Hari-Hari Ziarah Haji (46)

Apa benar di Cina brrjilbab atau salat Jumat dituduh radikal? Hari ini saya melihat vidro tentsng sekelompok orang melakukan konferensi pers terkait kunjungan mereka ke Cina untuk menyelidiki isyu Uighur. Di video itu disebutkan bahwa berjilbab di Cina itu bermasalah dengan rafikal atau dituduh radiksl, salat jumat di Uighur juga dianggap radikal, ibadah hanya boleh di ruang tertutup. Menyedihkan sdkali jika benar demikian.

Tahun 2018, di depan kabah ketika musim haji, saya bertemu jemaah haji dari Cina. Umur, wajah dan tubuhnya mirip Oom RB Suryada. Berkumis tipis. Saya berusaha berkomunikasi dengannya. Namun dia mengisyaratkan mau salat. Saya menyaksikannya salat di depan Kabah. Dia tidak mengisyaratkan apa-apa tentang Uighur.

Di depan Masjidil haram, saya juga bertemu ibu-ibu muslimah Cina saat salat asar. Adab menahan saya untuk berkomunikasi dengannya.

Saat di Arafah, sayĆ  bertemu sejumlah pemuda ganteng yang saya duga adalah para samurai atau ronin Jepang. Namun mereka menggunakan baju ihram. Saya tanya, apakah mereka dari Jepang? Mereka mrnjawab dari Cina. Saya terkejut. Tidak ada wajah Uighur tertindas di wajah mereka.

Saya tetap bertanya, benarkah warga Uighur madzlum?

Wallahu alam. 🙏

Putus Asa dari Rahmat Allah

Mohon maaf. Bukan karena saya sempurna, namun saya ingin menyampaikan bahwa salah satu dosa besar di sisi Allah swt adalah berputus asa dari rahmat Allah.

PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH SWT.

Ujian dari Allah swt. mesti dihadapi dengan kesabaran. Seandainya manusia sabar, tentu Allah swt. akan memberikan rahmat serta pahalanya bagi pelaku sabar.

Contoh ujian yang bisa terjadi adalah kalah pilpres, kalah pilgub, kalah pildacil, kalah dalam pertandingan sepak bola, kalah debat, kalah memdapatkan pacar anu, kalah mendapat nilai pelajaran bagus, kalah dalam segera memahami pelajaran, dan sebagainya.

Ali bin Abi Thalib berkata yang kurang lebih artinya, “Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.” Ini berarti bahwa ucapan seseorang yang berakal itu berasal dari renungan, pemikiran, tafakur. Bukan asal ceplos bin njeplak. Bukan asal membagikan (share).

Orang yang Lugu dalam Beragama

Mereka yang lugu itu adalah orang yang menganggap kelompoknya benar, seolah ayat dan tafsirnya demikian. Memang Islam dan mazhab harus diyakini yang benar. Namun sementara Nabi saw wafat, orang maksum manakah yang berani menjamin bahwa suatu golongan dijamin masuk surga sedang golongan lainnya masuk neraka?

Ada kelompok demikian. Meskipun presiden sudah membubarkan, ideologi ini bisa masih hidup. Ada juga kelompok yang suka sweeping itu belum dibubarkan presiden meski aktivitas brutalnya sekarang tidak lagi berani seperti dulu.

Beberapa kelompok lain juga menunjukkan indikasi intoleran yang sama. Ini adalah keluguan dalam beragama. Intoleransi adalah keluguan dalam beragama. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok seperti itu dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok seperti itu dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok ulama dijamin masuk surga? Ada, tetapi kalian tidak tahu. Kuncinya adalah belajar mazhab, sejarah, Quran, hadis, dsb.

Orang-orang polos dalam beragama belum pernah belajar mazhab. Begitu dia tahu khilafah, maka selain khilafah disesatkan. Tidak cukup disesatkan, mereka teriak-teriak konsep mereka di depan telinga orang lain. Teriakan itu memancing perdebatan. Lalu dia juga tak pernah mau menerima perbedaan. Seolah mengklaim khilafah itu surga dam selain khilafah adalah neraka. Kalau bisa akur, tak mungkin negeri ini ribut oleh sekelompok kecil yang teriak khilafah. Banyak orang yang terganggu dengan teriakan khilafah itu.

Kunci perdamaian dalam agama dan mazhab adalah toleransi dalam agama dan mazhab. Nabi saw sekalipun tidak memaksa konsep Islam kecuali dengan menghargai pencapaian akal manusia. Orang menganut suatu agama karena memang batas akalnya sekian dan demikian. Mengapa sekarang ada sekelompok orang Islam yang mengkafirkan kelompok Islam lain padahal kedua kelompok itu sama-sama bersyahadat.

Fatwa suatu ulama tidak mungkin setara dengan hadis atau Quran karena ulama tidak maksum. Semakin banyak ulama semakin mungkin terjadi perbedaan di antara ulama. Sayangnya yang disebut dengan “ulama” itu justru tidak paham kedudukannya bahwa dia tidak setara dengan Nabi atau Quran.

Klaim seorang nabi sebagai maksum berarti nabi tersebut paham rida Tuhan dan tak mungkin melanggar rida-Nya. Kalaupun ada nabi yang melanggar, maka pelanggaran itu tidak seperti pelanggaran manusia biasa.

Jadi seorang nabi tidak mungkin berbeda pendapat dengan nabi lain tentang keridaan Tuhan. Seorang maksum tidak mungkin berbeda pendapat dengan maksum lain tentang keridaan Tuhan. Maksumin yang hidup sezaman tidak pernah berbeda pendapat. Nabi Zakaria tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Imran, Nabi Yahya, atau Nabi Isa. Nabi Musa tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Harun. Nabi Yakub tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Yusuf. Namun ulama berbeda pendapat satu dengan lainnya. Hinga bisa tak ada titik temunya.

Kelompok intoleran berargumen bahwa khilafah ala mereka adalah untuk menyongsong Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Sayangnya kelompok ini tidak bisa berbeda pendapat ihwal tafsir khilafahnya dengan kelompok lain.

Iran adalah negara mayoritas muslim syiah yang juga menyongsong Imam Mahdi. Wilayatul fakih sebagai konsep negara mereka jelas menyongsong munculnya Imam Mahdi. Namun, pernahkah seseorang mendengar konsep wilayatul fakih dipaksa untuk diterima atau diterapkan? Tak pernah. Konsep wilayatul fakih adalah konsep yang disusun ulama. Karena itu tidak boleh dipaksakan karena ulama harus menghargai pendapat ulama lain. Namun, dunia bisa melihat bahwa konsep wilayatul fakih diterima dan dijalankan di Iran tanpa memandang mazhab.

Tetapi, untuk berargumen tentang Iran, jalan-jalanlah ke Iran. Baca bukunya, tonton videonya, lihat ulamanya macam Sayid Ali Khamenei.

Mazhab Intoleran dan Imam Mahdi

Sekitar 15 tahun terakhir, diperkirakan di Indonesia muncul mazhab (?) intoleran. Masa itu adalah masa peralihan antara Presiden Mega menjadi Presiden SBY. Mungkin bibit intoleran itu sudah ada sebelum itu. Contoh simpel dari intoleran ini adalah pemaksaan keyakinan tentang khilafah atau kerajaan Islam. Saya cukup terkejut melihat perkembangannya. Saya juga terkejut melihat rasio manusia yang terlepas dari tempatnya karena mengikuti kelompok ini.

Saya mempunyai banyak pengalaman dengan kelompok (mazhab?) intoleran ini. Contohnya pelarangan demokrasi (pemilu), pemaksaan sistem khilafah, pemaksaan sistem ahl hali wal aqdi (semacam MPR), pelarangan ziarah kubur, pelarangan asuransi, pelarangan menghormat simbol negara (presiden, bupati, bendera, Garuda Pancasila, undang-undang), perbedaan pandangan tentang akidah (usuludin) dan fikih (furu udin), dan sebagainya.

Ada suatu mazhab (katakanlah mazhab) yang meyakini Islam hanya satu, tidak boleh ada mazhab, ulama selayaknya tak boleh berbeda pandangan, ulama juga bahkan semacam tak boleh berbeda orientasi politik. Ulama mereka menyuruh muslim untuk tidak memilih Ahok. Bahkan muslim pendukung Ahok diprovokasi agar mayatnya tidak disalatkan. Ulama lainnya menyatakan boleh memilih Ahok. Boleh di sini tentu bukan berarti harus memilih Ahok. Kini ada ulama yang terang-terangan membawa agama untuk menjatuhkan Presiden Jokowi lalu seolah menutup potensi orang boleh memilih atau mencoblos Presiden Jokowi.

Sebagai catatan, banyak fitnah ditujukan kepada Presiden Jokowi. Contoh fitnah itu di antaranya mengkriminalisasi ulama.

Sekarang orang berani berkata di mimbar tentang orientasi politik, menutup potensi perbedaan orientasi politik. Orang memang menyalahkan orang lain seperti fatwa kelompoknya adalah dari maksumin yang tak mungkin salah dan fatwa kelompok yang berbeda pasti salah. Kelompok ini juga meyakini bahwa khilafah dan kerajaan mesti benar dan harus dicobakan di Indonesia.

Saya katakan, Saudi juga mengklaim dua tanah haram sebagai miliknya, lalu klan (suku) Saudi ini juga menentukan siapa pejabat penting yang duduk di atas suatu posisi, klan ini juga mengklaim sumber daya alam sebagai miliknya, juga kritik terhadap klan ini dilarang. Apakah seperti ini khilafah yang ingin berdiri di Indonesia? Akankah bisa kita bayangkan raja Jawa yang menjadi rajanya? Raja Cirebon, raja Bugis, atau raja lainnya menjadi khalifah? Lalu raja dengan sesuka hatinya membagikan jabatan kepada kerabat dan kroninya? Lalu sumber daya alam dieksploitasi oleh keluarga raja ini? Lalu kritik terhadap raja terlarang?

Sistem seperti ini terjadi di Saudi, Thailand. Di Thailand juga kritik terhadap raja terlarang. Raja Thailand adalah penguasa tanah Thailand. Apakah Indonesia akan meninggalkan sistem demokrasi dan berubah (mundur) menjadi kerajaan? Perubahan dari demokrasi menjadi khilafah atau kerajaan adalah suatu kemunduran.

Saya tanyakan kepada kelompok ini, bagaimana cara khalifah dipilih? Apakah seperti pemilihan Abu Bakar? Penunjukan Umar? Perwakilan dalam pemilihan Utsman? Atau baiat beramai-ramai kepada Ali? Ataukah mengangkat diri sendiri seperti Albagdadi (ISIS) dan menyuruh orang lain baiat kepadanya? Apakah semacam ini?

Mereka mengatakan pemilihan khalifah dilakukan oleh ahl hali wal aqdi, yaitu semacam lembaga MPR. Saya katakan, itu adalah sistem demokrasi yaitu pemilihan perwakilan (bukan pemilihan langsung).

Bagaimana jika khalifah dianggap lalim? Khalifah mungkin lalim karena khalifah tidak maksum. Mungkinkah kita menahan diri untuk tidak mengkritiknya? Mungkinkah kita tidak menahan diri untuk menuntut kejatuhannya seperti orang intoleran mengharap kejatuhan Presiden Jokowi?

Meskipun saya tidak setuju dengan sistem kerajaan atau khilafah, saya juga mempunyai kekecualian. Kerajaan dengan pemimpin seorang yang maksum pasti akan menemui keadilan. Kerajaan itu juga akan muncul di akhir zaman. Kerajaan itu akan dipimpin oleh Imam Mahdi yang maksum dan mengatur segala urusan.

Ketika Imam Mahdi mengklaim sebagai khalifah Rasulullah min aali Muhammad saw maka beliau adalah khilafah Allah. Mungkin juga ada orang yang samar terhadap Imam Mahdi dan tidak mengakui Imam Mahdi dan tidak berbaiat kepadanya. Itu seperti ada orang yang tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah karena itu tak mau mengeluarkan zakat kepadanya. Itu sama seperti ada orang yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah lalu mengadakan pemilihan khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman), gubernur memberontak kepada Imam Ali (misalnya Muawiyah bin Abu Sufyan) bahkan membunuh Imam Ali (misalnya Ibnu Muljam). Potensi ketidaksetujuan atau perbedaan dalam khilafah juga sebenarnya hal yang biasa.

Imam Mahdi dan musuhnya yaitu Dajal ada dalam nas (Quran dan) hadis. Dalam hadis diperintahkan agar umat taat kepada Imam Mahdi karena mempunyai nama dan sifat seperti Nabi Muhammad saw. Kesamaan sifat ini diyakini sebagai kesamaan kemaksuman. Jika Imam Mahdi maksum, maka ketaatan kepadanya adalah mutlak. Seandainya Imam Mahdi tidak maksum, maka perintah Nabi saw sia-sia karena mustahil Nabi saw memerintahkan umat taat (secara mutlak) kepada orang yang sekali-kali salah, kadang-kadang benar.

Perbedaan ideologi adalah fitrah manusia. Orang bahkan bebas tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi. Orang bebas beragama karena ideologinya berbeda dengan orang lain. Orang juga bebas bermazhab karena ulama tidak sepakat tentang satu masalah (qunut, niat zahar, basmalah zahar, tawasul, ziarah, haul, tahlil, menggerakkan jari saat tasyahud).

Namun semua muslim yang berbeda pendapat tentang masalah ini tetaplah muslim, darahnya haram ditumpahkan, kehormatannya wajib dijaga. Seorang menjadi muslim karena mengakui dua kalimat syahadat, bukan karena mengakui khilafah.

Hari-Hari Ziarah Haji (45)

Kesombongan dalam Beragama

Salah satu masalah kritis dalam toleransi adalah kesombongan dalam beragama. Seolah-olah seseorang yang beragama merasa lebih baik daripada orang beragama lainnya, mazhab lainnya, sekte lainnya, kelompok lainnya, …. Lalu dia merasa surga adalah klaim, miliknya sendiri, sedang orang lain seolah tak berhak masuk surga.

Konon, hanya karena beda pilihan atau orientasi dalam pilgub atau pilpres pun membuat seseorang mengklaim surga. Padahal surga adalah otoritas Allah swt. yang tak seorang pun boleh mengklaimnya. Klaim pemilik surga adalah salah satu klaim paling parah dalam beragama. Juga klaim ikhtiar surga karena memilih salah satu calon gubernur atau calon presiden. Memang mungkin memilih satu calon masuk surga, namun tidak pasti. Mungkin, tidak pasti. Namun bukankah memilih calon lain juga berpotensi mendapat surga Allah swt.? Seandainya tidak masuk surga, tentu tak akan ada yang memilihnya.

Mengapa seseorang mengklaim surga untuk pilpres atau pilgub padahal tidak ada kriteria yang jelas tentang Prabowo atau Jokowi sebagai orang yang maksum. Seandainya Prabowo atau Jokowi maksum, mesti memilihnya adalah masuk surga dan menolaknya berpotensi masuk neraka.

Lalu orang (so called ulama, ustaz, ustazah) yang mengkampanyekan pilpres sebagai klaim agama pun bukanlah orang maksum. Jadi janji surga karena pilpres benar-benar absurd.

Berderma memang berpotensi masuk surga. Namun bila orang berderma sekaligus melakukan kejahatan (membunuh, memfitnah, putus asa dari rahmat Allah swt., dst) maka belum tentu dia masuk surga.

Kesombongan dalam beragama juga adalah memilih salah satu capres dengan keyakinan secara mutlak bahwa pilihannya itu akan membawanya ke surga. Dengan demikian, dia berpikir bahwa melilih capres lain akan membawa pemilihnya ke neraka. Sesimpel itu. Padahal hanya dengan mengikuti Nabi saw baru bisa membawa seseorang masuk surga. Itu juga dengan catatan bahwa keikutannya itu secara kafah, mutlak, dan konsisten. Bila mendapat cobaan, ia tidak goyah. Bila seseorang mengaku ikut Nabi saw., namun melanggar perintahnya dan melakukan larangannya, surga adalah mimpi baginya.