Selesaikan Masalah Hukum tanpa Melibatkan Polisi atau Pengadilan

Tulisan ini berkaitan dengan kampanye kesadaran hukum bagi masyarakat. Hukum juga bisa melibatkan pendidikan dan aturan pendidikan yang berupa pidana dan perdata. Pelanggaran di wilayah pendidikan pun tak kurang mengerikan dan menguras uang di kalangan masyarakat. Masyarakat pendidikan pun perlu taat hukum dan tidak bermasalah berkaitan dengan kegiatan pendidikannya.

Beberapa di antara warga kita mungkin saja ada yang tersandung perkara secara sengaja maupun tidak sengaja. Acap kali orang enggan terlibat dengan permasalahan hukum pidana atau perdata. Bila masalah hukum ini dianggap tidak selesai, bisa saja beralih dengan melibatkan polisi bahkan pengadilan. Namun sebenarnya tindakan yang melibatkan polisi dan pengadilan sungguh tidak sederhana. Bahkan ada orang yang secara sengaja melibatkan masalahnya dengan pengadilan dengan harapan mendapatkan keadilan. Kenyataannya tidak demikian. Ada yang hilang ayam, ketika masalah hilangnya ayam ini dilaporkan kepada polisi dan melibatkan pengadilan, malah jadi hilang domba. Oleh karena itu, sebisa mungkin selesaikanlah masalah-masalah masyarakat tanpa melibatkan polisi atau pengadilan.

Bila seseorang mempunyai masalah lalu ia menguasakan masalahnya itu kepada pengacara, maka pengacara akan dengan senang hati menerima kasusnya. Ia bisa datang ke kantor pengacara dan pengacara akan memintanya menandatangani surat kuasa penanganan perkara. Pengacara akan senang menangani kasus tersebut. Pengacara akan senang baik kasusnya menang atau kalah di pengadilan. Pengacara akan tetap mendapatkan upah dari pekerjaannya.

Ada orang tersangkut masalah utang-piutang, masalah kekerasan dalam berteman dan berpacaran, penipuan dengan cek kosong atau uang palsu, perselisihan, perbuatan tidak menyenangkan, perselisihan dalam organisasi … dan sebagainya. Mestinya kasus seperti itu diselesaikan dengan tanpa melibatkan polisi atau pengadilan.

Penangguhan penahanan juga bukan tidak menggunakan uang. kata orang ada sejumlah uang “administrasi” yang mesti dikeluarkan bila ada permohonan penangguhan penahanan. Penangguhan penahanan itu karena seseorang tidak suka dijebloskan ke dalam sel yang notabene diisi penjahat sungguhan, diperlakukan sebagai penjahat. Di penjara, seseorang mendapatkan perlakuan sebagai penjahat meski belum ada putusan pengadilan. Di penjara, seseorang bisa diperlakukan sebagai penjahat secara verbal maupun fisik. Perlakuan seperti itu mungkin saja dilakukan oleh orang yang kerap mengunjungi penjara atau bekerja di penjara atau bekerja berkaitan dengan penjara. Seseorang tidak selamanya bisa berperilaku seperti Nabi Yusuf as yang lebih suka dipenjara daripada mengikuti keinginan “tuannya”.

Mungkin saja orang berpikir untuk menyelesaikan secara kekeluargaan. Mungkin saja ada pengadilan warga. Mungkin saja ada warga yang arif dan bijak dalam memutuskan perkara. Kalau sudah melibatkan polisi dan pengadilan, kasus yang sederhana pun bisa menjadi sangat rumit. Menyelesaikan kasus secara kekeluargaan artinya pihak yang bersalah segera mengakui kesalahannya, berpindah perilaku dari jelek atau jahat menjadi baik; dan membayar kerugian yang ditimbulkan olehnya.

Dalam berbagai kasus orang berduit dan tahu hukum, biasanya mereka malah sengaja bermain dengan polisi dan pengadilan. Ia mungkin tahu bahwa lawannya tidak mempunyai uang dan/atau buta hukum. Ada kalanya kedua pihak yang berseteru memang mempunyai uang. Kedua pihak mengkonsultasikan masalahnya kepada ahli hukum, dan membayar ahli hukum. Artis juga yang merasa banyak uang akan memperkarakan dengan bantuan polisi dan pengacara. Ini karena lawannya juga menggunakan jasa polisi dan pengacara. Tentu saja uang yang dipertaruhkan tidak sedikit. Namun bagi orang yang kurang berduit akan berpikir dua kali untuk berperkara di depan polisi atau di pengadilan.

Mungkin saja di suatu kota tidak ada mafia peradilan. Mungkin saja ada orang yang enggan memperkarakan atau “mejual” masalah orang lain kepada polisi. Hal itu karena dia sendiri juga tak suka diperkarakan oleh orang lain. Agama tentu menyuruh orang untuk menutupi aib orang lain. namun tentu hal ini berbeda dengan tindakan kriminal seperti kasus tindakan asusila dan penggunaan sabu yang mungkin dilakukan gadungan Atot Brajamusti, Tata Pribadi, Guntur Madu, Pasak Bumi dan lain-lain.

Hilangnya Istilah ISIS dalam Berita Pemberontak Suriah

Foto peta dari internet

Foto peta dari internet

Saat ini berita tentang perang Suriah yang melibatkan Presiden Bashar Assad melawan pemberontak ISIS masih ada di dan menghiasi pojok berita luar negeri di media massa kita. Namun istilah ISIS seolah sengaja dihilangkan dalam istilah pemberontak. Mungkin saja hal ini disebabkan mainstream media ingin tetap menjatuhkan citra Presiden Bashar Assad dan mengangkat citra pemberontak yang notabene pemberontak itu adalah ISIS.

1476135909144-233077186

Pada awal perang Suriah, AS dan media-media mainstream yang berpihak kepada AS mengatakan bahwa Presiden Suriah, Bashar Assad adalah diktator kejam dan pembunuh manusia. Digiringlah masyarakat untuk menjatuhkan Bashar Assad. Padahal kenyataannya adalah Presiden Bashar Assad adalah bemper pelindung Palestina saat Palestina khususnya wilayah Libanon diserang Israel. Sejumlah berita menunjukkan kekalahan Israel melawan banser Palestina yang didukung Suriah dan Iran. Kekalahan Israel dalam Perang 33 Hari melawan Libanon sangat memalukan dan berusaha ditutup-tutupi. Pada Perang 33 Hari itu Libanon didukung Suriah karena Libanon memang bertetangga dengan Suriah. Logistik seperti peralatan tempur, bahan makanan, bahkan personel disumbangkan Suriah untuk Libanon. Resikonya Suriah sekarang mendapat serangan dari Israel melalui bonekanya yaitu ISIS.

 

Sayangnya banyak warga muslim yang mendukung ISIS. Sampai sekarang bahkan ada masyarakat yang mengatakan bahwa sekalipun ISIS pembunuh dan mengangkat senjata, ISIS ada manfaatnya. Alkohol juga ada manfaatnya bila diminum namun mudaratnya jauh lebih besar. Dukungan terhadap ISIS bahkan dilakukan oleh ormas pendukung khalifah. Sekarang ini ormas itu tiarap dan tidak mungkin secara terang-terangan mendukung khalifah ISIS.

 

Kini opini masyarakat pun tidak kurang digiring ke arah pemutarbalikan fakta yaitu penghilangan istilah ISIS dalam istilah pemberontak Suriah.

 

Di sisi lain AS juga berupaya menggiring opini bahwa AS bersama Rusia menumpas ISIS. Padahal AS pernah mnyerang Pasukan Assad dengan pura-pura salah koordinat serang. Jadi AS sebenarnya mendukung ISIS karena ISIS melindungi kepentingan Israel.

 

Sekalipun AS seolah anti-ISIS, namun AS tak pernah pura-pura membenci Assad. AS terang-terangan ingin menjatuhkan Assad. AS ingin mengganti rezim Assad. Mengapa? Karena Assad adalah ancaman bagi Israel.

 

Mampus AS! Mampus Israel! Mampus ISIS! Mampus pemberontak Suriah!

Hidup Presiden Bashar Assad!

Ahok, Kasih Sayang, dan Ratna Sarumpaet

Kebersihan, kejujuran, ketegasan (galak seperti anjing gila), keberadaban seorang pemimpin semestinya dihiasi dengan kasih sayang. Kasih sayang yang sederhana adalah perilaku memberi kepada orang lain. Tanpa kasih sayang, kejujuran seperti tidak ada hiasannya sama sekali.
Ahok adalah orang yang tegas. Ia juga paham hukum tata negara karena pengalamannya menjadi bupati, wakil rakyat, dan gubernur bahkan di ibu kota yang menjadi barometer dari propinsi, kota, atau kabupaten lain. Namun kepiawaiannya dalam memimpin itu akan kurang bila tidak dihiasi dengan kasih sayang seperti memberi kepada warga yang membutuhkan.
Menurut kabar, sifat ini diturunkan bahkan dari orang tua Ahok sendiri. Orang tua Ahok pernah meminjam beras atau uang kepada tetangga untuk diberikan kepada orang lain. Padahal di rumah orang tua Ahok juga sedang kekurangan. Ahok juga memberi warganya modal menikah setelah warganya menunjukkan ketidakmampuan dan KTP DKI-nya.
Perilaku kebaikan ini adalah hiasan yang indah dan para nabi juga melakukan hal ini. Seandainya perilaku Ahok ini demikian, pantas saja bila Ahok disayang Tuhan atau nabinya karena perilaku Ahok dan orang tuanya memang sejalan dengan Tuhan para nabi.
Ada lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang meminta-minta. Pejabat pun memberi LSM ini bukan dari kantong pribadi melainkan menyunat anggaran. Apakah ini perilaku kasih sayang? Ini bukan perilaku kasih sayang melainkan kelemahan pemimpin dalam mengatasi LSM.
Ratna Sarumpaet menduga Ahok menindas warganya karena menggusur rumah di pinggir kali, pinggir danau, atau pinggir waduk. Padahal membangun rumah di pinggir waduk adalah pelanggaran karena menutup hak orang lain untuk mengambil manfaat dari waduk tersebut.
Semestinya pelanggar ini diusir. Namun karena kebijakan Jokowi dan Ahok, pelanggar ini dipindahkan ke tempat yang baru, seperti rumah susun (rusun) atau apartemen.
Ratna Sarumpaet mungkin menginginkan bahwa Ahok atau Jokowi tidak memindahkan warga. Lalu Ratna Sarumpaet marah kepada Ahok atau Jokowi.
Politisi lain yang berusaha menjegal Ahok selalu menghembuskan isu sara: Cina, kafir, orang kampung kepada Ahok. Dengan begitu kebaikan, kebijakan, kasih sayang Ahok seperti tertutup oleh entitas Cina, kafir, orang kampung yang disandangnya.
Mungkin juga kebaikan seseorang dibalas dengan keburukan. Ada satu pengalaman orang memberi warga investasi seperti sapi, domba, itik, ayam, ikan. Namun warga ini malah melakukan kecurangan seperti mencuri keuntungan investastornya. Acap kali perilaku curqng seperti ini membuat iklim investasi menjadi buruk. Investor tak lagi mau memberi modal. Investor tak lagi mau memberi kebaikan kepada warga yang membutuhkan. Warga sendiri yang rugi karena tak ada yang mau memberi pinjaman (kredit) atau modal (investasi).
Ketegasan pemimpin tanpa perilaku memberi seperti agama tanpa hiasan. Seperti salat tanpa sedekah atau derma. Namun ada pemimpin yang memberi semata karena ingin balasan seperti jabatan, pangkat, sanjungan, atau balas budi lain. Akibatnya ia marah bila kebaikannya itu tidak dibalas seperti yang ia harapkan.

INTERNET SEHARUSNYA GRATIS

Para pemilik warnet semestinya tahu bahwa internet seharusnya gratis. Internet hanyalah komputer yang terhubung dengan komputer lain. Kemudian ada satu di antara komputer itu yang terus dinyalakan, tak pernah dimatikan, yang menyimpan file-file atau berkas yang dapat dilihat atau dibuka orang lain. Berkas itu bisa berupa teks, gambar, animasi, suara, atau film.

Mengapa internet di Indonesia harus bayar? Karena provider atau pemilik warnet mengatakan bahwa provider harus menyewa server. Selain itu konon server disimpan di luar negeri, seperti Singapur. Habislah kita, sudah server nyewa, disimpan di luar negeri pula. Bila ini terjadi maka data di server dapat dilihat orang Singapur sebagai pemilik server. Bisa dimanipulasi seenak perutnya.

Kerugian lainnya adalah lambatnya transfer data. Bila server disimpan di Singapur, tentu data akan lama sampai ke Bandung. Tentu akan lebih cepat sampai bila server disimpan di dekat komputer klien, misalnya di Sumedang.

Ada dua prinsip internet menurut Onno W. Purbo yaitu internet semakin murah bila banyak yang menggunakan. Internet semakin cepat bila server disimpan di dekat komputer klien. Kalau perlu server simpan di rumah masing-masing. 😀

Sekarang ada dana satu milyar per desa per tahun. Bagaimana jika dana itu digunakan untuk membagun server. Server itu juga bisa berupa open BTS. Dengan begitu tidak hanya komputer yang bisa terhubung ke server itu melainkan telepon selular juga bisa terhubung. Di server ini bisa disimpan sejumlah file yang berguna baik teks hingga film. Sedikit demi sedikit bisa diisi.

Yuk, kita dukung Onno W. Purbo sebagai menkominfo. Dengan begitu, beliau bisa membuat regulasi (peraturan) yang pro rakyat. Bukan menguntungkan korporasi atau provider semata. Bolehlah rakyat dan provider sama-sama ambil untung. Tetapi harus adil, jangan curang. Kata orang, penjajahan dunia sekarang di antaranya adalah membuat penjajahan server. Kita terus harus bayar, mahal pula, tak turun-turun.

Dana satu milyar per desa per tahun ini juga bisa digunakan untuk pengembangan potensi wisata seperti pengembangan area terbuka wisata, parkir Waduk Jatigede.

TIGA JENIS KEPEMILIKAN DALAM ISLAM

Dalam Islam ada tiga jenis kepemilikan.
Pertama, kepemilikan pribadi, contohnya hp, rumah, tanah, laptop, uang, dan sebagainya.
Ke dua, kepemilikan masyarakat atau umum, atau public properties, contohnya sungai, danau, waduk, hutan, laut, dan sebagainya.
Ke tiga, kepemilikan negara atau imam, contohnya tambang-tambang: minyak, emas, batu bara, semen, dan sebagainya.

Ada sejumlah masalah kepemilikan di sekitar kota, misalnya orang membangun rumah di pinggir sungai sehingga mencegah orang lain memanfaatkan sungai. Orang lain tidak bisa memancing, memompa, masuk ke sungai, menikmati keindahan sungai, bersuci dengan air sungai, dan sebagainya. Seharusnya orang tidak boleh membangun rumah di pinggir sungai.

Di sejumlah tempat bahkan orang membangun rumah di pinggir sungai. Di desa dan di kota terjadi pembangunan rumah seperti ini.

Sebuah danau atau waduk juga adalah barang milik bersama atau milik masyarakat atau milik publik. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh membangun rumah di pinggir waduk atau danau tersebut yang dapat mencegah orang lain mengambil manfaat dari danau atau waduk tersebut. Idealnya waduk atau danau dibangun untuk area terbuka publik. Dengan begitu, orang bisa mengambil manfaat dari waduk atau danau itu. Mungkin saja di area terbuka pinggir waduk orang bisa menangkap ikan, di sisi waduk lain, orang bisa melakukan aktivitas wisata air. Ada juga spot lain untuk sekedar duduk, wisata kuliner, kemping, main skuter listrik, joging, dan sebagainya.

Tidak boleh ada yang mengklaim bahwa sungai, danau, waduk, hutan, laut ini milik pribadi. Sungai, waduk, … itu milik masyarakat umum. Setiap orang harus boleh mengambil manfaat dari barang milik masyarakat ini.

PETERNAKAN ITIK DENGAN SISTEM BAGI HASIL

Penghitungan peternakan itik dengan sistem bagi hasil dapat diperhitungkan dengan cara berikut.

Modal harga itik siap telur diasumsikan Rp85.000, 00 per ekor. Bila membeli 10 ekor, modal adalah Rp850.000, 00.

Setiap hari itik bertelur diasumsikan 80% dari jumlah itik. Jadi dari 10 ekor, akan didapat maksimal 8 butir per hari. Sistem bagi hasil sebenarnya tidak mempedulikan kurang atau lebih dari 8 karena setiap harinya telur akan dibagi dua untuk pemodal dan peternak. Penghitungan 8 butir per hari digunakan untuk menghitung waktu balik modal (WBM, break event point, BEP).

Bila diasumsikan harga telur adalah Rp2.000, 00 per butir maka diperoleh maksimal (8×2000) Rp14.000, 00 per hari.

Dengan demikian, WBM akan didapat (850.000/14.000) 60, 71 atau sekitar 61 hari.

Penghitungan lain adalah peternak meminta satu hari dari seminggu diambil telur untuk beli pakan. Berarti pakan adalah (8×2000) Rp16.000 per minggu.

Bagi hasil biasanya dilakukan per minggu. Peternak bisa mentransfer sejumlah uang kepada pemodal setiap minggu. Bila diasumsikan 8 butir per hari, harga telur Rp2.000, 00 per butir, akan didapat setiap minggu (8*2000*7 hari) Rp112.000, 00 per minggu. Keuntungan Rp112.000, 00 ini dikurangi pakan Rp16.000, 00 didapat 96.000, 00.

Dengan begitu WBM akan didapat selama (850.000/96.000) 8, 85 minggu. Pemodal dan peternak bisa sepakat untuk flat 9 minggu peternak mentransfer penuh (full) sebelum bagi hasil. Hal ini juga karena ada flat satu hari dalam seminggu diambil untuk pakan. Peternak bisa mengambil untung dari selisih pakan, pemodal bisa mengambil untung dari pembulatan.

Jadi asumsi penghitungan untuk 9 minggu adalah sebagai berikut. Ada 7 hari dikali 9 minggu adalah 63 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 63 didapat Rp1.008.000, 00. Bila satu hari dalam seminggu telur digunakan untuk membeli pakan (flat) berarti keuntungan hanya 6 hari per minggu. Diperoleh 6 hari x 9 minggu adalah 54 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 54 didapat Rp864.000, 00. Jadi modal untuk pakan selama 9 minggu adalah 1.008.000, 00-864.000, 00 yaitu Rp144.000, 00.

Apabila itik sudah tidak produktif, maka itik dijual per ekor. Harganya akan jatuh dari Rp85.000, 00. Ini juga dibagi dua antara pemodal dan peternak.

Sebenarnya penghitungan di atas adalah penghitungan kasar untuk sistem bagi hasil karena bagi hasil harus dihitung dari telur yang dihasilkan per hari. Peternak harus menulis jumlah telur yang dihasilkan setiap hari dan menyetor kepada pemodal sebelum WBM. Setelah WBM, peternak dan pemodal berbagi hasil dan tetap peternak mencatat telur yang dihasilkan per hari. Peternak bisa mengirim SMS setiap jam 6 pagi atau jam 6 sore untuk melaporkan jumlah telur kepada pemodal. Setiap peternak menulis jumlah telur, ia harus mengirim SMS kepada pemodal. Modal SMS dihitung 200×7 hari yaitu Rp1.400.

Zaman sekarang penghitungan bagi hasil bisa dilakukan dengan mudah menggunakan program spreadsheet (misalnya Libre Office Calc di Linux Mint atau Linux Ubuntu). Dengan begitu, Penghitungan bisa eksak dan menekan kerugian pemodal serta peternak. Jadi, bila variabel berubah, orang bisa menghitung dengan cepat, misalnya variabel harga itik atau telur berubah.

Itik akan produktif selama 1, 5 sampai 2 tahun. Setelah itu itik tidak produktif dan dijual dengan harga jatuh dari Rp80.000–Rp85.000 menjadi Rp45.000–Rp50.000, 00. Ini juga bagi hasil saja karena modal sudah kembali dalam waktu 9 minggu.

MELIHAT ALLAH

Sayidina Ali bin Abi Thalib ditanya oleh sahabatnya, apakah ia menyembah Tuhan yang tak terlihat. Sayidina Ali bin Abi Thalib menjawab, bagaimana mungkin ia menyembah Tuhan yang tak terlihat. Ia menyembah Tuhan yang bisa dilihat dengan ilmu dan iman.

Dari sebuah buku usuludin disebutkan sebuah pertanyaan tentang wujud Allah swt. Dapatkah manusia mengenal Allah secara mutlak sedangkan Dia adalah wujud tak berbatas. Jawabannya, bahkan manusia tak bisa mengenal semut, pohon, gunung, atau lautan secara mutlak; bagaimana ia mengenal Allah yg Maha Esa. Manusia hanya mengenal Allah dalam batas-batasnya saja, tidak secara mutlak.

Manusia bahkan tidak bisa menjangkau ilmu manusia lain. Bagaimana ia bisa menjangkau (ilmu) Tuhan. Seorang insinyur tak bisa menjangkau ilmu dokter. Seorang dokter tak bisa menjangkau ilmu tukang kayu. Manusia harus belajar dulu untuk menjangkau ilmu yang tidak dikuasainya. Ia mengubah ilmu yang sukar menjadi mudah.

Ali bin Abi Thalib pada Perang Khaibar

Perang Khaibar terjadi saat Rasulullah saw menyerang pemberontak Yahudi di Khaibar. Pemberontak ini membuat makar, memanipulasi berita, dan memprovokasi warga. Rasulullah saw berupaya meredam pemberontak ini. Namun perang tak terelakkan. Perang yang dilakukan Rasulullah saw bukan perang untuk menyebarkan agama melainkan perang untuk melindungi darah dan kehormatan kaum muslimin dari makar para pemberontak.
Pemberontak bersembunyi di Benteng Khaibar. Pasukan Rasulullah saw mengepung Benteng Khaibar untuk mencari celah masuk dan kelemahannya. Pasukan Rasulullah saw berupaya membongkar Benteng Khaibar ini dan memerintahkan sahabat untuk membongkar Benteng Khaibar ini. Namun upaya ini tak kunjung berhasil. Pemberontak dapat tetap berlindung di dalam benteng untuk waktu yang lama. Rasulullah saw lalu bersabda, “Besok aku akan serahkan bendera pasukan ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, juga dicintai Allah dan Rasul-Nya.”
Esok harinya Rasulullah saw dan sahabat nya berkumpul. Para sahabat yang berkumpul mengunjukkan diri ingin menarik perhatian Rasulullah saw agar terpilih memegang bendera Rasulullah. Rasulullah saw bertanya, “Mana Ali bi Abi Thalib?”
Sahabat menjawab bahwa Ali bin Abi Thalib sedang sakit mata. Rasulullah saw memerintahkan sahabat untuk memanggil Ali bin Abi Thalib. Ketika Ali bin Abi Thalib datang Rasulullah saw mengusapkan air liurnya ke mata Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib berkata bahwa sejak saat itu matanya tak pernah sakit lagi. Rasulullah saw lalu menyerahkan bendera kepada Ali bin Abi Thalib dan mendoakan kemenangan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib lalu mendekati benteng. Pintu Benteng Khaibar yang tebal tak bisa dirusak meski para  sahabat berupaya dengan berbagai cara. Ali bin Abi Thalib dengan tangan kirinya lalu membongkar pintu Benteng Khaibar dan melemparnya ke tempat yang jauh. Pemberontak yang ada di dalam benteng pun akhirnya menyerah.
Akhirnya makar yang menghantui kaum muslimin dapat ditumpas.

Memperbaiki Iklim Investasi di Kampung Kita

Mungkin sekali waktu kita mendengar bahwa ada orang yang terdesak hutang karena mempunyai kredit macet di bank. Masyarakat yang berhutang kepada bank biasanya mengajukan jaminan seperti rumah atau tanah. Ketika kredit macet atau ia tak mampu membayar angsuran pinjaman kepada bank, bank akan menyita harta jaminannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bank merupakan lembaga keuangan yang beroperasi dengan mengambil riba. Sayangnya banyak masyarakat kita tidak bisa terlepas dari lembaga bank ini. Banyak orang yang pinjam uang ke bank. Pemerintah pun setidaknya sejak zaman Orde Baru (Soeharto) dianjurkan menyimpan uang di bank. Lembaga lain yang ditengarai riba adalah lembaga asuransi. Sebagian lembaga asuransi hanya menuntut nasabahnya untuk membayar premi, namun saat nasabahnya mengklaim atau mau mengambil uang asuransi, sulitnya bukan kepalang. Syarat mencairkan asuransi ialah harus melengkapi berkas persyaratan. Satu saja berkas syarat itu absen, asuransi terancam tak bisa dicairkan. Kasus seperti ini juga terjadi dan disimpan di internet.
Di sisi lain, sebagian masyarakat kita sebenarnya banyak yang memiliki modal atau telah menabung untuk mengumpulkan modal. Modal ini seperti modal yang dimiliki Siti Khadijah untuk berdagang. Nabi Muhammad saw melakukan jasa dari modal Khadijah dengan cara berdagang. Kelihatannya sederhana. Nabi saw beroleh keuntungan dan berbagi keuntungan itu dengan Khadijah.
Investasi di negeri kita dikeruhkan dengan kegagalan karena kerugian pedagang. Karena itu tak ada orang yang mau jadi investor yang beresiko rugi. Di sisi lain banyak pedagang atau penjual jasa yang meremehkan investor dengan memberi keuntungan yang kecil atau tak bisa dipercaya.
Seandainya penjual jasa atau pekerja jasa terpercaya, tentu iklim investasi di kampung kita akan lebih baik lagi. Tulisan ini tidak berbicara skop yang luas di negeri ini. Tulisan ini hanya merupakan potret kecil dari kampung yang kecil. Namun, mungkin saja sejumlah kampung lain punya masalah yang sama: potensi kerja masyarakat besar, membutuhkan investasi, namun kerjanya tak bisa dipercaya investor. Sebaliknya banyak investor yang duitnya nganggur, punya potensi untuk memberi investasi, namun tak menemukan pekerja jasa yang terpercaya untuk memberi keuntungan dari investasinya.
Para pekerja jasa harus merenungkan kejujuran pekerjaan. Sebaliknya investor harus berhati-hati dalam proses investasinya, jangan sampai bertemu dengan pekerja jasa yang curang atau tak memberi keuntungan.
Masyarakat kampung kita acap kali merupakan masyarakat yang membutuhkan modal kecil. Kisaran modal yang dibutuhkan sekitar puluhan juta.
Berbeda dengan pemodal asing yang bisa memberi investasi ratusan juta, milyaran, trilyunan seperti proyek jalan tol, kereta api cepat, tempat wisata waduk, dan sebagainya. Bahkan oknum bank sendirilah yang berinvestasi dengan menggunakan dana masyarakat.
Bapak bangsa kita, Muhammad Hatta, mengajukan sistem koperasi. Koperasi menggalang dana masyarakat untuk diinvestasikan. Dana bisa diinvestasikan di sesama anggota masyarakat anggota koperasi atau di luar anggota koperasi. Sekali lagi, jika usaha masyarakat macet, maka modal akan berkurang bahkan koperasi bisa bangkrut. Koperasi pun harus beroperasi dengan baik yaitu pemodal yang baik dan pekerja jasa yang baik (memberi keuntungan).
Mudah-mudahan iklim investasi di kampung kita menjadi lebih baik di masa datang.

Jenis Olahraga Outdoor yang Dapat Dikembangkan di Jatigede

Menurut Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Jatigede,_Sumedang), luas waduk Jatigede sekitar 1.711 hektar. Seandainya waduk ini berbentuk persegi, maka kelilingnya adalah 4,5 kilometer kali 4 sisi atau 18 km. Jadi seandainya ada orang yang hendak mengelilingi waduk ini, jaraknya cukup jauh. Jarak yang relatif dekat bagi hiking atau pejalan adalah 4 km.

Mungkin ada investor yang bersedia mengembangkan pariwisata di Jatigede. Hal ini karena orang yang terkena dampak (OTD) Jatigede bukanlah sedikit. Mereka kehilangan mata pencaharian mereka sebagai petani dan peternak. Mungkin saja warga OTD Jatigede harus beralih profesi dan mengembangkan pariwisata di sana. Namun, mesti ada modal untuk mengembangkan potensi ini. Semestinya pemerintahlah, dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten yang bertanggung jawab untuk mengembagkan potensi masyarakat dan memberdayakannya setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut dengan proyek Waduk Jatigede.

Di sisi lain, masyarakat perlu diberikan pelatihan guna mengembangkan potensi mereka. Potensi baru setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut tadi. Salah satu pilihannya adalah mengembagkan potensi wisata. Potensi wisata apa yang dapat dikembangkan di area Waduk Jatigede? Berikut sejumlah ulasannya.

  1. Susur danau
  2. Mounteneering (Gunung Hutan)
  3. Rafting dan Riverboarding
  4. Perkemahan
  5. Wisata kuliner
  6. Selam dangkal (snorkeling)
  7. Free diving
  8. SCUBA diving
  9. Berkuda

Susur Danau

Kegiatan susur danau bisa dilakukan misalnya sepanjang 4 km dari keseluruhan kurang lebih 18 km keliling danau. Kegiatan ini bisa dilakukan terutama bila sekeliling danau belum berupa area aspal yang dapat dijelajahi, belum ada sarana listrik di sekitar pinggir danau. Kegiatan ini bisa dilakukan dari satu situs menuju situs lainnya. Pelaku kegiatan dapat mulai dari satu situs (area), kemudian berjalan menuju situs lain lain. Di situs tujuan ini mereka bisa menikmati wisata (wisata darat misalnya wisata kuliner, ATV atau wisata air misalnya jetski). Kemudian mereka dapat pulang tanpa kembali ke tempat situs pertama.

 

Mounteneering (Gunung Hutan)

Kegiatan mounteneering ini juga dilakukan di situs awal menuju situs tujuan. dilakukan untuk menyusuri hutan, misalnya ada sungai yang dapat dijadikan tempat berenang, ada air terjun yang bisa digunakan untuk berenang, ada kolam kecil yang bisa digunakan untuk tempat berenang, ada tempat kemping yang memiliki pemandangan yang indah, dan sebagainya. Mungkin saja di daerah tujuan ada angkutan (alat transportasi) sehingga pelaku kegiatan ini bisa langsung pulang tanpa harus kembali ke situs awal.

 

Rafting dan Riverboarding

Rafting dapat diterjemahkan sebagai arung jeram. Pengarungan sungai dilakukan dengan perahu karet,  kayak, kano dan dayung. Selain rafting dapat pula dikembangkan potensi riverboarding, yaitu mengarungi jeram seorang demi seorang. Namun potensi ini harus digali lebih lanjut. Bila potensi ini ada, maka tidak ada salahnya untuk dikembangkan.

 

Perkemahan

Perkemahan dapat dikembangkan bila ada potensi situs yang dapat dikembangkan menjadi bumi perkemahan. Perkemahan dapat dilakukan oleh sekolah yang mengadakan acara alami atau pramuka. Perkemahan ini dapat terintegrasi dengan sejumlah wisata kuliner di sekitar bumi perkemahan. Perkemahan juga mungkin mengusung tema seperti mengenal potensi wisata, mengenal kekayaan alam, atau pelajaran lainnya.

 

Wisata Kuliner

Wisata kuliner sangat penting untuk dikembangkan di berbagai situs. Kuliner yang dikembangkan bisa saja makanan ringan hingga makanan berat. Kuliner juga bisa mengembangkan potensi waduk seperti kuliner yang berasal dari ikan dan pengolahannya. Kuliner juga bisa dikembagkan dari potensi peternakan atau perkebunan yang dikembangkan masyarakat. Mungkin saja ada pengembangan kuliner sayuran, buah-buahan, ternak ayam, ternak itik, telur, domba, sapi, susu sapi, kerbau, dan sebagainya.

Di wilayah ini, kerbau biasa digembalakan (bahasa Sunda: diangon, ngangon). Ternak kerbau mungkin tidak diberi pakan dengan ngarit (bahasa Sunda, ngarit ‘mengambil rumput dengan arit’). Dengan begitu, jumlah kerbau yang diangon bisa saja banyak, yaitu lebih dari tiga ekor. Bila peternak itu ngarit, ia hanya mampu memelihara dua atau tiga ekor kerbau saja.

Di Pangalengan, Kabupaten Bandung, susu sapi telah diolah menjadi berbagai produk olahan makanan seperti susu segar, yogurt, bolu susu, permen susu, keju, dodol susu, susu bubuk, dan sebagainya. Produk ini pun diputar di masyarakat dan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Tentu saja kegiatan ini akan memutar ekonomi masyarakat.

 

Selam Dangkal (Snorkeling), Free diving, dan SCUBA diving

Proyek selam dangkal, free diving dan scuba diving memerlukan investasi yang lumayan. Ini juga dipertimbangkan ada konsumen yang mau membeli sewanya. Jika masyarakat masih asing dengan olahraga ini, maka mungkin saja olahraga ini tidak perlu dikembangkan. Masyarakat dapat mengembangkan olahraga yang berpotensi disukai masyarakat.

Selam dangkal dilakukan bila air jernih dan cahaya matahari dapat menerangi sampai ke dasar waduk. Saat ini dasar waduk tentu saja diperkirakan tidak terlalu menarik karena mungkin pada umumnya hanya ada bekas sawah. Kalau pun ada situs bawah air yang menarik, pemandu wisata harus memahami lokasinya secara pasti dan mengukur kedalamannya. Dengan begitu, wisatawan tidak akan dirugikan dengan paket wisata yang tidak jelas. Pada kegiatan selam dangkal biasanya penyelam mengambang di permukaan air dan melihat ke dasar waduk menggunakan kaca mata selam.

Free diving dilakukan dengan cara menahan nafas. Berbeda dengan selam dangkal, pada kegiatan free diving, penyelam dapat menyelam lebih dalam untuk melihat bawah air dan dasar waduk. Scuba diving dilakukan dengan menggunakan tabung oksigen.

 

Berkuda

Olah raga berkuda dapat dilakukan sebagai rekreasi. Tentu saja para wisatawan tidak selamanya mahir berkuda. Oleh karena itu, wisatawan dapat diberi pilihan untuk mengendarai kuda sendiri atau sekedar berkeliling dan dibimbing oleh tukang kudanya. Potensi ini mesti bisa dimiliki oleh masyarakat kecil. Mereka bisa beternak kuda dan pada hari yang ramai dikunjungi wisata, mereka dapat menyewakan kuda mereka untuk wisata kuda.