Home » 2021 » March

Monthly Archives: March 2021

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Katakanlah namanya Nisa atau Anis. Dia pernah mengganti nama. Nama pertamanya Anis. Dia tinggal di daerah ini. Daerah yang indah permai namun bukan tak ada kekurangannya. Ketika masih seumuran SD, ibunya pernah menamparnya. Sebenarnya bisa dibilang bukan menampar melainkan mendorong. Akibatnya ia sedikit terhuyung menahan jatuh dari keseimbangan. Untung saja ia punya suami yang juga gagah seperti Bejita (ini tokoh di anime atau manga Dragon Ball). Katakanlah namanya Jaka Pitrah. Jika istri tidak nurut, menantang, atau melawan, Bejita ini bisa saja menamparnya, meneriakinya, atau memperlakukannya dengan sangat keras.

Berteriak-tetiak juga di dalam keluarga merupakan peristiwa aneh. Sebenarnya berteriak umtuk menuntut sesuatu bukanlah tradisi budaya rakyat sini. Rakyat sini cenderung memahami isyarat. Orang berakal juga pandai memahami isyarat. Jadi keinginan tidak perlu diteriakkan. Apakah di parlemen juga seseorang harus mengemukakan gagasannya dengan berteriak? Tidak juga, lobi disertai kopi dan apel malang atau apel washington mumgkin lebih berhasil daripada teriakan. Eh, apakah apel malang itu kode untuk suapan uang rupiah? Apakah apel washington itu uang dolar? Itu terjadi di era Presiden SBY pada peesidangan Angelina Sendal dan Anas Urbaningrum.

Masalah keluarga bisa terjadi dari hal tak sengaja hingga yang disengaja. Seseorang suami, istrii atau anak bisa memecahkan piring, membiarkan sampah berserakan, membiarkan cucian piring dan baju tidak dicuci, tidak masak, masakan terlalu asin atau pedas, membiarkan debu di lantai dan perabotan, menentukan bentuk bangunan rumah, kekurangan materi, menentukan prioritas belanja, … dan sebagainya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi politik yang berbeda dengan istrinya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi agama atau mazhab yang berbeda dengan istrinya. Mungkin saja harus ada yang dikorbankan seperti ego pribadi. Namun, keputusan harus menjadi maslahat bagi semua pihak bahkan maslahat bagi anggota masyarat.

Mungkin khas setiap istri menguji suaminya dengan kesabaran. Suami dituntut sabar atau dites perihal yang bisa membuatnya marah. Istri juga harus siap respon suaminya sekasar apa: lembut, lembek, melempem, membentak, atau menampar.

Untungnya ada juga suku terbesar pada bangsa ini yang ibu dan ayahnya mendidik anaknya dengan kelembutan. Ketegasan beda dengan keras kepala. Ketegasan pada kebenaran, kebaikan, manfaat. Yang benar belum tentu baik. Yang baik belum tentu bermanfaat. Agama ini adalah benar, namun tidak selamanya seseorang harus berdakwah di sembarang waktu dan tempat. Tidak selamanya seseorang harus berdakwah kepada orang tua atau pejabat. Tidak selamanya yang benar itu bermanfaat. Orang lain mungkin bisa menolak dakwah seperti itu.

Bahkan orang di luar barat juga mengenal kelembutan perempuan wanita timur seperti ini. Ada isu, senakal-nakalnya manusia sini akan lebih baik daripada orang Arab. Mungkin kenakalan orang Arab hanya bisa disaingi dengan jin.

Lalu yang lebih luhur adalah ajaran agama yang disampaikan para nabi. Perempuan yang dididik seperti ini akan menjadi berkah tersendiri bagi suaminya. Suami tidak direpotkan dengan kebodohan, perlawanan, tuntutan materi, tuntutan kemewahan yang jika tidak dituruti, mereka cemberut, bahkan ada yang menuntut cerai. Sebagian dari perempuan itu menghinakan suaminya dengan kata kata, “miskin, jelek, menyesal memilih kau, suami tak mampu, pemalas, … dan sebagainya.”

Begitu banyak suami yang saat kaya menceraikan istrinya. Begitu banyak istri yang ketika jadi kaya atau dapat rezeki nomplok, jadi selebritis, malah menceraikan suaminya. Salah satu atau kedua pihak tentu adalah sosok matetialis yang menyedihkan.

Mulanya kedua pasang insan ini miskin ketika menikah. Mungkin saja ayah atau mertua mereka kaya. Namun tidak selamanya ayah atau mertua dengan mudah memberi atau mewariskan perusahaan atau pekerjaannya pada anak atau memamtunya. Mungkin hanya antek rezim Orba yang bisa begini. Mereka bisa berbagi tanah, lahan, perusahaan, hutan, gunung, tambang bagi anak, cucu, dan famili mereka. Bahkan sebagian penguasa sekarang di negeri ini juga masih berpikir seperti itu. Jadi pejabat seperti malah ingin dilayani, fasilitas negara digunakan untuk memperkaya diri dan kroni, lalu mereka membayar buzzerp untuk memutarbalikkan fakta.

Buzerp itu karena diberi sedikit uang, mau melakukan tindakan yang merusak bangsa dan negara. Mirip seperti Umar bin Saad dan pasukannya saat mengepung Imam Husain. Kepala Imam Husain ditancapkan di atas tombak, diarak dari kota ke kota. Itu seperti perilaku Muawiyah bin Abu Sufyan saat hampir kalah perang dengan Imam Ali. Mereka menancapkan Quran mati di atas tombak dan menuntut tahkim (hukum) berdasarkan Quran. Mereka tega membunuh Imam Husain, membawa kepalanya kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah sebagai barang bukti pekerjaan mereka. Lalu mereka mendapatkan sedikit upah darinya.