Prosa PREMAN

Baru satu hari Wiwi menganggur setelah melakukan tindakan indisipliner dari korps miternya. Sebagian orang tahu bahwa kadang-kadang militer juga ingin punya uang tambahan untuk keperluan insidental, investasi, keperluan keluarga, dan sebagainya.

Sebagian orang juga tahu bahwa kadang-kadang polisi dan prajurit juga ngobjek di perusahaan swasta. Kadang-kadang menjadi beking di perusahaan besar itu menguntungkan. Tips dan honornya besar. Cukup besar untuk berikhtiar naik pangkat dengan sedikit ikut operasi polisi atau militer.

Untuk naik pangkat memang perlu prestasi. Prestasi macam Pak Tito, punya agenda, jadwal, dan anggaran. Lalu sigap dalam melakukan operasinya. Pimpinan polri yang melihat anak buah berprestasi nungkin akan mempromosikan orang macam Tito dengan jabatan baru. Kalau presiden yang melihat prestasi kita, kita bisa diangkat menjadi kapolri.

Namun naik jabata harus disertai naik pangkat. Kadang-kadang bila rezim ini masih korup, naik pangkat mesti dengan amplop. Kenaikan pangkat tidak seperti dosen yang prestasinya bisa dipajang di internet. Prestasi polisi dan militer harus dirahasiakan agar penjahat tidak mudah mengincar aparat.

Mungkin tidak hanya Wiwi saja yang pernah melakukan tindakan indisipliner. Ada polisi dan militer yang kesambet jualan narkoba, jualan psk, jualan untuk wakil rakyat, ngobjek di pertambangan milik konglomerat Cina, ikut memukul dan menendang bapak dan ibunya sendiri yang betdemo di pertambangan, juga ngobjek di partai politik.

Kesambet. Semua itu karena kebutuhandunia yang tak ada habisnya dan tak peduli bahwa dompet aparatur sipil negara (ASN) di akhir bulan acap menipis.

Sebenarnya dengan perubahan mekanisme proyek pekerjaan pada masa sekarang, ASN agak sejahtera. Namun kebutuhan itu seperti neraka, tak pernah cukup. Ketika neraka ditanya, sudah penuhkah? Neraka malah menjawab, masih adakha yang mau masuk?

Ringkad cerita, saya harus cari kerja lagi karena dipecat dari ASN. Menangis dan menyesal berkepanjangan tak akan berguna. Mungkin sawah di kampung bisa digarap lagi. Mungkin ada yang mau memberi modal ternak untuk digembalakan. Apapun mesti dilakukan untuk menyambung hidup.

Ketika masih berpikir dan menimbang-nimbang, seseorang datang. Dia mungkin tidak tahu bahwa saya sedang sedikit gusar dan kalut gara-gara dipecat dari ASN.

“Mas Wiwi, saya tahu Mas baru dipecat. Karena itu saya mau menawari Mas pekerjaan.”

Girang juga hati ini. Ternyata ada yang perhatian bahwa saya baru kehilangan pekerjaan. Dia mau kasih saya proyek pekerjaan apa?

“Saya tahu Mas ahli dalam penanganan sipil dan semi militer. Karena itu, ini adalah tugas rahasia. Pokoknya Mas cuma tahu tugasnya melalui japri, uang tugas ditransfer melalui bank sms.” Ia menambahkan tanpa beban. “Mas terima?”

Aku mengiyakan.

“Tugasmu mungkin merekrut orang gila, mungkin memukuli ulama, mungkin merekrut orang untuk membuat cerita. Kamu mau ‘kan?”

Aku sedikit tercekat. Tapi tak ada yang bisa keluar dari mulut ini kecuali menyetujuinya. Saya harus beroperasi lagi seperti saya masih di ASN.

“Kalau kamu setuju, kamu akan ditempatkan jadi aset kami, kamu akan mendapatkan tugas beserta transfer uangnya.”

“Untuk tugas kali ini, tidak berat, kau tidak melakukan tugas yang jahat. Kau harus mengawasi penebar berita bohong di masyarakat dan penyakit masyarakat lain.”

Aku lega. Tugas ino tidak melanggar aturan dan undang-undang. Mungkin untuk sementara.

CERITA Menteri Abdul Ghafur dan Presiden Gusking

Cerita ini menyampaikan bahwa orang pandai biasanya tak mau mengalah. Dia terus melawan untuk mengubah pandangan dunia agar membuat burung bernyanyi bahwa ia pandai.

Menteri Abdul Ghofur ditugasi Presiden Gusking untuk menuntaskan kartu negara pintar. Kartu ini diharapkan dapat digunakan untuk sekolah gratis, bahkan untuk membeli keperluan sekolah, bahkan membeli lauk pauk bersubsidi, dan berobat gratis.

Rupanya Menteri Abdul Ghofur tidak memperhatikan tugasnya itu. Oleh karena itu ia dicopot atau di-reshuffle dari jabatannya.

Padahal, Menteri Abdul Ghafur adalah tim sukses Presiden Gusking. Marahlah Abdul Ghafur kepada Presiden Gusking. Keinginan Abdul Ghafur adalah bisa dipercaya meski tak bisa kerja.

Namun karena Abdul Ghafur pandai, ia akan mengubah pandangan dunia yang mengatakannya bodoh. Memang manusia bisa berubah, jadi pandangan manusia lain pun bisa berubah terhadapnya. Seseorang mulanya bodoh. Orang-orang mengetahuinya sebagai orang bodoh. Namun, karena ia belajar, ia jadi pandai. Ia pun memperlihatkan kepandaiannya kepada orang lain. Akhirnya, pandangan orang lain pun berubah terhadapnya.

Namun, semestinya perubahan pandangan orang lain tidak dilakukan secara kasar melainkan harus simpatik.

Menteri Abdul Ghafur kini menjadi mantan menteri Abdul Ghafur. Ia ingin terlihat orang lain bahwa ia pandai. Ia pun menyuruh orang lain supaya berteriak-teriak menyerukan prestasinya.

Orang lain sebenarnya seharusnya menutupi kesalahan Pak Mantan. Orang mesti melihat prestasi orang lain dan menghargainya. Namun, belajar acap kali tidak instan. Seseorang awam yang ingin belajar menjadi tukang kayu tidak bisa serta merta menjadi tukang kayu sesaat setelah membaca buku. Seseorang pun tidak serta merta menjadi dokter atau guru sesaat setelah ia membaca buku. Mungkin ia memerlukan waktu yang relatif lama. Kemampuannya pun harus diakui orang lain melalui serangkaian ujian atau ujian sidang.

Pak Mantan Menteri menggalang kerja sama dengan ormas radikal dan ustad kondang untuk memuja-mujinya.

Dan waktu terus berputar dalam penglihatan manusia. Sementara Tuhan bersemayam dalam keagungannya tanpa butuh persembahan makhluk-Nya.

Kapok atau Tambah Maceuh

Orang berbuat jahat ketahuan cctv, lalu masyarakat tahu lewat medsos. Ada orang yang kapok, namun ada yang tambah parah dan salah.

Orang jahat yang tertangkap bisa saja kapok. Sebaliknya orang jahat tersebut bisa jaja malah tambah jahat.

Hal ini mungkin disebabkan keimanan yang tidak stabil. Kadang-kadang iman seseorsng itu kuat. Namun mungkin saja sewaktu-waktu ia lemah atau lama-kelamaan aus imannya. Para nabi stabil imannya. Orang-orang saleh mungkin meningkat imannya.

Prosa KPK

Kacipta mun KPK ngan ukur lembaga pencegahan korupsi. 

Kriiinnggg … Email kantor KPK disada tanda aya email nu asup.

“Kahatur Ketua KPK. Abdi bade lapor tindak korupsi. Bapa bupati sareng DPR meres abdi ti anggaran pendapatan rumah sakit, dinas pendidikan, saremg kecamatan. Buktosna kahatur sms sareng rekaman guneman telepon. Mugi KPK tiasa nyadap telepon nu lebet ka ponsel abdi.”
Eta email diwaler ku KPK yen laporan, dua barang bukti bade disimpen sareng diteraskeun ka proses panalungtikan.
Hiji mangsa KPK ngayakeun operasi tangkap tangan ka tsk hasil laporan email tea.
Persis tos ditewak, difoto, konferensi pers, KPK teras ngabewarakeun, “Palawargi sadaya, OTT iyeu teh mangrupa tindakan pencegahan. Ku kituna, mangga ayeuna Bapa bupati sareng DPR geura uih deui we. Kade tong wantun sakali-kali deui korupsi. Hatur nuhun.”
*Beu, aing mah, laporan warga diteraskeun ku operasi pencegahan. Puguh korupsi teh kejahatan luar biasa. Sakitu geus seueur KPK OTT, angger seueur keneh nu wantun korupsi.

TAMAT