Hari-Hari Ziarah Haji (5)

Makan secara Teratur

Jemaah haji Indonesia diuntungkan dengan sejumlah fasilitas dari pemerintah. Jemaah diberi sekarung perlengkapan berisi obat-obatan, oralit, obat gosok untuk pegal-pegal, masker, semprotan, kaca mata hitam, payung, dan tas gendong tali. Sebagian lagi diberi secara bertahap.

Tentu fasilitas ini hasil kerja pemerintah mulai pemerintah pusat hingga pekerja lapangannya. Semua harus bekerja dengan rapi.

Makan untuk jemaah dijamin. Jemaah tidak perlu kerepotan mencari kebab turki atau roti india untuk makan sehari-hari. Mungkin warga tidak suka wisata kuliner ala Saudi dan perut Indonesianya tetap menuntut nasi dan goreng-gorengan.

Saya sebenarnya biasa mencicipi kebab, burger, martabak. Oleh karena itu saya ingin mencicipi masakan warga Saudi sebagai wisata kuliner. Saya juga melihat di internet dan mendapat info dari teman bahwa makanan utama orang Arab adalah roti, nan, tortila, dan semacamnya. Karena itu saya bersiap dari kemungkinan perbedaan selera masakan. Saya membeli dua jenis kebab pada dua kesempatan yang berbeda, sayangnya kebabnya kurang panas dibandingkan dengan yang dipanggang di Indonesia. Yang dipanggang matang adalah roti semacam martabak telur yang digoreng dengan minyak zaitun (?). Saya yakin itu bukan minyak kelapa atau minyak sawit. Saya sering mendengar bahwa masakan Arab berbeda cita rasanya dengan masakan Indonesia sehingga mungkin dikatakan hambar.

Karena mendapat nasi kotak dari pemerintah, jemaah haji tak perlu sering wisata kuliner, tak perlu wisata kuliner setiap hari.

Pemerintah menyediakan nasi kotak dua kali sehari. Nasi dan lauknya disimpan di atas wadah alumunium dan ditutup kertas plastik. Perusahaan penyedia makanannya adalah perusahaan Saudi yang cukup mengerti selera orang Indonesia. Nama perusahaannya tertera di label kertas tutup makan. Sekalipun menunya cukup enak, sebagian jemaah bosan dengan menunya: semur daging kambing atau sapi, ayam goreng, orak-arik telur, ikan. Tentu saja pemerintah tak bisa mengakomodasi keinginan setiap individu. Tentu pemerintah memilih menu yang menurut sebagian jemaah enak. Tetap saja jemaah bosan. Sebagian jemaah membawa abon, teri, tempe kering, kerupuk, sambal untuk memenuhi selera makannya.

Ada yang memberi saran agar pemerintah memberi menu sate madura, sayur kacang merah, pepes ikan, garang asem, soto, sop buntut, sop kaki, gule, ikan bumbu kecap, ikan cobek, sup ikan, dan makanan berkuah lainnya. Namun biasanya jemaah yang rata-rata berumur di atas 50 tahun menu serba daging mesti serba dikurangi.

Jemaah yang tahu keadaan makanan haji akan membawa berbagai macam sambal dalam bentuk saset. Hal ini untuk menjaga jemaah dari bosan dengan menu masakan yang kurang cocok di lidah.

Hari-Hari Ziarah Haji (4)

Meminta Tip di Indonesia, Arab, dan Jepang

Mungkin ini yang kerap terjadi saat haji. Jemaah haji Indonesia biasanya “murah hati” dengan memberi sedekah kepada orang di sekitarnya. Saya sering melihat jemaah di kloter kami yang memberi sedekah kepada tukang sapu di jalanan, petugas kebersihan (cleaning service) di hotel, dan sebagainya.

Saya pernah mendengar cerita gilanya sopir bus di Arab yang mengantar jemaah dari Mekah ke Madinah atau sebaliknya. Di tengah perjalanan, di padang pasir yang panas, ia menghentikan busnya, menepi, mematikan mesin, dan tidur di situ juga. Pimpinan jemaah segera bertindak mengumpulkan uang satu realan dari jemaah. Ia lalu membangunkan sopir dan menyuruhnya meneruskan perjalanan. Sopir bus ketika melihat uang disodorkan kepadanya langsung bangun, menerima uang, dan melanjutkan perjalanan.

Cerita lainnya adalah sopir taksi yang mengsntar kami ke tempat miqot untuk unrah lalu kembali ke Masjidil Haram. Setelah tawar-menawar, diseoakatilah 50 real. Ketika sampai di Tanim, ternyata diminta 50 real per orang. Semuanya 6 orang totalnya 300 real.

Saya punya pengalaman dengan petugas kebersihan hotel yang bukan kebetulan adalah orang Bangladesh. Ia terang-terangan mengisyaratkan minta uang kepada warga dari setiap kamar yang dibersihkannya. Ia menggunakan bahasa isyarat karena dia tidak menggunakan bahasa Arab, Inggris, atau Indonesia. Anehnya ketika ada kamar yang tidak memberi tip, tidak ada pelayanan kebersihan seperti mengganti sprei atau memvakum lantai kamar. Mungkin ia menduga bahwa jemaah ini dari kampung semua dan tidak bisa komplain kepada manajemen hotel. Padahal kalau ada di antara kami yang komplain ke hotel, mungkin ia bisa dipecat (?) atau mungkin juga hotel tidak akan memberi hukuman yang berarti.

Saya juga punya pengalaman dengan sopir bus yang terang-terangan minta uang lima real dengan alasan untuk makan. Ia meminta dengan wajah memelas. Sangat kontras dengan badannya yang besar dan gemuk khas orang Timur Tengah.

Di satu sisi saya bersyukur juga karena wajah saya mungkin masih dipercaya untuk dimintai sedekah. Namun di sisi lain saya prihatin. Sebagian orang yang tidak siap bersedekah mungkin akan malu karena tidak memberi uang tip, sedekah tadi. Pada umumnya orang Arab tidak menganggap jemaah Indonesia bakhil. Justru jemaah Indonesia cenderung dianggap murah hati. Saking murah hatinya jemaah Indonesia sampai dimintai dan tidak dibersihkan kamarnya berhari-hari.

Keadaan yang berbeda adalah keadaan di Jepang. Di Jepang, memberi tip adalah penghinaan. Bila gaji orang Jepang kecil, mereka juga enggan menerima tip (sedekah). Tentu orang Jepang juga menerima hadiah yang berupa penghormatan kepada orang yang diberinya.

Di Jepang orang saling menghormati profesi-profesi. Memang di Jepang juga sisi materialis ada. Filsafat mengatakan bahwa orang punya tentu lebih utama daripada orang tak punya. Tetapi orang Jepang umumnya tidak peduli. Mereka berpakaian rapi, bekerja, dan mendapat uang. Mereka tahu bahwa pendapatan orang berbeda-beda. Namun mereka tidak peduli dan saling menghormati orang lain dengan besar-kecil pendapatannya.

Di Indonesia acap orang kaya melecehkan orang tidak kaya. Orang tak punya acap merendahkan diri. Orang punya acap menyembunyikan kekayaannya tetapi bersuara paling keras. Seseorang berlagak jadi bos bila mentraktir orang lain. Di Jepang bahkan perempuan tidak selamanya harus ditraktir laki-laki bahkan saat pacaran. Orang tak punya acap merendahkan diri sambil mencari kesempatan meminta tip atau pemberian.

Orang Jepang yang menghargai, low profile, tidak suka tip, merupakan bagian dari sikap yang menarik untuk ditiru. Berbeda dengan di Indonesia, Arab. Selain itu, orang Bangladesh, India, Pakistan acap kali tidak malu meminta. Bahkan dia pun berani tidak mengerjakan kebersihan kamar hotel ketika tidak diberi tip. Saya jadi ingat pada masa rezim Orba (Pak Harto) petugas pemerintahan mulai dari RT, RW, petugas desa, kelurahan, kecamatan, dinas, kabupaten, pemerintahan, sekokah, perguruan tinggi, … acap kali tak mau bekerja kecuali telah diberi tip (amplop). Untuk kenaikan pangkat sekian amplopnya. Kalau orang tidak pandai memberi tip tentu kenaikan pangkatnya terhambat. Untuk mengurus kependudukan (KTP, kartu keluarga, surat keterangan) juga harus pakai tip. Akibatnya korupsi terjadi di banyak tempat.

Salah satu orang yang membasmi pungli adalah Ahok ketika menjadi gubernur DKI. Videonya bertebaran di youtube. Ahok juga menghukum petugas yang malas bekerja. Namun Ahok kalah pilkada konon karena isu sara (suku, agama, ras, antargolongan). Golongan partai mengisyukannya dengan isu sara tersebut. Akhirnya Anies-Sandi menang pilkada DKI.

Hari-Hari Ziarah Haji (3)

Mazhab-mazhab Islam dan Kesesatannya

Judul ini terlihat ekstrem karena acap demikianlah pemahaman picik penganutnya. Orang yang berada di luar mazhabnya dianggap sesat. Orang ini belum tahu mazhab lain lalu mazhab lain itu dianggapnya sesat.

Kali ini saya gembira ketika bertemu dengan sekurangnya lima muslim suni Iran. Saya melihat bendera di pita kalung mereka dan bertanya, “Aya shoma Inglisi sohbad mikonid? Inglisi baladid?” Kenanyakan orang Iran yang saya temui adalah orang syiah. Saya juga menyapa orang syiah ketika berziarah ke makam Khadijah, istri Nabi dan Jafar, paman Nabi. Namun kali ini kejutannya adalah saya menemui orang Iran mazhab Sunni Hanafi ketila hendak salat Jumat di masjidil Haram. Saya menemui mereka di pelataran tawaf tertutup. Mereka langsung mengatakan bahwa mereka Iran Sunni Hanafi. Bendera di pita kalung mereka adalah bendera Iran. Foto mereka adalah sebagai berikut.

Saya juga menemui seseorang dari Jawa Timur bersama orang Iran. Saya perkemalkan bahwa kepada orang Jawa Timur itu bahwa mereka orang Iran Sunni Hanafi. Dugaan saya, orang Jawa Timur ini cenderung ingin mengatakan bahwa syiah Iran sasat, menekan orang sunni, memaksa sunni menjadi syiah, membatasi masjid sunni, atau isu lainnya.

Sore harinya, saya juga mengunjungi pesantren NU di kawasan Mekah. Pada satu kesempatan saya berbincang-bincang dengan seorang santrinya. Kebetulan santri itu dari Sampang, Madura. Menurutnya kampung Tajul Muluk itu dekat dengan kampungnya. Saya tanyakan nasib Tajul Muluk. Ia kurang paham berita Tajul Muluk. Santri itu mengatakan bahwa syiah sesat dengan alasan mencaci sahabat, mencaci istri Nabi, Aisyah. Lalu ia menyinggung tentang akidah. Syiah pun banyak sekali mazhabnya.

Mesti dipahami bahwa Islam terdiri atas mazhab-mazhab. Yang patut disyukuri adalah semua menyembah Allah swt dan beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. Semua mazhab Islam memuja Tuhan dan beriman kepada Rasulullah. Orang-orang berlomba menuju-Nya. Bahkan seorang muslim di Masjidil Haram memberikan tempat salat, tempat tawaf miliknya hanya agar sesama pemuja Tuhan lebih nyaman ibadahnya.

Di Indonesia pun organisasi HTI dilarang seperti konon di negeri lain. Namun, di kalangan penganutnya, paham HTI masih berkembang. Saya bertemu dengan mahasiswa S2 UPI yang ingin mencoba Indonesia menjadi kerajaan. Mungkin seperti kerajaan Saudi. Ada di antara dosen UPI, bahkan dosen PAI, yang beranggapan bahwa syariat Islam harus diterapkan melalui negara Islam. Hanya melalui negara Islam. Menurutnya itulah sunnah Nabi saw dan sunnah sahabat.

Menurut saya, berbeda pendapat tentang negara khilafah boleh saja. Ini juga berarti orang yang tidak suka sistem kerajaan Islam juga boleh berpemdapat. Orang yang berpendapat itu tidak boleh dikafirkan. Buktinya penganut HTI meski organisasinya dibubarkan, mereka masih hiduo dan kadang-kadang masih mencaci pemerintah sebagai pemerintah dzalim. Tidak hanya kepada pemerintah Jokowi, mereka sudah mentogutkan pemerintah SBY. Saya acap melawan pendapat mereka. Saya katakan saya tak suka sistem kerajaan. Mereka berbeda pendapat dengan saya.

Menurut Anda sistem kerajaan Saudi bagus untuk diterapkan di Indonesia? Bagaimana dengan kerajaan yang merampas hak orang lain, patutkah ditiru juga?

Hari-Hari Ziarah Haji (2)

Berebut Rida Allah swt dan Rasulullah saw

Secara pribadi saya lebih senang tawaf sendiri. Saya merasa membawa beban jika harus bersama teman lelaki maupun perempuan. Apalagi bila tawaf sambil berpegangan tangan dengan teman dan seolah tak boleh ada yang menyela. Seolah terpisah dengan teman saat tawaf itu suatu bencana.

Saya sudah mendengar cerita haji, tawaf, sai, wukuf sejak saya masih bocah 10 tahun. Semoga orang-orang tua yang menceritakan kisah hikmah sabarnya beribadah haji itu mendapat ganjaran dari Allah swt. Kita bisa mengambil pelajaran dari ibadah haji. Bukan sekedar ingin cium Hajar Aswad, salat di saf terdepan, tawaf dan sai bergerombol, dan wukuf tanpa bersilaturahmi dengan bangsa lain.

Saya berpikir bahwa saat tawaf, seseorang harus berbagi tempat dengan orang lain. Beribadah itu tak boleh egois atau ingin orang lain sabar. Seseorang tak boleh merasa bahwa haknya diambil ketika orang lain menyusul, meminta jalur kiri/kanan, atau meminta memotong jalur.

Keadaan di sini lain. Orang salat pun ingin selalu paling dekat dengan kabah. Lalu jika orang lain mengambil tempatnya secara sah atau tidak, ia akan marah seolah terampas uang ratusan real. Kadang-kadang terjadi orang lain merampas tempat salat kita, tempat tawaf kita secara tidak sah. Dia pun melakukannya dengan sadar dan sengaja. Sesungguhnya, bila dia memberi orang lain hak miliknya, mungkin ganjaran Allah swt lebih besar daripada dia mempertahankan haknya salat di depan Kabah, tawaf, atau sai.

Sebagai orang Jepang, saat orang-orang mengantri sekitar 3 meter dari pintu WC, kami tak akan menggedor pintu, tak akan berteriak, tak akan klakson, tak akan memaksa, bahkan jika hak kami diambil pun, kami orang Jepang menyerahkannya kepada orang lain demi Tuhan. Ini bukan fiksi, ini fakta. Tautan artikel kunjungan ke Jepang adalah sebagai berikut.

Sebagai peziarah Tuhan, kita akan berkata, Ya, Tuhan, aku akan rida kapanpun engkau menjemput mautku. Apalagi bila makhluk-Mu berebut tempatku untuk menyembah-Mu, aku akan rida memberikan tempat itu untuknya. Demi dia mencapai ridomu dan aku pun mencapai ridomu. Bihaqi Muhammad wa aali Muhammad saw.

Hari-Hari Ziarah Haji (1)

Pada tanggal 3 Agustus 2018, perjalanan rombongan haji dari Sumedang masuk ke Gedung Negara, Sumedang. Foto di bus Gedung Negara adalah sebagai berikut.

Lalu rombongan haji naik bus sampai asrama haji, Bekasi, Jalan Kebagusan, gedung D, lantai.4, kamar 406 (Rokhul). Foto di masjid asrama haji adalah sebagai berikut.

Setelah pengecekan bagasi, paspor, bermalam, esoknya jemaah diangkut bus menuju bandara. Pada tanggal 4 Agustus 2018, para jemaah terbang selama 12 jam menuju Jedah. Kami adalah jemaah gelombang 2, kloter 60. Perjalanan 12 jam tidak membuat kami terlalu lelah karena banyak hiburan dan teman. Saudiah Airlines (?) menyediakan tv di setiap bangku. Namun tidak semua fasilitas LCD tv berfungsi. Internet pesawat, film, tv tidak berfungsi. Yang berfungsi adalah peta perjalanan, permainan (games), film anak-anak. Foto di pesawat adalah sebagai berikut.

Minggu 5 Agustis 2018, kloter 60 tiba di Bandara Jedah dan disambut oleh petugas Saudi dan Indonesia.

Rombongan tidak lagi diperiksa bagasi dan paspor karena sudah didelegasikan di Indonesia. Rombingan naik bus menuju maktab atau hotel di Mekah selama dua jam. Rombongan tidak lagi perlu mengangkut koper ke maktab atau hotel. Koper diangkut oleh petugas ke setiap lantai. Warga rombongan haji mengambil kopernya masing-masing di setiap lantai. Koper harus digembok dan retsleting (ziper) harus dipaten di satu tempat. Kalau tidak, koper berpotensi dirobek zipernya dan ditutup lagi seolah tak pernah dibuka.

Wifi di maktab 1002 Mekah ini jelek. Baru hari ke tiga, setelah komplain pejabat dengan pejabat wifi lobi hotek bagus. Wifi tidak ada di setiap lantai, sungguh disayangkan. Sementara, sales provider lokal terus menawari para jemaah dengan bahasa Inggris dan Arab, sambil meminta paspor untuk dicatat nomornya. Kenyataannya nomor lokal juga mahal dan kurang memuaskan pelayanan telepon serta internetnya, padahal jemaah mempunyai grup medsos (whatsapp). Akibatnya sebagian jemaah berhenti koneksinya ke internet. Mestinya pelayanan provider Indonesia memuaskan dan bisa digunakan di Mekah. Pilihan lainnya adalah menyewa mobile wifi yang ditawarkan di galeri bandara. Harganya 80–100 ribu per hari untuk 5–6 orang. Foto fasilitas wifi di maktab adalah sebagai berikut.

Saya kecewa dengan wifi maktab yang tak mencapai kamar. Sebenarnya ada router wifi di setiap lantai. Namun entah mengapa router itu tidak berfungsi. Saya berada di lantai 10 dan hanya lobi hotel di lantai G yang wifinya berfungsi. Tentu saja warga jemaah haji dari lantai 1 hingga 10 tak mudah mengakses wifi lobi. Saya juga pernah ditanya seolah ditegur, mengapa saya pagi-pagi berada di lobi? Saya jawab saya sedang menggunakan wifi. Saya menggunakan wifi untuk komplain koneksi Smart****. Saya sudah beli paketnya 450 ribu untuk 45 hari, namun sejak saya menginjakkan kaki di Mekah saya belum terkoneksi dengan internet. Sudah empat hari saya komplain. Hari pertama, saya komplain melalui sms. Petugas operator selular Indonesia agak irit menjawab sms saya. Per sms 1000 rupiah untuk Telkom***. Baru ketika wifi hotel berfungsi, komplain saya dijawab lebih sering karena saya menggunakan media sosial WhatsApp. Saya diminta mengubah seting koneksi saya dan mencoba mencari network. Namun hingga tanggal 9 Agustus tidak berfungsi.

Menurut teman, provider Indonesia harus bekerja sama dengan provider Mekah. Sementara ini bukti kerjasama mereka parah. Paket 450 ribu saya belum berfungsi. Saya yakin bukan karena setingan hp saya melainkan provider Mekah yang tidak memberi provider Indonesia untuk berinternet.

Menurut beberapa teman dari dua maktab (Misfalah dan Syisyah), layanan internet dari wifi ataupun selpin (selular pintar) benar-benar lemot bin lambat. Tak bisa dibandingkan dengan jaringan fiber optik macam Indihome di Indonesia. Teman yang menyewa wifi portabel 80–100 ribu per hari di Jepang jelas lebih baik koneksinya daripada paket haji Telkom*** atau Smart**** di Mekah. Paket Smar**** adalah 450 ribu untuk 45 hari. Paket Telkom*** adalah 900 ribu untuk 45 hari. Saya masih melihat warga jemaah yang kesulitan dengan paket haji Telkom*** miliknya. Saya sendiri belum terkoneksi hingga 4 hari dengan paket haji Smart***.

Saya mendapat kabar dari teman yang berhaji dan sedang berada di Madinah bahwa wifi di Madinah bagus. Mudah-mudahan wifi bisa mencapai kamar dan tidak hanya di lobi hotel.

Pada umumnya warga Indonesia melakukan haji tamattu, yaitu umroh dulu sebelum haji. Umroh dilakukan dengan berihram dari luar kota (misalnya dari Jaronah). Selanjutnya melakukan tawaf, salat di belakang makom Ibrahum, dan sai. Sai dilakukan di Safa dan Marwah. Setelah itu tahalul yang menyelesaikan prosesi umroh.

Saya bertanya kepada berbagai bangsa yang berhaji di antaranya Iran, Cina, Turki, Banglades, India, Malaysia, dan tentu bangsa Indonesia sendiri. Saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada mereka, “Aya shoma Inglisi sohbad mikonid?” Seandainya ada peziarah Jepang, saya akan menyapa, “Hajimemashite. Prana desu. Yoroshiku onegaishimasu.” Saya juga menyapa orang yang ternyata warga London keturunan Bangladesh. Kami bercakap-cakap di antaranya tentang Islamophobia. Menurutnya, Inggris tidak terlalu menerapkan Islamophobia.

Kebanyakan warga Mekah yang saya temui cenderung bisa berbahasa Inggris: pegawai bandara, sopir bus solawat, pegawai hotel. Namun pedagang biasanya mampu berbahasa Indonesia plus dengan angka dan sebagian menerima uang rupiah. Seperti toko mas di kaki menara masjid, mereka menerima uang rupiah untuk pembelian emas mereka.

Hotel atau maktab kami berada di kawasan Misfalah, sekitar 2–4 km dari Masjidil Haram. Ketika mengunjungi famili di kawasan Syisyah, kami merasa beruntung karena dekatnya jarak hotel kami dengan Masjidil Haram. Menurut teman, setelah wukuf, mabit, dan jumrah. Bus akan mengantar kami ke hotel untuk terakhir kalinya. Tak ada lagi bus solawat sehingga kami atau KBIH harus menyewa bus untuk tawaf wada.

Saya melakukan sai untuk umroh. Bukit Safa dan Marwah kini ada dalam ruangan. Saya kira puncak bukit Marwah dilapisi resin sehingga tajamnya baru tidak akan melukai kaki peziarah. Peziarah masih dapat menginjakkan kaki di batu bukit Marwah. Sementara itu batu di bukit Safa tidak bisa lagi diinjak karena ditutup kaca. Peziarah berlari di atas lantai marmer di antara Safa dan Marwah. Video puncak bukit Marwah ada pada tautan berikut.

Maktab menyediakan mesin cuci di lantai 10 yaitu atap hotel. Ada sekitar 10 mesin cuci disediakan untuk warga maktab ini. Pada jam mencuci, warga harus mengantri untuk menggunakan mesin cuci. Antrian hanya satu atau dua orang. Itu juga cukup merepotkan. Mungkin sebagian warga mencuci baju dengan tangan. Baju akan kering saat dijemur selama 20 menit pada hari yang terik. Video antrian mesin cuci ada di tautan berikut.

Kami juga mengunjungi Jabal Rahmah. Fotonya adalah sebagai berikut.

Pada tanggal-tanggal awal bulan Rayagung (Dzulhijah) maktab sudah penuh dengan warga dari Indonesia. Itu karena tinggal seminggu lagi menuju 7 Dzulhijah. Pada jam sibuk, jemaah bisa ngantri ratusan hingga lima ratus orang untuk naik bus solawat. Bus lolawat bisa mengantar 50-60 jemaah. Bus solawat adalah bus gratis yang mengantar jemaah dari aktab ke Masjidil Haram pulang-pergi. Oleh karena itu, warga semestinya menghindari naik bus jam sibuk. Jam sibuk di antaranya sebelum dan setelah asar, sebelum magrib hingga setelah isya, serta menjelang subuh.

Kompleks Masjidil Haram adalah masjid yang sangat besar. Terminal bus solawat untuk mkatab Misfalah (khususnya maktab 1002, Al Olayan Royal Hotel) ada di kawasan Sofa. Sedangkan terminal bus solawat untuk maktab Syisyah (khususnya maktab 108 dan 111) ada di kawasan Marwah. Kami pernah tersesat mencari terminal bus Marwah. Ketika kami bertanya kepada petugas haji Infonesia, mereka berkomunikasi baik dengan kami. Ketika lami bertanya kepada petugas Arab (biasanya anak atau remaja), mereka cemderung untuk memulangkan kami ke maktab. Kami sulit menjelaskan padahal saya sedikit menjelaskam dengan bahasa Inggris bahwa kami akan mengunjungi famili, bukan akan pulang ke maktab. Mungkin ucapan kami kurang jelas bagi mereka.

Di terminal ada seorang “pangeran Arab” berbaju kaos yang marah-marah di telepon. Mungkin ia memarahi pelayanan haji yang kurang memuaskan. Mungkin ia memerintahkan agar pelayanan haji lebih baik lagi dan para jemaah dihormati sebagai tamu mereka. Nadanya menyentak-nyentak, suaranya keras, mata nyalang dan beringas, ia melihat ke depan dengan telunjuk terunjuk-unjuk. Di sini juga banyak mobil sedan yang penyok. Klakson berkali-kali protes. Namun menurut kabar, tabrakan mobil hingga penyok tidak akan membuat orang Arab marah atau menuntut ganti rugi. Katanya karena negeri ini kaya minyak. Mobil yang rusak akan ditinggal begitu saja (?). Di Indoneia tersenggol sedikit saja bisa bikin orang naik darah dan minta ganti rugi.

Pelayanan haji Indonesia cukup memuaskan. Mulai dari pembuatan paspor, visa, makan, buah, roti/kue diberi kepada jemaah haji. Pembuatan paspor sangat krusial karena pernah pemerintah atau departemen agama terdahulu lalai dan mengabaikan pembuatan paspor para haji. Makan teratur dua kali sehari yaitu siang dan malam. Kami juga diberi paket kopi, teh, gula, krimer, dan saos. Foto paketnya adalah sebagai berikut.

Memasuki bulan Dzilhijah, masjidil haram penuh dengan jemaah haji dari seluruh dunia. Kontingen Indonesia mencapai 220 ribu jemaah karena jumlah penduduk Indonesia adalah 220 juta orang. Jemaah Indonesia datang dari berbagai provinsi. Saya melihat ada seseorang berdiri di pinggir pagar tawaf lantai 3 saat menjelang salat subuh. Ternyata beberapa jemaah di belakang orang Indonesia tersebut yang “berebutan” menempati safnya. Dilihat dari bendera dan wajahnya, orang-orang ini dari Kazakhstan dan Bangladesh. Alih-alih protes, orang Indonesia ini berbicara ramah kepada mereka dan mempersilakan mereka menempati posisinya. Sungguh kita mesti banyak bersyukur karena Tuhan berebutan disembah di tempat ini. Namun jangan sampai hanya gara-gara mau memuja-Nya, manusia berebutan tempat hingga bertengkar. Kita mesti beribadah dengan gembira. Tuhan tidak akan rela. Video di pinggir pagar itu ada pada tautan berikut. Videonya memang tidak tentang peristiwa orang Indonesia yang mempersilakan orang asing tadi. Keadaan Kabah beserta tawafnya sebenarnya bisa disaksikan melalui televisi, parabola, dan internet. Dengan demikian, para jemaah dapat melihat ramai atau jarangnya jemaah yang bertawaf. Namun, perubahan itu sangat cepat dan kadang-kadang tak bisa diprediksi. Di pinggir pagar itu juga saya dan istri berfoto dengan seorang ibu dari Palestina. Kami mengatakan kepada ibu Palestina tadi bahwa kami berdoa untuk Palestina. Foto ibu Palestina adalah sebagai berikut.

Maktab jemaah Indonesia tersebar di 10 sektor. Maktab kami adalah maktab 1002. Jadi ada tak kurang dari seratus maktab bagi orang Indonesia. Maktab 1002 diantar oleh bus no 11 di terminal wilayah Sofa. Video kami saat berada di bukit marwah ada di tautan berikut.

Di wilayah Marwah, ada lagi terminal bus untuk banyak sektor lain. Kami pernah mengunjungi famili di maktab 108 (turun di maktab 111). Untik ke maktab 108, kami mfnggunakan bus 07 di terminal Marwah. Setelah itu, kami menyadari betapa luasnya Masjidil Haram. Perjalanan dari terminal Sofa ke terminal Marwah juga begitu jauh, kami tempuh dengan jalan kaki. Pertemua kami di maktab 108 ada pada foto berikut.