Home » 2020 » September

Monthly Archives: September 2020

Ayam Filet Krispi

Ayam Filet Krispi

Menu kuliner ini cocok untuk anak-anak maupun dewasa. Rasanya gurih dan renyah. Untuk orang dewasa bisa ditambah sambal dan lalap. Saos tomat juga bisa ditambahkan. Sebenarnya ayam filet seperti ini bisa juga untuk lapisan burger atau kebab. Menarik juga bila dicoba menggunakan parutan keju.

Ketika Scaling, Gigi Diungkit Sehingga Sakit Gigi

Ini adalah pengalaman seorang teman. Dia sebenarnya mau perawatan gigi pecah. Puskesmas mengatakan tidak bisa melayaninya. Lalu pasien ini juga mengaku ingin scaling atau membersihkan karang gigi. Di Bandung biasanya dilayani oleh mahasiswa calon dokter gigi. Mungkin juga di puskesmas ada perawat bukan dokter yang melayani scaling gigi? Di kota lain, dokter dan perawat juga melayani scaling gigi.

Perawat puskesmas itu mengatakan bahwa scaling bisa dilakukan olehnya. Pasien ini setuju scaling olehnya.

Ceritanya ketika scaling itu, entah mengapa, perawat itu mengungkit gigi geraham pasien. Gigi itu diungkit seperti mengungkit atau mencabut fondasi. Perlahan tapi benar-benar mengungkit. Belakangan pasien ini merasa sakit gigi tepat di geraham yang diungkit. Rupanya geraham itu memang bergeser dari posisinya.

Hati-hati jika scaling sampai mengungkit gigi. Sakit giginya itu bisa sampai setahun. Dia mengaku tidak bisa lagi mengunyah dengan geraham itu.

Itu dia dapati ketika menggosok gigi. Geraham yang digosok jadi sangat sakit ketika digosok. Bahkan tidak kuat, tidak mampu digosok saking sakitnya. Belakangan, geraham itu mulai bisa digosok meski belum bisa sepenuhnya digunakan untuk mengunyah. Kalau mengunyah rasanya ngiku dan sakit tak tertahankan.

Biaya scaling di puskesmas 100rb tetapi berakibat geraham goyang/pindah dan sakit gigi. Sayang sekali.

Masalah dikonsultasikan kepada dokter gigi lain. Dia mengeluh giginya seperti berlubang, sakit gigi, dan minta ditambal setelah scaling. Dulu dia menduga jarum scaling melubangi gigi. Dokter diam dan mengatakan tidak ada lubang.

Ini Covid, Coffeed, Kopit, atau Hoaks?

Ada cerita teman yang terkena stroke ringan dia diduga oleh dokter terkena covid. Karena itu dia diisolasi selama 4 hari. Ternyata pada hari pertama dia negatif, hari kedua dia negatif, hari ketiga dia negatif. Akhirnya di hari ke-4 ketika dia dinyatakan negatif, dia disuruh pulang. Untuk biaya dugaan covid itu ia harus membayar kurang lebih 24 juta sebagai biaya perawatan. Rumah sakit mengatakan bahwa dia boleh gratis asal mau menandatangani pernyataan bahwa dia mendapatkan perawatan covid. Dokter dengan kehati-hatiannya seperti begitu mudahnya seolah-olah pasien diduga coffid. Diberi tes rapid, diberi tes swab, diberi tes ini dan itu. Tentu saja pasien tidak berdaya, tidak bisa berargumen, dan pasrah dengan analisis dokter. Meski pasien tahu bahwa analisis dokter bisa salah, pasien tak bisa beradu argumen dengan dokter. Pasien berharap bahwa dokter tidak bermain-main dengan kesehatannya hanya demi mengejar setoran penanganan coffid. Pasien tidak berharap jadi kelinci percobaan dan rumah sakit mengumpulkan hipotesis dari dia dengam tindakan yang tidak diketahui pasien. Hanya dokter, menteri dan institusi kedokteran yang bisa berbicara tentang masalah ini, misalnya Ibu Siti Fadilah Supari atau Bapak Terawan. Saya tidak.

Ada lagi kasus lain orang tua yang berpindah dari suatu kota metropolotan ternyata ketika dia sakit dan masuk rumah sakit, dia serta merta divonis juga coffeed lalu meninggal dan mendapat penanganan covit. Tentu saja kasus coffeed akan meledak lalu karena ada kasus meninggal dan sebelumnya diduga kovit. Akhirnya keluarganya diisolasi. Insitusi tempat kerja keluarganya juga diisolasi, ditutup, dan disemprot disinfektan dan mendapat bagian dari proyek pemerintah terkait covid. Pemerintah Indonesia menggelontorkan dana begitu banyak untuk penanganan covid. Oleh jajaran pemerintah bawahannya anggaran itu jangan sampai dihambur-hamburkan, dibagikan di antara orang-orang, dipekerjakan, dibelanjakan, bahkan untuk kasus dugaan semata, dengan dalih kehati-hatian.

Mungkin ini mirip dengan kasus Israel yang atas dasar dugaan dan narasumber yang tidak jelas dia bisa menyerang orang-orang Palestina. Berdasarkan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya dia juga memberikan dugaan-dugaan itu memberikan simpulan-simpulan, memberikan berita-berita dugaan.

Bahkan kasus seperti itu juga terjadi ketika Tempo mengangkat suatu berita yang diulas oleh Doktor Ade Armando, dosen Universitas Indonesia, di saluran youtube Cokro TV-nya. Ade Armando mempertanyakan kredibilitas Tempo ketika mengangkat berita berdasarkan dugaan dan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya. Sumber: https://youtu.be/BDeLfFtOFwo

Sesndainya benar, ini jelas berita yang tidak kredibel terkait dengan coffeed. Karena ada kasus meninggal diduga kopid. Orang-orang jadi panik dan saling mengisolasi diri bahkan berhenti dari pekerjaannya. Sekolah tutup dan kantor pemerintah pelayanan publik tutup menyebabkan konsumennya hilang. Jika orang tahu bahwa tetangganya di rumah sakit ditangani covid, dia sama sekali tidak akan mau untuk berhubungan dengannya. Dia akan menjaga jarak dengan tetangganya, bahkan tidak mau menyapa.

Mungkinkah ini yang menyebabkan angka statistik pasien coffeed dan kasus meninggal karena kopid meningkat tajam di Indonesia. Orang yang tidak sakit coffee kirimkan ke pelayanan kopit atau didiagnosis sebagai pasien coffid.

Memang dunia ini sangat aneh. Ketika negara lain melakukan lockdown, sebagian orang mendorong pemerintah Indonesia untuk lockdown. Padahal lockdown beresiko sangat besar. Pemerintah harus membiayai semua anggota masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan makan dan belanja sehari-hari. Dengan adanya PSBB juga pemerintah memberikan subsidi ke semua sektor yang dibutuhkan. Bahkan masyarakat yang tidak mampu pun diberi bantuan uang secara langsung.

Kini gara-gara Indonesia menolak menjatuhkan sanksi kepada Iran, ada berita bahwa sejunlah negara menolak kunjungan dari Indonesia. Ini jelas cuma menakut-nakuti karena memang penerbangan ke berbagai negara dari banyak negara memang ditutup.

Indonesia menunjukkan ketidaktakutannya dengan membuang penggunaan dolar untuk berbisnis dengan berbagai negara, misalnya Cina, Iran, Rusia, Venezuela, Eropa. Ini akan membuat inflasi pada mata uang AS dan penguatan pada mata uang negeri lain termasuk Indonesia. Indonesia tidak terlalu butuh dolar. Kita bertransaksi dengan rupiah yang harga kursnya hampir sama dengan Iran.

Orang boleh berbeda pendapat atau opini. Orang boleh berbeda orirntasi politik. Orang boleh berbeda mazhab atau berpindah mazhab. Yang tidak boleh adalah hoaks. Tidak boleh hoaks. Termasuk tentang covid.