Saudara

Saudara adalah tempat menitip rasa percaya tanpa ada pikiran khianat. Demikian pula saudara sebangsa, manusia mesti bisa saling menitipkan kepercayaan meski berbeda agama, mazhab, orientasi politik, pilihan hidup tanpa mengganggu orang lain.
Apakah ada yang karena beda agama lalu merasa terganggu. Karena beda mazhab lalu merasa terganggu. Padahal Nabi saw pun tak pernah memaksakan agama kecuali sesuai fitrah manusia.
Tak perlu saling menyakiti meski berbeda agama. Tak perlu saling memaksa meski berbeda mazhab. Tak perlu saling fitnah atau memaki meski beda pilihan dan orientasi politik. Semua bebas dan saling percaya.
Kecuali bila ada pelanggaran kejahatan kriminal, barulah ambil resikonya. Hukuman menanti bagi terpidana. Kejahatan seperti mencuri, memukul, bahkan mengeluarkan kata-kata yang salah, fitnah, dan menyakitkan pun ada hukumannya.
Jangan sampai sesama saudara saling mencuri, saling berbohong, saling memukul. Ingatlah kehancuran keluarga Barata dalam Baratayuda.

Cinta

Cinta adalah milik pribadi yang sangat berharga. Jadi jangan kau simpan cintamu pada sembarang orang. Jangan pula kau tertipu pada dunia sehingga kau meletakkan cintamu kepadanya.
Mencintai yang lebih rendah darimu itu merugikanmu. Dirimu lebih mulia daripada permata, mutiara, uang, rumah, atau harta benda lainnya.
Cintai Tuhan karena Dia yang paling tinggi. Bila kita tidak mengenal Tuhan, tidak tahu cara mencintai-Nya, maka cintailah utusan-Nya, karena dia akan membimbingmu menuju cinta-Nya.
Ya, Rasulullah, betapa kami mencintaimu. Allahuma sholi ala Muhammad wa ala aali Muhammad.

‚ÄčNegeri Kaya Tetapi Importir

Tujuh keajaiban dunia

1. Beras Vietnam

2. Garam Australia

3. Kedelai Amerika

4. Susu New Zealand

5. Cangkul Cina

6. Buruh Tiongkok

7. Artis Korea Selatan
Ini terjadi sejak zaman rezim Order Baru (Orba). Pada rezim Orba, Pa Harto menetapkan kebijakan impor alih-alih membela petani yang merupakan (mayoritas) mata pencaharian warga. Saya ingat ucapan teman yang membela kebijakan Pa Harto, “Buat apa tanam kedelai kalau kedelai impor jauh lebih murah”. Akibatnya tak ada warga yang bertani kedelai. Para petani kedelai mati atau beralih profesi menjadi importir. Ternyata tak bisa semua petani menjadi importir. Mulailah pengangguran terjadi. Mulailah orang tak suka jadi petani karena kesejateraannya ditekan. Kebijakan pemerintahlah yang menyebabkannya.
Kedelai impor lebih murah daripada lokal. Beras impor lebih murah daripada lokal. Sapi impor lebih murah daripada lokal. Garam impor lebih murah daripada lokal. Gula impor lebih murah daripada lokal.
Padahal AS, Jepang, Cina melindungi sektor pertanian, peternakan dalam negeri mereka HARGA MATI. Mereka memproteksi harga sembako dan PERSETAN dengan free trade era. Seharusnya negara sadar bahwa ketahanan pangan sangat penting bagi negara. Tanpa ketahanan pangan, negara rapuh dan terjajah. Negeri kita sangat kaya, tapi importirnya gemar membunuh saudara sendiri demi kesejahteraan pribadi. Ini seperti tikus mati di lumbung padi.
Petambak garam dibunuh importir karena garam impor lebih murah daripada garam lokal. Negara harus membatasi impor. Semua negara juga memproteksi warganya. Free trade era hanya untuk barang tertentu yang benar2 kita butuhkan seperti impor barang elektronik, kendaraan dalam jumlah terbatas sehingga tetap memajukan industri dalam negeri. Bahkan jika industri kendaraan lokal menggeliat, negara harus mewajibkan impotir menggunakan sekian persen suku cadang lokal.
Apakah kita mengimpor buruh juga dari Cina sementara buruh kita banyak yang perlu kerja?
Untuk buruh saya tak tahu persis. Adakah buruh kasar Cina di proyek Jatigede, Tol Cisumdawu? Apakah mereka punya visa kerja? Seandainya mereka ada, apakah mereka telah pulang menurut imigrasi? Ataukah mereka belum dilaporkan pulang, mati, menetap, ganti kewarganegaraan. Kalau ganti kewarganegaraan tentu RT, RW, camat harus tanda tangan.
Kalau mereka masih keluyuran, berarti mereka melanggar imigrasi. Apa ada yang bisa hidup di negeri kita tanpa bekerja?
Kalau ada orang asing yang dicurigai melanggar kewarganegaraan, laporkan saja kepada rt, rw, polisi, dan imigrasi.
Produk Cina bukan hanya cangkul, melainkan juga pulpen, dll.
Seperti tadi, pemerintah sejak dulu ingin enak. Pulpen daripada repot produksi malah impor. Importir diuntungkan. Bahkan importir diizinkan memonopoli distribusinya dan menginjak2 harga dari produsen lokal. Ini juga yang terjadi pada importir garam dan beras.
Sejak zaman Oa Harto kebijakan impor lebih menguntungkan segelintir pengusaha kroni daripada rakyat banyak
Saatnya Pa Jokowi membenahi. Dulu Gus Dur juga mau membenahi yang lain, tapi GD dijatuhkan. Sebelumnya, politisi juga menuntut kepada Habubie, saat Habibie menggantikan Pa Harto, agar pemilu dipercepat. 
Lalu Habibie dkk bikin kapal, pesawat, mobil, dibendung oleh para importir. Mereka mengejek Habibie, katanya bikin sepeda saja belum bisa malah sok jago bikin pesawat. Importir produk macam Honda, Kawasaki marah jika ada produsen lokal. Mereka berusaha membunuhnya dengan cara apapun seperti membeli perusahaan lalu menghentikan produksinya, menyuruh orang kreatif untuk kerja kantoran, dan sebagainya. Kalau tidak, mungkin para penghobi bengkel akan menjamur dan memproduksi motor lokal.
Saya jadi ingat orang yang merakit TV di zaman Pa Jokowi. Mulanya mau ditindak, dihukum, didenda, dan dipenjarakan hanya gara-gara membeli komponen dan merakitnya menjadi televisi dan memberi merk. Padahal Habibie juga merakit dari komponen yang dibelinya. Untung saja Pa Jokowi menyelamatkan montir ini dan memberinya modal serta izin usaha.
Sekarang, bengkel motor, mobil saja authorized (resmi) untuk setiap merk. Makin susah bengkel lokal kita untuk bersaing.
Artis asing sudah ada sejak zaman orba. Beberapa artis asing manggung di negeri ini tanpa masalah atau ribut seperti di zaman medsos.
Kalau Pa Harto punya kebijakan tentu bisa ikhtiar dilakukan.
Habibie dan Gus Dur dijatuhkan.
Mega dan SBY kurang perhatian pada masalah ini. Sebagaimana SBY tak perhatian pada “pelanggaran” HTI.

‚ÄčKepala Daerah Membangun Daerah, Mall, dan Patung

Di kota kami mulanya tak ada mall. Begitu mau pilkada, pemerintah daerah “menjual” izin mendirikan mall. Buat apa pemerintah daerah menjual izin mendirikan mall? Tentu saja buat dana kampanye.

Ketika negara sibuk dengan proyek proyek negara, mestinya daerah juga perhatian pada pengentasan kemiskinan. Mengapa daerah juga perlu bekerja? Karena daerah juga tahu potensi daerahnya. Di samping itu sebagian anggaran telah dikembalikan kepada daerah.
Kepala negara punya visi, misi. Kepala daerah juga punya visi, misi sesuai janji kampanye.
Visi, misi ini tidak boleh diusik DPR/DPRD karena ditengarai program kepala daerah acap dibendung oleh program pokir (pokok pikiran, kata Ahok di Youtube) DPR/DPRD. Program yang lolos harus masukkan pokir DPRD. Akhirnya bupati terpaksa nego dg DPRD supaya programnya jalan.