Hari-Hari Ziarah Haji (37)

Dilema Fatwa Syiah Sesat

Syiah acap kali dikatakan sebagai mazhab sesat dengan satu atau beberaoa argumen. Bukan hanya itu, fatwa tentang syiah sesat pun ada ulama atau lembaga yang mrngeluarkan.

Ada dua fatwa berkaitan dengan Syiah. Fatwa pertama melarang muslim mengikuti mazhab Syiah dan semacam murtad bila mengikuti mazhab Syiah. Fatwa ke dua membolehkan muslim mengikuti mazhab Syiah, contohnya fatwa Syaikh Mahmud Syaltut dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Bila seseorang mengikuti fatwa pertama maka, bila dia mengikuti mazhab Syiah maka ia semacam murtad. Bila seseorang mengikuti fatwa ke dua, maka, bila dia mengikuti mazhab Syiah maka dia tetap muslim.

Orang syiah yang difatwakan sesat cuek saja. Orang syiah seolah-olah berkata, “Emang surga milik lo? Kapan masanya pembuat fatwa punya kapling surga? Ente sendiri dijamin masuk surga?”

Oleh karena itu walaupun fatwa itu dikeluarkan, warga baik syiah maupun nonsyiah tetap beraktivitas seperti biasa. Orang syiah tetap menerbitkan bukunya yang luar biasa indah dan memberi sumbangan signifikan pada ilmu, sosial, nuklir, dunia, dan akhirat. Orang nonsyiah juga tetap membaca buku syiah. Lah emang buku syiah bahaya? Iya, ntar lu pade gila kalau baca buku syiah. Tergila-gila karena tjinta. Kalau kata Meggi Z, “ketjewaa kareena tjintaaa.”

Lalu apa dampaknya fatwa itu? Syiah sesat berarti dilarang. Orang bertanya mengapa dilarang? Pengikutnya sesat dan dianggap keluar dari Islam? Apa mereka harus dipaksa tobat atau harus autotobat?

Dampak fatwa itu adalah bagi yang ikut fatwa itu dia tidak boleh jadi syiah. Bagi yang tidak ikut fatwa itu dia boleh menjadi syiah. Sesimpel itu.

Katanya Syiah boleh ada di negeri lain: Malaysia, Saudi, Yaman, Bahrain, Suriah, Turki, Mesir, Libya, …. Syiah boleh ada di negeri-negeri lain, tetapi tak boleh ada di Indonesia. Presiden SBY represif terhadap Syiah, buktinya Sampang dan Tajul Muluk. Warga Syiah berguguran dan Tajul Muluk (seperti Ahok) divonis sebagai penista agama. Warga Syiah gugur di kampungnya, di Sampang dan di pengungsian.

Prabowo juga bisa berpotensi merugikan Syiah.

Anehnya ada sedulur kita yang cenderung memilih HTI, FPI, dan semacam kelompok brutal Islam lainnya daripada ikut Syiah. Apa yang ditakutkan dari Syiah? Akidahnya? Fikihnya?

Jadi mengapa harus ribut dengan fatwa anu? Mau memaksa fatwa anu itu?

Oh, dilema fatwa syiah sesat.

Alih-alih artikel, bagus juga bila kita bikin puisi dengan judul balada dilema fatwa syiah sesat.

Hari-Hari Ziarah Haji (36)

Orang yang Lugu dalam Beragama

Mereka itu adalah orang yang menganggap kelompoknya benar, seolah ayat dan tafsirnya demikian. Memang Islam dan mazhab harus diyakini yang benar. Namun sementara Nabi saw wafat, orang maksum manakah yang berani menjamin bahwa suatu golongan dijamin masuk surga sedang golongan lainnya masuk neraka?

HTI adalah kelompok demikian. Beberapa kelompok lain juga menunjukkan indikasi intoleran yang sama. Ini adalah keluguan dalam beragama. Intoleransi adalah keluguan dalam beragama. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok HTI dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok FPI dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok ulama dijamin masuk surga? Ada, tetapi kalian tidak tahu. Kuncinya adalah belajar mazhab, sejarah, Quran, hadis, dan sebagainya.

Orang-orang polos dalam beragama belum pernah belajar mazhab. Begitu dia tahu khilafah, maka selain khilafah disesatkan. Tidak cukup disesatkan, mereka teriak-teriak khilafah di depan telinga orang lain. Teriakan itu memancing perdebatan. Lalu dia juga tak pernah mau menerima perbedaan. Seolah mengklaim khilafah itu surga selainnya adalah neraka. Kalau bisa akur, tak mungkin negeri ini ribut oleh sekelompok kecil yang teriak khilafah. Banyak orang yang terganggu dengan teriakan khilafah itu.

Kunci perdamaian dalam agama dan mazhab adalah toleransi dalam agama dan mazhab. Nabi saw sekalipun tidak memaksa konsep Islam kecuali dengan menghargai pencapaian akal manusia. Orang menganut suatu agama karena memang batas akalnya sekian dan demikian. Mengapa sekarang ada sekelompok orang Islam yang mengkafirkan kelompok Islam lain padahal kedua kelompok itu sama-sama bersyahadat.

Fatwa suatu ulama tidak mungkin setara dengan hadis atau Quran karena ulama tidak maksum. Semakin banyak ulama semakin mungkin terjadi perbedaan di antara ulama. Sayangnya yang disebut dengan “ulama” itu justru tidak paham kedudukannya bahwa dia tidak setara dengan Nabi atau Quran.

Klaim seorang nabi sebagai maksum berarti nabi tersebut paham rida Tuhan dan tak mungkin melanggar rida-Nya. Kalaupun ada nabi yang melanggar, maka pelanggaran itu tidak seperti pelanggaran manusia biasa.

Jadi seorang nabi tidak mungkin berbeda pendapat dengan nabi lain tentang keridaan Tuhan. Seorang maksum tidak mungkin berbeda pendapat dengan maksum lain tentang keridaan Tuhan. Maksumin yang hidup sezaman tidak pernah berbeda pendapat. Nabi Zakaria tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Imran, Nabi Yahya, atau Nabi Isa. Nabi Musa tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Harun. Nabi Yakub tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Yusuf.

Namun ulama berbeda pendapat satu dengan lainnya.

HTI berargumen bahwa khilafah ala HTI adalah untuk menyongsong Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Sayangnya HTI tidak bisa berbeda pendapat ihwal khilafahnya dengan kelompok lain. Iran adalah negara mayoritas muslim syiah yang juga menyongsong Imam Mahdi. Wilayatul fakih sebagai konsep negara mereka jelas menyongsong munculnya Imam Mahdi. Namun, pernahkah seseorang mendengar konsep wilayatul fakih dipaksa untuk diterima atau diterapkan? Tak pernah. Konsep wilayatul fakih adalah konsep yang disusun ulama. Karena itu tidak boleh dipaksakan karena ulama harus menghargai pendapat ulama lain. Namun, dunia bisa melihat bahwa konsep wilayatul fakih diterima dan dijalankan di Iran tanpa memandang mazhab.

Hari-Hari Ziarah Haji (35)

Guru Agama Sekolah Dasar Harus Toleran

Guru agama Indonesia sayangnya hanya menyampaikan fatwa. Selain guru agama, guru kelas di sekolah dasar (SD) pun harus toleran. Seandainya Bu Anu sebagai guru agama menyatakan bahwa ziarah kubur makruh atau haram, tanpa melihat pandangan mazhab lain, maka siswa hanya tak pernah memahami toleransi dengan mazhab lain. Oleh karena itu siswanya acap kaget melihat orang yang mengamalkan ziarah kubur.

Banyak fatwa yang berbeda antara satu mazhab dengan mazhab lain. Fatwa boleh qunut vs tidak boleh qunut, fatwa boleh ziarah kubur vs tidak boleh ziarah kubur, fatwa niat dizaharkan vs tidak dizaharkan, fatwa telunjuk digerakkan saat tasyahud vs tidak digerakkan, fatwa bersedekap vs tidak bersedekap, fatwa bendera HTI vs tidak perlu bendera HTI, fatwa boleh demokrasi vs tak boleh demokrasi, fatwa presiden togut vs presiden bukan togut, fatwa bolehnya simbol negara Garuda Pancasila vs tidak bolehnya simbol negara. Namun mengapa kelompok HTI memaksakan fatwanya? Itu karena mereka tak pernah belajar mazhab dan kedudukan fatwa mazhab.

Puncak dari kesalahan guru-guru agama adalah HTI. Orang-orang didoktrin khilafah (ala HTI) tanpa tahu ada paham, mazhab, atau pendapat lainnya. Sebenarnya banyak mazhab lain yang punya ideologi khilafah seperti Mahdawiah ala NU, Syiah, dan kelompok lain. Namun NU tidak memaksakan konsep khilafah mahdawiah seperti HTI, NU tidak mengharamkan NKRI seperti yang dilakukan HTI, NU tidak mengharamkan demokrasi, NU tidak mentogutkan presiden RI, bendera merah putih, dan simbol negara lain.

Jika guru agama SD tidak toleran, ia akan membasmi paham, mazhab, atau pandangan lain yang berbeda dengannya. Guru semacam itu berpotensi memaksakan pahamnya kepada siswa, guru lain, atau orang lain.

Dulu di DKI orang juga dipaksa tidak pilih Ahok. Alasannya adalah fatwa tak boleh memilih pemimpin kafir. Lalu alasan penista agama pun dipaksakan kepada warga. Padahal prestasi gubernur muslim dan nonmuslim ada di youtube. Fatwa dipaksakan tanpa melihat adanya fatwa lain. Ada fatwa yang membolehkan, ada fatwa yang melarang.

Hingga kini konsep pembakaran bendera “HTI atau tauhid” pun dipaksakan. Orang-orang didorong atau dipaksa untuk ikut fatwa marah karena bendera HTI dibakar. Orang-orang dipaksa ikut fatwa untuk membubarkan Banser NU. Seperti itulah kelompok HTI berperilaku. Mereka memaksakan pendapat atau fatwa mereka. Tentu saja Banser NU terpaksa membela diri. Laku kita disibukkan hanya dengan konflik internal saja. Ini gara-gara paham intoleran ala HTI.

Semestinya, bila ada dua fatwa yang berbeda, seseorang harus menghormati kedua fatwa itu.

Bila seseorang mengikuti fatwa yang melarang ziarah kubur, maka dia harus menghargai orang lain membolehkan ziarah kubur.

Mengharamkan NKRI, mengharamkan demokrasi, mentogutkan presiden RI, bendera merah putih, dan simbol negara lain, hanya untuk diri sendiri dan harus hati-hati disampaikan kepada orang lain. Bila disampaikan kepada orang lain secara terbuka, akan memancing konflik. Tenti dia harus mengerti bila ada fatwa yang berbeda 180 derajat dengan fatwa yang diikutinya. Fatwa satu melarang, fatwa lain membolehkan.

Kelompok syiah adalah kelompok yang paling toleran. Fatwanya hanya mengikat diri sendiri dan tak pernah dipaksakan kepada orang lain. Syiah membolehkan qunut di setiap salat. Namun tak ada yang konflik dengan Syiah. Syiah menganjurkan salat tidak bersedekap. Namun tak ada konflik fitnah di antara kaum muslimin. Nyatanya, Syiah berhaji sebagaimana muslim lainnya sejak zaman Ali bin Abi Thalib. Tak ada seorang pun yang berhaji kecuali dia seorang muslim.

Guru yang tidak paham mazhab akan memaksakan fatwa mazhabnya kepada orang lain. Guru juga akan berdebat tentang dalil yang menguatkannya.

Perlukah berdebat tentang khilafiah? Tak perlu. Ujung dari debat juga tak ada pemaksaan. Fadli Zon tak bisa memaksa Fahri Hamzah dan sebaliknya. Justru kelompok macam HTI yang teriak-teriak khilafah itulah yang memancing perdebatan. Di samping berisik, teriakan itu jelas mengganggu muslim yang mengikuti fatwa lain.

Dengan agama lain juga tak perlu sok berdebat, mengajari, memperbaiki, atau membenarkan. Kalau orang tak mau menerima ceramah hidayah, tak mungkin seseorang memaksa berdakwah.

Bisa kita bayangkan bila kelompok macam HTI ini dianut oleh mayoritas umat. Bisa-bisa debat setiap hari, pemaksaan setiap hari, teriak-teriak setiap hari. Kita akan capek sendiri. Bertengkar sendiri. Sementara negeri lain semacam Iran sudah tidak mengurusi konflik antaraliran dan mencapai kemajuan. Lalu setan Zionis sebagai musuh utama malah terabaikan.

Guru harus toleran pada mazhab.

Hari-Hari Ziarah Haji (34)

Aku ingin masuk surga

Aku ingin masuk surga

Bekalku adalah dua kalimat syahadat

Meski setiap hari berbuat maksiat

Korupsi, menyakiti orang, dan berbuat jahat

Ku tetap ingin masuk surga

Dengan bekal dua kalimat syahadat

Mungkinkah seseorang masuk surga

Meski ia berbuat maksiat di setiap harinya

Berbuat jahat, korupsi, dan menyakiti tetangga

Mungkinkah ia masuk surga

Sementara ia menciptakan neraka di setiap harinya

Surga mana yang kau tempati

Surga siapa yang kau tempati

Surga apa yang kau ciptakan

Sedang setiap hari oramg tuamu kau sakiti

Orang lenah kau biarkan

Engkau juga membiarkan kebohongan dan kebodohan merajalela

Naik ke atas mimbar sambil mengecam kebenaran

Dan kau membantu setan berbuat kejahatan

Munginkah seseorang berharap surga

Dengan bermodal dua kalimat syahadat

Sementara setiap hari ia berbuat kejahatan

Lalu kau katakan, kau hanya akan disiksa di neraka sebentar saja

Kau akan dibakar di neraka sementara saja

Entah berapa ribu tahun lamanya

Yang akhirnya akan ke surga juga

Dengan modal dua kalimat syahadat

Kau meremehkan kejahatan yang kau perbuat

Kau halangi kebenaran saat tak berfaedah bagimu

Kau tutup telinga hingga kebenaran tak mencapai jiwamu

Kau tutup pula matamu sehingga kau tak bisa melihat ilmu dan cahaya

Dosa terbesar adalah meremehkan perbuatan jahat

Hingga kau tak takut akan murka Tuhan dan siksanya

Hari-Hari Ziarah Haji (33)

Izinkan Aku untuk Berbeda Mazhab

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik.

Seseorang dikatakan muslim bila dia bersyahadat. Titik. Seeorang yang mengakui kewajiban salat namun tidak melaksanakannya tidaklah membuat dia keluar dari Islam. Seorang muslim yang berzina, minum khamr (tanpa mabuk), atau membunuh tidak serta merta keluar dari Islam. Ada fatwa yang mendasari hukum tentang kondisi seseorang keluar dari Islam.

Dalam berhaji juga mazhab berbeda-beda. Sungguhpun demikian ada peristiwa yang saya alami ihwal seorang jemaah haji yang tak dikenal menegur saya. Dia katakan cara berpakaian ihram teman Anda salah. Kondisi haji, orang yang tidak dikenal memperbaiki syariat orang lain. Di satu sisi, ada yang menganggapnya sebagai kasih sayang, persahabatan, persaudaraan; namun di sisi lain, potensi konflik mazhab bisa terjadi.

Mazhab (sekte, aliran, golongan, kelompok) sudah tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya. Mazhab satu berbeda dengan yang lain. Contoh perbedaan mazhab adalah sebagai berikut. Ada yang niatnya siri, ada yang zahar. Ada yang basmalah siri, ada yang zahar. Ada yang sedekap, ada yang tidak. Ada yang qunut, ada yang tidak. Ada yang tarawih 11 rakaat, ada yang 23 rakaat. Ada yang telunjuknya diam, ada yang bergerak-gerak. Ada yang ziarah kubur, ada yang tidak. Ada yang tahlil, ada yang tidak. Ada yang muludan, ada yang tidak. Ada yang tawasulan, ada yang tidak.

Selain fikih (furu, cabang), perbedaan mazhab juga disertai perbedaan pandangan akidah. Banyak ulama ahli kalam berbeda pendapat tentang masalah akidah. Setidaknya menurut sebagian ulama, akidah meliputi ketuhanan dan kenabian. Karena itu seorang menjadi muslim hanya karena dia telah bersyahadat yaitu dia mengakui Tuhan tunggal dan beriman kepada Muhammad (meyakini utusannya).

Contoh perbedaan akidah tentang ketuhanan di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini Tuhan itu berwajah, bertangan, turun dari arasy seperti turun meniti tangga, sifat Tuhan hanya 25, dan sebagainya. Sebagian muslim lain meyakini bahwa istilah wajah, tangan, arasy adalah simbol atau kias pada sesuatu.

Contoh perbedaan akidah tentang kenabian di antaranya, ada sebagian muslim yang meyakini nabi melakukan kesalahan meski maksum, Nabi bermuka masam ketika menghadapi orang buta, Nabi lupa dalam salatnya, nabi minta nasihat sahabat terkait teks azan, nabi salah dalam penyerbukan kurma, Nabi tersihir, Nabi tertarik kepada istri anak angkatnya, Nabi tak tahu hukum lalu menunggu wahyu. Mazhab yang diyakini mayoritas (?) muslim meyakini bahwa nabi maksum dan tak melakukan kekeliruan, pembesar Quraisy bermuka masam ketika orang buta datang, Nabi tak pernah lupa dalam salatnya, Nabi mendapat wahyu terkait teks azan, Nabi paham dalam penyerbukan kurma, Nabi tak pernah tersihir, Nabi tidak tertarik kepada istri anak angkatnya sampai mereka bercerai, Nabi tahu hukum ketika ditanya hukum oleh sahabat, semua ucapan Nabi adalah wahyu, semua perbuatan Nabi adalah wahyu. Wama yantiku anil hawa, in huwa illa wahyu yuha.

Masalah akidah lain di antaranya keyakinan pada rukun Iman dan rukun Islam. Rukun iman dan rukun Islam memang bersumber dari sabda Rasulullah. Namun penyebutan Rukun iman dan rukun Islam sebagai bagian dari akidah adalah rumusan ulama Asyariyah. Ulama Syiah pun merumuskan usuludinnya yang berbeda dengan Asyariyah, Murjiah, dan sebagainya. Jadi rukun Iman dan rukun Islam juga tak jadi akidah mutlak.

Melihat perbedaan itu, sungguh sepele bila ada perbedaan fatwa ihwal boleh tidaknya mencoblos Ahok, fatwa tentang seseorang adalah penista agama, fatwa wahabi (?) tentang larangan membakar bendera HTI/ISIS/tauhid, fatwa larangan mencoblos pendukung Cina (?), larangan mencoblos pelanggar janji (?), fatwa HTI tentang larangan berdemokrasi, fatwa HTI (?) tentang togutnya presiden, fatwa HTI (?) tentang togutnya simbol negara seperti bendera merah putih atau Garuda Pancasila, fatwa HTI tentang larangan menghormat bendera merah putih, atau beragam fatwa aneh lain di tahun demokrasi.

Jangan sampai menjadi keledai yang bisanya menyalahkan mazhab lain, bahkan mengkafirkan mazhab lain. Hanya gara-gara beda pilihan presiden, atau orientadi politik lalu dianggap kafir, musrik, dan sebagainya.

Satu fatwa setara dengan fatwa lainnya. Bila ada fatwa yang melarang berdemokrasi, maka fatwa yang membolehkannya pun setara. Seseorang bebas melilih fatwa berdasarkan mazhabnya. Fatwa tidak bisa lebih tinggi karena dipaksakan kepada pemeluknya, atau karena pemberi fatwanya galak dan melotot demi yang dianggapnya (so called) Islam lurus atau murni. Seorang ulama tak bisa mengklaim dirinya murni 100% karena dia tidak maksum. Buktinya adalah fatwanya berbeda dengan ulama lain. Bila ia mengklaim maksum, barulah ia bisa mengklaim fatwanya murni dan dia bisa menjamin seseorang masuk surga (?), orang yang mengikuti fatwanya berpotensi masuk surga. Orang yang mengikuti Rasulullah 100% pasti masuk surga.

Bila seseorang muslim berbeda dengan muslim lain pada tataran akidah ataupun fikih, maka orang itu tetap muslim. Bekalnya hanya syahadat. Dengan syahadat seseorang diakui sebagai muslim, darah dan kehormatannya wajib dijaga. Apakah syahadat harus disaksikan orang lain? Seseorang yang nonmuslim akan menjadi muslim dengan mengakui dua kalimat syahadat.

Oleh karena itu, izinkan saya berbeda mazhab, berbeda fikih, dan mungkin akidah.