Sunatullah.
Manusia harus mengambil pelajaran, pembelajaran dari kisah-kisah para Nabi tersebut untuk tuntunan, peringatan. Air, tanah, api dengan cahayanya, udara, yang diciptakan Allah untuk sarana semua makhluk-Nya, khususnya manusia agar dapat hidup dengan baik, aman, menyenangkan, menenteramkan, mensejahterakan, membahagiakan, menyempurnakan. Harus dipelajari, diteliti, dicari guna dan manfaatnya sebanyak-banyaknya untuk kepentingan menunjang hidup semaksimal mungkin, dan untuk sarana pengabdian kepada Allah Pemiliknya.

a‘udzu billãhi min-nasy syami’il ‘alimi minnasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

alif lãm rō = hanya Allah yang memahami maknanya; (Allahu lã rodda = Allah tak terbantahkan keberadaan-Nya); kitãbun = Kitab ini; uhkimat = disusun dengan rapih; ãyãtuhũ = ayat-ayatnya; tsumma = kemudian; fush shilat = dijelaskan intinya; mil ladun = dari haribaan; hakĩmin = Mahabijaksana; khobĩr = Maha Mengetahui
alif lãm rō (Allahu lã rodda) kitãbun uhkimat ãyãtuhũ tsumma fush shilat mil ladun hakĩmin khobĩr.
1. alif lãm rō (Hanya Allah Yang memahami maknanya; Allah Yang keberadaan-Nya tak terbantah), inilah Kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapih, kemudian dijelaskan intinya, diturunkan dari (Allah) Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 1,2,3,4; Ali ‘Imran, 3 : 1,2,3,4; Al A’rãf, 7 : 1,2,3; Yunus, 10 : 1; Alquran adalah Kitab yang ayat-ayat-Nya tersusun secara rapih, dan dijelaskan intinya, disebut fushshilat menjadi nama surat yang ke 41 di dalam Alqur’an ini. Pernyataan Allah yang sangat meyakinkan pembacanya yaitu Muhammad saw. dan umatnya. Allah memang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui segala yang telah diciptakan-Nya.

allã ta’budũ = janganlah kamu mengabdi; illãllãh = kepada selain Allah; innanĩ = sesungguhnya Aku; lakum = untukmu; minhu = dari-Nya; nadzĩrun = pemberi peringatan; wa basyĩru = dan pembawa kabar gembira.
allã ta’budũ illãllãh, innanĩ lakum minhu nadzĩrun wa basyĩru.
2. Janganlah kamu (Muhammad saw. dan para pengikutnya) mengabdi kepada selain Allah. Sesungguhnya, aku (Muhammad saw.) pemberi peringatan dan kabar gembira dari-Nya, untukmu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang makhluk-Nya, khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada Nabi Muhammad saw. agar tidak mengabdi kepada selain Allah. Mengingatkan kembali Q.s. Al Fatihah, 1 : 5. Nabi Muhammad saw. adalah pemberi peringatan dan penyampai berita gembira bagi manusia yang beriman.

wa ani = dan hendaknya; istaghfirũ = kamu memohon ampun; robbakum = Rob kamu; tsumma = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaihi = kepada-Nya; yumatti’kum = Dia akan memberi kenikmatan kepadamu; matã’an = kesenangan; hasanan = yang baik; ilã = sampai; ajalin = pada waktu; musamman = tertentu; wa yu’ti = dan Dia akan memberikan; kulla = setiap; dzĩ fadhlin = mempunyai keutamaan; fadhlahũ = karunia-Nya; wa in = dan jika; tawallau = kamu berpaling; fainnĩ = maka sesungguhnya aku; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = untuk kamu; ‘adzãba = azab; yaumin kabĩr = Hari Besar (Kiamat).
wa anistaghfirũ robbakum tsumma tũbũ ilaihi yumatti’kum matã’an hasana ilã ajalim musamma wa yu’ti kulla dzĩ fadhlin fadhlahũ, wa in tawallau fainnĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumin kabĩr.
3. Dan, hendaknya kamu memohon ampun kepada Rob kamu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, tentu Dia akan memberi kenikmatan kepadamu dengan kesenangan yang baik, sampai waktu terentu, dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang mempunyai keutamaan. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya, aku (Muahmmad saw.) takut kamu (umatnya) akan ditimpa siksa Hari Kiamat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah, menyarankan kepada makhluk-Nya, khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada Muhammad saw. untuk selalu, atau sering memohon ampun, dan bertobat kepada-Nya. Allah akan memberi karunia kenikmatan sampai waktu tertentu. Jika berpaling, Nabi takut (khawatir), kamu (umatnya) akan ditimpa siksa di Hari Besar (Kiamat). Ada lebih dari 10 Surat yang berisi peringatan Hari Kiamat. Di samping itu, hampir di setiap surat, selalu ada peringatan akan datangnya Hari Kiamat ini. Ada kiamat sugro (untuk diri seseorang atau kelompok orang), ada kiamat qubro (semua maknluk-Nya akan dihadapkan ke haribaan-Nya).
ilãllãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kamu kembali; wa huwa = dan Dia; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.
ilãllãhi marji’ukum, wa huwa ‘alã kulli syai-in qodĩr.
4. Kepada Allah lah tempat kamu kembali, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berulang-ulang mengingatkan hal ini. “Allah tempat kamu kembali”, Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 28, 46, 156, 245, 281, 285; Ali ‘Imran, 3 : 14, 28, 55, 83; An Nisã’, 4 : 16, 46, 103; Al Ma’idah, 5 : 46, 103; Al An ‘Ãm, 6 : 36, 60, 62, 108, 164; Al A’rãf, 7 : 29; At Taubah, 9 : 94, 105; Yunus, 10 : 4, 23, 30, 46, 56, 70. dan lain-lain.
“Allah berkuasa atas segala sesuatu”, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 20, 106, 148, 231, 259, 282, 284; Ali ‘Imran, 3 : 26, 29, 165, 189; An Nisã’, 4 : 15, 32, 85, 176; Al Ma’idah, 5 : 15, 17, 38, 118; Al An’ãm, 6 : 164; At Taubah, 9 : 39; dan lain-lain.

alã = ingatlah; innahum = sesungguhnya mereka; yatsnũna = mereka membusungkan; shudũrohum = dada mereka; li yastakhfũ = untuk menyembunyikan dirinya; minhu = darinya; alã = ingatlah; hĩna = di waktu; yastaghsyũna = mereka menyelimuti diri; tsiyãbahum = pakaian mereka; ya’lamu = (Allah) mengetahui; mã yusirrũna = apa yang mereka sembunyikan; wa mã yu’linũn = dan apa yang mereka sembunyikan; innahũ = sesungguhnya Dia; ‘alimun = Maha Mengetahui; bidzãti = dengan isi (yang ada); ash shudũr = hati.
alã innahum yatsnũna shudũrohum li yastakhfũ minh, alã hĩna yastaghsyũna tsiyãbahum ya’lamu mã yusirrũna wa mã yu’linũn, innahũ ‘alimum bi dzãtish shudũr.
5. Ingatlah, sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) membusungkan dadanya untuk menyembunyikan diri darinya (Hud dan kemudian juga kepada Muhammad saw.). Ingatlah, ketika mereka menutupi dirinya dengan pakaiannya (agamanya), Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya, Allah mengetahui segala isi hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh umat Muhammad saw. mengingat sikap dan perbuatan orang-orang munafik. Pakaian di sini dapat berarti penyamaran diri seseorang (topeng). Allah Maha Mengetahui yang tersembunyi dan yang terlahir, dan Maha Mengetahui segala isi hati makhluk-Nya.
Al Juz-uts-tsaani ‘asyar
Juz 12

wa mã = dan tidak ada; min dãbbatin = dari seekor binatang melata; fil ardhi = di bumi; illã ‘alãllãhi = hanya Allah saja; rizquhã = memberi rezekinya; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mustaqorrohã = tempat berdiamnya; wa mustauda’ahã = dan tempat persembunyiannya; kullun = semuanya; fĩ = di dalam; kitãbin = Kitab; mubĩn = yang nyata.
wa mã min dãbbatin fil ardhi illã ‘alãllãhi rizquhã wa ya’lamu mustaqorrohã wa mustauda’ahã, kullum fĩ kitãbim mubĩn
6. Dan tidak satu pun binatang melata di bumi, hanya Allah saja lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya, dan persembunyiannya. Semua tertulis di dalam Kitab yang nyata (di Lauh Mahfuz).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Semua makhluk-Nya, yang kecil (binatang bersel satu, baksil, bakteri, virus) maupun yang besar (mastodon, mamuth, gajah, ikan paus) di bumi, dan di langit diberi rezeki. Allah Maha Mengetahui tempat persembunyiannya.

wa huwa = dan Dia lah; al ladzĩ = Yang; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; fĩ sittati = dalam tujuh; ayyãmin = masa (hari); wa kãna = dan adalah; arsyuhũ = arasy-Nya; ‘alã = di dalam; al mã-i = air; liyabluwakum = karena Dia hendak mengujimu; ayyukum = siapa di antara kamu; ahsanu = lebih baik; ‘amalan = amalnya; wa la in = dan jika; qulta = kamu berkata; innakum = sesungguhnya kamu; mab’ũtsũna = orang yang dibangkitkan; mim ba’di = dari sesudah; al mauti = maut (mati); la yaqũlanna = tentu akan berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; in hãddzã = ini tidak lain; illã = hanyalah; sihrun = sihir; mubĩn = yang nyata.
wa huwal ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhi fĩ sittati ayyãm, wa kãna arsyuhũ ‘alãl mã-i liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, wa la in qulta innakum mab’ũtsũna mim ba’dil maut, la yaqũlannal ladzĩna kafarũ in hãddzã illã sihrum mubĩn.
7. Dan Dia lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan arasy-Nya di dalam air, karena Dia hendak menguji, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, jika kamu berkata: “Sesungguhnya, kamu akan dibangkitkan sesudah mati.” Niscaya orang kafir akan berkata: “Tidak lain ini hanya sihir yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan proses penciptaan langit dan bumi dengan perbedaan penjelasan dalam berbagai Surat, a.l. Q.s. al A’rãf, 7 : 54, Yunus, 10 : 3; al as Sajdah, 32 : 4; Qōf, 50 : 39; Hadid, 57 : 4. Arasy Allah ada di dalam air, sehingga memberi manfaat yang banyak untuk bisa dipakai dalam hidupnya makhluk Allah. Ini merupakan ujian dari Allah. Bagaimana mendaya-gunakan air dengan percampurannya dengan tanah, udara, dan api dengan cahayanya. Air sangat berguna dalam hidupnya bersama orang lain, makhluk lain. Orang kafir selalu menganggap informasi yang disampaikan Allah itu sebagai sihir.
Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9

wa la-in = dan sesungguhnya jika; akhkhornã = Aku undurkan; ‘anhumu = dari mereka; al ‘adzãba = azab; ilã = kepada; ummatim = umat; ma’dũdati = tertentu; al layaqũlunna = tentu mereka akan berkata; mã yahbisuhũ = apa yang menghalanginya; alã = ingatlah; yauma = ketika (di hari); ya’tĩhim = datang kepada mereka; laisa = tidak; mashrũfan = menghindarkan; ‘anhum = oleh mereka; wa hãqo = dan dikurung; bihim = oleh azab; mã kaanũ = apa yang mereka; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = memperolok-olokkan.
wa la-in akhkhornã ‘anhumul ‘adzãba ilã ummatim ma’dũdatil layaqũlun na mã yahbisuh, alã yauma ya’tĩhim laisa mashrũfan ‘anhum wa hãqo bihim mã kaanũ bihĩ yastahzi-ũn.
8. Dan sesungguhnya, jika Aku undurkan azab mereka sampai pada waktu yang ditetapkan, tentu mereka akan berkata: “Apa yang menghalanginya?” Ingatlah, ketika azab itu datang kepada mereka, dan mereka tidak dapat menghindarinya. Mereka dikurung oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berhak mengundurkan atau memajukan azab bagi mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik atau murtad. Mereka tidak akan mampu menghindar dari azab Allah yang datang secara tiba-tiba. Dengan mengajukan pertanyaan seperti pada ayat ini, mereka (orang kafir) menunjukkan kesombongannya. Padahal Allah lah yang menetapkan azab bagi mereka, karena sikap, perbuatan, dan perilaku mereka sendiri. Yang menghalangi Allah menurunkan azab adalah karunia Allah, bagi orang yang menyadari kekeliruannya. Allah memberi kesempatan (bagi mereka yang diberi rahamat dan berkah) untuk bertobat serta memohon ampun kepada-Nya.

wa la in = dan jika; adzaqna = Aku memberi rasa; al insãna = manusia; minnã = dari Aku; rohmatan = rahmat; tsumma = kemudian; naza’nãhã = Aku cabut kembali; min hu = darinya; innahũ = sesungguhnya dia; la ya-ũsun = menjadi putus asa; kafũr = ingkar.
wa la in adzaqnal insãna minnã rohmatan tsumma naza’nãhã min hu innahũ la ya-ũsun kafũr.
9. Dan jika Aku memberi rasa rahmat kepada manusia, kemudian Aku cabut kembali darinya, sesungguhnya, dia menjadi putus asa dan lagi ingkar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi rasa rahmat atau mencabutnya, hal itu merupakan hak Allah, dan ujian bagi manusia, jangan sampai kufur (ingkar) kepada ketentuan Allah. Jangan sampai melakukan perbuatan tercela. Allah sangat suka, jika mahkluk-Nya selalu bersyukur, saat diberi rahmat, atau dicabut-Nya. Orang kafir tidak bersyukur kalau diberi rahmat. Kalau rahmat-Nya dicabut mereka mudah berputus asa. Lebih jauh lagi malah menjadi ingkar dari peraturan Allah.

wa la in = dan jika; adzaqnãhu = Aku beri rasa; na’mã-a = nikmat bahagia; ba’da = sesudah; dhorrō-a = bencana; massat-hu = menimpanya (menyentuhnya); la yaqũlanna = tentu dia akan berkata; dzahaba = telah hilang; as sayyi-ãtu = bencana-bencana; ‘annĩ = dariku; innahũ = sesungguhnya dia; la farihũn = sangat gembira; fakhũrun = bangga.
wa la in adzaqnãhu na’mã-a ba’da dhorrō-a massat-hu la yaqũlanna dzahabas sayyi-ãtu ‘annĩ, innahũ la farihũn fakhũr.
10. Dan jika Aku beri rasa bahagia, sejahtera kepadanya, sesudah bencana yang menimpanya, tentu dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dariku.” Sesungguhnya, dia sangat gembira dan bangga.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rasa gembira, bahagia, sejahtera dan rasa susah, sedih itu ujian dari Allah untuk selalu beriman kepada-Nya. Menanggapi ujian kegembiraan, kebahagiaan janganlah terlalu bergembira, berbahagia. Kalau ditimpa bencana jangan terlalu bersedih. Harus dihadapi dengan iman kepada Allah dan sabar yang selalu hadir di hati. Itulah yang disukai Allah.

illãl ladzĩna = kecuali orang-orang yang; shobarũ = sabar; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; ũlã-ika = mereka itu; lahum = bagi mereka; maghfirotun = ampunan; wa ajrun = dan pahala; kabĩrun = yang besar.
illãl ladzĩna shobarũ wa ‘amilũsh shōlihãti ũlã-ika lahum maghfirotuw wa ajrun kabĩrun.
11. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan beramal soleh, mereka itu beroleh pengampunan dan pahala yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 10. Orang sabar dan beramal saleh (artinya melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya) mudah memperoleh ampunan dan pahala besar.

fa la’allaka = maka dapat terjadi; tãrikun = meninggalkan; ba’dho = sebagian; mã yũhō = apa yang diwahyukan; ilaika = kepadamu; wa dhō-iqun = dan sempit; bihĩ = karenanya; shodruka = dadamu; an yaqũlũ = sebab mereka akan mengatakan; lau lã = mengapa tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; kanzun = kekayaan; au jã-a = atau datang; ma’ahũ = bersama dia; malakun = seorang Malaikat; innamã = sesungguhnya hanya; anta = kamu; nadzĩr = seorang pemberi peringatan; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; wakĩl = Pemelihara.
fa la’allaka tãrikum ba’dho mã yũha ilaika wa dhō-iqum bihĩ shodruka an yaqũlũ lau lã unzila ‘alaihi kanzun au jã-a ma’ahũ malak, innamã anta nadzĩr, wallãhu ‘alã kulli syai-iw wakĩl.
12. Maka dapat terjadi, kamu, Muhammad saw. mau meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit dadamu karenanya, sebab mereka akan menanyakan: ”Mengapa tidak diturunkan kekayaan kepadanya, atau datang bersama dia seorang Malaikat?” Sesungguhnya, kamu hanya seorang pemberi peringatan, dan Allah Pemelihara segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang mengimaninya tentang ulah orang-orang kafir, munafik, musyrik, munafik, dan murtad yang suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, membuat keraguan pada apa yang diwahyukan Allah, dan cenderung mengungkapkan ketidakpercayaan pada kenabiannya. Yakinlah, bahwa Allah itu Pemelihara segala sesuatu. Nabi dan para pengikutnya hanyalah pemberi peringatan.

am yaqũlũna = atau mereka mengatakan; if tarōhu = (Muhammad) membuat-buatnya; qul = katakanlah; fa’tũ = maka datangkanlah; bi ‘asyri = dengan sepuluh; suwarin = surat; mitslihĩ = yang semisal (sama); muftaroyãtin = yang dibuat-buat itu; wad’ũ = dan panggillah; man = orang-orang; istatho’tum = kamu anggap sanggup; min dũnillãhi = dari selain Allah; inkuntum = jika kamu; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
am yaqũlũnaf tarōhu, qul fa’tũ bi ‘asyri suwarim mitslihĩ muftaroyãtin wad’ũ manistatho’tum min dũnillãhi inkuntum shōdiqĩn.
13. Atau mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat (Alquran)”, Katakanlah: “Maka buatlah sepuluh surat yang menyamainya dengan yang (kau anggap) dibuat-buat itu, dan panggillah orang-orang yang kamu (anggap) sanggup (membantumu) selain Allah, jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad saw., apa yang harus dikatakan kepada orang-orang yang tidak mempercayainya. (lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 23, 24 hanya ditantang satu ayat saja).

fa illam = maka jika tidak; yastajĩbũ = mereka memperkenankan; lakum = kepadamu; fa’lamũ = maka ketahuilah; annamã = bahwa apa; unzilã = yang diturunkan; bi ilmillãhi = dengan ilmu Allah; wa an lã = dan tidak ada; ilãha = ilah; illa huwa = selain Dia; fahal = maka mengapakah; antum = kamu; muslimũn = orang-orang yang berserah diri.
fa illam yastajĩbũ lakum fa’lamũ annamã unzilã bi ilmillãh, wa al lã ilãha illa huwa, fahal antum muslimũn.
14. Maka, jika mereka tidak memperkenankan (ajakan)-mu, ketahuilah, Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan tidak ada ilah selain Dia, maka mengapa kamu (tidak mau) berserah diri (kepada Allah)?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mereka tidak berkenan mengikuti ajakan Nabi Muhammad saw., para pengikut Nabi harus menyadari bahwa Alquran itu mengandung banyak ilmu Allah yang harus digali dan ditumbuhkembangkan agar hidup ini lebih sempurna, menyenangkan, memuaskan. Hanya kepada Allah umat Islam berserah diri.
man = barang siapa; kãna = adalah; yurĩdu = menghendaki; al hayãta = kehidupan; ad dun-yã = dunia; wa zĩnatahã = dan perhiasannya; nuwaffi = Aku penuhi (sempurnakan); ilaihim = kepada mereka; a’mãlahum = pekerjaan mereka; fĩhã = di dunia; wahum = dan mereka; fĩhã = di dalamnya; lã yubkhasũn = mereka tidak dirugikan.
man kãna yurĩdul hayãtad dun-yã wa zĩnatahã nuwaffi ilaihim a’mãlahum fĩhã, wahum fĩhã lã yubkhasũn.
15. Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, (tentu) Aku penuhi bagi mereka, (balasan) pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak dirugikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Untuk kehidupan di dunia, Allah tidak membeda-bedakan (sangat adil). Semuanya diberi sesuai dengan kiprah upayanya.

ũlãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; laisa = tidak; lahum = bagi mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; illã = kecuali; an nãru = api neraka; wa habitho = dan lenyap; mã = apa; shona’ũ = yang mereka usahakan; fĩhã = di akhirat (di dalamnya); wa bãthilum = dan sia-sia (batil); mã kãnũ = apa yang mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
ũlãikal ladzĩna laisa lahum fil ãkhiroti illãn nãr, wa habitho mã shona’ũ fĩhã wa bãthilum mã kãnũ ya’malũn
16. Mereka tidak memperoleh pahala di akhirat, kecuali api neraka, dan di akhirat lenyaplah, apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Usaha dunia tidak untuk akhirat, maka pekerjaannya sia-sia. Di akhirat mereka mendapat api neraka.

afaman = apakah orang; kãna = adalah; alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir Robbihĩ = dari Rabnya; wa yatlũhu = dan membacakannya; syãhidun = seorang saksi; minhu = darinya; wa min qoblihĩ = dan dari sebelumnya; kitãbu mũsã = Kitab Musa; imãman = pedoman; wa rohmah = dan rahmat; ulã-ika = mereka itu; yu’minũna = mereka itu beriman; bihĩ = dengannya; wa man = dan barang siapa; yakfur = kafir; bihĩ = dengannya; minal ahzãbi = di antara golongan; fannãru = maka api neraka; mau’iduh = diancamkannya; fa lã taku = maka janganlah kamu; fĩ miryatin = dalam keraguan; minhu = dengannya; innahu = sesungguhnya dia; al haqqu = benar-benar; mir Robbika = dari Rab kamu; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
afaman kãna alã bayyinatim mir robbih, wa yatlũhu syãhidum minhu wa min qoblihĩ kitãbu mũsã imãmaw wa rohmah, ulã-ika yu’minũna bih, wa man yakfur bihĩ minal ahzãbi fannãru mau’iduh, fa lã taku fĩ miryatim minh, innahul haqqu mir robbika wa lãkinna aktsaron nãsi lã yu’minũn.
17. Apakah (orang-orang kafir itu) sama dengan orang-orang yang mempunyai bukti nyata (Alquran) dari Rabnya, dan membacakannya (Alquran) seorang saksi dari-Nya, dan sebelumnya telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman dengannya (Alquran). Dan barang siapa di antara golongan itu yang kafir dengannya (Alquran), maka merekalah orang yang diancamkan (neraka), oleh karena itu, janganlah kamu dalam keraguan (terhadap Alquran). Sesungguhnya (Alquran) benar-benar dari Rab kamu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan persamaan/perbedaan orang kafir dan orang beriman dengan bukti-bukti Alquran dan Kitab Musa yang telah dibacakannya. Mereka yang kafir kepada Alquran dan Kitab Musa (lihat Al Baqarah, dan lain-lain) diancam dengan neraka. Kemudian Allah menganjurkan, jangan ragu terhadap Alquran yang diturunkan dari Rab, meskipun kebanyakan manusia tidak mau beriman.

wa man = dan siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimmani = daripada orang; iftarō = membuat-buat; ‘alallãhi = atas Allah mereka; kadziban = dan berkata; ũlã-ika = para saksi; yu’rodhũna = mereka ini; ‘alã Robbihim = kepada Rab mereka; wa yaqũlu = dan berkata; al asyhãdu = para saksi; hã-ulã-i = mereka ini; alladzĩna = orang-orang yang; kadzabũ = mereka berdusta; ‘alã robbihim = atas Rab mereka; alã = ingatlah; la’natullãhi = kutukan Allah; ‘alazhzhōlimĩn = atas orang-orang yang lalim.
wa man azhlamu mimmanif tarō ‘alallãhi kadziba, ũlã-ika yu’rodhũna ‘alã robbihim wa yaqũlul asyhãdu hã-ulã-illadzĩna kadzabũ ‘alã robbihim, alã la’natullãhi ‘alazhzhōlimĩn.
18. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah. Mereka itu akan dihadapkan kepada Rab mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rab mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang membuat-buat dusta tentang Allah itu lebih lalim dari orang lalim. Berarti sama dengan fitnah yang sangat menyesatkan kepada orang lain. Allah sangat mengutuk orang-orang yang membuat dusta tentang Allah, dan yang membuat fitnah.

alladzĩna = orang-orang yang; yashuddũna = (mereka) menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; wa yabghũnahã = dan mereka menghendaki; ‘iwaja = bengkok; wa hum = dan mereka; bil ãkhiroti = dengan hari akhirat; hum = mereka; kãfirũn = orang-orang yang kafir (tidak percaya pada ada-Nya Allah, dan Rasul-Nya).
alladzĩna yashuddũna ‘an sabĩlillãhi wa yabghũnahã ‘iwaja, wa hum bil ãkhiroti hum kãfirũn.
19. Orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok, dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya dengan Hari Akhirat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam setiap zaman, selalu ada saja orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka menghendaki jalan Allah itu bengkok. Mereka dinilai sebagai orang yang tidak mau percaya pada Hari Akhirat.

ulã-ika = mereka itu; lam yakũnũ = mereka tidak mampu; mu’jizĩna = melepaskan diri; fil ardhi = di bumi; wa mã kãna = dan tidak ada; lahum = bagi mereka; min dũnillãhi = dari selain Allah; min auliyã-a = dari penolong; yudhō’afu = dilipatgandakan; la humu = bagi mereka; al ‘adzãb = siksa (azab); mã kãnũ = mereka tidak ada; yastathĩ’ũna = mereka sanggup; as sam’a = mendengar; wa mã kãnũ = dan mereka tidak; yubshirũn = mereka melihat (kebenaran).
ulã-ika lam yakũnũ mu’jizĩna fil ardhi wa mã kãna lahum min dũnillãhi min auliyã-a yudhō’afu la humul ‘adzãb, mã kãnũ yastathĩ’ũnas sam’a wa mã kãnũ yubshirũn.
20. Mereka itu tidak mampu melepaskan diri (dari bahaya) di bumi ini, dan tidak ada penolong bagi mereka, selain Allah. Siksa bagi mereka dilipatgandakan. Mereka tidak sanggup mendengar, dan mereka tidak dapat melihat kebenaran.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir tidak mampu melepaskan diri, dan tidak ada penolong dari bahaya di bumi, selain Allah. Siksa mereka di akhirat dilipatgandakan. Mereka tidak bisa mendengar, dan tidak bisa melihat kebenaran (Q.s. Al Baqarah, 2 : 18).
ulãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = (mereka) merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; wa dholla = dan lenyaplah; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang mereka; yaftarũn = mereka ada-adakan.
ulãikal ladzĩna khosirũ anfusahum wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.
21. Mereka itu orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, dan lenyaplah dari mereka, apa-apa yang selalu mereka ada-adakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir, musyrik, munafik, syirik, fasik, murtad itu merugikan diri mereka sendiri. Di Hari Kiamat, apa yang mereka ada-adakan itu lenyap. Tinggal penyesalan yang berkepanjangan.

la jaroma = tidak syak; annahum = sesungguhnya, mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; humu = mereka; al akhsarũn = orang-orang yang sangat rugi.
la jaroma annahum fil ãkhiroti humul akhsarũn.
22. Tidak diragukan, di akhirat nanti mereka menjadi orang-orang yang sangat rugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 21.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilu = dan berbuat; ash shōlihãti = baik; wa akhbatũ = dan mereka merendahkan diri; ilã robbihim = kepada Rab mereka; ulã-ika = mereka itu; ash-hãbul jannah = penghuni surga; hum fĩhã = mereka di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.
innal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti wa akhbatũ ilã robbihim ulã-ika ash-hãbul jannah, hum fĩhã khōlidũn.
23. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan berbuat baik, dan mereka merendahkan diri kepada Rab mereka, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan ini penguat dari ayat-ayat dalam surat-surat lainnya.
matsalu = perumpamaan; al farĩqoini = dua golongan; kal a’mã = seperti orang buta; wal ashommi = dan orang tuli; wal bashĩri = dan orang yang dapat melihat; was samĩ’i = dan yang dapat mendengar; hal = apakah; yastawiyaani = sama keduanya; matsalan = perumpamaan; afalã = tidakkah; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
matsalul farĩqoini kal a’mã wal ashommi wal bashĩri, was samĩ’i, hal yastawiyaani matsala, afalã tadzakkarũn.
24. Perumpamaan kedua golongan itu, seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat, dan mendengar. Apakah kedua perumpamaan itu, sama? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir, musyrik, syirik, munafik, fasik, murtad itu seperti orang buta dan tuli. Sedang orang yang beriman diumpamakan sebagai orang yang bisa mendengar dan melihat, kemudian merasakan ada-Nya Allah. Semua manusia harus mengambil pelajaran dari keadaan itu.

wa laqod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; nũhan = Nuh; ilã qoumihĩ = kepada kaumnya; innĩ = sesungguhnya aku; lakum = bagi kamu; nadzĩrun = pemberi peringatan; mubĩn = yang nyata bagimu.
wa laqod arsalnã nũhan ilã qoumihĩ innĩ lakum nadzĩrum mubĩn.
25. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata bagimu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dimulai ceritera Nabi Nuh yang diutus untuk kaumnya.

al lã = janganlah; ta’budũ = kamu mengabdi (beribadah, menyembah); illallãh = kepada selain Allah; innĩ = sesungguhnya; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = atas kamu; ‘adzãbi = azab, siksa; yaumin = di hari; alĩmin = menyedihkan.
al lã ta’budũ illallãh, innĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãbi yaumin alĩmin.
26. Janganlah kamu beribadah (menyembah) kepada selain Allah, sesungguhnya, aku takut, kamu akan ditimpa azab di hari yang menyedihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah disampaikan melalui Nabi Nuh dengan peringatan azab di Hari Kiamat. Lihat juga ayat 2, dan di dalam Surat-surat yang lainnya.

fa qōla = maka berkatalah; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qaumihĩ = kaumnya; mã narōka = kami tidak melihat kamu; illã = kecuali; basyaron = seorang manusia; mitslanã = seperti kami; wa mã narōka = dan kami tidak melihat kamu; it taba’aka = yang mengikuti kamu; illal ladzĩna = kecuali orang-orang yang; hum = mereka; arōdzilunã = yang hina di antara kami; badiya = tanpa; ar ro’yi = pemikiran; wa mã narōlakum = dan kami tidak melihat atas kamu; ‘alainã = pada kami; min fadhlin = dari kelebihan; bal = bahkan; nazhunnukum = kami mengira kamu; kãdzibĩn = orang yang berdusta.
fa qōlal mala-ul ladzĩna kafarũ min qaumihĩ mã narōka illã basyarom mitslanã wa mã narōkat taba’aka illal ladzĩna hum arōdzilunã badiyar ro’yi wa mã narōlakum ‘alainã min fadhlim bal nazhunnukum kãdzibĩn.
27. Maka, berkatalah pemuka-pemuka orang yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, hanya sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang mengikuti kamu, kecuali orang-orang yang hina, dan tidak dengan pikiran di antara kami. Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan di atas kami. Bahkan kami mengira, kamu itu orang yang berdusta”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera orang-orang kafir zaman Nabi Nuh menilai seorang nabi.

qōla = (Nuh) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; aro-aitum = bagaimana pikiranmu; in kuntu = jika aku adalah; ‘alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir robbĩ = dari Rabku; wa ãtãnĩ = dan aku diberi-Nya; rohmatan = rahmat; min ‘indihĩ = dari haribaan-Nya; fa’ummiyat = lalu disamarkan; ‘alaikum = atasmu; anulzimukumũhã = apakah akan aku paksakan kepadamu; wa antum = padahal kamu; lahã = padanya; kãrihũn = tidak menyukai.
qōla yã qaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir robbĩ, wa ãtãnĩ rohmatam min ‘indihĩ fa’ummiyat ‘alaikum anulzimukumũhã wa antum lahã kãrihũn.
28. Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada bukti nyata dari Rabku, dan aku diberi rahmat dari haribaan-Nya, lalu (rahmat itu) disamarkan bagimu, apakah akan aku paksakan kepadamu (menerimanya), padahal kamu tidak menyukainya?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terjadi dialog yang demokratis antara Nabi Nuh dan kaumnya. Yang menjadi bukti nyata atau keterangan yang jelas dari Rab untuk Nabi Nuh adalah wahyu yang diterimanya; Rahmat atau karunia Allah kepada Nabi Nuh adalah pangkat kenabian dan pemberian wahyu Allah. Yang dimaksud rahmat atau karunia yang disamarkan atau masih gelap bagi umat Nabi Nuh yang kafir adalah karena mereka tidak beriman atau tidak mau percaya, bahwa itu wahyu dari Allah. Allah dan Nabi Nuh tidak mau memaksa orang yang tidak mau, atau tidak menyukai bahwa wahyu itu dari Allah.
wa yã qaumi = dan, yaa kaumku; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atas seruanku; mãlan = harta; in ajriya = tidak lain upahku; illã = hanyalah; ‘alã = dari; allãhi = Allah; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; bi thōridi = dengan mengusir; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; innahum = sesungguhnya mereka; mulãqũ = mereka menemui; robbihim = Rab mereka; wa lãkinnĩ = akan tetapi aku; arōkum = aku memandangmu; qauman = suatu kaum; tajhalũn = yang belum mengetahui
wa yã qaumi lã as-alukum ‘alaihi mãlan in ajriya illã ‘alã allãhi, wa mã ana bi thōridil ladzĩna ãmanũ, innahum mulãqũ robbihim, wa lãkinnĩ arōkum qauman tajhalũn
29. Dan, hai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu untuk seruanku. Upahku, tidak lain, hanya dari Allah, dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, akan tetapi, aku memandangmu sebagai suatu kaum yang belum mengetahui. Sesungguhnya, mereka akan menemui Rab-nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Satu lagi dialog antara Nabi Nuh dengan kaumnya. Tugas Nabi dari Allah untuk umat manusia, ditujukan untuk memberi pengetahuan kepada kaum yang belum mengetahui, bagaimana orang hidup dengan agama di dalam masyarakat. Nabi Nuh a.s. tidak akan meminta upah dari manusia, karena tujuannya untuk membina hidup manusia agar sejahtera, tenteram, damai, memuaskan bagi semuanya di dunia dan di akhirat. Tentu saja, Nabi Nuh a.s. tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, meskipun mendapat desakan dari orang-orang kaya yang kafir, karena orang-orang yang telah beriman akan menjadi saudara seagama yang akan saling membantu, sehidup-semati dengannya.

wa yã qaumi = dan wahai kaumku; man = siapakah; yanshurunĩ = menolongku; minallãhi = dari (azab) Allah; in = jika; thorodtuhum = mengusir mereka; afalã = apakah tidak; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
wa yã qaumi man yanshurunĩ minallãhi in thorodtuhum, afalã tadzakkarũn.
30. Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari azab Allah, jika aku mengusir mereka, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 29. Manusia harus mengambil pelajaran dari Kisah Nabi Nuh dan kaumnya.

wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; lakum = kepada kamu; ‘indĩ = padaku; khozã inullãhi = perbendaharaan (ilmu) Allah; wa lã a’lamu = dan aku tidak mengetahui; al ghoiba = ilmu gaib; wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; innĩ = sesungguhnya aku; malakun = Malaikat; wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; tazdarĩ = rendah (hina); a’yunukum = penglihatanmu; lay yu’tiyahumullãhu = Allah tidak mendatangkan kepada mereka; khoiron = kebaikan; allãhu = Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan apa; fĩ anfusihim = pada diri mereka; innĩ = sesungguhnya aku; idzan = kalau begitu; lamina = tentu termasuk; azh zhōlimĩn = orang lalim
wa lã aqũlu lakum ‘indĩ khozã inullãhi wa lã a’lamul ghoiba wa lã aqũlu innĩ malakun wa lã aqũlu lilladzĩna tazdarĩ a’yunukum lan yu’tiyahumullãhu khoiron, allãhu a’lamu bimã fĩ anfusihim, innĩ idzal laminazh zhōlimĩn
31. Dan aku tidak mengatakan kepadamu, perbendaharaan (ilmu) Allah ada padaku. Aku tidak banyak mengetahui yang gaib, dan aku tidak pula mengatakan, bahwa aku ini sesungguhnya Malaikat, dan juga aku tidak mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina menurut penglihatanmu, bahwa Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui, apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya, kalau begitu, tentu aku termasuk orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Nabi Nuh dengan orang-orang yang tidak mau mempercayai kenabiannya.

qōlũ = mereka berkata; yã nũhu = wahai Nuh; qod = sesungguhnya; jãdaltanã = kamu telah berbantah dengan kami; fa aktsarta = maka kamu telah memperbanyak; jidãlanã = perbantahan dengan kami; fa’tinã = maka datangkanlah kepada kami; bimã = dengan apa (azab); ta’idunã = kamu ancamkan kepada kami; inkunta = jika kamu adalah; mina = termasuk; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
qōlũ yã nũhu qod jãdal tanã fa aktsarta jidãlanã fa’tinã bimã ta’idunã inkunta minash shōdiqĩn.
32. Mereka berkata: “Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperbanyak perbantahan terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbantahan diakhiri dengan tantangan orang-orang kafir, agar Allah mendatangkan azab yang diancamkan kepada mereka.

qōla = Nuh berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; ya’tĩkum = akan mendatangkan kepadamu; bihillhu = dengan azab Allah itu; insyã-a = jika Dia menghendaki; wa mã antum = dan kamu tidak; bi mu’jizĩn = dengan melepaskan diri;
qōla innamã ya’tĩkum bihillãhu insyã-a wa mã antum bi mu’jizĩn.
33. Nuh berkata: “Sesungguhnya, hanya Allah saja yang akan mendatangkan azab itu kepada kamu semua, jika Dia menghendaki, dan kamu tidak dapat melepaskan diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nuh berkata berdasarkan petunjuk dari Allah, seperti yang tertera pada ayat ini.

wa lã = dan tidak; yanfa’ukum = bermanfaat kepadamu; nush-hĩ = nasihatku; in arodtu = jika aku hendak; an anshoha = aku memberi nasihat; lakum = kepadamu; in kaanãllãhu = jika Allah ada; yurĩdu = menghendaki; an yughwiyakum = akan menyesatkan; huwa = Dia; robbukum = Rab kamu; wa ilaihi = dan kepada-Nya; turja’ũn = kamu dikembalikan.
wa lã yanfa’ukum nush-hĩ in arodtu an anshoha lakum in kaanãllãhu yurĩdu an yughwiyakum, huwa robbukum wa ilaihi turja’ũn.
34. Dan jika aku hendak memberi nasihat kepadamu, tidaklah bermanfaat nasihatku, seandainya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rab kamu, dan kepada-Nya, engkau akan dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata-kata Nabi Nuh a.s. kepada orang-orang kafir berdasarkan petunjuk dari Allah. Maknanya, bagaimana pun kuatnya Nuh memberi nasihat kepada seseorang, tetapi kalau Allah sudah menetapkan orang itu sesat, maka nasihat itu tidak ada manfaatnya.

am = atau; yaqũlũna = mereka mengatakan; iftarōh = dia membuat-buatnya; qul = katakanlah; iniftoituhũ = jika aku membuat-buatnya; fa’alayya = maka atasku; ijrōmĩ = dosaku; wa ana = dan aku; barĩ-um = berlepas diri; mimma = dari apa; tujrimũn = kamu berbuat dosa.
am yaqũlũnaftarōh, qul iniftoituhũ fa’alayya ijrōmĩ wa ana barĩ-um mimma tujrimũn.
35. Atau mereka mengatakan: “Dia membuat-buat (nasihat)”. Katakanlah: “Jika aku membuat-buat (nasihat), maka dosanya atasku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sangkaan orang kafir pada apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Nuh, dan jawaban Nabi Nuh kepada orang-orang kafir, atas petunjuk Allah.

wa ũhiya = dan diwahyukan; ilã nũhin = kepada Nuh; annahũ = bahwa; lan yu’mina = tidak akan beriman; min qaumika = dari kaummu; illã = kecuali; man = orang; qod = sungguh; ãmana = yang telah beriman; falã = maka jangan; tabta-is = kamu bersedih; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa ũhiya ilã nũhin annahũ lan yu’mina min qaumika illã man qod ãmana falã tabta-is bimã kaanũ yaf’alũn.
36. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwa tidak akan beriman dari kaummu, kecuali orang yang telah beriman saja, maka janganlah kamu bersedih atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Nabi Nuh, kaumnya tidak akan beriman kepada Allah, kecuali orang-orang yang sudah beriman saja. Allah menghibur Nabi Nuh a.s. agar jangan bersedih karena keadaan yang demikian itu.
washna’i = dan buatlah; al fulka = bahtera; bi a’yuninã = dengan pengawasan Aku; wa wahyinã = dan wahyu-Ku; wa lã = dan jangan; tukhãthibnĩ = kamu berbicara tentang Aku; fil ladzĩna = dengan orang-orang; zholamũ = yang lalim; innahum = sesungguhnya mereka; mughroqũn = akan ditenggelamkan.
wa ashna’il fulka bi a’yuninã wa wahyinã, wa lã tukhãthibnĩ fil ladzĩna zholamũ, innahum mughroqũn
37. Dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu dari Aku, dan jangan kamu bicarakan tentang Aku dengan orang-orang yang lalim itu, karena sesungguhnya, mereka akan ditenggelamkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Nuh a.s. membuat bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya. Allah juga melarang berbicara tentang-Nya kepada orang-orang lalim, karena Allah merencanakan akan menenggelamkan orang-orang lalim itu.

wa yashna’u = dan Nuh membuat; al fulka = bahtera; wa kullamã = dan setiap kali; marro = berjalan melewati; ’alaihi = atasnya; malã’un = pemuka-pemuka; min qaumihi = dari kaumnya; sakhirũ = mereka mengejek; minhu = kepadanya; qōla = berkata (Nuh); in tas kharũ = jika kamu mengejek; minnã = kepada Aku; fa-innã = maka sesungguhnya; nas-kharu = Aku mengejek; minkum = kepadamu; kamã = sebagaimana; tas-kharũn = kamu mengejek (Aku).
wa yashna’ul fulka, wa kullamã marro’alaihi malã’um min qaumihi sakhirũ minhu, qōla in tas kharũ minnã fa-innã nas-kharu minkum kamã tas-kharũn.
38. Dan Nuh membuat bahtera, dan setiap kali pemuka kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejek kepadanya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek Aku, maka sesungguhnya, Aku pun mengejekmu, sebagaimana kamu mengejek aku.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh membuat bahtera yang mendapat ejekan dari para pemuka kaumnya. Nuh pun mengejek, sesuai dengan petunjuk Allah, seperti ejekan kaum kepadanya.

fa saufa = maka kelak; ta’lamũna = kamu akan mengetahui; man = siapa; ya’tĩhi = menimpanya; ‘adzãbun = azab; yukhzĩhi = menghinakannya; wa yahillu = dan halal (menimpa); ‘alaihi = atasnya; ‘adzãbum = azab; muqĩm = yang kekal.
fa saufa ta’lamũna man ya’tĩhi ‘adzãbun yukhzĩhi wa yahillu ‘alaihi ‘adzãbum muqĩm.
39. Maka kelak, kamu akan mengetahui, siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya, dan siapa yang akan ditimpa azab kekal baginya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah kepada Nabi Nuh tentang siapa yang akan ditimpa azab di dunia dan azab yang kekal di akhirat.

hattã = sehungga; idzã = jika; jã-a = datang; amrunã = perintah-Ku; wa fãro = dan air memancar; attannũru = tanur; qulnã = Aku berpikir; ahmil = muatkanlah; fĩhã = di dalamnya (bahtera); min kullin = dari masing-masing; zaujaini = sepasang; synaini = dua; wa ahlaka = dan keluargamu; illã = kecuali; man = orang; sabaqo = terdahulu; ‘alaihi = baginya; al qaulu = perkataan; wa man = dan orang; ãmana = telah beriman; wa mã ãmana = dan tidak ada orang yang beriman; ma’ahũ = bersamanya (Nuh); illã = kecuali; qolĩlu = sedikit.
hattã idzã jã-a amrunã wa fãrottannũru qulnahmil fĩhã min kullin zaujainisynaini wa ahlaka illã man sabaqo ‘alaihil qaulu wa man ãman, wa mã ãmana ma’ahũ illã qolĩlu.
40. Sehingga, jika perintah-Ku datang, dan tanur bumi telah memancarkan air, Aku berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera dari masing-masing sepasang dua (binatang jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang terdahulu terkena baginya, dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Dan tidak ada orang-orang yang beriman bersama Nuh, kecuali sedikit.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah banjir zaman Nabi Nuh a.s. Air memancar dari perut bumi dan hujan lebat tidak berhenti-henti sampai Allah memerintahkan untuk berhenti.

wa qōla = dan berkata; irkabũ = naiklah kamu sekalian; fĩhã = ke dalam kapal; bismillãhi = dengan nama Allah; jrãhã = di waktu berlayarnya; wa mursãhã = berlabuhnya; inna = sesunggunya; robbi = Rabku; laghofũrur = sungguh Maha Pengampun; rohĩmu = Maha Penyayang.
wa qōlarkabũ fĩhã bismillãhi majrãhã wa mursãhã, inna robbi laghofũrur rohĩmu.
41. Dan (Nuh) berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera dengan nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya, Rabku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh memerintah para pengikutnya untuk menaiki bahtera, dengan pengajaran doa kalau mau berlayar, dan saat berlabuh.
wa hiya = dan bahtera itu; tajrĩ = berlayar; bihim = dengan mereka; fĩ maujin = dalam gelombang; ka-al jibãli = seperti gunung; wa nãdã = dan memanggil; nũhun = Nuh; ibnahũ = anaknya; wa kãna = dan ia adalah; fĩ ma’zilin = di tempat terpencil; yã bunayya = wahai anakku; irkab = naiklah; ma’anã = bersamaku; wa lã takum = dan kamu jangan berada; ma’a = bersama-sama dengan; al kãfirĩn = orang-orang yang kafir.
wa hiya tajrĩ bihim fĩ maujin kal jibãl, wa nãdã nũhun ibnahũ wa kãna fĩ ma’zil, yã bunayyarkab ma’anã wa lã takum ma’al kãfirĩn.
42. Dan bahtera itu berlayar dengan mereka (membawa penumpangnya) dalam gelombang seperti gunung. Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke bahtera) bersamaku, dan janganlah kamu bersama-sama orang-orang yang kafir.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh dengan anaknya (bernama Qana’an) yang tidak mau menaiki bahtera bapaknya.

qōla = (anaknya) berkata; sa ãwĩ = aku akan mencari perlindungan; ilã jabalin = ke gunung; ya’shimunĩ = yang memeliharaku; minal mã-i = dari air; qōla = (Nuh) berkata; lã ‘ãshima = tidak ada pelindung; al yauma = hari ini; min amrillãhi = dari perintah azab Allah; illã = selain; mar rohima = orang yang Dia kasihani; wa hãla = dan menghalangi; bainahuma = di antara keduanya; al mauju = gelombang; fa kaana = maka ia adalah; minal mughroqĩn = termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
qōla sa ãwĩ ilã jabalin ya’shimunĩ minal mã-i, qōla lã ‘ãshimal yauma min amrillãhi illã mar rohim, wa hãla bainahumal mauju fa kaana minal mughroqĩn
43. Anaknya berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air.” Nuh berkata: “Tidak ada pelindung dari azab perintah Allah hari ini, selain orang yang dikasihi-Nya. Dan gelombang menghalangi antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera anak Nabi Nuh yang ditenggelamkan Allah.

wa qĩla = dan (Allah) bersabda; yã ardhu = yã bumi; ibla’ĩ = telanlah; mã-aki = airmu; wa yã samã-u = dan wahai langit; aqli’ĩ = berhentilah; wa ghĩdho = dan disurutkan; al mã-u = air; wa qudhiya = dan diselesaikan; al amru = urusan (perintah); wastawat = dan bahtera berlabuh; ‘alal jũdiyyi = di atas bukit Judi; wa qĩla = dan dikatakan; bu’dan = jauh (binasalah); lil qaumi = bagi kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
wa qĩla yã ardhubla’ĩ mã-aki wa yã samã-u aqli’ĩ wa ghĩdhol mã-u wa qudhiyal amru wastawat ‘alal jũdiyyi wa qĩla bu’dal lil qaumizh zhōlimĩn.
44. Dan (Allah) bersabda: “Hai bumi, telanlah airmu; dan hai langit (hujan) berhentilah”. Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang lalim.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Membinasakan suatu umat bagi Allah mudah saja, dengan berbagai cara.

wa nãdã nũhu = dan Nuh berseru; ar robbahũ = kepada Rabnya; fa qōla = maka katanya; robbi = yaa Rabku; innãbnĩ = sesunggunya anakku; min ahlĩ = dari (termasuk) keluargaku; wa inna = dan sesunggunya; wa’daka = janji Engkau; al haqqu = benar; wa anta = dan Engkau; ahkamu = penghukum paling adil; al hãkimĩn = di antar para penghukum.
wa nãdã nũhur robbah, fa qōla robbi innãbnĩ min ahlĩ wa inna wa’dakal haqqu wa anta ahkamul hãkimĩn.
45. Dan Nuh berseru kepada Rabnya, maka katanya: “Yaa Rabku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya, janji Engkau adalah benar, dan Engkau paling adil di antara penghukum.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tragedi keluarga Nuh, anak dan istrinya ternyata tidak mau mengikuti seruannya. Anak-istrinya tetap kafir.

qōla = (Allah) bersabda; yã nũhu = wahai Nuh; innahũ = sesungguhnya dia; laisa = dia bukanlah; min ahlika = dari keluargamu; innahũ = sesungguhnya, dia; ‘amalun = perbuatan; ghoiru = tidak; shōlihĩn = saleh (baik); falã = maka janganlah; tas-alni = kamu menanyakan kepada-Ku; mã laisa = sesuatu yang tidak; laka = untukmu; bihĩ = dengannya; ilmu = pengetahuan; innĩ = sesungguhnya aku; a’izhuka = Aku menasihatimu; an takũna = kamu jangan menjadi; mina = termasuk menjadi; al jahilĩn = orang-orang yang bodoh.
qōla yã nũhu innahũ laisa min ahlik, innahũ ‘amalun ghoiru shōlihĩn, falã tas-alni mã laisa laka bihĩ ilm, innĩ a’izhuka an takũna minal jahilĩn.
46. (Allah) bersabda: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia tidak termasuk keluargamu, sesungguhnya dia melakukan perbuatan yang tidak baik. Maka janganlah kamu menanyakan kepada-Ku, sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya, Aku menasihatimu, agar kamu jangan termasuk orang-orang yang bodoh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nuh, bahwa anak-istri yang melakukan perbuatan tidak baik (menjadi kafir, tidak melakukan apa yang diingini, diperintah Allah) harus dianggap bukan anggota keluarga. Allah melarang menanyakan kepada-Nya, sesuatu yang tidak diketahui (mengapa anak-istrinya menjadi keras kepala, tidak mau mengikuti ajakannya, ajakan Allah). Allah mengetahui segala sesuatu yang gaib. Allah menasihati Nuh, agar jangan termasuk kepada orang-orang yang bodoh. Masalah menjadi kafirnya seseorang, hanya Allah Yang mengetahui. Ada orang yang beriman, tentu ada lawannya yaitu kafir. Kafir itu pilihan hidup seseorang berdasarkan pertimbangan bebas akal pikiran dirinya. Orang-orang kafir itu lahan pekerjaan bagi para penyeru kebenaran dan kebaikan arahan dari Allah.
qōla = (Nuh) berkata; robbi = yaa Rabku; innĩ = sesungguhnya aku; a’udzu = aku berlindung; bika = kepada Engkau; an as-alaka mã laisa = apa (sesuatu) yang tidak; lĩ = bagiku; bihĩ = dengannya; ‘ilm = pengetahuan (mengetahui); wa illã = dan sekiranya tidak; taghfir = Engkau memberi ampun; lĩ = bagiku; wa tarhamnĩ = dan Engkau belas-kasihan kepadaku; akun = aku adalah; mina = dari (termasuk); al khōsirĩn = orang-orang yang rugi.
qōla robbi innĩ a’udzu bika an as-alaka mã laisa lĩ bihĩ ‘ilm, wa illã taghfir lĩ wa tarhamnĩ akum minal khōsirĩn.
47. Nuh berkata: “Yaa Rabku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau, jika aku menanyakan kepada Engkau sesuatu yang tidak kuketahui (hakekatnya), dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) berbelas-kasihan kepadaku, tentu aku termasuk orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hakekat manusia itu lemah, tidak tahu apa-apa. Kalau tidak dibelaskasihani, tidak diberitahu, maka manusia tidak mempunyai kekuatan apa-apa, tidak mempunyai pengetahuan sesuatu apa pun. Oleh karena itu, banyaklah bermohon yang disertai upaya kepada Allah Pemilik segala sesuatu, agar hidupnya tidak merugi, baik di dunia maupun di akhirat.
qĩlã = (Allah) bersabda; yã nũhu = wahai Nuh; ihbith = turunlah; bi salãmin = dengan selamat; minnã = dari Aku; wa barokãtin = dan keberkatan; ‘alaika = kepadamu; wa ‘alã = dan kepada; umammim = umat-umat; mimman = dari orang-orang; ma’ak = bersamamu; wa umamun = dan umat-umat; sanumatti’uhum = akan Aku beri mereka kesenangan; tsumma = kemudian; yamassuhum = akan menimpa mereka; minnã = dari Aku; ‘adzãbun = azab; alĩm = pedih.
qĩlã yã nũhuhbith bi salãmimminnã wa barokãtin ‘alaika wa ‘alã umammim mimmam ma’ak, wa umamun sanumatti’uhum tsumma yamassuhum minnã ‘adzãbun alĩm.
48. Allah bersabda: “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari-Ku atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada lagi umat-umat yang Aku beri kesenangan, kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari-Ku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyampaikan ucapan selamat kepada Nuh beserta umat yang bersamanya. Ada umat yang diberi kesenangan, namun di kemudian hari mereka akan terkena azab yang pedih. Kalau ditebak, umat ini umat yang tidak menepati janji dengan Allah.

tilka = itulah; min ambã-i = dari sebagian berita-berita; al ghoibi = gaib; nũhĩhã = Aku wahyukan; ilaika = kepadamu; mã kunta = tidak ada kamu; ta’lamuhã = kamu mengetahuinya; anta = kamu; wa lã qaumuka = dan tidak kaummu; min qobli = dari sebelum; hãdzã = ini; fashbir = maka bersabarlah; inna = sesungguhnya; al ‘ãqibata = akibat (kesudahan); lil muttaqĩn = bagi orang-orang yang takwa.
tilka min ambã-il ghoibi nũhĩhã ilaik, mã kunta ta’lamuhã anta wa lã qaumuka min qobli hãdzã, fashbir, innal ‘ãqibata lil muttaqĩn
49. Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Aku wahyukan kepadamu (Muhammad), (padahal) kamu dan kaummu tidak mengetahuinya sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang takwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia (khususnya Nabi Muhammad saw. dan umatnya) harus bersabar menerima peringatan dari Allah, agar hidupnya selamat di dunia sampai akhirat. Orang-orang yang takwa, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 2 – 5.

wa ilã = dan kepada; ‘ãdin = Kaum ‘Ad; akhōhum = saudara mereka; hũda = Hud; qōla = ia berkata; yã qaumi = wahai kaumku; u’budũllãha = sembahlah Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilaihi = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; in antum = tidak lain kamu; illã = hanyalah; muftarũn = mengada-adakan.
wa ilã ‘ãdin akhōhum hũda, qōla yã qaumi’budũllãha mã lakum min ilaihi ghoiruh, in antum illã muftarũn.
50. Dan kepada Kaum ‘Ad, (Aku utus) saudara mereka Hud, ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu ilah selain Dia. Tidak lain, kamu (Kaum ‘Ad) hanyalah mengada-adakan belaka. ”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah agar manusia menyembah-Nya disampaikan kepada setiap kaum di dunia ini. Jangan mengada-adakan aturan, selain dari aturan Allah. Tentang Hud, lihat juga Al A’rãf, 7 : 65 – 72.

yã kaumi = wahai kaumu; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atas seruanku; ajron = upah; in ajriya = tidak lain upahku; illã = hanyalah; ‘alal ladzĩ = dari Yang; fathoronĩ = telah Menciptakan aku; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu menggunakan akal?
yã kaumi lã as-alukum ‘alaihi ajron, in ajriya illã ‘alal ladzĩ fathoronĩ, afalã ta’qilũn.
51. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini, tidak lain upahku hanyalah dari Yang telah Menciptakan aku. Apakah kamu tidak menggunakan akal?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Hud, 11 : 29 perintah Allah kepada Nabi Nuh a.s.. Agama Allah itu harus menggunakan akal dan pikiran yang harus selalu mempertanyakan “Siapakah aku, Siapa yang menciptakan aku, mengapa aku diciptakan, kapan aku diciptakan, di mana aku diciptakan.”
wa yã qaumi = ya kaumku; is taghfirũ = memohon ampunlah; robbakum = Rab kamu; summa = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaihi = kepada-Nya; yursili = Dia mengirim; as samã-a = hujan (langit); ‘alaikum = kepadamu; midroron = hujan deras; wa yazidkum = dan Dia menambah kamu; quwwatan = kekuatan; ilã quwwatukum = dengan kekuatanmu; wa lã = dan jangan; tatawallau = kamu berpaling; mujrimĩn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa yã qaumis taghfirũ Robbakum summa tũbũ ilaih, yursilis samã-a ‘alaikum midroron wa yazidkum quwwatan ilã quwwatukum wa lã tatawallau mujrimĩn
52. Dan, wahai kaumku, memohon ampunlah kepada Rab kamu, kemudian berobatlah kepada-Nya. Dia menurunkan hujan yang sangat deras kepadamu, dan akan menambah kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutus Hud saudara dari Kaum ‘Ad agar mereka memohon ampun dan bertobat karena menyekutukan-Nya. Allah memberitahu, Dia akan menurunkan hujan yang lebat yang akan menambah kekuatan Kaum Ad, dengan pesan jangan berpaling kepada orang-orang yang berbuat dosa; kafir, musyrik, fasik, murtad.
qōlũ = mereka berkata; yã hũdu = wahai Hud; mã ji’tanã = kamu tidak datang kepadaku; bi bayyinatin = dengan bukti yang nyata; wa mã nahnu = dan aku tidak; bi tãrikĩ = dengan meninggalkan; ãlihatinã = ilah sesembahan aku; an qaulika = karena seruanmu; wa mã nahnu = dan Aku tidak; laka = bagi kamu; bi mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman,
qōlũ yã hũdu mã ji’tanã bi bayyinatin wa mã nahnu bi tãrikĩ ãlihatinã an qaulik, wa mã nahnu laka bi mu’minĩn.
53. Mereka berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan bukti yang nyata kepadaku, dan aku tidak akan meninggalkan sesembahanku, karena seruanmu, dan aku sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap kali utusan datang mengingatkan suatu kaum, pasti selalu ada penolakan, selalu ada yang tidak mau percaya. Bukti yang nyata, maksudnya ancaman azab di dunia atau nanti di akhirat.

in naqũlu = Aku tidak mengatakan; illa = kecuali; i’tarōka = telah menyebabkan kepadamu; ba’dhu = sebagian; ãlihatinã = ilah sesembahanku; bi sũ-i = dengan bahaya (gila); qōla = (Hud) menjawab; innĩ = sesungguhnya aku; usyhidullãha = aku bersaksi kepada Allah; wasyhadũ = dan skasikanlah olehmu; annĩ = bahwa aku; barĩun = berlepas diri; mimmã = dari apa; tusyrikũn = kamu persekutukan.
in naqũlu illa’tarōka ba’dhu ãlihatinã bi sũ-i, qōla innĩ usyhidullãha wasyhadũ annĩ barĩum mimmã tusyrikũn.
54. Aku tidak mengatakan, kecuali bahwa sebagian sesembahanku telah menyebabkan kamu menjadi gila. Hud menjawab: “Sesungguhnya, aku bersaksi kepada Allah, dan saksikanlah olehmu, bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum ‘Ad menuduh Hud menjadi gila karena sesembahan mereka. Hud setelah mendakwahi mereka, menjawab tuduhan mereka dengan mengatakan “aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

min dũnihĩ = dari selain-Nya; fakĩdũnĩ = maka, tipu-dayakanlah aku; jamĩ’an = semua; syumma = kemudian; lã = janganlah; tunzhirũn = kamu memberi tangguh kepadaku.
min dũnihĩ fakĩdũnĩ jamĩ’an syumma lã tunzhirũn.
55. Dari selain-Nya, maka lakukanlah semua tipu daya kepadaku, kemudian janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud menantang kaumnya yang mengatasnamakan selain Allah untuk membuat tipu daya kepada dirinya, kapan saja, dan di mana saja.

innĩ = sesungguhnya aku; tawakkaltu = aku bertawakal; ‘alallãhi = kepada Allah; robbĩ = Rabku; wa robbikum = dan Rab kamu; mã min dãbbatin = tidak ada seekor binatang melata; illã = melainkan; huwa = Dia; ãkhidzun = memegang; binãshiyatihã = dengan ubun-ubunnya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ‘alã = di atas; shirōtin = jalan; mustaqĩm = yang lurus.
innĩ tawakkaltu ‘alallãhi robbĩ wa robbikum, mã min dãbbatin illã huwa ãkhidzum binãshiyatihã, inna robbĩ ‘alã shirōtim mustaqĩm
56. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Rabku dan Rab kamu, tidak ada seekor binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya, sesungguhnya Rabku di atas jalan yang lurus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berpegang teguh kepada Allah, Penguasa seluruh makhluk-Nya merupakan jalan yang benar, lurus. Tidak ada kekuatan yang dapat mengalahkan.

fa in = maka jika; tawallau = kamu berpaling; fa qod = maka sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; mã = apa; ursiltu = aku diutus; bihĩ = dengannya; ilaikum = kepadamu; wa yastakhlifu = dan akan mengganti; robbĩ = Rabku; qauman = kaum; ghoirokum = selain kamu; wa lã = dan tidak; tadhurrũnahũ = kamu dapat membuat mudarat kepada-Nya; syaian = sedikit pun; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; hafĩd = Maha Pemelihara.
fa in tawallau fa qod ablaghtukum mã ursiltu bihĩ ilaikum, wa yastakhlifu robbĩ qauman ghoirokum wa lã tadhurrũnahũ syaian, inna robbĩ ‘alã kulli syai-in hafĩd.
57. Bila kamu berpaling, maka sesungguhnya aku sudah menyampaikan kepadamu apa yang seharusnya aku sampaikan, sebagai utusan kepadamu. Dan, Rabku akan mengganti kamu dengan kaum yang selain kamu, dan kamu tidak dapat membuat mudarat sedikit pun kepada-Nya. Sesungguhnya Rabku Maha Pemelihara segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Maha dalam segala-Nya. Rasul-Nya kalau sudah menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, maka dia terbebas dari tanggung jawab kepada kaumnya, terutama kepada yang berpaling dari himbauannya. Mereka yang berpaling, tidak dapat membuat mudarat sedikit pun kepada Allah. Mereka yang berpaling akan diganti dengan kaum lain.
wa lammã = dan setelah; jã-a = datang; amrunã = keputusan-Ku; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa najjainãhum = dan Aku selamatkan mereka; min ‘adzãbin = dari azab; ghollĩzh = berat (keras).
wa lammã jã-a amrunã bi rohmatim minnã wa najjainãhum min ‘adzãbin.
58. Dan setelah datang keputusan-Ku, Aku selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari Aku. Dan Aku selamatkan mereka dari azab yang berat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Keputusan-Ku” adalah azab yang didatangkan Allah setelah diberi kesempatan, waktu untuk mau memohon ampun dan bertobat. Setelah kesempatan yang diberikan tidak dimanfaatkan, tapi mereka tetap kafir dengan berbagai perilaku merusak, maka azab pun datang secara tiba-tiba, di waktu siang atau pun malam. Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dengan penuh rahmat.

wa tilka = dan itulah; ‘ãdun = Kaum ‘Ãd; jahadũ = mereka mengingkari; bi ayãyãti = dengan ayat-ayat; robbihim = Rab mereka; wa ‘ashau = dan mereka mendurhakai; rusulahũ = Rasul-rasul-Nya; wattaba’ũ = dan mereka mengikuti; amro = perintah; kulli = semua; jabãrin = penguasa; ‘anĩdin = durhaka.
wa tilka ‘ãdun, jahadũ bi ayãyãti Robbihim wa ‘ashau rusulahũ wattaba’ũ amro kulli jabãrin ‘anĩdin.
59. Dan itulah (kisah) Kaum ‘Ãd yang mengingkari ayat-ayat Rab mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah, dan mereka mengikuti perintah semua penguasa yang durhaka (kepada Rab).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat-ayat di atas mengisahkan Kaum ‘Ãd.

wa utbi’ũ = dan mereka diikuti; fĩ hãdzihi = di dalam ini; ad dun-yã = dunia; la’natan = laknat (kutukan); wa yauma = dan hari; al qiyãmah = kiamat; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; ‘ãdan = Kaum ‘Ãd; kafarũ = mereka kafir; robbahum = Rab mereka; alã = ingatlah; bu’dan = jauh (binasalah); li’ãdin = bagi Kaum ‘Ãd; qaumi hũd = keluarga Hud.
wa utbi’ũ fĩ hãdzihid dun-yã la’natan wa yaumal qiyãmah, alã inna ‘ãdan kafarũ Rob ahum, alã bu’dal li’ãdin qaumi hũd.
60. Dan mereka diikuti dengan kutukan di dunia ini, dan di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya Kaum ‘Ãd itu kafir kepada Rab mereka. Ingatlah, kebinasaan lah Kaum ‘Ãd, keluarga Hud.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum ‘Ãd itu dibinasakan karena setelah diberi peringatan dengan kedatangan Rasul dari Keluarga Hud, mereka tetap kafir.
wa ilã = dan kepada; tsamũda = (Kaum) Samud; akhōhum = saudara mereka; sholihã = Saleh; qōla = (Saleh) berkata; yã qaumi = yã kaumku; u’budũllãha = sembahlah Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; huwa = Dia; ansya-akum = Dia menciptakan kamu; minal ardhi = dari tanah; was ta’marokum = Dia memakmurkan kamu; fĩhã = di dalamnya; fastaghfirũhu = maka memohonlah ampun kepada-Nya; summa = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaih = kepada-Nya; inna = sesungguhnya; robbi = Rabku; qorĩbun = amat dekat; mujĩb = mengabulkan (doa) hamba-Nya.
wa ilã tsamũda akhōhum sholihã, qōla yã qaumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, huwa ansya-akum minal ardhi, was ta’marokum fĩhã fastaghfirũhu, summa tũbũ ilaih, inna Robbi qorĩbum mujĩb.
61. Dan kepada (Kaum) Samud (Aku utus) saudara mereka Saleh, dia berkata: “Hai Kaumku, sembahlah Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah, dan memakmurkan kamu di dalamnya. Maka memohonlah ampun kepada-Nya, kemudian bertobatlah kamu kepada-Nya. Sesungguhnya, Rabku amat dekat, dan mengabulkan (doa) hamba-Nya.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Nabi Saleh dengan ajakannya (himbauan) kepada kaumnya. Lihat juga ayat 52, ajakan Nabi Hud kepada Kaum ‘Ãd. Pada ayat ini, manusia diciptakan dari tanah, menegaskan surat Al Baqarah, 2 : 30, Ali Imran, 3 : 59, Al A’rãf, 7 : 12.

qōlũ = Mereka (Kaum Tsamud) berkata; yã shōlihu = Wahai Saleh; qod = sesungguhnya; kunta = kamu adalah; fĩnã = di antara kami; marjuwwan = menjadi harapan; qobla = sebelum; hãdzã = ini; atanhãnã = apakah kamu melarang Aku; an na’buda = bahwa kami menyembah; mã ya’budu = apa yang disembah; ãbã-una = bapak-bapak kami; wa innanã = dan sesungguhnya kami; lafĩ = benar-benar dalam; syakkin = keraguan; mimmã = terhadap apa (agama); tad’ũnã = kamu serukan kepada kami; ilaihi = kepadanya; murĩb = menggelisahkan.
qōlũ yã shōlihu qod kunta fĩnã marjuwwan qobla hãdzã, atanhãnã an na’buda mã ya’budu ãbã-una wa innanã lafĩ syakkim mimmã tad’ũnã ilaihi murĩb.
62. Mereka (Kaum Samud) berkata: “Hai Saleh, sesungguhnya, di antara kami, kamu menjadi harapan sebelum ini. Apakah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah bapak-bapak kami? Sesungguhnya, kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Nabi Saleh ditanggapi negatif, ragu-ragu oleh Kaum Samud, karena mereka penyembah berhala.
qōla = (Saleh) berkata; yã kaumi = wahai kaumku; aro-aitum = bagaimana pikiranmu; inkuntu = jika aku adalah; ‘alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir robbi = dari Rabku; wa ãtaanĩ = dan Dia memberi aku; min hu = dari-Nya; rohmatan = rahmat; fa man = maka siapa; yanshurũnĩ = menolongku; minallãhi = dari Allah; in = jika; ‘ashoituhu = aku mendurhakai-Nya; fa mã = maka tidak; tazĩdũnanĩ = kamu menambah kepadaku; ghoiro = selain; takhsĩrin = kerugian.
qōla yã kaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir Robbi wa ãtaanĩ min hu rohmatan fa man yanshurũnĩ minallãhi in ‘ashoituh, fa mã tazĩdũnanĩ ghoiro takhsĩri.
63. Saleh berkata: “Hai Kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabku, dan diberi-Nya rahmat dari-Nya? Maka, siapakah yang menolongku dari (azab) Allah, jika aku mendurhakai-Nya? Maka, kamu tidak menambah apapun kepadaku, selain dari kerugian belaka.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seorang Nabi yang demokratis, meminta petimbangan pikiran kaumnya, jika perintah Allah tidak disampaikan. Tentu Nabi yang rugi.
wa yã qaumi = dan hai kaumku; hãdzihĩ = inilah; nãqotu = unta betina; allãhi = Allah; lakum = untukmu; ãyatan = ayat (tanda); fadzarũhã = maka biarkanlah ia; ta’kul = ia makan; fĩ ardhĩllãhi = di bumi Allah; wa lã = dan jangan; tamassũhã = kamu mengganggunya; bi sũ-in = dengan kejahatan (gangguan); fa ya’khudzakum = maka akan menimpa kamu; ‘adzãbun = azab; qorĩb = dekat.
wa yã qaumi hãdzihĩ nãqotullãhi lakum ãyatan fadzarũhã ta’kul fĩ ardhĩllãhi wa lã t amassũhã bi sũ-in fa ya’khudzakum ‘adzãbun qorĩb.
64. Dan, hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai tanda untukmu. Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, yang menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Unta betina dari Allah ini lambang kekuasaan, kebesaran Allah, lambang kebebasan hidup beragama di dunia, lambang kehendak suci Allah, lambang kemurahan Allah, agar manusia mempercayai keberadaan-Nya. Ujian dari Allah bagi manusia melalui larangan: “Kamu jangan mengganggu unta betina itu”. Kalau diganggu (kekuasaan, kebesaran, hidup beragama, kehendak suci Allah, kemurahan Allah itu), kamu akan ditimpa azab dunia, dan lebih-lebih nanti pada Hari Kiamat..
fa’aqorũhã = maka mereka menusuknya; faqōla = lalu (Saleh) berkata; tamatta’ũ = bersukarialah kamu; fĩ dãrikum = di rumahmu; tsalãtsata = tiga; ayyãmin = hari; dzãlika = demikian itu; wa’dun = janji; ghoiru = tidak; makdzũbin = didustakan.
fa’aqorũhã faqōla tamatta’ũ fĩ dãrikum tsalãtsata ayyãmin, dzãlika wa’dun ghoiru makdzũbin
65. Maka, mereka menusuk unta itu, lalu Saleh berkata: “Bersukarialah kamu di rumahmu selama tiga hari, demikian itulah janji yang tidak dapat didustakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena ketidakpercayaan orang kafir, maka larangan itu dilanggar. Berarti menantang perintah Allah. Mereka menusuk unta betina. Allah masih memberi peluang ampun dan bertobat bagi orang-orang kafir, selama tiga hari. Itulah janji Allah.
falammã = maka ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan-Ku; najjainã = Aku selamatkan; shōlihan = Saleh; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama dia; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa min khizyi = dan dari kehinaan; yaumi-idzin = pada hari itu; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; al qowiyyu = Yang Mahakuat; al ‘azĩz = Yang Mahaperkasa.
falammã jã-a amrunã najjainã shōlihan walladzĩna ãmanũ ma’ahũ bi rohmatim minnã wa min khizyi yaumi-idzin inna Robbaka huwal qowiyyul ‘azĩz.
66. Maka, ketika datang ketetapan-Ku, Aku selamatkan dari kehinaan di hari itu, Saleh dan orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari-Ku. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah tiga hari berlalu, permohonan ampun dan tobat tidak terucap dari mereka yang kafir, maka penghinaan kepada mereka pun terjadi. Nabi Saleh dan pengikutnya yang beriman diselamatkan Allah dengan rahmat-Nya.

wa akhodza = dan ledakan menimpa (mengambil); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamu = (mereka) lalim; ash shaihatu = suara keras (ledakan); fa-ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩ diyãrihim = di rumah mereka; jãtsimĩn = mati bergelimpangan.
wa akhodzal ladzĩna zholamush shaihatu fa-ashbahũ fĩ diyãrihim jãtsimĩn.
67. Dan suara ledakan keras menimpa orang-orang yang lalim itu, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah Hukumullah dan Sunatullah.

ka-an lam = seolah-olah belum; yaghnau = mereka berdiam; fĩhã = di tempat itu; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; tsamũdã = orang-orang Samud; kafarũ = mereka kafir; robbahum = Rab mereka; alã = ingatlah; bu’dan = kebinasaan; li tsamũda = bagi orang-orang Samud.
ka-an lam yaghnau fĩhã alã inna tsamũdã kafarũ robbahum, alã bu’dal li tsamũda
68. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu; ingatlah, orang-orang Samud, sesungguhnya mengingkari Rab mereka. Ingatlah, kebinasaan bagi orang-orang Samud.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia dengan peristiwa kebinasaan (kepunahan) Kaum Samud dan Kaum Nabi Saleh itu karena mengingkari Rab mereka.

wa laqod = dan sesungguhnya; jã-at = telah datang; rusulunã = utusan-utusan Aku; ibrōhĩma = Ibrahim; bil busyrō = dengan kabar gembira; qōlũ = mereka mengucapkan; salãman = selamat; qōla = (Ibrahim) menjawab; salãmun = selamat; fa mã labitsa = maka tidak lama kemudian; an jã-a = dia menyuguhkan; bi ‘ijlin = dengan daging anak sapi; hanĩdzĩn = dipanggang.
wa laqod jã-at rusulunã ibrōhĩma bil busyrō qōlũ salãman, qōla salãmun, fa mã labitsa an jã-a bi ‘ijlin hanĩdz.
69. Dan sesungguhnya telah datang utusan-utusan-Ku (Malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan “selamat.” Ibrahim menjawab “selamat.” Tidak lama kemudian (Ibrahim) menyuguhkan daging anak sapi panggang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah beralih ke Nabi Ibrahim yang didatangi para utusan Allah, Malaikat yang menyampaikan kabar gembira (lihat ayat-ayat berikutnya). Kedua pihak (Malaikat dahulu) menyapa dan membalas sapaan dengan kata salam “selamat”. Kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi panggang.

fa lammã = maka ketika; ro-ã = (Ibrahim) melihat; aidiyahum = tangan-tangan mereka; lã tashilu = tidak sampai; ilaihi = kepadanya; nakirohum = (Ibrahim) merasa aneh kepada mereka; wa au jasã = dan mereka mencurigakan; min hum = kepada mereka; khĩfatan = ketakutan; qōlũ = mereka berkata; lã takhaf = jangan kamu takut; innã = sesungguhnya kami; ursilnã = kami diutus; ilã = kepada; qaumi = kaum; lũthin = Luth.
fa lammã ro-ã aidiyahum lã tashilu ilaihi nakirohum wa au jasã min hum khĩfatan, qōlũ lã takhaf innã ursilnã ilã qaumi lũthin.
70. Maka ketika Ibrahim melihat tangan-tangan mereka tidak sampai ke daging anak sapi panggang itu, Ibrahim memandang aneh dan merasa curiga dan takut kepada mereka. Mereka berkata: “Jangan takut, sesungguhnya kami, Malaikat yang diutus untuk Kaum Luth.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Ibrahim dengan kejadian aneh, bahwa yang datang itu Malaikat yang diutus untuk Kaum Luth.
wamro atuhũ = dan istrinya; qō-imatun = berdiri (di sampingnya); fadhohikat = lalu tersenyum; fabasysyarnãhã = maka Aku sampaikan kabar gembira kepadanya; bi ishãqo = dengan (kehamilan) Ishaq; wa min warō-i ishãqo = dan sesudah Ishaq; ya’qũba = Ya’qub.
wamro atuhũ qō-imatun fadhohikat fabasysyarnãhã bi ishãqo wa min warō-i ishãqo ya’qũba.
71. Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu ia tersenyum. Maka, Aku sampaikan kabar gembira kepadanya, akan lahir Ishaq, dan sesudah Ishaq, Ya’qub.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kabar gembira itu tentang akan lahirnya Ishaq yang disusul dengan Ya’qub.

qōlat = (istrinya) berkata; yã wailatã = aduhai; ‘a-alidu = apakah aku akan melahirkan; wa anã = padahal aku; ‘ajũzun = sudah tua; wa hãdzã = dan ini; ba’lĩ = suamiku; syaikhan = sudah tua; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; la syãi-un = sungguh suatu; ‘ajĩb = sangat ajaib (aneh).
qōlat yã wailatã-a alidu wa anã ‘ajũzun wa hãdzã ba’lĩ syaikhan, inna hãdzã la syã-un ‘ajĩb.
72. Istrinya berkata: “Aduhai, apakah aku akan melahirkan anak? Padahal aku sudah tua, dan ini suamiku (pun) sudah tua. Sesungguhnya, ini suatu yang sangat aneh.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian yang ajaib (hamilnya istri Ibrahim), kalau kehendak Allah, maka terjadilah, meskipun pasangan Ibrahim dan istrinya itu sudah tua.
qōlũ = mereka (para Malaikat) berkata; ata’jabĩna = apakah kamu merasa heran; min amrillãh = tentang ketentuan Allah; rohmatullãhi = itulah rahmat Allah; wa barokãtuhũ = dan berkah-Nya; ‘alaikum = untukmu; ahlal baiti = wahai Ahli Bait; innahũ = sesungguhnya Dia; hamĩdun = Maha Terpuji; majĩd = (dan) Mahamulia.
qōlũ ata’jabĩna min amrillãh, rohmatullãhi wa barokãtuhũ ‘alaikum ahlal baiti, innahũ hamĩdum majĩd.
73. Mereka (para Malaikat) berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketentuan Allah? Itulah rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu wahai Ahli Bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji dan Mahamulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para Malaikat menegaskan tentang ketentuan Allah yang memberi rahmat dan berkah kepada makhluk-Nya.

fa lammã = maka setelah; dzahaba = hilang; ‘an ibrōhĩma = dari Ibrahim; ar rau’u = rasa takut; wa jã-athu = dan datang kepadanya; al busyrō = berita gembira; yujãdilunã = dia bersoal-jawab dengan (Malaikat) Aku; fĩ qaumi = tentang Kaum; luthin = Luth.
fa lammã dzahaba ‘an ibrōhĩmar rau’u wa jã-athul busyrō yujãdilunã fĩ qaumi luth.
74. Maka setelah rasa takut itu hilang dari Ibrahim, dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal-jawab dengan (Malaikat) Aku tentang Kaum Luth.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nabi Ibrahim yang bersoal-jawab dengan Utusan Allah (Malaikat) yang terkait dengan Kaum Luth.

inna ibrōhĩma = sesungguhnya Ibrahim; la halĩmun = benar-benar penyantun; awwãhun = penghiba; munĩb = orang-orang yang suka mendekat (kepada Allah)
inna ibrōhĩma la halĩmun awwãhum munĩb.
75. Sesungguhnya Ibrahim seorang yang benar-benar penyantun dan penghiba, dan suka mendekat kepada Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran pribadi Ibrahim. Perlu dicontoh, ditiru.
yã ibrōhĩmu = wahai Ibrahim; a’ridh = tinggalkanlah; ‘an hãdzã = soal-jawab ini; innahũ qod = sungguh-sungguh; jã-a = telah datang; amru = ketentuan; robbik = Rab kamu; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; ãtĩhim = datang kepada mereka; ‘adzãbun = azab; ghoiru = tidak; mardũd = ditolak.
yã ibrōhĩmu a’ridh ‘an hãdzã innahũ qod jã-a amru Robbik, wa innahum ãtĩhim ‘adzãbun ghoiru mardũd.
76. Wahai Ibrahim, tinggalkanlah soal-jawab ini, karena sesungguhnya, telah datang ketetapan Rab kamu, dan sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena sudah ada ketetapan Allah, Kaum Luth ini akan diazab yang sudah tidak dapat ditolak, maka Ibrahim diperitah Allah agar meninggalkan perdebatan tentang Kaum Luth itu. Ini berita dari masa lalu yang harus diingat, menjadi peringatan kita sekarang.

wa lammã = dan ketika; jã-at = datang; rusulunã = Utusan-utusan-Ku; lũthon = Luth; sĩ-a = dia merasa susah; bihim = dengan mereka; wa dhōqo = dan dia merasa sempit; bihim = dengan mereka; dzar’an = dada; wa qōla = dan dia berkata; hãdzã = ini; yaumun = hari; ‘ashĩb = amat sulit.
wa lammã jã-at rusulunã lũthon sĩ-a bihim wa dhōqo bihim dzar’a wa qōla hãdzã yaumun ‘ashĩb
77. Dan ketika datang Utusan-utusan-Ku (Malaikat) kepada Luth, dia merasa susah dengan kedatangan mereka, dia mengatakan: “Ini adalah hari yang amat sulit.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera ketika Luth kedatangan para utusan, Malaikat.
wa jã-ahũ = dan datang kepadanya; qaumuhũ = kaumnya; yuhro’ũna = mereka bergegas-gegas; ilaih = kepaqdanya; wa min qoblu = dari dahulu; kaanũ = adalah mereka; ya’malũna = mereka melakukan; as sayi-ãti = perbuatan-perbuatan keji; qōla = (Luth) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; hã-ulã-i = inilah; banãtĩ = putri-putriku; hunna = mereka; ath-haru = lebih suci; lakum = bagimu; fattaqullãha = maka bertakwalah kamu kepada Allah; wa lã tukhzũni = dan jangan kamu mencemarkanku; fĩ dhoifĩ = di hadapan tamu-tamuku; alaisã = apakah tidak; minkum = di antara kamu; rojulu = seorang laki-laki; ar rosyĩdu = cerdik.
wa jã-ahũ qaumuhũ yuhro’ũna ilaih, wa min qoblu kaanũ ya’malũnas sayi-ãt, qōla yã qaumi hã-ulã-i banãtĩ hunna ath-haru lakum, fattaqullãha wa lã tukhzũni fĩ dhoifĩ, alaisã minkum rojulur rosyĩd.
78. Dan datanglah kepadanya (Ibrahim) kaumnya (Luth) dengan tergesa-gesa, dan sejak dahulu, mereka (Kaum Luth) selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencemarkan namaku di hadapan tamu-tamuku ini, apakah tidak ada di antara kamu seorang yang berakal?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebiasan keji Kaum Luth itu suka pada kebiasan lesbian, dan homoseks. Nabi Luth mencegah, dan merelakan putri-putrinya untuk dinikahi dengan baik oleh laki-laki kaum Luth, agar tidak mencemarkan nama baiknya. Agama Allah itu harus diikuti dengan menggunakan akal dan pikiran yang baik

qōlũ = mereka berkata; laqod = sesungguhnya; ‘alimta = kamu telah mengetahui; mã lanã = tidak ada hak bagi kami; fĩ banãtika = pada putri-putrimu; min haqqin = dari hak; wa innaka = dan sesungguhnya kamu; la ta’lamu = tentu kamu mengetahui; mã nurĩd = apa yang kami kehendaki
qōlũ laqod ‘alimta mã lanã fĩ banãtika min haqqin, wa innaka la ta’lamu mã nurĩd
79. Mereka berkata: “Sesungguhnya, kamu telah mengetahui, kami tidak ada hak (bernafsu) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya, kamu tentu mengetahui apa yang kami kehendaki.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 78. Kaum Luth bersikeras mempertahankan kebiasaan kejinya.

qōla = (Luth) berkata; lau = kalau; anna = aku; lĩ = bagiku; bikum = untuk kamu; quwwatan = kekuatan; au ãwĩ = atau aku berlindung; ilã = kepada; ruknin = tiang (keluarga); syadĩd = yang kuat.
qōla lau anna lĩ bikum quwwatan au ãwĩ ilã ruknin syadĩd.
80. (Luth) berkata: “Seandainya aku mempunyai kekuatan, atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku menolak perbuatan kejimu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Luth tidak berdaya mencegah kebiasaan keji Kaum Luth.

qōlũ = (Para Malaikat) berkata; yã lũthu = wahai Luth; innã = sesungguhnya kami; rusulu utusan; robbika = Rab kamu; lan yashilũ = mereka tidak sampai; ilaika = kepadamu; fa-asri = maka berjalanlah; bi ahlika dengan keluargamu; bi qith’in = sepotong (di akhir); minal laili = dari malam; wa lã yaltafit = dan jangan berbalik; minkum = di antara kamu; ahadun = seorang; illãmro ataka = kecuali istri kamu; innahũ = sesungguhnya dia; mushĩbuhã = menimpanya; mã ashōbahum = apa yang menimpa mereka; inna = sesungguhnya; mau’idahumu = waktu yang dijanjikan bagi mereka; ash shub-hu = subuh; alaisa = bukankah; ash shub-hu = waktu subuh; bi qorĩb = sudah dekat.
qōlũ yã lũthu innã rusulu Robbika lan yashilũ ilaika, fa-asri bi ahlika bi qith’im minal laili wa lã yaltafit minkum ahadun illãmro atak, innahũ mushĩbuhã mã ashōbahum, inna mau’idahumush shub-hu, alaisash shub-hu bi qorĩb.
81. (Para Malaikat) berkata: “Wahai Luth, sesungguhnya, kami utusan Rab kamu, sekali-kali mereka tidak akan sampai (mengganggu) kamu, maka berjalanlah dengan keluargamu di akhir malam (waktu subuh), dan jangan ada seorang pun di antara kamu berbalik kembali, kecuali istrimu, sesungguhnya, dia akan ditimpa azab yang akan menimpa mereka. Sesungguhnya, waktu yang telah dijanjikan kepada mereka itu di waktu subuh. Bukankah waktu subuh itu sudah dekat?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Kaum Luth yang akan ditimpa azab.

fa lammã = maka ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan-Ku; ja’alnã = Aku jadikan; ‘aliyahã = di atasnya; sãfilahã = ke bawahnya; wa amthornã = dan Aku hujani; ‘alaihã = atasnya; hijãrotan = batu; min sijjĩllin = dari tanah yang terbakar; mandhũd = bertubi-tubi.
fa lammã jã-a amrunã ja’alnã ‘aliyahã sãfilahã wa amthornã ‘alaihã hijãrotam min sijjĩllim mandhũd.
82. Maka ketika datang ketetapan (azab)-Ku, Aku jadikan (negeri Kaum Luth) terputarbalik (yang di atas menjadi di bawah), dan Aku hujani mereka dengan hujan batu dan tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketetapan Allah memutarbalikkan tanah tempat tingggal Kaum Luth
musawwamatan = (batu itu) diberi tanda; ‘inda = oleh; robbika = Rab kamu; wa mã hiya = dan tidaklah ia; minazh zhōlimĩna = dari orang-orang lalim; bi ba’ĩd = jauh.
musawwamatan ‘inda robbik, wa mã hiya minazh zhōlimĩna bi ba’ĩd
83. (Batu itu) diberi tanda oleh Rabmu, dan ia tidak jauh dari orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Batu itu menjadi tanda bagi manusia-manusia yang selamat dan yang kemudian. Kaum Luth yang beriman tidak jauh dari Kaum Luth yang lalim.
wa ilã = dan kepada; madyana = (penduduk) Madyan; akhōhum = saudara mereka; syu’aiban = Syu’aib; qōla = (ia) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; a’budũllãha = beribadahlah kepada Allah; mãlakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruhũ = selain Dia; wa lã = dan jangan; tanqushũ = kamu mengurangi; almikyãla = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; innĩ = sesungguhnya aku; arōkum = aku melihat kamu; bi khoirin = dengan baik; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = atasmu; ‘adzãba = azab; yaumin = hari; muhĩth = tertutup.
wa ilã madyana akhōhum syu’aiba, qōla yã qaumi’budũllãha mãlakum min ilãhin ghoiruhũ, wa lã tanqushũ almikyãla wal mĩzãn, innĩ arōkum bi khoirin wa innĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumim muhĩth.
84. Dan kepada penduduk Madyan, (Aku utus) saudara mereka Syu’aib, ia berkata: Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah bagimu, selain Dia, dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya, aku (Syu’aib) melihat kamu (penduduk Madyan) dalam keadaan baik. Sesungguhnya, aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang tertutup (kiamat).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “A’budũllãha” bisa diterjemahkan sembahlah Allah. Perintah ini untuk setiap Nabi hampir sama. Ada variasi keterangan penjelasnya. Surat yang berisi perintah seperti ini terdapat pada ayat 2, 26, 50, 61, 84. Juga terdapat pada Q.s. Al Baqarah, 2 :21, Al A’rãf, 7 : 65, 73 dan lain-lain.
wa yã qaumi = dan hai kaumku; au fu = cukupkanlah; al mikyãla = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; bil qisthi = dengan adil; wa lã tabkhasũ = dan jangan kamu kurangi; an nãsa = manusia; asy-yã-ahum = suatu hak mereka; wa lã = dan tidak; ta’tsau = kamu melakukan kejahatan; fil ardhi = di bumi; mufsidĩn = membuat kerusakan.
wa yã qaumi au ful mikyãla wal mĩzãna bil qisthi, wa lã tabkhasun nãsa asy-yã-ahum wa lã ta’tsau fil ardhi mufsidĩn
85. Dan hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu kurangi hak-hak mereka sebagai manusia, dan jangan melakukan kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada kesamaan dan perbedaan tentang mengurangi takaran dan timbangan. Yang satu (ayat 85) berupa perintah dan larangan mengurangi hak-hak manusia lain, kemudian ada larangan “dan jangan melakukan kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan”; ayat 84 berupa larangan dengan nada peringatan tentang keadaan yang baik-baik, namun ada kekhawatiran akan terkena azab di Hari Kiamat.
baqiyyatullãhi = sisa (keuntungan) dari Allah; khoirun = lebih baik; lakum = bagimu; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang yang beriman; wa mã ana = dan aku bukanlah; ‘alaikum = bagimu; bi hafĩzh = sebagai penjaga.
baqiyyatullãhi khoirul lakum inkuntum mu’minĩn, wa mã ana ‘alaikum bi hafĩzh.
86. Sisa (keuntungan) dari Allah lebih baik bagimu, jika kamu orang yang beriman, dan aku bukanlah seorang penjaga dirimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sisa (keuntungan) yang didapat dari menggunakan timbangan dan takaran yang benar karena iman kepada Allah itu dinilai lebih baik, berarti mencari harta dunia untuk tujuan akhirat. Nabi itu bukan penjaga dari perbuatan yang bermacam-macam dari seseorang. Perbuatan orang itu, tanggung jawab masing-masing.

qōlũ = (mereka) berkata; yã syu’aibu = hai syu’aib; asholãtuka = apakah salatmu; ta’muruka = menyuruh kamu; an natruka = agar kami meninggalkan; mã ya’budu = apa yang menyembah; ãbã-unã = bapak-bapak kami; au an naf’ala = atau kamu berbuat; fĩ amwãlinã = tentang harta kami; mã nasyã’u = apa yang kami kehendaki; innaka = sesungguhnya kamu; la-anta = sungguh-sungguh kamu; al halĩmu = penyantun; ar rosyĩd = cerdik, berakal
qōlũ yã syu’aibu asholãtuka ta’muruka an natruka mã ya’budu ãbã-unã, au an naf’ala fĩ amwãlinã mã nasyã’u, innaka la-antal halĩmur rosyĩd.
87. Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah salatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan, apa yang disembah oleh bapak-bapak kami, atau (melarang) kami berbuat, apa yang kami kehendaki tentang harta kami, sesungguhnya, kamu itu orang yang sangat penyantun dan berakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “salat” di sini berarti hubungan (silaturahim) Syu’aib dengan Allah. Sebagian kaumnya merasa terusik, merasa dilarang dari kebiasaan yang sudah dilakukan oleh bapak-bapak mereka menyembah berhala. Juga dengan kebiasaan memiliki kekayaan dan menggunakan hartanya. Syu’aib memang sudah terkenal sangat penyantun dan berakal.

qōla = (Syu’aib) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; aro-aitum = apa pikiranmu; inkuntu = jika aku adalah; ‘alã = mempunyai; bayyinatin = bukti yang nyata; mir robbi = dari Rabku; wa rozaqonĩ = dan Dia memberi rezeki kepadaku; minhu = dari-Nya; rizqon = rezeki; hasanan = baik; wa mã = dan tidak; urĩdu = aku berkehendak; an ukholifakum = untuk aku menyalahi kamu; ilã mã = pada apa; anhãkum = aku larang kamu; ‘anhu = darinya; in urĩdu = tidaklah aku bermaksud; illã = kecuali; al ishlãha = perbaikan; mãstatho’tui = apa yang aku sanggup; wa mã = dan tidak; taufĩqĩ = taufik bagiku; illã = kecuali; billãh = dengan allah; ‘alaihi = kepad-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa ilaihi = dan kepada-Nya; unĩb = aku kembali.
qōla yã qaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir robbi wa rozaqonĩ minhu rizqon hasanan, wa mã urĩdu an ukholifakum ilã mã anhãkum ‘anhu, in urĩdu illãl ishlãha mãstatho’tu, wa mã taufĩqĩ illã billãh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unĩb.
88. Syu’aib berkata: “Hai kaumku, apakah pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabku, dan Dia memberi rezeki kepadaku dengan rezeki yang baik? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu pada apa yang aku larang terhadapmu. Tidaklah aku bermaksud, kecuali perbaikan sesuai dengan kesanggupanku, dan tidak ada taufik bagiku, kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Hanya kepada-Nya, aku bertawakal, dan kepada-Nya, aku kembali.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menuntun abdi-Nya Syu’aib agar mempunyai rasa demokrasi. Segala sesuatu selalu meminta pertimbangan kaumnya, ad Dien Allah berdasarkan pemikiran, pemilihannya harus dengan dasar norma agama yang benar. Yang dilarang berarti salah, tidak sesuai dengan norma agama yang benar. Perbaikan artinya yang biasa dilakukan oleh bapak-bapak mereka itu telah menyimpang dari norma agama yang benar. Rezeki diberikan Allah setelah melalui proses yang sesuai dengan kemampuan pemikiran makhluk-Nya. Maksud atau tujuan hidupnya hanya untuk kebaikan bagi dirinya, dan bagi semua makhluk-Nya. Perintah dan larangan Allah itu untuk kepentingan makhluk-Nya. Segala sesuatu dalam hidup ini tidak lepas dari petolongan Allah. Makhluk-Nya harus selalu betawakal kepada-Nya. Semuanya akan kembali kepada-Nya.

wa yã qaumi = dan, hai kaumku; lã yajri mannakum = jangan kesalahan (kejahatan)-mu; syiqōqĩ = perselisihanku; an yushĩbakum = akan menimpa kamu; misylu = seperti; mã ashãba = apa yang menimpa; qauma nũhin = Kaum Nuh; au qauma hũdin = atau Kaum Hud; au qauma shãlihin = atau Kaum Saleh; wa mã qaumu lũthin = dan tidak Kaum Luth; minkum = dari kamu; bi ba’ĩdin = dengan jauh.
wa yã qaumi lã yajri mannakum syiqōqĩ an yushĩbakum misylu mã ashãba qauma nũhin au qauma hũdin au qauma shãlihin, wa mã qaumu lũthim minkum bi ba’ĩd.
89. Dan, hai kaumku, jangan perselisihanku denganmu menyebabkan kamu menjadi jahat, sehingga kamu ditimpa (azab) seperti yang menimpa Kaum Nuh, atau Kaum Hud, atau Kaum Saleh. Sedang dengan tempat Kaum Luth, tempatmu tidak jauh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Syu’aib mengingatkan kaumnya agar tidak ditimpa azab seperti Kaum Nuh (dilanda banjir dan angin topan, atau Kaum Hud (kaumnya diganti oleh kaum yang lain), atau Kaum Saleh (tanahnya diputarbalikkan dengan hujan batu yang terbakar). Perbedaan pendapat, jangan menjadi perselisihan yang menimbulkan kejahatan. Kalau terjadi demikian, pasti Allah akan menetapkan, siapa yang akan kena azab-Nya.
wastaghfirũ = dan mohon ampunlah kamu; robbakum = kepada Rab kamu; tsumma = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaih = kepada-Nya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; rohĩmun = Maha Penyayang; wadũd = Maha Pengasih.
wastaghfirũ robbakum tsumma tũbũ ilaih, inna robbĩ rohĩmun wadũd.
90. Dan Mohon ampunlah kepada Rab kamu, kemudian berobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Rabku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Syu’aib menyarankan kepada kaumnya agar mau memohon ampun, kemudian bertobat kepada Rabnya.
qōlũ = (Kaumnya) berkata; yã Syu’aibu = hai Syu’aib; mã nafqohu = kami tidak mengerti; katsĩron = banyak; mimmã = tentang apa; taqũlu = kamu katakan; wa innã = dan sesungguhnya kami; la narōka = sungguh kami melihat kamu; fĩ nã = di antara kami; dho’ĩfan = lemah; wa lau lã = dan kalau tidak; rohthuka = keluargamu; la rojamnãk = tentu kamu, kami rajam; wa mã anta = dan kamu tidaklah; ‘alainã = atas kami; bi ‘azĩz = terhormat (berkuasa).
qōlũ yã Syu’aibu mã nafqohu katsĩrom mimmã taqũl, wa innã la narōka fĩ nã dho’ĩfan, wa lau lã rohthuka la rojamnãk, wa mã anta ‘alainã bi ‘azĩz.
91. (Kaumnya) berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya, kami melihat kamu seorang yang lemah di antara kami, dan kalau tidak karena keluargamu, tentulah kami merajam kamu, dan kamu tidak (bukan) seorang yang terhormat di atas kami.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaumnya Syu’aib mengaku tidak banyak mengerti tentang apa yang di da’wahkan Syu’aib. Mereka menganggap Syu’aib seorang yang lemah. Kalau tidak melihat keluarganya yang terhormat, tentu mereka akan merajamnya.
qōlũ = (Syu’aib) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; arohthĩ = apakah keluargaku; a’azzu = lebih terhormat; ‘alaikum = bagimu; minallãhi = daripada Allah; wattakhadz tumũhu = dan kamu meletakkan Dia; wa rō-akum = di belakangmu; zhihriyyan = punggungmu; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; bimã = terhadap segala apa; ta’malũna = kamu kerjakan; muhĩth = mencakup.
qōlũ yã qaumi arohthĩ a’azzu ‘alaikum minallãhi wattakhadz tumũhu wa rō-akum zhihriyyan, inna Robbĩ bimã ta’malũna muhĩth.
92. (Syu’aib) berkata: “Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat bagimu daripada Allah, dan kamu letakkan Dia di belakang punggungmu? Sesungguhnya, Rabku mencakupi segala apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Su’aib menjawab pernyataan kaumnya tentang dirinya. Sebagain kaumnya Syu’aib tampaknya belum memahami sifat Allah Yang Maha dalam segala-Nya, dan sebagian mereka tidak mengakui kenabiannya.
wa yã qaumi = dan, wahai kaumku; i’malũ = kamu berbuatlah; ‘alã makãnatikum = menurut kemampuanmu; innĩ = sesungguhnya aku; ‘ãmilun = seorang yang berbuat; saufa = kelak akan; ta’lamũna = kamu mengetahui; man ya’tĩhi = siapa didatanginya; ‘adzãbun = azab; yukhzĩhi = menghinakannya; wa man = dan siapa; huwa = dia; kãdzibun = berdusta; wa artaqibũ = dan tunggulah; innĩ = sesungguhnya aku; ma’akum = bersama kamu; roqĩbun = menunggu.
wa yã qaumi’malũ ‘alã makãnatikum innĩ ‘ãmilun, saufa ta’lamũna man ya’tĩhi ‘adzãbun yukhzĩhi wa man huwa kãdzibun, wa artaqibũ innĩ ma’akum roqĩbun.
93. Dan, wahai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya, aku juga berbuat. Kelak, kamu akan mengetahui siapa yang akan didatangi azab yang menghinakannya, dan siapa dia yang berdusta. Dan tunggulah (azab Allah), sesungguhnya, akupun menunggu bersama kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan menyuruh berbuat sekehendaknya, karena sebelumnya beliau sudah memberitahu, bagaimana seharusnya berbuat (mempercayai dirinya sebagai Nabi yang membawa berita gembira dari Allah). Kalau mereka berkeras kepala, tidak mau mempercayainya maka azablah yang akan menimpa mereka.
wa lammã = dan ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan Aku; najjainã = Aku selamatkan; syu’aiban = Syu’aib; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama dia; birohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa akhodzati = dan diambil (dibinasakan); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamu = (mereka) lalim; ash shoihatu = suara keras; fa ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩ diyãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mati bergelimpangan.
wa lammã jã-a amrunã najjainã syu’aiban walladzĩna ãmanũ ma’ahũ birohmatim minnã, wa akhodzatil ladzĩna zholamush shoihatu fa ashbahũ fĩ diyãrihim jãtsimĩn.
94. Dan ketika datang ketetapan-Ku, Aku selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat-Ku. Dan orang-orang yang lalim dibinasakan oleh suara ledakan keras, maka jadilah mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Hud yang kafir digantikan dengan kaum yang lain. Hud sendiri dengan kaumnya yang beriman diselamatkan dengan rahmat dari Allah; Kaum Samud dengan Nabinya bernama Saleh dimusnahkan dengan suara dentuman keras yang mematikan. Kaumnya Nuh dilanda banjir, dan angin putingbaliung, Kaum Luth tanahnya diputarbalikkan dan dihujani batu dan tanah yang dibakar, Kaum Syu’aib dengan ledakan keras.
ka-al lam = seakan-akan belum; yaghnau = mereka tinggal; fĩhã = di situ; alã = ingatlah; bu’da = jauh, binasa; li madyana = bagi orang Madyan; kamã = sebagaimana; ba’idat = jauh, binasa; tsamũd = Samud.
ka-al lam yaghnau fĩhã, alã bu’dal li madyana kamã ba’idat tsamũd
95. Seakan-akan mereka belum pernah tinggal di situ, ingatlah, kebinasaanlah bagi (penduduk) Madyan, sebagaimana Kaum Samud telah binasa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Samud dengan nabinya yang bernama Saleh binasa karena ada dentuman keras bergemuruh yang mematikan orang-orang lalim. Kaum Madyan binasa karena peristiwa yang sama dengan Kaum Samud.
wa la qod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; mũsã = Musa; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; wa sulthōnin = dan keterangan; mubĩn = nyata.
wa la qod arsalnã mũsã bi ãyãtinã wa sulthōnim mubĩn
96. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Musa dengan ayat-ayat-Ku dan keterangan yang nyata.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu bahwa Beliau telah mengutus Nabi Musa dengan membawa ayat-ayat dengan keterangan yang nyata, jelas. Lihat juga Al Baqarah, 2 : 153 dan surat-surat yang lainnya.
yaqdumu = ia mendahului; qaumahũ = kaumnya; yauma = hari; al qiyãmati = kiamat; fa aurodahumu = lalu ia memesukkan mereka; an nãro = api (neraka); wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al wirdu = kedatangan; al maurũdu = tampat yang didatangi.
yaqdumu qaumahũ yaumal qiyãmati fa aurodahumun nãro, wa bi’sal wirdul maurũdu
98. Ia mendahului umatnya di Hari Kiamat, lalu dimasukkan ke dalam neraka, dan neraka itu tempat terburuk yang didatangi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka dengan kemauannya sendiri, pada Hari Kiamat ke tempat mereka dimasukkan ke neraka, tempat kembali yang terburuk baginya.
wa utbi’ũ = dan mereka diikuti; fĩ hãdzihĩ = di dunia ini; la’natan = dilaknat, dikutuk; wa yaumal qiyãmati = dan Hari Kiamat; bi’ sa = seburuk-buruk; arrifdu = pemberian; al marfũdu = yang diberikan.
wa utbi’ũ fĩ hãdzihĩ la’natan wa yaumal qiyãmati, bi’ sa rrifdul marfũdu
99. Dan mereka diikuti oleh kutukan di dunia ini, dan begitu juga di Hari Kiamat. Kutukan itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dunia mengutuki orang-orang kafir, kaumnya Nabi Musa, karena mereka tidak mau bersyukur, atas apa yang dirasakan kenikmatannya di dunia itu.
dzãlika = seperti itu; min ambã-i = sebagian berita-berita; al qurō = negeri; naqush shuhũ = Aku ceriterakan; ‘alaik = kepadamu; minhã = dari-Nya; qōimun = berdiri (tegak); wa hashĩd = dan musnah.
dzãlika min ambã-il qurō naqush shuhũ ‘alaik, minhã qōimun wa hashĩd
100. Seperti itu sebagian berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang diceriterakan kepadamu (Muhammad), di antaranya ada yang masih berdiri tegak, dan (sebagiannya) telah musnah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah sejarah yang dapat lebih dijelaskan melalui penelitian arkeologi, paleontologi. Negeri-negeri yang masih tegak juga dapat dilihat sekarang ini. Peristiwa-peristiwa pemusnahan pun terus terjadi melalui tsunami, angin tornado (puting beliung), gempa, longsor, banjir, kebakaran, kecelakaan, penyakit.
wa mã = dan tidak; zholamnãhum = Aku melalimi mereka; wa lãkin = tetapi; zholamũ = mereka menganiaya; anfusahum = diri mereka sendiri; fa mã = maka tidak; aghnat = bermanfaat; ‘anhum = dari mereka; ãlihatuhumu = tuhan-tuhan mereka; al latĩ = yang; yad’ũna = mereka sembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; min syai-in = dari sesuatu; lammã = ketika; jã-a = datang; amru = ketetapan; robbik = dari Rab kamu; wa mã = dan tidak; zãdũhum = menambah mereka; ghoiro = selain, kecuali; tatbĩb = kebinasaan.
wa mã zholamnãhum wa lãkin zholamũ anfusahum, fa mã aghnat ‘anhum ãlihatuhumul latĩ yad’ũna min dũnillãhi min syai-il lammã jã-a amru robbik, wa mã zãdũhum ghoiro tatbĩb.
101 . Dan Aku tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, dan sedikit pun tidak bermanfaat tuhan-tuhan mereka, yang mereka sembah selain Allah, ketika datang ketetapan Rab kamu, sesembahanmu itu tidak menambah apa-apa, selain kebinasaan belaka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebinasaan, penganiayaan Allah itu akibat perbuatan manusianya sendiri, yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah.
wa kadzãlika = dan demikian itu; akhdzu = mengambil (azab); robbika = Rab kamu; idzã = jika; akhdza = Dia mengambil (mengazab); al qurō = negeri; wa hiya = dan dia (penduduknya); zhōlimatun = berbuat lalim; inna = sesungguhnya; akhdzohũ = azab-Nya; alĩmun = sangat pedih; syadĩd = keras.
wa kadzãlika akhdzu robbika idzã akhdza al qurō wa hiya zhōlimatun, inna akhdzohũ alĩmun syadĩd.
102. Dan demikian itulah azab Rab kamu, apabila Dia mengazab negeri yang penduduknya berbuat lalim. Sesungguhnya, azabnya sangat pedih dan keras
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan terakhir Allah dengan azab.
inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = dari kejadian itu; lã ãyata = sungguh ada tanda (pelajaran); liman = bagi orang-orang; khōfa = takut; ‘adzãba = azab; al ãkhiroh = akhirat; dzãlika = demikian itu; yaumun = hari; majmũ-un = dikumpulkan; lahu = untuk (mengalami)-nya; an nãsu = manusia; wa dzãlika = dan demikian itu; yaumun = hari; masyhũdun = disaksikan.
inna fĩ dzãlika lã ãyatal liman khōfa ‘adzãbal ãkhiroh, dzãlika yaumum majmũ-ul lahũn nãsu wa dzãlika yaumum masyhũdun.
103. Sesungguhnya, dari kejadian itu sungguh terdapat tanda (pelajaran), bagi orang yang takut kepada azab akhirat. Hari (Kiamat) itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk mengalaminya, dan hari itu adalah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah ketika sudah kiamat.
wa mã = dan tidak; nu-akhiruhũ = Aku mengundurkannya; illã = kecuali; li-ajalin = sampai waktu; ma’dũdin = ditetapkan.
wa mã nu-akhiruhũ illã li-ajalim ma’dũdin.
104. Dan Aku tidak mengundurkannya, kecuali sampai waktu yang ditetapkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebetulnya tidak ada pengunduran waktu terjadinya kiamat. Waktu itu sudah ditetapkan. Allah yang mempunyai kekuasaan menetapkan Hari Kiamat itu.

yauma = hari; ya’ti = datang; lã takallamu = tidak berbicara; nafsun = seseorang; illã = kecuali; bi idznihĩ = dengan izin-Nya; faminhum = maka di antara mereka; syaqiyyun = celaka; wa sa’ĩdun = dan yang bahagia.
yauma ya’ti lã takallamu nafsun illã bi idznihĩ, faminhum syaqiyyun wa sa’ĩdun
105. Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya, maka di antara mereka, ada yang celaka, dan ada yang berbahagia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketika kiamat datang, tak seorang pun dapat berbicara, kecuali atas izin-Nya.

fa ammã = dan adapun; al ladzĩna =orang-orang yang …; syaqqũ = mereka celaka; fafin nãri = maka di dalam neraka; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; zafĩrun = bekeluh kesah panjang; wa syahĩqun = dan merintih.
fa ammãl ladzĩna syaqqũ fafinnãri lahum fĩhã zafĩrun wa syahĩqun.
106. Adapun orang-orang yang celaka, maka di dalam neraka (tempatnya). Di dalamnya mereka berkeluh-kesah panjang, merintih kesakitan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya.
khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; mã dãmati = selama; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; illã = kecuali; mã = apa; syã-a = yang dikehendaki; robbuka = Rab kamu; inna = sesungguhnya; Robbaka = Rab kamu; fa’ãlun = Maha Pembuat; li mã = segala apa; yurĩdu = Dia kehendaki.
khōlidĩna fĩhã mã dãmatis samãwãtu wal ardhu illã mã syã-a robbuka, inna Robbaka fa’ãlul li mã yurĩdu
107. Mereka kekal di dalamnya, selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rab kamu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rab kamu Maha Pembuat segala apa Yang Dia kehendaki.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Neraka itu seperti keberadaan langit dan bumi. Apakah matahari, bintang-bintang yang bercahaya itu neraka dari makhluk-makhluk yang terdahulu yang disiksa karena membantah perintah Allah? Allah Maha Pembuat segala apa Yang Dia kehendaki. Mereka yang membantah perintah Allah terkena siksaan yang sangat lama. Lihat ayat 108.
wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang …; su’idũ = (mereka) berbahagia; fafil jannati = maka di dalam surga; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; mã dãmati = seperti keberadaan; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; illã = kecuali; mã = apa; syã-a = yang menghendaki; robbuka = Rab kamu; ‘athō-an = pemberian, karunia; ghoiro = tidak (bukan); majdzũdzin = putus-putus.
wa ammal ladzĩna su’idũ fafil jannati khōlidĩna fĩhã mã dãmatis samãwãtu wal ardhu illã mã syã-a robbuka, ‘athōan ghoiro majdzũdzin
108. Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tinggalnya) di surga, mereka kekal di dalamnya seperti keberadaan langit dan bumi, kecuali jika Rab kamu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tidak terputus-putus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Surga itu seperti juga keberadaan langit dan bumi. Allah Yang Berkehendak. Karunia Allah tidak terputus-putus. Mukhluk-Nya menikmati semua karunia-Nya. Lihat ayat 107.

fa lã taku = maka jangan kamu berada; fĩ miryatin = dalam keraguan; mimmã = tentang apa; ya’budu = menyembah; hã-ulã-i = mereka itu; mã = tidak; ya’budũna = mereka menyembah; illã = kecuali; kamã = sebagaimana; ya’budu = menyembah; ãbã-uhum = nenek-moyang mereka; min qoblu = dari dahulu; wa innã = dan sesungguhnya Aku; lamuwaffũhum = pasti akan menyempurnakan mereka; nashĩbahum = bahagian mereka; ghoiro = tidak (bukan); manqũshin = dikurangi
fa lã taku fĩ miryatim mimmã ya’budu hã-ulã-i, mã ya’budũna illã kamã ya’budu ãbã-uhum min qoblu, wa innã lamuwaffũhum nashĩbahum ghoiro manqũshin.
109. Maka, kamu jangan dalam keraguan tentang apa yang disembah mereka itu. Mereka menyembah sebagaimana dahulu nenek-moyang mereka menyembah. Dan sesungguhnya, Aku akan menyempurnakan balasan mereka, dengan tidak dikurangi sedikit pun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad s.a.w beserta umatnya agar tidak melakukan kebiasaan orang dahulu, menyembah kepada selain Allah. Balasannya kepada yang tidak beriman maupun kepada yang beriman tidak dikurangi sedikit pun.
wal laqod = dan sesungguhnya; ãtainã = Aku berikan; mũsa = Musa; al kitãba = Alkitab (Taurat); fa akhtulifa = maka (lalu) diperselisihkan; fihi = di dalamnya; walau = dan kalau; lã = tidak; kalimatun = ketetapan; sabaqot = terdahulu; mir robbika = dari Rab kamu; laqudhiya = niscaya ditetapkan; bainahum = di antara mereka; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; lafĩ = sungguh; syakkim = dalam keraguan; minhu = daripadanya; murĩb = kebimbangan.
wal laqod ãtainã mũsal kitãba fa akhtulifa fihi, walau lã kalimatun sabaqot mir robbika laqudhiya bainahum, wa innahum lafĩ syakkim minhu murĩb.
110. Dan sesungguhnya, Aku telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan di dalamnya. Dan kalau tidak ada ketetapan terdahulu dari Rab kamu, tentu diputuskan (persoalan itu) di antara mereka. Dan sesungguhnya, mereka dalam keraguan dan kebimbangan dari padanya
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dalam Taurat ada perselisihan tentang akan diutusnya seorang Nabi terakhir. Mereka dalam keraguan dan kebimbangan.
wa inna = dan sesungguhnya; kullan = masing-masing; lamã = tentu; layuwaffiyannahum = pasti akan menyempurnakan pekerjaan mereka; robbuka = Rab kamu; a’mãlahum = pekerjaan mereka; innahũ = sesungguhnya Dia; bimã = terhadap apa; ya’malũna = mereka kerjakan; khobĩr = Maha Mengetahui.
wa inna kullal lamã layuwaffiyannahum Robbuka a’mãlahum, innahũ bimã ya’malũna khobĩr.
111. Dan sesungguhnya, kepada masing-masing mereka, pasti Rab kamu akan menyempurnakan pekerjaan mereka. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui, apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui penyelesaian dari perselisihan itu. Yang mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-Nya akan masuk surga. Yang tidak mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-Nya yang terakhir (Nabi Muhammad saw.) akan masuk neraka.
fastaqim = maka kamu berlaku luruslah; kamã = sebagaimana; umirta = kamu diperintah; wa man = dan orang; tãba = bertobat; ma’aka = bersama kamu; wa lã = dan jangan; tathghou = kamu melampaui batas; innahũ = sesungguhnya Dia; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩrun = Maha Melihat.
fastaqim kamã umirta wa man tãba ma’aka wa lã tathghou, innahũ bimã ta’malũna bashĩrun
112. Maka kamu berlaku luruslah, sebagaimana kamu diperintah, dengan orang yang bertaubat bersama kamu, dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Dia Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah agar berlaku lurus, bertobat, dan melarang berbuat melampaui batas (dalam memutuskan perselisihan pada ayat sebelumnya).

wa lã = dan jangan; tarkanũ = kamu cenderung; ila = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang …; zholamũ = lalim; fatamassakumu = maka akan menyentuh kamu; nãru = api neraka; wa mã = dan tidak; lakum = bagi kamu; min dũnillãhi = dari selain Allah; min auliyã-a = dari seorang penolong; tsummã = kemudian; lã tunsharũn = kamu tidak diberi pertolongan.
wa lã tarkanũ ilal ladzĩna zholamũ fatamassakumun nãru wa mã lakum min dũnillãhi min auliyã-a tsummã lã tunsharũn.
113. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim, (yang menyebabkan) kamu disentuh api neraka, dan tidak ada bagimu seorang pelindung, selain dari Allah, kemudian kamu tidak diberi pertolongan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah, jangan cenderung menjadi orang lalim, artinya tidak mempercayai kehadiran Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul terakhir. Akibatnya akan disentuh (ungkapan halus) api neraka. Tidak ada yang dapat melindungi, dan tidak ada yang dapat menolong, kecuali Allah.
wa aqimish sholãta = dan dirikalah salat; thorofayi = pada kedua tepi; an nahãri = siang; wa zulafan = dan sebagian; minnal laili = dari malam; inna = sesungguhnya; al hasanãti = perbuatan baik; yudzhibna = menghapuskan; as sayyi-ãti = perbuatan baik; dzãlika = demikian itu; dzikrō = peringatan; lidz dzãkirĩn = bagi orang-orang yang mau ingat.
wa aqimish sholãta thorofayin nahãri wa zulafam minnal laili, innal hasanãti yudzhibnas sayyi-ãti, dzãlika dzikrō lidz dzãkirĩn.
114. Dan dirikanlah salat di kedua tepi siang (pagi dan petang) dan sebagian dari malam. Sesungguhnya, perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan buruk (dosa). Demikian itu peringatan bagi orang-orang yang mau ingat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah salat subuh, duha, dzuhur, maghrib, Isa, tahajud, dan subuh bagi orang-orang yang beriman. Salat dan perbuatan yang baik menghapus perbuatan dosa. Alquran itu pelajaran dan peringatan bagi orang yang mau ingat kepada Allah dan para nabi-Nya.
washbir = dan bersãbarlah; fa innallãha = karena sesungguhnya Allah; lã yudhĩ’u = tidak menyediakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.
washbir fa innallãha lã yudhĩ’u ajrol muhsinĩn
115. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah untuk bersabar saat beribadah, apa saja karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, seperti salat dan amal-amal baik lainnya (sedekah, zakat, fitrah).

fa lau lã = dan mengapa tidak; kãna = adalah; mina = dari; al qurũni = kurun keturunan; min qoblikum = dari sebelum kamu; ulũ = orang-orang yang mempunyai; baqiyyatin = peninggalan (sia-sia); yanhauna = mereka melarang; ‘anil fasãdi = dari kerusakan; fil ardhĩ = di bumi; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimman = di antara orang-orang; anjainã = Aku telah; minhum = di antara mereka; wattaba’a = dan mengikuti (menurutkan); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; mã = apa yang; utrifũ = mereka bersenang-senang; fĩhi = padanya; wa kãnũ = dan mereka adalah; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.
fa lau lã kãna minal qurũni min qoblikum ulũ baqiyyatin yanhauna ‘anil fasãdi fil ardhĩ illã qolĩlan mimman anjainã minhum wattaba’al ladzĩna zholamũ mã utrifũ fĩhi wa kãnũ mujrimĩn
116. Mengapa tidak ada umat-umat sebelum kamu, orang-orang yang mempunyai kesadaran untuk melarang pekerjaan yang merusak di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang Aku selamatkan di antara mereka. Dan orang-orang lalim hanya menurutkan apa yang menyenangkan mereka saja. Dan mereka itu orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengisahkan orang-orang masa lalu yang tidak mempunyai kesadaran memelihara alam semesta ini. Mereka suka merusak alam semesta ini, khususnya bumi, untuk kesenangan hati mereka saja. Mereka suka berbuat dosa, dan tidak mau bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, dan tidak mau bertobat, tidak mau berbuat kebaikan.
wa mã kaana = dan adalah tidak; robbuka = Rab kamu; liyuhlika = untuk membinasakan; al qurō = negeri-negeri; bi zhulmin = dengan aniaya; wa ahluhã = dan penduduknya; mushlihũn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa mã kaana robbuka liyuhlikal qurō bi zhulmin wa ahluhã mushlihũn.
117. Dan Rab kamu tidak membinasakan dengan aniaya negeri-negeri yang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, Beliau tidak membinasakan negeri-negeri yang penduduknya berbuat kebaikan.
wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; robbuka = Rab kamu; laja’ala = tentu Dia menjadikan; nãsa = manusia; ummatan = umat; wãhidatan = yang satu; wa lã yazãlũna = dan mereka senantiasa; mukhtalifĩn = orang-orang yang berselisih.
wa lau syã-a robbuka laja’alan nãsa ummatan wãhidatan, wa lã yazãlũna mukhtalifĩn.
118. Dan kalau Rab kamu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia, umat yang satu, dan senantiasa mereka berselisih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak membuat manusia satu umat agar menjadi ujian, apakah mau saling membantu, saling memberi, saling membutuhkan atau tidak. Sebaiknya jangan berselisih. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 30 Malaikat memperkirakan, manusia itu akan saling membunuh.
illã = kecuali; man = orang; rohima = diberi rahmat; robbuka = Rab kamu; wa li dzãlika = dan untuk itulah; kholaqohum = Dia menciptakan mereka; wa tammat = dan sempurna (ditetapkan); kalimatu = kalimat (keputusan); robbika = Rab kamu; la-amla-anna = sungguh Aku penuhi; jahannama = jahanam; mina = dari; al jinnati = jin; wannãsi = dan manusia; ajma’ĩn = semuanya.
illã mar rohima robbaka, wa li dzãlika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbikala-amla-anna jahannama minal jinnati wannãsi ajma’ĩn.
119. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rab kamu, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Dan keputusan Rab kamu telah ditetapkan: “Sungguh, akan Aku penuhi neraka jahanam dengan sejumlah jin dan manusia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan manusia untuk menjadi obyek pemberian rahmat. Namun, ada manusia yang tergoda setan dan jin, sehingga neraka juga akan dipenuhi sejumlah jin dan manusia yang membangkang kepada Allah. Mereka tidak bersyukur atas rahmat yang telah dinikmatinya.
wa kullan = dan masing-masing; naqushshu = dikisahkan ‘alaika = kepadamu; min ambã-i = dari sebagian berita; ar rusuli = para Rasul; mã = apa; nutsabbitu = yang Aku teguhkan; bihĩ = dengannya; fu-ãdaka = hatimu; wa jã-aka = dan telah datang kepadamu; fĩ = di; hãdzihi = dalam ini; al haqqu = kebenaran; wa mau’izhotun = dan pelajaran; wa dzikrō = dan peringatan; lil mu’minĩn = bagi orang-orang yang beriman.
wa kullan naqushshu ‘alaika min ambã-ir rusuli mã nutsabbitu bihĩ fu-ãdaka, wa jã-aka fĩ hãdzihil haqqu wa mau’izhotun wa dzikrō lil mu’minĩn.
120. Dan masing-masing, Aku kisahkan kepadamu dari sebagian berita para Rasul, yang dengannya, Aku teguhkan hatimu. Dan di dalamnya (surat ini) telah dijelaskan kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah para Rasul ini, untuk meneguhkan kebenaran, pengajaran, dan peringatan di hatimu (Muhammad saw.) untuk disampaikan kepada orang-orang yang beriman.
wa qul = dan katakanlah; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; i’malũ = bekerjalah; ‘alã = atas; makaanatikum = menurut kemampuanmu; innã = sesungguhnya aku; ‘ãmilũn = orang-orang yang bekerja.
wa qul lilladzĩna lã yu’minũna’malũ ‘alã makaanatikum innã ‘ãmilũn
121. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Bekerjalah menurut kemampuanmu, sesungguhnya, aku pun bekerja.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diminta mengatakan seperti yang dinyatakan di dalam ayat ini. Orang yang bekerja dengan menyebut nama Allah, hasilnya berbeda dengan orang yang menyebut nama Allah.
wa antazhirrũ = dan tunggulah; innã = sesungguhnya; muntazhirũn = aku pun menunggu (juga).
wa antazhirrũ innã muntazhirũn
122. Dan tunggulah, sesungguhnya, aku pun menunggu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hasil pekerjaan yang mengatasnamakan Allah, dinilai sebagai ibadah, sedang pekerjaanyang tidak mengatasnamakan Allah, hasilnya hanya bisa dinikmati di dunia. Di akhirat akan dipertanyakan kenikmatan yang dirasakan di dunia dari mana asalnya? Mereka tidak bersyukur atas nikmat yang diberi dari Allah, berarti mereka kufur nikmat. Balasannya neraka.
wa lillãhi = dan bagi Allah; ghoibu = kegaiban; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa ilaihi = dan kepada-Nya; yurja’u = dikembalikan; al amru = persoalan; kulluhũ = seluruhnya; fa’bud-hu = maka beribadahlah kepada-Nya; wa tawakkal = dan tawakallah; ‘alaihi = kepada-Nya; wa mã = dan tidak; robbuka = Rab kamu; bi ghōfilin = akan lalai; ‘ammã = dari apa yang; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa lillãhi ghoibus samãwãti wal ardhi wa ilaihi yurja’ul amru kulluhũ fa’bud-hu wa tawakkal ‘alaihi, wa mã robbuka bi ghōfilin ‘ammã ta’malũn.
123. Dan milik Allah kegaiban di langit dan di bumi, dan kepada-Nya lah seluruh persoalan dikembalikan. Maka, beribadahlah kepada Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Rab kamu tidak pernah lalai pada apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memiliki ilmu gaib, lihat Q.s. Hud, 11 : 31, sejarah masa lalu yang gaib, hanya Allah yang mengetahuinya, Q.s. Hud, 11 : 49. “Sembahlah Allah” dalam surat ini terdapat pada ayat 50, 61, 84. Perintah bertawakal kepada Allah, dalam Surat ini terdapat pada ayat 56, dan 88.

Leave a Reply