Home » haji

Category Archives: haji

Islam Bukan Hanya Fikih dan Memaksakan Fikih

Sebenarnya kajian fikih kelompok-kelompok Islam itu sangat bagus selama tidak mengurusi kelompok lain. Kajian fikih bidah itu sangat bagus selama tidak memancing pertengkaran dengan kelompok lain. Kalau sudah bertengkar, babak belurlah umat ini. Musuh yang sebenarnya justru tertawa dengan pertengkaran internal umat Islam. Mereka bahkan mengompori agar pertengkaran jadi lebih berkobar. Seolah-olah diadu domba seperti ISIS pada perang Suriah. Katanya ISIS itu Islam, namun ISIS diperalat (proxy) Israel untuk membunuhi umat Islam di Suriah.

Bangsa lain sudah mendarat di bulan, mendarat planet lain, membuat baterai, membuat sepeda listrik, ponsel, aplikasi baidu, namun bangsa ini dengan dalih memurnikan akidah Islam menyerang kelompok Islam lain, menganggap kelompok lain merusak Islam. Memang memurnikan akidah itu penting, namun merasa maksum hingga menyerang sesama muslim itulah yang jadi bermasalah.

Kelompok semacam NU itu cenderung mengurusi internal umatnya. NU memberikan fatwa larangan (haram) pada MLM sementara ada komunitas Islam lain yang membolehkannya. Alih-alih memaksakan fatwa ini pada kelompok lain, NU melaksanakan kewajiban (larangan) itu secara pribadi. Mereka tidak pantas mengurusi kelompok lain meski berani berbeda pendapat dengan kelompok yang membolehkan MLM. NU melihat bahwa banyak yang ikut MLM bertahun-tahun sampai jual tanah dan rumah, akhirnya malah keluar MLM tanpa beroleh laba perdagangan. Sebut saja MLM yang ada: MLM keperluan sehari-hari (sabun, odol), MLM pulsa, bahkan MLM madu propolis, atau obat-obatan.

Sebaliknya, beberapa kelompok lain justru mengurusi kelompok lain. Asyura mendapat pelarangan. Orang berkhutbah atau berceramah di mimbar tentang bidah tawasul, khilafiah tahlilan, yasinan, ziarah kubur, qunut, solawatan, marhabanan, 23 rakaat tarawih, zahar niat, zahar zikir, bersyair di corong masjid (marhabanan, ya lal wathan, din as salam, solawat kafi, sabyanan), Muludan (Rabiul Awal), Rajaban, Nisfu Syaban, Asyura (Safar), Rebo Wekasan, Arbain, …. Orang luar membidahkan NU di depan orang NU. Kelompok ini alih-alih mengatur komunitasnya, mereka menjelek-jelekkan atau memaksa kelompok lain seperti dirinya. Akibatnya muslim bertengkar dengan muslim lain karena yang satu menyerang, yang lain membela diri.

Ada orang yang meminta maaf kepada jamaah kelompok lain dan menyalahkan amalannya, “Maaf, ya, nisfu Syaban itu hadisnya dlaif …, maaf ya, Muludan itu bidah …, maaf ya, mengucapkan selamat natal itu bidah …, tahun baruan itu bidah …, valentinan itu haram …, Asyura dan Arbain itu bukan tradisi milik Syiah saja, ahlul bait Nabi saw itu milik semua muslim.” Jangan sampai seseorang menganggap dirinya sebagai guru maksum bagi lawan bicaranya.

Bahkan tradisi membidahkan ini tiap tahun diselenggarakan. Masuk bulan Muharam, tradisi Asyura diharamkan. Masuk bulan Safar tradisi Rebo Wekasan diharamkan. Masuk bulan Syaban, tradisi Nisfu Syaban diharamkan. Masuk Rajab, tradisi Rajaban diharamkan. Masuk bulan Februari, valentin diharamkan. Masuk bulan Desember, ucapan selamat Natal, tahun baruan, niup terompet diharamkan. Tiap tahun bertengkar tentang pertengkaran yang sama dengan tahun lalu. Kalau tidak ketemu orangnya, mereka menyebarkan isyu bidah di medsos. Capek, deh.

Apakah saat ini ada kelompok Islam yang lebih banyak mengurusi diri sendiri, kelompok sendiri? Adakah kelompok Islam yang mengurusi masalah fikih halal/haram, sunnah/bidah?

Bahkan urusan pilihan demokrasi dan pilihan orientasi politik pun difatwakan. Sekelompok orang mengurusi masalah khilafiah ini. Analogi yang kurang tepat adalah mirip ormas melabel sertifikat halal untuk kulkas atau cat tembok.

Sebenarnya Islam lebih daripada mengurusi fikih meskipun memang fikih itu penting. Urusan penting lain adalah akidah dan akhlak. Di samping itu, jelas fatwa fikih (akidah dan akhlak) itu berbeda-beda. Ada istifta atau meminta fatwa lalu keluar fatwanya. Dulu juga Buya Hamka oleh Pak Harto diminta fatwa mengikuti ritual Natalan atau mengucapkan selamat Natal. Buya Hamka mengeluarkan fatwa haram. Apakah Pak Harto senang mengikuti fatwa Buya Hamka? Buya Hamka akhirnya keluar dari jabatan ketua MUI. Meski begitu kemampuan Buya Hamka tidak hilang. Buya Hamka hanya dipinggirkan saja.

Para muqolid (orang yang bertaklid pada fatwa) harus sadar bahwa fatwa itu hanya untuk mengikat dirinya sendiri. Bukan dipaksakan kepada orang lain. Tak usah repot mengurusi orang lain (kelompok lain) atau memaksa orang lain ikut suatu fatwa. Tak bisa memaksa orang sama dengannya. Bahkan Nabi saw pun yang maksum diprotes sahabatnya. Apakah Nabi saw memaksakan kehendaknya atau memaksakan fatwanya? Mungkinkah sahabat lebih pintar daripada Nabi saw dan pemikiran sahabat akan diterima Tuhan dibanding Nabi saw? Tidak juga.

Apakah ada kelompok yang bahkan tidak membahas akidah kecuali sebagai bagian dari fikih? Apakah ada kelompok orang yang tidak bisa membedakan akidah dan fikih? Apakah ada kelompok orang yang menyatakan bahwa ziarah kubur dan tahlilan adalah akidah? Apakah ada yang menyatakan bahwa menangisi wafatnya kerabat, perbedaan qunut, zahar niat, zahar basmalah, menggerakkan telunjuk tasyahud, tahlil, tawasul, mulud, solawat adalah pembahasan akidah? Jangan sampai bingung yang memasukkan fikih ke dalam akidah.

Apakah kelompok tersebut salah mengidentifikasi fikih sebagai akidah? Sesuatu yang sebenarnya fikih digeser (atau tidak sengaja tergeser) ke masalah akidah. Mereka menduga bahwa masalah ziarah adalah masalah akidah. Masalah akidah sebenarnya seperti ideologi. Akidah bermuara pada dua kalimat syahadat. Maka seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslim. Adapun pandangan tentang sifat 20 Tuhan itu masalah akidah khas Asyariyah Maturudiyah. Keragaman pandangan tentang kemaksuman Rasulullah itu adalah keragaman akidah dalam Islam. Ada kelompok yang menyatakan (naudzubillah) Nabi saw lupa dalam salatnya, diberi masukan teks azan, terlambat salat subuh, bermuka masam, salah dalam penyerbukan, tertarik pada istri anak angkatnya. Jadi pengertian maksum berbeda-beda dalam “akidah” kelompok-kelompok Islam.

Jika dilihat, mazhab akidah dalam Islam pun tidak hanya satu. Ahlusunnah mempunyai sejumlah mazhab akidah seperti Asyariyah, Maturidiyah, Muktazilah, Wahabi, Khawarij, Itsna Asyariyah. Syiah juga punya sejumlah mazhab akidah seperti Itsna Asyariyah, Zaidiah, Ismailiyah.

Memang ada yang memberikan fatwa bahwa jika seorang muslim mengingkari Muhammad saw sebagai nabi, dia keluar dari Islam. Dia melanggar akidah Islam. Tetapi tidak semua dosa besar mengakibatkan seseorang keluar dari Islam. Meninggalkan salat, berzina, mencuri, membunuh meski dosa besar tidak selamanya mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.

Perkara orang ini munafik atau ingkar (kafir) pada masalah akidah, itu adalah masalah lain.

Apakah ada yang murtad namun merahasiakan kemurtadannya kepada muslim lain? Apakah ada yang hendak merongrong Islam dari dalam? Apakah ada yang ingin Islam semau gue? Apakah ada yang merusak Islam? Apakah ada yang mengklaim Islam dari sumber tertentu (jalur sahabat atau ahlul bait Nabi saw) namun kegiatannya bidah dan merusak Islam?

Mungkin ada kelompok yang, alih-alih mengatur jamaahnya untuk mengetatkan fikihnya, mereka juga mengatur jamaah lain dan memaksa jamaah lain seperti fikih dirinya. Contohya masalah tahlil, jumlah rakaat tarawih yang sebenarnya masalah fikih. Tahlilan atau haul diperingati oleh NU. Demikian pula dengan Asyura dan Arbain (40 hari syahadah Imam Husain bin Ali). Seseorang bisa mendengar ceramah Asyura dan Arbain dari berbagai kelompok muslim: Buya Yahya (Albahjah, Cirebon, https://youtu.be/g57u-VDQiT0, https://youtu.be/g57u-VDQiT0), Habib Riziek Shihab (https://youtu.be/_6mvjEZkltA), Gus Baha NU (https://youtu.be/Kel88-MLeyw), Gus Muwafiq NU (https://youtu.be/pfedGlUjOE8), Kyai Said Aqil Siroj NU (https://youtu.be/bW-S9ch8Slk), Habib Hasan bin Ismail Al Muhdor (https://youtu.be/eAuHN9iILf0), Habib Muhammad bin Alwi (Syiah, https://youtu.be/pFdnNdpDHW0), Habib Musa Kazhim (Syiah, https://youtu.be/a_vWjvEl5OE), Rahmat Baequni (https://youtu.be/MMUW_VGmjJU). Asyura bukan milik Syiah semata. Ahlul bait juga bukan milik Syiah semata. Duka untuk Ahlul Bait Nabi saw tidak hanya dialami Sunni dan Syiah, bahkan semua manusia. Tidak hanya muslimin.

Jangan sampai ada kelompok yang berupaya membubarkan kelompok lain dengan dalih meluruskan akidah. Orang bisa berduka dan tahlilan karena kematian kerabat. Yang menyelenggarakan majlis duka juga tidak terlarang dan tidak mengganggu akidah. Apakah ada kelompok yang bersikeras mengatakan bahwa majlis duka, haul, atau tahlilan merusak akidah? Apakah ada kelompok yang cenderung mengatakan tahlilan, solawatan, muludan, tawasulan, qunut, ziarah sebagai ritual yang merusak akidah? NU mempunyai tradisi yang kuat. Kelompok lain malah menyerang NU sebagai perusak akidah, di luar Islam atau kutub terjauh dari Islam. Padahal khilafiah punya keterbatasan ketika kelompok ini tidak mengklaim maksum atau semaksum Imam Mahdi.

Mungkin kelompok ini keliru dalam memahami perbedaan fikih (yang mereka sebut akidah).

Dikatakan bahwa manusia itu musuh kebodohannya. Dia benci dengan kebodohannya. Dia membenci kebodohannya. Namun jangan sampai karena bloon (atau dungu menurut terminologi Rocky Gerung), ia menyerang atau membungkam kelompok lain agar tumpas lalu dirinya jadi terlihat pandai.

Jika suatu person mengklaim maksum, patutkah ia memaksakan fatwanya kepada kelompok lain? Padahal Nabi saw yang maksum pun tidak memaksakan kepada sahabat-sahabat terdekatnya. Tadi juga ada gambaran riwayat protes sahabat kepada Nabi saw. Berarti protes kepada kelompok yang suka membidahkan juga diperbolehkan.

Hari-Hari Ziarah Haji (46)

Apa benar di Cina brrjilbab atau salat Jumat dituduh radikal? Hari ini saya melihat vidro tentsng sekelompok orang melakukan konferensi pers terkait kunjungan mereka ke Cina untuk menyelidiki isyu Uighur. Di video itu disebutkan bahwa berjilbab di Cina itu bermasalah dengan rafikal atau dituduh radiksl, salat jumat di Uighur juga dianggap radikal, ibadah hanya boleh di ruang tertutup. Menyedihkan sdkali jika benar demikian.

Tahun 2018, di depan kabah ketika musim haji, saya bertemu jemaah haji dari Cina. Umur, wajah dan tubuhnya mirip Oom RB Suryada. Berkumis tipis. Saya berusaha berkomunikasi dengannya. Namun dia mengisyaratkan mau salat. Saya menyaksikannya salat di depan Kabah. Dia tidak mengisyaratkan apa-apa tentang Uighur.

Di depan Masjidil haram, saya juga bertemu ibu-ibu muslimah Cina saat salat asar. Adab menahan saya untuk berkomunikasi dengannya.

Saat di Arafah, sayĆ  bertemu sejumlah pemuda ganteng yang saya duga adalah para samurai atau ronin Jepang. Namun mereka menggunakan baju ihram. Saya tanya, apakah mereka dari Jepang? Mereka mrnjawab dari Cina. Saya terkejut. Tidak ada wajah Uighur tertindas di wajah mereka.

Saya tetap bertanya, benarkah warga Uighur madzlum?

Wallahu alam. 🙏

Mazhab Intoleran dan Imam Mahdi

Sekitar 15 tahun terakhir, diperkirakan di Indonesia muncul mazhab (?) intoleran. Masa itu adalah masa peralihan antara Presiden Mega menjadi Presiden SBY. Mungkin bibit intoleran itu sudah ada sebelum itu. Contoh simpel dari intoleran ini adalah pemaksaan keyakinan tentang khilafah atau kerajaan Islam. Saya cukup terkejut melihat perkembangannya. Saya juga terkejut melihat rasio manusia yang terlepas dari tempatnya karena mengikuti kelompok ini.

Saya mempunyai banyak pengalaman dengan kelompok (mazhab?) intoleran ini. Contohnya pelarangan demokrasi (pemilu), pemaksaan sistem khilafah, pemaksaan sistem ahl hali wal aqdi (semacam MPR), pelarangan ziarah kubur, pelarangan asuransi, pelarangan menghormat simbol negara (presiden, bupati, bendera, Garuda Pancasila, undang-undang), perbedaan pandangan tentang akidah (usuludin) dan fikih (furu udin), dan sebagainya.

Ada suatu mazhab (katakanlah mazhab) yang meyakini Islam hanya satu, tidak boleh ada mazhab, ulama selayaknya tak boleh berbeda pandangan, ulama juga bahkan semacam tak boleh berbeda orientasi politik. Ulama mereka menyuruh muslim untuk tidak memilih Ahok. Bahkan muslim pendukung Ahok diprovokasi agar mayatnya tidak disalatkan. Ulama lainnya menyatakan boleh memilih Ahok. Boleh di sini tentu bukan berarti harus memilih Ahok. Kini ada ulama yang terang-terangan membawa agama untuk menjatuhkan Presiden Jokowi lalu seolah menutup potensi orang boleh memilih atau mencoblos Presiden Jokowi.

Sebagai catatan, banyak fitnah ditujukan kepada Presiden Jokowi. Contoh fitnah itu di antaranya mengkriminalisasi ulama.

Sekarang orang berani berkata di mimbar tentang orientasi politik, menutup potensi perbedaan orientasi politik. Orang memang menyalahkan orang lain seperti fatwa kelompoknya adalah dari maksumin yang tak mungkin salah dan fatwa kelompok yang berbeda pasti salah. Kelompok ini juga meyakini bahwa khilafah dan kerajaan mesti benar dan harus dicobakan di Indonesia.

Saya katakan, Saudi juga mengklaim dua tanah haram sebagai miliknya, lalu klan (suku) Saudi ini juga menentukan siapa pejabat penting yang duduk di atas suatu posisi, klan ini juga mengklaim sumber daya alam sebagai miliknya, juga kritik terhadap klan ini dilarang. Apakah seperti ini khilafah yang ingin berdiri di Indonesia? Akankah bisa kita bayangkan raja Jawa yang menjadi rajanya? Raja Cirebon, raja Bugis, atau raja lainnya menjadi khalifah? Lalu raja dengan sesuka hatinya membagikan jabatan kepada kerabat dan kroninya? Lalu sumber daya alam dieksploitasi oleh keluarga raja ini? Lalu kritik terhadap raja terlarang?

Sistem seperti ini terjadi di Saudi, Thailand. Di Thailand juga kritik terhadap raja terlarang. Raja Thailand adalah penguasa tanah Thailand. Apakah Indonesia akan meninggalkan sistem demokrasi dan berubah (mundur) menjadi kerajaan? Perubahan dari demokrasi menjadi khilafah atau kerajaan adalah suatu kemunduran.

Saya tanyakan kepada kelompok ini, bagaimana cara khalifah dipilih? Apakah seperti pemilihan Abu Bakar? Penunjukan Umar? Perwakilan dalam pemilihan Utsman? Atau baiat beramai-ramai kepada Ali? Ataukah mengangkat diri sendiri seperti Albagdadi (ISIS) dan menyuruh orang lain baiat kepadanya? Apakah semacam ini?

Mereka mengatakan pemilihan khalifah dilakukan oleh ahl hali wal aqdi, yaitu semacam lembaga MPR. Saya katakan, itu adalah sistem demokrasi yaitu pemilihan perwakilan (bukan pemilihan langsung).

Bagaimana jika khalifah dianggap lalim? Khalifah mungkin lalim karena khalifah tidak maksum. Mungkinkah kita menahan diri untuk tidak mengkritiknya? Mungkinkah kita tidak menahan diri untuk menuntut kejatuhannya seperti orang intoleran mengharap kejatuhan Presiden Jokowi?

Meskipun saya tidak setuju dengan sistem kerajaan atau khilafah, saya juga mempunyai kekecualian. Kerajaan dengan pemimpin seorang yang maksum pasti akan menemui keadilan. Kerajaan itu juga akan muncul di akhir zaman. Kerajaan itu akan dipimpin oleh Imam Mahdi yang maksum dan mengatur segala urusan.

Ketika Imam Mahdi mengklaim sebagai khalifah Rasulullah min aali Muhammad saw maka beliau adalah khilafah Allah. Mungkin juga ada orang yang samar terhadap Imam Mahdi dan tidak mengakui Imam Mahdi dan tidak berbaiat kepadanya. Itu seperti ada orang yang tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah karena itu tak mau mengeluarkan zakat kepadanya. Itu sama seperti ada orang yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah lalu mengadakan pemilihan khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman), gubernur memberontak kepada Imam Ali (misalnya Muawiyah bin Abu Sufyan) bahkan membunuh Imam Ali (misalnya Ibnu Muljam). Potensi ketidaksetujuan atau perbedaan dalam khilafah juga sebenarnya hal yang biasa.

Imam Mahdi dan musuhnya yaitu Dajal ada dalam nas (Quran dan) hadis. Dalam hadis diperintahkan agar umat taat kepada Imam Mahdi karena mempunyai nama dan sifat seperti Nabi Muhammad saw. Kesamaan sifat ini diyakini sebagai kesamaan kemaksuman. Jika Imam Mahdi maksum, maka ketaatan kepadanya adalah mutlak. Seandainya Imam Mahdi tidak maksum, maka perintah Nabi saw sia-sia karena mustahil Nabi saw memerintahkan umat taat (secara mutlak) kepada orang yang sekali-kali salah, kadang-kadang benar.

Perbedaan ideologi adalah fitrah manusia. Orang bahkan bebas tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi. Orang bebas beragama karena ideologinya berbeda dengan orang lain. Orang juga bebas bermazhab karena ulama tidak sepakat tentang satu masalah (qunut, niat zahar, basmalah zahar, tawasul, ziarah, haul, tahlil, menggerakkan jari saat tasyahud).

Namun semua muslim yang berbeda pendapat tentang masalah ini tetaplah muslim, darahnya haram ditumpahkan, kehormatannya wajib dijaga. Seorang menjadi muslim karena mengakui dua kalimat syahadat, bukan karena mengakui khilafah.

Hari-Hari Ziarah Haji (42)

Mahasegala, Kepada-Mu Aku Menyeru

Engkau berkata

Serulah Aku di malam yang sunyi

Niscaya aku akan mendengar

Mintalah kepadaku segala hajat-Mu

Niscaya aku kabulkan

Ingatlah Aku di masa sulitmu

Niscaya Aku menolongmu

Tolonglah agama-Nya dengan menolong dan melindungi warga

Niscaya Dia akan menolong dan melindungimu

Hadirkan Dia dalam setiap langkahmu

Niscaya jalanmu akan menjadi terang

Cintailah utusan dan para kekasihnya

Niscaya kau tak akan tersesat

Lihatlah dan dengarlah apa yang utusan dan kekasihnya lihat dan dengar

Niscaya mata dan telingamu akan menjadi mata dan telinga-Nya

Bicaralah sesuai yang dibicarakan utusan dan kekasih-Nya

Bertindaklah sesuai dengan tindakan utusan dan kekasihnya

Bergembiralah saat utusan dan kekasuh-Nya bergembira

Bersedihlah saat utusan dan kekasuh-Nya bersedih

Berperanglah saat kekasih dan utusan-Nya berperang

Berdamailah saat utusan dan kekasih-Nya berdamai

Niscaya kau tak akan menyimpang

Hari-Hari Ziarah Haji (41)

Saat Pertama Melihat Kabah

Sejak kecil saya sering melihat Kabah secara tidak langsung. Saya melihat Kabah di gambar, foto, atau televisi. Teknologi foto atau televisi membuat gambaran Kabah di benak menjadi jelas, sangat jelas. Saya juga melihat orang-orang yang ada di sekitar Kabah secara tidak langsung.

Pada usia sekolah dasar, tetangga Bapak saya pergi haji. Ketika mereka sudah pulang berhaji, saya mampir ke rumahnya. Saya melihat foto tetangga saya dengan latar belakang Kabah. Titik-titik putih di belakang tetangga saya adalah manusia-manusia di sekitar Kabah.

Saya ingat saya juga diberi sesloki air zam-zam. Waktu itu saya heran mengapa hidangan airnya begitu sedikit. Menurut saya, mestinya dicampur air biasa saja, tak apa, agar lebih memenuhi dahaga. Saya juga mencicipi kurma dan kudapan laib yang menurut saya asing atau kurang biasa rasanya.

Saya merasa tak asing dengan Kabah. Namun kali ini saya akan melihat Kabah secara langsung. Menurut sebagian guru dan ulama, sebagian jemaah yang melihat Kabah akan menangis. Terharu atau entah perasaan yang sukar digambarkan dengan kata-kata.

Saya sendiri teringat akan jejak Rasulullah saw. Beliau di kota ini lahir, besar, membawa Islam, menyampaikan Islam kepada manusia, berhati dan bersikap lembut namun keras pada kejahatan.

Mekah (mestinya) dipenuhi dengan jejak Nabi saw. Sungguhpun kini orang Mekah bepergian dengan mobil, mendapat air zam-zam melalui pipa, dikelilingi oleh gedung-gedung yang tinggi, dan sebagainya … Jejak Rasulullah saw ada di sana. Saya sekarang hendak menapaki jejak Rasulullah saw itu, mengikuti teladannya, dan mengambil berkahnya.

Saya membicarakan obsesi saya dengan teman sekamar maktab. Kami sekamar berempat, dan ada pula yang berlima. Saya membicarakan jejak Rasulullah saw meski kami berada di lantai 10 (?), naik turun dengan lift, mencuci baju dengan sabun dan mesin cuci di puncak maktab, bepergian dengan bus salawat, ….

Saya juga melihat ada jemaah yang membentuk barisan lalu berjalan menuju Kabah sambil meninggikan talbiah. Semangat atau gairah ibadah para jemaah sangat tinggi. Mereka berharap keridaan Allah swt melalui teladan Nabi saw.

Ketika saya pertama kali melihat Kabah, saya menguatkam ingatan saya tentang jejak Rasulullah saw di sini. Entah saya ingin menangis atas dosa atau bahagia karena bertemu dengan jejak Rasulullah saw. Saya menguatkan memori Rasulullah sebagai wasilah (perantara) antara saya (makhluk) dengan Allah swt.

Saya juga berusaha melihat jejak Rasulullah saw pada jemaah yang sedang beribadah di Kabah dan Mekah. Saya berusaha melihat jejak Rasulullah saw di mata mereka, pada tindakan mereka, pada ucapan mereka, dan pada diam mereka.

Hingga kini pun saya tetap berusaha melihat jejak itu.