Home » Pengabdian (Page 2)

Category Archives: Pengabdian

Perlukah Menggunakan Ponsel dalam Pembelajaran?

Di kelas dosen tidak jarang melihat mahasiswa menggunakan ponsel. Respons dosen terhadap penggunaan ponsel itu bermacam-macam, ada yang melarang, menghukum, memarahi, dan ada yang membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel di kelas. Bagaimana seharusnya reapons dosen atau guru? Sebagian dosen membiarkan mahasiswa menggunakan ponsel dengan keyakinan bahwa ponsel itu digunakan untuk tujuan pembelajaran sampai terbukti bahwa ponsel digunakan bukan untuk tujuan pembelajaran. Bila dosen mendapati mahasiswa menggunakan ponsel untuk tujuan bukan pembelajaran, dosen bisa mencegah penggunaan ponsel itu.

(more…)

Peran Strategis Organisasi Kemasyarakatan Islam dalam Kehidupan Berbangsa

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang besar. Sebagian masyarakat Indonesia mempunyai kecenderungan NU baik secara organisasional maupun kultural.

PMII adalah anak dari organisasi NU. NU juga mempunyai banyak anak cabang untuk menampung kreativitas anggotanya seperti partai PKB, Ansor, Koperasi, dsb.

Silaturahmi dengan organisasi lain harus dilakulan seperti dengan NU, Muhammadiyah, Persis, bahkan LDII, atau FPI. Silaturahmi ini dilakukan untuk mencegah insiden yang bisa terjadi seperri insiden peringatan hari lahir (harlah) NU di Yogya. Yogya memang kota bersejarah Muhammadiyah, namun NU juga tidak kurang besar di sana. Bahkan Sultan mempunyai acara Suroan, dan tradisi lain yang notabeme sejalan dengan tradisi NU. (more…)

Orang Cina Merakit Ponsel

Video di youtube, orang cina merakit ponsel pintar.

https://youtu.be/MjwtTSoIYYs

Anak SMK kita baru bisa merakit komputer/laptop. Silakan cari tutorialnya di youtube.

Pada tautan video youtube di atas diperlihatkan seseorang barat yang berjalan-jalan di lorong-lorong pasar elektronika Cina lalu membeli komponen-komponen Samsung S9 lalu dia merakitnya sebagai sebuah ponsel lengkap. Kameranya berfungsi, internetnya berfungsi, semuanya berfungsi. Normal.

Industri rakitan seperti ini bisa menjadi industri rakyat. Industri semacam ini merupakan satu potensi perputaran uang karena apabila masyarakat bisa merakit mereka juga bisa menjualnya. Mungkin dengan modal yang kecil atau modal koperasi (patungan) mereka bisa merakit sejumlah ponsel untuk dijual di pasar mereka sendiri. Komputer atau laptop rakitan yang beredar di masyarakat tidak terlalu jelek. Seseorang tidak perlu membeli brand atau merk seperti IBM, DELL, Toshiba, hp, dan semacamnya. Komputer tak bermerk juga bagus asal komponennya bagus seperti motherboard, prosesor, memori, display, dan sebagainya.

Selain industri ponsel, industri motor listrik juga bisa berkembang seandainya perusahaan motor listrik nasional juga memproduksi dan menjual komponen-komponen motor listrik. Komponen-komponen motor listrik yang penting di antaranya baterai, dinamo motor, dan controller. Masyarakat Indonesia sudah mampu membuat rangka custom atau bodi metal, plastik atau fiberglass. Sejumlah orang memproduksi motor custom seperti model choper atau bobber.

Selama ini sejumlah komponen motor listrik dibeli dari luar negeri atau impor seperti motor dinamo, atau controller. Pemerintah atau perguruan tinggi harus berupaya meneliti atau memproduksi motor dinamo atau controller yang bagus.

Masalah Pengajaran Novel (Sastra) di Sekolah

Saya mempunyai seorang guru bernama Profesor JS Badudu almarhum. Beliau adalah salah seorang pakar bahasa Indonesia yang sangat terkemuka di Indonesia. Melalui beliau saya memperoleh informasi tentang kesusastraan. Suatu hari Beliau berkata bahwa beliau membaca novel Belenggu (1940). Beliau mengatakan bahwa novel itu luar biasa indah, kosakatanya gilang-gemilang. Saya terkejut mendengar pernyataan beliau. Saya pernah membaca novel Belenggu, namun kesan saya biasa-biasa saja, tidak istimewa. Informasi dari Prof. JS Badudu sangat berharga bagi saya. Saya pun membaca literatur tentang novel Belenggu. Ternyata novel ini juga merupakan terobosan pada masanya, tema yang diusung baru dan menjadi tren pada masanya. Tema Belenggu terkait dengan profesionalisme (dokter), kemerdekaan pekerjaan, dan kehidupan masyarakat modern di negara merdeka. Tema itu menjadi tema yang baru pada masa itu sehingga sejumlah film pada masa itu pun terpengaruh untuk menayangkan tema-tema yang sama.

Pada saat membaca novel Belenggu, saya tidak melihat keindahannya. Tema kemerdekaan semacam itu pun sudah lama lewat. Mungkin karena saya tidak pernah diajari sebelumnya tentang keindahan novel Belenggu. Sampai saat Profesor Badudu mengatakan bahwa novel Belenggu adalah sebuah novel yang luar biasa indah, kata-katanya gilang-gemilang.

Novel Habiburrahman El Shirazy berjudul Ayat-Ayat Cinta (2004) merupakan novel yang menjadi tren dan temanya diikuti dan ditiru oleh novelis pengikutnya. Novel ini pun dinilai orang sebagai novel yang indah. Novel ini menjadi puncak penjualan (best seller) pada masanya. Oleh karena itu, tidak terlalu salah bila sebagian kritikus mengatakan bahwa novel Ayat-Ayat Cinta merupakan salah satu puncak kesusastraan Indonesia pada masanya.

Pada kesempatan lain saya juga pernah mendengar guru saya, Profesor Yus Rusyana, berkomentar tentang novel Saman karya Ayu Utami(1998) Beliau mengatakan bahwa novel itu bukanlah novel yang bagus karena itu kita tidak perlu terpengaruh oleh propaganda orang lain yang mengatakan bahwa novel itu bagus meski novel itu merupakan novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Tema novel ini cukup vulgar untuk kalangan umum di Indonesia. Namun inti tema novel ini adalah perjuangan untuk memperoleh hak-hak dengan bantuan LSM yang dibumbui perilaku seksual menyimpang (disorientasi seksual) seorang perempuan seperti mencintai pastor, perilaku seks bebas, pacaran berat, dan semacamnya.

Pengajaran novel mesti disampaikan di sekolah-sekolah. Guru-guru mesti menyampaikan novel-novel yang pernah mereka baca untuk merangsang minat siswanya membaca karya yang sama. Siswa-siswa bisa belajar menyukai novel berdasarkan apresiasi guru-guru mereka. Siswa-siswa bisa belajar menyukai novel yang disukai guru mereka Karena guru menyukai suatu novel, siswa-siswa juga bisa menyukai novel itu. Sebaliknya bila guru-guru tidak menyukai novel itu, siswa juga bisa meniru ketidaksukaan guru. Guru bisa saja tidak suka suatu novel dengan berbagai alasan misalnya karena temanya buruk, isinya menyampaikan suatu keburukan, isinya merupakan propaganda kemaksiatan, atau karena guru memang tidak suka membaca (novel).

Kasus yang terjadi pada masa sekarang adalah pengajaran novel sangat kurang. Bahkan di tingkat sekolah dasar tidak ada novel yang diajarkan. Taufik Ismail berkampanye tentamg masalah ini sejak sekitar 1998. Menurutnya siswa-siswa di Indonesia sepanjang pelajarannya di SD, SMP, dan SMA sama sekali tidak pernah membaca satu novel pun. Tak ada satu pun yang mereka baca selama di sekolah atau nol novel yang dibaca siswa di sekolah. Hal ini sangat berbeda dengan situasi di luar negeri.

Menurut saya pengajaran novel atau cerpen sangat penting untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. Siswa bisa berbahasa yang baik dan benar karena mendengarkan tuturan-tuturan yang baik atau membaca (menonton) tuturan-tuturan yang baik. Kemampuan berbahasa yang baik dan benar sangat penting disaksikan siswa-siswa kita. Kemampuan itu diperoleh dengan mendengarkan dan membaca tuturan yang formal, standar, atau baku.

Package Rock

#sucpdi

Ketika Coco Robert memperoleh kebenaran atau pelajaran ia akan memegang kebenaran itu erat-erat. Pasti ia bisa melihat selain kebenaran itu sebagai kesalahan. Namun ada kalanya ia tidak bisa memaksakan kebenaran itu kepada orang lain bahkan kepada teman dekatnya, Coker Clark dan Ahmad Wisnu Jono.

Menurut Musa Kazim, jika seseorang menentang kebenaran, penentangannya itu tidak akan mengubah kebenaran sama sekali. Orang itu malah yang semakin menjauh dari kebenaran. Sebaliknya, jika seseorang mengakui kebenaran, mungkin kebenaran itu beresiko baginya sementara waktu, namun ia akan ikut kebenaran yang abadi dalam dirinya.

Belakangan saya mendapati orang-orang yang berbeda paham dengan saya.

Saya meyakini kebenaran mutlak dari kenabian Muhammad saw dengan seperangkat perintah dan larangannya. Namun saya tidak bisa memaksakan kebenaran yang saya yakini kepada orang lain yang belum mencapainya atau berpandangan berbeda dengan saya. Bahkan di antara muslim pun ada yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw maksum meski bermuka masam, atau lupa jumlah rakaat salat, lalai dalam salatnya, salah dalam penyerbukan tanaman dunia. Sebaliknya, saya meyakini Nabi tidak bermuka masam dan tidak lalai dalam salatnya, memahami prnyerbukan dengan benar.

Dulu saya gemar memaksa. Saya selalu mengecam orang yang pikirannya “ngawur” atau berbeda dengan saya.

Sekarang saya melihat perbedaan orientasi politik sebagai fenomena biasa. Ada orang yang menyalahkan gubernur DKI dalam kasus RAPBD Aibon, ngawurnya penanganan banjir, atau pelanggaran penebangan kawasan Monas. Ada orang yang menyalahkan Jokowi karena ada banyak Cina di Indonesia, memberi kesempatan orang Cina atau Arab berinvestasi di Indonesia, membiarkan kasus muslim Uyghur, Cina, atau tuduhan membentuk dan membiarkan komunitas PKI, gay, dan lesbian. Ada yang menyalahkan Jokowi dalam kasus Jiwasraya. Ada yang menyalahkan Anies dalam penanganan banjir di DKI. Ada pendapat yang berbeda-beda.

Saya pernah berbeda pendapat dengan muslim lain ihwal multi level marketing (MLM). Ada bahkan dosen, mahasiswa, teman yang menawari saya berbagai macam MLM. Ketika ada fatwa haramnya sistem MLM, saya mengikuti fatwa itu. Saat itu saya tahu ada fatwa lain dari ulama lain yang membolehkan MLM. Bahkan konon katanya orang yang ikut MLM itu juga termasuk agamawan, intelektual, dan anggota DPR yang masa jabatannya lebih dari dua kali, dan pejabat penting lain. Ada pula “cendekiawan muslim” yang membolehkan MLM. Saya tidak bisa memaksakan agar mereka juga mengharamkan sistem MLM. Saya cuma bisa menolak tawaran mereka ketika mereka menawari saya untuk ikut MLM.

Untung saja mereka masih mengaku MLM. Adakah yang menggunakan sistem MLM meski mengaku bukan MLM?

Berbeda pendapat atau opini itu boleh. Yang tidak boleh adalah fitnah, hoaks atau menyebarkan berita bohong. Contoh fitnah adalah pejabat anu PKI, APBD anu dari investor Cina, penabat anu memasukkan Cina, pejabat anu adalah muslim dan selainnya adalah nonmuslim.

Meski kita tidak boleh fitnah, tetap saja kita tidak boleh gibah. Fitnah adalah menuduh orang sesuatu ysng tidak ada realitas keburukannya. Sedangkan gibah adalah membicarakan keburukan orang lain (ada realitas keburukannya)

Saya sebenarnya orang yang tidak percaya bahwa perbedaan orientasi politik bisa menyebabkan permusuhan atau perpecahan. Perbedaan orientasi politik adalah peristiwa yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa mempunyai perbedaan orientasi politik dengan orang lain. Seseorang bisa berbeda agama dan orang lain. Seseorang bisa berbeda mazhab dengan orang lain. Orang bisa memilih Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki, Syiah tanpa gangguan orang lain. Perbedaan-perbedaan itu semestinya tidak menyebabkan pertengkaran, permusuhan, atau perpecahan.

Seseorang tidak boleh memaksakan orientasi politiknya kepada orang lain. Seseorang tidak boleh memaksakan agamanya kepada orang lain. Seseorang tidak boleh memaksakan mazhabnya kepada orang lain. Seseorang juga tidak boleh selamanya mengkampanyekan orientasi politiknya kepada orang lain karena mungkin saja orang lain tidak suka dengan ksmpanye orientasi politiknya itu. Mungkin saja orang lain sudah mempunyai orientasi politik sendiri yang yang kukuh, ajeg, dan tidak mudah diganggu gugat. Saat orang lain mengkampanyekan orientasi politik yang berbeda dengannya ia akan merasa terganggu dan menganggap kampanye itu sebagai teriakan yang berisik. Pemaksaan politik adalah disorientasi politik. Pemaksaan mazhab adalah disorientasi mazhab.

Pada saat ini ada orang-orang yang terus-menerus berteriak mengkampanyekan orientasi politiknya. dengan begitu lawan politiknya pun tidak henti-henti mengkonternya (counter). Akhirnya jagat dunia maya menjadi berisik dengan percekcokan mereka. Dunia menjadi bising dan ucapan langit jadi tidak terdengar lagi. Justru seolah-olah merekalah yang menjadi langit yang berbicara.

Nanti pada saat Imam Mahdi muncul ada teriakan di langit yang yang berbunyi, “Telah datang kebenaran dan telah hilang kebatilan.”

Pada saat ini ada orang-orang yang mengkampanyekan orientasi politiknya dengan alasan lawan politiknya itu adalah orang-orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Dengan alasan itu, ia berupaya menyadarkan orang lain agar mempunyai orientasi politik yang sama. Ada orang yang mengkampanyekan Jokowi sebagai orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Ada pula orang yang kampanyekan Anies Baswedan sebagau orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Dengan begitu orang-orang mengkampanyekan untuk membenci Jokowi atau Anies Baswedan. Adakah yang banyakan Ganjar pranowo sebagai orang yang licik korup dan bodoh? Tentu saja ada yaitu lawan politiknya. Jika Ganjar pranowo berasal dari PDIP, mungkin lawan politiknya seperti PKS akan menjelek-jelekkan GP. Salah satu keburukan dari partai adalah hanya orang-orang yang punya uang saja yang bisa tampil di panggung politik. Tetapi salah satu kebaikan demokrasi adalah hanya orang-orang yang baik saja yang berpotensi dipilih oleh masyarakat. Masyarakat menghendaki orang baik yang menjadi pemimpin mereka. Jika tidak, maka masyarakat akan punya pemimpin di hati mereka sendiri atau punya hakim untuk komunitas mereka sendiri.

Pada saat ini ada masyarakat yang tidak ingin diperintah oleh pemerintahan Jokowi. Ada guru yang menolak perubahan kurikulum dengan alasan dirinya (meerasa) lebih pandai daripada pemerintah. Video guru saat penataran kurikulum tersebar. Guru itu sepertinya berhadapan langsung dengan Menteri Nadiem Makarim dan pejabat sertifikasi lain. Dia mengatakan (sesuatu, dana) jangan diganggu, kementerian bisa memberi tetapi jangan paksa guru harus ini atau itu; jika tidak, ia mengusulkan pembubaran kementerian pendidikan, dan menawarkan (mengajari) pendidikan kepada Menteri. Katanya guru tak mau menjadi alat negara. Guru maunya menjadi pembangun peradaban.

Dalam video itu terbukti bahwa di Indonesia bahkan seseorang guru bisa melawan kebijakan menteri, mendebat kebijakan menteri, tidak setuju dengan kebijakan menteri, memgancam membubarkan kementerian. Bahkan hal itu disampaikan di muka umum dengan situasi tertawaan, candaan, dan gurauan. Terimakasih kita hidup di Indonesia yang yang ucapan seperti itu masih bisa ditoleransi seandainya kita hidup di Thailand atau Arab Saudi, mungkin raja sudah murka dan memerintahkan untuk menangkap kita. Pada masa Pak Harto pun seperti itu. Kita tidak bisa bicara seenaknya di depan pejabat.

Orang yang senang dipimpin oleh Jokowi akan menerima keputusan keputusan politik dan kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi. Dia akan menerima Jokowi sampai kebijakan itu merugikannya atau kebijakan itu ditolaknya. Dia akan berbalik dan akan mulai melawan kebijakan pemerintah Jokowi.