Balada 10 Negara Termiskin di Dunia

Negara miskin diukur dari pendapatan per kapita negeri itu. Itu artinya pemasukan pemerintah dibagi jumlah penduduk (?). Bila pemerintah punya pemasukan dari industri pariwisata, penjualan minyak, pajak impor, industri motor listrik, pengolahan makanan, pertanian, peternakan, perikanan, … maka pemasukan itu menjadi kekayaan negara. Suatu negara juga makmur bila perputaran uang di negara itu besar dan banyak warga yang terlibat dalam perputaran uang itu. Hal ini bisa terjadi bila masyarakat senang piknik dan selfi di tempat pikniknya. Piknik tidak usah jauh. Bahkan wisata kuliner bakso sekalipun sudah bisa dianggap piknik. Jangan lupa selfi untuk promosi kuliner uang dikunjungi disertai tagar macam #wonderfulindonesia #Pesonasumedang dan sebagainya

Bila hanya orang kaya saja yang mampu membeli, maka kesejahteraan dianggap kurang merata. Jika internet juga hanya masih dinikmati sebagian warga, maka kemakmuran belum merata.

Para nabi dan dzil kurba selalu memerintahkan agar menolong orang yang lemah, menghormati mereka, dan mencukupi hak mereka.

Saya menonton video di youtube tentang sepuluh negara termiskin. Apakah itu berarti kurs dolar sangat tinggi dan nilai mata uangnya tidak berharga?

Ketika harga rupiah lemah, Indonesia melalui Presiden Jokowi menggenjot ekspor. AS yang memberlakukan sanksi terhadap barang ekspor dari Cina dan Indonesia ke AS serta merta mendapat balasan yang sama. Barang AS juga tak boleh masuk ke negeri ini. Akhirnya Trump melunakkan kebijakannya. Lalu karena harga dolar tinggi, ekspor memberi keuntungan besar bagi eksportirnya. Bila seseorang mengekspor udang galah per kilo di Indonesia 100 ribu, maka bila diekspor harganya bisa berkali lipat. Orang tentu gembira meski rela puasa makan udang galah di Indonesia sekali dalam seminggu.

Oleh karena itu bandar valas tak mungkin selalu membiarkan nilai rupiah rendah. Itu akan menyebabkan banyak orang (eksportir) beruntung, lalu banyak belanja di dalam negeri, banyak sektor usaha terbuka.

Aneh juga bila dikaitkan dengan teori uang kartal berasal dari surat jaminan atas simpanan emas. Berarti harga rupiah tak mungkin dikontrol dolar. Rupiah bahkan bisa mengontrol dolar. Bayangkan, cadangan emas kita melimpah. Tak perlu lagi menggunakan jasa perusahaan freeport untuk menambang emas. Keuntungan pengolahan emas itu bisa sebanyak mungkin diperoleh anak negeri. Sekarang bahkan nilai kerja dibayar dengan uang digital seperti ovo, gojek, bitcoin. Pemerintah juga sudah memberlakukan bayar tol secata digital.

Salah satu tolok ukur GDP per kapita adalah stabilitas politik. Tak heran, agen asing selalu memprovokasi dan menebar berita hoaks. Tujuannya agar Indonesia dianggap tidak stabil. Lalu untuk meredam kegaduhan itu, dana masyarakat terpaksa digunakan. Dengan kata lain, dana yang mulanya digunakan untuk membangun sekolah, pabrik, pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, mengatur sembako malah digunakan untuk menghadang demo, mengerahkan polisi, menginvestigasi kriminal daring (cybercrime), dan sebagainya.

Kemiskinan juga dihitung dari banyaknya kematian dan kurangnya espektasi hidup. Sakit yang tak tertolong, wabah yang tak teratasi merupakan indikator negara miskin. Untuk hal seperti itu saja dana negara miskin mungkin tak berani digelontorkan. Sebagai catatan, mungkin saja ada oknum jahat yang melakukan perang biologi yaitu menebar virus, menebar racun, melegalkan alkohol, dan memasok narkoba, candu melalui rokok elektrik.

Negara Indonesia yang kaya seolah tak memerlukan negara lain. Singapura bahkan membutuhkan impor air dari luar negeri. Bahkan barang dagangan pun Singapura impor dari luar negeri. Indonesia tak perlu mengimpor minyak, logam, produk pertanian, peternakan, perikanan. Indonesia punya kekayaan sumber daya.

Bahkan jika youtube dan facebook diblokir atau enggan menyimpan server di Indonesia, mereka sendiri yang rugi. Kita bisa beralih ke Linux, Hongmeng, Baidu dan sejenisnya.

Alih-alih artikel, bikin juga puisi dengan judul balada 10 negara termiskin di dunia

PENELITIAN SUPERFISIAL TENTANG BUDAYA DAN BAHASA THAILAND

Persiapan Komunikasi dengan Internet Roaming Internasional
Untuk komunikasi, jaringan Telkomsel bisa digunakan untuk roaming internasional, khususnya di Thailand. Kode Tekomsel yang dapat digunakan adalah *266#. Dengan begitu telkomsel akan aktif bekerja sama dengan provider lokal yaitu AIS di Thailand. Harga pulsa internet untuk 3 hari adalah 120 ribu pada bulan April 2019. Untuk 7 hari 250 ribu.

Komunikasi ini sangat penting di antaranya melihat google map, komunikasi dengan WhatsApp, Line, WeChat, dan berbagi (share) foto atau video.

Dosen PGSD di Phranakhon Rajabhat University mengatakan tentang tiga pilar (tiang) bangsa Thailand yaitu negara (the nation), agama (the religion), dan raja (the king). Ternyata pilar bangsa Thailand ini sama dengan pilar bangsa dari negara tetangganya yaitu Kamboja. Mungkinkah juga sama dengan pilar bangsa tetangga lain. Pilar ini merupakan nilai atau falsafah yang mirip dengan Pancasila. Dalam Pancasila dieksplisitkan bahwa bangsa ini harus bertuhan, berperi kemanusiaan, bersatu, bermusyawarah, dan berkeadilan.

Three National Pillars: The Nation, The Religion, The King
Di Thailand ada tiga pilar nasional yaitu negeri, agama, raja. Tiga ikon ini seperti sakral dan seolah-olah tak bisa mati.

Pilar pertama bangsa adalah negara. Negara adalah tanah yang harus dibela. Persatuan seperti ini dimiliki Indonesia sampai paham radikal yang menawarkan utopia negara khalifah muncul. Paham ini bahkan siap bertengkar dengan saudaranya sendiri demi tegaknya negara utopia itu. Utopia karena negara dengan khalifah seumur hidup kurang baik. Apalagi bila khalifah mengklaim semua sumber daya alam sebagai miliknya dan keluarganya. Saya tak ingin Jokowi menjadi khalifah seumur hidup. Jokowi menguasai seluruh atau sebagian aset negara yang vital atau sumber daya alam yang vital. Saya juga tak ingin presiden dipilih oleh perwakilan semacam MPR atau ahlul hali wal aqdi. Negara Indonesia juga punya serangkaian undang-undang (UU) yang tak boleh dibuang begitu saja karena berubah mrnjadi negara khilafah. Jika UU itu dibuang, perusahaan asing seperti Freeport alan menjarah lebih dalam tanpa bisa kita tuntut dengan hak (undang-undang).

Ke dua, agama adalah pilar bangsa. Secara spesifik tidak disebut suatu agama. Agama Islam pun ada di Thailand, konon mayoritas di Thailand selatan yang berbatasan dengan Mslaysia. Thailand relatif tak ada tragedi seperti di Rohongnya, Myanmar. Myanmar seperti mengabaikan persahabatan dengan Indonesia. Keberagamaan di Thailand pun bisa dibilang rukun. Mungkin karena raja tidak menghendaki adanya perselisihan antarkelompok, seperti FPI/HTI dengan kelompok Islam lainnya. Raja akan menindak dan memaksa rakyatnya ikut aturan yang dibuatnya. Raja dengan tegas menekan kelompok agama agar tidak radikal. Pada pilar agama ini, raja pun berperan untuk menentukan damai atau bertikainya agama atau mazhab.

Pilar ke tiga bangsa adalah raja. Menariknya, saat raja kalah perang atau berganti dengan raja lain, rakyat tetap menghormati simbol raja (siapapun raja yang memimpin, dari keturunan manapun) selama raja mencintai rakyatnya. Saya mendengar dari cerita pemandu wisata, Popo, bahwa ada raja yang dieksekusi mati oleh suksesornya. Namun, pergantian ini tidak menimbulkan reaksi (chaos) rakyat. Tetap saja ada kelas ningrat dan rakyat. Rakyat tetap duduk di lantai sementara raja duduk di kursi. Rakyat tak boleh memandang raja saat saling bicara. Rakyat harus berjalan merangkak di hadapan raja. Rakyat harus menyembah di hadapan raja di lantai.

Raja yang sebenarnya di akhir zaman ini adalah Imam Mahdi. Semua manusia menunggu kemunculannya untuk memerangi kelaliman. Sementara itu, raja-raja dan pemimpin dunia sekarang ini menyongsong kepemimpinan Imam Mahdi. Bahkan dahulu, Krisna atau Iskandar Dzilkarnain pun tidak mengatur siapa yang menjadi raja di suatu daerah selama raja di daerah itu tidak lalim.

Namun, berkaitan dengan Imam Mahdi pun sebagian manusia berselisih pendapat. Bisa saja seseorang mengidentifikasi sesuatu sebagai pendukung Imam Mahdi dan melawan kejahatan. Namun, bisa saja sebagian warga salah persepsi dan keliru mengidentifikasi Imam Mahdi dan pendukungnya.

Bahkan wujud Imam Mahdi dan kebenarannya begitu terang benderang. Namun, bisa saja ada sebagian warga yang tidak bisa mengidentifikasinya.

Liputan Kunjungan

Video kunjugan bisa disaksikan juga di youtube dengan alamat https://youtu.be/u-624PcODXk

Gambar Raja dipampang di banyak penjuru jalan Thailand. Gambar ini juga membuat rakyat mengenal rajanya. Tentu raja yang baik akan membawa rakyatmya sejahtera dengan program oemerintahan yang baik. Raja bertugas melindungi hak warganya.

Kami menginap di MIKE BEACH RESORT, a RESORT IN PATTAYA, CHONBURI, THAILAND

Dengan negara yang tidak berasas agama Islam, di Thailand banyak perempuan tidak berhijab. Di Pattaya, perempuan menggunakan celana atai rok super pendek itu biasa. Tidak ada ormas semacam FPI, pecalang, atau polisi syariat yang memburu orang yang memakai rok pendek, memburu orang yang tidak puasa, atau memburu orang yang mabuk.

Saya pernah bertanya kepada dosen Phranakhon Rajabhat University tentang pendidikan seks. Temannya mengatakan bahwa agama Budha harus menahan nafsu termasuk nafsu seks.

Di Pattaya mobil yang melintas akan melambat jika orang menyebrang. Apakah ini tipikal negeri wisata? Di Indonesia, jika orang lambat memyebreng, sopir akan memaki (mony*t) atau membunyikan klakson.

Harga solar di Thailand lebih mahal daripada di Indonesia. Harga solar sekitar 13 ribu rupiah sedangkan di Indonesia cuma kurang dari 6 ribu rupiah. Negara stabil dengan harga bahan bakar seperti itu.

Demo-demo relatif jarang. Ada memang demo menurut pemandu wisata seperti demo regular berbaju hitam, baju kuning, kaos merah (?) dan sebagainya. Kerajaan menurut pemandu lain seperti masa Orba (Presiden Soeharto). Penghinaan terjadap kerajaan pun bisa ditindak. Ini berbeda dengan di Indonesia saat Presiden Habibie, Presiden Gus Dur, dan Presiden Jokowi dihina bahkan dengan fitnah semacam memasukkan warga Cina ke Indonesia.

Ada satu peristiwa menarik. Pemandu wisata sedang berbicara tentang raja di dalam bus wisata. Suatu saat dia menurunksn mic dari wajahnya. Padahal dia tidak terlihat memghina raja. Namun sedikit ucapan juga bisa sensitif bagi raja. Ucapan di bus wisata ini direkam dengan mic dan cctv. Sebegitu parahnya pelarangan di Thailand. Wajar warganya hati-hati. Wajar tak ada demo seperti 212, 414 di Indonesia.

Rupa dan badan orang Thailand sebenarnya mirip orang Indonesia. Mereka juga cenderung menyukai warna kulit yang putih daripada yang hitam. Lalu apabila ada warga perempuan yang memakai celana pendek, kulit mereka terlihat sangat putih walau tidak bule.

Saya belajar beberapa frasa bahasa mereka, seperti sawat dii khrap ‘salam’, khrap chan Prana ‘nama saya Prana’, khoop khun thuk than ‘terima kasih banyak’. Saya juga belajar tulisan mereka. Namun sampai saat ini saya masih kesulitan memgenal tulisan mereka. Mulanya saya kurang tertarik dengan Thailand karena saya lebih menyukai bahasa Jepang. Namun setelah berkunjung ke Thailand, ternyata budaya, bahasa Thailand juga menarik untuk dipelajari. Di sini juga bersih. Bangkok, Pattaya, Thailand menjadi tujuan wisata nomor satu di dunia seperti Bali. Saya sukar memahami tulisan di pinggir jalan. Sekalipun demikian, sesekali ada tulisan latin yang bisa saya baca.

Bahasa Thailand itu membedakan irama seperti bahasa Cina. Memang menurut pemandu wisata irama itu merupakan pengaruh Cina. Raja Thailand pun ada yang etnis Cina menurut pemandu wisata. Lalu raja juga menikah dengan rakyat biasa.

Kami mengunjungi peternakan lebah madu. Peternakan ini milik raja dan dikelola oleh swasta. Ada tempat wisata yang dimiliki atau dimodali oleh artis Thailand. Investasi memang perlu untuk mengembangkan negara dan memutar uang warga. Produk unggulannya adalah madu, bee polen, dan royal jelly. Harganya lumayan mahal. Tetapi bukan hanya maharaja saja yang bisa belanja produk unggulan lebah madu. Dosen tersertifikasi juga bisa belanja seperti itu.

Bangkok, Thailand menjadi tujuan wisata nomor satu di dunia seperti Bali. Namun ada satu perbedaan antara Bali dengan Bangkok. Bangkok adalah tempat wisata “dewasa” yang jauh lebih bebas daripada Bali. Di Bangkok perempuan bebas memakai celana pendek dan rok pendek. Perempuan di Bangkok pun semacam lebih bebas pergaulannya daripada Bali. Bali semacam diawasi oleh saudara muslimnya sehingga ada hal yang dianggap tabu, tidak sebebas Bangkok.

Bangkok juga mungkin lebih bebas daripada Jepang. Entahlah. Mungkin hanya di negara yang berpenduduk muslim, pergaulan warga dilarang atau dibatasi. Jepang mungkin kurang eksplosif dalam hal laki-laki, kupu-kupu malam, ganti kelamin, lady boy, tomboy. Namun di Jepang, ada warga yang punya pacar boneka, robot, binatang, ahli waris binatang, dan hal aneh lainnya menurut warga negara muslim.

Kami juga mengunjungi semacam kampung gajah. Kami menonton teater tari dengan adegan perang gajah di bawah panggung. Teater ini menurut review teman cuma didukung teknologi, namun kreativitas warga Indonesia juga tidak kalah.

Atraksi gajahnya luar biasa. Mungkin gajah ini dulunya dilatih untuk ikut berperang. Di Indonesia, pelatihan gajah hanya masih ada di Sumatera Salatan, Lampung. Namun, atraksi gajah di Pattaya, Thailand jauh lebih fantastik.

Gajah memecahkan balon, melukis, main bola, drat, main bola. Gajah dilatih mungkin karena pada masa lalu gajah digunaksn sebagai kendaraan perang. Tradisi ini dilestarikan di Thailand. Di Jawa, perang dengan tentara gajah tidak populer. Mungkin penduduk di Jawa cenderung cinta damai karena negeri ini sangat kaya. Orang yang tersisih pun bisa mendapatkan rezeki dengan bergeser ke tanah lain.

Saya melihat prajurit dalam teater memainan dua pedang. Ini juga cukup fantastis karena dua pedang juga ada di Jepang. Indonesia punya kujang, keris.

Makanan muslim harus pilih-pilih, bahkan di hotel. Konon bila hotel (bsnyak) dikunjungi wisatawan muslim, barulah tukang masak (chef) hotel memasak makanan halal. Jika hotel tidak dikunjungi wisatawan muslim, bisa saja hidangan yang tersedia di hotel ada yang mengandung daging babi.

Buang Air

Buang air kecil juga cukup susah untuk bersucinya. WC di Indonesia relatif ada pancurannya untuk bersuci saat busng air kecil. Di Thailand kita harus bersiap kesulitan untuk bersuci dari hadas kecil. Solusi sederhananya adalah membawa air mineral saat buang air kecil. Dengan begitu kita bisa bersuci dengan benar. Di Bali juga sering sulit untuk bersuci. Hotel di Bali ada yang hsnya menyediakan tisu untuk bersuci dari buang air besar. Di Bali juga acap seorang muslim kesulitan untuk bersuci dari buang air kecil.

Ada satu cerita menarik ti pantai Pattaya. Ketika itu kami mampir di dekat spot Hard Rock Cafe, Pattaya. Ini mengingatkan saya pada HRC Kuta, Bali yang juga pernah saya kunjungi. Kami berfoto di sekitar pantai. Suasananya sudah malam karena itu foto tak bisa menangkap objek jauh dengan lampu yang kemerlip. Setelah beberapa saat, kami diminta pemandu wisata untuk kembali ke bus. Ternyata beberapa orang di antara kami kebelet ingin pipis. Pemandu wisata lalu mengantar kami mampir di wc HRC. Saya ingat saat itu, band sedang memainkan lagu, Skid Row, “I’ll remember you.” Lagu itu adalah lagu saat saya SMA. Yang menarik adalah kami cuma menggunakan fasilitas wc di HRC. Kami melihat pengunjung kafe yang memikmati makan, minum, dan lagu. Sangat bagus untuk masyarakat, bisa menggunakan wc orang lain atau perusahaan lain. Jangan sampai berlagak ndeso atau kampungan lalu buang air di sembarang tempat, di kebun orang, di sudut rumah orang. Seseorang sehatusnya bisa minta izin atau tanpa izin untuk ikut buang air.

Floating Market di Chao Phraya

Kata pemandu wisata, sungai Chao Phraya adalah nama orang yang dijadikan nama sungai pariwisata. Kata pemandu wisatanya barang hilang juga bisa kembali. Hal ini menunjukkan bahwa tempat ini peduli wisata. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa dilakukan oleh nonmuslim.

Muda-mudi banyak yang berwisata di sekitar sungai Chao Phraya. Thailand merupaksn negara yang cukup bersahabat. Keamanannya relatif aman seperti Indonesia.

Di Bangkok kami menginap lagi selama satu malam di Metro Resort Pratunam. Seharian kami berkrliling untuk berwisata. Keindahan alam di Thailand memang menarik. Indonesia juga tidak kurang indah. Yang lebih menarik bagi saya sdalah bertemu dengan orang-orangnya, berbicara dengan mereka, belajar budaya dan bahasa mereka.

Biksu dan Derma Warga

Biksu muda berjalan dari satu toko ke toko lain meminta derma dari pemilik toko dan pembelinya. Tak ada rasa rendah diri dari biksu ini. Tak ada gambaran terpaksa atau gambaran dirampok dari wajah pemberi. Tak ada kemarahan biksu karena diberi uang kecil. Munhkin karena bila ada keributan, polisi bisa turun tangan. Raja juga bisa menghukum orang seperti biksu atau pemilik toko. Saya ingat film Mahabharata yang menggambarkan Pandawa yang menyamar menjadi biksu dan meminta derma dari warga.

Perbuatan biksu meminta derma ini berbeda dengan Islam karena para nabi yang diyakini Islam bekerja dan tidak boleh menerima upah dari dakwah yang diberikannya. Nabi Zakaria menjadi tukang kayu, Nabi Daud membuat baju besi, Nabi Muhammad menggembala ternak dan berdagang. Para nabi tak boleh meminta upah (derma) dari dakwah yang mereka lakukan. Upah kepada Nabi saw adalah kecintaan kepada keluarganya.

Perempuan pedagang kelontong di pasar Thon Buri distrik fasih berbahasa Indonesia. Pedagang di pasar Sungai Chao Phraya juga bisa berbahasa Indonesia yaitu pedagang baju, suvenir, bahkan penjual kacang di atas sepeda yang beretnis India. Ini berarti cukup banyak wisatawan Indonesia di Thsiland.

Saya bisa bayangkan jika pedagang Indonesia juga fasih berbahasa Inggris. Mungkin hanya ada di Bali sementara ini.

WC di sini juga pada umumnya gratis. Saya baru menemukan satu WC berbayar. Itu juga tidak ada orang penunggunya seolah sukarela. Saya tidak dipaksa untuk membayar. Seorang pengunjung lain keluar WC begitu saja tanpa memasukkan uang atau receh ke kencleng, tidak ada yang menagih.

Kami mengunjungi produk kulit. Ternyata produk kulit Indonesia pun tak kalah dengan produk Thailand. Saya pernah ke sentra kulit di Garut dan Cibaduyut, Bandung. Harga produk kulit Indonesia jauh lebih murah dengan kualitas yang sama. Kita mesti bersyukur bahwa krrajinan seperti ini dimiliki rakyat biasa, bukan oleh investor besar.

Bagian selatan ternyata pernah mengalami penjajahan dan rebutan penguasa, termasuk penjajah barat. Bagian selatan banyak yang beragama Islam. Bagian selatan juga berbatasan dengan Malaysia. Mungkin karena itu bahasa Infonesia juga populer dan bisa dikuasai pedagang Thailand.

Kami mengunjungi musium pendidikan universitas. Kami juga mengunjungi pengolahan emas dan batu mulia. Kereta di musium bercerita bahwa teknologi kereta berasal dari Inggris dan Jerman. Rel kereta menunjukkan bahwa barat mencari emas pada masa kolonialisme.

Kami juga mengunjungi Mall MBK. Di Mall MBK ada food court di lantai 6. Tempat seperti ini dikunjungi karena ada restoran muslimnya. Di negara yang muslimnya minoritas, kita harus berhati-hati memilih makanan. Di Bali juga seorang muslim harus berhati-hati memilih makanan. Mungkin memilih ikan dan sayuran lebih baik daripada makan hewan sembelihan. Muslim juga bisa minta diantar ke restoran halal.

Contoh Kebebasan Kebablasan di Indonesia

Mohon maaf, jika presiden diisukan memasukkan Cina, apa yang harus dilakukan presiden? Orang-orang sudah berani mengatakan presiden memasukkan Cina. Berani berhadapan dengan kekejaman Presiden? Di Thailand mengkritik raja saja tidak boleh, apalagi menghina raja.

Presiden tangan besi akan mengobrak-abrik isu bohong itu. Di Thailand, orang yang omong miring saja tentang kerajaan sudah ditangkap dan diinterogasi. Di sini orang, demi pemilu menyebarkan isu yang belum jelas.

Apa kader partai seperti FZ, FH, RK, dan DPR lainnya sudah tak bisa bicara isu Cina kepada Presiden? Warga kita bisa memilih presiden sesuai nurani. Silakan sampaikan opini. Namun tak boleh hoaks. Juga tidak boleh mrmaksa dan tidak boleh berisik.

Menyebrang Jalan dan Mobil Ngebut

Pengalaman unik yang diperoleh ketika menyebrang jalan di Thailand, misalnya di Pattaya adalah mobil akan cenderung melambat jika ada orang yang menyebrang jalan. Ada seorang youtuber asal Bali yang melaporkan peristiwa semacam ini di Rusia. Katanya, berbeda dengan di Indonesia, jika sopir atau pengemudi motor di Indonesia melihat penyberang jalan yang berjalan lambat, ia akan memaki, “Cepat, m*ny*t!” Menyebrang jalan di Infonesia, meski aman dan bisa dilakukan di luar tempat penyebrangan jalan, namun tetap harus hati-hati. Mungkin peristiwa di Thailand tentang menyebrang jalan ini merupakan bagian dari sopan santun dan promosi pariwisata.

Draft Moderator di Phranakhon Rajabhat University dari Universitas Pendidikan Infonesia

Thank you dear master of ceremony to place me here as your moderator.

Asalsmualaikum wr.w., piece be with you

Sawat dii khrap

Let me intriduce myself as your moderator here. My name is Prana. Khrap phom Prana. This name has two syllable. And this university is Phranakhorn Rajabhat University as I myself a rajabhat in my own home. No, I have never change my name since I was born. Thank you for shower me with your love and affection.

We, Indonesia, have an exvellent tradition as well as Thai people have.

I would like to thank all of you audience that takes your time here with us in our magnificent occation. Here is seminar ….

I do believe that this occasion will develop our institutions cooperation. We, UPI have many scholar as well as Pranakhon Rajabhat University has. I myself developed students perspective about developing education media or android program using MIT App Invemtor 2. We have three excellent keynote speakers here that will talk about their recent research. I do believe that this cooperation will continue in the future as well as we and our students develop our research.

In this seminar I will introduce three magnificent keynote speakers. Those three keynote speakers will describe today educations chalange. What do we did to overcome. What ee will do next to gain further development.

If you dear all audience permit me, I want to highligt their curriculum vitae resume for all of you.

09:15 – 09:35 Keynote 1 “21st Century Leadership in Primary Teacher Education” Keynote Speaker from College of Education, Phranakhon Rajabhat University: Dr Derek Pornsima

The first keynote speakers, the stage is now yours.

Lets give a round applause for Dr. Derek Pornsima

Thank you Dr. Derek Pornsima for this tremendous presentation

09:35 – 09:55 Keynote 2 “Primary Teacher Education towards Industrial Revolution 4.0 in Thailand” Keynote Speaker from Department of Primary Teacher Education, College of Teacher Education, Phranakhon Rajabhat University: Dr. Ooy, not Dr. Piyalak Akkrarat, or Jemy

The second keynote speakers, the stage is now yours.

Lets give a round applause for Dr. Piyalak Akkrarat

Thank you Dr. Piyalak Akkrarat for this tremendous presentation

09:55 – 10:15 Keynote 3 “Primary Teacher Education towards Industrial Revolution 4.0 in Indonesia” Keynote Speaker from Department of Primary Teacher Education, Universitas Pendidikan Indonesia: Dr Diah Gusrayani

Dr. Diah is a consultant of young learners, IT developer for English Children teaching media, a doctor of English Education

The third keynote speakers, the stage is now yours.

Lets give a round applause for our three keynote speaker here.

Thank you all for your tremendous presentation

And now we have question-answer session with our keynote speaker. If you have any question to any of our keynote speakers, please raise up your hands. You also have to mention to whom the questions refer to.

And now I would like to end up our seminar session. Please give us applause for our kenote speakers and for our presence in this occasion.

I would like to thank to the institutiuon pranakhorn Rajabhat University to let this cooperation events happen.

Khoop khuun thuk than

Thank you very much

QA Session
It is very interrsting that Thai develop peoples educaton culture well, as well as Indonesia develop people education culture. We can live our life as long as we live in piece.

Develop our skillfull students is an important findings. We also teach our students moral.

Three mational pillars: the nation, the religion, the king

We have also the president who order people ti send their children to education

Konferensi ke Jepang, Juli 2018

Perjalanan ini sebenarnya perjalanan spiritual dan ilmiah. Kami bertiga mengikuti konferensi internasional di Tokyo. Ternyata Tokyo adalah kota yang sangat ramai. Kota yang lebih tenang adalah Osaka ata Hokaido. Tokyo adalah kota metropolitan dengan banyal orang seperti Jakarta di Indonesia. Tautan karya ilmiah yang dibuat untuk acara ini ada di bawah ini. Kami ditemani dua orang pemandu dari Indonesia sekedar menjaga dari kebingungan di jalan. Sebenarnya tujuan tambahan dari perjalanan kami adalah kampanye kontra Islamophobia. Jepang memang bukan negara yang mengkampanyekan Islamophobia. Orang Jepang tidak takut pada orang muslim seperti yang dikampanyekan sejumlah pemerintah negara yang Islamophobia.

Foto di atas ada di lokasi Kuil Sensuji. Orang-orang Jepang tak akan peduli dengan pandangan orang yang seakan pandangan itu sinis dan mengurusi orang lain. Mereka seolah berkata, kami sedang memuja Tuhan dengan kerja yang kami lakukan dan beban yang kami bawa. Surga adalah harapan orang beriman. Tak perlu mengganggu kami dengan pandangan dan ucapan sinis.

Lalu seseorang seolah tidak terpesona melihat perempuan cantik yang hanya menggunakan jeans super pendek ataupun rok mini. Ini bukan kritik gender. Secara alami seseorang akan tertarik melihat lawan jenisnya, baik disembunyikan atau tidak. Rasanya, warga ini tidak pernah memperlihatkan tertarik pada lawan jenis. Mingkin mereka merasa malu atau tak sopan memperlihatkan perilaku alami ini. Semestinya perilaku seperti ini memang disembunyikan. Bahkan perilaku batin pun tak boleh jika bukan haknya.

Alam di sini pada bulan Juli mirip dengan di Indonesia. Suhunya juga mirip. Suhu lingkungan sekarang mudah didapat dengan selpin (selular pintar). Pergi dan kembali ke suatu tempat juga mudah dengan bantuan selpin. Bahkan berdialog atau berkomunikasi pun dipermudah dengan bantuan selpin dan internet. Warna dan penampakan hutan mirip dengan yang ada di Indonesia. Langit dan awannya pun mirip dengan yang ada di Indonesia. Namun Infonesia adalah negara tropis dengan dua iklim. Negara Jepang adalah negara subtropis (?) dengan empat musim.

Ada brankas penitipan koper yang harganya 500–1.000 yen. Tak ada petugas. Semua dijalankan dengan mesin. Mesin juga melayani pembelian minuman, nasi, burger, kentang. Namun, muslim harus berhati-hati dan menghindari makanan yang tidak halal. Tidak terlihat mesin kondom yang katanya bertebaran. Tak pernah terlihat. Mungkin ada di market yang dilayani penjualnya. Pada umumnya minuman di mesin Jepang tidak manis mungkin karena alasan kesehatan (?) atau kecendeungan (kesukaan). Orang jepang pun acap tidak paham ucapan orang asing, “beef ‘daging sapi'”, atau “coca cola”. Mereka akan paham bila kita mengatakan dengan istilah mereka, “gomoku inigiri & karaage”.

Di Jepang kami menyewa internet wifi portabel. Harga sewanya adalah 80ribu–110rb per hari. Lokasi penywaannya ada di bandara Soetta. Kami menyewa dua untuk berlima karena kami acap terbagi menjadi dua kelompok yang terpisah penginapannya. Kami menginap di apartemen sedangkan kelompok lain entah di mana. Stasiun yang kerap kali turun adalah Shibuya, SangenJaya, Shinjuku. Kami mendarat dan terbang dari Bandara Narita. Menurut kabar, ada bandara lain yang bisa digunakan untuk pergi dan datang ke Jepang.

Sebenarnya di apartemen disediakan wifi, namun kami tak akan bisa daring (online) bila keluar apartemen kecuali menggunakan wifi portabel. Itulah alasan kami menggunakan wifi portabel.

Warga Jepang menurut penilaian saya cukup mudah akrab dengan turis. Sekalipun mereka terlihat tidak peduli pada turis. Orang Indonesia acap melihat turis dan kagum pada perbedaannya. Namun orang Jepang terlihat tidak peduli dengan turis.

Suatu saat kami bertanya pada pemuda lokal di sekitar Gunung Fuji. Pemuda itu dengan senang hati mengantar kami berkilo meter jauhnya karena (seolah?) satu tujuan dengan kami. Kawasan Fuji adalah kawasan modern. Jalannya mulus, infrastruktur listrik, hotel, wisata kuliner, provider selular (internet) dan spot permainan danau juga ada di sana. Video kereta gantung kawasan danau di Gunung Fuji, ada pada tautan youtube berikut dan berikut. Sedangkan video Danau Kawaguchiko di kawasan Gunung Fuji ada pada tautan berikut.

Tumbuhan yang ada di Jepang terlihat mirip dengan di Indonesia. Padahal negeri Jepang adalah negeri dengan empat musim. Ada waktu tertentu yang sebaiknya tidak mengunjungi Jepang karena adanya musim badai. Hutannya juga hijau. Pada perjalanan di atas bus menuju Gunung Fuji, terlihat sejumlah pesawahan. Namun pesawahan di kawasan Gunung Fuji tidak seluas pesawahan di Indonesia. Ketika melihat rumput yang menghijau saya selalu teringat untuk memiliki peternakan sapi. Pertenian, peternakan, perikanan adalah pekerjaan penting yang harus dilindungi pemerintah. Tanpa perlindungan pemerintah, sektor-sektor pertanian, peternakan, dan yang lainnya akan mati. Importir akan memasukkan produk luar yang harganya lebih murah daripada produk lokal: daging sapi Australia, garam, beras Vietnam, kedelai, susu.

Insiden di WC yang dialami teman adalah adanya antrian seperti di tempat-tempat lain. Seorang teman yang masuk ke wc untuk buang air kecil lalu melihat pintu di wc buang air besar tiba-tiba terbuka. Ia spontan masuk padahal ada orang yang sedang mengantri nun jauh di ujung wc. Ketika pintu wc ia ia tutup, ada ketuk dengan bahasa protesnya yang khas Jepang. Marah dalam kelembutan. Tidak menggedor pintu. Menurutnya gedorannya cukup lembut namun cukup mudah dipahami sebagai bahasa protes. Temanku keluar wc dengan wajah menyesal, “Gomen nasai.” Orang Jepang yang marah tadi tidak berkata sepatah kata pun. Sungguh berbeda ekspresinya dengan marah di negara lain yang bisa jadi ekspresinya lebih brutal atau kata-kata dengan nada tinggi dan ketus. Sungguh peristiwa ini seperti realitas yang disaksikan dari film.

Sopir bus di Jepang pun ramah dan tertib. Kami naik bus untuk menuju hotel bandara. Petugas terminal sangat tertib. Tak ada klakson, jeritan peluit, atau teriakan sopir. Transportasi yang bebas macet ini mungkin membuat warganya teratur dan nyaman. Ada banyak kereta api bisa menjelajah puluhan kilo, puluhan (?) jalur, dan berhenti di stasiun berikutnya dalam waktu beberapa menit. Bisa dibayangkan jika Bandung punya sistem transportasi bawah tanah atau atas tanah dengan jaringan trayek yang banyak menuju Padalarang, Jatinangor, Sumedang, Cicalengka, Cimahi, Padalarang, Lembang, Bale Endah. Presiden Jokowi sedang membuat kereta api cepat Jakarta–Bandung. Jakarta mungkin mempunyai stasiun hingga mencapai Depok, Sukabumi, Cianjur, Rangkas, Serang, Karawang, Bandung. Transportasi kereta api pun dilayani mesin. Sesekali petugas ada di sekitar stasiun dan dapat membantu wisatawan. Seseorang bisa bertanya tentang cara pembayaran dan arah tujuan. Seorang turis tanpa pemandu akan kesulitan bila tidak menemui petugas stasiun. Stasiun kereta ada di bawah tanah namun kami merasa stasiun itu ada di mall atau supermarket yang besar. Sebagian kereta juga berjalan di atas tanah.

Ucapan penting di Jepang di antaranya sumimasen ‘permisi’, gomen nasai ‘maaf’, arigatou gozaimasu ‘terima kasih’, yoroshiku onegaishimasu (bungkuk). Ucapan itu penting sebagai penghormatan terhadap budaya Jepang yang luhur. Tetapi jangan dieksploitasi menjadi buruk atau ejekan. Orang Jepang sangat menghargai orang yang berbicara tulus, “Yoroshiku onegaishimasu.” Saya bercakap-cakap dengan pemuda jepang dan minta izin memotret jas sepatunya.

Teman sempat tertinggal tas tentengan kecil di bus hotel ke arah bandara. Di antara isinya adalah wifi portabel yang kami sewa selama tujuh hari. Bisa ditebak, batangnya kembali dengan aman. Mulanya kami sempat cemas karena sopir bus mengklaim bahwa tas tersebut ada yang mengambil atau sopirnya memberikan kepada salah seorang penumpang yang mengaku pemilik tas tersebut. Teman kami protes dan menanyakan alasan sopir memberi tas kepada sembarang orang. Ternyata tas hilang tersebut telah diamankan dan kembali kepada kami di bandara. Japanesse manners is so excellent.

Sepanjang perjalanan saya bertemu dengan orang asing di negeri Jepang. Seperti pada umumnya, orang Indonesia senang bertemu dengan orang asing. Saya menyapa beberapa di antara mereka. Ada yang ramah, ada yang terkesan sedikit terganggu. Orang Austria di bus mampu berbahasa Inggris dan bercakap-cakap dengan ramah. Ada orang Inggris di danau sekitar Gunung Fuji terkesan kurang akrab.

“English?”

“Yeah. British. And what about you?”

“Indonesia.”

“I see.”

“Okay. Thank you very much.”

Anehnya saya merasa bicara dengan agem rahasia, bukan semata warga yang melancong. Itu mungkin karena orang Inggris tidak suka bertegur sapa dengan sembarang orang yang tidak dikenal (?).

Berkunjung ke Jepang sangat menarik. Namun, harus ada tujuan ketika berada di Jepang sekalipun untuk berlibur. Sebenarnya yang paling menarik dari negeri ini adalah manusia dengan budayanya. Tempat wisata alami ataupun permainan modern (Dysney Higland, misalnya) juga ada di Indonesia. Gunung, laut, danau, air terjun juga ada di Infonesia. Internet dan tempat tidur nyaman juga ada di Indonesia. Namun manusia Jepang dengan budayanya hanya ada di Jepang. Inilah yang paling menarik. Jadi jika ke Jepang, pastikan bisa berinteraksi dengan mereka, khususnya secara verbal.

Kalau pembaca berharap sambil ke Jepang saat di hotel bisa menonton tayangan Fox Sport, HBO dan semacamnya, niscaya pembaca akan kecewa. Kebanyakan tayangan tv yang disukai warga Jepang adalah live event, berita, atau talkshow. Jika sekarang di rumah kita ada internet, tentu tayangan televisi menjadi sangat kuno.

Semoga bermanfaat.

‚ÄčNegeri Kaya Tetapi Importir

Tujuh keajaiban dunia

1. Beras Vietnam

2. Garam Australia

3. Kedelai Amerika

4. Susu New Zealand

5. Cangkul Cina

6. Buruh Tiongkok

7. Artis Korea Selatan
Ini terjadi sejak zaman rezim Order Baru (Orba). Pada rezim Orba, Pa Harto menetapkan kebijakan impor alih-alih membela petani yang merupakan (mayoritas) mata pencaharian warga. Saya ingat ucapan teman yang membela kebijakan Pa Harto, “Buat apa tanam kedelai kalau kedelai impor jauh lebih murah”. Akibatnya tak ada warga yang bertani kedelai. Para petani kedelai mati atau beralih profesi menjadi importir. Ternyata tak bisa semua petani menjadi importir. Mulailah pengangguran terjadi. Mulailah orang tak suka jadi petani karena kesejateraannya ditekan. Kebijakan pemerintahlah yang menyebabkannya.
Kedelai impor lebih murah daripada lokal. Beras impor lebih murah daripada lokal. Sapi impor lebih murah daripada lokal. Garam impor lebih murah daripada lokal. Gula impor lebih murah daripada lokal.
Padahal AS, Jepang, Cina melindungi sektor pertanian, peternakan dalam negeri mereka HARGA MATI. Mereka memproteksi harga sembako dan PERSETAN dengan free trade era. Seharusnya negara sadar bahwa ketahanan pangan sangat penting bagi negara. Tanpa ketahanan pangan, negara rapuh dan terjajah. Negeri kita sangat kaya, tapi importirnya gemar membunuh saudara sendiri demi kesejahteraan pribadi. Ini seperti tikus mati di lumbung padi.
Petambak garam dibunuh importir karena garam impor lebih murah daripada garam lokal. Negara harus membatasi impor. Semua negara juga memproteksi warganya. Free trade era hanya untuk barang tertentu yang benar2 kita butuhkan seperti impor barang elektronik, kendaraan dalam jumlah terbatas sehingga tetap memajukan industri dalam negeri. Bahkan jika industri kendaraan lokal menggeliat, negara harus mewajibkan impotir menggunakan sekian persen suku cadang lokal.
Apakah kita mengimpor buruh juga dari Cina sementara buruh kita banyak yang perlu kerja?
Untuk buruh saya tak tahu persis. Adakah buruh kasar Cina di proyek Jatigede, Tol Cisumdawu? Apakah mereka punya visa kerja? Seandainya mereka ada, apakah mereka telah pulang menurut imigrasi? Ataukah mereka belum dilaporkan pulang, mati, menetap, ganti kewarganegaraan. Kalau ganti kewarganegaraan tentu RT, RW, camat harus tanda tangan.
Kalau mereka masih keluyuran, berarti mereka melanggar imigrasi. Apa ada yang bisa hidup di negeri kita tanpa bekerja?
Kalau ada orang asing yang dicurigai melanggar kewarganegaraan, laporkan saja kepada rt, rw, polisi, dan imigrasi.
Produk Cina bukan hanya cangkul, melainkan juga pulpen, dll.
Seperti tadi, pemerintah sejak dulu ingin enak. Pulpen daripada repot produksi malah impor. Importir diuntungkan. Bahkan importir diizinkan memonopoli distribusinya dan menginjak2 harga dari produsen lokal. Ini juga yang terjadi pada importir garam dan beras.
Sejak zaman Oa Harto kebijakan impor lebih menguntungkan segelintir pengusaha kroni daripada rakyat banyak
Saatnya Pa Jokowi membenahi. Dulu Gus Dur juga mau membenahi yang lain, tapi GD dijatuhkan. Sebelumnya, politisi juga menuntut kepada Habubie, saat Habibie menggantikan Pa Harto, agar pemilu dipercepat. 
Lalu Habibie dkk bikin kapal, pesawat, mobil, dibendung oleh para importir. Mereka mengejek Habibie, katanya bikin sepeda saja belum bisa malah sok jago bikin pesawat. Importir produk macam Honda, Kawasaki marah jika ada produsen lokal. Mereka berusaha membunuhnya dengan cara apapun seperti membeli perusahaan lalu menghentikan produksinya, menyuruh orang kreatif untuk kerja kantoran, dan sebagainya. Kalau tidak, mungkin para penghobi bengkel akan menjamur dan memproduksi motor lokal.
Saya jadi ingat orang yang merakit TV di zaman Pa Jokowi. Mulanya mau ditindak, dihukum, didenda, dan dipenjarakan hanya gara-gara membeli komponen dan merakitnya menjadi televisi dan memberi merk. Padahal Habibie juga merakit dari komponen yang dibelinya. Untung saja Pa Jokowi menyelamatkan montir ini dan memberinya modal serta izin usaha.
Sekarang, bengkel motor, mobil saja authorized (resmi) untuk setiap merk. Makin susah bengkel lokal kita untuk bersaing.
Artis asing sudah ada sejak zaman orba. Beberapa artis asing manggung di negeri ini tanpa masalah atau ribut seperti di zaman medsos.
Kalau Pa Harto punya kebijakan tentu bisa ikhtiar dilakukan.
Habibie dan Gus Dur dijatuhkan.
Mega dan SBY kurang perhatian pada masalah ini. Sebagaimana SBY tak perhatian pada “pelanggaran” HTI.

‚ÄčTikus Mati di Lumbung Padi

Tahukah kamu istilah tikus mati di lumbung padi? Setidaknya sebagian masyarakat kita kaya, banyak modal berpotensi jadi kapitalis, berpotensi menjadi pemodal. Sementara sebagian masyarakat lainnya miskin, tak punya modal, memerlukan modal, hanya punya modal kerja dan harapan dan keinginan untuk maju bekerja.

Kedua pihak ini, si kaya dan si miskin, sama-sama saling membutuhkan. Yang paling membutuhkan adalah si miskin karena mereka ingin punya penghasilan. Sementara si kaya sebenarnya ingin menginvestasikan uangnya. Daripada uang ini menganggur atau cuma disimpan di bank, lebih baik diinvestasikan sehingga berbunga dan berbuah.
Di kampung ini juga demikian. Si kaya punya modal, si miskin bisanya beternak namun tak punya modal untuk membeli ternak sendiri.
Suatu saat keduanya bertemu. Sepakatlah keduanya untuk bekerja sama. Si kaya jadi pemodal, si miskin jadi pekerjanya.
Namun apa yang terjadi? Si miskin ternyata mencuri hak si kaya. Ternaknya dijual tanpa sepengetahuan si kaya sebagai pemodal. Lalu ia mengaku serba rugi, serba sulit sehingga keuntungan minim. Diakuinya ternak sakit, kurus, dan dijual murah. Akibatnya, tahun berikutnya si kaya menarik modal dan asetnya dari si miskin.
Menurutmu, akan tetap hidupkah si miskin? Tidak. Akankah ada orang lain yang mau memberinya modal? Tidak akan ada lagi orang yang mau memberinya modal.
Si miskin adalah tikus yang mati di lumbung padi.