PUISI ​Ode Buat Imam Zaman

*Buat pemeluk teguh NU

Alam ini tak akan kosong

dari hujah Tuhan

Kau rasakan sendiri

Betapa sunyinya

Hidup tanpa hujah Tuhan

Meski kau genggam erat

Kitab Tuhan di tanganmu

Dan kau gigit agamamu

Agar tak lepas dari dirimu
Hujah Tuhan yang hidup

Dan berbicara adalah wasiat Rasulullah saw

Almahdi adalah wasiat Rasulullah saw

Yang hidup dan berbicara

Sekalipun hujah tandingannya

Berseliweran meminta perhatian

Namun yang bertentangan

Dengan Almahdi

Cepat atau lambat akan segera sirna, sirna
Almahdi min aali muhammad

Adalah seorang yang maksum

Karenanya kita secara mutlak harus menaatinya

Setelah akal menerima hujahnya

Puisi MELIHAT SIKLUS KEHIDUPAN

Melihat siklus kehidupan

Kelahiran dan kematian

Makhluk yang fana, lemah,

Dan serba membutuhkan

Serta agungnya dan teraturnya

Makhluk ciptaan
Kami yakin bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia.

Tak ada sesuatupun di alam ini kecuali Dia.

Dia adalah sumber dari segalanya.
Kami yakin kami harus menyembah Dia

Dia berhak kami sembah

Kami punya fitrah menyembah Dia
Ketika kami tak tahu cara menyembah Dia

Dia menurunkan utusan-Nya 

Dengan bukti-bukti yang nyata

Kejujuran, kekuatan, pengetahuan, mukjizat, kebenaran

Utusan itu adalah nabi
Nabi membimbing kami

Beribadah kepada Dia 

Nabi membimbing kami

Melakukan taklif bagi mukallaf
Kata Nabi, kebutuhanmu beribadah kepadanya adalah sekurangnya 17 rakaat.

Kata Nabi, hak Dia untuk disembah adalah sekurangnya 17 rakaat
Semuanya ibadah yamg kami lakukan itu bukan untuk Dia,

Melainkan untuk kami sendiri

Menguatkan mental kami,

Meningkatkan kualitas mental kami

Membesarkam jiwa kami

Membesarkam harta kami

Meningkatkan nikmat kami
Dia adalah zat 

Yang tidak akan beruntung

Meski semua makhluk 

Taat dan menyembah-Nya

Dia adalah zat 

Yang tak akan merugi

Meski semua makhluk

Ingkar dan tak menyembah-Nya
Namun sebagian dari kami masih sangsi

Benarkah kebutuhan kami 17 rakaat

Benarkah hak Dia 17 rakaat

Benarkah keselamatan kami 17 rakaat
Akibatnya kadang kami lalai

Dan masih bermaksiat

Sekalipun kami melakukan 17 rakaat

Mungkin kami belum mendirikan 17 rakaat

Sekalipun kami melakukan 17 rakaat
Kami cuma bisa merintih

Karena hanya Dialah yang dapat menolong kami

Dari kelemahan dan kelalaian ibadah kami

Puisi KETIKA KITA BERSEDIH

Ketika kita bersedih 

Karena ditinggal orang-orang tercinta

Ayah, ibunda, saudara,

Teman, dan handai taulan

Kita akan menyadari

Bahwa suatu saat

Kita juga akan mati

Mungkin didahului derita,

Sakit berkepanjangan,

Pikun, atau badan

Yang serba menjadi lemah

Atau kematian mendadak, 

Dengan kecelakaan yang tak terduga
Kita juga akan ingat

Amalan yang masih sedikit,

Cacat, dan kurang baik

Tak akan bisa menjadi kebanggaan

Di hadapan syahadat,

Tuhan dan Rasulnya
Jika di dunia masih ada ketakutan kepada-Nya

Mudah-mudahan kita punya harapan

Akan ampunan dan rahmat-Nya,

Serta syafaat Rasulullah Dan keluarga sucinya

Di hari kemudian

Yang menyelamatkan kita

dari azab kubur

Dan siksa api neraka

Puisi MEMANDANG MATA-MU

Memandang mata-Mu
aku menjelma menjadi fakir
Terlunta ke negeri asing
Mencari kasih-Mu
Melihat kemegahan-kemegahan
sebagai perwakilan wujud-Mu
Melihat setiap orang
menduga sebagai diri-Mu

Menangis penuh harap
dan khawatir Kau tinggalkan
Maka aku berderma dan berbuat baik
untuk berharap simpati-Mu

Tak pernah kecewa
dengan segala yang Engkau jadikan
dan segala yang Engkau putuskan
Terus mengembara
dan terus mengetuk pintu-Mu

Puisi PELAJARAN SISTEM PEMERINTAHAN

Rakyat bertanya,
masih sukakah engkau menjadi wakil rakyat?
Masih sukakah engkau menjadi eksekutif?

Kami benci dengan
tindakan korupsi yang engkau lakukan.
Berkelit dari kesalahan
dengan alasan alat bukti tidak valid dan relevan

Maju terus, pantang mundur
Tak perlu malu
karena malu berarti mundur dan hancur

Kami benci dengan sikap majikan
yang serba ingin dilayani
padahal mereka adalah pelayan