Home » Artikel » Anak Hiperaktif di SD dan Penanganannya

Anak Hiperaktif di SD dan Penanganannya

Ini adalah bagian dari pengalaman anak-anak di sekolah dasar. Ada kasus seorang anak yang sangat bermasalah. Anak ini adalah anak yang hiperaktif. Dalam bahasa yang lebih lugas dikatakan sebagai anak yang nakal. Seseorang bisa mengenal anak semacam ini karena ada tanda-tandanya. Lebih lanjut anak-anak nakal tersebut berpotensi untuk menjadi buruk dan jahat. Jika didiamkan kenakalan ini bisa terbawa hingga dewasa.

Anak-anak nakal biasanya tidak bisa paham isyarat yang sederhana. Anak-anak itu tidak paham dengan perintah yang lemah lembut atau isyarat yang halus. Anak-anak ini juga tidak terlatih untuk mengkonfirmasi atau menanyakan isyarat yang ia terima. Padahal orang yang berakal adalah orang yang memahami isyarat. Orang yang beriman adalah orang yang memahami isyarat. Contoh isyarat adalah sebagai berikut. Ketika seseorang mencintai orang lain ia akan memberi isyarat pada orang itu agar orang itu memahaminya. Sebaliknya ketika seseorang dicintai orang lain acapkali ia pun menerima isyarat cinta itu dari orang lain. Orang tua kita acap kali memerintahkan kita dengan isyarat. Anak-anak acap kali didorong untuk belajar memahami isyarat. Anak-anak juga mendapatkan hukuman bila tidak memenuhi isyarat misalnya orang tua cemberut, memasang muka masam, memalingkan muka, atau menolak keinginan anak. Anak-anak harus belajar jika orang tua tidak suka sesuatu terkait anak. Orang tua bisa memasang muka marah, sedih, kecewa, dan sebagainya. Itulah yang diajarkan orang tua kepada anak-anaknya. Itulah pula yang diajarkan agama kepada umatnya. Dengan begitu seseorang tidak perlu berteriak-teriak supaya orang lain mengikuti kehendaknya. Binatang pun acap kali tidak perlu dipukul untuk mengikuti kehendak tuannya. Dikatakan bahwa para nabi berbicara dengan binatang, tumbuhan, dan benda mati lalu binatang tumbuhan atau benda mati itu pun mengikutinya. Seorang cukup memberikan isyarat dan argumen yang bisa diterima oleh orang lain. Seorang anak bahkan tidak perlu syarat untuk memahami atau mengikuti kehendak orang tuanya. Anak-anak mengikuti kehendak orang tuanya tanpa syarat. Setiap anak meyakini bahwa orang tuanya adalah orang dekat yang baik kepadanya. Orang tua diyakini tidak akan memberikan keburukan kepada anak-anaknya.

Kasus yang terjadi adalah ada seorang anak yang yang tidak bisa dinasehati oleh guru atau orang tuanya. Bahkan ketika dilarang anak ini berani melawan, menunjukkan penentangannya secara terbuka, berteriak, tidak mengacuhkan, melarikan diri, dan sebagainya. Ada kasus yang terjadi ketika seorang anak dilarang orang lain yang lebih tua, anak ini malah memegang kerah leher orang tua itu seolah hendak memukulnya. Ini adalah tindakan yang luar biasa, brutal, keras, dan cenderung pada perkelahian. Lalu orang tua itu berkata pada anak nakal itu, “Jadi kamu hendak memukul Bapak? Kalau mau memukul silakan. Pukul yang keras.” Ini dilakukan karena orang tua itu merasa yakin bahwa pukulan anak itu walaupun keras orang tua itu akan mampu menahannya. Saya tidak tahu apa yang terjadi apabila anak itu memukul orang tua itu. Itu adalah suatu preseden buruk yang menarik untuk dijadikan contoh. Anak yang memegang kerah orang tua itu juga tidak berani memukul orang tua itu karena orang tua itu pasti cukup kuat untuk menahan pukulan sekeras apapun. Namun efeknya adalah pelajaran yang akan didapat oleh anak nakal itu.

Banyak peristiwa kenakalan yang menimpa anak lain dan tidak menimpa orang tua. Bahkan berlanjut pada pemukulan dan teror mental yang lama. Banyak kasus kenakalan terjadi di sekolah. Sayangnya sebagian guru yang tidak mengambil tindakan pada anak-anak yang yang berkebutuhan khusus tersebut. Anak-anak nakal ini harus diperlakukan dengan cukup disiplin, tegas, bahkan kadang-kadang keras, disertai ancaman, dan hukuman. Mungkin itu adalah tindakan yang harus dilakukan guru untuk mempertimbangkan keadilan dan mengajari anak-anak untuk hidup dengan baik di masyarakat. Tindakan disiplin dan tegas itu dilakukan untuk melindungi anak-anak lain dari kejahatan anak-anak nakal. Sebagian guru mengalami khawatir akan dituntut oleh komisi hak asasi manusia atau komisi perlindungan anak karena tindakannya menghakimi anak. Perlu diketahui bahwa guru adalah wakil orang tua di sekolah. Lalu orang tua adalah wakil Tuhan di dalam keluarga. Oleh karena itu tindakan guru merepresentasikan keadilan Tuhan di dunia.

Banyak hukuman yang mempermalukan anak misalnya hukuman di depan kelas, di tengah lapang, di depan anak-anak lain. Anak yang melanggar bisa disetrap guru. Ia disuruh berdiri dengan satu kaki dan kedua tangannya menjewer telinganya sendiri. Anak nakal lain dihukum jemur di tangah lapang. Hukuman itu ditujukan agar dia bisa jera karena saat dia dewasa, suatu kejahatan mungkin akan dihukum lebih berat. Hukuman seperti ini mungkin cukup ringan dibandingkan dengan hukum bagi orang dewasa. Ada anak-anak yang mempunyai kasus kriminal penodongan, perkelahian, pencurian dihukum dengan cara harus melapor kepada otoritas polisi setiap minggu dua kali tanpa batasan waktu. Hal ini dipertimbangkan karena anak masih mempunyai masa depan yang panjang. Anak-anak masih bisa bertobat untuk masa depannya. Orang-orang dewasa pun bisa bertobat karena jalan hidupnya masih panjang.

Peristiwa yang terjadi di masyarakat sekarang adalah maling atau copet dihakimi oleh massa yang marah. Namun acap kali kemarahan massa itu tidak membuat pelajaran bagi maling lain. Bahkan maling lain dendam pada peristiwa pengeroyokan itu atau ia belajar untuk lebih lihai lagi. Maling bahkan berlindung kepada polisi dari ancaman hukuman keroyokan warga.

Masyarakat melihat bahwa tindakan kriminal seperti pencurian dilakukan dengan kesabaran yang tinggi. Sang pencuri menunggu saat yang tepat sampai saat pencurian itu tiba. Dia pun memperhitungkan segala sesuatunya dengan cermat. Dia pun membayangkan resiko dan konsekuensinya. Itu adalah kesabaran yang sangat tinggi. Sayangnya ia mengambil resiko hukuman berat di dunia dan akhirat. Korupsi pun dilakukan dengan kesadaran yang tinggi. Korupsi dilakukan bukan karena ketidaktahuan atau kelalaian. Korupsi dilakukan dengan menghindari efek hukum dan memainkan polemik hukumnya.

Ada sejumlah riwayat bahwa para nabi menghukum orang dewasa dengan cara yang unik. Pencuri dewasa dihukum dengan cara dicambuk di depan umum, dijadikan budak dalam waktu setahun atau lebih. Hal ini untuk membuat pukulan bagi para pencuri agar jera dan segan melakukan pencurian lagi. Luka cambukan itu tidak akan sembuh dalam waktu sehari atau dua hari. Cambukan itu bisa berakibat sakit selama satu bulan. Pelakunya merasa malu karena dikenal oleh masyarakat sebagai pencuri. Masyarakat pun geger karena hukuman cambuk itu dilaksanakan di depan publik. Darah yang mengalir akibat cambukan itu menggetarkan masyarakat sehingga masyarakat segan mencuri. Masyarakat akan mengenal orang itu sebagai pencuri sampai dia bertobat dan mengubah sikapnya selama bertahun-tahun. Bahkan peristiwa pencurian dan hukuman cambuk itu bisa dikenang masyarakat seumur hidup. Itu merupakan pelajaran agar para pencuri menyesal dari tindakan pencuriannya itu. Kadang-kadang hukuman penjara tidak membuat orang menjadi kapok. Orang-orang bromocorah atau terpidana ini tetap merasa sehat walafiat di dalam penjara. Orang lain tidak tahu kasus kejahatannya. Orang ini masih mungkin melakukan kejahatan yang lain. Di negara seperti Jepang pun tindakan kriminal dipermalukan atau pelakunya merasa malu seumur hidup.

Hukuman lain dari pencurian adalah dijadikan budak dari korban pencurian selama setahun atau lebih, bergantung beratnya pencurian. Bila seseorang dijadikan budak, ia bisa dieksploitasi majikannya misalnya menggembala atau menyabit rumput tanpa dibayar. Mereka hanya diberi upah makan saja untuk kerjanya. Bila saat masa hukuman ia mengulangi pelanggaran, melakukan kecurangan, atau pencurian lagi, hukuman bisa bertambah berat atau lama.

Kasus yang terjadi di masyarakat misalnya ada pencuri domba. Ada pencuri ayam, bebek, angsa, atau ternak lain. Ada pemelihara domba yang mencuri uang modal majikan pemodalnya. Ada pencuri mengambil harta tetangganya. Ada pemelihara domba menjual domba majikan dan menukarnya dengan domba yang kecil. Kasus yang terjadi biasanya menjadikan orang-orang dekat sebagai korban. Lalu para pencuri ini tidak dihukum apa-apa di masyarakat. Semua orang butuh uang namun pencurian dan kecurangan tak boleh dilakukan. Seseorang tidak memperhatikan kebutuhan tetangganya, mengasihinya, dan mencegahnya melakukan pencurian. Namun kejahatan dilakukan bukan karena takdir melainkan karena pilihan pelakunya. Tuhan memberi manusia kebebasan memilih. Manusia bisa mrmilih jalan yang benar atau memilih terjerumus pada jurang kehinaan.

Sebenarnya bila hukum pidana rumit dan berat, masyarakat bisa memberlakukan hukum adat. Hukum pidana akan melibatkan saksi, polisi, pengacara, hakim, jaksa, dan persidangan yang rumit. Harus ada dua barang bukti dan tindak pidana tercantum dalam KUHP. Para aparat hukum pun tidak mengenal sifat para pelaku kriminal ini karena pelaku ini bukan warga dekat mereka. Hukum adat bisa dilakukan. Para pemuka adat bisa menjatuhkan sanksi kepada warganya untuk mendidik warganya berbuat baik. Orang yang membuang sampah di sungai Bali akan mendapatkan hukum adat yang cukup berat. Orang-orang yang mencuri pun alih-alih mendapatkan hukum pidana mereka mendapatkan hukuman adat. Hukuman adat seringkali lebih menyeramkan, memalukan, dan membuat jera pelakunya.

Ada sebagian aktivis antikorupsi menuntut hukuman mati bagi para koruptor. Hukuman mati ini cenderung lebih berat dan menutup kemungkinan bagi si pelaku untuk bertaubat. Hukuman mati berarti menurut hakim atau warga, si pelaku korupsi sudah tidak lagi punya hak untuk hidup atau dosanya tidak mungkin dimaafkan. Demikian pula hukuman pencurian dengan cara potong tangan akan mengakibatkan orang menjadi cacat dan tidak mampu bekerja seumur hidupnya. Orang cacat bisa menyusahkan atau menjadi beban keluarga atau masyarakatnya. Karena itu alternatif dari hukuman potong tangan atau hukuman mati adalah hukuman cambuk. Hukum cambuk terlihat jauh lebih ringan walaupun efek geger, efek jera, dan efek malunya bisa sangat membekas sebagai pelajaran bagi para pencuri.

Orang harus merasa yakin bahwa pintu tobat selalu terbuka. Tuhan akan selalu mengampuni makhluk-Nya terutama ketika makhluk-Nya itu bersungguh-sungguh ingin kembali ke jalan-Nya yang benar. Karena itu seperti Tuhan, manusia juga harus membuka pintu taubat bagi orang lain. Pintu maaf munhkin tidak bisa diberikan untuk kasus-kasus tertentu saja.

Hukuman yang berat seperti cambukan atau perbudakan itu ditujukan agar pelaku kriminal itu menyesali perbuatannya. Dengan begitu, diharapkan dia bertobat dan berupaya selamat dari hukuman akhirat. Hukuman akhirat diyakini lebih berat dan lebih lama daripada hukuman di dunia. Hukuman di akhirat itu bukan hanya penjara, penjara bawah tanah, atau bermain dengan tikus dan cacing tanah. Bahkan makanan yang dikonsumsi di akhirat pun berupa nanah, lahar panas, dan semacamnya.

Tindakan orang tua pada hari ini ditujukan untuk mencegah terjadinya keburukan anak-anak di masa dewasanya. Guru dan orang tua berharap anak atau murid mereka menjadi orang baik di masa depan. Guru tidak menginginkan muridnya suatu saat menjadi preman yang suka berkelahi, koruptor, orang yang tidak memahami isyarat, orang yang kasar, brutal, tidak paham aturan, dan tidak paham sopan santun. Tindakan pada masa kecil ditujukan untuk mendidik mereka agar menjadi baik di masa depan. Sebaliknya bila anak-anak dibiarkan melanggar pada masa kecilnya, mereka akan sukar lagi dicegah ketika sudah dewasa. Seekor anak harimau saat kecil tidaklah berbahaya. Ketika harimau itu sudah dewasa, sang pawang mungkin saja tidak akan mampu lagi untuk menaklukannya.

Kasus kenakalan siswa harus dicatat guru. Tentu parah bila ada catatan seorang anak yang mengancam anak lain, memasukkan anak lain ke dalam WC, mengunci anak lain di WC, memukuli anak-anak lain, meminta uang atau benda anak lain dengan paksa, mengorganisasi anak-anak lain untuk mendukung kebrutalannya, dan sebagainya. Anak-anak seperti ini jelas harus mendapatkan perhatian guru-guru, tidak hanya seorang guru, atau guru kelasnya saja. Mesti digarisbawahi tidak hanya seorang guru saja yang menangani kasus anak ini. Jika anak ini ada di satu sekolah maka semua guru di sekolah itu harus memahami kasusnya dan semua guru harus mendukung upaya untuk memperbaiki atau meluruskan tindakan anak itu. Tindakan yang baik bisa dilakukan. Koordinasi dengan orang tua juga harus dilakukan dengan mengajukan fakta-fakta di lapangan. Guru seolah-olah memohon izin tindakan atau mengeluarkan anak ini dari sekolahnya. Banyak orang tua yang resah karena anak ini bermasalah dengan anak mereka. Anak-anak mereka menjadi korban dari anak ini. Tindakan masyarakat bisa dilakukan. Lalu bila ada tuntutan dari orang tua atau organisasi semacam Komnas HAM atau Komisi Perlindungan Anak maka seluruh guru dan orang tua siswa korban bisa satu suara menjawab masalah ini. Semua anggota masyarakat bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka bisa mengajukan bukti-buktinya.

Ada kasus guru berbuat tidak adil di sekolah atau di lapangan. Anak yang brutal ini senang main bola. Ia berada di depan gawang dan siap menendang bola ke gawang. Bek lawannya memblok tendangan itu. Keduanya beradu menendang bola. Keduanya sama-sama menendang bola. Lalu anak nakal ini melakukan diving seolah-olah korban. Wasit yang notabene adalah guru semestinya tidak menjatuhkan penalti. Tetapi karena khawatir anak nakal ini merajuk maka penalti diberikan. Bahkan anak-anak lain pun mendukung penalti itu dan mrnyalahkan bek tadi. Para penonton menyaksikan bahwa blok yang dilakukan bek itu sebenarnya bersih (clean) dan tidak kena kaki pemain penyerang. Kedua pemain sama-sama menendang bola. Tetapi pemain penyerang melakukan diving. Kesalahan guru seperti itu harus dihindari. Guru harus bertindak adil dan memahami konsekuensinya.

Guru mesti menekan anak-anak yang nakal dan memuji anak-anak yang melawan kebatilan. Guru bisa melindungi anak-anak yang baik dan mendorong mereka untuk melakukan kewajiban-kewajiban kebaikan mereka. Dengan begitu anak-anak berlatih untuk berani berbuat baik dan melawan kesalahan misalnya dengan tindakan-tindakan yang sopan, simpatik, dan lucu.

Anak-anak harus merasa bahagia di sekolah dan di rumahnya. Anak-anak tetap harus mempunyai masa depan. Itu pun berarti guru harus mencegah seorang anak mengintimidasi anak yang lain. Guru harus mencegah tindakan buruk seorang anak kepada anak lain.

Kekompakan guru dalam menangani siswa yang bermasalah harus ada. Jangan sampai ada guru yang merasa takut lalu enggan berurusan dengan siswa yang nakal. Guru seperti ini akan membiarkan saja anak-anak yang nakal dan hanya memberinya nilai yang kurang. Padahal tindakan pendidikan bukan hanya nilai melainkan juga nasehat, sikap marah, bahkan hukuman, atau pujian ketika anak meninggalkan keburukannya. Pembiaran juga tidak boleh dilakukan.

Tindakan kepada anak-anak nakal tidak selamanya harus berupa hukuman. mereka juga bisa diajak tertawa-tawa untuk merenungkan kebodohan-kebodohan yang dilakukan oleh mereka sendiri. Jika mereka iri maka sikap iri itu bisa ditertawakan. Apabila mereka serakah maka sikap serakah itu bisa dicegah dengan menertawakannya. Dengan begitu alih-alih hanya menggunakan hukuman dan tindakan fisik, tindakan simpatik mungkin menarik juga untuk menjadi bagian dari pilihan.

Anak yang baik adalah anak yang mencium tangan orang tuanya, mencium pipi atau kepala orang tuanya, menunjukkan kecintaan kepada orang tuanya. Demikian pula orang tua yang baik harus menunjukkan kasih sayang dengan memberikan pelajaran-pelajaran yang baik, memberikan cerita-cerita yang lucu untuk menjadi pelajaran bagi anak-anaknya, menyampaikan cerita-cerita yang mengandung hikmah pada anak-anaknya. Orang tua harus mengajari anak-anaknya berdoa kepada Tuhan, memohon pertolongan kepada Tuhan agar kita semua dibimbing oleh Allah ke dalam ridanya.


Leave a comment