Hari-Hari Ziarah Haji (39)

Mental Korup Pegawai Gaya Orba

Pada bagian lain sudah diceritakan tentang sopir bus solawat di Mekah yang terang-terangan memelas minta uang. Sedangkan di Jepang, pemberian tip sekalipun merupakan penghinaan bagi penerimanya (mungkin apalagi pemberinya). Di dalam agama, sebagian tip acap dianggap pemberian terima kasih yang bukan pungli.

Mental semacam ini sudah ada sejak zaman Orba. Saya adalah orang yang mengalami masa Orba karena saya lahir pada tahun 70. Band The Police bilang dalam satu liriknya bahwa, “We were born in the 70’s”, maaf bukan the 50’s. Karena itu saya mengalami masa Orba.

Saat itu banyak pegawai yang bekerja demi pungli (pungutan liar). Ada jabatan basah, ada jabatan kering. Jabatan yang berhubungan dengan manusia dan ditemui banyak manusia yang memerlukan adalah jabatan yang basah. Contohnya, pegawai yang bertugas meloloskan atau mengeluarkan KTP, surat izin, yang punya cap, dan sebagainya. Pegawai itu acap tak mau bekerja kecuali diberi uang persen. Uang persen adalah uang yang diberi atas dasar pungli.

Pungli dilakukan karena pejabat berwenang untuk meloloskan sesuatu. Bila warga butuh KTP, maka warga yang perlu KTP harus membayar pejabat atau staf (atau sejumlah staf) yang meloloskannya. Pada masa lalu bahkan kepala sekolah meminta uang tanda tangan ijasah dan legalisir.

Pada masa Orba, SOP suatu staf tidak jelas. Dia bisa melakukan apa saja. Lalu dia hanya memilih pekerjaan yang basah. Pekerjaan yang kering tak pernah dikerjakan. Namun tukang sapu pun oleh jemaah haji Indonesia diberi uang. Padahal pekerjaan tukang sapu jalan “tidak terlalu dibutuhkan” orang (?).

Pada masa Orba, pegawai pengadilan acap meminta atau mendapat gratifikasi dari setiap kasus yang masuk. Saat itu pegawai rendah di pengadilan bisa punya uang masukan dari gratifikasi yang lebih besar dari gajinya.

Pada masa orba polisi ysng juga bagian dari pengadilan, mencari tambahan pungli dari seriap kasus yang masuk ke pengadilan. Jika kasus sudah masuk polisi, menang pengadilan juga bisa kehilangan uang. Apalagi kalah di pengadilan. Pengadilan merupakan hantu dan bukan tempat untuk mencari keadilan.

Pada masa Orba polisi lalu lintas juga cari duit di jalan. Mereka menyetop pengendara baik pengendara tidak melanggar lalu lintas apalagi melanggar. Mereka menyetop pengendara baik ada operasi resmi maupun tidak. Lalu hasil operasi dibagi-bagi dari polisi jalanan, petugas bawahan sampai pejabat tinggi kepolisian.

Pada masa Orba, pegawai rumah tahanan (rutan) bisa seenaknya meminta kepada narapidana (napi), maupun orang atau keluarganya yang membesuk. Sekarang kementerian hukum dan HAM di era Jokowi pun seperti belum melakukan pembenahan pada rutan dan pegawainya.

Pada masa Orba, BPJS atau KIS dilecehkan karena rumah sakit atau dokter susah mengklaim perawatan. Namun, pelayanan BPJS harus lebih baik lagi.

Pada masa Orba pegawai kenaikan pangkat dan jabatan mesti dengan mudah mendapat pengertian dari pegawai negeri yang ingin naik pangkat atau jabatan. Bila pegawai negeri ini tidak mengerti permainan seperti ini, pegawai kenaikan pangkat bisa membiarkan pegawai ini tidak naik pangkat atau menghilangkan berkas permohonannya. Apakah praktik seperti ini masih ada? Aoakah pegawai hanya akan bekerja bila ada tip? Lalu akan marah jika tidak ada tip?

Pada masa Orba, guru dan dosen yang memegang kunci kelulusan siswa dan mahasiswa bisa saja meminta sesuatu kepada siswa atau mahasiswa. Walaupun pemberian itu sebenarnya hanya sekedar buah tangan yang tidak seberapa harganya. Sekarang praktik itu dianggap gratifikasi.

Saya katakan tidak semua oknum pejabat korup. Gus Dur mengatakan bahwa polisi yang tidak korup di antaranya (hanya) Hoegeng dan mudah-mudahan Tito.

Intinya korup atau tidaknya pejabat bergantung presiden. Jika presiden korup, maka polisi, tentara, kementerian, gubernur, walikota, bupati, dinas, camat, lurah, kepala desa, ketua RW, ketua RT, serta staf di lingkungannya jangan diharap tidak korup.

Kini Presiden Jokowi memberlakukan Saber Pungli sebab pungli itu bisa mengeruk tidak hanya ratusan ribu, bshkan jutaan, puluhan juta, milyaran. Pejabat atau wakil rakyat bisa mendapat uang pungli ratusan juta sampai milyaran. Rizal Ramli di youtube juga mengungkap gratifikasi besar di negeri ini. Pekerjaan pejabat bisa dibayar dengan gratifikasi promosi jabatan. Video tentang Saber Pungli juga ada banyak di youtube.

Pada masa sekarang, prosedur operasional baku (POB, SOP, atau standard operating procedure) dibuat. Kepala sekolah yang POB-nya menanda tangan ijasah dan legalisir tak boleh lagi minta uang pungli dari siswa.

Petugas RT, RW, kelurahan, atau kecamatan yang POB-nya membuat KTP tak boleh lagi meminta uang pungli (amplop, sogok) kepada warga yang mau membuat KTP.

Dosen yang POB-nya membimbing atau menguji skripsi tak boleh lagi meminta uang jasa (bingkisan, gratifikasi) atas bimbingan atau ujian skripsi yang dilakukannya.

Staf yang SOP-nya mengurus kenaikan pangkat guru di dinas pendidikan atau dosen di perguruan tinggi tak boleh meminta imbalan atas pekerjaan yang dilakukannya.

Intinya, pada zaman sekarang, seseorang harus bekerja tanpa memikirkan masukan pungli. Namun bila ada uang pemberian itu adalah gratifikasi.

Hukum agama ada yang membolehkan pemberian kasih sayang. Sementara hukum negara tegas melatangnya. Di sini agama fleksibel. Agama dapat mengikuti tren negara bila memang kasus korup terjadi.

Sungguhpun di Jepang pemberian tip itu menghina, namun situasinya bisa fleksibel. Kami punya cerita saat di Jepang. Saat itu kami sedang ada di kawasan Danau Kawaguchiko antara terminal dan danau. Kami tidak tahu arah. Lalu salah seorang di antara kami bertanya kepada seorang pemuda yang berpapasan jalan dengan kami. Kami berbincang-bincang dengan pemuda itu tentang arah jalan. Ia menunjukkan arahnya. Rupanya karena ia sedang luang, ia lalu mengantar kami berjalan menuju tujuan. Ternyata jaraknya cukup jauh karena ditempuh dengan jalan kaki. Di srla perjalanan, kami mampir di sebuah gerai warung serba ada. Kami meminta dia untuk mengambil minuman dan roti atas nama kami. Ia menolak. Begitulah. Mungkin di Jepang pemberian macam itu seperti suap, sogokan, atau pungli. Kami memaksanya. Akhinya dia menerima. Dia berbisik pada saya, mengapa dia atau kalian baik? Saya mengangkat bahu. Belakangan saya baru tahu bahwa tindakan kami terindikasi pungli. Pemuda Jepang itu hati-hati sekali menerimanya dan nyaris menolak. Menurut saya, bisikannya kepada saya adalah sindiran. Khawatirnya pemberian itu jadi hinaan baginya. Untungnya kami tidak merendahkan dia.

Tulisan ini diharapkan jadi pelajaran agar masa depan lebih cerah lagi. Tulisan ini sama sekali tidak berniat semata merendahkan masa lalu namun bertujuan jadi pelajaran di masa depan.

Hari-Hari Ziarah Haji (36)

Orang yang Lugu dalam Beragama

Mereka itu adalah orang yang menganggap kelompoknya benar, seolah ayat dan tafsirnya demikian. Memang Islam dan mazhab harus diyakini yang benar. Namun sementara Nabi saw wafat, orang maksum manakah yang berani menjamin bahwa suatu golongan dijamin masuk surga sedang golongan lainnya masuk neraka?

HTI adalah kelompok demikian. Beberapa kelompok lain juga menunjukkan indikasi intoleran yang sama. Ini adalah keluguan dalam beragama. Intoleransi adalah keluguan dalam beragama. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok HTI dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok FPI dijamin masuk surga? Tidak ada. Mana ada ayat atau tafsir yang menunjukkan kelompok ulama dijamin masuk surga? Ada, tetapi kalian tidak tahu. Kuncinya adalah belajar mazhab, sejarah, Quran, hadis, dan sebagainya.

Orang-orang polos dalam beragama belum pernah belajar mazhab. Begitu dia tahu khilafah, maka selain khilafah disesatkan. Tidak cukup disesatkan, mereka teriak-teriak khilafah di depan telinga orang lain. Teriakan itu memancing perdebatan. Lalu dia juga tak pernah mau menerima perbedaan. Seolah mengklaim khilafah itu surga selainnya adalah neraka. Kalau bisa akur, tak mungkin negeri ini ribut oleh sekelompok kecil yang teriak khilafah. Banyak orang yang terganggu dengan teriakan khilafah itu.

Kunci perdamaian dalam agama dan mazhab adalah toleransi dalam agama dan mazhab. Nabi saw sekalipun tidak memaksa konsep Islam kecuali dengan menghargai pencapaian akal manusia. Orang menganut suatu agama karena memang batas akalnya sekian dan demikian. Mengapa sekarang ada sekelompok orang Islam yang mengkafirkan kelompok Islam lain padahal kedua kelompok itu sama-sama bersyahadat.

Fatwa suatu ulama tidak mungkin setara dengan hadis atau Quran karena ulama tidak maksum. Semakin banyak ulama semakin mungkin terjadi perbedaan di antara ulama. Sayangnya yang disebut dengan “ulama” itu justru tidak paham kedudukannya bahwa dia tidak setara dengan Nabi atau Quran.

Klaim seorang nabi sebagai maksum berarti nabi tersebut paham rida Tuhan dan tak mungkin melanggar rida-Nya. Kalaupun ada nabi yang melanggar, maka pelanggaran itu tidak seperti pelanggaran manusia biasa.

Jadi seorang nabi tidak mungkin berbeda pendapat dengan nabi lain tentang keridaan Tuhan. Seorang maksum tidak mungkin berbeda pendapat dengan maksum lain tentang keridaan Tuhan. Maksumin yang hidup sezaman tidak pernah berbeda pendapat. Nabi Zakaria tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Imran, Nabi Yahya, atau Nabi Isa. Nabi Musa tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Harun. Nabi Yakub tak pernah berbeda pendapat dengan Nabi Yusuf.

Namun ulama berbeda pendapat satu dengan lainnya.

HTI berargumen bahwa khilafah ala HTI adalah untuk menyongsong Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman. Sayangnya HTI tidak bisa berbeda pendapat ihwal khilafahnya dengan kelompok lain. Iran adalah negara mayoritas muslim syiah yang juga menyongsong Imam Mahdi. Wilayatul fakih sebagai konsep negara mereka jelas menyongsong munculnya Imam Mahdi. Namun, pernahkah seseorang mendengar konsep wilayatul fakih dipaksa untuk diterima atau diterapkan? Tak pernah. Konsep wilayatul fakih adalah konsep yang disusun ulama. Karena itu tidak boleh dipaksakan karena ulama harus menghargai pendapat ulama lain. Namun, dunia bisa melihat bahwa konsep wilayatul fakih diterima dan dijalankan di Iran tanpa memandang mazhab.

Hari-Hari Ziarah Haji (34)

Aku ingin masuk surga

Aku ingin masuk surga

Bekalku adalah dua kalimat syahadat

Meski setiap hari berbuat maksiat

Korupsi, menyakiti orang, dan berbuat jahat

Ku tetap ingin masuk surga

Dengan bekal dua kalimat syahadat

Mungkinkah seseorang masuk surga

Meski ia berbuat maksiat di setiap harinya

Berbuat jahat, korupsi, dan menyakiti tetangga

Mungkinkah ia masuk surga

Sementara ia menciptakan neraka di setiap harinya

Surga mana yang kau tempati

Surga siapa yang kau tempati

Surga apa yang kau ciptakan

Sedang setiap hari oramg tuamu kau sakiti

Orang lenah kau biarkan

Engkau juga membiarkan kebohongan dan kebodohan merajalela

Naik ke atas mimbar sambil mengecam kebenaran

Dan kau membantu setan berbuat kejahatan

Munginkah seseorang berharap surga

Dengan bermodal dua kalimat syahadat

Sementara setiap hari ia berbuat kejahatan

Lalu kau katakan, kau hanya akan disiksa di neraka sebentar saja

Kau akan dibakar di neraka sementara saja

Entah berapa ribu tahun lamanya

Yang akhirnya akan ke surga juga

Dengan modal dua kalimat syahadat

Kau meremehkan kejahatan yang kau perbuat

Kau halangi kebenaran saat tak berfaedah bagimu

Kau tutup telinga hingga kebenaran tak mencapai jiwamu

Kau tutup pula matamu sehingga kau tak bisa melihat ilmu dan cahaya

Dosa terbesar adalah meremehkan perbuatan jahat

Hingga kau tak takut akan murka Tuhan dan siksanya

Hari-Hari Ziarah Haji (32)

Bertemu dengan Jemaah Eropa

Seingat saya jarang ada orang Eropa yang berhaji. Mungkin saya kurang bisa mengamati jemaah dari Eropa. Mungkin saya tak bisa membedakannya dengan jemaah dari Iran, Rusia, atau negara-negara balkan. Jemaah dari Eropa didefinisikan dengan jemaah dengan ras kulit putih.

Saya jarang menyengaja salat di samping orang kulit putih. Namun saya sering melihat orang Iran. Orang Iran juga berkulit putih. Namun menurut saya perilaku orang Iran sangat khas. Jemaah Iran mudah dikenal sebagaimana jemaah Indonesia, IPB (India, Pakistan, Bangladesh).

Seingat saya, saya pernah bertemu dengan jemaah yang saya duga berasal dari Eropa. Namun rasanya saya kurang tertarik pada jemaah kulit putih ini. Saya juga pernah bertemu dengan orang Inggris keturunan negro Bangladesh yang sedang studi arsitektur. Orang dari Eropa tidak selamanya kulit putih. Orang negro juga bisa jadi orang Eropa. Persepsi kebanyakan orang Eropa adalah kulit putih.

Setelah saya melihat peta, ternyata ada negara negara kecil di Eropa yang ada penduduk muslimnya. Saya tidak paham bendera-bendera negara-negara kecil itu. Saya pun tidak tahu sejarah bangsa mereka. Bila mereka tidak berbahasa Inggris, saya tidak bisa berkomunikasi dengan mereka.

Menurut saya, sangat penting mengenal negara-negara di dunia. Di sekolah dasar kita belajar mengenal negara-negara di Asia. Kini saya merasakan manfaatnya ketika berhaji. Namun, pelajaran tentang Eropa, Amerika, dan Afrika seingat saya tidak terlalu mendalam dipelajari di sekolah.

Dengan adanya internet, dunia menjadi kecil. Seseorang bisa mengenal bangsa lain melalui internet. Seseorang bisa bercakap-cakap dengan bangsa lain melalui internet. Seseorang pun bisa mengetahui informasi suatu bangsa melalui internet. Video tentang negara, bendera, bahasa, ibu kota negara, perilaku warga, negara miskin, negara kaya, negara bahaya, negara paling aman, negara bersih, negara indah, negara kotor, negara penduduknya sedikit, negara padat ada di internet.

Sangat penting pula belajar bahasa-bahasa di dunia. Selain bahasa Inggris dan Arab, seseorang seharusnya memperhatikan untuk belajar bahasa Spanyol, Prancis, Jepang, Jerman, dan Portugal. Bahasa Portugal juga digunakan di Brasil dan Timor Leste. Jika orang Timor Leste bekas WNI, mereka mungkin bisa berbahasa Indonesia.

Hari-Hari Ziarah Haji (31)

Bertemu dengan Jemaah dari Tunisia dan Libya

Negara Tunisia dan Libya saya yakin merupakan negara di Afrika. Seperti halnya Maroko, kedua negara itu mendapat pengaruh Islam dan mempunyai peradaban yang cukup baik.

Seingat saya orang ini dari Tunisia. Saya ingat demikian karena Tunisia saya kenal dari kurmanya yang bagus dan banyak beredar di pasaran Indonesia. Saya menyapanya, bersalaman, dan menanyakan asal negaranya. Ia berasal dari Tunisia. Saya saat itu tak punya gambaran di mana letak Tunisia di peta dunia. Rupanya Tunisia berada di dekat Maroko (Maghribi).

Orang dari Tunisia ini mengatakan sesuatu tentang Arab Spring yang membuat negaranya sengsara. Arab Spring adalah arus isu demokrasi agar sebagian negara Arab menjadi negara yang menerapkan demokrasi. Namun saya kurang pantas paham pada sebagian masalah ini. Dinamakan spring karena demokrasi seolah bunga yang bersemi atau negara Arab yang mulai bersemi karena demokrasi. Saya juga yakin bahwa demokrasi jauh lebih baik daripada khilafah.

Orang dari Tunisia ini bekerja di bandara. Menurutnya keadaan ekonomi Tunisia bagus sampai terjadi isu Arab Spring.

Kami sedikit banyak berbicara tentang Tunisia namun saya tak pernah menyinggung tentang kurma tunisia dengannya.

Saya juga bertemu dengan orang Libya. Saya benar-nenar yakin dia mengatakan Libya. Saya mengenal Libya dan Moamar Khadafi sejak saya masih di sekolah dasar. Saya pun tahu petanya. Seingat saya ada berita, konon ada masjid yang didirikan Ustadz Arifin Ilham itu mulanya bantuan dari Presiden Moamar Khadafi. Itu sebelu Moamar Khadafi diserang pemberontak dari luar yang mengalahkannya. Moamar Khadafi gugur dan pemerintahan Libya menjadi tidak stabil.

Jemaah dari Libya ini mengatakan Khadafi dengan isyarat jempol. Lalu ia mengatakan pasca-Khadafi dengan isyarat jempol ke bawah. Kami sedikit banyak berbincang tentang negara Libya.

Saya tidak terlalu ingat peristiwa pertemua saya dengan jemaah Tunisia dan Libya. Namun cerita ini selayaknya bisa dikonfirmasi oleh cerita jemaah atau orang lain.