Home » cerita » Materi SUCPDI

Category Archives: Materi SUCPDI

Ini Covid, Coffeed, Kopit, atau Hoaks?

Ada cerita teman yang terkena stroke ringan dia diduga oleh dokter terkena covid. Karena itu dia diisolasi selama 4 hari. Ternyata pada hari pertama dia negatif, hari kedua dia negatif, hari ketiga dia negatif. Akhirnya di hari ke-4 ketika dia dinyatakan negatif, dia disuruh pulang. Untuk biaya dugaan covid itu ia harus membayar kurang lebih 24 juta sebagai biaya perawatan. Rumah sakit mengatakan bahwa dia boleh gratis asal mau menandatangani pernyataan bahwa dia mendapatkan perawatan covid. Dokter dengan kehati-hatiannya seperti begitu mudahnya seolah-olah pasien diduga coffid. Diberi tes rapid, diberi tes swab, diberi tes ini dan itu. Tentu saja pasien tidak berdaya, tidak bisa berargumen, dan pasrah dengan analisis dokter. Meski pasien tahu bahwa analisis dokter bisa salah, pasien tak bisa beradu argumen dengan dokter. Pasien berharap bahwa dokter tidak bermain-main dengan kesehatannya hanya demi mengejar setoran penanganan coffid. Pasien tidak berharap jadi kelinci percobaan dan rumah sakit mengumpulkan hipotesis dari dia dengam tindakan yang tidak diketahui pasien. Hanya dokter, menteri dan institusi kedokteran yang bisa berbicara tentang masalah ini, misalnya Ibu Siti Fadilah Supari atau Bapak Terawan. Saya tidak.

Ada lagi kasus lain orang tua yang berpindah dari suatu kota metropolotan ternyata ketika dia sakit dan masuk rumah sakit, dia serta merta divonis juga coffeed lalu meninggal dan mendapat penanganan covit. Tentu saja kasus coffeed akan meledak lalu karena ada kasus meninggal dan sebelumnya diduga kovit. Akhirnya keluarganya diisolasi. Insitusi tempat kerja keluarganya juga diisolasi, ditutup, dan disemprot disinfektan dan mendapat bagian dari proyek pemerintah terkait covid. Pemerintah Indonesia menggelontorkan dana begitu banyak untuk penanganan covid. Oleh jajaran pemerintah bawahannya anggaran itu jangan sampai dihambur-hamburkan, dibagikan di antara orang-orang, dipekerjakan, dibelanjakan, bahkan untuk kasus dugaan semata, dengan dalih kehati-hatian.

Mungkin ini mirip dengan kasus Israel yang atas dasar dugaan dan narasumber yang tidak jelas dia bisa menyerang orang-orang Palestina. Berdasarkan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya dia juga memberikan dugaan-dugaan itu memberikan simpulan-simpulan, memberikan berita-berita dugaan.

Bahkan kasus seperti itu juga terjadi ketika Tempo mengangkat suatu berita yang diulas oleh Doktor Ade Armando, dosen Universitas Indonesia, di saluran youtube Cokro TV-nya. Ade Armando mempertanyakan kredibilitas Tempo ketika mengangkat berita berdasarkan dugaan dan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya. Sumber: https://youtu.be/BDeLfFtOFwo

Sesndainya benar, ini jelas berita yang tidak kredibel terkait dengan coffeed. Karena ada kasus meninggal diduga kopid. Orang-orang jadi panik dan saling mengisolasi diri bahkan berhenti dari pekerjaannya. Sekolah tutup dan kantor pemerintah pelayanan publik tutup menyebabkan konsumennya hilang. Jika orang tahu bahwa tetangganya di rumah sakit ditangani covid, dia sama sekali tidak akan mau untuk berhubungan dengannya. Dia akan menjaga jarak dengan tetangganya, bahkan tidak mau menyapa.

Mungkinkah ini yang menyebabkan angka statistik pasien coffeed dan kasus meninggal karena kopid meningkat tajam di Indonesia. Orang yang tidak sakit coffee kirimkan ke pelayanan kopit atau didiagnosis sebagai pasien coffid.

Memang dunia ini sangat aneh. Ketika negara lain melakukan lockdown, sebagian orang mendorong pemerintah Indonesia untuk lockdown. Padahal lockdown beresiko sangat besar. Pemerintah harus membiayai semua anggota masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan makan dan belanja sehari-hari. Dengan adanya PSBB juga pemerintah memberikan subsidi ke semua sektor yang dibutuhkan. Bahkan masyarakat yang tidak mampu pun diberi bantuan uang secara langsung.

Kini gara-gara Indonesia menolak menjatuhkan sanksi kepada Iran, ada berita bahwa sejunlah negara menolak kunjungan dari Indonesia. Ini jelas cuma menakut-nakuti karena memang penerbangan ke berbagai negara dari banyak negara memang ditutup.

Indonesia menunjukkan ketidaktakutannya dengan membuang penggunaan dolar untuk berbisnis dengan berbagai negara, misalnya Cina, Iran, Rusia, Venezuela, Eropa. Ini akan membuat inflasi pada mata uang AS dan penguatan pada mata uang negeri lain termasuk Indonesia. Indonesia tidak terlalu butuh dolar. Kita bertransaksi dengan rupiah yang harga kursnya hampir sama dengan Iran.

Orang boleh berbeda pendapat atau opini. Orang boleh berbeda orirntasi politik. Orang boleh berbeda mazhab atau berpindah mazhab. Yang tidak boleh adalah hoaks. Tidak boleh hoaks. Termasuk tentang covid.

Agama mengajari manusia tentang perundungan?

Fenomena cyberbullying (istilah pada video berikut) terjadi pada Anies dan Jokowi.

Tidak hanya itu, cyberbullying juga terjadi di antara para pengikutnya, bahkan sesama saudara (contohnya IKBKK).

Perundungan tidak hanya terjadi di kelas, bahkan di pekerjaan, dan di lingkungan.

Bagaimanakah manusia menyambut masa depan?

https://youtu.be/2Ga_QQdyv6M

Agama mengajari manusia tentang perundungan?

Ketika para nabi menyampaikan sesuatu dengan lembut, mereka dirundung. Ketika Anies atau Jokowi mengatakan sesuatu dengan lembut, mereka dirundung (di-bully). Bahkan ada yang mengancam bunuh atas nama agama.

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan solusi critical thinking pada objek fakta atau opini. Memang sejak SD, pelajaran tentang fakta dan opini sudah diajarkan. Namun sebagian orang terpengaruh pada perundungan itu, lalu malah terdistorsi orientasi baiknya. Manusia jadi buruk gara-gara dirundung, dimaki, dihina. Padahal rundungan itu jika tidak dilawan akan kembali kepada si perundungnya. Menteri Nasiem juga mengalami perundungan bahkan di Amerika dan Indonesia. Seorang ysng sadar dengan perundungan tidak perlu marah atau kecewa dengan tingkah manusia yang dianggapnya merugikan orang lain (?).

Nabi Isa as pernah berjalan melewati sekelompok orang. Lalu orang-orang itu merundung, memaki beliau as dengan kata-kata yang kotor. Nabi Isa as malah mengucapkan kata-kata baik kepada mereka dan mendoakan mereka. Sahabat beliau as bertanya, mengapa beluau as membalas mereka dengan kata-kata baik dan lembut? Nabi Isa as memgatakan bahwa manusia mengeluatkan apa yang ada di dalam jiwanya. Jika jiwanya kotor maka kotoranlah yang keluar darinya (dari mulut, pena, atau papan tiknya).

Mungkin saja ada orang-orang yang berani mati membela Anies atau Jokowi. Raja Angga Karna juga berani mati demi Pangeran Duryudana atau menerima kekalahan dari Arjuna. Bahkan meski tahu bahwa Duryudana adalah pihak yang salah dan memerang Arjuna berarti memerang kebenaran serta memerang adiknya sendiri.

Krisna pernah mengemukakan masalah ini kepada Karna. Apakah Karna begitu berutang kepada Duryudana sehingga meskipun Duryudana bersalah, Karna tetap membelanya? Apakah bila Duryudana menyeret Karna ke neraka, Karna akan menurutinya? Karna memilih mengikuti Duryudana, mengikuti kehendak Duryudana memerangi Pandawa. Problem ini juga bukan hanya Karna. Yang terseret Duryudana ke neraka juga Bisma, Dorna, Aswatama, Kripa, para raja dan satria sekutunya serta pasukan pendukungnya.

Salah satu misteri dari Baratayuda adalah Krisna menyerahkan pasukan Narayaninya menjadi pasukan pendukung Duryudana. Namun tak mungkin seorang yang maksum melakukan kesalahan semacsm itu. Mungkinkah pasukan Narayani diganti dengan pasukan lain? Mungkinkah pasukan Narayani sebelum pertempuran beralih pihak menjadi pendukung Pandawa yang Krisna ada di dalamnya.

Sajak Di Jalan Raya

Setiap kali aku berada di jalan, melihat padatnya lalu lintas, tak ada orang yang mau mengalah. “Hai, Itsar adalah nama tengahku.” Aku mendengar seseorang berkata, “Kalian adalah sekelompok keong sutra (mungkin keong emas) yang tak mau mengalah kepada scorpion!”

Bahasa Isyarat

Inilah kelemahan seorang manusia yang tidak paham bahasa isyarat. Bila diberi isyarat untuk disuruh, orang seperti ini malas, cenderung tak mau melakukan. Bila orang ini diberi isyarat untuk harus membayar, menraktir; maka isyarat itu tidak akan dipenuhi atau dipatuhinya.

Sejumlah Contoh Bahasa sebagai Isyarat
Berikut ini contoh peristiwa bahasa sebagai isyarat
Peristiwa 1
Pada saat acara yasinan bada isya, 29 September 2016, orang-orang masjid berdatangan ke rumah duka untuk tahlilan dan membaca surat yasin. Orang-orang duduk, suasana agak ramai. Seorang kerabat yang ada di samping sohibul bait (pemilik rumah) tidak memegang buku surat yasin. Beliau pun berkata kepadanya, “Apakah engkau menyimpan buku yasin?” Pertanyaan sederhana ini sebenarnya adalah menyuruh orang ini untuk mengambilkan buku yasin, bukan menanyakan keberadaannya. Kalimat perintah yang lugasnya adalah, “Tolong ambilkan buku yasin!” Namun ia tidak mengerti bahasa isyarat ini dan tidka pernah belajar bahasa isyarat ini sepanjang hidupnya untuk memahaminya. Dunia ternyata tidak selugas FPI atau tidak sekeras Wahabi. Dunia ini lembut dan penuh dengan isyarat. Manusia harus memahami bahasa isyarat ini sepanjang hidupnya.
Saat itu dia menjawab, “Tidak. Saya tidak menyimpan buku yasin. Saya tidak tahu di rumah ini ada buku yasin.” Sebuah jawaban bodoh bagi orang terdidik seperti kebanyakan orang. Dia bisa saja memahami bahasa isyarat ilmu pengetahuan, namun tidak memahami isyarat sederhana suatu kalimat perintah seperti itu. Banyak variasi perintah yang bisa diberikan, misalnya, “Apakah ada buku yasin di sini?” “Apakah ada buku yasin di rumah ini?” Mungkin setelah pertanyaan ini diulang-ulang otaknya yang kecil ini baru memahami bahwa kalimat seperti ini adalah perintah. Bila kalimatnya, ambilkan buku yasin, mungkin dia akan paham, langsung akan mencari, dan mengambilkan buku yasin ini untuk tamunya (kerabatnya).

Taklid dan Ijtihad

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

Bolehkah bertaklid itu?
Pendapat pertama mengatakan bahwa seorang muslim boleh bertaklid.
Pendapat kedua mengatakan bahwa seorang muslim haram bertaklid.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa seorang muslim dengan kondisi tertentu wajib bertaklid.
Sumber hukum suatu fatwa itu Quran dan hadis. Maka memerlukan ilmu bagi seseorang untuk menafsirkannya. Ini gaya kalimat bahasa Arab. Kalimat bahasa Indonesianya, seseorang memerlukan ilmu untuk menafsirkannya.
Hanya para nabi yang maksum yang dapat menakwilkan Quran/hadis tanpa salah.

Istilah-Istilah
Fatwa: putusan ringkas dari suatu masalah hukum
Bertaklid/berittiba: tindakan mengikuti suatu fatwa.
Berfatwa: tindakan bagi seseorang yang mempunyai otoritas untuk mengeluarkan suatu fatwa, (lih: berijtihad)
Mujtahid: orang yang bisa berijtihad atau mengeluarkan fatwa
Mufti: orang yang mengeluarkan fatwa
Muqollid/muttabi: orang yang mengikuti fatwa
Menurut seorang ustaz NU, berittiba adalah mengikuti metode (cara) berijtihad, sedangkan bertaklid adalah mengikuti fatwa.

Contoh Bertaklid
Seseorang mengikuti suatu fatwa, misalnya fatwa MUI, fatwa ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang fatwa atau sembarang ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang dokter atau guru melainkan yang telah dikenal reputasinya.
Seseorang yang ingin membangun gedung akan menyewa jasa arsitek.
Seseorang yang ingin membuat perabotan menyewa jasa tukang kayu.

Haruskah Seorang Awam Berijtihad?
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seorang awam untuk berijtihad.
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seseorang untuk bertaklid.
Jika kita disuruh berijtihad, kita akan berijtihad, hasilnya tergantung ikhtiar kita.
Sodorkan nas Quran dan hadis, kita akan berijtihad dari sumber itu.
Jika kita tidak percaya dokter, kita akan menyembuhkan diri kita sendiri.

Kekacauan karena Tak Tahu Kedudukannya dan Kedudukan Fatwa
Masyarakat mengikuti sembarang fatwa yang tak jelas sumbernya, yang penting sesuai dengan perasaan muqolid.
Negeri ini penuh dengan fatwa yang tidak jelas sumbernya.
Orang-orang yang tidak punya otoritas seenaknya mengeluarkan fatwa (tafsir Quran, hadis) alih-alih mengutip.
Negara ini mempunyai MK untuk menanyakan tafsir hukum, sayangnya untuk agama, negara tidak merekomendasikan MK-Agama.
Bila negara mengikuti suatu fatwa misalnya tentang tanggal 1 Syawal, masyarakat bisa mengikuti fatwa resmi negara.

Siapa Saja yang Bisa Berfatwa
MUI?
Orang yang mau dan mampu belajar
Mujtahid yang sudah diakui ilmunya oleh mujtahid lain.
Seperti sarjana diakui oleh sarjana lain.
Tradisi: seorang mujtahid mewasiatkan orang-orang untuk mengikuti mujtahid berikutnya.
Seseorang yang tidak mampu berijtihad hanya boleh mengikuti atau mengutip fatwa yang ada.
Tidak boleh ada pemaksaan kepada orang lain.

Fatwa Mazhab
Syafii
Hambali
Hanafi
Maliki
Syiah Itsna Asyari

Boleh berpindah dalam mazhab-mazhab Islam

Kemutlakan Fatwa
Meski seseorang mengikuti fatwa, fatwa bisa saja salah
Ulama tidak dijamin maksum
Banyak fatwa yang berbeda, contohnya tentang MLM, FB, tahlil, qunut, niat, wudu, tawasul, ziarah
Analogi kita berikhtiar kepada dokter, dokter juga bisa salah diagnosis, bahkan malpraktik
Fatwa tidak bisa dikeluarkan oleh ulama wanita. Wanita mujtahid hanya bisa berfatwa untuk dirinya sendiri. Tidak ada nabi wanita meski ada wanita maksum.

Universitas Ini Mengeluarkan Mufti?
Mungkin saja universitas ini mengeluarkan mujtahid atau mufti.

Mufti harus bijak dalam arti memahami perbedaan fatwa.
Mufti juga harus melihat fatwa yang berbeda dengannya dan mempertimbangkan kebenarannya.
Universitas ini mengeluarkan orang-orang yang paham akan kedudukan fatwa.
Universitas ini juga mengampanyekan kesadaran orang-orang pada kedudukan fatwa.

Demikian paparan saya. Terima kasih.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Pertanyaan
Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, ternyata saya sendiri aneh dalam masalah taklid. Saya merasa NU atau cenderung NU. Ternyata banyak orang Indonesia lainnya yang menurut saya aneh (bermasalah?) dalam masalah taklid dan ijtihad. Ini saya rasakan sendiri. Diri ini sangat kacau sejak kecil. Bila ada orang yang meninggal, saya akan ikut tahlilan seperti tradisi NU. Namun ketika saya salat tarawih di UPI, saya ikut salat 11 rakaat. Sebagaimana NU, saya juga percaya Imam Mahdi maksum. Sekarang saya percaya 12 khilafah ala Syiah. Bagaimana ini? Bagaimana orang-orang seperti saya ini, Ustaz?”

Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, tetela abdi mah rada aneh dina taklid teh. Ti bubudak geus pabaliut. Aya anu maot ngiring tahlilan. Tapi persis salat taraweh, ngiring anu 11 rakaat. Siga NU, kuring oge percaya Imam Mahdi maksum. Ayeuna kuring percaya ka 12 khilafah. Kumaha atuh, Ustaz?”