Hari-Hari Ziarah Haji (8)

Pentingnya Belajar Bahasa Asing

**tulisan ini merupakan draft yang akan saya masukkan ke dalam tulisan ilmiah saya. Hal ini untuk mencegah potensi autoplagiat. (C) 18 Agustus 2018 Prana D. Iswara.

Peristiwa haji sangatlah menarik karena semua bangsa di dunia datang untuk berhaji. Sangat menarik bila kita bisa berkomunikasi dengan mereka. Tentu saja bila berkomunikasi dengan isyarat tentu kurang menarik, bahkan menggelikan dan kurang komunikatif. Kurang komunikatif berarti isyarat yang digunakan seseorang acap tidak dipahami orang lain. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa asing merupakan salah satu faktor penting dalam berkomunikasi. Saya telah melakukan penelitian belajar bahasa. Satu tesis yang saya temukan adalah belajar bahasa melalui lagu. Kemudian pembelajar menghafal dan menggunakan frasa yang acap kali digunakan.

Contoh kalimat (dan frasa) bahasa Jepang di antaranya, hajimemashite. Watashi wa Purana desu. Indonesia kara kimashita. Yoroshiku onegaishimasu. Kanojo wa watashi no koibito. Watashi wa sensei desu. Doko ni iru? Tokyo ni iru. Kalimat (dan frasa) bahasa Persia misalnya bebakhshid. Aya shoma Inglisi sohbad mikonid? Inglisi baladid? Ori, bale. Yek kami. Nah. Man Inglisi sohbad nadoran. Man Inglisi sohbad nemikonam. Tentu saja bahasa yang populer di dunia seperti bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Portugis mesti kita perhatikan. Contoh kalimat (dan frasa) bahasa bahasa Inggris di antaranya do you speak English? Where are you from? What is your nationality? I am Indonesian. Nice to meet you, asalamualaikum. Are you with your family here? Do you born as a moslem? Is there any Islamophobia by government there? How was Islamophobia there? Is it bad? I have heard something about that. Kalimat dan frasa bahasa Prancis misalnya bonjour, j’etend ton coeur. C’est la vie. C’est l’ego. Je suis malade. Jet’aime. Saya pun sedang belajar bahasa Spanyol, dan Jerman. Tentu saja ketertarikan secara personal kepada bahasa-bahasa itu dan budayanya merupakan motivasi (daya dorong) tersendiri. Yang penting adalah belajar mengidentifikasi bunyi bahasa dan berusaha memproduksi bunyi bahasa yang sama.

Di Arab seharusnya kita bisa berbahasa Arab. Namun pembelajar dan santri mendapati bahwa bahasa Arab ragam amieh (populer) lebih sering digunakan daripada ragam bahasa formal dalam keseharian. Ragam bahasa formal hanya digunakan pada situasi khusus seperti khutbah Jumat dan situasi formal lainnya.

Contoh percakapan bahasa Arab di antaranya marhaban ismi Ahmad, surirtu biliqoika, tasarraftu bima’rifatika, kaifa haluka, wadaan, maassalama, ilaliqoi qoriban, syukron jazilan, maa ismuka? Hal tatakalamunal inglisiyah? Na’am. Laa. Ana la natakalamul ingklisiyah. Hal bi imkanika atakalamu alinklisiyah? Kam umruki? Min aina anti? Ana min Indonesia. Man robuki? Man ummuki? Man abuki? Hal tasma’u? Aina taskunu? Maa hadzihi. Hadzihi aini. Man hadzihi? Hadzhihi habibi.

Tulisan ini bertujuan mendorong pembelajar untuk belajar bahasa. Apalagi teknologi internet dan telepon selular pintar (selpin) memungkinkan seseorang belajar kapanpun, di manapun, sambil duduk, berdiri, atau berbaring. Bahkan di sela waktu yang singkat. Tentu saja koneksi ke internet merupakan syarat penting. Sayangnya maktab (hotel) di sektor kami saat haji internetnya kurang bagus. Saya cuma mengambil hikmah saja dengan berfokus pada ibadah haji. Namun di luar ibadah khusus, kita perlu belajar bahasa asing.

Patut disyukuri bahwa Indonesia menerapkan bahasa Indonesia di seluruh propinsinya. Bahkan Timor Timur yang secara insidental terpisah dari Indonesia pun sebagian warganya berbahasa Indonesia. Timor Timur menggunakan bahasa Portugal. Jadi kita perlu juga belajar bahasa Portugal. Mungkin suatu saat bisa bertemu CR7 Ronaldo dan bercakap-cakap dengannya.

Tentu kita bisa bertukar informasi dengan orang asing berkenaan dengan keadaan negerinya dan peristiwa lain. Saya di Mekah ini bertemu dengan orang Palestina, Suriah, Irak, Iran, Mesir. Misalnya keadaan perang yang dikobarkan hegemoni barat terhada negeri-negeri itu. Bangsa negro lain juga ada di Mekah namun saya belum berani menyapa mereka karena acap saya tidak bisa menduga asal negeri mereka dan bahasa yang mereka gunakan. Secara mengejutkan, orang di dekat saya menyapa dua pemuda negro dan bercakap-cakap dengan sedikit bahasa dan banyak isyarat. Kami ternyata bisa saling memahami. Negro itu juga tidak kasar, bawel, atau cerewet seperti kesan orang India, Pakistan, Banglades.

Bercakap-cakap dengan orang Malaysia dan India menurut kabar cukup dengan bahasa Melayu dan Inggris. Banyak orang India yang mampu berbahasa Inggris. Orang India yang saya temui di Masjidil Haram adalah seorang pustakawan. Ia pun berbahasa Inggris. Orang Malaysia bisa berbahasa Melayu. Bahasa Melayu punya banyak kesamaan dengan bahasa Indonesia. Kebanyakan orang Malaysia pun bisa berbahasa Inggris. Akibatnya bahasa Melayu mereka tidak terlalu berkembang pesat, tidak terpelihara, terbina, terjaga seperti bahasa Infonesia. Tentu saja saya bisa berkomunikasi dengan orang Malaysia menggunakan bahasa Indonesia maupun Inggris. Saya pun bertemu orang Filipina di mall saat salat isya. Orang Filipina juga cemderung mampu berbahasa Inggris (?).

Penelitian pembelajaran bahasa telah saya lakukan. Penelitian ini pun terus dikembangkan. Saya pun mengembangkan tutor dengan sistem moving-asynchronous language laboratory, yaitu menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dalam belajar bahasa.

Begitu banyak lagu yang ada di internet. Pembelajar bisa meniru pelafalan bunyi bahasanya. Pembelajar menghafal kalimat atau frasa lagu untuk digunakan dan diganti secara analogi.

Hari-Hari Ziarah Haji (7)

Cerita 4

A: Oom, kenapa kamu amalan fikinya, salat dan bacaannya beda denganku?

B: Mengapa harus sama? Apa kamu guruku?

Tamat

Pembahasan
Sebagian (atau kebanyakan?) orang Indonesia ingin orang lain sama fikih furunya. Padahal ia bukan guru, bukan mujtahid, bukan mufti.

Saya juga melihat beberapa kali orang India, Bangladesh, atau Pakistan (maaf) menyuruh orang lain, memperbaiki (gerakan) ibadah orang lain. Mungkin ia berpikir bahwa ia memurnikan agama, ia mensucikan agama. Padahal seorang marja pun tidak boleh bertindak memperbaiki orang yang bukan di bawah kuasanya.

Muslim beribadah sesuai Quran, hadis. Kita sebahai muslim merasa yakin bahwa fatwa ulama bersumber dari Quran dan hadis. Ulama dari MUI, ulama NU, ulama Muhammadiyah, dan lain-lain akan merujuk pada Quran dan hadis saat membuat fatwa.

Namun mengapa fatwa bisa berbeda-beda? Mengapa fatwa NU, Muhammadiyah, MUI berbeda-beda tentang suatu masalah? Mengapa tidak sama?

Itulah realitas ulama. Kenyataannya ulama tidak sepakat tentang suatu masalah. NU fatwanya A, Muhammadiyah fatwanya B, dan seterusnya.

Mungkinkah dipaksakan sama? Mungkin tetapi sulit. Buya Hamka ketika menjabat sebagai pimpinan MUI diminta fatwa oleh Presiden Soeharto tentang bolehnya mengucapkan srlamat natal. Setelah Buya Hamka pelajari, dikekuarkanlah fatwanya yaitu tidak boleh mengucapkan selamat natal. Konon Pak Harto mendesak agar dikeluarkan fatwa yang berbeda. Buya Hamka mengatakan bahwa sekali fatwa dikeluarkan, tak boleh dicabut lagi. Tekanan Pak Harto kepada MUI mendorong Buya Hamka mengundurkan diri dari MUI.

Mazhab-mazhab dalam Islam pun berbeda-beda fatwanya. Mereka pun tidak bisa diseragamkan.

Fatwa tidak seragam karena ulama tidak maksum. Seandainya ulama maksum, tentu hanya ada satu fatwa yang keluar. Umat tidak akan bingung dengan perbedaan fatwa. Siapakah yang maksum pada masa sekarang? Konon Imam Mahdi maksum. Kemaksuman ini tetiwayatkan dalam dalil nakli dan akli. Dalil naklinya yaitu hadis yang menyebutkan bahwa sifat Imam Mahdi seperti sifat Nabi Muhammad saw. Dalil aklinya juga bersumber dari hadis tentang perintah Nabi Muhammad saw agar umat taat kepada Imam Mahdi. Akal mengatakan bahwa perintah taat kepada orang yang tidak maksum bukanlah taat secara mutlak. Oleh karena perintah Nabi Muhammad tanpa kecuali, berarti perintahnya mutlak dan ketaatan manusia juga harus kepada sosok yang maksum.

Realitas ketaatan kita kepada fatwa ulama merupakan contoh ketaatan kita kepada orang yang tidak maksum. Tidak mutlak. Bukti dari ketidakmaksuman adalah fatwa para ulama yang berbeda-beda.

Umat pun tidak boleh menutup kemungkinan kebenaran dari fatwa ulama lain. Umat harus toleran pada perbedaan fatwa, misalnya fatwa tentang khilafah, demokrasi, nonmuslim menjadi gubernur, MLM, asuransi, salat, waktu puasa, dan sebagainya.

Hari-Hari Ziarah Haji (5)

Makan secara Teratur

Jemaah haji Indonesia diuntungkan dengan sejumlah fasilitas dari pemerintah. Jemaah diberi sekarung perlengkapan berisi obat-obatan, oralit, obat gosok untuk pegal-pegal, masker, semprotan, kaca mata hitam, payung, dan tas gendong tali. Sebagian lagi diberi secara bertahap.

Tentu fasilitas ini hasil kerja pemerintah mulai pemerintah pusat hingga pekerja lapangannya. Semua harus bekerja dengan rapi.

Makan untuk jemaah dijamin. Jemaah tidak perlu kerepotan mencari kebab turki atau roti india untuk makan sehari-hari. Mungkin warga tidak suka wisata kuliner ala Saudi dan perut Indonesianya tetap menuntut nasi dan goreng-gorengan.

Saya sebenarnya biasa mencicipi kebab, burger, martabak. Oleh karena itu saya ingin mencicipi masakan warga Saudi sebagai wisata kuliner. Saya juga melihat di internet dan mendapat info dari teman bahwa makanan utama orang Arab adalah roti, nan, tortila, dan semacamnya. Karena itu saya bersiap dari kemungkinan perbedaan selera masakan. Saya membeli dua jenis kebab pada dua kesempatan yang berbeda, sayangnya kebabnya kurang panas dibandingkan dengan yang dipanggang di Indonesia. Yang dipanggang matang adalah roti semacam martabak telur yang digoreng dengan minyak zaitun (?). Saya yakin itu bukan minyak kelapa atau minyak sawit. Saya sering mendengar bahwa masakan Arab berbeda cita rasanya dengan masakan Indonesia sehingga mungkin dikatakan hambar.

Karena mendapat nasi kotak dari pemerintah, jemaah haji tak perlu sering wisata kuliner, tak perlu wisata kuliner setiap hari.

Pemerintah menyediakan nasi kotak dua kali sehari. Nasi dan lauknya disimpan di atas wadah alumunium dan ditutup kertas plastik. Perusahaan penyedia makanannya adalah perusahaan Saudi yang cukup mengerti selera orang Indonesia. Nama perusahaannya tertera di label kertas tutup makan. Sekalipun menunya cukup enak, sebagian jemaah bosan dengan menunya: semur daging kambing atau sapi, ayam goreng, orak-arik telur, ikan. Tentu saja pemerintah tak bisa mengakomodasi keinginan setiap individu. Tentu pemerintah memilih menu yang menurut sebagian jemaah enak. Tetap saja jemaah bosan. Sebagian jemaah membawa abon, teri, tempe kering, kerupuk, sambal untuk memenuhi selera makannya.

Ada yang memberi saran agar pemerintah memberi menu sate madura, sayur kacang merah, pepes ikan, garang asem, soto, sop buntut, sop kaki, gule, ikan bumbu kecap, ikan cobek, sup ikan, dan makanan berkuah lainnya. Namun biasanya jemaah yang rata-rata berumur di atas 50 tahun menu serba daging mesti serba dikurangi.

Jemaah yang tahu keadaan makanan haji akan membawa berbagai macam sambal dalam bentuk saset. Hal ini untuk menjaga jemaah dari bosan dengan menu masakan yang kurang cocok di lidah.

Hari-Hari Ziarah Haji (4)

Meminta Tip di Indonesia, Arab, dan Jepang

Mungkin ini yang kerap terjadi saat haji. Jemaah haji Indonesia biasanya “murah hati” dengan memberi sedekah kepada orang di sekitarnya. Saya sering melihat jemaah di kloter kami yang memberi sedekah kepada tukang sapu di jalanan, petugas kebersihan (cleaning service) di hotel, dan sebagainya.

Saya pernah mendengar cerita gilanya sopir bus di Arab yang mengantar jemaah dari Mekah ke Madinah atau sebaliknya. Di tengah perjalanan, di padang pasir yang panas, ia menghentikan busnya, menepi, mematikan mesin, dan tidur di situ juga. Pimpinan jemaah segera bertindak mengumpulkan uang satu realan dari jemaah. Ia lalu membangunkan sopir dan menyuruhnya meneruskan perjalanan. Sopir bus ketika melihat uang disodorkan kepadanya langsung bangun, menerima uang, dan melanjutkan perjalanan.

Cerita lainnya adalah sopir taksi yang mengsntar kami ke tempat miqot untuk unrah lalu kembali ke Masjidil Haram. Setelah tawar-menawar, diseoakatilah 50 real. Ketika sampai di Tanim, ternyata diminta 50 real per orang. Semuanya 6 orang totalnya 300 real.

Saya punya pengalaman dengan petugas kebersihan hotel yang bukan kebetulan adalah orang Bangladesh. Ia terang-terangan mengisyaratkan minta uang kepada warga dari setiap kamar yang dibersihkannya. Ia menggunakan bahasa isyarat karena dia tidak menggunakan bahasa Arab, Inggris, atau Indonesia. Anehnya ketika ada kamar yang tidak memberi tip, tidak ada pelayanan kebersihan seperti mengganti sprei atau memvakum lantai kamar. Mungkin ia menduga bahwa jemaah ini dari kampung semua dan tidak bisa komplain kepada manajemen hotel. Padahal kalau ada di antara kami yang komplain ke hotel, mungkin ia bisa dipecat (?) atau mungkin juga hotel tidak akan memberi hukuman yang berarti.

Saya juga punya pengalaman dengan sopir bus yang terang-terangan minta uang lima real dengan alasan untuk makan. Ia meminta dengan wajah memelas. Sangat kontras dengan badannya yang besar dan gemuk khas orang Timur Tengah.

Di satu sisi saya bersyukur juga karena wajah saya mungkin masih dipercaya untuk dimintai sedekah. Namun di sisi lain saya prihatin. Sebagian orang yang tidak siap bersedekah mungkin akan malu karena tidak memberi uang tip, sedekah tadi. Pada umumnya orang Arab tidak menganggap jemaah Indonesia bakhil. Justru jemaah Indonesia cenderung dianggap murah hati. Saking murah hatinya jemaah Indonesia sampai dimintai dan tidak dibersihkan kamarnya berhari-hari.

Keadaan yang berbeda adalah keadaan di Jepang. Di Jepang, memberi tip adalah penghinaan. Bila gaji orang Jepang kecil, mereka juga enggan menerima tip (sedekah). Tentu orang Jepang juga menerima hadiah yang berupa penghormatan kepada orang yang diberinya.

Di Jepang orang saling menghormati profesi-profesi. Memang di Jepang juga sisi materialis ada. Filsafat mengatakan bahwa orang punya tentu lebih utama daripada orang tak punya. Tetapi orang Jepang umumnya tidak peduli. Mereka berpakaian rapi, bekerja, dan mendapat uang. Mereka tahu bahwa pendapatan orang berbeda-beda. Namun mereka tidak peduli dan saling menghormati orang lain dengan besar-kecil pendapatannya.

Di Indonesia acap orang kaya melecehkan orang tidak kaya. Orang tak punya acap merendahkan diri. Orang punya acap menyembunyikan kekayaannya tetapi bersuara paling keras. Seseorang berlagak jadi bos bila mentraktir orang lain. Di Jepang bahkan perempuan tidak selamanya harus ditraktir laki-laki bahkan saat pacaran. Orang tak punya acap merendahkan diri sambil mencari kesempatan meminta tip atau pemberian.

Orang Jepang yang menghargai, low profile, tidak suka tip, merupakan bagian dari sikap yang menarik untuk ditiru. Berbeda dengan di Indonesia, Arab. Selain itu, orang Bangladesh, India, Pakistan acap kali tidak malu meminta. Bahkan dia pun berani tidak mengerjakan kebersihan kamar hotel ketika tidak diberi tip. Saya jadi ingat pada masa rezim Orba (Pak Harto) petugas pemerintahan mulai dari RT, RW, petugas desa, kelurahan, kecamatan, dinas, kabupaten, pemerintahan, sekokah, perguruan tinggi, … acap kali tak mau bekerja kecuali telah diberi tip (amplop). Untuk kenaikan pangkat sekian amplopnya. Kalau orang tidak pandai memberi tip tentu kenaikan pangkatnya terhambat. Untuk mengurus kependudukan (KTP, kartu keluarga, surat keterangan) juga harus pakai tip. Akibatnya korupsi terjadi di banyak tempat.

Salah satu orang yang membasmi pungli adalah Ahok ketika menjadi gubernur DKI. Videonya bertebaran di youtube. Ahok juga menghukum petugas yang malas bekerja. Namun Ahok kalah pilkada konon karena isu sara (suku, agama, ras, antargolongan). Golongan partai mengisyukannya dengan isu sara tersebut. Akhirnya Anies-Sandi menang pilkada DKI.

Hari-Hari Ziarah Haji (2)

Berebut Rida Allah swt dan Rasulullah saw

Secara pribadi saya lebih senang tawaf sendiri. Saya merasa membawa beban jika harus bersama teman lelaki maupun perempuan. Apalagi bila tawaf sambil berpegangan tangan dengan teman dan seolah tak boleh ada yang menyela. Seolah terpisah dengan teman saat tawaf itu suatu bencana.

Saya sudah mendengar cerita haji, tawaf, sai, wukuf sejak saya masih bocah 10 tahun. Semoga orang-orang tua yang menceritakan kisah hikmah sabarnya beribadah haji itu mendapat ganjaran dari Allah swt. Kita bisa mengambil pelajaran dari ibadah haji. Bukan sekedar ingin cium Hajar Aswad, salat di saf terdepan, tawaf dan sai bergerombol, dan wukuf tanpa bersilaturahmi dengan bangsa lain.

Saya berpikir bahwa saat tawaf, seseorang harus berbagi tempat dengan orang lain. Beribadah itu tak boleh egois atau ingin orang lain sabar. Seseorang tak boleh merasa bahwa haknya diambil ketika orang lain menyusul, meminta jalur kiri/kanan, atau meminta memotong jalur.

Keadaan di sini lain. Orang salat pun ingin selalu paling dekat dengan kabah. Lalu jika orang lain mengambil tempatnya secara sah atau tidak, ia akan marah seolah terampas uang ratusan real. Kadang-kadang terjadi orang lain merampas tempat salat kita, tempat tawaf kita secara tidak sah. Dia pun melakukannya dengan sadar dan sengaja. Sesungguhnya, bila dia memberi orang lain hak miliknya, mungkin ganjaran Allah swt lebih besar daripada dia mempertahankan haknya salat di depan Kabah, tawaf, atau sai.

Sebagai orang Jepang, saat orang-orang mengantri sekitar 3 meter dari pintu WC, kami tak akan menggedor pintu, tak akan berteriak, tak akan klakson, tak akan memaksa, bahkan jika hak kami diambil pun, kami orang Jepang menyerahkannya kepada orang lain demi Tuhan. Ini bukan fiksi, ini fakta. Tautan artikel kunjungan ke Jepang adalah sebagai berikut.

Sebagai peziarah Tuhan, kita akan berkata, Ya, Tuhan, aku akan rida kapanpun engkau menjemput mautku. Apalagi bila makhluk-Mu berebut tempatku untuk menyembah-Mu, aku akan rida memberikan tempat itu untuknya. Demi dia mencapai ridomu dan aku pun mencapai ridomu. Bihaqi Muhammad wa aali Muhammad saw.