Wawasan: Kolaborasi dengan Dosen Luar Negeri

Menurut saya, dosen perguruan tinggi yang hendak menerbitksn artikel ilmiah di jurnal terindeks harus berkolaborasi dengan dosen perguruan tinggi di luar negeri: Australia, Malaysia, India, Korea, Jepang, Iran, Finlandia. Saling bertukar dosen tamu, kerja sama seminar/ forum ilmiah, kerja sama pemelitian, hingga penerbitan artikel ilmiah. Dikti punya rambu-rambu jurnal yang terindeks dan bukan jurnal predator. Dikti juga punya rambu-rambu perguruan tinggi terkemuka di luar negeri.

Saya yakin guru besar UPI bisa membawa juniornya untuk bekerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri. Mungkin RKAT prodi juga harus diarahkan ke sana.

Notabene, dosen harus menguasai bahasa asing.

Apakah Bahagia Itu?

Kebahagiaan justru diperoleh dari mengekang dan menekan keinginan.
Kebahagiaan tak bisa dicapai dengan mengumbar keinginan, syahwat, materi, dunia
Orang bersusah payah belajar dan tidak berleha-leha dengan tujuan mencapai bahagia.
Orang lebih bahagia bekerja dan mengeluarkan keringat daripada diam dan hanya berbaring di atas dipan.
Orang berolah raga kelihatannya cape dan lelah namun lebih sehat daripada orang yang tidak pernah berolah raga.

Istilah Berani dan Konyol

Istilah berani dioposisikan dengan konyol ini ditemukan berdasarkan pengalaman. Pada sisi lain berani dioposisikan dengan pengecut. Berani didefinisikan sebagai kemampuan mental untuk melakukan kebenaran, kebaikan, keluhuran, derma, kebaktian. Sebaliknya konyol dudefinisikan sebagai keberanian seseorang untyk melakukan kejahatan, keburukan, kejelekan, maksiat, kemungkaran.

Pada saat ini banyak orang yang konyol. Seseorang yang ingin cepat kaya lalu berjualan narkoba atau bisnis pelacuran merupakan contoh perilaku konyol. Seorang artis yang penat atau stres bekerja hendak menyegarkan pikirannya dengan napza. Seoran pejabat atau wakil rakyat hendak bagi-bagi uang rakyat keoada sesama temannya dengan cara korupsi. Semua itu bukanlah tindakam berani melainkan tindakan konyol. Memgapa? Karena merwka bukan tidak tahu resikonya di dunia dan akherat. Mereka tahu bahwa resikonya di dunia sangat berat: nama baik dan popularitas hancur, jadi bahan istilah baru (misal jonru, setnov, fredrik, gusdur, snowden), diperas oleh oknum pengadilan, kena hukum dera atau cambuk, kerja paksa di penjara.

Mereka mungkin tak pernah mendengar siksa akherat. Begitu mengerikannya siksa akhirat seperti dibakar, dipanggang, dihinakan, potong tangan, potong lidah, disetrika, dan sebagainya. Mungkin mereka meyakini siksa akhirat sebagai dongeng. Mungkin mereka tertipu oleh dunia sehingga berani melanggar perintah Tuhan.

Anehnya mereka melakukan kejahatan itu lantaran percaya pada syafaat Tuhan dalam agama-Nya.

Ketika mereka berbuat jahat, segera mereka salat, itikaf, berdoa, munajat dengan keyakinan dosanya pada masyarakat terhapus dengan amalan demikian. Mungkin mereka berpikir kejahatan seperti mencuri atau menyakiti hati orang lain bisa dihapus dengan menangis dan menyesali tindakan pencuriannya.

Cinta

Cinta adalah milik pribadi yang sangat berharga. Jadi jangan kau simpan cintamu pada sembarang orang. Jangan pula kau tertipu pada dunia sehingga kau meletakkan cintamu kepadanya.
Mencintai yang lebih rendah darimu itu merugikanmu. Dirimu lebih mulia daripada permata, mutiara, uang, rumah, atau harta benda lainnya.
Cintai Tuhan karena Dia yang paling tinggi. Bila kita tidak mengenal Tuhan, tidak tahu cara mencintai-Nya, maka cintailah utusan-Nya, karena dia akan membimbingmu menuju cinta-Nya.
Ya, Rasulullah, betapa kami mencintaimu. Allahuma sholi ala Muhammad wa ala aali Muhammad.

‚ÄčNegeri Kaya Tetapi Importir

Tujuh keajaiban dunia

1. Beras Vietnam

2. Garam Australia

3. Kedelai Amerika

4. Susu New Zealand

5. Cangkul Cina

6. Buruh Tiongkok

7. Artis Korea Selatan
Ini terjadi sejak zaman rezim Order Baru (Orba). Pada rezim Orba, Pa Harto menetapkan kebijakan impor alih-alih membela petani yang merupakan (mayoritas) mata pencaharian warga. Saya ingat ucapan teman yang membela kebijakan Pa Harto, “Buat apa tanam kedelai kalau kedelai impor jauh lebih murah”. Akibatnya tak ada warga yang bertani kedelai. Para petani kedelai mati atau beralih profesi menjadi importir. Ternyata tak bisa semua petani menjadi importir. Mulailah pengangguran terjadi. Mulailah orang tak suka jadi petani karena kesejateraannya ditekan. Kebijakan pemerintahlah yang menyebabkannya.
Kedelai impor lebih murah daripada lokal. Beras impor lebih murah daripada lokal. Sapi impor lebih murah daripada lokal. Garam impor lebih murah daripada lokal. Gula impor lebih murah daripada lokal.
Padahal AS, Jepang, Cina melindungi sektor pertanian, peternakan dalam negeri mereka HARGA MATI. Mereka memproteksi harga sembako dan PERSETAN dengan free trade era. Seharusnya negara sadar bahwa ketahanan pangan sangat penting bagi negara. Tanpa ketahanan pangan, negara rapuh dan terjajah. Negeri kita sangat kaya, tapi importirnya gemar membunuh saudara sendiri demi kesejahteraan pribadi. Ini seperti tikus mati di lumbung padi.
Petambak garam dibunuh importir karena garam impor lebih murah daripada garam lokal. Negara harus membatasi impor. Semua negara juga memproteksi warganya. Free trade era hanya untuk barang tertentu yang benar2 kita butuhkan seperti impor barang elektronik, kendaraan dalam jumlah terbatas sehingga tetap memajukan industri dalam negeri. Bahkan jika industri kendaraan lokal menggeliat, negara harus mewajibkan impotir menggunakan sekian persen suku cadang lokal.
Apakah kita mengimpor buruh juga dari Cina sementara buruh kita banyak yang perlu kerja?
Untuk buruh saya tak tahu persis. Adakah buruh kasar Cina di proyek Jatigede, Tol Cisumdawu? Apakah mereka punya visa kerja? Seandainya mereka ada, apakah mereka telah pulang menurut imigrasi? Ataukah mereka belum dilaporkan pulang, mati, menetap, ganti kewarganegaraan. Kalau ganti kewarganegaraan tentu RT, RW, camat harus tanda tangan.
Kalau mereka masih keluyuran, berarti mereka melanggar imigrasi. Apa ada yang bisa hidup di negeri kita tanpa bekerja?
Kalau ada orang asing yang dicurigai melanggar kewarganegaraan, laporkan saja kepada rt, rw, polisi, dan imigrasi.
Produk Cina bukan hanya cangkul, melainkan juga pulpen, dll.
Seperti tadi, pemerintah sejak dulu ingin enak. Pulpen daripada repot produksi malah impor. Importir diuntungkan. Bahkan importir diizinkan memonopoli distribusinya dan menginjak2 harga dari produsen lokal. Ini juga yang terjadi pada importir garam dan beras.
Sejak zaman Oa Harto kebijakan impor lebih menguntungkan segelintir pengusaha kroni daripada rakyat banyak
Saatnya Pa Jokowi membenahi. Dulu Gus Dur juga mau membenahi yang lain, tapi GD dijatuhkan. Sebelumnya, politisi juga menuntut kepada Habubie, saat Habibie menggantikan Pa Harto, agar pemilu dipercepat. 
Lalu Habibie dkk bikin kapal, pesawat, mobil, dibendung oleh para importir. Mereka mengejek Habibie, katanya bikin sepeda saja belum bisa malah sok jago bikin pesawat. Importir produk macam Honda, Kawasaki marah jika ada produsen lokal. Mereka berusaha membunuhnya dengan cara apapun seperti membeli perusahaan lalu menghentikan produksinya, menyuruh orang kreatif untuk kerja kantoran, dan sebagainya. Kalau tidak, mungkin para penghobi bengkel akan menjamur dan memproduksi motor lokal.
Saya jadi ingat orang yang merakit TV di zaman Pa Jokowi. Mulanya mau ditindak, dihukum, didenda, dan dipenjarakan hanya gara-gara membeli komponen dan merakitnya menjadi televisi dan memberi merk. Padahal Habibie juga merakit dari komponen yang dibelinya. Untung saja Pa Jokowi menyelamatkan montir ini dan memberinya modal serta izin usaha.
Sekarang, bengkel motor, mobil saja authorized (resmi) untuk setiap merk. Makin susah bengkel lokal kita untuk bersaing.
Artis asing sudah ada sejak zaman orba. Beberapa artis asing manggung di negeri ini tanpa masalah atau ribut seperti di zaman medsos.
Kalau Pa Harto punya kebijakan tentu bisa ikhtiar dilakukan.
Habibie dan Gus Dur dijatuhkan.
Mega dan SBY kurang perhatian pada masalah ini. Sebagaimana SBY tak perhatian pada “pelanggaran” HTI.