Home » penelitian » Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran Berbasis Proyek

Pembelajaran berbasis proyek bisa dilakukan di perguruan tinggi. Jika pembelajaran berbasis proyek dilaksanakan, maka pelaksanaannya mesti dilakukan sejak awal semester. Selama semesteri guru akan menilai proyek mahasiswa dan mengembangkannya. Proyek yang mereka kerjakan bisa disimpan di drive atau spada. Catatan dan penilaian dosen bisa diberikan selama semester.

Memang memeriksa proyek yang dibuat mahasiswa cukup melelahkan. Jika satu kelas ada 40 mahasiswa, kelas paralel yang lebih dari 3 akan melelahkan dosen dalam menilainya. Alternatifnya adalah penilaian dilakukan sejak awal semester. Dengan begitu, mahasiswa yang proyeknya bagus akan diberi nilai final sejak awal semester. Ini seperti mahasiswa yang mengontrak mata kuliah bahasa Inggris padahal mahasiswa sudah mempunyai skor TOEFL 500. Mungkin juga ada mahasiswa yang mengontrak mata kuliah metode penelitian atau statistik padahal mahasiswa sudah mempunyai artikel di jurnal Scopus sebagai penulis pertama. Mungkin juga ada mahasiswa yang mengontrak mata kuliah pendidikan bahasa padahal mahasiswa sudah mempunyai banyak artikel di media massa (mungkin juga blog, atau vlog), buku, novel, puisi, drama.

Kelelahan ini juga menyebabkan penilaian proyek mahasiswa tidak boleh berulang-ulang. Sangat menjenuhkan bila pengajar harus kembali meninjau proyek mahasiswa yang tidak berubah. Jika mahasiswa membuat video pembelajaran, maka hasil video itu harus maksimal meski dikerjakan secara proyek (berhari-hari) dan tidak ada penilaian ulang. Proyek yang bisa dinilai ulang adalah proyek menulis artikel jurnal dengan target publikasi di jurnal internasional.

Memberi komentar sangat penting untuk penilaian di e-learning (misalnya Moodle). Dengan begitu, pengajar juga tidak semata memberi skor 93/100 namun juga memberi komentar. Komentar bisa terkait dengan wawasan pembelajar. Mungkin juga ada komentar pujian, pertanyaan, atau keraguan. Komentar itu menunjukkan bahwa pengajar menghargai dan menilai dengan serius. Mungkin komentar itu seperti satu baris saja (one liner). Namun, isi komentar bisa dalam seperti pertanyaan filsafat yang sederhana namun mendasar.

Komentar bisa saja sama atau kopian. Bunyi komentar bisa saja, “Anda mungkin bisa membuat video seperti itu.” Lalu komentar itu ditambah sedikit menjadi, “Video  yang bagus untuk ….”, “Video yang bagus untuk mengenal budaya.”, “Anda mungkin bisa membuat video drama seperti itu.” “Anda mungkin bisa membuat video pelajaran seperti itu.” “Anda mungkin bisa membuat video renungan seperti itu.” “Video yang inspiratif. Anda mungkin bisa membuat video seperti itu.” Dengan begitu, ada tambahan spesifik pada komentar yang diberikan. Ini berarti pengajar memeriksa karya siswa dengan cukup seksama. Tidak asal menilai.

Jika pengajar membuat beberapa soal proyek, pengajar bisa memeriksanya hanya satu kali. Mungkin pengajar bisa membuat tiga soal untuk proyek ini. Pertama, pengajar meminta mahasiswa menyebutkan video yang menginspirasinya. Kedua, pengajar meminta mahasiswa untuk menyebutkan proyek yang akan dibuatnya. Ketiga, pengajar meminta mahasiswa untuk mencantumkan tautan proyek video yang dibuatnya beserta deskripsinya. Dengan begitu, dalam satu waktu, pengajar memeriksa keseluruhan proyek. Skor siswa yang sejak awal bagus tidak perlu diubah. Skor siswa bisa jelek jika proyeknya salah, parah, atau tidak membuat proyek (mengosongkannya). Mungkin hanya beberapa pembelajar saja yang harus merevisi proyeknya. Dengan begitu, pengajar juga tidak akan kelelahan dalam memeriksa proyek pembelajar.

Sebagian mata kuliah juga tidak bisa diberi soal pilihan jamak, misalnya mata kuliah filsafat. Sangat aneh bila pemikiran filsafat yang bebas dan terbuka ditanyakan menjadi soal ya dan tidak atau pilihan ganda. Dosen mungkin memerlukan opini mahasiswa misalnya terkait kritik tentang toleransi dan demokrasi (sistem pemerintahan). Onno W. Purbo menurut informasi di saluran youtubenya juga sering memberikan soal pilihan jamak. Onno W. Purbo adalah seorang pakar internet. Penggunaan soal pilihan jamak ini disebabkan ada prinsip internet yang mesti diingat dan tidak boleh dilupakan. Namun, Onno juga sering melakukan saltem (salin-tempel atau copas, copy-paste) untuk mengeksekusi perintah-perintah komputer. Jadi tidak semua hal harus diingat dalam kuliah komputer atau internet. Onno membuat soal pilihan jamak di laman belajar daring (e-learning) berbasis Moodle.  Mata kuliah yang menggunakan soal pilihan jamak sangat efektif untuk kelas besar. Soal pilihan jamak itu memudahkan pemeriksaan karena langsung diperiksa dan dinilai oleh komputer. Pengajar tidak usah memeriksa lagi.

Dalam pembelajaran berbasis proyek, mungkin mahasiswa menawarkan diri untuk membuat suatu proyek misalnya proyek sepeda listrik, baterai, atau proyek lainnya. Contoh proyek yang bisa dikerjakan mahasiswa di antaranya sebagai berikut.

  1. Pada mata kuliah Pendidikan Seni dan Konsep Dasar Seni, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video pembelajaran seni drama, tari, musik, atau rupa, (b) lagu dengan LMMS atau HumOn, (c) video baca puisi, baca prosa, monolog, atau drama, (d) artikel jurnal. Kadang-kadang tidak semua mahasiswa mampu membuat artikel yang layak terbit di jurnal.
  2. Pada mata kuliah Konsep Dasar Bahasa Indonesia, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video konsep bahasa, (b) artikel jurnal.
  3. Pada mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video terkait tema kurikulum bahasa, (b) artikel jurnal.
  4. Pada mata kuliah Pendalaman Bahasa Indonesia, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video terkait pembelajaran bahasa, (b) artikel jurnal (c) video pembelajaran bahasa (ternasuk bahasa asing) melalui lagu.
  5. Pada mata kuliah Filsafat Ilmu, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video terkait dengan filsafat, (b) video terkait toleransi dan demokrasi, (c) artikel jurnal.
  6. Pada mata kuliah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di SD, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video terkait dengan pelajaran bahasa dan sastra di SD, (b) video tematik, (c) (c) video pembelajaran bahasa (ternasuk bahasa asing) melalui lagu, (d) artikel jurnal.
  7. Pada mata kuliah Model-Model Pembelajaran, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) artikel jurnal, (b) video model pembelajaran.
  8. Pada mata kuliah Pembelajaran Tari dan Drama, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video drama, (b) video baca puisi, baca prosa, (c) artikel jurnal
  9. Pada mata kuliah Apresiasi Sastra, mahasiswa bisa diminta untuk membuat proyek (a) video apresiasi drama, (b) video apresiasi puisi, (c) video apresiasi prosa.

Sangat menarik bila melihat rencana pembelajaran yang fleksibel dalam melihat tantangan dan perubahan zaman. Memang ada kasus Onno W. Purbo dalam videonya yang mengatakan bahwa ada mahasiswa yang DO gara-gara dosennya tidak mengerti proyek mahasiswa. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Yang bisa dilakukan adalah dosen mencarikan ahlinya. Jika pun tidak ada, mahasiswa harus tetap berhak mengembangkan potensinya. Meski tidak ada ahli yang bisa digunakan, mahasiswa harus mencapai pengembangan pribadinya.

Mungkin bisa dibayangkan bila ketertarikan mahasiswa adalah pada bidang teknologi seperti membuat sepeda listrik, membuat baterai, membuat aplikasi android berorientasi pelajaran. Pengajar dapat membimbing kompetensi mereka.

Sebagian tes bisa diganti dengan proyek seperti ini. Mungkin ini juga yang dilakukan Onno W. Purbo. Proyek ini bisa menjadi portofolio mahasiswa.


Leave a comment