Home » Artikel » Umur Belajar Mengenal Huruf dan Menggoreskan Pensil

Umur Belajar Mengenal Huruf dan Menggoreskan Pensil

Salah satu pembahasan penting dari pembelajaran membaca permulaan adalah mengubah keyakinan bahwa siswa anak-anak harus matang terlebih dahulu untuk belajar sesuatu. Ada kalanya orang tua menganggap anak-anak belum matang untuk belajar membaca atau menulis permulaan. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan huruf-huruf kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan memegang pensil kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tak pernah meminjamkan ponsel kepada anak-anaknyanya meskipun ponsel itu bisa digunakan untuk tujuan-tujuan pelajaran.

Ada sebagian pakar yang menunda pelajaran-pelajaran dan mengandalkan guru-guru di sekolah mengajarkan pelajaran-pelajaran itu pada anak-anak. Orang orang tua seperti ini meyakini bahwa pelajaran harus disampaikan oleh guru. Anak-anak dilarang untuk belajar undang-undang karena orang tua berharap guru yang mengajarkan undang-undang itu di sekolah. Orang tua tidak mengajarkan komputer karena berharap guru mengajarkan pelajaran komputer di sekolah. Ini adalah pandangan yang keliru.

Orang tua mesti sedini mungkin mengajari anaknya untuk memegang pensil. Orang memberi contoh anak balitanya memegang pensil yang benar. Orang tua mengajari anaknya untuk menggambar benang kusut di kertas. Orang-orang tua seharusnya tidak serta-merta mengajari anak-anaknya untuk membuat huruf karena motorik anak masih kasar. Anak akan merasa kesulitan mengingat huruf dan huruf yang dibuat akan buruk rupanya. Anak balita akan kesulitan untuk mengenal huruf atau membuat huruf. Oleh karena itu yang pertama kali diajarkan kepada anak balita adalah membuat benang kusut. Orang tua harus memotivasi anak dengan memuji gambar benang kusut yang dibuat oleh anak. Mungkin juga orang tua menginterpretasi benang kusut yang dibuat anak itu sebagai awan, pohon yang rimbun, semak-semak, kambing gemuk, dan sebagainya. Mungkin orang tua menambahkan gambar-gambar di sekitar benang kusut itu misalnya gambar batang pohon, kepala domba, kaki, atau gambar yang lainnya.

Setelah anak-anak bisa membuat benang kusut, anak-anak diorientasikan untuk mewarnai. Orang tua semestinya tidak cerewet mengarahkan agar anak-anak tidak mewarnai melewati batas garis. Orang tua tidak boleh marah melihat goresan warna anak keluar garis. Anak balita yang baru belajar membuat benang kusut mungkin bisa rapi mewarnai gambar karena motorik tangan mereka masih kasar. Mereka perlu berlatih menghaluskan motorik mereka agar motorik mereka menjadi halus. Anak-anak harus mempunyai jam terbang membuat benang kusut untuk melatih ototnya agar bisa mengikuti impulsi otak. Anak-anak perlu waktu untuk bisa menghentikan laju goresan pensilnya. Hal ini tidak akan mungkin bisa dicapai dalam waktu satu atau dua hari. Oleh karena itu orang tua perlu meluangkan waktu untuk membuat benang kusut dengan anak balitanya, mengajari anak balitanya membuat gambar-gambar sederhana seperti gambar orang yang sederhana, gambar wajah yang sederhana, gambar pohon yang sederhana, gambar semak yang sederhana, gambar pagar yang sederhana, gambar rumah yang sederhana dan sebagainya.

Pada umur berapakah anak-anak balita belajar mengenal huruf atau menggoreskan benang kusut? Sebagian pakar meyakini bahwa anak-anak harus belajar mengenal huruf atau menggoreskan pensil pada usia balita. Orang tua bertanggung jawab mengajari anak-anak mereka belajar huruf, menggoreskan pensil, dan membaca. Pada usia satu atau dua tahun anak-anak belajar menuliskan huruf-huruf vokal, menuliskan nama diri, menuliskan huruf konsonan, menuliskan nama-nama benda di sekitarnya, menuliskan nama orang tua, menuliskan nama teman-teman, dan sebagainya. Meski anak-anak terlihat tidak belajar, sebenarnya anak-anak adalah pembelajar yang hebat. Anak-anak itu sedang mencerna pelajaran yang mereka dapatkan. Demikian pula belajar menggoreskan pensil harus dilakukan sedini mungkin. Pada usia satu atau dua tahun anak-anak bisa memegang pensil, belajar memegang pensil, belajar menggoreskan pensil, belajar membuat benang kusut, mewarnai, atau aktivitas lainnya. Anak-anak harus belajar mewarnai meskipun warna yang digoreskan anak melewati batas garis. Hal itu wajar karena motorik mereka masih kasar. Orang tua tetap harus memuji kinerja anak-anak mereka agar anak-anak mereka senang, merasa mampu, dan ingin melanjutkan aktivitasnya.

Anak-anak mesti diajari mengenal huruf dan menggoreskan pensil walaupun mereka belum bisa berjalan dengan baik. Justru karena anak-anak itu belum bisa berjalan mereka bisa beraktivitas di tempatnya dan belajar membuat gambar, mengenal huruf, atau menggoreskan pensil. Apabila anak-anak sudah bisa berjalan, daya jelajah mereka akan lebih luas. Mereka tidak bisa lagi duduk manis dan belajar mengenal huruf, memegang pensil, atau membuat benang kusut. Bila anak-anak sudah bisa berjalan maka anak-anak mobilitasnya lebih tinggi. Mereka tidak bisa selamanya disuruh untuk duduk manis untuk belajar huruf atau menggoreskan pensil. Mereka akan senang berjalan berkeliling dan mengeksplorasi wilayah di sekitarnya. Anak-anak yang sudah bisa berlari mungkin akan lebih senang bermain dengan kawan-kawannya, lebih senang bermain di luar daripada duduk di rumah dan mengikuti pelajaran membaca, menulis, mengenal huruf yang disampaikan orang tuanya. Lebih sulit lagi mensngsni amak ketika mrteka semskin dewasa. Anak-anak akan mempunyai pemikiran yang mandiri, individu, dan independen.

Hal yang sama juga terjadi terbukti pada anak-anak SD yang belum mengenal huruf atau goresannya masih kasar. Mereka berpotensi rendah diri bila melihat teman-temannya mudah belajar mengenal huruf dan goresannya lebih bagus. Akibatnya mereka bisa melarikan diri dari pelajaran yang mereka anggap sulit. Mereka akan sulit untuk diam. Mereka malah ingin berjalan-jalan dan bermain hal yang dianggapnya mudah dan menyenangkan dengan teman-temannya. Sebagian guru mengatakan bahwa semakin dewasa anak semakin sulit mereka untuk belajar. Anak-anak ingin belajar sesuai yang dia inginkan anak-anak ingin belajar sesuatu yang dia bisa. Ketika di kelas 1 SD anak-anak tidak bisa membaca dan menulis mereka bisa rendah diri dan itulah kendala yang dialami anak-anak. Ada anak yang yang belum tuntas membaca dan menulis malah depresi dan takut dengan belajar membaca dan menulis. Mereka ingin melarikan diri dari pelajaran membaca dan menulis. Hal ini disebabkan mereka merasa kesulitan dan merasa tidak bisa. Gurulah yang harus membuat pelajaran lebih mudah bagi anak-anak. Pelajaran harus lebih mudah di mata anak-anak.

Anak-anak akan sulit belajar jika anak-anak sudah mengenal ponsel, game, dan film-film kartun. Anak-anak akan cenderung kecanduan ponael, bermain game, atau menonton film kartun. Padahal hidup ini tidaklah demikian. Anak-anak harus belajar mengisi hidup dengan belajar keterampilan hidup. Dengan begitu mereka mengisi kehidupan mereka dengan benar. Mereka mengorientasikan hidup mereka dengan benar. Mereka tidak mengalami disorientasi kehidupan dan tidak mengalami disorientasi ponsel.

Berapakah waktu anak-anak belajar huruf. Jika ada 26 huruf maka belajar huruf bisa diajarkan dalam waktu 26 hari. Asumsi satu huruf untuk satu hari. Namun hal ini juga bergantung pada kesiapan siswa. Jika siswa tidak mudah ingat dengan huruf maka waktu belajar mereka bisa bertambah lama. Guru mesti menambah waktu belajar bagi siswa mereka. Guru mesti bersabar dengan kesulitan yang dialami siswa.

Ada satu cerita tentang pelajaran bagi siswa sedini mungkin. Ada siswa SMP yang bisa bermain catur sambil membelakangi. Dia adalah juara catur untuk kelas umurnya. Bagaimana mungkin seorang anak SMP bisa bermain catur sambil membelakangi? Hal itu ada penyebabnya. Penyebabnya adalah dia tinggal dengan orang tuanya di sebuah kios. Setiap hari ayahnya bermain catur di depan kios itu. Anak itu setiap hari bermain di sekitar kios, berada di sekitar ayahnya, seperti tidak memperhatikan permainan ayahnya, seperti tidak belajar. Padahal anak-anak adalah pembelajar yang hebat. Buktinya 8 * 8 kotak papan catur masuk ke dalam otaknya dan dia bisa bermain catur sambil membelakangi. Dia bisa mengetahui posisi setiap bidak catur miliknya dan milik lawannya. Dia pun bisa membayangkan ancaman yang akan terjadi bila satu bidak dipindahkan ke kotak lain. Ini adalah sebuah memori visual (visual memory). Memori visual adalah ingatan yang terbaik bagi seseorang. Dengan memiliki memori visual, seseorang bisa membayangkan dengan jelas akibat baik atau buruk yang akan terjadi bila sesuatu dilakukan. Iya seperti melihat peristiwa itu di dalam otaknya. Sayangnya banyak anak-anak yang tidak bisa mempunyai memori visual tentang bahkan perilaku kebaikan atau keburukan yang sederhana. Hal ini mungkin terjadi karena orang tuanya tidak pernah memperhatikan atau mengajarkan pelajaran itu kepada anak-anak mereka. Anak-anak harus belajar untuk berbuat baik kepada teman, menghormati orang tua, berkata-kata yang baik, menghindari tindakan pemukulan fisik, mengutamakan kejujuran, dan kehormatan orang lain. Anak-anak harus bisa membayangkan dampak dari kebaikan yang dilakukannya. Anak-anak juga harus bisa membayangkan dampak buruk apabila kebaikan itu tidak dilakukan.

Oleh karena itu pelajaran apa pun yang baik semestinya diberikan kepada anak-anak. Apabila orang tua meyakini bahwa pelajaran matematika, aritmatika, geometri, statistik itu baik bagi anak maka pelajaran itu mesti diberikan sedini mungkin meskipun anak-anak kelihatannya tidak mengerti dengan materi pelajaran itu. Anak-anak juga mesti diajari dengan pelajaran kesehatan badan, makanan, kesehatan pikiran, atau kedokteran meskipun anak-anak seperti tidak memperhatikan pelajaran itu. Anak-anak juga mesti diajari pelajaran agama dan latihan mental meskipun mungkin mereka tidak mempunyai perhatian gagasan tentang konsep-konsep agama. Anak-anak juga mesti diajari toleransi dan menghargai orang lain. Anak-anak juga mungkin akan bisa belajar nuklir, robotik, atau motor listrik meski sekarang mereka terlihat belum bisa merakit satupun dari komponen nuklir, robot, atau motor listrik.

Anak-anak mungkin tidak punya perhatian pada pelajaran. Yang mereka inginkan hanyalah bermain. Orang tualah yang harus mengorientasikan permainan anak-anak pada pelajaran-pelajaran. Anak-anak harus belajar sambil bermain. Justru anak-anak tidak boleh bermain game di ponsel yang membuat mereka terlena. Anak-anak tidak boleh menonton film kartun di YouTube di ponsel yang membuat mereka terlena. Orang tua harus memberikan permainan dan tontonan pelajaran bagi anak-anak mereka. Dengan begitu anak akan mulai mengarahkan perhatian mereka pada pelajaran. Anak akan belajar orientasi hidupnya dengan benar. Anak akan tahu tujuan hidupnya dengan benar.

Begitu banyak hal yang harus dipelajari anak-anak. Oleh sebab itu, orang tua semestinya tidak membuang-buang waktu anak yang berharga dengan mengabaikan atau mengesampingkan pelajaran. Orang-orang tua harus memberi anak-anak mereka materi-materi pelajaran yang penting bagi masa depan mereka. Anak-anak pada umumnya tidak tahu pelajaran yang penting bagi kehidupan mereka. Orang tualah yang mengarahkan anak-anak untuk belajar, bersekolah dan mengikuti petunjuk guru. Orang tualah yang menunjuki anak materi-materi pelajaran yang penting untuk kehidupannya.


Leave a comment