Sucpdi Peminta-Minta

#sucpdi

Ada dua orang peminta-minta berjalan berkeliling. Pemandangan yang tidak asing dilihat mata di perkotaan. Kita tidak kenal siapa dia, dari mana. Mereka berdua sepertinya suami istri atau bersaudara. Yang lelaki matanya terpejam digandeng oleh yang perempuan. Mereka lewat di depanku di warung sate, persis saat saya mau makan. Saat ini sekitar pukul 17.

Aku memberi mereka recehan 2000 perak. Jelas tidak cukup untuk apapun. Untuk makan tidal cukup. Untuk ongkos tidak cukup. Hanya sekedar menyumbang receh. Tetapi begitulah peminta-minta di sini, cuma dapat recehan. Sama seperti pengamen dapat recehan. Namun konon baik pengamen maupun peminta-minta bisa mengumpulkan puluhan ribu tiap harinya. Mungkin melebihi penghasilan yang bekerja. Kuli bangunan sekurangnya dapat 100 ribu usai kerja dari pagi sampai sore. Seniman hajat dapat 100 ribu setelah kerja bermusik seharian. Warung bala-bala atau tahu isi jika dapat keuntungan bruto 50–100 ribu sehari saja sudah pantas bersyukur. Warung bakso yang semangkoknya 10 ribu pantas bersyukur bila ada 50 pelanggan setiap harinya. Keberkahan memenuhi keluarga saat roda ekonomi berputar.

Tulisan ini akan difokuskan pada recehan. Recehan yang kuberikan itu sebenarnya tidak pantas. Tidak cukup untuk apapun. Semestinya kita tanyakan apa yang dia butuhkan. Kalau dia butuh makan, kita beri dia makan. Kalau dia butuh ongkos, kita beri dia ongkos. Kalau dia perlu pekerjaan, mungkin kita bisa memberi dia pekerjaan, misalnya memelihara domba atau sapi. Pekerjaan apapun bisa diberikan asal upahnya pantas. Upah pekerjaan tidak sesedikit upah pengamis. Jika pengemis lapar, memberinya makan di warteg adalah suatu kemewahan atau suatu yang biasa? Apakah dikatakan sedikit memberi sedekah makan nasi warteg yang harga seporsinya 15 ribu? Apakah sedikit memberi upah gratis 15 ribu? Tidak.

Level prminta-minta adalah 1000–2000 rupiah per sekali transaksi. Sepuluh kali transaksi ia sudah bisa pulang. Kadang-kadang orang tidak mau sedekah di pagi hari dengan alasan barang dagangan belum laku dan si pedagang belum punya laba. Sedekah di sore hari pun acap kali tidak diberikan karena si peminta-minta dianggap sudah cukup banyak memperoleh uang. Sayangnya ada anak-anak peminta-minta yang tak tahu makna uang yang sebenarnya. Lebih parah lagi sejumlah anak dieksploitasi orang tua untuk kepentingan orang tua. Bahkan orang tua dan anak-anaknya meminta-minta dengan daerah operasi yang berbeda.

Level pedagang harian adalah yang pendapatannya 20, 50, 100 ribu per hari. Pedagang ini seperti pedagang tahu isi, pedagang bakso.

Level pedagang musiman dan pencitraan adalah pedagang besar, grosiran, kontraktor atau proyekan. Ketika panen, uang terkumpul banyak dari pembeli (bandar). Dia pun bisa memperoleh laba sampingan lainnya. Panen kambing, sapi, atau kerbau bisa terjadi di musim rayagung.

Kejujuran dalam bekerja merupakan salah satu kunci keberhasilan. Allah swt memberkahi seseorang yang pulang ke rumahnya dalam keadaan capek karena mencari nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kerjanya akan memberi nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kejujuran membawa berkah baginya. Seeeorang yang tidak jujur akan kehilangan hartanya di dunia ataupun akhirat. Seseorang bisa kehilangan harta berupa kehilangan mata di akhirat karena tidak jujur pada diri sendiri.

Macetnya ekonomi masyarakat disebabkan investor atau pekerja menipu rekan kerjanya. Seseorang yang kerja di toko menipu pemilik toko. Seseorang pekerja menipu temannya sendiri. Atasan menipu dan menindas bawahan. Atasan tidak kasih sayang terhadap bawahannya. Pegawai ternak menipu investor ternak.

Imam Hasan konon ditugasi oleh ayahnya untuk menjamu orang-orang yang membutuhkan sehingga rumahnya seperti restoran tempat orang lapar makan atau penginapan tempat musafir tinggal.

Seorang tamu Imam Hasan membawa makanan untuk dibawanya pulang. Imam Hasan bertanya, mengapa engkau bawa pulang? Engkau bisa datang lagi esok hari ke sini jika lapar.

Orang ini menjawab bahwa ia ingin memberi seorang tua yang tinggal di pinggir kota. Imam Hasan bertanya cir-cirinya dan orang ini membenarkan. Lalu Imam Hasan menangis dan berkata, “Ketahuilah bahwa orang yang engkau sebutkan tadi adalah ayahku, Ali bin Abi Thalib. Ia berada di pinggir kota dan bekerja keras di kebun untuk membiayai semua makanan yang ada di sini.

Apakah ini cukup pantas untuk cerita #sucpdi atau apakah kita tidak lupa bahagia?

Mahasiswa Belajar Riset dengan Dosen

Mahasiswa ditugasi untuk membuat riset mini. Fakta menunjukkan bahwa kemampuan mahasissa cenderung rendah atau mereka menganggap tugas itu sepele atau asal masuk. Ada sekitar 4 kelas yang rata-rata terdiri atas 40 mahasiswa. Jadi, 4×40 mahasiswa di tingkat satu. Hanya sedikit saja yang bagus, lengkap instrumen wawancaranya, observasinya, surveynya. Hasilnya pun masih sederhana, tak ada yang penggolongannya mengesankan. Penggolongannya tidak ada atau biasa saja.

Dari sisi kalimat, hanya kurang dari setengah atau seperempatnya yang kalimatnya bagus.

Dari sisi rujukan, hanya sedikit siswa yang pernah atau sering membaca jurnal online. Hanya sedikit pula yang membaca buku babon seperti ejaan, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, atau Abdul Chaer.

Karena rendahnya mutu riset mini mahasiswa itu, mungkin lebih baik kelas dikelompokkan pada tim riset berdasarkan payung penelitian dosen, misalnya riset pendidikan seksual bagi siswa SD, riset penggunaan gawai dalam pelajaran, riset pengembangan media, media AI2, pengembangan lagu dengan HumOn, LMMS, MuseScore, dan sebagainya. Cara pengelompokan ini ada kekurangan dan kelebihannya daripada cara individual.

Rendahnya mutu mahasiswa ini mesti digambarkan dengan hasil pindai atau screenshoot. Di sisi lain, tingginya kemampuam siswa itu juga mesti digambarkan dengan hasil pindai atau screenshoot.

Kekurangannya adalah potensi ada riset yang menginspirasi lebih kecil daripada cara individual. Mungkin pula ada mahasiswa yang tidak memberi kontribusi pada kelompok. Dengan begitu siswa luput dari kewajibannya mengasah pengetahuan dan keterampilan. Dosen harus meminta perwakilan mahasiswa untuk melaporkan mahasiswa yang tidak memberi kontribusi pada kelompok. Dosen mungkin tidak bisa selamanya mengawasi kinerja anggota kelompok.

Kelebihan cara kelompok adalah kemudahan dalam menilai. Bila satu kelas hanya ada lima atau enam kelompok, dosen hanya menilai lima atau enam tugas mini riset saja.

Program e-learning spada digunakan untuk mengumpulkan dan menilai tugas. Menilai 160 tugas individu mahasiswa itu benar-benar melelahkan. Mrmbaca dengan trliti setiap tugas yang masuk hampir mustahil. Mungkin membaca bagian-bagian pentingnya lebih meringankan. Dosen juga memeriksa kelengkapannya. Kadang-kadang ind├Čkator penilaiannya disampaikan kelada mahasiswa agar siswa memperhatikam kelengkapan tugasnya.

Jika mahasiswa dikelompokkan, setiap mahasiswa harus mempunyai tugas spesifik, mulai dari menyusun instrumen, menjaring data, validasi data, proofread (perbaikan ejaan), penerjemahan, publikasi (jurnal atau ikut konferensi).

Misalnya mahasiswa belajar membuat proyek lagu Vangelis, “Conquest of Paradise” untuk pertunjukan dengan software LMMS atau HumOn.

Mungkin juga ada satu tugas individu dengan tema riset yang dibebaskan karena bisa jadi tema riset mereka menginspirasi riset yang bagus. Jika semua mahasiswa melakukan mini riset atau membuat judul mini riset, mungkin ada satu atau dua tema yang inspiratif.

Tawadu, Akal, Ilmu, Hikmah

Copas, catatan. Sumber: ulama ahl bait.

Allah menjadikan tawadu sebagai alatnya akal.

Ilmu tidak akan masuk kepada orang yang takabur, arogan, angkuh.

Hikmah tidak berpengaruh kepada orang-orang yang hatinya busuk, korup, rusak, pembohong, pemalas.

Hikmah hanya berguna saat hati bersih. Jadi pengikut Nabi saw mesti membersihkan hatinya dulu. Hindari prasamgka buruk, syahwat, amarah.

Orang yang menerima hikmah, ia akan mendapatkan pelajaran. Setiap musibah ada hikmah, pelajaran. Musibah adalah peningkatan karena musibah adalah pelajaran.

Semakin sering orang memperhatikan hikmah, ia akan mematangkan akal. Lingkaran malaikat meliputi manusia yang bersabar. Tuhan meliputi orang yang bersabar.

Balada 10 Negara Termiskin di Dunia

Negara miskin diukur dari pendapatan per kapita negeri itu. Itu artinya pemasukan pemerintah dibagi jumlah penduduk (?). Bila pemerintah punya pemasukan dari industri pariwisata, penjualan minyak, pajak impor, industri motor listrik, pengolahan makanan, pertanian, peternakan, perikanan, … dan sebagainya, maka pemasukan itu menjadi kekayaan negara. Suatu negara juga makmur bila perputaran uang di negara itu besar dan banyak warga yang terlibat dalam perputaran uang itu. Hal ini bisa terjadi bila masyarakat senang piknik dan selfi di tempat pikniknya. Piknik tidak usah jauh. Bahkan wisata kuliner bakso sekalipun sudah bisa dianggap piknik. Jangan lupa selfi untuk promosi kuliner uang dikunjungi disertai tagar macam #wonderfulindonesia #Pesonasumedang dan sebagainya

Bila hanya orang kaya saja yang mampu membeli, maka kesejahteraan dianggap kurang merata. Jika internet juga hanya masih dinikmati sebagian warga, maka kemakmuran belum merata.

Para nabi dan dzil kurba selalu memerintahkan agar menolong orang yang lemah, menghormati mereka, dan mencukupi hak mereka.

Saya menonton video di youtube tentang sepuluh negara termiskin. Apakah itu berarti kurs dolar sangat tinggi dan nilai mata uangnya tidak berharga?

Ketika harga rupiah lemah, Indonesia melalui Presiden Jokowi menggenjot ekspor. AS yang memberlakukan sanksi terhadap barang ekspor dari Cina dan Indonesia ke AS serta merta mendapat balasan yang sama. Barang AS juga tak boleh masuk ke negeri Cina ini. Akhirnya Trump melunakkan kebijakannya. Lalu karena harga dolar tinggi, ekspor memberi keuntungan besar bagi eksportirnya. Bila seseorang mengekspor udang galah per kilo di Indonesia 100 ribu, maka bila diekspor harganya bisa berkali lipat. Orang tentu gembira meski rela puasa makan udang galah di Indonesia sekali dalam seminggu.

Oleh karena itu bandar valas tak mungkin selalu membiarkan nilai rupiah rendah. Itu akan menyebabkan banyak orang (eksportir) beruntung, lalu banyak belanja di dalam negeri, banyak sektor usaha terbuka.

Aneh juga bila dikaitkan dengan teori uang kartal berasal dari surat jaminan atas simpanan emas. Berarti harga rupiah tak mungkin dikontrol dolar. Rupiah bahkan bisa mengontrol dolar. Bayangkan, cadangan emas kita melimpah. Tak perlu lagi menggunakan jasa perusahaan freeport untuk menambang emas. Keuntungan pengolahan emas itu bisa sebanyak mungkin diperoleh anak negeri. Sekarang bahkan nilai kerja dibayar dengan uang digital seperti ovo, gojek, bitcoin. Pemerintah juga sudah memberlakukan bayar tol secata digital.

Salah satu tolok ukur GDP per kapita adalah stabilitas politik. Tak heran, agen asing selalu memprovokasi dan menebar berita hoaks. Tujuannya agar Indonesia dianggap tidak stabil. Lalu untuk meredam kegaduhan itu, dana masyarakat terpaksa digunakan. Dengan kata lain, dana yang mulanya digunakan untuk membangun sekolah, pabrik, pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, mengatur sembako malah digunakan untuk menghadang demo, mengerahkan polisi, menginvestigasi kriminal daring (cybercrime), dan sebagainya.

Kemiskinan juga dihitung dari banyaknya kematian dan kurangnya espektasi hidup. Sakit yang tak tertolong, wabah yang tak teratasi merupakan indikator negara miskin. Untuk hal seperti itu saja dana negara miskin mungkin tak berani digelontorkan. Sebagai catatan, mungkin saja ada oknum jahat yang melakukan perang biologi yaitu menebar virus, menebar racun, melegalkan alkohol, dan memasok narkoba, candu melalui rokok elektrik.

Negara Indonesia yang kaya seolah tak memerlukan negara lain. Singapura bahkan membutuhkan impor air dari luar negeri. Bahkan barang dagangan pun Singapura impor dari luar negeri. Indonesia tak perlu mengimpor minyak, logam, produk pertanian, peternakan, perikanan. Indonesia punya kekayaan sumber daya.

Bahkan jika youtube dan facebook diblokir atau enggan menyimpan server di Indonesia, mereka sendiri yang rugi. Kita bisa beralih ke Linux, Hongmeng, Baidu dan sejenisnya.

Menteri Sri Mulyani pada Kabinet Kerja Joko Widodo mengatakan bahwa inflasi menyerang semua mata uang, termasuk USD dan IDR. Namun, bila inflasi USD 75% sedangkan inflasi IDR 74%, itu berarti inflasi IDR jauh lebih rendah dan harga IDR menguat atas USD (?).

Alih-alih artikel, bikin juga puisi dengan judul balada 10 negara termiskin di dunia

Temukan Cintamu di Indonesia

Find Your Love in Indonesia

Tulisan ini atau video ini terinspirasi dari pemilik vlog bernama Nobita dengan akun youtube Find Your Love in Japan. Sebagian isi videonya adalah kritik tentang buruknya perilaku sebagian warga Jepang khususnya dalam berpasangan. Tulisan atau video ini bertujuan memberi arahan bagi warga dalam memilih pasangan dan menghadapi ujian dalam berpasangan. Mungkin juga bermanfaat bagi warga asing yang tertarik mencari cinta di Indonesia.

Salah satu sifat buruk warga Indonesia menurut penilaian subjektif adalah sebagai berikut. Banyak lelaki Indonesia, khususnya Jawa Barat (entah di tempat lain), lebih mementingkan fisik daripada mental. Lelaki seperti itu lebih mementingkan wajah cantik, bodi bagus, tinggi badan, berat badan, bentuk badan, bentuk tangan, bentuk kaki, bentuk rambut, dan daya tarik fisik lain. Mereka tidak mengeksplorasi mental. Bahkan mereka mengabaikan “cacat” mental seandainya gadis yang mereka pilih cantik secara fisik. Bagaimana cacat mental itu? Banyak bergaullah dengan lelaki dan perempuan maka seseorang akan tahu cacat mental. Cacat itu bahkan lebih dari penyskit karena penyakit relatif bisa disembuhkan. Sebenarnya cacat juga bisa disembuhkan bila Tuhan menghendaki.

Berikut ini contoh orang yang cacat mental. Sebagian orang yang cacat mental acap tidak menerima pasangannya jika kurang memberi cukup materi, kurang memberi perhatian, kurang memberi perlakuan khusus, lalu bersikap cemberut, merajuk, berpaling, berkata kotor, malas, berbuat seenaknya, tidak menghormati, dan seterusnya.

Sebenarnya memilih pasangan semata dari sisi fisik adalah kerugian. Begitu banyak perempuan cantik dari sisi fisik namun rusak secara mental. Bahkan selebritis, orang di sekitar kita, atau tokoh nasional pun ada yang seperti ini. Mungkin perempuan atau lelaki yang hanya bagus fisiknya saja hanya bisa dipajang untuk dilihat oleh mata. Mereka cuma pajangan di mata lahir namun bila mata batin melihat, mereka akan terlihat buruk bahkan menjijikkan. Pajangan seperti itu cukup dilihat dan harus dihindari dari komunikasi karena mungkin akan menimbulkan kerusakan. Mereka hanya bisa diarahkan dan diberi uang. Acap kali suami dianggap wajib memenuhi keinginan istri, termasuk keinginan pribadi mewah. Ada istri yang ingin dibelikan suaminya mobil mewah, ponsel mewah, berganti ponsel sesuai tren, atau kerap memberi belanjaan barang mewah: tas, dompet, pakaian, asesoris, …. Mungkin menurutnya itu imbalan bagi istri yang sudah mau dijadikan istri.

Perempuan yang dinilai hanya dari sisi fisiknya mungkin akhirnya menunjukkan sisi buruk mentalnya. Contoh sisi buruk mental adalah sifat materialis (matre), hanya mau foya-foya, minta duit, minta mobil, ponsel, pakaian, asesoris, dan sebagainya. Perempuan itu menutup mata atas kewajiban yang harus dilakukannya, katakanlah memasak, membersihkan rumah, merawat rumah, mengurus rumah, mengurus anak, atau berbagi pekerjaan dengan suami. Sebenarnya sifat seperti ini tidak didominasi perempuan. Lelaki juga ada yang mempunyai sifat seperti ini.

Lalu perempuan yang mempunyai sifat (mental) yang buruk juga susah diajak berkomunikasi. Bila keinginannya tidak terpenuhi dia akan “mabuk” dunia, susah diatur, susah diajak bicara, susah mengerti, meremehkan yang sulit, dan menyulitkan yang remeh. Problem remeh akan merembet pada serangkaian problem lain. Pandangannya jauh dari agama, pengorbanan, kesederhanaan, kerja keras, ingin belajar, atau toleransi.

Inikah yang didambakan laki-laki? Tidak.

Seseorang harus berkenalan dulu ketika baru mengenal perempuan yang membuatnya tertarik. Ia harus mengeksplorasi mental lawan jenisnya. Sabda Nabi saw, keimanan jauh lebih berharga daripada fisik, harta, dan nenek moyang. Mungkin dalam bahasa kuno disebut babat, bibit, bubut, bebet, bobot, eh …. Keimanan (mental, karakter) adalah paket lengkap yang dikehendaki Allah swt dari seseorang. Lengkap itu adalah kafah. Masuklah ke dalam Islam secara kafah.

Ada pula seorang perempuan (atau lelaki) yang konon baru terlihat sifat buruknya ketika sudah menikah, misalnya judes, egois, tak bisa bekerja, tak bisa masak, malas, tak bisa berkomunikasi, punya sifat menyebalkan, punya sifat menjijikkan.

Di satu area di Jawa Barat, seseorang cenderung memilih pangkat yang sederajat (sekufu) daripada memilih wajah. Bila tidak sekufu, ia seolah membeli atau dibeli orang lain (dengan menerima mahar atau memberi mahar). Bila seorang lelaki mempunyai uang, dia dapat “membeli” perempuan cantik, pekerja keras sesukanya. Ia dapat melamarnya atau akan berani melamarnya. Ia dapat “membeli” perempuan cantik. Namun bila cantik tidak dipaketkan dengan kesalehan, pekerja keras, mengabdi, kepandaian, keinginan belajar, keinginan mendengarkan, menerima pendapat, keinginan mengalah, … ia akan mendapati perempuan hanya mau berada di tempat tidur dan ia juga mungkin mendapati jalan berlubang, jurang atau mendaki. Mungkin ia tak bisa mengurus anak, tak bisa mendidik anak, keliru mendidik anak, tidak bisa merawat diri. Kerja di rumah juga tak bisa. Kerja di kantor juga bukan pekerjaannya. Diajak bicara toleran malah ngawur dan tidak mendengarkan.

Ada seorang lelaki yang dengan status ASN-nya seolah “membeli” perempuan sebagai istrinya. Namun kelakuan lelaki ini tidak hanya bekerja di kantor dan menafkahi anaknya. Dia melakukan perilaku buruk seperti berkata kasar kepada istri, main tangan (pukul), berkata seenaknya, dan egois. Sifat seperti ini turun pada anaknya yang lelaki dan perempuan, lalu tumbuh menjadi penyakit di masyarakat. Sampai saatnya dibasmi oleh kelompok agama (berakal) dengan cara yang ditentukan Tuhan (lembut atau dengan hukuman).

Di sisi lain, perempuan sarjana atau perempuan kaya acap bisa “membeli” lelaki tampan dan pekerja keras. Ini juga konon terjadi di Jepang. Seorang istri yang gajinya lebih besar bisa meremehkan suaminya di Jepang. Ada juga perempuan yang menikah dengan perjsnjian semacam gigolo di rumahnya. Lelaki itu dipelihara sebagai pemuas pasangannya dan dibatasi hak-haknya dengan sedikit pemberian yang cukup mrnyenangkannya. Lebih berbahaya lagi apabila anjing peliharaan ini diprlihara untuk meruntuhkan fondasi ketuhanan, agama, bangsa, atau hak orang lain.

Seorang lelaki remaja bisa hanya mencari perempuan yang cantik. Titik. Dia mengabaikan sifat buruk perempuan. Dia bertekad menerima perempuan sepenuhnya, apa adanya. Dia mengabaikan sifat buruk perempuan selama dia suka perempuan itu. Mungkinkah lelaki bisa bertahan menerima perempuan yang buruk sifatnya? Saya katakan pada Anda, mungkin Anda tak akan kuat menerima perempuan yang begitu buruk. Mungkin Anda bisa bertahan beberapa tahun. Namun Anda bisa tidak kuat. Lalu Anda bisa mengorbankan masa depan, waktu, anak kecil, kekerabatan, silaturahmi, juga materi. Perceraian bisa mengundang masalah, termasuk masalah materi, rebutan harta gono-gini. Sekalipun begitu, mungkin saja ada lelaki yang menganggap keburukan istri, anak, keluarga sebagai ujian yang harus dilaluinya. Tuhan memberinya ujian dengan berbagai cara. Tuhan memberi manusia ujian-ujian sesuai dengan jalan yang ditempuh manusia itu sendiri. Tuhan memberi ujian kepada setiap orang. Namun, apakah semua orang bisa memilih ujiannya dan melepaskan ujian yang tidak disukainya? Mungkinkah seseorang mempertahankan istri yang buruk dan tidak menceraikannya?

Ada sebuah cerita, seseorang (mungkin ulama atau sufi) menikah dengan perempuan yang begitu buruk. Begitu sering tindakan suami disalahkan. Selalu ada kesempatan bagi perempuan untuk mengomel. Namun lelaki ini menganggap semua itu sebagai takdir, ujian yang harus dihadapinya. Ia berharap keridaan Tuhan dari ular berbisa yang ada di rumahnya. Ini memang contoh manusia yang mampu menerima kadarnya.

Bila ada istilah ular berbisa di rumah, ada pula istilah lain yang bisa digunakan misalnya kalajengking, musuh, bahkan setan. Quran memperingatkan bahwa sebagian pasanganmu atau anakmu bisa menjadi musuhmu atau ujian bagimu. Pasangan bisa menjadi musuh dalam perdamaian atau perang. Musuh di dunia ataupun di akhirat.

Acap kali perempuan menipu lelaki dan sebaliknya lelaki menipu perempuan. Dalam drama Juragan Hajat karya Kang Ibing, tokoh Uje menipu Uneh dan mengaku sarjana, mengaku berteman dengan Acil Bimbo. Penipuan ini dilakukan untuk memikat pasangannya. Penipuan seperti ini semestinya tidak dibenarkan dalam agama. Perempuan pun bisa menipu dengan menampilkan sifat sederhana, menerima, ramah, salehah. Di balik itu, tersimpan sifat boros, foya-foya, tukang membantah, pemarah, dan judes.

Indonesia terdiri atas berbagai suku. Ada suku yang maju karena belajar, belajar agama, belajar di sekolah, belajar kepada ulama. Ada suku yang tradisional dan hanya mengenal tradisi. Ada suku yang berada di kota sehingga terancam budaya materialis. Ada pula suku yang memelihara sifat baik terutama yang sesuai dengan agama dan akal. Sifat ini diturunksn dari keluarganya. Anak belajar dari orang tuanya. Anak menguatkan karakter di sekolah. Anak mengkonfirmasi (mrmbenarkan) karakter di sekolah. Anak memperbaiki karakter di sekolah. Jangan sampai belajar di sekolah justru menjauhkan anak dari pengetahuan penting tentang kewajiban seseorang dalam keluarga. Kewajiban itu adalah kewajiban sebagai anak, istri, atau suami. Di samping itu ada pula hak anak, misalnya hak anak untuk mendapatkan rezeki dan kasih sayang.

Dalam cerita Mahabarata, ada raja menikah dengan putri raja. Tentu putri raja adalah bangsawan yang telah belajar tentang kewajibannya dalam hidup, juga kewajiban kepada pasangan hidupnya. Dalam pernikahan para raja, ada pernikahan politik, yaitu untuk mencegah perang di antara dua kerajaan. Ini pula yang dilakukan Raja Akbar dengan putri Jodha dalam film India Jodha–Akbar. Dalam cerita raja tidak ada peristiwa putri raja memarahi suaminya. Tuntunan agama jelas mengarahkan putri raja untuk bersikap baik kepada suaminya. Suami berperang juga adalah kewajibannya. Namun istri Raja Rahwana mengingatkan suaminya agar tidak berperang dengan Sri Rama untuk mempertahankan penculikan Dewi Sinta. Istri raja juga tak mau suaminya mati konyol gara-gara perang dalam kelaliman seperti itu.

Kini pada era media sosial dan internet ini, seorang anak acap terpaku dengan permainan di telepon pintar (game) dan angan-angan panjang. Sebagian muda-mudi tak paham apa yang harus dipelajari. Mereka juga tidak belajar tentang mencari pasangan. Akibatnya, anak acap menyalahkan orang tua yang dianggap tidak membimbing anaknya. Lagu Queen, “Spread Your Wings” menggambarkan hal itu. “Since he was small, had no luck at all, nothing came easy to him.” Dunia ini ternyata keras. Jika anak-anak tidak belajar dan berlatih menghadapinya, ia akan gagap menghadapinya. Anak-anak bisa saja menonton gosip di televisi. Lalu mereka berpikir bahwa kebahagiaan hanya bisa didapat dari menikahi perempuan yang cantik fisiknya saja. Anak-anak harus belajar mencari pasangan. Anak-anak harus punya pengalaman. Anak-anak pun harus tahu kewajibannya belajar, bekerja. Anak-anak tidak boleh hanya main game dan mengabaikan kewajibannya (taklifnya). Anak-anak harus memanfaatkan internet untuk belajar, termasuk belajar mencari pasangan yang terbaik. Mungkin pula orang luar negeri tertarik dengan orang Indonesia. Penyanyi Anggun Cipta Sasmi terkenal bukan hanya suara dan lagunya, namun juga karakternya. Karakter Indonesia begitu anggun di Perancis. Ketika selebritis mengumbar syahwat, seseorang datang dengan keterbatasan dan kesederhanaan. Ketika status artis menuntut seseorang untuk bersikap glamour, dia datang dengan menahan diri dari godaan materi. Mungkin suatu saat seseorang bisa terpikat pada Islam. Ada pula Dobson Family Kitchen, dan sebagainya. Karakter Indonesia di mata dunia harus kuat dengan pandangan dunia (filosofi) yang benar.

Bila di Jepang terjadi istri gajinya lebih besar daripada suami, maka istri dianggap lebih tinggi derajatnya daripada suami. Di Jepang juga sebagisn istri tidak tidur sekamar dengan suami. Di Indonesia, istri tidur satu kamar dengan suami. Mudah-mudahan di Jawa suami yang gajinya lebih rendah daripada istri selalu dihormati istri. Ini seperti si Kabayan uang meski pengangguran, kerjanya tidur, makan, bermain, dan malas-malasan, si Kabayan tetap menolak untuk menjadi borokokok. Sebsgian warga Jepang menyadari kesalahan filosofi masyarakatnya. Oleh karena itu Jepang membuka diri dari pekerja asing dan perkawinan campuran. Hal ini diharapkan akan mengoreksi kesalahan filosofi masyarakatnya.

Perilaku materialis akan meruntuhkan sendi keluarga sebagaimana cinta air di daun talas. Cinta seperti ini tidak akan ada bekasnya dan akan terlupakan oleh zaman, tergilas oleh zaman.

Ada juga perempuan yang mementingkan fisik seperti cowok ganteng atau berduit. Perempuan memilih lelaki berpendidikan tinggi atau yang sudah mapan bekerja karena harapan untuk sukses lebih tinggi. Perempuan akan menerima calon suami ASN atau usahanya besar. Jika pernikahan hanya didasarlan pada materi seperti ini maka pernikahan itu seperti kontrak kerja atau kontrak kesuksesan. Ini seperti kawin kontrak, temporary mariage, atau mutah dalam legenda Islam. Bila suami acap kali membawa sedikit uang, perempuan akan kecewa karena tak bisa menabung untuk membeli tambahan perhiasan. Bila suami tak punya tambahan penghasilan selama bertahun-tahun, istri bisa menuntut suami untuk mencari prngalaman kerja baru dan membawa pulang banyak uang. Pernikahan semestinya didasarkan pada nilai luhur seperti rida Allah swt, melewati batas kontrak materi.

Namun, si Kabayan tetap tidak bergeming dari sikap borokokok-nya.

Find your love in Infonesia.