Hari-Hari Ziarah Haji (42)

Mahasegala, Kepada-Mu Aku Menyeru

Engkau berkata

Serulah Aku di malam yang sunyi

Niscaya aku akan mendengar

Mintalah kepadaku segala hajat-Mu

Niscaya aku kabulkan

Ingatlah Aku di masa sulitmu

Niscaya Aku menolongmu

Tolonglah agama-Nya dengan menolong dan melindungi warga

Niscaya Dia akan menolong dan melindungimu

Hadirkan Dia dalam setiap langkahmu

Niscaya jalanmu akan menjadi terang

Cintailah utusan dan para kekasihnya

Niscaya kau tak akan tersesat

Lihatlah dan dengarlah apa yang utusan dan kekasihnya lihat dan dengar

Niscaya mata dan telingamu akan menjadi mata dan telinga-Nya

Bicaralah sesuai yang dibicarakan utusan dan kekasih-Nya

Bertindaklah sesuai dengan tindakan utusan dan kekasihnya

Bergembiralah saat utusan dan kekasuh-Nya bergembira

Bersedihlah saat utusan dan kekasuh-Nya bersedih

Berperanglah saat kekasih dan utusan-Nya berperang

Berdamailah saat utusan dan kekasih-Nya berdamai

Niscaya kau tak akan menyimpang

Hari-Hari Ziarah Haji (40)

Sajak Hidayah

Pintu hidayah yang terbuka

Mengeluarkan hidayah tak henti-hentinya

Turun dari langit, muncul dari dalam bumi, keluar dari danau, sungai, dan lautan, serta tumbuh dan berkembang di sekitar

dan ada dalam diri manusia

Hidayah ada di mana-mana

Seseorang tak akan bisa berkelit dan berkata

Aku keberatan disalahkan dan dimasukkan ke dalam neraka

Karena Engkau, Ya Tuhan, tak memberiku hidayah

Aku terlunta-lunta

Sementara engkau beri orang-orang saleh petunjuk dan nikmat iman Islam

Aku engkau abaikan dari hidayah

Aku tidak lagi bisa mengelak

Akulah yang mengabaikan hidayah

Akulah yang meremehkan kebenaran

Akulah yang merasa rugi ketika harus memilih kebenaran daripada kejahatan

Aku merasa beruntung saat melakukan kejahatan dan kemaksiatan

Karena selalu aku berharap pertobatan

Hari-Hari Ziarah Haji (34)

Aku ingin masuk surga

Aku ingin masuk surga

Bekalku adalah dua kalimat syahadat

Meski setiap hari berbuat maksiat

Korupsi, menyakiti orang, dan berbuat jahat

Ku tetap ingin masuk surga

Dengan bekal dua kalimat syahadat

Mungkinkah seseorang masuk surga

Meski ia berbuat maksiat di setiap harinya

Berbuat jahat, korupsi, dan menyakiti tetangga

Mungkinkah ia masuk surga

Sementara ia menciptakan neraka di setiap harinya

Surga mana yang kau tempati

Surga siapa yang kau tempati

Surga apa yang kau ciptakan

Sedang setiap hari oramg tuamu kau sakiti

Orang lenah kau biarkan

Engkau juga membiarkan kebohongan dan kebodohan merajalela

Naik ke atas mimbar sambil mengecam kebenaran

Dan kau membantu setan berbuat kejahatan

Munginkah seseorang berharap surga

Dengan bermodal dua kalimat syahadat

Sementara setiap hari ia berbuat kejahatan

Lalu kau katakan, kau hanya akan disiksa di neraka sebentar saja

Kau akan dibakar di neraka sementara saja

Entah berapa ribu tahun lamanya

Yang akhirnya akan ke surga juga

Dengan modal dua kalimat syahadat

Kau meremehkan kejahatan yang kau perbuat

Kau halangi kebenaran saat tak berfaedah bagimu

Kau tutup telinga hingga kebenaran tak mencapai jiwamu

Kau tutup pula matamu sehingga kau tak bisa melihat ilmu dan cahaya

Dosa terbesar adalah meremehkan perbuatan jahat

Hingga kau tak takut akan murka Tuhan dan siksanya

Hari-Hari Ziarah Haji (26)

Di Mekah dan Madinah

Demi keindahan wujud-Mu, ya Tuhan

Demi kesempurnaan sifat dan wujud-Mu

Demi hak-Mu untuk disembah

Demi keterbatasan hamba ini untuk memenuhi hak-Mu untuk disembah

Demi kelalaianku dalam penyembahan-Mu

Demi ketidaktahuanku akan hak penyembahan kepada-Mu

Demi kelalaian waktuku dalam penyembahan kepada-Mu

Demi kesibukanku dengan urusan di luar penyembahan kepada-Mu

Demi rasa maluku untuk menyampaikan hajat-hajatku kepada-Mu di hadapan manusia

Ampunilah dosa kami

Berilah kami rahmat di dunia dan di akhirat

Sajak Tahun 61H

Kita hidup di zaman itu
Ketika Imam Husain mazlum, dizalimi
Dan kita diam saja

Kita hidup di zaman itu
Ketika kezaliman merajalela
Namun kita diam saja

Kita hidup di zaman kini

Ketika orang-orang berbuat zalim
Dan kita diam saja
Tidak menolong orang tertindas
Tidak berteriak minta tolong
Dan hanya memikirkan diri sendiri

Kita hidup di zaman itu
Ketika prajurit dajal masuk kota-kota kita
Dan kita bersembunyi di rumah-rumah
Menemani istri dan anak-anak
Dan berdoa agar terlepas dari kezalimannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika dajal memekikkan kebohongannya
Di atas mimbar dan media massa
Sementara kita diam seribu bahasa
Dan membiarkan kebohongannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika orang baik dizalimi
Dan kita mendukung, menolong orang zalim
Untuk mencapai tujuannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika istri-istri kita menarik kita
Dari medan perang
Karena takut dirinya menjadi janda

Kita hidup di zaman itu
Ketika seseorang berteriak minta tolong

“Hal min nashirina yanshuruni?”
Dan kita pura-pura tidak mendengarnya

Kita hidup di zaman itu
Ketika corong masjid dikuasai monyet-monyet
Media massa memutarbalikkan fakta
Dan kita berharap ada orang lain yang mengkritiknya

Kita hidup di zaman itu
Ketika kita mengandalkan syukur, sabar, dan salat
Sementara ketidakadilan terjadi di sekelilingnya

Kita hidup di zaman itu

Ketika orang-orang berbaiat kepada para penindas

Karena takut pada ancamannya

Kita hidup di zaman itu
Yang hanya bisa menangis di malam sepi
Sementara Pangeran Husain dibantai

Tanpa ada penolongnya