Hari-Hari Ziarah Haji (26)

Di Mekah dan Madinah

Demi keindahan wujud-Mu, ya Tuhan

Demi kesempurnaan sifat dan wujud-Mu

Demi hak-Mu untuk disembah

Demi keterbatasan hamba ini untuk memenuhi hak-Mu untuk disembah

Demi kelalaianku dalam penyembahan-Mu

Demi ketidaktahuanku akan hak penyembahan kepada-Mu

Demi kelalaian waktuku dalam penyembahan kepada-Mu

Demi kesibukanku dengan urusan di luar penyembahan kepada-Mu

Demi rasa maluku untuk menyampaikan hajat-hajatku kepada-Mu di hadapan manusia

Ampunilah dosa kami

Berilah kami rahmat di dunia dan di akhirat

Sajak Tahun 61H

Kita hidup di zaman itu
Ketika Imam Husain mazlum, dizalimi
Dan kita diam saja

Kita hidup di zaman itu
Ketika kezaliman merajalela
Namun kita diam saja

Kita hidup di zaman kini

Ketika orang-orang berbuat zalim
Dan kita diam saja
Tidak menolong orang tertindas
Tidak berteriak minta tolong
Dan hanya memikirkan diri sendiri

Kita hidup di zaman itu
Ketika prajurit dajal masuk kota-kota kita
Dan kita bersembunyi di rumah-rumah
Menemani istri dan anak-anak
Dan berdoa agar terlepas dari kezalimannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika dajal memekikkan kebohongannya
Di atas mimbar dan media massa
Sementara kita diam seribu bahasa
Dan membiarkan kebohongannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika orang baik dizalimi
Dan kita mendukung, menolong orang zalim
Untuk mencapai tujuannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika istri-istri kita menarik kita
Dari medan perang
Karena takut dirinya menjadi janda

Kita hidup di zaman itu
Ketika seseorang berteriak minta tolong

“Hal min nashirina yanshuruni?”
Dan kita pura-pura tidak mendengarnya

Kita hidup di zaman itu
Ketika corong masjid dikuasai monyet-monyet
Media massa memutarbalikkan fakta
Dan kita berharap ada orang lain yang mengkritiknya

Kita hidup di zaman itu
Ketika kita mengandalkan syukur, sabar, dan salat
Sementara ketidakadilan terjadi di sekelilingnya

Kita hidup di zaman itu

Ketika orang-orang berbaiat kepada para penindas

Karena takut pada ancamannya

Kita hidup di zaman itu
Yang hanya bisa menangis di malam sepi
Sementara Pangeran Husain dibantai

Tanpa ada penolongnya

Sajak Dua, Tiga, atau Empat Rakaat

Dua, tiga atau empat rakaat dalam salat
Adalah kebutuhan kami setiap hari
Senantiasa kami renungkan manfaat ibadah kepada-Mu, mengapa mesti dua hingga empat rakaat
Yang dua, tiga atau empat ini acap lupa bilangannya.
Mungkin karena terlalu sering makan syubhat dan haram yang menyebabkan lupa
Atau lupa karena acap besar hati dengan sedikit amal dan merasa setara dengan para nabi, wali, dan manusia suci

Sajak Kebenaran dan Logika

Apakah kebenaran dan logika mempunyai agama hingga derma muslim berbeda dengan derma yahudi atau konghucu?
Apakah kebenaran dan logika mempunyai bangsa hingga pembunuhan Palestina oleh AS dan Israel bisa diterima?
Apakah kebenaran dan logika mempunyai suku hingga perbuatan bail suku Arab berbeda dengan suku Yahudi?
Apakah kebenaran dan logika mempunyai jenis kelamin sehingga kebenaran Maryam dan Fatimah berbeda dengan Muhammad

Kebenaran dan logika mempunyai situasi sehingga tahu kapan disampaikan
Kebenaran mempunyai situasi sehingga tahu kapan harus takiah kepada orang bodoh
Kebenaran dan logika mempunyai situasi sehingga tahu kapan harus disampaikan atau takiah kepada musuh
Kebenaran memang mempunyai nama sehingga suatu saat ia bernama Maryam, Muhammad, Ali, atau Fatimah

Sajak PERASAAN CINTA

Perasaan cinta ini mewarnai nada suaraku
Bersyukurlah bila cinta kepada Tuhan telah mendapatkan jawabannya
Karena Tuhan tak pernah bisa membuatmu kecewa
Cinta menjadikan seorang raja menjadi budak
Seorang sombong menjadi rendah hati
Kikir menjadi dermawan
Benci menjadi rindu
Waras menjadi gila
Dan gila menjadi waras