Hari-Hari Ziarah Haji (27)

Bertemu dengan Bangsa-Bangsa Negro

Saya sangat jarang berbicara dengan orang negro di Mekah atau Madinah. Bangsa yang paling jarang saya temui untuk silaturahmi adalah bangsa negro. Orang negro cukup banyak di Mekah atau Madinah. Namun saya sering tidak berani berbicara dengan mereka. Enggan.

Entah mengapa saya tidak berani berbicara dengan bangsa negro. Namun sesekali saya bertanya kepada mereka jika kebetulan berdampingan saat salat berjamaah, atau situasi lainnya. Terus-terang, pengetahuan saya tentang negara-negara dan bangsa-bangsa Afrika serta sejarahnya sangatlah minim. Itu di antaranya yang membuat saya segan berbicara dengan mereka. Seolah tak kenal maka tak sayang. Saya tak tahu apa-apa tentang sejarah Afrika untuk ditanyakan atau dikonfirmasi.

Acap kali orang negro pun seperti enggan berbicara dengan bangsa lain. Menurut saya, keenganan itu karena mereka tidak mengenal bangsa Indonesia yang acap dikatakan ramah. Saya bertanya, apakah bangsa Afrika juga ramah?

Saya dengar sebagian bangsa Afrika berbahasa Perancis. Itu pula yang membuat saya kesulitan. Saya tak bisa bahasa Prancis. Beberapa orang negro yang saya tanya, “English? Speaking English? Do you speak English?” Jawaban mereka, “France.” Kalau tak salah, orang dari negara Mali juga berbahasa Perancis ketika saya tanya. Saat itu dia duduk di tangga teras maktab kami.

Menurut saya sangat penting untuk mengetahui sejarah dan perkembangan bangsa-bangsa di dunia. Sebagian bangsa di Afrika mengalami pendudukan atau penjajahan Perancis. Sedangkan sebagian bangsa di benua Amerika mengalami pendudukan atau penjajahan Spanyol. Saya hampir tak bisa mengenal bangsa yang berasal dari benua Aftrika atau Amerika. Saya juga tak mengenal bendera dan bahasa mereka.

Di era internet ini, anak-anak seharusnya didorong untuk belajar mengenal sejarah bangsa-bangsa, termasuk bangsa di benua Afrika dan Amerika. Anak-anak juga harus didorong belajar bahasa asing selain bahasa Inggris seperti Perancis yang banyak digunakan di benua Afrika dan Spanyol yang banyak digunakan di benua Amerika. Orang Meksiko, Brasil, Venezuela, Peru, Kolombia, Chile, Ekuador, Guatemala, Kuba, Dominika, Bolivia, Honduras, Paraguay, Panama, Kosta Rika, dan Argentina menggunakan bahasa Spanyol.

Mungkin bahasa Inggris dipelajari sehari-hari di sekolah. Sebagai tambahan guru bisa mengajarkan sedikit kosakata, frasa, kalimat bahasa Arab, Perancis, Spanyol, Jerman, Jepang, Cina, Rusia.

Tentu bahasa Arab adalah bahasa yang penting untuk dipelajari. Sebagian bangsa di benua Afrika pun menggunakan bahasa Arab seperti Mesir, Libya, Maroko (Magribi). Bahasa Arab pun mempunyai dialek yang berbeda-beda. Di samping itu ada bahasa formal dan bahasa infornal (amieh, umum) untuk bahasa Arab. Orang Mekah sehari-hari menggunakan bahasa Arab ragam (dialek) amieh. Sebagian orang Indonesia tidak paham ragam bahasa amieh ini sekalipun paham bahasa Arab formal.

Saya pernah bertemu seorang ibu Afrika masuk ke maktab kami di Mekah. Ia mengucapkan satu kata yang saya pahami maknanya adalah “toilet.” Seorang ibu Indonesia yang menyambutnya tak paham ucapan orang Afrika ini. Saya lalu berbicara dan menunjukkan toilet kepadanya. Dugaan saya ibu Afrika ini mau numpang ganti baju atau buang air. Tentu saja bangsa dari negara yang beradab mesti menyediakan toilet bagi musafir atau orang yang sedang bepergian. Kita tak boleh terlalu curiga bahwa musafir mau mencuri atau merusak sesuatu di maktab kita.

Saya juga bertemu seorang negro saat salat berjamaah di sekitar Masjid Haram. Dia terkesan tinggi hati. Namun ketika saya sapa, dia cukuo ramah juga. Ternyata dia berkewarganegaraan Inggris dan sedang studi pascasarjana di London. Ia seorang arsitek dan ia mengisyaratkan bahwa pekerjaannya membuat bangunan seperti Masjid Haram ini.

Saya juga bertemu dengan dua bersaudara pemuda negro. Mereka sedikit bisa bahasa Inggris. Mereka cukup ramah juga. Mereka menyebutkan negara asal mereka yang tak tergambar petanya di pikiran saya. Itu membuat saya lupa negara asal mereka. Saya menyesal tidak tahu detail negara Afrika padahal di sini banyak sekali orang negro. Kita bisa bersilaturahmi dan berkomunikasi dengan mereka.

Saya juga tak tahu bendera negara-negara benua Amerika. Akibatnya, mungkin saya tidak tertarik menyapa mereka. Menurut saya, saya jarang bertemu dengan jemaah dari benua Amerika. Entah mereka sebenarnya banyak juga berziarah ke Mekah, namun saya tidak mengenal mereka. Mereka berbahasa Spanyol. Bahasa yang kurang saya kuasai pula sebagaimana bahasa Perancis atau Arab. Mungkin saja orang benua Amerika ada di sekitar saya cuma saya tidak tahu. Saya pun tak tahu bendera negara mereka.

Kalau saya bertemu orang yang berbahasa Spanyol, mungkin saya akan menypa mereka, “¡Hola! Me llamo Prana. Mucho gusto. Bienvenida. ¿Hable Angles? Muchas gracias. Lo siento. De nada. Adios. Hasta luego. Hasta mañana. ¿cual es tu nombre? ¿como te llamas? Yo soy Prana. Mi nombre es Prana. Soy chico. Soy un profesor. Soy de indonesia. ¿Cual es tu numero de telefono? Mi numero de telefono es …. Yo queo ir al hotel Olayan. Yo quero ir es tu hotel. Este el hotel.”

Kalau mereka berbahasa Prancis, saya akan sapa mereka, “Salut. Bonjour. Bonsoir. Je m’apelle Prana. Enchantée de te rencontrer. Je suis enchantée de vous rencontrer. Merci beaucoup. Je vous remercie. De rien. Je vous en prie. Est-ce que tu parles anglais? Excusez-moi, est-ce que vous parlez anglais? Ouì. Un peu. Non. Je ne parle pas espagnol. Je t’aime. J’entend ton coeur. C’est la vie. Je suis malade. Je suis désolé. Au revoir. À bientôt. Un café s’il vous plaît. Où est la Masjidil Haram? Pardon. C’est combien? Combien ça coûte? Combien coûte ce chapeau? Combien coûte cette jupe? Un café c’est combien s’il vous plaît? Ça, s’il vous plaît. Ce cafè, s’il vous plait. Je veux ce cafè. Je ne veux pas ce cafè. Vous voules ce cafè. Je veux la carte, s’il voux plaît. Je veux le plat, s’il voux plait. Je veux la eau, s’il voux plaît. Je veux l’eau, s”il voux plaît. Je veux cette eau, s’il voux plaît. Je veux un cafè, s’il voux plaît. Je veux une eau, s’il voux plaît. Je veux l’addition, s’il voux plait.

Saya juga acap kali salah duga. Saya menduga orang di depan saya adalah orang Iran. Ternyata dia orang Rusia. Itu karena dia tidak memakai kalung bendera. Sebagian bendera negara lain pun tidak saya kenal.

Sangat penting mengenal suku bsngsa, bahasa, bendera, dan sejarah bangsa lain.

Hari-Hari Ziarah Haji (24)

Bertemu dengan Peziarah dari Palestina

Peristiwa ini terjadi ketika kami melakukan nafar (lempar jumrah). Saya mengetahui bahwa bendera yang dibawa kelompok di seberang jalan itu adalah bendera Palestina. Saya antusias melihat warga jemaah dengan bendera Palestina. Saya sampaikan kepada teman-teman bahwa jemaah di seberang kita adalah jemaah Palestina. Saya memprovokasi teman-teman untuk menunjukkan dukungan kepada Palestina.

Lalu seseorang di antara kami berteriak, “Viva Palestina! Hidup Palestina!” Teriakan itu disambut oleh warga jemaah Palestina dengan berteriak dan mengangkat tangan.

Namun semangat teriakan itu selesai begitu saja. Orang-orsng kembali berpaling ke arah tujuan mereka melempar jumrah.

Asgar Saudi ada di sekitar kami. Mereka ada di jalan menuju nafar. Mereka acap tersenyum kepada jemaah Indonesia. Mereka juga menyemprot wajah jemaah dengan air untuk mencegah dehidrasi dan heat stroke. Asgar itu berusaha menjaga ketertiban jemaah. Dslam sejarah haji, beberapa kali terjadi insiden di Mina dan merenggut korban jiwa jemaah.

Apakah jemaah Palestina merasa bahwa dukungan jemaah Indonesia kepada Palestina secara terbuka berbahaya di tempat ini? Apakah mereka merasa bahwa dukungan semacam itu cukup atau sia-sia? Apakah mereka merasa bahwa dukungan jemaah Indonesia kepada Palestina hanya pura-pura?

Namun dukungan kepada Palestina dari Indonesia ada. Dukungan itu harus selalu ada selama Zionis masih menjajah Palestina.

Selain di kawasan nafar (Mina), saya juga sebelumnya pernah bertemu seorang ibu warga Palestina di kawasan Masjidil Haram. Saya menyatakan dukungan terhadap Palestina dan mendoakan Palestina. Foto ibu Palestina adalah sebagai berikut.

Hari-Hari Ziarah Haji (23)

Bertemu dengan Orang Libya

Kualitas kita adalah dengan siapa kita berteman. Kali ini saya bertemu dengan orang Libya. Setelah bersapa, saya bertanya kepadanya tentang Presiden Moamar Khadafi. Dia mengatakan bahwa Presiden Moamar Khadafi jempol (ia mengisyaratkan dengan jempolnya). Lalu ia mengatakan pasca Khadafi jatuh, Libya jatuh (ia mengisyaratkam dengan jempol terbalik).

Jadi benar kata Dina Sulaiman. Sebagai catatan, Dina Sulaiman adalah pakar hubungan internasional. Beliau banyak mempunyai referensi hidup dan referensi teks yang valid (sah) dan bisa diuji validitasnya. Hegemoni penjajah menjatuhkan Libya yang makmur menjadi puing-puing bekas perang. Libya dimasuki oleh pemberontak asing. Pemberontak asing ini dimobilisasi dari liar Libya. Libya kalah dalam perang karena Moamar Khadafi syahid dalam perang itu. Kini Libya menjadi tidak stabil seperti Irak. Irak juga disebu tentara AS dengan dalih menghukum Sadam Husainatas kepemilikan senjata pemusnah dan pembantaian di masa lalu.

Menurut Dina Sulaiman, perang Libya dimulai dari demonstrasi, tuntutan demokrasi, khilafah. Lalu terjadilah perang yang mengakibatkan rakyat Libya memderita sekarang.

Di Indonesia, Presiden Jokowi sejak mulai menjabat presiden sudah diancam hanya akan bertahan tiga bulan. Lalu hoaks pun berseliweran. Orang diancam bila mendukung Jokowi. Sebagai Catatan, Jawa Barat adalah propinsi yang banyak pendukung Prabowonya. Oleh karena itu, tak heran berita hoaks tentang Jokowi disebarkan bahkan oleh saudara, teman, dan orang dekat saya.

Salah satu contoh hoaks yang diterima masyarakat adalah hoaks tentang Jokowi PKI dan banyak PKI berkeliaran. Seolah mereka melihat PKI di jalan tempat yang biasa mereka lewati. Menurut Dina, hoaks perlu dilawan dengan pelurusan. Orang tidak boleh tinggal diam. Dengan begitu, kekacauan, pemberontakan, perang seperti di Libya tidak akan terjadi. Kita ingat bagaimana Presiden Gus Dur dijatuhkan oleh sekelompok orang. Lalu kita ingat bagaimana demo 212 anti Ahok begitu masif. Namun semuanya sirna karena perlawanan pun tak kalah masif.

Ziarah haji bisa digunakan sebagai “konferensi” umat Islam sedunia. Pada peristiwa ziarah haji, seorang peziarah bisa bersilaturahmi dengan peziarah lainnya. Mereka juga bisa saling mengkonfirmasi ihwal kabar baik di antara kaum muslimin, ketertindasan, berita bohong yang tersebar, dan sebagainya.

Saya mungkin hanya nertemu seorang Libya. Bila teman saya juga bisa melakukan hal yang sama, tentu berita itu bisa saling mengkonfirmasi. Lalu fitnah di antara kaum muslimin pun bisa dilawan.

Hari-Hari Ziarah Haji (22)

Bertemu dengan Ulama Iran

Kualitas kita adalah dengan siapa kita berteman. Dengan begitu di Mekah saya mencari teman sebanyak mungkin. Saya berharap bahwa di antara yang saya temui akan bisa menjadi teman yang bisa meningkatkan kualitas saya. Saya bertemu dengan banyak bangsa, di antaranya Palestina, Iran, Suriah, Mesir, Irak, India, Pakistan, Banglades, Inggris. Mungkin sebagian pertemuan itu akan saya ceritakan di sini.

Kali ini saya bertemu dengan ulama Iran. Saya sebenarnya tidak sengaja bertemu dengannya. Saya menyapa salah seorang di antara kerumunan mereka. Saya mengatakan permisi bahwa saya ada di sekitar mereka. Ternyata salah seorang dari mereka mendekati saya. Lalu saya pun menyapanya. Mungkin dia ulama Iran. Mungkin juga mazhabnya Syiah. Biasanya ulama Syiah mengenakan jubah sufi khas para mullah. Namun ulama ini tidak mengenakan pakaian itu. Ia memakai kemeja biasa saja.

Saya memang mengetahui tentang konfrontasi AS dengan Iran. Bertahun-tahun AS mengembargo Iran gara-gara AS hendak melarang program listrik nuklir Iran. Iran mengadapi ketidakadilan itu dan melawannya bertahun-tahun. Sampai berulang kali berganti presiden. Presiden, ulama, dan rakyat Iran kompak melawan AS.

Terakhir, Iran diancam Trump akan diperangi seperti Suriah, Libya, Irak, dan negara-negara lain. Ancaman itu juga berupa hinaan di depan publik kepada Presiden Hasan Rouhani. Sekembali Rouhani dari pertemuan dengan Trump, Jenderan Qosim Sulaimani berpidato dan menerima ancaman dan tantangan perang Trump. The Shadow General ini mengancam akan menghancurkan fasilitas AS di seluruh dunia, termasuk mengacaukan kiriman minyak di Selat Hormus.

Saya sebenarnya tidak banyak paham bahasa Persia. Namun ia menjelaskan sesuatu tentang agama, kebaikan, keimanan, maslahat bagi seluruh umat yang bersumber dari Nabi saw.

Menurut saya, tak ada salahnya berteman dengan orang Syiah dan orang Iran. Sahabat akan mau berkorban demi menjaga persahabatannya. Sahabat juga rela menolong temannya yang terancam orang jahat. Indonesia mungkin menolong Iran dan sebaliknya Iran oun mungkin menolong Indonesia.

Hari-Hari Ziarah Haji (21)

Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah berarti diam di Arafah. Padang Arafah sekarang sudah banyak tenda dan pohon. Sebagian batang pohon itu masih kecil seukuran ibu jari kaki, atau 3/4 pergelangan manusia. Sebagian lagi sudah besar, batangnya sebesar paha manusia sehingga cukup rindang untuk menyejukkan suasana Arafah. Konon pohon yang ditanam di Arafah adalah Pohon Imba dari Nusa Tenggara Barat atau Pohon Soekarno (?). Ada lagi pohon yang berbuah coklat sebesar seperempat kelereng yang disebut Pohon Suharto (?). Saya tidak memetik buahnya karena akan terkena dam (hukuman) memotong seekor domba. Tanahnya pun bukan lagi pasir, melainkan tanah yang diimpor dari Indonesia (?) sehingga bisa ditanami.

Saya melihat ada seseorang menabur tanah tepat di bawah pohon di Padang Arafah. Tanah itu dibawanya dari Indonesia. Katanya, tanah itu untuk menolong pohon Soekarno agar bisa tumbuh di sini. Menurut seorang teman, salah satu pelanggaran berat lalu lintas adalah menabrak pohon. Hukumannya berat. Jauh lebih berat daripada menabrak trotoar, tiang listrik, atau fasilitas publik lainnya. Katanya, hukumannya bisa lima tahun penjara. Orang itu juga mengaku menabur tanah Indonesia di taman kota Mekah yang berpohon.

Memang negeri Mekah adalah negeri batu. Gunung yang ada di sekitar Mekah adalah gunung batu. Di setiap penjuru warga melihat gunung batu. Itu bukan gunung tanah seperti di Indonesia. Gunung tanah biasanya menyimpan air. Lalu pohon pun bisa bertahan hidup meski tidak disirami dalam waktu beberapa bulan. Gunung batu di Mekah benar-benar tidak ada tumbuhan atau pohon di atasnya. Namun dugaan saya, kian hari Mekah kian hijau dengan pepohonan dan tumbuhan.

Menurut pembimbing, ibadah haji itu dari batu ke batu. Kabah adalah batu. Hijir Ismail adalah batu. Makom Ibrahim adalah batu. Bukit Safa dan Marwah juga batu. Padang Arafah juga batu. Jumrah juga melempar batu dengan batu. Namun kini Arafah lebih asri dengan pohon dan taman. Seorang teman sangat terkesan dengan taman yang sudah asri dan hijau. Rumputnya hijau, batang pohonnya sudah besar, nyaman untuk duduk karena sudah disediakan tempat duduk di sana.

Kami tiba di Arafah pada tanggal 8 Dzulhijah bada duhur. Tenda sangat panas. Katanya Arafah sudah dikapling-kapling. Bahkan sebagian kaplingnya ada yang asri dengan taman dan kursi plastik putih. Bila pepohonannya besar dan rindang, tempat itu nyaman diduduki siang atau sore hari. Namun bila pohon-pohon di sekitarnya masih kecil, tempat itu nyaman diduduki malam hari, misalnya selepas tahajud. Pekerjaan selingan untuk wukuf di Arafah adalah menyiram pohon. Di Arafah sudah ada pipa, keran, dan selang. Kami cuma merebut pekerjaan para petugas dalam menyiram pohon.

Pekerjaan utama di Arafah adalah beribadah, zikir, tafakur, berdoa, baca Quran, baca doa Arafah. Pekerjaan lain juga harus diniatkan ibadah seperti makan, bahkan buang air, dan bersuci.

Pekerjaan lain di Arafah adalah mengeksplorasi kawasan. Saya juga mengeksplorasi kawasan Arafah ini dari kemungkinan bertemu dengan bangsa-bangsa lain. Jemaah Indonesia ada sekitar 220 ribu orang dan saya tidak melihat bangsa lain. Hanya bus jemaah negara lain yang saya lihat. Kebetulan jemaah Iran barusan lewat. Namun tendanya entah di mana. Ada banyak pekerja negro di sini yang bekerja siang malam: mengatur keairan, listrik, tenda, kipas tenda, sampah, penyediaan es batu untuk mendinginkan jemaah, masak masakan katering Indonesia, dan sebagainya. Ada dapur umum di sini. Selain itu ada pula pekerja dari etnis Arab. Kelihatan juga ada bos pengelola kapling Arafah melihat-lihat “usaha pelayanan tahunannya”. Ia menyapa kami dengan asalamualaikum. Namun ia tidak menggunakan kain ihram seperti kami. Saya jawab waalaikumsalam, haji. Warga sekitar Mekah menjadi haji saat mereka menjadi remaja. Pemerintah Saudi juga menebar petugas keamanan semacam satpam, asgar, dan petugas lain.

Konon salah satu ujian terberat di Arafah adalah giliran penggunaan WC. Biasanya yang kebelet ingin buang air kecil atau besar yang menjadi masalah antrian. Apalagi ada jemaah yang gedor-gedor pintu meski orang baru buka celana di WC. Saya jadi ingat bagaimana tertibnya antrian WC di Jepang. Orang Jepang juga menghargai orang tua dan orang yang terburu-buru.

Kami tiba waktu bada duhur. Tenda seperti oven yang sangat panas. Orang di dalamnya seperti mandi sauna, berkeringat. Mungkin itu baik untuk membakar lemak tubuh. Kami makan siang dan salat jama duhur dan asar. Setelah itu saya berkeliaran di sekitar Arafah untuk mencari udara dingin sambil mencari bangsa lain untuk disapa. Kadang-kadang saya duduk berteduh di pinggir tenda, di bawah pohon, di dekat pipa yang sedang diperbaiki pekerja negro, pulang pergi ke WC untuk mengguyur kepala. Namun saya tidak melihat bangsa lain di sektor ini. Di Mekah saya mudah bertemu bangsa-bangsa lain.

Menurut kabar, jaringan telepon dan internet juga sulit di sini.

Malam ini turun hujan selama sekitar setengah atau satu jam. Begitu saya keluar, tanah tidak ada yang becek. Biasa saja seperti tak ada hujan sebelumnya. Lalu malam ini juga angin sangat kencang sehingga debu masuk ke tenda dan mengotori rambut dan pakaian kami. Anehnya, tidak ada bau keringat. Malam ini juga terjadi mati lampu di tenda kami dan mungkin sebagian tenda lain. Untung ada lampu emergensi sehingga keadaan tidak gelap gulita. Lampu gang atau lampu jalan pun masih menyala sehingga malam serasa di kota. Kami bermalam di sini pada untuk hari Arafah tanggal 9 Dzulhijah besok.

Esok hari adalah hari Arafah. Akan ada khutbah Arafah pada waktu duhur. Setelah itu kami akan dinaikkan ke bus bergiliran untuk menuju Muzdalifah dan Mina. Kami berangkat bergiliran untuk mencegah lalu lintas menjadi macet. Jutaan jemaah bergerak dari Mekah menuju Arafah, lalu Muzdalifah, lalu Mina.

Saat jumrah adalah saat yang kerap terjadi insiden. Jemaah Iran sekaligus jadi korban pada insiden pada tahun itu. Jemaah Iran menuntut pemerintah Saudi menyerahkan penyelenggaraan haji pada masyarakat internasional. Jemaah Iran pun menuntut agar CCTV dipublikasikan agar para haji tahu penyebab insiden haji tersebut. Menurut Iran, Saudi menyebar isu bahwa jemaah Iran tidak tertib yang menyebabkan jatuhnya korban jemaah haji. Iran menduga keras adanya keterlibatan pihak Saudi yang membuat jemaah hajinya syahid demi kepentingan AS dan Zionis. Mayat para korban jemaah haji Iran disambut denga duka cita upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Sayid Ali Khamenei. Silakan cek beritanya di sini.