Home » Prosa

Category Archives: Prosa

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Katakanlah namanya Nisa atau Anis. Dia pernah mengganti nama. Nama pertamanya Anis. Dia tinggal di daerah ini. Daerah yang indah permai namun bukan tak ada kekurangannya. Ketika masih seumuran SD, ibunya pernah menamparnya. Sebenarnya bisa dibilang bukan menampar melainkan mendorong. Akibatnya ia sedikit terhuyung menahan jatuh dari keseimbangan. Untung saja ia punya suami yang juga gagah seperti Bejita (ini tokoh di anime atau manga Dragon Ball). Katakanlah namanya Jaka Pitrah. Jika istri tidak nurut, menantang, atau melawan, Bejita ini bisa saja menamparnya, meneriakinya, atau memperlakukannya dengan sangat keras.

Berteriak-tetiak juga di dalam keluarga merupakan peristiwa aneh. Sebenarnya berteriak umtuk menuntut sesuatu bukanlah tradisi budaya rakyat sini. Rakyat sini cenderung memahami isyarat. Orang berakal juga pandai memahami isyarat. Jadi keinginan tidak perlu diteriakkan. Apakah di parlemen juga seseorang harus mengemukakan gagasannya dengan berteriak? Tidak juga, lobi disertai kopi dan apel malang atau apel washington mumgkin lebih berhasil daripada teriakan. Eh, apakah apel malang itu kode untuk suapan uang rupiah? Apakah apel washington itu uang dolar? Itu terjadi di era Presiden SBY pada peesidangan Angelina Sendal dan Anas Urbaningrum.

Masalah keluarga bisa terjadi dari hal tak sengaja hingga yang disengaja. Seseorang suami, istrii atau anak bisa memecahkan piring, membiarkan sampah berserakan, membiarkan cucian piring dan baju tidak dicuci, tidak masak, masakan terlalu asin atau pedas, membiarkan debu di lantai dan perabotan, menentukan bentuk bangunan rumah, kekurangan materi, menentukan prioritas belanja, … dan sebagainya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi politik yang berbeda dengan istrinya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi agama atau mazhab yang berbeda dengan istrinya. Mungkin saja harus ada yang dikorbankan seperti ego pribadi. Namun, keputusan harus menjadi maslahat bagi semua pihak bahkan maslahat bagi anggota masyarat.

Mungkin khas setiap istri menguji suaminya dengan kesabaran. Suami dituntut sabar atau dites perihal yang bisa membuatnya marah. Istri juga harus siap respon suaminya sekasar apa: lembut, lembek, melempem, membentak, atau menampar.

Untungnya ada juga suku terbesar pada bangsa ini yang ibu dan ayahnya mendidik anaknya dengan kelembutan. Ketegasan beda dengan keras kepala. Ketegasan pada kebenaran, kebaikan, manfaat. Yang benar belum tentu baik. Yang baik belum tentu bermanfaat. Agama ini adalah benar, namun tidak selamanya seseorang harus berdakwah di sembarang waktu dan tempat. Tidak selamanya seseorang harus berdakwah kepada orang tua atau pejabat. Tidak selamanya yang benar itu bermanfaat. Orang lain mungkin bisa menolak dakwah seperti itu.

Bahkan orang di luar barat juga mengenal kelembutan perempuan wanita timur seperti ini. Ada isu, senakal-nakalnya manusia sini akan lebih baik daripada orang Arab. Mungkin kenakalan orang Arab hanya bisa disaingi dengan jin.

Lalu yang lebih luhur adalah ajaran agama yang disampaikan para nabi. Perempuan yang dididik seperti ini akan menjadi berkah tersendiri bagi suaminya. Suami tidak direpotkan dengan kebodohan, perlawanan, tuntutan materi, tuntutan kemewahan yang jika tidak dituruti, mereka cemberut, bahkan ada yang menuntut cerai. Sebagian dari perempuan itu menghinakan suaminya dengan kata kata, “miskin, jelek, menyesal memilih kau, suami tak mampu, pemalas, … dan sebagainya.”

Begitu banyak suami yang saat kaya menceraikan istrinya. Begitu banyak istri yang ketika jadi kaya atau dapat rezeki nomplok, jadi selebritis, malah menceraikan suaminya. Salah satu atau kedua pihak tentu adalah sosok matetialis yang menyedihkan.

Mulanya kedua pasang insan ini miskin ketika menikah. Mungkin saja ayah atau mertua mereka kaya. Namun tidak selamanya ayah atau mertua dengan mudah memberi atau mewariskan perusahaan atau pekerjaannya pada anak atau memamtunya. Mungkin hanya antek rezim Orba yang bisa begini. Mereka bisa berbagi tanah, lahan, perusahaan, hutan, gunung, tambang bagi anak, cucu, dan famili mereka. Bahkan sebagian penguasa sekarang di negeri ini juga masih berpikir seperti itu. Jadi pejabat seperti malah ingin dilayani, fasilitas negara digunakan untuk memperkaya diri dan kroni, lalu mereka membayar buzzerp untuk memutarbalikkan fakta.

Buzerp itu karena diberi sedikit uang, mau melakukan tindakan yang merusak bangsa dan negara. Mirip seperti Umar bin Saad dan pasukannya saat mengepung Imam Husain. Kepala Imam Husain ditancapkan di atas tombak, diarak dari kota ke kota. Itu seperti perilaku Muawiyah bin Abu Sufyan saat hampir kalah perang dengan Imam Ali. Mereka menancapkan Quran mati di atas tombak dan menuntut tahkim (hukum) berdasarkan Quran. Mereka tega membunuh Imam Husain, membawa kepalanya kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah sebagai barang bukti pekerjaan mereka. Lalu mereka mendapatkan sedikit upah darinya.

Harisbaya

Harisbaya

Pernikahan Harisbaya dengan Sumedang adalah suatu plot. Namun ada provokasi agar logika seolah ratu harisbaya tertarik, raja sumedang menculik seperti krisna, atau ratu kabur? Dan plot kemarahan Cirebon ysng berujung pemberian wilayah kepada Cirebon

Kita harus sadar bahwa seorang putri sangat buruk apabila tertarik pada ada orang lain yang bukan haknya kita juga sadar bahwa Raja tidak mungkin menculik sesuatu yang bukan haknya atau kita juga sadar bahwa seorang putri tidak mungkin kabut tanpa alasan yang jelas

Template Bab Modul

Berikut ini template bab modul. Template ini bisa dimodifikasi. Sumber: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/dr-dwi-rahdiyanta-mpd/20-teknik-penyusunan-modul.pdf

Modul Ringkas

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah membaca bab ini diharapkan pembelajar dapat memahami lingkup linguistik dan manfaatnya dalam praktik belajar bahasa misalnya belajar bahasa daerah, belajar bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, bahasa Persia, bahasa Jepang, bahasa Thai, atau bahasa lainnya. Belajar bahasa itu tidak instan atau serta-merta bisa. Belajar bahasa memerlukan upaya yang terus-menerus.
Modul linguistik ini membahas tentang bunyi dan bunyi bahasa, pembentukan kata (morfologi), pembentukan kalimat (sintaksis), makna dalam bahasa Indonesia (semantik), serta beberapa contoh linguistik terapan seperti sosiolinguistik, psikolinguistik. Modul berikutnya akan terkait dengan konsep belajar membaca dan menulis permulaan.

B. Uraian Materi
C. Rangkuman
D. Tugas/Evaluasi

  1. Uraian Tugas/Evaluasi
  2. Kunci Jawaban

Modul Kompleks

Untuk modul kompleks, bisa digunakan bentuk berikut.

Halaman Sampul
Halaman Francis
Kata Pengantar
Daftar Isi
Peta Kedudukan Modul
Glosarium

I. PENDAHULUAN

A. Standar Kompetensi
B. Deskripsi

C. Waktu
D. Prasarat
E. Petunjuk Penggunaan Modul
F. Tujuan Akhir

G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi

II. PEMBELAJARAN
A. Kegiatan Belajar 1
1. Tujuan
2. Uraian Materi
3. Rangkuman
4. Tugas

B. Kegiatan Belajar 2

C. Kegiatan Belajar N

D. Daftar Pustaka

III. EVALUASI

A. Tes
B. Kunci Jawaban

PENUTUP

Penjelasannya adalah sebagai berikut.

Halaman Sampul
Berisi antara lain: label kode modul, label milik negara, bidang/program studi keahlian dan kompetensi keahlian, judul modul, gambar ilustrasi (mewakili kegiatan yang dilaksanakan pada pembahasan modul), tulisan lembaga seperti Departemen Pendidikan Nasional, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan SMK, tahun modul disusun.

Kata Pengantar
Memuat informasi tentang peran modul dalam proses pembelajaran.

Daftar Isi
Memuat kerangka (outline) modul dan dilengkapi dengan nomor halaman.

Peta Kedudukan Modul
Diagram yang menunjukkan kedudukan modul dalam keseluruhan program pembelajaran (sesuai dengan diagram pencapaian kompetensi yang termuat dalam kurikulum standar).

Glosarium
Memuat penjelasan tentang arti dari setiap istilah, kata-kata sulit dan asing yang digunakan dan disusun menurut urutan abjad (alphabetis).

I.PENDAHULUAN
A.Standar Kompetensi
Standar kompetensi yang akan dipelajari pada modul

B.Deskripsi
Penjelasan singkat tentang nama dan ruang lingkup isi modul, kaitan modul dengan modul lainnya, hasil belajar yang akan dicapai setelah menyelesaikan modul, serta manfaat kompetensi tersebutdalam proses pembelajaran dan kehidupan secara umum.

C.Waktu
Jumlah waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kompetensi yang menjadi target belajar.

D.Prasyarat
Kemampuan awal yang dipersyaratkan untuk mempelajari modul tersebut, baik berdasarkan bukti penguasaan modul lain maupun dengan menyebut kemampuan spesifik yang diperlukan.

E.Petunjuk Penggunaan Modul
Memuat panduan tatacara menggunakan modul, yaitu
1.Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mempelajari modul secara benar,
2.Perlengkapan, seperti sarana/prasarana/ fasilitas yang harus dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan belajar

3. Petunjuk Bagi Siswa

F.Tujuan Akhir
Pernyataan tujuan akhir (performance objective) yang hendak dicapai peserta didik setelah menyelesaikan suatu modul. Rumusan tujuan akhir tersebut harus memuat
1.Kinerja (perilaku) yang diharapkan
2.Kriteria keberhasilan
3.Kondisi atau variable yang diberikan

G. Cek Penguasaan Standar Kompetensi
Berisi tentang daftar pertanyaan yang akan mengukur penguasaan awal kompetensi peserta didik, terhadap kompetensi yang akan dipelajari pada modul ini. Apabila peserta didik telah menguasai standar kompetensi/ kompetensi dasar yang akan dicapai, maka peserta didik dapat mengajukan uji kompetensi kepada penilai.

II.PEMBELAJARAN
A. Kegiatan Belajar 1
Kompetensi dasar yang hendak dipelajari.

1.Tujuan
Memuat kemampuan yang harus dikuasai untuk satu kesatuan kegiatan belajar. Rumusan tujuan kegiatan belajar relatif tidak terikat dan tidak terlalu rinci.
2.Uraian Materi
Berisi uraian pengetahuan/ konsep/ prinsip tentang kompetensi yang sedang dipelajari.
3.Rangkuman
Berisi ringkasan pengetahuan / konsep / prinsip yang terdapat pada uraian materi.
4.Tugas
Berisi instruksi tugas yang bertujuan untuk penguatan pemahaman terhadap konsep/ pengetahuan/prinsip-prinsip penting yang dipelajari. Bentuk-bentuk tugas dapat berupa:
a.kegiatan observasi untuk mengenal fakta,
b.studi kasus,
c.kajian materi,
d.latihan-latihan.

Setiap tugas yang diberikan perlu dilengkapi dengan lembar tugas, instumen observasi, atau bentuk-bentuk instrumen yang lain sesuai dengan bentuk tugasnya. Tugas bisa merupakan bagian dari penilaian autentik.

B. Kegiatan Belajaran 2 s.d n
(Bentuk sama dengan kegiatan belajar 1 namun berbeda topik dan fokus bahasan.)

C. Daftar Pustaka
Semua referensi/pustaka yang digunakansebagai acuan pada saat penyusunan modul.

III.EVALUASI
Teknik atau metoda evaluasi harus disesuaikan dengan ranah (domain) yang dinilai, serta indikator keberhasilan yang diacu.

Tes tertulis merupakan alat pengecekan bagi peserta didik dan guru untuk mengetahui sejauh mana penguasaan hasil belajar yang telah dicapai, sebagai dasar untuk melaksanakan kegiatan berikutnya.

Tes bisa dilengkapi lembar kerja praktik. Lembar kerja praktik ini berisi petunjuk atau prosedur kerja suatu kegiatan praktik yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka penguasaan kemampuan psikomotorik. Selain itu isi lembar kerja antara lain alat dan bahan yang digunakan, petunjuk tentang keamanan/keselamatan kerja yang harus diperhatikan, langkah kerja, dan gambar kerja (jika diperlukan) sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Lembar kerja perlu dilengkapai dengan lembar pengamatan yang dirancang sesuai dengan kegiatan praktik yang dilakukan.


A.Tes Kognitif
Instrumen penilaian kognitifdirancang untuk mengukur dan menetapkan tingkat pencapaian kemampuan kognitif (sesuai standar kompetensi dasar). Soal dikembangkan sesuai dengan karakteristik aspek yang akan dinilai dan dapat menggunakan jenis-jenis tes tertulis yang dinilai cocok.

B.Tes Psikomotor
Instrumen penilaian psikomotor dirancang untuk mengukur dan menetapkan tingkat pencapaian kemampuan psikomotorik dan perubahan perilaku (sesuai standar kompetensi/kompetensi dasar). Soal dikembangkan sesuai dengan karakteristik aspek yang akan dinilai.

C.Penilaian Sikap
Instrumen penilaian sikapdirancang untuk mengukur sikap kerja (sesuai kompetensi/ standar kompetensidasar).

KUNCI JAWABAN
Berisi jawaban pertanyaan dari tes yang diberikan pada setiap kegiatan pembelajaran dan evaluasi pencapaian kompetensi, dilengkapi dengan kritria penilaian pada setiap item tes.

D. PENUTUP
Penulisan modul belajar merupakan proses penyusunan materi pembelajaran yang dikemas secara sistematis sehingga siap dipelajari oleh peserta diklat untuk mencapai kompetensi atau sub kompetensi. Penyusunan modul belajar harus mengacu pada kompetensi yang terdapat di dalam garis-garis besar program pendidikan dan pelatihan (GBPP) Kurikulum SMK, atau unit kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja yang telah dikembangkan dalam format GBPP. Untuk menghasilkan modul pembelajaran yang mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang efektif, modul perlu dirancang dan dikembangkan dengan mengikuti kaidah dan elemen yang mensyaratkannya.

Drama Musikal Sekarwangi dan Realitas Politik Khilafah

Menonton pertunjukan drama Sekarwangi adalah menonton opera atau drama musikal. Penonton melihat bahwa para aktornya acap kali menyanyikan lagu-lagu terkait dengan dialog atau peran yang dia mainkan. Lagu-lagunya menarik dan tidak ada permasalahan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan itu. Namun seorang teman dosen yang sangat peka terhadap nada dan suara menyatakan bahwa suara fals atau sumbang bisa membuatnya sakit perut. Baginya pertunjukan yang baik adalah pertunjukan musik yang penyanyinya tidak membuatnya sakit perut. Pertunjukan angklung grup Lokahyang UPI Sumedang di awal pertunjukan patut diacungi jempol. Pembukaan yang cerdas. (more…)

Masalah Pengajaran Novel (Sastra) di Sekolah

Saya mempunyai seorang guru bernama Profesor JS Badudu almarhum. Beliau adalah salah seorang pakar bahasa Indonesia yang sangat terkemuka di Indonesia. Melalui beliau saya memperoleh informasi tentang kesusastraan. Suatu hari Beliau berkata bahwa beliau membaca novel Belenggu (1940). Beliau mengatakan bahwa novel itu luar biasa indah, kosakatanya gilang-gemilang. Saya terkejut mendengar pernyataan beliau. Saya pernah membaca novel Belenggu, namun kesan saya biasa-biasa saja, tidak istimewa. Informasi dari Prof. JS Badudu sangat berharga bagi saya. Saya pun membaca literatur tentang novel Belenggu. Ternyata novel ini juga merupakan terobosan pada masanya, tema yang diusung baru dan menjadi tren pada masanya. Tema Belenggu terkait dengan profesionalisme (dokter), kemerdekaan pekerjaan, dan kehidupan masyarakat modern di negara merdeka. Tema itu menjadi tema yang baru pada masa itu sehingga sejumlah film pada masa itu pun terpengaruh untuk menayangkan tema-tema yang sama.

Pada saat membaca novel Belenggu, saya tidak melihat keindahannya. Tema kemerdekaan semacam itu pun sudah lama lewat. Mungkin karena saya tidak pernah diajari sebelumnya tentang keindahan novel Belenggu. Sampai saat Profesor Badudu mengatakan bahwa novel Belenggu adalah sebuah novel yang luar biasa indah, kata-katanya gilang-gemilang.

Novel Habiburrahman El Shirazy berjudul Ayat-Ayat Cinta (2004) merupakan novel yang menjadi tren dan temanya diikuti dan ditiru oleh novelis pengikutnya. Novel ini pun dinilai orang sebagai novel yang indah. Novel ini menjadi puncak penjualan (best seller) pada masanya. Oleh karena itu, tidak terlalu salah bila sebagian kritikus mengatakan bahwa novel Ayat-Ayat Cinta merupakan salah satu puncak kesusastraan Indonesia pada masanya.

Pada kesempatan lain saya juga pernah mendengar guru saya, Profesor Yus Rusyana, berkomentar tentang novel Saman karya Ayu Utami(1998) Beliau mengatakan bahwa novel itu bukanlah novel yang bagus karena itu kita tidak perlu terpengaruh oleh propaganda orang lain yang mengatakan bahwa novel itu bagus meski novel itu merupakan novel pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Tema novel ini cukup vulgar untuk kalangan umum di Indonesia. Namun inti tema novel ini adalah perjuangan untuk memperoleh hak-hak dengan bantuan LSM yang dibumbui perilaku seksual menyimpang (disorientasi seksual) seorang perempuan seperti mencintai pastor, perilaku seks bebas, pacaran berat, dan semacamnya.

Pengajaran novel mesti disampaikan di sekolah-sekolah. Guru-guru mesti menyampaikan novel-novel yang pernah mereka baca untuk merangsang minat siswanya membaca karya yang sama. Siswa-siswa bisa belajar menyukai novel berdasarkan apresiasi guru-guru mereka. Siswa-siswa bisa belajar menyukai novel yang disukai guru mereka Karena guru menyukai suatu novel, siswa-siswa juga bisa menyukai novel itu. Sebaliknya bila guru-guru tidak menyukai novel itu, siswa juga bisa meniru ketidaksukaan guru. Guru bisa saja tidak suka suatu novel dengan berbagai alasan misalnya karena temanya buruk, isinya menyampaikan suatu keburukan, isinya merupakan propaganda kemaksiatan, atau karena guru memang tidak suka membaca (novel).

Kasus yang terjadi pada masa sekarang adalah pengajaran novel sangat kurang. Bahkan di tingkat sekolah dasar tidak ada novel yang diajarkan. Taufik Ismail berkampanye tentamg masalah ini sejak sekitar 1998. Menurutnya siswa-siswa di Indonesia sepanjang pelajarannya di SD, SMP, dan SMA sama sekali tidak pernah membaca satu novel pun. Tak ada satu pun yang mereka baca selama di sekolah atau nol novel yang dibaca siswa di sekolah. Hal ini sangat berbeda dengan situasi di luar negeri.

Menurut saya pengajaran novel atau cerpen sangat penting untuk meningkatkan keterampilan berbahasa siswa. Siswa bisa berbahasa yang baik dan benar karena mendengarkan tuturan-tuturan yang baik atau membaca (menonton) tuturan-tuturan yang baik. Kemampuan berbahasa yang baik dan benar sangat penting disaksikan siswa-siswa kita. Kemampuan itu diperoleh dengan mendengarkan dan membaca tuturan yang formal, standar, atau baku.