Home » Kekayaan Alam » Keterampilan Siswa Sekolah Dasar bagi Anak Natif Digital

Keterampilan Siswa Sekolah Dasar bagi Anak Natif Digital

Keterampilan siswa sekolah dasar bagi anak digital native sangat banyak. Keterampilan siswa sekolah dasar pada era digital native di antaranya adalah belajar mengetik di ponsel, berkomunikasi di media sosial, membuat proyek buku atau cerita. Cerita yang dibuat siswa bisa sekedar snipet saja atau potongan cerita pendek. Cerita itu bisa hanya satu kalimat saja. Cerita bisa hanya satu paragraf. Cerita juga bisa satu halaman. Cerita yang panjang itu seperti novel. Siswa juga bisa belajar mengetik 10 jari di papan Qwerty. Papan Qwerty sekarang cukup empuk untuk ditekan jari, tidak seperti papsn tulis mesin tik yang keras. Mesin tik mulai suram pada tahun 1990-an.

Siswa juga bisa menggambar logo atau memanipulasi foto dengan Gimp. Membuat logo, memanipulasi atau mengubah logo, memanipulasi gambar atau foto merupakan keterampilan yang bisa dikuasai siswa. Keterampilan ini juga penting untuk dikuasai siswa.

Siswa juga bisa belajar membuat lagu dengan LMMS, FL Studio, Musescore, Audacity, atau HumOn. Ketika siswa membuat sajak dan membacakannya dengan berirama, sajak ini bisa dipadukan dengan lagu. Seseorang bisa membuat musikalisasi puisi dengan menyenandungkan puisi, mengiringinya dengan ketukan, kendangan atau rebanaan. Lalu lagu bisa dipublikasikan misalnya di youtube. Jika menjadi viral dan banyak yang suka, produser, manager, atau perusahaan event organizer bisa meroketkan pendapatannya. Mungkin juga ia bisa bersama Hadad Alwi atau Sabyan Gambus tur keliling Indonesia dengan kontrak satu kali manggung dua jam seharga sekian (puluh) juta. Jauh lebih tinggi daripada pengamen jalanan.

Siswa juga bisa belajar membuat animasi atau mengedit video dengan Blender atau KineMaster. Media video bukan lagi monopoli penerbit atau stasiun televisi, setiap orang bisa menyimpan videonya di internet atau server seperti youtube. Lalu orang pun memasang meta data dan pengindeksnya agar mudah dicari orang lain.

Siswa juga bisa belajar bahasa asing selain bahasa Indonesia. Bahasa yang penting adalah bahasa Inggris atau bahasa Arab. Bahasa penting atau menarik lainnya adalah bahasa Spanyol, Prancis, Persia, Jepang, Cina. Salah satu teknik belajar bahasa adalah dengan mrnghafal lirik lagu-lagu. Orang yang belajar bahasa Inggris bisa mencari video lagu berbahasa Inggris dengan liriknya. Orang yang belajar bahasa Sunda bisa mencari lagu Doel Sumbang atau Darso. Orang yang belajar bahasa Jawa bisa mencari lagu-lagu Didi Kempot.

Siswa memang bisa menulis surat pribadi atau surat dinas di kertas, menggambar di kertas dengan crayon atau pensil warna, membuat lagu dengan piano mainan dan menulis notasinya di buku, belajar bahasa dari buku; namun siswa juga perlu diperkenalkan dengan alat atau sumber belajar digital. Jika siswa tidak belajar gawai atau digital native di sekolah, dia akan belajar digital native itu di jalanan dan tak tertarik dengan pelajaran sekolah.

Siswa juga belajar dari internet karena sumber belajar di internet begitu melimpah-ruah. Meski guru bukan satu-satunya penentu informasi, guru yang ketinggalan zaman bisa saja tidak menangkap tanda perkembangan zaman.

Eksplorasi siswa pada gawai mesti diarahkan. Jangan sampai siswa terjatuh ke jurang ilmu yang berbahaya atau terjebak di kubangan ilmu yang salah.

Pada pelajaran geografi siswa bisa mengenal google maps atau google earth. Siswa pun bisa belajar hukum tata negara di internet atau youtube. Pelajaran hukum tata negara diyakini merupakan penjabaran dari Pancasila. Siswa bisa menonton video sains (IPA, fisika, biologi, kimia) di youtube. Siswa juga bisa belajar tenis dari youtube misalnya teknik forehand, backhand, grip, karakter raket, karakter senar (string), serve, lob, volley, dan sebagainya. Potensi seperti itu harus ditangkap oleh guru sehingga guru tidak justru tertinggal oleh kemampuan siswa.

Siswa juga bisa mengunduh berkas dari internet seperti EYD, kamus. Siswa bisa brlajar e-learning seperti Spada atau Moodle. Siswa bisa belajar membaca jurnal internasional, memilih dan menonton video berorientasi pelajaran.

Video yang dipilih siswa mungkin saja bukan video yang berorientasi pelajaran. Siswa bisa memilih video populer yang kurang akurat tentang pelajaran, misalnya teori bumi datar, teori gravitasi, teori khilafah, sejarah khilafah, sejarah mazhab, pelajaran agama lainnya. Oleh karena itu guru harus mengeksplorasi video-video pelajaran di internet dan memilihkannya bagi siswa.

Dengan sumber belajar yang melimpah dari internet, otak siswa tidak akan terbatas kurung batok kelapa. Sebaliknya wawasan siswa akan terbuka atau bisa menerima perbedaan pendapat.

Siswa juga bisa membuat review channel youtube yang terkait dengan pendidikan. Siswa harus mengikuti pembelajaran video editor untuk produksi media pendidikan di youtube.

Siswa harus belajar tentang manfaat dan bahaya internet, manfaat dan bahaya gawai. Kecanduan, pornografi, kebohongan (hoaks), penipuan, prank seperti pocong yang menakuti warga adalah contoh bahaya internet dan gawai. Mengenal bahaya intetnet dan gawai jauh lebih penting daripada piawai menggunakan manfaat internet dan gawai.

Pada pelajaran memulis karya ilmiah siswa mesti belajar manajer referensi seperti Zotero atau Mendeley. Mereka juga belajar mengedit style sitasi mereka. Alamat internet untuk style sitasi adalah citationstyles.org atau editor.citationstyles.org. Di situs itu seseorang bisa mengunduh atau mengedit gaya sitasi mereka. Mungkin juga mahasiswa diorientasikan untuk mempublikasikan karya atau riset mereka di jurnal internasional terindeks. Dengan begitu, sitasi mereka harus disesuaikan dengan jurnal yang mereka tuju.

Siswa juga bisa pandai menggunakan media sosial semacam WA, Line, atau Telegram. Siswa juga akan bijak untuk tidak menyebarkan hoaks. Siswa akan bijak menanggapi polemik suatu isyu. Siswa tahu kapan harus diam dan kapan harus berbicara.

Siswa juga bisa belajar e-learning misalnya dengan platform Moodle seperti Spada. Mungkin juga siswa menggunakan google class atau google drive.

Siswa juga perlu belajar mailmerge untuk membuat surat massal, atau piagam massal.

Siswa juga bisa belajar kodi untuk streaming atau PVR. Selain youtube, ada juga kantor berita yang diduga terpercaya seperti MetroTV atau TVone. Pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik atau UU ITE bisa menjerat seseorang pada tuntutan pidana.

Siswa juga bisa belajar membangun warung internet, provider internet, atau membuat jaringan OpenBTS. Siswa juga melajar untuk menyetel Mikrotik dalam jaringan mereka. Mungkin dilengkapi dengan wajanbolik.

Siswa juga bisa belajar membuat proyek augmented reality. Proyek-proyek diutamakan berorientasi pelajaran seperti pengamatan atau temuan mereka terhadap alam dan ilmu sosial.

Siswa juga bisa belajar pemrograman seperti Scratch atau MIT AI2 (app inventor). Di beberapa negara di luar negeri anak-anak mulai belajar perograman sejak di jenjang sekolah dasar. Pemrograman merupakan keterampilan yang mesti dikuasai anak-anak natif digital. Anak-anak pun perlu belajar elektronika seperti merakit robot, drone, mobil-mobilan. Lalu mereka juga belajar menyusun lego dan menggambar vektor.

Mumgkin anak-anak tertarik untuk belajar RPG game. Dengan begitu anak-anak belajar membuat game, membuat skenario, dan mengorientasikan permainan mereka untuk pelajaran.

Mungkin juga siswa bisa belajar statistik atau software matematika lainnya. Dengan begitu penguasaan siswa bisa lebih tinggi lagi.

Dengan kemampuan siswa yang kompleks siswa bisa memperdalam salah aatu yang dikuasainya dan memperoleh manfaat (rezeki) dari kemampuannya itu.


Leave a comment