Mahasiswa Belajar Riset dengan Dosen

Mahasiswa ditugasi untuk membuat riset mini. Fakta menunjukkan bahwa kemampuan mahasissa cenderung rendah atau mereka menganggap tugas itu sepele atau asal masuk. Ada sekitar 4 kelas yang rata-rata terdiri atas 40 mahasiswa. Jadi, 4×40 mahasiswa di tingkat satu. Hanya sedikit saja yang bagus, lengkap instrumen wawancaranya, observasinya, surveynya. Hasilnya pun masih sederhana, tak ada yang penggolongannya mengesankan. Penggolongannya tidak ada atau biasa saja.

Dari sisi kalimat, hanya kurang dari setengah atau seperempatnya yang kalimatnya bagus.

Dari sisi rujukan, hanya sedikit siswa yang pernah atau sering membaca jurnal online. Hanya sedikit pula yang membaca buku babon seperti ejaan, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, atau Abdul Chaer.

Karena rendahnya mutu riset mini mahasiswa itu, mungkin lebih baik kelas dikelompokkan pada tim riset berdasarkan payung penelitian dosen, misalnya riset pendidikan seksual bagi siswa SD, riset penggunaan gawai dalam pelajaran, riset pengembangan media, media AI2, pengembangan lagu dengan HumOn, LMMS, MuseScore, dan sebagainya. Cara pengelompokan ini ada kekurangan dan kelebihannya daripada cara individual.

Rendahnya mutu mahasiswa ini mesti digambarkan dengan hasil pindai atau screenshoot. Di sisi lain, tingginya kemampuam siswa itu juga mesti digambarkan dengan hasil pindai atau screenshoot.

Kekurangannya adalah potensi ada riset yang menginspirasi lebih kecil daripada cara individual. Mungkin pula ada mahasiswa yang tidak memberi kontribusi pada kelompok. Dengan begitu siswa luput dari kewajibannya mengasah pengetahuan dan keterampilan. Dosen harus meminta perwakilan mahasiswa untuk melaporkan mahasiswa yang tidak memberi kontribusi pada kelompok. Dosen mungkin tidak bisa selamanya mengawasi kinerja anggota kelompok.

Kelebihan cara kelompok adalah kemudahan dalam menilai. Bila satu kelas hanya ada lima atau enam kelompok, dosen hanya menilai lima atau enam tugas mini riset saja.

Program e-learning spada digunakan untuk mengumpulkan dan menilai tugas. Menilai 160 tugas individu mahasiswa itu benar-benar melelahkan. Mrmbaca dengan trliti setiap tugas yang masuk hampir mustahil. Mungkin membaca bagian-bagian pentingnya lebih meringankan. Dosen juga memeriksa kelengkapannya. Kadang-kadang ind├Čkator penilaiannya disampaikan kelada mahasiswa agar siswa memperhatikam kelengkapan tugasnya.

Jika mahasiswa dikelompokkan, setiap mahasiswa harus mempunyai tugas spesifik, mulai dari menyusun instrumen, menjaring data, validasi data, proofread (perbaikan ejaan), penerjemahan, publikasi (jurnal atau ikut konferensi).

Misalnya mahasiswa belajar membuat proyek lagu Vangelis, “Conquest of Paradise” untuk pertunjukan dengan software LMMS atau HumOn.

Mungkin juga ada satu tugas individu dengan tema riset yang dibebaskan karena bisa jadi tema riset mereka menginspirasi riset yang bagus. Jika semua mahasiswa melakukan mini riset atau membuat judul mini riset, mungkin ada satu atau dua tema yang inspiratif.

Meningkatkan Sitasi Publikasi dalam Tradisi Ilmiah di Perguruan Tinggi

Pada saat ini, salah satu kemampuan yang bergengsi bagi dosen adalah kemampuan membuat karya yang disitasi oleh orang lain. Karya itu bisa saja berupa temuan ilmiah, artikel, buku, hak kekayaan ilmiah, maupun paten. Tingginya tingkat sitasi ini membuat dosen yang bersangkutan dianggap bergengsi.

Di sisi lain, tingkat sitasi ini juga harus disertai dengan publikasi bagi orang yang melakukan sitasi. Sebagai contoh, bila mahasiswa melakukan sitasi pada karya dosen, maka sitasi mahasiswa ini tidak akan diketahui sampai mahasiswa ini mempublikasikan karyanya juga. Dengan demikian, dosen harus terlebih dahulu mempublikasikan karya ilmiahnya di internet. Mahasiswa atau orang lain yang melakukan sitasi pun harus mempublikasikan karya ilmiahnya juga.

Yang harus diperhatikan adalah tingkat sitasi ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa di perguruan tinggi yang sama. Tingkat sitasi yang baik adalah karya ilmiah yang disitasi itu harus disitasi oleh sejumlah perguruan tinggi lain atau dari institusi lain. Semakin banyak orang yang melakukan sitasi, semakin baik tingkat sitasinya.

Pengukuran sitasi yang paling mudah adalah dengan google scholar dengan h-index-nya. Sayangnya, google tidak menyediakan ruang untuk mempublikasikan karya ilmiah. Dengan begitu, seseorang dapat mempublikasikan karya ilmiahnya misalnya di jurnal online atau di situs research gate. Situs research gate dan semacamnya merupakan situs yang memberikan ruang (space) gratis bagi orang yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya. Tentu saja research gate juga mendapatkan keuntungan dari publikasi ini, misalnya bila publikasi karya ilmiah ini bisa dikembangkan menjadi proyek paten yang dijual.

Contoh sitasi google scholar ada pada laman https://scholar.google.co.id/citations?user=8qipIqIAAAAJ&hl=en. Kemudian seseorang dapat melihat artikelnya adalah di research gate seperti pada laman https://www.researchgate.net/profile/Prana_Iswara/publications. Contoh artikel yang dipublikasikan di jurnal misalnya jurnal online dengan basis OJS (Open Journal system). Ada jurnal online Mimbar Sekolah Dasar yang memuat artikel yang dipublikasikan pada laman http://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar/article/view/859. Artikel ini telah terkait dengan google scholar. Bila pengutip artikel ini mempublikasikan artikelnya juga, maka tingkat sitasi penulis artikel ini meningkat. Beberapa artikel juga dapat dipublikasikan di situs perguruan tinggi (file direktori) seperti pada laman http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/penelitian/2014/PEMBELAJARAN%20PEMENTASAN%20DRAMA%20KOMEDI%20SUNDA%20%93JURAGAN%20HAJAT%94%20BAGI%20MAHASISWA%20UPI%20KAMPUS%20SUMEDANG.pdf

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah, “Apakah artikel yang tidak dipubikasikan di jurnal online sebaiknya dipublikasikan di situs gratis seperti research gate ataukah di direktory file (http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/penelitian). Mungkin orang berpikir bahwa di research gate, orang akan melihat indeks sitasinya (h-index). Yang menarik adalah apabila situs direktory file juga mampu menghitung tingkat sitasi. Tentu saja cara penghitungan tingkat sitasi ini mesti boleh diketahui umum.

Tingkat sitasi ini merupakan langkah alternatif daripada langkah pragmatis seperti mengusahakan temuan yang berorientasi hak kekayaan intelektual (HKI) atau paten.

Daftar Pengabdian dan HKI Per Tahun

Pengantar

Berikut ini daftar pengabdian dan hak kelayaan intelektual (HKI) yang saya lakukan dan saya miliki. Didokumentasikan di sini untuk memudahkan administrasi kewajiban pegawai. Publikasi lainnya terdapat di website pengembangan dosen (bangdos). Dokumen ini dapat digunakan untuk sitasi (rujukan).

 

Pengabdian

  1. Iswara, Prana D.; Gusrayani, D.; Julia (2013) Optimalisasi Lirik dan Karakter Lagu Berbahasa Indonesia dan Inggris dalam Membentuk Kearifan Lokal Siswa (Pengabdian pada Sekolah Dasar di Sumedang Utara). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Anggaran Rp2.000.000,00. Sumber biaya: RKAT Program Studi PGSD Guru Kelas.
  2. Ani Nur Aeni, N. Hanifah, A. Sujana, P.D. Iswara (2015) Penguatan Pemahaman Orang Tua Tentang Pentingnya Pendidikan Agama di Keluarga dalam Upaya Membentuk Pribadi Anak (di PC Persistri Dayeuhkolot Kabupaten Bandung). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Anggaran Rp3.000.000,00. Sumber biaya: RKAT Program Studi PGSD Guru Kelas.

 

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Paten

  1.  Sistem Membaca Permulaan dengan Asosiasi dan dia tampan. 2016.