Simulasi Peternakan dengan Kebun Rumput

Dengan simulasi, jumlah lahan yang diperlukan untuk 100 atau 105 domba dapat dihitung. Penghitungan ini dilakukan dengan dua asumsi. Asumsi pertama satu ekor domba memerlukan satu meter persegi rumput per hari. Asumsi ke dua, rumput akan tumbuh dan dapat dipanen setelah berumur 40 hari. Bila seseorang mempunyai luas lahan kebun rumput 300 bata (300×14 = 4200 meter), maka 4200 dibagi 40 hari diperoleh 105 ekor domba. Continue reading

Penghitungan Laba Ternak Sapi

Beternak sapi merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas mempunyai profesi di bidang agraria sangat berkaitan dengan peternakan seperti ternak sapi, domba, ayam, itik dan ikan. Sejumlah pemodal dan pekerja bekerja sama dengan sistem bagi hasil (nengah). Dengan begitu, masyarakat yang tidak memiliki modal dapat mendapatkan modal (ternak) untuk dipelihara dan memberikan keuntungan. Di sisi ini kedua pihak akan saling menguntungkan. Di sisi lain, pemodal pun tak jarang dikelabui oleh masyarakat. Beberapa pemodal justru dikelabui oleh pekerja karena pekerja merasa pendapatannya terlalu kecil.

Penghitungan berikut ini dibuat agar pemodal dan pekerja (pemelihara) sama-sama dapat memproyeksikan keuntungan. Dengan begitu, pemodal dan pekerja dapat menentukan bahwa kerja sama ini cukup pantas untuk dilakukan.

Dari sisi harga, beternak seekor sapi sebanding dengan sepuluh domba. Seekor sapi harganya kurang lebih Rp 6.000.000,00 sedangkan harga seekor domba kurang lebih Rp 600.000,00. Harga ini tentu saja harga maksimal, karena ada banyak sapi dan domba yang harganya di bawah harga itu.

Semestinya seorang pemelihara memelihara lebih dari satu sapi karena keuntungannya akan signifikan (kaharti). Dalam penghitungan di atas kertas, pemeliharaan tiga ekor sapi sudah cukup signifikan dari segi keuntungan. Dari sisi beratnya kerja, memelihara tiga ekor sapi pun memerlukan rumput yang cukup banyak agar sapi bisa tumbuh dengan baik.

Bila seorang pekerja memelihara tiga ekor sapi, katakanlah dengan harga seekor sapi Rp 6.000.000,00, maka pemodal mengeluarkan modal sebesar Rp 18.000.000,00. Bila di akhir tahun sapi dijual seharga Rp 10.000.000,00 per ekor, maka keuntungan dapat dihitung. Laba (keuntungan) kotor adalah Rp 30.000.000,00. Laba kotor ini dipotong modal Rp 18.000.000,00, maka laba bersih adalah Rp 12.000.000,00. Laba bersih ini dibagi dua antara pemodal dan pekerja, masing-masing mendapat Rp 6.000.000,00.

Tulisan di atas menunjukkan bahwa seorang pemelihara sapi setidaknya memelihara tak kurang dari tiga ekor sapi. Dengan memelihara tiga ekor sapi, seorang pemelihara akan mendapatkan keuntungan Rp 6.000.000,00 setahun. Keuntungan Rp 6juta setahun bisa berarti sebulan Rp 500.000,00. Dengan begitu, penghitungan ini ditujukan agar setidaknya pekerja mendapatkan keuntungan tidak kurang dari Rp 500.000,00 sebulan.

Dalam satu survey, diketahui bahwa seorang pekerja dapat memelihara sampai tujuh ekor sapi. Dengan begitu, bila pemodal memiliki modal 14 ekor sapi, ia cukup mempunyai dua orang pemelihara. Pemelihara ini juga mesti cukup bekerja keras untuk mencukupi pakan sapi.

Bila seorang pemelihara memelihara tujuh ekor sapi (maksimal), maka dengan penghitungan yang sama, pendapatan per tahunnya adalah Rp 14.000.000,00 atau gaji per bulannya adalah Rp 1.166.666,67.

Dari studi di internet, feses (podol) sapi kurang lebih 15 sampai 25 kg sehari. Dengan begitu, pakan sapi pun tak boleh kurang dari jumlah feses yang dikeluarkannya. Pertambahan berat badan sapi per hari adalah kurang lebih satu kilogram.

Apakah Ekonomi Itu?

Pengantar

Tulisan ini diasumsikan dikembangkan dari seorang yang kurang paham terhadap ekonomi. Oleh karena itu berpikir tentang ekonomi diharapkan akan mengembangkan sektor ekonomi yang akan berpengaruh terhadap ekonomi negeri. Bila seseorang dapat mengembangkan ekonomi masyarakat, masyarakat akan terbantu dan meningkat pendapatannya.

Apakah Ekonomi Itu?

Ekonomi itu adalah seseorang yang memelihara domba kemudian menjualnya bila domba itu telah besar. Dengan begitu, ia mempunyai jasa dalam penggemukan domba. Ekonomi juga adalah seorang guru yang dibayar ketika memberikan jasa pengajaran kepada anak-anak. Dengan begitu, guru juga memberikan jasa kepada anak dan keluarga lain.

Acap kali pelaku ekonomi mengolah bahan mentah yang ada di alam. Seorang tukang kayu mengolah kayu menjadi perabot: kursi, meja. Orang lain dapat memanfaatkan hasil jasanya.

Perantara

Acap kali pula pelaku ekonomi itu berantai atau dari banyak perantara. Seseorang yang mengharapkan baju atau pakaian, pakaian itu diperoleh dari banyak perantara. Pakaian mula-mula berasal dari petani kapas. Kapas itu lalu dijual kepada pemintal benang. Pemintal benang lalu menjualnya kepada penenun kain. Penenun kain lalu menjualnya kepada tukang jahit. Tukang jahit menjualnya kepada grosir atau toko. Dari toko inilah pembeli mendapatkan baju atau pakaian yang diinginkannya.

Begitu banyak perantara di sekitar kita.

Seorang yang menjual baso mungkin saja dia tidak memiliki sapi. Mungkin saja ia tidak memotong sapinya sendiri. Mungkin saja ia tidak memotong-motong dagingnya sendiri. Mungkin saja ia tidak membuat mie sendiri. Tetapi yang dilakukannya adalah mencari bakso dan mie yang paling bagus kualitasnya. Kemudian ia pun meracik kuah baso agar pembeli senang dengan resep baso yang dibuatnya. Kualitas sangat penting dalam jual beli.

Pada contoh lain, seorang tukang kayu mungkin tidak membuat paku sendiri atau tidak membuat lem sendiri melainkan menggunakan lem yang sudah dibuat orang lain. Dengan kata lain, ia menggunakan jasa (perantara) orang lain. Tukang kayu pun memperoleh kayu dari jasa petani (kebun) kayu.

Kekayaan Indonesia

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya. Dari tanahnya, tumbuh berbagai tanaman yang dapat dijual-belikan. Masyarakat Indonesia banyak yang berprofesi sebagai petani. Mereka menanam padi dan sayur-sayuran. Rumput dan tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (domba, sapi, itik, ikan).

Beberapa Kendala

Beberapa kendala yang mengganggu perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut. Acap kali pemodal besar memborong barang (beras, gula) dengan harga murah di suatu tempat. Kemudian ia menjualnya di tempat lain dengan harga lebih murah dari keadaan setempat. Hal ini mengakibatkan petani setempat tidak dapat menjual panennya. Petani setempat rugi besar.

Contoh lainnya adalah tekstil. Pemerintah mengimpor tekstil cina yang jauh lebih murah daripada tekstil lokal. Dengan begitu produsen tekstil lokal akan mengalami kerugian dan tak dapat menjual tekstilnya.

Demikian pula dengan gula.

Demikian pula dengan petani kedelai.

Ternak Itik, Ternak Sapi, Ternak Cacing Merah dan Budidaya Azolla

Anak itik yang disebut titit dapat dibeli 200 ekor dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 600.000,00. Pakan untuk 2 bulan sebanyak 2 kintal (jenis pakannya bisa ditanyakan ke toko pertanian). Harga untuk 2 kintal (200kg) pakan itu adalah Rp 800.000. ┬áSatu ton = 1000kg. Satu ton = 10 kintal. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 200 ekor x Rp 18.000,00 = 3,6 juta. Bila keuntungan dipotong modal maka laba bersih adalah 3,6 – 1,4jt = 2,2jt. Keuntungan 2,2 juta dalam waktu sebulan cukup menarik. Modal 1,4jt diambil dari 600rb + 800rb.

Peternakan itik sangat menarik terutama bila ada lahan untuk memeliharanya (kandang) dan ada penadah yang membeli itik dewasa ini.

Pakan yang menarik untuk itik adalah azolla pinnata. Azolla pinnata ini biasa tumbuh di kolam atau di sawah. Azolla dapat dijadikan pakan itik. Azolla bahkan dapat dijadikan (campuran) pakan domba dan sapi. Bila seorang peternak mempunyai satu hektar (700 bata), ia dapat memagar lahannya untuk peternakan itik. Itik dapat berkeliaran di lahan itu. Bila azolla digunakan sebagai campuran pakan, azolla dapat dicampurkan sebanyak 15% dari total pakan. Dengan begitu, 30kg (15% dari 200kg) azolla dapat dikonsumsi sebagai campuran dari total pakan 170kg (85% dari 200kg). Dengan demikian total pakan hanya sebesar Rp 680.000,00 (85% dari Rp 800.000,00).

Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto (http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/manfaat-tanaman-azolla.html) kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.

Selain itu, dapat pula ditambahkan pakan itik berupa cacing (http://mastekop.blogspot.com/2011_01_01_archive.html). Cacing dapat dibudidaya dari kotoran sapi. Satu ekor sapi dapat membuang kotoran (feses) sebanyak 20kg per hari. Bila kotoran cacing ini ditampung di sebuah kolam dan di dalamnya ditanam cacing merah (redworm), maka cacing merah akan berkembang biak. Menurut blog di atas, cacing ini akan membuat kotoran sapi menjadi tidak bau. Hanya saja mesti diperhatikan apakah cacing ini senang dengan tanah berair ataukah hanya lembab saja.

Perhitungan berkaitan dengan cacing merah dan azolla di atas, sangat menarik untuk investasi itik. Tetapi perhitungan berikut belum menggunakan variabel cacing merah, (kotoran) sapi dan azolla sebagai pakan.

Tanpa variabel cacing merah, (kotoran) sapi, dan azolla maka seorang peternak dengan lahan satu hektar dapat memelihara 2000 ekor titit dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 6000.000,00. Bila dikatakan harga pakan Rp 8.000.000,00 maka keuntungannya dapat berlipat. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 2000 ekor x Rp 18.000,00 = 36 juta. Bila modal adalah harga 2000 ekor anak itik (titit) Rp 6jt dan harga 20 kintal pakan adalah 8.000.000,00. Keuntungan dipotong modal akan menghasilkan laba bersih sebesar 36 – 8jt = 28jt. Keuntungan 28jt dalam waktu dua bulan sangat fantastis.

Pakan untuk 2 bulan di atas tanpa mengandalkan azolla pinnata dan cacing merah. Bila peternak juga mempunyai sapi, cacing dan azolla; maka keuntungan dari efisiensi pakan dapat ditingkatkan. Harga untuk pakan itu dapat ditekan.

Tentu saja hal ini perlu dukungan dari sisi penjualan, dan modal lahan yang strategis. Lahan strategis ini ialah adanya aliran air. Mungkin pula aliran air ini dapat dibantu dengan pompa hidram.