‚ÄčNegeri Kaya Tetapi Importir

Tujuh keajaiban dunia

1. Beras Vietnam

2. Garam Australia

3. Kedelai Amerika

4. Susu New Zealand

5. Cangkul Cina

6. Buruh Tiongkok

7. Artis Korea Selatan
Ini terjadi sejak zaman rezim Order Baru (Orba). Pada rezim Orba, Pa Harto menetapkan kebijakan impor alih-alih membela petani yang merupakan (mayoritas) mata pencaharian warga. Saya ingat ucapan teman yang membela kebijakan Pa Harto, “Buat apa tanam kedelai kalau kedelai impor jauh lebih murah”. Akibatnya tak ada warga yang bertani kedelai. Para petani kedelai mati atau beralih profesi menjadi importir. Ternyata tak bisa semua petani menjadi importir. Mulailah pengangguran terjadi. Mulailah orang tak suka jadi petani karena kesejateraannya ditekan. Kebijakan pemerintahlah yang menyebabkannya.
Kedelai impor lebih murah daripada lokal. Beras impor lebih murah daripada lokal. Sapi impor lebih murah daripada lokal. Garam impor lebih murah daripada lokal. Gula impor lebih murah daripada lokal.
Padahal AS, Jepang, Cina melindungi sektor pertanian, peternakan dalam negeri mereka HARGA MATI. Mereka memproteksi harga sembako dan PERSETAN dengan free trade era. Seharusnya negara sadar bahwa ketahanan pangan sangat penting bagi negara. Tanpa ketahanan pangan, negara rapuh dan terjajah. Negeri kita sangat kaya, tapi importirnya gemar membunuh saudara sendiri demi kesejahteraan pribadi. Ini seperti tikus mati di lumbung padi.
Petambak garam dibunuh importir karena garam impor lebih murah daripada garam lokal. Negara harus membatasi impor. Semua negara juga memproteksi warganya. Free trade era hanya untuk barang tertentu yang benar2 kita butuhkan seperti impor barang elektronik, kendaraan dalam jumlah terbatas sehingga tetap memajukan industri dalam negeri. Bahkan jika industri kendaraan lokal menggeliat, negara harus mewajibkan impotir menggunakan sekian persen suku cadang lokal.
Apakah kita mengimpor buruh juga dari Cina sementara buruh kita banyak yang perlu kerja?
Untuk buruh saya tak tahu persis. Adakah buruh kasar Cina di proyek Jatigede, Tol Cisumdawu? Apakah mereka punya visa kerja? Seandainya mereka ada, apakah mereka telah pulang menurut imigrasi? Ataukah mereka belum dilaporkan pulang, mati, menetap, ganti kewarganegaraan. Kalau ganti kewarganegaraan tentu RT, RW, camat harus tanda tangan.
Kalau mereka masih keluyuran, berarti mereka melanggar imigrasi. Apa ada yang bisa hidup di negeri kita tanpa bekerja?
Kalau ada orang asing yang dicurigai melanggar kewarganegaraan, laporkan saja kepada rt, rw, polisi, dan imigrasi.
Produk Cina bukan hanya cangkul, melainkan juga pulpen, dll.
Seperti tadi, pemerintah sejak dulu ingin enak. Pulpen daripada repot produksi malah impor. Importir diuntungkan. Bahkan importir diizinkan memonopoli distribusinya dan menginjak2 harga dari produsen lokal. Ini juga yang terjadi pada importir garam dan beras.
Sejak zaman Oa Harto kebijakan impor lebih menguntungkan segelintir pengusaha kroni daripada rakyat banyak
Saatnya Pa Jokowi membenahi. Dulu Gus Dur juga mau membenahi yang lain, tapi GD dijatuhkan. Sebelumnya, politisi juga menuntut kepada Habubie, saat Habibie menggantikan Pa Harto, agar pemilu dipercepat. 
Lalu Habibie dkk bikin kapal, pesawat, mobil, dibendung oleh para importir. Mereka mengejek Habibie, katanya bikin sepeda saja belum bisa malah sok jago bikin pesawat. Importir produk macam Honda, Kawasaki marah jika ada produsen lokal. Mereka berusaha membunuhnya dengan cara apapun seperti membeli perusahaan lalu menghentikan produksinya, menyuruh orang kreatif untuk kerja kantoran, dan sebagainya. Kalau tidak, mungkin para penghobi bengkel akan menjamur dan memproduksi motor lokal.
Saya jadi ingat orang yang merakit TV di zaman Pa Jokowi. Mulanya mau ditindak, dihukum, didenda, dan dipenjarakan hanya gara-gara membeli komponen dan merakitnya menjadi televisi dan memberi merk. Padahal Habibie juga merakit dari komponen yang dibelinya. Untung saja Pa Jokowi menyelamatkan montir ini dan memberinya modal serta izin usaha.
Sekarang, bengkel motor, mobil saja authorized (resmi) untuk setiap merk. Makin susah bengkel lokal kita untuk bersaing.
Artis asing sudah ada sejak zaman orba. Beberapa artis asing manggung di negeri ini tanpa masalah atau ribut seperti di zaman medsos.
Kalau Pa Harto punya kebijakan tentu bisa ikhtiar dilakukan.
Habibie dan Gus Dur dijatuhkan.
Mega dan SBY kurang perhatian pada masalah ini. Sebagaimana SBY tak perhatian pada “pelanggaran” HTI.

‚ÄčTikus Mati di Lumbung Padi

Tahukah kamu istilah tikus mati di lumbung padi? Setidaknya sebagian masyarakat kita kaya, banyak modal berpotensi jadi kapitalis, berpotensi menjadi pemodal. Sementara sebagian masyarakat lainnya miskin, tak punya modal, memerlukan modal, hanya punya modal kerja dan harapan dan keinginan untuk maju bekerja.

Kedua pihak ini, si kaya dan si miskin, sama-sama saling membutuhkan. Yang paling membutuhkan adalah si miskin karena mereka ingin punya penghasilan. Sementara si kaya sebenarnya ingin menginvestasikan uangnya. Daripada uang ini menganggur atau cuma disimpan di bank, lebih baik diinvestasikan sehingga berbunga dan berbuah.
Di kampung ini juga demikian. Si kaya punya modal, si miskin bisanya beternak namun tak punya modal untuk membeli ternak sendiri.
Suatu saat keduanya bertemu. Sepakatlah keduanya untuk bekerja sama. Si kaya jadi pemodal, si miskin jadi pekerjanya.
Namun apa yang terjadi? Si miskin ternyata mencuri hak si kaya. Ternaknya dijual tanpa sepengetahuan si kaya sebagai pemodal. Lalu ia mengaku serba rugi, serba sulit sehingga keuntungan minim. Diakuinya ternak sakit, kurus, dan dijual murah. Akibatnya, tahun berikutnya si kaya menarik modal dan asetnya dari si miskin.
Menurutmu, akan tetap hidupkah si miskin? Tidak. Akankah ada orang lain yang mau memberinya modal? Tidak akan ada lagi orang yang mau memberinya modal.
Si miskin adalah tikus yang mati di lumbung padi.

Pinjaman vs Investasi

Kebijakan Presiden (juga Menteri Rizal Ramli) itu bukan pinjaman melainkan investasi. Contoh investasi adalah Kadijah memberi investasi kepada Muhammad untuk berdagang. Keuntungannya bagi hasil. Dalam pinjaman tak ada bagi hasil yang terjadi malah riba ….

 

Sejak menjadi menteri pada era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli mendorong iklim investasi. Sayangnya pemerintahan Gus Dur tidak berumur lama karena ditengarai konflik dengan ketua DPR, Akbar Tanjung yang diduga korupsi. Gus Dur juga hendak membubarkan Partai Golkar. Maka Mega didorong menjadi presiden dengan melengserkan Gus Dur.

 

Investasi salah satu faktor penguatan rupiah. Kunci investasi adalah iklim investasi yang sehat (tidak gaduh), infrastruktur yang cukup (jalan, perizinan) ….

 

Lihat Pantai Anyer, mengapa warga tidak ada yang berinvestasi atau menerima investasi? Semestinya warga memiliki tanah, dana investasi tidak mengubah kepemilikan tanah. Bahkan bila kita membayar manajer.

TIGA JENIS KEPEMILIKAN DALAM ISLAM

Dalam Islam ada tiga jenis kepemilikan.
Pertama, kepemilikan pribadi, contohnya hp, rumah, tanah, laptop, uang, dan sebagainya.
Ke dua, kepemilikan masyarakat atau umum, atau public properties, contohnya sungai, danau, waduk, hutan, laut, dan sebagainya.
Ke tiga, kepemilikan negara atau imam, contohnya tambang-tambang: minyak, emas, batu bara, semen, dan sebagainya.

Ada sejumlah masalah kepemilikan di sekitar kota, misalnya orang membangun rumah di pinggir sungai sehingga mencegah orang lain memanfaatkan sungai. Orang lain tidak bisa memancing, memompa, masuk ke sungai, menikmati keindahan sungai, bersuci dengan air sungai, dan sebagainya. Seharusnya orang tidak boleh membangun rumah di pinggir sungai.

Di sejumlah tempat bahkan orang membangun rumah di pinggir sungai. Di desa dan di kota terjadi pembangunan rumah seperti ini.

Sebuah danau atau waduk juga adalah barang milik bersama atau milik masyarakat atau milik publik. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh membangun rumah di pinggir waduk atau danau tersebut yang dapat mencegah orang lain mengambil manfaat dari danau atau waduk tersebut. Idealnya waduk atau danau dibangun untuk area terbuka publik. Dengan begitu, orang bisa mengambil manfaat dari waduk atau danau itu. Mungkin saja di area terbuka pinggir waduk orang bisa menangkap ikan, di sisi waduk lain, orang bisa melakukan aktivitas wisata air. Ada juga spot lain untuk sekedar duduk, wisata kuliner, kemping, main skuter listrik, joging, dan sebagainya.

Tidak boleh ada yang mengklaim bahwa sungai, danau, waduk, hutan, laut ini milik pribadi. Sungai, waduk, … itu milik masyarakat umum. Setiap orang harus boleh mengambil manfaat dari barang milik masyarakat ini.

PETERNAKAN ITIK DENGAN SISTEM BAGI HASIL

Penghitungan peternakan itik dengan sistem bagi hasil dapat diperhitungkan dengan cara berikut.

Modal harga itik siap telur diasumsikan Rp85.000, 00 per ekor. Bila membeli 10 ekor, modal adalah Rp850.000, 00.

Setiap hari itik bertelur diasumsikan 80% dari jumlah itik. Jadi dari 10 ekor, akan didapat maksimal 8 butir per hari. Sistem bagi hasil sebenarnya tidak mempedulikan kurang atau lebih dari 8 karena setiap harinya telur akan dibagi dua untuk pemodal dan peternak. Penghitungan 8 butir per hari digunakan untuk menghitung waktu balik modal (WBM, break event point, BEP).

Bila diasumsikan harga telur adalah Rp2.000, 00 per butir maka diperoleh maksimal (8×2000) Rp14.000, 00 per hari.

Dengan demikian, WBM akan didapat (850.000/14.000) 60, 71 atau sekitar 61 hari.

Penghitungan lain adalah peternak meminta satu hari dari seminggu diambil telur untuk beli pakan. Berarti pakan adalah (8×2000) Rp16.000 per minggu.

Bagi hasil biasanya dilakukan per minggu. Peternak bisa mentransfer sejumlah uang kepada pemodal setiap minggu. Bila diasumsikan 8 butir per hari, harga telur Rp2.000, 00 per butir, akan didapat setiap minggu (8*2000*7 hari) Rp112.000, 00 per minggu. Keuntungan Rp112.000, 00 ini dikurangi pakan Rp16.000, 00 didapat 96.000, 00.

Dengan begitu WBM akan didapat selama (850.000/96.000) 8, 85 minggu. Pemodal dan peternak bisa sepakat untuk flat 9 minggu peternak mentransfer penuh (full) sebelum bagi hasil. Hal ini juga karena ada flat satu hari dalam seminggu diambil untuk pakan. Peternak bisa mengambil untung dari selisih pakan, pemodal bisa mengambil untung dari pembulatan.

Jadi asumsi penghitungan untuk 9 minggu adalah sebagai berikut. Ada 7 hari dikali 9 minggu adalah 63 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 63 didapat Rp1.008.000, 00. Bila satu hari dalam seminggu telur digunakan untuk membeli pakan (flat) berarti keuntungan hanya 6 hari per minggu. Diperoleh 6 hari x 9 minggu adalah 54 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 54 didapat Rp864.000, 00. Jadi modal untuk pakan selama 9 minggu adalah 1.008.000, 00-864.000, 00 yaitu Rp144.000, 00.

Apabila itik sudah tidak produktif, maka itik dijual per ekor. Harganya akan jatuh dari Rp85.000, 00. Ini juga dibagi dua antara pemodal dan peternak.

Sebenarnya penghitungan di atas adalah penghitungan kasar untuk sistem bagi hasil karena bagi hasil harus dihitung dari telur yang dihasilkan per hari. Peternak harus menulis jumlah telur yang dihasilkan setiap hari dan menyetor kepada pemodal sebelum WBM. Setelah WBM, peternak dan pemodal berbagi hasil dan tetap peternak mencatat telur yang dihasilkan per hari. Peternak bisa mengirim SMS setiap jam 6 pagi atau jam 6 sore untuk melaporkan jumlah telur kepada pemodal. Setiap peternak menulis jumlah telur, ia harus mengirim SMS kepada pemodal. Modal SMS dihitung 200×7 hari yaitu Rp1.400.

Zaman sekarang penghitungan bagi hasil bisa dilakukan dengan mudah menggunakan program spreadsheet (misalnya Libre Office Calc di Linux Mint atau Linux Ubuntu). Dengan begitu, Penghitungan bisa eksak dan menekan kerugian pemodal serta peternak. Jadi, bila variabel berubah, orang bisa menghitung dengan cepat, misalnya variabel harga itik atau telur berubah.

Itik akan produktif selama 1, 5 sampai 2 tahun. Setelah itu itik tidak produktif dan dijual dengan harga jatuh dari Rp80.000–Rp85.000 menjadi Rp45.000–Rp50.000, 00. Ini juga bagi hasil saja karena modal sudah kembali dalam waktu 9 minggu.