Jenis Olahraga Outdoor yang Dapat Dikembangkan di Jatigede

Menurut Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Jatigede,_Sumedang), luas waduk Jatigede sekitar 1.711 hektar. Seandainya waduk ini berbentuk persegi, maka kelilingnya adalah 4,5 kilometer kali 4 sisi atau 18 km. Jadi seandainya ada orang yang hendak mengelilingi waduk ini, jaraknya cukup jauh. Jarak yang relatif dekat bagi hiking atau pejalan adalah 4 km.

Mungkin ada investor yang bersedia mengembangkan pariwisata di Jatigede. Hal ini karena orang yang terkena dampak (OTD) Jatigede bukanlah sedikit. Mereka kehilangan mata pencaharian mereka sebagai petani dan peternak. Mungkin saja warga OTD Jatigede harus beralih profesi dan mengembangkan pariwisata di sana. Namun, mesti ada modal untuk mengembangkan potensi ini. Semestinya pemerintahlah, dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten yang bertanggung jawab untuk mengembagkan potensi masyarakat dan memberdayakannya setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut dengan proyek Waduk Jatigede.

Di sisi lain, masyarakat perlu diberikan pelatihan guna mengembangkan potensi mereka. Potensi baru setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut tadi. Salah satu pilihannya adalah mengembagkan potensi wisata. Potensi wisata apa yang dapat dikembangkan di area Waduk Jatigede? Berikut sejumlah ulasannya.

  1. Susur danau
  2. Mounteneering (Gunung Hutan)
  3. Rafting dan Riverboarding
  4. Perkemahan
  5. Wisata kuliner
  6. Selam dangkal (snorkeling)
  7. Free diving
  8. SCUBA diving
  9. Berkuda

Susur Danau

Kegiatan susur danau bisa dilakukan misalnya sepanjang 4 km dari keseluruhan kurang lebih 18 km keliling danau. Kegiatan ini bisa dilakukan terutama bila sekeliling danau belum berupa area aspal yang dapat dijelajahi, belum ada sarana listrik di sekitar pinggir danau. Kegiatan ini bisa dilakukan dari satu situs menuju situs lainnya. Pelaku kegiatan dapat mulai dari satu situs (area), kemudian berjalan menuju situs lain lain. Di situs tujuan ini mereka bisa menikmati wisata (wisata darat misalnya wisata kuliner, ATV atau wisata air misalnya jetski). Kemudian mereka dapat pulang tanpa kembali ke tempat situs pertama.

 

Mounteneering (Gunung Hutan)

Kegiatan mounteneering ini juga dilakukan di situs awal menuju situs tujuan. dilakukan untuk menyusuri hutan, misalnya ada sungai yang dapat dijadikan tempat berenang, ada air terjun yang bisa digunakan untuk berenang, ada kolam kecil yang bisa digunakan untuk tempat berenang, ada tempat kemping yang memiliki pemandangan yang indah, dan sebagainya. Mungkin saja di daerah tujuan ada angkutan (alat transportasi) sehingga pelaku kegiatan ini bisa langsung pulang tanpa harus kembali ke situs awal.

 

Rafting dan Riverboarding

Rafting dapat diterjemahkan sebagai arung jeram. Pengarungan sungai dilakukan dengan perahu karet,  kayak, kano dan dayung. Selain rafting dapat pula dikembangkan potensi riverboarding, yaitu mengarungi jeram seorang demi seorang. Namun potensi ini harus digali lebih lanjut. Bila potensi ini ada, maka tidak ada salahnya untuk dikembangkan.

 

Perkemahan

Perkemahan dapat dikembangkan bila ada potensi situs yang dapat dikembangkan menjadi bumi perkemahan. Perkemahan dapat dilakukan oleh sekolah yang mengadakan acara alami atau pramuka. Perkemahan ini dapat terintegrasi dengan sejumlah wisata kuliner di sekitar bumi perkemahan. Perkemahan juga mungkin mengusung tema seperti mengenal potensi wisata, mengenal kekayaan alam, atau pelajaran lainnya.

 

Wisata Kuliner

Wisata kuliner sangat penting untuk dikembangkan di berbagai situs. Kuliner yang dikembangkan bisa saja makanan ringan hingga makanan berat. Kuliner juga bisa mengembangkan potensi waduk seperti kuliner yang berasal dari ikan dan pengolahannya. Kuliner juga bisa dikembagkan dari potensi peternakan atau perkebunan yang dikembangkan masyarakat. Mungkin saja ada pengembangan kuliner sayuran, buah-buahan, ternak ayam, ternak itik, telur, domba, sapi, susu sapi, kerbau, dan sebagainya.

Di wilayah ini, kerbau biasa digembalakan (bahasa Sunda: diangon, ngangon). Ternak kerbau mungkin tidak diberi pakan dengan ngarit (bahasa Sunda, ngarit ‘mengambil rumput dengan arit’). Dengan begitu, jumlah kerbau yang diangon bisa saja banyak, yaitu lebih dari tiga ekor. Bila peternak itu ngarit, ia hanya mampu memelihara dua atau tiga ekor kerbau saja.

Di Pangalengan, Kabupaten Bandung, susu sapi telah diolah menjadi berbagai produk olahan makanan seperti susu segar, yogurt, bolu susu, permen susu, keju, dodol susu, susu bubuk, dan sebagainya. Produk ini pun diputar di masyarakat dan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Tentu saja kegiatan ini akan memutar ekonomi masyarakat.

 

Selam Dangkal (Snorkeling), Free diving, dan SCUBA diving

Proyek selam dangkal, free diving dan scuba diving memerlukan investasi yang lumayan. Ini juga dipertimbangkan ada konsumen yang mau membeli sewanya. Jika masyarakat masih asing dengan olahraga ini, maka mungkin saja olahraga ini tidak perlu dikembangkan. Masyarakat dapat mengembangkan olahraga yang berpotensi disukai masyarakat.

Selam dangkal dilakukan bila air jernih dan cahaya matahari dapat menerangi sampai ke dasar waduk. Saat ini dasar waduk tentu saja diperkirakan tidak terlalu menarik karena mungkin pada umumnya hanya ada bekas sawah. Kalau pun ada situs bawah air yang menarik, pemandu wisata harus memahami lokasinya secara pasti dan mengukur kedalamannya. Dengan begitu, wisatawan tidak akan dirugikan dengan paket wisata yang tidak jelas. Pada kegiatan selam dangkal biasanya penyelam mengambang di permukaan air dan melihat ke dasar waduk menggunakan kaca mata selam.

Free diving dilakukan dengan cara menahan nafas. Berbeda dengan selam dangkal, pada kegiatan free diving, penyelam dapat menyelam lebih dalam untuk melihat bawah air dan dasar waduk. Scuba diving dilakukan dengan menggunakan tabung oksigen.

 

Berkuda

Olah raga berkuda dapat dilakukan sebagai rekreasi. Tentu saja para wisatawan tidak selamanya mahir berkuda. Oleh karena itu, wisatawan dapat diberi pilihan untuk mengendarai kuda sendiri atau sekedar berkeliling dan dibimbing oleh tukang kudanya. Potensi ini mesti bisa dimiliki oleh masyarakat kecil. Mereka bisa beternak kuda dan pada hari yang ramai dikunjungi wisata, mereka dapat menyewakan kuda mereka untuk wisata kuda.

AHOK, REKLAMASI, DAN JATIGEDE

Malam ini saya menyimak wawancara Ahok di televisi. Ahok mengemukakan persyaratan uang muka (down payment, DP) reklamasi teluk Jakarta adalah pengembang harus membangun infrastruktur seperti jalan inspeksi, bendungan, rumah pompa untuk mencegah banjir, rusun. DP itu bukan anggaran CSR dari perusahaan melainkan kewajiban perusahaan pelaksana reklamasi kepada DKI yang tertuang dalam kontrak kerja.

Saya juga mendengar berita bahwa di Jatigede akan dibangun hotel. Saya berpikir agar bupati juga memberikan kontrak yang menguntungkan bagi pemerintah kabupaten (pemkab) dan Warga Sumedang, khususnya. Pemkab dapat meminta perusahaan pengembang hotel untuk memberi 15% dari NJOP bangunan untuk membangun jalan, rusun, sesuai rencana Pemkab Sumedang. Ini seperti Ahok meminta DP berupa kewajiban membangun jalan dan sebagainya. Tanpa melakukan DP ini, pengembang tidak boleh membangun hotel atau reklamasi.

Hukum dasar Islam mengatakan bahwa ada ada tiga kepemilikan dalam Islam. Pertama, kepemilikan pribadi misalnya tanah, rumah, telepon selular. Ke dua, kepemilikan umum misalnya sungai, danau, waduk, laut, hutan, jalan. Di sini tak boleh ada orang yang mengklaim bahwa sungai atau waduk ini milik pribadi. Ke tiga, milik negara atau imam misalnya tambang. Negara dapat mengizinkan warga untuk memperoleh manfaat dari tambang.

Beberapa permasalahan di Waduk Jatigede bisa dipecahkan misalnya dengan membangun jalan di sekeliling waduk seperti jalan inspeksi di area reklamasi DKI, pembangunan rusun, pembangunan spot wisata, wisata kuliner, wisata perkemahan, wisata perikanan dan pemancingan, wisata peternakan. Spot wisata ini akan menguntungkan warga Jatigede yang digusur sawahnya sehingga mereka mingkin tidak punya profesi lagi sebagai petani, peternak.

Di sisi ini Pemkab juga harus mengawasi agar tidak ada bangunan yang menutup sungai, waduk, pantai yang akan merugikan warga dan menjadikan sungai, waduk, pantai itu sebagai milik pribadi. Ini bertentangan dengan hukum Islam di atas. Kepemilikan pribadi pada sungai, waduk, pantai itu akan mencegah orang lain mengambil manfaat dari sungai, waduk, pantai, hutan itu.

Beberapa pelanggaran yang pernah terjadi di negeri ini misalnya banyal warga yang mendirikan bangunan di pinggir sungai. Di Anyer bahkan sejak zamam rezim Orde Baru pantainya tertutup oleh bangunan hotel. Akibatnya, warga tidak bisa mengambil manfaat dari pantai ini. Keadaan Pantai Anyer yang memprihatinkan ini juga dikemukalan oleh novelis Gola Gong. Di Kuningan terdapat Waduk Darma, yang sebagian pinggir pantainya terdapat bangunan rumah warga. Akibatnya warga lain tidak bisa mengambil manfaat dari sisi waduk itu. Kini seandainya Pemprov Banten mau merelokasi hotel tentu akan mengundang kontroversi. Pemkab Kuningan pun seandainya mau merelokasi rumah di sekitar Waduk Darma tentu akan mengundang kontroversi. Sama ketika Ahok merelokasi pinggiran sungai di wilayah DKI Jakarta.

Mudah-mudahan pembangunan waduk di Jatigede bisa bermanfaat bagi warga Jatigede khususnya, bagi warga Sumedang umumnya.

Potensi Investasi Pariwisata di Jatigede, Sumedang

Catatan: Investasi dan Bukan Pinjaman

Perkembangan Waduk Jatigede, terlepas dari kontroversi sejak digulirkan pada pemerintahan SBY lalu hingga diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi-JK, sangat menarik untuk dicermati. Terlebih lagi melihat berbagai potensi pariwisata yang mungkin bisa dikembangkan di sana. Mungkin saja pariwisata Waduk Jatigede dapat bercermin pada pariwisata yang sudah ada di Jawa Barat seperti Floating Market di Lembang (Bandung), Jatim Park di Jawa Timur, atau wisata arung jeram di Jambi, Taman Safari di Bogor, Sea World di Jakarta, Danau Toba di Medan. Di sisi ini perlu dukungan masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di Waduk Jatigede.
Sangat menarik bila melihat Sea World yang dikembangkan di Jakarta adalah sistem investasi. Investor meminjam aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta selama 20 tahun dengan sistem bagi hasil. Setelah 20 tahun, wisata Sea World telah stabil, wisata ini dikembalikan menjadi milik Pemprov Jakarta. Sekarang ini, Pemprov Jakarta tinggal mengelola wisata Sea World agar memberi keuntungan maksimal bagi warga, pemerintah, dan pengelola. Video tentang pengelolaan Sea World dapat dilihat melalui uraian Ahok sebagai gubernur Jakarta.
Bila dilihat, Waduk Jatigede pada saat artikel ini diposkan (7 September 2015), masih sangat kering. Minim sekali jalan akses yang merupakan aset wisata. Pepohonan belum ditata. Perumahan, area kuliner, atau area wisata masih belum ditata. Mestinya Pemkab Sumedang membangun jalan di pinggiran waduk dan mengalokasikan tempat-tempat warga untuk bermukim di sana. Sampai sekarang, ada warga yang belum mendapatkan tanah menetap setelah berpindah dari area waduk. Jalan di pinggiran waduk seharusnya terus berputar mengelilingi waduk dan kembali ke area masuk (karcis). Jadi harus ada jembatan yang menyebrangi sungai tempat muara waduk ini.
Continue reading

Potensi Pengelolaan Wisata di Waduk Jadigede, Sumedang

Catatan tentang  Koperasi atau Investasi (bukan Pinjaman, bukan Dana APBN/APBD)
image

Sumedang sebentar lagi memiliki waduk yang besar yaitu Waduk Jatigede. Potensi waduk ini harus dikembangkan, misalnya potensi wisata, potensi ekonomi, potensi perikanan, potensi irigasi, potensi tenaga listrik, dan lain-lain. Potensi yang dikembangkan itu tidak boleh bertabrakan dengan potensi yang lain atau mengganggu potensi lain. Bila ada masyarakat yang mengembangkan potensi perikanan, maka potensi ini tidak boleh bertabrakan lokasinya dengan potensi wisata air lainnya. Mungkin pemerintah harus mengatur lokasi tertentu untuk perikanan, lokasi lainnya untuk wisata air, lokasi lainnya untuk taman, lokasi lainnya untuk pasar rakyat, dan seterusnya.
Continue reading

Simulasi Peternakan dengan Kebun Rumput

Dengan simulasi, jumlah lahan yang diperlukan untuk 100 atau 105 domba dapat dihitung. Penghitungan ini dilakukan dengan dua asumsi. Asumsi pertama satu ekor domba memerlukan satu meter persegi rumput per hari. Asumsi ke dua, rumput akan tumbuh dan dapat dipanen setelah berumur 40 hari. Bila seseorang mempunyai luas lahan kebun rumput 300 bata (300×14 = 4200 meter), maka 4200 dibagi 40 hari diperoleh 105 ekor domba. Continue reading

Penghitungan Laba Ternak Sapi

Beternak sapi merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang mayoritas mempunyai profesi di bidang agraria sangat berkaitan dengan peternakan seperti ternak sapi, domba, ayam, itik dan ikan. Sejumlah pemodal dan pekerja bekerja sama dengan sistem bagi hasil (nengah). Dengan begitu, masyarakat yang tidak memiliki modal dapat mendapatkan modal (ternak) untuk dipelihara dan memberikan keuntungan. Di sisi ini kedua pihak akan saling menguntungkan. Di sisi lain, pemodal pun tak jarang dikelabui oleh masyarakat. Beberapa pemodal justru dikelabui oleh pekerja karena pekerja merasa pendapatannya terlalu kecil.

Penghitungan berikut ini dibuat agar pemodal dan pekerja (pemelihara) sama-sama dapat memproyeksikan keuntungan. Dengan begitu, pemodal dan pekerja dapat menentukan bahwa kerja sama ini cukup pantas untuk dilakukan.

Dari sisi harga, beternak seekor sapi sebanding dengan sepuluh domba. Seekor sapi harganya kurang lebih Rp 6.000.000,00 sedangkan harga seekor domba kurang lebih Rp 600.000,00. Harga ini tentu saja harga maksimal, karena ada banyak sapi dan domba yang harganya di bawah harga itu.

Semestinya seorang pemelihara memelihara lebih dari satu sapi karena keuntungannya akan signifikan (kaharti). Dalam penghitungan di atas kertas, pemeliharaan tiga ekor sapi sudah cukup signifikan dari segi keuntungan. Dari sisi beratnya kerja, memelihara tiga ekor sapi pun memerlukan rumput yang cukup banyak agar sapi bisa tumbuh dengan baik.

Bila seorang pekerja memelihara tiga ekor sapi, katakanlah dengan harga seekor sapi Rp 6.000.000,00, maka pemodal mengeluarkan modal sebesar Rp 18.000.000,00. Bila di akhir tahun sapi dijual seharga Rp 10.000.000,00 per ekor, maka keuntungan dapat dihitung. Laba (keuntungan) kotor adalah Rp 30.000.000,00. Laba kotor ini dipotong modal Rp 18.000.000,00, maka laba bersih adalah Rp 12.000.000,00. Laba bersih ini dibagi dua antara pemodal dan pekerja, masing-masing mendapat Rp 6.000.000,00.

Tulisan di atas menunjukkan bahwa seorang pemelihara sapi setidaknya memelihara tak kurang dari tiga ekor sapi. Dengan memelihara tiga ekor sapi, seorang pemelihara akan mendapatkan keuntungan Rp 6.000.000,00 setahun. Keuntungan Rp 6juta setahun bisa berarti sebulan Rp 500.000,00. Dengan begitu, penghitungan ini ditujukan agar setidaknya pekerja mendapatkan keuntungan tidak kurang dari Rp 500.000,00 sebulan.

Dalam satu survey, diketahui bahwa seorang pekerja dapat memelihara sampai tujuh ekor sapi. Dengan begitu, bila pemodal memiliki modal 14 ekor sapi, ia cukup mempunyai dua orang pemelihara. Pemelihara ini juga mesti cukup bekerja keras untuk mencukupi pakan sapi.

Bila seorang pemelihara memelihara tujuh ekor sapi (maksimal), maka dengan penghitungan yang sama, pendapatan per tahunnya adalah Rp 14.000.000,00 atau gaji per bulannya adalah Rp 1.166.666,67.

Dari studi di internet, feses (podol) sapi kurang lebih 15 sampai 25 kg sehari. Dengan begitu, pakan sapi pun tak boleh kurang dari jumlah feses yang dikeluarkannya. Pertambahan berat badan sapi per hari adalah kurang lebih satu kilogram.

Apakah Ekonomi Itu?

Pengantar

Tulisan ini diasumsikan dikembangkan dari seorang yang kurang paham terhadap ekonomi. Oleh karena itu berpikir tentang ekonomi diharapkan akan mengembangkan sektor ekonomi yang akan berpengaruh terhadap ekonomi negeri. Bila seseorang dapat mengembangkan ekonomi masyarakat, masyarakat akan terbantu dan meningkat pendapatannya.

Apakah Ekonomi Itu?

Ekonomi itu adalah seseorang yang memelihara domba kemudian menjualnya bila domba itu telah besar. Dengan begitu, ia mempunyai jasa dalam penggemukan domba. Ekonomi juga adalah seorang guru yang dibayar ketika memberikan jasa pengajaran kepada anak-anak. Dengan begitu, guru juga memberikan jasa kepada anak dan keluarga lain.

Acap kali pelaku ekonomi mengolah bahan mentah yang ada di alam. Seorang tukang kayu mengolah kayu menjadi perabot: kursi, meja. Orang lain dapat memanfaatkan hasil jasanya.

Perantara

Acap kali pula pelaku ekonomi itu berantai atau dari banyak perantara. Seseorang yang mengharapkan baju atau pakaian, pakaian itu diperoleh dari banyak perantara. Pakaian mula-mula berasal dari petani kapas. Kapas itu lalu dijual kepada pemintal benang. Pemintal benang lalu menjualnya kepada penenun kain. Penenun kain lalu menjualnya kepada tukang jahit. Tukang jahit menjualnya kepada grosir atau toko. Dari toko inilah pembeli mendapatkan baju atau pakaian yang diinginkannya.

Begitu banyak perantara di sekitar kita.

Seorang yang menjual baso mungkin saja dia tidak memiliki sapi. Mungkin saja ia tidak memotong sapinya sendiri. Mungkin saja ia tidak memotong-motong dagingnya sendiri. Mungkin saja ia tidak membuat mie sendiri. Tetapi yang dilakukannya adalah mencari bakso dan mie yang paling bagus kualitasnya. Kemudian ia pun meracik kuah baso agar pembeli senang dengan resep baso yang dibuatnya. Kualitas sangat penting dalam jual beli.

Pada contoh lain, seorang tukang kayu mungkin tidak membuat paku sendiri atau tidak membuat lem sendiri melainkan menggunakan lem yang sudah dibuat orang lain. Dengan kata lain, ia menggunakan jasa (perantara) orang lain. Tukang kayu pun memperoleh kayu dari jasa petani (kebun) kayu.

Kekayaan Indonesia

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya. Dari tanahnya, tumbuh berbagai tanaman yang dapat dijual-belikan. Masyarakat Indonesia banyak yang berprofesi sebagai petani. Mereka menanam padi dan sayur-sayuran. Rumput dan tumbuhan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak (domba, sapi, itik, ikan).

Beberapa Kendala

Beberapa kendala yang mengganggu perekonomian masyarakat adalah sebagai berikut. Acap kali pemodal besar memborong barang (beras, gula) dengan harga murah di suatu tempat. Kemudian ia menjualnya di tempat lain dengan harga lebih murah dari keadaan setempat. Hal ini mengakibatkan petani setempat tidak dapat menjual panennya. Petani setempat rugi besar.

Contoh lainnya adalah tekstil. Pemerintah mengimpor tekstil cina yang jauh lebih murah daripada tekstil lokal. Dengan begitu produsen tekstil lokal akan mengalami kerugian dan tak dapat menjual tekstilnya.

Demikian pula dengan gula.

Demikian pula dengan petani kedelai.

Ternak Itik, Ternak Sapi, Ternak Cacing Merah dan Budidaya Azolla

Anak itik yang disebut titit dapat dibeli 200 ekor dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 600.000,00. Pakan untuk 2 bulan sebanyak 2 kintal (jenis pakannya bisa ditanyakan ke toko pertanian). Harga untuk 2 kintal (200kg) pakan itu adalah Rp 800.000.  Satu ton = 1000kg. Satu ton = 10 kintal. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 200 ekor x Rp 18.000,00 = 3,6 juta. Bila keuntungan dipotong modal maka laba bersih adalah 3,6 – 1,4jt = 2,2jt. Keuntungan 2,2 juta dalam waktu sebulan cukup menarik. Modal 1,4jt diambil dari 600rb + 800rb.

Peternakan itik sangat menarik terutama bila ada lahan untuk memeliharanya (kandang) dan ada penadah yang membeli itik dewasa ini.

Pakan yang menarik untuk itik adalah azolla pinnata. Azolla pinnata ini biasa tumbuh di kolam atau di sawah. Azolla dapat dijadikan pakan itik. Azolla bahkan dapat dijadikan (campuran) pakan domba dan sapi. Bila seorang peternak mempunyai satu hektar (700 bata), ia dapat memagar lahannya untuk peternakan itik. Itik dapat berkeliaran di lahan itu. Bila azolla digunakan sebagai campuran pakan, azolla dapat dicampurkan sebanyak 15% dari total pakan. Dengan begitu, 30kg (15% dari 200kg) azolla dapat dikonsumsi sebagai campuran dari total pakan 170kg (85% dari 200kg). Dengan demikian total pakan hanya sebesar Rp 680.000,00 (85% dari Rp 800.000,00).

Menurut hitungan Ir. Dian Kusumanto (http://kolamazolla.blogspot.com/2008/07/manfaat-tanaman-azolla.html) kolam Azolla seluas 1 hektar jika produksinya optimal dapat memberi pakan pada sekitar 2000 ekor itik setiap hari.

Selain itu, dapat pula ditambahkan pakan itik berupa cacing (http://mastekop.blogspot.com/2011_01_01_archive.html). Cacing dapat dibudidaya dari kotoran sapi. Satu ekor sapi dapat membuang kotoran (feses) sebanyak 20kg per hari. Bila kotoran cacing ini ditampung di sebuah kolam dan di dalamnya ditanam cacing merah (redworm), maka cacing merah akan berkembang biak. Menurut blog di atas, cacing ini akan membuat kotoran sapi menjadi tidak bau. Hanya saja mesti diperhatikan apakah cacing ini senang dengan tanah berair ataukah hanya lembab saja.

Perhitungan berkaitan dengan cacing merah dan azolla di atas, sangat menarik untuk investasi itik. Tetapi perhitungan berikut belum menggunakan variabel cacing merah, (kotoran) sapi dan azolla sebagai pakan.

Tanpa variabel cacing merah, (kotoran) sapi, dan azolla maka seorang peternak dengan lahan satu hektar dapat memelihara 2000 ekor titit dengan harga per ekor Rp 3.000,00. Jadi total untuk investasi titit adalah Rp 6000.000,00. Bila dikatakan harga pakan Rp 8.000.000,00 maka keuntungannya dapat berlipat. Keuntungan setelah 2 bulan adalah 2000 ekor x Rp 18.000,00 = 36 juta. Bila modal adalah harga 2000 ekor anak itik (titit) Rp 6jt dan harga 20 kintal pakan adalah 8.000.000,00. Keuntungan dipotong modal akan menghasilkan laba bersih sebesar 36 – 8jt = 28jt. Keuntungan 28jt dalam waktu dua bulan sangat fantastis.

Pakan untuk 2 bulan di atas tanpa mengandalkan azolla pinnata dan cacing merah. Bila peternak juga mempunyai sapi, cacing dan azolla; maka keuntungan dari efisiensi pakan dapat ditingkatkan. Harga untuk pakan itu dapat ditekan.

Tentu saja hal ini perlu dukungan dari sisi penjualan, dan modal lahan yang strategis. Lahan strategis ini ialah adanya aliran air. Mungkin pula aliran air ini dapat dibantu dengan pompa hidram.