Home » Menulis permulaan

Category Archives: Menulis permulaan

Metode Subat (Simak, Ucap, Baca, Tulis) Dibandingkan dengan DDCH (Duduk, Dengar, Catat, Hafal) dalam Pelajaran Membaca Permulaan

Metode subat (simak, ucap, baca, dan tulis) dapat diterapkan pada pembelajaran membaca permulaan atau menulis permulaan. Guru bisa mengucapkan sebuah huruf, suku kata, atau kata. Dengan begitu siswa menyimaknya. Setelah menyimak siswa diminta mengucap ulang huruf, suku kata, atau kata yang diucapkan guru. Guru bisa menunjukkan tulisan huruf, suku kata, atau kata yang diucapkannya. Kemudian siswa bisa menuliskan huruf, suku kata, atau kata di papan tulis, seorang demi seorang, sebanyak beberapa buah, atau siswa menulis di bukunya masing-masing.

Ada seorang hafiz Quran juga yang menggunakan semacam metode ini. Dia menuliskan ayat-ayat yang ingin dihafalnya. Dia membaca tulisan ayat-ayatnya untuk menghafal. Menuliskan ayat-ayat akan memudahkan seseorang mengingat Quran.

Seseorang yang tidak bisa membaca Quran pun bisa meniru membaca Quran dari seseorang yang sudah lancar membaca Quran. Dia tidak perlu menebak tulisan bacaan, melainkan meniru bacaan dan mencoba mengucapkan teks yang ia baca. Teknik seperti ini pun digunakan untuk memudahkan seseorang belajar membaca Quran.

 

Metode simak, ucap, baca, dan tulis (subat) ini bisa dibandingkan dengan pola pembelajaran (metode) duduk, dengar, catat, hapal (DDCH). Seseorang bisa membandingkan simak, ucap, baca, dan tulis (subat) dengan duduk, dengar, catat, hapal (DDCH). Metode subat secara implisit digunakan untuk pembelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan metode DDCH terkesan digunakan untuk pembelajaran lanjutan (bukan belajar membaca-menulis permulaan). Mungkin saja tidak ada metode yang bagus atau jelek. Yang ada adalah metode yang tepat dan kurang tepat. Guru memilih suatu metode karena menganggap bahwa metode itu menurutnya efektif dan melihat bukti efektif dari metode itu. Meski demikian, metode DDCH cenderung mempunyai konotasi negatif seperti siswa pasif, siswa hanya mengerjakan pekerjaan klise (DDCH), siswa tidak mau berbicara atau menulis di papan tulis, siswa tidak berdiskusi dengan teman atau guru. Mungkin DDCH juga bisa dilengkapi dengan keaktifan siswa, kreatifitas siswa, siswa aktif berdiskusi dengan teman atau guru, siswa menulis materi pengayaan di papan tulis dan di bukunya.

 

Sumber:

Eneng Rumini, 857417924, UT Majalengka, kelas C, TT2 TAP, Masa Pandemi Covid19, Work From Home, di kelas 1, sudah diedit, tentang simak, ucap, baca, tulis (subat).

Irdam Permana, 857414778, UT Kuningan, kelas D, TT2 TAP, Masa Pandemi Covid19, Work From Home, di kelas 3, SDN 4 Jalaksana, Kecamatan Jalaksana, tentang pola pembelajaran (metode?) duduk, dengar, catat, hapal (DDCH).

Kesulitan Membaca Permulaan (Kluster, Diftong, Digraf)

Permasalahan yang kerap ditemui guru pada siswa kelas 1 sekolah dasar adalah kesulitan membaca permulaan. Kesulitan ini akan berpengaruh pada pembelajaran mata pelajaran lainnya. Bentuk kesulitan membaca permulaan bermacam-macam. Di antara kesulitan yang banyak dialami siswa yaitu kesulitan membaca kluster, diftong, dan digraf.

 

Dalam bahasa Indonesia dijumpai adanya kluster, diftong, dan digraf. Kluster adalah gabungan dua konsonan atau lebih, misalnya st, kl, gr, pr, sw pada contoh kata stasiun, klausa, gram, pramugari, swasembada. Diftong adalah gabungan dua huruf vokal, misalnya ai, au, oi pada contoh kata pandai, danau, amboi. Digraf adalah dua huruf yang melambangkan satu bunyi, misalnya sy, ng, kh, ny pada contoh kata syarat, yang, khawatir, nyamuk. Ketiga bentuk tersebut merupakan sumber kesulitan anak pada pembelajaran membaca permulaan.

 

Guru seharusnya mengenalkan kluster, diftong, dan digraf setelah lancar membaca dua suku kata misalnya ada, dada, ini nini, itu tuti, apa ini pipa, mana mama. Guru juga seharusnya mengajarkan kluster, diftong, dan digraf setelah siswa mengenal semua huruf dengan metode asosiasi, misalnya a diasosiasikan dengan ayam, angsa, air; huruf i diasosiasikan dengan lilin, huruf u diasosiasikan dengan udang, huruf e diasosiasikan dengan helm atau keong, huruf o diasosiasikan dengan bola atau donat.

 

Guru meminta anak untuk menyebutkan kosakata. Guru bisa meminta siswa untuk melihat benda di sekelilingnya. Guru mengajari siswa belajar membaca dan menulis kosakata benda di sekelilingnya itu. Guru juga dapat meminta siswa menyebutkan nama teman atau orang tuanya untuk belajar membaca dan menulis nama teman dan orang tuanya itu.

 

Sumber: Lina Herlina Maryono, 857418901, UT Majalengka, kelas B, TT2 TAP, Masa Pandemi Covid19, Work From Home, sudah diedit.

Umur Belajar Mengenal Huruf dan Menggoreskan Pensil

Salah satu pembahasan penting dari pembelajaran membaca permulaan adalah mengubah keyakinan bahwa siswa anak-anak harus matang terlebih dahulu untuk belajar sesuatu. Ada kalanya orang tua menganggap anak-anak belum matang untuk belajar membaca atau menulis permulaan. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan huruf-huruf kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tidak pernah mengajarkan memegang pensil kepada anak-anaknya. Ada orang tua yang tak pernah meminjamkan ponsel kepada anak-anaknyanya meskipun ponsel itu bisa digunakan untuk tujuan-tujuan pelajaran. (more…)

Perlukah Menggunakan Ponsel dalam Pembelajaran?

Di kelas dosen tidak jarang melihat mahasiswa menggunakan ponsel. Respons dosen terhadap penggunaan ponsel itu bermacam-macam, ada yang melarang, menghukum, memarahi, dan ada yang membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel di kelas. Bagaimana seharusnya reapons dosen atau guru? Sebagian dosen membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel dengan keyakinan bahwa ponsel itu digunakan untuk tujuan pembelajaran sampai terbukti bahwa ponsel digunakan bukan untuk tujuan pembelajaran. Bila dosen mendapati mahasiswa menggunakan ponsel untuk tujuan bukan pembelajaran, dosen bisa mencegah penggunaan ponsel itu.

(more…)

Snipet Orok Tutunjuk

Budak teh ti orok keneh resep tutunjuk. Sigana bongan kolotna hayang purah tutunjuk. Ayeuna budakna teu eleh resep tutunjuk. Ari budakna tutunjuk, kolotna sok nempo nunjuk kana naon, nunjuk kanu naon. Bisi eta tutunjuk teh mere pituduh.