Home » fiksi

Category Archives: fiksi

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Katakanlah namanya Nisa atau Anis. Dia pernah mengganti nama. Nama pertamanya Anis. Dia tinggal di daerah ini. Daerah yang indah permai namun bukan tak ada kekurangannya. Ketika masih seumuran SD, ibunya pernah menamparnya. Sebenarnya bisa dibilang bukan menampar melainkan mendorong. Akibatnya ia sedikit terhuyung menahan jatuh dari keseimbangan. Untung saja ia punya suami yang juga gagah seperti Bejita (ini tokoh di anime atau manga Dragon Ball). Katakanlah namanya Jaka Pitrah. Jika istri tidak nurut, menantang, atau melawan, Bejita ini bisa saja menamparnya, meneriakinya, atau memperlakukannya dengan sangat keras.

Berteriak-tetiak juga di dalam keluarga merupakan peristiwa aneh. Sebenarnya berteriak umtuk menuntut sesuatu bukanlah tradisi budaya rakyat sini. Rakyat sini cenderung memahami isyarat. Orang berakal juga pandai memahami isyarat. Jadi keinginan tidak perlu diteriakkan. Apakah di parlemen juga seseorang harus mengemukakan gagasannya dengan berteriak? Tidak juga, lobi disertai kopi dan apel malang atau apel washington mumgkin lebih berhasil daripada teriakan. Eh, apakah apel malang itu kode untuk suapan uang rupiah? Apakah apel washington itu uang dolar? Itu terjadi di era Presiden SBY pada peesidangan Angelina Sendal dan Anas Urbaningrum.

Masalah keluarga bisa terjadi dari hal tak sengaja hingga yang disengaja. Seseorang suami, istrii atau anak bisa memecahkan piring, membiarkan sampah berserakan, membiarkan cucian piring dan baju tidak dicuci, tidak masak, masakan terlalu asin atau pedas, membiarkan debu di lantai dan perabotan, menentukan bentuk bangunan rumah, kekurangan materi, menentukan prioritas belanja, … dan sebagainya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi politik yang berbeda dengan istrinya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi agama atau mazhab yang berbeda dengan istrinya. Mungkin saja harus ada yang dikorbankan seperti ego pribadi. Namun, keputusan harus menjadi maslahat bagi semua pihak bahkan maslahat bagi anggota masyarat.

Mungkin khas setiap istri menguji suaminya dengan kesabaran. Suami dituntut sabar atau dites perihal yang bisa membuatnya marah. Istri juga harus siap respon suaminya sekasar apa: lembut, lembek, melempem, membentak, atau menampar.

Untungnya ada juga suku terbesar pada bangsa ini yang ibu dan ayahnya mendidik anaknya dengan kelembutan. Ketegasan beda dengan keras kepala. Ketegasan pada kebenaran, kebaikan, manfaat. Yang benar belum tentu baik. Yang baik belum tentu bermanfaat. Agama ini adalah benar, namun tidak selamanya seseorang harus berdakwah di sembarang waktu dan tempat. Tidak selamanya seseorang harus berdakwah kepada orang tua atau pejabat. Tidak selamanya yang benar itu bermanfaat. Orang lain mungkin bisa menolak dakwah seperti itu.

Bahkan orang di luar barat juga mengenal kelembutan perempuan wanita timur seperti ini. Ada isu, senakal-nakalnya manusia sini akan lebih baik daripada orang Arab. Mungkin kenakalan orang Arab hanya bisa disaingi dengan jin.

Lalu yang lebih luhur adalah ajaran agama yang disampaikan para nabi. Perempuan yang dididik seperti ini akan menjadi berkah tersendiri bagi suaminya. Suami tidak direpotkan dengan kebodohan, perlawanan, tuntutan materi, tuntutan kemewahan yang jika tidak dituruti, mereka cemberut, bahkan ada yang menuntut cerai. Sebagian dari perempuan itu menghinakan suaminya dengan kata kata, “miskin, jelek, menyesal memilih kau, suami tak mampu, pemalas, … dan sebagainya.”

Begitu banyak suami yang saat kaya menceraikan istrinya. Begitu banyak istri yang ketika jadi kaya atau dapat rezeki nomplok, jadi selebritis, malah menceraikan suaminya. Salah satu atau kedua pihak tentu adalah sosok matetialis yang menyedihkan.

Mulanya kedua pasang insan ini miskin ketika menikah. Mungkin saja ayah atau mertua mereka kaya. Namun tidak selamanya ayah atau mertua dengan mudah memberi atau mewariskan perusahaan atau pekerjaannya pada anak atau memamtunya. Mungkin hanya antek rezim Orba yang bisa begini. Mereka bisa berbagi tanah, lahan, perusahaan, hutan, gunung, tambang bagi anak, cucu, dan famili mereka. Bahkan sebagian penguasa sekarang di negeri ini juga masih berpikir seperti itu. Jadi pejabat seperti malah ingin dilayani, fasilitas negara digunakan untuk memperkaya diri dan kroni, lalu mereka membayar buzzerp untuk memutarbalikkan fakta.

Buzerp itu karena diberi sedikit uang, mau melakukan tindakan yang merusak bangsa dan negara. Mirip seperti Umar bin Saad dan pasukannya saat mengepung Imam Husain. Kepala Imam Husain ditancapkan di atas tombak, diarak dari kota ke kota. Itu seperti perilaku Muawiyah bin Abu Sufyan saat hampir kalah perang dengan Imam Ali. Mereka menancapkan Quran mati di atas tombak dan menuntut tahkim (hukum) berdasarkan Quran. Mereka tega membunuh Imam Husain, membawa kepalanya kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah sebagai barang bukti pekerjaan mereka. Lalu mereka mendapatkan sedikit upah darinya.

Ini Covid, Coffeed, Kopit, atau Hoaks?

Ada cerita teman yang terkena stroke ringan dia diduga oleh dokter terkena covid. Karena itu dia diisolasi selama 4 hari. Ternyata pada hari pertama dia negatif, hari kedua dia negatif, hari ketiga dia negatif. Akhirnya di hari ke-4 ketika dia dinyatakan negatif, dia disuruh pulang. Untuk biaya dugaan covid itu ia harus membayar kurang lebih 24 juta sebagai biaya perawatan. Rumah sakit mengatakan bahwa dia boleh gratis asal mau menandatangani pernyataan bahwa dia mendapatkan perawatan covid. Dokter dengan kehati-hatiannya seperti begitu mudahnya seolah-olah pasien diduga coffid. Diberi tes rapid, diberi tes swab, diberi tes ini dan itu. Tentu saja pasien tidak berdaya, tidak bisa berargumen, dan pasrah dengan analisis dokter. Meski pasien tahu bahwa analisis dokter bisa salah, pasien tak bisa beradu argumen dengan dokter. Pasien berharap bahwa dokter tidak bermain-main dengan kesehatannya hanya demi mengejar setoran penanganan coffid. Pasien tidak berharap jadi kelinci percobaan dan rumah sakit mengumpulkan hipotesis dari dia dengam tindakan yang tidak diketahui pasien. Hanya dokter, menteri dan institusi kedokteran yang bisa berbicara tentang masalah ini, misalnya Ibu Siti Fadilah Supari atau Bapak Terawan. Saya tidak.

Ada lagi kasus lain orang tua yang berpindah dari suatu kota metropolotan ternyata ketika dia sakit dan masuk rumah sakit, dia serta merta divonis juga coffeed lalu meninggal dan mendapat penanganan covit. Tentu saja kasus coffeed akan meledak lalu karena ada kasus meninggal dan sebelumnya diduga kovit. Akhirnya keluarganya diisolasi. Insitusi tempat kerja keluarganya juga diisolasi, ditutup, dan disemprot disinfektan dan mendapat bagian dari proyek pemerintah terkait covid. Pemerintah Indonesia menggelontorkan dana begitu banyak untuk penanganan covid. Oleh jajaran pemerintah bawahannya anggaran itu jangan sampai dihambur-hamburkan, dibagikan di antara orang-orang, dipekerjakan, dibelanjakan, bahkan untuk kasus dugaan semata, dengan dalih kehati-hatian.

Mungkin ini mirip dengan kasus Israel yang atas dasar dugaan dan narasumber yang tidak jelas dia bisa menyerang orang-orang Palestina. Berdasarkan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya dia juga memberikan dugaan-dugaan itu memberikan simpulan-simpulan, memberikan berita-berita dugaan.

Bahkan kasus seperti itu juga terjadi ketika Tempo mengangkat suatu berita yang diulas oleh Doktor Ade Armando, dosen Universitas Indonesia, di saluran youtube Cokro TV-nya. Ade Armando mempertanyakan kredibilitas Tempo ketika mengangkat berita berdasarkan dugaan dan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya. Sumber: https://youtu.be/BDeLfFtOFwo

Sesndainya benar, ini jelas berita yang tidak kredibel terkait dengan coffeed. Karena ada kasus meninggal diduga kopid. Orang-orang jadi panik dan saling mengisolasi diri bahkan berhenti dari pekerjaannya. Sekolah tutup dan kantor pemerintah pelayanan publik tutup menyebabkan konsumennya hilang. Jika orang tahu bahwa tetangganya di rumah sakit ditangani covid, dia sama sekali tidak akan mau untuk berhubungan dengannya. Dia akan menjaga jarak dengan tetangganya, bahkan tidak mau menyapa.

Mungkinkah ini yang menyebabkan angka statistik pasien coffeed dan kasus meninggal karena kopid meningkat tajam di Indonesia. Orang yang tidak sakit coffee kirimkan ke pelayanan kopit atau didiagnosis sebagai pasien coffid.

Memang dunia ini sangat aneh. Ketika negara lain melakukan lockdown, sebagian orang mendorong pemerintah Indonesia untuk lockdown. Padahal lockdown beresiko sangat besar. Pemerintah harus membiayai semua anggota masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan makan dan belanja sehari-hari. Dengan adanya PSBB juga pemerintah memberikan subsidi ke semua sektor yang dibutuhkan. Bahkan masyarakat yang tidak mampu pun diberi bantuan uang secara langsung.

Kini gara-gara Indonesia menolak menjatuhkan sanksi kepada Iran, ada berita bahwa sejunlah negara menolak kunjungan dari Indonesia. Ini jelas cuma menakut-nakuti karena memang penerbangan ke berbagai negara dari banyak negara memang ditutup.

Indonesia menunjukkan ketidaktakutannya dengan membuang penggunaan dolar untuk berbisnis dengan berbagai negara, misalnya Cina, Iran, Rusia, Venezuela, Eropa. Ini akan membuat inflasi pada mata uang AS dan penguatan pada mata uang negeri lain termasuk Indonesia. Indonesia tidak terlalu butuh dolar. Kita bertransaksi dengan rupiah yang harga kursnya hampir sama dengan Iran.

Orang boleh berbeda pendapat atau opini. Orang boleh berbeda orirntasi politik. Orang boleh berbeda mazhab atau berpindah mazhab. Yang tidak boleh adalah hoaks. Tidak boleh hoaks. Termasuk tentang covid.

Facebook Ingin Profil Asli

Tulisan ini merupakan titipan dari teman saya. Saya membantunya memuat tulisan ini karena saya memahaminya

Teman saya memasang foto profil Jenderal Iran, Qosim Sulaimani di FB. Dia juga menuliskan bio yang tidak akurat tentang dirinya misalnya dia beralamat di Jakarta, bekerja Cirebon, berorientasi politik Hamas, bermazhab Ahlusunah, dan pendukung Iran.

Baru-baru ini FB-nya diban oleh FB dengan notifikasi bahwa dia melanggar panduan komunitas (community guidelines). Dia lalu diminta FB memasukkan nomor hp, memfoto kartu identitas (KTP, SIM, atau semacamnya), dan entah tuntutan lainnya. Teman saya ini sempat memasukkan nomor hp. Ketika diminta KTP, dia memberikan foto KTP di bawah cahaya yang sangat minim, dengan menutupi tulisan identitasnya. Namun robot server FB menolak KTP-nya dan teman saya memutuskan untuk BERHENTI MEMGGUNAKAN FB.

Pakar komputer Onno W. Purbo mengatakan bahwa peretasan dimulai dari pengumpulan info (social enggineering) dari identitas korban dari FB. Identitas itu berupa alamat, tempat sekolah, teman dekat, keluarga, dan sebagainya. Onno di saluran video youtubenya yaitu Onno Center, menanyakan kepada hadirin, jika ada seorang asing meminta lihat KTP, akankah orang memberikannya? Tidak. Tentu tidak. Sama sekali tidak. Mun ceuk si Cepot mah, “Euweuh, Doyot …!” Anehnya, banyak orang justru di FB membuka identitasnya. Lalu setiap orang bisa melihatnya: foto-foto, alamat, tanggal lahir (umur), sekolah, kelulusan, kesenangan, tempat kerja, teman dekat, hubungan keluarga, dan sebagainya. Onno seolah berkata, hanya orang bloon yang membuka identitasnya di FB padahal dia menolak memperlihatkan KTP-nya kepada orang lain.

FB juga sarana perjuangan. Mungkin berjuang membela pimpinan politik, membela orientasi politik, melawan kelaliman AS dan Israel, menyebarkan berita benar, dan meluruskan hoaks. Namun apakah FB membolehkan setiap perjuangan? Fakta tadi dan berikut ini merupakan bukti negasinya.

Jenderal Qosim Sulaimani dibunuh AS. Presiden Trump menampilkan euforianya saat pembunuhan itu terjadi. Ia mengibarkan bendera AS saat terbunuhnya Sang Jenderal Iran itu. Ia juga menuliskan pernyataan kemenangannya, kesenangannya, pertanggungjawabannya, atau dukungannya atas penbunuhan itu. Beberapa hari kemudian, Iran pun lalu membalas syahadah Qosim dengan menghujani pangkalan AS dengan roket. Sebuah tantangan perang terbuka yang tidak dilayani oleh AS. Jadi jangan takut kepada AS. Berlindunglah di bawah payung Iran karena AS takut dengan Iran. Apalagi Iran seolah mengklaim mendapatkan pertolongan dari Imam Zaman yaitu Imam Mahdi dan Imam Husain bin Ali. Kekuatan spiritual yang tidak bisa diremehkan.

Mungkin karena itulah FB teman saya diban. Lalu jika ada yang memberi identitas asli di FB, dia benar-benar mengabaikan peringatan dari Onno W. Purbo. Tetaplah berjuang. Gunakan identitas palsu di media sosial. Lawanlah kezaliman AS dan Israel.

Ingat juga ketika identitas youtuber Denny Siregar dibuka di internet. Orang asing bisa mengancamnya. Jika lawan menutup identitasnya, akankah kita menyodorkan identitas kita secara gratis? Kawan dan lawan selayaknya menutup identitasnya. Konon Imam Mahdi juga bukan tidak ada di dunia ini melainkan disamarkan identitasnya. Nabi Musa juga disamarkan identitasnya sehingga beliau as bisa hidup di istana Firaun. Nabi Yusuf juga disamarkan dari identitasnya untuk menjaga keamanannya dan keberlangsungan dakwahnya di Kerajaan Mesir.

Pantas saja dalam sejarah pendukung Imam Zaman ketika berhadapan dengan musuhnya akan saling berkenalan dulu. Mereka saling menyebutkan nama dan identitas masing-masing. Dengan begitu dia bisa mengkonfirmasi kematian musuhnya kepada keluarga musuhnya atau kepada kesatuannya. Korban bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang besar di pihaknya masing-masing. Pantas saja prajurit AS dipasangi kalung identitas agar dia tidak mati konyol yang tidak diketahui identitasnya.

Tikus dan Korupsi

Benarkah alam, bumi, langit, dan seisinya diberikan Tuhan bagi manusia?

Bukankah alam ini diberikan bagi tikus yang setiap hari mencuri persediaan makanan manusia padahal manusia bekerja keras mengumpulkannya untuk persediaan berhari-hari atau berbulan-bulan. Manusia bekerja di ladang gandum, sawah, menggembala domba dan sapi, beternak ayam dan ikan sebagai tabungan simpanan bahan makanan.

Tikus-tikus itu dengan seenaknya bersembunyi di lubang, lorong, tempat-tempat gelap dan sepi. Lalu saat malam, hewan nocturno itu beroperasi mengambili milik makhluk lain, yaitu milik manusia. Mengapa tikus ini tidak mencari makan tempat lain atau mencari makanan di hutan yang tak berpemilik? Mengapa tikus tidak mempunyai konsep kepemilikan sehingga dia bebas saja mengambil milik manusia?

Padahal manusia ini adalah tuannya. Seluruh alam diminta bersujud kepada Adam, kakek umat manusia. Semua makhluk, binatang, tumbuhan, lumpur, bebatuan, termasuk jin dan malaikat diperintah bersujud kepada manusia. Meski ada sekelompok jin yang bernama iblis tidak mau taat kepada perintah Allah swt, tikus ‘kan bukan jin. Mengapa tikus menyusahkan manusia dengan mencuri milik manusia? Tidak hanya itu mereka juga mengobrak-abrik dapur dan membuat kotor dapur.

Raja-raja adalah representasi dari Nabi Adam dan para utusan Tuhan setelahnya. Makhluk lain harus taat kepada Nabi Adam secara mutlak. Karena itu Nabi Adam harus maksum. Jika tidak, perintah dan larangannya bisa saja salah. Jika tidak maksum, mungkin saja hukum yang dibuatnya salah. Mungkin Imam Mahdi di akhir zaman juga harus maksum. Jika tidak, ia bisa seperti Jokowi, Ahok, Ganjar Pranowo, Doni Ahmad Munir, atau Tri Rismaharani.

Mungkin sebaiknya tikus ditembak saja dengan senapan angin. Mungkin karena itulah ular, elang, dan burung hantu diciptakan, di antaranya untuk memakan tikus. Tetapi ular juga membahayakan manusia. Jika ular masuk ke rumah, dia bisa menggigit dan mrmbahayakan manusia.

Mungkin sebagian manusia tidak berakal seperti tikus. Mereka tidak punya aturan kepemilikan. Mereka juga tidak menghormati penghulu manusia yaitu Adam as. Padahal binatang lain bersujud kepada Adam as. Adam as dan manusia beradab menghormati hak milik. Tentu manusia seperti Adam as juga rela berbagi, memberi, dan berderma jika orang lain kelaparan atau dalam kebutuhan. Tetapi pencurian dan korupsi sama sekali tidak bisa diterima.

Korupsi juga dilakukan. Bahkan korupsi dilakukan tidak untuk kebutuhan makan hari itu saja. Korupsi milyaran akan membuat dia bisa hidup tujuh turunan tanpa harus bekerja lagi. Mereka bisa memguasai berbagai sumber hajat hidup masyarakat dan memperkaya dirinya dan kroninya. Karena itu, hukuman cambuk atau perbudakan bagi para pencuri cukup pantas untuk diterapkan. Hukuman perbudakan seperti itu dilakukan Nabi Yusuf terhadap Bunyamin saat skenario Bunyamin mencuri piala raja. Saudara Bunyamin berkata bahwa Bunyamin mencuri seperti Yusuf mencuri. Skenario Yusuf mencuri pun sebenarnya adalah makar saja. Hukum cambuk juga diterapkan nabi bagi para pencuri. Hukum potong tangan? Entahlah.

Kapankah Imam Mahdi min aali Muhammad saw akan muncul sehingga keadilan akan ditegakkan dan disebarkan di dunia ini? Mungkin saja Imam Mahdi sebenarnya sudah ada. Tugas manusia adalah menyambung lidah dan tangan beliau.

Tuhan memberi rezeki kepada semua makhluk di di dunia, tanpa kecuali manusia. Tikus diberi wahyu untuk memperoleh rezekinya di manapun. Tidak hanya tikus, manusia pun melihat ayam rebutan rezeki dengan sesamanya, bahkan sesama keluarganya. Sesuatu yang memalukan bila dilakukan manusia. Akan memalukan bila manusia rebutan rezeki, bahkan sampai menempuh cara yang tidak halal. Manusia bisa berbagi dan menerima aturan yang adil. Manusia juga belajar keadilan dari Tuhannya. Keadilan Tuhan direpresentasikan melalui utusan-Nya. Tanpa ada utusan Tuhan, manusia kadang-kadang bingung mencari rida Tuhannya.

Manusia adalah khalifah Tuhan di dunia. Ketika semua makhluk sujud kepada Adam as, bahkan manusia lain pun harus sujud kepada Adam as. Tanpa petunjuk Adam as, manusia kesulitan mencapai rida Tuhannya. Ini pula hujah bahwa Imam Mahdi harus maksum. Namun, bisa saja ada muslim yang meyakini bahwa yang maksum hanya Nabi Muhammad saw dan para nabi lain. Aali Muhammad atau keluarga Muhammad (Imam Mahdi) mungkin tidak maksum. Menurut riwayat Imam Mahdi bisa menghidupkan orang mati, memiliki tongkat Musa, mengalahkan Dajjal, pasukannya menyeberangi lautan, memanggil garuda untuk bersyahadat, dan memiliki mukjizat lainnya. Riwayat itu bisa dibaca melalui hadis-hadis. Muslimin bisa bertanya kepada ulama tentang hal ini. Mungkinkah Imam Mahdi semacam ini yang diamanatkan Rasululllah agar ditaati manusia tidak maksum.

Untuk menghindari bahaya tikus di dapur, memang manusia harus membuat lemari yang tidak bisa dijangkau, dirusak, atau dimasuki tikus. Itulah keadilan alam. Manusia tidak perlu meminta tikus tidak mencuri makanannya. Manusialah yang harus membuat lemari yang tidak bisa dibongkar tikus.

Orang-orang mesti melempar sisa makanan ke kebun belakang rumah untuk dimakan ayam, tikus, dan binatang lain. Inilah keadilan alam.

Ya sahibuz zaman, adrikni. Ya wajihan indallah isyfa lana indallah.

Agama mengajari manusia tentang perundungan?

Fenomena cyberbullying (istilah pada video berikut) terjadi pada Anies dan Jokowi.

Tidak hanya itu, cyberbullying juga terjadi di antara para pengikutnya, bahkan sesama saudara (contohnya IKBKK).

Perundungan tidak hanya terjadi di kelas, bahkan di pekerjaan, dan di lingkungan.

Bagaimanakah manusia menyambut masa depan?

https://youtu.be/2Ga_QQdyv6M

Agama mengajari manusia tentang perundungan?

Ketika para nabi menyampaikan sesuatu dengan lembut, mereka dirundung. Ketika Anies atau Jokowi mengatakan sesuatu dengan lembut, mereka dirundung (di-bully). Bahkan ada yang mengancam bunuh atas nama agama.

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan solusi critical thinking pada objek fakta atau opini. Memang sejak SD, pelajaran tentang fakta dan opini sudah diajarkan. Namun sebagian orang terpengaruh pada perundungan itu, lalu malah terdistorsi orientasi baiknya. Manusia jadi buruk gara-gara dirundung, dimaki, dihina. Padahal rundungan itu jika tidak dilawan akan kembali kepada si perundungnya. Menteri Nasiem juga mengalami perundungan bahkan di Amerika dan Indonesia. Seorang ysng sadar dengan perundungan tidak perlu marah atau kecewa dengan tingkah manusia yang dianggapnya merugikan orang lain (?).

Nabi Isa as pernah berjalan melewati sekelompok orang. Lalu orang-orang itu merundung, memaki beliau as dengan kata-kata yang kotor. Nabi Isa as malah mengucapkan kata-kata baik kepada mereka dan mendoakan mereka. Sahabat beliau as bertanya, mengapa beluau as membalas mereka dengan kata-kata baik dan lembut? Nabi Isa as memgatakan bahwa manusia mengeluatkan apa yang ada di dalam jiwanya. Jika jiwanya kotor maka kotoranlah yang keluar darinya (dari mulut, pena, atau papan tiknya).

Mungkin saja ada orang-orang yang berani mati membela Anies atau Jokowi. Raja Angga Karna juga berani mati demi Pangeran Duryudana atau menerima kekalahan dari Arjuna. Bahkan meski tahu bahwa Duryudana adalah pihak yang salah dan memerang Arjuna berarti memerang kebenaran serta memerang adiknya sendiri.

Krisna pernah mengemukakan masalah ini kepada Karna. Apakah Karna begitu berutang kepada Duryudana sehingga meskipun Duryudana bersalah, Karna tetap membelanya? Apakah bila Duryudana menyeret Karna ke neraka, Karna akan menurutinya? Karna memilih mengikuti Duryudana, mengikuti kehendak Duryudana memerangi Pandawa. Problem ini juga bukan hanya Karna. Yang terseret Duryudana ke neraka juga Bisma, Dorna, Aswatama, Kripa, para raja dan satria sekutunya serta pasukan pendukungnya.

Salah satu misteri dari Baratayuda adalah Krisna menyerahkan pasukan Narayaninya menjadi pasukan pendukung Duryudana. Namun tak mungkin seorang yang maksum melakukan kesalahan semacsm itu. Mungkinkah pasukan Narayani diganti dengan pasukan lain? Mungkinkah pasukan Narayani sebelum pertempuran beralih pihak menjadi pendukung Pandawa yang Krisna ada di dalamnya.