Home » 2020 » August

Monthly Archives: August 2020

Silsilah Sunan Gunung Jati sampai Rasulullah saw

Facebook Ingin Profil Asli

Tulisan ini merupakan titipan dari teman saya. Saya membantunya memuat tulisan ini karena saya memahaminya

Teman saya memasang foto profil Jenderal Iran, Qosim Sulaimani di FB. Dia juga menuliskan bio yang tidak akurat tentang dirinya misalnya dia beralamat di Jakarta, bekerja Cirebon, berorientasi politik Hamas, bermazhab Ahlusunah, dan pendukung Iran.

Baru-baru ini FB-nya diban oleh FB dengan notifikasi bahwa dia melanggar panduan komunitas (community guidelines). Dia lalu diminta FB memasukkan nomor hp, memfoto kartu identitas (KTP, SIM, atau semacamnya), dan entah tuntutan lainnya. Teman saya ini sempat memasukkan nomor hp. Ketika diminta KTP, dia memberikan foto KTP di bawah cahaya yang sangat minim, dengan menutupi tulisan identitasnya. Namun robot server FB menolak KTP-nya dan teman saya memutuskan untuk BERHENTI MEMGGUNAKAN FB.

Pakar komputer Onno W. Purbo mengatakan bahwa peretasan dimulai dari pengumpulan info (social enggineering) dari identitas korban dari FB. Identitas itu berupa alamat, tempat sekolah, teman dekat, keluarga, dan sebagainya. Onno di saluran video youtubenya yaitu Onno Center, menanyakan kepada hadirin, jika ada seorang asing meminta lihat KTP, akankah orang memberikannya? Tidak. Tentu tidak. Sama sekali tidak. Mun ceuk si Cepot mah, “Euweuh, Doyot …!” Anehnya, banyak orang justru di FB membuka identitasnya. Lalu setiap orang bisa melihatnya: foto-foto, alamat, tanggal lahir (umur), sekolah, kelulusan, kesenangan, tempat kerja, teman dekat, hubungan keluarga, dan sebagainya. Onno seolah berkata, hanya orang bloon yang membuka identitasnya di FB padahal dia menolak memperlihatkan KTP-nya kepada orang lain.

FB juga sarana perjuangan. Mungkin berjuang membela pimpinan politik, membela orientasi politik, melawan kelaliman AS dan Israel, menyebarkan berita benar, dan meluruskan hoaks. Namun apakah FB membolehkan setiap perjuangan? Fakta tadi dan berikut ini merupakan bukti negasinya.

Jenderal Qosim Sulaimani dibunuh AS. Presiden Trump menampilkan euforianya saat pembunuhan itu terjadi. Ia mengibarkan bendera AS saat terbunuhnya Sang Jenderal Iran itu. Ia juga menuliskan pernyataan kemenangannya, kesenangannya, pertanggungjawabannya, atau dukungannya atas penbunuhan itu. Beberapa hari kemudian, Iran pun lalu membalas syahadah Qosim dengan menghujani pangkalan AS dengan roket. Sebuah tantangan perang terbuka yang tidak dilayani oleh AS. Jadi jangan takut kepada AS. Berlindunglah di bawah payung Iran karena AS takut dengan Iran. Apalagi Iran seolah mengklaim mendapatkan pertolongan dari Imam Zaman yaitu Imam Mahdi dan Imam Husain bin Ali. Kekuatan spiritual yang tidak bisa diremehkan.

Mungkin karena itulah FB teman saya diban. Lalu jika ada yang memberi identitas asli di FB, dia benar-benar mengabaikan peringatan dari Onno W. Purbo. Tetaplah berjuang. Gunakan identitas palsu di media sosial. Lawanlah kezaliman AS dan Israel.

Ingat juga ketika identitas youtuber Denny Siregar dibuka di internet. Orang asing bisa mengancamnya. Jika lawan menutup identitasnya, akankah kita menyodorkan identitas kita secara gratis? Kawan dan lawan selayaknya menutup identitasnya. Konon Imam Mahdi juga bukan tidak ada di dunia ini melainkan disamarkan identitasnya. Nabi Musa juga disamarkan identitasnya sehingga beliau as bisa hidup di istana Firaun. Nabi Yusuf juga disamarkan dari identitasnya untuk menjaga keamanannya dan keberlangsungan dakwahnya di Kerajaan Mesir.

Pantas saja dalam sejarah pendukung Imam Zaman ketika berhadapan dengan musuhnya akan saling berkenalan dulu. Mereka saling menyebutkan nama dan identitas masing-masing. Dengan begitu dia bisa mengkonfirmasi kematian musuhnya kepada keluarga musuhnya atau kepada kesatuannya. Korban bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang besar di pihaknya masing-masing. Pantas saja prajurit AS dipasangi kalung identitas agar dia tidak mati konyol yang tidak diketahui identitasnya.

Mengizinkan Orang untuk Berbeda Mazhab

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik.

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik. Seeorang yang mengakui kewajiban salat namun tidak melaksanakannya tidaklah membuat dia keluar dari Islam. Seorang muslim yang berzina, minum khamr, atau membunuh tidak serta merta keluar dari Islam. Ada fatwa yang mendasari hukum tentang kondisi seseorang keluar dari Islam.

Dalam berhaji juga mazhab berbeda-beda. Sungguhpun demikian ada peristiwa yang dialami seorang jemaah haji ditegur orang lain. Dia katakan cara berpakaian ihram teman Anda salah. Kondisi haji, orang yang tidak dikenal memperbaiki syariat orang lain. Di satu sisi, ada yang menganggapnya sebagai kasih sayang, persahabatan, persaudaraan; namun di sisi lain, potensi konflik mazhab bisa terjadi.

Mazhab (sekte, aliran, golongan, kelompok) sudah tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya. Mungkin mazhsb ini sampai 73 golongan. Mazhab satu berbeda dengan yang lain. Contoh perbedaan mazhab adalah sebagai berikut. Ada yang niatnya siri, ada yang zahar. Ada yang basmalah siri, ada yang zahar. Ada yang qunut, ada yang tidak. Ada yang tarawih 11 rakaat, ada yang 23 rakaat. Ada yang telunjuknya diam, ada yang bergerak-gerak. Ada yang ziarah kubur, ada yang tidak. Ada yang tahlil, ada yang tidak. Ada yang muludan, ada yang tidak. Ada yang tawasulan, ada yang tidak. Ada yang solawatan, ada yang tidak. Ada yang marhabanan, ada yang tidak.

Selain fikih (furu, cabang), perbedaan mazhab juga disertai perbedaan pandangan akidah. Banyak ulama ahli kalam berbeda pendapat tentang masalah akidah. Setidaknya menurut sebagian ulama, akidah meliputi ketuhanan dan kenabian. Karena itu seorang menjadi muslim hanya karena dia telah bersyahadat yaitu dia mengakui Tuhan tunggal dan beriman kepada Muhammad (meyakini utusannya).

Contoh perbedaan akidah tentang ketuhanan di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini Tuhan itu berwajah, bertangan, bersinggasana di atas arasy, turun dari arasy seperti turun meniti tangga, sifat Tuhan (wujud, qidam, baqo, …), dan sebagainya. Sebagian muslim lain meyakini bahwa istilah wajah, tangan, arasy adalah simbol atau kias pada kekuasaan atau sesuatu.

Contoh perbedaan akidah tentang kenabian di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini nabi maksum meski melakukan kesalahan, Nabi bermuka masam ketika menghadapi orang buta, Nabi lupa dalam salatnya, nabi minta nasihat sahabat terkait teks azan, nabi salah dalam penyerbukan kurma, Nabi tersihir, Nabi tertarik kepada istri anak angkatnya, Nabi tak tahu hukum lalu menunggu wahyu. Mazhab yang diyakini mayoritas (?) muslim meyakini bahwa Nabi maksum dan tak melakukan kekeliruan, pembesar Quraisy bermuka masam ketika orang buta datang, Nabi tak pernah lupa dalam salatnya, Nabi mendapat wahyu terkait teks azan, Nabi paham dalam penyerbukan kurma, Nabi tak pernah tersihir, Nabi tidak tertarik kepada istri anak angkatnya sampai mereka bercerai, Nabi tahu hukum ketika ditanya hukum oleh sahabat, semua ucapan Nabi adalah wahyu, semua perbuatan Nabi adalah wahyu. Wama yantiku anil hawa, in huwa illa wahyu yuha.

Masalah akidah lain di antaranya keyakinan pada rukun Iman dan rukun Islam. Rukun iman dan rukun Islam memang bersumber dari sabda Rasulullah. Namun penyebutan Rukun Iman dan Rukun Islam sebagai bagian dari akidah adalah rumusan ulama Asyariyah Maturidiyah. Ulama Syiah Itsna Asy’ariyah pun merumuskan usuludinnya yang berbeda dengan Asyariyah, Maturidiyah, Muktazilah, Murjiah, Itsna As’ariyah, dan sebagainya. Jadi rukun Iman dan rukun Islam juga tak jadi akidah mutlak.

Melihat perbedaan itu, sungguh sepele bila ada perbedaan fatwa ihwal boleh tidaknya mencoblos kontestan pemilu atau pilkada, fatwa tentang fikih, fatwa wahabi (?) tentang larangan membakar bendera HTI/ISIS/tauhid, fatwa larangan mencoblos pendukung Cina (?), larangan mencoblos pelanggar janji (?), fatwa HTI tentang larangan berdemokrasi, fatwa HTI (?) tentang togutnya presiden, fatwa HTI (?) tentang togutnya simbol negara seperti bendera merah putih atau Garuda Pancasila, fatwa HTI tentang larangan menghormat bendera merah putih, atau beragam fatwa aneh lain di tahun demokrasi. Fatwa bisa berbeda, namun umat tidak boleh dipaksa ikut pada suatu fatwa sebab umat berhak mengikuti fatwa yang lain.

Jangan sampai menjadi keledai yang bisanya menyalahkan mazhab lain, bahkan mengkafirkan mazhab lain. Hanya gara-gara beda pilihan presiden, atau orientasi politik lalu dianggap kafir, musrik, murtad, ahli nar, dan sebagainya.

Satu fatwa setara dengan fatwa lainnya. Bila ada fatwa yang melarang berdemokrasi, maka fatwa yang membolehkannya pun setara. Seseorang bebas melilih fatwa berdasarkan mazhabnya. Fatwa tidak bisa lebih tinggi karena dipaksakan kepada pemeluknya, atau karena pemberi fatwanya galak dan melotot demi yang dianggapnya (so called) Islam lurus atau murni. Seorang ulama tak bisa mengklaim dirinya murni 100% karena dia tidak maksum. Buktinya adalah fatwanya berbeda dengan ulama lain. Bila ia mengklaim maksum, barulah ia bisa mengklaim fatwanya murni dan dia bisa menjamin seseorang masuk surga, orang yang mengikuti fatwanya berpotensi masuk surga. Orang yang mengikuti Rasulullah 100% pasti masuk surga karena Rasulullah maksum. Namun interpretasi dari Rasulullah tidak dijamin masuk surga karena ulama yang menginterpretasi tidak maksum.

Bila seseorang muslim berbeda dengan muslim lain pada tataran akidah ataupun fikih, maka orang itu tetap muslim. Bekalnya hanya syahadat. Dengan syahadat seseorang diakui sebagai muslim yang hak, harta, darah, dan kehormatannya wajib dijaga. Apakah syahadat harus disaksikan orang lain? Seseorang yang nonmuslim akan menjadi muslim dengan mengakui dua kalimat syahadat.

Oleh karena itu, izinkan seseorang yang ingin berbeda mazhab, berbeda fikih, dan mungkin akidah (sebenarnya tak perlu izin orang lain). Sama seperti orang lain membiarkan kita berbeda mazhab. Kapanpun dia berpindah mazhab, tak perlu diumumkan dan tak perlu diketahui orang lain.

Silsilah Nenek Moyang

Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon)

Pangeran Adipati Muhamad Arifin (Pangeran Pasarean)

Pangeran Adipati Anom Cirebon I

Panembahan Ratu Awal

Pangeran Adipati Cirebon II

Panembahan Girilaya

Sultan Sepuh Samsudin

Sultan Sepuh Jamaludin I

Sultan Sepuh Jamaludin II

Pangeran Sura Adikusuma

Raden Sura Sakti

Raden Mangunwijaya

Rd. Yakub

Kramadisastra

Raden Bunyamin Majanasastra

R.B. Ma’oen Kartamajana

Badrun Komar Kartamajana
(Kode di buku silsilah Kramadisastra-Kartawijaya adalah A.8.2.11)

Sajak Terima Kasih Pahlawanku

Terima Kasih Pahlawanku

Wahai pahlawanku
Hari ini kami menikmati
Tenaga, harta, dan jiwamu
Dalam mencapai kemerdekaan
Kini tugasku adalah
Mengisi kemerdekaan
Dengan belajar, berbakti, dan berbuat baik
Terima kasih, pahlawanku

Indonesia, 17 Agustus 2020