Home » Android-Meego » Perlukah Menggunakan Ponsel dalam Pembelajaran?

Perlukah Menggunakan Ponsel dalam Pembelajaran?

Di kelas dosen tidak jarang melihat mahasiswa menggunakan ponsel. Respons dosen terhadap penggunaan ponsel itu bermacam-macam, ada yang melarang, menghukum, memarahi, dan ada yang membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel di kelas. Bagaimana seharusnya reapons dosen atau guru? Sebagian dosen membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel dengan keyakinan bahwa ponsel itu digunakan untuk tujuan pembelajaran sampai terbukti bahwa ponsel digunakan bukan untuk tujuan pembelajaran. Bila dosen mendapati mahasiswa menggunakan ponsel untuk tujuan bukan pembelajaran, dosen bisa mencegah penggunaan ponsel itu.

Di sekolah dasar, mungkin ada siswa yang membawa ponsel. Mungkin ada sekolah dasar yang membolehkan siswanya membawa dan menggunakan ponsel. Mungkin ada orang tua yang memberi anaknya yang masih berusia SD ponsel pribadi. Mungkin juga ada orang tua yang hanya meminjamkan ponselnya kepada anak-anak mereka.


Menurut sebagian pasar pakar, siswa usia sekolah dasar sebaiknya tidak diberi ponsel pribadi (sendiri). Hal ini disebabkan kasus yang terjadi pada anak usia sekolah dasar ketika menggunakan ponsel. Siswa itu menggunakan ponsel untuk tujuan yang tidak benar. Mereka melakukan disorientasi ponsel misalnya untuk bermain game atau menonton film kartun YouTube selama berjam-jam atau berulang-ulang. Mereka bisa bermain ponsel seharian. Bangun tidur ‘ku terus ponsel. Mau tidur ‘ku main ponsel (lagu “Bangun Tidur ‘Ku Terus Mandi” sudah usang dan tidak laku lagi). Sepanjang hari bermain ponsel. Hal ini membuat orang tuanya harus mengomel dan terus-menerus mengingatkan anaknya agar berhenti bermain ponsel. Orang tua akan melihat peristiwa ini sebagai potensi kecanduan ponsel dan disorientasi ponsel. Orang tua akan kerepotan untuk terus-menerus mengingatkan anaknya agar mengorientasikan ponselnya dengan benar misalnya menonton film pelajaran, bermain game pelajaran, atau membuka web pelajaran.

Salah satu saran dari pakar tantang penggunaan ponsel adalah tidak memberi anak usia SD ponsel sebagai milik mereka sendiri. Anak anak itu hanya boleh dipinjami ponsel milik orang tua mereka sehingga jam penggunaan ponsel mereka terbatas. Aplikasi yang mereka gunakan pun bisa diawasi. Anak-anak hanya diberi ponsel ketika usia mereka sudah lepas SMP atau SMA. Bila anak mempunyai ponsel sendiri, ia akan memasang (install) aplikasi yang ia inginkan seperti game yang kurang berguna.

Kekeliruan yang terjadi di masyarakat adalah ketika orang tua memberi balita mereka ponsel hanya dengan tujuan agar balita mereka asyik (Sunda: anteng) dengan ponsel mereka. Dengan begitu balita tidak rewel dan tidak menyusahkan orang tua. Padahal mungkin penggunaan ponsel bagi balita bisa merusak mereka, merusak orientasi (tujuan hidup) mereka, merusak mata mereka, dan membuat balita kecanduan ponsel. Apalagi balita mereka diberi game yang tidak bermanfaat atau muncul pilihan film-film kartun yang tidak bermanfaat.

Sebagian pakar berpendapat bahwa anak balita mungkin saja dipinjami ponsel ketika balita itu didorong untuk belajar melalui ponsel. Balita bisa banyak belajar melalui ponsel. Balita bisa belajar mengenal huruf latin nonkapital, belajar mengenal huruf Arab, belajar mengingat bunyi huruf, belajar menggoreskan huruf, belajar menggambar, belajar warna, belajar bentuk-bentuk (lingkaran, segitiga, persegi, persegi panjang, trapesium, layang-layang, jajaran jenjang) belajar binatang, belajar tumbuhan, belajar benda-benda mati (batu, kayu, air, api, tanah, angin, awan, gas), belajar hubungan kekeluargaan (kekerabatan), belajar aritmatika (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) dan sebagainya. Pemberian ponsel semacam ini bertujuan untuk pelajaran. Bila anak-anak belajar dalam jangka waktu relatif lama pun mungkin saja penggunaan ponsel itu bermanfaat bagi anak-anak. Namun tetap saja pembatasan waktu juga penting untuk dilakukan. Ada banyak kewajiban lain yang mesti dilakukan seperti makan, salat, membaca buku, bermain dengan teman lain, dan sebagainya. Yang paling penting adalah pemilihan konten, permainan, film, atau game yang bermanfaat bagi balita serta pembatasan waktu bagi mereka.

Pada masa lalu, sekitar tahun 1970-an televisi mulai masuk ke rumah-rumah. Sebagian rumah menggunakan aki untuk menyalakan televisi mereka. Saat itu di tv belum ada remot (remote control). Saluran televisi di Indonesia hanya ada satu yaitu TVRI. Televisi swasta mulai muncul di tahun 1990-an. Saat itu orang tua mengarahkan anak-anak untuk menyaksikan tontonan-tontonan yang bermanfaat walaupun hanya ada TVRI pada masa itu. Orang-orang tua mengarahkan anak mereka untuk menonton berita atau menonton kartun yang hanya setengah jam, menonton program pembinaan bahasa, menonton pelajaran bahasa Inggris, menonton kajian ilmiah, menonton produk-produk teknologi, film flora dan fauna, menonton pengajian, dan sebagainya. Dengan begitu orang tua mengarahkan anaknya untuk belajar melalui teknologi televisi. Orang tua melarang menonton film tertentu di televisi. Orang tua melarang anak-anak menonton televisi sampai larut malam. Orang tua memerintahkan mematikan televisi saat magrib hingga isya. Orang tua mengorientasikan anaknya untuk tujuan-tujuan yang positif sehingga disorientasi televisi tidak terjadi saat itu. Orang tua mengawasi atau mendampingi anaknya saat menonton televisi.

Sebagian perguruan tinggi atau lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) menyarankan penggunaan ponsel di dalam kelas untuk tujuan pembelajaran. Mereka memasang menara (rig) wifi di kampus mereka. Mereka juga menyarankan agar calon guru membangun warnet atau laboratorium internet di sekolah mereka. Pembangunan laboratorium internet sangat mudah. Kepala sekolah tinggal meminta kepada provider misalnya Indihome (Telkom) untuk memasang internet di sekolah mereka. Iuran internet 10Mbps per bulan adalah kurang lebih Rp400.000,00 (per 2020). Seandainya siswa di sekolah itu berjumlah 100 orang maka iuran untuk internet per bulan hanya sekitar Rp4.000,00 saja.

Fasilitas internet di sekolah sesungguhnya terutama untuk memfasilitasi materi pelajaran yang guru sampaikan. Namun siswa juga bisa banyak memperoleh manfaat dari wifi yang mereka gunakan. Dengan fasilitas internet, guru-guru bisa menayangkan film-film yang relevan dengan pembelajaran. Guru-guru juga bisa mencegah siswanya mengorientasikan internet yang keliru misalnya menonton pornografi, mengakses berita bohong, ceramah provokasi (maaf) “ulama”, kajian disorientasi ilmiah, dan sebagainya. Guru-guru bisa menayangkan peta geografi dunia dengan sangat mudah. Guru-guru bisa menayangkan kultur masyarakat Sunda, Jawa, Bali, Padang, Medan, di Papua, di Sulawesi, atau di Kalimantan. Guru-guru bisa menayangkan geografi dan kultur negara-negara di ASEAN, guru-guru juga bisa menayangkan geografi dan kultur negara-negara di dunia lainnya. Guru-guru bisa menayangkan film pelajaran bahasa Inggris dan Arab dengan mudah. Sebagian negara di Afrika dijajah oleh Prancis sehingga negara-negara itu berbahasa Prancis. Sebagian negara di Amerika Latin (misalnya Columbia, Mexico, Kuba, Republik Dominika, Puerto Riko, Argentina) dijajah oleh Spanyol sehingga negara-negara itu berbahasa Spanyol. Meski dekat dengan Argentina, Brasil berbahasa Portugal. Sebagian negara di dunia dijajah oleh Inggris (misalnya Malaysia) sehingga negara-negara itu berbahasa Inggris. Guru-guru bisa mengajarkan bahasa Inggris atau Arab dengan menayangkan film pembelajaran bahasa Inggris atau Arab. Guru-guru juga bisa menayangkan undang-undang negara dengan mudah, Guru-guru bisa merekomendasikan film-film (pelajaran) yang bisa (layak) ditonton oleh siswa.

Pada masa sekarang mungkin saja ada anak-anak yang belajar diluar arahan gurunya. Mereka mempelajari pelajaran yang bermanfaat meski tidak pernah belajar tentang itu. Mungkin saja anak-anak belajar FL Studio atau LMMS padahal guru tak pernah mempelajari FL Studio atau LMMS. Mungkin saja ada anak yang belajar GIMP meski gurunya tak pernah mempelajari GIMP.

Pada saat ini banyak sekali materi pelajaran yang penting untuk dikuasai anak-anak di masa depan. Anak-anak mesti menguasai media sosial dan menghindari disorientasi media sosial (penggunaan yang keliru dari media sosial). Anak-anak juga mungkin belajar membuat lagu dengan FL Studio (proprietary atau berbayar) atau LMMS (gratis atau open source). Anak-anak juga belajar manipulasi gambar dengan GIMP, membuat gambar kolase, atau membuat animasi atau membuat game dengan Blender. Anak-anak juga bisa membuat video-video pembelajaran sebagai bagian dari portofolio mereka. Anak-anak juga bisa belajar statistik menggunakan program spreadsheet sehingga mereka dengan mudah membuat diagram batang atau lingkaran, menentukan rata-rata, standar deviasi, uji beda, atau memprediksi dari big data. Anak-anak bisa belajar keamanan internet (hacking) melalui film ceramah Onno W. Purbo (Onno Center).

Menteri Nadiem Makarim sekarang ini menyarankan evaluasi kinerja, proyek, atau portofolio. Bila siswa mengklaim mampu membuat cerpen, dia bisa dites kinerjanya (produknya) dengan membuat cerpen. Bila siswa mengklaim mampu membuat laporan, dia bisa dites kinerjanya membuat laporan. Bila siswa mengklaim mampu melakukan performansi stand up comedy dia bisa dites kerjanya melakukan stand up comedy itu. Siswa juga bisa membuat proyek-proyek seperti proyek pementasan drama, proyek pembuatan lagu, proyek pembuatan album lagu, proyek pembuatan buku cerita, novel, atau drama, membuat proyek hidroponik, membuat proyek motor listrik, membuat proyek pompa hidram. Siswa juga bisa mengumpulkan kinerja, produk, dan proyeknya itu dikumpulkan dalam suatu portofolio misalnya mereka mencetak laporan-laporan mereka, menyimpannya di berkas atau lemari pribadi, mencetak cerita yang mereka buat, tulisan ilmiah mereka dan menyimpannya di blog. Mereka juga bisa membuat video-video pelajaran dari studi-studi mereka.

Saat ini ada siswa-siswa yang sudah bisa menggambar dengan ponsel, membuat lagu dengan FL Studio atau LMMS, membuat artikel di blog, atau membuat video di YouTube. Apabila guru-guru mereka masih mengajarkan menggambar hanya dengan kertas dan pensil maka ini bisa dianggap suatu kemunduran. Apabila guru masih mengajarkan lagu-lagu dengan buku dan papan tulis saja ini bisa dianggap suatu kemunduran. Apabila guru tidak pernah membuat video pembelajaran, siswa akan belajar dari orang lain tentang teknik pembuatan video. Apabila guru guru tidak mengajarkan programming AI2 mungkin saat ini dianggap suatu kemunduran.

Yang penting adalah mencegah anak atau siswa dari disorientasi ponsel atau disorientasi internet. Anak-anak maupun orang tua harus membatasi diri dan membatasi waktu penggunaan ponsel. Orang tua dan guru mesti mencegah anak dan siswa mereka menggunakan ponsel secara keliru misalnya mengakses pornografi, mengakses situs-situs tidak terpercaya (uncredible), bermain game, atau menonton semacam film kartun yang kebanyakan tidak berguna. Orang tua dan guru bahkan harus mengajari anak atau siswa mengorientasikan ponsel mereka dengan baik misalnya menggunakan ponsel untuk belajar menggambar, membuat lagu, membuat lirik, membuat puisi, membuat cerita, membuat laporan, atau menonton video pelajaran.

Yang perlu diperhatikan adalah situasi pembelajaran berubah dengan adanya internet. Kelas bisa saja terbantu dengan adanya internet. Oleh karena itu guru pun semestinya tidak menolak internet dan ponsel di kelas secara mutlak. Sebaliknya guru harus menyesuaikan diri dengan menunjukkan kemampuannya menggunakan ponsel dan internet untuk pembelajaran di kelas.

Pada saat ini, sebuah alat (dongle) yang dipasang di proyektor memungkinkan layar ponsel bisa ditayangkan di layar proyektor. Alat itu membuat sinyal wifi untuk menhubungkannya dengan ponsel. Apapun yang yang dikerjakan di ponsel akan ditayangkan di layar proyektor. Bila siswa mengetik di ponsel guru, maka hasil ketikannya itu bisa ditayangkan di proyektor. Dengan begitu alih-alih menggunakan papan tulis guru dan siswa bisa menggunakan ponsel sebagai media belajar. Tayangan di layar proyektor tidak selamanya harus menggunakan komputer. Tayangan itu cukup memggunakan ponsel. Sebegai catatan, sebagian besar guru sudah menggunakan ponsel untuk kehidupannya sehari-hari.

Penggunaan ponsel di kelas mesti terus dikembangkan dan diteliti.


Leave a comment