Home » 2019 » October (Page 2)

Monthly Archives: October 2019

010 Yunus

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Yunus
Kisah Nabi Yunus: Makiyah; kecuali ayat 40, 94, 95 Madaniyah
Surat ke 10, 109 ayat
Juz 11 beralih ke Juz 12 di Surat Hud, 11: 6

Catatan Awal
Surat ini berisi kisah Nabi Allah Yunus a.s. beserta para pengikutnya yang beriman teguh, dan ada yang tidak beriman. Selain itu ada kisah Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dengan Firaun dan tukang-tukang sihirnya; dan kisah Bani Israil setelah keluar dari Mesir. Kisah para Nabi ini sebagai tamsil dan ibarat bagi kehidupan sekarang. Menegaskan keimanan pada Alquran itu benar, dan bukan sihir; Alquran tidak bisa ditandingi dengan karya-karya lain. Rasul hanya disuruh menyampaikan Risalah-Nya. Allah mengatur alam semesta di Arasy. Syafaat hanya atas izin Allah, para Nabi, dan para Wali Allah; Kegaiban Allah dijelaskan dengan diturunkannya Alquran ini yang dijamin murni. Allah menyaksikan dan mengamat-amati seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak. hukum: Allah menetapkan perhitungan waktu berdasarkan peredaran matahari dan bulan; Larangan mengada-adakan sesuatu atas Allah, dan larangan mendustakan ayat-ayat Allah. Kisah lainnya: Sifat manusia ada yang hanya ingat kepada Allah ketika mereka dalam keadaan susah, dan melupakan-Nya ketika mereka senang; Ada kisah orang-orang yang ketika di dunia berkelaku an baik dan yang berkelaku an jelek tampak di Hari Kiamat. Ada penyesalan bagi orang-orang yang tidak mengAku i adanya Allah dan Rasul-rasul-Nya.

a’udzu billãhi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
alif lãm rō = Allah Mahatahu maknanya; allahu = Allah; lã roibba = tidak ada keraguan; fihi = pada-Nya; tilka = ini; ãyãtu = ayat-ayat; al kitãbi = Alkitab; al hakĩm = hikmah (mengandung banyak ilmu).
allahu lã roibba fihi, tilka ãyãtul kitãbil hakĩm
1. Allah Mahatahu maknanya, Allah tidak ada keraguan pada-Nya; inilah ayat-ayat Alkitab yang penuh hikmah (mengandung banyak ilmu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alif lãm rã dapat dipanjangkan, disamping yang tersebut di atas, dengan Allãhu lã rodda = Allah keberadaan-Nya tak terbantah. Allah mengajari manusia berbahasa lisan dan tulisan. Pelajarilah beraneka bahasa sedini mungkin, untuk dapat berhubungan dengan sesama manusia agar dapat bekerjasama mendapatkan berbagai ilmu. Ayat-ayat Allah itu banyak mengandung ilmu. Pelajarilah, kembangluaskan!!! Besarkanlah Allah dengan karya-karyamu. Dalam Surat Al Baqarah, 2 : 2, 3, 4 Alquran merupakan petunjuk dari Allah untuk orang-orang yang takwa. Dalam Surat Ali Imran, 3 : 3, 4 Alquran membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Injil, Al Furqōn (Zen Avesta, Tao Te Ching, Tripitaka, dan Weda?). Dalam Surat Al A’rãf, 7 : 2 Alquran untuk memberi peringatan bagi orang-orang kafir, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

akaana = adakah (patutkah); linnãsi = bagi manusia; ‘ajaban = keheranan; an auhainã = ketika Aku mewahyukan; ilã = kepada; rojulin = seorang laki-laki; min = dari; hum = mereka; an andziri = agar ia (Muhammad saw.) memberi peringatan; an nãsa = manusia; wa basysyĩri = dan gembirakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; anna = bahwa; lahum = bagi mereka; qodama = kedudukan; shidqin = yang benar (tinggi); ‘inda = di hadapan; Robihim = Rob mereka; qōla = berkata; al kãfirũna = orang-orang kafir; inna = sesungguhyna; hãdzã = ini; lasãhirun = sungguh tukang sihir; mubĩn = yang nyata.

akaana linnãsi ‘ajaban an auhainã ilã rojulim min hum an andzirin nãsa wa basysyĩril ladzĩna ãmanũ anna lahum qodama shidqin ‘inda Robihim, qōlal kãfirũna inna hãdzã lasãhirum mubĩn.
2. Patutkah bagi manusia menjadi keheranan, ketika Aku mewahyukan kepada seorang laik-laki dari golongan mereka: “Berilah peringatan kepada manusia, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman, bagi mereka berkedudukan tinggi di hadapan Rob mereka.” Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya (Muhammad saw.) ini tukang sihir yang nyata.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada orang-orang di sekitar kehidupan Nabi Muhammad saw., ketika Dia mewahyukan kepadanya (memerintah memberi) peringatan dan berita gembira bagi manusia yang beriman. Ternyata orang-orang menjadi terheran-heran, dan orang-orang kafir mempunyai prasangka jelek. Mereka menganggap Nabi Muhammad saw. sebagai tukang sihir. Nabi Sulaiman a.s. (Q.s. Al Baqarah, 2 : 102), Nabi Isa a.s. (Al Maidah, 5: 110) juga dianggap tukang sihir oleh orang-orang yang tidak mempercayai beliau-beliau itu diutus oleh Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan diberi kedudukan tinggi di hadapan Allah.

inna = sungguh Aku ; robbãkuullahu = Tuhan kamu adalah Allah; al ladzĩ = Dia Yang …; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; fĩ sittati = dalam enam; ayyaamin = masa; tsumma = kemudian; istawã = Dia bersemayam; ‘alal ‘arsyĩ = di Arasy; yudabbiru = Dia mengatur; al amro = segala urusan; mã min syafĩ’in = tidak seorang pemberi safaat; illã = kecuali; mim ba’di = dari sesudah; idznihi = izin-Nya; dzãlikumullãhu = demikian itulah Allah; Robukum = Rob kamu; fa’budũhu = maka sembahlah Dia; afalã = apakah tidak; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
inna robbakuullahul ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardho fĩ sittati ayyaamin tsummastawã ‘alal ‘arsyĩ, yudabbirul amro, mã min syafĩ’in illã mim ba’di idznihi dzãlikumullãhu Robukum fa’budũhu, afalã tadzakkarũn.
3. Sungguh Aku , Rob kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tidak seorang pun yang memberi safaat kecuali setelah ada izin-Nya. Demikian itulah Allah, Rob kamu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Hitungan satu masa menurut perhitungan manusia di bumi meliputi jutaan tahun, Allah Yang Maha Mengetahui ketetapan-Nya, yaitu: 1. Masa Allah meniupkan udara yang bercampur dengan api, air, tanah, dan ruhullah berupa cahaya, berproses dengan cara berputar-putar, melingkar-lingkar; 2. Masa proses pengembunan, penyatuan dan pemisahan udara, air, api, tanah dan cahayanya; 3. Masa proses pencairan, penyatuan dan pemisahan air, udara, api, tanah dan cahaya; 4. Masa proses pemadatan, pendinginan tanah, pemisahan, dan penyatuan air, udara, api dan cahaya; 5. Masa proses pendinginan dan penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, pemisahan dan penyatuan tanah, udara, api, air dan cahaya; 6. Masa proses penciptaan manusia setelah pemisahan, pemadatan, dan penyatuan tanah, udara, api, cahaya, dan air semuanya siap, pas situasi dan kondisinya dengan fisik manusia. Proses pendinginan, pemisahan dan penyatuan api, cahaya, air, udara, dan tanah terus berlangsung. Manusia dengan ilmu yang diberi dan diizinkan Allah untuk digunakan, berupaya untuk mengelola dan menguasai dengan baik tanah (dengan mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatangnya), air, api, cahaya, udara agar kegunaannya efektif, lebih baik, lebih bermanfaat, terjaga, tertata dengan tertib dan teratur sampai akhir jaman. Allah bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan langit dan bumi. Makhluk-Nya memberi safaat kepada makhluk lain (saling membantu) atas izin-Nya. Allah memerintah agar semua makhluk-Nya, khususnya manusia, agar menyembah hanya kepada Allah. Semua kejadian di alam semesta ini harus menjadi pelajaran oleh manusia untuk kepentingan hidupnya.Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1 : 2; Q.s. Al A’rãf, 7 : 54; Q.s. Hud, 11 : 7; Q.s. al Furqon, 25 : 59; Q.s. as Sajdah, 32 : 4; Q.s. Qōf, 50 : 38; Q.s. al Hadid, 57 : 4; Q.s. An Nazi’at, 79 : 27; Q.s.Asy Syams, 91 : 5-10.
Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyaa’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
ilaihi = kepada-Nya; marji’ukum = tempat kembalimu; jamĩ’ãn = semuanaya; wa’dallãhi = janji Allah; haqqōn = benar; innahũ = sesungguhnya Dia; yabda’u = Dia memulai menciptakan; al khalqo = makhluk; tsumma = kemudian; yu’ĩduhũ = Dia mengembalikan; liyajziya = karena Dia hendak memberi balasan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; bil qisthi = dengan adil; walladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; lahum = bagi mereka; syarōbun = (disediakan) minuman; min = dari; hamĩmin = air mendidih; wa ‘adzãbun = dan azab; alĩmun = yang pedih; bimã = karena; kaanũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka kafir.
ilaihi marji’ukum jamĩ’ãn, wa’dallãhi haqqōn, innahũ yabda’ul khalqo tsumma yu’ĩduhũ liyajziyal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti bil qisthi, walladzĩna kafarũ lahum syarōbum min hamĩmin wa ‘adzãbun alĩmum bimã kaanũ yakfurũn.
4. Kepada-Nya tempat kembali kamu semua, sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya, Dia menciptakan makhluk pada awalnya, kemudian Dia mengembalikannya, karena Dia hendak memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh dengan adil. Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang mendidih, dan azab yang pedih karena mereka kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia, Beliau menciptakan berbagai makhluk, dan yang terakhir makhluk manusia dengan sebuah perjanjian yang harus ditepati. Segala makhluk akan kembali kepada-Nya pada saatnya, dan akan diberi balasan sesuai dengan perbuatannya.
huwalladzĩ = Dia lah yang; ja’ala = menjadikan; asy syamsa = matahari; dhiyaa-an = bersinar; wal qomaro = dan bulan; nũron = bercahaya; wa qoddarohũ = dan Dia menetapkannya; manãzila = tempat-tempat beredar; li ta’lamũ = agar kamu mengetahui; ‘adada = bilangan; as sinĩna = tahun; wal hisãba = dan perhitungan; mã kholaqollãhu = Allah tidak menciptakan; dzãlika = demikian itu; illã = kecuali; bil haqqi = dengan hak; yufashshilu = Dia menjelaskan; al ãyaati = tanda-tanda (kebesaran)-Nya; li qoumin = kepada kaum; ya’lamũn = mereka mengetahui.
huwalladzĩ ja’alasy syamsa dhiyaa-an wal qomaro nũron wa qoddarohũ manãzila li ta’lamũ ‘adadas sinĩna wal hisãba, mã kholaqollãhu dzãlika illã bil haqqi yufashshilul ãyaati li qoumin ya’lamũn.
5. Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tetapkan tempat-tempat beredarnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu, kecuali dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran)-Nya kepada kaum yang mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan segala sesuatu (api, air, udara, tanah, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, manusia, matahari, bulan, bintang) ada maksud dan tujuan-Nya. Salah-satunya menjelaskan kebesaran dan kekuasan-Nya. Harus menjadi ilmu yang beraneka macam. Makhluk-Nya agar berbakti hanya kepada-Nya. Semuanya harus menjadi obyek belajar, menjadi bahan penelitian, dicari manfaatnya. Makna bahasanya juga menjadi ladang ilmu yang luas. Semuanya untuk kepentingan hidup manusia.
inna = sesungguhnya; fikhtilãfi = pada pertukaran; al laili = malam; wan nahãri = dan siang; wa mã = dan apa; kholaqollãhu = Allah menciptakan; fissamãwãti = di langit; wal ardhi = dan bumi; la ayaatin = sungguh tanda-tanda; li qoumin = bagi kaum; yattaqũn = mereka bertakwa.
inna fikhtilãfil laili wan nahãri wa mã kholaqollãhu fissamãwãti wal ardhi la ayaatil li qoumin yattaqũn.
6. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, sungguh ada tanda-tanda bagi orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Waktu pagi, siang, sore, malam, dan segala apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi menjadi ayat-ayat yang harus diperhatikan, dan menjadi pelajaran, menjadi ilmu yang banyak, dan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang bertakwa.
innal ladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; la yarjũna = mereka tidak mengharapkan; liqō-anã = pertemuan dengan Kami; wa rodhũ = dan mereka rido; bil hayaati = dengan kehidupan; ad dunyaa = dunia; wathma-annũ = dan merasa tenteram; bihã = dengannya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; hum = mereka; ‘an ãyaatinã = dari ayat-ayat Kami; ghōfilũn = orang-orang yang lalai.
innal ladzĩna la yarjũna liqō-anã wa rodhũ bil hayaatid dunyaa wathma-annũ bihã wal ladzĩna hum ‘an ãyaatinã ghōfilũn.
7. Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan mereka merasa puas dengan kehidupan dunia, serta merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan Allah bagi orang-orang yang tidak mengharapkan adanya pertemuan dengan-Nya, orang-orang yang cukup merasa senang dengan kehidupan di dunia saja, dan melalaikan ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah yang lainnya. Manusia dianjurkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk menjadi pengetahuan yang berguna dalam menjalani hidupnya dengan berbagai kepentingannya. Jangan sampai melalaikan ilmu yang diperlukan untuk berbagai keperluan hidupnya di dunia dan di akhirat.
ũlã-ika = mereka itu; ma’wãhumui = tempat mereka; an nãru = api neraka; bimã = dengan apa (disebabkan); kaanũ = mereka adalah; yaksibũn = mereka kerjakan.
ũlã-ika ma’wãhumun nãru bimã kaanũ yaksibũn.
8. Mereka itu tempatnya di api neraka karena apa yang sudah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan penegasan akibat dari orang-orang yang mengabaikan kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan di dunia ini, sangat melimpah-ruah kesenangan. Namun, jangan terlalu terbuai oleh kesenangan dunia. Harus dikelola dengan baik dan teliti, agar manfaatnya meningkat, dan menciptakan kesejahteraan, keamanan, ketenteraman, kedamaian, kepuasan. Kita harus banyak mengingat kehidupan di dunia ini, untuk tujuan akhirat. Kita harus berupaya untuk menjalankan akhlak mulia, mengikuti sunah dan hadits Rasulullah Muhammad saw. dengan Alquran yang diwahyukan Allah kepadanya.
innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; yahdĩhim = mereka diberi petunjuk; Robuhum = Rob mereka; bi ĩmaanihim = dengan keimanan mereka; tajrĩ = mengalir; min tahtihimu = dari bawah mereka; al anhãru = sungai-sungai; fĩ jannãtin = dalam surga; na’ĩm = kenikmatan.
innalladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti yahdĩhim Robbuhum bi ĩmaanihim, tajrĩ min tahtihimul anhãru fĩ jannãtin na’ĩm.
9. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rab mereka karena keimanan mereka, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga kenikmatan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini berulang-ulang dinyatakan dalam berbagai variasinya, menjadi peringatan bagi pembacanya sejak awal.

da’wãhum = doa mereka; fĩ hã = di dalam sorga; sub-hanaka = Mahasuci Engkau; allãhumma = yaa Allah; wa tahiyyatuhum = dan salam penghormatan mereka adalah; fĩhã = di dalamnya; salãmun = salam sejahtera; wa ãkhiru = dan penutup akhir; da’wãhum = doa mereka; ani = adalah; al hamdulillãhi = segala puji bagi Allah; Robil ‘alamĩn = Penguasa seluruh alam.
da’wãhum fĩ hã sub-hanakallãhumma wa tahiyyatuhum fĩhã salãmun, wa ãkhiru da’wãhum anil hamdulillãhi Robil ‘alamĩn.
10. Doa mereka di dalam surga: “Mahasuci Engkau ya Allah”, dan salam penghormatan mereka: “salam sejahtera”, dan penutup doa mereka adalah: “segala puji bagi Allah Robil ‘alamin.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajari doa yang disukai-Nya kepada manusia yang menyukai-Nya.

wa lau = dan kalau; yu’ajjilullãhu = Allah menyegerakan; linnãsi = bagi manusia; asy syarro = kejahatan; isti’jãlahum = permintaan penyegeran mereka; bil khoiri = dengan kebaikan; laqudhiya = pasti diakhiri; ilaihim = kepada mereka; ajaluhum = ajal (umur) mereka; fa nadzaru = maka (akan tetapi) Aku biarkan; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yarjũna = mereka tidak mengharapkan; liqō-anã = pertemuan dengan Kami; fĩ thughyaanihim = dalam kesesatan mereka; ya’mahũn = mereka bingung.
wa lau yu’ajjilullãhu linnãsi asysyarrosti’jãlahum bil khoiri laqudhiya ilaihim ajaluhum, fa nadzarul ladzĩna lã yarjũna liqō-anã fĩ thughyaanihim ya’mahũn.
11. Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia (seperti) permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Akan tetapi, Aku biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung dalam kesesatan mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia, segala apa yang dilaku kan selalu diperhatikan-Nya. Manusia jangan sesat dalam mengikuti petunjuk dan peringatan-Nya. Manusia diberi hak hidup agar ada kesempatan untuk bertobat atas berbagai kesalahannya.

wa idzã = dan bila; massa = menimpa; al insaana = manusia; adh dhurru = bahaya; da’ãnã = dia berdoa kepada-Ku; lijambihĩ = dalam keadaan berbaring; au qōimaan = atau berdiri; fa lammã = maka setelah; kasyafnã = Aku hilangkan; ‘anhu = darinya; dhurrohũ = bahayanya; marro = dia melalui; ka-al lam = seakan-akan tidak; yad’unã = dia berdoa kepada Kami; ilã = untuk; dhurrin = bahaya; massahũ = menimpanya; kadzãlika = seperti demikianlah; zuyyina = memandang baik; lilmusrifĩna = bagi orang-orang yang melampaui batas; mã kaanũ = apa yang mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa idzã massal insaanadh dhurru da’ãnã lijambihĩ au qō’idan au qōimaan fa lammã kasyafnã ‘anhu dhurrohũ marroka-al lam yad’unã ilã dhurrim massahũ, kadzãlika zuyyina lilmusrifĩna mã kaanũ ya’malũn.
12. Dan bila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Aku dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, maka setelah bahaya itu Aku hilangkan darinya, dia kembali melalui (jalan sesat), seakan-akan dia tidak pernah berdoa kepada Aku untuk bahaya yang pernah menimpanya. Seperti demikianlah, orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik, apa yang selalu mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada manusia, berdoa itu harus dalam keadaan apapun, senang, susah, sedih, ketAku tan, marah, sengsara, sejahtera, bahagia, dan lain-lain. Doa itu menandakan adanya keimanan seseorang. Iman harus ditingkatkan terus dengan rajin belajar, bekerja, berjuang untuk suatu tujuan yang suci, atas nama Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; ahlaknã = telah Aku binasakan; al qurũna = kurun turunan (umat-umat); minqoblikum = dari sebelum kamu; lammã = ketika; zholamũ = mereka berbuat lalim; wa jã-at-hum = padahal telah datang kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinãti dengan keterangan-keterangan yang nyata; wa mã kaanũ = mereka tidak ada; li yu’minũ = hendak beriman; kadzãlika = seperti demikianlah; najzĩ = Akumemberi balasan; al qouma = kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa laqod ahlaknãl qurũna minqoblikum lammã zholamũ, wa jã-at-hum rusuluhum bil bayyinãti wa mã kaanũ li yu’minũ, kadzãlika najzĩl qoumal mujrimĩn.
13. Dan sesungguhnya Aku telah membinasakan umat-umat sebelum kamu ketika mereka berbuat lalim, padahal Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman. Seperti demikianlah, Akumemberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, dengan menceriterakan umat-umat yang terdahulu, yang dibinasakan karena mereka tidak mau percaya, tidak mau menjalankan petunjuk-petunjuk para Rasul Allah.

tsumma = kemudian; ja’alnãkum = Akumenjadikan kamu; kholã-ifa = khalifah (pengganti-pengganti); fil ardhi = di bumi; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; linanzhuro = supaya Akumemperhatikan; kaifa = bagaimana; ta’malũn = kamu beramal.
tsumma ja’alnãkum kholã-ifa fil ardhi mim ba’dihim linanzhuro kaifa ta’malũn.
14. Kemudian Aku jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Aku dapat memperhatikan, bagaimana kamu berbuat (beramal).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia-manusia sekarang ini sebagai pengganti manusia-manusia masa lalu yang tidak mau percaya, tidak mau menjalankan petunjuk-petunjuk Allah melalui para Rasul-Nya. Manusia-manusia sekarang harus lebih baik dari manusia-manusia masa lalu. Manusia-manusia sekarang harus mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-rasul-Nya.

wa idzã = dan jika; tutlã = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyaatunã = ayat-ayat Kami; bayyinãtin = yang nyata; qōla = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yarjũna = (mereka) tidak mengharapkan; liqō-‘ana = perjumpaan dengan-Ku; i’ti = datangkanlah; bi qur’ãnin = dengan Alquran; ghoiri = selain; hãdzã = ini; au baddilhu = atau gantilah ia; qul = katakanlah; mã yakũnu = tidak pantas; lĩ = bagiku; an ubaddilahũ = Aku untuk menggantinya; min tilqō-i = dari pihakku; nafsĩ = diri sendiri; in attabi’u = tidaklah Aku mengikuti; illã = kecuali; mã yũhã = apa yang diwahyukan; ilayya = kepada-Ku; innĩ = sesungguhnya Aku ; akhōfu = Aku tAku t; in = jika; ‘ashoitu = Aku mendurhakai; Robĩ = Robku; ‘adzãba = siksa; yaumin ‘azhĩm = Hari Kiamat.
wa idzã tutlã ‘alaihim ãyaatunã bayyinãtin, qōlal ladzĩna lã yarjũna liqō-‘ana’ti bi qur’ãnin ghoiri hãdzã au baddilhu, qul mã yakũnu lĩ an ubaddilahũ min tilqō-i nafsĩ in attabi’u illã mã yũhã ilayya, innĩ akhōfu in ‘ashoitu Robĩ ‘adzãba yaumin ‘azhĩm
15. Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Ku yang nyata, berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan-Ku: “Datangkanlah Alquran yang selain ini, atau gantilah ia.” Katakanlah: “Tidak pantas bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri, tidaklah aku mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya, aku takut, jika aku mendurhakai Robku dan terkena siksa Hari Kiamat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan orang-orang yang tidak percaya pada Hari Pertemuan dengan Allah (Hari Kiamat), dan memberitahu bagaimana menjawab persoalan yang disampaikannya.

qul = katakanlah; lau = kalau; syaa-allãhu = Allah menghendaki; mãtalautuhũ = tidak kubacakan dia (ayat); ‘alaikum = kepadamu; wa lã = dan tidak; adrōkum = Dia beritahukan kepadamu; bihĩ = dengannya; faqod = maka sesungguhnya; labisytu = Aku telah tinggal; fĩkum = bersamamu; ‘umuron = beberapa masa; min qoblihĩ = dari sebelumnya; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu berpikir.
qul lau syaa-allãhu mãtalautuhũ ‘alaikum wa lã adrōkum bihĩ, faqod labisytu fĩkum ‘umurom min qoblihĩ, afalã ta’qilũn
16. Katakanlah: “Kalau Allah menghendaki, tentu tidak kubacakan dia kepadamu, dan Dia (juga) tidak memberitahukannya kepadamu.” Maka sesungguhnya Aku telah tinggal beberapa masa yang lalu sebelumnya. Maka, apakah kamu tidak berpikir?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman sesudahnya (masa sekarang) untuk mengatakan seperti yang diwahyukan pada ayat 16 ini.
faman = maka siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimani = dari orang; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = dusta; au kadzdzaba = atau dia mendustakan; bi-ãyaatihĩ = terhadap ayat-ayat-Nya; innahũ = sesungguhnya dia; lã yuflihu = tidak beruntung; al mujrimũn = orang-orang yang berbuat dosa.
faman azhlamu mimanif tarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi-ãyaatihĩ, innahũ lã yuflihul mujrimũn
17. Maka siapakah yang lebih lalim dari pada orang yang mengadakan dusta kepada Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, orang-orang yang berbuat dosa itu tidaklah beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya, mereka itu orang-orang yang berbuat dosa. Mereka itu orang-orang yang tidak beruntung.

wa ya’budũna = dan mereka yang menyembah; min dũni = dari selain; allãhi = Allah; mã lã = sesuatu yang tidak; yadhurruhum = memberi mudarat kepada mereka; wa lã = dan tidak; yanfa’uhum = dan memberi manfaat kepada mereka; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; hã-ulã-i = mereka itu; syufa’ã-unã = pemberi safaat kepada mereka; indallãhi = di hadapan Allah; qul = katakanlah; atunabbi-ũna = apakah kamu mengabarkan; allãha = Allah; bimã = dengan apa; lã ya’lamũ = tidak Dia ketahui; fĩs samãwãti = di langit; wa lã fil ardhi = dan tidak di bumi; sub-hãnahu = Mahasuci Dia; wa ta’ãlã = dan Mahatinggi; ‘amã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka perserikatkan.
wa ya’budũna min dũnillãhi mã lã yadhurruhum wa lã yanfa’uhum wa yaqũlũna hã-ulã-i syufa’ã-unã indallãhi, qul atunabbi-ũnallãha bimã lã ya’lamũ fĩs samãwãti wa lã fil ardhi, sub-hãnahu wa ta’ãlã ‘amã yusyrikũn.
18. Dan mereka menyembah selain dari Allah, sesuatu yang tidak memberi mudarat, dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu pemberi safaat kepada-Kudi hadapan Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan apa yang tidak diketahui Allah di langit dan di bumi?” Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman tentang perilaku orang-orang kafir, dan apa yang harus dikatakan kepada mereka yang mengemukakan alasan, mengapa mereka menyembah selain Allah.
wa mã kaana = dan tidak ada; an nãsu = manusia; illã = kecuali; ummatan = umat; wãhidatan = satu; fahtalafũ = lalu mereka berselisih; walau lã = dan kalau tidak; kalimatun = kata (ketetapan); sabaqot = terdahulu; mir Robika = dari Rab kamu; laqudhiya = pasti telah diputuskan; bainahum = di antara mereka; fĩmã = tentang apa; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.
wa mã kaanan nãsu illã ummatan wãhidatan fahtalafũ walau lã kalimatun sabaqot mir Robika laqudhiya bainahum fĩmã fĩhi yakhtalifũn.
19. Dan tidak ada manusia (dahulunya), kecuali hanya satu umat, lalu mereka berselisih. Kalau tidak karena ada ketetapan yang terdahulu dari Rab kamu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pemberitahuan Allah kepada umat-Nya yang percaya kepada-Nya. Ada perselisihan di antara manusia, yaitu masalah ada-Nya Allah. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya.
wa yaqũlũna = dan mereka berkata; lau lã = mengapa tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; ãyatum = suatu ayat (keterangan); mir Robihĩ = dari Robnya; fa qul = maka katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; al ghoibu = yang gaib; lillãhi = milik Allah; fantazhirũ = maka tunggulah olehmu; innĩ = sesungguhnya Aku ; ma’Akum = bersamamu; min = dari (termasuk); al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.
wa yaqũlũna lau lã unzila ‘alaihi ãyatum mir Robihĩ, fa qul innamãl ghoibu lillãhi fantazhirũ innĩ ma’Akum minal muntazhirĩn.
20. Dan mereka bertanya: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad saw.) suatu ayat dari Rabnya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya, yang gaib itu milik Allah, maka tunggulah olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu, termasuk orang-orang yang menunggu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat artinya mu’zijat. Mu’zijat yang gaib dari Allah itu diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Tunggulah dengan penuh iman kepada-Nya.

wa idzã = dan bila; adzaqna = Aku beri rasakan; an nãsa = manusia; rohmatan = suatu rahmat; min = dari; ba’di = sesudah; dhorrō-a = bahaya; massat-hum = menimpa mereka; idzã = tiba-tiba; lahum = dari mereka; makrun = tipu-daya; fĩ ãyaatinã = pada ayat-ayat Kami; quli = katakan; illãhu = Allah; asrō’u = lebih cepat; makron = tipu-daya; inna = sesungguhnya; rusulanã = utusan-utusan Kami; yaktubũna = mereka menulis; mã = apa; tamkurũna = kamu tipu-dayakan.
wa idzã adzaqnaan nãsa rohmatam mim ba’di dhorrō-a massat-hum idzã lahum makrun fĩ ãyaatinã qulillãhu asrō’u makron, inna rusulanã yaktubũna mã tamkurũna.
21. Dan bila Aku beri rasa kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datang) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu-daya untuk (menentang) ayat-ayat-Ku. Katakanlah: “Allah lebih cepat (membalas) tipu-daya.” Sesungguhnya, utusan Malaikat-Ku (selalu) menulis apa yang kamu tipu-dayakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan tentang sifat manusia, ada yang selalu tidak mau menerima ayat-ayat Allah yang selalu datang kepadanya berupa berbagai kenikmatan dan bahaya. Kalau tidak beriman, mereka membuat tipu-daya, mengolok-olokkan ayat-ayat Allah itu. Allah mengingatkan, apa yang diolok-olokkan atas ayat-ayat Allah itu, ada malaikat yang mencatatnya. Orang yang beriman, saat menghadapi bahaya maupun rahmat (misalnya kesenangan) akan selalu ingat bahwa segala sesuatu itu, baik kesenangan, kesusahan, kebaikan, keburukan, keindahan, kejelekan asalnya dari Allah.

Huwa = Dia; al ladzĩ = yang; yusayyirukum = menjadikan kamu dapat berjalan; fil barri = di darat; wal bahri = dan di laut; hattã = sehingga; idzã = bila; kuntum = kamu adalah; fil fulki = di dalam bahtera; wa jaraina = dan meluncurlah; bihim = dengan mereka; bi rĩhin = dengan angin; thoyyibatin = yang baik; wa farihũ = dan mereka bergembira; bihã = karenanya; jã-atahã = datang kepadanya; rĩhun = angin; ‘ashifun = topan; wa jã-ahumu = dan menimpa mereka; al mauju = gelombang; min kulli = dari setiap (segenap); makaanin = tempat (penjuru); wa zhonnũ = dan mereka mengira; annahum = bahwa mereka; uhĩtho = terliputi (terkepung); bihim = dengan mereka; da’allãha = berdoa (kepada) Allah; mukhlishĩna = mengikhlaskan; lahu = kepada-Nya; addĩna = ketaatan agama; la-in = sesungguhnya jika; anjaitanã = Engkau menyelamatkan kami; min hãdzihĩ = dari ini; lanakũnanna = pastilah Akumenjadi; mina = dari (termasuk); asy syaakirĩn = orang-orang yang bersyukur.
huwal ladzĩ yusayyirukum fil barri wal bahri, hattã idzã kuntum fil fulki wa jaraina bihim birĩhin thoyyibatin wa farihũ bihã jã-atahã rĩhun ‘ashifun wa jã-ahumul mauju min kulli makaanin wa zhonnũ annahum uhĩtho bihim, da’allãha mukhlishĩna lahuddĩna la-in anjaitanã min hãdzihĩ lanakũnanna minasy syaakirĩn.
22. Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di darat dan di laut, sehingga bila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah ia membawa mereka dengan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, (tiba-tiba) datanglah badai dan gelombang dari segenap penjuru menimpa mereka, dan mereka mengira, mereka telah terkepung bahaya, lalu mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata (dan berkata): “Sesungguhnya, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang memungkinkan makhluk, khususnya manusia untuk dapat bepergian melalui darat, laut, atau udara. Setiap bepergian selalu ada kemungkinan bahaya mengancam kehidupan. Mungkin juga selamat. Oleh karena itu, selalulah berdoa sebelum berangkat, misalnya dengan doa: Bismilahi amantu billãh, tawakaltu alallah, lã khaula walã kuwwata ilã billãh. Kalau pulang dengan selamat, maka ucapkalah syukur alhamdulillahi Robil alamĩn.

fa lammã = maka setelah; anjãhum = Aku selamatkan mereka; idzã = tiba-tiba; hum = mereka; yabghũna = mereka melampaui batas; fil ardhi = di bumi; bi ghoiri = dangan tidak; al haqqi = benar; yaa ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; innamã = sesungguhnya hanyalah; baghyukum = keterlampauanbatasmu (kelalimanmu); ‘alã = kepada; anfusikum = dirimu sendiri; matã’a = kesenangan; al hayaati = kehidupan; ad dun-yaa = dunia; tsumma = kemudian; ilainã = kepada Kami; marji’ukum = tempat kembalimu; fanunabbi-ukum = lalu Aku jelaskan kepadamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu amalkan (kamu kerjakan).
fa lammã anjãhum idzã hum yabghũna fil ardhi bi ghoiril haqqi, yaa ayyuhan nãsu innamã baghyukum ‘alã anfusikum matã’al hayaatid dun-yaa, tsumma ilainã marji’ukum fanunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.
23. Maka setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat lalim di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kelalimanmu akan menimpa diri sendiri. (nikmat) kelalimanmu itu hanya kesenangan hidup di dunia, kemudian kepada Ku-lah tempat kembalimu, lalu Aku jelaskan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kebiasaan manusia yang jelek, melupakan nikmat keselamatan yang dikaruniakan Allah, menyebabkan perbuatan lalim di bumi. Kelaliman karena mencari kenikmatan di dunia itu akan menimpakan penderitaan diri sendiri, nanti di akhirat. Mungkin juga ketika masih di dunia.

innamã = sesungguhnya hanyalah; matsalu = perumpamaan; al hayaati = kehidupan; ad dun-yaa = dunia; kamã-in = seperti air (hujan); anzalnãhu = Aku turunkan air itu; mina = dari; as samã-i = langit; fakhtalatho = lalu ia bercampur; bihĩ = dengannya; nabãtu = tumbuh-tumbuhan; al ardhi = bumi; mimmã = di antaranya (darinya); ya’kulu = memakan; an nãsu = manusia; wal an’ãmu = dan binatang ternak; hattã = sehingga; idzã = bila; akhodzati = menunjukkan; al ardhu = bumi; zukhrufahã = keindahannya; wãzzayyanat = dan terhias ia; wa zhonna = dan menyangka; ahluhã = pemiliknya; annahum = bahwa mereka; qōdirũna = mereka menguasai; ‘alaihã = atasnya; atãhã = datang kepadanya; amrunã = perintah (azab) kami; lailan = malam; au nahãron = atau malam; fa ja’alnãhã = lalu Aku jadikan; hashĩdan = tanaman yang sudah disabit; ka-an = seakan-akan; lam taghnã = belum pernah tumbuh; bil amsi = kemarin; kadzãlika = demikianlah; nufash shĩlu = Aku jelaskan; al ãyaati = ayat-ayat; liqoumin = bagi kaum (orang-orang); yatafakkarũn = mereka berpikir.
innamã matsalul hayaatid dun-yaa kamã-in anzalnãhu minãs samã-i fakhtalatho bihĩ nabãtul ardhi mimmã ya’kulun nãsu wal an’ãmu hattã idzã akhodzatil ardhu zukhrufahã wãzzayyanat wa zhonna ahluhã annahum qōdirũna ‘alaihã atãhã amrunã lailan au nahãron fa ja’alnãhã hashĩdan ka-an lam taghnã bil amsi, kadzãlika nufash shĩlul ãyaati liqoumin yatafakkarũn
24. Sesungguhnya, perumpamaan kehidupan dunia itu, seperti air (hujan) yang Aku turunkan dari langit, lalu dengannya (air itu) bertumbuhkembang tumbuh-tumbuhan di bumi, di antaranya, ada yang dimakan ternak. Apabila menunjukkan keindahannya dan terhias dengan kehijuannya. Pemiliknya mengira, mereka pasti menguasainya, (tiba-tiba) datanglah kepadanya azab Aku di waktu malam atau siang. Lalu Aku jadikannya laksana tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah, Aku jelaskan ayat-ayat-Ku kepada orang-orang yang berpikir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perumpamaan hidup di dunia menurut Allah. Semua kejadian ditetapkan Allah, kapan pun. Ayat-ayat Allah itu ada di berbagai kejadian di alam semesta ini, apakah yang menyebabkan hati manusia bergembira-ria, bahagia atau sedih, susah; merasa nyaman, tenteram, sejahtera, damai atau merasa resah-gelisah-rusuh; merasa enak atau muak; merasa sejahtera atau sengsara; selamat atau celaka. Hidup itu harus berpikir tentang kehidupan pemberian-Nya.
wallãhu = dan Allah; yad’ũ = Dia menyeru; ilã = ke; dãri = rumah; as salãmi = keselamatan (kedamaian, ketenteraman, sejahtera); wa yahdĩ = dan Dia memberi petunjuk; man = orang (siapa); yasyaa-u = Dia kehendaki; ilã = ke; shirōtin = jalan; mustaqĩm = yang lurus.
wallãhu yad’ũ ilã dãris salãmi wa yahdĩ man yasyaa-u ilã shirōtim mustaqĩm
25. Dan Allah menyeru (manusia) menuju tempat selamat (damai, tenteram, sejahtera, bahagia) dan Dia memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyeru agar hidup selamat, dan memberi petunjuk agar menggunakan jalan yang lurus. Agar selamat harus mengikuti petunjuk dari Allah.
lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ahsanũl husnã = berbuat sangat baik; wa ziyaadah = dan tambahannya; wa lã yarhaqu = mereka itu tidak; wujũhahum = muka-muka mereka; qotarun = kehitaman; wa lã = dan tidak; dzillah = kehitaman; ũlã-ika = mereka itu; ash-hãbul jannah = penghuni surga; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.
lilladzĩna ahsanũl husnã wa ziyaadah, wa lã yarhaqu wujũhahum qotarun wa lã dzillah, ũlã-ika ash-hãbul jannah, hum fĩhã khōlidũn.
26. Bagi orang-orang yang berbuat baik mendapat (pahala) yang terbaik dan tambahan, dan muka mereka tidak tertutup dengan hitam derita, dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang berbuat baik mendapat berbagai macam kesenangan, ketenteraman, ketenangan, kemudahan tanpa cacat atau kekurangan apa pun.
wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kasabũ = mereka mengerjakan; as sayyi-ãti = kejahatan; jazã-u = balasan; sayyi-atin = kejahatan; bi mitslihã = dengan yang semisal; wa tarhaquhum = dan menutupi mereka; dzillah = kehinaan; mã lahum = tak ada bagi mereka; minallãhi = dari Allah; min ‘ãshimi = dari seorang pelindung; ka-annamã = seakan-akan; ughsyiyat = ditutupi; wujũhuhum = wajah-wajah mereka; qitho’an = sebagian; minal laili = dari malam; muzhliman = gelap-gulita; ũlã-ika = mereka itu; ash-hãbun nãri = penghuni api neraka; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = kekal.
wal ladzĩna kasabũs sayyi-ãti jazã-u sayyi-atim bi mitslihã wa tarhaquhum dzillah, mã lahum minallãhi min ‘ãshimi, ka-annamã ughsyiyah wujũhuhum qitho’am minal laili muzhlimã, ũlã-ika ash-hãbun nãri, hum fĩhã khōlidũn
27. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan kejahatan yang setimpal, dan mereka tertutup oleh kehinaan, tidak ada pelindung dari azab Allah bagi mereka. Muka mereka seakan-akan ditutupi gelap-gulitanya malam. Mereka itulah penghuni api neraka, mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang melakukan kejahatan akan dibalas dengan kejahatan lagi. Mereka menjadi sangat hina. Tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah. Berlindunglah kepada Allah agar tidak terkena azab Allah.
wa yauma = dan pada hari; nahsyuruhum = Aku kumpulkan mereka; jamĩ’an = semuanya; tsumma = kemudian; naqũlu = Aku berkata; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; asyrokũ = (mereka) mempersekutukan; makaanAkum = tempat kamu; antum = kamu; wa syurokã-ukum = dan sekutu-sekutu kamu; fazayyalnã = lalu Aku pisahkan; bainahum = di antara mereka; wa qōla = dan berkata; tsurokã-uhum = sekutu-sekutu mereka; mã kuntum = kamu tidak ada; iyyaanã = kepada kami; ta’budũn = kamu menyembah.
wa yauma nahsyuruhum jamĩ’an tsumma naqũlu lilladzĩna asyrokũ makaanAkum antum wa syurokã-ukum, fazayyalnã bainahum, wa qōla tsurokã-uhum mã kuntum iyyaanã ta’budũn.
28. Pada hari Akumengumpulkan mereka semua, kemudian Aku berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rob): Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.” Lalu Aku pisahkan di antara mereka, dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu tidak pernah menyembah kami.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada Hari Akhirat ternyata sekutu-sekutu orang kafir tidak merasa disembah oleh mereka yang menyembahnya.
fakafã = maka cukuplah; billãhi = dengan Allah; syahidan = menjadi saksi; bainanã = antara kami; wa bainAkum = dan antara kamu; inkunnã = bahwa kami; ‘an ‘ibãdatikum = dari penyembahan kamu; la ghōfilĩn = sungguh lalai (tidak tahu).
fakafã billãhi syahidam bainanã wa bainAkum inkunnã ‘an ‘ibãdatikum la ghōfilĩn.
29. Maka cukuplah Allah menjadi saksi antara Aku dan kamu. Aku tidak tahu tentang penyembahan kamu itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dunia manusia yang mempersukutukan Allah selalu diperingatkan oleh orang-orang yang beriman, agar jangan mempersekutukan Allah, melalui bermacam-macam cara. Para Nabi dengan Kitab-kitabnya menghimbau agar jangan mempersekutukan Allah. Ada yang tidak mau memperhatikan himbauan itu, tidak mau menghiraukan. Bagaimana berhala itu tahu, mereka itu benda mati, mungkin juga benda hidup, tapi memang mereka tidak tahu, ada manusia yang menyembahnya. Di dunia, Allah Yang mengatur. Di Hari Akhirat, Allah juga Yang mengatur. Kalau makhluk-Nya tidak mau mempercayai-Nya, suatu hal yang merugi.
hunãlika = di sanalah; tablũ = merasakan; kullu = tiap-tiap; nafsin = diri (jiwa); mã aslafat = apa yang telah terdahulu (dikerjakan); wa ruddũ = dan mereka dikembalikan; ilãllãhi = kepada Allah; maulãhumu = pelindung mereka; al haqqi = benar; wa dholla = dan lenyaplah; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang; yaftarũn = mereka ada-adakan.
hunãlika tablũ kullu nafsim mã aslafat, wa ruddũ ilãllãhi maulãhumul haqqi, wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.
30. Di sanalah setiap orang merasakan (pembalasan) dari apa yang telah dikerjakannya, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka, apa yang mereka ada-adakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, apa yang terjadi pada Hari Pembalasan. Kalau seseorang mengada-adakan sesuatu sebagai tandingan Allah, di sini dia akan merasakan penyesalan yang tidak akan ada berhentinya.

qul = katakanlah; man = siapa; yarzuqukum = memberi rezeki kepadamu; min = dari; as samã-i = langit; wal ardhi = dan bumi; amman = atau siapakah; yamliku = kuasa; as sam’a = pendengaran; wal abshōro = dan penglihatan; wa man = dan siapakah; yukhriju = mengeluarkan; al hayya = yang hidup; min = dari; al mayyiti = yang mati; wa yukhriju = mengeluarkan; al mayyita = yang mati; min = dari; al hayyi = yang hidup; wa man = dan siapakah; yudabbaru = mengatur; al amro = (segala) urusan; fasayaqũlũnallãhu = maka, mereka akan berkata: “Allah”; fa qul = maka katakanlah; afalã = mengapa tidak; tattaqũn = kamu bertakwa.
qul man yarzuqukum minas samã-i wal ardhi amman yamlikus sam’a wal abshōro wa man yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijul mayyita minal hayyi wa man yudabbarul amro, fasayaqũlũnallãhu, fa qul afalã tattaqũn.
31. Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang berkuasa (memberi) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang menghidupkan dari yang mati, dan yang mematikan dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka, mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar Nabi Muhammad saw. memberitahukan kepada orang-orang kafir tentang kekuasaan Allah, agar mereka mau bertakwa. Allah berhuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2 : 28, 73; Ali Imran, 3 : 109; Al A’rãf, 7 : 158; At Taubah, 9 : 116.

Fa = maka; adz dzãlikumu = itulah; allãhu = Allah; Robukumu = Rob kamu; al haqqu = yang sebenarnya; fa = maka; mãdzã = tidak ada; ba’da = sesudah; al haqqi = kebenaran; illa = kecuali; adh dholãlu = kesesatan; fa = maka; annã = bagaimana; tushrofũn = kamu disesatkan.
fadzãlikumullãhu Robukumul haqqu, famãdzã ba’dal haqqi illadh dholãlu, fa annã tushrofũn.
32. Maka, itulah Allah Rab kamu yang sebenarnya; maka, tidak ada kebenaran sesudahnya, kecuali kesesatan; maka, bagaimana kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penegasan tentang Allah kepada orang-orang yang sesat.

kadzãlika = demikianlah; haqqot = telah berlaku ; kalimatu = kata (pengetahuan, ilmu, hukum, ); Robika = dari Rob kamu; ‘alã = terhadap; al ladzĩna = orang-orang yang; fasaqũ = bodoh; annahum = sesungguhnya mereka; lã yu’minũn = tidak beriman.
kadzãlika haqqot kalimatu Robika ‘alãl ladzĩna fasaqũ annahum lã yu’minũn.
33. Demikianlah telah berlaku pengetahuan, ilmu, hukum, Rob kamu terhadap orang-orang bodoh, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak mau beriman, dicap oleh Allah sebagai orang yang bodoh. Pengetahuan, ilmu, hukum, Allah itu tersurat pada ayat-ayat sebelum ini. Perhatikanlah.

qul = katakanlah; hal = apakah; min = di antara; syurokã-ikum = sekutu-sekutumu; man = orang; yabda-u = memulai; al kholqo = penciptaan; tsumma = kemudian; yu’ĩduhu = ia mengmbalikannya; qulillãhu = katakanlah Allah; yabda-u = memulai; al kholqo = penciptaan; tsumma = kemudian; yu’ĩduhu = Dia mengembalikannya; fa-annã = maka, bagaimana; tu’fakũn = kamu dipalingkan.
qul hal min syurokã-ikum man yabda-ul kholqo tsumma yu’ĩduhu, qulillãhu
yabda-ul kholqo tsumma yu’ĩduhu, fa-annã tu’fakũn.
34. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu, ada yang dapat memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya?” Katakanlah: “Allahlah yang memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya, maka, bagaimana kamu dipalingkan?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya yang berbeda dengan makhluk-Nya.
qul = katakanlah; hal = apakah; min = dari; syurokã-ikum = sekutu-sekutu kamu; man = orang; yahdĩ = memberi petunjuk; ila = kepada; al haqqi = kebenaran; qulillãhu = katakanlah “Allah”; yahdĩ = memberi petunjuk; il haqqi = kepada kebenaran; afa = apakah; man = orang; yahdĩ = memberi petunjuk; ilã = kepada; al haqqi = kebenaran; ahaqqu = lebih berhak; an yuttaba’a = untuk diikuti; amman = ataukah orang; lã = tidak; yahidĩ = ia memberi petunjuk; illã = kecuali; an yuhdã = bahwa ia diberi petunjuk; fa mã lakum = maka mengapa kamu; kaifa = bagaimana; tahkumũn = kamu mengambil keputusan.
qul hal min syurokã-ikum man yahdĩ ilal haqqi, qulillãhu yahdĩ lil haqqi, afa man yahdĩ ilãl haqqi ahaqqu an yuttaba’a amman lã yahidĩ illã an yuhdã, fa mã lakum kaifa tahkumũn.
35. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memberi petunjuk kepada kebenaran?” Katakanlah: “Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada kebenaran.” Apakah orang yang memberi petunjuk kepada kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan keputusan orang-orang yang mengimani ada-Nya Allah yang tidak memerlukan sekutu, Allah mampu memberi petunjuk kebenaran, dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang diada-adakan oleh mereka sendiri. Seskutu-sekutu mereka tidak mampu memberi petunjuk.
wa mã = dan tidak; yattabi’u = mereka mengikuti; aktsaruhum = kebanyakan mereka; illã = kecuali; zhonna = sangkaan; innazh zhonna = sesungguhnya sangkaan; lã = tidak; yughnĩ = mampu (berguna); minal haqqi = dari kebenaran; syai-an = sedikit pun; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa mã yattabi’u aktsaruhum illã zhonna, innazh zhonna lã yughnĩ minal haqqi syai-an, innallãha ‘alimum bimã yaf’alũn.
36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti, kecuali sangkaan saja, sesungguhnya sangkaan itu tidak mampu (menyisihkan) kebenaran sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sangkaan (prasangka) baik atau jelek kebanyakan berakibat kurang baik bagi pelakunya. Jangan dibiasakan menyangka. Buktikan segala sesuatu dengan kenyataan yang ada.
wa mã = dan tidak; kãna = ada; hãdza = ini; al qur’ãnu = Alquran; an yuftarō = diada-adakan (dibuat); min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lãkin = dan bahkan; tashdiqo = ia membenarkan; al ladzĩ = yang; baina yadaihi = di antara kedua tangannya (sebelumnya); wa tafshila = dan menjelaskan; al kitãbi = Kitab; lã roiba = tidak ada keraguan; fĩhi = di dalamnya; mir Robil = dari Rab (Penguasa); ‘ãlamĩn = Penguasa alam.
wa mã kãna hãdzal qur’ãnu an yuftarō min dũnillãhi wa lãkin tashdiqol ladzĩ baina yadaihi wa tafshilal kitãbi lã roiba fĩhi mir Robil ‘ãlamĩn.
37. Dan tidak mungkin Alquran ini dibuat oleh selain Allah, dan bahkan ia membenarkan (Kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjelaskan kitab (pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab yang telah ditetapkan); tidak ada keraguan di dalamnya, dari Rab Penguasa alam.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kedudukan Alquran yang membenarkan Kitab-kitab sebelumnya dan menjadi sumber pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab untuk manusia dan seluruh alam.
am = atau; yaqũlũna = mereka mengatakan; aftarōhu = (Muhammad) yang membuatnya; qul = katakanlah; fa’tũ = maka datangkanlah; bi sũrotin = dengan sebuah surat; mitslihĩ = seperti Alquran; wad’ũ = dan panggillah; manistatho’tum = siapa-siapa kamu dapat; min dũnillãhi = dari selain Allah; in kuntum = jika kamu; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
am yaqũlũnaftarōhu, qul fa’tũ bi sũrotim mitslihĩ wad’ũ manistatho’tum min dũnillãhi in kuntum shōdiqĩn.
38. Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad yang membuatnya,’ Katakanlah: “Maka (cobalah) buatlah sebuah surat seperti Alquran, dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alquran dibuat langsung oleh Allah (lihat juga Surat Al Baqarah, 2 : …)
bal = bahkan; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bimã = dengan apa yang …; lam yuhĩthũ = mereka tidak mengetahui; bi ‘ilmihĩ = dengan pengetahuannya; wa lammã = dan belum; ya’tihim = datang kepada mereka; ta’wĩluhu = penjelasannya; kadzãlika = demikianlah; kadzdzaba = telah mendustakan; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = ia adalah; ‘ãqibatu = akibat (kesudahan); azh zhōllimĩn = orang-orang yang lalim.
bal kadzdzabũ bimã lam yuhĩthũ bi ‘ilmihĩ wa lammã ya’tihim ta’wĩluhu, kadzãlika kadzdzabal ladzĩna min qoblihim fanzhur kaifa kãna ‘ãqibatuzh zhōllimĩn.
39. Bahkan mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya betul-betul, dan belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah, orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan, maka perhatikanlah, bagaimana akibat orang-orang yang lalim itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelaliman itu akibat ada orang yang berdusta. Kelaliman mengakibatkan pelakunya mengalami (dikenai) penderitaan.
wa = dan; min hum = di antara mereka; man = orang; yu’minu = ia beriman; bihĩ = kepadanya; wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; lã yu’minu bih = ia tidak beriman kepadanya; wa Robuka = dan Rob kamu; a’lamu = Maha Mengetahui; bil mufsidĩn = dengan orang-orang yang membuat kerusakan.
wa min hum man yu’minu bihĩ wa min hum mal lã yu’minu bih, wa Robuka a’lamu bil mufsidĩn
40. Dan di antara mereka, ada orang yang beriman kepadanya (Alquran), dan di antara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman kepadanya (Alquran), dan Rob kamu lebih mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak beriman selalu membuat kerasakan di muka bumi. Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka lakukan.
wa in = dan jika; kadzdzabũka = mendustakan kamu; fakul = maka katakanalah; lĩ = bagiku; ‘amalĩ = pekerjaanku; wa lakum = dan bagi kamu; ‘amalukum = pekerjaanmu; antum = kamu; barĩ-ũna = berlepas diri; mimmã = dari apa; a’malũ = Aku kerjakan; wa ana = dan Aku ; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa in kadzdzabũka fAkul lĩ ‘amalĩ wa lakum ‘amalukum, antum barĩ-ũna mimmã a’malũ wa ana barĩ-um mimmã ta’malũn.
41. Dan jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku, bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri dari apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jika ada orang yang menganggap dusta, apa yang dikerjakan Nabi Muhammad saw. hendaknya dihimbau agar orang-orang itu percaya kepada kekuasaan Allah Yang Mahaesa, kalau mereka berkeras kepala, Allah menyarankan agar mengatakan hal yang diturunkan pada ayat 41 ini. Lihat juga pada Surat Al Kafirun (Q.s. 109).
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yastami’ũna = mereka memperdengarkannya; ilaika = kepadamu; afa = apakah; anta = kamu; tusmi’u = memperdengarkan; ash shumma = orang yang tuli; wa lau = bahkan; kãnũ = mereka adalah; lã ya’qilũn = mereka tidak mau mengerti.
wa min hum man yastami’ũna ilaika, afa anta tusmi’ush shumma wa lau kãnũ lã ya’qilũn
42. Dan di antara mereka, ada orang yang mendengarkan kamu. Apakah kamu dapat memperdengarkannya kepada orang-orang tuli, bahkan mereka tidak mau mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang bisa mendengar, tapi tidak mau mendengarkan apa yang harusnya didengar, dan tidak mau mengerti apa yang didengarnya. Dia dapat disebut orang tuli, walaupun pada hakekatnya mereka tidak tuli; Ada orang yang tidak bisa mendengar, tapi ingin bisa mendengar, dan yang sangat terpuji, ia ingin mengerti apa yang diperdengarkan seseorang. Inilah yang dipertanyakan Allah dalam ayat ini. Yang terpuji adalah orang yang bisa mendengar, mau mendengarkan, dan mau mengerti apa yang seharusnya didengar, dan dimengerti.
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yanzhuru = yang melihat; ilaika = kepadamu; afa-anta = apakah kamu; tahdĩ = memberi petunjuk; al ‘umya = orang yang buta; wa lau = walaupun; kãnũ = mereka adalah; lã yubshirũn = mereka tidak dapat melihat.
wa min hum man yanzhuru ilaika, afa-anta tahdĩl ‘umya wa lau kãnũ lã yubshirũn.
43. Dan di antara mereka, ada orang yang melihat kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat melihat (memperhatikan).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang dapat melihat, tapi tidak mau memperhatikan, dan tidak mau mengerti, apa yang dilihat, dan didengar. Orang seperti ini tidak mungkin menerima petunjuk, karena hati mereka tertutup. Allah membutakan mata dan hatinya. Ada orang yang tidak bisa melihat, tapi mau memperhatikan, dan ingin mengerti apa yang didengar dan dirasakan. Inilah yang dipertanyakan Allah dalam ayat ini. Orang buta dapat diberi petunjuk, dan dapat menerima petunjuk karena, atau kalau hati mereka terbuka, mau merasakan.
innalãha = sesungguhnya Allah; lã = Dia tidak; yazhlimun = menganiaya (melalimi); nãsa = manusia; syai-an = sedikit pun; wa lãkinna = akan tetapi; an nãsa = manusia itu; anfusahum = diri mereka sendiri; yazhlimũn = mereka melalimi (menganiaya)
innalãha lã yazhlimun nãsa syai-an wa lãkinnannãsa anfusahum yazhlimũn.
44. Sesungguhnya, Allah tidak menganiaya manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia sudah diberi akal, pikiran, dan hati untuk mengarungi hidup pemberian Allah. Hidup pemberian Allah ini banyak orang yang menelantarkannya. Mereka tidak menggunakan akal, pikiran, dan hatinya untuk mensyukuri hidup karunia Allah ini. Karena itu, Allah menegaskan, sesungguhnya, mereka menganiaya diri mereka sendiri.
wa yauma = dan pada hari; yahsyuruhum = (Allah) mengumpulkan mereka, ka-al = (mereka) seakan-akan; lam yalbatsũ = mereka belum pernah tinggal; illã = kecuali; sã’atan = sesaat; minan nahãri = di siang hari; yata’ãro fũna = mereka saling berkenalan; bainahum = di antara mereka; qod = sesungguhnya; khasiro = rugilah; al ladzĩna = orang-orang yang; kadz dzabũ = (mereka) mendustakan; biliqō-illãhi = pertemuan dengan Allah; wa mã = dan tidak; kãnũ = mereka ada; muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.
wa yauma yahsyuruhum ka-al lam yalbatsũ illã sã’atam minan nahãri yata’ãro fũna bainahum, qod khasirol ladzĩna kadz dzabũ biliqō-illãhi wa mã kãnũ muhtadĩn
45. Dan pada hari, ketika Allah mengumpulkan mereka, mereka merasa seakan-akan belum pernah tinggal (di dunia), kecuali sesaat saja di siang hari. (Di waktu itu) mereka saling berkenalan di antara mereka sendiri. Sesungguhnya, rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan saat manusia dikumpulkan di akhirat. Allah mengingatkan, rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan rugi pula mereka yang tidak mendapat petunjuk. Saat kita hidup, dan saling berkenalan, sebaiknya harus banyak membaca ayat-ayat Allah, agar kita mengingat Allah, dan mengingat, suatu saat akan ada pertemuan dengan-Nya, dan agar kita mendapat petunjuk untuk menjalani hidup ini.
wa immã = dan jika; nuriyannaka = Aku perlihatkan kepadamu; ba’dho = sebagian; al ladzĩ = yang; na’iduhum = Aku ancam mereka; au = atau; natawaffayannaka = Aku wafatkan kamu; fa-ilainã = maka kepada-Ku; marji’uhum = tempat mereka kembali; tsummallãhu = kemudian Allah; syahĩdun = menjadi saksi; ‘alã mã = atas apa; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa immã nuriyannaka ba’dhol ladzĩ na’iduhum au natawaffayannaka fa-ilainã marji’uhum tsummallãhu syahĩdun ‘alã mã yaf’alũn.
46. Dan jika Aku perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Aku ancamkan kepada mereka, atau Aku wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Aku lah tempat kembali mereka, kemudian Allah menjadi saksi, atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan ancaman siksa-Nya kelak di akhirat, dan tempat kembali makhluk itu kepada-Nya. Allah selalu mengawasi, dan akan menjadi saksi dari apa yang dikerjakan makhluk-Nya. Jadi, perjalanan hidup ini harus dilalui secara berhati-hati, jangan menyimpang dari jalan Allah.
wa likulli = dan tiap-tiap; ummatin = umat; rosũlun = Rasul; fa idzã = maka jika; jã-a = telah datang; rosũluhum = Rasul mereka; qudhiya = diputuskan; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = mereka tidak di aniaya.
wa likulli ummatir rosũlun fa idzã jã-a rosũluhum qudhiya bainahum bil qisthi wa hum lã yuzhlamũn.
47. Dan tiap-tiap umat mempunyai Rasul, maka jika telah datang Rasul mereka, diputuskan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak dianiaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, setiap umat mempunyai Rasul. Kalau semua orang mengikuti apa yang diarahkan oleh Rasul maka akan tercipta masyarakat yang adil, makmur, tenteram, damai, sejahtera, bahagia. Tidak ada orang yang teraniaya.

wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; matã = kapankah; hãdzã = ini; al wa’du = ancaman; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
wa yaqũlũna matã hãdzãl wa’du in kuntum shōdiqĩn.
48. Dan mereka (orang kafir) mengatakan: “Kapankah datangnya ancaman ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Suatu keanehan, setiap Rasul datang ke suatu umat, pasti ada orang yang tidak percaya pada apa yang disampaikan Rasul itu. Selalu ada orang yang menentang Rasul, tidak mau mengikuti petunjuknya, petunjuk dari Allah.
qul = katakanlah; lã amliku = Aku tidak berkuasa; li nafsi = bagi diriku; dhorron = mendatangkan mudarat; wa lã = dan tidak; naf’an = manfaat; illã = kecuali; mã = apa; syaa-allãh = kehendak Allah; likulli = bagi tiap-tiap; ummatin = umat; ajal = ajal; idzã = jika; jã-a = telah datang; ajaluhum = ajal mereka; fa lã = maka tidak; yasta’khirũna = mereka mengundurkan; sa’atan = sesaat; wa lã = dan tidak; yastaqdimũn = mereka mendahulukan.
qul lã amliku li nafsi dhorron wa lã naf’an illã mã syaa-allãh, likulli ummatin ajal, idzã jã-a ajaluhum fa lã yasta’khirũna sa’atan, wa lã yastaqdimũn.
49. Katakanlah: “Pada diriku tidak kuasa mendatangkan mudarat, dan tidak pula manfaat bagi siapapun, kecuali apa yang dikehendaki Allah’. Tiap umat mempunyai ajal, jika telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun, dan tidak pula mendahulukan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw., agar mengatakan apa yang dikemukakan ayat di atas, kalau ada orang yang mempertanyakan berita, seperti yang terungkap dalam ayat 46 di atas. Ajal manusia sudah ditetapkan saatnya oleh Allah.
qul = katakanlah; aro-aitum = apa pendapatmu; in atãkum = jika datang kepadamu; ‘adzãbuhũ = azab-Nya (siksa-Nya); bayaatan = di waktu malam; au nahãron = atau di waktu siang; mãdzã = apakah; yasta’jilu = minta disegerakan; min hu = darinya; al mujrimũn = orang-orang yang berdosa.
qul aro-aitum in atãkum ‘adzãbuhũ bayaatan au nahãrom mãdzã yasta’jilu min hul mujrimũn.
50. Katakanlah: “Apa pendapatmu, jika datang siksa-Nya kepadamu di waktu malam atau siang, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan darinya?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siksa Allah itu datangnya tak terduga. Orang yang tidak beriman berlalai-lalai saja. Hatinya jauh dari Allah. Yang demikan itu, hidupnya merugi di dunia maupun di akhirat. Sedangkan orang yang beriman, hatinya dekat dengan Allah. Mereka selalu berdoa jangn sampai terkena siksa Allah, dan doa untuk keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Inilah orang-orang yang beruntung.

atsumma idzã mã waqo’a ãmantum bihĩ, al-ãna wa qod kuntum bihĩ tasta’jilũn
atsumma idzã mã waqo’a ãmantum bihĩ, al-ãna wa qod kuntum bihĩ tasta’jilũn
51. Apakah setelah terjadi (azab itu), kemudian kamu baru percaya kepadanya? Apakah sekarang (saat terjadi azab) padahal kamu (sebelumnya) selalu meminta azab disegerakan datangnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian manusia ketika datang seorang Rasul kepada kaumnya untuk mengingatkan adanya azab, ada yang menolak, ragu-ragu, dan sebagian lagi ada yang percaya. Azab di dunia diturunkan Allah, untuk ujian, baik untuk orang yang beriman, atau untuk orang tidak beriman, dan yang ragu-ragu. Orang yang beriman menerimanya dengan penuh kesadaran, kesabaran, ujian ini datang dari Allah dengan tujuan untuk menguatkan keimanannya. Orang yang tidak beriman dan yang ragu-ragu mengadapi azab dengan hati yang penuh keluh-kesah, sumpah-serapah, menyalahkan, mencari-cari pihak-pihak yang bisa disalahkan. Padahal, diri merekalah yang menyebabkan turunnya azab itu. Di akhirat azab diturunkan hanya untuk orang-orang tidak beriman, dan yang ragu-ragu beriman sebagai balasan tingkah-lakunya yang mengakibatkan banyak kerusakan di bumi.

tsumma = kemudian; qĩla = dikatakan; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; zholamũ = (mereka) lalim; dzũqũ = rasakanlah olehmu; ‘adzãba = siksa; al khuldi = kekal; hal = tidaklah; tujzauna = kamu diberi balasan; illã = kecuali; bimã = dengan apa; kuntum = kamu adalah; taksibũn = kamu kerjakan.
tsumma qĩla lilladzĩna zholamũ dzũqũ ‘adzãbal khuldi, hal tujzauna illã bimã kuntum taksibũn.
52. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim: “Rasakanlah olehmu siksa yang kekal, tidaklah kamu diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pekerjaan orang kafir itu menyiapkan bahan bakar yang akan dinyalakannya untuk membakar dirinya sendiri selama-lamanya karena mereka tidak beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, para Malaikat-Nya.

wa yastambi-ũnaka = dan mereka menanyakan kepadamu; ahaqqu = apakah itu benar; huwa = ia (azab itu); qul = katakanlah; ĩ = ya; wa Robĩ = (benar) demi Robku; innahũ = sesungguhnya ia (azab itu); la haqqu = sungguh benar; wa mã = dan tidaklah; antum = kamu; bi mu’jizĩn = dengan orang-orang yang terlepas.
wa yastambi-ũnaka ahaqqu huwa, qul ĩwa Robĩ innahũ la haqqu, wa mã antum bi mu’jizĩn.
53. Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah azab itu?” Katakanlah: “Ya, benar demi Robku, sesungguhnya azab itu benar, dan kamu tidak dapat terlepas darinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Benar, azab itu dari Allah bagi orang-orang yang terbelenggu oleh kekafiran.
wa lau dan kalau; anna = bahwa; likulli = bagi tiap-tiap; nafsin = diri; zholamat = ia lalim; mã = apa; fil ardhi = di atas bumi; laftadat = tentu dia tebus; bihĩ = dengannya; wa asarru = dan mereka menyembunyikan; an nadãmata = penyesalan; lamma = tatkala (ketika); ro awu = mereka melihat; al ‘adzãb = azab (siksaan); wa qudiya = dan diberi keputusan; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = mereka tidak dianiaya.
wa lau anna likulli nafsin zholamat mã fil ardhi laftadat bihĩ, wa asarrun nadãmata lamma ro awul ‘adzãb, wa qudiya bainahum bil qisthi wa hum lã yuzhlamũn
54. Dan kalau setiap diri yang lalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia mau menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalan, tatkala melihat siksaan itu. Dan telah diberi keputusan secara adil di antara mereka, dan mereka tidak dianiaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siksaan itu tidak tertebus dengan kekayaan sejagat raya, tidak terbeli dengan penyesalan seberapa pun besarnya kalau sudah di akhirat. Penyesalan di dunia, masih mungkin menyelamatkan dari api neraka. Penyesalan itu harus dinyatakan dengan sungguh-sungguh dan tidak mancla-mencle. Jangan menjadi orang lalim, jangan kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad.

Alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; lillãhi = kepunyaan Allah; mã = apa; fis samãwãti = yang ada di langit; wal ardhi = dan bumi; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; wa’dallãhi = janji Allah; haqqun = benar; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
alã inna lillãhi mã fis samãwãti wal ardhi, alã inna wa’dallãhi haqqun wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.
55. Ingatlah, sesungguhnya, kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya, janji Allah itu benar, tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini sering diungkapkan (lihat Q.s. Al Fatihah, 1 : 1; Al Baqarah, 2 : 33, 96, 107, 115, 116, 142, 156, 234, 235, 255; 270, 283, 284 kerajaan langit dan bumi itu milik Allah. Manusia diberi kekuasaan di muka bumi ini untuk memelihara, menjaga sebagian kecil milik Allah untuk kepentingan hidupnya; 2 : 115, 142 Milik Allahlah timur dan barat; Ali Imran, 3 : 6, 29, 109, 116,129; dan An Nisa, 4 : 131; 132; 170.; Janji Allah itu benar, tapi tetap masih saja banyak yang tidak mengimani, dan banyak yang tidak mau tahu.
huwa = Dia; yuhyĩ = Yang menghidupkan; wa yumĩtu = Yang mematikan; wa ilaihi = dan kepada-Nya; turja’ũn = kamu dikembalikan.
huwa yuhyĩ wa yumĩtu wa ilaihi turja’ũn.
56. Dialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan, dan kepada-Nya kamu dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini juga sering dikemukakan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 28 (Allah Mahakuasa mematikan dan menghidupkan makhluk-Nya); 73 Allah berkuasa menghidupkan makhluk yang sudah mati; Al A’rãf, 7 : 158; Dia Yang menghidupkan, dan Yang mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya… At Taubah, 9 : 116; Dia menghdupkan dan mematikan… tidak ada pelindung dan penolong bagimu, selain Allah, dan lain-lain.
yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah datang kepadamu; mau’izhatum = pelajaran; mir Robikum = dari Rab kamu; wa syifã-un = dan penawar; limmã = bagi apa (penyakit); fish shudũri = dalam dada; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatun = dan rahmat; lil mu’minĩn = untuk orang-orang yang beriman.
yaa ayyuhan nãsu qod jã-atkum mau’izhatum mir Robikum wa syifã-ul
57. Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rab kamu, dan penawar bagi penyakit di dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini pun sudah sering diungkapkan, sebagai pelajaran, Q.s. Al Baqarah, 2 : 1 (catatannya); 4, 5, 7, 37, 50, 66, 87, 221, 269, 275; penawar Q.s. ..; petunjuk, Q.s. ….; rahmat, Q.s. Al Fatihah, 1 : 1, 2,
qul = katakanlah; bi fadhlillãhi = dengan karunia Allah; wa bi rohmatihĩ = dan dengan rahmat-Nya; fa bi dzãlika = maka dengan demikian; fal yafrohũ = hendaknya mereka bergembira; huwa = ia (karunia dan rahmat); khoirun = lebih baik; mimma = dari apa; yajma’ũn = mereka kumpulkan.
qul bi fadhlillãhi wa bi rohmatihĩ fa bi dzãlika fal yafrohũ, huwa khoirum mimma yajma’ũn.
58. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan demikian, hendaknya mereka bergembira. Karunia dan rahmat itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karunia dan rahmat Allah itu sesungguhnya, berupa petunjuk Allah di dalam Alquran dengan Hadits dan Sunah yang disampaikan Nabi Muhammad saw..
qul = katakanlah; aro-aitum = bagaimana pendapatmu; mã = apa; anjalallãhu = Allah yang melimpahkan; lakum = kepadamu; mir rizqin = tentang rezeki; fa ja’altum = lalu kamu jadikan; min hu = darinya; harōman = haram; wa halãlan = dan halal; qul = katakanlah; allãhu = Allah; adzina = memberi izin; lakum = kepadamu; am = atau; ‘alallãhi = kepada Allah; taftarũn = kamu mengada-adakan.
qul aro-aitum mã anjalallãhu lakum mir rizqin fa ja’altum min hu harōman wa halãlan qul allãhu adzina lakum, am ‘alallãhi taftarũn.
59. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu tentang rezeki Allah yang dilimpahkan kepadamu, lalu kamu jadikan haram dan halal sebagian darinya. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberi izin kepadamu, atau kamu mengada-adakan saja tentang Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rezeki Allah yang dilimpahkan kepada makhluk-Nya itu semula semuanya halal. Allah kemudian menentukan rezeki ada yang haram. Yang menentukan rezeki itu halal atau haram itu hanya Allah. Allah memberi petunjuk untuk itu, bukan manusia yang menetapkan halal dan haram rezeki.

wa mã = dan apa; zhonnu = dugaan; l ladzĩna = orang-orang yang; yaftarũna = (mereka) mengada-adakan; ‘alallãhi = tentang Allah; al kadziba = dusta; yaumal qiyaamah = pada Hari Kiamat; innallãha = sesungguhnya Allah; ladzũ = benar-benar mempunyai; fadhlin = karunia; ‘alannãsi = kepada manusia; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; yasykurũn = tidak bersyukur.
wa mã zhonnul ladzĩna yaftarũna ‘alallãhil kadziba yaumal qiyaamah, innallãha ladzũ fadhlin ‘alannãsi wa lãkinna aktsarohum yasykurũn.
60. Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah pada Hari Kiamat? Sesungguhnya, Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman percaya pada Hari Kiamat, Allah akan menghisab makhluknya dengan adil. Bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka merasa tidak perlu mengingat Allah, mereka tidak percaya ada-Nya Allah, dan Hari Kiamat. Sesungguhnya, sebelum manusia diciptakan, Allah telah mempersiapkan terlebih dahulu tempat tinggalnya, kebutuhan hidupnya. Inilah limpahan karunia Allah yang tidak terhingga, selama hidupnya di dunia. Tapi kebanyakan manusia tidak mengingat asal-usul hidupnya.

wa mã = dan tidak; takũnu = kamu adalah; fĩ sya’nin = dalam suatu situasi; wa mã = dan tidak; tatlũ = kamu membaca; minhu = dari suatu ayat; min qur’anin = dari alquran; wa lã = dan tidak; ta’malũna = kamu mengerjakan; min ‘amalin = dari suatu perbuatan; illã = melainkan; kunnã = Aku adalah; ‘alaikum = atas kamu; syuhũdan = menjadi saksi; idz = ketika; tufĩdũna = kamu melakukan; fĩh = padanya; wa mã ya’zubu = dan ia tidak luput; ‘ar Robika = dari Rob kamu; mim mitsqōli = dari sebarat; dzarrotin = zarah; fĩl ardhĩ = di bumi; wa lã = dan tidak; fis samã-i = di langit; wa lã = dan tidak; ashghoro = lebih kecil; min dzãlika = dari itu; wa lã = dan tidak; akbaro = lebih besar; illã = melainkan; fĩ kitãbim mubĩn = dalam kitab yang nyata.
wa mã takũnu fĩ sya’nin wa mã tatlũ minhu min qur’anin wa lã ta’malũna min ‘amalin illã kunnã ‘alaikum syuhũdan idz tufĩdũna fĩh, wa mã ya’zubu ‘ar Robika mim mitsqōli dzarrotin fĩl ardhĩ wa lã fis samã-i wa lã ashghoro min dzãlika wa lã akbaro illã fĩ kitãbim mubĩn.
61. Dan kamu tidak berada dalam suatu situasi, dan kamu tidak membaca suatu ayat Alquran, dan kamu tidak mengerjakan suatu perbuatan, melainkan Aku menjadi saksi atas apa yang kamu lakukan. Dan tidak lepas dari pengetahuan Rob kamu, walau sebesar zarah di bumi atau pun di langit, dan tidak ada yang lebih kecil, dan tidak pula yang lebih besar dari itu, semua ada catatannya dalam kitab yang nyata (di Lauh Mahfudz )
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui setiap gerak-gerik makhluk-Nya sesedikit, sekecil, atau sehalus apa pun, dan sebasar apa pun semuanya tercatat di dalam kitab-Nya di Lauh Mahfudz .

alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; auliyaa-allãhi = wali-wali Allah; lã khaufun = tidak khawatir; ‘alaihim = padanya; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = bersedih hati.
alã inna auliyaa-allãhi lã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.
62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran padanya, dan tidak pula bersedih hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, bahwa para Nabi, Wali Allah, karena sudah melaksanakan tugasnya memberi peringatan, menyampaikan berita dari Allah, maka hati mereka tidak merasa khawatir akan terkena azab Allah, dan tidak pula bersedih hati, walaupun orang-orang yang dihimbaunya tidak mau mengikuti nasihatnya. Mereka sudah terbebas dari tanggung jawab kerasulannya pada Hari Kiamat.
alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa kãnũ = dan mereka adalah; yattaqũn = mereka selalu bertakwa.
alladzĩna ãmanũ wa kaanũ yattaqũn.
63. (Yaitu) orang-orang yang beriman, dan mereka itu (selalu) bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman dan selalu takwa adalah orang-orang yang tidak merasa khawatir saat Hari Kiamat, dan tidak merasa sedih, walaupun penerangan, himbauannya ada yang tidak memperhatikan, ada yang tidak mau mendengar.

lahumu = bagi mereka; al busyrō = kabar gembira; fĩl hayaati = dalam kehidupan; ad dun-yaa = di dunia; wa fil ãkhiroh = dan di akhirat; lã tabdĩla = tidak ada perubahan; li kalimãti = pada kalimat-kalimat; allãh = Allah; dzãlika = demikian itu; huwa = ia; al fauzu = kemenangan; al ‘azhĩm = yang besar.
lahumul busyrō fĩl hayaatid dun-yaa wa fil ãkhiroh, lã tabdĩla li kalimãtil lãh, dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
64. Bagi mereka, berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat, tidak ada perubahan untuk kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu merupakan kemenangan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat-kalimat Allah itu tuntunan untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat yang membawa ke keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, kedamaian, kemuliaan abadi, tidak ada perubahan, tidak pernah berubah. Mereka yang mau membacanya, memahaminya, mempraktikkan segala petunjuk, arahan untuk dapat mencapai hidup sejahtera, tenteram, damai, sejahtera, sempurna.
wa lã = dan jangan; yahzunka = menyedihkan kamu; qouluhum = perkataan mereka; inna = sesungguhnya; al ‘izata = keemuliaan (kekuasaan); lillãhi = kepunyaan Allah; jamĩ’an = seluruhnya; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui;
wa lã yahzunka qouluhum, innal ‘izatalillãhi jamĩ’an, huwas samĩ’ul ‘alĩm.
65. Dan perkataan mereka, jangan membuat kamu sedih, sesungguhnya, seluruh kemuliaan itu kepunyaan Allah, Dia Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perkataan mereka: “perbuatan bodoh, mengolok-olok, menganggap bohong, menganggap penyihir, dongeng-dongeng kuno”, jang membuat sedih. Untuk mencapai kemuliaan, manusia harus berusaha dengan menggunakan jalan yang diarahkan Allah. Dunia ini tempat manusia mengalami kemuliaan dan kerendahan. Allah hanya memiliki Kemuliaan yang harus diraih makhluk-Nya, khususnya manusia.

alã = ingat; inna = sesungguhnya; lillãhi = kepunyaan Allah; man = apa-apa (orang); fĩs samãwãti = di langit; wa man = dan apa-apa (orang); fil ardhi = di bumi; wa mã yattabi’u = dan tidak mengikuti; al ladzĩna = orang-orang yang …; yad’ũna = (mereka) menyeru; min dũnil lãhi = dari selain Allah; syurokã-a = serikat-serikat (sekutu-sekutu); ina yattabi’ũna = mereka tidak mengikuti; illa = kecuali; azh zhonna = persangkaan; wa in hum = dan mereka tidak; illã = kecuali (hanyalah); yakhrushũn = mereka berdusta.
alã inna lillãhi man fĩs samãwãti wa man fil ardhi, wa mã yattabi’ul ladzĩna yad’ũna min dũnil lãhi syurokã-a, ina yattabi’ũna illazh zhonna wa in hum illã yakhrushũn.
66. Ingatlah, sesungguhnya, kepunyaan Allah apa-apa yang ada di langit dan di bumi, dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, mereka tidak mengikuti (suatu keyakinan), kecuali persangkaan belaka. Dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan makhluk-Nya tentang kekuasan-Nya. Jangan mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadi pendusta. “Menyeru” artinya memuliakan, memohon sesuatu, membesarkan namanya, menghormati, memuja-muja. Keyakinan kepada sesuatu selain Allah sesungguhnya, mereka membohongi dirinya sendiri (hati nuraninya).
huwa = Dialah; al ladzĩ = Yang; ja’ala = menjadikan; lakumu = bagi kamu; al laila = malam; li taskunũ = supaya kamu beristirahat; fĩhi = di saat itu; wan nahãra = dan siang; mubshiron = terang-benderang; inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = dari yang demikian; la-ayaatin = terdapat tanda-tanda; li qoumĩn = bagi kaum; yasma’ũn = mereka mendengar.
huwal ladzĩ ja’ala lakumul laila li taskunũ fĩhi wan nahãra mubshiron, inna fĩ dzãlika la-ayaatil li qoumĩn yasma’ũn.
67. Dialah Yang menjadikan malam bagimu, supaya kamu berisitirahat saat itu, dan (menjadikan) siang terang-benderang. Sesungguhnya, pada pembagian waktu itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi dan membeda-bedakan waktu untuk menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Orang yang menghargai waktu, berarti membesarkan Allah. Allah yang memiliki dan menguasai waktu. Manusia yang dapat menggunakan waktu, memanfaatkan waktu untuk keperluan hidupnya, harus bersyukur kepada Yang memberi waktu yaitu Allah.
qōlu = mereka berkata; it takhadzallãhu = Allah mengambil (mempunyai); waladan = anak; subhanahũ = Mahasuci Dia; huwal ghoniyyu = Dia Yang Mahakaya; lahũ = kepunyaan-Nya; mã = apa-apa; fis samãwãti = yang di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; in ‘indakum = kamu tidak mempunyai; min sulthōnim = dari hujjah (keterangan); bi hãdzã = dengan ini; ataqũlũna = apakah kamu mengatakan; alallãhi = tentang Allah; mã lã ta’lamũn = apa yang tidak kamu ketahui.
qōlut takhadzallãhu waladan, subhanahũ, huwal ghoniyyu, lahũ mã fis samãwãti wa mã fil ardhi, in ‘indakum min sulthōnim bi hãdzã, ataqũlũna alallãhi mã lã ta’lamũn.

68. Mereka berkata: “Allah mempunyai anak.” Mahasuci Dia. Dia Mahakaya. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah (keterangan) untuk ini. Apakah kamu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar jangan mengikuti pernyataan yang salah “Allah mempunyai anak”, “Allah memungut anak”. “Allah beranak”. Ada Allah Bapa, ada Allah Anak, ada Allah Rohul Kudus. Allah tidak memberi keterangan tentang ungkapan seperti itu. Pertanyaan pada ayat 88 di atas, menegaskan larangan: “jangan menirukan ungkapan yang tidak berasal dari Allah, atau ungkapan tentang Allah yang bukan berasal dari Allah. Allah Mahasuci, Allah Mahakaya. Semua apa yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah.
qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; yaftarũna = (mereka) mengada-adakan; ‘alallãhi = tentang Allah; al kadziba = orang dusta; lã yuflihũn = mereka tidak beruntung.
qul innal ladzĩna yaftarũna ‘alallãhil kadziba lã yuflihũn.
69. Katakanlah: “Sesungguhnya, orang-orang yang mengada-adakan dusta tentang Allah, mereka tidak beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Yunus, 10 :17, 39, 60, 66
matã’un = kesenangan; fid dun-yaa = di dunia; tsumma = kemudian; ilainã = kepada-Ku; marji’uhum = tempat kembali mereka; tsumma = kemudian; nudzĩquhumu = Aku merasakan kepada mereka; al ‘adzãba = azab; asy syadĩda = keras, berat, pedih; bimã = dengan apa (karena); kaanũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka kafir.
matã’un fid dun-yaa tsumma ilainã marji’uhum tsumma nudzĩquhumul ‘adzãbasy syadĩda bimã kaanũ yakfurũn.
70. (bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Aku lah tempat kembali mereka, kemudian Aku timpakan kepada mereka siksa yang berat, karena mereka kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga Q.s. Yunus, 10 : 7, 23. Hidup di dunia ini hanya sebentar, hanya sementara. Akhirnya harus kembali kepada Yang Menciptakan. Manusia harus mempertanggungjawabkan kekhalifahannya di dunia ini, kepada Penciptanya.
watlu = dan bacakan; ‘alaihim = untuk mereka; naba-a = berita; nũhin = Nuh; idz = ketika; qōla = berkata; li qoumihĩ = pada kaumnya; yaa qoumi = yaa kaumku; in kãna = jika ada; kaburo = terasa berat; ‘alaikum = untukmu; mãqōmĩ = kedudukanku; wa tadzkĩrĩ = dan peringatanku; bi-ãyaatillãhi = dengan ayat-ayat Allah; fa’alallãhi = maka kepada Allah; tawakkaltu = aku bertawakal; fa ajmi’ũ = maka kumpulkan; amrokum = keputusanmu; wa syurokã-Akum = dan sekutu-sekutumu; tsumma = kemudian; lã yakun = hendaknya jangan; amrukum = keputusanmu; ‘alaikum = bagimu; ghummatan = ragu-ragu (dirahasiakan); tsumma = kemudian; ukdhũ = lakukanlah; ilayya = kepadaku; wa lã tunzhirũn = dan jangan beri tangguh kepadaku.
watlu ‘alaihim naba-a nũhin idz qōla li qoumihĩ yaa qoumi in kaana kaburo ‘alaikum mãqōmĩ wa tadzkĩrĩ bi-ãyaatillãhi fa’alallãhi tawakkaltu fa ajmi’ũ amrokum wa syurokã-Akum tsumma lã yakun amrukum ‘alaikum ghummatan tsummakdhũ ilayya wa lã tunzhirũn.
71. Dan bacakanlah untuk mereka, berita tentang Nuh, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Jika terasa berat untukmu kedudukanku, dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka aku bertawakal hanya kepada Allah, karena itu, kumpulkanlah keputusanmu, dan sekutu-sekutumu (untuk membinasakan aku), kemudian janganlah keputusanmu itu menjadi ragu-ragu untukmu, lalu lakukanlah kepada diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh untukku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk membacakan berita tentang Nuh, maksud-Nya agar manusia mau bercermin pada kejadian masa itu. Orang-orang jaman Nabi Nuh banyak yang membangkang, berkebaratan, Nuh ditunjuk sebagai Nabi dan memberi peringatan dengan ayat-ayat Allah. Zaman Nabi Muhammad saw. juga demikian. Bacaan ini menjadi penghibur hati Nabi Muhammad saw.

fain = maka, jika; tawal laitum = kamu berpaling; fa mã = maka tidak; sa-altukum = Aku meminta kepadamu; min ajrin = upah dari; in ajriya = illã = ‘alãllãh = wa umirtu = an akũna = agar aku menjadi; minal muslimĩn = menjadi orang yang berserah diri.
fain tawal laitum fa mã sa-altukum min ajrin, in ajriya illã ‘alãllãh, wa umirtu an akũna minal muslimĩn
72. Maka, jika kamu berpaling, aku tidak meminta upah kepadamu. Upahku hanya dari Allah, dan aku diperintah agar aku menjadi orang yang berserah diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dari gambaran Nabi Nuh di atas, Nabi Muhammad saw. diberi contoh nyata, seandainya umat Muhammad saw. juga berpaling, maka beliau akan menirukan arahan dari Nabi Nuh itu. Pada Surat lain, ada smacam variasi dalam cara pengungkapannya.
fakadz dzabũhu = Maka, mereka mendustakan Nuh; fanajjainãhu = lalu Aku selamatkan dia; wa man = dan orang-orang; ma’ahũ = bersamanya; fil fulki = dalam bahtera; wa ja’alnãhum = dan Aku jadikan mereka; kholã-ifa = penguasa; wa aghroqnã = dan Aku tenggelamkan; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyaatinã = dengan ayat-ayat-Ku; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘ãqibatu = akibat (kesudahannya); al mundzarĩn = orang-orang yang diberi peringatan.
fakadz dzabũhu fanajjainãhu wa mam ma’ahũ fil fulki wa ja’alnãhum kholã-ifa wa aghroqnãl ladzĩna kadzdzabũ bi ãyaatinã, fanzhur kaifa kaana ‘ãqibatul mundzarĩn.
73. Maka, mereka mendustakan Nuh, lalu Aku selamatkan dia, dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Aku jadikan mereka penguasa, dan Aku tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku. Maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir dari orang-orang yang mendustakan Nabi Nuh, mereka dimusnahkan. Hal ini menjadi peringatan kepada umat Nabi Muhammad saw. .
tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mim ba’dihĩi = dari sesudah Nuh; rusulan = Rasul-rasul; ilã = kepada; qoumihim = kaum mereka; fa jã-ũhum = maka (Rasul-rasul) datang kepada mereka; bil bayyinãti = dengan (keterangan) yang nyata; fa mã kãnũ = maka tidak ada mereka; li yu’minũ = mereka hendak beriman; bi mã = karena; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bihĩ = kepadanya; min qoblu = dari dahulu; kadzãlika = demikianlah; nathba’u = Aku kunci mati; ‘alã qulũbi = pada hati; al mu’tadĩn = orang-orang yang melampaui batas.
tsumma ba’atsnã mim ba’dihĩi rusulan ilã qoumihim fa jã-ũhum bil bayyinãti fa mã kãnũ li yu’minũ bi mã kadzdzabũ bihĩ min qoblu, kadzãlika nathba’u ‘alã qulũbil mu’tadĩn.
74. Kemudian setelah Nuh, Aku utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak mau beriman, karena mereka sejak dulu mendustakannya. Demikianlah Aku kunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang dari zaman dahulu banyak yang tidak mau beriman, mendustakan agama, sampai sekarang pun banyak yang demikian karena hati-hati mereka dikunci oleh Allah.

tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mim ba’dihim = sesudah mereka (Rasul-rasul); mũsã = Musa; wa hãrũna = dan Harun; ilã fir’auna = kepada Fir’aun; wa mala-ihĩ = dan pemuka-pemukanya; bi ãyaatinã = dengan ayat-ayat-Ku; fastakbarũ = maka mereka menyombongkan diri; wa kãnũ = dan mereka adalah; qauman = kaum; mujrimĩn = orang-orang yang yang berdosa.
tsumma ba’atsnã mim ba’dihim mũsã, wa hãrũna ilã fir’auna wa mala-ihĩ bi ãyaatinã fastakbarũ wa kãnũ qaumam mujrimĩn.
75. Kemudian, sesudah Rasul-rasul itu, Aku utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya dengan (membawa) ayat-ayat- Ku, maka mereka menyombongkan diri, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya melambangkan pemuka-pemuka zaman sekarang yang menyombongkan diri dengan undang-undang, peraturan-peraturan yang dibuatnya. Mereka berdosa, karena undang-undang, peraturan-peraturan yang dibuatnya tidak berdasarkan Alquran, sunah, dan haditsnya.

fa lammã = maka, ketika; jã-ahumu = datang kepada mereka; al haqqu = kebenaran; min ‘indinã = dari-Ku; qōlũ = mereka berkata; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; la sihrun = adalah sihir; mubĩn = yang nyata.
fa lammã jã-ahumul haqqu min ‘indinã qōlũ inna hãdzã la sihrum mubĩn.
76. Maka, ketika datang kepada mereka kebenaran dari-Ku, mereka berkata: “Sesungguhnya, ini adalah sihir yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang perbuatan sihir (Q.s. Al Baqarah, 2 : 102. Segala perbuatan, tingkah laku harus bedasarkan ketentuan dari Allah. Jangan mengikuti ajaran manusia, betapa pun pandainya, seperti ajaran Harut dan Marut, zaman Nabi Sulaiman a.s.. Nabi Sulaiman a.s. sendiri melakukan segala sesuatu yang ajaib itu atas tuntunan Allah, atas izin Allah. Demikian juga kemampuan Nabi Isa a.s.. Orang-orang yang tidak beriman kepadanya menganggap perbuatan para Nabi itu sihir (Q.s. An Nisa’ 4 : 108; Al Maidah, 5 : 110). Padahal bukan sihir, karena ada tuntunan Allah, dan atas izin Allah. Undang-undang dan peraturan di dalam Alquran itu sesungguhnya dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat di mana pun, dan kapan pun. Maka tiap-tiap negara, tiap-tiap masyarakat di suatu daerah membuat undang-undang, dan peraturan yang selaras dengan apa yang ditetapkan di dalam Alquran. Setiap kegiatan, apakah itu perorangan, atau menyangkut kelompok, tentu ada aturannya yang menyangkut kepentingan pribadi, atau kepentingan hidup berkelompok. Semuanya menyangkut akhlak, individual, dan akhlak kelompok; kepentingan hidup pribadi, dan kepentingan hidup berkelompok. Semuanya menyangkut hajat hidup diri sendiri maupun menyangkut hajat hidup berkelompok. Semuanya, kalau didasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya akan menciptakan akhlakul karimah. Ini merupakan tujuan utama umat beragama. Namun, kalau kegiatan itu tidak cocok dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidak membina akhlakul karimah, maka undang-undang dan peraturan itu harus ditolak. Tidak dapat menjadi pedoman hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

qōla mũsã = Musa berkata; ataqũlũna = apakah kamu mengatakan; lilhaqqi = terhadap kebenaran; lammã = ketika; jã-Akum = databg kepadamu; asihrun = sihirkah; hãdzã = ini; wa lã yuflihu = dan tidak beruntung; as sãhirũn = ahli-ahli sihir.
qōla mũsã ataqũlũna lilhaqqi lammã jã-Akum, asihrun hãdzã wa lã yuflihus sãhirũn.
77. Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan sihir terhadap kebenaran yang datang kepadamu?, padahal ahli-ahli sihir itu tidak mendapat kemenangan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 102. Larangan ilmu sihir yang berasal dari Harut dan Marut, ahli sihir pada zaman Nabi Sulaiman; Al Baqarah, 2 : 103 Ilmu dari Allah yang dapat menghidupkan orang mati, bukan sihir. Ilmu penyembuhan karena buah takwa dan iman kepada Allah bukan sihir. Kemampuan mengobati, atas izin Allah dan untuk memaslahatan makhluk-Nya itu bukanlah sihir. Itu kebenaran yang datang dari Allah melalui Nabi, dan orang-orang yang dipercaya untuk itu.
qōlũ = mereka berkata; aji’tanã = apakah kamu datang kepada kami; li talfitanã = untuk memalingkan kami; ‘ammã = dari apa; wajadnã = Aku dapati; ‘alaihi = darinya; ãbã-anã = nenek-moyang kami; wa takũna = dan menjadikan; lakumã = bagi kamu berdua; al kibriyaa-u = pembesar (pengyasa); fil ardhi = di bumi; wa mã nahnu = dan Aku tidak; lakumã = kepada kamu berdua; bimu’minĩn = dengan mempercayai.
qōlũ aji’tanã li talfitanã ‘ammã wajadnã ‘alaihi ãbã-anã wa takũna lakumãl kibriyaa-u fil ardhi, wa mã nahnu lakumã bimu’minĩn
78. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati dari (pekerjaan) nenek-moyang kami, dan supaya kamu berdua menjadi penguasa di bumi? Dan kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alasan orang untuk tidak mempercayai para Rasul Allah.

wa qōla = dan berkata; fir’aunu = Fir’aun; i’tũnĩ = datangkanlah kepada-Ku; bi kulli = dengan tiap-tiap (semua); sãhirin = ahli-ahli sihir; ‘alĩm = yang berilmu.
wa qōla fir’aunu’tũnĩ bi kulli sãhirin ‘alĩm.
79. Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka-pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli sihir yang berilmu”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Fir’aun yang menyuruh para pembesarnya mendatangkan ahil-ahli sihir yang pandai. Ada peralihan tema?

fa lammã = maka setelah; jã-a = datang; as saharotu = ahli sihir; qōla = berkata; lahum = kepada mereka; mũsã = Musa; alqũ = lemparkan; mã antum = apa yang kamu; mulqũna = orang yang melemparkan.
fa lammã jã-as sahararotu qōla lahum mũsã alqũ mã antum mulqũna.
80. Maka, setelah ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah, apa yang akan kamu lemparkan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Musa dengan ahli-ahli sihir.

fa lammã = maka setelah; alqou = mereka melemparkan; qōla = berkata; mũsã = Musa; mã ji’tum = apa yang kamu datangkan; bihi = dengannya; as sihru = sihir; innallãha = sesungguhnya Allah; sayubthiluh = akan membatalkannya; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yushlihu = tidak membiarkan berhasil; ‘amala = pekerjaan; al mufsidĩn = orang-orang yangmembuat kerusakan.
fa lammã alqou qōla mũsã mã ji’tum bihis sihru, innallãha sayubthiluh, innallãha lã yushlihu ‘amalal mufsidĩn.
81. Maka setelah mereka melemparkan, Musa berkata: “Apakah yang kamu datangkan itu sihir? Sesungguhnya, Allah akan membatalkannya.” Sesungguhnya, Allah tidak akan membiarkan berhasil pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih cerita Nabi Musa a.s. dengan ahli sihir. Allah tidak menghendaki keberhasilan orang-orang yang akan membuat kerusakan di bumi.

wa yuhiqqu = dan membenarkan; allãh = Allah; al haqqo = yang benar; bi kalimãtihĩ = dengan kalimat-Nya; walau = walalupun; kariha = tidak menyukai; al mujrimũn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa yuhiqqullãhul haqqo bi kalimãtihĩ walau karihal mujrimũn.
82. Dan Allah membenarkan yang betul dengan kata-kata-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menghendaki yang benar-benar betul atau yang betul-betul benar. Allah itu benar ada-Nya. Para Nabi itu adanya benar. Para Malaikat itu benar adanya. Alquran itu benar dari Allah. Neraka dan surga itu benar adanya. Dan orang-orang yang suka berbuat dosa tidak menyukai hal yang demikian.

fa mã ãmana = maka, tidak ada yang beriman; li mũsã = kepada Musa; illã = kecuali; dzurriyyatun = anak cucu; min qoumihĩ = dari kaumnya; ‘alã = atas; khoufin = rasa takut; min fir’auna = dari Fir’aun; wa mala-ihim = dan penguasa-penguasa; an yaftinahum = akan memfinah (menyiksa) mereka; wa inna fir’auna = dan sesungguhnya, Fir’aun; la’alin = berbuat sewenang-wenang; fil ardhi = di bumi; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; la mina = sungguh dari; al musrifĩn = orang-orang yang melampaui batas.
fa mã ãmana li mũsã illã dzurriyyatum min qoumihĩ ‘alã khoufim min fir’auna wa mala-ihim an yaftinahum, wa inna fir’auna la’alin fil ardhi wa innahũ la minal musrifĩn.
83. Maka, tidak ada yang beriman kepada Musa, kecuali anak-cucu dari kaumnya (Musa) dengan perasaan takut, bahwa Fir’aun dan pemuka-pemukanya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya, Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di bumi, dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Riwayat Nabi Musa dan anak-cucunya di bawah kekuasaan Fir’aun yang sewenang-wenang.

wa qōla = dan berkata; mũsã = Musa; yaa qoumi = wahai kaumku; in kuntum = jika kamu adalah; ãmantum = kamu beriman; billãhi = kepada Allah; fa ‘alaihi = maka kepada-Nya; tawakkalũ = bertawakallah; in kuntum = jika kamu adalah; muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.
wa qōla mũsã yaa qoumi in kuntum ãmantum billãhi fa ‘alaihi tawakkalũ in kuntum muslimĩn.
84. Dan Musa berkata: “Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu orang-orang yang berserah diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Musa a.s. memberi nasihat kepada kaumnya, agar selalu beriman kepada Allah, dan selalu bertawakal kepada-Nya.

fa qōlũ = maka mereka berkata; ‘alallãhi = kepada Allah; tawakkalnã = Aku bertawakal; Robanã = ya Rab kami; lã taj’alnã = janganlah Aku Engkau jadikan; fitnatan = fitnah; lil qoumi = bagi kaum; adh dhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
fa qōlũ ‘alallãhi tawakkalnã Robanã lã taj’alnã fitnatal lil qoumidh dhōlimĩn.
85. Maka mereka berkata: kepada Allah, “Kami bertawakal, yaa Rab kami, janganlah kami, Engkau jadikan fitnah bagi kaum yang lalim”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman selalu berdoa membesarkan Nama Allah, dan agar dijauhkan dari fitnah oleh orang-orang yang lalim.
wa najjinã = dan selamatkanlah kami; bi rohmatika = dengan rahmat Engkau; mina = dari; al qoumi = kaum; al kãfirĩn = orang-orang yang kafir.
wa najjinã bi rohmatika minal qoumil kãfirĩn
86. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu-daya) orang-orang yang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa kaum Nabi Musa yang dilanjutkan oleh Umat Islam. Memang, orang-orang kafir itu selalu membuat tipu daya kepada orang-orang muslim karena kepentingan keyakinannya yang sebetulnya sudah menyimpang dari kepercayaan kepada Allah Yang Maha-esa. Mereka menjadi musyrikin.
wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã = kepada; mũsã = Musa; wa akhĩhi = dan saudaraanya; an tabawwa-ã = hendaknya kamu berdua membuat; li qoumikumã = bagi kaummu berdua; bi mishro = di Mesir; buyũtan = beberapa rumah; waj’alũ = dan jadikanlah; buyũtAkum = rumah-rumah kamu; qiblatan = kiblat; wa aqĩmũ = dan dirikan; ash sholãta = salat; wa basysyiri = dan gembirakanlah; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
wa auhainã ilã mũsã wa akhĩhi an tabawwa-ã li qoumikumã bi mishro buyũtan waj’alũ buyũtAkum qiblatan wa aqĩmũsh sholãta wa basysyiril mu’minĩn
87. Dan Aku wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Hendaknya kamu berdua membuat beberapa rumah di Mesir (di sebelah manaɁ) untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumah itu sebagai kiblat (tempat salat), dan dirikanlah salat, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s. agar membuat beberapa rumah di Mesir ( untuk tempat salat, dan agar menggembirakan orang-orang yang beriman.

wa qōla mũsã = dan Musa berkata; Robanã = yaa Rōb kami; innaka = sesungguhnya Engkau; ãtaita = telah engkau datangkan (berikan); fir’auna = Fir’aun; wa malã-ahũ = dan pemuka-pemukanya; zĩnatan = perhiasan; wa amwãlan = dan harta kekayaan; fil hayaati = dalam kehidupan; ad dun-yaa = dunia; Robanã = yaa Rob kami; li yudhillu = untuk mereka menyesatkan; ‘an sabĩlika = dari jalan Engkau; Robana = yaa Rob kami; athmis = binasakanlah; ‘alã amwãlihim = atas harta kekayaan mereka; wasydud = dan keraskan (kunci mati); ‘alã qulũbihim = atas hati mereka; falã = maka tidak; yu’minũ = mereka beriman; hattã = sehingga; yarowu = mereka melihat; al ‘adzãba = azab (siksa); al alĩm = pedih.
wa qōla mũsã Robanã innaka ãtaita fir’auna wa malã-ahũ, zĩnatan wa amwãlan fil hayaatid dun-yaa Robanã li yudhillu ‘an sabĩlika, Robanathmis ‘alã amwãlihim wasydud ‘alã qulũbihim falã yu’minũ hattã yarowul ‘adzãbal alĩm.
88. Dan Musa berkata; “Yaa Rob kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, yaa Rob kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau, yaa Rob kami, binasakanlah harta kekayaan mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran dari ayat ini, perhiasan dan harta kekayaan dunia dapat menyesatkan pemiliknya dalam mengikuti jalan Allah. Harta kekayaan dunia menyebabkan hati pemiliknya terkunci untuk dapat beriman kepada Allah. Harta dunia sebaiknya, dan seharusnya dijadikan sarana berinfak, bersodakoh, untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdakwah untuk membesarkan Allah.

Qōla = (Allah) bersabda; qod = sesungguhnya; ujĩbat = telah diperkenankan; da’watukumã = permohonanmu berdua; fastaqĩmã = maka tetaplah kamu berdua; wa lã tattabi’ãnni = dan janganlah kamu mengikuti; sabĩla = jalan; al ladzĩna = orang-orang yang …; la ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
qōla qod ujĩbat da’watukumã fastaqĩmã wa lã tattabi’ãnni sabĩlal ladzĩna la ya’lamũn.
89. Allah bersabda: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu berdua, maka tetaplah kamu berdua (pada jalan yang lurus), dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memperkenankan doa yang baik-baik dari hambanya, dan meminta hamba-Nya selalu berjalan di jalan yang ditunjuki-Nya, bukan jalan dari orang-orang yang tidak berpengetahuan.
wa jãwaznã = dan Aku seberangkan; bi banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; al bahro = laut; fa atba’ahum = lalu mereka diikuti; fir’aunu = Fir’aun; wa junũduhũ = dan tentaranya; baghyan = menganiaya; wa ‘adwan = dan memusuhinya; hattã = sampai; idzã = ketika; adrokahu = dia (Fir’aun) telah hampir; al ghoroqu = tenggelam; qōla = dia berkata; ãmantu = saya percaya; annahũ = bahwa; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = selain; al ladzĩ = Dia Yang; ãmanat = dipercaya; bihĩ = dengan-Nya; banũ isrō-ĩla = Bani Israil; wa ana = dan saya; minal muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.
wa jãwaznã bi banĩ isrō-ĩlal bahro fa atba’ahum fir’aunu wa junũduhũ baghyan wa ‘adwan, hattã idzã adrokahul ghoroqu qōla ãmantu annahũ lã ilãha illãl ladzĩ ãmanat bihĩ banũ isrō-ĩla wa ana minal muslimĩn.
90. Dan Aku seberangkan Bani Israil melalui laut, lalu mereka diikuti Fir’aun dengan bala tentaranya akan menganiaya dan memusuhinya, sampai ketika Fir’aun hampir tenggelam, berkatalah dia. “Saya percaya, tidak ada ilah kecuali Dia Yang dipercaya oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa Bani Israil yang dikejar-kejar Fir’aun dengan tentaranya melintasi Laut Merah, dan pengakuan Fir’aun tentang ada-Nya Allah. Secara panjang-lebar diceriterakan dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 40 – 123

al ãna = apakah sekarang; wa qod = padahal sesungguhnya; ‘ashoita = kamu telah durhaka; qoblu = sejak dulu; wa kunta = dan kamu; minal mufsidĩn = termasuk orang-orang yang membuat kerusakan.
al ãna wa qod ‘ashoita qoblu wa kunta minal mufsidĩn
91. Mengapakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya, kamu telah durhaka sejak dulu, dan kamu termasuk orang-orang yang membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pengakuan Fir’aun dinilai Allah terlambat. Jadi, dia tetap dianggap sebagai orang-orang yang membuat kerusakan. Dosanya tidak diampuni.

fal yauma = maka pada hari ini, nunajjĩka = Aku selamatkan kamu; bi badanika = dengan badanmu; litakũna = supaya kamu menjadi; liman = bagi orang; kholfaka = di belakangmu; ãyaatan = ayat-ayat (pelajaran); wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan; minan nãsi = dari manusia; ‘an ãyaatinã = dari ayat-ayat Kami; la ghōfilũn = sungguh mereka lalai.
fal yauma nunajjĩka bi badanika litakũna liman kholfaka ãyaatan, wa inna katsĩrom minan nãsi ‘an ãyaatinã la ghōfilũn.
92. Maka, pada hari ini, Aku selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang di belakangmu, dan sesungguhnya, kebanyakan manusia lalai dari ayat-ayat-Ku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyelamatkan badan Fir’aun untuk menjadi ayat-ayat (pelajaran) yang tidak terlupakan oleh manusia. Namun, banyak juga yang melalaikan ayat-ayat Allah. Banyak yang hidupnya bermalas-malas saja. Tidak bergairah mencari ilmu yang disediakan Allah di alam semesta ini. Padahal ilmu itu akan meningkatkan taraf hidup orang yang memilikinya.

wa laqod = dan sesungguhnya; bawwa’nã = Aku tempatkan; banĩ isrō-ila = Bani Israil; mubawwa’a = di tempat; shidqin = yang baik; wa rozaknãhum = dan mereka Aku beri rezeki; minath thoyyibãti = dengan yang baik-baik; famakhtolafũ = maka mereka tidak berselisih; hattã = sampai; jã-a = datang; humu = kepada mereka; al ‘ilmu = ilmu; inna = sesungguhnya; Robbaka = Rob kamu; yaqdhĩ = Dia memutuskan; bainahum = di antara mereka; yauma = hari; al qiayaamati = kiamat; fĩmã = tentang apa; kãnũ = mereka adalah; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.
wa laqod bawwa’nã banĩ isrō-ila mubawwa’a shidqin wa rozaknãhum minath thoyyibãti famakhtolafũ hattã jã-a humul ‘ilmu, inna Robbaka yaqdhĩ bainahum yaumal qiayaamati fĩmã kãnũ fĩhi yakhtalifũn.
93. Dan sesungguhnya, Aku telah menempatkan Bani Israil di tempat yang baik, dan Aku beri mereka rezeki yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, sampai datang kepada mereka pengetahuan (yang ada di dalam Taurat). Sesungguhnya, Rob kamu akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kelebihan kepada Bani Israil. Ceriteranya secara panjang-lebar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 :40 – 123.

fa in = maka jika; kunta = kamu adalah; fĩ syãkkin = dalam keraguan; mimmã = dari apa yang; anzalnã = Aku turunkan; ilaika = kepadamu; fas-ali = maka tanyakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; yaqro-ũna = (mereka) membaca; al kitãba = Kitab; min qoblik = dari sebelum kamu; laqod = sesungguhnya; jã-aka = telah datang kepadamu; al haqqu = kebenaran; mir robbika = dari Rob kamu; fa lã takũnanna = maka kamu jangan sekali-kali; mina = dari (termasuk pada); al mumtarĩn = orang-orang yang ragu.
fa in kunta fĩ syaakkim mimmã anzalnã ilaika fas-alil ladzĩna yaqro-ũnal kitãba min qoblik, laqod jã-akal haqqu mir robbika fa lã takũnanna minal mumtarĩn.
94. Maka, jika kamu (Muhammad saw.) dalam keraguan tentang apa yang Aku turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab dari (zaman) sebelum kamu. Sesungguhnya, telah datang kepadamu kebenaran dari Rob kamu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. agar jangan menjadi orang yang ragu menerima kebenaran dari Allah. Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. menanyakan kepada ahli Kitab, agar memahami bahwa memang kebenaran itu datangnya dari Allah.
wa lã = dan jangan; takũnanna = sekali-kali kamu adalah; mina = dari (termasuk); al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyaatillãhi = dengan ayat-ayat Allah; fa takũna = maka kamu menjadi; mina = dari (termasuk); al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.
wa lã takũnanna minal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtillãhi fa takũna minal khōsirĩn.
95. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. (Kalau demikian) kamu temasuk orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. agar jangan mendustakan ayat-ayat Allah, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi.
inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; haqqot = telah pasti; ‘alaihim = bagi mereka; kalimatu = kalimat (keputusan); robbika = Rob kamu; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
innal ladzĩna haqqot ‘alaihim kalimatu robbika lã yu’minũn
96. Sesungguhnya, orang-orang yang telah pasti bagi mereka, putusan Rob kamu, mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang-orang yang menetapkan dirinya menjadi orang yang tidak beriman. Allah memutuskan ketetapan-Nya berdasarkan ketetapan akal-pikiran orangnya.

wa lau = walau; jã-at hum = telah datang kepada mereka; kullu = tiap-tiap (segala); ãyatin = ayat (keterangan); hattã = sampai; yarowu = mereka melihat; al ‘adzãba = azab; al alĩma = yang pedih.
wa lau jã-at hum kullu ãyatin hattã yarowul ‘adzãbal alĩma.
97. Walau telah datang segala ayat keterangan kepada mereka, sampai mereka melihat siksaan yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hal yang aneh bagi manusia yang tidak mau beriman, walaupun sekian banyak keterangan ayat-ayat Allah diturunkan, tetap saja mereka tidak mau beriman kepada Allah dan para Nabi, sampai Hari Kiamat.

fa lau = maka kalau; lã = tidak; kãnat = adalah; qoryatun = suatu negeri; ãmanat = beriman; fanafa’ahã = maka (lalu) memberi manfaat kepadanya; imãnuhã = imannya; illã = melainkan; qouma = kaum; yũnusa = Yunus; lammã = ketika; ãmanũ = mereka beriman; kasyafnã = Aku angkat (hilangkan); ‘anhum = dari mereka; adzãba = azab (siksaan); al khizyĩ = yang menghinakan; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dun-ya = dunia; wa matta’nãhum = dan Aku beri kenikmatan (kesenangan) mereka; ilã = sampai; hĩn = waktu tertentu.
fa lau lã kãnat qoryatun ãmanat fanafa’ahã imãnuhã illã qouma yũnusa lammã ãmanũ kasyafnã ‘anhum adzãbal khizyĩ fil hayãtid dun-ya wa matta’nãhum ilã hĩn.
98. Maka, mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri yang beriman, lalu imannya memberi manfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Aku hilangkan dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Aku beri kesenangan mereka sampai pada waktu yang tertentu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Suatu keanehan, mengapa hanya kaum Yunus saja yang mau beriman kepada Allah? Mereka (kaum Yunus) tidak mendapat siksaan dunia, dan diberi kesenangan (kenikmatan) sampai waktu tertentu.

wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; robbuka = Rob kamu; la-ãmana = tentulah beriman; man = orang; fil ãrdhĩ = di bumi; kulluhum = semua mereka; jamĩ’ãn = seluruhnya; afa anta = apakah kamu; tukrihun = benci (paksa); nãsa = manusia; hattã = sehingga; yakũnũ = mereka adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman;
wa lau syã-a robbuka la-ãmana man fil ãrdhĩ kulluhum jamĩ’ãn, afa anta tukrihun nãsa hattã yakũnũ mu’minĩn.
99. Dan kalau Rob kamu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia sehingga mereka beriman?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbedaan agama di dunia, ternyata kehendak Allah, tidak usah dirisaukan. Persoalan iman kepada Nabi Muhammad saw. tidak usah dipaksakan. Allah telah memberi akal dan pikiran kepada manusia untuk menentukan pilihannya, sesuai dengan petunjuk di dalam Alquran. Allah memberi kebebasan, mau atau tidak mau membacanya. Da’wah Islamiah harus digalakkan dengan cara yang baik, memberi contoh, santun, tidak memaksa, tebarkan buku-buku petunjuk. Insya Allah iman mereka akan tumbuh.
wa mã kãna = dan tidak ada; li nafsin = bagi seseorang; an tu’mina = untuk dia beriman; illã = kecuali; bi idznillãh = dengan izin Allah; wa yaj’alu = dan (Allah) menimpakan; ar rijsa = siksaan; ‘alãl ladzĩna = kepada orang-orang yang …; lã ya’qilũn = (mereka) tidak menggunakan akal.
wa mã kãna li nafsin an tu’mina illã bi idznillãh, wa yaj’alur rijsa ‘alãl ladzĩna lã ya’qilũn.
100. Dan tidak ada seorang pun akan beriman, kecuali atas izin Allah. Dan Allah akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Iman atau tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. itu juga atas izin Allah. Allah akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
quli = katakanlah; un zhurũ = perhatikanlah; mãdzã = apa yang ada; fis samãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; wa mã tughnĩ = dan tidak berguna; al ãyãtu = ayat-ayat (keterangan); wan nudzuru = dan ancaman; ‘an qoumin = kaum (golongan); al lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
qulin zhurũ mãdzã fis samãwãti wal ardhi, wa mã tughnĩl ãyãtu wan nudzuru ‘an qoumil lã yu’minũn
101. Katakanlah: “Perhatikan, apa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidak berguna keterangan-keterangan dan ancaman bagi orang-orang yang tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan untuk memperhatikan segala apa (ilmu) yang ada di langit dan di bumi. Semua itu akan menentukan, apakah seseorang itu mau beriman atau tidak, selamat atau celaka. Pelajarilah sebanyak-banyaknya ilmu yang berserakan di langit dan bumi, termasuk yang ada di dalam dirinya sendiri, demi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Bagi orang-orang yang tidak beriman tidak ada gunanya berbagai keterangan, dan ancaman.

fa hal = maka tidakkah; yantazhirũna = mereka menunggu-nunggu; illa = kecuali; misyla = misal, seperti; ayãmi = kejadian, hari-hari; al ladzĩna orang-orang yang …; kholau = (mereka) yang terdahulu; min = dari; qoblihim = sebelum mereka; qul = katakanlah; fantazhirũ = maka tunggulah; innĩ = sesungguhnya aku ; ma’akum = bersama kamu; mina = dari (termasuk); al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.
fa hal yantazhirũna illa misyla ayãmil ladzĩna kholau min qoblihim, qul fantazhirũ innĩ ma’akum minal muntazhirĩn.
102. Maka tidaklah mereka menunggu-nunggu, kecuali kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu, dari masa sebelum mereka. Katakanlah, “Maka, tunggulah, sesungguhnya, aku beserta kamu, termasuk orang-orang yang menunggu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ungkapan ini sering dikemukakan (Q.s. Yunus, 10 : 20). Orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman, semua sedang menunggu janji dirinya, dan janji Allah.
tsumma = kemudian; nunajjĩ = Aku selamatkan; rusulanã = Rasul-rasul Kami; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; kadzãlika = seperti itu; haqqon = menjadi hak (kewajiban); ‘alainã = atas Kami; nunji = menyelamatkan; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
tsumma nunajjĩ rusulanã wal ladzĩna ãmanũ, kadzãlika haqqon ‘alainã nunjil mu’minĩn.
103. Kemudian, Aku selamatkan Rasul-rasul-Ku dan orang-orang yang beriman, seperti itu menjadi kewajiban-Ku, menyelamatkan orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian ini berulang-ulang terjadi di dunia ini. Allah selalu meneyelamatkan para Rasul dan orang-orang yang beriman
qul = katakanlah; yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; in kuntum = jika kamu adalah; fĩ syakkin = dalam keraguan; min dĩnĩ = dalam agamaku; fa lã ‘abudu = maka Aku tidak menyembah; al ladzĩna = orang-orang yang; ta’budũna = kamu menyembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; walãkin = tetapi; a’budũlãh = Aku menyembah Allah; al ladzĩ = yang; yatawaffãkum = Dia mewafatkan kamu; wa umirtu = dan Aku diperintahkan; an akũna = supaya Aku menjadi; minal mu’minĩn = dari orang-orang yang beriman.
qul yaa ayyuhan nãsu in kuntum fĩ syakkim min dĩnĩ fa lã ‘abudul ladzĩna ta’budũna min dũnillãhi walãkin a’budũlãhal ladzĩ yatawaffãkum, wa umirtu an akũna minal mu’minĩn.
104. Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keraguan tentang agamaku, maka aku tidak menyembah apa yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mewafatkan kamu dan aku, diperintahkan supaya aku menjadi orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan, seperti yang tersebut di dalam ayat ini, untuk menguatkan pendirian agama manusia. Allah memerintah Nabi Muhammad saw. agar beriman kepada-Nya.
wa an aqim = dan hendaknya hadapkan; wajhaka = mukamu; lidz dzĩni = kepada agama; hanĩfan = dengan ikhlas; wa lã takũnanna = dan sekali-kali jangan kamu; minal musyrikĩn = dari orang-orang yang musyrik.
wa an aqim wajhaka lidz dzĩni hanĩfan wa lã takũnanna minal musyrikĩn
105. Dan (aku diperintah): “Hadapkanlah mukamu ke agama itu dengan ikhlas, dan jangan sekali-kali kamu menjadi orang-orang yang musyrik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diperintah untuk memelihara, menekuni, memperhatikan, menegakkan dengan ikhlas, agama yang dianut dan ditetapkan Allah, dan larangan, jangan menjadi musyrik. Peringatan bagi orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, dan murtad.
wa lã tad’u = dan kamu jangan menyembah; min dũnilãhi = pada selain Allah; mã lã = tidak dapat; yanfa’uka = memberi manfaat kepadamu; wa lã = dan tidak; yadhurruka = memberi mudarat kepadamu; fa in = maka jika; fa’alta = kamu berbuat; fa innaka = maka sesungguhnya kamu; idzan = maka jika; mina = dari (termasuk); zhōlimĩn = orang-orang lalim.
wa lã tad’u min dũnilãhi mã lã yanfa’uka wa lã yadhurruka, fa infa’alta fa innaka idzam minazh zhōlimĩn.
106. Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat, dan tidak pula memberi mudarat kepadamu. Maka jika kamu berbuat demikian, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang lalim
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan larangan menyembah sesuatu dalam arti mengabdikan diri kepada makhluk (benda, manusia, harta). Perbuatan mengabdi kepada selain Allah adalah perbuatan orang-orang lalim.

wa in = dan jika; yamsaskallãhu = Allah menimpakan kepadamu; bi dhurrin = dengan kemudaratan; fa lã = maka tidak; kãsyifa = mengangkat (menghilangkan); lahũ = baginya; illã = kecuali; huwa = Dia; wa in = dan jika; yuridka = Dia menghendaki kepadamu; bi khoirin = dengan kebaikan; fa lã = maka tidak ada; rōdda = menolak (menyangkal); li fadhlihĩ = bagi karunianya; yushĩbu = Dia berikan; bihĩ = dengannya; man = siapa; yasyaa’u = Dia kehendaki; min ‘ibãdihĩ = dari hamba-hamba-Nya; wa huwa = dan Dia; al ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa in yamsaskallãhu bi dhurrin fa lã kãsyifa lahũ illã huwa, wa in yuridka bi khoirin fa lã rōdda li fadhlihĩ, yushĩbu bihĩ man yasyaa’u min ‘ibãdihĩ, wa huwal ghofũrur rohĩm.
107. Dan jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Dia menghendaki kebaikan kamu, maka tidak ada yang dapat menahan karunia-Nya. Dia memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki bagi hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kekuasaan Allah atas makhluk mutlak. Makhluk-Nya harus menerima apa yang dikehendaki-Nya. Makhluk-Nya harus berserah diri pada apa yang ditetapkan Allah.
qul = katakanlah; yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sesungguhnya; jã-akumu = telah datang kepadamu; al haqqu = kebenaran; mir Robikum = dari Rob kamu; fa mani = maka barang siapa; ihtadã = mendapat petunjuk; fa innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yahtadĩ = memberi petunjuk; li nafsihĩ = bagi dirinya sendiri; wa man = dan barang siapa; dholla = sesat; fa innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yadhillu = menyesatkan; ‘alaihã = atas dirinya sendiri; wa mã = dan tidak (bukan); ana = Aku ; ‘alaikum = atas dirimu; bi wakĩlin = penjaga.
qul yaa ayyuhan nãsu qod jã-akumul haqqu mir robikum, fa manihtadã fa innamã yahtadĩ li nafsihĩ, wa man dholla fa innamã yadhillu ‘alaihã, wa mã ana ‘alaikum bi wakĩlin
108. Katakanlah: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Alquran) dari Rob kamu. Maka, barang siapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya hanyalah memberi petunjuk bagi dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya hanya menyesatkan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga bagi dirimu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar menegaskan kebenaran petunjuk-Nya. Mereka yang menerima, akan mendapat petunjuk bagi masing-masing. Mereka yang tidak mau menerima, hidup mereka akan sesat. Nabi tidak bertanggung jawab pada kesesatan manusia, karena Nabi telah melaksanakan tugasnya untuk mengingatkan, mengabarkan, memberi tahu.
wat tabi’ = dan ikutilah; mã yũhã ilaika = apa yang diwahyukan kepadamu; washbir = dan bersabarlah; hattã = sampai; yahkumallãhu = Allah memberi keputusan; wa huwa = dan Dia; khoirul hãkimĩn = Hakim Yang sebaik-baiknya.
wat tabi’ mã yũhã ilaika washbir hattã yahkumallãhu, wa huwa khoirul hãkimĩn
109. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah sampai Allah memberi keputusan, dan Dialah Hakim Yang sebaik-baiknya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir Surat ini, Allah memerintahkan untuk mengikuti dengan kesabaran wahyu yang diberikan-Nya. Segala persoalan, Allah yang memutuskan pemecahannya. Allah lah Hakim Yang terbaik.

009 At Taubah

Attaubah
Surat Pengampunan (Surat Kebebasan)
Surat ke-9, Madaniah, 129 ayat
Juz 10 beralih ke juz 11 pada ayat 94.
Catatan Awal
Istilah Attaubah ini sering diulang dalam surat ini. Nama lain surat ini Bara-ah artinya pemutusan hubungan damai dengan kaum musyrikin karena mereka tidak menepati perjanjian yang telah disepakati. Diterjemahkan Surat Kebebasan karena pada ayat 2 dinyatakan adanya kebebasan bergerak, berperilaku bagi semua orang dalam waktu empat bulan. Diterjemahkan juga Surat Pengampunan karena Allah memberi pengampunan kepada setiap orang menyadari kekeliruannya, melanggari perjanjian yang telah dibuatnya sendiri. Arti lain, “pernyataan perang total” dengan kaum musyrikin, maka surat ini, tidak dimulai dengan basmalah. Tidak menunjukkan sifat kasih-sayang Allah.
Surat ini turun, ketika Nabi Muhammad saw. baru pulang dari Perang Tabuk, pada tahun ke-9 Hijriah. Diumumkan oleh Sayidina Ali r.a.
Isi pokok lainnya adalah: Allah selalu menyertai, dan melindungi orang-orang yang beriman; sifat-sifat orang yang beriman, dan yang tidak beriman dengan tingkatan-tingkatannya; Allah membalasi setiap amal-perbuatan manusia; segala sesuatu terjadi, karena ada Hukumullah dan Sunatullah; Allah selalu melindungi orang-orang yang beriman; kedudukan Nabi Muhammad saw. di hadapan Allah.
Ada hukum tentang harta: kewajiban menafkahkan bermacam-macam harta; jizyah, hukum perjanjian dan perdamaian; kewajiban umat Islam kepada Nabi; cara berperang orang Islam; dasar berpolitik dan bernegara.
Ada kisah Nabi, ketika hijrah bersama Abu Bakar di Bukit Tur; kisah Perang Hunain atau Perang Authas atau Perang Hawazim; kisah Perang Tabuk.

Attaubah
Surat Pengampunan (Kebebasan)

Barō-atun = pemutusan perhubungan; minallãhi = dari Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; ila = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhad = mengadakan perjanjian; tum = kamu; min = dari (dengan); al musyrikĩn = orang-orang musyrikin.
Barō-atum minallãhi wa rosũlihĩ ilalladzĩna ‘ãhattum minal musyrikĩn
1. Pemutusan perhubungan janji dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah dan Rasul-Nya memutuskan hubungan janji dengan orang-orang musyrik itu, karena orang-orang musyrik, selalu melanggari isi perjanjian (ingkar). Keputusan ini dari Allah dan Rasul-Nya, dalam situasi dan kondisi yang menentukan masa depan Islam.

fã sĩhũ = maka berjalanlah (bebaslah) kamu; fil ardhi = di bumi; arba’ata = empat; asyhurin = bulan; wa’lamũ = dan ketahuilah; annakum = sesungguhnya kamu; ghoiru = tidak (bukan); mu’jizillãhi = melemahkan Allah; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; mukhzi = menghinakan; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
fã sĩhũ fil ardhi arba’ata asyhurin wa’lamũ annakum ghoiru mu’jizillãhi, wa annallãha mukhzil kãfirĩn.
2. Maka berjalanlah (bebaslah) kamu di muka bumi empat bulan, dan ketahuilah, kamu tidak dapat melemahkan Allah. Sesungguhnya, Allah menghinakan orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kesempatan selama empat bulan, apakah mau bertobat, atau tetap tidak mengakui ada-Nya Allah dan Nabi-Nya (tidak mau menepati perjanjian), sambil mengingatkan, Allah tidak dapat dilemahkan. Allah akan menghinakan orang kafir.
wa adzãnun = dan seruan; minallãhi = dari Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; ila = kepada; an nãsi = manusia; yauma = pada hari; al hajjil akbari = Haji Akbar; innallãha = sesungguhnya Allah; barĩ-un = berlepas diri; min = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik; wa rosũluhu = dan Rasul-Nya; fa in = maka jika; tubtum = kamu bertobat; fa huwa = maka itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu; wa in = dan jika; tawallaitum = kamu berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annakum = sesungguhnya kamu; ghoiru = tidak (bukan); mu’jizĩllãhi = melemahkan Allah; wa basysyiri = dan beritakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; bi’adzãbin = dengan azab; alĩm = pedih.
wa adzãnum minallãhi wa rosũlihĩ ilan nãsi yaumal hajjil akbari innallãha barĩ-um minal musyrikĩn, wa rosũluhu, fa in tubtum fa huwa khoirul lakum, wa in tawallaitum fa’lamũ annakum ghoiru mu’jizĩllãhi, wa basysyiril ladzĩna kafarũ bi’adzãbin alĩm.
3. Dan seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada Hari Haji Akbar, sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Maka, jika kamu (orang-orang musyrik) bertobat, itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling, ketahuilah, sesungguhnya, kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir, (mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang musyrik diminta memilih: mau bertobat, dan mau menjalin kerjasama dengan Islam dalam ketenangan, ketertiban bernegara, dan berekonomi, atau mau terus memusuhi Islam, dan membuat kekacauan, kerusuhan di mana-mana. Secara berulang-ulang orang kafir diperingatkan, mereka akan mendapat siksa yang pedih (ayat 34, 39, 55, 101, 118, dan dalam banyak surat-surat yang lain).

illalladzĩna = kecuali orang-orang yang …; ‘ãhadtum = kamu telah mengadakan perjanjian; minal musyrikĩna = dari orang-orang musyrik; tsumma = kemudian; lam yanqushũkum = mereka tidak mengurangi kamu; syai-an = sedikit pun; wa lam yuzhãhirũ = dan mereka tidak membantu; ‘alaikum = kepadamu; ahadan = seseorang; fa atimmũ = maka penuhilah; ilaihim = terhadap mereka; ‘ahdahum = janji mereka; ilã = sampai; mudda tihim = batas waktu mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muttaqĩn = orang-orang yang bertakwa.
illalladzĩna ‘ãhadtum minal musyrikĩna tsumma lam yanqushũkum syai-an wa lam yuzhãhirũ ‘alaikum ahadan fa atimmũ ilaihim ‘ahdahum ilã mudda tihim, innallãha yuhibbul muttaqĩn.
4. Kecuali orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian antara kamu dan mereka, kemudian mereka tidak mengurangi satu pun dari isi perjanjianmu itu, dan mereka tidak membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka, penuhilah janjinya, sampai batas waktunya. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu cara menghadapi orang-orang musyrik.

fa idza = maka bila; in salakha = sudah habis; al asyhuru = bulan-bulan; al hurumu = Haram; faqtulũ = maka bunuhlah; al musyrikĩna = orang-orang musyrik; haitsu = di mana saja; wajadtumũhum = kamu temui mereka; wa khudzũhum = dan tangkaplah mereka; wahshurũhum = dan kepunglah mereka; waq’udũ = dan intai; lahum = bagi mereka; kulla = tiap-tiap; marshodin = tempat pengintaian; fa in = maka jika; tãbũ = mereka bertobat; wa aqōmũ = dan mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtawuzzakãta = dan menunaikan zakat; fa khollũ = maka berilah kebebasan; sabĩlilahum = jalan mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
fa idzan salakhal asyhurul hurumu faqtulul musyrikĩna haitsu wa jadtumũ hum wa khudzũ hum wahshurũ hum waq’udũ lahum kulla marshodin, fa in tãbũ wa aqōmũsh sholãta wa ãtawuzzakãta fa khollũ sabĩlilahum, innallãha ghofũrur rohĩm.
5. Maka bila telah habis bulan-bulan haram, bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah, kepunglah, dan intailah mereka di tiap-tiap tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat, menunaikan zakat, maka berilah kebebasan perjalanan mereka. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, bagaiamana memperlakukan orang-orang musyrik yang tidak mau bekerjasama membina kehidupan berpemerintahan yang baik.

wa in = dan jika; ahadun = seseorang; min = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrikin; is tajãroka = minta perlindungan kamu; fa ajirhu = maka lindungliah dia; hattã = sehingga; yasma’a = dia mendengar; kalãmallãhi = kalam Allah; tsumma = kemudian; abligh-hu = antarkan dia; ma’manah = tempat yang aman baginya; dzãlika = demikian itu; bi an nahum = karena sesungguhnya mereka; qoumun = kaum; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
wa in ahadum minal musyrikĩnas tajãroka fa ajirhu hattã yasma’a kalãmallãhi tsumma abligh-hu ma’manah, dzãlika bi an nahum qoumul lã ya’lamũn.
6. Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia, hingga dia mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu, karena sesungguhnya, mereka kaum yang tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, bagaimana memperlakukan orang-orang yang meminta perlindungan. Segala sesuatunya masih perlu diawasi, sampai benar-benar aman untuk semua.

kaifa = bagaimana; yakũnu = ada (jadi); lilmusyrikĩna = bagi orang-orang musyrikin; ‘ahdun = perjanjian; ‘indallãhi = terhadap Allah; wa ‘inda rosũlihĩ = dan terhadap Rasul-Nya; illa = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhadtum = kamu telah mengadakan perjanjian; ‘inda = di dekat; al masjidil harōmi = Masjidil Haram; fa mastaqōmũ = maka selama mereka berlaku lurus; lakum = kepada kamu; fastaqĩmũ = maka berlaku luruslah kamu; lahum = terhadap mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.
kaifa yakũnu lilmusyrikĩna ‘ahdun ‘indallãhi wa ‘inda rosũlihĩ illal ladzĩna ‘ãhadtum ‘indal masjidil harōmi, fa mastaqōmũ lakum fastaqĩmũ lahum, innallãha yuhibbul muttaqĩn.
7. Bagaimana dapat ada perjanjian bagi orang-orang musyrik terhadap Allah dan Rasul-Nya, kecuali orang-orang yang telah membuat perjanjian antara kamu dan mereka di dekat Masjidil Haram? Selama mereka berlaku lurus kepadamu, maka berlaku luruslah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada persoalan orang-orang musyrikin yang tidak berlaku lurus (tidak menaati perjanjian). Allah memberi arahan, harus dibedakan dengan orang-orang musyrik yang berlaku lurus.
kaifa = bagaimana; wa in = dan jika (padahal); yadh-harũ = mereka mengalahkan; ‘alaikum = atas kamu; lã yarqubũ = mereka tidak memelihara; fĩ kum = terhadap kamu; illaan = persaudaraan; wa lã = dan tidak; dzimmata = perjanjian; yurdhũnakum = mereka menyenangkan kamu; bi afwãhihim = dengan mulut mereka; wa ta’bã = dan menolak (enggan); qulũbuhum = hati mereka; wa aktsaruhum = dan kebanyakan mereka; fãsikũn = orang-oran fasik.
kaifa wa in yadh-harũ ‘alaikum lã yarqubũ fĩ kum illaan wa lã dzimmata, yurdhũnakum bi afwãhihim wa ta’bã qulũbuhum wa aktsaruhum fãsikũn.
8. Bagaimana (ada perjanjian di hadapan Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrik), padahal jika mereka mengalahkan kamu, mereka tidak memelihara hubungan persaudaraan kepadamu, dan tidak (pula memelihara) perjanjian. Mereka menyenangkan kamu dengan mulut mereka, sedang hati mereka menolak. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah tentang perilaku dan sikap orang-orang musyrik. Harus dihadapi dengan berhati-hati, dan bijaksana.
asytarau = mereka menukar; bi ãyãtillãhi = ayat-ayat Allah dengan; tsamanan = harga; qolĩlan = kecil (sedikit); fa shaddũ = lalu mereka menghalangi; ‘an sabĩlihĩ = di jalan Allah; innahum = sesungguhnya mereka; sã-a = amat buruk; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.
asytarau bi ãyãtillãhi tsamanan qolĩlan fa shaddũ ‘an sabĩlihĩ, innahum sã-a mã kãnũ ya’malũn.
9. Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang kecil (sedikit), lalu mereka menghalangi (manusia) di jalan Allah. Sesungguhnya, sangat buruk, apa yang mereka kerjakan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah lagi soal perilaku dan sikap orang-orang musyrik.
lã = tidak; yarqubũna = mereka memelihara; fĩ mu’minin = kepada orang-orang mukmin; illan = kerabat; wa lã = dan tidak; dzimmah = perjanjian; wa ulã-ika = dan mereka itu; hum = mereka; al mu’tadũn = orang-orang yang melampaui batas.
lã yarqubũna fĩ mu’minin illan wa lã dzimmah, wa ulã-ika humul mu’tadũn.
10. Mereka tidak memelihara (hubungan) kekerabatan kepada orang-orang mukmin, dan tidak (memelihara) perjanjian, dan mereka itu, orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah lagi soal perilaku dan sikap orang-orang musyrik.
fa-in = maka jika; tãbũ = mereka bertobat; wa aqōmũ = mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtawu = dan menunaikan; az zakãta = zakat; fa ikhwãnukum = maka saudara-saudara kamu; fĩd dĩni = dalam agama; wa nufash shilu = dan Kami jelaskan; al ãyãti = ayat ayat itu; li qoumin = kepada kaum; ya’lamũn = mereka mengetahui.
fa-in tãbũ wa aqōmũsh sholãta wa ãtawuz zakãta fa ikhwãnukum fid dĩni wa nufash shilul ãyãti li qoumin ya’lamũn.
11. Maka, jika mereka bertobat dan mendirikan salat, serta menunaikan zakat, maka (mereka) adalah saudara-saudara kamu dalam agama. Dan Aku jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mau mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Arahan Allah dalam menghadapi orang-orang yang bertobat.

wa in = dan jika; nakutsũ = mereka merusak; aimãnahum = janji mereka; mim ba’di = dari sesudah; ‘ahdihim = janji mereka; wa tho’anũ = dan mereka mencela; fĩ = pada; dĩnikum = agamamu; fa qōtilũ = maka perangilah; aimmata = pemimpin-pemimpin; al kufri = orang-orang kafir; innahum = sesungguhnya mereka; lã aimãna = tidak ada janji; lahum = bagi mereka; la’alahum = supaya mereka; yantahũn = mereka berhenti.
wa in nakutsũ aimãnahum mim ba’di ‘ahdihim wa tho’anũ fĩ dĩnikum fa qōtilũ aimmatal kufri, innahum lã aimãna lahum la’alahum yantahũn.
12. Dan jika mereka merusak janjinya, sesudah mereka berjanji, dan mereka mencela agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, supaya mereka berhenti, karena sesungguhnya, mereka tidak ada janjinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah dalam menghadapi orang-orang kafir.
alã = mengapa tidak; tuqōtilũna = kamu memerangi; qouman = kaum; nakutsũ = mereka menodai; aimãnahum = janji mereka; wa hammũ = dan mereka ingin sekali; bi ikhrōji = dengan mengusir; ar rosũli = Rasul; wa hum = dan mereka; bada-ũkum = memulai (memerangi) kamu; awwala = pertama; marrotin = kali; atakhsyaunahum = apakah kamu takut kepada mereka; fallãhu = padahal Allah; ahaqqu = lebih berhak; an takhsyauhu = untuk kau takuti; in kuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
alã tuqōtilũna qouman nakutsũ aimãnahum wa hammũ bi ikhrōjir rosũli wa hum bada-ũkum awwala marrotin, atakhsyaunahum, fallãhu ahaqqu an takhsyauhu in kuntum mu’minĩn
13. Mengapa kamu tidak memerangi kaum yang menodai perjanjiannya, padahal, mereka ingin sekali mengusir Rasul, dan merekalah yang pertama kali memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka? Padahal, Allahlah lebih berhak kamu takuti, jika kamu orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan alasan memerangi orang-orang kafir.

qōtilũhum = perangilah mereka; yu’adzdzibhumullãhu = Allah akan mengazab mereka, bi aidĩkum = melalui tangan-tanganmu; wa yukhzihim = dan Dia akan menghinakan mereka; wa yashurkum = dan Dia akan menolong kamu; ‘alaihim = terhadap mereka; wa yasyfĩ = dan Dia akan mengobati (melegakan); shudũra = hati (dada); qoumin = kaum; mu’minĩn = orang-orang yang beriman
qōtilũhum yu’adzdzibhumullãhu bi aidĩkum wa yukhzihim wan yanshurkum ‘alaihim wa yasyfĩ shudũra qoumin mu’minĩn.
14. Perangilah mereka, Allah akan mengazab mereka, dengan perantaraan tangan-tanganmu, dan Dia akan menghinakan mereka dan menolong kamu menghadapi mereka, dan Dia melegakan hati orang-orang yang beriman
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah orang-orang beriman untuk memerangi orang kafir.

wa yudz-hib = dan Dia menghilangkan; ghoizhō = panas; qulũbihim = hati orang-orang beriman; wa yatũbullãhu = dan Allah menerima tobat; ‘alã man yasyã-u = dari orang-orang yang dikehendaki; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
wa yudz-hib ghoizhō qulũbihim, wa yatũbullãhu ‘alã man yasyã-u, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
15. Dan Dia menghilangkan panas hati orang-orang mukmin, dan Allah menerima tobat yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui Kebijakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan sifat-sifat-Nya.
am = apakah; hasibtum = kamu mengira; an tutrokũ = kamu akan dibiarkan; wa lammã = sedang belum; ya’lamillãhu = Allah mengetahui; al ladzĩna = orang-orang yang; jãhadũ = (mereka) berjihad; min kum = di antara kamu; wa lam = dan tidak; yattakhidzũ = (mereka) mengambil; min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lã = dan tidak; rosũlihĩ = Rasul-Nya; wa lal mu’minĩna = dan tidak orang-orang yang beriman; wa lĩjatan = teman setia; wallãhu = dan Allah; khobirun = Maha Mengetahui; bi mã = dengan apa; ta’malũn = kamu kerjakan.
am hasibtum an tutrokũ wa lammã ya’lamillãhul ladzĩna jãhadũ min kum wa lam yattakhidzũ min dũnillãhi wa lã rosũlihĩ wa lal mu’minĩna wa lĩjatan, wallãhu khobirum bi mã ta’malũn.
16. Apakah kamu mengira akan dibiarkan, sedang Allah belum membuktikan orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan mereka tidak mengambil teman yang setia, selain Allah dan Rasul-Nya, beserta orang-orang yang beriman. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak akan membiarkan begitu saja, orang-orang yang berniat jihad di jalan Allah, dan tidak akan menolong orang yang pergi berperang, tapi dengan niat yang lain.
mã kãna = tidak pantas; lil musyrikĩna = bagi orang-orang musyrik; an ya’murũ = jika mereka memakmurkan; masãjidallãhi = masjid-masjid Allah; syãhidĩna = mereka mengakui; ‘alã anfusihim = atas diri mereka sendiri; bilkufri = dengan kafir; ulã-ika = mereka itu; habithot = sia-sia; a’mãluhum = amal mereka; wa fin nãri = dan di dalam api neraka; hum khōlidũn = mereka kekal.
mã kãna lil musyrikĩna an ya’murũ masãjidallãhi syãhidĩna ‘alã anfusihim bilkufri, ulã-ika habithot a’mãluhum wa fin nãri hum khōlidũn.
17. Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui dirinya kafir. Sia-sialah amal baik mereka. Mereka kekal di dalam neraka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah tentang orang-orang yang pantas, dan yang tidak pantas memakmurkan masjid.

innamã = sesungguhnya; ya’muru = yang memakmurkan; masajĩdallãhi = masjid Allah; man = orang; ãmana = beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan Hari Akhirat; wa akōma = dan mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtaz zakãta = dan menunaikan zakat; wa lam yakhsya = dan tidak takut; illãllãh = kecuali kepada Alãh; fa ‘asã = maka mudah-mudahan; ulãika = mereka itu; an yakũnũ = mereka menjadi; min = dari; al muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.
innamã ya’muru masajĩdallãhi man ãmana billãhi wal yaumil ãkhiri wa akōmash sholãta wa ãtaz zakãta wa lam yakhsya illãllãh, fa ‘asã ulãika an yakũnũ minal muhtadĩn.
18. Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan tetap mendirikan salat, tetap menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi arahan orang-orang yang seharusnya memakmurkan masjid. Allah dengan santun-Nya mengharapkan, orang-orang yang memakmurkan masjid Allah itu mendapat petunjuk-Nya.

aja’altum = apakah kamu menganggap; siqōyata = pemberi minum; al hãjji = orang-orang yang mengerjakan ibadah haji; wa ‘imãrota = dan pemakmur (pengurus); al masjidil harōmi = Masjidil Haram; kaman = seperti orang; ãmanna = beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil akhiri = dan Hari Akhirat; wa jãhada = dan berjihad; fĩ sabĩlillãh = di jalan Allah; lã yastawũna = mereka tidaklah sama; indallãh = di hadapan Allah; wallãhu = dan Allah; lã yahdi = tidak memberi petunjuk; al qoumazhzhōlimĩn = kaum yang lalim.
aja’altum siqōyatal hãjji wa ‘imãrotal masjidil harōmi kaman ãmanna billãhi wal yaumil akhiri wa jãhada fĩ sabĩlillãh, lã yastawũna indallãh, wallãhu lã yahdil qoumazhzhōlimĩn.
19. Apakah kamu menganggap sama, orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji, dan mengurus Masjidil Haram sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di hadapan Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan, orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji, dan orang-orang yang mengurus Masjidil Haram itu, belum tentu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Mereka hanya mengharapkan perlindungan, dan ingin mendapatkan imbalan dari pekerjaannya.

al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa hãjarũ = dan mereka berhijrah; wajãhadũ = dan berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; bi amwãlihim = dengan hartanya; wa anfusihim = dan jiwa mereka; a’zhomu = lebih mulia (tinggi); darojatan = derajat; ‘indallãh = di hadapan Allah; wa ulã-ika = dan mereka itu; hum = mereka; ul fãizũn = orang-orang yang beruntung.
al ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wajãhadũ fĩ sabĩlillãhi bi amwãlihim wa anfusihim a’zhomu darojatan ‘indallãh, wa ulã-ika humul fãizũn.
20. Orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, itu lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan ciri-ciri orang-orang yang beriman.
yubasy syiru hum = menggembirakan mereka; Robbuhum = Rab mereka; bi rohmatim = dengan rahmat; min hu = dari-Nya; wa ridhwãnin = dan kerelaan; wa jannãtin = dan surga; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; na’ĩmun = kesenangan; muqĩmun = yang kekal.
yubasy syiru hum Rabuhum bi rohmatim min hu wa ridhwãnin wa jannaatil lahum fĩhã na’ĩmum muqĩmun.
21. Rab mereka menggembirakannya dengan rahmat dari-Nya, keridoan dan surga. Bagi mereka kesenangan yang kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggembirakan orang-orang yang beriman dengan rahmat, artinya berkah, karunia, dan belas-kasih Allah.

Khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadan = selama-lamanya; innallãha = sesungguhnya Allah; indahũ = dari haribãn-Nya; ajrun = pahala; azhĩm = yang mulia
khōlidĩna fĩhã abadan, innallãha indahũ ajrun azhĩm.
22. Mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya. Sesungguhnya, dari Allah lah balasan yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan membalas keimanan seseorang dengan berbagai berkah, karunia, dan belas kasih-Nya yang banyak dan mulia.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; lã tattakhidzũ = jangan kamu jadikan; ãbã-akum = bapak-bapak kamu; wa ikhwãnakum = dan saudara-saudara kamu; auliyã-a = pemimpin; ini = jika; istahabbũ = menginginkan; al kufro = kekafiran; ‘ala = di atas; al ĩmãni = keimanan; wa man = dan siapa; yatawallahum = menjadikan mereka pemimpin; min kum = di antara kamu; fa ũlãika = maka mereka itu; hum = mereka; uzh zhōlimũn = lalim.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã tattakhidzũ ãbã-akum wa ikhwãnakum, auliyã-a inistahabbũl kufro ‘alal ĩmãni, wa man yatawallahum min kum fa ũlãika humuzh zhōlimũn.
23. Wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu (menjadi) pemimpin, jika menginginkan kekafiran atas keimananmu, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itu orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah, jangan mengambil pemimpin, jika mereka menginginkan kamu menjadi kafir. Pemimpin yang demikian itu lalim.

qul = katakanlah; in kãna = jika ada; ãbã-ukum = bapak-bapakmu; wa abnã-ukum = dan anak-anakmu; wa ikhwãnukum = dan saudara-saudaramu; wa azwãjukum = dan istri-istrimu; wa ‘’asyĩrotukum = dan keluargamu; wa amwãlun = dan harta-bendamu; iqtaroftumũhã = kamu usahakan; wa tijãrotun = dan perniagãn; takhsyauna = kamu khawatir; kasãdahã = kerugiannya; wa masãkinu = dan rumah-rumah tempat tinggal; turdhounahã = kamu senangi; ahabba = lebih mencintai; ilaikum = kepadamu; minallãhi = daripada kepada Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; wa jihãdin = dan berjihad; fĩ sabĩlilihĩ = di jalan-Nya; fa tarobashũ = maka tunggulah; hattã = sampai; ya’tiyallãhu = Allah mendatangkan; bi amrih = dengan keputusan-Nya; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi; al qouma = kaum; al fãsiqĩn = orang-orang yang fasik.
qul in kãna ãbã-ukum wa abnã-ukum, wa ikhwãnukum wa azwãjukum wa ‘’asyĩrotukum wa amwãlu niqtaroftumũhã wa tijãrotun takhsyauna kasãdahã wa masãkinu turdhounahã ahabba ilaikum minallãhi wa rosũlihĩ wa jihãdin fĩ sabĩlilihĩ fa tarobashũ, hattã ya’tiyallãhu bi amrih, wallãhu lã yahdĩl qoumal fãsiqĩn.
24. Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta bendamu yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang lebih kamu cintai daripada kepada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan, bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya itu harus melebihi segala apa yang ada di dunia ini.
laqod = sesungguhnya; nashorokumullãhu = Allah telah banyak menolong kamu di medan perang yang banyak; fĩ mawãthina = di medan peperangan; katsĩrotin = yang banyak; wa yauma = dan pada hari; hunaini = Perang Humaini; idz = ketika; a’jabatkum = menakjubkan kamu; katsrotukum = banyaknya kamu; fa lam = maka tidak; tughni = mencukupi (tidak memberi manfãt; ‘ankum = kepadamu; syai-an = sedikit pun; wa dhōqot = dan terasa sempit; ‘alaikum = kepadamu; al ardhu = bumi; bimã = dengan apa; rohubat = yang luas; tsumma = kemudian; wallaitum = kamu berpaling; mudbirĩn = orang-orang yang lari ke belakang.
laqod nashorokumullãhu fĩ mawãthina katsĩrotin wa yauma hunaini, idz a’jabatkum katsrotukum fa lam tughni ‘ankum syai-an wa dhōqot ‘alaikumul ardhu bimã rohubat tsumma wallaitum mudbirĩn.
25. Sesungguhnya, Allah telah menolong kamu (para Mukmin) di medan perang yang banyak. Dan pada hari Perang Hunain yang menakjubkanmu karena jumlah bala tentaramu banyak (dan kamu menjadi congkak), maka (jumlah bala tentara yang banyak itu) tidak memberi manfãt sedikit pun kepadamu, dan bumi yang luas ini (terasa) sempit bagimu, kemudian kamu berpaling lari ke belakang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pertolongan, peringatan, ujian. Perhatikanlah. Pelajari, resapi.
tsumma = kemudian; anzalallãhu = Allah menurunkan; sakĩnatahũ = ketenangan-Nya; ‘alã = kepada; rosũlihĩ = Rasul-Nya; wa ‘alã = dan kepada; al mu’minĩna = orang-orang beriman; wa anzala = dan Dia menurunkan; junũdan bala tentara; lam tarauhã = yang tidak kamu lihat; wa ‘adzdzaba = dan Dia mengazab; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; wa dzãlika = dan demikian itu; jazã-u = pembalasan; al kãfirĩn = orang-orang kafir
tsumma anzalallãhu sakĩnatahũ ‘alã rosũlihĩ wa ‘alãl mu’minĩna wa anzala junũdal lam tarauhã wa ‘adzdzabal ladzĩna kafarũ, wa dzãlika jazã-ul kãfirĩn.
26. Kemudian, Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan atas orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala-tentara yang tidak terlihat oleh kamu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Demikian itulah balasan bagi orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam keadaan genting, Allah memberikan pertolongan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman berupa bantuan yang tidak terlihat, dan menimpakan azab kepada orang-orang kafir.
tsumma = kemudian; yatũbullãhu = Allah menerima tobat; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = demikian itu; ‘alã = dari; ma = orang-orang; yasyã-u = Yang Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengmpun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
tsumma yatũbullãhu mim ba’di dzãlika ‘alã ma yasyã-u, wallãhu ghofũrur rohĩm.
Kemudian sesudah itu, Allah menerima tobat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menerima tobat dari orang-orang yang Dia kehendaki. Yang tidak Dia kehendaki adalah orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; innama = sesungguhnya hanyalah; al musyrikũna = orang-orang musyrik; najasun = najis; fa lã = maka jangan; yaqrobu = mereka mendekati; al masjidal harōma = Masjidil Haram; ba’da = sesudah; ‘ãmihim = tahun mereka; hãdzã = ini; wa in = dan jika; khiftum = kamu khawatir; ‘ailatan = menjadi miskin; fa saufa = maka nanti; yughnĩkumullãhu = Allah memberi kekayaan kepadamu; minfadhlihĩ = dari karunia-Nya; in syã-a = jika Dia mengendaki; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = kebijakan.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ innamãl musyrikũna najasun fa lã yaqrobul masjidal harōma ba’da ‘ãmihim hãdzã, wa in khiftum ‘ailatan fa saufa yughnĩkumullãhu minfadhlihĩ in syã-a, innallãha ‘alĩmun hakĩm.
28. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun mereka ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka nanti Allah akan memberi kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui kebajikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu tentang orang-orang musyrik dan tentang karunia-Nya yang akan diberikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh beriman. “sesudah tahun mereka ini” maksudnya sesudah tahun ke-9 Hijrah. Orang-orang musyrik itu dianggap najis, kotor karena mereka mempersekutukan Allah. Karena itu, mereka dilarang mendekati Masjidil Haram.
qōtilũ = perangilah; al ladzĩna = orang-orang yang…; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa lã bil yaumil ãkhiri = dan tidak kepada Hari Akhirat; wa lã yuharrimũna = dan mereka tidak mengharamkan; mã harromallãhu = apa yang diharamkan Allah; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; wa lã yadĩnũna = dan mereka tidak beragama; dĩnal haqi = agama yang benar; minal ladzĩna = dari orang-orang yang …; ũtũl kitãba = (mereka) diberi Alkitab; hattã = sehingga; yu’thũ = mereka membayar; al jizyata = upeti; ‘an yadin = dengan patuh; wa hum = dan mereka; shōghirũn = orang-orang yang kecil (tunduk, patuh).
qōtilũl ladzĩna lã yu’minũna billãhi wa lã bil yaumil ãkhiri wa lã yuharrimũna mã harromallãhu wa rosũluhũ, wa lã yadĩnũna dĩnal haqi minal ladzĩna ũtũl kitãba hattã yu’thũl jizyata ‘an yadin wa hum shōghirũn.
29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan kepada Hari Akhirat, dan mereka tidak mengharamkan, apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberi Alkitab (Zen Avesta, Yahudi, Nasrani, Tao, Hindu, Budha), sehingga mereka membayar upeti dengan patuh, dan mereka itu, orang-orang yang tunduk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah memerangi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang tidak beragama dengan benar, kecuali mereka membayar jizyah dengan patuh.
wa qōlati = dan berkata; al yahũdu ‘uzairun abnallãhi wa qōlatin nashōrol masĩhu abnullãhi, dzãlika qouluhum bi afwãhihim yudhōhi-ũna qoulal ladzĩna kafarũ min qoblu, qōtalahumullãh, annã yu’fakũn.
wa qōlatil yahũdu ‘uzairun abnallãhi wa qōlatin nashōrol masĩhu abnullãhi, dzãlika qouluhum bi afwãhihim yudhōhi-ũna qoulal ladzĩna kafarũ min qoblu, qōtalahumullãh, annã yu’fakũn.
30. Dan berkata orang-orang Yahudi: “Uzair itu putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itu ucapan mereka dengan mulutnya. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah telah membinasakan mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan dan pertanyaan yang harus disimak dan dipikirkan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Koreksi atas perilaku beragama mereka. Maukah mereka mengubahnya? Hanya Allah yang akan memberikan hikmah kepada orang-orang yang terpilih.

attakhadzũ = mereka menjadikan; ahbãrohum = ulama-ulama mereka; wa ruhbãnahum = dan rahib-rahib mereka; arbãban = sebagai tuhan; min = dari; dũni = selain; allãhi = Allah; wal masĩh = dan Almasih; abna = putra; maryama = Maryam; wa mã = dan tidak; umirũ = diperintah; illã = kecuali; liya’budũ = untuk mereka menyembah; ilãhan = Ilah; wãhidan = Yang Satu; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = selain; huwa = Dia; Subhãnahũ = Mahasuci Dia; ‘ammã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka sekutukan.
attakhadzũ ahbãrohum wa ruhbãnahum arbãbam min dũnillãhi wal masĩhabna maryama wa mã umirũ illã liya’budũ ilãhan wãhidan, lã ilãha illã huwa, Subhãnahũ ‘ammã yusyrikũn.
31. Mereka menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan, selain Allah, dan (mereka mempersekutukan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka tidak diperintah, kecuali hanya untuk menyembah Allah Yang Maha-esa. Tidak ada ilah lain, selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penyimpangan beragama karena adanya informasi yang salah dari para pemuka agama, meyebabkan adanya persepsi yang salah tentang Allah. Berhati-hatilah, jangan sampai ada yang salah menyampaikan informasi.
yurĩdũna = mereka berkehendak; an yuthfi-ũ = untuk memadamkan; nũrollãhi = cahaya Allah; bi afwãhihim = dengan mulut mereka; wa ya’ba = dan segan (tidak menghendaki); allãhu = Allah; illã = kecuali; an yutimma = akan menyempurnakan; nũrohũ = cahaya-Nya; wa lau = walaupun; kariha = tidak menyukai; al kãfirũn = orang-orang kafir.
yurĩdũna an yuthfi-ũ nũrollãhi bi afwãhihim wa ya’ballãhu illã an yutimma nũrohũ wa lau karihal kãfirũn
32. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sedang Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang-orang yang berkehendak negatif dalam beragama. Harus diwaspadai. Allah juga berkehendak selalu menyempurnakan cahaya-Nya. Pasti Allah yang menang.
huwa = Dia; al ladzĩ = Yang; arsala = mengutus; rosũlahũ = Rasul-Nya; bil hudã = dengan petunjuk; wa dĩni = dan agama; al haqqi = yang benar; liyuzh-hirohũ = untuk memenangkannya; ‘alã = pada; addĩni = agama; kullih = seluruhnya; wa lau karihal musyrikũn.
huwal ladzĩ arsala rosũlahũ bil hudã wa dĩnil haqqi liyuzh-hirohũ ‘alãddĩnikullih, wa lau karihal musyrikũn.
33. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya pada satu agama yang menyeluruh, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa Dialah yang mengutus Rasul-Nya untuk menyatukan umat manusia seluruhnya dalam satu agama yang paling benar.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; inna = sesungguhnya; katsĩron = sebagian besar; mina = dari; al ahbãri = ulama-ulama Yahudi; war ruhbãni = dan rahib-rahib; laya’kulũna = sungguh mereka memakan; amwãlan = harta; nãsi = manusia; bil bãthili = dengan cara batil; wa yashuddũna = mereka menghalang-halangi; ‘an = dari; sabĩlillãh = jalan Allah; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yaknizũna = mereka menyembunyikan; adz dzahaba = emas; wal fidh dhota = dan perak; wa lã = dan tidak; yunfiqũnahã = mereka menafkahkannya; fi sabĩlillãhi = pada jalan Allah; fa basysyir = maka beritakan; hum = kepada mereka; bi’adzãbin = dengan siksaan; alĩm = yang pedih.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ inna katsĩrom minal ahbãri war ruhbãni laya’kulũna amwãlan nãsi bil bãthili wa yashuddũna ‘an sabĩlillãh, wal ladzĩna yaknizũnadz dzahaba wal fidh dhota wa lã yunfiqũnahã fi sabĩlillãhi fa basysyir hum bi’adzãbin alĩm.
34. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya, sebagian besar dari ulama-ulama (Yahudi), dan rahib-rahib (Nasrani) memakan harta manusia dengan cara yang batil, dan mereka menghalang-halangi (manusia) di jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan mereka tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka dengan siksa yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak meniru perbuatan batil ulama-ulama Yahudi dan rahib-rahib Nasrani, seperti yang dijelaskan dalam ayat ini.

yauma = pada hari; yuhmã = dipanaskan; ‘alaihã = atasnya; fĩ = dalam; nãri = api (neraka); jahannama = jahanam; fa tukwã = maka (lalu) dibakarlah; bi hã = dengannya; jibãhuhum = dahi mereka; wa junũbuhum = dan lambung mereka; wa zhuhũruhum = dan punggung mereka; hãdzã = inilah; mã = apa (harta); kanaz tum = kamu simpan; li anfusikum = untuk dirimu; fa dzũqũ = maka rasakanlah; mã =apa; kuntum = yang kamu; taknizũn = kamu simpan.
yauma yuhmã ‘alaihã fĩ nãri jahannama fa tukwã bi hã jibãhuhum wa junũbuhum wa zhuhũruhum, hãdzã mã kanaz tum li anfusikum fa dzũqũ mã kuntum taknizũn
35. Pada hari dipanaskan (emas dan perak) di neraka Jahanam, lalu dibakarlah dahi mereka, lambung dan punggung mereka (sambil dikatakan kepada mereka): “Inilah harta yang kamu simpan (dahulu), hanya untuk dirimu, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Harta kekayaan berupa emas dan perak yang tidak dizakati, dan hanya disimpan-simpan untuk dirinya saja, pada Hari Akhirat menjadi bahan bakar pada dahi, lambung, dan punggung mereka. Mereka yang memilikinya dengan cara yang batil.

Inna = sesungguhnya; ‘iddata = bilangan; asy syuhũri = bulan; ‘indallãh = pada Allah; itsnã ‘asyaro = dua belas; syahron = bulan; fĩ kitãbi = dalam ketetapan; allãhi = Allah; yauma = pada hari; kholaqo = Dia nebciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; min hã = di antaranya; arba’atun = empat; hurumum = yang dihormati; dzãlika = demikian itu; ad dĩnu = agama; al qoyyim = yang lurus; fa lã = maka jangan; tadhlimũ = kamu menganiaya; fĩhinna = di dalamnya (bulan-bulan); anfusakum = dirimu; waqōtilũ = dan perangilah; al musyrikĩna = orang-orang musyrik; kãffatan = semuanya; kamã = sebagãimana; yuqōtilũnakum = mereka memerangi kamu; kãffatan = semuanya; wa’lamũ = dan ketahui lah; annallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.
inna ‘iddatasy syuhũri ‘indallãhitsnã ‘asyaro syahron fĩ kitãbillãhi yauma kholaqos samãwãti wal ardho min hã arba’atun hurumu, dzãlikad dĩnul qoyyim, fa lã tadhlimũ fĩhinna anfusakum, waqōtilũl musyrikĩna kãffatan kamã yuqōtilũnakum kãffatan, wa’lamũ annallãha ma’al muttxaqĩn.
36. Sesungguhnya bilangan bulan bagi Allah itu ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang disucikan. Demikian itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan itu, dan perangilah orang-orang musyrik semuanya, sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang takwa
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi dengan ketetapan waktunya 12 bulan dalam setahun. Bulan yang disucikan adalah: Bulan Zulkaidah, Zul hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam empat bulan yang disucikan itu, khususnya Umat Islam, tidak diperkenankan melakukan perang. Namun kalau diperangi oleh orang musyrik, Allah memerintahkan membalas serangan itu. Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
innama = sungguh hanyalah; an nasĩ-u = mengundurkan; ziyãdatun = menambah; fil kufri = dalam kekafiran; yudhollu = disesatkan; bihi = dengannya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = mereka kafir; yuhillũ nahũ = mereka menghalalkannya; ‘ãman = suatu tahun; wa yuharrimũnahũ = dan mereka mengharamkannya; ‘ãman = tahun yang lain; liyuwathi-ũ = agar mereka menyesuaikan; ‘iddata = bilangan; mã = apa yang; harromallãhu = Allah mengharamkan; fa yuhillũ = maka mereka menghalalkan; mã harromallãh = apa yang Allah mengharamkan; zuyyina = dihiasi; lahum = bagi mereka; sũ-u = yang buruk; a’mãlihim = perbuatan mereka; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qoumal kãfirĩn = kaum orang-orang kafir.
innaman nasĩ-u ziyãdatum fil kufri, yudhollu bihil ladzĩna kafarũ yuhillũ nahũ ‘ãman wa yuharrimũnahũ ‘ãmal liyuwathi-ũ ‘iddata mã harromallãhu fa yuhillũ mã harromallãh, zuyyina lahum sũ-u a’mãlihim, wallãhu lã yahdĩl qoumal kãfirĩn.
37. Sesungguhnya, mengundur-undurkan (bulan haram) itu menambah kekafiran, orang-orang kafir disesatkan dengannya. Mereka menghalalkannya pada suatu tahun, dan mengharamkan pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah. Mereka memandang baik atas perbuatan mereka yang jelek. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan Allah tentang bulan-bulan haram itu tetap, tidak berubah. Ketentuan Allah itu untuk kebaikan makhluk-Nya. Allah selalu memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman, dan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; mã la kum = mengapa kamu; idzã = jika; qĩla = dikatakan; lakum = kepadamu; infirũ = berangkatlah; fĩ sabĩli = di jalan; allãh = Allah; its tsãqultum = mengapa kamu merasa berat; ilãl ardhĩ = di dunia; arodhĩtum = apakah kamu telah puas; bil hayãti = dengan kehidupan; ad dun-yã = dunia; minal akhiroh = dalam kehidupan akhirat; fa mã = maka tidaklah; matã’u = kenikmatan (kesenangan); al hayãti; kehidupan; ad dun-yã = dunia; fil akhiroti = dalam kehidupan akhirat; illã = hanya; qolĩl = sedikit (kecil).
Yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ mã lakum idzã qĩla lakumunfirũ fĩ sabĩlillãhits tsãqultum ilãl ardhĩ, arodhĩtum bil hayãtid dun-yã minal akhiroh, fa mã matã’ul hayãtid dun-yã fil akhiroti illã qolĩl.
38. Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu: “Berangkatlah kamu (untuk berperang) di jalan Allah.” Kamu merasa berat (dan ingin tinggal) di tempatmu? Apakah kamu telah merasa puas dengan kehidupan dunia yang sedikit (dibanding) dengan kehidupan di akhirat?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang perintah untuk berjihad di jalan Allah hendaknya, harus disambut dengan bersemangat, karena kehidupan di akhirat itu jauh lebih lama dibandingkan dengan kehidupan di dunia yang hanya sebentar.
Illã = jika tidak; tanfirũ = kamu berangkat; yu’adzdzibkum = Dia mengazab kamu; ‘adzãban = azab; ãlĩman = yang pedih; wa yastabdil = dan Dia menggantikan; qouman = kaum; ghoiro kum = selain kamu; wa lã = dan tidak; tadhurrũhu = kamu memudaratkan-Nya; syai-an = sesuatu apa; wallãhu = dan Allah; ‘alã = di atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Maha Kauasa
illã tanfirũ yu’adzdzibkum ‘adzãban ãlĩman wa yastabdil qouman ghoiro kum wa lã tadhurrũhu syai-an, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.
39. Jika kamu tidak berangkat (berperang), tentu Dia mengazab kamu dengan siksaan yang pedih, dan Dia akan menggantikan kamu dengan kaum selain kaummu, dan kamu tidak dapat memudaratkan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang musyrik dan orang-orang yang beriman yang tidak mau pergi berperang di jalan Allah.

illã = jika tidak; tanshurũhu = kamu menolongnya; fa qod = maka sesungguhnya; nashorohullãhu = Allah telah menolongnya; idz = ketika; akhrojahu = mengusirnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; tsaania = orang kedua; itsnaini = dua orang; idz = ketika; humã = keduanya; fil ghōri = di dalam gua; idz = ketika; yaqũlu = dia berkata; li shōhibihĩ = kepada sahabatnya; lã tahzan = jangan kamu sedih; innallãha = sesungguhnya Allah; ma’anã = beserta kita; fa = maka; anjalallãhu = Allah menurunkan; sakĩnatahu = ketenangan-Nya; ‘alaihi = kepadanya; wa ayyadahũ = dan Dia membantunya; bi junũdin = dengan bala tentara; lam tarauhã = kamu tidak melihatnya; wa ja’ala = dan Dia menjadikan; kalimata = seruan; al ladzĩna = orang-orang yang; kafaru = kafir; as suflã = rendah (tidak terdengar); wa kalimatullãhi = seruan Allah; hiya = itulah; al ‘ulyã = tinggi (didengar); wallãhu = dan Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
illã tanshurũhu fa qod nashorohullãhu idz akhrojahul ladzĩna kafarũ tsaaniatsnaini idz humã fil ghōri idz yaqũlu li shōhibihĩ lã tahzan innallãha ma’anã, fa anjalallãhu sakĩnatahu ‘alaihi wa ayyadahũ bi junũdin lam tarauhã wa ja’ala kalimatal ladzĩna kafarus suflã, wa kalimatullãhi hiyal ‘ulyã, wallãhu ‘azĩzun hakĩm.
40. Jika kamu tidak menolong Muhammad saw., maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengusir bersama orang keduanya (Abu Bakar). Ketika keduanya di dalam gua, dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya, Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad saw., dan membantunya dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu tidak didengar (rendah), dan kalimat Allah didengar (tinggi = menang). Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang beriman, jika mereka tidak menolong Nabi Muhammad saw., Allah lah yang menolongnya.

anfirũ = berangkatlah kamu; khifãfan = dalam keadaan ringan; wa tsiqōlan = dan dalam keadaan berat; wa jãhidũ = dan berjihadlah; bi amwãlikum = dengan hartamu; wa anfusikum = dan dengan jiwamu; fi sabĩlillãh = di jalan Allah; dzãlikum = demikian itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu; inkuntum = jika kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.
anfirũ khifãfan wa tsiqōlan wa jãhidũ bi amwãlikum wa anfusikum fi sabĩlillãh, dzãlikum khoirul lakum inkuntum ta’lamũn.
41. Berangkatlah kamu (berperang) dalam keadaan ringan dan berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada perbedaan ucapan anfirũ dengan infirũ. Adakah perbedaan maknanya? Allah memerintah berjihad di jalan Allah dalam keadaan suka atau tidak suka dengan harta dan jiwa. Orang yang melakukannya, dinilai lebih baik daripada yang tidak mengikuti perintah-Nya.

lau kãna = kalau ada; ‘arodhon = keuntungan; qorĩban = dekat, mudah; wa safaron = dan perjalanan; qōshidan = dekat, sedang; lãttaba’ũka = tentu mereka mengikutimu; wa lãkin = tetapi; ba’udat = jauh; ‘alaihimu = bagi mereka; asy syuqqoh = jarak perjalanan yang dituju; wa sayahlifũna = dan mereka akan bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; lawis tatho’nã = kalau kami sanggup; la khorojnã = tentu kami berangkat; ma’akum = bersamamu; yuhlikũna = mereka membinasakan; anfusahum = diri mereka sendiri; wallãhu = dan Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; innahum = sesungguhnya mereka; la kãdzibũn = sungguh orang yang berdusta.
lau kãna ‘arodhon qorĩban wa safaron qōshidal lãttaba’ũka wa lãkim ba’udat ‘alaihimusy syuqqoh, wa sayahlifũna billãhi lawis tatho’nã la khorojnã ma’akum yuhlikũna anfusahum, wallãhu ya’lamu innahum la kãdzibũn.
42. Kalau ada keuntungan yang mudah dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, tentu mereka mengikutimu, tapi jarak perjalanan yang dituju itu amat jauh bagi mereka. Dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah: “Kalau kami sanggup, tentulah kami berangkat bersama kamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri, dan Allah mengetahui, mereka itu, sungguh orang-orang pendusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang berbasa-basi dengan sumpah atas nama Allah yang menyatakan ketidaksanggupan mereka pergi berperang di jalan Allah berarti mereka membinasakan diri mereka sendiri.
‘afallãhu = Allah memaafkan; ‘anka = kepada kamu; li ma = mengapa; adzinta = kamu memberi izin; lahum = kepada mereka; hattã = sehingga; yatabayyana = menjadi jelas; laka = bagi kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; shodaqũ = (mereka) benar; wa ta’lama = dan kamu mengetahui; al kãdzibĩn = orang-orang yang berdusta.
‘afallãhu ‘anka li ma adzinta lahum hattã yatabayyana lakal ladzĩna shodaqũ wa ta’lamal kãdzibĩn.
43. Allah memaafkan kamu, mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sehingga jelas bagimu orang-orang yang benar (berhalangan), dan (sebelum) kamu ketahui orang-orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memaafkan Nabi Muhammad saw. yang telah memberi izin untuk tidak pergi berperang dengan berbagai alasan. Alasan itu mungkin benar, mungkin juga dusta. Mereka yang beralasan benar, maupun yang dusta, menurut ayat 42 di atas, mereka itu berarti membinasakan diri mereka sendiri.

lã = tidak; yasta’dzinuka = akan minta izin kepada kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yu’minũna = (mereka) beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan Hari Akhirat; an yujãhidũ = untuk mereka berjihad; bi amwãlihim = dengan hartanya; wa anfusihim = dan jiwanya; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bil muttaqĩn = kepada orang-orang yang takwa.
lã yasta’dzinukal ladzĩna yu’minũna billãhi wal yaumil ãkhiri an yujãhidũ bi amwãlihim wa anfusihim, wallãhu ‘alĩmum bil muttaqĩn.
44. Tidak akan meminta izin kepadamu, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan Allah Maha Mengetahui kepada orang-orang yang takwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memastikan orang-orang yang beriman kepada-Nya dan pada Hari Akhirat tidak mungkin meminta keringanan untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Orang-orang yang beriman dengan senang hati berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
,
innamã = sesungguhnya orang; yasta’dzinuka = yang akan meminta izin kepadamu; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yu’minũna = tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa yaumil ãkhiri = dan Hari Akhirat; wartãbat = dan ragu-ragu; qulũbuhum = di hati mereka; fahum = maka mereka; fĩ roibihim = di dalam keragu-raguan mereka; yataroddadũn = mereka bimbang.
innamã yasta’dzinukal ladzĩna lã yu’minũna billãhi wa yaumil ãkhiri wartãbat qulũbuhum fahum fĩ roibihim yataroddadũn.
45. Sesungguhnya, orang yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan Hari Akhirat, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa yang akan meminta izin untuk tidak pergi berperang hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, mereka yang masih ragu-ragu. Orang-orang yang beriman akan menyambut dengan penuh gairah melaksanakan perang jihad di jalan Allah.
walau = dan kalau; arōdu = mereka hendak; al khurũja = berangkat; la-a’addũ = tentu mereka menyiapkan; lahũ = untuk itu; uddatan = persiapan; wa lãkin = akan tetapi; karihallãhu = Allah tidak menyukai; in bi’atsahum = keberangkatan mereka; fatsabbathahum = maka Dia menahan mereka; wa qĩla = dan dikatakan; uq‘udũ = tinggallah kamu; ma’a = bersama-sama; al qō’idĩn = orang-orang yang tinggal.
walau arōdul khurũja la-a’addũ lahũ uddatan wa lãkin karihallãhun bi’atsahum fatsabbathahum wa qĩlaq ‘udũ ma’al qō’idĩn.
46. Dan kalau mereka hendak berangkat, untuk itu tentulah mereka menyiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, sebab itu Dia menahan mereka, dan dikatakan (kepada mereka): “Tinggallah kamu bersama-sama orang-orang yang tinggal.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang perilaku orang-orang kafir.

lau = kalau; kharojũ = mereka berangkat; fĩkum = bersama kamu; mãzãdũkum = tidaklah menambah kamu; illã = selain; khobãlan = kerusakan; wa la-audho’ũ = dan tentu mereka bergegas maju; khilãlakum = di sela-sela (barisan)-mu; yabghũnakumu = mereka menghendaki kamu; ul fitnatah = kekacauan; wa fĩkum = dan bersama kamu; sammã’ũnna = orang-orang yang suka mendengarkan; lahum = pada mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmum = Maha Mengatahui; bidhdhōlimĩn = pada orang-orang yang lalim.
lau kharojũ fĩkum mã zãdũkum illã khobãlan wa la-audho’ũ khilãlakum yabghũnakumul fitnatah, wa fĩkum sammã’ũnna lahum, wallãhu ‘alĩmum bidhdhōlimĩn.
47. Kalau mereka berangkat bersama kamu, tidaklah mereka menambah kamu, selain kerusakan, dan pasti mereka bergegas maju di sela-sela (barisan)-mu membuat kekacauan, sedang di antara kamu ada orang-orang yang suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui pada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang perilaku orang-orang kafir yang berangkat berperang.

laqodibtaghawul fitnata min qoblu wa qolabũlakal umũro hattã jã-al haqqu wa zhoharo amrullōhi wa hum kãrihũn
48. Sesungguhnya dari dahulu, mereka selalu mencari-cari kekacauan, dan memutar-balikkan segala urusan (menipu), untuk (merusak)-mu, sampai datang kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah Agama Allah, (padahal) mereka tidak menyukai.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang perilaku orang-orang kafir sebelum terjadi perang.
wa minhum = dan di antara mereka; man = orang; yaqũlu = ia berkata; i’dzan lĩ = izinkanlah saya; wa lã = dan jangan; taftinnĩ = kamu membuat fitnah kepadaku; alã = ketahuilah; fil fitnati = dalam fitnah; saqothũ = mereka terjerumus; wa inna = dan sesungguhnya; jahannama = neraka jahanam; lamuhĩthotum = penuh berisi; bil kãfirĩn = dengan orang-orang kafir.
wa minhum man yaqũlu’dzal lĩ wa lã taftinnĩ, alã fil fitnati saqothũ, wa inna jahannama lamuhĩthotum bil kãfirĩn.
49. Dan di antara mereka, ada yang berkata: “Izinkalah saya (tidak pergi berperang), dan janganlah kamu membuat fitnah kepadaku.” Ketahuilah, mereka telah terjerumus ke dalam fitnah, dan sesungguhnya, neraka jahanam penuh berisi orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fitnah itu dibuat oleh orang yang tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Berbohong itu, akibat jeleknya mengena kepada diri sendiri
in tushibka = jika kamu mendapatkan; hasanatun = kebaikan; tasu’hum = menjadikan mereka tak senang; wa in tushibka = dan jika kamu mendapat; mushĩbatun = bencana; yaqũlũ = mereka berkata; qod = sesungguhnya; akhodznã = kami telah mengambil; amronã = keputusan kami; min qoblu = dari dahulu; wa yatawallau = dan mereka berpaling; wa hum = dan mereka; farihũn = orang-orang yang bergembira.
In tushibka hasanatun tasu’hum, wa in tushibka mushĩbatun yaqũlũ qod akhodznã amronã min qoblu wa yatawallau wa hum farihũn.
50. Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang, dan jika bencana menimpamu, berkatalah mereka: “Sesungguhnya, sebelumnya kami telah mengambil keputusan kami (tidak mau berperang),” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan sifat-sifat orang kafir.

qul = katakanlah; lan = tidak akan; yushĩbanã = menimpa kami; illã = melainkan; mã = apa yang; katabãllōhu = Allah telah menetapkan; lanã = bagi kami; huwa = Dia; maulaanã = pelindung kami; wa ‘alãlōhi = dan kepada Allah; fal yatawakkal = hendaknya bertawakal; al mu’minũn = orang-orang yang beriman.

qul lan yushĩbanã illã mã katabãllōhu lanã huwa maulaanã, wa ‘alãlōhi fal yatawakkalĩl mu’minũn.

51. Katakanlah: “Tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan mengatakan jawaban yang harus disampaikan kepada orang-orang kafir yang telah menyaksikan hal yang buruk menimpa orang-orang yang beriman, dan mengajari mendakwahi orang kafir agar percaya, Allahlah yang menentukan berbagai kejadian di dunia ini.

qul = katakanlah; hal = apalah; tarobashũna = kamu tunggu-tunggu; binã = bagi kami; illã = kecuali; ihdã = salah satu; al husnayaini = dua kebaikan; wa nahnu = dan kami; natarobashu = kami menunggu-nunggu; bikum = bagi kamu; an yushĩbakumullãhu = Allah akan menimpakan kepadamu; bi’adzãbin = dengan suatu azab; min ‘indihĩ = dari-Nya; au = atau; bi-aidĩnã = dengan tangan kami; fa tarobashũ = maka tunggulah; innã = sesungguhnya kami; ma’akum = bersama kamu; mutarobishũn = orang-orang yang menunggu-nunggu.
qul hal tarobashũna binã illã ihdãl husnayaini, wa nahnu natarobashu bikum an yushĩbakumullãhu bi’adzãbim min ‘indihĩ au bi-aidĩnã, fa tarobashũ innã ma’akum mutarobishũn.
52. Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau sahid), sedang kami yang menungu-nunggu bagi kamu, Allah menimpakan kepadamu suatu azab dari-Nya, atau (azab) dari tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersama kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan pengarahan jawaban yang seharusnya diberikan kepada orang-orang kafir yang tidak mau berperang.
qul = katakan; anfiqũ = nafkahkanlah; thou’an = dengan rela; au kurhan = dengan terpaksa; lan yutaqobbala = tidak akan diterima; minkum = dari kamu; innakum = karena sesungguhnya kamu; kuntum = adalah kamu; qouman = kaum; fãsiqĩn = orang-orang yang bodoh.
qul anfiqũ thou’an au kurhal lan yutaqobbala minkum, innakum kuntum qouman fãsiqĩn.
53. Katakanlah: “Nafkahkanlah (hartamu) dengan rela atau terpaksa. Nafkah itu tidak akan diterima (Allah) dari kamu, karena sesungguhnya, kamu adalah orang-orang yang fasik (bodoh).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nafkah harta orang kafir tidak diterima Allah karena caranya mencari, menyimpan, dan menggunakannya tidak sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah.

wa mã = dan tidak ada; mana’ahum = menghalangi mereka; an tuqbala = untuk diterima; min hum = dari mereka; nafaqōtuhum = nafkah mereka; illã = kecuali; annahum = sesungguhnya mereka; kafarũ = kafir; billãhi = kepada Allah; wa bi rosũlihĩ = dan kepada Rasul-Nya; wa lã ya’tũnash sholãta = dan tidak mendirikan salat; illã = kecuali, melainkan; wa hum = dan mereka; kusalã = malas; wa lã = dan tidak; yunfiqũna = mereka menafkahkan; illã = melainkan; wa hum = dan mereka; kãrihũn = orang-orang yang terpaksa.
wa mã mana’ahum an tuqbala min hum nafaqōtuhum illã annahum kafarũ billãhi wa bi rosũlihĩ wa lã ya’tũnash sholãta illã wa hum kusalã wa lã yunfiqũna illã wa hum kãrihũn.
54. Dan tidak ada yang menghalangi mereka, untuk diterima dari nafkah mereka, kecuali karena sesungguhnya, mereka kafir kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan salat, melainkan dengan malas, dan mereka tidak menafkahkan (harta mereka), melainkan dengan terpaksa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 53.
fa lã = maka jangan; tu’jibka = menarik hati kamu; amwãluhum = harta benda mereka; wa lã = dan jangan; aulãduhum = anak-anak mereka; innamã = sesungguhnya; yurĩdullãhu = Allah menghendaki; li yu’adzdzibahum = untuk menazab mereka; bihã = dengannya; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dun-yã = dunia; wa taz-haqo = dan akan binasa; anfusuhum = nyawa mereka; wahum = sedang mereka; kãfirũn = kafir.
fa lã tu’jibka amwãluhum wa lã aulãduhum, innamã yurĩdullãhu li yu’adzdzibahum bihã fil hayãtid dun-yã wa taz-haqo anfusuhum wahum kãfirũn
55. Maka janganlah menarik hati kamu, harta benda dan anak-anak mereka (orang kafir). Sesungguhnya, Allah hendak menyiksa mereka dengannya (harta benda dan anak-anak), dalam kehidupan dunia, dan akan melayangkan nyawa mereka, dalam keadaan kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan harta, dan anak-anak orang kafir jangan menarik perhatianmu, karena hal itu akan menjadi siksaan bagi mereka di dunia sampai matinya.
wa yahlifũna = dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; innahum = sesungguhnya mereka; laminkum = bukan dari (golongan) kamu; wa mã hum = dan mereka bukan; min kum = dari kamu; wa lã kinna hum = akan tetapi mereka; qoumun = kaum; yafroqũn = orang-orang yang takut (kepadamu).
wa yahlifũna billãhi innahum laminkum wa mã hum min kum wa lã kinna hum qoumun yafroqũn
56. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, sesungguhnya, kamu menyangka mereka dari (golongan)-mu, padahal mereka bukan dari (golongan)-mu, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang takut (kepadamu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam situasi dan kondisi ketakutan orang-orang munafik mengaku sebagai orang Islam. Allah mengingatkan hal ini agar orang Islam waspada, bahwa mereka tidak termasuk Islam.

lau = kalau; yajidũna = mereka memperoleh; malja’an = tempat perlindungan; au maghōrōtin = atau gua-gua; au muddakholan = atau lubang-lubang tempat masuk; lawallau = tentu mereka berpaling (pergi); ilaihi = kepadanya; wahum = dan mereka; yajmahũn = mereka lari secepat-cepatnya.
lau yajidũna malja’an au maghōrōtin au muddakholal lawallau ilaihi wahum yajmahũn.
57. Kalau mereka mendapat tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (di dalam tanah), tentu mereka pergi ke sana dengan berlari secepat-cepatnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan sifat-sifat orang kafir untuk menjadi pelajaran.
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yalmizuka = dia mencela kamu; fish shodaqōti = dari sedekah-sedekah; fa in = maka jika; u’thũ = mereka diberi; min hã = darinya (sedekah itu); rodhũ = mereka senang hati; wa in = dan jika; lam = tidak; yu’thou = mereka diberi; minhã = darinya; idzã = tiba-tiba (tatkala); hum = mereka; yaskhothũn = mereka menjadi marah.
wa min hum man yalmizuka fish shodaqōti fa in u’thou min hã rodhũ wa il lam yu’thou minhã idzã hum yaskhothũn
58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah, maka jika mereka diberi darinya (sedekah itu), mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi darinya, tiba-tiba mereka menjadi marah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembagian sedekah menurut Islam, lihat ayat 60.
wa lau = jikalau; annahum = mereka sungguh-sungguh; rodhũ = mereka senang hati; mã = apa yang; ãtãhumullãhu = diberikan Allah kepada mereka; wa rosũluh = dan Rasul-Nya; wa qōlũ = dan mereka berkata; hasbunãllãhu = cukuplah Allah; sayu’tĩnãllãhu = Allah akan memberi kepada kami; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; wa rosũluh = dan Rasul-Nya; innã = sesungguhnya kami; ilãllãhi = kepada Allah; roghibũn = orang-orang yang berharap.
wa lau annahum rodhũ mã ãtãhu mullãhu wa rosũluh, wa qōlũ hasbunãllãhu sayu’tĩnãllãhu min fadhlihĩ wa rosũluh, innã ilãllãhi roghibũn.
59. Jikalau mereka sungguh-sungguh senang hati pada apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan Rasul-Nya, sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarakan suasana hati orang-orang yang bergembira menerima sebagaian karunia-Nya dan dari Rasul-Nya.
innama = sesungguhnya; ash shodaqōtu = sedekah; lil fuqorōi = orang-orang fakir; wa masãkĩni = orang-orang miskin; wal’ãmilĩna = pengurus; ‘alaihã = atas zakat; wal mu-allafati = dan para mu-alaf (dibujuk); qulũbuhum = hati mereka; wa fir riqōbi = dan untuk memerdekakan budak; wal ghōrimĩna = orang-orang yang berhutang; wa fĩ sabĩlillãhi = dan untuk jalan Allah; wabnis sabĩl = dan orang-orang yang dalam perjalanan; farĩdhotan = ketetapan; minallãh = dari Allah; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
innamash shodaqōtu lil fuqorōi wa masãkĩni wal’ãmilĩna ‘alaihã wal mu-allafati qulũbuhum wa fir riqōbi wal ghōrimĩna wa fĩ sabĩlillãhi wabnis sabĩl, fa rĩdhotam minallãh, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
60. Sesungguhnya, sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil (pengurus) zakat, para mu’alaf (yang dibujuk) hati, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai ketetapan dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membuat ketetapan cara pembagian sedekah (zakat).

wa min = dan dari; humu = mereka; al ladzĩna = orang-orang yang; yu’dzũna = (mereka) menyakiti; an nabiyya = Nabi; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; huwa = ia (Nabi); udzunun = apa yang didengarnya; qul = katakanlah; udzunu = apa yang didengarnya; khoirin = yang baik; lakum = bagi kamu; yu’minu = ia beriman; billãhi = kepada Allah; wa yu’minu = dan ia mempercayai; lil mu’minĩna = pada orang-orang mukmin; wa rohmatun = dan menjadi rahmat; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ãmanũ = beriman; minkum = di antara kamu; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yu’dzũna = mereka menyakiti; rosũlallãhi = Rasul Allah; lahum = bagi mereka; ‘adzãbun alĩm = azab yang pedih.
wa min humul ladzĩna yu’dzũnan nabiyya wa yaqũlũna huwa udzunun, qul udzunu khoiril lakum yu’minu billãhi wa yu’minu lil mu’minĩna wa rohmatul lilladzĩna ãmanũ minkum, wal ladzĩna yu’dzũna rosũlallãhi lahum ‘adzãbun aĩm.
61. Dan di antara mereka, ada orang-orang yang menyakiti Nabi, dan mereka mengatakan, Nabi (mempercayai) apa yang didengarnya. Katakanlah: “Ia (mempercayai) semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, dan mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasul Allah, bagi mereka azab yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang kafir ada yang menyakiti Nabi. Seperti apa menyakitinya? Allah mengarahkan orang-orang yang beriman dalam menanggapi desas-desus orang-orang kafir. Ada peringatan bagi orang-orang kafir yang menyakiti Nabi.
yahlifũna = mereka bersumpah; billãhi = dengan (menyebut nama) Allah; lakum = kepada kamu; li yurdhũkum = untuk mencari kerelaanmu; wallãhu = dan Allah; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; ahaqqu = lebih berhak; an yurdhũhu = untuk mencari kerelaan-Nya; in kãnũ = jika mereka adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
yahlifũna billãhi lakum li yurdhũkum wallãhu wa rosũluhũ ahaqqu an yurdhũhu in kãnũ mu’minĩn.
62. Mereka bersumpah dengan (nama) Allah kepada kamu untuk mencari kerelaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mereka cari kerelaan-Nya, jika mereka orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan perilaku orang-orang kafir mempengaruhi hati orang-orang mukmin. Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk dimintai kerelaan-Nya.
alam = tidakkah; ya’lamũ = mereka (orang-orang munafik) mengetahui; annahũ = sesungguhnya mereka; man = siapa; yuhãdidillãha = menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; fa-annalahũ = maka sesungguhnya baginya; nãro jahannama = api jahanam; khōlidan = kekal; fĩhã = di dalamnya; dzãlika = demikian itu; al khijzyu = kehinaan; al ‘azhĩm = yang besar.
alam ya’lamũ annahũ man yuhãdidillãha wa rosũlahũ fa-annalahũ nãro jahannama khōlidan fĩhã dzãlikal khijzyul ‘azhĩm.
63. Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui, siapa yang menentang Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka jahanamlah bagiannya, dia kekal di dalamnya. Demikian itu suatu kehinaan yang besar?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan sindiran dan pemberitahuan bagi orang-orang munafik yang menentang Allah dan rasul-Nya.
yahdzaru = takut; al munãfiqũna = orang-orang munafik; an tunazzala = kalau diturunkan; ‘alaihim = kepada mereka; sũrotun = surat; tunabbi-uhum = yang menerangkan kepada mereka; bimã = tentang apa; fĩ qulũbihim = di dalam hati mereka; quli = katakanlah; as tahzi’ũ = berolok-oloklah kamu; innallãha = sesungguhnya Allah; mukhrijun = membuktikan; mã = apa; tadzarũn = yang kamu takutkan.
yahdzarul munãfiqũna an tunazzala ‘alaihim sũrotun tunabbi-uhum bimã fĩ qulũbihim, qulis tahzi’ũ innallãha mukhrijum mã tadzarũn.
64. Orang-orang munafik takut kalau diturunkan untuk mereka suatu surat (Alquran) yang menerangkan tentang apa yang (tersembunyi) di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka): “Teruskan kamu berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya), sesungguhnya Allah akan membuktikan apa yang kamu takutkan itu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu perilaku orang-orang munafik, dan bagaimana cara menanggapi sikap mereka.

wa la-in = dan jika; sa-altahum = kamu tanyakan kepada mereka; la yaqũlunna = tentu mereka menjawab; innamã = sesungguhnya hanyalah; kunnã = kami adalah; nakhũdhu = kami bersenda gurau; wa nal’abu = dan kami bermain-main; qul = katakanlah; abillãhi = apakah dengan Allah; wa ãyãtihĩ = dan ayat-ayat-Nya; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; kuntum = kamu adalah; tastahzi-ũn = berolok-olok.
wa la-in sa-altahum la yaqũlunna innamã kunnã nakhũdhu wa nal’abu, qul abillãhi wa ãyãtihĩ wa rosũlihĩ kuntum tastahzi-ũn.
65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya, kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu sikap dan perbuatan orang-orang kafir, dan apa yang harus dikatakan kepada mereka.

lã = jangan; ta’tadzirũ = kamu beralasan; qod = sesungguhnya; kafartum = kamu telah kafir; ba’da = sesudah; ĩmãnikum = kamu beriman; in na’fu = jika Kami memaafkan; ‘an thōifatin = terhadap segolongan; minkum = dari kamu; nu’adzdzib = Kami akan mengazab; thōifatan = segolongan; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; kãnũ = mereka adalah; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.
lã ta’tadzirũ qod kafartum ba’da ĩmãnikum, in na’fu ‘an thōifatim minkum nu’adzdzib thōifatam bi annahum kãnũ mujrimĩn.
66. Jangan kamu beralasan, sesungguhnya, kamu telah kafir sesudah beriman, jika Kami memaafkan kepada segolongan kamu, Kami akan mengazab golongan lain, karena sesungguhnya, mereka orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir diminta untuk tidak mencari alasan lain. Allah akan selalu mengazab orang-orang yang berdosa. Allah Maha Mengetahui segala rahasia makhluk-Nya.

al munãfiqũna = orang-orang munafik laki-laki; wal munãfiqōtu = orang-orang munafik perempuan; ba’dhuhum mim ba’dhin = sebagian dari sebagain yang lain; ya’murũna = mereka menyuruh; bil munkari = berbuat mungkar; wa yanhauna = dan mereka melarang; ‘anil ma’rũfi = berbuat kebaikan; wa yaqbidhũna = dan mereka menggenggamkan; aidiyahum = tangan mereka; nasullãha = mereka lupa kepada Allah; fanasiyahum = maka Allah melupakan mereka; inna = sesungguhnya; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; humu = mereka itu; al fãsiqũn = orang-orang bodoh.
al munãfiqũna wal munãfiqōtu ba’dhuhum mim ba’dhin, ya’murũna bil munkari wa yanhauna ‘anil ma’rũfi wa yaqbidhũna aidiyahum, nasullãha fanasiyahum, innal munãfiqĩna humul fãsiqũn.
67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dari sebagian yang lain, mereka menyuruh berbuat mungkar dan melarang berbuat kebaikan, dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan kepada mereka. Sesungguhnya, orang-orang munafik itu orang-orang bodoh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan perilaku orang-orang munafik, dan mereka dicap sebagai orang-orang fasik (bodoh).

wa ‘adallãhu = dan Allah mengancam; al munãfiqĩna = orang-orang munafik laki-laki; wal munãfiqãti = orang-orang munafik perempuan; wal kuffãro = orang-orang kafir; nãro = api; jahannama = jahanam; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; hiya = ia; hasbuhum = cukup bagi mereka; wa la’anahumullãhu = Allah melaknati mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbum = azab; muqĩm = yang kekal.
wa ‘adallãhul munãfiqĩna wal munãfiqãti wal kuffãro nãro jahannama khōlidĩna fĩhã, hiya hasbuhum, wa la’anahumullãhu, wa lahum ‘adzãbum muqĩm.
68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kafir dengan neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah ia (neraka jahanam) bagi mereka. Dan Allah mengutuk mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyediakan neraka jahanam untuk mengazab orang-orang kafir.

kal ladzĩna = seperti orang-orang yang; min qoblikum = dari sebelum kamu; kãnũ = mereka adalah; asyadda = lebih (sangat); min kum = daripada kamu; quwwatan = kekuatan; wa aktsaro = dan lebih banyak; amwãlan = harta-benda; wa aulãdã = dan anak-anak; fastamta’ũ = maka mereka menikmati; bi kholãqihim = dengan bagian mereka; fastamta’tum = maka kamu menikmati; bi kholãqikum = dengan bagian kamu; kama = sebagaimana; is tamta’a = menikmati; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblikum = dari sebelum kamu; bi kholãqihim = dengan bagian mereka; wa khudhtum = dan kamu mempercakapkan; kalladzĩ = sebagaimana yang …; khãdhũ = mereka mempercakapkan; ulãika = mereka itu; habithot = sia-sia; a’maluhum = amal mereka; fid dun-yã = di dunia; wal ãkhiroti = dan di akhirat; wa ulãika = dan mereka itu; humu = mereka; al khōsirũn = orang-orang yang merugi.
kal ladzĩna min qoblikum kãnũ asyadda min kum quwwatan wa aktsaro amwãlan wa aulãdã, fastamta’ũ bi kholãqihim fastamta’tum bi kholãqikum kamas tamta’al ladzĩna min qoblikum bi kholãqihim wa khudhtum kalladzĩ khãdhũ, ulãika habithot a’maluhum fid dun-yã wal ãkhiroti, wa ulãika humul khōsirũn.
69. (Keadaan kamu, hai orang-orang munafik), seperti orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta-benda dan anak-anaknya, mereka telah menikmati bagian mereka, maka kamu telah menikmati bagian kamu, sebagaimana orang-orang sebelum kamu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (barang batil), sebagaimana mereka mempercakapkannya. Amalan mereka menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan orang-orang munafik yang mempercakapkan barang batil orang-orang sebelum mereka, menyebabkan amalan mereka sia-sia, baik di dunia maupun untuk akhirat. Oleh karena itu, jangan suka mempercakapkan kelebihan-kelebihan orang-orang masa lalu. Lebih baik, lakukan, kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang. Nikmati apa yang bisa dinikmati sekarang.

alam = tidakkah (belumkah); ya’tihim = datang kepada mereka; nabã-u = berita; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; qoumi = kaum; nũhin = Nuh; wa ‘ãdin = ‘Adin; wa tsamũda = dan Samud; wa qoumi ibrōhĩma = dan Kaum Ibrahim; wa ash-hãbi mad-yana = dan Penduduk Madyan; wal mu’tafikãti = dan negeri-negeri yang telah musnah; atat-hum = telah datang kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinãt = dengan keterangan yang nyata; fa mã kãnallãhu = maka Allah tidak menganiaya; liyazh limahum = untuk menganiaya mereka; wa lãkin = akan tetapi; kãnũ = mereka adalah; anfusahum = diri mereka sendiri; yazh limũn = mereka menganiaya.
alam ya’tihim nabã-ul ladzĩna min qoblihim qoumi nũhin wa ‘ãdin wa tsamũda, wa qoumi ibrōhĩma wa ash-hãbi mad-yana wal mu’tafikãti, atat-hum rusuluhum bil bayyinãt, fa mã kãnallãhu liyazh limahum wa lãkin kãnũ anfusahum yazh limũn.
70.Tidakkah (belumkah) datang kepada mereka, berita tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu Kaum Nuh, Add, Samud, Kaum Ibrahim, penduduk Mand-yan, dan penduduk negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan keterangan yang nyata, Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada umat manusia umumnya, khususnya kepada kaum kafirin tentang orang-orang dari berbagai penduduk bumi yang telah dimusnahkan. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Mereka tidak mengakui kedatangan Rasul-rasul bagi masing-masing kaumnya.

wal mu’minũna = dan orang-orang mukmin laki-laki; wal muninãtu = orang-orang mukmin perempuan; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = pelindung (penolong); ba’dhin = sebagian yang lain; ya’murũna = mereka menyuruh; bil ma’rũfi = berbuat dengan kebaikan; wa yanhauna = dan mereka mencegah; ‘anil munkari = dari perbuatan munkar; wa yuqĩmũna = dan mereka mendirikan; ash sholãta = salat; wa yu’tũna = dan menunaikan; az zakãta = zakat; wa yuthĩ’ũnallãha = dan mereka taat kepada Allah; wa rosũlah = dan Rasul-Nya; ulã-ika = mereka itu; sayarhamuhumullãh = Allah akan memberi rahmat kepada mereka; innalãha = sesungguhnya Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wal mu’minũna wal muninãtu ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin ya’murũna bil ma’rũfi wa yanhauna ‘anil munkari wa yuqĩmũnash sholãta wa yu’tũnaz zakãta wa yuthĩ’ũnallãha wa rosũlah, ulã-ika sayarhamuhumullãh, innalãha ‘azĩzun hakĩm.
71. Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (menjadi) penolong bagi sebagian yang lainnya, mereka menyuruh berbuat dengan kebaikan, dan mencegah berbuat mungkar, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan hidup seorang Mukmin.
wa’adallãhu = Allah telah menjanjikan; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman laki-laki; wal mu’minaati = dan orang-orang yang beriman perempuan; jannaatin = surga; tajrĩ = dialiri; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa masãkina = dan tempat-tempat; thoyyibatan = yang bagus; fĩ jannaatin = di surga; ‘adnin = Adnin; wa ridhwãnum = dan kerelaan; minallãhi = dari Allah; akbaru = lebih besar; dzãlika = demikian itu; huwa = itulah; al fauzu = keuntungan; al ‘azhĩm = besar.
wa’adallãhul mu’minĩna wal mu’minaati jannaatin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wa masãkina thoyyibatan fĩ jannaatin ‘adnin, wa ridhwãnum minallãhi akbaru, dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
72. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, surga yang dialiri sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga Adn, dengan kerelaan Allah yang besar. Itulah keuntungan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan janji, berita gembira-Nya kepada orang-orang yang beriman (lihat Q.s. Al Baqarãh, 2 : 25;

Yã ayyuha = wahai; an nabiyyu = Nabi; jãhidi = perangilah; al kuffãro = orang-orang kafir; wal munãfiqĩna = dan orang-orang munafik; waghluzh = dan bersikap keraslah; ‘alaihim = kepada mereka; wa ma’ wãhum = dan tempat mereka; jahannamu = jahanam; wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al mashĩr = tempat kembali.
Yã ayyuhan nabiyyu jãhidil kuffãro wal munãfiqĩna waghluzh ‘alaihim, wa mã wãhum jahannamu, wa bi’sal mashĩr.
73. Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah kepada mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam, itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafik karena mereka tidak mau menepati perjanjian, dan selalu membuat kekacauan, kerusuhan.

yahlifũna = mereka bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; mã qōlũ = tidak mengatakan; wa laqod = padahal sesungguhnya; qōlũ = mereka berkata; kalimata = kata-kata; al kufri = kafir; wa kafarũ = mereka itu kafir; ba’da = setelah (sesudah); islãmihim = mereka menyatakan Islam; wa hammũ = dan mereka mengingini; bi mã lam = pada apa yang tidak; yanãlũ = mereka capai; wa mã naqomũ = dan mereka tidak mencela; illã = kecuali; an aghnãhumullãhu = telah mencukupkan mereka; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; min fadh-lihĩ = dari karunia-Nya; fa in = maka jika; yatũbũ = mereka tobat; yaku = itu adalah; khoiron = lebih baik; lahum = bagi mereka; wa in = dan jika; yatawallau = mereka berpaling; yu’adzdzib-humullãhu = Allah akan mengazab mereka; ‘adzãban = dengan azab; alĩmã = yang pedih; fid dun-yã = di dunia; wal ãkhiroh = dan di akhirat; wa mã = dan tidak ada; lahum = bagi mereka; fil ardhi = di bumi; min waliyyin = pelindung; wa lã nashĩr = dan tidak ada penolong.
yahlifũna billãhi mã qōlũ wa laqod qōlũ kalimatal kufri wa kafarũ ba’da islãmihim wa hammũ bi mã lam yanãlũ, wa mã naqomũ illã an aghnãhumullãhu wa rosũluhũ min fadh-lihĩ, fa in yatũbũ yaku khoirol lahum, wa in yatawallau yu’adzdzib-humullãhu ‘adzãban alĩmã fid dun-yã wal ãkhiroh, wa mã lahum fil ardhi min waliyyin wa lã nashĩr.
74. Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Padahal sesungguhnya, mereka telah menyataan kekafiran, dan mereka telah menjadi kafir sesudah mereka Islam, dan mereka menginginkan sesuatu (membunuh Nabi) yang tak dapat mereka capai, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah mencukupi anugerah-Nya kepada mereka. Maka, jika mereka tobat, itu lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, pasti Allah akan mengazab mereka dengan kepedihan di dunia dan di akhirat. Bagi mereka tidak ada pelindung dan penolong di muka bumi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu perilaku orang-orang kafir. Jika mereka berpaling Allah mengingatkan akan terkena azab di dunia dan di akhirat. Bagi orang kafir, tidak ada pelindung dan penolong.

wa min hum = dan di antara mereka; man = (ada) orang; ‘ãhadallãha = berjanji kepada Allah; la in = sesungguhnya jika; ãtaanã = Allah memberikan kepada saya; min fadhlihĩ = dari sebagian karunia-Nya; lana = sungguh saya; ash shoddaqonna = saya akan bersedekah; wa lanã = dan sungguh saya; kũnanna = saya adalah; mina = dari (termasuk); ash shōlihĩn = orang saleh.
wa min hum man ‘ãhadallãha la in ãtaanã min fadhlihĩ lanash shoddaqonna wa lanã kũnanna minash shōlihĩn
75. Dan di antara mereka, ada orang yang berjanji kepada Allah; sesungguhnya, jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepadaku, sungguh aku akan bersedekah, dan sungguh aku termasuk orang saleh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Cerita seseorang yang berjanji kepada Allah, jika ia diberi sebagian karunia-Nya

fa lammã = maka setelah; ãtãhum = (Allah) memberinya; min fadhlihĩ bakhilũ = dia kikir; bihĩ = dengannya; wa tawallauw = dan mereka berpaling; wa hum = dan mereka; mu’ridhũn = orang-orang yang membelakangi.
fa lammã ãtãhum min fadhlihĩ bakhilũ bihĩ wa tawallauw wa hum mu’ridhũn.
76. Maka setelah Allah memberi dia sebagian karunia-Nya, dia kikir dengan karunia itu, dan mereka berpaling, dan dia adalah orang yang membelakangi (kebenaran).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan orang yang ingkar janji dan menyangkal kasih-sayang-Nya.

fa = maka; a’qobahum = (Allah) membangkitkan; nifãqon = kemunafikan; fĩ qulũbihim = di hati mereka; ilã = sampai ke; yaumi = waktu (hari); yalqounahũ = mereka menemui-Nya; bimã = dengan apa (sebab); akhlafullãha = mereka memungkiri Allah; mã wa ‘adũhu = apa yang mereka janjikan kepada-Nya; wa bimã = dan dengan sebab; kãnũ = mereka adalah; yakdzibũn = mereka berdusta.
fa a’qobahum nifãqon fĩ qulũbihim ilã yaumi yalqounahũ bimã akhlafaka
77. Maka Allah membangkitkan kemunafikan di hati mereka sampai ke waktu mereka menemui-Nya, dengan sebab mereka memungkiri Allah, apa yang mereka janjikan kepada-Nya, dan dengan sebab mereka berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena mereka mengingkari ada-Nya Allah, memungkiri janjinya, dan karena mereka berdusta, Allah membangkitkan kemunafikan di hatinya.

alam = tidaklah; ya’lamũ = mereka mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; sirrohum = rahasia mereka; wa najwãhum = bisikan mereka; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ‘allãmu = Maha Mengetahui; al ghuyũb = segala yang gaib.
alam ya’lamũ annallãha ya’lamu sirrohum wa najwãhum wa annallãha ‘allãmul ghuyũb.
78. Tidakkah mereka mengetahui, sesungguhnya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan sesungguhnya Allah amat mengetahui segala yang gaib?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada manusia-manusia yang sesungguhnya, mereka sudah mengetahui ada sesuatu yang gaib, dan Yang Mahagaib itu Adalah Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang dirahasiakan di hati mereka, dan apa yang dibisikkan di antara sesamanya.

Alladzĩna = orang-orang yang …; yalmizũna = (mereka) mencela; al muththowwi’ĩna = orang-orang yang memberi dengan rela; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang Mukmin; fish shodaqōti = dalam bersedekah; walladzĩna = dan orang-orang yang …; lã yajidũna = mereka tidak memperoleh; illã = kecuali; juhdahum = kesanggupan mereka; fa yaskharũna = maka mereka menghina; min hum = dari mereka; sakhirollãhu = Allah menghina; min hum = dari mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbun = azab; alĩm = yang pedih.
alladzĩna yalmizũnal muththowwi’ĩna minal mu’minĩna fish shodaqōti walladzĩna lã yajidũna illã juhdahum fa yaskharũna min hum, sakhirollãhu min hum wa lahum ‘adzãbun alĩm.
79. Orang-orang munafik yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan rela, dan mencela orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan, kecuali sekedar sesuai dengan kesanggupan mereka, orang-orang munafik menghina mereka. Allah akan membalas celaan, penghinaan orang-orang munafik; bagi mereka, azab yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, orang-orang yang mencela dan menghina orang-orang mukmin yang ikhlas, rela bersedekah akan dibalas oleh-Nya dengan celaan, hinaan dan azab yang pedih.

astaghfir = mohonkan ampun; lahum = bagi mereka; au lã = atau tidak; tastaghfir = kamu mohonkan ampun; lahum = bagi mereka; sab’ĩna = tujuh puluh; marrotan = kali; fa lan = maka tidak; yaghfirallãhu = Allah memberi ampun; lahum = bagi mereka; dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; kafarũ = mereka kafir; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihĩ = dan rasul-Nya; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qouma = kaum; al fãsiqĩn = fasik.

astaghfir lahum au lã tastaghfir lahum sab’ĩna marrotan fa lan yaghfirallãhu lahum, dzãlika bi annahum kafarũ billãhi wa rosũlihĩ, wallãhu lã yahdĩl qoumal fãsiqĩn.

80. Mohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun bagi mereka, karena sesungguhnya, mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan bahwa orang-orang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, walau dimintakan ampunan tujuh puluh kali, mereka tidak akan diberi ampun oleh Allah. Mereka juga tidak akan diberi petunjuk dalam menjalani hidupnya.

farikha = merasa gembira; al mukhallafũna = orang-orang yang ditinggal berperang; bi maq’adihim = karena tinggal; khilãfa = di belakang; rosũlillãhi = Rasulullah; wa karihũ = dan mereka tidak suka; an yujãhidũ = untuk mereka berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fĩ sabililãhi = di jalan Allah; wa qōlũ = dan mereka berkata; lã tanfirũ = kamu jangan berangkat; fil harri = dalam panas terik; qul = katakanlah; nãru jahannama = api jahanam; asyaddu = lebih sangat; harron = panas; lau = kalau, jika; kãnũ = mereka; yafqohũn = mereka mengetahui.
farikhal mukhallafũna bi maq’adihim khilãfa rosũlillãhi wa karihũ an yujãhidũ bi amwãlihim wa anfusihim fĩ sabililãhi wa qōlũ lã tanfirũ fil harri qul nãru jahannama asyaddu harron, lau kãnũ yafqohũn
81. Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira karena tidak ikut berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata: “Kamu jangan berangkat berperang dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api Jahanam sangat lebih panas, jika mereka mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan perilaku orang-orang yang tidak ikut berjihad di jalan Allah. Allah mengingatkan bahwa api jahanam yang akan diderakan kepada orang-orang kafir itu lebih panas.

fal yãdh-hakũ = maka mereka tertawa; qolĩlan = sedikit; wal yabkũ = dan mereka menangis; katsĩron = banyak; jazã-an = pembalasan; bimã = atas apa; kãnũ = mereka adalah; yaksibũn = mereka kerjakan.
fal yãdh-hakũ qolĩlan wal yabkũ katsĩron jazã-am bimã kãnũ yaksibũn
82. Maka mereka akan tertawa sedikit, dan akan menangis banyak, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan keadaan akhir orang-orang kafir.

fa in = maka jika; roja’akallãhu = Allah mengembalikan kamu; ilã = ke; thō-ifatin = suatu golongnan; min hum = dari mereka; fasta’dzanũka = maka mereka meminta izin kepadamu; lil khurũji = untuk keluar; faqul = maka katakanlah; lan takhrujũ = kamu tidak boleh keluar; ma’iya = bersamaku; abadan = selamanya; wa lan tuqōtilũ = kamu tidak boleh memerangi; ma’iya = bersamaku; ‘aduwwan = musuh; innakum = sesungguhnya kamu; rodhĩtun = kamu rena (puas, senang hati); bil qu’ũdi = dengan duduk (tidak ikut berperang); awwala = pertama; marrotin = kali; faq’udũ = maka duduklah kamu; ma’a bersama; al khōlifĩn = orang-orang yang takut berperang.
fa ir roja’akallãhu ilã thō-ifatim min hum fasta’dzanũka lil khurũji faqul lan takhrujũ ma’iya abadan wa lan tuqōtilũ ma’iya ‘aduwwan, innakum rodhĩtum bil qu’ũdi awwala marrotin faq’udũ ma’al khōlifĩn.
83. Maka, jika Allah mengembalikan kamu ke suatu golongan dari mereka, kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya, dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku, sesungguhnya, kamu telah rela, tidak ikut berperang pada pertama kali, maka duduklah kamu bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang dikembalikan-Nya ke gologannya, dan apa yang harus dikatakannya.
wa lã = dan jangan; tusholli = kamu menyolati; ‘alã ahadin = atas seseorang; min hum = di antara mereka; mãta = yang mati; abadan = selama-lamanya; wa lã = dan jangan; taqumu = kamu berdiri; ‘alã = di atas; qobrihĩ = kuburnya; innahum = sesungguhnya mereka; kafarũ = mereka kafir; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; wa mãtũ = dan mereka mati; wa hum = sedang mereka; fãsiqũn = orang-orang fasik.
wa lã tusholli ‘alã ahadim min hum mãta abadan wa lã taqumu ‘alã qobrihĩ innahum kafarũ billãhi wa rosũlihĩ wa mãtũ wa hum fãsiqũn.
84. Dan jangan kamu menyolati jenazah dari seorang di antara orang-orang munafik yang mati untuk selama-lamanya, dan jangan kamu berdiri di atas kuburnya, sesungguhnya, mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati, sedang mereka dalam keadaan fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah bagi seorang muslim dalam bergaul dengan orang munafik.

wa lã = dan jangan; tu’jibka = menakjubkan kamu; amwãluhum = harta benda mereka; wa aulãduhum = dan anak-anak mereka; innamã = sesungguhnya (hanyalah); yurĩdullãhu = Allah menghendaki; an yu’adzdzibahum = untuk menyiksa mereka; bihã = dengannya; fiddun-yã = di dunia; wa taz-haqo = dan melayanglah; anfusuhum = nyawa mereka; wa hum = dan ketika mereka; kãfirũn = orang-orang kafir.
wa lã tu’jibka amwãluhum wa aulãduhum, innamã yurĩdullãhu an yu’adzdzibahum bihã fiddun-yã wa taz-haqo anfusuhum wa hum kãfirũn
85. Dan janganlah harta-benda dan anak-anak mereka (orang kafir) menarik hatimu, sesungguhnya Allah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya (harta dan anak-anak) di dunia, dan agar melayanglah nyawa mereka, ketika mereka dalam keadaan kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah lagi dalam bergaul dengan orang kafir.

wa idzã = dan jika; unzilat = diturunkan; sũratun = suatu surat; an ãminũ = hendaknya kamu berimanlah; billãhi = kepada Allah; wa jãhidũ = dan kamu berjihadlah; ma’a = bersama; rosũlihi = Rasul-Nya; is ta’dzanaka = minta izin kepadamu; uluth thouli = orang-orang yang mempunyai kesanggupan; min hum = di antara mereka; wa qōlũ = dan mereka berkata; dzarnã = biarkanlah kami; nakum = adalah kami; ma’a = bersama; al qō’idĩn = orang-orang yang duduk.
wa idzã unzilat sũratun an ãminũ billãhi wa jãhidũ ma’a rosũlihis ta’dzanaka uluth thouli min hum wa qōlũ dzarnã nakum ma’al qō’idĩn.
86. Dan jika diturunkan suatu surat (Alquran): “Berimanlah hendaknya kamu kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya, tentu orang-orang yang mempunyai kesanggupan (berperang) di antara mereka kepadamu dan berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menghimbau orang-orang kafir agar mau bertobat dan beriman kepada Allah, dan mau berjihad bersama rasul-Nya. Tapi ternyata, memang kekafiran itu melekat pada orang per orang. Alasannya bermacam-macam. Maka, kalau sudah kafir, tetaplah ia kafir, bagaimana pun: dibujuk, dirayu, dihimbau, diminta, sampai dipaksa pun mereka tidak akan mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

rodhũ = mereka rido; bi an yakũnũ = dengan keberadaan mereka; ma’a = bersama; al khowãlifi = orang yang tinggal; wa thubi’a = dan telah dicap (dikunci); ‘alã qulũbihim = pada hati mereka; fa hum = maka mereka; lã yafqohũn = mereka tidak mengerti.
rodhũ bi an yakũnũ ma’al khowãlifi wa thubi’a ‘alã qulũbihim fa hum lã yafqohũn.
87. Mereka rela dengan keberadaannya bersama orang yang tinggal (tidak berperang), dan pada hati mereka telah dikunci mati, karena itu mereka tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran dari Allah tentang orang kafir.
lãkini = tetapi; ar rosũlu = Rasul; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama Dia; jãhadũ = mereka berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; wa ulãika = dan mereka; lahumu = orang-orang yang memperoleh; al khoirotu = kebaikan; wa ulãika = dan mereka; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.
lãkinir rosũlu walladzĩna ãmanũ ma’ahũ jãhadũ bi amwãlihim wa anfusihim wa ulãika lahumul khoirotu, wa ulãika humul muflihũn.
88. Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: orang-orang yang beruntung memperoleh kebaikan adalah orang-orang yang berjihad bersama Rasul dengan harta dan jiwa mereka. Demikianlah gambaran orang-orang yang diberi petunjuk.
a’addallãhu = Allah telah menyediakan; la hum = bagi mereka; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; dzãlika = demikian itulah; al fauzu = kemenangan (keberuntungan); al ‘azhĩm = besar.
a’addallãhu la hum jannaatin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã, dzãlikal fauzal ‘azhĩm
89. Allah telah menyediakan surga bagi mereka, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyediakan Surga bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.
wa jã‘a = dan datang; al mu’adzdzirũna = orang-orang yang mempunyai uzur; minal a’rōbi = dari orang-orang Arab Dusun; li yu’dzana = agar diberi izin; lahum = bagi mereka; wa qo’ada = dan tinggal duduk; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzabũllãha = mendustakan Allah; wa rosũluh = dan Rasul-Nya; sayushĩbu = kelak akan menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min hum = di antara mereka; ‘adzãbun = azab; alĩmu = yang pedih.
wa jã‘al mu’adz dzirũna minal a’rōbi li yu’dzana lahum wa qo’adal ladzĩna kadzabũllãha wa rosũluh, sayushĩbul ladzĩna kafarũ min hum ‘adzãbun alĩmu.
90. Dan datang kepada Nabi orang-orang yang mempunyai ‘uzur dari orang-orang Arab Dusun, agar diberi izin untuk tidak pergi berjihad, sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya tinggal duduk (tidak mau berjihad). Kelak akan menimpa kepada orang-orang kafir, azab yang pedih di antara mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang Arab dusun maupun orang-orang Arab Kota Madinah, kalau mereka kafir, kelak akan ditimpa azab yang pedih. orang-orang yang mempunyai ‘uzur untuk tidak berjihad, Insya Allah tidak akan ditimpa azab. Lihat ayat berikutnya.
laisa = tidak; ‘ala = atas; adh dhu’afã-i = atas orang-orang lemah; wa lã = dan tidak (berdosa); ‘alal mardhō = atas orang-orang sakit; wa lã ‘alal ladzĩna = dan tidak (berdosa) atas orang-orang yang …; lã yajidũna = mereka tidak memperoleh; mã = apa; yunfiqũna = yang mereka infakkan; harojun = berdosa (bersalah); idzã = jika; nashohũ = mereka jujur (ikhlas); lillãhi = kepada Allah; wa rosũlih = dan Rasul-Nya; mã ‘ala = (tidak) ada atas; al muhsinĩna = orang-orang yang berbuat kebaikan; min sabĩlin = dari jalan; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
laisa ‘aladh dhu’afã-i wa lã ‘alal mardhō wa lã ‘alal ladzĩna lã yajidũna mã yunfiqũna harojun idzã nashohũ lillãhi wa rosũlih, mã ‘alal muhsinĩna min sabĩlin, wallãhu ghofũrur rohĩm.
91. Tidak berdosa (karena tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan atas orang-orang yang berbuat kebaikan (bagi orang-orang seperti itu), dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penayayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak terkena dosa akibat mereka tidak pergi berjihad di jalan-Nya. Jihad di jalan Allah itu sebuah jalan untuk berbuat kebaikan. “orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan” artinya mata pencaharian yang tidak bisa ditinggalkan untuk berperang (berjihad), seperti bertani, berdagang, bekerja di ‘pabrik’, dan lain-lain.

wa lã = dan tidak; ‘alal ladzĩna = atas orang-orang yang; idzã mã = apabila apa; atauka = mereka datang kepadamu; li tahmilahum = agar kamu membawa mereka; qulta = kamu berkata; lã ajidu = aku tidak memperoleh; mã = sesuatu; ahmilukum = aku membawamu; ‘alaihi = atasnya; tawallauw = mereka berpaling; wa a’yunuhum = dan mata mereka; tafĩdhu = mencucurkan; minad dam’i = dari air mata; hazanan = sedih; al lã = karena tidak; yajidũ = mereka memperoleh; mã yunfiqũn = apa yang mereka nafkahkan.
wa lã ‘alal ladzĩna idzã mã atauka li tahmilahum qulta lã ajidu mã ahmilukum ‘alaihi tawallauw wa a’yunuhum tafĩdhu minad dam’i hazanan allã yajidũ mã yunfiqũn.
92. Dan tidak (pula berdosa) atas orang-orang yang ketika datang kepadamu, agar kamu dapat membawa mereka (dengan kendaraan), dan kamu berkata: “Aku tidak memperoleh sesuatu (kendaraan) untuk membawamu. ”Mereka kembali, sedang mata mereka mencucurkan air mata karena sedih, karena mereka tidak memperoleh apa yang diharapkan (kendaraan untuk dapat berjihad).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penjelasan dari Allah lagi tentang orang-orang yang tidak berdosa ketika mereka tidak bisa ikut bertempur (berjihad) di jalan Allah.

Innamã = sesungguhnya hanyalah; as sabĩlu = jalan; ‘ala = atas (terhadap); al ladzĩna = orang-orang yang; yasta’dzinũnaka = mereka meminta izin kepadamu; wa hum = padahal mereka; aghniyã-u = orang-orang yang kaya; rodhũ = mereka rela; bi an-yakũnũ = bahwa mereka berada; ma’a = bersama; al khawãlifi = orang-orang yang tinggal; wa thoba’allãhu = dan Allah telah mencap (mengunci); ‘alã qulũbihim = di hati mereka; fa hum = maka mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak akan mengetahui
innamãs sabĩlu ‘alal ladzĩna yasta’dzinũnaka wa hum aghniyã-u, rodhũ bi an-yakũnũ ma’al khawãlifi wa thoba’allãhu ‘alã qulũbihim fa hum lã ya’lamũn.
93. Sesungguhnya, jalan (untuk menyalahkan), hanyalah terhadap orang-orang yang minta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tinggal (tidak ikut berjihad), dan Allah telah mengunci mati hati mereka. Maka mereka tidak mengetahui
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Allah tentang orang-orang kaya yang tidak mau pergi berjihad. Sesungguhnya, hati mereka telah dikunci Allah, sehingga hatinya tidak terbuka, bahwa berjihad itu artinya membuka pintu surga di akhirat.
AL JUZ’UL HADI ‘ASYAR
Juz 11

ya’tadzirũna = mereka mengemukakan uzur; ilaikum = kepadamu; idzã = jika; roja’tum = kamu telah kembali; ilaihim = kepada mereka; qul = katakanlah; lã ta’tadzirũ = janganlah kamu mengemukana uzur kamu; lan nu’mina = kami tidak akan percaya; lakum = kepadamu; qod = sesungguhnya; nabba’allãhu = Allah telah mengkhabarkan kepada kami; min akhbãrikum = dari pekabaranmu; wasayarōllãhu = dan Allah akan melihat; ‘amalakum = pekerjaanmu; warosũluhũ = dan Rasul-Nya; tsumma = kemudian; turoddũna = kamu akan dikembalikan; ilã = kepada; ‘ãlimi = Yang Mengetahui; al ghoibi = yang gaib; wasy syahãdati = dan yang nyata; fayunabbi-ukum = Maka Dia memberitahukan kepadamu; bimã = terhadap apa; kuntum = adalah kamu; ta’malũn = kamu kerjakan.
ya’tadzirũna ilaikum idzã roja’tum ilaihim, qul lã ta’tadzirũ lan nu’mina lakum qod nabba’allãhu min akhbãrikum, wasayarōllãhu ‘amalakum warosũluhũ tsumma turoddũna ilã ‘ãlimil ghoibi wasysyahãdati fayunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.
94. Mereka (orang-orang munafik) akan mengemukakan uzur kepadamu, apabila kamu telah kembali (dari medan perang) kepada mereka. Katakanlah: “janganlah kamu mengemukan uzur, kami tidak akan percaya kepadamu. Sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami dari pekabaran (rahasia)-mu. Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah untuk kesekian kalinya memperingatkan Nabi Muhammad saw. dan umat Islam tentang perilaku orang-orang munafik yang banyak membuat alasan untuk tidak ikut berperang sabil. Pada ayat ini, Allah menegaskan agar jangan percaya pada segala alasan uzur orang-orang munafik. Allah Mahatahu segala hal yang gaib dan yang nyata. Allah Maha Mengetahui semua rahasia hati dan apa yang dilakukan orang-orang munafik.
sayahlifũna = mereka akan bersumpah; billãhi = dengan (menyebut Nama) Allah; lakum = kepadamu; idzan-qolabtum = apabila kamu telah kembali; ilaihim = kepada mereka; litu’ridhũ = supaya kamu berpaling; ‘anhum = kepada mereka; fa-a’ridhũ = maka berpalinglah kamu; ‘anhum = dari mereka; innahum = sesungguhyna mereka; rijsun = keji (kotor); wa ma’wãhum = dan tempat mereka; jahannamu = jahanam; jazã’an = (sebagai) balasan; bimã = dengan apa; kãnũ = adalah mereka; yaksibũn = mereka kerjakan.
sayahlifũna billãhi lakum idzan-qolabtum ilaihim litu’ridhũ ‘anhum, fa-a’ridhũ ‘anhum, innahum rijsun, wa ma’wãhum jahannamu jazã’am bimã kãnũ yaksibũn
95. Mereka akan bersumpah kepadamu dengan (menyebut nama) Allah, apabila kamu telah kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kamu dari mereka, sesungguhnya mereka itu keji, dan tempat mereka jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu bagaimana perilaku orang-orang munafik, dan memerintahkan untuk menghindari mereka (orang-orang munafik) yang bersifat keji (penipu, pembohong, pemalsu, penjilat, dan lain-lain). Balasan untuk pekerjaan mereka adalah neraka jahanam.
lahlifũna = mereka akan bersumpah; lakum = kepada kamu; litardhau = supaya kamu rela; ‘ankum = kepadamu; fa in = maka jika; tardhau = kamu rela; ‘anhum = kepada mereka; fa inallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yardhō = tidak rela; ‘ani = kepada; al qoumi = kaum; al fasiqĩn = orang-orang yang fasik.
lahlifũna lakum litardhau ‘ankum, fa in tardhau ‘anhum fa inallãha lã yardhō ‘anil qoumil fasiqĩn
96. Mereka akan bersumpah kepadamu, supaya kamu rela kepada mereka, maka jika kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya, Allah tidak rela kepada orang-orang yang fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang perilaku orang-orang yang fasik. Jika Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman rela mereka tidak mau membantu memakmurkan, menenteramkan, mensejahterakan dunia; Allah tidak rela karena mereka fasik.
al a’rōbu = orang-orang Arab Dusun (Badui); asyaddu = amat sangat; kufron = kafir; wa nifaqon = kafir; wa ajdaru = dan lebih wajar; allã = tidak; ya’lamũ mereka mengetahui; hudũda = hukum-hukum; mã = apa yang; anjalallãhu = diturunkan Allah; ‘alã = kepada; rosũlihi = Rausl-Nya; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana
al a’rōbu asyaddu kufron wa nifaqon wa ajdaru allã ya’lamũ hudũda mã anjalallãhu ‘alã rosũlihi, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
97. Orang-orang Arab Dusun (Badui) amat sangat kafir dan sangat munafik, dan mereka lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berceritera tentang orang Arab Dusun yang sangat tidak berbudaya, mereka dianggap wajar tidak mengetahui Hukum-hukum Allah.

wa minal a’rōbi = dan di antara orang-orang Arab Dusun (Badui); man = orang; yattakhidzu = memandang; mã = apa; yunfiqu = yang dinafkahkan (di jalan Allah); maghroman = denda (merugikan; wa yataRabashu = dan ia menanti-nanti; bikumu = bagi (atas) kamu; adda wã-iro = giliran bencana; ‘alaihim = atas mereka; dã-irotu = giliran bencana; as sau-i = buruk; wallãhu = dan Allah; samĩun = Maha Mendengar; ‘alĩmu = Maha Mengetahui.
wa minal a’rōbi man yattakhidzu mã yunfiqu maghroman wa yataRabashu bikumudda wã-iro, ‘alaihim dã-irotus sau-i, wallãhu samĩun ‘alĩmu
98. Dan di antara orang-orang Arab Dusun itu ada yang memandang apa yang dinafkahkan (di jalan Allah) itu sebagai denda (merugikan), dan mereka menanti-nanti bencana menimpamu. Merekalah yang akan mendapat bencana buruk, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang-orang Arab Dusun yang menganggap apa yang dinafkahkan di jalan Allah itu denda dan merugikan mereka. Oleh karena itu, mereka mengarapkan bencana menimpa Nabi Muhammad saw. (Kaum Muslim). Allah menetapkan merekalah yang akan terkena bencana buruk.
wa minal a’rōbi = dan diantara orang-orang Arab Dusun; man = orang; yu’minu billãhi = dia beriman kepada Allah; wal yaumil akhiri = dan Hari Akhirat; wa yattakhidzu = dan dia memandang; mã = apa; yunfiqu = yang dinafkahkan; qurubãtin = sebagai pendekatan; ‘indallãhi = kepada Allah; wa sholawãtir rosũli = dan salawat kepada Rasul; allã = ketahuilah; innahã = sesungguhnya itu; qurbatul lahum = pendekatan bagi mereka; sayudkhiluhumullãhu = Allah akan memasukkan mereka; fĩ rohmatihi = ke dalam rahmat-Nya; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrur = Maha Pengampun; rohĩmu = Maha Penyayang.
wa minal a’rōbi man yu’minu billãhi wal yaumil akhiri wa yattakhidzu mã yunfiqu qurubãtin ‘indallãhi wa sholawãtir rosũli, allã innahã qurbatul lahum, sayudkhiluhumullãhu fĩ rohmatihi, innallãha ghofũrur rohĩmu.
99. Dan di antara orang-orang Arab Dusun itu ada yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia memandang apa yang dinafkahkan (di jalan Allah) itu sebagai pendekatan kepada Allah dan selawat Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya, nafkah (di jalan Allah) itu sebagai pendekatan bagi mereka kepada Allah. Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang-orang Arab Dusun yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.
was sãbiqũna = dan orang-orang yang terdahulu; al awwalũna = yang pertama; mina = di antara; al muhãjirĩna = orang-orang Muhajir; wal anshōri = dan orang-orang Ansor; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; attaba’ũhum = mengikuti mereka; bi ihsaanin = dengan baik; rodhiyallãhu = Allah rela; ‘anhum = kepada mereka; wa rodhũ = dan mereka rela; ‘anhu = kepada-Nya; wa a’adda = dan Dia menyediakan; lahum = bagi mereka; jannaatin = surga; tanjrĩ = mengalir; tahtahã = di bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadan = selama-lamanya; dhãlika = demikian itu; al fauzu = kemenangan; al ‘adzĩm = yang besar.

was sãbiqũna al awwalũna minal muhãjirĩna wal anshōri wal ladzĩna attaba’ũhum bi ihsaanir rodhiyallãhu ‘anhum wa rodhũ ‘anhu wa a’adda lahum jannaatin tanjrĩ tahtahal anhãru khōlidĩna fĩhã abada, dhãlikal fauzul ‘adzĩm.
100. Dan orang-orang yang terdahulu, yang pertama (masuk Islam), di antara orang-orang Muhajirin dan Ansor, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rela kepada mereka, dan mereka pun rela kepada-Nya, dan dia menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya. Demikian itu kemenangan yang besar.

wa mimman = dan di antara orang-orang yang; haulakum = di sekeliling kamu semua; min = dari; al a’rōbi = orang-oran Arab Baduy; munãfiqũna = ada orang-orang munafik; wa min = dan dari; ahlil madĩnati = penduduk Madinah; marodũ = mereka berlebih-lebihan; ‘alan nifãqi = terhadap kemunafikan; lã ta’lamuhum = kamu tidak mengetahui mereka; nahnu = Aku; na’lamuhum = Aku mengetahui mereka; sanu’adzdzibuhum = akan Aku siksa mereka; marrotaini = dua kali; tsumma = kemudian; yurodduna = mereka dikembalikan; ilã = ke dalam; ‘adzãbin ‘adhĩm = azab yang sangat berat.
wa mimman haulakum minal a’rōbi munãfiqũna, wa min ahlil madĩnati, marodũ ‘alan nifãqi lã ta’lamuhum, nahnu na’lamuhum, sanu’adzdzibuhum marrotaini tsumma yurodduna ilã ‘adzãbin ‘adhĩm.
101. Dan di antara orang-orang Arab Dusun di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah, mereka berlebih-lebihan kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi Aku mengetahui mereka. Aku akan menyiksa mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan ke dalam siksa yang sangat berat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan adanya aneka macam keyakinan penduduk Arab Dusun dan di Madinah. Mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad akan mendapat siksa yang besar.
wa ãkhorũna i’tarofũ bi dzunũbihim = dengan dosa-dosa mereka; kholathũ = mereka mencampur-baurkan; ‘amalan = pekerjaan; shōlihan = yang baik; wa ãkhoro = dan yang lain; sayyi-an = yang buruk; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an yatũba = Dia menerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; rohĩm = Maha Penyayang.
wa ãkhorũna’tarofũ bi dzunũbihim kholathũ ‘amalan shōlihan wa ãkhoro sayyi-an ‘asallãhu an yatũba ‘alaihim, innallãha ghofũrur rohĩm.
102. Dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan (pekerjaan) lain yang buruk. Mudah-mudahan, Allah menerima tobat mereka, sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan adanya bermacam-macam perilaku orang-orang di Jazirah Arab.

khuds = ambillah; min amwãlihim = dari sebagian harta mereka; shodaqotan = sedekah; tuthohhiruhum = kamu membersihkan mereka; wa tuzakkĩhim = dan kamu mensucikan mereka; bihã = dengan sedekah itu; wa sholli = dan doakanlah ‘alaihim, inna sholãtaka sakanul lahum, wallãhu samĩ’un ‘alĩm.
khuds min amwãlihim shodaqotan tuthohhiruhum wa tuzakkĩhim bihã wa sholli ‘alaihim, inna sholãtaka sakanul lahum, wallãhu samĩ’un ‘alĩm.
103. Ambillah sebagian dari harta mereka, dengan sedekah itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan doakanlah mereka, sesungguhnya, doa kamu itu (menjadi) ketenteraman bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
alam = apakah tidak; ya’lamũ = mereka mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; yaqbalu = Dia menerima; at taubata = tobat; ‘an ‘ibãdihĩ = dari hamba-hamba-Nya; wa ya’khudzu = dan Dia mengambil; ash shodaqōti = sedekah; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; huwa = Dia; at tawwãbu = Maha Penerima tobat; ar rohĩm = Maha Penyayang.
alam ya’lamũ annallãha huwa yaqbalut taubata ‘an ‘ibãdihĩ wa ya’khudzush shodaqōti wa annallãha huwat tawwãbur rohĩm.
104. Apakah mereka tidak mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, dan mengambil sedekah, dan sesungguhnya Allah, Dia Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan secara retoris Sifatnya Yang Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.

wa quli = dan katakanlah; i‘malũ = bekerjalah kamu; fasayarallãhu = maka Allah akan melihat; ‘amalakum = pekerjaanmu; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; wal mu’minũna = dan orang-orang mukmin; wa saturoddũuna = dan kamu akan dikembalikan; ilã = kepada; ‘alimi = Yang Mengetahui; al ghoibi = Yang gaib; wasy syahãdati = dan yang nyata; fayunabi’ukum = lalu Dia terangkan kepadamu; bimã = terhadap apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa quli‘malũ fasayarallãhu ‘amalakum wa rosũluhũ wal mu’minũna, wa saturoddũuna ilã ‘alimil ghoibi wasy syahãdati fayunabi’ukum bimã kuntum ta’malũn.
105. Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia terangkan kepadamu tentang apa yang kamu kerjakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan Rasul dan orang-orang Mukmin menyuruh orang-orang kafir bekerja. Hasilnya, Allah akan menerangkan kepada mereka saat di dunia atau nanti di akhirat.

wa ãkhorũna = dan orang-orang yang; marjauna = mereka ditangguhkan; li amrillãhi = sampai keputusan Allah; immã = ada kalanya; yu’adz dzibuhum = Dia mengazab mereka; wa immã = dan kadang-kadang; yatũbu = Dia menerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; hakĩmu = Mahabijaksana.
wa ãkhorũna marjauna li amrillãhi immã yu’adz dzibuhum wa immã yatũbu ‘alaihim, wallãhu ‘alimun hakĩmu
106. Dan (ada pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah, ada kalanya Dia mengazab mereka, dan ada kalanya Dia menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan apakah seseorang itu diazab atau diterima tobatnya

wal ladzĩna = dan (ada pula) orang-orang yang; it takhodzũ = (mereka) menjadikan; masjidan = masjid; dhirōron = kemudaratan; wa kufron = dan kekafiran; wa tafrĩkon = dan memecah-belah; baina = antara; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; wa irshãdan = dan menunggu; liman = bagi orang-orang yang; hãroballãha = telah memerangi Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; min qoblu = dari dulu; wa layahlifunna = dan sungguh mereka bersumpah; in arodnã = kami tidak menghendaki; illa = kecuali; al husnã = kebaikan; wallãhu = dan Allah; yasyhadu = Dia menjadi saksi; innahum = sesungguhnya mereka; la kãdzibũn = sungguh-sungguh orang-orang pendusta.
wal ladzĩnat takhodzũ masjidan dhirōron wa kufron wa tafrĩkom bainal mu’minĩna wa irshãdal liman hãroballãha wa rosũlahũ min qoblu, wa layahlifunna in arodnã illal husnã, wallãhu yasyhadu innahum la kãdzibũn.
107. Dan (ada pula) orang-orang yang mendirikan masjid (karena hendak menimbulkan) kemudaratan, kekafiran, memecah belah antara orang-orang mukmin, dan menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dulu. Dan sesungguhnya, mereka bersumpah: “Kami tidak menghedaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi, sesungguhnya, mereka itu orang-orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu perilaku orang-orang kafir.

lã taqum = janganlah kamu berdiri (salat); fĩhi = di dalamnya; abada = selamanya; lamasjidun = sungguh masjid; ussisa = didirikan; ‘alat taqwã = atas dasar takwa; min awwali = dari awal; yaumin = yaumin; ahaqqu = lebih pantas; an taqũma = bahwa kamu berdiri (salat); fĩh = di dalamnya; fĩhi = di dalamnya; rijãlun = orang laki-laki; yuhibbũna = mereka senang (ingin); an yatathohharũ = mereka membersihkan diri; wallãhu = dan Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muth thohhirĩn = orang-orang yang bersih.
lã taqum fĩhi abada, lamasjidun ussisa ‘alat taqwã min awwali yaumin ahaqqu an taqũma fĩh, fĩhi rijãlun yuhibbũna an yatathohharũ, wallãhu yuhibbul muththohhirĩn.
108. Janganlah kamu salat di masjid itu selamanya, sesungguhnya Masjid Quba yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama itu lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya, ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang salat di masjid yang didirikan dengan dasar seperti tersebut pada ayat 107. Allah memerintah agar salat di masjid yang didirikan atas dasar takwa. Allah suka kepada orang-orang yang bersih, dan yang ingin membersihkan diri.
afaman = apakah orang-orang yang …; assasa = mendirikan; bun-yaanahũ = masjidnya; ‘alã = di atas (dasar); taqwã = takwa; minallãhi = kepada Allah; wa ridwãnin = dan kerelaan; khoirun = yang baik; au = atau; man = orang; assasa = mendirikan; bun-yaanahũ = masjidnya; ‘alã = atas; syafã = pinggir (tepi); jurufin = jurang; hãrin = runtuh; fanhãro = lalu runtuh; bihĩ = dengan dia; fĩ nãri = ke api; jahannama = jahanam; wallãhu = dan Allah; lã = tidak; yahdĩ = memberi petunjuk; al qouma = kaum; adh dhōlimĩn = lalim.
afaman assasa bun-yaanahũ ‘alã taqwã minallãhi wa ridwãnin khoirun am man assasa bun-yaanahũ ‘alã syafã jurufin hãrin fanhãro bihĩ fĩ nãri jahannama, wallãhu lã yahdĩl qoumadh dhōlimĩn.
109. Apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah, dan kerelaan-Nya itu yang baik, ataukan orang-orang yang mendirikan masjidnya di tepi jurang yang akan runtuh, lalu masjid itu runtuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan cara mendirikan masjid yang bertentangan tujuannya (atas dasar takwa atau atas dasar yang menimbulkan perpecahan (ayat 107).

lã yazãlu = selalu; bun-yaanuhumu = bangunan-bangunan mereka; al ladzĩ = yang; banau = mereka bangun; rĩbatan = keraguan; fĩ qulũbihim = di dalam hati mereka; illã = kecuali; an taqoththo’a = telah hancur; qulũbuhum = hati mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.

lã yazãlu bun-yaanuhumul ladzĩ banau rĩbatan fĩ qulũbihim illã an taqoththo’a qulũbuhum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
110. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa membuat keraguan di dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bangunan-bangunan yang didirikan tanpa dasar takwa akan membawa kehancuran jiwa dan raga.
inna = sesungguhnya; allãha = Allah; isytarō = membeli; min = dari; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; anfusahum = diri mereka; wa amwãlahum = dan harta mereka; bi anna = dengan-Nya; lahumu = untuk mereka; al jannah = surga; yuqōtilũna = mereka berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; fayaqtulũna = maka mereka membunuh; wa yuqtalũna = dan mereka dibunuh; wa’dan = janji; ‘alaihi = atasnya; haqqon = benar; fit taurōti = dari Taurat; wal injĩli = dan (dari) Injil; wal qur’ãn = dan dari Alquran; wa man = dan siapakah; aufã = lebih menepati; bi ‘ahdihĩ = dengan janjinya; minallãhi = daripada Allah; fastabsyirũ = maka bergembiralah kamu; bi bai’ikumu = dengan jual-belimu; al ladzĩ = yang; bãya’tum = telah kamu jual-belikan; bihĩ = dengannya; wa dzãlika = dan demikian (itu); huwa = ia; al fauzu = keuntungan; al ‘azhĩm = besar.
innallãhasytarō minal mu’minĩna anfusahum wa amwãlahum bi annalahumul jannah, yuqōtilũna fĩ sabĩlillãhi fayaqtulũna, wa yuqtalũna wa’dan ‘alaihi haqqon fit taurōti wal injĩli wal qur’ãn, wa man aufã bi ‘ahdihĩ minallãhi, fastabsyirũ bi bai’ikumul ladzĩ bãya’tum bihĩ, wa dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan harga surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau dibunuh, itu suatu janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan, itulah keuntungan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu posisi orang mukmin yang berperang di jalan Allah yang tersurat pula di dalam Taurat, dan Injil. Allah selalu menepati janji.
attã-ibũna = orang-orang yang bertobat; al ‘ãbidũna = orang-orang yang beribadah (mengabdi); al hãmidũna = orang-orang yang memuji; as sã-ihũna = orang-orang yang mengembara; ar rōki’ũna = orang-orang yang ruku; as sãjidũna = orang-orang yang sujud; al ãmirũna = orang-orang yang menyuruh; bil ma’rũfi = dengan kebaikan; wan nãhũna = dan orang-orang yang mencegah; ‘anil munkari = dari kemungkaran; wal hãfizhũna = dan orang-orang yang memlihara; li hudũdillãh = bagi hukum-hukum Allah; wa basysyiri = dan gembirakanlah; al mu’minĩn = orang-orang mukmin.
attã-ibũnal ‘ãbidũnal hãmidũnas sã-ihũnar rōki’ũnas sãjidũnal ãmirũna bil ma’rũfi wan nãhũna ‘anil munkari wal hãfizhũna li hudũdillãh, wa basysyiril mu’minĩn.
112. Mereka itu, orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang mengembara, yang ruku dan sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan, yang mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan untuk menggembirakan orang-orang mukmin dengan berbagai perilaku yang tergambar dalam ayat ini.

mã kãna = tidak ada (tidak pantas); linnabiyyi = bagi Nabi; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; an yastaghfirũ = untuk memintakan ampunan; lil musyrikĩna = untuk orang-orang musyrik; wa lau = walaupun; kãnũ = mereka adalah; ulĩ qurbã = kerabãt dekat; mim ba’di = dari sesudah; mã tabayyana = apa yang telah jelas; lahum = bagi mereka; annahum = sesungguhnya mereka; ash-hãbul jahĩm = penghuni neraka jahim.
mã kãna linnabiyyi walladzĩna ãmanũ an yastaghfirũ lil musyrikĩna wa lau kãnũ ulĩ qurbã mim ba’di mã tabayyana lahum annahum ash-hãbul jahĩm
113. Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang yang beriman untuk memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang yang musyrik, walau itu kaum kerabatnya sendiri, sudah jelas bagi mereka, orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi, orang-orang yang beriman tidak bisa memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik. Meminta ampun itu tanggung jawab masing-masing orang, dengan menunjukkan perubahan perilaku yang sesuai dengan syariat Islam.

wa mã kãna = dan tidak ada; istighfãru = permintaan ampun; ibrōhĩma = ibrahim; li abĩhi = untuk bapaknya; illã = kecuali; ‘am mau’idatin = karena suatu janji; wa‘adahã = ia janjikan; iyyãhu = kepada bapaknya; falammã = maka tatkala; tabayyana = jelas; lahũ = baginya; annahũ sesungguhnya dia; ‘aduwwun = musuh; lillãhi = bagi Allah; tabarro-a = (Ibrahim) berlepas diri; minhu = darinya; inna = sesungguhnya; ibrōhĩma = ibrahim; la-awwahun = lembut hati; halĩmun = penyantun.
wa mã kãnastighfãru ibrōhĩma li abĩhi illã ‘am mau’idatin wa‘adahã iyyãhu falammã tabayyana lahũ annahũ ‘aduwwul lillãhi tabarro-a minhu, inna ibrōhĩma la-awwahun halĩmun.
114. Dan tidak (diterima) permintaan ampun Ibrahim untuk bapaknya, karena ada janji (yang telah diucapkan) kepada bapaknya. Maka tatkala Ibrahim mengetahui bahwa dia, bapaknya musuh Allah, berlepas dirilah Ibrahim darinya. Sesungguhnya Ibrahim, seorang yang lembut hati lagi penyantun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Nabi Ibrahim dengan bapaknya, menjadi +cermin percontohan untuk kehidupan sekarang.

wa mã kãna = dan tidak ada; allãhu = Allah; liyudhilla = untuk Dia sesatkan; qouman = kaum; ba’da = sesudah; idz = ketika; hadãhum = Dia memberi petunjuk kepada mereka; hattã = sehingga; yabayyina = Dia jelaskan; lahum = bagi mereka; mã yattaqũn = apa yang mereka takuti; innallãha = sesungguhnya Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wa mã kãnallãhu liyudhilla qoumam ba’da idz hadãhum hattã yabayyina lahum mã yattaqũn, innallãha bi kulli syai-in ‘alĩm.
115. Dan Allah tidak menyesatkan suatu kaum, sesudah Dia memberi petunjuk kepada mereka, sehingga Dia jelaskan kepada mereka, apa yang harus mereka takuti. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi ingat kepada manusia, tentang orang-orang yang disesatkan, dan apa yang seharusnya mereka takuti.
Innallãha = sesungguhnya Allah; lahũ = kepunyaan-Nya; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardi = dan bumi; yuhyĩ = Yang menghidupkan; wa yumĩtu dan Yang mematikan; wa mã lakum = dan tidak ada bagimu; min dũnillãhi = dari selain Allah; min waliyyin = dari pelindung; wa lã nashĩr = dan tidak penolong.
innallãha lahũ mulkus samãwãti wal ardi, yuhyĩ wa yumĩtu, wa mã lakum min dũnillãhi min waliyyin wa lã nashĩr.
116. Sesungguhnya kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Yang mematikan dan Yang menghidupkan. Tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan, peringatan ini sering disampaikan, sebagai penguat.
laqod = sesungguhnya; taballãhu = Allah menerima tobat; ‘alan nabiyyi = atas Nabi; wal muhãjirĩna = dan orang-orang Muhajirin; wal anshōri = dan orang-orang ansor; al ladzĩna = orang-orang yang …; at taba’ũhu = (mereka) mengikutinya; fĩ sã’ati = pada saat; al ‘usroti = kesulitan; mim ba’di mã = dari sesudah apa; kãda = hampir-hampir; yazĩghu = berpaling; qulũbu = hati; farĩqin = segolongan; minhum = dari mereka; tsumma = kemudian; tãba = Dia menerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; innahũ = sesungguhnya Dia; bihim = kepada mereka; roũfun = Maha Pengasih; rohĩm = Maha Penyayang.
laqot taballãhu ‘alan nabiyyi wal muhãjirĩna wal anshōril ladzĩnat taba’ũhu fĩ sã’atil ‘usroti mim ba’di mã kãda yazĩghu qulũbu farĩqim minhum tsumma tãba ‘alaihim, innahũ bihim roũfur rohĩm.
117. Sesungguhnya, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin, orang-orang ansor yang mengikuti Nabi pada saat kesulitan, setelah hati dari segolongan mereka hampir berpaling, kemudian Dia menerima tobat mereka. Sesungguhnya, Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah kesulitan orang-orang Muhajirin, Ansor, dan segolongan lainnya yang hampir berpaling yang permohonan tobatnya diterima Allah.

wa alats tsalãtsati = dan atas tiga; al ladzĩna = orang-orang yang; khullifũ = (mereka) ditinggalkan; hattã = sehingga; idzã = sampai ketika; dhōqot = terasa sempit; ‘alaihimu = bagi mereka; al ardhu = bumi; bimã = dengan apa (padahal); rohubat = (bumi itu) luas; wa dhōqot = dan terasa sempit; ‘alaihim = bagi mereka; anfusuhum = jiwa mereka; wa zhonnũ = dan mereka mengira; al lã = bahwa tidak ada; malja’a = tempat lari; minalllãhi = dari Allah; illã = kecuali (melainkan); ilaih = kepada-Nya; tsumma = kemudian; tãba = Diamenerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; li yatũbũ = agar mereka bertobat; innallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; at tawwabu = Maha Penerima tobat; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa alats tsalãtsatil ladzĩna khullifũ, hattã idzã dhōqot ‘alaihimul ardhu bimã rohubat wa dhōqot ‘alaihim anfusuhum wa zhonnũ al lã malja’a minalllãhi illã ilaih, tsumma tãba ‘alaihim li yatũbũ, innallãha huwat tawwabur rohĩm.
118. Dan (Allah menerima juga tobat) dari tiga orang yang ditinggalkan, sampai ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka merasa sempit dalam diri mereka, dan mereka mengira, tidak ada tempat lari dari siksaan Allah, melainkan kepada-Nya, kemudian Dia menerima tobat dari mereka, agar mereka tetap bertobat. Sesungguhnya, Allah, Dialah Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah juga menerima tobat dari tiga orang yang ditinggalkan Nabi berhijrah.

yã ayyuha = wahai al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanu = beriman; it taqullãha = bertakwalah kepada Allah; wa kũnũ = dan jadilah kamu; ma’a = bersama; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanut taqullãha wa kũnũ ma’ash shōdiqĩn.
119 . Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kamu bersama-sama dengan orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah agar orang-orang yang beriman bertakwa kepada-Nya. Hal yang sering dilakukan Allah namun dengan tambahan anjuran yang berbeda.

mã kãna = tidak ada (tidak patut); li ahli = bagi penduduk; al madĩnati = Madinah; wa man = dan orang-orang; haulahum = di sekitar mereka; mina = dari; al a’rōbi = Arab Dusun (Badui); an yatakhollafũ = bahwa mereka tinggal di belakang (tidak ikut berperang); an = bersama; rosũlillãhi = Rosulullah; wa lã = dan tidak; yarghobũ = mereka lebih mencintai; bi anfusihim = kepada diri mereka sendiri; an nafsihi = daripada dirinya (Rasul); dzalika = demikian itu; bi annahum = karena sesungghnya mereka; lã yushĩbuhum = tidak menimpa mereka; zhōma-un = kehausan; wa lã = dan tidak; nashabun = kepayahan; wa lã = dan tidak; makhmashotun = kelaparan; fi sabilillãhi = di jalan Allah; wa lã = dan tidak; yatho-ũna = mereka menginjak; nauthi-an = suatu tempat; yaghĩzhu = menimbulkan amarah; al kuffaro = orang-orang kafir; wa lã = dan tidak; yanãlũna = mereka mendapat; min ‘aduwwin = dari musuh; nailan = bahaya (pendapatan); illã = malinkan; kutiba = ditulis; lahum = bagi mereka; bihĩ = dengannya; ‘amalun = amal; shōlihun = saleh; innallãha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yudhĩ’u = Dia menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.
mã kana li ahlil madĩnati wa man haulahum minal a’rōbi an yatakhollafũ ar rosũlillãhi wa lã yarghobũ bi anfusihim an nafsihi, dzalika bi annahum lã yushĩbuhum zhōma-un wa lã nashabun wa lã makhmashotun fi sabilillãhi wa lã yatho-ũna nauthi-an yaghĩzhul kuffaro wa lã yanãlũna min ‘aduwwin nailan illã kutiba lahum bihĩ ‘amalun shōlihun, innallãha lã yudhĩ’u ajrol muhsinĩn.
120 . Tidak patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berdiam di sekitar mereka tinggal di belakang (tidak turut berperang) bersama Rasulullah, dan (tidak patut pula) mereka lebih mencintai diri mereka daripada diri Rasul-Nya. Demikian itu, karena sesungguhnya, mereka tidak akan ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) mereka menginjak suatu tempat yang menimbulkan amarah orang-orang kafir, dan mereka tidak medapat bahaya dari musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan suatu amal saleh. Sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
. Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menilai penduduk Madinah dan orang-orang Arab Dusun tidak pantas, kalau mereka tidak turut berperang di jalan Allah. Sesungguhnya, berperang di jalan Allah itu ditulis dan dinilai sebagai amal saleh bagi mereka dan menjadi bekal menuju surga.

wa lã = dan tidak; yunfiqũna = mereka menafkahkan; nafaqotan = nafkah; shoghĩrotan = kecil; wa lã = dan tidak; yaqtho’ũna = mereka memotong (melintas); wãdiyyan = wadi (lembah); illã = melainkan (kecuali); kutiba = dituliskan; lahum = bagi mereka; liyajziyahumillãhu = karena Allah akan memberi balasan; ahsana = lebih baik; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa lã yunfiqũna nafaqotan shoghĩrotan wa lã yaqtho’ũna wãdiyyan illã kutiba lahum liyajziyahumillãhu ahsana mã kãnũ ya’malũn.
121 . Dan mereka tidak menafkahkan nafkah yang kecil, dan (pula) tidak besar, dan mereka tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (sebagai amal saleh), karena Allah akan memberi balasan yang lebih baik bagi mereka dari apa yang telah mereka kerjakan.
. Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, setiap nafkah yang kecil atau pun besar untuk perang di jalan Allah, akan dicatat, dan akan dibalas dengan sesuatu yang lebih baik.

wa mã kãna = dan tidak patut (ada); al mu’minũna = orang-orang mukmin; li yanfirũ = untuk mereka pergi (berperang); kaffatan = semuanya; fa lau lã = maka mengapa tidak; nafaro = pergi, keluar; min kulli = dari tiap-tiap; firqotin = golongan; minhum = di antara mereka; thō-ifatu = beberapã orang; li yatafaqqohũ = untuk mereka memperdalam; fiddĩni = tentang agama; wa li yundzirũ = dan untuk memperingatkan; qoumahum = kaumnya; idzã = apabila; roja’ũ = mereka kembali; ilaihim = kepada mereka; la’allahum = supaya mereka; yahdzarũn = mereka menjaga diri.
wa mã kãnal mu’minũna li yanfirũ kaffatan, fa lau lã nafaro min kulli firqotim minhum thō-ifatul li yatafaqqohũ fiddĩni wa li yundzirũ qoumahum idzã roja’ũ ilaihim la’allahum yahdzarũn.
122. Dan tidak patut bagi orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Maka mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah juga mengingatkan orang mukmin, agar tidak semuanya pergi berperang. Sebagian harus memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada kaumnya agar dapat menjaga dirinya.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; qōtilũ = perangilah; al ladzĩna = orang-orang yang; yalũnakum = (mereka) ada di sekeliling kamu; mina = dari; al kuffãri = orang-orang kafir; wal yajidũ = dan agar mereka mendapatkan; fĩkum = dari kamu; ghilzhoh = kekerasan; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = beserta; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ qōtilũl ladzĩna yalũnakum minal kuffãri wal yajidũ fĩkum ghilzhoh, wa’lamũ annallãha ma’al muttaqĩn
123. Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitar kamu, agar mereka mendapatkan kekerasan dari kamu, ketahuilah, Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah orang-orang yang beriman agar memerangi orang-orang kafir yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya.

wa idzã = dan bila; mã unzilat = diturunkan; sũrotun = suatu surat; fa min = maka di antara; hum = mereka; man = orang; yaqũlu = ia berkata; ayyukum = siapa di antara kamu; zãdat-hu = ia bertambah; hãdzihĩ = ini (surat); ĩmãnan = keimanan; fa amma = maka adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; fazãdat-hum = maka mereka menambah; ĩmãnan = keimanan; wa hum = dan mereka; yastabsyirũn = mereka merasa gembira.
wa idzã mã unzilat sũrotun fa min hum man yaqũlu ayyukum zãdat-hu hãdzihĩ ĩmãnan, fa ammal ladzĩna ãmanũ fazãdat-hum ĩmãnan wa hum yastabsyirũn.
124. Dan bila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka ada yang berkata: “siapakah di antara kamu yang bertambah imannya (dengan turunnya) surat ini?” Maka orang-orang yang beriman, (surat ini) menambah iman mereka, dan mereka merasa gembira.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan perbedaan antara orang-orang yang beriman, dan yang tidak beriman, saat diturunkan-Nya suatu surat melalui Nabi Muhammad saw..

wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalãm hati mereka; marodhun = penyakit; fa zadat-hum = maka mereka menambah; rijsan = kotor; ilã rijsihim = di samping kekotoran mereka; wa mãtũ = dan mereka mati; wa hum = dan mereka; kãfirũn = dalam keadaan kafir.
wa ammal ladzĩna fĩ qulũbihim marodhun fa zadat-hum rijsan ilã rijsihim wa mãtũ wa hum kãfirũn.
125. Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan turunnya surat itu), mereka menambah kotor di samping kekotoran mereka (yang sudah ada), dan mereka mati dalam keadaan kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan keadaan orang kafir saat diturunkan-Nya surat, sampai matinya.

awalã = apakah tidak (tidakkah); yarauna = mereka memperhatikan; annahum = bahwa mereka; yuftanũna = mereka diuji; fĩ kulli = dalam setiap; ‘amin = tahun; marrotan = sekali; au marrotaini = atau dia kali; tsumma = kemudian; lã yatũbũna = mereka tidak bertobat; wa lãhum = dan mereka tidak; yadzdzakkarũn = mereka mengambil pelajaran (ingat).
awalã yarauna annahum yuftanũna fĩ kulli ‘amin marrotan au marrotaini tsumma lã yatũbũna wa lãhum yadzdzakkarũn
126. Apakah tidak (tidakkah) mereka memperhatikan, mereka diuji sekali, atau dua kali dalam setiap tahun?, kemudian mereka tidak (juga) bertobat, dan tidak (juga) mau ingat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia itu selalu diuji dalam hidupnya. Banyaklah ingat dan bertobat kepada Allah.

wa idzã = dan bila; mã unzilat = diturunkan; sũratun = suatu surat; nazhoro = memandang; ba’dhuhum = sebagian mereka; ilã ba’dhin = kepada sebagian yang lain; hal = apakah; yarōkum = melihat kamu; min ahadin = dari seorang; tsumma = kemudian; in sharofũ = mereka berpaling; sharofallãhu = Allah memalingkan; qulũbahum = hati mereka; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; qoumun = kaum; lã yafqohũn = mereka tidak mengerti.
wa idzã mã unzilat sũratun nazhoro ba’dhuhum ilã ba’dhin, hal yarōkum min ahadin tsumman sharofũ, sharofallãhu qulũbahum bi annahum qoumul lã yafqohũn.
127. Dan bila diturunkan suatu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” kemudian mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka, karena sesungguhnya, mereka itu kaum yang tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu sikap orang-orang kafir. Hati mereka tidak mau mengerti ayat-ayat Allah.

laqod = sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; rosũlun = seorang Rasul; min anfusikum = dari golonganmu sendiri; ‘azĩzun = terasa berat; ‘alaihi = baginya; mã ‘anittum = apa deritamu; harĩshun = sangat menginginkan; ‘alaikum = bagimu; bil mu’minĩna = kepada orang-orang Mukmin; ro-ũfun = amat penyantun; ar rohĩm = penyayang.
laqod jã-akum rosũlum min anfusikum ‘azĩzun ‘alaihi mã ‘anittum harĩshun ‘alaikum bil mu’minĩna ro-ũfur rohĩm.
128. Sesungguhnya telah datang kepadamu, seorang Rasul dari golonganmu sendiri, terasa berat baginya deritamu, sangat menginginkan (kebaikan) bagimu, amat penyantun dan penyayang kepada orang-orang mukmin.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kedatangan seorang Rasul yang merasakan beratnya penderitaanmu, dan sangat menginginkan kebaikan

fain = maka jika; tawallau = mereka berpaling; faqul = maka katakanlah; hasbiyallãhu = cukuplah Allah bagiku; lã ilãha = tidak ada ilah lain; illã = selain; huwa = Dia; ‘alaihi = kepada-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa huwa = dan Dia; Rabul ‘arsyil ‘azhĩm = Pemilik arasy yang agung.
fain tawallau faqul hasbiyallãhu, lã ilãha illã huwa, ‘alaihi tawakkaltu, wa huwa Rabul ‘arsyil ‘azhĩm.
129. Maka, jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada ilah selain Dia, kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Pemiliki ‘arasy yang agung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau orang-orang yang diseru mengabaikan, Allah memberi hiburan dengan mengatakan seperti yang tersebut dalam ayat ini.

008 Al Anfal

Audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
AL ANFÃL
Barang Rampasan Perang
Surat ke-8, 75 ayat, Madaniyah.
Juz 9 beralih ke Juz 10 pada ayat 41
Catatan awal
Isi Surat ini tergambar dari judulnya, yaitu soal pembagian barang rampasan perang. Khusus pada peristiwa Perang Badar Kubra, yang terjadi pada tahun kedua Hijriah. Peristiwa perang ini sangat menentukan Sejarah Islam selanjutnya. Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a. Saat itu pasukan Islam masih sedikit. Tapi ternyata, Allah menetapkan memberi pertolongan kepada pasukan Islam, sehingga dapat mengalahkan kaum kafirin yang jumlahnya lebih besar. Pasukan Islam memperoleh barang rampasan perang yang banyak. Para sahabat Rasul menanyakan bagaimana cara membaginya. Isi Surat ini terkait juga dengan aturan atau hukum perang pada umumnya. Selain itu, pokok-pokok isinya sebagai berikut.
Keimanan: Allah selalu beserta orang-orang yang beriman, membimbing, melindungi, memberi pertolongan, memberi pengajaran; Allah berhak menetapkan hukum agama yang sesuai dengan kebutuhan hidup yang baik dari manusia; Allah menjamin kemenangan orang yang beriman; harus selalu ingat, bertawakal kepada Allah untuk meningkatkan ketahanan mental; Pertolongan Allah beserta ribuan Malaikat-Nya selalu menyertai orang-orang yang beriman; Allah mempersatukan hati orang-orang yang beriman; Setan selalu mengganggu dan menipu manusia. Syirik itu termasuk dosa besar.
Hukum: aturan membagi barang rampasan perang; Harta rampasan perang boleh dimakan; cara-cara Islam berperang menghadapi orang-orang kafir. Tidak diperkenankan berbalik ketika menghadapi orang-orang kafir yang menyerang; wajib menaati pemimpin perang; hal tawanan perang; antara perang dan damai; wajib bersiap, baik dalam keadaan perang maupun dalam keadaan damai; tujuan perang; dilarang khianat kepada Allah, Rasul, kepada amanat, dan perjanjian.
Kisah-kisah: Orang-orang Islam enggan berperang sebelum perang, saat berperang, sesudah perang. Keadaan Nabi Muhammad saw. saat belum hijrah, saat terjadi perang dengan kaum musyrikin. Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai. Kisah orang kafir, musyrikin, munafikin, fasiqin, dan Ahli Kitab.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang

yas-alũnaka = mereka akan menanyakan kepada kamu; ‘anil anfãli = tentang barang rampasan perang; qul = katakan; il anfãlu = barang rampasan perang; lillãhi = milik Allah; war rosũli = dan rasul-Nya; fattaqũllãha = maka bertawakallah kepada Allah; wa ashlihũ = dan perbaikilah; dzãta = hubungan; bainikum = di antara kamu; wa athĩ’ũllãha = dan taatlah kepada Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; in = jika; kuntum = kamu sekalian; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
yas-alũnaka ‘anil anfãli, qulil anfãlu lillãhi war rosũli, fattaqũllãha wa ashlihũ dzãta bainikum, wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ in kuntum mu’minĩn.
1. Mereka akan menanyakan kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul-Nya, maka bertawakallah kamu kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara kamu. Taatlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Segala sesuatu itu milik Allah. Rasul-Nya diberi kuasa untuk mengatur milik Allah itu secara adil. Harta rampasan perang itu disebut ganimah. Empat per lima dari ganimah itu diberikan kepada orang-orang yang terlibat langsung peperangan. Seperlima sisanya dibagikan kepada lima golongan: a. Untuk Allah dan Rasul-Nya (untuk kemaslahatan umat manusia); b. Untuk kerabat Rasul, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthallib; c. Untuk yatim-piatu; d. Untuk orang-orang fakir-miskin; e. Untuk musafir yang kehabisan bekal. Manusia, makhluk-Nya harus bertawakal hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Mahabijaksana, ketika makhluk-Nya menghadapi sebuah persoalan; makhluk-Nya harus berupaya menjalin hubungan dengan sesama makhluk dengan baik. Hindari kesalahpahaman, pertikaian dan permusuhan. Makhluk-Nya harus taat menjalankan hidupnya secara lurus, mengikuti perintah Allah dan Rasul, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Demikianlah, cara hidup makhluk beriman.

Innamã = sungguh hanya; al mu’minũna = orang-orang mu’min; al ladzĩna = orang-orang yang …; idzã = apabila; dzukirallãhu = disebut nama Allah; wajilat = gemetarlah; qulũbuhum = hati mereka; wa idzã = dan jika; tuliyat = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyãtuhũ = ayat-ayat-Nya; zadat-hum = ia menambahkan mereka; ĩmãnan = keimanan; wa ‘alã = dan kepada; robbihim = Rabbnya; yatawakkalũn = mereka bertawakal.
Innamãl mu’minũnal ladzĩna idzã dzukirallãhu wa jilat qulũbuhum wa idzã tuliyat ‘alaihim ãyãtuhũ zadat-hum ĩmãnan wa ‘alã robbihim yatawakkalũn
2. Sesungguhnya, orang-orang mu’min itu, apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan jika dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, menambah keimanannya, dan hanya kepada Rabnya mereka bertawakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang-orang yang beriman: a. Kalau mendengar nama Allah diucapkan, hatinya bergetar; b. Kalau dibacakan ayat-ayat Allah, imannya bertambah; c. Berserah diri, selalu berharap, dan takut hanya kepada Allah. Lihat ayat berikutnya, dan Q.s. Al Baqarah, 2 : 3.
alladzĩna = orang-orang yang …; yuqĩmuna = mendirikan; ash sholãta = salat; wa mimmã = dan dari apa; rozaqnãhum = telah Aku berikan rezeki kepada mereka; yunfiqũn = mereka menafkahkan.
alladzĩna yuqĩmunash sholãta wa mimmã rozaqnãhum yunfiqũn
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Aku berikan kepada mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang-orang yang takwa, yaitu orang-orang yang mendirikan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang didapat dari Allah. Lihat Q.s.Al Baqarah, 2 : 3,4.

ulã-ika = itulah; humu = mereka; al mu’minũna = orang-orang yang beriman; haqqon = sebenar-benarnya; lahum = bagi mereka; darojãtun = derajat (kehormatan); ‘inda = di hadapan; robbihim = Rabnya; wamaghfirotun = dan ampunan; wa rizqun = dan rezeki (kenikmatan); karĩm = mulia.
ulã-ika humul mu’minũna haqqol lahum darojãtun ‘inda robbihim wamaghfirotun wa rizqun karĩm
4. Mereka itulah orang-orang yang beriman yang sebenar-benarnya, mereka memperoleh derajat (kehormatan) di hadapan Rabnya dan ampunan serta rezeki (kenikmatan) yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang benar-benar beriman, cirinya lihat catatan ayat 2, dan 3. Orang-orang yang beriman mendapat kehormatan di hadapan Allah, mendapat ampunan, dan mendapat rezeki yang mulia dari Allah.

kamã = sebagaimana; akhrojaka = mengeluarkan kamu; robbuka = Rab kamu; min baitika = dari rumah kamu; bil haqqi = dengan kebenaran; wa inna = dan sesungguhnya; farĩqon = segolongan; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; lakãrihũn = benar-benar benci (tidak menyukai).
kamã akhrojaka robbuka min baitika bil haqqi, wa inna farĩqon minal mu’minĩna lakãrihũn.
5. Sebagaimana Rab kamu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran (menuju Perang Badar), sesungguhnya, sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pergi dari rumah” merupakan ungkapan halus dari “pergi berperang.” “sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya” pada hakekatnya orang-orang Islam itu tidak suka berperang. Namun dalam kondisi memaksa, maka perang itu harus dilakukan (atas perintah Allah, dan harus atas nama Allah) demi menjaga kehormatan (harga diri), mempertahankan kebenaran, menegakkan keadilan, menjaga keamanan dan ketertiban, mencegah kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Peperangan menciptakan perdamaian. Perdamaian menciptakan dinamika hidup berkembang yang positif. Saat damai, orang-orang yang beriman harus bersiaga, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan petunjuk dan, kehendak Allah.

yujãdilũnaka = mereka membantahmu; fil haqqi = tentang kebenaran; ba’da mã = sesudah apa; tabayyana = nyata; ka-annamã = seakan-akan; yusãqũna = mereka dipaksa; ilãl mauti = menuju ke kematian; wa hum = sedang mereka; yanzhurũn = mereka melihat.
yujãdilũnaka fil haqqi ba’da mã tabayyana ka-annamã yusãqũna ilãl mauti wa hum yanzhurũn.
6. Mereka membantahmu (Muhammad saw.) tentang kebenaran yang sudah nyata (keyakinan adanya perintah Allah, pasukan Islam dapat dipastikan menang). Seakan-akan mereka dipaksa untuk menghadapi kematian, sedang mereka memahami (sebab-sebab kematian itu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian Kaum Mukmin membantah untuk berperang, karena merasa didorong menghadapi kematian. Padahal peperangan dilakukan untuk membela kebenaran, atas perintah Allah. Peperangan ini sudah pasti terjadi karena Nabi Muhammad saw. yang menetapkannya atas wahyu dari Allah. Kematian di jalan Allah (berjihad) adalah kematian terhormat, dan dipastikan nanti di akhirat masuk surga. Hal ini sudah dipahami oleh orang-orang Islam.

wa idz = dan ingatlah ketika; ya’idukumullãhu = Allah menjanjikan kepadamu; ihda = salah satu; ath tho-ifataini = dua golongan itu; annahã = bahwa ia; lakum = untuk kamu semua (menjadi musuhmu); wa tawaddũna = sedang kamu semua menginginkan; anna = bahwa; ghoiro = tidak; dzãti = mempunyai; syaukati = kekuatan senjata; takũnu = adalah ia; lakum = untuk kamu semua; wa yuridullãhu = dan Allah menghendaki; an = untuk; yuhiqqa = membenarkan; al haqqo = yang benar; bi kalimatĩ = dengan ayat-ayat-Nya; wa yaqtho’a = dan Dia memusnahkan; dãbiro = seluruh; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
wa idz ya’idukumullãhu ihdath tho-ifataini annahãlakum wa tawaddũna anna ghoiro dzãtisyaukati takũnu lakum wa yuridullãhu an yuhiqqal haqqo bi kalimatĩ wa yaqtho’a dãbirol kãfirĩn.

7. Dan ingatlah, ketika Allah menjanjikan kepadamu, salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) menjadi musuhmu, sedang kamu menginginkan, yang tidak memiliki kekuatan senjatalah musuhmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar itu, dengan ayat-Nya, dan Dia memusnahkan orang-orang kafir semuanya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kelompok Nabi saw. akan menghadapi salah satu musuh, yaitu orang-orang kafir Qurais yang akan dikalahkan. Allah menghendaki Islam tegak dan berwibawa, dengan perintah memerangi orang kafir Qurais itu dan membinasakannya semua. Dua golongan itu adalah, pertama kelompok kafilah dagang dengan harta yang banyak, dan tidak bersenjata (al Ier). Kelompok kedua adalah orang-orang kafir (an Nafĩr) yang bersenjata, dan harus diperangi.

li yuhiqqa = Agar Dia membenarkan; al haqqo = yang benar; wa yubthila = dan membatalkan; al bathila = yang batil (musryik); wa lau = walaupun; kariha = tidak menyukai (benci); al mujrimũn = orang-orang yang berdosa
li yuhiqqal haqqo wa yubthilal bathila wa lau karihal mujrimũn.
8. Agar Dia menetapkan yang benar, dan membatalkan yang batil, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya (membencinya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang benar itu akidah Islam, harus ditegakkan, dimuliakan. Yang batil adalah kepercayaan syirik (menyekutukan Allah dengan benda-benda. Orang-orang yang berdosa adalah orang-orang musyrik. Mereka tidak suka kepercayaan syiriknya diubah.

idz = ketika; tastaghĩtsũna = kamu sekalian meminta pertolongan; robbakum = Rabb kamu; fãstajãba = maka Dia memperkennkan; lakum = bagimu; annĩ = sungguh Aku; mumiddukum = mendatangkan bantuan untukmu; bi alfin = dengan seribu; minal malãikati = dari Malaikat; murdifĩn = datang berduyun-duyun.
idz tastaghĩtsũna robbakum fãstajãba lakum annĩ mumiddukum bi alfim minal malãikati murdifĩn
9. (ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabmu, lalu Dia memperkenankan bagimu, (dan bersabda): “Sesungguhnya, Aku mendatangkan bala bantuan untukmu dengan seribu Malaikat yang datang berduyun-duyun.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau kamu memohon bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang baik (yang diridoi Allah), tentu Allah akan memberi bantuan. Allah mengirim bala bantuan sebanyak seribu Malaikat berduyun-duyun.

wa mã = dan tidak; ja’alahullãhu = Allah menjadikannya; illã = melainkan; busyrō = kabar gembira; wa litathma’inna = dan agar menenteramkan; bihĩ = dengannya; qulũbukum = hati kamu sekalian; wa mã = dan tidak; an nashru = pertolongan; illã = kecuali; min ‘indillãh = dari haribãn Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wa mã ja’alahullãhu illã busyrō wa litathma’inna bihĩ qulũbukum, wa maan nashru illã min ‘indillãh, innallãha ‘azĩzun hakĩm
10. Dan Allah tidak menjadikan bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira, dan agar menenteramkan hatimu. Dan tidak adalah kemenangan itu, kecuali karena dari Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bantuan itu berupa kabar gembira yang menenteramkan hati Nabi dan para pengikutnya. Kemenangan itu Allah Yang menentukan. Ketenteraman hati mengakibatkan hidup kreatif, teratur dan benar. Ketenteraman ini dapat dicapai dengan dzikrullah (mengingat Allah) dengan penuh keyakinan akan adanya pertolongan Allah. Yakin bahwa Allah itu Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahabijaksana. Selalu bersyukur atas segala limpahan karunia-nikmat-Nya yang terasa ataupun yang sudah tidak dirasa. Tilawah (membaca), Tasmi’ dan Tadzabur (mengambil pelajaran dari) Alquran dengan mengingat kebermaknaannya yang sempurna yang dapat menyejukkan, menenteramkan hati.

idz = ketika; yughosysyĩkumu = (Allah) menjadikan kamu; an nu’ãsa = mengantuk; amanatan = perasaan tenteram; min hu = dari-Nya; wa yunazzilu = dan Allah menurunkan; ‘alaikum = kepadamu; mina dari; as samã-i = dari langit; mã-an = air (hujan); liyuthohhirokum = untuk menyucikan kamu; bihi = dengannya; al aqdãm = telapak kaki (pendirian).
idz yughosysyĩkumun nu’ãsa amanatam min hu wa yunazzilu ‘alaikum minas samã-i mã-al liyuthohhirokum bihil aqdãm.
11. (Ingat) ketika Allah membuat kamu mengantuk, (akibat) perasaan tenteram dari-Nya, dan Allah menurunkan hujan dari langit, agar kamu dapat menyucikan dirimu, dan menghilangkan gangguan setan darimu, dan untuk menguatkan hatimu, memperteguh pendirianmu dengannya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, perasaan kantuk itu dapat menimbulkan tenteram. Kantuk ini dapat timbul juga karena kelelahan kerja, atau ada sesuatu yang membosankan. Kalau diikuti terus akibatnya tidak baik. Jadi, harus didorong untuk mempunyai keinginan, kemauan yang positif, mencapai sesuatu yang baik, berguna untuk hidup yang lebih baik. Perilaku yang positif pada orang yang tenang jiwanya adalah: a. Dzikrullah artinya mengingat Allah dengan menghadirkan nama-nama Allah yang baik (Asmaul Husna); b. Yaqin pada pertolongan Allah jika memerlukan pertolongan; c. Memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah di dalam diri sendiri, diri orang lain, makhluk lain, alam semesta; d. Selalu bersyukur kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisi yang dialami setiap saat (yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, yang menggembirakan atau yang mencekam, menakutkan); e. Tilawah Tasmi’ dan Tadabbur Alquran artinya mengulang-ulang isi Alquran yang bermakna mulia, mengagungkan isi Alquran yang banyak mengandung pelajaran, nasihat, petunjuk, penyejuk hati.
Air dapat digunakan untuk bersuci dan berbagai kegunaan lainnya yang banyak (menghilangkan gangguan setan, menguatkan hati, meneguhkan pendirian, menyeimbangkan metabolisme tubuh (menyehatkan), dan keperluan-keperluan lainnya (turbin tenaga listrik air, pengairan pada perkebunan, dan pesawahan, menyuburkan tanah, memasak, melarutkan berbagai obat, melarutkan berbagai minyak, membuat berbagai minuman). Ingat Arasy Allah di atas air (Q.s. Hũd, 11 : 7). Tentang arasy adalah akal, pikiran, rasa yang ada pada manusia yang menyadari keberadaan Allah di dalam dirinya, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 22 catatannya; At Taubah, 9: 129; Yunus, 10: 3; Hud, 11: 7; Ar Ra’d, 13: 2; An Nahl, 16: 3; Al Isrō’; 17: 42; Thãhã, 20: 5; As Sajdah, 32: 4; Al Buruj, 85: 15.

Idz = ketika; yũhĩ = mewahyukan; robbukka = Rab kamu; ilãl malãikati = kepada para Malaikat; annĩ = sesungguhnya, Aku; ma’akum = bersama kamu; fatsabbitũ = maka teguhkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = mereka beriman; sa-ulkĩ fĩ = kelak Aku jatuhkan; qulũbi = hati; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; ar ru’ba = rasa takut; fadhribũ = maka pukullah (penggallah); fauqo = di atas; al a’nãqi = leher, tengkuk; wadhribũ = dan pukullah (potonglah); min hum = dari mereka; kulla = tiap-tiap; banaanin = ujung jari
Idz yũhĩ robbukka ilãl malãikati annĩ ma’akum fatsabbitũl ladzĩna ãmanũ, sa-ulkĩ fĩ qulũbil ladzĩna kafarũr ru’ba fadhribũ fauqol a’nãqi wadhribũ min hum kulla banaanin
12. (Ingat) ketika Rab kamu mewahyukan kepada para Malaikat: “Sesungguhnya, Aku bersama kamu, maka teguhkanlah semangat (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku turunkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka, penggallah leher-leher mereka, dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melalui para Malaikat agar mengingatkan Nabi Muhammad, Allah bersamanya untuk menghadapi orang-orang pembangkang (kafir) pada Perang Badar. Nabi diminta menguatkan semangat dan pendirian orang-orang yang telah beriman (Kaum Muslimin) dalam menghadapi orang-orang kafir. Allah memberitahu akan membuat orang-orang kafir menjadi takut kepada pasukan Islam. Allah memerintah agar memenggal leher orang-orang kafir atau memotong ujung jari mereka sebagai hukuman di dunia, dan agar mereka tidak berdaya menggunakan senjata, dan agar mereka tidak selalu membuat kegaduhan, keonaran. Di akhirat, Allah yang menetapkan hukumannya. Banyak dijelaskan di dalam Alquran ini.
dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; syãqullaha = mereka menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa man = dan barang siapa; yusyãqiqillãha = menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; fa innallaha = maka sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōb = siksa.
dzãlika bi annahum syãqullaha wa rosũlahũ, wa man yusyãqiqillãha wa rosũlahũ fa innallaha syadĩdul ‘iqōb.
13. (Ketentuan) yang demikian itu, karena sesungguhnya, mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya, Allah sangat keras siksa-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan seperti pada ayat 11 di atas itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya.

dzãlikum = demikian itulah; fadzũqũhu = maka rasakanlah ia (siksa itu); wa anna = dan sesungguhnya; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãbannar = azab api neraka.
dzãlikum fadzũqũhu wa anna lil kãfirĩna ‘adzãbannar
14. Demikian itulah (hukuman Allah yang disegerakan di dunia ditimpakan atasnya, kaum kafir), maka rasakanlah, dan sesungguhnya, bagi orang-orang kafir, ada azab api neraka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukuman Allah (dipenggal leher atau ujung jari tangannya, agar mereka tidak dapat menggunakan tangannya untuk memerangi orang-orang Islam) karena mereka menentang perintah Allah dan Nabi Muhammad.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; idzã = jika; laqĩtumu = kamu sekalian bertemu; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; zahfan = maju menyerang; falã = maka jangan; tuwallũ = kamu sekalian berpaling dari; humu = mereka; al adbãro = punggung (ke belakang).
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã laqĩtumul ladzĩna kafarũ zahfan falã tuwallũ humul adbãro
15. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerang kamu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukum Allah dalam berperang melawan orang-orang kafir: menghadap, merapat, jangan berbalik ke belakang (mundur), kecuali kalau untuk bergabung dengan kelompoknya, atau untuk menata strategi, taktik berperang. Allah menyertai orang-orang yang berjihad.

waman = dan barang siapa; yuwallihim = berpaling dari mereka; yauma-idin = pada hari itu; duburahũ = belakangnya; illã = kecuali; mutaharrifan = berbelok; liqitãlin = untuk perang; au = atau; mutahayyizon = bergabung; ilã = kepada; fi-atin = golongan pasukan; faqod = maka sungguh; bã-a = dia kembali; bi ghodhonin = dengan kemurkaan; minallãhi = dari Allah; wa ma’wãhu = dan tempat kembalinya; jahannamu = jahanam; wa bi’sa = dan amat buruk; al mashĩr = tempat kembali.
waman yuwallihim yauma-idin duburahũ illã mutaharrifal liqitãlin au mutahayyizon ilã fi-atin faqod bã-a bi ghodhonim minallãhi wa ma’wãhu jahannamu wa bi’sal mashĩr.
16. Dan barang siapa mundur pada waktu perang itu, sungguh orang itu kembali dengan membawa murka dari Allah. Tempat kembalinya neraka jahanam, seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali berbelok (bersiasat perang) atau akan menggabungkan diri dengan pasukan lain.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berbalik dan berbelok untuk bersiasat dan bergabung dengan pasukan lain diperbolehkan. Melanggar aturan berperang, membawa kemurkaan Allah. Tempat kembalinya neraka jahanam, seburuk-buruk tempat kembali.

fa lam = maka bukan; taqtulũhum = kamu sekalian membunuh mereka; wa lãkinnallãha = akan tetapi Allah; kotalahum = membunuh mereka; wa mã = dan bukan; romaita = engkau yang melempar; idz = ketika; romaita = engkau melempar; walãkinallaha = akan tetapi Allah; romã = yang melempar; waliyublĩya = dan Dia hendak menguji; al mu’minĩna = hasanan = yang baik; innallaha = sesungguhnya Allah; samĩun = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
fa lam taqtulũhum wa lãkinnallãha wa mã romaita idz romaita, walã kinallaha romã, waliyublĩyal mu’minĩna min hu ba lã-an hasanan, innallaha samĩun ‘alĩm.
17. Maka bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar, ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar untuk memberi kemenangan yang baik kepada orang-orang mukmin. Sungguh, Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang di jalan Allah pada Perang Badar ini, atau pekerjaan apapun yang mengatasnamakan Allah, sesungguhnya pekerjaan itu, Allah yang mengerjakannya dengan hasil yang baik untuk bisa dinikmati orang-orang mukmin. Ibnu Jarir dan Ibnu Abas meriwayatkan, ketika Perang Badar Rasulullah melemparkan segenggam pasir ke arah pasukan kafir. Akibatnya, banyak pasukan kafir yang binasa. Pada peristiwa seperti itulah Allah menolong Nabi dan pasukannya. Nabi melemparkan pasir, sesungguhnya, Allah lah yang melemparkan pasir itu ke arah musuh pasukan Nabi.

dzalikum = demikianlah; wa annallãha = sesungguhnya Allah; mũhinu = menghinakan (melemahkan); kaidi = tipu daya; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
dzalikum wa annallãha mũhinu kaidil kãfirĩn.
18. Demikianlah, sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Demikianlah, Allah melimpahkan karunia kemenangan kepada orang-orang mukmin. Tipu daya orang kafir, mereka berpura-pura berpihak kepada orang-orang mukmin (masuk Islam) untuk menghancurkannya.

in = jika; tastaftihũ = kamu sekalian meminta keputusan; fa qod = maka sesungguhnya; jã-akumu = telah datang kepada kamu sekalian; al fat-hu = keputusan kemenangan; wa in = dan jika; tantahũ = kamu sekalian berhenti; fa huwa = maka itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu sekalian; wa in = dan jika; ta’ũdũ = kamu sekalian kembali; na’ud = Kami kembali; wa lan = dan tidak; tughniya = cukup mampu; ‘ankum = dan kamu sekalian; fi-atukum = golongan (pasukan kamu sekalian; syai-an = sedikit pun; wa lau = dan sekali pun katsurot = kamu sekalian banyak; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
in tastaftihũ fa qod jã-akumul fat-hu, wa in tantahũ fa huwa khoirul lakum, wa inta’ũdũ na’ud wa lan tughniya ‘ankum fi-atukum syai-an wa lau katsurot wa annallãha ma’al mu’minĩn.
19. Jika kamu meminta keputusan, maka keputusan kemenangan itu telah datang kepadamu, dan jika kamu sekalian berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali (menjadi kafir), niscaya Kami kembali (memberi pertolongan kepada orrang-orang mukmin), dan pasukanmu tidak akan dapat menolak bahaya sedikit pun, dan sekalipun jumlahnya (pasukanmu) banyak. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memberi kesempatan kepada orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad untuk bertobat (tidak memusuhi Rasul). Kalau tidak mau bertobat, maka bahaya akan selalu mengancamnya, meskipun jumlah pasukannya banyak.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; athĩ’ullãha = taatlah kamu sekalian kepada Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa lã = dan jangan; tawallau = berpaling; ‘anhu = dari-Nya; wa antum = dan kamu sekalian; tasma’ũn = kamu sekalian mendengar.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ athĩ’ullãha wa rosũlahũ wa lã tawallau ‘anhu wa antum tasma’ũn
20. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan jangan berpaling dari-Nya, dan kamu sekalian mendengar (perintah-perintah-Nya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah ini sering disampaikan dalam berbagai variasi susunan kata (ungkapannya)

wa lã = dan jangan; takũnũ = kalian menjadi’ kalladzĩna = seperti orang-orang yang; qōlũ = mereka berkata; sami’nã = kami mendengar; wa hum = dan (pada hal) mereka; lã yasma’ũn = mereka tidak mendengar.
wa lã takũnũ kalladzĩna qōlũ sami’nã wa hum lã yasma’ũn.
21. Dan jangan kalian menjadi seperti orang-orang yang berkata: “Kami mendengar.” Padahal mereka tidak mendengar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang kafir: a. Perkataannya tidak sesuai dengan isi hatinya; b. Janjinya tidak ditepati; c. Kalau diberi amanah tidak disampaikan.

Inna = sesungguhnya; syarro = seburuk-buruk; addawãbbi = binatang (makhluk); indallãh = di hadapan Allah; ish shumu = tuli; bukmu = bisu; al ladzĩna = makhluk yang …; lã ya’qilũn = mereka tidak mengerti.
inna syarrodda wãbbi indallãhish shumum bukmul ladzĩna lã ya’qilũn.
22. Sesungguhnya, seburuk-buruknya binatang (makhluk) di hadapan Allah adalah makhluk yang tuli dan bisu dan makhluk yang tidak mau mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tuli artinya tidak dapat mendengar karena ada gangguan indra pendengarannya. Pada ayat ini, arti tuli adalah orang yang dapat mendengar, tapi tidak mau mendengar apa yang diserukan kepadanya. Mereka tidak mau mengerti, tidak mau memahami, tidak mau memikirkan atau menghayati makna seruan kebaikan, keadilan yang didengar. Atau ada alasan lain, misalnya karena ada rasa permusuhan, membenci, mempunyai keyakinan lain, mempunyai pandangan lain yang berbeda. Istilah sekarang mengena kepada orang yang diberi nasihat, nasihatnya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Nasihat itu tidak berbekas. Bisu di dalam ayat ini berarti orang yang sudah memiliki pengetahuan tentang kebenaran,keadilan tapi mereka tidak mau mengamalkannya, atau menyampaikan, menyebarluaskannya kepada orang lain. Mereka tidak mau berbicara dan tidak dapat berbicara karena mempunyai keyakinan, kepercayaan, pandangan yang berbeda. Makhluk yang tidak mau mengerti itu karena kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad, ingkar dari petunjuk Allah, dinilai makhluk yang paling jelek.

wa lau = dan kalau; ‘alimallãhu = (sekiranya) Allah mengetahui; fĩhim = pada mereka; khoiron = kebaikan; la-asma’ahum = tentu Dia jadikan mereka mendengar; wa lau = dan kalau; asma’ahum = Dia jadikan mereka mendengar; la tawallau = tentu mereka berpaling; wa hum = sedang mereka; mu’ridhũn = orang-orang yang memalingkan diri.
wa lau ‘alimallãhu fĩhim khoirol la-asma’ahum, wa lau asma’ahum la tawallau wa hum mu’ridhũn.
23. Dan kalau sekiranya (ungkapan halus) Allah mengetahui pada kebaikan mereka, tentu Dia jadikan mereka mendengar, dan kalau Dia jadikan mereka mendengar, tentu mereka berpaling juga, sedang mereka, orang-orang yang memalingkan diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah pasti Maha Mengetahui mereka itu tidak ada kebaikan sedikit pun. Dengan cara apa pun, mereka tidak akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan tetap berpaling dari seruan Allah dan Rasul-Nya. Jadi, mereka ditulikan, dan dibutakan terhadap ayat-ayat-Nya. Sesungguhnya, yang membutakan dan menulikan itu diri mereka sendiri, akibat jalan pikirannya yang menyimpang dalam hal agama dan kepercayaannya.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; as tajĩbũ = penuhilah (seruan); lillãhi = dari Allah; wa lir rosũli = dan dari Rasul; idzã = jika (dia); da’akum = memanggil kamu sekalian; limã = kepad, a sesuatu; yuhyĩkum = yang menghidupkan kamu sekalian; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; yahũlu = membatasi; baina = antara; al mar-i = seseorang; wa qolbihĩ = dan hatinya; wa annahũ = dan sesungguhnya; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu sekalian.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũs tajĩbũ lillãhi wa lir rosũli idzã da’akum limã yuhyĩkum, wa’lamũ annallãha yahũlu bainal mar-i wa qolbihĩ wa annahũ ilaihi tuhsyarũn.
24. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, jika dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya, kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan yang sering dilakukan dalam berbagai variasi. “menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” artinya membuat hidup lebih berarti, bermanfaat untuk sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan hidup di dunia dan akhirat. Allah membatasi antara manusia dan hatinya, maksudnya antara diri seseorang dengan keinginan di dalam hatinya. Pelajari hati sendiri yang memiliki berbagai keinginan dan nafsu-nafsunya. Kepada Allah semua makhluk-Nya akan dikembalikan. Peringatan yang sering dikemukakan.

wattaqũ = dan takutlah kamu sekalian; fitnatan = fitnah (azab); lã tushĩbanna = tidak menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang …; zholamũ = mereka lalim; min kum = di antara kamu sekalian; khãshshatan = khusus; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōb = siksa-Nya.
wattaqũ fitnatal lã tushĩbannal ladzĩna zholamũ min kum khãshshatan, wa’lamũ annallãha syadĩdul ‘iqōb.
25. Dan takutlah kamu kepada fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Ketahuilah, Allah sangat keras azab-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan agar waspada pada fitnah, bencana, azab, ujian, cobãn-Nya yang tidak khusus hanya kepada orang-orang yang lalim. Harus dihadapi dengan bekal iman.

wadzkurũ = dan ingatlah; idz = ketika; antum = kamu; qolĩlun = sedikit; mustadh’afũna = orang-orang lemah; fil ardhi = di bumi; takhofũna = kamu sekalian takut; an = untuk; yatakhoth thafakumu = akan menculik kamu sekalian; an nãsu = orang-orang; fa-ãwãkum = maka Dia beri tempat kamu sekalian; wa ayyadakum = dan Dia kuatkan kamu sekalian; bi nashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; wa rozaqokum = dan Dia beri rezeki kamu sekalian; mina = dari; ath thoyyibãti = yang baik-baik; la’allakum = agar kamu sekalian; tasykurũn = kamu sekalian bersyukur.
wadzkurũ idz antum qolĩlum mustadh’afũna fil ardhi takhofũna an yatakhoth thafakumun nãsu fa-ãwãkum wa ayyadakum bi nashrihĩ wa rozaqokum minath thoyyibãti la’allakum tasykurũn.
26. Ingatlah, ketika kamu (Kaum Muhajirin) masih berjumlah sedikit dan tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang Mekah akan menculik kamu, maka Dia memberi tempat menetap (Madinah), dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya, dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik, agar kamu bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan masa lalu umat Islam untuk menjadi pelajaran dan agar bersyukur karena telah diberi pertolongan dan rezeki yang baik.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; lã takhũnũllãha = jangan mengkhianati Allah; war rosũla = dan Rasul; wa takhũnũ = juga jangan mengkhianati; amaanaatikum amanat yang dipercayakan kepadamu; wa antum = dan kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũ lã takhũnũllãha war rosũla wa takhũnũ amaanaatikum wa antum ta’lamũn.
27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, juga jangan kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman: “jangan mengkhianati Allah, Rasul, dan amanat yang dipercayakan. Khianat artinya sikap mental yang culas, curang, tidak jujur kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah; perbuatan tidak setia, tipu-daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji. Khianat mempunyai pengertian yang hampir sama dengan nifak. Bedanya, nifak berkonotasi pada ajaran agama secara umum, misalnya khianat kepada Allah dan Rasul-Nya, perilakunya tidak menjalankan syariat yang seharusnya. (Ragib al Isfahani, ahli bahasa). Akibat khianat, orang bisa kehilangan kepercayaan. Khianat itu perbuatan dosa, dapat merusak kehidupan bermasyarakat, menimbulkan permusuhan, saling mencurigai. Dampak pengkhianatan sangat buruk, seperti yang dilakukan Ubay bin Ka’ab pada waktu Perang Uhud. Pasukan Muslim berkurang sampai 300 orang, dan kemenangan yang diharapkan menjadi tidak tercapai.

wa a’lamũ = dan ketahuilah; annamã = hanyalah; amwãlukum = harta kamu sekalian; wa aulãdukum = dan anak-anak kamu sekalian; fitnatun = fitnah, cobãn, ujian; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ‘indahũ = di hadapan-Nya; ajrun = pahala; ‘azhĩm = yang besar.
wa a’lamũ annamã amwãlukum wa aulãdukum fitnatun wa annallãha ‘indahũ ajrun ‘azhĩm.
28. Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai ujian, sesungguhnya di hadapan Allah ada pahala yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, harta dan anak-anak itu ujian, cobãn yang harus dihadapi dengan sabar, dan harus mengikuti petunjuk Allah agar berhasil baik, selamat, dan mendapat pahala yang besar di dunia maupun di akhirat.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; in = jika; tattaqũllãha = kamu sekalian bertakwa kepada Allah; yaj’al = Dia menjadikan; lakum = untuk kamu; furqōnan = furqon; wa yukaffir = dan Dia menghapuskan; ‘ankum = dari kamu; sayyi-atikum = kesalahan-kesalahanmu; wa yaghfir = dan Dia mengampuni; lakum = untuk kamu; wallãhu = dan Allah; dzũl fadhli = mempunyai karunia; al ‘azhĩm = yang besar.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũ in tattaqũllãha yaj’al lakum furqōnan wa yukaffir ‘ankum sayyi-atikum wa yaghfir lakum, wallãhu dzũl fadhlil ‘azhĩm.
29. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu takwa kepada Allah, tentu Dia akan memberikan furqon = kemampuan membedakan berbagai hal kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Allah memiliki karunia yang besar
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman dan bertakwa akan diberi kemampuan untuk dapat membedakan berbagai hal di dunia ini, khususnya yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang jelek, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Karunia Allah yang besar itu upah dari iman dan takwa yang mengakibatkan dapat membedakan segala hal di muka bumi ini, selanjutnya akan dihapus segala kesalahannya, dan diampuni dosa-dosanya. Inilah salah-satu kunci pembuka pintu surga.

wa idz = dan (inratlah) ketika; yamkuru = merencanakan tipu-daya; bika = kepadamu; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; liyutsbitũka = untuk mereka menangkap dan memenjarakanmu; au yaqtulũka = atau mereka membunuhmu; au yukhrijũka = atau mereka mengusirmu; wa yamkurũna = dan mereka memikirkan tipu-daya; wa yamkurullãh = dan Allah membalas tipu-daya; wallãhu = dan Allah; khoiru = sebaik-baik; al mãkirĩn = pembalas tipu-daya
wa idz yamkuru bikal ladzĩna kafarũ liyutsbitũka au yaqtulũka au yukhrijũka wa yamkurũna wa yamkurullãh, wallãhu khoirul mãkirĩn
30. Dan ingatlah, ketika orang-orang kafir (Quraisy) merencanakan tipu-daya kepadamu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya, dan Allah membalas tipu-daya itu. Allah itu sebaik-baik pembalas tipu-daya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang perilaku orang-orang kafir dengan berbagai upaya tipu-dayanya. Allah membalas upaya tipu-daya orang-orang kafir dengan tipu-daya yang ajaib (bersifat gaib).Tipu-daya Allah lah yang terbaik yang menghasilkan kemenangan hidup di dunia dan di akhirat.

wa idzã = dan jika; tutlã = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyãtunã = ayat-ayat Kami; qōlũ = mereka berkata; qod = sesungguhnya; sami’nã = kami telah mendengar; lau = kalau; nasyã-u = kami mau; lakulnã = tentu kami dapat berkata; mitsla = seperti; hãdzã = ini; in = tidak lain; hãdzã = (Alquran) ini; illã = hanyalah; asaathĩru = satir (dongeng); al awwalĩn = zaman awal (zaman dahulu)
wa idzã tutlã ‘alaihim ãyãtunã qōlũ qod sami’nã lau nasyã-u lakulnã mitsla hãdzã, in hãdzã illã asaathĩrul awwalĩn.
31. Dan jika ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya, kami telah mendengar (ayat-ayat seperti ini), kalau kami mau, tentu kami dapat berkata seperti ini. (Alquran) ini tidak lain hanya dongeng orang-orang zaman dahulu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan, kalau Alquran yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, bila dibacakan kepada orang-orang yang telah menganut agama terdahulu, seperti Majusi, Zoroaster (penyembah api, Persia), Shinto (Jepang, penyembah matahari), Lao-ts [Tao Te Ching] (Cina), Hindu: Weda, yang ditulis Mpu Bharada [Mahabharata], Walmiki [Ramayana], Krisna [Baghawad Gita], Buddha: Sidharta Gautama [Tripithaka], Mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Daud [Zabur] disebut agama Samawi = Islam. Agama Yahudi: Musa [Taurat, Tauret, Taurit yang terbagi dalam lima bagian (Pentateuch], yaitu: Kejadian (Genesisi), Keluaran (Exodus), Amanat (Leviticus), bilangan (Numeri), Ulangan (Deuteonomium), Kristen: Isa ibnu Maryam [injil]. Mereka mengatakan, apa yang dibacakan itu seperti dongeng (ceritera bohong) orang zaman dahulu. Alquran itu sesungguhnya membenarkan Kitab-kitab terdahulu, artinya melanjutkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha-esa yang tidak tercampur syirik. Agama-agama terdahulu itu ternyata banyak tercampur dengan kepercayaan tahayul, dan khurafat sehingga Allah memperbaharui-Nya dengan Alquran melalui Nabi Muhammad, untuk meluruskan kembali kepercayaan yang sudah banyak menyimpang dari tuntunan Kitab-kitab yang terdahulu itu.

wa idz = dan ketika; qōlũ = mereka berkata; al lahumma = yã Allah; in = jika; kaana = adalah; hãdzã = ini; huwa = dia (Alquran); al haqqo = benar; min = dari; ‘indika = haribãn Engkau; fa amthir = maka hujanilah; ‘alainã = atas kami; hijãrotan = batu; mina = dari; as samã-i = langit; awi’tinã = atau datangkan kepada kami; bi ‘adzãbin = dengan azab; alĩm = yang sangta pedih.
wa idz qōlũl lahumma in kaana hãdzã huwal haqqo min ‘indika fa amthir ‘alainã hijãrotam minas samã-i awi’tinã bi ‘adzãbin alĩm.
32. Dan ketika mereka berkata: “Yã Allah, jika ini (Alquran) benar dari haribãn-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang sangat pedih.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beragama terdahulu, mereka meragukan Alquran itu dari Allah. Mereka menantang, agar mereka dituruni azab dari Allah, jika Alquran itu memang dari-Nya. Namun Allah amat Penyabar, tidak menuruti tantangannya.

wa mã kaanallãhu = dan Allah tidak; liyu’adzdzibahum = akan mengazab mereka; wa anta = sedang kamu; fĩhim = di antara mereka; wa mã kaanallãhu = dan Allah tidak; mu’adzdzibahum = mengazab mereka; wa hum = sampai mereka; yastaghfirũn = mereka meminta ampun.
wa mã kaanallãhu liyu’adzibahum wa anta fĩhim, wa mã kaanallãhu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfirũn.
33. Dan Allah tidak menghukum (mengazab) mereka, sementara kamu di antara mereka, Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sampai mereka meminta ampun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menunda azab, maksudnya memberi kesempatan mereka mau bertobat. Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan, maka pada saat yang tidak terduga, Allah menurunkan azab-Nya. Waspadalah! Allah Mahakasih, Maha-adil, Mahabijaksana, Maha Penyabar.

Wa mã lahum = dan apa yang ada pada mereka; allã = sehingga tidak; yu’adzdzibahumullãhu = Allah mengazab mereka; wa hum = padahal mereka; yashuddũna = mereka halangi; ‘anil masjidil harōmi = (orang-orang masuk) ke masjidil Kharo wa mã kaanũ = dan bukanlah mereka; auliyã-uhũ = penguasa-penguasanya; illã = hanyalah; al muttaqũna = orang-orang yang bertakwa; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum lã = tidak; ya’lamũn = mereka mengetahui.
Wa mã lahum allã yu’adzdzibahumullãhu wa hum yashuddũna ‘anil masjidil harōmi wa mã kaanũ auliyã-uhũ illãl muttaqũna wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.
34. Mengapa Allah tidak mengazab mereka, padahal mereka halangi (orang-orang masuk) ke Masjidil Haram, padahal mereka itu bukan penguasa-penguasanya. Tidak lain, yang berhak menguasainya, hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak mengazab orang-orang kafir sekarang ini untuk memberi peluang mereka insyaf mengenai kekeliruannya, dan mau bertobat sebelum ajal menjemputnya. Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan, Allah Mahaberat siksa-Nya. Masjidil Haram sekarang luasnya 328.000 m2 adalah masjid di tanah haram. Artinya tempat yang disucikan, dan diharamkan bagi umat lain. Tempat berdirinya Ka’bah sebagai arah kiblat umat Islam. Salat di masjid ini dinilai 100.000 kali lebih utama bila salat di masjid selainnya. Begitu juga kalau berdzikir, berdoa, bersedekah, atau beramal baik lainnya. Dapat menampung sebanyak 730.000 jamãh.

wa mã = dan tidak; kaana = ada lain; solãtuhum = salat mereka; ‘inda = di sekitar; al baiti = Baitul Haram itu; illã = hanyalah; mukã-an = siulan; wa tashdiyah = dan tepuk tangan; fadzũqũ = mzkz rasakanlah; al ‘adzãba = azab; bimã = dengan sebab; kuntum = kamu adalah; takfurũn = kamu kafir.
wa mã kaana solãtuhum ‘indal baiti illã mukã-an wa tashdiyah, fadzũqũl ‘adzãba bimã kuntum takfurũn.
35. Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di sini adalah azab dunia, dipenggal lehernya atau dipotong ujung-ujung jari tangannya karena mereka kafir, dan menentang Allah dan Rasul-Nya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = orang-orang kafir; yunfiqũna = mereka menafkahkan; amwãlahum = harti mereka; liyashuddũ = untuk mereka menghalangi; ‘an sabĩlillãh = dari jalan Allah; fa sayunfiqũ nahã = maka mereka menafkahkannya; tsumma = kemudian; takũnu = jadilah; ‘alaihim = bagi mereka; hasrotan = sesalan; tsumma = kemudian; yughlabũn = mereka akan dikalahkan; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = orang kafir; ilã = ke dalam; jahannama = Neraka Jahanam; yuhsyarũn = mereka dikumpulkan.
innal ladzĩna kafarũ yunfiqũna amwãlahum liyashuddũ ‘an sabĩlillãh, fa sayunfiqũ nahã tsumma takũnu ‘alaihim hasrotan tsumma yughlabũn, wal ladzĩna kafarũ ilã jahannama yuhsyarũn.
36. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi orang menuju jalan Allah. Mereka menafkahkan harta (demikian itu), kemudian akan menjadi sesalan bagi mereka. Mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di Neraka Jahanam.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir menafkahkan hartanya untuk menghalangi orang yang berjalan di jalan Allah, dan hanya untuk kepentingan dunia saja. Orang yang beriman menafkahkan hartanya untuk lancarnya menjalani syariat Allah, dan mengharapkan rido Allah. Hasil akhirnya, sudah jelas. Orang kafir akan menyesal, dimasukkan ke dalam api neraka jahanam. Orang beriman mendapatkan kesejahteraan yang tidak bertara di surga.

liyamĩzallãhu = karena Allah hendak memisahkan; al khabĩtsã = yang buruk; mina = dari; ath thoyyibi = dari yang baik; wa yaj’ala = dan Dia menjadikan; al khabĩtsa = yang buruk; ba’dhohũ = sebagiannya; ‘alã = atas; ba’dhin = sebagian yang lain; fa yarkumahũ = lalu menumpukkann-Nya; jamĩ’an = semuanya; fa yaj’alahũ = maka menjadikan-Nya; fĩ jahannam = dalam neraka Jahanam; ũlã-ika = mereka itu; humu = mereka; al khōsirũn = orang-orang yang merugi.
liyamĩzallãhul khabĩtsã minathoyyibi wa yaj’alal khabĩtsa ba’dhohũ ‘alã ba’dhin fa yarkumahũ jamĩ’an fa yaj’alahũ fĩ jahannam, ũlã-ika humul khōsirũn.
37. Karena Allah hendak memisahkan golongan yang buruk dengan golongan yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu Dia menumpukkannya semuanya, dan Dia menjadikannya (masuk) dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain” pernyataan ini dari Allah Yang menetapkan golongan yang buruk dalam arti tidak mau percaya apa yang sudah ditetapkan Allah. Sebagiannya mempunyai kemampuan kekayaan di atas yang lainnya untuk membiayai penolakan perjuangan Nabi Muhammad dalam mengemban amanat Allah menghapus kekafiran, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan. Mereka yang lebih mampu mamupun yang tidak mempu membiayai penolakan atas perjuangan Nabi Muhammad saw. itu, kedua golongan itu semua akan dimasukkan ke dalam api Neraka Jahanam. Rugilah mereka.

qul = katakanlah; lilladzĩna = kepada oraang-orang yang …; kafarũ = kafir; in = jika; yantahũ = mereka berhenti; yughfar = diampuni; lahum = bagi mereka; mã = apa (dosa-dosa) yang; qod = sungguh; salafa = sudah lalu; wa in = dan jika; ya’ũdũ = mereka kembali; fa qod = maka sungguh; madhat = berlaku; sunatu = sunah; al awwalĩn = orang-orang dahulu.
qul lilladzĩna kafarũ in yantahũ yughfar lahum mã qod salafa wa in ya’ũdũ fa qod madhat sunatul awwalĩn
38. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan rekan-rekannya), Jika mereka berhenti (dari kekafirannya; memerangi orang-orang Islam, memerangi Umat Muhammad saw.), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang lalu, dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh berlaku (kepada mereka) sunnatullah bagi orang-orang dahulu (dibinasakan).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Muhammad saw.. untuk mengatakan ayat ini kepada orang-orang kafir, sebagai peringatan.

wa qōtilũhum = dan perangilah mereka; hattã = sehingga, sampai; lã takũna = tidak ada lagi; fatnatun = fitnah; wa yakũna = dan adalah; ad diinu = agama; kulluhũ = semuanya; lillãh = bagi Allah; fa ini = maka jika; antahau = mereka berhenti; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; bimã = dengan apa yang …; ya’malũna = mereka kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.
wa qōtilũhum hattã lã takũna fatnatun wa yakũnad diinu kulluhũ lillãh, fa ini antahau fa innallãha bimã ya’malũna bashĩr.
39. Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah, maka jika mereka berhenti (menyebar fitnah), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Muhammad saw.. agar memerangi orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad. Tujuannya agar tidak ada lagi (berhenti menyebar) fitnah.

wa in = dan bila; tawallau = mereka berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; maulãkum = pelindungmu; ni’ma = sebaik-baik; al maulã = Pelindung; wa ni’ma = dan sebaik-baik; an nashĩr = Penolong.
wa in tawallau fa’lamũ annallãha maulãkum, ni’mal maulã wa ni’man nashĩr.
40. Dan bila mereka berpaling, maka ketahuilah, sesungguhnya Allah melindungimu. Dia adalah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mereka berpaling (tidak mau mengikuti seruanmu) Allah menghibur Nabi Muhammad bahwa hanya Allah yang akan melindungi dan menolong. Zaman sekarang juga demikian.

Juz 10

wa’lamũ = Dan ketahuilah; annamã = sesungguhnya; ghonimtum = kamu rampas dalam perang; minsyai-in = dari segala sesuaitu; fa anna = maka sesunggunya; lillahi = bagi Allah; khumusahũ = seperlimanya; wa lir rosũli = dan untuk Rasul; wa lidzi = dan untuk yang punya; al qurbã = kerabat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩni = dan orang-orang miskin; wabnis sabĩli = dan ibnu sabil; in kuntum = jika kalian adalah; ãmantum = kamu sekalian beriman; billãhi = kepada Allah; wa mã = dan kepada apa; anzalnã = Kami turunkan; ‘alã = kepada; ‘abdinã = hamba Kami; yauma = pada hari; al furqōni = pemisah; yauma = pada hari; al taqa = pertemuan; al jam’ãn = dua pasukan; Wallãhu = dan Allah; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.
wa’lamũ annamã ghonimtum minsyai-in fa anna lillahi khumusahũ wa lir rosũli wa lidzil qurbã wal yatãmã wal masãkĩni wabnis sabĩli in kuntum ãmantum billãhi wa mã anzalnã ‘alã ‘abdinã yaumal furqōni yaumal taqal jam’ãn. Wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.
41. Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, demikian itu jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqon, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi harta rampasan perang dengan syarat harus beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan-Nya di hari Furqon (yang membedakan. Surat ini diturunkan untuk menjelaskan perbedaan antara yang beriman dan yang kafir, dipertemukan dalam peperangan). Pembagian, seperti yang ditetapkan ayat ini bersifat waqi dan hakiki, bukan bersifat majas (kiasan), yaitu seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, dan empat per limanya dibagikan kepada orang-orang yang ikut bertempur.

idz = ketika; antum = kamu sekalian; bil ‘udwati = di pinggir lembah; ad dun-yã = yang dekat; wa hum = dan mereka; bil udwati = di pinggir lembah; al qushwã = yang jauh; war rokbu = sedang kafilah; asfala = lebih rendah; min kum = dari kamu sekalian; wa lau = dan sekiranya; tawã ‘ad tum = kamu sekalian saling mengadakan persetujuan; la-akhtalaftum = pasti kamu sekalian berselisih; fĩ almi’ãdi = dalam perjanjian itu; wa lã kin = akan tetapi; liyaqdhĩllãhu = karena Allah hendak menetapkan; amron = suatu urusan; kaana = adalah ia; maf’ũlan = dilaksanakan; liyahlika = agar binasalah; man = orang; halaka = binasa; ‘an = dengan; bayyimatin = keterangan nyata; wa yahyã = dan hiduplah; man = orang; hayya = yang hidup; ‘am bayyinah = dengan keterangan yang nyata; wa innallãha = dan sesungguhnya Allah; lasamĩ’un = sesungguhnya Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
idz antum bil ‘udwatid dun-yã wa hum bil udwatil qushwã war rokbu asfala min kum, wa lau tawã ‘ad tum la-akhtalaftum fĩ almi’ãdi, wa lã kil liyaqdhĩllãhu amron kaana maf’ũlal liyahlika man halaka ‘am bayyimatin wa yahyã man hayya ‘am bayyinah, wa innallãha lasamĩ’un ‘alĩm.
42. Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat, dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh, sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dikerjakan, yaitu agar yang binasa itu, binasa dengan bukti yang nyata, dan agar orang yang hidup itu, hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh Allah Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hatimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang binasa itu adalah orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hidup adalah orang yang mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya menjadi bukti yang nyata dari perilakunya masing-masing. Ada yang ditolong, dan ada yang dibinasakan Allah, sesuai dengan keimanan atau kekafirannya.

idz = ketika; yurĩkumullãhu = Allah menampakkan mereka kepadamu; fĩ = di dalam; manãmika = mimpimu; qolĩlan = sedikit; wa lau = dan seandainya; arōkahum = (Allah) menampakkan mereka kepadamu; katsĩron = banyak; la fasyiltum = pasti kamu sekalian menjadi gentar; wa latanãza’tum = dan pasti kamu sekalian berbantah-bantahan; fĩl amri = dalam urusan itu; wa lã kinnallãha = akan tetapi Allah; sallama = telah menyelamatkan; innahũ = sesungguhnya Dia; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bidzãti = dengan segala isi; ash shudũr = hati.
idz yurĩkumullãhu fĩ manãmika qolĩlan, wa lau arōkahum katsĩrol la fasyiltum wa latanãza’tum fĩl amri wa lã kinnallãha sallama, innahũ ‘alĩmum bidzãtish shudũr.
43. (Ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan seandainya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak, tentu kamu menjadi gentar, dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hatimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menolong makhluk-Nya dengan berbagai cara. Dalam ayat ini Allah menolong dengan cara memberi mimpi kepada Nabi yang dampaknya positif, menimbulkan semangat menghadapi dan mengalahkan lawan, tidak membuat gentar. Hal ini menjadi pelajar, peringatan bagaimana seorang pemimpin perang mengobarkan semangat berjuang bala tentaranya.

wa idz = dan ketika; yurrĩkumũhum = Allah menampakkan kepada kamu sekalian; idzi = ketika; al taqoitum = kamu sekalian berjumpa; fĩ = dalam; a’yunikum = penglihatankamu sekalian; qolĩlan = sedikit; wa yuqollilukum = dan Dia jadikan kamu sekalian sedikit; fĩ = dalam; a’yunihim = penglihatan mereka; liyaqdhiyallãhu = karena Allah hendak menetapkan; amron = suatu urusan; kaana = adalah ia; maf’ũlan = dilaksanakan; wa ilallãhi = dan kepada Allah; turja’u = dikembalikan; al umũr = segala urusan.
wa idz yurrĩkumũhum idzil taqoitum, fĩ a’yunikum qolĩlan wa yuqollilukum fĩ a’yunihim li yaqdhiyallãhu amron kaana maf’ũlan wa ilallãhi turja’ul umũr.
44. Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu, dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak harus melaksanakan suatu urusan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw.. bagaimana pertolongan Allah itu diturunkan kepada yang dikehendaki-Nya, dengan cara memperlihatkan musuh menjadi tampak sedikit, meskipun jumlahnya besar, sehingga memberi semangat juang yang tinggi. Dan bagaimana azab ditimpakan kepada musuh-musuh Allah dan Nabi-Nya dengan cara melalaikan mereka dalam menghadapi peperangan, karena mereka menganggap jumlah bala tentara kamu sedikit. Hal ini dapat diterapkan pada kejadian sehari-hari dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = jika; laqĩtum = kamu sekalian bertemu; fa-atan = pasukan; fatsbutũ = berteguh hatilah kamu sekalian; wadzkurũllãha = dan ingatlah kamu sekalian kepada Allah; katsiron = banyak-banyak; la’allakum = kamu sekalian; tuflihũn = kamu sekalian beruntung.
yã ayyuha al ladzĩna ãmanũ idzã laqĩtum fa-atan fatsbutũ wadzkurũllãha katsiron la’allakum tuflihũn.
45. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu sekalian bertemu dengan pasukan (kafir), berteguh hatilah, dan ingatlah (berdoalah) kamu sekalian sebanyak-banyaknya kepada Allah agar kamu sekalian beruntung (dapat mengalahkan musuh).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang orang yang beriman, jika bertempur menghadapi orang-orang kafir, agar selalu memanjatkan doa kepada Allah. Ingat kepada Allah dan berdoa harus menjadi kebiasaan sehari-hari

wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ = dan taatilah Allah dan Rasul-Nya; wa lã tanãza’ũ = dan jangan berbantah-bantahan; fatafsyalũ = yang menyebabkan kamu gelisah; wa tadzhab = dan hilang; rĩhukum = kekuatan kamu semua; wa ashbirũ = dan bersabarlah; innallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.
wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ wa lã tanãza’ũ fatafsyalũ wa tadzhab rĩhukum, wa ashbirũ, innallãha ma’ash shōbirĩn.
46. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan jangan kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi resah, sehingga kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada orang-orang yang sedang bertempur, dan pada saat-saat genting, penting, menghadapi persoalan-persoalan hidup.

wa lã = dan jangan; takũnũ = kamu sekalaian menjadi; kãlladzĩna = seperti orang-orang yang …; kharojũ = mereka yang keluar; min diyãrihim = dari kampung kediamannya (berperang); bathoron = rasa angkuh; wa ri-ã = dan riya; annãsi = manusia; wa yashuddũna = dan mereka menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãh = dari jalan Allah; wallãhu = dan Allah; bimã = dengan segala apa yang; ya’malũna = mereka kerjakan; muhĩthu = sangat mengetahui
wa lã takũnũ kãlladzĩna kharojũ min diyãrihim bathoron wa ri-ã-annãsi wa yashuddũna ‘an sabĩlillãh, wallãhu bimã ya’malũna muhĩthu.
47. Dan kamu jangan seperti orang-orang yang keluar dari kampung kediamannya (berperang) dengan rasa angkuh dan ingin dipuji (riya), dan menghalang-halangi orang dari jalan Allah. Allah sangat mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah: “jangan melakukan segala sesuatu yang disertai rasa angkuh (sombong), ingin dipuji, dan jangan menghalangi orang yang ingin mengikuti jalan Allah (lihat Q.s. ….. larangan ini sering diungkapkan

wa idz = dan (ingatlah) ketika; zayyana = pandangan menjadi baik; lahumu = bagi mereka; asy syaithōnu = setan; a’mãlahum = perbuatan mereka; wa qōla = setan berkata; lã = tidak ada; gholiba = yang menang; lakumu = bagi kamu sekalian; al yauma = pada hari ini; minannãsi = dari seorang manusia; wa innĩ = dan sesungguhnya aku (setan); jãrun = pelindung; lakum = bagi kamu; falammã = maka ketika; tarō-ati = saling melihat; al fi-ataani = kedua pasukan; nakashã = ia (setan) berbalik; ‘alã = atas; ‘aqibaihi = ke belakang; wa qōla = dan dia (setan) berkata; innĩ = sungguh saya; barĩ-um = berlepas diri; minkum = dari kamu sekalian; innĩ = sungguh saya; arō = saya (setan) melihat; mã lã = apa yang tidak; tarauna = kamu sekalian melihat; innĩ = sungguh saya (setan); akhōfullãh = saya (setan) takut kepada Allah; wallãhu = dan Allah; syadĩdun = sangat keras; al ‘iqōb = siksaan.
wa idz zayyana lahumusy syaithōnu a’mãlahum wa qōla lã gholiba lakumul yauma minannãsi wa innĩ jãrul lakum, falammã tarō-atil fi-ataani nakashã ‘alã ‘aqibaihi wa qōla innĩ barĩ-um minkum innĩ arō mã lã tarauna innĩ akhōfullãh, wallãhu syadĩdul ‘iqōb.
48. Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka (orang kafir) perbuatan dosa mereka dan mengatakan: “Tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sungguh, aku adalah penolongmu.” Maka ketika kedua pasukan itu telah saling melihat, setan berbalik ke belakang, seraya berkata: “Sesungguhnya, aku berlepas diri dari kamu. Aku dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh kamu, sesungguhnya, aku takut kepada Allah.” Allah sangat keras siksanya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan perbuatan setan yang selalu mencelaka-kan manusia. Sesungguhnya, setan itu takut juga kepada Allah. Hanya janji setan kepada Allah, akan menyeret sebagian besar manusia menjadi pengisi neraka. Berhati-hatilah terhadap musuh nyata setan ini.

idz yaqũlu = ketika berkata; al munãfiqũna = orang-orang munafik; walladzĩna = dan orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalam hatinya; marodhum = penyalit; ghorro = telah menipu; hã-ulã-i = mereka ini; diinuhum = agama mereka; wa man = dan siapa; yatawakkal = bertawakal; ‘alallãhi = kepada Allah; fa-innallãha = maka sungguh Allah; ‘azĩzun hakĩm = Mahaperkasa, Mahabijaksana.
idz yaqũlul munãfiqũna walladzĩna fĩ qulũbihim marodhum ghorrohã-u lã-i diinuhum, wa man yatawakkal ‘alallãhi fa-innallãha ‘azĩzun hakĩm.
49. (ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang mempunyai penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu agamanya.” (Allah bersabda): “Barang siapa bertawakal hanya kepada Allah, ketahuilah, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang munafik yang mempunyai penyakit di dalam hatinya, yang mempunyai prasangka jelek kepada orang-orang mukmin. Orang mukmin harus bertawakal hanya kepada Allah. Allah itu Maha dalam segala-Nya. Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang mukmin, dalam arti selalu menolong, dan melindungi orang mukmin.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; yatawaffa = mewafatkan; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; al malã-ikatu = para Malaikat; yadhribũna = mereka (para Malaikat) memukul; wujũhahum = muka mereka (orang kafir); wa adbãrohum = dan punggung mereka; wadzũqũ = dan rasakan oleh kamu sekalian; ‘adzãba = azab; al harĩq = membakar.
wa lau tarō idz yatawaffal ladzĩna kafarũ al malã-ikatu yadhribũna wujũhahum wa adbãrohum wadzũqũ ‘adzãbal harĩq.
50. Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka, (dan berkata), “Rasakanlah siksa neraka yang membakar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, memberitahu bagaimana kelak orang-orang kafir itu dicabut nyawanya, dan siksa neraka yang akan dideritanya.

dzãlika = demikian itu; bimã = karena apa yang …; qoddamat = perbuatan; aidiikum = tangan-tangan kamu sendiri; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; laisa = tidak (bukan); bi zhollãmin = tidak melalimi; lil ‘abĩd = kepada hamba-hamba.
dzãlika bimã qoddamat aidiikum wa annallãha laisa bi zhollãmil lil ‘abĩd.
51. Demikian itu karena perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya, Allah tidak melalimi hamba-hamba-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pelaliman kepada orang-orang musyrik itu karena perbuatan mereka sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

kada’bi = serupa dengan keadaan; ãli fir’auna = pengikut Fir’aun; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; kaffarũ = mereka mengingkari; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; fa-akhodzahumullãhu = maka Allah menyiksa mereka; bi dzunũbihim = karena dosa-dosa mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; qowiyyun = Mahakuat; syadĩdun = sangat keras; al ‘iqōbi = siksaan.
kada’bi ãli fir’auna, wal ladzĩna min qoblihim kaffarũ bi ãyãtillãhi fa-akhodza humullãhu bi dzunũbihim, innallãha qowiyyun syadĩdul ‘iqōbi.
52. Serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Sesungguhnya, Allah Mahakuat dan sangat keras siksa-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan siksa Allah itu sama dengan apa yang ditimpakan kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah. Mereka berasa kekuasaannnya menyamai Allah, lihat Q.s. ….

dzãlika = demikian itu; bi annallãha = karena sesungguhnya Allah; lam yaku = tidak akan ada; mughoyyiran = mengubah; ni’matan = suatu nikmat; an’amahã = Dia anugerahkan; ‘alã = kepada; qaumin = suatu kaum; hattã = sehingga; yughoyyirũ = mereka mengubah; mã = apa yang; bi-anfusihim = pada diri mereka sendiri; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; samĩ’un = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
dzãlika bi annallãha lam yaku mughoyyiran ni’matan an’amahã ‘alã qaumin hattã yughoyyirũ mã bi-anfusihim wa annallãha samĩ’un ‘alĩm.
53. Demikian itu, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perubahan suatu kaum dari baik menjadi buruk atau sebaliknya tergantung pada apa yang dilakukan kaum itu (lihat Q.s. ….). Allah Maha Mendengar apa yang mereka katakan, dan Allah juga Maha Mengetahui perilaku dan pekerjaan makhluk-Nya.

kada’bi = serupa dengan keadaan; ãli = pengikut; fir’auna = Fir’aun; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; min qoblihim = dari senbelum mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãti = dengan ayat-ayat; robbihim = Rabb mereka; fa-ahlaknãhum = maka Kami binasakan mereka; bi dzunũbihim = karena dosa-dosa mereka; wa aghroqnã = dan Kami tenggelamkan; ãla fir’auna = pengikut Fir’aun; wa kullun = dan semuanya; kaanũ = mereka adalah; zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
kada’bi ãli fir’auna wal ladzĩna min qoblihim, kadzdzabũ bi ãyãti robbihim fa-ahkaknãhum bi dzunũbihim wa aghroqnã ãla fir’auna, wa kullun kaanũ zhōlimĩn.
54. Serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka. Maka, Kami membinasakan mereka karena dosa-dosanya, dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya karena mereka orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Quraisy yang kafir itu nasibnya sama dengan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya, Mereka dibinasakan Allah karena dosa-dosanya. Mereka melalimi diri mereka sendiri.

inna = sesungguhnya; syarro = seburuk-buruk; ad dawãbbi = binatang melata; ‘indallãhi = di hadapan Allah; al ladzĩna = (adalah) orang-orang yang …; kafarũ = kafir; fahum = maka (dan) mereka; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
inna syarrodda wãbbi ‘indallãhil ladzĩna kafarũ fahum lã yu’minũn.
55. Sesungguhnya, binatang melata yang sangat buruk adalah orang-orang kafir, dan mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu disamakan dengan binatang melata.

alladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhadta = kamu terimat perjanjian; min hum = dengan mereka; tsumma = kemudian; yangqudhũna = mereka mengingkarinya; ‘ahdahum = janji mereka; fĩ = pada; kulli = setiap; marrotin = kali; wa hum = dan mereka; lã yattaqũn = mereka tidak takut.
alladzĩna ‘ãhatta min hum tsumma yangqudhũna ‘ahdahum fĩ kulli marrotin wa hum lã yattaqũn.
56. Orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, setiap kali mereka selalu mengingkarinya, karena mereka tidak takut kepada Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Salah satu ciri orang kafir adalah kalau berjanji mereka tidak menepatinya, mereka ingkar. Saat itu, orang-orang Yahudi berjanji untuk tidak menyerang, tidak memusuhi, ternyata mereka mengkhianati perjanjian itu. Oleh karena itu Umat Islam harus selalu berjaga-jaga, berhati-hati terus, namun jangan memulai menyerang. Tunjukkan Umat Islam beri’tikad baik untuk hidup bermasyarakat secara wajar, Islami.

fa immã = maka jika; tatsqofannahum = kamu sekalian menemui mereka; fil harbi = dalam peperangan; fa syarrid = maka cerai-beraikanlah; bihim = keadaan mereka; man = siapa saja; kholfahum = yang di belakang mereka; la’alahum = supaya mereka; yadzdzakkarũn = mereka mengambil pelajaran.
fa immã tatsqofannahum fil harbi fa syarrid bihim man kholfahum la’alahum yadzdzakkarũn
57. Maka, jika engkau (Muhammad) mengungguli mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka, dan lemahkanlah mereka, agar mereka mengambil pelajaran.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada Nabi Muhammad, kalau Umat Islam unggul dalam peperangan, orang-orang yang di belakang mereka (para pengikutnya) harus dilemahkan keyakinan atas apa yang sudah dilakukannya itu. Sesungguhnya mereka dalam posisi salah.

wa imma = dan jika; takhōfanna = kamu sekalian takut; min qaumin = dari kaum; khiyaanatan = yang berkhianat; fambid = maka kembalikan; ilaihim = kepada mereka; ‘alã sawã-in = dengan jujur; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al khō-inĩn = orang-orang yang berkhianat.
wa imma takhōfanna min qaumin khiyaanatan fambid ilaihim ‘alã sawã-in, innallãha lã yuhibbul khō-inĩn.
58. Dan jika kamu sekalian sungguh-sungguh takut pengkhianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pengarahan agar tidak terjadi lagi pengkhianatan, maka perjanjian itu harus disodorkan kembali agar ditaati, dan harus diingatkan bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berkhianat.

wa lã = dan janganlah; yahsabanna = mengira; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; sabaqũ = mereka terlepas dari; innahum = sesungguhnya; lã yu’jizũn = tidak dapat melemahkan (Allah).
wa lã yahsabannal ladzĩna kafarũ sabaqũ, innahum lã yu’jizũn.
59. Dan janganlah orang-orang kafir mengira, mereka akan dapat lepas dari kekuasaan Allah, Sungguh mereka tidak dapat melemahkan Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perjuangan berat Nabi Muhammad dan para pengikutnya sampai sekarang adalah meyakinkan orang-orang kafir atas kekuasaan Allah di alam semesta ini yang di dalamnya ada manusia yang mempunyai beraneka ragam keinginan, kemauan, kesukaan. Orang-orang kafir tidak akan dapat melemahkan Allah.

wa a’iddũ = dan siapkanlah; lahum = untuk mereka; mastatho’tum = apa yang kamu sanggupi; min quwwatin = dari kekuatan; wa mir ribãthi = dan dari yang ditambat; al khoili = kuda; turhibũna = kamu menggetarkan; bihĩ = dengannya; ‘aduwwallãhi = musuh Allah; wa ‘aduwwakum = dan musuh kamu; wa ãkhorĩna = dan orang-orang lain; min dũnihim = dari selain mereka; lã ta’lamũnahum = kamu tidak mengetahui mereka; allãhu = Allah; ya’lamuhum = mengetahui mereka; wa mã = dan apa yang; tunfiqũ = kamu menafkahkan; min syai-in = dari sesuatu; fĩ sabĩlillãhi = untuk jalan Allah; yuwaffa = dicukupkan; ilaikum = kepadamu; wa antum = dan kamu; lã tuzhlamũn = kamu tidak dianiaya.
wa a’iddũ lahum mastatho’tum min quwwatin wa mir ribãthil khoili turhibũna bihĩ ‘aduwwallãhi wa ‘aduwwakum wa ãkhorĩna min dũnihim lã ta’lamũna humullãhu ya’lamuhum, wa mã tunfiqũ min syai-in fĩ sabĩlillãhi yuwaffa ilaikum wa antum lã tuzhlamũn.
60. Dan siapkanlah kekuatan apa saja (fisik dan nonfisik) yang kamu sanggup mengadakan untuk menghadapi mereka, seperti kuda-kuda yang siap pakai (berperang), dengan cara itu kamu dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu, dan orang-orang lain selain mereka, yang kamu tidak mengetahui, sedang Allah mengetahuinya. Dan apa saja yang kamu nafkahkan untuk sesuatu di jalan Allah, akan dicukupkan balasannya, dan kamu tidak akan teraniaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Persiapan perang fisik dan nonfisik dengan berbagai ilmunya merupakan strategi yang harus dilakukan agar lawan Allah dan lawan orang yang beriman menjadi takut. Segala upaya, segala harta yang dinafkahkan untuk menghadapi lawan Allah dan lawan orang yang beriman akan mendapat balasan dari Allah.

wan in = dan jika; janahũ = mereka cenderung; lissalmi = kepada perdamaian; fajnah = maka hendaknya kamu cenderung; lahã = kepadanya; tawakkal = bertawakallah; ‘alãllãhi = kepada Allah; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wan in janahũ lissalmi fa-ajnah lahã tawakkal ‘alãllãhi, innahũ huwas samĩ’ul ‘alĩm.
61. Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka hendaklah kamu juga cenderung kepada perdamaian. Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, jika orang-orang kafir itu cenderung untuk mau berdamai, maka orang mukmin pun harus cenderung untuk mau berdamai. Tentunya harus selalu waspada, seperti yang disarankan ayat 60 di atas. Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui segala apa yang dilakukan makhluk-Nya.

wa in = dan jika; yurĩdũ = mereka bermaksud; an yakhda’ũka = mereka akan menipu kamu; fa inna = maka sesungguhnya; hasbakallãh = cukuplah Allah bagimu; huwa = Dia; al ladzĩ = Yang; ayyadaka = memperkuat kamu; bi nashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; wa bi = dan bersama; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
wa in yurĩdũ an yakhda’ũka fa inna hasbakallãh, huwal ladzĩ ayyadaka bi nashrihĩ wa bil mu’minĩn.
62. Dan jika mereka bermaksud akan menipu kamu, maka sesungguhnya, cukuplah bagimu, Allah (menjadi pelindung). Dialah Yang memperkuat kamu bersama orang-orang yang beriman dengan pertolongan-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw.. dan Kaum mukminin, kemungkinan orang-orang kafir itu akan menipunya. Allah menganjurkan agar selalu percaya bahwa Allah lah yang akan memberi kekuatan dan melindungi Nabi bersama orang-orang yang beriman.

wa allafa = dan Dia telah mempersatukan; baina = antara; qulũbihim = hati-hati mereka; lau = walaupun; anfaqta = kamu membelanjakan; mã = apa (kekayaan); fil ardhi = dari bumi; jamĩ’an = semuanya; mã allafta = kamu tidak dapat mempersatukan; baina = antara; qulũbihim = hati-hati mereka; wa lã kinnallãha = akan tetapi Allah; allafa = mempersatukan; bainahum = di antara mereka; innahũ = sesungguhnya, Dia; azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wa allafa baina qulũbihim lau anfaqta mã fil ardhi jamĩ’am mã allafta baina qulũbihim wa lã kinnallãha allafa bainahum, innahũ azĩzun hakĩm.
63. Dan Dia telah mempersatukan hati-hati mereka, walaupun kamu membelanjakan kekayaan yang ada di bumi ini semuanya, tentu kamu tidak dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan di antara mereka. Sesungguhnya, Dia Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang mempersatukan hati-hati manusia. Nabi Muhammad saw.. atau siapa pun, seandainya menggunakan semua kekayaannya di dunia ini, tidak akan dapat mempersatukan hati-hati manusia. Hanya Allah saja yang dapat melakukan segala sesuatu di alam semesta ini.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi; hasbukallãhu = cukuplah bagi kamu Allah (Yang menjadi penolong); wa mani = dan orang; at taba’aka = yang mengikuti kamu; mina = dari; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman
yã ayyuhan nabiyyu hasbukallãhu wa manit taba’aka minal mu’minĩn.
64. Wahai nabi, cukuplah Allah (Yang menjadi penolong) bagi kamu dan orang-orang beriman yang mengikuti kamu,
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah himbauan Allah kepada Nabi dan para pengikutnya agar selalu bergantung kepada-Nya. Upaya manusia, perkenan tercapainya juga tergantung pertolongan Allah.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi; harridhi = kobarkanlah semangat; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; ‘alal qitãli = untuk berperang; in yakun = jika ada; minkum = di antara kamu; ‘isyrũna = dua puluh; shōbirũna = orang-orang yang sabar; yaghlibũ = mereka mengalahkan; mi-ataini = dua ratus; wa in yakun = jika ada; minkum = di anrata kamu; mi-atun = seratus; yaghlibũ = mereka dapat mengalahkan; alfan = seribu; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; kafarũ = kafir; bi annahum = disebabkan mereka; qaumun = kaum (golongan); lã yafqohũn = orang-orang yang tidak mengerti (peperangan)
yã ayyuhan nabiyyu harridhil mu’minĩna ‘alal qitãli, in yakum minkum ‘isyrũna shōbirũna yaghlibũ mi-ataini, wa in yakum minkum mi-atun yaghlibũ alfam minal ladzĩna kafarũ bi annahum qaumul lã yafqohũn.
65. Wahai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh), dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, karena mereka itu orang-orang yang tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi agar mengobarkan semangat berperang orang-orang mukmin dengan bekal pemahaman tentang dasar dan tujuan perang serta kesabaran untuk mendapatkan rido Allah. Jumlah orang yang sedikit dapat mengalahkan jumlah orang yang berlipat-lipat banyaknya jika dibekali ilmu, hukum, tekad, dan kesabaran untuk mendapat rido dari Allah. Lihat ayat 64.

al ãna = sekarang; khaffafallãhu = Allah telah meringankan; ‘ankum = kepadamu; wa’alima = dan Dia telah mengetahui; anna = sesungguhnya; fĩkum = pada kamu; dho’fãn = kelemahan; fa in = maka jika; yakun = ada; min kum = di antara kamu; mĩ-atun = seratus; shōbirotun = orang-orang yang sabar; yaghlibũ = mereka mengalahkan; mi’ataini = dua ratus; wa in = dan jika; yakun = ada; min kum = di antara kamu; alfun = seribu; yaghlibũ = mereka mengalahkan; alfaini = dua ribu; bi ‘idznillãh = dengan izin Allah; wallãhu = dan Allah; ma’a = bersama; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.
al ãna khaffafallãhu ‘ankum wa’alima anna fĩkum dho’fãn, fa in yakum min kum mĩ-atun shōbirotun yaghlibũ mi’ataini, wa in yakum min kum alfun yaghlibũ alfaini bi ‘idznillãh, wallãhu ma’ash shōbirĩn.
66. Sekarang Allah telah meringankan untuk kamu, dan Dia telah mengetahui, dirimu ada kelemahan. Maka jika, ada di antara kamu seratus orang yang sabar, tentu mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh). Dan jika ada di antara kamu seribu (yang sabar), mereka dapat mengalahkan dua ribu (orang musuh) dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahakuat. Allah berhak membantu meringankan beban makhluk-Nya (Nabi Muhammad saw.. beserta para pengikutnya). Allah Maha Mengetahui kelemahan makhluk-Nya. Allah berhak menolong makhluk yang sabar dan diridoi untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak, atas izin Allah. Sabar menegakkan kebenaran.

mã kaana = tidak pantas; li nabiyyin = bagi seorang nabi; an yakũna = dia adalah; lahũ = baginya; asrō = tawanan; hattã = sehingga; yutskhina = ia memecah-belah; fĩl ardhi = di muka bumi; turĩdũna = kamu menghendaki; ‘arodhod dun-yã = harta benda duniawi; wallãhu = dan Allah; yurĩdul akhiroh = menghendaki akhirat; wallãhu ‘azĩzun hakĩm = dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
mã kaana li nabiyyin an yakũna lahũ asrō hattã yutskhina fĩl ardhi, turĩdũna ‘arodhod dun-yã, wallãhu yurĩdul akhiroh, wallãhu ‘azĩzun hakĩm
67. Tidak pantas bagi seorang Nabi yang dapat melumpuhkan dunia mempunyai tawanan di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedang Allah menghendaki (pahala) akhirat. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Untuk mencapai kemenangan, Nabi Muhammad saw.. tidak pantas menawan musuh. Soal barang rampasan perang dan tebusan itu aturan Allah, bukan kehendak Nabi, bukan bermaksud keduniaan, tapi untuk keberhasilan dakwah agama Islam, melaksanakan peraturan Allah, mengagungkan Allah. Demi pahala akhirat. Lihat ayat 64.

lau lã = kalau tidak ada; kitãbun = ketetapan; minallãhi = dari Allah; sabaqo = terdahulu; lamassakum = tentu menimpa kamu; fĩmã = karena apa; akhodz tum = kamu telah mengambil; ‘adzãbun = siksaan; ‘azhĩm = yang berat.
lau lã kitãbum minallãhi sabaqo lamassakum fĩmã akhodz tum ‘adzãbun ‘azhĩm.
68. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah (ghanimah), tentu kamu ditimpa siksaan yang berat karena apa (tebusan tawanan) yang kamu ambil.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan membagi barang rampasan perang dan tebusan tawanan itu dari Allah, bukan manusia yang membuat aturan, juga bukan dari Nabi.

fa kulũ = maka makanlah; mimmã = dari apa (sebagaian); ghonimtum = rampasan perang kamu sekalian; halalan = halal; thoyyiban = baik; wa taqullãh = dan bertakwalah; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofurun = Maha Pengampun; rohĩma = Maha Penyayang.
fa kulũ mimmã ghonimtum halalan thoyyibaw wa taqullãh, innallãha ghofurur rohĩma
69. Maka makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu peroleh itu sebagai makanan yang halal dan baik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah memakan sebagian rampasan perang sebagai makanan yang halal dan baik, bertakwa hanya kepada-Nya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi, qul = katakanlah; liman = kepada orang; fĩ aidiikum = dalam kekuasaanmu; minal asrō = dari tawanan; in = jika; ya’lamillãhu = Allah mengetahui; fĩ qulũbikum = di dalam hatimu; khoiron = kebaikan; yu’tikum = Dia akan memberikan kepadamu; khoirom = kebaikan; mimmã = dari apa; ukhida = telah diambil; minkum = dari kamu; wa yaghfir = dan akan mengampuni; lakum = kepada kamu; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.
yã ayyuhan nabiyyu qul liman fĩ aidiikum minal asrō in ya’lamillãhu fĩ qulũbikum khoiron yu’tikum khoirom mimmã ukhida minkum wa yaghfir lakum, wallãhu ghofũrur rohĩmu.
70. Wahai Nabi, katakanlah kepada orang-orang tawanan yang ada di dalam kekuasaanmu: “Jika Allah mengetahui kebaikan di dalam hatimu, Dia akan memberi kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu, dan Dia akan mengampuni kamu.” Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyampaikan pesan melalui Nabi untuk orang-orang kafir yang ditawan, agar tidak menimbulkan prasangka jelek yang terkait dengan peraturan ghonimah itu.

wa in = dan jika; yurĩdũ = mereka bermaksud; khiyaanataka = berkhianat kepadamu; faqod = maka sesungguhnya; khãnũllãha = mereka berkhiatan kepada Allah; min qoblu = dari sebelum; fa-amkana = lalu Dia menjadikan (kamu berkuasa); min hum = terhadap mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
wa in yurĩdũ khiyaanataka faqod khãnũllãha min qoblu fa-amkana min hum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
71. Dan jika mereka (tawanan) bermaksud berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka itu telah berkhianat kepada sebelum ini, lalu Dia menjadikan (kamu berkuasa) terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Nabi Muhammad saw.. tentang perilaku orang-orang yang ditawan agar hati beliau tetap tenang dan waspada.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa hãjarũ = dan mereka berhijrah; wa jãhadũ = dan berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fĩ sabĩlillãh = pada jalan Allah; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãwãu = memberikan perlindungan; wanashorũ = dan mereka memberikan pertolongan; ulã-ika = mereka itulah; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = menjadi pelindung; ba’dhin = sebgaian yang lain; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa lam = dan tidak; yuhãjirũ = mereka berhijrah; mã lakum = tidak ada bagimu; min walãyatihim = dari memberi pertolongan kepada mereka; min syai-in = dari sesuatu sedikit pun; hattã = sehingga; yuhãjirũ = mereka berhijrah; wa in = dan jika; istanshōrũkum = meminta pertolongan kepadamu; fid diini = dalam agama; fa’alaikumu = maka wajib bagimu; an nashru = memberi pertolongan; illa = kecuali; ‘alã qaumim = atas kaum; bainakum = antara kamu; wa bainahum = dan antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; Wallãhu = dan Allah; bimã = kepada apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.
innal ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wa jãhadũ bi amwãlihim wa anfusihim fĩ sabĩlillãh wal ladzĩna ãwãw wanashorũ ulã-ika ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin, wal ladzĩna ãmanũ wa lam yuhãjirũ mãlakum min walãyatihim min syai-in hattã yuhãjirũ, wa inistanshōrũkum fid diini fa’alaikumun nashru illa ‘alã qaumim bainakum wa bainahum mĩtsãqun. Wallãhu bimã ta’malũna bashĩr.
72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat perlindungan dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu sebagai pelindung dari sebagian yang lain. Dan orang-orang yang beriman dan mereka belum berhijrah, tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu memberi perlindungan kepada mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka (wajib) atasmu memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah Maha Melihat pada apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hijrah berarti: a. Pindah dari suatu tempat yang tidak aman ke tempat yang lebih aman; b. Pindah dari suatu keyakinan ke keyakinan yang lebih benar; c. Pindah dari pengetahuan yang gelap ke pengetahuan yang terang-benderang; Jihad berarti perjuangan menegakkan syari’at agama: a. Perang secara fisik menghadapi kejahatan dan kelaliman kaum kafir yang menyerang kaum Islam; b. Perjuangan melawan setan yang selalu menggoda manusia untuk dijerumuskan ke neraka; c. Perjuangan melawan nafsu-nafsu diri sendiri. Umat Islam diharapkan selalu ada upaya, bekerjasama untuk berhijrah dan berjihad seperti yang dijelaskan di atas melalu dakwah, dan lain-lain kegiatan.

wal ladzĩna kafarũ = dan orang-orang kafir; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = menjadi pelindung; ba’dhin = sebagian yang lain; illã = kecuali; taf’alũhu = kamu sekalian melaksanakannya; takun = terjadi; fitnatun = fitnah (kekacauan); fĩl ardhi = di bumi; wa fasãdun = dan kerusakan; kabĩr = yang besar.
wal ladzĩna kafarũ ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin illã taf’alũhu takun fitnatun fĩl ardhi wa fasãdun kabĩr.
73. Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain, (tidak ada jalan lain) kecuali, kamu melaksanakan (persaudaraan yang teguh), (jika tidak), akan terjadi fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian orang kafir menjadi pelindung sebagian yang lain. Jadi umat Islam juga harus berupaya mengeratkan persaudaraan, meningkatkan upaya dakwah positif agar menjadi cermin Islam yang sesungguhnya cemerlang agar tidak terjadi fitnah (kekacauan) dan kerusakan di muka bumi.

wal ladzĩna ãmanũ = dan orang-orang yang beriman; wa hãjarũ = dan berhijrah; wa jãhadũ = dan berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wal ladzĩna dan orang-orang yang …; ãwau = memberi perlindungan; wa nasharũ = dan mereka menolong; ũlã-ika = mereka itu; humu = mereka; al mu’minũna = orang-orang beriman; haqon = benar; lahu = bagi mereka; maghfirotun = ampunan; warizqun = dan rezeki; karĩm = yang mulia.
wal ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wa jãhadũ fĩ sabĩlillãhi wal ladzĩna ãwauw wa nasharũ ũlã-ika humul mu’minũna haqon, lahum maghfirotun warizqun karĩm.
74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi perlindungan dan mereka menolong (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah yang benar-benar beriman, Merekalah yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia adalah mereka yang benar-benar beriman yaitu mereka yang berhijrah, berjihad di jalan Allah, yang memberi perlindungan dan memberi pertolongan kepada kaum muhajirin.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; mimba’du = dari sesudah itu; wa hãjarũ = dan berhijrah; wajãhadũ = dan berjihad; ma’akum = bersamamu; fa ũlã-ika = maka mereka itulah; minkum = dari kamu; wa ũlũ = dan orang yang mempunyai; al arhami = hubungan kerabat; ba’dhuhum = sebagian mereka; aulã = lebih utama; bi ba’dhin = dengan sebagian yang lain; fĩ kitãbillãhi = di dalam Kitab Allah; inallãha = sesungguhnya Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wal ladzĩna ãmanũ mimba’du wa hãjarũ, wajãhadũ ma’akum fa ũlã-ika minkum, wa ũlũl arhami ba’dhuhum aulã bi ba’dhin fĩ kitãbillãhi, inallãha bi kulli syai-in ‘alĩm.
75. Dan orang-orang yang beriman setelah itu kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat, sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang orang yang termasuk golongan Islam, apakah berkerabat atau tidak berkerabat, akan menentukan haknya masing-masing, sesuai dengan ketentuan dalam Alquran.

007 Al A’raf

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Al A’rãf
(Tempat Tertinggi)
Surat ke-7, Makkiyah, 206 ayat
Juz 8 beralih ke Juz 9 pada ayat 88

Catatan Awal.
Surat ini termasuk bagian dari Assab’uththiwãl (tujuh surat yang panjang). Nama ini terdapat pada ayat 46 yang menceriterakan keadaan orang yang berada di tempat tertinggi, di batas antara surga dan neraka. Surat ini menjelaskan aqidah-aqidah agama taukhid dengan doa dan ibadah; Allah yang mengatur dan menjaga alam semesta; Allah menciptakan hukum-hukum untuk kehidupan di dunia dan di akhirat; Allah bersemayam di Arasy; bantahan terhadap kaum kafirin, musyriqin, munafiqin, fasiqin, dan murtadin yang menyangkut kepalsuan dan syirik; ketauhidan itu sesuai dengan fitrah manusia; Musa berbicara langsung dengan Allah; perihal melihat Allah; perintah beribadah dengan merendahkan diri kepada Allah; Allah memiliki Asma’ul Husna;
Kisah-kisah: Menceriterakan beberapa generasi manusia yang dibinasakan; mengisahkan beberapa rasul dengan penjelasannya; misalnya, penciptaan Nabi Adam a.s. dan anak-cucunya yang dijadikan-Nya khalifah; Nabi Nuh a.s., Nabi Hud, Nabi Shaleh a.s., Nabi Syu’aib a.s., Nabi Musa a.s. dengan masing-masing kaumnya; Kisah-kisah ini terkait dengan surat atau ayat lainnya.
Menegaskan bahwa Alquran ini diturunkan kepada Nabiyang terakhir, berisi perintah agar seluruh manusia mengikuti pedoman yang ada di dalamnya dan melarang mengikuti selainnya; Ada petunjuk tentang adab orang mukmin, adab mendengarkan bacaan Alquran, dan berdzikir, Allah menjelaskan keterangan bahwa para Utusan; para Rasul dimintai tanggung jawab atas tugas yang diberikan-Nya; Timbangan atas segala perbuatan itu berdasarkan kebenaran dan keadilan; Orang yang beruntung adalah orang yang berat timbangan kebenaran dan keadilannya; Orang yang merugi adalah orang yang tidak menjalankan kebenaran dan keadilan; Allah pencipta semua makhluk; manusia diciptakan sebagai makhluk yang terbaik dan diberi kemampuan untuk memilih; kisah permusuhan Bani Adam sebagai khalifah di bumi dengan setan, dan sebagian jin; kehancuran suatu kaum itu karena pilihan hidupnya yang salah, bujukan setan; manusia diuji dengan kekayaan dan kemiskinan; istidraj azab Allah atas orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.

a’udzubillãhi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

alĩf lãm mĩm shōd

allãhu = Allah; lã = tidak ada; ilaha = ilah; ilallãh = selain Allah; Muhammad saw. = Muhammad saw.; ar rasulullah = Rasulullah; shōdiqũn haqqun = sungguh benar; mubĩn = yang nyata.

allãhu lã ila ha ilallãh Muhammadur rasulullah shōdiqũn haqqun mubĩn.

1. Allah, tidak ada ilah lain, selain Allah dan Muhammad saw. itu Rasulullah, sungguh nyata kebenarannya,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat cacatan Q.s. Al Baqarah: 2 : 1. Termasuk ayat mutasyãbihãt, artinya hanya Allah saja yang mengetahui dan memahami maksudnya. Ini hak Allah menyampaikan petunjuk, peringatan, penjelasan, penerangan, pelajaran dengan bahasa Arab melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw. seorang bangsa Arab Suku Quraisy, dan meminta manusia membaca, mempelajari, memahami, dan menanggapi, menafsirkan, atau mengamalkan atau mengajarkannya sesuai dengan alur pikiran yang positif, harus membesarkan Allah.

kitãbun = sebuah Kitab; unzila = diturunkan; ilaika = kepada kamu; fa lã = maka jangan; yakun = ada; fĩshodrika = di dalami dadamu; harojũm = kesempitan, kesedihan; min hũ = karenanya; litundzirō = supaya kamu memberi peringatan; bihĩ= dengannya; wa dzikrō = dan pelajaran; lil mu’minĩn = bagi orang-orang yang beriman.

kitãbun unzila ilaika fa lã yakun fĩshodrika harojũm min hũ litundzirō bihĩwa dzikrã lil mu’minĩn.

2. Sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dan pelajaran dengan Kitab itu bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fungsi Alkitab itu untuk memberi petunjuk (Al Baqarah, 2 : 2), peringatan dan pelajaran, khusus bagi orang yang beriman. Hendaknya diterima dan dijalankan dengan lapang dada, menyenangkan bagi orang yang beriman itu. Surat ini merupakan isyarat perintah agar Alquran ini ditulis kemudian dibaca dengan ejaan bahasa Arab

attabi’ũ = ikutilah; mã unzila = apa yang diturunkan; ilaikum = kepadamu; mir robbikum = dari Rab kamu; wa lã tattabi’ũ = dan jangan mengikuti; min dunihĩ= dari selain Dia; auliyã-a = pemimpin-pemimpin; qolĩlan = amat sedikit; mã tadzakkarũn = apa yang kamu pelajari darinya.

attabi’ũ mã unzila ilaikum mir robbikum wa lã tattabi’ũ min dunihĩ auliyã-a, qolĩlam mã tadzakkarũn.

3. Ikutilah apa yang diturunkan Rab kamu kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia, amat sedikit apa yang kamu pelajari darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar mengikuti apa yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad saw., dan jangan mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Apa yang dipelajari dari Alkitab itu amat sedikit. Yang dipelajari amat sedikit itu harus diamalkan sebaik-baiknya, dan harus terkait dengan bagian-bagian kehidupan, atau ilmu-ilmu lainnya yang terkait dengan masing-masing keahlian. Semuanya harus selalu terkait dengan Allah.

wa kam = dan berapa banyak; min qoryatin = dari negeri-negeri; ahlaknãhã = telah Aku binasakan, fajã-ahã = maka datang kepadanya; ba’sunã = siksaan Aku; bayãtan = di waktu malam hari; au = atau; hum = mereka; qō-ilũn = orang-orang yang beristirahat di tengah hari.

wa kam min qoryatin ahlaknãhã fajã-ahã ba’sunã bayãtan au hum qō-ilũn

4. Dan berapa banyak negeri yang telah Aku binasakan, maka datanglah siksaan-Ku menimpa penduduknya di waktu malam hari atau ketika mereka beristirahat di tengan hari.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah negeri-negeri yang dibinasakan Allah, dan penduduknya mendapat siksaan dari-Nya. Harus menjadi cermin bagi orang-orang yang beriman

fa mã kaana = maka tidak ada; da’wãhum = seruan, keluhan mereka; idz = ketika; jã-ahum = datang kepada mereka; ba’sunã = siksaan Aku; illã = kecuali; an qōlũ = mereka mengatakan; innã = sesungguhnya Aku; kunnã = Aku adalah; dzōlimĩn = orang-orang yang lalim.

fa mã kaana da’wãhum idz jã-ahum ba’sunã illã an qōlũ innã kunnã dzōlimĩn.

5. Maka tidak ada keluhan mereka, ketika datang siksaan-Ku kepada mereka, kecuali mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran orang-orang yang kena siksa saat Hari Pembalasan, mereka menyesali diri mereka sendiri. Mereka lalim kepada dirinya sendiri. Seolah-olah mereka tidak mengenal dirinya sendiri.

fa lanas-‘alanna = maka sesungguhnya Aku akan menanyai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ursila = diutus (Rasul); ilaihim = kepada mereka; wa lanas-‘alanna = dan Aku akan menanyai; al mursalĩn = para Rasul.

fa lanas-‘alannal ladzĩna ursila ilaihim wa lanas-‘alannal mursalĩn.

6. Maka sesungguhnya, Aku akan menanyai orang-orang yang telah diutus (Rasul) kepada mereka, dan sesungguhnya Aku akan menanyai juga para Rasul itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan menanyai orang-orang, dan Rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka.

falanaqushshanna = maka sesungguhnya Aku akan menceriterakan; ‘alaihim = kepada mereka; bi ‘ilmin = dengan pengetahuan; wa mã kunnã = dan Aku tidaklah; ghō-ibĩn = gaib.

falanaqushshanna ‘alaihim bi ‘ilmin, wa mã kunnã ghō-ibĩn.

7. Maka sesungguhnya, Aku akan menceriterakan kepada mereka dengan pengetahuan (apa yang mereka kerjakan), dan Aku tidaklah gaib.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan secara ilmiah kenyataan hidupnya, dan apa saja yang pernah mereka kerjakan. Di dalam ayat lain Q.s. Yã sĩn, 36: 65 anggota tubuh diri mereka sendiri yang yang menceriterakannya. Saat itu, Allah jelas bukti-bukti keberadaan-Nya. Allah dekat sekali dengan makhluk-Nya.

wal waznu = dan timbangan; yauma’idzi = pada hari itu; il haqqu = kebenaran; fa man = maka siapa; tsaqulat = berat; mawãzĩnuhũ = timbangan kebaikannya; fa ‘ũlãika = maka mereka itu; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.

wal waznu yauma’idzinil haqqu, fa man tsaqulat mawãzĩnuhũ fa ‘ũlãika humul muflihũn.

8. Dan timbangan pada hari itu adalah kebenaran, maka siapa yang berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Qōri’ah, 101 ; 6-7. Kebaikan di sini berarti adanya kepercayaan kepada kerasulan Nabi Muhammad saw., dan menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah melalui Nabi Muhammad saw.

wa man = dan siapa; khoffat = ringan; mawãzĩnuhũ = timbangannya; fa ũlaika = maka mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang ….; khosirũ = mereka merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; bi mã = dengan apa; karena; kaanũ = mereka adalah; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; yazhlimũn = mereka ingkar;

wa man khoffat mawãzĩnuhũ fa ũlaikal ladzĩna khosirũ anfusahum bi mã kaanũ bi ãyãtinã yazhlimũn.

9. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Qōri’ah, 101 ; 8. Orang yang mengingkari ayat-ayat Allah adalah orang yang tidak percaya bahwa Alquran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.; orang yang tidak menjalankan segala perintah, dan tidak menjauhi segala larangan dari Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; makkannãkum = menempatkan kamu; fil ardhi = di bumi; wa ja’alnã = dan Aku telah membuat; lakum = bagi kamu; fĩhã = di situ; ma’ãyisya = sumber penghidupan; qolilan = sedikit; mã = apa (kamu; tergantung hubungannya dengan bagian kalimat yang lain); tasykurũn = yang bersyukur.

wa laqod makkannãkum fil ardhi wa ja’alnã lakum fĩhã ma’ãyisya qolilam mã tasykurũn.

10. Dan sesungguhnya, Aku telah menempatkan kamu di bumi, dan Aku telah membuat bagimu sumber penghidupan di situ, tetapi sedikit dari kamu yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36. Sumber penghidupan itu berupa matahari (api), air, udara, tanah yang berjenis-jenis, dengan segala isinya, berupa barang tambang mineral, logam, minyak; tumbuh-tumbuhan, serta binatang-binatang yang dihalalkan untuk dimakan, dan yang diharamkan. Allah menyentuh hati orang yang beriman agar selalu bersyukur atas apa yang dinikmati selama hidupnya di dunia ini.

wa laqod = dan sesungguhnya; kholaqnãkum = Aku telah menciptakan kamu; tsumma = kemudian, lalu; shawwarnãkum = Aku bentuk kamu; tsumma = kemudian, lalu; qulnã = Aku bersabda; lil malãikati = kepada para Malaikat; as judũ = sujudlah; li ãdama = kepada Adam; fa sajadũ = maka mereka (para Malaikat) sujudlah; illã = kecuali; iblĩsa = iblis; lam yakum = dia tidak; minas sãjidiin = termasuk orang-orang yang sujud.

wa laqod kholaqnãkum tsumma shawwarnãkum tsumma qulnã lil malãikatis judũ li ãdama fa sajadũ illã iblĩsa, lam yakum minas sãjidiin.

11. Dan sesungguhnya, Aku telah menciptakan kamu (Adam), lalu Aku bentuk tubuhmu, lalu Aku bersabda kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun sujud, kecuali iblis, dia tidak termasuk makhluk yang sujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingatkan apa yang sudah diungkapkan dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 30 dan 34.

qōla = Allah bersabda; mã mana’aka = apa yang menghalangi kamu; allã = untuk tidak; tasjuda = bersujud; idz = ketika; amartuka = Aku memerintah kamu; qōla = Iblis berkata; ana = aku; khoirun = lebih baik; minhu = darinya; kholaqtanĩ= Engkau ciptakan saya; min nãrin = dari api; wa khlaqtahũ = dan Engkau ciptakan dia; min thĩn = dari tanah.

qōla mã mana’aka allã tasjuda idz amartuka, qōla ana khoirum minhu kholaqtanĩmin nãrin wa kholaqtahũ min thĩn.

12. Allah bersabda: “Apakah yang menghalangi kamu tidak sujud (kepada Adam) ketika Aku memerintah kamu?”, berkata Iblis: “saya lebih baik darinya, saya, Engkau ciptakan dari api, dan dia, Engkau ciptakan dari tanah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan penjelasan lebih jauh dari Q.s. Al Baqarah, 2 : 34 Iblis enggan dan takabur, karena melihat asal-usul dirinya, dan ia termasuk golongan kafir. Allah Mahamulia, sesungguhnya Allah memuliakan makhluk-Nya. Iblis diciptakan dengan zat yang lebih mulia daripada zat asal manusia. Seharusnya iblis meniru, apa Yang Diperbuat Allah. Karena iblis tidak mau memiliakan manusia, jadilah mereka durhaka kepada Allah.

qōla = Allah bersabda; fahbith = maka turunlah kamu; minhã = dari sana (surga); famã = maka tidak; yakũnu = patut; laka = bagi kamu; an tatakabbaro = kamu menyombongkan diri; fĩhã = di dalamnya; fa akhruj = maka keluarlah kamu; innaka = sesungguhnya kamu; minash shoghirĩn = dari golongan orang-orang yang hina.

qōla fahbith minhã famã yakũnu laka an tatakabbaro fĩhã fa akhruj innaka minash shoghirĩn.

13. Allah bersabda: “Turunlah kamu dari surga itu, karena tidak patut kamu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah kamu, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Surga itu tidak pantas ditempati oleh makhluk yang sombong. Maka, manusia tidak boleh menyombongkan diri karena asal-usulnya, karena kekayaannya, karena kepandaiannya, karena kedudukannya, dan lain-lain. Iblis, setan, dan sebagian dari jin itu sombong, oleh karena itu mereka diusir dari surga. Pada hakekatnya mereka menjadi hina karena kesombongannya itu.

qōla = iblis berkata; anzhirnĩ= beri tangguh saya; ilã yaumi = sampai hari; yub’atsũn = mereka dibangkitkan.

qōla anzhirnĩilã yaumi yub’atsũn.

14. Iblis berkata: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Iblis memohon tangguh waktu kematiannya kepada Allah sampai hari kebangkitan. Maksudnya agar dapat menggoda kehidupan manusia untuk menjadi temannya nanti di neraka. Manusia diberi tangguh dapat hidup di dunia agar menggunakan usianya untuk bertobat kepada Allah (Q.s. Al Baqarah, 2 : 225). Kalau kafir, siksa di neraka tidak ditangguhkan (Q.s. Al Baqarah, 2 : 162; Ali ‘Imran, 3 : 88).

qōla = Allah bersabda; innaka = sesungguhnya kamu; min = dari; al munzhorĩn = orang-orang yang diberi tangguh.

qōla innaka minal munzhorĩn.

15. Allah bersabda: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

Catatan : Allah memberikan tangguh kepada makhluk-Nya, ada dua kemungkinan. Pertama memberikan kesempatan untuk mau bertobat, memohon ampun kepada Allah. Kedua, kesempatan untuk berbuat dosa karena kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan. Kelak, Allah tidak memberi tangguh untuk memberikan imbalan atas kebaikan amalnya, atau memberi hukuman kepada orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad.

qōla = Iblis berkata; fa bimã = maka karena; aghwaitanĩ= Engkau menghukum saya menjadi sesat; la aq’udanna = sungguh saya akan menghalangi; lahum = kepada mereka; shirōthōka = jalan Engkau; al mustaqĩm = yang lurus.

qōla fa bimã aghwaitanĩla aq’udanna lahum shirōthōkal mustaqĩm.

16. Iblis berkata: “Maka, karena Engkau menghukum saya sesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena kesombongannya, karena mengingkari atau menentang perintah Allah, setan dihukum. Setan itu sesat. Orang sesat adalah orang yang menentang perintah Allah. Pekerjaan orang yang sesat selalu berupaya dengan berbagai cara, dan dari berbagai jurusan menghalangi orang lain, makhluk lain agar tidak melalui jalan lurus yang disediakan Allah menuju haribaan-Nya.

tsumma = kemudian; la-atiyannahum = sungguh, saya akan mendatangi mereka; mim baini aidĩhim = dari muka mereka; wa min kholfihim = dan dari belakang mereka; wa ‘an aimaanihim = dari sebelah kanan mereka; wa ‘an syamã-ilihim = dan dari sebelah kiri mereka; wa lã tajidu = dan Engkau tidak mendapati; aktsarohum = kebanyakan mereka; syãkirĩn = orang-orng yang bersyukur.

stumma la-atiyannahum mim baini aidĩhim wa min kholfihim wa ‘an aimaanihim wa ‘an syamã-ilihim wa lã tajidu aktsarohum syãkirĩn.

17. Kemudian, sungguh saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka, orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi seluruh manusia agar selalu berhati-hati, waspada kepada gerik-gerik setan di dunia ini. Setan akan menggoda manusia dari berbagai jurusan, dan dengan berbagai cara agar manusia terjerumus ke dalam perangkapnya, menjadi orang-orang yang tidak bersyukur, atas apa yang telah diberikan Allah.

qōla = Allah bersabda; ukhruj = keluarlah kamu; min hã = dari surga; madz-ũman = terhina; mad-hũro = terusir; laman = sesungguhnya, siapa; tabi’aka = mengikuti kamu; min hum = di antara mereka; la-amla-anna = sungguh akan Aku penuhi; jahannama = jahanam; min kum = dengan kamu; ajma’ĩn = semuanya.

qōlakhruj min hã madz-ũmam mad-hũro, laman tabi’aka min hum la-amla-anna jahannama min kum ajma’ĩn.

18. Allah bersabda: “Keluarlah kamu dari surga sebagai orang yang terhina dan terusir, sesungguhnya, siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, sungguh, akan Aku penuhi neraka jahanam dengan kamu semuanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bandingkan dengan Q.s Al Baqarah, 2 : 36, dan 38 untuk Nabi Adam. Ayat ini khusus untuk iblis.

wa yã ãdamu = Dan (Allah bersabda kepada) Adam; us kun = tinggallah; anta = engkau, kamu; wa zaujuka = dan istrimu; al jannata = di surga; fa kulã = maka kamu berdua makanlah; min haitsu = dari apa saja; syi’tumã = kamu berdua sukai, ingini; wa lã taqrobã = dan kamu berdua jangan mendekati; hãdzihi = ini; asy syajarota = pohon; fa takũna = maka kamu berdua; mina = dari, termasuk; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa yã ãdamus kun anta wa zaujukal jannata fa kulã min haitsu syi’tumã wa lã taqrobã hãdzihisy syajarota fa takũna minazh zhōlimĩn.

19. Dan Allah bersabda: “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga, makanlah kamu berdua, apa saja yang kamu berdua suka, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, kalau kamu berdua dekati, maka kamu berdua menjadi orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 35 perintah ini sudah disampaikan. Mendekati yang dilarang saja sudah dianggap, termasuk lalim. Apalagi sampai menjamah, atau sampai memakan buahnya.

fa waswasa = maka membisikkan pikiran jahat; lahuma = kepada keduanya; asy syaithōnu = setan; liyubdiya = untuk menampakkan; lahumã = kepada keduanya; mã wũriya = apa yang tertutup; ‘anhumã = dari keduanya; min = dari; sau-ãtihimã = aurat (kemaluan) keduanya; wa qōla = dan setan berkata; mã nahãkumã = tidak melarang kamu berdua; robbukumã = Rab kamu berdua; ‘an hãdzihi = dari ini; asy syajaroti = pohon; illã = kecuali; an takũnã = supaya kamu berdua jadi; malakaini = dua malaikat; au takũnã = atau kamu berdua jadi; minal khōlidĩn = dari orang-orang yang kekal.

fa waswasa lahumasy syaithōnu liyubdiya lahumã mã wuriya ‘anhumã min sau-ãtihimã wa qōla mã nahãkumã robbukumã ‘an hãdzihisy syajaroti illã an takũnã malakaini au takũnã minal khōlidĩn.

20. Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya (Adam dan istrinya), untuk menampakkan kepada keduanya, apa yang tertutup dari keduanya (keinginan; nafsu-nafsu; kemaluannya; aurat keduanya), dan setan berkata, “Rab kamu tidak melarang kamu berdua mendekati pohon ini, karena supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat, atau kamu berdua (tidak) menjadi orang-orang yang kekal dalam surga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 36 setan menggelincirkan Adam dan istrinya. Ayat ini menjelaskan lebih jauh tentang tipu-daya setan

wa qōsamahumã = dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya; innĩ = sesungguhnya; lakumã = kepada kamu berdua; lamina = sungguh termasuk; an nãshihĩn = orang-orang yang memberi nasihat.

wa qōsamahumã innĩlakumã laminan nãshihĩn.

21. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: “Sesungguhnya, saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran bagi manusia agar jangan percaya pada bujuk rayu setan. Mereka mengaku dirinya penasihat. Manusia harus kritis menggunakan akal dan pikiran yang dikaruniakan Allah, agar hidupnya selamat di dunia sampai ke akhirat.

fa dollãhumã = maka dia membujuk keduanya; bi ghurũr = dengan tipu-daya; fa lammã = maka setelah; dzãqo = keduanya merasakan; asy syajarota = (buah) pohon itu; badat = tampaklah; lahumã = kepada keduanya; sauãtuhumã = aurat keduanya; wa thofiqō = dan keduanya memulai; yakhshifãni = menutupi aurat keduanya; ‘alaihimã = atas keduanya; min waroqi = dengan daun; al jannah = surga; wa nadãhumã = dan memanggil keduanya; robbuhumã = Rab keduanya; alam = bukankah; anhakuma = telah Aku larang kamu berdua; ‘antilkuma = dari itu; asy syajaroti = pohon; wa aqul = dan telah Aku katakan; lakumã = kepada kamu berdua; inna = sesungguhnya; asy syaithōna = setan; lakumã = kepada kamu berdua; ‘aduwun = musuh; mubĩn = yang nyata.

fa dollãhumã bi ghurũr, fa lammã dzãqosy syajarota badat lahumã sauãtuhumã wa thofiqō yakhshifãni ‘alaihimã min waroqil jannah, wa nadãhumã robbuhumã alam anhakuma ‘antilkumasy syajaroti wa aqul lakumã innasy syaithōna lakumã ‘aduwum mubĩn.

22. Maka dia (setan) membujuk keduanya dengan tipu-daya (untuk memakan buah) pohon itu, maka setelah keduanya merasakan buah pohon, tampaklah aurat bagi keduanya, dan keduanya mulai menutupi auratnya dengan daun surga. Dan Rab mereka memanggilnya: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua terhadap pohon itu, dan telah Aku katakan kepada kamu berdua, bahwa sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini menjadi cermin. Kita harus memperhatikan peringatan Allah tentang setan sebagai musuh yang nyata, lihat Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 142; al A’raf, 7 : 36; Yũsuf, 12 : 5.

qōlã = kduanya berkata; robbanã = yã Rab kami; zholamnã = kami melalimi; anfusanã = diri kami sendiri; wa il lam = dan jika tidak; taghfir = Engkau mengampuni; lanã = bagi kami; wa tarhamnã = dan Engkau memberi rahmat kepadaku; lana = bagi kami; kũnanna = sungguh kami menjadi; mina = dari, menjadi; al khōsirĩn = orang yang merugi.

qōlã robbanã zholamnã anfusanã wa il lam taghfirlanã wa tarhamnã lanakũnanna minal khōsirĩn.

23. Keduanya berkata: “Yã Rab kami, kami telah melalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan memberi rahmat kepada kami, sungguh kami akan menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa manusia yang harus diucapkan saat selesai salat fardhu.

qōla = (Allah) bersabda; ahbithũ = turunlah kamu berdua; ba’dhukum = sebagain kamu; liba’dhin = bagi sebagian yang lain; ‘aduwun = musuh; wa lakum = dan bagi kamu; fil ardhi = di bumi; mustaqorrun = tempat menetap; wa matã’un = dan kesenangan; ilãhĩn = sampai waktu yang ditetapkan.

qōla ahbithũ ba’dhukum liba’dhin ‘aduwun, wa lakum fil ardhi mustaqorrun wa matã’un ilãhĩn.

24. Allah bersabda: “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu tempat menetap dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditetapkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 142; al A’raf, 7 : 22, 36; Yũsuf, 12 : 5. Di samping manusia menjadi musuh, juga binatang tumbuh-tumbuhan, alam, dan terutama setan.

qōlã = Allah bersabda; fĩhã = di sana (bumi); tahyauna = kamu hidup; wa fĩhã = di sana (bumi); tamũtũna = kamu mati; wa minhã = dan dari sana; tukhrajũn = kamu dibangkitkan, dikeluarkan.

qōlã fĩhã tahyauna wa fĩhã tamũtũna wa minhã tukhrajũn.

25. Allah bersabda: “di bumi kamu hidup dan di bumi kamu mati, dari bumi kamu dibangkitkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan asal-usul kita dan tempat kebangkitan kita nanti. Dalam sastra Jawa dikenal dengan istilah sangkan paraning dumadi yang artinya asal dan arah hidup makhluk (persangkaan asal dan arah hidup makhluk), khususnya manusia yang diberi kelebihan menggunakan akal, pikiran, dan rasa dalam keberadaan hidupnya sehingga dapat menciptakan bahasa yang dapat dijadikan alat untuk menyampaikan berbagai pedapat yang dapat disimpan dalam bentuk tulisan atau berbagai rekaman. Juga bisa menjadi ciri dari kelompok bangsa atau suku bangsa tertentu.

yã banĩãdama = wahai Anak Keturunan Adam, qod = sesungguhnya; anzalnã = Aku telah menurunkan; ‘alaikum = kepada kamu sekalian; libãsan = pakaian; yuwãrĩ= menutupi; sauãtikum = auratmu; wa rĩsyan = dan perhiasan; wa li bãsu = dan pakaian; at taqwã = takwa; dzãlika= demikian itu; khoiru = lebih baik; dzãlika = demikian itu; min ãyãtillãhi = dari sebagian tanda-tanda ada-Nya Allah; la’allahum = supaya mereka; yadzakkarũn = mereka ingat.

yã banĩãdama qod anzalnã ‘alaikum libãsan yuwãrĩsauãtikum warĩsyan, wa li bãsut taqwã dzãlika khoiru, dzãlika min ãyãtillãhi la’allahum yadzakkarũn.

26. Wahai Anak Keturunan Adam, sesungguhnya, Aku telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Demikian itulah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya mereka ingat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini dan ayat berikutnya merupakan peringatan dan pembelajaran bagi Bani Adam, manusia turunan Adam. Manusia yang diciptakan Allah itu berbudaya, berpakaian untuk menutupi aurat, dan pakain perhiasan. Allah memberi pelajar bahwa pakaian takwalah yang lebih baik. Artinya lambang pakaian takwa itu terlihat dari penampilan, sikap, perbuatan, atau tingkah-laku, dan penampilan bahasanya yang santun, berisi, berbobot, bermakna yang berkeyakinan penuh kepada keesaan Allah dengan para Nabi Utusan-Nya..

yã banĩãdama = wahai Bani Adam; lã = jangan (sekali-kali); yaftinannakumu = kamu dapat dinipu; asy syaithōnu = setan; kamã = sebagimana; akhroja = ia mengeluarkan; abawaikum = kedua ibu-bapakmu; mina = dari; al jannati = surga; yanzi’u = ia menanggalkan; ‘anhumã = dari keduanya; libãsahumã = pakaian keduanya; liyuriya = untuk keduanya memperlihatkan; humã = keduanya; sauãtihimã = aurat keduanya; innahũ = sesungguhnya; yarōkum = ia dan golongannya melihat kamu; huwa = ia; wa qobĩluhũ = dan golongannya; min haitsu = di mana; lã = tidak; taraunahum = kamu melihat mereka; innã = sesungguhnya; ja’alna = Aku telah menjadikan; asy syayãthĩna = setan-setan; auliyã-a = pemimpin-pemimpin; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; lã yu’minũn = tidak beriman.

yã banĩãdama lã yaftinannakumusy syaithōnu kamã akhroja abawaikum minal jannati yanzi’u ‘anhumã libãsahumã liyuriya humã sauãtihimã, innahũ yarōkum huwa waqobĩluhũ min haitsu lã taraunahum, innã ja’alnasy syayãthĩna auliyã-a lilladzĩna lã yu’minũn.

27. Wahai Bani Adam, jangan sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga, ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan auratnya. Sesung-guhnya, ia dan golongannya dapat melihat di mana kamu, dan kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya, Aku telah menjadikan setan-setan itu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia keturunan Adam perilaku dan sifat-sifat setan. Setan itu akan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah.

wa idzã = dan, apabila; fa’alũ = mereka melakukan; fãhisyatan = perbuatan keji; qōlũ = mereka berkata; wajadnã = kami dapati; ‘alaihã = mengerjakannya; abã-anã = nenek-moyang kami; wallãhu = dan Allah; amaronã = menyuruh Aku; bihã = dengannya; qul = katakanlah; innallãha = sesungguhnya Allah; lã ya’muru = tidak menyuruh; bil fahsyã-i = dengan perbuatan keji; ataqũlũna = mengapa kamu mengatakan; ‘alallãhi = kepada Allah; mã lã = apa yang tidak; ta’lamũn = kamu ketahui.

wa idzã fa’alũ fãhisyatan qōlũ wajadnã ‘alaihã abã-anã wallãhu amaronã bihã qul innallãha lã ya’muru bil fahsyã-i, ataqũlũna ‘alallãhi mã lã ta’lamũn.

28. Dan, apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami menyaksikan nenek-moyang kami mengerjakan yang demikian. Dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan keji, mengapa kamu mengatakan kepada Allah, apa yang tidak kamu ketahui?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan keji, contohnya membunuh anak perempuan, berbuat tidak adil, menentang perintah Allah, melakukan pekerjaan yang dilarang Allah. “mengatakan kepada Allah, apa yang tidak kamu ketahui” adalah perkataan orang kafir yang berbunyi: “Allah menyuruh membunuh anak perempuan”, padahal Allah tidak menyuruh perbuatan keji itu.
Allah mengingatkan agar selalu kritis apa yang dikerjakan, atau apa yang disarankan setan

qul = katakanlah; amaro = telah menyuruh; robbĩ= Rab Aku; bil qisthi = dengan adil; wa aqimũ = dan luruskan; wujũhakum = wajah kamu sekalian; ‘inda kulli = di setiap; masjidin = sujud, salat; wad’ũhu = kamu berdoalah; mukhlishĩna = dengan ikhlas; lahuddiin = kepada agamanya; kamã = sebagaimana; bada-akum = Dia menciptakan kamu sebelumnya; ta’ũdũn = kamu akan dikembalikan.

qul amaro robbĩbil qisthi wa aqimũ wujũhakum ‘inda kulli masjidin wad’ũhu mukhlishĩna lahuddiin, kamã bada-akum ta’ũdũn.

29. Katakanlah:“Rab Aku telah menyuruh berbuat adil, dan luruskanlah mukamu (ingatanmu) setiap sujud (salat), dan berdoalah dengan ikhlas dan taat kepada-Nya, sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada awalnya, demikian pula, setelah itu kamu akan dikembalikan kepada-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh kita berbuat adil. Ketika sujud kita harus sungguh-sungguh berdoa memohon yang baik-baik, yang menyenangkan, dan mengingat Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya dengan ikhlas pada awalnya, dan pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

farĩqon = segolongan; hadã = Dia beri petunjuk; wa farĩqon = dan segolongan; haqqo = pasti; ‘alaihimu = atas mereka; adh dholãlah = kesesatan; innahumu = sesungguhnya mereka; at takhodzu = mereka menjadikan; asy syayãtĩna = setan-setan; auliyã-a = pelindung; min dũnillãhi = dari selain Allah; wa yahsabũna = dan mereka mengira; annahum = bahwa mereka; muhtadũn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

farĩqon hadã wa farĩqon haqqo ‘alaihimudh dholãlah, innahumut takhodzusy syayãtĩna auliyã-a min dũnillãhi wa yahsabũna annahum muhtadũn.

30. Segolongan Dia beri petunjuk, dan segolongan lagi dipastikan mereka sesat. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain dari Allah, dan mereka mengira mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memastikan sebagian orang yang diberi petunjuk.dan sebagian lagi orang sesat. Orang yang sesat merasa mendapat petunjuk. Petunjuk mereka adalah kesesatan setan. Maka berhati-hatilah dengan setan-setan yang selalu menggoda kita. Kita harus selalu mengingat Allah Yang Mahatunggal. Tidak ada ilah lain selain Allah.

yã banĩãdama = wahai Bani Adam; khudzũ = pakailah; zĩnatakum = perhiasanmu; ‘inda = pada; kulli = setiap; masjidin = (memasuki) masjid; wa kulũ = dan makanlah; wasyrobũ = dan minumlah; wa lã = dan jangan; tusyrifũ = berlebih-lebihan; innahu = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al musrifĩn = orang-orang yang berlebihan.

yã banĩãdama khudzũ zĩnatakum ‘inda kulli masjidin wa kulũ wasyrobũ wa lã tusyrifũ, innahu lã yuhibbul musrifĩn.

31. Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu pada setiap memasuki masjid (salat), makanlah dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran dan mengingatkan tentang tata cara hidup. Saat kita memasuki masjid, saat kita salat hendaklah menggunakan pakaian yang baik sebagai perhiasan. Perhiasan yang paling mulia di hadapan Allah adalah pakaian takwa kepada Allah. Perhiasan lainnya, seperti cincin, kemuliaan, pangkat, derajat, dan lain-lain merupakan perhiasan sampingan yang tidak usah terlalu dibanggakan.

qul = katakanlah; man = siapakah; harroma = mengharamkan; zĩnatallãhi = perhiasan Allah; al latĩ= yang; akhroja = Dia keluarkan; li’ibãdihĩ= untuk hamba-hamba-Nya; wath thoyyibãti = dan yang baik-baik; mina = dari; ar rizqi = rezeki; qul = katakanlah; hiya = ia, semuanya; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; ãmanũ = (mereka yang) beriman; fil hayati = dalam kehidupan; ad dun-yã = dunia; khōlishotan = khusus; yauma = hari; al qiyãmah = kiamat; kadzãlika = demikianlah; nufashshilu = Aku jelaskan; al ãyãti = ayat-ayat; liqoumin = bagi kaum, orang-orang; ya’lamũn = (mereka) mengetahui.

qul man harroma zĩnatallãhil latĩakhroja li’ibãdihĩwath thoyyibãti minar rizqi, qul hiya lilladzĩna ãmanũ fil hayatid dun-yã khōlishotan yaumal qiyãmah, kadzãlika nufashshilul ãyãti liqoumin ya’lamũn.

32. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya, dan demikian pula siapakah mengharamkan rezeki yang baik-baik?” Katakanlah: “Semuanya itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia ini, khusus bagi orang-orang yang beriman pada Hari Kiamat. Demikianlah, Aku jelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Khusus untuk orang-orang yang beriman, perhiasan dan rezeki yang baik-baik itu bisa dinikmati di dunia maupun di akhirat. Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, perhiasan dan rezeki itu hanya didapat untuk di dunia saja. Di akhirat mereka akan disiksa karena kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan, kefasikan, kemurtadannya.

qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya, hanyalah; harroma = mengharamkan; robbiya = Rabku; al fawãhisya = pembuat keji; mã dzaharo = apa yang tampak, lahir; minhã = darinya; wa mã = dan apa yang; bathana = batin, tersembunyi; wal itsma = dan perbuatan dosa; wal baghyã = dan melanggar hak; bi ghoiri = dengan alasan; al haqqi = yang benar; wa antusyrikũ = dan kamu mempersekutukan sesuatu; billãhi = dengan Allah; mã lam = apa yang tidak; yunazzil = Dia turunkan; bihĩ= dengan itu; sulthōnan = hujjah, keterangan; wa antaqũlũ = dan kamu mengatakan; ‘alallãhi = tentang Allah; mã lã = apa yang tidak; ta’lamũn = kamu ketahui.

qul innamã harroma robbiyal fawãhisya mã dzaharo minhã wa mã bathana wal itsma wal baghyã bi ghoiril haqqi wa antusyrikũ billãhi mã lam yunazzil bihĩsulthōnan wa antaqũlũ ‘alallãhi mã lã ta’lamũn

33. Katakanlah: “Sesungguhnya, Rabku hanya mengharamkan perbuatan keji yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, dan yang melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, dan jika kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu (makhluk) yang tidak ada keterangan untuk itu dari Allah. Allah mengharamkan kamu mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak kamu ketahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang dimaksud perbuatan keji yang tampak adalah menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, membunuh anak perempuan karena ada kekhawatiran memberatkan keluarga; Perbuatan keji yang tidak tampak adalah membenci orang tanpa diketahui orangnya; Perbuatan dosa adalah berjinah, membunuh, mencuri, merampok, menipu, memalsu, mengurangi timbangan kalau menimbang untuk orang lain, bertengkar, atau bermusuhan dengan orang lain,
Perbuatan yang melanggar hak manusia tanpa alasan adalah membunuh orang karena ingin merebut hartanya; Mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak kamu diketahui adalah Allah mempunyai putra, Allah menyuruh membunuh anak perempuan, Allah menerima pemberian hasil ternak atau hasil pertanian.

walikulli = dan bagi tiap-tiap; ummatin = umat; ajal = ketentuan akhir hidupnya; fa idzã = maka jika; jã-a = telah dating; ajaluhum = akhir hidupnya; lã = tidak; yasta’khirũna = mereka dapat mengakhirkan; sã’atan = sesaat; wa lã = dan tidak; yastaqdimũn = mereka mendahulukan

walikulli ummatin ajal, fa idzã jã-a ajaluhum lã yasta’khirũna sã’atan wa lã yastaqdimũn.

34. Dan bagi setiap umat ada ketentuan waktu akhir hidupnya, ada ajalnya, maka jika telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengakhirkan, dan tidak dapat memajukannya sesaat pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu tentang ajal dari setiap bangsa, suku bangsa, kelompok orang, dan manusia secara sendiri-sendiri. Lihat Q.s …

yã banĩãdama = wahai Bani Adam; immã = jika; ya’tiyannakum = datang kepadamu; rusulun = Rasul-rasul; minkum = dari antara kamu; yaqushshũna = mereka mengisahkan; ‘alaikum = kepada kamu; ãyãtĩ= tanda-tanda-Ku; fa mani = maka barang siapa; at taqō = tãt; wa ashlaha = dan perbaikan; fa lã = maka tidak; khaufun = takut; ‘alaihim = atas mereka; wa lã = dan tidak; hum = mereka; yahzanũn = rasa sedih.

yã banĩãdama immã ya’tiyannakum rusulum minkum yaqushshũna ‘alaikum ãyãtĩ, fa manit taqō wa ashlaha fa lã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.

35. Wahai Bani Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antara kamu yang menceriterakan ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang tãt dan mengadakan perbaikan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada rasa sedih bagi mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: janji Allah, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antara kamu dan kamu tãt mengikuti aturannya, maka hidupnya akan tenang, damai, sejahtera. Tidak ada rasa takut, dan sedih di dalam hatinya. Lihat juga Q.s. ….

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; was takbarũ = dan menyombongkan diri; ‘anhã = dari-Nya; ula-ika = mereka itulah; ashhãbu = penghuni; an nãri = neraka; hum fĩhã = mereka di dalamnya; khōlidũn = kekal.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã was takbarũ ‘anhã ula-ika ashhãbun nãri, hum fĩhã khōlidũn.

36. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku, dan menyombongkan diri dari-Nya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku” adalah orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad.
“Orang yang menyombongkan diri dari-Nya” adalah orang-orang yang tidak suka berdoa, dan tidak salat. Mereka yang kaya, yang berkedudukan di dunia, yang merasa pandai sering menjadi sombong karena menganggap segalanya itu atas usaha dan susah-payahnya sendiri. Mereka tidak percaya bahwa segala kekayaan, pangkat, kepandaian itu Allah yang menentukan.

fa man = maka siapakah; azhlamu = yang lebih lalim; mimmani = daripada orang yang …; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = atas Allah; kadziban = kedustaan; au kadzdzaba = atau dia mendustakan; bi ãyãtihĩ= dengan ayat-ayat-Nya; ulã-ika = mereka itu; yanãluhum = mereka akan memperoleh; nashĩbuhum = bagian mereka; minal kitãbi = adri Kitab; hattã = sehingga; idzã = apabila; jã-at-hum = telah datang kepada mereka; rusulunã = utusan-utusan Aku; yatawaffaunahum = mewafatkan mereka; qōlũ = (mereka) berkata; aina = di mana; mã = apa yang …; kuntum = kamu adalah; tad’ũna = kamu sembah; min dũnillãh = dari selain Allah; qōlũ = (mereka) berkata; dhollũ = mereka telah lenyap; ‘annã = dari Aku; wa syahidũ = dan mereka mengakui; ‘alã anfusihim = atas diri mereka sendiri; annahum = bahwa mereka; kaanũ = mereka adalah; kãfirĩn = orang-orang kafir.

fa man azhlamu mimmaniftarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi ãyãtihĩ, ulã-ika yanãluhum nashĩbuhum minal kitãbi, hattã idzã jã-at-hum rusulunã yatawaffaunahum qōlũ ainamã kuntum tad’ũna min dũnillãh, qōlũ dhollũ ‘annã wasyahidũ ‘alã anfusihim annahum kaanũ kãfirĩn.

37. Maka, siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan atas Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka akan mendapat bagian yang telah ditentukan di dalam Kitab, sehingga, jika telah datang kepada mereka utusan-utusan-Ku (Malaikat) untuk mewafatkan mereka, para Malaikat berkata: “Di mana berhala-berhala yang kamu sembah selain dari Allah?” Mereka menjawab: “Berhala-berhala itu telah lenyap dari Aku.” Mereka mengakui diri mereka adalah orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang mendustakan Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya berarti kafir. Kafir itu orang yang melalimi dirinya sendiri. Mereka baru menyadari hal tersebut setelah mereka diwafatkan.

qōla = Allah bersabda; ud khulũ = masuklah kamu; fĩ= pada; umamin = umat-umat; qod = sungguh; kholat = terdahulu; min = dari; qoblikum = sebelum kamu; min = dari; al jinni wal insĩ= jin dan manusia; fi = ke; an nãr = api neraka; kullamã = setiap; dakholat = masuk; ummatun = suatu umat la’anat = melaknat, mengutuk; ukhtahã = temannya; hattã = sehingga, sampai; idza = apabila; ad dãrokũ = mereka berkumpul; fĩhã = di dalamnya; jamĩan = semuanya; qōlat = berkatalah; ukhrōhum = orang-orang yang terakhir; li = kepada; ũlãhum = orang-orang terdahulu; robbanã = yã Rab Aku; hã-ulã-i = mereka itulah; adhollũnã = telah menyesatkan Aku; fa-ãtihim = maka datanglah kepada mereka; adzãban = siksaan; dhi’fam = berlipat-ganda; min = dari; an nãr = api neraka; qōlã = (Allah) bersabda; likullin = bagi masing-masing; dhi’fun = berlipat-ganda; wa lãkin = akan tetapi; lã ta’lamũn = kamu tidak mengetahui.

qōlad khulũ fĩumamin qod kholat min qoblikum minal jinni wal insĩfĩn nãr, kullamã dakholat ummatul la’anat ukhtahã, hattã idzad dãrokũ fĩhã jamĩan qōlat ukhrōhum li ũlãhum robbanã hã-ulã-i adhollũnã fa-ãtihim adzãban dhi’fam minan nãr, qōlã likullin dhi’fun wa lãkil lã ta’lamũn.

38. Allah bersabda: “Masuklah kamu ke dalam neraka bersama umat-umat yang sungguh terdahulu sebelum kamu dari jin dan manusia”. Setiap suatu umat masuk ke dalam neraka, mereka mengutuk temannya yang menyesatkan, sehingga apabila sampai mereka berkumpul di dalamnya, berkata orang-orang yang terakhir kepada orang-orang yang terdahulu: ”yã Rab Aku, mereka itulah yang telah menyesatkan Aku, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat-ganda dalam api neraka.” Allah berfirman: “Bagi masing-masing mendapatkan siksaan yang berlipat-ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia agar berhati-hati dengan informasi yang disampaikan oleh orang yang menyesatkan, orang yang menganggap dusta ada-Nya Allah, orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah agar tidak menyesal nanti di akhirat.

wa qōlat = dan berkatalah; ũlãhum = orang-orang yang terdahulu; li = kepada; ukhrōhum = orang-orang yang terakhir; fa = maka; mã kaana = tidak ada; lakum = bagi kamu; ‘alainã = atas Aku; min fadhlin = dari kelebihan; fa dzũqũ = maka rasakanlah; al ‘adzãba = azab, siksaan; bi mã = dengan apa, sebab; kuntum = kamu adalah; taksibũn = kamu kerjakan.

wa qōlat ũlãhum li ukhrōhum fa mã kaana lakum ‘alainã min fadhlin fadzũqũl ‘adzãba bi mã kuntum taksibũn.

39. Dan berkatalah orang-orang yang masuk terdahulu kepada orang-orang yang masuk terakhir: “Kamu tidak mempunyai kelebihan atas Aku, maka, rasakanlah siksaan ini, dengan sebab, apa yang telah kamu kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia tentang hal menyalahkan pihak lain, saat menanggung akibat ulahnya sendiri di dunia. Tidak ada yang mau disalahkan. Semuanya akan menanggung akibat perbuatannya masing-masing di dunia

innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; kadzdzabũ = menganggap dusta; bi = pada; ãyãtinã = ayat-ayat Aku; wastakbarũ = dan menyombongkan diri; ‘anhã = darinya; lã tufattahu = tidak dibukakan; lahum = bagi mereka; abwãbu = pintu-pintu; as samã-i = langit; wa lã yadkhulũna = dan mereka tidak masuk; al jannata = surga; hattã = sehingga; yalija = masuk; al jamalu = unta; fi sammi = pada lubang; al khiyãthi = jarum; wa kadzãlika = dan demikianlah; najzĩ= Aku memberi balasan; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

innalladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã wastakbarũ ‘anhã lã tufattahu lahum abwãbus samã-i wa lã yadkhulũnal jannata hattã yalijal jamalu fi sammil khiyãthi, wa kadzãlika najzĩl mujrimĩn.

40. Sesungguhnya, orang-orang yang menganggap dusta ayat-ayat Aku, dan menyombongkan diri darinya, tidaklah akan dibukakan pintu-pintu langit, dan mereka tidak masuk surga, sehingga unta dapat masuk ke lubang jarum. Demikianlah Aku memberi balasan kepada orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah, dan menyombongkan dirinya darinya, mereka sulit, dan tidak mungkin dapat memasuki pintu langit, seperti halnya unta masuk lubang jarum. Orang yang menyombongkan diri dari ayat-ayat Allah, artinya mereka tidak mau membaca, memperlajari ayat-ayat Allah. Pintu langit artinya pintu ilmu dan pengetahuan di dunia yang dapat membuka jalan kehidupan yang lebih baik, lebih menyenangkan, lebih memuaskan untuk dunia dan akhirat (surga) bagi orang-orang yang beriman kepada Allah. Bagi yang tidak beriman, jalan kehidupan yang lebih baik, lebih menyenangkan, lebih memuaskan itu hanya dikenyam di dunia saja. Di akhirat, mereka dipertanyakan hal keyakinannya tentang Allah yang menjadi sumber dari segala sumber kehidupan di dunia dan akhirat. Orang berdosa di sini artinya orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah dan mereka yang sombong karena berbagai alasan, misalnya: karena kekayaannya, ilmunya, kedudukannya, dan lain-lain.

lahum = bagi mereka; min jahannama = di api jahanam; mihãdun = tempat tidur; wa min fauqihim = dan dari atas mereka; ghowãsyin = selimut; wa kadzãlika = dan demikianlah; najzi = Aku memberi balasan; azh zholimĩn = orang-orang lalim.

lahum min jahannama mihãdun wa min fauqihim ghowãsyin, wa kadzãlika najzizhzholimĩn.

41. Bagi Mereka, tempat tidur di api jahanam, di atas mereka ada selimut dari api itu. Demikianlah Aku memberi balasan kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang pembalasan-Nya bagi orang-orang yang lalim, yakni orang-orang yang tidak mau percaya ada-Nya Allah. Mereka menganggap dusta ayat-ayat Allah, dan mereka menyombongkan diri dengan tidak mau mengikuti perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam api jahanam.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa’amilush shōlihãti = dan beramal saleh; lã nukallifu = Aku tidak memaksakan; nafsan = seseorang; illã = kecuali; wus’ahã = kesanggupannya; ũlã-ika = mereka itu; ash hãbu = penghuni; al jannah = surga; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; kholidũn = mereka kekal.

wal ladzĩna ãmanũ wa’amilush shōlihãti lã nukallifu nafsan illã wus’ahã ũlã-ika ash hãbul jannah, hum fĩhã kholidũn.

42. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Aku tidak memaksakan kepada seseorang, kecuali karena kesanggupannya, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir dan orang yang beriman itu kehendak masing-masing orang. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya. Allah memberikan akal dan pikiran kepada manusia untuk memilih

wa naza’nã = dan Aku telah mencabut; mã fi = apa yang di dalam; shudũrihim = dada mereka; min ghillin = dari dendam, kedengkian; tajrĩ= mengalir; min tahtihimu = dari bawah mereka; sl anhãru = sungai-sungai; wa qōlu = dan mereka berkata; al hamdu lillãhi = segala puji bagi Allah; l ladzĩ = Yang; hadaanã = telah menunjuki Aku; li hãdzã = ke ini; wa mã = dan tidaklah; kunnã = Aku adalah; linahtadĩya = Aku akan mendapat petunjuk; lau = kalau; lã = tidak; an hadaanallãhu = Allah memberi petunjuk Aku; laqod = sesungguhnya; jã-at = telah datang; rusulu = Rasul-rasul; robbinã = Rab Aku; bil haqqi = dengan kebenaran; wa nũdũ = dan mereka diseru; antilkumu = itulah; al jannatu = surga; ũrits-tumũhã = diwariskannya; bimã = karena; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.

wa naza’nã mã fi shudũrihim min ghillin tajrĩmin tahtihimul anhãru, wa qōlul hamdu lillãhil ladzĩhadaanã li hãdzã wa mã kunnã linahtadĩya lau lã an hadaanallãhu laqod jã-at rusulu robbinã bil haqqi, wa nũdũ antilkumul jannatu ũrits-tumũhã bimã kuntum ta’malũn.

43. Dan Aku telah mencabut kedengkian yang berada di dalam dada mereka; mengalir sungai-sungai di bawah mereka, dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah Yang telah menunjuki Aku ke surga ini, dan tidaklah Aku akan mendapat petunjuk, jika Allah tidak memberikan petunjuk kepada Aku. Sesungguhnya, telah datang Rasul-rasul Rab Aku dengan membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga, diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman kepada Allah itu hatinya tidak dengki, penyakit hati yang dapat menjerumuskan seseorang ke jalan yang salah. Orang yang beriman kepada Allah, penyakit dengkinya dicabut oleh Allah. Hati mereka menjadi terbuka untuk menerima petunjuk yang benar. Hadiahnya surga, tempat yang sangat menyenangkan, yang dialiri sungai-sungai yang jernih airnya.

wa nãdã = dan berseru; ash-hãbul jannati = penghuni surga; ash-hãban nãri = penghuni neraka; an qod = sesungguhnya; wa jadnã = Aku telah memperoleh; mã = apa yang; wa ‘adanã = dijanjikan; robbunã = Rab Aku; haqqon = sebenarnya; fa hal = maka, apakah; wajad tum = kamu memperoleh; mã = apa yang …; wa ‘adarobbukum = Rab kamu menjanjikan; haqqo = sebenarnya; qōlũ = mereka menjawab; na’am = ya, benar; fa-adzdzãna = maka menyeru; mu-adzdzinun = seorang penyeru; bainahum = di antara mereka; al la’natullãhi = laknat, kutukan Allah; ‘ala = atas, bagi; adz dzōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa nãdã ash-hãbul jannati ash-hãban nãri an qod wa jadnã mã wa ‘adanã robbunã haqqon fa hal wajat tum mã wa ‘adarobbukum haqqo, qōlũ na’am, fa-adzdzãna mu-adzdzinum bainahum al la’natullãhi ‘aladz dzōlimĩn.

44. Dan penghuni surga berseru kepada penghuni neraka: “Sesungguhnya, Aku telah memperoleh apa yang sebenarnya Rab Aku menjanjikan kepada Aku, maka, apakah kamu telah memperoleh apa yang Rab kamu janjikan dengan sebenarnya?” Mereka menjawab: “Ya, benar”. Maka, malaikat penyeru menyeru di antara mereka: “Kutukan Allah ditimpakan atas orang-orang yang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan penghuni surga dan penghuni neraka dapat berhubungan dengan seruan tentang janji Allah yang pasti benarnya. Yang mengakui kebenaran seruan Allah di dunia, mereka masuk surga. Yang menolak seruan Allah di dunia terkutuk, masuk neraka. Manusia yang terkutuk adalah manusia yang lalim pada dirinya sendiri.

al ladzĩna = orang-orang yang …; yashuddũna = mereka menghalangi; ‘an sabililllãhi = dari jalan Allah; wa yabghunahã = dan mereka menginginkan; ‘iwajaan = bengkok; wa hum = dan mereka; bil akhiroti = dengan akhirat; kãfirũn = mereka ingkar.

al ladzĩna yashuddũna ‘an sabililllãhi wa yabghunahã ‘iwajaan, wa hum bil akhiroti kãfirũn.

45. Orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan jalan itu bengkok, mereka mengingkari kehidupan akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menginginkan jalan itu bengkok berarti mereka mengingkari kehidupan akhirat. Golongan inilah yang terkutuk, akan masuk neraka. Mereka lalim pada diri sendiri dan juga kepada orang lain.

wa bainahumã = dan di antara kedua penghuni surga dan neraka; hijãb = ada batas; wa ‘alal a’rōfi = dan di atas A’rãf; rijãlun = beberapa orang laki-laki; ya’rifũna = mereka mengenal; kullan = masing-masing; bi sĩmãhum = dengan tanda-tanda mereka; wa nãdau = dan mereka menyeru; ash-hãba = penghuni; al jannati = surga; an salãmun = sejahtera; ‘alaikum = bagimu; lam yadkhulũhã = mereka belum memasukinya; wa hum = padahal mereka; yathma’ũn = mereka mengharapkan.

wa bainahumã hijãb, wa ‘alal a’rōfi rijãlun ya’rifũna kullam bi sĩmãhum, wa nãdau ash-hãbal jannati an salãmun ‘alaikum, lam yadkhulũhã wa hum yathma’ũn.

46. Di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A’rãf ada beberapa orang lelaki yang mengenal masing-masing dengan tanda-tanda mereka, dan mereka menyeru penghuni surga: “Sejahtera bagimu.” Mereka tidak bisa memasukinya, padahal mereka sangat mengharapkan masuk ke surga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjadi nama surat. Di al A’raf mereka dapat saling menyapa. Manusia yang ketika di dunia tidak mau mengakui keberadaan Allah Yang sesungguhnya, dan tidak mengakui adanya para Rasul, di akhirat mereka mengarapkan masuk surga. Tentu saja sudah tidak bisa lagi.

wa idzã = dan apabila; shurifat = dipalingkan; abshōrum = pandangan mereka; tilqã-a = ke arah; ash-hãbin nãr = penghuni api neraka; qōlũ = mereka berkata; robbanã = yã, Rab Aku; lã tah’alnã = janganlah tempatkan Aku; ma’a = bersama-sama; al qoumidz dzōlimĩn = kaum yang lalim.

wa idzã shurifat abshōrum tilqã-a ash hãbin nãr, qōlũ robbanã lã tah’alnã ma’al qoumidz dzōlimĩn.

47. Dan apabila pandangan mereka dipalingkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Yã Rab Aku, janganlah Engkau tempatkan Aku bersama-sama orang lalim itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di akhirat mereka mengharapkan terhindar dari penderitaan neraka. Harapan ini seharusnya dibina ketika hidup di dunia. Jangan sampai ada penyesalan setelah sampai tujuan hidup.

wa nãdã = dan penghuni; ash-hãbu = penduduk; al a’rãfi = tempat yang tinggi; rijãlan = beberapa orang lelaki; ya’rifũnahum = mereka mengenalnya; bi sĩmãhum = dengan tandfa-tanda mereka; qōlũ = mereka berkata; mã aghnã = tidak memberi manfãt; ‘ankum = bagi kamu; jam’ukum = kamu mengumpulkan; wa mã kuntum = apa yang kamu …; tastakbirũn = kamu sombongkan.

wa nãdã ash-hãbul a’rãfi rijãlan ya’rifũnahum bi sĩmãhum, qōlũ mã aghnã ‘ankum jam’ukum wa mã kuntum tastakbirũn.

48. Dan penghuni A’rãf berseru kepada beberapa orang yang mereka kenal dengan tanda-tanda mereka, dan mengatakan: “Tidaklah memberi manfãt kepadamu harta yang kamu kumpulkan, dan apa yang kamu sombongkan itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penghuni A’rãf adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat. Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang masih hidup di dunia agar mengenal Allah dan memperhatikan apa yang diturunkan-Nya. Jangan terlalu asyik mengumpulkan harta saja. Harus dipikirkan kegunaannya untuk akhirat. Jangan menyombongkan diri dengan kekayaan ilmu, harta, kedudukan tanpa mengingat Allah Yang Mengasihi.

ahã-ulã-il ladzĩna = inikah orang-orang yang …; aksamtum = kamu bersumpah; lã yanãluhumullãhu = mereka tidak akan menerima dari Allah; bi rahmatin = dengan rahmat; udkhulũ = masuklah kamu; al jannata = surga; lã khoufun = ada rasa takut; ‘alaikum = atas mereka; wa lã antum = dan kamu tidak; tahzanũn = sedih.

ahã-ulã-il ladzĩna aksamtum lã yanãluhumullãhu bi rahmatin, udkhulũl jannata lã khoufun ‘alaikum wa lã antum tahzanũn.

49. Inikah orang-orang yang telah bersumpah, bahwa mereka tidak akan menerima rahmat dari Allah? Kepada mereka dikatakan: “Masuklah kamu ke surga, dan kamu tidak akan merasa takut dan sedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi orang-orang yang beriman dan hidupnya tidak sombong dipersilahkan masuk ke surga. Di sana tidak ada rasa khawatir, takut, ataupun sedih.

wa nãdã = dan menyeru; ash-hãbun nãri = penghuni neraka; ash-hãbal jannati = penduduk surga; an afĩdhũ = limpahkanlah; ‘alainã = kepada Aku; minal mã-i = dari air; au mimmã = atau dari makanan; rozaqokumullãh = Allah memberikan rezeki kepada kamu; qãlũ = mereka, penghuni surga menjawab; innallãha = sesungguhnya Allah; harromahumã = mengharamkan keduanya; ‘alal kãfirĩn = bagi orang-orang kafir.

wa nãdã ash-hãbun nãri ash-hãbal jannati an afĩdhũ ‘alainã minal mã-i au mimmã rozaqokumullãh, qãlũ innallãha harromahumã ‘alal kãfirĩn.

50. Dan penghuni neraka menyeru kepada penghuni surga:“Limpahkanlah kepada Aku sedikit air atau makanan yang telah Allah rezekikan kepadamu.” Mereka, penghuni surga menjawab: “Sesungguhnya, Allah telah mengharamkan air dan makanan bagi orang-orang kafir.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di akhirat, Allah mengharamkan rezeki minuman dan makanan bagi orang-orang kafir. Di dunia, orang kafir masih diberi kesempatan untuk memilih: percaya kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, atau mereka tidak mau percaya.

alladzĩna = orang-orang yang; it takhodzũ = (mereka) menjadikan; diinahum = Dien mereka; lahwan = senda-gurau; wa la’iban = dan main-main; wa gharrot = dan telah menipu; hum = mereka; al hayãtu = kehidupan; ad dun-yã = dunia; fal yauma = maka pada hari ini; nansãhum = Aku melupakan mereka; kamã = sebagaimana; nasũ = mereka melupakan; liqō-a = pertemuan; yaumihim = hari mereka; hãdzã = ini; wa mã = dan apa; kãnũ = mereka adalah; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; yajhadũn = mereka mengingkari.

alladzĩnat takhodzũ diinahum lahwan wa la’iban wa gharrot humul hayãtud dun-yã fal yauma nansãhum kamã nasũ liqō-a yaumihim hãdzã wa mã kãnũ bi ãyãtinã yajhadũn.

51. Orang-orang yang menjadikan Dien mereka senda-gurau dan main-main, kehidupan dunia telah menipu mereka, maka pada Hari Kiamat ini, Aku akan melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan mereka selalu mengingkari ayat-ayat-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia tentang Hari Kiamat (lihat surat-surat yang mengemukakan Hari Kiamat: Al Hãqqah, Al Waqi’ah, Al Qori’ah, Al Insyiqãq, Al Zalzalah, dan lain-lain.

wa laqod = dan sungguh; ji’nãhum = telah Aku turunkan kepada mereka; bi kitãbin = dengan sebuah Kitab; fash sholnãhu = maka, Aku jelaskan; ‘alã ‘ilmin = berdasarkan ilmu; hudan = menjadi petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; li qoumin = bagi kaum; yu’minũn = mereka beriman.

wa laqod ji’nãhum bi kitãbin fash sholnãhu ‘alã ‘ilmin hudan wa rohmatal li qoumin yu’minũn.

52. Dan sungguh, telah Aku datangkan sebuah Kitab kepada mereka, Aku jelaskan berdasarkan ilmu, menjadikan petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alkitab yang dijelaskan berdasarkan ilmu, artinya bacaan ini banyak mengandung berbagai ilmu dasar yang dapat terus berkembang sesuai dengan kemampuan berpikir dan meneliti berbagai ilmu di dunia ini. Semua ilmu yang ditemukan dan yang belum ditemukan ada di dalam Alkitab ini.

hal = apakah; yanzhurũna = mereka menunggu-nunggu; illã = hanya; ta’wĩlah = kesudahan kejadiannya; yauma = di hari; ya’tĩ= datang; ta’wĩluhũ = kesudahan kejadiannya; yaqũlu = berkatalah; al ladzĩna = orang-orang yang; nasũhu = (mereka) melupakannya; min qoblu = dari dahulu; qod = sesungguhnya; jã-at = telah dating; rusulu = Rasul-rasul; robbinã = Rab Aku; bil haqqi = dengan membawa kebenaran; fa hal = maka apakah; lanã = bagi Aku; min syufa’ã-a = dari pemberi safãt; fa yasyfa’ũ = maka mereka memberi safãt; lanã = bagi Aku; au = atau; nuroddu = Aku dikembalikan; fa na’mala = maka Aku beramal; ghoiro = selain; al ladzĩ= yang; kunnã = Aku adalah; na’malu = Aku beramal; qod = sesungguhnya; khasirũ = mereka merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; wa dholla = dan telah lenyap; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang mereka adakan; yaftarũn = mereka ada-adakan.

hal yanzhurũna illã ta’wĩlah, yauma ya’tĩta’wĩluhũ yaqũlul ladzĩna nasũhu min qoblu qod jã-at rusulu robbinã bil haqqi, fa hal lanã min syufa’ã-a fa yasyfa’ũ lanã au nuroddu fa na’mala ghoirol ladzĩkunnã na’malu, qod khasirũ anfusahum wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.

53. Apakah mereka hanya menunggu-nunggu kesudahan kejadiannya? Di hari kejadian itu datang, berkatalah orang-orang yang melupakannya dahulu: “Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Rab Aku dengan membawa kebenaran, maka apakah bagi Aku, pemberi safãt akan memberi safaat kepada Aku, ataukah Aku dikembalikan ke dunia lalu Aku akan beramal yang lain dari yang pernah Aku amalkan dahulu?” Sesungguhnya, mereka telah merugikan diri mereka sendiri, dan telah lenyap dari mereka, apa yang mereka ada-adakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan kepada manusia agar tidak memohon tobat pada waktu yang sudah terlambat, sudah tiba saat kiamat. Kalau hal ini dilakukan, berarti mereka merugikan dirinya sendiri. Mereka tidak mendapatkan safaat dari Nabi Muhammad saw.

Inna = sesungguhnya; robbakumullahu = Allah Rab kamu; al ladzĩ= Yang; kholako = telah menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; fĩsittãti = dalam enam; ayyãmi = masa; tsumma = kemudian; is tawã = Dia berkuasa; ‘alã = di atas; al ‘arsyi = Arasy; yughsyĩ= Dia menutup; al laila = malam; an nahãro = siang; yathlubuhũ = mengikutinya; hatsĩtsã = dengan cepat; wasy syamsã = dan matahari; wal komaro = dan bulan; wan nujũma = dan bintang; musakh kharotin = tunduk; bi-amrihĩ= dengan perintah-Nya; alã = ingatlah; lahu = bagi-Nya; al kholqu = penciptaan; wal amru = dan perintah; tabãrokallahu = Allah Maha Pemberi berkah; robbul alamĩn = Rab seluruh alam.

Inna robbakumullahul ladzĩkholakos samãwãti wal ardho fĩsittãti ayyãmi tsummas tawã ‘alãl ‘arsyi yughsyĩl lailan nahãro yathlubuhũ hatsĩtsã wasy syamsã wal komaro wan nujũma musakh kharotim bi-amrihĩ, alã lahul kholqu wal amru, tabãrokallahu robbul ‘alamĩn.

54. Sesungguhnya, Allah Rab kamu Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa di atas Arasy, Dia menutup malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya matahari, bulan dan bintang tunduk dengan perintah-Nya. Ingatlah, bagi-Nya penciptaan dan pengurusan. Maha Pemberi Berkah Rab semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Hitungan satu masa menurut perhitungan manusia di bumi meliputi jutaan tahun, Allah Yang Maha Mengetahui ketetapan-Nya, yaitu: 1. Masa Allah meniupkan udara yang bercampur dengan api, air, tanah (ruhullah); berproses dengan cara berputar-putar, melingkar-lingkar; 2. Masa proses pengembunan, penyatuan dan pemisahan udara, air, api, tanah; 3. Masa proses pencairan, penyatuan dan pemisahan air, udara, api, tanah; 4. Masa proses pemadatan, pendinginan tanah, pemisahan, dan penyatuan air, udara, api; 5. Masa proses pendinginan dan penciptaan tumbuh-tumbuhan, terutama ganggang, binatang-binatang, pemisahan dan penyatuan tanah, udara, api, air; 6. Masa proses penciptaan manusia setelah pemisahan, pemadatan, dan penyatuan tanah, udara, api, dan air semuanya siap, pas situasi dan kondisinya dengan fisik manusia. Proses pendinginan, pemisahan dan penyatuan api, air, udara, dan tanah terus berlangsung. Manusia dengan ilmu yang diberi dan dĩzinkan Allah untuk digunakan, berupaya untuk mengelola dan menguasai dengan baik tanah (dengan tumbuh-tumbuhan dan binatangnya), air, api, udara agar kegunaannya efektif, lebih baik, lebih bermanfãt, terjaga, tertata dengan tertib dan teratur sampai akhir jaman. Allah bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan langit dan bumi. Arasy artinya akal, pikiran, dan rasa manusia yang memahami keberadaan Allah di dalam dirinya. Makhluk-Nya memberi safãt kepada makhluk lain (saling membantu) atas izin-Nya. Allah memerintah agar semua makhluk-Nya, khususnya manusia, agar menyembah hanya kepada Allah. Semua kejadian di alam semesta ini harus menjadi pelajaran oleh manusia untuk kepentingan hidupnya.Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1 : 2; Q.s. Yunus, 10:3; Q.s. Hud, 11 : 7; Q.s. al Furqon, 25 : 59; Q.s. as Sajdah, 32 : 4; Q.s. Qōf, 50 : 38; Q.s. al Hadid, 57 : 4; Q.s. An Nazi’at, 79: 27; Q.s.Asy Syams, 91 : 5-10.
Arasy adalah akal, pikiran, rasa yang ada pada manusia yang menyadari keberadaan Allah di dalam dirinya, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 22 catatannya; At Taubah, 9: 129; Yunus, 10: 3; Hud, 11: 7; Ar Ra’d, 13: 2; An Nahl, 16: 3; Al Isrō’; 17: 42; Thãhã, 20: 5; As Sajdah, 32: 4; Al Buruj, 85: 15.

ud’ũ = berdoalah; robbakum = kepada Rab kamu; tadhorru’an = berendah diri; wa khufyatan = dan suara yang lembut; innahũ = sesungguhnya Dia; lã yuhibbu = tidak menyukai; al mu’tadiin = orang-orang yang melampau batas.

ud’ũ robbakum tadhorru’an wa khufyatan innahũ lã yuhibbul mu’tadiin.

55. Berdoalah kamu kepada Rab kamu dengan merendah diri, dan suara yang lembut, Sesungguhnya, dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan manusia berdoa dengan cara merendah, dan suara yang lembut. Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.

wa lã = dan janganlah; tufsidũ = kamu membuat kerusakan; fil ardhi = di bumi; ba’da = setelah; ishlãhihã = memperbaikinya; wad’ũhu = dan berdoalah; khaufan = dengan perasaan takut; wa thoma’an = dan penuh harapan; inna = sesungguhnya; rohmatallãhi = rahmat Allah; qorĩbun = dekat; minal muhsinĩn = kepada orang-orang yang berbuat baik.

wa lã tufsidũ fil ardhi ba’da ishlãhihã wad’ũhu khaufan wa thoma’an, inna rohmatallãhi qorĩbum minal muhsinĩn.

56. Dan kamu janganlah membuat kerusakan di bumi setelah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan perasaan takut dan penuh harapan. Sesungguhnya, rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang membuat kerusakan di bumi (lihat ayat ….) Allah memerintahkan berdoa dengan cara yang baik. Allah memberitahukan bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

wa huwal ladzĩ= dan dialah yang … ; yursilũ = meniupkan; ar riyãha = angin; busyron = berita gembira; baina yadai = di hadapan; rohmatĩhi = rahmat-Nya; hattã = sehingga; idzã = apabila; aqollat = membawa; sahãban = awan; tsiqōlan = hitam, tebal; suqnãhu = Aku halau dia; li baladin = ke negeri, tanah; mayyitin = mati, tandus; fa anzalnã = maka, lalu Aku turunkan; bihi = dengannya; al mã-a = air, hujan; fa akhrojnã = maka Aku keluarkan; bihi = dengannya; min kulli = dari berbagai; ats tsamarōt = buah-buahan; kadzãlika = seperti demikianlah; nukhriju = Aku bangkitkan; al mautã = orang yang telah mati; la’allakum = supaya kamu; tadzakkarũn = memberi pelajaran.

wa huwal ladzĩyursilũr riyãha busyrom baina yadai rohmatĩhi, hattã idzã aqollat sahãban tsiqōlan suqnãhu li baladim mayyitin fa anzalnã bihil mã-a fa akhrojnã bihĩmin kullits tsamarōt, kadzãlika nukhrijul mautã la’allakum tadzakkarũn.

57. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira dengan rakhmat-Nya, sehingga apabila angin mengandung awan tebal, Aku halau dia ke tanah yang tandus, lalu Aku turunkan hujan dengannya, maka Aku keluarkan dengan air pelbagai macam buah-buahan. Demikianlah, Aku membangkitkan orang-orang yang telah mati, supaya kamu mengambil pelajaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: angin sebagai pembawa berita gembira; Allah memberikan rahmat dengan berbagai kejadian, peristiwa alam: berhembusnya angin; terjadinya awan yang mengandung air; turunnya hujan; tumbuhnya berbagai tanaman yang bermanfãt untuk mendukung kehidupan; proses kematian; dan proses membangkitkan kembali dari kematian; semua menjadi bahan pembelajaran .

wal baladu = dan tanah; ath thoyyibu = yang baik; yakhruju = tumbuh; nabãtuhũ = tanaman; bi idzni robbihi = dengan izin Rab; wal ladzĩkhabutsa = dan tanah yang buruk; lã yakhruju = tidak tumbuh; illã = kecuali; nakidan = merana, kerdil; kadzãlika = seperti demikian; nushorrifu = Aku jelaskan; al ãyãti = tanda-tanda kekuasaan; li qaumin = bagi kaum; yasykurũn = yang bersyukur.

wal baladuth thoyyibu yakhruju nabãtuhũ bi idzni robbihi, wal ladzĩkhabutsa lã yakhruju illã nakidan, kadzãlika nushorrifũl ãyãti li qaumin yasykurũn.

58. Dan tanah yang baik, tumbuhlah tanaman-tanaman dengan subur dengan izin Allah, sedang tanah yang jelek tidak tumbuh, kecuali tanaman yang merana. Demikianlah, Aku jelaskan tanda-tanda kebesaran Aku bagi orang-orang yang bertengkar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tanda-tanda kebesaran Allah antara lain menetapkan tanah yang baik, subur dan tanah yang jelek, tidak subur. Semuanya merupakan ujian bagi umat yang beriman. Mencari pemecahan masalahnya, agar hidup lebih bermakna untuk semuanya.
Orang-orang yang bertengkar adalah orang-orang yang berselisih pendapat tentang keberadaan Allah dengan segala kekuasaan-Nya, dan Rasul-rasul yang diutus-Nya. memberikan penerangan, penjelasan, pengajaran kepada umatnya.

laqod = sungguh; arsalnã = Aku telah mengutus; nũhan = Nuh; ilã = kepada; qoumih = kaumnya; fa qōla = maka Nuh berkata; yã qoumi = wahai kaumku; a’budũllãha = abdilah Allah; mã lakum = tidak ada bagi kamu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruhũ = selain Dia; innĩ= sesungguhnya; akhōfu = aku khawatir, takut; ‘alaikum = bagi kamu ‘adzãba = azab, siksa; yaumin = hari; ‘azhĩm = yang besar.

laqod arsalnã nũhan ilã qoumih, fa qōla yã qoumi a’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruhũ, innĩakhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumin ‘azhĩm.

59. Sungguh, Aku telah mengutus Nuh kepada kaumnya, dia berkata: “Wahai kaumku, abdilah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah selain Dia, sesungguhnya, aku takut kamu disiksa di hari yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutus Nuh agar kaumnya mengabdi hanya kepada Allah, tidak ada ilah lain selain Dia. Nuh khawatir kaumnya terkena siksa pada Hari Kiamat.

Qōla = berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; min qoumihĩ= dari kaumnya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōka = Aku memandang kamu; fĩdholãlin = dalam kesesatan; mubĩn = yang nyata.

Qōlal mala-u min qoumihĩinnã lanarōka fĩdholãlim mubĩn.

60. Berkata pemuka-pemuka kaumnya: “Sesungguhnya, Aku memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap umat selalu ada penentang keyakinan kepada ada-Nya Allah dan para Rasul-Nya.
Ada perbedaan pendapat tentang kesesatan. Kesesatan dari sudut pandang orang yang beriman, dan dari sudut pandang orang yang kafir. Kedua kelompok saling menganggap sesat.

qōlã = Nuh berkata; yã qoumi = wahai kaumku; laisa = tidaklah; bĩ= denganku; dholãlatun = kesesatan; wa lã kinnĩ= tetapi aku; rosulun = utusan; mir robbi = dari Rab; al ‘ãlamĩn = alam.

qōlã yã qoumi laisa bĩdholãlatun wa lã kinnĩrosulum mir robbil ‘ãlamĩn.

61. Nuh berkata: “Wahai kaumku, aku tidak dalam kesesatan, tetapi aku adalah utusan dari Rab semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Nuh menyampaikan pesan Allah kepada kaumnya, tapi dianggap sesat.

uballighukum = aku menyampaikan kepadamu; risãlãti = risalah; robbĩ= Rabku; wa anshohu = dan aku menasihatkan; lakum = kepadamu; wa a’lamu = dan aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã lã ta’lamũn = apa yang tidak kamu ketahui.

uballighukum risãlãti robbĩwa anshohulakum wa a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

62. Aku menyampaikan risalah Rabku kepadamu, dan aku menasihati kamu, aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Nuh menyampaikan risalah dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya, apa yang tidak diketahuinya.

awa ‘ajibtum = apakah mengherankan kamu; an jã-akum = ketika telah datang kepadamu; dzikrun = peringatan; mir robbikum = dari Rab kamu; ‘alã rojulim = melalui seorang laki-laki; minkum = di antara kamu; liyundzirokum = untuk memberi peringatan kepadamu; wa litattaqũ = dan supaya kamu bertakwa; wa la’allakum = dan agar kamu; turhamũn = kamu dirahmati.

awa ‘ajibtum an jã-akum dzikrum mir robbikum ‘alã rojulim minkum liyundzirokum wa litattaqũ wa la’allakum turhamũn.

63. Apakah mengherankan kamu ketika telah datang kepadamu peringatan dari Rabmu melalui seorang laki-laki di antara kamu, dan supaya kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara Allah dengan manusia yang menceriterakan datangnya seorang Rasul di antara mereka. Kedatangan Rasul itu tujuannya memberi peringatan, membina ketakwaan, dan agar mendapat rahmat.

fa kadzdzabũhu = maka mereka mendustakannya; fa anjainãhu = maka Aku selamatkannya; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ma’ahũ = bersama dia; fil fulqi = dalam perahu; wa aghroqnã = dan Aku tenggelamkan; al ladzĩna = orang-orang yang; kaddzabũ = mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; innahum = sesungguhnya mereka; kaanũ = mereka adalah; qouman = kaum; ‘amĩna = buta.

fa kadzdzabũhu fa anjainãhu walladzĩna ma’ahũ fil fulqi wa aghroqnã al ladzĩna kaddzabũ bi ãyãtinã innahum kaanũ qouman ‘amĩna.

64. Maka mereka mendustãkan Nuh, maka Aku menyelamatkan bersama-sama dengan orang-orang yang ada di didalam perahu, dan Aku tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, sesungguhnya, mereka itu adalah kaum yang buta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meriwayatkan Nabi Nuh yang diselamatkan dengan perahu. Umatnya yang mendustakan ayat-ayat Allah ditenggelamkan. Mereka yang ditenggelamkan itu adalah kaum yang buta dalam arti tidak bisa melihat kebenaran yang dibawa oleh Nabi Nuh.

wa ilã ‘ãdin = dan kepada Kaum Ad; akhōhum = saudara mereka; hũdan = Hud; qōla = (Hud) berkata; yã qoumi = wahai Kaumku; ‘a budũllãha = beribadahlah kamu kepada Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; afalã tattaqũn = mengapa kamu tidak bertakwa.

wa ilã ‘ãdin akhōhum hũdan, qōla yã qoumi’ budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, afalã tattaqũn.

65. Dan kepada Kaum ‘Ad (Aku utus) saudara mereka Hud, dan berkata: “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada bagimu ilah selain Dia, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud diutus Allah agar menyeru saudara-saudaranya beribadah hanya kepada Allah. Jangan beribadah kepada selain Dia. Seharusnya kamu bertakwa hanya kepada-Nya. Ayat ini merupakan peringatan, dan pembelajaran bagi manusia. Sering diulang, a.l. ….

qōla = berkata; al malã-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qoumihĩ= dari kaumnya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōka = Aku memandang kamu; fĩsafahatin = dalam keadaan kurang akal; wa innã = dan sesungguhnya Aku; lanadzunnuka = Aku menganggap kamu; minal kãdzibĩn = dari orang-orang pendusta.

qōlal malã-ul ladzĩna kafarũ min qoumihĩinnã lanarōka fĩsafahatin wa innã lanadzunnuka minal kãdzibĩn.

66. Pemuka-pemuka orang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya, Aku memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya Aku menganggap kamu termasuk orang yang berdusta.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu mempunyai berbagai alasan untuk mendukung pendiriannya. Dalam ayat ini, orang kafir mengatakan orang yang beriman itu dalam keadaan kurang akal, orang yang berdusta.
Orang beriman menganggap orang kafir sebagai seorang pendusta, orang buta dalam melihat kebenaran dan keadilan. Mereka tidak mau melihat atau mendengarnya.

qōla = Hud berkata; yã qoumi = wahai kaumku; laisa = bukanlah; bĩ= bagiku; safãhatun = kurang akal; wa lã kinnĩ= akan tetapi aku; rosũlun = utusan; mir robbil ‘ãlamĩn = dari Rab alam semesta.

qōla yã qoumi bĩsafãhatun wa lã kinnĩrosũlum mir robbil ‘ãlamĩn.

67. Hud berkata: “Wahai kaumku, bukanlah aku ini kurang akal, akan tetapi aku adalah utusan Rab semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud membantah tuduhan kaum kafir, dan menegaskan dirinya adalah utusan Allah Yang menguasai alam semesta ini.

ubalighukum = aku menyampaikan; risalãlãti = risalah; robbĩ= Rabku; wa anã = dan aku; lakum = bagimu; nashihun = pemberi nasihat; amĩn = yang dapat dipercaya.

ubalighukum risalãlãti robbĩwa anã lakum nashihun amĩn.

68. Aku menyampaikan risalah Rabku kepadamu, dan aku adalah pemberi nasihat yang dapat dipercaya bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hud menegaskan kepada kaumnya bahwa dirinya adalah penyampai risalah dan penasihat yang dapat dipercaya.

awa’ajibtum = apakah kamu heran; an jã-akum = telah datang kepadamu; dzikrun = peringatan; mir robbikum = dari Rab kamu; ‘alã rojulin = atas seorang laki-laki; minkum = di antara kamu; liyundzirokum = untuk memberi peringatan kepadamu; wadzkurũ = dan ingatlah olehmu; idz = ketika; ja’alakum = (Allah) menjadikan kamu; khulafã-a = pengganti-pengganti; mim ba’di = dari sesudah; qoumi = kaum; nũhin = Nuh; wa zãdakum = dan Dia menambahkan kamu; fĩl kholqi = dalam penciptaan; bash thatan = tegap, kuat; fadzkurũ = maka ingatlah kamu; ãlã-a = nikmat-nikmat; allãhi = Allah; la’allakum = supaya kamu; tuflihũn = kamu beruntung.

awa’ajibtum an jã-akum dzikrum mir robbikum ‘alã rojulim minkum liyundzirokum, wadzkurũ idzja’alakum khulafã-a mim ba’di qoumi nũhin wa zãdakum fĩl kholqi bash thatan, fadzkurũ ãlã-a allãhi la’allakum tuflihũn.

69. Apakah kamu heran bahwa telah datang kepadamu peringatan dari Rabmu melalui seorang laki-laki dari antara kamu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah olehmu, ketika Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Dia menambahkan kepadamu penciptaan tubuh yang kuat. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat 63, ada kesamaan dan perbedaan dalam pengungkapannya.

qōlũ = mereka berkata; aji’tanã = apakah kamu datang kepada Aku; li na’budallãha = agar Aku menyembah Allah; wahdahũ = Yang satu; wa nadzaro = dan Aku meninggalkan; mã kaana = apa yang …: ya’budu = Aku sembah; ãbã-unã = bapak-bapak Aku; fa’tinã = maka datangkanlah kepada Aku; bimã = dengan apa; ta’idunã = kamu ancamkan kepada Aku; ingkunta = jika kamu adalah; minash shōdiqĩn = dari orang-orang yang benar.

qōlũ aji’tanã li na’budallãha wahdahũ wa nadzaro mã kaana ya’budu ãbã-unã, fa’tinã bimã ta’idunã ingkunta minash shōdiqĩn.

70. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada Aku agar Aku menyembah Allah Yang satu, dan meninggalkan apa yang telah disembah oleh bapak-bapak Aku? Maka, datangkanlah kepada Aku, apa yang kamu ancamkan kepada Aku, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud ditentang oleh kaumnya yang tidak percaya pada kenabiannya dengan meminta disegerakan datangnya Hari Kiamat.

qōla = Hud berkata; qod = sungguh; waqo’a = akan menimpa; ‘alaikum = kepadamu; mir robbikum = dari Rab kamu; rijsun = azab; wa ghodhob = dan murka; atujãdilũ nanĩ= apakah kamu akan mendebatku; fĩasmã-in = tentang nama-nama; sammaitumũhã = kamu menamakannya; antum = kamu; wa abã-ukum = dan nenek-moyangmu; mã nazzalallãhu = Allah tidak menurunkan; bihã = dengannya; min sulthōn = dari hujjah; fantazhirũ = maka tunggulah; innĩ= sesungguhnya aku; ma’akum = bersama kamu; mina = dari, termasuk; al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.

qōla qod waqo’a ‘alaikum mir robbikum rijsun wa ghodhob, atujãdilũ nanĩfĩasmã-in sammaitumũhã antum wa abã-ukum mã nazzalallãhu bihã min sulthōn, fantazhirũ innĩma’akum minal muntazhirĩn.

71. Hud berkata: “Sungguh pasti kamu akan ditimpa azab dan murka dari Rab kamu. Apakah kamu akan mendebat kepadaku tentang nama-nama yang kamu dan nenek-moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan hujjah tentang itu. Maka, tunggulah olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hud menegaskan bahwa azab dan murka Allah akan ditimpakan kepada mereka yang tetap membantah kekuasaan dan keesaan Allah. Mereka menantang untuk disegerakan azab yang diancamkan kepada mereka yang kafir. Hud menjawab: “Tunggu saja waktunya, kita semua sedang menunggu waktu hidup yang hanya sekejap. “ Nanti di akhirat akan terbukti.

fa anjainãhu = maka, Aku selamatkan dia; walladzĩna = dan orang-orang yang; ma’ahũ = bersama dia; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa qothō’nã = dan Aku potong, tumpas; dãbiro = semua, sampai ke akarnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; kadzdzabũ = mereka yang mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; wa mã kaanũ = dan mereka tidak ada; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

fa anjainãhu walladzĩna ma’ahũ bi rohmatim minnã wa qothō’nã dãbirol ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã, wa mã kãnũ mu’minĩn.

72. Maka, Aku selamatkan Hud dan orang-orang yang bersama dia dengan rahmat dari-Ku, dan Aku tumpas semua orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, dan mereka itu, orang-orang yang tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir dari orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman di dunia. Yang beriman mendapatkan rahmat Allah, yang kafir ditumpas.

wa ilã = dan kepada; samũda = Kaum Samud; akhōhum = saudara mereka; shōliha = Shaleh; qōla = dia berkata; yã qoumi = wahai kaumku; a’budũllãha = beribadahkan kepada Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain dari Dia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah dating kepadamu; bayyinatun = bukti nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; hãdzĩhĩ= ini; naqotullãhi = unta betina Allah; lakum = bagimu; ãyatan = satu tanda; fadzarũhã = maka biarkan dia; ta’kul = makan; fi ardhillãhi = di bumi Allah; wa lã tamassũhã = dan kamu jangan mengganggunya; bi sũ-in = dengan menyakiti; fa ya’khudzakum = maka akan menimpa kamu; ‘adzãbun alĩm = azab yang pedih.

wa ilã samũda akhōhum shōliha, qōla yã qoumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, qod jã-atkum bayyinatum mir robbikum, hãdzĩhĩnaqotullãhi lakum ãyatan, fadzarũhã ta’kul fi ardhillãhi, wa lã tamassũhã bi sũ-in fa ya’khudzakum ‘adzãbun alĩm.

73. Dan kepada Kaum Samud, (Aku utus) saudara mereka Shaleh, dia berkata: “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah lain, selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rab kamu, unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, karena itu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan menyakitinya. Jika kamu langgar, maka kamu akan ditimpa siksa yang sangat pedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini sampai ayat 79 mengisahkan Nabi Shaleh yang menghimbau kaumnya agar meyembah Allah dengan ujian seekor unta betina sebagai bukti kebesaran Allah yang tidak boleh diganggu dan disakiti.

wadzkurũ = dan kamu ingatlah; idz = ketika; ja’alakum = Dia menjadikan kamu; kholafã-a = pengganti-pengganti; min = dari; ba’di = sesudah; ‘ãdin = Kaum ‘Ad; wa bawwa-akum = dan Dia menempatkan kamu; fil ardhi = di bumi; tattakhidzũna = kamu dirikan; min suhũlihã = dari tanah datarnya; qushũron = istana-istana; wa tanhitũna = dan kamu pahat; al jibala = gunung-gunung; buyutan = rumah-rumah; fadzkurũ = maka kamu ingatlah; a’lã-allahi = nikmat-nikmat Allah; wa lã ta’tsau = dan kamu jangan melampaui batas; fil ardhi = di bumi; mufsidiin = orang-orang yang membuat kerusakan.

wadzkurũ idz ja’alakum kholafã-a mim ba’di ‘ãdin wa bawwa-akum fil ardhi tattakhidzũna min suhũlihã qushũron wa tanhitũnal jibala buyutan, fadzkurũ a’lã-allahi wa lã ta’tsau fil ardhi mufsidiin.

74. Dan Kamu ingatlah, ketika Dia menjadikan kamu pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad, dan Allah menempatkan kamu di bumi, lalu kamu dirikan istana-istana di tanah yang datar, dan kamu pahat gunung-gunung jadi rumah-rumah, maka kamu ingatlah akan nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela membuat kerusakan di muka bumi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menerangkan bahwa setiap kaum akan diganti dengan aneka kegiatan pembangunan yang dilakukan. Allah mengingatkan agar setiap kaum itu harus selalu mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah, dan jangan merajalela membuat kerusakan di muka bumi.

qōla = berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang …; is takbarũ = (mereka) menyombongkan; min qoumihi = dari kaumnya; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; is tudh’ifũ = (mereka) dianggap lemah; liman = bagi orang; ãmana = beriman; minhum = di antara mereka; ata’lamũna = tahukah kamu; anna = sesungguhnya; shōlihãm = Shaleh; mir robbihim = dari Rabnya; qōlũ = (mereka) berkata, menjawab; innã = sesungguhnya Aku; bimã = dengan apa; ursila = disampaikan; bihi = dengannya; mu’minũn = orang-orang yang beriman.

qōlal mala-ul ladzĩnas takbarũ min qoumihi, lilladzĩnas tudh’ifũ liman ãmana minhum ata’lamũna anna shōlihãm mir robbihim, qōlũ innã bimã ursila bihi, mu’minũn.

75. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata kepada orang-orang yang telah beriman dan dianggap lemah di antar mereka: “Tahukah kamu, sesungguhnya Shaleh diutus menjadi Rasul oleh Rabnya?” Mereka, orang yang beriman menjawab: “Sesungguhnya, Aku adalah orang-orang yang beriman kepada wahyu yang dia sampaikan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tanya jawab antara orang-orang yang sombong dengan orang yang beriman, dilanjutkan ke ayat berikutnya.

qōla = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang …; as takbarũ = (mereka) menyombongkan diri; innã = sesungguhnya; bil ladzĩ= dengan orang-orang yang; ãmantum = kamu imani; bihĩ= dengannya; kãfirũn = ingkar, tidak mempercayai.

qōlal ladzĩnas takbarũ innã bil ladzĩãmantum bihĩkãfirũn.

76. Berkatalah orang-orang yang meyombongkan diri: “Sesungguhnya, Aku tidak mempercayai kepada orang yang kamu imani itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak mempercayai Rasul berarti sombong.

fa’aqorũ = maka mereka menyembelih; an nãqota = unta betina; wa ‘atau = dan mereka durhaka; ‘an amri = dari perintah; robbihim = Rabnya; wa qōlũ = dan mereka berkata; yã shōlihu = wahai Shaleh; i’tinã = datangkanlah kepada Aku; bimã = dengan apa; ta’idunã = kamu ancamkan kepada Aku; in kunta = jika kamu adalah; mina = dari; al mursalĩn = orang-orang yang diutus.

fa’aqorũn nãqota wa ‘atau ‘an amri robbihim wa qōlũ yã shōlihu’tinã bimã ta’idunã in kunta minal mursalĩn.

77. Maka mereka menyembelih unta betina itu, dan mereka mendurhakai perintah Rabnya, dan mereka berkata: “Wahai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada Aku, jika kamu benar-benar dari orang yang diutus,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada peristiwa penyembelihan unta betina Allah, dan tantangan orang-orang yang kafir, agar Allah mendatangkan azab yang diancamkan kepada orang kafir.

fa-akhodzat humu = maka menimpa mereka; ar rojfatu = gempa; fa-ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩdãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mayat- mayat yang bergelimpangan.

fa-akhodzat humur rojfatu fa-ashbahũ fĩdãrihim jãtsimĩn.

78. Maka gempa menimpa mereka, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di dunia berupa berbagai kejadian alam berupa gempa, angin taufan, tanah longsor, banjir, kecelakaan lalu-lintas, dan lain-lain. Di akhirat berupa api neraka yang membakar jasmani dan rohani sebagain manusia, sebagian jin, dan semua setan.

fa tawallã = maka dia, Shaleh berpaling; ‘anhum = dari mereka; wa qōla = dan dia berkata; yã qoumi = wahai kaumku; laqod = sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; risãlata = risalah; robbĩ= Rabku; wa nashahtu = dan aku telah memberi nasihat; lakum = kepadamu; wa lãkin = tetapi; lã tuhibbuna = kamu tidak menyukai; an nãshihĩn = orang-orang yang memberi nasihat.

fa tawallã ‘anhum wa qōla yã qoumi laqod ablaghtukum risãlata robbĩwa nashahtu lakum wa lãkil lã tuhibbunan nãshihĩn.

79. Maka dia, Shaleh, berpaling dari mereka, dan dia berkata: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah Rabku kepadamu, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap Nabiatau Rasul selalu ada pembangkangnya. Ini merupakan Hukumullah kehidupan di dunia. Ada unsur positif, dan ada unsur negatif. Kita harus berpihak kepada yang positif, agar dapat hidup tenang, tenteram, damai, sejahtera, bahagia, menyenangkan, memuaskan.

wa luthan = dan (Aku mengutus) Luth; idz = ketika; qōla = berkata; li qoumihĩ= kepada kaumnya; ata’tũna = mengapa kamu kerjakan; al fãhisyata = yang keji; mã sabaqokum = yang belum pernãh dikerjakan; bihã = dengannya; min ahadin = dari seseorang ; minal ‘ãlamĩn = di dunia ini

wa luthan idz qōla li qoumihĩata’tũnal fãhisyata mã sabaqokum bihã min ahadim minal ‘ãlamĩn.

80. Dan (Aku telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan keji apa yang dilakukan Kaum Luth itu? Lihat ayat berikutnya.

innakum = sesungguhnya kamu; lata’tũna = sungguh kamu mendatangi; ar rijãla = laki-laki; syahwatan = nafsu syahwat; min dũni = dari selain; an nisã-i = perempuan; bal = bahkan; antum = kamu; qoumun = kaum; musrifũn = orang-orang yang melampaui batas.

innakum lata’tũnar rijãla syahwatam min dũnin nisã-i, bal antum qoumum musrifũn.

81. Sesungguhnya, kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan nafsu syahwatmu, bukan kepada perempuan, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelompok homoseks sudah ada sejak zaman NabiLuth. Bahkan setelah Nabi Adam?

wa mã kaana = dan tidak ada; jawãba = jawaban; qoumihĩ= kaumnya; illã = hanya; an qōlũ = mereka mengatakan; akhrijũhum = usirlah mereka; min = dari; qoryatikum = negerimu ini; innahum = sesungguhnya mereka; unãsun = manusia, orang-orang yang berpura-pura; yatathohharũna = menyucikan dirinya.

wa mã kaana jawãba qoumihĩillã an qōlũ akhrijũhum min qoryatikum, innahum unãsun yatathohharũn.

82. Jawaban mereka, kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu, sesungguhnya, mereka itu orang-orang yang berpura-pura menyucikan dirinya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Beberapa Nabiterusir dari negerinya sendiri dengan berbagai sangkaan jelek, hinaan, ejekan, cercaan,

fa anjainãhu = maka Aku selamatkan dia; wa ahlahũ = dan keluarganya (pengikutnya); illã = kecuali; amro-atahũ = istrinya; kaanat = dia adalah; min = dari, termasuk; al ghōbirĩn = orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

fa anjainãhu wa ahlahũ illã amro-atahũ kaanat minal ghōbirĩn.

83. Maka Aku selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang dibinasakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: NabiLuth diselamatkan. Istrinya termasuk ke dalam orang-orang yang dibinasakan. Ia termasuk kelompok lesbian.

wa amtharnã = dan Aku hujani; ’alaihim = pada mereka; mathorō = hujan batu; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kaana = adalah; ‘aqibatu = akibat, kesudahan; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

wa amtharnã ’alaihim mathorō, fanzhur kaifa kaana ‘aqibatul mujrimĩn.

84. Dan Aku hujani mereka dengan batu, maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menurunkan hujan batu kepada orang-orang yang berdosa, berbuat keji.

wa ilã madyana = dan kepada penduduk Madyan; akhōhum = saudara mereka; syuaiban = Suaib; qōla = berkata; yã koumi = wahai kaumku; ’budũllãha = beribadahlah kepada Allah; mã = tidak ada; lakum = bagi kamu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah dating kepadamu; bayyinatun = bukti nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; fa aufũ = maka sempurnakanlah; al kaila = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; wa lã tabkhasũ = dan jangan kamu kurangi; an nãsa = manusia; asy-yã-ahum = segala hak mereka; wa lã tufsidũ = dan kamu jangan membuat kerusakan; fil ardhĩ= di bumi; ba’da = setelah; ishlãhihã = Allah memperbaikinya; dzãlikum = demikian itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagimu; inkuntum = jika kamu; mu’minĩn = orang-orang beriman

wa ilã madyana akhōhum syuaiban, qōla yã koumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, qod jã-atkum bayyinatum mir robbikum, fa aufũl kaila wal mĩzãna wa lã tabkhasũn nãsa asy-yã-ahum wa lã tufsidũ fil ardhĩba’da ishlãhihã, dzãlikum khoirul lakum inkuntum mu’minĩn.

85. Dan kepada penduduk Madyan, Aku utus saudara mereka Syuaib, dia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia. Sesungguhnya, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rab kamu, karena itu, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu mengurangi segala hak manusia, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Demikian itu, lebih baik bagimu, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Syuaib sebagai utusan Allah dari Madyan menyuruh beribadah hanya kepada Allah, menyempurnakan takaran, timbangan, ukuran; jangan mengurangi hak manusia; jangan membuat kerusakan di muka bumi. Inilah pokok perilaku orang beriman.

wa lã taq’udũ = dan kamu jangan duduk-duduk; bi kulli = di setiap; shirōthin = jalan; tũ’idũna = kamu menakut-nakuti; wa tashuddũna = dan kamu menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; man = orang; ãmana = beriman; bihĩ= dengannya; wa tabghũnahã = dan kamu menginginkannya; ‘iwajaan = bengkok; wadzkurũ = dan ingatlah; idz = ketika; kuntum = kamu adalah; qolĩlan = kecil, sedikit; fakats tsarokum = maka Dia memperbanyak kamu; wanzhurũ = dan perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kaana = adalah; ‘ãqibatu = akibat, kesudahan; al mufsidiin = orang-orang yang membuat kerusakan.

wa lã taq’udũ bi kulli shirōthin tũ’idũna wa tashuddũna ‘an sabĩlillãhi man ãmana bihĩwa tabghũnahã ‘iwajaan, wadzkurũ idz kuntum qolĩlan fakats tsarokum, wanzhurũ kaifa kaana ‘ãqibatul mufsidiin.

86. Dan, janganlah kamu duduk-duduk di setiap jalan untuk menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan kamu menginginkan jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah, ketika keadaan kamu sedikit, lalu Dia memperbanyak kamu, dan perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang membuat kerusakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah: “duduk-duduk di setiap jalan untuk menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah”; “membuat jalan Allah bengkok”. Perintah Allah: “Memperhatikan akibat orang-orang yang membuat kerusakan.”

wa in kaana = dan jika ada; thōifatun = segolongan; minkum = di antara kamu; ãmanũ = mereka beriman; billadzĩ= dengan wahyu; ursiltu = aku diutus; bihĩ= dengannya, menyampaikannya; wa thōifatun = dan segolongan; lam yu’minũ = mereka tidak beriman; fashbirũ = maka kamu bersabarlah; hattã = sehingga; yahkumallãhu = Allah menetapkan hokum; bainana = di antara kita; wa huwa = dan Dia; khoirun = yang terbaik; al hãkimĩn = hakim.

wa in kaana thōifatum minkum ãmanũ billadzĩursiltu bihĩwa thōifatul lam yu’minũ fashbirũ hattã yahkumallãhu bainana, wa huwa khoirul hãkimĩn.

87. Dan jika ada segolongan di antara kamu telah beriman kepada (wahyu) yang aku diutus untuk menyampaikannya, dan ada pula segolongan lain yang tidak beriman, maka kamu bersabarlah, sehingga Allah menentapkan hukumnya di antara kita, dan Dialah Hakim Yang terbaik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta orang yang telah beriman bersabar bila ada orang yang tidak mau beriman kepada wahyu Allah, karena Allah lah yang menetapkan hukumnya. Jadi, Hukum Allah itu menetapkan: ada orang yang mau beriman kepada wahyu Allah, ada yang tidak mau beriman. Allah adalah Hakim Yang terbaik.

qōla = berkata; al malã-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; is takbarũ = menyombongkan diri; min qoumihĩ= dari kaumnya; lanukhrijannaka = sungguh, Aku akan mengusir kamu; yã syuaibu = wahai Syuaib; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; ma’aka = bersama kamu; min qoryatinã = dari negeri Aku ini; au = atau; lata’ũdunna = kamu sungguh-sungguh kembali; fĩmillatinã = dalam agama Aku; qōla = berkata; awalau = apakah meskipun; kunnã = adalah Aku; kãrihĩn = orang-orang yang tidak menyukai.

qōlal malã-ul ladzĩnas takbarũ min qoumihĩlanukhri jannaka yã syuaibu wal ladzĩna ãmanũ ma’aka min qoryatinã au lata’ũdunna fĩmillatinã, qōla awalau kunnã kãrihĩn.

88. Pemuka-pemuka dari kaum NabiSyuaib yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya, Aku akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri Aku ini, atau kamu kembali dengan sungguh-sungguh dalam agama Aku.” Syuaib berkata: “Apakah (kamu akan mengusir Aku) meskipun Aku tidak menyukainya?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Selalu terjadi konflik antara orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Orang yang tidak beriman mengusir orang-orang yang beriman dari kotanya, meskipun orang yang beriman tidak suka diusir.

qod = sungguh; iftaroinã = Aku mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = kebohongan; in ‘udnã = jika Aku kembali; fĩmillatikum = ke agamamu; ba’da = sesudah; idz = ketika; najjaanallãhu = Allah melepaskan Aku; min hã = darinya; wa mã = dan tidak; yakũnu = pantas; lanã = bagi Aku; an na’ũda = Aku akan kembali; fĩhã = kepadanya; illã = kecuali; an yasyã-allãhu = jika Allah menghendaki; robbunã = Rab Aku; wasi’a = luas, meliputi; robbunã = Rab Aku; kulla syai-in = segala sesuatu; ‘ilmã = pengetahuan; ‘alallãhi = kepada Allah; tawakkalnã = Aku bertawakal; robbana = Rab Aku; iftah = berilah keputusan; bainanã = antara Aku; wa baina = dan antara; qouminã = kaum Aku; bil haqqi = dengan benar; wa anta = dan Engkau; khoiru = terbaik; al fãtihĩn = Pemberi keputusan.

qodiftaroinã ‘alallãhi kadziban in ‘udnã fĩmillatikum ba’da idz najjaanallãhu min hã, wa mã yakũnu lanã an na’ũda fĩhã illã an yasyã-allãhu robbunã, wasi’a robbunã kulla syai-in ‘ilmã, ‘alallãhi tawakkalnã, robbanaftah bainanã wa baina qouminã bil haqqi wa anta khoirul fãtihĩn.

89. Sungguh, Aku mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, jika Aku kembali ke agamamu, sesudah Allah melepaskan Aku darinya. Dan tidak pantas bagi Aku akan kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rab Aku menghendakinya. Pengetahuan Rab Aku meliputi segala sesuatu, kepada Allah saja Aku bertawakal: “yã Rab Aku, berilah keputusan di antara Aku dan kaum Aku dengan benar, dan Engkaulah Pemberi keputusan yang terbaik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang sudah beriman harus kuat berpegang pada keyakinannya kepada Allah dan Nabinya. Hal ini harus disertai upaya dan doa agar Allah memberi keputusan yang benar dan yang terbaik.

wa qōla = dan berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qoumihĩ= dari kaumnya; la-ini = sungguh jika; it taba’tum = kamu mengikuti; syuaiban = Syuaib; innakum = sesungguhnya kamu; idzan = jika demikian; lakhōsirũn = tentu orang-orang yang merugi.

wa qōlal mala-ul ladzĩna kafarũ min qoumihĩla-init taba’tum syuaiban innakum idzal lakhōsirũn.

90. Pemuka-pemuka dari kaum NabiSyuaib yang kafir berkata: “Jika sungguh kamu mengikuti Syuaib, sesungguhnya, jika berbuat demikian, tentu kamu menjadi orang yang merugi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka dari kaum NabiSyuaib yang kafir menakut-nakuti orang yang beriman.

fa akhodzat humu = maka menimpa mereka; ar rojfatu = gempa; fa ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩdãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mayat-mayat yang bergelimpangan.

fa akhodzat humur rojfatu fa ashbahũ fĩdãrihim jãtsimĩn.

91. Maka mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di dunia berupa gempa, banjir, tanah longsor, angin ribut (topan), kecelakaan kendaraan, dan lain-lain hal yang menimbulkan penderitaan dan mematikan.

alladzĩna = orang-orang yang …; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; Syuaiban = Syuaib; ka-al lam = seakan-akan tidak, belum; yaghnau = mereka berdiam; fĩhã = di dalamnya; alladzĩna = orang-orang yang …; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; syuaiban = Syuaib; kaanũ = mereka adalah; hum = mereka; al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.

alladzĩna kadzdzabũ Syuaiban ka-al lam yaghnau fĩhã, alladzĩna kadzdzabũ syuaiban kaanũ humul khōsirĩn.

92. Orang-orang yang mendustakan Syuaib seakan-akan mereka belum pernah tinggal diam di dalam negeri itu, orang-orang yang mendustakan Syuaib, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beranggapan tidak benar tentang Rasul itu merugikan diri sendiri.

fatawallã = maka dia meninggalkan; ‘anhum = dari mereka; wa qōla = dan berkata; yã koumi = wahai kaumku; laqod = sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; risãlãti = risalah-risalah; robbĩ= Rabku; wa nashahtu = dan aku telah memberi nasihat; lakum = kepada kamu; fa kaifa = maka, bagaimana; ãsã = aku bersedih hati; ‘alã qoumin = kepada kaum; kãfirĩn = orang-orang kafir.

fatawallã ‘anhum wa qōla yã koumi laqod ablaghtukum risãlãti robbĩwa nashahtu lakum, fa kaifa ãsã ‘alã qoumin kãfirĩn.

93. Maka dia (Syuaib) meninggalkan mereka, seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah-risalah Rabku kepadamu, dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka, bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Syuaib pun tidak merasa sedih, meskipun harus meninggalkan mereka yang kafir karena Syuaib telah menunaikan tugasnya menyampaikan risalah-risalah Rabnya dan sudah memberi nasihat.

wa mã arsalnã = dan Aku tidak mengutus; fĩqoryatin = di sebuah negeri; min nabiyyin = dengan seorang Nabi; ilã = kecuali, melainkan; akhodznã = Aku timpakan; ahlahã = penduduknya; bil ba’sã-i = dengan kesempitan; wadhdhorrō-i = dan penderitaan; la’allahum = supaya mereka; yadhdhorro’ũn = mereka merendahkan diri.

wa mã arsalnã fĩqoryatim min nabiyyin ilã akhodznã ahlahã bil ba’sã-i wadhdhorrō-i la’allahum yadhdhorro’ũn.

94. Dan Aku tidak mengutus seorang Nabipun di sebuah negeri, kecuali penduduknya ada yang mendustakan keberadaan Aku, Allah, karena itu Aku timpakan kesempitan dan penderitaan, supaya mereka merendahkan diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kedatangan Utusan untuk mengabarkan keberadaan Allah biasanya ditolak oleh sebagian penduduknya yang sombong. Karena itu, Allah menimpakan kesempitan dan penderitaan, supaya penduduknya mau merendahkan diri. Artinya mengubah dirinya tidak menjadi sombong karena ilmunya, kekayaannya, kedudukannya, dan lain-lain, karena segala sesuatunya itu dari Allah. Bukan karena usahanya sendiri, tapi segala sesuatunya itu dari Allah. Allah yang menentukan segala sesuatunya di dunia ini.

tsumma = kemudian; baddalnã = Aku ganti; makãna = tempat; as sayyi-ati = yang jelek; al hasanata = yang baik; hattã = sehingga; ‘afau = mereka berkembang-biak; wa qōlũ = dan mereka berkata; qod = sungguh; massa = telah menimpa; ãbã-anã = nenek-moyang Aku; adh dhorrō-u = penderitaan; was sarrō-u = dan kesenangan; fa’akhodznãhum = maka Aku timpakan kepada mereka; baghtatan = dengan tiba-tiba; wa hum = dan, sedang, padahal mereka; lã yasy’urũn = mereka tidak menyadari.

tsumma baddalnã ma kãnas sayyi-atil hasanata hattã ‘afau wa qōlũ qod massa ãbã-anãdh dhorrō-u was sarrō-u fa’akhodznãhum baghtatan wa hum lã yasy’urũn.

95. Kemudian Aku ganti tempat yang jelek (susah) dengan yang baik (senang), sehingga mereka berkembang-biak, dan mereka berkata: “Sungguh telah menimpa nenek-moyang Aku penderitaan, dan kesenangan.” Maka, Aku timpakan kepada mereka siksaan dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesungguhnya, Allah yang menentukan tempat yang jelek (susah) atau yang baik (senang). Datangnya kesenangan atau siksaan pun Allah Yang menentukan. Kebanyakan manusia tidak menyadari dan banyak yang tidak bersyukur atas kasih-sayang Allah dalam berbagai kejadian di alam ini. Maka ditimpakan siksaan dengan tiba-tiba agar manusia tersadar pada kenyataan ada-Nya Allah Yang Mahakuasa.

walau = dan kalau; anna = sekiranya; ahla = penduduk; al qurō = negeri; ãmanũ = mereka beriman; wat taqau = dan mereka bertakwa; la fatahnã = pasti Aku bukakan; ‘alaihim = bagi mereka; barokãtim = keberkahan; min = dari; as samã-i = langit; wal ardhĩ= dan bumi; wa lãkin = akan tetapi; kadzdzabũ = mereka mendustakan; fa-akhodnãhum = maka Aku timpakan kepada mereka; bi mã = dengan sebab; kaanũ = mereka adalah; yaksibũn = perbuatan mereka.

walau anna ahlal qurō ãmanũ wat taqau la fatahnã ‘alaihim barokãtim minas samã-i wal ardhĩwa lãkin kadzdzabũ fa-akhodnãhum bi mã kaanũ yaksibũn.

96. Dan sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Aku bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat-Ku, maka Aku timpakan kepada mereka siksa karena perbuatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keberkahan dari langit dan bumi itu karena manusia beriman dan bertakwa kepada Allah. Siksa datang karena manusia berbuat semena-mena, mendustakan ayat-ayat Allah.

afa-amina = apakah merasa aman; ahlu = penduduk; al qurō = negeri; an ya’tiyahum = bahwa akan datang kepada mereka; ba’sunã = siksa Aku; bayãtan = pada waktu malam; wa hum = dan, sedang mereka; nã-imũn = mereka tidur.

afa amina ahlul qurō an ya’tiyahum ba’sunã bayãtan wa hum nã-imũn.

97. Apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa akan datang kepada mereka siksa dari Aku pada waktu malam, sedang mereka itu tidur?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah, siksa-Nya datang pada setiap saat manusia sedang lengah, dalam berbagai situasi: sedang tidur, sedang bergembira-ria, sedang bermain, sedang bekerja, dan lain-lain. Waspadalah!!! Ingatlah selalu kepada Allah Yang menguasi makhluk-Nya.

awa amina = atau, apakah merasa aman; ahlu = penduduk; al qurō = negeri; an ya’tiyahum = bahwa akan datang kepada mereka; ba’sunã = siksa Aku; dhuhan = pada waktu pagi; wa hum = dan mereka; yal’abũn = mereka bermain.

awa amina ahlul qurō an ya’tiyahum ba’sunã dhuhan wa hum yal’abũn.

98. Atau, apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa akan datang kepada mereka siksa Aku pada waktu pagi, dan mereka sedang bermain?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat catatan ayat 97. Siksa Allah itu datangnya kapan saja, sekehendak Allah, saat mereka sedang berlalai-lalai.

afa aminũ = apakah mereka merasa aman; makrollãhi = rencana, azab Allah; fa lã ya’manu = maka tidak merasa aman; makrollãhi = rencana, azab Allah; illãl qoumul khōsirũn.

afa aminũ makrollãhi, fa lã ya’manu makrollãhi illãl qoumul khōsirũn.

99. Apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Maka, tidak ada yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang rugi adalah orang yang tidak mau mengingat akan datangnya azab di dunia, terutama nanti di akhirat. Mereka merasa aman berbuat semena-mena di dunia tanpa mengingat keberadaan Allah.

awalam yahdi = apakah (Dia) belum (memberi petunjuk dengan) jelas; lilladzĩna = bai orang-orang yang …; yaritsũna = (mereka) mewarisi; al ardho = bumi, negeri; min = dari; ba’di = sesudah; ahlihã = penduduknya; al lau = bahwa kalau; nasyã-u = Aku menghendaki; ashobnãhum = Aku azab mereka; bidzunũbihim = dengan dosa-dosa mereka; wa nathba’u = dan Aku tutup; ‘alã qulũbihim = atas hati mereka; fahum = maka mereka; lã = tidak; yasma’ũn = mereka dapat mendengar (pelajaran).

awalam yahdi lilladzĩna yaritsũnal ardho mim ba’di ahlihã al lau nasyã-u ashobnãhum bidzunũbihim, wa nathba’u ‘alã qulũbihim fahum lã yasma’ũn.

100. Apakah belum jelas bagi pewaris sebuah negeri yang sudah lenyap penduduknya? Kalau Aku menghendaki tentu Aku azab mereka karena dosa-dosa mereka, dan Aku tutup hati mereka, maka mereka tidak dapat mendengar pelajaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, penjelasan, pelajaran tentang penduduk sebuah negeri yang dimusnahkan karena melakukan dosa. Mereka ditutup mata hatinya sehingga tidak dapat mendengar pelajaran dari Allah dan Nabinya.

tilka = itulah; al qurō = negeri-negeri; naqushshũ = Aku kisahkan; ‘alaika = kepadamu; min = dari; ambã-ihã = sebagian beritanya; wa laqod = dan sesungguhnya; jã-at-hum = telah dating kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinaati = dengan bukti-bukti nyata; fa = maka, namun; mã kaanũ = mereka tidak; liyu’minũ = untuk mereka beriman; bimã = drngan apa, kepada apa; kadzdzabũ = mereka telah mendustakan; min qoblu = dari dahulu; kadzãlika = demikianlah; yathba’ullãhu = Allah menutupi; ‘alã = atas, pada; qulũbi = hati; al kãfirĩn = orang-orang kafir.

tilkal qurō naqushshũ ‘alaika min ambã-ihã, wa laqod jã-at-hum rusuluhum bil bayyinaati famã kaanũ liyu’minũ bimã kadzdzabũ min qoblu, kadzãlika yathba’ullãhu ‘alã qulũbil kãfirĩn.

101. Itulah negeri-negeri yang (telah Aku binasakan,) Aku kisahkan sebagian beritanya kepadamu. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan bukti-bukti yang nyata, namun mereka tidak juga mau beriman kepada apa yang dahulu mereka telah mendustakannya. Demikianlah, Allah menutup hati orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau Allah menutup mata hati seseorang, meskipun ditunjuki bukti-bukti keberadaan Allah, mereka tetap tidak mau mendengar kisah nyata negeri yang dihancurkan-Nya; mereka tidak mengakui keberadaan-Nya; mereka menolak apa yang diperintahkan-Nya, mereka melakukan apa yang dilarang-Nya.

wa mã wajadnã = dan Aku menemukan tidak; li aktsarihim = bagi kebanyakan mereka; min ‘ahdin = dari janji; wa in wajadnã = dan sesungguhnya Aku menemukan; aktsarohum = kebanyakan mereka; la fãsiqĩn = sungguh orang-orang fasik.

wa mã wajadnã li aktsarihim min ‘ahdin, wa in wajadnã aktsarohum la fãsiqĩn.

102. Dan Aku menemukan kebanyakan mereka tidak memenuhi janji, dan sesungguhnya, Aku menemukan kebanyakan mereka itu orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menemukan banyak manusia yang tidak memenuhi janji. Artinya, janji manusia akan mengakui keberadaan Allah dengan segala kekuasan-Nya di dunia dan di akhirat tidak dilakukan. Allah menemukan banyak orang fasik (bodoh), tidak mau menggunakan akal dan pikirannya dalam mengarungi perjalanan hidupnya.

tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mimba’dihim = dari sesudah Rasul-rasul; mũsã = Musa; bi ayãtinã = dengan tanda-tanda Aku; ilã = kepada; fir’auna = Fir’aun; wa mala-ihi = dan pemuka-pemukanya; fa = maka, lalu; zholamũ = mereka menlalimi, mengingkari; bihã = dengannya; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kaana = ia adalah; ‘ãqibat = akibat; al mufsidiin = orang-orang yang membuat kerusakan.

tsumma ba’atsnã mimba’dihim mũsã bi ayãtinã ilã fir’auna wa mala-ihi fa zholamũ bihã, fanzhur kaifa kaana ‘ãqibatul mufsidiin.

103. Kemudian Aku utus Musa sesudah Rasul-rasul itu dengan membawa tanda-tanda-Ku kepada Fir’aun dan pemuka-pemukanya, lalu mereka mengingkarinya. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun dan pemuka-pemukanya mengingkari keberadaan Musa sebagai Rasul. Artinya, mereka juga tidak mengakui keberadaan Allah. Orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya pasti membuat kerusakan di dunia ini. Akibatnya, menimbulkan penderitaan bagi rakyatnya, dan bagi mereka sendiri.

wa qōla = dan berkata; mũsã = Musa; yã fir’aunu = wahai Firaun; innĩ= sesungguhnya aku; rosũlun = sorang Rasul; mir robbil ‘ãlamĩn = dari Penguasa alam

wa qōla mũsã yã fir’aunu innĩrosũlum mir robbil ‘ãlamĩn.

104. Dan Musa berkata: “Wahai Fir’aun, sesungguhnya aku ini seorang Rasul dari Penguasa alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Musa agar memberitahu siapa dirinya kepada Fir’aun dan para pemuka-pemukanya. Juga kepada orang-orang yang beriman untuk menjadi pelajaran.

haqĩqun = sebenarnya; ‘alã al lã aqũla = aku tidak mengatakan; ‘alallãhi = tentang Allah; illã = kecuali; al haqo = uang benar; qod = sesungguhnya; ji’tukum = aku datng kepadamu; bi bayyinatim = dengan bukti-bukti nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; fa arsil = maka lepaskanlah; ma’iya = bersama aku; banĩisrō-ĩla = orang-orang Bani israil

haqĩqun ‘alã al lã aqũla ‘alallãhi illãl haqo, qod ji’tukum bi bayyinatim mir robbikum fa arsil ma’iya banĩisrō-ĩla.

105. Sebenarnya, aku tidak mengatakan tentang Allah, kecuali yang benar, Sesungguhnya, aku datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Rabmu. Maka lepaskanlah orang-orang Bani Israil pergi bersamaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: NabiMusa a.s. menjelaskan hakekat Allah dengan bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah di alam ini. NabiMusa meminta kebebasan, kemerdekaan untuk orang-orang Bani Israil pergi memisahkan diri kepada Fir’aun

qōla = berkata; in kunta = jika kamu …; ji’ta = kamu dating; bi ãyatin = dengan suatu bukti; fa’ti = maka datangkanlah; bihã = dengan bukti itu; in kunta = jika kamu …; mina = dari; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

qōla in kunta ji’ta bi ãyatin fa’ti bihã in kunta minash shōdiqĩn.

106. Dia, Fir’aun berkata: “Jika kamu datang membawa bukti dari Allah, maka kemukakan bukti itu, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun meminta bukti tentang Allah itu dijelaskan, dikemukakan

fa alqō = maka, ia menjatuhkan; ‘ashōhu = tongkatnya; fa-idzã = maka tiba-tiba; hiya = dia (tongkat itu; tsu’baanun = ular; mubĩn = nyata.

fa alqō ‘ashōhu fa-idzã hiya tsu’baanum mubĩn.

107. Maka, ia, Musa menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Apa yang dilakukan NabiMusa ini bukan sulap dan bukan sihir, tapi kemampuan yang dianugrahkan Allah kepadanya.

wa naza’a = dan ia menarik; yadahũ = tangannya; fa idzã = maka tiba-tiba; hiya = dia (Musa); baidhō’u = putih, bercahaya; lin nãzhirĩn = bagi orang yang melihatnya.

wa naza’a yadahũ fa idzã hiya baidhō’u lin naiazhirĩn.

108. Dan, ia, Musa menarik tangannya, maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang yang melihatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ibidem catatan ayat 107.

Qōla = berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; min qoumi = dari kaum; fir’auna = Fir’aun; inna hãdzã = sesungguhnya ini; la sãhirun = sungguh 9benar-benar) ahli sihir; ‘alĩm = yang berpengetahuan.

Qōlal mala-u min qoumi fir’auna inna hãdzã la sãhirun ‘alĩm.

109. Pemuka-pemuka kaum Firaun berkata: “Sesungguhnya (Musa) ini benar-benar seorang ahli sihir yang berpengetahuan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka kaum Fir’aun mengira Musa sebagai ahli sihir yang berilmu dan berpengetahuan.

yurĩdu = dia bermaksud; an yukhrijakum = akan mengeluarkan kamu; min ardhikum = dari bumimu/negerimu; fa mãdzã = maka apa yang; ta’murũn = kamu perintahkan.

yurĩdu an yukhrijakum min ardhikum, fa mãdzã ta’murũn.

110. Dia bermaksud akan mengeluarkan kamu dari negerimu, maka apa yang kamu perintahkan sekarang?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka Firaun memanas-manasinya, dan menanyakan perintah apa yang akan dikeluarkan.

qōlũ = berkata; arjih = tahanlah dia; wa akhōhu = dan saudara-saudaranya; wa arsil = dan kirimlah; fi madã-ini = di/ke kota-kota; hōsyirĩn = orang-orang yang berkumpul;

qōlũ arjih wa akhōhu wa arsil fil madã-ini hōsyirĩn.

111. Mereka (pemuka-pemuka) itu berkata: “Tahanlah dia (Musa) dan saudara- saudaranya, dan kirimlah orang-orang ke kota-kota untuk mengumpulkan ahli-ahli sihir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka Fir’aun menyarankan agar Musa ditahan, dan mencari ahli-ahli sihir di berbagai kota.

ya’tũka = mereka akan datang kepadamu; bi kulli = dengan seluruh; sãhirin = ahli sihir; ‘alĩm = yang berpengetahuan.

ya’tũka bi kulli sãhirin ‘alĩm.

112. Mereka, semua ahli sihir yang berpengatahuan akan datang kepadamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli-ahli sihir dari berbagai kota berdatangan kepada Fir’aun.

wa jã-a = dan berdatangan; as sahorotu = ahli-ahli sihir; fir’auna = Fir’aun; qōlũ = mereka berkata; inna = sesungguhnya; lanã = bagi Aku; la-ajron = sesungguhnya mendapat upah; in kunnã = jika Aku adalah; nahnu = Aku; al ghōlibĩn = orang-orang yang menang.

wa jã-as sahorotu fir’auna qōlũ inna lanã la-ajron in kunnã nahnul ghōlibĩn.

113. Dan datanglah ahli-ahli sihir itu kepada Fir’aun, mereka mengatakan: “Apakah Aku sesungguhnya mendapat upah, jika Aku yang menang?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli sihir itu menuntut upah kepada Fir’aun, jika mereka menang menghadapi Musa.

qōla = (Fir’aun) berkata; na’am = yã, benar; wa inna = dan sesungguhnya; kum = kamu; lamina = sungguh termasuk, dari; al miqorrobĩn = orang-orang yang dekat.

Qōla na’am wa inna kum laminal miqorrobĩn.

114. Fir’aun berkata: “ya, benar, dan sesungguhnya kamu, benar-benar termasuk orang-orang yang dekat denganku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun membenarkan mereka akan diberi upah, dan menjanjikan akan menjadikan orang kepercayaannya.

qōlũ = mereka berkata; yã mũsã = wahai Musa; immã = apakah; an tulqiya = kamu akan melemparkan; wa immã = dan apakah; an nakũna = Aku adalah; nahnu = Aku; al mulqĩn = orang-orang yang melemparkan

qōlũ yã mũsã immã an tulqiya wa immã an nakũna nahnul mulqĩn.

115. Ahli-ahli sihir berkata: “Wahai Musa apakah kamu akan melemparkan lebih dahulu, atau Aku yang akan melemparkan?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara ahli sihir dengan NabiMusa saat akan bertanding antara ilmu sihir dengan Ilmu Allah yang diwahyukan kepada Musa.

qōla = (Musa) berkata; alqũ = lemparkanlah; fa lammã = maka setelah; alqau = mereka melemparkan; saharũ = mereka menyihir; a’yuna = mata; an nãsi = manusia wa = dan; as tarhabũ = menjadikan takut; hum = mereka; wa jã-ũ = dan mereka mendatangkan; bi sihrin = dengan sihir; ‘azhĩm = yang besar.

qōla alqũ fa lammã alqau saharũ a’yunan nãsi was tarhabũ hum wa jã-ũ bi sihrin ‘azhĩm.

116. Dia (Musa) berkata: “Lemparkanlah”. Maka setelah mereka melemparkan, dan menyihir mata orang banyak serta menjadikan mereka takut. Mereka melakukan sihir yang hebat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan yang menghasilkan sesuatu yang menakjubkan, kalau tanpa izin Allah, tanpa menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang adalah sihir. Sihir itu mengagumkan dan menakutkan.

wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã mũsã = hanya kepada Musa; an alqi = agar melemparkan; ‘ashōka = tongkatmu; fa idzã = maka tiba-tiba; hiya = ia (tongkat itu); talqofũ = menelan; mã ya’fikũn = apa yang mereka pertunjukkan.

wa auhainã ilã mũsã an alqi ‘ashōka, fa idzã hiya talqofũ mã ya’fikũn.

117. Dan Aku wahyukan kepada Musa: “Lemparkan tongkatmu.” Maka, tiba-tiba tongkat itu menelan apa yang mereka pertunjukkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesuatu perbuatan yang menghasilkan kejadian tertentu berdasarkan perintah Allah, hasilnya lebih kuat, dan lebih mengagumkan dibandingkan rekayasa manusia. Hal ini karena ada izin dari Allah.

fa waqo’a = maka terjadi/terbukti; al haqqu = yang benar; wa bathola = dan batallah/hilanglah; mãkaanũ = apa yang mereka ….; ya’malũn = kerjakan.

fa waqo’al haqqu wa bathola mã kaanũ ya’malũn.

118. Maka terjadi/terbukti yang benar itu, dan batallah apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pekerjaan yang berdasarkan perintah Allah selalu benar. Pekerjaan yang berdasarkan keinginan setan pasti lenyap.

fa ghulibũ = maka mereka dikalahkan; hunãlika = di sana, di tempat itu; wan qolabũ = dan mereka kembali; shōghirĩn = menjadi kecil, hina.

fa ghulibũ hunãlika wan qolabũ shōghirĩn.

119. Maka mereka dikalahkan di tempat itu, dan mereka kembali dengan kehinaan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kekalahan hidup itu bila kita kalah bersaing sehingga menjadi hina/dalam keadaan menjadi hina.

wa ulqiya = dan menjatuhkan dirilah; as saharatu = ahli-ahli sihir itu; sãjidiin = bersujud.

wa ulqiyas saharatu sãjidiin.

120. Dan ahli-ahli ilmu sihir itu menjatuhkan dirilah, bersujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli-ahli sihir itu bersujud tanda mengakui keunggulan Ilmu Allah.

qōlũ = para ahli sihir itu berkata; ãmannã = Aku beriman; bi robbil ‘ãlamĩn = kepada Rab Pemelihara alam.

qōlũ ãmannã bi robbil ‘ãlamĩn.

121. Mereka berkata: “Aku beriman kepada Rab Pemelihara alam.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para ahli sihir mengakui ada Penguasa alam Yang Maha dalam segala-Nya.

Rabi = Penguasa dari; mũsã = Musa; wa hãrũn = dan Harun

Rabi mũsã wa hãrũn.

122. Penguasa Musa dan Harun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penguasa Musa dan Harun dan semua yang ada di alam semesta ini, lihat Al Fatihah, 1 : 2

qōla = berkata; fir’aunu = Fir’aun; ãmantum = apakah kamu beriman; bihĩ= kepadanya; qobla = sebelum; an ãdzana = aku memberi izin; lakum = kepadamu; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; lamakrun = suatu muslihat; makartumũhu = telah kamu rencanakan; fil madiinati = di dalam kota ini; litukhrijũ = untuk kamu mengeluarkan; minhã = darinya; ahlahã = penduduknya; fasaufa = maka kelak; ta’lamũn = kamu akan mengetahui.

qōla fir’aunu ãmantum bihĩqobla an ãdzana lakum, inna hãdzã lamakrum makar tumũhu fil madiinati litukhrijũ minhã ahlahã, fasaufa ta’lamũn.

123. Fir’aun berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?” Sesungguhnya perbuatan ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam negeri ini untuk mengeluarkan penduduknya dari dalamnya, maka kelak akan mengetahui akibat perbuatan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan kekuasaannya yang ada, Fir’aun mengintimidasi, mengancam para ahli sihir

la uqoththi’anna = sungguh, aku akan memotong; aidiyakum = tanganmu; wa arjulakum = dan kakimu; min khilãfin = dari yang berlainan (bersilang), tsumma = kemudian; laushollibannakum = sungguh aku akan menyalib kamu; ajma’ĩn = semuanya.

la uqoththi’anna aidiyakum wa arjulakum min khilãfin tsumma laushollibannakum ajma’ĩn.

124. Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu bersilang, kemudian, sungguh aku akan menyalib kamu semua.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun mengancam para penyihir yang menyatakan beriman kepada Allah Robbul ‘alamĩn. “memotong tangan dan kakimu bersilang” artinya tangan kanan dan kaki kiri dipotong, atau sebaliknya tangan kiri dan kaki kanan yang dipotong. Inilah bentuk kekejam pada zaman Fir’aun.

qōlũ = ahli sihir berkata; innã = sesungguhnya Aku; ilã = kepada; robbinã = Rab Aku; munqolibũn = dikembalikan.

qōlũ innã ilayã robbinã munqolibũn.

125. Ahli sihir berkata: “Sesungguhnya Aku akan dikembalikan kepada Rab Aku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli sihir sudah mempunyai sikap yang menunjukkan iman kepada Allah.

wa mã tanqimu = dan kamu tidak membalas dendam; minnã = kepada Aku; illã = kecuali; an amannã = karena Aku beriman; bi ãyãti = kepada ayat-ayat; robbinã = Rab Aku; lammã = ketika; jã atnã = datang kepada Aku; robbanã = yã Rab Aku; afrigh = limpahkan; ‘alainã = kepada Aku; shobron = kesabaran; wa tawaffanã = dan wafatkan Aku; muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.

wa mã tanqimu minnã illã an amannã bi ãyãti robbinã lammã jã atnã, robbanã afrigh ‘alainã shobron wa tawaffanã muslimĩn.

126. Dan kamu tidak membalas dendam kepada Aku (penyiksaan), kecuali karena Aku beriman kepada ayat-ayat Rab Aku, ketika (ayat-ayat itu) datang kepada Aku. “Yã Rab Aku, limpahkanlah kesabaran kepada Aku dan wafatkanlah Aku (sebagai) orang-orang yang berserah diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para penyihir menyadari dalam imannya, kalau Fir’aun dan para pemukanya itu menyiksa karena mereka mengimani ayat-ayat Rab, maka ganjarannya pasti surga. Selanjutnya para penyihir itu mohon kepada Rabnya untuk diberi kesabaran dalam menjalani siksaan dari Fir’aun dan anak-buahnya. Kalau seandainya sampai wafat, mereka mohon diwafatkan dalam keadaan berserah diri hanya kepada Allah. Inilah doa permohonan yang perlu diucapkan saat kita berdoa.

wa qōla = dan berkata; almala-u = pemuka-pemuka; min koumi = dari kaum; fir’auna = Fir’aun; atadzaru = apakah kamu membiarkan; mũsã = Musa; wa qoumahũ = dengan kaumnya; li yufsidũ = untuk membuat kerusakan; fil ardhi = di bumi; wayadzaroka = dan meninggalkan kamu; wa ãlihataka = dan ilah-ilah kamu; qōla = Fir’aun menjawab, sanukottilu = kita akan membunuh; abnã-ahum = anak-anak laki-laki mereka; wa nastahyĩ= dan kita biarkan hidup; nisã-ahum = anak-anak perempuan mereka; wa innã = dan sesungguhnya kita; fauqohum = di atas mereka; qōhirũn = berkuasa.

wa qōlal mala-u min koumi fir’auna atadzaru mũsã wa qoumahũ li yufsidũ fil ardhi wayadzaroka wa ãlihataka qōla sanukottilu abnã-ahum wa nastahyĩnisã-ahum wa innã fauqohum qōhirũn.

127. Dan berkatalah pemuka-pemuka kaumnya kepada Fir’aun: “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di atas bumi ini, dan meninggalkan kamu dengan tuhan-tuhanmu?” Fir’aun menjawab: “Kita akan membunuh anak laki-laki mereka, dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kita berkuasa di atas mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada kesepakatan antara Fir’aun dan pemuka-pemuka kaum untuk membunuh anak-anak laki-laki dan mereka membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya merasa memiliki kuasa atas mereka. Lihat ayat 141.

qōla = berkata; mũsã = Musa; li qoumihi = kepada kaumnya; is ta’ĩnũ = mohon pertolonganlah; bil lãhi = kepada Allah; washbirũ = dan bersabarlah; inna = sesungguhnya; al ardho = bumi ini; lillãhi = milik Allah; yũritsuhã = diwariskan-Nya; man = siapa; yasyã-u = yang dikehendaki; min ‘ibãdihi = dari hamba-hamba-Nya; wa ‘ãqibatu = dan akibat kesudahan; lilmuttaqĩn = bagi orang-orang yang takwa.

qōla mũsã li qoumihis ta’ĩnũ bil lãhi washbirũ, innal ardho lillãhi yũritsuhã man yasyã-u min ‘ibãdihĩ, wa ‘ãqibatul lilmuttaqĩn.

128. Musa berkata kepada kaumnya: “Mohon pertolonganlah kepada Allah, dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah. Diwariskan kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hambanya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang taqwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah melalui NabiMusa a.s. kepada umatnya dan kepada umat-umat sesudahnya.

qōlũ = berkata; ũdzĩnã = Aku telah ditindas; min qobli = dari sebelum; an ta’tiyanã = kamu dating kepada Aku; wa mim ba’di mã = dan dari sesudah; ji’tanãkamu datang kepada Aku; qōla = Musa berkata; ‘asã = mudah-mudahan; robbukum = Rab kamu; an yuhlika = akan membinasakan; ‘aduwwakum = musuhmu; wa yastakhlifakum = dan menjadikan kamu khalifah; fil ardhi = di bumi; fayanzhura = maka Dia akan melihat; kaifa = bagaimana; ta’malũn = perbuatanmu.

qōlũ ũdzĩnã min qobli an ta’tiyanã wa mim ba’di mã ji’tanã, qōla ‘asã robbukum an yuhlika ‘aduwwakum wa yastakhlifakum fil ardhi fayanzhura kaifa ta’malũn.

129. Mereka (kaum Musa a.s.) berkata: “Aku telah ditindas (oleh Fir’aun) dari sebelum kamu datang kepada Aku.” Musa berkata: “Mudah-mudahan Rab kamu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara kaumnya dengan Musa a.s. dengan doa untuk kaumnya, mudah-mudahan akan dijadikan khalifah di bumi. Allah akan melihat bagaimana perbuatan makhluk-Nya.

wa laqod = dan sesungguhnya; akhodznã = Aku telah menghukum; ãla fir’auna = Fir’aun; bis sinĩna = dengan beberapa tahun; wa naqshin = dan kekurangan; minats tsamarōtti = dari buah-buahan; la’allahum = supaya mereka; yadz dzakkarũn = mereka mengambil pelajaran.

wa laqod akhodznã ãla fir’auna bis sinĩna wa naqshim minats tsamarōtti la’allahum yadz dzakkarũn.

130. Dan sesungguhnya Aku telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan musim kemarau beberapa tahun, dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini Allah memakai istilah menghukum kepada Fir’aun, bukan mencoba, atau menguji. Allah juga memberi pelajaran kepada Fir’aun.

faidzã = maka apabila; jã-at humu = dating kepada mereka; al hasanatu = kebaikan, kemakmuran; qōlũ = mereka berkata; lanã = bagi Aku (karena Aku); hãdzihi = ini; wa in = dan jika; tushibhum = musibah menimpa mereka; sayyi-atun = kejelekan, kesusahan; yaththoyyarũ = mereka melemparkan kesialan; bi mũsã = kepada Musa; wa man = dan orang; ma’ahũ = besertanya; alã = ingatlah, ketahuilah; innamã = sesungguhnya hanyalah; thō-iruhum = kesialan mereka; ‘indallãhi = dari Allah; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.

faidzã jã-at humul hasanatu qōlũ lanã hãdzihi, wa in tushibhum sayyi-atun yaththoyyarũ bi mũsã wa mam ma’ahũ, alã innamã thō-iruhum ‘indallãhi wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.

131. Maka, apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini karena usaha Aku.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka melemparkan kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya, kesalahan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sesungguhnya, kesalahan mereka itu adalah ketetapan dari Allah”. Ini berarti seseorang itu makmur atau miskin, susah itu karena ketetapan Allah, merupakan ujian dari Allah, tidak bisa ditolak. Harus dihadapi dengan sikap iman atau kafir. Keduanya, akan menjadi tanggung jawab atas sikap masing-masing di akhirat.

wa qōlũ = dan mereka berkata; mahmã = bagaimanapun; ta’tinã = kamu mendatangkan kepadaku; bihĩ= dengannya; min ãyatin = dari ayat, keterangan; litas-haronã = untuk menyihir Aku; bihã = dengan keterangan itu; fa mã nahnu = maka Aku tidak; laka = kepadamu; bi mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman.

wa qōlũ mahmã ta’tinã bihĩmin ãyatil litas-haronã bihã fa mã nahnulaka bi mu’minĩn.

132. Dan mereka berkata: “ Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Aku untuk menyihir Aku dengan keterangan itu, namun Aku sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang kafir menganggap ayat-ayat Allah itu sihir. Keimanan seseorang juga, sesungguhnya Allah lah yang menetapkannya.

fa arsalnã = maka Aku kirimkan; ‘alaihimu = kepada mereka; ath thũfãna = taufan; wa jarōda = dan belalang; wal qummala = dan kutu; wadh dhofãdi’a = katak; wad dama = dan darah; ãyãtin = bukti-bukti; mufashsholãtin = terperinci, jelas; fastakbarũ = maka mereka menyombongkan diri; wa kãnnũ = dan mereka …; qouman = kaum; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

fa arsalnã ‘alaihimuth thũfãna wa jarōda wal qummala wadh dhofãdi’a wad dama ãyãtim mufashsholãtin fastakbarũ wa kãnũ qoumam mujrimĩn.

133. Maka, Aku kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi orang-orang yang sombong, apa pun bukti dari alam yang jelas dan nyata, tetap saja mereka tidak mau beriman kepada Allah. Ini contoh dosa karena kesombongan orang.

wa lammã = dan ketika; wa qo’a = menimpa; ‘alaihimu = atas mereka; ar rijzu azab; qōlũ = mereka berkata; yã mũsã = wahai Musa; ud’u = berdoalah; lanã = bagi Aku; robbaka = Rab kamu; bi mã = dengan apa; ‘ahida = Dia janjikan; ‘indaka = bagi kamu; lain = jika; kasyafta = kamu dapat menghilangkan; ‘annã = dari Aku; ar rijza = azab; lanu’minanna = sungguh Aku akan beriman; laka = kepadamu; wa lanursilanna = dan sungguh Aku akan membiarkan; ma’aka = bersama kamu; banĩisrō-il = Bani Israil.

wa lammã wa qo’a ‘alaihimur rijzu qōlũ yã mũsã ud’ulanã robbaka bi mã ‘ahida ‘indaka, lain kasyafta ‘annar rijza lanu’minanna laka wa lanursilanna ma’aka banĩisrō-il.

134. Dan ketika azab menimpa mereka, mereka pun berkata: “Hai Musa, berdoalah untuk Aku kepada Rab kamu, dengan apa yang Dia janjikan denganmu, jika kamu dapat menghilangkan azab dari Aku, sungguh Aku akan beriman kepadamu, dan sungguh, Aku akan membiarkan Bani Israil pergi bersama kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sifat orang kafir selalu mengada-ada, mereka ingin didoakan agar terlepas dari azab yang dideritanya dengan janji, kalau azab itu hilang mereka akan beriman. Janji seperti ini sering dilanggar, tidak ditepati, tidak dĩngat-ingat kalau azabnya sudah berlalu

fa lammã = maka setelah; kasyafnã = Aku hilangkan; ‘anhumu = dari mereka; ar rijza = azab; ilã = hingga; ajalin = waktu yang ditetapkan; hum = mereka; bãlighũhu = sampai kepadanya; idzã = tiba-tiba; hum = mereka; yankutsũn = mereka mengingkari.

fa lammã kasyafnã ‘anhumur rijza ilã ajalin hum bãlughũhu idzã hum yankutsũn.

135. Maka setelah Aku hentikan azab itu hingga waktu yang ditentukan, tiba-tiba mereka mengingkarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah ciri orang kafir. Mereka selalu ingkar janji.

fantaqomnã = maka Aku menghukum; minhum = kepada mereka; fa-aghroqnãhum = maka Aku tenggelamkan mereka; fil yammi = di laut; bi-annahum = karena mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat Aku; wa kãnũ = dan mereka adalah; ‘anhã = pada ayat-ayat-Ku; ghōfilĩn = orang-orang yang lalai

fantaqomnã minhum fa-aghroqnãhum fil yammi bi-annahum kadzdzabũ bi ãyãtinã wa kãnũ ‘anhã ghōfilĩn.

136. Maka Aku hukum mereka, lalu Aku tenggelamkan mereka di laut karena mereka mendustakan ayat-ayat-Ku, dan mereka itu orang-orang yang lalai pada ayat-ayat-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir ditenggelamkan di laut karena mereka selalu menganggp dusta dan melalai-lalaikan ayat-ayat Allah.

wa aurotsnã = dan Aku wariskan; al qouma = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; kãnũ = mereka adalah; yustadh’afũna = mereka telah tertindas; masyãriqol ardhi = bumi sebelah timur; wa maghōribaha = dan sebelah baratnya; al latĩ = yang; bãroknã = Aku berkati; fĩhã = padanya; wa tammat = dan telah sempurna; kalimatu = perkataan; robbika = Rab kamu; al husnã = yang baik; ‘alã = kepada; banĩ isrōĩla = Bani Israil; bimã = karena; shobarũ = mereka bersabar; wa dammarnã = dan Aku hancurkan; mã = apa; kãna = adalah yang; yashna’u = membuat; fir’aunu = Fir’aun; wa qoumuhũ = dan kaumnya; wa mã kãnũ = dan apa yang …; ya’risyũn = mereka bangun.

wa aurotsnãl qoumal ladzĩna kãnũ yustadh’afũna masyãriqol ardhi wa maghōribahal latĩbãroknã fĩhã, wa tammat kalimatu robbikal husnã ‘alã banĩ isrōĩla bimã shobarũ, wa dammarnã mã kãna yashna’u fir’aunu wa qoumuhũ wa mã kãnũ ya’risyũn.

137. Dan Aku wariskan kepada kaum yang tertindas itu negeri-negeri di bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Aku berkati. Dan telah sempurnalah perkataan Rab kamu yang baik sebagai janji untuk Bani Istrail karena kesabaran mereka, dan Aku hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya, dan apa yang telah mereka bangun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bani Israil yang sabar dalam tindasan Fir’aun diberi warisan Bumi bagian timur dan barat . Allah telah membekali dengan perkataan yang sempurna sebagai janji menuju ke surga.

wa jãwaznã = dan Aku seberangkan; bi banĩisrōila = Bani Israil; al bahro = ke sebarang lautan; fa atau = maka mereka sampai; ‘alã = ke; qoumin = kaum; ya’kufũna = mereka menyembah; ‘alã = ke; ashnãmin = berhala-berhala; lahum = bagi mereka; qōlũ = (Bani Israil) berkata; yã mũsa = wahai Musa; ij’al = buatlah; lanã = untuk Aku; ilãhan = sesembahan; kamã = sebagaimana; lahum = bagi mereka; ãlihatun = beberapa ilah; qōla = (Musa) menjawab; innakum = sesungguhnya kamu; qoumun = kaum; tajhalũn = yang bodoh.

wa jãwaznã bi banĩisrōilal bahro fa atau ‘alã qoumih ya’kufũna ‘alã ashnãmil lahum, qōlũ yã mũsaj’al lanã ilãhan kamã lahum ãlihatun, qōla innakum qoumun tajhalũn.

138. Dan Aku seberangkan Bani Israil ke seberang lautan, maka setelah sampai ke suatu kaum yang menyembah berhala-berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk Aku sebuah ilah (sesembahan, berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini kaum yang bodoh.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa menyeberangkan Bani Israil, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 50. Pada ayat ini Bani Israil masih menginginkan dibuatkan sebuah berhala. Jadi, NabiMusa menganggap Bani Israil sebagai kaum yang bodoh.

inna = sesungguhnya; hã-ulã-i = mereka itu; mutabbarun = akan dihancurkan; mã hum = apa yang mereka; fĩhi = di dalamnya; wa bãthilun = dan batal/sia-sia; mã kãinũ = apa yang mereka …; ya’malũn = mereka kerjakan

inna hã-ulã-i mutabbarum mã hum fĩhi wa bãthilum mã kãnũ ya’malũn.

139. Sesungguhnya apa yang mereka sembah itu akan dihancurkan, dan apa yang mereka kerjakan itu sia-sia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa menerangkan berhala itu akan dihancurkan, menyembah berhala itu pekerjaan sia-sia.

qōla = (Musa) berkata; aghoirollãhi = apakah selain Allah; abghĩkum = aku mencarikan kamu; ilãhan = sesembahan; wa huwa = padahal Dia; adhdholakum = melebihkan kamu; ‘alãl ‘ãlamĩn = atas semesta alam (seluruh umat).

qōla aghoirollãhi abghĩkum ilãhan wa huwa fadhdholakum ‘alãl ‘ãlamĩn.

140. Musa berkata: “Apakah aku akan mencarikan untuk kamu sesembahan selain dari Allah? Padahal, Dialah yang melebihkan kamu atas seluruh umat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa mengingatkan bahwa Bani Israil itu akan ditinggikan derajatnya melebihi umat lain kalau sesembahannya itu Allah Yang Mahagaib. Jangan menyembah ilah lain selain Allah.

wa idz = dan ketika; anjainãkum = Aku menyelamatkan kamu; min = dari; ãli fir’auna = keluarga Fir’aun; yasũmũnakum = mereka menindas kamu; sũa = sangat jahat; al ‘adzãb = azab; yuqottilũna = mereka membunuh; abnã-akum = anak-anak laki-lakimu; wa yastahyũna = dan membiarkan hidup; nisã-akum = anak-anak perempuanmu; wa fĩ= dan dari; dzãlikum = yang demikian; balãun = cobaan; mir robbikum = dari Rab kamu; ‘adhĩm = yang besar.

wa idz anjainãkum min ãli fir’auna yasũmũnakum sũal ‘adzãb, yuqottilũna abnã-akum wa yastahyũna nisã-akum, wa fĩdzãlikum balãum mir robbikum ‘adhĩm.

141. Dan ketika Aku menyelamatkan kamu dari keluarga Fir’aun yang menindas kamu dengan azab yang sangat jahat, mereka membunuh anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada kejadian itu adalah cobaan yang besar dari Rab kamu

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga ayat 127; Q.s. Al Baqarah, 2 : 49

wawã’adnã = dan Aku telah menjanjikan; mũsã = Musa; tsalãtsĩna = tiga puluh; lailatan = malam; wa atmamnãhã = dan Aku mengutamakannya; bi ‘asyrin = dengan sepuluh; fatamma = maka utamalah; mĩqōtu = waktu yang ditentukan; robbihĩ= Rabnya; arbaĩna lailatan = empat puluh malam; wa qōla mũsã = dan Musa berkata; li akhĩhi = kepada saudaranya; hãrũn = Harun; akhlufnĩ= gantikan aku; fĩqoumĩ= dalam kaumku; wa ashlih = dan perbaikilah; wa lã tattabi’ = dan jangan mengikuti; sabĩla = jalan; al mufsidiin = orang-orang yang berbuat kerusakan.

wawã’adnã mũsã tsalãtsĩna lailatan wa atmamnãhã bi ‘asyrin fatamma mĩqōtu robbihĩarbaĩna lailatan, wa qōla mũsã li akhĩhi hãrũnakhlufnĩfĩqoumĩwa ashlih wa lã tattabi’ sabĩlal mufsidiin.

142. Dan Aku telah menjajikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Aku sempurnakan dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabnya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 51

wa lammã = dan ketika; jã-a = datang; Mũsã = Musa; li mĩqōtinã = pada waktu yang Aku tentukan; wa kallamahũ = dan berfirman kepadanya; robbuhũ = Rabnya; qōla = berkata; robbi = yã Rabku; arinĩ= kepadaku; anzhur = melihat; ilaik = Engkau; qōla = bersabda; lantarōni = kamu tidak dapat melihat Aku; wa lãkini = tetapi; unzhur = lihatlah; ilã = ke; al jabali = bukit itu; fa ini = maka jika; astaqorro = ia tetap; madiinahũ = pada tempatnya; fa saufa = maka akan; tarōnĩ= kamu melihat Aku; fa lammã = maka ketika; tajallã = menampakkan; robbuhũ = Rabnya; lil jabali = pada bukit; ja’alahũ = menjadikannya; dakkan = hancur luluh; wa kharro = dan tersungkur; mũsã = Musa; sho’iqon = pingsan; fa lammã = maka setelah; afãqō = dia sadar kembali; qōla = Musa berkata; subhãnaka = Mahasuci Engkau; tubtu = aku bertobat; ilaika = kepada Engkau; wa anã = dan aku; awwalu = pertama, awal; al mu’minĩn = yang beriman.

wa lammã jã-a Mũsã li mĩqōtinã wa kallamahũ robbuhũ, qōla robbi arinĩanzhur ilaik, qōla lantarōni wa lãkininzhur ilãl jabali fa ini astaqorro madiinahũ fa saufa tarōnĩ, fa lammã tajallã robbuhũ lil jabali ja’alahũ dakkan wa kharro mũsã sho’iqon, fa lammã afãqō qōla subhãnaka tubtu ilaika wa anã awwalul mu’minĩn

143. Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah Aku tentukan, dan Rab telah berfirman langsung kepadanya, maka Musa berkata: “Ya Rabku, tampakkanlah Diri Engkau kepadaku agar aku dapat melihat Engkau”. Rab bersabda: “Kamu tidak akan sanggup melihat Aku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap pada tempatnya, niscaya kamu dapat melihat Aku”. Maka, ketika Rabnya menampakkan pada bukit itu, jadilah bukit itu hancur-luluh, dan Musa pun tersungkur pingsan. Maka, setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang yang pertama beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa ingin Allah menampakkan Dirinya. Allah mengingatkan hal itu tidak mungkin. Bisa membahayakan makhluk-Nya. Allah menampakkan Diri dengan berbagai kejadian dan keadaan di alam semesta ini membuktikan keberadaan dan kekuasaan Allah. Memperhatikan keberadaan Allah dapat dilakukan dengan memperhatikan alam semesta; betapa luas, betapa besar, betapa rumitnya. Itulah kekuasaan Allah yang amat mengagumkan, tak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia.

qōla = Allah bersabda; yã mũsã = wahai Musa; inni = sesungguhnya, Aku; ishthofaituka = Aku memilih kamu; ‘alan nãsi = di atas manusia; bi risãlãti = dengan risalah-Ku; wa bi kalãmĩ= dan dengan perkataan-Ku; fakhudz = maka ambillah; mã ãtaituka = apa yang telah Aku berikan kepadamu; wa kun = dan jadilah kamu; minasy syãkirĩn = dari orang-orang yang bersyukur.

qōla yã mũsã innishthofaituka ‘alan nãsi bi risãlãti wa bi kalãmĩfakhudz mã ãtaituka wa kum minasy syãkirĩn.

144. Allah bersabda: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku memilih kamu di atas manusia dengan risalah-Ku dan perkataan-Ku, maka ambillah apa yang telah Aku berikan kepadamu, dan jadilah kamu dari orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingatkan NabiMusa agar umatnya menjadi orang-orang yang bersyukur dengan risalah dan perkataan Allah yang akan menjadi petunjuk jalan, pelajaran untuk hidup yang lurus.

wa katabnã = dan telah Aku tuliskan; lahũ = untuk Musa; fĩalwãhi = pada batu tulis; min kulli = dari segala; syai-in = sesuatu; mũ’izhotan = pelajaran; wa tafshĩlan = dan penjelasan; likulli = bagi segala; syai-in = sesuatu; fa khudz hã = maka berpeganglah kepadanya; bi quwwatin = dengan kuat, teguh; wa’mur = dan suruhlah; qoumaka = kaummu; ya’khudzũ = mereka berpegang; bi ahsanihã = dengan sebaik-baiknya; sa-ũrĩkum = dan Ku-perlihatkan kepadamu; dãro = kampung, negeri; al fãsiqĩn = orang-orang yang fasik

wa katabnã lahũ fĩalwãhi min kulli syai-im mũ’izhotan wa tafshĩlal likulli syai-in fa khudz hã bi quwwatin wa’mur qoumaka ya’khudzũ bi ahsanihã, sa-ũrĩkum dãrol fãsiqĩn.

145. Dan telah Aku tuliskan untuk Musa dalam luh (batu tulis) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi semua, maka Aku berfirman: “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang (kepada perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti akan Kuperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang pasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan sudah ada pelajaran dan penjelasan yang tertulis di dalam luh (batu tulis) agar dĩkuti sebaik-baiknya. Allah juga memberi pelajaran tentang negeri-negeri orang pasik yang dihancurkan.

sa-ashrifu = Aku akan memalingkan; ‘an ãyãtiya = dari ayat-ayat-Ku; al ladzĩna = orang-orang yang; yatakabbarũna = mereka menyombongkan diri; fil ardhi = di bumi; bi ghoiril haqqi = dengan tanpa hak; wa in = dan jika; yarau = mereka melihat; kulla = tiap-tiap; ãyatin = ayat; lã yu’minũ = mereka tidak beriman; bihã = dengannya, kepadanya; wa in = dan jika; yarau = mereka melihat; sabĩla = jalan; ar rusydi = petunjuk; lã yattakhidzũhu = mereka tidak mengamblinya; sabĩla = jalan; wa in = dan jika; yarau = mereka melihat; sabĩla = jalan; al ghoyyi = sesat; yattakhidzũhu = mereka mengambilnya; sabĩlan = jalan; dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; wa kãnũ = dan mereka adalah; ‘anhã = darinya; ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.

sa-ashrifu ‘an ãyãtiyal ladzĩna yatakabbarũna fil ardhi bi ghoiril haqqi wa in yarau kulla ãyatil lã yu’minũ bihã wa in yarau sabĩlar rusydi lã yattakhidzũhu sabĩla, wa in yarau sabĩlal ghoyyi yattakhidzũhu sabĩla, dzãlika bi annahum kadzdzabũ bi ãyãtinã wa kãnũ ‘anhã ghōfilĩn.

146. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku. Dan jika mereka melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak beriman kepadanya, dan jika mereka melihat jalan yang membawa petunjuk, mereka tidak mau mengambilnya sebagai jalan, tetapi jika mereka melihat jalan yang sesat, mereka terus mengambilnya sebagai jalan. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mendustakan ayat-ayat Aku, dan mereka adalah orang-orang yang lalai darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku” artinya, Allah membuat orang-orang itu menjadi kafir, karena memang dari gejala-gejala perbuatannya menghadapi ayat-ayat Allah, mereka itu sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman. Orang sombong adalah orang yang tidak mau percaya apa yang disampaikan para Nabiitu dari Allah. Ayat ini harus menjadi peringatan juga bagi generasi sekarang yang membaca Alquran tapi tidak melaksanakan aturan-aturannya, dan melakukan apa yang seharusnya dijauhi, tidak menjauhi apa yang dilarang Allah.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat Aku; wa liqō-i = dan pertemuan; al ãkhiroti = akhirat; habithot = sia-sia; ’mãluhum =amal mereka; hal = apakah, tidakkah; yujzauna = mereka diberi balasan; illã = kecuali; mã = apa yang; kãnũ = mereka adalah …: ya’malũn = mereka kerjakan.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã wa liqō-il ãkhiroti habithot a’mãluhum, hal yujzauna illã mã kãnũ ya’malũn.

147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku dan pertemuan akhirat, maka sia-sialah amal mereka, mereka tidak diberi balasan, kecuali apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang mereka kerjakan adalah pendustaan ayat-ayat Allah dan pertemuan pada hari akhirat. Jadi balasan mereka adalah neraka, karena kekafirannya.

wattakhodza = dan menjadikan; qoumu = kaum; mũsã = Musa; mim ba’dihi = dari sesudahnya; min huliyyihim = dari perhiasan-perhiasan mereka; ‘ijlan = anak lembu; jasadan = tubuh; lahũ = baginya; khuwãwun = suara; alam = apakah mereka; yarou = tidak mengetahui; annahũ = bahwa ia; lã yukallimuhum = tidak dapat berbicara dengan mereka; wa lã yahdĩhim = dan ia tidak memberi petunjuk mereka; sabĩlan = jalan; ittakhadzũhu = mereka menjadikan; wa kãnũ = dan mereka adalah; zhōlimĩn = lalim

wattakhodza qoumu mũsã mim ba’dihi min huliyyihim ‘ijlan jasadal lahũ khuwãwun, alam yarōu annahũ lã yukallimuhum wa lã yahdĩhim sabĩlat takhadzũhu wa kãnũ zhōlimĩn.

148. Dan kaum Musa sesudah kepergiannya ke gunung Tur, mereka membuat perhiasan-perhiasan seekor anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka, dan tidak dapat memberi petunjuk jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya sesembahan, dan mereka adalah orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 51

wa lammã = dan setelah; suqitha = menyesali; fĩaidĩhim = dalam perbuatannya; wa ro-au = dan mereka mengetahui; annahum = bahwa mereka; qod = sungguh; dhollũ = mereka telah sesat; qōlũ = mereka berkata; la-in lam = sungguh jika tidak; yarhamnã = memberi rahmat kepada Aku; robbunã = Rab Aku; wa yaghfir = dan mengampuni; lanã = bagi Aku; lanakũnanna = niscaya Aku menjadi; mina = dari; al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.

wa lammã suqitha fĩaidĩhim wa ro-au annahum qod dhollũ, qōlũ la-in lam yarhamnã robbunã wa yaghfir lanã lanakũnanna minal khōsirĩn.

149. Dan setelah mereka menyesali perbuatannya, dan setelah mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka berkata: “Sungguh, bila Rab Aku tidak memberi rahmat kepada Aku dan tidak mengampuni Aku, niscaya Aku menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia itu suka berbuat sesat, kalau tidak ada kasih-sayang Allah, dan mereka tidak diampuni, tentu mereka menjadi orang-orang yang berugi. Manusia seharusnya menyadari setiap tingkah-lakunya harus selalu mengikuti jalan yang sudah ditetapkan Allah. Jangan menyimpang sedikit pun. Banyaklah beristighfar, memohon ampunan dari Allah. Manusia harus selalu ingat kepada Allah dan Hari Akhir dunia.

wa lammã = dan setelah; roja’a = kembali; mũsã = Musa; ilã qoumihĩ= ke kaumnya; ghodhbaana = dalam keadaan marah; asifãn = sedih hati; qōlã = dia berkata; bi’samã = alangkah buruknya; kholaftumũnĩ= kamu menggantiku; mim ba’dĩ= dari sesudahku; a’ajiltum = apakah kamu hendak mendahului; amra = perintah; robbikum = Rabmu; wa alqo = dan dia melemparkan; al alwãha = batu tullis (Taurat); wa akhodza = dan dia memegang; bi ro’sĩ= dengan kepala; akhĩhi = saudaranya; yajurruhũ = dia menariknya; ilaih = kepadanya; qōla = dia (Harun) berkata; ibna = anak; umma = ibu; inna = sesungguhnya; al qouma = kaum itu; istadh’afũnĩ= mereka menjadikan aku lemah; wa kãdũ = dan hampir-hampir mereka; yaqtulũnanĩ= mereka membunuh aku; fa lã = maka jangan; tusymit = kamu menjadikan gembira; biya = denganku; al a’dã-a = musuh-musuh; wa lã = dan jangan; taj’alnĩ= kamu jangan menjadikan/memasukkan aku; ma’a = beserta; al qoumi = kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa lammã roja’a mũsã ilã qoumihĩghodhbaana asifãn, qōlã bi’samã kholaftumũnĩmim ba’dĩ, a’ajiltum amra robbikum, wa alqol alwãha wa akhodza bi ro’sĩakhĩhi yajurruhũ ilaih, qōlabna umma innal qoumastadh’afũnĩwa kãdũ yaqtulũnanĩ, fa lã tusymit biyal a’dã-a wa lã taj’alnĩma’al qoumizh zhōlimĩn.

150. Dan setelah Musa kembali ke kaumnya dalam keadaan marah dan sedih hati, berkatalah ia: “Alangkah buruknya (perbuatan kamu) yang mengganti (ajaran)-ku sesudah kepergianku, apakah kamu akan mendahului perintah Rabmu?” Dan Musa melemparkan batu tulis (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya, (Harun) berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kamu telah menjadikan aku lemah dan hampir-hampir mereka membunuh aku, maka janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu memasukkan aku beserta orang-orang yang lalim itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: NabiMusa melihat kenyataan umatnya tidak mematuhi apa yang disampaikan NabiHarun, dan berbuat sekehendaknya sendiri. NabiMusa menjadi marah dan sedih. Setelah mendapat penjelasan dari NabiHarun, maka NabiMusa berdoa seperti pada ayat berikut.

qōla = Musa berdoa; robbighfirlĩ= Yã Rab ampunilah aku; waliakhĩ= dan saudaraku; wa adkhilnã = danmasukkanlah Aku; fĩrohmatik = ke rahmat-Mu; wa anta = dan Engkau; arhamur rōhimĩn = Maha Penyayang di antara para penyayang.

qōla robbighfir lĩwaliakhĩwa adkhilnã fĩrohmatik, wa anta arhamur rōhimĩn.

151. Musa berdoa: “Ya Rab, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah Aku ke rahmat-Mu, dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kita harus meneladani doa NabiMusa saat Beliau menghadapi berbagai persoalan sulit dan berat bersama saudaranya Harun. “anta arhamur rōhimĩn” lihat Q.s. …

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; it takhadzũ = (mereka menjadikan; al ’ijla = anak lembu; sayanãluhum = kelak mereka akan ditimpa; ghodhobum = kemurkaan; mir robbihim = dari Rab mereka; wadzillatun = dan kehinaan; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dunyã = dunia; wa kadzãlika = dan demikian itu; najzĩ= Aku memberi balasan; al muftarĩn = orang-orang yang membuat kebohongan.

innal ladzĩnat takhadzũl ’ijla sayanãluhum ghodhobum mir robbihim wadzillatun fil hayãtid dunyã, wa kadzãlika najzĩl muftarĩn.

152. Sesungguhnya, orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai ilah = sesembahan), kelak akan ditimpa kemurkaan dari Rab mereka, dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah, Aku memberi balasan kepada orang-orang yang membuat kebohongan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Balasan Allah kepada orang-orang yang suka berbohong adalah siksaan dan hinaan di dunia dan terlebih-lebih di akhirat. Di dunia masih mungkin ada ampunan.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; ‘amilu = (mereka) mengerjakan; as sayyiãti = kejahatan; tsumma = kemudian; tãbũ = mereka bertobat; mim ba’dihã = dari sesudahnya; wa ãmanũ = dan beriman; inna = sesungguhnya; robbaka = Rabmu; mim ba’dihã = dari sesudahnya; la = sungguh; ghofũrur rohĩm = Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

wal ladzĩna ‘amilus sayyiãti tsumma tãbũ mim ba’dihã wa ãmanũ inna robbaka mim ba’dihã la ghofũrur rohĩm.

153. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian sesudah itu bertaubat dan beriman, maka sesungguhnya sesudah itu Rab kamu adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Betapa pun jahatnya orang di dunia, kalau jauh sebelum meninggal dunia mereka bertobat, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

wa lammã = dan setelah; sakata = diam, reda; ‘am mũsa = dari Musa; al ghodhobu = amarah; akhodza = dia mengambil; al alwãh = batu tulis (Taurat); wa fĩ= dan di dalam; nukhatihã = naskahnya, tulisannya; hudan = petunjuk; wa rohmatu = dan rahmat; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; hum = mereka; li robbihim = kepada Rab mereka; yarhabũn = mereka takut.

wa lammã sakata ‘am mũsal ghodhobu akhodza al alwãh, wa fĩnukhatihã hudan wa rohmatul lilladzĩna hum li robbihim yarhabũn.

154. Setelah amarah Musa reda, lalu dia mengambil batu tulis (Taurat) dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Rabnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: batu tulis (Taurat) itu berisi petunjuk dan rahmat dari Allah Rabul ‘alamin, bagi yang takut (takwa) kepada-Nya.

wakhtãro = dan memilih; Mũsã = Musa; qoumahũ = kaumnya; sab’ĩna = tujuh puluh; rojulan = orang laki-laki; limĩqōtinã = untuk waktu yang telah Aku tentukan; fa lammã = maka ketika; akhodzat = menimpa; humu = mereka ar rojfatu = gempa; qōla = dia (Musa); robbi = yã Rabku; lau = kalau, jika; syi’ta = Engkau menghendaki; ahlaktahum = Engkau membinasakan mereka; min qoblu = dari sebelum ini; wa iyyãya = dan aku; atuhlikunã = apakah Engkau akan membinasakan Aku; bimã = dengan sebab; fa’ala = perbuatan; as sufahã-u = orang-orang yang bodoh; minnã = di antara Aku; in hiya = tidaklah itu; illã = melainkan; fitnatuka = cobaan Engkau; tudhillu = Engkau menyesatkan; bihã = dengannya; man tasyã-u = siapa yang Engkau kehendaki; wa tahdĩ= dan Engkau memberi petunjuk; man tasyã-u = siapa yang Engkau kehendaki; anta = Engkau; waliyyunã = Pelindung Aku; faghfir = maka maafkanlah/ampunilah; lanã = bagi Aku; warhamnã = dan berilah Aku rahmat; wa anta = dan Engkau; khoirul ghōfirĩn = Pemberi ampun yang sebaik-baikinya.

wakhtãro Mũsã qoumahũ sab’ĩna rojulal limĩqōtinã, falammã akhodzat humur rojfatu qōla robbi lau syi’ta ahlaktahum min qoblu wa iyyãya, atuhlikunã bimã fa’alas sufahã-u minnã, in hiya illã fitnatuka, tudhillu bihã man tasyã-u wa tahdĩman tasyã-u, anta waliyyunã faghfir lanã warhamnã, wa anta khoirul ghōfirĩn.

155. Dan Musa memilih tujuh puluh orang laki-laki dari kaumnya untuk (memohon taubat kepada Aku) pada waktu yang telah Aku tentukan. Maka ketika gempa menimpa mereka, dia, Musa berkata: “Yã Rab Aku, jika Engkau menghendaki, tentu Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini, apakah Engkau akan membinasakan Aku dengan sebab perbuatan orang-orang bodoh di antara Aku? Itu hanya cobaan Engkau. Engkau menyesatkan dengan coban itu kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkaulah pelindung Aku, maka ampunilah Aku dan berilah Aku rahmat, dan Engkaulah sebaik-baik Pemberi ampun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ayat ini merupakan alur balik dari ayat 152, 153, 154

waktub = dan tetapkanlah; lanã = bagi Aku; fĩhãdzihi = dari ini; ad dunyã = di dunia; hasanatan = kebaikan; wa fil ãkhiroti = dan di akhirat; innã = sesungguhnya; hudnã = Aku kembali (bertaubat); ilaika = kepada Engkau; qōla = (Allah) bersabda; ‘adzãbĩ= azab-Ku; ushĩbu = Aku timpakan; bihĩ= dengannya; man = siapa; asyã-u = Aku kehendaki; wa rohmatĩ= dan rahmat-Ku; wasi’at = luas, meliputi; kulla = segala; syai-in = sesuatu; fa sa’aktubuhã = maka Aku akan menetapkan; lilladzĩna = untuk orang-orang; yattaqũna = mereka takwa; wa yu’tũna = dan mereka menunaikan; az zakãta = zakat; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; hum = mereka; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; yu’minũn = mereka beriman.

waktub lanã fĩhãdzihid dunyã hasanatan wa fil ãkhiroti innã hudnã ilaika, qōla ‘adzãbĩushĩbu bihĩman asyã-u, wa rohmatĩwasi’at kulla syai-in, fa sa’aktubuhã lilladzĩna yattaqũna wa yu’tũnaz zakãta wal ladzĩna hum bi ãyãtinã yu’minũn.

156. Dan tetapkanlah bagi Aku kebaikan di dunia dan di akhirat, sesungguhnya Aku bertaubat kembali kepada Engkau. Allah bersabda: “Azabku akan Kutimpakan kepada siapa yang Kukehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu; maka Aku akan menetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang takwa, dan yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Aku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia berkewajiban memohon kepada Allah segala apa yang diperlukan untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Allah mempunyai azab yang akan ditimpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Allah mengutamakan rahmat-Nya di akhirat hanya kepada orang-orang yang takwa, orang-orang yang menunaikan zakat, dan yang beriman kepada ayat-ayat-Nya.

alladzĩna = orang-orang yang…; yattabi’ũna = (mereka) mengikuti; ar rosũla = Rasul; an nabiyya = Nabi; al ummiyya = tidak pandai menulis; al ladzĩ= yang; yajidũnahũ = mereka mendapatinya; maktũban = tertulis; ‘indahum = pada mereka; fi taurōti = di Taurat; wal injĩli = dan Injil; ya’muruhum = (Nabi) menyuruh mereka; bil ma’rũfi = mengerjakan yang ma’ruf; wayanhãhum = dan melarang mereka; ‘anil munkari = dari yang mungkar; wayuhillu = dan menghalalkan; lahumu = bagi mereka; ath thoyyibãti = yang baik-baik; wayuharrimu = dan mengharamkan; ‘alaihimu = atas mereka; al khobãitsa = yang jelek-jelek; wa yadha’u = dan membuang; ‘anhum = dari mereka; ishrohum = beban mereka; wa aghlãla = belenggu-belenggu; al latĩ= yang; kãnat = adalah; ‘alaihim = atas mereka; fal ladzĩna = maka orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; bihĩ= kepadanya; wa ‘azzarũhu = dan mereka memuliakannya; wat tabã’ũ = dan mereka mengikuti; an nũro = penerangan yang jelas; al ladzĩ= yang; unzila = diturukan; ma’ahũ = kepadanya; ulãika = mereka itulah; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.

alladzĩna yattabi’ũnar rosũlan nabiyyal ummiyyal ladzĩyajidũnahũ maktũban ‘indahum fi taurōti, wal injĩli ya’muruhum bil ma’rũfi wayanhãhum ‘anil munkari wayuhillu lahumuth thoyyibãti wayuharrimu ‘alaihimul khobãitsa wa yadha’u ‘anhum ishrohum wa aghlãlal latĩ kãnat ‘alaihim, fal ladzĩna ãmanũ bihĩwa ‘azzarũhu wat tabã’ũn nũrol ladzĩunzila ma’ahũ, ulãika humul muflihũn

157. Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabiyang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Nabiitu menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf, dan melarang yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka yang jelek-jelek, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, dan memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti penerangan yang jelas yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabiitu harus dĩkuti nasihatnya. Orang yang beriman harus memuliakannya, menolongnya. Memulikan Rasulullah berarti memuliakan diri sendiri. Menolong Rasulullah berarti membantu menyebar-luaskan wahyu yang diterima dari Allah, dan ilmunya untuk dipelajari orang lain.

qul = katakanlah; yã ayyuhan nãsu = wahai manusia; innĩ= sesungguhnya aku; rosulullãhi Rasul Allah; ilaikum = untuk kamu; jamĩan = semua; il ladzĩ= yang; lahũ = bagi-Nya (Memiliki); mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; lã ilãha = yidak ada ilah (sesembahan); illã = kecuali, selain; huwa = Dia; yuhyĩ= Yang menghidupkan; wa yumĩt = dan mematikan; fa ãminũ = maka berimanlah kamu; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihin = dan Rasul-Nya; an nabbiyyi = Nabi; al ummiyyi = yang tidak bisa menulis; al ladzĩ= yang; yu’minu = dia beriman; billãhi = kepada Allah; wa kalimãtihĩ= dan kata-kata-Nya; wattabi’ũhu = dan ikutilah dia; la’alakum = agar kamu; tahtadũn = kamu mendapat petunjuk.

qul yã ayyuhan nãsu innĩrosulullãhi ilaikum jamĩanil ladzĩlahũ mulkus samãwãti wal ardhi, lã ilãha illã huwa yuhyĩwa yumĩt, fa ãminũ billãhi wa rosũlihin nabbiyyil ummiyyil ladzĩyu’minu billãhi wa kalimãtihĩwattabi’ũhu la’alakum tahtadũn.

158. Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Dialah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada ilah selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Nabiyang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kata-kata-Nya (kitab-kitab-Nya), dan ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diminta Allah menunjukkan jati dirinya dan Jati Diri Allah agar manusia mau beriman kepada Nabidan kepada Allah serta mengikuti petunjuk-Nya.

wa min qoumi = dan di antara kaum; mũsã = Musa; ummatun = umat; yahdũna = mereka memberi petunjuk; bil haggi = dengan hak; wa bihĩ= dan dengan itu (karena itu); ya’dilũn = mereka menjalankan keadilan.

wa min qoumi mũsã ummatun yahdũna bil haggi, wa bihĩya’dilũn.

159. Dan di antara kaum Musa, ada umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, karena itu mereka menjalankan keadilan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah kepada umat manusia tentang sebagian umat NabiMusa yang memberi petunjuk yang benar dan adil.

wa qoththo’nãhumu = dan Aku bagi mereka; itsnatai ‘asyrota = dua belas; asbãthan = suku-suku; umamaan = umat-umat, kaum-kaum; wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã = kepada; mũsã = Musa; idzistasqōhu = ketika meminta air kepadanya; qoumuhũ = kaumnya; anidhrib = pukullah; bi’ashōka = dengan tongkatmu; al hajar = batu itu; fambajasat = maka memancarlah; minhu = darinya; itsnatã ‘asyrota = dua belas; ‘ainan = mata air; qod = sungguh; ‘alima = mengetahui; kullu = tiap-tiap; unãsin = manusia; masyrobahum = tempat minum mereka; wa zhollalnã = dan Aku naungkan; ‘alaihimu = kepada mereka; al ghomãma = awan; wa anzalnã = dan Aku turunkan; ‘alaihimu = kepada mereka; al manna = manna (makanan semanis madu); wassalwã = dan salwa (sejenis burung puyuh); kulũ = makanlah; min thoyyibãti = dari yang baik-baik; mã rozaqnãkum = apa yang Aku rezekikan kepadamu; wa mã zholamũnã = dan mereka tidak menganiaya Aku; wa lãkin = tetapi; kãnũ = mereka adalah …; anfusahum = diri mereka sendiri; yazhlimũn = melalimi.

wa qoththo’nãhumutsnatai ‘asyrota asbãthan umamaan, wa auhainã ilã mũsã idzistasqōhu qoumuhũ anidhrib bi’ashōkal hajar, fambajasat minhutsnatã ‘asyrota ‘ainan, qod ‘alima kullu unãsim masyrobahum, wa zhollalnã ‘alaihimul ghomãma wa anzalnã ‘alaihimul manna wassalwã, kulũ min thoyyibãti mã rozaqnãkum, wa mã zholamũnã wa lãkin kãnũ anfusahum yazhlimũn.

160. Dan mereka Aku bagi menjadi dua belas suku sebagi kaum-kaum dan Aku wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Maka memancarlah dari batu itu dua belas mata air. Tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Aku naungkan awan di atas mereka, dan Aku turunkan kepada mereka manna (makanan manis seperti madu) dan salwa (sebangsa burung puyuh). Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Aku rezekikan kepadamu. Mereka tidak menganiaya Aku, tetapi merekalah yang menganiaya dirinya sendiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membuat manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semuanya ditentukan rezeki hidupnya. Semuanya dilindungi sesuai pada tempat kedudukannya masing-masing. Allah menyediakan berbagai kemudahan untuk hidup manusia. Manusia juga harus berupaya meraih berbagai kemudahan yang disediakan, dan Allah memerintah memakan makanan yang baik-baik dari apa yang telah disediakan di alam ini.

wa idz = dan ketika; qĩla = dikatakan; lahumu = kepada mereka; us kunũ = berdiamlah; hãdzihi = ini; al qoryata = negeri; wa kulũ = dan makanlah; min hã = darinya; haitsu = di mana saja; syi’tum = kamu kehendaki; wa qũlũ = dan makanlah; hiththotun = bebaskanlah dari dosa Aku; wad khulũ = dan masukilah; al albãbba = pintu gerbang; sujjadan = merunduk; naghfir = Aku akan mengampuni; lakum = bagi kamu; khothĩ’ãtikum = kesalahan-kesalahan kamu; sanazĩdu = akan Aku tambah; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa idz qĩla lahumus kunũ hãdzihil qoryata wa kulũ min hã haitsu syi’tum wa qũlũ hiththotun wad khulũl albabba sujadan naghfir lakum khothĩ’ãtikum, sanazĩdul muhsinĩn,

161. dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Berdimlah di negeri ini (Baitul Makdis) dan makanlah dari (hasil) buminya di mana saja yang kamu kehendaki”, dan katakanlah: “Bebaskanlah Aku dari dosa Aku, dan masukilah pintu gerbangnya sambil merunduk (merendahkan diri), niscaya Aku akan mengampuni kesalahan-kesalahan kamu, Aku akan menambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan tempat tinggal sekelompok orang, dan disediakan-Nya berbagai rezeki di lingkungan hidupnya. Allah juga menganjurkan agar manusia mempunyai kebiasaan untuk berdoa kepada Allah, memohon ampun kalau melakukan kesalahan dalam menjalani hidup, dan berlaku santun kalau kita bertempat tinggal di suatu tempat. Jangan sombong, harus berbuat kebaikan. Allah akan memberikan ampunan, dan pahala kenikmatan, keselamatan, ketenangan, kesenangan kalau kita berlaku adil, berbuat baik.

fa baddala = maka mengganti; al ladzĩna = orang orang yang …; zholamũ = lalim; min hum = di antara mereka; qoulan = perkataan; ghoiri = bukan; al ladzĩ= yang; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; fa arsalnã = maka Aku kirimkan, timpakan; ‘alaihim = kepada mereka; rijzan = azab; mina = dari; as samã-i = langit; bimã = karena; kãnũ = mereka adalah; yazhlimũn = berbuat lalim.

fa baddalal ladzĩna zholamũ min hum qoulan ghoiril ladzĩqĩla lahum fa arsalnã ‘alaihim rijzam minas samã-i bimã kãnũ yazhlimũn.

162. Maka, orang orang lalim di antara mereka mengganti perkataan dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Aku timpakan atas mereka azab dari langit, karena mereka berbuat lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah itu tidak boleh diubah, diganti, ditukar kata-katanya karena akan menimbulkan perubahan makna, perbedaan arti, akhirnya menimbulkan ketidakadilan. Mereka jadi berbuat lalim. Segala kelaliman berakibat ketidaknyaman hidup. Azab Allah akan turun bila manusia berbuat lalim.

was alhum = dan tanyakan kepada mereka; ani = tentang; al qoryati = sebuah negeri; al latĩ= yang; kãnat = adalah; hãdhirota = hadir, dekat; al bahri = laut; idz = ketika; ya’dũna = mereka melanggar aturan; fis sabti = pada hari Sabtu; idz ta’tĩhim = ketika dating kepada mereka; hĩtaanuhum = ikan-ikan mereka; yauma = pada hari; sabtihim = Sabtu mereka; syurroan = permukaan air; wa yauma = dan hari; lã yasbitũna = bukan gari Sabat; lã ta’tĩhim = ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka; kadzãlika = begitulah; nablũhum = Aku uji mereka; bimã = karena; kãnũ = mereka itu; yafsuqũn = mereka berbuat bodoh

was alhum anil qoryatil latĩ kãnat hãdhirotal bahri, idz ya’dũna fis sabti idz ta’tĩhim hĩtaanuhum yauma sabtihim syurroan wa yauma lã yasbitũna, lã ta’tĩhim, kadzãlika nablũhum bimã kãnũ yafsuqũn.

163. Dan, tanyakan kepada mereka (Bani Israil) tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, yaitu ketika datang ikan, tampak di permukaan air di sekitar mereka, sedang di hari yang bukan hari Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah, Aku uji mereka, karena mereka berbuat bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Negeri yang dimaksud terletak di pantai Laut Merah antara kota Madyan dengan Bukit Thur. Ada aturan mereka tidak boleh bekerja pada hari Sabtu, karena hari Sabtu dikhususkan sebagai hari ibadah. Allah memberi cobaan, dalam rangka pembelajaran, pada setiap hari ibadah mereka, ikan banyak melimpah-ruah di permukaan air, sedang hari-hari lain, ikan-ikan itu tidak ada.

wa idz = dan ketika; qōlat = berkata; ummatun = suatu umat; min hum = di antara mereka; li ma = mengapa; ta’izhũna = kamu menasihati; qouman = kaum; allãhu = Allah; muhlikuhum = membinasakan mereka; au mu’adzibuhum = atau mengazab mereka; ‘adzãban = azab; syadĩdã = sangat keras; qōlũ = mereka berkata; ma’dzirotan = alas an; ilã robbikum = kepada Rab kamu; wa la’allahum = dan agar mereka; yattaqũn = mereka bertakwa.

wa idz qōlat ummatum min hum li ma ta’izhũna qouman allãhu muhlikuhum au mu’adzibuhum ‘adzãban syadĩdã, qōlũ ma’dzirotan ilã robbikum wa la’allahum yattaqũn.

164. Dan, ketika suatu umat di antara nereka berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan diazab dengan azab yang keras, dan akan dibinasakan?” Mereka berkata: “(Aku menasihati itu) agar mempunyai alasan kepada Rabmu, dan agar mereka bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran dari Allah, manusia itu harus diberi peringatan, nasihat tentang azab yang sangat keras kelak di akhirat, agar mereka bertakwa.

fa lammã = maka setelah; nasũu = mereka melupakan; mã dzukkirũ = apa yang diperingatkan kepada mereka; bihĩ= dengannya; an jainã = Aku selamatkan; al ladzĩna = orang-orang yang; yanhauna = mereka melarang; ‘ani = dari; as sũ-i = berbuat jahat; wa akhodznã = dan Aku timpakan; al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; bi ‘adzabin = dengan azab; ba-ĩsin = yang keras; bimã = karena; kãnũ = mereka adalah; yafsuqũn = mereka berbuat bodoh.

fa lammã nasũu mã dzukkirũ bihĩan jainãl ladzĩna yanhauna ‘anis sũ-i wa akhodznãl ladzĩna zholamũ bi ‘adzabim ba-ĩsim bimã kãnũ yafsuqũn.

165. Maka, setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Aku selamatkan orang-orang yang melarang berbuat jahat, dan Aku timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, karena mereka selalu berbuat bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran kepada manusia, bagaimana menjalani hidup. Hidup akan diberi keselamatan oleh Allah, kalau manusia itu mau melarang berbuat jahat kepada orang lain. Tentunya dengan memberi contoh bagaimana selalu berbuat baik. Orang-orang lalim ditimpa siksa karena mereka bertindak bodoh. Tahu hal yang salah tapi melakukannya. Demikian itu mereka berbuat bodoh.

fa lammã = maka setelah; ‘atau = mereka melanggar; ‘am mã = terhadap apa; nuhũ = mereka dilarang; ‘anhu = dari mengerjakannya; qulna = Aku katakan; lahum = kepada mereka; kũnũ = jadilah kamu; qirodatan = kera; khãsi-in = yang hina.

fa lammã ‘atau ‘am mã nuhũ ‘anhu qulna lahum kũnũ qirodatan khãsi-in.

166. Maka, setelah mereka melanggar pada apa yang dilarang mengerjakannya, Aku katakan kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran bagi manusia, mereka yang mengerjakan apa yang dilarang itu jadi bersifat kera, rakus, jika mendapat rezeki tidak mau memikirkan orang lain. Perasaannya rezeki yang didapat hanya untuk dirinya sendiri. Padahal rezeki itu bisa berfungsi sosial, untuk menyantuni orang lain. Kera yang hina dimaksudkan gambaran manusia yang bersifat sangat jelek. Manusia yang tidak berperikemanusiãn, tidak berperikeadilan soaial, tidak bertenggang rasa.

wa idz = dan ketika; ta-adzdzana = memberitahukan; robbuka = Rab kamu; layab’atsanna = sungguh Dia akan mengirimkan; ‘alaihim = kepada mereka; ilã yaumi = sampai hari; al qiyãmati = kiamat; man = siapa/orang; yasũmuhum = akan menimpakan kepada mereka; sũ-a = seburuk-buruk; al ‘adzãb = azab; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; la sarĩ’u = amat cepat; al ‘iqōb = siksa-Nya; wa innahũ = dan sesungguhnya Dia; laghofũron = sungguh Maha Pengampun; rohĩm = Maha Penyayang.

wa idz ta-adzdzana robbuka layab’atsanna ‘alaihim ilã yaumil qiyãmati man yasũmuhum sũ-al ‘adzãb, inna robbaka la sarĩ’ul ‘iqōb, wa innahũ laghofũror rohĩm.

167. Dan, Ketika Rab kamu memberi tahu: “Sungguh Dia akan mengirimkan orang-orang yang akan menimpakan azab yang sangat buruk kepada mereka (orang Yahudi) sampai Hari Kiamat.” Sesungguhnya Rab kamu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan mengirimkan orang-orang yang akan menimpakan azab yang sangat buruk kepada orang-orang Yahudi sampai Hari Kiamat. Sampai hari ini orang-orang Yahudi di Palestina dan di Amerika masih memperjuangkan hak-hak hidupnya untuk mendirikan Negara Israil di Palestina, Apakah ini yang dimaksud ayat ini?

wa qoththo’nahum = dan Aku membagi-bagi mereka; fil ardhi = di bumi; umamaan = beberapa golongan; min humu = di antara mereka; ash shōlihũna = orang-orang yang saleh; wa min hum = dan di antara mereka; dũna dzãlika = tidak demikian; wa balaunãhum = dan Aku coba mereka; bil hasanaati = dengan yang baik-baik; wasy syayyi-ãti = dan yang buruk-buruk; la’allahum = agar mereka; yar ji’ũn = mereka kembali.

wa qoththo’nahum fil ardhi umamam min humush shōlihũna wa min hum dũna dzãlika, wa balaunãhum bil hasanaati wasy syayyi-ãti la’allahum yar ji’ũn.

168. Dan Aku membagi-bagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan di antara mereka dan orang-orang yang saleh, dan di antaranya yang tidak demikian. Dan Aku coba mereka yang baik-baik (yang nikmat-nikmat) dan yang jelek-jelek (bencana, dan lain-lain) agar mereka kembali (ke jalan Allah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi manusia ada yang dilihat dari ciri-ciri fisik, dan dari ciri-ciri nonfisik, berdasarkan bangsa, suku, budaya, agama, dan lain-lain. Dari segi agama, ada yang saleh dan yang tidak saleh. Semuanya diberi cobaan, agar mereka kembali ke jalan Allah.

fa kholafa = maka datang generasi pengganti; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; kholfun = pengganti (generasi); waritsu = mereka mewarisi; al kitãaba = Alkitab; ya’khudzuna = mereka mengambil; ‘arodho = harta benda dunia; hãdzã = ini; al adnã = yang rendah; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; sayughfaru = akan diampuni; lana = bagi Aku; wa in = dan jika; ya’tihim = datang kepada mereka; ‘arodhun = harta benda dunia; mitsluhũ = semisal (sebanyak itu); ya’khudzũh = mereka mengambilnya; alam yu’khadz = bukankah diambil; ‘alaihim = atas mereka; mĩtsãqu = perjanjian; al kitãbi = Kitab; al lã yaqũlũ = bahwa mereka tidak mengatakan; ‘alãllãhi = terhadap Allah; illa = kecuali; al haqqo = yang benar; wa darosũ = dan mereka mempelajari; mã fĩhi = apa yang di dalamnya; wad dãru = dan kampung; al akhĩrotu = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; yattaqũn = (mereka) bertakwa; afa lã = maka, apakah tidak; ta’qilũn = kamu tidak berakal.

fa kholafa mim ba’dihim kholfun waritsul kitãaba ya’khudzuna ‘arodho hãdzãl adnã wa yaqũlũna sayughfaru lana wa in ya’tihim ‘arodhum mitsluhũ ya’khudzũh, alam yu’khadz ‘alaihim mĩtsãqul kitãbi al lã yaqũlũ ‘alãllãhi illal haqqo wa darosũ mã fĩh, wad dãrul akhĩrotu khoirul lilladzĩna yattaqũn, afa lã ta’qilũn.

169. Maka datang generasi sesudah mereka yang mewarisi Kitab, mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan mereka mengatakan: “Aku akan diampuni.” Padahal, jika datang kepada mereka harta benda yang sebanyak itu, niscaya mereka akan mengambilnya juga. Bukanlah perjanjian Kitab (Taurat) sudah diterima oleh mereka, bahwa mereka tidak mengatakan kepada Allah, kecuali yang benar, dan mereka mempelajari isi di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang takwa, apakah kamu tidak berakal?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan generasi yang akan datang terlalu mementingkan harta benda dunia, padahal di dalam Alkitabnya sudah ada perjanjian, bahwa manusia itu harus tidak terlalu mementingkan harta dunia dan akan selalu menjaga kebenaran dan keadilan. Harta dunia ini harus digunakan untuk kepentingan akhirat. Artinya harus dipergunakan dengan baik untuk kepentingan akhirat.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yamassikũna = (mereka) berpegang teguh; bil kitãbi = dengan Kitab; wa aqōmush sholãta = dan mendirikan salat; innã = sesungguhnya Aku; lã nudhĩ’u = Aku tidak menyia-nyiakan; ajrol = pahala; mushlihĩn = orang-orang yang melakukan perbaikan

wal ladzĩna yamassikũna bil kitãbi wa aqōmush sholãta, innã lã nudhĩ’u ajrol mushlihĩn.

170. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitab dan mereka mendirikan salat, sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan perbaikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa kita harus berpegang teguh pada isi Alkitab dan menidirikan salat, dan selalu melakukan perbaikan kalau kita tidak mau disia-siakan di akhirat nanti.

wa idz = dan ketika; nataqnã = Aku angkat; al jabala = gunung; fauqohum = di atas mereka; ka-annahũ = seakan-akan; zhullatun = naungan; wa zhonnu = dan mereka mengira; annahũ = ia (gunung) wãqium = menmpa; bihim = kepada mereka; khudzũ = ambillah; mã ãtainãkum = apa yang telah Aku berikan kepadamu; bi quwwatin = dengan kuat; wadzkurũ = dan ingatlah; mã fĩhi = apa yang di dalamnya; la’allakum = supaya kamu; tattaqũn = bertakwa.

wa idz nataqnal jabala fauqohum ka-annahũ zhullatun wa zhonnu annahũ wãqium bihim khudzũ mã ãtainãkum bi quwwatin wadzkurũ mã fĩhi la’allakum tattaqũn.

171. Dan (ingatlah) ketika Aku mengangkat gunung di atas mereka, seakan-akan sebagai naungan, dan mereka mengira, ia (gunung) itu menimpa kepada mereka. (Aku katakan kepada mereka): Peganglah dengan kuat apa yang telah Aku berikan kepadamu, dan ingatlah, apa yang ada di dalamnya, supaya kamu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berbuat sekehendak-Nya. Gunung diangkat-Nya. Dibuat-Nya gunung itu seakan-akan sebagai naungan dan menjadi peringatan kepada manusia agar selalu berpegang kuat-kuat pada peraturan yang ada di dalam Alkitab yang telah diberikan.

wa idz = dan ketika; akhodza = mengeluarkan, menurunkan; robbuka = Rab kamu; mim banĩãdama = dari anak-anak Adam; min zhuhũrihim = dari sulbi mereka; dzurriyyatahum = keturunan mereka; wa asyhadahum = dan (Allah) mengambil saksi dari mereka; ‘alã anfusihim = atas jiawa mereka; alastu = bukankah Aku ini; birobbikum = dengan Rab kamu; qōlũ = (mereka) menjawab; balã = ya, benar; syahidnã = Aku bersaksi; an taqũlũ = supaya kamu (tidak) mengatakan; yaumal qiyãmati = ketika Hari Kiamat; innã = sesungguhnya; kunnã = Aku adalah; ‘an hãdzã = tentang ini; ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.

wa idz akhodza robbuka mim banĩãdama min zhuhũrihim dzurriyyatahum wa asyhadahum ‘alã anfusihim alastu birobbikum, qōlũ balã, syahidnã an taqũlũ yaumal qiyãmati innã kunnã ‘an hãdzã ghōfilĩn.

172. Dan (ingatlah) ketika Rab kamu menurunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengabil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya Allah berfirman): “ Bukankah Aku ini Rab kamu?” Mereka menjawab: “Ya, betul, Aku bersaksi.” Supaya nanti kamu pada Hari Kiamat tidak mengatakan: “Sesungguhnya, Aku orang-orang yang lalai (tidak diberi peringatan) tentang hal ini (keesaan Allah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sudah membuat persaksian sejak keturunan Adam yang pertama dalam kandungan sampai sekarang, bahwa hanya Allahlah satu-satunya Penguasa makhluk-Nya.

au taqũlũ = atau supaya kamu (tidak) mengatakan; innamã = sesungguhnya; asyroka = telah menyekutukan; ãbã-unã = bapak-bapak Aku; min qoblu = sejak dahulu; wa kunnã = dan Aku adalah; dzurriyyatan = keturunan; min = dari; ba’dihim = sesudah mereka; afatuhlikunã = apakah Engkau akan membinasakan Aku; bimã = disebabkan; fa’ala = perbuatan; al mubthilũn = orang-orang yang sesat.

au taqũlũ innamã asyroka ãbã-unã min qoblu wa kunnã dzurriyyatam mim ba’dihim, afatuhlikunã bimã fa’alal mubthilũn.

173. Atau, supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya, hanya bapak-bapak Aku yang telah menyekutukan (Allah) sejak dahulu, sedang Aku adalah keturunan yang datang sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan Aku karena perbuatan sesat orang-orang (dahulu).”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, jangan menyalahkan bapak-bapak mereka, jika manusia generasi sekarang ada yang sesat mempersekutukan Allah dengan ilah lain, karena jiwa mereka sebelum lahir sudah menjadi saksi atas keesaan Allah.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nufashshilu = Aku menjelaskan; al ãyãati = ayat-ayat itu; wa la’allahum = dan agar mereka; yarji’ũn = mereka kembali.

wa kadzãlika nufashshilul ãyãati wa la’allahum yarji’ũn.

174. Dan demikianlah, Aku menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali pada kebenaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Demikianlah, Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Jangan menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

watlu = dan bacakanlah; ‘alaihim = kepada mereka; naba’a = berita; al ladzĩ= orang yang; ãtainãhu = telah Aku beri kepadanya; ãyãtinã = ayat-ayat-Ku; fansalakha = kemudian mereka melepaskan diri; minhã = dari ayat-ayat itu; fa = lalu; atba’ahu = ia mengikutinya; asy syaithōnu = setan; fa kãna = maka, dia termasuk; min = dari; al ghōwĩn = orang-orang yang sesat.

watlu ‘alaihim naba’al ladzĩãtainãhu ãyãtinã fansalakha minhã fa atba’ahusy syaithōnu fa kãna minal ghōwĩn.

175. Dan bacakanlah kepada mereka, berita orang yang telah Aku beri ayat-ayat-Ku, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia mengikuti setan, maka dia termasuk orang-orang sesat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan untuk membacakan berita orang yang telah diberi ayat-ayat-Nya, dan mereka melepaskannya, sehingga mereka tersesat. Ini adalah peringatan Allah, agar manusia tidak termasuk orang-orang yang sesat.

wa lau = dan kalau; syi’nã = Aku menghendaki; larofa’nãhu = niscaya Aku tinggikan ia; bihã = dengan ayat-ayat itu; wa lãkinnahũ = tetapi dia; akhlada = dia cenderung; ila = ke; al ardhĩ= bumi; wattãba’a = dan dia mengikuti; hawãh = hawa nafsunya; fa matsaluhũ = maka perumpamaannya; kamatsali = seperti; al kalbi = anjing; in tahmil = jika kamu menghalau; ‘alaihi = kepadanya; yalhats = ia menjulurkan lidahnya; aw tatruk-hu = atau kamu membiarkannya; yalhats = ia menjulurkan lidahnya; dzãlika = demikian itu; matsalu = perumpamaan; al qoumi = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzabũ = (mereka mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; faq shushi = maka ceriterakanlah; al qoshosho = kisah-kisah; la’allahum = agar mereka; yatafakkarũn = mereka berpikir.

wa lau syi’nã larofa’nãhu bihã wa lãkinnahũ akhlada ilãl ardhĩwattãba’a hawãh, fa matsaluhũ kamatsalil kalbi, in tahmil ‘alaihi yalhats aw tatruk-hu yalhats dzãlika matsalul qoumil ladzĩna kadzabũ bi ãyãtinã, faq shushil qoshosho la’allahum yatafakkarũn.

176. Dan kalau Aku menghendaki, niscaya Aku tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya, maka, perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya, ia mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidah juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku. Maka, ceriterakanlah kisah-kisah itu (kepada mereka) agar mereka berpikir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menentukan derajat orang dengan ujian iman atau tidak iman kepada ayat-ayat-Nya. Allah mengingatkan, manusia, pada umumnya cenderung memikirkan dunia. Seharusnya ada keseimbangan antara memikirkan dunia dengan memikirkan akhirat. Memikirkan dunia ditujukan untuk kepentingan akhirat.

sã-a = amat buruk; matsalan = perumpamaan; al qoumu = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyãtinã = (dengan) ayat-ayat-Ku; wa anfusahum = dan diri sendiri; kãnũ = mereka adalah; yazhlimũn = mereka berbuat lalim.

sã-a matsalanil qoumul ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã wa anfusahum kãnũ yazhlimũn.

177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, dan (kepada) diri mereka sendirilah mereka berbuat lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau manusia menganggap ayat-ayat Allah itu dusta, berarti mereka melalimi diri mereka sendiri.

man = barang siapa; yahdillãhu = yang diberi petunjuk oleh Allah; fa huwa = maka dia; al muhtadĩ= orang yang mendapat petunjuk; wa man = dan barang siapa; yudhlil = Dia menyesatkan; fa’ũlãika = maka mereka itulah; humu = mereka itulah; al khōsirũn = orang-orang yang merugi

man yahdillãhu fa huwal muhtadĩ, wa man yudhlil fa’ũlãika humul khōsirũn.

178. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang Dia sesatkan, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sangat menentukan orang-orang yang diberi petunjuk, dan orang-orang yang tidak diberi petunjuk. Orang yang diberi petunjuk adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan mau membaca Alquran serta mau mengikuti perintah dan menjauhi larangan Nabi. Sebaliknya mereka yang disesatkan Allah, amat rugi.

wa laqod = dan sesungguhnya; dzaro’nã = Aku jadikan; li jahannama = untuk mereka jahanam; katsĩron = kebanyakan; minal jinni = dari jin; wal insi = dan manusia; lahum = bagi mereka; qulũbun = hati; lã yafqohũna = mereka tidak memahami; bihã = ayat-ayat-Nya; wa lãhum = dan bagi mereka; a’yunun = mata; lã yubshirũna = mereka tidak untuk melihat; bihã = tanda-tanda-Nya; wa lahum = dan bagi mereka; ãdzãnun = telinga; lã yasma’ũna = mereka tidak mendengar; bihã = ayat-ayat-Nya; ulã-ika = mereka itu; kal an’ãmi = seperti binatang ternak; bal = bahkan; hum = mereka; adhollu = lebih sesat; ũlã-ika = mereka itu; hum = mereka; al ghōfilũn = orang-orang yang lalai.

wa laqod dzaro’nã li jahannama katsĩrom minal jinni wal insi, lahum qulũbul lã yafqohũna bihã wa lãhum a’yunul lã yubshirũna bihã, wa lahum ãdzãnul lã yasma’ũna bihã, ulã-ika kal an’ãmi bal hum adhollu, ũlã-ika humul ghōfilũn.

179. Dan sesungguhnya, Aku jadikan neraka jahannam untuk kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tidak (dipergunakan untuk) memahami ayat-ayat (Allah), dan mereka mempunyai mata tidak (dipergunakan untuk) melihat tanda-tanda kebenaran (Allah), dan mereka mempunyai telinga tidak untuk mendengarkan ayat-ayat (Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang tidak mempergunakan hati, mata, telinga untuk memahami, melihat, dan mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka akan dimasukan ke dalam neraka jahannam.

wa lillahi = kepunyaan Allah; al asmã-ul husnã = nama-nama yang baik; fad’ũhu = maka berdoalah kepada-Nya; bihã = dengan nama-nama itu; wa dzarũ = dan tinggalkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; yulhidũna = mereka mengingkari; fĩasmã-ih = dengan nama-nama-Nya; sayujzauna = mereka akan diberi balasan; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjkan.

wa lillahil asmã-ul husnã fad’ũhu bihã, wa dzarũl ladzĩna yulhidũna fĩasmã-ih, sayujzauna mã kãnũ ya’malũn.

180. Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu. Dan tinggalkanlah orang-orang yang mengingkari nama-nama-Nya. Mereka akan diberi balasan, apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, nama-nama-Nya dapat dijadikan doa. Allah juga memerintahkan agar meninggalkan orang-orang yang mengingkari ada-Nya nama-nama Allah. Allah akan memberi balasan, apa yang mereka kerjakan.

wa mimman = dan di antara orang-orang; kholaqnã = Aku ciptakan; ummatun = umat; yahdũna = mereka memberi petunjuk; bilhaqqi = dengan kebenaran; wa bihĩ= dan dengan kebenaran itu; ya’dilũn = mereka berbuat adil.

wa mimman kholaqnã ummatun yahdũna bilhaqqi wa bihĩya’dilũn.

181. Dan di antara orang-orang yang Aku ciptakan, ada umat yang memberi petunjuk tentang kebenaran, dan dengan itu pula, mereka berbuat adil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang manusia yang diciptakan-Nya itu ada yang berpihak pada kebaikan, kebenaran. Karena itu mereka berbuat adil.

wal ladzĩna = dan orng-orang yang; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = kepada ayat-ayat Aku; sanastadrijuhum = nanti Aku akan menarik mereka berangsur-angsur; min = dari; haitsu = arah; lã = tidak; ya’lamũn = mereka mengetahui.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã sanastadrijuhum min haitsu lã ya’lamũn.

182. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku, nanti Aku akan menarik mereka berangsur-angsur ke kebinasaan, dari arah yang tidak mereka ketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau ada orang yang menganggap dusta ayat-ayat-Nya, Allah akan membinasakan mereka secara berangsur-angsur, dari arah yang tidak mereka ketahui.

wa umlĩ= dan Aku memberi tangguh; lahum = kepada mereka; inna = sungguh; kaidĩ= rencana-Ku; matĩnun = amat tegas, jelas

wa umlĩlahum, inna kaidĩmatĩnun.

183. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sungguh rencana-Ku itu amat tegas, jelas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, rencana-Nya memberi tangguh itu amat tegas, jelas memberi kesempatan apakah mau bertobat, atau mengikuti hawa nafsunya saja.

awalam yatafakkarũ, mã bishōhibihim min jinnatin, in huwa illã nadzĩrum mubĩn.

awalam yatafakkarũ, mã bishōhibihim min jinnatin, in huwa illã nadzĩrum mubĩn.

184. Apakah mereka tidak memikirkan, bahwa sahabat mereka (Muhammad saw.) tidak berpenyakit gila, dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, orang itu harus menggunakan pikiran, agar tidak menganggap Nabi Muhammad saw. itu seorang gila. Nabi Muhammad saw. itu hanyalah seorang pemberi peringatan.

awalam = tidaklah; yanzhurũ = mereka memperhatikan; fĩmalakũti = dalam kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhĩ= dan bumi; wa mã = dan apa; kholaqollãhu = yang diciptakan Allah; min syai-in = dari segala sesuatu; wa an’asã = dan mungkin; an yakũna = bahwa adalah; qodiqtaroba = sungguh telah dekat; ajaluhum = waktu kebinasaan mereka); fa bi-ayyi = maka yang mana; hadĩtsin = berita; ba’dahũ = sesudah (Alquran); yu’minũn = mereka beriman.

awalam yanzhurũ fĩmalakũtis samãwãti wal ardhĩwa mã kholaqollãhu min syai-in wa an’asã an yakũna qodiqtaroba ajaluhum, fa bi-ayyi hadĩtsim ba’dahũ yu’minũn.

185. Tidaklah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan mungkin telah dekat waktu (kebinasaan mereka, maka dengan berita yang mana lagi mereka akan beriman sesudah Alquran itu?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta makhluk-Nya memperhatikan kerajaan-Nya, dan memperingatkan Hari Kiamat yang “sudah dekat”, padahal masih banyak yang masih diragukan keimanannya kepada Allah dengan Alquran-Nya.

man = barang siapa; yudhlilillãhu = yang disesatkan Allah; fa lã = maka tidak (ada); hãdiya = orang yang memberi petunjuk; lahu = kepadanya; wa yadzaruhum = dan (Allah) membiarkan mereka; fĩthughyaanihim = dalam kesesatan mereka; ya’mahũn = mereka bingung, terumbang-ambing.

man yudhlilillãhu fa lã hãdiyallahu, wa yadzaruhum fĩthughyaanihim ya’mahũn

186. Barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak akan ada orang yang memberi petunjuk kepadanya, dan Allah membiarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, kalau seseorang sudah disesatkan Allah, maka tak akan ada makhluk yang memberi petunjuk, dan Allah membiarkan orang itu terumbang-ambing dalam kesesatannya. Lihat juga Q.s. Al Baqarah,2 :14, 15)

yas-alũnaka = mereka akan bertanya kepada kamu; ‘anis sã’ati = tentang saat kiamat; ayyaana = kapan; mursãhã = terjadinya; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya, hanyalah; ‘ilmuhã = pengetahuan tentang Hari Kiamat; inda robbi = pada Rabku; lã yujallĩhã = tidak dapat mejelaskan Hari Kiamat itu; liwaqtihã = bagi waktunya; illã huwa = kecuali Dia; tsaqulat = amat berat; fis samãwãti = di lamgit; wal ardhi = dan di bumi; lã ta’tĩkum = ia tidak dating kepadamu; illã = kecuali, melainkan; baghtatan = dengan tiba-tiba; yas’alũnaka = mereka akan bertanya kepada kamu; ka-‘annaka = seakan-akan kamu; hafiyyun = hafal (benar-benar mengetahui); ‘anhã = tentangnya; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya; ‘ilmuhã = pengetahuan tentang Hari Kiamat; indallãhi = pada Allah; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.

yas-alũnaka ‘anis sã’ati ayyaana mursãhã, qul innamã ‘ilmuhã inda robbi, lã yujallĩhã liwaqtihã illã huwa, tsaqulat fis samãwãti wal ardhi, lã ta’tĩkum illã baghtatan, yas’alũnaka ka-‘annaka hafiyyun ‘anhã, qul innamã ‘ilmuhã indallãhi wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

187. Mereka akan bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat: “Kapan terjadinya?” Katakanlah: “Sesunguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada pada Rabku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktunya kecuali Dia, (Hari Kiamat itu) amat berat (bagi makhluk) di langit dan di bumi, ia tidak datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka akan bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan tentang datangnya Hari Kiamat, hanya Allah Yang mengetahuinya.

qul = katakanlah; lã amliku = aku tidak berkuasa; li nafsĩ= bagi diriku; naf’an = manfãt; wa lã = dan tidak; dharron = mudarat; illã = kecuali; mãsyã-allãh = apa kehendak Allah; wa lau = dan sekiranya; kuntu = aku adalah; a’lamu = aku mengetahui; al ghoiba = yang gaib; lãstaktsartu = tentu aku memperoleh banyak; minal khoir = dari kebaikan; wa mã massaniyai = dan tidak menimpaku; as sũ-u = keburukan; in ana = tidak lain aku; illã = kecuali, hanayalah; nadzĩrun = pemberi peringatan; wa basyĩrun = dan pembawa berita gembira; li qoumin = bagi kaum; yu’minũn = mereka beriman.

qul lã amliku li nafsĩnaf’an wa lã dharron illã mãsyã-allãh, wa lau kuntu a’lamul ghoiba lãstaktsartu minal khoir, wa mã massaniyas sũ-u, in ana illã nadzĩrun wa basyĩrul li qoumin yu’minũn.

188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa (mendatangkan) manfãt bagi diriku, dan tidak pula (dapat menolak) mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui hal yang gaib, tentulah aku banyak memperoleh kebaikan dan tidak ditimpa keburukan. Aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manfãt dan mudarat hidup itu kehendak Allah. Pengetahuan tentang hal yang gaib Nabihanya untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan. Nabihanya bertugas memberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang yang beriman.

Huwa = Dialah; al ladzĩ= yang; kholaqokum = menciptakan kamu; min nafsin = dari diri; wãhidatin = yang satu; wa ja’ala = dan Dia jadikan; minhã = darinya; zaujahã = istrinya; li yaskuna = agar merasa senang; ilaihã = kepadanya; fa lammã = maka setelah; taghosysyãhã = mencampurinya; hamalat = ia mengandung; hamlan = kandungan; khofĩfan = yang ringan; fa marrot = maka ia terus; bih = dengannya; fa lammmã = maka setelah; atsqolat = ia merasa berat; da’awallãha = keduanya berdoa kepada Allah; robbahumã = Robb keduanya; la-in = sesungguhnya jika; ãtaitanã = Engkau memberi Aku; shōlihan = anak yang saleh; lanakũnanna = tentu Aku termasuk; minasy syãkirĩn = orang-orang yang bersyukur.

Huwal ladzĩkholaqokum min nafsin wãhidatin wa ja’ala minhã zaujahã li yaskuna ilaihã, fa lammã taghosysyãhã hamalat hamlan khofĩfan fa marrot bih, fa lammmã atsqolat da’awallãha robbahumã la-in ãtaitanã shōlihal lanakũnannam minasy syãkirĩn.

189. Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar ia merasa senang kepadanya. Maka, setelah dicampurinya, istrinya mengandung (bayi) yang ringan, dan terus merasa ringan (beberapa waktu). Maka setelah itu merasa berat, keduanya (suami-istri itu) berdoa kepada Allah, Rabnya: “Sesungguhnya, jika Engkau memberi Aku anak yang saleh, tentulah Aku termasuk orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Al Baqarah: 2 : 30; ….) . Allah mengajari doa kepada suami-istri yang mengharapkan kelahiran anak.

fa lammã = maka setelah; ãtãhumã = (Allah) memberikan keduanya; shōlihan = anak saleh; ja’alã = keduanya menjadikan; lahũ = bagi Allah; syurokã-a = sekutu-sekutu; fĩmã = terhadap anak; ãtãhumã = Dia berikan kepada keduanya; fa ta’ãlallãhu = maka, Allah Mahatinggi; ‘ammã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka sekutukan.

fa lammã ãtãhumã shōlihan ja’alã lahũ syurokã-a fĩmã ãtãhumã, fa ta’ãlallãhu ‘ammã yusyrikũn.

190. Maka, setelah Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang saleh, keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah diberikan-Nya kepada keduanya. Maka, Mahatinggi Allah dari apa yang mereka sekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang tua yang terlalu sayang kepada anaknya sampai melupakan Allah, dan menjadikan anak saleh itu sebagai berhala.

Ayusyrikũna = apakah mereka mempersekutukan; mã = apa (berhala); lã yakhluku = tidak dapat menciptakan; syai-an = sesuatu; wa hum = sedang mereka (berhala); yukhlakũn = mereka diciptakan.

ayusyrikũna mã lã yakhluku syai-an wa hum yukhlakũn.

191. Apakah mereka mepersekutukan Allah dengan berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun? Sedang berhala-berhala itu sendiri diciptakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak itu diciptakan Allah. Jangan mempercayakan segala apa yang diperlukan dalam hidup kepada anak untuk dipenuhi. Anak jangan dipuja-puji melebihi kepada Allah. Anak jangan dijadikan berhala.

wa lã yastathi’ũna = dan mereka tidak dapat; lahum = kepada penyembahnya; nashron = pertolongan; wa lã anfusahum = dan tidak kepada dirinya sendiri; yanshurũn = mereka memberikan pertolongan.

wa lã yastathi’ũna lahum nashron wa lã anfusahum yanshurũn.

192. Dan berhala-berhala tidak dapat memberi pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun, berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berhala tidak dapat memberi pertolongan kepada orang-orang yang memuja-mujinya. Kepada dirinya sendiri juga tidak bisa menolong. Hanya Allah Yang Maha Gaib bisa menolong makhluk-Nya.

wa in = dan jika; tad’ũhum = kamu meyeru mereka; ilãl hudã = kepada petunjuk; lã = tidak; yattabi’ũkum = mereka mengikuti kamu; sawã-un = sama saja; ‘alaikum = untuk kamu; ada’autumũhum = apakah kamu menyeru mereka; am antum = atau kamu; shōmitũn = orang-orang yang diam.

wa in tad’ũhum ilãl hudã lã yattabi’ũkum, sawã-un ‘alaikum ada’autumũ hum am antum shōmitũn.

193. Jika kamu (orang-orang musyrik) menyeru berhala-berhala untuk memberi petunjuk, tidaklah berhala-berhala itu mengikuti kamu, sama saja untuk kamu menyeru mereka atau diam saja.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berhala-berhala itu sesungguhnya tidak mampu memberi petunjuk, tidak dapat menolong, tidak dapat melakukan sesuatu, tidak dapat mendengar seruan orang.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = berhala-berhala yang; tad’ũna = kamu menyeru; min dũnillãhi = dari selain Allah; ‘ibãdun = hamba (makhluk); amtsãlukum = serupa dengan kamu; fad’ũhum = maka serulah mereka; falyastajĩbũ = supaya mereka memperkenankan; lakum = kepada kamu; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

innal ladzĩna tad’ũna min dũnillãhi ‘ibãdun amtsãlukum, fad’ũhum falyastajĩbũ lakum in kuntum shōdiqĩn.

194. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah makhluk yang serupa dengan kamu, karena itu, serulah mereka supaya mereka memperkenankan (permintaanmu), jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa berhala yang diharapkan memberi petunjuk, tidak akan dapat memenuhi permintaannya, karena berhala itu makhluk Allah juga, tapi dibuat manusia yang menipu dirinya sendiri.

alahum = apakah mereka mempunyai; arjulun = kaki-kaki; yamsyũna = mereka berjalan; bihã = dengannya; am lahum = atau mereka mempunyai; aidin = tangan; yabthisyũna = mereka memegang; bihã = dengannya; am lahum = atau mereka mempunyai; a’yunun = mata; yabshirũna = mereka melihat; bihã = dengannya; am lahum = atau mereka mempunyai; ãdzãnun = telinga; yasma’ũna = mereka mendengar; bihã = dengannya; qul = katakanlah; id’ũ = panggillah; syurokã ‘akum = sekutu-sekutumu (berhala-berhalamu); tsumma = kemudian; kĩdũni = lakukan tipu-daya untukku; fa lã tunzhirũn = maka kamu jangan memberi tangguh kepadaku.

Alahum arjulun yamsyũna bihã, am lahum aidin yabthisyũna bihã, am lahum a’yunun ybshirũna bihã, am lahum ãdzãnun yasma’ũna bihã, qulid’ũ syurokã ‘akum tsumma kĩdũni fa lã tunzhirũn.

195. Apakah berhala-berhala itu mempunyai kaki yang dengan itu mereka dapat berjalan, atau mereka mempunyai mata yang dengan itu mereka dapat melihat, atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu, kemudian lakukanlah tipu-dayamu kepadaku, dan jangan memberi tangguh (kepadaku).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa berhala itu tidak memiliki anggota tubuh yang dapat dimanfãtkan seperti manusia. Percaya kepada berhala (benda-benda) yang dapat melakukan sesuatu kepada manusia berarti menipu diri sendiri.

inna = sesungguhnya; waliyyĩyallãhu = pelindungku Allah; alladzĩ= yang; nazzala = menurunkan; al kitãba = Alkitab; wa huwa = dan Dia; yatawalla = melindungi; ash shōlihĩn = orang-orang yang saleh.

inna waliyyĩyallãhu alladzĩnazzalal kitãba, wa huwa yatawallash shōlihĩn.

196. Sesungguhnya, pelindungku adalah Allah, yang telah menurunkan Kitab (Alquran), dan Dia melindungi orang-orang yan saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa hanya Beliau Yang mewahyukan Alquran dan Yang melindungi orang-orang yang saleh.

wal ladzĩna = dan berhala-berhala; tad’ũna = kamu seru; min dũnihĩ= dari selain Dia; lã yastathĩ’ũna = mereka tidak dapat; nashrokum = menolong kamu; wa lã = dan tidak; anfusahum = diri mereka sendiri; yanshurũn = mereka menolong.

wal ladzĩna tad’ũna min dũnihĩlã yastathĩ’ũna nashrokum wa lã anfusahum yanshurũn.

197. Dan berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, mereka tidak dapat menolong kamu, dan tidak dapat menolong diri mereka sendiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Menguatkan pernyataan ayat 195, dan 196.

wa in = dan jika; tad’ũhum = kamu menyeru mereka; ilal hudã = untuk petunjuk; lã yasma’ũ = mereka tidak mendengar; wa tarōhum = dan kamu melihat mereka; yanzhurũna = mereka memandang; ilaika = kepada kamu; wa hum = padahal mereka; lã yubshirũn = mereka tidak melihat.

wa in tad’ũhum ilal hudã lã yasma’ũ wa tarōhum yanzhurũna ilaika wa hum lã yubshirũn.

198. Dan jika kamu menyeru mereka untuk memberi petunjuk, mereka tidak mendengarnya, dan kamu melihat, mereka itu memandang kamu, padahal mereka itu tidak melihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ibidem ayat di atas.

khudzi = berilah; al ‘afwa = maaf; wa‘mur = dan suruhlah; bil ‘urfi = dengan ma’ruf (kebaikan); wa a’ridh = dan berpalinglah; ‘anil jãhilĩn = dari orang-orang yang bodoh.

khudzil ‘afwa wa‘mur bil ‘urfi wa a’ridh ‘anil jãhilĩn.

199. Berilah maaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan kebaikan dan berpalinglah dari yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya untuk memberi maaf kepada orang-orang yang membuat kesalahan dan tidak usah memperhatikan orang yang tidak mau mengikutinya (orang bodoh).

wa immã = dan jika; yanza ghonnaka = menipu, menggoda; minasy syaitōni = dari setan; nazghun = tipuan, godaan; fasta’idz = maka berlindunglah; billãh = kepada Allah; innahũ = sesungguhnya Dia; samĩ’un = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

wa immã yanza ghonnaka minasy syaitōni nazghum fasta’idz billãh, innahũ samĩ’un ‘alĩm.

200. Maka bila kamu digoda setan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah ini terkenal dengan kalimat ta’awudz memohon perlidungan kepada Allah dari godaan setan dan jin yang akan dirajam. Ucapan lengkapnya: a’ũdzu billãhis samĩ’il ‘alĩmi minasy syaithōnir rojĩm.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; at taqau = mereka takwa; idzã = apabila; massahum = menimpa mereka; thō-ifun = segolongan (was-was); minasy syaithōni = dari setan; tadzakkarũ = mereka ingat; fa- idzã = maka tiba-tiba; hum = mereka; mubshirũn = orang-orang yang melihat (sadar).

innal ladzĩnat taqau idzã massahum thō-ifum minasy syaithōni tadzakkarũ fa- idzã hum mubshirũn.

201. Sesungguhnya orang-orang yang takwa, apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka tiba-tiba mereka sadar kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bimbingan dari Allah agar tidak terkena penyakit was-was, orang harus selalu ingat kepada-Nya.

wa ikhwaanuhum = dan teman-teman mereka; yamuddũnahum = membantu mereka (setan-setan); fil ghoyyi = dalam menyesatkan; tsumma = kemudian; lã yuqshirũn = tidak henti-hentinya.

wa ikhwaanuhum yamuddũnahum fil ghoyyi tsumma lã yuqshirũn.

202. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad) membantu setan-setan dalam menyesatkan, kemudian mereka tidak henti-henti (menyesatkan).
.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa orang-orang kafir, musyrik, fasik, dan murtad itu tidak pernah berhenti membantu setan menyesatkan manusia.

wa idzã = dan jika; lam ta’ tihim = kamu tidak membawa kepada mereka; bi-ãyatin = dengan suatu ayat; qōlũ = mereka berkata; lau lã = mengapa tidak; ijtabaitahã = kamu buat sendiri; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; attabi’u = aku mengikuti; mã yũhã = apa yang diwahyukan; ilayya = kepadaku; mir robbĩ= dari Rabmu; hãdzã = ini; bashō-iru = bukti yang nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; wa hudan = dan sebagai petunjuk; wa rohmatun = dan rahmat; li qoumin = bagi kaum (orang-orang); yu’minũn = mereka beriman.

wa idzã lam ta’ tihim bi-ãyatin qōlũ lau lajtabaitahã, qul innamã attabi’u mã yũhã ilayya mir robbĩ, hãdzã bashō-iru mir robbikum wa hudan wa rohmatul li qoumiy yu’minũn.

203. Dan jika kamu tidak membawa suatu ayat (Alquran) kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat-ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya, aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Rabku, Alquran ini merupakan bukti yang nyata dari Rab kamu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk dan rahmat kepada Nabi Muhammad saw. dan pelanjutnya, bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad.

wa idzã = dan bila; qurĩ-a = dibacakan; al qur’ãnu = Alquran; fastami’ũ = maka simaklah; lahu = kepadanya; wa anshitũ = dan perhatikanlah; la’allakum = agar kamu; turhamũn = kamu diberi rahmat.

wa idzã qurĩ-al qur’ãnu fastami’ũ lahu wa anshitũ la’allakum turhamũn.

204. Dan bila dibacakan Quran, maka simaklah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu diberi rahmat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah, bila Alquran sedang dibaca, harus disimak baik-baik, dipahami maknanya, pembaca dan pendengarnya mendapatkan rahmat.

wãdz kur = dan berdzikirlah kepada …; robbaka = Rab kamu; fĩnafsika = dalam hatimu; tadhorru’an = merendahkan diri; wa khĩfatan = dan rasa takut; wa dũna = dan tiddak; al jahri = suara yang tidak keras; minal qouli = dari perkataan (suara); bil ghuduwwi = pada waktu pagi; wal ãshōli = dan petang; wa lã = dan janganlah; takun = kamu menjadi; minal ghōfilĩn = termasuk orang-orang yang lalai.

wãdz kur robbaka fĩnafsika tadhorru’an wa khĩfatan wa dũnal jahri minal qouli bil ghuduwwi wal ãshōli wa lã takum minal ghōfilĩn.

205. Dan dzikirlah (dengan nama) Rab dalam hati kamu dengan merendahkan diri dan rasa takut , dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar selalu berdzikir di dalam hati, setiap saat (pagi dan petang), merendahkan diri, dan dengan rasa takut, tidak dengan suara yang keras, jangan lalai (pikiran yang kososng, tidak berkhayal, tidak melamun).

innal ladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; ‘inda = di sisi (hadapan); robbika = Rab kamu; lã yastakbirũna = mereka tidak menyombongkan diri; ‘an ‘ibãdatihĩ= waktu beribadah kepada-Nya; wa yusabbihũ nahũ = dan mereka menyucikan-Nya; wa lahũ = dan kepada-Nya; yasjudũn = mereka sujud.

innal ladzĩna ‘inda robbika lã yastakbirũna ‘an ‘ibãdatihĩwa yusabbihũ nahũ wa lahũ yasjudũn.

206. Sesungguhnya orang-orang yang di sisi Rab kamu, mereka tidak menyombongkan diri, takzim waktu beribadah kepada-Nya, dan mereka menyucikan-Nya, hanya kepada-Nya mereka sujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk bagaimana cara beribadah dan sujud kepada Allah: tidak menyombongkan diri, sopan, takzim, dalam keadaan suci (jasmani dan rohani). Sujud hanya kepada Allah, memusatkan perhatian hanya kepada Allah dengan segala keagungannya, kemuliaannya.

006 Al An’am

‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
AL-AN’ÃM
(BINATANG TERNAK)
Surat ke-6, 165 ayat.
Makiyah
Juz 7 berlaih ke Juz 8 pada ayat 111

Catatan Awal.
Binatang ternak, maksudnya binatang yang dipelihara manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keperluan manusia, seperti kuda, unta, sapi, kerbau, kambing, biri-biri, domba, kelinci, marmut. Menurut kepercayaan Jahiliah, kaum musyriqin, binatang ternak ini dapat dipakai untuk persembahan, mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka. Ada hukum-hukum berkenan dengan binatang ternak ini. Dalam perkembangan dunia dewasa ini, termasuk binatang ternak adalah anjing, kucing, kelinci, ayam, bebek, angsa, puyuh, itik, kalkun, berbagai jenis ikan air tawar. Ikan air payau, dan ikan air asin. Ada yang disebut binatang kesayangan (pet).
Surat ini sebelum hijrah. Jumlah ayat 165. Isi pokok-nya:
1. Keimanan, menunjukkan bukti-bukti keesaan Allah dengan sifat-sifatnya yang sempurna, tidak ada cela. Kebenaran kenabian Muhammad saw. dan Nabi-nabi lain-nya, seperti Ibrahim, Ishaq, Ya’kub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, Isa, ilyas, Ilyasa’, Yunus, dan Luth. Menegaskan adanya risalah, wahyu, hari pembalasan, adanya kepercayaan orang-orang musyrik, dengan pengingkaran mereka kepada Hari Kiamat. Kepercayaan orang-orang musyrik dibantah secara logis, dan mudah diterima oleh akal sehat.
2. Hukum-hukum, adanya larangan melakukan adat-istiadat kaum jahiliah; makanan yang halal dan yang haram; sepuluh wasiat di dalam Alquran, ketauhidan, keadilan; larangan mencaci, memaki, menghina kepercayaan orang-orang musyrik. Ancaman dan pelaksanaan hukuman yang berat bagi mereka yang menolak kebenaran. Surat ini menjelaskan akidah-akidah agama.
3. Kisah-kisah tentang asal-usul kejadian manusia; beberapa generasi manusia yang dibinasakan; orang yang menentang para Rasul; kisah pengalaman Nabi Muhammad saw., cerita Nabi Ibrahim saat membimbing umatnya kepada ketauhidan, dan kisah para nabi lainnya.
4. Mengisahkan cara nabi memimpin, bidang-bidang keRasulan, dan tugas-tugas Rasul, sikap kepala batu kaum musyrikin; upaya kaum musyrikin untuk melemahkan Rasul; kepercayaan orang-orang musyrik kepada jin, setan, malaikat; beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan, dan nilai hidup keduniaan.

‘audzubillãhi min-nas sami’il alimi minasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

al hamdu = pujian; lillãhi = bagi Allah; al ladzĩ = yang; kholaqo = telah menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhō = dan bumi; wa ja’ala = dan Dia telah menjadikan; azh zhulumãti = gelap; wan nũr = dan terang; tsumma = kemudian; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = orang-orang kafir; bi robbihim = kepada Rob mereka; ya’dilũn = mereka menyekutukan.

al hamdu lillãhil ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhō wa ja’alazh zhulumãti wan nũr, tsummal ladzĩna kafarũ bi robbihim ya’dilũn.

1. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan telah menjadikan gelap dan terang, kemudian orang-orang kafir mempersekutukan sesuatu dengan Rob mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2 segala pujian hanya bagi Allah Pemilik alam yang artinya sama dengan “langit dan bumi” lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 33 Allah mengetahui rahasia langit dan bumi; mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan; 107 Allah memiliki kerajaan langit dan bumi; 117 penciptaan langit dan bumi, dan untuk menciptakan segala sesuatu, Allah tinggal berujar “jadilah, maka jadilah ia; Ali Imran, 3: 133 luas surga seluas langit dan bumi; 189 kepunyaan Allah, kerajaan langit dan bumi; 190 penciptaan langit dan bumi; 191 penciptaan langit dan bumi tidak sia-sia; Al Mã idah, 5: 17 kepunyaan Allah langit dan bumi; 18 kerajaan Allah meliputi langit dan bumi; 40 Allah Mempunyai kerajaan langit dan bumi; Al An ‘am, 1: 1
Orang-orang kafir selalu mempersekutukan Allah dengan benda-benda ciptaannya sendiri atau yang ada di alam ini.

huwa = Dia; al ladzĩ = yang; kholaqokum = menciptakan kamu; min thĩnin = dari tanah; tsumma = kemudian; qodhō = Dia menentukan; ajala = waktu, ajal, ketentuan; wa ajalun = dan waktu; musamman = ditentukan; ‘indahũ = di haribãn-Nya; tsumma = kemudian; antum = kamu; tamtarũn = kamu ragu-ragu.

huwal ladzĩ kholaqokum min thĩnin tsumma qodhō ajala wa ajalum musamman ‘indahũ tsumma antum tamtarũn.

2. Dia yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan waktu kematianmu, dan waktumu berbangkit untuk menghadap-Ku, namun kamu masih ragu-ragu tentang hari kebangkitan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam ayat ini Allah memberitahu penciptaan manusia itu dari tanah (lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 117; Ali ‘Imran, 3: 47, 59; Yã sĩn, 36: 82.
Dalam Q.s. At Thoriq, 86: 6, 7 dikatakan manusia diciptakan dari air yang memancar keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
Allah mengingatkan, setelah manusia itu mati, akan dibangkitkan lagi untuk pengabdian kepada Allah selanjutnya. Pada Q.s. Al Fatihah, 1: 2 Allah menyatakan Dirinya sebagai Penguasa alam semesta; Al Baqarah, 2: 21, Allah memerintahkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah; 22, Allah menghamparkan bumi dan memberi atap langit disediakan untuk manusia; 28, Allah mengingatkan manusia agar jangan kafir ketika dihidupkan yang sebelumnya mati, kemudian dikembalikan lagi kepada-Nya; 29, menciptakan segala sesuatu di bumi untuk keperluan manusia, dan juga menciptakan tujuh lapis langit; 30 Allah memberitahukan kepada Malaikat, Dia akan menciptakan manusia sebagai Khalifah di muka bumi.
Allah memperingatkan keragu-raguan manusia tentang hari kebangkitannya untuk menghadap-Nya. Masih ada saja orang yang meragukan hari kebangkitan ini. Seperti apa gambaran hari kebangkitan itu? Tidak ada orang yang mempunyai pengetahuan pasti, karena hal ini masih merupakan mahkluk gaib, peristiwa yang belum terjadi. Pasti tidak ada yang tahu, Hanya Allah saja yang Maha Mengetahui waktu yang akan datang itu.

wa huwallãhu = dan Dia, Allah; fis samãwãti = di langit; wa fil ardhĩ = dan di bumi; ya’lamu = Dia mengetahui; sirrokum = rahasiamu; wa jahrokum = dan yang kamu lahirkan; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mã taksibũn = apa yang kamu usahakan.

wa huwallãhu fis samãwãti wa fil ardhĩ ya’lamu sirrokum wa jahrokum wa ya’lamu mã taksibũn.

3. Dan Dialah, Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui pula apa yang kamu usahakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sebagai Penguasa di langit dan di bumi mengetahui segala sesuatu rahasia tentang makhluk-Nya.

wa mã ta’tĩhim = dan tidak datang kepada mereka; min ãyatin = dari suatu ayat; min ãyãti = dari ayat-ayat; robbihim = Robmereka; illã = kecuali; kãnũ = mereka adalah; ‘anhã = darinya; mu’ridhĩn = orang-orang berpaling.

wa mã ta’tĩhim min ãyatim min ãyãti robbihim illã kãnũ ‘anhã mu’ridhĩn.

4. Dan tidak datang kepada mereka suatu ayat dari Robmereka, kecuali mereka selalu mendustakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, bila suatu ayat dari Allah selalu ada orang yang menganggap ayat itu tidak benar dari Allah (lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 39, 41, dan lain-lain.)

faqod = maka sesungguhnya; kadzdzabũ = mereka telah mendustakan; bil haqqi = dengan kebenaran; lammã = ketika; jã-ahum = datang kepada mereka; fa saufa = maka kelak; ya’tĩhim = sampai kepada mereka; ambã-ũ = berita; mã kãnũ = yang adalah mereka; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = mereka memperolok-olokkan.

faqod kadzdzabũ bil haqqi lammã jã-ahum, fa saufa ya’tĩhim ambã-ũ mã kãnũ bihĩ yastahzi-ũn.

5. Maka sesungguhnya, mereka telah mendustakan kebenaran, ketika kebenaran itu datang kepada mereka, kelak akan datang kenyataan dari berita yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, mereka yang selalu mendustakan ayat-ayat-Nya, kelak mereka akan menemukan kenyataan yang selalu mereka perolok-olokkan.
Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 14

alam = apakah tidak; yaraũ = mereka memperhatikan; kam = berapa banyak; ahlaknã = Aku telah membinasakan; min qoblihim = dari sebelum mereka; min qornin = dari kurun (generasi); makkannã hum = Aku teguhkan mereka; fĩl ardhĩ = di muka bumi; mã lam numakkin = yang belum Aku teguhkan; lakum = kepadamu; wa arsalnã = dan Aku telah mengirimkan assamã-a = langit; ‘alaihim = atas mereka; midrōrōn = lebah; wa ja’alnas = telah Aku jadikan; al anhãro = sungai-sungai; tajrĩ = mengalir; min tahtihim = dari bawah mereka; fa ahlaknãhum = dan Aku binasakan mereka; bi dzunũbihim = dengan dosa-dosa mereka; wa ansya’nã = dam Aku tumbuhkan; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; qornaan = kurun (generasi); ãkhorĩn = yang lain.

alam yaraũ kam ahlaknã min qoblihim min qornim makkannã hum fĩl ardhĩ mã lam numakkil lakum wa arsalnas samã-a ‘alaihim midrōrōn wa ja’alnal anhãro tajrĩ min tahtihim fa ahlaknãhum bi dzunũbihim wa ansya’nã mim ba’dihim qornaan ãkhorĩn.

6. Apakah mereka tidak memperhatikan, berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Aku binasakan, padahal mereka telah Aku teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dengan keteguhan yang belum pernah Aku berikan kepadamu. Dan telah Aku kirimkan hujan lebat atas mereka, dan Aku jadikan sungai-sungai yang mengalir di bawah mereka, lalu Aku binasakan mereka, karena dosa-dosanya, dan Aku ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, banyak generasi sebelum kita yang telah dibinasakan-Nya, dan diganti oleh generasi yang lain, karena mereka telah melakukan dosa. Sebelumnya, mereka diteguhkan dengan berbagai karunia yang banyak. Namun, karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan, maka mereka dibinasakan, dan diganti dengan generasi yang lebih baik.

walau = dan kalau; nazzalnã = Aku turunkan; ‘alaika = kepada kamu; kitãban = tulisan; fĩ qorthōsin = pada kertas; falamasũhu = lalu mereka merabanya; bi aidĩhim = dengan tangan mereka; laqōla = pasti berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; in hãdzã = ini tidak lain; illã = hanyalah; sihrum = sihir; mubĩn = yang nyata.

walau nazzalnã ‘alaika kitãban fĩ qorthōsin falamasũhu bi aidĩhim laqōlal ladzĩna kafarũ in hãdzã illã sihrum mubĩn.

7. Dan kalaupun Aku turunkan kepadamu tulisan pada kertas, lalu mereka meraba dengan tangannya, pasti orang-orang yang kafir berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada semua manusia, orang kafir akan menganggap hanya sihir, walaupun Allah telah menurunkan wahyu itu dalam bentuk tulisan pada lembaran kertas (lihat juga Q.s. Al Ma’idah, 5: 110)

wa qōlũ = dan mereka berkata; lau = kalau; lã = tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; malakun = seorang Malaikat; walau = dan kalau; anzalnã = Aku turunkan; malakan = seorang Malaikat; laqudhiya = tentu diputuskan; al amru = perkataan itu; tsumma = kemudian; lã yunzhorũn = mereka tidak diberi tangguh.

wa qōlũ lau lã unzila ‘alaihi malakun, walau anzalnã malakal laqudhiyal amru tsumma lã yunzhorũn.

8. Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad saw.) seorang Malaikat?” Padahal kalau Aku turunkan kepadanya seorang Malaikat, tentu telah diputuskan perkaranya, kemudian mereka tidak diberi tangguh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir selalu mencari alasan untuk menyatakan ketidakpercayaannya kepada Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan Allah.

walau = dan kalau; ja’alnãhu = Aku jadikan baginya; malakan = seorang Malaikat; laja’alnãhu = tentu Aku jadikan dia; rojulan = seorang lelaki; wa alalabasmã = tentu Aku membuat ragu-ragu; ‘alaihim = atas mereka; mã yalbisũn = apa yang mereka ragu-ragukan.

walau ja’alnãhu malakal laja’alnãhu rojulan wa alalabasmã ‘alaihim mã yalbisũn.

9. Dan kalau Aku jadikan Rasul itu Malaikat, tentu Aku jadikan dia seorang laki-laki, dan tentu Aku membuat ragu-ragu kepada mereka, seperti apa yang sudah mereka ragukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau Allah sudah menetapkan seseorang itu menjadi peragu, maka apa pun yang menjadi bukti keRasulan, mereka tetap akan ragu.

walaqodi = dan sesungguhnya; ustuhzi’a = telah diperolok-olokkan; bi rusulin = pada beberapa Rasul; min qoblika = dari sebelum kamu; fahãqo = maka turunlah; billadzĩna = pada orang-orang yang; sakhirũ = mencemooh; minhum = di antara mereka; mã kãnũ = mereka adalah; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = mereka memperolok-olokkan.

walaqodis tuhzi’a bi rusulim min qoblika fahãqo billadzĩna sakhirũ minhum mã kãnũ bihĩ yastahzi-ũn.

10. Dan sesungguhnya, beberapa Rasul sebelum kamu telah diperolok-olokkan, maka turunlah cemoohan balasan kepada orang-orang yang memeperolok-olokkan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Rasul-Nya agar umatnya mencari pengalaman sendiri tentang kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah dan Nabi-Nya.
Orang yang suka memperolok-olokkan kedatangan seorang Rasul pasti akan dibalas cemoohannya di dunia dan nanti di akhirat.

qul = katakanlah; sĩrũ = kamu berjalanlah; fil ardhĩ = di muka bumi; tsumma = kemudian; unzhuru = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘aqibatu = akibat, kesudahan; al mukadzdzibĩn = orang-orang yang mendustakan.

qul sĩrũ fil ardhĩ tsummanzhuru kaifa kãna ‘aqibatul mukadzdzibĩn.

11. Katakanlah: “Berjalanlah kamu di muka bumi, kemudian perhatikanlah kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Rasul-Nya agar umatnya mencari pengalaman sendiri tentang kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah dan Nabi-Nya.

qul = katakanlah; liman = kepunyaan siapakah; mã = apa-apa; fi = di dalam; as samãwãti = di langit; wa = dan; al ardhi = bumi; qul = katakanlah; lillãhi = bagi (kepunyaan) Allah; kataba = Dia telah menetapkan; ‘alã nafsihi = atas diri-Nya; ar rohmah = kasih-sayang; layajma’annakum = sungguh Dia akan mengumpulkan kamu; ilã yaumi = pda hari; al qiyãmati = kiamat; lã roiba = tidak ada keraguan; fĩhi = padanya; alladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = mereka merugikan; anfusahum = diri mereka; fahum = maka mereka itu; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.

qul liman mã fis samãwãti wal ardhi, qul lillãhi, kataba ‘alã nafsihir rohmah, layajma’annakum ilã yaumil qiyãmati lã roiba fĩhi, alladzĩna khosirũ anfusahum fahum lã yu’minũn.

12. Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa-apa yang ada di langit, dan apa-apa yang di bumi?”, katakanlah: “Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan Dirinya Maha Pengasih. Sungguh Dia akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak diragukan lagi kejadiannya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak (mau) beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berulang-ulang mengingatkan keberadaan-Nya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan selalu mengingatkan tentang Hari Kiamat. Namun ada saja yang masih meragukan Hari Kiamat itu. Mereka tidfak mau beriman akan adanya Hari Kiamat, dan selalu berbuat semena-mena di dunia ini.

wa = dan; lahũ = kepunyaan-Nya; mã sakana = apa yang diam; fi = pada; al laili = pada malam; wan nahãri = dan siang; wa huwa = dan Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al alĩm = Maha Mengetahui.

wa lahũ mã sakana fillaili wan nahãri, wa huwas samĩ’ul alĩm.

13. Dan kepunyaan-Nya apa yang diam di malam dan di siang, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Apa yang diam di malam dan siang itu? Tentunya segala makhluk-Nya. Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui makhluk-Nya yang diam dalam kedua saat itu. Ayat ini menyatakan kekuasaan Allah yang tak terhingga di setiap saat.

qul = katakanlah; aghoirollãhi = apakah selain Allah; attakhidzu = Aku menjadikan; waliyyan = Pelindung; faathiri = Pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa huwa = dan Dia; yuth’imu = memberi makan; wa lã yuth’amu = dan tidak diberi makan; qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; umirtu = aku diperintah; an akũna = supaya aku menjadi; awwala = awal, pertama; man = orang; aslama = berserah diri; wa lã = dan jangan; takũnanna = kamu menjadi; min = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul aghoirollãhi attakhidzu waliyyan faathiris samãwãti wal ardhi wa huwa yuth’imu wa lã yuth’amu, qul innĩ umirtu an akũna awwala man aslama, wa lã takũnanna minal musyrikĩn.

14. Katakanlah: “Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah Pencipta langit dan bumi, dan Dia memberi makan, dan tidak diberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama berserah diri (Islam), dan janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang musyrik

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini memberi sentuhan kepada umat yang Nabunya menjadi juru selamat, melindunginya saat hidup di dunia, dan nanti di akhirat. Allah memerintah Nabi Muhammad saw. dengan para pengikutnya mengatakan seperti yang disebutkan dalam ayat ini, hal ini dimaksudkan agar manusia makhluk-Nya menyadari, siapa yang seharusnya menjadi Pelindung hidup di dunia ini, siapa yang memberi rezeki hidupnya. Allah memerintahkan agar makhluk-Nya, khususnya manusia harus berserah diri hanya kepada Allah, dan mengingatkan agar jangan menjadi manusia yang musyrik (menyekutukan Allah dengan yang selain Allah.

qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; akhōfu = (aku) takut; in ‘ashoitu = jika aku mendurhakai; robbĩ = Rabku; ‘adzãba = azab; yaumin = hari; ‘azhĩm = yang besar

qul innĩ akhōfu in ‘ashoitu robbĩ ‘adzãba yaumin ‘azhĩm.

15. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut azab yang besar di Hari Kiamat, jika aku mendurhakai Rabku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Menyuruh Nabi Muhammad saw. dan umatnya agar mengatakan apa yang ada dalam ayat ini kepada orang yang belum mau percaya kepada Alkitab yang diwahyukan kepadanya. Jangan mengabaikan perintah dan larangan Allah.

man = siapa; yusrof = dijauhkan; ‘anhu = darinya (azab); yauma idzin = pada hari itu; faqod = maka sesungguhnya; rohimahu = Dia telah merahmatinya; wa dzãlika = dan itulah; al fauzu = keuntungan; al mubĩn = nyata.

man yusrof ‘anhu yauma idzin faqod rohimahu, wa dzãlikal fauzul mubĩn.

16. Barang siapa yang dijauhkan dari azab pada hari itu, maka sesungguhnya Dia merahmatinya, dan itulah keuntungan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan secara berulang-ulang tentang Hari Kiamat, ada yang akan diuntungkan (orang yang mengakui ada-Nya Allah dan Rasul-Nya), dan ada yang diazab.(orang yang mendustakan Allah dan Rasulnya, khusus mendustakan Nabi Muhammad saw.).

wa in = dan jika; yamsaskallãhu = Allah menimpakan kepadamu; bi dhurrin = dengan suatu bencana; fa lã = maka tidak ada; kãsyifa = yang menghilangkan; lahũ = padanya; illã = kecuali; huwa = Dia sendiri; wa in = dan jika; yamsaska = Dia menimpakan kepadamu; bi khoirin = dengan kebaikan; fa huwa = dan Dia lah; ‘alã kulli = atas segala: syai-in = sesuatu; qodiir = Maha Menentukan.

wa in yamsaskallãhu bi dhurrin fa lã kãsyifa lahũ illã huwa, wa in yamsaska bi khoirin fa huwa ‘alã kulli syai-in qodiir.

17. Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bencana, tidak ada yang dapat menghilangkan bencana itu, kecuali Dia sendiri, dan jika Dia menimpakan kepadamu kebaikan, maka Dia lah Yang Maha Menentukan atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyatakan kekuasaan-Nya dalam berbagai kejadian di alam semesta. Tentang kebaikan, lihat juga Q.s. An Nisa’, 4: 17; Fushshilat, 41: 46 dll.

wa huwa = dan Dia lah; al qōhiru = berkuasa; fauqo = di atas; ‘ibãdihĩ = hamba-hamba-Nya; wa huwa = dan Dia; al hakĩmu = Mahabijaksana; al khobĩr = Maha Mengetahui

wa huwal qōhiru fauqo ‘ibãdihĩ, wa huwal hakĩmul khobĩr.

18. Dan Dia lah yang berkuasa di atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. disuruh Allah untuk mengingatkan manusia tentang Sifat-sifat Allah.

qul = katakanlah; ayyu = perkara; syai-in = yang mana; akbaru = lebih besar, kuat; syahãdatan = kesaksian; qulillãhu = katakanlah: “Allah…”; syahĩdun = menjadi saksi; bainĩ = antara aku; wa bainakum = dan antara kamu; wa ũhiya = dan diwahyukan; ilayya = kepadaku; hãdzã = ini; al qur’ãnu = Alquran; li undzirokum = supaya aku memberi peringatan kepadamu; bihi = dengannya; wa man = dan siapa, orang; balagho = ia telah sampai; a-innakum = apa sesungguhnya kamu; latasyhadũna = sungguh kamu mengakui; anna ma’allãhi = bahwa disamping Allah; ãlihatan = tuhan-tuhan; ukhrō = yang lain; qul = katakanlah; lã asyhadu = aku tidak mengakui; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; huwa = Dia; ilãhun = Ilah; wãhidun = satu, esa; wa innanĩ = dan sesungguhnya aku; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa yang; tusyrikũn = kamu persekutukan.

qul ayyu syai-in akbaru syahãdatan, qulillãhu, syahĩdum bainĩ wa bainakum, wa ũhiya ilayya hãdzãl qur’ãnu li undzirokum bihi wa mam balagho a-innakum latasyhadũna anna ma’allãhi ãlihatan ukhrō, qul lã asyhadu, qul innamã huwa ilãhun wãhidun wa innanĩ barĩ-um mimmã tusyrikũn.

19. Katakanlah: “Siapakah yang kesaksiannya lebih kuat?” Katakanlah: “Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang telah menerima Alquran, apa sebab sesungguhnya, kamu mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia itu Ilah Yang Satu, dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang engkau persekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam ayat ini, Allah menegaskan kedudukan Muhammad saw. sebagai Nabi yang diberi wahyu dari-Nya, dan memperingatkan mereka yang mempunyai keyakinan lain, selain Allah Yang Mahaesa.

alladzĩna = orang-orang yang; ãtainãhumu = kepada mereka Aku berikan; al kitãba = Alkitab; ya’rifũnahũ = mereka mengetahui; kamã = seperti, sebaimana; ya’rifũna = mereka mengenal; abnã-ahum = anak-anak mereka; al ladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = (mereka) merugikan; anfusahum = diri mereka; fahum = maka mereka; lã yu’minũn = (mereka) tidak beriman.

alladzĩna ãtainãhumul kitãba ya’rifũnahũ kamã ya’rifũna abnã-ahumul ladzĩna khosirũ anfusahum fahum lã yu’minũn.

20. Orang-orang yang Aku beri Alkitab, mereka mengetahui (Muhammad), seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka tidak mau beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang diberi Alkitab oleh Allah, sesungguhnya mereka mengetahui betul siapa Nabi Muhammad saw. itu, namun tetap saja, mereka banyak yang tidak mau beriman

wa man = dan sipakah; azhlamu = lebih lalim; mimmani = dari orang-orang iftarō = mengadakan; ‘alallãhi = pada Allah; kadziban = kebohongan; au = atau; kadzdzaba = ia mendustakan; bi-ãyãtihĩ = dengan ayat-ayat-Nya; innahũ = sesungguhnya; lã yuflihu = tidak beruntung; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

wa man azhlamu mimmaniftarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi-ãyãtihĩ innahũ lã yuflihuzh zhōlimũn.

21. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengadakan kebohongan kepada Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa orang membuat kebohongan tentang Allah dan yang mendustakan ayat-ayat-Nya, mereka digolongkan orang yang lalim dan hidupnya di dunia, dan di akhirat tidak beruntung. Mereka selalu gelisah, tidak ada ketenteraman dalam menjalani hidupnya.

wa yauma = dan pada hari; nahsyuruhum = Aku menghimpun mereka; jamĩ’an = semua; tsumma = lalu, kemudian; naqũlu = Aku berkata; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; asyrokũ = (mereka) musyrik; aina = di mana; syurokã-ukumu = sekutu-sekutu Kami; al ladzĩna = orang-orang yang; kuntum = kamu adalah; taz’umũn = kamu mengakui, mengatakan.

wa yauma nahsyuruhum jamĩ’an, tsumma naqũlu lilladzĩna asyrokũ ainasyurokã-u kumulladzĩna kuntum taz’umũn.

22. Dan pada hari Aku menghimpun mereka semua, lalu Aku berkata kepada orang-orang musyrik: “Di mana sesembahan kamu dahulu yang kamu katakan sekutu-sekutu Kami?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini Allah mengingatkan pada hari semua makhluk-Nya dihimpun (Hari Kiamat). Mereka yang musyrik ditanya tentang tuhan-tuhan yang dahulu dikatakan sekutu-sekutu Allah

tsumma = kemudian; lam takun = tidak ada; finatuhum = fitnah mereka; illã = kecuali; an qōlũ = bahwa mereka mengatakan; wallãhi = demi Allah; robbinã = Robkami; mã kunnã = Aku tidak menjadi; musyrikĩn = orang-orang musyrik.

tsumma lam takun finatuhum illã an qōlũ wallãhi robbinã mã kunnã musyrikĩn.

23. Kemudian tidak ada fitnah mereka, kecuali mereka mengatakan: “Demi Allah, Robkami, Aku tidak menjadi orang-orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan pengakuan yang jujur, tidak ada fitnah, bahwa hanya Allah Robmereka. Di dunia, sesungguhnya tidak ada sekutu-sekutu Allah.

unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kadzabũ = mereka mendustakan; ‘alã = pada; anfusihim = diri mereka; wazholla = dan telah sesat, hilang; ‘amhum = dari mereka; mã = apa; kãnũ = yang mereka; yaftarũn = mereka ada-adakan.

unzhur kaifa kadzabũ ‘alã anfusihim wazholla ‘amhum mã kãnũ yaftarũn.

24. Perhatikanlah, bagaimana mereka mendustakan diri mereka sendiri, dan telah hilang, apa-apa yang mereka ada-adakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, sesungguhnya, apa yang mereka ada-adakan di dunia itu berarti mereka mendustai diri sendiri.

wa = dan; min = di antara; hum = mereka; man = orang; yastami’u = ia mendengarkan; ilaika = kepadamu; wa = dan; ja’alnã = Aku menjadikan; ‘alã = pada; qulũbihim = hati mereka akinnatan = sumbat; an yafquhũhu = untuk memahaminya; wa = dan; fĩ = pada; ãdzãnihim = telinga mereka; waqrō = tuli; wa in yarau = dan jika mereka melihat; kulla = segala; ãyati = tanda-tanda; lã yu’minũ = mereka tidak beriman; bihã = dengannya; hatã = sehingga; idzã = apabila; jã-ũka = mereka datang kepadamu; yujãdilũnãka = mereka membantahmu; yaqũlu = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; in hãdzã = ini tidak lain; illã = hanya, kecuali; asaathĩru = dongeng, satir; al awwalĩn = orang-orang dahulu.

wa min hum man yastami’u ilaika, wa ja’alnã ‘alã qulũbihim akinnatan an yafquhũhu wa fĩ ãdzãnihim waqrō, wa in yarau kulla ãyatil lã yu’minũ bihã, hatã idzã jã-ũka yujãdilũnãka yaqũlul ladzĩna kafarũ in hãdzã illã asaathĩrul awwalĩn.

25. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)-mu, padahal Aku telah menjadikan sumbat pada hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan Aku sumbat telinga mereka, dan jika melihat segala tanda, mereka tetap tidak beriman kepadanya, sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, berkatalah orang-orang kafir itu: “Alquran ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang dahulu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah menyumbat hati dan telinga orang kafir, sehingga meskipun mereka mendengar dan melihat ayat-ayat Allah, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah. Alquran akan dianggap hanya dongeng orang-orang dahulu (lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 7) .

wa hum = dan mereka; yanhauna = (mereka) melarang; ‘anhu = dari Alquran; wa yan-auna = dan mereka menjauhkan; anhu = dari Alquran; wa in yuhlikũna = dan mereka membinasakan diri; illã = tidak lain, kecuali, hanya; anfusahum = diri mereka sendiri; wa mã yasy’urũn = dan mereka tidak menyadari.

wa hum yanhauna ‘anhu wa yan-auna anhu, wa in yuhlikũna illã anfusahum wa mã yasy’urũn.

26. Dan mereka melarang (orang lain mendengarkan) Alquran, dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya, mereka tidak lain hanya membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan perilaku orang kafir.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; wuqifũ = mereka dihadapkan; ‘alan nãri = ke neraka; faqōlũ = maka mereka berkata; yãlaitanã = aduhai, sekiranya kami; nuroddu = Aku dikembalikan; wa lã = dan tidak; nukadzdziba = akan mendustakan; bi ãyãti = pada ayat-ayat; robbina = Robkami; wa nakũna = dan Aku menjadi; minal mu’minĩn = dari orang-orang yang beriman.

wa lau tarō idz wuqifũ ‘alan nãri faqōlũ yãlaitanã nuroddu wa lã nukadzdziba bi ãyãti robbina wa nakũna minal mu’minĩn.

27. Dan kalau kamu melihat, ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Aduhai, sekiranya Aku dikembalikan ke dunia, dan Aku tidak akan mendustakan ayat-ayat Robkami, dan Aku menjadi orang-orang yang beriman

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan penyesalan orang-orang kafir ketika mereka dihadapkan pada kenyataan di akhirat.

bal = bahkan; badã = telah nyata; lahum = bagi mereka; mã = apa; kãnũ = mereka adalah; yukhfũna = mereka sembunyikan; min qoblu = dari dahulu; wa lau = dan kalau; ruddũ = mereka dikembalikan; la’ãdũ = tentu mereka kembali; limã = pada apa; nuhũ = mereka dilarang; ‘anhu = darinya; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; lakãdzibũn = sungguh pendusta-pendusta.

bal badã lahum mã kãnũ yukhfũna min qoblu, wa lau ruddũ la’ãdũ limã nuhũ ‘anhu wa innahum lakãdzibũn.

28. Bahkan telah nyata bagi mereka, apa yang mereka sembunyikan dahulu, dan kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali pada apa yang dilarang pada dirinya, dan sesungguhnya, mereka itu adalah pendusta-pendusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menamakan orang-orang kafir itu pendusta-pendusta, karena memang mereka selalu mendustakan apa yang sesungguhnya sudah nyata kebenarannya dan apa yang pernah dilarang menyembunyikan ayat-ayat Allah di dunia

wa kōlũ = dan mereka berkata; in hiya = tidak lain kehidupan; illã = hanyalah; hayãtuna = kehidupan kita; ad dunyã = dunia; wa mã = dan tidaklah; nahnu = kita; bimab’ũtsĩn = orang-orang yang dibangkitkan.

wa kōlũ in hiya illã hayãtunad dunyã wa mã nahnu bimab’ũtsĩn.

29. Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita tidak akan dibangkitkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keyakinan orang kafir, bahwa kehidupan ini hanya di dunia saja, dan tak pernah ada hari kebangkitan kembali. Ini merupakan pendapat atau keyakinan yang salah.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; wuqifũ = mereka dihadapkan; ‘alã = kepada; robbihim = Robbnya; qōla = (Allah) berfirman; alaisa = bukankah; hãdzã = ini; bil haqqi = dengan benar; qōlũ = (mereka) berkata; balã = memang benar; wa robbina = dan demi Robkami; qōla = (Allah) berfirman; fadzũqũ = maka rasakanlah; al ‘adzãba = azab ini; bimã = dengan sebab, karena; kuntum = kamu adalah; takfurũn = kamu kafir.

wa lau tarō idz wuqifũ ‘alã robbihim, qōla alaisa hãdzã bil haqqi, qōlũ balã wa robbina qōla fadzũqũl ‘adzãba bimã kuntum takfurũn.

30. Dan kalau kamu melihat, ketika mereka dihadapkan kepada Robbnya, Allah berfirman: “Bukankah kebangkitan ini benar?” Mereka menjawab: “Ya, memang benar; demi Robkami. Allah berfirman: “Maka rasakanlah azab ini, karena kamu kafir.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini untuk mengingatkan kepada orang-orang yang masih membangkang, kafir saathidup di dunia. Setelah datang hari pembalasan nanti, mereka tidak bisa membantah. Mereka akan menyesal berkepanjangan, karena Allah mengazab mereka di akhirat karena kekafirannya.

qod = sungguh; khosiro = telah merugi; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi liqō-illãh = perjumpãn dengan Allah; hattã = sehingga; idzã = jika; jã-ath-humu = datang kepada mereka; as sã’atu = saatkiamat; baghtatan = dengan tiba-tiba; qōlũ = mereka berkata; yã hasrotanã = aduhai, Aku menyesal; ‘alã mã = atas apa; farrothnã = kelalaian kami; fĩhã = pada Hari Kiamat ini; wahum = dan mereka; yahmilũna = mereka memikul; auzãrohum = beban dosa mereka; ‘alã = atas; zhuhũrihim = punggung mereka; alã = ingatlah; sã-a = sangat buruk; mã = apa yang; yazirũn = mereka pikul.

qod khosirol ladzĩna kadzdzabũ bi liqō-illãh, hattã idzã jã-ath-humus sã’atu baghtatan qōlũ yã hasrotanã ‘alã mã farrothnã fĩhã wahum yahmilũna auzãrohum ‘alã zhuhũrihim alã sã-a mã yazirũn.

31. Sungguh, telah rugilah orang-orang yang mendustakan perjumpãn dengan Allah, sehingga jika datang kepada mereka saatkiamat dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Aduhai Aku menyesal atas kelalaian Aku pada Hari Kiamat ini,” dan mereka memikul beban dosa mereka pada punggung mereka. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang Hari Kiamat yang akan datang dengan tiba-tiba (kiamat sugro maupun kiamat qubro). Jangan sampai kita menyesal karena kita mungkin lupa pada hari kita berjumpa dengan Allah.

wa mal hayãtu = dan sesungguhnya kehidupan; ad dun-yã = dunia; illã = hanyalah; la’ibun = permainan; wa lahwun = dan senda-gurau; wa lad dãru = dan sungguh kampung; al akhirōtu = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; yataqũn = (mereka) bertakwa; afalã = maka, apakah tidak; ta’qilũn = kamu menggunakan akal.

wa mal hayãtud dun-yã illã la’ibun wa lahwun, wa lad dãrul akhirōtu khoirul lilladzĩna yataqũn, afalã ta’qilũn.

32. Dan sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau, dan kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak menggunakan akal?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat yang harus dihadapi dengan takwa dan menggunakan akal. Kehidupan di dunia hanya bermain-main dan bersenda-gurau yang sifatnya sementara, sedang kehidupan di akhirat itu lebih baik dan kekal. Kehidupan di dunia harus berhati-hati dan harus dijalani dengan takwa. Jangan banyak “bermain-main” atau “bersenda-gurau” saja, kalau kita ingin mendapatkan kehidupan akhirat yang lebih baik.

qod = sesungguhnya; na’lamu = Aku mengetahui; innahũ = bahwa; layahzunuka = tentu akan menyedihkan kamu; al ladzĩ = orang-orang yang; yaqũlũna = mereka katakan; fa innahum = maka sesungguhnya mereka; lã yukadzdzibũnaka = mereka tidak mengangggap kamu dusta; wa lãkinna = akan tetapi; azh zhōlimĩna = orang-orang yang lalim; bi-ãyatillãhi = pada ayat-ayat Allah; yajhadũn = mereka menyangkal.

qod na’lamu innahũ layahzunukal ladzĩ yaqũlũna fa innahum lã yukadzdzibũnaka wa lãkinnazh zhōlimĩna bi-ãyatillãhi yajhadũn.

33. Sesungguhnya, Aku tahu, apa yang mereka katakan itu tentu akan menyedihkan kamu. Jangan bersedih hati. Sesungguhnya, mereka tidak menganggap kamu bohong, akan tetapi, orang-orang yang lalim itu menyangkal ayat-ayat Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menghibur dan menguatkan hati Nabi Muhammad saw., apa yang mereka katakan tidak dusta, hanya mereka lalim, karena menyangkal ayat-ayat Allah. Orang-orang yang menyangkal ayat-ayat Allah, tidak akan mendapatkan petunjuk Allah. Hidupnya akan tersesat.

wa laqod = dan sesungguhnya; kudzdzibat = telah didustakan; rusulun = Rasul-Rasul; min qoblika = dari sebeblum kamu; fashobarũ = maka bersabarlah; ‘alã = atas; mã = apa yang; kudzdzibũ = mereka didustakan; wa ũdzũ = dan mereka dianiaya; hattã = sampai; atãhum = datang kepada mereka; nashrunã = pertolongan Kami; wa lã = dan tidak; mubaddila = dapat mengubah; li kalimãtillãhi = bagi kalimat-kalimat Allah; wa laqod = dan sesungguhnya; jã-aka = telah dating kepadamu; min naba-i = dari sebagian berita; al mursalĩn = Rasul-Rasul.

wa laqod kudzdzibat rusulum min qoblika fashobarũ ‘alã mã kudzdzibũ wa ũdzũ hattã atãhum nashrunã, wa lã mubaddila li kalimãtillãhi, wa laqod jã-aka min naba ĩl mursalĩn.

34. Dan sesungguhnya, telah didustakan Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar atas pendustaan, dan penganiayaan yang dilakukan oleh mereka, sampai datang pertolongan Aku kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah janji-janji Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita Rasul-Rasul itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw.kejadian-kejadian masa-masa sebelumnya. Allah mengingatkan bahwa janji Allah itu tidak ada yang dapat mengubahnya. Sekarang telah datang sebagian berita tentang Rasul-Rasul yang dijanjikan Allah kepada Nabi Muhammad.

wa in kãna = dan jika ada atau menjadi; kaburo = besar, berat; ‘alaika = bagimu; i’rōdhuhum = mereka berpaling; fa-ini = maka jika; istatha’ta = kamu dapat; antabtaghĩya = kamu membuat; nafaqon = lubang; fil ardhĩ = di bumi; au sullaman = atau tangga; fis samã-i = ke langit; fata’tiyahum = lalu kamu mendatangkan kepada mereka; bi ãyatin = dengan ayat-ayat (keterangan); wa lau = dan kalau; sã-allãhu = Allah menghendaki; la jama’ahum = tentu Dia menjadikan mereka; ‘alãl hudã = atas petunjuk; falã = maka jangan; taqũnanna = kamu sekali-kali menjadi; minal jãhilĩn = termasuk orang-orang yang jahil.

wa in kãna kaburo ‘alaika i’rōdhuhum fa-inistatha’ta antabtaghĩya nafaqon fil ardhĩ au sullaman fis samã-i fata’tiyahum bi ãyatin, wa lau sã-allãhu la jama’ahum ‘alãl hudã, falã taqũnanna minal jãhilĩn.

35. Dan jika berpalingnya mereka terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka kerjakanlah). Dan jika Allah menghendaki, tentulah Dia menjadikan mereka semua mengikuti petunjuk, karena itu, jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan orang-orang pengikut agama selain Islam yang tidak mau beralih keyakinan, walaupun dengan upaya apa pun. Kalau Allah menghendaki memberi hidayah, mereka pasti akan mengikuti petunjuk Allah. Maka, serahkan persoalan mereka itu kepada Allah. Nabi Muhammad saw. diingatkan Allah, “jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil.” Tapi, tetaplah harus ada upaya. Kerjakan apa yang dapat dikerjakan untuk mengingatkannya.

innamã = sesungguhnya hanyalah; yastajĩbu = akan memperkenankan; al ladzĩna = orang-orang yang; yasma’ũna = (mereka) mendengar: wal mautã = dan orang-orang yang mati; yab’atsuhumullãhu = Allah akan membangkitkan mereka; tsumma = kemudian; ilaihi = kepada-Nya; yurja’ũn = mereka dikembalikan.

innamã yastajĩbul ladzĩna yasma’ũna, wal mautã yab’atsuhumullãhu tsumma ilaihi yurja’ũn.

36. Sesungguhnya yang akan memperkenankan seruan Allah, hanyalah orang-orang yang mendengar, sedang orang-orang yang mati (pendengarannya), nanti Allah akan membangkitkan mereka, kemudian kepada-Nya, mereka dikembalikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. tentang orang-orang yang tidak mau mendengar seruan Allah. Kalau sudah berusaha, serahkan hasilnya kepada Allah. Allahlah yang menentukan takdir seseorang.

wa qōlũ = dan mereka berkata: lau lã = mengapa tidak; nuzzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; ãyatun = satu ayat (mukjizat); min = dari; robbihĩ = Robbnya; qul = katakanlah; innallãha = sesungguhnya Allah; qōdirun = berkuasa; ‘alã = untuk; an yunazzila = menurunkan; ãyatan = suatu ayat, mukjizat; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.

wa qōlũ lau lã nuzzila ‘alaihi ãyatum mir robbihĩ, qul innallãha qōdirun ‘alã an yunazzila ãyatan wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.

37. Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat dari Robbnya?”, katakanlah: “Sesungguhnya Allah berkuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan orang-orang yang tidak mau mendengar seruan Allah yang selalu menghujat, menuntut hal yang sesungguhnya sedang berproses, yaitu turunnya mukjizat dari Allah. Padahal ayat-ayat Alquran ini mukjizat yang sedang dalam proses turun sedikit demi sedikit. Mereka tidak mengetahui. Mereka juga tidak mau percaya, bahwa Alquran itu sebuah mukjizat yang luar biasa. Perasaan hati, telinga, dan mata mereka ditutupi Allah.

wa mã min = dan tidaklah dari; dãbbatin = binatang-binatang; fil ardhi = di bumi; wa lã = dan tidak; thō-irin = burung-burung; yathĩrũ = terbang; bi janãhaihi = dengan kedua sayapnya; illã = hanya, kecuali, kepada, dari, sampai, hingga; umamun = umat; amtsãlukum = semisal kamu; mã = tidaklah, bukanlah; farrothnã = Aku alpakan; fil kitãbi = di dalam Alkitab; min syai-in = dari sesuatu; tsumma = kemudian; ilã robbihim = hanya kepada Robbmu; yuhsyarũn = mereka akan dhimpun.

wa mã min dãbbatin fil ardhi wa lã thō-irin yathĩrũ bi janãhaihi illã umamun amtsãlukum mã farrothnã fil kitãbi min syai-in, tsumma ilã robbihim yuhsyarũn.

38. Dan tidaklah binatang-binatang di bumi, dan tidak pula burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, hingga umat semisal kamu, tidaklah Aku alpakan sesuatu pun dalam Alkitab, kemudian hanya kepada Robbmu, semuanya akan dihimpun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Semua makhluk Allah selalu diamati-Nya, dan semuanya akan dihimpun pada hari yang sudah ditetapkan.

wãl ladzĩna = dan orang-orang yang; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat-Ku; shummun = mereka pekak; wa bukmun = dan mereka bisu; fĩzh zhulumãti = dalam gelap-gulita; man = barang siapa; yasyã-illãhu = Allah menghendaki; yudhlilhu = Dia akan menyesatkan; wa man = dan barang siapa; yasyã-u = menghendaki; yaj’alhu = Dia menjadikannya; ‘alã shirothim = pada jalan; mustaqĩm = yang lurus.

wãl ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã shummun wa bukmun fĩzh zhulumãti, man yasyã-illãhu yudhlilhu wa man yasyã-u yaj’alhu ‘alã shirothim mustaqĩm.

39. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, mereka pekak, dan bisu dalam gelap-gulita, Allah menghendaki siapa-siapa yang akan Dia sesatkan, dan siapa-siapa yang akan Dia beri petunjuk pada jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahakuasa untuk menetapkan siapa-siapa yang akan Dia sesatkan (orang-orang yang tidak percaya kepada ada-Nya Allah, dan yang selalu berbuat jahat, curang), dan siapa-siapa orang yang akan diberi petunjuk pada jalan yang lurus (orang-orang yang percaya kepada ada-Nya, dan selalu berbuat kebaikan, patuh kepada perintah-Nya).

qul = tanyakanlah; aro aitakum = terangkanlah kepadaku; in atãkum = jika datang kepada kamu; ‘adzãbullahi = azab Allah; au = atau; atatkumu = datang kepada kamu; as sã-‘atu = saat, waktu, kiamat; ‘aghoira = apakah selain; allãhi = Allah; tad’u’una = kamu menyeru; inkuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang sidik, benar.

qul aro aitakum in atãkum ‘adzãbullahi au atatkumus sã-‘atu ‘aghoirallãhi tad’u’una inkuntum shōdiqĩn.

40. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika datang azab Allah kepadamu, atau datang kepadamu saatyang ditetapkan-Nya (kiamat), apakah kamu menyeru ilah lain selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan apa yang tersurat dalam ayat ini untuk mengingatkan adanya Hari Kiamat, hari perhitungan yang pasti akan datang kepada orang-orang yang selalu memalingkan wajahnya, kalau diminta untuk mempercayai ke-Rasulannya.

bal = bahkan; iyyãhu = hanya kepada Dialah; tad’ũna = kamu menyeru; fa yaksyifu = maka Dia menghilangkan; mã = apa, bahaya; tad’ũna = kamu menyeru; ilaihi = kepadanya; in syã-a = jika Dia menghendaki; wa tansauna = dan kamu melupakan; mã = apa; tasyrikũn = yang kamu sekutukan.

bal iyyãhu tad’ũna fayaksyifu mã tad’ũna ilaihi in syã-a wa tansauna mã tasyrikũn.

41. Bahkan hanya kepada Dialah, kamu harus menyeru, maka Dia menghilangkan bahayamu menyeru selain Dia, jika Dia menghendaki, dan kamu melupakan apa yang kamu sekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kepada Siapa manusia itu harus menyeru. Jika Allah menghendaki, akan membuat lupa, apa yang disekutukannya.

wa laqod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; ilã = kepada; umamim = umat-umat; min qoblika = dari sebelum kamu; fa’akhodznãhum = maka Aku siksa mereka; bil ba’sã-i = dengan kesengsaraan; wadh dhorrō-i = dan kemelaratan; la’allahum = agar mereka; yatadhorro’ũn = mereka tunduk.

wa laqod arsalnã ilã umamim min qoblika fa’akhodznãhum bil ba’sã-i wadh dhorrō-i la’allahum yatadhorro’ũn.

42. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelum kamu, dan Aku siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, agar mereka tunduk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyiksa umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. dengan kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka tunduk kepada perintah Allah dan Nabi-Nya. Kesengsaraan dan kemelaratan itu salah satu dari ujian Allah, agar apa yang dilakukannya itu harus ada kesadaran ada-Nya Allah yang selalu mengawasi hidupnya.

falau lã = maka mengapa tidak; idz = ketika; jã-ahum = diturunkan kepada mereka; ba’sunã = siksaan Kami; tadhorro’ũ = mereka menundukkan hati; wa lãkin = akan tetapi; qosat = menjadi keras; qulũbuhum = hati mereka; wa zayyana = dan menampakkan bagus; lahumu = kepada mereka; asy syaithōnu = setan; mã kãnũ = apa yang; ya’malũn = mereka kerjakan.

falau lã idz jã-ahum ba’sunã tadhorro’ũ wa lãkin qosat qulũbuhum wa zayyana lahumusy syaithōnu mã kãnũ ya’malũn.

43. Mengapa mereka tidak menundukkan hati ketika datang siksaan Aku kepada mereka? Bahkan hati mereka menjadi keras, dan setan pun menampakkan bagus kepada mereka, apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman tentang orang-orang yang diberi peringatan dengan siksaan, malah hati mereka menjadi keras. Ciri dari orang yang tidak takwa, apa yang mereka lakukan dirasakannya bagus. Padahal hasilnya malah kerusakan.

falammã = maka setelah; nasũ = mereka melupakan; mã = apa; dzukkirũ = diperingatkan kepada mereka; bihĩ = dengannya; fatahnã = Aku bukakan; ‘alaihim = bagi mereka; abwãba = pintu-pintu; kulli syai-in = segala sesuatu; hattã = sehingga; idzã = ketika, tatkala; farihũ = mereka bergembira; bimã = dengan apa; ũtũ = mereka diberi; akhodznãhum = Aku siksa mereka; baghtatan = dengan tiba-tiba; fa idzãhum = maka ketika mereka itu; mublisũn = orang-orang yang putus asa.

falammã nasũ mã dzukkirũ bihĩ fatahnã ‘alaihim abwãba kulli syai-in hattã idzã farihũ bimã ũtũ akhodznãhum baghtatan fa idzãhum mublisũn.

44. Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Aku bukakan pintu-pintu segala kesenangan, sehingga tatkala mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Aku siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itulah mereka putus asa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kenyataan yang dilukiskan dalam ayat ini, sudah sering terjadi di lingkungan hidup manusia di dunia, perhatikanlah berbagai kejadian, bencana, musibah yang dialami seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat tertentu.

fa quthi’a = maka dipenggal, dimusnahkan; dãbiru = seluruh; al qaumi = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; wal hamdulillãhi = dan segala puji bagi Allah; Rob= Penguasa; il ‘ãlamĩn = alam.

fa quthi’a dãbirul qaumil ladzĩna zholamũ, wal hamdulillãhi robbil ‘ãlamĩn.

45. Maka, orang-orang lalim itu seluruhnya dimusnahkan. Segala puji bagi Allah Yang memelihara alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang lalim, lambat atau cepat, akan dimusnahkan di dunia ini. Makhluk manusia khususnya dianjurkan untuk selalu menyampaikan pujian hanya kepada Allah (lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2)

qul = katakanlah: aro aitum = bagaimana pendapatmu; in = jika; akhodzallãhu = Allah mengambil; sam’akum = pendengaranmu; wa abshōrokum = dan penglihatanmu; wa khatama = dan Dia menutupi; ‘alã qulũbikum = atas hatimu; man = siapakah; ilãhun = ilah; ghoirullãhi = selain Allah; ya’tĩkum = mengmbalikannya kepadamu; bihi = dengannya; unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; nusharrifu = Aku mengulang-ulang; al ãyãti = tanda-tanda; tsumma = kemudian; hum = mereka; yashdifũn = mereka berpaling.

qul aro aitum in akhodzallãhu sam’akum wa abshōrokum wa khatama ‘alã qulũbikum man ilãhun ghoirullãhi ya’tĩkum bih, unzhur kaifa nusharriful ãyãti tsumma hum yashdifũn.

46. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu, jika Allah mengambil pendengaranmu, dan penglihatanmu, serta menutupi hatimu? Siapa ilah selain Allah Yang mengembalikannya kepadamu? Perhatikanlah, bagaimana Aku mengulang-ulang, memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami, namun tetap mereka berpaling juga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak diberi hidayah oleh Allah, sebagaimana pun Allah mengulang-ulang tanda-tanda kebesaran-Nya, mereka tetap tidak mau memperhatikan-nya.

qul = katakanlah; aro-aitakum = bagaimana pendapat kamu; in atãkum = jika datang kepadamu; ‘adzãbullãhi = azab Allah; baghtatan = dengan tiba-tiba; au = atau; jahrotan = terang-terangan; hal = apakah, tidakkah; yuhlakũ = akan dibinasakan; illã = kecuali; al qaumu = kaum; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

qul aro-aitakum in atãkum ‘adzãbullãhi baghtatan au jahrotan hal yuhlakũ illãl qaumuzh zhōlimũn

47. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan tiba-tiba atau terang-terangan?” Tidaklah akan dibinasakan, kecuali orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak akan membinasakan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Yang akan dibinasakan adalah orang-orang lalim

wa mã = dan Aku tidak; nursilu = Aku mengutus; al mursalĩna = para Utusan; illã = kecuali; mubasysyirĩna = memberi kabar gembira; wa mundzirĩna = dan memberi peringatan; faman = maka barang siapa; ãmana = beriman; wa ashlaha = dan mengadakan perbaikan; falã = maka tidak ada; khaufun = rasa takut; ‘alaihim = pada mereka; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = mereka bersedih hati.

wa mã nursilul mursalĩna illã mubasysyirĩna wa mundzirĩna, faman ãmana wa ashlaha falã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.

48. Dan Aku tidak mengutus para Rasul, kecuali untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Maka barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, tentu mereka tidak ada rasa takut, dan tidak pula mereka merasa bersedih hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kabar gembira, dan peringatan kepada orang yang beriman dan orang-orang yang mengadakan perbaikan. Orang yang mengadakan perbaikan adalah orang yang tadinya kafir menjadi beriman, orang yang munafik menjadi orang yang beribadah sesuai dengan petunjuk dari Allah dan Nabinya, orang yang fasik menjadi penuh perhatian pada norma-norma agama, etika agama, emika agama, orang murtad menjadi kembali lagi peda kepercayaan kepada Allah Yang benar, dan lain-lain.

wa = dan; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; yamassuhumu = akan meneimpa mereka; al adzãbu = azab; bi mã = dengan sebab; kãnũ = mereka adalah; yafsuqũn = mereka berbuat fasik.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã yamassuhumul adzãbu bi mã kãnũ yafsuqũn.

49. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, mereka akan ditimpa azab, karena mereka berbuat fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sifat-sifat orang fasik: mendustakan ayat-ayat Allah; berbuat seenak hatinya (tidak memperhatikan dirinya, orang di luar dirinya, dan lingkungannya); tidak menyadari kesalahan dirinya; tidak menepati janji, kalau ia berjanji..

qul = katakanlah; lã = tidak; aqũlu = aku mengatakan; lakum = kepada kamu; ‘indĩ = ada padaku, kepunyaanku; khazã-inullãhi = perbendaharaan Allah; wa lã = dan tidak; a’lamu = aku mengetahui; al ghoiba = yang gaib; wa lã = dan tidak; aqũlu = aku mengatakan; lakum = kepadamu; innĩ = sesungguhnya aku; malakun = Malaikat; in attabi’u = aku mengikuti; illã = kecuali; mã = apa; yũhã = diwahyukan; ilayya = kepadaku; qul = katakanlah; hal yastawĩl a’mã wal bashĩru, afalã tatafakkarũn.

qul lã aqũlu lakum ‘indĩ khazã-inullãhi wa lã a’lamul ghoiba wa lã aqũlu lakum innĩ malakun in attabi’u illã mã yũhã ilayya, qul hal yastawĩl a’mã wal bashĩru, afalã tatafakkarũn.

50. Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu perbendaharaan Allah yang ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib, juga, aku tidak mengatakan kepadamu, aku seorang malaikat, aku tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak berpikir?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw. apa yang harus dikatakan kepada orang-orang fasik.

wa andzir = dan berilah peringatan; bihi = dengannya (Alquran); al ladzĩna = orang-orang yang; yakhōfũna = (mereka) takut; an yuhsyarũ = mereka akan dikumpulkan; ilã = kepada; robbihim = Robmereka; laisã = tidak ada; lahum = bagi mereka; min dũnihi = dari selain Dia; waliyyun = seorang Pelindung; wa lã = dan tidak; syafĩ-‘un = seorang penolong; la’allahum = agar mereka; yattaqũn = mereka bertakwa.

wa andzir bihil ladzĩna yakhōfũna an yuhsyarũ ilã robbihim laisã lahum min dũnihi waliyyun wa lã syafĩ-‘ul la’allahum yattaqũn.

51. Dan berilah peringatan dengan Alquran kepada orang-orang yang takut pada hari dikumpulkannya di hadapan Robmereka, tidak ada Pelindung atau pun penolong selain dari Allah, agar mereka takwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. memberi peringatan dengan Alquran kepada orang-orang yang takut datangnya Hari Kiamat.

wa lã = dan janganlah; tathrudi = kamu mengusir; al ladzĩna = orang-orang yang; yad’ũna = (mereka) menyeru; robbahum = Robmereka; bil ghodãti = pada pagi hari; wal ‘asyiyyi = dan petang; yurĩdũna = mereka menghendaki; wajhahu = wajah-Nya, keridoan-Nya; mã ‘alaika = tidak ada atasmu; min hisãbihim = dari perhitungan mereka; min syai-in = sedikit pun; wa mã min = dan tidak dari; hisãbika = perhitungan kamu; ‘alaihim = atas mereka; min syai-in = sedikit pun; fatathrudahum = maka kamu mengusir mereka; fatakũna = maka kamu menjadi; minazhzhōlimĩn = termasuk orang-orang yang lalim.

wa lã tathrudil ladzĩna yad’ũna robbahum bil ghodãti wal ‘asyiyyi yurĩdũna wajhahu, mã ‘alaika min hisãbihim min syai-in wa mã min hisãbika ‘alaihim min syai-in fatathrudahum fatakũna minazhzhōlimĩn.

52. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Robmereka di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki kerelaan-Nya. Tidak ada tanggung jawab Anda sedikit pun terhadap perhitungan amal mereka, dan tidak ada tanggung jawab sedikit pun terhadap perhitungan amalmu, maka kamu tidak berhak mengusir mereka, jika kamu mengusir mereka, maka kamu termasuk orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya untuk tidak melakukan apa yang tersurat dalam ayat ini. Allah memberi kebebasan dalam beramal kebaikan.

wa kadzãlika = dan demikianlah; fatannã = Aku menguji; ba’dhohum = sebagian mereka; biba’dhin = dengan sebagian yang lain; liyaqũlũ = supaya mereka mengatakan; ahã-ulã-i = inikah orang-orang yang; mannallãhu = Allah telah menganugerahi; ‘alaihim = kepada mereka; mim baininã = di antara kita; alaisallãhu = bukankah Allah; bi a’lama = lebih mengetahui; bisy syãkirĩn = pada orang-orang yang bersyukur.

wa kadzãlika fatannã ba’dhohum biba’dhil liyaqũlũ ahã-ulã-i mannallãhu ‘alaihim mim baininã, alaisallãhu bi a’lama bisy syãkirĩn.

53. Dan demikianlah, Aku telah menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, supaya mereka mengatakan: “Inikah orang-orang di antara kita yang telah Allah anugerahi ketakwaan?” Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dengan ungkapan rasa takwa dan syukur atas segala karunia-Nya.

wa idzã = dan apabila; jã-aka = datang kepada kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yu’minũna = mereka beriman; bi-ayãtinã = pada ayat-ayat-Ku; fa qul = maka katakanlah; salãmun ‘alaikum = keselamatan atas kamu; kataba = telah menetapkan; robbukum = Robkamu; ‘alã nafsihi = atas Dirinya; ar rohmata = rahmat, kasih-sayang; annahũ = bahwa; man = barang siapa; ‘amila = berbuat; minkum = di antara kamu; sũ-an = kejahatan; bi jahãlatin = karena kebodohan; summa = kemudian; tãba = ia bertobat; mim ba’dihĩ = dari sesudahnya; wa ashlaha = dan ia mengadakan perbaikan; fa-annahũ = maka sesungguhnya Dia; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.

wa idzã jã-akal ladzĩna yu’minũna bi-ayãtinã fa qul salãmun ‘alaikum, kataba robbukum ‘alã nafsihir rohmata annahũ man ‘amila minkum sũ-am bi jahãlatin summa tãba mim ba’dihĩ wa ashlaha fa-annahũ ghofũrur rohĩmu.

54. Dan apabila orang-orang yang beriman pada ayat-ayat-Ku datang kepada kamu, maka katakanlah: “Salamun alaikum (selamat atas kamu), Robkamu telah menetapkan Dirinya rahmat. Barang siapa di antara kamu berbuat kejahatan karena kebodohan, kemudian ia bertaubat, dan mengadakan perbaikan sesudah itu, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, dan Maha Penyayang.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw.dengan pesan kasih-sayang-Nya, seperti apa yang tersebut dalam ayat ini.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nifashshilu = Aku jelaskan; al ayãti = ayat-ayat itu; wa litastabĩna = agar jelaslah; sabĩlu = jalan; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

wa kadzãlika nifashshilul ayãti wa litastabĩna sabĩlul mujrimĩn.

55. Dan demikianlah Aku terangkan ayat-ayat itu agar jelaslah jalan orang-orang yang berdosa itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jalan orang-orang yang berdosa itu sesungguhnya sangatlah mudah dan ringan dilakukannya. Namun demikian, banyak yang tidak tersentuh hati mereka pada seruan Allah. Hatinya sudah banyak terpengaruh oleh bujukan setan dan sebagian jin.

qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; nuhĩtu = aku dilarang; in a’buda = bahwa aku menyembah; al ladzĩna = orang-orang yang; tad’ũna = kamu sembah; min dũnillãh = dari selain Allah; qul = katakanlah; lã attabi’u = aku tidak akan mengikuti; ahwã-akum = hawa nafsumu; qod = sungguh; dholaltu = aku tersesat; idzan = jika demikian; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; mina = dari; al muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

qul innĩ nuhĩtu in a’budal ladzĩna tad’ũna min dũnillãh, qul lã attabi’u ahwã-akum, qod dholaltu idzan wa mã ana minal muhtadĩn

56. Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah dilarang untuk menyembah apa yang kamu sembah selain Allah.” Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku, jika berbuat demikian, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. sering digambarkan sebagai orang yang mengatakan sesuatu pesan dari Allah seperti ayat ini, untuk umat manusia yang percaya atau yang tidak percaya.

qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; ‘alã bayyinatim = berdasarkan keterangan yang nyata; mir robbĩ = dari Rabku; wa kadzdzabtum = dan kamu mendustakan; bihĩ = keterangan itu; mã ‘indĩ = tidak ada padaku; mã tasta’jilũna = apa yang kamu minta disegerakan; bihĩ = kejadiannya; inil hukmu = tidaklah keputusan itu; illã lillãh = hanya ada pada Allah; yaqushshu = Dia menerangkan; al haqqo = kebenaran; wa huwa = dan Dia; khoirul fãshilĩn = pemberi keputusan yang terbaik.

qul innĩ ‘alã bayyinatim mir robbĩ wa kadzdzabtum bihĩ, mã ‘indĩ mã tasta’jilũna bihĩ, inil hukmu illã lillãh, yaqushshul haqqo, wa huwa khoirul fãshilĩn.

57. Katakanlah: “Sesungguhnya aku berdasarkan keterangan yang nyata, jelas dari Rabku, dan kamu mendustakan keterangan itu, tidak ada padaku, apa yang kamu minta disegerakan kejadiannya, keputusan hukum itu hanya ada pada Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dialah Pemberi keputusan yang terbaik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tuntutan orang murtad, kafir, musyrik, fasik menunjukkan keraguan hatinya, bahkan mereka tidak mau mempercayai setiap keterangan yang datangnya dari Allah kepada Nabi Muhammad saw.. Apa yang minta disegerakan datangnya oleh orang kafir adalah datangnya kiamat, laknat Allah di dunia yang diancamkan kepada mereka. Beberapa kejadian ditampakkan Allah dewasa ini sebagai kejadian kiamat sughro.

qul = katakanlah; lau anna = kalau sekiranya; ‘indĩ = ada padaku; mã = apa; tasta’jilũna = yang kamu minta disegerakan; bihĩ = kedatangannya; laqudhiya = tentu telah diputuskan; al amru = perkara itu; bainĩ = padaku; wa bainakum dan pada kamu; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bizhzhōlimĩn = pada orang-orang yang lalim.

qul lau anna ‘indĩ mã tasta’jilũna bihĩ laqudhiyal amru bainĩ wa bainakum, wallãhu a’lamu bizhzhōlimĩn.

58. Katakanlah: “Kalau sekiranya ada padaku, apa yang kau minta disegerakan kedatangannya, tentu telah diputuskan perkara itu padaku dan pada kamu, dan Allah lebih mengetahui pada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk mengatakan seperti pada ayat di atas. Sesungguhnya hanya Allah yang menetapkan segala keputusan-Nya.

wa indahũ = pada Dirinya; mafatihu = kunci-kunci; al ghoibi = kegaiban; lã ya’lamuhã = tidak ada yang mengetahuinya; illã huwa = kecuali Dia; wa ya’lamũ = dan Dia mengetahui; mã = apa yang; fil barri = di darat; wal bahri = di laut; wa mã = dan apa yang; tasquthu = jatuh; min waroqatin = dari sehelai daun; illã = kecuali, melainkan; ya’lamuhã = Dia mengetahuinya; wa lã = dan tidak; habbatin = sebutir biji; fĩ zhulumãti = dalam kegelapan; al ardhĩ = bumi; wa lã = dan tidak; rothbin = biji basah; wa lã = dan tidak; yãbisin = biji kering; illã = melainkan, kecuali; fĩ kitãbin = di dalam kitab; mubĩni = yang nyata.

wa indahũ mafatihul ghoibi lã ya’lamuhã illã huwa, wa ya’lamũ mã fil barri wal bahri, wa mã tasquthu min waroqatin illã ya’lamuhã wa lã habbatin fĩ zhulumãtil ardhĩ wa lã rothbin wa lã yãbisin illã fĩ kitãbim mubĩni.

59. Dan pada Allah kunci-kunci semua yang gaib, ilmu, tidak ada yang mengetahui, kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yag di daratan dan di lautan, dan tidak sehelai daun pun yang jatuh, yang tidak diketahui-Nya, dan tidak sebutir biji basah atau kering jatuh dalam kegelapan malam yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahagaib. Kunci-kunci kegaiban, ilmu, semuanya ada pada Allah. Manusia hanya sedikit diberi ilmu gaib. Allah Maha Mengetahui segala apa yang ada di langit dan di bumi. Manusia diberi ilmu sangat sedikit. Cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan keterbatasan.

wa huwa = dan Dia; al ladzĩ = yang; yatawaffãkum = mewafatkan, menidurkan; bil laili = pada waktu malam; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mã jarohtum = apa yang kamu kerjakan; bin nahãri = pada waktu siang; tsumma = kemudian; yab’atsukum = Dia membangunkan kamu; fĩhi = kepadanya; liyuqdhō = untuk disempurnakan; ajalun = ajal, usia, umur; musamman = telah ditentukan; tsumma = kemudian; ilaihi = kepada Ilahi; marji’ukum = tempat kembali kamu; tsumma = kemudian; yunabbi-ukum = Dia menerangkan kepada kamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.

wa huwal ladzĩ yatawaffãkum bil laili wa ya’lamu mã jarohtum bin nahãri tsumma yab’atsukum fĩhi liyuqdhō ajalum musamman, tsumma ilaihi marji’ukum tsumma yunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.

60. Dan Dia menidurkan kamu di waktu malam, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada waktu siang, kemudian Dia membangunkan kamu pada waktu siang untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan, kemudian kepada-Nya tempat kembalimu, lalu Dia memberitahu apa yang telah kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengatur hidup manusia siang-malam. Allah mengingatkan hanya kepada-Nya tempat kembali. Allah juga akan memberitahu apa saja yang telah dikerjakan selama hidupnya. Banyak-banyaklah memohon ampun atas kesalahan besar atau kecil yang pernah dilakukan.

wa huwa = dan Dia; al qōhiru = berkuasa penuh; fauqo = pada, atas; ‘ibãdihĩ = abdi-abdi-Nya; wa yursilu = dan diutus-Nya; ‘alaikum = untuk kamu; hafazhotan = (Malaikat-malaikat) penjaga; hattã = sampai; idzã = apabila; jã-a = telah dating; ahodakumu = salah seorang di antara kamu; al mautu = kematian; tawafat-hu = mewafatkannya; rusulunã = utusan=utusan Kami; wa hum = dan mereka; lã yufarrithũn = tidak melalaikan kewajibannya.

wa huwal qōhiru fauqo ‘ibãdihĩ, wa yursilu ‘alaikum hafazhotan hattã idzã jã-a ahodakumul mautu tawafat-hu rusulunã wa hum lã yufarrithũn.

61. Dan Dia Yang berkuasa penuh atas abdi-abdi-Nya, dan diutus-Nya untuk kamu Malaikat-malaikat penjaga, sampai datang kematian kepada salah seorang dari kamu, ia diwafatkan oleh utusan Aku (Malaikat), dan mereka (Malaikat) tidak melalaikan kewajiban.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kekuasaan-Nya kepada semua makhluk, khususnya manusia dan para Malaikat penjaganya. Malaikat tidak pernah lalai dalam melaksanakan kewajibannya, manusia banyak yang sering lalai. Banyak-banyaklah memohon ampun kepada Allah.

tsumma = kemudian; ruddũ = mereka dikembalikan; ilallãhi = kepada Allah; maulãhumu = penguasa; al haqqi = yang hak (benar); alã = ketahuilah; lahu = bagi-Nya; al hukmu = segala hukum; wa huwa = dan Dialah; asra’u = paling cepat; al hãsibĩn = Penghitung.

tsumma ruddũ ilallãhi maulãhumul haqqi, alã lahul hukmu wa huwa asra’ul hãsibĩn.

62. Kemudian, mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa Yang hak, ketahuilah bahwa segala hukum itu kepunyaan-Nya, Dialah Penghitung Yang tercepat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, semua hamba Allah itu akan dikembalikan kepada-Nya. Segala hukum itu milik-Nya. Allah Penghitung tercepat.

qul = katakanlah; man = siapakah; yunajjĩkum = yang dapat menyelamatkan kamu; min zhulumãti = dari bencana; al barri = di darat; wal bahri = dan di laut; tad’ũnahũ = kamu berdoalah kepada-Nya; tadhorru’an = dengan mertendahkan diri; wa khufyatan = dan dengan suara lembut; lain = sungguh jika; anjaanã = Dia menyelematkan kami; min hãdzihĩ = dari ini; lanakũnanna = tentu Aku menjadi; minasy syãkirĩn = dari orang-orang yang bersyukur.

qul man yunajjĩkum min zhulumãtil barri wal bahri tad’ũnahũ tadhorru’an wa khufyatal lain anjaanã min hãdzihĩ lanakũnanna minasy syãkirĩn.

63. Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan di laut?” Berdoalah kamu kepada-Nya dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut: “Sesungguhnya, jika Dia menyelamatkan Aku dari bencana ini, tentulah Aku menjadi orang-orang yang bersyukur.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang selalu menyelamatkan dari bencana makhluk-Nya ketika dalam perjalanan di darat, laut, dan udara. Allah menyuruh manusia berdoa ketika akan melakukan perjalanan di darat, laut, maupun udara. Kalau mendapatkan keselamatan, manusia hendaknya bersyukur atas segala nikmat-Nya. Allah itu Maha Penyelamat.

qullillahu = katakanlah, Allah; yunajjĩkum = Dia menyelamatkan kamu; minhã = darinya (bencana); wa min kulli = dan dari segala; karbin = kesukaran; tsumma = kemudian; antum = kamu; tusyrikũn = kamu mempersekutukan

qullillahu yunajjĩkum minhã wa min kulli karbin tsumma antum tusyrikũn.

64. Katakanlah: “Allah Yang menyelamatkan kamu darinya (bencana itu), dan dari segala kesukaran, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, dalam setiap perjalanan manusia, hanya Dialah yang menjaga keselamatannya. Maka, sebaiknya manusia itu jangan selalu kembali mempersekutukan-Nya dengan ilah lain.

qul = katakanlah; huwa = Dia; al qōdiru = berkuasa; ‘alã = untuk; ‘an-yab’atsa = mengirimkan; ‘alaikum = kepada kamu; ‘adzãban = azab; min = dari; fauqikum = atas kamu; au mintahti = atau dari bawah; arjulikum = kaki kamu; au yalbisakum = atau mencampurkan kamu; syiya’an = golongan-golongan; wa yudzĩqo = dan Dia menimpakan; ba’dhokum = sebagian kamu; ba’sã = bencana, keganasan; ba’dhin = sebagian yang lain; unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; nusharrifu = Aku menerangkan; al ãyãti = ayat-ayat itu; la’allahum = agar mereka; yafqohũn = mereka memahami.

qul huwal qōdiru ‘alã ‘an-yab’atsa ‘alaikum ‘adzãbam min fauqikum au mintahti arjulikum au yalbisakum syiya’an wa yudzĩqō ba’dhokum ba’sã ba’dhin, unzhur kaifa nusharriful ãyãti la’allahum yafqohũn.

65. Katakanlah: “Dia Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu, dari atas kamu, atau dari bawah kamu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bermusuhan), dan Dia menimpakan keganasan dari sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” Perhatikan, bagaimana Aku menerangkan ayat-ayat itu agar mereka memahami.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Yang berkuasa mengazab siapa pun. Nabi Muhammad saw. tidak berkuasa mengazab manusia (makhluk) lain. Ayat-ayat Allah itu diterangkan melalui berbagai kejadian di alam semesta ini, termasuk keganasan antar golongan yang bermusuhan. Siapa yang dikenai keganasan dari suatu golongan, apakah orang yang beriman atau orang kafir? Kalau orang beriman ditimpa keganasan musuh, maka mereka harus mawas diri, menyadari apa kesalahannya. Kemudian mereka harus memohon ampun kepada Allah, atas segala kekhilafannya. Mereka harus berupaya memperbaiki diri. Perhatikan ayat-ayat Allah, dan pahamilah, demi keselamat hidup di dunia dan di akhirat.

wa kadzdzaba = dan mendustakan; bihĩ = dengan ayat-ayat ini; qoumuka = kaummu; wa huwa = dan dia (azab); al haqqu = benar; qul = katakanlah; lastu = aku bukan; ‘alaikum = bagi kamu; bi wakĩlin = yang berkuasa

wa kadzdzaba bihĩ qoumuka wa huwal haqqu, qul lastu ‘alaikum bi wakĩlin.

66. Dan kaummu mendustakannya (ayat-ayat itu), padahal azab itu benar. Katakanlah: “Aku bukanlah yang berkuasa menghukum kamu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab Allah itu ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mau mempercayai ayat-ayat Allah. Nabi Muhammad saw.dan para pengikutnya sampai sekarang tidak mempunyai wewenang menghukum orang-orang yang tidak mempercayai ayat-ayat yang diturunkan-Nya melalui beliau.

li kulli = untuk tiap-tiap; naba-in = berita; mustaqorrun = masa terjadinya; wa saufa = dan kelak; ta’lamũn = kamu akan mengetahui.

li kulli naba-in mustaqorrun, wa saufa ta’lamũn

67. Untuk tiap-tiap berita yang dibawa oleh Rasul-Rasul, ada masa terjadinya, dan kelak kamu akan mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw., beliau harus mencatat masa datangnya berita-berita yang dibawa oleh Rasul-Rasul yang akan dibertahukan kelak.

wa idzã = dan apabila; ro-aita = kamu melihat; al ladzĩna = orang-orang yang; yakhũdhũna = (mereka) memperolok-olokkan; fĩ ãyãtinã = pada ayat-ayat Kami; fa’aridh = maka tinggalkanlah, berpalinglah; ‘anhum = dari mereka; hattã = sehungga, sampai; yakhũdhũ = mereka memperolok-olokkan; fĩ hadĩtsin = tentang pembicaraan; ghoirihĩ = lainnya; wa immã = dan jika; yunsiyannaka = menjadikan kamu lupa; asy syaithōnu = setan; falã = maka jangan; taq’ud = kamu duduk-duduk; ba’da = susudah; adz dzikrō = teringat; ma’a = bersama; al qoumizh = kaum; zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa idzã ro-aital ladzĩna yakhũdhũna fĩ ãyãtinã fa’aridh ‘anhum hattã yakhũdhũ fĩ hadĩtsin ghoirihĩ, wa immã yunsiyannakasy syaithōnu falã taq’ud ba’dadz dzikrō ma’al qoumizh zhōlimĩn.

68. Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan persoalan lainnya, dan jika setan membuat kamu lupa, sesudah teringat, maka janganlah kamu duduk-duduk bersama-sama orang-orang lalim itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak berbuat lalim, harus meninggalkan orang-orang yang duduk memperolok-olokkan ayat-ayat Allah.

wa mã = dan bukanlah; ‘ala = pada, atas; al ladzĩna = orang-orang yang; yataqũna = (mereka) bertakwa; min hisãbihim = dari perhitungan mereka; min syai-in = sedikit pun; wa lã kin = akan tetapi; dzikrō = peringatan; la’allahum = agar mereka; yattaqũn = mereka bertakwa.

wa mã ‘alal ladzĩna yataqũna min hisãbihim min syai-in wa lã kin dzikrō la’allahum yattaqũn.

69. Dan (sedikit pun) bukanlah tanggung jawab orang-orang takwa atas perhitungan amal mereka, kewajiban mereka (orang-orang yang beriman) adalah memberi peringatan agar mereka (orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad) bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang beriman tidak perlu pusing-pusing memikirkan perhitungan amal orang-orang kafir. Kewajibannya memperingatkan orang-orang yang tidak beriman agar mereka takut pada hari perhitungan nanti. Inilah tanggung jawab orang-orang yang beriman, agar mau terus berdakwah mengagungkan nama Allah.

wa dzari = dan tinggalkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; at takhodzũ = (mereka) menjadikan; dĩnahum = agama mereka; la’iban = permainan; wa lahwan = dan senda-gurau; wa ghorrot = dan menipu; humu = mereka; al hayãtu = kehidupan; ud dun-yã = dunia; wa dzakkir = dan peringatkanlah; bihĩ = dengannya (Alquran); an tubsala = akan dijerumuskan; nafsun = setiap diri; bimã = karena apa; kasabat = mereka kerjakan; laisa = tidak ada; lahã = baginya; min dũnillãhi = dari selain Allah; waliyyun = Pelindung; wa lã syafĩ’un = dan tidak pula penolong; wa in ta’dil = dan jika mereka menebus; kulla = segala; ‘adlin = tebusan; lã yu’khadz = pasti tidak diterima; minhã = darinya; ũlã-ika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; ubsilũ = (mereka) dijerumuskan; bimã = disebabkan apa; kasabũ = mereka kerjakan; lahum = bagi mereka; syarōbun = minuman; min hamĩmin = dari air yang mendidih; wa ‘adzãbun = dan azab; alĩmun = sangat pedih; bimã = disebabkan apa; kãnũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka ingkar.

wa dzaril ladzĩnat takhodzũ dĩnahum la’iban wa lahwan wa ghorrot humul hayawãtud dun-yã, wa dzakkir bihĩ an tubsala nafsum bimã kasabat laisa lahã min dũnillãhi waliyyun wa lã syafĩ’un wa in ta’dil kulla ‘adlil lã yu’khadz minhã, ũlã-ikal ladzĩna ubsilũ bimã kasabũ lahumsyarōbum min hamĩmin wa ‘adzãbun alĩmum bimã kãnũ yakfurũn.

70. Dan tinggalkanlah orang-orang yang beragamanya hanya sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Dan peringatkanlah mereka dengan Alquran, agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan apa yang mereka kerjakan, tidak ada baginya Pelindung, dan tidak pula penolong selain dari Allah. Dan jika mereka menebus dengan segala macam tebusan, pasti tidak akan diterima dari mereka. Mereka itulah yang dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka disediakan minuman dari air yang mendidih dan azab yang sangat pedih disebabkan mereka ingkar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, di dunia ini ada manusia yang dalam beragamanya itu hanya pura-pura, tidak bersungguh-sungguh, hanya mempermainkan orang yang beriman untuk kepentingan hidupnya di dunia. Allah memerintahkan agar meninggalkan orang-orang yang berpura-pura dalam beragamanya itu. Namum Allah mengingatkan juga, mereka harus diperingatkan agar mereka mau membaca Alquran. Dengan demikian, mereka mungkin akan menyadari, apa yang mereka lakukan itu salah. Mereka akan menyadari bahwa hanya Allah Yang akan menjadi Pelindungnya dari api neraka nanti di akhirat. Kalau tetap ingkar, maka mereka akan menanggung penderitaan siksa yang amat pedih di akhirat.

qul = katakanlah; anad’ũ = apakah kita akan menyeru; min dũnillahi = dari selain Allah; mã lã = sesuatu yang tidak; yanfa’unã = memberi manfaat kepada kita; wa lã = dan tidak; yadhurrunã = memberi mudarat kepada kita; wa nuroddu = dan kita dikembalikan; ‘alã = pada; a’qōbinã = tumit belakang kita; ba’da = setelah; idz hadaanallãhu = Allah memberi petunjuk kepada kita; kalladzi = seperti orang; istahwathu = telah menyesatkan; asy syayãthĩnu = setan; fil ardhĩ = di bumi; hoirōna = kebingungan; lahũ = baginya; ash-hãbun = sahabat-sahabat; yad’ũnahũ = memanggilnya; ilal huda = ke jalan yang lurus; i’tinã = marilah ikuti kami; qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; hudallãhi = petunjuk Allah; huwa = itulah; al hudã = petunjuk; wa umirnã = dan kita diperintahkan; linuslima = agar kita menyerahkan diri; lirobbil ‘ãlamĩn = kepada Penguasa alam.

qul anad’ũ min dũnillahi mã lã yanfa’unã wa lã yadhurrunã wa nuroddu ‘alã a’qōbinã ba’da idz hadaanallãhu kalladzistahwathusy syayãthĩnu fil ardhĩ hoirōna lahũ ash-hãbun yad’ũnahũ ilal huda i’tinã, qul inna hudallãhi huwal hudã, wa umirnã linuslima lirobbil ‘ãlamĩn.

71. Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat, dan tidak pula memberi mudarat kepada kita? Dan apakah kita akan dikembalikan ke belakang, setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan setan, sehingga kebingungan di muka bumi. Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya ke jalan yang lurus, dan mengatakan: “Marilah ikuti kami.” Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang benar, dan kita diperintahkan agar kita menyerahkan diri kepada Pemilik alam ini.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya mengatakan ayat ini kepada umat manusia. Berserah dirilah hanya kepada Allah Pemilik alam.

wa an aqĩmush sholãta = dan dirikanlah salat; wa attaqũhu = dan bertakwalah kepada-Nya; wa huwal ladzĩ = dan Dia Yang; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu dikumpulkan.

wa an aqĩmush sholãta wa attaqũhu, wa huwal ladzĩ ilaihi tuhsyarũn.

72. Dan hendaknya mendirikan salat, dan bertakwalah kepada-Nya, dan kepada-Nya, kamu akan dikumpulkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada umat manusia.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhō = dan bumi; bil haqqi = dengan benar; wa yauma = dan pada hari; yaqũlu = Dia berfirman; kun = jadilah; fayakũn = maka jadilah ia; qouluhu = fiman-Nya; al haqqu = benar; wa lahu = dan bagi-Nya; al mulku = kekuasan; yauma = pada hari; yunfakhu = ditiup; fish shũri = sang kala; ‘alimu = Yang Mengetahui; al ghoibi = gaib; wasy syahãdati = dan yang nyata; wa huwa = dan Dia; al hakĩmu = Mahabijaksana; al khobĩr = Maha Mengetahui.

wa huwal ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhō bil haqqi, wa yauma yaqũlu kun fayakũn, qouluhul haqqu, wa lahul mulku yauma yunfakhu fish shũri, ‘alimul ghoibi wasy syahãdati, wa huwal hakĩmul khobĩr.

73. Dan Dialah benar-benar Yang menciptakan langit dan bumi, dan pada hari Dia berfirman: “Jadilah” lalu jadilah ia, dan firman-Nya benar, dan bagi-Nya kekuasaan pada hari sangkala ditiup, Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dialah yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyatakan Jati Diri dengan firman-Nya. Dia mengetahui Hari Kiamat yang bagi mahkluk-Nya masih gaib.

wa idz = dan tatkala; qōla = berkata; ibrōhĩmu = Ibrahum; li abĩhi = kepada bapaknya; ‘ãzaro = Azar; atattakhidzu = apakah kamu menjadikan; ashnãman = berhala-berhala; alihatan = Tuhan; innĩ = sesungguhnya aku; arōka = aku melihat kamu; waqoumaka = dan kaummu; fĩ dholãlin = dalam kesesatan; mubĩn = nyata.

wa idz qōla ibrōhĩmu li abĩhi ‘ãzaro atattakhidzu ashnãman alihatan, innĩ arōka waqoumaka fĩ dholãlim mubĩn.

74. Dan tatkala Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: “Apakah kamu menjadikan berhala berhala itu sebagai Tuhan? Sesungguhnya, aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan Ibrahim ketika memperingatkan Bapaknya yang berlaku sesat.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nurĩ = Aku perhatikan; ibrōhĩma = Ibrahim; malakũta = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhĩ = dan bumi; waliyakũna = dan agar dia menjadi; mina = dari; al mũqinĩn = dari orang-orang yang yakin.

wa kadzãlika nurĩ ibrōhĩma malakũtas samãwãti wal ardhĩ waliyakũna minal mũqinĩn.

75. Dan demikianlah, Aku perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, agar dia menjadi orang-orang dari golongan yang yakin.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyadarkan Nabi Ibrahim a.s. dan umat-umat sesudahnya tentang kerajaan Allah yang meliputi langit dan bumi. Semua penguasa yang ada di langit dan dibumi harus tunduk mengikuti aturan yang dibuat Allah.

falammã = maka ketika; janna = telah gelap; ‘alaihi = menyelimutinya; al lailu = malam; ro-ã = dia melihat; kaukabãn = bintang; qōla = dia berkata; hãdzã = ini; robbĩ = Rabku; falammã = maka ketika; afala = terbenam; lã uhibbu = tidak menyukai; al ãfilĩn = yang terbenam.

falammã janna ‘alaihil lailu ro-ãkaukabãn, qōla hãdzã robbĩ, falammã afala lã uhibbul ãfilĩn.

76. Maka, ketika malam telah gelap meyelimuti bumi, dia melihat bintang, lalu dia berkata: “Inilah Rabku.” Maka ketika bintang itu terbenam, dia berkata: “Aku tidak menyukai Rabku yang terbenam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. menebak-nebak Robbnya. Ini merupakan pembelajaran bagi umat-umat sesudahnya.

falammã = maka ketika; ro-a = dia melihat; al qomaro = bulan; bãzigan = terbit; qōla = dia berkata; hãdzã = inilah; robbĩ = Rabku; falammã = maka ketika; afala = ia terbenam; qōla = ia berkata; la-in lam = sungguh jika tidak; yahdinĩ = memberi petunjuk kepadaku; robbĩ = Rabku; la akũnanna = tentu aku termasuk; mina = dari; al qoumi = kaum; adh dhōllĩn = sesat.

falammã ro-ãl qomaro bãzigan qōlã hãdzã robbĩ, falammã afala qōla la-in lam yahdinĩ robbĩ la akũnna minal qoumidh dhōllĩn.

77. Maka ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata: “Inilah Rabku.” Ketika bulan itu terbenam, dia berkata: “Sungguh, jika Rabku tidak memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk golongan orang-orang yang sesat.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tebak-tebakan Nabi Ibrahim a.s. kalau dipikirkan dengan akal yang jernih, maka kesimpulannya, hanya dari petunjuk Allah saja yang akan mengarahkan kita pada jalan yang benar.

falammã = maka ketika; ro-a = dia melihat; asy syamsa = matahari; bãzigotan = terbit; qōla = dia berkata; hãdzã = inilah; robbĩ = Rabku; hãdzã = inilah; akbaru = lebih besar; falammã = maka ketika; afalat = terbenam; qōla = ia bekata; yã qoumi = yã, kaumku; innĩ = sesungguhnya aku; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa yang; tusyrikũn = kamu persekutukan.

falammã ro-ãsy syamsa bãzigotan qōla hãdzã robbĩ hãdzã akbaru, falammã afalat qōla yã qoumi innĩ barĩ-um mimmã tusyrikũn.

78. Maka ketika matahari terbit, dia berkata: “Inilah Rabku, ini lebih besar.” Maka ketika ia terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. menyadari dan mengambil kesimpulan, Allah itu tidak ada yang dapat menyamai Keagungannya. Proses pembelajaran yang terus-menerus harus dilakukan umat manusia.

innĩ = sesungguhnya aku; wajjahtu = aku menghadapkan; wajhiya = diriku; lilladzĩ = kepada (Allah) Yang; fathoro = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhō = dan bumi; hanĩfan = cenderung; wa mã ana = dan bukanlah aku; minal musyrikĩn = dari orang-orang yang musyrik.

innĩ wajjahtu wajhiya lilladzĩ fathoros samãwãti wal ardhō hanĩfan wa mã ana minal musyrikĩn.

79. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Yang Menciptakan langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. menyadari dirinya harus selalu menghadap kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi. Hatinya harus cenderung pada agama yang benar yang tidak menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya.

wa hãjjahũ = dan membantah kepadanya; qoumuhũ = kaumnya; qōla = dia berkata; atuhãjjũnnĩ = apakah kamu hendak membantahku; fillãhi = tentang Allah; wa qod = dan sesungguhnya; hadaani = Dia telah memberi petunjuk kepadaku; wa lã = dan aku tidak; akhōfu = takut; mã tasyrikũna = apa yang kamu persekutukan; bihĩ = dengan Allah; illã = kecuali; an yasyã-a = jika menghendaki; robbĩ = Rabku; syai-an = sesuatu; wasi’a = meliputi; robbĩ = Rabku; kulla syai’in = segala sesuatu; ‘ilman = ilmu; afalã = maka, apakah tidak; tatadzakkarũn = kamu tidak ingat.

wa hãjjahũ qoumuhũ, qōla atuhãjjũnnĩ fillãhi wa qod hadaani wa lã akhōfu mã tasyrikũna bihĩ, illã an yasyã-a robbĩ syai-an wasi’a robbĩ kulla syai’in ‘ilman, afalã tatadzakkarũn.

80. Dan membantahlah kaumnya kepada Ibrahim, dia (Ibrahim s.a.) berkata: “Apakah kamu akan membantah aku tentang Allah? Padahal, sesungguhnya Dia telah memberi petunjuk kepadaku, dan aku tidak takut kepada apa yang kamu pesekutukan dengan Allah itu, kecuali jika Rabku menghendaki malapetaka, dan ilmu Rabku meliputi segala sesuatu, maka apakah kamu tidak ingat?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. mengingatkan kaumnya, bahwa ilmu Allah meliputi segala apa pun yang ada di langit dan di bumi. Allah telah memberi petunjuk kepada Nabi Ibrahim a.s. Sekarang Nabi Ibrahim a.s. mengingatkan kaumnya agar tidak mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu makhluk-Nya, misalnya angin, pohon, matahari, batu atau kayu, dan lain-lain. Mereka membuat patung yang dihormat-hormat, dipuja-puja, diberi sesaji, dan lain-lain.

wa kaifa = dan bagimana; akhōfu = aku akan takut; mã asyroktum = apa yang kamu persekutukan; wa lã takhōfũna = dan kamu tidak takut; annakum = bahwa kamu; asyroktum = kamu mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; mã lam = apa yang tidak; yunazzil = Allah menurunkan; bihĩ = tentang itu; ‘alaikum = kepadamu; sulthōnã = kekuatan, keterangan; fa-ayyu = maka manakah; al farĩqoini = dua golongan; ahaqqu = lebih berhak; bil amni = dengan keamanan; ingkuntum = jika kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.

wa kaifa akhōfu mã asyroktum wa lã takhōfũna annakum asyroktum billãhi mã lam yunazzil bihĩ ‘alaikum sulthōnã, fa-ayyul farĩqoini ahaqqu bil amni, ingkuntum ta’lamũn.

81. Dan bagaimana aku akan takut kepada apa yang kamu persekutukan dengan Allah, sedang kamu tidak takut, kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Allah Sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu kepadamu. Maka makakah di antara dua golongan yang lebih berhak mendapat keamanan dari malapetaka, jika kamu mengetahui?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. membangkitkan kaumnya untuk berpikir, tentang apa yang sudah dan sedang diperbuat atas keyakinannya kepada ada-Nya Allah Yang menjamin keamanan hidupnya di dunia sampai akhirat.

alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa lam = dan tidak; yalbisũ = mereka mencampur-adukkan; ĩmaanahum = iman mereka; bi zhulmin = dengan kelaliman; ulã-ika = mereka itu; lahumu = bagi mereka; al amnu = keamanan; wa hum = dan mereka; muhtadũn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

alladzĩna ãmanũ wa lam yalbisũ ĩmaanahum bi zhulmin ulã-ika lahumul amnu wa hum muhtadũn.

82. Orang-orang yang beriman, dan mereka tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kelaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelaliman di sini artinya orang yang mencampur-adukkan keimanan kepada Allah dengan benda-benda yang kasat mata dan yang tidak kasat mata.

wa tilka = dan itulah; hujjatunã = hujah Kami; ãtainãhã = Aku berikan itu; ibrōhĩma = (kepada) Ibrahim; ‘alã = menghadapi; qoumihi = kaumnya; narfa’u = Aku tinggikan; darojãtin = beberapa derajat; man = siapa; nasyã-u = Aku kehendaki; inna = sesungguhnya; robbaka = Robkamu; hakĩmun = Mahabijaksana; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

wa tilka hujjatunã ãtainãhã ibrōhĩma ‘alã qoumihi, narfa’u darojãtim man nasyã-u, inna robbaka hakĩmun ‘alĩm.

83. Dan itulah hujjah Aku yang Aku berikan kepada Ibrahim menghadapi kaumnya. Aku tinggikan beberapa derajat siapa yang Aku kehendaki. Sesungguhnya Robkamu Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi penjelasan atas tindakan-Nya, dan tindakan selanjutnya. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang dihendaki secara bijaksana.

wa wahabnã = dan Aku berikan; lahũ = kepadanya; ishãqo = Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; kullan = masing-masing; hadainã = Aku beri petunjuk; wa nũhan = dan Nuh; hadaina = Aku beri petunjuk; min qoblu = dari sebelum itu; wa min dzurriyyatihĩ = dan dari keturunannya; dãwũda = Dawud; wa sulaimaana = dan Sulaiman; wa ayyũba = dan Ayub; wa yũsufa = dan Yusuf; wa mũsã = dan Musa; wa hãrũna = dan Harun; wa kãdzalika = dan demikianlah; najzĩ = Aku membalas; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa wahabnã lahũ ishãqo wa ya’qũba, kullan hadainã, wa nũhan hadaina min qoblu, wa min dzurriyyatihĩ dãwũda wa sulaimaana wa ayyũba wa yũsufa wa mũsã wa hãrũna wa kãdzalika najzĩl muhsinĩn.

84. Dan Aku berikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq, dan Ya’qub, masing-masing telah Aku beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu telah Aku beri petunjuk, dan kepada keturunannya, yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, dan Harun. Dan demikianlah Aku membalas ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran kepada Umat Muhammad saw. bahwa orang-orang yang baik akan diberi ganjaran petunjuk yang benar untuk hidup di dunia sampai ke akhirat.

wa zakariyya = dan Zakaria; wa yahyã = dan Yahya; wa ‘ĩsã = dan Isa; wa ilyãsa = dan Ilyas; kullun = semuanya; mina = termasuk; ash shōlohĩna = orang-orang yang saleh.

wa zakariyya wa yahyã wa ‘ĩsã wa ilyãsa, kullum minash shōlohĩna.

85. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang saleh adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan melaksanakan apa yang ditunjuki Allah kepadanya

wa ismã’ĩla = dan Ismail; wal yasa’a wa yũnusa wa lũthōn, wa kullaan fadh dholnã ‘alal ‘ãlalamĩn.

wa ismã’ĩla, wal yasa’a wa yũnusa wa lũthōn, wa kullaan fadh dholnã ‘alal ‘ãlalamĩn.

86. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, Luth, masing-masing Aku lebihkan di atas semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang dilebihkan dari makhluk lain di alam semesta.

wa min ãbã-ihim = dan di antara Bapak-bapak mereka; wa dzurriyyãtihim = dan keturunan mereka; wa ikhwaanihim = dan saudara-saudara mereka; wajtabainãhum = dan Aku telah memilih mereka; wa hadainãhum = dan Aku beri petunjuk kepada mereka; ilã shirōtim = hanya ke jalan; mustaqĩm = yang lurus.

wa min ãbã-ihim wa dzurriyyãtihim wa ikhwaanihim, wajtabainãhum wa hadainãhum ilã shirōtim mustaqĩm.

87. Dan di antara bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka, Aku telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi dan Rasul), dan Aku beri petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Yang memilih seseorang menjadi Nabi dan Rasul dan memberi kepadanya petunjuk.

dzãlika = itulah; hudallãhi = petunjuk Allah; yahdĩ = Dia memberi petunjuk; bihĩ = dengannya; man = siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; min ‘ibãdihĩ = dari antara hamba-hamba-Nya; walau = dan kalau; asyrokũ = mereka mempersekutukan; lahabitho = tentu hilanglah; ‘anhum = dari mereka; mã = apa (amalan); kãnũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.

dzãlika hudallãhi yahdĩbihĩ man-yasyã-u min ‘ibãdihĩ, walau asyrokũ lahabitho ‘anhum mã kãnũ ya’malũn.

88. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi kepada siapa di antara hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dan kalau mereka mempersekutukan Allah, tentu hilanglah amalan-amalan yang telah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang telah diberi petunjuk, kalau kembali mempersekutukan Allah dengan benda-benda ciptaan Allah, maka amalan-amalan baik mereka akan hilang tak berbekas. Ini peringatan Allah yang berulang-ulang untuk hamba-hamba-Nya.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; ãtainãhumu = telah Aku berikan kepada mereka; al kitãba = kitab; wal hukma = dan ilmu; wan nubuwwata = dan kenabian; fa in = maka jika; yakfur = mereka mengingkari; bihã = padanya; hã-ũlã-i = mereka ini; fa qod = maka sesungguhnya; wakkalnã = Aku menyerahkan; bihã = padanya; qouman = kaum; laisũ = tidaklah mereka; bihã = padanya; bikãfirĩn = dengan orang-orang yang ingkar;

ũlãikal ladzĩna ãtainãhumul kitãba wal hukma wan nubuwwata, fa in yakfur bihã hã-ũlã-i fa qod wakkalnã bihã qoumal laisũ bihã bikãfirĩn.

89. Mereka itulah orang-orang yang telah Aku berikan kepada mereka Kitab, ilmu, dan kenabian. Maka jika orang-orang Quraisy mengingkarinya, sesungguhnya Aku akan menyerahkan perkara itu kepada kaum yang tidak akan mengingkarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kaum Quraisy yang tidak mengimani Nabi Muhammad saw. maka Kitab, ilmu dan kenabian itu akan diserahkan kepada kaum di luar Kaum Quraisy yang beriman.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; hadã = memberi petunjuk; allãh = Allah; fabi = maka dengan; hudãhum = petunjuk mereka; muktadih = ikutilah ia; qul = katakanlah; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atasnya; ajron = upah; in huwa = tidak lain ia; illã = kecuali, hanyalah; dzikrō = peringatan; lil ‘ãlamĩn = untuk seluruh alam.

ũlãikal ladzĩna hadãllãh, fabi hudãhum muktadih, qul lã as-alukum ‘alaihi ajron, in huwa illã dzikrō lil ‘ãlamĩn.

90. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka, ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak minta upah kepadamu atas petunjuk itu. Alquran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi umat di seluruh alam.
.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alquran itu petunjuk untuk umat manusia sedunia. Nabi Muhammad saw. tidak meminta upah apa pun dan kepada siapa pun yang diberi petunjuk.

wa mã qodarullãha haqqo qodrihĩ idz qōlũ mã anzalallãhu alã basyarim min sya-ĩ, qul man anzalal kitãbal ladzĩ jã-a bihĩ mũsã nũron wa hudal linnãsi, taj’alũnahũ qorōthĩsa tubdũ nahã wa tukhfũna katsĩrō, wa ullimtum mã lam ta’lamũ antum wa lã ãbã-ũkum, qulillãh, tsumma dzarhum fĩ khaudhihim yal’abũn.

wa mã qodarullãha haqqo qodrihĩ idz qōlũ mã anzalallãhu alã basyarim min sya-ĩ, qul man anzalal kitãbal ladzĩ jã-a bihĩ mũsã nũron wa hudal linnãsi, taj’alũnahũ qorōthĩsa tubdũ nahã wa tukhfũna katsĩrō, wa ullimtum mã lam ta’lamũ antum wa lã ãbã-ũkum, qulillãh, tsumma dzarhum fĩ khaudhihim yal’abũn.

91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan semestinya, ketika mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Taurat yang dibawa oleh Musa sebagai penerangan dan petunjuk bagi manusia, yang kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang berkeping-keping, kamu perlihatkan sebagiannya, dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya?” Katakanlah: “Allah yang menurunkan Kitab itu”, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan kisah Kitab-kitab masa lalu yang diturunkan kepada manusia. Mereka tidak mengajarkan dengan semestinya, ada yang disembunyikan, dirahasiakan. Allah meminta untuk “membiarkan” dalam arti sindiran, mereka bermain-main dalam kesesatan.

wa hãdzã = dan ini (Alquran); kitãbun = Kitab; anzalnãhu = yang Aku turunkan; mubãrokun = yang diberkahi; mushoddiqu = yang membenarkan; al ladzĩ = yang (Kitab); baina = antara; yadaihi = kedua tangannya (sebelumnya); wa litundziro = dan agar kamu memberi peringatan; ummal qurō = penduduk Mekah; wa man = dan orang-orang yang; haulahã = di sekitarnya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yu’minũna (mereka) beriman; bil ãkhiroti = pada hari akhirat; yu’minũna = mereka beriman; bihĩ = padanya; wa hum = dan mereka; ‘alã sholãtihim = pada salat mereka; yuhãfizhũn = mereka memelihara.

wa hãdzã kitãbun anzalnãhu mubãrokum mushoddiqul ladzĩ baina yadaihi wa litundziro ummal qurō wa man haulahã, wal ladzĩna yu’minũna bil ãkhiroti yu’minũna bihĩ, wa hum ‘alã sholãtihim yuhãfizhũn.

92. Dan Alquran ini adalah Kitab yang Aku turunkan dengan keberkahan, yang membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya, dan agar kamu memberi peringatan kepada penduduk Ummul Quro (Mekah) dan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang beriman pada kehidupan akhirat, tentu mereka beriman kepada Alquran, dan mereka selalu memlihara salatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan turunnya Alquran dan fungsionalisasinya.

wa man azhlamu mim maniftarō ‘alallãhi kadziban au qōla ũhiya ilayya wa lam yũha ilaihi syai-un wa man qōla saunzilu mitsla mã andzalallahu, wa lau tarō idzizh zhōlimũna fĩ ghomarōtil mauti wal malãikatu basithũ aidĩhim, akhrijũ anfusakum, al yauma tujzauna ‘adzãbal hũni bimã kuntum taqũlũna ‘alallãhi ghoirol haqqi wa kuntum ‘an ãyãtihĩ tastakbirũn.

wa man azhlamu mim maniftarō ‘alallãhi kadziban au qōla ũhiya ilayya wa lam yũha ilaihi syai-un wa man qōla saunzilu mitsla mã andzalallahu, wa lau tarō idzizh zhōlimũna fĩ ghomarōtil mauti wal malãikatu basithũ aidĩhim, akhrijũ anfusakum, al yauma tujzauna ‘adzãbal hũni bimã kuntum taqũlũna ‘alallãhi ghoirol haqqi wa kuntum ‘an ãyãtihĩ tastakbirũn.

93. Dan siapakah yang lebih lalim dari orang yang membuat-buat dusta kepada Allah, atau orang yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya,” padahal tidak ada sesuatu wahyu pun kepadanya. Dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Luar biasa dahsyatnya, sekiranya kamu melihat orang-orang yang lalim, ketika dalam kesengsaraan sekaratulmaut, dan para Malaikat memukul dengan tangan-tangan mereka, sambil berkata: “Keluarkanlah nyawamu, pada hari ini kamu akan dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu mengatakan kepada Allah perkataan yang tidak benar, dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan orang-orang yang sombong dan membuat-buat dusta kepada Allah saatmasih hidup di dunia, dan pada saatmenderita dalam sekaratulmaut dan balasan akibat perbuatan mendustakan Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; ji’tumũna = kamu datang kepada Kami; farōdã = sendiri-sendiri; kamã = seperti, sebagaimana; kholaknãkum = Aku menciptakan kamu; awwala = pertama; marrotin = kali; wa taroktum = dan kamu tinggalkan; mã = apa; khawwalnãkum = yang Aku karuniakan kepadamu; wa rō-a = dan belakang; zhuhũrikum = punggungmu; wa mã narō = dan Aku tidak melihat; ma’akum = beserta kamu; syufa’akumu = pemberi syafaat-mu; al ladzĩna = orang-orang yang; za’amtum = kamu angap; annahum = bahwa mereka; fĩkum = di antara kamu; syurokã-u = serikat-serikat; laqod = sungguh; takoththa’a = telah terputus; bainakum = antara kamu; wa dholla = dan telah lenyap; ‘ankum = dari kamu; mã kuntum = apa yang kamu adalah; taz’umũn = kamu sangka, kamu anggap.

wa laqod ji’tumũna farōdã kamã kholaknãkum awwala marrotin wa taroktum mã khawwalnãkum wa rō-a zhuhũrikum, wa mã narō ma’akum syufa’akumul ladzĩna za’amtum annahum fĩkum syurokã-u, laqod takoththa’a bainakum wa dholla ‘ankum mã kuntum taz’umũn.

94. Dan sesungguhnya kamu datang pada Aku sendiri-sendiri, sebagaimana Aku menciptakan kamu pada pertama kalinya, dan kamu tinggalkan di belakangmu, apa yang telah Aku karuniakan kepadamu, dan Aku tidak melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah pertalian antara kamu dan telah lenyap darimu apa yang kamu anggap sekutu Allah itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan seluruh umat manusia, terutama kepada kaum musyrikin, kafirin, munafikin, fasikin bahwa mereka akan kembali secara sendiri-sendiri untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan perilakunya masing-masing di dunia.

inallãha = sesungguhnya Allah; fãliqu = menumbuhkan; al habbi = butir tumbuh-tumbuhan; wan nawã = dan biji buah-buahan; yukhriju = Dia mengeluarkan; al hayya = yang hidup; mina = dari yang; al mayyiti = mati; wa mukhriju = dan mengeluarkan; al mayyiti = yang mati; mina = dari yang; al hayyi = hidup; dzalikumullãh = demikianlah Allah; fa-annã = maka mengapa; tu’fakũn = kamu berpaling.

inallãha fãliqul habbi wan nawã, yukhrijul hayya minal mayyiti wa mukhrijul mayyiti minal hayyi, dzalikumullãh, fa-annã tu’fakũn.

95. Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Yang memiliki sifat-sifat demikianlah Allah, maka mengapakah kamu berpaling?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan dengan sifat-sifat-Nya untuk meyakinkan keberadaan-Nya di dunia ini, agar manusia tidak dapat menyangkal keberada-Nya. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 255 Allah hidup kekal; Ali ‘Imran, 3: 2, 27, 156 Allah hidup kekal dan mandiri; Allah berkuasa menghidupkan dari yang mati; Allah berkuasa mengidupkan dan mematikan makhluk-Nya.

fãliqu = Dia membelah, menyingsingkan; al ishbãhi = subuh, pagi; wa ja’ala = dan Dia menjadikan; al laila = malam; sakanan = beristirahat; wa = dan; asy syamsa = matahari; wa = dan; al qomaro = bulan; husbãnan = perhitungan; dzãlika = itulah; taqdiiru = takdir, ketentuan; al azĩzu = Mahakuasa; al ‘alĩm = Maha Mengetahui

fãliqul ishbãhi wa ja’alal laila sakanan wasy syamsa wal qomaro husbãnan dzãlika taqdiirul azĩzul ‘alĩm.

96. Dia menerbitkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk hitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui untuk menetapkan waktu dan hitungan.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; ja’ala = menjadikan; lakumu = untukmu; an nujũma = bintang-bintang; litahtadũ = agar menjadi petunjuk bagimu; bihã = dengannya; fĩ zhulumãti = dalam kegelapan; al barri = daratan; wal bahri = dan lautan; qod = sesungguhnya; fash-sholna = Aku telah menjelaskan; al ãyãti = ayat-ayat, tanda-tanda; liqaumin = bagi kaum, orang-orang; ya’lamũn = mereka mengetahui.

wa huwal ladzĩ ja’ala lakumun nujũma litahtadũ bihã fĩ zhulumãtil barri wal bahri, qod fash sholnal ãyãti liqaumin ya’lamũn.

97. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang untukmu, agar kamu menjadikannya penunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Aku telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Aku bagi orang-orang yang mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tanda-tanda kebesaran Allah itu diperlihatkan melalui ciptaan-Nya yang berguna untuk keperluan hidup manusia di dunia, dan dapat untuk mencapai kehidupan di akhirat.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; ansya-akum = menciptakan kamu; min nafsin = dari seorang; wãhidatin = satu; famustaqorrun = maka tempat tetap; wa mustauda’un = dan tempat simpanan, rahasia; qod = sesungguhnya; fash-sholna = Aku telah menjelaskan; al ãyãti = ayat-ayat, yanda-tanda; li qoumin = bagi kaum, orang-orang; yafqohũn = mereka memahami.

wa huwal ladzĩ ansya-akum min nafsin wãhidatin famustaqorrun wa mustauda’un, qod fash-sholnal ãyãti li qoumin yafqohũn.

98. Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka, bagimu ada tempat tetap, dan tempat rahasia. Sesungguhnya, Aku telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Aku bagi orang-orang yang memahami.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebesaran Allah itu ditunjukkan melalui penciptaan manusia yang diberi tempat tertentu di muka bumi ini, dan tempat yang dirahasiakan Allah, di mana, kemana, bagaimana selama hidupnya di dunia, dan nanti di akhirat. Harus dimengerti, dipikirkan, dipahami, dirasakan, dihayati.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; anzala = menurunkan; minassamã-i = dari langit; mã-an = air; fa-akhrojnã = maka Aku keluarkan; bihĩ = dengan air itu; nabãta = nabati (tumbuh-tumbuhan); kullisyai-in = segala macam; fa-akhrojnã = maka Aku keluarkankan; minhu = darinya; khadhiron = hijauan; nukhriju = Aku keluarkan; minhu = darinya; habban = butir buah; mutarōkibãn = yang bersusun-susun; wa mina = dan dari; an nakhli = pohon kurma; min thol’ihã = dari mayangnya; qinwaanun = tangkai-tangkai; daaniyatun = menjulai; wa jannaatin = dan kebun-kebun; min a’nãbin = dari anggur; wazzaitũna = dan zaitun; warrummaana = dan delima; musytabihan = yang serupa; wa goiro = dan yang tidak; mutasyãbihin = serupa; anzhurũ = perhatikanlah; ilã tsamarihĩ = pada buahnya; idzã = ketika; atsmaro = berbuah; wayan’ihĩ = dan kematangannya; inna = sesungguhnya; fĩ = dari; dzãlikum = yang demikian; la-ãyãtin = sungguh ada tanda-tanda; laqoumin = bagi kaum, orang-orang; yu’minũn = mereka beriman.

wa huwal ladzĩ anzala minassamã-i mã-an fa-akhrojnã bihĩ nabãta kullisyai-in fa-akhrojnã minhu khadhiron nukhriju minhu habbam mutarōkibãn wa minan nakhli min thol’ihã qinwaanun daaniyatun, wa jannaatim min a’nãbin wazzaitũna warrummaana musytabihan wa goiro mutasyãbihin, anzhurũ ilã tsamarihĩ idzã atsmaro wayan’ihĩ, inna fĩ dzãlikum la-ãyãtil laqoumin yu’minũn.

99. Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, maka dengan air itu Aku keluarkan nabati (tumbuh-tumbuhan), maka Aku keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu hijauan, Aku keluarkan darinya butir buah yang bersusun-susun, dan dari pohon kurma ada tangkai mayang yang menjulai, dan Aku tumbuhkan pula kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah pada buahnya yang matang. Sesungguhnya, pada yang demikian itu, ada tanda-tanda kekuasaan, kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kekuasaan, kebesaran-Nya. Hal ini dapat diperluas perhatian kita pada apa-apa yang ada di sekeliling kita. Maka, kita akan melihat betapa kekuasaan Allah itu, betapa kebesaran Allah itu.

wa ja’alũ = dan mereka menjadikan; lillãhi = bagi Allah; syurokã-a = sekutu-sekutu; al jinna = jin; wa kholaqohum = padahal Dia yang menciptakan jin itu; wa khoroqũ = dan mereka mengada-adakan; lahũ = bagi-Nya; banĩna = anak laki-laki; wa banaatin = dan anak perempuan; bi ghoiri = dengan tidak; ‘ilmi = ilmu; subhãnahũ = Mahasuci Dia; wa ta’ãlã = dan Mahatinggi; ‘ammã = dari apa yang; yashifũn = mereka sifatkan

wa ja’alũ lillãhi syurokã-al jinna wa kholaqohum, wa khoroqũ lahũ banĩna wa banaatin bi ghoiri ‘ilmi, subhãnahũ wa ta’ãlã ‘ammã yashifũn.

100. Dan mereka (orang-orang musyrik) menyekutukan jin dengan Allah, padahal Dialah yang menciptakan jin-jin itu. Mereka mengada-adakan Allah dengan pernyataan Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu. Mahasuci Dia, dan Mahatinggi dari apa yang mereka sifatkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepercayaan tahayul bahwa jin itu mempunyai kekuatan seperti Allah, inilah yang disebut musyrik. Demikian juga para Rahib yang mengatakan Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan. Pernyataan itu tidak berdasarkan ilmu yang benar.

badi’u = pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; annã = bagaimana; yakũnu = terjadi; lahũ = bagi-Nya; waladun = anak; wa lam = dan tidak; takun = ada; lahũ = bagi-Nya; shōhibah = teman perempuan; wa kholaqō = dan Dia menciptakan; kulla sya-i’ = segala sesuatu; wa huwa = dan Dia; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ’alĩm = Maha Mengetahui.

badi’us samãwãti wal ardhi, annã yakũnu lahũ waladun wa lam takul lahũ shōhibah, wa kholaqō kulla sya-i’, wa huwa bi kulli syai-in ’alĩm.

101. Allah Pencipta langit dan bumi, bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingatkan umat Nasrani yang mempunyai ungkapan Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Rahul Qudus. Ungkapan ini menunjukkan adanya angapan bahwa Allah itu satu, tapi menjelma dalam tiga persona (trinitas). Ungkapan yang demikian itu menurut keyakinan Islam dianggap menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Lihat juga Al Baqarah, 2: 87; 253; Ali ‘Imran, 3: 44, 45, 49, 52.

dzalikumu = demikian itu; allãhu = Allah; robbukum = Penguasa kamu; lã = tidak ada; ilãha = ilah, tuhan; illã = selain; huwa = Dia; khōliqu = Pencipta; kulli = segala; syai-in = sesuatu; fã’budũhu = maka sembahlah Dia; wa huwa = dan Dia; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; wakĩlun = Pengurus.

dzalikumullãhu robbukum, lã ilãha illã huwa, khōliqu kulli syai-in fã’budũhu, wa huwa ‘alã kulli syai-in wakĩlun.

102. Demikian itulah Allah, Robkamu, tidak ada ilah lain selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia, dan Dia itu Pengurus segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan Dirinya dengan suruhan agar makhluk-Nya menyembah, mengabdi kepada Yang Mengurusnya. Jangan mengabdi kepada makhluk-Nya. Makhluk-Nya hanya sebagai abdi, pesuruh-Nya. Jangan menyembah kepadanya. Lihat juga Surat Al Fatihah, 1: 5.

lã tudrikuhu = Allah tidak dapat dicapai; abshōru = penglihatan mata; wa huwa = sedang Dia; yudriku = dapat mencapai (melihat); al abshōra = penglihatan, yang tampak; wa huwa = dan Dia; al lathĩfu = Maha Halus; al khobĩru = Maha Mengetahui.

lã tudrikuhu abshōru wa huwa yudrikul abshōra, wa huwal lathĩful khobĩru.

103. Dia tidak dapat dicapai penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang tampak, Dia mahahalus dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu beberapa sifat-Nya.

qod = sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; bashō-iru = beberapa pandangan (keterangan); mir robbikum = dari Robkamu; fa man = maka barang siapa; abshoro = melihat; falinafsihĩ = maka untuk dirinya sendiri; wa man = dan barang siapa; ‘amiya = buta; fa’alaihã = maka baginya; wa mã ana = dan aku bukan; ‘alaikum = bagi kamu; bi hofĩzhin = dengan penjaga.

qod jã-akum bashō-iru mir robbikum, fa man abshoro falinafsihĩ, wa man ‘amiya fa’alaihã, wa mã ana ‘alaikum bi hofĩzhin.

104. Sesungguhnya telah datang kepadamu beberapa keterangan dari Robbmu, maka barang siapa yang mau melihat (menerima keterangan) itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang buta (tidak menerima penerangan), maka kecelakãnlah baginya, dan aku bukanlah penjaga bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan bahwa sudah datang beberapa keterangan kepada umat manusia agar beragama dengan benar. Barang siapa yang menaati keterangan itu, maka selamatlah hidupnya di dunia sampai ke akhirat. Barang siapa yang menolak penerangan itu, maka celakalah hidupnya di akhirat nanti.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nushorrifu = Aku mengulang-ulang; al ãyãti = ayat-ayat, tanda-tanda; wa liyaqũlũ = dan supaya mereka berkata; darosta = kamu telah mempelajari; wa linubayyinahũ = dan agar Aku menjelaskannya; liqaumin = kepada kaum, orang-orang; ya’lamũn = mereka mengetahui.

wa kadzãlika nushorriful ãyãti wa liyaqũlũ darosta wa linubayyinahũ laqaumin ya’lamũn.

105. Dan Demikianlah, Aku mengulang-ulang ayat-ayat itu, supaya mereka berkata. “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu”, dan agar Aku menjelaskannya (Alquran) kepada orang-orang yang mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mengulang-ulang ayat-ayat” mungkin berupa kata, kelompok kata, atau satu ayat dengan ayat lain sama persis (lihat Al Baqarah, 2: 47 dan 122); berbeda redaksi, (Al Baqarah, 2: 40 dan 47). Penjelasannya ada pada ayat ini.

attabi’ = ikutilah; mã = apa; ũhiya = telah diwahyukan; ilaika = kepada kamu; min = dari; robbika = Robkamu; lã = tidak ada; ilãha = ilah, tuhan; illã = kecuali; huwa = Dia; wa a’ridh = dan berpalinglah kamu; ‘ani = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

attabi’ mã ũhiya ilaika mir robbika, lã ilãha illã huwa, wa a’ridh ‘anil musyrikĩn.

106. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Robkamu, tidak ada ilah lain selain Dia, dan berpalinglah kamu dari orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan umat yang mengikutinya.

wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; allãhu = Allah; mã asyrokũ = mereka tidak mempersekutukan; wa mã ja’alnãka = dan Aku tidak menjadikan kamu; ‘alaihim = bagi mereka; hafĩzhon = penjaga; wa mã anta = dan kamu bukan ‘alaihim = bagi mereka; bi wakĩlin = dengan pengurus.

wa lau syã-allãhu mã asyrokũ, wa mã ja’alnãka ‘alaihim hafĩzhon, wa mã anta ‘alaihim bi wakĩlin.

107. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan-Nya, dan Aku tidak menjadikan kamu penjaga bagi mereka, dan kamu bukanlah pengurus bagi mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat: “kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan-Nya” berarti Allah membuat ketetapan bagi orang yang mempersekutukan dan yang tidak mempersekutukan dengan benda-benda ciptaan-Nya. Nabi Muhammad saw. tidak dijadikan Allah untuk menjadi penjaga dan pengurus mereka yang musyrik. Manusia diberi hak untuk memilih, mana yang haq dan mana yang batil.

wa lã tasubbũ = dan kamu jangan memaki-maki; al ladzĩna = orang-orang yang; yad’ũna = meminta; min dũnillãhi = dari selain Allah; fa yasubbũllãha = maka mereka akan memaki-maki Allah; ‘adwan = melampaui batas; bi ghoiri = dengan tidak (tanpa); ‘ilmi = ilmu; kazhãlika = demikianlah; zayyannã = Aku jadikan memandang baik; li kulli = bagi setiap; ummatin = umat; ‘amalahum = pekerjaan mereka; tsumma = kemudian; ilã = hanya kepada; robbihim = Robmereka; marji’uhum = tempat kembali mereka; fayunabbi-uhum = maka, Dia menerangkan kepada mereka; bimã = dengan apa; kãnũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.

wa lã tasubbũl ladzĩna yad’ũna min dũnillãhi fa yasubbũllãha ‘adwam bi ghoiri ‘ilmi, kazhãlika zayyannã li kulli ummatin ‘amalahum, tsumma ilã robbihim marji’uhum fayunabbi-uhum bimã kãnũ ya’malũn.

108. Dan janganlah kamu memaki-maki berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki-maki Allah melampaui batas tanpa dasar ilmu. Demikianlah, Aku jadikan setiap umat memandang baik pekerjaan mereka. Kemudian, kepada Robmerekalah tempat kembalinya. Lalu, Dia menerangkan kepada mereka, apa yang sudah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan para pengikut zaman berikutnya dan memberi peringatan tentang sikap hidup orang musyrik, dan akhir dari hidup makhluk-Nya yang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dikerjakan di dunia.

wa aqsamũ = dan mereka bersumpah; billãhi = atas nama Allah; jahda = bersungguh-sungguh; aimaanihim = sumpah mereka; la-in = sesungguhnya jika; jã-at-hum = datang kepada mereka; ãyatun = suatu mukjizat; layu’minunna = tentu mereka akan beriman; bihã = padanya; qul = katakanlah; innama = sesungguhnya hanyalah; al ãyãtu = mukjizat itu; ‘indallãhi = hanya dari Allah; wa mã = dan kamu tidak; yusy’irukum = kamu tidak sadar; annahã = bahwa sesungguhnya; idzã = apabila; jã-at = datang mukjizat; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.

wa aqsamũ billãhi jahda aimaanihim la-in jã-at-hum ãyatul layu’minunna bihã, qul innamal ãyãtu ‘indallãhi wa mã yusy’irukum, annahã idzã jã-at lã yu’minũn.

109. Dan mereka bersumpah dengan bersungguh-sungguh atas nama Allah, bahwa sesungguhnya, jika datang suatu mukjizat kepada mereka, tentu mereka akan benar-benar beriman kepadanya. Katakanlah: “Sesunguhnya mukjizat itu hanya dari Allah”, dan kamu tidak sadar, sesungguhnya mereka tidak akan beriman apabila datang mukjizat itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau ada orang musyrik yang mengaku beriman berarti mereka mendapatkan mukjizat. Dan mukjizat datang hanya dari Allah.

wa nuqollibu = dan Aku memutarbalikkan; af-idatahum = hati mereka; wa absōrohum = dan penglihatan mereka; kamã = sebagaimana; lam = tidak; yu’minũ = mereka beriman; bihĩ = dengannya (Alquran); awwala = pada awal; marrotin = kalinya; wa nadzaruhum = dan Aku biarkan mereka; fĩ = dalam; thughyaanihim = dalam kesesatan; ya’mahũn = mereka kebingungan.

wa nuqollibu af-idatahum wa absōrohum kamã lam yu’minũ bihĩ awwala marrotin wa nadzaruhum fĩ thughyaanihim ya’mahũn.

110. Dan Aku memutarbalikkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana mereka tidak beriman kepada Alquran pada awalnya, dan Aku biarkan mereka bingung dalam kesesatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan mudah Allah memutarbalikkan hati dan penglihatan seseorang, seandainya ia tidak beriman ataupun beriman saatAlquran dibacakan.

Juz 8

Sikap Kepala Batu Kaum Musyriqin, dan Sikap Mereka pada eRasulan Muhammad saw.

walau = dan kalau; annanã = sekiranya Kami; nazzalnã = Aku menurunkan; ilaihimu = kepada mereka; al malã-ikata = malaikat; wakallamahumu = dan berbicara dengan mereka; al mautã = orang mati; wa hasyarnã = dan Aku mengumpulkan; ‘alaihim = atas mereka; kulla = segala; syai-in = sesuatu; kubulan = berhadapan; mã kãnũ = tidak adalah mereka; liyu’minũ = mereka akan beriman; illã = kecuali; an yasyã = jika menghendaki; allãhu = Allah; wa lã kinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; yajhalũn = mereka tidak mengetahui, bodoh.

walau annanã nazzalnã ilaihimul malã-ikata wakallamahumul mautã wa hasyarnã ‘alaihim kulla syai-in kubulam mã kãnũ liyu’minũ illã an yasyã allãhu wa lã kinna aktsarohum yajhalũn.

111. Kalau sekiranya Aku menurunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Aku kumpulkan pula segala sesuatu ke hadapan mereka, tentu mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendakinya, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Walaupun segala macam cara dilakukan untuk dapat membuat mereka beriman pada keRasulan Muhammad saw., kalau Allah tidak menghendaki, pasti mereka tidak akan beriman. Dalam hal ini kebanyakan orang tidak mengetahui. Soal keimanan itu urusan Allah dengan makhluk-Nya yang sudah diberi akal dan pikiran untuk menetapkan pendiriannya.

wa kadzãlika = dan demikianlah; ja’alnã = Aku jadikan; li kulli = bagi tiap-tiap; nabiyyin = Nabi; ‘aduwwan = musuh; syayãthĩna = setan-setan; al insĩ = manusia; wal jinni = dan jin; yũhĩ = membisikkan; ba’dhuhum = sebagian mereka; ilã ba’dhin = kepada sebagian yang lain; zukhrufa = palsu, yang indah-indah; al qouli = perkataan; ghurũron = menipu, tipuan; wa lau = dan seandainya; syã-a = menghendaki; robbuka = Robkamu; mã fa’alũhu = tidaklah mereka mengerjakannya; fadzarhum = maka tinggalkan mereka; wa mã = dan apa; yaftarũn = mereka mengada-adakan.

wa kadzãlika ja’alnã li kulli nabiyyin ‘aduwwan syayãthĩnal insĩ wal jinni yũhĩ ba’dhuhum ilã ba’dhin zukhrufal qouli ghurũrō, wa lau syã-a robbuka mã fa’alũhu, fadzarhum wa mã yaftarũn.

112. Dan demikianlah, Aku jadikan musuh bagi tiap-tiap Nabi, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan palsu yang indah-indah untuk menipu manusia. Dan jika Robkamu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, setiap Nabi itu ada musuhnya yang berupa manusia dan jin yang menjadi setan, yang membisikkan kata-kata indah tapi palsu. Maka tinggalkanlah mereka yang mengada-ada tentang Allah. Lihat Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 142; al A’raf, 7 : 22, 36; Yũsuf, 12 : 5.

wa litashghō = dan supaya cenderung; ilaihi = kepadanya (bisikan); af-idatu = hati; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yu’minũna = (mereka) tidak beriman; bil ãkhiroti = kepada hari akhirat; wa liyardhouhu = dan supaya senang kepadanya; wa liyaqtarifũ = dan supaya mereka mengerjakan; mã hum = apa yang mereka; muqtarifũn = orang-orang yang mengerjakan.

wa litashghō ilaihi af-idatul ladzĩna lã yu’minũna bil ãkhiroti wa liyardhouhu wa liyaqtarifũ mã hum muqtarifũn.

113. Dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat cenderung kepada bisikan itu, dan supaya mereka senang kepadanya, dan supaya mereka senang mengerjakan (dosa seperti) apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw. “Musuh-musuh Nabi itu membisikkan sikap dan perilaku kepada orang-orang yang tidak beriman pada hari akhirat agar melakukan dosa seperti yang mereka kerjakan.” Umatnya harus menyadari kondisi ini, agar terhindar dari kasak-kusuk seperti ayat di atas.

afaghoirollãhi = apakah selain Allah; abtaghĩ = aku mencari; hakaman = hakim; wa huwa = dan Dia; al ladzĩ = yang; anzala = menurunkan; ilaikumu = kepadamu; al kitãba = Kitab; mufashsholan = terperinci; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; ãtainãhumu = Aku databgjan kepada mereka; al kitãba = Kitab; ya’lamũna = mereka mengetahui; annahũ = bahwa ia; munazzalun = diturunkan; mir robbika = dari Rab kamu; bil haqqi = dengan sebenarnya; fa lã = maka jangan; takũnanna = kamu menjadi; min = dari; al mumtarĩn.= orang-orang yang ragu.

afaghoirollãhi abtaghĩ hakaman wa huwal ladzĩ anzala ilaikumul kitãba mufashsholan, wal ladzĩna ãtainãhumul kitãba ya’lamũna annahũ munazzalum mir robbika bil haqqi, fa lã takũnanna minal mumtarĩn.

114. Apakah kepada selain Allah aku mencari hakim, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci? Dan orang-orang yang telah Aku datangkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Kitab itu diturunkan dari Rab kamu dengan sebenarnya. Karena itu, janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang ragu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mempertanyakan kepada umatnya agar tidak menjadi ragu.

wa tammat kalimatu robbika shidqon wa adlal lã mubaddila li kalimãtihĩ, wa huwas samĩ’ul ‘alĩmu.

wa tammat kalimatu robbika shidqon wa adlal lã mubaddila li kalimãtihĩ, wa huwas samĩ’ul ‘alĩmu.

115. Dan telah sempurnalah kalimat Rab kamu dengan kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang mengubah-ubah kalimat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan bahwa Alquran itu telah sempurna mengungkapkan kebenaran dan keadilan

wa in tuthi’ aktsaro man fil ardhi yudhillũka ‘an sabĩlil lãhi, in yattabi’ũna illazhzhanna wa in hum illã yakhrushũn.

wa in tuthi’ aktsaro man fil ardhi yudhillũka ‘an sabĩlil lãhi, in yattabi’ũna illazhzhanna wa in hum illã yakhrushũn.

116. Dan Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, tidak lain, mereka hanya mengikuti prasangka belaka, mereka hanya berdusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan Alquran ini telah mengungkapkan semua persoalan hidup. Jadi, Muhammad saw. dan umatnya jangan mengikuti kitab-kitab lain yang menyesatkan.

inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; a’lamu = lebih mengetahui; man = orang; yadhillu = orang tersesat; ‘an = dari; sabĩlihĩ = jalan-Nya; wa huwa = dan Dia; a’lamu = lebih mengetahui; bi = pada, dengan; al muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

inna robbaka huwa a’lamu man yadhillu ‘an sabĩlihĩ, wa huwa a’lamu bil muhtadĩn.

117. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah yang lebih mengetahui terhadap orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui pada orang –orang yang mendapat petunjuk.
Catatan : Allah Mahatahu segalanya.

fakulũ = maka makanlah; mimmã = terhadap apa (binatang); dzukiro = disebut; asmullãhi = nama Allah; ‘alaihi = atasnya; in kuntum = jika kamu; bi ãyãtihĩ = dengan, kepada ayat-Nya; mu’minĩn = beriman.

fakulũ mimmã dzukirosmullãhi ‘alaihi in kuntum bi ãyãtihĩ mu’minĩn.

118. Maka makanlah binatang yang disebut nama Allah atasnya (ketika diburu atau disembelih), jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan Allah bagi orang mu’min dalam hal memakan binatang.

wa mã lakum = dan mengapa kamu tidak; allã ta’kulũ = kamu tidak memakan; mimmã = dari apa (binatang); dzukiro = menyebut; asmullãhi = nama Allah; ‘alaihi = atasnya; wa qod = dan padahal; fashshola = Dia telah menjelaskan; lakum = kepada kamu; mã harroma = apa yang Dia haramkan; ‘alaikum = bagi kamu; illã = kecuali; madhthurirtum = apa yang kamu terpaksa; ilaihi = padanya; wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan (manusia); layudhillũna = sungguh hendak menyesatkan; bi ahwã-ihim = dengan hawa nafsu mereka; bi ghairi = dengan tidak, tanpa; ‘ilmi = pengetahuan; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; a’lamu = lebih mengetahui; bil mu’tadĩn = denganorang-orang yang melampaui batas.

wa mã lakum allã ta’kulũ mimmã dzukirosmullãhi ‘alaihi wa qod fashshola lakum mã harroma ‘alaikum illã madhthurirtum ilaihi, wa inna katsĩrol layudhillũna bi ahwã-ihim bi ghairi ‘ilmi, inna robbaka huwa a’lamu bil mu’tadĩn.

119. Dan, mengapa kamu tidak mau memakan binatang-binatang yang disebut nama Allah atasnya (ketika diburu atau disembelih), padahal Dia telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya bagimu, kecuali apa yang terpaksa kamu makan padanya. Dan sesungguhnya, kebanyakan manusia hendak menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Ali ‘Imran, 3: 93; Al Ma’idah, 5: 3, 4, 93, 96

wa dzarũ = dan tinggalkanlah; dzōhiro = yang tampak; al itsmi = dosa; wa bãthinahũ = dan yang tersembunyi; innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yaksibũna = (mereka) mengerjakan; al itsma = dosa; sayujzauna = kelak akan diberi balasan; bimã = disebabkan; kãnũ = adalah mereka; yaqtarifũn = perbuatan mereka.

wa dzarũ dzōhirol itsmi wa bãthinahũ, innalladzĩna yaksibũnal itsma sayujzauna bimã kãnũ yaqtarifũn.

120. Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa itu kelak akan diberi balasan disebabkan perbuatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah dan peringatan Allah kepada manusia. Harus diperhatikan.

wa lã ta’kulũ = dan jangan kamu memakan; mimmã = dari apa; lam yudzkari = tidak disebut; ismullãhi = nama Allah; ‘alaihi = atasnya; wa innahũ = dan sesungguhnya perbuatan itu; lafisqun = fasik, bodoh; wa inna = dan sesungguhnya; asy syayãtĩna = setan-setan; layũhũna = mereka membisikkan; ilã = kepada; auliyã-ihim = kawan-kawan mereka; liyujãdilũkum = agar mereka membantah kamu; wa in = dan jika; atho’tumũhum = kamu menuruti mereka; innakum = sesungguhnya kamu; la musyrikũn = tentu orang-orang musyrik.

wa lã ta’kulũ mimmã lam yudzkarismullãhi ‘alaihi wa innahũ lafisqun, wa innasy syayãtĩna layũhũna ilã auliyã-ihim liyujãdilũkum, wa in atho’tumũhum innakum la musyrikũn.

121. Dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah atasnya (ketika memburu atau menyembelih), sesungguhnya perbuatan itu adalah kefasikan. Dan sesungguhnya, setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya, agar mereka membantah kamu, jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentu menjadi orang-orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menyatakan peraturan memakan binatang. Lihat juga Q.s. Ali ‘Imran, 3: 93; Al Ma’idah, 5: 3, 4, 93, 96; Al An’am, 119. Orang yang memakan binatang tidak dengan menyebut nama Allah adalah perbuatan fasik (bodoh).

awaman = apakah orang yang …; kãna = dia adalah; maitan = mati; fa ahyainãhu = kemudian Aku menghiduplannya; wa ja’alnã = dan Aku jadikan; lahũ = untuknya; nũron = cahaya yang terang; yamsyĩ = berjalan; bihĩ = dengan cahaya itu; fin nãsi = di tengah-tengah manusia; kaman = seperti orang; matsaluhũ = serupa dengan dia; fidhdhulumãti = dalam kegelapan; laisa = tidak dapat; bi khãrijin = keluar; minhã = darinya; kadzãlika = demikianlah; zuyyina = dijadikan memandang baik; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.

awaman kãna maitan fa ahyainãhu wa ja’alnã lahũ nũron yamsyĩ bihĩ fin nãsi kamam matsaluhũ fidhdhulumãti laisa bi khãrijim minhã, kadzãlika zuyyina lil kãfirĩna mã kãnũ ya’malũn.

122. Apakah orang-orang yang sudah mati, kemudian Aku menghidupkannya dan Aku jadikan cahaya yang terang untuknya, dan dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang dalam keadaan kegelapan dan tidak dapat keluar darinya? Demikianlah, bagi orang kafir dijadikan memandang baik, apa yang telah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membandingkan orang yang hidup dengan petunjuk dari Allah yang jelas, terang dengan orang yang tidak diberi petunjuk (dalam kegelapan), tentu tidak sama. Orang kafir pandangannya selalu dibalikkan Allah: pekerjaan yang baik dianggap jelek, dan pekerjaan yang jelek dianggap baik. Mereka tidak mau menuruti peraturan Allah, tidak menyebut nama-Nya dalam hal memakan binatang (buruan atau ternak); hal itu dianggap baik.

wa kadzãlika = dan demikianlah; ja’alnã = Aku telah menjadikan; fi kulli = pada tiap-tiap; qoryatin = negeri; akãbiro = pembesar-pembesar; mujrimĩhã = orang-orang jahat, berdosa; liyamkurũ = agar mereka mengadakan tipu-daya; fĩhã = di dalam negeri itu; wa mã = dan tidaklah; yamkurũna = mereka memperdayakan; illã = kecuali, melainkan; bi anfusihim = pada diri mereka; wa mã = dan tidaklah; yasy’urũn = mereka menyadarinya.

wa kadzãlika ja’alnã fi kulli qoryatin akãbiro mujrimĩhã liyamkurũ fĩhã, wa mã yamkurũna illã bi anfusihim wa mã yasy’urũn.

123. Dan demikianlah, Aku telah menjadikan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar yang jahat, agar mereka mengadakan tipu-daya dalam negeri itu, tetapi tidaklah mereka memperdayakan, melainkan pada diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pada setiap negeri, pasti ada pembesar-pembesar yang jahat, tidak jujur, hanya mengingat hidup di dunia, dan tidak mengingat hidup di akhirat. Kalau mereka membuat tipu-daya kepada penduduknya, maka sesungguhnya, tipu-daya itu menjadi tanggung jawab dirinya.

wa idzã = dan apabila; jã-at-hum = dating kepada mereka; ãyatun = sesuatu ayat; qōlũ = mereka berkata; lan nu’mina = Aku tidfak akan beriman; hattã = sehingga; nu’tã = Aku diberi; mitsla = seperti; mã = apa; ũtiya = diberikan; rusulullãhi = Rasul-Rasul Allah; al lãhu = Allah; a’lamu = lebih mengetahui; haitsu = di mana; yaj’alu = Dia menjadikan; risãlatah = keRasulannya; sayushĩbu = akan menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang; ajramũ = (mereka) berdoa; shoghōrun = kecil, kehinaan; ‘indallãhi = di hadapan Allah; wa ‘adzãbun = dan azab, siksa; syadĩdun = yang sangat pedih; bimã = dengan sebab; kãnũ = mereka adalah; yamkurũn = mereka membuat tipu-daya

wa idzã jã-at-hum ãyatun qōlũ lan nu’mina hattã nu’tã mitsla mã ũtiya rusulullãhil lãhu a’lamu haitsu yaj’alu risãlatah, sayushĩbul ladzĩna ajramũ shoghōrun ‘indallãhi wa ‘adzãbun syadĩdum bimã kãnũ yamkurũn.

124. Dan apabila datang kepada mereka suatu ayat, mereka berkata: “Aku tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami, seperti apa yang diberikan kepada Rasul-Rasul Allah. Allah lebih mengetahui, di mana Dia menjadikan keRasulan-Nya itu. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan dari Allah dan siksa yang pedih karena mereka membuat tipu-daya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang peri-laku orang-orang kafir yang selalu mencari-cari alasan dalam menolak ayat-ayat Allah. Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang selalu menolak perintah Allah, dan melakukan tipu-daya.

fa man = maka barang siapa; yuridillãhu = Allah menghendaki; an yahdiyahũ = akan memberikan petunjuk-Nya; yasyroh = Dia melapangkan; shodrohũ = dadanya; lil islãmi = untuk Islam; wa man = dan barang siapa; yurid = Dia kehendaki; an yudhillahũ = untuk Dia menyesatkannya; yaj’al = Dia akan menjadikan; shodrohũ = dadanya; dhoyyiqan = sempit; harojan = kesukaran; ka-annamã = seakan-akan; yashsha’adu = ia mendaki; fis samã-i = ke langit; kadzãlika = demikianlah; yaj’alullãhu = Allah menghendaki; ar rijsa = kekejian; ‘ala = atas; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.

fa man yuridillãhu an yahdiyahũ yasyroh shodrohũ lil islãmi, wa man yurid an yudhillahũ yaj’al shodrohũ dhoyyiqan harojan ka-annamã yashsha’adu fis samã-i, kadzãlika yaj’alullãhur rijsa ‘alal ladzĩna lã yu’minũn.

125. Maka barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, tentu Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan, barang siapa yang Dia kehendaki akan menyesatkannya, Dia akan menjadikan dadanya sempit dan kesukaran, seakan-akan ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah, Allah menjadikan kekejian atas orang-orang yang tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk itu diberikan kepada orang-orang yang dengan ikhlas, berlapang dada mengakui ada-Nya Allah dan Nabi Muhammad saw. utusan-Nya. Orang-orang yang tidak mengakui ada-Nya Allah yang memberi wahyu kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril, maka Allah menyempitkan dadanya untuk mengakui Islam sebagai agama dari Allah.

wa hãdzã = dan inilah; shirōthu = jalan; robbika = Rab kamu; mustaqĩma = yang lurus; qod = sesungguhnya; fasholnã = Aku telah menjelaskan; al ãyãti = ayat-ayat; li qoumin = kepada kaum; yadzdzakkarũn = mereka memperhatikan

wa hãdzã shirōthu robbika mustaqĩma, qod fasholnal ãyãti liqoumin yadzdzakkarũn.

126. Dan inilah jalan Rab kamu yang lurus; sesungguhnya Aku telah menjelaskan ayat-ayat Aku kepada kaum yang memperhatikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah menjelaskan ayat-ayat-Nya hanya kepada kaum yang sungguh- sungguh memperhatikan. Kaum yang tidak memperhatikan tidak diberi penjelasan.

lahum = bagi mereka; dãru = rumah; as salãmi = perdamaian; ‘inda = di haribãn; robbihim = Rab mereka wa huwa waliyyuhum bi mã kãnũ ya’malũn.

lahum dãrus salãmi ‘inda robbihim, wa huwa waliyyuhum bi mã kãnũ ya’malũn.

127. Bagi mereka disediakan rumah perdamaian (surga) di haribãn Rab mereka, dan Dialah Pelindung mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang dengan ikhlas masuk dalam Islam, akan disediakan surga, tempat tinggal selamanya. Allah menjadi Pelindung mereka. Imbalan dari orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Nabinya.

wa yauma = dan pada hari; yahsyuruhum = (Allah) menghimpun mereka; jamĩ’an = semuanya; yã ma’syaro = hai golongan; al jinni = jin; qod = sesungguhnya; is-taktsartum = kamu telah banyak; min = dari; al insĩ = manusia; wa qōla = dan berkata; auliyã-uhum = kawan-kawan mereka; min = dari; al insĩ = manusia; robbana = ya Rab kami; is tamta’a = telah mendapat kenikmatan; ba’dhunã = sebagian kami; bi ba’dhin = dengan sebagian yang lain; wa balaghnã = dan Aku telah sampai; ajalana = ajal, waktu kami; al ladzĩ = yang; ajjalta = Engkau tentukan ajalnya, waktunya; lanã = bagi kami; qōla = (Allah) berfirman; an nãru = neraka; matswãkum = tempat tinggal kamu; khōlidĩna = yang kekal; fĩhã = di dalamnya; illã = kecuali; mã = apa, jika; syã-allãh = Allah menghendaki; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; hakĩmun = Mahabijaksana; ‘alĩm = Maha Mengetahui;

wa yauma yahsyuruhum jamĩ’an yã ma’syarol jinni qodis-taktsartum minal insĩ, wa qōla auliyã-uhum minal insĩ robbanas tamta’a ba’dhunã bi ba’dhin wa balaghnã ajalanãl ladzĩ ajjalta lanã, qōlan nãru matswãkum khōlidĩna fĩhã illã mã syã-allãh, inna robbaka hakĩmun ‘alĩm.

128. Dan (ingatlah) pada hari Allah menghimpun mereka semua. (Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.” Dan berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Rab kami, sebagian Aku telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain, dan Aku telah sampai pada waktu Aku yang telah Engaku tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka, itulah tempat tinggal kamu yang kekal, kecuali, jika Allah menghendaki (yang lain).” Sesungguhnya Rab kamu itu Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menekankan peringatan Allah kepada bangsa jin dan manusia pada hari pembalasan.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nuwallĩ = Aku jadikan pemimpin; ba’dho = sebagian; adz dzōlimĩna = orang-orang lalim; ba’dhon = sebagian yang lain; bimã = dengan apa, disebabkan apa ; kãnũ = adalah mereka; yaksibũn = mereka usahakan.

wa kadzãlika nuwallĩ ba’dhodz dzōlimĩna ba’dhom bimã kãnũ yaksibũn.

129. Dan demikianlah, Aku jadikan sebagian dari orang-orang yang lalim itu menjadi pimpinan bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang lalim itu mempunyai pemimpin yang ditetapkan Allah berdasarkan usaha untuk itu.

yã ma’asyaro = hai golongan; al jinni = jin; wa = dan; al insi = manusia; alam = apakah; ya’tikum = belum datang kepadamu; rusulun = Rasul-Rasul; minkum = dari antara kamu sendiri; yaqushshũna = mereka menceriterakan; ‘alaikum = kepada kamu; ãyãtĩ = ayat-ayat-Ku; wa yundzirũnakum = dan mereka memberi peringatan kepadamu; liqō-a = pertemuan; yaumikum = hari kamu; hãdzã = ini; qōlũ = mereka berkata; syahidnã = Aku menjadi saksi; ‘alã = atas; anfusinã = diri mereka sendiri; wa ghorrot-humu = dan telah menipu mereka; al hayãtu = kehidupan; ad dun-yã = dunia; wasyahidũ = dan mereka menjadi saksi; ‘alã = atas; anfusihim = diri mereka sendiri; annahum = bahwa sesungguhnya mereka; kãnũ = mereka adalah; kãfirĩn = orang-orang kafir.

yã ma’asyarol jinni wal insi alam ya’tikum rusulum minkum yaqushshũna ‘alaikum ãyãtĩ wa yundzirũnakum liqō-a yaumikum hãdzã, qōlũ syahidnã ‘alã anfusinã, wa ghorrot-humul hayãtud dun-yã wasyahidũ ‘alã anfusihim annahum kãnũ kãfirĩn.

130. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari antara kamu sendiri yang menceriterakan ayat-ayat-Ku, dan memberi peringatan kepadamu pada pertemuan pada hari ini?, Mereka berkata: “Aku menjadi saksi atas diri Aku sendiri”. Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas mereka sendiri, bahwa sesungguhnya, mereka itu orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada umat jin dan manusia tentang kedatangan Rasul-Rasul di antara umatnya masing-masing. Dan mereka menjadi saksi, bahwa memang benar ada Rasul yang memperingatkan pada pertemuan Hari Kiamat. Hanya karena ada tipu-daya kehidupan di dunia maka mereka terperangkap dalam kekafiran (banyak yang mengabaikan perintah Allah, dan melakukan perbuatan yang dilarang-Nya).

dzãlika = yang demikian itu; an lam yakun = bahwa tidak akan ada; robbuka = Rab kamu; muhlika = membinasakan; al qurō = negeri-negeri; bi dzulmin = dengan aniaya; wa ahluhã = dan penduduknya; ghōfilũn = orang-orang yang lalai.

dzãlika al lam yakur robbuka muhlikal qurō bi dzulmin wa ahluhã ghōfilũn.

131. Yang demikian itu karena Rab kamu tidak akan membinasakan negeri-negeri dengan aniaya, karena penduduknya lengah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Negeri-negeri yang dibinasakan Allah itu karena penduduknya banyak yang kafir. Dan berlaku seenaknya, semena-mena

wa likullin = dan bagi tiap-tiap orang; darojãtun = derajat; mimmã = dari apa yang…; ‘amilũ = mereka kerjakan; wa mã = dan tidaklah; robbuka = Rab kamu; bi ghōfilin = dengan lengah; ‘ammã = dari apa yang; ya’mãlũn = mereka kerjakan.

wa likullin darojãtum mimmã ‘amilũ, wa mã robbuka bi ghōfilin ‘ammã ya’mãlũn.

132. Dan Bagi tiap-tiap orang memperoleh derajat menurut apa yang mereka kerjakan, dan Rab kamu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah: “Derajat seseorang itu tergantung dari apa yang sudah mereka kerjakan.”

wa robbuka = dan Rab kamu; al ghoniyyu = Mahakaya; dzur rohmah = mempunyai rahmat; in yasyã’ = Jika Dia menghendaki; yudzhibkum = Dia akan melenyapkan kamu; wa yastakhlif = dan Dia menggantikan; mim ba’dikum = dari sesudah kamu; mã = apa, siapa; yasyã’u = Dia kehendaki; kamã = sebagaimana; ansyã-akum = Dia menjadikan kamu; min dzurriyyati = dari keturunan; qoumin = kaum, orang-orang; ‘ãkhorĩn = yang lain.

wa robbukal ghoniyyu dzur rohmah, in yasyã’yudzhibkum wa yastakhlif mim ba’dikum mã yasyã’u kamã ansyã-akum min dzurriyyati qoumin ‘ãkhorĩn.

133. Dan Rab kamu Mahakaya dan mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, Dia akan melenyapkan kamu dan menggantikan dengan kaum sesudah kamu, siapa yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, Dia Mahakuasa untuk melenyapkan suatu umat dan menggantikannya dengan umat yang lain, sekehendak-Nya.

inna = sesungguhnya; mã = apa; tũ’adũna = dijanjikan kepadamu; la-atin = pasti akan datang; wa mã antum = dan kamu tidak; bi mu’jizĩn = orang-orang yang menolak.

inna mã tũ’adũna la-atin wa mã antum bi mu’jizĩn.

134. Sesungguhnya, apa yang dijanjikan kepadamu, pasti akan datang, dan kamu sekali-kali tidak dapat menolaknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan: “Janji Allah pasti ditepati. Makhluk-Nya tidak dapat menolak, apa yang sudah ditetapkan.”

qul = katakanlah; yã qaumi’ = hai kaumku; i’ malũ = bekerjalah kamu; ‘alã = menurut; makãnatikum = kesanggupanmu; innĩ = sesungguhnya aku; ‘ãmilun = orang yang bekerja; fa saufa = maka kelak; ta’lamũna = kamu akan mengetahui; man = siapa; takũnu = adalah kamu; lahũ = baginya ‘ãqibatu = akibat, kesudahan, hasil; ad dãri = tempat kediaman; innahũ = sesungguhnya ia; lã yuflihu = tidak mendapatkan keuntungan; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim

qul yã qaumi’ malũ ‘alã makãnatikum innĩ ‘ãmilun, fa saufa ta’lamũna man takũnulahũ ‘ãqibatud dãri, innahũ lã yuflihuzh zhōlimũn.

135. Katakanlah, “Hai kaumku, bekerjalah kamu menurut kesanggupanmu, sesungguhnya, aku bekerja pula, kelak kamu akan mengetahui, siapa (di antara) kamu yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesunguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak mendapatkan keuntungan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan kepada kaumnya Nabi Muhammad saw. masing-masing harus bekerja. Allah mengingatkan siapa yang akan mendapatkan hasil yang baik, atau tidak mendapatkan keuntungan apa pun bagi orang yang lalim.

wa ja’alũ = dan mereka menjadikan, menyediakan; lillãhi = untuk Allah; mimmã = dari apa yang; dzaro-a = telah Dia ciptakan; mina = dari; al hartsi = ladang; wa al an’a’ami = dan dari binatang ternak; nashĩban = bagian; fa qōlũ = lalu mereka mengatakan; hãdzã = ini; lillãhi = untuk Allah; bi za’mihim = menurut anggapan mereka; wa hãdzã = dan ini; lisyurakã-inã = untuk sekutu, berhala kami; fa mã = maka apa; kãna = yang ada; li syurakã-ihim = untuk serikat mereka; fa lã yashilu = maka dia tidak sampai; ilallãh = kepada Allah; wa mã kãna = dan apa yang ada; lillãhi = untuk Allah; fa huwa = maka dia; yashilu = sampai; ilã syurokã-ihim = kepada serikat mereka; sã-a = amat buruk; mã yahkumũn = apa yang mereka tetapkan.

wa ja’alũ lillãhi mimmã dzaro-a minal hartsi wa al an’a’ami nashĩban fa qōlũ hãdzã lillãhi bi za’mihim wa hãdzã lisyurakã-inã, fa mã kãna li syurakã-ihim fa lã yashilu ilallãh, wa mã kãna lillãhi fa huwa yashilu ilã syurokã-ihim, sã-a mã yahkumũn.

136. Dan mereka memberikan sebagian dari hasil ladang dan binatang ternak untuk Allah, padahal Allahlah yang telah menciptakannya, lalu mereka mengatakan dengan pertimbangan mereka: “Ini untuk Allah, dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka apa yang diberikan kepada berhala-berhala mereka itu tidak sampai kepada Allah, dan apa yang diberikan kepada Allah sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah apa yang mereka tetapkan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ini untuk Allah” maksudnya hasil usaha yang disediakan untuk kepentingan fakir-miskin dan amal sosial lainnya, namun diberikan kepada penjaga-penjaga berhala. Allah mengingatkan, perbuatan musyrik itu sangat buruk, dan sangat dikutuk. Yang dimaksudkan berhala di sini, bukan yang berarti patung-patung sesembahan saja, tapi juga kehidupan dunia yang diagung-agungkan, dipuja-puja, dihormat-hormat, atau pada manusianya sendiri, atau sesuatu yang memberikan manfaat dalam hidupnya, atau dari para pemimpinnya, para penjaganya. Peribadatan mereka (menyantuni, memberikan sesuatu kepada fakir-miskin) tidak sampai kepada Allah, karena disampaikan melalui berhala, atau melalui para penjaga berhala. Oleh karena itu, dalam setiap pekerjaan, betapa pun sederhananya, bagi orang yang beriman kepada Allah, harus mengucapkan basmalah. Berarti orang harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu itu bukan dari hasil usahanya sendiri, melainkan dari Allah.

wa kadzãlika = dan demikianlah; zayyana = menjadikan, memamndang baik; li katsĩrin = bagi kebanyakan; minal musyrikĩna = dari orang-orang musyrik; qotla = membunuh; auladihim = anak-anak mereka; syurōkã-uhum = serikat mereka; liyurdũhum = untuk membinasakan mereka; wa liyalbisũ = dan untuk mengaburkan; ‘alaihim = atas mereka; dĩnahum = agama mereka; wa lau syã-allãhu = dan jika Allah menghendaki; mã fa’alũhu = mereka tidak mengerjakannya; fa dzarhum = maka tinggalkanlah mereka; wa mã yaftarũn = dan apa-apa yang mereka ada-adakan.

wa kadzãlika zayyana li katsĩrim minal musyrikĩna qotla auladihim syurōkã-uhum liyurdũhum wa liyalbisũ ‘alaihim dĩnahum, wa lau syã-allãhu mã fa’alũhu, fa dzarhum wa mã yaftarũn.

137. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka menjadikan kebanyakan orang-orang musyrik memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan terhadap agama mereka. Dan jika Allah menghendaki, tentu mereka tidak mengerjakannya, karena itu, tinggalkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian orang Arab adalah penganut syariat Ibrahim a.s. yang pernah diminta untuk mengurbankan anaknya, Ismail. Hal ini sampai kepada pemimpin-pemimpin agama yang memberikan peluang untuk pembunuhan anak-anak yang menyebabkan norma-norma agama menjadi tidak jelas. Artinya, mereka beralasan membunuh anak-anak mereka itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal sesungguhnya alasan mereka takut miskin dan takut ternoda. Jadi, tidak sesuai dengan kehendak Allah. Allah menghendaki hal yang demikian itu untuk menjadi contoh, dan lahan dakwah. Kalau tidak bisa didakwahi, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw., agar meninggalkan mereka yang selalu mengada-ada dalam ketentuan agama.

wa qōlũ = dan mereka mengatakan; hãdzihĩ = inilah; an’ãmun = binatang ternak; wa hartsun = dan tanaman; hijrun = larangan; lã yath’amuhã = tidak boleh memakannya; illã = kecuali; man = orang; nasyã-u = Aku kehendaki; bi za’mihim = menurut anggapan mereka; wa an’a’amun = dan binatang ternak; hurrimat = diharamkan; dhuhũruhã = punggungnya (=menungganginya); wa an’a’amun = dan binatang ternak; lã yadzkurũna = mereka tidak mengingat (=menyebut); asma = nama; allãhi = Allah; ‘alaiha = atas-nya; aftirō-an = mengada-adakan; ‘alaih = atas-Nya; sayajzĩhim = kelak (Allah) akan membalas mereka; bimã = dengan apa; kãnũ = mereka adalah; yaftarũn = mereka mengada-adakan.

wa qōlũ hãdzihĩ an’ãmun wa hartsun hijrul lã yath’amuhã illã man nasyã-u bi za’mihim wa an’a’amun hurrimat dhuhũruhã wa an’a’amul lã yadzkurũnasmallãhi ‘alaihaftirō-an ‘alaih, sayajzĩhim bimã kãnũ yaftarũn.

138. Dan mereka mengatakan, sesuai dengan anggapan mereka: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang memakannya kecuali orang yang Aku kehendaki”, dan ini binatang ternak yang diharamkan menungganginya, dan ada pula binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah pada waktu menyembelihnya; semua itu untuk mendustakan ada-Nya Allah. Kelak Allah akan memberikan balasan terhadap apa yang mereka ada-adakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang musyrik itu suka membuat aturan sendiri karena mereka tidak mau percaya ada-Nya Allah dengan sesungguhnya. Peraturan mereka itu hanya mengada-ada saja. Ternak yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah berarti ternak kurban itu untuk berhala.

wa qōlũ = dan mereka mengatakan; mã = apa; fĩ = yang di dalam; buthũni = perut; hãdzihi = ini; al an’a’ami = binatang ternak; khōlishotun = khusus; li dzukũrinã = untuk laki-laki kami; wa muharromun = dan yang diharamkan; ‘alã = atas; azwãjinã = istri-istri kami; wa in yakum = tetapi jika (yang di dalam perut itu) adalah; maitatan = mati; fa hum = maka mereka; fĩhi = padanya; syurokã-u = bersama-sama, bersekutu; sayajzĩhim = kelak (Allah) akan membalas mereka; washfahum = ketetapan mereka; innahũ = sesungguhnya; hakĩmun = Mahabijaksana; ‘alĩm = Maha Mengetahui;

wa qōlũ mã fĩ buthũni hãdzihil an’a’ami khōlishotul li dzukũrinã wa muharromun ‘alã azwãjinã wa in yakum maitatan fahum fĩhi syurokã-u, sayajzĩhim washfahum, innahũ hakĩmun ‘alĩm.

139. Dan mereka mengatakan, apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk para laki-laki kami, dan diharamkan atas istri-istri kami, tetapi jika yang di dalam perut itu (dilahirkan) mati, maka mereka (laki-laki dan perempuan) boleh memakannya bersama. Kelak Allah akan membalas ketetapan mereka. Sesungguhnya, Allah Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para pemimpin yang musyrik sering menentukan binatang-binatang ternak untuk pujaan yang hanya boleh dimakan oleh orang-orang tertentu saja.
“apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini” maksudnya binatang ternak yang tidak boleh ditunggangi, seperti Bahĩrah dan Sãibah (lihat Q.s. Al Mã-idah, 5:103).

qod = sesungguhnya; khasiro = rugilah; al ladzĩna = orang-orang yang; qotalũ = (mereka) membunuh; aulãdahum = anak-anak mereka; safahan = kebodohan; bighoiri = dengan tidak; ‘ilmin = pengetahuan; wa harromũ = dan mereka mengharamkan; mã rozaqohumullãh = apa yang telah Allah rezekikan kepada mereka; iftirō-an = mengada-adakan; ‘alãllãh = atas / terhadap Allah; qod = sesungguhnya; dhollũ = mereka sesat; wa mã kãnũ = maka tidaklah kamu; muhtadĩn = orang-orang yang medapat petunjuk.

qod khasirol ladzĩna qotalũ aulãdahum safaham bighoiri ‘ilmin wa harromũ mã rozaqohumullãhuftirō-an ‘alãllãh, qod dhollũ wa mã kãnũ muhtadĩn.

140. Sesungguhnya, rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan, dan tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah direzekikan Allah kepada mereka, karena mengada-adakan Allah. Sesungguhnya, mereka itu sesat, dan tidak mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, membunuh anak-anak dan mengharamkan apa yang telah direzekikan Allah kepada mereka itu perbuatan yang bodoh karena mereka tidak memiliki pengetahuan. Perbuatan mereka sesat karena tidak berdasarkan petunjuk Allah. Allah itu Maha Pemberi rezeki

wa huwal ladzĩ = dan Dialah yang; ansya-a = menumbuhkan; jannaatin = kebun-kebun; ma’rũsyãtin = yang subur; wa ghoiro = dan tidak; ma’rũsyãtin = subur; wan nakhla = dan pohon kurma; waz zar’a = dan tanaman-tanaman; mukhtalifan = bermacam-macam; ukuluhũ = rasanya; waz zaitũna = dan zaitun; war rummaana = dan delima; mutasyãbihan = yang serupa; wa ghoiro = dan tidak; mutasyãbihin = serupa; kulũ = makanlah; min tsamarihĩ = dari buahnya; idzã = apabila; atsmaro = berbuah; wa ãtũ = dan berikan; haqqohũ = haknya; yauma = pada hari; hashãdihĩ = memetiknya; wa lã = dan jangan; tusrifũ = kamu berlebihan; innahũ = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al musrifĩn = orang-orang yang berlebih-lebihan.

wa huwal ladzĩ ansya-a jannaatim ma’rũsyãtin wa ghoiro ma’rũsyãtin wan nakhla waz zar’a mukhtalifan ukuluhũ waz zaitũna war rummaana mutasyãbihan wa ghoiro mutasyãbihin, kulũ min tsamarihĩ idzã atsmaro wa ãtũ haqqohũ yauma hsshãdihĩ, wa lã tusrifũ, innahũ lã yuhibbul musrifĩn.

141. Dan Dialah yang menumbuhkan kebun-kebun yang subur dan yang tidak subur, dan pohon kurma, dan tanaman-tanaman yang bermacam-macam rasanya, dan zaitun dan delima, yang serupa dan yang tidak serupa. Makanlah buahnya apabila berbuah, dan berikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetiknya, dan janganlah kamu berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Contoh dari Allah tentang tanaman perkebunan buah-buahan. Di dunia ini perkebunan beraneka macam. Ada aturan pembagian hak zakat bagi orang-orang fakir-miskin ketika panen. Ada larangan untuk menikmati secara berlebihan. Bagi-bagilah secara baik kepada sesama makhluk Alllah.

wa minal an’ãmi = dan dari binatang ternak; hamũlatan = untuk pengangkut; wa farsã = dan untuk disembelih; kulũ = makanlah; mimmã = dari apa; rozaqumullãhu = Allah memberikan rezeki lepadamu; wa lã tattabi’ũ = dan jangan kamu mengikuti; khuthuwãti = langkah-langkah; asy syaithōn = setan; innahũ = sesungguhnya setan; lakum = bagi kamu; ‘aduwwum mubĩn = musuh yang nyata.

wa minal an’ãmi hamũlatan wa farsã, kulũ mimmã rozaqumullãhu wa lã tattabi’ũ khuthuwãtisy syaithōn, innahũ lakum ‘aduwwum mubĩn.

142. Dan di antara binatang ternak itu dijadikan (Allah) pengangkut dan untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Contoh dari Allah tentang beternak. Allah memberi ternak untuk diambil manfaat tenaganya atau dagingnya, atau bagian tubuh lainnya sebagai rezeki. Allah mengingatkan dalam beternak juga harus berhati-hati. Jangan mengikuti langkah-langkah setan. Setan itu musuh yang nyata bagi manusia, Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 112; al A’raf, 7 : 22, 36; Yũsuf, 12 : 5.

Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 168, 173 catatan tetang makanan yang haram dan yang halal; An Nisã’, 4 : 160 catatan tentang makanan yang haram bagi orang Yahudi; Al Mã-idah, 5 : 1 tentang larangan berburu pada saatmengerjakan haji; 3 tentang makanan yang haram saatmengerjakan haji.

tsamaaniyata = delapan (binatang); azwãjin = berpasangan; minadh dho’ni = dari domba; itsnaini = dua (pasangan); wa minal ma’zi = dan dari kambing; itsnaini = dua (pasangan); qul = katakanlah; ãdz dzakaroini = apakah dua yang jantan; harroma = (Allah) mengaramkan; ami = ataukah; al untsayaini = dua yang betina; ammasytamalat = atau yang terkandung; ‘alaihi = atasnya; arhãmu = rahim; al untsayaini = dua yang betina; nabbi-ũnĩ = terangkanlah kepadaku; bi ilmin = dengan pengetahuan; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

tsamaaniyata azwãjim minadh dho’nitsnaini wa minal ma’zitsnaini, qul ãdz dzakaroini harroma amil untsayaini ammasytamalat ‘alaihi arhãmul untsayaini, nabbi-ũnĩ bi ilmin in kuntum shōdiqĩn.

143. Delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba dan sepasang kambing. Katakanlah: “Apakah dua jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepadaku dengan (dasar) pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Contoh aneka macam ternak dengan aturannya. “Delapan binatang yang berpasangan” yaitu sepasang domba, sepasang kambing, sepasang unta, dan sepasang lembu. Sepasang artinya dua khewan yang sejenis yng berbeda kelaminnya, satu jantan, satu betina.

wa mina = dan dari; al ibili = unta; itsnaini = dua (sepasang); wa mina = dan dari; al baqori = sapi; itsnaini = dua (sepasang); qul = katakanlah; ãdz dzakaroini = apakah dua yang jantan; harroma = (Allah) mengharamkan; ami = ataukah; al untsãyaini = dua yang betina; ammãsytamalat = atau yang terkandung; ‘alaihi = di dalamnya; arhãmu = rahim; al untsayain = dua yang betina; am kuntum = atau kamu adalah; syuhadã-a = menjadi saksi; idz = ketika; wash shãkumullãhu = Allah menetapkan kepadamu; bi hãdzã = dengan ini; fa man = maka barang siapa; azhlamu = lebih lalim; mimmani = daripada orang-orang; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = dusta; liyudhilla = untuk menyesatkan; annãsa = manusia; bi ghoiri = dengan tidak; ‘ilmi = pengetahuan; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qouma = kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa minal ibilitsnaini wa minal baqoritsnaini, qul ãdz dzakaroini harroma amil untsãyaini ammãsytamalat ‘alaihi arhãmul untsayain, am kuntum syuhadã-a idz wash shãkumullãhu bi hãdzã, fa man azhlamu mimmaniftarō ‘alallãhi kadzibal liyudhillan nãsa bi ghoiri ‘ilmi, innallãha lã yahdĩl qoumazh zhōlimĩn.

144. Dan sepasang unta dan sepasang sapi. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah, ataukah dua yang betina, ataukah yang ada di dalam kandungan dua betinanya, atau apakah kamu menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini kepadamu? Maka, siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peraturan yang dibuat tanpa petunjuk dari Allah berarti petunjuk yang bohong, akan menyesatkan

qul = katakanlah; lã ajidu = aku tidak mendapati; fĩ mã = di dalam apa yang; ũhiya = diwahyukan; ilayya = kepadaku; muharraman = sesuatu yang diharamkan; ‘alã = atas; thō’imin = orang yang memakan; yath’amuhũ = memakannya; illã = kecuali; an yakũna = jika ia (makanan); maitatan = bangkai; au daman = atau darah; masfũhan = tertumpah (mengalir); au lahma = atau daging; khinzĩrin = babi; fa innahũ = maka sesungguhnya; rijsun = kotor; au fisqon = atau kejahatan; uhilla = disembelih; li ghoirillãhi = bagi selain Allah; bihĩ = dengannya; fa manni = maka barang siapa; idhthurro = terpaksa; ghoiro = tidak/bukan; bãghin = sengaja; wa lã = dan tidak; ‘ãdin = melampaui batas; fa inna = maka sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; ghofũr = Maha Pengampun; arrohĩm = Maha Penyayang.

qul lã ajidu fĩ mã ũhiya ilayya muharraman ‘alã thō’imin yath’amuhũ illã an yakũna maitatan au damam masfũhan au lahma khinzĩrin fa innahũ rijsun au fisqon uhilla li ghoirillãhi bihĩ, fa mannidhthurro ghoiro bãghin wa lã ‘ãdin fa inna robbaka ghofũrur rohĩm.

145. Katakanlah: “Tidaklah aku dapati pada apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang memakannya, kecuali jika makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, maka sesungguhnya, semua itu kotor, atau kejahatan binatang yang disembelih atas nama selain Allah, maka barang siapa yang terpaksa, dan dia tidak sengaja, dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya, Rab kamu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 173. Ada sedikit perbedaan redaksi.

wa ‘alal ladzĩna = dan atas orang-orang yang; hãdũ = (mereka) Yahudi; harromnã = Aku haramkan; kulla = segala; dzĩ zhufũrin = yang berkuku; wa mina = dan dari; al baqari = sapi; wal ghonami = dan kambing; harromnã = Aku haramkan; ‘alaihim = atas mereka; syuhũmahumã = lemak dari keduanya; illã = kecuali; mã = apa; hamalat = yang melekat; zhuhũruhumã = punggung keduanya; awil hawãyã = atau perut besar; au mãkhtalatho = atau apa yang tercampur; bi ‘azhmin = dengan tulang; dzãlika = demikianlah; jazainãhum = Aku beri balasan kepada mereka; bi baghyihim = karena kedurhakãn mereka; wa innã = dan sesungguhnya Kami; la shōdiqũn = sungguh yang benar.

wa ‘alal ladzĩna hãdũ harromnã kulla dzĩ zhufũrin, wa minal baqari wal ghonami harromnã ‘alaihim syuhũmahumã illã mã hamalat zhuhũruhumã awil hawãyã au mãkhtalatho bi ‘azhmin dzãlika jazainãhum bi baghyihim wa innã la shōdiqũn.

146. Dan atas orang-orang Yahudi, Aku haramkan segala binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing, Aku haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, kecuali lemak yang yang melekat di punggung keduanya, atau yang di perut besar atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah, Aku beri hukum mereka karena kedurhakãn mereka, dan sesungguhnya, Kamilah Yang Mahabenar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Halal dan haram itu aturan Allah. Perhatikanlah! Ada aturan haram khusus bagi orang Yahudi: “segala binatang yang berkuku” maksudnya binatang-binatang yang jari-jarinya tidak terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, seperti pada unta, itik angsa, dan lain-lain. Ahli tafsir lain mengartikan binatang-binatang yang berkuku satu, seperti kuda, keledai, dan lain-lain

fa in = maka, jika; kadzdzabũka = menganggap kamu bohong; fa qul = maka katakanlah; robbukum = Rab kamu; dzũ = mempunyai; rohmatin = rahmat; wãsi’atin = yang luas; wa lã yuroddu = dan tidak dapat ditolak; ba’suhũ = siksa-Nya; ‘anil qoumi = dari kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

fa in kadzdzabũka fa qur robbukum dzũ rohmatin wã si’atin wa lã yuroddu ba’suhũ ‘anil qoumil mujrimĩn.

147. Maka, jika mereka menganggap kamu bohong, maka katakanlah: “Rab kamu mempunyai rahmat yang luas, dan siksa-Nya tidak dapat ditolak oleh kaum yang berdosa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk cara menghadapi para pendosa, yaitu orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad. Hal ini menjadi peringatan juga bagi orang yang beriman.

sayaqũlu = nanti akan mengatakan; alladzĩna = orang-orang yang; asyrokũ = (mereka) mempersekutukan; lausyã’a = jika menghendaki; allãhu = Allah; mã asyroknã = Aku tidak mempersekutukan; wa lã = dan tidak; abã-ũnã = bapak-bapak kami; wa lã = dan tidak; harromnã = Aku mengharamkan; min syai-in = dari barang sesuatu; kadzãlika = demikianlah; kadzdzaba = telah mendustakan; al ladzĩna = orang-orang yang; min qoblihim = dari sebelum mereka; hattã = sehingga; dzãqũ = mereka merasakan; ba’sanã = siksaan Kami; qul = katakanlah; hal = apakah; ‘indakum = pada kamu (mempunyai); min ‘ilmin = (dari) ilmu; fa = lalu, maka; tukhrijũhu = kamu mengemukakannya; lanã = kepada kami; in tattabi’ũna = tidaklah kamu menginguti; illa = kecuali; azhzhonna = prasangka; wa in antum = dan tidak lain kamu; illã = hanya, kecuali; takhrushũn = kamu berdusta.

sayaqũlul ladzĩna asyrokũ lausyã-allãhu mã asyroknã wa lã abã-ũnã wa lã harromnã min syai-in, kadzãlika kadzdzabal ladzĩna min qoblihim hattã dzãqũ ba’sanã, qul hal ‘indakum min ‘ilmin fa tukhrijũhu lanã, in tattabi’ũna illazhzhonna wa in antum illã takhrushũn.

148. Orang-orang yang mempersekutukan (Allah) nanti akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, Aku dan bapak-bapak Aku tidaklah mempersekutukan (Allah) dan Aku tidak mengharamkan barang suatu apa pun”. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul) sehingga mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Apakah kamu mempunyai ilmu, lalu kamu dapat mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan dalih yang akan dikemukakan orang-orang musyrik dan orang-orang kafir atas apa yang dilakukannya. Itu semua hanya prasangka dan dusta mereka saja. Dalih itu hanya dari logika mereka sendiri, tidak berdasarkan wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasulullah, Muhammad saw..

qul = katakanlah; falillãhi = maka hanya dari Allah; al hujjatu = hujah, alasan; al bãlighoh = alasan yang jelas dan kuat; falau = maka, jika; syã-a = Dia menghendaki; lahadãkum = pasti Dia memberi petunjuk kepadamu; ajma’ĩn = semuanya;

qul falillãhil hujjatul bãlighoh, falausyã-a lahadãkum ajma’ĩn.

149. Katakanlah: “Maka hanya dari Allahlah hujah (alasan) yang jelas dan kuat. Maka, jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semua”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kembali kekuasaan-Nya dalam memberikan petunjuk yang benar kepada siapa yang dikehendaki. Manusia, makhluk-Nya harus mau berupaya untuk diberi petunjuk, dengan cara melakukan apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

qul = katakanlah; halumma = bawalah ke sini; syuhadã-akumu = saksi-saksi kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yasyhadũna = (mereka) mempersaksikan; annallãha = bahwa Allah; harroma = mengharamkan; hãdzã = ini; fa ‘in = maka jika; syahidũ = mereka mempersaksikan; falã = maka jangan; tasyhad = kamu menjadi saksi; ma’ahum = bersma mereka; wa lã = dan jangan; tattabi’ = kamu mengikuti; ahwã-a = hawa nafsu; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan); bi-ãyãtinã = pada ayat-ayat Kami; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; lã yu’minũna = (mereka) tidak beriman; bil ãkhiroti = pada hari akhirat; wa hum = dan mereka; bi robbihim = dengan Rab mereka; ya’dilũn = mereka mempersekutukan.

qul halumma syuhadã-akumul ladzĩna yasyhadũna annallãha harroma hãdzã, fa ‘in syahidũ falã tasyhad ma’ahum, wa lã tattabi’ ahwã-al ladzĩna kadzdzabũ bi-ãyãtinã wal ladzĩna lã yu’minũna bil ãkhiroti wa hum bi robbihim ya’dilũn.

150. Katakanlah: “Bawalah ke sini saksi-saksi kamu yang mempersaksikan bahwa Allah telah mengharamkan ini (makanan yang kamu haramkan)”. Maka, jika mereka mempersaksikan, janganlah kamu turut mempersaksikan bersama mereka, dan kamu jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rab mereka.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kesaksian yang diucapkan oleh orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, dan orang-orang mempersekutukan Allah jangan diikuti, karena tidak memakai dasar ayat-ayat Allah. Mereka hanya menggunakan logika (hawa nafsu) mereka sendiri.

Qul = katakanlah; ta’ãlau = marilah; atlu = aku bacakan; mã harroma = apa yang diharamkan; robbukum = Rab kamu; ‘alaikum = bagimu; allã = janganlah; tusyrikũ = kamu mempersekutukan; bihĩ = dengan-Nya; syai-an = sesuatu; wa bil wãlidaini = dan kepada kedua orang tua; ihsaana = berbuat baiklah; wa lã taqtulũ = dan kamu jangan membunuh; auladakum = anak-anakmu; min imlãqin = karena kemiskinan; nahnu = Kami; narzuqukum = Aku memberi rezeki kepadamu; wa iyyãhum = dan kepad mereka; wa lã = dan jangan; taqrobũ = kamu dekati; al fawãhisya = perbuatan keji; mã zhoharo = apa yang tampak; minhã = darinya; wa mã bathona = dan apa yang tersembunyi; wa lã = dan jangan; taqtulũ = kamu membunuh; an nafsa = jiwa; al latĩ = yang; harromallãhu = diharamkan Allah; illã = kecuali; bil haqqi = dengan kebenaran; dzalikum = demikian itu; wash shōkum = dan (Allah) mewasiatkan; bihĩ = dengannya; la’allakum = supaya kamu; ta’qilũn = kamu memahaminya.

Qul ta’ãlau atlu mã harroma robbukum ‘alaikum, allã tusyrikũ bihĩ syai-an, wa bil wãlidaini ihsaana, wa lã taqtulũ auladakum min imlãqin, nahnu narzuqukum wa iyyãhum, wa lã taqrobũl fawãhisya mã zhoharo minhã wa mã bathona, wa lã taqtulũn nafsal latĩ harromallãhu illã bil haqqi, dzalikum wash shōkum bihĩ la’allakum ta’qilũn.

151. Katakanlah: “Marilah Aku bacakan apa yang diharamkan Rabmu atas kamu, janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu; berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan kamu janganlah membunuh anak-anakmu (karena takut) kemiskinan. Aku akan memberi rejeki kepadamu dan kepada mereka, dan kamu jangan mendekati perbuatan-perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi darinya, dan kamu jangan membunuh jiwa (seseorang) yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak (keadilan). Demikian, Allah mewasiatkan kepadamu, supaya kamu memahaminya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta dibacakan pesan (wasiat) yang diharamkan kepada semua makhluk-Nya yang berakal, mampu memahami norma-norma hidup.

wa lã taqrobũ = dan jangan kamu dekati; mãla = harta; al yatĩmi = anak yatim; illã = kecuali; bil latĩ = dengan yang (cara); hiya = dia; ahsanu = sangat baik; hattã = sehingga; yablugho = dia balig; asyuddah = dewasa; wa aufu = dan penuhilah; al kaila = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; bil qisthi = dengan adil; lã nukallifu = Aku tidak membebani; nafsan = seseorang; illã = kecuali; wus’ahã = kesanggupannya; wa idzã = dan apabila; qultum = kamu berkata; fa’dilũ = maka berlaku adillah kamu; wa lau = walau; kãna = (Dia) adalah; dzã qurbã = kerabat; wa bi ‘ahdillãhi = dan dengan janji dari Allah; aufũ = penuhilah; dzalikum = demikianlah; wash shōkum = (Allah) mewasiatkab kepadamu; bihĩ = dengannya; la’allakum = agar kamu; tadzakkarũn = kamu ingat.

wa lã taqrobũ mã lal yatĩmi illã bil latĩ hiya ahsanu hattã yablugho asyuddah, wa auful kaila wal mĩzãna bil qisthi, lã nukallifu nafsan illã wus’ahã, wa idzã qultum fa’dilũ wa lau kãna dzã qurbã, wa bi ‘ahdillãhi aufũ dzalikum wash shōkum bihĩ la’allakum tadzakkarũn.

152. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang sangat baik, sampai dia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Aku tidak membebankan kepada seseorang, kecuali yang sesuai dengan kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, hendaknya kamu berlaku adil, walaupun ia kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Demikianlah, Allah mewasiatkan kepadamu, agar kamu ingat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan aturan memelihara harta anak yatim, dan memerintahkan memelihara takaran dan timbangan walaupun dengan kerabat dekat, saudara. Ingat janji dengan Allah. Manusia harus percaya ada-Nya Allah, dan adanya hari pembalasan

wa anna = dan sesungguhnya; hãdzã = ini; shirōthĩ = jalan; mustaqĩman = lurus; fattabi’ũhu = maka ikutilah; wa lã = dan jangan; tattabi’ũ = mengikuti; as subula = jalan-jalan; fatafarroka = mencerai-berikan; bi kum = dengan kamu; ‘an sabĩlihi = dari jalan-Nya; dzalikum = demikian; wash shokum = (Allah) mewasiatkan kepadamu; bihi = dengannya; la ‘allakum = agar kamu; tattaqũn = kamu bertakwa.

wa anna hãdzã shirōthĩ mustaqĩman fattabi’ũhu, wa lã tattabi’ũs subula fatafarroka bi kum ‘an sabĩlihi, dzalikum wash shokum bihi, la ‘allakum tattaqũn.

153. Dan sesungguhnya, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, kamu jangan mengikuti jalan yang lain, karena jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah, Allah mewasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “jalan-Ku yang lurus” adalah apa yang ditetapkan dalam ayat 152 di atas dan berbagai petunjuk-Nya yang ada di dalam berbagai Kitab Suci yang diwahyukan Allah kepada para Nabi, dan yang terakhir kepada Nabi Muhammad saw..

tsumma = kemudian; ãtainã = telah Aku berikan; mũsã = Musa; al kitãba = Alkitab; tamãman = menyempurnakan; ‘alã = kepada; al ladzĩ = orang-orang yang; ahsana = berbuat kebaikan; wa tafshĩlan = dan penjelasan; likulli = bagi segala; syai-in = sesuatu; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; la’allahum = agar mereka; biliqōoi = dengan perjumpãn; robbihim = Rab mereka; yu’minũn = mereka beriman.

tsumma ãtainã mũsãl kitãba tamãman ‘alãl ladzĩ ahsana wa tafshĩlal likulli syai-in wa hudan wa rohmatal la’allahum biliqōoi robbihim yu’minũn.

154. Kemudian telah Aku berikan Alkitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman kepada saatperjumpãn dengan Rab mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Taurat diturunkan Allah kepada Musa untuk menyempurnakan nikmat yang dikaruniakan kepada orang-orang yang berbuat baik. Umat Nabi Muhammad saw. pun akan diberi kenikmatan yang sempurna, jika berbuat baik. Allah pun terus-menerus memberikan berbagai penjelasan, petunjuk, dan rahmat kepada makhluk-Nya agar beriman kepada saatkiamat, dan saatberjumpa dengan-Nya.

wa hãdzã = dan inilah; kitãbun = Kitab (Alquran); anjalnãhu = Aku turunkan; mubãrokun = diberi berkah; fat tabi’ũhu = makla ikutilah dia; wat taqũ = dan bertakwalah; la’allakum = agar kamu; turhamũn = kamu diberi rahmat.

wa hãdzã kitãbun anjalnãhu mubãrokun fat tabi’ũhu wat taqũ la’allakum turhamũn.

155. Dan inilah Kitab (Alquran) yang Aku turunkan, dan diberi berkah. Maka, ikutilah dia, dan bertakwalah, agar kamu diberi rahmat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menganjurkan kepada manusia agar takwa, mengikuti petunjuk Alquran agar diberi rahmat.

an taqũlũ = supaya kamu (tidak) mengatakan; innamã = sesungguhnya hanya; unzila = diturunkan; al kitãbu = Alkitab; ‘alã thō-ifataini = atas dua golongan; min qoblinã = dari sebelum kami; wa in kunnã = dan sesungguhnya kami; ‘an dirōsatihim = dari bacaan mereka; la ghōfilĩn = sungguh orang yang lalai.

an taqũlũ innamã unzilal kitãbu ‘alã thō-ifataini min qoblinã wa in kunnã ‘an dirōsatihim la ghōfilĩn.

156. Supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami, dan sesungguhnya Aku lalai memperhatikan bacaan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar tidak mendustakan Alquran, Taurat, maupun Kitab-kitab lainnya yang diturunkan Allah kepada para Nabi.

au taqũlũ = atau supaya kamu mengatakan; lau = kalau, jika; annã = sesungguhnya kami; unzila = diturunkan; ‘alainã = atas kami; al kitãbu = Kitab; lakunnã = sungguh Aku adalah; ahdã = lebih medapat petunjuk; min hum = dari mereka; fa qod = maka sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; bayyinatun = keterangan yang nyata; mir robbikum = dari Rab kamu wa hudan = dan petunjuk; wa rahmah = dan rahmat; fa man = maka, siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimman = dari pada orang; kadz dzaba = mendustakan; bi ãyãtil lãhi = dengan ayat-ayat Allah; wa shodafa = dan dia berpaling; ‘anhã = darinya; sanajzĩ = kelak Aku akan memberi balasan; al ladzĩna = orang-orang yang; yashdifũna = mereka berpaling; ‘an ãyãtinã = dari ayat=ayat Kami; sũ-a = berat; al ‘adzãbi = azab, siksa; bimã = dengan apa, karena; kãnũ = mereka adalah; yashdifũn = mereka berpaling.

au taqũlũ lau annã unzila ‘alainãl kitãbu lakunnã ahdã min hum, fa qod jã-akum bayyinatum mir robbikum wa hudan wa rahmah, fa man azhlamu mimman kadz dzaba bi ãyãtil lãhi wa shodafa ‘anhã, sanajzĩl ladzĩna yashdifũna ‘an ãyãtinã sũ-al ‘adzãbi bimã kãnũ yashdifũn.

157. Atau supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya, jika Kitab itu diturunkan kepada kami, tentu Aku lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Maka sesungguhnya telah datang kepadamu keterangan yang nyata dari Rab kamu, petunjuk dan rahmat, maka siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak, Aku akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Aku dengan siksaan yang berat, karena mereka selalu berpaling.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, petunjuk kepada siapa pun, sama saja, membawa rahmat. Orang-orang yang mendustakan petunjuk Allah dan berpaling dari ayat-ayat-Nya adalah lalim. Allah akan menyiksa berat bagi mereka yang berpaling dari Alquran.

hal = tidaklah; yanzhurũna = mereka menanti-nanti; illã = kecuali, selain; an ta’tiyahumu = dating kepada mereka; al malãikatu = Malaikat; au ya’tiya = atau datang; robbuka = Rab kamu; au ya’tiya = atau datang; ba’dhu = sebagian; ãyãti = ayat-ayat; robbik = Rab kamu; yauma = pada hari; ya’tĩ = dating; ba’dhu = sebagian; ãyãti = ayat-ayat; robbika = Rab kamu; lã yanfa’u = tidak bermanfaat; nafsan = diri sendiri; ĩmaanuhã = iman seseorang; lam takun = tidak, belum ada; ãmanat = ia beriman; min qoblu = dari sebelumnya; au kasabat = atau ia mengusahakan; fĩ ĩmaanihã = dalam imannya; khoiron = kebaikan; quli = katakanlah; intazhirũ = tunggulan olehmu; innã = sesungguhnya kami; muntazhirũn = orang-orang yang menunggu.

hal yanzhurũna illã an ta’tiyahumul malãikatu au ya’tiya robbuka au ya’tiya ba’dhu ãyãti robbik, yauma ya’tĩ ba’dhu ãyãti robbika lã yanfa’u nafsan ĩmaanuhã lam takun ãmanat min qoblu au kasabat fĩ ĩmaanihã khoiron, qulin tazhirũ innã muntazhirũn.

158. Mereka tidak menanti-nanti selain datangnya Malaikat untuk mencabut nyawa mereka, atau datangnya (siksa) Rab kamu, atau datangnya sebagian ayat-ayat Rab kamu. Pada hari datangnya sebagian ayat-ayat Rab kamu itu, tidaklah bermanfaat iman seseorang untuk dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan ketika telah beriman. Katakanlah: “Tunggulah olehmu, sesungguhnya, Aku pun orang-orang yang menunggu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan orang-orang yang tidak percaya pada ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.. Mereka menanti-nanti datangnya ayat-ayat Allah, sampai datangnya Malaikat Maut, mereka masih belum beriman. Kalau pun sudah beriman mereka tidak sempat untuk berbuat kebaikan berdasarkan ayat-ayat Allah yang benar.

Innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang …; farroqũ = (mereka) memecah-belah; dĩnahum = agama mereka; wa kãnũ = dan mereka adalah; syiya’an = bergolong-golongan; lasta = kamu tidak; minhum = di antara mereka; fĩ syãi’in = dalam sesuatu (sedikit pun); innamã = sesungguhnya, hanyalah; amruhum = urusan mereka; ilallãhi = hanya Allah; tsumma = kemudian; yunabbi-uhum = Dia akan menerangkan kepada mereka; bimã = dengan apa; kãnũ = mereka adalah; yaf’alũn = telah mereka perbuat.

Innalladzĩna farroqũ dĩnahum wa kãnũ syiya’al lasta minhum fĩ syãi’i, innamã amruhum ilallãhi tsumma yunabbi-uhum bimã kãnũ yaf’alũn.

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka menjadi bergolong-golongan, kamu tidak termasuk di antara mereka sedikitpun. Sesungguhnya, urusan mereka itu, terserah kepada Allah, kemudian Dia akan menerangkan kepada mereka, apa yang telah mereka perbuat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang orang-orang yang akan memecah-belah agama menjadi golongan-golongan. Nabi Muhammad saw. tidak termasuk ke dalam orang yang memecah-belah agama. Orang yang memecah-belah agama dimasukkan Allah ke dalam orang-orang yang tidak mempercayai Alquran, kafir.

man = barang siapa; jã-a = datang; bil hasanati = dengan kebaikan; falahũ = maka baginya; ‘asyru = sepuluh; amtsãlihã = kelipatan amalnya; wa man = dan barang siapa; jã-a = datang; bis sayyi-ati = dengan kejahatan; fa lã = maka tidak; yujzã = diberi balasan; illã = kecuali; mitslahã = seimbang dengannya; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = tidak dianiaya.

man jã-a bil hasanati falahũ ‘asyru amtsãlihã wa man jã-a bis sayyi-ati fa lã yujzã illã mitslahã wa hum lã yuzhlamũn.

160. Barang siapa yang datang dengan membawa amal kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat pahala amalnya, dan barang siapa yang datang dengan membawa amal kejahatan, maka dia hanya diberi balasan seimbang dengan kejahatannya, dan mereka tidak dianiaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membalas kebaikan sepuluh kali lipat, sedang kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatan yang dilakukannya. Tidak ada sesosok makhluk pun yang teraniaya pada hari pembalasan.

qul = katakanlah; innanĩ = sesungguhnya aku; hãdaanĩ = telah memimpin aku; robbĩ = Rabku; ilã shirōthin = hanya pada jalan; mustaqĩmin = yang lurus; dĩnan = agama; qiyaman = benar, lurus; millata = agama; ibrōhĩma = ibrahim; hanĩfan = yang lurus; wa mã = dan tidaklah; kãna = dia adalah; mina = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul innanĩ hãdaanĩ robbĩ ilã shirōthim mustaqĩmin dĩnan qiyamam millata ibrōhĩma hanĩfan, wa mã kãna minal musyrikĩn.

161. Katakanlah: “Sesungguhnya Rabku telah memimpin aku pada jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukan orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw.menyatakan kebenaran kenabiannya yang mengikuti Nabi Ibrahim.

qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; sholãtĩ = salatku; wa nusukĩ = ibadahku; wa mahyãya = dan hidupku; wa mamãtĩ = dan matiku; lillãhi = hanya untuk Allah; robbi = Penguasa; al ’alamĩn = alam semesta.

qul inna sholãtĩ wa nusukĩ wa mahyãya wa mamãtĩ lillãhi robbil ‘a’alamĩn.

162. Katakanlah: “Sesungguhnya, salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Penguasa seluruh alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan seluruh pengikutnya mengatakan seperti yang dinyatakan di dalam ayat ini untuk menjadi pegangan hidup menuju akhirat.

lã syarĩkalah = tidak ada sekutu baginya; wa bi dzãlika = dan demikian itulah; umirtu = aku diperintah Allah; wa ana = dan aku; awwalu = sejak awal; al muslimĩn = orang yang berserah diri.

lã syarĩkalah, wa bi dzãlika umirtu wa ana awwalul muslimĩn.

163. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah aku diperintah Allah, dan aku sejak awal masuk menjadi orang yang berserah diri kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan yang diarahkan Allah ini harus menjadi pegangan hidup orang yang mengaku beragama Islam.

qul = katakanlah; aghoirollãhi = apakah selain Allah; abghĩ = aku mencari; robban = Penguasa; wa huwa = padahal Dia; robbukulli syai-i = Penguasa segala sesuatu; wa lã taksibu = dan tidak mengerjakan; kullu = tiap-tiap; nafsin = jiwa seseorang; illã = kecuali, melainkan; ‘alaihã = atasnya; wa lã taziru = dan tidak memikul dosa, beban; wãzirotun = orang yang berdosa; wizro = dosa, beban; ukhrō = orang lain; tsumma = kemudian; ilã = hanya kepada; robbikum = Rab kamu; marji’ukum = tempat kembali kamu; fayunabbi-ukum = maka Dia akan menerangkan kepadamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; fĩhi = di dalamnya; takhtalifũn = kamu perselisihkan.

qul aghoirollãhi abghĩ robban wa huwa robbukulli syai-i, wa lã taksibu kullu nafsin illã ‘alaihã, wa lã taziru wãzirotun wazro ukhrō, tsumma ilã robbikum marji’ukum fayunabbi-ukum bimã kuntum fĩhi takhtalifũn.

164. Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Penguasa selain AllahɁ, padahal Dia itu Penguasa segala sesuatu, dan tidaklah seseorang berbuat dosa, melainkan mengena pada dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain, kemudian, hanya kepada Rab kamulah tempatmu kembali, maka Dia akan menjelaskan kepadamu tentang apa yang kamu perselisihkan”.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengucapkan apa yang dinyatakan dalam ayat ini, untuk menjadi pegangan hidup, hanya kepada Allah lah semua makhluk-Nya bergantung dan akan kembali. Lihat juga Q.s. Al Ikhlas, 112 : 2

wa huwa = dan Dia; al ladzĩ = yang; ja’alakum = menjadikan kamu; kholã-ifa = penguas-penguasa; al ardhĩ = di bumi; wa rofa’a = dan Dia meninggikan; ba’dhokum = sebagian kamu; fauqo = di atas; ba’dhin = sebagian lainnya; darojãtin = beberapa derajat; liyabluwakum = karena Dia hendak menguji kamu; fĩ mã = tentang apa; ãtãkum = telah dia berikan kepadamu; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; sarĩ’u = sangat cepat; al ‘iqōbi = siksa; wa innahũ = dan sesungguhnya Dia; la ghofũru = sungguh Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

wa huwal ladzĩ ja’alakum kholã-ifal ardhĩ wa rofa’a ba’dhokum fauqo ba’dhin darojãtil liyabluwakum fĩ mã ãtãkum, inna robbaka sarĩ’ul ‘iqōbi, wa innahũ la ghofũrur rohĩm.

165. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu di atas sebagian lainnya beberapa derajat, karena Dia hendak mengujimu atas apa yang Dia berikan kepadamu, sesungguhnya Rab kamu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keyakinan yang ditanamkan Allah harus dihayati dan diikuti arahan-Nya, harus diperhatikan peringatan-Nya, harus disimak pemberitahuan-Nya.