Home » 2019 » October (Page 3)

Monthly Archives: October 2019

005 Al Maidah

‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Al Maidah, Madaniyyah
(Hidangan)
Surat ke-5 120 ayat
Juz 6 beralih ke Juz 7 pada ayat 83

Catatan awal
Meskipun ada ayat yang diturunkan di Mekah, namun diturunkannya setelah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah, yaitu pada waktu Haji Wadã’. Surat ini disebut juga surat al Uqud (perjanjian), dan al Munqidz (yang menyelamatkan). Sesuai dengan kata-kata yang terdapat di dalamnya. Kata al Uqud terdapat pada ayat pertama, dan al Munqidz terdapat pada akhir surat yang menceritakan kisah Nabi Isa a.s., penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah. Isinya:
1. Allah tidak memperkenankan adanya kepercayaan trinitas, yaitu Allah Bapa, Allah Ruhul Kudus, dan Allah Anak. Keimanan: Mempertuhan Nabi Isa a.s. itu tidak benar;
2. Ada Hukum-hukum Perjanjian, Hukum melanggar syi’ar Allah, Hukum makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan, Hukum mengawini wanita Ahli Kitab, Hukum wudhu, tayamum, mandi; Hukum membunuh orang, Hukum mengacau dan mengganggu ketertiban, dan keamanan, Hukum Qishãs, Hukum melanggar perjanjian dan kafaratnya, Hukum khamar, berjudi, mengundi nasib, berkorban untuk berhala, Hukum membunuh binatang waktu ihram, Hukum persaksian dalam berwasiat.
3. Ada kisah-kisah Nabi Musa a.s. saat menyuruh umatnya masuk Palestina;, Kisah Habil dan Kabil, Kisah Nabi Isa a.s..
4. Ada ketentuan pergaulan sesama muslim yang harus baik, lemah-lembut, dan dengan orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad harus tegas, keras; Islam disempurnakan pada zaman Nabi Muhammad. Beliau penyempurna agama dan Alkitab; Ada keharusan bagi semua manusia untuk jujur, adil, menepati dan/atau memenuhi janji; sikap orang yang beriman dalam menghadapi berita-berita bohong; akibat berteman dengan orang yang bukan muslim; kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi; kewajiban Rasul hanya menyampaikan kebenaran agama (Dienullah); sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada orang-orang Islam, Ka’bah itu lambang kemuliaan manusia, pusat perkembangan Islam; Allah memperingatkan agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jahiliah, larangan bertanya yang mengakibatkan pandangan beragama sempit.

Al Mã-idah
(Hidangan)
‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Pemurah, dan Maha Penyayang.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; awfũ = penuhilah olehmu; bi = dengan; al ‘uqũdi = janji-janji; uhillat = dihalalkan; lakum = bagi kamu; bahĩmatu = binatang; al an’ãmi = ternak; illã = kecuali; mã = apa-apa; yutlã = yang dibacakan; ‘alaykum = kepada kamu; ghoyro = bukan / tidak; muhilli = menghalalkan; ash shaydi = berburu; wa antum = dan kamu; hurumun = ihram (mengerjakan haji); innallãha = sesungguhnya Allah; yahkumu = Dia menetapkan hukum; mã = apa-apa; yurĩd = yang Dia kehendaki.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ awfũ bil ‘uqũdi, uhillat lakum bahĩmatul an’ãmi illã mã yutlã ‘alaykum ghoyro muhillish shaydi wa antum hurumun innallãha yahkumu mã yurĩd.

1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah olehmu aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. Allah tidak menghalalkan berburu, saat kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya, Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini, Allah menyapa dengan sebutan orang yang beriman. Jadi sifat-nya lebih khusus, berbeda dengan sapaan pada Surat an Nisã’ yang menyapa dengan sapaan: “Hai sekalian manusia”, walaupun selanjutnya Allah menyapanya dengan sapaan kepada orang-orang yang beriman.
“aqad” artinya perjanjian, mencakup janji setia manusia, sebagai hamba Allah kepada Rabnya dan dengan manusia lain dalam pergaulan sosial, seperti yang dikemukakan dalam ayat-ayat sebelumnya, serta dengan alam semesta pada umumnya, dan lingkungan hidup pada khususnya yang harus dijaga, dipelihara kelestariannya.
Binatang yang dihalalkan dan yang tidak dihalalkan, di samping yang sudah ditetapkan di dalam Alquran, berupa binatang ternak, ada ketetapan lain, yang dijelaskan di dalam berbagai hadist dan sunah Nabi.
Kehendak Allah menetapkan hukum-hukumnya adalah agar alam semesta ini lestari, selalu ada keseimbangan, ada keharmonisan hubungan makhluk dengan Khaliknya, makhluk dengan makhluk yang lain, yaitu manusia yang lain, selain dirinya, dan alam semesta, lebih khusus lagi lingkungan hidupnya, mulai lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat yang beraneka macam, sampai lingkungan dunia yang lebih luas. Makhluk-Nya harus mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; amanũ = beriman; lã = jangan; tuhillũ = kamu melanggar; sya’ã-iri = syi’ar-syi’ar; allãhi = Allah; wa lã = dan jangan; syahro = bulan-bulan; al harōma = suci; wa lã = dan jangan; al had-ya = binatang hadiah (qurban); wa lã = dan jangan; al qalã-ĩda = binatang yang diberi kalung untuk kurban; wa lã = dan jangan; ãmmĩna = orang-orang yang mengunjungi; al baital harōma = ke Baitullah; yabtaghũna = mereka bermaksud mencari; fadhlan = karunia; min = dari; rabbihim = Rab mereka; wa ridhwãnan = dan kerelaan; wa idzã = dan apabila; halaltum = kamu telah menyelesaikan ibadah haji; fash-thōdũ = maka berburulah kamu; wa lã = dan jangan; yajrimannakum = membuat kamu berdosa; syana-ãnu = kebencian; qaumin = suatu kaum; an shaddũkum = mereka menghalangi kamu; ‘anil masjidi = dari masjid; al harōmi = haram (suci); an ta’tadũ = kamu melapaui batas (menganiaya diri); wa ta’ãwanũ = dan tolong menolonglah kamu; ‘alal birri = dalam atau atas kebaikan; wat taqwã = dan taqwa; wa lã ta’ãwanũ = dan jangan kamu bertolong-tolongan; ‘alal itsmi = dalam berbuat dosa; wal ‘udwãni = dan permusuhan; wat taqullãha = dan bertakwalah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōbi = siksa

yã ayyuhal ladzĩna amanũ lã tuhillũ sya’ã-irillãhi wa lã syahrol harōma wa lal had-ya wa lal qalã-ĩda wa lã ãmmĩnal baital harōma yabtaghũna fadhlam mir rabbihim wa ridhwãnan, wa idzã halaltum fash-thōdũ wa lã yajriminnakum syana-ãnu qaumin an shaddũkum ‘anil masjidil harōmi an ta’tadũ wa ta’ãwanũ ‘alal birri wat taqwã wa lã ta’ãwanũ ‘alã al itsmi wal ‘udwãni, wat taqullãha innallãha syadĩdul ‘iqōbi.

2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan mengganggu binatang had-ya, dan binatang-binatang kala’id, dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah, ketika mereka mencari karunia dan kerelaan dari Rabnya, dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan kamu jangan pernah benci kepada suatu kaum, karena mereka menghalangimu menuju Masjidil Haram, medorongmu berbuat aniaya kepada mereka. Dan bertolong-tolonganlah dalam pekerjaan yang baik, atas dasar takwa, dan jangan bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesugguhnya Allah Maha berat siksanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “syiar-syiar Allah” artinya segala amal-perbuatan yang dilakukan dalam rangka ibadah haji dan di tempat-tempat mengerjakannya, misalnya berkunjung ke maqam Rasulullah dan para sahabatnya, berdo’a, salat di maqam Ibrahim, mengerjakan sya’i, tawaf, dan lain-lain.
“bulan-bulan haram” lihat catatan pada Surat Baqarah ayat 194. Di sini berarti pada bulan-bulan itu dilarang melakukan peperangan.
“binatang had-ya” kata hadiah dalam bahasa Indonesia berasal dari kata ini. Di sini berarti binatang unta, kambing, biri-biri, lembu yang dibawa ke Ka’bah untuk kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, disembelih di Tanah Haram dan dagingnya diberikan kepada fakir-miskin dalam rangka ibadah haji.
“binatang-binatang kala’id,” binatang had-ya yang di lehernya diberi kalung sebagai ciri, bahwa binatang itu untuk kurban di Ka’bah.
“mereka mencari karunia” artinya keuntungan yang didapat dari Allah hasil perdagangan, menjadi orang upahan, dan lain-lain.
“mencari karunia dan keridoan dari Rabnya” artinya pahala dari Allah karena ibadah haji.
Allah mengingatkan, perbuatan dosa itu akan dibalas dengan siksaan yang berat. Untuk menghindarinya, harus memohon ampun sebanyak-banyaknya atas kelemahan hidupnya.

hurrimat = diharamkan; ‘alaykumu = bagimu; al maytatu = bangkai; wad damu = dan darah; wa lahmu = dan daging; al khinzĩri = babi; wa mã = dan apa (binatang); uhilla = disembelih; lighoirillahi = dengan tidak (menyebut nama) Allah; bihĩ = dengannya; wal munkhaniqotu = dan yang tercekik; wal mauqũdzatu = dan yang dipukul; wal mutaroddiyatu = dan yang jatuh; wan nathĩhatu = dan binatang yang ditanduk; wa mã = dan apa (binatang); akala = menerkam; as sabu’u = binatang buas; illã = kecuali; mã dzakkaitum = kamu menyembelihnya; wa mã = dan apa (binatang); dzubiha = disembelih; ‘alan nushubi = untuk berhala; wa antastaqsimũ = dan kamu mengundi nasib; bil azlami = dengan anak panah; dzãlikum = demikian itu; fisqun = fasik; al yawma = pada hari ini; ya-isa = putus asa; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min dĩnikum = dari agamamu; fa lã = maka janganlah; takhsyauhum = kamu takut kepada mereka; wakhsyauni = dan takutlah kepada-Ku; al yawma = pada hari ini; akmaltu = Aku sempurnakan; lakum = bagi kamu; dĩnakum = agama kamu; wa atmamtu = dan Aku cukupkan; ‘alaykum = bagi kamu; ni’matĩ = nikmat-Ku; wa rodhĩtu = dan Aku telah merelakan; lakumu = bagi kamu; al islãma = Islam; dĩnan = ad dĩn (agama); fa manni = maka barang siapa; idhthurro = terpaksa; fĩ makhmashatin = dalam kelaparan; ghoyro = bukan (tanpa); mutajanifin = disengaja; li-ismin = untuk berbuat dosa; fainnallãha = maka sesungguhnya Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.

hurrimat ‘alaykumul maytatu wad damu wa lahmul khinzĩri wa mã uhilla lighoirillahi bihĩ wal munkhaniqotu wal mauqũdzatu wal mutaroddiyatu wan nathĩhatu wa mã akalas sabu’u illã mã dzakkaitum wa mã dzubiha ‘alan nushubi wa an tastaqsimũ bil azlami, dzãlikum fisqu, al yawma ya-isal ladzĩna kafarũ min dĩnikum fa lã takhsyauhum, wakhsyauni al yawma akmaltu lakum dĩnakum wa atmamtu ‘alaykum ni’matĩ wa rodhĩtu lakumul islãma dĩnan fa mannidhthurro fĩ makhmashatin ghoyro mutajanifilli-ismi, fainnallãha ghofũrur rohĩmu.

3. Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu kefasikan. Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusepurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridoi Islam itu sebagai agamamu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan, tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “darah” artinya darah yang keluar dari tubuh, seperti yang tersurat dalam al An Ãm ayat 145.
Binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kalau sempat disembelih sebelum mati, halal dimakan.
“mengundi nasib dengan anak panah” ini kebiasaan orang Arab Jahiliyah yang menggunakan 3 buah anak panah yang belum diberi bulu untuk menentukan suatu pekerjaan, apakah akan dilakukan atau tidak, dengan cara mereka menulisi satu anak panah, dengan tulisan “tidak dikerjakan”, satu diberi tulisan “kerjakan”, dan yang satu lagi tidak diberi tulisan apa-apa. Panah-panah itu ditempatkan di suatu ruangan dalam Ka’bah. Bila mereka ingin menetapkan apakah suatu pekerjaan itu harus dilakukan atau tidak, mereka meminta Juru Kunci Ka’bah mengambilkan anak panah itu. Kalau yang terambil oleh Juru Kunci itu anak panah yang tidak bertulisan, maka pengundian itu harus diulangi.
“barang siapa terpaksa” maksudnya dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam ayat ini, kalau terpaksa.

yas-alũnaka = mereka akan menanyakan kepadamu; mãdzã = apa-apa yang; uhilla = dihalalkan; lahum = bagi mereka; qul = katakanlah; uhilla = dihalalkan; lakumu = bagi kamu; ath thoyyibbatu = yang baik-baik; wa mã = dan apa; ‘alamtum = yang kamu ajarkan; mina = dari; al jawãrihĩ = binatang buas; mukkallabĩna = dengan melatih untuk berburu; tu’allimũnahunna = kamu mengajarkan; mimmã = dari apa; ‘allamakumullãhu = Allah mengajarkan kepadamu; fã kulũ = maka makanlah; mimmã = dari apa; amsakna = ia tangkap; ‘alaykum = untukmu; wa = dan; adzkurũ = sebutlah; asmallãhi = nama Allah; alaih = baginya; wattaqũ = dan bertakwalah; allãha = kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; sarĩu = amat cepat; al hisãb = perhitungan

yas-alũnaka mãdzã uhilla lahum, qul uhilla lakumuth thoyyibbatu, wa mã ‘alamtum minal jawãrihĩ mukkallabĩna tu’allimũnahunna mimmã ‘allamakumullãhu, fã kulũ mimmã amsakna ‘alaykum wadzkurusmallãhi alaih, wattaqullãha, innallãha sarĩul hisãb.

4.Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik, dan buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut yang diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari binatang yang ditangkapnya untukmu. Dan sebutlah nama Allah waktu melepas binatang itu. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “yang diajarkan Allah kepadamu” binatang buas itu dilatih berburu sesuai dengan kodratnya untuk kepentingan manusia. Manusia diberi kelebihan menggunakan akal dan pikiran untuk dapat mempengaruhi binatang buas itu.
“makanlah dari binatang yang ditangkapnya untukmu” binatang buas yang sudah dilatih itu tidak memakan sedikit pun bagian dari binatang buruannya itu, dan hanya diberikan untukmu.
“sebutlah nama Allah waktu melepas binatang itu” maksudnya agar saat binatang buas menangkap binatang buruan itu berarti sudah disebut nama Allah. Manusia mewakili binatang itu dalam menyebutkan nama Allah, saat melakukan pekerjaan menangkap binatang buruan.

al yawma = pada hari ini; uhilla = dihalalkan; lakumu = bagi kamu; ath thoyyibãtu = yang baik-baik; watho’ãmu = dan makanan; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtu = (mereka) diberi; al kitãba = Kitab; hillun = halal; lakum = bagi kamu; watho’ãmukum = dan makanan kamu; hillun = halal; lahum = bagi kamu; watho’ãmukum = dan makanan kamu; hillun = halal; lahum = bagi mereka; wal muhshonãtu = dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan; mina = dari; al mu’minãti = dari perempuan-perempuan yang beriman; wal muhshanãtu = dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan; mina = dari; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtu = (mereka) diberi; al kitãba = Kitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; idzã = jika; ãtaitumũhunna = kamu memberikan kepada mereka; ujũrahunna = maskawin mereka; muhshinĩna = mengawininya; ghoyro = bukan; musãfihĩna = berzinah; walã = dan tidak; muttakhidzĩ = dan tidak menjadikan; akhdaanin = gundik; wa man = dan barang siapa; yakfur = ingkar, kafir; bil ĩmaani = dengan sesudah beriman; fa qod = maka sungguh; habitha = terhapus; ‘amaluhũ = amalnya; wa huwa = dan dia;
fil ãkhiroti = di hari akhirat; minal khãsirĩn = termasuk orang-orang yang merugi

al yawma uhila lakumũth thoyyibãh, wa tho’ãmũl ladzĩna ũtũl kitãba hillul lakum, wa tho’ãmukum hillul lahum, watho’ãmukum hillul lahum, wal muhshonãtu minãl mu’minãti wal muhshonãtu minãl ladzĩna ũtũl kitãba ming qoblikum idzã ãtaytumũ hunna ujũrohunna muhshinĩna ghoyro musãfihĩna wa lã muttakhidzĩ akhdãnin, wa may yakfur bil ĩmãni fa qod habitho ‘amaluh, wa huwa fĩl ãkhiroti minãl khōsirĩn.

5. Pada hari ini, dihalalkan bagi kamu makanan yang baik-baik dari mereka. Sembelihan orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagi kamu, dan makanan kamu pun, halal pula bagi mereka. Dan dihalalkan mengawini perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman, dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin, dengan maksud menikahinya, dan tidak menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman, maka hapuslah amalannya, dan ia termasuk orang-orang yang merugi di hari akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Pada hari ini” artinya masa Haji Wada, ibadah haji terakhir yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w.. Makanan yang baik-baik dari orang-orang Ahli Kitab, halal bagi Muslim. Makanan orang-orang Muslim juga halal bagi Ahli Kitab.
“perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan” artinya perempuan-perempuan yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan agamanya.
“yang kafir sesudah beriman” orang yang mengaku beriman tapi tidak mau menerima dan tidak menaati hukum yang berlaku dalam agama Islam.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = ketika, bila, apabila, tatkala, kalau; qumtum = berdiri, mengerjakan; ilã = untuk; ash sholãti = salat; faghsilũ = maka basuhlah; wujũhakum = wajah kamu; wa aidiyakum = dan tanganmu; ila = sampai; al marōfiqĩ = siku-siku; wamsahũ = dan sapulah; bi ru-ũsikum = pada kepalamu; wa arjulakum = dan kaki-kakimu; ila = sampai; al ka’baini = kedua mata kaki; wa in = dan jika; kuntum = kamu adalah; junuban = berjunub; faththohharũ = maka bersucilah kamu; wa in = dan jika; kuntum = kamu adalah; mardhō = sakit; au = atau; alã = dalam, pada, di; safarin = perjalanan; au jã-a = atau datang; ahodun = seorang; minkum = di antara kamu; min = dari; al ghō-ithi = tempat buang hajat; au = atau; lãmastumun = kamu menyentuh; an nisã-a = perempuan; fa = maka; lam = tidak; tajidũ = kamu mendapatkan; mã-an = air; fatayammamũ = maka bertayamumlah; sho’ĩdan = debu, tanah; thoyyiban = yang bersih, baik; famsahũ = maka usaplah; bi wujũhikum = pada muka kamu; wa aidĩkum = dan tangan-tanganmu; minhu = dengannya (tanah); mã yurĩdullãhu = Allah tidak menghendaki; li yaj’ala = untuk menjadikan; ‘alaykum = bagi kamu; min harojin = dari kesulitan; wa lãkin = akan tetapi; yurĩdu = Dia menghendaki; liyuthohhirokum = untuk menyucikan kamu; waliyutimma = dan untuk menyempurnakan; ni’matahũ = nikmat-Nya; alaykum = kepada kamu; la’alakum = supaya kamu; tasykurũn = bersyukur.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã qumtum ilãsh sholãti faghsilũ wujũhakum wa aidiyakum ilal marōfiqĩ wamsahũ bi ru-ũsikum wa arjulakum ilal ka’baini wa in kuntum junuban faththohharũ, wan in kuntum mardhō au alã safarin au jã-a ahodum minkum minal ghō-ithi au lã mastumun nisã-a fa lam tajidũ mã-an fatayammamũ sho’ĩdan thoyyiban famsahũ bi wujũhikum wa aidĩkum minhu, mã yurĩdullãhu li yaj’ala ‘alaykum min harojiw wa lãkiy yurĩdu liyuthohhirokum waliyutimma ni’matahũ alaykum la’alakum tasykurũn.

6. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu, dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu, dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang hajat (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tapi Dia berkehendak menyucikanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “jika kamu sakit” artinya sakit yang tidak boleh terkena air.
“menyentuh perempuan” kata halus dari menyetubuhi perempuan (istri). Jadi, kalau menyentuh biasa sesudah wudu atau tayamum, tidak perlu mengulang lagi.
Lihat Q.s. An Nisã’, 4: 43.

wadz kurũ = dan ingatlah; ni’matallãhi = nikmat dari Allah; ‘alaykum = kepada kamu; wa mitsãqohu = dan perjanjian-Nya; al ladzĩ = yang; watsaqokum = Dia janjikan kepada kamu; bihĩ = dengannya; idz qultum = ketika kamu mengatakan; sami’nã = kami dengar; wa atho’nã = dan kami tãt; wa taqullãh = dan bertakwalah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alimum = Maha Mengetahui; bidzãtish shudũri = isi hati.

wadz kurũ ni’matallãhi ‘alaykum wa mitsãqohul ladzĩ watsaqokum bihĩ idz qultum sami’nã wa atho’nã, wa taqullãh, innallãha ‘alimum bidzãtish shudũri

7. Dan, Ingatlah karunia nikmat Allah kepadamu, dan perjanjian-Nya yang telah dĩkat bersamamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami tãti.” Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hatimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “dan perjanjian-Nya” maksudnya: perjanjian Allah dengan makhluk-Nya dan saat seseorang atau sekelompok orang yang harus mendengar dan menãti apa yang dĩkrarkan pada waktu baiat.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; kũnũ = jadilah kamu; qowwãmĩna = orang-orang yang menegakkan; lillãhi = karena Allah; syuhadã-a = saksi-saksi; bil qisthi = dengan adil; wa lã = dan jangan; yajrimannakum = membuat kamu berdosa; syana-aanu = kebencian; qaumin = kaum; ‘alã = atas; allã = untuk tidak; ta’dilũ = kamu adil; i’dilũ = berlaku adillah; huwa= ia (itu); aqrobu = lebih dekat; lit taqwã = kepada takwa; wat taqwallãha = dan bertakwalah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; khobĩrun = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa; ta’malũn = kamu kerjakan.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ kũnũ qowwãmĩna lillãhi syuhadã-a bil qisthi, wa lã yajrimannakum syana-aanu qaumin ‘alã allã ta’dilũ, i’dilũ huwa aqrobu lit taqwã, wat taqwallãha, innallãha khobĩrum bimã ta’malũn.

8. Hai orang-orang yang beriman, kamu harus menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksilah dengan adil, dan kebencianmu terhadap suatu kaum, janganlah mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adil itu sangat dekat dengan takwa, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah sangat mengetahui, apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menyeru orang-orang yang beriman untuk selalu menegakkan kebenaran dan keadilan kepada siapa pun saudara, keluarga dekat atau jauh, tetangga, teman-teman dekat atau jauh, orang-orang sekaum.

wa ‘adallãhu = dan Allah menjanjikan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilũ = dan beramal; ash shōlihãti = saleh; lahum = bagi mereka; maghfiratun = ampunan; wa ajrun = dan pahala; ‘azhĩm = besar

wa ‘adallãhul ladzĩna ãmanũ wa ‘amilũsh shōlihãti, lahum maghfiratun wa ajrun ‘azhĩm.

9. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ada ampunan dan pahala yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

walladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; wakadzabũ = dan mereka mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Kami; ulãika = mereka itu; ashhãbu = penghuni; al jahĩmi = neraka Jahim.

walladzĩna kafarũ wakadzabũ bi ãyãtinã ulãika ashhãbul jahĩmi.

10. Adapun orang-orang yang kafir dan yang menganggap dusta ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka jahim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat pengertian kafir di halaman 23; Q.s. Al Fatihah, 1: 7. Mereka akan dimasukkan ke neraka Jahim (lapisan bawah neraka, kerak neraka).

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; udzkurũ = ingatlah; ni’matallãhi = nikmat Allah; ‘alaykum = bagimu; idz = ketika, tatkala; hamma = berkehendak; qoumun = kaum; an yabsuthũ = melakukan usaha (jahat); ilaikum = kepadamu; aidiyahum = tangan-tangan mereka; fakaffa = maka Dia menahan; aidiyahum = tangan-tangan mereka; ‘ankum = terhadap kamu; wattaqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; wa ‘alallãhi = dan kepada Allah; fa = hendaknya, maka; al yatawãkali = kamu bertawakal; al mu’minũna = orang-orang mukmin.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanudzkurũ ni’matallãhi ‘alaykum idz hamma qoumun an yabsuthũ ilaikum aidiyahum fakaffa aidiyahum ‘ankum, wattaqũllãha, wa ‘alallãhi fal yatawãkalil mu’minũna.

11. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud jahat kepadamu, Allah menahan tangan jahat mereka terhadapmu, dan bertakwalah kepada Allah, hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah melindungi orang-orang yang beriman dari perbuatan jahat orang kafir.

wa laqod = dan sesungguhnya; akhodzallãhu = Allah telah mengambil; mĩtsãqo = perjanjian; banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; wa ba’atsnã = dan Kami telah mengangkat; min humu = di antara mereka; atsnai ‘asyaro = dua belas (orang); naqĩban = pemimpin; wa qōlallãhu = dan Allah berfirman; innĩ = sesungguhnya Aku; ma’akum = bersama kamu; lain = sungguh; aqomtumu = kamu mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtaitumu = dan kamu menunaikan; az zakãta = zakat; wa amantum = dan kamu beriman; bi rusulĩ = kepada Rasul-rasul-Ku; wa ‘azzartumũhum = dan kamu membantu mereka; wa aqrodhtumullãha = dan kamu meminjamkan Allah; qordon = pinjaman; hasanan = baik; al la-ukaffiranna = sungguh Aku menghapus; ‘ankum = dari kamu; sayyiãtikum = kesalahan-kesalahanmu; wa la udkhilannakum = dan sungguh akan memasukkan kamu; jannãtin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; faman = maka barang siapa; kafaro = kafir, ingkar; ba’da = sesudah; dzãlika = demikian itu; minkum = di antara kamu; faqod = maka sungguh; dholla = dia telah sesat; sawã-a = sama, lurus; as sabĩli = jalan.

wa laqod akhodzallãhu mĩtsãqo banĩ isrō-ĩla wa ba’atsnã min humutsnai ‘asyaro naqĩban wa qōlallãhu innĩ ma’akum lain aqomtumush sholãta wa ãtaitumuz zakãta wa amantum bi rusulĩ wa ‘azzartumũhum wa aqrodhtumullãha qordon has anal la-ukaffiranna ‘ankum sayyiãtikum wa la udkhilannakum jannãtin tajrĩ min tahtihal anhãru, faman kafaro ba’da dzãlika minkum faqod dholla sawã-as sabĩli.

12. Dan, sesungguhnya Allah telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israil, dan telah Kami angkat dari mereka 12 orang pemimpin, dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan beriman kepada Rasul-rasul-Ku, dan kamu membantu mereka, dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Sesungguhnya, Aku akan menghapus dosa-dosamu, dan kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang dialiri sungai-sungai. Barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sebenarnyalah mereka telah sesat dari jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Allah telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israil, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 40 s/d 123, 211, 246, 248; Ali ‘Imran, 3; 49, 52, 93.
“pinjaman yang baik” artinya: menjanjikan sesuatu perbuatan yang baik dan benar dan menepati atau melaksanakannya, menafkahkan harta untuk kewajiban yang baik secara ikhlas.

fa bimã = maka dengan sebab; naqdhihim = mereka melanggar; mĩtsãqohum = perjanjian mereka; la’annãhum = Kami mengutuk mereka; wa ja’alnã = dan Kami jadikan; qulũbahum = hati mereka; qōsiyatan = keras membatu; yuharrifũna = mereka mengubah; al kalima = kata-kata; ‘am mawãdhi’ihĩ = dari tempat-tempatnya; wanasũ = dan mereka melupakan; hazhzhan = bagian; mimmã = dari apa; dzukkirũ = mereka telah diperingatkan; bihĩ = dengannya; wa lãtazãlu = dan kamu senantiasa; tath tholi’u = kamu akan melihat; ‘alã = atas; khō-inatin = orang yang khianat; minhum = di antara mereka; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; minhum = dari mereka; fã’fu = maka memãfkan; ‘anhum = pada mereka; washfah = dan biarkanlah; innallãha = Allah sesungguhnya; yuhibbu = Dia mencintai; al muhsinĩna = orang-orang yang berbuat baik.

fa bimã naqdhihim mĩtsãqohum la’annãhum wa ja’alnã qulũbahum qōsiyatan yuharrifũnal kalima ‘am mawãdhi’ihĩ wanasũ hazhzham mimmã dzukkirũ bihĩ, wa lã tazãlu tath tholi’u ‘alã khō-inatim minhum illã qolĩlam minhum, fã’fu ‘anhum, washfah, innallãha yuhibbul muhsinĩna.

13. Tetapi karena mereka melanggar janji, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, dan mereka menyengaja melupakan sebagian dari yang sudah diperingatkan kepadanya, dan kamu (Muhammad s.a.w.) akan selalu melihat sifat khianat mereka, kecuali sedikit dari mereka yang tidak berkhianat, karenanya, mãfkanlah mereka, biarkanlah mereka, sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutuk Bani Israil karena mereka melanggar janji, banyak berkhianat, dan mereka suka “mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya” maksudnya: mengubah makna kata, mengubah bentuknya, menghilangkan atau menambahkan kata-kata dalam kalimat, mengubah kalimat, mengubah bahasa. Bahasa asli Alkitab Bani Israil tidak terpelihara dengan baik, sedang bahasa Alquran tetap terpelihara sejak turunnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. ke Halifah Usman bi Afan samapi sekarang, dan akhir jaman.

wa mina = dan di antara; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = berkata; innã = sesungguhnya kami; nashōrō = orang-orang Nasrani; akhodznã = kami telah mengambil; mĩtsãqohum = perjanjian mereka; fanasũ = maka (tetapi) mereka melupakan; hazhzhon = bagian; mimma = dari apa (…); dzukkirũ = mereka diperingatkan; bihĩ = dengannya; fa aghroinã = maka Kami timbulkan; bainahumu = di antara mereka; al ‘adãwata = permusuhan; wal baghdhō-a = dan kebencian (kemarahan); ilã = samapai; yaumi = hari; al qiyãmati = kiamat; wa saufa = dan kelak; yunibbi-uhumullãhu = Allah akan memebritahukan kepada mereka; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; yashna’ũn = (mereka) kerjakan.

wa minal ladzĩna qōlũ innã nashōrō akhodznã mĩtsãqohum fanasũ hazh zhom mimma dzukkirũ bihĩ fa aghroinã bainahumul ‘adãwata wal baghdhō-a ilã yaumil qiyãmati wa saufa yunibbi-uhumullãhu bimã kaanũ yashna’ũn.

14. Dan, di antara orang-orang, ada yang mengatakan: “Sesungguhnya, kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang sudah saling berjanji dengan Kami, tetapi mereka sengaja melupakan sebagian dari peringatan yang sudah diberikan kepadanya; karena itu Kami tumbuhkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan menyampaikan berita kepada mereka, apa yang sudah dikerjakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Kaum Nasrani sudah berjanji, mereka melupa-lupakan janji mereka kepada Allah. Janji mereka adalah: 1. mengakui ada-Nya Allah dan para Rasul-Nya, termasuk yang akan datang Nabi Muhammad s.a.w.; 2. Janji bahwa tidak ada ilah lain selain Allah; 3. Hanya kepada Allah saja, manusia mengabdi dan memohon pertolongan, bahkan jangan memohon pertolongan kepada para Nabi, karena mereka hanya sebagai pesuruh Allah dalam menyampaikan perintah dan larangan-Nya.

yã ahla = wahai ahli; al kitãbi = Kitab; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepadamu; rosũlunã = Rasul (Utusan) Kami; yubayyinu = dia menjelaskan; lakum = kepada kamu; katsĩron = banyak; mimmã = dari apa; kuntum = adalah kamu; tukhfũna = kamu sembunyikan; minal kitãbi = dari (isi) Kitab; wa ya’fũ = dan diabaikan (dimãfkan, dibiarkan); ‘an kitsĩrin = dari kebanyakan; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepada kamu; minallãhi = dari Allah; nũrun = cahaya (penerangan) wa kitãbun = dan Kitab; mubĩn = jelas, nyata, terang

yã ahlal kitãbi qod jã-akum rosũlunã yubayyinu lakum katsĩrom mimmã kuntum tukhfũna minal kitãbi wa ya’fũ ‘an kitsĩrin, qod jã-akum minallãhi nũrun wa kitãbum mubĩn.

15. Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya, telah datang kepadamu Rasul Kami, yang menjelaskan kepadamu banyak isi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang diabaikannya. Sesungguhnya, telah datang penerangan dan Kitab yang menjelaskan dari Allah kepadamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada para Ahli Kitab (Zoroaster, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Tao, Konghucu), Beliau mengetahui ada firman-Nya yang disembunyikan, dan ada yang diabaikan, tidak diperhatikan, dianggap tidak penting. Turunnya Alquran merupakan pelengkap, penjelasan, perbaikan untuk seluruh umat manusia. Jadi, sebaiknya para Ahli Kitab itu harus mempelajari Alqur’an juga (lihat juga ayat 17).

yahdĩ = memberi petunjuk; bihillãhu = Allah dengannya (Kitab); mani = orang; at taba’a = mengikuti; ridwaanahũ = kerelaan-Nya; subula = jalan; as salãmi = keselamatan; wa yukhrijuhum = dan Dia mengeluarkan mereka; minazhzhu-lumãti = dari kegelapan; ilaan nũri = kepada cahaya terang; bi idznihĩ = dengan izin-Nya; wa yahdĩhim = dan Dia memberi petunjuk mereka; ilã = kepada; shirōthin = jalan; mustaqĩm = lurus.

yahdĩ bihillãhu manit taba’a ridwaanahũ subulas salãmi wa yukhrijuhum minazhzhu-lumãti ilaan nũri bi idznihĩ wa yahdĩhim ilã shirōthim mustaqĩm.

16. (Dengan Kitab itulah) Allah menunjuki orang-orang yang rela mau mengikuti jalan menuju selamat, dan dengan Kitab itu pula, Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang benderang atas izin-Nya, dan menunjuki ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk kepada mereka yang rela mengikutinya menuju keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Kitab itu memberi penerangan (penjelasan) kepada mereka yang mendapatkan izin-Nya.

laqod = sungguh; kafaro = telah kafir; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = (mereka) berkata; innallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; al masih = Al Masih; ubnu maryama = Ibnu Maryam; qul = katakanlah; faman = maka siapakah; yamliku = yang menguasai; minallãhi = dari Allah; syai-an = sesuatu; in arōda = jika Dia menghendaki; an yuhlika = untuk membinasakan; al masĩh = Al Masih; abna maryama = putra Maryam; wa ummahũ = dan Ibunya; wa man = dan siapa (orang); fil ardhi = di bumi; jamĩ’an = seluruhnya; wa lillahi = dan kepunyaan Allah; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan apa; bainahumã = yang dia antara keduanya; yakhluqu = Dia menciptakan; mã yasyã-u = apa yang Dia sukai; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = di atas segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

laqod kafarol ladzĩna qōlũ innallãha huwal masihubnu maryama qul faman yamliku minallãhi syai-an in arōda an yuhlikal masĩhabna maryama wa ummahũ wa man fil ardhi jamĩ’an, wa lillahi mulkus samãwãti wal ardhi wa mã bainahumã yakhluqu mã yasyã-u, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.

17. Sesungguhnya, telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya, Allah itu al Masih putra Maryam.” Katakanlah: “Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah, jika Dia berkehendak membinasakan al Masih putra Maryam itu beserta ibunya, dan seluruh orang-orang yang ada di bumi?” Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi, dan segala apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan pemaham trinitas Umat Kristen itu salah: Allah Bapa, Allah Anak, Allah Ruhul Kudus (lihat juga Q.s. Al Mã-idah, 5: 63, 117). Yang benar adalah Allah Yang Mahaesa, Tempat segalanya bergantung, Allah tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Allah tidak ada yang setara dengan-Nya (lihat Q.s.Al Ikhlas, 112) . Allah menciptakan segala makhluk sekehendak-Nya. Makhluk-Nya bukan anak-Nya.

wa qōlati = dan berkata; al yahũdu orang-orang Yahudi; wan nashōrō = dan orang-orang nasrani; nahnu = kami; abnã-ullãhi = Anak-anak Allah; wa ahibbã-uhũ = dan kekasih-kekasih-Nya; qul = katakana; fa lima = maka mengapa; yu’adzdzibukum = Dia menyiksa kamu; bidzunũbikum = karena dosa-dosa kamu; bal = bahkan (tetapi); antum = kamu; basyarun = manusia; mimman = di antara orang; kholaqo = Dia ciptakan; yaghfiru = Dia mengampuni; liman = bagi siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa yu’adzdzibu = dan mengazab; man = orang (siapa); yasyã’u = Dia kehendaki; wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan apa; bainahumã = yang ada diantaranya; wa ilaihi = dan kepunyaan-Nya; al mashĩru = tempat kembali.

wa qōlatil yahũdu wan nashōrō nahnu abnã-ullãhi wa ahibbã-uhũ, qul fa lima yu’adzdzibukum bidzunũbikum, bal antum basyarum mimman kholaqo, yaghfiru liman yasyã-u wa yu’adzdzibu man yasyã’u, wa lillãhi mulkus samãwãti wal ardhi wa mã bainahumã wa ilaihil mashĩru.

18. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini anak-anak Allah, dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Mengapa Allah menyiksa kamu?, itu karena dosa-dosamu.” Kamu ini manusia biasa, seperti orang-orang lain yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dia menyiksa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan, kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi serta apa saja yang ada di antara keduanya. Dan, kepada Allahlah segala sesuatu itu kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, jangan membuat idiom manusia itu anak-anak Allah, karena Allah tidak beranak. Memang Allah mengasihi semua makhluk-Nya (bukan hanya manusia). Allah Pencipta makhluk-Nya yang beraneka macam. Allah mengasihi semuanya, tapi Allah juga menyiksa makhluk yang berdosa sekehedak-Nya. Yang tidak disiksa pun ada, meskipun mereka berdosa. Semuanya jadi ujian bagi makhluk-Nya, apakah mau bertobat atau tetap ingkar janji, lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2, 3, 5; Al Baqarah, 2: 7, 27, 39, 40.

yã ahla = wahai ahli; al kitãbi = Kitab; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepadanya; rosũlunã = Rasul Kami; yubayyinu = dai menjelaskan; lakum = kepada kamu; ‘alã = atas; fatrōtim = keputusannya; mina = dari; ar rusuli = para Rasul; an taqũlũ = supaya kamu mengatakan; mã jã-anã = tidak datang kepada kami; min = dari; basyĩrin = pembawa berita gembira; wa lã nadzĩrin = dan tidak pembawa peringatan; faqod = maka sungguh; jã-akum = telah datang kepada kamu; basyĩrun = pembawa berita gembira; wa nadzĩrun = dan pembawa peringatan; wallãhu = dan Allah; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

yã ahlal kitãbi qod jã-akum rosũlunã yubayyinu lakum ‘alã fatrōtim minar rusuli an taqũlũ mã jã-anã mim basyĩrin wa lã nadzĩrin, faqod jã-akum basyĩrun wa nadzĩrun, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.

19. Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, mene- rangkan syariat Kami kepadamu ketika terputus pengiriman rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami, baik pembawa berita gembira, maupun seorang pemberi berita peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu pembawa berita gembira, dan seorang pemberi peringatan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan sejak dulu sampai sekarang, tentang kedatangan Rasul pembawa berita gembira dan berita peringatan (lihat ayat 13).

wa idz = dan ketika; qōla = berkata; mũsã = Musa; li qaumihĩ = kepada kaumnya; yã qoumi = wahai kaumku; idzkurũ = ingatlah; ni’matallãhi = nikmat-nikmat Allah; ‘alaykum = atas kamu; idz = ketika; ja’ala = Dia menjadikan; fĩkum = di antara kamu; ambiyã-a = para Nabi; wa ja’alakum = Dia menjadikan kamu; mulũkan = penguasa-penguasa; wa atãkum = dan Dia memberikan kamu; mã lam yu’tĩ = sesuatu yang tidak Dia berikan; ahodan = seseorang; mina = dari; al ‘alamĩn = alam.

wa idzqōla mũsã li qaumihĩ, yã qoumidz kurũ ni’matallãhi ‘alaykum idz ja’ala fĩkum ambiyã-a wa ja’alakum mulũkan wa atãkum mã lam yu’tĩ ahodam minal ‘alamĩn.

20. Dan, ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah yang dikaruniakan kepadamu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu, orang-orang yang berkuasa, dan diberikan-Nya kepadamu, apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun umat-umat yang lain di dunia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia tentang nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Nikmat Allah itu harus disyukuri melalui ucapan dan laku pengabdian kepada Allah, dan manusia serta makhluk lain yang memerlukan bantuan hidup. Jangan memusuhi manusia lain atau makhluk lain. Harus dengan kasih-sayang.

yã qaumi = yã kaumku; adkhulũ = masuklah; al ardho = tanah, bumi; al muqaddasata = suci; al latĩ = yang; kataballãhu = ditetapkan Allah; lakum = bagi kamu; wa lã = dan jangan; tartaddũ = kamu berbalik (lari); alã = ke; adbãrikum = belakangmu; fatanqolibũ = maka kamu akan kembali; khãsirĩn = orang-orang merugi.

yã qaumidkhulũl ardhol muqaddasatal latĩ kataballãhu lakum wa lã tartaddũ alã adbãrikum fatanqolibũ khãsirĩn.

21. Wahai kaumku, masuklah ke Tanah Suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang karena takut kepada musuh, karena itu, kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Musa agar kaumnya masuk ke Tanah Suci Palestina. Jangan takut kepada orang kafir. Ini merupakan ujian keimanan orang-orang yang mengaku umat Nabi Musa.
Untuk sekarang ini, jika seseorang hijrah dari suatu tempat ke tempat lain, maka niatkan dan tekadkan untuk mencari dan menyebarkan kebaikan dan kebenaran, jangan menebarkan keonaran, kejahatan, kerusakan.

qōlũ = Mereka berkata; yã mũsã = yã Musa; inna = sesungguhnya; fĩhã = di dalam sana; qouman = kaum; jabbãrina = gagah perkasa, tangguh; wa innã = dan sesungguhnya kami; lannadkhulahã = kami tidak akan memasukinya; hattã = sampai; yakhrujũ = mereka keluar; minhã = dari sana; fain = maka jika; yakhrujũ = mereka keluar; minhã = dari sana; fainnã = maka sesungguhnya kami; dãkhilũn = orang-orang yang masuk.

qōlũ yã mũsã inna fĩhã qouman jabbãrina wa innã lannadkhulahã hattã yakhrujũ minhã fain yakhrujũ minhã fainnã dãkhilũn.

22. Mereka berkata: “Wahai Musa, di negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya, kami tidak akan memasuki negeri itu, sebelum mereka keluar dari negeri itu. Jika mereka keluar dari negeri itu, pasti kami akan memasukinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesungguhnya, orang-orang yang menolak, menyangkal perintah Nabinya adalah orang yang kurang kuat imannya, fasik bahkan munafik. Mereka selalu mencari alasan untuk tidak menjalankan perintah Nabinya.

qōlũ rojulaani minal ladzĩna yakhōfũna an ‘amallãhu ‘alaihimadkhulũ ‘alaihimul bãba fa-idzã dakholtumũhu fainnakum ghōlibũna, wa ‘alãllãhi fatawakkalũ inkuntum mu’minĩn.

qōlũ = berkata; rojulaani = dua orang laki-laki; minal ladzĩna = di antara orang-orang yang; yakhōfũna = (mereka) takut; an ‘ama = orang yang diberi nikmat; allãhu = Allah; ‘alaihima = atas keduanya; adkhulũ = masukilah, serbulah; ‘alaihimu = atas mereka; al bãba = pintu; fa-idzã = maka jika; dakholtumũhu = kamu telah memasukinya; fainnakum = maka sesungguhnya kamu; ghōlibũna = orang-orang yang menang (mengalahkan); wa ‘alãllãhi = dan kepada Allah; fatawakkalũ = maka bertawakallah; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

23. Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang yang takut kepada Allah, dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang kota itu, maka bila kamu memasukinya, pasti kamu akan menang. Dan, hanya kepada Allah saja hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam hidup ini, selalu ada saja perbedaan pendapat, ada yang takut kepada manusia, tapi kepada Allah mereka tidak takut, mereka meragukan; ada yang hanya takut kepada Allah sedang kepada manusia tidak takut. Berhati-hatilah kepada orang yang takut kepada orang, tapi kepada Allah, mereka tidak takut.

qōlũ = mereka berkata; yã mũsã = yã Musa; innã = sesungguhnya kami; lan nadkhulahã = kami tidak memasukinya; abadan = selama-lamanya; mãdãmũ = selagi mereka; fĩhã = di dalamnya; fadzhab = maka pergilah; anta = kamu; waRab uka = dan Rab kamu; faqōtilã = maka berperanglah kamu berdua; innã = sesungguhnya kamu; hãhunã = di sini; qō’idũn = orang-orang yang diam (duduk).

qōlũ yã mũsã innã lan nadkhulahã abadam mãdãmũ fĩhã, fadzhab anta waRab uka faqōtilã innã hãhunã qō’idũn.

24. Mereka berkata: “Wahai Musa, kami selamanya benar-benar tidak akan memasuki kota, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu, pergilah kamu bersama Rab mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya akan diam (duduk) menanti di sini saja.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhirnya, mereka benar-benar menolak untuk memasuki pintu kota. Mereka tidak mau bekerjasama menghadapi musuh. Terbukti mereka tidak beriman pada kekuatan Allah Yang Mahaperkasa.

qōla = berkata; Rab i = yã Rab ; innĩ = sesungguhnya aku; lã amliku = tidak menguasai; illã = kecuali; nafsĩ = diriku; wa akhĩ = dan saudaraku; fa fafruq = maka pisahkanlah; bainanã = antara kami; wa baina = dan antara; al qaumi = kaum; al fãsiqĩn = orang-orang bodoh.

qōla Rab i innĩ lã amliku illã nafsĩ wa akhĩ, fa fafruq bainanã wa bainal qaumil fãsiqĩn.

25. Musa berkata: “Ya Rab , sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku, karena itu pisahkanlah antara kaum kami dan orang-orang bodoh itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa memohon kepada Allah Yang Menguasai dirinya agar dipisahkan dari orang-orang yang bodoh.

Qōla = berkata; fa innahã = maka sesungguhnya ia (negeri itu); muharramatun = diharamkan; ‘alaihim = bagi mereka; “arba’ĩna sanatan” = empat puluh tahun; yatĩhũna = mereka mengembara kebingungan; fĩl ardhi = di bumi; fa lã = maka jangan; ta’sã = kamu putus asa; ‘ala = terhadap; al qaumi = kaum; al fãsiqĩn = fasik, bodoh.

Qōla fa innahã muharramatun ‘alaihim “arba’ĩna sanatan” yatĩhũna fĩl ardhi fa lã ta’sã ‘alal qaumil fãsiqĩn.

26. Allah berfirman: Sesungguhnya, negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, selama itu mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (Padang Tĩh) itu. Maka janganlah kamu berputus asa, memikirkan orang-orang yang bodoh itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi langangan-Nya adalah orang yang bodoh. Perilaku bodoh akan membawa akibat yang tidak menyenangkan dalam hidup di dunia, terutama nanti di akhirat.
Berikut ini, Allah meminta menceriterakan kisah Habil dan Qabil, contoh perilaku cerdas, dan perilaku bodoh dari turunan Adam.

watlu = dan bacakanlah; ‘alaihim = kepada mereka; naba-a = berita, cerita; abnãi ãdama = dua orang anak Adam; bi = dengan; al haqqi = benar; idz = ketika; qorrobã = keduanya mempersembahkan kurban; qurbaanan = kurban; fa tuqubbilã = maka diterima; min ahadihimãi = salah satu dari keduanya; wa lam = dan tidak; yutaqabbal = diterima; minal ãkhari = dari yang lain; qōla = dia berkata; la aqtulannaka = sungguh aku akan membunuh kamu; qōla = ia berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; yataqobalullãhu = Allah akan menerima; mina = dari; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.

watlu ‘alaihim naba-abnãi ãdama bil haqqi idz qorrobã qurbaanan fa tuqubbilã min ahadihimã wa lam yutaqabbal minal ãkhari qōla la aqtulannaka, qōla innamã yataqobalullãhu minal muttaqĩn.

27. Ceriterakanlah kepada mereka, kisah dua anak Adam, Habil dan Qabil, menurut kisah yang benar, ketika keduanya mempersembahkan kurban, salah seorang dari kedua bersudara itu diterima, Habil, dan yang lain, Qabil tidak diterima. Qabil berkata: “Aku pasti membunuhmu.” Habil berkata: “Sesungguhnya, Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini menjadi contoh dari orang yang berperilaku cerdas, dan yang berperilaku bodoh. Habil memberi kurban khewan yang sehat, kuat, gemuk, dan rupa yang menyenangkan, sedang Qabil memberi kurban seonggok gandum yang belum tua dengan kualitas dan kuantitas yang tidak menggambarkan keihklasan dan kerelaan berkurban. Harus menjadi pelajaran hidup kita di dunia, kita harus menerima dengan syukur segala apa yang dikaruniakan Allah dan apa yang telah diusahakan oleh kita.

lain = sungguh jika; basathta = kamu menggerakkan; ilayya = kepada saya; yadaka = tanganmu; litaqtulanĩ = untuk membunuh aku; mã = tidak; ana = aku; bibãsithin = menggerakkan; yadiya = tanganku; ilaika = kepada kamu; li-aqtulaka = untuk membunuh kamu; innĩ = sesungguhnya aku; akhofu = aku takut; ullãha = Allah; Rab a = Pemelihara; al ‘ãlamĩn = alam.

laim basathta ilayya yadaka litaqtulanĩ mã ana bibãsithin yadiya ilaika li-aqtulaka, innĩ akhofũllãha Rab al ‘ãlamĩn.

28. “Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu, sebenarnya, aku takut kepada Allah, Penguasa seluruh alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Takut kepada Allah, bukan berarti tidak boleh membela diri, kalau kita terancam jiwanya. Di dalam ayat ini Habil bersifat pasif.

innĩ urĩdu an tabũ-a bi-itsmĩ wa itsmika fatakũna min ashhãbin nãri, wa dzalika jazã-uzh zhōlimĩn.

Innĩ = sesungguhnya; urĩdu = aku ingin; an tabũ-a = agar kamu kembali; bi-itsmĩ = dengan dosaku; wa itsmika = dan dosa kamu; fatakũna = maka kamu menjadi; min ashhãbi = dari pemilik; an nãri = neraka; wa dzalika = dan yang demikian itu; jazã-u = pembalasan; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

29. Sesungguhnya, aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa karena membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itu merupakan pembalasan bagi orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa jika seseorang membunuh saudaranya sendiri, atau sesama manusia tanpa hak, maka dia akan menanggung dosanya sendiri, dosa karena membunuh, dan dosa dari orang yang dibunuh tanpa hak.

fathawwa ‘at = maka menjadikan mudah; lahũ = baginya (qobil); nafsuhũ = hawa nafsunya; qotla = membunuh; akhĩhi = saudaranya; faqotalahũ = maka ia membunyhnya; fa-ashbaha = maka jadilah ia; mina = dari orang-orang yang; al khãsĩrĩn dari orang-orang yang merugi.

fathawwa ‘atlahũ nafsuhũ qotla akhĩhi faqotalahũ fa-ashbaha minal khãsĩrĩn.

30. Karena hawa nafsu Qabil menjadi beranggapan mudah membunuh saudaranya, maka dibunuhnyalah, jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qabil bernafsu memiliki istri yang seharusnya menjadi istri Habil. Setan memberi kemudahan untuk membunuh saudaranya itu, maka jadilah ia teman setan di neraka, rugi. Berhati-hatilah dengan nafsu-nafsu yang kita miliki. Kita harus dapat mengendalikannya, jangan kita yang dikendalikan nafsu.

faba’atsãllãhu = maka Allah mengirimkan; ghurōban = seekor burung gagak; yabhatsu = menggali; fil ardhi = di atas tanah (bumi); liyuriyahũ = untuk memperlihatkannya; kaifa = bagaimana; yuwãrĩ = menutupi; sau-ata = mayat; akhĩhi = saudaranya; qōla = ia berkata; yã wailatã = aduh, celaka aku; a’ajaztu = mengapa aku tidak mampu; an akũna = aku menjadi; mitsla = seperti; hãdza = ini; al ghurōbi = burung gagak ini; fa-uwãriya = maka aku menutupi (menguburkan); sau-ata = mayat; akhĩ = saudaraku; fa ashbaha = maka jadilah ia; mina = dari; an nãdimĩn = orang-orang yang menyesal.

faba’atsãllãhu ghurōban yabhatsu fil ardhi liyuriyahũ kaifa yuwãrĩ sau-ata akhĩhi, qōla yã wailatã a’ajaztu an akũna mitsla hãdzal ghurōbi fa-uwãriya sau-ata akhĩ fa ashbaha minan nãdimĩn.

31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali bumi untuk memperlihatkan kepada Qabil, bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: Aduhai, celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti gagak itu, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini. Karena kejadian itu, dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Qabil dan Habil ini merupakan kejadian yang universal, artinya terjadi di mana dan kapan pun, selama dunia ini berkembang. Manusia sekarang pun dapat melakukan pembunuhan seperti yang tergambar di atas, karena ada cemburu karena keberhasilan orang lain dalam hidupnya, tentunya karena orang tersebut tidak mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Allah. Kalau mendapatkan petunjuk, maka ia akan mengembangkan akhlak mulia yang dicontohkan para Nabi.
“bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya” ayat ini memberi contoh, bahwa manusia itu dapat belajar dari makhluk-makhluk lain yang derajatnya lebih rendah, untuk menjalani hidupnya, seperti lembu atau sapi, unta, semut, lebah, nyamuk, gagak, bul-bul, monyet, serigala, harimau, gajah, dan lain-lain.

min ajli = oleh karena; dzãlika = demikian; katabnã = kami tetapkan; ‘alã = atas; banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; annahũ = bahwa; man = barang siapa; qotala = membunuh; nafsam = seseorang; bighoiri = bukan karena; nafsin = seseorang; au fasãdin = atau membuat kerusakan; fil ardhĩ = di muka bumi; faka-annamã = maka seakan-akan; qotala = ia membunuh; an nãsa = manusia; jamĩan = seluruhnya; wa man = dan orang; ahyãhã = menghidupkannya; faka-annamã = maka seakan-akan; ahya = Ia menghidupkan; nãsa = manusia; jamĩan = seluruhnya; walaqod = dan sesungguhnya; jã-at-hum = telah dating kepada mereka; rusulunã = Rasul-rasul Kami; bil bayyinãti = dengan keterangan-keterangan; tsumma = kemudian; inna = sungguh; katsĩron = banyak; minhum = di antara mereka, dari mereka; ba’da = sesudah; dzãlika = itu, demikian; fĩl ardhĩ = di muka bumi; lamusrifũn = sungguh orang yang melampaui batas.

min ajli dzãlika katabnã ‘alã banĩ isrō-ĩla annahũ man qotala nafsam bighoiri nafsin au fasãdan fil ardhĩ faka-annamã qotalan nãsa jamĩan wa man ahyãhã faka-annamã ahyan nãsa jamĩan, walaqod jã-athum rusulunã bil bayyinãti tsumma inna katsĩrom minhum ba’da dzãlika fĩl ardhĩ lamusrifũn.

32. Oleh karena itu, Kami menetapkan hukum bagi Bani Israil, barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Dan sesungguhnya, telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu, sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain” artinya membunuh orang bukan karena kishash.
“seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia” artinya kalau seseorang membunuh orang lain, maka hal itu berarti membunuh semua keturunannya. Jadi hukum ini berlaku bukan hanya untuk Bani Israil, tapi untuk semua manusia. Di sini Allah menunjukkan kemurahannya dalam mengharagai perbuatan yang baik. Betapa besar penghargaan Allah kepada yang mau memelihara kehidupan seorang manusia lain dalam Islam. Memelihara kehidupan seseorang manusia dalam arti luas, berarti meningkatkan taraf hidup ilmu, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, kesenangan, kesejahteraannya.
Kedatangan Rasul yang membawa keterangan yang jelas itu ternyata kemudian tidak banyak diperhatikan. Manusia selalu banyak membuat kerusakan di muka bumi, banyak yang melampaui batas kehidupan yang wajar, berarti mereka itu kafir, munafik, musyrik, atau fasik.

innamã = sesungguhnya hanyalah; jazã’u = pembalasan; uladzĩna = orang-orang yang; yuhãribũnallãha = mereka memerangi Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa yas’auna = dan mereka berusaha, berbuat; fil ardhĩ = di muka bumi; fasãdan = kerusakan; an yuqattalũ = mereka dibunuh; au yushollabũ = atau mereka disalib; au tuqaththa’a = atau dipotong; aidĩhim = tangan mereka; wa arjuluhum = dan kaki mereka; min khilãfin = dari silangannya; au yunfau = atau mereka dibuang; minal ardhi = dari negeri tempat tinggalnya; dzãlika = demikian itu; lahum = bagi mereka; khizyun = hinaan; fĩddun-yã = di dunia; wa lahum = dan bagi mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; ‘adzãbun = ajab, siksa; ‘azhĩm = besar.

innamã jazã’ũladzĩna yuhãribũnallãha wa rosũlahũ wa yas’auna fil ardhĩ fasãdan an yuqattalũ au yushollabũ au tuqaththa’a aidĩhim wa arjuluhum min khilãfin au yunfau minal ardhi, dzãlika lahum khizyun fĩddun-yã wa lahum fil ãkhiroti ‘adzãbun ‘azhĩm.

33. Sesungguhnya, pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, mereka hanya dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu sebagai penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat, mereka beroleh siksa yang amat berat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membuat kerusakan di muka bumi” adalah orang yang melakukan sesuatu tidak dengan menyebut nama Allah. Meskipun dampak positifnya tampak di dunia, pada akhirnya, ternyata membuat kerusakan; semena-mena membabat hutan, menambang minyak, batu bara, logam, membuat bangunan sampai merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, dan lingkungan sosial.
“dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang” maksudnya memotong tangan kanan dan kaki kiri, dan kalau melakukan kejahatan sekali lagi, maka dipotong tangan kiri dan kaki kanannya.

illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; tãbũ = bertobat; min qobli = sebelum; an taqdirũ = kamu menangkap; ‘alaihim = atas mereka; fa’lamũ = maka ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

illãl ladzĩna tãbũ min qobli an taqdirũ ‘alaihim, fa’alamũ annallãha ghofũrur rohĩm.

34. kecuali orang-orang yang tobat di antara mereka, sebelum kamu dapat menangkap mereka. Ketahuilah, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukuman Allah itu ada pengecualian, bila orang yang bersalah itu bertobat.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; at taqũllãha bertakwalah kepada Allah; wabtaghũ = dan carilah; ilaihi = kepada-Nya; al wasĩlata = yang mendekatkan; wajãhidũ = dan berjihadlah; fĩ sabĩlihĩ = di jalan-Nya; la’allakum = supaya kamu; tuflihũn = kamu mendapat keberuntungan.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũt taqũllãha wabtaghũ ilaihil wasĩlata wajãhidũ fĩ sabĩlihĩ la’allakum tuflihũn.

35. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: orang yang beriman adalah orang yang memegang amanah Allah dan melaksanakannya dengan penuh keyakinan ada-Nya Allah (lihat Q. S. Al Baqarah, 2: 5 dengan catatannya).
Takwa adalah suasana batin yang penuh keyakinan ada-Nya Allah, lihat: Q.s. Al Fatihah, 1: 6-7; Al Baqarah 2: 2, 3, 4 dengan catatannya
Jalan yang mendekatkan diri kepada Allah artinya jalan yang dilalui sesuai dengan ketakwaan kepada-Nya.
Berjihad di jalan Allah, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 218 dengan catatannya.
Orang yang mendapatkan keberuntungan adalah orang yang mendapatkan ampunan Allah, dan yang melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; lau anna = sekiranya, kalau; lahum = bagi mereka, mereka mempunyai; mã = apa-apa; fi = di; al ardhĩ = bumi; jamĩ’an = seluruhnya; wa mitslahũ = dan sebanyak itu, semisalnya; ma’ahũ = bersmanya; liyaftadũ = untuk menebus diri; bihĩ = dengannya; min ‘adzãbi = dari siksa; yaumi = hari; al qiyãmati = kiamat; mã tuqubbila = tidak diterima; minhum = dari mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbun = azab, siksa; alĩm = yang amat menyakitkan.

innal ladzĩna kafarũ lau anna lahum mã fil ardhĩ jamĩ’an wa mitslahũ ma’ahũ liyaftadũ bihĩ min ‘adzãbi yaumil qiyãmati mã tuqubbila minhum, wa lahum ‘adzãbun alĩm.

36. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang ada di seluruh bumi, dan mempunyai sebanyak itu pula untuk menebus diri mereka dari azab hari kiamat, niscaya tebusan itu tidak mencukupi untuk diri mereka, dan mereka akan menerima azab yang amat menyakitkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ancaman bagi orang kafir. Lihat juga Q.s. Ali ‘Imran, 3: 10, 11, 12;

yurĩdũna = mereka ingin; an yakhrujũ = supaya mereka keluar; minan nãri = dari api neraka; wa mã = dan tidak; hum = mereka; bikhãrijĩna = orang-orang yang keluar; minhã = darinya; wa la hum = dan bagi mereka; ‘adzãbum = siksaan; muqĩm = lama, kekal.

yurĩdũna an yakhrujũ minan nãri wa mã hum bikhãrijĩna minhã wa la hum ‘adzãbum muqĩm.

37. Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sama-sekali tidak dapat keluar darinya, mereka mendapat azab yang lama, kekal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah memberi tahu keadaan di neraka, lihat: Q.s. Al Baqarah, 2: 24

was sãriqu = dan pencuri laki-laki; was sariqotu = dan pencuri perempuan; faktho’ũ = maka potonglah; aidiyahumã = tangan keduanya; jazã-an = pembalasan; bimã = dengan apa; kasabã = keduanya lakukan; nakãlaan = siksaan, pembalasan; minallãhi = dari Allah; wallãhu = dan Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.

was sãriqu was sariqotu faktho’ũ aidiyahumã jazã-am bimã kasabã nakãlãm minallãhi, wallãhu ‘azĩzun hakĩm.

38. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan atas apa yang mereka lakukan, dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini adalah hukum yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan, jika terjadi pencurian. Demikian hukum ini diberlakukan seperti pada peristiwa Thu’mah (lihat catatan Q.s. An Nisã’: 4: 105.

faman = maka, barang siapa; tãba = bertobat; min = dari; ba’di = sesudah; zhulmihĩ = kelalimannya; wa ashlaha = dan ia memperbaiki diri; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; yatũbu = akan menerima taubat; ‘alaihi = atasnya; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; ar rohĩm. = Maha Penyayang.

faman tãba mimba’di zhulmihĩ wa ashlaha fa innallãha yatũbu ‘alaih, innallãha ghofũrur rohĩm.

39. Maka, barang siapa bertobat sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya, Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, kalau orang yang melakukan kesalahan itu berikrar tobat dan membuktikan dengan kebaikan-kebaikan perilakunya, maka hukuman yang dijatuhkan ayat 38 tidak diberlakukan untuk sementara. Tapi, kalau ikrar tobatnya itu dilanggar berulang sampai tiga kali, maka hukuman itu baru dilaksanakan. Itu pun dengan adanya pertimbangan-pertimbangan psiko-sosial yang dikenakan kepada pelakunya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada makhluk-Nya.
“memperbaiki diri” mengubah perilaku jahat menjadi tidak jahat, dari kafir menjadi beriman, dan lain-lain dengan bukti-bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari.

alam ta’lam = tidakkah kamu mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; lahũ = bagi-Nya; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; yu’adzdzibu = Dia mengazab; man = orang; yasyã-u = Dia kehendaki; wa yaghfiru = dan Dia mengampuni; liman = bagi orang; yasyã-u = Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

alam ta’lam annallãha lahũ mulkus samãwãti wal ardhi yu’adzdzibu man yasyã-u wa yaghfiru liman yasyã-u, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.

40. Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya, Allahlah yang menguasai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki, dan diampuni bagi siapa yang dikendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kekuasaan atas langit dan bumi dengan segala isinya, dengan pertanyaan retoris.

yã ayyuha = wahai; ar rosũlu = Rasul; lã yahzunka = jangan kamu sedih; al ladzĩna = orang-orang yang; yusãri‘ũna = (mereka) bersegera; fil kufri = dalam kekafiran; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; qōlũ = berkata; amannã = kami beriman; bi afwãhihim = dengan mulut mereka; wa lam tu’min = padahal belum beriman; qulũbuhum = hati mereka; wa minal ladzĩna = dan dari orang-orang yang; hãdũ = Yahudi; samã’ũna = orang-orang yang suka mendengarkan; lil kadzibi = pada yang bohong; sammã’ũna = orang-orang yang suka mendengarkan; li qoumin = kepada kaum; ãkhorĩna = yang lain; lam = tidak; ya’tũka = datang kepada kamu; yuharrifũna = mereka mengubah; al kalima = perkataan; mim ba’di = dari sesudah; mawãdhi’ihĩ = tempat-tempatnya; yaqũlũna = mereka mengatakan; in = jika; ũtĩtum = diberikan kepada kamu; hãdzã = ini; fakhudzũhu = maka ambillah dia; wa in lam = dan jika tidak; tu’tauhu = diberikannya; fahdzarũ = maka hati-hatilah kamu; wa man = dan barang siapa; yuridi = menghendaki; al lãhu = Allah; fitnatahũ = fitnahnya, kesesatannya; fa lan = maka tidak; tamlika = kamu mampu menolak; lahũ = baginya; minallahi = dari Allah; syai-an = sedikit pun; ũlã-ika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; lam yurĩdi = tidak menghendaki; al lãhu = Allah; an yuthohhiro = hendak membersihkan; qulũbahum = hati mereka; lahum = bagi mereka; fid dun-yã di dunia; khizyun = kehinaan; wa lahum = dan bagi mereka; fil akhiroti = di akhirat; ‘adzãbun = azab, siksa; ‘azhĩm = besar.

yã ayyuhar rosũlu lã yahzunkal ladzĩna yusãri‘ũna fil kufri minal ladzĩna qōlũ amannã bi afwãhihim wa lam tu’min qulũbuhum, wa minal ladzĩna hãdũ, samã’ũna lil kadzibi sammã’ũna li qoumin ãkhorĩna lam ya’tũka yuharrifũnal kalima mim ba’di mawãdhi’ihĩ, yaqũlũna in ũtĩtum hãdzã fakhudzũhu wa in lam tu’tauhu fahdzarũ , wa man yuridil lãhu fitnatahũ fa lan tamlika lahũ minallahi syai-an, ũlã-ikal ladzĩna lam yurĩdil lãhu an yuthohhiro qulũbahum lahum fid dun-yã khizyun, wa lahum fil akhiroti ‘adzãbun ‘azhĩm.

41. Wahai Rasul, janganlah kamu bersedih hati, karena orang-orang yang bersegera memperlihatkan kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami beriman”, padahal hati mereka belum beriman, dan di antara orang-orang Yahudi amat suka mendengar berita-berita bohong, dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka mengubah kata-kata dalam Taurat dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini, kata yang sudah diubah oleh mereka, kepada kamu, maka terimalah, dan jika diberi yang bukan ini, maka berhati-hatilah.” Barang siapa yang dikehendaki kesesatannya oleh Allah, pasti kamu tidak akan mampu menolak sesuatu yang ditetapkan Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak hendak disucian hatinya. Mereka beroleh kehinaan di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksa yang amat berat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang Yahudi amat suka mendengar berita-berita bohong” maksudnya, orang Yahudi itu senang mendengarkan perkataan pendeta yang membohongi mereka, atau senang mendengarkan perkataan dari Nabi Muhammad s.a.w. yang disampaikan dengan cara yang tidak jujur.
“perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu” maksudnya para pemimpin mereka yang belum pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. karena mereka sangat benci kepada beliau.
“mereka mengubah kata-kata” maksudnya sama seperti pada keterangan ayat 13. yaitu mengubah makna kata, mengubah bentukannya, menghilangkan atau menambahkan kata-kata dalam kalimat, atau keseluruhan kalimat menjadi berubah maknanya.

sammã’ũna = Mereka itu orang-orang yang suka mendengarkan berita bohong; lil kadzibi = pada yang bohong; akkãlũna = orang-orang yang banyak memakan; lis suhti = bagi yang haram; fa in = maka jika; jã-ũka = mereka datang kepadmu; fahkum = maka putuskanlah; bainahum = di antara mereka; au = atau; a’ridh = berbaliklah; ‘anhum = dari mereka; wa in = dan jika; tu’ridh = kamu berpaling; ‘anhum = dari mereka; fa lan = maka tidak; yadhurrũka = mereka memudaratkan; syai-an = sedikit pun; wa in = dan jika; hakamta = kamu memutuskan; fahkum = maka putuskanlah; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; innal lãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = menyukai; al muqsithĩn = orang-orang yang berbuat adil.

sammã’ũna lil kadzibi akkãlũna lis suhti, fa in jã-ũka fahkum bainahum au a’ridh ‘anhum wa intu’ridh ‘anhum fa lan yadhurrũka syai-an wa in hakamta fahkum bainahum bil qisthi, innal lãha yuhibbul muqsithĩn.

42. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan makanan haram, Jika orang Yahudi datang kepadamu untuk meminta keputusan, maka putuskanlah perkara itu di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikit pun. Dan, jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah perkara itu dengan adil di antara mereka. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang adil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, orang Yahudi (orang kafir, musyrik, munafik, dan fasik itu suka mendengarkan berita-berita bohong. Mereka dibohongi oleh pendeta-pendeta Yahudi yang mengaku, mereka menyampaikan risalah-risalah dari Allah. Tapi sudah mereka ubah sekehendak hatinya. Ada yang ditutup-tutupi, ada yang ditambah, ada yang dikurangi, ada yang diganti, ada yang dihilangkan.
“banyak memakan makanan haram” maksudnya memakan makanan dari uang pelicin, uang sogok, uang rokok, uang hasil judi, uang renten pinjaman, dan lain-lain makanan yang diterima dan diserahkan secara tidak ikhlas, dan tidak menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Allah memberikan pengarahan, bagaimana memperlakukan mereka secara adil.

wa kaifa = dan bagaimana; yuhakimũnaka = mereka mengangkatmu menjadi hakim; wa ‘indahumu = dan pada mereka mempunyai; at taurãtu = Taurat; fĩhã = di dalamnya; hukmullãhi = hukum-hukum Allah; tsumma = kemudian, yatawallauna = mereka berpaling; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu; wa mã ũlã-ika = dan bukankah mereka; bil mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman.

wa kaifa yuhakimũnaka wa ‘indahumut taurãtu fĩhã hukmullãhi tsumma yatawallauna mim ba’di dzãlika, wa mã ũlã-ika bil mu’minĩn.

43. Dan, bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka memiliki Taurat yang di dalamnya ada hukum Allah , kemudian mereka berpaling dari putusanmu. Dan mereka benar-benar bukan orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa setiap umat itu ada hakimnya masing-masing. Orang yang beriman harus mengikuti hukum dalam Alquran sebagai Kitab yang terakhir diturunkan melalui Nabi Muhammad, s.a.w..

innã = sesungguhnya Kami; anzalna = Kami telah menurunkan; at taurōta = Taurat; fĩhã = di dalamnya; hudan = petunjuk; wa nũrun = dan cahaya; yahkumu = memutuskan perkara; biha = dengannya; an nabiyyũna = Nabi-nabi; al ladzĩna = orang-orang yang; aslamũ = (mereka) menyerahkan diri; lilladzĩna = kepada orang-orang; hãdũ = Yahudi; warRab aaniyyũna = dan orang-orang berilmuketuhanan mereka; wal ahbãru = dan para cendekia; bima = dengan sebab; astuhfizhũ = mereka diperintah memelihara; min kitãbillãhi = dari kitab Allah; wa kaanũ = dan mereka menjadi; ‘alaihi = baginya; syuhadã-a = saksi-saksi; fa lã = maka jangan; takhsyawu = kamu takut; an nãsa = manusia; wakhsyauni = dan takutlah kepada-Ku; wa lã = dan jangan; tasytarũ = dan jangan kamu tukar; bi-ãyãtĩ = dengan ayat-ayat-Ku; syamanan = harga; qolĩlaan = sedikit; wa man = dan orang; lam yahkum = tidak memutuskan perkara; bimã = dengan apa; anzala = menurunkan; allãhu = Allah; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; al kãfĩrũn = orang-orang kafir.

innã anzalnat taurōta fĩhã hudaw wa nũrun, yahkumu bihan nabiyyũnal ladzĩna aslamũ lilladzĩna hãdũ warRab aaniyyũna wal ahbãru bimastuhfizhũ min kitãbillãhi wa kaanũ ‘alaihi syuhadã-a, fa lã takhsyawun nãsa wakh syauni wa lã tasytarũ bi-ãyãtĩ syamanan qolĩlaan, wa mal lam yahkum bimã anzalallãhu fa-ũlã-ika humul kãfĩrũn.

44. Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya ada petunjuk dan penjelasan (penerangan), dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang yang berilmuketuhanan mereka, dan para cendekia mereka, karena mereka diperintahkan memelihara Kitab-kitab Allah, dan mereka menjadi saksi atas kebenaran Kitab-kitab itu. Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, tapi takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa Kitab Taurat, injil, Weda, Tao, dan lain-lainnya itu juga diturunkan dari Allah. Hukum-hukum Allah yang ada di dalamnya sama
“mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah” ini berarti di dalam Kitab Taurat, Injil, dan lain-lainnya itu sudah ada perintah agar Kitab-kitab itu jangan dipalsukan, diubah kata-katanya, dihilangkan sebahagiannya, ditambahi sebagiannya, kemudian ada pula yang dirahasiakan isinya.

wa katabnã = dan Kami telah menetapkan; ‘alaihim = kepada mereka; fĩhã = di dalamnya; annannafsã = bahwa jiwanya; binnafsi = dengan jiwa; wal ‘aina = dan matanya; bil ‘aini = dengan mata; wal anfa = dan hidung; bil anfi = dengan hidung; wal udzuna = dan telinga; bil udzuni = dengan telinga; was sinna = dan gigi; bis sinni = dengan gigi; wal jurũha = dan luka-luka; qishōshun = kisas (balasannya); fa man = maka orang yang; tashoddaqo = bersedekah; bihĩ = dengannya (kisas); fahuwa = maka dia; kaffãrotun = tebusan dosa; lahũ = baginya; wa man = dan orang yang; lam yahkum = tidak memutuskan perkara; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; fa-ulã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

wa katabnã ‘alaihim fĩhã annannafsã binnafsi wal ‘aina bil ‘aini wal anfa bil anfi wal udzuna bil udzuni was sinna bis sinni wal jurũha qishōshun, fa man tashoddaqo bihĩ fahuwa kaffãrotullahũ, wa mal lam yahkum bimã anzalallãhu fa-ulã-ika humuzh zhōlimũn.

45. Dan, telah Kami tetapkan di dalam Taurat mereka, bahwa jiwa harus dibayar dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, luka-luka pun ada kisasnya. Orang yang melepaskan hak kisasnya, demikian itu menjadi penebus dosanya. Orang yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang sudah diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah menetapkan hukum di dalam Taurat, Injil, Weda, Tao, dan lain-lain seperti yang tersebut dalam ayat ini.

wa qaffainã = dan Kami telah susulkan; ‘alã = pada, di atas; ãtsãrihim = jejak-jejak mereka; bi ‘ĩsãbni maryama = dengan Isa putra Maryam; mushoddiqon = yang membenarkan; al limã = terhadap apa (Kitab); baina = antara dua; yadaihi = tangannya (kejadian sebelumnya); mina = dari, yaitu; at taurōti = Taurat; wa atainãhu = dan Kami telah memberikannya; al injĩla = Injil; fĩhi = di dalamnya; hudan = petunjuk; wa nũrun = dan cahaya; wa mushoddiqo = dan membenarkan; al limã = terhadap apa (Kitab); baina = antara dua; yadaihi = tangannya (kejadian sebelumnya; mina = dari, yaitu; at taurōti = Taurat; wa hudan = dan menjadi petunjuk; wa mau’izhata = dan pelajaran; li = bagi; al muttaqĩn = orang-orang yang bertakwa.

wa qaffainã ‘alã ãtsãrihim bi ‘ĩsãbni maryama mushoddiqol limã baina yadaihi minat taurōti wa atainãhul injĩla fĩhi hudan wa nũrun wa mushoddiqol limã baina yadaihi minat taurōti wa hudan wa mau’izhatal lil muttaqĩn.

46. Dan Kami susulkan jejak Nabi-nabi Bani Israil dengan Isa putra Maryam, membenarkan Kitab sebelumnya, yaitu Taurat, dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan keterangan, dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat, dan menjadi petunjuk dan pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kitab Allah itu susul-menyusul, terakhir melalui Nabi Muhammad s.a.w. semuanya saling membenarkan petunjuk dan pengajaran hukum bagi orang-orang yang bertakwa.

wal yahkum = dan hendaknya memutuskan; ahlu = pengikut; al injĩli = Injil; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; fĩhi = di dalamnya; wa man = dan orang; lam yahkum = tidak memutuskan; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; al fãsiqũn = orang-orang yang fasik.

wal yahkum ahlul injĩli bimã anzalallãhu fĩhi, wa mal lam yahkum bimã anzalallãhu fa-ũlã-ika humul fãsiqũn.

47. Dan, hendaknya orang-orang pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya” maksudnya sesuai dengan apa yang ada di dalam Injil, sampai pada masa turunnya Alquran. Setelah turunnya Alquran, memutuskan perkara harus menurut Alquran.
“orang-orang fasik” adalah orang yang tidak memutuskan perkara menurut Hukum Allah, dengan tiga macam alasan: a. akibat ada rasa cemburu, benci, dan rasa ingkarnya kepada Hukum Allah, seperti yang disebutkan juga pada ayat 44, mereka termasuk kafir; b. akibat ada hawa nafsu yang ingin membuat kerugian kepada orang lain, mereka termasuk lalim; c. akibat kebodohan, ketidaktahuan, dan kemasabodohan mereka terhadap adanya wahyu yang diturunkan Allah, seperti dalam ayat 45 ini, mereka termasuk orang fasik.

wa anzalnã = dan Kami telah menurunkan; ilaika = kepada kamu; al kitãba = Kitab; bil haqqi = berisi kebenaran; mushoddiqo = yang membenarkan; limã = terhadapa apa; baina = di antara; yadaihi = dua tanganmu; mina = dari; al kitãbi = Kitab; wa muhaiminan = dan yang menjaga; ‘alaihi = atasnya; fahkum = maka putuskanlah; bainahum = di antara mereka; bimã = dengan apa; anzalallãh = Allah menurunkan; wa lã = dan jangan; tattabi’ = kamu mengikuti; ahwã-akum = nafsu mereka; ‘ammã = dari apa; jã-aka = telah datang kepadamu; mina = dari; al haqqi = kebenaran; likullin = bagi tiap-tiap umat; ja’alnã = Kami telah menjadikan; minkum = pada kamu; syir’atan = peraturan; wa minhãjan = dan jalan yang terang; wa lau = dan kalau; syã-allãhu = Allah menghendaki; laja’alakum = tentu Dia menjadikan kamu; ummatan = umat; wãhidatan = yang satu; wa lãkin = akan tetapi; liyabluwakum = Dia hendak menguji kamu; fĩ mã = pada apa, di dalam apa; ãtãkum = Dia berika kepadamu; fastabiqũ = maka berlomba-lombalah; al khoirōt = kebajikan; ilallãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kembalimu; jamĩ’an = semua; fayunabbi-ukum = maka Dia memberitahukan kepadamu; bi mã = dengan apa; kuntum = kamu adalah; fĩhi = di dalamnya; takhtalifũn = kamu perselisihkan.

wa anzalnã ilaikal kitãba bil haqqi mushoddiqol limã baina yadaihi minal kitãbi wa muhaiminan ‘alaihi, fahkum bainahum bimã anzalallãh, wa lã tattabi’ ahwã-akum ‘ammã jã-aka minal haqqi, likullin ja’alnã minkum syir’atan wa minhãjã, wa lau syã-allãhu laja’alakum ummatan wãhidatan wa lãkil liyabluwakum fĩ mã ãtãkum, fastabiqũl khoirōt, ilallãhi marji’ukum jamĩ’an fayunabbi-ukum bi mã kuntum fĩhi takhtalifũn

48. Dan, telah Kami turunkan kepadamu Alquran yang membawa kebenaran, membenarkan apa yang sudah diturunkan sebelum Alquran, dan batu ujian untuk Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang sudah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang diwahyukan kepadamu. Untuk tiap-tiap umat manusia, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, pasti kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu untuk wahyu yang Kami berikan kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kamu semuanya, maka diberitahukan-Nya kepadamu, apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Cãtatan: Allah mengingatkan, Alquran diturunkan untuk menunjukkan kebenaran ada-Nya Allah Yang Esa.
“batu ujian” maksudnya, Alquran menjadi tolok ukur benar-tidaknya ayat-ayat yang tertulis dalam Kitab-kitab sebelum Alquran.
“Untuk tiap-tiap umat manusia” maksudnya, umat Nabi Muhammad s.a.w., dan umat-umat sebelumnya, mempunyai aturan dan jalannya sendiri-sendiri, berlaku pada saatnya. Umat manusia sekarang diuji. Seharusnya mengikuti aturan dan jalan yang ditunjukkan Allah melalui Nabi Muhammad s.a.w.. Hanya sayangnya, banyak manusia yang berselisih, tidak mempercayai Nabi Muhammad s.a.w. sebagai nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi sesudah beliau.

wa anihkum = dan hendaklah kamu memutuskan; bainahum = di antara mereka; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; wa lã tattabi’i = dan jangan kamu mengikuti; ahwã-ahum = nafsu-nafsu mereka; wahdzarhum = dan hati-hatilah terhadap mereka; an yaftinũka = supaya mereka tidak menyesatkan kamu; ‘am ba’dhi mã = dari sebagian apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; ilaika = kepada kamu; fa in = maka jika; tawallau = mereka berpaling; fa’lam = maka ketahuilah; annamã = bahwa; yuridullãhu = Allah menghendaki; an yushĩbahum = akan menimpakan musibah kepada mereka; biba’dhĩ = dengan sebagian; dzunũbihim = dosa-dosa mereka; wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan mereka; minannãsi = dari manusia yang; la fãsikũn = sungguh-sungguh fasik, bodoh.

wa anihkum bainahum bimã anzalallãhu wa lã tattabi’i ahwã-ahum wahdzarhum an yaftinũka ‘am ba’dhi mã anzalallãhu ilaika fa in tawallau fa’lam annamã yuridullãhu an yushĩbahum biba’dhĩ dzunũbihim wa inna katsĩrom minannãsi la fãsikũn.

49. Dan, sebaiknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diwahyukan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu menghadapi mereka, supaya mereka tidak membuat kamu menyimpang dari sebagian yang telah diwahyukan Allah kepadamu. Jika mereka menyimpang dari hukum yang telah diwahyukan Allah, ketahuilah, sesungguh-nya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka karena sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya, sebagian besar manusia adalah orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar umat Islam memutuskan perkara mereka berdasarkan apa yang diwahyukan-Nya. Kalau mereka menyimpangkan wahyu Allah, Beliau akan menimpakan musibah kepada mereka.
“sebagian besar manusia adalah orang-orang fasik” ini akibat ulah manusianya sendiri yang suka mencari-cari, hal-hal yang di luar apa yang sudah diwahyukan Allah, mengubah, menambah, dan, atau menguranginya.

afahukma = apakah hukum; al jãhiliyyati = jahiliah; yabghũna = mereka kehendaki; wa man = dan siapalah; ahsanu = lebih baik; minallãhi = dari Allah; hukman = hukum-Nya; li qaumin = bagi kaum; yũqĩnũn = mereka yakin.

afahukmal jãhiliyyati yabghũna, wa man ahsanu minallãhi hukmal liqaumin yũqĩnũn.

50. Apakah Hukum Jahiliah yang mereka kehendaki?, dan hukum dari siapakah yang lebih baik selain dari Hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan secara retoris pilihan manusia atas hukum, yang menjadi peringatan dan pembelajaran bagi manusia.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã tattakhidzu = jangan kamu mengambil; al yahũda = orang Yahudi; wan nashōrō = dan Nasrani; auliyã-a = pemimpin-pemimpin; ba’dhuhum = sebagai mereka; auliyã-u = pemimpin; ba’din = sebagian yang lain; wa man = dan orang, siapa-siapa; yatawallahum = mengangkat mereka; minkum = di antara kamu; fa innahũ = maka sesungguhnya ia; minhum = termasuk (golongan) mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yahdĩl = tidak memberi petunjuk; qauma = kaum; azh zhōlimin = lalim.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã tattakhidzul yahũda wan nashōrō auliyã-a ba’dhuhum auliyã-u ba’din, wa man yatawallahum minkum fa innahũ minhum, innallãha lã yahdĩl qaumazh zhōlimin.

51. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin kamu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Catatan; Allah memperingatkan kepada orang Islam. Lihat juga Q.s. Ali ‘Imraan, 3: 28

fa taro = maka kamu akan melihat; al ladzĩna = orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalam hati mereka; marodhun = penyakit; yusãri‘ũna = mereka bersegera; fĩhim = pada mereka (Yahudi dan Nasrani); yaqũlũna = mereka berkata; nakhsyã = kami takut; an tushĩbanã = akan menimpa kami; dã-irotun = bencana, bahaya; fa’asãllãhu = Allah mudah-mudahan; an ya’tĩya = Dia akan mendatangkan; bil fathi = dengan kemenangan; au = atau; amrin = keputusan; min ‘indihĩ = dari Beliau; fa = maka; yush bihũ = mereka menjadi; ‘alã mã = atas apa yang; asar rũ = mereka rahasiakan; fĩ = di dalam; anfusihum = diri mereka; nãdimĩn = orang-orang yang menyesal.

fa tarol ladzĩna fĩ qulũbihim marodhun yusãri‘ũna fĩhim yaqũlũna nakhsyã an tushĩbanã dã-irotun, fa’asãllãhu an ya’tĩya bil fathi au amrim min ‘indihĩ fayushbihũ ‘alã mã asarrũ fĩ anfusihum nãdimĩn.

52. Maka, kamu akan melihat orang-orang munafik yang mempunyai penyakit di dalam hatinya bersegera mendekati orang Yahudi dan Nasrani, seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan kepada Rasul-Nya, atau sesuatu keputusan dari Allah. Karena itu kelak, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang mukmin tentang perilaku orang munafik.

wa yaqũlu = dan (mereka) mengatakan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ahã-ũlã-i = inikah; al ladzĩna = orang-orang yang; aqsomũ =(mereka) bersumpah; billãhi = dengan Allah; jahda = sungguh; aimaanihim = sumpah mereka; innahum = sesungguhnya, bahwa; la ma’akum = benar-benar beserta kamu; habithot = rusaklah; a’mãluhum = amal-amal mereka; fa ashbahũ = maka mereka menjadi; khasĩrĩn = orang-orang yang rugi.

wa yaqũlul ladzĩna ãmanũ ahã-ũlã-il ladzĩna aqsomũ billãhi jahda aimaanihim innahum la ma’akum, habithot a’mãluhum fa ashbahũ khasĩrĩn.

53. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang sungguh-sungguh bersumpah atas nama Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih peringatan Allah tentang perilaku orang munafik.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; man = orang, barang siapa; yartadda = murtad; minkum = di antara kamu; ‘an dĩnihĩ = dari agamanya; fa saufa = maka akan; ya’tillãhu = Allah mendatangkan; bi qoumin = dengan suatu kaum; yuhibbuhum = Dia mencintai mereka; wa yuhibbũnahũ = dan mereka mencintai-Nya; adzillatin = lemah-lembut; ‘alal mu’minĩna = kepada orang-orang mukmin; a’izzatin = keras; ‘alãl kãfirĩna = kepada orang-orang kafir; yujãhidũna = mereka berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wa lã = dan tidak; yakhãfũna = mereka takut; laumata = celaan; lã-imin = orang-orang yang mencela; dzãlika = demikian itu; fadhlu = karunia; allãhi = Allah; yu’tĩhi = Dia berikan kepadanya; man = orang, siapa-siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; wãsi’un = Mahaluas; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ man yartadda minkum ‘an dĩnihĩ fa saufa ya’tillãhu bi qoumin yuhibbuhum wa yuhibbũnahũ, adzillatin ‘alal mu’minĩna a’izzatin ‘alãl kãfirĩna yijãhidũna fĩ sabĩlillãhi wa lã yakhãfũna laumata lã-imin, dzãlika fadhlullãhi yu’tĩhi man yasyã-u, wallãhu wãsi’un ‘alĩm.

54. Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai Allah, dan mereka pun mencintai-Nya, mereka bersikap lemah-lembut kepada orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan mereka tidak takut pada celaan dari orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas pemberian-Nya dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “murtad” adalah orang kafir yang telah mengakui kebenaran agama Allah, kemudian menjadi kafir lagi, amalan yang sudah dilakukannya menjadi sia-sia. Manusia berkehendak berdasarkan pilihannya. Allah memberikan karunia kepada yang dikehendaki-Nya.

innamã = sesungguhnya hanya; waliyyukumullãhu = pemimpin kamu itu Allah; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanu = beriman; al ladzĩna = orang-orang yang; yuqĩmũna = (mereka) mendirikan; ash sholãta = salat; wa yu’tũna dan (mereka) menunaikan; az zakãta = zakat; wa hum = dan mereka; rōki’ũn = orang-orang yang menunduk

innamã waliyyukumullãhu wa rosũluhũ wal ladzĩna ãmanul ladzĩna yuqĩmũnash sholãta wa yu’tũnaz zakãta wa hum rōki’ũn.

55. Sesungguhnya, penolong kamu hanyalah Allah, dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat, dan menunaikan zakat dengan menundukkan diri kepada Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, seharusnya manusia itu mengakui hanya Allah saja yang menjadi pemimpin dan penolongnya. Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1: 5; Al Baqarah, 2: 107; Ali ‘Imraan, 3: 22, 56, 91, 150; An Nisã’, 4: …..

wa man = dan orang, dan barang siapa; yatawallallãha = dan Allah menjadikan pemimpin, penolong; wa rosulahũ = dan Rasul-rasul-Nya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; amanũ = beriman; fa inna = maka sesunggguhnya; hizballãhi = pengikut Allah; humu = mereka; al ghōlibũn = orang-orang yang menang.

wa man yatawallallãha wa rosulahũ wal ladzĩna amanũ fa inna hizballãhi humul ghōlibũn.

56. Dan, barang siapa yang mengambil Allah, dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya, pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pengikut agama Allah” yaitu orang yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang yang beriman menjadi penolong.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna= orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã tatakhidzdzu = janganlah kamu mengambil (menjadikan); al ladzĩna = orang-orang yang; at takhadzũ = (mereka) mengambil (menjadikan); dĩnakum = agamamu; huzuwan = ejekan; wa la’ibam = dan permainan; mina = di antara; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Kitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; wal kuffãro = dan orang-orang kafir; auliyã-a = pemimpin; wat taqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã tatakhidzdzul ladzĩnat takhadzũ dĩnikum huzuwan wa la’ibam minal ladzĩna ũtũl kitãba min qoblikum wal kuffãro auliyã-a, wat taqũllãha inkuntum mu’minĩn.

57. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat pemimpinmu dari orang-orang yang membuat agamamu menjadi bahan ejekan, dan bahan permainan, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi Alkitab sebelummu, dan orang-orang kafir atau musyrik. Dan bertakwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang telah diberi Alkitab sebelummu” adalah orang Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha, Confutse, dan Kaum Sabi-in

58. Dan, apabila kamu menyeru mereka untuk mengerjakan salat, mereka menjadikannya bahan ejekan, dan permainan. Kenyataan demikian itu karena mereka sesungguhnya adalah kaum yang tidak mau mempergunakan akal.

59. Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu, sesungguhnya adalah orang-orang yang fasik.

qul = katakanlah; hal = apakah; unabbi-ukum = aku memberitahukan kepadamu; bisyarrin = dengan yang lebih buruk; min = dari; dzãlika = demikian itu; matsũbatan = pembelaan; ‘indallãhi = di hadapan Allah; man = orang; la’anahul lãhu = Allah melaknatinya; wa ghodhiba = dan memurkai; ‘alaihĩ = kepadanya; wa ja’ala = dan Dia menjadikan; minhumu = di antara mereka; al qirodata = kera; wal khanãzĩra = dan babi; wa ‘abada = dan penyembah; ath thōghũta = tagut; ũlã-ika = mereka itu; syarrun = lebih buruk; makaanan = tempat; wa adhollu = dan lebih tersesat; ‘an sawã = dan barang yang dikirim” issabĩli = jalan.

qul hal unabbi-ukum bisyarrim min dzãlika matsũbatan ‘indallãhi, mal la’anahul lãhu wa ghodhiba ‘alaihi wa ja’ala minhumul qirodata wal khanãzĩra wa ‘abadaththōghũta, ũlã-ika syarrum makaanan wa adhollu ‘an sawã-issabĩli.

60. Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik itu dari Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan ada orang-orang yang menyembah thagut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Catatan : “mereka ada yang dijadikan kera dan babi” adalah orang Yahudi yang tidak menghormati Hari Sabtu, lihat al Baqarah ayat 65 dengan catatannya. Mereka bertabiat seperti kera (rakus, serakah, suka bertengkar) dan babi (tamak, jorok, suka makanan yang menjijikkan).

wa idzã = dan jika; jã-ũkum = mereka datang kepadamu; qōlũ = (mereka) berkata; ãmannã = kami beriman; wa qod = dan sesungguhnya; dakholũ = mereka datang; bil kufri = dengan kekufuran; wa hum = dan mereka; qod = sesungguhnya; kharojũ = mereka keluar (pergi); bihĩ = dengannya; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan (kepada) apa; kaanũ = adalah mereka; yaktumũn = mereka sembunyikan.

wa idzã jã-ũkum qōlũ ãmannã wa qod dakholũ bil kufri wa hum qod kharojũ bihĩ, wallãhu a’lamu bimã kaanũ yaktumũn.

61. Dan apabila orang-orang Yahudi atau orang munafik datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya, dan mereka pergi darimu dengan kekafirannya pula. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak beriman mengaku-aku beriman, ini ada semacam versi keimanan menurut anggapan diri mereka yang tidak mengikuti syariat Islam. Mereka dapat dikatagorikan sebagai, kafir (tidak mempercayai keradaan Allah), munafif (berkeyakinan ganda), dan fasik (berlaku dan berbuat seperti orang bodoh).

wa tarō = dan kamu akan melihat; katsiron = kebanyakan; minhum = di antara mereka; yusãri’ũna = mereka bersegera; fil itsmi = di dalam dosa; wal ‘udwaani = dan permusuhan; wa aklihimu = dan makan mereka; as suhta = haram; labi’sa = sungguh sangat buruk; mã kaanũ = apa yang mereka; ya’malũn = (mereka) kerjakan.

wa tarō katsirom minhum yusãri’ũna fil itsmi wal ‘udwaani wa aklihimus suhta labi’sa mã kaanũ ya’malũn.

62. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka, orang-orang Yahudi, bersegera berbuat dosa, membuat permusuhan, dan memakan makanan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “bersegera berbuat dosa” maksudnya tidak melakukan syariat Islam; Mereka memusuhi Islam. Keyakinan lama yang terus dikukuhi sebagai sesuatu yang dianggap benar adalah pekerjaan yang amat buruk. Ini perkataan Allah. “memakan makanan yang haram” lihat catatan ayat 42.

lau lã = mengapa tidak; yanhãhumu = melarang mereka; ar Rab aaniyyũna = orang-orang alim Yahudi; wal ahbãru = dan rahib-rahib mereka; ‘an qoulihimu = dari ucapan mereka; al itsma = dosa (bohong); wa aklihimu = dan makan mereka; as suhta = haram; labi’sa = sungguh amat buruk; mã = apa yang; kaanũ = mereka adalah; yashna’ũn = (mereka) kerjakan.

lau lã yanhãhumur Rab aaniyyũna wal ahbãru ‘an qoulihimul itsma wa aklihimus suhta, labi’sa mã kaanũ yashna’ũn.

63. Mengapa orang-orang alim mereka, rahib-rahib mereka tidak melarang mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?. Benar-benar amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang peri laku para alim-ulama Yahudi, dan rahib-rahibnya.
“tidak melarang mengucapkan perkataan bohong”, misalnya tentang pernyataan trinitas: Allah Bapa; Allah Anak; Allah Ruhul Kudus. Padahal yang kedua terakhir itu adalah makhluk Allah. Mereka menyejajarkannya dengan Allah Maha Pencipta, dan Mahakuasa (Q.s. Al Mã-idah, 5: 17, 117).

wa qōlati = dan berkata; al yahũdu = orang-orang Yahudi; yadullãhi = tangan Allah; maghlũlatun = terbelenggu; ghullat = terbelenggu; aidĩhim = tangan mereka; wa lu’inũ = dan mereka dilaknat; bimã = disebabkan apa; qōlũ = mereka berkata; bal = bahkan; yadãhu = kedua tangan-Nya; mabsũthotaan = keduanya terbuka; yunfiqũ = Dia menafkahkan; kaifa = sebagaimana; yasyã-u = Dia kehendaki; walayazĩdanna = dan sungguh akan menambah; katsĩron = kebanyakan; minhum = dari mereka; mã unzila = apa yang diturunkan; ilaika = kepada kamu; mir Rab ika = dari Rab kamu; thughyaanan = kedurhakaan; wa kurfron = dan kekafiran; wa alqoinã = dan Kami timbulkan; bainahumu = di antara mereka; al ‘adãwata = permusuhan; wal baghdhō-a = dan kebencian; ilã = sampai, kepada; yaumil qiyãmah = hari kiamat; kullamã = setiap; auqodũ = mereka menyalakan; nãron = api; lil harbi = untuk penerangan; athfa-ahallãh = Allah memadamkannya; wa yas’auna = dan mereka berusaha; fĩl ardhi = di bumi; fasãdaan = (membuat) kerusakan; wallãhu = dan Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al mufsidĩn = orang-orang yang membuat kerusakan.

wa qōlatil yahũdu yadullãhi maghlũlah, ghullat aidĩhim wa lu’inũ bimã qōlũ bal yadãhu mabsũthotaan, yunfiqũ kaifa yasyã-u, walayazĩdanna katsĩrom minhum mã unzila ilaika mir Rab ika thughyaanan wa kurfron, wa alqoinã bainahumul ‘adãwata wal baghdhō-a ilã yaumil qiyãmah, kullamã auqodũ nãrol lil harbi athfa-ahallãh, wa yas’auna fĩl ardhi fasãdaan, wallãhu lã yuhibbul mufsidĩn.

64. Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu,” sebenarnya, tangan merekalah yang terbelenggu, dan merekalah yang dilaknat, karena apa yang telah mereka katakan itu. Sesungguhnya, tangan Allah terbuka. Allah menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Alquran diwahyukan kepadamu dari Rab mu, sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya, dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Tangan Allah terbelenggu” maksudnya Allah tidak dapat memberikan apa-apa, kikir.
“tangan merekalah yang terbelenggu” artinya, orang-orang Yahudi akan terjajah di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain di dunia. Ini merupakan kutukan Allah. Di akhirat, mereka akan terbelenggu oleh api neraka karena kedurhakaannya.
“Setiap mereka menyalakan api peperangan”, maksudnya, jika mereka berkhutbah, khutbah mereka tidak berbekas di hati para jamãhnya.
“mereka berbuat kerusakan di muka bumi” pekerjaan mereka tidak mengatasnamakan Allah (tidak mengucapkan basmalah), sehingga apa pun yang mereka kerjakan hasil akhirnya akan merusakkan dunia, menimbulkan peperangan, wabah penyakit, kerusakan akhlak, dan lain-lain.

wa lau = dan kalau; anna = sekiranya; ahlal kitãbi = Ahli Kitab; ãmanũ = (mereka beriman); wattaqau = dan mereka bertakwa; lakaffarnã = tentu Kami hapuskan; ‘anhum = dari mereka; syayyi-ãtihim = kesalahan-kesalahan mereka; wa la-adkholnãhum = dan tentu Kami masukkan mereka; jannãtin = surga; na’ĩm = kenikmatan.

wa lau anna ahlal kitãbi ãmanũ wattaqau lakaffarnã ‘anhum syayyi-ãtihim wa la-adkholnãhum jannãtin na’ĩm.

65. Dan, sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka, dan tentulah Kami masukkan mereka ke surga-surga kenikmatan.

Catatan : Ini janji Allah yang tidak pernah diperhatikan oleh para Ahli Kitab sampai sekarang.

wa lau = dan kalau; annahum = sekiranya mereka; aqōmũ = (mereka) menegakkan; at taurōta = Taurat; wal injĩla = dan Injil; wa mã = dan apa (Alquran); unzila = yang diturunkan; ilaihim = kepada mereka; mir Rab ihim = dari Rab mereka; la akalũ = niscaya mereka mendapat makanan; min fauqihim = dari atas mereka; wa min tahti = dan dari bawah; arjulihim = kaki mereka; minhum = di antara mereka; ummatun = umat, golongan; muqtashidatun = pertengahan; wa katsĩrun = dan banyak; minhum = di antara mereka; sã-a = amat buruk; mã ya’malũn = apa yang mereka kerjakan.

wa lau annahum aqōmũt taurōta wal injĩla wa mã unzila ilaihim mir Rab ihim la akalũ min fauqihim wa min tahti arjulihim minhum ummatum muqtashidatun wa katsĩrum minhum sã-a mã ya’malũn.

66. Dan, seandainya mereka bersungguh-sungguh menjalankan hukum Taurat, injil, dan Alquran yang diturunkan kepada mereka dari Rab nya, pasti mereka akan mendapat makanan dari atas mereka, dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka, ada golongan pertengahan. Dan, alangkah buruknya apa yang telah dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka akan mendapat makanan dari atas mereka, dan dari bawah kaki mereka” maksudnya, Allah akan mengaruniakan rahmat-Nya dengan menurunkan hujan yang mengakibatkan tumbuhnya berbagai tanaman dengan berbagai hasil buah serta manfaat lainnya melimpah-ruah.
“ada golongan pertengahan” artinya orang yang berlaku jujur, lurus, tidak menyimpang dari aturan kebenaran
“kebanyakan mereka” tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan hukum Taurat, Injil, dan Alquran, sehingga hasil pekerjaannya buruk, mengakibatkan terjadi banyak peperangan, perusakan, perselisihan, kekacauan.
Ayat berikut ini menyampaikan informasi tentang kewajiban Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasul itu menyampaikan wahyu dari Allah kepada umat manusia

yã ayyuha = wahai; ar rosũlu = Rasul; balligh = sampaikan; mã = apa-apa yang; unzila = diturunkan; ilaika = kepada kamu; mir Rab ika = dari Rab kamu; wa il lam = dan jika tidak; taf’al = kamu kerjakan; fa mã = maka tidak; ballaghta = kamu menyampaikan; risãlatahũ = risalah-Nya; wallãhu = dan Allah; ya’shimuka = Dia memlihara kamu; minan nãsĩ = dari manusia; innallãha = sesungguhnya Allah; la yahdĩ = Dia tidak memberi petunjuk; al qouma = kaum; al kãfirĩn = orang-orang kafir.

yã ayyuhar rosũlu balligh mã unzila ilaika mir Rab ika wa il lam taf’al fa mã ballaghta risãlatahũ, wallãhu ya’shimuka minan nãsĩ, innallãha la yahdĩl qoumal kãfirĩn.

67. Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rab mu. Dan jika tidak kamu kerjakan, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w., para pengikutnya harus menyampaikan atau menyebarluaskannya ke seluruh dunia. Kalau tidak, berarti para pengikutnya tidak menyampaikan risalah amanat-Nya.
“Allah memelihara kamu dari gangguan manusia” maksudnya, tak seorang pun dapat membunuh Nabi Muhammad s.a.w. saat beliau bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia.

qul = Katakan; yã ahla= wahai Ahli; al kitãbi = Kitab; lastum = kamu tidak; ‘alã = atas; syai-in = sesuatu; hattã = sehingga; taqĩmu = kamu menegakkan; at taurōta Taurat; wa injĩla = dan Injil; wa mã = dan apa (Alquran); unzila = diturunkan; ilaikum = kepada kamu; min = dari; Rab ikum = Rab kamu; wa layazĩdanna = dan sungguh akan menambah; katsĩron = kebanyakan; minhum = di antara mereka; mã = apa; unzila = yang diturunkan; ilaika = kepada kamu; min = dari; Rab ika = Rab kamu; thughyaanan = kedurhakaan; wa kufrōn = dan kekafiran; fa lã ta’sa = maka janganlah kamu berputus-asa; ‘alãl qoumi = atas kaum; al kãfirĩn = kafir.

qul yã ahlal kitãbi lastum ‘alã syai-in hattã taqĩmut taurōta wa injĩla wa mã unzila ilaikum mir Rab ikum wa layazĩdanna katsĩrom minhum mã unzila ilaika mir Rab ika thughyaanan wakufrōn, fa lã ta’sa ‘alãl qoumil kãfirĩn.

68. Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun, hingga kamu mau menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Alquran yang diturunkan kepadamu dari Rab mu.” Sesungguhnya, apa yang diturunkan Rab mu kepadamu (Muhammad s.a.w.) akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan mereka; karena itu janganlah kamu bersedih hati atas perlakuan orang kafir itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak menganggap beragama orang yang membaca Taurat, Injil, dan Quran, jika mereka tidak menegakkan dan melaksanakan apa yang dianjurkan di dalamnya (lihat catatan ayat 13, 17).

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman (mukmin); wal ladzĩna = dan orang-orang yang; hãdũ = Yahudi; washshōbiũna = dan Shabi’in; wan nashōrō = dan orang-orang nasrani; man = orang (siapa); ãmana = beriman; billãhi = kpeada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan hari akhirat; wa ‘amila = dan beramal; shōlihan = saleh; fa lã = maka tidak; khoufun = khawatir; ‘alaihim = atas mereka; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = sedih.

innal ladzĩna ãmanũ wal ladzĩna hãdũ washshōbiũna wan nashōrō man ãmana billãhi wal yaumil ãkhiri wa ‘amila shōlihan fa lã khoufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.

69. Sesungguhnya, orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabi’in, dan orang-orang Nasrani, siapa pun di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, tidak ada kekhawatiran bagi mereka, dan mereka tidak akan bersedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “siapa pun di antara mereka” lihat Q.s. al Baqarah, 2: 62 (hampir sama). Allah memperingatkan kepada para pembaca Alkitab.

laqod = sesungguhnya; akhodznã = Kami telah mengambil; mitsãqo = perjanjian; banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; wa arsalnã = dan Kami telah mengutus; ilaihim = kepada mereka; rusulã = Rasul-rasul; kullamã = setiap; jã-ahum = dating kepada mereka; rosũlun = seorang Rasul; bimã = dengan apa; lã tahwã = tidak menginginkan; anfusuhum = hawa nafsu mereka; farĩqon = sebagian; kadzdzabũ = mereka dustakan; wa farĩqon = sebagian; yaqtulũn = mereka bunuh.

laqod akhodznã mitsãqo banĩ isrō-ĩla wa arsalnã ilaihim rusulã, kullamã jã-ahum rosũlum bimã lã tahwã anfusuhum farĩqon kadzdzabũ wa farĩqon yaqtulũn.

70. Sesungguhnya, Kami telah saling berjanji dengan Bani Israil, dan telah Kami utus Rasul-rasul kepada mereka, tatapi setiap datang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak dĩngini oleh hawa nafsunya, maka sebagiaan Rasul-rasul itu, mereka anggap bohong, dan sebagian yang lainnya, mereka bunuh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kami telah saling berjanji dengan Bani Israil” artinya Bani Israil itu sudah beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Hanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. ternyata mereka tidak mau mengimani sebagai Rasul. Kalau mereka terus demikian, maka, amal-perbuatan mereka tidak diakui Allah, dan akan menimbulkan kekacauan. Seharusnya mereka mengikuti perubahan aturan yang ditetapkan Nabi Muhammad s.a.w.

wa hasibũ allã takũna fitnatun fa’amũ wa shammũ tsumma tãballãhu ‘alaihim tsumma ‘amũ wa shamũ katsĩrum minhum, wallãhu bashĩrum bimã ya’malũn.

wa hasibũ allã takũna fitnatun fa’amũ wa shammũ tsumma tãballãhu ‘alaihim tsumma ‘amũ wa shamũ katsĩrum minhum, wallãhu bashĩrum bimã ya’malũn.

71. Dan, mereka mengira tidak akan terjadi suatu bencana pun atas mereka karena membunuh Nabi-nabi, karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli lagi. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di antara Bani israil itu banyak yang tidak mempercayai Nabi Muhammad sebagai Utusan Allah, maka terjadilah banyak bencana. Mereka menjadi “buta dan tuli.” Artinya mereka tidak mau melihat dan mereka tidak mau mendengar apa yang diturunkan Allah. Berikut ini pernyataan Allah kepada orang-orang yang menganggap Isa a.s. itu sebagai Allah.

laqod = sesungguhnya; kafaro = telah kafir; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = berkata; inallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; al masĩh = = Al Masih; ubnu maryama = putra Maryam; wa qōla = dan berkata; al masĩhu = Al Masih; yã banĩ isrōil = wahai Bani Israil; a’budullãha = sembahlah Allah; Rab ĩ = Rōbku; wa Rab akum = dan Rab kamu; innahũ = sesungguhnya; man = orang, barang siapa; yusyrik = mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; fa qod = maka sesungguhnya; harromallãhu = Allah mengharamkan; ‘alaihi = kepadanya; al jannata = surga; wa ma’wãhu = dan tempatnya; an nãru = neraka; wa mã = dan tidaklah; lizhzhōlimĩna = bagi orang-orang lalim; min anshōr = dari penolong.

laqod kafarol ladzĩna qōlũ inallãha huwal masĩhubnu maryama wa qōlal masĩhu yã banĩ isrōila’budullãha Rab ĩ wa Rab akum innahũ man yusyrik billãhi fa qod harromallãhu ‘alaihil jannata wa ma’wãhun nãru wa mã lizhzhōlimĩna min anshōr.

72. Sesungguhnya, telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Allah itu al Masih putra Maryam,” padahal al Masih sendiri berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Rab ku dan Rab mu.” Sebenarnya, orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, pasti Allah mengharamkan surga baginya, tempatnya di neraka, tidak adalah seorang penolong pun bagi orang-orang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada kaum Nasrani yang mengatakan: Allah itu Al Masih putra Maryam. Sampai sekarang pernyataan salah kaprah seperti ini masih terus bergaung. Sesungguhnya, Al Masih putra Maryam itu makhluk Allah yang diutus untuk meluruskan kepercayaan hidup Bani Israil yang dikarunia banyak kelebihan dibanding dengan yang lain. Karunia kelebihan bani Israil ini kalau tidak digunakan untuk kesejahteraan dunia, hanya ingin kekuasaan di dunia, maka tidak diridoi Allah. Dunia ini akan menjadi kacau, mungkin akan mengakibatkan kiamat.

laqod = sesungguhnya; kafaro = telah kafir; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = mereka berkata; innallãha = sesungguhnya Allah; tsãlitsu tsalatsatin = tiga dari yang tiga; wa mã min ilãhin = dan tidak ada ilah; illã = selain; ilãhun = Ilah; uw wãhidun = satu, esa; wa in = dan jika; lam = tidak; yantahũ = mereka berhenti; ‘ammã = dari apa; yaqũlũna = mereka katakan; layamassanna = tentu akan menyentuh; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; minhum = di antara mereka; adzãbun = azab; alĩm = pedih.

laqod kafarol ladzĩna qōlũ innallãha tsãlitsu tsalatsatin wa mã min ilãhin illã ilãhuw wãhidun wa il lam yantahũ ‘ammã yaqũlũna layamassannal ladzĩna kafarũ minhum adzãbun alĩm.

73. Sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Allah salah satu dari yang tiga,” padahal tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti mengatakan demikian itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka itu akan disentuh siksa yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah lebih menegaskan ayat sebelumnya

afalã = mengapa tidak; yatũbũna = mereka bertobat; ilallãhi = kepada Allah; wa yastaghfirũ = dan mereka memohon ampun; nahũ = kepada-Nya; wallãhu = dan Allah; ghofurun = Maha pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

afalã yatũbũna ilallãhi wa yastaghfirũ nahũ, wallãhu ghofurur rohĩm.

74. Karena itu, mengapa mereka tidak bertobat dan memohon ampun kepada Allah?, padahal Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang selalu membuka kesempatan untuk bertobat dan memohon ampun kepada Makhluk-Nya yang kafir, munafik, musyrik, fasik. Kalau kesempatan itu tidak digunakan, maka peringatan Allah pada ayat sebelum ini, akan mengenai mereka.

ma = bukankah; al masĩhu = Al Masih; ibnũ = putra; maryama = Maryam; illã = melainkan; rosũlun = seorang Rasul; qod = sungguh; kholat = telah berlalu; min = dari; qoblihi = sebelumnya; ar rusulu = beberapa Rasul; wa ummuhũ = dan ibunya; shiddĩqoh = seorang wanita (berperilaku) benar; kaanã = keduanya adalah; ya’kulaani = keduanya memakan; ath tho’ãm = makanan; unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; nubayyinu = Kami menjelaskan; lahumu = kepada mereka; al ayãti = keterangan-keterangan; tsumma = kemudian; anzhur = perhatikanlah; annã = ke mana; yu’fakũn = mereka berpaling.

mal masĩhubnũ maryama illã rosũlun qod kholat min qoblihir rusulu wa ummuhũ shiddĩqoh, kaanã ya’kulaanith tho’ãm, unzhur kaifa nubayyinu lahumul ayãti tsummanzhur annã yu’fakũn.

75. Al Masih, putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesunguhnya sudah ada beberapa rasul sebelumnya, ibunya seorang yang sangat jujur, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan kepada para Ahli Kitab tanda-tanda kekuasaan Kami, kemudian perhatikanlah, bagaima-na mereka menyimpang dari ayat-ayat Kami itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “keduanya biasa memakan makanan” maksudnya: Isa a.s. dan ibunya adalah manusia yang memerlukan makan, minum, dan lain-lain keperluan hidup sebagaimana umumnya manusia. Demikianlah Allah menjelaskan kepada para Ahli Kitab tentang Al Masih ini, tetapi mereka tetap tidak mempercayai ayat-ayat Allah.

qul = katakanlah; ata’budũna = mengapa kamu menyembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; mã lã = apa yang tidak; yamliku = berkuasa; lakum = kepadamu; dhorran = memberikan bahaya; wa lã = dan tidak; naf’aan = memberi manfaat; wallãhu = dan Allah; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.

qul ata’budũna min dũnillãhi mã lã yamliku lakum dhorran wa lã naf’aan, wallãhu huwas samĩ’ul ‘alĩm.

76. Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadamu, dan tidak pula manfaat?” Dan Dia Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah berulang-ulang kepada kaum Nasrani.

qul = katakanlah; yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lã = jangan; taghlũ = kamu berlebihan; fĩ dĩnikum = dalam beragamamu; ghoyro = dengan tidak; al haqqi = kebenaran; wa lã = dan jangan; tattabi’ũ = kamu mengikuti; ahwã-a = nafsu; qoumin = kaum; qod = sungguh; dhollũ = mereka telah sesat; min qoblu = dari sebelumnya; wa adhollũ = dan mereka menyesatkan; katsĩron = kebanyakan; wa dhollũ = dan mereka tersesat; ‘an sawã-i = dari yang lurus; as sabĩl = jalan.

qul yã ahlal kitãbi lã taghlũ fĩ dĩnikum ghoyrol haqqi wa lã tattabi’ũ ahwã-a qoumin qod dhollũ min qoblu wa adhollũ katsĩron wa dhollũ ‘an sawã-is sabĩl.

77. Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam Dienmu. Jangan pula kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sejak dulunya, dan mereka menyesatkan banyak manusia, karena mereka tersesat dari jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, ada orang (Ahli Kitab) yang berlebihan dalam menjalankan Dĩn-nya. Mereka menjadi tersesat. Waspadalah selalu karena sekarang pun masih terus berkembang, menjadi aliran-aliran sesat.

lu’ina = telah dilaknat; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min = dari; banĩ isrō-ila = Bani Israil; ‘alã = pada, di atas; lisaani = lisan; dãwũda = Daud; wa ‘ĩsã = dan Isa; abni maryama = putra maryam; dzãlika = demikian itu; bimã = disebabkan; ‘ashou = mereka durhaka; wa kaanũ = dan mereka adalah; ya’tadũn = (mereka) melampaui batas.

lu’inal ladzĩna kafarũ mim banĩ isrō-ila ‘alã lisaani dãwũda wa ‘ĩsãbni maryama, dzãlika bimã ‘ashouw wa kaanũ ya’tadũn.

78. Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil pada apa yang dikatakan tentang Daud dan Isa putra Maryam, demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu selalu melakukan atau mengatakan sesuatu yang melampaui batas kewajaran, sehingga Allah melaknatinya.

kaanũ = mereka adalah; lã yatanãhauna = tidak saling melarang; ‘am munkarin = dari perbuatan mungkar; fa’alũhu = mereka lakukan; labi’sa = sungguh amat buruk; mã = apa; kaanũ = mereka adalah; yaf’alũn = (mereka) perbuat.

kaanũ lã yatanãhauna ‘am munkarin fa’alũhu, labi’sa mã kaanũ yaf’alũn.

79. Mereka, satu dengan yang lainnya selalu tidak saling melarang tindakan mungkar yang diperbuatnya. Sesungguhnya, amatlah buruk apa yang selalu mereka perbuat itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu tidak saling melarang perbuatan mungkar, seperti menyembah berhala, mengusir Utusan Allah, melakukan kejahatan.

tarō = kamu melihat; katsĩron = kebanyakan; minhum = di atara mereka; yatawallauna = (mereka) menjadikan pemimpin; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; labi’sã = sungguh amat buruk; mã = apa; qoddamat = yang telah disediakan; lahum = bagi mereka; anfusuhum = dari mereka sendiri; in sakhithallãhu = bahwa Allah murka; ‘alaihim = kepada mereka; wa fĩ = dan di dalam; al ‘adzãbihum = azab mereka; khōlidũn = (mereka) kekal.

tarō katsĩrom minhum yatawallaunal ladzĩna kafarũ, labi’sã mã qoddamat lahum anfusuhum in sakhithallãhu ‘alaihim wa fĩl ‘adzãbihum khōlidũn

80. Kamu melihat, kebanyakan mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir dan musyrik. Sesungguhnya, amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir melakukan suatu perbuatan yang buruk, akibatnya akan menimpa diri mereka sendiri. Siksa di neraka kekal, tidak ada hentinya.

wa lau = dan seandainya; kaanũ = mereka adalah; yu’minũna = (mereka) beriman; billãhi = kepada Allah; wa = dan; an nabiyyi = Nabi; wa mã = dan apa; unzila = yang diturunkan; ilaihi = kepadanya; mattakhadzũhum = mereka tidak mengambil orang-orang kafir; auliyã-a = pelindung, pemimpin, penolong; wa = dan; lãkinna = akan tetapi; katsĩron = kebanyakan; minhum = di antara mereka; fãsiqũn = bodoh.

wa lau kaanũ yu’minũna billãhi wan nabiyyi wa mã unzila ilaihi mattakhadzũhum auliyã-a wa lãkinna katsĩrom minhum fãsiqũn.

81. Seandainya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi Musa, dan apa yang diturunkan kepada para nabi, tentu mereka tidak memakai orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan mereka itu orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan untuk manusia, di dunia ini banyak orang yang kafir, munafik, musyrik, dan fasik.

latajidanna = sungguh kamu akan mendapati; asyadda = paling keras; annãsi = manusia; ‘adãwatan = permusuhan; lilladzĩna = terhadap orang-orang yang; ãmanu = beriman; al yahũda = orang-orang Yahudi; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; asyrokũ = (mereka) musyrik; wa latajidanna = dan sungguh kamu akan mendapati; aqrobahum = mereka paling dekat; mawaddatan = persabatan; lilladzĩna = terhadap orang-orang yang; ãmanu = (mereka) beriman; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = (mereka) berkata; innã = sesungguhnya kami; nashōrō = orang-orang Nasrani; dzãlika = demikian itu; bi-anna = disebabkan; minhum = di antara mereka; qissĩsĩna = pendeta-pendeta; wa ruhbaanan = dan rahib-rahib; wa annahum = dan mereka; la yastakbirũn = mereka tidak menyombongkan diri.

latajidanna asyaddannãsi ‘adãwatal lilladzĩna ãmanul yahũda wal ladzĩna asyrokũ, wa latajidanna aqrobahum mawaddatal lilladzĩna ãmanul ladzĩna qōlũ innã nashōrō dzãlika bi-anna minhum qissĩsĩna wa ruhbaanan wa annahum la yastakbirũn.

82. Sesungguhnya, kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya dengan orang-orang yang meriman, yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya, kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya, kami ini orang-orang Nasrani.” Demikian itu, karena di antara orang-orang Nasrani, ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang tidak menyombongkan diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan situasi hubungan dengan orang Yahudi yang memusuhi, dan dengan orang Nasrani yang bersahabat. Semuanya perlu dihimbau agar mau beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w., sehingga tidak ada permusuhan, dan saling menyombongkan diri. Semuanya akan menjadi bersaudara dalam iman yang sama, membina kehidupan yang aman, tenteram, damai, sejahtera, bahagia.

Juz 7

Peringatan Kepada Kaum Muslimin pada Adat-Istiadat Jahiliah yang Terlarang.

wa idzã = dan apabila; sami’ũ = mereka mendengarkan; mã = apa; unzila = yang diturunkan; ilã = kepada; ar rosũli = Rasul; tarō = kamu lihat; a’yunahum = mata mereka; tafĩdhũ = mencucurkan; mina = dari; ad dam’i = air mata; mimmã = dari apa, disebabkan; ‘arofũ = mereka ketahui; mina = dari; al haqqi = kebenaran; yaqũlũna = mereka berkata; Rab ana = yã Rab ; ãmannã = kami telah beriman; faktubnã = maka catatlah kami; ma’a = bersama; asy syãhidĩn = orang-orang yang menjadi saksi.

wa idzã sami’ũ mã unzila ilãr rosũli tarō a’yunahum tafĩdhũ minad dam’i mimmã ‘arofũ minal haqqi, yaqũlũna Rab ana ãmannã faktubnã ma’asy syãhidĩn.

83. Dan, apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w., kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran Alquran yang telah mereka ketahui dari Kitab-kitab mereka, seraya berkata: “Robana, kami telah beriman, maka catatlah, kami bersama-sama dengan orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan dari Allah tentang orang-orang yang terkesan ketika apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dibacakan kepada mereka. Mereka menyadari kebenaran isi Alquran yang sesuai dengan isi Kitab-kitab mereka.

wa mã = mengapa; lanã = kami; lã nu’minu = tidak beriman; billãahi = kepada Allah; wa mã = dan apa; jã anã = datang kepada kami; mina = dari; al haqqi = kebenaran; wa nathma’u = dan kami menginginkan; an yud-khilanã = agar memasukkan kami; Rab unã = yã Rab kami; ma’a = beserta, ke dalam; al qoumi = kaum; ash sholihĩn = orang-orang yang saleh.

wa mã lanã lã nu’minu billãahi wa mã jã anã minal haqqi wa nathma’u an yud-khilanã Rab unã ma’al qoumish sholihĩn.

84. “Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah, dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat menginginkan agar Rab kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang saleh?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pertanyaan retorik dari orang-orang yang telah beriman untuk diperhatikan oleh generasi berikutnya. Maksudnya, agar mereka termasuk orang-orang yang saleh.

fa = maka; atsãbahumullãhu = Allah memberi pahala kepada mereka; bimã = dengan apa; qōlũ = mereka katakana; jannãtin = surga; tajrĩ = mengalir; min = dari; tahtiha = atas; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa dzalika = dan itulah; jazã-u = balasan; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.

fa atsãbahumullãhu bimã qōlũ jannãtin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wa dzalika jazã-ul muhsinĩn.

85. Karena itu, Allah memberi mereka pahala surga dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya, atas perkataan yang mereka ucapkan. Mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan untuk orang-orang yang berbuat kebaikan karena keimanannya yang ikhlas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan kepada seluruh umat manusia, apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan untuk kebaikan akan mendapat balasan kenikmatan yang berlipat-lipat banyaknya.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir (menolak, membantah); wa kadzdzabũ = dan mereka mendustakan; bi-ãyãtinã = pada ayat-ayat kami; ũlãika = mereka itulah; ashhãbu = penghuni; al jahĩm = neraka jahim.

wal ladzĩna kafarũ wa kadzdzabũ bi-ãyãtinã ũlãika ashhãbul jahĩm.

86. Dan, orang-orang kafir dan yang menganggap dusta ayat-ayat Kami, mereka menjadi penghuni neraka jahim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan umat manusia, jika ada yang membantah, menolak, tidak mempercayai ayat-ayat Allah, bersip-siaplah untuk menghuni neraka jahim.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã = jangan; taharrimũ = kamu mengharamkan; thoyyibãti = yang baik-baik; mã = apa-apa; ahallallãhu = Allah menghalalkan; lakum = bagi kamu; wa lã = dan jangan; ta’tadũ = melampaui batas; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = Dia tidak menyukai; al mu’tadĩn = orang-orang yang melampaui batas

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã taharrimũ thoyyibãti mã ahallallãhu lakum wa lã ta’tadũ, innallãha lã yuhibbul mu’tadĩn.

87. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik, dan Allah telah menghalalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan dan pelajaran apa-apa yang baik dan halal, dan apa-apa yang haram, dan yang melampaui batas. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas kewajaran.

wa kulũ = dan makanlah; mimmã = dari apa; rozakokumullãhu = Allah telah memberi rezeki kepada kamu; halalan = yang halal; thoyyiban = yang baik; wattaqũllãha = dan bertakwallah kamu kepada Allah; al ladzĩ = orang-orang yang; antum = kamu; bihĩ = dengan-Nya, kepada-Nya; mu’minũn = orang-orang yang beriman.

wa kulũ mimmã rozakokumullãhu halalan thoyyiban, wattaqũllãhal ladzĩ antum bihĩ mu’minũn.

88. Dan, makanlah makanan yang halal dan baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah Yang telah kamu imani.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Makanan yang halal adalah makanan yang didapat secara halal dan yang diperbolehkan dan baik dimakan, misalnya: makanan yang tidak mengandung racun berbahaya, seperti nasi, ubi-ubian, jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran, bumbu-bumbu, daging, ikan, dan lain-lain.
Makanan yang tidak halal adalah makanan yang telah ditetapkan di dalam Alquran dan hadis, dan yang didapat dari mencuri, menipu, dan hasil perbuatan jahat lainnya. Contohnya: makanan beracun, daging babi, daging ampibi, daging binatang bertaring, daging sembelihan yang tidak mengatasnamakan Allah (lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 168, 172, 173; Al Maidah, 5: 3, 4, 5).

lã yu-ãkhidzukumullãhu = Allah tidak menghukum kamu; bil laghwi = dengan gurauan; fĩ aimaanikum = dalam sumpahmu; wa lãkin = tetapi; yu-akhidzukum = Dia menghukum kamu; bimã = dengan sebab; ‘aqqodtumũ = kamu sengaja; al aimaana = sumpah-sumapah itu; fakaffãrotuhũ = maka kafarat (denda)-nya; ith’a’amu = memberi makan; ‘asyarati = sepuluh; masãkĩna = orang-orang miskin; min ausathi = dari setengahnya; mã = apa; tuth’imũna = makanan yang kamu berikan; ahlĩkum = keluargamu; au kiswatuhum = atau memberi mereka pakaian; au tahrĩru = atau memerdekakan; roqobatin = seorang budak; faman = maka barang siapa; lam yajid = tidak mendapatkan; fashiyãmu = maka berpuasalah; tsalãtsati = tiga; ayyãmin = hari; dzãlika = demikian itu; kaffãrotu = kafarat, denda; aimaanikum = sumpah-sumapahmu; idzã = jika; holaftum = kamu bersumpah; wahfazhũ = dan jagalah; aimaanakum = sumpah-sumpahmu; kadzãlika = seperti demikianlah; yubayyinullãhu = Allah menerangkan; lakum = kepada kamu; ãyãtihĩ = ayat-ayat-Nya; la’allakum = agar kamu; tasykurũn = bersyukur.

lã yu-akhidzukumullãhu bil laghwi fĩ aimaanikum wa lãkin yu-akhidzukum bimã ‘aqqodtumũl aimaana, fakaffãrotuhũ ith’a’amu ‘asyarati masãkĩna min au sathi mã tuth’imũna ahlĩkum au kiswatuhum au tahrĩru roqobatin faman lam yajid fashiyãmu tsalãtsati ayyãmin, dzãlika kaffãrotu aimaanikum idzã holaftum, wahfazhũ aimaanakum, kadzãlika yubayyinullãhu lakum ãyãtihĩ la’allakum tasykurũn.

89. Allah tidak menghukum kamu karena ucapan sumpah-sumpahmu yang tanpa sadar (dibuat senda gurau, bermain-main), tetapi Dia menghukum sumpah-sumpah yang sengaja diucapkan dengan kafarat, yaitu memberi makan sepuluh orang miskin, dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukannya, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Demikian itu adalah kafarat atas pelanggaran sumpah-sumpahmu. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah, Allah menerangkan kepadamu hukum sumpah, agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan aturan untuk orang yang mengucapkan sumpah. “sumpah-sumpah yang sengaja diucapkan” maksudnya sumpah yang dengan sadar diucapkan, tapi kemudian tidak dijalankan atau tidak dibuktikan, artinya melanggar sumpah. Jadi yang mengucapkan sumpah harus membayar denda.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; innamã = sesungguhnya; al khamru = minuman keras; wal maisiru = dan judi; wal anshōbu = dan berhala-berhala; wal azlãmu = dan mengundi nasib dengan anak panah; rijsum = perbuatan keji; min ‘amali = dari perbuatan; asy syaithōni = setan; fa ajtanibũhu = maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu; la’allakum = agar kamu; tuflihũn = (kamu) beruntung.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ innamãl khamru wal maisiru wal anshōbu wal azlãmu rijsum min ‘amalisy syaithōni fa ajtanibũhu la’allakum tuflihũn.

90. Wahai orang-orang yang beriman, meminum khamar, berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah itu perbuatan keji, termasuk perbuatan setan, maka jauhilah pebuatan-pebuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menghimbau kepada orang-orang yang beriman, agar tidak melakukan perbuatan keji. Lihat cacatan Surat al Maidah: 3.

innamã = sesungguhnya hanya; yurĩdu = bermaksud; asy syaitōnu = setan; an yũqi’a = hendak menimbulkan; bainakumu = di antara kamu; al ‘adãwata = permusuhan; wal baghdhō-a = dan kebencian; fil khamri = pada minuman keras; wal maisiri = dan berjudi; wa yashuddakum = dan menghalangi kamu; ‘an dzikrĩllãhi = dari mengingat Allah; wa ‘anish sholawãti = dan dari salat; fahal = maka maukah; antum = kamu; muntahũn = orang-orang yang berhenti.

innamã yurĩdusy syaitōnu an yũqi’a bainakumul ‘adãwata wal baghdhō-a fil khamri wal maisiri wa yashuddakum ‘an dzikrĩllãhi wa ‘anish sholawãti, fahal antum muntahũn.

91. Sesungguhnya, setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian dia antara kamu, lantaran meminum khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dalam mengingat Allah dan salat, maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada orang yang beriman dengan melarang meminum khamar, berjudi, mengundi nasib dengan anak panah atau yang sejenisnya, karena akan menyebabkan seseorang lupa untuk mengingat-Nya. Allah memerintah kita semua agar menghentikan pekerjaan yang dilarang.

wa athĩ-ũllãha wa athĩ-ũr rasũla wahdzarũ, fa in tawallaitum fa’lamũ annamã ‘alã rasũlinãl balãghul mubĩn.

wa athĩ-ũllãha = dan tãtlah kamu kepada Allah; wa athĩ-ũr rasũla = dan tãtlah kepada Rasul; wahdzarũ = dan berhati-hatilah kamu; fa in = maka jika; tawallaitum = kamu berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annamã = hanyalah; ‘alã = pada; rasũlinã = Rasul Kami; al balãghu = penyampai (amanat); al mubĩn = yang jelas.

92. Dan, tãtlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan berhati-hatilah. Jika kamu tidak percaya, maka ketahuilah, sesungguhnya kewajiban rasul Kami, hanyalah menyampaikan amanat dengan jelas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar kita harus tãt kepada perintah Allah dan Rasul-rasul-Nya. Nabi Muhammad Rasulullah hanyalah sebagai penyampai amanat yang jelas dari Allah.

laisa = tidaklah, bukanlah; ‘ala = atas; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; junãhun = berdosa; fĩmã = tentang apa (makanan); tho’imũ = telah mereka makan; idzã = jika; mat taqau = mereka bertakwa; wa ãmanũ = dan beriman; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; tsumma = kemudian; at taqau = mereka bertakwa; wa ãmanũ = dan mereka beriman; tsumma = kemudian; at taqau = mereka bertakwa; wa ahsanũ = dan mereka berbuat kebaikan; wallãhu = dan Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muhsinĩn = orang-orang yang berubuat kebaikan.

laisa ‘alal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilũsh shōlihãti junãhun fĩmã tho’imũ idzã mat taqauw wa ãmanũ wa ‘amilũsh shōlihãti tsummat taqauw wa ãmanũ tsummat taqauw wa ahsanũ, wallãhu yuhibbul muhsinĩn.

93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, serta mengerjakan amalan saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman dan melakukan kebajikan. Dan Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Makanan yang sudah mereka makan dahulu sebelum beriman dan bertakwa, tidak menyebabkan dosa, bila sekarang mereka bertakwa, beriman, dan beramal saleh.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; la yabluwannakumullãhu = sungguh Allah akan menguji kamu; bi syai-in = dengan sesuatu; minash shaydi = dari binatang buruan; tanãluhũ = kamu memperolehnya; aidĩkum = tangan kamu; wa rimãhukum = dan tombakmu; liya’lamallãhu = karena Allah mau mengetahui; man = siapa; yakhōfuhũ = takut kepada-Nya; bil ghoibi = dengn yang gaib; famani = maka barang siapa; i’ tadã = melanggar batas; ba’da = sesudah; dzãlika = itu; falahũ = maka baginya; ‘adzãbun alĩm = azab yang pedih.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ la yabluwan nakumullãhu bi syai-im minash shaydi tanãluhũ aidĩkum wa rimãhukum liya’lamallãhu man yakhōfuhũ bil ghoibi, famani’tadã ba’da dzãlika falahũ ‘adzãbun alĩm.

94. Wahai orang-orang yang beriman, Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, maksudnya Allah menguji kaum muslimin yang mengenakan ihram dengan melepaskan binatang-binatang buruan hingga mudah ditangkap, tapi Allah melarang berburu pada saat mengenakan ihram.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã taqtulũ = jangan kamu membunuh; ash shaida = binatang buruan; wa antum = dan kamu; hurumun = berihram; wa man = dan barang siapa; qotalahũ = membunuhnya; minkum = di antara kamu; muta’ammidan = dengan sengaja; fajazã-un = maka balasannya; mitslu mã = seperti apa; qotala = ia membunuh; minan na’ami = dari binatang ternak; yahkumu = memutuskan hokum; bihĩ = dengannya; dzawã ‘adlin = dua orang yang adil; minkum = di antara kamu; hadyan = sebagai kurban; bãligho = sampai (di bawah); alka’bati = Ka’bah; au kaffãrotun = atau sebagai kafarat (denda); tho’amu = memberi makan; masãkĩna = orang-orang miskin; au ‘adlu = atau mengganti; dzãlika = seperti itu; shiyãman = berpuasa; liyadzũqo = supaya ia merasakan; wa bãla = akibat buruk; amrih = pekerjaannya; afa = telah memãfkan; allãhu = Allah; ‘ammã = tentang apa; salafa = telah lalu; wa man = dan barang siapa; ‘ãda = kembali; fayantaqimullãhu = maka Allah akan menyiksa; minhu = darinya; wallãhu = dan Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; dzuntiqōm = Pemilik Hak Menyiksa.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã taqtulũsh shaida wa antum hurumun, wa man qotalahũ minkum muta’ammidan fajazã-um mitslu mã qotala minan na’ami yahkumu bihĩ dzawã ‘adlim minkum hadyam bãligholka’bati au kaffãrotun tho’amu masãkĩna au ‘adlu dzãlika shiyãmal liyadzũqo wa bãla amrih, afallãhu ‘ammã salafa wa man ‘ãda fayantaqimullãhu minhu, wallãhu ‘azĩzun dzuntiqōm.

95. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan orang yang adil di antara kamu sebagai hadya yang dibawa sampai ke Kabah, atau dengan membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memãfkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya, Allah Mahakuasa, dan Pemilik Hak menyiksanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “janganlah kamu membunuh binatang buruan” yakni binatang buruan yang boleh dimakan, kecuali burung gagak, elang, kalajengking, tikus, dan anjing buas, serta ular.
“hadya” lihat catatan ayat 2.
“dibawa sampai ke Kabah” maksudnya dibawa ke daerah haram untuk disembelih di sana, dan dagingnya dibagikan kepada fakir-miskin.
“seimbang dengan makanan yang dikeluarkan” yakni makanan yang sama dimakan oleh subyek atau pelaku, kurang-lebih seberat 6,5 ons beras.
“Allah telah memãfkan apa yang telah lalu” maksudnya membunuh binatang sebelum ayat yang mengharamkan ini turun.

uhilla = dihalalkan; lakum = bagimu; shaidu = binatang buruan; al bahri = laut; wa tho’ãmuhũ = dan memakannya; matã’an = kesenangan, lezat; lakum = bagimu; wa lĩssayyãroti = bagi yang dalam perjalanannya; wa hurrima = dan diharamkan; ‘alaykum = bagi kamu; shaidu = binatang buruan; al barri = darat; mã dumtum = selama kamu; hurumaan = berihram; wat taqũllãha = dan bertakwalah kamu kepada Allah; al ladzĩ = yang; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu dikumpulkan.

uhilla lakum shaidul bahri wa tho’ãmuhũ matã’al lakum wa lĩssayyãroti wa hurrima ‘alaykum shaidul barri mã dumtum hurumaan, wat taqũllãhal ladzĩ ilaihi tuhsyarũn.

96. Dihalalkan bagimu binatang buruan dan makanan yang berasal dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan kepadamu menangkap binatang buruan darat, selama kamu berihram. Dan bertakwalah kepada Allah, Yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

ja’alallãhu = Allah telah menjadikan; al ka’abata = Ka’bah; al baita = rumah; al hsrōma = suci; qiyãman = menegakkan; linnãsi = bagi manusia; wa syahro = dan bulan; al harōma = suci; wal hadya = dan binatang kurban; wal qolã-ida = dan binatang yang berkalung; dzãlika = demikian itu; li ta’lamũ = agar kamu mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; mã fĩ = apa yang di dalam; as samãwãti = langit; wa mã fĩ = dan apa-apa yang ada di al ardhĩ = bumi; wa annallãha = dan susungguhnya Allah; bi kulli = atas segala; sya-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

ja’alallãhul ka’abatal baital hsrōma qiyãmal linnãsi wa syahrol harōma wal hadya wal qolã-ida, dzãlika li ta’lamũ annallãha ya’lamu mã fĩs samãwãti wa mã fil ardhĩ wa annallãha bi kulli sya-in ‘alĩm.

97. Allah telah menjadikan Ka’bah, Rumah Suci sebagai pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia, dan demikian pula Bulan Haram, Allah membuat hadya, kalaid itu, agar kamu mengetahui, bahwa Allah sangat mengetahui apa yang ada di langit, dan apa yang ada di bumi, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu .

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan bahwa Ka’bah itu harus digunakan untuk beribadat yang berurusan dengan Allah yang bersifat gaib, dan dengan dunia yang kita hadapi secara nyata.
Lihat juga Al Baqarah, 2: 284 dan Surat Ali ‘Imran, 3: 29; 129; An Nisa, 4: 131; 132.

i’lamũ = ketahuilah; annallãha = Allah sesungguhnya; syadĩdu = amat keras; al ‘iqōbi = siksa-Nya; wa annallãha = dan Allah sesungguhnya; ghofũrun = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

i’lamũ annallãha syadĩdul ‘iqōbi wa annallãha ghofũrur rohĩm.

98. Ketahuilah, Allah sesungguhnya sangat keras siksa-Nya, dan juga Allah sesungguhnya Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, bahwa Dia amat keras siksa-Nya, namun Dia juga Maha Pengampun bagi mereka yang mau bertobat atas kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, dan kemurtadannya. Allah juga Maha Penyayang kepada seluruh makhluk-Nya.

mã = apa, bukan, tidak (kewajiban; tergantung hubungannya dengan bagian kalimat yang lain); ‘alã = atas, untuk; ar rosũli = Rasul; illã = tidak lain hanya; al balãghu = penyamapaian (amanat Allah); wallãhu = dan Allah; ya’lamu = mengetahui; mã tubdũna = apa yang kamu nyatakan; wa mã taktumũn = dan apa uang kamu sembunyikan.

mã ‘alãr rosũli illãl balãghu, wallãhu ya’lamu mã tubdũna wa mã taktumũn

99. Kewajiban Rasul, tidak lain hanyalah menyampaikan amanat Allah, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan, dan apa yang kamu sembunyikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rasulullah Muhammad s.a.w. itu pesuruh Allah. Kewajibannya menyampaikan amanat Allah kepada umat manusia, makhluk-Nya yang dimuliakan Allah. Sepanjang sejarah manusia, selalu saja ada manusia yang tidak mau percaya atas apa yang dibawa oleh para Nabi-Nya. Manusia suka menyembunyikan kata hatinya yang salah.

qul = katakanlah; lã yastawĩ = tidaklah sama; al khabĩtsu = yang buruk; wa = dan, dengan; ath thoyyibu = yang baik; walau = walau, meskipun, kalaupun; a’jabaka = menarik hati kamu; katsrotu = banyak; al khabĩtsi = yang jelek; fat taqũllãha = maka kepada Allahlah bertakwa; yã ũlil albãbi = wahai orang-orang yang berakal; la’allakum = agar kamu; tuflihũn = (kamu) meruntung.

qul lã yastawĩl khabĩtsu wath thoyyibu walau a’jabaka katsrotul khabĩtsi, fat taqũllãha yã ũlil albãbi la’allakum tuflihũn.

100. Katakanlah: “Tidak sama yang jelek dengan yang baik, meskipun banyak yang jelek menarik hatimu; bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapatkan keberuntungan,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan hal yang jelek dan yang baik itu tidak sama. Untuk memilih yang baik, kita harus bertakwa kepada Allah. Setelah itu gunakan akal dan pikiran kita, agar kita mendapatkan keberuntungan. Berikut ini larangan bertanya tentang hal yang menyebabkan kemudaratan.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang…; ãmmanũ = beriman; lã tas-alũ = jangan menanyakan; ‘an asy-yã-a = suatu perkara; intubda = jika diterangkan; lakum = kepada kamu; tasu’kum = menyusahkan kamu; wa in = din jika; tas’alũ = kamu menanyakan; ‘anhã = dari perkara; hĩna = ketika; yunazzalu = diturunkan; al qur’anu = Alquran; tubda = diterangkan; lakum = kepada kamu; ‘afallãhu = Allah memãfkan; ‘anhã = dari perkara itu; wallãhu = dan Allah; ghōfũrun = Maha Pengampun; halĩm = Maha Penyantun.

yã ayyuhal ladzĩna ãmmanũ lã tas-alũ ‘an asy-yã-a intubda lakum tasu’kum wa in tas’alũ ‘anhã hĩna yunazzalul qur’anu tubda lakum ‘afallãhu ‘anhã, wallãhu ghōfũrun halĩm

101. Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu, dan jika kamu menanyakannya ketika Alquran sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memãfkan kamu tentang hal-hal itu; Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman, untuk tidak menanyakan suatu hal kalau penjelasannya akan menyusahkan kamu. Hal-hal yang dipertanyakan itu antara lain: …….. Juga jika sebuah ayat sedang dibacakan Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, engkau jangan menanyakannya, kelak ayat itu akan diterangkan kepadamu.

qod = sesungguhnya; sa-alahã = telah menanyakan soal; qoumun = golongan, kaum; min qoblikum = sebelum kamu; tsumma = kemudian; ashbahũ = jadilah mereka; bihã = karenanya; kãfirĩn = orang-orang kafir.

qod sa-alahã qoumum min qoblikum tsumma ashbahũ bihã kãfirĩn.

102. Sesungguhnya, telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu kepada Nabi mereka, kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesudah diterangkan hukum-hukum yang mereka tanyakan, si penanya tidak menãtinya, artinya mereka tidak percaya, dan menjadi kafir.

mã ja’alallãhu = Allah tidak menjadikan; min = dari; bahĩrotin = bahirah; wa lã = dan tidak; sã-ibatin = saibah; wa lã = dan tidak; washĩlatin = wasilah; wa lã = dan tidak; hãmin = ham; wa lãkinna = akan tetapi; al ladzĩna = orang-orang yang…; kafarũ = kafir; yaftarũna = mereka membuat-buat; ‘alãllãhi = terhadap Allah; al kadziba = kebohongan; wa aktsaruhum = dan kebanyakan mereka; lã ya’qilũn = mereka tidak berakal.

mã ja’alallãhu mim bahĩrotin wa lã sã-ibatin, wa lã washĩlatin wa lã hãmin, wa lãkinnal ladzĩna kafarũ yaftarũna ‘alãllãhil kadziba wa aktsaruhum lã ya’qilũn

103. Allah tidak pernah satu kali pun mensyariatkan adanya bahĩrah, sãibah, washilah, dan hãm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat dusta tentang Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: bahĩrah, adalah kebiasaan penamaan masa jahiliah, unta betina yang sudah pernah beranak lima kali, dan anak yang kelima jantan; unta itu dĩris telinganya hingga terbelah, lalu dilepas dan tidak boleh ditunggangi dan tidak boleh diperah air susunya.
Sãibah, adalah unta betina yang dibiarkan lepas pergi ke mana saja karena ada nazar yang dilakukan orang Arab Jahilliah ketika akan melakukan perjalanan jauh dan berat dengan harapan perjalannya itu berhasil dan selamat.
Washilah, adalah domba betina yang melahrkan anak kembar dua, jantan dan betina. Yang jantan disebut washilah yang tidak boleh disembelih dan diserahkan kepada berhala.
Hãm adalah unta jantan yang telah mampu membuntingkan unta betina sepuluh kali. Unta jantan itu tidak boleh diganggu. Perlakuan bahĩrah, sãibah, washilah, dan hãm itu merupakan kepercayaan tahayul orang Arab Jahiliah. Tidak boleh menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini harus dihilangkan.

wa idzã = dan jika; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; ta’alau = marilah; ilã = kepada; mã = apa; anzalallãhu = yang diturunkan Allah; wa ilã = dan kepada; ar rosũli = Rasul; qōlũ = (mereka) berkata (menjawab); hasbunã = cukuplah kami; mã = apa; wajadnã = yang kami dapati; ‘alaihi = atasnya; ãbã-anã = bapak-bapak kami; awalau = apakah meski; kaana = adalah; ãbã-uhum = bapak-bapak mereka; lã ya’lamũna = mereka tidak mengetahui; syai-an = sesuatu apa pun; wa lã yahtadũn = dan mereka tidak mendapatkan petunjuk.

wa idzã qĩla lahum ta’alau ilã mã anzalallãhu wa ilãr rosũli qōlũ hasbunã mã wajadnã ‘alaihi ãbã-anã awalau kaana ãbã-uhum lã ya’lamũna syai-an wa lã yahtadũn.

104. Jika dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diwahyukan Allah, dan ikutilah Rasul”, mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami, mengerjakan apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami.” Dan, apakah mereka akan mengikuti juga nenek-moyang mereka menskipun tidak mengetahui apa-apa, dan pula tidak mendapatkan petunjuk?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah kepada orang-orang yang belum beriman. Mereka selalu menolak, dan Allah mempertanyaan secara retorik, apa yang menjadi keberatan mereka, mengapa mereka tidak mau percaya pada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang…; ãmanũ = beriman; ‘alaykum = atas kamu; anfusakum = dirimu; lã yadhurrukum = tidak memberi mudarat kepada kamu; man = orang; dholla = sesat; idza = apabila; ahtadaitum = kamu mendapat petunjuk; ilallãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kembali kamu; jamĩ’an = semua; fayunabbi-ukum = maka Dia akanmenerangkannya kepada kamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ ‘alaykum anfusakum lã yadhurrukum man dholla idzahtadaitum ilallãhi marji’ukum jamĩ’an fayunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.

105. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; orang yang sesat itu tidak akan memberi mudarat kepadamu, apabila kamu telah mendapatkan petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semuanya kembali, maka Dia akan menerangkan kepadamu, apa yang sudah kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya, maksudnya menjaga keimanannya agar tidak tergoda menjadi sesat.
“apabila kamu telah mendapatkan petunjuk” maksudnya, kesesatan orang lain tidak akan memberi mudarat kepadamu, asal kamu telah menerima dan mengakui kebenaran petunjuk dari Allah, yakni berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar.
Berikut ini anjuran berwasiat dengan saksi-saksi.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang…; ãmanũ = beriman; syahãdatu = penyaksian; bainikum = di antara kamu; idzã = apabila; hadhara = menghadiri; ahada kumu = salah seorang dari kamu; al mautu = kematian; hina = ketika; al washiyyati = berwasiat; itsnaani = dua orang; dzawã adlin = mempunyai keadilan; minkum = di antara kamu; au = atau; akharōni = dua orang lain; min ghairikum = dari selain kamu; in antum = jika kamu; dhorobtum = kamu bepergian; fil ardhi = di muka bumi; fa ashōbatkum = lalu menimpa kamu; mushĩbatu = musibah; al mauti = kematian; tahbisũnahumã = kamu menahan keduanya; mimba’di = dari sesudah; ash sholãti = salat; fayuqsimaani = lalu keduanya bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; inirtabtum = jika kamu ragu-ragu; lã nasytarĩ = kami tidak membeli; bihĩ = dengan wasiat; tsamanan = harga; walau kaana = walaupun adalah; dzã qurbã = kerabat; wa lã = dan tidak; naktumu = kami menyembunyikan; shahãdatallãhi = kesaksian Allah; innã = sesungguhnya kami; idza = jika demikian; al lamina = termasuk; al atsimĩn = orang-orang yang berdosa;

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ syahãdatu bainikum idzã hadhara ahada kumul mautu hinal washiyyatitsnaani dzawã adlim minkum au akharōni min ghairikum in antum dhorobtum fil ardhi fa ashōbatkum mushĩbatul mauti tahbisũ nahumã mimba’dish sholãti fayuqsimaani billãhi inirtabtum lã nasytarĩ bihĩ tsamanan walau kaana dzã qurbã wa lã naktumu shahãdatallãhi innã idzal laminal atsimĩn.

106. Wahai orang-orang yang beriman, apabila seorang dari kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang di antara orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi, lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu untuk bersaksi, sesudah salat, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu; “Demi Allah, kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit untuk kepentingan seseorang, walaupun dia karib kerabat, dan tidak pula kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya, kalau tidak demikian, kami termasuk orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman tentang aturan orang yang berwasiat.
“dua orang di antara orang yang berlainan agama dengan kamu” dari ayat ini ternyata, mengambil dua orang saksi yang berlainan agama itu diperbolehkan.

fain = maka jika; utsiro = dapat diketahui; ‘alã annahuma = atas keduanya; is tahaqqō = keduanya dapat berbuat; itsman = dosa; fa-ãkhrōni = maka dua orang yang lain; yaqũmaani = keduanya berdiri; maqōma humã = tempat kedudukan keduanya; minal ladzĩna = dari orang-orang yang …; as tahaqqo = berhak; ‘alaihimu = atas mereka; al aulayaani = dua orang lebih dekat; fayuqsimaani = maka keduanya bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; lasyahãdatunã = sesungguhnya kesaksian kami; ahaqqu = lebih berhak; min syahãdatihimã = dari kesaksian keduanya; wa ma’tadainã = dan kami tidak melanggar batas; innã = sesungguhnya kami; idzan = jika demikian; lamina = tentu termasuk; azh zhãlimĩn = orang-orang lalim.

fain utsiro ‘alã annahumas tahaqqō itsman fa-ãkhrōni yaqũmaani maqōma humã minal ladzĩnas tahaqqo ‘alaihimul aulayaani fayuqsimaani billãhi lasyahãdatunã ahaqu min syahãdatihimã wa ma’tadainã innã idzal laminazh zhãlimĩn

107. Kalau diketahui kedua saksi itu memperbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak, yang lebih dekat kepada orang yang meninggal, mengajukan tuntutan untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah atas nama Allah: “Sesungguhnya, persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua orang saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya, kalau kami demikian, tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kalau diketahui kedua saksi itu memperbuat dosa” maksudnya, saksi itu melakukan kecurangan dalam persaksiannya, dan hal itu diketahui sesudah mereka mengucapkan sumpah. Allah memberi petunjuk bagi orang yang bersaksi (menjadi saksi).

dzãlika = itu; adnã = lebih dekat; an ya’tũ = agar mereka datang; bi = dengan asy syahãdati = kesaksian; ‘alã = atas; wajhihã = wajah yang sebenarnya; au = atau; yakhãfũ = mereka takut; an turodda = akan dikembalikan; aimaanun = sumpah; ba’da = setelah; aimaanihim = sumpah mereka; wat taqũllãha = dan takutlah kepada Allah; wasma’ũ = dan dengarkanlah; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qauma = golongan; al fãsiqĩn = orang-orang bodoh.

dzãlika adnã an ya’tũ bisy syahãdati ‘alã wajhihã au yakhãfũ an turodda aimaanum ba’da aimaanihim wat taqũllãha wasma’ũ, wallãhu lã yahdĩl qaumal fãsiqĩn.

108. demikian itu lebih dekat untuk menjadikan para saksi mengemukakan persaksiannya, menurut apa yang sebenarnya, dan lebih dekat untuk menjadikan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya kepada ahli waris sesudah mereka bersumpah. Dan bertawakallah kepada Allah, dan dengarkanlah perintah-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “dan lebih dekat untuk menjadikan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya kepada ahli waris sesudah mereka bersumpah” maksudnya, sumpah saksi-saksi yang berlainan agama itu ditolak oleh saksi-saksi yang terdiri dari karib-kerabat, atau berarti orang-orang yang bersumpah itu akan mendapat balasan sampai ke turunannya di dunia dan di akhirat karena melakukan sumpah palsu.
Berikut ini ayat yang mengungkapkan salah satu peristiwa di hari kiamat.

yawma = ada hari; yajma’ullãhu = Allah mengumpulkan; ar rusula = Rasul-rasul; fayaqũlu = lalu Dia bertanya; mãdzã = bagaimanakah; ujibtum = kamu dijawb; qōlũ = mereka menjawab; lã ‘ilmalanã = tidak ada pengetahuan kami; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; ‘allãmu = Maha Mengetahui; al ghuyũbi = perkara-perkara yang gaib.

yawma yajma’ullãhur rusula fayaqũlu mãdzã ujibtum, qōlũ lã ‘ilmalanã innaka anta ‘allãmul ghuyũbi.

109. Ingatlah di suatu hari, ketika Allah mengumpulkan para Rasul lalu bertanya kepada mereka: “Apa jawaban kaumku terhadap seruanmu?” Para Rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami tentang itu.” Sesungguhnya, Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang kegaiban tugas para Rasul dan tanggapan kaumnya terhadap seruannya. Para Rasul mengemban tugas dari Allah Yang Mahagaib. Yang disampaikan itu sesuatu yang nyata dan gaib. Tanggapan kaumnya juga bersifat gaib, tidak dapat diketahui oleh para Rasul-Nya.
Ayat berikut ini mengingatkan tentang beberapa kisah Nabi Isa a.s. untuk menjadi pilihan manusia apakah akanmenjadi kafir, munafik, musyrik, atau fasik.

idz = ketika; qōlallãhu = Allab bersabda, yã ‘ĩsa = wahai Isa; abna maryam = putra Maryam; adzkur = ingatlah; ni’matĩ = nikmat-Ku; ‘alaika = kepada kamu; wa ‘alã = dan kepada; wãlidatik = ibu kamu; idz = ketika; ayyadtuka = Aku menguatkan kamu; bi rũhil qudusi = dengan Ruh Qudus tukallimu = kamu berbicara; an nãsa = manusia; fil mahdi = dalam buaian; wa kahlan = dan sesudah dewasa; wa idz = dan ketika; ‘alamtuka = Aku mengajar kamu; al kitãba = Kitab; wal hikmata = dan Hikmah; wat taurōta = dan Taurat; wal injĩla = dan Injil; wa idz = dan ketika; takhluqu = kamu membentuk; minath thĩni = dari tanah; kahai-ati = seperti bentuk; ath thairi = burung; bi idznĩ = dengan izin-Ku; fatanfukhu = maka kamu meniup; fĩhã = ke dalamnya; fatakũnu = maka jadilah ia; thoiron = burung; bi idznĩ = dengan izin-Ku; wa tubri’u = dan kamu menyembuhkan; al akmaha = orang buta; wal abrosho = dan orang sakit lepra; bi idzni = dengan izin-Ku; wa idz = dan ketika; tukhriju = kamu mengeluarkan; al mautã = orang mati; bi idznĩ = dengan izin-Ku; wa idz = dan ketika; kafaftu = Aku menahan; banĩ isrōĩla = Bani Israil; ‘anka = dari kamu; idz = ketika; ji’tahum = kamu datang kepada mereka; bilbayyinãti = dengan penjelasan-penjelasan; foqōla = maka berkata; alladzĩna = orang-orang yang….; kafarũ = kafir; minhum = di antara mereka; in hãdzã = tidakkah ini; illã = hanyalah; sihrum = sihir; mubĩn = yang nyata.

Idz qōlallãhu yã ‘ĩsabna maryamadzkur ni’matĩ ‘alaika wa ‘alã wãlidatik, idz ayyadtuka bi rũhil qudusi tukallimun nãsa fil mahdi wa kahlan, wa idz ‘alamtukal kitãba wal hikmata wat taurōta wal injĩla, wa idz takhluqu minath thĩni kahai-atith thairi bi idznĩ fatanfukhu fĩhã fatakũnu thoirom bi idznĩ wa tubri’ul akmaha wal abrosho bi idzni, wa idz tukhrijul mautã bi idznĩ, wa idz kafaftu banĩ isrōĩla ‘anka idz ji’tahum bilbayyinãti foqōlalladzĩna kafarũ minhum in hãdzã illã sihrum mubĩn.

110. Ingatlah, ketika Allah bersabda: “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Kudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia ketika dalam buaian, dan sesudah dewasa; dan ingatlah ketika Aku mengajar menuliskan hikmah Taurat dan Injil kepadamu; dan ingat pula ketika kamu membentuk dari tanah seekor burung dengan izin-Ku kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung yang sebenarnya. Dan ingatlah, ketika kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu, dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan Ingatlah, ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup kembali atas izin-Ku; dan ingatlah, ketika Aku menghalangi Bani Israil dari keinginan mereka membunuh kamu, ketika kamu mengemukakan penjelasan-penjelasan yang benar, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini sudah dipaparkan pada Q.s. Ali ‘Imran, 3: 49 dalam redaksi yang berbeda.
Allah mengingatkan kisah Nabi Isa ibnu Maryam dan tanggapan orang-orang yang tidak mempercayai kisah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

wa idz = dan ketika; auhaitu = aku ilhamkan, aku wahyukan; ilã = kepada; al hawãriyyĩna = pengikut setianya; an ãminũ = hendaknya berimanlah; bĩ = kepada-Ku; wa birasũlĩ = dan kepada Rasul-Ku; qōlũ = mereka menjawab; ãmannã = kami telah beriman; wasy had = dan saksikanlah; bi annanã = sesungguhnya kami; muslimũn = orang-orang muslim, patuh.

wa idz auhaitu ilãl hawãriyyĩna an ãminũ bĩ wa birasũlĩ qōlũ ãmannã wasy had bi annanã muslimũn.

111. Ingatlah ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman, dan saksikanlah wahai Rasul, sesungguhnya kami adalah orang yang patuh mengikuti seruanmu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan peristiwa Nabi Isa a.s. dengan para pengikut setianya.

idz = ketika; qōla = berkata; al hawãriyyũna = pengikut-pengikut yang setia; yã ‘isãbna maryama = wahai Isa putra Maryam; hal = apakah; yastathĩ’u = dapat; Rab uka = Penguasa kamu; an yunazzila = menurunkan; ‘alainã = kepada kami; mã idatan = makanan; mina = dari; as samã-i = langit; qōla = Isa menjawab; at taqũllãha = berakwalah kepada Allah; in = jika; kuntum = kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang mukmin (beriman)

idz qōlal hawãriyyũna yã ‘isãbna maryama hal yastathĩ’u Rab uka an yunazzila ‘alainã mã idatam minas samã-i, qōlat taqũllãha in kuntum mu’minĩn.

112. Ingatlah ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Wahai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang yang beriman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Isa a.s. diuji oleh pengikut-pengikutnya untuk membuktikan bahwa dirinya itu seorang nabi.
Sikap dan perbuatan orang yang bertakwa tergambar dalam Q.s. Al Baqarah, 2: 2, 3, 4. beserta keterangannya. Nabi Isa a.s. menjawab dengan perintah agar bertakwa kepada orang-orang yang menginginkan hidangan dari langit. Hal ini memerlukan proses gaib yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pikirannya.

qōlũ = mereka berkata; nuridu = kami ingin; an na’kula = untuk memakan; minhã = dari makanan itu; wa tathmainna = dan menenteramkan; qulũbunã = hati kami; wa na’lama = dan kami meyakini; an qod = bahwa sungguh; shodaqtanã = kamu berkata benar kepada kami; wa nakũna = dan adalah kami; ‘alaihã = atas hal itu; mina = dari; asy syãhidĩn = orang-orang yang menyaksikan.

qōlũ nuridu an na’kula minhã wa tathmainna qulũbunã wa na’lama an qod shodaqtanã wa nakũna ‘alaihã minasy syãhidĩn.

113. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu, agar hati kami tenteram, dan agar hati kami yakin, bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah hidangan tersedia atas kuasa Allah, maka para pengikut Nabi Isa a.s. ingin memakan hidangan itu dengan alasan agar hati mereka menjadi tenteram dan yakin, dan mereka menjadi saksi peristiwa turunnya hidangan langsung dari Allah.

qōla = berdoa; ‘isabnu maryamallahumma = Isa ibnu Maryam kepada Allah; Rab anã = yã Rab kami; anzil = turunkanlah; ‘alainã = kepada kami; mã idatan = hidangan (makanan); mina = dari; as samãi = langit; takũnu = jadikan ia; lanã = bagi kami; ‘ĩdan = hari raya; li awwalinã = dari kami yang pertama; wa ãkhirinã = dan dari kami yang kemudian; wa ãyatan = dan tanda-tanda (kekuasaan); minka = dari Engkau; warzuqnã = dan berilah kami rezeki; wa anta = dan engkau; khoiru = sebaik-baik; ar roziqĩn = pemberi rezeki.

qōla ‘isabnu maryamallahumma Rab anã anzil ‘alainã mã idatam minas samãi takũnu lanã ‘ĩdal li awwalinã wa ãkhirinã wa ãyatam minka, wãrzuqnã wa anta khoirur roziqĩn.

114. Isa putra Maryam berdoa kepada Allah: “Ya Allah Tuan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang hari kejadiannya menjadi hari raya bagi kami, yaitu orang-orang yang pertama seiman, dan orang-orang yang sesudah kami, dan menjadi tanda atas kekuasaan Engkau, berilah kami rezki, sesungguhnyalah Engkau Pemberi rezki Yang Paling Utama.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mewahyukan tentang ceritera Nabi Isa ibnu Maryam yang diminta para pengikutnya yang setia untuk memohon kepada Allah agar diberi hidangan dari Allah.

qōlallãhu = Allah berfirman; innĩ = sesungguhnya, Aku; munazziluhã = menurunkan (makanan) itu; ‘alaykum = kepada kamu; fa man = maka barang siapa; yakfur = ia ingkar; ba’du = sesudah itu; minkum = di antara mereka; fa-innĩ = maka sesunggunya, Aku; u’adz dzibuhũ = Aku akan mengazabnya. ‘adzãban = siksaan; lã u’adzibuhũ =belum pernah Aku menyikasanya; ahadan = seseorang; minal ‘ãlamĩn = di alam semesta ini.

qōlallãhu innĩ munazziluhã ‘alaykum fa man yakfur ba’du minkum fa-innĩ u’adz dzibuhũ ‘adzãbal lã u’adzibuhũ ahadam minal ‘ãlamĩn.

115. Allah Berfiman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan untukmu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah turunnya hidangan itu, sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Firman Allah memperingatkan umat Nabi Isa.

wa idz = dan ketika; qōlallãhu = Allah berfirman; yã ‘isabna maryama = yã Isa ibnu Maryam; ‘a anta = adakah kamu; qulta = kamu mengatakan; linnãsi = kepada manusia; at takhidzũnĩ = jadikanlah aku; wa ummiya = dan ibuku; ilãhaini = dua ilah; min dũnillãhi = dari selain Allah; qōla = Isa menjawab; subhaanaka = Mahasuci Engaku; mã yakũnu = tidak ada keyakinan; lĩ = bagiku; an aqũla = bahwa aku mengatakan; mã laisa = apa yang bukan; lĩ = bagiku; bihaqqin = dengan hak; inkuntu = jika aku adalah; qultuhũ = aku mengatakannya; faqod = maka sesungguhnya; ‘alimtahũ = Engkau mengetahuinya; ta’lamu = Engkau mengetahui; mã fĩ = apa yang di dalam; nafsĩ = diriku; wa lã a’lamu = dan aku tidak mengetahui; mã fĩ nafsika = apa yang ada dalam Diri Engkau; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; ‘alãmu = Engkau Maha Mengetahui; al ghuyũb = yang gaib.

wa idz qōlallãhu yã ‘isabna maryama ‘a anta qulta linnãsit takhidzũnĩ wa ummiya ilãhaini min dũnillãhi, qōla subhaanaka mã yakũnu lĩ an aqũla mã laisa lĩ bihaqqin inkuntu qultuhũ, faqod ‘alimtahũ, ta’lamu mã fĩ nafsĩ wa lã a’lamu mã fĩ nafsika, innaka anta ‘alãmul ghuyũb.

116. Dan, ingatlah, ketika Allah bertanya: “Wahai Isa putra Maryam, pernahkan kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah selain Allah?” Isa menjawab: “Mahasuci Engkau, tidaklah patut aku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui, apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Dirimu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan dengan sebuah pertanyaan tentang kedudukan Isa Ibnu Maryam terhadap Allah. Jangan dianggap sama atau dipersamakan dengan Allah.

mã qultu = aku tidak pernah mengatakan; lahum = kepada mereka; illã = kecuali; mã = apa yang; amartanĩ = Engkau perintahkan kepadaku; bihĩ = dengannya; ani’budũllãha = sembahlah Allah; Rab ĩ = Penguasaku; wa Rab aqum = dan Penguasamu; wa kuntu = dan aku adalah; ‘alaihim = atas mereka; syahĩdan = menjadi saksi; mã dumtu = selama aku; fĩhim = di antara mereka; fa lammã = maka setelah; tawaffaitanĩ = Engkau wafatkan aku; kunta = Engkau adalah; anta = Engkau; ar roqĩba = pengawas; ‘alaihim = atas mereka; wa anta = dan Engkau; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; syahĩdun = menjadi saksi.

mã qultu lahum illã mã amartanĩ bihĩ ani’budũllãha Rab ĩ wa Rab aqum wa kuntu ‘alaihim syahĩdam mã dumtu fĩhim, fa lammã tawaffaitanĩ kunta antar roqĩba ‘alaihim, wa anta ‘alã kulli syai-in syahĩdun.

117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau katakan kepadaku, yaitu: “Sembahlah Allah, Penguasa aku dan Penguasa kamu,” dan aku adalah saksi bagi mereka, selama aku berada di antara mereka. Setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Isa a.s. menghimbau umatnya agar menyembah Allah, Penguasa semuanya. Tapi setelah beliau wafat, umatnya mengada-ada, mengubah-ubah himbauan Nabi Isa a.s. itu hingga ada keyakinan trinitas, seperti pada catatan Q.s. Al Mã-idah, 5: 17, 63

in tu’adz dzibhum = jika Engkau mengazab mereka; fainnahum = maka sesungguhnya mereka; ‘ibãduka = hamba-hanba Engkau; wa in taghfir = dan jika Engkau mengampuni; lahum = kepada mereka; fainnaka = maka sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; al ‘azĩzul hakĩm = Maha Perkasa, Mahabijaksana.

in tu’adz dzibhum fainnahum ‘ibãduka wa in taghfir lahum fainnaka antal ‘azĩzul hakĩm.

118. Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperka-sa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Isa a.s. mengingatkan melalui ayat ini, bahwa Allah itu Mahaperkasa lagi Mahabijaksana dalam menyiksa atau mengampuni hamba-hamba-Nya.

Qōlallãhu = Allah berfirman; hãdzã = inilah; yaumu = suatu hari; yanfa’u = bermanfaat; ash shōdiqĩna = orang-orang yang benar; shidquhum = kebenaran mereka; lahum = bagi mereka; jannãtun = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadã = selama-lamanya; ar rodhiyallãhu = Allah suka, rido; ‘anhum = terhadap mereka; warodhũ = dan mereka suka, rido; ‘anhu = terhadap-Nya. dzãlika = demikianlah; al fauzu = keberuntungan; al ‘azhĩm = maha besar.

Qōlallãhu hãdzã yaumu yanfa’ush shōdiqĩna shidquhum, lahum jannãtun tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã abadãr rodhiyallãhu ‘anhum warodhũ ‘anhu, dzãlikal fauzul ‘azhĩm.

119. Allah berfirman: “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang sungguh-sungguh benar. Bagi mereka surga yang dialiri sungai-sungai di bawah-nya; mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka, mereka pun rida kepa-da-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Melalui Ceritera Umat Nabi Isa a.s., Allah menyampaikan firman tentang hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang mementukan pilihannya dengan benar.

lillãhi = bagi Allah; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan apa-apa; fĩ hĩnna = di dalamnya; wa huwa = dan Dia; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

lillãhi mulkus samãwãti wal ardhi wa mã fĩ hĩnna, wa huwa ‘alã kulli syai-in qodĩr.

120. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir Q.s. Al Mã-idah mengingatkan para pembaca bahwa alam semesta adalah kerajaan milik Allah Penguasa segala sesuatu (lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2 bahwa pujian itu hanya bagi Allah Yang memiliki alam semesta).

004 An Nisa

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

An Nisã’, Madaniyah
Surat ke-4; 176 ayat
Juz 4 beralih ke Juz 5 pada ayat 24 beralih ke Juz 6 pada ayat 148

Catatan Awal
Nama An Nisã’ ini berhubungan dengan isi surat yang banyak membicarakan tentang perempuan seperti Surat Ath Thalak. Disebut juga Surat An Nissa Al Kubrã’ sedang Surat Ath Thalak disebut Surat An Nisã’ Ash shughrã.’

Isinya merupakan peringatan kepada orang yang beriman, bahwa syirik itu perbuatan dosa yang paling besar, akibat kekafiran; Ada hukum tentang kewajiban para washi, dan para wali; hukum poligami; mas kawin; memakan harta anak yatim dan orang yang tidak dapat mengurus hartanya; pokok-pokok hukum waris; perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya; perempuan yang haram dinikahi; hukum mengawini budak; larangan memakan harta secara bathil; hukum syikak dan nusyuz; salat harus suci lahir dan batin; hukum suaka; hukum membunuh orang Islam; salat khauf; larangan mengucapkan kata-kata buruk, jorok, jelek, kasar; hukum pusaka kalalah; Ada kisah Nabi Musa a.s. dan pengikut-pengikutnya; Isi lainnya: Asal manusia itu semula hanya satu; keharusan menjauhi adat-istiadat jahiliyah dalam memperlakukan perempuan; aturan bergaul dengan istri; hak seseorang sesuai dengan kewajibannya; perilaku Ahli Kitab terhadap kitab yang diturunkan kepadanya; dasar-dasar berpemerintahan; cara mengadili seseorang yang berperkara; keharusan siap-siaga dalam menghadapi musuh; sikap orang munafik, saat menghadapi peperangan; berperang di jalan Allah itu kewajiban setiap mukalaf (orang yang sudah dewasa dan yang wajib menjalankan hukum agama); norma dan aturan berperang; cara menghadapi orang munafik; derajat orang yang berjihad di jalan Allah.
a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang dirajam.

bi = dengan; ismi = nama; allahi = Allah; ar rahmaani = rahmat, pemurah, pengasih, pemberi; ar rahĩm = rahim (tempat bayi dikandung), penyayang.

bismillahir rahmaanir rahĩm

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah, Pengasih, dan Penyayang.

yã ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; at taqũ = bertakwalah; robbakumu = Robb kamu; al ladzĩ = yang; kholaqokum = menciptakan kamu; min nafsin = dari diri; wãhidatin = yang satu; wa kholaqo = dan Dia menciptakan; min hã = darinya; zawjahã = istrinya, jodohnya, pasangannya; wa batstsa = dan Dia kembang-biakkan; min humã = dari keduanya; rijãlan = laki-laki; katsĩran = banyak; wa nisã-an = dan perempuan; wattaqqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; al ladzĩ = yang; tasã-alũna = kamu saling meminta; bihi = dengan-Nya; wa arhãma = dan hubungan keluarga; inallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah Dia; ‘alaykum = pada kamu; roqĩban = penyangga, penjaga, pengawas.

yã ayyuhan nãsut taqũ robbakumul ladzĩ kholaqokum min nafsin wãhidatin kholaqo min hã zawjahã wa batstsa min humã rijãlan katsĩran wa nisã-an wattaqqũllãhal ladzĩ tasã-alũna bihi, wa arhãma, inallãha kãna ‘alaykum roqĩban.

1. Wahai manusia semuanya, bertawakallah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya, Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertawakallah kepada Allah yang dengan nama-Nya, kamu saling meminta kepada yang lainnya, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan tentang awal kejadian manusia. Manusia diminta untuk selalu bertawakal kepada Penguasanya.
Kata “darinya Allah menciptakan istri” ada yang menafsirkan “dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam (Bukhari dan Muslim). Ada yang menafsirkan “dari unsur tanah yang serupa” saat Adam pertama kali diciptakan.
Ada perintah, ketika manusia saling meminta, harus menyebut nama Allah (lihat Q.s. 1, Al Fatihah: 1); dan harus memelihara hubungan kasih-sayang antarsesama makhluk. Ini harus dibudayakan dengan etika, aestetika, dan emika yang sebaik-baiknya.
Allah mengingatkan, Beliau selalu menjaga, dan mengawasi seluruh makhluk-Nya.

wa-atũ = dan berikanlah; al yatãmã = anak-anak yatim; amwalahum = harta-harta mereka; wa lã = dan jangan; tatabaddalu = kamu menukar; al khōbĩtsa = yang buruk; biththoyyibi = dengan yang baik; wa lã = dan jangan; ta’kulũ = kamu makan; amwãlahum = harta-harta mereka; ilã amwãlikum = pada harta kamu; innahũ = sesungguhnya hal itu; kãna = adalah ia; hũban = dosa; kabĩrō = besar.

wa-atũl yatãmã amwalahum wa lã tatabaddalul khōbĩtsa biththoyyibi, wa lã ta’kulũ amwãlahum ilã amwãlikum, innahũ kãna hũban kabĩrō.

2. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, kamu jangan menukar yang baik dengan yang jelek,dan jangan makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan dan perbuatan seperti itu dosa besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang harta anak yatim yang sudah baligh (dewasa lahir dan batin) harus diberikan, dan larangan menukarkan yang baik dengan yang jelek, dan memakan hartanya. Perbuatan itu merupakan dosa besar. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 217, 219; An Nisã’, 31, 48

wa in = dan jika; khiftum = kamu takut; allã = bahwa tidak; tuqsithũ = kamu berlaku adil; fil yatãmã = terhadap anak-anak yatim; fankihũ = maka nikahilah; mã thōba = apa yang baik; lakum = bagi kamu; minan nisã-i = dari perempuan-perempuan; matsnã = berdua; wa tsulãtsa = dan bertiga; wa rubã’a = dan berempat; fa-in = maka jika; khiftum = kamu takut; allã = bahwa tidak; ta’dilũ = kamu berlaku adil; fawãhidatan = maka satu saja; au mã = atau apa; malakat = yang kamu miliki; aimaanukum = tangan kananmu (budakmu); dzãlika = demikian itu; adnã = lebih dekat; allã = bahwa tidak; ta’ũlũ = kamu berbuat aniaya.

wa in khiftum allã tuqsithũ fil yatãmã fankihũ mã thōbalakum minan nisã-i matsnã wa tsulãtsa wa rubã’a, fa-inkhiftum allã ta’dilũ fawãhidatan au mã malakat aimaanukum dzãlika adnã allã ta’ũlũ.

3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil atas hak-hak perempuan yatim, bilamana kamu menikahinya, maka nikahilah, dan dengan perempuan-perempuan lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu, lebih dekat kepada perbuatan yang tidak aniaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan pernikahan dalam Islam. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Poligami juga dilakukan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Budak-budak, anak yatim dapat dinikahi dengan aturan yang telah ditetapkan Allah. Jangan berbuat aniaya.

wa ãtũ = dan berikanlah; an nisã-a = perempuan-perempuan; shoduqōtihinna = maskawin mereka; nihlatan = ikhlas (wajib); fa in = maka jika; thibna = mereka baik hati; lakum = kepada kamu; ‘an syai-in = dari suatu, sebagian; minhu = dari padanya (maskawin); nafsan = sendirian, senang hati; fakulũhu = maka makanlah ia; hanĩ-an = dengan puas; marĩ-a = cukup.

wa ãtũn nisã-a shoduqōtihinna nihlatan fa in thibna lakum ‘an syai-im minhu nafsan fakulũhu hanĩ-am marĩ-ã.

4. Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu menjadi makanan yang sedap, lagi baik akibatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengatur soal mahar dalam pernikahan.

wa lã = dan jangan; tu’tũ = kamu serahkan; as sufahã-a = orang-orang yang belum sempurna analnya; amwãlakumu = harta kamu; al latĩ = yang; ja’alallãhu = menjadikan Allah; lakum = bagi/kepada kamu; qiyãman = pemeliharaan; warzuqũhum = dan berilah mereka belanja; fĩhã = padanya; waksũhum = dan berilah mereka pakaian; wakũlũ = dan berkatalah; lahum = kepada mereka; qoulan = perkataan; ma’rũfãn = yang baik.

wa lã tu’tũs sufahã-a amwãlakumul latĩ ja’alallãhu lakum qiyãman warzuqũhum fĩhã waksũhum wakũlũ lahum qoulam ma’rũfãn.

5. Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta pokok kehidupan yang karena Allah ada dalam kekuasanmu. Berilah mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengatur harta warisan yang jatuh kepada orang yang belum matang akalnya.

wabtalũ = dan ujilah (periksalah); al yatãmã = anak-anak yatim; hattã = sehingga; idzã = jika, bila; balaghu = mereka cukup umur; an nikãha = nikah; fa in = maka jika; ãnastum = kamu anggap; minhum = di antara mereka; rusydan = cerdas; fadfa’ũ = maka serahkanlah; ilaihim = kepada mereka; amwãlahum = harta-harta mereka; wa lã = dan jangan; ta’kulũhã = kamu memakannya; isrōfan = lebih dari batas; wa bidãran = dan tergesa-gesa; an yakbarũ = bahwa mereka dewasa; wa man = dan barang siapa; kãna = adalah dia; ghoniyyan = kaya, mampu; falyasta’fif = maka hendaknya ia menahan diri; wa man = dan barang siapa; kãna = adalah dia; faqĩran = miskin; falya’kul = maka ia boleh memakan; bil ma’rũfi = dengan sepantasnya; fa idzã = maka apabila; dafa’ = menyerahkan; tum = kamu ilaihim = kepada mereka; amwãla = harta-harta; hum = mereka; fa = maka; asyhidũ = adakan saksi-saksi; ‘alayhim = atas mereka; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = pada Allah; hasĩbã = mempunyai perhitungan.

wabtalũl yatãmã hattã idzã balaghun nikãha, fa in ãnastum minhum rusydan fadfa’ũ ilaihim amwãlahum, wa lã ta’kulũhã isrōfan wa bidãran an yakbarũ, wa man kãna ghoniyyan falyasta’fif, wa man kãna faqĩran falya’kul bil ma’rũfi, fa idzã dafa’tum ilaihim amwãlahum fa-asyhidũ ‘alayhim wa kafã billãhi hasĩbã.

6. Dan perhatikanlah anak yatim itu, sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian, jika menurut pendapatmu, mereka telah matang (cerdas memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Kamu jangan memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan, dan jangan tergesa-gesa membelanjakannya, sebelum mereka dewasa. Jika para pemelihara itu mampu, maka hendaklah ia menahan diri untuk memakan harta anak yatim itu, dan jika miskin, maka bolehlah pemelihara itu makan harta itu menurut yang patut. Kemudian, jika kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi untuk mereka atas penyerahan itu. Dan, cukuplah Allah sebagai pengawas atas persaksiannya itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan aturan memelihara anak yatim.

lir rijãli = bagi laki-laki; nashĩbum = nasab, bagian; mimmã = dari harta; tarōka = peninggalan; al wãlidaani = dari kedua orangtua; wal aqrobũna = dan kerabat mereka; wa lin nisã-i = dan bagi perempuan; nashĩbum = nasab, bagian; mimmã = dari harta; taroka = peninggalan; al wãlidaani = dari kedua orangtua; wal aqrobũna = dan kerabat mereka; mimmã = dari harta; qolla = sedikit; minhu = darinya; au katsuro = atau banyak; nashĩbam = nasab, bagian; mafrũdhō = yang telah ditetapkan

lir rijãli nashĩbum mimmã tarōkal wãlidaani wal aqrobũna wa lin nisã-i nashĩbum mimmã tarokal wãlidaani wal aqrobũna mimmã qolla minhu au katsuro, nashĩbam mafrũdhō.

7. Bagi laki-laki, ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi perempuan, ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagian dari aturan waris.

wa idzã = dan jika; hadhora = hadir; alqismata = pembagian itu; ũlul qurbã = kerabat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩnu = dan orang-orang miskin; farzukũhum = berilah mereka rezeki; minhu = dari hartanya; wa qũlũ = dan katakanlah; lahum = kepada mereka; qoulan = perkataan; ma’rũfa = yang baik, sopan.

wa idzã hadhora alqismata ũlul qurbã wal yatãmã wal masãkĩnu farzukũhum minhu wa qũlũ lahum qoulam ma’rũfã.

8. Dan, apabila ketika pembagian harta itu hadir kerabat, anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu sekedarnya, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagian dari aturan pembagian harta waris.

walyakhsya = dan hendaklah takut; al ladzĩna = orang-orang yang; law = seandainya; tarokũ = mereka meninggalkan; min kholfihim = di belakang mereka; dzurriyyatan = keturunan, anak-anak; dhi’ãfan = lemah; khōfũ = mereka khawatir; ‘alayhim = atas mereka; falyattaqũllãha = maka bertakwalah kepada Allah; wal yaqũlũ = dan hendaknya mereka mengatakan; qoulan = perkataan; sadĩdã = yang benar.

walyakhsyal ladzĩna law tarokũ min kholfihim dzurriyyatan dhi’ãfan khōfũ ‘alayhim falyattaqũllãha wal yaqũlũ qoulan sadĩdã.

9. Dan, hendaklah orang-orang takut kepada Allah, seandainya meninggalkan anak-anak yang lemah yang dikhawatirkan kesejahteraanya di belakang mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mengatakan hal yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Generasi tua harus mengkhawatirkan kesejahteraan generasi muda dengan cara bertakwa kepada Allah. Artinya, segala penanganan kepada anak-anak (pendidikan) harus ada aturan yang diridoi Allah.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ya’kulũna = mereka memakan; amwãla = harta; al yatãmã = anak yatim; zhulman = secara lalim; innamã = sesungguhnya; ya’kulũna = mereka memakan; fĩ buthũnihim = dalam perut (bahasa Sunda: beuteung) mereka; nãron = api; wa sayashlawna = dan mereka akan masuk; sa’ĩro = neraka yang menyala-nyala.

innal ladzĩna ya’kulũna amwãlal yatãmã zhulman innamã ya’kulũna fĩ buthũnihim nãron, wa sayashlawna sa’ĩro

10. Sesungguhnya, orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan cara yang lalim, mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api neraka yang membakar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah bagi orang yang memakan harta anak-anak yatim, menyangkut harta dunia yang harus diolah, dikerjakan dengan baik.

yũshĩkumullahu = Allah mewasiatkan kepadamu; fĩ aulãdikum = untuk anak-anak kamu; lidz dzakari = bagi anak laki-laki; mitslu = seperti; hadhdhi = bagian; al untsayaini = dua anak perempuan; fa in = maka jika; kunna = adalah mereka; nisã-an = perempuan; fauqo = di atas; atsnataini = dua orang perempuan; falahunna = maka bagi mereka; tsulutsã = dua pertiga; mã = apa, harta; taroka = yang ditinggalkan; wa in kãnat = dan jika ia adalah; wãhidatan = seorang; falaha = maka baginya; annishfu = separuh; wa li abawaihi = dan untuk kedua orangtua, ibu-bapak; likulli = bagi masing-masing; wãhidin = seorang; min huma = dari keduanya; as sudusu = seperenam; mimmã = dari harta; taroka = ia tinggalkan; in kãna = jika ia adalah; lahũ = baginya; waladun = anak laki-laki; fa in lam = maka, jika tidak; yakun = adalah ia; lahũ = baginya; waladun = anak laki-laki; wa waritsahũ = dan mewarisinya; abawãhu = ibu-bapaknya; fali ummihi = maka bagi ibunya; ats tsulusu = sepertiga; fa inkãna = maka, jika adalah ia; lahũ = baginya; ikhwatun = saudara-saudara; fali ummihi = maka bagi ibunya; as sudusu = seperenam; mim ba’di = dari sesudah; washiyyatin = berwasiat; yũshĩ = ia wasiatkan; bihã = dengannya; au dainin = atau (dibayarkan) hutang; ãbã-ukum = orangtua kamu; wa abnã-ukum = dan anak-anakmu; la tadrũna = kamu tidak mengetahui; ayyuhum = siapa di antara mereka; aqrobu = lebih dekat; lakum = bagi kamu; naf’an = manfaatnya; faridhotan = ketetapan; minallãhi = dari Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana.

yũshĩkumullahu fĩ aulãdikum lidzdzakari mitslu hadhdhil untsayaini, fa in kunna nisã-an fauqotsnataini falahunna tsulutsã mã taroka wa in kãnat wãhidatan falahan nishfu, wa li abawaihi likulli wãhidim min humas sudusu mimmã taroka in kãna lahũ waladun fa in lam yakul lahũ waladun wa waritsahũ abawãhu wa li ummihits tsulusu, fa in kãna lahũ ikhwatun fa li ummihis sudusu, mim ba’di washiyyatin yũshĩbihã au dainin, ãbã-ukum wa abnã-ukum la tadrũna ayyuhum aqrobu lakum naf’an, faridhotam minallãhi innallãha kãna ‘alĩman hakĩmã.

11. Bagimu, Allah mewasiatkan pembagian harta pusaka untuk anak-anakmu, yaitu satu bagian anak laki-laki, sama dengan dua bagian anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagian mereka, dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika perempuan seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta peninggalan. Dan untuk dua orang ibu-bapak, masing-masing seperenam dari harta peninggalan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika yang meninggal itu tidak mempunyai anak, dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya medapat seperenam. Pembagian-pembagiaan tersebut, setelah dipenuhi wasiat yang sudah ia buat, dan sesudah dibayar hutangnya. Untuk orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui, siapa di antara mereka yang lebih dekat atau lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan aturan pewarisan secara garis besar, dan dapat diterapkan pada berbagai kondisi hubungan kekerabatan yang ada pada setiap keluarga. Titik perhatian dari yang meninggal dunia ke jumlah anak (ada atau tidak ada), istri atau suami, ibu-bapak (nenek-kakek, kalau masih hidup) saudara kandung laki-laki atau perempuan.

wa lakum = dan bagi kamu; nishfu = separuh; mã taroka = apa (harta) yang ditinggalkan; azwãjukum = istri-istri kamu; inlam yakun = jika tidak ada; al lahunna = bagi mereka; waladun = anak laki-laki; fain kãna = maka, jika ada; lahunna = bagi mereka; waladun = anak laki-laki; falakumu = maka bagi kamu; ar rubu’u = seperempat; mimmã = dari apa (harta); tarokna = mereka tinggalkan; mimba’di = dari sesudah; washiyyatin = dipenuhi wasiat; ay yushĩna = mereka berwasiat; bihã = dengannya; audainin = atau hutang; wa lahunna = dan bagi mereka; ar rubu’u = seperempat; mimmã = dari apa (harta); taroktum = kamu tinggalkan; in lam yakun = jika tidak ada; lakum = bagimu; waladun = anak laki-laki; fa in kãna = maka, jika ada; lakum = bagimu; waladun = anak laki-laki; falahũnna = maka bagi mereka; ats tsumunu = seperdelapan; mimmã = dari apa (harta); taroktum = kamu tinggalkan; mim ba’di = dari sesudah; washiyyatin = dipenuhi wasiat; yũshĩna = mereka berwasiat; bihã = dengannya; audainin = atau hutang; wa in kãna = maka, jika ada; rojulu = seorang laki-laki; ay yũratsu = diwariskan; kalãlatan = tidak mempunyai ibu, bapak, anak; awimro-atun = atau perempuan; walahũ = dan baginya; akhun = saudara laki-laki; au ukhtun =atau saudara perempuan; falikulli = maka bagi tiap-tiap; wãhidin = seorang; minhumã = dari keduanya; as sudusu = seperenam; fa in = maka jika; kãnũ = adalah mereka; aktsaro = lebih banyak; min dzãlika = dari yang demikian itu (seseorang); fahum = maka bagi mereka; syurokã-u = berserikat; fits tsulutsi = dalam sepertiga; mim ba’di = dari sesudah; washiyyatin = dipenuhi wasiat; yushō = diwasiatkan; bihã = dengannya; audainin = atau hutang; ghairo = tidak; mudhōrrin = memudaratkan; washiyyatan = wasiat, ketetapan; minallãhi = dari Allah; wallãhu = dan Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; halĩm = Maha Penyantun.

wa lakum nishfu mã taroka azwãjukum inlam yakul lahunna waladun, fain kãna lahunna waladun falakumur rubu’u mimmã tarokna mimba’di washiyyatiy yushĩna bihã audain, wa lahunnar rubu’u mimmã taroktum in lam yakul lakum waladun, fa in kãna lakum waladun falahunnats tsumunu mimmã taroktum mim ba’di washiyyatin yũshĩna bihã audainin, wa in kãna rojuluy yũratsu kalãlatan awimroatuw walahũ akhun au ukhtun falikulli wãhidim minhumas sudusu, fa in kãnũ aktsaro min dzãlika fahum syurokã-u fits tsulutsi mim ba’di washiyyatiy yushō bihã audainin, ghairo mudhōrrin washiyyatam minallãhi, wallãhu ‘alimun halĩm.

12. Dan bagi kamu, suami, seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat, dan sesudah dibayar hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak mempunyai anak. Jika mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah, dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai saudara laki-laki seibu saja, atau seorang saudara perempuan seibu saja, maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi, jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya, atau sudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat kepada ahli waris. Allah menetapkan yang demikian itu sebagi syariat yang benar, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perhatikan aturan membagi waris dilihat dari kedudukan orang yang meninggal itu laki-laki atau perempuan. Memberi mudharat kepada ahli waris adalah tindakan-tindakah, seperti:
a. mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka;
b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekali pun kurang dari sepertiga, bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

tilka hudũdullãh = itulah aturan-aturan dari Allah; wa man = dan barang siapa; yuthi’illãha = menaati Allah; wa rosũlahu = dan Rasul-Nya; yudkhilhu = Dia akan memasukkannya; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawah; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wadzãlika = dan demikian itu; al fauzu = keuntungan; al ‘azhĩm = yang besar.

tilka hudũdullãh, wa man yuthi’illãha wa rosũlahu, yudkhilhu jannaatin tajrĩmin tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wadzãlikal fauzul ‘azhĩm.

13. Hukum-hukum itu sungguh aturan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang dialiri sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal ; dan itulah kemenangan yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan hukum dan aturannya, hadiahnya surga.

wa man = dan barang siapa; ya’shi = mendurhakai; allãha = Allah; wa rosũlahũ dan Rosul-Nya; wa yata’adda = dan ia melanggar; hudũdahũ = aturan-aturan-Nya; yudkhilhu = Allah memasukkannya; nãron = api neraka; khōlidan = kekal; fĩhã = di dalamnya; wa lahũ = dan baginya; ‘adzãbum = azab, siksa; muhĩn = menghinakan

wa man ya’shillãha wa rosũlahũ wa yata’adda hudũdahũ yudkhilhu nãron khōlidan fĩhã wa lahũ ‘adzãbum muhĩn.

14. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dengan cara melanggar aturan-aturan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang mereka kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah, orang yang tidak menaati aturan Allah itu durhaka. Balasannya dimasukkan ke dalam api neraka.

wal lãtĩ = dan wanita-wanita yang; ya’tĩna = mereka melakukan (mendatangkan); al fãhisyata = perbuatan keji; min nisã-ikum = dari istri-istri kamu; fastasyhidũ = maka datangkanlah saksi-saksi; ‘alayhinna = atas mereka; arba’atan = empat orang; minkum = di antara kamu; fa-in = maka jika; syahidũ = mereka memberikan kesaksian; fa-amsikũhunna = maka tahan (kurung)-lah mereka; fĩ al buyũti = di dalam rumah; hattã = sampai; yatawaffãhunna = mereka mati; almautu = mati, kematian; au = atau; yaj’alallahu = Allah memberikan; lahunna = kepada mereka; sabĩlan = jalan.

wal lãtĩ ya’tĩnal fãhisyata min nisã-ikum fastasyhidũ ‘alayhinna arba’atam minkum fa-insyahidũ fa-amsikũhunna fĩ al buyũti hattã yatawaffãhunna almautu au yaj’alallahu lahunna sabĩlan.

15. Terhadap para perempuan yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu. Kemudian, apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah perempuan-perempuan itu di rumah, sampai menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan Allah bagi perempuan yang berbuat keji. Perbuatan keji adalah: zina. Menurut jumhur mufasirin, sesuai dengan ayat ini: “perbuatan mesum, seperti: zina, homoseksual. Perbuatan keji lainnya: menjelek-jelekkan orang, memfitnah, mencaci-maki, berbicara kotor, menipu, memalsu, mencuri, mencopet, makan di warung tanpa bayar, berbohong, membunuh orang tanpa hak, …..

wal ladzãni = dan dua orang yang; ya’tiyaanihã = melakukannya (perbuatan keji); minkum = di antara kamu; fa-ãdzũ hummã = maka berilah hukuman keduanya; fã in = maka jika; tãbã = keduanya bertobat; fa-ashlahã dan memperbaiki dirinya; fa-a‘ridhũ = maka biarkanlah; ‘anhumã = dari keduanya; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; tawwãban = Maha Penerima Taubat; ar rahĩmã = Maha Penyayang.

wal ladzãni ya’tiyaanihã minkum fa-ãdzũ hummã, fã in tãbã fa-ashlahã fa-a‘ridhũ ‘anhumã, innallãha kãna tawwãbar rahĩmã.

16. Terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya. Kemudian, jika keduanya bertobat dan memperbaiki diri, maka biarkan mereka. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya perbuatan keji. Hukuman terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji seperti yang tertera pada ayat 15.

innamã = sesungguhnya, hanyalah; at taubatu = tobat itu; ‘alãllãhi = di hadapan Allah; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ya’malũna = mereka mengerjakan; as sũ-a = kejahatan; bi jahãlatin = dengan kejahilan, kebodohan; tsumma = kemudian; yatũbũna = mereka bertobat; min qorĩbin = dari dekat / dengan segera; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; yatũbullãhu = Allah menerima taubat; ‘alayhim = atas mereka; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Maha Bijaksana

innamãt taubatu ‘alãllãhi lilladzĩna ya’malũnas sũ-a bi jahãlatin tsumma yatũbũna min qorĩbin fa-ũlã-ika yatũbullãhu ‘alayhim, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã.

17. Sesungguhnya, tobat dari Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran mereka jahil, yang kemudian, mereka tobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya tobat atas suatu kesalahan, kekhilafan, kejahatan. Jangan dibiasakan melakukan kesalahan, dan kejahatan. Ada kejahatan yang terjadi karena kejahilan:
* perbuatan maksiat dilakukan, pelakunya tidak mengetahui bahwa perbuatan itu maksiat, kecuali dipikirkan dahulu;
* durhaka kepada Allah, baik dengan sengaja atau tidak dengan sengaja;
* melakukan kejahatan karena didorong oleh emosi atau nafsu yang meluap, berlebihan, sehingga berbuat kejahatan secara tidak sadar

wa laisati = dan tidaklah; at taubatu = tobat itu; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ya’malũna = (mereka) mengerjakan; as sayyi-ãti = kejahatan; hattã = sehingga; idzã = apabila; hadhoro = datang; ahadahumu = salah seorang di antara mereka; al mautu = kematian; qōla = ia mengatakan; innĩ = sesungguhnya saya; tubtu = saya bertobat; al ãna = sekarang; wa lã = dan tidak; al ladzĩna = orang-orang yang; yamũtũna = (mereka) mati; wahum = dan (sedang) mereka; kuffãrun = kekafiran; ulã-ika = mereka itulah; a’tadnã = Kami sediakan; lahum = bagi mereka; ‘adzãban = azab, siksa; alĩman = yang pedih.

wa laisatit taubatu lilladzĩna ya’malũnas sayyi-ãti hattã idzã hadhoro ahadahumul mautu qōla innĩ tubtul ãna wa lãl ladzĩna yamũtũna wahum kuffãrun, ulã-ika a’tadnã lahum ‘adzãban alĩman

18. Dan tobat itu tidaklah diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai datang ajalnya, baru seseorang di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” Dan tidak pula diterima tobat orang-orang yang mati, sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang yang demikian itu, telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah tentang tobat yang tidak diterima.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã yahillu = tidak halal; lakum = bagi kamu; antaritsũn = kamu memusakai; nisã-a = perempuan-perempuan; karhãn = dengan paksa; wa lã = dan jangan; ta’dhulũhunna = kamu menyusahkan mereka; litadzhabũ = untuk mengambil kembali; bi ba’dhi mã = sebaian apa; ãtaitumũ hunna = telah kamu berikan kepada mereka; illã = kecuali; an ya’tĩna = mereka melakukan; bi fãhisyatin = perbuatan keji; mubayyinatin = yang nyata; wa ‘ãsyirũ hunna = dan bergaullah dengan mereka; bil ma’rũfi = dengan cara yang baik; fa-in = maka jika; karihtumũ hunna = kamu tidak menyukai mereka; fa’asã = maka mungkin; antakrahũ = kamu tidak menyukai; syai-an = sesuatu; wa yaj’alallãhu = padahal Allah menjadikan; fĩhi = padanya; khoiron katsĩron = kebaikan yang banyak.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã yahillu lakum antaritsũn nisã-a karhãn, wa lã ta’dhulũhunna litadzhabũ bi ba’dhi mã ãtaitumũ hunna illã an ya’tĩna bi fãhisyatim mubayyinatin, wa ‘ãsyirũ hunna bil ma’rũfi, fa-in karihtumũ hunna fa’asã antakrahũ syai-an wa yaj’alallãhu fĩhi khoiron katsĩron.

19. Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu memusakai perempuan dengan paksa, dan janganlah kamu menghalangi mereka kawin, dan menyusahkan mereka, karena kamu hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali bila mereka melakukan pekerjaankeji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara baik. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memusakai perempuan” artinya mewarisi dan mewariskan perempuan. Islam tidak memperbolehkan kebiasãnini, walawpun tidak dengan paksa. Hal ini merupakan kebiasaan bangsa Arab jahiliyah, apabila seseorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua, atau anggota keluarga lainnya mewarisi jandanya. Janda tersebut boleh dikawini sendiri, atau dikawinkan dengan orang lain, yang maharnya diambil oleh pewaris, atau tidak dibolehkan kawin lagi. Ayat ini mengubah, memperbaiki norma kebiasaan bangsa Arab Jahiliyah.
“pekerjaan keji yang nyata” artinya membangkang perintah, atau melakukan sesuatu yang menyakitkan hati, menyusahkan orang lain, dengan beberapa saksi yang menguatkan.

wa in = dan jika; arot tumu = kamu ingin; as tibdãla = mengganti; zaujin = istri; makãna = tempat; zaujin = istri (yang lain); wa ãtaitum = dan kamu telah memberi; ihdãhunna = seorang di antara mereka; qinthōran = harta yang banyak; falã = maka jangan; ta’khudzũ = kamu mengambil; minhu = darinya; syai-ãn = sesuatu sedikit pun; ata’khudzũnahũ = apakah kamu mengambilnya kembali; buhtaanan = dengan cara dusta; wa itsmaan = dan dosa; mubĩnã = yang nyata.

wa in arot tumus tibdãla zaujim makãna zaujin wa ãtaitum ihdãhunna qinthōran falã ta’khudzũ minhu syai-ãn, ata’khudzũnahũ buhtaanan wa itsmãm mubĩnã

20. Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan harta yang banyak kepada seseorang di antara mereka, maka janganlah kamu mengambil kembali harta itu darinya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambil kembali barang itu dengan jalan tipu-daya (menuduh yang bukan-bukan), dan dengan jalan dusta yang nyata?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mengganti istrimu dengan istri yang lain” artinya menceraikan istri yang tidak disukai karena berbagai persoalan, dan kawin dengan perempuan lain. Ayat ini memberitahu aturan menikah.

wa kaifa = dan bagaimana; ta’ khudzũnahu = kamu mengambilnya kembali; wa qod = dan sungguh; afdhō = telah bergaul; ba’dhukum = sebagian kamu; ilã ba’dhin = kepada sebagian yang lain; wa akhodzna = dan mereka telah mengambil; minkum = dari kamu; mĩtsãkon = janji; gholĩdhon = teguh, kuat.

wa kaifa ta’ khudzũnahu, wa qod afdhō ba’dhukum ilã ba’dhin wa akhodzna minkum mĩtsãkon gholĩdhon.

21. Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah membuat perjanjian yang kuat dari kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan nikah, kalau bercerai dengan istri yang sudah digauli sebagai pasangannya, harta yang sudah diberikan tidak boleh diambil lagi.

wa lã tankihũ = jangan kamu nikahi; mã nakaha = siapa yang telah menikahi; ãbã-ukum = bapak-bapak kamu; minan nisã-i = dari perempuan-perepuan; illã = kecuali; mã qod salafa = apa yang telah lalu; innahũ = sesungguhnya; kãna = itu adalah; fãhisyatan = perbuatan setan; wa maqtaan = dan dibenci wa sã-a = dan seburuk-buruk; sabĩlaan = jalan.

wa lã tankihũ mã nakaha ãbã-ukum minan nisã-i illã mã qod salafa innahũ kãna fãhisyatan wa maqtaan wa sã-a sabĩlaan.

22. Dan janganlah kamu nikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi ayahmu, kecuali pada masa yang sudah lalu. Sesungguhnya, perbuatan demikian itu amat keji dan dibenci Allah, dan itulah seburuk-buruk jalan perbuatan yang pernah dilakukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peraturan nikah, tidak boleh menikahi perempuan yang telah dinikahi Bapak.

hurrimat = diharamkan; ‘alaykum = bagi kamu; ummahãtukum = ibu-ibu kamu; wa banaatukum = dan anak-anak perempuanmu; wa akhawwãtukum = dan saudara-saudara perempuanmu; wa ‘ammãtukum = dan saudara-saudara perempuan bapakmu; wa khãlãtukum = dan saudara-saudara perempuan ibumu; wabanaatu = dan anak-anak perempuan; al akhi = saudaramu laki-laki; wa banaatu = dan anak-anak perempuan; al ukhti = saudaramu perempuan; wa ummahãtukumu = dan ibu-ibumu; al lãtĩ = yang; ardho’nakum = menyusui kamu; wa akhawãtukum = dan sudara-saudara perempuan kamu; minar rodhō’ati = dari sepersusuan; wa ummahãtu = dan ibi-ibu; nisã-ikum = istri kamu; wa robã-ibukumu = dan anak-anak istri kamu; al lãtĩ = yang; fĩ hujũrikum = dalam pemeliharaan kamu; min nisã-ikumu = dari istri-istri kamu; al lãttĩ = yang; dakholtum = kamu pergauli; bi hinna dengan mereka; fa in = maka; lam = jika; takũnũ = adalah kamu; dakholtum = kamu pergauli; bi hinna = dengan mereka; falã junãha = maka tidak berdosa; ‘alaykum = bagi kamu; wa holã-ilu = dan istri-istri; abnã-ikumu = anak-anak kamu; al ladzĩna = yang; min ashalãbikum = dari tulang rusukmu (anak-anakmu); wa antajma’ũ = dan kamu menghimpun; baina = antara; al ukhtaini = dua perempuan bersaudara; illã = kecuali; mã qod salafa = apa yang terjadi masa lalu; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah Dia; ghofũron = Maha Pengampun; rohimã = Maha Penyayang.

hurrimat ‘alaykum ummahãtukum wa banaatukum, wa akhawwãtukum, wa ‘ammãtukum, wa khãlãtukum, wabanaatul akhi wa banaatul ukhti wa ummahãtukumul lãtĩ ardho’ankum, wa akhawãtukum minar rodhō’ati wa ummahãtu nisã-ikum, wa robã-ibukumul lãtĩ fĩ hujũrikum min nisã-ikumul lãttĩ dakholtum bi hinna fa il lam takũnũ dakholtum bi hinna falã junãha ‘alaykum wa holã-ilu abnã-ikumulladzĩna min ashalãbikum wa antajma’ũ bainal ukhtaini illã mã qod salafa innallãha kãna ghofũror rohimã

23. Diharamkan untukmu mengawini ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan*; anak-anak perempuan* dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (merua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu dan sudah kamu ceraikan, maka tidak berdosa kamu mengawininya; dan diharamkan bagimu istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan dalam perkawinan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lalu. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih peraturan nikah.
*Yang dimaksud ibu dan anak perempuan di sini adalah ibu, nenek, buyut dan seterusnya ke atas; dan yang dimaksud anak perempuan di sini adalah anak, cucu, buyut dan seterusnya ke bawah, semuanya tidak boleh dikawini, karena masih ada pertalian darah.

Juz 5

Beberapa Hukum Perkawinan

wal muhshonaatu = dan perempuan yang bersuami; minan nisã-i = dari perempuan-perempuan; illã = kecuali; mã malakat = apa yang kamu miliki; aimaanukum = tangan kananmu (budak-budak); kitãballahi = ketetapan Allah; ‘alaykum = bagi kamu; wa uhilla = dan dihalalkan; lakum = untukmu; mã warō-a = apa yang selain; dzãlikum = demikian itu; an tabtaghũ = kamu mencari; bi amwãlikum = dengan hartamu; muhshinĩna = untuk dikawini; ghoiro = bukan; musãfihĩna = untuk berzina; fama = maka apa-apa; astamta’tum bihi = telah kamu nikmati dengannya; minhunna = di antara mereka; fa-ãtũhunna = maka berikan kepada mereka; ujũrahunna = mahar (maskawin) mereka; farĩdhotan = suatu kewajiban; wa lã junãha = dan tidak berdosa; ‘alaykum = bagi kamu; fĩmã = terhadap apa (sesuatu); tarōdhoitum = kamu saling meridokan; bihĩ = dengan perempuan-perempuan itu; mim ba’di = dari awalnya; al farĩdhoti = ditentukan; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah Dia; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana

wal muhshonaatu minan nisã-i illã mã malakat aimaanukum, kitãballahi ‘alaykum, wa uhilla lakum mã warō-a dzãlikum an tabtaghũ bi amwãlikum muhshinĩna ghoiro musãfihĩna, famastamta’tum bihi, minhunna fa-ãtũhunna ujũrahunna farĩdhotan, wa lã junãha ‘alaykum fĩmã tarōdhoitum bihĩ, mim ba’dil farĩdhoti, innallãha kãna ‘alĩman hakĩmã

24. dan diharamkan juga kamu menikahi perempuan bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki*. Allah telah menetapkan hukum atas kamu sebagai aturan-Nya. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, yaitu mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini, bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajiban; dan tiada mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih peraturan nikah.
Budak artinya abdi, hamba, jongos, orang gajian; orang yang dibeli dan dijadikan budak yang kehilangan hak hidup merdeka, sesukanya. Dewasa ini sudah tidak ada perbudakan. Adanya pembantu, pegawai, karyawan, buruh yang mempunyai hak hidup tertentu, lebih bebas dibandingkan dengan budak.

wa man = dan barang siapa; lam yastathi’ = tidak mampu; minkum = dari kamu; thoulan = perbelanjãn; an yankiha = untuk menikahi; al muhshonaati = perempuan-perempuan merdeka; al mu’minaati = yang beriman; famim mã = maka dari apa; malakat = memiliki; aimaanukum = tangan kananmu (budak); min fatayãtikum = dari perempuan-perempuanmu; al mu’minaati = yang beriman; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bi ĩmaanikum = dengan keimananmu; ba’dhukum = sebagian kamu; mimba’dhin = dari sebagian yang lain; fankihũ = maka nikahilah; hunna = mereka; bi idzni = dengan seizing; ahlihinna = tuannya; wa ãtũhunna = dan berilah mereka; ujũrohunna = maskawin mereka; bil ma’rũfi = menurut kebaikan; muhshonaatin = perempuan-perempuan yang merdeka (memelihara diri); ghoiro = bukan/tidak; musãfihãtiw = wanita-wanita penzina; wa lã = dan bukan; muttakhidzãti = wanita yang mengambil pria lain; akhdaanin = gendak; fa idzã = maka bila; uhshinna = mereka telah menjaga diri; fain = maka jika; ataina = mereka melakukan; bi fãhisyatin = dengan perbuatan keji; fa’alayhinna = maka (hukuman) atas mereka; nishfu = separuh; mã = apa; ‘alal muhshonaati = atas perempuan-perempuan yang merdeka yang (bersuami); minal ‘adzãbi = dari hukuman (siksa); dzãlika = demikian itu; liman = bagi orang; khasyiya = (dia) takut; al ‘anata = susah menjaga diri; minkum = di antara kamu; wa antashbirũ = dan jika kamu bersabar; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu; wallãhu = dan Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; rohĩma = Maha Penyayang.

wa mal lam yastathi’ minkum thoulan an yankihal muhshonaatil mu’minaati famim mã malakat aimaanukum min fatayãtikumul mu’minaati, wallãhu a’lamu bi ĩmaanikum, ba’dhukum mimba’dhin, fankihũ hunna bi idzni ahlihinna wa ãtũhunna ujũrohunna bil ma’rũfi muhshonaatin ghoiro musãfihãtiw wa lã muttakhidzãti akhdaanin, fa idzã uhshinna fain ataina bi fãhisyatin fa’alayhinna nishfu mã ‘alal muhshonaati minal ‘adzãbi, dzãlika liman khasyiyal ‘anata minkum, wa antashbirũ khoirul lakum, wallãhu ghofũrur rohĩma.

25. Dan siapa-siapa di antara kamu yang merdeka dan tidak cukup perbelanjaannya untuk menikahi perempuan merdeka lagi beriman, ia boleh menikahi perempuan yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu, sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain, karena itu nikahilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang benar, sedang mereka pun perempuan-perempuan yang memelihara diri, bukan pezina, dan bukan pula wanita yang mengambil pria lain sebagai gendaknya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan nikah, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman perempuan-perempuan merdeka yang bersuami. Kebolehan menikahi budak itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri dari perbuatan zina di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih aturan nikah. Boleh menikahi budak dengan adab dan kesantunan yang tertentu. Ada aturan hukuman orang-orang yang berzina.
Ada wanita yang memelihara pria pemuas nafsu berahinya, disebut gigolo.

yurĩdullahu = Allah menghendaki; li yubayyina = untuk (Dia) menerangkan; lakum = kapada kamu; wa yahdiyakum = dan Dia memberi petunjuk kepada kamu; sunana = jalan; al ladzĩna = orang-orang yang; min qoblikum = dari sebelum kamu; wa yatũba = dan Dia hendak menerima tobat; ‘alaykum = bagi kamu; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.

yurĩdullahu li yubayyina lakum wa yahdiyakum sunanal ladzĩna min qoblikum wa yatũba ‘alaykum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.

26. Allah hendak menerangkan hukum syariat-Nya kepadamu, dan menunjukimu jalan-jalan orang sebelum kamu (para Nabi dan Solihin), dan hendak menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menerangkan hukum-hukum-Nya ini di dalam Alquran yang mencakup jalan atau cara yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan para Solihin masa lalu, sebelum Nabi Muhammad saw.(lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1: 5,6). Maksudnya, agar hidup ini lebih ringan dan tobatnya diterima Allah.
Setiap menetapkan aturan, Allah menyatakan Dirinya, dan Nabi Muhammad saw.juga, bahwa Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana; Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang;

wallãhu = dan Allah; yurĩdu = Dia hendak; an yatũba = untuk menerima tobat; ‘alaykum = kepada kamu; wa yurĩdu = dan menghendaki; al ladzĩna = orang-orang yang; yat tabi’ũna = (mereka) mengikuti; asy syahawãti = hawa nafsu; an tamĩlũ = supaya kamu berpaling; mailan = berpaling; ‘azhĩmã = sejauh-jauhnya;

wallãhu yurĩdu an yatũba ‘alaykum wa yurĩdul ladzĩna yat tabi’ũnasy syahawãti an tamĩlũ mailan ‘azhĩmã.

27. Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud agar kamu menyimpang sejauh-jauhnya dari kebenaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mengikuti atau menjalankan hukum-hukum Allah, berarti harus mengekang hawa nafsu, agar tidak menyimpang dari kewajaran hidup mencpai kesenangan, ketenangan, ketenteraman, kedamaian, kesantaian, tidak berlebihan.
Allah membuat peraturan dapat menikahi budak, dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.

yurĩdullahu = Allah menghendaki; an yukhoffifa = Dia memberi keringanan; ‘ankum = kepada kamu; wa khuliqo = dan dijadikan; al insaanu = manusia; dho’ĩfã = lemah.

yurĩdullahu an yukhoffifa ‘ankum, wa khuliqol insaanu dho’ĩfã

28. Allah hendak memberi keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi keringanan untuk dapat beribadah dalam mengekang hawa nafsu. Harus menjalankan syariat Islam.
Allah membuat manusia bersifat lemah, namun diberi juga kekuatan untuk dapat menjalankan hidupnya dengan baik. Jangan merasa lemah. Gunakan kekuatan yang diberikan Allah untuk beribadah semaksimal mungkin.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã ta’kulũ = jangan kamu saling memakan; amwãlakum = hartamu; bainakum = sesamamu; bil bãthili = dengan cara yang batil (tidak benar); illã = kecuali; an takũna = kamu adalah; tijãrotan = perniagãn; ‘an tarōdhim = suka-sama suka; minkum = dari kamu; wa lã taqtulũ = dan jangan membunuh; anfusakum = dirimu; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bikum = bersama kamu; rohĩma = Maha Penyayang.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã ta’kulũ amwãlakum bainakum bil bãthili illã an takũna tijãrotan ‘an tarōdhim minkum, wa lã taqtulũ anfusakum, innallãha kãna bikum rohĩma.

29. Hai orang-orang yang beriman, kamu jangan saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang tidak benar, kecuali dengan jalan berjual-beli suka-sama-suka di antara kamu. Dan, kamu jangan membunuh dirimu; sesungguhnya, Allah Maha Penyayang, bersamamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh diri” artinya membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain. Membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, membuat celaka diri sendiri, karena berbuat dosa yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah pada Hari Pembalasan Q.s. Al Fatihah, 1: 4. Hidup itu sesungguhnya harus menjadi satu kesatuan, harus bersatu dalam tujuan hidup, agar selamat, sentosa, sejahtera, bahagia, tenteram, damai; memuaskan, menyejukkan.

wa man = dan barang siapa; yaf’al = ia berbuat; dzãlika = demikian; ‘udwaanan = bermusuhan; wazhulman = dan aniaya; fasaufa = maka akan; nushlĩhi = Kami masukkan ia; nãron = api; wa kãna = dan adalah; dzãlika = demikian itu; ‘alãllahi = bagi Allah; yasĩrã = mudah.

wa man yaf’al dzãlika ‘udwaanan wazhulman fasaufa nushlĩhi nãron, wa kãna dzãlika ‘alãllahi yasĩrã.

30. Barang siapa berbuat seperti itu dengan pelanggaran hak, dan aniaya, maka Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu, mudah bagi Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelanggaran hak azasi manusia, dan menganiaya orang itu perbuatan dosa. Menganiaya orang berarti menyakiti secara fisik maupun psikis, membuat orang hidup sengsara, sakit hatinya.
Manusia itu harus memilih jalan yang paling baik, selamat, menyenangkan. Jangan memilih jalan yang jelek, jahat, menyimpang, menakutkan, merusak, membuat celaka, menganiaya orang. Memilih yang demikian itu dapat mudah, dapat juga susah, sulit, tergantung kekuatan iman kepada Allah. Yang imannya kuat, mereka dengan ringan memilih jalan selamat yang menyenangkan.

in tajtanibũ = jika kamu menjauhi; kabã-irro = dosa-dosa besar; mã tunhauna = kamu dilarang (mengerjakan); ‘anhu = darinya; nukaffir = kamu hapus; ‘ankum = dari kamu; sayyi’ãtikum = kesalahan-kesalahanmu; wa nudkhilkum = dan Kami masukkan kamu; madkholan = ke tempat masuk; karĩmã = mulia

in tajtanibũ kabã-irro mã tunhauna ‘anhu nukaffir ‘ankum sayyi’ãtikum wa nudkhilkum madkholan karĩmã.

31. Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar, serta dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecil), dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dosa besar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 217, 219; An Nisã’ 4: 2, 48.
Ayat ini menunjukkan kasih-sayang Allah kepada makhluk-Nya, khususnya manusia. Kalau ada upaya menjauhi dosa besar, seperti berzina, membunuh tanpa hak, membunuh diri, …. atau dosa kecil, seperti minum khamar, berjudi, mencuri, berbicara kasar, berlaku tidak sopan, dan lain-lain, maka kesalahan-kesalahan kecilnya akan dihapus.

wa lã = dan jangan; tatamannau = kamu berangan-angan; mã = apa yang; fadhdholallahu = Allah memberi karunia apa; bihi = dengannya; ba’dhokum = sebagian kamu; ‘alã = pada; ba’dhin = sebagian yang lain; lirrijali = bagi laki-laki; nashĩbun = bagian; mimmã = dari apa; aktasabũ = mereka usahakan; wa lin nisã-i = dan bagi perempuan-perempuan; ashĩbum = bagian; mimmã = dari apa; aktasabna = mereka usahakan; was-alũ = dan mohonlah; allãha = Allah; min fadhlihi = dari karunia-Nya; innãllãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bikulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

wa lã tatamannau mã fadhdholallahu bihi, ba’dhokum ‘alã ba’dhin lirrijali nashĩbum mimmã aktasabũ wa lin nisã-i nashĩbum mimmã aktasabna, was-alũllãha min fadhlihi, innãllãha kãna bikulli syai-in ‘alĩmã.

32. Jangan kamu iri hati atas apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian dari kamu yang lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi laki-laki, ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia untuk tidak iri atas karunia-Nya. Karunia Allah itu ujian bagi yang memahami.
Karunia Allah, rezeki manusia itu tidak sama. Ada yang lebih banyak, ada yang lebih sedikit, laki-laki atau perempuan. Segala sesuatu tentang rezeki itu tergantung pada usaha masing-masing orang. Allah menyuruh orang untuk memohon sambil berusaha untuk mendapatkan rezeki karunia Allah itu. Memberi dengan ikhlas kepada orang lain, makhluk lain berarti menyimpan rezeki untuk bekal di akhirat. Kalau memberi dengan tidak ikhlas, tidak diterima rezeki untuk akhiratnya.

wa li kullin = dan bagi tiap-tiap; ja’alnã = Kami jadikan; mawãlĩya = pewaris-pewaris; mimmã = dari apa (harta); taroka = peninggalan; al wãlidaani = kedua orangtua; wal aqrobũna = dan kerabat; walladzĩna = dan orang-orang yang; aqodat = telah mengikat; aimaanukum = sumpahmu; fa-ãtũhum = maka berilah mereka; nashĩbahum = bagian mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; alã = di atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; syahĩda = menyaksikan.

wa li kullin ja’alnã mawãlĩya mimmã tarokal wãlidaani wal aqrobũna, walladzĩna aqodat aimaanukum fa-ãtũhum nashĩbahum, innallãha kãna alã kulli syai-in syahĩda.

33. Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari yang ditinggalkan ibu-bapak dan kerabat karib, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan jika ada orang-orang yang telah bersumpah setia dengan kamu, maka berilah bagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pewaris-pewaris” seperti yang diwahyukan pada ayat 11 dan 12 di atas.
Orang-orang yang telah bersumpah setia adalah istri atau suami, anak angkat, ibu-bapak angkat.

arrijãlu = laki-laki; qowwãmũna = lebih kuat (memimpin); ‘alaan nisã-i = bagi perempuan; bimã = sebab; fadhdholallãhu = Allah telah melebihkan; ba’dhohum = sebagian mereka; ‘alã = di atas; ba’dhin = sebagian yang lain; wa bimã = dan dengan sebab; anfaqũ = mereka menafkahkan; min amwãlihim = dari harta mereka; fashshōlihãtu = maka perempuan-perempuan yang soleh; qōnitaatun = yang taat; hãfizhōtun = yang menjaga diri; lilghoybi = ketika tidak hadir; bimã = dengan sebab; hafizhollãhu = Allah memlihara; wallãtĩ = dan perempuan-perempuan yang; takhōfũna = kamu khawatirkan; nusyũzahunna = kedurhakãnnya; faizhũhunna = maka nasihatilah mereka; wahjurũhunna = dan pisahkan mereka; filmadhōji’i = dari tempat tidur; wadhribũhunna = dan pukullah mereka; fa-in = maka jika; atho’nakum = mereka menaati kamu; falã = maka janganlah; tabghũ = kamu mencari-cari; ‘alayhinna = terhadap mereka; sabĩlan = jalan yang menyusahkan; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘aliyyan = Mahatinggi; kabĩrã = Mahabesar

arrijãlu qowwãmũna ‘alaan nisã-i bimã fadhdholallãhu ba’dhohum ‘alã ba’dhin wa bimã anfaqũ min amwãlihim fashshōlihãtu qōnitaatun hãfizhōtul lilghoybi bimã hafizhollãhu, wallãtĩ takhōfũna nusyũzahunna faizhũhunna wahjurũhunna filmadhōji’i wadhribũhunna, fa-in atho’nakum falã tabghũ ‘alayhinna sabĩlan, innallãha kãna ‘aliyyan kabĩrã.

34. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) sebagian atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Karena itu, perempuan yang saleh adalah yang taat kepada Allah, lagi memelihãra diri, ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memlihara mereka. Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka, dan pisahkan tempat tidurnya dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu, maka kamu janganlah mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya, Allah Mahatinggi dan Mahabesar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memelihara diri” artinya tidak berlaku serong, mau menjaga rahasia suami dan harta bendanya.
“Allah telah memelihara mereka” maksudnya: Allah telah mewajibkan suami beriman dan menggauli istrinya dengan baik, dan memberikan nafkah lahir-batin dengan semestinya; istri menerima baik perlakuan suami, menjaga diri (tidak serong), menjaga rahasia dan harta suami
“nusyuz “ artinya meninggalkan kewajiban bersuami-istri, istri meninggalkan rumah tanpa izin suami.
“kamu janganlah mencari-cari jalan untuk menyusahkannya” maksudnya: untuk memberi pengajaran kepada istri yang dikhawatirkan pembangkangannya, mula-mula harus diberi nasihat, bila nasihat tidak mempan, istrinya itu dipisahkan tempat tidurnya; bila tidak mempan juga, baru boleh dipukul dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama sudah ada hasilnya, tidak perlu perlakuan lebih lanjut.

wa-in khiftum = dan jika kamu khawatir; syiqōqo = adanya perpecahan; bainihimã = antara keduanya; fab’atsũ = maka utuslah, kirimlah; hakaman = seorang penengah; min ahlihi = dari keluarga (pihak laki-laki); wa hakaman = dan penengah; min ahlihã = dari keluarga (pihak perempuan); in-yurĩdã = jika keduanya menghendaki; ishlãhan = perdamaian; yuwaffiqi = akan memberi taufik; al lãhu = Allah; bainahumã = kepada keduanya (suami-istri); inna = sesungguhnya; al lãha = Allah; kãna = Dia adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; khobĩra = Maha Memahami/Mengerti.

wa-in khiftum syiqōqo bainihimã fab’atsũ hakamam min ahlihi, wa hakamam min ahlihã, wa hakamam min ahlihã in-yurĩdã ishlãhan yuwaffiqil lãhu bainahumã innal lãha kãna ‘alĩman khobĩra.

35. Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka carilah seorang hakam dari keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberikan taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya persengketaan. “hakam” artinya juru damai. Taufik artinya pertolongan Allah.

wa’ budũllãha = dan mengabdilah kepada Allah; wa lã = dan jangan; tusyrikũ = kamu mempersekutukan; bihĩ = dengan-Nya; syai-an = sesuatu; wa bil wãlidaini = dan kepada kedua orangtua; ihsaanan = (berbuat) baik; wa bi dzĩl qurbã = dan dengan kerabat dekat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩni = dan orang-orang miskin; wal jãri = dan tetangga; dzĩl qurbã = yang dekat; wal jãri = dan tetangga; al junubi = yang jauh; wash shãhibi = dan sahabat; bil jambi = sejawat; wabnis sabĩli = dan ibnu sabil; wa mã malakat = dan yang kamu miliki; aimaanukum = budak-budamu; innallãha = sesungghunya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; man kãna = orang-orang yang adalah; mukhtãlan = sombong; fakhũro = membanggakan diri.

wa’ budũllãha wa lã tusyrikũ bihĩ, syai-an wa bil wãlidaini ihsaanan wa bi dzĩl qurbã wal yatãmã wal masãkĩni wal jãri dzĩl qurbã wal jãril junubi wash shãhibi bil jambi wabnis sabĩli wa mã malakat aimaanukum, innallãha lã yuhibbu man kãna mukhtãlan fakhũro.

36. Dan beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Berbuat baiklah kamu kepada kedua orangtua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “tetangga yang dekat dan yang jauh” ada yang mengartikan tempat yang berjarak, atau hubungan kekeluargãn, ada yang mengartikan hubungan muslim dan nonmuslim.
“ibnu sabil” orang yang melakukan perjalanan yang bertujuan baik, tidak melakukan maksiat, orang yang kehabisan bekal, dan anak yang tidak diketahui ibu-bapaknya.
Allah mengingatkan manusia untuk tidak sombong dan tidak membanggakan diri, karena Beliau tidak suka hal itu ada pada makhluk-Nya.

alladzĩna = orang-orang yang; yabkhalũna = (mereka) kikir; wa ya’murũna = dan (mereka) menyuruh; an nãsa = manusia (lain); bil bukhli = dengan kikir; wa yaktumũna = dan mereka menyembunyikan; mã ãtãhumullahu = Allah memberikan apa (karunia) kepada mereka; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; wa-a‘tadnã = dan Kami sediakan; lil kãfirĩna = kepada orang-orang kafir; ‘adzãba = azab, siksa; am muhĩnã = menghinakan.

alladzĩna yabkhalũna wa ya’murũnan nãsa bil bukhli wa yaktumũna mã ãtãhumullahu min fadhlihĩ, wa-a‘tadnã lil kãfirĩna ‘adzãbam muhĩnã

37. yaitu orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan siksa yang menghinakan bagi orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kafir” di sini artinya orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah dan bersifat kikir, menyuruh orang untuk kikir, dan menutup-nutupi karunia Allah.

walladzĩna = dan orang-orang yang; yunfiqũna = (mereka) menafkahkan; amwãlahum = harta mereka; riã-an = riya’ ; annãsi = manusia; wa lã = dan tidak; yu’minũna = mereka beriman; billãhi = kepada Allah; wa lã bil yaumil ãkhiri = dan tidak kepada hari akhirat; wa man = dan barang siapa; yakuni = ia menjadikan; asy syaithōnu = setan; lahũ = baginya; qorĩnan = sebagai teman; fasã-a = maka sejahat-jahat; qorĩnã = teman.

walladzĩna yunfiqũna amwãlahum riã-an nnãsi wa lã yu’minũna billãhi wa lã bil yaumil ãkhiri, wa man yakunisy syaithōnu lahũ qorĩnan fasã-a qorĩnã.

38. Dan orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia; dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan barang siapa yang mengambil setan menjadi temannya, maka setan itu adalah seburuk-buruk teman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “riya” adalah perbuatan dan tingkah laku yang ingin dilihat dan dipuji orang.
Allah memperingatkan, bagaimana sebaiknya harta itu dinafkahkan. Harta harus dinafkahkan secara ikhlas, berdasarkan iman, tanpa beban, dan harus mengatasnamakan Allah. Jangan mengatasnamakan setan.

wa mã dzã = dan apakah; ‘alayhim = bagi mereka; law = kalau (sekiranya); ãmanũ = mereka beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan hari akhirat; wa anfaqũ = dan mereka menafkahkan; mimmã = sebagian apa; rozakohumullãhu = Allah memberikan rezeki kepada mereka; wa kãna = dan adalah; allãhu = Allah; bihim = kepada mereka; alĩmã = Maha Mengetahui.

wa mã dzã ‘alayhim law ãmanũ billãhi wal yaumil ãkhiri wa anfaqũ mimmã rozakohumullãhu, wa kãnallãhu bihim alĩmã.

39. Apa kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah bagi mereka? Dan Allahlah Yang Maha Mengetahui keadaan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan secara retoris tentang orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah, kepada hari akhirat, dan tidak mau menafkahkan sebahagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini merupakan pelajaran, peringatan bagi manusia. Maka, belajarlah untuk selalu mengikuti perintah Allah dengan sunah dan hadis dari para Nabi sebaik-baiknya.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã yazhlimu = Dia tidak menganiaya; mitsqōla = seberat; dzarrotin = sebutir debu; wa intaku = dan jika kamu ada; hasanatan = kebaikan; yudhō’ifhã = Dia melipatgandakannya; wa yu’ti = dan Dia memberikan; min = dari; ladunhu = haribãn-Nya; ajron = pahala; ‘azhĩma = yang besar.

innallãha lã yazhlimu mitsqōla dzarrotin wa intaku hasanatan yudhō’ifhã wa yu’ti mil ladunhu ajron ‘azhĩma.

40. Sesungguhnya, Allah tidak menganiaya seseorang, walawpun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebutir debu, niscaya Allah akan melipatgandakannya, dan memberikan pahala yang besar dari haribãn-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak mengurangi sedikit pun pahala orang-orang yang mengerjakan kebaikan dan kebenaran, bahkan akan dilipatgandakan kebaikan dan kebenaran yang dikerjakannya. Kalau amal yang dikerjakan tidak benar, Allah akan memperingatkan secara halus atau kasar, keras. Kalau terus dilakukan, Allah akan menghukum segera di dunia sebagai peringatan, atau ditangguhkan sampai nanti hidup di akhirat. Allah Mahaleluasa ampunan-Nya.

fa kayfa = maka bagaimana; idzã = bila; ji’nã = Kami datangkan; min kulli = dari tiap-tiap; ummatin = umat; bi syahĩdin = dengan seorang saksi; waji’nã = dan kami datangkan; bika = kepada engkau; ‘alã hã-ulã-i = atas mereka itu; syahĩdã = sebagai saksi.

fa kayfa idzã ji’nã min kulli ummatin, bi syahĩdin waji’nã bika ‘alã hã-ulã-i syahĩdã.

41. Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, bila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad s.a.w.) menjadi saksi atas mereka sebagai umatmu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap Nabi menjadi saksi atas segala perbuatan umatnya yang mengikuti atau yang melanggar perintah Allah. Allah mempertanyakan orang yang tidak mempercayai Nabi Muhammad saw.sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Umatnya harus mempertanggungjawabkan setiap perilakunya di dunia.

yawma-idzin = pada hari itu; yawaddu = ingin; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; wa ‘ashōwu = dan orang-orang yang mendurhakai; ar rosũla = Rasul; law = kalau, supaya, sekiranya; tusawwã = disamakan; bihimu = dengan mereka; al ardhu = bumi; wa lã yaktumũnallãha = dan mereka tidak dapat menyembunyikan dari Allah; hadĩtsã = suatu kejadian;

yawma-idzin yawaddul ladzĩna kafarũ wa ‘ashōwur rosũla law tusawwã bihimul ardhu wa lã yaktumũnallãha hadĩtsã.

42. Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasul, ingin supaya mereka disamakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian pun dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “disamakan dengan tanah” maksudnya mereka ingin seperti atau menyatu hancur menjadi tanah. Hal ini karena penyesalan mengapa mereka durhaka, tidak mempercayai Nabi Muhammad s.a.w yang terakhir diutus untuk mengadakan pembaharuan dalam hidup beragama di dunia ini.
“mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian pun dari Allah” maksudnya, di hadapan Allah, kaki, tangan, telinga, mulut, mata mereka menjadi saksi, apa saja yang sudah mereka lakukan selama hidupnya.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã taqrobu = jangan kamu dekati; ash sholãta = salat; wa antum = dan kamu; sukãrã = mabuk; hattã = sehingga; ta’lamũ = kamu mengetahui (mengerti); mã takulũlũna = apa yang kamu ucapkan; wa lã junuban = dan jangan dalam keadaan junub; illã = kecuali; ‘a’abirĩ = sekedar; sabĩlin = lewat saja; hattã = sehingga; taghtasilũ = kamu mandi; wa in kuntum = dan jika kamu adalah; mardhō = sakit; au ‘alã safarin = atau dalam perjalanan; au jã-a = atau datang; ahadum = seseorang; minkum = di antara kamu; mina = dari; al ghōithi = got (tempat buang air); au lãmastumu = atau kamu menyentuh; an nisã-a = perempuan; falam = maka kemudian; tajidũ = kamu mendapatkan; mã-an = air; fatayammũ = maka bertayamumlah kamu; sho’ĩdan = debu tanah; thoyyiban = bersih; famsahũ = maka sapulah, basuhlah; bi wujũhikum = pada wajahmu; wa iadĩkum = dan tanganmu; innallãha kãna ‘afuwwan ghofũrã = sesungguhnya Allah, Dia adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã taqrobush sholãta wa antum sukãrã hattã ta’lamũ mã takulũlũna wa lã junuban illã ‘a’abirĩ sabĩlin hattã taghtasilũ, wa in kuntum mardhō au ‘alã safarin au jã-a ahadum minkum minal ghōithi au lãmastumun nisã-a falam tajidũ mã-an fatayammũ sho’ĩdan thoyyiban famsahũ bi wujũhikum wa iadĩkum innallãha kãna ‘afuwwan ghofũrã.

43. Hai orang-orang yang beriman, kamu jangan salat ketika kamu sedang mabuk, sehingga kamu sadar dan mengerti apa yang kamu ucapkan, dan janganlah kamu menghampiri masjid, ketika kamu dalam keadaan junub, terkecuali hanya sekedar lewat, sampai kamu mandi. Dan jika kamu sakit, atau sedang dalam musafir, atau datang dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka kamu bertayamumlah dengan tanah yang suci, sapulah mukamu, dan tanganmu. Sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingat-kan, orang yang melaksanakan salat harus dalam keadaan suci lahir dan batinnya.
“menyentuh perempuan” artinya bersetubuh.
Allah melarang salat bagi orang yang sedang mabuk, junub (selesai bersanggama). Setelah sadar dari mabuk, dan bagi yang junub, mandi menghilangkan hadas besar, baru boleh salat.
Ada aturan bertayamum.
Lihat Q.s. Al Maidah, 5; 6

alam = apakah tidak; taro = kamu memperhatikan; ilal ladzĩna = kepada orang-orang yang; ũtũ = mereka diberi; nashĩba = bagian; minal kitãbi = dari Alkitab; yasytarũna = mereka membeli; adh dholãlata = kesesatan; wa yurĩdũna = dan mereka menghendaki; an tadhillu = supaya kamu tersesat; as sabĩla = jalan..

alamtaro ilal ladzĩna ũtũ nashĩbam minal kitãbi yasytarũnadh dholãlata wa yurĩdũna an tadhillũs sabĩla.

44. Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian Alkitab (Taurat)? Mereka memilih membeli kesesatan dengan petunjuk, dan mereka mempunyai maksud supaya kamu juga tersesat, menyimpang dari jalan yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang telah beriman agar tidak terpengaruh ajakan mereka yang menyesatkan. Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk. *lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1: 7; Al Baqarah, 2: 16, 86, 108, 175; Ali ‘Imran, 3: 177; An Nisã’, 4, 51

wallãhu = dan Allah; a’lamu = Maha Mengetahui; bi a’dã-ikum = tentang musuh-musuhmu; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; waliyyaan = (menjadi) pelindung; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = kepada Allah; nashĩro = meminta pertolongan.

wallãhu a’lamu bi a’dã-ikum, wa kafã billãhi waliyyaan wakafã billãhi nashĩro.

45. Sesungguhnya, Allah lebih mengetahui daripada kamu tentang musuh-musuhmu, dan cukuplah Allah menjadi pelindung bagimu, cukuplah Allah menjadi penolong bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musuh orang mu’min itu iblis, setan, orang kafir, orang musyrik, munafik, fasik, murtad. Pelindung dan penolong orang mu’min hanya Allah, dan para Malaikat.

minal ladzĩna = dari orang-orang yang; hãdũ = Yahudi; yuharrifũna = mereka mengubahi; al kalima = perkataan; ‘an = dari; mawãdhi’ihi = tempat-tempatnya; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; sami’nã = kami mendengar; wa ‘ashoinã = tapi kami mendurhakai; wasma’ = dan dengarlah; ghoiro = tidak/bukan; musma’in = mendengar; wa rō’inã = dan peliharalah kami; lãyyan = memutar-mutar; bi-alsinatihim = dengan lidah mereka, wa tho’naan = dan mencela; fiddĩni = pada agama (dĩn); wa law = dan kalau; annahum = bahwa mereka; qōlũ = (mereka) mengatakan; sami’nã = kami mendengar; wa atho’nã = dan kami taat; wasma’ = dan dengarlah; wanzhurnã = dan perhatikanlah kami; la kãna = tentu itu adalah; khoiron = lebih baik; lahum = bagi mereka; wa aqwama = dan lebih tepat; wa lãkin = akan tetapi; la’anahumullãhu = Allah mengutuk mereka; bi kufrihim = karena kekafiran mereka; falã = maka tidak; yu’minũna = mereka beriman; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

minal ladzĩna hãdũ yuharrifũnal kalima am mawãdhi’ihi, wa yaqũlũna sami’nã wa ‘ashoinã wasma’ ghoiro musma’in wa rō’inã lãyyam bi-alsinatihim wa tho’naan fiddĩni, wa law annahum qōlũ sami’nã wa atho’nã wasma’ wanzhurnã la kãna khoirol lahum wa aqwama wa lãkil la’anahumullãhu bi kufrihim falã yu’minũna illã qolĩlã.

46. Itulah, orang-orang Yahudi, mereka mengubah kata-kata pada kalimat-kalimatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan mereka mengatakan pula: “Dengarlah”, sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan mereka mengatakan: “rã’ina” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengarkan dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami,” tentulah itu lebih baik bagi mereka, dan lebih tepat; akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman, kecuali iman yang sangat tipis.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mengubah kata-kata pada kalimat-kalimatnya” artinya mengubah, menambah atau mengurangi arti kata-kata dalam kalimat.
“Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya” maksudnya antara kata yang diucapkan dengan artinya berbeda; mereka tidak mau menuruti apa yang sudah didengarnya. Contoh: “dengarlah,” “sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.” Maksudnya: mereka mengatakan “dengarlah”, tapi hati mereka mengatakan: “mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarnya (tuli). Ini kebiasaanyang dilakukan oleh orang munafik. Lain di kata, lain di hati.
“rã’ina” lihat Catatan, pengetahuan, ilmu, hukum, ahlak, dan adab Q.s. Al Baqarah, 2: 104.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka ) diberi; al kitãba = Alkitab; ãminũ = berimanlah kamu; bimã = dengan apa; nazzalnã = Kami turunkan; mushoddiqon = yang membenarkan; limã = dengan apa (Kitab); ma’akum = ada padamu; min qobli = dari sebelum; annathmisa = Kami mengubah; wujũhã = wajah-wajah; fanarud dahã = lalu Kami putarkan; ‘alã adbãrihã = pada arah belakangnya; aw nal ’anahum = atau Kami laknati; kamã = sebagaimana; la’annã = Kami melaknati; ash hãba = pemilik; as sabti = hari Sabtu; wa kãna = dan adalah; amrullãhi = ketetapan Allah; maf’ũlan = berlaku.

yã ayyuhal ladzĩna ũtũl kitãba ãminũ bimã nazzalnã mushoddiqol limã ma’akum min qobli annathmisa wujũhã fanarud dahã ‘alã adbãrihã aw nal’anahum kamã la’annã ash hãbas sabti, wa kãna amrullãhi maf’ũlan.

47. Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kepada apa yang telah Kami turunkan (Alquran), yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu, sebelum Kami mengubah mukamu, lalu Kami putarkan ke belakang, atau Kami kutuk mereka, sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Himbauan, peringatan, dan kutukan kepada pembaca Ahli Kitab.
“sebelum Kami mengubah mukamu, lalu Kami putarkan ke belakang” maksudnya, merupakan kalimat menghinakan, merendahkan, karena mereka selalu mengabaikan pemberitahuan dari Allah.
“Kami telah mengutuk orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabtu.” Lihat juga Q.s. al Baqarah, 2: 65; dan al A’rãf, 7: 163.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã yaghfiru = Dia tidak mengampuni; an yusyraka = dipersekutukan; bihi = dengan-Nya; wa yaghfiru = dan Dia mengampuni; mã = apa; dũna = yang selain; dzãlika = yang itu; liman = bagi siapa; yasã-u = Dia kehendaki; wa man = dan orang yang; yusyrik = mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; faqodi = maka sesungguhnya; iftarō = ia telah berbuat; itsman = dosa; ’azhĩma = besar.

innallãha lã yaghfiru an yusyraka bihi, wa yaghfiru mã dũna dzãlika liman yasã-u, wa man yusyrik billãhi faqodiftarō itsman ‘’azhĩma.

48. Sesungguhnya, Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tentang dosa besar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 217, 219; An Nisã’, 4: 2, 31. Pemikiran tentang Allah yang terdiri dari Allah Bapak, Allah Putra, dan Allah Ruhul Qudus ini menurut padangan Islam termasuk atau dianggap syirik. Menurut Islam Allah itu tunggal, esa, tidak ada yang dapat menyamai (lihat Asma’ul Husna).

alamtaro = tidakkah kamu perhatikan; ilal ladzĩna = kepada orang-orang yang; yuzakkũna = (mereka) membersihkan; anfusahum = diri mereka; bal = tetapi (sebenarnya); il lãhu = Allah; yuzakkĩ = Dia membersihkan; man = siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa lã yuzhlamũna = dan mereka tidak dianiaya; fatĩlaan = sedikit pun.

alamtaro ilal ladzĩna yuzakkũna anfusahum, balil lãhu yuzakkĩ man yasyã-u wa lã yuzhlamũna fatĩlã.

49. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?” Ini ditujukan kepada umat Yahudi dan Nasrani yang mempunyai keyakinan mereka akan masuk neraka hanya beberapa hari saja dan selanjutnya mereka masuk surga. Diri kita sendiri perlu diperhatikan juga, sudah benarkah keimanan kita?! Lihat juga Q.s. al Baqarah, 2: 80, dan 111; al Mãidah, 5: 18.

unzhur = perhatikanlah; kaifa = seperti bagaimana, betapa; yaftarũna = mereka mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; al kadziba = dusta; wa kafã = dan cukuplah; bihi = perbuatan itu; itsman = dosa; mubĩnã = nyata.

unzhur kaifa yaftarũna ‘alallãhil kadziba wa kafã bihi, itsmam mubĩnã.

50. Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan dusta atas Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata bagi mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “betapa mereka mengada-adakan dusta atas Allah?” maksudnya mereka menyebut-nyebut Allah Bapak, Allah Putra, Allah Ruhul Qudus, ini istilah yang mengada-ada. Tidak ada dalam Alkitabnya; mereka memastikan diri hanya beberapa hari saja masuk neraka dan selanjutnya akan masuk surga. Siapa Yang menentukan seseorang masuk neraka atau surga? Allah saja yang menentukan, bukan hasil pemikiran atau pertimbangan manusia.

alamtaro = apakah tidak kamu perhatikan; ilalladzĩna = kepada orang-orang yang; ũtũ = (mereka) memberi; nashĩbam bagian; minal kitãbi = dari Alkitab; yu’minũna = mereka beriman; bil jibti = kepada jibti; wath thōghũti = dengan thoghut; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; lil ladzĩna = kepada orang-orang yang; kafaru = (mereka) kafir; hã-ulã-i = mereka itu; ahdã = lebih mendapat petunjuk; min = dari; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; sabĩlã = jalan.

alamtaro ilalladzĩna ũtũ nashĩbam minal kitãbi yu’minũna bil jibti wath thōghũti wa yaqũlũna lil ladzĩna kafaru hã-ulã-I ahda minal ladzĩna ãmanũ sabĩlã.

51. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi sebahagian dari Alkitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah, jibti dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik) Mekah, bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Alkitab?” lihat juga Q.s. an Nisã’, 4: 44. Mereka mengubah firman Allah sehingga menyesatkan orang banyak (ada Allah Bapak, Allah Putra, dan Allah Ruhul Qudus). Tidak ada tuntunan seperti itu di dalam Alkitab dari Allahnya. Mereka akhirnya menyembah, memuliakan yang bukan Allah, yang disebut “jibti” dan “thaghut” ini berarti setan, dan apa yang disembah selain Allah Swt.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; la’anahumullãhu = dilaknat Allah; wa man = dan barang siapa; yal’anillãhu = yang dilaknat Allah; falan = maka sekali-kali tidak; tajida = mendapat; lahũ = baginya; nashĩrō = penolong.

ũlãikal ladzĩna la’anahumullãhu, wa man yal’anillãhu falan tajida lahũ nashĩrō.

52. Mereka itulah orang yang dilaknat Allah. Barang siapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu tidak akan memperoleh seorang penolong pun pada hari yang ditentukan (kiamat)

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat-ayat sebelumnya: Q.s. Al Baqarah, 2: 107, 120, 270, 286; Ali ‘Imran, 3: 22, 56, 91, 150, 173; An Nisã’, 4: 45.

am ataukah; lahum = bagi mereka; nashĩbun = bagian; min = dari; al mulki = kekuasaan; fa idzan = maka jika demikian; la yu’tũna = mereka tidak memberikan; nãsa = manusia; naqĩrō = sedikit pun.

am lahum nashĩbum minal mulki fa idzãl la yu’tũnan nãsĩ naqĩrō.

53. Ataukan ada bagi mereka bagian dari kerajaan(kekuasaan)? Kendati pun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kebajikan pada manusia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka tidak akan memberikan sedikit pun kebajikan pada manusia” maksudnya, kalau ada yang berkuasa, berkedudukan, berkuasa, berjabatan, mereka selalu membuat kekacauan, pertetangan, pertengkaran, kerusuhan, dalam pemerintahannya di dunia. Mereka tidak sepantasnya mempunyai kedudukan, kekuasaan, atau jabatan dalam pemerintahan di dunia, karena tidak memberikan keamanan, ketenteraman, kesenangan, kesejahteraan.

am = atau; yahsudũna = mereka dengki; an nãsa = manusia (Muhammad s.a.w.) ‘alã = atas; mã = apa (karunia); atãhumullãhu = Allah memberikan kepada mereka; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; faqod = maka sungguh; atainã = Kami telah memberikan; ãla = keluarga; ibrōhĩma = Ibrahim; al kitãba = Alkitab; wa = dan; al hikmata = Alhikmah (ilmu dan pengetahuan); wa ãtainãhum = dan Kami telah memberikan kepada mereka; mulkan = kerajãn; ‘azhĩmã = besar.

am yahsudũnan nãsa ‘alã mã atãhumullãhu min fadhlihĩ, faqod atainã ãla ibrōhĩmal kitãba wal hikmata wa ãtainãhum mulkan ‘azhĩmã.

54. ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad s.a.w.) lantaran karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sesungguhnya, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaanyang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “karunia yang telah diberikan Allah” kepada nabi Muhammad saw.adalah kenabian dan kerasulannya, Alquran, dan kemenangan di dunia dan akhirat. Kaum Yahudi dan Nasrani tidak mau mempercayainya. Mereka dengki, padahal Allah juga telah memberikan Alkitab, ilmu dan pengetahuan serta kerajaanbesar kepada keluarga Ibrahim. Namun, mereka masih merasa iri, dengki saja karena ilmu dan pengetahu-annya tidak digunakan dengan semestinya. Bukti hukum sebab-akibat Allah berlaku bagi Kaum Yahudi dan Nasrani.

faminhum = maka di antara mereka; man = orang; ãmana = ia beriman; bihĩ = dengan-Nya; wa minhum = dan di antara mereka; man = orang; shodda = ia menghalangi; ‘anhu = dari-Nya; wa kafã = dan cukuplah; bi jahanama = dengan jahanam; sa’ĩrō = yang menyala-nyala.

faminhum man ãmana bihĩ, wa minhum man shodda ‘anhu wa kafã bi jahanama sa’ĩrō.

55. Maka di antara mereka, orang-orang yang dengki itu, ada yang beriman kepada-Nya, dan di antara mereka ada yang menghalangi manusia beriman kepada-Nya. Dan Cukuplah bagi mereka jahanam yang menyala-nyala apinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, di antara manusia dengki itu, ada yang beriman kepada Allah, ada yang menghalangi orang lain beriman kepada-Nya. Semuanya diancam akan dibakar neraka jahanam.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat Kami; saufa = kelak akan; nushlĩhim = Kami masukkan mereka; nãrōn = api; kullamã = setiap; nadhijat = hangus (terbakar); julũduhum = kulit-kulit mereka; baddalnãhum = Kami ganti mereka; julũdan = kulit-kulit; ghoirohã = selainnya; lĩdzũqũ = supaya merasakan; al ‘adzaba = siksa (azab); innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘azĩzan = Mahaperkasa; hakĩmã = Mahabijaksana

innal ladzĩna kafarũ bi ãyãtinã saufa nushlĩhim nãrōn kullamã nadhijat julũduhum baddalnãhum julũdan ghoirohã lĩdzũqũl ‘adzaba, innallãha kãna ‘azĩzan hakĩmã.

56. Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam api. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kafir di sini berarti mereka yang tidak menyimak dan mengamalkan isi ayat Alkitab tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.Orang Yahudi dan Nasrani tidak mempercayai kenabian dan kerasulan Muhammad s.a.w., karena itu disebut kafir. Ada salah satu gambaran tentang siksaandi neraka.

walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa amilu = dan beramal; ash sholihati = kebaikan; sanudkhiluhum = mereka akan Kami masukkan; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min = dari; tahtiha = bawah; al anharu = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fihã = di dalamnya; abadaan = selama-lamanya; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; azwãjun = istri-istri; muthohharoh = yang suci; wanudkhiluhum = dan Kami masukkan mereka; zhillan = naungan; zhalĩlaan = nyaman.

walladzĩna ãmanũ wa amilush sholihati sanudkhiluhum jannaatin tajrĩ min tahtihal anharu, khōlidĩna fihã abadaan, lahum fĩhã azwãjum muthohharoh, wanudkhiluhum zhillan zhalĩlaan.

57. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya di dalamnya dengan istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Lihat juga ayat-ayat sebelumnya, misalnya: Q.s. …..

innal lãha = sesungguhnya Allah; ya’murukum = Dia menyuruh; an tuadũ = untuk menyampaikan; al amaanaati = pesan, amanat; ilã ahlihã = hanya kepada yang berhak menerimanya; wa idzã = dan jika; hakamtum = kamu menetapkan hokum; bainan = di antara; nãsi = manusia; an tahkumũ = supaya kamu menetapkan hokum; bil ‘adli = dengan adil; innallãha = sesungguhnya Allah; ni’immã = sebaik-baik; yaizhũkum = Dia memberi pelajaran kepadamu; bihĩ = dengannya; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; samĩ’an = Maha Mendengar; bashĩrã = Maha Melihat.

innal lãha ya’murukum an tuadũl amaanaati ilã ahlihã wa idzã hakamtum bainan nãsi an tahkumũ bil ‘adli, innallãha ni’immã yaizhũkum bihĩ, innallãha kãna samĩ’am bashĩrã.

58. Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan bila kamu disuruh menetapkan hukum di antara manusia hendaknya secara adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu” artinya Allah itu Mahaguru Yang Terbaik yang menyuruh makhluk-Nya yang terbaik menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, yaitu orang-orang yang beriman. Dan Allah menyuruh makhluk-Nya menetapkan hukum dengan adil.

yã ayyuha wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; athĩ’ũllãha = taatilah Allah; wa athi’ur rasũla = dan taatilah Rasul-Nya; wa ũlil amri = dan pemimpin; minkum = di lingkunganmu; fa in = maka jika; tanãza’tum = kamu berselisih; fĩ syai-in = tentang sesuatu; farudũhu = maka kembalikanlah ia; ilãllãhi = kepada Allah; war rosũli = dan Rasul-Nya; in kuntum = jika kamu adalah; tu’minũna = (kamu) beriman; bil lãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhir = dan hari akhirat; dzãlika = demikian itu; khairun = lebih baik; wa ahsanu = dan sebaik; ta’wĩlã = kesudahan akibatnya

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ athĩ’ũllãha wa athi’ur rasũla wa ũlil amri minkum, fa in tanãza’tum fĩ syai-in farudũhu ilãllãhi war rosũli in kuntum tu’minũna bil lãhi wal yaumil ãkhiri, dzãlika khairun wa ahsanu ta’wĩlã.

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan pemimpin di lingkungan kamu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alquran), dan Rasul (sunah dan haditsnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih baik bagimu, dan sebaik kesudahan akibatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan perintah Allah yang harus diingat, (lihat juga Q.s Ali ‘Imran, 3: 32, 132) diperhatikan, dilaksanakan saatber-hablum minannas, harus terkait dengan hablum minallãhu, dan hablum minal alamĩn.

alamtaro = apakah tidak kamu perhatikan; ilalladzĩna = kepada orang-orang yang; yadz’umũna = mereka mengaku; annahum = sesungguhnya mereka; ãmanũ = beriman; bimã = kepada apa; unzila = diturunkan; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan apa; unzila = diturunkan; min qoblika = dari sebelum kamu; yurĩdũna = mereka hendak; an yatahãkamũ = mereka berhakim; ilãth thōghũti = kepada Thaghut; wa qod = dan sungguh; umirũ = mereka diperintah; an yakfurũ = mereka untuk mengingkari; bihi = dengannya (thaghut); wayurĩdu = dan menghendaki; sy syaithōnu = setan; an yudhillahum = untuk menyesatkan mereka; dholãlan = penyesatan; ba’ĩdã = sejauh-jauhnya.

alamtaro ilalladzĩna yadz’umũna annahum ãmanũ bimã unzila ilaika wa mã unzila min qoblika yurĩdũna an yatahãkamũ ilãth thōghũti wa qod umirũ an yakfurũ bihi, wayurĩdusy syaithōnu an yudhillahum dholãlam ba’ĩdã.

60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, ada orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tapi mereka masih mau berhakim kepada thaghut. Mereka bersikeras, padahal mereka sudah diperingatkan untuk mengingkari thaghut itu. Allah mengingatkan, setanlah yang berperan menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.

wa idzã = dan apabila; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; ta’a’alaw = marilah; ilã mã = kecuali apa (hukum); anzalallãhu = telah diturunkan Allah; wa ilar rosũli = dan kepada Rasul; ro-aita = kamu lihat al munãfiqĩna = orang-orang munafik; yashuddũna = (mereka) menghalangi; ‘anka = dari kamu; shudũdã = halangan yang keras/kuat.

wa idzã qĩla lahum ta’a’alaw ilã mã anzalallãhu wa ilar rosũli ro-aital munãfiqĩna yashuddũna ‘anka shudũdã.

61. Apabila dikatakan kepada mereka: “Tunduklah kamu kepada hukum yang diturunkan Allah, dan Rasul-Nya,” niscaya kamu melihat orang-orang munafik menghalang-halangi manusia dengan sekuat-kuatnya, bila mendekati kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, ada orang-orang munafik yang akan menghalang-halangi manusia tunduk mengikuti hukumullah dan Rasul-Nya.

fa = maka; kaifa = bagaimanakah; idzã = apabila; ashōbat-hum = menimpa mereka; mushĩbatum = musibah; bimã = dengan sebab; qoddamat = perbuatan; aidĩhim = tangan-tangan mereka; tsumma = kemudian; jã-ũka = mereka datang kepadamu; yahlifũna = mereka bersumpah; billãhi = demi Allah; in arodnã = sekali-kali kami tidak menghendaki; illã = kecuali (selain); ihsaanan = kebaikan; wa taufĩqō = perdamaian yang sempurna.

fakayfa idzã ashōbat-hum mushĩbatum bimã qoddamat aidĩhim tsumma jã-ũka yahlifũna billãhi in arodnã illã ihsaanan wa taufĩqō.

62. Maka bagaimanakah halnya, apabila orang-orang munafik ditimpa sebuah musibah karena perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami betul-betul tidak menghedaki selain penyelesaian yang baik, dan perdamaian yang sempurna.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, kelak akan ada orang munafik yang mengadukan musibah akibat perbuatan tangannya sendiri, Allah memberikan petunjuk pada ayat berikut.

ũlãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; ya’lamullãhu = Allah mengetahui; mã fĩ = apa yang di dalam; qulũbihim = hati mereka; fa-a’ ridh = maka berpalinglah kamu; ‘anhum = dari mereka; wa ‘izhhum = dan berilah mereka pelajaran; wa qul = dan katakanlah; lahum = kepada mereka; fĩ anfusihim = dalam jiwa mereka; qaulan = perkataan; balĩghō = berkesan.

ũlãikal ladzĩna ya’lamullãhu mã fĩ qulũbihim, fa-a’ ridh ‘anhum wa ‘izhhum wa qul lahum fĩ anfusihim qaulam balĩghō.

63. Mereka adalah orang-orang yang telah diketahui Allah, apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu menghindarlah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakan kepada mereka perkataan yang berkesan pada jiwa mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Memberi pelajaran” maksudnya, mereka harus diberitahu tentang Allah dengan sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, Rasul-rasul-Nya, mendirikan salat; membayar infak, zakat, fitrah, sodakah; berpuasa wajib di bulan Ramadhan, dan puasa-puasa sunat lainnya; menunaikan ibadah haji kalau mampu.
“perkataan yang berkesan”, maksudnya hal yang terkait dengan akhlak Islam yang mulia yang terekam dalam Alquran, dan hadist.

wa mã arsalnã = dan Kami tidak mengutus; mir rosũlin = dari seorang Rasul; illã = melainkan, kecuali; liyuthō’a = untuk ditaati; bi-idznillãhi = dengan idzin Allah; wa law = dan kalau; annahum = sesungguhnya mereka; izh = ketika; zholamũ = mereka menganiaya; anfusahum = diri mereka; jã-ũka = mereka datang kepada kamu; fastaghfarũllãha = maka mereka memohon ampun kepada Allah; wastaghfara = dan memohonkan ampun; lahumu = untuk mereka; ar rosũlu = Rasul; lawajadũllãha = tentu mereka mendapati Allah; tawwaba = Maha Penerima tobat; ar rohĩman = Maha Penyayang.

wa mã arsalnã mir rosũlin illã liyuthō’a bi-idznillãhi, wa law annahum izh zholamũ anfusahum jã-ũka fastaghfarũllãha wastaghfara lahumur rosũlu lawajadũllãha tawwabar rohĩman.

64. Dan, Kami tidak mengutus seseorang Rasul, kecuali untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya, jika mereka, ketika menganiaya dirinya, lalu datang kepadamu, dan memohon ampun kepada Allah; dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menganiaya dirinya” maksudnya: berhakim kepada selain Nabi Muhammad s.a.w..Kalau orang munafik itu memohon ampun, maka Allah itu Maha Penerima tobat, dan Maha Penyayang.

falã warobbika = maka demi Robb kamu; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; hattã = hingga; yuhakkimũka = mereka menjadikan kamu hakim; fĩmã = terhadap apa; syajaro = perselisihan; bainahum = di antara mereka; tsumma = kemudian; lã yajidũ = mereka tidak mendapatkan; fĩ anfusihim = dalam hati mereka; harojan = keberatan; mimmã = terhadap apa; qodhoita = kamu putuskan; wa yusallimũ = dan mereka menerima; taslĩmã = penerimaan sepenuh (hatinya).

falã warobbika lã yu’minũna hattã yuhakkimũka fĩmã syajaro bainahum tsumma lã yajidũ fĩ anfusihim harojam mimmã qodhoita wa yusallimũ taslĩmã.

65. Maka, demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak merasa keberatan dalam hati mereka menerima dengan sepenuhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, hakekatnya, keimanan orang munafik harus diragukan, sampai mereka benar-benar menerima sepenuh hatinya pemutusan perkara yang mereka perselisihkan berdasarkan Hukumullah dan Sunaturrasul.

walaw = dan kalau; annã = sesungguhnya; katabnã = kami perintahkan; ‘alayhim = kepada mereka; aniqtulũ = bunuhlah olehmu; anfusakum = dirimu; awikhrujũ = atau keluarlah kamu; min diyãrikum = dari kampungmu; mã fa’alũhu = mereka tidak melakukannya; illã = kecuali; qolĩlun = sedikit; minhum = dari mereka; walaw = dan kalau; annahum = sesunggunya mereka; fa’alũ = (mereka) melaksanakan; mã = apa (pelajaran); yũ ‘azhũna = yang diberikan; bihi = kepadanya; lakãna = demikian itu (tentu ia); khoiron = lebih baik; lahum = bagi mereka; wa asyadda = dan lebih; tatsbĩtã = menguatkan.

walaw annã katabnã ‘alayhim aniq tulũ anfusakum awikhrujũ min diyãrikum mã fa’alũhu illã qolĩlum minhum walaw annahum fa’alũ mã yũ ‘azhũna bihi, lakãna khoirol lahum wa asyadda tatsbĩtã.

66. Dan sesungguhnya, kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu, atau keluarlah kamu dari kampungmu,” pasti mereka tidak melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya, kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepadanya, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan imannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk untuk menguji keimanan orang munafik itu dengan cara mereka disuruh membunuh dirinya atau keluar dari kampung halamannya. Ujian ini pasti akan dilakukan oleh sedikit saja dari mereka. Padahal hal seperti itu menunjukkan bukti keimanannya, memang sudah berubah. Hal ini menjadi pelajaran bagi orang yang beriman, agar harus selalu berhati-hati menghadapi orang-orang munafik.

wa idzãn = dan kalau demikian; la-ãtainãhum = pasti kami berikan; min = dari; ladunnã = haribãn Kami; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar

wa idzãl la-ãtainãhum milladunnã ajron ‘azhĩmã.

67. dan kalau demikian, pasti Kami berikan pahala yang besar dari Kami (kepada mereka).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau perintah Allah dilaksanakan (membunuh diri atau keluar dari kampung halaman, sebagai penebus dosa karena kekafiran mereka), mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.

wa lahadainahum = dan pasti Kami beri petunjuk mereka; shirōthan = jalan; mustaqĩmã = lurus (benar).

wa lahadainahum shirōthom mustaqĩmã.

68. dan pasti Kami tunjuki jalan yang lurus (kepada mereka).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir yang tobat, dan melakukan perintah bertobatnya, akan diberi petunjuk jalan yang benar.

wa man = dan barang siapa; yuthi’illãha = menaati Allah; wa = dan; ar rosũla = Rosul; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; ma’a = bersama-sama; al ladzĩna = orang-orang yang; an’amallãhu = Allah menganugerahi nikmat; ‘alayhim = kepada mereka; minan nabiyyĩna = dari para Nabi; wash shiddĩqĩna = dan para Shiddiqin; wasysyuhadã-i = dan para Syuhada; wash shōlihĩna = dan orang-orang saleh; wa hasuna = dan sebaik-baik; ũlã-ika = mereka itulah; rofĩkō = teman.

wa man yuthi’illãha war rosũla fa-ũlã-ika ma’al ladzĩna an’amallãhu ‘alayhim minan nabiyyĩna wash shiddĩqĩna wasysyuhadã-i wash shōlihĩna wa hasuna ũlã-ika rofĩkō.

69. Dan, barang siapa yang menaati Allah dan rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi hikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh.. Dan, mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “para siddiqin” adalah orang-orang yang teguh keimanannya kepada kebenaran Rasul, orang-orang yang diberi anugerah kenikmatan, seperti yang disebutkan dalam Q.s. al Fatihah, 1: 7.

dzãlika = demikian itu; al fadhlu = karunia; minallãhi = dari Allah; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah ‘alĩmã.

dzãlikal fadhlu minallãhi, wa kafã billãhi ‘alĩmã.

70. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah yang cukup mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat-ayat berikutnya mengenai taktik, tujuan, adab berperang, dan keharusan siap-siaga menghadapi musuh.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; khudzũ = ambillah olehmu; hidzrokum = kewaspadaanmu, kesiapsiagãnmu; fanafirũ = pergilah kamu; tsubãtin = berkelompok-kelompok; awinfirũ atau pergilah, majulah; jamĩ’ã = bersama-sama.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ khudzũ hidzrokum fanafirũ tsubãtin awinfirũ jamĩ’ã.

71. Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!

wa inna = dan sesungguhnya; minkum = di antara kamu; laman = ada orang; layubaththi-anna = sangat berlambat-lambat; fain = maka jika; ashōbatkum = menimpa kamu; mushĩbatun = musibah; qōla = ia berkata; qod = sungguh; an’amallãhu = Allah telah menganugerahkan nikmat; ‘alayya = atas diriku; idz lam = karena tidak; akun = adalah aku; ma’ahum = bersama-sama mereka; syahĩdã = menyaksikan (perang).

wa inna minkum lamal layubaththi-anna fain ashōbatkum mushĩbatum qōla qod an’amallãhu ‘alayya idz lam akum ma’ahum syahĩdã.

72. Dan sesungguhnya, jika di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat ke medan pertempuran. Maka, jika kamu ditimpa musibah, ia berkata: “Sesungguhnya, Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama-sama mereka.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sangat berlambat-lambat ke medan pertempuran” adalah orang yang sangat berkeberatan untuk pergi berperang, tidak mau bekerjasama dalam memperjuangkan kebaikan dan kebenaran. Dia menganggap sebagai keberuntungan karena tidak terkena musibah perang.

wala-in = dan sesungguhnya jika; ashōbakum = kamu memperoleh; fadhlum = karunia; minallahi = dari Allah; layakũlanna = tentu ia mengatakan; ka-al lam takun = seakan-akan tidak pernah ada; bainakum = antara kamu; wa bainahũ = dan antara ia; mawaddatun = kasih-sayang; yã laitanĩ = aduhai, kiranya aku; kuntu = aku adalah; ma’ahum = bersama-sama mereka; fa-afũza = tentu aku mendapat kemenangan; fauzan = kemenangan; ‘azhĩmã = besar.

wala-in ashōbakum fadhlum minallahi layakũlanna ka-al lam takum bainakum wa bainahũ mawaddatun yã laitanĩ kuntu ma’ahum fa-afũza fauzan ‘azhĩmã.

73. Dan sungguh, jika kamu beroleh karunia kemenangan dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih-sayang antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar pula.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jika umat Islam mendapatkan kemenangan, atas izin Allah, mereka berangan-angan, kemenangan itu di dapat karena jasanya.

fa = maka; alyuqōtil = hendaknya berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; al ladzĩna = orang-orang yang; yasyrũna = (mereka) menukar; al hayawãta = kehidupan; ad dun-yã = dunia; bil ãkhiroti = dengan akhirat; wa man = dan barang siapa; yuqōtil = berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; fayuqtal = maka terbunuh; au yaghlib = atau memperoleh kemenangan; fasaufa = maka kelak; nu’tĩhi = akan Kami berikan kepadanya; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar.

falyuqōtil fĩ sabĩlillãhil ladzĩna yasyrũnal hayawãtad dun-yã bil ãkhiroti wa man yuqōtil fĩ sabĩlillãhi fayuqtal au yaghlib fasaufa nu’tĩhi ajron ‘azhĩmã.

74. Karena itu, hendaklah orang-orang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat dengan berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat” adalah orang-orang mukmin yang mengutamakan kehidupan akhirat di atas kehidupan dunia. Kehidupan akhirat itu menjadi fokus kehidupan di dunia. Kehidupan dunia itu sarana untuk mencapai kehidupan di akhirat.
“berperang di jalan Allah” maksudnya bukan hanya dalam arti yang sesungguhnya, tapi juga dalam arti memerangi nafsu-nafsu setan, nafsu-nafsu khewani, memerangi dalam arti mengendalikan nafsu-nafsu diri sendiri, memerangi nafsu-nafsu yang ada di lingkungan masyarakat (lingkungan rumah tangga, lingkungan masyarakat RT., RW. dan lingkungan yang lebih luas lagi, regional, nasional, internasional).

wa mã lakum = dan mengapa kamu; lã tuqōtilũna = kamu tidak mau berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wal mustadh’ afĩna = dan orang-orang yang lemah; mina = dari; ar rizãli = laki-laki; wan nisã’i = dan perempuan; wal wildaani = dan anak-anak; al ladzĩna = orang-orang yang; yaqũlũna = mereka berdoa; robbanã = yã Robb kami; akhrijnã = keluarkanlah kami; min hãdzihi = dari ini; al qoryati = negeri; azh zhãlimi = yang lalim; ahluhã = penduduknya; waj’al = dan berilah; lanã = untuk kami; mil ladunka = dari haribãn-Mu; waliyyan = pelindung; waj’al = dan berilah; lanã = untuk kami; min ladunka = dari haribãn-Mu; nashĩrã = penolong.

wa mã lakum lã tuqōtilũna fĩ sabĩlillãhi wal mustadh’ afĩna minar rizãli wan nisã’I wal wildaanil ladzĩna yaqũlũna robbanã akhrijnã min hãdzihil qoryatizh zhãlimi ahluhã, waj’al lanã mil ladunka waliyyã, waj’al lanã min ladunka nashĩrã.

75. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan-perempuan, maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya lalim, dan berilah kami pelindung dan penolong dari Engkau.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang di jalan Allah berarti memerangi orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad yang selalu membuat kelaliman, keonaran di dunia yang menimbulkan kesengsaraan, kemelaratan.

alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; yuqōtilũna = mereka berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; waladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; yuqōtilũna = mereka berperang; fĩ sabĩlith thōghũti = di jalan togut; faqōtilũ = maka perangilah; auliyã = kawan-kawan; asy syaitōni = setan; inna kaida = sesungguhnya tipu-daya; asy syaitōni = setan; kãna = adalah; dho’ĩfã = lemah.

alladzĩna ãmanũ yuqōtilũna fĩ sabĩlillãhi, waladzĩna kafarũ yuqōtilũna fĩ sabĩlith thōghũti faqōtilũ auliyã-asy syaitōni, inna kaidasy syaitōni kãna dho’ĩfã.

76. Orang-orang beriman yang berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya, tipu-daya setan itu lemah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hidup ini selalu dalam peperangan menegakkan kebenaran, keadilan; mencegah kejahatan, kebohongan, kecurangan, kepalsuan.

alamtaro = tidakkah kamu perhatikan; ilalladzĩna = kepada orang-orang yang; qĩlalahum = dikatakan kepada mereka; kuffũ = tahanlah; aidiyakum = tanganmu; wa aqĩmũ = dan dirikanlah; ash sholãta = salat; wa ãtũ = dan tunaikanlah; az zakãta = zakat; falammã = maka setelah; kutiba = diwajibkan; ‘alayhimu = atas mereka; al qitãlu = perang; idzã = tiba-tiba; farĩqun = segolongan; minhum = dari mereka; yakhsyauna = mereka takut; an nãsa = manusia; kakhasy-yatillãhi = seperti takut (kepada) Allah; au asyadda = atau lebih; khasy-yatan = takut; wa qōlũ = dan mereka berkata; robbanã = yã Robb kami; lima = mengapa; katabta = Engkau wajibkan; ‘alaina = atas kami; al qitãla = perang; law lã = mengapa tidak; akhkhortanã = Engkau tangguhkan kami; ilã ajalin = sampai waktu; qorĩbin = dekat; qul = katakanlah; matã’u = kesengan; ad dun-yã = dunia; qolĩlun = sedikit; wa = dan al ãkhirotu = akhirat; khoirun = lebih baik; liman = bagi orang; it taqō = bertakwa; wa lã = dan tidak; tuzhlamũna = kamu dianiaya; fatĩlã = sedikit pun.

alamtaro ilalladzĩna qĩlalahum kuffũ aidiyakum wa aqĩmũsh sholãta wa ãtũz zakãta falammã kutiba ‘alayhimul qitãlu idzã farĩqum minhum yakhsyaunan nãsa kakhasy-yatillãhi au asyadda khasy-yatan, wa qōlũ robbanã lima katabta ‘alainal qitãla law lã akhkhortanã ilã ajalin qorĩbin, qul matã’ud dun-yã qolĩlun wal ãkhirotu khoirul limanit taqō wa lã tuzhlamũna fatĩlã.

77. Tidakkah kamu perhatikan, orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu dari berperang, dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Setelah diwajibkan berperang atas mereka, sebagian dari mereka (golongan munafik) tiba-tiba takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, atau lebih takut lagi, mereka berkata: “yã Tuhan kami, mengapa Engkau mewajibkan perang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang takwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw.dan para pengikutnya memperhatikan perilaku orang-orang munafik dalam menanggapi perintah dan larangan Allah, dan peringatan apa yang harus disampaikan kepada mereka. Orang-orang Islam harus berpegang teguh pada peringatan Allah yang berbunyi “kehidupan (kesenangan) di dunia ini hanya sebentar, singkat. Lebih baik banyak memperhatikan untuk kehidupan di akhirat, tapi juga jangan terlalu melupakan kehidupan di dunia, harus ada keseimbangan.

aina mã = di mana saja; takũnũ = kamu berada; yudrik kumu = kamu akan mendapatkan; al mautu = maut; wa law = walaw, meskipun; kuntum = kamu berada; fĩ burũjin = di dalam benteng; musyayyadatin = yang kokoh; wa in = dan jika; tushib-hum = menimpa mereka; hasanatun = kebaikan; yaqũlũ = mereka berkata; hãdzihĩ = ini adalah; min indallahi = dari hariba Allah; wa in = dan jika; tushibhum = menimpa mereka; sayyi-atun = bencana; yaqũlũ = mereka berkata; hãdzihi = ini adalah; min indika = dari kamu (Muhammad s.a.w.); qul = katakanlah; kullun = semuanya; min ‘indallãhi = dari haribãn Allah; famã li = maka mengapa; hã-ulã-i = mereka itu; al qaumi = kaum; lã = tidak; yakãdũna = mereka hampir-hampir; yafqohũna = mereka memahami; haditsã = pembicaraan.

ainamã takũnũ yudrik kumul mautu wa law kuntum fĩ burũjim musyayyadatin, wa in tushibhum hasanatun yaqũlũ hãdzihĩ min indallahi, wa in tushibhum sayyi-atun yaqũlũ hãdzihi, min indika qul kullum min ‘indallãhi, famã li hã-ulã-il qaumi lã yakãdũna yafqohũna haditsã.

78. Di mana saja kamu berada, kematian itu akan menemuimu, meskipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini dari Allah.” Dan kalau mereka ditimpa bencana, mereka mengatakan: “Ini datangnya dari kamu (Muhammad s.a.w.), katakanlah: “Semuanya datang dari Allah.” Maka, mengapa orang-orang munafik hampir-hampir tidak memahami persoalan pembicaraan sedikit pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memperoleh kebaikan” artinya kemenangan dalam peperangan atau rezeki.
“pembicaraan” artinya pelajaran dan nasihat-nasihat yang diberikan kepada orang munafik.
Nabi Muhammad disuruh Allah mengatakan bahwa bencana itu datangnya dari Allah juga, dalam arti kalau manusia yang diberi petunjuk itu selalu tidak mengindahkan, maka Allah mempunyai hak menurunkan bencana, mungkin sebagai peringatan, pelajaran, mungkin sebagai hukuman. Manusia harus memahami perilaku Allah Yang Maha Gaib, ajaib.

mã ashōbaka = musibah apa saja; min hasanatin = berupa kebaikan; faminallãhi = maka dari Allah; wa mã = dan apa; ashōbaka = musibah kamu; min sayyi-atin = dari bencana; famin = maka dari; nafsika = dirimu sendiri; wa arsalnãka = dan kamu Kami utus; linnãsi = kepada manusia; rosũlan = Rasul; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; syahĩddã = menjadi saksi.

mã ashōbaka min hasanatin faminallãhi, wa mã ashōbaka min sayyi-atin famin nafsika, wa arsalnãka linnãsi rosũlan wa kafã billãhi syahĩddã.

79. Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, adalah dari dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini penjelasan ayat 78. Seseorang yang selalu membantah perintah Allah adalah diri yang harus menanggung apa yang sudah dilakukan. Bencana di dunia ini karena ulah manusia. Allah menurunkannya sebagai peringatan, pelajaran, atau sebagai hukuman.

man = barang siapa; yuthi’i = menaati; ar rosũla = Rasul; fa qod = maka sesungguhnya; athã’allãha = taat kepada Allah; wa man = dan barang siapa; tawallã = berpaling; famã = maka tidak; arsalnã = Kami utus; ka = kamu; ‘alayhim = kepada mereka; hafĩzhan = pemelihara.

man yuthi’ir rosũla fa qod athã’allãha wa man tawallã famã arsalnãka ‘alayhim hafĩzhan.

80. Barang siapa yang menaati rasul, sesungguhnya, ia telah menaati Allah. Dan Barang siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.” Artinya Rasul tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang kafir, dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Masing-masing individu memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Nabi Muhammad hanya sekedar memberi tahu, mana yang benar dan salah berdasarkan norma-norma agama dari Allah yang dibawanya.

wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; thō’atun = taat; fa idzã = maka bila; barozũ = mereka telah pergi; min ‘indika = dari hadapanmu; bayyata = mengambil keputusan di malam hari; thō-ifatun = segolongan; minhum = dari mereka; ghoiro = bukan/selain; alladzĩ = orang yang; taqũlu = dia katakan; wallãhu = dan Allah; yaktubu = Dia menulis; mã = apa; yubayyitũna = yang mereka putuskan; fa-a’ridh = maka berpalinglah; ‘anhum = dari mereka; wa tawakkal = dan bertawakal; ‘alal lãhi = kepada Allah; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; wakĩlã = pelindung.

wa yaqũlũna thō’atun fa idzã barozũ min ‘indika bayyata thō-ifatum minhum ghoirolladzĩ taqũlu, wallãhu yaktubu mã yubayyitũna fa-a’ridh ‘anhum wa tawakkal ‘alal lãhi, wa kafã billãhi wakĩlã.

81. Dan mereka, orang-orang munafik, mengatakan: “Kewajiban kami hanyalah taat.” Tetapi, apabila mereka telah pergi dari kamu, sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari dan mengambil keputusan lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka, dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah, jika kita berhubungan kerja dengan orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, kita harus berupaya terus, agar mereka meyakini keberadaan Allah yang benar, dengan segala kekuasaannya. Kita jangan lengah mengamati sikap, gerak, dan tingkah-laku mereka, sebab mungkin membahayakan kita.

afalã = apakah tidak; yatadabbarũna = mereka memperhatikan; al qur’ana = Alquran; walaw = jika; kãna = ia adalah; min = dari; ‘indi = sisi, pihak; ghoiri = selain, bukan; al lãhi = Allah; lawa jadũ = tentu mereka mendapati; fĩhi = di dalamnya; ikhtilãfan = pertentangan; katsĩrã = banyak.

afalã yatadabbarũnal qur’ana, walaw kãna min ‘indi ghoiril lãhi lawa jadũ fĩhi ikhtilãfan katsĩrã.

82. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau sekiranya Alquran itu bukan dari Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan posisi orang kafir, musyrik, munafik, fasik dalam berkeyakinan pada Alkitabnya, dibandingkan dengan Alquran yang di dalamnya mencakupi segala apa yang ada di dalam Alkitabnya, tidak ada pertentangan tujuan, kecuali adanya pembaruan, perubahan, perbaikan, pelurusan terutama dalam peribadatannya. Mereka harus percaya bahwa pembaruan, perubahan, perbaikan, pelurusan itu semua dari Allah, Tuhan bagi semua makhluk-Nya.

wa idzã = dan apabila; jã-ahum = datang kepada mereka; amrun = berita, perkara; mina = dari; al amni = keamanan; awi = atau; al khaufi = ketakutan; adzã’ũ = mereka menyiarkan; bihi = dengannya; wa law = dan kalau; raddũhu = mereka mengembalikan, meyerahkannya; ilã = kepada; ar rasũli = Rasul; wa ilã = dan kepada; ũlil amri = penguasa; minhum = dari mereka; la’alimahu = tentu akan mengetahui; al ladzĩna = orang-orang yang; yastambithũnahu = (mereka) menyelidikinya; minhum = di antara mereka; walaw lã = dan kalau tidak; fadhlullãhi = karunia Allah; ‘alaykum = kepada kamu; warohmatuhu = dan rahmat-Nya; lãttaba’tumu = tentu kamu mengikuti; asy syaitōna = setan; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

wa idzã jã-ahum amrum minal amni awil khaufi adzã’ũ bihi, wa law raddũhu ilãr rasũli wa ilã ũlil amri minhum la’alimahul ladzĩna yastambithũnahu minhum, walaw lã fadhlullãhi ‘alaykum warohmatuhu, lãt taba’tumusy syaitōna illã qolĩlã.

83. Dan apabila datang kepada mereka berita keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan, kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan Ulil Amri (penguasa) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya, akan dapat mengetahui dari Ulil Amri (penguasa) itu, kalau tidak karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja di antaramu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Ulil Amri’ maksudnya: para sahabat Nabi Muhammad saw.yang menguasai daerah tertentu, dan para cendekiawan di antara mereka.
Kegiatan dan persoalan agama harus dan perlu diketahui, diatur, dan dipercaya oleh penguasa dunia, bahwa semua kejadian di dunia ini karena ada karunia dan rahmat dari Allah. Jangan sampai mengikuti setan, musuh manusia yang sudah diberi akal-pikiran.
Berikuti ini dijelaskan kewajiban berperang, dan adab-adabnya.

fa qōtil = maka berperanglah; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; lã = tidak; tukallafu = kamu dibebani; illã = kecuali, selain, melainkan; nafsaka = dirimu sendiri; wa harridhi = dan kobarkanlah semangat; al mu’minĩna = orang-orng mu’min; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an yakuffa = akan menolak; ba’sa = kekuatan; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; wallãhu = dan Allah; asyaddu = sangat; ba’san = kekuatan; wa asyaddu = dan sangat; tankĩlã = keras.

fa qōtil fĩ sabĩlillãhi lã tukallafu illã nafsaka, wa harridhil mu’minĩna ‘asallãhu an yakuffa ba’salladzĩna kafarũ, wallãhu asyaddu ba’san wa asyaddu tankĩlã.

84. Maka, berperanglah kamu di jalan Allah. Kamu tidaklah dibebani kecuali rasa berkewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah berke-kuatan amat besar, dan amat keras siksa-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang itu harus di jalan Allah. Berperang itu menahan serangan orang kafir: Orang kafir adalah orang yang bersekutu dengan setan, mereka menolak, menyangkal perintah Allah, menutup mata, telinga dan hati serta pikirannya dari kebenaran, tidak percaya kepada Allah, Nabi, Rasul-Nya, dan tidak mensyukuri nikmat hidupnya, tidak mensyukuri nikmat Allah dan bersifat kikir, menyuruh orang untuk kikir, dan menutup-nutupi karunia Allah, orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah.

man = barang siapa; yasyfa’ = memberi pertolongan; syafã-’atan = pertolongan; hasanatan = baik; yakun = adalah; lahũ = baginya; nashĩbum = bagian; minhã = darinya; wa man = dan barang siapa; yasyfa’ = memberi pertolongan; syafã-’atan = pertolongan; syayyi-atan = buruk; yakun = adalah; lahũ = baginya; kiflun = memikul; minhã = darinya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; muqĩtã = Mahakuasa.

man yasyfa’ syafã-’atan hasanatan yakul lahũ, nashĩbum minhã wa man yasyfa’ syafã-’atan syayyi-atan yakul lahũ, kiflum minhã wa kãnallãhu ‘alã kulli syai-im muqĩtã.

85. Barang siapa yang memberikan syafaat (bantuan, pertolongan) yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian pahala dari syafaatnya itu. Dan barang siapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian dosa dari syafaat buruknya itu. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memberikan syafaat yang baik” ialah setiap syafaat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim, atau menghidarkannya dari suatu kemudharatan.
“syafaat yang buruk, artinya syafaat yang tidak melindungi hak seorang muslim, atau menyebabkan bahaya atau kemudharatan.

wa idzã = dan bila; huyyĩtum = kamu ditinggikan (dihormati); bi tahiyyatin = dengan penghormatan; fahayyũ = maka hormatilah; bi ahsana = dengan yang lebih baik; minhã = darinya; au ruddũhã = atau kembalikan ia; innallãha sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; hasĩbã = memperhitungkan.

wa idzã huyyĩtum bi tahiyyatin fahayyũ bi ahsana minhã au ruddũhã innallãha kãna ‘alã kulli syai-in hasĩbã.

86. Apabila kamu dihormati dengan sesuatu perbuatan, maka balaslah penghormatan itu dengan perbuatan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah Maha memperhitungkan segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “balaslah dengan yang serupa” penghormatan dalam Islam adalah ucapan: “Assalamu ‘alaykum.” Balasannya harus: wassalamu ‘alaykum wa Rahmatullahi wa Barokatuh

allahu = Allah; lã = tidak (ada); ilãha = ilah (lain); illã = kecuali, selain, melainkan; huwa = Dia; layajma’annakum = Dia akan mengumpulkan kamu (sekalian); ilã yaumi = sampai hari; al qiyãmati = kiamat; lã royba = tidak ada keraguan; fĩhi = di dalamnya, padanya; wa man = dan barang siapa; ashdaqu = lebih benar; minallãhi = dari Allah; haditsã = perkataan.

allahu lã ilãha illã huwa, la yajma’annakum ilã yaumil qiyãmati lã royba fĩhi, wa man ashdaqu minallãhi haditsã.

87. Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia. Sesungguhnya, Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan, perkataan siapakah yang lebih benar, selain dari perkataan Allah?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang tidak percaya tentang ada-Nya Allah Yang Mahaesa, dan Nabi Muhammad adalah Utusan-Nya. Alquran ini kumpulan kata-kata Allah yang benar, harus dipercaya.

famã = maka mengapa; lakum = bagi kamu; fil munãfiqĩna = dalam orang-orang munafik; fi-ataini = ada dua golongan; wallãhu = dan Allah; arkasahum = menjerumuskan mereka; bimã = dengan apa; kasabũ = yang mereka usahakan; aturĩdũna = apakah kamu bermaksud; an tahdũ = akan memberi petunjuk; man = orang; adhollallãu = Allah menyesatkan; wa man = dan barang siapa; yudhlilillãhu = Allah menyesatkan; falan = maka tidak; tajida = kamu mendapatkan; lahũ = baginya; sabĩlã = jalan.

famã lakum fil munãfiqĩna fi-ataini, wallãhu arkasahum bimã kasabũ, aturĩdũna an tahdũ man adhollallãu, wa man yudhlilillãhu falan tajidalahũ sabĩlã.

88. Maka, mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan, dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah sudah membalikkan mereka ke kekafiran karena perbuatan mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, usaha bagamanapun, kamu tidak mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kamu terpecah menjadi dua golongan” yakni golongan mukmin yang membela orang munafik, dan golongan mukmin yang memusuhi orang munafik.
“orang-orang yang telah disesatkan Allah” adalah orang-orang yang tidak mau memahami petunjuk dari Allah.
Orang munafik itu karena pikirannya sendiri. Mereka menolak petunjuk dari Allah karena ada perasaantak percaya, bahwa petunjuk itu dari Allah. Allah akan lebih menyesatkan mereka. Siapa pun yang berusaha untuk memberi petunjuk, tidak akan ada hasilnya. Mereka tidak mau percaya bahwa Alquran adalah satu-satunya petunjuk untuk hidup di dunia menuju akhirat, bagi siapa yang diberi rahmat dari Allah.

waddũ = mereka ingin; law takfurũna = kalau kamu menjadi kafir, kamã = sebagaimana; kafarũ = mereka kafir; fatakũnũna = maka kamu menjadi; sawã-an = sama; falã = maka jangan; tattakhidzũ = kamu menjadi seperti; minhum = dari mereka; auliyã-a = pemimpin; hattã = sehingga; yuhajirũ = mereka berhijrah; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; fa in = maka jika; tawallaw = mereka berpaling; fakhudzũhum = maka tawanlah mereka; waqtulũhum = dan bunuhlah mereka; haitsu = di mana saja; wajad tumũhum = kamu menemui mereka; wa lã = dan jangan; tattakhidzũ = kami jadikan; minhum = di antara mereka; waliyyan = pemimpin; wa lã = dan jangan; nashĩrã = penolong.

waddũlũ takfurũna kamã kafarũ fatakũnũna sawã-an, falã tattakhidzũ minhum auliyã-a hattã yuhajirũ fĩ sabĩlillãhi, fa in tawallaw fakhudzũhum waqtulũhum haitsu wajad tumũhum, wa lã tattakhidzũ minhum waliyyan wa lã nashĩrã.

89. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir, sebagaimana mereka sendiri telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama dengan mereka. Maka, janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah di jalan Allah, Maka, jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan pula menjadi penolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Maka, jika mereka berpaling” diriwayatkan, beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah saw.di Madinah, lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa “demam Madinah”, karena itu, mereka kembali kafir, lalu mereka keluar dari Madinah. Mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat Nabi menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa “demam Madinah”. Sahabat Nabi bertanya, “Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah s.a.w.?” Sahabat-sahabat Nabi terbagi menjadi dua golongan, karena persoalan itu, Sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sebagian yang lain berpendapat, mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini, yang mencela kaum Muslimin, karena terbagi menjadi dua golongan, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain.
Lihat juga Q.s. An Nisã’ 4: 139, 144.

illã = kecuali, selain, melainkan; al ladzĩna = orang-orang yang; yashilũna = (mereka) mengadakan hubungan; ilã qaumin = kepada kaum; bainakum = antara kamu; wa bainahum = dan antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; au = atau; jã-ũkum = mereka datang kepadamu; hashirat = merasa berat; shudũruhum = hati mereka; an yuqōtilũkum = untuk memerangi kamu; au yuqōtilũ = atau mereka memerangi; qaumahum = kaum mereka; walaw = dan kalau; syã-allãhu = Allah menghendaki; lasallathohum = tentu memberi kekuasaankepada mereka; ‘alaykum = atau kamu; fa laqōtalũkum = maka pasti mereka memerangi kamu; fa-ini’tazalũkum = tapi jika mereka membiarkan kamu; falam = maka tidak; yuqōtilũkum = mereka memerangikamu; wa alqaũ = dan mereka mengemukakan; ilaykumu = kepadamu; as salama = perdamaian; famã = maka tidak; ja’alallãhu = Allah (tidak) menjadikan; lakum = bagimu; ‘alayhim = atas mereka; sabĩlã = jalan.

illãl ladzĩna yashilũna ilã qaumim bainakum wa bainahum mĩtsãqun au jã-ũkum hashirat shudũruhum an yuqōtilũkum au yuqōtilũ qaumahum walaw syã-allãhu lasallathohum ‘alaykum fa laqōtalũkum, fa-ini’tazalũkum falam yuqōtilũkum wa alqaũ ilaykumus salama famã ja’alallãhu lakum ‘alayhim sabĩlã.

90. Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian damai, atau orang-orang yang datang kepadamu, sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaankepada mereka terhadap kamu, lalu pasti mereka memerangimu. Tetapi, jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangi kamu, serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu untuk melawan dan membunuh mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian damai” ayat ini menjadi dasar “hukum suaka”
“orang-orang yang datang kepadamu, sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.” Artinya, tidak memihak, dan telah mengadakan hubungan dengan kaum muslimin.
“jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangi kamu, serta mengemukakan perdamaian kepadamu” maksudnya menyerah.
Ayat ini mengemukakan toleransi antarumat yang hidup dalam suatu lingkungannya.

satajidũna = kelak akan kamu dapati; ãkhorĩna = golongan yang lain; yurĩdũna = mereka menghendaki; an-ya’manũkum = mereka aman dari kamu; wa ya’manũ = dan mereka aman; qaumahum = kaum mereka; kullamã = setiap kali; ruddũ = mereka diajak kembali; ilã = kepada; al fitnati = fitnah; urkisũ = mereka terjerumus; fĩhã = di dalamnya; fainlam = maka jika tidak; ya’tazilũkum = mereka membiarkan kamu; wa yulqũ = dan mengemukakan; ilaykumu = kepada kamu; as salama = perdamaian; wa yakuffũ = dan mereka menahan; aidiyahum = tangan-tangan mereka; fa khudzũhum = maka tawanlah mereka; waqtulũhum = dan bunuhlah mereka; haitsu = di mana saja; tsaqiftumũhum = kamu dapati mereka; wa ũlã-ikum = dan mereka itu; ja’alnã = Kami jadikan; lakum = untuk kamu; ‘alayhim = atas mereka; sulthōnan = kekuasaan; mubĩnã = nyata.

satajidũna ãkhorĩna yurĩdũna an-ya’manũkum wa ya’manũ qaumahum kullamã ruddũ ilal fitnati urkisũ fĩhã, fainlam ya’tazilũkum wa yulqũ ilaykumus salama wa yakuffũ aidiyahum fa khudzũhum waq tulũhum haitsu tsaqiftumũhum, wa ũlãikum ja’alnãlakum ‘alayhim sulthōnam mubĩnã.

91. Kelak, akan kamu dapati golongan-golongan yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman darimu, dan aman pula dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), mereka pun terjun ke dalamnya. Karena itu, jika mereka tidak membiarkan kamu, dan tidak mengemukakan perdamaian kepadamu, serta tidak menahan tangan mereka untuk memerangimu, maka tawanlah mereka, dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan alasan yang nyata kepadamu untuk menawan dan membunuh mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Islam berupaya untuk dapat hidup damai di antara umat yang bergolong-golongan (lihat ayat sebelun ini). Puncak persoalan di Madinah saatitu, adanya kaum Munafiqin yang ingin selamat dari Kaum Muslimin dan ingin selamat juga dari kaum Kafirin yang menjadi musuh Islam. Allah memerintahkan, bagi mereka yang memerangi Islam harus ditawan atau dibunuh di mana pun ia ditemui, dengan alasan, mereka akan selalu membuat kekacauan, dan kerusuhan.

wa mã kãna = dan tidak boleh (tidak layak); li mu’minin = bagi seorang Mu’min; an yaqtulã = akan membunuh; mu’minan = seorang mu’min; ilã = kecuali; khothō-an = bersalah; wa = dan; man = barang siapa; qotala = membunuh; mu’minan = seorang Mu’min; khoto-an = bersalah; fatahrĩru = maka hendaknya memerdekakan; roqobatin = hamba sahaya; mu’minatin = yang beriman; wa diyatun = mrmbayar diat; musallamatun = diserahkan; ilã = kecuali; ahlihĩ = keluarganya; illã = kecuali, selain, melainkan; an yashshaddaqũ = mereka menyedekahkan; fa-in = maka jika; kãna = ada; min qaumin = dari kaum; ‘aduwwin = permusuhan; lakum = bagimu; wa huwa = dan dia; mu’minun = seorang mukmin; fa tahrĩru = maka hendaknya memerdekakan; raqabatin = hamba sahaya; mu’minatin = yang beriman; wa-in kãna = dan jika ada; min qaumin = dari kaum; bainakum = di anta kamu; wa bainahum = dan di antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; fadiyatun = maka membayar diat; musallamatun = diserahkan; ilã = kepada; ahlihĩ = keluarganya; wa tahrĩru = dan memerdekakan; raqabatin = hamba sahaya; mu’minatin = yang beriman; fa man = maka barang siapa; lam yajid = tidak mendapatkan; fashiyãmu = maka berpuasa; syahraini = dua bulan; mutatãbi’aini = berturut-turut; taubatan = tobat; minallah = dari Allah; wa kãnallãhu = dan Allah itu; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Maha Bijaksana.

wa mã kãna li mu’minin an yaqtulã mu’minan ilã khothō-an wa man qotala mu’minan khoto-an fatahrĩru roqobatim mu’minatin wa diyatum musallamatun ilã ahlihĩ illã an yashshaddaqũ, fa-in kãna min qaumin ‘aduwwin-lakum wa huwa mu’minun fa tahrĩru raqabatin mu’minatin, wa-in kãna min qaumin bainakum wa bainahum mĩtsãqun fadiyatun musallamatun ilã ahlihĩ wa tahrĩru raqabatim mu’minatin, fa mal lam yajid fashiyãmu syahraini mutatãbi’ain, taubatan minallah, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã.

92. Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain, kecuali karena tidak sengaja, dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tidak sengaja, hendaknya ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh, kecuali jika mereka, keluarga si terbunuh bersedekah. Jika si terbunuh dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka hendaknya si pembunuh memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika si terbunuh dari kaum kafir, yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaknya si pembunuh membayar diat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh, serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaknya si pembunuh berpuasa selama dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh dengan tidak sengaja” semisal, menembak rusa, terkena seorang muslim.
“diat” adalah penyerahan sejumlah harta karena perbuatan yang dapat dihukum, seperti menghilangkan nyawa seseorang atau melukai anggota badan.
“keluarga si terbunuh bersedekah” maksudnya, keluarga si terbunuh itu membebaskan si pembunuh dari pembayaran diat.
“Barang siapa yang tidak memperolehnya” maksudnya, jika si pembunuh itu tidak mempunyai hamba atau tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman, atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan.
“Puasa dua bulan berturut-turut” adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

wa man = dan barang siapa; yaqtul = membunuh; mu’minan = seorang Mukmin; muta’ammidan = dengan sengaja; fajazã-uhu = maka balasannya; jahannamu = neraka jahanam; khōlidan = kekal; fĩhã = di dalamnya; wa ghodhiballãhu = dan Allah murka; ‘alayhi = kepadanya; wa la’anahũ = dan melaknatinya; wa a-‘addalahu = dan Dia menyediakan; ‘adzãban = azab, siksa; ‘azhĩmã = besar.

wa man yaqtul mu’minam muta’ammidan fajazã-uhu jahannamu khōlidan fĩhã wa ghodhiballãhu ‘alayhi wa la’anahũ, wa a-‘addalahu, ‘adzãban ‘azhĩmã.

93. Dan, barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahanam, kekal ia di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya, serta menyediakan azab yang besar baginya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seorang muslim membunuh seorang muslim lain dengan sengaja, karena ada pertengkaran yang beremosi tinggi (tidak dapat membendung amarah), Allah murka, mengutuki, dan menyediakan siksa yang sangat berat kepada si pembunuh. Bagaimana si terbunuh? Kalau dua-duanya dalam situasi yang sama (tidak dapat menahan amarah), dua-duanya terkena murka Allah, dikutuki, dan mendapat siksa yang berat. Kalau dalam situasi membela diri dari luapan amarah lawannya, Allah Maha Mengetahui tingkat keimanan seseorang.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = ketika, bila, tatkala, apabila, bila, tatkala, kalau; dhorobtum = kamu berperang; fĩ sabĩlil lãhi = di jalan Allah; fa tabayyanũ = maka teliti kenyataan; wa lã = dan jangan; taqũlũ = kamu membunuh; liman = kepada orang yang; alqō = mengatakan; ilaykumus salãma = mengucapkan salam; lasta = kamu bukan; mu’minan = seorang mukmin; tabtaghũna = kamu mencari; ‘arodho = harta benda; al hayãti = kehidupan; ad dun-yã = dunia; fa’indallãhi = maka di haribãn Allah; maghōnimu = rampasan perang; katsĩratun = yang banyak; kadzãlika = demikianlah; kuntum = kamu adalah; min qoblu = dari dulu; fa mannallãhu = Allah menganugerahkan nikmat; ‘alaykum = kepada kamu; fatabayyanũ = maka telitilah olehmu kenyataan; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bimã = dengan apa yang; ta’malũna = kamu kerjakan; khobĩrã = Maha Mengetahui.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã dhorobtum fĩ sabĩlil lãhi fa tabayyanũ wa lã taqũlũ liman alqō ilaykumus salãma lastamu’minan tabtaghũna ‘arodhol hayãtid dun-yã, fa’indallãhi maghōnimu katsĩratun, kadzãlika kuntum min qoblu fa mannallãhu ‘alaykum fatabayyanũ, innallãha kãna bimã ta’malũna khobĩrã.

94. Hal orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kamu membunuh orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, dan kamu mengatakan: “Kamu bukan seorang mukmin”, lalu kamu membunuh dengan maksud mencari harta benda untuk kehidupan di dunia, karena pada Allah, ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaanmu dahulu, maka Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“mengucapkan ‘salam’ kepadamu” juga bagi orang yang mengucapkan “lã ilãha illalah” kamu jangan membunuhnya.
“Begitu jugalah keadaanmu dahulu” maksudnya, orang itu belum jelas keislamannya, seperti juga kamu dahulu.

lã yastawĩ = tidaklah sama; al qō’idũna = orang-orang yang duduk; mina = di antara al mu’minĩna = orang-orang mukmin; ghoyru = tidak, bukan; ũlĩdh dhorori = mempunyai uzur; wal mujãhidũna = dan orang-orang yang berjihad; fĩ sabilillãh = di jalan Allah; bi amwãlihim = dengan harta benda mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fadhdholallahu = Allah melebihkan; al mujahidĩna = orang-orang yang berjuhad; bi amwãlihim = dengan harta benda mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; ‘alãl qo’idĩna = atas orang-orang yang duduk; darojatan = satu derajat; wa kullan = dan masing-masing; wa ‘adallãhu = Allah menjanjikan; al husnã = kebaikan; wa fadhdholallãhu = Allah melebihkan; al mujãhidĩna = orang-orang yang berjihad; ‘alãl qō’idĩna = atas orang-orang yang duduk; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar.

lã yastawĩl qō’idũna minal mu’minĩna ghoyru ũlĩdh dhorori wal mujãhidũna fĩ sabilillãh bi amwãlihim wa anfusihim, fadhdholallahul mujahidĩna bi amwãlihim wa anfusihim ‘alãl qo’idĩna darojatan, wa kullan wa ‘adallãhul husnã, wa fadhdholallãhul mujãhidĩna ‘alãl qō’idĩna ajron ‘azhĩmã.

95. Tidaklah sama antara mukmin yang tidak turut berperang karena uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya dengan orang-orang yang tidak turut berjihad satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik, surga, dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tidak berjihad dengan pahala yang besar,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada perbedaan antara orang-orang yang berjihad dan yang tidak berjihad karena uzur dan dengan orang-orang yang tidak berjihad dengan tidak ada uzur.
Dalam teks asli, terjemahannya “orang-orang yang duduk”, maksudnya, orang yang tidak turut berperang.

darojatin = beberapa derajat; minhu = darinya; wa maghfirotan = dan ampunan; wa rahmatan = dan rahmat; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ghofũro = Maha Pengampun; ar rohĩmã = Maha Penyayang.

darojatim minhu wa maghfirotan wa rahmatan wa kãnallãhu ghofũror rohĩmã.

96. yaitu beberapa derajat dari-Nya, dan ampunan serta rahmat. Dan, Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat 95. Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang memberikan ampunan dan rahmat derajat yang tinggi kepada orang-orang yang mau berjuang di jalan Allah

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; tawaffãhumu =mewafatkan mereka; al malã-ikatu = Malaikat; zhōlimĩi = (keadaan) menganiaya; anfusihim = diri mereka; qōlũ = mereka berkata; fĩma = bagaimana; kuntum = keadaan kamu; qōlũ = mereka berkata; kunnã = kami adalah; mustadh’afĩna = orang-orang yang tertindas; fĩl ardhi = di bumi (di negeri ini); qōlũ = mereka berkata; alam = tidakkah; takun = adalah; ardhũllãhi = bumi Allah; wãsi’atan = luas; fatuhãjirũ = maka kamu beripndah-pindah; fĩhã = di dalamnya; fa ulã-ika = maka mereka itu; ma’wãhum = tempat mereka; jahannamu = neraka jahanam; wa sã-at = dan seburuk-buruk; mashĩrã = tempat kembali.

innalladzĩna tawaffãhumul malã-ikatu zhōlimĩ anfusihim qōlũ fĩma kuntum, qōlũ kunnã mustadh’afĩna fĩl ardhi, qōlũ alam takun ardhũllãhi wãsi’atan fatuhãjirũ fĩhã fa ulã-ika ma’wãhum jahannamu wa sã-at mashĩrã.

97. Sesungguhnya, orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya kepada mereka: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri Mekah.” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Tempat orang-orang itu di neraka jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menganiaya diri sendiri” yang dimaksudkan adalah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi ke Madinah, padahal mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir harus ikut Perang Badar. Di antara mereka ada yang terbunuh dalam keadaan membela orang kafir. Mereka dimasukkan ke neraka jahanam karena tidak patuh kepada Nabi Muhammad s.a.w..

illã = kecuali; al mustadh’afĩna = orang-orang yang tertindas; min = dari; ar rijãli = laki-laki; wan nisã-i = dan perempuan; wal wildaani = dan anak-anak; lã yastathĩ’ũna = mereka tidak mampu; hĩlatan = daya-upaya; wa lã yahtadũna = mereka tidak mendapat petunjuk; sabĩlã = jalan.

illãl mustadh’afĩna minar rijãli wan nisã-i wal wildaani lã yastathĩ’ũna hĩlatan wa lã yahtadũna sabĩlã.

98. kecuali mereka yang tertindas dari laki-laki, perempuan, atau anak-anak yang tidak mampu, tidak berdaya, dan tidak mendapat petunjuk jalan untuk berhijrah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada yang tidak mampu hijrah karena tidak berdaya, cacat, lumpuh, sakit, usia sangat tua, mereka tertindas hidupnya.

fa ũlã ika = maka mereka itu; ‘asãllãhu = Allah mudah-mudahan; an ya’fuwa = akan memaafkan; ‘anhum = pada mereka; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘afuwwan = Maha Pemaaf; ghofũrã = Maha Pengampun.

fa ũlã ika ‘asãllãhu an ya’fuwa ‘anhum, wa kãnallãhu ‘afuwwan ghofũrã.

99. Mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Sebenarnyalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak mampu berjuang di jalan Allah karena tidak berdaya, cacat, lumpuh, sakit, usia sangat tua, mudah-mudahan Allah memaafkan dan mengampuni kekurangannya.

wa man = dan barang siapa; yuhãjir = (mereka) berhijrah; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; yajid = ia mendapat; fĩl ardhi = di muka bumi; murãghoman = tempat perlindungan; katsĩran = banyak; wa sa’atan = dan luas; wa man = dan barang siapa; yakhruj = keluar; mim baitihi = dari rumahnya; muhajiron = berhijrah; ilãllãhi = kepada Allah; wa rasũlihi = dan Rasul-Nya; tsumma = kemudian; yudrik-hu = menerimanya; al mautu = kematian; faqod = maka sesungguhnya; wa qo’a = telah tetap; ajruhũ = pahalanya; ‘alãllãhi = pada Allah; wa kãna = dan adalah; allãhu = Allah; ghofũran = Maha Pengampun; ar rohĩmã = Maha Penyayang.

wa man yuhãjir fĩ sabĩlillãhi yajid fĩl ardhi murãghoman katsĩran wa sa’atan, wa man yakhruj mim baitihi muhajiron ilãllãhi wa rasũlihi, tsumma yudrik-hul mautu faqod wa qo’a ajruhũ ‘alãllãhi, wa kãnallãhu ghofũrar rohĩmã.

100. Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka menemukan tempat hijrah yang luas di muka bumi, dengan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumah dengan maksud berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat tujuan, maka sungguh telah tetap pahalanya ada pada Allah. Dan Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hidup di dunia ini harus selalu berhijrah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu posisi ke posisi lain, berjihad di jalan Allah mencari ilmu, dan mengamalkannya dalam rangka mengagungkan Allah.

wa idzã = dan apabila; dhorobtum = kamu bepergian; fĩl ardhĩ = di bumi; falaisa = maka tidaklah; ‘alaykum = bagimu; junãhun = berdosa; an taqshurũ = kamu mengkashar (menyingkat); mina = dari; ash sholãti = salat; in khiftum = jika kamu takut; an yaftinakumu = akan memfitnah (menyerang); al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; inna = sesungguhnya; al kãfirĩna = orang-orang kafir; kãnũ = mereka adalah; lakum = bagi kamu; ‘aduwwan = musuh; mibĩnã = yang nyata.

wa idzã dhorobtum fĩl ardhĩ falaisa ‘alaykum junãhun an taqshurũ minash sholãti, in khiftum an yaftinakumul ladzĩna kafarũ, innal kãfirĩna kãnũ lakum ‘aduwwam mibĩnã.

101. Apabila kamu bepergian di muka bumi, tidak mengapa, jika kamu meng-qashar salatmu; juga, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya, orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “meng-qashar” artinya mengurangi jumlah rakãt salat dari 4 menjadi dua, dan juga meringankan rukun-rukunnya, jika dalam keadaan ketakutan di waktu hadhar (bingung), atau dalam perjalanan jauh biasa.

wa idzã = dan apabila, bila, kalau, jika, karena; kunta = kamu adalah; fĩhim = di antara mereka; fa-aqamta = maka kamu mendirikan; lahumu = bersama mereka; ash shalãta = salat; faltaqum = maka hendaklah berdiri; thō-ifatun = segolongan; minhum = dari mereka; ma’aka = bersama kamu; wal ya’khudzũ = dan hendaknya mereka menyandang; aslihatahum = senjata mereka; faidzã = maka apabila; sajadũ = mereka telah bersujud; falyakũnũ = maka hendaklah mereka; min warō-ikum = di belakang kamu; wal ta’ti = dan hendaklah datang; thō-ifatun = segolongan; ukhrō = yang lain; lam yushollũ = mereka belum salat; falyushollũ = maka salatlah mereka; ma’aka = bersama kamu; wal ya’khudzũ = hendaklah mereka mengambil; hidzrohum = kewaspadaan mereka; wa aslihatahum = dan senjata mereka; waddalladzĩna = orang-orang yang ingin; kafarũ = (mereka) kafir; law = sekiranya, sendainya, kalau; taghfulũna = kamu lengah; ‘an aslihatikum = dari senjatamu; wa amti’atikum = dan harta benda kamu; fayamĩlũna = maka mereka akan menyerbu; ‘alaykum = kepada kamu; mailatan = serbuan; wãhidatan = satu kaligus; wa lã junaha = dan tidak berdosa; ‘alaykum = bagi kamu; in kãna = jika ia adalah; bikum = dengan kamu; adzãn = kesusahan; mim mathorin = dari hujan; au = atau; kuntum = kamu adalah; mardhō = sakit; an tadho’ũ = akan melakukan; aslihatakum = senjatamu; wa khudzũ = dan ambillah; hidzrokum = kewaspadaanmu; innallãha = sesungguhnya Allah; a’adda = Dia menyediakan; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãban = siksa, azab; muhĩnã = menghinakan.

wa idzã kunta fĩhim fa-aqamta lahumush shalãta faltaqum thō-ifatum minhum ma’aka wal ya’khudzũ aslihatahum faidzã sajadũ falyakũnũ min warō-ikum wal ta’ti thō-ifatun ukhrō lam yushollũ falyushollũ ma’aka wal ya’khudzũ hidzrohum wa aslihatahum waddalladzĩna kafarũ law taghfulũna ‘an aslihatikum wa amti’atikum fayamĩlũna ‘alaykum mailatan wãhidatan wa lã junaha ‘alaykum in kãna bikum adzãm mim mathorin au kuntum mardhō an tadho’ũ aslihatakum wa khudzũ hidzrokum, innallãha a’adda lil kãfirĩna ‘adzãbam muhĩnã.

102. Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka sebahagian golongan mereka mendirikan salat bersamamu dengan menyandang senjata, kemudian, apabila mereka yang salat bersamamu sujud dalam rakãt pertama, maka hendaknya mereka pindah di belakangmu untuk menghadapi musuh, dan hendaknya datang golongan yang kedua yang belum salat, lalu salatlah mereka denganmu, mereka hendaknya bersiaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah menyiapkan senjata, dan menjaga harta-bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan tiba-tiba, dan tidak ada dosa padamu untuk meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit, tetap siap-siagalah kamu. Sesungguhnya, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menetapkan cara-cara salat dalam keadan perang. Mereka yang tertinggal salatnya serakãt, maka rakãt kedua diselesaikan oleh yang di belakang Nabi, Nabi duduk menunggui mereka yang menyelaikan rakãt kedua yang tertinggal itu. Nilai hukumnya sama berjamãh dengan Nabi yang menyelesaikan salat lebih dahulu.
Salat khauf dikerjakan jika keadaan memungkinkan, kalau tidak, salat dilakukan sedapat-dapatnya saja, misalnya dengan hanya membaca tasbih.

fa idzã = maka bila; qodhoitumu = kau telah menyelesaikan; ash sholãta = salat; fãdzkurũllãha = maka ingatlah Allah; qiyãman = ketika berdiri; wa qu’ũdan = dan ketika duduk; wa ‘alã junũbikum = dan ketika berbaring; fa idzã = maka bila; athma’nantum = kamu telah merasa aman; fa aqĩmũ = maka dirikanlah; ash sholãta = salat; inna = sesungguhnya; ash sholãta = salat; kãnat = adalah; ‘alã = atas, bagi, untuk; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; kitãban = (kewajiban yang) telah ditetapkan, ditentukan; mauqũtã = waktunya.

fa idzã qodhoitumush sholãta fãdzkurũllãha qiyãman wa qu’ũdan wa ‘alã junũbikum, fa idzã athma’nantum fa aqĩmũsh sholãta, innash sholãta kãnat ‘alãl mu’minĩna kitãbam mauqũtã.

103. Maka, apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah selalu kepada Allah di waktu berdiri, duduk, dan di waktu berbaring. Jika kamu sudah merasa aman, maka dirikanlah salat sebagaimana biasa. Sesungguhnya, salat itu kewajiban yang sudah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi tahu, bagaimana melakukan salat saatkeadaan genting dan salat dalam keadaan biasa. Mengingat Allah harus selalu dilakukan dalam keadaan bagaimana pun.

wa lã = dan janganlah; tahinũ = kamu lemah; fĩbtighã-i = dalam mengejar; al qaumi = kaum (musuh); intakũnũ = jika kamu adalah; ta’lamũna = kamu menderita sakit; fa innahum = maka sesungguhnya mereka pun; ya’lamũna = menderia sakit; kamã = sebagaimana; ta’lamũna = kamu menderita sakit; wa tarjũna = dan kamu mengjarapkan; minallãhi = dari Allah; mã = apa; lã = tidak; yarjũna = mereka harapkan; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana.

wa lã tahinũ fĩbtighã-il qaumi, intakũnũ ta’lamũna fa innahum ya’lamũna kamã ta’lamũna, wa tarjũna minallãhi mã lã yarjũna, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã

104. Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar musuhmu. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita sakit juga, seperti kamu, sedang kamu mengharap sesuatu dari Allah, apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah itu Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi semangat kepada prajurit yang terluka ketika sedang mengejar musuh. Allah membedakan orang yang beriman dan yang tidak beriman ketika melakukan sesuatu.

innã = sesungguhnya Kami; anzalnã = telah menurunkan; ilaika = kepadamu; al kitãba = Kitab; bil haqqi = dengan kebenaran; litahkuma = supaya kamu mengadili; bainan nãsi = di antara manusia; bimã = dengan apa; arãkallãh = Allah mewahyukan (menurunkan) kepadamu; wa lã = dan jangan; takun = kamu menjadi; lil khã-inĩna = bagi orang yang khianat; khashĩmã = penentang.

innã anzalnã ilaikal kitãba bil haqqi litahkuma bainan nãsi bimã arãkallãh, wa lã takun lil khã-inĩna khashĩmã.

105. Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Kitab kepadamu yang membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang orang yang tidak bersalah, karena membela orang yang berkhianat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengharuskan menjaga kebenaran, dan keadilan. Adil itu tidak memihak dalam menetapkan berlakunya hukum. Siapa pun yang bersalah harus dihukum.
Ayat ini, dan beberapa ayat berikutnya diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.berkenan dengan peristiwa pencurian barang yang dilakukan Thu’mah. Ia menyembunyikan barang curiannya di rumah seorang Yahudi. Tu’mah tidak mengakui perbuatannya, dan mengalihkan tuduhan pencurian itu kepada orang Yahudi. Hal ini diajukan oleh kerabat Thu’mah kepada Nabi s.a.w., mereka meminta agar Nabi membela Thu’mah, dan menghukum orang Yahudi. Nabi Muhammad saw.hampir-hampir menyetujuinya, namun Allah menurunkan ayat ini, agar dalam menegakkan keadilan jangan mengorbankan kebenaran, jangan membela orang yang bersalah. Siapa pun yang memiliki kebenaran harus dibela.
Orang berkhianat di sini berarti orang yang tidak mengakui kesalahan yang dilakukan, dan mengalihkan kesalahannya kepada orang lain yang tidak melakukan kesalahan.

wãstaghfirillãh = dan mohon ampunlah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah; ghofũran = Maha Pengampun; ar rahĩmã = Maha Penyayang.

wãstaghfirillãh, innallãha kãna ghofũrar rahĩmã.

106. dan, mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebelum menetapkan berlakunya hukum kepada seseorang, hakim harus memohon ampun lebih dahulu kepada Allah, untuk mendapatkan petunjuk keadilan dari Allah. Mengadili harus adil yang mencerminkan kasih dan sayang Allah kepada semua makhluk-Nya.

wa lã = dan jangan; tujãdil = kamu berdebat; ‘anil ladzĩna = dari orang-orang yang; yakhtaanũna = mereka menghkhianati; anfusahum = diri mereka; inallãha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yuhibbu = menyukai; man = orang; kãna = adalah; khawwaanan = orang yang berkhianat; atsĩmã = bergelimang dosa..

wa lã tujãdil ‘anil ladzĩna yakhtaanũna anfusahum inallãha lã yuhibbu man kãna khawwaanan atsĩmã.

107. Dan janganlah kamu berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah, jangan berdebat untuk membela “orang yang mengkhianati dirinya“ artinya jangan membela orang yang berbohong, orang yang menuduhkan kesalahanannya kepada orang lain. Dirinya melakukan kesalahan, orang lain difitnah, dituduh melakukan kesalahannya; Orang yang mempercayai Ilah itu lebih dari satu; orang yang fasik, syirik, musyrik, munafik, murtad.

yastakhfũna = mereka bersembunyi; minan nãsi = dari manusia; wa lã = dan jangan; yastakhfũna = mereka bersembunyi; minal lãhi = dari Allah; wa huwa = dan Dia; ma’ahum = beserta mereka; idz yubayyitũna = ketika pada suatu malam menetapkan; mã lã = Dia tidak; yardhō = Dia meridoi; min = dari; al qouli = perkataan (keputusan); wa kãnallãhu = dan Allah adalah; bimã = dengan apa; ya’malũna = mereka kerjakan; muhĩthã = Maha Meliputi.

yasytakhfũna minan nãsi wa lã yastakhfũna minal lãhi wa huwa ma’ahum idz yubayyitũna mã lã yardhō minal qouli, wa kãnallãhu bimã ya’malũna muhĩthã.

108. Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah ada bersama mereka, ketika pada suatu malam, mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridoi Allah. Ilmu Allah itu meliputi segala apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Mereka dapat bersembunyi dari manusia”, Allah mengingatkan bahwa manusia itu dapat bersembunyi melalui kedok dirinya dan melalui manusia lain yang dipengaruhinya untuk melaksanakan “keputusan rahasia” yang tidak diridoi Allah. Ilmu Allah itu meliputi segala apa yang mereka kerjakan.

hã antum hã ulã-i = beginilah kamu itu; jãdaltum = kamu berdebat; ‘anhum = dengan mereka; fĩl hayãti = dalam kehidupan; ad dun-yã = dunia; faman = maka barang siapa; yujãdilullaha = (mereka) mendebat Allah; ‘anhum = dari mereka; yawmal qiyãmati = hari kiamat; am man = atau siapakah; yakũnu = menjadi; ‘alayhim = atas mereka; wakĩlã = pelindung.

hã antum hã ulã-i jãdaltum ‘anhum fĩl hayãtid dun-yã faman yujãdilullaha ‘anhum yawmal qiyãmati am man yakũnu ‘alayhim wakĩlã.

109. Beginilah, kamu sekalian selalu berdebat membela mereka untuk kehidupan di dunia. Maka, siapakah yang akan mendebat Allah untuk membela mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka terhadap siksa Allah?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bila kamu berdebat membela mereka untuk kehidupan di dunia, maka akan kehilangan pembela pada hari kiamat, dan kehilangan pelindung atas siksaanAllah.

wa man = dan barang siapa; ya’mal = (ia) melakukan; sũ-an = kejahatan; au yazhlim = atau menganiaya; nafsahũ = dirinya; tsumma = kemudian; yastaghfirillãha = (ia) memohon ampun kepada Allah; yajidillãha = (ia) mendapati Allah; ghofũrar rohĩmã = Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

wa man ya’mal sũ-an au yazhlim nafsahũ, tsumma yastaghfirillãha yajidillãha ghofũrar rohĩmã.

110. Dan barang siapa mengerjakan kajahatan dan menganiaya dirinya, kemudian, ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjanjikan ampunan dan kasih sayang bagi orang yang memohon ampun setelah melakukan kejahatan atau menganiaya diri sendiri. Memohon ampun harus bersungguh-sungguh, artinya tobat dan berjanji di dalam hati untuk tidak melakukan lagi kejahatan atau penganiayaan dirinya.

wa man = dan barang siapa; yaksib = mengerjakan; itsman = dosa; fa innamã = maka sesungguhnya hanya; yaksibuhũ = ia memgerjakan; ‘alã nafsihi = atas dirinya sendiri; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana.

wa man yaksib itsman fa innamã yaksibuhũ ‘alã nafsihi, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã.

111. Barang siapa yang mengerjakan dosa, sesungguhnya, ia mengerjakannya untuk kemudharatan dirinya sendiri. Dan, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, orang yang mengerjakan dosa, sesungguhnya, ia menyengsarakan dirinya sendiri.

wa man = dan barang siapa; yaksib = mengerjakan; khathĩ-atan = kesalahan; au = atau; itsman = dosa; tsumma = kemudian; yarmi = menuduhkan; bihĩ = dengannya; barĩ-an = orang yang tidak bersalah; faqodi = maka sesungguhnya; ahtamala = ia menanggung; buhtaanan = kebohongan; wa itsmam = dan dosa; mubĩnã = nyata.

wa man yaksib khathĩ-atan au itsman tsumma yarmibihĩ, barĩ-an faqodihtamala buhtaanan wa itsmam mubĩnã.

112. Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya, ia telah berbuat kebohongan, dan dosa yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau seseorang melakukan kesalahan, lalu kesalahan itu dituduhkan kepada orang lain, maka dia menanggung tiga dosa. Pertama dosa kesalahan dirinya, kedua kesalahan berbohong, ketiga dosa menyengsarakan orang akibat fitnah yang dilakukannya.

walaw = dan sekiranya; lã = tidak; fadhlullãhi = karunia Allah; ‘alaika = kepadamu; wa rohmatuhũ = dan rahmat-Nya; lahammat = tentulah bermaksud; thō-ifatum = segolongan; minhum = dari mereka; in yudhillũka = mereka akan menyesatkan kamu; wa mã = dan tidak; yudhillũna = menyesatkan; illã = kecuali; anfusahum = diri mereka sendiri; wa mã = dan tidak; yadhurrũnaka = mereka menyusahkan kamu; min syai-in = dari sesuatu (sedikit pun); wa anzalallãhu = dan Allah telah menurunkan; ‘alaika = kepada kamu; al kitãba = kitab; wal hikmata = dan pengetahuan; wa ‘allamaka = dan dia mengajari kamu; mã lam takun = apa yang tidak; ta’lamu = kamu ketahui; wa kãna = dan adalah; fadhlulãhi = Allah mengaruniai; ‘alaika = kepada kamu; ‘azhĩmã = besar.

walaw lã fadhlullãhi ‘alaika wa rohmatuhũ la hammat thō-ifatum minhum in yudhillũka wa mã yudhillũna illã anfusahum, wa mã yadhurrũnaka min syai-in, wa anzalallãhu ‘alaikal kitãba wal hikmata wa ‘allamaka mã lam takun ta’lamu, wa kãna fadhlulãhi ‘alaika ‘azhĩmã.

113. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rakhmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan, melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak memba-hayakan kamu sedikit pun. Dan juga, karena Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu, apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya, karunia Allah sangat besar bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, selalu ada golongan orang yang berkeinginan keras me-nyesatkan orang beriman. Orang beriman harus berpegang teguh kepada Alkitab yang penuh hikmah, dan yang telah mengajarkan apa yang belum diketahui. Mereka yang berkeinginan menyesatkan, mereka sendiri yang akan tersesat makin jauh, karena tidak mengimani Alkitabnya, dan sunah Nabinya. Allah mengingatkan kepada nabi Muhammad saw.bahwa karunia allah itu sangat besar baginya.

lã khairo = tidak ada kebaikan; fĩ katsĩrin = dalam kebanyakan mereka; min najwãhum = dalam bisikan-bisikan mereka; illã = kecuali; man = orang; amaro = menyuruh; bi shodaqotin = dengan bersedekah; au ma’rũfin = atau berbuat kebaikan; au ishlãhim = atau mengadakan perdamaian; bainan nãsi = di antara manusia; wa man = dan barang siapa; yaf’al = berbuat; dzãlika = demikian; abtighō-a = (karena) mencari; mardhōtillãhi = kerelaan Allah; fasaufa = maka akan; nu’tĩhi = kami berikan kepadanya; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar.

lã khairo fĩ katsĩrim min najwãhum illã man amaro bi shodaqotin au ma’rũfin au ishlãhim bainan nãsi, wa man yaf’al dzãlikabtighō-a mardhōtillãhi fasaufa nu’tĩhi ajron ‘azhĩmã.

114. Tidak ada kebaikan dari kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan, barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridoan-Ku, maka kelak Kami memberi pahala yang besar kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang memberi sedekah, beramal makruf, mengadakan hubungan baik di antara manusia akan diberi pahala yang besar oleh Allah kalau semua perbuatannya itu disertai harapan mendapatkan keridoan Allah. Kalau mereka tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka balasan pahala besarnya hanya di dunia saja. Di akhirat, mereka akan dibakar dengan api neraka.

wa man = dan barang siapa; yusyãqiqi = menentang; ar rasũla = Rasul; mim ba’di = dari sesudah; mã tabayyana = apa yang sudah jelas; lahu = baginya; al hudayã = petunjuk (kebenaran); wa yattabi’ = dan dia mengikuti; ghoiro = bukan; sabĩli = jalan; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; nuwallihi = Kami palingkan dia; mã tawallã = apa yang dia kuasai; wa nushlihĩ = dan Kami masukkan dia; jahannama = jahanam; wa sã-at = dan seburuk-buruk; mashĩrã = tempat kembali.

wa man yusyãqiqir rasũla mim ba’di mã tabayyana lahul hudayã wa yattabi’ ghoiro sabĩlil mu’minĩna nuwallihi, mã tawallã wa nushlihĩ jahannama wa sã-at mashĩrã.

115. Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa melakukan kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ia leluasa melakukan kesesatan yang telah dikuasainya itu” artinya Allah membiarkan ia bergelimang dalam kesesatan. Mereka pandai berkata-kata, tapi menyesatkan. Terkait dengan ayat 114, “orang yang memberi sedekah, beramal makruf, mengadakan hubungan baik di antara manusia”, balasannya hanya untuk di dunia saja.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã yaghfiru = tidak mengampuni; an yusyraka = yang mempersekutukan; bihĩ = dengan-Nya; wa yaghfiru = dan Dia mengampuni; mã = apa; dũna = yang selain; dzãlika = yang itu; liman = bagi siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa man = dan barang siapa; yusyrik = mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; faqod = maka sesungguhnya; dholla = ia telah sesat; dholãlan = kesesatan; ba’idã = yang jauh..

innallãha lã yaghfiru an yusyraka bihĩ, wa yaghfiru mã dũna dzãlika liman yasyã-u, wa man yusyrik billãhi faqod dholla dholãlam ba’idã.

116. Sesungguhnya, Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya, ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang dosa syirik (lihat hal. 22, 27, dan Q.s. An Nisã’: 4: 48) dengan perbuatannya yang akan menyesatkan sejauh-jauhnya.

in yad’ũna = tidaklah mereka sembah; min dũnihĩ = selain dari Dia; illã = kecuali; inaatsan = berhala; wa in yad’ũna = dan tidaklah mereka sembah; illã = kecuali; syaithōnan = setan; marĩdō = yang durhaka.

in yad’ũna min dũnihĩ illã inaatsan wa in yad’ũna illã syaithōnam marĩdō.

117. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan dengan menyembah berhala itu, mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “berhala atau inaatsan” artinya perempuan-perempuan. Patung berhala yang disembah orang Arab Jahiliah itu berupa perempuan, dan diberi nama perempuan, seperti: al Lãta, al Uzza, al Manah. Di sini, dapat berarti juga: “orang-orang mati,” benda-benda yang tidak berjenis, dan benda-benda yang lemah, tidak berdaya.

la’anahul lãhu = Allah telah mengutuknya; wa qōla = dan (setan) berkata; la-attakhidzanna = sungguh saya akan mengambil; min ‘ibãdika = dari hamba-hamba Kamu; nashĩban = bagian; mafrũdhō = yang ditentukan.

la’anahul lãhu wa qōla la-attakhidzanna min ‘ibãdika nashĩbam mafrũdhō.

118. yang dilaknati Allah, dan setan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil bagian hamba-hamba Engkau yang sudah ditentukan untuk saya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini dan ayat berikutnya merupakan peringatan Allah kepada orang yang beriman agar waspada pada tipu-daya setan.
“hamba-hamba Engkau yang sudah ditentukan untuk saya” artinya manusia yang ditetapkan Allah menjadi manusia jahat, karena sejak awalnya, manusia, dengan akal dan pikiran yang dikaruniakan Allah, karena pendiriannya mereka selalu membantah, menyangkal, menolak apa yang telah ditetapkan Allah. Mereka menutup diri (mata, telinga, perasaan) pada keterangan, penerangan, pelajaran, petunjuk, nasihat, hiburan dari Allah. Jadi, Allah lebih menyesatkannya. Mereka menjadi teman (bagian) setan.

wa la-udhillannahum = dan sungguh saya akan menyesatkan mereka; wa la-‘umanniyannahum = dan sungguh saya akan membangkitkan angan-angan kosong mereka; wa la-ãmurannahum = dan sungguh saya akan menyuruh mereka; falayubattikunna = maka sungguh mereka akan memotong; ãdzãna = telinganya; al an’a’ami = binatang ternak; wa la-ãmurannahum = dan sungguh saya akan menyuruh mereka; falayughayyirunna = maka sungguh mereka akan mengubah; kholqollãhi = ciptaan Allah; wa man = dan barang siapa; yattakhidzi = mengambil (menjadikan); asy syaithōna = setan; waliyyaan = pelindung; min dũnillãhi = dari selain Allah; faqod = maka sesungguhnya; khasira = (ia) menderita rugi; khusraanan = kerugian; mubĩnã = nyata.

wa la-udhillannahum wa la-‘umanniyannahum wa la-amurannahum falayubattikunna ãdzãnal an’a’ami wa la-ãmurannahum falayughayyirunna kholqollãhi wa man yattakhidzisy syaithōna waliyyãm min dũnillãhi faqod khasira khusraanam mubĩnã.

119. dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu benar-benar mereka memotongnya, dan saya suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sesungguhnya, ia menderita kerugian yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka memotong telinga-telinga binatang ternak” kebiasaanorang Arab jahiliyah, ternak yang akan dipersembahkan kepada berhala-berhala harus dipotong telinganya. Binatang yang sudah dipotong telinganya, tidak boleh dikendarai atau tidak dipergunakan untuk keperluan manusia, dibiarkan lepas saja.
“mengubah ciptaan Allah” artinya mengebiri binatang, mengubah warna rambut, mengubah muka untuk merahasiakan dirinya atau untuk mempercantik, dan lain-lain tujuan negatif. Ada yang mengartikan: mengubah agama Allah, mengubah wahyu Allah.” Kalau “mengubah ciptaan Allah” untuk tujuan hidup yang lebih baik, seperti peralatan penunjang hidup, membuat payung, membuat kain, membuat rumah, dan lain-lain itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan, asal tidak merusak alam.

ya’iduhum = (setan) memberi janji kepada mereka; wa yumannĩhim = dan memberikan angan-angan kosong kepada mereka; wa mã = dan tidaklah; ya’iduhumu = menjanjikan kepada mereka; asy syaithōnu = setan; illã = kecuali; ghurũrō = tipuan.

ya’iduhum wa yumannĩhim wa mã ya’iduhumusy syaithōnu illã ghurũrō.

120. Setan itu memberikan janji-janji, dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka, padahal setan tidak menjanjikan apa-apa, selain angan-angan kosong, tipuan belaka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah tentang hal setan.

ulã-ika ma’wãhum jahannamu wa lã yajidũna ‘anhã mahĩsha.

121. Tempat mereka di neraka jahanam. Mereka tidak mendapatkan tempat lari darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang mengikuti bujukan setan.

walladzĩna = dan orang-orang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilu = dan mereka berbuat; ash shōlihãti = saleh, baik; sanudkhiluhum = kelak akan Kami masukkan mereka; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadaan = selama-lamanya; wa’da = janji; allãhi = Allah; haqqō = benar; wa man = dan siapakah; ashdaqu = lebih benar; minallãhi = dari Allah; qĩlã = perkataan.

walladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti sanudkhiluhum jannaatin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã abadaan, wa’dallãhi haqqō, wa man ashdaqu minallãhi qĩlã.

122. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang dialiri sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya, Allah telah membuat janji yang benar. Dan, siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah bagi orang yang beriman dan berbuat kebaikan (berulang-ulang: Q.s. Al Baqarah, 2: 25,82,103; Ali ‘Imraan: 57).

laisa = tidak (bukan); bi amaaniyyikum = dengan angan-anganmu yang kosong; wa lã = dan tidak; amaaniyyi = angan-angan kosong; ahli = ahli; al kitãbi = Kitab; man = barang siapa; ya’mal = mengerjakan; sũ’an = kejahatan; yujza = akan diberi balasan; bihĩ = kejahatan itu; wa lã = dan tidak; yajid = dia mendapat; lahũ = baginya; min dũnillãhi = dari selain Allah; waliyyan = pelindung; wa lã = dan tidak; nashĩrō = penolong.

laisa bi amaaniyyikum wa lã amaaniyyi ahlil kitãbi man ya’mal sũ’an yujza bihĩ, wa lã yajid lahũ min dũnillãhi waliyyan wa lã nashĩrō.

123. Pahala dari Allah itu bukan angan-anganmu yang kosong, dan bukan pula angan-angan dari para Ahli Kitab. Barang siapa melakukan kejahatan, niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu, dan ia tidak mendapatkan pelindung ataupun penolong, selain dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “angan-anganmu yang kosong” –mu di sini dapat diartikan kaum muslimin, ada pula yang menafsirkan sebagai kaum musyrikin. Maksudnya: pahala dari Allah di akhirat itu bukan menurut angan-angan dan cita-cita mereka, tetapi yang sesuai dengan tuntunan agama Allah dan Rasul-Nya.

wa man = dan barang siapa; ya’mal = dia mengerjakan; mina = dari yang; ash shōlihãti = saleh; min = dari; dzakarin = laki-laki; au = atau; untsã = perempuan; wa huwa = dan dia; mu’minun = orang-orang yang beriman; fa = maka; ũlã-ika = mereka itu; yadkhulũna = (mereka) masuk; al jannata = surga; wa lã = dan tidak; yudzlamũna = mereka dianiaya; naqĩrã = sedikit pun.

wa man ya’mal nimash shōlihãti min dzakarin au untsã wa huwa mu’minun fa ũlã-ika yadkhulũnal jannata wa lã yudzlamũna naqĩrã.

124. Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan ia seorang yang beriman, maka mereka itu akan dimasukkan ke surga, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ia seorang yang beriman” lihat Q.s. al Baqarah, 2: 3,4.

wa man = dan siapakah; ahsanu = lebih baik; dĩnaan = Diena (Agama); mimman = dari orang yang; aslama = menyerahkan; wajhahũ = ke haribãn-Nya; lillãhi = kepada Allah; wa huwa = dan dia; muhsinun = orang yang berbuat baik; wattaba’a = dan menaati; millata = agama; ibrōhĩma = Ibrahim; hanĩfã = benar, lurus; wa takhadzallãhu = dan Allah mengambil; ibrōhĩma = Ibrahim; kholĩlã = kesayangan.

wa man ahsanu dĩnãm mimman aslama wajhahũ lillãhi wa huwa muhsinun wattaba’a millata ibrōhĩma hanĩfã, wa takhadzallãhu ibrōhĩma kholĩlã.

125. Dan, siapakah yang lebih baik Diennya, selain dari orang-orang yang ikhlas menyerahkan diri ke haribãn Allah, dan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia menaati Agama Ibrahim yang lurus? Dan, Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Agama yang baik adalah agama yang diarahkan mulai oleh Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Isma’il, Musa, Dawud, Isa, sampai Nabi Muhammad saw.Dalam akhir do’a Kanzul Arasy disebutkan: Lã ilãha illallãhu Subhana Ãdamu Shofiyyul lãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Nũhun Najiyyullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Ibrãhĩmu Kholĩlullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Ismã’ĩlu dzabĩhullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Mũsã Kalĩmullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Dãwũdu kholĩfatullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana ‘Ĩsa Rũhullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Muhammadun Rasũlullãhi warhamnã bi barokati, taurōti Mũsã, wa zabũri Dãwũda, Injĩli ‘Ĩsã, wa Furqōni Muhammadin Rosũlillãhi Shalallãu ‘alayhi wa sallam bi rohmatika yã arhamar rōhimĩna wal hamdu lillãhi robbil ‘ãlamĩna. Lihat juga Q.s. Al Ahqãf, 46: 35.
Berserah diri kepada Allah secara ikhlas artinya menghambakan atau mengabdikan diri kepada Allah secara bersih, murni dari syirik, bersih dari bid’ah, bersih dari ria.
“mengerjakan kebaikan” artinya melakukan segala sesuatu yang baik, seperti menolong orang atau makhluk lain yang memerlukan bantuan, dalam bingkai ibadah hanya kepada Allah, mencari nafkah dengan cara yang baik, makan dan minum dengan baik, berperilaku baik dalam berhubungan dengan orang lain, atau makhluk lain di lingkungannya, dan sebagainya.

wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mã = apa-apa; fissamãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; wa kãnallãhu = dan sesungguhnya Allah; bikulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; muhĩthã = meliputi.

wa lillãhi mã fissamãwãti wa mã fil ardhi, wa kãnallãhu bikulli syai-im muhĩthã.

126. Kepunyaan Allah segala apa yang di langit dan yang di bumi, dan pengetahuan Allah pun meliputi segalanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2; Al Baqarah, 2: 19, 22, 29, 30, 33, 107, 116, 117, 164, 234, 235, 255, 270, 271, 283, 284. Di dalam Ali ‘Imran, 3: 5, 29, 83, 109, 124, 129, 133, 180, 189, 190, 191. Di dalam An Nisã’-nya sendiri: 4: 131, 132, 153, 170. Al Mã-idah, 5: …

wa yastaftũnaka = dan mereka meminta farwa kepada kamu; fĩnnisã-i = tentang perempuan; qulillãhu = katakanlah Allah; yuftĩkum = memberi fatwa kepada kamu; fĩ hinna = tentang mereka; wa mã = dan apa yang; yutlã = dibacakan; ‘alaykum = kepada kamu; fĩl kitãbi = dalam Kitab; fĩ yatãma = tentang anak-anak yatim; annisã-i = perempuan; al lãtĩ = yang; lã = (kamu) tidak; tu’tũnahunna = memberikan kepada mereka; mã = apa-apa; kutiba = ditetapkan; lahunna = bagi mereka; wa targhobũna = dan kamu ingin; an tankihũhunna = kamu akan menikahi mereka; wal mustadh’afĩna = dan yang lemah-lemah; mina = dari; al wildaani = anak-anak; wa an taqũmũ = dan hendaknya kamu pelihara; lilyatãmã = untuk anak-anak yatim; bil qisthi = dengan adil; wa mã = dan apa-apa yang; taf’alũ = kamu kerjakan; min khairin = dari kebaikan; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bihĩ = dengannya; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

wa yastaftũnaka fĩnnisã-i qulillãhu yuftĩkum fĩ hinna wa mã yutlã ‘alaykum fĩl kitãbi fĩ yatãmannisã-il lãtĩ lã tu’tũnahunna mã kutiba lahunna wa targhobũna an tankihũhunna wal mustadh’afĩna minal wildaani wa an taqũmũ lilyatãmã bil qisthi wa mã taf’alũ min khairin fa innallãha kãna bihĩ ‘alĩmã.

127. Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan-perempuan. Katakanlah: “Allah memberi fatwa tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Alkitab (Alquran) yang memfatwakan tentang perempuan yatim yang tidak kamu berikan apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka, dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan, Allah menyuruh kamu, agar kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya, Allah Maha Mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini dijelaskan aturan memberikan hak orang-orang yang lemah, dan cara menyelesaikan persoalan rumah-tangga.
“apa yang dibacakan kepadamu dalam Alquran” lihat Q.s. An Nisã’ , 4: 2, 3
“memfatwakan tentang perempuan yatim yang kamu tidak memberikan apa”; maksud “apa” di sini adalah barang pusaka dan maskawin.
“sedang kamu ingin mengawini mereka” menurut adat Arab jahiliah, seorang wali berkuasa atas perempuan yatim yang dalam asuhannya, dan berkuasa atas hartanya. Jika perempuan yatim itu cantik dan dikawini, hartanya diambil. Jika perempuan yatim itu jelek rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki lain, supaya dia tetap dapat menguasai hartanya. Kebiasaanseperti itu, menurut ayat ini, dilarang.
Anak yatim harus dipeliahara dengan baik, adil, penuh kesantunan. Harta anak yatim jangan dipakai untuk keperluan wali, dan harus diberikan kalau dia sudah mampu mengelolanya.

wa ini = dan jika; imro atun = seorang perempuan; khōfat = khawatir; mimba’lihã = dari suaminya; nusyũzan = membuat kesalahan; au i’rōdhan = atau pergi meninggalkan (mengabaikan); fa lã = maka tidak; junãha = mengapa; ‘alayhimã = atas keduanya; an yushlihã = keduanya akan berdamai; bainahumã = antara keduanya; shulhãn = perdamaian; wash shulhu = dan perdamaian itu; khairun = lebih baik; wa uhdhiroti = dan kebiasaan; al anfusu = jiwa (manusia); asy syuhha = kikir; wa in tuhsinũ = dan jika kamu berbuat kebaikan; wa tattaqũ = dan kamu memelihara diri; fã innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; khōbĩrã = Maha Mengetahui.

wa inimro atun khōfat mimba’lihã nusyũzan au i’rōdhan fa lã junãha ‘alayhimã an yushlihã bainahumã shulhãn, wash shulhu khairun, wa uhdhirotil anfususy syuhha, wa in tuhsinũ wa tattaqũ fã innallãha kãna bimã ta’malũna khōbĩrã.

128. Dan, jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau bersikap tidak acuh kepada suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka, walawpun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan, jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu dari nusyuz dan sikap tak acuh, maka sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “nusyuz” dari pihak suami adalah bersikap keras terhadap istrinya, tidak mau menggauli, dan tidak mau memberikan haknya, yaitu barang pusaka dan maskawin.
“keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya” misalnya istri bersedia beberapa haknya dikurangi, asal suaminya mau berbaik kembali.
“manusia itu menurut tabiatnya kikir” maksudnya, tabiat manusia itu ada yang tidak suka, dan tidak mau melepaskan sebagian hak-haknya kepada orang lain dengan ikhlas, meskipun demikian, jika istri melepaskan sebahagian hak-haknya, maka suami boleh menerimanya.

wa lantastathĩ’ũ = dan kamu tidak dapat; an ta’dilũ = kamu berbuat adil; baina = di antara; an nisã-i = istri-istri; walaw = walawpun; haroshtum = kamu ingin sekali; fa lã = maka janganlah; tamĩlũ = kamu condong; kullal maili = seluruh kecondongan; fa tadzarũhã = maka kamu membiarkannya; kalmu’allaqati = seperti terkatung-katung; wa in = dan jika; tushlihũ = kamu mengadakan perbaikan; wa tattaqũ = dan kamu memelihara; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ghofũra = Maha Pengasih; ar rohĩmã = Maha Penyayang.

wa lantastathĩ’ũ an ta’dilũ bainan nisã-i walaw haroshtum fa lã tamĩlũ kullal maili fa tadzarũhã kalmu’allaqati, wa in tushlihũ wa tattaqũ fa innallãha kãna ghofũrar rohĩmã.

129. Dan, kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walawpun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung, dan jika kamu mengadakan perbaikan dan pemeliharaan diri dari kecurangan, maka sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi tahu, suami yang poligami tidak akan dapat berlaku adil.
Perbuatan curang karena ada istri yang lebih kamu cintai yang menyebabkan istri yang lainnya tidak mendapat perhatian, terabaikan nafkah lahir dan batinnya.

wa in = dan jika; yatafarroqã = keduanya bercerai; yughnillãhu = Allah akan memberi kecukupan; kullaan = masing-masing; min sa’atihĩ = dari karunia-Nya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; wãsi’an = Mahaluas; hakĩmã = Mahabijaksana.

wa in yatafarroqã yughnillãhu kullãm min sa’atihĩ wa kãnallãhu wãsi’an hakĩmã.

130. Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunianya. Demikian itu karena Allah Mahaluas karunia Mahabijaksana-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjanjikan kecukupan kepada orang yang bercerai. Allah Mahaluas karunia-Nya, dan Mahabijaksana.

wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mã = apa-apa; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhĩ = di bumi; wa laqod = dan sesungguhnya; wash shoina = kami telah mewasiatkan; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = mereka diberi; al kitãba = kitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; wa iyyãkum = dan kepada kamu; anit taqqũllãha = agar kamu bertakwa kepada Allah; wa in = dan jika; takfurũ = kamu kafir (ingkar); fa innalillãhi = maka sesungguhnya Allah; mã = apa-apa; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhĩ = di bumi; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ghoniyyan = Mahakaya; hamĩdã = Maha Terpuji.

wa lillãhi mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wa laqod wash shoinal ladzĩna ũtũl kitãba min qoblikum wa iyyãkum anit taqqũllãha, wa in takfurũ fa innalillãhi mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wa kãnallãhu ghoniyyan hamĩdã.

131. Dan kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan juga kepada kamu, bertakwalah kepada Allah. Tetapi, jika kamu kafir, maka ketahuilah, sesungguhnya, apa yang ada di langit dan apa yang di bumi semuanya kepunyaan Allah, dan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sesungguhnya, apa yang ada di langit dan apa yang di bumi semuanya kepunyaan Allah” maksudnya, jika kamu kafir tidak akan medatangkan kemudharatan bagi Allah, karena Allah tidak berkehendak apa-apa kepadamu. Allah hanya berkehendak, agar semua makhluk-Nya beribadah kepada-Nya. Jangan membantah perintah dan tidak mengerjakan larangan Allah. Jangan seperti setan, iblis, dan sebagian dari jin, dan manusia yang melanggar perintah, dan mengerjakan larangan Allah.
Lihat juga Al Baqarah 116; 284 dan Surat Ali ‘Imran: 29; 129; An Nisa: 170

wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mã = apa-apa yang; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa yang; fil ardhĩ = di bumi; wa kafãa = dan cukuplah; bil lãhi = dengan (sebagai); wakĩlã = pelindung.

wa lillãhi mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wa kafãa bil lãhi wakĩlã.

132. Dan kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah seperti ini berulang-ulang dikemukakan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 19, 22, 29, 30, 33, 107, 116; 117, 164, 234, 235, 255, 270, 271, 283, 284; Ali ‘Imran, 3: 5, 29, 83, 109, 124, 129, 133, 180, 189, 190, 191; An Nisa, 4: 126, 131, 132, 153, 170.

in yasyã’ = jika (Allah) menghendaki; yudzhibkum = Dia memusnahkan kamu; ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; wa ya’ti = dan Dia mendatangkan; bi ãkhōrĩna = dengan yang lain; wa kãna = dan adalah; al lãhu = Allah; ‘alã = atas; dzalika = demikian itu; qōdiirã = Mahakuasa.

in yasyã’ yudzhibkum ayyuhan nãsu wa ya’ti bi ãkhōrĩna, wa kãnal lãhu ‘alã dzalika qōdiirã.

133. Jika Allah menghendaki tentu Dia musnahkan kamu, wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain sebagai penggantimu. Dan Allah Mahakuasa berbuat demikian,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini peringatan Allah kepada manusia. Allah dapat dengan mudah memusnahkan manusia, dan mengganti dengan makhluk penggantinya.

man kãna = barang siapa adalah; yurĩdu =menghendaki; tsawãba = pahala; ad dun-yã = dunia; fa ‘indallãhi = maka di hadapan Allah; tsawãbu = pahala; ad dun-yã = dunia; wal ãkhirati = dan akhirat; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; samĩ’an = Maha Mendengar; bashĩrō = Maha Melihat.

man kãna yurĩdu tsawãbad dun-yã fa ‘indallãhi tsawãbud dun-yã wal ãkhirati wa kãnallãhu samĩ’am bashĩrō.

134. Barang siapa yang menghedaki pahala di dunia saja, ia merugi karena pada Allah, ada pahala dunia dan pahala akhirat. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rugilah orang yang hanya mengharapkan pahala di dunia saja, karena tidak kekal dan hanya sebentar. Yang penting justru pahala akhirat yang kekal.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; kũnũ = jadilah kamu; qowwãmĩna = orang-orang yang menegakkan; bil qisthi = dengan keadilan; syuhadã-a = menjadi saksi; lillãhi = untuk Allah; wa law = walawpun; ‘alã = atas, terhadap; anfusikum = dirimu sendiri; aw = atau; il wãlidaini = kedua orangtua; wa = dan; al aqrōbĩna = kaum kerabat; in yakun = jika ia ada; ghoniyyan = kaya; au = atau; faqĩran = miskin; fallãhu = maka Allah; aula = lebih dekat (tahu); bihimã = dengan keduanya; fa lã = maka janganlah; tattabi’ũ = kamu mengikuti; al hawã = nafsu; an ta’dilũ = supaya kamu berbuat adil; wa in = dan jika; talwũ = kamu memutarbalikkan; au = atau; tu’ridhũ = kamu menentang, enggan; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bimã = dengan (terhadap) apa; ta’malũna = kamu kerjakan; khobĩrã = Maha Mengetahui.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ kũnũ qowwãmĩna bil qisthi syuhadã-a lillãhi wa law ‘alã anfusikum awil wãlidaini wal aqrōbĩna, in yakun ghoniyyan au faqĩran fallãhu aula bihimã, fa lã tattabi’ũl hawã an ta’dilũ, wa in talwũ au tu’ridhũ fa innallãha kãna bimã ta’malũna khobĩrã.

135. Wahai orang-orang yang beriman jadilah engkau orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun untuk dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka kamu janganlah mengikuti hawa nafsu karena ingin menghindari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kata-kata, atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ia” maksudnya orang yang digugat atau terdakwa.
Kaya dan miskin itu ujian bagi manusia. Allah lebih mengetahui kemaslahatan dari kondisi itu. Usaha manusia untuk menjadi kaya akan diperhatikan Allah. Manusia tetap diuji dengan setiap kondisi yang diterima dari Allah.
Kebenaran, maksudnya kebenaran ada-Nya Allah. Atau persoalan hidup yang dihadapi setiap makhluk hidup atau makhluk mati (tak bernyawa). Hidup itu, yang terdiri dari jiwa raga, itu kebenaran dari Allah.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ãminũ = (tetap) berimanlah; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihi = dan Rasul-Nya; wa = dan; al kitãbi = Kitab; al ladzĩ = yang; nazzala = Dia turunkan; ‘alã rosũlihĩ = kepada Rasul-rasul-Nya; wa = dan al kitãbi = Kitab; al ladzĩ = yang; anzala = (Allah) turunkan; min qoblu = dari sebelumnya; wa = dan; man = barabg siapa; yakfur = (mereka) kafir; billãhi = kepada Allah; wa malãikatihĩ = dan Malaikat-Nya; wa kutubihĩ = dan Kitab-kitab-Nya; wa rusulihi = dan Rasul-rasul-Nya; wal yaumi = dan hari; al ãkhiri = akhirat; faqod = maka sesungguhnya; dholla = ia telah sesat; dholãlan = kesesatan; ba’ĩdã = jauh.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ ãminũ billãhi wa rosũlihi, wal kitãbil ladzĩ nazzala ‘alã rosũlihĩ, wal kitãbil ladzĩ anzala min qoblu wa man yakfur billãhi wa malãikatihĩ wa kutubihĩ wa rusulihi wal yaumil ãkhiri faqod dholla dholãlam ba’ĩdã.

136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, serta Kitab yang diturunkan Allah sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah kepada orang-orang yang beriman, dan peringatan kepada orang-orang kafir.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; tsumma = kemudian; kafarũ = mereka kafir; tsumma = kemudian; ãmanũ = mereka beriman; tsumma = kemudian; kafarũ = mereka kafir; tsumma = kemudian; azdãdũ = bertambah; kufron = kekafiran; lam = tidak; yakunillãhu = Allah tidak akan; li yaghfiro = untuk memberi ampun; lahum = bagi mereka; wa lã = dan tidak; liyahdiyahum = untuk memberi petunjuk kepada mereka; sabĩlã = jalan.

innal ladzĩna ãmanũ tsumma kafarũ tsumma ãmanũ tsumma kafarũ tsummazdãdũ kufrol lam yakunillãhu li yaghfiro lahum wa lã liyahdiyahum sabĩlã.

137. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman kembali, kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka Allah sekali-kali tidak memberi ampunan kepada mereka, dan tidak pula menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menggambarkan kejelekan orang kafir yang tidak mempunyai pendirian tetap, kekafirannya akan bertambah.
“bertambah kekafirannya” maksudnya, di samping kekafirannya, mereka menjelekkan, merendahkan Islam, dan berperilaku tidak terpuji.

basysyiri = kabarkanlah; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; bi anna = bahwa; lahum = bagi mereka; ‘adzãban = siksa; alĩmã = sangat pedih.

basysyiril munãfiqĩna bi anna lahum ‘adzãban alĩmã.

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaanyang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta kepada orang-orang yang beriman untuk memberi peringatan, pelajaran kepada orang-orang munafik, kafir, syirik, fasik, murtad bahwa mereka tetap dalam pendiriannya, mereka akan disiksa dengan keras.

alladzĩna = orang-orang yang; yattakhidzũna = (mereka) mengambil; al kãfirĩna = orang-orang kafir; auliyã-a = pelindung, penolong; min dũni = dari selain; al mu’ minĩna = orang-orang mukmin; ayabtaghũna = apakah mereka mencari; ‘indahumu = di hadapan mereka; al ‘izzãta = kekuatan; fa inna = maka sesungguhnya; al ‘izãtalillãhi = kekuatan Allah itu; jamĩ’ã = semuanya.

alladzĩna yattakhidzũnal kãfirĩna auliyã-a min dũnil mu’ minĩna, ayabtaghũna ‘indahumul ‘izzãta fa innal ‘izãtalillãhi jamĩ’ã.

139. Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi penolong dan memperlainkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan dari orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. An Nisã’, 4:89,144.
“wali” jamaknya auliya artinya pelindung atau penolong, berarti juga teman yang akrab yang dapat saling menolong dalam berbagai persoalan hidup.

waqod = dan sungguh; nazzala = Allah menurunkan; ‘alaykum = kepada kamu; fĩ = di dalam; al kitãbi = Kitab; an idzã = bahwa apabila; sami’tum = kamu mendengar; ayãtillãhi = ayat-ayat Allah; yukfaru bihã = diingkarinya; wa yustahza-u bihã = dan diperolok-olokkannya; falã = maka jangan; taq’udũ = kamu duduk-duduk; ma’ahum = beserta mereka; hattã = sehingga; yakhũdhũ = mereka memasuki; fĩ = di dalam; hadĩtsin = pembicaraan; ghoirihi = lainnya; innakum = sesungguhnya kamu; idzãn = jika demikian (kalau begitu); mitsluhum = seperti mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; jãmi’u = mengumpulkan; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; wal kãfirĩna = dan orang-orang kafir; fĩ = dalam; jahannama = (neraka) jahanam; jamĩ’an = semuanya.

waqod nazzala ‘alaykum fĩl kitãbi an idzã sami’tum ayãtillãhi yukfaru bihã wa yustahza-u bihã falã taq’udũ ma’ahum hattã yakhũdhũ fĩ hadĩtsin ghoirihi, innakum idzãm mitsluhum, innallãha jãmi’ul munãfiqĩna wal kãfirĩna fĩ jahannama jamĩ’an.

140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kepadamu Alquran, apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan oleh orang-orang kafir, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya, kalau kamu berbuat demikian, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahanam,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang orang Islam duduk bersama orang-orang kafir yang mengingkari dan memperolok-olokkan Ayat-ayat Allah. Ayat ini menegaskan, jika seorang beriman duduk dan mendengarkan orang kafir memperolok-olokkan Dienullah (Islam), maka orang itu akan dianggap termasuk orang munafik, kecuali kalau menjauh. Allah memberitahu apa yang akan dilakukan bagi orang-orang munafik.

alladzĩna = orang-orang yang; yatarobbashũna = mereka menunggu-nunggu; bikum = bagi dirimu; fa in = maka jika; kãna = ada; lakum = bagi kamu; fat-hum = kemenangan; minallãhi = dari Allah; qōlũ = (mereka) berkata; alam = bukankah; nakum = kami berada; ma’akum = beserta kamu; wa in = dan jika; kãna = ada; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; nashĩbun = bagian (kemenangan); qōlũ = (mereka) berkata; alam = bukankah; nastahwidz = kami turut memenangkan; ‘alaykum = bagi kamu; wa namna’kum = dan membela kamu; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; fallahu = maka Allah; yahkumu = memberi keputusan; bainakum = di antara kamu; yawma = hari; al qiyãmati = kiamat, musnah; wa lan = dan tidak akan; yaj’alallãhu = menjadikan Allah; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘alãl mu’minĩna = atas orang-orang mukmin; sabĩlã = jalan.

alladzĩna yatarobbashũna bikum fa in kãna lakum fat-hum minallãhi qōlũ alam nakum ma’akum, wa in kãna lil kãfirĩna nashĩbun, qōlũ alam nastahwidz ‘alaykum wa namna’kum minal mu’minĩna, fallahu yahkumu bainakum yawmal qiyãmati wa lan yaj’alallãhu lil kãfirĩna ‘alãl mu’minĩna sabĩlã.

141. orang-orang yang menunggu-nunggu peristiwa yang akan terjadi pada dirimu, hai orang-orang mukmin. Maka, jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka berkata: “Bukankah kami turut berperang beserta kamu?” dan jika orang-orang kafir mendapat kemenangan, mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat, dan Allah tentu tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Ayat ini menggambarkan sikap orang munafik seperti pohon ditiup angin, ke kanan atau ke kiri tergantung arah tiupan angin. Di samping itu, orang kafir sering berlaku sebagai mata-mata, memberitahukan rahasia, dan berbagai hal yang terkait dengan orang mukmin kepada orang kafir. Kalau mereka berperang menyertai orang mukmin, perangnya tidak bersungguh-sungguh.

inna = sesungguhnya; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; yukhãdi’ũnallãha = mereka menipu Allah; wa huwa = dan Dia; khãdi’uhum = membalas tipuan mereka; wa idzã = dan apabila; qōmũ = mereka berdiri; ilash = kepada (untuk); sholãti = salat; qōmũ = mereka berdiri; kusãlã = malas; yurō-ũna = mereka ria; an nãsa = manusia; wa lã = dan tidak; yadzkurũnallaha = mereka mengingat Allah; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

innal munãfiqĩna yukhãdi’ũnallãha wa huwa khãdi’uhum, wa idzã qōmũ ilash sholãti qōmũ kusãlã, yurō-ũnan nãsa wa lã yadzkurũnallaha illã qolĩlã.

142. Sesungguhnya, orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka riya dengan salat di hadapan manusia, dan mereka tidak menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah akan membalas tipuan mereka” maksudnya: Allah membiarkan pengakuan palsu mereka di dunia, dan diperlakukan sama dengan orang mukmin sejati, di akhirat Allah menyediakan neraka sebagai balasan tipuan mereka.
“riya” artinya melakukan sesuatu amal hanya untuk dilihat orang, ingin dipuji orang, ingin dikenal orang, bukan untuk memperoleh ridha Allah.
“menyebut nama Allah sedikit sekali, maksudnya: mereka jarang salat, dilakukan hanya bila dilihat orang, hanya untuk pamer dan ingin diakui sebagai mukmin.

mudzabdzabĩna = mereka dalam keadaan ragu; baina = di antara; dzãlika = yang demikian; lã ilã = tidak pada; hã-ulã-i = ini, itu; wa lã ilã = dan tidak pada; hã-ulã-i = ini, itu; wa man = dan barang siapa; yudhlilillãhu = disesatkan Allah; falan = maka tidak; tajida = mendapat; lahũ = baginya; sabĩlã = jalan.

mudzabdzabĩna baina dzãlika lã ilã hã-ulã-i wa lã ilã hã-ulã-i, wa man yudhlilillãhu falan tajida lahũ sabĩlã.

143. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara iman atau kafir, mereka tidak temasuk golongan orang kafir atau golongan orang beriman. Barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tidak akan mendapatkan petunjuk jalan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “yang disesatkan Allah” karena ingkar dari perintah Allah, tidak mau memahami petunjuk, pelajaran dengan berbagai perumpamaan dari Allah.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; amanũ = beriman; lã tattakhidzũ = jangan kamu mengambil; al kãfirĩna = orang-orang kafir; auliyã-a = pelindung, penolong; min dũni = dari selain; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; aturĩdũna = apakah kamu ingin; an taj’alũlillãhi = Allah akan menjadikan (kamu); ‘alaykum = bagi kamu; sulthōnan = alasan kekuasaan; mubĩnã = nyata.

yã ayyuhal ladzĩna amanũ lã tattakhidzũl kãfirĩna auliyã-a min dũnil mu’minĩna, aturĩdũna an taj’alũlillãhi ‘alaykum sulthōnam mubĩnã.

144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan selain orang-orang mukmin. Inginkah kamu membuat alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah untuk orang-orang yang beriman dengan pertanyaan retorik. Lihat Q.s. An Nisã’, 4:89, 139.

inna = sesungguhnya; al munãfiqĩna = orang-orang munafik fĩ = pada, di dalam; ad darki = tingkat; al asfali = terbawah; min = dari; an nãri = neraka; wa la = dan tidak; an tajida = kamu mendapat; lahum = bagi mereka; nashĩrã = penolong.

innal munãfiqĩna fĩd darkil asfali minan nãri wa lan tajida lahum nashĩrã.

145. Sesungguhnya, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkat yang paling bawah di neraka, dan kamu tidak mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan ancaman keras kepada orang munafik. Mereka tidak dapat ditolong oleh siapa pun.

illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; tãbũ = bertobat; wa ashlahũ = dan mengadakan perbaikan; wa’tashamũ = dan mereka berpegang teguh; billãhi = kepada Allah; wa akhlashũ = dan mereka mengikhlaskan; dĩnahum = Dĩn mereka; lillãhi = karena Allah; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; ma’a = beserta; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; wa saufa = dan kelak; yu’ti = memberikan; al lãhu = Allah; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; ajran = pahala; ‘azhĩmã = besar.

illãl ladzĩna tãbũ wa ashlahũ wa’tashamũ billãhi wa akhlashũ dĩnahum lillãhi fa-ũlã-ika ma’al mu’minĩna wa saufa yu’til lãhul mu’minĩna ajran ‘azhĩmã.

146. kecuali orang-orang yang tobat dan membuat perbaikan, dan berpegang teguh pada Dienullah, dan ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu bersma dengan orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membuat perbaikan” maksudnya melakukan sesuatu untuk memperbaiki dan menghilangkan akibat buruk dari pekerjaanyang dulu.

mã = mengapa, bagaimana; yaf’alu = berbuat; al lãhu = Allah; bi’adzãbikum = dengan menyiksa kamu; in syakartum = jika kamu bersyukur; wa amantum = dan kamu beriman; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; syãkiran = Maha Mensyukuri; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

mã yaf’alul lãhu bi’adzãbikum in syakartum wa amantum, wa kãnallãhu syãkiran ‘alĩmã.

147. Bagaimana mungkin Allah akan menyiksamu, padahal kamu bersyukur dan beriman? Allah Maha mensyukuri dan Maha Memgetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah Maha mensyukuri” artinya Allah menyukai dan mensyukuri hamba-Nya yang bersyukur dengan cara memberi banyak pahala atas amal baik yang dilakukan hamba-Nya, memaafkan segala kesalahannya, dan menambah kenikmatannya.

Juz 6

Larangan Mengucapkan Kata-kata yang Tidak Sopan Kepada Seseorang

la yuhibbullãhul = Allah tidak menyukai; jahro = terus terang; bissũ-i = dengan yang buruk; minal qauli = dari ucapan; illã = kecuali; man = orang; zhulima = teraniaya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; samĩ’an = Maha Mendengar; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

la yuhibbullãhul jahro bissũ-i minal qauli illã man zhulima, wa kãnallãhu samĩ’an ‘alĩmã.

148. Allah tidak menyukai ucapan buruk yang langsung, kecuali orang yang teraniaya. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah tidak menyukai ucapan buruk” maksudnya Allah memberi peringatan, melarang mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan, kata kotor, kata yang menyatakan iri, dengki, kasar; mencela, memaki, memfitnah; tidak sopan, menceriterakan keburukan orang lain kepada lawan berbicara (ghibah), kecuali jika orang itu terniaya, boleh menceriterakan keburukan penganiayanya sesuai dengan kenyataannya kepada hakim atau penguasa.

in tubdũ = jika kamu menyampaikan; khairan = kebaikan; au tukhfũhu = atau kamu menyembunyikan; au ta’fũ = atau kamu memaafkan; ‘an sũ-in = dari kesalahan; fa innallãha = maka Allah sesungguhnya; kãna = Dia adalah; ‘afuwwan = Maha Pemaaf; qadiirã = Mahakuasa.

in tubdũ khairan au tukhfũhu au ta’fũ ‘an sũ-in fa innallãha kãna ‘afuwwan qadiirã.

149. Jika kamu menyatakan suatu kebaikan, atau menyembunyikan, atau memaafkan kesalahan orang lain, maka sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf dan Mahakuasa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini, Allah menganjurkan perbuatan baik, merahasiakan kejelekan orang, dan memaafkan kesalahan orang. Allah akan memaafkan kesalahan orang yang berbuat kebaikan seperti yang dianjurkan pada ayat ini. lihat juga Q.s. Al An‘am, 6: 17; Fushshilat, 41: 46 dll.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; yakfurũna = (mereka) Kafir; billãhi = kepada Allah; wa rusulihĩ = dan Rasul-rasul-Nya; wa yurĩdũna = dan mereka bermaksud; an yufarriqũ = untuk membedakan; bainallãhi = antara Allah; wa rusulihĩ = dan Rasul-rasul-Nya; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; nu’minũ = kami beriman; biba’dhin = dengan sebagian; wa nakfuru = dan kami kafir; bi ba’din = dengan sebagian; wa yuridũna = dan mereka bermaksud; an yattakhidzũ = untuk mereka mengambil; baina = antara; dzãlika = demikian itu; sabĩlã = jalan.

innal ladzĩna yakfurũna billãhi wa rusulihĩ, wa yurĩdũna an yufarriqũ bainallãhi wa rusulihĩ, wa yaqũlũna nu’minũ biba’dhin wa nakfuru bi ba’din wa yuridũna an yattakhidzũ baina dzãlika sabĩlã.

150. Sesungguhnya, orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya bermaksud memperbedakan antara keimanan kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: “Kami beriman kepada Allah, dan kafir kepada Rasul, dengan maksud mengambil jalan tengah antara kafir dan iman itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memperbedakan” maksudnya beriman kepada Allah dan kafir kepada Rasul-rasul-Nya. Hal ini dijelaskan pada ayat berikut ini
Nabi Muhammad saw.tidak dipercaya sebagai Rasul, sampai sekarang pun masih banyak yang demikian.

ulãika = itulah; humu = mereka; al kãfirũna = orang-orang kafir; haqqã = sebenar-benarnya; wa a’tadnã = dan Kami menyediakan; lilkãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãban = azab, siksa; muhĩnã = menghinakan.

ulãika humul kãfirũna haqqã, wa a’tadnã lilkãfirĩna ‘adzãbam muhĩnã.

151. Merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya. Kami sudah menyediakan siksaanyang menghinakan untuk orang-orang kafir seperti itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jadi, orang yang setengah-setengah; mengaku ada-Nya Allah, tapi tidak mempercayai bahwa Nabi Muhammad saw.itu Utusan Allah, Rasul Allah berarti kafir yang sebenar-benarnya. Dewasa ini masih banyak yang demikian.

walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; billãhi = kepada Allah; wa rusulihĩ = dan Rasul-rasul-Nya; wa lam = dan mereka tidak; yufarriqũ = membeda-bedakan; baina = antara; ahadin = seseorang; minhum = dari mereka (Rasul-rasul); ulã-ika = mereka itulah; saufa = kelak; yu’tĩhim = dia akan memberikan kepada mereka; ujũrahum = pahala mereka; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ghofũra = Maha Pengampun; ar rahĩmãi = Maha Penyayang.

walladzĩna ãmanũ billãhi wa rusulihĩ wa lam yufarriqũ baina ahadim minhum ulã-ika saufa yu’tĩhim ujũrahum wa kãnallãhu ghofũrar rahĩmã.

152. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu pengertian iman. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 3,4.

yas-aluka = akan meminta kepadamu; ahlul kitãbi = Ahli Kitab; an tunazzila = agar kamu menurunkan; ‘alayhim = untuk, atas, bagi mereka; kitãban = Kitab; mina = dari; as samã-i = langit; faqod = maka sesungguhnya; sa-alũ = mereka telah meminta; mũsã = Musa; akbara = lebih besar; min dzãlika = dari yang demikian; faqōlũ = maka mereka berkata; arinãllãha = perlihatkan Allah kepada kami; jahrotan = nyata; fa-akhodzat = maka menyambar; humu = mereka; ash shã’iqatu = petir; bi zhulmihim = karena kelaliman mereka; tsumma = kemudian; attakhãdzũ = mereka mengambil; al ‘ijla = anak sapi; mimba’di = dari sesudah; mã jã-at = apa yang dating; humu = kepada mereka; al bayyinaatu = bukti-bukti yang nyata; fa’afaunã = maka Kami memaafkan; ‘an dzãlika = dari demikian itu; wa atainã = dan Kami berikan; mũsã = Musa; sulthōnan = kekuasaan, keterangan; mubĩnã = nyata.

yas-aluka ahlul kitãbi an tunazzila ‘alayhim kitãbam minas samã-i, faqod sa-alũ mũsã akbara min dzãlika faqōlũ arinãllãha jahrotan fa-akhodzat humush shã’iqatu bi zhulmihim tsumma attakhãdzũl ‘ijla mimba’di mã jã-at humul bayyinaatu fa’afaunã ‘an dzãlika wa atainã mũsã sulthōnam mubĩnã.

153. Ahli Kitab meminta kepadamu, agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Sesungguhnya, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kelalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang bukti-bukti yang nyata kepada mereka, lalu Kami memaafkan mereka dari hal itu. Dan telah Kami berikan keterangan yang nyata kepada Musa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka menyembah anak sapi” benda ini terbuat dari emas. Ayat ini merupakan Catatan, pengetahuan, ilmu, hukum, ahlak, dan adab sejarah masa lalu yang harus menjadi cermin untuk hidup kita sekarang dan untuk pembelajaran keturunan kita untuk masa yang akan datang.

wa rofa’nã fauqohumuth thũra bi mĩtsãqihim wa qulnã lahumudkhulul bãba sujjadan wa qulnã lahum lã ta’dũ fĩs sabti wa akhodznã minhum mĩtsãqon gholĩzhon.

wa rofa’nã fauqohumuth thũra bi mĩtsãqihim wa qulnã lahumudkhulul bãba sujjadan wa qulnã lahum lã ta’dũ fĩs sabti wa akhodznã minhum mĩtsãqon gholĩzhon.

154. Dan telah Kami angkat ke atas kepala mereka bukit Thursina karena mereka mengingkari perjanjian yang telah Kami ambil dari mereka, dan Kami perintahkan kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan pula kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai Hari Sabtu, dan Kami telah mengambil perjanjian yang kokoh dari mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud” yang dimaksud pintu gerbang adalah pintu-pintu kota Baitul Maqdis; yang dimaksud bersujud artinya menundukan diri dalam sikap menghormat.

fa = maka; bimã = disebabkan; naqdhihim = pelanggaran mereka; mitsãqohum = perjanjian mereka; wa kufrihim = dan kekafiran mereka; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; wa qotlihimu = dan pembunuhan mereka; al ambiyã-a = nabi-nabi; bi ghoiri = dengan tidak haqqi = benar; waqaulihim = dan perkataan mereka; qulũbunã = hati kami; ghulfun = tertutup; bal = tetapi, bahkan; thoba’a = telah mengunci mati; allãhu = Allah; ‘alaihã = atas (hati) mereka; bi kufrihim = karena kekafiran mereka; fa lã yu’minũna = maka mereka tidak beriman; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

fabimã naqdhihim mitsãqohum wa kufrihim bi ãyãtillãhi wa qotlihimul ambiyã-a bi ghoiri haqqi waqaulihim qulũbunã ghulfum bal thoba’allãhu ‘alaihã bi kufrihim fa lã yu’minũna illã qolĩlã.

155. Maka Kami lakukan terhadap mereka, beberapa tindakan karena mereka melanggar perjanjian, dan karena kekafiran mereka pada keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan karena mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan Allah sesungguhnya telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman, kecuali sebagian kecil dari mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan” antara lain: mereka dikutuk, disambar petir, menjelma menjadi kera, dan lain-lain.

wa bi kufrihim = dan karena kekafiran mereka; wa qaulihim = dan perkataan mereka; ‘alã = kepada; maryama = Maryam; buhtaanan = dusta; ‘azhĩmã = besar.

wa bi kufrihim wa qaulihim ‘alã maryama buhtaanan ‘azhĩmã.

156. Dan karena kekafiran mereka terhadap Isa dan tuduhan mereka kepada Maryam dengan dusta yang besar, zinah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada zaman Nabi Isa a.s. banyak orang yang tidak percaya atas kerasulan Isa a.s. Mereka juga tidak percaya Maryam hamil tanpa dijamah laki-laki. Mereka menuduh zinah kepada Maryam.

wa qaulihim = dan perkataan mereka; innã = sesungguhnya (kami); qotalna = (kami) telah membunuh; al masiha = Al Masih; ‘ĩsa = Isa; ibna maryama = putra Maryam; rasũlallãhi = (Isa) Rasulullah; wa mã = dan mereka tidak; qotalũhu = membunuhmya; wa mã = dan mereka tidak; shalabũhu = menyalibnya; wa lãkin = akan tetapi; syubbiha = diserupakan dengannya; lahum = bagi mereka; wa inna = dan sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; akhtalafũ = (mereka) berselisih; fĩhi = tentang dia (Isa a.s.); lafĩ = benar-benar dalam; syakkĩn = keraguan; minhu = darinya; mã = tidak ada; lahum = bagi mereka; bihĩ = dengannya (yang dibunuh itu); min ‘ilmin = dari pengetahuan (keyakinan); illa = kecuali; at tibã-‘a = mengikuti; azhzhanniwa = persangkãn; wa = dan; mã qotalũhu = tidaklah mereka membunuhnya; yaqĩnaan = yakin.

wa qaulihim innã qotalnal masiha ‘ĩsabna maryama rasũlallãhi wa mã qotalũhu wa mã shalabũhu wa lãkin syubbiha lahum, wa innalladzĩnakhtalafũ fĩhi lafĩ syakkĩm minhu, mã lahum bihĩ min ‘ilmin illãt tibã-‘azhzhanni wa mã qotalũhu yaqĩnaan

157. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya, kami telah membunuh al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh, kecuali mengikuti perkiraan belaka, mereka juga tidak yakin, apakah Isa yang dibunuh itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kami telah membunuh al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” ucapan itu merupakan ejekan, karena mereka sendiri tidak mengakui Isa itu Rasulullah.
Menurut ayat ini Nabi Isa tidak terbunuh. Para pelaku juga meragukan, siapa yang sebenarnya dibunuh itu.

bal = tetapi; rofa’ahu = telah mengangkatnya; allãhu = Allah; ilaihi = kepada-Nya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘azĩzan hakĩmã = Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

bar rofa’ahullãhu ilaihi, wa kãnallãhu ‘azĩzan hakĩmã.

158. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa ke haribãn-Nya, dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan bantahan kepada orang-orang Yahudi, bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa, a.s..

wa in = dan tidak; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; illã = kecuali; layu’minanna = benar-benar ia akan beriman; bihĩ = dengannya; qobla = sebelum; mautihĩ = kematiannya; wa yawmal qiyãmati = dan pada hari kiamat; yakũnu = adalah ia (Isa a.s.); ‘alayhim = terhadap mereka; syahĩdã = menjadi saksi.

wa im min ahlil kitãbi illã layu’minanna bihĩ qobla mautihĩ wa yawmal qiyãmati yakũnu ‘alayhim syahĩdã

159. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab yang tidak beriman kepada Isa sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti, Isa akan menjadi saksi terhadap mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli Kitab (Hindu, Budha, Tao, Yahudi, Nasrani) pada hari kematian, saatamal sudah tidak diterima Allah lagi, semuanya bersaksi bahwa Isa itu rasul Allah, dan bukan anak Allah.

fa bizhulmin = maka disebabkan kelaliman; minal ladzĩna = dari orang-orang; hãdũ = Yahudi; harramnã = Kami mengharamkan; ‘alayhim = atas mereka; thoyyibãtin = yang baik-baik; uhillat = yang awalnya dihalalkan, dibolehkan; lahum = bagi mereka; wa bi shoddihim = dan karena mereka menghalangi; ‘an sabĩlil lãhi = dari jalan Allah; katsĩrã = banyak.

fa bizhulmim minal ladzĩna hãdũ harramnã ‘alayhim thoyyibãtin uhillat lahum wa bi shoddihim ‘an sabĩlil lãhi katsĩrã.

160. Maka, disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan kepada mereka memakan makanan yang baik-baik, yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia menunju jalan Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: kelaliman orang Yahudi adalah meminum khamar, memakan babi, binatang bertaring, binatang yang hidup di dua alam (di air dan di darat), mengundi nasib dengan anak panah. Makanan yang dahulunya halal, sekarang haram, seperti disebutkan yaitu babi, binatang bertaring (anjing, bangsa harimau, dan lain-lain), binatang yang hidup di dua alam (di air dan di darat: kodok, penyu, ular, buaya),

wa akhadzihimu = dan mereka makan (mengambil); ar ribã = riba; wa qod = dan sesungguhnya; nuhũ = mereka telah dilarang; ‘anhu = darinya; wa aklihim = dan makan mereka; amwãla = harta; an nãsi = manusia; bil bãthili = dengan (cara) batil; wa a’tadnã = dan Kami sediakan; lil kãfirĩma = bagi orang kafir; minhum = di antara mereka; ‘adzãban = azab, siksa; alĩmã = yang pedih.

wa akhadzihimur ribã wa qod nuhũ ‘anhu wa aklihim amwãlan nãsi bil bãthili, wa a’tadnã lil kãfirĩma minhum ‘adzãban alĩmã.

161. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya, mereka telah dilarang melakukannya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka, siksa yang amat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: orang yang memakan riba dan dengan cara yang batil itu termasuk orang kafir. Mereka disediakan siksa yang amat pedih di akhirat. Semua agama melarang riba dan memakan harta orang dengan cara yang batil. Yang termasuk memakan harta dengan jalan yang batil adalah dengan cara menipu, memalsu, membohongi pembeli, mengurangi timbangan, mengambil keuntungan terlalu banyak.

lãkini = akan tetapi; ar rōsikhũna orang-orang yang mendalam; fĩl ‘ilmi = pada ilmu; minhum = di antara mereka; wal mu’minũna = dan orang-orang mukmin; yu’minũna = (mereka) beriman; bimã = dengan apa; unzila = (yang) diturunkan; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan apa; unzila = (yang) diturunkan; min qoblika = dari sebelum kamu; wal muqĩmĩna = dan orang-orang yang mendirikan; ash sholãta = salat; wal mu’tũna = dan orang-orang yang menunaikan; az zakãta = zakat; wal mu’minũna = dan orang-orang yang beriman; bil lãhi = kepada Allah; wal yaumi = dan hari; al ãkhĩri = akhir; ũlã-ika = mereka itulah; sanu’tĩhim = akan kami berikan kepada mereka; ajron = pahala, ganjaran; azhĩmã = besar

lãkinir rōsikhũna fĩl ‘ilmi minhum wal mu’minũna yu’minũna bimã unzila ilaika wa mã unzila min qoblika, wal muqĩmĩnash sholãta, wal mu’tũnaz zakãta wal mu’minũna bil lãhi wal yaumil ãkhĩri, ũlã-ika sanu’tĩhim ajron azhĩmã.

162. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu, Alquran, dan apa yang telah diturunkan sebelum kamu, dan orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah, dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami beri pahala (ganjaran) yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 2, 3, 4. tentang iman dengan masing-masing peraturan peribadatannya pada masing-masing zaman.

innã = sesungguhnya Aku, au hainã = telah mewahyukan; ilaika = kepada kamu; kamã = sebagaimana; au hainã = (Kami) telah mewahyukan; ilã = kepada; nũhin = Nuh; wan nabiyyĩnna = dan Nabi-nabi; mim ba’dihĩ = setelah itu; wa au hainã = dan Kami wahyukan; ilã = kepada; ibrōhĩma = Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan Ismail; wa ishãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; wal asbathi = dan anak-anak-cucunya; wa ‘ĩsã = Isa; wa ayyuba = Ayub; wa yũnusa = Yunus; wa hãrũn = Harun; wa sulaimaana = Sulaiman; wa ãtainã = dan Kami berikan; dawũda = (kepada) Dawud; zabũra = Zabur.

innã au hainã ilaika kamã au hainã ilã nũhin wan nabiyyĩnna mim ba’dihĩ, wa au hainã ilã ibrōhĩma, wa ismã’ĩla, wa ishãqo, wa ya’qũba wal asbathi wa ‘ĩsã wa ayyuba, wa yũnusa, wa hãrũn, wa sulaimaana wa ãtainã dawũda zabũra.

163. Sesungguhnya, Kami telah memberikan wahyu kepadamu, seperti Kami telah memberikannya kepada Nuh, dan Nabi-nabi yang setelah itu. Kami telah memberikan pula wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya: Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. itu selaras dengan pembaruan wahyu dari para nabi sebelumnya, yaitu kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya: Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman, kemudian Kitab Zabur kepada Dawud.

wa rusulan = dan Rasul-rasul; qod = sungguh; qoshoshnãhum = telah Kami kisahkan; ‘alaika = kepada Kamu; min qoblu = dahulu; wa rusulan = dan Rasul-rasul; lam naqshush-hum = tidak Kami kisahkan itu; ‘alaika = kepada kamu; wa kallamallãhu = dan Allah telab berbicara; mũsã = (kepada) Musa; taklĩmaan = pembicaraan langsung.

wa rusulan qod qoshoshnãhum ‘alaika min qoblu wa rusulal lam naqshush-hum ‘alaika, wa kallamallãhu mũsã taklĩmaan.

164. Dan Kami sungguh telah mengutus rasul-rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu, yaitu Allah telah berbicara langsung kepada Musa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini, Allah memberitahukan telah mengutus banyak rasul, ada ceritera yang diberitakan, dan ada yang tidak diberitakan kepada Nabi Muhammad s.a.w..
“Allah telah berbicara langsung kepada Musa a.s..” Hal ini merupakan keistimewaan Nabi Musa, a.s. sehingga beliau disebut Kalimullah, sedang rasul-rasul lain mendapat wahyu Allah melalui Jibril. Nabi Muhammad saw.juga pernah berbicara langsung dengan Allah, pada malam hari ketika beliau mikraj (perjalanan Nabi Muhammad saw.dari Masjidil Aksa ke Sidratul Muntaha, saatmenerima perintah salat 5 waktu dari Allah).

rusulan = Rasul-rasul; mubasysyirĩna = pembawa berta gembira; wa mundzirĩna = dan pemberi peringatan; li-allã = agar tidak; yakũna = ia ada; linnãsi = bagi manusia; ‘alãllãhi = kepada Allah; hujjatun = membantah; ba’da = setelah; ar rusuli = Rasul-rasul-Nya; wa kãnãllãhu = dan sesunguhnya Allah; ‘azĩzan = Mahaperkasa; hakĩmã = Mahabijaksana.

rusulam mubasysyirĩna wa mundzirĩna li-allã yakũna linnãsi ‘alãllãhi hujjatum ba’dar rusuli, wa kãnãllãhu ‘azĩzan hakĩmã.

165. Mereka Kami utus sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Rasul-rasul Allah, sesudah diutus-Nya itu. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan tugas Rasul agar manusia tidak membantahnya. Tapi selalu saja ada manusia yang menolak, menyangkal, membantah kebenaran berita dan peringatan dari Allah itu. Mereka sombong, berperilaku menyimpang dan hidup seenaknya saja. Mereka merasa benar saja, apa yang mereka lakukan yang tidak berdasarkan petunjuk wahyu Allah kepada para Nabi-Nya. Ini merupakan gejala sosial yang tidak boleh dibiarkan. Tapi kalau bertindak tidak boleh gegabah, harus hati-hati, dan halus. Agar tidak menyinggung perasan.

lãkini = akan tetapi; allãhu = Allah; yasyhadu = Dia menyaksikan, mengakui; bimã = dengan apa (Alquran); anzala = Dia menurunkan; ilaika = kepoadamu; anzalahũ = Dia menurunkannya; bi ilmihĩ = dengan ilmu-Nya; wal malãikatu = dan para Malaikat; yasyhadũna = mereka menjadi saksi; wa kafã = dan cukuplah; billãahi = dengan Allah; syahĩdã = menjadi saksi.

lãkini llãhu yasyhadu bimã anzala ilaika anzalahũ bi ilmihĩ, wal malãikatu yasyhadũna, wa kafã billãahi syahĩdã

166. (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu.) Akan tetapi Allah mengakui Alquran yang diturunkan-Nya kepadamu, Allah menurunkan Alquran dengan ilmu-Nya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah Yang mengakuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menghibur Nabi, meskipun umat manusia tidak mau mengakui Al-quran sebagi petunjuk hidup, Allah dan para Malaikat menjadi saksi dan mengakuinya.

inna = sesungguhnya; alladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; washaddũ = dan mereka menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; qod = sungguh; dhollũ = mereka telah sesat; dholãlaan = kesesatan; ba’ĩdã = sejauh-jauhnya.

innalladzĩna kafarũ washaddũ ‘an sabĩlillãhi qod dhollũ dholãlãm ba’ĩdã.

167. Sesunguhnya, orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi jalan manusia kepada Allah, benar-benar dalam kesesatan yang jauh sekali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pembelajaran, dan peringatan bagi manusia.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; wa zholamũ = dan lalim (kepada diri mereka sendiri); lam yakunillãhu = yakin Allah tidak; li yaghfira = akan mengampuni; lahum = kepada mereka; wa lã = dan Dia tidak; liyahdiyahum = menunjukkan mereka; thorĩqō = jalan.

innal ladzĩna kafarũ wa zholamũ lam yakunillãhu li yaghfira lahum wa lã liyahdiyahum thorĩqō.

168. Sesunguhnya, orang-orang yang kafir dan melakukan kelaliman, Allah tentu tidak akan mengampuni dosa mereka, dan juga tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu orang yang melalimi dirinya sendiri. Allah tidak akan mengampuni dosanya. Mereka tidak diberi petunjuk jalan yang benar dalam hidupnya.

illã = hanya, kecuali; thoriqō = jalan; jahannama = Jahanam; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadan = selama-lamanya; wa kãna = dan adalah; dzãlika = demikian itu; alallãhi = bagi Allah; yasĩrō = mudah.

illã thoriqō jahannama khōlidĩna fĩhã abadan, wa kãna dzãlika alallãhi yasĩrō

169. kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi manusia, jangan melalimi diri sendiri.

yã ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sungguh; jã-akumu = telah dating; ar rosũlu = seorang Rasul; bil haqqi = dengan kebenaran; min = dari; robbikum = Robb kamu; fa-ãminũ = maka berimanlah kamu; khoiron = lebih baik; lakum = bagi kamu; wa-in = dan jika; takfurũ = kamu kafir; fa innallahi = maka sesungguhnya Allah; mã = segala apa; fi = di; as samãwãti = langit; wal ardhĩ = dan bumi; wa kãna = dan adalah; allahu = Allah; ‘alĩmun = Mahatahu; hakĩmã = Mahabijaksana.

yã ayyuhan nãsu qod jã-akumur rosũlu bil haqqi mir robbikum fa-ãminũ khoirol lakum wa-in takfurũ fa innallahi mã fis samãwãti wal ardhĩ, wa kãnalllahu ‘alĩmun hakĩmã.

170. Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul Muhammad s.a.w., kepadamu dengan membawa kebenaran dari Robbmu, maka berimanlah kamu. Itulah yang terbaik bagimu, dan jika kamu kafir, (hal itu tidak merugikan Allah sedikit pun), karena sesungguhnya, apa yang ada di langit dan di bumi itu kepunyaan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 284; Ali ‘Imran, 3: 29; 129: An Nisa, 4: 131, 132.

yã ahlal kitãbi = Wahai Ahli Kitab; la = jangan; taghlũ = kamu melampaui batas; fĩ dĩnikum = dalam beragama kamu; wa lã = dan jangan; taqũlũ = kamu mengatakan; alallãhi = kepada Allah; illã = kecuali; al haqo = benar; inna = sesungguhnya; ma = hanyalah; al masĩhu = Al Masih; ‘Ĩsãbnu maryama = Isa putra Maryam; rosulullãhi = Rasul Allah; wa kalimatuhũ = dan ucapan-Nya; alqōhã = Dia menyampaikannya; ilã maryama = kepada Maryam; wa rũhun = dan ruh; minhu = dari-Nya; fa ãminũ = maka berimanlah kamu; billãhi = kepada Allah; wa rusulihi = dan Rasul-rasul-Nya; wa lã = dan jangan; taqũlũ = kamu mengatakan; tsalatsãtun = tiga; antahũ = hentikanlah; khoiron = lebih baik; lakum = bagi kamu; innamãllãhu = sesungguhnya hanyalah Allah; ilãhun = Ilah; wãhĩdun = satu, esa; subhãnahũ = Mahasuci Dia; an yakũna = bahwa Dialah mempunyai; lahũ = bagi-Nya; waladun = seorang anak (laki-laki); lahũ = kepunyaannya; mã = apa-apa; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; wakĩlã = pelindung, pelindung.

yã ahlal kitãbi la taghlũ fĩ dĩnikum wa lã taqũlũ alallãhi illãl haqo, innamal masĩhu ‘Ĩsãbnu maryama rosulullãhi wa kalimatuhũ alqōhã ilã maryama wa rũhum minhu, fa ãminũ billãhi wa rusulihi, wa lã taqũlũ tsalatsãtun antahũ khoirol lakum, innamãllãhu ilãhun wãhĩdun subhãnahũ an yakũna lahũ waladun lahũ mã fis samãwãti wa mã fil ardhi wa kafã billãhi wakĩlã.

171. Wahai Ahli Kitab, kamu jangan melampaui batas dalam ad Dĩnmu, dan janganlah kamu mengatakan sesuatu kepada Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya, al Masih, Isa Putra Maryam adalah utusan Allah, dan yang diciptakan dengan sabda-Nya yang dipercayakan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan ruh-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan: “Tuhan itu tiga”. Hentikan ucapan seperti itu. Demikian lebih baik bagimu. Sesungguhnya, Allah adalah Robb Yang Mahaesa, Mahasuci dari pikiran mempunyai anak. Segala yang ada di langit dan di bumi itu kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “jangan melampaui batas dalam ad Dĩnmu” maksudnya, jangan mengatakan Nabi Isa, a.s. itu putra Allah,Tuhan seperti kebiasaanumat Nasrani.
“diciptakan dengan sabda-Nya” maksudnya, Allah menciptakan Nabi Isa, a.s. itu dengan kalimat “kun” jadilah, maka jadilah Isa, a.s. tanpa bapak (lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 116, 117; Ali ‘Imran, 3: 47, 59; Yã sĩn, 36: 82.

lan yastankifa = tidak sekali-kali enggan; al masĩhu = Al Masih; an yakũna = bahwa dia menjadi; ‘abdan = hamba; lillãhi = bagi Allah; wa lalmalã-ikatu = dan Malaikat; al muqarobũna = yang terdekat; wa man = dan barang siapa; yastankif = (ia) enggan; ‘an ‘ibãdatihĩ = dari menyembah-Nya; wa yastakbir = dan ia menyombongkan diri; fasayahsyuruhum = maka Dia (Allah) akan mengumpulkan mereka; ilaihi = kepada-Nya; jamĩ’ã = semuanya.

lan yastankifal masĩhu an yakũna ‘abdal lillãhi wa lalmalã-ikatul muqarobũna, wa man yastankif ‘an ‘ibãdatihĩ, wa yastakbir fasayahsyuruhum ilaihi jamĩ’ã.

172. Al Masih dan para Malaikat yang sangat dekat kepada Allah, pasti tidak segan menjadi hamba Allah. Barang siapa yang merasa segan beribadah kepada Allah, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan kepada umat Kristen agar tidak mencampur- adukkan makhluk sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah, dengan Zat Allah yang tidak dapat disamakan dengan makhluk-Nya (Isa Al Masih).

fa amma = maka sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; fa yuwaffĩhim = dan Dia akan menyempurnakan mereka; ujũrohum = pahala mereka; wayazĩduhum = dan Dia menambah mereka; min fadhlihi = dari karunia-Nya; wa amma = dan sesungguhnya; al ladzĩnã = orang-orang yang; as tankafũ = (mereka) enggan; wastakbarũ = dan mereka meyombongkan diri; fayu’adzibuhum = maka Dia akan menyiksa mereka; ‘adzãban = siksa (azab); alĩman = pedih; wa lã = dan (mereka) tidak; yajidũna = mereka mendapatkan; lahum = bagi mereka; min dũnillãhi = dari selain Allah; waliyyan = pelindung; wa lã nashĩrã = dan tidak penolong.

fa ammal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti fa yuwaffĩhim ujũrohum wayazĩduhum min fadhlihi, wa ammal ladzĩnãs tankafũ wastakbarũ fayu’adzibuhum ‘adzãban alĩmã wa lã yajidũna lahum min dũnillãhi waliyyan wa lã nashĩrã.

173. Maka sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah akan menyempurnakan pahala, dan menambah sebagian karunia-Nya untuk mereka. Dan sesungguhnya, orang-orang yang enggan (mengakui kebenaran wahyu Allah) dan menyombongkan diri, Allah akan menyiksa mereka dengan siksaanyang amat pedih, dan mereka tidak memperoleh pelindung dan penolong, selain dari Allah.

yã ayyuhannãsu = wahai manusia; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepadamu; burhãnun = bukti kebenaran; min = dari; robbikum = dari Robb kamu; wa anzalnã = dan Kami telah menurukan; ilaykum = kepada kamu; nũran = cahaya; mubĩnã = terang.

yã ayyuhannãsu qod jã-akum burhãnum mir robbikum wa anzalnã ilaykum nũram mubĩnã.

174. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran (Muhammad s.a.w.) dari Robbmu, dengan mukjizatnya, dan telah Kami turunkan cahaya penerangan yang sejelas-jelasnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Arti “cahaya penerangan yang sejelas-jelasnya” adalah Alquran yang menjelaskan aturan hidup manusia, termasuk di dalamnya tentang kedudukan Isa al Masih sebagai makhluk yang diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah, jangan disamakan dengan atau dianggap Allah.

fa ammã = maka sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; billãhi = kepada Allah; wa’tashamũ = dan mereka berpegang teguh; bihĩ = kepada-Nya; fasayud-khiluhum = maka Dia akan memasukkan mereka; fĩ rohmatin = dalam rahmat; minhu = dari-Nya; wa fadhlin = dan karunia; wa yahdĩhim = dan Dia akan memberi petunjuk kepada mereka; ilaihi = kepada-Nya; shirōthan = jalan; mustaqĩmã = yang lurus.

fa ammãl ladzĩna ãmanũ billãhi wa’tashamũ bihĩ fasayudkhiluhum fĩ rohmatim minhu wa fadhlin wa yahdĩhim ilaihi shirōtham mustaqĩmã.

175. Maka orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada aturan-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang banyak, surga dengan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus menuju kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan Allah itu tercakup dalam Rukun Iman dan Rukun Islam. Semua ayat dalam Alquran itu merupakan aturan Allah. Membaca ayat-ayat Allah yang disertai Hadis akan mengarahkan kita ke jalan yang lurus agar dapat bertemu dengan-Nya nanti di akhirat.

yastaftũnaka = mereka akan meminta fatwa kepada kamu; kulillãhu = katakanlah Allah; yaftĩkum = memberi fatwa kepadamu; fi = tentang; al kalãlah = kalalah; inimru-un = jika seseorang; halaka = meninggal dunia; laisa = tidak ada; lahũ = baginya; waladun = seorang anak (laki-laki); wa lahũ = dan baginya; ukhtun = saudara perempuan; falahã = maka baginya; nishfu = seperdua; mã = apa (harta); taroka = ia tinggalkan; wa huwa = dan ia (saudara laki-laki); yaritsuhã = mewarisinya (saudara perempuan); in lam yakun = jika tidak ada; lahã = baginya (mempunyai); waladun = seorang anak (laki-laki); fain = maka jika; kãnata = adalah keduanya; atsnataini = dua orang; falahuma = maka bagi keduanya; ats tsalutsãni = dua pertiga; mimmã = dari apa (harta); taroka = ia tinggalkan; wa in = dan jika; kãnũ = adalah mereka; ikhwatan = beberapa saudara; rijãlan = laki-laki; wa nisã-an = dan perempuan; falidzdzakari = maka bagi laki-laki; mitslu = seperti, sebanyak; hazhi = bahagian; al untsayaini = dua saudara perempuan; yubayyinullãhu = Allah menerangkan; lakum = kepadamu; an tadhillũ = supaya kamu tidak sesat; wallãhu = dan Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩmun = Maha Mengetahui.

yastaftũnaka kulillãhu yaftĩkum fil kalãlah, inimru-un halaka laisa lahũ waladun wa lahũ ukhtun falahã nishfu mã taroka, wa huwa yaritsuhã in lam yakul lahã waladun fain kãnatatsnataini falahumãts tsalutsãni mimmã taroka wa in kãnũ ikhwatar rijãlan wa nisã-an falidzdzakari mitslu hazhil untsayaini yubayyinullãhu lakum an tadhillũ, wallãhu bi kulli syai-in ‘alĩmun

176. Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, yaitu: Jika seseorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak, dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudara yang laki-laki mempusakai seluruh harta saudara perempuan, jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya, dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang wafat. Dan jika mereka, ahli waris itu, terdiri dari saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian -dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan hukum ini kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kalalah” artinya seseorang yang wafat dan tidak meninggalkan ayah dan anak. Yang mewarisi adalah saudara laki-laki dan, atau saudara perempuan.

Kesimpulan Surat An Nisã’

Surat an Nisã’, berisi perintah untuk bertakwa; manusia berasal dari yang satu, Adam; ada hukum-hukum yang menyangkut anak yatim, rumah tangga, warisan, perempuan yang haram dinikahi; hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan; hukum perang; pelajaran yang harus diambil dari kekalahan dalam Perang Badar yan terkait dengan hujjah-hujjah yang dikemukakan para Ahli Kitab; terakhir perintah kepada kaum mukminin dan mukminat untuk tetap takwa dan sabar; menguatkan hubungan sosial dengan manusia lain, agar medapatkan keberuntungan di diunia dan di akhirat.

Di samping itu Surat an Nisã” berisi aqad-aqad perkawinan, perceraian, warisan, perjanjian, wasiat, mengemukakan hukum yang bersifat umum dan menerangkan jalan untuk menetapkan hukum. Pokok-pokok agama juga dikemukakan, seperti keesaan Allah, dan hal kenabian Muhammad saw. Pada akhir Surat an Nisã’ mengemukakan hujjah-hujjah tentang kekeliruan kaum Yahudi, dan Nasrani, kaum musyrikin, munafikin, fasikin. Surat an Nisã’ dimulai dengan seruan yã ayyuyhannãs sebagi ciri dari surat-surat Makiyah yang dibedakan dengan surat-surat Madaniyah yang memulainya dengan seruan yã ayyuhaladzĩmã ãmanu. Seruan ini, sesungguhnya menyeru seluruh manusia, bedanya apakah ia beriman atau tidak beriman.

003 Ali Imran

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Ali ‘Imran
Surat ke 3, 200 ayat, Madaniyah
Jus 3 beralih ke Juz 4 pada ayat 92

Catatan Awal
Surat Ali ‘Imran berisi kisah keluarga Ali ‘Imran dengan kelahiran Maryam dari keluarganya. Kelahiran Nabi Isa a.s. yang menyimpang dari norma biasa, dengan beberapa mukjizatnya, yang menegaskan agama Tauhid dari para Nabi; Selain itu, ada kisah Perang Badar dan Perang Uhud. Ada hukum musyawarah; bermubahalah; larangan melakukan riba. Isi yang lain, tentang perbedaan cara memahami ayat-ayat Mutasyãbihãt; beberapa Asmaul Husna; sifat-sifat orang yang takwa. Rido Allah untuk agama Islam; Mengingatkan untuk tidak berteman atau mempercayai orang kafir; perjanjian para Nabi dengan Allah; perumpamaan-perumpamaan, peringatan bagi orang mukmin; dan ahli Kitab; tentang Ka’bah sebagai tempat ibadah yang paling awal; perlunya memperhatikan ciptaan Allah.

Surat al Baqarah dan surat Ali ‘Imran dinamai ‘Az Zahrawãni” (=Dua yang Cemerlang) karena keduanya mengungkapkan informasi yang disembunyikan atau ditutup-tutupi oleh para Ahli Kitab sebelum Islam, yaitu tentang kelahiran Nabi ‘Isa a.s., dan datangnya Nabi Muhammad saw..

Pokok-pokok isi Surat Ali ‘Imran antara lain:
1. Keimanan: menyangkut dalil dan alasan untuk membantah umat Kristen yang menuhankan Nabi Isa, a.s. (Ada Allah Bapa, dan ada Allah Anak, ada Allah Rohul Kudus); menjelaskan terjadinya kekalahan Perang Uhud, dan kemenangan Perang Badar yang perlu menjadi pelajaran. Kekalahan dan kemenangan itu harus dilandasi dengan iman dan takwa kepada Allah, agar mendapat anugerah Syuhada’ bagi yang meninggal dalam peperangan. Kalau tidak, maka kematian dalam peperangan itu menjadi sia-sia, karena balasannya neraka. Surat ini mengingatkan, ajaran keesaan Allah itu sudah disampaikan oleh para Nabi sebelumnya, sejak Nabi Adam, termasuk agama Kristen sendiri, hanya dalam prosesnya terjadi penyimpangan prinsip, akibat pendeta atau rahibnya menafsirkan Sabda Allah salah, jadi salah kaprah.
2. Hukum-hukum: bermusyawarah, dijelaskan lagi dalam Surat Asy Syũra, 42, 53 ayat; bermubahalah; melakukan riba;
3. Kisah-kisah: seperti yang disebutkan di atas yaitu keluarga ‘Imran, Perang Badar, Perang Uhud, yang menjadi pelajaran, dan harus diteladani;
4. Lain-lain: golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyãbihãt; sifat-sifat Allah; sifat-sifat orang yang takwa; Islam adalah agama yang diridoi Allah; kemudharatan mengambil kepercayaan dan teman orang kafir; perjanjian Allah dengan para Nabi; perumpamaan-perumpamaan; peringatan-peringatan untuk mukmin; peringatan-peringatan untuk Akhli Kitab; Ka’bah adalah bangunan peribadatan yang tertua, dengan bukti-buktinya; manfaat, selalu mengingat Allah, dan merenungi ciptaan-Nya

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Alif Lãm Mĩm

1. Allah, Lã ilaha ilahuwal Muta’ãli = Allah, tidak ada ilah lain, selain Dia Yang Mahatinggi

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini dapat dipanjangkan, seperti ayat dalam Surat Al Baqarah. Allah, Lailãha Ilallah Muhammadur Rasulullah atau yang lainnya, seperti Allah, Lã ilaha ilahuwal Muta’ãli = Allah, tidak ada ilah lain, selain Dia Yang Mahatinggi, atau Allãhu Laylaha ila Antal Malik = Allah tidak ada ilah lain selain Dia Yang Maha Menguasai.

Allah = Allah; lã = tidak; ilãha = AIlah; illã = kecuali, melainkan; huwa = Dia; al hayyu = yang hidup (kekal); al qoyyũm = selalu berdiri sendiri

Allah lã ilãha illã huwal hayyul qoyyũm

2. Allah, tiada ilah lain selain Dia Yang hidup kekal dan selalu mandiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepastian tentang Allah. Allah itu tunggal, sendiri tidak memerlukan yang lain; yang lain memerlukan-Nya. Hidup Allah kekal dan mandiri. Lihat juga Surat 2 Al Baqarah: 255 (ayat Kursi); Surat 112, Al Ikhlas. Lihat juga Asma’ul Husna. Ayat ini dianjurkan untuk diulang-ulang agar menguatkan iman kepada sifat Allah yang kekal, tunggal, mandiri, tidak ada yang bisa menyamai. Mahkluk-Nya selalu mengalami perubahan.

nazzala = Dia telah menurunkan; ‘alayka = kepadamu; al kitãba = Alkitab (Alqur’an); bil = dengan; haqqi = sebenarnya; mushodiqon = membenarkan; limã = terhadap apa; bayna yadaihi = antara dua tangannya (ungkapan bahwa dua hal yang dinyatakan itu sungguh benar); wa anzala = dan Dia menurunkan; at taurōta = Taurat; wal injĩla = dan Injil.

nazzala ‘alaykal kitãba bil haqqi mushodiqollima bayna yadaihi wa anzalat taurōta wal injĩla

3. Allah menurunkan Alkitab kepadamu dengan kebenaran yang sesungguhnya; membenarkan kitab Taurat dan Injil yang diturunkan sebelumnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Menguatkan Surat al Baqarah, 2: 2. Dan Surat-surat lainnya. Alqur’an itu isinya benar dari Allah, membenarkan isinya yang benar, dan dalam arti memperbaiki, meluruskan Kitab-kitab sebelumnya: Zabur, Taurat, Injil, Tao Te Cing, Weda, Tripitaka, Sang Hyang Kamahayanikam.

min = dari; qoblu = sebelumnya; hudan = menjadi petunjuk; linnãsi = bagi manusia; wa anjala = dan Dia menurunkan; al furqōn = pembeda; inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; bi ãyãtillãhi = kepada ayat-ayat Allah; lahum = bagi mereka; ‘adzabun = siksa; syadĩd = yang berat; wallãhu ‘azĩzun dzuntiqōm = dan Allah Maha Perkasa dan memiliki siksa pembalas.

minqoblu hudal linnãsi wa anjalal furqōn, innal ladzĩna kafarũ bi ãyãtillãhi lahum ‘adzabun syadĩd, wallãhu ‘azĩzun dzuntiqōm

4. Sebelum Alqur’an menjadi petunjuk bagi manusia, Dia menurunkan al Furqon (pembeda yang benar dan yang salah). Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai siksa pembalas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, di samping Alqur’an, ada Kitab-kitab lain yang memberikan petunjuk “pembeda yang benar dan yang salah serta berbagai benda di dunia , atau hal-hal lain yang sifatnya berpasangan” terdapat dalam: Zabur, Taurat, Injil, Tao Te Cing, Weda, Tripitaka, Sang Hyang Kamahayanikam. Semua ayat-ayat Allah harus dipercaya. Orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah (menyembunyikan atau menutup-nutupinya, atau mengubah-ubah) akan mendapat siksa yang keras.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yakhfã = tersembunyi; ‘alayhi = bagi-Nya; syai un = sesuatu pun; fil ardhĩ = di bumi; wa lã fis samã i = dan tidak pula di langit.

innallãha lã yakhfã ‘alayhi syai un fil ardhĩ wa lã fis samã i

5. Sesungguhnya, bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi maupun di langit.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit, dan apa-apa yang ada di bumi. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi, disembunyikan dan apa-apa yang terungkap dari dalam lubuk hati seluruh makhluk-Nya, di alam semesta ini, termasuk manusia. Dalam ayat-ayat lain ungkapannya agak berbeda-beda, misalnya pada Surat Al Baqarah: 2: 30; 33; 96; 234; 235; 255; 270; 271; 283.

huwalladzĩ = Dialah yang; yushowwirukum = membentuk kamu; fil arhãmi = dalam rahim; kayfa = seperti; bagaimana; yasã-u = Dia kehendaki; lã = tidak ada; ilãha = ilah (tuhan); illa = kecuali; melainkan; huwa = Dia; al ‘azizul hakĩm = Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

huwalladzĩ yushowwirukum fil arhãmi kayfa yasã-u lã ilãha illa huwal ‘azizul hakĩm.

6. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana kehendak-Nya. Tak ada ilah lain, selain Dia Yang Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membentuk manusia di dalam rahim sesuka-Nya, menjadi ginecology dan berbagai ilmu cabangnya.
“Tak ada ilah lain selain Dia”; lihat ayat 18. Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana menciptakan alam semesta yang luasnya tak terhingga. Kepercayaan dan keyakinan seperti ini harus dibudayakan oleh seluruh umat manusia.

huwa = Dialah; al ladzĩ = yang; anzala = menurunkan; ‘alayka = kepadamu; al kitãba = Alkitab; minhu = dari-Nya; ayatum-muhkamatun = ayat-ayat mukhkamat; hunna = itulah; ummul kitãbi = pokok-pokok Alkitab; wa ukhoru = dan yang lain; mutasyãbihãtun = ayat-ayat mutasyabihat; fa amma = maka; adapun; alladzĩna = orang-orang yang; fĩ qulũbihim = dalam hati mereka; zaighun = condong pada kesesatan; fa yattabi’ũna = maka mereka mengikuti; mãtasyãbaha = ayat-ayat mutasyabihat; minhu = darinya; ubtighã-a = untuk mengharapkan; al fitnati = fitnah; wabtighã-a = dan mencari-cari; menginginkan; ta’wĩlihi = ramalannya, perkiraannya; wa mã ya’lamu = padahal mereka tidak mengetahui; ta’wĩlahu = dugaan; ramalan; keingiannya; illãllahu = kecuali; hanya dari Allah; warrōsikhũna = dan orang-orang yang mendalam; fĩl ‘ilmi = pada ilmu; yaqũlũna = mereka berkata; ãmannã = kami beriman; bih = kepadanya; kullum = semuanya itu; min = dari; ‘indi = pada; robbinã = Robkami; wa mã = dan tidaklah; yaddakkaru = mengambil manfaat, pelajaran, illã = kecuali; hanya; melainkan; ũlũl = orang-orang yang mempunyai; albãbi = akal, pikiran, nalar

huwal ladzĩ anzala ‘alaykal kitãba minhu ayatum-muhkamatun hunna ummul kitãbi wa ukhoru mutasyãbihãtun fa ammalladzĩna fĩ qulũbihim zaighun fa yattabi’ũna mã tasyãbaha minhubtighã-al fitnati wabtighã-a ta’wĩlihi, wa mã ya’lamu ta’wĩlahu illãllahu, warrōsikhũna fĩl ‘ilmi yaqũlũna ãmannãbih, kullum min ‘indi robbinã wa mã yaddakkaru illã ũlũl albãbi.

7. Dialah yang menurunkan Alkitab kepada kamu. Di antara isinya, ada ayat-ayat muhkamãt, itulah pokok-pokok isi Alqur’an, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihãt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat mutasyãbihãt, untuk menimbulkan fitnah darinya, mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyãbihãt, semuanya itu dari Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran dari padanya, kecuali orang-orang yang bernalar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ayat-ayat muhkamãt” yaitu ayat-ayat yang jelas, tegas maksudnya dan mudah dipahami.
“ayat-ayat mutasyabihãt” adalah ayat-ayat yang mengandung pengertian yang tersembunyi, atau ada beberapa pikiran ganda, simbol dengan makna yang tidak dapat, atau tidak mudah ditebak. Ayat-ayat ini harus diselidiki secara mendalam; hakekat dan maknanya hanya diketahui Allah, seperti yang berhubungan dengan hal yang gaib atau setengah gaib, misalnya tentang ilmu, alam semesta, kiamat, surga, neraka, iblis, setan, jin, dan lain-lain. Alam semesta dan seluruh ilmunya itu, contoh dari hal yang setengah gaib (85%) karena banyak hal yang belum diketahui secara keseluruhan atau sebagiannya oleh manusia. Orang-orang yang berakal dan berpikiran sajalah yang selalu berupaya untuk mendapatkan manfaat dan pelajaran dari hal yang gaib dan setengan gaib itu. Jangan sampai menimbulkan fitnah.

robbanã = yã Rob kami; lã tuzigh = jangan Engkau condongkan kepada kesesatan; qulũbanã = hati kami; ba’da = setelah; idz hadaitanã = Engkau memberi petunjuk kepada kami; wa hab = dan berilah; lanã = untuk kami; milladunka = dari Engkau; rohmatan = rahmat; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; al wahhãb = Maha Pemberi karunia.

robbanã lã tuzigh qulũbanã ba’da idz hadaitanã, wa hablanã milladunka rohmatan, innaka antal wahhãb.

8. (Mereka berdoa): “Ya Rob kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa yang diajarkan Allah kepada orang yang beriman, agar segala apa yang dirasakan, yang dipikirkan, yang dilakukan mendapat karunia dan rahmat dari Allah. Oleh karena itu, setiap perbuatan kita harus diawali dengan niat dan mengucapkan basmalah dan ta’udz.

robbanã = yã Tuhan kami; innãka = sesungguhnya Engkau; jãmi’un nãsi = mengumpulkan manusia; li yaumin = pada hari; lã royba fĩh = tidak ada keraguan padanya; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yukhliful mĩ’ãd = tidak menyalahi janji.

robbanã innãka jãmi’un nãsi li yaumil lã royba fĩh, innallãha lã yukhliful mĩ’ãd

9. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk menerima pembalasan pada hari yang tidak ada keraguan padanya.“ Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa peringatan dari Allah tentang Hari Penghisaban yang tidak diragukan kebenaran janji Allah itu. Banyak ayat yang mengungkapkan tentang Hari Kiamat ini. Budaya ingat Hari Penghisaban.

innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang; kafarũ = kafir; lantughniya = tidak dapat menolak; ‘anhum = dari mereka; amwãluhum = harta benda mereka; wa lã aulãduhum = dan tidak anak-anak mereka; minallãhi = dari (siksa) Allah; syaian = sedikit pun; wa ũlãika = dan mereka itu; hum = mereka; waqũdu = bahan bakar; an nãri = api

innalladzĩna kafarũ lantughniya ‘anhum amwãluhum wa lã aulãduhum minallãhi syaian wa ũlãika hum waqũdunnãri.

10. Sesungguhnya orang-orang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak siksa Allah kepada mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran untuk orang yang beriman dan peringatan untuk orang kafir, harta-benda yang diusahakan mereka, dan anak-anaknya tidak dapat menjadi bekal kehidupan di akhirat, jika segala usahanya itu tidak mengatasnamakan, dan tidak untuk Allah yang penuh kasih-sayang. Mereka akan disiksa dalam api neraka karena tidak mengimani perintah Allah melalui Nabi Muhammad saw.. Jadi, manusia yang beriman harus menjalani hidup ini harus berhati-hati sekali.

kada’bi = seperti keadaan; ãli fir’auna = keluarga Fir’aun; walladzĩna = dan orang-orang yang; min qoblihim = dari sebelum mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi-ayãtinã = dengan ayat- ayat-Ku; fa-akhodza hum = maka menyiksa mereka; mullãhu = Allah; bidzunũbihim = disebabkan dosa-dosa mereka; wallahu = dan Allah; syadĩdul ‘iqōbi = sangat keras siksa-Nya.

kada’bi ãli fir’auna walladzĩna min qoblihim kadzdzabũ bi-ayãtinã fa akhodza humullãhu bidzunũbihim wallahu syadĩdul ‘iqōbi

11. Keadaan mereka,seperti keadaan Fir’aun dan orang-orang sebelumnya; Mereka mendustakan ayat-ayat-Ku, karena itu Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang penganut Zabur, Taurat, Injil, Tao Thee Cing, Weda, Tripitaka, Sang Hyang Kamahayanikam disamakan dengan keluarga Fir’aun, mereka dianggap mendustakan ayat-ayat Allah, karena ada ayat Allah yang disembunyikan, ditutup-tutupi, diubah-ubah. Atau mereka merasa gengsi mengakui “agama baru” yang diturunkan melalui anak yatim-piatu, miskin Muhammad saw..

qul = katakanlah; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; kafarũ = kafir; satughlabũna = kamu pasti dikalahkan; wa tuhsyarũna = dan kamu akan digiring; ilã = hanya; jahannama = ke dalam jahanam; wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al mihãdu = tempat.

qul lilladzĩna kafarũ satughlabũna wa tuhsyarũna ilã jahannama wa bi’sal mihãdu

12. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir; “Kamu pasti akan dikalahkan di dunia ini, dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Itulah tempat yang seburuk-buruknya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat ini dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. dengan para pengikutnya. Orang kafir itu, baik dalam keadaan perang maupun damai, harus selalu dianggap musuh (menurut sebagian ahli tafsir. Nabi Muhammad saw. sendiri hidup berdampingan dengan orang Kristen, Yahudi, dan lain-lain yang tidak memusuhi Islam). Mereka (orang kafir yang memusuhi, maupun yang tidak memusuhi Islam), dipastikan akan kalah, di dunia maupun di akhirat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka karena ketidakpercayaannya kepada Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah.

qod kãna = sungguh telah ada; lakum = bagi kamu; ãyatun = tanda-tanda; fĩ fiataini = pada dua golongan; al taqotã = berperang; fiatun = segolongan; tuqōtilu = berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wa ukhrã = dan yang lain; kãfiratun = kafir; uyyaraunahum = mereka melihat (orang-orang muslim); mitslaihim = dua kali sebanyak mereka; ra’yal ‘aini = pandangan mata sendiri; wallãhu = dan Allah; yuayyidu = Dia (Allah) menguatkan; binashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; man = orang (siapa); yãsyã-u = Dia (Allah) kehendaki; inna fĩ = sesungguhnya pada yang; dzãlika = demikian itu; la’ibratan = (terdapat) pelajaran; li-ũlil abshōr = bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.

qod kãna lakum ãyatun fĩ fiatainil taqotã fiatun tuqōtilu fĩ sabĩlillãhi wa ukhrã kãfiratun-yaraunahum mistlaihim ra’yal ‘aini, wallãhu yuayyidu binashrihĩ man-yãsyã-u, inna fĩ dzãlika la’ibratan li-ũlil abshōr.

13. Sesungguhnya, sudah ada tanda bagi kamu, pada dua golongan yang telah bertempur di perang Badar. Segolongan bertempur di jalan Allah, segolongan yang lain kafir, yang dengan mata kepala mereka melihat, seakan-akan orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya, kejadian itu menjadi pelajaran, bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanda kemenangan, seperti yang diungkapkan pada ayat 12 di atas sudah ada pada peristiwa Perang Badar. Harus menjadi keyakinan orang-orang yang mengikuti Jalan Allah.
Kisah Perang Badar dan Perang Uhud ini pada hakekatnya, terjadi selama dunia ini terkembang, dan selalu ada orang yang beriman, dan orang yang kafir. Peperangan dewasa ini, dan untuk selanjutnya, dalam rangka persaingan antara yang berbuat benar, dan yang berbuat salah, berbuat yang jelek, jahat dan berbuat yang baik, dan lain-lain persaingan akhlak agama.

zuyyina = dijadikan pandangan indah; linnãsi = pada manusia; hubbu = kecintaan; asy syahawãti = yang diingini; syahwat; minan nisã-i = pada perempuan-perempuan; wal banĩna = dan anak-anak; wal qonãthĩri = dan harta; al muqantharati = yang banyak; minadz dzahabi = dari emas; wal fidhdhati = dan perak; wal khaili = dan kuda; al musawwamati = yang bagus-bagus; wal an’a’ami = dan binatang ternak; wal hartsi = dan sawah-ladang; dzalika = demikian itu; matã’u = kesenangan; al hayawãti = hidup; ad dun-ya = dunia; wallãhu = dan Allah; indahũ = pada-Nya; husnu = yang baik; al ma-ãbi = tempat kembali.

zuyyina linnãsi hubbusy syahawãti minan nisã-i wal banĩna wal qonãthĩril muqantharati minadz dzahabi wal fidhdhati wal khailil musawwamati, wal an’a’ami wal hartsi, dzalika matã’ul hayawãtid dun-ya, wallãhu indahũ husnul ma-ãbi.

14. Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan, anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah-ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan kepada Allahlah tempat kembalinya yang terbaik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan rasa ingin, cinta, senang, indah, enak; Allah memberikan rasa ingin memiliki atau menguasai sesuatu; kesenangan hidup di dunia itu merupakan limpahan rezeki kasih-sayang Allah kepada makhluk-Nya. Jangan lupa menyampaikan rasa syukur kepada Allah yang memberikan segala rezeki kesenangan, kenikmatan itu, semuanya akan menjadi sebuah ibadah kepada Allah. Ungkapan rasa syukur, salah satunya adalah dengan menginfakkan sebagian rezekinya kepada yang membutuhkan. Kembalikan kasih-sayang Allah itu menjadi sarana beribadah secara berlapis-lapis kepada Allah melalui infak, sedekah, zakat, fitrah, dan lain-lain.
Manusia jangan terbelenggu oleh cinta harta dunia, karena hidup di dunia ini hanya sementara, sebentar. Yang kekal, lama itu kehidupan akhirat, insya Allah berdekatan dengan-Nya, kalau kita mengikuti peraturan atau Hukumullah, Sunatullah, dan Sunaturrasul selama kita diberi hidup. Hidup ini juga menjadi ibadah, kalau kita niati untuk membina kehidupan bersama manusia lain, makhluk lain. Jangan berniat merugikan manusia lain, makhluk lain. Hidup bersama, saling menguntungkan, saling memberi, saling menerima.

qul = katakan; a-unabbi-ukum = mau aku beri berita; bi khaerin = dengan yang baik; min dzalikum = dari yang demikian; lilladzĩna = untuk orang-orang; at taqau = mereka bertakwa; ‘inda robbihim = pada Rob mereka; jannãtun = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa ajwãjun = dan pasangan-pasangan; muthohharotun = yang disucikan; wa ridhcãnun = dan diberi rido; minallãhi = dari Allah; wallãhu = dan Allah; bashirun = Maha Melihat; bil ‘ibãdi = pada para pengabdi-Nya

qul a-unabbi-ukum bi khaerim min dzalikum lilladzĩnat taqau ‘inda robbihim jannãtun tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wa ajwãjum muthohharotun wa ridhcãnum minallãhi, wallãhu bashirum bil ‘ibãdi.

15. Katakanlah: “Inginkah aku kabari kamu, apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang takwa kepada Allah, ada surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan ada pula istri-istri yang disucikan karena keridoan Allah. Allah Maha Melihat kepada hamba-hamba-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang demikian itu (harta dunia dan lain-lain kesenangan, kenikmatan) harus dijadikan sarana takwa kepada Allah agar kelak diberi imbalan yang lebih baik. Di dunia sudah baik, dapat dihayati dengan menyenangkan, sudah dirasakan nikmatnya. Apa yang harus dilakukan di dunia, agar menjadi bekal ke akhirat dengan lebih menyenangkan, dan lebih banyak nikmatnya!! Lakukan apa yang diperintah Allah. Jangan dilakukan, kalau dilarang. Itulah takwa. Janji Allah, di sana ada surga. Didapat dengan ibadah yang baik-baik. Jangan yang jelek-jelek.

aladzĩna = = yaitu orang-orang; yaqũlũna = (mereka) berdoa; robbanã = yã Rob kami; innanã = sesungguhnya kami; ãmannã = kami telah beriman; fagh firlanã = maka ampunilah kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; wa qinã = dan peliharalah kami; ‘adzab = siksa; an nãr = api neraka.

Aladzĩna yaqũlũna robbanã innanã ãmannã fagh firlanã dzunũbanã wa qinã ‘adzaban nãr.

16. Yaitu orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah perintah dari Allah untuk mengucapkan doa secara berulang-ulang kepada orang yang takwa. Pengakuan beriman kepada Allah dan Nabi-nabinya, pengakuan dosa, memohon ampunan atas segala dosa. Imbalannya surga.

ashshōbirĩna = orang-orang yang sabar; washshōdiqĩna = orang-orang yang benar; wal qōnitĩna = dan orang-orang yang tetap taat; wal munfiqĩna = dan orang-orang yang menafkahkan hartanya; wal mustaghfirĩna = dan orang-orang yang memohon ampun; bil ashãr = pada waktu sahur.

ashshōbirĩna washshōdiqĩna wal qinitĩna wal munfiqĩna wal mustaghfirĩna bil ashãr.

17. Orang-orang yang sabar dan yang benar tetap taat menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan yang memohon ampun di waktu fajar menyingsing.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang sabar saat diberi hidup miskin atau pun kaya (semuanya ujian dari Allah); tetap taat menafkahkan hartanya di jalan Allah dengan benar; orang-orang yang selalu memohon ampun, terutama di waktu fajar menyingsing, dan setiap saat, setelah selesai salat fardu dan sunat, itulah jalan ke surga.
Orang-orang yang sabar dengan benar artinya orang yang takwa kepada Allah dengan usaha. Orang yang sabar, tidak benar dapat menyiksa diri, merugikan diri sendiri, bahkan merugikan orang lain.
Menafkahkan hartanya di jalan Allah, lihat Alqur’an, S: 2, Al Baqarah : 3, 215, 245, 261, 262, 265.

syahidallahu = Allah bersaksi; annãhu = bahwa; laylaha = tidak ada ilah; illã = kecuali; huwa = Dia; wal malaikãikatu = dan Para Malaykat; wa ũlul ‘ilmi = orang-orang yang berilmu; qō-imam = menegakkan; bilqisthi = dengan keadilan; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = kecuali; huwa = Dia; al ‘azĩzu = Mahaperkasa; al hakĩm = Mahabijaksana

syahidallahu annãhu, laylaha illã huwa, wal malaikãikatu wa ũlul ‘ilmi qō-imam bilqisthi lã ilãha illã huwal ‘azĩzul hakĩm.

18. Allah bersaksi, Para Malaykat, dan orang-orang berilmu yang menegakkan kebenaran menyatakan demikian, bahwa tidak ada ilah lain kecuali Dia; Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Sendiri bersaksi, seperti yang dikatakan Para Malaykat dan orang-orang berilmu, bahwa Allah itu tidak ada ilah lain selain Dia Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Orang berilmu adalah orang yang beramal, beribadah, mengatakan atau menuliskan tentang kebenaran dengan bersistem dan melalui syariah tertentu.
Orang-orang yang menegakkan kebenaran artinya menggali berbagai kebenaran, ilmu Allah yang banyak mengungkapkannya melalui pembicaraan, dan tulisan. Berbagai kebenaran itu bukti-bukti keilmuan yang beraneka macam, seperti ilmu agama, ilmu filsafat, ilmu jiwa, berbagai ilmu sosial, fisika, ilmu pertambangan, kimia, biologi, geologi, geografi, ilmu matematika, ilmu seni, ilmu sastra, ilmu sejarah dengan berbagai cabangnya, dan penggabungan antara ilmu yang satu dengan yang lainnya. Ribuan yang sudah dikenal dan diselidiki, sekitar 15%; lebih banyak lagi yang belum diketahui dan belum diselidiki, 85%.

innaladdĩna = sesungguhnya agama; ‘indallãhi = bagi Allah; al islãm = Islam; wa makhtalafa = dan tidak berselisih; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Alkitab; illa = kecuali; mim ba’di = dari sesudah; mã jã-ahumu = datang kepada mereka; al ilmu = ilmu; baghyam = karena kedengkian; bainahum = di antara mereka; wa man = dan barang siapa; yakfur = kafir; bi ãyãtilllãhi = pada ayat-ayat Allah; fainallãha = maka sesungguhnya Allah; sarĩ’u = sangat cepat; al hisãbi = perhitungan-Nya.

innaladdĩna ‘indallãhil islãm, wa makhtalafal ladzĩna ũtũl kitãba illa mim ba’di mã jã-ahumul ilmu baghyam bainahum, wa man yakfur bi ãyãtilllãhi fainallãha sarĩ’ul hisãbi.

19. Sesungguhnya, agama yang diridoi Allah hanyalah Islam. Tidak ada perselisihan dari orang-orang yang yang telah diberi Alkitab, kecuali sesudah datang pengetahuan (yang salah) karena kedengkian mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hanya agama Islam yang diridoi Allah. Agama dari Para Nabi yang terdahulu tetap diakui untuk masa lalu. Sekarang hanya agama Islam yang berperan memperbaiki hal-hal yang belum sempurna, ada yang berubah dari apa yang telah diturunkan dahulu karena perbaikan tersebut atau karena yang dahulu itu sudah diubah-ubah oleh para penulisnya, atau ada yang dirahasiakan, disembunyikan. Para Ahli Kitab juga tidak berselisih pendapat, kecuali orang-orang kafir yang dengki, cemburu, berprasangka jelek, bernafsu pribadi (egois).

fãin = maka jika; hãjjũka = mereka mendebat kamu; faqul = maka katakanlah; aslamtu = aku menyerahkan; wajhiya = diriku; lillahi = kepada Allah; wa man = dan orang yang; at taba’an = mengikuti aku; wa qul = katakanlah; lillãdzĩna = kepada orang-orang yang; ũtu = mereka diberi; al kitãba = Alkitab; wal ummiyyĩna = dan orang-orang yang ummi (tidak pandai menulis); a-aslamtum = apakah engkau masuk Islam; fain = maka jika; aslamũ = mereka masuk Islam; fakadi = maka sungguh; ihtadau = mereka mendapat petunjuk; wa in = dan jika; tawalaw = mereka berpaling; fa innamã = maka sesunggunya hanya; ‘alaykal = kewajiban atasmu; balãghu = menyampaikan; wallãhu = dan Allah; bashĩrun = Maha Melihat; bil ibãdi = kepada hamba-hambanya.

fãin hãjjũka faqul aslamtu wajhiya lillahi wa manit taba’an, wa qul lillãdzĩna ũtul kitãba wal ummiyyĩna a-aslamtum fain aslamũ fakadihtadau, wa in tawalaw fa innamã ‘alaykal balaghũ, wallãhu bashĩrun bil ibãdi.

20. Jika mereka mendebat kamu tentang kebenaran Islam, maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah, dan demikian pula orang-orang yang mengikutiku.” Dan, katakanlah kepada orang-orang yang diberi Alkitab dan kepada orang-orang yang tidak dapat baca-tulis: “Apakah kamu mau masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ayat-ayat Allah. Dan Allah Maha Melihat kepada hamba-hamba-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia itu diberi kebebasan menentukan pilihannya, percaya, atau tidak percaya pada kebenaran wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad saw.melalui Malaykat Jibril. Kalau percaya, berarti mereka mendapat petunjuk yang benar. Kalau tidak percaya, berarti mereka rugi tidak mendapat petunjuk menuju jalan lurus ke arah Allah. Kalau tidak percaya, mereka menjadi sesat, bertambah sesat karena kesombongannya, kedengkiannya, kecemburuannya, prasangka jeleknya, atau karena egoisnya.

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yakfurũna = (mereka) kafir; bi = kepada; ãyãtillãhi = ayat-ayat Allah; wa yaqtulũna = dan mereka membunuh; an nabiyyĩna = para nabi; bighairi = tidak dengan; haq = benar; wa yaktulũna = dan mereka membunuh; al ladzĩna = orang-orang yang; ya’murũna = mereka menyuruh; bil qisthi = dengan adil; minan nãsi = dari manusia; fabasysyir hum = maka beritahulah mereka; bi’adzabin alĩm = tentang siksa yang sangat pedih.

innalladzĩna yakfurũna bi ãyãtillãhi wa yaqtulũnan nabiyyĩna bighairi haq wa yaktulũnal ladzĩna ya’murũna bil qisthi minan nãsi fabasysyir hum bi’adzabin alĩm.

21. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah, dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka, bahwa orang-orang kafir itu akan menerima siksa yang sangat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang kafir yang “membunuh para Nabi” karena mereka tidak percaya pada kebenaran yang dibawa para Nabi itu, mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih di akhirat. . Lihat: Q.s. Al Baqarah, 2: 61.
Peringatan untuk orang kafir yang akan diazab, dinyatakan dengan gaya paradok “gembirakanlah mereka dengan siksa pedih yang akan mereka terima”.
“menyuruh manusia berbuat adil”, seperti menginfakkan sebagai rezekinya di jalan Allah, saat melaksanakan syarat-syarat pernikahan atau perceraian, memperlakukan orang lain, makhluk lain,

ulãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; khabithat = lenyap; hilang; a’mãluhum = amal-amal mereka; fĩd dun-ya = di dunia; al akhiroti = dan di akhirat; wa mã lahum = dan mereka tidak (memperoleh); min nashirĩn = dari penolong.

ulãikal ladzĩna khabithat a’mãluhum fĩd dun-ya wal akhiroti wa mã lahum min nashirĩn.

22. Mereka itu orang-orang yang kehilangan amal kebaikannya di dunia dan di akhirat, dan mereka sama sekali tidak mendapat penolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, orang kafir yang membunuh para Nabi yang menganjurkan manusia berbuat adil; mereka kehilangan amal kebaikan di dunia dan di akhirat. Mereka tidak mendapatkan penolong.

alam = tidakkah; taro = kamu memperhatikan; ilã = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; an nashiban = bagian; mina = dari; al kitãbi = Alkitab; yud’auna = mereka diseru; ilã = kepada; kitabillãhĩ = Kitab Allah; liyakhkuma = supaya ia menetapkan hukum; bainahum di antara mereka; tsumma = kemudian; yatawalla = berpaling; farĩqum = sebagian; minhum = di antara mereka; wa hum = dan mereka; mu’ridhũn = (mereka) membelakangi.

alam taro ilãl ladzĩna ũtũn nashibam minal kitãbi yud’auna ilã al kitabillãhi liyakhkuma bainahum tsumma yatawallu farĩqum minhum wa hum mu’ridhũn.

23. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian kecil Alkitab yang menyeru mereka mengikuti Kitab Allah yang menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian mereka berpaling dan selalu menolak kebenaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Yahudi, Nasrani, dan orang Shobĩn hanya membaca bagian-bagian kecil Alkitabnya. Akibatnya, ada informasi yang tidak didapat tentang kebenaran dari Allah. Mereka menolak kebenaran yang telah dijanjikan Allah, yang sesungguhnya mereka nanti-nantikan, mereka harapkan kedatangan Nabinya.

dzalika = demikian itu; bi-annahum = karena sesungguhnya mereka; qōlũ = (mereka) mengatakan; lantamassana = kami tidak akan disentuh; an nãru = api neraka; illã = kecuali; ayyammam = beberapa hari; ma’dũdatin = yang dapat dihitung; wa ghorrohum = dan mereka diperdayakan; fĩ dĩnihim = pada agama mereka; mã kãnũ = apa (yang mereka) adalah; yaftarũn = (mereka) ada-adakan.

dzalika bi-annahum qōlũ lantamassanan nãru illã ayyammam ma’dũdat, wa ghorrohum fĩ dĩnihim mã kãnũ yaftarũn.

24. Karena itu mereka berpendapat: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali hanya beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan keyakin-an mereka, karena apa yang selalu mereka ada-adakan (dalam Alkitabnya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 80. Seharusnya mereka membaca secara keseluruhan dan teliti Alkitabnya, kemudian percayalah bahwa Alqur’an itu juga firman Allah, agar tidak terperdaya oleh Alkitabnya yang dibaca sebagian-sebagian, sehingga kurang lengkap, dan ada yang diubah-ubah oleh para imamnya.

wa kayfa = maka bagaimana; idzã = apabila; jama’nãhum = kami kumpulkan mereka; li yaumi = pada hari; lã royba = tidak diragukan; fĩhi = padanya; wa wuffiyãt = dan disempurnakan (balasan); kullu = tiap-tiap; nafsim = diri; mã = apa; kasabat = yang ia usahakan; wahum = dan mereka; lã yazhlamũn = (mereka) tidak dianiaya.

wakayfa idzã jama’nãhum li yaumil lã royba fĩhi wa wuffiyãt kullu nafsim mã kasabat wahum lã yazhlamũn

25. Bagaimana nanti, kalau mereka Kami kumpulkan di Hari Kiamat yang tidak diragukan lagi terjadinya? Dan disempurnakanlah balasan kepada setiap diri dari apa yang telah diusahakannya, sedang mereka tidak dianiaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan bagi orang yang tidak percaya pada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw.. Masing-masing diri akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diusahakannya atas kepercayaannya kepada Allah dan para Utusannya.

quli = katakanlah; allahumma = yã Allah; mãlika = Yang Merajai; al mulki = kerajãn; tu’ti = Engkau beri; al mulka = kerajãn; man = orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; wa tanzi’u = dan engkau cabut; al mulka = kerajãn; mimman = dari orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; wa tu’izzu = Dan engkau muliakan; man = orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; wa tudzillu = dan Engkau hinakan; man = orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; biyadika = di tangan Engkau; al khaĩr = (segala) kebaikan; innaka = sesungguhnya Engkau; alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodiir = Mahakuasa.

qulillahumma mãlikal mulki tu’til mulka man tasyã-u wa tanzi’ul mulka mimman tasyã-u wa tu’izzu man tasyã-u wa tudzillu man tasyã-u biyadikal khaĩr, innaka alã kulli syai-in qodiir.

26. Katakanlah: “ Yã Allah Yang mempunyai kerajãn, Engkau berikanlah kerajãn kepada orang yang Engkau kehendaki, dan cabutlah kerajãn dari orang yang Engkau kehendaki. Muliakanlah orang yang Engkau kehendaki, dan hinakanlah orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau segala kebajikan. Sesungguhnya, engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memiliki, menguasai seluruh kerajãn di muka bumi ini. Yang memimpin kerajãn itu, Allah yang menentukan. Allah Mahakuasa memuliakan dan menghinakan seseorang. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan kemuliãn atau kehinaannya di muka bumi ini. Allah sangat menghargai orang yang bijak dan melakukan kebajikan. Orang bijak adalah orang mengakui Kemahakuasaan Allah yang mengutus para Nabi dan Rasul di muka bumi, sesuai dengan kehendak-Nya. Orang yang mengakui kemahakuasaan Allah akan melakukan segala apa yang diperintahkan Allah, dan menjauhi pekerjãn yang dilarang-Nya. Itulah kebajikan. Kebajikan itu dapat dilakukan untuk kepentingan diri sendiri, untuk kepentingan orang lain, makhluk lain, untuk kepentingan lingkungan hidup tempat kita tinggal.

tũliju = Engkau masukkan; al layla = malam; fin nahãri = ke siang; wa tũliju = Engkau masukkan; an nahãra = siang; fi layli = ke malam; wa tukhriju = dan Engkau keluarkan; al hayya = yang hidup; minal mayyĩti = dari yang mati; wa tukhriju = dan Engkau keluarkan; al mayyita = yang mati; minal hayyi = dari yang hidup; wa tarzuqu = dan Engkau beri rezeki; mantasyã-u = orang yang Engkau kehendaki; bi ghairi = tanpa; hisãb = perhitungan.

tũlijul layla fin nahãri wa tũlijun nahãra fi layli wa tukhrijul hayya minal mayyĩti wa tukhrijul mayyita minal hayyi wa tarzuqu mantasyã-u bi ghairi hisãb

27. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki, orang yang engkau kehendaki tanpa hisab.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Malam dan siang silih berganti; hidup-mati-hidup lagi dengan rezekinya masing-masing yang tak terhisab, Allah Yang mengaturnya
Menurut para ahli, hidup itu ada beberapa tahap: 1. hidup di alam ruh (gaib); 2. hidup di alam rahim; 3. hidup di alam dunia; 4. hidup di alam kubur; 5. hidup di alam barzah; 6. hidup di padang masyhar (saat Hari Kiamat); 7. hidup di surga atau di neraka (di alam akhirat).

lã yattakhidzi = jangan mengambil; al mu’minũna = orang mu’min; al kafirĩna = orang-orang kafir; auliyã-a = pemimpin; min dũni = dari sekain; al mu’minĩna = orang-orang mu’min; wa man = dan barang siapa; yaf’al = ia berbuat; dzãlika = demikian; falaysa = maka bukan; minallãhi = dari Allah; fĩ sya-in = dalam suatu; illã = kecuali; an tattaqũ = kamu memelihara diri; minhum = dari mereka; tuqōtan = sesuatu yang ditãkuti; wa yukhadzdzirũkumu = dan memperingatkan kamu; allãhu = Allah; nafsahũ = dirimu; wa ilallahi = dan kepada Allah; al mashĩru = tempat kembali.

lã yattakhidzil mu’mukminũnal kafirĩna auliyã-a min dũnil mu’minĩna wa man yaf’alu dzãlika falaisã minallãhi fĩ sya-in illã an tattaqũ minhum tuqōtan wa yukhadzdzirũ kumullãhu nafsahũ wa ilallahil mashĩru.

28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat nemelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Allah memperingatkan siksa-Nya terhadap dirimu, karena hanya kepada Allah kamu kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang mukmin harus memperhatikan pemimpinnya. Kalau pemimpinnya orang kafir dikhawatirkan kita akan terbawa arus, dan mengikuti mereka. Jadi, sebaiknya jangan berada di bawah kekuasaan orang kafir. Allah menegaskan, kalau orang mukmin mau bekerja sama dengan orang kafir, niscaya pertolongan Allah kepada kaum mukminin akan lepas. Dalam keadaan terpaksa, seorang mukmin dapat berada di bawah orang kafir demi untuk siasat memelihara keselamatan diri, dan kalau ada sesuatu yang dibutuhkan, atau ada yang ditakuti.

qul = katakanlah; intukhfũ = jika kamu menyembunyikan; mã fĩ = apa yang di dalam; shudũrikum = hatimu; au tubdũhu = atau kamu katakan; ya’lamhu = pasti mengetahunya; allãhu = Allah; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mã fi = apa yang di …; as samãwãti = langit; wa mã fi = dan apa yang di …; al ardhĩ = bumi; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodiir = Mahakuasa.

qul intukhfũ mã fĩ shudũrikum au tubdũhu ya’lamhullãhu, wa ya’lamu mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wallãhu ‘alã kulli syai-in qodiir

29. Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu, atau kamu ucapkan; pasti Allah mengetahuinya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Al Baqarah, 2: 116; 284 dan Surat Ali ‘Imran, 3: 129; An Nisa : 131; 132; 170. Lihat juga ayat 116; Surat Ali ‘Imran: 3: 129; An Nisa, 4: 131; 132; 170; Al Mã’idah
Allah Maha Mengetahui seluruh makhluk-Nya yang berada di langit maupun yang di bumi.

yawma = pada hari; tajidu = mendapati; kullu nafsin = tiap-tiap (masing-masing) orang; mã ‘amilat = apa yang ia perbuat; min khairin = dari kebaikan; muhdharaan= yang dihadapkan; wa mã ‘amilat = dan apa yang ia perbuat; min sũ-in = dari kejahatan; tawaddu = ia ingin; law anna = bahwa sekiranya; bainahã = antara ia; wa bainahũ = dan antara hari itu; amadan = ada masa; ba’ĩdan = yang jauh; wa yukhadzdziru kumullãhu = dan Allah telah memperingatkan kamu; nafsah = dirinya; wallãhu = dan Allah; ro-ũfun = Maha Penyayang; bil’ibãd = pada hamba-hamba-Nya.

yawma tajidu kullu nafsim mã ‘amilat min khairim muhdharã wa mã ‘amilat min sũ-in tawaddu law anna bainahã wa bainahũ, amadam ba’ĩdan, wa yukhadzdziru kumullãhu nafsah, wallãhu ro-ũfum bil’ibãd.

30. Pada hari ketika masing-masing orang diperlihatkan (memperoleh) segala kebajikan yang telah diperbuat, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin, masa itu diberi waktu antara yang sangat jauh. Dan Allah telah memperingatkan dirinya (tentang siksa Hari Kiamat itu). Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya (yang beribadah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, saat Hari Kiamat tiba, dan masing-masing orang diperlihatkan segala amal-amalannya yang baik atau pun yang jelek, maka barulah muncul rasa penyesalan kaum kafirin, munafikin, musyrikin, dan fasikin, dan murtadin. Mereka menginginkan, waktu yang telah ditetapkan Allah jangan datang sesegera itu. Pada hal Allah telah memperingatkannya, memberikan banyak kesempatan kepada semua hamba-hamba-Nya yang beribadah dan mengadakan perbaikan hidupnya.
Peringatan Allah tentang Hari Kiamat yang sesungguhnya sangat panjang, namun Setetelah tiba kenyataannya, rasanya hidup di dunia ini baru saja dilalui. Jadi, jangan berlengah-lengah untuk beribadah semaksimal mungkin dalam berbagai kebaikan. Jauhkanlah amal kejahatan, kejelekan, agar tidak timbul penyesalan pada Hari Penghisaban itu.

qul = katakanlah; inkuntum = jika kamu; tuhibunallãha = mencintai Allah; fattabi’ũnĩ = maka ikutilah aku; yuhbibkumullãhu = Allah mencintai kamu; wa yaghfir lakum = dan Dia mengampuni kamu; dzunũbakum = dosa-dosamu; wallahu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; arrohĩm = Maha Penyayang.

qul ingkuntum tuhibunallãha fattabi’ũnĩ yuhbibkumullãhu wa yaghfir lakum dzunũbakum wallahu ghofũrurrohĩm.

31. Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman, kalau seseorang mengaku mencintai Allah, seharusnya ia mengikuti sunah dan hadits Rasul-Nya. Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosanya.

qul = katakanlah; athĩ’ullãha = taatilah Allah; war rosũla = dan Rasul-Nya; fain = maka jika; tawallaw = kamu berpaling; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak mencintai; al kafirĩn = orang-orang kafir.

qul athĩ’ullãha war rosũla fain tawallaũ fa innallãha lã yuhibbul kafirĩn.

32. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang yang takwa dan yang beriman agar selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya (lihat juga Q.s. Ali ‘Imran, 3: 132; An Nisã’, 4: 59). Allah tidak menyukai orang kafir.

innallãha = sesungguhnya Allah; ashthofã = Dia telah memilih; ãdama = Adam; wa nũhan = dan Nuh; wa ãla ibrōhĩma = dan keluarga Ibrahim; wa ãla ‘imraana = dan keluarga ‘Imran; alal ‘ãlamĩn = di dunia ini.

innallãha ashthofã ãdama wa nũhan wa ãla ibrōhĩma wa ãla ‘imraana alal ‘ãlamĩn

33. Sesungguhnya, Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat di dunia (pada masanya masing-masing).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berita dari Allah sebagai peringatan untuk dipercaya oleh seluruh manusia.

dzarriyyatan = suatu keturunan; ba’dhuhã = sebahagiannya; mim ba’dhin = dari sebagian yang lain; wallãhu = dan Allah; samĩ’un alĩm = Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

dzarriyyatam ba’dhuhã mim ba’dhin, wallãhu samĩ’un alĩm

34. Satu keturunan yang sebahagiannya, keturunan dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu dan mengingatkan bahwa Nabi Adam, Nabi Nuh, keluarga Nabi Ibrahim, dan keluarga ‘Imran itu masih mempunyai hubungan kekerabatan (satu keturunan). Lihat ayat 33

idz kōlati = ketika berkata; ‘imroatu ‘imrōna = istri ‘Imran; robbi = yã Robb; innĩ = sesungguhnya aku; nadzartu = aku menazarkan; laka = kepada Engkau; mã = apa yang; fĩ = ada; bathnĩ = di dalam perutku; muharraran = menjadi hamba yang berkhidmat; fataqobbal = maka terimalah; minnĩ = dariku; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; as samĩul ‘alĩm = Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

idz kōlati ‘imroatu ‘imrōna robbi innĩ nadzartu laka mã fĩ bathnĩ muharraran fataqobbal minnĩ innaka antas samĩul ‘alĩm.

35. Ingatlah, ketika istri ‘Imran berkata: “Ya Robbku, sesungguhnya (hamba) mena-zarkan kepada-Mu, anak dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah nazar dariku. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang ceritera seorang ibu (istri Imron) yang mengharapkan anak yang ada di dalam kandungannya, agar menjadi hamba Allah yang saleh, dan mengabdikan diri kepada Allah di Baitul Maqdis. “nazar” artinya sama dengan kaul yaitu janji kepada diri sendiri ingin berbuat sesuatu jika maksud tercapai. Menazarkan artinya menjanjikan atau mengharapkan pada diri sendiri agar dapat melakukan sesuatu. Dalam ayat ini, Istri ‘Imran menazarkan anaknya kepada Allah, artinya istri ‘Imran mengharapkan agar anaknya menjadi anak yang saleh.

falammã = maka tatkala; wa dho’athã = ia melahirkannya; qōlat = ia berkata; robbi = yã Robb; innĩ = sesungguhnya aku; wa dho’tuhã = aku telah melahirkannya; untsã = seorang anak perempuan; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan apa; wa dho’at = ia melahirkan; wa laisa = dan tidaklah; adzdzakaru = anak laki-laki; kal untsã = seperti anak perempuan; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; sammaituhã = (aku) telah menamainya; maryama = Maryam; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; u’ĩdzuhã = (Aku) melindungkannya; bika = kepada Engkau; wa dzurriyyatahã = serta keturunannya; minasy syaitōnir rojĩm = dari setan yang terkutuk

falammã wa dho’athã qōlat robbi innĩ wa dho’tuhã untsã wallãhu a’lamu bimã wa dho’at wa laisa adzdzakaru kal untsã wa innĩ sammaituhã maryama wa innĩ u’ĩdzuhã bika wa dzurriyyatahã minasy syaitōnir rojĩm

36. Maka, ketika istri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Robbi, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia, Maryam, dan aku memohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya dalam pemeliharaanEngkau, dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siti Maryam lahir dari keturunan ‘Imran. Diharapkan oleh ibunya anak laki-laki, namun lahir perempuan. Doa ibunya, agar Siti Maryam dalam pemeliharaanAllah dan dilindungi dari godaan setan yang terkutuk sampai ke anak keturunannya.

fataqobbalahã = maka ia menerima; robbuhã = Robbnya; biqobũlin = dengan penerimaan; hasanin = yang baik; wa anbatahã = dan Dia menumbuhkannya; nabãtan = dengan pertumbuhan; hasanaan = yang baik; wa kaffalahã = dan memeliharanya; zakariyyã = Zakariya; kullamã = setiap kali; dakhola = masuk; ‘alaihã = padanya; zakariyya = Zakariya; al mihrãba = mihrab (mimbar); wa jada = dia dapati; ‘indahã = di dalamnya; rizqōn = makanan; qōla = dia berkata; yã maryamu = yã Maryam; annã = dari mana; laki = bagimu; hãdzã = makanan ini; qōlat = ia berkata; huwa = makanan itu; min ‘indillãhi = dari Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; yarzuqu = Dia memberi rezeki; man = orang; yasã-u = Dia kehendaki; bighairi = tanpa; hisãb = perhitungan.

fataqobbalahã robbuhã biqobũlin hasanin wa anbatahã nabãtan hasanaan wa kaffalahã zakariyyã, kullamã dakhola ‘alaihã zakariyyal mihrãba wa jada ‘indahã rizqōn, qōla yã maryamu annã laki hãdzã qōlat huwa min ‘indillãhi, innallãha yarzuqu man yasã-u bighairi hisãb

37. Maka Tuhannya menerimanya sebagai nazar dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di dalamnya, Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab: “Makanan ini dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Maryam dalam pemeliharaanZakariya, setelah diterima Allah nazar istri ‘Imran. Ada ceritera yang tidak masuk akal, setiap Zakariya masuk ke mihrabnya, ia menyaksikan tersedianya makanan, rezeki yang datang dari Allah secara gaib. Ujian bagi orang yang beriman untuk percaya pada kejadian ajaib itu. Dalam kejadian sehari-hari seseorang, rezeki dari Allah yang didapat secara gaib itu berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Masing-masing orang yang beriman, dapat merasakan keajaiban rezeki yang didapatnya setiap hari, secara tak terduga. Rezeki itu harus disyukuri, dan Allah akan menambahi rezeki yang lebih banyak, bukan hanya di dunia, tapi nanti di akhirat.

hunãlika = di sanalah; da’ã = berdoa; zakariyyã = Zakariya; robbahũ = Robbnya; qōla = dia berkata; robbi = Robbku; hablĩ = berilah aku; min ladunka = dari Engkau; dzurriyyatan = keturunan (seorang anak); thoyyibatan = yang baik; innãka = sesungguhnya Engkau; sami’u = Maha Mendengar; ad du’ã-i = doa.

hunãlika da’ã zakariyyã robbahũ, qōla robbi hablĩ milladunka dzurriyyatan thoyyibatan innãka sami’ud du’ã-i.

38. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Robbnya, seraya berkata: “Ya Robbku, berilah aku dari Engkau seorang turunan yang baik. Sesungguhnya, Engkau Maha Pendengar doa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran, kalau seseorang menginginkan sesuatu, harus berdoa. Allah Maha Pendengar doa.

fanãdat-hu = maka menyapanya; al malã-ikatu = Malaykat; wahuwa = dan dia; qō-imun = sedang beridir; yushollĩ = dia salat; fil mihrãbi = di mihrab; annallãha = sesungguhnya Allah; yubasysyiruka = menyanpaikan kabar gembira kepadamu; bi yahyã = dengan Yahya; mushoddiqom = membenarkan; bi kalimati = dengan kata-kata; minallãhi = dari Allah; wa sayyiddaan= dan menjadi ketua, pemimpin; wa hashũraw = dengan menahan diri; wan nabiyyaan= dan seorang Nabi; minash sholihĩn = dari orang-orang yang saleh.

Fanãdat-hul malã-ikatu wahuwa qō-imun yushollĩ fil mihrãbi annallãha yubasysyiruka bi yahyã mushoddiqom bi kalimatim minallãhi wa sayyiddaanwa wa hashũraw wan nabiyyãm minash sholihĩn

39. Maka Malaykat Jibril menyapa Zakariya, ketika ia sedang berdiri melakukan salat di mihrab, kata Malaykat: “Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepada kamu tentang kelahiran seorang putramu”, Yahya membenarkan kata-kata itu dari Allah, menjadi pemimpin yang ditaati, dapat menahan diri dari hawa nafsu, dan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa penyampaian berita kelahiran anak Zakariya yang akan menjadi pemimpin yang ditaati, yang dapat menjaga diri dari hawa nafsunya, dan akan menjadi seorang nabi.

qōla = (Zakaria) berkata; robbi = Robbku; annã = bagaimana; yakũnu = terjadi; lĩ = bagiku; ghulãmun = seorang anak; wa qod = dan sungguh sedang; balaghōniya = aku telah sampai; al kibaru = besar / tua; wa amroatĩ = dan istriku; ‘ãqirun = mandul; qōla = (Allah) berfirman; kadzãlika = demikianlah; allãhu = Allah; yaf-’alu = Dia berbuat; mã yasã’u = apa yang Dia kehendaki.

qōla robbi annã yakũnu lĩ ghulãmun wa qod balaghōniyal kibaru wa amroatĩ ‘ãqirun, qōla kadzãlikal lãhu yaf-’alu mã yasã’u.

40. Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku dapat memperoleh anak, sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Zakaria mempertanyakan, kemungkinan istrinya dapat hamil, saatkondisi dirinya yang sudah tua, dan istrinya diperkirakan mandul.

qōla = dia (Zakariyya) berkata; robbi = Robbku; ij’al lĩ = jadikanlah untukku; ãyatan = tanda-tanda; qōla = Allah berfirman; ãyatuka = tanda-tandamu; allãtukallima = kamu tidak berkata-kata; an nãsa = manusia; tsalãtsata = tiga; ayyãmin = hari; illã = kecuali; ramzã = isyarat; wadzkur = berdzikirlah (sebutlah); robbaka = nama Rōbbmu; katsĩran = sebanyak-banyaknya; wa sabbih = dan bertasbihlah; bil ‘asyiyyi = di waktu petang; wal ibkãr = dan pagi hari.

qōla robbij’al lĩ ãyatan, qōla ãyatuka allã tukalliman nãsa tsalãtsata ayyãmin illã ramzã, wadzkur robbaka katsĩran wasabbih bil ‘asyiyyi wal ibkãr.

41. Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda, (bahwa istriku itu mengandung).” Allah berfirman: “Tanda bagimu, kamu tidak berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbih di waktu petang dan pagi hari.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini merupakan petunjuk bagi manusia, agar setiap kejadian, ujian yang dihadapinya, hendaknya mereka banyak berdzikir, mengingat Allah sebanyak-banyaknya.

wa idz = dan ketika; qōlati = berkata; al malãikatu = Malaykat; yã maryamu = hai maryam; innallãh = sesungguhnya Allah; ashthofãki = Dia memilih kamu; wa thohharoki = dan Dia menyucikanmu; washthofãki = dan Dia memilihmu; ‘alã nisãi = atas wanita-wanita; al ‘ãlamĩna = semesta alam.

wa idzqōlatil malãikatu yã maryamu innallãhashthofãki wa thohharoki washthofãki ‘alã nisãil ‘ãlamĩna.

42. Ingatlah, ketika Malaykat Jibril berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala perempuan sedunia yang semasa dengannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Maryam terpilih sebagai manusia perempuan yang disucikan dan dilebihkan Allah dari segala perempuan di dunia pada masanya.

yã maryam = Hai Maryam; uqnutĩ = taatlah; li robbiki = kepada Robbmu; wasjudĩ = dan jusudlah; wa arka’ĩ = dan rukuklah; ma’ar rōki’ĩna = bersama orang-orang yang rukuk.

yã maryam uqnutĩ li robbiki wasjudĩ wa arka’ĩ ma’ar rōki’ĩna.

43. Hai Maryam, taatlah kepada Robbmu, sujud dan rukuklah bersama-sama dengan orang yang rukuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Maryam diminta oleh Malaykat Jibril agar taat kepada Robbnya, sujud, dan rukuk bersama-sama dengan orang lain yang sujud dan rukuk. Sujud dan rukuk itu sudah harus dilakukan oleh umat-umat terdahulu dalam beribadat salat kepada Allah.

dzãlika = demikian itu; min ambã-i = dari berita-berita; al ghoybi = gaib; nũhĩhi = Kami wahyukan; ilaik = kepadamu; wa mã kunta = dan kamu tidak berada; ladaihim = pada mereka; idz yulqũna = ketika mereka melemparkan; aqlãmahum = anak-anak panah mereka; ayyuhum = siapa di antara mereka; yakfulu = yang akan memelihara; maryama = Maryam; wa mã kunta = dan kamu tidaklah berada; ladaihim = bersama mereka; idz yakhtashimũn = ketika mereka bersengketa.

dzãlika min ambã-il ghoybi nũhĩhi ilaik, wa mã kunta ladaihim idz yulqũna aqlãmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mã kunta ladaihim idz yakhtashimũn.

44. Demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad saw.), padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka untuk mengundi, siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di antara mereka ketika mereka bersengketa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berita-berita gaib yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw.adalah tentang keluarga ‘Imran, keluarga Zakariya sebagai pemelihara Maryam, dan kemudian kelahiran Isa Ibnu Maryam yang di luar kebiasaan.
Malaykat menyampaikan berita gaib ini kepada makhluk manusia yang dikehendaki Allah. Kita boleh berharap menerima berita gaib dari Allah, dan kita harus mengimani, bahwa itu dari Allah. Hati-hati dengan bisikan setan, iblis, dan sebagian jin, dan manusia yang menggoda manusia lain agar menyimpang dari jalan Allah.

idz qōlati = ketika berkata; al malãikatu = Malaykat; yã maryamu = hai Maryam; innallãha = sesungguhnya Allah; yubasysyiruki = menyampaikan kabar gembira kepadamu; bi kalimatim = dengan kalimat; minhu = dari-Nya; us muhu = namanya; al masĩhu = Almasih; ‘ĩsabnu maryama = Isa Putra Maryam; wa jĩhan = dan terkemuka; fĩd dun-yã = di dunia; wal akhirati = dan di akhirat; wa mina = dan (salah seorang) dari; al muqarrobĩn = orang-orang yang didekatkan.

idz qōlatil malãikatu yã maryamu innallãha yubasysyiruki bi kalimatim minhus, muhul masĩhu ‘ĩsabnu maryama wa jĩhan fĩd dun-yã wal akhirati wa minal muqarrobĩn

45. Ingatlah ketika Malaykat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang dari-Nya, namanya al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk yang didekatkan kepada Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian atau kelahiran ‘Isa Almasih merupakan kejadian atau peristiwa yang luar biasa, terjadi karena kalimat Allah, bukan putra Allah. Allah bukan Allah Bapak makhluk-Nya.

wa yukallimu = dan dia berbicara; an nãsa = manusia; fil mahdi = dalam buaian; wa kahlan = dan (ketika) dewasa; wa mina = dan (salah seorang) dari; ash shōlihĩn = orang-orang yang saleh.

wa yukallimun nãsa fil mahdi wa kahlan wa minash shōlihĩn

46. dan dia berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian, dan sesudah itu dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Isa sudah pandai berbicara saatmasih dalam buaian. Kisah ini diungkapkan dengan gaya flashback (melihat balik ke belakang)

qōlat = dia (Maryam) berkata; robbi = Robbku; annã = bagaimana; yakũnu lĩ = jadilah bagiku; waladun = seorang anak; walam yamsasnĩ = dan aku belum pernah disentuh; basyarun = seorang manusia; qōla = (Allah) berfirman; kadzãliki = demikianlah; al lãhu = Allah; yakhluqu = Dia menciptakan; mã yasã-u = apa yang Dia kehendaki; idzã = apabila; qodhō = Dia menetapkan; amran = sesuatu; fa-innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yaqũlu = Dia berkata; lahu = kepadanya; kun = jadilah; fa yakũni = maka jadilah ia.

qōlat robbi annã yakũnu lĩ waladuw walam yamsasnĩ basyarun, qōla kadzãlikil lãhu yakhluqu mã yasã-u, idzã qodhō amran fa-innamã yaqũlu lahu, kun fa yakũn

47. Maryam berkata: “Ya Robbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal, aku belum pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun.” Allah berfirman: “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah cukup hanya berkata kepadanya: “Jadilah,” lalu jadilah dia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara Maryam dengan Allah yang berkuasa menciptakan makhluk-Nya dari tidak ada menjadi ada. Makhluk-Nya dapat mencipta juga, bedanya, makhluk-Nya mencipta dari sesuatu yang sudah ada, menjadi ada yang baru. Tentunya, atas perkenan Allah juga. Kalau Allah tidak berkenan, makhluk-Nya tidak dapat berbuat apa-apa. (lihat juga: Q.s. Al Baqarah, 2: 117; Ali ‘Imraan, 3: 59; Maryam, 19: 35; Yã Sĩn, 36: 82; Al Mu’min, 40: 68

wa yu’allimuhu = dan Dia mengajarkan kepadanyia; al kitãba = Alkitab; wal hikmata = dan Alhikmah; wat taurōta = dan Taurat; wal injĩla = dan Injil.

wa yu’allimuhul kitãba wal hikmata wat taurōta wal injĩla

48. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Alkitab, Alhikmah, Taurat, dan Injil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajarkan Alkitab, Alhikmah (Weda [Tripitaka], Tao The Ching), Zabur, Taurat, dan Injil kepada Nabi Muhammad saw., dan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

wa rosũlan = dan sebagai Rasul; ilã = hanya untuk; banĩ Isrō-ĩla = Bani Israil; annĩ = (sesungguhnya) aku; qod = sungguh; ji’tukum = aku telah datang kepadamu; bi ãyatim = dengan ayat (mu’jijat); mirrobbikum = dari Robbmu; annĩ = sesungguhnya aku; akhluqu = aku membuat; lakum = untukmu; minaththĩni = dari tanah; kahai-ati = seperti bentuk; ath thairi = burung; fa anfukhu = maka aku meniupkan; fĩhi = padanya; fayakũnu = maka ia menjadi; thoiron = seekor burung; bi idznil lãh = dengan izin Allah; wa ubri’u = dan aku menyembuhkan; al akmaha = orang buta; wa = dan; al abrasha = penyakit lepra; wa uhyi = dan aku menghidupkan; al mautã = orang mati; bi idzni = dengan izin; al ilãh = Allah; wa unabbiukum = dan aku kabarkan kepadamu; bimã = dengan apa yang; ta’kulũna = kamu makan; wa mã = dan apa yang; taddakhirũna = kamu simpan; fĩ buyũtikum = di rumahmu; inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = pada yang demikian; la ãyata = ada suatu tanda; allakum = bagimu; inkuntum = jika kamu; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

wa rosũlan ilã banĩ Isrō-ĩla, annĩ qod ji’tukum bi ãyatim mirrobbikum, annĩ akhluqu lakum minath thĩni kahai-atith thairi fa anfukhu fĩhi fayakũnu thoirom bi idznil lãh, wa ubri’ul akmaha wal abrasha wa uhyil mautã bi idznil lãh, wa unabbiukum bimã ta’kulũna wa mã taddakhirũna fĩ buyũtikum, inna fĩ dzãlika la ãyatal lakum inkuntum mu’minĩn

49. Dan sebagai Rasul hanya untuk Bani Israil, ‘Isa a.s. berkata kepada mereka: “Sesungguhnya, aku telah datang kepadamu dengan membawa tanda mukjizat dari Tuhanmu, yaitu, aku membuat seekor burung dari tanah untukmu, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, dan orang yang berpenyakit lepra; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu, apa yang kamu makan, dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu, adalah suatu tanda kebenaran kerasulanku bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menceriterakan perjuangan Nabi Isa untuk diakui sebagai Nabi bagi Kaum Bani Israil, dengan menunjukkan beberapa mukjizat (tanda-tanda) kenabian dan kerasulannya. Kemampuan ilmu gaib seperti itu mungkin dimiliki oleh seseorang saatsekarang ini, dan bukan tipuan, keterampilan tangan dan tubuh, pengalihan perhatian, atau sulap. Namun demikian, tidak ada orang sekarang ini yang mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Yang masih dapat dihidupkan, mungkin jika seseorang dalam keadaan yang disebut mati suri, mungkin masih dapat dihidupkan kembali. Jadi, janganlah menganggap atau mengaku dirinya nabi kalau diperkenankan Allah dapat memperpanjang usia orang lain, makhluk lain. Akuilah hanya sebagai pewaris sebagian ilmu Nabi, ilmu Allah.

wa mushoddiqon = dan membenarkan; limã = pada apa yang; baynayadayya = antara sebelumku; minat taurōti = dari Taurat; wali-uhilla = dan untuk menghalalkan; lakum = bagimu; ba’dhol ladzĩ = sebagian yang sebelumnya; hurrima = diharamkan; ‘alaykum = bagi kamu; wa ji’tukum = dan aku datang kepadamu; bi ãyatin = dengan ayat (mukjizat); mir rōbikum = dari Robkamu; fat taqũ = dan bertakwalah; allãha = Allah; wa athĩ’ũna = dan taatlah kepadaku.

wa mushoddiqol limã baynayadayya minat taurōti wali-uhilla lakum ba’dhol ladzĩ hurrima ‘alaykum, wa ji’tukum bi ãyatim mir rōbikum fat taqũllãha wa athĩ’ũna

50. Dan, aku (Muhammad saw.) datang kepadamu membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan aku menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu; dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda mukjizat dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “aku menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu” bagi rahib yang tidak boleh beristri, menurut Alqur’an boleh beristri.
Mukjizat Nabi Muhammad saw.yang terutama adalah Alqur’an, dan lain-lain kejadian ajaib yang dialami Nabi selama hidupnya.

innallãha = sesungguhnya Allah; robbĩ = Robbku; wa robbukum = dan Robkamu; fa-a’budũhu = maka mengabdilah kepada Dia; hãdzã = itulah; shirōtun = jalan; mustaqĩm = yang lurus.

innallãha robbĩ wa robbukum fa-a’budũhu, hãdzã shirōtum mustaqĩm

51. Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu mengabdilah kepada Dia, itulah jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan orang yang beriman Islam, mereka mengakui jalan yang lurus. Umat-umat lain seharusnya mengubah tata-cara ibadahnya seperti yang disunahkan Nabi Muhammad saw.. Bagi yang belum beriman betul kepada Allah Yang Mahaesa, hal ini amat sulit untuk dilaksanakan. Mereka masih mengikuti kebiasaan beribadah seperti zaman nabi-nabi yang terdahulu. Mereka harus banyak belajar memperbaiki diri. Mereka harus banyak mengadakan perubahan diri.

falammã = maka ketika; ahassa = menyadari; ‘Isã = Isa; min humu = dari mereka; al kufro = kafir; qōla = dia berkata; man anshōrĩ = siapa menjadi penolong-penolongku; ilãl lãh = untuk Allah; qōla = berkatalah; al hawãriyyũna = orang-orang hawari; nahnu = kami; anshōru = penolong-penolong; al lãhi = Allah; ãmannã = kami beriman; bil lãhi = kepada Allah; wasy had = dan saksikanlah; bi-annã = bahwa kami; muslimũn = orang-orang yang menyerahkan diri.

falammã ahassa ‘Isã min humul kufro qōla man anshōrĩ ilãl lãh, qōlal hawãriyyũna nahnu anshōrul lãhi ãmannã bil lãhi wasy had biannã muslimũn

52. Tatkala Isa mengetahui mereka, Bani Israil ingkar, berkatalah dia: “Siapakah yang menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?” Sahabat-sahabatnya yang setia menjawab: “Kamilah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah, sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Nabi Isa a.s. pun ada yang ingkar, dan ada yang mau mengakui dan menolong menegakkan agama Allah. Demikian juga umat nabi Muhammad saw.ada yang beriman, ada yang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan ada yang murtad.

robbana = yã Robkami; ãmannã = kami telah beriman; bimã = kepada apa; andzalta = yang Engkau turunkan; wat taba’nã = dan kami telah mengikuti; ar rosũla = Rasul; faktubnã = maka catatlah kami; ma’a = bersama; asy syãhidĩn = orang-orang yang menjadi saksi.

robbana ãmannã bimã andzalta wat taba’nãr rosũla faktubnã ma’asy syãhidĩn

53. “Ya Robkami, kami telah beriman kepada apa yang sudah Engkau turunkan, dan telah kami ikuti rasul; karena itu, masukkanlah kami ke golongan orang-orang yang menjadi saksi keesaan-Mu.”

Pernyataan orang kaum Nabi Isa a.s. yang beriman dan doa permohonannya untuk dimasukkan sebagai golongan orang yang bersaksi atas keesaan Allah.

makarũ = pembangkang, pemberontak; wa makarallãhu = dan membuat perlawanan kepada Allah; wallãhu = sesungguhnya Allah; khoyru = sebaik-baik; al mãkirĩn = pelawan

makarũ wa makarallãhu, wallãhu khoyrul mãkirĩn

54. Orang-orang pembangkang membuat perlawanan kepada Allah. Allah sebaik-baik pelawan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Surat 2: Al Baqarah: 9 Orang kafir hendak menipu Allah. Padahal, mereka menipu dirinya sendiri.

idzqōlallãhu = ketika Allah berfirman; yã ‘isã = wahai Isa; innĩ = sesungguhnya Aku; mutawaffĩka = akan mewafatkan kamu; wa rōfi’uka = dan mengangkat kamu; ilayya = kepada-Ku; wa muthohhiruka = serta menyucikan kamu; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; kafarũ = kafir; wa jã’ilu = dan menjadikan; al ladzĩna = orang-orang yang; at taba’ũka = (mereka) mengikuti kamu; fauqo = di atas; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; ilã = hingga; yaumi = hari; al qiyãmati = kiamat; tsumma = kemudian; ilayya = kepada-Ku; marji’ukum = tempat kembali kamumu; fa-ahkumu = lalu Aku memutuskan; bainakum = di antaramu; fĩmã = tentang apa-apa; kuntum = adalah kamu; fĩhi = di dalamnya; takhtalifũna = kamu perselisihkan

idzqōlallãhu yã ‘isã innĩ mutawaffĩka wa rōfi’uka ilayya wa muthohhiruka minal ladzĩna kafarũ wa jã’ilul ladzĩnat taba’ũka fauqol ladzĩna kafarũ ilã yaumil qiyãmati tsumma ilayya marji’ukum fa-ahkumu bainakum fĩmã kuntum fĩhi takhtalifũna

55. Ingatlah, ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya, Aku akan menyampaikan akhir ajalmu kepadamu, dan akan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian, hanya kepada-Kulah engkau kembali, lalu Aku memutuskan hal-hal yang selalu kamu perselisihkan di antaramu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berfirman kepada Nabi Isa a.s. tentang ajalnya.
“menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir” maksudnya, pengikut Isa itu akan menang melawan orang kafir.
Allah akan memetapkan menghentikan atau meneruskan perselisihan antara Umat Islam dengan Umat Kristen.

fa-amma = maka adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; fa-u adzdzibuhum = maka akan Aku siksa mereka; adzaban = siksa; syadĩdaan= sangat berat; fid dun-yã = di dunia; wal akhirati = dan akhirat; wa mã lahum = dan tidak bagi mereka; min nãsirĩn = dari penolong.

fa-ammal-ladzĩna kafarũ fa-u adzdzibuhum adzaban syadĩdaanfid dun-yã wal akhirati wa mã lahum min nãsirĩn

56. Orang-orang kafir akan Aku siksa dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.

Catatan : Orang kafir akan disiksa di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak ada yang mendapatkan pertolongan. Dewasa ini orang kafir tampaknya tidak mendapatkan siksaan yang berat. Tampaknya saja, padahal kenyataannya mereka menderita karena ilmu, harta kekayaan, kekuasaan yang dimiliki menghukum mereka karena segala sesuatunya tidak mengingat asalnya dari Allah. Jadi, mereka selalu gelisah, tidak merasa puas, selalu merasa kekurangan, selalu merasa dimusuhi. Mereka disiksa oleh nafsu-nafsunya sendiri.

wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wa amilũ = dan mereka beramal; ash shōlihãti = baik, saleh; fa = maka; yuwaffĩhim = Dia akan menyempurnakan; ujũrahum = pahala (ganjaran) mereka; wallãhu = dan Allah; lã = tidak; yuhibbu = menyukai; azh zhōlimĩn = orang-orang lalim

wa ammal ladzĩna ãmanũ wa amilũsh shōlihãti fayuwaffĩhim, ujũrahum, wallãhu lã yuhibbuzh zhōlimĩn.

57. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, Allah akan memberikan balasan pahala (ganjaran) amalan-amalan mereka dengan sempurna. Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan memberikan balasan pahala yang sempurna untuk orang yang beramal saleh pada zamannya. Setelah turun agama Allah, Islam, semuanya harus sesuai dengan ajaran Islam. Kalau tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak menyebut Nama Allah sebelum mengerjakan sesuatu, ditolak karena tidak terkait dengan kasih-sayang Allah kepada makhluk-Nya. Allah juga tidak suka kepada orang-orang yang lalim, tidak mengaku Nabi Muhammad sebagai Rasulullah.

dzãlika = demikianlah; natlũhu = kami membacakannya; ‘alayka = kepada kamu; minal ãyãti = dari sebagian ayat-ayat; wadz dzikri = dan dzikir (Alqur’an); al hakĩm = yang penuh hikmah.

dzãlika natlũhu ‘alayka minal ãyãti wadz dzikril hakĩm

58. Demikianlah kisah Isa, Kami membacakannya kepadamu sebagai bagian dari bukti-bukti kerasulanmu, dan membacakan Alqur’an yang penuh hikmah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membacakan kisah Isa a.s. kepada Nabi Muhammad saw.sebagai salah satu bukti kerasulannya (ayat 33 – 44 menyampaikan berita keutamaan keluarga ‘Imran; 45 – 57 berita tentang ‘Isa a.s.).
“adz dzikril hakĩm” dapat diterjemahkan Alqur’an yang mengandung banyak ilmu dan pengetahuan.

inna matsala ‘ĩsã ‘indallãhi kamatsali ãdama kholqohũ min tsurãbin tsumma qola lahũ kun fa yakũn.

59. Demikianlah penciptaan Isa seperti yang dikisahkan Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan Isa itu seperti halnya menciptakan Adam a.s. dari tanah. Isa a.s. dengan cara tertentu, sekehendak Allah. Isa a.s. itu makhluk, jangan disamakan atau disejajarkan, atau diumpamakan sebagai bapak dan anak dengan Allah. Allah Zat Yang Esa, Al Khalik tidak dapat disamakan dengan makhluk.
Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 117; Ali ‘Imran, 3: 47; Yã sĩn, 36: 82; Al Mu’min, 40: 68

al haqqu = kebenaran itu; mir robbika = dari Robkamu; falã = maka janganlah; takum = kamu termasuk; min = dari; al mumtarĩn = orang-orang yang ragu. .

alhaqqu mir robbika falã takum minal mumtarĩn.

60. Kebenaran (yang datang) dari Robkamu, karena itu, janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia harus percaya, apa yang telah diceriterakan Allah, itulah yang benar. Turunnya agama Allah, Islam, jangan diragukan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 147 (sama)

faman = maka siapa; hãjjaka = membantah kamu; fĩihi = tentang (kebenaran) itu; mimba’di = dari sesudah; mã jã-aka = apa yang datang kepadamu; minal ‘ilmi = dari ilmu; fa qul = maka katakanlah;. ta’ãlaw = marilah; nad’u = kita memanggil; abnã-anã = anak-anak kami; wa abnã-akum = dan anak-anak kamu; wa nisã-anã = dan istri-istri kami; wa nisã-akum = dan istri-istri kamu; wa anfusanã = dan diri-diri kami; wa anfusakum = dan diri-diri kamu; tsumma = kemudian; nabtahil = kita bermohon dengan sungguh-sungguh; fanaj’al = maka kita jadikan/mintakan; la’natallahi = la’nat Allah; ‘alãl kãdzibĩn = atas orang-orang yang berdusta.

faman hãjjaka fĩihi mimba’di mã jã-aka minal ‘ilmi fa qul ta’ãlaw nad’u abnã-anã wa abnã-akum wa nisã-anã wa nisã-akum wa anfusanã wa anfusakum tsumma nabtahil fanaj’al la’natallahi ‘alãl kãdzibĩn.

61. Siapa yang membantah tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkan kamu, maka katakanlah kepadanya: “Marilah kita memanggil anak-anak kami, dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah, dan kita minta, supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sesudah datang ilmu yang meyakinkan kamu” artinya, ada orang Kristen terikat dengan ilmu yang telah diketahuinya, namun ada yang disembunyikan karena ada gengsi atas kedatangan Islam
“bermubahalah” artinya, orang-orang yang berbeda atau berselisih pendapat, karena ada seseorang yang berdusta. Masing-masing orang berdoa kepada Allah, agar Allah membuktikan mana yang benar dan mana yang dusta. Yang berdusta akan dikenai laknat Allah.

inna = sesungguhnya; hadzã = ini; lahuwa = adalah ia; al qoshoshu = kisah; al hakku = yang benar; wa mã min = dan tidak ada dari; ilãhin = Allah; illa = selain, kecuali; allãhu = Allah; wa innallãha = dan sesungguhnya Allah; la huwa = sesungguhnya dia; al ‘azĩzul = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana

inna hadzã lahuwal qoshoshul hakku, wa mã min ilãhin illãllãhu, wa innallãha la huwal ‘azĩzul hakĩm

62. Sesungguhnya, inilah kisah yang benar, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab:Alqur’an itu berisi kisah tentang Allah yang benar. Tidak ada ilah lain, selain Dia. Allah itu Maha Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

fain = maka jika; tawalaw = mereka berpaling; fainna = maka sesungguhnya; allãha = Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bil mufsidĩn = terhadap orang-orang yang membuat kerusakan.

faintawalaw fainnallãha ‘alĩmun bil mufsidĩn.

63. Maka jika mereka berpaling (dari kebenaran), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang berpaling dari kebenaran Allah, mereka tampaknya melakukan kebaikan, tapi sesungguhnya mereka membuat kerusakan, karena setiap pekerjãnnya tidak dimulai dari niat, mengatasnamakan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

qul = katakanlah; yã ahla = wahai ahli; al kitãbi = Alkitab; ta’alaw = marilah; ilã kalimatin = hanya kepada satu kalimat; sawã-in = yang sama; bainanã = antara kami; wa bainakum = dan antara kamu; allã na’buda = bahwa kita tidak menyembah; illa = kecuali; allãha = Allah; wa lã = dan tidak; nusyrika = kita menyekutukan; bihi = drngan-Nya; syai-an = sesuatu; wa lã = dan tidak; yattakhidza = menjadikan; ba’dhunã = sebagian kita; ba’dhan = sebagaian yang lain; arbãban = Robb; min dũni = dari selain; allãh = Allah; fain = maka jika; tawallaw = mereka berpaling; faqũlũ = maka katakanlah; asy hadũ = saksikanlah; bi annã = bahwa kami; muslimũn = orang-orang yang berserah diri.

qul yã ahlal kitãbi ta’alaw ilã kalimatin sawã-im bainanã wa bainakum allã na’buda illallãha wa lã nusyrika bihi, syai-an wa lã yattakhidza ba’dhunã ba’dhan arbãbam min dũnillãh, fain tawallaw faqũlũsy hadũ bi annã muslimũn.

64. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah berpegang pada ketetapan kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan, selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw.untuk mengatakan ajakan kepada Ahli Kitab agar bersaksi bahwa tidak ada ilah lain selain Allah, dan jangan menuhankan selain Allah. Jangan menuhankan Nabi Isa; ada Tuhan Bapa dan Tuhan Anak.

yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; tuhãjũna = kamu berbantah-bantahan; fĩ ibrãhĩma = tentang Ibrahim; wa mã unzilati = padahal tidak diturunkan; at taurãtu = Taurat; wal injĩlu = dan injil; illã = melainkan; mimba’dihĩ = sejak sesudah Ibrahim; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu berpikir.

yã ahlal kitãbi lima tuhãjũna fĩ ibrãhĩma wa mã unzilatit taurãtu wal injĩlu illã mimba’dihĩ afalã ta’qilũn

65. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil itu diturunkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyapa Ahli Kitab dengan dua pertanyaan. Kita harus menggunakan akal dan pikiran, kalau kita ingin memahami kekuasaan Allah.

hã antum = beginilah kamu; hã ulã-i = kamu ini; hãjajtum = kamu berbantah-bantahan; fĩmã = tentang apa; lakum = bagimu; bihĩ = dengannya; ilmun = pengetahuan; fa lima = maka mengapa; tuhãjjũna = kamu berbantah-bantahan; fĩmã = tentang apa; laisa = tidak ada; lakum = bagimu; bihĩ = dengannya; ‘ilmun = pengetahuan; wallãhu = dan Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; wa antum = sedang kamu; lã ta’lamũn = kamu tidak mengetahui.

hã antum hã ulã-i hãjajtum fĩmã lakum bihĩ ilmun fa lima tuhãjjũna fĩmã laisa lakum bihĩ ‘ilmun, wallãhu ya’lamu wa antum lã ta’lamũn.

66. Beginilah, kamu ini sepantasnya berbantah-bantahan tentang hal yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka berbantah-bantahan tentang Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan nabi Muhammad saw.. Mereka tidak mengetahui tentang Nabi Ibrahim a.s.

Mã kãna = tidak ada, bukanlah ia; ibrãhĩmu = Ibrahim; yahũdiyaan= seorang Yahudi; wa lã nashrōniyyã = dan bukan orang Nasrani; wa lãkin = akan tetapi; kãna = adalah dia; hanĩfan = seorang yang jujur; musliman = seorang yang berserah diri; wa mã kãna = dan dia bukan; minal musyrikĩn = dari orang-orang musyrik

Mã kãna ibrãhĩmu yahũdiyãw wa lã nashrōniyyã wa lãkin kãna hanĩfam musliman, wa mã kãna minal musyrikĩn

67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia seorang yang jujur, tidak sesat, dan lagi seorang yang berserah diri kepada Allah, dan dia (Ibrahim) sesungguhnya bukanlah dari golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang kedudukan Nabi Ibrahim itu tidak sama dengan Yahudi dan Nasrani yang sekarang, yang sudah menyimpang.
“seorang yang jujur” artinya orang yang lurus hati, tidak curang, tulus dalam berbicara, dan berbuat; ikhlas menerima apa yang sudah ditetapkan.
Musyrik atau syirik adalah pendosa paling besar; akibat menduakan Allah; menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya; menganggap Allah terdiri dari dua atau tiga wujud; atau menganggap Allah lebih dari satu; banyak.

inna = sesungguhnya; awla = paling dekat; an nãsi = manusia, orang; bi ibrahĩma = dengan/kepada Ibrahim; al ladzĩna = bagi orang-orang yang; at taba’ũhu = (mereka) mengikutinya; wa hãdzã = dan ini; an nabiyyu = Nabi; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wallãhu = dan Allah; waliyyu = pelindung; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman.

Inna awlan nãsi bi ibrahĩmal ladzĩnat taba’ũhu wa hãdzãn nabiyyu wal ladzĩna ãmanũ, wallãhu waliyyul mu’minĩna.
68. Sesungguhnya, orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah pengikut-pengikutnya, dan (Nabi Muhammad saw.) ini beserta orang-orang yang beriman; Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw.itu beriman kepada Allah dan yakin bahwa Nabi Ibrahim itu Utusan Allah. Nabi Muhammad itu saw.sangat dekat dengan Ibrahim dalam hal keturunan.

waddat = ingin; thōifatun = segolongan; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; law = sekiranya; yudhillũnakum = mereka menyesatkan kamu; wa mã = dan tidaklah; yudhillũna = mereka menyesatkan; illã =melainkan, kecuali; anfusahum = diri mereka sendiri; wa mã yasy’urũn = dan mereka tidak menyadari;

waddat thōifatum min ahlil kitãbi law yudhillũnakum wa mã yudhillũna illã anfusahum wa mã yasy’urũn.

69. Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan, melainkan dirinya sendiri yang sesat, tapi mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kaum Mukmin yang berpegang teguh pada tali Allah, tidak akan dapat tersesat, kalau berpegang teguh pada prinsip yang ada dalam Agama Islam. Ahli Kitab kalau berpegang pada prinsip Allah yang benar, akan selamat. Ahli Kitab ada yang tidak menyadari bahwa apa yang diyakininya itu telah sesat (lihat ayat-ayat berikutnya!).

yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; takfurũna = kamu mengingkari; bi = dengan/pada; ayãtillãhi = ayat-ayat Allah; wa = dan / sedangkan / padahal; antum = kamu; tasyhadũn = kamu menyaksikan.

yã ahlal kitãbi lima takfurũna bi ayãtillãhi wa antum tasyhadũn.

70. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., padahal kamu mengetahui kebenarannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada Ahli Kitab, dan pembelajaran bagi Umat Islam untuk mendakwahi mereka yang masih sesat.

yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; talbisũna = kamu mencampur-adukkan; al haqqo = yang benar; bil bãthili = dengan yang salah; wa taktumũna = dan kamu menyembunyikan; al haqqo = yang benar (kenabian Muhammad saw.); wa antum = dan kamu; ta’lamũn = (kamu) mengetahui.

yã ahlal kitãbi lima talbisũnal haqqo bil bãthili wa taktumũnal haqqo wa antum ta’lamũn.

71. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang benar dan yang salah, dan menyembunyikan kebenaran kenabian Muhammad, padahal kamu mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyapa Ahli Kitab dan masih memperingatkan dengan pertanyaandan tuduhan yang pasti benarnya. Para pengikutnya banyak yang tidak memperhatikannya. Bagi yang memperhatikan, mereka mengakui kebenaran Nabi Muhammad saw..

wa qōlat = dan berkata; thōifatun = segolongan; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; ãminũ = berimanlah kamu; billadzĩ = dengan yang; unzila = diturunkan; ‘alal ladzĩna = atas orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wajha = permulaan; an nahãri = siang; wakfurũ = dan ingkarilah; akhirahũ = pada akhirnya; la’allahum = supaya mereka; yarji’ũn = (mereka) kembali.

wa qōlat thōifatum min ahlil kitãbi ãminũ billadzĩ unzila ‘alal ladzĩna ãmanũ wajhan nahãri wakfurũ akhirahũ, la’allahum yarji’ũn.

72. Segolongan lain dari Ahli Kitab berkata kepada sesamanya: “Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat Rasulullah) pada permulaan siang, dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka, orang mukmin kembali ke kekafiran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw.beserta orang-orang yang beriman tentang perilaku beberapa Ahli Kitab yang munafik, dan berniat menipu orang-orang yang beriman.

wa lã = dan jangan; tu’minũ = kamu percaya; illã = kecuali, melainkan; liman = kepada orang; tabi’a = yang mengikuti; dĩnakum = agamanu; qul = katakan; inna = sesungguhnya; al hudã = petunjuk; hudallãhi = petunjuk Allah; an yu’ta = bahwa akan diberikan; ahadũn = seseorang; mitslã = seperti; mã = apa; ũtĩtum = diberikan kepadamu; au = atau; yuhãjjũkum = mereka membantahmu; ‘inda robbikum = pada Robbmu; qul = katakanlah; innal fadhla = sesungguhnya karunia; biyadillãhi = di tangan Allah; yu’tĩhi = Dia berikan itu; man = siapa orang; yasyã’u = Dia kehendaki; wallãhu wãsi’un ‘alĩm = dan Allah Mahaluas Ilmu-Nya

wa lã tu’minũ illã liman tabi’a dĩnakum qul innal hudã hudallãhi an yu’ta ahadũm mitslã mã ũtĩtum au yuhãjjũkum ‘inda robbikum, qul innal fadhla biyadillãhi, yu’tĩhi man yasyã’u, wallãhu wãsi’un ‘alĩm.

73. Dan, janganlah kamu percaya, kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu (Yahudi dan Nasrani). Katakanlah: “Sesungguhnya, petunjuk yang harus dĩkuti, ialah petunjuk Allah, dan jangan kamu percaya, bahwa akan diberikan kepada seseorang, seperti apa yang diberikan kepadamu, dan jangan pula kamu percaya bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu kepada Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahaluas Ilmu-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini kata para Ahli Kitab yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad saw., untuk diketahui strategi mereka dalam membohongi orang-orang di sekitarnya. Allah memberitahu apa yang harus dikatakan kepada para Ahli Kitab.

yakhtashshu = Dia menentukan; bi rohmatihĩ = dengan rahmat-Nya; man yasã-u = siapa Yang Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; dzul fashlil ‘azhĩm = mempunyai karunia yang agung.

yakhtashshu bi rohmatihĩ man yasã-u, wallãhu dzul fashlil ‘azhĩm.

74. Allah menentukan rahmat kenabian kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maharahman dan Rahim. Rahmat kenabian itu hak Allah. Allah memberikan rahmat itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memberikan rahmat kepada seluruh makhluk-Nya (lihat Al Fatihah).

wa min = dan di antara; ahlil kitãbi = Ahli Kitab; man = orang; inta’manhu = jika kamu percayakan; bi qinthōrin = dengan harta yang banyak; yu-addihĩ = ia mengembalikannya; ilaika = kepada kamu; wa minhum = dan di antara mereka; man = orang; in ta’manhu = jika kamu mempercayakannya; bi dĩnãril = dengan satu dinar; lã yu’addihĩ = ia tidak mengembalikannya; ilaika = kepadamu; illã = kecuali; mã dumta = kamu selalu; ‘alayhi = atasnya; qō-iman = berdiri, menagihnya; dzalika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; qōlũ = (mereka) berkata; laisã = tidak ada; ‘alainã = atas kami; fil ummiyyĩna = terhadap orang-orang ummi; sabĩlun = (jalan) dosa; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; ‘alallãhi = kepada Allah; al kadzĩba = dusta; wa hum = dan mereka; ya’lamũn = (mereka) mengetahui..

wa min ahlil kitãbi man inta’manhu bi qinthōrin yu-addihĩ ilaika wa minhum man in ta’manhu bi dĩnãril lã yu’addihĩ ilaika illã mã dumta ‘alayhi qō-iman, dzalika bi annahum qōlũ laisã ‘alainã fil ummiyyĩna sabĩlun wa yaqũlũna ‘alallãhil kadzĩba wa hum ya’lamũn.

75. Di antara Ahli Kitab, ada yang kamu percayai harta yang banyak, lalu dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka, ada yang kamu percayakan uang satu dinar, kemudian tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu, lantaran mereka berpendapat: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.“ Mereka berkata dusta kepada Allah, padahal mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Di antara Ahli Kitab, ada yang kamu percayai harta yang banyak” artinya kamu mempercayakan hartamu untuk dijadikan modal usaha Ahli Kitab.
“Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.“ artinya berhutang satu dinar kepada Umat Islam, mereka tidak merasa berdosa. Jadi, seolah-olah Allah membeda-bedakan hukum-Nya, padahal hukum Allah itu sama bagi seluruh makhluk-Nya di dunia. Berhutang satu dinar dengan berhutang banyak kepada semua umat di dunia itu sama hukumnya, dosa. Hutang harus dibayar, betapa pun kecilnya hutang itu.
Ahli Kitab berkata: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.“ Berarti, Ahli Kitab itu berdusta kepada Allah, padahal mereka mengetahui hukum-Nya.

balã = sesungguhnya bukan; man = orang; siapa pun; awfã = (ia) menepati; bi’ahdihĩ = janjinya; wat taqō = dan ia bertakwa; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; yuhibũ = Dia menyukai; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.

balã man awfã bi’ahdihĩ wat taqō fa innallãha yuhibũl muttaqĩn

76. Sebenarnya bukan demikian, tapi siapa yang menepati janji yang dibuatnya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji kepada siapa pun harus ditepati. Itulah salah-satu tanda dari orang-orang yang takwa kepada Allah. Janji Allah pun akan ditepati, pada sãtnya yang tepat. Allah tidak membedakan hukum-Nya meskipun bagi orang yang berbeda keyakinan.

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yasytarũna = mereka menukar; bi ahdi = dengan janji; allãhi = Allah; wa aimaanihim = dan sumpah mereka; tsamanan = harga; qolĩlan = sedikit; ũlãika = mereka itu; lã kholaqo = tidak mendapat bagian; lahum =bagi mereka; fil akhirati = di akhirat; wa lã yukallimuhumullãhu = Allah tidak berbicara dengan mereka; wa lã yandhuru = dan Dia tidak melihat; ilaihim = kepada mereka; yawma = pada hari; al qiyãmati = kiamat; wa lã yuzakkihim = dan Dia tidak menyucikan mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbun alĩmun = siksa yang pedih.

innalladzĩna yasytarũna bi ahdillãhi wa aimaanihim tsamanan qolĩlan ũlãika lã kholaqo lahum fil akhirati wa lã yukallimuhumullãhu wa lã yandhuru ilaihim yawma l qiyãmati wa lã yuzakkihim wa lahum ‘adzãbun alĩmun.

77. Sesungguhnya, orang-orang yang menukar janji, dan sumpah-sumpah mereka dengan Allah, dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian pahala di akhirat. Allah tidak akan berkata-kata, dan tidak akan melihat kepada mereka pada Hari Kiamat, dan tidak pula menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya.
“orang-orang yang menukar janji dan sumpah-sumpah mereka dengan Allah, dengan harga yang sedikit”. Maksudnya, orang-orang yang dahulu berjanji akan selalu takwa kepada Allah, dan selalu mematuhi apa yang tersurat di dalam Alkitabnya, ternyata kedatangan Nabi Muhammad saw.tidak diakui. Jadi, Alkitabnya yang mengabarkan tentang akan datangnya Utusan Allah dari sesama keturunan Ibrahim itu tidak dihargai sebagaimana mestinya, berarti menghargai dengan harga yang sedikit, mereka menyalahi janji.
Ayat ini merupakan peringatan bagi mereka yang suka berjanji. Janji itu harus ditepati. Kalau janji tidak ditepati, Allah tidak mau berbicara dengan mereka di hari akhirat. Mereka tidak akan disucikan, dan mereka akan mendapatkan azab yang menyakitkan.

wa inna = dan sesungguhnya; minhum = di antara mereka; la farĩqon = ada segolongan; yalwũna = (mereka) memutar-balik; alsinatahum = lidah mereka; bil kitãbi = dengan kitabnya; li tahsabũhu = supaya kamu menyangka; minal kitãbi = bagian dari Alkitab; wamã huwa = dan ia bukan; minal kitãbi = dari Alkitab; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; huwa = ia; min ‘indillãhi = dari Allah; wamã huwa = dan ia bukan; min ‘indallãhi = dari Allah; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; ‘alallãhi = atas Allah; al kadziba = dusta; wa hum ya’lamũn = dan mereka mengetahui.

wa inna minhum la farĩqon yalwũna alsinatahum bil kitãbi li tahsabũhu minal kitãbi wamã huwa minal kitãbi wa yaqũlũna huwa min ‘indallãhi wamã huwa min ‘indillãhi wa yaqũlũna ‘alallãhil kadziba wa hum ya’lamũn.

78. Sesungguhnya, di antara mereka, ada segolongan yang memutar-balik lidahnya saatmembaca Alkitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu bagian dari Alkitab, padahal itu bukan dari Alkitab, dan mereka mengatakan: “Yang dibaca ini dari Allah”, padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memutar-balik lidahnya” maksudnya: orang berbicara A tapi yang dimaksud B. atau mengubah ucapan sehingga yang sebenarnya berarti A, kata itu diucapkan menjadi seperti B (lihat juga larangan Allah pada Q.s. Al Baqarah, 2: 104). Hal ini sekarang masih terjadi. Mereka membaca Alkitab yang sudah direkayasa oleh mereka, dan itu disampaikan seperti dari Alqur’an. Padahal itu bukan dari Alqur’an.

mã kãna = tidak mungkin terjadi; li basyarin = bagi seorang manusia; an yu’tiyahu = bahwa memberikannya; allãhu = Allah; al kitãba = Alkitab; wal hukma = dan hikmah; wannubũwwata = dan kenabian; tsumma = kemudian; yaqũla = ia berkata; linnãsi = kepada manusia; kũnũ = (hendaklah) kamu menjadi; ‘ibãda = penyembah-penyembah; lĩ = bagiku (Nabi Isa a.s.); min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lãkin = akan tetapi; kũnũ =(hendaklah) kamu menjadi; robbaniyyĩna = orang-orang robbani; bimã kuntum = disebabkan kamu; tu’allimũna = kamu mengajarkan; al kitãba = Alkitab; wa bimã kuntum = dengan sebab kamu adalah; tadrusũn = kamu mempelajari.

mã kãna li basyarin an yu’tiyahullãhul kitãba wal hukma wannubũwwata tsumma yaqũla linnãsi kũnũ ‘ibãdal lĩ min dũnillãhi wa lãkin kũnũ robbaniyyĩna bimã kuntum tu’allimũnal kitãba wa bimã kuntum tadrusũn

79. Tidak wajar, seorang manusia yang diberi Allah Alkitab, hikmah, dan kenabian yang berkata kepada manusia lain: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku (Nabi Isa a.s.), bukan penyembah Allah.” Wajar, kalau dia berkata: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah (Robbãni), karena kamu selalu mengajarkan Alkitab, dan karena kamu tetap dan selalu mempelajarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa manusia itu tidak pantas disembah seperti kepada Allah. Nabi Isa tidak pantas mengatakan dia ingin disembah, dihargai seperti kepada Allah. Hal ini menjadi perselisihan pemahaman. Benarkah umat Kristen menyembah, menghormati Nabinya, seperti menghormati Allah? Mengapa ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Ruhul Qudus?

wa lã ya’murakum = dan ia tidak menyuruhmu; an tattakhidzũ = bahwa kamu menjadikan; al malãikata = Malaykat; wannabiyyĩna = dan para Nabi; arbãbãn = sebagai Robb; aya’murukum = apakah ia menyuruh kamu; bil kufri = dengan kekafiran; ba’da = sesudah; idz = ketika; antum = kamu; muslimũn = Islam.

wa lã ya’murakum an tattakhidzũl malãikata wannabiyyĩna arbãbãn, aya’murukum bil kufri ba’da idz antum muslimũn.

80. dan tidak wajar pula ia menyuruhmu menjadikan Malaykat dan para Nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah menganut agama Islam?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan kenyataan pada saatNabi Muhammad saw.dinobatkan sebagai Nabi, sampai sekarang.

wa idz = dan ketika; akhodzallãhu = Allah mengambil; mĩtsãqo = perjanjian; an nabiyyĩna = para Nabi; lamã = sungguh apa; ataitukum = Aku berikan kepada kamu; min kitãbin = dari Kitab; wa hikmatin = dan hikmah; tsumma = kemudian; jã-akum = datang kepada kamu; rasũlun = seorang Rasul; mushoddiqun = membenarkan; limã = terhadap apa; ma’akum = ada padamu; latu’minunna = sungguh kamu akan beriman; bihi = dengannya; walatanshurunnahũ = sungguh kamu menolongnya; qōla = Dia berfirman; a-akrortum = apakah kamu mengakui; wa-akhodztum = dan kamu mengambil; ‘alã dzalikum = atas yang demikian itu; ishrĩ = perjanjian-Ku; qōlũ = mereka berkata; aqrornã = kami mengakui; qōla = Dia berfirman; fasyhadũ = maka saksikanlah; wa anã = dan Aku; ma’akum = bersama kamu; minasyãhidĩn = dari para saksi.

wa idz akhodzallãhu mĩtsãqon nabiyyĩna lamã ataitukum min kitãbin wa hikmatin tsumma jã-akum rasũlum mushoddiqul limã ma’akum latu’minunna bihi, walatanshurunnahu, qōla a-akrortum wa-akhodztum ‘alã dzalikum ishrĩ qōlũ aqrornã qōla fasyhadũ wa anã ma’akum minasyãhidĩn.

81. Dan ingatlah, ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepada Muhammad saw., dan menolongnya. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu, saksikanlah wahai para Nabi, dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan tentang perjanjian Allah dengan para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.ditetapkan, dipilih sebagai Utusan Allah. Jadi, ada perjanjian antara Allah dan para Nabi tentang kedatangan Nabi Muhammad itu. Para Nabi sudah mengakui bahwa Nabi Muhammad itu membenarkan apa yang ada dalam Alkitab para Nabi semua.

faman = maka barang siapa; tawallã = (ia) berpaling; ba’da = sesudah; dzãlika = demikian itu; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; al fãsiqũn = orang-orang yang fasik

faman tawallã ba’da dzãlika fa-ũlã-ika humul fãsiqũn.

82. Barang siapa berpaling setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan jika ada orang yang ingkar pada janji yang sudah dibuat, yang menolak kedatangan Utusan-Nya, mereka akan dicap sebagai orang fasik. Orang fasik adalah orang bodoh, orang yang tidak mempercayai, tidak mengakui Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan Allah, orang yang tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah. Mereka bertabiat atau berkelakuan buruk, jelek, curang, jahat, jahil, pelit, rakus; pemarah, pencuri, perampok, penodong, penipu, pemalsu, pembohong, penghasut, pemfitnah, pembangkang; pembual; berlaku atau berbicara tidak sopan.

afaghoiro = maka apakah selain; dĩnillãhi = agama Allah; yabghũna = mereka mencari; wa lahũ = dan kepada-Nya; aslama = menyerahkan diri; man = orang (segala apa); fis samãwãti = di langit; wal ardhĩ = dan di bumi; thau-’ãn = dengan suka; wa karhan = dan terpaksa; wa ilaihi = dan kepada-Nya; yurja’ũn = mereka dikembalikan.

afaghoiro dĩnillãhi yabghũna wa lahũ aslama man fis samãwãti wal ardhĩ thau-’ãn wa karhan wa ilaihi yurja’ũn.

83. Maka, apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Agama Allah dari mulai Adam sampai sekarang itu satu, hanya Allah menyampaikannya kepada manusia agak berbeda, sesuai dengan kemampuan manusia pada zamannya masing-masing. Seharusnya manusia mengikuti perubahan yang direncanakan Allah. Jangan menolak karena ada sedikit perbedaan dengan Alkitab yang dipegangnya. Alqur’an mencakupi semua Alkitab yang pernah ada, dengan perbaikan, pembaruan informasi dengan menggunakan Bahasa Arab.

qul = katakanlah; ãmannã = kami beriman; billãhi = kepada Allah; wa mã unzila = dan apa yang diturunkan; ‘alainã = atas kami; wa mã unzila = dan apa yang diturunkan; ‘alã ibrōhĩma = kepada Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan Ismail; wa ishãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; wal asbãthi = dan anak-anaknya; wa mã ũtiya = dan apa yang diberikan; mũsã = (kepada) Musa; wa ‘ĩsã = dan Isa; wan nabiyyũna = dan para Nabi; mir robbihim = dari Robmereka; lã nufarriqu = kami tidak membeda-bedakan; bayna= antara; ahadim = seorang; minhum = di antara mereka; wa nahnu = dan kami; lahũ = kepada-Nya; muslimũn = berserah diri.

qul ãmannã billãhi wa mã unzila ‘alainã wa mã unzila ‘alã ibrōhĩma wa ismã’ĩla wa ishãqo wa ya’qũba wal asbãthi wa mã ũtiya mũsã wa ‘ĩsã wan nabiyyũna mir robbihim lã nufarriqu baynaahadim minhum wa nahnu lahũ muslimũn.

84. Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nyalah kami berserah diri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Islam itu mengimani semua para Nabi karena semuanya mengajarkan keesaan Allah. Orang Islam tidak membedakan seorang Nabi dengan Nabi yang lain. Namun demikian, umat islam tahu dan menyadari cara peribadatan dari para Nabi itu berbeda. Seharusnya, cara peribadatan yang terakhirlah yang seharusnya dĩkuti oleh semua manusia. Persoalan ini, hanya Allah yang mengetahui jalan keluarnya.

wa man = dan barang siapa; yabtaghi = (ia) mencari; ghaira = selain; al islãmi = Islam; dĩnan = agama; falan yuqbala = maka tidak diterima; minhu = darinya; wa huwa = dan ia; fil akhirãti = di akhirat; minal khãsirĩn = dari orang-orang yang merugi.

wa man yabtaghi ghairal islãmi dĩnan falan yuqbala minhu wa huwa fil akhirãti minal khãsirĩn

85. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sesungguhnya tidak akan diterima agamanya itu, dan di akhirat, dia termasuk orang-orang yang rugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Islam adalah agama yang terakhir diturunkan Allah untuk membimbing hidup manusia menuju ke kehidupan yang lebih baik. Jadi, kalau ada yang memilih selain agama Islam, maka amalan keagamaanya tidak diterima Allah. Mereka termasuk orang-orang yang merugi. Inilah ketentuan atau keputusan Allah.

kayfa = bagaimana; yahdĩllãhu = Allah memberi petunjuk; qauman = (kepada) kaum; kafarũ = (mereka) kafir; ba’da = sesudah; ĩmaanihim = iman mereka; wa syahidũ = dan mereka mengakui; annar rosũla = bahwa Rasul itu; haqqun = benar; wa jã-ahumu = dan telah datang kepada mereka; al bayyinaat = keterangan-keterangan; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩl = tidak memberi petunjuk; qoumazh zhōlimĩn = kaum yang lalim.

kayfa yahdĩllãhu qauman kafarũ ba’da ĩmaanihim wa syahidũ annar rosũla haqqun wa jã-ahumul bayyinaat, wallãhu lã yahdĩl qoumazh zhōlimĩn.

86. Bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui, bahwa rasul itu (Muhammad saw.) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah datang kepada mereka? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah benar-benar tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad.

ulãika = mereka itu; jazã-uhum = balasan mereka; anna ‘alayhim = atas mereka; la’natullãhi = laknat Allah; wal malãikati = dan Malaykat; wan nãsi = dan manusia; ajmaĩn = semuanya

ulãika jazã-uhum anna ‘alayhim la’natullãhi wal malãikati wan nãsi ajmaĩn

87. Balasan bagi mereka adalah laknat Allah ditimpakan kepada mereka, demikian pula laknat para malaykat dan semua manusia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang munafik itu dilaknat Allah, para Malaykat, dan semua manusia. Mengapa semua melaknatinya? Semua melaknati karena akibat buruknya keterlaluan.

khãlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; lã yukhoffafu = tidak diringankan; ‘anhumu = dari mereka; al ‘adzãbu = azab, siksa; wa lãhum = dan mereka tidak; yunzhorũn = (mereka) diberi tangguh.

khãlidĩna fĩhã lã yukhoffafu ‘anhumul ‘adzãbu wa lãhum yunzhorũn.

88. mereka kekal di dalam laknat itu, tidak diringankan siksa mereka, dan juga mereka tidak diberi tangguh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak memberi keringan dan tidak diberi tangguh atas azab atau siksa bagi mereka yang munafik. Kalau di dunia masih diberi tangguh, tetapi kalau sudah di akhirat, mereka tidak melalui penghisaban lagi, langsung masuk neraka yang terdalam.

illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; tãbũ = bertobat; mimba’di dzalika = dari sesudah itu; wa ashlahũ = dan mereka mengadakan perbaikan; fã-innallãha = maka sesungguhnya Allah; ghofũrurrohĩm = Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

illãl ladzĩna tãbũ mimba’di dzalika wa ashlahũ fã-innallãha ghofũrurrohĩm

89. kecuali orang-orang yang tobat sesudah kafir, dan mengadakan perbaikan; karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dunia, orang-orang kafir masih diberi kesempatan bertobat dan mengadakan perbaikan.

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; kafarũ = kafir; ba’da = sesudah; ĩmaanihim = iman mereka; tsumma = kemudian; azdãdũ = mereka bertambah; al kufrol = kekafirannya; lan tuqbala = tidak akan akan diterima; taubatuhum = tobat mereka; wa ulã-ika = dan mereka itu; humu = mereka; adh dhōllũn = orang-orang yang sesat.

innalladzĩna kafarũ ba’da ĩmaanihim tsumma azdãdũl kufrol lan tuqbala taubatu-hum wa ulã-ika humudh dhōllũn.

90. Sesungguhnya, orang-orang kafir sesudah mereka beriman, kemudian bertambah kekafirannya, benar-benar tidak akan diterima tobatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang tidak diterima taubatnya, mereka akan bertambah kafir, dan mereka tidak akan diterima taubatnya.

inalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; kafarũ = kafir; wa mãtũ = dan mereka mati; wahum = sedang mereka; kuffãrun = (dalam) kekafiran; falan yuqbala = maka tidak akan diterima; min ahadihim = dari seorang di antara mereka; mil-u = sepenuh; al ardhĩ = bumi; dzahaban = emas; wa lawiftadã = walalupun dia menebus (diri); bihi = dengannya (emas); ũlã-ika = mereka itu; lahum = bagi mereka; ‘adzabun = azab; alĩmun = yang pedih; wa mã lahum = dan tidak bagi mereka; min nashirĩna = dari (memperoleh) penolong..

inalladzĩna kafarũ wa mãtũ wahum kuffãrun falan yuqbala min ahadihim mil-ul ardhĩ dzahaban wa lawiftadã bihi, ũlã-ika lahum ‘adzabun alĩmun wa mã lahummi nnashirrĩna.

91. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, maka tidaklah akan diterima tebusan diri dengan emas lebih dari sepenuh bumi, bagi mereka terkena azab yang perih, dan mereka tidak memperoleh penolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Emas itu benda atau harta kekayaanyang sangat berharga dalam kehidupan manusia. Kafir kalau tidak mau bertobat, kelak di akhirat, meskipun seseorang memiliki emas dalam jumlah yang sangat besar (kekayaanyang amat banyak dan tidak dinafkahkan dengan benar) tidak akan dapat menebus kesalahan karena kafirnya itu.

Juz 4

Bantahan Allah terhadap pendapat-pendapat Ahli Kitab yang ternyata salah.

lan tanãlũ = kamu belum mencapai; al birro = kebaikan; hattã = sebelum; tunfiqũ = kamu menafkahkan; mimmã = dari harta; tuhibbũna = kamu mencintai; wa mã = dan apa; tunfiqũ = yang kamu nafkahkan; min syai-in = dari sesuatu; fa-inna = maka sesungguhnya; allãha = Allah; bihi = dengannya; alĩm = Maha Mengetahui.

lan tanãlũ al birro hattã tunfiqũ mimmã tuhibbũna wa mã tunfiqũ min syai-in fa-innallãha bihi alĩm.

92. Kamu, sedikit pun tidak sampai ke kebajikan yang sempurna, sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan, apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

kullu = semua; ath tho’ami = makanan; kãna = adalah; hillal = halal; lĩbanĩ = bagi turunan; isrō-ĩla = Israil; illã = kecuali, selain; mã harroma = apa yang mengharamkan; isrō-ĩlu = Israil; ‘alã = atas; nafsihi = dirinya; min qobli = dari sebelum; an tunazzala = bahwa diturunkan; at tauronaatu = Taurat; qul = katakanlah; fa’tũ = maka turunkanlah; bittaurōti = dengan Taurat itu; fatlũhã = lalu bacalah ia; inkuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

kulluth tho’ami kãna hillalli banĩ isrō-ĩla illã mã harroma isrō-ĩlu ‘alã nafsihi, min qobli an tunazzalat tauronaatu qul fa’tũ bittaurōti fatlũhã inkuntum shōdiqĩn.

93. Semua makanan halal bagi Bani Israil, selain dari makanan yang diharamkan Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah: “Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum Taurat, maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Semua makanan halal bagi Bani Israil, selain dari makanan yang diharamkan Israil (Ya’qub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan” lihat juga An Nissa’ : 160, dan Al An’ãm : 146.

famani = maka barang siapa; .iftarō = mengada-adakan; ‘alãllãhi = terhadap Allah; al kadziba = dusta; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu; demikian; faũlãika = maka mereka itu; humu = mereka; adh dhōllimun = orang-orang yang lalim.

famaniftarō ‘alãllãhil kadziba mim ba’di dzãlika faũlãika humudh dhōllimun

94. Maka, barang siapa yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “barang siapa yang mengada-adakan dusta terhadap Allah” maksudnya, orang-orang yang mganggap ada-Nya Allah itu bohong; Allah mengutus Nabi Muhammad untuk menyampaikan sabda-Nya itu dusta; Allah menceriterakan kelahiran “Isa Almasih itu bohong; dan lain-lain.
“lalim” adalah orang yang menganggap agama (Addien) yang disampaikan Muhammad saw. itu dusta. Mereka lalim kepada dirinya sendiri dan lalim kepada orang lain.

qul = katakanlah; shodako = benar; allãhu = Allah; fattabi’ũ = maka ikutilah; millata = agama; ibrohĩma = ibrahim; hanifan = yang lurus; wamã kãna = dan tidak ada / bukanlah dia; minal musyrikĩn = orang-orang yang musrik.

qul shodakollãhu fattabi’ũ millata ibrohĩma hanifaw wamã kãna minal musyrikĩn.

95. Katakanlah: “Benar, apa yang difirmankan Allah.” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad dan para pengikutnya disuruh Allah untuk mengatakan dan melaksanakan apa yang dikemukakan dalam ayat 95.

inna = sesungguhnya; awwala = awal, mula-mula; baitin = rumah; wudhi’a = dibangun; linnãsi = bagi manusia; lalladzĩ = ialah rumah (Baitullah); bibakkata = di Bakkah (Mekah); mubãrokan = yang diberkati; wa hudan = dan menjadi petunjuk; lil’ãlamĩn = bagi seluruh alam.

inna awwala baitin wudhi’a linnãsi lalladzĩ bibakkata mubãrokan wa hudan lil’ãlamĩn

96. Sesungguhnya, rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah” ini menurut versi kepercayaan Islam. Ada bangunan-bangunan tempat ibadah kuno lainnya, seperti di Lima, Peru, di Astek (Meksiko), di Yunani Kuno (Panthenon), di India, di Cina, di Jepang.
Baitullah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim, dengan ceritera kelahiran Nabi Ismail, dan lain-lain.

fĩhi = padanya; ãyãtun = tanda-tanda; bayinaatun = yang nyata; maqōmu = tempat tinggal; ibrōhĩma = Ibrahim; wa man = dan barang siapa; dakholahu = memasukinya; kãna = adalah dia; ãminan = merasa aman; wa lillahi = dan bagi Allah; ‘alan nãsi = atas kewajiban manusia; hijju = berhaji; al baiti = rumah (Baitullah); mani = siapa, orang; astathō’a = dia sanggup, mampu; ilaihi = kepadanya (Baitullah); sabĩlan = perjalanan; wa man = dan barang siapa; kafaro = ia kafir, ingkar; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; ghoniyyun = Maha Kaya, tidak memerlukan sesuatu; ‘anil ‘ãlamĩn = dari semesta alam.

fĩhi ãyãtum bayinaatum maqōmu ibrōhĩma wa man dakholahu, kãna ãminan wa lillahi ‘alan nãsi hijjul baiti manistathō’a ilaihi sabĩlan wa man kafaro fa innallãha ghoniyyun ‘anil ‘ãlamĩn

97. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya tempat tinggal (maqam) Ibrahim; barang siapa memasuki Baitullah menjadi amanlah ia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia kepada Allah, bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari kewajiban berhaji, maka sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “makam” dapat berarti tempat yang harus atau perlu diingat.
Mengunjungi Baitullah itu wajib bagi seorang Muslim yang mampu mengadakan perjalanan ke sana (mampu dari segi harta, dari segi fisik, dan dari segi niat dengan ilmunya). Mereka yang mengingkari kewajiban berhaji, Allah akan menghukumnya. Berhaji itu wajib. Artinya hidup di dunia ini harus berupaya untuk memperoleh harta yang dapat dipakai untuk berhaji

qul = katakanlah; yã ahlul kitãbi = wahai Ahli Kitab; limã = mengapa; taqfurũna = kamu ingkar; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; wallãhu = sesungguhnya Allah; syahĩdun = menyaksikan; ‘alã mã = atas apa; ta’malũn = kamu kerjakan.

qul yã ahlul kitãbi limã taqfurũna bi ãyãtillãhi wallãhu syahĩdun ‘alã mã ta’malũn.

98. Katakanlah: “Hai, Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha Menyaksikan segala apa yang kamu kerjakan?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw.diminta mempertanyakan perilaku para Ahli Kitab yang mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepadanya, atau pura-pura tidak tahu.

qul = katakanlah; yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; tashuddũna = kamu menghalang-halangi; ‘an sabilillãhi = dari jalan Allah; man = orang; ãmana = (ia) telah beriman; tabghũnahã = kamu menghendakinya; ‘iwajan = menjadi bengkok; wa antum = padahal kamu; syuhadã-u = menyaksikan; wamallãhu = dan sekali-kali Allah tidak; bighōfilin = dengan lalai; ‘ammã = dari apa; ta’malũn = kamu kerjakan.

qul yã ahlal kitãbi lima tashuddũna ‘an sabilillãhi man ãmana tabghũnahã ‘iwajan wa antum syuhadã-u wamallãhu bighōfilin ‘ammã ta’malũn.

99. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi jalan dari orang-orang yang telah beriman, kamu menghendaki mereka menyimpang dari jalan lurus, padahal kamu menyaksikan.”Allah sekejap pun tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli Kitab itu terdiri dari kelompok Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in selalu menginginkan orang yang sudah menganut Islam kembali ke kepercayaannya yang lama.

Yã ayyuhalladzĩna ãmanũ = wahai orang-orang yang beriman; in tuthĩ’ũ = jika kamu menaati; farĩqon = segolongan; minalladzĩna = dari orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Alkitab; yaruddũ = mereka akan mengembalikan; kum = kamu; ba’da = setelah; ĩmaanikum = kamu beriman; kãfirĩn = (menjadi) orang-orang kafir.

Yã ayyuhalladzĩna ãmanũ in tuthĩ’ũ farĩqom minalladzĩna ũtul kitãba yaruddũ kum ba’da ĩmaanikum kãfirĩn

100. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Alkitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan untuk orang yang sudah beriman, agar mereka tidak mengikuti ajakan Ahli Kitab.

wa kayfa = dan bagaimana; takfurũna = kamu kafir; wa antum = padahal kamu; tutlã = telah dibacakan; ‘alaykum = untukmu; ãyãtullãhi = ayat-ayat Allah; wa fĩkum = dan di tengah-tengah kamu; rasũluhũ = Rasul-Nya; wa man = dan barang siapa; ya’tashim = (dia) berpeganh teguh; billãhi = kepada Allah; faqod = maka sungguh; hudiya = dia telah diberi petunjuk; ila = kepada; shirōtim = jalan mustaqĩm

wa kayfa takfurũna wa antum tutlã ‘alaykum ayãtullãhi wa fĩkum rasũluh, wa man ta’tashim billãhi faqod hudiya ilaya shirōtim mustaqĩm

101. Bagaimana kamu sampai menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada agama Allah, sesungguhnya ia telah diberi petunjuk ke jalan yang benar, lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengungkapkan kekececãn dengan cara mempertanyakan kepada Ahli Kitab yang telah dibacakan ayat-ayat Allah oleh Rasul-Nya yang berada di tengah-tengah mereka, namun mereka tetap kafir. Sampai sekarang pun, kenyataan ini masih terus terjadi. Setiap panggilan salat, banyak masyarakat yang tidak menanggapinya. Banyak orang tidak mau salat.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; at taqullãha = bertakwalah kepada Allah; haqqo = benar-benar; tuqōtihĩ = takwa kepadanya; wa lã tamũtunna = jangan kamu mati; illã = kecuali; wa antum = dan kamu (dalam keadaan); muslimũn = orang-orang Islam.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũt taqullãha haqqo tuqōtihĩ, wa lã tamũtunna illã wa antum muslimũn.

102. Hai orang-orang yang beriman, benar-benar bertakwalah kepada Allah, jangan kamu mati, kecuali dalam keadaan beragama Islam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah kepada orang-orang yang telah beriman untuk tetap takwa kepada Allah. Seruan ini pun sering diucapkan pada saatKhatib berhutbah Salat Jumat. Orang yang di luar masjid, banyak yang tidak mendengar seruan yang demikian.

wa’tashimũ = dan berpeganglah kamu; bihablillãhi = pada tali Allah; jamĩ’an = semuanya; wa lã tafarroqũ = dan janganlah bercerai-berai; wadzkurũ = dan ingatlah kamu; ni’matallãhi = nikmat Allah; ‘alaykum = kepadamu; idz = ketika; kuntum = adalah kamu; a’dã’an = bermusuhan; fa-allafa = maka Dia menjinakkan; bayna= antara; qulũbikum = hati-hati kamu; fa-ashbahtum = lalu jadilah kamu; bini’matihĩ = karena nikmat-Nya; ikhcãnan = bersaudara; wa kuntum = dan kamu adalah; ‘alã syafãhufrotin = atas tepi jurang; minannãri = dari api neraka; fa-anqodzakum = lalu Dia menyelamatkan kamu; minhã = darinya; kadzãlika = demikianlah; yubayyinullãhu = Allah menerangkan; lakum = kepadamu; ãyãtihi = ayat-ayat-Nya; la’allakum = agar kamu; tahtadũn = mendapat petunjuk.

wa’tashimũ bihablillãhi jamĩ’an wa lã tafarroqũ wadzkurũ ni’matallãhi ‘alaykum idz kuntum a’dã’an fa-allafa baynaqulũbikum fa-ashbahtum bini’matihĩ ikhcãnan wa kuntum ‘alã syafã hufrotim minannãri fa-anqodzakum minhã kadzãlika yubayyinullãhu lakum ãyãtihi, la’allakum tahtadũn

103. Dan berpeganglah kamu semuanya pada agama Allah, janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat dari Allah kepadamu, ketika kamu masih jahil dan bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, kemudian karena nikmat Allah, jadilah kamu bersaudara, saatkamu berada di tepi jurang neraka, Allah menyelamatkanmu dari bahaya itu. Demikianlah, Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya, agar kamu mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Islam itu agama keilmuan (menjauhkan kejahilan atau kebodohan) dengan semangat persatuan, persamaan, persaudaraan.
Mengingat-ingat nikmat Allah membuat seseorang merasa senang dengan apa yang sudah diterimanya, dan selalu berupaya untuk sesuatu yang belum diraihnya dengan sabar dan tawakal hanya kepada Allah.
Ayat-ayat Allah adalah segala apa yang terjadi di alam semesta ini, dan segala apa yang terjadi pada diri masing-masing orang dengan berbagai hukum dan aturannya dari Allah.

waltakun = dan jadilah; minkum = di antar kamu; ummatun = umat; yad’ũna = (mereka) menyeru; ilã = kepada; al khairi = kebaikan; wa ya’murũna = dan (mereka) menyuruh; bil ma’rũfi = dengan kebaikan; wa yanhauna = dan (mereka) mencegah; ‘anil mungkari = dari yang mungkar; wa ulã-ika = dan mereka itulah; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.

wãtakum minkum ummatun yad’ũna ilãl khairi wa ya’murũna bil ma’rũfi wa yanhauna ‘anil mungkari, wa ulã-ika humul muflihũn.

104. Dan di antara kamu, jadilah segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada kebaikan, dan mencegah kemungkaran; dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Harapan Allah menciptakan makhluk, khususnya manusia itu untuk kebaikan dan mencegah kemungkaran. Seruan ini harus terus dikumandangkan. Jadilah makhluk yang beruntung. Jangan sampai menjadi makhluk yang merugi, dan merugikan makhluk lain.

wa lã takũnũ = dan jangan kamu menjadi; kalladzĩna = seperti orang-orang yang; tafarroqũ = (mereka) bercerai-berai; wakhtalafũ = dan (mereka) berselisih; mimba’di = dari sesudah; mã = apa; jã-a humu = datang kepada mereka; al bayyinaatu = keterangan yang jelas; wa ulã-ika = dan mereka itu; lahum = bagi mereka; ‘adzãbun ‘azhĩm = siksa yang keras.

wa lã takũnũ kalladzĩna tafarroqũ wakhtalafũ mimba’di mã jã-a humul bayyinaatu, wa ulã-ika lahum ‘adzãbun ‘azhĩm.

105. Dan, janganlah kamu menyamakan diri dengan orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan agar jangan bercerai-berai karena memperselisihkan keterangan yang sudah jelas, seperti umat yang terdahulu.

yawma = hari; tabyadhdhu = menjadi putih; wujũhun = wajah-wajah; wataswaddu = dan menjadi hitam (muram); wujũhun = wajah-wajah; fa amma = maka adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; aswaddat = menjadi hitam (muram); wujũhuhum = muka-muka mereka; akafartum = mengapa kamu kafir; ba’da = sesudah; ĩmaanikum = kamu beriman; fa dzũqũ = maka rasakanlah; al ’adzãba = azab; bimã kuntum = karena kamu adalah; takfurũn = kamu kafir.

yawma tabyadhdhu wujũhun wataswaddu wujũhun, fa ammal ladzĩnaswaddat wujũhuhum akafartum ba’da ĩmaanikum fadzũqul ’adzãba bimã kuntum takfurũn.

106. Pada hari itu, ada muka yang berseri, dan ada pula muka yang kusam-muram. Adapun orang-orang yang bermuka kusam-muram, kepada mereka ditanyakan: “Mengapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu, rasakanlah azab karena kekafiranmu itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada Hari Kiamat, mereka yang semua telah beriman, terus menjadi kafir lagi, mereka bermuka kusam-masam mendapatkan azab karena kekafiran, kemurtadannya itu.

wa amma = adapun; alladzina = orang-orang yang; abyadhdhot = putih bersih; wujũhuhum = wajah-wajah mereka; fafĩ = berada di dalam; rohmatillãhi = rahmat Allah; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; kholidũn = kekal.

wa ammal ladzinabyadhdhot wujũhuhum fafĩ rohmatillãhi hum fĩhã kholidũn.

107. Adapun orang-orang yang berwajah bersih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah; mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran orang-orang yang beriman di Hari Kiamat. Rahmat Allah artinya mereka mendapat surga, tempat yang penuh kenikmatan tidak ada taranya di dunia.

tilka = itulah; ãyãtullãhi = ayat-ayat Allah; natlũhã = Kami bacakan (ayat-ayat); ‘alayka = kepada kamu; bil haqqi = dengan benar; wa mallãhu = dan Allah tidaklah; yurĩdu = Dia berkehendak; zhulman = aniaya; lil ‘ãlamĩn = di alam ini.

tilka ãyãtullãhi natlũhã ‘alayka bil haqqi wa mallãhu yurĩdu zhulman lil ‘ãlamĩn

108. Itulah ayat-ayat Allah, Kami bacakan ayat-ayat itu kepadamu dengan benar; dan Allah tidak berkehendak untuk menganiaya (hamba-hamba-Nya) di alam ini.

wa lillahi = dan kepunyaanAllah; mã = apa-apa; fi = di assamãwãtĩ = langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhĩ = di bumi; wa ilallãhi = dan hanya kepada Allah; turja’u = dikembalikan; al umũru = segala urusan.

wa lillahi mã fissamãwãti wa mã fil ardhĩ wa ilallãhi turja’ul umũru.

109. Milik Allahlah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah segala urusan dikembalikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi tahu makhluk-Nya, segala urusan yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah. Segalanya terserah kepada Allah. Manusia, makhluk-Nya tinggal mengikuti apa yang diminta, dan apa yang harus dijauhi. Hal ini mudah untuk diucapkan. Dalam praktiknya banyak godaan, kesulitan, hambatan, tantangan yang harus dihadapi orang yang beriman. Ini merupakan ujian dari Allah. Hadapilah!!! Memohonlah kepada Allah untuk mendapatkan keringanan dalam menghadapi ujian, kesulitan, hambatan, tantangan itu.

kuntum = kamu adalah: khairo = sebaik-baik; ummatin = umat; ukhrijat = dilahirkan; linnãsi = untuk manusia; ta’murũna = kamu menyuruh; bil ma’rũfi = dengan (kepada) kebaikan; wa tanhauna = dan kamu mencegah; ‘ani = dari; al munkari = kemungkaran; wa tu’minũna = dan kamu beriman; billãhi = kepada Allah; wa law = dan sekiranya; ãmana = beriman; ahlul kitãbi = Ahli Kitab; lakãna = tentulah itu; khairon = lebih baik; lahum = bagi mereka; minhum = di antara kereka; ul mu’minũna = orang-orang yang beriman; wa aktsaruhumu = dan kebnyakan mereka; al fãsiqũn = orang-orang fasik.

kuntum khairo ummatin ukhrijat linnãsi ta’murũna bil ma’rũfi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minũna billãhi wa law ãmana ahlul kitãbi lakãna khairollahum minhumul mu’minũna wa aktsaruhumul fãsiqũn.

110. Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan di lingkungan manusia yang menyuruh berbuat kebaikan, dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, itu tentu lebih baik bagi mereka; di antara mereka, ada yang beriman, hanya mereka kebanyakan orang-orang yang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini merupakan penilaian Allah kepada umat Islam yang menganjurkan orang berbuat baik dan mencegah kemungkaran. Ahli Kitab juga baik kalau mereka juga beriman. Hanya sayang, kebanyakan mereka, dinilai termasuk orang fasik karena tidak mau mengikuti sunah yang dicontohkan Nabi Muhammad, dan mau melaksanakan apa yang dihadiskannya.

lan yadhurrũkum = mereka tidak akan memudaratkan kamu; illã = kecuali, selain; adzan = gangguan, celaan; wa in = dan sekiranya; yuqōtilũkum = mereka memerangi kami; yuwallũkumu = bereka berbalik; al adbãra = ke belakang; stumma = kemudian; lã yunshorũn = mereka tidak mendapat pertolongan.

lan yadhurrũkum illã adzan, wa in yuqōtilũkum yuwallũkumul adbãra stumma lã yunshorũn.

111. Sedikit pun mereka tidak akan membuat mudarat kepadamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja; dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang dan kalah. Kemudian, mereka tidak mendapat pertolongan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membesarkan hati Nabi Muhammad, bahwa Ahli Kitab yang fasik itu tidak membuat mudarat, hanya akan mengganggu dengan celaan, hinaan, ejekan saja. Bila terjadi peperangan, mereka akan kalah dan lari, mereka tidak akan mendapat pertolongan di dunia dan lebih-lebih di akhirat.

dhuribat = ditimpakan; ‘alayhimu = atas mereka; adz dzillatu = kehinaan; aina mã = di mana saja; tsuqifũ = mereka tinggal; illã = kecuali; bi hablim = pada tali; minallãhi = dari Allah; wa hablim = dan tali; minan nasi = dari manusia; wa bã-ũ = dan mereka kembali; bi ghodhobim = dengan kemurkãn; minallãhi = dari Allah; wa dhuribat = dan ditimpakan; ‘alayhimu = atas mereka; al maskanatu = kelemahan; dzãlika = demikian itu; bi annahum = bahwa mereka; kãnũ = adalah mereka; yakfurũna = mereka ingkar; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; wa yaqtulũna = dan mereka membunuh; al ambiyã-a = para Nabi; bi ghairi = dengan tidak; haqqin = beralasan kebenaran; dzãlika = demikian itu; bimã = dengan apa; ‘ashau = mereka durhaka; wa kãnũ = dan mereka adalah; ya’tadũn = mereka melampaui batas.

dhuribat ‘alayhimudz dzillatu aina mã tsuqifũ illã bihablim minallãhi wa hablim minan nasi wa bã-ũ bighodhobim minallãhi wa dhuribat ‘alayhimul maskanatu, dzãlika bi annahum kãnũ yakfurũna bi ãyãtillãhi wa yaqtulũnal ambiyã-a bi ghairi haqqin, dzãlika bimã ‘ashauw wa kãnũ ya’tadũn.

112. Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berperang di jalan atau pada agama Allah, dan berpegang pada tali perjanjian antara manusia; dan mereka kembali mendapat murka dari Allah, sehingga mereka dalam kehinaan, dan kerendahan. Yang demikian itu, karena mereka kafir pada ayat-ayat Allah; dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu, karena mereka durhaka dan melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang kafir pada ayat-ayat Allah dan tali perjanjian antar manusia akan mendapat murka, dan kehinaan dari Allah; “mereka kembali mendapat murka dari Allah, sehingga mereka dalam kehinaan, dan kerendahan” hal ini karena kekafiran mereka.
Durhaka itu ingkar terhadap perintah orang tua atau perintah Allah, ingkar pada perjanjian antarmanusia; tidak setia pada kekuasaan Allah.
Orang yang melampaui batas artinya orang yang tidak taat pada peraturan, syari’at agama.

laisũ = tidaklah mereka; sawã-am = sama; min ahlil kitãbi = di antara Ahli Kitab; ummatun = umat; qō-imatun = lurus; yatlũna = mereka membaca; ãyãtillãhi = ayat-ayat Allah; ãnã-a = tengah; al layli = malam; wahum = dan mereka; yasjudũn = bersujud.

laisũ sawã-am min ahlil kitãbi ummatun qō-imatun yatlũna ãyãtillãhi ãnã-al layli wahum yasjudũn.

113. Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu, ada golongan yang berlaku benar, lurus; mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di tengah malam hari, sedang mereka juga bersujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Beberapa orang Ahli Kitab berbuat benar. Mereka membaca ayat-ayat Allah, salat, dan sujud.
Apakah sujudnya sudah mengikuti Sunah Nabi Muhammad saw.?

yu’minũna = mereka beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan hari akhirat; wa ya’murũna = dan mereka menyuruh; bil ma’rũfi = kepada kebaikan; wa yanhauna = dan mereka mencegah; anil munkari = dari kermungkaran; wa yusãri’ũna = dan mereka bersegera; fil khairãti dalam kebajikan; wa ũlã-ika = dan mereka itu; minash shãlihĩn = dari orang-orang salih.

yu’minũna billãhi wal yaumil ãkhiri wa ya’murũna bil ma’rũfi wa yanhauna anil munkari wa yusãri’ũna fil khairãti wa ũlã-ika minash shãlihĩn

114. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat; mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan bersegera mengerjakan berbagai kebajikan; mereka termasuk orang-orang yang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Beberapa orang Ahli Kitab beriman kepada Allah dan melaksanakan apa yang disukai Allah, mereka termasuk orang-orang yang saleh.

wamã = dan apa saja; yaf’alũ = yang mereka kerjakan; min khairin = dari kebaikan; falan = maka sekali-kali tidak; yukfarũhu = mereka dihapuskan; walllãhu = dan Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; bil muttaqĩn = pada orang-orang yang bertakwa

wamã yaf’alũ min khairin falan yukfarũhu, walllãhu ‘alimum bil muttaqĩn.

115. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, sedikit pun mereka tidak dihalangi menerima pahalanya, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sedikit pun mereka tidak dihalangi menerima pahalanya” di dunia. Di akhirat, orang-orang yang tidak percaya pada kenabian Muhammad saw., hal ini akan dipertanyakan.

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; kafarũ = kafir; lan tughniya = tidak dapat mencegah; ‘anhum = dari mereka; amwãluhum = harta-benda mereka; wa lã = dan tidak; aulãduhum = anak-anak mereka; minallãhi = dari Allah; syai-an = sedikit pun; wa ũlã-ika = dan mereka itu; ashhãbu = penghuni; nãri = api neraka; hum = mereka; fĩhã = di sana; khōlidũn = kekal.

innalladzĩna kafarũ lan tughniya ‘anhum amwãluhum wa lã aulãduhum minallãhi syai-an wa ũlã-ika ashhãbun nãri, hum fĩhã khōlidũn.

116. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak azab dari Allah. Mereka adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah bagi orang kafir, artinya orang yang bersekutu dengan setan; mereka menolak, menyangkal perintah Allah, mereka menutup mata, telinga dan hati serta pikirannya dari kebenaran; Mereka tidak percaya kepada Allah, Nabi, Rasul-Nya, dan tidak mensyukuri nikmat hidupnya, tidak mensyukuri nikmat dari Allah, dan bersifat kikir, menyuruh orang untuk kikir, dan menutup-nutupi karunia Allah, orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah; harta mereka di dunia banyak dan membahagiakan, demikian juga anak-anak, kalau mereka tidak mau percaya ada-Nya Allah, dan pada kenabian Muhammad saw.maka azab akhirat itu tetap mengancam mereka, menjadi penghuni neraka.

matsalu = perumpamaan; mã = apa (harta); yunfiqũna = mereka nafkahkan; fĩ hãdzihi = di dalam ini; al hayãti = kehidupan; ad dun-yã = dunia; kamatsali = seperti; rĩhin = angin; fĩhã = di dalamnya; shirrun = angin yang sangat dingin; ashãbat = ia menimpa; hartsa = ladang; qaumin = kaum; zholamũ = (mereka) menganiaya; anfusahum = diri mereka sendiri; fa ahlakat-hu = = lalu merusaknya; wa mã dholamahumu = dan tidak menganiaya mereka; al lãhu = Allah; wa lãkin = akan tetapi; anfusahum = diri mereka; yadhlimũn = mereka menganiaya.

matsalu mã yunfiqũna fĩ hãdzihil hayãtid dun-yã kamatsali rĩhin fĩhã shirrun ashãbat hartsa qaumin zholamũ anfusahum fa ahlakat-hu wa mã dholamahumul lãhu wa lãkin anfusahum yadhlimũn.

117. Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan dalam kehidupan dunia, adalah seperti angin yang mengandung hawa sangat dingin, dan merusak ladang tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri. Allah tidak menganiaya mereka; tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak percaya kepada sabda Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad melalui Malaykat Jibril, jika mereka mempunyai harta yang banyak, dan mereka menafkahkan hartanya, akan berakibat merusak lingkungan hidupnya. Bukti-bukti tampak dewasa ini, dengan banyak terjadinya banjir, longsor, angin puting beliung, kebakaran hutan, rumah, kecelakãn besar ataupun kecil, dan lain-lain.
“merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” karena sombong, lupa dan melupa-lupakan Hukumullah dan Sunatullah.

yã ayyuhal ladzĩna amanũ = wahai orang-orang yang berioman; lã tatakhidzũ = jangan kamu mengambil; bithōnatan = teman akrab; min dũnikum = dari luar golonganmu; lã ya’-lũnakum = mereka tidak henti-henti kepadamu; khãbalan = membuat kemudharatan; waddũ = dan mereka menginginkan; mã ‘anittum = apa yang menyusahkan kamu; qod badati = sungguh telah nyata; al baghdhō-u = kebencian; min afwãhihim = dari mulut mereka; wa mã = dan apa; tukhfĩ = yang disembunyikan; shudũruhum = dalam hati mereka; akbar = lebih besar; qod = sungguh; bayyannã = Kami telah menerangkan; lakumu = kepada kamu; al ãyãti = ayat-ayat; inkuntum = jika kamu adalah; ta’qilũn = jika kamu menggunakan akal.

yã ayyuhal ladzĩna amanũ, lã tatakhidzũ bithōnatam min dũnikum lã ya’-lũnakum khãbalan, waddũ mã ‘anittum, qod badatil baghdhō-u min afwãhihim, wa mã tukhfĩ shudũruhum akbar, qod bayyannã lakumul ãyãti inkuntum ta’qilũn.

118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil sebagai teman kepercayaanmu, orang-orang yang dari luar kalanganmu, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkanmu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan lebih besar lagi di dalam hati mereka. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu, ayat-ayat-Ku, jika kamu memahaminya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan kepada orang-orang yang beriman. “orang-orang yang dari luar kalanganmu” artinya orang yang tidak beriman kepada Kenabian Muhammad saw..
Perhatikan, pahami dan lakukan berdasarkan ayat-ayat Allah, apa yang kamu kerjakan.

hã antum = kamu ini; ũlã-I = beginilah; tuhibbũnahum = kamu menyukai mereka; walã = dan tidak; yuhibbunakum = menyukai kamu; wa tu’minũna = dan kamu beriman; bil kitãbi = kepada kitab; kullihĩ = semuanya; wa idzã = dan apabila; laqũkum = mereka menjumpai kamu; qōlũ = mereka berkata; ãmannã = kami beriman; wa idzã = dan apabila; kholaw = mereka menyendiri; ‘adhdhũ = mereka menggigit; ‘alaykumu = kepada kamu; al anãmila = jari-jari; minal ghoidhi = dari kebencian; qul = katakanlah; mũtũ = mãtilah kamu; bi = dengan; ghoidhi = kemarahan; kum = kamu; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bi = dengan; dzãti = yang di dalam; ash shudũr = hati

hã antum ũlã-i tuhibbũnahum walã yuhibbunakum wa tu’minũna bil kitãbi kullihĩ, wa idzã laqũkum qōlũ ãmannã wa idzã kholaw ‘adhdhũ ‘alaykumul anãmila minal ghoidhi qul mũtũ bi ghoidhikum innallãha ‘alĩmum bi dzãtish shudũr.

119. Begitulah, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada semua Kitab-kitab. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: “Kami beriman” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadapmu, Katakanlah kepada mereka: “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya, Allah mengetahui segala isi hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbedaan keimanan akan menyebabkan perbedaan perasaan suka atau tidak suka. Allah mengingatkan, pengakuan seseorang, bahwa ia beriman, pengakuannya itu belum tentu benar. Berhati-hatilah!
Ada kebiasaan menggigit ujung jari untuk menunjukkan emosi marah yang tertahan, tidak bisa diungkapkan, karena ada orangnya yang menyebabkan marah.

in tamsaskum = jika kamu memperoleh; hasanatum = kebaikan; tasu’hum = menyedihkan mereka; wa intushibkum = dan jika musibah menimpa kamu; sayyi-atun = bencana; yafrahũ = mereka gembira; bi hã = karenanya; wa in tashbirũ = dan jika kamu bersabar; wa tattaqũ = dan kamu bertakwa; lã yadhurrukum = tidak akan memudaratkan kamu; kaiduhum = tipu-daya mereka; syai-an = sedikit pun; innallãha = sesungguhnya Allah; bi mã = terhadap apa; ya’malũna = mereka kerjakan; muhĩth = mencakup (meliputi) segala apa.

in tamsaskum hasanatum tasu’hum wa intushibkum sayyi-atun yafrahũ bi hã, wa in tashbirũ wa tattaqũ lã yadhurrukum kaiduhum syai-an, innallãha bi mã ya’malũna muhĩth.

120. Jika kamu memperoleh kebaikan, tentu mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu-daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya, Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak percaya pada Kenabian Muhammad saw.perasaannya selalu berlawanan dengan orang yang beriman. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

wa idz = dan ketika; ghodauta = kamu berangkat pada pagi hari; min ahlika = dari keluargamu; tubawwi-u = kamu menempatkan; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; maqō’ida = beberapa tempat; lil qitãli = untuk berperang; wallãhu = sesungguhnya Allah; samĩ’un ‘alĩmun = Maha mendengar dan Maha Mengetahui.

wa idz ghodauta min ahlika tubawwi-ul mu’minĩna maqō’ida lil qitãli wallãhu samĩ’un ‘alĩmun.

121. Dan ingatlah, ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini peringatan Allah kepada Nabi Muhammad ketika Perang Badar dan Perang Uhud, melawan kaum kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad yang terjadi pada tahun ke 3 Hijriah.

idz = ketika; hammat = ingin; thō-ifataani = dua golongan; minkum = dari kamu; an tafsyalã = bahwa keduanya takut; wallãhu = dan Allah; waliyyuhumã = penolong keduanya; wa alallãhi = dan kepada Allah; falyatawakkali = maka hendaknya bertawakal; al mu’minũn = orang-orang mukmin.

idz hammat tho-ifataani minkum an tafsyalã, wallãhu waliyyuhumã, wa alallãhi falyatawakkalil mu’minũn

122. Ketika dua golongan dari pihakmu ingin mundur karena takut, padahal Allah itu penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu, hendaklah orang-orang mukmin bertawakal hanya karena Allah saja.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Mukmin tidak boleh takut kepada sesama makhluk, terutama kepada manusia. Percayalah pada pertolongan Allah. Lemah dan kuat itu Allah yang memberinya. Minta kekuatan kepada Allah. Orang kuat pun dapat dikalahkan oleh orang yang lemah, kalau Allah meridoinya. Sabar dan tawakal itu merupakan modal untuk meraih kemenangan dalam segala macam perjuangan hidup.

walaqod = dan sesungguhnya; nashorokumullãhu = Allah telah menolong kamu; bi badrin = dalam Perang Badar; wa antum = dan kamu; adzilatun = lemah; fattaqũllãha = bertakwalah kepada Allah; la’allakum = supaya kamu; tasykurũn = bersyukur.

walaqod nashorokumullãhu bi badrin wa antum adzilatum fã attaqũllãha la’allakum tasykurũn.

123. Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar. Padahal ketika itu, kamu adalah orang-orang yang lemah. Karena itu, selalu bertawakallah kepada Allah, supaya kamu mensyukurinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kekuasaan Allah terbukti dalam Perang Badar. Umat Islam yang sedikit, lemah dimenangkan Allah. Sesuatu yang ajaib, tidak masuk akal kalau dipikirkan secara rasional saja. Tawakal kepada Allah, dan selalu bersyukur atas segala apa yang dilimpahkan kepada makhluk-Nya. Itulah kunci untuk mendapatkan kekuatan jasmani dan rohani untuk mencapai kemenangan.

idz taqũlu = ketika kamu mengatakan; lil mu’minĩna = kepada orang-orang mukmin; alan = apakah tidak; yakfiyakum = mencukupi kamu; an yumiddakum = bahwa menolong kamu; robbukum = Robkamu; bi tsalãtsati ãlãfin = dengan tiga ribu; minal malãikati = dari Malaykat; munzalĩn = yang diturunkan.

idz taqũlu lil mu’minĩna alan yakfiyakum an yumiddakum robbukum bi tsalãtsati ãlãfim minal malãikati munzalĩn.

124. Ingatlah, ketika kamu bertanya kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu, Allah membantu kamu dengan tiga ribu Malaykat yang diturunkan dari langit?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan tentang cara Nabi Muhammad saw.membesarkan hati orang mukmin yang akan menghadapi perang, dengan mengemukakan akan ada bantuan dari Allah dengan tiga ribu Malaykat.

balã = ya benar, cukup; intashbirũ = jika kamu bersabar; wa tattaqũ = dan kamu bertakwa; wa ya’tũkum = dan mereka mendatangi kamu; min faurihim = dengan tiba-tiab; hãdzã = ini; yumdidkum = (pasti) menoloing kamu; robbukum = Robkamu; bi khamsati ãlafin = dengan lima ribu; minal malãikati = dari Malaykat; musawwimĩn = yang memakai tanda.

balã, intashbirũ wa tattaqũ wa ya’tũkum min faurihim hãdzã yumdidkum robbukum bi khamsati ãlafim minal malãikati musawwimĩn.

125. Ya cukup, jika kamu bersabar dan bertakwa, dan mereka menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaykat yang memakai tanda.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang itu harus sabar dan bertakwa juga. Allah pasti akan membantu dengan cara yang sangat baik.

wa mã ja’alahu = dan tidak menjadikannya; al lãhu = Allah; illã = melainkan; busyrō = berita gembira; lakum = bagimu; wa litathma-inna = dan untuk menenteramkan; qulũbukum = hati kamu; bihi = dengannya; wa man = dan barang siapa; nashru = pertolongan itu; illã = kecuali; min ‘indillãhi = dari Allah; al ‘azĩzil hakĩm = Maha Perkasa, dan Maha bijaksana

wa mã ja’alahul lãhu illã busyrō lakum wa litathma-inna qulũbukum bihi, wa man nashru illã min ‘indillãhil ‘azĩzil hakĩm.

126. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira bagi kemenanganmu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan, kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab:Bala bantuan itu tidak tampak, tapi kemenangan itu, Allah yang menetapkan. Inilah kekuasaan, keperkasaan, kebijaksanaan Allah. Hamba-Nya harus yakin adanya bantuan kekuatan Allah yang diberikan untuk dapat meraih kemenangan dalam memperjuangkan tujuan yang benar.

liyaqthō’a = karena Dia hendak membinasakan; thorofan = golongan; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; kafarũ = kafir; au yakbitahum = atau Dia menjadikan mereka hina; fayanqolibũ = maka mereka kembali; khō-ibĩn = mereka sia-sia (tidak memperoleh apa-apa).

liyaqthō’a thorofam minal ladzĩna kafarũ au yakbitahum fayanqolibũ khō-ibĩn.

127. Allah menolong kamu dalam perang Badar, dan memberi bala bantuan itu, untuk membinasakan segolongan orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan membinasakan orang-orang kafir. Orang-orang kafir itu selalu ada di muka bumi ini, yang menjadi musuh orang-orang beriman, atau menjadi lahan dakwah, menguji kesabarannya.
“membinasakan segolongan orang yang kafir” artinya ada segolongan yang terbinasakan, dan ada segolongan lain yang sempat tobat. Orang kafir itu bersifat hina karena terkalahkan, baik di dunia ataupun di akhirat. Amal kebaikan mereka tidak diperhitungkan di akhirat, jadi kembali ke haribãn Allah dengan sia-sia, tidak memperoleh apa-apa.

laisa = tidak ada; laka = bagimu; minal amri = dari satu urusan; syai-un = sesuatu; sedikit pun; au = atau; yatũba = Dia menerima taubat; ‘alayhim = atas mereka; au = atau; yu’adzdzibahum = Di mengazab mereka; fa-innahum = maka sesungguhnya mereka; zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

laisa laka minal amri syai-un au yatũba ‘alayhim au yu’adzdzibahum fa-innahum zhōlimũn.

128. Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, apakah Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya, mereka itu orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Semua itu urusan Allah, tak ada sedikit pun campur tangan dari umat Muhammad saw.di dalamnya. Allah Yang Maha Pengasih memberi kesempatan bagi orang-orang kafir yang mau bertobat, atau Allah akan mengazab mereka, karena orang-orang kafir itu lalim pada dirinya sendiri.

wa lillãhi = dan kepunyaanAllah; mã = apa-apa; fissamãwãti = yang ada di langit; wa mã fil ardhi = dan apa-apa yang ada di bumi; yaghfiru = Dia mengampuni; liman = kepada siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa yu’adzibu = dan Dia mengazab; man yasyã-u = Siapa yang Dia kehendaki; wallãhu ghofũrurrohĩm = dan Allah maha Pengampun dan Maha Penyayang.

wa lillãhi mã fissamãwãti wa mã fil ardhi, yaghfiru liman yasyã-u wa yu’adzibu man yasyã-u, wallãhu ghofũrurrohĩm.

129. KepunyaanAllah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Dia memberi ampun, kepada siapa yang Dia kehendaki; Dia menyiksa, siapa yang Dia kehendaki; dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Al Baqarah: 2: 116; 255; 284 dan Surat Ali ‘Imran, 3 : 29; An Nisa, 4 : 131; 132; 170. Demikianlah kekuasaan dan sifat Allah. Harus membudaya dan menjadi adab umat manusia.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; lã ta’kulu = jangan kamu memakan; ar ribã = riba; adh’ãfan = lipat ganda; mudhō’afatan = berlipat-lipat; wat taqu = dan bertakwalah; ullãha = Allah; la’allakum = supaya kamu; tuflihũn = (kamu) beruntung.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã ta’kulur ribã adh’ãfam mudhō’afatan, wat taqullãha la’allakum tuflihũn.

130. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda, dan bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah bagi orang yang beiman, “jangan memakan riba” (lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 275). Riba artinya meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi. Disebut juga lintah darat, penghisap darah manusia. Kalau ingin beruntung, setiap ibadahmu harus diserai takwa kepada Allah.

wattaqũ = dan peliharalah dirimu; an nãro = api neraka; al latĩ u’iddat = yang disediakan; lil kãfirĩn = bagi orang-orang kafir.

wattaqũn nãrol latĩ u’iddat lil kãfirĩn.

131. Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman harus memelihara diri dari api neraka. Artinya, setiap langkah hidup kita harus benar-benar mengikuti aturan Allah. Lihat ayat berikut ini.

wa athĩ’ullãha = dan taatlah kepada Allah; war rosũla = dan (taatlah) kepada Rasul(-Nya); la’alakum = supaya kamu; tarhamũn = (kamu) diberi rahmat.

wa athĩ’ullãha war rosũla la’alakum tarhamũn.

132. Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah perintah Allah yang selalu diulang-ulang secara bervariasi (lihat juga Q.s Ali ‘Imran, 3: 32; An Nisã’, 4: 59). Diberi rahmat artinya diberi belas kasih; atau berkah, karunia Allah

wa sãri’ũ = dan bersegeralah kamu; ilã maghfirotin = kepada ampunan; mirrobbikum = dari Robkamu; wa jannatin = dan surga; ardhuhã = luasnya; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; u’iddat = disediakan; lil muttaqĩn = untuk orang-orang yang bertakwa.

wa sãri’ũ ilã maghfirotim mirrobbikum wa jannatin ardhuhãs samãwãtu wal ardhu u’iddat lil muttaqĩn.

133. Dan bersegeralah kamu menggapai ampunan Tuhanmu, dan mencapai surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini perintah, anjuran Allah yang sering dilupa-lupakan orang. Wujud kasih-sayang Allah kepada manusia, ciptaan-Nya. Menggapai ampunan, lihat ayat berikut ini, tentang ciri orang yang takwa.

alladzĩna = orang-orang yang; yunfiqũna = (mereka) menafkahkan; fissarrō-i = di waktu senang; wadharrō’-i = dan di waktu susah; wal kãzhimĩna = dan orang-orang yang menahan; al ghaidha = kemarahan; wal ‘ãfĩna = dan orang-orang yang memaafkan; ‘anin nãsi = dari manusia lain; wallãhu = dan Allah; yuhibu = Dia menyukai; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.

alladzĩna yunfiqũna fissarrō-i wadharrō’-i wal kãzhimĩnal ghaidha wal ‘ãfĩna ‘anin nãsi, wallãhu yuhibul muhsinĩn.

134. yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah ciri-ciri orang yang takwa, selalu diulang-ulang. “Allah menyukai orang-orang yang dapat menahan emosi diwaktu gembira, senang, atau sedih, susah karena mendapat musibah. Kemampuan menahan emosi itu ciri dari orang yang dapat “berbuat kebajikan“. Pernyataan Allah ini perlu keterangan panjang lebar yang terkait dengan kebiasaan dan anjuran-anjuran yang ada di dalam Alqur’an dan Hadits tentang kesabaran menahan kegembiraanatau kesedihan, atau mengendalikan nafsu-nafsu amarah, sufiah, lawwamah, mutmainah; nafsu robaniah, syaitoniah, khewaniah, sabuiyah, ….
al ghaidha = kemarahan, dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, ada istilah krodha yang artinya marah.

walladzĩna = dan orang-orang yang; idzã = apabila; fa’alũ = mereka mengerjakan; fãhisyatan = perbuatan keji; au = atau; zholamũ = mereka melalimi; anfusahum = diri mereka sendiri; dzakaru = mereka ingat; al llãha = kepada Allah; fastaghfarũ = lalu mereka memohon ampun; li dzunũbihim = atas dosa-dosa mereka; wa man = dan siapakah; yaghfiru = (yang) mengampuni; adz dzunũba = dosa-dosa itu; illallãhu = selain Allah; wa lam = dan mereka; yushirrũ = tidak terus; ‘alã mã = atas apa; fa’alũ = mereka kerjakan; wa hum = dan mereka; ya’lamũn = (mereka) mengetahui.

walladzĩna idzã fa’alũ fãhisyatan au zholamũ anfusahum dzakarul llãha fastaghfarũ li dzunũbihim wa man yaghfirudz dzunũba illallãhu wa lam yushirrũ ‘alã mã fa’alũ wa hum ya’lamũn.

135. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka menyadari.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan dari Allah. Orang harus percaya pada kekuasaan Allah. “Perbuatan keji” disebut juga nafsu syaitoniah itu perbuatan “menganiaya diri sendiri” seperti berbohong, menipu, memalsu, merampok, mencuri, membunuh tanpa hak, berbicara kasar, tidak sopan, marah berlebihan, malas berlebihan, curang, licik, suka berpura-pura, pembohong, pemeras, dan lain-lain.

ũlã-ika = mereka itu; jazã-uhum = balasan mereka; maghfirotun = ampunan; mir robbihim = dari Robmereka; wa jannaatun = dan surga; tajrĩ = mengalir; min = dari tahtiha = bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa ni’ma = dan sebaik-baik nikmat; ajru = pahala (ganjaran); al ‘ãmilĩn = orang-orang yang beramal.

ũlã-ika jazã-uhum maghfirotum mir robbihim wa jannaatun tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã, wa ni’ma ajrul ‘ãmilĩn.

136. Balasan mereka itu ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; itulah sebaik-baik pahala (ganjaran) orang-orang yang beramal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang menyesal karena berbuat keji, menganiaya diri sendiri, lalu mengingat Allah dan memohon ampun kepada-Nya; dan tidak melanjutkan perbuatan keji, dan menganiaya dirinya; balasannya surga. Yang penting: jangan mengulangi perbuatan keji dan jangan menganiaya diri!!! Manusia sering lupa pada apa yang telah dilakukannya. Ulangi memohon ampun setiap hari, setiap melakukan salat, dengan keyakinan, Allah akan mengampuninya.

qod kholat = sesungguhnya telah berlaku; min qoblikum = dari sebelum kamu; sunatun = sunah; fasĩrũ = maka berjalanlah kamu; fil ardhi = di muka bumi; fanzhurũ = maka perhatikanlah; kayfa = bagaimana; kãna = adalah; ‘ãkibatu = akibat; al mukadzdzibĩn = orang-orang yang berdusta (mendustakan para Rasul).

qod kholat min qoblikum sunatun fasĩrũ fil ardhi fanzhurũ kayfa kãna ‘ãkibatul mukadzdzibĩn.

137. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah, karena itu, berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan para Rasul.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan agar memperhatikan orang-orang yang mendustakan Hukumullah dan Sunatullah, serta mendustakan para Rasul dengan akibat yang ditanggungnya.

hãdzã = ini; bayaanun = penerangan; linnãsi = bagi manusia; wa hudan = dan petunjuk; wa mau’idhatun = dan pelajaran; lil muttaqĩn = bagi orang-orang yang takwa.

hãdzã bayaanul linnãsi wa hudan wa mau’idhatul lil muttaqĩn.

138. Alqur’an ini penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan, pemberitahuan bagi seluruh umat manusia, terutama untuk orang-orang yang bertakwa. Mereka harus membacanya, mempelajarinya untuk menjadi petunjuk, dan pembelajaran bagi orang banyak.

wa lã tahinũ = kamu jangan bersikap lemah; wa lã tahzanũ = dan jangan bersedih; wa antumu = padahal kamulah; al a’lawna = lebih tinggi; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

wa lã tahinũ wa lã tahzanũ wa antumul a’lawna inkuntum mu’minĩn.

139 Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah bagi orang-orang yang beriman. Orang Mukmin itu orang yang berderajat paling tinggi, jangan rendah diri, harus optimis.
tahinũ = kamu lemah, hina hanya di hadapan Allah. Di hadapan makhluk lain dan manusia yang kemasukan setan, kamu adalah Khalifah di muka bumi.

in yamsaskum = jika kamu mendapat; qarhun = luka; faqod = maka sesungguhnya; massa = telah mendapat; al qauma = kaum; qarhun = luka; mitsluhũ = seperti itu; wa tilka = dan itu; al ayyãmu = hari; masa; nudãwiluhã = Kami pergilirkan ia; bayna= di antara; an nãsi = manusia; wa liya’lama = karena hendak mengetahui; allãhu = Allah; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wa yattakhidza = dan Dia menjadikan; minkum = di antara kamu; syuhadã-a = mati syahid; wallãhu = dan Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

in yamsaskum qarhun faqod massal qauma qarhum mitsluhũ, wa tilkal ayyãmu nudãwiluhã bainan nãsi wa liya’lamallãhul ladzĩna ãmanũ wa yattakhidza minkum syuhadã-a, wallãhu lã yuhibbuzh zhōlimĩn.

140 . Ketika pada Perang Uhud kamu mendapat luka, sesungguhnya kaum kafir itu pun pada Perang Badar mendapat luka yang serupa. Dan masa kejayaandan masa kehancuran itu, Kami pergilirkan di antara manusia, agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir, dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai Syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini untuk pelajaran bagi semua manusia. Allah yang menetapkan segala penderitaan, kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kerugian, kesenangan, kesusahan, dan lain-lain. Itu semua untuk menguji manusia, apakah ia seorang yang beriman atau orang yang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad. Allah tidak suka kepada orang yang lalim kepada diri mereka sendiri.
Syuhada artinya orang yang terbunuh atau mati saatmemperjuangkan dan menumbuhkembangkan akidah Islam.

wa liyumahhisha = dan karena hendak membersihkan; allãhu = Allah; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa yamhaqo = dan Dia membinasakan; al kãfirĩn = orang-orang kafir.

wa liyumahhishallãhul ladzĩna ãmanũ wa yamhaqol kãfirĩn.

141.dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa-dosa mere-ka, dan membinasakan orang-orang yang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman akan dibersihkan dari dosa-dosanya. Ketika mendapat penderitaan, kekalahan, kesusahan, kerugian; mereka bergantung kepada Allah, berdoa untuk hal yang terbaik di dunia dan di akhirat. Kalau mendapat kemenangan, kesenangan, keberuntungan, dia akan bersyukur kepada Allah dengan doa agar menjadi baik di dunia dan di akhirat.
Orang kafir, kalau mendapat kekalahan, kesusahan, penderitaan, kerugian, mereka akan berkeluh-kesah, menggerutu, menyumpah-nyumpah, melontarkan kata-kata kotor, menyalah-nyalahkan pihak lain yang menambah dosa baginya. Kalau mendapat kemenangan, kesenangan, keberuntungan, dia merasakan nikmat tapi tidak merasa bahwa itu semua dari kasih-sayang Allah. Semuanya akan menjadi dosa karena mereka tidak mau bersyukur, bahwa segala sesuatunya itu dari Allah.

am hasibtum = apakah kamu mengira; antadkhulũ = bahwa kamu akan masuk; al jannata = surga; wa lammã = dan belum; ya’lamillãhu = Allah belum membuktikan; al ladzĩna = orang-orang yang; jãhadũ = (mereka) berjihad; minkum = di antara kamu; wa ya’lama = dan Dia mengetahui; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.

am hasibtum antadkhulũl jannata wa lammã ya’lamillãhul ladzĩna jãhadũ minkum wa ya’lamash shōbirĩn.

142. Apakah kamu mengira, bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad, dan belum terbukti orang-orang yang sabar di antara kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 140 dan 141.
Arti jihad: 1. berjuang menegakkan, menumbuhkembangkan akidah Islam; 2. mengarahkan hawa nafsu ke arah yang diridoi Allah; 3. menafkahkan harta untuk kesejahteraanmanusia di dunia; 4. memberantas kebatilan dan memperjuangkan yang hak; 5. mencari ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya.
Orang berjihad dan orang bersabar belum tentu masuk surga, tergantung pada cara, niat awal, dan keihklasan hati dari setiap perbuatannya itu, dilandasi keimanan atau tidak, terkait dengan kasih-sayang Allah atau tidak.
Akidah Islam adalah kepercayaanatau keyakinan berdasarkan hukum, norma, aturan Islam. Hukum Islam adalah peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan yang berkenan dengan kehidupan berdasarkan kitab Quran.
Norma agama Islam adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warganya, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan kendali tingkah laku yang sesuai dan berterima dalam beragama Islam.
Aturan Islam adalah segala sesuatu ketentuan yang ditetapkan berdasarkan agama Islam.

wa laqod = dan sesungguhnya; kuntum = kamu adalah; tamannauna = (kamu) mengharapkan; al mauta = mati; min qobli = dari sebelum; an talqauhu = bahwa kamu menemuinya; faqod = maka sungguh; ro-aitumũhu = kamu telah melihatnya; wa antum = dan kamu; tandhurũn = kamu menyaksikan.

wa laqod kuntum tamannaunal mauta min qobli an talqauhu faqod ro-aitumũhu wa antum tandhurũn.

143. Sesungguhnya kamu mengharapkan mati syahid sebelum kamu menghadapi-nya; sekarang sungguh kamu telah melihat dan menyaksikannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 140, 141, 142. Sebelum Perang Uhud, banyak para sahabat, terutama yang tidak ikut berperang di Badar, menganjurkan agar nabi Muhammad saw.keluar dari kota Madinah memerangi orang kafir.

wa mã = dan tidaklah; muhammadun = Muhammad itu; illã = hanyalah, kecuali; rosũlun = seorang Rasul; qod = sungguh; kholat = telah berlalu; min qoblihi = dari sebelumnya; ar rusulu = beberapa orang Rasul; afa-ĩn = apakah jika; am mãta = ia wafat; au = atau; qutila = ia dibunuh; anqolabtum = kamu berbalik; ‘alã = atas; a’qōbikum = tumit-tumit kamu (ke belakang); wa man = dan barang siapa; yanqolib = (ia) berbalik; ‘alã = atas; ‘aqibaihi = kedua tumitnya; falan = maka (hal itu) tidak; yadhurra = memudaratkan; al lãha = Allah; sya-ian = sedikit pun, suatu; wa sayajzĩ = dan akan memberi balasan; al lãhu = Allah; asy syãkirĩn = orang-orang yang bersyukur.

wa mã muhammadun illã rosũlun qod kholat min qoblihir rusulu, afa-ĩm mãta au qutila anqolabtum ‘alã a’qōbikum wa man yanqolib ‘alã ‘aqibaihi falan yadhurral lãha sya-ian wa sayajzĩl lãhusy syãkirĩn.

144. Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang menjadi murtad? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun; Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sangat menghargai orang-orang yang mensyukuri takdir hidupnya yang dikaruniakan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Orang yang meragukan, bahkan yang tidak percaya pada ada-Nya Allah dan Rasul-Nya, khususnya Nabi Muhammad saw., sedikit pun tidak mendatangkan mudharat kepada-Nya.

wa mã kãna = dan tidak ada; li nafsin = bagi satu jiwa; an tamũta = akan mati; illã = kecuali, melainkan; bi idznil lãhi = dengan izin Allah; kitãban = telah ditetapkan, ditentukan; mu-ajjalan = waktu tertentu ajalnya; wa man = dan barang siapa; yurid = (ia) menghendaki; tsawãba = pahala; ad dun-yã = dunia; nu’tihi = Kami berikan kepadanya; minhã = darinya; wa man = dan barang siapa; yurid = (ia) menghendaki; tsawãba = pahala; al ãkhiroti = akhirat; nu’tihi = Kami berikan kepadanya; minhã = darinya; wa sanajzĩ = dan kami akan memberi balasan; asy syãkirĩn = orang-orang yang bersyukur.

wa mã kãna li nafsin an tamũta illã bi idznil lãhi kitãbam mu-ajjalan wa man yurid tsawãbad dun-yã nu’tihi, minhã wa man yurid tsawãbal ãkhiroti nu’tihi minhã, wa sanajzĩsy syãkirĩn.

145. Sesuatu yang bernyawa, tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pula kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Takdir Allah itu sudah ditetapkan jauh sebelum makhluk-Nya diberi nyawa, khususnya manusia yang dilengkapi akal dan pikiran. Mereka diberi kebebasan memilih. Ujian bagi manusia yang dilengkapi akal dan pikiran untuk memilih, apakah mau mengikuti petunjuk Allah atau menolak. Kalau mengikuti petunjuk Allah, maka ia termasuk orang-orang yang bersyukur. Kalau menolak, maka ia termasuk orang-orang kafir. Masing-masing mendapatkan balasannya. Takdir itu akhirnya ditentukan oleh pilihan makhluk yang berakal-pikiran. Makhluk-makhluk lain hanya sebagai ujian dan pelengkap kebutuhan hidup, menjadi sumber ilmu manusia.

wa ka-ayyim = dan berapa banyak; min nabiyyin = dari para Nabi; qōtala = berperang; ma’ahũ = bersamanya; ribbiyyũna = orang-orang yang mengakui Rob(ber-Tuhan, bertakwa); katsĩrun = banyak, sejumlah besar; famã = maka tidak; wahanũ = mereka menjadi lemah; limã = karena apa (bencana); ashōbahum = menimpa mereka; fĩ sabĩli = di jalan; al lãhi = Allah; wa mã = dan tidak; dho’ufũ = (mereka) lemah, lesu; wa ma = dan tidak; astakãnũ = mereka menyerah; wallãhu = dan Allah; yuhibbu = Dia menyukai; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.

wa ka-ayyim min nabiyyin qōtala ma’ahũ ribbiyyũna katsĩrun famã wahanũ limã ashōbahum fĩ sabĩlil lãhi wa mã dho’ufũ wa mastakãnũ, wallãhu yuhibbush shōbirĩn.

146. Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka, sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa kepada Robb. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang sabar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengisahkan orang-orang yang berjuang di jalan Allah dengan berbekal takwa kepada Allah, dan penuh kesabaran. Mereka lebih bersemangat, karena mereka percaya, apa yang dilakukannya akan dibalas dengan pahala surga.

wamã kãna = dan tidak ada; qouluhum = perkataan mereka; illã = kecuali, selain; an qōlũ = mereka mengatakan; robbana = ya Robkami; aghfir = ampunilah; lanã = bagi kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; wa isrofanã = dan tindakan yang berlebihan kami; fĩ amrinã = pada urusan-urusan kami; wa tsabbit = dan tetapkanlah; aqdãmanã = pendirian kami; wanshurnã = dan tolonglah kami; ‘alal = dalam menghadapi; qaumil kãfirĩn = kaum kafir.

wa mã kãna qouluhum illã an qōlũ robbanãghfir lanã dzunũbanã wa isrofanã fĩ amrinã wa tsabbit aqdãmanã wanshurnã ‘alal qaumil kãfirĩn.

147. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Robkami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami menghadapi kaum kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajarkan doa kepada orang-orang yang (ingin) beriman.

fa-ãtãhumu = maka memberikan kepada mereka; al lãhu = Allah; tsawãba = pahala; ad dun-yã = di dunia; wa husna = dan kebaikan; tsawãbi = pahala; al ãkhiroti = akhirat; wallãhu = dan Allah; yuhibbu = (Dia) menyukai; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.

fa-ãtãhumul lãhu tsawãbad dun-yã wa husna tsawãbil ãkhiroti wallãhu yuhibbul muhsinĩn.

148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia, dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah untuk membalas doa orang-orang yang beriman di dunia dan di akhirat. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; intuthĩ’u = jika kamu mentaati; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; yaruddũkum = mereka akan mengmbalikan kamu; ‘alã a’qōbikum = atas tumit-tumit kamu; fatanqolibũ = lalu kamu berbalik; al khosirĩn = orang-orang yang rugi.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ intuthĩ’ul ladzĩna kafarũ yaruddũkum ‘alã a’qōbikum fatanqolibũl khosirĩn.

149. Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (ke dalam kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan lagi dari Allah, jangan menaati kaum kafir! Hidup kamu di akhirat akan merugi kalau kamu melakukannya (lihat Q.s. Ali ‘Imran, 3: 100).

bali = karena itu; allãhu = (ikuti) Allah; mawlakum = (Allah) pelindungmu; wa huwa = dan Dialah; khairun nashirĩn = sebaik-baik penolong, pelindung.

150. Karena itu, ikutilah Allah, Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik penolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Himbauan Allah agar manusia mengikuti aturan Allah, hukum Allah. Tujuannya agar saling melindungi, mendukung untuk tujuan hidup selamat, bahagia, sejahtera, tenteram, damai, menyenangkan, memuaskan di dunia dan di akhirat.

sanulqĩ = Kami akan memasukkan; fĩ qulũbi = pada hati; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; ar ru’ba = rasa takut; bimã = dengan sebab; asyrokũ = mereka syirik (menyekutukan) billãhi = kepada Allah; mã lam = Dia tidak; yunazzil = menurunkan; bihĩ = dengannya; sulthōnan = kekuatan, keterangan; wa ma’wã humu = dan tempat kembali mereka; an nãru = api neraka; wa bi’sa = dan seburuk-buruk; maswã = tempat tinggal; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

sanulqĩ fĩ qulũbil ladzĩna kafarũr ru’ba bimã asyrokũ billãhi mã lam yunazzil bihĩ sulthōnan, wa ma’wã humun nãru, wa bi’sa maswazh zhōlimĩn.

151. Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah Sendiri tidak menurunkan keterangan itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dan pelajaran bagi orang-orang kafir yang mempersekutukan Allah dengan apa yang tidak diturunkan keterangan-Nya. Mereka menjadi ketakutan pada sesuatu yang tidak diketahuinya, karena Allah memasukkan rasa takut itu ke dalam hatinya.

wa laqod = dan sesungguhnya; shodaqokumu = telah membenarkan kepadamu; allãhu = Allah; wa’dahũ = janji-Nya; idz = ketika; tahussũ nahum = kamu membunuh mereka; bi idznihi = dengan izin-Nya; hattã = sehingga; idzã = pada sãt; fasyiltum = kamu lemah; watanãza’tum = dan kamu berselisih; fil amri = dalam urusan; wa ‘ashoitum = dan kamu mendurhakai; mim ba’di mã = dari sesudah apa; arōkum = Dia memperlihatkan kepadamu; mã tuhibbũna = apa yang kamu sukai; minkum = di antara kamu; man = orang; yurĩdu = (ia) mengendaki; dun-yã = dunia; wa min kum = dan di antara kamu; man = orang; yurĩdu = (ia) menghendaki; al akhirota = akhirat; tsumma = kemudian; shorafakum = Allah memalingkan kamu; ‘anhum = dari mereka; liyabtalĩyakum = untuk Dia menguji kamu; wa laqod = dan sesungguhnya; ‘afã = (Allah) memaafkan; ‘ankum = dari kamu; wallãhu = dan Allah; dzũ = mempunyai; fadhlin = karunia; ‘alã = atas; al mu’minĩn = orang mukmin.

wa laqod shodaqokumullãhu wa’dahũ idz tahussũ nahum bi idznihi, hattã idzã fasyiltum watanãza’tum fil amri wa ‘ashoitum mim ba’di mã arōkum mã tuhuhib bũna, minkum man yurĩdu dun-yã wa min kum man yurĩdul akhirota, tsumma shorafakum ‘anhum liyabtalĩyakum wa laqod ‘afã ‘ankum, wallãhu dzũ fadhlin ‘alãl mu’minĩn.

152. Dan sesungguhnya, Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya, sampai saatkamu lemah, dan berselisih dalam urusan strategi, dan mendurhakai perintah Rasul sesudah Allah memperlihatkan kepadamu, apa yang kamu sukai (kemenangan dan harta rampasan), di antara kamu, ada yang menghendaki dunia dan ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memenangkan mereka dari kamu, untuk menguji kamu; sesungguhnya Allah telah memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia yang dilimpahkan atas orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu” maksudnya, Allah telah memberi kemenangan dengan harta rampasannya.
“saatkamu lemah, dan berselisih dalam urusan strategi” yaitu perintah Nabi Muhammad, agar regu pemanah tetap bertahan di tempat yang ditentukan walaw dalam keadaan bagaimana pun. Mereka tidak menaatinya, karena ada yang tergoda oleh harta rampasan, mengakibatkan kekalahan umat Islam dalam perang Uhud. Ini merupakah contoh dan ujian yang diberikan Allah bagi umat Islam, yang seharusnya selalu menaati apa yang diperintahkan Rasul, dan jangan terlalu tergoda harta dunia, lebih-lebih dalam peperangan. Mereka harusnya terkonsentrasi pada tugas peperangan untuk mengagungkan kebesaran Alllah.

Idz = ketika; tush’idũna = kamu naik, lari; wa lã talwũna = dan kamu tidak menoleh; ‘alã ahadin = atas seseorang; war rosũlu = dan/sedang Rasul; yad’ũkum = memanggil kamu; fĩ ukhrōkum = pada yang lain di antara kamu; fa-atsãbakum = maka Dia menimpakan kepadamu; ghommam = kesedihan; bi ghommin = atas kesedihan; al likai-lã = supaya jangan; tahzanũ = kamu bersedih hati; ‘alã = terhadap; mã = apa; faatakum = (ia) luput dari kamu; wa lã = dan jangan; mã = (terhadap) apa; ashōbakum = (ia) menimpa kamu; wallãhu = dan Allah; khobĩrun = Maha Mengetahui; bimã = terhadap apa; ta’malũn = kamu kerjakan.

idz tush’idũna wa lã talwũna ‘alã ahadin war rosũlu yad’ũkum fĩ ukhrōkum fa-atsãbakum ghommam bi ghommil likai-lã tahzanũ ‘alã mã faatakum wa lã mã ashōbakum, wallãhu khobĩrum bimã ta’malũn.

153. Ingatlah, ketika kamu lari, dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu, Allah menimpakan kesedihan di atas kesedihan kepadamu, supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput darimu, dan terhadap apa yang menimpamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan dengan menggambarkan kejadian ketika sebagian pasukan Islam yang terdesak karena mereka tidak menaati perintah Rasulnya. Mereka yang melarikan diri itu menjadi merasa sedih, menyesal karena sudah melanggar perintah Rasulnya, dan mengalami kekalahan, terhina.

tsumma = kemudian; anzala = (Allah) menurunkan; ‘alaykum = kepada kamu; min = dari; ba’di = sesudah; al ghommi = bersedih hati; amanatan = ketenteraman; nu’ãsan = kantuk; yaghsyã = (ia) meliputi; thō-ifatan = segolongan; minkum = dari kamu; wa thō-ifatun = dan segolongan (lagi); qod = sungguh; ahammat-hum = mencemaskan mereka; anfusuhum = diri mereka (sendiri); yazhunnũna = mereka menduga; billãhi = kepada Allah; ghoiro = tanpa, tidak; al haqqi = benar; dhonna = dugaan, sangkãn; al jãhiliyyati = orang-orang jahiliyah; yaqũlũna = mereka berkata; hal = apakah; lanã = bagi kami; min = dari; al amri = urusan ini; min = dari; syai-in = barang susuatu; qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; al amro = urusan ini; kullahũ = seluruhnya; lillãh = di tangan Allah; yukhfũna = mereka menyembunyikan; fĩ = di dalam; anfusihim = hati mereka; mã lã = apa yang tidak; yubdũna = mereka terangkan; laka = kepada kamu; yakũlũna = mereka berkata; law kãna = sekiranya adalah; lanã = bagi kami; minal amri = dari urusan ini; syai-un = barang sesuayu; mã qutilnã = kami tidak dibunuh; hãhunã = di sini; qul = katakanlah; law kuntum = seandainya kamu adalah; fĩ buyũtikum = dalam rumahmu; labaroza = tentu tampak; al ladzĩna = orang-orang yang; kutiba = ditetapkan; ‘alayhimu = atas mereka; al qotlu = terbunuh; ilã = sampai; madhōji’ihim = tempat tidur mereka; wa = dan; liyabtaliyu = hendak mencoba; llãhu = karena Allah; mã = apa; fĩ = yang di dalam; shudũrikum = dada kamu; wa = dan; li = karena; yumahhishō = Dia hendak membersihkan; mã = apa yang; fĩ = di dalam; qulũbikum = hati kamu; wallãhu = dan Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; bi = pada; dzãti = zat, isi; ash shudũr = dada / hati.

tsumma anzala ‘alaykum mim ba’dil ghommi amanatan nu’ãsan yaghsyã thō-ifatam minkum wa thō-ifatun qod ahammat-hum anfusuhum yazhunnũna billãhi ghoirol haqqi dhonnal jãhiliyyati, yaqũlũna hal lanã minal amri min syai-in, qul innal amro kullahũ lillãh. Yukhfũna fĩ anfusihim mã lã yubdũna laka, yakũlũna law kãna lanã minal amri syai-um mã qutilnã hãhunã qul law kuntum fĩ buyũtikum labarozal ladzĩna kutiba ‘alayhimul qotlu ilã madhōji’ihim, waliyabtaliyullãhu mã fĩ shudũrikum wa liyumahhishō mã fĩ qulũbikum, wallãhu ‘alimum bidzãtishshudũr.

154. Kemudian, setelah kamu berduka-cita, Allah menurunkan kepadamu rasa aman berupa kantuk yang dirasakan sekumpulan orang-orangmu, sedang kumpulan lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; Mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah, seperti sangkãn jahiliyah. Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu hak campur tangan dalam urusan ini?” Katakanlah: “Sesungguh-nya urusan itu seluruhnya di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka, apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dikalahkan di sini.” Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah berbuat demikian, untuk menguji, apa yang ada dalam dadamu, dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah mengetahui isi hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah menurunkan kepadamu rasa aman berupa kantuk yang dirasakan sekumpulan orang-orangmu” maksudnya kepada orang-orang yang beriman.
“sedang kumpulan lain telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri” maksudnya orang-orang yang masih ragu-ragu
Secara keseluruhan, ayat ini menggambarkan hak dan ke-Mahakuasaan Allah atas segala kejadian di dunia ini. Namun, manusia suka berbuat salah yang akibatnya mengenai dirinya sendiri. Allah berkuasa untuk menetapkan seseorang itu tetap hidup atau mati di mana pun, kapan pun, bagaimana pun caranya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; tawallaw = berpaling; minkum = dari kamu; yawma = pada hari; al taqa = bertemu; al jam’ãni = dua pasukan; innamã = sesungguhnya hanyalah; astazallahumu = menggelincirkan mereka; asy syaithōnu = setan; bi ba’dhi = dengan sebagaian; mã = apa; kasabũ = mereka perbuat; wa laqod = dan sesungguhnya; ‘afãllãhu = Allah telah memberi maaf; ‘anhum = kepada mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; halĩm = Maha Penyantun.

innal ladzĩna tawallaw minkum yawmal taqal jam’ãni innamã astazallahumusy syaithōnu bi ba’dhi mã kasabũ wa laqod ‘afãllãhu ‘anhum, innallãha ghofũrun halĩm.

155. Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu, mereka hanya digelincirkan setan, karena sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat di masa lalu, dan Allah telah memberi maaf kepada mereka. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jika dalam peperangan, ada orang-orang yang tergoda setan, berbalik ke pihak musuh, hal ini karena ada kesalahan yang telah diperbuatnya pada masa lalu. Kesalahan di masa lalu dan karena berbalik ke pihak musuh itu dimaafkan Allah disebabkan mereka tetap beriman.

yã ayyuha = wahai; alladzĩna = orang-orang yang; amanũ = (mereka) beriman; lã = janganlah; takũnũ = kamu menjadi; kalladzĩna = seperti orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; wa qōlũ = dan (mereka) berkata; li ikhcãnihim = kepada teman-teman mereka; idzã = tatkala, ketika; dhorabũ = (mereka) mengadakan perjalanan; fĩl ardhi = di muka bumi; au = atau; kãnũ = mereka adalah; ghuzzan = (dalam) peperangan; law = sekiranya, kalau; kãnũ = mereka adalah; ‘indanã = bersama-sama kita; mã = tidak; mãtũ = (mereka) mati; wa = dan; mã = tidak; qutilũ = terbunuh; liyaj ‘ala = karena akan menjadikan; al lãhu = Allah; dzalika = demikian itu; hasratan = kerugian (penyesalan); fĩ = di dalam; qulũbihim = hati mereka; wallãhu = dan Allah; yuhyi = Dia menghidupkan; wa yumĩtu = dan Dia mematikan; wallãhu = dan Allah; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.

yã ayyuhalladzĩna amanũ lã takũnũ kalladzĩna kafarũ wa qōlũ li ikhcãnihim idzã dhorabũ fĩl ardhi aw kãnũ ghuzzal lãw kãnũ ‘indanã mã mãtũ wa mã qutilũ liyaz ‘alal lãhu dzalika hasratan fĩ qulũbihim, wallãhu yuhyi wa yumĩtu wallãhu bimã ta’malũna bashĩr.

156. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (dan orang munafik), yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka, apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: “Kalau mereka tetap bersama-sama kita, tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh. “Akibat dari perkataan dan keyakinan mereka yang demikian, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang mendalam pada hati mereka. Allah menghidupkan dan mematikan, dan Allah menyaksikan apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan bagi orang-orang yang beriman, agar jangan menyesali amal yang sudah dilakukan, terlebih-lebih kalau amal itu dilakukan melalui jalan Allah. Allah itu berkuasa untuk tetap menghidupkan seseorang atau mematikannya. Beruntunglah orang yang hidup atau yang mati dalam keadaan yang beriman. Sebaliknya, sangat merugilah orang yang hidup atau pun yang mati dalam keadaan kafir atau ragu-ragu pada keyakinan adanya ketetapan Allah di dunia ini.

wa la-in = dan jika; qutiltum = kamu dibunuh (gugur); fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; au = atau; muttum = kamu mati; la maghfirotum = tentulah ampunan; minallãhi = dari Allah; wa rohmatun = dan rahmat(-Nya); khairun = lebih baik; mimmã = dari apa; yajmaũn = mereka kumpulkan.

wa la-in qutiltum fĩ sabĩlillãhi au muttum la maghfirotum minallãhi wa rohmatun khairum mimmã yajmaũn.

157. Dan sungguh, kalau kamu gugur di jalan Allah atau terbunuh, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya lebih baik bagimu daripada harta rampasan yang mereka kumpulkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya. Berperang di jalan Allah itu tidak perlu memikirkan harta rampasan.

wa lain = dan jika; muttum = gugur; au = atau; qutiltum = kamu dibunuh; la-ila = tentulah kepada; al lãhi = Allah; tuhsyarũn = kamu dikumpulkan;

wa laim muttum au qutiltum la-ilal lãhi tuhsyarũn.

158. Dan sungguh, kalau kamu gugur atau terbunuh, pasti hanya kepada Allah saja kamu dikumpulkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Baik yang mati sahid maupun yang mati terbunuh tidak di jalan Allah, semuanya akan dikumpulkan pada hari yang sudah ditetapkan Allah.

fabimã = maka dengan apa; rahmatin = rahmat; minallãhi = dari Allah; linta = kamu berlaku lemah-lembut; lahum = terhadap mereka; walaw = dan sekiranya; kunta = kamu adalah; fadhdhon = bersikap keras; gholĩdho = kasar; al qolbi = hati; laan fadhdhũ = tentu mereka akan menjauhkan diri; min haulaka = dari sekelilingmu; fa’fu = maka maafkanlah; ‘anhum = dari mereka; wastaghfir = dan mohonkan ampun; lahum = bagi mereka; wa syãwirhum ; dan bermusyawarahlah dengan mereka; fĩl amri = dalam urusan itu; fa idzã = maka apabila; ‘azamta = kamu membulatkan tekad; fatawakkal = dan bertawakallah; ‘alal lãhi = kepada Allah; innal lãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al mutawakkilĩn = orang-orang yang bertawakal.

fabimã rahmatim minallãhi linta lahum, walaw kunta fadhdhon gholĩdhol qolbi laan fadhdhũ min haulaka fa’fu ‘anhum wastaghfir lahum wa syãwirhum fĩl amri, fa idzã ‘azamta fatawakkal ‘alal lãhi, innal lãha yuhibbul mutawakkilĩn

159. Maka, karena rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras, lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari lingkunganmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan dunianya. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sikap lemah-lembut atau sikap kasar, keras itu rahmat dari Allah. Mana yang lebih baik dilakukan harus tepat sasaran. Lebih baik berlakulah lemah-lembut dalam setiap situasi dan kondisi. Karena hal ini lebih persuasive. Ini pelajaran dari Allah dalam sikap hidup. Tujuan hidup bukan hanya dunia, tapi yang terutama tujuan akhirat.

in = jika; yanshurkumullãhu = Allah menolong kamu; falã = maka tidak ada; ghōlibalakum = yang mengalahkan kamu; wa in = dan jika; yakhdzulkum = (Allah) membiarkan kamu; fa man = maka siapakah; dzōlladzĩ = yang mempunyai; yanshurukum = (ia) menolong kamu; mim ba’dihĩ = dari sesudah itu; wa ‘alallãhi = dan kepada Allahlah; falyatawakkali = maka hendaklah bertawakal; al mu’minũn = orang-orang mukmin.

in yanshurkumullãhu falã ghōlibalakum wa in yakhdzulkum fa man dzōlladzĩ yanshurukum mim ba’dihĩ, wa ‘alallãhi falyatawakkalil mu’minũn.

160. Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu; Jika Allah membiarkan kamu, maka siapakah yang dapat menolong kamu selain Allah sesudah itu? Karena itu, hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan kepada orang-orang mukmin, atau kepada siapa pun yang mau percaya kepada kekuatan Allah. Orang mukmin harus selalu bertawakal kepada Allah atas segala apa yang dialaminya.

wa mã kãna = dan tidak mungkin; li nabiyyin = dari seorang nabi; an yaghulla = ia berbuat khianat; wa man = dan barang siapa; yaghlul = berkhianat; ya’ti = ia akan datang; bi mã = dengna apa; gholla = yang dia khianatinya; yawma = pada hari; al qiyãmati = kiamat; tsumma = kemudian; tuwaffã = diberi balasan yamg sempurna; kullu = tiap-tiap; nafsin = diri; mã kasabat = apa yang ia kerjakan; wa hum = dan mereka; lã yudhlamũn = mereka tidak dianiaya.

wa mã kãna li nabiyyin an yaghulla wa man yaghlul ya’ti bi mã gholla yawmal qiyãmati, tsumma tuwaffã kullu nafsin mã kasabat wa hum lã yudhlamũn.

161. Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan harta rampasan perang itu, maka pada Hari Kiamat, ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian setiap orang akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan pembalasan yang setimpal, dan mereka tidak dianiaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran Allah tentang kejujuran. Barang siapa yang jujur, akan mendapat pahala kebaikan. Barang siapa yang berkhianat, akan dimintai pertangjawabannya.

afamani = apakah orang yang; at taba’a = mengikuti; ridhcãna = kerelaan; al lãhi = Allah; kaman = sama seperti orang; bã-a = (ia) kembali bisakhathim = dengan kemurkãn; minallãhi = dari Allah; wa ma’wãhu = dan tempatnya; jahannamu = jahanam; wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al mashĩr = tempat kembali.

afamanit taba’a ridhcãnal lãhi kamam bã-a bisakhathim minallãhi wa ma’wãhu jahannamu wa bi’sal mashĩr.

162. Apakah orang yang mengikuti keridhãn Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkãn yang besar dari Allah, dan tempatnya adalah jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempatnya kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran kepada umat manusia, dengan memperbandingkan antara orang yang mengikuti kerelaan Allah dengan orang yang membuat Allah murka.

hum = mereka; darojãtun = beringkat-tingkat; ‘indallãhi = di hadapan Allah; wallãhu = sesungguhnya Allah; bashirun = Maha Melihat; bimã = terhadap apa; ya’malũn = mereka kerjakan.

hum darojãtun ‘indallãhi, wallãhu bashirum bimã ya’malũn.

163. Kedudukan mereka itu bertingkat-tingkat dihadapan Allah, dan Allah Maha Melihat, apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kedudukan yang berbeda-beda, bertingkat-tingkat sesuai dengan apa yang sudah dikerjakan, diusahakan, diperjuangkan makhluk-Nya.

laqod = sesungguhnya; manna = telah memberikan karunia; allãhu = Allah; ‘ala = atas, kepada; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; idz = ketika; ba’atsa = (Allah) mengutus; fĩhim = di antara mereka; rosũlan = seorang Rasul; min = dari; anfusihim = golongan mereka sendiri; yatlũ = (ia) membacakan; ‘alayhim = kepada mereka; ãyãtihĩ = ayat-ayat-Nya; wayuzakkĩhim = dan (ia) membersihkan mereka; wayu’allimuhumu = dan (ia) mengajarkan mereka; al kitãba = Alkitab; wal hikmata dan hikmah; wa inkãnũ = dan sedangkan mereka adalah; min qoblu = dari sebelum itu; lafĩ = sungguh dalam; dholãlin = kesesatan; mubĩn = yang nyata.

laqod mannallãhu ‘alal mu’minĩna idz ba’atsa fĩhim rosũlam min anfusihim yatlũ ‘alayhim ãyãtihĩ, wayuzakkĩhim wayu’allimuhumul kitãba wal hikmata wa inkãnũ min qoblu lafĩ dholãlim mubĩn.

164. Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab dan Alhikmah. Dan, sesungguhnya, sebelum kedatangan nabi itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, akan diturunkan karunia, seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang akan membacakan ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa, dan mengajarkan Alkitab dan Alhikmah. Sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw., mereka dalam kesesatan, karena ada bagian-bagian Alkitab yang telah diubah-ubah oleh para pendetanya.
Alkitab adalah Kitab Suci berisi tuntunan hidup beragama yang benar, ditambah dengan sunah dan hadits, yang terkait juga dengan Alhikmah. Alhikmah berisi ilmu dan pengetahuan yang beraneka macam yang perlu diajarkan untuk keperluan hidup praktis sehari-hari. Makin banyak Alhikmah didapat melalui belajar, makin tinggi derajatnya.

awalammã = dan mengapa ketika; ashōbatkum = menimpa kepadamu; mushĩbatun = musibah (kekalahan); qod = sungguh, padahal; ashobtum = kamu telah menimpakan; mitslaihã = dua kali yang serupa; qultum = kamu berkata; annã hadzã = bagaimana ini; qul = katakanlah; huwa = dia, itu; min ‘indi = dari diri; anfusikum = sendiri; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodiir = Mahakuasa.

awalammã ashōbatkum mushĩbatun qod ashobtum mitslaihã qultum annã hadzã qul huwa min ‘indi anfusikum innallãha ‘alã kulli syai-in qodiir.

165. Ketika kamu ditimpa musibah pada peperangan Uhud, padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar, kamu bertanya, “Mengapa dan dari mana datangnya kekalahan ini?” Katakanlah, “itu dari kesalahan dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera perang Uhud dan Perang Badar itu sebagai misal, umpama dalam peri kehidupan sehari-hari yang selalu terjadi pertempuran diri sendiri dengan hawa nafsu yang ada di dalamnya. Kadang-kadang terjadi kekalahan, kadang-kadang menang. Perhatikan nafsu-nafsu dalam diri masing-masing. Kita harus dapat mengendalikannya, agar kita selalu menang. Berarti kita akan merasakan selalu aman, senang, tenang, tenteram, damai, sejahtera, bahagia, memuaskan, berkecukupan dalam keadaan apa pun.

wa mã = dan apa; ashōbakum = yang menimpa kamu; yawma = pada hari; al taqō = bertemu; al jam’ãni = dua pasukan; fabi-idzni = maka dengan izin; allãhi = Allah; wa = dan; li = karena; ya’lama = Dia ingin mengetahui; al mũ’minĩn = orang-orang yang beriman.

wa mã ashōbakum yawmal taqōl jam’ãni fabi-idznillãhi waliya’lamal mũ’minĩn.

166. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka kekalahan itu karena izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui, siapa orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “bertemunya dua pasukan” adalah kaum yang beriman dengan kaum kafir, munafik, musyrik, fasik, atau murtad. Allah ingin memastikan pilihan apa yang dilakukan oleh manusia pada kejadian perang itu, akan tetap beriman atau menjadi kafir, munafik, musyrik, fasik, atau murtad.

wa liya’lama = dan karena (Allah) hendak mengetahui; al ladzĩna = orang-orang yang; nãfaqũ = (mereka) munafik; wa qĩla = dan dikatakan; lahum = kepada mereka; ta’ãlaw = marilah; qōtilũ = berperang; fĩ sabilillãhi = di jalan Allah; awidfa’ũ = atau pertahankan dirimu; qōlũ = mereka berkata; law na’lamu = sekiranya kami mengetahui; qitãlan = peperangan; lattaba’nãkum = tentu kami mengikuti kamu; hum = mereka; lil kufri = dalam kekafiran; yawma-idzin = pada hari itu; akrobu = lebih dekat; minhum = di antara mereka; lil-imaani = daripada iman; yakũlũna = mereka mengatakan; bi-afwãhihim = dengan mulut mereka; mã laisã = tidak ada (terkandung); fĩ qulũbihim = dalam hati mereka; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = terhadap apa; yaktumũn = mereka sembunyikan.

wa liya’lamal ladzĩna nãfaqũ, wa qĩla lahum ta’ãlaw qōtilũ fĩ sabilillãhi awidfa’ũ, qōlũ law na’lamu qitãlal lattaba’nãkum, hum lil kufri yawma-idzin akrobu minhum lil-imaani, yakũlũna bi-afwãhihim mã laisã fĩ qulũbihim, wallãhu a’lamu bimã yaktumũn.

167. dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan: “Marilah berperang di jalan Allah, atau pertahankanlah dirimu.” Mereka berkata: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu.” Mereka pada hari itu lebih dekat pada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya, apa yang tidak terkandung di dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat sebelumnya.
Dengan bijaksana orang-orang yang beriman (berdasarkan petunjuk dari Allah) menghimbau: “Marilah berperang di jalan Allah, atau pertahankanlah dirimu.”
Jawaban kaum kafirin secara diplomatis dinyatakan: “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu.” Pernyataan ini mengandung dusta. Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

alladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = (mereka) mengatakan; li ikhcãnihim = kepada teman-temannya; wa qo’adũ = dan mereka duduk; law = sekiranya; athō’ũnã = mereka mengikuti kita; mã qutilũ = mereka tidak terbunuh; qul = katakanlah; fadro-ũ = maka tolaklah; ‘an anfusikumu = dari dirimu; al mauta = kematian itu; inkuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

alladzĩna qōlũ li ikhãnihim wa qo’adũ law athō’ũnã mã qutilũ, qul fadro-ũ ‘an anfusikumul mauta inkuntum shōdiqĩn

168. Orang-orang yang mengatakan kepada teman-temannya, dan mereka tidak ikut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran dari Allah kepada umat manusia: “Kematian itu diatur, ditetapkan oleh Allah. Manusia tidak dapat memperkirakan, menduga-duga kapan dan di mana, dalam keadan bagaimana seseorang akan mati

wa lã = dan janganlah; tahsabanna = kamu mengira; al ladzĩna = orang-orang yang; qutilũ = (mereka) dibunuh, gugur; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; amwãtam = mati; bal = bahkan; ahyã-u = (mereka itu) hidup; ‘inda = di haribãn; robbihim = Robbnya; yurzaqũn = mereka mendapat rezeki.

wa lã tahsabannal ladzĩna qutilũ fĩ sabĩlillãhi amwãtam bal ahyã-un ‘inda robbihim yurzaqũn.

169. Janganlah kamu mengira, bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sesungguhnya mereka itu hidup di haribãn Robbnya dengan mendapat rezeki.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran dari Allah, bahwa kalau seseorang memperjuangkan sesuatu di jalan Allah, kalau mati, pada hakekatnya ia hidup kekal-abadi dengan hasil karya yang diperjuangkannya (membenarkan ada-Nya Allah dan para Rasulnya yang harus ditaati perintah dan larangannya).

farihĩna = mereka bergembira; bimã = dengn apa; ãtãhumu = memberikan kepad mereka; al lãhu = Allah; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; wa yastabsyirũna = dan mereka berhati gembira, senang; bil ladzĩna = terhadp orang-orang yang; lam yalhaqũ = mereka belum menyusul; bihim = dengan mereka; min kholfihim = dari belakang mereka; allã = bahwa tidak; khoufun = merasa khawatir; ‘alayhim = atas mereka; wa lã hum yahzanũn = dan mereka tidak bersedih hati.

farihĩna bimã ãtãhumul lãhu min fadhlihĩ, wa yastabsyirũna bil ladzĩna lam yalhaqũ bihim min kholfihim allã khoufun ‘alayhim wa lã hum yahzanũn.

170. Mereka dalam keadaan senang karena karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka berpengharapan besar terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran dari Allah. Senang, susah berpengharapan besar itu diyakini sebagai karunia dari Allah. Dengan demikian, hidup tidak ada kekhawatiran atau pun rasa bersedih hati. Lihat catatan sebelumnya.

yastabsyirũna = mereka bergembira; bi ni’matihim = dengan nikmat; minal lãhi = dari Allah; wa fadhlin = dan karunia; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; lã yudhĩ-‘u = Dia tidak menyia-nyiakan; ajro = pahala (ganjaran); al mu’minĩn = orang-orang mukmin.

yastabsyirũna bi ni’matihim minal lãhi wa fadhlin wa annallãha lã yudhĩ-‘u ajrol mu’minĩn.

171. Mereka bersenang-senang dengan nikmat dan karunia dari Allah yang banyak, dan Allah tidak menyia-nyiakan pahala (ganjaran) orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pahala orang yang beriman adalah segala tindak-laku, perbuatan yang dinilai sebagai ibadah kepada Allah, baik yang wajib maupun yang disunatkan.

alladzĩna = orang-orang yang; as tajãbũ = (mereka) memperkenankan; lillãhi = bagi Allah; wa rosũli = dan Rasulnya; mimba’di = dari sesudah; mã = apa; ashōbahumu = menimpa mereka; al qurhu = luka; lilladzĩna = bagi orang-orang; ahsanũ = mereka berbuat baik; min hum = di antara mereka; wat taqau = dan mereka bertakwa; ajrun = pahala (ganjaran); ‘azhĩm = yang besar.

alladzĩnas tajãbũ lillãhi wa rosũli mimba’di mã ashōbahumul qurhu lilladzĩna ahsanũ min hum wat taqau ajrun ‘azhĩm.

172. yaitu orang-orang yang menaati perintah Allah dan rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka dalam peperangan Uhud. Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa, ada balasan pahala yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penerangan dari Allah tentang taat dan takwa kepada Allah dan Rasulnya serta yang berbuat kebaikan, balasannya surga beserta isinya.

alladzĩna = orang-orang yang; qōla = mengatakan; lahumu = pada mereka; an nãsu = manusia, orang-orang; inna = sesungguhnya; an nãsa = manusia; qod = sungguh; jama’ũ = mereka telah mengumpulkan; lakum = untuk kamu; fakhsyauhum = karena itu takutlah kepada mereka; fazãdahum = maka ia menambah mereka; ĩmaanan = keimanan; waqōlũ = dan (mereka) menjawab; hasbunã = cukuplah kami; allãhu = Allah; wa ni’ma = dan sebaik-baik; al wakĩl = pelindung.

alladzĩna qōla lahumun nãsu innan nãsa qod jama’ũ lakum fakhsyauhum fazãdahum ĩmaanan waqōlũ hasbunãllãhu wa ni’mal wakĩl.

173. bagi orang-orang yang mengaku menaati Allah dan Rasul, pada mereka, ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya sekelompok orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka.” Maka perkataan itu, menambah keimanan mereka, dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran dari Allah, orang yang sungguh-sungguh beriman, hanya takut kepada Allah, mereka tidak takut kepada sesama makhluk Allah. Allah menjadi Penolong dan Pelindung bagi orang yang mengimani-Nya

fãnqolabũ = maka mereka kembali; bini’matin = dengan nikmat; minallãhi = dari Allah; wa fadhlil = dan karunia; lam yamsas-hum = mereka tidak mendapat; sũ-un = keburukan, bencana; wattaba’ũ = dan mereka mengikuti; ridcãnallãhi = keridoan Allah; wallãhu = dan Allah; dzu = mempunyai; fadhlin = karunia; ‘azhĩm = besar.

fãnqolabũ bini’matim minal lãhi wa fadhlil lam yamsas-hum sũ-un, wattaba’ũ ridcãnallãhi, wallãhu dzu fadhlin ‘azhĩm.

174. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhãn Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran dari Allah, orang-orang yang beriman, selalu mengharapkan keridoan dari Allah. Hasilnya, banyak mendapatkan karunia kenikmatan, keselamatan, dan lain-lain.

innamã = sesungguhnya hanyalah; dzalikumu = mereka itu; sy syaitōnu = setan; yukhowwifu = (ia) menakut-nakuti; auliyã-ahu = pengikut-pengikutnya; falã = maka janganlah; takhōfũhum = kamu takut kepada mereka; wa khōfũni = dan takutlah kepada-Ku; inkuntum = jika kamu benar-benar; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

innamã dzalikumusy syaitōnu yukhowwifu auliyã-ahu, falã takhōfũhum wa khōfũni inkuntum mu’minĩn.

175. Sesungguhnya, mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakutimu, dengan kawan-kawannya orang musyrik Quraisy, karena itu, janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman yang ditakut-takuti orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad. Jangan takut kepada makhluk Allah, takutlah kepada Khalik yang menguasai alam semsta ini.

wa lã = dan janganlah; yahzunka = menyedihkan kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yusãri’ũna = (mereka) bersegera; fil kufri = menjadi kafir; inna = sesungguhnya; hum = mereka; lan = tidak; yadhurrũ = mereka memberi mudarat kepada; al lãha = Allah; syai-an = sedikit pun; yurĩdu = menghendaki; allãhu = Allah; allã = bahwa tidak; yaj’ala = Dia menjadikan, memberi; lahum = kepada mereka; hadhdhãn = (sesuatu) bagian; fil ãkhiroti = di akhirat; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzabun = azab; ‘azhĩm = yang besar.

wa lã yahzunkal ladzĩna yusãri’ũna fil kufri, innahum lan yadhurrũl lãha syai-an, yurĩdullãhu allã yaj’ala lahum hadhdhãn fil ãkhiroti wa lahum ‘adzabun ‘azhĩm.

176. Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya, mereka sama sekali tidak memberi mudharat sedikit pun kepada Allah. Allah berkehendak tidak akan memberi sedikit pun bagian pahala kepada mereka di hari akhir, dan bagi mereka azab yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menghibur Nabi Muhammad saw.(pada hakekatnya kepada kita juga sebagai umatnya sampai akhir jaman, dan peringatan bagi mereka yang menjadi kafir. Kalau mereka tidak sempat bertobat, maka azablah bagi mereka.

inna = sesungguhnya; alladzĩna = orang-orang yang; asy tarawu = (mereka) membeli, menukar; al kufro = kekafiran; bil imaani = dengan iman; lan yadhurrullãha = mereka tidak memberi mudharat kepada Allah; syaian = sedikit pun; wa lahum = dan bagi mereka; adzãbun = azab, siksa; alĩm = pedih, berat.

innalladzĩnasy tarawul kufro bil imaani lan yadhurrullãha syaian wa lahum adzãbun alĩm.

177. Sesungguhnya, orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran, sedikit pun mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah, bahkan bagi mereka azab yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad berulang-ulang. Budaya dagang barter (tukar-menukar kebutuhan hidup) di tampilkan di sini. Allah memang Maha Penyabar.

wa lã = dan janganlah; yahsabanna = mengira, menyangka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (orang-orang) kafir; annamã = bahwa; numlĩ = Kami memberi tangguh; lahum = kepada mereka; khairun = lebih baik; li-anfusihim = bagi diri mereka; innamã = sesungguhnya hanyalah; numlĩ = Kami memberi tangguh; lahum = kepada mereka; liyaz dãdũ = supaya mereka bertambah-tambah; itsman = dosa; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzabum muhĩn = siksa yang menghinakan.

wa lã yahsabannal ladzĩna kafarũ annamã numlĩ lahum khairul li-anfusihim innamã numlĩ lahum liyaz dãdũ itsman, wa lahum ‘adzabum muhĩn.

178. Dan janganlah orang-orang kafir menyangka sedikit pun, bahwa Kami memberi tangguh kepada mereka, lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya, Kami memberi tangguh kepada mereka, hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan dan pembelajaran bagi mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad, dan bagi kaum mukminin. Pemberian tangguh itu mempunyai dua kemungkinan, apakah mau bertobat, atau bersikeras mempertahankan kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan.

mã kãna = tidak ada; allãhu = Allah; liyadzaro = untuk membiarkan; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; ‘alã = atas; mã = apa; antum = kamu; ‘alayhi = atasnya; hattã = sehingga; yamĩza = Dia membedakan; al khabĩtsa = yang buruk; minath thoyyibi = dengan yang baik; wa mã kãnallãhu = dan Allah tidak ada; liyuthli’akum = untuk memperlihatkan kepadamu; ‘alal ghoybi = atas kegaiban; wa lãkin = akan tetapi; allãha = Allah; yajtabĩ = Dia memilih; mir rusulihĩ = dari Rasul-rasul-Nya; man = siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; fa-ãminũ = maka beimanlah; billãhi = kepada Allah; wa rusulihi = dan Rausl-rasul-Nya; wa in = dan jika; tu’minũ = kamu beriman; wa tattaqũ = dan kamu bertakwa; falakum = maka bagimu; ajrun = pahala (ganjaran); ‘azhĩm = yang besar.

mã kãnallãhu liyadzarol mu’minĩna ‘alã mã antum ‘alayhi hattã yamĩzal khabĩtsa minath thoyyibi, wa mã kãnallãhu liyuthli’akum ‘alal ghoybi wa lãkinnallãha yajtabĩ mir rusulihĩ, man yasyã-u, fa-ãminũ billãhi wa rusulihi, wa intu’minũ wa tattaqũ falakum ajrun ‘azhĩm

179. Allah sungguh tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini (bercampur-baur), sehingga Dia memisahkan yang munafik dari yang mukmin. Dan Allah benar-benar tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah, dan Rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala (ganjaran) yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah untuk memisahkan antara orang kafir, munafik, musyrik, fasik dengan orang mukmin. Allah tidak memperlihatkan kepada kamu (Muhammad saw.) hal-hal yang gaib, kecuali Alqur’an ini. Allah Yang Mahagaib memperingatkan umat manusia agar beriman dan takwa hanya kepada Allah dan Rasul-rasulnya yang sekarang sudah gaib. Orang-orang yang mengikuti anjuran ini akan diberi pahala yang besar.

wa lã = dan jangan; yahsabanna = mengira; al ladzĩna = orang-orang yang; yabkholũna = (mereka) kikr; bimã = dengan apa (harta); ãtãhumullãhu = Allah memberikan kepada mereka; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; huwa = ia (kekikiran); khoyron = baik; lahum = bagi mereka; bal = bahkan, tetapi; huwa = ia, kekikiran; syarrun = buruk; lahum = bagi mereka; sayuthawwa qũna = akan dikalungkan; mã bakhilũ = apa yang mereka bahilkan, kikirkan; bihĩ = dengannya; yawma = pada hari; al qiyãmati = kiamat; wa lillãhi = dan kepunyaanAllah; mĩrãtsu = segala warisan; assamãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; wallãhu = dan Allah; bimã = dengan, terhadap apa; ta’malũna = kamu kerjakan; khobĩr = Maha Mengetahui.

wa lã yahsabannal ladzĩna yabkholũna bimã ãtãhuhumullãhu min fadhlihĩ, huwa khoyrol lahum, bal huwa syarrul lahum sayuthawwa qũna mã bakhilũ bihĩ yawmal qiyãmati, wa lillãhi mĩrãtsussamãwãti wal ardhi, wallãhu bimã ta’malũna khobĩr

180. Jangan menyangka sedikitpun, orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dengan karunia-Nya, kebakhilan itu baik bagi mereka. Sesungguhnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak di Hari Kiamat. Dan KepunyaanAllahlah segala warisan yang ada di langit dan di bumi. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sangat tidak suka kepada orang-orang bakhil, sesungguhnya harta seseorang itu berasal dari karunia Allah. Seharusnya manusia itu berkasih-sayang secara ikhlas dengan makhluk lain. Ikutilah Sunah Allah berkasih-sayang.

laqod = sesungguhnya; sami’allãhu = Allah Maha Mendengar; qoula = perkataan; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = (mereka) mengatakan; innallãha = sesungguhnya Allah; faqirun = fakir, miskin; wa nahnu = dan kami; aghniyã-u = kaya; sanaktubu = akan Kami catat; mã = apa; qōlũ = yang mereka katakana; wa qotlahumu = dan pembunuhan mereka; al ambiyã-a = Nabi-nabi; bi ghoiri = tidak dengan (alasan); haqqin = benar; wa naqũlu = dan Kami katakana; dzũqũ = rasakan olehmu; ‘adzãba = azab, siksa; al harĩq = yang membakar .

laqod sami’allãhu qoulal ladzĩna qōlũ innallãha faqirun wa nahnu aghniyã-u sanaktubu mã qōlũ wa qotlahumul ambiyã-a bi ghoiri haqqin, wa naqũlu dzũqũ ‘adzãbal harĩq.

181. Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang: “Sesungguhnya Allah miskin, dan kami kaya.” Kami mencatat perkataan mereka itu, dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan kepada mereka: “Rasakan olehmu azab yang membakar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui perbuatan orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad. Ancaman Allah itu benar, akan terbukti saatmasih di dunia, atau nanti di akhirat.

dzãlika = demikian itu; bimã = dengan apa, disebabkan; qoddamat = diperbuat; aidĩkum = tangan-tanganmu; wa annallãha = dan Allah Pribadi; laisa = tidak, bukan; bizhollãmin = dengan lalim; lil ‘abid = kepada hamba-hambanya.

dzãlika bimã qoddamat aidĩkum wa annallãha laisa bizhollãmil lil ‘abid.

182. Azab yang demikian itu karena perbuatan tanganmu sendiri, Allah sama sekali tidak menganiaya hamba-hamba-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penderitaan hidup di dunia dan nanti di akhirat itu tergantung pada taraf pengabdian dan pengurbanannya kepada Allah, apakah dilakukan secara ikhlas atau dengan terpaksa, tidak ikhlas.

alladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = mengatakan; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘ahida = telah menjanjikan; ilainã = kepada kami; alã = supaya tidak; nu’mina = kami beriman; li rosũlin = kepada seorang Rasul; hattã = sehingga; ya’tiyanã = dia mendatangkan kepada kami; biqurbãnin = dengan kurban; ta’kuluhu = memakannya; an nãru = api; qul = katakanlah; qod = sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; rusulun = beberapa orang Rasul; min qoblĩ = dari sebelumku; bil bayyinaati = dengan keterangan-keterangan yang nyata; wa billadzĩ = dan dengan yang; qultum = kamu katakana, sebutkan; falima = maka mengapa; qotaltumũhum = kamu membunuh mereka; inkuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

alladzĩna qōlũ innallãha ‘ahida ilainã alã nu’mina li rosũlin hattã ya’tiyanã biqurbãnin ta’kuluhun nãru, qul qod jã-akum rusulum min qoblĩ bil bayyinaati wa billadzĩ qultum falima qotaltumũhum inkuntum shōdiqĩn.

183. Yaitu orang-orang Yahudi yang mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang Rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami korban yang dimakan api.” Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepadamu beberapa rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan mendatangkan apa yang kamu sebutkan. Mengapa kamu membunuh mereka, jika kamu orang-orang yang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran tentang orang-orang Yahudi yang tidak mengakui kedatangan Nabi Muhammad dengan alasan-alasan yang dicari-cari. Nabi Muhammad melalui wahyu dari Allah mengingatkan mereka dengan cara yang santun. Mereka tetap seperti orang tuli, bisu, buta atas peringatan itu.

fain = maka jika; kadzdzabũka = mendustakan kamu; faqod = maka sesungguhnya; kudzdziba = telah didustakan; rusulun = Rasul-rasul; min = dari; qoblika = sebelum kamu; jã-ũ = mereka datang; bil bayyinaati = dengan keterangan-keterangan nyata; waz zuburi = dan zabur; wal kitãbi = dan Kitab; al munĩr = yang memberikan penerangan, penjelasan.

fain kadzabũka faqod kudzdziba rusulum min qoblika jã-ũ bil bayyinaati waz zuburi wal kitãbil munĩr.

184. Jika mereka mendustakan kamu, sesungguhnya rasul-rasul sebelum kamu pun telah didustakan pula, mereka membawa mukjizat-mukjizat yang nyata, Zabur dan kitab yang memberi penjelasan sempurna.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran dari Allah, bahwa Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad pun yang menyampaikan “kitab yang memberi penjelasan sempurna” yang berisi syari’at kebenaran, seperti Taurat, Injil, Zabur, Tao Tee Ching, Weda, Tripitaka telah didustakan oleh orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad. Alqur’an demikian juga, banyak orang yang tidak mempercayai, bahwa itu dari Allah.

kullu = tiap-tiap; nafsin = jiwa; dzã-ikotu = akan merasakan; al mauti = mati; wa innamã = dan sesungguhnya hanyalah; tuwaffũna = akan disempurnakan; ujũrokum = pahalamu; yawma = pada hari; al qiyãmati = kiamat; faman = maka barang siapa; zuhziha = ia dijauhkan; ‘anin nãri = dari neraka; wa udkhila = dan ia dimasukkan; al jannata = surga; faqod = maka sungguh; faza = ia beruntung; wa mal hayãtu = dan tidaklah kehidupan; ad dun-yã = dunia; illã = melainkan; matã’u = kesenangan; al ghurũr = memperdaya, menipu.

kullu nafsin dzã-ikotul mauti, wa innamã tuwaffũna ujũrokum yawmal qiyãmati, faman zuhziha ‘anin nãri wa udkhilal jannata faqod faza wa mal hayamãtud dun-yã illã matã’ul ghurũr.

185. Tiap-tiap makhluk yang berjiwa akan merasakan mati. Sesungguhnya, pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa yang dijauhkan dari neraka, dan dimasukkan ke dalam surga, maka sesungguhnya ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (menipu).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini Pelajaran dari Allah untuk umat manusia. Keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat itu tergantung pada pengabdiannya kepada Allah Maha Penciptanya.
Kata “memperdayakan” dapat berarti memperkuat, menjadi lebih kuat, menguatkan. Kata “menipu” artinya berlaku curang, membohongi, memalsu, berkata tidak jujur, menyesatkan; menggunakan tipu-muslihat, mengecoh, mengakali; membuat orang lain rugi.

latublawunna = sungguh kamu akan diuji; fĩ amwãlikum = atas hartamu; wa anfusikum = dan diri kamu; wa latasma’unna = dan sungguh kamu akan mendengar; minalladzĩna = dari orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Alkitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; wa minal ladzĩna = dan dari orang-orang yang; asyrokũ = (mereka mempersekutukan; adzan = gangguan, menyakitkan hati; katsĩron = banyak; wa in = dan jika; tashbirũ = kamu bersabar; wa tattakũ = dan kamu takwa; fa inna = maka sesungguhnya; dzãlika = demikian itu; min ‘azmi = dari yang diutamakan (termasuk yang diutamakan); al umũr = urusan.

latublawunna fĩ amwãlikum wa anfusikum wa latasma’unna minalladzĩna ũtũl kitãba min qoblikum wa minal ladzĩna asyrokũ adzan katsĩro, wa intashbirũ wa tattakũ fa inna dzãlika min ‘azmil umũr.

186. Kamu benar-benar akan diuji atas hartamu dan dirimu. Dan juga kamu benar-benar akan mendengar gangguan yang banyak dan menyakitkan hati, dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah. Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kamu benar-benar akan diuji atas hartamu dan dirimu.” Kalau kaya, kamu akan ditanya, mengapa kamu menjadi kaya, bagaimana mendapatkannya, dari mana asalnya, dan untuk apa saja harta kekayaanmu itu. Kalau miskin, kamu akan ditanya, mengapa kamu miskin?, ikhlaskah dengan keadaanmiskinmu itu?, bagaimana caranya agar Anda dapat terlepas dari kemiskinan itu, dan berubah menjadi kaya, bagaimana perilakumu setelah kamu kaya?
Dirimu akan diuji, akan berimankah atau akan menjadi kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad.
Ayat ini merupakan peringatan dari Allah untuk Nabi Muhammad saw., umat Islam, dan seluruh umat manusia.
Sabar dan takwa itu ciri orang yang beragama dengan benar.

wa idz = dan ketika; akhodallãhu = Allah mengambil; mĩsãqo = janji; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Alkitab; latubayyinunnahu = hendaknya kamu menerangkannya; linnãsi = kepada manusia; wa lã = dan jangan; taktumũnahu = kamu menyembunyikannya; fanabadzũhu = lalu mereka melemparkannya; wa rō-a = belakang; dhuhũrihim = punggung mereka; wasytarau = dan mereka menukar; bihi = dengan janjinya; tsamannan = harga; qollilan = sedikit; fabi’sa = maka alangkah buruknya; mã = apa, barang; yasytarũn = mereka tukar.

wa idz akhodallãhu mĩsãqol ladzĩna ũtũl kitãba latubayyinunnahũ linnãsi wa lã taktumũnahu, fanabadzũhu wa rō-a dhuhũrihim wasytarau bihi, tsamannan qollilan fabi’sa mã yasytarũn

187. Dan, ingatkah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab: “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka, dan mereka menukarkannya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk imbalan yang mereka terima.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada Ahli Kitab, agar menerangkan isi Alkitab dengan benar, jangan ada yang disembunyikannya. Ternyata janji itu tidak ditepati, berarti Ahli Kitab itu menukarkan Kitabnya dengan harga yang rendah, tidak menghargai kemurnian Kitabnya sendiri, tidak menerangkan kebenaran Alkitabnya. Imbalannya tentunya amat jelek, masuk neraka.

lã tahsabanna = jangan kamu mengira; al ladzĩna = orang-orang yang; yafrohũna = (mereka) bergembira; bimã = dengan apa; ataw = mereka datangkan/kerjakan; wa yuhibbũna = dan mereka menyukai; an yuhmadũ = bahwa mereka dipuji; bimã = dengan/terhadap apa; lam yaf’alũ = mereka belum kerjakan; fa lã = maka jangan; tahsabannahum = kamu menyangka; bimafãzatim = dengan terlepas; minal ‘adzãbi = dari siksa; wa lãhum = dan bagi mereka; ‘adzabun alĩm = siksa yang pedih.

lã tahsabannal ladzĩna yafrohũna bimã ataw wa yuhibbũna an yuhmadũ bimã lam yaf’alũ fa lã tahsabannahum bimafzatim minal ‘adzãbi wa lãhum, ‘adzabun alĩm.

188. Benar-benar kamu jangan menyangka orang-orang yang bergembira dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang belum mereka kerjakan, jangan menyangka mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah, apa yang mereka kerjakan atau yang belum mereka kerjakan (sesuatu yang masih dalam rancangan kerja), belum tentu mendapat penghargaan yang baik dari Allah, bahkan sebaliknya, mereka akan terkena siksa yang amat pedih. Hal ini karena mereka tidak mempercayai Alqur’an sebagai wahyu dari Allah, dan Nabi Muhammad saw.itu Utusan Allah.

wa lillahi = dan bagi Allah; mulku = kerajãn; as samãwãti = langit; wa = dan; al ardhi = bumi; wallãhu = dan Allah; ‘alã = di atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodiir = Mahakuasa.

wa lillahi mulkus samãwãti wal ardhi, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodiir.

189. KepunyaanAllahlah kerajãn langit dan bumi; Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu tentang kekuasaan Allah meliputi segala kekuasaan yang ada di langit dan di bumi. Segala kekuasaan yang ada di langit dan di bumi itu dalam genggaman Allah.
Lihat Q.s. Al Fatihah, 1:1 Segala puji hanya bagi Allah, Pemilik alam dengan seisinya; Q.s. Al Baqarah, 2: 284; Ali ‘Imran, 3:109, 189 kepunyan Allah segala yang ada di langit dan di bumi, dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.

inna = sesungguhnya; fĩ kholqi = dalam penciptaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wakhtilãfi = silih berganti; al layli = malam; wan nahãri = dan siang; la-ayãtin = sungguh terdapat tanda-tanda; li-ũlil albãb = bagi orang-orang yang berakal.

inna fĩ kholqis samãwãti wal ardhi wakhtilãfil layli wan nahãri la-ayãtil li-ũlil albãb.

190. Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
Allah memberitahukan terciptanya alam semesta dengan berbagai gejala dan peristiwanya menjadi ayat-ayat Allah yang harus dipikirkan, menunjukkan tanda-tanda ada-Nya Allah.

aladzĩna = orang-orang yang; yadzkurũna = (mereka) mengingat; al lãha = Allah; qiyãman = berdiri; wa qu’ũdan = dan duduk; wa ‘alã junũbihim = dan atas pembaringan mereka; wa yatafakkarũna = dan mereka memikirkan; fĩ kholqi = dalam penciptaan; as samãwati = langit; wal ardhi = dan bumi; robbanã = ya Robkami; mã = tidaklah; kholaqta = engkau ciptakan; hãdzã = ini; bãthilan = sia-sia; subhãnaka = Mahasuci Engkau; faqinã = maka peliharalah kami; ‘adzãba = azab, siksa; an nãr = api neraka.

aladzĩna yadzkurũnal lãha qiyãman wa qu’ũdan wa ‘alã junũbihim wa yatafakkarũna fĩ kholqis samãwati wal ardhi, robbanã mã kholaqta hãdzã bãthilan subhãnaka faqinã ‘adzãban nãr.

191. yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, seraya berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka jauhkanlah kami dari siksa neraka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang selalu memikirkan ciptaan Allah di alam semesta ini, pada akhirnya akan mengambil kesimpulan, segala apa yang diciptakan Allah itu tidak sia-sia, ada manfaatnya, ada tujuannya. Makhluk-Nya yang telah menyadari itu semua, pada akhirnya akan memuji Allah, dan berharap dengan doa, semoga Allah menjauhkannya dari siksa api neraka.

robbanã = yã Robkami; innaka = sesungguhnya Engkau; man = siapa-siapa; tudkhili = Engkau masukkan; nãro api, neraka; faqod = maka sesungguhnya; akhzaitahũ = Engkau hinakan dia; wa mã lizhzhōlimĩna = dan tidaklah bagi orang-orang lalim; min anshōrĩin = dari seorang penolong.

robbanã innaka man tudkhilin nãro faqod akhzaitahũ, wa mã lizhzhōlimĩna min anshōrin.

192. Ya Tuhan kami, barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, sesungguhnya telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang sadar dan telah melihat kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan akan mengetahui balasan akan didapatnya yaitu siksaan pedih yang menghinakan. Tidak ada penolong bagi orang-orang yang lalim.

robbanã = yã Robkami; innanã = sesungguhnya kami; sami’nã = kami mendengar; munãdiyan = panggilan, seruan; yunãdĩ = memanggil, menyeru; lil-ĩmaani = kepada iman; an ãminũ = agar berimanlah kamu; bi robbikum = kepada Robkamu; fa-ãmannã = maka kami beriman; robbanã = yã Robkami; faghfirlanã ampunilah kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; wa kaffir = dan hapuskanlah; ‘annã = dari kami; sayyi-ãtinã = kesalahan-kesalahan kami; wa tawaffanã = dan wafatkan kami; ma’a = beserta; al abrōr = orang-orang yang baik.

robbanã innanã sami’nã munãdiyan yunãdĩ lil-ĩmaani an ãminũ bi robbikum fa-ãmannã robbanã faghfirlanã dzunũbanã wa kaffir ‘annã sayyi-ãtinã wa tawaffanã ma’al abrōr.

193. Ya Tuhan kami, sesungguhnya, kami telah mendengar seruan kepada iman: “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu.” Maka, kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, wafatkanlah kami bersama dengan orang-orang yang baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajari doa bagi orang-orang yang telah beriman untuk diampuni dosa-dosanya, dan menghapuskan segala kesalahannya.

robbanã = yã Robkami; wa ãtinã = dan berilah kami; mã wa’adtanã = apa yang telah Engkau janjikan kepada kami; ‘alã rusulika = atas Rosul-rosul Engkau; wa lã tukhzinã = dan jangan Engkau hinakan kami; yawma = (pada) hari; al qiyamah = kiamat; innaka = sesungguhnya Engkau; lã tukhlifu = (Engkau) tidak menyalahi; al mĩ’ãd = janji.

robbanã wa ãtinã mã wa’adtanã ‘alã rusulika wa lã tukhzinã yawmal qiyamah, innaka lã tukhliful mĩ’ãd.

194. Ya Robkami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui perantaraanrasul-rasul Engkau. Dan, janganlah Engkau hinakan kami di Hari Kiamat. Sesungguhnya, Engkau tidak mengingkari janji.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajari doa bagi orang-orang yang telah beriman.

fastajãba = maka memperkenankan; lahum = bagi mereka; robbuhum Robmereka; annĩ = sesungguhnya Aku; lã-udhĩ’u = (Aku) tidak menyia-nyiakan; ‘amala = pekerjãn; ‘ãmilin = orang-orang yang berbuat; minkum = di antara kamu; min dzakarin = dari laki-laki; au untsã = atau perempuan; ba’dhukum = sebagian kamu; mim badhin = dari sebagian yang lain; falladzĩna = maka orang-orang yang; hajarũ = mereka berhijrah; wa ukhrijũ = dan mereka diusir; min diyãrihim = dari kampung halamannya; wa ũdzũ = dan mereka disakiti; fĩ sabĩlĩ = pada jalan-Ku; wa qōtalũ = dan mereka membunuh; wa qutilũ = dan mereka dibunuh; la ukaffiranna = sungguh akan Aku hapus; ‘anhum = dari mereka; sayyi-ãtihim = kesalahan-kesalahan mereka; wa la’udkhilannahum = dan sungguh akan Aku masukkan mereka; jannaatin = surga; tajrĩ = yang mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; tsawãban = pahala; min ‘indillãh = dari hadirat Allah; wallãhu = dan Allah; ‘indahũ di hadirat-Nya; husnu = sebaik-baik; ats tsawãb = pahala.

fastajãba lahum robbuhum annĩ lã-udhĩ’u ‘amala ‘ãmilim minkum min dzakarin au untsã, ba’dhukum mim badhin, falladzĩna hajarũ wa ukhrijũ min diyãrihim wa ũdzũ fĩ sabĩlĩ wa qōtalũ wa qutilũ la ukaffiranna ‘anhum sayyi-ãtihim wa la’udkhilannahum jannaatin tajrĩmin tahtihal anhãru tsawãbam min ‘indillãh, wallãhu ‘indahũ husnuts tsawãb.

195. Maka Robmereka memperkenankan permohonannya, dengan berfirman: “Sesungguhnya, Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang di atara kamu, baik laki-laki atau perempuan, karena sebagian kamu itu turunan dari sebagian yang lain. Maka, orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti yang berperang dan yang dibunuh pada jalan-Ku, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka, dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga, yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan Allah Sumber pahala yang baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperkenankan permohonan orang-orang yang beriman yang berhijrah, yang diusir dari kampung halaman, yang disakiti, yang berperang, dan yang dibunuh di jalan-Nya. Kesalahan-kesalahan mereka dihapuskan.

la yaghurron naka = jangan sekali-sekali engkau terperdaya; taqallubu = hilir-mudik; alladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; fil bilãd = di dalam negeri itu.

la yaghurron naka taqallubulladzĩna kafarũ fil bilãd.

196. Jangan sekali pun kamu teperdaya oleh kebebasan bergerak orang-orang kafir di dalam negeri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada orang-orang yang telah beriman, jangan teperdaya oleh keadaan dunia mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad. Keadaan dunia mereka akan terbalik nanti di akhirat.

matãun = kesenangan; qolĩlun = sedikit; tsumma = kemudian; ma’wãhum = tempat tinggal mereka; jahannamu = jahanam; wabi’sa = dan seburuk-buruk; al mĩhãd = tempat tinggal.

matãun qolĩlun, tsumma ma’wãhum jahannam jahannamu wabi’sal mĩhãd.

197. Itu hanyalah kesenangan sementara; tempat tinggal mereka adalah jahanam; tempat tinggal yang seburuk-buruknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pemberitahuan, dan peringatan bagi orang yang beriman. Juga bagi mereka yang memilih hidup kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad.

lãkini = akan tetapi; al ladzĩna = orang-orang yang; at taqãu = mereka bertakwa; robbahum = Robmereka; lahum = bagi mereka; jannaatun = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãrru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; nuzulan = sebagai anugrah; min ‘indillãhi = dari Allah; wa mã ‘indallãhi = dan apa yang ada di hadapan Allah; khoyrun = lebih baik; lil abrōr = bagi orang-orang yang berbuat baik.

lãkinil ladzĩnat taqãu robbahum lahum jannaatun tajrĩmin tahtihal anhãrru khōlidĩna fĩhã nuzulam min ‘indillãhi, wa mã ‘indillãhi khoyrul lil abrōr

198. Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Robbnya, mereka mendapat balasan surga dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya, dan mereka kekal di sana sebagai anugerah tempat tinggal dari Allah. Dan apa yang ada pada Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang berbuat baik, berbakti.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang bertakwa kepada Robbnya, maksudnya orang-orang yang tidak menyembunyikan sebagian isi Alkitabnya, dan mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasulullah.

wa inna = dan sesungguhnya; min = dari; ahlil kitãbi = Ahli Kitab; laman = ada orang; yu’minu = (ia) beriman; billãhi = kepada Allah; wa mã unzila = dan apa yang diturunkan; ilaykum = kepada kamu; wa mã unzila = dan apa yang diturunkan; ilaihim = kepada mereka; khōsyi’ĩna = mereka khusyuk, tunduk; lillahi = kepada Allah; lãyasytarũna = mereka tidak menukar; bi ãyãtillãhi = dengan ayat-ayat Allah; tsamanan = harga; qolĩlan = kecil, sedikit, murah; ũlã-ika = mereka itu; lahum = bagi mereka; ajruhum = pahala mereka; ‘inda = di hadapan; robbihim = Rōb mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; sarĩ’u = amat cepat; al hisãb = perhitungan-Nya.

wa inna min ahlil kitãbi laman yu’minu billãhi wa mã unzila ilaykum wa mã unzila ilaihim khōsyi’ĩna lillahi lãyasytarũna bi ãyãtillãhi tsamanan qolĩlan ũlã-ika lahum ajruhum ‘inda robbihim, innallãha sarĩ’ul hisãb.

199. Sesungguhnya, di antara Ahli Kitab, ada orang yang beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka, dan mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala dari Tuhannya. Sesungguhnya, Allah amat cepat perhitungan-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan keadaan beberapa orang Ahli Kitab yang mengaku beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada mereka. Artinya mereka beriman juga kepada Nabi Muhammad saw.dan apa yang diturunkan kepada beliau.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ash birũ = bersabarlah kamu; wa shōbirũ = dan tingkatkan kesbaranmu; wa rōbithũ = dan waspadalah kamu; wat taqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; la’allakum = supaya kamu; tuflihũn = (kamu) beruntung.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũsh birũ wa shōbirũ wa rōbithũ wat taqũllãha la’allakum tuflihũn.

200. Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu, dan tetaplah bersiap-siaga di perbatasan negerimu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman agar selalu bersabar dan menguatkan kesabaran dalam bersiap-siaga menghadapi pertempuran (melawan hawa nafsu manusia lain atau makhluk lain, dan dirinya sendiri). Orang yang beriman harus selalu siap-siaga di daerah wilayah tempat tinggalnya untuk menghadapi nafsu-nafsu berlebihan yang negatif, dan mengembangkan (menyuburkan) nafsu yang positif (mensyukuri segala apa yang diberikan Allah, dan merasa berkecukupan, tidak berlebihan.

002 Al Baqarah

‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Al Baqarah
Sapi Betina, Madaniyah
Surat ke 2, 286 ayat
Juz 1 beralih ke Juz 2 pada ayat 142, beralih ke Juz 3 pada ayat 253

Catatan Awal

Al Baqarah disebut juga Surat Alif Lãm Mĩm, karena dimulai dengan ayat ini. Surat lain yang dimulai dengan huruf-huruf tersebut adalah Ali Imran (Keluarga Imran), 3:1; Al Ankabut (Laba-laba), 29:1; Ar Rũm (Bangsa Romawi), 30:1; Lukman (Keluarga Lukman), 31:1; As Sajdah (Sujud), 32:1. Surat Al Baqarah ini dinamakan juga Fusthãthul Qur’ãn, artinya Puncak Alqur’an. Diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaykat Jibril, sebagian besar pada permulaan tahun Hijriah, kecuali ayat 281 diturunkan di Mina pada waktu Haji Wada (Haji yang terakhir, haji perpisahan Nabi Muhammad saw.). Di dalamnya ada peringatan dan perintah Allah kepada Kaum Bani Israil untuk menyembelih sapi betina tertentu. Peringatan-peringatan yang disampaikan Allah juga kebanyakan menyangkut kaum Bani Israil (Yahudi). Namun demikian, peringatan itu harus disimak juga oleh semua manusia untuk contoh, pelajaran, peringatan, pembelajaran, pembimbingan, pengarahan, dan menjadi contoh pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, serta adab yang baik dan yang tidak baik, terkait dengan watak-watak manusia. Yang baik harus dilanjutkan, dicontohkan kepada generasi muda; yang tidak baik harus dihindari perkembangannya, menjadi contoh dari hal yang tidak boleh dilakukan. Allah menggunakan sapi betina, sebagai hewan lambang kekafiran umat yang menyembah, mengagungkan sapi. Mereka mengharamkan sapi diambil susunya, dan tidak boleh disembelih. Dagingnya haram dimakan manusia. Allah menggunakan lambang beberapa hewan untuk menjadi hukum dan ilmu bagi manusia (lihat Q.s. Al An’ãm (Binatang Ternak), 6; An Nahl (Lebah), 16; An Naml (Semut), 27, Al Ankabut (laba-laba), 29; harus diselidiki hakekat berbagai hewan itu untuk menjadi pengetahuan, ilmu, hukum, contoh, ceritera, kias, ilmu, perumpamaan, untuk dimanfaatkan dalam berbagai keperluan hidup berhukum, berilmu yang banyak, beradab dalam beragama.
Tujuannya untuk menda’wahi orang yang sudah beriman (mukmin), Ahli Kitab, orang kafir, orang munafik, orang musyrik (syirik), orang fasik, dan orang murtad, sebagai pengingat-ingat, pengetahuan, petunjuk, penghibur, obat, ilmu, pengetahuan yang dapat dibaca sehari-hari. Secara parsial orang-orang tersebut dida’wahi terus dalam berbagai surat yang berbeda dalam Alqur’an ini.
Al Baqarah diturunkan bagi mereka yang mau membaca untuk mengetahui, memperbandingkan kebenaran yang sesungguhnya, dari Kitab yang sudah dibacanya, selain Alqur’an. Orang beriman (mukmin) membacanya berdasarkan ilmu dan pengetahuan, kemudian mendapatkan keyakinan kepercayaan tentang kebenaran, disebut berkeimanan secara ilmul yaqin. Orang beriman yang mempunyai rasa percaya karena hasil penglihatannya, kemudian diucapkan secara benar dan teguh, yang disertai perilaku tunduk, dan penyerahan sepenuh jiwa-raga disebut dengan iman yang ‘aynal yaqin.
Orang yang beriman mengerjakan apa yang seharusnya dilakukan dengan baik dan benar, karena merasa dirinya selalu diawasi oleh Penguasanya. Orang yang beriman selalu berupaya berhati-hati untuk selalu benar dalam berbagai kegiatan, perilakunya, sesuai dengan hukumullah, sunatullah, dan sunatur-rasul. Kelompok orang berkeimanan seperti ini disebut orang yang beriman secara haqqul yaqin.
Orang kafir adalah orang yang tidak percaya kepada kekuasaan Allah, dan kepada para Nabi serta Rasul-Nya, khususnya tidak percaya kepada Nabi Muhammad saw.. Mereka bersekutu dengan setan, menyekutukan Allah dengan benda-benda selain Allah. Menolak, menyangkal, mengingkari ajakan, peringatan, petunjuk yang diturunkan Allah kepada para Nabi, khususnya kepada Nabi Muhammad saw.; Mereka menganggap dusta ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada para Nabi. Allah selalu mengingatkan kepada orang yang beriman agar selalu berhati-hati menghadapi orang kafir ini, karena peri-lakunya yang berahasia. Mereka membenci orang-orang beriman. Mereka ingin mengajak ke kekafiran, suka mengejek, merendahkan orang yang beriman. Mereka tidak percaya adanya Nabi, terutama yang terkait dengan kedatangan Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah. Dalam Al Baqarah ada dua ayat tentang kekafiran itu.
Orang munafik adalah orang yang perkataannya mengaku beriman, tapi di dalam hati dan tingkah-lakunya tidak menunjukkan pengakuannya, berpura-pura; mereka dapat berbahaya, mereka mengadakan perlawanan dengan diam-diam, memecah-belah umat. Orang munafik itu suka berbohong, menipu, memalsu; kalau berjanji tidak ditepati, kalau diberi amanat mengabaikan, atau melupakannya. Dia berkhianat dan tidak menyampaikan amanat itu. Mereka tidak bisa dinasihati. Dalam Al Baqarah, ada 13 ayat tentang kemunafikan.
Orang musyrik (orangnya) atau syirik (perilakunya, perbuatannya) adalah pendosa (kezhaliman) paling besar, yaitu orang yang menduakan atau menyekutukan atau menyamakan Allah dengan makhluk, mensyarikatkan Allah dengan makhluk (tahayul dan khurafat, percaya pada kekuatan jin, pohon, kekuatan orang yang suci, dan sakti. Percaya kepada kekuatan keris, pedang jimat, dan bermacam-macam benda); orang yang menganggap Allah lebih dari satu (ada Allah Bapa, Allah Anak, Allah Rohul Kudus); orang yang memuja manusia (dokter, pemimpin, dukun yang dapat menentukan rezeki, hidup atau matinya seseorang), memuja berhala (Jibt dan Thaghut; Tao Pe Kong), benda-benda buatan manusia sendiri (batu cincin, sabuk sakti, keris sakti, tombak sakti, pedang sakti), yang tidak mempunyai daya sedikit pun untuk menolong apa atau siapa pun, disebut musyrik akbar. Syirik dapat dilakukan dengan perkataan (syirik qauli; syirk fil aqwal = ucapan), dengan perbuatan (syirik fi’li, syirk fil af’al, syirk uluhiyah), dengan sikap dan rasa (syirik qolbi, syirk fin niyah wal iradah = tujuan dan kehendak). Syirik yang dilakukan secara terang-terangan disebut musyrik jalli. Kalau secara sembunyi-sembunyi disebut musyrik khafy, merupakan syirik yang sangat dikhawatirkan oleh Nabi. Tatkala seseorang sedang salat, lalu dia merasa diperhatikan orang, maka kemudian dia membagus-baguskan sikap salatnya. Kalau dilakukan dengan melalui perantara kepada Allah disebut musyik idlafy (percaya kepada seorang kiyai, dokter, guru, orang tua, orang pandai). Kalau musyrik itu dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah, tapi latar-belakang dan tujuannya bukan karena Allah, tapi karena riya, ingin dipuji, menghormati budaya leluhur termasuk syirkul ashghar, Syirk Rububiyah.
Orang fasiq adalah orang yang mempunyai keyakinan ada-Nya Allah, tapi tidak mengindahkan perintah dan larangan-Nya. Mereka berbuat bodoh, dan mereka tidak menyadari kebodohannya, bertabiat atau berkelakuan buruk, jelek, suka berpura-pura, suka menyumpah-nyumpah, mengejek, mencaci, memaki, melecehkan, menyepelekan atau menganggap remeh orang lain, dan menganggap sepele peraturan Allah. Pekerjaannya menghina, merendahkan orang dan mahkluk lain, suka berbuat jahat, jahil, licik, bakhil, pelit; menjadi pencuri, pencopet, perampok, perompak, pemalak, penodong, penipu, pemalsu, penyelundup, pembohong, penghasut, pemfitnah, penghina, pemeras, pembangkang, penadah barang hasil kejahatan; berlaku atau berbicara tidak sopan, kasar, membentak-bentak, suka berolok-olok tentang Allah dan para Nabi;
Orang murtad adalah orang sudah mengaku beriman, namun karena pengaruh orang lain, atau lingkungannya, mereka kembali menjadi tidak beriman. Mereka tidak mengakui adanya Allah dengan berbagai perilakunya yang jelek, seperti meniadakan Allah.
Isi lain Surat Al Baqarah: perintah mendirikan salat, perintah mengesakan Allah, menunaikan zakat, hukum berpuasa, hukum berhaji dan berumrah, hukum kishash, tentang soal halal dan haram, mencari nafkah di jalan Allah, dan yang berhak menerima nafkah itu; hukum minum dan makan yang halal, hukum minuman dan makanan yang memabukkan atau yang tidak memabukkan; judi; cara memelihara dan bergaul dengan anak yatim; larangan riba; aturan utang-piutang; wasiat kepada ibu-bapak dan kaum kerabat; hukum sumpah; kewajiban menyampaikan amanat; hukum sihir; hukum merusak masjid; hukum mengubah Kitab-kitab Allah; hukum haidh, ‘iddah, thalak khulu’ ilã, dan hukum susuan, hukum melamar, mahar, larangan mengawini wanita kafir, musyrik, larangan wanita Islam kawin dengan laki-laki kafir; hukum perang; kewajiban berjihad di jalan Allah. Ada Kisah diciptakannya Nabi Adam ‘alayhis salam (a.s.), kisah Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., dengan Bani Israil yang beragama Yahudi; sifat-sifat orang yang takwa, sifat-sifat orang munafik, sifat-sifat Allah, perumpamaan-perumpamaan, persoalan kiblat, kebangkitan sesudah mati.
a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ الم﴿١﴾

Alif lãm mĩm
1. Allah Yang Maha Mengetahui maknanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat pertama surat ini dimulai dengan huruf Hija-iyah: “Alif lãm mĩm”, karenanya, surat ini juga diberi nama Surat Alif Lãm Mĩm, disebut fawatih as suwar, atau potongan-potongan huruf pada awal surat. Hal ini menjadi pertanda atau isyarat agar seseorang yang ingin mengetahui hukum, petunjuk, pelajaran, pengarahan Allah, bagimana cara berbudaya, dan beradab, kemudian ingin membaca Alqur’an, mereka harus mempelajari dan membudayakan huruf dan hukum-hukum bahasa Arab, karena Kitab ini diwahyukan kepada Nabi Muhammad Rasulullah saw., yang lingkungan hidupnya berbahasa Arab dengan huruf Hijaiyyah-nya. Hal ini lebih ditekankan dalam beberapa Surat di dalam Alqur’an ini. Selain itu, agar surat ini menarik perhatian; Surat-surat lain yang dimulai dengan penggalan huruf, semuanya ada 29 surat, yaitu:

1. Al A‘rãf (Tempat Tertinggi), 7:1; alif lãm mĩm shōd;
2. Yunus, 10:1; Hud, 11:1; Yusuf, 12:1; Ibrahim, 14:1; Al Hijr nama daerah kaum Tsamũd, 15:1 alif lãm rō;
3. Ar Ra’d (Guruh), 13:1 alif lãm mĩm rō
4. Maryam, 19:1 kãf hã yã ‘ayn shōd;
5. Thō hã, 20:1 thō hã;
6. Asy Syu’arã’ (Para Penyair), 26:1; Al Qoshosh (Ceritera-ceritera), 28:1 thō sĩm mĩm;
7. An Naml (Semut), 27:1 thō sĩm;
8. Yã Sĩn, 36: 1 yã sĩn;
9. Shōd, 37:1 shōd
10. Al Mu’mĩn, (orang-orang Mukmin), 40: 1; Fushshilat (Yang Dijelaskan), 41: 1; Az Zukhruf (Perhiasan), 43: 1; Ad Dukhãn (Kabut), 44: 1; Al Jãtsiyah (Yang Berlutut), 45: 1; Al Ahqãf (Bukit-bukit Pasir), 46: 1 hã mĩm; Asy Syũra (Musyawarah), 42: 1 hã mĩm; 2 ‘ayn sĩn qōf
11. Qōf, 50: 1 yã Qoyũm, wal qur’ãnul majĩd atau yã Qōdir, wahai Zat Yang Maha Menentukan
12. Nũn, Al Qalam, Kalam Ilahi, 68.

Para pembacanya, ada yang menafsirkan, ada pula yang menganggap sebagai ayat mutasyãbihãt, artinya hanya Allah saja yang mengetahui dan memahami maksudnya. Ini adalah hak Allah menyampaikan dengan bahasa Arab petunjuk, pedoman, peringatan, penjelasan, penerangan, pelajaran melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw., dan meminta manusia membaca, mempelajari, memahami, menafsirkan, dan menang-gapi atau mengamalkan atau tidak mengamalkannya. Manusia diberi hak kebebasan untuk memilih, melakukan atau tidak melakukan apa yang ditawarkan Allah itu. Manusia memang sudah diberi akal dan pikiran untuk dapat mempertimbangkan kebaikan, keuntungan atau keburukan, kerugian atau kejelekan pilihannya. Hanya Allah mengingatkan, bahwa membaca dan memahami isi Alqur’an itu wajib hukumnya bagi orang yang mengaku beriman. Bagi yang tidak beriman, isi surat ini merupakan pelajaran, peringatan, dan ancaman. Kalau diperhatikan, Allah bersyukur. Allah mengharapkan, mereka mau bertobat. Bagi yang bertobat, Allah Maha Penerima tobat. Namun, bagi mereka yang mengabaikan, Allah memberi peringatan, kemudian acaman kepada mereka, akan dimasukkan ke neraka jahanam.
Tentang huruf-huruf singkatan di atas, ada kemungkinan dapat ditafsirkan, dipanjangkan menjadi Allahu la ilaha ilallãh Muhammadur Rasulullah. Para ahli lain (Ibnu Abbas dkk.) memanjangkannya menjadi: Ana Allah A’lamu (Aku, Allah Maha Mengetahui); atau Allahul Latiful Majidu (Allah, Maha Halus, Maha Mulia; alif lãm mĩm shad kepanjangannya Ana Allah af shilu (Allah Yang memerinci); alif lãm rã kepanjangannya: Anna Allah Arra (Aku, Allah Yang Melihat, Memperhatikan); Allahu lã ilaha ila Antar Rofi’ur Rohĩm tidak ada ilah selain Engkau Yang Maha Mengangkat dan Maha Penyayang, dan lain-lain terserah kepada orang yang menghendakinya, dengan ketentuan harus mempunyai tujuan yang baik, dzikir, dan dakwah sesuai dengan amanat, kehendak, kesukaan Allah. Orang yang membaca tentunya bertujuan mengagungkan, meninggikan, memuliakan Allah.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ﴿٢﴾

dzãlika = ini, itu; al kitãbu = Kitab, benda, lembaran yang dapat ditulisi; lã = tidak (ada), bukan; royba = ragu-ragu (keraguan); fĩhi = di dalamnya; hudan = petunjuk; li = bagi, kepada; al muttaqĩn = orang yang takwa;

dzãlikal kitãbu lã royba fĩhi hudal lil mutaqĩn.

2. Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya; (menjadi, mengandung) petunjuk bagi orang-orang yang takwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dalam Surat ini, Alqur’an disebut Alkitab yang berarti “lembaran yang ditulisi” maksudnya memberi isyarat, wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw. melalui Jibril itu harus ditulis, agar menjadi dokumen yang dapat disimpan, dan dibaca, menjadi bacaan sehari-hari (arti kata Alqur’an), menjadi peringatan untuk dipelajari oleh orang banyak, baik yang sudah beriman maupun yang belum beriman, atau yang tidak (mau) beriman, dan hanya ingin mempelajari secara ilmiah, sebagai perbandingan, mencari persamaan atau perbedaan dengan apa yang sudah diketahuinya, atau yang sudah diimaninya. Ternyata, ketika Alqur’an diturunkan, sudah ada budaya menulis dan membaca, di samping budaya berbicara dan mendengar. Nabi Muhammad saw.sendiri tidak pandai atau tidak mau menulis sendiri. Yang menuliskan dengan teliti Wahyu Allah itu para sahabat dekat, antara lain yang terkenal adalah Zaid bin Tsabit. Terakhir dikumpulkan secara teliti pada masa Usman ibnu Affan, r.a.. Ada versi lain yang dibuat oleh Fatimah r.a., Ali bin Abi Tholib, r.a., Abu Bakar r.a., Umar r.a., Hanafi, Maliki, Hambali, yang terakhir Syafi’i yang banyak dipakai di Indonesia. Hasilnya, setelah melalui perkembangan, perubahan terutama dalam tanda bacanya, ada perbaikan seperti yang kita baca sekarang ini, sudah tidak bisa diubah-ubah lagi.
Allah menyebut Alkitab dalam ayat ini disejajarkan dengan Alqur’an. Isi Alqur’an itu tidak diragukan bagi orang yang takwa, lihat ayat 2, 3, 4, 5. Bagi orang yang ragu, Alqur’an ini masih dipertanyakan keimanannya. Ragu, artinya kurang percaya, syak, bimbang, bingung, antara percaya dan tidak. Orang yang belum beriman, atau yang tidak (mau) beriman, lihat ayat 6, 7. Kemudian ayat 8 – 20 yang menegaskan orang-orang yang munafik. Mereka akan selalu meragukan, mempertanyakan, tidak membenarkan, bahkan menyangkal, memperolok-olokkan apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw., tersebar di dalam surat-surat Alqur’an ini. Padahal, di dalam Kitabnya, yang diturunkan sebelumnya, ada ayat peringatan yang sudah diturunkan Allah, bahwa akan datang seorang Nabi dan Rasul yang bernama Muhammad saw. (disebut Ahmad dalam Q.s. Ash Shaff, 61: 6). Dahulunya mereka memohon disegerakan kedatangannya. Hal ini selalu mereka lakukan. Mereka banyak yang menganggap dusta para Nabi dan Rasul Allah. Lihat buku Ramalan Kedatangan Nabi Muhammad saw. dalam Kitab Suci Agama Lain, karya Insan LS Mokoginta
Sebutan Alkitab merupakan penghormatan kepada para Nabi sebelumnya, yang telah diberi Alkitab, seperti Zen Avesta, Zabur, Taurat, Injil, Weda (terdiri dari Ramayana, Mahabharata, Baghawad Gita, kemudian dinamakan Tripitaka ( = Tiga Pusaka dari Agama Hindu); Sang Hyang Kamahayanikam dari Agama Buddha), Tao Te Ching penulisnya (peninggalan) Lao-ts dari Cina. Ada aliran lain yang dibawa oleh Kong Hu Chu atau Kongfucze (dalam kepustakaan Islam Kitab-kitab itu disebut: al Hikmah atau al Furqōn). Islam mengimani kitab-kitab tersebut, karena Kitab-kitab lama itu sesungguhnya sudah mengesakan Allah. Hanya ternyata, ada bagian yang diubah, direkayasa, dikreasi, dipalsukan, diganti, dan ada pula yang tidak diakui, ditutup-tutupi atau dirahasiakan, atau diselewengkan oleh mereka yang sudah membaca dan menuliskannya kembali. Terutama perihal kenabian Muhammad saw.. Jadi, Alkitab itu mempunyai banyak versi dan variasi. Tata cara peribadatannya pun berbeda-beda.
Alqur’an yang dibantu, dilengkapi dengan hadis dan sunah Nabi memberikan petunjuk, pedoman, isyarat, arahan, nasihat, pelajaran, peringatan, ketentuan, penerangan, penjelasan, bimbingan bagaimana suatu perbuatan, peribadatan harus dilakukan. Di samping itu, Alqur’an memberikan perbaikan atau koreksi, revisi, renovasi, pengganti atas Kitab-kitab sebelumnya, agar mereka mengikuti jalan lurus, mengesakan Allah yang ditunjukkan-Nya melalui Nabi Muhammad saw.. Hal ini sudah dijanjikan Allah melalui Kitab-kitab mereka yang asli.
Alqur’an itu, sebagai Alkitab yang terakhir yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw., sejak awal penulisannya (berupa shuhuf-shuhuf = lembaran-lembaran berisi tulisan, kemudian dikumpulkan dan disusun sesuai dengan kebiasaan Nabi Muhammad saw. waktu membacakannya pada zaman Khalifah Utsman Ibnu Khatab, r.a.) sudah dijaga ketat kebenaran dan keasliannya oleh para ahlinya, sehingga kalau ada kesalahan atau perubahan sedikit saja dalam tulisannya, atau bacaannya akan diketahui, dan harus diperbaiki. Tulisan awal Alqur’an belum banyak diberi tanda-tanda baca. Namun, mengingat banyaknya dialek bahasa Arab, maka selanjutnya sedikit demi sedikit diberi tanda-tanda baca untuk membimbing para pembacanya agar seragam dan tidak salah baca.
Alqur’an ini banyak mengandung ilmu, misalnya ilmu agama, ilmu sosial, ilmu bahasa dan sastra, baik yang umum maupun yang khusus, dan berbagai ilmu lain yang ada di dunia ini secara umum, seperti hukum (aturan, dan percontohan), filsafat, tasauf, ilmu jiwa, matematik, fisika, kimia, geografi, geologi, geofisika, ilmu falak, biologi, termasuk ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu ekonomi, ilmu sosial-politik negara, sejarah, antropilogi, seni. Ilmu-ilmu tersebut dikemukakan secara garis besar, atau pokok atau dasarnya saja. Para pembacanya diharapkan untuk mau meneliti, mengamati, mengembang-kan, meluaskan, selanjutnya mempraktikkan ilmu yang ada di alam semesta ini, termasuk yang ada di dalam dirinya sendiri.
Dengan hak-Nya, Allah mengingatkan kepada manusia, bahwa isi Alqur’an sebagai Alkitab yang terakhir, tidak dapat diragukan, mengandung pedoman, petunjuk kebenaran (hidayah) dan al hikmah bagi orang yang takwa, yaitu orang yang selalu mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya (lihat Al Fatihah 1 : 6, permohonan orang yang membaca Alqur’an). Takwa dalam hubungannya dengan Allah (hablumminallōh) artinya mereka yang beriman kepada yang gaib, terutama kepada Yang Mahagaib, yaitu Allah (lihat ayat berikutnya: 3, 4). Orang takwa berarti orang yang melaksanakan perintah Allah: mendirikan salat, menafkahkan sebagai rezekinya; beriman kepada kitab-kitabnya (Alqur’an, Zen Avesta, Zabur, Taurat, Injil, Weda ditulis oleh Empu Wiyasa (yang terdiri dari Ramayana, Mahabharata, Bhaghawad Ghita, kemudian disebut Tripitaka dari Hindu; Sang Hyang Kamahayanikam dari Buddha, Sidharta Gautama), Tao Thei Ching dari Lao-ts). Takwa berarti memelihara, menjaga diri secara maksimal dari azab atau siksa neraka (dunia dan akhirat), menjaga diri dari murka Allah dengan selalu mengikuti segala perintah-Nya; dan menjauhi, menghindari segala yang dilarang-Nya. Menjaga hubungan dengan diri sendiri, artinya menjaga diri, mengekang (mengarahkan) nafsu-nafsu diri agar tidak celaka, tidak merugi, tidak melakukan kesalahan kecil maupun besar. Takwa dalam arti hubungan dengan manusia lain (hablumminannas), artinya memelihara, menjaga diri secara maksimal selaras agar tidak menyinggung perasaan orang lain, mengganggu ketenteraman orang lain, menjaga dan memelihara orang lain, agar hidupnya selamat, nikmat, sejahtera, tenteram, bahagia, damai, dan sempurna. Takwa dalam arti menjalankan hubungan dengan makhluk lain di alam semesta (hablumminal ‘alamin) artinya menjaga dan memelihara secara maksimal alam semesta, lingkungan tempatnya hidup agar tidak rusak, tidak terganggu keseimbangannya, tidak menimbulkan pencemaran, kerusakan, kepunahan. Semuanya, sesungguhnya untuk kepentingan hidup manusia itu sendiri agar selamat, tenteram, damai, sejahtera, penuh kenikmatan, penuh kebahagiaan, penuh kepuasan di dunia dan di akhirat nanti secara sempurna.
Anjuran takwa ini berulang-ulang dikemukakan Allah dalam berbagai hubungan peristiwa para Nabi masa lalu yang umatnya selalu dihimbau untuk mengikuti peribadatan yang disunahkan oleh para Nabi, khususnya dan yang terakhir dari Nabi Muhammad saw..

al ladzĩna = orang-orang yang …; yu’ minũna = orang-orang (mereka) yang beriman; bi = dengan; al ghaybi = benda gaib; wa = dan; yuqĩmũ = mendirikan; na = mereka, orang-orang; ash shalãta = salat; wa = dan; min = dari; mã = apa (Allah); rozaqnãhum = mereka telah Aku beri rezeki; yunfiqũn = mereka menginfakkan; mereka menafkahkan.

Al ladzĩna yu’minũna bil ghaybi wa yuqĩmũnash shalãta wa mim mã rozaq na hum yunfiqũn.

3. Mereka, orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah Aku anugerahkan kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan, siapa, dan seperti apa, orang yang bertakwa itu. Orang yang bertakwa adalah orang beriman, orang yang mempunyai kepercayaan penuh, yang diyakini di dalam hati, diucapkan secara lisan, dan dipraktikkan dalam perbuatan, atau peri-laku sehari-hari. Mereka bersifat, bersikap, dan berbuat selalu dalam keadaan berhati-hati, menjaga diri, siap-siaga dari kemungkinan terkena siksa Allah. Mereka tetap melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah, dengan keyakinan penuh, serta menjauhi pekerjaan yang dilarang-Nya. Orang yang beriman kepada yang gaib, artinya kepercayaan yang teguh yang disertai perilaku yang mendukung keserasian, kesantunan, keindahan, kebaikan, dan kebenaran. Mereka selalu tunduk jiwa dan raganya hanya kepada Allah. Mereka percaya kepada yang gaib lainnya, yang sudah diakui secara yakin oleh umat sebelumnya adalah benda-benda yang tidak dapat diraba, tidak dapat dilihat, tapi dapat dirasakan, seperti ruh, angin, udara, ilmu, dan benda-benda di ruang angkasa yang belum diketahui hakekat dan keberadaannya. Kalau berupa suara, dapat didengar tapi tidak jelas sumber suaranya, dan dipercaya keberadaan suara itu (misalnya: petir, guruh, atau guntur, geluduk, beledek). Yang gaib seperti ada-Nya Allah Yang Mahagaib, dan kemudian Malaykat, jin, setan, iblis, segala sesuatu yang belum terjadi, hari kiamat, hari akhirat, neraka, surga dan lain-lain.
Adalah hak Allah untuk memberitahukan isi Alqur’an yang menjadi bacaan sehari-hari, petunjuk bagi orang yang takwa, sehingga menjadi ilmu. Bagi orang yang tidak takwa, bacaan ini tidak bermakna apa-apa, bahkan menimbulkan berbagai pertanyaan, sanggahan, dan olok-olok. Bagi yang tidak atau yang belum takwa, petunjuk itu dapat menyesatkan karena keragu-raguan mereka sendiri. Hal ini disinyalir dan dijelaskan di dalam Alqur’an ini. Orang yang takwa adalah orang yang mendirikan dan melaksanakan bermacam-macam ibadah, khususnya salat, artinya mendekatkan diri kepada Allah Yang Mahagaib, Mahamulia, Penguasa seluruh alam semesta, beraudiensi, berkomunikasi, berhubungan, menyampaikan permohonan atau kehendak, menyebut-nyebut dan membesar-besarkan, mengagung-agungkan dan memuliakan nama-Nya, dengan ucapan dan berbagai perbuatan atau tindakan yang menggambarkan iman kepada-Nya dimulai dari niat, takbiratul ikhram (ucapan: Allahu Akbar) dalam sikap berdiri, bagi yang mampu. Yang tidak mampu, dapat dengan duduk atau berbaring, atau hanya dengan isyarat. Ada sikap berdiri tegak, ruku, duduk, sujud (seperti sebagian gerakan yoga dalam kepercayaan Hindu, dan Buddha) dengan masing-masing bacaan dan doa, syahadat, salawat bagi Nabi Muhammad saw.dan diakhiri dengan salam. Setelah salam, dilanjutkan lagi dengan doa-doa sunat untuk kepentingan pribadi, keluarga, kaum kerabat, orangtua, masyarakat, dan mendoakan keselamatan kaum muslimin, umat manusia, para Nabi, Aulia, Ulama, guru-guru, khususnya bagi keselamatan Nabi Muhammad saw.dan keselamatan alam semesta ini (baca buku-buku tentang salat dan doa).
Perintah menegakkan salat tercatat ada 12 perintah di dalam Alqur’an dengan lafaz aqimushsholãta (dirikanlah salat) dengan khithab untuk orang banyak terdapat pada Q.s.Al Baqarah, 2 : 43, 83, dan 110; An Nisã’, 4 : 77, 103; Al An’ãm, 6 : 72; Yũnus, 10 : 87; Al Hajj, 22 : 78; An Nũr, 24 : 56; Ar Rũm, 30 : 31; Al Mujãdalah, 58 : 13; Al Muzzammil, 73 : 20. Juga dengan lafaz aqĩmish sholãta (dirikanlah salat) dengan khithab hanya kepada satu orang pada Q.s. Hud, 11 : 114; Al Isrã’, 17 :78; Thōha, 20 : 14; al Ankabũt 29 : 45; dan Lukman, 31 : 17. Salat dalam Islam sangat penting dan bersifat strategis, merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi ciri apakah seseorang itu mukmin yang taat atau kafir. Salat merupakan ciri, apakah perjanjian ditaati atau diabaikan. Yang mengabaikan salat menjadi ciri bahwa dia itu menjadi kafir (HR. Muslim). Salat merupakan kewajiban seorang muslim (individual) yang tidak bisa diganti atau diwakilkan dalam kondisi apa pun. Salat menunjukkan apakah Islam itu ditegakkan atau ditinggalkan. Salat itu memiliki sendi kehidupan atau dimensi ibadah yang mempengaruhi kesehatan ruhani, jasmani, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Orang yang takwa itu orang yang menafkahkan sebagian rezeki yang dianugrahkan Allah. Rezeki artinya segala apa yang dapat dinikmati manfaat- nya. Menafkahkan sebahagian rezeki semata-mata di jalan Allah, artinya menggunakan, membagi-bagi untuk berbagai kepentingan atau kebutuhan diri sendiri, keluarga, saudara-saudara dekat, atau jauh yang diberikan sebagai zakat, infak, sedekah kepada para fakir, miskin, anak yatim-piatu, berjihad fi sabilillah (lihat Q.s. Al Baqarah: 2-218) untuk mereka yang bepergian dan yang memerlukan bantuan, keperluan membangun masjid, gedung perguruan dan pendidikan, rumah sakit, untuk penelitian dan penyelidikan ilmiah, atau bertijaroh dengan benar (Q.s. Al Baqarah: 2-5). Penyakit takwa ini ada dua yakni ghĩbah dan riya. Ghĩbah artinya orang yang senang bergunjing tentang aib atau kekurangan orang lain, menggunjingkan kejelekan orang lain, kesulitan orang lain. Kerugian orang bergunjing: 1. Doa tidak dikabulkan; 2. Amal kebaikan tidak diterima; 3. Dosa bertambah (Ali bin Abi Thalib); Riya artinya orang yang ingin dan suka dipuji, gila hormat atas apa yang sudah, atau belum dilakukan, atau apa yang dikatakan, apa yang dipakai atau yang diperlihatkannya. Ibadah dan dzikirnya hanya untuk mendapat pujian dari orang. Itulah riya.

wa = dan; al ladzĩ = yaitu; na = orang-orang; mereka; yu’minũ na = beriman kepada Aku; bi = dengan, kepada; mã = apa (kitab; tergantung hubungannya dengan bagian kalimat yang lain); unzila = yang diturunkan; ilayka = kepada kamu; wa mã unzila = dan apa (Kitab-kitab) yang diturunkan; min = dari; qoblĩ = sebelum; ka = kamu; wa = dan; bi = kepada; al ‘akhiroti = akhirat; hum = mereka; yũqinũn = mereka yakin.

wal ladzĩna yu’minũna bi mã ‘unzilã ilayka wa mã ‘unzila min qoblika wa bil akhirotihum yũqinũn.

4. Dan mereka beriman kepada-Ku, dan kepada Kitab yang telah diturunkan kepada kamu (Muhammad saw.), dan Kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, dan mereka yakin pada adanya kehidupan akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang takwa itu adalah mereka yang beriman kepada Allah dan kepada Kitab yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw.(Alqur’an), dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, seperti Zen Avesta, Zabur, Taurat, Injil, Tao Te Ching: Lao tse, kemudian dilanjutkan oleh Kongfutche; Weda (Ramayana, Mahabharatha, Baghawad Ghita ketiganya disebut Tripitaka; (Hindu: ditulis atau diceriterakan oleh Walmiki, Mpu Bharadha, Abiyasa), Sang Hyang Kamahayanikam (Buddha: Sidhartha Gautama; ada aliran Hinayana, Mahayana, Tantrayana)) , dan shuhuf-shuhuf lainnya, serta mereka yakin kepada kehidupan akhirat, yaitu kehidupan setelah mati dari kehidupan di dunia sekarang ini.
Keenam hal tersebut (iman kepada Khaliq dan makhluk yang gaib, yaitu iman kepada Allah, iman kepada Malaykat; iman kepada Kitab-kitab Allah; iman kepada para Rasulallōh; iman kepada hari akhir; iman kepada takdir yang baik atau yang buruk) merupakan ujian, pelajaran, petunjuk dari Allah dan menjadi enam rukun iman dalam agama Islam. Kemudian menjadi lima rukun Islam, yaitu bersaksi dengan lidah dan diresapkan di dalam hati, bahwa tidak ada ilah lain selain Allah, dan Nabi Muhammad saw.itu Rasulullah; mendirikan salat; menunaikan zakat; berpuasa pada Bulan Ramadhan; dan beribadah haji bagi yang mampu.Yakin artinya kepercayaan yang kuat tak tergoyahkan, dan tidak ada keraguan sedikit pun. Ada tingkatan ilmul yaqin, ‘aynul yaqin, haqqul yaqin.

ũlãika = mereka adalah; ‘alã = di atas; hudan = jalan, petunjuk; min = dari; robbi = Penguasa; him = mereka; wa ũlãika = dan mereka adalah; hum = orang-orang; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.

‘ũlãika alã hudam mirrobihim wa ũlãika humul muflihũn

5. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dari Rabnya (Penguasanya, Pemeliharanya, Pemiliknya), dan mereka itulah orang yang beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan, “Orang beriman itu adalah orang yang beruntung, mendapat pedoman, pelajaran, penerangan, penjelasan, penghibur, petuah, petunjuk, nasihat tentang kebenaran (hidayah), dan mendapat berita gembira dari Allah dalam menjalani hidupnya secara benar, baik, tenang, tenteram, damai, sejahtera, menyenangkan, memuaskan di dunia dan nanti di akhirat. Orang yang -beriman adalah orang yang mendapatkan apa-apa yang dimohon (Q.s. Al Fatihah, 1: 5, 6), yang disertai usaha kuat. Di sini dinyatakan bahwa, makhluk itu harus menyembah atau mengabdi dan meminta pertolongan hanya kepada Allah, bukan kepada Malaykat, manusia (hidup atau yang sudah mati), atau benda-benda buatan manusia, lebih-lebih meminta kepada jin setan, iblis. Jadi, Alqur’an itu adalah petunjuk yang baik dan benar dari Allah, Zat Yang Mahagaib. Malaykat (jumlahnya ribuan, trilyunan) diberi tugas oleh Allah untuk menjaga, melayani, memelihara, memberitahu, mengingatkan manusia agar hidupnya selamat, sejahtera, tenteram, damai, sempurna. Alqur’an harus menjadi pedoman berpengetahuan, berilmu, berhukum dalam berbudaya dan beradab.

innã = sesungguhnya; alladzĩna = orang-orang; kafarũ = kafir; sawãun = sama saja; ilayhim = bagi/atas mereka ‘a = apakah; andzar = peringatkan; ta = engkau, kamu; hum = mereka; am lam = atau tidak; tundzir = engkau beri peringatan; hum = mereka; lã = tidak; yu’ minũn = mereka beriman;

innãl ladzĩna kafarũ sawãun ilayhim ‘a andzartahum am lam tundzirhum lã yu’ minũn.

6. Sesungguhnya, orang-orang kafir, bagi mereka sama saja, kamu beri peringatan, atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak mau beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, di samping orang yang takwa dan iman, ada pula yang disebut orang kafir, yaitu orang yang tidak mempercayai Allah sebagai Penguasa tunggal di dunia dan di akhirat; mereka tidak percaya pada kenabian dan kerasulan Muhammad saw.. Mereka bersekutu dengan setan, mereka menyekutukan Allah dengan makhluk lain; mereka termasuk orang yang lalim pada dirinya sendiri, karena jalan yang ditempuh tadinya benar, tapi karena mereka keras kepala (terlalu keras berpegang pada apa yang sudah diketahui dari pemimpin-pemimpinnya), sekarang ini menjadi sesat dan menyesatkan diri mereka sendiri. Mereka berulang-ulang diberi peringatan, tapi tidak mau memperhatikan. Sama saja, diberi peringatan, atau tidak diberi peringatan, mereka itu tetap menolak. Mereka memalingkan wajahnya, saat diberi peringatan. Mereka menertawakan dan menganggap bodoh orang yang beriman, bahkan memperolok-olokkan Allah. Mereka berbuat jahat, berbuat kejelekan dengan mengatasnamakan Allah. Orang yang memperolok-olokan Allah itu akan dihukum dua kali lipat karena kejahatan dan perbuatan jelek yang dilakukannya, dan kejelekan mempermainkan nama Allah untuk perbuatannya yang tidak terpuji. Mereka tidak mengatasnamakan Allah kalau melakukan hal yang baik-baik. Hal ini menyebabkan setiap amalannya yang baik ditolak, tidak diterima, karena tidak tersambung dengan kasih-sayang Allah, mungkin akan menimbulkan kehancuran, kerusakan, bahaya.

khotama = telah menutup/mengunci; allahu = Allah; ‘alã = pada; qulũbi = hati; him = mereka; wa = dan; alã = pada; sam’i = pendengaran; him = mereka; wa = dan; ‘alã = pada; abshōri = penglihatan/pandangan; him = mereka; ghisyãwatun = ditutup; wa = dan; lahum = bagi mereka; adzãbun = azab; azhĩm = besar/berat/yang pedih.

khotamallahu ‘alã qulũbihim wa ‘alã sam’ihim wa ‘alã abshōrihim ghisyãwatuw wa lahum adzãbun azhĩm.

7. Allah telah mengunci mati hati, pendengaran, dan penglihatan mereka ditutup. Bagi mereka disediakan siksa yang amat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rasa hati orang kafir sudah terkunci rapat, tidak dapat merasakan kebenaran; pendengaran, atau telinga mereka sudah tertutup, tuli tidak dapat mendengar nasihat, petunjuk, petuah, nasihat, pelajaran yang baik-baik; Mereka sudah buta, tidak dapat melihat kebenaran ayat-ayat Allah; mereka tidak dapat melihat kebenaran contoh-contoh yang diberikan oleh para Nabi, dari Rasul.; bisu, mulut mereka tidak dapat menyatakan pengakuan ada-Nya Allah dan para Nabi-Nya dengan benar. Mereka tidak dapat menyatakan kebenaran yang ada dalam dirinya, Mereka tidak mengenal dirinya sendiri. (Q, S. al Baqarah, 2: 18). Mereka tidak mempercayai petunjuk Allah. Petunjuk Allah bagi orang yang tidak beriman dan tidak bertakwa dapat menyesatkan dirinya. Mungkin juga menguntungkan, namun hanya untuk di dunia saja, untuk akhiratnya, mereka akan merugi karena akan dimintai pertanggung-jawabannya atas segala apa yang telah dilakukan dan dinikmati di dunia yang tidak diakui asalnya dari Allah.
Mereka tidak menyebut nama Allah, saat akan melakukan berbagai kegiatan. Mereka sesungguhnya sudah menyembah Allah, hanya konsepnya sudah berubah dari yang seharusnya. Jadi, kebaktian, peribadatan mereka kepada Allah tidak diterima. Mereka melanggar perjanjian yang sudah teguh dari Allah, yaitu akan mengakui keberadaan dan kebesaran-Nya. Mereka tidak mengakui keberadaan Nabi Muhammad saw.sebagai Nabi yang terakhir. Apa yang ditunjukkan dan diperintahkan Allah tidak ditaati . Mereka selalu mempertanyakan maksud perumpamaan-perumpamaan dari Allah. Segala pekerjaan nya tidak atas nama Allah yang sejati, sehingga semua amalannya tidak mempunyai arti apa-apa, bahkan mereka banyak membuat kerusakan di bumi. Amalan yang baik pun tidak diterima Allah karena tidak sesuai lagi dengan kehendak Allah. Mungkin berakibat kerusakan. Ini adalah hak Allah memberitahukan, menyampaikan petunjuk-Nya.

wa = dan; min = di antara, di sebagian; al nãsi = manusia; man = orang; yakũlu = yang berkata; ãman = beriman; nã = kami; bi = kepada; al ilahi = Allah; wa = dan; bi = pada; al yawmi = hari; al ãkhĩri = akhirat; wa = dan, padahal; mã = tidak, bukan; hum = mereka; bi = dengan, pada, dari; mu’minĩn = orang-orang mukmin;

wa minan nãsi may yakũlu ãmannã billãhi wa bil yawmil ãkhĩri wa mã hum bi mu’minĩn.

8. Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” Padahal, mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang dari perkataannya, ia mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat, tapi di dalam hati, dalam sikap, dan dalam perbuatan, tindakannya, ia tidak menunjukkan orang yang beriman. Orang seperti ini disebut orang munafik. Orang munafik itu suka menipu, memalsu, membohong; berbuat jahat, curang, merusak, berbicara kotor, kasar, culas, memperolok-olokkan kebenaran ada-Nya Allah. Manusia seperti ini disebut manusia biadab, tidak beradab. Ini peringatan Allah kepada orang yang beriman dan takwa kepada Allah.
“Hari Kemudian” adalah saat semua makhluk-Nya dikumpulkan, khususnya manusia, sampai waktu yang tak ada batasnya.

yukhōdiũ = hendak menipu; na = mereka; al ilaha = Allah; wa = dan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (orang-orang yang) beriman; wamã = dan bukan/tidak; yakhda’ũ = (mereka) menipu; na = mereka; illã = hanya, kecuali, kepada, dari, sampai, hingga; anfusa = diri mereka; hum = mereka; wa mã = dan tidak; yasy’urũ = (mereka) menyadari; na = mereka.

yukhōdi’unalloha wal ladzĩna ãmanũ wa mã yakhda’ũna illã anfusahum wa mã yasy’urũn.

9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang munafik, mereka membohongi Allah, dan menipu orang yang beriman, serta orang yang tidak beriman. Padahal sesungguhnya, mereka membohongi atau menipu diri sendiri, mereka tidak sadar. Segala perbuatan, tingkah-laku manusia itu tergantung pada niatnya yang sudah diberi akal dan pikiran yang dapat digunakan untuk berbuat kebaikan, atau kejelekan, atau kejahatan. Orang-orang yang menipu, sesungguhnya, mereka menipu dirinya sendiri, mereka merugikan dirinya sendiri, walaupun secara kasat mata mereka untung secara materi, atau apapun yang menjadi objek penipuannya. Demikian juga, orang yang berbohong, berkata tidak benar, akibatnya mengena pada dirinya sendiri. Mereka tidak dapat dipercaya orang lain. Ini sesungguhnya merupakan kerugian yang besar bagi mereka, karena pada akhirnya, mereka tidak mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Pada akhirnya, di akhirat mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya yang merugikan orang lain.

fĩ = pada, di dalam; qulũbihim –˃ qulũb + him = hati mereka; marodho = penyakit; fa = maka; zãda = menambah; humu = mereka; al + ilah = Allah; marodho = penyakit; wa la hum = dan bagi mereka; ‘adzãbun = azab; alĩmun = (yang) sangat menyakitkan; bi mã = dengan sebab, karena; kaanũ = mereka adalah; yakdzibũn = (mereka) berdusta.

fĩ qulũbihim marodho fa zãda humullahu marodho wa la hum ‘adzãbun alĩmu bi mã kaanũ yakdzibũn.

10. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, karena mereka berdusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hati yang di dalamnya ada penyakit yang berasal dari rasa tidak suka pada sesuatu, sombong, iri, benci, cemburu, dengki, dendam, merasa tidak puas, tidak senang, memusuhi, akibat mereka tidak mau mengakui kebenaran yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw.sebagai Nabi dan Rasulullah. Pada sisi lain “penyakit hati” ini mungkin karena ketidakmengertian pada sesuatu yang belum diketahui benar hakekat dari sesuatu itu. Penyakit ini akan ditambah Allah karena ada dusta yang dikemukakannya. Mereka akan lebih disesatkan oleh Allah. Mereka menjadi bingung karena ulah mereka sendiri. Mereka menjadi tidak tahu jalan yang benar. Mereka mengikuti jalan, tetapi ternyata jalan yang dilalui sudah salah, sesat, menyimpang jauh dari jalan yang benar. Walaupun mereka berharta, tetapi hartanya tidak membuat mereka bahagia di dunia, terlebih-lebih di akhirat. Dengan hartanya yang banyak itu, malah mereka menjadi susah, tertekan, bingung, dan membuat kerusakan di bumi. Harta mereka hanya membebani hidupnya saja, karena hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri saja, tidak dipakai untuk kepentingan sosial. Seandainya digunakan untuk kepentingan sosial, mereka tidak mengatasnamakan Allah dalam setiap perbuatannya. Maka amalannya tidak diterima, tidak diridoi Allah. Perilaku dan perkataan mereka selalu membuat permusuhan, kekacauan, kerusakan dan menimbulkan berbagai kejahatan. Mereka semua akan mendapatkan siksa yang pedih dan amat berat di dunia dan di akhirat (lihat buku-buku yang membicarakan “rahasia hati”.
Permusuhan antarmanusia ini perlu diwaspadai (lihat Alqur’an 2 : 36) Allah sudah mengingatkan, bahwa sebagian manusia menjadi musuh sebagian yang lain, bahkan makhluk lain pun menjadi musuh manusia terutama iblis, setan dan sebahagian jin. Allah selalu mengingatkan kepada manusia, agar berpegang teguhlah kepada tali Allah, berserah dirilah sepenuhnya kepada Allah melalui Alqur’an, Sunah, dan Hadis yang menjadi Dienullah: Dienul Islam. Jangan melalui Alkitab lain, selain Alqur’an, Sunah, dan Hadits, karena Alkitab itu sudah terlalu banyak campur tangan akal-pikiran manusia, sehingga dapat menyesatkan.

wa = dan; idzã = ketika, bila, apabila, tatkala, kalau; qĩla = dikatakan; la = kepada, bagi; hum = mereka; lã = jangan; tufsidũ = membuat kerusakan; fi = di; al ardhi = bumi; qōlũ = (mereka) berkata; (mereka) menjawab; inna mã = sesungguhnya apa; nahnu = kami; mushlihũn = orang-orang yang mengadakan perbaikan

wa idzã qĩlalahum la tufsidũ fil ardhi qōlũ inna mã nahnu mushlihũn.

11. Dan bila dikatakan kepada mereka, “Jangan membuat kerusakan di bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami, orang-orang yang mengadakan perbaikan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak beriman, mereka tidak menghiraukan peringatan dari Nabi Muhammad saw.. Mereka berpikir, apa yang diperbuat dengan tidak mengatasnamakan Allah akan memperbaiki keadaan . Mereka berbuat mengatasnamakan kekuatan, kekuasaan, kekayaan dirinya, kebendaan . Mereka merasa tidak perlu mengingat Allah Yang Mahagaib, saat akan melakukan pekerjaan. Hasilnya akan menimbulkan kerusakan, bencana. Allah tidak meridoi pekerjaan mereka. Allah selalu mengingatkan manusia dengan kerusakan, bencana, agar hidup mengikuti aturan yang dibuat Allah. Kerusakan, bencana itu akibat adanya perbuatan yang merusak alam dengan semena-mena, mengambil keuntungan dari kekayaan alam, tanpa mempertimbangkan keseimbangan lingkungan hidup; menghasut orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
Orang yang beriman dan bertakwa akan selalu mengucapkan basmalah saat akan melakukan sesuatu pekerjaan, sesederhana apapun. Mereka akan berupaya berbuat baik, dan menãti perintah Allah dengan berlaku hati-hati, kalau akan mengadakan perubahan di lingkungan hidupnya. Mereka akan mengatasnamakan Allah semata. Mereka akan meneliti dahulu dampak negatif dari perubahan yang dilakukannya, diupayakan sedapat-dapatnya menghilangkan dampak negatifnya. Mereka selalu mengharapkan rido Allah, menginginkan kebaikan, kemanfaatan, keberuntungan untuk setiap pekerjaan yang dilakukannya. Orang beriman akan mendapat kabar gembira, mendapat tempat tinggal surga, yaitu tempat yang dialiri sungai-sungai, dengan rezeki yang beraneka macam buah-buahan dan makanan yang melimpah-ruah tak terhingga. Mereka akan kekal dapat menikmati rahmat Allah yang tidak ada taranya.

‘alã = di atas; pada, ingatlah; inna = sesungguhnya; hum = mereka; humu = mereka; al mufsidũna = orang-orang yang membuat kerusakan; walãkin = akan tetapi; lã = tidak; yasy’urũn = mereka tidak sadar.

‘alã innahum humul mufsidũna wa lãkil lã yasy’urũn.

12. (Allah mengingatkan), sesungguhnya mereka itu membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad tidak dengan kesadaran ada-Nya Allah Yang selalu mengawasi. Perbuatannya tidak mengatasnamakan Allah, sehingga menjadi semena-mena. Mereka hanya mencari untung untuk hidup di dunia saja. Mereka tidak mengingat petunjuk Allah, mereka tidak memikirkan akhirat. Allah dengan kasih-sayang-Nya memberikan keuntungan di dunia, tapi di akhirat mereka akan menyesal berkepanjangan. Mereka merugi di akhirat karena segala sesuatu yang dilakukan di dunia tidak mengikuti petunjuk dari Allah, tidak mengatasnamakan Allah.
“membuat kerusakan” berarti kerusakan alam semesta dan menimbulkan berbagai hasutan, permusuhan, perselisihan, dan pertentangan di muka bumi.

wa = dan; izda = apabila, tatkala, ketika; qĩla = dikatakan; lahum = kepada/bagi mereka; ãminũ = berimanlah kamu; kamã = sebagaimana; ãmana = telah beriman; al nãsu  an nãsu = orang-orang, manusia; ãmanan nãsu = orang-orang yang beriman; qōlũ = (mereka) berkata; ‘anu’minu = apakah kami beriman; kamã = sebagaimana; ãmana = beriman; al sufahã’u  assufahã’u = orang bodoh; ‘alã = di atas; ‘inna = sesungguhnya; humu = mereka; ãmanas sufahã’u = orang-orang yang bodoh beriman; wa laqin = akan tetapi; lã = tidak; ya’lamũn = mereka sadar

wa izdã qĩla lahum ãminu kamã ãmanannãsu qōlũ ‘anu’minũ kamã ‘amanas sufahã’u ‘alã innahum humus sufaha’u wa laqin lã ya’lamũn

13. Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu, sebagaimana orang-orang lain telah beriman.” Mereka mengatakan: “Akankah kami harus beriman, seperti orang-orang bodoh itu?” Allah mengingatkan, sesungguhnya, merekalah orang-orang yang bodoh, tapi mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan agar manusia itu beriman dan berperilaku sesuai dengan keimanannya, sehingga tercipta kehidupan yang menyenangkan, membahagiakan, memuaskan. Namun di dunia ini, ada orang yang tahu kebodohannya, ada yang tidak tahu kebodohannya. Orang yang tahu bahwa ia bodoh, maka ia akan berupaya belajar, mencari sesuatu yang dianggap benar untuk menghapuskan kebodohannya. Orang yang tidak tahu kebodohannya, mereka berbuat dengan kebodohannya. Bahkan menyombongkan diri. Mereka merasa dapat membuat kebaikan, tanpa seizin Allah, tidak mengucapkan basmalah, saat akan melakukan sesuatu pekerjaan, maka hasilnya terjadi kesalahan, kerusakan, bencana, kekacauan.

wa = dan; ‘idzã = ketika, bila, apabila, tatkala, kalau; laqũlladzĩna = dikatakan kepada mereka; ãmanũ = berimanlah (kepada Allah); qōlũ = (mereka) berkata; ãmannã = kami beriman; wa = dan; idzã = dan ketika, tatkala, apabila, bila, kalau; khōlau = kembali; ilã = hanya; kecuali; melainkan, kepada, dari, selain, sampai, hingga; syayãthĩni = setan-setan; him = mereka; qōlũ = (mereka) berkata; ‘inna = sesungguhnya; ma’akum = sependirian; bersama kamu; innamã = sesungguhnya; akum = bersama kamu; nahnũ = kami; mustahziũn = hanya berolok-olok

wa idzã laqũlladzĩna ãmanũ qōlũ ãmannã, wa ‘idzã khōlau ilã syayãthĩni him qōlu inna ma’akum inamã nahnu mustahziũn

14. (Orang munafik) kalau dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu (kepada Allah), mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada kelompok setannya, mereka mengatakan: “Sesungguhnya, kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang munafik, mereka memperolok-olokkan Allah, menganggap bodoh orang beriman, padahal, sesungguhnya mereka memperolok-olokkan diri mereka sendiri, dan merekalah sesungguhnya yang bodoh. Orang sering tidak mengetahui bahwa dirinya bodoh, merasa pandai saja. Pekerjaannya menjadi sumber kerusakan dan kekacauan untuk diri mereka sendiri, dan kerusakan, kekacauan di lingkungan hidupnya; di muka bumi, karena apa yang dikerjakan tidak terhubung dengan kasih-sayang Allah, tidak mengucapkan basmalah.
“kelompok setan” maksudnya orang munafik dan pemimpin-pemimpinnya.

Allahu = Allah; yastahzi-u = akan memperolok-olok; bi = kepada; him = mereka; wa = dan; yamuddu = membiarkan; hum = mereka; fĩ = dalam, pada; thughyaani = kedurhakaan/ kesesatan; him = mereka; ya’mahũn = terobang-ambing, bingung.

Allahu yastahzi-u bihim wayamudduhum fĩ thughyaanihim ya’mah

15. Allah akan membalas memperolok-olokkan mereka, dan membiarkan mereka bingung terumbang-ambing dalam kesesatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dunia, mereka terumbang-ambing dalam kesesatan di akhirat, Allah akan memperolok-olokkan mereka, dan membiarkan mereka menderita siksa, susah, payah.

ũlãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; asytarowu = (mereka) membeli; adh dholãlata = kesesatan; bi = dengan; al hudã = petunjuk; fa = maka; mã = tidak, bukan; robbihat = beruntung; tijãrotu = perdagangan; hum = mereka; wa = dan; mã = bukan, tidak; kaanũ = mereka; muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk;

ũlãikal ladzĩnasy tarowudh dholãlata bil hudã, fama robbihat tijãrotu hum wa mã kaanũ muhtadĩn.

16. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka perniagãnnya untuk akhirat tidak beruntung. Mereka tidak mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya jual-beli. Membeli kesesatan artinya melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Dienullah. Di dunia, mereka mungkin mendapat untung harta dunia dan kesenangan yang banyak, tapi di akhirat, harta itu akan menjadi bahan bakar neraka tempatnya yang kekal. Sesungguhnya Allah itu menguasai makhluk-Nya. (Q. S. Al Baqarah2:175)

matsalu = misal, umpama; hum = mereka; kamãtsali = seperti, umpama; al ladzĩ = orang yang; astauqoda = menyalakan; nãron = api; fa = maka; lammã = setelah; adhōat = menyinari, menerangi; mã = apa (sekeliling); haola= sekeliling; hu = nya; dzahaba = menghilangkan; allōh = Allah; bi = dengan; nũrrihim = cahaya-Nya; wa = dan; taroka = membiarkan; hum = mereka; fĩ = di dalam, pada; zhulumãtin = kegelapan; lã = tidak; yubshirũn = mereka dapat melihat;

matsãluhum kamatsalil ladzĩs tauqodanãron fa lammã adhōat mã khaolahu dzahabãllōhu bi nũrrihim watarokahum fĩ zhulumãtil lã yubshirũn.

17. Perumpamaan (bagi) mereka (kaum kafirin, munafikin, musyrikin, fasikin, dan murtadin) seperti orang yang menyalakan api, setelah sinar api itu menerangi sekelilingnya, Allah menutupi cahaya penerangan yang menyinari mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (kebenaran yang ditunjukkan Allah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum kafirin, munafikin, musyrikin, fasikin, dan murtadin tidak dapat mengambil manfaat penerangan yang direkayasa sendiri (diumpamakan seperti orang menyalakan api untuk penerangan). Mereka tidak mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dalam hidup. Mereka tidak dapat mengambil manfaat dari penerangan yang dibuatnya sendiri dan yang datang dari Allah. Mereka dalam kegelapan di hatinya karena sifat kafir, munafik, musyrik, fasik, murtadnya itu.

shumum = (mereka) tuli; bukmun = (mereka) bisu; ‘umyum = (mereka) buta; fa = maka; hum = mereka; lã = tidak; yar dzi’ũn = akan dapat kembali (ke jalan yang benar);
shumum bukmun ‘umyum fa hum lã yarji’ũn.
18. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka mereka tidak akan dapat kembali ke jalan yang benar,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka (kaum kafirin, munafikin, musyrikin, fasikin, dan murtadin), meskipun pancaidra mereka sehat, disamakan dengan orang tuli dalam arti tidak dapat mendengar petunjuk, pengajaran yang benar; mereka disamakan dengan orang bisu dalam arti tidak dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang menyatakan kebenaran ada-Nya Allah yang sesungguhnya, dan Nabi Muhammad saw.utusan-Nya; mereka disamakan dengan orang buta dalam arti tidak dapat melihat bukti nyata di alam semesta ini, fakta ada-Nya Allah dengan perintah yang harus ditaati, dan larangan yang harus diperhatikan untuk dihindari. Mereka tidak dapat membaca petunjuk-petunjuk-Nya; maka mereka tidak dapat menperoleh pelajaran, dan tidak dapat kembali ke jalan yang benar karena kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan, kefasikan, kemurtadannya. Mereka sering melanggar tata-tertib kehidupan, sehingga sering mengganggu, membuat masyarakat resah, tidak tenteram, hidupnya menderita, kacau.

auw = atau seperti; kashoyyibi = mereka ditimpa hujan lebat; min = dari; ãs samã’i = langit; fĩhi = di dalamnya; dzulumãtun = kegelapan, gulita; wa ro’dun = dan guntur, guruh, petir, geledek; wa barqun = dan kilat; yaj’alũna = mereka menutup (menyumbat) telinganya; ashōbi’ahum = jari-jari mereka; fiĩ = pada, dalam; ãdzãni = telinga, panggilan; him = mereka; minash shawã‘iqĩ = dari suara petir; khadzaro = takut; al maut = mati; wallohu = sesungguhnya Allah; mukhĩthum = menutupi, meliputi; bil = dari, terhadap; kãfirĩn = orang kafir.

auw kashoyyibim minas samã’i fĩhi dzulumatun wa ro’dun wa barqun yadz’alũna ashōbi’ahum fĩ ãdzãnihim minash shawa’iqi khadzarol maut, wallohu mukhĩthum bil kãfirĩn.

19. Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit yang gelap gulita, dengan petir, dan kilat. Mereka menyumbat telinganya dengan jarinya karena terdengar ada suara petir, mereka takut mati. Allah menutupi seluruh pancaindra dan perasaan orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “langit” adalah gambaran biru atau hitam, gelap, kelam maya di ruang angkasa yang tak berbatas. Menurut penelitian warna langit itu akibat cahaya matahari ke bumi dipantulkan kembali ke angkasa. Pada ayat-ayat lain sering merupakan gabungan dengan, atau hanya kata langit atau bumi saja. Ayat-ayat lain yang terkait dengan langit itu, sebagai berikut. Q.s. Al Baqarah, 2: 22, 29, 33, 107, 116, 117, 164, 255, 284; Ali Imran, 3: 5, 29, 83, 109, 124, 129, 133, 180, 189, 190, 191; An Nisa’, 4: 126, 131, 132, 153, 170, 171; Al Mã idah, 5: 17, 18, 40, 97, 112, 114, 120, 126; Al An’am, 6: 1, 12, 73, 79, 107; Al A’rãf, 7: 40, 54, 96, 158, 162; Al Anfãl, 8: 11, 32; At Taubat, 9: 36, 116; Yunus, 10: 3, 6, 18, 24, 31, 55, 61, 66, 68, 101; Hud, 11: 6, 7, 44, 107, 108, 122; Yusuf, 12: 101, 105; Ar Ra’du, 13: 2, 3, 15, 16, 17; Ibrahim, 14: 2, 10, 19, 32, 38, 48; Al Hijr, 15: 14, 15, 16, 22, 85; An Nahl, 16: 3, 10, 49, 52, 65, 73, 77, 79; Al Isroo’, 17: 44, 55, 92, 95, 99, 102; Al Kahfi, 18: 14, 26, 40, 45, 51; Maryam, 19: 65, 90, 93; Thahã’, 20: 4, 6, 53; Al Anbiyã, 21: 4, 16, 19, 32, 46; Al Hajj, 22: 63, 65, 70; Al Mu’minun, 23: 17, 18, 86; An Nuur, 24: 42, 64; Al Furqoon, 25: 2, 6, 59, 61; Asy Syu’ara, 26: 24, 187; An Naml, 27: 25, 60, 64; Al Ankabut, 29: 34,44, 61, 63; Ar Ruum, 30: 25, 26, 27, 48; Lukman, 31: 10, 16, 20; Asy Syajdah, 32: 4, 5; Al Ahzãb, 33: 72; Saba, 34: 1, 2, 3; Fathĩr, 35: 3, 27, 38, 40, 41, 44; Yã sĩn, 36: 28, 81; Ash Shaffaat, 37: 5, 6; Shood, 38: 10, 66; Az Zumãr, 39: 5, 21, 38, 44; Al Mu’mĩn, 40: 57, 64; Fushshilat, 41: 11, 12; Asy Syuura, 42: 4, 11,12, 29, 49, 53; Az Zuukhruf, 43: 9, 11, 85; Ad Dukhãn, 44: 7, 29; Al Jat siyah, 45: 3, 13, 22, 27; 36, 37; Al Ahqoof, 46: 33; Al Fath, 48: 7, 14; Al Hujurãt, 49: 18; Qoof, 50: 9, 38; Adz Dzariyãt, 51: 7, 22, 23; Ath Thuur, 52: 5, 9, 36, 38, 44; An Najm, 53: 31; Al Qomar, 54: 11; Ar Rahmaan, 55: 7, 29, 37; Al Hadĩd, 57: 1, 4; Al Mujãdilah, 58: 7; Al Hasyr, 59: 1, 24; Ash Shãf, 61: 1; Al Jumu’ah, 62: 1; At Taghabun, 64: 1, 3, 4; Ath Tholaq, 65: 12; Al Mulk, 67: 3, 16, 17; Al Haqqoh, 69: 16, 17; Al Ma’ãrij, 70: 8; Nuh, 71: 15, 19; Jĩn, 72: 8, 9; Al Mursilat, 77: 9; An Nabã’, 78: 12, 19; An Nãzi’ãt, 79: 27; At Takwir, 81: 11; Al Infitãr, 82: 1; Al Insyiqooq, 84: 1, 2; Al Buruuj, 85: 1, 9; Ath Thooriq, 86: 1, 11; Al Ghoosyi’ah, 88: 18; Asy Syams, 91: 5.
Adalah hak Allah untuk mengumpamakan peringatan-Nya yang bertubi-tubi dengan hujan lebat dengan petir dan kilat kepada makhluk-Nya, khususnya manusia yang tidak mau mendengarkan pengajaran, peringatan dari Allah secara terus-menerus, dalam hidupnya.
Petir adalah gejala alam berupa suara ledakan yang menggeledek, mengguntur, menggelegar. Oleh karena itu, ada yang menyebutnya geledek, geluduk, guntur sebagai akibat terjadinya gesekan ion positif menyambar ion negatif yang membelah udara. Kilat adalah cahaya yang muncul sebentar akibat gesekan ion-ion tersebut.
Manusia berhak memperhatikan, atau tidak memperhatikan pengajaran, peringatan Allah ini. Kalau tidak memperhatikan, ya, tanggung jawab sendiri nanti di Hari Pembalasan. Allah menutupi seluruh indra orang kafir sehingga tidak dapat melihat, mendengar, merasakan kebenaran ada-Nya Allah Yang telah menurunkan berbagai peringatan, pengajaran melalui berbagai gejala alam dan para Nabi-Nya.
Orang yang takut mati, biasanya orang yang terlalu terikat pada kehidupan dunia, kemewahan yang hanya sebentar. Orang Mukmin membiasakan diri untuk selalu mengingat kematian yang datangnya tidak dapat diduga. Mengingat kematian berarti melakukan setiap pekerjaan dengan semangat pengabdian hanya kepada Allah, dan dengan berhati-hati, tepat waktu, tidak sembarangan mengucapkan atau melakukan sesuatu, tidak asal-asalan dalam setiap kegiatannya.

yakãdu = hampir-hampir; al barqu = kilat; yakhthofu = menyambar; ‘abshōro = penglihatan; hum = mereka; kullamã = setiap; ‘adhō-a = bersinar; lahum = bagi (kepada) mereka; masyau = mereka berjalan; fĩhi = di dalamnya; wa = dan; idzã = bila, tatkala; ‘azhlama = menjadi gelap; ‘alayhim = atas mereka; qōmũ = mereka berdiri (berhenti); walau syã = bila menghendaki; allohu = Alloh; ladzahaba = niscaya (Ia) melenyapkan; bi = dengan; sam’ihim = pendengaran mereka; wa ‘abshōrihim = dan penglihatan mereka; ‘innallōha = sesungguhnya Allah; ‘alã kulli = di atas segala; syai’in = sesuatu; qodĩr = segala sesuatu ketetapan;

yakãdul barqu yakhthofu ‘abshorohum, kullamã ‘adhō alãhum masyaũ fĩhi wa idzã ‘azhlama ‘alayhim qōmũ walausyã-allohu ladzahaba bi sam’ihim wa ‘abshōrihim ‘innallōha ‘alã kulli syai’in qodĩr.

20. Hampir-hampir kilat itu menyambar menerangi penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu bersinar menerangi, mereka berjalan di bawah penerangan itu, dan bila gelap kembali, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan perasaan , pendengaran, dan penglihatan mereka. Sesungguhnya, Allah berkuasa atas segala ketetapan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini hak Allah untuk menerangkan proses kekafiran manusia. Penerangan Allah untuk orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad diumpamakan sebagai cahaya kilat. Jadi, hanya sebentar sekali diberi penerangan, selanjutnya gelap lagi. Manusia berhak untuk memperhatikan atau tidak, sesuai dengan kemampuan perasaan, kata hati, pikiran, penglihatan, dan pendengarannya. Allah lebih Mahakuasa atas segala sesuatu ketetapan dan Mahakasih-sayang kepada semua makhluk-Nya.

yã ayyuha = wahai; an nãsu’ = manusia; a’budũ = beribadahlah; sembahlah; robba kumu = (kepada) Allah, Robb kamu; aladzĩ = yang; kholaqokum = telah menciptakan kamu; wãl ladzĩna = dan orang-orang; min qoblikum = dari sebelummu; la’allakum = agar kamu; tattaqũn = takwa.

yã ayuhan nasu’ budũ robba kumul ladzĩ kholaqokum wal ladzĩna min qoblikum la’allakum tattaqũn.

21. “Hai manusia, beribadahlah kepada Robb-mu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelummu, agar kamu bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini Allah menyapa manusia pada umumnya. Allah memerintahkan umat manusia untuk mengabdi, beribadah, menyembah dan takwa hanya kepada-Nya. Dalam Al Fatihah, 1: 5 juga disebutkan hubungan perjanjian manusia dengan Penciptanya: Hanya kepada Engkau, kami mengabdi (menyembah), dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan;. Di sini ada hak dan kewajiban Allah untuk menghimbau, memerintah manusia, agar beribadah ditujukan hanya kepada-Nya. Allah memperingatkan, jangan mempersekutukan-Nya dengan yang selain Allah (berhala {beraneka macam}, manusia dengan kekuasaannya, dewa-dewa, sanghiang, benda (kekayaan), dan lain-lain; lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 2; Al Fatihah 1 : 4). Barang siapa mempersekutukan Allah dengan benda-benda, manusia, kekuasaan , penguasa, pekerjaan di dunia, jalan hidupnya akan disesatkan. Di akhirat mereka kelak akan dihukum, mendapat murka. Peringatan ini dibuat agar manusia mengikuti aturan, hukum, kebiasaan, ceritera (syariat) dari Allah.
Seluruh makhluk sesungguhnya dalam pengabdian kepada Allah pada takdirnya masing-masing. Di sini yang dihimbau khusus manusia, karena manusia yang ditetapkan Allah sebagai khalifah di muka bumi ini yang dibekali akal dan pikiran, dan harus mempertanggung-jawabkan kekhalifahannya kepada Allah (lihat Q.s. al Baqarah, 2: 30).

aladzĩ = Dialah; ja’ala = menjadikan; lakumu = bagimu; al ardho = bumi; fi rōsyã = hamparan; was samã’a = dan langit; binã-an = dibina, ditinggikan, sebagai atau seperti atap; wa ‘anzala = dan (Dia) menurunkan; mina = dari; as samã’i = langit; mã’an = air; fa akhroja = (Dia) menciptakan (mengeluarkan); bihĩ = dengan atau dari (langit) itu; minã = dari langit; ats-tsamarōti = berbagai buah-buahan; rizqōn = sebagai rezeki; lakum = untukmu; fa = maka; lã = jangan; taj’alũ = kamu mengadakan; lillahi = bagi Allah; andãdaan = sekutu-sekutu; wa = dan; ‘antum = kamu sekalian; ta’lamũna = mengetahui.

aladzĩ dza’alalakumul ‘ardho firō syãw was samã’a binã’an wa ‘anzala minas samã’i mã’an fa akhroja bihi minats tsamaroti rizqōlakum fa lã taj’alũl lillahi andãdaan wa ‘antum ta’lamũna

22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air hujan dari langit, lalu dengan hujan itu, Dia menciptakan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, sesungguhnya, kamu telah mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 117, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; dan lain-lain.
Allah memberitahu, bahwa Dia-lah yang menyediakan bumi menjadi hamparan tempat tinggal bagi manusia, dan langit sebagai atap. Allah menurunkan air hujan dari langit, dan dengan air hujan dijadikan-Nya berbagai macam buah-buahan sebagai rezeki bagi manusia. Jadi, janganlah mempersekutukan Allah dengan apapun di dunia. Lihat juga ayat 164 isinya sama, redaksinya agak berbeda; merupakan tanda kebesaran Allah; Al An’ãm, 6 : 98 air menumbuhkan nabati (tumbuh-tumbuhan dengan buah-buahannya; Al A’rãf, 7 :57 air menyebabkan keluarnya berbagai buah-buahan; Al Anfãl, 8 : 11 air berfungsi menyucikan badan, menghilangkan gangguan setan, dan memenuhi berbagai kebutuhan hidup; Yunus, 10 : 24 air menjadi perumpamaan hidup makhluk di dunia; Hũd, 11 : 7 air menjadi tempat arasy Allah.
Ini hak Allah menghimbau, mengingatkan manusia agar mengabdi hanya kepada Allah, dengan alasan, Allahlah yang menciptakan alam semesta dan manusia. Manusia diberi hak memilih, mau mengabdi hanya kepada Allah, atau kepada yang selain Allah, misalnya, kepada materi, kepada politik, kepada jabatan, atau kepada dagangannya. Allah tidak merasa bosan menghimbau, memperingatkan makhluk-Nya.
Bumi menjadi hamparan dan dengan segala isinya ini merupakah sumber ilmu yang beraneka macam: geologi, geografi, geofisika, geomorfologi, dan dengan segala isi dan tumbuh-tumbuhannya. Termasuk manusia dengan berbagai karya dan kreasi hidupnya, dengan bahasanya yang menjadi ilmu yang banyak.
Langit sebagai atap, ruang yang tak terhingga luasnya, merupakan sumber ilmu yang banyak: Ilmu falaq atau Astronomi, klimatologi, ilmu tentang angin, ilmu tentang awan dan hujan, ilmu cuaca, dan lain-lain.
Buah-buahan menjadi sumber berbagai ilmu: Ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu buah-buahan, dan cara membudidayakannya, cara memperdagangkannya, dan lain-lain.

wa = dan; in = jika; kuntum = kamu sekalian; fĩ = dalam; roibim = keraguan; mimmã = terhadap apa yang; nazal = diturunkan; nã = (dari) Aku; ‘alã = kepada; ‘abdinã = abdi-Nya; fa’tũ = buatlah; bi = dengan; sũrotĩm = satu (sebuah) surat; min = sebagai; mitslihĩ = misalnya; wãd’ũ = dan mintalah; syuhadã’a = saksi-saksi; kum = kamu; min = dari; dũnil lahi = selain Allah; in = jika; kuntum = kamu sekalian; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

wa ‘inkuntum fĩ roibim mimmã nazalnã ‘alã ‘abdinã fa’tũ bi sũrotĩm mim mitslihi, wãd’ũ syuhadã’akum min dũnil lahi ingkuntum shōdiqĩn.

23. Dan, jika kamu tetap dalam keraguan atas Alqur’an yang Aku wahyukan kepada hamba-Ku, Muhammad saw., maka buatlah satu surat saja seperti yang ada dalam Alqur’an itu, dan ajaklah saksi-saksimu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menantang kaum kafirin, munafikin, musyrikin, fasikin, dan murtadin yang selalu meragukan Alqur’an sebagai wahyu Allah yang diturunkan melalui Malaykat Jibril kepada Nabi Muhammad saw.. Mereka diminta membuat satu surat yang semisal dengan Alqur’an, dengan bantuan siapapun, ahli dari mana pun, selain Allah (lihat juga surat Al Qoshos: 49).

fa = maka, jika; in lam = tidak dapat; taf’alũ = kamu membuat; wa = dan; la = tidak; taf’alũ = kamu membuat; fa = maka; at taqu = takutlah (peliharalah); an nãro = api (neraka); al latĩ = kata ganti penghubung: “yang”; wa qũduha = bahan bakar; an nãsu = manusia; wal hijãrotun = dan batu; ‘u’idat = disediakan; li = bagi; al kãfirĩn = orang kafir.

fa illam taf’alũ walan taf’alũ faat taqun nãrol latĩ wa qũduhãn nãsu wal hijãrotun ‘u’idat lil kãfirĩn

24. Maka, jika kamu tidak dapat membuatnya, dan pasti kamu tidak dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu disediakan untuk orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ternyata, mereka tidak dapat membuat yang serupa dengan Alqur’an. Hak Allah mengingatkan manusia, agar memelihara diri dari api neraka yang bahan bakarnya manusia sendiri, batu dan zat-zat lainnya yang dibuat dan disediakan bagi orang kafir, munafik, musyrik, syirik, fasik, dan murtad.

wa = dan; basyiri = sampaikan berita gembira; al ladzĩna = orang-orang yang; ‘ãmanũ = beriman; wa = dan; ’amilũ = beramal; ash shōlihãti = saleh; anna = sesungguhnya; lahum = bagi mereka; jannatin = surga-surga; tajrĩ = mengalir; min = dari; tahtiha = bawah; al anhãru = sungai-sungai; kullamã = setiap; ruziqũ = (mereka) diberi rezeki; min = dari; hã = padanya; min = dari; tsamaroti = buah-buahan; rizqon = rezeki; qōlũ = berkata; hãdã = inilah; al ladzĩ = orang-orang yang; ruziqnã = diberikan rezeki kepadaku; min = dari; qoblu = dahulu; wa = dan; utũ = (mereka) diberi; bihi = dengannya; mutasyãbihãn = yang serupa; wa = dan; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; ‘azwãju = istri-istri, jodoh-jodoh; muthohharotun = disucikan; wa = dan; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = kekal.

wa basysyiril ladzĩna ãmanũ, wa’amilũsh shōlihãti anna lahum jannatin tajrĩ min tahtihal anhãru, kullamã ruziqũ minhã min tsamarotir rizqon qōlũ hãdãl ladzĩ ruziqnã min qoblu wa utũbihi, mutasyãbihã wa lahum fĩhã ‘azwãjum muthohharotun wahum fĩhã khōlidũn

25. Dan, sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal (berbuat) baik, mereka disediakan surga-surga yang dialiri sungai-sungai. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka berkata; “Inilah rezeki yang pernah diberikan kepada kami dahulu.” Mereka diberi buah-buahan yang sama, dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik, juga bagi orang-orang yang belum beriman dan belum berbuat baik, bahwa surga (jannah) itu tempat kekal yang dialiri sungai-sungai, penuh kenikmatan, kenyamanan, ketenteraman, ketenangan, kesejahterÃn, kedamaian, kesempurnãn, kepuasan dengan rezeki berbagai buah-buahan, istri-istri yang suci, lengkap jasmani dan rohani seperti yang pernah atau belum pernah dialami pada kehidupan yang dilalui sebelumnya.
Lihat juga Qs. Al Baqarah, 2: 82,103; Ali ‘ImrÃn: 57, An Nisã’ 122).

Inna = sesungguhnya; al ilaha = Allah  innallaha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yastahyĩ = segan/ malu; an yadhriba  ayyadhriba = membuat; matsallã = misal, perumpamaan; mã = apa (perumpamaan); ba’ũdhottan = nyamuk; fa = maka; mã = apa yang; fauqohã = lebih rendah; fa = maka; ’amma = adapun; aladzĩna = orang-orang yang; ‘ãmmanũ = beriman; fa = maka; ya’lamũna = mereka mengetahui; annahu = sesungguhnya dia; al haqqu = benar; mir robbihim = dari Tuhannya; wa = dan; ammal ladzĩna = amalnya; kafarũ = kafir; fa = maka; yaqũlũ = mereka berkata; na = mereka; mã dzã = apakah; arōda = mengehendaki; al ilahu = Allah; bi = dengan; hãdzã = ini; matsalan = perumpamaan, misal; yudhillu = Dia menyesatkan; bihi = dengannya (perumpamaan); katsĩrō = banyak; wa yahdĩ = dan Dia memberi petunjuk; bihi = dengannya (perumpamaan); katsĩrō = banyak (orang); wa mã = dan tidak; yudhillu = Dia sesatkan; bihi = dengannya (perumpamaan); illã = kecuali, selain, melainkan; al fasiqĩn = orang bodoh;

Innallaha lã yastahyĩ ay yadhriba matsallãm mã ba’ũdhottan fa mã fauqohã fa ’ammal ladzĩna ‘ãmmanũ fa ya’lamũna annahul haqqu mir robbihim, wa ammal ladzĩna kafarũ fa yaqũlũ na mã dzã arōdãllahu bihãdzã matsalan yudhillu bihi, katsĩrō wa yahdĩ bihi katsĩrō wa mã yudhillu bihi illãl fasiqĩn.

26. Sesungguhnya, Allah tidak segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Orang-orang yang beriman, mereka sungguh yakin perumpamaan itu benar dari Robb mereka; tetapi mereka yang kafir mempertanyakan: “Apa maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Tidak ada yang disesatkan Allah, kecuali orang-orang yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang murtad, kafir, munafik, musyrik, dan fasik, banyak dĩngatkan, dihimbau, dinasihati dengan berbagai bahasa perumpamaan, kiasan agar mereka kembali ke jalan yang ditunjukkan, dan yang telah dijanjikan Allah. Perumpamaan-perumpamaan Allah itu diyakini kebenarannya dan menjadi petunjuk bagi yang beriman. Bagi yang tidak atau yang belum beriman, perumpamaan-perumpamaan itu dapat menyesatkan-nya. Hal ini karena ketidakpercayaanatau keraguannya. Karena ketidakpercayaandan keraguan hatinya itulah, Allah mengunci hatinya sehingga tidak dapat merasakan kebenaran petunjuk Allah; pandangan mereka tidak dapat melihatnya, dan pendengarannya tidak dapat menangkap kebenaran di dalamnya. Allah membuat berbagai perumpamaan dalam menunjukkan jalan yang benar kepada orang yang beriman, berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Petunjuk yang berupa perumpamaan itu bagi orang murtad, kafir, munafik, musyrik, dan fasik akan menjadi bahan pertanyaan , dan dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang disesatkan. Tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang bodoh, murtad, kafir, ingkar, fasik, munafik, musyrik, (lihat juga ayat 16, 17, 18, 19, 20).

alladzĩna = yaitu orang-orang yang; yanqudũna = yang melanggar, merusak; ‘ahda = perjanjian; al ilahi = dengan Allah; min = dari; ba’di = sesudah, dahulu; mĩtsãqih = mempercayainya/meneguhkannya; wayaqtho’ũna = dan mengabaikan/memutuskan; mã = apa yang; ‘amara = perintah/menyuruh; al ilahu = Allah bihĩ = dengannya (perjanjian); ay yũshōla = untuk menghubungkan; wa = dan; yufsidũ = membuat kerusakan; na = mereka; fĩl ardhi = di bumi; ulãika = mereka itulah; humu = orang-orang yang; al khosirũn = merugi.

alladzĩna yanqudũna ‘ahdallahi mim ba’di mĩtsãqih, wayaqtho’ũna mã ‘amarallahu bihĩ ay yũshōla wayufsidũna fĩl ardhi ulãika humul khosirũn.

27. yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah, sesudah perjanjian itu teguh, dan mengabaikan apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, dan mereka membuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang murtad, fasik, kafir, munafik, musyrik selalu membantah menjalankan perintah Allah, melanggar peraturan dan perjanjian dengan Allah. Mereka secara tidak sadar membuat kerusakan di bumi. Mereka seperti membuat kebaikan, tapi akibatnya jelek, karena segala apa yang dilakukannya tidak mengatasnamakan Allah, tidak berdasarkan kepercayaankepada Allah. Mereka itulah orang-orang yang merugi. Inilah peringatan dari Allah yang berulang-ulang disampaikan dalam berbagai situasi dan kondisi (lihat isi keseluruhan Alqur’an)

Kaifa = mengapa, bagaimana; takfurũna = engkau kafir; bil lãhi = kepada Allah; wa kuntum = dan engkau sekalian adalah; amwãtaan = orang-orang mati; fa ahyãkum = lalu Dia meghidupkan kamu; tsumma = betul-betul; sungguh-sungguh, kemudian; yumĩtukum = Dia mematikan kamu; yuhyĩkum = Dia menghidupkan kamu; ilaihi = hanya kepada Allah; turja’ũn = kamu dikembalikan;

Kaifa takfurũna billãhi wa kuntum amwataan fa ahyãkum tsumma yumĩtukum tsumma yuhyĩkum tsumma ilaihi turjaũn

28. Mengapa/bagaimana kamu kafir kepada Allah, padahal kamu berproses dari mati, Allah menghidupkan, lalu mematikan lagi, kemudian dihidupkan kembali. Itulah kekuasaan Allah, tempat segalanya akan dikembalikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sering mempertanyakan kekafiran mereka, padahal proses kehidupan itu bermula dari Allah yang menciptakan alam ruh (tak berdaya, mati), terus ke alam rahim (mulai ditiupkan ruh kehidupan pada usia kandungan 4 bulan), alam kehidupan dunia (setelah dilahirkan), proses kematian menuju ke alam kubur, terus ke alam barzah, terus ke alam hisab atau nizam, terakhir ke alam akhirat (lihat juga ayat 30).

huwa = Dialah; al ladzĩ = Allah yang; kholaqo = menjadikan, menciptakan; lakum = untukmu; mã = apa yang; fi = di; al ardhi = bumi; jami’an = semua, segala apa; tsumma = betul-betul/kemudian; astawã’a = Dia mengarahkan; ilã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; samã’i = langit; fa = maka; sawwãhunna = Dia menyempurnakannya; sab’a = tujuh; samãwãtin = langit; wa = dan; huwa = Dia; bikulli sai’in alĩm = Maha Mengetahui segala sesuatu.

huwal ladzĩ kholaqolakum mã fĩl ardhi jami’an tsummas tawã’a ilãs samã’i fa sawwãhunna sab’a samãwãtin wa huwa bikulli sai’in ‘alĩm.

29. Dialah Allah yang menciptakan segala apa di bumi untuk kamu, dan Dia berkehendak menciptakan tujuh lapis langit, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s. Baqarah, 2: 117, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24;
Manusia diberi lahan hidup di bumi yang dihamparkan, dengan “tujuh lapis” langit. Artinya, di samping bumi yang kita tempati, ada bumi-bumi lain, langit-langit lain yang banyak di tataran galaksi-galaksi, tempat hidup makhluk-makhluk lain yang belum kita ketahui hakekatnya (masih gaib). Langit adalah ruang hampa udara (ionosfer) tak terhingga luas, lebar dan tingginya. Yang tampak oleh kita berwarna biru atau gelap, hitam kelam itu sesungguhnya gambaran maya, gelap di atas. Diduga merupakan pantulan warna bumi dengan lapisan-lapisan udara yang hanya ada di lingkungan stratosfir, biosfir, dan atmosfir, tempat makhluk dapat hidup dengan nyaman, setinggi kurang-lebih 300 km. Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana atas segala sesuatu yang diciptakan-Nya yang akan menjadi ilmu dan pengetahuan yang harus diteliti dan dicari manfaatnya untuk kepentingan hidup manusia. Semuanya akan kembali kepada-Nya sebagai keagungan, kemuliãn, kemahãn Allah.

wa = dan; idz kola = sesungguhnya berfirman, berkata; robbũka = Rob kamu; lil = kepada; malãikati = para Malaykat; inĩ = sesungguhnya Aku; jã’ilun = meninggikan, menjadikan, menciptakan; fĩ = di; al ardhi = bumi; khalifah = khalifah, penguasa; kōlũ = berkata; ataj’alũ = apakah Engkau jadikan; fĩhã = baginya, di dalamnya, padanya; man = orang, makhluk; yufsidu = merusak; fĩhã = baginya, di dalamnya, di atasnya; wa = dan; yasfiku = menumpahkan; ad dimã’a = darah; wa nahnu = dan Kami; nusabbihu = kami bertasbih kepada Engkau; bi hamdika = memuji Engkau; wa = dan; nuqoddisu = menyucikan; lak = bagi-Mu; qōlã = (Allah, Dia) berkata, bersabda, berfirman; innĩ = sesungguhnya Aku; a’lamu = Aku lebih mengetahui; ma lã = apa yang tidak; ta’lamũn = kamu ketahui

wa idz kola robbũka lil malãikati inĩ jã’ilun fĩl ardhi khalifah, kōlũ ataj’alũ fĩhã man yufsidu fĩhã wa yasfikud dimã’a wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddislak qōlã innĩ a’lam ma lã ta’lamũn.

30. Dan sesungguhnya Rob kamu berfirman kepada para Malaykat, “Sesungguhnya Aku akan menjadikan manusia khalifah di bumi”. Para Malaykat bertanya, “Apakah akan Engkau jadikan di dalamnya, manusia yang merusak dan menumpahkan darah?, dan kami bertasbih kepada Engkau, memuji Engkau, dan menyucikan bagi-Mu”. (Allah, Dia) berfirman, “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. ”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempunyai hak untuk menetapkan makhluk-Nya untuk menjadi apa, terserah kepada kemauan Allah. Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang dikuasai, diciptakan-Nya. Makhluk-Nya baru tahu kalau sudah diberitahu oleh Allah (lihat ayat 31, 32). Bagi manusia, kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi itu sesungguhnya untuk menguji keimanannya kepada Allah Yang menciptakannya. Apakah fungsi khalifah di muka bumi itu dilaksanakan dengan baik atau tidak? Allah menyediakan hadiah bagi yang melaksanakan tugasnya dengan baik, dan hukuman bagi yang melaksanakannya tidak baik.
Malaykat bertugas melayani, mengawasi, menjaga, memelihara, mengingatkan, memberitahu manusia agar hidupnya selamat, sejahtera, tenteram, damai.
“Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Lihat juga Surat Al Baqarah: 2: 33; 96; 234; 235; 255; 270; 271; 283; dan Surat Ali ‘Imran, 3 : 6.

wa ‘alama ‘ãdam = (Allah) mengajarkan kepada Adam; al ‘asmã’a = nama-nama; kuluhã = seluruhnya; tsumma = betul-betul, sungguh-sungguh, kemudian; ‘arodhohum = Dia (Allah) mengemukakannya ‘ala = kepada; al malã’ikati = Malaykat; fa = maka; qōla = (Allah) berkata, berfirman; ambi’ũnĩ = terangkan kepada-Ku; bi = dengan; ‘asmã’ = nama-nama; aI hã’ũlã’i = ini semua; ingkuntum = jika kamu; shodiqĩn = orang-orang yang benar (mengetahui kebenaran).

wa ‘alama ‘ãdamal ‘asmã’a kuluhã tsumma ‘arodhohum ‘alãl malã’ikati fa qōla ambi’ũnĩ bi ‘asmã’i hã’ũlã’i ingkuntum shodiqĩn.

31. Allah mengajarkan kepada Adam mengucapkan seluruh nama-nama benda, kemudian berkata kepada para Malaykat: “Sebutkan nama-nama benda itu, jika orang-orang yang benar!”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajari Adam berbahasa dengan cara memperkenalkan nama-nama benda baik yang nyata maupun yang gaib. Para Malaykat yang tidak diajari nama-nama itu tidak dapat menyebutkannya. Malaykat-Malaykat diciptakan dengan keterbatasan pada tugas masing-masing dalam melayani, mengawasi, menjaga, memelihara, mengingatkan, memberitahu manusia, dan makhluk-makhluk lain. Kisah Nabi Adam sampai ayat 38, kamudian dalam Q.s. : al A’rãf, 7 11 – 25

qōlũ = berkata, menjawab; subhãnaka = Maha suci Engkau; lã = tidak ada; ‘ilma = ilmu; lanã = pada kami; illã = kecuali; mã alamtanã = apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; ‘innã = sesungguhnya; ka = kamu, engkau; anta = kamu; al ‘alimu = Maha Mengetahui; al hakim = dan Maha Bijaksana.

qōlũ subhãnaka lã ‘ilma lanã illã mã alamtanã, ‘innãka antal ‘alimul hakĩm.

32. (Para Malaykat) menjawab: “Mahasuci Engkau, tidak ada ilmu kami, selain dari apa yang sudah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya, Engkau Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana artinya Allah mempunyai hikmah menciptakan dan menggunakan segala sesuatu, sesuai dengan sifat, guna, dan faedahnya. Ilmu makhluk-Nya sebatas apa yang diberikan Allah dan atas upaya maksimal makhluk-Nya untuk mendapatkannya. Ilmu makhluk-Nya sangat terbatas, sesuai dengan kebutuhan kadarnya, untuk menjalani pengabdiannya masing-masing. Pengabdiannya masing-masing pun tergantung dari hasil belajarnya pada ilmu yang berkaitan, secara maksimal, atau hanya sekedarnya saja.

qōlu = (Allah) berfirman; yã ãdamu = wahai Adam; ambi’ hum = beritahukan kepada mereka; bi = dengan; asmã ihim = nama-nama (benda) itu; falammã = maka setelah diajarkan (diberitahukan); amba ahum = kepada mereka; bi asmã ihim = nama-nama (benda) ini; qōla = (Allah) bersabda, berfirman; alam aqul lakum = beritahukan kepada mereka; innĩ a’lamu = sesungguhnya aku mengetahui; ghoibas samãwãti terbentuk dari: ghoib + as samãwãti = rahasia, kegaiban langit; wal ardhi = dan bumi; wa a’lamu = dan Aku mengetahui; mã tubdũna = apa yang kamu sembunyikan; wa mã = dan apa yang; kuntum taktumũn = kamu sembunyikan.

qōlu yã ãdamu ambi’ hum bi asmã ihim, falammã amba ahum bi asmã ihim qōla alam aqul lakum innĩ a’lamu ghoybas samãwãti wal ardhi wa a’lamu mã tubdũna wa mã kuntum taktumũn.

33. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini“. Maka setelah diberitahu kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Kukatakan, bahwa sesungguhnyalah Aku Maha Mengetahui rahasia langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Atas kekuasaan dan kehendak Allah manusia diberi kemampuan untuk mengajari para Malaykat, tentang nama-nama benda yang sudah diajarkan Allah kepadanya. Malaykat sudah memiliki perbedaharÃn ilmu sesuai dengan tugasnya masing-masing dalam mengabdi kepada Allah. Sekarang ditambah pengabdiannya kepada Allah melalui manusia yang diberi kemampuan berbahasa, dan dijadikan Allah khalifah untuk memanfaat kan, menjaga dan memelihara alam semesta. Para Malaykat mendapatkan ilmu dari Allah, dan apa yang dikatakan manusia (Adam dan keturunannya) dengan berbagai sikap dan perilakunya (lihat juga ayat 77).
“Aku Maha Mengetahui rahasia langit dan bumi” lihat juga ayat 33; 96; 234; 235; 255; 270; 271; 283; dan Q.s. Ali ‘Imran, 3 : 6. Ada sesuatu yang rahasia, gaib dari langit dan bumi yang nyata, dan berbagai peri-laku makhluk hidupnya. Manusia harus menemukan rahasia langit dan bumi itu untuk dimanfaatkan dalam hidupnya.

wa idzqulnã = (Allah) memerintahkan; li = kepada; al Malaykati = Malaykat; is judũ = untuk sujud; li = kepada; adama = Adam; fa = maka; sajadũ = sujudlah; illã = kecuali; iblĩsa = iblis; was takbar = (mereka) merasa lebih besar, mulia (takabur); wa kaana = dan (mereka) adalah; min = dari; al kafirĩn = golongan kafir.

wa idzqulnã lil Malaykatisjudũ li adama fa sajadũ illã iblĩsa was takbara wa kaana minal kafirĩn.

34. Allah memerintahkan kepada para Malaykat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah semua Malaykat itu kepada Adam, kecuali iblis. Mereka enggan dan takabur, dan mereka termasuk golongan orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para Malaykat sujud kepada Adam, berarti para Malaykat itu harus memuliakan, menghormati, membantu Adam yang diciptakan hanya dari tanah liat, kemudian melayani, berbagai kebutuhan manusia, dan harus menjaganya dari berbagai bahaya yang dihadapi (lihat juga Surat 7 al A’raf:11-12; Al Isrã’, 17 ; 62). Semua nama yang diajarkan kepada manusia berarti sujud kepada kepentingan manusia, seperti pada ayat 31 di atas. Semula Allah hanya menyapa Malaykat, iblis saat itu belum ada. Sebutan iblis itu baru ada setelah ada pembangkangan pada perintah Allah. Pembangkang itu dibahasakan dengan iblis berasal dari kata ablasa yang artinya orang (Malaykat) yang kecewa sekali, putus asa, frustasi. Iblis mengetahui ada Allah, tetapi mereka membangkang perintah Allah. Jadi, mereka termasuk golongan kafir. Manusia yang membangkang pada wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.juga termasuk golongan kafir.

wa qulnã = dan Aku berfirman; yã ãdamus = yã Adam; kun = jadilah, diamilah, tinggallah; anta = engkau; wa zaujũka = dan pasanganmu, istrimu; al jannata = surga ini; wa kulã = dan makanlah kamu berdua; minhã = dari padanya (makanan-makanan); roghodaan = (hingga) puas, senang; haitsu = sebagaimana; syi’tumã = kamu berdua sukai; wa lã taqrobã = dan jangan mendekati; hãdzihisy syajarota = pohon ini; fatakũna = menyebabkan kamu berdua; minazh zhōlimĩn = ke dalam orang-orang lalim.

wa qulnã yã ãdamus kun anta wa zaujũka al jannata wa kulã minhã roghodaan haitsu syi’tumã wa lã taqrobã hãdzihisy syajarota fatakũna minazh zhōlimĩn.

35. Dan Aku (Allah) berfirman (kepada Adam dan istrinya): Wahai Adam, tinggallah kamu dengan istrimu di surga ini, dan makanlah makanan-makanan yang kamu sukai, sehingga puas (senang), dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Adam dan istrinya diberi tempat di surga dengan segala kesenangan, kenikmatan, kemewahan, kehormatan, dan kemuliãn yang banyak,dan baik di mana saja, dan kapan saja dengan hanya satu pembatasan (peraturan), yaitu jangan mendekati, apa lagi memegang atau memakan buah pohon khuldi, kalau tidak ingin termasuk orang-orang yang lalim. Allah memberi hidup kepada makhluk-Nya dengan berbagai rezeki yang banyak, enak, menyenangkan, dengan pembatasan yang sesuai dengan kodrat yang diberi dari Allah. Kalau pembatasan hidup dilanggar, maka akan terjadi ketidakharmonisan, terjadi kesakitan, penderitaan, kesusahan. Ini pembelajaran yang sangat halus dari Allah untuk menjalani hidup ini. Jangan mendekati hal-hal yang dilarang. Mendekatinya saja sudah dilarang, apalagi sempai menjamah atau memakan, atau mengerjakannya. Ciri orang lalim, tidak peduli pada makanan yang dia makan, apakah itu haram maupun yang syubhat; mau menjadi penguasa, kalau perlu dengan paksaan; membuat kekacauan dan kerusakan, kehancuran.

fa = maka, lalu; azallã = menggelincirkan; humã = keduanya; syaithōnu = setan; ‘anhã = dari sana (surga); fa = maka; akhroja = Dia menciptakan, mengeluarkan; humã = kamu berdua (keduanya; mimma = dari apa (tempat, surga); kaanã = adalah keduanya; fĩhi = di dalamnya; wa = dan; qul = berkata; na = Aku; bithũ = turunkan, pergilah; ba’dhukum = sebagian kamu; li ba’dhin = bagi sebagian yang lain; ‘aduwwun = menjadi musuh; wa lakum = dan bagi kamu; fĩl ardhi = di bumi; mustaqorru = ada tempat kediaman; wa matã’un = dan kenikmatan, kesenangan; ilã = dari, kecuali, selain, melainkan, kepada, sampai, hanya sampai, hingga; hĩnin = waktu tertentu.

fa azalluhumãsy syaithōnu ‘anhã fa akhrojahumã mimma kaanã fĩh, wa qulnãh bithũ ba’dhukum liba’dhin ‘aduwwu wa lakum fĩl ardhi mustaqorruw wa matã’un ilãhĩnin.

36. Lalu setan menggelincirkan keduanya dari surga, dan Allah mengeluarkan keduanya dari tempat itu, dan Aku berfirman: “Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu, ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu tertentu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ternyata keduanya terkena bujuk-rayu setan. Maka dikeluarkanlah mereka dari surga yang menyejukkan, menyenangkan, menenteramkan, penuh kenikmatan, kemewahan dan kemuliãn. Mereka diperintah Allah untuk turun ke bumi. Allah menurunkan derajat makhluk yang melanggar aturan-Nya. Allah mengingatkan: “Sebahagian dari turunan kamu akan menjadi musuh dari yang lainnya. Kamu diberi tempat kediaman sementara di bumi dengan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan” (lihat juga: al A’raf, 7 : 34).
Allah mengetahui bahwa manusia itu ada yang beriman kepada Allah dengan petunjuk-Nya, ada yang kafir, akibat bujukan iblis, setan, dan sebagian jin dan manusia sehingga terjadi permusuhan. Hal permusuhan antarmanusia ini, kalau diteliti, akan ditemukan berbagai permusuhan dengan makhluk-makhluk Allah lainnya, selain manusia (sebagai pelengkap, misalnya semut, hama tanaman, bakteri, virus, dan lain-lain). Hal ini menjadi berbagai ilmu yang banyak dan harus dipelajari semampunya oleh manusia, agar selamat hidupnya. Jangan lupa berpegang teguh kepada Petunjuk Allah. Bacalah selalu Basmalah untuk segala sesuatu yang dilakukan betapa pun sederhananya. Jangan melanggar peraturan Allah betapapun sederhananya.

fa = maka; talaqqō = menerima; Ãdamu = Adam; mir Robbihi = dari Robb-nya; kalimatin = kata-kata; fatãba = tobat; ‘alayhi = dari-Nya; innahu = sesungguhnya; huwa = Ia, Dia; tawwabu = penerima tobat; ar rohĩm = dan penyayang.

fatalaqqō ãdamu mir robbihi kalimatin fatãba ‘alayhi innahu huwat tawwabur rohĩm.

37. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat tobat dari Robbnya. Allah pun menerima tobatnya, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Adam menerima beberapa kalimat tobat” kalimat tobat ini yang harus diulang-ulang oleh keturunan Adam yang beriman sampai akhir zaman. Kalimat tobat berarti juga pernyataan berbagai ibadah, ajaran-ajaran Allah yang harus dilakukan manusia.

qul = berkata, bersabda, berfirman; na = Aku; al habithũ = turunlah kamu berdua; minhã = dari situ (surga itu); jamĩ’ã = semua; fa = maka; immã = jika; ya’tĩyannakum = datang kepadamu; min nĩ = dari Aku; hudan = petunjuk; fa = maka; man = orang, barang siapa; tabi’a = mengikuti; hudãya = petunjuk; fa = maka; lã = tidak; khaufun = khawatir, cemas, takut; ‘alayhim = padanya; wa = dan; lã = tidak, jangan; hum = dia; yahdzanũn = sedih, duka-cita.

qulnãhbithũ minhã jamĩ’ã, fa immã ya’tĩyannakum min nĩ hudan fam man tabi’a hudãya falã khaufun ‘alayhim wa lã hum yahdzanũn.

38. Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga. Jika datang petunjuk-Ku kepadamu, ikutilah. Barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran, dan tidak pula akan bersedih hati.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 62, 112. Orang-orang yang benar-benar beriman kepada ada-Nya Allah, dan adanya Nabi Muhammad saw., kemudian beramal saleh, hidupnya tidak akan merasa cemas, dan akan diberi imbalan pahala yang banyak dari Allah. Di akhirat, Allah akan menurunkan derajat makhluk-Nya yang melanggar aturan (hukum) Allah. Ini yang harus dikhawatirkan. Mereka itulah orang kafir, musyrik, fasik, dan murtad. Mereka akan merasa khawatir dan bersedih hati pada hari pembalasan.

wa = dan; al ladzĩna = mereka, orang-orang; kafarũ = kafir, tidak percaya; wa = dan; ka = mereka; dzabũ = bohong, dusta; bi = kepada; ãyãti = ayat-ayat; nã = Aku; ũlã ika = mereka itu; ash hãbu = penghuni, pemilik; an nãr = neraka; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; kholidũn = kekal;

walladzĩna kafarũ wakadzdzabũ bi ãyãtinã ũlã ika ash hãbun nãr hum fĩhã kholidũn

39. “Orang-orang kafir dan yang menganggap dusta ayat-ayat-Ku, mereka menjadi penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang menganggap dusta apa yang diturunkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw., mereka akan menjadi penghuni neraka, dan mereka akan kekal di dalamnya.
Mulai ayat 40 sampai ayat 123, Allah mengingatkan Bani Israil, sekelompok kaum dari keturunan Ya’kub, yang sekarang dikenal dengan umat Yahudi, agar mengingat Allah dengan janji-janji mereka. Ada beberapa perintah dan larangan kepada mereka (Bani Israil). Peringatan, pelajaran, petunjuk ini berlaku juga bagi kaum yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad Rasulallah saw.. Mereka yang tidak mempercayai peringatan, pelajaran, petunjuk ini, hidup mereka di dunia tampaknya bahagia, senang, namun mereka menimbulkan kesusahan, kekhawatiran dan kegelisahan, dan mereka akan menjadi penghuni neraka di akhirat.

yã Banĩ Isrãĩla = Hai Turunan Israil; adz kurũ = ingatlah; ni’matiya = nikmat-Ku; al latĩ = yang; an ‘amtu = telah Aku anugerahkan; ‘alaykum = atas kamu; wa awfũ = dan penuhilah olehmu; bĩ ahdĩ = pada (dengan) janji pada-Ku; ũfi = Aku penuhi; bi ‘ahdi = dengan janji-Ku; kum = padamu; wa iyyãya = dan hanya kepada-Kulah; fãrhabũn = kamu harus tunduk, takut.

yã banĩ Isrãĩladz kurũ ni’matiyal latĩ an ‘amtu ‘alaykum wa awfũ bĩ ahdĩ’ũ fi bi ‘ahdikum wa iyyaya fãrhabũn.

40. Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjinya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Kulah kamu harus tunduk, takut.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyeru Bani Israil agar mengingat kenikmatan Allah yang telah dianugerahkan-Nya. Mereka hendaknya memenuhi janjinya kepada Allah, yaitu akan selalu takut dan tunduk hanya kepada Allah, dan tidak mempersekutukan dengan ilah lain. Mereka berjanji akan selalu beriman kepada Rasul-rasul-Nya, di antaranya Nabi Muhammad saw.seperti yang tersurat dalam Taurat. Niscaya Allah memenuhi janji-Nya. Lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 47, (agak berbeda: ada janji Bani Israil untuk mengabdi hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan dengan makhluk lain), 50, 108, 122, sama benar, 136). Allah memperingatkan kembali Bani Israil tentang nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka. Allah telah melebihkan mereka dari segala umat di dunia pada zaman Nabi Musa a.s.; Al A’rãf, 7 : 103 – 171; Hud, 11 :96 – 99, 110; Yunus, 10 : 75). Peringatan ini berlaku juga bagi kaum yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad saw..

wa ãminũ = dan berimanlah kamu; bimã = dengan apa yang; karena/sebab; andzaltu = telah Aku turunkan kepadamu; mushoddiqqon = yang membenarkan; limã = pada apa yang; ma’akum = bersamamu; ada padamu; wa lã takũnũ = dan janganlah kamu menjadi; awala = pertama, pelopor; kafirim bih(i) = kafir (ingkar) kepadanya (dengannya); wa lã tasytarũ = dan jangan menukarkan (menjual); bi ãyãtĩ = dengan ayat-ayat-Ku; tsamanan = harga; qolĩlÃn = yang sedikit; wa iyyaya = hanya kepada-Ku; fattaqũn = kamu harus bertakwa.

wa ãminũ bimã andzaltu mushoddiqqol limã ma’akum wa lã takũnũ awwala kafirim bih, wa lã tasytarũ bi ãyãtĩ tsamanan qolĩlÃn wa iyyaya fattaqũn.

41. (Allah memerintahkan kepada Bani Israil): “Dan berimanlah kamu kepada yang telah Aku turunkan (Alqur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), janganlah kamu menjadi kafir kepadanya, dan jangan menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. Hanya kepada-Ku-lah kamu harus bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini berlaku juga bagi kaum yang beriman kepada Allah yang menurunkan Kitab-kitab Tripitaka (Weda), Tao Tee Ching, Zabur, Taurat, Injil, dan Alqur’an melalui Nabi Muhammad saw..

wa lã = dan jangan; talbisũ = kamu mencampuradukkan; al haqqu = yang hak; yang benar; bil bathili = dengan yang batil; wa taktumũ = dan jangan kamu menyembunyikan; al haqqo = yang hak; yang benar; wa antum = dan kamu; ta’lamũn = mengetahui.

wa lã talbisũl haqqu bil bathili wa taktumũl haqqo wa antum ta’lamũn.

42. (Allah mengingatkan Bani Israil): “Jangan mencampuradukkan yang hak dan yang batil, jangan pula menyembunyikan yang hak itu, padahal kamu mengetahui.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat ayat 140, 146, 159, 174, 187
Kaum Bani Israil merasa sudah dapat membedakan yang hak dan yang batil, tapi ada sesuatu yang mereka ketahui, yaitu ditetapkannya Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan Allah yang terakhir disembunyikannya. Mereka merasa gengsi mereka turun jika mengakui Nabi Muhammad sebagai Utusan Allah. Para imam dari Bani Isrtail itu membohongi umatnya sampai sekarang.
Peringatan ini berlaku juga bagi kaum yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad saw..

wa aqimũsh sholãta = dan dirikanlah salat; wa ãtũdz dzakãta = dan bayarlah zakat; wa arka’ũ = dan rukuklah; ma’ãr = bersama; roki’ĩn = orang-orang yang telah rukuk.

wa aqimũsh sholãta wa ãtũdz dzakãta wa arka’ũ ma’ãr roki’ĩn.

43. (Allah memerintahkan kepada Bani Israil): Dirikanlah salat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang telah rukuk (salat berjamãh), dan tunduklah kepada perintah-perintah Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah mendirikan salat, membayar tunai zakat, dan perintah-perintah lainnya disampaikan kepada orang Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Tao, dan lain-lain. Perintah ini berlaku juga untuk yang beriman dan tunduk kepada Allah dan Nabi Muhammad saw.(lihat ayat 3) untuk salat berjamãh.

ata’murũna = mengapa kamu menyuruh; al nãsa  an nãsa = manusia lain; orang lain; bil birri = dengan bekerja bakti, berbuat kebaikan; wa tansauna = dan engkau melupakan; anfusakum = dirimu sendiri; wa antum = dan anda, dirimu, kamu; tatlũnal kitãba = kamu membaca Alkitab; afalã ta’ qilũn = mengapa atau apakah kamu tidak berpikir (tidak menggunakan akal).

ata’murũnan nãsa bil birri wa tansauna anfusakum wa antum tatlũnal kitãba afalã ta’ qilũn.

44. Allah mempertanyakan: “Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaktian, sedang kamu melupakan kewajibanmu sendiri, padahal kamu membaca Alkitab, apakah kamu tidak berpikir?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kewajibanmu sendiri” maksudnya mempelajari Alkitab, memahami dan melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya. Hal tersebut dilakukan hanya sebagian, dan sebagian yang lain dilupakan. Ada peringatan, dan perintah Allah yang tidak dilaksanakan oleh Ahli Kitab (orang yang berpegang pada Kitab Suci dari agama selain Islam: Zabur, Taurat, Injil, Weda, Tao Tee Ching, dan shuhuf-shuhuf yang tersebar-sebar. Ada yang disembunyikan atau ditutup-tutupi, terutama tentang turunnya Nabi Muhammad saw.dengan Alqur’annya. Hal ini dipertanyakan Allah dengan pertanyaan “apakah kamu tidak berpikir?”

wa asta’ĩnũ = dan kamu mintalah pertolongan; bi ash-shobri = dengan kesabaran; wash-sholati = dan dirikanlah salat; wa in-nahã = dan yang demikian itu; lã kãbĩrotun = sungguh demikian berat; illa = kecuali; ‘alal khosyi’ĩn = pada orang-orang yang khusyuk; wasta’ĩnũ bish-shobri wash-sholãti wain-nahã lãkãbĩrotun illa ‘alal khosyi’ĩn
45. (Allah mengingatkan), “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat, kecuali bagi orang yang khusyuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang Yahudi, Nasrani, Hindu, Zen Avesta, Buddha, Tao, dan lain-lain. Peringatan ini berlaku juga untuk orang Islam.
Sabar artinya tahan, tenang, dan tabah menghadapi cobÃn dan ujian dari Allah, menghadapi suatu masalah atau persoalan hidup, tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan, mengerjakan sesuatu yang sulit atau yang mudah, dapat menahan berbagai nafsu dalam dirinya. Tidak mudah marah, jengkel, putus asa, patah semangat, tidak segera patah hati. Tidak mudah marah, dapat menahan rasa marah. Sabar juga jika seseorang diuji dengan kesenangan, kekayaan, kekuasaan , ilmu yang banyak.
Khusyuk artinya bersungguh-sungguh; berserah diri sepenuhnya kepada Allah; menerima iman dengan sebulat hatinya; melaksanakan perintah beribadah dengan rendah hati; niat dengan arah tujuan yang tepat sasaran.
Shalat artinya ibadah khusus yang dilakukan berdasarkan sunah dan hadis dari Nabi Muhammad saw.Ada yang wajib dilakukan setiap hari 5 kali ditambah shalat-shalat sunah lain yang banyak macamnya, lihat Kitab Khusus Pedoman Shalat.

alladzĩna = yaitu orang-orang; yazhunnũna = mereka menyangka (meyakini); ‘annahum = sesungguhnya mereka; mulãqũ = mereka menemui; robbihim = Robb mereka; wa annahum = dan sesungguhnya mereka; ilaihi = kepadan-Nya; roji’ũn = (mereka) akan kembali.
alladzĩna yazhunnũna ‘annahum mulqũ robbihim wa annahum ilaihi roj’ũn.
46. “yaitu orang-orang yang yakin, bahwa mereka akan menemui Allah, sesungguhnya mereka akan kembali kepada-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Bani Israil, sesungguhnya mereka sudah yakin akan menemui Allah, namun cara beribadahnya sudah tidak sesuai dengan cara yang disunahkan Nabi Muhammad saw.sebagai Nabi yang terakhir. Jadi, ibadah mereka tidak diterima Allah. Mereka sudah diberitahu, tapi mereka sombong, tidak mau percaya, tidak mau mendengar. Namun Allah masih memberi kesempatan tobat, bagi yang menggunakan akal dan pikirannya.

yã banĩ ‘isrã’il = hai Bani isra’il; adz kurũ = ingatlah; ni’matiy = nikmat-Ku; al latĩ = yang; an’amtu = Aku telah anugerahkan; ‘alaykum = kepadamu; wa annĩ = dan Aku; fadhdholtukum = Aku telah telah melebihkan engkau; ‘alãl alamĩn = di atas alam ini (segala umat).

yã banĩ ‘isrã’il adz kurũ ni’matuyal latĩ an’amtu ‘alaykum wa annĩ fadhdholtukum ‘alãl alamĩn.
46. Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, bahwa Aku telah melebihkan kamu di atas segala umat di alam ini.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kembali Bani Israil tentang nikmat Allah yang telah diberikan kepada mereka. Allah telah melebihkan mereka dari segala umat di dunia pada zaman Nabi Musa a.s.. (lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 40, (agak berbeda: ada janji Bani Israil untuk mengabdi hanya kepada Allah dan tidak mempersekutukan dengan makhluk lain), 50, 92, 108, 122, sama benar ; 136; Al A’rãf, 7 : 103 – 171; Hud, 11 :96 – 99, 110; Yunus, 10 : 75). Peringatan ini berlaku juga bagi kaum yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad saw..

wattaqũ = dan takutlah, jagalah, peliharalah dirimu; yawmmãl = suatu hari; lã tajzĩ = tidak ada pembelÃn/pembalasan; nafsun = masing-masing orang/seseorang; an nafsin = dari orang lain; syai’an = sesuatu/sedikit pun; wa lã = dan tidak; yuqbalu = diterima; minhã = dari padanya; syafã’atun = syafaat, pertolongan; wa lã = dan tidak; yu’khadzu = diambil; minhã = dari padanya; ‘adlũn = tebusan; wa lã = dan tidak; hum = mereka; yunsharũn = akan ditolong.

wattaqũ yawmmãl lã tajzĩ nafsun an nafsin syai’an wa lã yuqbalu minhã syafã’atun wa lã yu’khadzu minhã ‘adlũn wa lã hum yunsharũn.

48 jagalah dirimu dari azab hari kiamat, yang tidak seorang pun dapat sedikit membela orang lain, begitu pula tidak diterima safa’at dan tebusan dari orang lain. Mereka tidak akan ditolong, karena tidak mematuhi perintah Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat juga ayat 123, Q.s. Ali Imran, 3: 10-12, 91; An Nisã’, 4: 34, 45; dan lain-lain. Safa’at artinya pertolongan, usaha seseorang untuk bermanfaat bagi orang lain, dan menjauhkan orang lain dari hal yang mudarat. Peringatan ini berlaku juga bagi kaum yang beriman kepada Allah dan Nabi Muhammad saw..

wa idz = dan ketika; najjainãkum = Aku selamatkan kamu; min ‘alĩ = dari keluarga (pengikut); fir’auna = Firaun; yasũmũnakum = mereka menimpakan kepadamu; sũ’a = buruk/berat; al ‘adzabi = siksaan; yudzabbihũna = mereka menyembelih; abnã akum = anak laki-lakimu; watastakhyũna = dan membiarkan hidup; nisã ‘akum = (anak-anak) perempuanmu; wa fĩ dzalikum = dan dari hal yang demikian itu; balã’ũ = bala, siksa yang berat, cobÃn; mir robbikum =dari Penguasamu (Tuhanmu); ‘azhĩmun = Yang Agung/Besar.

wa idz najjainãkum min ‘alĩ fir’auna yasũmũnakum sũ’al ‘adzabi yudzabbihũna abnã akum watastakhyũna bisã ‘akum, wa fĩ dzalikum balã’ũ mir robbikum ‘azhĩm.

49. Allah mengingatkan Bani Israil, ketika Allah menyelamatkan dari kekejaman Firaun dan pengikut-pengikutnya, yang menimpakan siksa yang berat. Mereka menyembelih anak laki-laki, dan membiarkan hidup anak-anak perempuan. Demikian itulah sesungguhnya cobÃn-cobÃn yang besar dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Bani Israil, dan menjadi pelajaran bagi umat Islam. Para pemimpin jangan menganiaya rakyatnya, karena ingin mempertahankan kekuasaannya.

wa idz = dan ketika, ingatlah; faroqnã = Aku (Allah) membelah; bikumu = untuk kamu; al bahrō = laut; fa = lalu/maka; ‘anjainãkum = Aku selamatkan kamu; wa agroqnã = dan Kami tenggelamkan; ‘ãla = keluarga/pengikut; fir’auna = Fir’aun; wa antum = dan kamu; tanzhurũn = menyaksikan.

wa idz faroqnã bikumul bahrō fa ‘anjainãkum wa agroqnã ‘ala fir’auna wa antum tanzhurũn.

50. Allah mengingatkan, ketika Aku (Allah) belah Laut Merah, lalu Aku selamatkan kamu (Bani Israil) dan Aku tenggelamkan Fir’aun beserta pengikut dan pembelanya, sedang kamu sendiri menyaksikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nabi Musa a.s. ketika membawa Bani Israil keluar dari Mesir menuju Palestina yang harus melalui Laut Merah, dikejar Fir’aun dengan para pengikut (bala-tentara)-nya. Allah memerintah Musa agar memukul air Laut Merah itu dengan tongkatnya. Maka terbelahlah air laut itu menjadi jalan raya yang dapat dilalui Nabi Musa beserta pengikutnya sampai selamat ke seberang. Setelah itu, tertutup kembali air laut itu. Fir’aun masih berada di tengah-tengah perjalanan dengan para pengikut-nya. Maka tenggelamlah mereka semua. Hal ini menjadi pelajaran bagi umat-umat yang membaca kisah ini termasuk umat Islam. (lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 40, 47, 108, 122, 136).

wa idz = dan ingatlah, ketika; wa’adnã = Aku menjanjikan; Musã = kepada Musa; ‘arba’ĩna lailatan = empat puluh malam; tsumma = kemudian; attakhadztumu = kamu mengambil/menjadikan; al ‘ijla = anak lembu; mim ba’dihi = dari setelahnya, sepeninggalnya; wa antum = dan kamu; zholimũn = melampaui batas (orang-orang lalim).

waidz wa’adnã Musã ‘arba’ĩna lailatan tsumma attakhadztumu al ‘ijla mim ba’dihi wa antum zholimũn.

51. Ingatlah, ketika Kami menjanjikan kepada Musa untuk memberikan Aku Taurat sesudah empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu sebagai sesembahanmu sepeninggalnya, dan kamu adalah orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesembahan anak lembu itu berupa patung dari emas. (lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 40, 47, 108, 122).

tsumma = kemudian, setelah itu, betul-betul; sungguh-sungguh; ‘afaunã = kami memÃfkan; ‘ankum = kepadamu; mim ba’di = setelah itu; dzalika = ini, itu, demikianlah; la’alakum = agar kamu; tasykurũn = bersyukur

tsumma ‘afaunã ‘ankum mim ba’di dzalika la’alakum tasykurũn.

52. Kemudian sesudah itu Aku mÃfkan kesalahanmu, demikianlah agar kamu bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia harus bersyukur karena Allah Maha PemÃf.

wa idz = dan ingat, dan ketika; ‘ãtainã = kami memberikan; mũsã = Musa; al kitãbu = Alkitab (Taurat); wal furqōna  wa + al + furqōna = keterangan yang membedakan; la’alakum = agar kamu; tahtadũn = mendapat petunjuk.

wa idz ‘ãtainã mũsãl kitãbu wal furqōna la’alakum tahtadũn.

53. Ingatlah, ketika Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan salah, agar kamu mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alkitab Musa, Taurat merupakan petunjuk juga bagi umat manusia pada masa itu. “Keterangan, penjelasan yang membedakan”, artinya bukan hanya antara yang benar dan yang salah saja, tetapi keterangan perbedaan antara halal, haram, subkhat dan lain-lain suatu benda dengan benda lain yang menjadi beraneka macam pengertian dan ilmu di dunia ini. (lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 40, 47, 50, 108, 122).

wa idz = dan ingatlah, dan ketika; qōla mũsã = Musa berkata; li qaumihi = kepada kaumnya; yã qaumihi = ya (wahai) kaumku; innakum = sesungguhnya kamu; zholamtum = telah menganiaya diri kamu; anfusakum = dirimu sendiri; bit tikhãdzikum = dengan mengambil/menjadikan; al idzla  ul idzla = anak lembu; fa = maka; tũbũ = bertobatlah; ilã bãri’ikumi = hanya kepada Yang Menjadikanmu; fa = maka; aqtulũ = bunuhlah; anfusakum = dirimu sendiri; dzalikum = yang demikian itu; khoyrul lakum = lebih baik bagimu; ‘inda bãri ikum = kepada Yang Menjadikanmu; fa = maka; tãba ‘alaykum = Dia menerima tobat kamu; innahũ = sessungguhnya Dia; huwat tawwabur rohĩm = Dia penerima tobat dan penyayang.

wa idz qōla mũsã liqaumihi, yã qaumihi innakum zholamtum anfusakum bit tikhãdzikumul idzla fa tũbũ ilã bãri’ikum fa aqtulũ anfusakum dzalikum khoyrul lakum ‘inda bãri ikum fa tãba ‘alaykum, innahũ huwat tawwabur rohĩm

54. Ingatlah, ketika Musa berkata kepada kaumnya:” Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu menjadi sesembahanmu, maka bertobatlah kepada Allah Yang menjadikanmu, dengan cara membunuh diri. Hal yang demikian itu lebih baik bagimu di hadapan Allah yang menjadikanmu; maka Allah akan menerima tobatmu.” Sesungguhnya-lah Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh diri” ada yang menafsirkan, bagi orang yang telah melakukan kesalahan menyembah patung anak lembu emas itu harus bertobat dengan cara membunuh diri. Ada yang menafsirkan, bahwa orang yang merasa bersalah menyembah patung anak lembu emas itu akhirnya saling berbunuhan. Ada pula yang menafsirkan, bahwa yang bersalah menyembah patung anak lembu emas itu dihukum-bunuh oleh orang yang tidak menyembahnya. Allah menilai lebih baik orang yang bersalah menyembah patung anak lembu emas itu terbunuh baik oleh diri sendiri atau oleh orang lain. Semuanya diterima sebagai cara bertobat, karena Allah Maha Penerima tobat dan menghendaki tidak ada orang yang mempersekutukan Dirinya dengan makhluk-Nya. Orang-orang musyrik seharusnya musnah dari muka bumi, tapi Allah Maha Penyayang masih memberi kesempatan mereka bertobat dan mengadakan perbaikan.

wa idz = dan ingat ketika; qultum = kamu (Kaum Bani Israil) berkata; yã mũsã = hai Musa; lan nũ’minalaka = Kami tidak akan beriman kepadamu; hattã = sehingga; narollaha = kami melihat Allah; jahrotan = nyata; fa = maka; akhodzatukum = menyambar kamu; ash sho’iqotu = petir; wa antum = dan kamu; tanzhurũn = kamu menyaksikan.

waidzqultum yã mũsã lan nũ’minalaka hattã narollaha jahrotan fa akhodzatukum ashsho’iqotu wa antum tanzhurũn.

55. Ingatlah ketika kamu (kaum Bani Israil) berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah secara nyata, jelas, dan terang, maka petir menyambar kamu, dan kamu menyaksi-kan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “melihat Allah secara nyata” artinya melihat Allah dengan mata tampak nyata. Pernyataan ini, pertanda kaum Bani Israil itu ingkar dan takabur. Hukumannya datang pada saat itu juga. Hal ini menjadi peringatan dan pelajaran bagi umat manusia umumnya, khusus umat Islam.

tsumma = setelah itu, kemudian; ba’atsnãkum = kamu Kami bangkitkan; mim ba’di mautikum = setelah kematianmu; la’alakum tasykurũn = agar kamu bersyukur.

tsumma ba’atsnãkum mim ba’di mautikum la’alakum tasykurũn

56. Setelah itu, Aku bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kamu mati” ada yang manfsirkan betul-betul mati, ada yang menafsirkan pingsan akibat disambar petir.

wa zhollalnã = dan Aku naungkan; ‘alaykum = di atasmu; al ghomãma  ul ghomãma = awan; wa anzalnã = dan Aku turunkan; ‘alaykumul = kepadamu; al manna = al manna (makanan semanis madu); was-salwã = dan salwa (sejenis burung puyuh); kulũ = makanlah olehmu; min thoyibati = dari yang baik-baik; mã = apa; rozaknãkum = yang Aku rezekikan kepadamu; wa mã zholamũna = dan mereka tidak menganiaya Aku; wa lãkin = akan tetapi; kaanũ = mereka adalah; anfusahum = diri mereka; yazhlimũn = mereka menganiaya sendiri;

wa zhollalnã ‘alaykumulghomãma wa anzalnã ‘alaykumul al manna was-salwã min thoyibati mã rozaknãkum wa mã zholamũna wa lãkin kaanũ anfusahum yazhlimũn

57. (Ketika kamu berjalan di panas terik matahari), Aku naungi kamu dengan awan, dan Aku turunkan untukmu “manna” (makanan semanis madu), dan “salwa” (sebangsa burung puyuh). Makanlah makanan yang baik-baik yang telah Aku berikan kepadamu. Dan, mereka tidak menganiaya Aku, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi nikmat kepada umat manusia yang mau berkarya membuat berbagai kebutuhan hidupnya, menyebabkan mereka senang, nyaman. “awan” dapat berarti yang sesungguhnya dibuat Allah (awan buatan), dapat dalam arti alat (sebangsa payung) yang dapat menaungi dari panas terik matahari. ‘makanan yang baik-baik’ lihat Q.s. Al Baqarah, 168, 172; Al Mu’minũn, 51 merupakan gambaran bagi orang-orang yang beriman, merupakan bagian dari amal saleh, dan pernyataan rasa syukur atas segala rezeki yang telah diberikan Allah.
Allah tidak pernah teraniaya oleh berbagai ulah manusia yang berlebihan. Manusialah yang selalu menganiaya diri sendiri.

wa idz = dan ketika, ingat ketika; qulnã = Aku berfirman; adkhulũ = masuklah kamu; hãdzihi = ke dalam, ini; alqoryata = kota, negeri; fa = maka; kulũ = makanlah kamu; minhã = dari hasil buminya; haitsu = apa saja; syi’tum = kamu kehendaki; roghodan = sepuas hati; wãd khulũ = dan masuklah kamu; al bãba = pintu; sujjaddã = sambil bersujud, membungkuk; wa qũlũ = dan katakanlah; hiththottun = ringankan / bebaskan dosa; naghfirlakum = Aku mengampuni kamu; khothoyãkum = kesalahan-kesalahan kamu; wasanazĩdu = dan Aku akan menambah (rezeki); al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa idz qulnã ‘udkhulũl hãdzihi alqoryata fa kulũ minhã haisyusyi’tum roghodan wãd khulũl bãba sujjadda wa qũlũ hiththottun naghfirlakum khothoyãkum wasanazĩdul muhsinĩn

58. Ingatlah ketika Allah berfirman: “Masuklah kamu ke negeri Baitul Makdis, maka makanlah dari hasil buminya yang banyak lagi enak di mana pun yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud atau menundukkan diri, dan katakanlah: ‘Bebaskanlah Aku dari dosa’, niscaya Aku ampuni kesalahan-kesalahanmu. Kelak Aku akan menambahi pemberian-Ku kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengizinkan memasuki sebuah negeri dan menikmati berbagai rezeki yang ada di dalamnya dengan cara-cara yang santun, beraturan sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Bila melakukan kesalahan, dosa segeralah bertobat, meminta ampun. Allah sangat suka diakui keberadaan -Nya Yang Maha dalam segala-Nya. Allah akan menambahi berbagai kenikmatan dan kesukaanyang diusahakan manusia dengan benar.

fa = lalu, maka; baddala = setelah itu; kemudian; lalu; alladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = (mereka orang) lalim; qoulan = perintah, perkataan; ghoiro = bukan, selain; al ladzĩ = (pekerjaan ) yang; qĩla = dikatakan, diperintahkan; lahum = kepada mereka; fa = maka; anzalnã = Aku timpakan, Aku turunkan; alãl = kepada; al ladzĩnã = mereka, orang-orang yang; zholamũ = berbuat lalim; rijzãm = siksa; min = dari; as samã’i = langit itu; bimã = dengan apa-apa; kaanũ = bagi mereka; yafsuqũn = berbuat fasik

fa baddalal ladzĩna zholamũ qoulan ghoirol ladzĩ qĩla lahum fa anzalnã ‘alãl ladzĩnã zholamũ rijzãm minas samã’i bimã kaanũ yafsuqũn.

59. Maka orang-orang lalim mengganti perintah itu dengan pekerjaan yang tidak Aku perintahkan kepada mereka. Maka, Aku timpakan siksa dari langit kepada mereka yang lalim dan berbuat fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak mengakui keberadaan Allah adalah mereka yang melakukan berbagai pelanggaran peraturan Allah, dan melakukan berbagai kejahatan. Mereka disebut orang lalim dan fasik. Mereka akan mendapatkan berbagai siksaan dari langit, kalau mereka tidak mau bertobat.

wa idzi = dan ketika; as tasqō = memohon air; mũsã = Musa; li = bagi, untuk; kaumihĩ = kaumnya; fa = lalu, maka; qulnã = Aku berfirman; adhrib = pukullah; bi = dengan; ‘ashōka = tongkatmu; al hajar = batu; fa = maka; anfajarot = memancarlah; minhu = dari batu itu; atsnatã‘asyrota = dua belas; ‘aynan = mata air; qod = sungguh; ‘alima = mengetahui; qullũ = makanlah; unãsin = manusia; masyrobahum = tempat air minum bagi masing-masing mereka; kulũ wasyrobũ = makan dan minumlah; mir ridzqillãhi = dari rezeki Allah; wa lã ta’tsũ = dan jangan kalian berkeliaran; fil ardhi = di muka bumi; mufsidĩn = dengan membuat kerusakan; (sebagai pembuat kerusakan);

wa idzistasqō mũsã li kaumihĩ fa qulnã adhrib bi ‘ashōkal hajar fa anfajarot minhutsnatã ‘asyrota ‘aynan qod ‘alima qullũn nãsĩm masyrobahum kuluw wasyrobum mir ridzqillãhi wa lã ta’tsũ fil ardhi mufsidĩn

60. Allah mengingatkan, ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Aku berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Lalu memancarlah dari batu itu dua belas mata air. Sungguh, tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing. “Makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan membuat kerusakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melalui Nabi Musa berkuasa menyediakan mata air untuk dua belas suku Bani Israil, lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 40, 108, 122; Al A’rãf, 7: 57-58.

wa idz = dan (ingatlah) ketika; kultum = kamu berkata; yã Mũsã = wahai Musa; lan nushbiro = Aku tidak dapat sabar; ‘alã tho’ami = atas makanan; wãhidin = satu saja; fãd’ũlanã = mohonkanlah untuk Aku; robbaka = (kepada) Tuhanmu; yukhrij lanã = mengeluarkan bagi Aku; mimmã tumbitũl ‘ardhu = yang ditumbuhkan bumi; mimbaqlihã = dari sayur-sayurannya; wa qits tsa’ihã = mentimunnya; wa fũ mihã = bawang putihnya; wa’adasihã = dan adasnya; wabashiliha = bawang merahnya; qōla = (Musa) berkata; atas-tabdilũna = maukah kamu mengganti; ladzĩ = yang; huwa = ia, sesuatu; adnã = lebih rendah; bi = dengan; al ladzĩ = sesuatu; huwa khoyrun = sesuatu yang lebih baik; ihbithũ = turunlah, pergilah; mishrōn = kota; fa = maka; inna = sesungguhnya; lakum = bagi kamu; mãsa altum = apa yang kamu minta; wa dhuribat = dan ditimpakan; ‘alaimu = atas mereka; adz dzil lãtu = kehinãn; wal maskanatu = dan kelemahan, kenistaan; wa bã’ũ = dan mereka kembali / mendapat; bi ghodhobim = dengan kemurkaan; minallah = dari Allah; dzalika = hal itu; bi = dengan, karena; annahum = sesungguhnya mereka; kaanũ = mereka adalah; yakfurũna = mereka mengingkari; bi ãyãtil lahi = pada ayat-ayat Allah; wayaqtulũna = dan mereka membunuh; an nabiy yĩna = para nabinya; bi = dengan; ghoiril haqqi = tanpa hak (tidak benar); dzalika = demikian itu; bimã = dengan apa; ‘ashōw = mereka durhaka; wa kaanũ = dan mereka adalah; ya’tadũna = mereka melampaui batas.

wa idzkultum yã Mũsã lan nushbiro ‘alã tho’amiw wãhidin fãd’ũlanã robbaka yukhrij lanã mimmã tumbitũl ‘ardhu mimbaqlihã wa qits tsa’ihã wa fũ mihã wa’adasihã wabashiliha, qōla atas tabdilũnal ladzĩ huwa adnã billadzĩ huwa khoyrun, ihbithũ mishrōn fa inna ikum mãsãltum wadhuribat ‘alaimudz dzil lãtu wal maskanatu wa bã’ũ bi ghodhobim minallah, dzalika bi annahum kaanũ yakfurũna bi ãyãtil lahi wayaqtulũnan nabiy yĩna bighoiril haqqi, dzalika bimã ‘ashōw wakaanũ ya’tadũn.

61. Allah mengingatkan, ketika kamu berkata: “Yã Musa, Aku tidak dapat sabar dengan satu makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk Aku kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Aku dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, mentimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh sesuatu yang kamu minta.” Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinãn, serta mereka mendapat murka dari Allah. Hal itu terjadi karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu terjadi, karena mereka selalu berbuat durhaka, dan melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia kalau sudah diberi rezeqi, selalu merasa tidak puas, dan ingin yang lainnya. Dalam ayat ini, Allah mengingatkan, kalaupun diberi jalan untuk mendapatkan apa yang dĩngininya, akan ada ujian kenistaan dan kehinãn yang akan dialaminya, karena keinginannya itu dapat berarti mengingkari ayat-ayat Allah. Oleh karena itu, manusia, makhluk-Nya jangan selalu menuntut apa yang dĩngininya melampaui batas yang ditetapkan Allah. Terimalah dengan sabar ketetapan Allah, agar hidupnya selamat. Upaya untuk mendapatkan sesuatu yang dĩngininya jangan sampai melampaui batas kewajaran. Ciri orang hina: banyak berbohong, banyak bersumpah, banyak meminta berbagai keperluan kepada makhluk. Ciri orang durhaka, suka membuat kerusakan; suka mencelakakan hamba Allah; tidak memperhatikan petunjuk-petunjuk jalan yang benar.
(lihat juga Q.s.Al Baqarah, 2: 40, 47, 50, 53, 108, 112, 122; Ali ‘Imran, 3: 21; Al A’rãf, 7: 57, 58

innaladzĩna = sesungguhnya orang-orang; ‘ãmanũ = (orang-orang) beriman; wal ladzĩna = dan sesungguhnya orang-orang; hãdũw = orang-orang Yahudi; wan nashorō = dan Nasrani; wash shobi’ĩna = dan orang- orang Shobi-in; man ãmana billãhi = adalah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah; wal yawmil ‘akhiri = dan hari akhir; wa ‘amila shōlihãn = dan berbuat kebaikan (beramal saleh); fa = maka; lahum = bagi mereka; ‘ajruhum = pahala atau ganjaran mereka; ‘inda robbihim = dari Penguasa mereka; wa lã = dan tidak ada; khaufun = kekhawatiran; ‘alayhim = bagi mereka; wa lã hum = dan mereka; yakhjanũn = tidak bersedih hati.

Innaladzĩna ‘ãmanũ wal ladzĩna hãdũw wan nashorō wash shobi’ĩna man ãmana billãhi wal yawmil ‘akhiri wa ‘amila shōlihãn fa lahum ‘ajruhum ‘inda robbihim, wa lã khaufun ‘alayhim wa lã hum yakhjanũn.

62. (Allah memberitahu): “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, orang-orang Shabi-in, siapa pun di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari akhir, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rab mereka, tidak ada kekhawatiran bagi mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Yahudi, Nasrani, Sabi’in (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi-nabi yang terdahulu) dan yang benar-benar beriman, artinya melakukan perintah dari Allah, melalui Alkitabnya yang menjelaskan tentang akan datangnya Utusan Allah yang bernama Muhammad saw., akan menerima pahala atau ganjaran kebaikannya dari Allah.
“beramal saleh” artinya menjalankan segala apa yang diperintahkan Allah yang bertujuan kebaikan, seperti mengucapkan basmalah saat mau mengerjakan pekerjaan tertentu yang baik, menolong orang yang memerlukan pertolongan, mengucapkan salam, berlaku dan berbicara sopan, menyisihkan duri di jalanan, dan lain-lain; dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, seperti berjudi, meminum sesuatu yang memabukkan, mencuri, membunuh tidak dengan hak, menipu, memalsu, berbohong.
Lihat juga ayat:

wa idz = dan ketika; ‘akhodznã = Aku mengambil; mitsãqokum = janji (perjanjian) dari kamu; wa rofa’nã = dan Aku angkatkan; fauqokum = di atasmu; thũra = gunung Thur; khudzũ = ambillah; mã = apa yang; ‘atainãkum = Aku berikan kepadamu; bi quwwatin = dengan teguh, kuat; wa adzkurũ = dan ingat; wa mã fĩhi = dan yang ada di dalamnya; la’alakum tattaqũn = agar kamu bertaqwa;

wa idz ‘akhodznã mitsãqokum wa rofa’nã fawqokumuth thũra khudzũ mã ‘atainãkum biquwwatiw wa adzkurũ wa mã fĩhi la’alakum tattaqũn.

63. Allah mengingatkan: “Ketika Aku mengambil janji dari kamu, dan Aku angkatkan Gunung Tursina di atasmu, dan Aku berfirman: ‘Peganglah teguh-teguh, apa yang Aku berikan kepadamu, dan ingat selalu, apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu membuat perjanjian dengan umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw.agar memegang teguh perjanjian itu, dan mengingat-ingat apa yang dipesankan di dalamnya, yaitu akan datang Utusan Allah dan pewarisnya dalam setiap zaman.

tsumma = kemudian, betul-betul; sungguh-sungguh; tawallaitum = kamu berpaling; mim ba’di = setelah itu; dzãlika = maka, demikian, itu; fa = maka; lau = jika; la fadhlul lãhi = karunia Allah; ‘alaykum = kepadamu, atasmu; warohmatuhu = dan rahmatku kepadamu; lakuntum = niscaya kamu (tergolong); minal khōsirĩn = dari yang merugi;

Tsumma tawallaitum mim ba’di dzãlika falau la fadhlul lãhi ‘alaykum warohmatuhu lakuntum minal khōsirĩn

64. “Kemudian kamu berpaling dari perjanjian itu, maka, kalau tidak ada karunia, dan rahmat-Ku kepadamu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang Nasrani, Yahudi, Sabi’in setelah kenabian Muhammad saw.yang tidak mau mengakuinya (berpaling dari perjanjian), berarti mereka tidak akan mendapat karunia dan rahmat dari Allah di akhirat nanti. Di dunia tetap mereka disayangi, dikasihi seperti makhluk-makhluk lainnya, sesuai dengan upayanya. Allah selalu memperingatkan orang Nasrani, Yahudi, Sabi’in yang tidak mempercayai Nabi Muhammad saw.yang sesungguhnya sudah dĩsyaratkan kedatangannya sebagai nabi itu di dalam Alkitabnya. Mereka selalu berkilah dengan berbagai alasan, dan mereka menolak kedatangan Nabi Muhamãd saw.karena merasa gengsinya terganggu.

wa laqod = dan sesungguhnya; ‘alimtumu = telah kamu ketahui tentang; al ladzĩna = hal itu (orang-orang yang); ‘atadau = (mereka) melampaui batas; minkum = di antara kamu; fis sabti = pada hari Sabtu; fa = maka; qulnã = Aku berfirman; lahum = kepada (bagi) mereka; kũnũ = jadilah kamu; qirodatan = monyet; khōsi’ĩn = dibenci/hina.

wa laqod ‘alimtumul ladzĩna ‘atadawaminkum fĩs sabti fa qulnã lahum kũnũ qirodatan khōsi’ĩn.

65. Sesungguhnya telah kamu (orang Yahudi) ketahui, orang-orang di antaramu yang melanggar pada hari Sabtu (hari beribadat orang Yahudi), lalu Aku berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam setiap umat selalu saja ada yang melanggar perjanjiannya dengan Allah. Allah selalu menghukum orang-orang yang demikian. Dalam ayat ini, Allah menjadikan mereka kera, bagi yang melanggar peribadatan hari Sabtu. Ayat ini, ada yang menafsirkan, mereka betul-betul menjadi kera yang tidak beranak, dan tidak dapat makan-minum, sehingga hidupnya hanya beberapa hari saja. Ahli tafsir lain mengatakan maksud kata “dijadikan kera” itu hanya berarti mempunyai sifat-sifat seperti kera, yaitu bodoh, tapi merasa dirinya pandai, rakus, tamak, selalu membuat pertengkaran, perselisihan di antara mereka sendiri, dan lain-lain sifat yang jelek dari kera.

fa = maka; ja’alnãhã = Aku jadikan dia; nakãlan = contoh/ peringatan; limã = bagi apa/demikian; baina = di antara; yadaihã = dua tangannya/masa itu; wa mã kholfahã = dan yang di belakangnya (kemudian); wamau’izhatan = dan pelajaran; li = kepada (bagi); al muttaqĩna = orang yang takwa.

faja’alnãhã nakãlal limã baina yadaihã wa mã kholfahã wamau’izhatal lil muttaqĩn

66. Maka Aku jadikan peristiwa itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi orang yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan bahwa peristiwa pada ayat 65 di atas menjadi peringatan bagi mereka sendiri pada masa itu, dan masa setelahnya, serta menjadi pelajaran bagi orang yang bertakwa kepada Allah pada waktu sekarang, atau masa yang akan datang.

wa ‘idzqōla = ketika berkata; Mũsã = Musa; li qaumihĩ = kepada kaumnya; innalllaha = sesungguhnya Allah; ya’murukum = Dia menyuruh kamu; antadzbahũ = hendaknya kamu menyembelih; al baqaratan = sapi betina; qōlũ = mereka bertanya; atattahidzuna = apakah kamu menjadikan Aku; hudzwãn = buah ejekan; qōla = (Musa) menjawab; a’ũdzu billãhi = aku berlindung kepada Allah; an akũna = bahwa aku menjadi; minal jãhilĩn = dari orang-orang yang bodoh.

wa ‘idzqōla Mũsã li qomihĩ innalllaha ya’murukum ‘intadzbahũ al baqaratan qōlũ atattahidzuna hudzwã qōla a’ũdzu billãhi an akũna minal jãhilĩn

67. Allah memberi peringatan, ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh engkau menyembelih seekor sapi betina. Mereka bertanya: “Apakah kamu hendak menjadikan Aku buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah, sekiranya aku menjadi salah seorang dari yang jahil.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada kisah tentang penyembelihan sapi betina yang menjadi dasar penamaan surat ini. Orang Yahudi pernah menyembah sapi. Hikmahnya suruhan Allah kepada kaumnya Musa adalah agar mereka tidak lagi menghormati, mengagungkan, menyembah sapi, tapi sebagai makhluk yang mengabdi kepada kepentingan hidup manusia. Kemudian dilukiskan pada ayat-ayat berikut ini kekeraskepalÃn umat Yahudi yang tidak mau percaya kepada perintah Allah itu, yang berarti juga mengingkarinya.
“orang yang jahil” artinya orang yang bodoh.
Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 40, 47, 50, 53, 60, 108, 122; Al A’raf, 7: 57, 58

qōlũ = mereka menjawab; ud’u = mohonkanlah; lanã = untuk Aku; robbãka = kepada Rob (Tuhan)-mu; yubayyin = agar Dia menerangkan; lanã = kepada Aku; mãhiya = yang manakah ia (sapi betina itu); qōla = (Musa) menjawab; innahu = sesungguhnya; yaqũlu = Dia (Allah) berfirman; innahã = bahwa ia; baqarotul = sapi betina itu; la fãridun = tidak tua; wa la bikrun = dan tidak muda; ‘awãnun = pertengahan; baina = di antara; dzalika = demikian itu; faf’alũ= maka kerjakanlah; ma = apa yang; tũ’marũn = diperintahkan kepadamu.

qōlũ ud’ulanã robbãka yubayyinallanã mãhiya, qōla innahu yaqũlu innahã baqarotul la fãridun wa la bikrun ‘awãn, baina dzalika fã af’alũ matũ’marũn.

68. Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Aku, sapi betina seperti apakah itu?” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah ber-firman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperitahkan kepadamu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan-pernyataan mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mau percaya kepada Allah dan pada perintah-Nya.
“Robbãka” artinya Tuhan kamu; menunjukkan bahwa mereka merasa tidak memiliki Rob.

qōlũ = mereka meminta penjelasan; ud’ulana = mohonkanlah untuk Aku; robbaka = Tuhanmu; yubayyin = agar Dia menerangkan; lanã = kepada (untuk) Aku; mã launuhã = apa warnanya; qōla = (Musa) menjawab (berkata); innahu = sesungguhnya dia (sapi itu); yaqũlu = Dia berfirman; innahã = bahwa ia (sapi betina); baqōrotun = sapi betina; shofrãu = kuning; fãqiul = sangat (kuning); launuhã = warnanya; tasurru = menyenangkan (menarik hati); annãzhirĩn = orang-orang yang memandang.

qōlũ ud’ulana robbaka yubayyinal lanã mã launuhã qōla innahu, yaqũlu innahã baqōrotun shofrãu fãqiul launuhã tasurrunnãzhirĩn.

69. Mereka masih meminta penjelasan: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Aku, agar Dia menerangkan kepada Aku, apakah warna sapi itu?” Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman, bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berulang-ulang Musa ditanya, dan berulang-ulang juga menjawabnya yang merupakan wahyu Allah yang harus disampaikan kepada kaumnya, itu merupakan ujian kesabaran bagi Musa untuk melayani umatnya yang meragukan kenabiannya.

qōlũ = mereka berkata (memohon); ud’ulanã = berdoalah untuk Aku; robbuka = (kepada) Tuhanmu; yubayyina = agar Dia menerangkan; al lanã = kepada Aku; mãhiya = yang manakah ia; innal baqoro = sapi betina itu; tasyãbaha = samar (tidak jelas); ‘alainã = bagi (atas) Aku; wa innã = dan sesungguhnya Aku; insyã’a = jika menghendaki; allahu = Allah; al muhtadũn = orang-orang yang sungguh mendapat petunjuk.

qōlũ ud’ulanã robbuka yubayyinal lanã mãhiya innal baqoro tasyãbaha ‘alainã wa innã insyã’allahul muhtadũn.

70. Mereka masih memohon: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu, untuk Aku agar Dia menerangkan kepada Aku bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya, sapi betina itu masih samar bagi Aku, dan sesungguhnya, insya Allah Aku akan mendapatkan petunjuk.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih pertanyaan tentang sapi betina itu.

kōla = dia (Musa) berkata; innahũ = sesungguhnya Dia (Allah); yaqũlu = Dia berfirman; innahã = sesungguhnya ia; baqaratun = sapi betina; lã dzalũlun = belum pernah dipakai; tutsĩru = membajak; al ardho = bumi, tanah; wa lã tasqĩ = dan tidak untuk mengairi; al hartsa = tanaman; musallamatun = sehat, tidak cacat; lã syiyata = tidak ada warna lain, tidak belang; fĩhã = padanya; qōlũ = (mereka) berkata; al ãna = sekarang; ji’ta = kamu telah menerangkan; bil haqqi = dengan jelas, benar; fadzabahũhã = maka mereka menyebelihnya; wa mã kaanũ = dan hampir tidak; yaf’alũn = mereka melaksanakan.

kōla innahũ yaqũlu innahã baqaratul lã dzalũlun tutsĩrul ardho walã tasqĩ al hartsa musallamatul lã syiyata fĩhã qōlũ al ãna ji’ta bil haqqi fadzabahũhã wa mã kaanũ yaf’alũn

71. Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak belang.’” Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakekat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian, mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah (menyembelih sapi betina) itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah” hal ini karena mereka susah, dan hampir tidak dapat menemukan sapi dengan syarat-syarat yang sudah ditentukan.

wa idz = dan ketika; qataltum = kamu membunuh; nafsan = seseorang; fãddãra’tum = maka/lalu kamu saling menuduh; fĩhã = tentang itu; wallãhu = dan Allah; mukhrijum = menyingkapkan; mã = apa yang; kuntum = kamu adalah; taktumũn = kamu sembunyikan.

wai dz qataltum nafsan fãddãra’tum fĩhã wallãhu mukhrijum mã kuntum taktumũn

72. Kemudian, Allah mengingatkan, ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pembunuhan manusia yang satu oleh yang lainnya itu merupakan rekayasa atau tipu-daya setan yang ingin menjebak manusia agar menjadi temannya, masuk neraka. Tuduh-menuduh juga menjadi rentetan dosa bagi manusia yang terjebak bujukan setan. Waspadalah!

faqulna = maka, lalu Aku berfirman; dribũhu = pukullah ia; bi ba’dhihã = dengan sebagiannya; kadzãlika = demikanlah; yuhyi = menghidupkan; llãhu = Allah; li mauta = dengan mati; wa yurĩkum = dan Dia memperlihatkan; ‘ayãtĩhĩ = tanda-tanda kekuasaan-Nya; la’alakum = agar kamu; ta’qilũn = kamu menggunakan akal (mengerti).

faqulna dribũhu bi ba’dhihã, kadzãlika yuhyi llãhu limauta wa yurĩkum ‘ayãtĩhĩ la’alakum ta’qilũn.

73. Aku berfiman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan -Nya, agar kamu mengerti.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perisiwa ini terjadi ketika ada seseorang dari kaum Bani Israil terbunuh, kemudian mereka tuduh-menuduh di antara sesamanya. Persoalan ini dibawa kepada Nabi Musa a.s.. Atas petunjuk Allah, Musa memerintahkan menyembelih sapi betina yang pernah menjadi sesembahan sebagaian kaumnya, seperti yang diceriterakan di atas, agar orang yang terbunuh itu, atas kehendak Allah, dapat hidup kembali setelah mayat dipukul dengan sebahagian anggota tubuh sapi betina yang disembelih itu, kemudian orang yang dihidupkan itu menerangkan, siapa yang membunuhnya. Hal ini bukan sihir karena hasil dari ilmu Allah.

tsumma = kemudian; qasat = menjadi keras; qulũbukum = hatimu; mim ba’di = dari / setelah itu; dzãlika = demikian; fahiya = maka ia (hatinya); kalhijãroti = seperti batu; au asyaddu = atau lebih; qoswatan = keras; wa = dan; inna = sungguh-sungguh; minal hijãrati = dari/di antara batu-batu; lamã = sungguh ada; yatafajjaru = memancar / mengalir; minhu = darinya; al anhãru = sungai-sungai; wa inna = dan sungguh-sungguh; minhã = darinya; lamã = sungguh-sungguh; yasysyaqqoqu = terbelah; fayakhruju = maka, lalu; min hu = darinya; al ma‘u = air; wa inna = dan sungguh; minhã = darinya; lamã = sungguh ada; yahbithu = meluncur, jatuh; min khasyyat = karena takut kepada; illahi = Allah; wa mãllahu = dan tidaklah Allah; bi ghōfilin = dengan lalai / lengah; ammã = dari apa; ta’malũna = kamu kerjakan

tsumma qasat qulũbukum min ba’di dzãlika fahiya kalkhijãroti au asyaddu qoswatan wa inna minal hijãrati lamã yatafajjaru minhul anhãru wa inna minhã lamã yasysyaqqoqu fayakhruju min hulmã’u, wa inna minhã lamã yahbithu min khasyyatillahi wamãllahu bi ghōfilin ammã ta’malũna

74. Kemudian setelah itu, hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu ada yang mengeluarkan air bagaikan sungai, dan di antaranya ada yang terbelah lalu keluar mata air dari dalamnya, dan di antaranya ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah. Sesungguhnya, Allah tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat-ayat di atas menceriterakan kaum Bani Israil yang selalu menganggap Alqur’an itu bukan wahyu dari Allah. Berikut ini juga sebuah ayat yang mengungkapkan sulitnya orang Yahudi mempercayai Nabi Muhammad saw.itu adalah Nabi yang sudah tertulis di dalam Tauratnya. Jadi, mereka sesungguhnya tidak menjalankan perintah, seperti apa yang tersurat dalam Tauratnya. Kalimat “Allah tidak lengah dengan apa yang kamu kerjakan” sering terulang pada ayat-ayat lainnya, dalam berbagai variasi situasi dan kondisinya, yaitu ayat 85, 140, 144, 149.
Di sini Allah membuat perumpamaan batu, dipersamakan dengan hati orang. Hati orang yang keras itu, secara secara kasat mata ada yang mengeluarkan sesuatu yang berguna dalam kehidupan di dunia. Ada pula yang mengalami perubahan, menjadi beriman kepada Allah, takut kepada Allah dan bertobat.

afatathma’ũna = apakah kamu mengharapkan; an yu’minũ = mereka akan percaya; lakum = kepadamu; wa qod kaana = dan sungguh adalah; farĩqum = segolongan; minhum = dari mereka; yasmaũna = mereka mendengarkan; kalãmallahi = firman Allah; tsumma = kemudian; yuharrifũnahu = mereka mengubahnya; mimba’di = dari sebelumnya; mã ‘aqalũhu = mereka memahaminya; wa hum = dan mereka; ya’lamũn = mereka mengetahui.

afatathma’ũna an yu’minũ lakum wa qod kaana farĩqum minhum yasmaũna kalãmal lahi tsumma yuharrifũnah, mimba’di mã ‘aqalũhu wa hum ya’lamũn.

75. Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka sudah mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw.dan para pengikutnya sampai akhir zaman, bahwa mereka (orang Yahudi, Kristen, Sabi’in) tidak akan mengikuti ajaran Agama Islam, kecuali bila mereka mempunyai kemauan sendiri atas dasar apa yang sudah diketahuinya, dengan tidak ditutup-tutupi atau disembunyikan. Mengubah firman Allah tidak diperkenankan.

wa = dan; idzã = bila; laqu = mereka berjumpa; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = mereka beriman; qōlũ = mereka berkata; ãmannã = Aku telah beriman; wa = dan; idzã = bila; khalã = berkumpul / berada; ba’dhuhum = sebagian mereka; ilã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; ba’dhin = sebagian yang lain; qōlũ = mereka berkata; atuhadditsũnahum = apakah kamu menceriterakan kepada mereka; bi mã = dengan apa; fataha = menerangkan; al lãhu = Allah; ‘alaykum = kepadamu; liyuhãjũ kum = supaya mereka mengalahkan hujahmu; bihĩ = dengannya; ‘inda = di hadapan; robbikum = Robmu; afalã = maka apakah tidak; ta’qilũn = kamu mengerti

wa idzã laqul ladzĩna ãmanũ qōlũ ãmannã, wa idzã khalã ba’dhuhum ilã ba’dhin, qōlũ atuhadditsũnahum bi mã fatahal lãhu ‘alaykum liyuhãjũ kum bihĩ ‘inda robbikum afalã ta’qilũn

76. Apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Aku pun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada di antara sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceriterakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian, mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ternyata memang ada firman Allah di dalam Taurat, yang menjelaskan tentang kenabian Muhammad saw.. Di antara kaum Yahudi sendiri, ada perselisihan paham untuk pengakuannya, sehingga kerasulan Nabi Muhammad saw.itu tetap ditutup-tutupi atau dirahasiakan, karena menyangkut harga diri mereka. Dalam hal ini, Allah berfirman sebagai berikut:

awalã = apakah / tidakkah; ya’lamũna = mereka mengetahui; annal lãha = sesunggunya Allah; ya’lamu = mengetahui; mã = apa yang; yusirrũna = mereka rahasiakan; wa mã = dan apa; yu’linũn = mereka nyatakan

awalã ya’lamũna annal lãha ya’lamu mã yusirrũna wa mã yu’linũn.

77. Tidakkah mereka mengetahui, sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga Q.s. al Baqarah, 2: 33.

wa minhum = dan di antara mereka; ummiyyũna = mereka buta huruf; lã = tidak; ya’lamũna = mereka mengetahui; al kitãba = kitab; illã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; amaaniyya = angan-angan, dongengan; wa inhum = dan tidaklah mereka; illã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; yazhunnũna = mereka menduga-duga.

wa minhum ummiyyũna lã ya’lamũna al kitãba ilã amaaniyya wa inhum illã yazhunnũna

78. Di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Alkitab (Taurat), kecuali apa yang didongengkan, sehingga mereka hanya menduga-duga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bangsa Yahudi banyak yang tidak dapat membaca dan menulis Alkitabnya (Taurat) sendiri. Mereka hanya mendengar dari ceritera, dongeng para pendetanya saja, akhirnya mereka hanya menduga-duga saja tentang kerasulan Nabi Muhammad saw.. Ummi ada yang mengartikan kelompok orang yang tidak diberi Alkitab.

fa wailul = maka kecelakaanlah; lilladzĩna = bagi orang yang; yaktubũna = mereka menulis; al kitãba = Alkitab; bi aidĩhim = dengan tangan mereka; tsummã = kemudian, lalu; yaqũlũna = mereka mengatakan; hãdzã = ini; min = dari; ‘indillahi = sisi Allah; liyasytarũ = karena mereka hendak menukar; bihĩ = dengannya; tsamanan = harga; qolĩlan = sedikit, kecil; fa wailul = maka kecelakaanlah; lahum = bagi mereka; mimmã = dari apa yang; katabat = menulis; aidĩhim = tangan mereka; wa wailul = dan kecelakaanlah; lahum = bagi mereka; mimmã = dari apa yang; yaksibũn = mereka kerjakan.

fa wailul lilladzĩna yaktubũnal kitãba bi aidĩhim tsummã yaqũlũna hãdzã min ‘indillahi liyasytarũ bihĩ tsamanan qolĩlan fa wailul lahum mimmã katabat aidĩhim wa wailul lahum mimmã yaksibũn.

79. Maka kecelakaanbesarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah.” (dengan maksud) ingin mendapat keuntungan sedikit dengan perbuatannya itu. Maka kecelakaanbesarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka tulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaanbesarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah: ”Celakalah bagi orang yang menulis, mengarang Alkitab tanpa dasar yang berakar kepada wahyu Allah. Tulisan mereka mengakibatkan terjadi bermacam-macam peristiwa yang menyusahkan hidupnya di dunia. Di akhirat nanti mereka akan dimintai pertanggungjawabannya. Orang celaka, cirinya memperoleh makanan dari sumber yang haram; menjauh dari orang berilmu; salat fardunya selalu munfarid, tidak berjamãh.

wa qōlũ = dan mereka berkata; lantamassana = tidak akan menyentuh Aku; an naru = api, neraka; illã = kecuali, selain, melainkan; ayyãmam = beberapa hari; ma’dũdatan = tertentu; qul = katakanlah; attakhadztum = sudahkah kamu mengambil; ‘indallahi = di sisi Allah; ‘ahdan = janji; falan yukhlifa = maka / sehingga tidak memungkiri; allahu = Allah; ‘ahdahũ = janji-Nya; am taqũlũna = atau kamu mengatakan; ‘ala allahi = atas / terhadap Allah; mã lã = apa yang tidak; ta’ lamũna = kamu ketahui.

waqōlũ lantamassanannaru illã ayyãmam ma’dũdatan qul attakhadztum ‘indallahi ‘ahdan falan yukhlifa allahu ‘ahdahũ am taqũlũna ‘ala allahi mã lã ta’ lamũna.

80. Mereka berkata: “Aku tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali hanya beberapa hari saja.” Katakanlah wahai Muhammad: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah, sehingga Allah tidak mengingkari janji-Nya, atau kamu hanya mengatakan kepada Allah, apa yang tidak kamu ketahui?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Ali ‘ImrÃn, 3: 24.
Janji Allah agar manusia mengakui keberadaan Allah, mengakui para Nabi Utusan Allah, khususnya Nabi Muhammad saw.dan agar melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.

balã = ya, bukan begitu; man = barang siapa; kasaba = berbuat; sayyiatan = kejahatan / dosa; wa ahãthat = dan meliputi; bihĩ = dengannya; khathĩatuhũ = kesalahannya / dosanya; fa ũlãika = maka mereka itulah; ash hãbun nãr = penghuni neraka; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.

balã man kasaba sayyiatan wa ahãthat bihĩ khathĩatuhũ faũlãika ash hãbun nãr, hum fĩhã khōlidũn.

81. Bukan begitu, yang benar, barang siapa berbuat dosa, dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan dosa itu antara lain salah menuliskan Alkitabnya, mengubah kata, kelompok kata, kalimat, wacana tidak sesuai dengan apa yang sudah dijanjikan Allah.

walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa amilushōlihãti = dan mereka beramal saleh; ũlãika = mereka itu; ash habul jannati = penghuni surga; hum fĩhã = mereka di dalamnya ; khōlidũn = mereka kekal

walladzĩna ãmanũ wa amilushōlihãti ũlãika ash-habul jannati hum fĩhã khōlidũn

82. Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beramal saleh tapi tidak beriman bahwa Nabi Muhammad saw.itu Rasulullah, mereka tidak menjadi penghuni surga, karena mereka tidak mengikuti sunah-sunahnya.
Lihat juga: Q.s. Al Baqarah, 2: 25,103; Ali ‘ImrÃn: 3: 57, An Nisã’ 4: 122.).

wa idz = dan ketika; akhadznã = Aku mengambil; mĩtsãqo = janji; banĩ isrãĩla = keturunan Israil; lã ta’budũna = kamu jangan mengabdi; illãllaha = selain Allah; wa bil wãlidaini = dan kepada kedua orang tua; ihsaanan = (berbuat) kebaikan; wa dzil qurbã = dan dengan kerabat dekat; wal yatãma = dan anak-anak yatim; wal masãkĩni = dan orang-orang miskin; wa kũlũ = dan ucapkan (kata-kata); linnãsi = dan kepada manusia; husnan = baik; wa aqĩmũsh sholãta = dan dirikanlah salat; wa ãtũ = tunaikanlah; az zakãta = zakat; tsumma = kemudian; tawallaitum = kamu berpaling (tidak menepati janji); illã = kecuali; qolĩlan = sedikit (sebagian kecil); minkum = dari kamu; wa antum = dan kamu (adalah); mu’ridhũn = orang-orang yang berpaling.

wa idz akhadznã mĩtsãqo banĩ isrãĩla lã ta’budũna illãllaha wa bil wãlidaini ikhsaanan wa dzil qurbã wal yatãma wal masãkĩni wa kũlũl linnãsi khusnan wa aqĩmũsholãta wa ãtũzzakãta tsumma tawallaitum illã qolĩlan minkum wa antum mu’ridhũn.

83. Dan ketika Aku mengambil janji keturunan Israil, “Kamu jangan mengabdi selain Allah, dan kepada kedua orang tua (berbuat) kebaikan, dan dengan kerabat dekat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan ucapkan (kata-kata), dan kepada manusia baik, dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat”, kemudian kamu berpaling (tidak menepati janji), kecuali sedikit (sebagian kecil) dari kamu, dan kamu (adalah) orang-orang yang berpaling.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ternyata keturunan Israil itu banyak yang tidak menepati janji itu, kecuali sebagian kecil dari mereka, dan mereka selalu berpaling. Peringatan kepada Bani Israil ini berlaku juga untuk Umat Islam. Berbuat baik kepada ibu-bapak, lihat Q.s. Al Isrã’, 17 : 23. Salat di sini berarti peribadatan, pengabdian yang berhubungan dengan Allah sesuai dengan yang disunahkan Nabi masing-masing. Setelah Muhammad saw.dinuzulkan sebagai Nabi dan Rasulullah, maka salat yang disunahkan oleh Nabi Muhammad saw.itulah yang harus dijalankan, bukan peribadatan yang dilakukan oleh Nabi-nabi sebelumnya. Mereka harus menyesuaikan dengan peribadatan yang disunahkan oleh Nabi Muhammad. Kalau tidak menyesuaikannya, maka mereka dianggap kafir. Mereka tidak dapat mencapai surga. Hal ini sudah diperingatkan secara berulang-ulang dalam Alqur’an.

wa idz = dan ketika; akhodzna = Aku mengambil; mĩtsãqokum = janji dari kamu; la tasfikũna = kamu tidak menumpahkan; dimã akum = darah kamu; wa lã tukhrijũna = kamu tidak mengeluarkan (mengusir); anfusakum = dirimu; min diyãrikum = dari rumah (kampung halaman)-mu; tsumma = kemudian; aqrortum = kamu berikrar; wa antum tasyhadũna = dan kamu menyaksikan.

wa idz akhodzna mĩtsãqokum la tasfikũna dimã akum wa lã tukhrijũna anfusakum min diyãrikum tsumma aqrortum wa antum tasyhadũna.

84. Dan ingatlah, ketika Aku mengambil janji dari kamu: “Kamu tidak akan menumpahkan darah (membunuh manusia), dan kamu tidak akan mengusir bangsamu (saudaramu) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar akan memenuhinya, sedang kamu mempersaksikannya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perjanjian ini sering dilanggar oleh umat manusia yang lemah imannya, tergoda oleh bujukan setan.

tsumma = kemudian; antum = kamu; hãulã i = ini (Bani Israil); taqtulũna = kamu membunuh; anfusakum = dirimu; watuhrijũna = dan kamu mengusir; farĩqon = segolongan; min kum = dari kamu; min diyãrihim = dari rumah (kampung halaman) mereka; tazhōharũna = kamu bantu-membantu; alaihim = atas mereka; bil itsmi = dengan dosa; wal ‘udwãni = dan permusuhan; wa in = dan jika; ya’tũkum = mereka datang kepadamu; usãrã = (sebagai) tawanan; tufãdũhum = kamu tebus mereka; wa huwa = dan itu; mukharamun = terlarang; ‘alaykum = bagimu; ikhrōjuhum = pengusiran mereka; afatu’minũna = apakah kamu beriman; bi ba’dhi = sebagian; al kitãbi = Alkitab; wa takfurũna = dan kamu ingkar; bi ba’dhin = dengan sebagian; famã = maka tidak; jadzã-u = balasan; man = orang; yaf’alu = berbuat; dzalika = demikian; minkum = dari kamu; illã = kecuali/melainkan; khizyun = kenistaan; fil hayãti = dalam kehidupan; addun-yã = dunia; wa yawma = dan pada hari al qiyamati = kiamat; yurōddũna = mereka dikembalikan; ilã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; asyaddi = sangat keras/berat; al ‘adzãbi = siksa; wa mal lãhu = dan tidaklah Allah; bi ghōfilin = dengan lengah; ammã = dari apa; ta’malũn = kamu perbuat.

tsumma antum hãulã i taqtulũna anfusakum watuhrijũna farĩqon min kum min diyãrihim tazhōharũna alaihim bil itsmi wal ‘udwãni wa inya’tũkum usãrã tufãdũhum wa huwa mukharamun ‘alaykum ikhrōjuhum afatu’minũna bi ba’dhil kitãbi wa takfurũna bi ba’din famã jadzãu man yaf’alu dzalika minkum illã khizyun fil hayãtiddun-yã wa yawmal qiyamati yurōddũna ilã asyaddil ‘adzãbi, wa mal lãhu bi ghōfilin ammã ta’malũn.

85. Ternyata, kamu membunuh bangsamu, dan mengusir segolongan dari kamu dari kampung halamannya, kamu saling membantu terhadap mereka dalam berbuat dosa dan permusuhan, tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu juga terlarang bagimu. Apakah kamu beriman pada sebagian Alkitab (Taurat) dan ingkar pada sebagian yang lain? Tiada balasan bagi orang yang berbuat demikian dari kamu, selain kenistaan dalam kehidupan dunia; dan pada hari kiamat, kamu dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini untuk orang-orang Yahudi di Madinah pada masa permulÃn Hijrah. Hal ini berlaku dewasa ini di berbagai tempat di dunia ini. Setan dan orang-orang yang lemah imannya kepada Allah, dan orang-orang yang tidak menggunakan pikirannya dengan baik berperan sampai terjadinya peristiwa-peristiwa itu.
Hari kiamat adalah hari berakhirnya kehidupan di dunia, berproses menuju kehidupan akhirat yang kekal, abadi.

ulãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; asytarowu = (mereka) membeli; al hayãta = kehidupan; addun-yã = dunia; bil ãkhiroh(ti) = dengan akhirat; falã = maka tidak; yukhaffafu = diringankan; ‘anhumu = dari mereka; al adzabu = siksa; wa la hum = dan mereka tidak; yunshorũn = mereka ditolong.

ulãikal ladzĩnasytarowul hayãtad dun-yã bil ãkhiroh(ti), falã yukhaffafu ‘anhumu al adzabu wa la hum yunshorũn

86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka, dan mereka tidak akan ditolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini ditujukan kepada umat-umat sebelum datangnya Nabi Muhammad saw.. Peringatan ini berlaku juga bagi Umat Islam yang tidak melaksanakan perintah dan menjauhi larangan yang ada di dalam Alqur’an. Berikut ini kisah Umat Kristen

wa laqod = dan sesungguhnya; ãtainã = telah Aku datangkan; mũsã = Musa; al kitãba = Alkitab wa qaffainã = dan Aku susulkan; mim ba’dihĩ = dari sesudahnya; birrusuli = dengan Rosul-rosul; wa ãtainã = dan Aku datangkan; ĩsab na maryama = Isa anak Maryam; al bayyinati = bukti-bukti kebenaran; wa ayyadnãhu = dan dia Aku perkuat; birũhill qudusi = dengan Ruh Kudus (Jibril); afakullamã = apakah setiap; jã akum = datang kepadamu; rosũlan = seorang Rasul; bimã = dengan apa; lã = tidak; tahwã = mengingini; anfusukumu = dirimu; as takbartum = kamu menyombongkan diri; fa = maka; farĩqon = beberapa golongan; kadzdzabtum = kamu mendustakan; wa farĩqon = dan beberapa golongan; taqtulũn = kamu bunuh.

wa laqod ãtainã mũsãl kitãba wa qaffainã mim ba’dihĩ birrusuli wa ãtainã ĩsab na maryamal bayyinati wa ayyadnãhu birũhill qudusi afakullamã jã akum rosũlan bimã lã tahwã anfusukumus takbartum fafarĩqon kadzdzabtum wa farĩqon taqtulũn

87. Sesungguhnya, Aku telah menurunkan Alkitab (Taurat) kepada Musa, dan Aku telah menyusulkannya berturut-turut sesudah itu rasul-rasul, dan telah Aku berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putra Maryam, dan Aku memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu pelajaran yang tidak sesuai dengan keinginanmu, lalu kamu angkuh; maka beberapa di antara mereka kamu dustakan, dan beberapa orang yang lainnya, kamu bunuh?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelahiran Nabi Isa itu peristiwa yang luar biasa. Ibunda Maryam melahirkan tanpa bapak, dan Allah berkuasa untuk terjadinya peristiwa mukjizat itu dengan meniupkan Ruhul Qudus melalui Jibril. Isa bukan anak Allah, dan bukan Ruhul Qudus, tapi makhluk Allah yang diciptakan dan dilahirkan secara luar biasa, dan dijadikan Allah Rasul-Nya. Lihat ayat 253. Selanjutnya lihat juga Q.s.Ali Imran, 3:37 – 58; An Nisã’, 4:15, 73, dst.; Al Mãidah, 5:15 dst.; At Taubah, 9:31, dst.; Maryam, 19: 16 dst.
Orang yang beragama Kristen, entah mulai kapan, sampai dewasa ini, mereka sangat membesar-besarkan ungkapan Nabi Isa alaihis salam (a.s.), dan menganggap menjadi anak Allah. Ada ungkapan Allah Bapak di surga, dan Allah Putra (Tuhan Yesus yang sudah di surga), Allah Roh Kudus (Tuhan yang menyertai hidup manusia sampai sekarang: Alkitab; Perjanjian Baru). Ini hasil pemikiran (filsafat) yang tidak benar.
Angkuh adalah sifat dan sikap orang-orang yang tidak beriman atau yang lemah imannya pada apa yang diperbuat Allah. Mereka menganggap dusta dan menyangkal berbagai peristiwa yang tidak masuk akal (maksudnya: peristiwa gaib), dan mereka membunuh beberapa orang Nabiyullah, termasuk Nabi Isa a.s.. Istilah lain sombong karena telah memiliki harta banyak, pangkat dan derajat tinggi, ilmu tinggi, dan kekuasaan, kekuatan dengan jalan yang tidak disukai makhluk lain; sombong tidak mengakui atau menolak atau ingkar pada perintah Allah, melupa-lupakan amanat Allah, dan menolak kebenaran, tidak merasakan kekurangan, kebodohannya; tidak mengakui kekhilafannya. Mereka menganggap dusta dan memperolok-olokkan kebenaran ayat-ayat Allah, Oleh karena pilihan hidupnya demikian, mereka dikutuk Allah akan menjadi penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

wa kōlũ = dan mereka berkata; qulũbunã = hatiku; ghulfun = tertutup; bal = tetapi; la’anahumu = mengutuk mereka; ullahu = Allah; bikufrihim = dengan kekafiran mereka; fa qolĩlan = maka sedikit; mã yu’minũn = mereka yang beriman.
wa kōlũ qulũbunã ghulfun, bal la’anahum ullahu bikufrihim fa qolĩlam mã yu’minũn.
88. Dan mereka berkata: “Hatiku tertutup”. Tapi sebenarnya, Allah telah mengutuk mereka, karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali, mereka yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “qulũbunã ghulfun” orang-orang yang ingkar pada perintah Allah, dan melakukan apa yang dilarang Allah, hati mereka memang sudah ditutup Allah untuk tidak mendengar dan tidak merasakan adanya ajakan Allah ke arah cara kehidupan yang lebih baik di dunia atau nanti di akhirat. Dengan mulut mereka sendiri, akhirnya mereka berucap: ”hatiku tertutup.” Hanya sedikit yang hatinya terbuka untuk dapat mendengar seruan pembaruan atas Kitab-kitab mereka yang sudah banyak mengalami perubahan dari aslinya.

wa lamma = dan setelah; jã ahum = datang kepada mereka; kitãbum = kitab; min ‘indil lahi = dari sisi Allah; mushoddiqun = membenarkan; limã = terhadap apa; ma’ahum = bersama mereka / ada pada mereka; wa kaanũ = dan mereka; min qoblu = dari semula (sebelum itu); yas taftikhũna = mereka menuntut kemenangan; ‘alal ladzĩna = atas orang-orang yang; kafarũ = kafir; falammã = maka setelah; ja ahum = datang kepada mereka; mã ‘arafũ = apa yang mereka ketahui; kafarum = mereka ingkar; bih = dengannya / kepadanya; fala’nat = maka kutukan (laknat); ullahi = Allah; ‘alal kafirĩn = atas (kepada) orang-orang yang ingkar.

wa lamma jã ahum kitãbum min ‘indil lahi mushoddiqul limã ma’ahum, wa kaanũ min qoblu yas taftikhũna ‘alal ladzĩna kafarũ, falammã ja ahum mã ‘arafũ kafarum bih, fala’natul lahi ‘alal kafirĩn.

89. Setelah datang kepada mereka Alqur’an dari Allah yang membenarkan, apa yang ada pada Tauratnya, padahal sebelumnya, mereka biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapat kemenangan terhadap orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang sudah mereka ketahui, mereka malah ingkar kepadanya, Maka laknat Allahlah atas orang-orang yang ingkar itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kedatangan Nabi Muhammad Rasulullah saw.itu sesungguhnya sudah tersurat sifat-sifatnya dalam Taurat, demikian juga dalam Injil, namun setelah kedatangan beliau, ternyata mereka malah menolak, ingkar. Ini karena ada bisikan setan yang selalu menggoda manusia agar ingkar atas apa yang ditetapkan Allah. Sebagian manusia akan menjadi musuh bagi yang lain. Untuk menghindari permusuhan ini, semuanya harus melalui jalan yang ditunjukkan Allah melalui sunnah Nabi Muhammad saw.. Hal seperti ini, Allah Sendiri sudah mengatahui, tidak mungkin. Manusia tinggal memilih, mana yang terbaik untuk dirinya. Lihat juga ayat 159, orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas dalam Alkitabnya; ayat 161 orang yang mendapat laknat karena kafir, dan mati dalam keadaan kafir.

bi’samasy = alangkah buruknya; as tarau = mereka menjual; bihĩ = dengannya; anfusahum = diri mereka; ay yakfurũ = bahwa mereka kafir; bimã = dengan / kepada apa; andzala = menurunkan; allahu = Allah; baghyaan= (karena) dengki; ay yunadzdzila = bahwa menurunkan; allahu = Allah; min fadhlihi = dari karunia-Nya; ‘alã man = kepada siapa; yasyã u = Dia kehendaki; min ‘ibadihi = dari hamba-hambanya; fabã ũ = maka mereka kembali mendapatkan; bighadabin = dengan kemurkaan; alã ghadhabin = atas kemurkaan; wa lil kãfirĩna = dan bagi orang kafir; ‘adzabum = siksa, ajab; muhĩn = yang menghinakan

bi’samasy tarau bihĩ, anfusahum ay yakfurũ bimã andzalal lahu baghyaanay yunadzdzilal allahu min fadhlihi, ‘alã man yasyã u min ‘ibadihi, fabã ũ bighadabin alã ghadhabin, wa lil kãfirĩna ‘adzabum muhĩn.

90. Alangkah buruknya hasil perbuatan mereka, yang menjual dirinya dengan kekafiran kepada apa yang diturunkan Allah, karena iri. Allah menurunkan karunia kepada siapa yang dikehendaki (kepada Nabi Muhammad saw.) di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu, mereka mendapat murka yang bertubi-tubi. Dan bagi orang-orang kafir mendapatkan siksaan yang menghinakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menurunkan karunia” maksudnya menurunkan wahyu kenabian kepada Muhammad saw.. Allah menawarkan hal yang lebih baik, agar hidup manusia lebih tenang, tenteram, damai, bahagia, sejahtera, namun banyak manusia yang menolaknya, maka “mereka mendapat murka yang bertubi-tubi’ karena mereka tidak mau beriman pada kedatangan Nabi Muhammad saw., menganggap bohong dan membunuh para Nabi yang terdahulu, mengubah-ubah, menutup-nutupi isi Alkitabnya.
Lihat: Q.s. Al Baqarah, 2: 112; Ali ‘Imran, 3: 21

wa idzã = dan apabila; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; ãminũ = berimanlah kamu; bimã = kepada apa; andzalallahu = yang diturunkan Allah; qōlũ = mereka berkata; nu’minu = Aku beriman; bimã = kepada apa; undzila = diturunkan; ‘alainã = kepada Aku; wa yakfurũna = dan mereka kafir; bimã = kepada apa (Alqur’an); warōahu = sesudahnya; wa huwa = dan ia; haqqu = hak, benar; mushoddiqon = membenarkan; li = terhadap; mã = apa; ma’ahum = yang ada pada mereka; qul = katakanlah; falima = maka mengapa; taqtulũna = kamu membunuh; ambiyã-a = nabi-nabi; allahu = Allah; min qoblu = dari yang dahulu; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

wa idzã qĩla lahum ãminũ bimã andzalallahu qōlũ nu’minu bimã undzila ‘alainã wa yakfurũna bimã warōahu, wa huwal haqqu mushoddiqol limã ma’ahum qul falima taqtulũna ambiyã allahu min qoblu inkuntum mu’minĩn.

91. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Alqur’an yang diturunkan Allah.” Mereka berkata: “Aku hanya beriman kepada apa yang sudah diturunkan kepada Aku.” Karenanya, mereka menjadi kafir kepada Alqur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Alqur’an itu adalah Kitab yang haq; yang membenarkan, apa yang ada pada mereka. Katakanlah (tanyakanlah), ya Muhammad: “Mengapa kamu dahulu membunuh Nabi-nabi Allah, jika benar-benar kamu orang-orang yang beriman?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Itulah peringatan Allah kepada kaum Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in. Berikut ini cerita tentang bangsa Yahudi yang sempat menyembah patung anak sapi karena kefasikannya.

walaqod = dan sesungguhnya; jã akum = datang kepadamu; mũsã = Musa; bil bayyinãti = dengan kebenaran-kebenaran; tsumma = kemudian; atakhadz tumu = kamu jadikan; al‘ijla = anak sapi; mim ba’dihi = dari sesudahnya (sejak kepergiannya); wa antum = dan kamu; zhōlimũn = orang-orang lalim.

walaqod jã akum mũsã bil bayyinãti tsumma atakhadz tsummat takhadz tumul ‘ijla mim ba’dihi wa antum zhōlimũn.

92. Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepadamu. Kemudian, kamu jadikan anak sapi menjadi sesembahan sesudah kepergiannya, sebenarnyalah kamu orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa ini terjadi saat Nabi Musa a.s. pergi ke Bukit Tursina di Sinai untuk menerima mukjizat-mukjizat. Manusia yang fasik selalu melanggar peraturan, apa yang sudah diberitahukan tentang yang benar dan yang salah.
“kamu orang yang lalim” karena menyembah patung anak sapi.

wa-idz = dan ketika; akhodznã = Aku mengmbil; mĩtsãqokum = janji dari kamu; wa rofa’nã = dan Aku angkat; fauqokum = di atasmu; uth thũra = Bukit Thur; khudzũ = ambillah (peganglah); mã = apa yang; ãtainãkum = Aku berikan kepadamu; bi quwwatin = dengan kuat; wasma’ũ = dan dengarkanlah; kōlũ = mereka berkata; sami’nã = Aku mendengar; wa’ashoinã = dan Aku tidak taat (ingkar); wa ‘usyribũ = dan diminumkan; fĩ qulũbihimu = dalam hati mereka; al‘ijla = anak sapi; bi kufrihim = karena kekafiran mereka; qul = katakanlah; bi’samã = amat jahat; ya’murukum = memerintahkan kepadamu; bihi = dengannya; ĩmaanukum = imanmu; in kuntum = jika kamu adalah; mu’minin = orang-orang yang beriman.

waidz akhodznã mĩtsãqokum wa rofa’nã fauqokumuth thũra khudzũ mã ãtainãkum bi quwwatin wasma’ũ, kōlũ sami’nã wa’ashoinã, wa ‘usyribũ fĩ qulũbihimul ‘ijla bi kufrihim, qul bi’samã ya’murukum bihi ĩmaanukum in kuntum mu’minin

93. Dan ingatlah ketika Aku mengambil janji dari kamu, dan Aku angkat Bukit Tursina di atasmu, seraya Aku berfirman: “Peganglah teguh apa yang telah Aku berikan, dan dengarkanlah.” Mereka menjawab, “Aku mendengarkan tapi tidak menãtinya.” Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu kecintaan menyembah anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah ya Muhammad: “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imammu kepadamu, jika betul kamu beriman kepada Taurat.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan jahat yang dilakukan mereka karena keimanannya yang salah adalah menyembah patung anak sapi, mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya, membunuh nabi-nabi, dan melanggar janji.

qul = katakanlah; inkanat = kalau ada; lakumu = untukmu; addarul = rumah (kampung); ãkhirat = akhirat; indallahi = di sisi Allah; khãlishotam = khusus; mindũni = dari selain (bukan); nãsi = manusia; fatamannawu = maka harapkanlah (inginilah); mauta = kematian; inkuntum = jika kamu adalah; shodiqĩn = orang-orang yang benar.

qul inkanat lakumu addarul ãkhirat indallahi khãlishotam mindũnin nãsi fatamannawu mauta inkuntum shodiqĩn

94. Katakanlah: “Jika kamu menganggap bahwa kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematianmu, jika kamu memang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah, melalui Nabi Muhammad menantang orang-orang yang menganggap surga itu hanya bagi mereka yang menentang Musa a.s., dan umat sebelum Nabi Muhammad saw.. Justru mereka tidak akan masuk surga karena mereka tidak beriman kepada para Nabi dan terakhir kepada Nabi Muhammad saw.. Lihat juga ayat 38, 62, 111.

walan = dan tidak; yatamannauhu = mereka mengharapkan (menginginkan); abadan = selama-lamanya; bimã = dengan apa (kesalahan); qoddamat = telah lebih dahulu; aidihim = tangan-tangan mereka; wallahu = dan Allah; alĩmun = Maha Mengetahui; bizh zhōlimĩn = (terhadap orang-orang) yang lalim.
walan yatamannauhu abadam bimã qoddamat aidihim wallahu alĩmum bizh zhōlimĩn.
95. Dan sekali pun mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka sendiri. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau tahu bahwa mereka salah dalam mengimani Allah dan Rasulnya, mereka pasti tidak akan mengingini kematian.

wala tajidannahum = dan sungguh kamu mendapati kamu; ahrashan = seloba-loba; nãsi = manusia; ‘alã hayãtin = atas (terhadap) kehidupan; waminal ladzĩna = dan dari orang-orang yang; asyrokũ = musyrik; yawaddu = menginginkan; ahaduhum = masing-masing mereka; lau yu’ammaru = sekiranya diberi umur; alfa sanatin = seribu tahun; wama huwa = dan tidaklah dia; bi muzahzihihi = dengan melepaskannya; min = dari; al adzãbi = azab; ayyu’ammara = dipanjangkan umur; wallahu = dan Allah; bashirun = Maha melihat/mengetahui; bimã = dengan apa; ya’malũn = (yang) mereka lakukan (kerjakan)

wala tajidannahum ahrashan nãsi ‘alã hayãtin waminal ladzĩna asyrokũ, yawaddu ahaduhum lau yu’ammaru alfa sanatin, wama huwa bimuzahzihihi minal adzãbi ayyu’ammara, wallahu bashirum bimã ya’malũn.

96. Dan sesungguhnya kamu akan mendapati mereka setamak-tamaknya manusia kepada kehidupan di dunia, bahkan lebih tamak lagi dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sedikit pun tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tamak, loba, serakah artinya menginginkan sesuatu lebih banyak, sebanyak-banyaknya hanya untuk dirinya sendiri, tidak memikirkan kepentingan atau keperluan orang lain. Hal ini melahirkan kecurangan, kepelitan atau kekikiran, kedekut dalam menjalani hidupnya. Mereka ingin berumur panjang yang memungkinkan mereka menuai lebih banyak dosa yang tak terampuni. Allah akan menyiksanya di di dunia dan di akhirat.
Manusia kalau selalu menuruti kemauan atau keinginannya, maka segala apa yang ada di dunia ini tidak akan memuaskan keinginan atau kemauannya. Kalau kemauan atau keingiannya tidak terkendali, maka akan terjadi banyak permusuhan. Hal ini yang akan menghancurkan dunia, dan akan menyiksa atau menganiaya dirinya sendiri. Oleh karena itu, mencari harta sebanyak-banyaknya boleh-boleh saja, hanya harus difungsikan untuk kepentingan sosial sebanyak-banyaknya, harus dĩnfakkan sebagiannya di jalan Allah sebanyak-banyaknya.
“Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” lihat juga Q.s. Al Baqarah: 2: 30; 33; 234; 235; 255; 270; 271; 283; dan Ali ‘Imrah, 3 : 6,

qul = katakanlah; man = barang siapa; kaana = yang jadi; ‘aduwwa = musuh; li jibrĩla = terhadap jibril; fainnahũ = sesungguhnya dia; nadzdzalahu = dia menurunkannya; ‘alã qolbika = ke dalam kalbunya; bi idznillahi = dengan izin Allah; mushodiqo = membenarkan; li mã = pada apa (kitab-kitab); baina = antara; yadaihi = kedua tangannya; wa huda = dan petunjuk; wa busyrō = dan berita gembira; lil mu’minĩn = kepada orang-orang yang beriman.

qul man kaana ‘aduwwal li jibrĩla fainnahũ nadzdzãlahu ‘alã qolbika bi idznillahi mushodiqollimã baina yadaihi wahudaw wabusyrō lilmu’minĩn.

97. Katakanlah: “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan Alqur’an ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan Kitab-kitab yang sebelumnya, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “musuh Jibril” berarti musuh Allah yang mengutusnya, berarti orang yang tidak mempercayai Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan Allah. Allah menjadi musuh orang kafir (lihat ayat berikutnya). Alqur’an diturunkan Allah sedikit demi sedikit melalui Jibril ke dalam hati Nabi Muhammad saw.dan kemudian ke dalam hati orang-orang yang mengimaninya, dan akan menjadi petunjuk serta mendapatkan berita gembira untuk hidup di akhirat kelak. Yang tidak mengimaninya tidak akan dapat dimasuki isi Alqur’an, dan tidak medapatkan kabar gembira untuk hidup yang menyenangkan di akhirat.

man kaana = barang siapa yang menjadi; ‘aduwwal lillahi = musuh Allah; wa malãikatihi = dan Malaykat-malaykat-Nya; wa jibrĩl = dan jibril; wa mĩkaila = dan Mikail; fa inallaha = maka sesungguhnya Allah; ‘aduwwun = musuh; lil kafirĩn = bagi orang-orang kafir.

man kaana ‘aduwwan lillahi wa malãikatihi wa jibrĩl, wa mĩkaila fainallaha ‘aduwwul lil kafirĩn.

98. Barang siapa yang menjadi musuh Allah, Malaykat-malaykat-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah musuh orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini penguat ayat 97. Orang kafir, musyrik, munafik, orang fasik, dan orang murtad itu memusuhi Allah. Alangkah meruginya jika manusia dimusuhi Allah. Apa dan bagaimana akibatnya bagi kehidupan di dunia dan di akhirat? Sesungguhnya Allah itu tidak memusuhi siapa pun makhluk-Nya, namun kalau makhluk-Nya tidak memahami siapa dirinya dan membangkang perintah-Nya, maka Allah akan memusuhinya.

wa laqod = dan sesungguhnya; andzalnã = Aku telah menurunkan; ilayka = kepadamu; ãyãti = ayat-ayat; bayyinãti = jelas; wa mã = dan tidak; yakfuru = mengingkari; bihã = padanya; illã = kecuali; fãsiqũn = orang-orang bodoh.

wa laqod andzalnã ilayka ãyãtim bayyinãti n wa mã yakfuru bihã illãl fãsiqũn.

99. Dan sesungguhnya, Aku telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, kecuali orang-orang yang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ayat-ayat yang jelas” Alqur’an itu secara keseluruhan jelas, terang, gamblang isinya, tidak meragukan. Namun bagi orang kafir, isi yang jelas itu menjadi gelap, tertutup, tidak jelas, meragukan.
“tak ada yang ingkar kepadanya” artinya semua mempercayai isi setiap ayatnya, kemudian melakukan apa yang diperintah Allah, dan menjauhi perbuatan yang dilarang-Nya.
fasik adalah orang bodoh, orang yang mempercayai ada-Nya Allah, dan Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan-Nya, tetapi tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah. Mereka bertabiat atau berkelakuan buruk, jelek, jahat, jahil, pelit, rakus; pencuri, perampok, penodong, penipu, pemalsu, pembohong, penghasut, pemfitnah, pembangkang; pembual, berlaku atau berbicara tidak sopan, kasar. Mereka tidak pernah meminta mÃf atas kesalahan yang dilakukannya. Baik kepada sesama makhluk atau kepada Allah.

awakullamã = patutkah setiap kali; ‘ãhadũ = mereka mengikat janji: ‘ahdan = janji; nabadzahu = melemparkannya; fariqũn = segolongan; minhum = dari mereka; bal = bahkan; aktsaruhum = kebanyakan mereka; lã = tidak; yu’ minũn = mereka beriman.

awakullamã ‘ãhadũ ‘ahdan nabadzahu, fariqũm minhum, bal aksaruhum lã yu’ minũn.

100. Pantaskah mereka, (ingkar kepada ayat-ayat Allah, dan) setiap kali mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan pertanyaan retoris, cukup untuk peringatan, pelajaran, perhatian bagi orang yang beriman. Orang kafir itu orang yang tidak mempercayai Alqur’an yang diturunkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw.. Setiap perjanjian dengan Allah tidak diakui (lihat ayat-ayat sebelum dan sesudahnya), dianggap tidak benar, dicampakkan, diabaikan. Hal seperti ini akan menjadi lahan da’wah, bagi orang yang mau mengubah dirinya, meskipun mempunyai kemungkinan sia-sia.

wa lammã = dan setelah; jã ahum = datang kepada mereka; rosũlun = seorang Rosul; min ‘indillahi = dari sisi Allah; mushoddiqu = membenarkan; limã = pada apa; ma’ahum = ada pada mereka; nabadza = melemparkan; fariqum = segolongan; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; ũtũ = diberi; alkitãba = Kitab; kitãballahi = Kitab Allah; wa rō a = belakang; dluhũrihim = punggung mereka; ka annahum = seolah-olah mereka; lã ya’lãmũn = mereka tidak mengetahui.

walammã jã ahum rosũlum min ‘indillahi mushoddiqul limã ma’ahum nabadza fariqum minal ladzĩna ũtũl kitãba kitãballahi wa rō a dlurihim ka annahum lã ya’lãmũn.

101. Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari Allah yang membenarkan Kitab-kitab yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Taurat melemparkan Kitab Allah ke belakang punggungnya, seolah-olah mereka tidak mengetahui bahwa itu adalah Kitab Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran orang Yahudi, Nasrani, Sabi’in yang bersikeras pada apa yang sudah diyakini, mereka tidak mau mengakui pembaharuan dengan adanya Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.; hamba-Nya yang dimuliakan, diberi kehormatan untuk menegaskan, memperbaiki, meluruskan apa yang ada pada mereka, karena memang yang ada pada mereka sekarang ini sudah diubah-ubah oleh para penulisnya, para pendakwahnya yang menyesatkan.

watabã’ũ = dan mereka mengikuti; mã tatlũ = apa yang dibaca; asy syayãthĩnu = setan; ‘alã mulkĩ = pada masa kerajaan; sulaimaana = Sulaiman; wamã kafaro = dan tidak kafir; sulaimaanu = sulaiman; wa lãkinna = akan tetapi; asy syayãtĩna = setan; kafarũ = mereka kafir; yu’allimũnan = mereka mengajarkan; nãsa = manusia; as sihra = sihir; wa mã undzila = dan apa yang diturunkan; alal malakaini = kepada dua Malaykat; bi bãbila = di negeri Babilon; hãrũta = Harut; wa marũta = Marut; wa mã yuallimaani = dan keduanya tidak mengajarkan; min ahadin = kepada seseorang; hattã = sehingga; yaqũlã = keduanya berkata; innamã = sesungguhnya; nahnu = hanya Aku; fitnatun = cobÃn; fa lã takfur = maka jangan kamu kafir; fayata’allamũna = maka mereka belajar; min humã = dari keduanya; mã yufarriqũna = apa yang mereka ceraikan; bihĩ = dengan sihir itu; bainal mar’i = antara seseorang; wa zaujikhĩ = dan istrinya; wa mã hum = dan tidaklah mereka; bi dhãrĩna = dengan memberi mudarat; bihĩ = dengan sihir itu; min ahadin = dari seseorang; illã bi idznil lãhi = kecuali dengan izin Allah; wayata’allamũna = dan mereka mempelajari; mã yadhurruhum = tidak memberi mudarat kepada mereka; wa lã yanfa’uhum = dan tidak memberi manfaat kepada mereka; walaqod = dan sesungguhnya; ‘alimũ = mereka telah mengetahui; la manisytarōhu = barang siapa yang menukar, menjualnya; mãlahũ = tidaklah baginya; fill akhirati = di akhirat; min kholãkin = dari keuntungan; wa la bi’ sa = dan sungguh buruk; mã syarau = apa yang mereka jual; bihĩ = dengan sihir itu; anfusahum = diri mereka; lau = kalau; kanũ = mereka; ya’lamũn = mereka mengetahui.

watabã’ũ mã tatlũsy syayãthĩnu ‘alã mulkĩ sulaimaana wamã kafaro sulaimaanu walãkinnasy syayãtĩna kafarũ yu’allimũnan nãsas sikhra, wa mã undzila alal malakaini bibãbila hãrũta wa marũta wa mã yuallimaani min ahadin hattã yaqũlã innamã nahnu fitnatun falã takfur, fayata’allamũna min humã mã yufarriqũna bihĩ bainal mar’i wa zau jikhĩ, wa mã hum bi dhãrĩna bihĩ min ahadin illã bi idznil lãhi, wayata’allamũna mã yadhurruhum wa lã yanfa’uhum, walaqod ‘alimũ la manisytarōhu mãlahũ fill akhirati min kholãkin, wa la bi’ sa mã syarau bihĩ anfusahum, lau kanũ ya’lamũn.

102. Dan mereka mengikuti kitab-kitab sihir yang dibaca oleh setan-setan (para ahlinya), pada masa kerajaan Sulaiman, mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir, padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya para ahli itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Maka, mereka mempelajari sihir dari kedua orang suci itu, mereka dapat menceraikan seorang suami terhadap istrinya. Dan ahli sihir itu tidak membawa mudharat kepada siapa pun dengan sihirnya, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya, dan tidak memberi manfaat . Demi Allah (Alqur’an), sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarkan Kitab Allah dengan sihir itu, tiadalah keuntungan baginya di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan tentang larangan pekerjaan sihir yang diajarkan oleh Harut dan Marut bagi orang kafir kepada Allah dan Kitab-Nya, yang membawa mudharat, untuk kejahatan. Pekerjaan sihir itu dapat dilakukan orang yang beriman, atas izin Allah, dan harus bermanfaat , harus berdasarkan Kitab Allah. Jadi, mereka harus mempercayai Allah dan Alqur’an yang diturunkan-Nya melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw.dengan hadisnya. “Dengan izin Allah” berarti sihir itu bukan untuk kejahatan, menipu, membuat orang lain rugi, tapi untuk kebaikan, kemanfaatan, menolong orang.

walau = dan kalau; annahum = sesungguhnya mereka; ãmanũ = mereka beriman; wattaqau = dan mereka bertakwa; lamatsũbatu = sungguh pahala; min indillahi = dari sisi Allah; khoyrun = lebih baik; lau kaanũ = kalau mereka itu; ya’lamũn = mereka mengetahui.

walau annahum ãmanũ wattaqau la matsũbatum min indillahi khoyrun lau kaanũ ya’lamũn

103. Sesungguhnya, kalau mereka beriman dan bertakwa (kepada Allah), niscaya mereka akan mendapat pahala, dan sesungguhnya pahala dari Allah itu lebih baik, kalau mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya (ayat 102). Iman dan takwa itu akan mendapat pahala yang lebih baik dari Allah, dapat menolong orang lain yang memerlukan bantuan dengan obat-obatan dan doa-doa, yang terbubung dengan Allah, bukan sihir.

yã ayyuhãl ladzĩna ãmanũ = wahai orang-orang yang beriman; lã taqũlũ = jangan engkau mengatakan; rã’inã = rãinã (= peliharalah Aku); wa qũlũ = dan katakanlah; unzhurnã = unzhurna (= perhatikan Aku / tolonglah Aku; wasmã’ũ = dan dengarkanlah; wa lilkafirĩna = dan bagi orang-orang kafir; ‘adzãbun ãlĩm = siksaan yang pedih.
yã ayyuhãl ladzĩna ãmanũ lã taqũlũ rō’inã wa qũlũ unzhurnã wasmã’ũ wa lil kafirĩna ‘adzãbun ãlĩm.
104. Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau katakan kepada Muhammad: “rã ‘ina,” tetapi, katakanlah: “unzhurna” dan dengarlah. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang amat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman, agar jangan menggunakan kata “rã’ina” yang artinya “sudilah kamu memperhatikan Aku”; gantilah dengan “unzhur na” yang artinya hampir sama,. karena Allah mendengar orang Yahudi memperolok-olokkan dan mengganti dengan kata “ru’ũnah” yang artinya “kebodohan yang sangat”. Sebuah kata yang tidak sopan ditujukan kepada Nabi Muhammad saw.. Hal ini merupakan pelajaran kebahasaan, kata pilihan ‘majas’ yang harus diperhatikan, kalau kita berbicara atau menulis agar tepat sasaran, dan dimengerti betul maknanya, tidak salah mendengar atau salah membaca.

mã yawaddu = tidak menginginkan; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; wala = dan tidak; al musyriqĩna = orang-orang musyrik; an yunazzala = bahwa diturunkannya; ‘alaykum = kepadamu; min khairĩ = dari kebaikan; mir robbakum = dari Robbmu; wallahu = sesungguhnya Allah; yakhtashshũ = Dia menentukan; birahmatihĩ = dengan rahmat-Nya; man yasyã-u = apa (siapa) yang Dia kehendaki; dzu = mempunyai; al fadhli = karunia; al ‘azhĩm = yang besar

mã yawaddul ladzĩna kafarũ min ahlil kitãbi walal musyriqĩna an yunazzala ‘alaykum min khairĩm mir robbakum, wallahu yakhtashshũ bi rahmatihi man yasyã-u dzul fadhlil ‘azhĩm.

105. Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya suatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Allah menentukan, siapa yang dikehendaki-Nya untuk diberi rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alqur’an itu diturunkan kepada orang yang dikehendaki-Nya untuk kebaikan, kemanfaatan, tidak berdasarkan keinginan atau kemauan orang, kemauan Nabi Muhammad saw.. Ini yang harus diperhatikan oleh pemeluk agama selain Islam.

mã nansakh = tidak Aku hapuskan; min ãyatin = dari sebuah ayat; au nunsihã = atau Aku jadikan lupa; na’ti = Aku datangkan; bikhairin = dengan yang lebih baik; minhã = darinya; au mitslihã = atau yang sebanding (semisal, seumpama) dengannya; alam ta’lam = tidakkah kamu ketahui; annal lãha = sesungguhnya Allah; alã kulli = atas segala; sya’in = sesuatu; qodĩr = Maha Kuasa.

mã nansakh min ãyatin au nunsihã na’ti bi khairin minhã au mitslihã alam ta’lam annal lãha alã kulli sya’in qodĩr.

106. Apa saja ayat yang Aku nasakh-kan (= hapuskan), atau Aku jadikan manusia lupa kepadanya, Aku datangkan yang lebih baik darinya, atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ayat yang Aku nasakh-kan” ada yang menafsirkan ayat dalam Alqur’an, ada yang menafsirkan mukjizat. Alqur’an sesungguhnya sebuah mukjizat yang dapat di-nasakh-kan (dihapus dari pikiran) manusia atas kuasa Allah. Itu urusan Allah. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Manusia itu diberi lupa, namun akan mendapatkan pengganti yang lebih baik tentang sesuatu yang sudah dĩngatnya, asal ada ketetapan iman dan takwa kepada Allah. Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Mengingat tentang segala sesuatu.

alam ta’lam = tidakkah kamu ketahui; annal lãha = sesungguhnya Allah; lahu = bagi-Nya; mulqu = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan tidak; lakum = bagimu; min dũnillahi = dari selain Allah; min walĩyyin = dari seorang pelindung; wa la nashĩrin = dan bukan seorang penolong.

alam ta’lam annal lãha lahu, mulqus samãwãti wal ardhi wa mã lakum min dũnillahi min walĩyyin wa la nashĩrin

107. Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu seorang pelindung maupun seorang penolong, selain Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw., dan kepada umat manusia yang membaca Alqur’an, bahwa kerajaan langit dan bumi itu milik Allah. Manusia diberi kekuasaan di muka bumi ini untuk memelihara, menjaga sebagian kecil milik Allah untuk kepentingan hidupnya. Kalau merusaknya, ia akan dihukum, disegerakan atau ditunda, sekehendak Allah. Allah melindungi dan menolong orang-orang yang beriman dan takwa kepada-Nya.
Lihat Q.s. Al Fatihah, 1:1; Ali ‘Imran, 3:109

am turĩdũna = apakah kamu menghendaki; antas ‘alũ = kamu bertanya, meminta; rosũlakum = Rosul kamu; kamã = sebagaimana; suilã = dipertanyakan; mũsã = Musa; min qoblu = dari dahulu; wa man = dan barang siapa; yatabaddali = menukar; al kufro = kekafiran; bil ĩmaani = dengan iman; faqod = maka sungguh; dholla = ia sesat; sawã a = lurus, benar; as sabĩli = jalan.

am turĩdũna an tas ‘alũ rosũlakum kamã suilã mũsã min qoblu, wa man yatabaddalil kufro bil ĩmaani faqod dholla sawã as sabĩli

108. Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu, seperti Bani Israil mempertanyakan kepada Musa pada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar keimanan dengan kekafiran, maka sungguh, orang itu telah sesat dari jalan yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu” Bani Israil meminta kepada Musa, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 40, 47, 50, 53, 60, 108, 122; Al A’rãf, 7: 57,58.

wadda = ingin; katsĩru = kebanyakan; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; lau = sekiranya; yaruddũnakum = mereka mengembalikan kamu; mim ba’di = dari sesudah; ĩmaanikum = imanmu; kuffarōn = kekafiran; khasadã = khasad, dengki; min ‘indi = dari sisi; anfusihim = diri mereka; mim ba’di = dari sesudah; mã tabayyana = apa yang jelas, nyata; lahum = bagi mereka; ul haqqu = kebenaran; fa’fũ = mÃfkanlah; wãshfakhũ = dan berlapang dadalah; hattã = sehingga; ya’tiyal lahu = mendatangkan Allah; biamrih = dengan perintah-Nya; innal lãha = sesungguhnya Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai in = sesuatu; qodĩr = maha kuasa atas.

wadda katsĩrum min ahlil kitãbi lau yaruddũnakum mim ba’di ĩmaanikum kuffarōn khasadãm min ‘indi anfusihim mim ba’di mã tabayyana lahumul haqqu, fa’fũ wãshfakhũ hattã ya’tiyal lahu biamrih, innal lãha ‘alã kulli syai in qodĩr

109. Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka mÃfkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terjadi situasi saling mempengaruhi antara Ahli Kitab dengan orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad saw.. Alqur’an itu benar. Ahli Kitab sudah mengetahui. Namun, karena perasan harga diri, iri, dengki dari Ahli Kitab itu, mereka tidak mau mengakui kebenaran itu. Mereka malah berupaya, agar orang-orang yang sudah mengimani kebenaran Alqur’an menjadi kafir lagi, menjadi pengikut mereka. Allah memerintahkan untuk membiarkan dan memÃfkan mereka, sampai ada perintah-Nya. Perintah apa yang akan didatangkan Allah kepada orang-orang yang beriman?

wa aqĩmush = dan dirikanlah; sholãta = salat; wa ãtuz zakãta = dan tunaikanlah zakat; wa mã = dan apa-apa; tuqoddimũ = kamu dahulukan; li amfusikum = untuk dirimu; min khairin = dari kebaikan; tãjidũhu = kamu mendapatinya; ‘indallahi = pada Allah; innal laha = sesungguhnya Allah; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩrun = Maha Melihat.

wa aqĩmush sholãta wa ãtuz zakãta wa mã tuqoddimũ li amfusikum min khairin tãjidũhu ‘indallahi, innal laha bimã ta’malũna bashĩrun.

110. Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat. Apa-apa yang kamu usahakan untuk kebaikan dirimu, tentu kamu akan mendapatkan kebaikannya dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat 3 dan 4. Allah memberitahukan tentang Alkitab yang isinya tidak diragukan, memberi petunjuk kepada orang yang takwa. Ayat ini, Allah memerintah agar salat dan menunaikan zakat kepada orang yang beriman dan memberi contoh kepada orang kafir. Zakat ditunaikan, artinya memberikan kebaikan untuk orang lain, sesungguhnya kebaikan itu akan kembali kepada diri pelakunya. Penguat ayat 3 dan 4.

wa qōlũ = dan mereka berkata; lan yadkhula = tidak akan masuk; al jannata = surga; illa = kecuali; man kaana = dari orang; hũdan = Yahudi; au = atau; nashãrã = Nasrani; tilka = itu; amaaniyyuhum = angan-angan mereka; qul = katakanlah; hãtũ = tunjukkan; burhãnakum = bukti kebenaranmu, alasanmu; ing kuntum shodikiqĩn = jika kamu orang-orang yang benar.

wa qōlũ lan yadkhulal jannata illa man kaana hũdan au nashãrã tilka amaaniyyuhum qul hãtũ burhãnakum ing kuntum shodikiqĩn.

111. Mereka, kaum Yahudi dan Nasrani berkata: “Satu pun tidak akan ada yang masuk surga, kecuali orang-orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu, hanya angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Kaum Yahudi, Nasrani, dan dan Kaum Sabi’in dengan Nabi Muhammad saw.Lihat ayat 38, 62, 94, 95 Keyakinan kaum Yahudi, Nasrani, dan Sabi’in yang ketinggalan zaman, sudah menjadi sesat. Seharusnya mereka meyakini kebenaran Alqur’an, dan apa yang disunahkan Nabi Muhammad saw., agar selamat dunia dan akhirat.

balã = ya, bahkan tidak; man = barang siapa; aslama = menyerahkan; wajhahũ = wajahnya, dirinya; lillahi = kepada Allah; wa huwa = dan ia; muhsinun = baik; falahũ = maka baginya; ajruhũ = pahala (ganjaran)-nya; ‘inda robbihĩ = dari Robbnya; wa lã khaufun = dan tidak khawatir, takut; ‘alayhim = pada mereka; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = bersedih hati.

balã man aslama wajhamu, lillahi wa huwa muhsinun falahũ ajruhũ ‘inda robbihĩ, wa lã khaufun ‘alayhim wa lã hum yahzanũn.

112. Tidak demikian, bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya mendapat pahala dari Robinya, mereka tidak ada kekhawatiran, dan tidak pula bersedih hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 38, 62, 94, 95) orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabi’in yang mengakui kebenaran Muhammad saw.sebagai Nabi dan Rasul Allah, kebajikan hatinya demikian itu akan diterima dan diridoi Allah, kelak mereka tidak akan khawatir dan tidak akan bersedih hati.

wa qōlatil = dan berkata; yahũdu = orang Yahudi; laisatin = tidak mempunyai; nashãrã = orang Nasrani; ‘alã syai in = atas sesuatu pegangan; wa qōlati = dan berkata; an nashãrã = orang Nasrani; laisati = tidak mempunyai; al yahũdu = orang Yahudi; ‘alã sai in = atas suatu pegangan; wahum = dan mereka; yatlũna = mereka membaca; al kitãba = Alkitab; kadzãlika = demikian itu; qōla = berkata; al ladzĩ

na = orang-orang yang; lã ya’lamũna = tidak mengetahui; mitsla = seperti; qaulihim = ucapan mereka; fallahu = maka Allah; yahkumu = Dia mengadili; bainahum = di antara mereka; yawma = hari; al qiyãmati = kiamat; fĩma = di dalam, tentang; kaanũ = mereka adalah; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.

wa qōlatil yahũdu laisatin nashãrã ‘alã syai in wa qōlatin nashãrã laisatil yahũdu ‘alã sai in wahum yatlũnal kitãba kadzãlika qōlal ladzĩna lã ya’lamũna mitsla qaulihim, fallahu yahkumu bainahum yawmal qiyãmati fĩma kaanũ fĩhi yakhtalifũn.

113. Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan.” Dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai suatu pegangan.” Padahal mereka sama-sama membaca Alkitab. Demikian pula, orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka perselisihkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Yahudi dan Nasrani saling menyalahkan, seharusnya mereka mengakui kebenaran kerasulan Nabi Muhammad saw.. Hal ini sudah ada dalam Alkitabnya
Hari kiamat adalah hari hancurnya kehidupan di bumi, berproses menuju kehidupan di akhirat yang kekal abadi. Semua amalan kita dihitung, sampai ke hal sangat sepele.

wa man = dan barang siapa, siapakah; azhlamu = lebih aniaya; mimman = dari orang; am mana’a = mencegah, menghalangi; masajidallahi = masjid-masjid Allah; an yudzkara = menyebut; fĩha = di dalamnya; asmuhũ = nama-Nya; wa sa’ã = dan ia berusaha; fĩ kharãbihã = untuk merobohkannya; ulã ika = mereka itulah; mã kaana = tidak patut; lahum = bagi mereka; an yadkhulũhã = mereka memasukinya; illã = kecuali; khaifĩna = orang-rang yang takut; lahum = bagi mereka; fĩd dun yã = di dunia; khizyun = kehinãn; walahum = dan bagi mereka; fil akhirati = di akhirat; adzãbun azhĩm = siksa yang berat.

wa man azhlamu mimmam mana’a masajidallahi an yudzkara fĩhasmuhũ wa sa’ã fĩ kharãbihã ulã ika mã kaana lahum an yadkhulũ hã illã ka-ifĩna lahum fĩd dunyã khizyuw walahum fil akhirati adzãbun azhĩm.

114. Siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya, kecuali dengan rasa takut kepada Allah. Mereka di dunia mendapat kehinãn, dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terjadi perebutan pengaruh antara kaum Yahudi, Nasrani, Sabi’in dengan Islam. Kaum Yahudi, Nasrani, Sabi’in seharusnya tidak menghalang-halangi pengikut Nabi Muhammad saw.melakukan peribadatan menyebut-nyebut Nama Allah di masjidnya. Sebaiknya kaum Yahudi, Nasrani, Sabi’in mengikuti perkembangan zaman.

walillahi = dan kepunyaan Allah; al masyriqũ = timur; wal maghribu = dan barat; fa ainamã = maka ke mana saja; tuwallũ = kamu menghadap; fatsamma = di situlah; wajhullahi = wajah Allah; inallaha = sesungguhnya Allah; wãsiun = Mahaluas; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

walillahil masyriqũ wal maghribu fa ainamã tuwallũl fasyamma wajhullahi, inallaha wãsiun ‘alĩm

115. Milik Allahlah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas rahmat-Nya, lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, alam semesta ini milik-Nya. Alam semesta diserahkan pengurusannya kepada manusia yang dijadikannya Khalifah di muka bumi. Manusia dimintai pertanggungjawabannya atas kepengurusannya atas alam semesta itu, termasuk dirinya. Allah mengetahui segala perbuatan makhluk-Nya. Allah Mahaluas ilmu-Nya.

wa qōlũ = dan mereka berkata; at takhadza = mengambil, mempunyai; allahu = Allah; waladan = anak; subhãnahũ = Mahasuci Dia; bal = bahkan; lahu = kepunyaan-Nya; mã fĩs samãwãti = apa yang ada di langit; wal ardhi = dan di bumi; kullun = semuanya, masing-masing; lahu = kepada-Nya; qōnitũn = mereka tunduk

wa qōlũt takhadzallahu waladan subhãnahũ, bal lahu mã fĩs samãwãti wal ardhi kullul lahu, qōnitũn

116. Orang-orang kafir berkata: “Allah mempunyai anak.” Mahasuci Dia, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Semua tunduk kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbedaan persepsi keyakinan ini sampai sekarang masih terus dipertentangkan / diperdebatkan. Dengan kata lain, “Allah beranak” itu pikiran yang tidak benar. Ada Allah Bapa dan ada Allah Anak itu pemikiran yang tidak benar. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 284; Ali ‘Imran, 3: 29, 59, 129; An Nisa, 4: 131, 132, 170; Maryam, 19: 35; Yã sĩn, 36: 82

badi’u = (Allah) Pencipta Yang mengagumkan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa idzã = dan bila; qodhō = (Dia) berkehendak; amran = sesuatu, perkara; fa = maka; innamã = sesungguhnya hanyalah; yaqũlu = Dia berkata; lahũ = kepadanya; kun = jadilah; fayakũn = maka jadilah.

badi’us samãwãti wal ardhi wa idzã qodhō amran fa innamã yaqũlu lahũ kun fayakũn.

117. Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak menciptakan sesuatu, maka cukuplah Dia mengatakan kepadanya: ”Jadilah.” Lalu jadilah ia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ”Allah menciptakan langit dan bumi”, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
“Jadilah.” Lalu jadilah ia, lihat Q.s. Q.s. Ali ‘ImrÃn , 3: 47, 59; Maryam, 19: 35; Yã Sĩn, 36: 82; Al Mu’min, 40: 68.

waqōla = dan berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; lã ya’lamũna = tidak mengetahui; lau lã = mengapa tidak; yukallimuna = berbicara kepada Aku; Allãhu = Allah; au ta’tĩnã = atau datang kepada Aku; ãyatun = tanda-tanda; kadzãlika = seperti demikian; qōla = mengatakan; al ladzĩna = orang-orang yang; min qoblihim = dari sebelum mereka; misyla = seperti; qaulihim = ucapan mereka; tasyãbahat = serupa; qulũbuhum = hati mereka; qod bayyana = sungguh telah Aku jelaskan; al ãyãti = tanda-tanda; li qaumin = bagi kaum; yũqinũn = mereka yakin

waqōlal ladzĩna lã ya’lamũna lau lã yukallimunal lãhu au ta’tĩnã ãyatun, kadzãlika qōlal ladzĩna min qoblihim misyla qaulihim, tasyãbahat qulũbuhum, qod bayyanal ãyãti li qaumin yuqinũn.

118. Dan orang-orang yang tidak mengetahui Alkitab berkata: “Mengapa Allah tidak langsung berbicara dengan Aku, atau datang tanda-tanda kekuasan-Nya kepada Aku.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka, telah mengatakan seperti itu. Hati mereka serupa. Sesungguhnya Aku telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Ku kepada kaum yang yakin.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan atau permintaan adanya bukti langsung dari orang-orang yang tidak membaca Alkitab, dan mereka masih berpegang pada keyakinan lama. Harusnya mereka memperbaharui diri. Membaca itu syarat untuk mendapatkan informasi pengetahuan baru. Mereka menyombongkan diri. Puas dengan Alkitabnya yang sudah banyak mengalami perubahan.

inã = sesungguhnya Aku; arsalnãka = Aku telah mengutusmu; bil haqqi = dengan kebenaran; basyĩron = pembawa berita gembira; wa nadzĩron = dan pemberi peringatan; wa lã tus alu = dan kamu tidak diminta; an ashkhãbi = dari penghuni-penghuni; al jahĩm = neraka.

inã arsalnãka bil haqqi basyĩron wa nadzĩron wa lã tus alu an ashkhãbil jahĩm.

119. Hai Muhammad, sesungguhnya Aku telah mengutusmu membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan, dan kamu tidak diminta pertanggungjawaban dari penghuni neraka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw.tidak diminta untuk bertanggung jawab kepada orang-orang yang masuk neraka karena tidak mau melaksanakan kebenaran yang disampaikannya melalui Alqur’an, Sunah, dan Hadis-hadisnya. Mereka telah ingkar janji.

wa lantardhō = dan tidak senang; ‘angka = pada kamu; al yahũdu = orang-orang Yahudi; wa la = dan tidak; an nashōrō = orang-orang Nasrani; hattã = kalau; tattabi’a = kamu mengikuti; millatahum = agama mereka; qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; hudayã = petunjuk; allãhi = Allah; huwa = itulah al hudã = petunjuk; wa a’ini = dan jika; at taba’tã = kamu mengikuti; ahwã ahum = kemauan mereka; ba’dal ladzĩ = sesudah yang; jã-aka = telah datang kepadamu; minal ilmi = dari pengetahuan; mãlaka = tidak bagimu; minal lahi = dari Allah; min waliyyin = dari pelindung; wa lã = dan tidak; nashĩrin = penolong.

wa lantardhō ‘angkal yahũdu wa lan nashōrō hattã tattabi’a millatahum, qul inna hudal lãhi huwal hudãyã wa a’init taba’tã ahwã ahum ba’dal ladzĩ ja-aka minal ilmi, mãlaka, minallohi min waliyyin wa lã nashĩrin

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu, kalau kamu tidak mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang sebenarnya.”Dan, sesungguhnya, jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu’’.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Yahudi, Nasrani, Hindu, Budha, Tao, (orang Shabi’in) menginginkan Umat Islam kembali mengikuti keyakinan mereka, namun Allah menegaskan bahwa petunjuk yang benar itu sudah disampaikan kepada Nabi Muhammad saw.dalam Alqur’an. Mereka yang tidak mau membaca Alqur’an dan tidak mengikuti petunjuknya (artinya menyalahi janji), Allah tidak menjadi pelindung dan penolongnya lagi. Meskipun demikian kasih-sayang-Nya terus mengalir setiap hari dan malam kepada makhluk-Nya, dengan harapan ada yang mau bertobat.

alladzĩna = orang-orang yang; ãtainãhumu = telah Aku berikan kepada mereka; al kitãba = Alkitab; yatlũnahũ = mereka membacanya; haqqo = benar; tilãwatihĩ = bacaannya; ũlãika = mereka itulah; yu’minũna = mereka beriman; bihĩ = kepadanya; waman = dan siapa; yakfur = ingkar; bihi = kepadanya; fa ulaika = maka mereka itulah; humu = mereka; al khōsirũn = orang-orang yang rugi.

alladzĩna ãtainãhumul kitãba yatlũnahũ haqqo tilãwatihĩ, ũlãika yu’minũna bihĩ waman yakfur bihi faulaika humul khōsirũn.

121. Orang-orang yang telah Aku beri Alkitab, dan mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Barang siapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Orang beragama itu biasanya membaca Alkitabnya dengan benar dan mengamalkan apa-apa yang tersurat di dalamnya. Namun, ada saja yang ingkar, mengubah, dan memaknai sekehendaknya, menutup-nutupi. Jadi, mereka sesat.

yã banĩ isrōĩl = wahai Bani Israil; adzkurũ = ingatlah; ni’matiya = nikmat-Ku; al latĩ = yang; an ‘amtu = Aku anugrahkan nikmat; ‘alaykum = kepadamu; wa annĩ = dan Aku; fadhdholtukum = Aku telah melebihkan kamu; ‘alãl ‘ãlamĩn = atas, di seluruh alam.
yã banĩ isrōĩl adzkurũ ni’matiyal latĩ an ‘amtu ‘alaykum wa annĩ fadh dholtukum ‘alãl ‘ãlamĩn.
122. Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat di seluruh dunia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat juga ayat 40; (agak berbeda: ada janji Bani Israil untuk mengabdi hanya kepada Allah dan tidak memperseku-tukan dengan makhluk lain), ayat 47 (sama benar)

wattaqũ = dan takutlah kamu; al yawmã = suatu hari; lã tajdzĩ = tidak dapat mengganti; nafsun = seseorang; ‘an nafsin = dari seseorang; syai an = sesuatu, sedikit pun; wa lã yuqbalu = dan tidak diterima; minhã = darinya; ‘adlun = tebusan; wa lã tanfã’uhã = dan tidak memberi manfaat ; syafã’atun = syafaat, pertolongan; wa lã hum yunshorũn = dan mereka tidak ditolong.

wattaqũ al yawmã lã tajdzĩ nafsun an nafsin syai an wa lã yuqbalu minhã ‘adlun wa lã tanfã’uhã syafã’atun wa lã hum yunshorũn

123. Dan takutlah kamu kepada suatu hari, ketika seseorang tidak dapat menggantikan seseorang yang lain sedikit pun, dan tidak akan diterima tebusan dari padanya, dan tidak akan memberi manfaat suatu syafa’at kepadanya, dan tidak pula mereka akan ditolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat juga ayat 4, 8, 48, 62,. Peringatan Allah untuk orang kafir nanti pada hari pembalasan, lihat juga Q.s.Ali Imran, 3: 10, 11, 12, 91; An Nisã’, 4: 34, 45; dan lain-lain.

wa idzibtalã = dan ketika menguji; ibrōhĩma = ibrahim; robbuhũ = Robbnya; bi kalimãtin = dengan beberapa kalimat; fa atammahunna = maka ia menunaikannya; qōla = Dia berkata; innĩ = sesungguhnya Aku; jã’iluka = menjadikan kamu; linnãsi = untuk manusia; imamman = imam, pemimpin; qōla = ia berkata; wa min dzurriyyatĩ = dan dari keturunanku; qōla = Dia berfirman; lã yanãlu = tidak mengenai, menyangkut ‘ahdĩ = janji-Ku; azh zhollãlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa idzibtalã ibrōhĩma robbuhũ, bikalimãtin fa atammahunna qōla innĩ jã’iluka linnãsi imamman qōla wa min dzurriyyatĩ , qōla lãyanãlu ‘ahdĩzh zhollãlimĩn.

124. Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabnya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya, Aku akan menjadikanmu Imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “Saya mohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku ini tidak menyangkut orang yang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ujian Allah itu berupa hidup yang harus dijalani berdasarkan perintah dan larangan yang terekam di dalam Alqur’an ini. Mereka yang kuat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, Allah berjanji akan menjadikannya imam yang baik bagi manusia. Mereka yang lalim, dan tidak menjalankan perintah Allah dengan bersunguh-sungguh, dan tidak berusaha menjauhi larangan-Nya dengan ikhlas, mereka tidak akan menjadi imam dalam kebaikan.

wa idz ja’alnã = dan ketika Aku jadikan; al baita = rumah; masyãbatan = tempat berkumpul (berziarah); lin nasi = bagi manusia; wa amnãn = dan tempat aman; wat takhidzũ = dan jadikanlah; mim maqãmi = dari makam; ibrōhĩma = ibrahim; mushollÃn = tempat salat; wa ‘ahidnã = dan Aku memerintahkan; ilã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; ibrōhĩma = kepada Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan ismail; an thohhirō = agar membersihkan (menyucikan); baitĩya = rumah-Ku; lith thōifĩna = untuk orang-orang tawaf; wal’ãkifĩna = dan orang-orang yang iktikaf; war rukka’i = dan orang-orang yang rukuk; as sujũd = orang-orang yang sujud.

wa idz ja’alnãl baita masyãbatal linnasi wa amnãn wat takhidzũ mim maqãmi ibrōhĩma mushollÃn, wa ‘ahidnã ilã ibrōhĩma wa ismã’ĩla an thohhirō baitĩ lith thōifĩna wal’ãkifĩna war rukka’is sujũd.

125. Allah mengingatkan: “Ketika Aku menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Jadikanlah sebagian Makam Ibrahim tempat salat. Dan telah Aku perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang i’tikãf, yang rukuk dan yang sujud.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Baitullah tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman” artinya tempat beribadah haji yang aman sejahtera.
“Makam Ibrahim” bukan berarti kuburan, tapi tempat Nabi Ibrahim a.s. berdiri ketika membangun Baitullah.

wa idz qōla Ibrōhĩmu = dan ketika Ibrahim berkata (berdoa); robbi = Robbku; ij’al = jadikanlah; hãdzã = ini; baladan ãminan = negeri yang aman; warzuq = dan berilah rejeki; ahlahu = penduduknya; minasy syamarōti = dari buah-buahan; man ãmana = orang beriman; minhum = di antara mereka; billãhi = kepada Allah; wal yawmil ãkhiri = dan hari akhir; qōla = Allah berfirman; wa man kafaro = dan orang kafir; faumatti’uhu = maka ia, Aku beri kesenangan; qōlĩlan = sedikit, sebentar; tsumma = kemudian; adhthorruhũ = ia Aku paksa; ilã ‘adzabin nari = hanya kepada siksa api neraka; wa bi’sa = dan amat buruk; al mashĩr = tempat kembali.

wa idz qōla Ibrōhĩmu robbij’al hãdzã baladan ãminan warzuq ahlahu, minasy syamarōti man ãmana minhum billãhi wal yawmil ãkhiri, qōla wa man kafaro faumatti’uhu, qōlĩlan tsumma adhthorruhũ ilã ‘adzabin nari, wa bi’sal mashĩr.

126. Dan ketika Ibrahim berdoa: “Ya Allah Rabku, jadikanlah negeri ini aman dan sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman, di antara mereka kepada Allah dan hari akhirat. Allah berfirman: “Dan kepada orang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka, dan itulah seburuk-buruknya tempat kembali.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa Nabi Ibrahim a.s. ini dikabulkan. Kita melihat buktinya sekarang. Ada peringatan Allah untuk orang yang tidak mempercayai Muhammad sebagai Nabi.

wa idz = dan ketika; yarfa’u = meninggikan; ibrōhĩmu = ibrahim; al qawa’ida = dasar-dasar; minal baiti = dari rumah; wa ismãĩlu = dan Ismail; robbanã = ya Robbku; taqobbal = terimalah; minnã = dari Aku; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = engkau; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.

wa idz yarfa’u ibrōhĩmul qawa’ida minal baiti wa ismãĩlu robbanã taqobbal minnã innaka antas samĩ’ul ‘alĩm

127. Ingatlah ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail, sambil berdoa: “Ya Tuhan Aku, terimalah amalan Aku. Sesungguhnya, Engkau Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa Nabi Ibrahim didengar dan diketahui Allah.

robbana = ya Robb Aku; waj’alnã = dan jadikanlah Aku; muslimainĩ = dua orang muslim; laka = kepada Engkau; wa min dzurriyyatinã = dan dari keturunan (anak-cucu) Aku; ummatan = umat; muslimatan = orang-orang yang patuh; laka = pada engkau; wa arinã = dan tunjukkan kepada Aku; manãsikanã = cara beribadat haji kepada Aku; watub = dan terimalah tobat; ‘alainã = atas Aku; innaka = sesungguhnya Engkau; antat tawwabur rohim = Engkau Maha Pemberi tobat dan Maha Penyayang.

robbana waj’alnã muslimaini laka wa min dzurriyyatinã ummatan muslimatan laka wa arinã manãsikanã watub ‘alainã innaka antat tawwabur rohim

128. “Ya Rab Aku, jadikanlah Aku berdua, orang yang tunduk dan patuh kepada Engkau, dan tunjukkanlah kepada Aku cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Aku, dan terimalah tobat Aku. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Umat Islam mengaku sebagai umat Ibrahim.
“cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Aku” sesuai dengan sunah Nabi Muhammad saw.dan beberapa hadisnya. Harus dipelajari, bagi yang akan beribadah haji.

robbanã = yã Rob Aku; wab’asy = dan utuslah; fĩhim = untuk mereka; rosũlam = seorang Rasul; minhum = dari keluarga mereka; yatlũ = akan membacakan; ‘alayhim = kepada mereka; ayãtika = ayat-ayat Engkau; wayu alimuhum = dan ia mengajar mereka; ul kitãba = Alkitab; wal hikmata = dan hikmat; wayuzakkĩhim = dan menyucikan mereka; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; al ‘azĩzul hakĩm = Maha Perkasa, lagi Mahabijaksana.

robbanã wab’asy fĩhim rosũlam minhum yatlũ ‘alayhim ayãtika wayu alimuhumul kitãba wal hikmata wayuzakkĩhim innaka antal ‘azĩzul hakĩm.

129. Ya Robb Aku, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Alkitab (Alqur’an) dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim juga berdoa untuk datangnya Rasul (Utusan) yang akan membacakan ayat-ayat Allah, Nabi Muhammad saw..

wa man = dan orang-orang yang; yarghabu ‘an = membenci; millati = agama; ibrōhĩma = ibrahim; illã = kecuali, melainkan; man = orang; safiha = memperbodoh; nafsahũ = dirinya sendiri; walaqadi = dan sesungguhnya; ashthofainãhu = Aku telah memilihnya; fid dun-yã = di dunia; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; fil ãkhirati = di akhirat; lamina = benar-benar termasuk; ash shãlihĩn = orang-orang yang saleh.

wa man yarghabu ‘am millati ibrōhĩma illã man safiha nafsahũ, walaqadish thofainãhu fid dun-yã, wa innahũ fil ãkhirati la minash shãlihĩn.

130. Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sesungguhnya, Aku telah memilihnya di dunia, dan sesungguhnya, di akhirat, dia benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang membenci agama Ibrahim adalah orang yang bodoh dan memperbodoh dirinya. Allah telah memilih ibrahim sebagai orang yang saleh di dunia maupun di akhirat.

idz = ketika; qōla = berfirman; lahũ = kepadanya; robbuhũ = Robbmu; aslim = patuhlah; qōla = dia berkata; aslamtu = aku patuh; li robbi = kepada Rob; al ‘ãlamĩn = alam semesta.
idz qōla lahũ, robbuhũ aslim, qōla aslamtu li robbil ‘ãlamĩn.
131. Ketika Allah berfirman kepadanya: “Tunduk, patuhlah kepada Robbmu!” Ibrahim menjawab: “Saya tunduk dan patuh kepada Pemilik, Penguasa semesta alam.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata “Islam” itu diambil dari kata pokok ini

wawashshã = dan telah menasihatkan; bihã = dengan ucapan itu; ibrōhĩmu = ibrahim; banĩhi = anak-anaknya; wa ya’qũbu = dan Ya’qub; yã baniyya = wahai anakku; inallãha = sesungguhnya Allah; ash thafã = telah memilih; lakum = bagi kamu semua; ad dĩna = agama; falã = maka janganlah; tamũtuna = kamu mati; illã = kecuali; wa antum = dan kamu semua; muslimũn = orang yang berserah. diri.

wawashshã bihã ibrōhĩmu banĩhi wa ya’qũbu yã baniyya inallãha ash thafã lakum ad dĩna falã tamũtuna illã wa antum muslimũn

132. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. Ibrahim berkata: “Hai anak-anakku!, sesungguhnya, Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam Islam.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Islam itu sudah ada sejak Adam, Ibrahim, Ya’qub, sampai ke Nabi Muhammad saw.sebagai Nabi yang terakhir. Dalam pengamalannya, umatnya sering menyeleweng dari ketentuan pokoknya, yaitu mengesakan Allah. Banyak yang menduakan Allah.

am = apakah; kuntum = kamu adalah; syuhadã-a = menyaksikan; idz = ketika; hadhara = hadir; ya’qũba = Ya’qub; al mautu = maut, mati; idz = ketika; qōla = dia berkata; li banĩhi = kepada anak-anaknya; mã ta’budũna = apa yang kau sembah; min ba’dĩ = dari sesudah; qōlũ = mereka menjawab; na’budu = Aku akan menyembah; ilãhaka = Allah kamu; wailaha = dan ilah; ãbã ika = bapak-bapak kamu; ibrōhĩma = Ibrahim; wa isma’ĩla = dan Ismail; wa ishãqa = dan Ishaq; ilãhan = AIlah; wãhidaan = satu; wa nahnu = dan Aku; lahũ = kepada-Nya; muslimũn = orang-orang yang patuh.

am kuntum syuhadã-a idz hadhara ya’qũbal mautu idz qōla li banĩhi mã ta’budũna min ba’dĩ, qōlu na’budu ilãhaka wailaka ãbã ika ibrōhĩĩma wa isma’ĩla, wa ishãqa ilãhan wãhidaan, wa nahnu lahũ muslimũn.

133. Apakah kamu hadir ketika Ya’qub hendak wafat, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang akan kamu sembah sepeninggal-ku?” Mereka menjawab: “Aku akan menyembah Allahmu, dan Allah nenek-moyangmu Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Allah Yang Mahaesa, dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kita semua dengan pertanyaan Ya’qub kepada anak-anaknya, ketika beliau akan wafat. Jawabannya merupakan janji bagi keturunan selanjutnya, sampai kita sekarang ini, dan untuk umat manusia pada masa yang akan datang. Kita harus menyembah, tunduk dan patuh hanya kepada Allah Yang Mahaesa dan mempercayai Nabi-nabi-Nya

tilka = itulah; ummatun = umat; qod kholat = sungguh telah lalu; lahã = baginya; mã kasabat = apa yang ia usahakan; walakum = dan bagimu; mã kasabtum = apa yang kamu usahakan; wa lã tus’alũna = dan kamu tidak akan ditanya; ammã = tentang apa; kaanũ = adalah mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.

tilka ummatun qod kholat lahã mã kasabat walakum mã kasabtum wa lã tus’alũna ammã kaanũ ya’malũn.

134. Itu adalah umat yang lalu; baginya, apa yang telah diusahakan, dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keluarga Ya’qub itu merupakan sejarah masa lalu, yang harus menjadi catatan, cermin, pelajaran untuk masa sekarang, dan masa yang akan datang. Pertanggungjawaban apa yang sudah, dan belum dikerjakan menjadi tanggung jawab mereka. Kita harus dapat mengambil pelajaran, apa yang harus kita kerjakan sekarang, dan untuk masa yang akan datang, harus lebih baik dari masa lalu. Hasil kerja hari esok harus lebih baik dari hasil kerja sekarang.

wa qōlũ = dan mereka berkata; kũnũ = jadilah kamu; hũdaan = Yahudi; au nashorō = atau nasrani; tahtadũ = kamu akan mendapat petunjuk; qul = katakanlah; bal = bahkan; millata = agama; ibrōhĩma = ibrahim; khanifan = lurus; wa mã kaana = dan dia bukan jadi; minal musyrikĩn = dari (kelompok) orang musyrik.

wa qōlũ kũnũ hũdaan au nashorō tahtadũ, qul bal millata ibrōhĩma khanifan wa mã kaana minal musyrikĩn.

135. Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, melainkan Aku mengikuti agama Ibrahim yang lurus. (Ibrahim), dia bukanlah dari kelompok musyrik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar kita harus dapat mengatakan “tidak” kalau ada orang yang menganjurkan agar menjadi penganut Yahudi atau Nasrani. Islam adalah agama Ibrahim yang lurus. Agama Yahudi dan Nasrani yang sekarang sudah bengkok karena sudah direkayasa oleh para pengikutnya (ada yang dikurangi, ada yang ditambahi, ada yang ditutup-tutupi/disembunyikan). Islam itu merupakan agama yang sudah sempurna, lihat Q.s. Ali ‘Imran, 3: 19. yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus.

qōlũ = katakanlah; ãmannã = Aku beriman; bil lãhi = kepada Allah; wamã = dan apa; unzila = yang diturunkan; ilainã = kepada Aku; wamã = dan apa; unzila = yang diturunkan; ilã = dari, kecuali, selain, melainkan, dari, kepada, sampai, hingga, hanya; ibrãhĩma = Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan kepada ismail; wa ishãqa = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; wal asbãthi = dan anak-cucunya; wa mã ũtiya = dan apa yang diberikan; mũsã = Musa; wa ‘ĩsã = dan Isa; wa mã = dan apa yang; ũtiya = diberikan; an nabiyyũna = Nabi-nabi; min robbihim = dari Rob mereka; lanufarriqu = Aku tidak membeda-bedakan; baina = di antara; ahadin = seseorang; minhum = dari mereka; wa nahnu = dan Aku; lahũ = kepadanya; muslimũn = orang-orang yang tunduk, patuh.

qōlũ ãmannã bil lãhi wamã unzila ilainã wamã unzila ilã ibrãhĩma wa ismã’ĩla wa ishãqa wa ya’qũba wal asbãthi wa mã ũtiya mũsã wa ‘ĩsã wa mã ũtiyan nabiyyũna min robbihim, lanufarriqu baina ahadin minhum, wa nahnu lahũ muslimũn.

136. Katakanlah, hai orang-orang Mukmin: “Aku beriman kepada Allah, dan apa yang diturunkan kepada Aku, dan apa yang diturunkan hanya kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa , ‘Isa, serta apa yang telah diberikan kepada Nabi-nabi dari Rabnya. Aku tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan Aku hanya tunduk, patuh kepada-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Islam tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, maksudnya keimanannya sama, hanya kepada Allah Yang Mahaesa, bukan berarti tidak membedakan manusia yang satu dengan yang lainnya karena manusia itu berbangsa-bangsa, bersuku-suku, berbahasa-bahasa. Perbedaan di antara manusia itu ada, jika dilihat dari keimanannya, ketaqwãnnya, mata pencahariannya, kebangsaannya, kesukuannya, kebahasaannya. Kesamaan pada keimanan, ketundukan, dan kepatuhannya hanya kepada Allah, keimanan, ketundukan, dan kepatuhannya kepada para Nabi yang diutus-Nya, dan apa yang diturunkan-Nya kepada mereka, temasuk iman kepada Nabi Muhammad saw.sebagai Rasulullah dengan Alkitabnya, Alqur’an.

fain = maka jika; ãmanũ = mereka beriman; bimisyli = seperti; mã = apa yang; amantum = kamu telah beriman; bihi = kepadanya; fa = maka; qodihtadau = sungguh mereka mendapat petunjuk; wa intawallau = dan jika kamu berpaling; fa = maka; innamã = sesungguhnya hanyalah; hum = mereka; fĩ syiqōqi = dalam permusuhan; fa = maka; sayakfĩkahumu = memelihara kamu dari mereka; allahu = Allah; wa huwa = dan Dia; as samĩ’ul ‘alĩm = Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

fain ãmanũ bimisyli mã amantum bihi, fa qodihtadau wa intawallau fainnamã hum fĩ syiqōqi fasayakfĩkahumullah, wa huwas samĩ’ul ‘alĩm.

137. Maka, jika mereka beriman kepada Apa yang telah kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan dengan kamu. Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman itu orang yang mendapat petunjuk, pelajaran, pengarahan, bimbingan. Orang yang tidak beriman menjadi musuh orang yang beriman. Ini hukum Allah. Allah akan memenangkan orang yang beriman pada keberadaan-Nya. Ada hukum persaudarÃn, ada hukum permusuhan. Perbanyak persaudrÃn, hindari permusuhan. Mempunyai musuh satu, terlalu banyak persoalanannya.

sibghatallahi = celupan Allah; wa man = dan siapa; akhsanu = lebih baik; minallahi = daripada Allah; shibghatan = celupan; wa nahnu = dan Aku; lahu = kepada-Nya; ‘ãbidũn = orang-orang yang menyembah.
sibghatallahi wa man akhsanu minallahi shibghatan wa nahnu lahu ‘ãbidũn
138. Shibghah Allah (warna celupan = agama, Dienullah). Dan siapakah yang lebih baik celupannya selain dari celupan Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah Aku menyembah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kehidupan beragama manusia diumpamakan sebagai celupan Allah, tentunya celupan Allah itu baik, sangat baik. Seharusnyalah manusia itu selalu dalam pengabdian kepada-Nya.

qul = katakanlah; atuhãjjũnanã = apakah kamu memperdebatkan dengan Aku; fillãhi = tentang Allah; wa huwa = dan Dia; robbunã = Rob Aku; wa robbukum = dan Rob kamu; wa lanã = dan bagi Aku; a’mãlunã = amalan Aku; wa lakum = dan bagi kamu; a’mãlukum = amalan kamu; wa nahnu = dan Aku; lahũ = kepada-Nya; mukhlishũn = orang-orang yang mengikhlaskan hati.

qul atuhãjjũnanã fillãhi wa huwa robbunã wa robbukum wa lanã a’mãlunã wa lakum a’mãlukum wa nahnu lahũ mukhlishũn.

139. Katakanlah: “Apakah kamu memperdebatkan dengan Aku tentang Allah, padahal Dia adalah Robb Aku dan Robb kamu; bagi Aku amalan Aku, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya Aku mengikhlaskan hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat surat al Ikhlas. Allah Yang Mahaesa itu junjungan semua makhluk-Nya, amalan yang tebaik adalah pengabdian yang ikhlas hanya kepada-Nya, berdasarkan tuntunan Sunah dari Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad saw..

am taqũlũna = atau kamu mengatakankah; inna ibrōhĩma = sesungguhnya Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan Ismail; wa iskhãqo = dan Ishak; wa ya’qũba = dan Ya’qub; wal asbãtha = dan anak-cucunya; kaanũ = adalah mereka; hũdan = orang Yahudi; au nashãrō = atau Nasrani; qul a-antum = katakanlah apakah kamu; a’lamu = lebih mengetahui; amillãhu = ataukah Allah; wa man azhlamu = dan siapa yang lebih lalim; mimman = daripada orang; katama = yang menyembunyikan; syahãdatan = kesaksian; indahũ = dirinya; minal lãhi = daripada Allah; wa mallahu = dan tidaklah Allah; bi ghãfilin = lalai; ‘amma = dari apa; ta’malũn = kamu kerjakan.

am taqũlũna inna ibrōhĩma wa ismã’ĩla wa iskhãqo wa ya’qũba wal asbãtha kaanũ hũdan au nashãrō, qul a-antum a’lamu amil lãhu, wa man azhlamu mimman katama syahãdatan indahũ minal lãhi, wa mal lahu bi ghãfilin ‘amma ta’malũn.

140. Ataukah kamu (orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan Ibrahim Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu yang lebih mengetahui, ataukah Allah?, dan siapakah yang lebih lalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah (persaksian) dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekejap pun tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.“

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat ayat 42, 146, 159, 174, 187.
Agama Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-cucunya adalah penganut agama Allah, Islam; seperta yang dibawakan Nabi Muhammad saw.sekarang ini. Jangan ada persaksian yang ditutup-tutupi atau disembunyikan.

tilka = itu; ummatun = umat; qod kholat = telah lalu; lahã = baginya; mã = apa yang; kasabat = dia usahakan; wa lakum = dan bagimu; mã = apa yang; kasabtum = kamu usahakan; wa lã = dan tidak; tus-alũna = kamu ditanya; ‘ammã = tentang apa; kaanũ = adalah mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.

tilka ummatun qod kholat, lahã mã kasabat wa lakum mã kasabtum, wa lã tus-alũna ‘ammã kaanũ ya’malũn.

141. Itu adalah umat yang telah lalu, baginya, apa yang telah dia usahakan, dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw.tidak akan diminta pertanggungjawaban atas umat masa lalu dan juga atas umat masa sekarang. Mereka diberi keleluasaan untuk memilih yang benar berdasarkan akal dan pikirannya. Allah sudah menyampaikan petunjuk-Nya kepada yang disukai (Nabi Muhammad saw.).

Juz 2
Keesaan Allah akhirnya yang menang.

sayakũlu = akan berkata; as sufahã-u = orang-orang bodoh; kurang berakal minan nasi = di antara manusia; mã wallahum = apa yang memalingkan mereka; ‘an qiblatihimu = dari kiblat mereka; al latĩ = yang; kaanũ = adalah mereka; ‘alaihã = kepadanya; qul = katakanlah; lillahi = kepada Allah; al masyriku = timur; wal maghribu = dan barat; yahdĩ = Dia memberi petunjuk; man = orang; siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; ilã shirōthim mustaqĩm = kepada jalan yang lurus.

sayakũlus sufahã-u minan nasi mã wallahum ‘an qiblatihimul latĩ kaanũ ‘alaihã, qul lillahil masyriku wal maghribu, yahdĩ may yasyã-u ilã shirōthim mustaqĩm

142. Katakanlah: “Kepunyaan Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini Allah menyebut orang Yahudi dan orang Kristiani dengan sebutan orang-orang yang kurang berakal. Ciri orang yang tidak berakal, meremehkan dan melecehkan kewajiban-kewajiban dari Allah; kalau berdzikir pikirannya tidak terpusat pada yang didzikirkan, banyak berbicara saat berdzikir; melanggar hukum Allah.
Perubahan kiblat umat Islam itu atas petunjuk Allah, tidak sesuka Nabi Muhammad saw.. Ada hikmah di balik peralihan kiblat itu, ujian keimanan!!!. Manusia di samping harus menggunakan akal dan pikiran, harus juga menggunakan rasa imannya kepada Allah Yang Mahaesa atas pemberitahuan perubahan kiblat itu.

wa kadzalika = dan demikian itu; ja’alnãkum = Aku telah menjadikan kamu; ummatan = umat; wasathan = pertengahan; al litakũnũ = agar kamu menjadi; syuhadã-a = saksi-saksi; ‘alan nãsi = atas manusia; wayakũna = dan adalah; ar rosũlu = Rasul; ‘alaykum = atas kamu; syahĩdan = saksi-saksi; wa mã ja’alna = dan tidaklah Aku jadikan; al qiblata = kiblat; al latĩ = yang; kunta = adalah kamu; ‘alaihã = kepadanya; illã = kecuali; melainkan; lina’lama = agar Aku mengetahui; man = orang, siapa; yattabi’u = ia mengikuti; ar rasũla = Rasul; mimman = dari pada orang; yanqalibu = ia berbalik; ‘alã ‘aqibaihi = atas dua tumitnya; wa inkaanat = dan sebenarnya adalah; la kabĩratan = sungguh berat; illã = kecuali; ‘alal ladzĩna = atas orang-orang; hada = memberi petunjuk; al lãhu = Allah; wa mã kaana = dan tidak ada; al lãhu = Allah; liyudhĩ’a = hendak menyia-nyiakan; ĩmaanakum = iman kamu; innal lãha = sesungguhnya Allah; binnasi = kepada manusia; lara-ũfu = amat pengasih; ar rohĩm = Maha Penyayang

wa kadzalika ja’alnãkum ummatan wa sathal litakũnũ syuhadã-a ‘alan nãsi wayakũnar rosũlu ‘alaykum syahĩdan wa mã ja’alnal qiblatal latĩ kunta ‘alaihã illã lina’lama man yattabi’ur rasũla mimman yanqalibu ‘alã ‘aqibaihi, wa inkaanat lakabĩratan illã ‘alal ladzĩna hadal lãhu, wa mã kaanal lãhu liyudhĩ’a ĩmaanakum, innal lãha binnasi lara-ũfur rohĩm.

143. Demikian pula Aku telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia, dan agar Rasul (Muhammad saw.) menjadi saksi atas sikap dan perbuatan kamu. Dan Aku tidak menjadikan kiblat yang menjadikan kiblatmu sekarang, melainkan agar Aku mengetahui kenyataan, siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang menolak. Dan, sungguh pemindahan kiblat itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini Allah menyapa umat Islam dengan kamu atas petunjuk Allah, perubahan kiblat itu ternyata menjadi batu uji bagi keimanan seseorang.

qod = sungguh; narã = Aku melihat; taqolluba = berulang-ulang; wajhika = mukamu; fissamã’i = ke langit; falanuwalliyannaka = maka Aku memalingkan kamu; qiblatan = kiblat; tardhōhã = kamu sukai; fawalli = maka palingkan; wajhaka = mukamu; syathro = ke arah; al masjidil harãmi = Masjidil Haram; wa haisyu mã = dan di mana saja; kuntum = kamu; fawallũ = maka palingkanlah; wujũhakum = mukamu; syathrohu = ke arahnya; wa inna = dan sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtu = (mereka) diberi; al kitãba = kitab; laya’lamũna = sungguh mereka mengetahui; annahu = sesungguhnya itu; al haqqu = benar; mir robbihim = dari Rob mereka; wa mal lãhu = dan tidaklah Allah; bighōfilin = dengan lengah; ‘ammã = dari apa; ya’malũn = merek kerjakan.

qod narã taqolluba wajhika fissamã’ falanuwalliyannaka qiblatan tardhōhã, fawalli wajhaka syathrol masjidil harãmi wa haisyu mã kuntum fawallũ wujũhakum syathrohu, wa innal ladzĩna ũtul kitãba laya’lamũna annahul haqqu mir robbihim wa mal lãhu bighōfilin ‘ammã ya’malũn.

144. Sungguh Aku sering melihat mukamu (Muhammad saw.) menengadah ke langit, maka sungguh benar, Aku akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang diberi Alkitab (Taurat, dan Injil, Sabi’in) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; Allah sekejap pun tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw.juga sesungguhnya mengharapkan wahyu dari Allah untuk adanya perubahan kiblat itu. Dalam Alkitab orang Yahudi dan Nasrani juga sebetulnya sudah ada petunjuk untuk itu, dari Allah.

walain = dan sesungguhnya, jika; ataita = kamu mendatangkan; al ladzĨna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Alkitab; bikulli = dengan tiap-tiap, semua; ayati = ayat, keterangan; am mã tabi’ũ = mereka tidak mengikuti; al kiblataka = kiblatmu; wa mã anta = dan kamu tidak; bitãbi’in = dengan mengikuti; qiblatahum = kiblat mereka; wa mã ba’dhuhum = dan tidak sebagian mereka; bitãbi’in = dengan mengikuti; qiblata = kiblat; ba’dhin = sebagian yang lain; wa laini = dan sungguh, jika; at taba’ta = kamu mengikuti; ahwã ahum = keinginan mereka; mim ba’di = dari sesudah; mã jã-aka = apa yang datang kepada kamu; minal ‘ilmi = dari ilmu; innaka = sesungguhnya kamu; idzãn = kalau begitu; lamina = termasuk golongan; azh zhōlimĨn = orang-orang yang lalim.

walain ataital ladzĨna ũtũl kitãba bikulli ayatim mã tabi’ũl kiblatak, wa mã anta bitãbi’in qiblatahum, wa mã ba’dhuhum bitãbi’in qiblata ba’dhin wa lainit taba’ta ahwã ahum mim ba’di mã jã-aka minal ‘ilmi innaka idzãl laminazh zhōlimĨn.

145. Sesungguhnya, jika kamu mendatangkan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil), semua keterangan (ayat) mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun, tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Sesungguhnya, jika kamu mengikuti keinginan mereka, setelah datang ilmu kepadamu, maka kamu termasuk golongan orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keterangan dalam Taurat dan Injil juga menyatakan, bahwa masing-masing umat akan mempunyai kiblat sendiri-sendiri. Orang yang mengikuti keinginan mereka, artinya berkiblat seperti yang ditunjukkan Taurat dan Injil setelah datangnya agama Islam disebut orang lalim. Artinya mereka mencelakai diri sendiri.

al ladzina = orang-orang yang; ãtainahumu = telah Aku berikan kepada mereka; al kitãba = Alkitab; ya’rifũnahũ = mereka mengenalnya (Muhammad saw.); kamã = sebagaimana, seperti; ya’rifũna = mereka mengenal; abnã-ahum = anak-anak mereka; wa inna farĨqōn = dan sesungguhnya segolongan; min hum = di antara mereka; la yaktumũna = sungguh mereka menyembunyikan; al haqo = kebenaran; wahum = dan mereka; ya’lamũn = mereka mengetahui.

al ladzina ãtaina humul kitãba ya’rifũnahũ kamã ya’rifũna abnã-ahum, wa inna farĨqōm min hum la yaktumũnal haqo wahum ya’lamũn

146. Orang-orang Yahudi, Nasrani yang telah Aku beri Alkitab (Taurat, dan Injil,) mengenal Muhammad saw.seperti mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya, sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat ayat 42, 140, 159, 174, 187 Artinya, orang-orang itu (Yahudi, Nasrani, dan Islam) bersaudara, ada hubungan keturunan, sesuai dengan yang sudah tersurat di dalam Alkitabnya.

al haqqu = kebenaran; mir robbika = dari Rob kamu; falã takũnanna = maka jangan sekali-kali kamu; minal mumtarĨn = dari, termasuk orang-orang yang ragu.
al haqqu mir robbika falã takũnanna minal mumtarĨn.
147. Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi orang yang beriman pada kerasulan Nabi Muhammad saw., mereka percaya kebenaran itu dari Allah. Lihat Q.s. Ali ‘ImrÃn, 3: 60 (sama).

walikullin = dan bagi tiap-tiap umat; wijhatun = wajah, tujuan (kiblat); huwa = ia; muwallĨhã = menghadapnya; fãstabiqũ = maka berlomba-lombalah kamu; al khairōti = kebaikan; ainamã = di mana saja; takũnũ = kamu berada; ya’ti = mendatangkan; bikum = dengan kamu; mullahu = Allah; jamĨ’an = semua, sekalian; innallaha = sesungguhnya Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai’in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

walikullin wijhatun huwa muwallĨhã fãstabiqũl khairōti ainamã takũnũ ya’tibikum mullahu jamĨan innallaha ‘alã kulli syai’in qodir.

148. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya sendiri-sendiri, ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan menyatukan kamu sekalian pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kesimpulan dari peristiwa perubahan kiblat itu, memang setiap umat itu ada kiblat peribadatannya masing-masing. Jika semua orang mau berlumba-lumba untuk kebaikan, maka di dunia akan menyatu dalam keimanan, dan di akhirat akan menyatu juga di surga yang dijanjikan Allah.

wa min haisyu = dan dari mana saja; kharojta = kamu keluar; fawalli = maka hadapkanlah; wajhaka = wajah kamu; syathrol = ke arah; masjidil harãm = Masjidil Haram; wa innahũ = sesungguhnya ketentuan; lal haqqu = benar-benar hak; mir robbika = dari Robb kamu; wa mãllãhu = dan tidaklah Allah; bi ghōfilin = dengan lalai; ‘ammã = dari apa yang; ta’malũn = kamu kerjakan

wa min haisyu kharojta fawalli wajhaka syathrol masjidil harãm, wa innahũ lal haqqu mir robbika, wa mãllãhu bi ghōfilin ‘ammã ta’malũn.

149. Dan dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekejap pun tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya (Muhammad saw.) di mana pun, saat beribadah (salat), hendaknya menghadapkan mukanya ke arah Masjidil Haram

wa min haisyu = dan dari mana saja; kharojta = kamu berangkat; fawalli = maka hadapkanlah; wajhaka = wajah kamu; syathro = ke arah; al masjidil harãmi = Masjidil Haram; wakhaisyu mã = dan di mana saja; kuntum = kamu berada; fawallũ = maka hadapkanlah; wujũhakum = wajah kamu; syathrohũ = ke arahnya; liallã = agar tidak; yakũna = ia ada; linnasi = bagi manusia; ‘alaykum = atas kamu; hujjatun = alasan; illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = (mereka) lalim; minhum = di antara mereka; fa lã = maka janganlah; takhsyauhum = kamu takut kepada mereka; wãkhsyaunĩ = dan takutlah kepada-Ku; waliutimma = dan agar Kuutamakan / Kusempurnakan; ni’matĩ = nikmat-Ku; ‘alaykum = kepadamu; wa la ‘allakum = dan supaya kamu; tahtadũn = kamu mendapat petunjuk.

wa min haisyu kharojta fawalli wajhaka syathrol masjidil harãmi, wakhaisyu mã kuntum fawallũ wujũhakum syathrohũ liallã yakũna linnasi ‘alaykum hujjatun illãl ladzĩna zholamũ minhum, fa lã takhsyauhum wãkhsyaunĩ, waliutimma ni’matĩ ‘alaykum wa la ‘allakum tahtadũn.

150. Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu sekalian berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang lalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kiblat itu alat untuk menyeragamkan dalam beribadah (salat), berdoa, berkomunikasi dengan Allah.

kamã = sebagaimana, seperti; arsalnã = Aku telah mengutus; fĩkum = kepada kamu; rasũlan = seorang Rasul; minkum = di antara kamu; yatlũ = dia membaca; ‘alaykum = kepada kamu; ãyãtinã = ayat-ayat Aku; wa yuzakkĩkum = dan dia menyucikan kamu; wa yu’allimukumu = dan dia mengajarkan kamu; al kitãba = Alkitab; wal khikmata = dan Hikmah; wa yu’allimukum = dan dia mengajarkan kamu; mã lam = apa yang belum; takũnũ = adalah kamu; ta’lamũn = kamu ketahui.

kamã arsalnã fĩkum rasũlan minkum yatlũ ‘alaykum ãyãtinã wa yuzakkkum wa yu’allimukumul kitãba wal khikmata wa yu’allimukum ma lam takũnũ ta’lamũn.

151. Sebagaimana Aku telah mengutus kamu sebagai Rasul di lingkungan kamu yang membacakan ayat-ayat Aku kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Alkitab dan Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum diketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutus Nabi Muhammad saw.sebagai Rasul di lingkungan hidupnya. Nabi Muhammad saw.membacakan Ayat-ayat Allah kepada masyarakat di lingkungannya. Allah menyucikan dan mengajarkan Alkitab, Hikmah, dan apa-apa yang belum diketahui Nabi Muhammad saw..

fãdzkurũnĩ = karena itu, ingatlah kepada-Ku; adzkurkum = Aku ingat kepadamu; wasykurũ lĩ = dan bersyukurlah kepada-Ku; wa lã takfurũn = dan jangan kamu kufur (ingkar) kepada-Ku.
fãdzkurũnĩ adzkurkum wasykurũ lĩ wa lã takfurũn.
152. Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kamu kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya agar selalu mengingat Allah, bersyukur kepada-Nya, dan jangan kufur kepada-nya.

yã ayyuhã = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; as ta’ĩnũ = mohon pertolongan; bish shobri = dengan sabar; washolãti = dan dengan salat; innallaha = sesungguhnya Allah; ma’a = beserta; ash shōbirĩn = orang-orang sabar.

yã ayyuhãl ladzĩna ãmanũs ta’ĩnũ bish shobri washolãti , innallaha ma’ash shōbirĩn

153. Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan dengan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini perintah Allah kepada orang yang beriman, bahwa kalau perlu pertolongan, hanya kepada Allah saja memintanya dengan kesabaran dan melalui salat, jangan kepada makhluk lain, kalaupun meminta tolong kepada orang lain, makhluk lain harus didahului basmalah, atau mengucapkan “demi Allah”. Doa, meminta apa-apa kepada Allah tanpa salat, sedikit kemungkinan untuk dikabulkan, kalau pun dikabulkan, dampaknya dapat negatif, tidak barokah di dunia, lebih-lebih di akhirat.

wa lã taqũlũ = dan jangan kamu mengatakan; liman = terhadap orang; yuqtalu = terbunuh, gugur; fĩ sabĩlil lãhi = di jalan Allah; amwãtun = mati; bal = tetapi, bahkan; ahyãun = hidup; walãkin = akan tetapi; lã tasy’urũn = kamu tidak menyadari

wa lã taqũlũ liman yuqtalu fĩ sabĩlil lãhi amwãtun, bal ahyãuw walãkil lã tasy’urũn.

154. Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahwa mereka itu mati; kenyataan sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadari.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang gugur di jalan Allah adalah orang yang berperang membela kebenaran, menjalani hidup sesuai dengan sunatullah dan hukumullah, yang mencari, meneliti, menyelidiki ilmu dan menyebarluaskan, mengajarkannya, mencari nafkah di jalan Allah, mereka sesungguhnya masih hidup, dalam arti karyanya masih dinikmati yang masih hidup, dikenang, dibesarkan, dihargai.

wa la nabluwannakum = dan sungguh akan Aku beri ujian, cobÃn; bi syai-in = dengan sesuatu; minal khaufi = dari ketakutan; wal jũ’ = dan kelaparan; wa naqsin = dan kekurangan; minal amwãli = dari harta; wal anfusi = dan jiwa; wasy syamarōti = dan buah-buahan; wa basysyĩri = dan berikan berita gembira; ash shōbirĩn = kepada orang yang sabar.

wa la nabluwannakum bi syai-im minal khaufi wal jũ’i wanaqsin minal amwãliw wal anfusi wasy syamarōti wa basyĩrish shōbirĩn.

155. Dan sungguh, akan Aku berikan ujian, cobÃn kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta diri, dan buah-buahan, dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hidup ini ujian dari Allah. Banyak persoalan dalam hidup ini harus bertawakal kepada Allah dan harus sabar, karena hal itu merupakan ujian dari Allah. Ujian ketakutan, misalnya: takut kebanjiran, takut tidak lulus ujian, takut celaka, takut susah, takut gunung meletus, dan lain-lain. Ujian kelaparan pada suatu saat mungkin kita merasa kelaparan karena kekurangan makanan, paceklik, penghasilan kurang atau tidak ada sama-sekali. Ujian kekurang harta dikenakan kepada orang-orang miskin, tidak mempunyai pekerjaan , dan lain-lain. Ujian takut kehilangan jiwa, misalnya pada saat berkendarÃn, kita takut kecelakaan, pada saat berlayar takut tenggelam, saat kita naik pesawat terbang, kita takut pesawat terbangnya jatuh, pada saat menghadapi keadaan genting. Kita diuji dengan kekurangan buah-buahan untuk melengkapi makanan sehari-hari. Allah akan memberikan kegembirÃn, kesenangan bagi orang yang menghadapi ujiannya dengan tawakal dan sabar. Artinya, kita harus berdoa sambil berusaha untuk terlepas dari ujian itu dengan sekuat tenaga kita.

aladzĩna = orang-orang yang; idzã = apabila; ashōbat = menimpa; hum = mereka; mushĩbatun = musibah; qōlũ = (mereka) mengucapkan; innã = sesungguhnya Aku; lillahi = dari (kepunyaan) Allah; wa = dan; innã = sesungguhnya Aku; ilaihi = kepada-Nya; rōji’ũn = Aku kembali.

aladzĩna idzã ashōbat hum mushĩbatun qōlũ innã lillahi wa innã ilaihi rōji’ũn.

156. yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “innã lillãhi wa innã ilaihi rōjiũn.” (Sesunguhnya Aku kepunyaan Allah, dan sesungguhnya Aku kembali kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini merupakan gambaran dari orang yang selalu bergantung kepada Allah. Segala sesuatu harus dikembalikan kepada Allah. Hanya Allah yang mengatur, menentukan segala apa yang terjadi di dunia ini. Manusia harus sabar menerima musibah di dunia, hadiahnya, ketenteraman, kedamaian, kesejahterÃn, kebahagiaan di dunia maupun nanti di akhirat. Lihat ayat 157 di bawah ini.

ũlãika = mereka itu; ‘alayhim = atas mereka; sholawãtun = kehormatan, keberkatan; mir robbihim = dari Robb mereka; wa rohmatun = dan rahmat; wa ulãika = dan mereka itu; humu = mereka; al muhtadũn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

ũlãika ‘alayhim sholawatun mir robbihim wa rohmatun, wa ulãika humul muhtadũn

157. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang mendapatkan dan melaksanakan petunjuk, hidupnya diberkati dengan sempurna, mendapatkan kebahagiaan, kesejahterÃn, ketenteraman, ketenangan, kesenangan, kedamaian yang sempurna.

innash shafã = sesungguhnya safa; wal marwata = dan marwa; min sya’ã-irillah = dari tanda-tanda Allah, syiar Allah; faman = maka barang siapa; hajja = berhaji; al baita = rumah, Baitullah; awi’tamaro = atau berumrah; walã junãkha = maka tidak berdosa; alaihi = baginya; an yath thawwafa = untuk bertawaf atau mengerjakan sa’i; bihimã = di antara keduanya; wa man = dan barang siapa; tathawwa’a = mengerjakan dengan kerelÃn; khairÃn = kebajikan; fainal lãha = maka sesungguhnya Allah; syãkirun = Maha Mensyukuri; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

innash shafã wal marwata min sya’ã-irillah faman hajjal baita awi’tamaro walã juna akha alaihi an yath thawwafa bihimã, wa man tathawwa’a khairÃn fainallōha syãkirun ‘alĩm

158. Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebahagiaan dari syi’ar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelÃn hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan, lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Syi’ar Allah artinya tanda-tanda lambang kemuliãn, kebesaran Allah, di mana-mana terdapat syi’ar Allah, termasuk di dalam Alqur’an ini. Namun, ada tempat-tempat khusus syi’ar Allah itu.
Sa’i ibadah dengan cara berjalan dan berlari-lari kecil pulang-pergi tujuh kali sambil melantunkan doa antara bukit Shafa dan Marwa ketika menunaikan ibadah haji atau umrah. Lambang kerelÃn, perjuangan seorang ibu, Siti Hajar, yang membutuhkan air untuk kelangsungan hidup Ismail, bayinya yang baru dilahirkan.
Allah Maha mensyukuri berbagai kebajikan yang dikerjakan makhluk-Nya sekecil apa pun. Allah Maha Mengetahui segala apa yang dilakukan seluruh makhluk-Nya.

innal ladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yaktumũna = (mereka) menyembunyikan; mã anzalnã = apa yang Aku turunkan; minal bayyinãti = dari keterangan-keterangan; wal hudã = dan petunjuk; mimba’di = dari sesudah; mã bayyannãhu = apa yang telah Aku terangkan; linnãsi = kepada manusia; fil kitãbi = dalam Alkitab; ũlãika = mereka itulah; yal’anuhumu = melaknati mereka; ullahu = Allah; wa yal ‘anuhumu = dan melaknati mereka; al lã’inũn = para pelaknat.

innal ladzĩna yaktumũna mã anzalnã minal bayyinãti wal hudã mimba’di mã bayyanahu linnãsi fil kitãbi, ũlãika yal’anuhumul llahu wa yal ‘anuhumul lã’inũn.

159. Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Aku turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Aku menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua makhluk yang dapat melaknati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat ayat 42, 140, 146, 174, 187
Peringatan kepada orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk jelas yang telah diturunkan Allah. Mereka akan dilaknati oleh semua makhluk yang memerlukan petunjuk itu untuk keselamatan, ketenangan, ketenteraman, kenyamanan, kebahagiaan hidupnya.

illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; tãbũ = bertobat; wa ashlahũ = dan mengadakan perbaikan; wa bayyanũ = dan mereka menerangkan; faũlãika = maka mereka itulah; atũbu = Aku menerima tobat; ‘alayhim = atas mereka; wa anã = dan Aku; at tawwãbur rohĩm = Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.

illãl ladzĩna tãbũ wa ashlahũ wa bayyanũ fa ũlãika atũbu ‘alayhim, wa anãt tawwãbur rohĩm

160. kecuali mereka yang telah tobat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan kebenaran, maka terhadap mereka itu Aku menerima tobatnya, dan Akulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Penerima tobat dan Penyayang kepada makhluk-Nya.

innal ladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; kafarũ = kafir; wa mã tũ = dan mereka mati; wahum = dan mereka; kuffarun = orang-orang kafir; ũlãika = mereka itu; ‘alayhim = pada mereka; la’natullãhi = Allah melaknati; wal malãikati = dan para Malaykat; wan nãsi ajma’ĩn = dan semua manusia.

innal ladzĩna kafarũ wa mã tũwahum kuffarun ũlãika ‘alayhim la’natullãhi wal malãikati wannãsi ajma’ĩn.

161. Sesungguhnya, orang-orang kafir, dan mereka mati dalam keadaan kafir, mereka itu mendapat laknat Allah, para Malaykat, dan semua manusia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini sudah jelas maknanya. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 89 manusia akan dilaknat, kalau ingkar pada apa yang sudah diketahui dari Alkitabnya, bahwa akan datang Pesuruh Allah yang akan diberi wahyu Alqur’an; 2: 159 manusia akan dilaknat, kalau menyembunyikan keterangan-keterangan yang jelas tentang akan datangnya Nabi Muhammad saw.dengan Alqur’annya.

khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; lã yukhaffafu = tidak diringankan; ‘anhumu = dari mereka ul ‘adzãbu = azab, siksa; wa lãhum = dan mereka tidak; yunzhorũn = tidak diberi tangguh.
khōlidĩna fĩhã lã yukhaffafu ‘anhumul ‘adzãbu wa lãhum yunzhorũn.
162. Mereka kekal di dalam laknat itu; tidak akan diringankan siksa mereka dan tidak pula diberi tangguh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat-ayat lain, ayat ini berulang-ulang diungkapkan. Maknanya sudah jelas, peringatan akan adanya laknat bagi orang yang tetap kafir, setelah turunnya Alqur’an, dengan segala perintah dan larangannya.

wa ilãhukum = dan Ilahmu; ilãhun = Ilah; wãhidun = wahid, esa, tunggal; lã ilãha = tidak ada ilah lain; illã = kecuali, melainkan; huwa = Dia; ar rohmanũr rohĩm = Maha Pemurah dan Maha Penyayang.

wa ilahukum ilãhun wãhidun lã ilãha illã huwar rohmanũr rohĩm.

163. Ilahmu adalah Ilah Yang Mahaesa, tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat peringatan untuk semua manusia. Lihat Q.s. al Ikhlas.

inna fĩ = sesungguhnya pada; kholqi = penciptaan as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wãkhtilãfi = dan pergantian; al laili = malam; wan nahãri = dan siang; wal fulki = dan bahtera; al latĩ = yang; tajrĩ = berlayar; fil bahri = di laut; bimã = dengan apa; yanfa’u = memberi manfaat ; an nãsa = manusia; wa mã anzala = dan apa yang menurunkan; allãhu = Allah; minas samã-i = dari langit; mim main = dari air; fa-ahyã = lalu Dia menghidupkan; bihi = dengannya; al ardho = bumi; ba’da mautihã = sesudah matinya; wa basysyã = dan Dia sebarkan; fĩhã = di dalamnya; min kulli = dari segala; dãbbatin = binatang; wa tashrĩfĩ = dan perputaran; ar riyãhi = angin; wassahãbi = awan; al musakhkhari = dikendalikan; baina = antara; as samã-i = langit; wal ardhi = dan bumi; la-ãyãtin = sungguh tanda-tanda; li qaumin = bagi kaum; ya’qilũn = mereka berakal.

inna fĩ kholqis samãwãti wal ardhi wãkhtilãfil laili wãn nahãri wal fulkil latĩ tajrĩ fĩl bahri bimã yanfa’un nãsa wa mã anzalal lãhu minas samã-i mim mãin fa-ahyã bihil ardho ba’da mautihã wa batstsã fĩhã min kulli dãbbatin wa tashrĩfĩr riyãhi wassahãbil musakhkhari bainas samã-i wal ardhi la-ãyãtin li qaumin ya’qilũn.

164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang ditutunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis binatang, dan perpindahan angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum yang memikirkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penciptaan langit dan bumi berproses dan mengakibatkan terjadinya berbagai proses lain yang memunculkan beribu-ribu ilmu dalam kehidupan manusia. Harus digali dan dikembangkan, menunjukkan keesaan dan kebesaran Allah.

wa minan nãsi = dan sebagian manusia; man = orang; yattakhidzu = dia menyembah; min dũnillahi = dari selain Allah; andãdan = tandingan-tandingan; yuhibũnahum = mereka mencintainya; kahubbillãhi = sebagaimana mencintai Allah; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; asyaddu = amat sangat; hubban = cinta; lillah = kepada Allah; walau = dan seandainya; yarã = melihat; aladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; idz = ketika; yarauna = mereka melihat; al ‘adzãba = siksa, azab; annal quwwata = bahwa kekuatan; lillahi = kepunyaan Allah; jamĩ’an = semuanya; wa annallaha = dan bahwa Allah; syadĩdul ‘adzab = amat berat azab/siksanya.

wa minan nãsi may yattakhidzu min dũnillahi andãday yuhibũnahum kahubbillãhi walladzĩna ãmanũ asyaddu hubbal lillah walau yarol ladzĩna zholamũ idz yaraunal ‘adzãba annal quwwata lillahi jamĩ’an wa annallaha syadĩdul ‘adzab.

165. Dan sebagian manusia, ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya, sebagimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah. Dan, seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui, ketika mereka melihat siksa pada hari kiamat, bahwa semua kekuatan itu kepunyaan Allah, dan bahwa Allah amat berat siksa-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Mahahebat, Maha Memiliki segala apa yang di langit dan di bumi, namun ada saja orang yang mengagungkan dan mencintai selain Allah. Peringatan siksa yang amat berat bagi orang kafir, musyrik, munafik, fasik, dan murtad.

idz = ketika; tabarro-a = berlepas tangan; alladzĩna = orang-orang yang; at tubi’ũ = (mereka) dĩkuti; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; at taba’ũ = (mereka) mengikuti; waro-awu = dan mereka melihat; al ‘adzãba = siksa; wa taqoththo’at = dan terputuslah; u bihi mu = dengan mereka; al asbãb = sebab-sebab, hubungan.

idz tabarro alladzĩnat tubi’ũ minal ladzĩnat taba’ũ waro-awul ‘adzãba wa taqoththo’atu bihimul asbãb

166. Yaitu, ketika orang-orang yang dĩkuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan ketika segala sebab hubungan antara mereka terputus sama sekali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran ketika orang-orang yang menyesatkan terkena siksa, dan berlepas diri (tidak mau bertanggung jawab) pada orang yang disesatkan. Ada beberapa ayat yang mengungkapkan hal ini.

waqōla = dan berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; at tabaũ = mereka mengikuti; lau = seandainya; anna lanã = bahwa bagi Aku; karrotan = kembali lagi; fanatabarro-a = maka Aku berlepas diri; minhum = dari mereka; kamã = sebagaimana; tabarra-ũ = mereka berlepas diri; minnã = dari Aku; kadzalika = demikianlah; yurĩhimu = memperlihatkan kepada mereka; al lãhu = Allah; a’mãlahum = amal mereka; hasarōtin = penyesalan; ‘alayhim = atas mereka; wa mã hum = dan tidaklah mereka; bikhãrijĩna = dengan orang-orang yang keluar; minannar = dari neraka.

waqōlal ladzĩnat tabaũ lau anna lanã karrotan fanatabsrro-a minhum kamã tabarro-ũ minnã kadzalika yurĩhimul lãhu a’mãlahum hasarōtin ‘alayhim wa mã hum bikhãrijĩna minannar.

167. Berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya Aku dapat kembali ke dunia, pasti Aku akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari Aku.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan mereka tidak akan keluar dari api neraka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penyesalan orang yang mengikuti orang yang sesat dalam beriman. Mereka tidak dapat keluar dari siksa neraka. Oleh karena itu, pelajari Alqur’an, Sunah, dan Hadis.

yã ayyuhan nãsu = wahai manusia; kulũ = makanlah; mimmã = dari apa; fil ardhĩ = di bumi; halãlan = halal; thoyyibÃn= baik, bersih; wa lã tattabi’ũ = dan jangan kamu mengikuti; khuthuwãti = langkah-langkah; asy syaithōni = setan; innahũ = sesungguhnya ia; lakum = bagimu; ‘aduwum mubĩn = musuh yang nyata.

yã ayyuhan nãsu kulũ mimmã fil ardhĩ halãlan thoyyibÃn wa lã tattabi’ũ khuthuwãtisy syaithōni, innahũ lakum ‘aduwum mubĩn

168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah kepada manusia: makanan harus halal (lihat ayat 172), dan baik; jangan mengikuti langkah-langkah setan. Makanan harus halal: a. jenis makanan yang dibolehkan: nasi, jagung, ubi-ubian, biji-bijian, kurma, gandum, sayur-mayur, buah-buahan, dan lain-lain; bukan jenis makanan yang haram, seperti babi, kodok, bangkai (kecuali bangkai ikan), yang disembelih tanpa menyebut nama Allah; memabukkan; b. dicari dan didapat dengan cara yang halal, dan dengan etika, estetika, emika yang baik dan benar mengatasnamakan (menyebut nama) Allah; c. diolah dan dimasak dengan etika, estetika, emika yang baik dan benar, mengatasnamakan (menyebut nama) Allah; d. dimakan dengan etika, estetika, emika yang baik dan benar, mengatasnamakan (menyebut nama) Allah.
“langkah-langkah setan”: memakan makanan dan meminum minuman yang memabukkan, didapat dari kejahatan, perbuatan keji, menipu, memalsu, merusak, berbohong, membunuh orang; menyusahkan orang lain, tidak / kurang memberi upah.

innamã = sesungguhnya hanyalah; ya’murukum = ia menyuruh kamu; bi sũ-i = dengan kejahatan; wal fakhsyã-i = dan perbuatan keji; wa = dan; anta = = supaya kamu; qũlũ = mengatakan; ‘alal lãhu = kepada Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu ketahui.

innamã ya’murukum bi sũ-i wal fakhsyã-i wa antaqũlũ ‘alal lãhu mã lã ta’lamũn.

169. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah, apa yang tidak kamu ketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan sepak terjang setan itu selalu menyuruh untuk berbuat jahat dan keji, dan mengatakan sesuatu yang tidak kita ketahui fakta dan datanya.
Berbuat jahat: mencuri, merampok, mencopet, menyakiti orang, membunuh orang tanpa hak, menghina, memfitnah, menjerumuskan orang ke lembah nista.
Berbuat keji: menipu, memalsu, membohong, merusak, menyakiti hati, mengolok-olok, mengejek orang, tidak atau kurang memberi upah; tidak sopan, tidak simpatik, perbuatan hina: zinah, melacur, minta-minta dengan tidak semestinya,

wa idzã = dan apabila; qĩla = dikatakan; lahumu = kepada mereka; at tabi’ũ = ikutilah; mã anzala = apa yang diturunkan; al lãhu = Allah; qōlũ = mereka berkata; bal = bahkan tidak; nattabi’u = Aku mengikuti; mã alfainã = apa yang Aku dapati; ‘alayhi = padanya; ãbã-anã = bapak-bapak Aku; awalau = apakah walaupun; kaana = adalah; ãbã-uhum = bapak-bapak mereka; lã ya’qilũna = tidak mengerti; syaian = sedikit pun; wa lã yahtadũn = dan mereka tidak mendapatkan petunjuk.

wa idzã qĩla lahumut tabi’ũ mã anzalal lãhu qōlũ bal nattabi’u mã alfainã ‘alayhi ãbã-anã, awalau kaana ãbã-uhum lã ya’qilũna syaian wa lã yahtadũn.

170. Dan, apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “Tidak, tetapi Aku hanya mengikuti apa yang telah Aku dapati dari perbuatan nenek-moyang Aku.” Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengerti sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menginformasikan tentang sikap dan perbuatan orang kafir.
Allah mempertanyakan secara retoris: “Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek-moyang mereka itu tidak mengerti sesuatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?”

wa matsalu = dan perumpamaan; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; kamatsali = seperti perumpamaan; al ladzĩ = orang yang; yan’iqu = dia memanggil; bimã = kepada binatang; lã yasma’u = ia tidak mendengar, tidak mengerti; illã = selain; du’ã-an = memanggil, menyeru; wa nidã-an = dan seruan; shummun = mereka tuli; bukmun = mereka bisu; ‘umyum = mereka buta; fahum = maka mereka; lã ya’qilũn = mereka tidak mengerti.

wa matsalul ladzĩna kafarũ kamatsalil ladzĩ yan’iqu bimã lã yasma’u illã du’ã-an wa nidã-an shummun bukmun ‘umyum fahum lã ya’qilũn.

171. Perumpamaan orang yang menyeru orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar atau tidak mengerti, selain panggilan atau seruan yang tidak berarti saja. Mereka tuli, bisu, buta; maka mereka tidak mengerti.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pemberitahuan tentang seruan kepada orang kafir, diumpamakan seperti gembala yang memanggil binatang (lihat juga ayat 18). Jadi, biarkan saja, sampai dia sadar sendiri, kalau dia menggunakan akal dan pikirannya dengan benar. Arahkan saja akal dan pikirannya. Suruh membaca Alqur’an, pahami isisnya dengan baik dan amalkan yang perlu diamalkan, jauhi perbuatan yang dilarang.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = mereka beriman; kulũ = makanlah; min thayyibati = dari yang baik-baik; mã rozaqnãkum = apa yang Aku rezekikan kepada kamu; wasykurũu = dan bersyukurlah; lillãhi = kepada Allah; inkuntum = jika benar-benar kamu adalah; iyyãhu = kepada-Nya; ta’budũn = kamu mengabdi.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ kulũ min thayyibati mã rozaqnãkum wasykurũu lillãhi inkuntum iyyãhu ta’budũn

172. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik, yang Aku berikan kepadamu, dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu benar-benar hanya mengabdi kepada-Nya .

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada orang yang beriman (bukan seluruh manusia) untuk memakan rezeki yang baik-baik (istilahnya bukan makanan, seperti pada ayat 168. Jadi, rezeki dalam pengertian yang lebih luas, seperti kesegaran jasmani, udara sejuk yang dihirup, pemandangan yang indah-indah, suara-suara yang membuat hati tenang tenteram, dan lain-lain).

innamã = sesungguhnya hanyalah; harroma = Dia mengharamkan; ‘alaykumu = bagi kamu; al maitata = bangkai; waddama = dan darah; wa lahma = dan daging; al khinzĩri = babi; wa = dan; mã = apa-apa yang; uhilla = disembelih; bihĩ = dengannya; li ghairi = selain; al lãhi = Allah; famani = maka barang siapa; adh thurro = terpaksa; ghairo = selain; bãghin = sengaja; wa lã ‘ãdin = dan tidak melampaui batas; falã itsma = maka tidak berdosa; ‘alayhi = padanya; innalloha = sesungguhnya Allah; ghofũrurrohĩm = Maha Pengampun, Maha Penyayang.

innamã harroma ‘alaykumul maitata waddama wa lahmal khinzĩri wa mã uhilla bihĩ li ghairil lãhi, famanidhthurro ghairo bãghin wa lã ‘ãdin falã itsma ‘alayhi innalloha ghofũrurrohĩm

173. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa memakannya, sedang ia tidak menginginkannya, dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penjelasan ayat 172, di sini Allah mengharamkan makanan-makanan tertentu, dengan hukumnya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; yaktumũna = menyembunyikan; mã anzalallōhu = apa yang diturunkan Allah; minal kitãbi = dari Alkitab; wa yasytarũna = dan mereka menjualnya; bihĩ = dengannya; tsamanan = harga; qolĩlan = sedikit, murah; ulãika = mereka itulah; mã ya’kulũna = mereka tidak memakan; fĩ buthũnihim = dalam perut mereka; illã = kecuali, melainkan; an nãro = api, neraka; wa lã yukallimuhumu = dan tidak berbicara kepadanya; al lōhu = Allah; yawma = hari; al qiyãmati = kiamat; wa lã = dan tidak; yuzakkihim = mereka menyucikan; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzabun alĩmun = azab yang pedih.

innal ladzĩna yaktumũna mã anzalallōhu minal kitãbi wa yasytarũna bihĩ, tsamanan qolĩlan ulãika mã ya’kulũna fĩ buthũnihim illÃn nãro wa lã yukallimuhumul lōhu yawmal qiyãmati wa lã yuzakkihim wa lahum ‘adzabun alĩmun

174. Sesungguhnya, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Alkitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (harga yang murah), mereka itu sebenarnya memakan/ menelan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, dan tidak menyucikan mereka, bagi mereka siksa yang amat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menyebunyikan ….,” lihat ayat 42, 140, 146, 159, 187
Peringatan untuk orang kafir: Alkitab dijualnya dengan harga yang murah, artinya sedikit informasi kebenaran yang disampaikan, dan mereka menutup-nutupi kebenaran isi Alkitab yang sesungguhnya, banyak kebohongan disebarlluaskan ke masyarakat (lihat juga ayat 41, 79). Ancaman Allah bagi mereka yang menyembunyikan kebenaran Alqitabnya; mereka yang menjual ayat Allah dengan harga yang murah.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; asytarawũ= mereka membeli; adh dholãlata = kesesatan; bil hudãyã = dengan petunjuk; wal ‘adzãba = dan azab; bil maghfiroti = dengan ampunan, famã = maka alangkah; ashbarohum = sangat sabarnya mereka; ‘alan nãri = di atas api.

ũlãikal ladzĩna asytarawũdh dholãlata bil hudãyã wal ‘adzãba bil maghfiroti, famã ashbarohum ‘alan nãri

175. Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan ampunan dengan siksa. Maka alangkah sabarnya mereka dipanggang di atas api neraka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat 16, sindiran bagi orang yang tersesat.

dzãlika = yang demikian itu; bi annalloha = karena sungguhnya Allah; nazzala = Dia menurunkan; al kitãba = Kitab; bil haqqi = dengan kebenaran; wa inna = dan sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; akh talafũ = mereka berselisih; fil kitãbi = tentang Kitab; lafĩ = tentu dalam; syiqōqin = perpecahan; ba’ĩdin = yang jauh.

dzãlika bi annalloha nazzalal kitãba bil haqqi wa innal ladzĩnakh talafũ fil kitãbi lafĩ syiqōqi ba’ĩdin.

176. Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Kitab dengan membawa kebenaran; dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang kebenaran Kitab itu, sungguh-sungguh mereka dalam kesesatan yang jauh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi orang yang beriman. Alqur’an itu membawa kebenaran, jangan diragukan!

laisa = bukanlah; al birro = berbakti; an tuwallũ = bahwa kamu menghadapkan; wujũhakum = wajah kamu; qibala = ke arah; al masyriqi = timur; wal maghribi = dan barat; walãkinna = tetapi; al birro = berbakti; man = orang; ãmana = dia beriman; bil lãhi = kepada Allah; wal yawmil ãkhiri = dan hari akhirat; wa = dan; al malãikati = para Malaykat; wa = dan; al kitãbi = Kitab; wa = dan; an nabiyyĩna = Nabi-nabi; wa ãta = dan memberikan; al mãla = harta; ‘alã hubbĩhĩ = pada yang dicintainya; dzawil qurbã = kerabat; wa = dan al yatãmã = anak-anak yatim; wa = dan; al masãkĩni = orang-orang miskin; wa = dan; ibnas sabĩli = musafir; wassã-ilĩna = dan peminta-minta; wa firriqãbi = dan memerdekakan budak-budak; wa aqãma = dan mendirikan; ash shalãta = salat; wa ãtaz zakata = dan orang-orang yang menunaikan zakat; wal mũfũna = dan orang-orang yang menepati; bi ahdihim = dengan janji mereka; idzã = apabila; ‘ãhadũ = mereka berjanji; wash shōbirĩna = dan orang-orang yang sabar; fil ba’sã-i = dalam kesempitan; wadh dharrã-i = dan kemelaratan; wa hĩnal ba’si = dan ketika perang; ulãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; shodaqũ = mereka benar; wa ulãika = dan mereka itu; humul muttaqũn = mereka orang-orang yang taqwa.

laisal birro an tuwallũ wujũhakum qibalal masyriqi wal maghribi walãkinnal birro man ãmana bil lãhi wal yawmil ãkhiri wal malãikati wal kitãbi wan nabiyyĩna, wa ãtal mãla ‘alã hubbĩhĩ dzawil qurbã wal yatãmã wal masãkĩni wabnas sabĩli wassãilĩna wa firriqãbi, wa aqãmash shalãta wa ãtaz zakata wal mũfũna bi ahdihim idzã ‘ãhadũ wash shōbirĩna fil ba’sã-i wadh dharrã-i wa hĩnal ba’si, ulãikal ladzĩna shodaqũ, wa ulãika humul muttaqũn.

177. Bukan karena menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya, kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaykat-Malaykat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan , dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan bagi orang yang sudah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaykat-Malaykat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan, dan orang-orang yang meminta-minta, dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya, apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan , dan dalam peperangan.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; kutiba = diwajibkan; ‘alaykumu = kepada kamu; al qishōshu = hukum kisas; fil qotlã = pada pembunuhan; al huru = orang merdeka; bil hurri = dengan orang merdeka; wal ‘abdu = dan budak; bil abdi = dengan budak; wal unsyã = dan perempuan; bil unsyã = dangan perempuan; faman = maka barang siapa; ufiya = dimÃfkan; lahũ = padanya; min akhihi = dari saudaranya; syaiun = sesuatu; fattibã’un = maka hendaknya mengikuti; bil ma’rũfi = dengan cara yang baik; wa adã un = dan membayar diat; ilaihi = kepadanya; bi-ihsaanin = dengan baik; dzalika = dengan demikian; takhfifun = keringanan; mir robbikum = dari Rãb-mu; wa rahmatun = dan rahmat; famani = maka barang siapa; ’tadã = melampaui batas; ba’da dzalika = sesudah demikian itu; falahũ = maka baginya; adzãbun alĩmun = azab yang menyakitkan

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ kutiba ‘alaykumul qishōshu fil qotlã alhuru bil hurri wal ‘abdu bil abdi wal unsyã bil unsyã, faman ufiya lahũ min akhihi syaiun fattibã’un bil ma’rũfi wa adã un ilaihi bi ihsaanin dzalika takhfifun mir robbikum wa rahmatun, famani’tadã ba’da dzalika falahũ adzãbun alĩmun

178. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu kishash berkenan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka, barang siapa yang mendapatkan sesuatu pemÃfan dari saudaranya, hendaklah yang memÃfkan mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah yang diberi mÃf membayar diat kepada yang memberi mÃf dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu, dan suatu rahmat. Barang siapa melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kishash adalah mengambil pembalasan yang sama (pembunuh harus dibunuh; memukul harus dipukul; menendang harus ditendang). Kishash tidak dilakukan, jika yang melakukan mendapat mÃf dari yang dikenai perbuatan atau ahli warisnya, yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. Pembayaran diat diminta dengan baik, artinya tidak dengan cara mendesak atau memaksa pelaku. Pelaku hendaklah membayar dengan baik, artinya tidak dengan menangguh-nangguhkannya, atau membayar terlalu sedikit. Bila yang dikenai perbuatan atau ahli warisnya, setelah menerima diat, artinya sesudah Allah menjelaskan hukum-hukum ini melakukan perbuatan yang serupa, misalnya membunuh, maka terhadapnya diambil kishash di dunia, dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.

wa lakum = dan bagimu; fil qishoshĩ = dalam kisas; hayãtun = jaminan; yã ũlil albãb = hai orang-orang yang berilmu; la’alakum = supaya kamu; tattaqũn = bertakwa.
wa lakum fil qishoshĩ hayãtun yã ũlil albãb la’alakum tattaqũn.
179. Dalam Kishash itu ada jaminan kelangsungan hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manfaat peraturan Kishash bagi yang mengimani.

kutiba alaykum = diwajibkan atas kamu; idzã = apabila; hadhara = datang; ahadakumu = seorang di antara kamu; al mautu = kematian; in taroka = jika