Ali bin Abi Thalib pada Perang Khaibar

Perang Khaibar terjadi saat Rasulullah saw menyerang pemberontak Yahudi di Khaibar. Pemberontak ini membuat makar, memanipulasi berita, dan memprovokasi warga. Rasulullah saw berupaya meredam pemberontak ini. Namun perang tak terelakkan. Perang yang dilakukan Rasulullah saw bukan perang untuk menyebarkan agama melainkan perang untuk melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin dari makar para pemberontak.
Pemberontak bersembunyi di Benteng Khaibar. Pasukan Rasulullah saw mengepung Benteng Khaibar untuk mencari celah masuk dan kelemahannya. Pasukan Rasulullah saw berupaya membongkar Benteng Khaibar ini dan memerintahkan sahabat untuk membongkar Benteng Khaibar ini. Namun upaya ini tak kunjung berhasil. Pemberontak dapat tetap berlindung di dalam benteng untuk waktu yang lama. Rasulullah saw lalu bersabda, “Besok aku akan serahkan bendera pasukan ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, juga dicintai Allah dan Rasul-Nya.”
Esok harinya Rasulullah saw dan sahabat nya berkumpul. Para sahabat yang berkumpul mengunjukkan diri ingin menarik perhatian Rasulullah saw agar terpilih memegang bendera Rasulullah. Rasulullah saw bertanya, “Mana Ali bi Abi Thalib?”
Sahabat menjawab bahwa Ali bin Abi Thalib sedang sakit mata. Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk memanggil Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib datang Rasulullah saw mengusapkan air liurnya ke mata Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata bahwa sejak saat itu matanya tak pernah sakit lagi. Rasulullah saw lalu menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib dan mendoakan kemenangan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib lalu mendekati benteng. Pintu Benteng Khaibar yang tebal tak bisa dirusak meski para  sahabat berupaya dengan berbagai cara. Ali bin Abi Thalib dengan tangan kirinya lalu membongkar pintu Benteng Khaibar dan melemparnya ke tempat yang jauh. Pemberontak yang ada di dalam benteng pun akhirnya menyerah.
Akhirnya makar yang menghantui kaum muslimin dapat ditumpas.

Drama Anak-anak TAHUN GAJAH

TAHUN GAJAH

Drama Iswara

Tokoh

Raja Abrahah

Menteri

Rakyat Etiopia

Rakyat Peziarah

Dayang-dayang

Tentara Bergajah

Gajah-gajah

Abdul Muthalib

Orang 1

Orang 2

Orang 3

Masyarakat Mekah

Burung-burung ababil

BABAK I

ADEGAN ORANG-ORANG BERZIARAH KE MEKAH. TAWAF. ORANG-ORANG BERDOA DENGAN DOA ARAFAH. ADA PULA ORANG YANG BERDOA DENGAN DOA JAUSYAN KABIR, DOA ZIARAH, DOA KUMAYL.

BABAK II

ADEGAN DI ETIOPIA. RAJA ABRAHAH DUDUK DI SINGGASANANYA. RAJA ABRAHAH MENGENAKAN PAKAIAN YANG GEMERLAPAN. DIHADAPANNYA ADA PENANGGUNG JAWAB PEMERINTAHAN DAN PENASEHAT-PENASEHATNYA. PAKAIAN-PAKAIAN MEREKA YANG GEMERLAPAN MENUNJUKKAN KESEJAHTERAAN MEREKA. RAJA ABRAHAH HERAN DENGAN KEGIATAN ORANG-ORANG YANG SENANG BERZIARAH KE MEKAH.

ABRAHAH: Di Mekah, aku melihat banyak orang-orang yang berziarah ke Ka’bah di Mekah. Mekah adalah negeri yang selalu dikunjungi oleh para peziarah. Orang-orang setiap tahun selalu berziarah ke Mekah. Para peziarah ini melakukan ibadah haji, umrah, atau melakukan ibadah lainnya. Hai para penanggung jawab pemerintahan, katakanlah kepadaku, apakah aku merupakan penguasa yang tidak beragama?

MENTERI: Yang Mulia adalah penguasa yang beragama, Yang Mulia.

ABRAHAH: Apakah negeriku kurang kaya dan kurang indah dibandingkan dengan Mekah?

MENTERI: Negeri kita, Yang Mulia, tidak kalah indah dan tidak kalah kaya dibandingkan dengan negeri Mekah.

ABRAHAH: Kudengar banyak orang yang berziarah ke Mekah. Benarkah kejadiannya seperti itu?

MENTERI: Peristiwa itu memang benar, Yang Mulia.

ABRAHAH: Mengapa banyak orang berziarah ke Mekah?

MENTERI: Sebab di sana ada tempat ibadah, Yang Mulia.

ABRAHAH: Bukankah di sini, di negeriku ini, di negeriku yang indah dan subur dan kaya ini juga ada tempat ibadah?

MENTERI: Ada tuan, di negeri kita juga ada tempat ibadah. Tetapi rupanya tempat ibadah kita tidak lebih menarik daripada tempat ibadah di Mekah, Yang Mulia.

ABRAHAH: Kalau begitu kita harus membangun tempat ibadah yang indah. Para pejabat pemerintahan sekarang aku perintahkan untuk membuat sebuah tempat ibadah yang megah di tengah kota. Bangunlah tempat ibadah itu di tengah kota agar menarik perhatian semua penduduk dan pendatang. Selesai tempat itu dibangun, hiasi pula tempat ibadah itu dengan emas dan permata. Bagaimana menurut kalian?

MENTERI: Saya kira itu gagasan yang brilian, Yang Mulia.

ABRAHAH: Kalian setuju, aku membangun sebuah tempat ibadah yang dihiasi emas dan permata? Setujukah kalian, aku membangun sebuah tempat ibadah yang dihiasi emas dan permata?

SEMUA MENTERI DAN PANGLIMA: Setuju, Yang Mulia.

RAJA ABRAHAH BERTOLAK PINGGANG.

BABAK III

ADEGAN RAKYAT ETIOPIA MEMBANGUN GEREJA. RAKYAT MENGAGUMI EMAS YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBANGUN RUMAH IBADAH. ADA YANG DICAMBUK OLEH MANDOR PEKERJA. ADA YANG MENCURI DAN MENGKORUP EMAS DAN PERMATA ITU.

RUMAH IBADAH SELESAI DIBANGUN. RAJA ABRAHAH MENDATANGI RUMAH IBADAH ITU.

ABRAHAH: Lihatlah rumah ibadah milikku. Begitu megah dan indah. Aku berharap orang-orang tidak lagi berziarah ke Mekah. Aku yakin, orang-orang akan beralih berziarah ke tempat ibadahku ini (TERTAWA).

(KEPADA MENTERI) Lihatlah, tidakkah indah menurutmu? (MENTERI MENGANGGUK-ANGGUK DAN KAGUM) Mari kita duduk di teras istana.

RAJA ABRAHAH DUDUK DI SINGGASANA DI TERAS ISTANA DAN MEMPERHATIKAN ORANG-ORANG YANG BERZIARAH KE TEMPAT IBADAHNYA. RAJA ABRAHAH DIKIPASI OLEH DAYANG.

BABAK IV

ADEGAN RAJA ABRAHAH MARAH KARENA RUMAH IBADAHNYA TIDAK DIZIARAHI.

RAJA ABRAHAH DIKIPASI OLEH DAYANG. RAJA ABRAHAH BANGKIT DARI SINGGASANANYA DENGAN MATA MENYALA MEMANDANG KEPADA TEMPAT IBADAH YANG DIBANGUNNYA.

DI SETING LAIN, TEMPAT IBADAH YANG DIBANGUN MEGAH DILEWATI OLEH PEZIARAH. PEZIARAH BERHENTI SEJENAK, BERIBADAH DI TEMPAT ITU SEBENTAR LALU PERGI. TIDAK ADA KESAN YANG MENDALAM PADA PARA PEZIARAH. RAJA ABRAHAH BANGKIT AMARAHNYA.

ABRAHAH: Menteri, apakah tidak salah mataku melihat. Coba kau lihat tempat ibadahku itu. Apa pendapatmu?

MENTERI: Tuanku, aku melihat orang-orang keluar masuk untuk beribadah di dalam bangunan yang Tuan dirikan.

ABRAHAH: Jiwa mereka Menteri, apakah engkau melihat jiwa mereka? Mereka hanya singgah sebentar, tanpa ada ritual yang mendalam.

MENTERI: Itu benar, Tuanku, karena memang tempat ibadah ini masih mempunyai saingan berat, yaitu rumah ibadah Kabah di Mekah.

ABRAHAH: Kau benar, Menteri. Rumah ibadah kita mempunyai sangan berat yaitu rumah ibadah Kabah di Mekah. Selama Kabah masih ada, kita tidak bisa berharap rumah ibadah kita akan diziarahi sebagaimana Kabah.

MENTERI: Tuanku lebih tahu apa yang mesti kita lakukan.

ABRAHAH: Kita harus menghancurkan Kabah. Demi tuhan kita yang maha perkasa. Aku berharap tuhan kita akan merasa senang karena kita menghancurkan Kabah demi kemakmuran rumah ibadah kita.

MENTERI: Kita mesti menyiapkan pasukan yang kuat tuan, pasukan terkuat.

ABRAHAH: Itu pasti. Kita mesti menggunakan pasukan gajah. Gajah-gajah di negeri kita merupakan gajah terbesar dan terkuat. Panggil semua gajah dan pawang gajah. Latih setiap gajah untuk berperang. Beri gajah-gajah itu jamu dan makanan terbaik. Kita akan menginjak-injak dan melumatkan Kabah.

BABAK V

ADEGAN PERJALANAN TENTARA GAJAH. MULA-MULA GAJAH-GAJAH DISIAPKAN DAN DIBERI MAKAN. KEMUDIAN GAJAH-GAJAH BERANGKAT. TONGKAT PEMUKUL KEPALA GAJAH BERDENTINGAN. GAJAH-GAJAH BERBARIS MENIMBULKAN KEKAGUMAN DAN KENGERIAN BAGI ORANG YANG MELIHATNYA.

ADEGAN GAJAH-GAJAH MENJEJAKKAN KAKINYA DALAM PERJALANAN KE MEKAH. SEPERTI ROBOT-ROBOT RAKSASA YANG HENDAK PERGI BERPERANG. JEJAKAN KAKINYA MENGGETARKAN DADA. PASUKAN GAJAH BERJALAN BERIRINGAN MENUJU MEKAH.

ADEGAN ORANG-ORANG MEKAH MELIHAT TENTARA GAJAH. DARI KEJAUHAN MEREKA MELIHAT TENTARA GAJAH.

ORANG 1: Apakah kau dapat melihat kepulan debu padang pasir di sana?

ORANG 2: Ya aku melihat kepulan debu yang sangat tebal. Ini adalah tentara Raja Abrahah yang diberitakan  orang-orang akan menghancurkan Kabah. Mereka akan menghancurkan Kabah karena menginginkan tempat ibadahnya menjadi pusat ibadah orang-orang di dunia.

ORANG 3: Jika mereka hendak menghancurkan Kabah, kita harus mempertahankanya. Demi Agama Ibrahim yang lurus. Demi Nabi akhir zaman yang akan lahir. Kita tidak akan takut menghadapi tentara zalim yang akan menghancurkan Kabah serta memporak-prandakan harta benda kita.

ORANG 1: Kita memang sepatutnya melawan. Tetapi jumlah kita jauh lebih sedikit dibanding tentara Raja Abrahah. Apakah tentara berkuda atau kavaleri kita dan tentara infanteri kita atau tentara pejalan kaki kita dapat menahan laju tentara gajah? Lebih baik kita membicarakan hal ini kepada pemimpin kita Abdul Muthalib, si penjaga Kabah.

ORANG 2: Itu usul yang sangat bagus. Kita harus menemui dan meminta pendapat pemimpin kita, Abdul Muthalib, pemimpin kita dan penjaga Kabah.

ORANG-ORANG BERLALU MENEMUI ABDUL MUTHALIB.

BABAK VI

ADEGAN ORANG-ORANG MEKAH KETAKUTAN DAN MENEMUI ABDUL MUTHALIB. ORANG-ORANG BERKUMPUL DI SEKITAR ABDUL MUTHALIB.

ORANG 1: Wahai, Abdul Muthalib, Raja Abrahah dengan tentara gajahnya hendak datang ke Mekah dan akan menghancurkan Kabah. Apa yang akan engkau lakukan?

ORANG 2: Wahai, Abdul Muthalib, Raja Abrahah dengan tentara gajahnya hendak datang ke Mekah dan akan menghancurkan Kabah. Apa yang akan engkau lakukan?

ORANG 3: Wahai, Abdul Muthalib, Raja Abrahah dengan tentara gajahnya hendak datang ke Mekah dan akan menghancurkan Kabah. Apa yang akan engkau lakukan? (MENGACUNGKAN PEDANG) Jika engkau perintahkan kami untuk maju dan mengangkat pedang untuk melawan mereka, niscaya kami akan melakukannya. Kami tidak akan pernah takut berperang melawan tentara gajah. (ORANG-ORANG MENYAMBUT DAN MENGIYAKAN).

ABDUL MUTHALIB: Kalian mengetahui bahwa aku adalah orang terpercaya untuk menjaga Kabah. Nenek moyangku Bani Hasyim adalah manusia terbaik dan keturunan dari Nabi Allah Ibrahim as. yang menjaga agama yang lurus. Di sampingku pun berdiri Abu Thalib yang pemberani dan kelak akan menjadi penggantiku sebagai penjaga Kabah dan penjaga agama Ibrahim yang lurus.

Aku telah mengetahui maksud kedatangan kalian yaitu memberitahukan kepadaku bahwa Raja Abrahah telah datang ke sekitar Mekah dan akan menghancurkan Kabah. Raja Abrahah ini datang dengan tentara Gajah. Tentara terkuat yang pernah ada. Lalu kalian datang kepadaku dan bertanya, apa yang akan aku lakukan. Maka demi Allah aku akan menyampaikan kepada kalian apa yang akan aku lakukan demi Rasulullah yang diramalkan akan lahir. Demi putraku Abdullah, yaitu putraku yang bercahaya setelahku. Demi menantuku Aminah yang bercahaya setelah Abdullah. Demi Allah penjagaku dan penjaga rumah ibadah ini. Inilah jawabanku….

Wahai penduduk kabah, saksikanlah, aku adalah penjaga ternak-ternakku. Rumah ini ada pemeliharanya. Aku sarankan, demi Allah swt, tinggalkanlah lembah Mekah. Naiklah kalian ke bukit-bukit di sekitarnya. Berlindunglah kalian dari Raja Abrahah dan tentaranya. Mudah-mudahan Allah swt menurunkan pertolongannya kepada kita dan menyelamatkan Kabah dari kehancuran.

MASYARAKAT BERGUMAM DAN BERGEMURUH.

ORANG 1: (BERTERIAK) Abdul Muthalib, kami mengetahui bahwa engkau adalah orang yang pemberani. Mengapa engkau memutuskan untuk mengosongkan lembah Mekah dan membiarkan Raja Abrahah dan pasukan gajahnya akan menghancurkan Kabah? Mengapa kita tidak melawannya?

ORANG 2: Abdul Muthalib, kami mengetahui bahwa engkau adalah orang yang selalu berkata benar. Segala yang engkau sarankan kepada kami selama ini selalu yang terbaik bagi kami. Kami heran dengan keputusan engkau pada saat ini. Mengapa engkau akan membiarkan Raja Abrahah dan pasukan gajahnya akan menghancurkan Kabah? Mengapa kita tidak melawannya?

ORANG 3: Mengapa kita tidak mengangkat senjata dan melawan Abrahah? Tetapi bila itu keputusan Anda, kami sebaiknya mengikuti keputusan Anda karena Anda adalah orang yang bijak dan terpercaya. Semoga Allah swt menolong kita.

ORANG 2: Mudah-mudahan Nabi akhir zaman yang akan lahir menolong kita.

BABAK VII

ADEGAN MASYARAKAT MEKAH PERGI KE BUKIT-BUKIT. ABDUL MUTHALIB MENGGIRING TERNAKNYA KE ATAS BUKIT. PEREMPUAN PUN TURUT MENGUNGSI.

BABAK VIII

ADEGAN PASUKAN GAJAH MASUK KE MEKAH. PERJALANAN MEREKA BERGELOMBANG-GELOMBANG. TOMBAK-TOMBAK MENJULANG KE LANGIT.

RAJA ABRAHAH PALING DEPAN DIKELILINGI PANGLIMA-PANGLIMANYA. MEREKA BERSIAP MENGATUR STRATEGI PERANG. RAJA ABRAHAH HERAN KARENA MEKAH SEPI DAN TIDAK ADA TANDA-TANDA PERLAWANAN.

ABRAHAH: Ke mana orang-orang Mekah? Apakah mereka telah meninggalkan agamanya sehingga mereka sama sekali tidak berani melawan kita, orang-orang yang akan menghancurkan Kabahnya? Apakah tidak ada sama sekali orang-orang pemberani di Mekah? Beginikah agama yang dianut orang-orang Mekah, pengecut dan tak berani melawan penjarah?

PANGLIMA 1: Agaknya mereka tidak memiliki angkatan perang sehebat kita, Yang Mulia. Dengan begitu mereka merasa tidak akan menang melawan kita.

ABRAHAH: (TERTAWA) Kita mesti memastikan bahwa agama Ibrahim tidak tumbuh di sini. Ini adalah bukti bahwa agama Ibrahim tak akan tumbuh di sini karena tak seorang pun yang membela peninggalannya. Mana mungkin agama Ibrahim akan tumbuh di tengah-tengah orang yang tidak membelanya. Kabah sebagai peninggalan Ibrahim kini akan hancur. Kiblat agama … kiblat seluruh agama akan segera beralih ke negeri kita.

DATANG SEORANG PRAJURIT BERBISIK PADA PANGLIMA 2.

PANGLIMA 2: Seluruh mata-mata melaporkan bahwa seluruh penduduk telah mengosongkan kota Mekah. Bahkan pemimpin mereka Abdul Muthalib pun telah pergi ke bukit-bukit bersama ternak-ternaknya.

ABRAHAH: Abdul Muthalib, nabi, pemimpin mereka yang pemberani sekalipun telah menunjukkan keengganannya melawan kita. Ke manakah putra-putra Abdul Muthalib yang pemberani? Ke manakah keturunan Bani Hasyim yang terhormat dan pemberani? Jika Abdul Muthalib melakukan ini, berarti ia telah menjatuhkan dirinya dan leluhurnya yaitu Bani Hasyim dari kedudukannya yang pemberani dan mulia.

Ini bukti bahwa tuhan kita meridai kita. Ini bukti bahwa tuhan telah meninggalkan mereka dan meridai kita. Setelah itu kita akan menjadi penguasa dunia dan penguasa kerajaan tuhan di dunia.

PANGLIMA 1: Kami menunggu komando paduka untuk menyerang dan menghancurkan Kabah.

ABRAHAH: Kalian tunggu komandoku. Kita akan menunggu beberapa saat hingga yakin bahwa tidak ada perlawanan sama sekali dari penduduk Mekah. Jika nanti saatnya aku memberi komando, hancurkan Kabah! Rumah-rumah yang telah ditinggalkan penduduknya juga hancurkan! Segala harta benda, baik ternak atau benda mati yang telah mereka tinggalkan rampas! Kita harus meratakan Mekah sehingga tidak ada kemungkinan lagi kehidupan masyarakat di Mekah dan mereka tidak bisa lagi membangun Kabah.

MENUNGGU. MUSIK BERDENTUM-DENTUM BAGAIKAN DEGUPAN JANTUNG. PADA SUATU KETIKA RAJA ABRAHAH MENURUNKAN TANGANNYA MEMBERI KOMANDO AGAR MENYERANG KABAH. PASUKAN SEGERA BERGEMURUH MENYERANG KABAH.

ADEGAN BURUNG ABABIL TERBANG DI SEPUTAR TENTARA ABRAHAH. RAJA ABRAHAH DAN PRAJURITNYA MEMANDANG KE ATAS DAN MELIHAT LANGIT TELAH GELAP KARENA BURUNG-BURUNG ABABIL YANG MENUTUPI MATAHARI.

ABRAHAH: (MELIHAT KE ATAS, MENUDUNGI MATANYA) Mengapa cuaca tiba-tiba gelap? Oh, sekelompok burung tengah menurupi matahari.

PANGLIMA 1: Sekelompok burung tengah menurupi matahari.

PANGLIMA 2: (MULAI PANIK) Sekelompok burung tengah menurupi matahari.

PANGLIMA 1: Itu burung ababil yang legendaris. Itu burung penolong Tuhan Yang Maha Kuasa!

ADEGAN BURUNG ABABIL MENJATUHKAN KERIKIL SIJJIL. SIJJIL BESAR DAN KECIL MELUMATKAN KELOMPOK-KELOMPOK PASUKAN GAJAH.

SETELAH PASUKAN GAJAH YANG TERAKHIR JATUH DAN LUMAT, SUASANA BERANGSUR REDA.

ADEGAN KELAHIRAN NABI.

DI SATU SUDUT KECIL DARI MEKAH, TERLIHAT ADA CAHAYA. BUNYI BAYI YANG MAKSUM TERDENGAR. RAHMAT MELIPUTI SELURUH ALAM.

TAMAT

27 November 2009

Drama Anak-anak PENDETA BUHAIRA

PENDETA BUHAIRA

Drama Iswara

Tokoh

Pendeta Buhaira

Abu Thalib

Muhammad (wajahnya tertutup kain)

Pedagang Pekerja Kabilah Abu Thalib

SINOPSIS

Muhammad adalah seseorang yang dipelihara oleh Abu Thalib. Ayah Muhammad meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ibu Muhammad pun meninggal ketika Muhammad berumur empat tahun. Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib hingga umur sembilan tahun. Setelah kakeknya meninggal, Muhammad diasuh oleh Abu Thalib. Abu Thalib sangat mencintai Muhammad melebihi cintanya kepada anak-anaknya. Suatu hari Abu Thalib mengajak Muhammad untuk berdagang ke negeri Syam (Syiria). Karena cintanya kepada Muhammad, Abu Thalib hendak mengajak Muhammad untuk berdagang ke negeri syam. Muhammad setuju pada ajakan pamannya itu. Berangkatlah mereka menuju negeri Syam. Di tengah perjalanan mereka sampai ke sebuah tempat. Di tempat itu terdapat seorang pendeta yang bernama Pendeta Buhaira.

BABAK I

ADEGAN ABU THALIB MENYONGSONG TAHUN KEPERGIAN KE NEGERI SYAM UNTUK BERDAGANG. ABU THALIB HENDAK MENGAJAK MUHAMMAD.

ABU THALIB: Tahun ini kita akan berangkat ke Syam untuk berdagang. Tahun ini adalah tahun yang baik untuk kita pergi berdagang ke negeri Syam. Wahai, betapa bahagianya aku menyongsong tahun ini. Tahun ini pula, putraku, Muhammad telah beranjak remaja. Kesempurnaannya sebagai manusia makin nyata. Kepandaiannya begitu sempurna. Akhlaknya tak ada yang menyamainya. Rupanya begitu tampan. Aku ingin mengajak putraku ini pergi ke negeri Syam.

SEORANG KHADAM MASUK.

KHADAM: Assalamualaikum.

ABU THALIB: Waalaikum salam. Khadam, tolong panggilkan putraku Muhammad.

KHADAM: Baik, Tuan.

MUHAMMAD MUNCUL.

MUHAMMAD: Assalamualaikum, Paman.

ABU THALIB: Waalaikum salam, putraku Muhammad.

Putraku, saat ini adalah dimulainya masa berdagang di tahun ini. Tahun ini aku akan berdagang ke negeri syam. Aku tak akan berdagang tanpa restu darimu, Putraku. Setelah engkau tinggal bersamaku, setelah kakekmu Abdul Muthalib wafat, aku tak mampu pergi jauh darimu, putraku. Karena itu, putraku, katakanlah kepadaku, baikkah bila aku pergi berdagang ke negeri Syam tahun ini?

MUHAMMAD: Paman, mengapa engkau meminta pertimbanganku? Bukankah segala yang ada padaku seluruhnya ada di tanganmu? Paman, seluruh jiwa dan hidup Muhammad ada di tanganmu. Engkaulah pelindung dan pemelihara Muhammad setelah ayahmu, yaitu kakekku, Abdul Muthalib wafat. Engkau adalah ayah bagiku seperti Abdul Muthalib laksana ayah bagiku. Karena itu, aku tak pantas memberi pertimbangan kepadamu, Paman.

ABU THALIB: Janganlah berkata begitu, putraku. Hatimu yang lembut itu tentu mengetahui siapa diriku dan siapa dirimu. Engkau mengetahui bahwa aku adalah pemimpin umat ini setelah kakekmu, Abdul Muthalib, wafat. Namun aku adalah pecahan cahaya kakekmu agar aku dapat memeliharamu. Aku ditunjuk oleh Allah swt untuk memeliharamu sebagaimana kakekmu ditunjuk oleh Allah swt untuk memeliharamu. Dalam pandangan kami, engkau mempunyai kedudukan yang lebih mulia daripada kami untuk meluruskan dan melanjutkan risalah Ibrahim, yaitu agama Islam, agama yang diridai oleh Allah swt. Engkau akan menjadi salah satu ulil azmi yang dimuliakan Allah swt seperti nabi Ibrahim dan Isa as.

MUHAMMAD: (TERSENYUM) Jika engkau meminta pertimbangan kepadaku ihwal kepergianmu ke Syam, aku akan mengatakan bahwa kepergian ke negeri Syam adalah baik. Sekalipun engkau nanti akan mengurungkannya, kepergianmu ke negeri Syam adalah baik.

ABU THALIB: Aku bersyukur atas jawabanmu itu, putraku. Namun, engkau tentu tahu, tak mungkin aku pergi sementara aku harus meninggalkanmu jauh dari pengawasanku. Karena itu, bersediakah kau menemaniku, pergi berdagang ke negeri Syam.

MUHAMMAD: Aku merasa terhormat bila Paman mengajakku pergi berdagang ke negeri Syam. Aku akan belajar berdagang ke negeri Syam bila Paman mengajakku.

ABU THALIB: Jangan katakan kau akan belajar denganku, putraku Muhammad. Engkau adalah putraku yang tak lagi perlu aku ajari. Engkau adalah putraku yang tak lagi perlu belajar segala bahasa dan tata krama. Engkau adalah putraku yang paling pandai menggembala dan bercocok tanam. Engkau adalah putraku yang paling pandai membaca dan menulis. Karena itu engkau adalah putraku yang ummi yaitu weruh sadurung winarah. Engkau mengerti segalanya tanpa harus diajari. Engkau ummi seperti para nabi ummi lainnya. Engkau mengerti tanpa harus diajari.

MUHAMMAD: Paman, engkau jauh mengetahui aku daripada sahabat-sahabatmu mengetahui aku. Engkau seperti kakekku Abdul Muthalib yang lebih mengetahui aku daripada sahabat-sahabatnya mengetahui aku. Paman, engkau pun jauh mengetahui siapa sebenarnya dirimu daripada sahabat-sahabatmu. Hal itu seperti kakekku Abdul Muthalib yang lebih mengetahui dirinya daripada sahabat-sahabatnya.

ABU THALIB: Putraku, cintaku, bersiap-siaplah. Dalam beberapa hari ini kita akan pergi ke negeri Syam.

BABAK II

ADEGAN ABU THALIB MENYIAPKAN BARANG DAGANGAN DALAM KAFILAH. KAFILAH ABU THALIB BERANGKAT. BERIRINGAN. UNTA MENGANGKUT BARANG-BARANG DAGANGAN.

ADEGAN PENDETA BUHAIRA MENUDUNGI MATANYA DARI SILAU, MELIHAT KABILAH ABU THALIB YANG BERJALAN DI TENGAH TERIKNYA PADANG SAHARA.

PB: Aku melihat sebuah kabilah yang berjalan di tengah teriknya padang Sahara. Debu yang mengepul menunjukkan banyaknya jumlah orang yang ada dalam kabilah itu. Anehnya, kabilah ini selalu dinaungi awan.

PENDETA BUHAIRA EXIT.

ADEGAN KABILAH ABU THALIB SAMPAI DI TEMPAT TINGGAL PENDETA BUHAIRA.

PENDETA BUHAIRA MEMANGGIL SALAH SEORANG DARI KAFILAH ABU THALIB.

PB: (MELAMBAI) Ke marilah. (SESEORANG DI KAFILAH MENDEKAT KEPADA PB)

ORANG: Ada apa, Tuan?

PB: Kalian dari mana?

ORANG: Kami dari Mekah, Tuan.

PB: Siapa pemimpin kalian?

ORANG: Pemimpin kabilah kami adalah Abu Thalib, Tuan.

PB: Coba panggil ke mari.

ORANG TADI BERLALU. ABU THALIB DATANG BERSAMA MUHAMMAD. PB MEMPERHATIKAN MUHAMMAD DAN MERASA SENANG KEPADANYA.

PB: Salam bagimu, Abu Thalib, saudagar Mekah.

ABU THALIB: Salam juga bagimu, Tuan.

PB: Perkenalkan diriku. Namaku Buhaira. Aku adalah seorang pendeta di tempat ini. Orang-orang memanggilku Pendeta Buhaira. Aku ingin bertanya kepadamu ihwal beberapa hal.

AT: Perkenalkan diriku. Namaku Abu Thalib. Aku adalah putra Abdul Muthalib, penjaga Kabah. Aku melanjutkan tugas ayahku sebagai penjaga Kabah. Aku adalah seorang musafir yang akan berdagang ke negeri Syam. Mudah-mudahan Allah swt dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.

PB: Aku ingin bertanya kepadamu ihwal beberapa hal. Tetapi begitu saya melihat anak ini (MENUNJUK MUHAMMAD), aku jadi ingin tahu tentang anak ini. Tuan Abu Thalib, siapakah anak ini?

ABU THALIB: (MEMANDANG KEPADA MUHAMMAD DENGAN RASA CINTA DAN BANGGA) Dia adalah putraku, Tuan. Aku bangga mempunyai putra seperti dia. Dia adalah putraku yang paling aku cintai.

PB: (TERLIHAT KECEWA) Tidak mungkin. Tidak mungkin anak ini putramu. Anak ini pasti anak orang lain.

AT: (AKHIRNYA MENGAKUI) Memang benar, Tuan. Dia sebenarnya bukan putraku. Dia adalah putra saudaraku, Abdullah yang meninggal saat ia masih dalam kandungan. Ibunya pun, yaitu Aminah, meninggal ketika ia berumur empat tahun. Setelah ibunya meninggal ia dalam asuhan ayahku, kakek anak ini, yaitu Abdul Muthalib. Setelah ayahku, Abdul Muthalib, wafat; aku mendapatkan kehormatan untuk melindungi dan membesarkannya. Aku mencintai dia melebihi cintaku kepada putra-putraku sendiri.

PB: Aku mengetahui bahwa Abdul Muthalib merupakan penjaga Kabah. Dia juga penjaga agama Ibrahim yang lurus. Berbahagialah engkau karena engkau membesarkan anak ini. Pada saat ini aku wasiatkan kepadamu agar menjaga anak ini. Ikutilah segala yang diinginkan atau diperintahkan olehnya karena segala perintahnya menuju pada kebaikan. Aku bersaksi akan kebenaran putramu ini. Sesungguhnya aku adalah salah seorang yang mengikuti dia.

AT: Aku akan mengingat wasiatmu itu, Tuan. Tidak mungkin aku menolak keinginan atau perintah anak ini karena anak ini adalah petunjuk bagi manusia untuk mencapai Tuhannya. Aku pernah mendengar ayahku, Abdul Muthalib berkata bahwa anak ini kelak akan menjadi seorang nabi. Anak ini merupakan buah cintaku. Kakek anak ini telah mengetahui jauh sebelum anak ini lahir. Anak ini bagiku adalah segala-galanya di dunia dan akhirat. Aku akan menjadi pembelanya dan aku akan mengikutinya. Tak mungkin aku ingkar kepadanya. Mudah-mudahan putra-putraku pun kelak akan menjadi pengikutnya yang setia.

PB: Sesungguhnya aku sejak melihat kabilah kalian dari jauh, aku melihat sejumlah keanehan yaitu kabilah kalian selalu dinaungi oleh awan. Aku mengetahui dari kitab-kitabku yang terdahulu bahwa nabi akhir zaman akan dinaungi oleh awan. Para nabi merupakan makhluk yang dicintai oleh Allah swt sehingga segala yang diperintahkannya pasti tidak akan dikabulkan oleh Allah swt. Segala perintah para nabi pasti tidak bertentangan dengan perintah Allah swt. Lebih lanjut , para nabi kekasih Allah itu mampu memahami segala bahasa alam, dari kalangan, jin, manusia, tumbuhan bahkan benda-benda mati seperti awan.

AT: Demikianlah, Tuan. Selama perjalanan kami dengan anak ini kami selalu dihinggapi oleh sejumlah keajaiban. Sejujurnya, selama aku memelihara anak ini, aku tak pernah mendapatkan kesenangan dari Allah swt, keridaan Allah swt seperti yang aku dapatkan selama bersama anak ini. Aku tak pernah mendapatkan kesulitan selama aku bertugas sebagai pemeliharannya. Oleh karena itu aku tidak akan melepaskan anak ini dengan mengkhianatinya atau membuatnya berduka.

PB: Aku akan ceritakan lagi lebih lanjut, Tuan, bahwa nabi besar di akhir zaman telah ada tanda-tandanya dalam kitab-kitab kami. Di antara tanda-tandanya adalah ayahnya hamba tuhan, dan ibunya bernama damai.

AT: Ayah anak ini adalah Abdullah. Kata Abdullah, dalam bahasa kami, berarti hamba tuhan. Ibu anak ini bernama Aminah. Kata Aminah, dalam bahasa kami, berarti damai.

PB: Dia pun akan lahir dalam keadaan yatim seperti yang telah Tuan sampaikan tadi.

AT: Benar, Tuan.

PB: Dia pun akan mendapatkan perawatan dan pemeliharaan dari kakek dan pamannya.

AT: Kakeknya, Abu Thalib telah merawatnya. Kini aku, pamannya pun tengah merawatnya.

PB: Dia pun seorang dari kalangan pedangang yang pandai berkuda dan bermain pedang.

AT: Mudah-mudahan aku menjadi pedagang yang dirahmati Allah swt.

PB: Semoga kesejahteraan meliputimu, Tuan, bersama pemeliharaan Tuan terhadap anak ini.

AT: Insya Allah. Semoga Tuhan meridai.

PB: aku memiliki wasiat terakhir yang mesti engkau perhatikan, Tuan.

AT: Aku bersedia mendengarkan wasiatmu, Tuan.

PB: Aku berwasiat kepadamu agar menjaga anak ini dari musuh-musuh Allah. Akan ada orang-orang yang hendak memushi anak ini karena tidak mau mengikuti ketetapan Allah swt. Mereka ingkar karena kesombongan mereka. Karena itu, Tuan, aku berwasiat kepadamu agar menjaga anak ini dari pembuhunan yang akan dilakukan oleh musuh-musuhnya yaitu musuh-musuh Allah swt.

AT: Aku telah mendengarkan wasiatmu, Tuan. Aku berjanji di hadapan Allah swt, aku akan menjaga anak ini dari musuh-musuhnya, dari golongan jin maupun manusia.

PB: Aku telah terpuaskan berjumpa kalian dan berjumpa anak yang mulia ini. Aku beriman kepada sebagaimana kalian kepada anak ini. Kemudian, sudilah kiranya Tuan bermalam di tempatku yang buruk ini sebelum melanjutkan perjalanan Tuan ke negeri Syam.

AT: Aku merasa terhormat sekali dapat bertemu Tuan. Terima kasih atas segala kebaikan Tuan. Semoga Allah swt membalas segala kebaikan Tuan.

BABAK III

ADEGAN ABU THALIB MERENUNG DI MALAM HARI.

ABU THALIB: (SOLILOKUI) Putraku Muhammad ternyata telah mendapatkan pengikut dari orang-orang yang kuat dan berpengetahuan sebelum dia diangkat menjadi nabi dan rasul. Putraku Muhammad ternyata telah mendapatkan pengikut dari orang-orang yang berpengetahuan setelah aku dan ayahku meyakini akan jadinya anakku ini sebagai nabi.

Betapa aku merasa cemas kini karena Pendeta Buhaira mewasiatkan kepadaku agar aku menjaga putraku, Muhammad, dari ancaman pembunuh-pembunuhnya. Tentu aku akan menjaga  putraku, Muhammad, dari ancaman pembunuhan. Demi nyawaku dan demi nyawa ayah ibuku, aku akan menjaga  putraku, Muhammad, dari ancaman pembunuhan.

TANPA DIKETAHUI ABU THALIB, MUHAMMAD MENDEKATI ABU THALIB. MUHAMMAD REMAJA WAJAHNYA TERTUTUP KAIN.

MUHAMMAD: Paman, pelindungku yang kusayangi, sedang apakah, Paman? Adakah yang Paman risaukan?

AT: (PERLAHAN BERBALIK DAN MENYONGSONG SUARA YANG DIKENAL DAN DICINTAINYA) Putraku, Muhammad, engkau mengetahui ada sesuatu yang aku risaukan. Kemarilah, Putraku. (MUHAMMAD MENDEKAT) Hari ini kita telah bertemu dengan Pendeta Buhaira. Beliau telah menunjukkan sesuatu yang telah engkau ketahui dan telah engkau emban dalam kehidupanmu. Beliau mewasiatkan agar aku menjaga engkau dari ancaman-ancaman manusia yang hendak mencelakakan engkau.

M: Aku mengetahui berita itu. Pendeta Buhaira telah menyampaikannya kepadamu, Paman.

AT: Demikianlah, Putraku. Aku kini tengah mempertimbangkan pesan dan wasiatnya itu. Kini aku akan bertanya dan meminta pertimbangan kepadamu, Putraku. Aku mempertimbangkan agar aku tidak melanjutkan pergi ke negeri Syam tahun ini untuk berdagang. Hal itu disebabkan oleh upaya penjagaan dan pengawasan terhadap keselamatanmu, Putraku. Juga berkenaan dengan ucapan Pendeta Buhaira. Bagaimana pertimbanganmu, Putraku?

M: Aku akan mengikuti kehendakmu, Paman. Lakukanlah sekiranya engkau cenderung terhadapnya. Aku akan mengikutimu bila engkau memutuskan untuk pulang dan tidak jadi pergi berdagang ke negeri Syam.

AT: Putraku yang kukasihi, kita telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pergi berdagang ke negeri Syam tahun ini.

BABAK IV

ESOK HARINYA. ADEGAN ABU THALIB BERBICARA KEPADA KABILAHNYA.

AT: Wahai kabilahku, aku memutuskan untuk kembali ke mekah. Kalian adalah kabilahku dan aku telah mengambil keputusan kepada kalian. Aku memutuskan tidak akan melanjutkan berdagang ke negeri Syam tahun ini. Kepergianku kali ini adalah untuk bertemu dengan Pendeta Buhaira dan menyaksikan keimanannya kepada Allah swt dan nabi akhir zaman. Peristiwa itu pun bukanlah peristiwa yang remeh di mata Allah swt.

Maka barangsiapa di antara kalian ada yang hendak melanjutkan berdagang ke negeri syam, cobalah untuk menentukanlah pemimpin di antara kalian yang aku ketahui dan diridai Allah swt. Ketika pemimpin itu telah aku ridai, berangkatlah, dan berhati-hatilah di jalan. Bersiagalah karena kurangnya kesiagaan akan memancing orang-orang jahat, penyamun, maupun para pembunuh untuk merongrong kalian.

KABILAH: Kami akan mengikutimu, Abu Thalib. Bila engkau tidak pergi ke negeri Syam tahun ini, maka kami pun tak akan pergi ke negeri Syam tahun ini.

AT: Semoga Allah meridai kita semua.

TAMAT

27 November 2009