012 Yusuf

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Yũsuf
Kisah Nabi Yusuf
Makiyah
Surat ke-12, 111 ayat.
Juz 12 beralih ke Juz 13 pada ayat 53.

Catatan Awal
Seluruh ciptaan Allah di alam semesta diamati, diatur, diurus, dan dikuasai Allah. Dia menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, sesuai dengan jatah umur yang diberikan-Nya. Semua makhluk-Nya harus mempertanggungjawabkan segala tingkah-lakunya saat hidup di dunia, khususnya manusia, karena manusia ditetapkan Allah sebagai khalifah di muka bumi. Makhluk yang satu dapat menolong makhluk lain, khususnya hidup manusia bersama manusia lain, bersama makhluk selain manusia atas perkenan-Nya. Kesesatan dan dosa itu pilihan hidup manusia sendiri. Allah mempunyai hak memberi petunjuk. Namun, jika manusia tidak mau memperhatikan petunjuk-Nya, mereka akan dikenai siksa, setelah diberi peringayaan, dan kesempatan beberapa waktu untuk mau bertobat. Kalau tidak mau bertobat, baru mereka diazab. Hanya orang yang beriman dan bertakwa yang memperhatikan petunjuk dan menjauhi larangan-Nya yang akan diberi hadiah surga, hidup yang menyenangkan di akhirat nanti.
Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranya, dan Ya’qub, orang tuanya, ini diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. secara gaib, karena ada orang Yahudi yang menyuruh orang kafir menanyakan perihal kepindahan keluarga Ya’qub dari Syam ke Mesir, dan bagaimana sesungguhnya kisah Nabi Yusuf. Lihat Q.s. Al An’ãm, 6 : 84. Hal ini menjadi daya tarik bagi kaum non-Islam (Yahudi, dan lain-lain). Ada kesamaan dengan apa yang sudah diyakini dan yang sudah dipelajarinya. Kenabian beliau, sudah diisyaratkan Allah melalui mimpi orang tuanya, Ya’qub. Di dalamnya menceriterakan mu’zijat-mu’zijat Nabi Yusuf, rahmat dari Allah. Ceritera ini dapat menjadi hiburan, pelajaran, petunjuk, suri-teladan mulia bagi yang membaca, atau mendengarkannya. Nabi Muhammad saw. juga merasakan semuanya itu dalam cerita Nabi Yusuf.
Kewajiban manusia merahasiakan sesuatu yang mungkin menjadi fitnah. Barang dan anak temuan harus dipungut, tidak boleh dibiarkan, harus diberitahu kepada umum. Boleh berdalih yang tidak merugikan orang lain, untuk memperoleh suatu kemaslahatan. Agama tauhid mempunyai ketentuan yang sama, yaitu pengakuan ada-Nya Allah Yang Esa; pengakuan adanya Kitab Allah; adanya Utusan Allah berupa Malaikat, Nabi dan Rasul; adanya hari akhirat; adanya peribadatan kepada Allah, keharusan berpuasa, menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah (fĩ sabilillah); beramal saleh berupa zakat, fitrah, sedekah, tijaroh; melaksanakan ibadah haji (bagi yang mampu); adanya Qada’ dan Taqdir (Qadar) pada setiap makhluk Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan Q.s. 1 : 1

alif lãm ro = allãhu lã ilaha ila huwar ro-a ( Allah tidak ilah lain selain Dia Yang Maha Melihat); tilka = inilah; ãyãtu = ayat-ayat (tanda-tanda); al kitãbi = Kitab; al mubĩn = yang jelas.
alif lãm rō, tilka ãyãtul kitãbil mubĩn.
1. Alif lãm rō, inilah tanda-tanda rahasia Kitab yang jelas (dari Allah).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat pertama dimulai dengan pengenalan huruf-huruf Arab berahasia. Mungkin berupa singkatan. Lihat Al Baqarah, 2 : 1; Q.s. Yunus, 10 : 1; Hud, 11 : 1, lihat ayat 4, 30, 43. Kitab ini penuh rahasia yang harus digali, dicari keterangannya, ditafsirkan. Tanda-tanda rahasia Allah ini terbentang dari yang terang, jelas, ke yang samar, tidak jelas, sampai ke yang gelap, masih gaib. Ini hak Allah membuat Kitab, seperti ini. Allah sering memerintah makhluk-Nya, khususnya manusia untuk menggunakan akal-pikirannya (lihat ayat 2 di bawah, dan yang lainnya), agar mendapatkan kejelasan ayat-ayat yang berahasia seperti ini.

innã = sungguh Aku; anzalnãhu = menurunkannya; qur’ãnan = bacaan ini; ‘arobiyyan = bahasa Arab; la’allakum = agar kamu; ta’qilũn = kamu menggunakan akal (memahami).
innã anzalnãhu qur’ãnan ‘arobiyyal la’allakum ta’qilũn.
2. Sungguh, Aku menurunkannya berupa bacaan berbahasa Arab, agar kamu mau berpikir (memahaminya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bacaan (Alquran) ini menggunakan bahasa Arab. Mereka yang ingin menggali maknanya, harus menggunakan akal-pikirannya mempelajari bahasa Arab ini sebaik-baiknya, agar mengetahui hukum-hukumnya sehingga memahami hakekat maknanya, lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2 : 1

nahnu = Aku; naqushshu = Aku menceriterakan; ‘alaika = kepada kamu; ahsana = sebaik-baik; al qoshoshi = kisah (ceritera); bimã = dengan apa yang; auhainã = Aku mewahyukan; ilaika = kepadamu; hadza = ini; al. qur’ãna = bacaan; wa in = dan sungguh; kunta = kamu adalah; min qoblihĩ = dari sebelumnya; lamina = sungguh termasuk; al ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.
nahnu naqushshu ‘alaika ahsanal qoshoshi bimã auhainã ilaika hadzãl qur’ãna wa in kunta min qoblihĩ laminal ghōfilĩn.
3. Aku menceriterakan sebaik-baik kisah, dengan mewahyukan kepadamu (Muhammad saw.) bacaan ini, dan sungguh, sebelum ini kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini diceriterakan Allah kepada Nabi Muhammad saw. sebagai wahyu. Dalam bahasa Arab, ada al qushshu dan al qoshosh, artinya bekas jejak yang dapat diteliti jejak apa, ke mana, apa yang dilakukan pemilik jejak itu, di mana dilakukannya, mengapa melalui jalan atau jalur itu, bagaimana jalan ceriteranya, dan lain-lain. Semuanya mengandung berbagai informasi, tentang sejarah, fakta yang menyangkut berbagai konsep, persoalan, dan pemecahannya, serta hal-hal yang lainnya.
Allah Maha Mengetahui Nabi Muhammad saw., sebelum kisah ini diwahyukan kepadanya, termasuk orang yang lalai. Dengan kisah ini, Nabi Muhammad saw. banyak mendapatkan hiburan, pelajaran, nasihat, contoh, cermin sehingga tidak memiliki sifat lalai lagi, malah menjadi seorang yang amanah, siddiq, tabligh, fatonah. Kisah-kisah di dalam Alqur’an ini bukan kisah dusta, bukan karangan manusia. Harus didalami untuk mendapatkan manfaat yang banyak tentang proses, prinsip, persoalan hidup dan pemecahannya.

idz = ketika; qōla = berkata; yũsufu = Yusuf; li abĩhi = kepada ayahnya; yã abati = wahai ayahku; innĩ = sesungguhnya aku; ro-aitu = aku melihat; ahada ‘asyaro = sebelas; kaukaban = bintang-bintang; was syamsa = dan matahari; wal qomaro = dan bulan; roaituhum = kulihat mereka; lĩ = kepadaku; sãjidiin = bersujud.
idz qōla yũsufu li abĩhi, yã abati innĩ ro-aitu ahada ‘asyoro kaukaban was syamsa wal qomaro roaituhum lĩ sãjidiin.
4. Ketika Yusuf berbicara kepada ayahnya: “Wahai Ayahku, sesungguhnya, aku melihat (dalam mimpiku) sebelas bintang, matahari, dan bulan kulihat semua sujud kepadaku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera dimulai saat Yusuf mengisahkan mimpi kepada ayahnya. Mimpi Yusuf ini, menurut pandangan ayahnya merupakan kabar gembira, dia akan diangkat tinggi derajatnya di dunia maupun nanti di akhirat. Pandangan ayahnya ini merupakan pandangan seorang Nabi yang waskita, merupakan ramalan masa depan hidup anaknya.

qōla = (ayahnya) berkata; yã bunayya = wahai anakku; lã taqshush = jangan kamu ceriterakan; ru’yãka = mimpi kamu; ‘alã ikhwatika = kepada sudara-saudara kamu; fa yakĩdũ = maka akan membuat tipu-daya; laka = untukmu; kaidan = tipu-daya; inna = sungguh; asy syaithōna = setan itu; lil insaani = bagi manusia; ‘aduwwum = musuh; mubĩn = nyata;

qōla yã bunayya lã taqshush ru’yãka ‘alã ikhwatika fa yakĩdũlaka kaidan, innasy syaithōna lil insaani ‘aduwwum mubĩn.

5. Ayahnya berkata: “Wahai anakku, jangan engkau ceriterakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu-daya untukmu (membinasakan kamu). Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menceritakan seorang ayah yang menasihati anaknya, berdasarkan pandangannya atas mimpinya itu. “Jangan menceriterakan mimpimu kepada saudara-saudaramu.” Alasannya, mereka akan membuat tipu-daya untuk membinasakan kamu. Nasihat “setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” ayat ini (telah dikemukakan dalam beberapa ayat sebelumnya) lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 112, 142; al A’raf, 7 : 22, 36; dan surat-surat yang lainnya.

wa kadzãlika = dan demikianlah; yajtabĩka = memilih kamu; robbuka = Rab kamu; wa yu’allimuka = dan Dia mengajar kamu; min ta’wĩl = dari takwil; al ahōdĩtsi = kejadian (mimpi); wa yutimmu = dan Dia sempurnakan; ni’matahũ = nikmat-Nya; ‘alaika = kepada kamu; wa ‘alã = dan kepada; ãli = keluarga; ya’qũba = Ya’qub; kamã = sebagaimana; atammahã = Dia sempurnakan; alã = kepada; abawaika = kedua ibu-bapak kamu; min qoblu = dari sebelum ini; ibrōhĩma = (yaitu) Ibrahim; wa is-hãqo = dan Ishaq; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana
wa kadzãlika yajtabĩka robbuka wa yu’allimuka min ta’wĩlil ahōdĩtsi wa yutimmu ni’matahũ ‘alaika wa ‘alã ãli ya’qũba kamã atammahã alã abawaika min qoblu ibrōhĩma wa is-hãqo, inna robbaka ‘alĩmun hakĩm.
6. Demikianlah, Rab kamu memilih kamu (Yusuf) sebagai nabi, dan mengajarkan sebagian takwil mimpi, dan menyempurnakan (nikmatnya) kepadamu, dan kepada keluarga Ya’qũb, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang tuanya sebelum itu, yaitu Ibrahim dan Is-haq. Sungguh, Aku Rab kamu Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memilih Yusuf menjadi Nabi dan mengajari menakwilkan mimpi orang, seperti kepada bapak dan nenek-moyangnya Ya’qũb yaitu Ibrahim, Is-haq.
laqod = sungguh; kãna = adalah; fĩ = di dalam; yũsufa = Yusuf; wa ikhwatihĩ = dan saudara-saudaranya; ãyãtun = ayat-ayat (tanda-tanda); lissã-ilĩn = bagi orang-orang yang bertanya.
laqod kãna fĩ yũsufa wa ikhwatihĩ ãyãtul lissã-ilĩn.
7. Sungguh, dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya ada tanda-tanda kebesaran Allah.
idz = ketika; qōlũ = mereka berkata; la yũsufu = sesungguhnya Yusuf; wa akhũhu = dan saudaranya; ahabbu = lebih dicintai; ilã = kepada; abĩnã = bapak kita; minnã = daripada kita; wa nahnu = padahal kita; ushbatun = satu golongan; inna = sesungguhnya; abãnã = bapak kita; lafĩ = sungguh dalam; dholãlin = kesesatan; mubĩn = yang nyata.
idz qōlũ la yũsufu wa akhũhu ahabbu ilã abĩnã minnã wa nahnu ushbatun inna abãnã lafĩ dholãlim mubĩn.
8. Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya, Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai Bapak daripada kepada kita, padahal kita satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya, Bapak kita dalam kesesatan yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada prasangka Yusuf dan Bunyamin lebih dicintai Bapaknya daripada kepada saudara-saudaranya yang lain. Bapaknya dianggap melakukan perbuatan yang sesat.
aqtulũ = bunuhlah; yũsufa = Yusuf; awi = atau; ithrahũhu = buanglah ia; ardhon = di suatu tempat (di bumi); yakhlu = tertumpah (tertuju); lakum = kepadamu; wajhu = wajah (perhatian); abĩkum = bapakmu; wa takũnũ = dan kamu menjadi; mim ba’dihĩ = dari sesudah itu; qauman = kaum; shōlihĩn = yang saleh.
aqtulũ yũsufa awi uthrhũhu ardhon yakhlu lakum wajhu abĩkum wa takũnũ mim ba’dihĩ qauman shōlihĩn
9. “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat, agar perhatian Bapak melimpah kepadamu, dan setelah itu, kamu menjadi orang yang baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah ini muncul dari kata hati saudar-saudaranya. Pekerjaan jahat yang diperintahkan (dibisikkan) setan, kalau terlaksana, mereka diiming-imingi akan mendapat sesuatu yang baik dalam hidupnya. Padahal akan sebaliknya, berakibat jelek.
qōlã = berkata; qō-ilun = orang yang berbicara; min hum = di antara mereka; lã taqtulũ = jangan kamu bunuh; yũsufa = Yusuf; wa alqũhu = dan lemparkan dia; fĩ ghoyãbati = di dasar; al jubbi = sumur; yaltaqith-hu = memungutnya; ba’dho = sebagaian; as sayyãroti = orang-orang musafir; in kuntum = jika kamu sekalian; fã’ilĩn = hendak berbuat.
qōlã qō-ilum min hum lã taqtulũ yũsufa wa alqũhu fĩ ghoyãbatil jubbi yaltaqith-hu ba’dhos sayyãroti in kuntum fã’ilĩn.
10. Seorang pembicara di antara mereka berkata: “Jangan kamu bunuh Yusuf, (tetapi) masukkan dia ke dasar sumur, nanti dia dipungut oleh salah seorang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf di antara para pelaku, sudara-saudaranya.
qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; mã = apa; laka = bagi kamu; lã ta’manna = engkau tidak mempercayai kami; ‘alã yũsufa = atas Yusuf; wa innã = dan sungguh kami; lahũ = baginya; la nãshihũn = sungguh, orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya.
qōlũ yã abãnã mã laka lã ta’manna ‘alã yũsufa wa innã lahũ la nãshihũn.
11. Mereka berkata: “Hai Bapak kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami atas Yusuf, padahal, sesungguhnya, kami semua menginginkan kebaikan baginya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf di antara saudara-saudara dan bapaknya.
arsilhu = biarkanlah dia; ma’anã = bersama kami; ghodan = besok pagi; yarta’ = dia bersuka-ria; wayal’ab = dan dia bermain-main; wa innã = dan sesungguhnya kami; lahũ = kepadanya; la hãfizhũn = sungguh orang-orang yang menjaga.
arsilhu ma’anã ghodan yarta’wayal’ab wa innã lahũ lahãfizhũn.
12. Biarkanlah dia (pergi) bersama kami besok pagi, (agar) dia dapat bersuka-ria dan bermain-main. Sesungguhnya, kami akan menjaganya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata-kata tipuan, dan bujukan demikianlah, sebagai contoh dari orang-orang yang akan berbuat jahat.
qōla = (Ya’qub) berkata; innĩ = sesungguhnya aku; la yahzununĩ = amat menyedihkan aku; an tadzhabũ = karena kepergianmu; bihĩ = dengannya (Yusuf); wa akhōfu = dan aku khawatir; an ya’kulahu = bahwa memakannya; adzdzi’bu = ajag (serigala); wa antum = sedang kamu; ‘anhu = darinya; ghōfilũn = kamu semua lengah.
qōla innĩ layahzununĩ an tadzhabũ bihĩ wa akhōfu an ya’kulahu adzdzi’bu wa antum ‘anhu ghōfilũn.
13. Ya’qub berkata: “Sungguh amat menyedihkan aku, karena kepergian kamu semua dengan Yusuf, dan aku khawatir, serigala memakannya, sedang kamu semua lengah menjaganya.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub tampaknya sudah mempunyai firasat, apa yang akan terjadi terhadap Yusuf. Lihat ayat 5, 6 di atas.

qōlũ = (mereka) berkata; la-in = sesungguhnya, jika; akalahu = memakan dia; adz dzi’bu = ajag (serigala); wa nahnu = sedang kami; ‘ashbatun = pihak; innã = sesungguhnya kami; idza = jika demikian; la khōsirũn = sungguh termasuk orang-orang yang merugi.
qōlũ la-in akalahudz dzi’bu wa nahnu ‘ashbatun innã idzal la khōsirũn.
14. Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata: “Sesungguhnya, jika serigala memakan dia, sedang kami dari pihak (yang kuat), jika demikian sungguh, kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub meyakinkan bapaknya, bahwa mereka di pihak yang kuat, pasti mampu menjaga keselamatan Yusuf.

fa = maka; lammã = ketika; dzahabũ = mereka pergi; bihĩ = dengannya (Yusuf); wa ajma’ũ = dan mereka telah bersepakat; an yaj’alũhu = untuk memasukkannya (Yusuf); fĩ ghoyãbati = ke dasar; al jubbi = sumur; wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilaihi = kepadanya; la tunabbi-annahum = sungguh kamu akan menceriterakan kepada mereka; bi amrihim = dengan perbuatannya; hãdzã = ini; wahum = sedang mereka; lã yasy’urũn = tidak menyadari.

fa lammã dzahabũ bihĩ wa ajma’ũ an yaj’alũhu fĩ ghoyãbatil jubbi, wa auhainã ilaihi la tunabbi-annahum bi amrihim hãdzã wahum lã yasy’urũn.

15. Maka ketika mereka pergi bersama Yusuf, dan mereka telah bersepakat untuk memasukkannya ke dasar sumur. Dan (setelah Yusuf di dalam sumur) Aku wahyukan kepadanya: “Sesungguhnya kamu akan menceriterakan kepada mereka perbuatannya ini, sedang mereka tidak menyadari.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudara Yusuf ternyata sudah mempunyai rencana jahat terhadap Yusuf. Namun, Yusuf ternyata mendapat lindungan dan bimbingan Allah dalam menjalani hidupnya. Allah memberitahu Yusuf bahwa peristiwa dirinya, kelak akan diceriterakan Yusuf kepada saudara-saudaranya itu. Hal ini tidak disadari oleh saudara-saudara Yusuf yang diliputi nafsu amarah, cemburu kepada Yusuf.
wa jã-ũ = dan mereka mendatangi; abãhum = bapak mereka; ‘isyã-an = waktu isya (sore); yabkũn = mereka menangis.
wa jã-ũ abãhum ‘isyã-an yabkũn.

16. Dan mereka mendatangi bapak mereka, pada waktu isyã (sore) sambil menangis.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka datang sore hari kepada bapaknya, sambil berpura-pura. Salah satu ciri orang munafik.
qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; innã = sesungguhnya Aku; dzahabnã = kami pergi; nastabiqu = kami berlumba; wa taroknã = dan kami tinggalkan; yũsufa = Yusuf; inda = di sisi; matã’inã = barang-barang kami; fa-akalahu = lalu memakannya; adz dzi’bu = ajag (serigala); wa mã = dan tidak lah; anta = Bapak; bi mu’minin = orang-orang yang percaya; lannã = kepada kami; wa lau = walau pun; kunna = kami adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
qōlũ yã abãnã innã dzahabnã nastabiqu wa taroknã yũsufa inda matã’inã fa-akalahudz dzi’bu, wa mã anta bi mu’minil lannã wa lau kunna shōdiqĩn.

17. Mereka berkata: “Wahai Bapak kami, Sesungguhnya, kami pergi berlomba, dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan Bapak tentu tidak percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rangkaian kata-kata bohong meluncur dari mulut orang-orang yang suka berbohong untuk meyakinkan kenyataan yang tidak pernah terjadi, menjadi seperti benar-benar terjadi. Banyak perbuatan dosa yang sering dilakukan orang untuk mendapatkan berbagai keuntungan dunia, tetapi di akhirat, perbuatan itu akan mendapatkan hukuman dari Allah. Behati-hatilah.
wa jã-ũ = dan mereka datang; ‘alã qomĩshihĩ = dengan bajunya; bi damin = dengan darah; kadzibin = dusta, palsu; qōla = (Ya’qub) berkata; bal = bahkan; sawwalat = menunjukkan; lakum = bagi kamu sekalian; anfusukum = diri kamu sendiri; amron = perkara; fashabrun = maka kesabaran; jamĩlun = baik (bagus); wallãhu = dan Allah; al musta’ãnu = tempat memohon pertolongan; ‘alã = terhadap; mã = apa; tashifũn = kamu ceriterakan.
wa jã-ũ ‘alã qomĩshihĩ bi damin kadzibin, qōla bal sawwalat lakum anfusukum amron, fashabrun jamĩlun, wallãhul musta’ãnu ‘alã mã tashifũn.

18. Dan mereka datang dengan membawa bajunya yang berlumuran darah palsu. Ya’qub berkata:“Tidak, bahkan dirimu sendiri yang menunjukkan melakukan perkara ini, maka kesabaran itulah yang terbaik. Dan Allah sajalah tempat memohon pertolongan, terhadap apa yang kamu ceriterakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepura-puraan mereka ditolak oleh bapaknya, dengan perkataan “tidak”, yang diikuti pernyataan halus, bahwa perkara itu, mereka saja yang mempertunjukkannya, dengan pesan untuk semua makhluk, khususnya manusia yang mengkin menghadapi persolaan yang serupa, maka kesabaran dan kepercayaan, hanya kepada Allah Yang akan menolong memecahkan persoalan yang dihadapi.
wa jã-at = dan datanglah; sayyãrotun = sekelompok musafir; fa-arsalũ = lalu mereka menyuruh; wã ridahum = seorang pengambil air; fa-adlã = lalu dia mengulurkan; dalwahũ = timbanya; qōlu = Pengambil air itu berkata; yã busyrō = oh, berita gembira; hãdzã = ini; ghulãmun = seorang anak muda; wa asarrũhu = dan mereka menyembunyikannya; bi dhō’atan = dengan barang dagangan; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bimã = terhadap apa; ya’malũn = yang mereka kerjakan.
wa jã-at sayyãrotun fa-arsalũ wã ridahum fa-adlã dalwahũ, qōlu yã busyrō hãdzã ghulãmun, wa asarrũhu bi dhō’atan, wallãhu ‘alĩmum bimã ya’malũn.

19. Dan datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu diulurkanlah timbanya. Pengambil air itu berkata: “Oh, kabar gembira, ini (aku mendapat) seorang anak muda.” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf menjadi barang temuan, ditemukan, dan disembunyikan pengambil air, dan dijadikan barang dagangan. Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan.
wa syarauhu = dan mereka menjualnya; bi tsamanĩ = dengan harga; bakhsin = murah; darohima = (beberapa) dirham: ma’dũdatin = terhitung; wa kãnũ = dan mereka adalah; fĩhi = padanya; mina = termasuk; az zãhidiin = orang-orang yang tidak tertarik (senang)
wa syarauhu bi tsamanĩ bakhsin darohima ma’dũdatin wa kãnũ fĩhi minaz zãhidiin
20. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf dijual kepada musafir lain dengan harga murah, beberapa dirham saja, karena merasa tidak tertarik, hanya ingin segera meninggalkannya, dan mereka tidak mengetahui kedudukan Yusuf di sisi Allah.

wa qōla = dan berkatalah; al ladzĩ = orang yang; isytarōhu = membelinya; mim mishro = dari Mesir; limro-atihĩ = kepada istrinya; akrimi = muliakan dia; matswãhu = tempatnya; ‘asã = boleh jadi; an yanfa’anã = mungkin dia bermanfaat; au = atau; nattakhidzahũ = atau kita pungut; waladan = sebagai anak; wa kadzãlika = dan demikianlah; makkannã = Aku beri kedudukan; li yũsufa = kepada Yusuf; fil ardhĩ = di bumi; wa linu’allimahũ = dan karena Aku akan mengajarkan kepadanya; min ta’wĩli = dari tabir; al ahãdĩtsi = kejadian-kejadian mimpi; wallãhu = dan Allah; ghōlibun = berkuasa; ‘alã = atas; amrihĩ = urusan-Nya; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
wa qōlal ladzĩ isytarōhu mim mishro limro-atihĩ akrimi matswãhu ‘asã an yanfa’anã au nattakhidzahũ waladan wa kadzãlika makkannã li yũsufa fil ardhĩ wa linu’allimahũ min ta’wĩli al ahãdĩtsi, wallãhu ghōlibun ‘alã amrihĩ wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.
21. Dan berkatalah orang dari Mesir yang membelinya, kepada istrinya: “Muliakanlah dia, dan beri tempat yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita. Atau, kita pungut sebagai anak”. Dan demikianlah, Aku memberi kedudukan (yang baik) kepada Yusuf di muka bumi, dan karena Aku hendak mengajarkan tabir mimpi kepadanya. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kesenangan, kemuliaan, kedudukan manusia di muka bumi itu, Allah yang menetapkan. Allah menguasai segala urusan-Nya.

wa lammã = dan setelah; balagho = dia sampai balig; asyuddahũ = dewasa; ãtainãhu = Aku berikan kepadanya; hukman = hikmah (pengetahuan, kekuasaan); wa ‘ilman = dan ilmu; wa kadzãlika = dan demikian itu; najzĩ = Aku memberi balasan; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa lammã balagho asyuddahũ ãtainãhu hukman wa ‘ilman, wa kadzãlika najzĩl muhsinĩn

22. Dan setelah dia sampai usia dewasa, Aku berikan kepadanya hikmah (pengetahuan, kekuasaan) dan ilmu. Demikianlah, Aku berikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dewasa jasmani dan dewasa rohani artinya sudah matang dalam menggunakan ilmu, pengetahuan,dan hukum untuk memperjuangkan hidup pemberian Allah. Allah membalas segala usaha makhluk-Nya untuk berbuat baik dalam mencapai karunia yang dilimpahkan di alam semesta berupa ilmu, kekayaan, kebesaran, kekuasaan, kesenangan, kenikmatan, kesempurnaan.

warō wadat-hu = dan ia (perempuan) datang (menggodanya); al latĩ = (wanita) yang; huwa = dia (Yusuf); fĩ baitihã = di dalam rumahnya; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; wa ghollaqoti = ia menutup; al abwãba = pintu-pintu; wa qōlat = ia berkata; haitalak = kamu kemarilah; qōla = (Yusuf) berkata; ma’ãdzallah = (aku) berlindung kepada Allah; innahũ = sesungguhnya; robbĩ = tuanku; ahsana = sangat baik; matswã = tempatku; innahũ = sesungguhnya; lã yuflihu = tidak beruntung; adh dhōlimũn = orang-orang yang lalim.

warō wadat-hul latĩ huwa fĩ baitihã ‘an nafsihĩ wa ghollaqotil abwãba wa qōlat haitalak, qōla ma’ãdzallah, innahũ robbĩ ahsana matswã, innahũ lã yuflhudh dhōlimũn.

23. Dan ia (wanita; Zulaikhah) mendatangi (menggoda untuk menundukkan dirinya) Yusuf yang tinggal di rumahnya, dan ia menutup pintu seraya berkata: “Kemarilah kamu”, Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya, tuanku (Qitfir) telah memberikan tempat yang sangat baik kepadaku. Sesungguhnya orang-orang lalim tidak beruntung.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Wajar perempuan tertarik kepada laki-laki, atau sebaliknya . Tidak wajar, perempuan yang sudah bersuami tertarik kepada laki-laki yang bukan suaminya, atau sebaliknya. Zulaikhah, istri Qitfir menggoda Yusuf, pemuda tampan yang beriman kepada Allah. Yusuf berhutang budi kepada tuannya, yang telah memberi tempat yang baik. Maka godaan itu ditolak dengan memberi nasihat halus, bermohon untuk dilindungi Allah dari berbagai godaan kenikmatan, kesenangan, kedudukan yang tidak wajar. Orang yang menggoda untuk berbuat tidak senonoh disebut orang lalim, orang yang tidak beruntung dalam berjual-beli dengan Allah.
wa laqod = dan sesunguhnya; hammat = ia suka; bihĩ = kepadanya; wa hamma = dan dia suka; bihã = kepadanya; lau lã = kalau tidak; ar ro-ã = dia melihat; burhãna = tanda-tanda; robbihĩ = keburukan; kadzãlika = dan perbuatan keji; linashrifa = sesungguhnya dia; ‘anhu = termasuk hamba-hamba-Ku; as sũ-a = keburukan; wal fahsyã-a = dan perbuatan keji; innahũ = sesungguhnya dia; min ‘ibãdinã = termasuk hamba-hamba-Ku; al mukhlashĩn = orang-orang yang ikhlas.
wa laqod hammat bihĩ, wa hamma bihã lau lã ar ro-ãburhãna robbihĩ kadzãlika linashrifa ‘anhus sũ-a wal fahsyã-a, innahũ min ‘ibãdinãl mukhlashĩn.

24. Dan sesungguhnya, wanita itu suka kepadanya (Yusuf), dan Yusuf (juga) suka kepadanya (Zulaikhah), kalau dia (Yusuf) tidak melihat tanda-tanda Rabnya (tentu dia melakukan perbuatan itu). Demikianlah, karena Aku hendak memalingkan keburukan dan perbuatan keji darinya. Sesungguhnya, dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba-Ku yang ikhlas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Zulaikhah suka kepada Yusuf, Yusuf juga suka kepada Zulaikhah, namun Yusuf dibekali iman dan takwa kepada Allah, maka Yusuf tidak bertindak sesukanya. Ayat-ayat (petunjuk) Allah bentengnya. Maka perbuatan buruk, keji dapat dicegahnya. Yusuf menerima kadar hidupnya dengan ikhlas.
wastabaqo = keduanya berlumba; al bãba = (mencapai) pintu; wa qoddat = dan ia menarik hingga koyak; qomĩshohũ = gamis Yusuf; min duburĩn = dari belakang; wa alfayã = dan keduanya mendapati; sayyidahã = tuannya; lada = di depan; al bãbi = pintu; qolat = (wanita) berkata; mã jazã-u = apakah balasan; man = orang yang; arōda = bermaksud; bi-ahlika = dengan istri kamu; sũ-an = serong; illã = selain; an = agar (ia); yusjana = dipenjara; au = atau; ‘adzãbun = azab; alĩmu = yang pedih.
wastabaqol bãba wa qoddat qomĩshohũ min duburĩn wa alfayã sayyidahã ladal bãbi, qolat mã jazã-u man arōda bi-ahlika sũ-an illã an yusjana au ‘adzãbun alĩmu.
25. Keduanya berlumba menuju pintu, dan perempuan itu menarik bagian belakang gamis Yusuf sampai koyak, dan keduanya mendapati tuannya di depan pintu. Wanita itu berkata: “Apakah balasan atas orang yang bermaksud serong terhadap istrimu? Tidak lain ia harus dipenjara atau dihukum siksa yang pedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebohongan wanita itu memutarbalikkan kenyataan, Yusuf dikatakan akan berbuat serong terhadap dirinya. Padahal dirinya yang ingin kepada Yusuf, dan memaksanya untuk berbuat tak senonoh.
qōla = berkata; hiya = dia (Yusuf); rōwadatnĩ = menggodaku; ‘an nafsĩ = kepada diriku; wa syahida = dan memberi kesaksian; syahidun = seorang saksi; min ahlihã = dari keluarganya (perempuan); in kãna = jika adalah; qomĩshuhũ = gamisnya; qudda = koyak; min qubulin = dari depan; fa shodaqot = maka wanita itu benar; wa huwa = namun dia (Yusuf); minal kãdzibĩn = orang-orang yang dusta.
qōla hiya rōwadatnĩ ‘an nafsĩ, wa syahida syahidum min ahlihã in kãna qomĩshuhũ qudda min qubulin fa shodaqot wa huwa minal kãdzibĩn.
26. Dia (Yusuf) berkata: “Dia yang menggodaku, dan merayu diriku.” Seorang saksi dari keluarga wanita Itu memberi kesaksian: “Jika gamisnya koyak di bagian depan, maka wanita itu benar”. Namun dia (Yusuf) dianggap orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf berkata hal yang sesungguhnya, dan seorang saksi mengatakan sesuatu yang sesuai dengan fakta, namun Yusuf tetap dianggap dusta.
wa in = dan jika; kãna = ada; qomĩshuhũ = gamisnya; quddo = koyak; min dubũrin = di belakang; fakadzabat = maka (wanita) itu dusta; wa huwa = dan dia (Yusuf); mina = termasuk; ash shōdiqĩn = orang yang benar.
wa in kãna qomĩshuhũ quddo min dubũrin fakadzabat wa huwa minash shōdiqĩn.
27. “Dan jika gamisnya koyak di bagian belakang, maka wanita itu yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk yang benar”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini fakta yang sesungguhnya.

fa lammã = maka ketika; ro-ã = dia melihat; qomĩshohũ = gamisnya; quddo = koyak; min duburin = di belakang; qōla = dia berkata; innahũ = sesungguhnya (kejadian) itu; min kaidikunna = dari tipu daya kamu (wanita); inna = sesungguhnya; kaidakunna = tipu-daya kamu; ‘azhĩm = sangat memalukan.
fa lammã ro-ã qomĩshohũ quddo min duburin qōla innahũ min kaidikunna, inna kaidakunna ‘azhĩm.
28. Maka ketika dia (suami wanita itu) melihat gamisnya koyak di belakang, berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu tipu daya kamu (wanita), sesungguhnya, tipu daya kamu itu sangat memalukan”.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qitfir melihat kejadian itu sebagai tipu-daya istrinya yang sangat memalukan.
yusufu = Yusuf; a’ridh = berpalinglah (rahasiakanlah); ‘an hãdzã = dari kejadian ini; wastaghfiri = dan mohon ampunlah kamu (wanita); li dzambiki = atas dosa kamu (wanita); innaki = sesungguhnya kamu (wanita); kunti = kamu (wanita); mina = dari; al khothi-ĩn = orang-orang yang bersalah.
yusufu a’ridh ‘an hãdzã, wastaghfiri li dzambiki, innaki kunti minal khothi-ĩn.
29. Yusuf, rahasiakanlah kejadian ini, dan kamu (istri Qitfir) mohon ampunlah atas dosamu, sesungguhnya, kamu termasuk orang-orang yang bersalah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qitfir sebagai seorang yang terpandang, beriman meminta Yusuf merahasiakan kejadian yang memalukan dirinya yang berkedudukan terpandang. Beliau juga meminta istrinya agar memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah dibuatnya.
wa qōla = dan berkata; niswatun = wanita-wanita; fĩl madiinati = dari kota; amroatu = istri; al azĩzi = Pembesar Mesir; turōwidu = menggoda; fa tãhã = pembantunya; ‘an nafsihĩ = untuk (menuruti kehendak) dirinya; qod = sungguh; syaghofahã = sangat mendalam; huban = cintanya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōhã = sungguh Aku memandangnya; fĩ dholãlin = dalam kesesatan; mubĩnin = yang nyata.
wa qōla niswatun fĩl madiinati amroatul azĩzi turōwidu fa tãhã ‘an nafsihĩ, qod syaghofahã huban, innã lanarōhã fĩ dholãlim mubĩnin.

30. Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al Aziz (Pembesar Mesir) menggoda pembantunya untuk menuruti kehendak dirinya, sungguh cintanya sangat mendalam (kepada Yusuf). Sesungguhnya, kami melihat kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gosip wanita-wanita kota mengenai istri Pembesar Kota yang jatuh hati kepada pembantunya merebak. Mereka menilai perbuatan itu sangat tercela.

fa lammã = maka ketika; sami’at = wanita itu mendengar; bi makrihinna = cercaan mereka; arsalat = dia mengundang; ilaihinna = kepada mereka; wa a’tadat = dan dia menyediakan; lahunna = bagi mereka; muttaka-an = tempat duduk; wa ãtat = dan dia memberikan; kulla = masing-masing; wãhidatin = seorang; min hunna = dari mereka; sikkĩnan = sebuah pisau; wa qōlati = dan dia berkata; akhruj = keluarlah (tunjukkan dirimu); ‘alaihinna = kepada mereka; fa lammã = maka ketika; ro-ainahũ = mereka melihatnya; akbar nahũ = mereka kagum kepadanya; wa qotho’nã = dan mereka memotong; aidĩyahunna = jari-jari mereka; wa qulna = dan mereka berkata; hãsya = Mahasempurna; lillãhi = bagi Allah; mã hãdzã = bukanlah ini; basyaron = manusia; in hãdzã = tidak lain ini; illã = hanyalah; malakun = Malaikat; karĩmu = yang mulia.

fa lammã sami’at bi makrihinna arsalat ilaihinna wa a’tadat lahunna muttaka-an wa ãtat kulla wãhidatim min hunna sikkĩnan wa qōlati akhruj ‘alaihinna, fa lammã ro-ainahũ akbar nahũ wa qotho’nã aidĩyahunna wa qulna hãsya lillãhi mã hãdzã basyaron in hãdzã illã malakun karĩmu.

31. Maka ketika Zulaikhah mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu, dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (tunjukkan dirimu) kepada mereka.” Maka ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada ketampanan rupanya, dan mereka memotong (jari) tangan mereka, dan berkata: “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya, ia itu malaikat yang mulia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah istri yang merasa dirinya dicerca orang banyak, mencari akal, bagaimana agar mereka yang mencerca itu menyadari mengapa dirinya sampai berbuat tidak senonoh.
qōlat = wanita itu berkata; fadzãlikunna = maka itu dia; al ladzĩ = orang yang; lumtunnanĩ = kamu mencela aku; fĩhi = kepadanya; walaqod = dan sesungguhnya; rōwadtuhũ = aku telah menggoda dia; ‘an nafsihĩ = agar mengikuti kemauan diriku; fasta’shoma = namun dia menolak; wa la-il lam = dan jika tidak; yaf’al = dia melakukan; mã ãmuruhũ = apa yang aku perintahkan kepadanya; la yusjananna = niscaya dia dipenjara; wa layakũnan = dan niscaya dia menjadi; minash shōghirĩn = menjadi orang yang hina.
qōlat fadzãlikunnal ladzĩ lumtunnanĩ fĩhi, walaqod rōwadtuhũ ‘an nafsihĩ fasta’shoma, wa la-il lam yaf’al mã ãmuruhũ la yusjananna wa layakũnam minash shōghirĩn.
32. Wanita itu berkata, “Itulah orangnya yang (menyebabkan) aku (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya, aku telah menggodanya agar dia mengikuti kemauanku, namun dia menolak. Dan jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang terhina.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih lanjutan ceritera istri yang mencari akal untuk pembenaran perbuatan yang tidak senonohnya.
qōla = Yusuf berkata; robbi = Rabku; as sajnu = penjara; ahabbu = lebih aku sukai; ilayya = bagiku; mimmã = dari apa; yad’ũnanĩ = mereka seru kepadaku; ilaih = kepadanya; wa illã = dan jika tidak; tashrif = Engkau palingkan; ‘annĩ = dariku; kaidahunna = tipu-daya mereka; ashbu = aku cenderung; ilaihinna = kepada mereka; wa akun = dan aku menjadi; mina = termasuk; al jãhilĩn = orang-orang yang bodoh.
qōla robbis sajnu ahabbu ilayya mimmã yad’ũnanĩ ilaih, wa illã tashrif ‘annĩ kaidahunna ashbu ilaihinna wa akum minal jãhilĩn.
33. Yusuf berkata: “Wahai Rabku, penjara bagiku lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau palingkan dariku tipu-dayanya, (pasti) aku termasuk orang-orang yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi manusia berakhlak jelek memenuhi ajakan berbuat tidak senonoh lebih disukai, dan mereka tidak juga menyukai hidup di penjara. Bagi Yusuf, penjara lebih disukai daripada memenuhi ajakan melakukan perbuatan tidak senonoh. Inilah pilihan orang cerdas.

fa astajãba = maka memperkenankan doa; lahũ = kepadanya (Yusuf); robbuhu = Rabnya; fashorofa = maka Dia palingkan; ‘anhu = darinya (Yusuf); kaidahunna = tipu-dayanya; innahũ = sesungguhnya, Dia; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.
fa astajãba lahũ robbuhu fashorofa ‘anhu kaidahunna, innahũ huwas samĩ’ul ‘alĩm.
34. Maka Rabnya memperkenankan doa Yusuf, maka Dia palingkan Yusuf dari tipu-dayanya. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Maha Mendengar doa makhluk-Nya, Allah juga Maha Mengetahui segala apa yang dipikirkan, dirasakan, dikerjakan makhluk-Nya. Allah Maha Memperkenankan doa makhluk-Nya.
tsumma = kemudian; badã = timbul; lahum = bagi mereka; mim ba’di = dari sesudah; mã = apa yang; ro awu = mereka lihat; al ãyãti = tanda-tanda; layas jununnahũ = mereka harus memenjarakannya; hattã = sampai (hingga); hĩnin = beberapa waktu.
tsumma badãlahum mim ba’di mã ro awul ãyãti layas jununnahũ hattã hĩnin
35. Kemudian timbul (pikiran) bagi mereka, sesudah mereka melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), namun, mereka harus memenjarakan Yusuf, hingga beberapa waktu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Al Aziz dan para sabahatnya melihat berbagai bukti kebenaran, kejujuran Yusuf, namun mereka tetap memenjarakannya beberapa saat, maksudnya, agar tidak tersebar aib dan kejelekan keluarga Al Aziz. Manusia merencanakan sesuatu yang menuntut tanggung jawabnya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Merencanakan segala sesuatu kejadian di alam semesta ini.
wa dakhola = dan masuk; ma’ahu = bersama dia; as sijna = penjara; fatayaani = dua orang pemuda; qōla = berkata; ahaduhumã = salah-satu dari keduanya; innĩ = sungguh aku; arōnĩ = aku melihat (bermimpi); a’shiru = aku memeras; khamron = anggur (khamar); wa qōla = dan berkata; al akhoru = yang lain; innĩ = sungguh aku; arōnĩ = aku melihat (bermimpi); ahmilu = aku membawa; fauqo = di atas; ro’si = kepalaku; khubzan = roti; ta’kulu = memakan; ath thoiru = burung; minhu = sebagiannya; nabi’nã = beritakan kepada Aku; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; innã = sungguh Aku; narōka = Aku memandang kamu; minal muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa dakhola ma’ahus sijna fatayaani, qōla ahaduhumã innĩ arōnĩ a’shiru khamron, wa qōla al akhoru innĩ arōnĩ ahmilu fauqo ro’si khubzan ta’kuluth thoiru minhu, nabi’nã bi ta’wĩlihĩ, innã narōka minal muhsinĩn.
36. Dan bersama dia, masuk pula dua orang pemuda ke penjara. Salah-satunya berkata, “Sungguh, aku bernimpi memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” “Berikanlah takwilnya kepada kami. Sesungguhnya kami melihat kamu, termasuk orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf di dalam penjara bersama dua orang pemuda yang bermimpi dan meminta menakwilkannya karena mereka meyakini Yusuf memiliki kemampuan itu.
qōla = (Yusuf) berkata; lã ya’tĩkumã = tidak sampai kepada kamu berdua; tho’ãmun = makanan; turzaqōnihĩ = diberikan makanan itu; illã = melainkan; nabba’tukumã = aku beritakan kepada kamu berdua; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; qobla = sebelum; an ya’tiyakumã = makanan itu sampai kepada kamu berdua; dzãlikumã = yang demikian itu; mimmã = sebagian dari apa; ‘allamanĩ = mengajarkan kepadaku; robbĩ = Rabku; innĩ = sesungguhnya aku; taroktu = aku telah meninggalkan; millata = agama; qaumin = orang-orang; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa hum = sedang mereka; bil akhiroti = kepada ahir akhirat; hum = mereka; kãfirũn = orang-orang yang ingkar.
qōla lã ya’tĩkumã tho’ãmun turzaqōnihĩ illã nabba’tukumã bi ta’wĩlihĩ qobla an ya’tiyakumã, dzãlikumã mimmã ‘allamanĩ robbĩ innĩ taroktu millata qaumil lã yu’minũna billãhi wa hum bil akhiroti hum kãfirũn.
37. Yusuf berkata: “Telah dapat aku beritakan kepada kamu berdua tentang jenis makanan apa yang akan diberikan kepadamu berdua sebelum sampai makanan itu kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan oleh Rabku. Sesungguhnya, aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar terhadap hari akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf dapat menakwilkan jenis makanan apa yang akan diberikan, sebelum sampai kepada dua orang pemuda sambil mengikrarkan bahwa beliau mampu menakwilkan itu karena telah mendapatkan pelajaran dari Rabnya, artinya mengimani Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, serta dia sudah tidak menganut agama orang yang tidak percaya kepada Allah, dan pada hari akhirat.
wat taba’tu = dan aku mengikuti; millata = agama; ãbã-ĩ = bapak-bapakku; ibrōhĩma = Ibrahim; wa is-hãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; mã = tidak; kãna = pantas; lanã = bagi Aku; an = untuk; nusyrika = Aku menyekutukannya; bil lãhi = dengan Allah; min syai-in = dari sesuatu; dzãlika = yang demikian itu; min fadhlil lãhi = dari karunai Allah; ‘alainã = atas Aku; wa ‘alan nãsi = dan atas manusia; wa lãkinna = akan tetapi; akstaron nãsi = kebanyakan manusia; lã yasykurũn = mereka tidak bersyukur.
wat taba’tu millata ãbã-ĩ ibrōhĩma wa is-hãqo wa ya’qũba, mã kãna lanã an nusyrika bil lãhi min syai-in dzãlika min fadhlil lãhi ‘alainã wa ‘alan nãsi wa lãkinna akstaron nãsi lã yasykurũn.

38. Dan aku mengikuti agama nenek-moyangku Ibrahim, Is-haq, dan Ya’qub. Tidak pantas bagi Aku (para Nabi) menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah karunia dari Allah kepada Aku, dan kepada manusia (semuanya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mengikuti agama nenek-moyangnya. Para Nabi tidak pantas menyekutukan sesuatu apa dengan Allah. Tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu itu karunia Allah bagi semua makhluk-Nya. Tapi kebanyakan makhluk-Nya tidak bersyukur. Ini peringatan kepada semua manusia agar jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, dan harus bersyukur atas segala karunia-Nya.

yã shohibayi = wahai dua penghuni; as sijni = penjara; ‘a-arbãbun = apakah tuhan-tuhan; mutafarriqũna = yang bermacam-macam; khoirun = lebih baik; ami = ataukah; allãhu = Allah; al wãhidu = Yang Maha-esa; al qohhar = Mahaperkasa.
yã shohibayi as sijni ‘a-arbãbum mutafarriqũna khoirun amillãhul wãhidul qohhar.
39. Wahai dua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha-esa, Mahaperkasa?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan pilihan, mana yang terbaik bagi seseorang dalam mempercayai sesembahannya. Pertanyaan realistis dan demokratis serta pernyataan Allah itu Maha-esa, Mahaperkasa.
mã ta’budũna = janganlah kamu sekalian mengabdi (menyembah); min dũnihĩ = dari selain Dia; illa asmã-an = kecuali nama-nama; sammaitumũhã = kamu sekalian menamakannya; antum = kamu sekalian; wa ãbã-ukum = dan nenek-moyang kamu sekalian; mã = tidak; anzalallãhu = Allah menurunkan; bihã = dengannya; min sulthōnin = dari kekuatan; ini = tidaklah; al hukmu = hukum (keputusan) itu; illa = kecuali; lillah = kepunyaan Allah; amaro = Dia perintahkan; illã = agar jangan; ta’budũ = kamu sekalian sembah; illã = kecuali (selain); iyyãhu = kepada Dia; dzãlika = demikian itulah; ad diinu = agama; al qoyyimu = yang lurus; wa lã kinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
mã ta’budũna min dũnihĩ illa asmã-an sammaitumũhã antum wa ãbã-ukum mã anzalallãhu bihã min sulthōnin, inil hukmu illa lillah, amaro illã ta’budũ illã iyyãhu, dzãlikad diinul qoyyimu wa lã kinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

40. Apa yang kamu sembah selain Dia, hanya nama-nama yang dibuat-buat oleh nenek-moyang kamu. Allah tidak menurunkan keterangan tentang nama-nama itu. Ketentuan nama-nama hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintah, agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mendakwahi kedua tawanan itu, pada hakekatnya untuk semua manusia di dunia tentang Allah yang seharusnya disembah. Seharusnya semua makhluk di jagat raya, dan semua manusia mengetahui.

yã shōhibayis sijni = wahai dua penghuni penjara; ammã = adapun; ahadukumã = salah seorang dari kamu berdua; fa yasqĩ = akan menyediakan minum; robbahũ = tuannya; khamron = khamar; wa ammã = dan adapun; al ãkhoru = yang lain; fa yushlabu = maka akan disalib; fa ta’kulu = lalu memakan; ath thoirru = burung; min = sebagian; ro’sihĩ = kepalanya; qodhiya = diputuskan; al amru = perkara; al ladzĩ = yang; fĩhi = padanya; tastaftiyaan = kamu berdua menanyakannya.
yã shōhibayis sijni ammã ahadukumã fa yasqĩ robbahũ khamron, wa ammãl ãkhoru fa yushlabu fa ta’kuluth thoirru mir ro’sihĩ, qodhiyal amrul ladzĩ fĩhi astaftiyaan.

41. Wahai dua penghuni penjara, salah seorang di antara kamu berdua, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi , dia akan disalib, lalu burung akan memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah jawaban takwil mimpi kedua orang yang dipenjara. Yang bernimpi memeras anggur diampuni, dan yang bermimpi membawa roti di atas kepalanya, akan disalib. Sebagian kepalanya akan dimakan burung.
wa qōla = dan (Yusuf) berkata; lilladzĩ = kepada orang yang; zhonna = dia menyangka; annahũ = sesungguhnya ia; nãjin = selamat; min huma = di antara keduanya; udz kurnĩ = terangkan keadaanku; ‘inda = di hadapan; robbika = tuan kamu; fa ansãhu = maka menjadikan ia lupa; sy syaithōnu = setan; dzikro = menerangkan; robbihĩ = tuannya; falabitsa = maka (Yusuf) tetap; fis sijni = di dalam penjara; bidh’a = beberapa; sinĩn = tahun.
wa qōla lilladzĩ zhonna annahũ nãjim min humadzkurnĩ ‘inda robbika fa ansãhusy syaithōnu dzikro robbihĩ falabitsa fis sijni bidh’a sinĩn.

42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang disangkanya akan selamat di antara keduanya, “Terangkan (keadaan)ku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya, maka tetaplah Yusuf di dalam penjara beberapa tahun lamanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf yang mengharapkan kebebasan dengan meminta bantuan orang yang disangka selamat, agar memberitahukan kepada tuannya tentang keadaan Yusuf yang teraniaya dimasukkan penjara tanpa dosa. Namun, ujian bagi Yusuf, setan menjadikan orang tersebut lupa menerangkan keadaan Yusuf, sehinngga dia tetap berada di dalam penjara dalam beberapa tahun.

wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; innĩ = sesungguhnya, aku; arō = melihat (bermimpi); sab’a = tujuh; baqorōtin = sapi; simaanin = gemuk; ya’kuluhunna = memakan mereka; sab’un = tujuh; ‘ijãfun = kurus; wa sab’a = dan tujuh; sumbulãtin = tangkai; khudhrin = hijau; wa ukhoro = dan yang lain; yã bisaatin = kering; yã ayyuha = wahai; al malã-u = orang-orang terkemuka; aftũnĩ = terangkanlah kepadaku; fĩ ru’yãya = dalam mimpiku; inkuntum = jika kamu adalah; lir ru’yã = bagi mimpi; ta’burũn = kamu takbirkan.

wa qōlal maliku innĩ arō sab’a baqorōtin simaanin ya’kuluhunna sab’un ‘ijãfun wa sab’a sumbulãtin khudhrin wa ukhoro yã bisaatin, yã ayyuhal malã-u aftũnĩ fĩ ru’yãya inkuntum lir ru’yã ta’burũn

43. Raja berkata kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya: “Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. Wahai orang-orang terkemuka, terangkanlah kepadaku, takbir mimpiku itu, jika kamu dapat menakbirkan mimpi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah mimpi raja yang melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, ini berbeda dengan kisah sapi betina dalam Surat Al Baqarah, 2: 67 – 71

qōlũ = mereka berkata; adhghōtsu = kacau-balau; ahlamin = mimpi; wa mã nahnu = dan kami tidak; bi ta’wĩli = dengan takwil; al ahlãmi = mimpi; bi’ãlimĩn = orang-orang yang mengetahui.

qōlũ adhghōtsu ahlamin, wa mã nahnu bi ta’wĩlil ahlãmi bi’ãlimĩn.

44. Mereka berkata: “Mimpi itu kacau-balau, dan kami tidak mengetahui takwil mimpi itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mimpi raja dianggap mimpi yang kacau, tidak bisa ditakwilkan oleh para cerdik-pandai, orang-orang terkemuka yang hadir.
wa qōla = dan berkata; al ladzĩ = orang yang; najã = selamat; min humã = di antara keduanya; waddakaro = dan teringat; ba’da = sesudah; ummatin = umat; ana = aku; unabbi-ukum = aku akan memberitahukan kepadamu; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; fa arsilũn = maka utuslah aku.

wa qōlal ladzĩ najã min humã waddakaro ba’da ummatin ana unabbi-ukum bi ta’wĩlihĩ fa arsilũn.

45. Dan berkatalah orang yang selamat di antara keduanya, ketika teringat (kepada Yusuf) sesudah (melupakan) beberapa waktu lamanya, “Aku beritahu kepadamu orang yang pandai mentakwilkan mimpi itu. Maka, utuslah aku (menemuinya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera orang yang selamat dari hukuman dan teringat kepada Yusuf yang pandai menakwilkan mimpinya.

yũsufu = Yusuf; ayyuha = wahai; ash shiddĩqu = orang yang paling berpengetahuan; aftinã = terangkan kepada Aku; fĩ sab’i = tentang tujuh; baqarōtin = sapi betina; simaanin = gemuk; ya’kuluhunna = dimakan mereka; sab’un = tujuh; ‘ijãfun = kurus; wa sab’i = dan tujuh; sumbulãtin = tangkai; khudhrin = hijau; wa ukhoro = dan yang lain; yãbisaatin = kering; la’allĩ = agar aku; arji’u = akan kembali; ilaannãsi = kepada orang-orang; la’allahum = supaya mereka; ya’lamũn = mereka mengetahui

yũsufu ayyuhash shiddĩqu aftinã fĩ sab’i baqarōtin simaanin ya’kuluhunna sab’un ‘ijãfun wa sab’i sumbulãtin khudhrin wa ukhoro yãbisaatil la’allĩ arji’u ilaannãsi la’allahum ya’lamũn.

46. Hai Yusuf, orang yang paling berpengetahuan, terangkan kepada aku tentang tujuh sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum lainnya yang kering, agar jika aku kembali kepada orang-orang itu, mereka akan mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf diminta menerangkan takwil mimpi raja. Ash shiddĩqi artinya orang yang berilmu dan berpengetahuan luas.
qōla = (Yusuf) berkata; tazrō’ũna = kamu bertanam; sab’a = tujuh; sinĩna = tahun; da-aban = seperti biasa; fa mã = maka apa; hashodtum = kamu tuai; fadzarũhu = maka tinggalkan; fĩ sumbulihĩ = pada tangkainya; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimmã = dari apa yang; ta’kulũn = kamu makan.
qōla tazrō’ũna sab’a sinĩna da-aban fa mã hashodtum fadzarũhu fĩ sumbulihĩ illã qolĩlam mimmã ta’kulũn.

47. Yusuf berkata, “Kamu bertanam seperti biasa selama tujuh tahun, maka apa yang sudah kamu tuai, biarkan saja di tangkainya, kecuali sedikit (boleh diambil) untuk kamu makan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menyarankan agar selama tujuh tahun ke depan bertanam (artinya kebanyakan penduduk hidup dari hasil pertanian) seperti biasa. Setelah dipanen, biarkan gandum itu di tangkainya (artinya diawetkan, bisa disimpan dalam jangka waktu lama) kecuali sedikit boleh diambil hanya sekedar untuk makan.
tsumma = kemudian; ya’tĩ = datang; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu (demikian); sab’un = tujuh; syidãdun = amat sulit; ya’kulna = mereka memakan; mã qoddamtum = apa yang kamu sediakan; lahunna = bagi mereka; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimmã = dari apa (bibit); tuhshinũn = kamu simpan.
tsumma ya’tĩ mim ba’di dzãlika sab’un syidãdun ya’kulna mã qoddamtum lahunna illã qolĩlam mimmã tuhshinũn.

48. Kemudian sesudah itu datang tujuh (tahun) yang amat sulit (paceklik) yang menghabiskan (makanan) apa yang kamu sediakan bagi mereka, kecuali sedikit dari (bibit) yang kamu simpan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini takwil mimpi yang diperlukan. Manusia harus siaga (berjaga-jaga) untuk masa sulit yang akan datang. Perlu perkiraan untuk masa yang akan datang.
tsumma = kemudian; ya’tĩ = datang; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu (demikian); ‘ãmun = tahun; fĩhi = padanya; yughōtsu = diberi hujan; an nãsi = manusia; wa fĩhi = dan padanya; ya’shirũn = mereka memeras anggur.
tsumma ya’tĩ mim ba’di dzãlika ‘ãmun fĩhi yughōtsun nãsi wa fĩhi ya’shirũn.

49. Kemudian sesudah itu, datang tahun yang cukup (melimpah) hujan bagi manusia, waktu itu mereka memeras anggur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada masa makmur, manusia mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemenuhan berbagai kebutuhan lainnya.
wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; u’tũnĩ = bawalah kepadaku; bihĩ = dengan dia; fa lammã = maka ketika; jã-ahu = datang kepadanya; ar rosũlu = utusan; qōla = (Yusuf) berkata; irji’ = kembalilah; ilã robbika = kepada tuanmu; fas-alhu = maka tanyakanlah kepadanya; mã bãlu = bagaimana halnya; an niswati = wanita-wanita; al lãtĩ = yang; qoththo’na = mereka memotong; aidiyahunna = jari-jari tangannya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; bi kaidihinna = dengan tipu-daya mereka; ‘alĩmun = Maha Mengetahui.
wa qōlal maliku’ tũnĩ bihĩ, fa lammã jã-ahur rosũlu qōlarji’ ilã robbika fas-alhu mã bãlun niswatil lãtĩ qoththo’na aidiyahunna, inna robbĩ bi kaidihinna ‘alĩmun.

50. Dan raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka, ketika utusan itu datang kepadanya (Yusuf), Yusuf berkata, “Kembalilah kepada tuanmu, dan tanyakan kepadanya, bagaimana halnya wanita-wanita yang telah memotong jari-jari tangannya, sesungguhnya, Rabku Maha Mengetahui tipu-daya mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera raja yang ingin bertemu dengan Yusuf, dan Yusuf melalui pesuruh raja meminta penjelasan tentang wanita-wanita yang memotong jari-jari tangannya dahulu. Yusuf berkata: “Rabku Maha Mengetahui tipu-daya mereka.”

qōla = (Raja) berkata; mã = apa yang …; khothbukunna = (wanita-wanita) bicarakan; idz = ketika; rōwat tunna = kamu sekalian menggoda; yũsufa = Yusuf; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; qulna = mereka berkata; hãsya = Mahasempurna; lillãhi = bagi Allah; mã = tidak; ‘alimnã = Aku ketahui; ‘alaihi = atasnya; min sũ-in = dari keburukan; qōlat = berkata; imro-atu = istri; al azĩzi = Al Aziz; al ãna = sekarang; hosh-hosho = jelaslah; al haqqu = kebenaran; anã = aku; rōwat tuhũ = aku menggodanya; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; lamina = sungguh termasuk; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

qōla mã khothbukunna idz rōwat tunna yũsufa ‘an nafsihĩ, qulna hãsya lillãhi mã ‘alimnã ‘alaihi min sũ-in, qōlatimro-atul azĩzil ãna hosh-hoshol haqqu, anã rōwat tuhũ ‘an nafsihĩ wa innahũ laminash shōdiqĩn.

51. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), “Apa yang terjadi, ketika kamu menggoda Yusuf untuk (menundukkan) dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Mahasempurna Allah, aku tidak mengetahui suatu keburukan pun darinya.” Berkata istri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya (untuk menundukkan) dirinya, dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog raja, wanita-wanita, dan istri raja yang tergoda oleh kecakapan yang sempurna dari Yusuf.
dzãlika = yang demikian itu; liya’lama = agar dia (raja) mengetahui; annĩ = bahwa aku; lam akhunhu = tidak mengkhianatinya; bil ghoibi = ketika dia tidak ada; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; kaida = tipu-daya; al khō-inĩn = orang-orang yang berkhianat.
dzãlika liya’lama annĩ lam akhunhu bil ghoibi wa annallãha lã yahdĩ kaidal khō-inĩn.

52. Yang demikian itu agar dia (raja) mengetahui, bahwa aku tidak berkhianat kepadanya ketika dia tidak ada, dan Allah tidak memberi petunjuk tipu daya kepada orang-orang yang berkhianat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan khianat adalah perbuatan menutup-nutupi atau menyembunyikan kebenaran fakta atau suatu kejadian, mencari kemudahan, kesenangan, kenyamanan, kenikmatan dengan cara yang tidak terpuji, mengurangi timbangan atau sesuatu yang seharusnya diberikan, menahan atau mengambil hak orang lain, mencuri, tidak bertanggung jawab atas kewajibannya, tidak menepati janji, membocorkan rahasia, berdusta, melakukan tipu-daya, curang, murtad. Khianat dan dusta, curang, menipu, murtad melahirkan berbagai kejahatan, kejelekan, dan keburukan, merusak tata sosial di masyarakat, pemerintahan negara. Istri raja ternyata pandai mencari alasan yang baik, agar raja mengetahui, ia (istri raja) tidak berkhianat kalau raja sedang tidak ada, dan Allah tidak akan memberi petunjuk tipu daya kepada orang-orang yang berkhianat. Setan yang memberi petunjuk untuk orang-orang yang berkhianat. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hati manusia.

Juz 13
wa mã = dan tidak; ubarrĩ-u = aku membebaskan; nafsĩ = diriku (nafsuku); inna = sesungguhnya; an nafsa = nafsu itu; la ammãrotun = selalu menyuruh; bissũ-i = pada kejahatan; illã = kecuali; mã = apa yang; rohima = diberi rahmat; robbĩ = Rabku; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa mã ubarrĩ-u nafsĩ innan nafsa la ammãrotum bissũ-i illã mã rohima robbĩ inna robbĩ ghofũrur rohĩm.
53. Dan, aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya, nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabku. Sesungguhnya, Rabku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Istri raja ternyata menggunakan akal dan pikirannya, serta memberikan argumentasi tentang perilakunya yang demikian itu karena adanya nafsu yang ada dalam dirinya. Ada nafsu karena ajakan setan, dan ada nafsu yang dirahmati Allah, artinya nafsu yang terikat oleh Hukumullah dan Sunatullah (mengenal batas dan norma-norma hidup yang baik dan benar). Ada nafsu amarah (ingin memiliki, ingin menguasai), nafsu lauwamah (kenikmatan, kenyamanan), nafsu sufiah (keindahan, kemewahan, kemegahan, kemuliaan), nafsu mutmainnah (ketenangan, ketenteraman, kedamaian, kesantaian, kemalasan). Ajakan setan memenuhi nafsu secara berlebihan, tidak ada batas kepuasan. Nafsu yang dirahmati Allah adalah nafsu yang terkendali ada batas-batas yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi; dan benar, sesuai dengan aturan hidup, norma etika, emika, aestetika.
wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; a’tũnĩ = bawalah kepadaku; bihĩ = dengannya; astakhlish-hu = aku memilihnya; li nafsĩ = untuk diriku; fa lammã = maka ketika; kallamãhũ = bercakap-cakap dengan dia (Yusuf); qōla = dia (raja) berkata; innaka = sesungguhnya kamu; al yauma = hari ini; ladainã = di sisi Aku; makĩnun = kedudukan tinggi; amĩn = yang dipercaya.
wa qōlal maliku a’tũnĩ bihĩ astakhlish-hu li nafsĩ, fa lammã kallamãhũ qōla innakal yauma ladainã makĩnun amĩn.
54. Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, aku akan menetapkan agar dia (Yusuf) menjadi orang yang dekat denganku.” Maka, setelah raja bercakap-cakap dengan dia (Yusuf), maka raja berkata: “Sesungguhnya, kamu (Yusuf) mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di hadapanku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggerakkan hati raja agar Yusuf dekat dengannya, dan akan diberi kedudukan yang baik, tinggi, serta terpercaya. Kedudukan seseorang di dunia itu tergantung upaya, keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Allah akan menetapkan kedudukannya di dunia, dan nanti di akhirat.
qōla = (Yusuf) berkata; aj’alnĩ = jadikanlah aku; ‘alã = pada; khozã-ini = (jabatan) bendaharawan; al ardhi = di negara (Mesir); innĩ = sesungguhnya aku; hafĩzhun = seorang penjaga; ‘alĩm = yang berpengetahuan.
qōla aj’alnĩ ‘alã khozã-inil ardhi, innĩ hafĩzhun ‘alĩm.
55. Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesung-guhnya, aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menunjukkan kepribadian, kesanggupan, dan ke-mampuannya (jati dirinya), tidak dengan kesombongan, tapi dengan latar belakang ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliknya.
wa kadzãlika = dan demikianlah; makkannã = Aku memberi kedudukan; li yũsufi = kepada Yusuf; al ardhi = di dunia; yatabawwa-u = dia tinggal; minhã = di sana; hoitsu = dimana saja; yasyã-u = dia kehendaki; nushĩbu = Aku limpahkan; birohmatinã = dengan rahmat Aku; man = siapa yang …; nasyã-u = Aku kehendaki; wa lã = dan tidak; nudhĩ’u = Aku menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa kadzãlika makkannã li yũsufil ardhi yatabawwa-u minhã hoitsu yasyã-u, nushĩbu birohmatinã man nasyã-u, wa lã nudhĩ’u ajrol muhsinĩn.
56. Dan demikianlah, Aku (Allah) memberi kududukan kepada Yusuf di bumi (negeri Mesir), (dia berkuasa penuh) pergi ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir. Aku melimpahkan rahmat kepada yang Aku kehendaki, dan Aku tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Allah selalu membalas orang-orang yang berbuat baik dan benar dengan pahala yang tidak sia-sia, berlipat-ganda. Perbuatan baik dan benar seseorang yang tidak beriman kepada Allah, dan hari akhirat balasannya hanya di dunia saja, di akhirat menjadi sia-sia karena amal baik dan benarnya tidak tersangkut dengan kasih-sayang Allah Yang menciptakannya.

wa la ajru = dan sungguh pahala; al akhiroti = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa kaanũ = dan mereka yang …; yattaqũn = (mereka) bertakwa.
wa la ajrul akhiroti khoirul lilladzĩna ãmanũ wa kaanũ yattaqũn.
57. Dan sesungguhnya, pahala di akhirat, lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pahala akhirat itu lebih baik daripada pahala di dunia. Syaratnya harus beriman, dan selalu bertakwa. Beriman artinya harus selalu mengingat Allah Yang menciptakannya, membaca Kitab pada umumnya, khususnya Alquran, mengakui adanya Nabi-nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. , mengakui Malaikat-malaikat, mengakui Hari Akhir, mengakui adanya qodo dan qodar. Bertakwa artinya selalu memperhatikan dan melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya dengan bersungguh-sungguh dan sangat berhati-hati.
wa jã-a = dan datang; ikhwãtu = saudara-saudara; yũsufa = Yusuf; fadakholũ = lalu mereka masuk; ‘alaihi = ke tempatnya; fa’arofahum = maka dia mengenal mereka; wa hum = sedang mereka; lahũ = kepadanya; munkirũn = orang-orang yang tidak mengenal.
wa jã-a ikhwãtu yũsufa fadakholũ ‘alaihi fa’arofahum, wa hum lahũ munkirũn
58. Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) ke tempatnya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalnya lagi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketika musim paceklik, Ya’qub menyuruh anak-anaknya mencari bahan makanan sampai ke Mesir. Pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya, ternyata sudah diatur Allah. Yusuf sudah berkedudukan tinggi, kaya-raya, saudara-saudaranya memerlukan bantuan pangan. Yusuf mengenal saudara-saudaranya, sedang saudara-saudaranya tidak mengenalinya. Mereka dibutakan Allah.

wa lammã = dan ketika; jahhazahum = dia menyiapkan bahan makanan mereka; bi jahãzihim = dengan bekal mereka; qōla = (Yusuf) berkata; a’tũnĩ = bawalah kepadaku; bi akhin = dengan saudara; lakum = bagi kamu sekalian; min abĩkum = dari ayah kamu sekalian; alã = tidakkah; tarauna = kamu sekalian melihat; annĩ = bahwa aku; ũfĩ = aku menyempurnakan; al munzilĩn = penerima tamu

wa lammã jahhazahum bi jahãzihim qōla a’tũnĩ bi akhil lakum min abĩkum, alã tarauna annĩ ũfĩl kaila wa ana khoirul munzilĩn.

59. Dan ketika Yusuf menyiapkan bahan makanan dan bekal untuk mereka, ia (Yusuf) berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat, aku menyempurnakan sukatan, dan aku itu sebaik-baik penerima tamu?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf memuliakan, menjamu, dan melayani saudara-saudaranya dengan sebaik-baiknya. Kemudian, mereka (saudara-saudaranya Yusuf) memberitahu, bahwa mereka mempunyai saudara seayah yang tidak turut serta bersama mereka (Bunyamin). Yusuf melelengkapi sukatan, sesuai dengan jumlah keluarga yang disebutkan, namun dengan syarat, suadaranya yang tidak dibawa itu harus diperlihatkan kepada Yusuf. Maka Yusuf berkata: “Bawalah saudara seayah kamu kepadaku, bukankah aku telah menyempurnakan sukatan, menghormati, dan menerima kamu dengan sebaik-baiknya?”

fa illam = maka jika; ta’tũni = kamu bawa kepadaku; bihĩ = dengannya; fa lã = maka tidak ada; kaila = sukatan; lakum = bagi kamu sekalian; ‘indĩ = dariku; wa lã taqrobũn = dan kamu jangan mendekatiku.
fa illam ta’tũni bihĩ fa lã kaila lakum ‘indĩ wa lã taqrobũn.

60. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi dariku, dan jangan kamu mendekatiku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mengancam saudara-saudaranya, tidak akan mendapatkan jatah gandum, dan tidak boleh mendekat lagi kepadanya, jika mereka tidak membawa serta saudara seayahnya (Bunyamin).

qōlũ = mereka berkata; sanurōwidu = kami akan membujuk; anhu = darinya; abãhu = bapaknya; wa innã = dan sungguh kami; la fã’ilũn = benar-benar akan melaksanakan.

qōlũ sanurōwidu anhu abãhu wa innã la fã’ilũn.

61. Mereka berkata: “Kami akan membujuk bapaknya (agar dapat membawa saudaranya) darinya, dan sungguh. kami akan melaksanakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf berjanji akan bersungguh-sungguh membujuk bapaknya agar memberikan Bunyamin untuk dapat dibawa ke Mesir.
wa qōla = dan (Yusuf) berkata; li fit-yaanihi = kepada para pembantunya; aj’alũ = masukkan; bi dhō’atahum = dengan barang-barang (penukar) mereka; fĩ rihãlihim = ke karung-karung mereka; la ‘allahum = supaya mereka; ya’rifũ nahã = mereka mengetahuinya; idzã = ketika; anqolabũ = mereka telah kembali; ilã = ke; ahlihim = keluarganya; la’allahum = supaya mereka; yarji’ũn = (mudah-mudahan) mereka kembali.
wa qōla li fit-yaanihi aj’alũ bi dhō’atahum fĩ rihãlihim la ‘allahum ya’rifũ nahã idzã anqolabũ ilã ahlihim la’allahum yarji’ũn.

62. Dan Yusuf berkata kepada para pembantunya, “Masukkanlah barang-barang (penukar) mereka ke karung-karungnya, agar mereka mengetahuinya, ketika mereka telah kembali ke keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera taktik Yusuf agar saudara-saudaranya kembali lagi ke Mesir sambil membawa saudaranya yang bernaman Bunyamin. Yusuf memasukkan kembali barang-barang penukar bahan pangannya. Barang-barang penukar itu berupa kulit binatang yang telah disamak dan terompah.

fa lammã = maka ketika; roja’ũ = mereka kembali; ilã = kepada; abĩhim = bapak mereka; qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; muni’a = tidak diberi; minnã = dari kami; al kailu = sukatan; fa-arsil = maka kirimlah; ma’anã = bersama kami; akhōnã = saudara kami; naktal = kami mendapat sukatan; wa innã = dan sungguh kami; lahũ = kepadanya; lahōfizhũn = benar-benar orang yang menjaga.
fa lammã roja’ũ ilã abĩhim qōlũ yã abãnã muni’a minnãl kailu fa-arsil ma’anã akhōnã naktal wa innã lahũ lahōfizhũn.

63. Maka ketika mereka telah kembali kepada bapaknya (Ya’qub), mereka berkata: “Wahai Bapak kami, kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, jika tidak membawa saudara kami, karena itu, biarkanlah saudara kami pergi bersama kami, agar kami mendapat jatah, dan kami benar-benar akan menjaganya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub membujuk bapaknya agar memper-kenankan Bunyamin pergi bersama mereka ke Mesir untuk memenuhi syarat mendapatkan jatah gandum. Mereka berjanji akan menjaganya.

qōla = (Ya’qub) berkata; hal = bagaimana (apakah); ãmanukum = aku mempercayai kamu sekalian; ‘alaihi = atasnya; illã = kecuali; kamã = seperti (sebagaimana); ãmintukum = aku mempercayai kamu sekalian; ‘alã = atas; akhĩhi = saudaranya; min qoblu = dari dahulu (sebelumnya); fallãhu = maka Allah; khoirun = sebaik-baik; hãfizhon = penjaga; wa huwa arhamu = dan Dia Maha Penyayang; ar rōhimĩn = pãra penyayang.

qōla hal ãmanukum ‘alaihi illã kamã ãmintukum ‘alã akhĩhi min qoblu, fallãhu khoirun hãfizhon, wa huwa arhamur rōhimĩn.

64. Berkata (Ya’qub): “Bagaimana aku akan mempercayakan (Bunyamin) kepada kamu sekalian, seperti aku mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu. Maka, Allahlah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara bapak dan anak-anaknya. Bapaknya tidak ingin kehilangan anak untuk kedua kalinya. Akan tetapi karena hal itu menjadi syarat untuk mendapatkan jatah makanan yang diperlukan, maka ia (Bapaknya) bertawakal kepada Allah, dan menegaskan: “Allahlah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

wa lammã = dan ketika; fatahũ = mereka membuka; matã’ahum = barang-barang mereka; wa jadũ = mereka menemukan; bi dhō’atahum = barang-barang mereka; ruddat = dikembalikan; ilaihim = kepada mereka; qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak Aku; mã = apa yang; nabghĩ = Aku inginkan; hãdzihĩ = ini; bi dhō’atunã = barang-barang Aku; ruddat = dikembalikan; ilainã = kepada kita; wa namĩru = dan kita beri makan; ahlanã = keluarga kita; wa nahfazhu = dan Aku akan menjaga; akhōnã = saudara kita; wa nazdãdu = dan Aku mendapat tambahan; kaila = sukatan (seberat); ba’ĩrin = seekor unta; dzãlika = demikian itu; kailun = sukatan; yasĩru = yang mudah.

wa lammã fatahũ matã’ahum wa jadũ bi dhō’atahum ruddat ilaihim, qōlũ yã abãnã mã nabghĩ hãdzihĩ bi dhō’atunã ruddat ilainã wa namĩru ahlanã wa nahfazhu akhōnã wa nazdãdu kaila ba’ĩrin, dzãlika kailun yasĩru.

65. Dan ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan barang-barang penukar mereka dikembalikan kepada mereka, mereka berkata, “Wahai Bapak kami, apa lagi yang kita inginkan, ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita dapat memberi makan keluarga kita, dan kita dapat menjaga keluarga kita, dan kita akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta, itu suatu hal yang mudah (bagi Raja Mesir).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera anak-anaknya Ya’qub saat membuka bungkusan barang dari Raja Mesir.
qōla = (Ya’qub) berkata; lan = tidak akan; ursilahũ = aku melepaskannya; ma’akum = bersama kamu; hattã = sehingga; tu’tũni = kamu datangkan kepadaku; mautsiqon = janji yang teguh; minallãhi = dari Allah; lata’tunnanĩ = pasti kamu datangkan kepadaku; bihĩ = dengannya; illã = kecuali; an = bahwa; yuhãtho = dikepung; bikum = pada kamu; fa lammã = maka ketika; ãtũhu = mereka memberinya; mautsiqohum = janji mereka; qōlallãhu = (Ya’qub) berkata Allah; ‘alã = atas; mã = apa yang; naqũlu = kamu sekalian ucapkan; wakĩlun = saksi;
qōla lan ursilahũ ma’akum hattã tu’tũni mautsiqom minallãhi lata’tunnanĩ bihĩ illã an yuhãtho bikum, fa lammã ãtũhu mautsiqohum qōlallãhu ‘alã mã naqũlu wakĩlun

66. (Ya’qub) berkata: “Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu berjanji kepadaku atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali kamu dikepung (musuh).” Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya’qub) berkata: “Allah adalah saksi atas apa yang kamu ucapkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Ya’qub dengan anak-anaknya saat Ya’qub akan melepaskan Bunyamin. Ya’qub meminta anak-anaknya berjanji (bersumpah) atas nama Allah, bahwa mereka pasti akan membawa Bunyamin kembali kepadanya, kecuali mereka terkepung musuh (menghadapi bahaya besar). Janji (nadzar) dalam Islam, sama dengan sumpah, harus ditepati. Kalau tidak ditepati, ini merupakan salah satu tanda atau ciri dari orang munafik, lihat catatan Q.s Al Fatihah, 1 : 2, 3; Al Baqarah, 2 : Catatan Awal).
wa qōla = dan (Ya’qub) berkata; yã banĩnna = wahai anak-anakku; lã tadkhulũ = jangan kamu masuk; min = dari; bãbin = pintu; wãhidin = satu; wãdkhulũ = dan masuklah; min = dari; abwãbin = pintu-pintu; mutafarriqoh = yang berlainan; wa mã = dan tidak; ughnĩ = aku dapat melepaskan (mempertahankan); ‘ankum = dari kamu sekalian; minallãhi = dari (takdir) Allah; min = dari; syai-in = sedikit pun; ini = tidak ada; al hukmu = keputusan; illa = hanyalah; lillãh = dari Allah; ‘alaihi = kepada-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa ‘alaihi = dan kepada-Nya; falyatawakkali = hendaknya bertawakal; al mutawakkilũn = orang-orang yang bertawakal.
wa qōla yã banĩnna lã tadkhulũ mimbãbin wãhidin wãdkhulũ min abwãbim mutafarriqoh, wa mã ughnĩ ‘ankum minallãhi min syai-in inil hukmu illa lillãh, ‘alaihi tawakkaltu, wa ‘alaihi falyatawakkalil mutawakkilũn.

67. Dan Ya’qub berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu gerbang, dan masuklah dari gerbang-gerbang yang berbeda, namun demikian, aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanya dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya pula bertawakal orang-orang yang bertawakal.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub menasihati dan melarang anak-anaknya masuk dari satu pintu. Dia menyarankan masuk dari pintu-pintu yang berbeda. Namum Allah Mahakuasa dalam menetapkan takdir makhluk-Nya. Makhluk-Nya harus bertawakal kepada-Nya.

wa lammã = dan ketika; dakholũ = mereka masuk; min = dari; haitsu = sekiranya menurut; amarohum = perintah kepada mereka; abũhum = bapak mereka; mã = tidak; kãna = ada; yughnĩ = melepaskan; ‘anhum = dari mereka; minallãhi = dari Allah; min syai-in = sedikit pun dari; illã = hanyalah; hojatan = keinginan; fĩ nafsi = dari diri; ya’qũba = Ya’qub; qodhōha = dia tetapkan; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; ladzũ = dia mempunyai; ‘ilmin = pengetahuan; limã = karena apa yang; ‘allamnãhu = Aku telah mengajarkan; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaron = kebanyakan; nãsi = manusia; lã ya’lamũn = tidak mengetahui.

wa lammã dakholũ min haitsu amarohum abũhum mã kãna yughnĩ ‘anhum minallãhi min syai-in illã hojatan fĩ nafsi ya’qũba qodhōha, wa innahũ ladzũ ‘ilmil limã ‘allamnãhu wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

68. Dan ketika mereka masuk sesuai dengan perintah bapak mereka, (mereka masuk itu) tidak dapat menolak sedikit pun ketetapan Allah, (tetapi itu) hanya keinginan dari diri Ya’qub yang telah ditetapkan-Nya. Dan sesungguhnya, dia, Ya’qub mempunyai pengetahuan, karena Aku telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub berupaya menaati perintah bapaknya. Allah memberi pengetahuan kepada Ya’qub apa yang harus dilakukan anak-anaknya. Ini rahasia Allah, manusia lain tidak mengetahui rahasia ini. Allah dapat juga mengajarkan pengetahuan kepada para Nabi dan juga kepada umat manusia pada umumnya. Umat manusia pada umumnya, banyak yang dapat memanfaatkannya, banyak pula yang tidak dapat memanfaatkannya. Banyak pula yang tidak mengetahuinya.
wa lammã = dan ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alã = ke tempat; yũsufa = Yusuf; ãwã = ia membawa; ilaihi = kepadanya; akhōhu = saudaranya; qōla = (Yusuf) berkata; innĩ = sesungguhnya aku; anã = aku; akhũka = saudara kamu; fa lã = maka jangan; tabta-is = jangan sedih; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa lammã dakholũ ‘alã yũsufa ãwã ilaihi akhōhu, qōla innĩ anã akhũka fa lã tabta-is bimã kaanũ ya’malũn.

69. Dan ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, dia menempatkan saudaranya (Bunyamin) di tempatnya, dia (Yusuf) berkata: “Sesungguhnya, aku sauda-ramu, jangan engkau sedih atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera pertemuan Yusuf dengan saudaranya, Bunyamin. Pertemuan ini masih harus dirahasiakan.

fa lammã = maka ketika; jahhazahum = ia menyiapkan untuk mereka; bi jahãzihim = dengan persiapan mereka; ja’ala = ia masukkan; as siqōyata = tempat minum; fĩ rohli = di dalam karung; akhĩhi = saudaranya; tsumma = kemudian; adzdzana = berseru; mu-adzdzinun = seorang penyeru; ayyatuhã = wahai; al ‘ĩru = kafilah; innakum = sesungguhnya kamu (jamak); lasãriqũn = pasti para pencuri.
fa lammã jahhazahum bi jahãzihim ja’alas siqōyata fĩ rohli akhĩhi tsumma adzdzana mu-adzdzinun ayyatuhãl ‘ĩru innakum lasãriqũn.

70. Maka ketika telah disiapkan bahan makanan untuk mereka, dia (Yusuf) memasukkan piala ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang penyeru, “Wahai kafilah, sungguhnya kamu pasti pencuri,”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sandiwara yang dilakukan Yusuf, agar saudaranya (Bunyamin) tertahan di Mesir.
qōlũ = mereka bertanya; wa aqbalũ = sambil mereka menghadap; ‘alaihim = kepada yang menuduh; mãdzã = barang apa; tafqidũn = kamu kehilangan.
qōlũ wa aqbalũ ‘alaihim mãdzã tafqidũn.

71. Mereka bertanya sambil menghadap kepada yang menuduh: “Kamu kehilangan barang apa?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan perasaan tak bersalah saudara-saudara Bunyamin menghadapi orang yang menuduh.
qōlũ = mereka menjawab; nafqidu = Aku kehilangan; shuwã’a = alat takar; al maliki = raja; wa li man = dan barang siapa; jã’a = mengembalikan; bihĩ = barang itu; himlu = (makanan) seberat; ba’ĩrin = unta; wa ana = dan aku; bihĩ = dengan itu; za’imun = orang yang menjamin.
qōlũ nafqidu shuwã’al maliki wa li man jã’a bihĩ himlu ba’ĩrin wa ana bihĩ za’imun.

72. Mereka menjawab: “Aku kehilangan alat takar, dan siapa yang dapat me-ngembalikannya, akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku menjamin itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih terkait dengan sandiwara Yusuf. Alat takar itu berupa piala yang dapat dipakai tempat (wadah) minuman.

qōlũ = Saudara-saudara Yusuf menjawab; tallãhi = demi Allah; laqod = sesungguhnya; ‘alimtum = kamu (jamak) telah mengetahui; mã = tidak; ji’nã = kami datang; li nufsida = untuk membuat kerusakan; fil ardhi = di negeri ini; wa mã = dan bukan; kunnã = kami adalah; sãriqĩn = orang-orang yang mencuri.

qōlũ tallãhi laqod ‘alimtum mã ji’nã li nufsida fil ardhi wa mã kunnã sãriqĩn.

73. Mereka (saudara-saudara Yusuf) menjawab: “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui, kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri ini, dan kami bukanlah para pencuri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Reaksi saudara-saudaranya Yusuf yang merasa tidak melakukan pencurian.

qōlũ = mereka berkata; famã = maka apa; jazã-uhũ = balasannya; in = jika; kuntum = kamu adalah; kãdzibĩn = orang-orang yang berdusta.

qōlũ famã jazã-uhũ in kuntum kãdzibĩn.

74. Mereka berkata: “Tetapi apa hukumannya, jika kamu dusta.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog penuduh dengan yang dituduh.

qōlũ = mereka (para pejabat Negara Mesir) menjawab; jazã-uhũ = hukumannya; man = siapa yang; wujida = ditemukan; fĩ = di dalam; rohlihĩ = karungnya; fa huwa =maka dia; jazã-uhũ = balasannya; kadzãlika = demikianlah; najzĩ = Aku beri pembalasan; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

qōlũ jazã-uhũ man wujida fĩ rohlihĩ fa huwa jazã-uhũ, kadzãlika najzĩzh zhōlimĩn.

75. Mereka menjawab: “Hukumannya ialah, dalam karung siapa ditemukan (barang yang hilang), maka dialah sendiri yang menerima hukumannya. Demikianlah, Aku memberi hukuman kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Barang tersebut sudah direncanakan tempatnya oleh Yusuf, yaitu di dalam karung Bunyamin. Hukuman dalam syariat Nabi Ya’qub: “Orang yang mencuri, hukumannya dijadikan budak selama satu tahun.”

fa bada-a = maka (Yusuf) memulai; bi au’iyatihim = dengan karung-karung mereka; qobla = sebelum; wi’ã-i = karung; akhĩhi = saudaranya; tsumma = kemudian; astakhrojahã = ia mengeluarkannya (piala); min wi’ã-i = dari karung; akhĩhi = saudaranya; kadzãlika = demikianlah; kidnã = Aku mengatur; li yũsufa = untuk Yusuf; mã = tidak; kãna = dapat (pantas); li ya’khuda = untuk menghukum; akhōhu = saudaranya; fĩ diini = dalam peraturan; al maliki = raja; illã = kecuali; an = jika; yasyã’allãhu = Allah menghendaki; narfa’u = Aku tinggikan; darojãtin = derajat; man = siapa yang; nasyã-u = Aku kehendaki; wa fauqo = dan di atas; kulli = tiap-tiap; dzĩ = yang memiliki; ‘ilmin = ilmu; ‘alĩm = yang lebih mengetahui.

fa bada-a bi au’iyatihim qobla wi’ã-i akhĩhi tsumma astakhrojahã min wi’ã-i akhĩhi, kadzãlika kidnã li yũsufa, mã kãna li ya’khuda akhōhu fĩ diinil maliki illã an yasyã’allãhu, narfa’u darojãtim man nasyã-u, wa fauqo kulli dzĩ ‘ilmin ‘alĩm.

76. Maka memulailah dia (Yusuf memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan (piala raja) itu dari karung saudaranya. Demikianlah Aku mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut peraturan raja, kecuali jika Allah menghendakinya. Aku angkat derajat seseorang yang Aku kehendaki; dan di atas setiap orang yang berilmu, ada yang lebih banyak mengetahui (ilmu).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rencana Yusuf itu ternyata dari Allah. Semua peristiwa yang terjadi pada keluarga Ya’qub itu diketahui Allah. Pelaku-pelaku bertindak atas kehendak dan hasil pikirannya sendiri. Allah mengetahui semuanya. Allah mempunyai rencana mengangkat derajat seseorang yang dikehendaki. Derajat seseorang akan terangkat atau menurun sesuai dengan keimanan dan kebersihan pikiran, anugerah Allah. Semua menjadi ujian jalan hidup seseorang manusia yang dibekali akal dan pikiran beserta iman dan takwanya kepada Allah.

qōlũ = Mereka berkata; in = jika; yasriq = dia mencuri; fa qod = maka sungguh; saroqa = telah mencuri; akhun = saudaranya; lahũ = baginya; min = dari; qoblu = sebelumnya; fa asarrohã = maka menyembunyikannya; yũsufa = Yusuf; fĩ = di dalam; nafsihĩ = dirinya; wa lam = dan tidak; yubdihã = ia menampakkan; lahum = kepada mereka; qōla = ia berkata; antum = kamu semua; syarrun = lebih buruk; makãnan = kedudukan; wallãhu = dan Allah; a’lamu = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa yang; tashifũn = kamu terangkan.

qōlũ in yasriq fa qod saroqa akhul lahũ min qoblu, fa asarrohã yũsufa fĩ nafsihĩ wa lam yubdihã lahum, qōla antum syarrum makãnan, wallãhu a’lamu bimã tashifũn.

77. Mereka berkata: “Jika dia mencuri, maka sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Maka Yusuf merahasiakan isi hatinya, dan tidak ditunjukkan kepada mereka (saudara-saudaranya). Dia berkata di dalam hatinya (Yusuf): “Kedudukanmu justru lebih buruk. Allah Mahatahu apa yang mereka terangkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Percakapan saudara-saudaranya Yusuf dengan Yusuf. Yusuf merahasiakan isi hatinya

qōlũ = mereka berkata; yã ayyuha = wahai; al ‘azĩzu = Al Aziz; inna = sesungguhnya; lahũ = baginya; aban = bapak; syaihan = yang tua; kabĩron = sekali (superlatif); fa khud = maka ambillah; ahodanã = salah seorang di antara Aku; makãnahũ = kedudukannya (penggantinya); inna = sesungguhnya; narōka = Aku melihat kamu; mina = dari (termasuk); al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

qōlũ yã ayyuhal ‘azĩzu inna lahũ aban syaihan kabĩron fa khud ahodanã makãnahũ, inna narōka minal muhsinĩn.

78. Mereka berkata: “Wahai al Aziz, sesungguhnya, dia mempunyai bapak yang sudah lanjut usianya, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya, kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Bunyamin berupaya agar Bunyamin tidak ditahan. Sebagai penggantinya, mereka memohon kepada raja, agar mengambil salah seorang di antara mereka sebagai gantinya.
qōla = (Yusuf) berkata; ma’ãdza = memohon perlindungan; allãhi = Allah; an = bahwa; na’khudza = aku menahan; illã = kecuali; man = orang yang; wajadnã = aku dapati; matã’anã = harta bendaku; ‘indahũ = padanya; innã = sesungguhnya Aku; idzan = jika demikian; lazhōlimũn = tentu orang-orang yang lalim.
qōla ma’ãdzallãhi an na’khudza illã man wajadnã matã’anã ‘indahũ innã idzal lazhōlimũn.

79. Yusuf berkata: “Aku memohon perlindungan kepada Allah karena menahan seseorang, kecuali orang yang aku temukan hartaku padanya, jika aku tidak berbuat demikian, aku orang yang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf berdalih penahanan seseorang itu harus sesuai dengan hukum dan kenyataan temuannya.

fa lammã = maka ketika; astai-asũ = mereka berputus asa; min hu = darinya (keputusan Yusuf); kholashũ = mereka mengelompok; najiyyan = sambil berbisik-bisik; qōla = mereka berkata; kabĩruhum = yang tertua di antara mereka; alam = tidakkah; ta’lamũ = kamu sekalian ketahui; anna = bahwa; abãkum = bapak kamu; qod = sungguh; akhodza = telah mengambil; ‘alaikum = atas kamu; mũtsiqon = janji; minallãhi = dengan (nama) Allah; wa min = dan dari; qoblu = sebelum itu; mã = apa yang; farroth tum = kamu sekalian menyia-nyiakannya; fĩ = pada; yũsufa = Yusuf; fa lan = maka tidak akan; abroha = aku meninggalkan; al ardho = bumi (negeri); hattã = sehingga; ya’dzana = mengizinkan; lĩ abĩ = kepada bapakku; au = atau; yahkumallãhu = Allah memberi keputusan; lĩ = kepadaku; wa huwa = dan Dia; khoiru = sebaik-baik; al hãkimĩn = para hakim.

fa lammã astai-asũ min hu kholashũ najiyyan, qōla kabĩruhum alam ta’lamũ anna abãkum qod akhodza ‘alaikum mũtsiqom minallãhi wa min qoblu mã farroth tum fĩ yũsufa, fa lan abrohal ardho hattã ya’dzana lĩ abĩ au yahkumallãhu lĩ, wa huwakhoirul hãkimĩn.

80. Maka ketika mereka berputus-asa darinya (keputusan Yusuf) mereka mengelompok sambil berunding dengan berbisik-bisik: “Tidakkah kamu ingat bahwa bapakmu telah mengambil janji dari kamu dengan menyebut nama Allah, dan sebelum itu, kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Dan Dia adalah hakim yang terbaik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat rangkaian kejadiannya pada ayat 52, 61, 63, 66. Mereka menyadari bahwa Allah itu Hakim yang terbaik.
arji’ũ = kembalilah; ilã = kepada, ke; abĩkum = bapak kamu semua; faqũlũ = maka katakanlah; yã abãnã = wahai bapakku; inna = sesungguhnya; abnãka = anakmu; saroqo = telah mencuri; wa mã = dan tidak; syahidnã = kami menyaksikan; illã = selain, kecuali; bimã = dengan apa yang; ‘alimnã = kami ketahui; wa mã = dan tidaklah; kunnã = kami adalah; lil ghoini = kepada yang gaib; hãfidhin = orang-orang yang mengetahui.
arji’ũ ilã abĩkum faqũlũ yã abãnã innabnãka saroqo wa mã syahidnã illã bimã ‘alimnã wa mã kunnã lil ghoini hãfidhin.

81. Kembalilah kepada bapak kamu semua, dan katakanlah: “Wahai bapak kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan, apa yang kami ketahui, dan kami tidak mengetahui apa yang gaib (di balik) itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menyarankan saudara-saudaranya mengatakan seperti yang tersebut pada ayat ini.
was-alil = dan tanyakanlah; quryata = negeri; al latĩ = yang; kunnã = kami berada; fĩhã = di sana, di dalamnya; wal’ĩrō = dan kafilah; al latĩ = yang; aqbalnã = kami datang; fĩhã = di dalamnya; wa innã = dan sungguh kami; la shōdiqũn = sungguh orang-orang yang benar.
was-alil quryatal latĩ kunnã fĩhã wal’ĩrōl latĩ aqbal nã fĩhã, wa innã la shōdiqũn.

82. Dan tanyalah (penduduk) negeri tempat kami berada, dan kafilah yang bersama kami, bahwa kami sungguh orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub berupaya meyakinkan bapaknya, tentang apa yang telah dialami di negeri Mesir itu benar.
qōla = (Ya’qub) berkata; bal = sebenarnya, bahkan, hanya; sawwalat = memandang baik; lakum = bagi kamu semua; anfusukum = diri kamu semua; amron = perkara; fasobrun = maka kesabaraku; jamĩlun = yang tebaik; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an ya’tiyanĩ = akan mendatangkan kepadaku; bihim = dengan mereka; jami’an = semuanya; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al alĩmu = Maha Mengetahui; al hakĩm = Mahabijaksana
qōla bal sawwalat lakum anfusukum amron, fasobrun jamĩlun, ‘asallãhu an ya’tiyanĩ bihim jami’an, innahũ huwal alĩmul hakĩm.

83. Ya’qub berkata: “Sebenarnya, hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu. Maka kesabaranku itulah yang terbaik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub menanggapi apa yang disampaikan anak-anaknya itu dengan penuh kesabaran dan bijaksana.
wa tawallã = dan dia (Ya’qub) berpaling; ‘anhum = dari mereka (anak-anaknya); wa qōla = sambil berkata; yã asfã = ãduhai duka-citaku; ’alã = pada; yũsufa = Yusuf; wabyadhdhat = dan memutih; ‘ainãhu = kedua matanya; mina = karena; al huzni = kesedihan; fa huwa = maka dia; kazhĩmun = orang yang menahan marah.
wa tawallã ‘anhum wa qōla yã asfã’alã yũsufa wabyadhdhat ‘ainãhu minal huzni fa huwa kazhĩmun.

84. Dan ia (Ya’qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) sambil berkata: “Aduhai duka-citaku pada Yusuf,” dan kedua matanya memutih karena sedih, dia diam menahan amarah kepada anak-anaknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub berpaling dari anak-anaknya sambil berkeluh-kesah karena sedih sampai matanya memutih (menjadi buta).
qōlũ = mereka (anak-anak Ya’qub) berkata; tallãhi = demi Allah; tafta-ũ = engkau senantiasa; tadzkuru = engkau mengingat; yũsufa = Yusuf; hattã = sampai; takũna = engkau adalah; harodhon = penyakit yang berat; au = atau; takũna = engkau adalah; mina = termasuk; al hãlikĩn = orang-orang yang binasa.
qōlũ tallãhi tafta-ũ tadzkuru yũsufa hattã takũna harodhon au takũna minal hãlikĩn.

85. Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sampai engkau mengidap penyakit berat, atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anaknya juga berkeluh-kesah atas peri-laku bapaknya yang selalu mengingat Yusuf, sampai mereka seperti mengharapkan bapaknya menjadi sakit berat dan akan menemui ajalnya. Ahlaq jelek kalau anak mengharapkan orang tuanya sakit-sakitan, dan segera wafat.
qōla = (Ya’qub) berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; asykũ = aku mengadukan; batstsi = kesusahanku; wa huznĩ = dan kesedihanku; ilallãhi = kepada Allah; wa a’lamu = dan aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu sekalian mengetahui.
qōla innamã asykũ batstsi wa huznĩ ilallãhi wa a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

86. Ya’qub menjawab: “Hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu ketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jawaban Ya’qub kepada anak-anaknya. Ya’qub mengetahui apa yang tidak mereka (anak-anaknya) ketahui. Jadi, soal Yusuf dan kemudian Bunyamin, sesungguhnya Ya’qub sudah mengetahui keberadaannya.

yã banĩyya = wahai anak-anakku; adzhabũ = pergilah kamu sekalian; fatahassasũ = maka carilah (selidikilah); min yũsufa = tentang Yusuf; wa akhĩhi = dan saudaranya; wa lã = dan jangan; ta-iasu = kamu berputus asa; mir rōuhillãhi = dari rahmat Allah; innahũ = sesungguhnya; lã = tidak; ya-iasu = berputus asa; min = dari; rōuhillãhi = rahmat allah; illã = kecuali, melainkan; al qoumu = kaum; al kãfirũn = (orang-orang) yang kafir.
yã banĩyya adzhabũ fatahassasũ min yũsufa wa akhĩhi wa lã ta-iasu mir rōuhillãhi, innahũ lã ya-iasu mir rōuhillãhi illãl qoumul kãfirũn.

87. Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf, dan saudaranya, dan kamu jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub memerintah anak-anaknya agar mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya dengan nasihat (untuk semua manusia) jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.

fa lammã = maka ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alaihi = kepadanya (Yusuf); qōlũ = mereka berkata; yã ayyuha = wahai; al azĩzu = yang mulia; massanã = telah menimpa Aku; wa ahlana = dan keluarga Aku; adh dhurru = kesengsaraan; wa ji’nã = dan Aku datang; bibidhō’atin = dengan barang-barang; muzjãtin = tak berharga; fa aufi = maka sumpurnakanlah; lanã = untuk Aku; al kaila = takaran; wa tashoddaq = dan bersedekahlah; ‘alainã = kepada Aku; innallãha = sesungguhnya Allah; yajzĩ = memberi balasan; al mutashoddiqĩn = orang-orang yang bersedekah.
fa lammã dakholũ ‘alaihi qōlũ yã ayyuhal azĩzu massanã wa ahlanadh dhurru wa ji’nã bibidhō’atim muzjãtin fa aufi lanãl kaila wa tashoddaq ‘alainã, innallãha yajzĩl mutashoddiqĩn.

88. Maka ketika mereka masuk kepadanya (Yusuf), mereka berkata wahai yang mulia (Al Azizu), kesengsaraan telah menimpa kami dan keluaraga, dan kami datang dengan barang-barang tak berharga, maka penuhilah takaran (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah untuk kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf mengeluhkan kesengsaraan kepada Yusuf dan memohon sedekah agar dipenuhi takaran gandumnya meskipun dengan penukaran barang-barang yang kurang berharga.
qōla = (Yusuf) berkata; hal = apakah; ‘alimtum = kamu sekalian mengetahui; mã = apa yang; fa’altum = kamu sekalian lakukan; bi yũsufa = kepada Yusuf; wa akhĩhi = dan saudaranya; idz = ketika; antum = kamu sekalian; jãhilũn = tidak menyadari perbuatanmu.
qōla hal ‘alimtum mã fa’altum bi yũsufa wa akhĩhi idz antum jãhilũn.

89. Yusuf berkata, “tahukah kamu (kejelekan) apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari (akibat) perbuatanmu itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf membuka rahasia dirinya dengan pertanyaantentang hal yang sudah diperbuat saudara-saudaranya itu.

qōlũ = mereka berkata; a-innaka = apakah sungguh-sungguh kamu; la anta = benar-benar kamu; yũsufu = Yusuf; qōla = dia menjawab; ana = aku; yũsufu = Yusuf; wa hãdzã = dan ini; akhĩ = saudaraku; qod = sungguh; mannallãhu = Allah telah melimpahkan karunia-Nya; ‘alaina = kepada Aku; innahũ = sesungguhnya; man = barang siapa; yattaqi = bertakwa; wa yashbir = bersabar; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yudhĩ’u = Dia tidak menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

qōlũ a-innaka la anta yũsufu, qōla ana yũsufu wa hãdzã akhĩ, qod mannallãhu ‘alaina, innahũ man yattaqi wa yashbir fa innallãha lã yudhĩ’u akhrol muhsinĩn.

90. Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf”. Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada Aku. Sesungguhnya, barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya masih belum yakin bahwa yang ditemuinya itu Yusuf, dan Yusuf menegaskan kebenaran dirinya sambil memberi pelajaran bahwa Allah memberikan karunia kepada orang-orang yang bertakwa, bersabar, dan berbuat baik.

qōlũ = mereka berkata; tallãhi = demi Allah; laqod = sesungguhnya; ãtsarokallãhu = Allah telah melebihkan kamu; ‘alainã = di atas Aku; wa in = dan sungguh; kunnã = Aku itu; la khōthi-ĩn = sungguh orang-orang yang berdosa.

qōlũ tallãhi laqod ãtsarokallãhu ‘alainã wa in kunnã la khōthi-ĩn.

91. Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas Aku, dan sesungguhnya, Aku itu orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf akhirnya menyadari kesalahan yang pernah dilakukannya kepada Yusuf. Allah Mahabijaksana dalam mengaruniakan ilmu, kebijaksanaan, dan keutamaan pada makhluk-Nya. Kesalahan dan dosa seseorang itu akibat kesalahan cara berpikir atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya atas sesuatu. Untuk menghindari kesalahan seperti ini, seseorang harus benar-benar mengikuti petunjuk dari Allah, dan memohon kepada Allah agar diberi petunjuk dan tidak tersesat.

qōla = (Yusuf) berkata; lã = tidak; tatsrĩba = cercaan; ‘alaikumu = kepadamu; al yauma = hari ini; yaghfirullãhu = Allah mengampuni; lakum = kepada kamu sekalian; wa huwa = dan Dia; arhamun = Maha Penyayang; ar rōhimĩn = para penyayang.
qōla lã tatsrĩba ‘alaikumul yaghfirullãhu lakum, wa huwa arhamur rōhimĩn.
92. Yusuf berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan kepadamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah fakta menjadi jelas, Allah melalui Yusuf menyampaikan pesan kepada saudara-saudaranya (hakekatnya kepada semua manusia) seperti yang tersurat dalam ayat ini. Tidak ada hinaan, ejekan, cercaan atas apa yang sudah diperbuat. Manusia selama masih dalam keadaan hidup, dan sadar harus selalu berharap pada kemurahan Allah mengampuni perbuatan masa lalu yang salah, bahkan yang dirasa tidak salah, juga permohonan mãf, ampun harus selalu disampaikan kepada Allah. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

adzhabũ = pergilah kamu sekalian; bi qomĩshĩ = dengan gamisku; hãdzã = ini; fa alqũhu = maka usapkanlah gamis itu; ‘alã = pada; wajhi = wajahnya; abĩy = bapakku; ya’ti = gamis itu akan menyebabkan; bashĩron = dapat melihat; wa’tũnĩ = dan bawalah kepadaku; bi ahlikum = dengan keluarga kamu sekalian; ajma’ĩn =seluruh, semua.

adzhabũ bi qomĩshĩ hãdzã fa alqũhu ‘alã wajhi abĩy ya’ti bashĩron wa’tũnĩ bi ahlikum ajma’ĩn.

93. Pergilah kamu dengan membawa gamisku lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti gamis itu akan menyebabkan dapat melihat kembali, dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf memerintah saudara-saudaranya membawa gamisnya agar diusapkan ke wajah bapaknya. Gamis itu akan menjadi sebab sembuh bapaknya dari kebutaan. Kemudian Yusuf meminta seluruh keluarganya di bawa ke hadapannya.

wa lammã = dan ketika; fasholati = telah berangkat (menuju); al ‘ĩru = kafilah; qōla = berkata; abũhum = bapak mereka; innĩ = sesungguhnya aku; la-ajidu = aku tercium (mendapati); rĩha = bau (angin); yũsufa = Yusuf; lau = kalau, sekiranya; lã = tidak; an = bahwa; tufannidũn = kamu menuduh aku lemah akal.

wa lammã fasholatil ‘ĩru qōla abũhum innĩ la-ajidu rĩha yũsufa, lau lã an tufannidũn.

94. Dan ketika kafilah itu telah berangkat menuju negeri Mesir, bapak mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduh aku lemah akal (tentu kamu membenarkannya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub merasakan keberadaan Yusuf, seperti tercium aroma badan Yusuf. Padahal kafilahnya baru saja keluar dari Mesir, masih jauh jarak Ya’qub dengan gamis .

qōlũ = (mereka, keluarganya) berkata; tallãhi = demi Allah; innaka = sesungguhnya Bapak; la fĩ = benar-benar dalam; dholãlika = kekeliruan; al qodiim = seperti dahulu.

qōlũ tallãhi innaka la fĩ dholãlikal qodiim.

95. Mereka, keluarganya berkata, demi Allah, sesungguhnya Bapak benar-benar dalam kekeliruan seperti dahulu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub menganggap apa yang dirasakan Ya’qub itu tidak benar, karena terlalu menyayangi Yusuf secara berlebihan.
fa lammã = maka ketika; an = bahwa; jã-a = telah datang; al basyĩru = pembawa kabar gembira; al qōhu = ia meletakkannya; ‘alã = pada; wajhihĩ = wajahnya (Ya’qub); fa artadda = lalu dia kembali; bashĩron = dapat melihat; qōla = (Ya’qub) berkata; alam = tidakkah; aqul = aku katakan; lakum = kepada kamu sekalian; innĩ = sesungguhnya aku; a’lamu = aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu sekalian mengetahui.

fa lammã an jã-al basyĩrul qōhu ‘alã wajhihĩ fa artadda bashĩron, qōla alam aqul lakum innĩ a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

96. Maka, ketika telah datang pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya gamis itu ke wajahnya (Ya’qub), lalu dia kembali dapat melihat. Ya’qub berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu sekalian ketahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembawa kabar gembira bahwa Yusuf masih hidup datang, dan gamis Yusuf saat diusapkan ke wajahnya, maka Ya’qub pun dapat melihat kembali. Dengan rasa gembira, Ya’qub berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” Allah memberitahu seseorang tentang sesuatu, orang lain tidak diberitahu tentang sesuatu itu. Orang lain harus percaya, ada seseorang yang diberitahu tentang sesuatu dari Allah.
qōlũ = mereka berkata; yã = wahai; abãnã = Bapak kami; as taghfir = mohonkanlah ampunan; lanã = bagi kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; innã = sesungguhnya kami; kunnã = kami adalah; khōthi-ĩn = orang-orang yang bersalah.

qōlũ yã abãnãs taghfir lanã dzunũbanã innã kunnã khōthi-ĩn.

97. Mereka berkata, “Wahai Bapak kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya, kami ini orang-orang yang bersalah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub mohon diampuni kesalahannya melalui bapaknya.

qōla = (Ya’qub) berkata; saufa = nanti; astaghfiru = aku akan memohonkan ampun; lakum = untuk kamu sekalian; robbĩ = kepada Rabku; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

qōla saufa astaghfiru lakum robbĩ, innahũ huwal ghofũrur rohĩm.

98. Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu sekalian kepada Rabku, Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub (sebagai Nabi) berjanji akan memohonkan ampun bagi anak-anaknya. Ya’qub percaya, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Apakah Allah mengampuni yang bersangkutan? Allah yang menetapkan.

fa lammã = maka ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alã = ke (tempat); yũsufa = Yusuf; ãwã = dia hampiri (merangkul); ilaihi = kepadanya; abawaihi = kedua orangtuanya; wa qōla = dan berkata; adkhulũ = masuklah tuan-tuan sekalian; mishro = negeri Mesir; insyã-allãhu = jika Allah mengendaki; ãminĩn = keadaan aman.

fa lammã dakholũ ‘alã yũsufa ãwã ilaihi abawaihi wa qōla adkhulũ mishro insyã-allãhu ãminĩn.

99. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia (Yusuf) merangkul dan (menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya, seraya berkata, “Masuklah tuan-tuan sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera masuknya keluarga Ya’qub ke negeri Mesir, tergambar kesiapan, kesantunan dan kesigapan Yusuf dalam menyambut kedatangan orang tuanya.
wa rofa’a = dan dia menaikkan; abawaihi = kedua orang tuanya; ‘alã = ke atas; al ‘arsyi = singgasananya; wa kharrũ = dan mereka tersungkur; lahũ = kepadanya; sujjadan = bersujud; wa qōla = dan (Yusuf) berkata; yã abati = wahai Bapakku; hãdzã = inilah; ta’wĩlu = takwil; ru’yãya = mimpiku; min qoblu = dahulu; qod = sungguh; ja’alahã = telah menjadikannya; robbĩ = Rabku; haqqon = kenyataan; wa qod = dan sesungguhnya; ahsana = Dia telah berbuat baik; bĩ = padaku; idz = ketika; akhrojanĩ = Dia mengeluarkanku; mina = dari; as sijni = penjara; wa jã-a = dan Dia datangkan; bikum = dengan kamu sekalian; mina = dari; al badwi = dusun; mim ba’di = dari sesudah; an nazagho = bahwa mengganggu; asy syaithōnu = setan; bainĩ = antara aku; wa baina = dan antara; ikhwatĩ = saudaraku; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; lathĩfun = Mahalemah-lembut; limã = terhadap apa; yasyã-u = Dia kehendaki; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Maha Bijaksana.
wa rofa’a abawaihi ‘alãl ‘arsyi wa kharrũ lahũ sujjadan, wa qōla yã abati hãdzã ta’wĩlu ru’yãya min qoblu qod ja’alahã robbĩ haqqon, wa qod ahsana bĩ idz akhrojanĩ minas sijni wa jã-a bikum minal badwi mim ba’di an nazaghosy syaithōnu bainĩ wa baina ikhwatĩ, inna robbĩ lathĩful limã yasyã-u, innahũ huwal ‘alĩmul hakĩm.
100. Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata: “Wahai Bapak, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya, Rabku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya, Rabku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara, dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh, Rabku Mahalembut dalam apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Mereka tunduk bersujud kepada Yusuf” artinya saudara-saudaranya yang sebelas orang itu sujud kepada Yusuf, orang tuanya patuh melaksanakan perintah Yusuf menduduki singgasananya. Itulah takwil mimpi Yusuf dahulu. Allah selalu berbuat baik kepada semua makhluk-Nya. Allah Mahalembut dalam segala apa yang dilakukan dan Yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala peri-laku makhluk-Nya. Allah Mahabijaksana dalam segala pelaksanaan-Nya.

robbi = Rabku; qod = sungguh; ãtaitanĩ = Engkau talah menganugerai aku; mina = dari; al mulki = kekuasaan, kerajaan; wa ‘allamtanĩ = dan Engkau ajarkan kepadaku; min = dari; ta’wĩli = takwil (pengertian); al ahãdĩtsi = mimpi; faathiro = Pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; anta = Engkau; waliyyĩ = Pelindungku; fĩddunyã = di dunia; wal ãkhiroti = dan akhirat; tawaffanĩ = Engkau wafatkan aku; musliman = sebagai orang Islam; wa alhiqnĩ = dan kumpulkan aku; bish shōlihĩn = bersama orang-orang saleh.

robbi qod ãtaitanĩ minal mulki wa ‘allamtanĩ min ta’wĩli al ahãdĩtsi faathiros samãwãti wal ardhi anta waliyyĩ fĩddunyã wal ãkhiroti, tawaffanĩ musliman wa alhiqnĩ bish shōlihĩn.

101. Rabkuǃ, sungguh Engkau telah menganugerahi aku sebagian kekuasaan dan mengajariku sebagian tentang takwil mimpi. Yaa Allah, Engkau Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah dalam keadaan Islam, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab:: Yusuf menyadari, dia telah dianugrahi sebagian kekuasan-Nya. Allah telah mengajari memahami sebagian takwil mimpi. Yusuf menyadari bahwa Allah itu Pencipta langit dan bumi. Dia melindunginya di dunia sampai akhirat. Yusuf memohon agar diwafatkan dalam keadaan Islam, dan memohon dikumpulkan bersma-sama dengan orang-orang saleh.
dzãlika = itulah; min ambã-i = berita-berita; al ghoibi = gaib; nũhĩhi = Aku wahyukan kisah itu; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan tidak; kunta = kamu berada; ladaihim = di samping mereka; idz = ketika; ajma’ũ = mereka berkumpul, bermufakat; amrohum = perkara mereka (mengatur memasukkan Yusuf ke dalam sumur); wa hum = dan mereka; yamkurũn = mereka mengatur tipu-muslihat.

dzãlika min ambã-il ghoibi nũhĩhi ilaika, wa mã kunta ladaihim idz ajma’ũ amrohum wa hum yamkurũn.

102. Itulah sebagian berita gaib yang diwahyukan kepadamu (Muhammad saw.), padahal engkau tidak berada di samping mereka, ketika mereka bermufakat mengatur tipu-muslihat, memasukkan Yusuf ke dalam sumur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf ini disampaikan melalui wahyu gaib kepada Nabi Muhammad saw.
wa mã = dan tidak; aktsarũ = kebanyakan; an nãsi = manusia; wa lau = meskipun; haroshta = kamu sangat mengiginkan; bi mu’minĩn = untuk beriman.

wa mã aktsarũn nãsi wa lau haroshta bi mu’minĩn.

103. Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, meskipun kamu sangat menginginkannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. bahwa kebanyakan manusia tidak akan percaya pada kisah yang diwahyukan itu, meskipun ia (Muhammad saw.) menginginkan untuk dipercaya.
wa mã = dan tidak; tas-aluhum = kamu meminta (kepada) mereka; ‘alaihi = atasnya; min = dari; ajrin = upah; in = tidak lain; huwa = dia; illã = kecuali; dzikrun = pelajaran, mengingat; lil’ãlamĩn = bagi (Pencipta) semesta alam.

wa mã tas-aluhum ‘alaihi min ajrin, in huwa illã dzikrul lil’ãlamĩn.

104. Dan kamu tidak meminta imbalan apa pun kepada mereka, hanya untuk seruan mengingat (Pencipta) alam ini.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan secara halus kepada seluruh manusia, bahwa Nabi Muhammad saw. itu tidak meminta upah apa pun untuk mengingat ada-Nya Pencipta alam ini. Mengingat Pencipta alam ini juga berarti mempelajari, mengingat alam dengan seluruh isinya, termasuk diri manusia masing-masing.
wa ka-ayyin = dan banyak sekali; min = dari; ãyatin = tanda-tanda; fi = di; as samãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; yamurrũna = mereka melalui; ‘alaihã = di dalamnya; wa hum = dan mereka; ‘anhã = darinya; mu’ridhũn = orang-orang yang berpaling.

wa ka-ayyim min ãyatin fis samãwãti wal ardhi yamurrũna ‘alaihã wa hum ‘anhã mu’ridhũn.

105. Dan banyak dari tanda-tanda di langit dan di bumi yang mereka alami, namun mereka berpaling darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan banyak tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan di bumi yang dilihat, didengar, dirasakan; namun banyak manusia yang tidak memikirkannya, tidak memperhatikannya, tidak memanfaatkannya, tidak menggunakannya dengan baik.
wa mã yu’min = dan tidak beriman; aktsaruhum = kebanyakan mereka; billãhi = kepada Allah; illã wa hum musyrikũn = bahkan mereka itu orang yang musyrik mempersekutukan-Nya.
wa mã yu’min aktsaruhum billãhi illã wa hum musyrikũn.

106. Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka mempersekutukannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terbukti nyata banyak manusia di muka bumi ini yang tidak mempercayai ada-Nya Allah, bahkan ada yang mempersekutukan dengan berbagai makhluk-Nya.
afa-aminũ = maka, apakah mereka merasa aman; an = untuk; ta’tiyahum = datang kepada mereka; ghōsyiyatun = yang meliputi; min = dari; ‘adzãbillãhi = azab Allah; au = atau; ta’tiyahumu = datang kepada mereka; asy syã’atu = (sa’at) kiamat; baghtatan = dengan tiba-tiba; wa = dan; hum = mereka; lã yasy’urũn = mereka tidak menyadari.

afa-aminũ an ta’tiyahum ghōsyiyatum min ‘adzãbillãhi au ta’tiyahumusy syã’atu baghtatan wa hum lã yasy’urũn.

107. Maka, apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, ketika mereka tidak menyadari?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan Allah kepada orang-orang yang masih belum mau beriman.
qul = katakanlah (wahai Muhammad saw.); hãdzihĩ = ini; sabĩlĩ = jalanku; ad’ũ = aku menyeru; ilã = kepada; allãhi = Allah; ‘alã = atas, dengan; bashĩrotin = keyakinan; ana = aku; wa mani = dan orang-orang yang …; at taba’anĩ = mengikutiku; wa sub hãnallãhi = dan Mahasuci Allah; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; mina = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul hãdzihĩ sabĩlĩ ad’ũ ilãllãhi, ‘alã bashĩrotin ana wa manit taba’anĩ, wa sub hãnallãhi wa mã ana minal musyrikĩn.

108. Katakanlah (wahai Muhammad saw.), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu menuju Allah dengan keyakinan. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang mengikutinya mengucapkan kata-kata seperti pada ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya.
wa mã = dan tidak; arsalnã = Aku mengutus; min qoblika = dari sebelum kamu; illã = kecuali; rijãlan = orang laki-laki; nũhĩy = Aku beri wahyu; ilaihim = kepada mereka; min = di antara; ahli = para penduduk; al qurō = negeri; afalam = maka apakah tidak; yasĩrũ = mereka bepergian; fil ardhi = di bumi; fa yanzhurũ = lalu mereka melihat; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘aqibatu = kesudahan, akibat; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; wa ladãrul akhĩroti = dan sungguh kampung akhirat; khoirun = lebih baik; al lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; at taqau = mereka yang takwa; afalã = maka apakah tidak; ta’qilũn = kamu sekalian memikirkan.

wa mã arsalnã min qoblika illã rijãlan nũhĩy ilaihim min ahlil qurō, afalam yasĩrũ fil ardhi fa yanzhurũ kaifa kãna ‘aqibatul ladzĩna min qoblihim,wa ladãrul akhĩroti khoirul lilladzĩnat taqau, afalã ta’qilũn.

109. Dan Aku tidaklah mengutus dari sebelum kamu, melainkan orang-orang yang Aku beri wahyu di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian, lalu mereka melihat, bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul). Sungguh negeri akhirat itu, lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?
`
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, mengingatkan bahwa sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, Beliau pernah mengutus Rasul ke penduduk sebuah negeri yang mendustakannya. Kesudahannya mereka dimusnahkan. Allah juga mengingatkan bahwa negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Kita harus mengerti wahyu Allah.

hattã = sehingga; idzãstanasa = jika putus asa; ar rusulu = para Rasul; wa zhonnũ = dan mereka meyakini; annahum = bahwa mereka; qod kudzibũ = sungguh telah didustakan; jã-ahum = kedatangannya kepada mereka; nashrunã = pertolongan-Ku; fanujjiya = lalu dislamatkan; man = orang-orang yang; nasyã-u = Aku kehendaki; wa lã yuroddu = dan tidak ditolak; ba’sunã = siksa-Ku; ‘anil qoumi = dari kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

hattã idzãstanasar rusulu wa zhonnũ annahum qod kudzibũ jã-ahum nashrunã fanujjiya man nasyã-u, wa lã yuroddu ba’sunã ‘anil qoumil mujrimĩn.

110. Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (keimanan penduduknya), dan telah meyakini, mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan-Ku, lalu diselamatkan orang-orang yang Aku kehendaki. Siksa-Ku tidak bisa ditolak bagi orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memberi kesempatan agar orang mau beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Namun, jika sudah tidak ada harapan lagi, maka Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman, dan memberi azab bagi orang-orang yang mendustakan-Nya.

laqod = sungguh; kãna = adalah; fĩ = pada; qoshoshihim = kisah-kisahnya; ‘ibrōtun = pengajaran; li ũlil albãbi = bagi yang berakal; mã kãna = tidak; hadĩsan = ceritera-ceritera; yuftarō = dibuat-buat; wa lãkin = akan tetapi; tashdiqu = membenarkan; al ladzĩ = (Kitab-kitab) yang; baina yadaihi = pada sebelumnya; wa tafshĩla = dan menjelaskan; kulli = segala; syai-in = sesuatu; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; li qaumin = bagi kaum; yu’minũn = yang beriman.

laqod kãna fĩ qoshoshihim ‘ibrōtul li ũlil albãbi, mã kãna hadĩsan yuftarō wa lãkin tashdiqul ladzĩ baina yadaihi wa tafshĩla kulli syai-in wa hudan wa rohmatal li qaumin yu’minũn.

111. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu, terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukan ceritera yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (Kitab-kitab) sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah para Nabi (orang-orang suci) di dalam Alquran tidak dibuat oleh Nabi Muhammad saw. Kisah-kisah di dalam Alquran itu membenarkan, menjelaskan, memperbaiki, memberi petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang mempercayainya.

Leave a Reply