Home » cerita

Category Archives: cerita

Sajak Di Jalan Raya

Setiap kali aku berada di jalan, melihat padatnya lalu lintas, tak ada orang yang mau mengalah. “Hai, Itsar adalah nama tengahku.” Aku mendengar seseorang berkata, “Kalian adalah sekelompok keong sutra (mungkin keong emas) yang tak mau mengalah kepada scorpion!”

Bahasa Isyarat

Inilah kelemahan seorang manusia yang tidak paham bahasa isyarat. Bila diberi isyarat untuk disuruh, orang seperti ini malas, cenderung tak mau melakukan. Bila orang ini diberi isyarat untuk harus membayar, menraktir; maka isyarat itu tidak akan dipenuhi atau dipatuhinya.

Sejumlah Contoh Bahasa sebagai Isyarat
Berikut ini contoh peristiwa bahasa sebagai isyarat
Peristiwa 1
Pada saat acara yasinan bada isya, 29 September 2016, orang-orang masjid berdatangan ke rumah duka untuk tahlilan dan membaca surat yasin. Orang-orang duduk, suasana agak ramai. Seorang kerabat yang ada di samping sohibul bait (pemilik rumah) tidak memegang buku surat yasin. Beliau pun berkata kepadanya, “Apakah engkau menyimpan buku yasin?” Pertanyaan sederhana ini sebenarnya adalah menyuruh orang ini untuk mengambilkan buku yasin, bukan menanyakan keberadaannya. Kalimat perintah yang lugasnya adalah, “Tolong ambilkan buku yasin!” Namun ia tidak mengerti bahasa isyarat ini dan tidka pernah belajar bahasa isyarat ini sepanjang hidupnya untuk memahaminya. Dunia ternyata tidak selugas FPI atau tidak sekeras Wahabi. Dunia ini lembut dan penuh dengan isyarat. Manusia harus memahami bahasa isyarat ini sepanjang hidupnya.
Saat itu dia menjawab, “Tidak. Saya tidak menyimpan buku yasin. Saya tidak tahu di rumah ini ada buku yasin.” Sebuah jawaban bodoh bagi orang terdidik seperti kebanyakan orang. Dia bisa saja memahami bahasa isyarat ilmu pengetahuan, namun tidak memahami isyarat sederhana suatu kalimat perintah seperti itu. Banyak variasi perintah yang bisa diberikan, misalnya, “Apakah ada buku yasin di sini?” “Apakah ada buku yasin di rumah ini?” Mungkin setelah pertanyaan ini diulang-ulang otaknya yang kecil ini baru memahami bahwa kalimat seperti ini adalah perintah. Bila kalimatnya, ambilkan buku yasin, mungkin dia akan paham, langsung akan mencari, dan mengambilkan buku yasin ini untuk tamunya (kerabatnya).

Taklid dan Ijtihad

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

Bolehkah bertaklid itu?
Pendapat pertama mengatakan bahwa seorang muslim boleh bertaklid.
Pendapat kedua mengatakan bahwa seorang muslim haram bertaklid.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa seorang muslim dengan kondisi tertentu wajib bertaklid.
Sumber hukum suatu fatwa itu Quran dan hadis. Maka memerlukan ilmu bagi seseorang untuk menafsirkannya. Ini gaya kalimat bahasa Arab. Kalimat bahasa Indonesianya, seseorang memerlukan ilmu untuk menafsirkannya.
Hanya para nabi yang maksum yang dapat menakwilkan Quran/hadis tanpa salah.

Istilah-Istilah
Fatwa: putusan ringkas dari suatu masalah hukum
Bertaklid/berittiba: tindakan mengikuti suatu fatwa.
Berfatwa: tindakan bagi seseorang yang mempunyai otoritas untuk mengeluarkan suatu fatwa, (lih: berijtihad)
Mujtahid: orang yang bisa berijtihad atau mengeluarkan fatwa
Mufti: orang yang mengeluarkan fatwa
Muqollid/muttabi: orang yang mengikuti fatwa
Menurut seorang ustaz NU, berittiba adalah mengikuti metode (cara) berijtihad, sedangkan bertaklid adalah mengikuti fatwa.

Contoh Bertaklid
Seseorang mengikuti suatu fatwa, misalnya fatwa MUI, fatwa ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang fatwa atau sembarang ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang dokter atau guru melainkan yang telah dikenal reputasinya.
Seseorang yang ingin membangun gedung akan menyewa jasa arsitek.
Seseorang yang ingin membuat perabotan menyewa jasa tukang kayu.

Haruskah Seorang Awam Berijtihad?
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seorang awam untuk berijtihad.
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seseorang untuk bertaklid.
Jika kita disuruh berijtihad, kita akan berijtihad, hasilnya tergantung ikhtiar kita.
Sodorkan nas Quran dan hadis, kita akan berijtihad dari sumber itu.
Jika kita tidak percaya dokter, kita akan menyembuhkan diri kita sendiri.

Kekacauan karena Tak Tahu Kedudukannya dan Kedudukan Fatwa
Masyarakat mengikuti sembarang fatwa yang tak jelas sumbernya, yang penting sesuai dengan perasaan muqolid.
Negeri ini penuh dengan fatwa yang tidak jelas sumbernya.
Orang-orang yang tidak punya otoritas seenaknya mengeluarkan fatwa (tafsir Quran, hadis) alih-alih mengutip.
Negara ini mempunyai MK untuk menanyakan tafsir hukum, sayangnya untuk agama, negara tidak merekomendasikan MK-Agama.
Bila negara mengikuti suatu fatwa misalnya tentang tanggal 1 Syawal, masyarakat bisa mengikuti fatwa resmi negara.

Siapa Saja yang Bisa Berfatwa
MUI?
Orang yang mau dan mampu belajar
Mujtahid yang sudah diakui ilmunya oleh mujtahid lain.
Seperti sarjana diakui oleh sarjana lain.
Tradisi: seorang mujtahid mewasiatkan orang-orang untuk mengikuti mujtahid berikutnya.
Seseorang yang tidak mampu berijtihad hanya boleh mengikuti atau mengutip fatwa yang ada.
Tidak boleh ada pemaksaan kepada orang lain.

Fatwa Mazhab
Syafii
Hambali
Hanafi
Maliki
Syiah Itsna Asyari

Boleh berpindah dalam mazhab-mazhab Islam

Kemutlakan Fatwa
Meski seseorang mengikuti fatwa, fatwa bisa saja salah
Ulama tidak dijamin maksum
Banyak fatwa yang berbeda, contohnya tentang MLM, FB, tahlil, qunut, niat, wudu, tawasul, ziarah
Analogi kita berikhtiar kepada dokter, dokter juga bisa salah diagnosis, bahkan malpraktik
Fatwa tidak bisa dikeluarkan oleh ulama wanita. Wanita mujtahid hanya bisa berfatwa untuk dirinya sendiri. Tidak ada nabi wanita meski ada wanita maksum.

Universitas Ini Mengeluarkan Mufti?
Mungkin saja universitas ini mengeluarkan mujtahid atau mufti.

Mufti harus bijak dalam arti memahami perbedaan fatwa.
Mufti juga harus melihat fatwa yang berbeda dengannya dan mempertimbangkan kebenarannya.
Universitas ini mengeluarkan orang-orang yang paham akan kedudukan fatwa.
Universitas ini juga mengampanyekan kesadaran orang-orang pada kedudukan fatwa.

Demikian paparan saya. Terima kasih.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Pertanyaan
Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, ternyata saya sendiri aneh dalam masalah taklid. Saya merasa NU atau cenderung NU. Ternyata banyak orang Indonesia lainnya yang menurut saya aneh (bermasalah?) dalam masalah taklid dan ijtihad. Ini saya rasakan sendiri. Diri ini sangat kacau sejak kecil. Bila ada orang yang meninggal, saya akan ikut tahlilan seperti tradisi NU. Namun ketika saya salat tarawih di UPI, saya ikut salat 11 rakaat. Sebagaimana NU, saya juga percaya Imam Mahdi maksum. Sekarang saya percaya 12 khilafah ala Syiah. Bagaimana ini? Bagaimana orang-orang seperti saya ini, Ustaz?”

Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, tetela abdi mah rada aneh dina taklid teh. Ti bubudak geus pabaliut. Aya anu maot ngiring tahlilan. Tapi persis salat taraweh, ngiring anu 11 rakaat. Siga NU, kuring oge percaya Imam Mahdi maksum. Ayeuna kuring percaya ka 12 khilafah. Kumaha atuh, Ustaz?”

Drama Musikal Sekarwangi dan Realitas Politik Khilafah

Menonton pertunjukan drama Sekarwangi adalah menonton opera atau drama musikal. Penonton melihat bahwa para aktornya acap kali menyanyikan lagu-lagu terkait dengan dialog atau peran yang dia mainkan. Lagu-lagunya menarik dan tidak ada permasalahan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan itu. Namun seorang teman dosen yang sangat peka terhadap nada dan suara menyatakan bahwa suara fals atau sumbang bisa membuatnya sakit perut. Baginya pertunjukan yang baik adalah pertunjukan musik yang penyanyinya tidak membuatnya sakit perut. Pertunjukan angklung grup Lokahyang UPI Sumedang di awal pertunjukan patut diacungi jempol. Pembukaan yang cerdas. (more…)

Package Rock

#sucpdi

Ketika Coco Robert memperoleh kebenaran atau pelajaran ia akan memegang kebenaran itu erat-erat. Pasti ia bisa melihat selain kebenaran itu sebagai kesalahan. Namun ada kalanya ia tidak bisa memaksakan kebenaran itu kepada orang lain bahkan kepada teman dekatnya, Coker Clark dan Ahmad Wisnu Jono.

Menurut Musa Kazim, jika seseorang menentang kebenaran, penentangannya itu tidak akan mengubah kebenaran sama sekali. Orang itu malah yang semakin menjauh dari kebenaran. Sebaliknya, jika seseorang mengakui kebenaran, mungkin kebenaran itu beresiko baginya sementara waktu, namun ia akan ikut kebenaran yang abadi dalam dirinya.

Belakangan saya mendapati orang-orang yang berbeda paham dengan saya.

Saya meyakini kebenaran mutlak dari kenabian Muhammad saw dengan seperangkat perintah dan larangannya. Namun saya tidak bisa memaksakan kebenaran yang saya yakini kepada orang lain yang belum mencapainya atau berpandangan berbeda dengan saya. Bahkan di antara muslim pun ada yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw maksum meski bermuka masam, atau lupa jumlah rakaat salat, lalai dalam salatnya, salah dalam penyerbukan tanaman dunia. Sebaliknya, saya meyakini Nabi tidak bermuka masam dan tidak lalai dalam salatnya, memahami prnyerbukan dengan benar.

Dulu saya gemar memaksa. Saya selalu mengecam orang yang pikirannya “ngawur” atau berbeda dengan saya.

Sekarang saya melihat perbedaan orientasi politik sebagai fenomena biasa. Ada orang yang menyalahkan gubernur DKI dalam kasus RAPBD Aibon, ngawurnya penanganan banjir, atau pelanggaran penebangan kawasan Monas. Ada orang yang menyalahkan Jokowi karena ada banyak Cina di Indonesia, memberi kesempatan orang Cina atau Arab berinvestasi di Indonesia, membiarkan kasus muslim Uyghur, Cina, atau tuduhan membentuk dan membiarkan komunitas PKI, gay, dan lesbian. Ada yang menyalahkan Jokowi dalam kasus Jiwasraya. Ada yang menyalahkan Anies dalam penanganan banjir di DKI. Ada pendapat yang berbeda-beda.

Saya pernah berbeda pendapat dengan muslim lain ihwal multi level marketing (MLM). Ada bahkan dosen, mahasiswa, teman yang menawari saya berbagai macam MLM. Ketika ada fatwa haramnya sistem MLM, saya mengikuti fatwa itu. Saat itu saya tahu ada fatwa lain dari ulama lain yang membolehkan MLM. Bahkan konon katanya orang yang ikut MLM itu juga termasuk agamawan, intelektual, dan anggota DPR yang masa jabatannya lebih dari dua kali, dan pejabat penting lain. Ada pula “cendekiawan muslim” yang membolehkan MLM. Saya tidak bisa memaksakan agar mereka juga mengharamkan sistem MLM. Saya cuma bisa menolak tawaran mereka ketika mereka menawari saya untuk ikut MLM.

Untung saja mereka masih mengaku MLM. Adakah yang menggunakan sistem MLM meski mengaku bukan MLM?

Berbeda pendapat atau opini itu boleh. Yang tidak boleh adalah fitnah, hoaks atau menyebarkan berita bohong. Contoh fitnah adalah pejabat anu PKI, APBD anu dari investor Cina, penabat anu memasukkan Cina, pejabat anu adalah muslim dan selainnya adalah nonmuslim.

Meski kita tidak boleh fitnah, tetap saja kita tidak boleh gibah. Fitnah adalah menuduh orang sesuatu ysng tidak ada realitas keburukannya. Sedangkan gibah adalah membicarakan keburukan orang lain (ada realitas keburukannya)

Saya sebenarnya orang yang tidak percaya bahwa perbedaan orientasi politik bisa menyebabkan permusuhan atau perpecahan. Perbedaan orientasi politik adalah peristiwa yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa mempunyai perbedaan orientasi politik dengan orang lain. Seseorang bisa berbeda agama dan orang lain. Seseorang bisa berbeda mazhab dengan orang lain. Orang bisa memilih Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki, Syiah tanpa gangguan orang lain. Perbedaan-perbedaan itu semestinya tidak menyebabkan pertengkaran, permusuhan, atau perpecahan.

Seseorang tidak boleh memaksakan orientasi politiknya kepada orang lain. Seseorang tidak boleh memaksakan agamanya kepada orang lain. Seseorang tidak boleh memaksakan mazhabnya kepada orang lain. Seseorang juga tidak boleh selamanya mengkampanyekan orientasi politiknya kepada orang lain karena mungkin saja orang lain tidak suka dengan ksmpanye orientasi politiknya itu. Mungkin saja orang lain sudah mempunyai orientasi politik sendiri yang yang kukuh, ajeg, dan tidak mudah diganggu gugat. Saat orang lain mengkampanyekan orientasi politik yang berbeda dengannya ia akan merasa terganggu dan menganggap kampanye itu sebagai teriakan yang berisik. Pemaksaan politik adalah disorientasi politik. Pemaksaan mazhab adalah disorientasi mazhab.

Pada saat ini ada orang-orang yang terus-menerus berteriak mengkampanyekan orientasi politiknya. dengan begitu lawan politiknya pun tidak henti-henti mengkonternya (counter). Akhirnya jagat dunia maya menjadi berisik dengan percekcokan mereka. Dunia menjadi bising dan ucapan langit jadi tidak terdengar lagi. Justru seolah-olah merekalah yang menjadi langit yang berbicara.

Nanti pada saat Imam Mahdi muncul ada teriakan di langit yang yang berbunyi, “Telah datang kebenaran dan telah hilang kebatilan.”

Pada saat ini ada orang-orang yang mengkampanyekan orientasi politiknya dengan alasan lawan politiknya itu adalah orang-orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Dengan alasan itu, ia berupaya menyadarkan orang lain agar mempunyai orientasi politik yang sama. Ada orang yang mengkampanyekan Jokowi sebagai orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Ada pula orang yang kampanyekan Anies Baswedan sebagau orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Dengan begitu orang-orang mengkampanyekan untuk membenci Jokowi atau Anies Baswedan. Adakah yang banyakan Ganjar pranowo sebagai orang yang licik korup dan bodoh? Tentu saja ada yaitu lawan politiknya. Jika Ganjar pranowo berasal dari PDIP, mungkin lawan politiknya seperti PKS akan menjelek-jelekkan GP. Salah satu keburukan dari partai adalah hanya orang-orang yang punya uang saja yang bisa tampil di panggung politik. Tetapi salah satu kebaikan demokrasi adalah hanya orang-orang yang baik saja yang berpotensi dipilih oleh masyarakat. Masyarakat menghendaki orang baik yang menjadi pemimpin mereka. Jika tidak, maka masyarakat akan punya pemimpin di hati mereka sendiri atau punya hakim untuk komunitas mereka sendiri.

Pada saat ini ada masyarakat yang tidak ingin diperintah oleh pemerintahan Jokowi. Ada guru yang menolak perubahan kurikulum dengan alasan dirinya (meerasa) lebih pandai daripada pemerintah. Video guru saat penataran kurikulum tersebar. Guru itu sepertinya berhadapan langsung dengan Menteri Nadiem Makarim dan pejabat sertifikasi lain. Dia mengatakan (sesuatu, dana) jangan diganggu, kementerian bisa memberi tetapi jangan paksa guru harus ini atau itu; jika tidak, ia mengusulkan pembubaran kementerian pendidikan, dan menawarkan (mengajari) pendidikan kepada Menteri. Katanya guru tak mau menjadi alat negara. Guru maunya menjadi pembangun peradaban.

Dalam video itu terbukti bahwa di Indonesia bahkan seseorang guru bisa melawan kebijakan menteri, mendebat kebijakan menteri, tidak setuju dengan kebijakan menteri, memgancam membubarkan kementerian. Bahkan hal itu disampaikan di muka umum dengan situasi tertawaan, candaan, dan gurauan. Terimakasih kita hidup di Indonesia yang yang ucapan seperti itu masih bisa ditoleransi seandainya kita hidup di Thailand atau Arab Saudi, mungkin raja sudah murka dan memerintahkan untuk menangkap kita. Pada masa Pak Harto pun seperti itu. Kita tidak bisa bicara seenaknya di depan pejabat.

Orang yang senang dipimpin oleh Jokowi akan menerima keputusan keputusan politik dan kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi. Dia akan menerima Jokowi sampai kebijakan itu merugikannya atau kebijakan itu ditolaknya. Dia akan berbalik dan akan mulai melawan kebijakan pemerintah Jokowi.