Home » Artikel » Peran Strategis Organisasi Kemasyarakatan Islam dalam Kehidupan Berbangsa

Peran Strategis Organisasi Kemasyarakatan Islam dalam Kehidupan Berbangsa

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang besar. Sebagian masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan NU baik secara organisasional maupun kultural.

PMII adalah anak dari organisasi NU. NU juga mempunyai banyak anak cabang untuk menampung kreativitas anggotanya seperti partai PKB, Ansor, Koperasi, dsb.

Silaturahmi dengan organisasi lain harus dilakulan seperti dengan NU, Muhammadiyah, Persis, bahkan LDII, atau FPI. Silaturahmi ini dilakukan untuk mencegah insiden yang bisa terjadi seperri insiden peringatan hari lahir (harlah) NU di Yogya. Yogya memang kota bersejarah Muhammadiyah, namun NU juga tidak kurang besar di sana. Bahkan Sultan mempunyai acara Suroan, dan tradisi lain yang notabeme sejalan dengan tradisi NU.

Di Yogya, harlah NU ditolak oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Muhammadiyah. Untung saja pimpinan pusat Muhammadiya, Dr. Haidar Nasir menyampaikan ucapan selamat atas hari lahir NU. Hal ini membuktikan bahwa Muhammadiyah tidak mempunyai masalah pada peringatan hari kelahiran NU.

Selain NU, di Indonesia juga sangat banyak ormas keagamaan. Di kampus UPI terdapat beberapa ormawa keagamaan. Masyarakat juga berpotensi menjalin silaturahmi dengan ormawa keagamaan dengan tujuan mencegah disorientasi seperti yang terjadi di Yogya.

Peran seperti ini bukan hanya milik NU saja. Organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam lain pun perlu memilikinya. Organisasi kemasyarakatan Islam melakukan kewajiban-kewajiban seperti konsolidasi nasional, silaturahmi nasional, silaturahmi antarormas, silaturahmi antarpartai dan semacamnya. Konsolidasi dan silaturahmi dengan ormas Islam lain dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan nasional. Dengan begitu ormas-ormas dan partai-partai Islam itu tidak hanya mengedepankan ego kelompoknya masing-masing. Konsolidasi nasional dilakukan untuk mencapai tujuan nasional sehingga ormas Islam tidak hanya mendukung orang-orang kadernya sendiri terutama bila ada kader di luar kelompoknya yang bagus. Mungkin saja ada orang lain di luar ormas atau partai yang berpotensi bagus untuk memajukan bangsa maka setiap kader ormas atau partai wajib pendukungnya. Setiap elemen masyarakat termasuk ormas secara alami mendukungnya karena mendukung kebaikan adalah perilaku alami. Setiap partai mungkin berlomba untuk menjadikan orang-orang bagus di luar partai sebagai kadernya. Jika Jokowi bagus, partai-partai berlomba untuk merekrutnya. Jika Anies bagus, partai-partai pun berlomba untuk merekrutnya.

Peristiwa yang terjadi pada masa sekarang menunjukkan bahwa orang di luar kader selalu di-bully oleh ormas atau partai lain. Jokowi didukung oleh PDIP dan senantiasa ditolak oleh PKS. Sebaliknya Anies Baswedan didukung oleh PKS dan acap kali ditolak oleh PSI dan PDIP. Dengan begitu partai atau ormas Islam kerapkali ditunggangi oleh sekelompok penjahat yang mengatasnamakan kepentingan nasional.

Masyarakat kerap kali tidak peduli siapa sebenarnya Jokowi atau Anies Baswedan mereka bukanlah saudara saudara kandung masyarakat dan seringkali punya pemikiran-pemikiran yang berbeda dengan masyarakat. Seandainya Jokowi atau Anies dipenjara, masyarakat tidak akan terpengaruh apa-apa. Seandainya Anies atau Jokowi berprestasi, masyarakat pun mungkin tidak akan mendapatkan manfaat apa-apa (?). Bahkan dalam partai pun dikatakan bahwa tidak ada musuh yang abadi. Dalam partai tidak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah pentingan yang abadi.

Kebencian pada Anies atau Jokowi tidak boleh disebabkan oleh hal-hal yang sifatnya subjektif misalnya karena tampang Jokowi kurus, cemberut Anies jelek, dan sebagainya. Kebencian yang alami misalnya pada tindakan korup, pencurian, kelalaian, dan antikerja. Korupsi juga sebenarnya harus diusut tuntas. Tidak boleh hanya isu-isu negatif yang berkembang di media sosial. Oleh karena itu lawan dari semua elemen masyarakat adalah hoaks atau berita-berita bohong. Masyarakat harus mencegah berita-berita bohong beredar dengan leluasa di media sosial.

 

Epilog: Beda Mata
Pada saat ini mata orang-orang juga berbeda-beda. Mata pendukung Jokowi berbeda dengan mata pendukung Anies Baswedan. Mata pendukung Jokowi melihat Jokowi melakukan kerja-kerja yang maksimal melebihi presiden-presiden sebelumnya. Sebaliknya mata pendukung Anies Baswedan melihat bahwa Anies sudah melakukan kerja-kerja yang maksimal melebihi gubernur kafir atau gubernur DKI sebelumnya.

Mata pendukung Jokowi mengatakan kepada mata yang tidak melihat keutamaan-keutamaan Jokowi sebagai mata pici[e]k. Sebaliknya mata pendukung Anies Baswedan mengatakan kepada mata yang tidak melihat keutamaan-keutamaan Anies sebagai mata pici[e]k.

Yang bermasalah adalah mata-mata yang anti terhadap Jokowi atau Anies Baswedan. Mata yang anti terhadap Jokowi melihat bahwa Jokowi melakukan kezaliman, distorsi agama, tidak cinta tanah air, mementingkan kelompok konglomerat sembilan naga minor, gangguan terhadap Islam, penyebab Habib Rizieq lari ke Arab Saudi karena tuduhan pidana chat, ormas pendukung Jokowi terlibat memenjarakan sejumlah “tokoh atau ulama” yang menghina, mengancam, dan kasar kepada presiden. Mata yang anti terhadap Anies Baswedan melihat bahwa Anies Baswedan lalai dalam menangani banjir, menangani sampah, menangani APBD Aibon, menangani penebangan kawasan Monas.

Mata pendukung Jokowi melihat orang yang anti-Jokowi berupaya menjatuhkan Jokowi dengan demo-demo 212, 424, dan semacamnya. Mata pendukung Anies juga melihat orang-orang yang mau menjatuhkan Anies dari kredibilitas yang sebenarnya.

Mata yang anti-Jokowi menganggap Jokowi sebagai “Petruk jadi raja.” Mata yang anti-Anies Baswedan menganggap Anies sebagai “gubernur Wan Abud terbodoh sedunia.” Mata yang anti-Jokowi menganggap pendukung Jokowi sebagai cebong atau bani togog. Mata yang anti-Anies menganggap pendukung Anies sebagai kampret atau kadrun (kadal gurun). Ungkapan semacam ini bukanlah ungkapan yang tepat. Ini bukanlah kritikan yang membangun. Ungkapan semacam ini adalah semacam sentimen pribadi yang tidak pantas dikemukakan di publik.


Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah mata-mata itu berbeda selera sehingga satu objek bisa dilihat dengan interpretasi yang berbeda 180 derajat? Mata yang menyukai gado-gado atau sate madura akan melihat gado-gado atau sate madura sebagai makanan yang sangat lezat dan melihat pizza atau lasagna sebagai makanan yang kurang enak. Sebaliknya mata yang menyukai pizza atau lasagna sebagai makanan yang sangat lezat mungkin melihat gado-gado atau sate madura sebagai makanan yang kurang lezat. Orang yang baik akan menikmati salat sebagai makanan yang lezat. Sebaliknya orang yang jahat akan menganggap salat sebagai beban yang tidak enak

Namun kebenaran tidaklah demikian. Kebenaran bukanlah selera. Orang memberi, berderma, mengucapkan kata-kata baik berarti dia merupakan pelaku kebaikan yang tak terbantahkan. Sebaliknya kecaman, pemukulan, atau kebencian adalah perbuatan kejahatan.

Shummun bukmun umyun fahum laayarjiun صُمٌّ ۢ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُوْنَۙ – itu adalah ayat Alquran yang menyatakan bahwa sebagian manusia itu tuli buta sehingga mereka tidak kembali. Namun Siapakah yang tidak menggunakan akalnya? Apakah pendukung Jokowi yang tidak menggunakan akalnya? Apakah pendukung Anies Baswedan yang tidak menggunakan akalnya?

Setiap orang juga harus menghindar dari perilaku gibah dan fitnah. Membicarakan pribadi Anies atau Jokowi itu terlarang. Membicarakan kekurangan fisik Anies atau Jokowi itu terlarang. Tindakan seperti itu adalah gibah. Gibah bagaikan memakan bangkai saudaranya. Fitnah terhadap Jokowi atau Anies juga terlarang. Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Problemnya sekarang adalah orang memganggap kebijakan Jokowi atau Anies berbahaya. Dengan dalih demi keselamatan bangsa mereka membicarakan kebijakan Jokowi atau Anies. Dengan dalih demi keselamatan bangsa mereka membicarakan bahaya Anies dan Jokowi. Bahkan demo bisa terjadi, katakanlah untuk urusan kebijakan omnibuslaw, penebangan kawasan Monas, dan semacamnya. Semua diklaim demi bangsa.

Jangankan membicarakan pejabat seperti Jokowi atau Anies, bahkan membicarakan orang biasa pun, khususnya fitnah bisa dipidana. Di semua negara aturan ini diberlakukan. Di Thailand, rakyat tidak bisa bicara keburukan raja di media sosial. Di Arab Saudi juga demikian. Lalu apakah sebagian dari masyarakat kita menganggap bahwa memfitnah Jokowi atau Anies itu biasa saja dan boleh dilakukan?

Sekali lagi, beda orientasi politik itu biasa dan boleh. Yang tidak boleh adalah menyebarkan hoaks. Orang boleh saja memilih Anies atau Jokowi. Yang tidak boleh adalah mengemukakan kebohongan tentang Jokowi atau Anies. Yang tidak boleh adalah mengemukakan yang tidak pantas bagi Jokowi atau Anies. Dalam agama juga dilarang menggibah atau memfitnah. Menggibah itu memakan bangkai saudaranya. Memfitnah itu lebih kejam dari membunuh.


Leave a comment