Home » Pengabdian

Category Archives: Pengabdian

20201008-Surat Tugas Khatib

Ini adalah surat tugas khatib per September 2020

Apa Itu Pintar, Pandai, Cerdas, Cerdik

Sebagian pakar mendefinisikan pintar, pandai, cerdas, cerdik sebagai sinonim. Tentu ada perbedaan khususnya namun prinsipnya sama.

Pintar, pandai, cerdas, cerdik itu didefinisikan sebagai memahami tanda.

Kepintaran, kepandaian, kecerdasan, kecerdikan itu mengandalkan pengetahuan (ilmu) dan logika. Jika dia melihat mendung maka ia memahami mendung itu sebagai tanda dari hujan. Penguasaan banyak bidang didasarkan pada banyaknya ilmu. Jika ia punya ilmu tentang angka, is berpotensi memecahkan masalah tentang angka.

Kebenaran bisa direnungkan. Hal ysng mudah tak perlu diperhitungkan lagi.

Orang-orang pandai itu akan disiplin dan teratur namun juga berpotensi kreatif. Orang pandai juga bisa berpikir panjang atau pendek.

Bahasa Isyarat

Inilah kelemahan seorang manusia yang tidak paham bahasa isyarat. Bila diberi isyarat untuk disuruh, orang seperti ini malas, cenderung tak mau melakukan. Bila orang ini diberi isyarat untuk harus membayar, menraktir; maka isyarat itu tidak akan dipenuhi atau dipatuhinya.

Sejumlah Contoh Bahasa sebagai Isyarat
Berikut ini contoh peristiwa bahasa sebagai isyarat
Peristiwa 1
Pada saat acara yasinan bada isya, 29 September 2016, orang-orang masjid berdatangan ke rumah duka untuk tahlilan dan membaca surat yasin. Orang-orang duduk, suasana agak ramai. Seorang kerabat yang ada di samping sohibul bait (pemilik rumah) tidak memegang buku surat yasin. Beliau pun berkata kepadanya, “Apakah engkau menyimpan buku yasin?” Pertanyaan sederhana ini sebenarnya adalah menyuruh orang ini untuk mengambilkan buku yasin, bukan menanyakan keberadaannya. Kalimat perintah yang lugasnya adalah, “Tolong ambilkan buku yasin!” Namun ia tidak mengerti bahasa isyarat ini dan tidka pernah belajar bahasa isyarat ini sepanjang hidupnya untuk memahaminya. Dunia ternyata tidak selugas FPI atau tidak sekeras Wahabi. Dunia ini lembut dan penuh dengan isyarat. Manusia harus memahami bahasa isyarat ini sepanjang hidupnya.
Saat itu dia menjawab, “Tidak. Saya tidak menyimpan buku yasin. Saya tidak tahu di rumah ini ada buku yasin.” Sebuah jawaban bodoh bagi orang terdidik seperti kebanyakan orang. Dia bisa saja memahami bahasa isyarat ilmu pengetahuan, namun tidak memahami isyarat sederhana suatu kalimat perintah seperti itu. Banyak variasi perintah yang bisa diberikan, misalnya, “Apakah ada buku yasin di sini?” “Apakah ada buku yasin di rumah ini?” Mungkin setelah pertanyaan ini diulang-ulang otaknya yang kecil ini baru memahami bahwa kalimat seperti ini adalah perintah. Bila kalimatnya, ambilkan buku yasin, mungkin dia akan paham, langsung akan mencari, dan mengambilkan buku yasin ini untuk tamunya (kerabatnya).

Pentingnya Belajar Bahasa

Salah satu keterampilan abad 21 adalah penguasaan bahasa. Orang mesti bisa cepat belajar bahasa Thailand, Jepang, Arab, Persia, Inggris, Spanyol, Prancis, Cina. Kendala bahasa mestinya dihilangkan dengan belajar bahasa. Dia bisa membaca berbagai bahasa dan memverifikasi (tabayun) kebenaran berita.

Begitu cepatnya informasi menyebar di media sosial. Berita mainstream acap kalah cepat. Berita-berita di dunia begitu cepat tersebar. Beberapa berita penting di antaranya berita pecahnya perang, berkembangnya situasi stabilitas negeri, demonstrasi negeri.

Dalam sejarah Indonesia, terdapat peristiwa jatuhnya Gus Dur disebabkan demo-demo yang seolah mengancam keutuhan negeri. Di era Presiden Jokowi, sepanjang pemerintahannya penuh warna demo dan upaya instabilitas negeri. Isu agama dikembangkan mengiringi pembubaran HTI. Masyarakat juga melihat kesucian KPK runtuh dengan bukti yang cepat menyebar.

Ada orang yang menganggap bahwa bahaya jika negeri ini dipimpin Jokoei. Ada orang menganggap bahwa bahaya jika negeri ini dipimpin Anies. Namun kita tak boleh berlaku seperti khawarij, yaitu memprovokasi tanpa bukti, teriak “bunuh, halal darahmu.” Itu perilaku khawarij. Berhati-hatilah. Kelompok khawarij inilah yang sebenarnya disebut sebagai rafidhah yaitu kelompok yang keras penentangannya terhadap Imam Ali pada masa kekhilafahannya. Bahkan salah seorang khawarij yang bernama Abdurahman bin Muljam memukul kepala Imam Ali as saat sedang salat subuh di masjid dalam keadaan sujud, di bulan Ramadan. Kelompok khawarij atau rafidhah ini menganggap perjuangannya sebagai ibadah, bahkan sampai mengkafirkan, dan membunuh sesama muslim, bahkan sampai membunuh khalifahnya.
Moral bangsa ini jatuh karena satu orang atau satu kelompok menghujat kelompok lain. Lebih lanjut satu orang atau satu kelompok teriak bunuh, halal darah orang lain atau kelompok lain. Lebih lanjut satu orang atau satu kelompok memukuli atau membunuh orang atau kelompok lain.

Di era media sosial ini tidak hanya satu kelompok yang berteriak. Jika satu kelompok berteriak, kelompok lain yang merasakan kesalahan kelompok ini akan merespon dengan juga berteriak. Maka mereka saling berteriak di media sosial. Dikatakan teriak karena ungkapannya acap kali tidak etis atau tidak lucu. Tidak elegan.

Kritik itu boleh. Kondisi akan mendorong kritik menjadi wajib atau haram. Kritik menjadi haram jika kritik kebablasan. Kritik menjadi wajib bila tanpa kritik, sesuatu akan hancur atau orang yang dikritik tetap budeg. Yang tidak boleh adalah hoaks. Kritik juga mesti disampaikan dengan santun bahkan elegan. Kritik yang bagus tentu logis dan masuk akal. Dengan begitu, tidak sulit menerima kritik jika kritik itu merupakan fakta. Kritik bisa jadi merupakan penyadaran bukan hanya bagi pemimpin, melainkan juga bagi masyarakat. Apakah kritik menghasut masyarakat supaya sadar tentang sesuatu?

Saya pernah ke luar negeri. Saya pernah ke Jepang, Arab Saudi, Thailand. Salah satu kendala ketika di luar negeri adalah terbatasnya komunikasi. Acap kali kita ingin berbicara dengan orang-orang namun kita tidak bisa bahasa mereka. Betapa kenyataan ini menyedihkan. Satu-satunya solusi adalah belajar bahasa.

Kini belajar bahasa Jepang, Thailand, atau Arab bisa dilakukan melalui youtube. Belajar bahasa Inggris pun bisa dilakukan dengan youtube. Orang juga bisa menggunakan kamus dan mencari terjemahan suatu kata di internet. Begitu mudahnya belajar karena sumber atau materi pelajaran yang sangat banyak di internet. Dulu seseorang yang belajar bahasa Jepang harus mencari guru, mereka juga harus mengingat cara mengucapkan bunyi bahasanya (fonemnya). Tidak selamanya mereka bertemu guru bahasanya itu. Bahkan mencari kaset belajar bahasa juga sangat sulit. Namun sekarang, belajar bahasa sangat mudah. Hanya tinggal keinginan seseorang untuk belajar saja yang menjadi penentunya. Jika seseorang enggan belajar, keengganan itu akan menjadi kendala baginya untuk paham.

Belajar bahasa Inggris bisa dilakukan dengan mendengarkan lagu-lagu bahasa Inggris. Beberapa orang lain menambah pelajaran bahasa Inggris dengan menonton film berbahasa Inggris.

Taklid dan Ijtihad

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ .

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 

Bolehkah bertaklid itu?
Pendapat pertama mengatakan bahwa seorang muslim boleh bertaklid.
Pendapat kedua mengatakan bahwa seorang muslim haram bertaklid.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa seorang muslim dengan kondisi tertentu wajib bertaklid.
Sumber hukum suatu fatwa itu Quran dan hadis. Maka memerlukan ilmu bagi seseorang untuk menafsirkannya. Ini gaya kalimat bahasa Arab. Kalimat bahasa Indonesianya, seseorang memerlukan ilmu untuk menafsirkannya.
Hanya para nabi yang maksum yang dapat menakwilkan Quran/hadis tanpa salah.

Istilah-Istilah
Fatwa: putusan ringkas dari suatu masalah hukum
Bertaklid/berittiba: tindakan mengikuti suatu fatwa.
Berfatwa: tindakan bagi seseorang yang mempunyai otoritas untuk mengeluarkan suatu fatwa, (lih: berijtihad)
Mujtahid: orang yang bisa berijtihad atau mengeluarkan fatwa
Mufti: orang yang mengeluarkan fatwa
Muqollid/muttabi: orang yang mengikuti fatwa
Menurut seorang ustaz NU, berittiba adalah mengikuti metode (cara) berijtihad, sedangkan bertaklid adalah mengikuti fatwa.

Contoh Bertaklid
Seseorang mengikuti suatu fatwa, misalnya fatwa MUI, fatwa ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang fatwa atau sembarang ulama.
Seseorang tidak mengikuti sembarang dokter atau guru melainkan yang telah dikenal reputasinya.
Seseorang yang ingin membangun gedung akan menyewa jasa arsitek.
Seseorang yang ingin membuat perabotan menyewa jasa tukang kayu.

Haruskah Seorang Awam Berijtihad?
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seorang awam untuk berijtihad.
Sebagian ulama berpendapat haram bagi seseorang untuk bertaklid.
Jika kita disuruh berijtihad, kita akan berijtihad, hasilnya tergantung ikhtiar kita.
Sodorkan nas Quran dan hadis, kita akan berijtihad dari sumber itu.
Jika kita tidak percaya dokter, kita akan menyembuhkan diri kita sendiri.

Kekacauan karena Tak Tahu Kedudukannya dan Kedudukan Fatwa
Masyarakat mengikuti sembarang fatwa yang tak jelas sumbernya, yang penting sesuai dengan perasaan muqolid.
Negeri ini penuh dengan fatwa yang tidak jelas sumbernya.
Orang-orang yang tidak punya otoritas seenaknya mengeluarkan fatwa (tafsir Quran, hadis) alih-alih mengutip.
Negara ini mempunyai MK untuk menanyakan tafsir hukum, sayangnya untuk agama, negara tidak merekomendasikan MK-Agama.
Bila negara mengikuti suatu fatwa misalnya tentang tanggal 1 Syawal, masyarakat bisa mengikuti fatwa resmi negara.

Siapa Saja yang Bisa Berfatwa
MUI?
Orang yang mau dan mampu belajar
Mujtahid yang sudah diakui ilmunya oleh mujtahid lain.
Seperti sarjana diakui oleh sarjana lain.
Tradisi: seorang mujtahid mewasiatkan orang-orang untuk mengikuti mujtahid berikutnya.
Seseorang yang tidak mampu berijtihad hanya boleh mengikuti atau mengutip fatwa yang ada.
Tidak boleh ada pemaksaan kepada orang lain.

Fatwa Mazhab
Syafii
Hambali
Hanafi
Maliki
Syiah Itsna Asyari

Boleh berpindah dalam mazhab-mazhab Islam

Kemutlakan Fatwa
Meski seseorang mengikuti fatwa, fatwa bisa saja salah
Ulama tidak dijamin maksum
Banyak fatwa yang berbeda, contohnya tentang MLM, FB, tahlil, qunut, niat, wudu, tawasul, ziarah
Analogi kita berikhtiar kepada dokter, dokter juga bisa salah diagnosis, bahkan malpraktik
Fatwa tidak bisa dikeluarkan oleh ulama wanita. Wanita mujtahid hanya bisa berfatwa untuk dirinya sendiri. Tidak ada nabi wanita meski ada wanita maksum.

Universitas Ini Mengeluarkan Mufti?
Mungkin saja universitas ini mengeluarkan mujtahid atau mufti.

Mufti harus bijak dalam arti memahami perbedaan fatwa.
Mufti juga harus melihat fatwa yang berbeda dengannya dan mempertimbangkan kebenarannya.
Universitas ini mengeluarkan orang-orang yang paham akan kedudukan fatwa.
Universitas ini juga mengampanyekan kesadaran orang-orang pada kedudukan fatwa.

Demikian paparan saya. Terima kasih.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Pertanyaan
Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, ternyata saya sendiri aneh dalam masalah taklid. Saya merasa NU atau cenderung NU. Ternyata banyak orang Indonesia lainnya yang menurut saya aneh (bermasalah?) dalam masalah taklid dan ijtihad. Ini saya rasakan sendiri. Diri ini sangat kacau sejak kecil. Bila ada orang yang meninggal, saya akan ikut tahlilan seperti tradisi NU. Namun ketika saya salat tarawih di UPI, saya ikut salat 11 rakaat. Sebagaimana NU, saya juga percaya Imam Mahdi maksum. Sekarang saya percaya 12 khilafah ala Syiah. Bagaimana ini? Bagaimana orang-orang seperti saya ini, Ustaz?”

Kalau ada ustaz, saya akan bertanya, “Ustaz, tetela abdi mah rada aneh dina taklid teh. Ti bubudak geus pabaliut. Aya anu maot ngiring tahlilan. Tapi persis salat taraweh, ngiring anu 11 rakaat. Siga NU, kuring oge percaya Imam Mahdi maksum. Ayeuna kuring percaya ka 12 khilafah. Kumaha atuh, Ustaz?”