Putus Asa dari Rahmat Allah

Mohon maaf. Bukan karena saya sempurna, namun saya ingin menyampaikan bahwa salah satu dosa besar di sisi Allah swt adalah berputus asa dari rahmat Allah.

PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH SWT.

Ujian dari Allah swt. mesti dihadapi dengan kesabaran. Seandainya manusia sabar, tentu Allah swt. akan memberikan rahmat serta pahalanya bagi pelaku sabar.

Contoh ujian yang bisa terjadi adalah kalah pilpres, kalah pilgub, kalah pildacil, kalah dalam pertandingan sepak bola, kalah debat, kalah memdapatkan pacar anu, kalah mendapat nilai pelajaran bagus, kalah dalam segera memahami pelajaran, dan sebagainya.

Ali bin Abi Thalib berkata yang kurang lebih artinya, “Lidah orang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”

Mazhab Intoleran dan Imam Mahdi

Sekitar 15 tahun terakhir, diperkirakan di Indonesia muncul mazhab (?) intoleran. Masa itu adalah masa peralihan antara Presiden Mega menjadi Presiden SBY. Mungkin bibit intoleran itu sudah ada sebelum itu. Contoh simpel dari intoleran ini adalah pemaksaan keyakinan tentang khilafah atau kerajaan Islam. Saya cukup terkejut melihat perkembangannya. Saya juga terkejut melihat rasio manusia yang terlepas dari tempatnya karena mengikuti kelompok ini.

Saya mempunyai banyak pengalaman dengan kelompok (mazhab?) intoleran ini. Contohnya pelarangan demokrasi (pemilu), pemaksaan sistem khilafah, pemaksaan sistem ahl hali wal aqdi (semacam MPR), pelarangan ziarah kubur, pelarangan asuransi, pelarangan menghormat simbol negara (presiden, bupati, bendera, Garuda Pancasila, undang-undang), perbedaan pandangan tentang akidah (usuludin) dan fikih (furu udin), dan sebagainya.

Ada suatu mazhab (katakanlah mazhab) yang meyakini Islam hanya satu, tidak boleh ada mazhab, ulama selayaknya tak boleh berbeda pandangan, ulama juga bahkan semacam tak boleh berbeda orientasi politik. Ulama mereka menyuruh muslim untuk tidak memilih Ahok. Bahkan muslim pendukung Ahok diprovokasi agar mayatnya tidak disalatkan. Ulama lainnya menyatakan boleh memilih Ahok. Boleh di sini tentu bukan berarti harus memilih Ahok. Kini ada ulama yang terang-terangan membawa agama untuk menjatuhkan Presiden Jokowi lalu seolah menutup potensi orang boleh memilih atau mencoblos Presiden Jokowi.

Sebagai catatan, banyak fitnah ditujukan kepada Presiden Jokowi. Contoh fitnah itu di antaranya mengkriminalisasi ulama.

Sekarang orang berani berkata di mimbar tentang orientasi politik, menutup potensi perbedaan orientasi politik. Orang memang menyalahkan orang lain seperti fatwa kelompoknya adalah dari maksumin yang tak mungkin salah dan fatwa kelompok yang berbeda pasti salah. Kelompok ini juga meyakini bahwa khilafah dan kerajaan mesti benar dan harus dicobakan di Indonesia.

Saya katakan, Saudi juga mengklaim dua tanah haram sebagai miliknya, lalu klan (suku) Saudi ini juga menentukan siapa pejabat penting yang duduk di atas suatu posisi, klan ini juga mengklaim sumber daya alam sebagai miliknya, juga kritik terhadap klan ini dilarang. Apakah seperti ini khilafah yang ingin berdiri di Indonesia? Akankah bisa kita bayangkan raja Jawa yang menjadi rajanya? Raja Cirebon, raja Bugis, atau raja lainnya menjadi khalifah? Lalu raja dengan sesuka hatinya membagikan jabatan kepada kerabat dan kroninya? Lalu sumber daya alam dieksploitasi oleh keluarga raja ini? Lalu kritik terhadap raja terlarang?

Sistem seperti ini terjadi di Saudi, Thailand. Di Thailand juga kritik terhadap raja terlarang. Raja Thailand adalah penguasa tanah Thailand. Apakah Indonesia akan meninggalkan sistem demokrasi dan berubah (mundur) menjadi kerajaan? Perubahan dari demokrasi menjadi khilafah atau kerajaan adalah suatu kemunduran.

Saya tanyakan kepada kelompok ini, bagaimana cara khalifah dipilih? Apakah seperti pemilihan Abu Bakar? Penunjukan Umar? Perwakilan dalam pemilihan Utsman? Atau baiat beramai-ramai kepada Ali? Ataukah mengangkat diri sendiri seperti Albagdadi (ISIS) dan menyuruh orang lain baiat kepadanya? Apakah semacam ini?

Mereka mengatakan pemilihan khalifah dilakukan oleh ahl hali wal aqdi, yaitu semacam lembaga MPR. Saya katakan, itu adalah sistem demokrasi yaitu pemilihan perwakilan (bukan pemilihan langsung).

Bagaimana jika khalifah dianggap lalim? Khalifah mungkin lalim karena khalifah tidak maksum. Mungkinkah kita menahan diri untuk tidak mengkritiknya? Mungkinkah kita tidak menahan diri untuk menuntut kejatuhannya seperti orang intoleran mengharap kejatuhan Presiden Jokowi?

Meskipun saya tidak setuju dengan sistem kerajaan atau khilafah, saya juga mempunyai kekecualian. Kerajaan dengan pemimpin seorang yang maksum pasti akan menemui keadilan. Kerajaan itu juga akan muncul di akhir zaman. Kerajaan itu akan dipimpin oleh Imam Mahdi yang maksum dan mengatur segala urusan.

Ketika Imam Mahdi mengklaim sebagai khalifah Rasulullah min aali Muhammad saw maka beliau adalah khilafah Allah. Mungkin juga ada orang yang samar terhadap Imam Mahdi dan tidak mengakui Imam Mahdi dan tidak berbaiat kepadanya. Itu seperti ada orang yang tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah karena itu tak mau mengeluarkan zakat kepadanya. Itu sama seperti ada orang yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah lalu mengadakan pemilihan khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman), gubernur memberontak kepada Imam Ali (misalnya Muawiyah bin Abu Sufyan) bahkan membunuh Imam Ali (misalnya Ibnu Muljam). Potensi ketidaksetujuan atau perbedaan dalam khilafah juga sebenarnya hal yang biasa.

Imam Mahdi dan musuhnya yaitu Dajal ada dalam nas (Quran dan) hadis. Dalam hadis diperintahkan agar umat taat kepada Imam Mahdi karena mempunyai nama dan sifat seperti Nabi Muhammad saw. Kesamaan sifat ini diyakini sebagai kesamaan kemaksuman. Jika Imam Mahdi maksum, maka ketaatan kepadanya adalah mutlak. Seandainya Imam Mahdi tidak maksum, maka perintah Nabi saw sia-sia karena mustahil Nabi saw memerintahkan umat taat (secara mutlak) kepada orang yang sekali-kali salah, kadang-kadang benar.

Perbedaan ideologi adalah fitrah manusia. Orang bahkan bebas tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi. Orang bebas beragama karena ideologinya berbeda dengan orang lain. Orang juga bebas bermazhab karena ulama tidak sepakat tentang satu masalah (qunut, niat zahar, basmalah zahar, tawasul, ziarah, haul, tahlil, menggerakkan jari saat tasyahud).

Namun semua muslim yang berbeda pendapat tentang masalah ini tetaplah muslim, darahnya haram ditumpahkan, kehormatannya wajib dijaga. Seorang menjadi muslim karena mengakui dua kalimat syahadat, bukan karena mengakui khilafah.

Hari-Hari Ziarah Haji (42)

Mahasegala, Kepada-Mu Aku Menyeru

Engkau berkata

Serulah Aku di malam yang sunyi

Niscaya aku akan mendengar

Mintalah kepadaku segala hajat-Mu

Niscaya aku kabulkan

Ingatlah Aku di masa sulitmu

Niscaya Aku menolongmu

Tolonglah agama-Nya dengan menolong dan melindungi warga

Niscaya Dia akan menolong dan melindungimu

Hadirkan Dia dalam setiap langkahmu

Niscaya jalanmu akan menjadi terang

Cintailah utusan dan para kekasihnya

Niscaya kau tak akan tersesat

Lihatlah dan dengarlah apa yang utusan dan kekasihnya lihat dan dengar

Niscaya mata dan telingamu akan menjadi mata dan telinga-Nya

Bicaralah sesuai yang dibicarakan utusan dan kekasih-Nya

Bertindaklah sesuai dengan tindakan utusan dan kekasihnya

Bergembiralah saat utusan dan kekasuh-Nya bergembira

Bersedihlah saat utusan dan kekasuh-Nya bersedih

Berperanglah saat kekasih dan utusan-Nya berperang

Berdamailah saat utusan dan kekasih-Nya berdamai

Niscaya kau tak akan menyimpang

Hari-Hari Ziarah Haji (41)

Saat Pertama Melihat Kabah

Sejak kecil saya sering melihat Kabah secara tidak langsung. Saya melihat Kabah di gambar, foto, atau televisi. Teknologi foto atau televisi membuat gambaran Kabah di benak menjadi jelas, sangat jelas. Saya juga melihat orang-orang yang ada di sekitar Kabah secara tidak langsung.

Pada usia sekolah dasar, tetangga Bapak saya pergi haji. Ketika mereka sudah pulang berhaji, saya mampir ke rumahnya. Saya melihat foto tetangga saya dengan latar belakang Kabah. Titik-titik putih di belakang tetangga saya adalah manusia-manusia di sekitar Kabah.

Saya ingat saya juga diberi sesloki air zam-zam. Waktu itu saya heran mengapa hidangan airnya begitu sedikit. Menurut saya, mestinya dicampur air biasa saja, tak apa, agar lebih memenuhi dahaga. Saya juga mencicipi kurma dan kudapan laib yang menurut saya asing atau kurang biasa rasanya.

Saya merasa tak asing dengan Kabah. Namun kali ini saya akan melihat Kabah secara langsung. Menurut sebagian guru dan ulama, sebagian jemaah yang melihat Kabah akan menangis. Terharu atau entah perasaan yang sukar digambarkan dengan kata-kata.

Saya sendiri teringat akan jejak Rasulullah saw. Beliau di kota ini lahir, besar, membawa Islam, menyampaikan Islam kepada manusia, berhati dan bersikap lembut namun keras pada kejahatan.

Mekah (mestinya) dipenuhi dengan jejak Nabi saw. Sungguhpun kini orang Mekah bepergian dengan mobil, mendapat air zam-zam melalui pipa, dikelilingi oleh gedung-gedung yang tinggi, dan sebagainya … Jejak Rasulullah saw ada di sana. Saya sekarang hendak menapaki jejak Rasulullah saw itu, mengikuti teladannya, dan mengambil berkahnya.

Saya membicarakan obsesi saya dengan teman sekamar maktab. Kami sekamar berempat, dan ada pula yang berlima. Saya membicarakan jejak Rasulullah saw meski kami berada di lantai 10 (?), naik turun dengan lift, mencuci baju dengan sabun dan mesin cuci di puncak maktab, bepergian dengan bus salawat, ….

Saya juga melihat ada jemaah yang membentuk barisan lalu berjalan menuju Kabah sambil meninggikan talbiah. Semangat atau gairah ibadah para jemaah sangat tinggi. Mereka berharap keridaan Allah swt melalui teladan Nabi saw.

Ketika saya pertama kali melihat Kabah, saya menguatkam ingatan saya tentang jejak Rasulullah saw di sini. Entah saya ingin menangis atas dosa atau bahagia karena bertemu dengan jejak Rasulullah saw. Saya menguatkan memori Rasulullah sebagai wasilah (perantara) antara saya (makhluk) dengan Allah swt.

Saya juga berusaha melihat jejak Rasulullah saw pada jemaah yang sedang beribadah di Kabah dan Mekah. Saya berusaha melihat jejak Rasulullah saw di mata mereka, pada tindakan mereka, pada ucapan mereka, dan pada diam mereka.

Hingga kini pun saya tetap berusaha melihat jejak itu.

Hari-Hari Ziarah Haji (40)

Sajak Hidayah

Pintu hidayah yang terbuka

Mengeluarkan hidayah tak henti-hentinya

Turun dari langit, muncul dari dalam bumi, keluar dari danau, sungai, dan lautan, serta tumbuh dan berkembang di sekitar

dan ada dalam diri manusia

Hidayah ada di mana-mana

Seseorang tak akan bisa berkelit dan berkata

Aku keberatan disalahkan dan dimasukkan ke dalam neraka

Karena Engkau, Ya Tuhan, tak memberiku hidayah

Aku terlunta-lunta

Sementara engkau beri orang-orang saleh petunjuk dan nikmat iman Islam

Aku engkau abaikan dari hidayah

Aku tidak lagi bisa mengelak

Akulah yang mengabaikan hidayah

Akulah yang meremehkan kebenaran

Akulah yang merasa rugi ketika harus memilih kebenaran daripada kejahatan

Aku merasa beruntung saat melakukan kejahatan dan kemaksiatan

Karena selalu aku berharap pertobatan