Hari-Hari Ziarah Haji (31)

Bertemu dengan Jemaah dari Tunisia dan Libya

Negara Tunisia dan Libya saya yakin merupakan negara di Afrika. Seperti halnya Maroko, kedua negara itu mendapat pengaruh Islam dan mempunyai peradaban yang cukup baik.

Seingat saya orang ini dari Tunisia. Saya ingat demikian karena Tunisia saya kenal dari kurmanya yang bagus dan banyak beredar di pasaran Indonesia. Saya menyapanya, bersalaman, dan menanyakan asal negaranya. Ia berasal dari Tunisia. Saya saat itu tak punya gambaran di mana letak Tunisia di peta dunia. Rupanya Tunisia berada di dekat Maroko (Maghribi).

Orang dari Tunisia ini mengatakan sesuatu tentang Arab Spring yang membuat negaranya sengsara. Arab Spring adalah arus isu demokrasi agar sebagian negara Arab menjadi negara yang menerapkan demokrasi. Namun saya kurang pantas paham pada sebagian masalah ini. Dinamakan spring karena demokrasi seolah bunga yang bersemi atau negara Arab yang mulai bersemi karena demokrasi. Saya juga yakin bahwa demokrasi jauh lebih baik daripada khilafah.

Orang dari Tunisia ini bekerja di bandara. Menurutnya keadaan ekonomi Tunisia bagus sampai terjadi isu Arab Spring.

Kami sedikit banyak berbicara tentang Tunisia namun saya tak pernah menyinggung tentang kurma tunisia dengannya.

Saya juga bertemu dengan orang Libya. Saya benar-nenar yakin dia mengatakan Libya. Saya mengenal Libya dan Moamar Khadafi sejak saya masih di sekolah dasar. Saya pun tahu petanya. Seingat saya ada berita, konon ada masjid yang didirikan Ustadz Arifin Ilham itu mulanya bantuan dari Presiden Moamar Khadafi. Itu sebelu Moamar Khadafi diserang pemberontak dari luar yang mengalahkannya. Moamar Khadafi gugur dan pemerintahan Libya menjadi tidak stabil.

Jemaah dari Libya ini mengatakan Khadafi dengan isyarat jempol. Lalu ia mengatakan pasca-Khadafi dengan isyarat jempol ke bawah. Kami sedikit banyak berbincang tentang negara Libya.

Saya tidak terlalu ingat peristiwa pertemua saya dengan jemaah Tunisia dan Libya. Namun cerita ini selayaknya bisa dikonfirmasi oleh cerita jemaah atau orang lain.

Hari-Hari Ziarah Haji (30)

Ada Jemaah dari Cina. Adakah Jemaah dari Jepang?

Saya sering melihat jemaah dari Cina. Beberapa kali saya menduga bahwa jemaah ini dari Jepang. Namun ketika ditanya, ternyata jemaah itu dari Cina.

Saya bertemu dengan jemaah Cina saat salat di depan kabah. Tentu saja salatnya di belakang mataf karena mutowif (orang yang tawaf) tidak ada habisnya. Selalu ada yang tawaf selama 24 jam. Orang berhenti tawaf saat salat fardu dilaksanakan.

Orang Cina ini berkali-kali salat. Selesai salat satu, setelah salam, segera ia bangkit dan salat lagi. Saya seperti tertahan untuk menyapanya. Umurnya sekitat 50 tahunan. Tubuhnya kurus dan tidak gemuk. Saya bisa menebaknya berasal dari Cina dan bukan Jepang. Saya yakin hal ini sejak awal mengamatinya. Ia berjenggot tipis.

Ketika adzan dikumandangkan, baru ia berhenti salat dan menunggu salat fardu. Saat itulah saya menyapanya. Saya bertanya benarkah ia dari Cina? Ia mengisyaratkan iya. Saya tanya lagi bisakah berbahasa Inggris, ia juga mengisyaratkan tidak. Ia berkomunikasi dengan isyarat seolah ia tidak suka berkomunikasi. Mungkin ia sedang berkomunikasi dengan Tuhan sehingga ia tak memperharikan komunikasi dengan manusia. Mungkin juga ia enggan betkomunikasi untuk menjaga emosi. Maklum saja, salat di depan kabah ini bisa “rebutan”. Barisan sudah padat juga mungkin ada orang yang minta geser untuk minta duduk. Barisan sudah padat juga kadang-kadang ada yang duduk di belakang kita atau di sekitar tempat sujud kita. Mungkin juga tindakan itu dilakukan dengan terpaksa karena lelah bertawaf dan mencari tempat istirahat. Mungkin juga sebagian orang memang mencari tempat salat dan meminta orang melapangkan majlis (tempat duduk) baginya. Ada yang dilakukan dengan terpaksa, namun itu juga acap mengganggu karena saf (barisan) jadi sesak.

Mungkin karena itu, orang Cina ini enggan berkomunikasi dengan saya. Padahal, saya tidak merebut tempat orang lain. Tempat duduk saya pun cukup lapang untuk duduk berdua dengannya.

Saya merasa bahwa perilaku Jepang banyak yang Islami meski mereka bukan Islam. Seandainya mereka bersyahadat, mungkin mereka akan menjadi salah satu kelompok muslim yang paling disiplin dan berbudaya. Warga kita masalah membuang sampah saja masih memalukan, apalagi masalah korupsi dengan semboyan maju terus pantang mundur bagi papa.

Saya menganggap bangsa Jepang sebagai saudara. Terutama karena mereka mempunyai perilaku yang baik. Selama mereka mempunyai perilaku yang baik dan mendukung kebenaran, maka mereka ada di pihak saya (atau saya ada di pihak mereka?). Pokoknya kebenaran akan bersatu dengan kebenaran lagi.

Saya menduga bahwa bangsa Indonesia dan Jepang dapat saling nengisi dan saling melengkapi. Bangsa-bangsa bisa saling menolong dalam kebaikan. Lalu bangsa-bangsa juga bisa bersama-sama melawan kejahatan. Saya melihat potensi Jeoang ke arah itu.

Sayangnya dalam peran perdamaian dunia, pemerintahan Jepang dianggap plin-plan. Pemerintahan Jepang bahkan mendukung sebagian kebijakan Israel dan AS termasuk kebijakan perangnya. Yang saya sampaikan adalah peran pemerintah Jepang.

Dulu Indonesia dipimpin oleh Presiden Soekarno yang melawan penjajahan dan meletakkan dasar-dasar negara. Namun ketika kepempimpinan beralih, negara kita juga agak grogi membela Palestina. Pada era Jokowi terlihat pembelaan kepada Palestina kembali menguat. Namun pembelaan tidak semata berteriak. Pembelaan bisa saja dilakukan diam-diam sambil menjaga diri tetap waspada.

Di Arafah saya juga menemui jemaah Cina. Mereka ada di jalan besar yang ada pohon besar dekat tenda Indonesia. Di situ juga saya menemui jemaah haji dari tuan rumah Arab sendiri. Mulanya saya memduga bahwa jemaah ini adalah jemaah Jepang karena saya melihat ketenangam dan kerapian mereka. Ketika saya tanya, apakah mereka dari Cina, ternyata mereka mengkonfirmasi, mereka menjawab ya dari Cina. Jemaah Cina itu terdiri atas sejunlah pemuda yang cepak rambutnya dan cenderung tak berjenggot. Mereka sedang salat, zikir, dan tafakur di Arafah.

Ternyata cukup banyak jemaah haji dari Cina. Saya juga menemui jemaah ibu-ibu Cina yang saya tak berani menegurnya. Lelaki keluarganya ada di sekitarnya. Mereka saya temui di halaman Masjid Haram.

Jika bangsa-bangsa ini bertemu, mungkin bangsa-bangsa ini bisa saling bertukar informasi tentang perdamaian dunia, mengkonfirmasi berita, dan saling menahan diri bila ada informasi yang kurang berkenan.

Hari-Hari Ziarah Haji (29)

Bertemu dengan Orang India, Pakistan, Bangladesh

Salah satu hal yang mengejutkan adalah banyaknya jemaah dari India, Pakistan, dan Bangladesh (IPB). Merskipun di atas meja jumlah jemaah Indonesia psling tinggi, ternyata jemaah dari IPB ini juga sangat banyak. Seseorang yang berhaji akan sering menemui mereka.

Menurut berita dari Youtube, banyak orang India bisa berbahasa Inggris. Namun di Mekah, tidak semua jemaah dari India mampu berbahasa Inggris. Apakah muslim yang berhaji memang kurang berpendidikan atau hanya kebetulan, entahlah.

Kami (saya dan seorang teman dari Rancakalong) sempat bertemu dengan seorang pemuda India. Badanya besar, sterk, menurut temanku wajahnya juga tak kalah ganteng dengan bintang Bollywood, cambang dan janggutnya tidak tebal. Ia tengah berzikir di tempat teduh di depan kabah, yaitu mataf lantai satu. Kawan saya menyapanya. Mereka berbicara satu sama lain, mungkin menanyakan asal negara mereka. Saya akhirnya terlibat pembicaraan karena saya dianggap fasih berbahasa Inggris. Namun ternyata orang India ini juga kurang kemampuan bahasa Inggrisnya.

Kami senang karena dapat saling bertemu dengan jemaah dari negeri lain yang sama mengagungkan Allah swt dan Nabi Muhammad saw. Orang India ini mengarahkan sesuatu tentang akidah dan fikih. Kami mencoba memahami uraiannya. Pada saat mau berpisah, ia minta nomor selular dan alamat maktab kami. Teman saya memberikan informasinya. Kami juga bertukar nomor telepon. Namun, pemuda India ini menggunakan media sosial IMO dan tidak menggunakan Whatsapp. Jadi cukup sulit untuk berkomunikasi.

Pada saat sai juga saya bertemu dengan jemaah India. Ia menegur saya agar memberi tahu teman yang bahu kanannya masih terbuka. Untuk sai, bahu kanan tak dibuka sedangkan untuk tawaf, bahu kanan harus terbuka. Mungkin teman lupa tidak menutup bahu kanannya ketika sai.

Saya juga bertemu dengan orang India yang merupakan seorang pustakawan. Kami bertemu di lantai empat Masjid Haram. Saya menduga dia juga aktif di kegiatan ilmiah. Mungkin juga ia menerbitkan jurnal semacam Scopus. Namun, teman saya di Indonesia mengatakan bahwa sejumlah reviewer sejawat guru besar mengemukakan kekurangan mutu publikasi jurnal ilmiah dari India, Pakistan, atau Bangadesh. Mungkin kekurangan itu bersumber dari tim kementerian.

Saya juga sering bertemu orang India, Pakistan, Bangladesh ketika sedang tawaf, ketika sedang di jalan, bahkan di Madinah saya sering bertemu mereka di maktab karena satu maktab dengan mereka. Tentu saja tidak setiap kesempatan bisa berkomunikasi dengan mereka. Saya biasa tabik dan mengucapkan salam. Saya juga tidak terlalu dekat dengan mereka.

Sebagian janggut orang India diberi warna oranye. Entah untuk apa. Namun saya mendapat kesan bahwa warna itu untuk menutupi putih (uban) pada janggut mereka. Buktinya jarang pemuda yang janggutnya diwarna oranye. Tentu pemuda belum punya uban.

Bendera India mirip dengan bendera Iran. Bila kalung bendera itu dipakai, kita harus memperhatikan dengan cermat, apakah warna bendera itu oranye atau merah. Warna oranye adalah bendera India sedangkan warna merah adalah bendera Iran. Namun sikap dan penampilan orang India berbeda dengan sikap orang Iran. Sering saya bisa dengan mudah membedakan India atau Irandari sikap dan penampilan mereka. Melihat penampilan adalah untuk mengkonfirmasi informasi ketika bendera di kalung mereka kurang jelas terlihat.

Hari-Hari Ziarah Haji (28)

Tawaf dan Ujiannya

Pada saat musim haji, orang yang tawaf sangat banyak. Mataf (tempat tawaf) dipenuhi jutaan manusia. Kelompok kami dalam satu bimbingan KBIH juga terdiri dari kurang lebih 200 orang. Mungkin ada jutaan yang tawaf di mataf pada satu waktu.

Kadang-kadang kami bertemu dengan orang lain, baik dia berkelompok ataupun sendirian. Macam-macam perilaku manusia saat tawaf. Yang penting, seseorang harus sabar dan mengikuti (menghormati) kode etika yang berlaku. Ini penting untuk menjaga kehormatan muslimin, yaitu kehormatan diri maupun kehormatan orang lain. Orang ysng bertawaf harus menghormati orang lain. Namun perilaku ini juga harus diterapkan di luar waktu haji.

Perilaku sabar seperti ini bukan hanya dilakukan saat haji. Perilaku sabar bukan hanya dilakukan karena menghadapi orang-orang yang besarnya seperti raksasa.

Ujian sabar seperti ini ada di berbagai tempat dan di berbagai waktu. Ujian seperti ini ada bukan hanya pada saat haji. Seseorang harus melatih mentalnya di berbagai tempat.

Tawaf sebagaimana di tempat lain adalah ujian setidaknya bagi sebagian orang. Sabar dan salat pun acap kali merupakan ujian bagi sebagian orang. Kita sering diuji di berbagai tempat. Kuncinya adalah diri kita sendiri. Grandmaster Josh Waitzkin berkata, “… (this is the matter of) how I respond to that moment.” Should I respond emotionally? Or shoud I respond that moment patiently?

Acap kali respon manusia pada momen-momen itu adalah respon mental sebelum respon tindakan. Akal dan emosi manusia bergelut untuk menghadapi momen atau situasi itu. Seseorang harus tafakur dahulu sebelum bertindak. Setelah bertindak pun seseorang bisa merenungkan perbuatan yang telah dilakukannya.

Dengan begitu, seseorang tidak menyesal dengan tindakannya. Setelah melakukan tindakan pun seseorang bisa bertsubat bila ia merasa bahwa tindakannya salah.

Hari-Hari Ziarah Haji (27)

Bertemu dengan Bangsa-Bangsa Negro

Saya sangat jarang berbicara dengan orang negro di Mekah atau Madinah. Bangsa yang paling jarang saya temui untuk silaturahmi adalah bangsa negro. Orang negro cukup banyak di Mekah atau Madinah. Namun saya sering tidak berani berbicara dengan mereka. Enggan.

Entah mengapa saya tidak berani berbicara dengan bangsa negro. Namun sesekali saya bertanya kepada mereka jika kebetulan berdampingan saat salat berjamaah, atau situasi lainnya. Terus-terang, pengetahuan saya tentang negara-negara dan bangsa-bangsa Afrika serta sejarahnya sangatlah minim. Itu di antaranya yang membuat saya segan berbicara dengan mereka. Seolah tak kenal maka tak sayang. Saya tak tahu apa-apa tentang sejarah Afrika untuk ditanyakan atau dikonfirmasi.

Acap kali orang negro pun seperti enggan berbicara dengan bangsa lain. Menurut saya, keenganan itu karena mereka tidak mengenal bangsa Indonesia yang acap dikatakan ramah. Saya bertanya, apakah bangsa Afrika juga ramah?

Saya dengar sebagian bangsa Afrika berbahasa Perancis. Itu pula yang membuat saya kesulitan. Saya tak bisa bahasa Prancis. Beberapa orang negro yang saya tanya, “English? Speaking English? Do you speak English?” Jawaban mereka, “France.” Kalau tak salah, orang dari negara Mali juga berbahasa Perancis ketika saya tanya. Saat itu dia duduk di tangga teras maktab kami.

Menurut saya sangat penting untuk mengetahui sejarah dan perkembangan bangsa-bangsa di dunia. Sebagian bangsa di Afrika mengalami pendudukan atau penjajahan Perancis. Sedangkan sebagian bangsa di benua Amerika mengalami pendudukan atau penjajahan Spanyol. Saya hampir tak bisa mengenal bangsa yang berasal dari benua Aftrika atau Amerika. Saya juga tak mengenal bendera dan bahasa mereka.

Di era internet ini, anak-anak seharusnya didorong untuk belajar mengenal sejarah bangsa-bangsa, termasuk bangsa di benua Afrika dan Amerika. Anak-anak juga harus didorong belajar bahasa asing selain bahasa Inggris seperti Perancis yang banyak digunakan di benua Afrika dan Spanyol yang banyak digunakan di benua Amerika. Orang Meksiko, Brasil, Venezuela, Peru, Kolombia, Chile, Ekuador, Guatemala, Kuba, Dominika, Bolivia, Honduras, Paraguay, Panama, Kosta Rika, dan Argentina menggunakan bahasa Spanyol.

Mungkin bahasa Inggris dipelajari sehari-hari di sekolah. Sebagai tambahan guru bisa mengajarkan sedikit kosakata, frasa, kalimat bahasa Arab, Perancis, Spanyol, Jerman, Jepang, Cina, Rusia.

Tentu bahasa Arab adalah bahasa yang penting untuk dipelajari. Sebagian bangsa di benua Afrika pun menggunakan bahasa Arab seperti Mesir, Libya, Maroko (Magribi). Bahasa Arab pun mempunyai dialek yang berbeda-beda. Di samping itu ada bahasa formal dan bahasa infornal (amieh, umum) untuk bahasa Arab. Orang Mekah sehari-hari menggunakan bahasa Arab ragam (dialek) amieh. Sebagian orang Indonesia tidak paham ragam bahasa amieh ini sekalipun paham bahasa Arab formal.

Saya pernah bertemu seorang ibu Afrika masuk ke maktab kami di Mekah. Ia mengucapkan satu kata yang saya pahami maknanya adalah “toilet.” Seorang ibu Indonesia yang menyambutnya tak paham ucapan orang Afrika ini. Saya lalu berbicara dan menunjukkan toilet kepadanya. Dugaan saya ibu Afrika ini mau numpang ganti baju atau buang air. Tentu saja bangsa dari negara yang beradab mesti menyediakan toilet bagi musafir atau orang yang sedang bepergian. Kita tak boleh terlalu curiga bahwa musafir mau mencuri atau merusak sesuatu di maktab kita.

Saya juga bertemu seorang negro saat salat berjamaah di sekitar Masjid Haram. Dia terkesan tinggi hati. Namun ketika saya sapa, dia cukuo ramah juga. Ternyata dia berkewarganegaraan Inggris dan sedang studi pascasarjana di London. Ia seorang arsitek dan ia mengisyaratkan bahwa pekerjaannya membuat bangunan seperti Masjid Haram ini.

Saya juga bertemu dengan dua bersaudara pemuda negro. Mereka sedikit bisa bahasa Inggris. Mereka cukup ramah juga. Mereka menyebutkan negara asal mereka yang tak tergambar petanya di pikiran saya. Itu membuat saya lupa negara asal mereka. Saya menyesal tidak tahu detail negara Afrika padahal di sini banyak sekali orang negro. Kita bisa bersilaturahmi dan berkomunikasi dengan mereka.

Saya juga tak tahu bendera negara-negara benua Amerika. Akibatnya, mungkin saya tidak tertarik menyapa mereka. Menurut saya, saya jarang bertemu dengan jemaah dari benua Amerika. Entah mereka sebenarnya banyak juga berziarah ke Mekah, namun saya tidak mengenal mereka. Mereka berbahasa Spanyol. Bahasa yang kurang saya kuasai pula sebagaimana bahasa Perancis atau Arab. Mungkin saja orang benua Amerika ada di sekitar saya cuma saya tidak tahu. Saya pun tak tahu bendera negara mereka.

Kalau saya bertemu orang yang berbahasa Spanyol, mungkin saya akan menypa mereka, “¡Hola! Me llamo Prana. Mucho gusto. Bienvenida. ¿Hable Angles? Muchas gracias. Lo siento. De nada. Adios. Hasta luego. Hasta mañana. ¿cual es tu nombre? ¿como te llamas? Yo soy Prana. Mi nombre es Prana. Soy chico. Soy un profesor. Soy de indonesia. ¿Cual es tu numero de telefono? Mi numero de telefono es …. Yo queo ir al hotel Olayan. Yo quero ir es tu hotel. Este el hotel.”

Kalau mereka berbahasa Prancis, saya akan sapa mereka, “Salut. Bonjour. Bonsoir. Je m’apelle Prana. Enchantée de te rencontrer. Je suis enchantée de vous rencontrer. Merci beaucoup. Je vous remercie. De rien. Je vous en prie. Est-ce que tu parles anglais? Excusez-moi, est-ce que vous parlez anglais? Ouì. Un peu. Non. Je ne parle pas espagnol. Je t’aime. J’entend ton coeur. C’est la vie. Je suis malade. Je suis désolé. Au revoir. À bientôt. Un café s’il vous plaît. Où est la Masjidil Haram? Pardon. C’est combien? Combien ça coûte? Combien coûte ce chapeau? Combien coûte cette jupe? Un café c’est combien s’il vous plaît? Ça, s’il vous plaît. Ce cafè, s’il vous plait. Je veux ce cafè. Je ne veux pas ce cafè. Vous voules ce cafè. Je veux la carte, s’il voux plaît. Je veux le plat, s’il voux plait. Je veux la eau, s’il voux plaît. Je veux l’eau, s”il voux plaît. Je veux cette eau, s’il voux plaît. Je veux un cafè, s’il voux plaît. Je veux une eau, s’il voux plaît. Je veux l’addition, s’il voux plait.

Saya juga acap kali salah duga. Saya menduga orang di depan saya adalah orang Iran. Ternyata dia orang Rusia. Itu karena dia tidak memakai kalung bendera. Sebagian bendera negara lain pun tidak saya kenal.

Sangat penting mengenal suku bsngsa, bahasa, bendera, dan sejarah bangsa lain.