012 Yusuf

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Yũsuf
Kisah Nabi Yusuf
Makiyah
Surat ke-12, 111 ayat.
Juz 12 beralih ke Juz 13 pada ayat 53.

Catatan Awal
Seluruh ciptaan Allah di alam semesta diamati, diatur, diurus, dan dikuasai Allah. Dia menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, sesuai dengan jatah umur yang diberikan-Nya. Semua makhluk-Nya harus mempertanggungjawabkan segala tingkah-lakunya saat hidup di dunia, khususnya manusia, karena manusia ditetapkan Allah sebagai khalifah di muka bumi. Makhluk yang satu dapat menolong makhluk lain, khususnya hidup manusia bersama manusia lain, bersama makhluk selain manusia atas perkenan-Nya. Kesesatan dan dosa itu pilihan hidup manusia sendiri. Allah mempunyai hak memberi petunjuk. Namun, jika manusia tidak mau memperhatikan petunjuk-Nya, mereka akan dikenai siksa, setelah diberi peringayaan, dan kesempatan beberapa waktu untuk mau bertobat. Kalau tidak mau bertobat, baru mereka diazab. Hanya orang yang beriman dan bertakwa yang memperhatikan petunjuk dan menjauhi larangan-Nya yang akan diberi hadiah surga, hidup yang menyenangkan di akhirat nanti.
Kisah Yusuf dengan saudara-saudaranya, dan Ya’qub, orang tuanya, ini diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. secara gaib, karena ada orang Yahudi yang menyuruh orang kafir menanyakan perihal kepindahan keluarga Ya’qub dari Syam ke Mesir, dan bagaimana sesungguhnya kisah Nabi Yusuf. Lihat Q.s. Al An’ãm, 6 : 84. Hal ini menjadi daya tarik bagi kaum non-Islam (Yahudi, dan lain-lain). Ada kesamaan dengan apa yang sudah diyakini dan yang sudah dipelajarinya. Kenabian beliau, sudah diisyaratkan Allah melalui mimpi orang tuanya, Ya’qub. Di dalamnya menceriterakan mu’zijat-mu’zijat Nabi Yusuf, rahmat dari Allah. Ceritera ini dapat menjadi hiburan, pelajaran, petunjuk, suri-teladan mulia bagi yang membaca, atau mendengarkannya. Nabi Muhammad saw. juga merasakan semuanya itu dalam cerita Nabi Yusuf.
Kewajiban manusia merahasiakan sesuatu yang mungkin menjadi fitnah. Barang dan anak temuan harus dipungut, tidak boleh dibiarkan, harus diberitahu kepada umum. Boleh berdalih yang tidak merugikan orang lain, untuk memperoleh suatu kemaslahatan. Agama tauhid mempunyai ketentuan yang sama, yaitu pengakuan ada-Nya Allah Yang Esa; pengakuan adanya Kitab Allah; adanya Utusan Allah berupa Malaikat, Nabi dan Rasul; adanya hari akhirat; adanya peribadatan kepada Allah, keharusan berpuasa, menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah (fĩ sabilillah); beramal saleh berupa zakat, fitrah, sedekah, tijaroh; melaksanakan ibadah haji (bagi yang mampu); adanya Qada’ dan Taqdir (Qadar) pada setiap makhluk Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan Q.s. 1 : 1

alif lãm ro = allãhu lã ilaha ila huwar ro-a ( Allah tidak ilah lain selain Dia Yang Maha Melihat); tilka = inilah; ãyãtu = ayat-ayat (tanda-tanda); al kitãbi = Kitab; al mubĩn = yang jelas.
alif lãm rō, tilka ãyãtul kitãbil mubĩn.
1. Alif lãm rō, inilah tanda-tanda rahasia Kitab yang jelas (dari Allah).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat pertama dimulai dengan pengenalan huruf-huruf Arab berahasia. Mungkin berupa singkatan. Lihat Al Baqarah, 2 : 1; Q.s. Yunus, 10 : 1; Hud, 11 : 1, lihat ayat 4, 30, 43. Kitab ini penuh rahasia yang harus digali, dicari keterangannya, ditafsirkan. Tanda-tanda rahasia Allah ini terbentang dari yang terang, jelas, ke yang samar, tidak jelas, sampai ke yang gelap, masih gaib. Ini hak Allah membuat Kitab, seperti ini. Allah sering memerintah makhluk-Nya, khususnya manusia untuk menggunakan akal-pikirannya (lihat ayat 2 di bawah, dan yang lainnya), agar mendapatkan kejelasan ayat-ayat yang berahasia seperti ini.

innã = sungguh Aku; anzalnãhu = menurunkannya; qur’ãnan = bacaan ini; ‘arobiyyan = bahasa Arab; la’allakum = agar kamu; ta’qilũn = kamu menggunakan akal (memahami).
innã anzalnãhu qur’ãnan ‘arobiyyal la’allakum ta’qilũn.
2. Sungguh, Aku menurunkannya berupa bacaan berbahasa Arab, agar kamu mau berpikir (memahaminya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bacaan (Alquran) ini menggunakan bahasa Arab. Mereka yang ingin menggali maknanya, harus menggunakan akal-pikirannya mempelajari bahasa Arab ini sebaik-baiknya, agar mengetahui hukum-hukumnya sehingga memahami hakekat maknanya, lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2 : 1

nahnu = Aku; naqushshu = Aku menceriterakan; ‘alaika = kepada kamu; ahsana = sebaik-baik; al qoshoshi = kisah (ceritera); bimã = dengan apa yang; auhainã = Aku mewahyukan; ilaika = kepadamu; hadza = ini; al. qur’ãna = bacaan; wa in = dan sungguh; kunta = kamu adalah; min qoblihĩ = dari sebelumnya; lamina = sungguh termasuk; al ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.
nahnu naqushshu ‘alaika ahsanal qoshoshi bimã auhainã ilaika hadzãl qur’ãna wa in kunta min qoblihĩ laminal ghōfilĩn.
3. Aku menceriterakan sebaik-baik kisah, dengan mewahyukan kepadamu (Muhammad saw.) bacaan ini, dan sungguh, sebelum ini kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini diceriterakan Allah kepada Nabi Muhammad saw. sebagai wahyu. Dalam bahasa Arab, ada al qushshu dan al qoshosh, artinya bekas jejak yang dapat diteliti jejak apa, ke mana, apa yang dilakukan pemilik jejak itu, di mana dilakukannya, mengapa melalui jalan atau jalur itu, bagaimana jalan ceriteranya, dan lain-lain. Semuanya mengandung berbagai informasi, tentang sejarah, fakta yang menyangkut berbagai konsep, persoalan, dan pemecahannya, serta hal-hal yang lainnya.
Allah Maha Mengetahui Nabi Muhammad saw., sebelum kisah ini diwahyukan kepadanya, termasuk orang yang lalai. Dengan kisah ini, Nabi Muhammad saw. banyak mendapatkan hiburan, pelajaran, nasihat, contoh, cermin sehingga tidak memiliki sifat lalai lagi, malah menjadi seorang yang amanah, siddiq, tabligh, fatonah. Kisah-kisah di dalam Alqur’an ini bukan kisah dusta, bukan karangan manusia. Harus didalami untuk mendapatkan manfaat yang banyak tentang proses, prinsip, persoalan hidup dan pemecahannya.

idz = ketika; qōla = berkata; yũsufu = Yusuf; li abĩhi = kepada ayahnya; yã abati = wahai ayahku; innĩ = sesungguhnya aku; ro-aitu = aku melihat; ahada ‘asyaro = sebelas; kaukaban = bintang-bintang; was syamsa = dan matahari; wal qomaro = dan bulan; roaituhum = kulihat mereka; lĩ = kepadaku; sãjidiin = bersujud.
idz qōla yũsufu li abĩhi, yã abati innĩ ro-aitu ahada ‘asyoro kaukaban was syamsa wal qomaro roaituhum lĩ sãjidiin.
4. Ketika Yusuf berbicara kepada ayahnya: “Wahai Ayahku, sesungguhnya, aku melihat (dalam mimpiku) sebelas bintang, matahari, dan bulan kulihat semua sujud kepadaku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera dimulai saat Yusuf mengisahkan mimpi kepada ayahnya. Mimpi Yusuf ini, menurut pandangan ayahnya merupakan kabar gembira, dia akan diangkat tinggi derajatnya di dunia maupun nanti di akhirat. Pandangan ayahnya ini merupakan pandangan seorang Nabi yang waskita, merupakan ramalan masa depan hidup anaknya.

qōla = (ayahnya) berkata; yã bunayya = wahai anakku; lã taqshush = jangan kamu ceriterakan; ru’yãka = mimpi kamu; ‘alã ikhwatika = kepada sudara-saudara kamu; fa yakĩdũ = maka akan membuat tipu-daya; laka = untukmu; kaidan = tipu-daya; inna = sungguh; asy syaithōna = setan itu; lil insaani = bagi manusia; ‘aduwwum = musuh; mubĩn = nyata;

qōla yã bunayya lã taqshush ru’yãka ‘alã ikhwatika fa yakĩdũlaka kaidan, innasy syaithōna lil insaani ‘aduwwum mubĩn.

5. Ayahnya berkata: “Wahai anakku, jangan engkau ceriterakan mimpimu ini kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu-daya untukmu (membinasakan kamu). Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagi manusia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menceritakan seorang ayah yang menasihati anaknya, berdasarkan pandangannya atas mimpinya itu. “Jangan menceriterakan mimpimu kepada saudara-saudaramu.” Alasannya, mereka akan membuat tipu-daya untuk membinasakan kamu. Nasihat “setan itu musuh yang nyata bagi manusia.” ayat ini (telah dikemukakan dalam beberapa ayat sebelumnya) lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 112, 142; al A’raf, 7 : 22, 36; dan surat-surat yang lainnya.

wa kadzãlika = dan demikianlah; yajtabĩka = memilih kamu; robbuka = Rab kamu; wa yu’allimuka = dan Dia mengajar kamu; min ta’wĩl = dari takwil; al ahōdĩtsi = kejadian (mimpi); wa yutimmu = dan Dia sempurnakan; ni’matahũ = nikmat-Nya; ‘alaika = kepada kamu; wa ‘alã = dan kepada; ãli = keluarga; ya’qũba = Ya’qub; kamã = sebagaimana; atammahã = Dia sempurnakan; alã = kepada; abawaika = kedua ibu-bapak kamu; min qoblu = dari sebelum ini; ibrōhĩma = (yaitu) Ibrahim; wa is-hãqo = dan Ishaq; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana
wa kadzãlika yajtabĩka robbuka wa yu’allimuka min ta’wĩlil ahōdĩtsi wa yutimmu ni’matahũ ‘alaika wa ‘alã ãli ya’qũba kamã atammahã alã abawaika min qoblu ibrōhĩma wa is-hãqo, inna robbaka ‘alĩmun hakĩm.
6. Demikianlah, Rab kamu memilih kamu (Yusuf) sebagai nabi, dan mengajarkan sebagian takwil mimpi, dan menyempurnakan (nikmatnya) kepadamu, dan kepada keluarga Ya’qũb, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang tuanya sebelum itu, yaitu Ibrahim dan Is-haq. Sungguh, Aku Rab kamu Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memilih Yusuf menjadi Nabi dan mengajari menakwilkan mimpi orang, seperti kepada bapak dan nenek-moyangnya Ya’qũb yaitu Ibrahim, Is-haq.
laqod = sungguh; kãna = adalah; fĩ = di dalam; yũsufa = Yusuf; wa ikhwatihĩ = dan saudara-saudaranya; ãyãtun = ayat-ayat (tanda-tanda); lissã-ilĩn = bagi orang-orang yang bertanya.
laqod kãna fĩ yũsufa wa ikhwatihĩ ãyãtul lissã-ilĩn.
7. Sungguh, dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang bertanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya ada tanda-tanda kebesaran Allah.
idz = ketika; qōlũ = mereka berkata; la yũsufu = sesungguhnya Yusuf; wa akhũhu = dan saudaranya; ahabbu = lebih dicintai; ilã = kepada; abĩnã = bapak kita; minnã = daripada kita; wa nahnu = padahal kita; ushbatun = satu golongan; inna = sesungguhnya; abãnã = bapak kita; lafĩ = sungguh dalam; dholãlin = kesesatan; mubĩn = yang nyata.
idz qōlũ la yũsufu wa akhũhu ahabbu ilã abĩnã minnã wa nahnu ushbatun inna abãnã lafĩ dholãlim mubĩn.
8. Ketika mereka berkata: “Sesungguhnya, Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) lebih dicintai Bapak daripada kepada kita, padahal kita satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya, Bapak kita dalam kesesatan yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada prasangka Yusuf dan Bunyamin lebih dicintai Bapaknya daripada kepada saudara-saudaranya yang lain. Bapaknya dianggap melakukan perbuatan yang sesat.
aqtulũ = bunuhlah; yũsufa = Yusuf; awi = atau; ithrahũhu = buanglah ia; ardhon = di suatu tempat (di bumi); yakhlu = tertumpah (tertuju); lakum = kepadamu; wajhu = wajah (perhatian); abĩkum = bapakmu; wa takũnũ = dan kamu menjadi; mim ba’dihĩ = dari sesudah itu; qauman = kaum; shōlihĩn = yang saleh.
aqtulũ yũsufa awi uthrhũhu ardhon yakhlu lakum wajhu abĩkum wa takũnũ mim ba’dihĩ qauman shōlihĩn
9. “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat, agar perhatian Bapak melimpah kepadamu, dan setelah itu, kamu menjadi orang yang baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah ini muncul dari kata hati saudar-saudaranya. Pekerjaan jahat yang diperintahkan (dibisikkan) setan, kalau terlaksana, mereka diiming-imingi akan mendapat sesuatu yang baik dalam hidupnya. Padahal akan sebaliknya, berakibat jelek.
qōlã = berkata; qō-ilun = orang yang berbicara; min hum = di antara mereka; lã taqtulũ = jangan kamu bunuh; yũsufa = Yusuf; wa alqũhu = dan lemparkan dia; fĩ ghoyãbati = di dasar; al jubbi = sumur; yaltaqith-hu = memungutnya; ba’dho = sebagaian; as sayyãroti = orang-orang musafir; in kuntum = jika kamu sekalian; fã’ilĩn = hendak berbuat.
qōlã qō-ilum min hum lã taqtulũ yũsufa wa alqũhu fĩ ghoyãbatil jubbi yaltaqith-hu ba’dhos sayyãroti in kuntum fã’ilĩn.
10. Seorang pembicara di antara mereka berkata: “Jangan kamu bunuh Yusuf, (tetapi) masukkan dia ke dasar sumur, nanti dia dipungut oleh salah seorang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf di antara para pelaku, sudara-saudaranya.
qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; mã = apa; laka = bagi kamu; lã ta’manna = engkau tidak mempercayai kami; ‘alã yũsufa = atas Yusuf; wa innã = dan sungguh kami; lahũ = baginya; la nãshihũn = sungguh, orang-orang yang menginginkan kebaikan baginya.
qōlũ yã abãnã mã laka lã ta’manna ‘alã yũsufa wa innã lahũ la nãshihũn.
11. Mereka berkata: “Hai Bapak kami, mengapa engkau tidak mempercayai kami atas Yusuf, padahal, sesungguhnya, kami semua menginginkan kebaikan baginya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf di antara saudara-saudara dan bapaknya.
arsilhu = biarkanlah dia; ma’anã = bersama kami; ghodan = besok pagi; yarta’ = dia bersuka-ria; wayal’ab = dan dia bermain-main; wa innã = dan sesungguhnya kami; lahũ = kepadanya; la hãfizhũn = sungguh orang-orang yang menjaga.
arsilhu ma’anã ghodan yarta’wayal’ab wa innã lahũ lahãfizhũn.
12. Biarkanlah dia (pergi) bersama kami besok pagi, (agar) dia dapat bersuka-ria dan bermain-main. Sesungguhnya, kami akan menjaganya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata-kata tipuan, dan bujukan demikianlah, sebagai contoh dari orang-orang yang akan berbuat jahat.
qōla = (Ya’qub) berkata; innĩ = sesungguhnya aku; la yahzununĩ = amat menyedihkan aku; an tadzhabũ = karena kepergianmu; bihĩ = dengannya (Yusuf); wa akhōfu = dan aku khawatir; an ya’kulahu = bahwa memakannya; adzdzi’bu = ajag (serigala); wa antum = sedang kamu; ‘anhu = darinya; ghōfilũn = kamu semua lengah.
qōla innĩ layahzununĩ an tadzhabũ bihĩ wa akhōfu an ya’kulahu adzdzi’bu wa antum ‘anhu ghōfilũn.
13. Ya’qub berkata: “Sungguh amat menyedihkan aku, karena kepergian kamu semua dengan Yusuf, dan aku khawatir, serigala memakannya, sedang kamu semua lengah menjaganya.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub tampaknya sudah mempunyai firasat, apa yang akan terjadi terhadap Yusuf. Lihat ayat 5, 6 di atas.

qōlũ = (mereka) berkata; la-in = sesungguhnya, jika; akalahu = memakan dia; adz dzi’bu = ajag (serigala); wa nahnu = sedang kami; ‘ashbatun = pihak; innã = sesungguhnya kami; idza = jika demikian; la khōsirũn = sungguh termasuk orang-orang yang merugi.
qōlũ la-in akalahudz dzi’bu wa nahnu ‘ashbatun innã idzal la khōsirũn.
14. Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata: “Sesungguhnya, jika serigala memakan dia, sedang kami dari pihak (yang kuat), jika demikian sungguh, kami termasuk orang-orang yang merugi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub meyakinkan bapaknya, bahwa mereka di pihak yang kuat, pasti mampu menjaga keselamatan Yusuf.

fa = maka; lammã = ketika; dzahabũ = mereka pergi; bihĩ = dengannya (Yusuf); wa ajma’ũ = dan mereka telah bersepakat; an yaj’alũhu = untuk memasukkannya (Yusuf); fĩ ghoyãbati = ke dasar; al jubbi = sumur; wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilaihi = kepadanya; la tunabbi-annahum = sungguh kamu akan menceriterakan kepada mereka; bi amrihim = dengan perbuatannya; hãdzã = ini; wahum = sedang mereka; lã yasy’urũn = tidak menyadari.

fa lammã dzahabũ bihĩ wa ajma’ũ an yaj’alũhu fĩ ghoyãbatil jubbi, wa auhainã ilaihi la tunabbi-annahum bi amrihim hãdzã wahum lã yasy’urũn.

15. Maka ketika mereka pergi bersama Yusuf, dan mereka telah bersepakat untuk memasukkannya ke dasar sumur. Dan (setelah Yusuf di dalam sumur) Aku wahyukan kepadanya: “Sesungguhnya kamu akan menceriterakan kepada mereka perbuatannya ini, sedang mereka tidak menyadari.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudara Yusuf ternyata sudah mempunyai rencana jahat terhadap Yusuf. Namun, Yusuf ternyata mendapat lindungan dan bimbingan Allah dalam menjalani hidupnya. Allah memberitahu Yusuf bahwa peristiwa dirinya, kelak akan diceriterakan Yusuf kepada saudara-saudaranya itu. Hal ini tidak disadari oleh saudara-saudara Yusuf yang diliputi nafsu amarah, cemburu kepada Yusuf.
wa jã-ũ = dan mereka mendatangi; abãhum = bapak mereka; ‘isyã-an = waktu isya (sore); yabkũn = mereka menangis.
wa jã-ũ abãhum ‘isyã-an yabkũn.

16. Dan mereka mendatangi bapak mereka, pada waktu isyã (sore) sambil menangis.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka datang sore hari kepada bapaknya, sambil berpura-pura. Salah satu ciri orang munafik.
qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; innã = sesungguhnya Aku; dzahabnã = kami pergi; nastabiqu = kami berlumba; wa taroknã = dan kami tinggalkan; yũsufa = Yusuf; inda = di sisi; matã’inã = barang-barang kami; fa-akalahu = lalu memakannya; adz dzi’bu = ajag (serigala); wa mã = dan tidak lah; anta = Bapak; bi mu’minin = orang-orang yang percaya; lannã = kepada kami; wa lau = walau pun; kunna = kami adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
qōlũ yã abãnã innã dzahabnã nastabiqu wa taroknã yũsufa inda matã’inã fa-akalahudz dzi’bu, wa mã anta bi mu’minil lannã wa lau kunna shōdiqĩn.

17. Mereka berkata: “Wahai Bapak kami, Sesungguhnya, kami pergi berlomba, dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala, dan Bapak tentu tidak percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rangkaian kata-kata bohong meluncur dari mulut orang-orang yang suka berbohong untuk meyakinkan kenyataan yang tidak pernah terjadi, menjadi seperti benar-benar terjadi. Banyak perbuatan dosa yang sering dilakukan orang untuk mendapatkan berbagai keuntungan dunia, tetapi di akhirat, perbuatan itu akan mendapatkan hukuman dari Allah. Behati-hatilah.
wa jã-ũ = dan mereka datang; ‘alã qomĩshihĩ = dengan bajunya; bi damin = dengan darah; kadzibin = dusta, palsu; qōla = (Ya’qub) berkata; bal = bahkan; sawwalat = menunjukkan; lakum = bagi kamu sekalian; anfusukum = diri kamu sendiri; amron = perkara; fashabrun = maka kesabaran; jamĩlun = baik (bagus); wallãhu = dan Allah; al musta’ãnu = tempat memohon pertolongan; ‘alã = terhadap; mã = apa; tashifũn = kamu ceriterakan.
wa jã-ũ ‘alã qomĩshihĩ bi damin kadzibin, qōla bal sawwalat lakum anfusukum amron, fashabrun jamĩlun, wallãhul musta’ãnu ‘alã mã tashifũn.

18. Dan mereka datang dengan membawa bajunya yang berlumuran darah palsu. Ya’qub berkata:“Tidak, bahkan dirimu sendiri yang menunjukkan melakukan perkara ini, maka kesabaran itulah yang terbaik. Dan Allah sajalah tempat memohon pertolongan, terhadap apa yang kamu ceriterakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepura-puraan mereka ditolak oleh bapaknya, dengan perkataan “tidak”, yang diikuti pernyataan halus, bahwa perkara itu, mereka saja yang mempertunjukkannya, dengan pesan untuk semua makhluk, khususnya manusia yang mengkin menghadapi persolaan yang serupa, maka kesabaran dan kepercayaan, hanya kepada Allah Yang akan menolong memecahkan persoalan yang dihadapi.
wa jã-at = dan datanglah; sayyãrotun = sekelompok musafir; fa-arsalũ = lalu mereka menyuruh; wã ridahum = seorang pengambil air; fa-adlã = lalu dia mengulurkan; dalwahũ = timbanya; qōlu = Pengambil air itu berkata; yã busyrō = oh, berita gembira; hãdzã = ini; ghulãmun = seorang anak muda; wa asarrũhu = dan mereka menyembunyikannya; bi dhō’atan = dengan barang dagangan; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bimã = terhadap apa; ya’malũn = yang mereka kerjakan.
wa jã-at sayyãrotun fa-arsalũ wã ridahum fa-adlã dalwahũ, qōlu yã busyrō hãdzã ghulãmun, wa asarrũhu bi dhō’atan, wallãhu ‘alĩmum bimã ya’malũn.

19. Dan datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air. Lalu diulurkanlah timbanya. Pengambil air itu berkata: “Oh, kabar gembira, ini (aku mendapat) seorang anak muda.” Dan mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf menjadi barang temuan, ditemukan, dan disembunyikan pengambil air, dan dijadikan barang dagangan. Allah Maha mengetahui segala sesuatu yang mereka kerjakan.
wa syarauhu = dan mereka menjualnya; bi tsamanĩ = dengan harga; bakhsin = murah; darohima = (beberapa) dirham: ma’dũdatin = terhitung; wa kãnũ = dan mereka adalah; fĩhi = padanya; mina = termasuk; az zãhidiin = orang-orang yang tidak tertarik (senang)
wa syarauhu bi tsamanĩ bakhsin darohima ma’dũdatin wa kãnũ fĩhi minaz zãhidiin
20. Dan mereka menjualnya (Yusuf) dengan harga rendah, beberapa dirham saja, sebab mereka tidak tertarik kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf dijual kepada musafir lain dengan harga murah, beberapa dirham saja, karena merasa tidak tertarik, hanya ingin segera meninggalkannya, dan mereka tidak mengetahui kedudukan Yusuf di sisi Allah.

wa qōla = dan berkatalah; al ladzĩ = orang yang; isytarōhu = membelinya; mim mishro = dari Mesir; limro-atihĩ = kepada istrinya; akrimi = muliakan dia; matswãhu = tempatnya; ‘asã = boleh jadi; an yanfa’anã = mungkin dia bermanfaat; au = atau; nattakhidzahũ = atau kita pungut; waladan = sebagai anak; wa kadzãlika = dan demikianlah; makkannã = Aku beri kedudukan; li yũsufa = kepada Yusuf; fil ardhĩ = di bumi; wa linu’allimahũ = dan karena Aku akan mengajarkan kepadanya; min ta’wĩli = dari tabir; al ahãdĩtsi = kejadian-kejadian mimpi; wallãhu = dan Allah; ghōlibun = berkuasa; ‘alã = atas; amrihĩ = urusan-Nya; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
wa qōlal ladzĩ isytarōhu mim mishro limro-atihĩ akrimi matswãhu ‘asã an yanfa’anã au nattakhidzahũ waladan wa kadzãlika makkannã li yũsufa fil ardhĩ wa linu’allimahũ min ta’wĩli al ahãdĩtsi, wallãhu ghōlibun ‘alã amrihĩ wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.
21. Dan berkatalah orang dari Mesir yang membelinya, kepada istrinya: “Muliakanlah dia, dan beri tempat yang baik, boleh jadi dia bermanfaat kepada kita. Atau, kita pungut sebagai anak”. Dan demikianlah, Aku memberi kedudukan (yang baik) kepada Yusuf di muka bumi, dan karena Aku hendak mengajarkan tabir mimpi kepadanya. Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kesenangan, kemuliaan, kedudukan manusia di muka bumi itu, Allah yang menetapkan. Allah menguasai segala urusan-Nya.

wa lammã = dan setelah; balagho = dia sampai balig; asyuddahũ = dewasa; ãtainãhu = Aku berikan kepadanya; hukman = hikmah (pengetahuan, kekuasaan); wa ‘ilman = dan ilmu; wa kadzãlika = dan demikian itu; najzĩ = Aku memberi balasan; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa lammã balagho asyuddahũ ãtainãhu hukman wa ‘ilman, wa kadzãlika najzĩl muhsinĩn

22. Dan setelah dia sampai usia dewasa, Aku berikan kepadanya hikmah (pengetahuan, kekuasaan) dan ilmu. Demikianlah, Aku berikan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dewasa jasmani dan dewasa rohani artinya sudah matang dalam menggunakan ilmu, pengetahuan,dan hukum untuk memperjuangkan hidup pemberian Allah. Allah membalas segala usaha makhluk-Nya untuk berbuat baik dalam mencapai karunia yang dilimpahkan di alam semesta berupa ilmu, kekayaan, kebesaran, kekuasaan, kesenangan, kenikmatan, kesempurnaan.

warō wadat-hu = dan ia (perempuan) datang (menggodanya); al latĩ = (wanita) yang; huwa = dia (Yusuf); fĩ baitihã = di dalam rumahnya; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; wa ghollaqoti = ia menutup; al abwãba = pintu-pintu; wa qōlat = ia berkata; haitalak = kamu kemarilah; qōla = (Yusuf) berkata; ma’ãdzallah = (aku) berlindung kepada Allah; innahũ = sesungguhnya; robbĩ = tuanku; ahsana = sangat baik; matswã = tempatku; innahũ = sesungguhnya; lã yuflihu = tidak beruntung; adh dhōlimũn = orang-orang yang lalim.

warō wadat-hul latĩ huwa fĩ baitihã ‘an nafsihĩ wa ghollaqotil abwãba wa qōlat haitalak, qōla ma’ãdzallah, innahũ robbĩ ahsana matswã, innahũ lã yuflhudh dhōlimũn.

23. Dan ia (wanita; Zulaikhah) mendatangi (menggoda untuk menundukkan dirinya) Yusuf yang tinggal di rumahnya, dan ia menutup pintu seraya berkata: “Kemarilah kamu”, Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya, tuanku (Qitfir) telah memberikan tempat yang sangat baik kepadaku. Sesungguhnya orang-orang lalim tidak beruntung.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Wajar perempuan tertarik kepada laki-laki, atau sebaliknya . Tidak wajar, perempuan yang sudah bersuami tertarik kepada laki-laki yang bukan suaminya, atau sebaliknya. Zulaikhah, istri Qitfir menggoda Yusuf, pemuda tampan yang beriman kepada Allah. Yusuf berhutang budi kepada tuannya, yang telah memberi tempat yang baik. Maka godaan itu ditolak dengan memberi nasihat halus, bermohon untuk dilindungi Allah dari berbagai godaan kenikmatan, kesenangan, kedudukan yang tidak wajar. Orang yang menggoda untuk berbuat tidak senonoh disebut orang lalim, orang yang tidak beruntung dalam berjual-beli dengan Allah.
wa laqod = dan sesunguhnya; hammat = ia suka; bihĩ = kepadanya; wa hamma = dan dia suka; bihã = kepadanya; lau lã = kalau tidak; ar ro-ã = dia melihat; burhãna = tanda-tanda; robbihĩ = keburukan; kadzãlika = dan perbuatan keji; linashrifa = sesungguhnya dia; ‘anhu = termasuk hamba-hamba-Ku; as sũ-a = keburukan; wal fahsyã-a = dan perbuatan keji; innahũ = sesungguhnya dia; min ‘ibãdinã = termasuk hamba-hamba-Ku; al mukhlashĩn = orang-orang yang ikhlas.
wa laqod hammat bihĩ, wa hamma bihã lau lã ar ro-ãburhãna robbihĩ kadzãlika linashrifa ‘anhus sũ-a wal fahsyã-a, innahũ min ‘ibãdinãl mukhlashĩn.

24. Dan sesungguhnya, wanita itu suka kepadanya (Yusuf), dan Yusuf (juga) suka kepadanya (Zulaikhah), kalau dia (Yusuf) tidak melihat tanda-tanda Rabnya (tentu dia melakukan perbuatan itu). Demikianlah, karena Aku hendak memalingkan keburukan dan perbuatan keji darinya. Sesungguhnya, dia (Yusuf) termasuk hamba-hamba-Ku yang ikhlas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Zulaikhah suka kepada Yusuf, Yusuf juga suka kepada Zulaikhah, namun Yusuf dibekali iman dan takwa kepada Allah, maka Yusuf tidak bertindak sesukanya. Ayat-ayat (petunjuk) Allah bentengnya. Maka perbuatan buruk, keji dapat dicegahnya. Yusuf menerima kadar hidupnya dengan ikhlas.
wastabaqo = keduanya berlumba; al bãba = (mencapai) pintu; wa qoddat = dan ia menarik hingga koyak; qomĩshohũ = gamis Yusuf; min duburĩn = dari belakang; wa alfayã = dan keduanya mendapati; sayyidahã = tuannya; lada = di depan; al bãbi = pintu; qolat = (wanita) berkata; mã jazã-u = apakah balasan; man = orang yang; arōda = bermaksud; bi-ahlika = dengan istri kamu; sũ-an = serong; illã = selain; an = agar (ia); yusjana = dipenjara; au = atau; ‘adzãbun = azab; alĩmu = yang pedih.
wastabaqol bãba wa qoddat qomĩshohũ min duburĩn wa alfayã sayyidahã ladal bãbi, qolat mã jazã-u man arōda bi-ahlika sũ-an illã an yusjana au ‘adzãbun alĩmu.
25. Keduanya berlumba menuju pintu, dan perempuan itu menarik bagian belakang gamis Yusuf sampai koyak, dan keduanya mendapati tuannya di depan pintu. Wanita itu berkata: “Apakah balasan atas orang yang bermaksud serong terhadap istrimu? Tidak lain ia harus dipenjara atau dihukum siksa yang pedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebohongan wanita itu memutarbalikkan kenyataan, Yusuf dikatakan akan berbuat serong terhadap dirinya. Padahal dirinya yang ingin kepada Yusuf, dan memaksanya untuk berbuat tak senonoh.
qōla = berkata; hiya = dia (Yusuf); rōwadatnĩ = menggodaku; ‘an nafsĩ = kepada diriku; wa syahida = dan memberi kesaksian; syahidun = seorang saksi; min ahlihã = dari keluarganya (perempuan); in kãna = jika adalah; qomĩshuhũ = gamisnya; qudda = koyak; min qubulin = dari depan; fa shodaqot = maka wanita itu benar; wa huwa = namun dia (Yusuf); minal kãdzibĩn = orang-orang yang dusta.
qōla hiya rōwadatnĩ ‘an nafsĩ, wa syahida syahidum min ahlihã in kãna qomĩshuhũ qudda min qubulin fa shodaqot wa huwa minal kãdzibĩn.
26. Dia (Yusuf) berkata: “Dia yang menggodaku, dan merayu diriku.” Seorang saksi dari keluarga wanita Itu memberi kesaksian: “Jika gamisnya koyak di bagian depan, maka wanita itu benar”. Namun dia (Yusuf) dianggap orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf berkata hal yang sesungguhnya, dan seorang saksi mengatakan sesuatu yang sesuai dengan fakta, namun Yusuf tetap dianggap dusta.
wa in = dan jika; kãna = ada; qomĩshuhũ = gamisnya; quddo = koyak; min dubũrin = di belakang; fakadzabat = maka (wanita) itu dusta; wa huwa = dan dia (Yusuf); mina = termasuk; ash shōdiqĩn = orang yang benar.
wa in kãna qomĩshuhũ quddo min dubũrin fakadzabat wa huwa minash shōdiqĩn.
27. “Dan jika gamisnya koyak di bagian belakang, maka wanita itu yang dusta, dan dia (Yusuf) termasuk yang benar”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini fakta yang sesungguhnya.

fa lammã = maka ketika; ro-ã = dia melihat; qomĩshohũ = gamisnya; quddo = koyak; min duburin = di belakang; qōla = dia berkata; innahũ = sesungguhnya (kejadian) itu; min kaidikunna = dari tipu daya kamu (wanita); inna = sesungguhnya; kaidakunna = tipu-daya kamu; ‘azhĩm = sangat memalukan.
fa lammã ro-ã qomĩshohũ quddo min duburin qōla innahũ min kaidikunna, inna kaidakunna ‘azhĩm.
28. Maka ketika dia (suami wanita itu) melihat gamisnya koyak di belakang, berkatalah dia: “Sesungguhnya (kejadian) itu tipu daya kamu (wanita), sesungguhnya, tipu daya kamu itu sangat memalukan”.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qitfir melihat kejadian itu sebagai tipu-daya istrinya yang sangat memalukan.
yusufu = Yusuf; a’ridh = berpalinglah (rahasiakanlah); ‘an hãdzã = dari kejadian ini; wastaghfiri = dan mohon ampunlah kamu (wanita); li dzambiki = atas dosa kamu (wanita); innaki = sesungguhnya kamu (wanita); kunti = kamu (wanita); mina = dari; al khothi-ĩn = orang-orang yang bersalah.
yusufu a’ridh ‘an hãdzã, wastaghfiri li dzambiki, innaki kunti minal khothi-ĩn.
29. Yusuf, rahasiakanlah kejadian ini, dan kamu (istri Qitfir) mohon ampunlah atas dosamu, sesungguhnya, kamu termasuk orang-orang yang bersalah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qitfir sebagai seorang yang terpandang, beriman meminta Yusuf merahasiakan kejadian yang memalukan dirinya yang berkedudukan terpandang. Beliau juga meminta istrinya agar memohon ampun kepada Allah atas kesalahan yang telah dibuatnya.
wa qōla = dan berkata; niswatun = wanita-wanita; fĩl madiinati = dari kota; amroatu = istri; al azĩzi = Pembesar Mesir; turōwidu = menggoda; fa tãhã = pembantunya; ‘an nafsihĩ = untuk (menuruti kehendak) dirinya; qod = sungguh; syaghofahã = sangat mendalam; huban = cintanya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōhã = sungguh Aku memandangnya; fĩ dholãlin = dalam kesesatan; mubĩnin = yang nyata.
wa qōla niswatun fĩl madiinati amroatul azĩzi turōwidu fa tãhã ‘an nafsihĩ, qod syaghofahã huban, innã lanarōhã fĩ dholãlim mubĩnin.

30. Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al Aziz (Pembesar Mesir) menggoda pembantunya untuk menuruti kehendak dirinya, sungguh cintanya sangat mendalam (kepada Yusuf). Sesungguhnya, kami melihat kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gosip wanita-wanita kota mengenai istri Pembesar Kota yang jatuh hati kepada pembantunya merebak. Mereka menilai perbuatan itu sangat tercela.

fa lammã = maka ketika; sami’at = wanita itu mendengar; bi makrihinna = cercaan mereka; arsalat = dia mengundang; ilaihinna = kepada mereka; wa a’tadat = dan dia menyediakan; lahunna = bagi mereka; muttaka-an = tempat duduk; wa ãtat = dan dia memberikan; kulla = masing-masing; wãhidatin = seorang; min hunna = dari mereka; sikkĩnan = sebuah pisau; wa qōlati = dan dia berkata; akhruj = keluarlah (tunjukkan dirimu); ‘alaihinna = kepada mereka; fa lammã = maka ketika; ro-ainahũ = mereka melihatnya; akbar nahũ = mereka kagum kepadanya; wa qotho’nã = dan mereka memotong; aidĩyahunna = jari-jari mereka; wa qulna = dan mereka berkata; hãsya = Mahasempurna; lillãhi = bagi Allah; mã hãdzã = bukanlah ini; basyaron = manusia; in hãdzã = tidak lain ini; illã = hanyalah; malakun = Malaikat; karĩmu = yang mulia.

fa lammã sami’at bi makrihinna arsalat ilaihinna wa a’tadat lahunna muttaka-an wa ãtat kulla wãhidatim min hunna sikkĩnan wa qōlati akhruj ‘alaihinna, fa lammã ro-ainahũ akbar nahũ wa qotho’nã aidĩyahunna wa qulna hãsya lillãhi mã hãdzã basyaron in hãdzã illã malakun karĩmu.

31. Maka ketika Zulaikhah mendengar cercaan mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu, dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian dia berkata (kepada Yusuf): “Keluarlah (tunjukkan dirimu) kepada mereka.” Maka ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada ketampanan rupanya, dan mereka memotong (jari) tangan mereka, dan berkata: “Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia, sesungguhnya, ia itu malaikat yang mulia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah istri yang merasa dirinya dicerca orang banyak, mencari akal, bagaimana agar mereka yang mencerca itu menyadari mengapa dirinya sampai berbuat tidak senonoh.
qōlat = wanita itu berkata; fadzãlikunna = maka itu dia; al ladzĩ = orang yang; lumtunnanĩ = kamu mencela aku; fĩhi = kepadanya; walaqod = dan sesungguhnya; rōwadtuhũ = aku telah menggoda dia; ‘an nafsihĩ = agar mengikuti kemauan diriku; fasta’shoma = namun dia menolak; wa la-il lam = dan jika tidak; yaf’al = dia melakukan; mã ãmuruhũ = apa yang aku perintahkan kepadanya; la yusjananna = niscaya dia dipenjara; wa layakũnan = dan niscaya dia menjadi; minash shōghirĩn = menjadi orang yang hina.
qōlat fadzãlikunnal ladzĩ lumtunnanĩ fĩhi, walaqod rōwadtuhũ ‘an nafsihĩ fasta’shoma, wa la-il lam yaf’al mã ãmuruhũ la yusjananna wa layakũnam minash shōghirĩn.
32. Wanita itu berkata, “Itulah orangnya yang (menyebabkan) aku (tertarik) kepadanya, dan sesungguhnya, aku telah menggodanya agar dia mengikuti kemauanku, namun dia menolak. Dan jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan, dan dia akan menjadi orang yang terhina.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih lanjutan ceritera istri yang mencari akal untuk pembenaran perbuatan yang tidak senonohnya.
qōla = Yusuf berkata; robbi = Rabku; as sajnu = penjara; ahabbu = lebih aku sukai; ilayya = bagiku; mimmã = dari apa; yad’ũnanĩ = mereka seru kepadaku; ilaih = kepadanya; wa illã = dan jika tidak; tashrif = Engkau palingkan; ‘annĩ = dariku; kaidahunna = tipu-daya mereka; ashbu = aku cenderung; ilaihinna = kepada mereka; wa akun = dan aku menjadi; mina = termasuk; al jãhilĩn = orang-orang yang bodoh.
qōla robbis sajnu ahabbu ilayya mimmã yad’ũnanĩ ilaih, wa illã tashrif ‘annĩ kaidahunna ashbu ilaihinna wa akum minal jãhilĩn.
33. Yusuf berkata: “Wahai Rabku, penjara bagiku lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau palingkan dariku tipu-dayanya, (pasti) aku termasuk orang-orang yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi manusia berakhlak jelek memenuhi ajakan berbuat tidak senonoh lebih disukai, dan mereka tidak juga menyukai hidup di penjara. Bagi Yusuf, penjara lebih disukai daripada memenuhi ajakan melakukan perbuatan tidak senonoh. Inilah pilihan orang cerdas.

fa astajãba = maka memperkenankan doa; lahũ = kepadanya (Yusuf); robbuhu = Rabnya; fashorofa = maka Dia palingkan; ‘anhu = darinya (Yusuf); kaidahunna = tipu-dayanya; innahũ = sesungguhnya, Dia; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.
fa astajãba lahũ robbuhu fashorofa ‘anhu kaidahunna, innahũ huwas samĩ’ul ‘alĩm.
34. Maka Rabnya memperkenankan doa Yusuf, maka Dia palingkan Yusuf dari tipu-dayanya. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Maha Mendengar doa makhluk-Nya, Allah juga Maha Mengetahui segala apa yang dipikirkan, dirasakan, dikerjakan makhluk-Nya. Allah Maha Memperkenankan doa makhluk-Nya.
tsumma = kemudian; badã = timbul; lahum = bagi mereka; mim ba’di = dari sesudah; mã = apa yang; ro awu = mereka lihat; al ãyãti = tanda-tanda; layas jununnahũ = mereka harus memenjarakannya; hattã = sampai (hingga); hĩnin = beberapa waktu.
tsumma badãlahum mim ba’di mã ro awul ãyãti layas jununnahũ hattã hĩnin
35. Kemudian timbul (pikiran) bagi mereka, sesudah mereka melihat tanda-tanda (kebenaran Yusuf), namun, mereka harus memenjarakan Yusuf, hingga beberapa waktu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Al Aziz dan para sabahatnya melihat berbagai bukti kebenaran, kejujuran Yusuf, namun mereka tetap memenjarakannya beberapa saat, maksudnya, agar tidak tersebar aib dan kejelekan keluarga Al Aziz. Manusia merencanakan sesuatu yang menuntut tanggung jawabnya di dunia dan di akhirat. Allah Maha Merencanakan segala sesuatu kejadian di alam semesta ini.
wa dakhola = dan masuk; ma’ahu = bersama dia; as sijna = penjara; fatayaani = dua orang pemuda; qōla = berkata; ahaduhumã = salah-satu dari keduanya; innĩ = sungguh aku; arōnĩ = aku melihat (bermimpi); a’shiru = aku memeras; khamron = anggur (khamar); wa qōla = dan berkata; al akhoru = yang lain; innĩ = sungguh aku; arōnĩ = aku melihat (bermimpi); ahmilu = aku membawa; fauqo = di atas; ro’si = kepalaku; khubzan = roti; ta’kulu = memakan; ath thoiru = burung; minhu = sebagiannya; nabi’nã = beritakan kepada Aku; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; innã = sungguh Aku; narōka = Aku memandang kamu; minal muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa dakhola ma’ahus sijna fatayaani, qōla ahaduhumã innĩ arōnĩ a’shiru khamron, wa qōla al akhoru innĩ arōnĩ ahmilu fauqo ro’si khubzan ta’kuluth thoiru minhu, nabi’nã bi ta’wĩlihĩ, innã narōka minal muhsinĩn.
36. Dan bersama dia, masuk pula dua orang pemuda ke penjara. Salah-satunya berkata, “Sungguh, aku bernimpi memeras anggur.” Dan yang lainnya berkata, “Aku bermimpi membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.” “Berikanlah takwilnya kepada kami. Sesungguhnya kami melihat kamu, termasuk orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf di dalam penjara bersama dua orang pemuda yang bermimpi dan meminta menakwilkannya karena mereka meyakini Yusuf memiliki kemampuan itu.
qōla = (Yusuf) berkata; lã ya’tĩkumã = tidak sampai kepada kamu berdua; tho’ãmun = makanan; turzaqōnihĩ = diberikan makanan itu; illã = melainkan; nabba’tukumã = aku beritakan kepada kamu berdua; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; qobla = sebelum; an ya’tiyakumã = makanan itu sampai kepada kamu berdua; dzãlikumã = yang demikian itu; mimmã = sebagian dari apa; ‘allamanĩ = mengajarkan kepadaku; robbĩ = Rabku; innĩ = sesungguhnya aku; taroktu = aku telah meninggalkan; millata = agama; qaumin = orang-orang; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa hum = sedang mereka; bil akhiroti = kepada ahir akhirat; hum = mereka; kãfirũn = orang-orang yang ingkar.
qōla lã ya’tĩkumã tho’ãmun turzaqōnihĩ illã nabba’tukumã bi ta’wĩlihĩ qobla an ya’tiyakumã, dzãlikumã mimmã ‘allamanĩ robbĩ innĩ taroktu millata qaumil lã yu’minũna billãhi wa hum bil akhiroti hum kãfirũn.
37. Yusuf berkata: “Telah dapat aku beritakan kepada kamu berdua tentang jenis makanan apa yang akan diberikan kepadamu berdua sebelum sampai makanan itu kepadamu. Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan oleh Rabku. Sesungguhnya, aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar terhadap hari akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf dapat menakwilkan jenis makanan apa yang akan diberikan, sebelum sampai kepada dua orang pemuda sambil mengikrarkan bahwa beliau mampu menakwilkan itu karena telah mendapatkan pelajaran dari Rabnya, artinya mengimani Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu di langit dan di bumi, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, serta dia sudah tidak menganut agama orang yang tidak percaya kepada Allah, dan pada hari akhirat.
wat taba’tu = dan aku mengikuti; millata = agama; ãbã-ĩ = bapak-bapakku; ibrōhĩma = Ibrahim; wa is-hãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; mã = tidak; kãna = pantas; lanã = bagi Aku; an = untuk; nusyrika = Aku menyekutukannya; bil lãhi = dengan Allah; min syai-in = dari sesuatu; dzãlika = yang demikian itu; min fadhlil lãhi = dari karunai Allah; ‘alainã = atas Aku; wa ‘alan nãsi = dan atas manusia; wa lãkinna = akan tetapi; akstaron nãsi = kebanyakan manusia; lã yasykurũn = mereka tidak bersyukur.
wat taba’tu millata ãbã-ĩ ibrōhĩma wa is-hãqo wa ya’qũba, mã kãna lanã an nusyrika bil lãhi min syai-in dzãlika min fadhlil lãhi ‘alainã wa ‘alan nãsi wa lãkinna akstaron nãsi lã yasykurũn.

38. Dan aku mengikuti agama nenek-moyangku Ibrahim, Is-haq, dan Ya’qub. Tidak pantas bagi Aku (para Nabi) menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah karunia dari Allah kepada Aku, dan kepada manusia (semuanya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mengikuti agama nenek-moyangnya. Para Nabi tidak pantas menyekutukan sesuatu apa dengan Allah. Tidak menyekutukan Allah dengan segala sesuatu itu karunia Allah bagi semua makhluk-Nya. Tapi kebanyakan makhluk-Nya tidak bersyukur. Ini peringatan kepada semua manusia agar jangan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, dan harus bersyukur atas segala karunia-Nya.

yã shohibayi = wahai dua penghuni; as sijni = penjara; ‘a-arbãbun = apakah tuhan-tuhan; mutafarriqũna = yang bermacam-macam; khoirun = lebih baik; ami = ataukah; allãhu = Allah; al wãhidu = Yang Maha-esa; al qohhar = Mahaperkasa.
yã shohibayi as sijni ‘a-arbãbum mutafarriqũna khoirun amillãhul wãhidul qohhar.
39. Wahai dua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu, ataukah Allah Yang Maha-esa, Mahaperkasa?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan pilihan, mana yang terbaik bagi seseorang dalam mempercayai sesembahannya. Pertanyaan realistis dan demokratis serta pernyataan Allah itu Maha-esa, Mahaperkasa.
mã ta’budũna = janganlah kamu sekalian mengabdi (menyembah); min dũnihĩ = dari selain Dia; illa asmã-an = kecuali nama-nama; sammaitumũhã = kamu sekalian menamakannya; antum = kamu sekalian; wa ãbã-ukum = dan nenek-moyang kamu sekalian; mã = tidak; anzalallãhu = Allah menurunkan; bihã = dengannya; min sulthōnin = dari kekuatan; ini = tidaklah; al hukmu = hukum (keputusan) itu; illa = kecuali; lillah = kepunyaan Allah; amaro = Dia perintahkan; illã = agar jangan; ta’budũ = kamu sekalian sembah; illã = kecuali (selain); iyyãhu = kepada Dia; dzãlika = demikian itulah; ad diinu = agama; al qoyyimu = yang lurus; wa lã kinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
mã ta’budũna min dũnihĩ illa asmã-an sammaitumũhã antum wa ãbã-ukum mã anzalallãhu bihã min sulthōnin, inil hukmu illa lillah, amaro illã ta’budũ illã iyyãhu, dzãlikad diinul qoyyimu wa lã kinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

40. Apa yang kamu sembah selain Dia, hanya nama-nama yang dibuat-buat oleh nenek-moyang kamu. Allah tidak menurunkan keterangan tentang nama-nama itu. Ketentuan nama-nama hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintah, agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mendakwahi kedua tawanan itu, pada hakekatnya untuk semua manusia di dunia tentang Allah yang seharusnya disembah. Seharusnya semua makhluk di jagat raya, dan semua manusia mengetahui.

yã shōhibayis sijni = wahai dua penghuni penjara; ammã = adapun; ahadukumã = salah seorang dari kamu berdua; fa yasqĩ = akan menyediakan minum; robbahũ = tuannya; khamron = khamar; wa ammã = dan adapun; al ãkhoru = yang lain; fa yushlabu = maka akan disalib; fa ta’kulu = lalu memakan; ath thoirru = burung; min = sebagian; ro’sihĩ = kepalanya; qodhiya = diputuskan; al amru = perkara; al ladzĩ = yang; fĩhi = padanya; tastaftiyaan = kamu berdua menanyakannya.
yã shōhibayis sijni ammã ahadukumã fa yasqĩ robbahũ khamron, wa ammãl ãkhoru fa yushlabu fa ta’kuluth thoirru mir ro’sihĩ, qodhiyal amrul ladzĩ fĩhi astaftiyaan.

41. Wahai dua penghuni penjara, salah seorang di antara kamu berdua, akan bertugas menyediakan minuman khamar bagi tuannya. Adapun yang seorang lagi , dia akan disalib, lalu burung akan memakan sebagian kepalanya. Telah terjawab perkara yang kamu tanyakan (kepadaku).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah jawaban takwil mimpi kedua orang yang dipenjara. Yang bernimpi memeras anggur diampuni, dan yang bermimpi membawa roti di atas kepalanya, akan disalib. Sebagian kepalanya akan dimakan burung.
wa qōla = dan (Yusuf) berkata; lilladzĩ = kepada orang yang; zhonna = dia menyangka; annahũ = sesungguhnya ia; nãjin = selamat; min huma = di antara keduanya; udz kurnĩ = terangkan keadaanku; ‘inda = di hadapan; robbika = tuan kamu; fa ansãhu = maka menjadikan ia lupa; sy syaithōnu = setan; dzikro = menerangkan; robbihĩ = tuannya; falabitsa = maka (Yusuf) tetap; fis sijni = di dalam penjara; bidh’a = beberapa; sinĩn = tahun.
wa qōla lilladzĩ zhonna annahũ nãjim min humadzkurnĩ ‘inda robbika fa ansãhusy syaithōnu dzikro robbihĩ falabitsa fis sijni bidh’a sinĩn.

42. Dan Yusuf berkata kepada orang yang disangkanya akan selamat di antara keduanya, “Terangkan (keadaan)ku kepada tuanmu.” Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya, maka tetaplah Yusuf di dalam penjara beberapa tahun lamanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Yusuf yang mengharapkan kebebasan dengan meminta bantuan orang yang disangka selamat, agar memberitahukan kepada tuannya tentang keadaan Yusuf yang teraniaya dimasukkan penjara tanpa dosa. Namun, ujian bagi Yusuf, setan menjadikan orang tersebut lupa menerangkan keadaan Yusuf, sehinngga dia tetap berada di dalam penjara dalam beberapa tahun.

wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; innĩ = sesungguhnya, aku; arō = melihat (bermimpi); sab’a = tujuh; baqorōtin = sapi; simaanin = gemuk; ya’kuluhunna = memakan mereka; sab’un = tujuh; ‘ijãfun = kurus; wa sab’a = dan tujuh; sumbulãtin = tangkai; khudhrin = hijau; wa ukhoro = dan yang lain; yã bisaatin = kering; yã ayyuha = wahai; al malã-u = orang-orang terkemuka; aftũnĩ = terangkanlah kepadaku; fĩ ru’yãya = dalam mimpiku; inkuntum = jika kamu adalah; lir ru’yã = bagi mimpi; ta’burũn = kamu takbirkan.

wa qōlal maliku innĩ arō sab’a baqorōtin simaanin ya’kuluhunna sab’un ‘ijãfun wa sab’a sumbulãtin khudhrin wa ukhoro yã bisaatin, yã ayyuhal malã-u aftũnĩ fĩ ru’yãya inkuntum lir ru’yã ta’burũn

43. Raja berkata kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya: “Sesungguhnya, aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus-kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering. Wahai orang-orang terkemuka, terangkanlah kepadaku, takbir mimpiku itu, jika kamu dapat menakbirkan mimpi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah mimpi raja yang melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi kurus, ini berbeda dengan kisah sapi betina dalam Surat Al Baqarah, 2: 67 – 71

qōlũ = mereka berkata; adhghōtsu = kacau-balau; ahlamin = mimpi; wa mã nahnu = dan kami tidak; bi ta’wĩli = dengan takwil; al ahlãmi = mimpi; bi’ãlimĩn = orang-orang yang mengetahui.

qōlũ adhghōtsu ahlamin, wa mã nahnu bi ta’wĩlil ahlãmi bi’ãlimĩn.

44. Mereka berkata: “Mimpi itu kacau-balau, dan kami tidak mengetahui takwil mimpi itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mimpi raja dianggap mimpi yang kacau, tidak bisa ditakwilkan oleh para cerdik-pandai, orang-orang terkemuka yang hadir.
wa qōla = dan berkata; al ladzĩ = orang yang; najã = selamat; min humã = di antara keduanya; waddakaro = dan teringat; ba’da = sesudah; ummatin = umat; ana = aku; unabbi-ukum = aku akan memberitahukan kepadamu; bi ta’wĩlihĩ = dengan takwilnya; fa arsilũn = maka utuslah aku.

wa qōlal ladzĩ najã min humã waddakaro ba’da ummatin ana unabbi-ukum bi ta’wĩlihĩ fa arsilũn.

45. Dan berkatalah orang yang selamat di antara keduanya, ketika teringat (kepada Yusuf) sesudah (melupakan) beberapa waktu lamanya, “Aku beritahu kepadamu orang yang pandai mentakwilkan mimpi itu. Maka, utuslah aku (menemuinya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera orang yang selamat dari hukuman dan teringat kepada Yusuf yang pandai menakwilkan mimpinya.

yũsufu = Yusuf; ayyuha = wahai; ash shiddĩqu = orang yang paling berpengetahuan; aftinã = terangkan kepada Aku; fĩ sab’i = tentang tujuh; baqarōtin = sapi betina; simaanin = gemuk; ya’kuluhunna = dimakan mereka; sab’un = tujuh; ‘ijãfun = kurus; wa sab’i = dan tujuh; sumbulãtin = tangkai; khudhrin = hijau; wa ukhoro = dan yang lain; yãbisaatin = kering; la’allĩ = agar aku; arji’u = akan kembali; ilaannãsi = kepada orang-orang; la’allahum = supaya mereka; ya’lamũn = mereka mengetahui

yũsufu ayyuhash shiddĩqu aftinã fĩ sab’i baqarōtin simaanin ya’kuluhunna sab’un ‘ijãfun wa sab’i sumbulãtin khudhrin wa ukhoro yãbisaatil la’allĩ arji’u ilaannãsi la’allahum ya’lamũn.

46. Hai Yusuf, orang yang paling berpengetahuan, terangkan kepada aku tentang tujuh sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina yang kurus-kurus, dan tujuh tangkai gandum yang hijau dan tujuh tangkai gandum lainnya yang kering, agar jika aku kembali kepada orang-orang itu, mereka akan mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf diminta menerangkan takwil mimpi raja. Ash shiddĩqi artinya orang yang berilmu dan berpengetahuan luas.
qōla = (Yusuf) berkata; tazrō’ũna = kamu bertanam; sab’a = tujuh; sinĩna = tahun; da-aban = seperti biasa; fa mã = maka apa; hashodtum = kamu tuai; fadzarũhu = maka tinggalkan; fĩ sumbulihĩ = pada tangkainya; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimmã = dari apa yang; ta’kulũn = kamu makan.
qōla tazrō’ũna sab’a sinĩna da-aban fa mã hashodtum fadzarũhu fĩ sumbulihĩ illã qolĩlam mimmã ta’kulũn.

47. Yusuf berkata, “Kamu bertanam seperti biasa selama tujuh tahun, maka apa yang sudah kamu tuai, biarkan saja di tangkainya, kecuali sedikit (boleh diambil) untuk kamu makan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menyarankan agar selama tujuh tahun ke depan bertanam (artinya kebanyakan penduduk hidup dari hasil pertanian) seperti biasa. Setelah dipanen, biarkan gandum itu di tangkainya (artinya diawetkan, bisa disimpan dalam jangka waktu lama) kecuali sedikit boleh diambil hanya sekedar untuk makan.
tsumma = kemudian; ya’tĩ = datang; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu (demikian); sab’un = tujuh; syidãdun = amat sulit; ya’kulna = mereka memakan; mã qoddamtum = apa yang kamu sediakan; lahunna = bagi mereka; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimmã = dari apa (bibit); tuhshinũn = kamu simpan.
tsumma ya’tĩ mim ba’di dzãlika sab’un syidãdun ya’kulna mã qoddamtum lahunna illã qolĩlam mimmã tuhshinũn.

48. Kemudian sesudah itu datang tujuh (tahun) yang amat sulit (paceklik) yang menghabiskan (makanan) apa yang kamu sediakan bagi mereka, kecuali sedikit dari (bibit) yang kamu simpan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini takwil mimpi yang diperlukan. Manusia harus siaga (berjaga-jaga) untuk masa sulit yang akan datang. Perlu perkiraan untuk masa yang akan datang.
tsumma = kemudian; ya’tĩ = datang; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu (demikian); ‘ãmun = tahun; fĩhi = padanya; yughōtsu = diberi hujan; an nãsi = manusia; wa fĩhi = dan padanya; ya’shirũn = mereka memeras anggur.
tsumma ya’tĩ mim ba’di dzãlika ‘ãmun fĩhi yughōtsun nãsi wa fĩhi ya’shirũn.

49. Kemudian sesudah itu, datang tahun yang cukup (melimpah) hujan bagi manusia, waktu itu mereka memeras anggur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada masa makmur, manusia mendapatkan kesempatan untuk melakukan pemenuhan berbagai kebutuhan lainnya.
wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; u’tũnĩ = bawalah kepadaku; bihĩ = dengan dia; fa lammã = maka ketika; jã-ahu = datang kepadanya; ar rosũlu = utusan; qōla = (Yusuf) berkata; irji’ = kembalilah; ilã robbika = kepada tuanmu; fas-alhu = maka tanyakanlah kepadanya; mã bãlu = bagaimana halnya; an niswati = wanita-wanita; al lãtĩ = yang; qoththo’na = mereka memotong; aidiyahunna = jari-jari tangannya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; bi kaidihinna = dengan tipu-daya mereka; ‘alĩmun = Maha Mengetahui.
wa qōlal maliku’ tũnĩ bihĩ, fa lammã jã-ahur rosũlu qōlarji’ ilã robbika fas-alhu mã bãlun niswatil lãtĩ qoththo’na aidiyahunna, inna robbĩ bi kaidihinna ‘alĩmun.

50. Dan raja berkata: “Bawalah dia kepadaku.” Maka, ketika utusan itu datang kepadanya (Yusuf), Yusuf berkata, “Kembalilah kepada tuanmu, dan tanyakan kepadanya, bagaimana halnya wanita-wanita yang telah memotong jari-jari tangannya, sesungguhnya, Rabku Maha Mengetahui tipu-daya mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera raja yang ingin bertemu dengan Yusuf, dan Yusuf melalui pesuruh raja meminta penjelasan tentang wanita-wanita yang memotong jari-jari tangannya dahulu. Yusuf berkata: “Rabku Maha Mengetahui tipu-daya mereka.”

qōla = (Raja) berkata; mã = apa yang …; khothbukunna = (wanita-wanita) bicarakan; idz = ketika; rōwat tunna = kamu sekalian menggoda; yũsufa = Yusuf; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; qulna = mereka berkata; hãsya = Mahasempurna; lillãhi = bagi Allah; mã = tidak; ‘alimnã = Aku ketahui; ‘alaihi = atasnya; min sũ-in = dari keburukan; qōlat = berkata; imro-atu = istri; al azĩzi = Al Aziz; al ãna = sekarang; hosh-hosho = jelaslah; al haqqu = kebenaran; anã = aku; rōwat tuhũ = aku menggodanya; ‘an nafsihĩ = dari dirinya; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; lamina = sungguh termasuk; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

qōla mã khothbukunna idz rōwat tunna yũsufa ‘an nafsihĩ, qulna hãsya lillãhi mã ‘alimnã ‘alaihi min sũ-in, qōlatimro-atul azĩzil ãna hosh-hoshol haqqu, anã rōwat tuhũ ‘an nafsihĩ wa innahũ laminash shōdiqĩn.

51. Raja berkata (kepada wanita-wanita itu), “Apa yang terjadi, ketika kamu menggoda Yusuf untuk (menundukkan) dirinya (kepadamu)?” Mereka berkata: “Mahasempurna Allah, aku tidak mengetahui suatu keburukan pun darinya.” Berkata istri Al Aziz: “Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya (untuk menundukkan) dirinya, dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang benar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog raja, wanita-wanita, dan istri raja yang tergoda oleh kecakapan yang sempurna dari Yusuf.
dzãlika = yang demikian itu; liya’lama = agar dia (raja) mengetahui; annĩ = bahwa aku; lam akhunhu = tidak mengkhianatinya; bil ghoibi = ketika dia tidak ada; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; kaida = tipu-daya; al khō-inĩn = orang-orang yang berkhianat.
dzãlika liya’lama annĩ lam akhunhu bil ghoibi wa annallãha lã yahdĩ kaidal khō-inĩn.

52. Yang demikian itu agar dia (raja) mengetahui, bahwa aku tidak berkhianat kepadanya ketika dia tidak ada, dan Allah tidak memberi petunjuk tipu daya kepada orang-orang yang berkhianat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan khianat adalah perbuatan menutup-nutupi atau menyembunyikan kebenaran fakta atau suatu kejadian, mencari kemudahan, kesenangan, kenyamanan, kenikmatan dengan cara yang tidak terpuji, mengurangi timbangan atau sesuatu yang seharusnya diberikan, menahan atau mengambil hak orang lain, mencuri, tidak bertanggung jawab atas kewajibannya, tidak menepati janji, membocorkan rahasia, berdusta, melakukan tipu-daya, curang, murtad. Khianat dan dusta, curang, menipu, murtad melahirkan berbagai kejahatan, kejelekan, dan keburukan, merusak tata sosial di masyarakat, pemerintahan negara. Istri raja ternyata pandai mencari alasan yang baik, agar raja mengetahui, ia (istri raja) tidak berkhianat kalau raja sedang tidak ada, dan Allah tidak akan memberi petunjuk tipu daya kepada orang-orang yang berkhianat. Setan yang memberi petunjuk untuk orang-orang yang berkhianat. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hati manusia.

Juz 13
wa mã = dan tidak; ubarrĩ-u = aku membebaskan; nafsĩ = diriku (nafsuku); inna = sesungguhnya; an nafsa = nafsu itu; la ammãrotun = selalu menyuruh; bissũ-i = pada kejahatan; illã = kecuali; mã = apa yang; rohima = diberi rahmat; robbĩ = Rabku; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa mã ubarrĩ-u nafsĩ innan nafsa la ammãrotum bissũ-i illã mã rohima robbĩ inna robbĩ ghofũrur rohĩm.
53. Dan, aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya, nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabku. Sesungguhnya, Rabku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Istri raja ternyata menggunakan akal dan pikirannya, serta memberikan argumentasi tentang perilakunya yang demikian itu karena adanya nafsu yang ada dalam dirinya. Ada nafsu karena ajakan setan, dan ada nafsu yang dirahmati Allah, artinya nafsu yang terikat oleh Hukumullah dan Sunatullah (mengenal batas dan norma-norma hidup yang baik dan benar). Ada nafsu amarah (ingin memiliki, ingin menguasai), nafsu lauwamah (kenikmatan, kenyamanan), nafsu sufiah (keindahan, kemewahan, kemegahan, kemuliaan), nafsu mutmainnah (ketenangan, ketenteraman, kedamaian, kesantaian, kemalasan). Ajakan setan memenuhi nafsu secara berlebihan, tidak ada batas kepuasan. Nafsu yang dirahmati Allah adalah nafsu yang terkendali ada batas-batas yang baik, sesuai dengan situasi dan kondisi; dan benar, sesuai dengan aturan hidup, norma etika, emika, aestetika.
wa qōla = dan berkata; al maliku = raja; a’tũnĩ = bawalah kepadaku; bihĩ = dengannya; astakhlish-hu = aku memilihnya; li nafsĩ = untuk diriku; fa lammã = maka ketika; kallamãhũ = bercakap-cakap dengan dia (Yusuf); qōla = dia (raja) berkata; innaka = sesungguhnya kamu; al yauma = hari ini; ladainã = di sisi Aku; makĩnun = kedudukan tinggi; amĩn = yang dipercaya.
wa qōlal maliku a’tũnĩ bihĩ astakhlish-hu li nafsĩ, fa lammã kallamãhũ qōla innakal yauma ladainã makĩnun amĩn.
54. Dan raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, aku akan menetapkan agar dia (Yusuf) menjadi orang yang dekat denganku.” Maka, setelah raja bercakap-cakap dengan dia (Yusuf), maka raja berkata: “Sesungguhnya, kamu (Yusuf) mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya di hadapanku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggerakkan hati raja agar Yusuf dekat dengannya, dan akan diberi kedudukan yang baik, tinggi, serta terpercaya. Kedudukan seseorang di dunia itu tergantung upaya, keimanan dan ketakwaannya kepada Allah. Allah akan menetapkan kedudukannya di dunia, dan nanti di akhirat.
qōla = (Yusuf) berkata; aj’alnĩ = jadikanlah aku; ‘alã = pada; khozã-ini = (jabatan) bendaharawan; al ardhi = di negara (Mesir); innĩ = sesungguhnya aku; hafĩzhun = seorang penjaga; ‘alĩm = yang berpengetahuan.
qōla aj’alnĩ ‘alã khozã-inil ardhi, innĩ hafĩzhun ‘alĩm.
55. Yusuf berkata: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesung-guhnya, aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menunjukkan kepribadian, kesanggupan, dan ke-mampuannya (jati dirinya), tidak dengan kesombongan, tapi dengan latar belakang ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang dimiliknya.
wa kadzãlika = dan demikianlah; makkannã = Aku memberi kedudukan; li yũsufi = kepada Yusuf; al ardhi = di dunia; yatabawwa-u = dia tinggal; minhã = di sana; hoitsu = dimana saja; yasyã-u = dia kehendaki; nushĩbu = Aku limpahkan; birohmatinã = dengan rahmat Aku; man = siapa yang …; nasyã-u = Aku kehendaki; wa lã = dan tidak; nudhĩ’u = Aku menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa kadzãlika makkannã li yũsufil ardhi yatabawwa-u minhã hoitsu yasyã-u, nushĩbu birohmatinã man nasyã-u, wa lã nudhĩ’u ajrol muhsinĩn.
56. Dan demikianlah, Aku (Allah) memberi kududukan kepada Yusuf di bumi (negeri Mesir), (dia berkuasa penuh) pergi ke mana saja yang ia kehendaki di bumi Mesir. Aku melimpahkan rahmat kepada yang Aku kehendaki, dan Aku tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Allah selalu membalas orang-orang yang berbuat baik dan benar dengan pahala yang tidak sia-sia, berlipat-ganda. Perbuatan baik dan benar seseorang yang tidak beriman kepada Allah, dan hari akhirat balasannya hanya di dunia saja, di akhirat menjadi sia-sia karena amal baik dan benarnya tidak tersangkut dengan kasih-sayang Allah Yang menciptakannya.

wa la ajru = dan sungguh pahala; al akhiroti = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa kaanũ = dan mereka yang …; yattaqũn = (mereka) bertakwa.
wa la ajrul akhiroti khoirul lilladzĩna ãmanũ wa kaanũ yattaqũn.
57. Dan sesungguhnya, pahala di akhirat, lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pahala akhirat itu lebih baik daripada pahala di dunia. Syaratnya harus beriman, dan selalu bertakwa. Beriman artinya harus selalu mengingat Allah Yang menciptakannya, membaca Kitab pada umumnya, khususnya Alquran, mengakui adanya Nabi-nabi, khususnya Nabi Muhammad saw. , mengakui Malaikat-malaikat, mengakui Hari Akhir, mengakui adanya qodo dan qodar. Bertakwa artinya selalu memperhatikan dan melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya dengan bersungguh-sungguh dan sangat berhati-hati.
wa jã-a = dan datang; ikhwãtu = saudara-saudara; yũsufa = Yusuf; fadakholũ = lalu mereka masuk; ‘alaihi = ke tempatnya; fa’arofahum = maka dia mengenal mereka; wa hum = sedang mereka; lahũ = kepadanya; munkirũn = orang-orang yang tidak mengenal.
wa jã-a ikhwãtu yũsufa fadakholũ ‘alaihi fa’arofahum, wa hum lahũ munkirũn
58. Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) ke tempatnya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak mengenalnya lagi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketika musim paceklik, Ya’qub menyuruh anak-anaknya mencari bahan makanan sampai ke Mesir. Pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya, ternyata sudah diatur Allah. Yusuf sudah berkedudukan tinggi, kaya-raya, saudara-saudaranya memerlukan bantuan pangan. Yusuf mengenal saudara-saudaranya, sedang saudara-saudaranya tidak mengenalinya. Mereka dibutakan Allah.

wa lammã = dan ketika; jahhazahum = dia menyiapkan bahan makanan mereka; bi jahãzihim = dengan bekal mereka; qōla = (Yusuf) berkata; a’tũnĩ = bawalah kepadaku; bi akhin = dengan saudara; lakum = bagi kamu sekalian; min abĩkum = dari ayah kamu sekalian; alã = tidakkah; tarauna = kamu sekalian melihat; annĩ = bahwa aku; ũfĩ = aku menyempurnakan; al munzilĩn = penerima tamu

wa lammã jahhazahum bi jahãzihim qōla a’tũnĩ bi akhil lakum min abĩkum, alã tarauna annĩ ũfĩl kaila wa ana khoirul munzilĩn.

59. Dan ketika Yusuf menyiapkan bahan makanan dan bekal untuk mereka, ia (Yusuf) berkata: “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat, aku menyempurnakan sukatan, dan aku itu sebaik-baik penerima tamu?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf memuliakan, menjamu, dan melayani saudara-saudaranya dengan sebaik-baiknya. Kemudian, mereka (saudara-saudaranya Yusuf) memberitahu, bahwa mereka mempunyai saudara seayah yang tidak turut serta bersama mereka (Bunyamin). Yusuf melelengkapi sukatan, sesuai dengan jumlah keluarga yang disebutkan, namun dengan syarat, suadaranya yang tidak dibawa itu harus diperlihatkan kepada Yusuf. Maka Yusuf berkata: “Bawalah saudara seayah kamu kepadaku, bukankah aku telah menyempurnakan sukatan, menghormati, dan menerima kamu dengan sebaik-baiknya?”

fa illam = maka jika; ta’tũni = kamu bawa kepadaku; bihĩ = dengannya; fa lã = maka tidak ada; kaila = sukatan; lakum = bagi kamu sekalian; ‘indĩ = dariku; wa lã taqrobũn = dan kamu jangan mendekatiku.
fa illam ta’tũni bihĩ fa lã kaila lakum ‘indĩ wa lã taqrobũn.

60. Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi dariku, dan jangan kamu mendekatiku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf mengancam saudara-saudaranya, tidak akan mendapatkan jatah gandum, dan tidak boleh mendekat lagi kepadanya, jika mereka tidak membawa serta saudara seayahnya (Bunyamin).

qōlũ = mereka berkata; sanurōwidu = kami akan membujuk; anhu = darinya; abãhu = bapaknya; wa innã = dan sungguh kami; la fã’ilũn = benar-benar akan melaksanakan.

qōlũ sanurōwidu anhu abãhu wa innã la fã’ilũn.

61. Mereka berkata: “Kami akan membujuk bapaknya (agar dapat membawa saudaranya) darinya, dan sungguh. kami akan melaksanakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf berjanji akan bersungguh-sungguh membujuk bapaknya agar memberikan Bunyamin untuk dapat dibawa ke Mesir.
wa qōla = dan (Yusuf) berkata; li fit-yaanihi = kepada para pembantunya; aj’alũ = masukkan; bi dhō’atahum = dengan barang-barang (penukar) mereka; fĩ rihãlihim = ke karung-karung mereka; la ‘allahum = supaya mereka; ya’rifũ nahã = mereka mengetahuinya; idzã = ketika; anqolabũ = mereka telah kembali; ilã = ke; ahlihim = keluarganya; la’allahum = supaya mereka; yarji’ũn = (mudah-mudahan) mereka kembali.
wa qōla li fit-yaanihi aj’alũ bi dhō’atahum fĩ rihãlihim la ‘allahum ya’rifũ nahã idzã anqolabũ ilã ahlihim la’allahum yarji’ũn.

62. Dan Yusuf berkata kepada para pembantunya, “Masukkanlah barang-barang (penukar) mereka ke karung-karungnya, agar mereka mengetahuinya, ketika mereka telah kembali ke keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera taktik Yusuf agar saudara-saudaranya kembali lagi ke Mesir sambil membawa saudaranya yang bernaman Bunyamin. Yusuf memasukkan kembali barang-barang penukar bahan pangannya. Barang-barang penukar itu berupa kulit binatang yang telah disamak dan terompah.

fa lammã = maka ketika; roja’ũ = mereka kembali; ilã = kepada; abĩhim = bapak mereka; qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak kami; muni’a = tidak diberi; minnã = dari kami; al kailu = sukatan; fa-arsil = maka kirimlah; ma’anã = bersama kami; akhōnã = saudara kami; naktal = kami mendapat sukatan; wa innã = dan sungguh kami; lahũ = kepadanya; lahōfizhũn = benar-benar orang yang menjaga.
fa lammã roja’ũ ilã abĩhim qōlũ yã abãnã muni’a minnãl kailu fa-arsil ma’anã akhōnã naktal wa innã lahũ lahōfizhũn.

63. Maka ketika mereka telah kembali kepada bapaknya (Ya’qub), mereka berkata: “Wahai Bapak kami, kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, jika tidak membawa saudara kami, karena itu, biarkanlah saudara kami pergi bersama kami, agar kami mendapat jatah, dan kami benar-benar akan menjaganya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub membujuk bapaknya agar memper-kenankan Bunyamin pergi bersama mereka ke Mesir untuk memenuhi syarat mendapatkan jatah gandum. Mereka berjanji akan menjaganya.

qōla = (Ya’qub) berkata; hal = bagaimana (apakah); ãmanukum = aku mempercayai kamu sekalian; ‘alaihi = atasnya; illã = kecuali; kamã = seperti (sebagaimana); ãmintukum = aku mempercayai kamu sekalian; ‘alã = atas; akhĩhi = saudaranya; min qoblu = dari dahulu (sebelumnya); fallãhu = maka Allah; khoirun = sebaik-baik; hãfizhon = penjaga; wa huwa arhamu = dan Dia Maha Penyayang; ar rōhimĩn = pãra penyayang.

qōla hal ãmanukum ‘alaihi illã kamã ãmintukum ‘alã akhĩhi min qoblu, fallãhu khoirun hãfizhon, wa huwa arhamur rōhimĩn.

64. Berkata (Ya’qub): “Bagaimana aku akan mempercayakan (Bunyamin) kepada kamu sekalian, seperti aku mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu. Maka, Allahlah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara bapak dan anak-anaknya. Bapaknya tidak ingin kehilangan anak untuk kedua kalinya. Akan tetapi karena hal itu menjadi syarat untuk mendapatkan jatah makanan yang diperlukan, maka ia (Bapaknya) bertawakal kepada Allah, dan menegaskan: “Allahlah sebaik-baik Penjaga, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.”

wa lammã = dan ketika; fatahũ = mereka membuka; matã’ahum = barang-barang mereka; wa jadũ = mereka menemukan; bi dhō’atahum = barang-barang mereka; ruddat = dikembalikan; ilaihim = kepada mereka; qōlũ = mereka berkata; yã abãnã = wahai Bapak Aku; mã = apa yang; nabghĩ = Aku inginkan; hãdzihĩ = ini; bi dhō’atunã = barang-barang Aku; ruddat = dikembalikan; ilainã = kepada kita; wa namĩru = dan kita beri makan; ahlanã = keluarga kita; wa nahfazhu = dan Aku akan menjaga; akhōnã = saudara kita; wa nazdãdu = dan Aku mendapat tambahan; kaila = sukatan (seberat); ba’ĩrin = seekor unta; dzãlika = demikian itu; kailun = sukatan; yasĩru = yang mudah.

wa lammã fatahũ matã’ahum wa jadũ bi dhō’atahum ruddat ilaihim, qōlũ yã abãnã mã nabghĩ hãdzihĩ bi dhō’atunã ruddat ilainã wa namĩru ahlanã wa nahfazhu akhōnã wa nazdãdu kaila ba’ĩrin, dzãlika kailun yasĩru.

65. Dan ketika mereka membuka barang-barang mereka, mereka menemukan barang-barang penukar mereka dikembalikan kepada mereka, mereka berkata, “Wahai Bapak kami, apa lagi yang kita inginkan, ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita dapat memberi makan keluarga kita, dan kita dapat menjaga keluarga kita, dan kita akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta, itu suatu hal yang mudah (bagi Raja Mesir).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera anak-anaknya Ya’qub saat membuka bungkusan barang dari Raja Mesir.
qōla = (Ya’qub) berkata; lan = tidak akan; ursilahũ = aku melepaskannya; ma’akum = bersama kamu; hattã = sehingga; tu’tũni = kamu datangkan kepadaku; mautsiqon = janji yang teguh; minallãhi = dari Allah; lata’tunnanĩ = pasti kamu datangkan kepadaku; bihĩ = dengannya; illã = kecuali; an = bahwa; yuhãtho = dikepung; bikum = pada kamu; fa lammã = maka ketika; ãtũhu = mereka memberinya; mautsiqohum = janji mereka; qōlallãhu = (Ya’qub) berkata Allah; ‘alã = atas; mã = apa yang; naqũlu = kamu sekalian ucapkan; wakĩlun = saksi;
qōla lan ursilahũ ma’akum hattã tu’tũni mautsiqom minallãhi lata’tunnanĩ bihĩ illã an yuhãtho bikum, fa lammã ãtũhu mautsiqohum qōlallãhu ‘alã mã naqũlu wakĩlun

66. (Ya’qub) berkata: “Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu berjanji kepadaku atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali kamu dikepung (musuh).” Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya’qub) berkata: “Allah adalah saksi atas apa yang kamu ucapkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Ya’qub dengan anak-anaknya saat Ya’qub akan melepaskan Bunyamin. Ya’qub meminta anak-anaknya berjanji (bersumpah) atas nama Allah, bahwa mereka pasti akan membawa Bunyamin kembali kepadanya, kecuali mereka terkepung musuh (menghadapi bahaya besar). Janji (nadzar) dalam Islam, sama dengan sumpah, harus ditepati. Kalau tidak ditepati, ini merupakan salah satu tanda atau ciri dari orang munafik, lihat catatan Q.s Al Fatihah, 1 : 2, 3; Al Baqarah, 2 : Catatan Awal).
wa qōla = dan (Ya’qub) berkata; yã banĩnna = wahai anak-anakku; lã tadkhulũ = jangan kamu masuk; min = dari; bãbin = pintu; wãhidin = satu; wãdkhulũ = dan masuklah; min = dari; abwãbin = pintu-pintu; mutafarriqoh = yang berlainan; wa mã = dan tidak; ughnĩ = aku dapat melepaskan (mempertahankan); ‘ankum = dari kamu sekalian; minallãhi = dari (takdir) Allah; min = dari; syai-in = sedikit pun; ini = tidak ada; al hukmu = keputusan; illa = hanyalah; lillãh = dari Allah; ‘alaihi = kepada-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa ‘alaihi = dan kepada-Nya; falyatawakkali = hendaknya bertawakal; al mutawakkilũn = orang-orang yang bertawakal.
wa qōla yã banĩnna lã tadkhulũ mimbãbin wãhidin wãdkhulũ min abwãbim mutafarriqoh, wa mã ughnĩ ‘ankum minallãhi min syai-in inil hukmu illa lillãh, ‘alaihi tawakkaltu, wa ‘alaihi falyatawakkalil mutawakkilũn.

67. Dan Ya’qub berkata, “Wahai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu gerbang, dan masuklah dari gerbang-gerbang yang berbeda, namun demikian, aku tidak dapat mempertahankan kamu sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan itu hanya dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal, dan kepada-Nya pula bertawakal orang-orang yang bertawakal.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub menasihati dan melarang anak-anaknya masuk dari satu pintu. Dia menyarankan masuk dari pintu-pintu yang berbeda. Namum Allah Mahakuasa dalam menetapkan takdir makhluk-Nya. Makhluk-Nya harus bertawakal kepada-Nya.

wa lammã = dan ketika; dakholũ = mereka masuk; min = dari; haitsu = sekiranya menurut; amarohum = perintah kepada mereka; abũhum = bapak mereka; mã = tidak; kãna = ada; yughnĩ = melepaskan; ‘anhum = dari mereka; minallãhi = dari Allah; min syai-in = sedikit pun dari; illã = hanyalah; hojatan = keinginan; fĩ nafsi = dari diri; ya’qũba = Ya’qub; qodhōha = dia tetapkan; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; ladzũ = dia mempunyai; ‘ilmin = pengetahuan; limã = karena apa yang; ‘allamnãhu = Aku telah mengajarkan; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaron = kebanyakan; nãsi = manusia; lã ya’lamũn = tidak mengetahui.

wa lammã dakholũ min haitsu amarohum abũhum mã kãna yughnĩ ‘anhum minallãhi min syai-in illã hojatan fĩ nafsi ya’qũba qodhōha, wa innahũ ladzũ ‘ilmil limã ‘allamnãhu wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

68. Dan ketika mereka masuk sesuai dengan perintah bapak mereka, (mereka masuk itu) tidak dapat menolak sedikit pun ketetapan Allah, (tetapi itu) hanya keinginan dari diri Ya’qub yang telah ditetapkan-Nya. Dan sesungguhnya, dia, Ya’qub mempunyai pengetahuan, karena Aku telah mengajarkan kepadanya. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub berupaya menaati perintah bapaknya. Allah memberi pengetahuan kepada Ya’qub apa yang harus dilakukan anak-anaknya. Ini rahasia Allah, manusia lain tidak mengetahui rahasia ini. Allah dapat juga mengajarkan pengetahuan kepada para Nabi dan juga kepada umat manusia pada umumnya. Umat manusia pada umumnya, banyak yang dapat memanfaatkannya, banyak pula yang tidak dapat memanfaatkannya. Banyak pula yang tidak mengetahuinya.
wa lammã = dan ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alã = ke tempat; yũsufa = Yusuf; ãwã = ia membawa; ilaihi = kepadanya; akhōhu = saudaranya; qōla = (Yusuf) berkata; innĩ = sesungguhnya aku; anã = aku; akhũka = saudara kamu; fa lã = maka jangan; tabta-is = jangan sedih; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa lammã dakholũ ‘alã yũsufa ãwã ilaihi akhōhu, qōla innĩ anã akhũka fa lã tabta-is bimã kaanũ ya’malũn.

69. Dan ketika mereka masuk ke tempat Yusuf, dia menempatkan saudaranya (Bunyamin) di tempatnya, dia (Yusuf) berkata: “Sesungguhnya, aku sauda-ramu, jangan engkau sedih atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera pertemuan Yusuf dengan saudaranya, Bunyamin. Pertemuan ini masih harus dirahasiakan.

fa lammã = maka ketika; jahhazahum = ia menyiapkan untuk mereka; bi jahãzihim = dengan persiapan mereka; ja’ala = ia masukkan; as siqōyata = tempat minum; fĩ rohli = di dalam karung; akhĩhi = saudaranya; tsumma = kemudian; adzdzana = berseru; mu-adzdzinun = seorang penyeru; ayyatuhã = wahai; al ‘ĩru = kafilah; innakum = sesungguhnya kamu (jamak); lasãriqũn = pasti para pencuri.
fa lammã jahhazahum bi jahãzihim ja’alas siqōyata fĩ rohli akhĩhi tsumma adzdzana mu-adzdzinun ayyatuhãl ‘ĩru innakum lasãriqũn.

70. Maka ketika telah disiapkan bahan makanan untuk mereka, dia (Yusuf) memasukkan piala ke dalam karung saudaranya. Kemudian berteriaklah seseorang penyeru, “Wahai kafilah, sungguhnya kamu pasti pencuri,”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sandiwara yang dilakukan Yusuf, agar saudaranya (Bunyamin) tertahan di Mesir.
qōlũ = mereka bertanya; wa aqbalũ = sambil mereka menghadap; ‘alaihim = kepada yang menuduh; mãdzã = barang apa; tafqidũn = kamu kehilangan.
qōlũ wa aqbalũ ‘alaihim mãdzã tafqidũn.

71. Mereka bertanya sambil menghadap kepada yang menuduh: “Kamu kehilangan barang apa?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan perasaan tak bersalah saudara-saudara Bunyamin menghadapi orang yang menuduh.
qōlũ = mereka menjawab; nafqidu = Aku kehilangan; shuwã’a = alat takar; al maliki = raja; wa li man = dan barang siapa; jã’a = mengembalikan; bihĩ = barang itu; himlu = (makanan) seberat; ba’ĩrin = unta; wa ana = dan aku; bihĩ = dengan itu; za’imun = orang yang menjamin.
qōlũ nafqidu shuwã’al maliki wa li man jã’a bihĩ himlu ba’ĩrin wa ana bihĩ za’imun.

72. Mereka menjawab: “Aku kehilangan alat takar, dan siapa yang dapat me-ngembalikannya, akan memperoleh (bahan makanan seberat) beban unta, dan aku menjamin itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih terkait dengan sandiwara Yusuf. Alat takar itu berupa piala yang dapat dipakai tempat (wadah) minuman.

qōlũ = Saudara-saudara Yusuf menjawab; tallãhi = demi Allah; laqod = sesungguhnya; ‘alimtum = kamu (jamak) telah mengetahui; mã = tidak; ji’nã = kami datang; li nufsida = untuk membuat kerusakan; fil ardhi = di negeri ini; wa mã = dan bukan; kunnã = kami adalah; sãriqĩn = orang-orang yang mencuri.

qōlũ tallãhi laqod ‘alimtum mã ji’nã li nufsida fil ardhi wa mã kunnã sãriqĩn.

73. Mereka (saudara-saudara Yusuf) menjawab: “Demi Allah, sungguh, kamu mengetahui, kami datang bukan untuk membuat kerusakan di negeri ini, dan kami bukanlah para pencuri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Reaksi saudara-saudaranya Yusuf yang merasa tidak melakukan pencurian.

qōlũ = mereka berkata; famã = maka apa; jazã-uhũ = balasannya; in = jika; kuntum = kamu adalah; kãdzibĩn = orang-orang yang berdusta.

qōlũ famã jazã-uhũ in kuntum kãdzibĩn.

74. Mereka berkata: “Tetapi apa hukumannya, jika kamu dusta.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog penuduh dengan yang dituduh.

qōlũ = mereka (para pejabat Negara Mesir) menjawab; jazã-uhũ = hukumannya; man = siapa yang; wujida = ditemukan; fĩ = di dalam; rohlihĩ = karungnya; fa huwa =maka dia; jazã-uhũ = balasannya; kadzãlika = demikianlah; najzĩ = Aku beri pembalasan; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

qōlũ jazã-uhũ man wujida fĩ rohlihĩ fa huwa jazã-uhũ, kadzãlika najzĩzh zhōlimĩn.

75. Mereka menjawab: “Hukumannya ialah, dalam karung siapa ditemukan (barang yang hilang), maka dialah sendiri yang menerima hukumannya. Demikianlah, Aku memberi hukuman kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Barang tersebut sudah direncanakan tempatnya oleh Yusuf, yaitu di dalam karung Bunyamin. Hukuman dalam syariat Nabi Ya’qub: “Orang yang mencuri, hukumannya dijadikan budak selama satu tahun.”

fa bada-a = maka (Yusuf) memulai; bi au’iyatihim = dengan karung-karung mereka; qobla = sebelum; wi’ã-i = karung; akhĩhi = saudaranya; tsumma = kemudian; astakhrojahã = ia mengeluarkannya (piala); min wi’ã-i = dari karung; akhĩhi = saudaranya; kadzãlika = demikianlah; kidnã = Aku mengatur; li yũsufa = untuk Yusuf; mã = tidak; kãna = dapat (pantas); li ya’khuda = untuk menghukum; akhōhu = saudaranya; fĩ diini = dalam peraturan; al maliki = raja; illã = kecuali; an = jika; yasyã’allãhu = Allah menghendaki; narfa’u = Aku tinggikan; darojãtin = derajat; man = siapa yang; nasyã-u = Aku kehendaki; wa fauqo = dan di atas; kulli = tiap-tiap; dzĩ = yang memiliki; ‘ilmin = ilmu; ‘alĩm = yang lebih mengetahui.

fa bada-a bi au’iyatihim qobla wi’ã-i akhĩhi tsumma astakhrojahã min wi’ã-i akhĩhi, kadzãlika kidnã li yũsufa, mã kãna li ya’khuda akhōhu fĩ diinil maliki illã an yasyã’allãhu, narfa’u darojãtim man nasyã-u, wa fauqo kulli dzĩ ‘ilmin ‘alĩm.

76. Maka memulailah dia (Yusuf memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan (piala raja) itu dari karung saudaranya. Demikianlah Aku mengatur (rencana) untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya menurut peraturan raja, kecuali jika Allah menghendakinya. Aku angkat derajat seseorang yang Aku kehendaki; dan di atas setiap orang yang berilmu, ada yang lebih banyak mengetahui (ilmu).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rencana Yusuf itu ternyata dari Allah. Semua peristiwa yang terjadi pada keluarga Ya’qub itu diketahui Allah. Pelaku-pelaku bertindak atas kehendak dan hasil pikirannya sendiri. Allah mengetahui semuanya. Allah mempunyai rencana mengangkat derajat seseorang yang dikehendaki. Derajat seseorang akan terangkat atau menurun sesuai dengan keimanan dan kebersihan pikiran, anugerah Allah. Semua menjadi ujian jalan hidup seseorang manusia yang dibekali akal dan pikiran beserta iman dan takwanya kepada Allah.

qōlũ = Mereka berkata; in = jika; yasriq = dia mencuri; fa qod = maka sungguh; saroqa = telah mencuri; akhun = saudaranya; lahũ = baginya; min = dari; qoblu = sebelumnya; fa asarrohã = maka menyembunyikannya; yũsufa = Yusuf; fĩ = di dalam; nafsihĩ = dirinya; wa lam = dan tidak; yubdihã = ia menampakkan; lahum = kepada mereka; qōla = ia berkata; antum = kamu semua; syarrun = lebih buruk; makãnan = kedudukan; wallãhu = dan Allah; a’lamu = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa yang; tashifũn = kamu terangkan.

qōlũ in yasriq fa qod saroqa akhul lahũ min qoblu, fa asarrohã yũsufa fĩ nafsihĩ wa lam yubdihã lahum, qōla antum syarrum makãnan, wallãhu a’lamu bimã tashifũn.

77. Mereka berkata: “Jika dia mencuri, maka sebelum itu saudaranya pun pernah pula mencuri.” Maka Yusuf merahasiakan isi hatinya, dan tidak ditunjukkan kepada mereka (saudara-saudaranya). Dia berkata di dalam hatinya (Yusuf): “Kedudukanmu justru lebih buruk. Allah Mahatahu apa yang mereka terangkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Percakapan saudara-saudaranya Yusuf dengan Yusuf. Yusuf merahasiakan isi hatinya

qōlũ = mereka berkata; yã ayyuha = wahai; al ‘azĩzu = Al Aziz; inna = sesungguhnya; lahũ = baginya; aban = bapak; syaihan = yang tua; kabĩron = sekali (superlatif); fa khud = maka ambillah; ahodanã = salah seorang di antara Aku; makãnahũ = kedudukannya (penggantinya); inna = sesungguhnya; narōka = Aku melihat kamu; mina = dari (termasuk); al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

qōlũ yã ayyuhal ‘azĩzu inna lahũ aban syaihan kabĩron fa khud ahodanã makãnahũ, inna narōka minal muhsinĩn.

78. Mereka berkata: “Wahai al Aziz, sesungguhnya, dia mempunyai bapak yang sudah lanjut usianya, karena itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya, kami melihat engkau termasuk orang-orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Bunyamin berupaya agar Bunyamin tidak ditahan. Sebagai penggantinya, mereka memohon kepada raja, agar mengambil salah seorang di antara mereka sebagai gantinya.
qōla = (Yusuf) berkata; ma’ãdza = memohon perlindungan; allãhi = Allah; an = bahwa; na’khudza = aku menahan; illã = kecuali; man = orang yang; wajadnã = aku dapati; matã’anã = harta bendaku; ‘indahũ = padanya; innã = sesungguhnya Aku; idzan = jika demikian; lazhōlimũn = tentu orang-orang yang lalim.
qōla ma’ãdzallãhi an na’khudza illã man wajadnã matã’anã ‘indahũ innã idzal lazhōlimũn.

79. Yusuf berkata: “Aku memohon perlindungan kepada Allah karena menahan seseorang, kecuali orang yang aku temukan hartaku padanya, jika aku tidak berbuat demikian, aku orang yang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf berdalih penahanan seseorang itu harus sesuai dengan hukum dan kenyataan temuannya.

fa lammã = maka ketika; astai-asũ = mereka berputus asa; min hu = darinya (keputusan Yusuf); kholashũ = mereka mengelompok; najiyyan = sambil berbisik-bisik; qōla = mereka berkata; kabĩruhum = yang tertua di antara mereka; alam = tidakkah; ta’lamũ = kamu sekalian ketahui; anna = bahwa; abãkum = bapak kamu; qod = sungguh; akhodza = telah mengambil; ‘alaikum = atas kamu; mũtsiqon = janji; minallãhi = dengan (nama) Allah; wa min = dan dari; qoblu = sebelum itu; mã = apa yang; farroth tum = kamu sekalian menyia-nyiakannya; fĩ = pada; yũsufa = Yusuf; fa lan = maka tidak akan; abroha = aku meninggalkan; al ardho = bumi (negeri); hattã = sehingga; ya’dzana = mengizinkan; lĩ abĩ = kepada bapakku; au = atau; yahkumallãhu = Allah memberi keputusan; lĩ = kepadaku; wa huwa = dan Dia; khoiru = sebaik-baik; al hãkimĩn = para hakim.

fa lammã astai-asũ min hu kholashũ najiyyan, qōla kabĩruhum alam ta’lamũ anna abãkum qod akhodza ‘alaikum mũtsiqom minallãhi wa min qoblu mã farroth tum fĩ yũsufa, fa lan abrohal ardho hattã ya’dzana lĩ abĩ au yahkumallãhu lĩ, wa huwakhoirul hãkimĩn.

80. Maka ketika mereka berputus-asa darinya (keputusan Yusuf) mereka mengelompok sambil berunding dengan berbisik-bisik: “Tidakkah kamu ingat bahwa bapakmu telah mengambil janji dari kamu dengan menyebut nama Allah, dan sebelum itu, kamu telah menyia-nyiakan Yusuf. Dan Dia adalah hakim yang terbaik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat rangkaian kejadiannya pada ayat 52, 61, 63, 66. Mereka menyadari bahwa Allah itu Hakim yang terbaik.
arji’ũ = kembalilah; ilã = kepada, ke; abĩkum = bapak kamu semua; faqũlũ = maka katakanlah; yã abãnã = wahai bapakku; inna = sesungguhnya; abnãka = anakmu; saroqo = telah mencuri; wa mã = dan tidak; syahidnã = kami menyaksikan; illã = selain, kecuali; bimã = dengan apa yang; ‘alimnã = kami ketahui; wa mã = dan tidaklah; kunnã = kami adalah; lil ghoini = kepada yang gaib; hãfidhin = orang-orang yang mengetahui.
arji’ũ ilã abĩkum faqũlũ yã abãnã innabnãka saroqo wa mã syahidnã illã bimã ‘alimnã wa mã kunnã lil ghoini hãfidhin.

81. Kembalilah kepada bapak kamu semua, dan katakanlah: “Wahai bapak kami, sesungguhnya anakmu telah mencuri, dan kami hanya menyaksikan, apa yang kami ketahui, dan kami tidak mengetahui apa yang gaib (di balik) itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf menyarankan saudara-saudaranya mengatakan seperti yang tersebut pada ayat ini.
was-alil = dan tanyakanlah; quryata = negeri; al latĩ = yang; kunnã = kami berada; fĩhã = di sana, di dalamnya; wal’ĩrō = dan kafilah; al latĩ = yang; aqbalnã = kami datang; fĩhã = di dalamnya; wa innã = dan sungguh kami; la shōdiqũn = sungguh orang-orang yang benar.
was-alil quryatal latĩ kunnã fĩhã wal’ĩrōl latĩ aqbal nã fĩhã, wa innã la shōdiqũn.

82. Dan tanyalah (penduduk) negeri tempat kami berada, dan kafilah yang bersama kami, bahwa kami sungguh orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub berupaya meyakinkan bapaknya, tentang apa yang telah dialami di negeri Mesir itu benar.
qōla = (Ya’qub) berkata; bal = sebenarnya, bahkan, hanya; sawwalat = memandang baik; lakum = bagi kamu semua; anfusukum = diri kamu semua; amron = perkara; fasobrun = maka kesabaraku; jamĩlun = yang tebaik; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an ya’tiyanĩ = akan mendatangkan kepadaku; bihim = dengan mereka; jami’an = semuanya; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al alĩmu = Maha Mengetahui; al hakĩm = Mahabijaksana
qōla bal sawwalat lakum anfusukum amron, fasobrun jamĩlun, ‘asallãhu an ya’tiyanĩ bihim jami’an, innahũ huwal alĩmul hakĩm.

83. Ya’qub berkata: “Sebenarnya, hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan (yang buruk) itu. Maka kesabaranku itulah yang terbaik. Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub menanggapi apa yang disampaikan anak-anaknya itu dengan penuh kesabaran dan bijaksana.
wa tawallã = dan dia (Ya’qub) berpaling; ‘anhum = dari mereka (anak-anaknya); wa qōla = sambil berkata; yã asfã = ãduhai duka-citaku; ’alã = pada; yũsufa = Yusuf; wabyadhdhat = dan memutih; ‘ainãhu = kedua matanya; mina = karena; al huzni = kesedihan; fa huwa = maka dia; kazhĩmun = orang yang menahan marah.
wa tawallã ‘anhum wa qōla yã asfã’alã yũsufa wabyadhdhat ‘ainãhu minal huzni fa huwa kazhĩmun.

84. Dan ia (Ya’qub) berpaling dari mereka (anak-anaknya) sambil berkata: “Aduhai duka-citaku pada Yusuf,” dan kedua matanya memutih karena sedih, dia diam menahan amarah kepada anak-anaknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub berpaling dari anak-anaknya sambil berkeluh-kesah karena sedih sampai matanya memutih (menjadi buta).
qōlũ = mereka (anak-anak Ya’qub) berkata; tallãhi = demi Allah; tafta-ũ = engkau senantiasa; tadzkuru = engkau mengingat; yũsufa = Yusuf; hattã = sampai; takũna = engkau adalah; harodhon = penyakit yang berat; au = atau; takũna = engkau adalah; mina = termasuk; al hãlikĩn = orang-orang yang binasa.
qōlũ tallãhi tafta-ũ tadzkuru yũsufa hattã takũna harodhon au takũna minal hãlikĩn.

85. Mereka berkata: “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sampai engkau mengidap penyakit berat, atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anaknya juga berkeluh-kesah atas peri-laku bapaknya yang selalu mengingat Yusuf, sampai mereka seperti mengharapkan bapaknya menjadi sakit berat dan akan menemui ajalnya. Ahlaq jelek kalau anak mengharapkan orang tuanya sakit-sakitan, dan segera wafat.
qōla = (Ya’qub) berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; asykũ = aku mengadukan; batstsi = kesusahanku; wa huznĩ = dan kesedihanku; ilallãhi = kepada Allah; wa a’lamu = dan aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu sekalian mengetahui.
qōla innamã asykũ batstsi wa huznĩ ilallãhi wa a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

86. Ya’qub menjawab: “Hanya kepada Allah, aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu ketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jawaban Ya’qub kepada anak-anaknya. Ya’qub mengetahui apa yang tidak mereka (anak-anaknya) ketahui. Jadi, soal Yusuf dan kemudian Bunyamin, sesungguhnya Ya’qub sudah mengetahui keberadaannya.

yã banĩyya = wahai anak-anakku; adzhabũ = pergilah kamu sekalian; fatahassasũ = maka carilah (selidikilah); min yũsufa = tentang Yusuf; wa akhĩhi = dan saudaranya; wa lã = dan jangan; ta-iasu = kamu berputus asa; mir rōuhillãhi = dari rahmat Allah; innahũ = sesungguhnya; lã = tidak; ya-iasu = berputus asa; min = dari; rōuhillãhi = rahmat allah; illã = kecuali, melainkan; al qoumu = kaum; al kãfirũn = (orang-orang) yang kafir.
yã banĩyya adzhabũ fatahassasũ min yũsufa wa akhĩhi wa lã ta-iasu mir rōuhillãhi, innahũ lã ya-iasu mir rōuhillãhi illãl qoumul kãfirũn.

87. Wahai anak-anakku, pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf, dan saudaranya, dan kamu jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub memerintah anak-anaknya agar mencari berita tentang Yusuf dan saudaranya dengan nasihat (untuk semua manusia) jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.

fa lammã = maka ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alaihi = kepadanya (Yusuf); qōlũ = mereka berkata; yã ayyuha = wahai; al azĩzu = yang mulia; massanã = telah menimpa Aku; wa ahlana = dan keluarga Aku; adh dhurru = kesengsaraan; wa ji’nã = dan Aku datang; bibidhō’atin = dengan barang-barang; muzjãtin = tak berharga; fa aufi = maka sumpurnakanlah; lanã = untuk Aku; al kaila = takaran; wa tashoddaq = dan bersedekahlah; ‘alainã = kepada Aku; innallãha = sesungguhnya Allah; yajzĩ = memberi balasan; al mutashoddiqĩn = orang-orang yang bersedekah.
fa lammã dakholũ ‘alaihi qōlũ yã ayyuhal azĩzu massanã wa ahlanadh dhurru wa ji’nã bibidhō’atim muzjãtin fa aufi lanãl kaila wa tashoddaq ‘alainã, innallãha yajzĩl mutashoddiqĩn.

88. Maka ketika mereka masuk kepadanya (Yusuf), mereka berkata wahai yang mulia (Al Azizu), kesengsaraan telah menimpa kami dan keluaraga, dan kami datang dengan barang-barang tak berharga, maka penuhilah takaran (gandum) untuk kami, dan bersedekahlah untuk kami. Sesungguhnya Allah memberi balasan kepada orang yang bersedekah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf mengeluhkan kesengsaraan kepada Yusuf dan memohon sedekah agar dipenuhi takaran gandumnya meskipun dengan penukaran barang-barang yang kurang berharga.
qōla = (Yusuf) berkata; hal = apakah; ‘alimtum = kamu sekalian mengetahui; mã = apa yang; fa’altum = kamu sekalian lakukan; bi yũsufa = kepada Yusuf; wa akhĩhi = dan saudaranya; idz = ketika; antum = kamu sekalian; jãhilũn = tidak menyadari perbuatanmu.
qōla hal ‘alimtum mã fa’altum bi yũsufa wa akhĩhi idz antum jãhilũn.

89. Yusuf berkata, “tahukah kamu (kejelekan) apa yang telah kamu perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya karena kamu tidak menyadari (akibat) perbuatanmu itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf membuka rahasia dirinya dengan pertanyaantentang hal yang sudah diperbuat saudara-saudaranya itu.

qōlũ = mereka berkata; a-innaka = apakah sungguh-sungguh kamu; la anta = benar-benar kamu; yũsufu = Yusuf; qōla = dia menjawab; ana = aku; yũsufu = Yusuf; wa hãdzã = dan ini; akhĩ = saudaraku; qod = sungguh; mannallãhu = Allah telah melimpahkan karunia-Nya; ‘alaina = kepada Aku; innahũ = sesungguhnya; man = barang siapa; yattaqi = bertakwa; wa yashbir = bersabar; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yudhĩ’u = Dia tidak menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

qōlũ a-innaka la anta yũsufu, qōla ana yũsufu wa hãdzã akhĩ, qod mannallãhu ‘alaina, innahũ man yattaqi wa yashbir fa innallãha lã yudhĩ’u akhrol muhsinĩn.

90. Mereka berkata, “Apakah engkau benar-benar Yusuf”. Dia (Yusuf) menjawab, “Aku Yusuf dan ini saudaraku. Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada Aku. Sesungguhnya, barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya masih belum yakin bahwa yang ditemuinya itu Yusuf, dan Yusuf menegaskan kebenaran dirinya sambil memberi pelajaran bahwa Allah memberikan karunia kepada orang-orang yang bertakwa, bersabar, dan berbuat baik.

qōlũ = mereka berkata; tallãhi = demi Allah; laqod = sesungguhnya; ãtsarokallãhu = Allah telah melebihkan kamu; ‘alainã = di atas Aku; wa in = dan sungguh; kunnã = Aku itu; la khōthi-ĩn = sungguh orang-orang yang berdosa.

qōlũ tallãhi laqod ãtsarokallãhu ‘alainã wa in kunnã la khōthi-ĩn.

91. Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkan engkau di atas Aku, dan sesungguhnya, Aku itu orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Saudara-saudaranya Yusuf akhirnya menyadari kesalahan yang pernah dilakukannya kepada Yusuf. Allah Mahabijaksana dalam mengaruniakan ilmu, kebijaksanaan, dan keutamaan pada makhluk-Nya. Kesalahan dan dosa seseorang itu akibat kesalahan cara berpikir atas apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya atas sesuatu. Untuk menghindari kesalahan seperti ini, seseorang harus benar-benar mengikuti petunjuk dari Allah, dan memohon kepada Allah agar diberi petunjuk dan tidak tersesat.

qōla = (Yusuf) berkata; lã = tidak; tatsrĩba = cercaan; ‘alaikumu = kepadamu; al yauma = hari ini; yaghfirullãhu = Allah mengampuni; lakum = kepada kamu sekalian; wa huwa = dan Dia; arhamun = Maha Penyayang; ar rōhimĩn = para penyayang.
qōla lã tatsrĩba ‘alaikumul yaghfirullãhu lakum, wa huwa arhamur rōhimĩn.
92. Yusuf berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan kepadamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah fakta menjadi jelas, Allah melalui Yusuf menyampaikan pesan kepada saudara-saudaranya (hakekatnya kepada semua manusia) seperti yang tersurat dalam ayat ini. Tidak ada hinaan, ejekan, cercaan atas apa yang sudah diperbuat. Manusia selama masih dalam keadaan hidup, dan sadar harus selalu berharap pada kemurahan Allah mengampuni perbuatan masa lalu yang salah, bahkan yang dirasa tidak salah, juga permohonan mãf, ampun harus selalu disampaikan kepada Allah. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya.

adzhabũ = pergilah kamu sekalian; bi qomĩshĩ = dengan gamisku; hãdzã = ini; fa alqũhu = maka usapkanlah gamis itu; ‘alã = pada; wajhi = wajahnya; abĩy = bapakku; ya’ti = gamis itu akan menyebabkan; bashĩron = dapat melihat; wa’tũnĩ = dan bawalah kepadaku; bi ahlikum = dengan keluarga kamu sekalian; ajma’ĩn =seluruh, semua.

adzhabũ bi qomĩshĩ hãdzã fa alqũhu ‘alã wajhi abĩy ya’ti bashĩron wa’tũnĩ bi ahlikum ajma’ĩn.

93. Pergilah kamu dengan membawa gamisku lalu usapkan ke wajah ayahku, nanti gamis itu akan menyebabkan dapat melihat kembali, dan bawalah seluruh keluargamu kepadaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yusuf memerintah saudara-saudaranya membawa gamisnya agar diusapkan ke wajah bapaknya. Gamis itu akan menjadi sebab sembuh bapaknya dari kebutaan. Kemudian Yusuf meminta seluruh keluarganya di bawa ke hadapannya.

wa lammã = dan ketika; fasholati = telah berangkat (menuju); al ‘ĩru = kafilah; qōla = berkata; abũhum = bapak mereka; innĩ = sesungguhnya aku; la-ajidu = aku tercium (mendapati); rĩha = bau (angin); yũsufa = Yusuf; lau = kalau, sekiranya; lã = tidak; an = bahwa; tufannidũn = kamu menuduh aku lemah akal.

wa lammã fasholatil ‘ĩru qōla abũhum innĩ la-ajidu rĩha yũsufa, lau lã an tufannidũn.

94. Dan ketika kafilah itu telah berangkat menuju negeri Mesir, bapak mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kamu tidak menuduh aku lemah akal (tentu kamu membenarkannya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub merasakan keberadaan Yusuf, seperti tercium aroma badan Yusuf. Padahal kafilahnya baru saja keluar dari Mesir, masih jauh jarak Ya’qub dengan gamis .

qōlũ = (mereka, keluarganya) berkata; tallãhi = demi Allah; innaka = sesungguhnya Bapak; la fĩ = benar-benar dalam; dholãlika = kekeliruan; al qodiim = seperti dahulu.

qōlũ tallãhi innaka la fĩ dholãlikal qodiim.

95. Mereka, keluarganya berkata, demi Allah, sesungguhnya Bapak benar-benar dalam kekeliruan seperti dahulu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub menganggap apa yang dirasakan Ya’qub itu tidak benar, karena terlalu menyayangi Yusuf secara berlebihan.
fa lammã = maka ketika; an = bahwa; jã-a = telah datang; al basyĩru = pembawa kabar gembira; al qōhu = ia meletakkannya; ‘alã = pada; wajhihĩ = wajahnya (Ya’qub); fa artadda = lalu dia kembali; bashĩron = dapat melihat; qōla = (Ya’qub) berkata; alam = tidakkah; aqul = aku katakan; lakum = kepada kamu sekalian; innĩ = sesungguhnya aku; a’lamu = aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã = apa yang; lã = tidak; ta’lamũn = kamu sekalian mengetahui.

fa lammã an jã-al basyĩrul qōhu ‘alã wajhihĩ fa artadda bashĩron, qōla alam aqul lakum innĩ a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

96. Maka, ketika telah datang pembawa kabar gembira itu, maka diusapkannya gamis itu ke wajahnya (Ya’qub), lalu dia kembali dapat melihat. Ya’qub berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu sekalian ketahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembawa kabar gembira bahwa Yusuf masih hidup datang, dan gamis Yusuf saat diusapkan ke wajahnya, maka Ya’qub pun dapat melihat kembali. Dengan rasa gembira, Ya’qub berkata, “Bukankah telah aku katakan kepadamu, bahwa aku mengetahui dari Allah, apa yang tidak kamu sekalian ketahui.” Allah memberitahu seseorang tentang sesuatu, orang lain tidak diberitahu tentang sesuatu itu. Orang lain harus percaya, ada seseorang yang diberitahu tentang sesuatu dari Allah.
qōlũ = mereka berkata; yã = wahai; abãnã = Bapak kami; as taghfir = mohonkanlah ampunan; lanã = bagi kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; innã = sesungguhnya kami; kunnã = kami adalah; khōthi-ĩn = orang-orang yang bersalah.

qōlũ yã abãnãs taghfir lanã dzunũbanã innã kunnã khōthi-ĩn.

97. Mereka berkata, “Wahai Bapak kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya, kami ini orang-orang yang bersalah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak-anak Ya’qub mohon diampuni kesalahannya melalui bapaknya.

qōla = (Ya’qub) berkata; saufa = nanti; astaghfiru = aku akan memohonkan ampun; lakum = untuk kamu sekalian; robbĩ = kepada Rabku; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

qōla saufa astaghfiru lakum robbĩ, innahũ huwal ghofũrur rohĩm.

98. Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kamu sekalian kepada Rabku, Sesungguhnya, Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ya’qub (sebagai Nabi) berjanji akan memohonkan ampun bagi anak-anaknya. Ya’qub percaya, Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Apakah Allah mengampuni yang bersangkutan? Allah yang menetapkan.

fa lammã = maka ketika; dakholũ = mereka masuk; ‘alã = ke (tempat); yũsufa = Yusuf; ãwã = dia hampiri (merangkul); ilaihi = kepadanya; abawaihi = kedua orangtuanya; wa qōla = dan berkata; adkhulũ = masuklah tuan-tuan sekalian; mishro = negeri Mesir; insyã-allãhu = jika Allah mengendaki; ãminĩn = keadaan aman.

fa lammã dakholũ ‘alã yũsufa ãwã ilaihi abawaihi wa qōla adkhulũ mishro insyã-allãhu ãminĩn.

99. Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, dia (Yusuf) merangkul dan (menyiapkan tempat untuk) kedua orang tuanya, seraya berkata, “Masuklah tuan-tuan sekalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera masuknya keluarga Ya’qub ke negeri Mesir, tergambar kesiapan, kesantunan dan kesigapan Yusuf dalam menyambut kedatangan orang tuanya.
wa rofa’a = dan dia menaikkan; abawaihi = kedua orang tuanya; ‘alã = ke atas; al ‘arsyi = singgasananya; wa kharrũ = dan mereka tersungkur; lahũ = kepadanya; sujjadan = bersujud; wa qōla = dan (Yusuf) berkata; yã abati = wahai Bapakku; hãdzã = inilah; ta’wĩlu = takwil; ru’yãya = mimpiku; min qoblu = dahulu; qod = sungguh; ja’alahã = telah menjadikannya; robbĩ = Rabku; haqqon = kenyataan; wa qod = dan sesungguhnya; ahsana = Dia telah berbuat baik; bĩ = padaku; idz = ketika; akhrojanĩ = Dia mengeluarkanku; mina = dari; as sijni = penjara; wa jã-a = dan Dia datangkan; bikum = dengan kamu sekalian; mina = dari; al badwi = dusun; mim ba’di = dari sesudah; an nazagho = bahwa mengganggu; asy syaithōnu = setan; bainĩ = antara aku; wa baina = dan antara; ikhwatĩ = saudaraku; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; lathĩfun = Mahalemah-lembut; limã = terhadap apa; yasyã-u = Dia kehendaki; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; al ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Maha Bijaksana.
wa rofa’a abawaihi ‘alãl ‘arsyi wa kharrũ lahũ sujjadan, wa qōla yã abati hãdzã ta’wĩlu ru’yãya min qoblu qod ja’alahã robbĩ haqqon, wa qod ahsana bĩ idz akhrojanĩ minas sijni wa jã-a bikum minal badwi mim ba’di an nazaghosy syaithōnu bainĩ wa baina ikhwatĩ, inna robbĩ lathĩful limã yasyã-u, innahũ huwal ‘alĩmul hakĩm.
100. Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana. Dan mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dan dia (Yusuf) berkata: “Wahai Bapak, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Dan sesungguhnya, Rabku telah menjadikannya kenyataan. Sesungguhnya, Rabku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara, dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku. Sungguh, Rabku Mahalembut dalam apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Mereka tunduk bersujud kepada Yusuf” artinya saudara-saudaranya yang sebelas orang itu sujud kepada Yusuf, orang tuanya patuh melaksanakan perintah Yusuf menduduki singgasananya. Itulah takwil mimpi Yusuf dahulu. Allah selalu berbuat baik kepada semua makhluk-Nya. Allah Mahalembut dalam segala apa yang dilakukan dan Yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui segala peri-laku makhluk-Nya. Allah Mahabijaksana dalam segala pelaksanaan-Nya.

robbi = Rabku; qod = sungguh; ãtaitanĩ = Engkau talah menganugerai aku; mina = dari; al mulki = kekuasaan, kerajaan; wa ‘allamtanĩ = dan Engkau ajarkan kepadaku; min = dari; ta’wĩli = takwil (pengertian); al ahãdĩtsi = mimpi; faathiro = Pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; anta = Engkau; waliyyĩ = Pelindungku; fĩddunyã = di dunia; wal ãkhiroti = dan akhirat; tawaffanĩ = Engkau wafatkan aku; musliman = sebagai orang Islam; wa alhiqnĩ = dan kumpulkan aku; bish shōlihĩn = bersama orang-orang saleh.

robbi qod ãtaitanĩ minal mulki wa ‘allamtanĩ min ta’wĩli al ahãdĩtsi faathiros samãwãti wal ardhi anta waliyyĩ fĩddunyã wal ãkhiroti, tawaffanĩ musliman wa alhiqnĩ bish shōlihĩn.

101. Rabkuǃ, sungguh Engkau telah menganugerahi aku sebagian kekuasaan dan mengajariku sebagian tentang takwil mimpi. Yaa Allah, Engkau Pencipta langit dan bumi, Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah dalam keadaan Islam, dan kumpulkanlah aku bersama orang-orang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab:: Yusuf menyadari, dia telah dianugrahi sebagian kekuasan-Nya. Allah telah mengajari memahami sebagian takwil mimpi. Yusuf menyadari bahwa Allah itu Pencipta langit dan bumi. Dia melindunginya di dunia sampai akhirat. Yusuf memohon agar diwafatkan dalam keadaan Islam, dan memohon dikumpulkan bersma-sama dengan orang-orang saleh.
dzãlika = itulah; min ambã-i = berita-berita; al ghoibi = gaib; nũhĩhi = Aku wahyukan kisah itu; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan tidak; kunta = kamu berada; ladaihim = di samping mereka; idz = ketika; ajma’ũ = mereka berkumpul, bermufakat; amrohum = perkara mereka (mengatur memasukkan Yusuf ke dalam sumur); wa hum = dan mereka; yamkurũn = mereka mengatur tipu-muslihat.

dzãlika min ambã-il ghoibi nũhĩhi ilaika, wa mã kunta ladaihim idz ajma’ũ amrohum wa hum yamkurũn.

102. Itulah sebagian berita gaib yang diwahyukan kepadamu (Muhammad saw.), padahal engkau tidak berada di samping mereka, ketika mereka bermufakat mengatur tipu-muslihat, memasukkan Yusuf ke dalam sumur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Yusuf ini disampaikan melalui wahyu gaib kepada Nabi Muhammad saw.
wa mã = dan tidak; aktsarũ = kebanyakan; an nãsi = manusia; wa lau = meskipun; haroshta = kamu sangat mengiginkan; bi mu’minĩn = untuk beriman.

wa mã aktsarũn nãsi wa lau haroshta bi mu’minĩn.

103. Dan kebanyakan manusia tidak akan beriman, meskipun kamu sangat menginginkannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. bahwa kebanyakan manusia tidak akan percaya pada kisah yang diwahyukan itu, meskipun ia (Muhammad saw.) menginginkan untuk dipercaya.
wa mã = dan tidak; tas-aluhum = kamu meminta (kepada) mereka; ‘alaihi = atasnya; min = dari; ajrin = upah; in = tidak lain; huwa = dia; illã = kecuali; dzikrun = pelajaran, mengingat; lil’ãlamĩn = bagi (Pencipta) semesta alam.

wa mã tas-aluhum ‘alaihi min ajrin, in huwa illã dzikrul lil’ãlamĩn.

104. Dan kamu tidak meminta imbalan apa pun kepada mereka, hanya untuk seruan mengingat (Pencipta) alam ini.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan secara halus kepada seluruh manusia, bahwa Nabi Muhammad saw. itu tidak meminta upah apa pun untuk mengingat ada-Nya Pencipta alam ini. Mengingat Pencipta alam ini juga berarti mempelajari, mengingat alam dengan seluruh isinya, termasuk diri manusia masing-masing.
wa ka-ayyin = dan banyak sekali; min = dari; ãyatin = tanda-tanda; fi = di; as samãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; yamurrũna = mereka melalui; ‘alaihã = di dalamnya; wa hum = dan mereka; ‘anhã = darinya; mu’ridhũn = orang-orang yang berpaling.

wa ka-ayyim min ãyatin fis samãwãti wal ardhi yamurrũna ‘alaihã wa hum ‘anhã mu’ridhũn.

105. Dan banyak dari tanda-tanda di langit dan di bumi yang mereka alami, namun mereka berpaling darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan banyak tanda-tanda kebesaran Allah di langit dan di bumi yang dilihat, didengar, dirasakan; namun banyak manusia yang tidak memikirkannya, tidak memperhatikannya, tidak memanfaatkannya, tidak menggunakannya dengan baik.
wa mã yu’min = dan tidak beriman; aktsaruhum = kebanyakan mereka; billãhi = kepada Allah; illã wa hum musyrikũn = bahkan mereka itu orang yang musyrik mempersekutukan-Nya.
wa mã yu’min aktsaruhum billãhi illã wa hum musyrikũn.

106. Dan kebanyakan mereka tidak beriman kepada Allah, bahkan mereka mempersekutukannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terbukti nyata banyak manusia di muka bumi ini yang tidak mempercayai ada-Nya Allah, bahkan ada yang mempersekutukan dengan berbagai makhluk-Nya.
afa-aminũ = maka, apakah mereka merasa aman; an = untuk; ta’tiyahum = datang kepada mereka; ghōsyiyatun = yang meliputi; min = dari; ‘adzãbillãhi = azab Allah; au = atau; ta’tiyahumu = datang kepada mereka; asy syã’atu = (sa’at) kiamat; baghtatan = dengan tiba-tiba; wa = dan; hum = mereka; lã yasy’urũn = mereka tidak menyadari.

afa-aminũ an ta’tiyahum ghōsyiyatum min ‘adzãbillãhi au ta’tiyahumusy syã’atu baghtatan wa hum lã yasy’urũn.

107. Maka, apakah mereka merasa aman dari kedatangan siksa Allah yang meliputi mereka, atau kedatangan kiamat kepada mereka secara mendadak, ketika mereka tidak menyadari?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan Allah kepada orang-orang yang masih belum mau beriman.
qul = katakanlah (wahai Muhammad saw.); hãdzihĩ = ini; sabĩlĩ = jalanku; ad’ũ = aku menyeru; ilã = kepada; allãhi = Allah; ‘alã = atas, dengan; bashĩrotin = keyakinan; ana = aku; wa mani = dan orang-orang yang …; at taba’anĩ = mengikutiku; wa sub hãnallãhi = dan Mahasuci Allah; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; mina = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul hãdzihĩ sabĩlĩ ad’ũ ilãllãhi, ‘alã bashĩrotin ana wa manit taba’anĩ, wa sub hãnallãhi wa mã ana minal musyrikĩn.

108. Katakanlah (wahai Muhammad saw.), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu menuju Allah dengan keyakinan. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk dari golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang mengikutinya mengucapkan kata-kata seperti pada ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya.
wa mã = dan tidak; arsalnã = Aku mengutus; min qoblika = dari sebelum kamu; illã = kecuali; rijãlan = orang laki-laki; nũhĩy = Aku beri wahyu; ilaihim = kepada mereka; min = di antara; ahli = para penduduk; al qurō = negeri; afalam = maka apakah tidak; yasĩrũ = mereka bepergian; fil ardhi = di bumi; fa yanzhurũ = lalu mereka melihat; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘aqibatu = kesudahan, akibat; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; wa ladãrul akhĩroti = dan sungguh kampung akhirat; khoirun = lebih baik; al lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; at taqau = mereka yang takwa; afalã = maka apakah tidak; ta’qilũn = kamu sekalian memikirkan.

wa mã arsalnã min qoblika illã rijãlan nũhĩy ilaihim min ahlil qurō, afalam yasĩrũ fil ardhi fa yanzhurũ kaifa kãna ‘aqibatul ladzĩna min qoblihim,wa ladãrul akhĩroti khoirul lilladzĩnat taqau, afalã ta’qilũn.

109. Dan Aku tidaklah mengutus dari sebelum kamu, melainkan orang-orang yang Aku beri wahyu di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian, lalu mereka melihat, bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul). Sungguh negeri akhirat itu, lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?
`
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, mengingatkan bahwa sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, Beliau pernah mengutus Rasul ke penduduk sebuah negeri yang mendustakannya. Kesudahannya mereka dimusnahkan. Allah juga mengingatkan bahwa negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Kita harus mengerti wahyu Allah.

hattã = sehingga; idzãstanasa = jika putus asa; ar rusulu = para Rasul; wa zhonnũ = dan mereka meyakini; annahum = bahwa mereka; qod kudzibũ = sungguh telah didustakan; jã-ahum = kedatangannya kepada mereka; nashrunã = pertolongan-Ku; fanujjiya = lalu dislamatkan; man = orang-orang yang; nasyã-u = Aku kehendaki; wa lã yuroddu = dan tidak ditolak; ba’sunã = siksa-Ku; ‘anil qoumi = dari kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

hattã idzãstanasar rusulu wa zhonnũ annahum qod kudzibũ jã-ahum nashrunã fanujjiya man nasyã-u, wa lã yuroddu ba’sunã ‘anil qoumil mujrimĩn.

110. Sehingga apabila para Rasul tidak mempunyai harapan lagi (keimanan penduduknya), dan telah meyakini, mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan-Ku, lalu diselamatkan orang-orang yang Aku kehendaki. Siksa-Ku tidak bisa ditolak bagi orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memberi kesempatan agar orang mau beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya. Namun, jika sudah tidak ada harapan lagi, maka Allah akan menyelamatkan orang-orang yang beriman, dan memberi azab bagi orang-orang yang mendustakan-Nya.

laqod = sungguh; kãna = adalah; fĩ = pada; qoshoshihim = kisah-kisahnya; ‘ibrōtun = pengajaran; li ũlil albãbi = bagi yang berakal; mã kãna = tidak; hadĩsan = ceritera-ceritera; yuftarō = dibuat-buat; wa lãkin = akan tetapi; tashdiqu = membenarkan; al ladzĩ = (Kitab-kitab) yang; baina yadaihi = pada sebelumnya; wa tafshĩla = dan menjelaskan; kulli = segala; syai-in = sesuatu; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; li qaumin = bagi kaum; yu’minũn = yang beriman.

laqod kãna fĩ qoshoshihim ‘ibrōtul li ũlil albãbi, mã kãna hadĩsan yuftarō wa lãkin tashdiqul ladzĩ baina yadaihi wa tafshĩla kulli syai-in wa hudan wa rohmatal li qaumin yu’minũn.

111. Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu, terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Alquran) itu bukan ceritera yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (Kitab-kitab) sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan (sebagai) petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah para Nabi (orang-orang suci) di dalam Alquran tidak dibuat oleh Nabi Muhammad saw. Kisah-kisah di dalam Alquran itu membenarkan, menjelaskan, memperbaiki, memberi petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang mempercayainya.

011 Hud

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Hud
Kisah Nabi Hud, Makiyah
Surat ke 11, 123 ayat.
Juz 11 berali ke Juz 12 pada ayat 6

Catatan Awal

Surat ini berisi penerangan tentang kedudukan para Nabi sebagai penyampai berita gembira, dan peringatan dengan meriwayatkan Nabi Hud a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Saleh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Luth a.s., Nabi Syu’aib a.s., dan Nabi Musa a.s. dan kaumnya.
Pembinaan keimanan dinyatakan dengan adanya Arasy Allah, penciptaan alam semesta dalam 6 masa; pada Hari Kiamat manusia bergolong-golongan. Ada orang yang kafir (tidak mau percaya) pada Alquran, membantah risalah para Rasul, ingkar dari aturan pokok agama. Kemudian diakhiri seruan untuk selalu mengikuti ajakan Rasul dengan penuh kesabaran, juga dalam menghadapi kejahatan orang-orang musyrik; istikomah dan bertawakal hanya kepada Allah.
Islam membolehkan manusia menikmati segala apa yang baik-baik, dan menggunakan perhiasan dengan syarat tidak berlebihan; tidak boleh sombong, hanya Allah yang mempunyai hak sombong; tidak boleh berdoa atau mengharapkan sesuatu di luar Sunatullah.
Manusia harus mengambil pelajaran, pembelajaran dari kisah-kisah para Nabi tersebut untuk tuntunan, peringatan. Air, tanah, api dengan cahayanya, udara, yang diciptakan Allah untuk sarana semua makhluk-Nya, khususnya manusia agar dapat hidup dengan baik, aman, menyenangkan, menenteramkan, mensejahterakan, membahagiakan, menyempurnakan. Harus dipelajari, diteliti, dicari guna dan manfaatnya sebanyak-banyaknya untuk kepentingan menunjang hidup semaksimal mungkin, dan untuk sarana pengabdian kepada Allah Pemiliknya.

a‘udzu billãhi min-nasy syami’il ‘alimi minnasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

alif lãm rō = hanya Allah yang memahami maknanya; (Allahu lã rodda = Allah tak terbantahkan keberadaan-Nya); kitãbun = Kitab ini; uhkimat = disusun dengan rapih; ãyãtuhũ = ayat-ayatnya; tsumma = kemudian; fush shilat = dijelaskan intinya; mil ladun = dari haribaan; hakĩmin = Mahabijaksana; khobĩr = Maha Mengetahui
alif lãm rō (Allahu lã rodda) kitãbun uhkimat ãyãtuhũ tsumma fush shilat mil ladun hakĩmin khobĩr.
1. alif lãm rō (Hanya Allah Yang memahami maknanya; Allah Yang keberadaan-Nya tak terbantah), inilah Kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapih, kemudian dijelaskan intinya, diturunkan dari (Allah) Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 1,2,3,4; Ali ‘Imran, 3 : 1,2,3,4; Al A’rãf, 7 : 1,2,3; Yunus, 10 : 1; Alquran adalah Kitab yang ayat-ayat-Nya tersusun secara rapih, dan dijelaskan intinya, disebut fushshilat menjadi nama surat yang ke 41 di dalam Alqur’an ini. Pernyataan Allah yang sangat meyakinkan pembacanya yaitu Muhammad saw. dan umatnya. Allah memang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui segala yang telah diciptakan-Nya.

allã ta’budũ = janganlah kamu mengabdi; illãllãh = kepada selain Allah; innanĩ = sesungguhnya Aku; lakum = untukmu; minhu = dari-Nya; nadzĩrun = pemberi peringatan; wa basyĩru = dan pembawa kabar gembira.
allã ta’budũ illãllãh, innanĩ lakum minhu nadzĩrun wa basyĩru.
2. Janganlah kamu (Muhammad saw. dan para pengikutnya) mengabdi kepada selain Allah. Sesungguhnya, aku (Muhammad saw.) pemberi peringatan dan kabar gembira dari-Nya, untukmu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang makhluk-Nya, khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada Nabi Muhammad saw. agar tidak mengabdi kepada selain Allah. Mengingatkan kembali Q.s. Al Fatihah, 1 : 5. Nabi Muhammad saw. adalah pemberi peringatan dan penyampai berita gembira bagi manusia yang beriman.

wa ani = dan hendaknya; istaghfirũ = kamu memohon ampun; robbakum = Rob kamu; tsumma = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaihi = kepada-Nya; yumatti’kum = Dia akan memberi kenikmatan kepadamu; matã’an = kesenangan; hasanan = yang baik; ilã = sampai; ajalin = pada waktu; musamman = tertentu; wa yu’ti = dan Dia akan memberikan; kulla = setiap; dzĩ fadhlin = mempunyai keutamaan; fadhlahũ = karunia-Nya; wa in = dan jika; tawallau = kamu berpaling; fainnĩ = maka sesungguhnya aku; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = untuk kamu; ‘adzãba = azab; yaumin kabĩr = Hari Besar (Kiamat).
wa anistaghfirũ robbakum tsumma tũbũ ilaihi yumatti’kum matã’an hasana ilã ajalim musamma wa yu’ti kulla dzĩ fadhlin fadhlahũ, wa in tawallau fainnĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumin kabĩr.
3. Dan, hendaknya kamu memohon ampun kepada Rob kamu, kemudian bertobatlah kepada-Nya, tentu Dia akan memberi kenikmatan kepadamu dengan kesenangan yang baik, sampai waktu terentu, dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang mempunyai keutamaan. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya, aku (Muahmmad saw.) takut kamu (umatnya) akan ditimpa siksa Hari Kiamat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah, menyarankan kepada makhluk-Nya, khususnya manusia, lebih khusus lagi kepada Muhammad saw. untuk selalu, atau sering memohon ampun, dan bertobat kepada-Nya. Allah akan memberi karunia kenikmatan sampai waktu tertentu. Jika berpaling, Nabi takut (khawatir), kamu (umatnya) akan ditimpa siksa di Hari Besar (Kiamat). Ada lebih dari 10 Surat yang berisi peringatan Hari Kiamat. Di samping itu, hampir di setiap surat, selalu ada peringatan akan datangnya Hari Kiamat ini. Ada kiamat sugro (untuk diri seseorang atau kelompok orang), ada kiamat qubro (semua maknluk-Nya akan dihadapkan ke haribaan-Nya).
ilãllãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kamu kembali; wa huwa = dan Dia; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.
ilãllãhi marji’ukum, wa huwa ‘alã kulli syai-in qodĩr.
4. Kepada Allah lah tempat kamu kembali, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berulang-ulang mengingatkan hal ini. “Allah tempat kamu kembali”, Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 28, 46, 156, 245, 281, 285; Ali ‘Imran, 3 : 14, 28, 55, 83; An Nisã’, 4 : 16, 46, 103; Al Ma’idah, 5 : 46, 103; Al An ‘Ãm, 6 : 36, 60, 62, 108, 164; Al A’rãf, 7 : 29; At Taubah, 9 : 94, 105; Yunus, 10 : 4, 23, 30, 46, 56, 70. dan lain-lain.
“Allah berkuasa atas segala sesuatu”, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 20, 106, 148, 231, 259, 282, 284; Ali ‘Imran, 3 : 26, 29, 165, 189; An Nisã’, 4 : 15, 32, 85, 176; Al Ma’idah, 5 : 15, 17, 38, 118; Al An’ãm, 6 : 164; At Taubah, 9 : 39; dan lain-lain.

alã = ingatlah; innahum = sesungguhnya mereka; yatsnũna = mereka membusungkan; shudũrohum = dada mereka; li yastakhfũ = untuk menyembunyikan dirinya; minhu = darinya; alã = ingatlah; hĩna = di waktu; yastaghsyũna = mereka menyelimuti diri; tsiyãbahum = pakaian mereka; ya’lamu = (Allah) mengetahui; mã yusirrũna = apa yang mereka sembunyikan; wa mã yu’linũn = dan apa yang mereka sembunyikan; innahũ = sesungguhnya Dia; ‘alimun = Maha Mengetahui; bidzãti = dengan isi (yang ada); ash shudũr = hati.
alã innahum yatsnũna shudũrohum li yastakhfũ minh, alã hĩna yastaghsyũna tsiyãbahum ya’lamu mã yusirrũna wa mã yu’linũn, innahũ ‘alimum bi dzãtish shudũr.
5. Ingatlah, sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) membusungkan dadanya untuk menyembunyikan diri darinya (Hud dan kemudian juga kepada Muhammad saw.). Ingatlah, ketika mereka menutupi dirinya dengan pakaiannya (agamanya), Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan, dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya, Allah mengetahui segala isi hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh umat Muhammad saw. mengingat sikap dan perbuatan orang-orang munafik. Pakaian di sini dapat berarti penyamaran diri seseorang (topeng). Allah Maha Mengetahui yang tersembunyi dan yang terlahir, dan Maha Mengetahui segala isi hati makhluk-Nya.
Al Juz-uts-tsaani ‘asyar
Juz 12

wa mã = dan tidak ada; min dãbbatin = dari seekor binatang melata; fil ardhi = di bumi; illã ‘alãllãhi = hanya Allah saja; rizquhã = memberi rezekinya; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mustaqorrohã = tempat berdiamnya; wa mustauda’ahã = dan tempat persembunyiannya; kullun = semuanya; fĩ = di dalam; kitãbin = Kitab; mubĩn = yang nyata.
wa mã min dãbbatin fil ardhi illã ‘alãllãhi rizquhã wa ya’lamu mustaqorrohã wa mustauda’ahã, kullum fĩ kitãbim mubĩn
6. Dan tidak satu pun binatang melata di bumi, hanya Allah saja lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiamnya, dan persembunyiannya. Semua tertulis di dalam Kitab yang nyata (di Lauh Mahfuz).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Semua makhluk-Nya, yang kecil (binatang bersel satu, baksil, bakteri, virus) maupun yang besar (mastodon, mamuth, gajah, ikan paus) di bumi, dan di langit diberi rezeki. Allah Maha Mengetahui tempat persembunyiannya.

wa huwa = dan Dia lah; al ladzĩ = Yang; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; fĩ sittati = dalam tujuh; ayyãmin = masa (hari); wa kãna = dan adalah; arsyuhũ = arasy-Nya; ‘alã = di dalam; al mã-i = air; liyabluwakum = karena Dia hendak mengujimu; ayyukum = siapa di antara kamu; ahsanu = lebih baik; ‘amalan = amalnya; wa la in = dan jika; qulta = kamu berkata; innakum = sesungguhnya kamu; mab’ũtsũna = orang yang dibangkitkan; mim ba’di = dari sesudah; al mauti = maut (mati); la yaqũlanna = tentu akan berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; in hãddzã = ini tidak lain; illã = hanyalah; sihrun = sihir; mubĩn = yang nyata.
wa huwal ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhi fĩ sittati ayyãm, wa kãna arsyuhũ ‘alãl mã-i liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, wa la in qulta innakum mab’ũtsũna mim ba’dil maut, la yaqũlannal ladzĩna kafarũ in hãddzã illã sihrum mubĩn.
7. Dan Dia lah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan arasy-Nya di dalam air, karena Dia hendak menguji, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan, jika kamu berkata: “Sesungguhnya, kamu akan dibangkitkan sesudah mati.” Niscaya orang kafir akan berkata: “Tidak lain ini hanya sihir yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan proses penciptaan langit dan bumi dengan perbedaan penjelasan dalam berbagai Surat, a.l. Q.s. al A’rãf, 7 : 54, Yunus, 10 : 3; al as Sajdah, 32 : 4; Qōf, 50 : 39; Hadid, 57 : 4. Arasy Allah ada di dalam air, sehingga memberi manfaat yang banyak untuk bisa dipakai dalam hidupnya makhluk Allah. Ini merupakan ujian dari Allah. Bagaimana mendaya-gunakan air dengan percampurannya dengan tanah, udara, dan api dengan cahayanya. Air sangat berguna dalam hidupnya bersama orang lain, makhluk lain. Orang kafir selalu menganggap informasi yang disampaikan Allah itu sebagai sihir.
Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9

wa la-in = dan sesungguhnya jika; akhkhornã = Aku undurkan; ‘anhumu = dari mereka; al ‘adzãba = azab; ilã = kepada; ummatim = umat; ma’dũdati = tertentu; al layaqũlunna = tentu mereka akan berkata; mã yahbisuhũ = apa yang menghalanginya; alã = ingatlah; yauma = ketika (di hari); ya’tĩhim = datang kepada mereka; laisa = tidak; mashrũfan = menghindarkan; ‘anhum = oleh mereka; wa hãqo = dan dikurung; bihim = oleh azab; mã kaanũ = apa yang mereka; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = memperolok-olokkan.
wa la-in akhkhornã ‘anhumul ‘adzãba ilã ummatim ma’dũdatil layaqũlun na mã yahbisuh, alã yauma ya’tĩhim laisa mashrũfan ‘anhum wa hãqo bihim mã kaanũ bihĩ yastahzi-ũn.
8. Dan sesungguhnya, jika Aku undurkan azab mereka sampai pada waktu yang ditetapkan, tentu mereka akan berkata: “Apa yang menghalanginya?” Ingatlah, ketika azab itu datang kepada mereka, dan mereka tidak dapat menghindarinya. Mereka dikurung oleh azab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berhak mengundurkan atau memajukan azab bagi mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik atau murtad. Mereka tidak akan mampu menghindar dari azab Allah yang datang secara tiba-tiba. Dengan mengajukan pertanyaan seperti pada ayat ini, mereka (orang kafir) menunjukkan kesombongannya. Padahal Allah lah yang menetapkan azab bagi mereka, karena sikap, perbuatan, dan perilaku mereka sendiri. Yang menghalangi Allah menurunkan azab adalah karunia Allah, bagi orang yang menyadari kekeliruannya. Allah memberi kesempatan (bagi mereka yang diberi rahamat dan berkah) untuk bertobat serta memohon ampun kepada-Nya.

wa la in = dan jika; adzaqna = Aku memberi rasa; al insãna = manusia; minnã = dari Aku; rohmatan = rahmat; tsumma = kemudian; naza’nãhã = Aku cabut kembali; min hu = darinya; innahũ = sesungguhnya dia; la ya-ũsun = menjadi putus asa; kafũr = ingkar.
wa la in adzaqnal insãna minnã rohmatan tsumma naza’nãhã min hu innahũ la ya-ũsun kafũr.
9. Dan jika Aku memberi rasa rahmat kepada manusia, kemudian Aku cabut kembali darinya, sesungguhnya, dia menjadi putus asa dan lagi ingkar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi rasa rahmat atau mencabutnya, hal itu merupakan hak Allah, dan ujian bagi manusia, jangan sampai kufur (ingkar) kepada ketentuan Allah. Jangan sampai melakukan perbuatan tercela. Allah sangat suka, jika mahkluk-Nya selalu bersyukur, saat diberi rahmat, atau dicabut-Nya. Orang kafir tidak bersyukur kalau diberi rahmat. Kalau rahmat-Nya dicabut mereka mudah berputus asa. Lebih jauh lagi malah menjadi ingkar dari peraturan Allah.

wa la in = dan jika; adzaqnãhu = Aku beri rasa; na’mã-a = nikmat bahagia; ba’da = sesudah; dhorrō-a = bencana; massat-hu = menimpanya (menyentuhnya); la yaqũlanna = tentu dia akan berkata; dzahaba = telah hilang; as sayyi-ãtu = bencana-bencana; ‘annĩ = dariku; innahũ = sesungguhnya dia; la farihũn = sangat gembira; fakhũrun = bangga.
wa la in adzaqnãhu na’mã-a ba’da dhorrō-a massat-hu la yaqũlanna dzahabas sayyi-ãtu ‘annĩ, innahũ la farihũn fakhũr.
10. Dan jika Aku beri rasa bahagia, sejahtera kepadanya, sesudah bencana yang menimpanya, tentu dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu dariku.” Sesungguhnya, dia sangat gembira dan bangga.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rasa gembira, bahagia, sejahtera dan rasa susah, sedih itu ujian dari Allah untuk selalu beriman kepada-Nya. Menanggapi ujian kegembiraan, kebahagiaan janganlah terlalu bergembira, berbahagia. Kalau ditimpa bencana jangan terlalu bersedih. Harus dihadapi dengan iman kepada Allah dan sabar yang selalu hadir di hati. Itulah yang disukai Allah.

illãl ladzĩna = kecuali orang-orang yang; shobarũ = sabar; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; ũlã-ika = mereka itu; lahum = bagi mereka; maghfirotun = ampunan; wa ajrun = dan pahala; kabĩrun = yang besar.
illãl ladzĩna shobarũ wa ‘amilũsh shōlihãti ũlã-ika lahum maghfirotuw wa ajrun kabĩrun.
11. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan beramal soleh, mereka itu beroleh pengampunan dan pahala yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 10. Orang sabar dan beramal saleh (artinya melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya) mudah memperoleh ampunan dan pahala besar.

fa la’allaka = maka dapat terjadi; tãrikun = meninggalkan; ba’dho = sebagian; mã yũhō = apa yang diwahyukan; ilaika = kepadamu; wa dhō-iqun = dan sempit; bihĩ = karenanya; shodruka = dadamu; an yaqũlũ = sebab mereka akan mengatakan; lau lã = mengapa tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; kanzun = kekayaan; au jã-a = atau datang; ma’ahũ = bersama dia; malakun = seorang Malaikat; innamã = sesungguhnya hanya; anta = kamu; nadzĩr = seorang pemberi peringatan; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; wakĩl = Pemelihara.
fa la’allaka tãrikum ba’dho mã yũha ilaika wa dhō-iqum bihĩ shodruka an yaqũlũ lau lã unzila ‘alaihi kanzun au jã-a ma’ahũ malak, innamã anta nadzĩr, wallãhu ‘alã kulli syai-iw wakĩl.
12. Maka dapat terjadi, kamu, Muhammad saw. mau meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit dadamu karenanya, sebab mereka akan menanyakan: ”Mengapa tidak diturunkan kekayaan kepadanya, atau datang bersama dia seorang Malaikat?” Sesungguhnya, kamu hanya seorang pemberi peringatan, dan Allah Pemelihara segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang mengimaninya tentang ulah orang-orang kafir, munafik, musyrik, munafik, dan murtad yang suka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, membuat keraguan pada apa yang diwahyukan Allah, dan cenderung mengungkapkan ketidakpercayaan pada kenabiannya. Yakinlah, bahwa Allah itu Pemelihara segala sesuatu. Nabi dan para pengikutnya hanyalah pemberi peringatan.

am yaqũlũna = atau mereka mengatakan; if tarōhu = (Muhammad) membuat-buatnya; qul = katakanlah; fa’tũ = maka datangkanlah; bi ‘asyri = dengan sepuluh; suwarin = surat; mitslihĩ = yang semisal (sama); muftaroyãtin = yang dibuat-buat itu; wad’ũ = dan panggillah; man = orang-orang; istatho’tum = kamu anggap sanggup; min dũnillãhi = dari selain Allah; inkuntum = jika kamu; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
am yaqũlũnaf tarōhu, qul fa’tũ bi ‘asyri suwarim mitslihĩ muftaroyãtin wad’ũ manistatho’tum min dũnillãhi inkuntum shōdiqĩn.
13. Atau mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat (Alquran)”, Katakanlah: “Maka buatlah sepuluh surat yang menyamainya dengan yang (kau anggap) dibuat-buat itu, dan panggillah orang-orang yang kamu (anggap) sanggup (membantumu) selain Allah, jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad saw., apa yang harus dikatakan kepada orang-orang yang tidak mempercayainya. (lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 23, 24 hanya ditantang satu ayat saja).

fa illam = maka jika tidak; yastajĩbũ = mereka memperkenankan; lakum = kepadamu; fa’lamũ = maka ketahuilah; annamã = bahwa apa; unzilã = yang diturunkan; bi ilmillãhi = dengan ilmu Allah; wa an lã = dan tidak ada; ilãha = ilah; illa huwa = selain Dia; fahal = maka mengapakah; antum = kamu; muslimũn = orang-orang yang berserah diri.
fa illam yastajĩbũ lakum fa’lamũ annamã unzilã bi ilmillãh, wa al lã ilãha illa huwa, fahal antum muslimũn.
14. Maka, jika mereka tidak memperkenankan (ajakan)-mu, ketahuilah, Alquran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan tidak ada ilah selain Dia, maka mengapa kamu (tidak mau) berserah diri (kepada Allah)?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mereka tidak berkenan mengikuti ajakan Nabi Muhammad saw., para pengikut Nabi harus menyadari bahwa Alquran itu mengandung banyak ilmu Allah yang harus digali dan ditumbuhkembangkan agar hidup ini lebih sempurna, menyenangkan, memuaskan. Hanya kepada Allah umat Islam berserah diri.
man = barang siapa; kãna = adalah; yurĩdu = menghendaki; al hayãta = kehidupan; ad dun-yã = dunia; wa zĩnatahã = dan perhiasannya; nuwaffi = Aku penuhi (sempurnakan); ilaihim = kepada mereka; a’mãlahum = pekerjaan mereka; fĩhã = di dunia; wahum = dan mereka; fĩhã = di dalamnya; lã yubkhasũn = mereka tidak dirugikan.
man kãna yurĩdul hayãtad dun-yã wa zĩnatahã nuwaffi ilaihim a’mãlahum fĩhã, wahum fĩhã lã yubkhasũn.
15. Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, (tentu) Aku penuhi bagi mereka, (balasan) pekerjaan mereka di dunia, dan mereka di dunia tidak dirugikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Untuk kehidupan di dunia, Allah tidak membeda-bedakan (sangat adil). Semuanya diberi sesuai dengan kiprah upayanya.

ũlãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; laisa = tidak; lahum = bagi mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; illã = kecuali; an nãru = api neraka; wa habitho = dan lenyap; mã = apa; shona’ũ = yang mereka usahakan; fĩhã = di akhirat (di dalamnya); wa bãthilum = dan sia-sia (batil); mã kãnũ = apa yang mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
ũlãikal ladzĩna laisa lahum fil ãkhiroti illãn nãr, wa habitho mã shona’ũ fĩhã wa bãthilum mã kãnũ ya’malũn
16. Mereka tidak memperoleh pahala di akhirat, kecuali api neraka, dan di akhirat lenyaplah, apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Usaha dunia tidak untuk akhirat, maka pekerjaannya sia-sia. Di akhirat mereka mendapat api neraka.

afaman = apakah orang; kãna = adalah; alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir Robbihĩ = dari Rabnya; wa yatlũhu = dan membacakannya; syãhidun = seorang saksi; minhu = darinya; wa min qoblihĩ = dan dari sebelumnya; kitãbu mũsã = Kitab Musa; imãman = pedoman; wa rohmah = dan rahmat; ulã-ika = mereka itu; yu’minũna = mereka itu beriman; bihĩ = dengannya; wa man = dan barang siapa; yakfur = kafir; bihĩ = dengannya; minal ahzãbi = di antara golongan; fannãru = maka api neraka; mau’iduh = diancamkannya; fa lã taku = maka janganlah kamu; fĩ miryatin = dalam keraguan; minhu = dengannya; innahu = sesungguhnya dia; al haqqu = benar-benar; mir Robbika = dari Rab kamu; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
afaman kãna alã bayyinatim mir robbih, wa yatlũhu syãhidum minhu wa min qoblihĩ kitãbu mũsã imãmaw wa rohmah, ulã-ika yu’minũna bih, wa man yakfur bihĩ minal ahzãbi fannãru mau’iduh, fa lã taku fĩ miryatim minh, innahul haqqu mir robbika wa lãkinna aktsaron nãsi lã yu’minũn.
17. Apakah (orang-orang kafir itu) sama dengan orang-orang yang mempunyai bukti nyata (Alquran) dari Rabnya, dan membacakannya (Alquran) seorang saksi dari-Nya, dan sebelumnya telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman dengannya (Alquran). Dan barang siapa di antara golongan itu yang kafir dengannya (Alquran), maka merekalah orang yang diancamkan (neraka), oleh karena itu, janganlah kamu dalam keraguan (terhadap Alquran). Sesungguhnya (Alquran) benar-benar dari Rab kamu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan persamaan/perbedaan orang kafir dan orang beriman dengan bukti-bukti Alquran dan Kitab Musa yang telah dibacakannya. Mereka yang kafir kepada Alquran dan Kitab Musa (lihat Al Baqarah, dan lain-lain) diancam dengan neraka. Kemudian Allah menganjurkan, jangan ragu terhadap Alquran yang diturunkan dari Rab, meskipun kebanyakan manusia tidak mau beriman.

wa man = dan siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimmani = daripada orang; iftarō = membuat-buat; ‘alallãhi = atas Allah mereka; kadziban = dan berkata; ũlã-ika = para saksi; yu’rodhũna = mereka ini; ‘alã Robbihim = kepada Rab mereka; wa yaqũlu = dan berkata; al asyhãdu = para saksi; hã-ulã-i = mereka ini; alladzĩna = orang-orang yang; kadzabũ = mereka berdusta; ‘alã robbihim = atas Rab mereka; alã = ingatlah; la’natullãhi = kutukan Allah; ‘alazhzhōlimĩn = atas orang-orang yang lalim.
wa man azhlamu mimmanif tarō ‘alallãhi kadziba, ũlã-ika yu’rodhũna ‘alã robbihim wa yaqũlul asyhãdu hã-ulã-illadzĩna kadzabũ ‘alã robbihim, alã la’natullãhi ‘alazhzhōlimĩn.
18. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah. Mereka itu akan dihadapkan kepada Rab mereka, dan para saksi akan berkata: “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rab mereka.” Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang membuat-buat dusta tentang Allah itu lebih lalim dari orang lalim. Berarti sama dengan fitnah yang sangat menyesatkan kepada orang lain. Allah sangat mengutuk orang-orang yang membuat dusta tentang Allah, dan yang membuat fitnah.

alladzĩna = orang-orang yang; yashuddũna = (mereka) menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; wa yabghũnahã = dan mereka menghendaki; ‘iwaja = bengkok; wa hum = dan mereka; bil ãkhiroti = dengan hari akhirat; hum = mereka; kãfirũn = orang-orang yang kafir (tidak percaya pada ada-Nya Allah, dan Rasul-Nya).
alladzĩna yashuddũna ‘an sabĩlillãhi wa yabghũnahã ‘iwaja, wa hum bil ãkhiroti hum kãfirũn.
19. Orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok, dan mereka itulah orang-orang yang tidak percaya dengan Hari Akhirat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam setiap zaman, selalu ada saja orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka menghendaki jalan Allah itu bengkok. Mereka dinilai sebagai orang yang tidak mau percaya pada Hari Akhirat.

ulã-ika = mereka itu; lam yakũnũ = mereka tidak mampu; mu’jizĩna = melepaskan diri; fil ardhi = di bumi; wa mã kãna = dan tidak ada; lahum = bagi mereka; min dũnillãhi = dari selain Allah; min auliyã-a = dari penolong; yudhō’afu = dilipatgandakan; la humu = bagi mereka; al ‘adzãb = siksa (azab); mã kãnũ = mereka tidak ada; yastathĩ’ũna = mereka sanggup; as sam’a = mendengar; wa mã kãnũ = dan mereka tidak; yubshirũn = mereka melihat (kebenaran).
ulã-ika lam yakũnũ mu’jizĩna fil ardhi wa mã kãna lahum min dũnillãhi min auliyã-a yudhō’afu la humul ‘adzãb, mã kãnũ yastathĩ’ũnas sam’a wa mã kãnũ yubshirũn.
20. Mereka itu tidak mampu melepaskan diri (dari bahaya) di bumi ini, dan tidak ada penolong bagi mereka, selain Allah. Siksa bagi mereka dilipatgandakan. Mereka tidak sanggup mendengar, dan mereka tidak dapat melihat kebenaran.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir tidak mampu melepaskan diri, dan tidak ada penolong dari bahaya di bumi, selain Allah. Siksa mereka di akhirat dilipatgandakan. Mereka tidak bisa mendengar, dan tidak bisa melihat kebenaran (Q.s. Al Baqarah, 2 : 18).
ulãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = (mereka) merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; wa dholla = dan lenyaplah; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang mereka; yaftarũn = mereka ada-adakan.
ulãikal ladzĩna khosirũ anfusahum wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.
21. Mereka itu orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, dan lenyaplah dari mereka, apa-apa yang selalu mereka ada-adakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir, musyrik, munafik, syirik, fasik, murtad itu merugikan diri mereka sendiri. Di Hari Kiamat, apa yang mereka ada-adakan itu lenyap. Tinggal penyesalan yang berkepanjangan.

la jaroma = tidak syak; annahum = sesungguhnya, mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; humu = mereka; al akhsarũn = orang-orang yang sangat rugi.
la jaroma annahum fil ãkhiroti humul akhsarũn.
22. Tidak diragukan, di akhirat nanti mereka menjadi orang-orang yang sangat rugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 21.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilu = dan berbuat; ash shōlihãti = baik; wa akhbatũ = dan mereka merendahkan diri; ilã robbihim = kepada Rab mereka; ulã-ika = mereka itu; ash-hãbul jannah = penghuni surga; hum fĩhã = mereka di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.
innal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti wa akhbatũ ilã robbihim ulã-ika ash-hãbul jannah, hum fĩhã khōlidũn.
23. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan berbuat baik, dan mereka merendahkan diri kepada Rab mereka, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan ini penguat dari ayat-ayat dalam surat-surat lainnya.
matsalu = perumpamaan; al farĩqoini = dua golongan; kal a’mã = seperti orang buta; wal ashommi = dan orang tuli; wal bashĩri = dan orang yang dapat melihat; was samĩ’i = dan yang dapat mendengar; hal = apakah; yastawiyaani = sama keduanya; matsalan = perumpamaan; afalã = tidakkah; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
matsalul farĩqoini kal a’mã wal ashommi wal bashĩri, was samĩ’i, hal yastawiyaani matsala, afalã tadzakkarũn.
24. Perumpamaan kedua golongan itu, seperti orang buta dan tuli dengan orang yang dapat melihat, dan mendengar. Apakah kedua perumpamaan itu, sama? Tidakkah kamu mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir, musyrik, syirik, munafik, fasik, murtad itu seperti orang buta dan tuli. Sedang orang yang beriman diumpamakan sebagai orang yang bisa mendengar dan melihat, kemudian merasakan ada-Nya Allah. Semua manusia harus mengambil pelajaran dari keadaan itu.

wa laqod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; nũhan = Nuh; ilã qoumihĩ = kepada kaumnya; innĩ = sesungguhnya aku; lakum = bagi kamu; nadzĩrun = pemberi peringatan; mubĩn = yang nyata bagimu.
wa laqod arsalnã nũhan ilã qoumihĩ innĩ lakum nadzĩrum mubĩn.
25. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): “Sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata bagimu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dimulai ceritera Nabi Nuh yang diutus untuk kaumnya.

al lã = janganlah; ta’budũ = kamu mengabdi (beribadah, menyembah); illallãh = kepada selain Allah; innĩ = sesungguhnya; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = atas kamu; ‘adzãbi = azab, siksa; yaumin = di hari; alĩmin = menyedihkan.
al lã ta’budũ illallãh, innĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãbi yaumin alĩmin.
26. Janganlah kamu beribadah (menyembah) kepada selain Allah, sesungguhnya, aku takut, kamu akan ditimpa azab di hari yang menyedihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah disampaikan melalui Nabi Nuh dengan peringatan azab di Hari Kiamat. Lihat juga ayat 2, dan di dalam Surat-surat yang lainnya.

fa qōla = maka berkatalah; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qaumihĩ = kaumnya; mã narōka = kami tidak melihat kamu; illã = kecuali; basyaron = seorang manusia; mitslanã = seperti kami; wa mã narōka = dan kami tidak melihat kamu; it taba’aka = yang mengikuti kamu; illal ladzĩna = kecuali orang-orang yang; hum = mereka; arōdzilunã = yang hina di antara kami; badiya = tanpa; ar ro’yi = pemikiran; wa mã narōlakum = dan kami tidak melihat atas kamu; ‘alainã = pada kami; min fadhlin = dari kelebihan; bal = bahkan; nazhunnukum = kami mengira kamu; kãdzibĩn = orang yang berdusta.
fa qōlal mala-ul ladzĩna kafarũ min qaumihĩ mã narōka illã basyarom mitslanã wa mã narōkat taba’aka illal ladzĩna hum arōdzilunã badiyar ro’yi wa mã narōlakum ‘alainã min fadhlim bal nazhunnukum kãdzibĩn.
27. Maka, berkatalah pemuka-pemuka orang yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, hanya sebagai seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang mengikuti kamu, kecuali orang-orang yang hina, dan tidak dengan pikiran di antara kami. Kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan di atas kami. Bahkan kami mengira, kamu itu orang yang berdusta”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera orang-orang kafir zaman Nabi Nuh menilai seorang nabi.

qōla = (Nuh) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; aro-aitum = bagaimana pikiranmu; in kuntu = jika aku adalah; ‘alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir robbĩ = dari Rabku; wa ãtãnĩ = dan aku diberi-Nya; rohmatan = rahmat; min ‘indihĩ = dari haribaan-Nya; fa’ummiyat = lalu disamarkan; ‘alaikum = atasmu; anulzimukumũhã = apakah akan aku paksakan kepadamu; wa antum = padahal kamu; lahã = padanya; kãrihũn = tidak menyukai.
qōla yã qaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir robbĩ, wa ãtãnĩ rohmatam min ‘indihĩ fa’ummiyat ‘alaikum anulzimukumũhã wa antum lahã kãrihũn.
28. Berkata Nuh: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku ada bukti nyata dari Rabku, dan aku diberi rahmat dari haribaan-Nya, lalu (rahmat itu) disamarkan bagimu, apakah akan aku paksakan kepadamu (menerimanya), padahal kamu tidak menyukainya?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Terjadi dialog yang demokratis antara Nabi Nuh dan kaumnya. Yang menjadi bukti nyata atau keterangan yang jelas dari Rab untuk Nabi Nuh adalah wahyu yang diterimanya; Rahmat atau karunia Allah kepada Nabi Nuh adalah pangkat kenabian dan pemberian wahyu Allah. Yang dimaksud rahmat atau karunia yang disamarkan atau masih gelap bagi umat Nabi Nuh yang kafir adalah karena mereka tidak beriman atau tidak mau percaya, bahwa itu wahyu dari Allah. Allah dan Nabi Nuh tidak mau memaksa orang yang tidak mau, atau tidak menyukai bahwa wahyu itu dari Allah.
wa yã qaumi = dan, yaa kaumku; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atas seruanku; mãlan = harta; in ajriya = tidak lain upahku; illã = hanyalah; ‘alã = dari; allãhi = Allah; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; bi thōridi = dengan mengusir; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; innahum = sesungguhnya mereka; mulãqũ = mereka menemui; robbihim = Rab mereka; wa lãkinnĩ = akan tetapi aku; arōkum = aku memandangmu; qauman = suatu kaum; tajhalũn = yang belum mengetahui
wa yã qaumi lã as-alukum ‘alaihi mãlan in ajriya illã ‘alã allãhi, wa mã ana bi thōridil ladzĩna ãmanũ, innahum mulãqũ robbihim, wa lãkinnĩ arōkum qauman tajhalũn
29. Dan, hai kaumku, aku tidak meminta harta kepadamu untuk seruanku. Upahku, tidak lain, hanya dari Allah, dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, akan tetapi, aku memandangmu sebagai suatu kaum yang belum mengetahui. Sesungguhnya, mereka akan menemui Rab-nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Satu lagi dialog antara Nabi Nuh dengan kaumnya. Tugas Nabi dari Allah untuk umat manusia, ditujukan untuk memberi pengetahuan kepada kaum yang belum mengetahui, bagaimana orang hidup dengan agama di dalam masyarakat. Nabi Nuh a.s. tidak akan meminta upah dari manusia, karena tujuannya untuk membina hidup manusia agar sejahtera, tenteram, damai, memuaskan bagi semuanya di dunia dan di akhirat. Tentu saja, Nabi Nuh a.s. tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman, meskipun mendapat desakan dari orang-orang kaya yang kafir, karena orang-orang yang telah beriman akan menjadi saudara seagama yang akan saling membantu, sehidup-semati dengannya.

wa yã qaumi = dan wahai kaumku; man = siapakah; yanshurunĩ = menolongku; minallãhi = dari (azab) Allah; in = jika; thorodtuhum = mengusir mereka; afalã = apakah tidak; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
wa yã qaumi man yanshurunĩ minallãhi in thorodtuhum, afalã tadzakkarũn.
30. Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari azab Allah, jika aku mengusir mereka, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 29. Manusia harus mengambil pelajaran dari Kisah Nabi Nuh dan kaumnya.

wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; lakum = kepada kamu; ‘indĩ = padaku; khozã inullãhi = perbendaharaan (ilmu) Allah; wa lã a’lamu = dan aku tidak mengetahui; al ghoiba = ilmu gaib; wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; innĩ = sesungguhnya aku; malakun = Malaikat; wa lã aqũlu = dan aku tidak mengatakan; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; tazdarĩ = rendah (hina); a’yunukum = penglihatanmu; lay yu’tiyahumullãhu = Allah tidak mendatangkan kepada mereka; khoiron = kebaikan; allãhu = Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan apa; fĩ anfusihim = pada diri mereka; innĩ = sesungguhnya aku; idzan = kalau begitu; lamina = tentu termasuk; azh zhōlimĩn = orang lalim
wa lã aqũlu lakum ‘indĩ khozã inullãhi wa lã a’lamul ghoiba wa lã aqũlu innĩ malakun wa lã aqũlu lilladzĩna tazdarĩ a’yunukum lan yu’tiyahumullãhu khoiron, allãhu a’lamu bimã fĩ anfusihim, innĩ idzal laminazh zhōlimĩn
31. Dan aku tidak mengatakan kepadamu, perbendaharaan (ilmu) Allah ada padaku. Aku tidak banyak mengetahui yang gaib, dan aku tidak pula mengatakan, bahwa aku ini sesungguhnya Malaikat, dan juga aku tidak mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina menurut penglihatanmu, bahwa Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka. Allah lebih mengetahui, apa yang ada pada diri mereka. Sesungguhnya, kalau begitu, tentu aku termasuk orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog Nabi Nuh dengan orang-orang yang tidak mau mempercayai kenabiannya.

qōlũ = mereka berkata; yã nũhu = wahai Nuh; qod = sesungguhnya; jãdaltanã = kamu telah berbantah dengan kami; fa aktsarta = maka kamu telah memperbanyak; jidãlanã = perbantahan dengan kami; fa’tinã = maka datangkanlah kepada kami; bimã = dengan apa (azab); ta’idunã = kamu ancamkan kepada kami; inkunta = jika kamu adalah; mina = termasuk; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
qōlũ yã nũhu qod jãdal tanã fa aktsarta jidãlanã fa’tinã bimã ta’idunã inkunta minash shōdiqĩn.
32. Mereka berkata: “Wahai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperbanyak perbantahan terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan itu, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbantahan diakhiri dengan tantangan orang-orang kafir, agar Allah mendatangkan azab yang diancamkan kepada mereka.

qōla = Nuh berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; ya’tĩkum = akan mendatangkan kepadamu; bihillhu = dengan azab Allah itu; insyã-a = jika Dia menghendaki; wa mã antum = dan kamu tidak; bi mu’jizĩn = dengan melepaskan diri;
qōla innamã ya’tĩkum bihillãhu insyã-a wa mã antum bi mu’jizĩn.
33. Nuh berkata: “Sesungguhnya, hanya Allah saja yang akan mendatangkan azab itu kepada kamu semua, jika Dia menghendaki, dan kamu tidak dapat melepaskan diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nuh berkata berdasarkan petunjuk dari Allah, seperti yang tertera pada ayat ini.

wa lã = dan tidak; yanfa’ukum = bermanfaat kepadamu; nush-hĩ = nasihatku; in arodtu = jika aku hendak; an anshoha = aku memberi nasihat; lakum = kepadamu; in kaanãllãhu = jika Allah ada; yurĩdu = menghendaki; an yughwiyakum = akan menyesatkan; huwa = Dia; robbukum = Rab kamu; wa ilaihi = dan kepada-Nya; turja’ũn = kamu dikembalikan.
wa lã yanfa’ukum nush-hĩ in arodtu an anshoha lakum in kaanãllãhu yurĩdu an yughwiyakum, huwa robbukum wa ilaihi turja’ũn.
34. Dan jika aku hendak memberi nasihat kepadamu, tidaklah bermanfaat nasihatku, seandainya Allah hendak menyesatkan kamu, Dia adalah Rab kamu, dan kepada-Nya, engkau akan dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kata-kata Nabi Nuh a.s. kepada orang-orang kafir berdasarkan petunjuk dari Allah. Maknanya, bagaimana pun kuatnya Nuh memberi nasihat kepada seseorang, tetapi kalau Allah sudah menetapkan orang itu sesat, maka nasihat itu tidak ada manfaatnya.

am = atau; yaqũlũna = mereka mengatakan; iftarōh = dia membuat-buatnya; qul = katakanlah; iniftoituhũ = jika aku membuat-buatnya; fa’alayya = maka atasku; ijrōmĩ = dosaku; wa ana = dan aku; barĩ-um = berlepas diri; mimma = dari apa; tujrimũn = kamu berbuat dosa.
am yaqũlũnaftarōh, qul iniftoituhũ fa’alayya ijrōmĩ wa ana barĩ-um mimma tujrimũn.
35. Atau mereka mengatakan: “Dia membuat-buat (nasihat)”. Katakanlah: “Jika aku membuat-buat (nasihat), maka dosanya atasku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sangkaan orang kafir pada apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Nuh, dan jawaban Nabi Nuh kepada orang-orang kafir, atas petunjuk Allah.

wa ũhiya = dan diwahyukan; ilã nũhin = kepada Nuh; annahũ = bahwa; lan yu’mina = tidak akan beriman; min qaumika = dari kaummu; illã = kecuali; man = orang; qod = sungguh; ãmana = yang telah beriman; falã = maka jangan; tabta-is = kamu bersedih; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa ũhiya ilã nũhin annahũ lan yu’mina min qaumika illã man qod ãmana falã tabta-is bimã kaanũ yaf’alũn.
36. Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwa tidak akan beriman dari kaummu, kecuali orang yang telah beriman saja, maka janganlah kamu bersedih atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Nabi Nuh, kaumnya tidak akan beriman kepada Allah, kecuali orang-orang yang sudah beriman saja. Allah menghibur Nabi Nuh a.s. agar jangan bersedih karena keadaan yang demikian itu.
washna’i = dan buatlah; al fulka = bahtera; bi a’yuninã = dengan pengawasan Aku; wa wahyinã = dan wahyu-Ku; wa lã = dan jangan; tukhãthibnĩ = kamu berbicara tentang Aku; fil ladzĩna = dengan orang-orang; zholamũ = yang lalim; innahum = sesungguhnya mereka; mughroqũn = akan ditenggelamkan.
wa ashna’il fulka bi a’yuninã wa wahyinã, wa lã tukhãthibnĩ fil ladzĩna zholamũ, innahum mughroqũn
37. Dan buatlah bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu dari Aku, dan jangan kamu bicarakan tentang Aku dengan orang-orang yang lalim itu, karena sesungguhnya, mereka akan ditenggelamkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Nuh a.s. membuat bahtera dengan pengawasan dan petunjuk wahyu-Nya. Allah juga melarang berbicara tentang-Nya kepada orang-orang lalim, karena Allah merencanakan akan menenggelamkan orang-orang lalim itu.

wa yashna’u = dan Nuh membuat; al fulka = bahtera; wa kullamã = dan setiap kali; marro = berjalan melewati; ’alaihi = atasnya; malã’un = pemuka-pemuka; min qaumihi = dari kaumnya; sakhirũ = mereka mengejek; minhu = kepadanya; qōla = berkata (Nuh); in tas kharũ = jika kamu mengejek; minnã = kepada Aku; fa-innã = maka sesungguhnya; nas-kharu = Aku mengejek; minkum = kepadamu; kamã = sebagaimana; tas-kharũn = kamu mengejek (Aku).
wa yashna’ul fulka, wa kullamã marro’alaihi malã’um min qaumihi sakhirũ minhu, qōla in tas kharũ minnã fa-innã nas-kharu minkum kamã tas-kharũn.
38. Dan Nuh membuat bahtera, dan setiap kali pemuka kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejek kepadanya. Berkatalah Nuh: “Jika kamu mengejek Aku, maka sesungguhnya, Aku pun mengejekmu, sebagaimana kamu mengejek aku.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh membuat bahtera yang mendapat ejekan dari para pemuka kaumnya. Nuh pun mengejek, sesuai dengan petunjuk Allah, seperti ejekan kaum kepadanya.

fa saufa = maka kelak; ta’lamũna = kamu akan mengetahui; man = siapa; ya’tĩhi = menimpanya; ‘adzãbun = azab; yukhzĩhi = menghinakannya; wa yahillu = dan halal (menimpa); ‘alaihi = atasnya; ‘adzãbum = azab; muqĩm = yang kekal.
fa saufa ta’lamũna man ya’tĩhi ‘adzãbun yukhzĩhi wa yahillu ‘alaihi ‘adzãbum muqĩm.
39. Maka kelak, kamu akan mengetahui, siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya, dan siapa yang akan ditimpa azab kekal baginya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah kepada Nabi Nuh tentang siapa yang akan ditimpa azab di dunia dan azab yang kekal di akhirat.

hattã = sehungga; idzã = jika; jã-a = datang; amrunã = perintah-Ku; wa fãro = dan air memancar; attannũru = tanur; qulnã = Aku berpikir; ahmil = muatkanlah; fĩhã = di dalamnya (bahtera); min kullin = dari masing-masing; zaujaini = sepasang; synaini = dua; wa ahlaka = dan keluargamu; illã = kecuali; man = orang; sabaqo = terdahulu; ‘alaihi = baginya; al qaulu = perkataan; wa man = dan orang; ãmana = telah beriman; wa mã ãmana = dan tidak ada orang yang beriman; ma’ahũ = bersamanya (Nuh); illã = kecuali; qolĩlu = sedikit.
hattã idzã jã-a amrunã wa fãrottannũru qulnahmil fĩhã min kullin zaujainisynaini wa ahlaka illã man sabaqo ‘alaihil qaulu wa man ãman, wa mã ãmana ma’ahũ illã qolĩlu.
40. Sehingga, jika perintah-Ku datang, dan tanur bumi telah memancarkan air, Aku berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera dari masing-masing sepasang dua (binatang jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang terdahulu terkena baginya, dan (muatkan pula) orang yang beriman.” Dan tidak ada orang-orang yang beriman bersama Nuh, kecuali sedikit.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah banjir zaman Nabi Nuh a.s. Air memancar dari perut bumi dan hujan lebat tidak berhenti-henti sampai Allah memerintahkan untuk berhenti.

wa qōla = dan berkata; irkabũ = naiklah kamu sekalian; fĩhã = ke dalam kapal; bismillãhi = dengan nama Allah; jrãhã = di waktu berlayarnya; wa mursãhã = berlabuhnya; inna = sesunggunya; robbi = Rabku; laghofũrur = sungguh Maha Pengampun; rohĩmu = Maha Penyayang.
wa qōlarkabũ fĩhã bismillãhi majrãhã wa mursãhã, inna robbi laghofũrur rohĩmu.
41. Dan (Nuh) berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalam bahtera dengan nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya, Rabku Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh memerintah para pengikutnya untuk menaiki bahtera, dengan pengajaran doa kalau mau berlayar, dan saat berlabuh.
wa hiya = dan bahtera itu; tajrĩ = berlayar; bihim = dengan mereka; fĩ maujin = dalam gelombang; ka-al jibãli = seperti gunung; wa nãdã = dan memanggil; nũhun = Nuh; ibnahũ = anaknya; wa kãna = dan ia adalah; fĩ ma’zilin = di tempat terpencil; yã bunayya = wahai anakku; irkab = naiklah; ma’anã = bersamaku; wa lã takum = dan kamu jangan berada; ma’a = bersama-sama dengan; al kãfirĩn = orang-orang yang kafir.
wa hiya tajrĩ bihim fĩ maujin kal jibãl, wa nãdã nũhun ibnahũ wa kãna fĩ ma’zil, yã bunayyarkab ma’anã wa lã takum ma’al kãfirĩn.
42. Dan bahtera itu berlayar dengan mereka (membawa penumpangnya) dalam gelombang seperti gunung. Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke bahtera) bersamaku, dan janganlah kamu bersama-sama orang-orang yang kafir.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nuh dengan anaknya (bernama Qana’an) yang tidak mau menaiki bahtera bapaknya.

qōla = (anaknya) berkata; sa ãwĩ = aku akan mencari perlindungan; ilã jabalin = ke gunung; ya’shimunĩ = yang memeliharaku; minal mã-i = dari air; qōla = (Nuh) berkata; lã ‘ãshima = tidak ada pelindung; al yauma = hari ini; min amrillãhi = dari perintah azab Allah; illã = selain; mar rohima = orang yang Dia kasihani; wa hãla = dan menghalangi; bainahuma = di antara keduanya; al mauju = gelombang; fa kaana = maka ia adalah; minal mughroqĩn = termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
qōla sa ãwĩ ilã jabalin ya’shimunĩ minal mã-i, qōla lã ‘ãshimal yauma min amrillãhi illã mar rohim, wa hãla bainahumal mauju fa kaana minal mughroqĩn
43. Anaknya berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air.” Nuh berkata: “Tidak ada pelindung dari azab perintah Allah hari ini, selain orang yang dikasihi-Nya. Dan gelombang menghalangi antara keduanya, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera anak Nabi Nuh yang ditenggelamkan Allah.

wa qĩla = dan (Allah) bersabda; yã ardhu = yã bumi; ibla’ĩ = telanlah; mã-aki = airmu; wa yã samã-u = dan wahai langit; aqli’ĩ = berhentilah; wa ghĩdho = dan disurutkan; al mã-u = air; wa qudhiya = dan diselesaikan; al amru = urusan (perintah); wastawat = dan bahtera berlabuh; ‘alal jũdiyyi = di atas bukit Judi; wa qĩla = dan dikatakan; bu’dan = jauh (binasalah); lil qaumi = bagi kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
wa qĩla yã ardhubla’ĩ mã-aki wa yã samã-u aqli’ĩ wa ghĩdhol mã-u wa qudhiyal amru wastawat ‘alal jũdiyyi wa qĩla bu’dal lil qaumizh zhōlimĩn.
44. Dan (Allah) bersabda: “Hai bumi, telanlah airmu; dan hai langit (hujan) berhentilah”. Dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang lalim.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Membinasakan suatu umat bagi Allah mudah saja, dengan berbagai cara.

wa nãdã nũhu = dan Nuh berseru; ar robbahũ = kepada Rabnya; fa qōla = maka katanya; robbi = yaa Rabku; innãbnĩ = sesunggunya anakku; min ahlĩ = dari (termasuk) keluargaku; wa inna = dan sesunggunya; wa’daka = janji Engkau; al haqqu = benar; wa anta = dan Engkau; ahkamu = penghukum paling adil; al hãkimĩn = di antar para penghukum.
wa nãdã nũhur robbah, fa qōla robbi innãbnĩ min ahlĩ wa inna wa’dakal haqqu wa anta ahkamul hãkimĩn.
45. Dan Nuh berseru kepada Rabnya, maka katanya: “Yaa Rabku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya, janji Engkau adalah benar, dan Engkau paling adil di antara penghukum.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tragedi keluarga Nuh, anak dan istrinya ternyata tidak mau mengikuti seruannya. Anak-istrinya tetap kafir.

qōla = (Allah) bersabda; yã nũhu = wahai Nuh; innahũ = sesungguhnya dia; laisa = dia bukanlah; min ahlika = dari keluargamu; innahũ = sesungguhnya, dia; ‘amalun = perbuatan; ghoiru = tidak; shōlihĩn = saleh (baik); falã = maka janganlah; tas-alni = kamu menanyakan kepada-Ku; mã laisa = sesuatu yang tidak; laka = untukmu; bihĩ = dengannya; ilmu = pengetahuan; innĩ = sesungguhnya aku; a’izhuka = Aku menasihatimu; an takũna = kamu jangan menjadi; mina = termasuk menjadi; al jahilĩn = orang-orang yang bodoh.
qōla yã nũhu innahũ laisa min ahlik, innahũ ‘amalun ghoiru shōlihĩn, falã tas-alni mã laisa laka bihĩ ilm, innĩ a’izhuka an takũna minal jahilĩn.
46. (Allah) bersabda: “Wahai Nuh, sesungguhnya dia tidak termasuk keluargamu, sesungguhnya dia melakukan perbuatan yang tidak baik. Maka janganlah kamu menanyakan kepada-Ku, sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya, Aku menasihatimu, agar kamu jangan termasuk orang-orang yang bodoh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nuh, bahwa anak-istri yang melakukan perbuatan tidak baik (menjadi kafir, tidak melakukan apa yang diingini, diperintah Allah) harus dianggap bukan anggota keluarga. Allah melarang menanyakan kepada-Nya, sesuatu yang tidak diketahui (mengapa anak-istrinya menjadi keras kepala, tidak mau mengikuti ajakannya, ajakan Allah). Allah mengetahui segala sesuatu yang gaib. Allah menasihati Nuh, agar jangan termasuk kepada orang-orang yang bodoh. Masalah menjadi kafirnya seseorang, hanya Allah Yang mengetahui. Ada orang yang beriman, tentu ada lawannya yaitu kafir. Kafir itu pilihan hidup seseorang berdasarkan pertimbangan bebas akal pikiran dirinya. Orang-orang kafir itu lahan pekerjaan bagi para penyeru kebenaran dan kebaikan arahan dari Allah.
qōla = (Nuh) berkata; robbi = yaa Rabku; innĩ = sesungguhnya aku; a’udzu = aku berlindung; bika = kepada Engkau; an as-alaka mã laisa = apa (sesuatu) yang tidak; lĩ = bagiku; bihĩ = dengannya; ‘ilm = pengetahuan (mengetahui); wa illã = dan sekiranya tidak; taghfir = Engkau memberi ampun; lĩ = bagiku; wa tarhamnĩ = dan Engkau belas-kasihan kepadaku; akun = aku adalah; mina = dari (termasuk); al khōsirĩn = orang-orang yang rugi.
qōla robbi innĩ a’udzu bika an as-alaka mã laisa lĩ bihĩ ‘ilm, wa illã taghfir lĩ wa tarhamnĩ akum minal khōsirĩn.
47. Nuh berkata: “Yaa Rabku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau, jika aku menanyakan kepada Engkau sesuatu yang tidak kuketahui (hakekatnya), dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) berbelas-kasihan kepadaku, tentu aku termasuk orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hakekat manusia itu lemah, tidak tahu apa-apa. Kalau tidak dibelaskasihani, tidak diberitahu, maka manusia tidak mempunyai kekuatan apa-apa, tidak mempunyai pengetahuan sesuatu apa pun. Oleh karena itu, banyaklah bermohon yang disertai upaya kepada Allah Pemilik segala sesuatu, agar hidupnya tidak merugi, baik di dunia maupun di akhirat.
qĩlã = (Allah) bersabda; yã nũhu = wahai Nuh; ihbith = turunlah; bi salãmin = dengan selamat; minnã = dari Aku; wa barokãtin = dan keberkatan; ‘alaika = kepadamu; wa ‘alã = dan kepada; umammim = umat-umat; mimman = dari orang-orang; ma’ak = bersamamu; wa umamun = dan umat-umat; sanumatti’uhum = akan Aku beri mereka kesenangan; tsumma = kemudian; yamassuhum = akan menimpa mereka; minnã = dari Aku; ‘adzãbun = azab; alĩm = pedih.
qĩlã yã nũhuhbith bi salãmimminnã wa barokãtin ‘alaika wa ‘alã umammim mimmam ma’ak, wa umamun sanumatti’uhum tsumma yamassuhum minnã ‘adzãbun alĩm.
48. Allah bersabda: “Wahai Nuh, turunlah dengan selamat dan penuh keberkatan dari-Ku atasmu dan atas umat-umat dari orang-orang yang bersamamu. Dan ada lagi umat-umat yang Aku beri kesenangan, kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari-Ku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyampaikan ucapan selamat kepada Nuh beserta umat yang bersamanya. Ada umat yang diberi kesenangan, namun di kemudian hari mereka akan terkena azab yang pedih. Kalau ditebak, umat ini umat yang tidak menepati janji dengan Allah.

tilka = itulah; min ambã-i = dari sebagian berita-berita; al ghoibi = gaib; nũhĩhã = Aku wahyukan; ilaika = kepadamu; mã kunta = tidak ada kamu; ta’lamuhã = kamu mengetahuinya; anta = kamu; wa lã qaumuka = dan tidak kaummu; min qobli = dari sebelum; hãdzã = ini; fashbir = maka bersabarlah; inna = sesungguhnya; al ‘ãqibata = akibat (kesudahan); lil muttaqĩn = bagi orang-orang yang takwa.
tilka min ambã-il ghoibi nũhĩhã ilaik, mã kunta ta’lamuhã anta wa lã qaumuka min qobli hãdzã, fashbir, innal ‘ãqibata lil muttaqĩn
49. Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Aku wahyukan kepadamu (Muhammad), (padahal) kamu dan kaummu tidak mengetahuinya sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya, kesudahan (yang baik) adalah bagi orang-orang yang takwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia (khususnya Nabi Muhammad saw. dan umatnya) harus bersabar menerima peringatan dari Allah, agar hidupnya selamat di dunia sampai akhirat. Orang-orang yang takwa, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 2 – 5.

wa ilã = dan kepada; ‘ãdin = Kaum ‘Ad; akhōhum = saudara mereka; hũda = Hud; qōla = ia berkata; yã qaumi = wahai kaumku; u’budũllãha = sembahlah Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilaihi = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; in antum = tidak lain kamu; illã = hanyalah; muftarũn = mengada-adakan.
wa ilã ‘ãdin akhōhum hũda, qōla yã qaumi’budũllãha mã lakum min ilaihi ghoiruh, in antum illã muftarũn.
50. Dan kepada Kaum ‘Ad, (Aku utus) saudara mereka Hud, ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada bagimu ilah selain Dia. Tidak lain, kamu (Kaum ‘Ad) hanyalah mengada-adakan belaka. ”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah agar manusia menyembah-Nya disampaikan kepada setiap kaum di dunia ini. Jangan mengada-adakan aturan, selain dari aturan Allah. Tentang Hud, lihat juga Al A’rãf, 7 : 65 – 72.

yã kaumi = wahai kaumu; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atas seruanku; ajron = upah; in ajriya = tidak lain upahku; illã = hanyalah; ‘alal ladzĩ = dari Yang; fathoronĩ = telah Menciptakan aku; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu menggunakan akal?
yã kaumi lã as-alukum ‘alaihi ajron, in ajriya illã ‘alal ladzĩ fathoronĩ, afalã ta’qilũn.
51. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu atas seruanku ini, tidak lain upahku hanyalah dari Yang telah Menciptakan aku. Apakah kamu tidak menggunakan akal?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Hud, 11 : 29 perintah Allah kepada Nabi Nuh a.s.. Agama Allah itu harus menggunakan akal dan pikiran yang harus selalu mempertanyakan “Siapakah aku, Siapa yang menciptakan aku, mengapa aku diciptakan, kapan aku diciptakan, di mana aku diciptakan.”
wa yã qaumi = ya kaumku; is taghfirũ = memohon ampunlah; robbakum = Rab kamu; summa = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaihi = kepada-Nya; yursili = Dia mengirim; as samã-a = hujan (langit); ‘alaikum = kepadamu; midroron = hujan deras; wa yazidkum = dan Dia menambah kamu; quwwatan = kekuatan; ilã quwwatukum = dengan kekuatanmu; wa lã = dan jangan; tatawallau = kamu berpaling; mujrimĩn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa yã qaumis taghfirũ Robbakum summa tũbũ ilaih, yursilis samã-a ‘alaikum midroron wa yazidkum quwwatan ilã quwwatukum wa lã tatawallau mujrimĩn
52. Dan, wahai kaumku, memohon ampunlah kepada Rab kamu, kemudian berobatlah kepada-Nya. Dia menurunkan hujan yang sangat deras kepadamu, dan akan menambah kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutus Hud saudara dari Kaum ‘Ad agar mereka memohon ampun dan bertobat karena menyekutukan-Nya. Allah memberitahu, Dia akan menurunkan hujan yang lebat yang akan menambah kekuatan Kaum Ad, dengan pesan jangan berpaling kepada orang-orang yang berbuat dosa; kafir, musyrik, fasik, murtad.
qōlũ = mereka berkata; yã hũdu = wahai Hud; mã ji’tanã = kamu tidak datang kepadaku; bi bayyinatin = dengan bukti yang nyata; wa mã nahnu = dan aku tidak; bi tãrikĩ = dengan meninggalkan; ãlihatinã = ilah sesembahan aku; an qaulika = karena seruanmu; wa mã nahnu = dan Aku tidak; laka = bagi kamu; bi mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman,
qōlũ yã hũdu mã ji’tanã bi bayyinatin wa mã nahnu bi tãrikĩ ãlihatinã an qaulik, wa mã nahnu laka bi mu’minĩn.
53. Mereka berkata: “Hai Hud, kamu tidak mendatangkan bukti yang nyata kepadaku, dan aku tidak akan meninggalkan sesembahanku, karena seruanmu, dan aku sekali-kali tidak akan mempercayai kamu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap kali utusan datang mengingatkan suatu kaum, pasti selalu ada penolakan, selalu ada yang tidak mau percaya. Bukti yang nyata, maksudnya ancaman azab di dunia atau nanti di akhirat.

in naqũlu = Aku tidak mengatakan; illa = kecuali; i’tarōka = telah menyebabkan kepadamu; ba’dhu = sebagian; ãlihatinã = ilah sesembahanku; bi sũ-i = dengan bahaya (gila); qōla = (Hud) menjawab; innĩ = sesungguhnya aku; usyhidullãha = aku bersaksi kepada Allah; wasyhadũ = dan skasikanlah olehmu; annĩ = bahwa aku; barĩun = berlepas diri; mimmã = dari apa; tusyrikũn = kamu persekutukan.
in naqũlu illa’tarōka ba’dhu ãlihatinã bi sũ-i, qōla innĩ usyhidullãha wasyhadũ annĩ barĩum mimmã tusyrikũn.
54. Aku tidak mengatakan, kecuali bahwa sebagian sesembahanku telah menyebabkan kamu menjadi gila. Hud menjawab: “Sesungguhnya, aku bersaksi kepada Allah, dan saksikanlah olehmu, bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum ‘Ad menuduh Hud menjadi gila karena sesembahan mereka. Hud setelah mendakwahi mereka, menjawab tuduhan mereka dengan mengatakan “aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

min dũnihĩ = dari selain-Nya; fakĩdũnĩ = maka, tipu-dayakanlah aku; jamĩ’an = semua; syumma = kemudian; lã = janganlah; tunzhirũn = kamu memberi tangguh kepadaku.
min dũnihĩ fakĩdũnĩ jamĩ’an syumma lã tunzhirũn.
55. Dari selain-Nya, maka lakukanlah semua tipu daya kepadaku, kemudian janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud menantang kaumnya yang mengatasnamakan selain Allah untuk membuat tipu daya kepada dirinya, kapan saja, dan di mana saja.

innĩ = sesungguhnya aku; tawakkaltu = aku bertawakal; ‘alallãhi = kepada Allah; robbĩ = Rabku; wa robbikum = dan Rab kamu; mã min dãbbatin = tidak ada seekor binatang melata; illã = melainkan; huwa = Dia; ãkhidzun = memegang; binãshiyatihã = dengan ubun-ubunnya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ‘alã = di atas; shirōtin = jalan; mustaqĩm = yang lurus.
innĩ tawakkaltu ‘alallãhi robbĩ wa robbikum, mã min dãbbatin illã huwa ãkhidzum binãshiyatihã, inna robbĩ ‘alã shirōtim mustaqĩm
56. Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Rabku dan Rab kamu, tidak ada seekor binatang melata pun, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya, sesungguhnya Rabku di atas jalan yang lurus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berpegang teguh kepada Allah, Penguasa seluruh makhluk-Nya merupakan jalan yang benar, lurus. Tidak ada kekuatan yang dapat mengalahkan.

fa in = maka jika; tawallau = kamu berpaling; fa qod = maka sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; mã = apa; ursiltu = aku diutus; bihĩ = dengannya; ilaikum = kepadamu; wa yastakhlifu = dan akan mengganti; robbĩ = Rabku; qauman = kaum; ghoirokum = selain kamu; wa lã = dan tidak; tadhurrũnahũ = kamu dapat membuat mudarat kepada-Nya; syaian = sedikit pun; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; hafĩd = Maha Pemelihara.
fa in tawallau fa qod ablaghtukum mã ursiltu bihĩ ilaikum, wa yastakhlifu robbĩ qauman ghoirokum wa lã tadhurrũnahũ syaian, inna robbĩ ‘alã kulli syai-in hafĩd.
57. Bila kamu berpaling, maka sesungguhnya aku sudah menyampaikan kepadamu apa yang seharusnya aku sampaikan, sebagai utusan kepadamu. Dan, Rabku akan mengganti kamu dengan kaum yang selain kamu, dan kamu tidak dapat membuat mudarat sedikit pun kepada-Nya. Sesungguhnya Rabku Maha Pemelihara segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah itu Maha dalam segala-Nya. Rasul-Nya kalau sudah menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan, maka dia terbebas dari tanggung jawab kepada kaumnya, terutama kepada yang berpaling dari himbauannya. Mereka yang berpaling, tidak dapat membuat mudarat sedikit pun kepada Allah. Mereka yang berpaling akan diganti dengan kaum lain.
wa lammã = dan setelah; jã-a = datang; amrunã = keputusan-Ku; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa najjainãhum = dan Aku selamatkan mereka; min ‘adzãbin = dari azab; ghollĩzh = berat (keras).
wa lammã jã-a amrunã bi rohmatim minnã wa najjainãhum min ‘adzãbin.
58. Dan setelah datang keputusan-Ku, Aku selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari Aku. Dan Aku selamatkan mereka dari azab yang berat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Keputusan-Ku” adalah azab yang didatangkan Allah setelah diberi kesempatan, waktu untuk mau memohon ampun dan bertobat. Setelah kesempatan yang diberikan tidak dimanfaatkan, tapi mereka tetap kafir dengan berbagai perilaku merusak, maka azab pun datang secara tiba-tiba, di waktu siang atau pun malam. Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman dengan penuh rahmat.

wa tilka = dan itulah; ‘ãdun = Kaum ‘Ãd; jahadũ = mereka mengingkari; bi ayãyãti = dengan ayat-ayat; robbihim = Rab mereka; wa ‘ashau = dan mereka mendurhakai; rusulahũ = Rasul-rasul-Nya; wattaba’ũ = dan mereka mengikuti; amro = perintah; kulli = semua; jabãrin = penguasa; ‘anĩdin = durhaka.
wa tilka ‘ãdun, jahadũ bi ayãyãti Robbihim wa ‘ashau rusulahũ wattaba’ũ amro kulli jabãrin ‘anĩdin.
59. Dan itulah (kisah) Kaum ‘Ãd yang mengingkari ayat-ayat Rab mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah, dan mereka mengikuti perintah semua penguasa yang durhaka (kepada Rab).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat-ayat di atas mengisahkan Kaum ‘Ãd.

wa utbi’ũ = dan mereka diikuti; fĩ hãdzihi = di dalam ini; ad dun-yã = dunia; la’natan = laknat (kutukan); wa yauma = dan hari; al qiyãmah = kiamat; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; ‘ãdan = Kaum ‘Ãd; kafarũ = mereka kafir; robbahum = Rab mereka; alã = ingatlah; bu’dan = jauh (binasalah); li’ãdin = bagi Kaum ‘Ãd; qaumi hũd = keluarga Hud.
wa utbi’ũ fĩ hãdzihid dun-yã la’natan wa yaumal qiyãmah, alã inna ‘ãdan kafarũ Rob ahum, alã bu’dal li’ãdin qaumi hũd.
60. Dan mereka diikuti dengan kutukan di dunia ini, dan di Hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya Kaum ‘Ãd itu kafir kepada Rab mereka. Ingatlah, kebinasaan lah Kaum ‘Ãd, keluarga Hud.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum ‘Ãd itu dibinasakan karena setelah diberi peringatan dengan kedatangan Rasul dari Keluarga Hud, mereka tetap kafir.
wa ilã = dan kepada; tsamũda = (Kaum) Samud; akhōhum = saudara mereka; sholihã = Saleh; qōla = (Saleh) berkata; yã qaumi = yã kaumku; u’budũllãha = sembahlah Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; huwa = Dia; ansya-akum = Dia menciptakan kamu; minal ardhi = dari tanah; was ta’marokum = Dia memakmurkan kamu; fĩhã = di dalamnya; fastaghfirũhu = maka memohonlah ampun kepada-Nya; summa = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaih = kepada-Nya; inna = sesungguhnya; robbi = Rabku; qorĩbun = amat dekat; mujĩb = mengabulkan (doa) hamba-Nya.
wa ilã tsamũda akhōhum sholihã, qōla yã qaumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, huwa ansya-akum minal ardhi, was ta’marokum fĩhã fastaghfirũhu, summa tũbũ ilaih, inna Robbi qorĩbum mujĩb.
61. Dan kepada (Kaum) Samud (Aku utus) saudara mereka Saleh, dia berkata: “Hai Kaumku, sembahlah Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah, dan memakmurkan kamu di dalamnya. Maka memohonlah ampun kepada-Nya, kemudian bertobatlah kamu kepada-Nya. Sesungguhnya, Rabku amat dekat, dan mengabulkan (doa) hamba-Nya.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Nabi Saleh dengan ajakannya (himbauan) kepada kaumnya. Lihat juga ayat 52, ajakan Nabi Hud kepada Kaum ‘Ãd. Pada ayat ini, manusia diciptakan dari tanah, menegaskan surat Al Baqarah, 2 : 30, Ali Imran, 3 : 59, Al A’rãf, 7 : 12.

qōlũ = Mereka (Kaum Tsamud) berkata; yã shōlihu = Wahai Saleh; qod = sesungguhnya; kunta = kamu adalah; fĩnã = di antara kami; marjuwwan = menjadi harapan; qobla = sebelum; hãdzã = ini; atanhãnã = apakah kamu melarang Aku; an na’buda = bahwa kami menyembah; mã ya’budu = apa yang disembah; ãbã-una = bapak-bapak kami; wa innanã = dan sesungguhnya kami; lafĩ = benar-benar dalam; syakkin = keraguan; mimmã = terhadap apa (agama); tad’ũnã = kamu serukan kepada kami; ilaihi = kepadanya; murĩb = menggelisahkan.
qōlũ yã shōlihu qod kunta fĩnã marjuwwan qobla hãdzã, atanhãnã an na’buda mã ya’budu ãbã-una wa innanã lafĩ syakkim mimmã tad’ũnã ilaihi murĩb.
62. Mereka (Kaum Samud) berkata: “Hai Saleh, sesungguhnya, di antara kami, kamu menjadi harapan sebelum ini. Apakah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah bapak-bapak kami? Sesungguhnya, kami benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada kami.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Nabi Saleh ditanggapi negatif, ragu-ragu oleh Kaum Samud, karena mereka penyembah berhala.
qōla = (Saleh) berkata; yã kaumi = wahai kaumku; aro-aitum = bagaimana pikiranmu; inkuntu = jika aku adalah; ‘alã bayyinatin = atas bukti yang nyata; mir robbi = dari Rabku; wa ãtaanĩ = dan Dia memberi aku; min hu = dari-Nya; rohmatan = rahmat; fa man = maka siapa; yanshurũnĩ = menolongku; minallãhi = dari Allah; in = jika; ‘ashoituhu = aku mendurhakai-Nya; fa mã = maka tidak; tazĩdũnanĩ = kamu menambah kepadaku; ghoiro = selain; takhsĩrin = kerugian.
qōla yã kaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir Robbi wa ãtaanĩ min hu rohmatan fa man yanshurũnĩ minallãhi in ‘ashoituh, fa mã tazĩdũnanĩ ghoiro takhsĩri.
63. Saleh berkata: “Hai Kaumku, bagaimana pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabku, dan diberi-Nya rahmat dari-Nya? Maka, siapakah yang menolongku dari (azab) Allah, jika aku mendurhakai-Nya? Maka, kamu tidak menambah apapun kepadaku, selain dari kerugian belaka.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seorang Nabi yang demokratis, meminta petimbangan pikiran kaumnya, jika perintah Allah tidak disampaikan. Tentu Nabi yang rugi.
wa yã qaumi = dan hai kaumku; hãdzihĩ = inilah; nãqotu = unta betina; allãhi = Allah; lakum = untukmu; ãyatan = ayat (tanda); fadzarũhã = maka biarkanlah ia; ta’kul = ia makan; fĩ ardhĩllãhi = di bumi Allah; wa lã = dan jangan; tamassũhã = kamu mengganggunya; bi sũ-in = dengan kejahatan (gangguan); fa ya’khudzakum = maka akan menimpa kamu; ‘adzãbun = azab; qorĩb = dekat.
wa yã qaumi hãdzihĩ nãqotullãhi lakum ãyatan fadzarũhã ta’kul fĩ ardhĩllãhi wa lã t amassũhã bi sũ-in fa ya’khudzakum ‘adzãbun qorĩb.
64. Dan, hai kaumku, inilah unta betina dari Allah, sebagai tanda untukmu. Maka, biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, yang menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Unta betina dari Allah ini lambang kekuasaan, kebesaran Allah, lambang kebebasan hidup beragama di dunia, lambang kehendak suci Allah, lambang kemurahan Allah, agar manusia mempercayai keberadaan-Nya. Ujian dari Allah bagi manusia melalui larangan: “Kamu jangan mengganggu unta betina itu”. Kalau diganggu (kekuasaan, kebesaran, hidup beragama, kehendak suci Allah, kemurahan Allah itu), kamu akan ditimpa azab dunia, dan lebih-lebih nanti pada Hari Kiamat..
fa’aqorũhã = maka mereka menusuknya; faqōla = lalu (Saleh) berkata; tamatta’ũ = bersukarialah kamu; fĩ dãrikum = di rumahmu; tsalãtsata = tiga; ayyãmin = hari; dzãlika = demikian itu; wa’dun = janji; ghoiru = tidak; makdzũbin = didustakan.
fa’aqorũhã faqōla tamatta’ũ fĩ dãrikum tsalãtsata ayyãmin, dzãlika wa’dun ghoiru makdzũbin
65. Maka, mereka menusuk unta itu, lalu Saleh berkata: “Bersukarialah kamu di rumahmu selama tiga hari, demikian itulah janji yang tidak dapat didustakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena ketidakpercayaan orang kafir, maka larangan itu dilanggar. Berarti menantang perintah Allah. Mereka menusuk unta betina. Allah masih memberi peluang ampun dan bertobat bagi orang-orang kafir, selama tiga hari. Itulah janji Allah.
falammã = maka ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan-Ku; najjainã = Aku selamatkan; shōlihan = Saleh; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama dia; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa min khizyi = dan dari kehinaan; yaumi-idzin = pada hari itu; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; al qowiyyu = Yang Mahakuat; al ‘azĩz = Yang Mahaperkasa.
falammã jã-a amrunã najjainã shōlihan walladzĩna ãmanũ ma’ahũ bi rohmatim minnã wa min khizyi yaumi-idzin inna Robbaka huwal qowiyyul ‘azĩz.
66. Maka, ketika datang ketetapan-Ku, Aku selamatkan dari kehinaan di hari itu, Saleh dan orang-orang yang beriman bersama dia, dengan rahmat dari-Ku. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah tiga hari berlalu, permohonan ampun dan tobat tidak terucap dari mereka yang kafir, maka penghinaan kepada mereka pun terjadi. Nabi Saleh dan pengikutnya yang beriman diselamatkan Allah dengan rahmat-Nya.

wa akhodza = dan ledakan menimpa (mengambil); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamu = (mereka) lalim; ash shaihatu = suara keras (ledakan); fa-ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩ diyãrihim = di rumah mereka; jãtsimĩn = mati bergelimpangan.
wa akhodzal ladzĩna zholamush shaihatu fa-ashbahũ fĩ diyãrihim jãtsimĩn.
67. Dan suara ledakan keras menimpa orang-orang yang lalim itu, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah Hukumullah dan Sunatullah.

ka-an lam = seolah-olah belum; yaghnau = mereka berdiam; fĩhã = di tempat itu; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; tsamũdã = orang-orang Samud; kafarũ = mereka kafir; robbahum = Rab mereka; alã = ingatlah; bu’dan = kebinasaan; li tsamũda = bagi orang-orang Samud.
ka-an lam yaghnau fĩhã alã inna tsamũdã kafarũ robbahum, alã bu’dal li tsamũda
68. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu; ingatlah, orang-orang Samud, sesungguhnya mengingkari Rab mereka. Ingatlah, kebinasaan bagi orang-orang Samud.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia dengan peristiwa kebinasaan (kepunahan) Kaum Samud dan Kaum Nabi Saleh itu karena mengingkari Rab mereka.

wa laqod = dan sesungguhnya; jã-at = telah datang; rusulunã = utusan-utusan Aku; ibrōhĩma = Ibrahim; bil busyrō = dengan kabar gembira; qōlũ = mereka mengucapkan; salãman = selamat; qōla = (Ibrahim) menjawab; salãmun = selamat; fa mã labitsa = maka tidak lama kemudian; an jã-a = dia menyuguhkan; bi ‘ijlin = dengan daging anak sapi; hanĩdzĩn = dipanggang.
wa laqod jã-at rusulunã ibrōhĩma bil busyrō qōlũ salãman, qōla salãmun, fa mã labitsa an jã-a bi ‘ijlin hanĩdz.
69. Dan sesungguhnya telah datang utusan-utusan-Ku (Malaikat) kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan “selamat.” Ibrahim menjawab “selamat.” Tidak lama kemudian (Ibrahim) menyuguhkan daging anak sapi panggang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah beralih ke Nabi Ibrahim yang didatangi para utusan Allah, Malaikat yang menyampaikan kabar gembira (lihat ayat-ayat berikutnya). Kedua pihak (Malaikat dahulu) menyapa dan membalas sapaan dengan kata salam “selamat”. Kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi panggang.

fa lammã = maka ketika; ro-ã = (Ibrahim) melihat; aidiyahum = tangan-tangan mereka; lã tashilu = tidak sampai; ilaihi = kepadanya; nakirohum = (Ibrahim) merasa aneh kepada mereka; wa au jasã = dan mereka mencurigakan; min hum = kepada mereka; khĩfatan = ketakutan; qōlũ = mereka berkata; lã takhaf = jangan kamu takut; innã = sesungguhnya kami; ursilnã = kami diutus; ilã = kepada; qaumi = kaum; lũthin = Luth.
fa lammã ro-ã aidiyahum lã tashilu ilaihi nakirohum wa au jasã min hum khĩfatan, qōlũ lã takhaf innã ursilnã ilã qaumi lũthin.
70. Maka ketika Ibrahim melihat tangan-tangan mereka tidak sampai ke daging anak sapi panggang itu, Ibrahim memandang aneh dan merasa curiga dan takut kepada mereka. Mereka berkata: “Jangan takut, sesungguhnya kami, Malaikat yang diutus untuk Kaum Luth.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Ibrahim dengan kejadian aneh, bahwa yang datang itu Malaikat yang diutus untuk Kaum Luth.
wamro atuhũ = dan istrinya; qō-imatun = berdiri (di sampingnya); fadhohikat = lalu tersenyum; fabasysyarnãhã = maka Aku sampaikan kabar gembira kepadanya; bi ishãqo = dengan (kehamilan) Ishaq; wa min warō-i ishãqo = dan sesudah Ishaq; ya’qũba = Ya’qub.
wamro atuhũ qō-imatun fadhohikat fabasysyarnãhã bi ishãqo wa min warō-i ishãqo ya’qũba.
71. Dan istrinya berdiri (di sampingnya), lalu ia tersenyum. Maka, Aku sampaikan kabar gembira kepadanya, akan lahir Ishaq, dan sesudah Ishaq, Ya’qub.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kabar gembira itu tentang akan lahirnya Ishaq yang disusul dengan Ya’qub.

qōlat = (istrinya) berkata; yã wailatã = aduhai; ‘a-alidu = apakah aku akan melahirkan; wa anã = padahal aku; ‘ajũzun = sudah tua; wa hãdzã = dan ini; ba’lĩ = suamiku; syaikhan = sudah tua; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; la syãi-un = sungguh suatu; ‘ajĩb = sangat ajaib (aneh).
qōlat yã wailatã-a alidu wa anã ‘ajũzun wa hãdzã ba’lĩ syaikhan, inna hãdzã la syã-un ‘ajĩb.
72. Istrinya berkata: “Aduhai, apakah aku akan melahirkan anak? Padahal aku sudah tua, dan ini suamiku (pun) sudah tua. Sesungguhnya, ini suatu yang sangat aneh.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian yang ajaib (hamilnya istri Ibrahim), kalau kehendak Allah, maka terjadilah, meskipun pasangan Ibrahim dan istrinya itu sudah tua.
qōlũ = mereka (para Malaikat) berkata; ata’jabĩna = apakah kamu merasa heran; min amrillãh = tentang ketentuan Allah; rohmatullãhi = itulah rahmat Allah; wa barokãtuhũ = dan berkah-Nya; ‘alaikum = untukmu; ahlal baiti = wahai Ahli Bait; innahũ = sesungguhnya Dia; hamĩdun = Maha Terpuji; majĩd = (dan) Mahamulia.
qōlũ ata’jabĩna min amrillãh, rohmatullãhi wa barokãtuhũ ‘alaikum ahlal baiti, innahũ hamĩdum majĩd.
73. Mereka (para Malaikat) berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketentuan Allah? Itulah rahmat Allah dan berkah-Nya untukmu wahai Ahli Bait. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji dan Mahamulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para Malaikat menegaskan tentang ketentuan Allah yang memberi rahmat dan berkah kepada makhluk-Nya.

fa lammã = maka setelah; dzahaba = hilang; ‘an ibrōhĩma = dari Ibrahim; ar rau’u = rasa takut; wa jã-athu = dan datang kepadanya; al busyrō = berita gembira; yujãdilunã = dia bersoal-jawab dengan (Malaikat) Aku; fĩ qaumi = tentang Kaum; luthin = Luth.
fa lammã dzahaba ‘an ibrōhĩmar rau’u wa jã-athul busyrō yujãdilunã fĩ qaumi luth.
74. Maka setelah rasa takut itu hilang dari Ibrahim, dan berita gembira telah datang kepadanya, dia pun bersoal-jawab dengan (Malaikat) Aku tentang Kaum Luth.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Nabi Ibrahim yang bersoal-jawab dengan Utusan Allah (Malaikat) yang terkait dengan Kaum Luth.

inna ibrōhĩma = sesungguhnya Ibrahim; la halĩmun = benar-benar penyantun; awwãhun = penghiba; munĩb = orang-orang yang suka mendekat (kepada Allah)
inna ibrōhĩma la halĩmun awwãhum munĩb.
75. Sesungguhnya Ibrahim seorang yang benar-benar penyantun dan penghiba, dan suka mendekat kepada Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran pribadi Ibrahim. Perlu dicontoh, ditiru.
yã ibrōhĩmu = wahai Ibrahim; a’ridh = tinggalkanlah; ‘an hãdzã = soal-jawab ini; innahũ qod = sungguh-sungguh; jã-a = telah datang; amru = ketentuan; robbik = Rab kamu; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; ãtĩhim = datang kepada mereka; ‘adzãbun = azab; ghoiru = tidak; mardũd = ditolak.
yã ibrōhĩmu a’ridh ‘an hãdzã innahũ qod jã-a amru Robbik, wa innahum ãtĩhim ‘adzãbun ghoiru mardũd.
76. Wahai Ibrahim, tinggalkanlah soal-jawab ini, karena sesungguhnya, telah datang ketetapan Rab kamu, dan sesungguhnya mereka akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena sudah ada ketetapan Allah, Kaum Luth ini akan diazab yang sudah tidak dapat ditolak, maka Ibrahim diperitah Allah agar meninggalkan perdebatan tentang Kaum Luth itu. Ini berita dari masa lalu yang harus diingat, menjadi peringatan kita sekarang.

wa lammã = dan ketika; jã-at = datang; rusulunã = Utusan-utusan-Ku; lũthon = Luth; sĩ-a = dia merasa susah; bihim = dengan mereka; wa dhōqo = dan dia merasa sempit; bihim = dengan mereka; dzar’an = dada; wa qōla = dan dia berkata; hãdzã = ini; yaumun = hari; ‘ashĩb = amat sulit.
wa lammã jã-at rusulunã lũthon sĩ-a bihim wa dhōqo bihim dzar’a wa qōla hãdzã yaumun ‘ashĩb
77. Dan ketika datang Utusan-utusan-Ku (Malaikat) kepada Luth, dia merasa susah dengan kedatangan mereka, dia mengatakan: “Ini adalah hari yang amat sulit.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera ketika Luth kedatangan para utusan, Malaikat.
wa jã-ahũ = dan datang kepadanya; qaumuhũ = kaumnya; yuhro’ũna = mereka bergegas-gegas; ilaih = kepaqdanya; wa min qoblu = dari dahulu; kaanũ = adalah mereka; ya’malũna = mereka melakukan; as sayi-ãti = perbuatan-perbuatan keji; qōla = (Luth) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; hã-ulã-i = inilah; banãtĩ = putri-putriku; hunna = mereka; ath-haru = lebih suci; lakum = bagimu; fattaqullãha = maka bertakwalah kamu kepada Allah; wa lã tukhzũni = dan jangan kamu mencemarkanku; fĩ dhoifĩ = di hadapan tamu-tamuku; alaisã = apakah tidak; minkum = di antara kamu; rojulu = seorang laki-laki; ar rosyĩdu = cerdik.
wa jã-ahũ qaumuhũ yuhro’ũna ilaih, wa min qoblu kaanũ ya’malũnas sayi-ãt, qōla yã qaumi hã-ulã-i banãtĩ hunna ath-haru lakum, fattaqullãha wa lã tukhzũni fĩ dhoifĩ, alaisã minkum rojulur rosyĩd.
78. Dan datanglah kepadanya (Ibrahim) kaumnya (Luth) dengan tergesa-gesa, dan sejak dahulu, mereka (Kaum Luth) selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji. Luth berkata: “Hai kaumku, inilah putri-putriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah, dan janganlah kamu mencemarkan namaku di hadapan tamu-tamuku ini, apakah tidak ada di antara kamu seorang yang berakal?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebiasan keji Kaum Luth itu suka pada kebiasan lesbian, dan homoseks. Nabi Luth mencegah, dan merelakan putri-putrinya untuk dinikahi dengan baik oleh laki-laki kaum Luth, agar tidak mencemarkan nama baiknya. Agama Allah itu harus diikuti dengan menggunakan akal dan pikiran yang baik

qōlũ = mereka berkata; laqod = sesungguhnya; ‘alimta = kamu telah mengetahui; mã lanã = tidak ada hak bagi kami; fĩ banãtika = pada putri-putrimu; min haqqin = dari hak; wa innaka = dan sesungguhnya kamu; la ta’lamu = tentu kamu mengetahui; mã nurĩd = apa yang kami kehendaki
qōlũ laqod ‘alimta mã lanã fĩ banãtika min haqqin, wa innaka la ta’lamu mã nurĩd
79. Mereka berkata: “Sesungguhnya, kamu telah mengetahui, kami tidak ada hak (bernafsu) terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya, kamu tentu mengetahui apa yang kami kehendaki.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 78. Kaum Luth bersikeras mempertahankan kebiasaan kejinya.

qōla = (Luth) berkata; lau = kalau; anna = aku; lĩ = bagiku; bikum = untuk kamu; quwwatan = kekuatan; au ãwĩ = atau aku berlindung; ilã = kepada; ruknin = tiang (keluarga); syadĩd = yang kuat.
qōla lau anna lĩ bikum quwwatan au ãwĩ ilã ruknin syadĩd.
80. (Luth) berkata: “Seandainya aku mempunyai kekuatan, atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku menolak perbuatan kejimu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Luth tidak berdaya mencegah kebiasaan keji Kaum Luth.

qōlũ = (Para Malaikat) berkata; yã lũthu = wahai Luth; innã = sesungguhnya kami; rusulu utusan; robbika = Rab kamu; lan yashilũ = mereka tidak sampai; ilaika = kepadamu; fa-asri = maka berjalanlah; bi ahlika dengan keluargamu; bi qith’in = sepotong (di akhir); minal laili = dari malam; wa lã yaltafit = dan jangan berbalik; minkum = di antara kamu; ahadun = seorang; illãmro ataka = kecuali istri kamu; innahũ = sesungguhnya dia; mushĩbuhã = menimpanya; mã ashōbahum = apa yang menimpa mereka; inna = sesungguhnya; mau’idahumu = waktu yang dijanjikan bagi mereka; ash shub-hu = subuh; alaisa = bukankah; ash shub-hu = waktu subuh; bi qorĩb = sudah dekat.
qōlũ yã lũthu innã rusulu Robbika lan yashilũ ilaika, fa-asri bi ahlika bi qith’im minal laili wa lã yaltafit minkum ahadun illãmro atak, innahũ mushĩbuhã mã ashōbahum, inna mau’idahumush shub-hu, alaisash shub-hu bi qorĩb.
81. (Para Malaikat) berkata: “Wahai Luth, sesungguhnya, kami utusan Rab kamu, sekali-kali mereka tidak akan sampai (mengganggu) kamu, maka berjalanlah dengan keluargamu di akhir malam (waktu subuh), dan jangan ada seorang pun di antara kamu berbalik kembali, kecuali istrimu, sesungguhnya, dia akan ditimpa azab yang akan menimpa mereka. Sesungguhnya, waktu yang telah dijanjikan kepada mereka itu di waktu subuh. Bukankah waktu subuh itu sudah dekat?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Kaum Luth yang akan ditimpa azab.

fa lammã = maka ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan-Ku; ja’alnã = Aku jadikan; ‘aliyahã = di atasnya; sãfilahã = ke bawahnya; wa amthornã = dan Aku hujani; ‘alaihã = atasnya; hijãrotan = batu; min sijjĩllin = dari tanah yang terbakar; mandhũd = bertubi-tubi.
fa lammã jã-a amrunã ja’alnã ‘aliyahã sãfilahã wa amthornã ‘alaihã hijãrotam min sijjĩllim mandhũd.
82. Maka ketika datang ketetapan (azab)-Ku, Aku jadikan (negeri Kaum Luth) terputarbalik (yang di atas menjadi di bawah), dan Aku hujani mereka dengan hujan batu dan tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketetapan Allah memutarbalikkan tanah tempat tingggal Kaum Luth
musawwamatan = (batu itu) diberi tanda; ‘inda = oleh; robbika = Rab kamu; wa mã hiya = dan tidaklah ia; minazh zhōlimĩna = dari orang-orang lalim; bi ba’ĩd = jauh.
musawwamatan ‘inda robbik, wa mã hiya minazh zhōlimĩna bi ba’ĩd
83. (Batu itu) diberi tanda oleh Rabmu, dan ia tidak jauh dari orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Batu itu menjadi tanda bagi manusia-manusia yang selamat dan yang kemudian. Kaum Luth yang beriman tidak jauh dari Kaum Luth yang lalim.
wa ilã = dan kepada; madyana = (penduduk) Madyan; akhōhum = saudara mereka; syu’aiban = Syu’aib; qōla = (ia) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; a’budũllãha = beribadahlah kepada Allah; mãlakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruhũ = selain Dia; wa lã = dan jangan; tanqushũ = kamu mengurangi; almikyãla = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; innĩ = sesungguhnya aku; arōkum = aku melihat kamu; bi khoirin = dengan baik; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; akhōfu = aku takut; ‘alaikum = atasmu; ‘adzãba = azab; yaumin = hari; muhĩth = tertutup.
wa ilã madyana akhōhum syu’aiba, qōla yã qaumi’budũllãha mãlakum min ilãhin ghoiruhũ, wa lã tanqushũ almikyãla wal mĩzãn, innĩ arōkum bi khoirin wa innĩ akhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumim muhĩth.
84. Dan kepada penduduk Madyan, (Aku utus) saudara mereka Syu’aib, ia berkata: Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah bagimu, selain Dia, dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya, aku (Syu’aib) melihat kamu (penduduk Madyan) dalam keadaan baik. Sesungguhnya, aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang tertutup (kiamat).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “A’budũllãha” bisa diterjemahkan sembahlah Allah. Perintah ini untuk setiap Nabi hampir sama. Ada variasi keterangan penjelasnya. Surat yang berisi perintah seperti ini terdapat pada ayat 2, 26, 50, 61, 84. Juga terdapat pada Q.s. Al Baqarah, 2 :21, Al A’rãf, 7 : 65, 73 dan lain-lain.
wa yã qaumi = dan hai kaumku; au fu = cukupkanlah; al mikyãla = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; bil qisthi = dengan adil; wa lã tabkhasũ = dan jangan kamu kurangi; an nãsa = manusia; asy-yã-ahum = suatu hak mereka; wa lã = dan tidak; ta’tsau = kamu melakukan kejahatan; fil ardhi = di bumi; mufsidĩn = membuat kerusakan.
wa yã qaumi au ful mikyãla wal mĩzãna bil qisthi, wa lã tabkhasun nãsa asy-yã-ahum wa lã ta’tsau fil ardhi mufsidĩn
85. Dan hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu kurangi hak-hak mereka sebagai manusia, dan jangan melakukan kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada kesamaan dan perbedaan tentang mengurangi takaran dan timbangan. Yang satu (ayat 85) berupa perintah dan larangan mengurangi hak-hak manusia lain, kemudian ada larangan “dan jangan melakukan kejahatan di bumi dengan membuat kerusakan”; ayat 84 berupa larangan dengan nada peringatan tentang keadaan yang baik-baik, namun ada kekhawatiran akan terkena azab di Hari Kiamat.
baqiyyatullãhi = sisa (keuntungan) dari Allah; khoirun = lebih baik; lakum = bagimu; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang yang beriman; wa mã ana = dan aku bukanlah; ‘alaikum = bagimu; bi hafĩzh = sebagai penjaga.
baqiyyatullãhi khoirul lakum inkuntum mu’minĩn, wa mã ana ‘alaikum bi hafĩzh.
86. Sisa (keuntungan) dari Allah lebih baik bagimu, jika kamu orang yang beriman, dan aku bukanlah seorang penjaga dirimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sisa (keuntungan) yang didapat dari menggunakan timbangan dan takaran yang benar karena iman kepada Allah itu dinilai lebih baik, berarti mencari harta dunia untuk tujuan akhirat. Nabi itu bukan penjaga dari perbuatan yang bermacam-macam dari seseorang. Perbuatan orang itu, tanggung jawab masing-masing.

qōlũ = (mereka) berkata; yã syu’aibu = hai syu’aib; asholãtuka = apakah salatmu; ta’muruka = menyuruh kamu; an natruka = agar kami meninggalkan; mã ya’budu = apa yang menyembah; ãbã-unã = bapak-bapak kami; au an naf’ala = atau kamu berbuat; fĩ amwãlinã = tentang harta kami; mã nasyã’u = apa yang kami kehendaki; innaka = sesungguhnya kamu; la-anta = sungguh-sungguh kamu; al halĩmu = penyantun; ar rosyĩd = cerdik, berakal
qōlũ yã syu’aibu asholãtuka ta’muruka an natruka mã ya’budu ãbã-unã, au an naf’ala fĩ amwãlinã mã nasyã’u, innaka la-antal halĩmur rosyĩd.
87. Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah salatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan, apa yang disembah oleh bapak-bapak kami, atau (melarang) kami berbuat, apa yang kami kehendaki tentang harta kami, sesungguhnya, kamu itu orang yang sangat penyantun dan berakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “salat” di sini berarti hubungan (silaturahim) Syu’aib dengan Allah. Sebagian kaumnya merasa terusik, merasa dilarang dari kebiasaan yang sudah dilakukan oleh bapak-bapak mereka menyembah berhala. Juga dengan kebiasaan memiliki kekayaan dan menggunakan hartanya. Syu’aib memang sudah terkenal sangat penyantun dan berakal.

qōla = (Syu’aib) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; aro-aitum = apa pikiranmu; inkuntu = jika aku adalah; ‘alã = mempunyai; bayyinatin = bukti yang nyata; mir robbi = dari Rabku; wa rozaqonĩ = dan Dia memberi rezeki kepadaku; minhu = dari-Nya; rizqon = rezeki; hasanan = baik; wa mã = dan tidak; urĩdu = aku berkehendak; an ukholifakum = untuk aku menyalahi kamu; ilã mã = pada apa; anhãkum = aku larang kamu; ‘anhu = darinya; in urĩdu = tidaklah aku bermaksud; illã = kecuali; al ishlãha = perbaikan; mãstatho’tui = apa yang aku sanggup; wa mã = dan tidak; taufĩqĩ = taufik bagiku; illã = kecuali; billãh = dengan allah; ‘alaihi = kepad-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa ilaihi = dan kepada-Nya; unĩb = aku kembali.
qōla yã qaumi aro-aitum inkuntu ‘alã bayyinatim mir robbi wa rozaqonĩ minhu rizqon hasanan, wa mã urĩdu an ukholifakum ilã mã anhãkum ‘anhu, in urĩdu illãl ishlãha mãstatho’tu, wa mã taufĩqĩ illã billãh, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unĩb.
88. Syu’aib berkata: “Hai kaumku, apakah pikiranmu, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabku, dan Dia memberi rezeki kepadaku dengan rezeki yang baik? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu pada apa yang aku larang terhadapmu. Tidaklah aku bermaksud, kecuali perbaikan sesuai dengan kesanggupanku, dan tidak ada taufik bagiku, kecuali dengan (pertolongan) dari Allah. Hanya kepada-Nya, aku bertawakal, dan kepada-Nya, aku kembali.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menuntun abdi-Nya Syu’aib agar mempunyai rasa demokrasi. Segala sesuatu selalu meminta pertimbangan kaumnya, ad Dien Allah berdasarkan pemikiran, pemilihannya harus dengan dasar norma agama yang benar. Yang dilarang berarti salah, tidak sesuai dengan norma agama yang benar. Perbaikan artinya yang biasa dilakukan oleh bapak-bapak mereka itu telah menyimpang dari norma agama yang benar. Rezeki diberikan Allah setelah melalui proses yang sesuai dengan kemampuan pemikiran makhluk-Nya. Maksud atau tujuan hidupnya hanya untuk kebaikan bagi dirinya, dan bagi semua makhluk-Nya. Perintah dan larangan Allah itu untuk kepentingan makhluk-Nya. Segala sesuatu dalam hidup ini tidak lepas dari petolongan Allah. Makhluk-Nya harus selalu betawakal kepada-Nya. Semuanya akan kembali kepada-Nya.

wa yã qaumi = dan, hai kaumku; lã yajri mannakum = jangan kesalahan (kejahatan)-mu; syiqōqĩ = perselisihanku; an yushĩbakum = akan menimpa kamu; misylu = seperti; mã ashãba = apa yang menimpa; qauma nũhin = Kaum Nuh; au qauma hũdin = atau Kaum Hud; au qauma shãlihin = atau Kaum Saleh; wa mã qaumu lũthin = dan tidak Kaum Luth; minkum = dari kamu; bi ba’ĩdin = dengan jauh.
wa yã qaumi lã yajri mannakum syiqōqĩ an yushĩbakum misylu mã ashãba qauma nũhin au qauma hũdin au qauma shãlihin, wa mã qaumu lũthim minkum bi ba’ĩd.
89. Dan, hai kaumku, jangan perselisihanku denganmu menyebabkan kamu menjadi jahat, sehingga kamu ditimpa (azab) seperti yang menimpa Kaum Nuh, atau Kaum Hud, atau Kaum Saleh. Sedang dengan tempat Kaum Luth, tempatmu tidak jauh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Syu’aib mengingatkan kaumnya agar tidak ditimpa azab seperti Kaum Nuh (dilanda banjir dan angin topan, atau Kaum Hud (kaumnya diganti oleh kaum yang lain), atau Kaum Saleh (tanahnya diputarbalikkan dengan hujan batu yang terbakar). Perbedaan pendapat, jangan menjadi perselisihan yang menimbulkan kejahatan. Kalau terjadi demikian, pasti Allah akan menetapkan, siapa yang akan kena azab-Nya.
wastaghfirũ = dan mohon ampunlah kamu; robbakum = kepada Rab kamu; tsumma = kemudian; tũbũ = bertobatlah; ilaih = kepada-Nya; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; rohĩmun = Maha Penyayang; wadũd = Maha Pengasih.
wastaghfirũ robbakum tsumma tũbũ ilaih, inna robbĩ rohĩmun wadũd.
90. Dan Mohon ampunlah kepada Rab kamu, kemudian berobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Rabku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Syu’aib menyarankan kepada kaumnya agar mau memohon ampun, kemudian bertobat kepada Rabnya.
qōlũ = (Kaumnya) berkata; yã Syu’aibu = hai Syu’aib; mã nafqohu = kami tidak mengerti; katsĩron = banyak; mimmã = tentang apa; taqũlu = kamu katakan; wa innã = dan sesungguhnya kami; la narōka = sungguh kami melihat kamu; fĩ nã = di antara kami; dho’ĩfan = lemah; wa lau lã = dan kalau tidak; rohthuka = keluargamu; la rojamnãk = tentu kamu, kami rajam; wa mã anta = dan kamu tidaklah; ‘alainã = atas kami; bi ‘azĩz = terhormat (berkuasa).
qōlũ yã Syu’aibu mã nafqohu katsĩrom mimmã taqũl, wa innã la narōka fĩ nã dho’ĩfan, wa lau lã rohthuka la rojamnãk, wa mã anta ‘alainã bi ‘azĩz.
91. (Kaumnya) berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu, dan sesungguhnya, kami melihat kamu seorang yang lemah di antara kami, dan kalau tidak karena keluargamu, tentulah kami merajam kamu, dan kamu tidak (bukan) seorang yang terhormat di atas kami.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaumnya Syu’aib mengaku tidak banyak mengerti tentang apa yang di da’wahkan Syu’aib. Mereka menganggap Syu’aib seorang yang lemah. Kalau tidak melihat keluarganya yang terhormat, tentu mereka akan merajamnya.
qōlũ = (Syu’aib) berkata; yã qaumi = wahai kaumku; arohthĩ = apakah keluargaku; a’azzu = lebih terhormat; ‘alaikum = bagimu; minallãhi = daripada Allah; wattakhadz tumũhu = dan kamu meletakkan Dia; wa rō-akum = di belakangmu; zhihriyyan = punggungmu; inna = sesungguhnya; robbĩ = Rabku; bimã = terhadap segala apa; ta’malũna = kamu kerjakan; muhĩth = mencakup.
qōlũ yã qaumi arohthĩ a’azzu ‘alaikum minallãhi wattakhadz tumũhu wa rō-akum zhihriyyan, inna Robbĩ bimã ta’malũna muhĩth.
92. (Syu’aib) berkata: “Wahai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat bagimu daripada Allah, dan kamu letakkan Dia di belakang punggungmu? Sesungguhnya, Rabku mencakupi segala apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Su’aib menjawab pernyataan kaumnya tentang dirinya. Sebagain kaumnya Syu’aib tampaknya belum memahami sifat Allah Yang Maha dalam segala-Nya, dan sebagian mereka tidak mengakui kenabiannya.
wa yã qaumi = dan, wahai kaumku; i’malũ = kamu berbuatlah; ‘alã makãnatikum = menurut kemampuanmu; innĩ = sesungguhnya aku; ‘ãmilun = seorang yang berbuat; saufa = kelak akan; ta’lamũna = kamu mengetahui; man ya’tĩhi = siapa didatanginya; ‘adzãbun = azab; yukhzĩhi = menghinakannya; wa man = dan siapa; huwa = dia; kãdzibun = berdusta; wa artaqibũ = dan tunggulah; innĩ = sesungguhnya aku; ma’akum = bersama kamu; roqĩbun = menunggu.
wa yã qaumi’malũ ‘alã makãnatikum innĩ ‘ãmilun, saufa ta’lamũna man ya’tĩhi ‘adzãbun yukhzĩhi wa man huwa kãdzibun, wa artaqibũ innĩ ma’akum roqĩbun.
93. Dan, wahai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya, aku juga berbuat. Kelak, kamu akan mengetahui siapa yang akan didatangi azab yang menghinakannya, dan siapa dia yang berdusta. Dan tunggulah (azab Allah), sesungguhnya, akupun menunggu bersama kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Syu’aib mengingatkan kaumnya dengan menyuruh berbuat sekehendaknya, karena sebelumnya beliau sudah memberitahu, bagaimana seharusnya berbuat (mempercayai dirinya sebagai Nabi yang membawa berita gembira dari Allah). Kalau mereka berkeras kepala, tidak mau mempercayainya maka azablah yang akan menimpa mereka.
wa lammã = dan ketika; jã-a = datang; amrunã = ketetapan Aku; najjainã = Aku selamatkan; syu’aiban = Syu’aib; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama dia; birohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa akhodzati = dan diambil (dibinasakan); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamu = (mereka) lalim; ash shoihatu = suara keras; fa ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩ diyãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mati bergelimpangan.
wa lammã jã-a amrunã najjainã syu’aiban walladzĩna ãmanũ ma’ahũ birohmatim minnã, wa akhodzatil ladzĩna zholamush shoihatu fa ashbahũ fĩ diyãrihim jãtsimĩn.
94. Dan ketika datang ketetapan-Ku, Aku selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat-Ku. Dan orang-orang yang lalim dibinasakan oleh suara ledakan keras, maka jadilah mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Hud yang kafir digantikan dengan kaum yang lain. Hud sendiri dengan kaumnya yang beriman diselamatkan dengan rahmat dari Allah; Kaum Samud dengan Nabinya bernama Saleh dimusnahkan dengan suara dentuman keras yang mematikan. Kaumnya Nuh dilanda banjir, dan angin putingbaliung, Kaum Luth tanahnya diputarbalikkan dan dihujani batu dan tanah yang dibakar, Kaum Syu’aib dengan ledakan keras.
ka-al lam = seakan-akan belum; yaghnau = mereka tinggal; fĩhã = di situ; alã = ingatlah; bu’da = jauh, binasa; li madyana = bagi orang Madyan; kamã = sebagaimana; ba’idat = jauh, binasa; tsamũd = Samud.
ka-al lam yaghnau fĩhã, alã bu’dal li madyana kamã ba’idat tsamũd
95. Seakan-akan mereka belum pernah tinggal di situ, ingatlah, kebinasaanlah bagi (penduduk) Madyan, sebagaimana Kaum Samud telah binasa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Samud dengan nabinya yang bernama Saleh binasa karena ada dentuman keras bergemuruh yang mematikan orang-orang lalim. Kaum Madyan binasa karena peristiwa yang sama dengan Kaum Samud.
wa la qod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; mũsã = Musa; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; wa sulthōnin = dan keterangan; mubĩn = nyata.
wa la qod arsalnã mũsã bi ãyãtinã wa sulthōnim mubĩn
96. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Musa dengan ayat-ayat-Ku dan keterangan yang nyata.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu bahwa Beliau telah mengutus Nabi Musa dengan membawa ayat-ayat dengan keterangan yang nyata, jelas. Lihat juga Al Baqarah, 2 : 153 dan surat-surat yang lainnya.
yaqdumu = ia mendahului; qaumahũ = kaumnya; yauma = hari; al qiyãmati = kiamat; fa aurodahumu = lalu ia memesukkan mereka; an nãro = api (neraka); wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al wirdu = kedatangan; al maurũdu = tampat yang didatangi.
yaqdumu qaumahũ yaumal qiyãmati fa aurodahumun nãro, wa bi’sal wirdul maurũdu
98. Ia mendahului umatnya di Hari Kiamat, lalu dimasukkan ke dalam neraka, dan neraka itu tempat terburuk yang didatangi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka dengan kemauannya sendiri, pada Hari Kiamat ke tempat mereka dimasukkan ke neraka, tempat kembali yang terburuk baginya.
wa utbi’ũ = dan mereka diikuti; fĩ hãdzihĩ = di dunia ini; la’natan = dilaknat, dikutuk; wa yaumal qiyãmati = dan Hari Kiamat; bi’ sa = seburuk-buruk; arrifdu = pemberian; al marfũdu = yang diberikan.
wa utbi’ũ fĩ hãdzihĩ la’natan wa yaumal qiyãmati, bi’ sa rrifdul marfũdu
99. Dan mereka diikuti oleh kutukan di dunia ini, dan begitu juga di Hari Kiamat. Kutukan itu seburuk-buruk pemberian yang diberikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dunia mengutuki orang-orang kafir, kaumnya Nabi Musa, karena mereka tidak mau bersyukur, atas apa yang dirasakan kenikmatannya di dunia itu.
dzãlika = seperti itu; min ambã-i = sebagian berita-berita; al qurō = negeri; naqush shuhũ = Aku ceriterakan; ‘alaik = kepadamu; minhã = dari-Nya; qōimun = berdiri (tegak); wa hashĩd = dan musnah.
dzãlika min ambã-il qurō naqush shuhũ ‘alaik, minhã qōimun wa hashĩd
100. Seperti itu sebagian berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang diceriterakan kepadamu (Muhammad), di antaranya ada yang masih berdiri tegak, dan (sebagiannya) telah musnah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah sejarah yang dapat lebih dijelaskan melalui penelitian arkeologi, paleontologi. Negeri-negeri yang masih tegak juga dapat dilihat sekarang ini. Peristiwa-peristiwa pemusnahan pun terus terjadi melalui tsunami, angin tornado (puting beliung), gempa, longsor, banjir, kebakaran, kecelakaan, penyakit.
wa mã = dan tidak; zholamnãhum = Aku melalimi mereka; wa lãkin = tetapi; zholamũ = mereka menganiaya; anfusahum = diri mereka sendiri; fa mã = maka tidak; aghnat = bermanfaat; ‘anhum = dari mereka; ãlihatuhumu = tuhan-tuhan mereka; al latĩ = yang; yad’ũna = mereka sembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; min syai-in = dari sesuatu; lammã = ketika; jã-a = datang; amru = ketetapan; robbik = dari Rab kamu; wa mã = dan tidak; zãdũhum = menambah mereka; ghoiro = selain, kecuali; tatbĩb = kebinasaan.
wa mã zholamnãhum wa lãkin zholamũ anfusahum, fa mã aghnat ‘anhum ãlihatuhumul latĩ yad’ũna min dũnillãhi min syai-il lammã jã-a amru robbik, wa mã zãdũhum ghoiro tatbĩb.
101 . Dan Aku tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, dan sedikit pun tidak bermanfaat tuhan-tuhan mereka, yang mereka sembah selain Allah, ketika datang ketetapan Rab kamu, sesembahanmu itu tidak menambah apa-apa, selain kebinasaan belaka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebinasaan, penganiayaan Allah itu akibat perbuatan manusianya sendiri, yang menyembah tuhan-tuhan selain Allah.
wa kadzãlika = dan demikian itu; akhdzu = mengambil (azab); robbika = Rab kamu; idzã = jika; akhdza = Dia mengambil (mengazab); al qurō = negeri; wa hiya = dan dia (penduduknya); zhōlimatun = berbuat lalim; inna = sesungguhnya; akhdzohũ = azab-Nya; alĩmun = sangat pedih; syadĩd = keras.
wa kadzãlika akhdzu robbika idzã akhdza al qurō wa hiya zhōlimatun, inna akhdzohũ alĩmun syadĩd.
102. Dan demikian itulah azab Rab kamu, apabila Dia mengazab negeri yang penduduknya berbuat lalim. Sesungguhnya, azabnya sangat pedih dan keras
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan terakhir Allah dengan azab.
inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = dari kejadian itu; lã ãyata = sungguh ada tanda (pelajaran); liman = bagi orang-orang; khōfa = takut; ‘adzãba = azab; al ãkhiroh = akhirat; dzãlika = demikian itu; yaumun = hari; majmũ-un = dikumpulkan; lahu = untuk (mengalami)-nya; an nãsu = manusia; wa dzãlika = dan demikian itu; yaumun = hari; masyhũdun = disaksikan.
inna fĩ dzãlika lã ãyatal liman khōfa ‘adzãbal ãkhiroh, dzãlika yaumum majmũ-ul lahũn nãsu wa dzãlika yaumum masyhũdun.
103. Sesungguhnya, dari kejadian itu sungguh terdapat tanda (pelajaran), bagi orang yang takut kepada azab akhirat. Hari (Kiamat) itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk mengalaminya, dan hari itu adalah hari yang disaksikan (oleh semua makhluk).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah ketika sudah kiamat.
wa mã = dan tidak; nu-akhiruhũ = Aku mengundurkannya; illã = kecuali; li-ajalin = sampai waktu; ma’dũdin = ditetapkan.
wa mã nu-akhiruhũ illã li-ajalim ma’dũdin.
104. Dan Aku tidak mengundurkannya, kecuali sampai waktu yang ditetapkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebetulnya tidak ada pengunduran waktu terjadinya kiamat. Waktu itu sudah ditetapkan. Allah yang mempunyai kekuasaan menetapkan Hari Kiamat itu.

yauma = hari; ya’ti = datang; lã takallamu = tidak berbicara; nafsun = seseorang; illã = kecuali; bi idznihĩ = dengan izin-Nya; faminhum = maka di antara mereka; syaqiyyun = celaka; wa sa’ĩdun = dan yang bahagia.
yauma ya’ti lã takallamu nafsun illã bi idznihĩ, faminhum syaqiyyun wa sa’ĩdun
105. Ketika datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya, maka di antara mereka, ada yang celaka, dan ada yang berbahagia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketika kiamat datang, tak seorang pun dapat berbicara, kecuali atas izin-Nya.

fa ammã = dan adapun; al ladzĩna =orang-orang yang …; syaqqũ = mereka celaka; fafin nãri = maka di dalam neraka; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; zafĩrun = bekeluh kesah panjang; wa syahĩqun = dan merintih.
fa ammãl ladzĩna syaqqũ fafinnãri lahum fĩhã zafĩrun wa syahĩqun.
106. Adapun orang-orang yang celaka, maka di dalam neraka (tempatnya). Di dalamnya mereka berkeluh-kesah panjang, merintih kesakitan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya.
khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; mã dãmati = selama; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; illã = kecuali; mã = apa; syã-a = yang dikehendaki; robbuka = Rab kamu; inna = sesungguhnya; Robbaka = Rab kamu; fa’ãlun = Maha Pembuat; li mã = segala apa; yurĩdu = Dia kehendaki.
khōlidĩna fĩhã mã dãmatis samãwãtu wal ardhu illã mã syã-a robbuka, inna Robbaka fa’ãlul li mã yurĩdu
107. Mereka kekal di dalamnya, selama ada langit dan bumi, kecuali jika Rab kamu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Rab kamu Maha Pembuat segala apa Yang Dia kehendaki.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Neraka itu seperti keberadaan langit dan bumi. Apakah matahari, bintang-bintang yang bercahaya itu neraka dari makhluk-makhluk yang terdahulu yang disiksa karena membantah perintah Allah? Allah Maha Pembuat segala apa Yang Dia kehendaki. Mereka yang membantah perintah Allah terkena siksaan yang sangat lama. Lihat ayat 108.
wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang …; su’idũ = (mereka) berbahagia; fafil jannati = maka di dalam surga; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; mã dãmati = seperti keberadaan; as samãwãtu = langit; wal ardhu = dan bumi; illã = kecuali; mã = apa; syã-a = yang menghendaki; robbuka = Rab kamu; ‘athō-an = pemberian, karunia; ghoiro = tidak (bukan); majdzũdzin = putus-putus.
wa ammal ladzĩna su’idũ fafil jannati khōlidĩna fĩhã mã dãmatis samãwãtu wal ardhu illã mã syã-a robbuka, ‘athōan ghoiro majdzũdzin
108. Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka (tinggalnya) di surga, mereka kekal di dalamnya seperti keberadaan langit dan bumi, kecuali jika Rab kamu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tidak terputus-putus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Surga itu seperti juga keberadaan langit dan bumi. Allah Yang Berkehendak. Karunia Allah tidak terputus-putus. Mukhluk-Nya menikmati semua karunia-Nya. Lihat ayat 107.

fa lã taku = maka jangan kamu berada; fĩ miryatin = dalam keraguan; mimmã = tentang apa; ya’budu = menyembah; hã-ulã-i = mereka itu; mã = tidak; ya’budũna = mereka menyembah; illã = kecuali; kamã = sebagaimana; ya’budu = menyembah; ãbã-uhum = nenek-moyang mereka; min qoblu = dari dahulu; wa innã = dan sesungguhnya Aku; lamuwaffũhum = pasti akan menyempurnakan mereka; nashĩbahum = bahagian mereka; ghoiro = tidak (bukan); manqũshin = dikurangi
fa lã taku fĩ miryatim mimmã ya’budu hã-ulã-i, mã ya’budũna illã kamã ya’budu ãbã-uhum min qoblu, wa innã lamuwaffũhum nashĩbahum ghoiro manqũshin.
109. Maka, kamu jangan dalam keraguan tentang apa yang disembah mereka itu. Mereka menyembah sebagaimana dahulu nenek-moyang mereka menyembah. Dan sesungguhnya, Aku akan menyempurnakan balasan mereka, dengan tidak dikurangi sedikit pun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad s.a.w beserta umatnya agar tidak melakukan kebiasaan orang dahulu, menyembah kepada selain Allah. Balasannya kepada yang tidak beriman maupun kepada yang beriman tidak dikurangi sedikit pun.
wal laqod = dan sesungguhnya; ãtainã = Aku berikan; mũsa = Musa; al kitãba = Alkitab (Taurat); fa akhtulifa = maka (lalu) diperselisihkan; fihi = di dalamnya; walau = dan kalau; lã = tidak; kalimatun = ketetapan; sabaqot = terdahulu; mir robbika = dari Rab kamu; laqudhiya = niscaya ditetapkan; bainahum = di antara mereka; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; lafĩ = sungguh; syakkim = dalam keraguan; minhu = daripadanya; murĩb = kebimbangan.
wal laqod ãtainã mũsal kitãba fa akhtulifa fihi, walau lã kalimatun sabaqot mir robbika laqudhiya bainahum, wa innahum lafĩ syakkim minhu murĩb.
110. Dan sesungguhnya, Aku telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, lalu diperselisihkan di dalamnya. Dan kalau tidak ada ketetapan terdahulu dari Rab kamu, tentu diputuskan (persoalan itu) di antara mereka. Dan sesungguhnya, mereka dalam keraguan dan kebimbangan dari padanya
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dalam Taurat ada perselisihan tentang akan diutusnya seorang Nabi terakhir. Mereka dalam keraguan dan kebimbangan.
wa inna = dan sesungguhnya; kullan = masing-masing; lamã = tentu; layuwaffiyannahum = pasti akan menyempurnakan pekerjaan mereka; robbuka = Rab kamu; a’mãlahum = pekerjaan mereka; innahũ = sesungguhnya Dia; bimã = terhadap apa; ya’malũna = mereka kerjakan; khobĩr = Maha Mengetahui.
wa inna kullal lamã layuwaffiyannahum Robbuka a’mãlahum, innahũ bimã ya’malũna khobĩr.
111. Dan sesungguhnya, kepada masing-masing mereka, pasti Rab kamu akan menyempurnakan pekerjaan mereka. Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui, apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui penyelesaian dari perselisihan itu. Yang mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-Nya akan masuk surga. Yang tidak mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-Nya yang terakhir (Nabi Muhammad saw.) akan masuk neraka.
fastaqim = maka kamu berlaku luruslah; kamã = sebagaimana; umirta = kamu diperintah; wa man = dan orang; tãba = bertobat; ma’aka = bersama kamu; wa lã = dan jangan; tathghou = kamu melampaui batas; innahũ = sesungguhnya Dia; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩrun = Maha Melihat.
fastaqim kamã umirta wa man tãba ma’aka wa lã tathghou, innahũ bimã ta’malũna bashĩrun
112. Maka kamu berlaku luruslah, sebagaimana kamu diperintah, dengan orang yang bertaubat bersama kamu, dan jangan kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Dia Maha Melihat, apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah agar berlaku lurus, bertobat, dan melarang berbuat melampaui batas (dalam memutuskan perselisihan pada ayat sebelumnya).

wa lã = dan jangan; tarkanũ = kamu cenderung; ila = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang …; zholamũ = lalim; fatamassakumu = maka akan menyentuh kamu; nãru = api neraka; wa mã = dan tidak; lakum = bagi kamu; min dũnillãhi = dari selain Allah; min auliyã-a = dari seorang penolong; tsummã = kemudian; lã tunsharũn = kamu tidak diberi pertolongan.
wa lã tarkanũ ilal ladzĩna zholamũ fatamassakumun nãru wa mã lakum min dũnillãhi min auliyã-a tsummã lã tunsharũn.
113. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang lalim, (yang menyebabkan) kamu disentuh api neraka, dan tidak ada bagimu seorang pelindung, selain dari Allah, kemudian kamu tidak diberi pertolongan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah, jangan cenderung menjadi orang lalim, artinya tidak mempercayai kehadiran Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul terakhir. Akibatnya akan disentuh (ungkapan halus) api neraka. Tidak ada yang dapat melindungi, dan tidak ada yang dapat menolong, kecuali Allah.
wa aqimish sholãta = dan dirikalah salat; thorofayi = pada kedua tepi; an nahãri = siang; wa zulafan = dan sebagian; minnal laili = dari malam; inna = sesungguhnya; al hasanãti = perbuatan baik; yudzhibna = menghapuskan; as sayyi-ãti = perbuatan baik; dzãlika = demikian itu; dzikrō = peringatan; lidz dzãkirĩn = bagi orang-orang yang mau ingat.
wa aqimish sholãta thorofayin nahãri wa zulafam minnal laili, innal hasanãti yudzhibnas sayyi-ãti, dzãlika dzikrō lidz dzãkirĩn.
114. Dan dirikanlah salat di kedua tepi siang (pagi dan petang) dan sebagian dari malam. Sesungguhnya, perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan buruk (dosa). Demikian itu peringatan bagi orang-orang yang mau ingat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah salat subuh, duha, dzuhur, maghrib, Isa, tahajud, dan subuh bagi orang-orang yang beriman. Salat dan perbuatan yang baik menghapus perbuatan dosa. Alquran itu pelajaran dan peringatan bagi orang yang mau ingat kepada Allah dan para nabi-Nya.
washbir = dan bersãbarlah; fa innallãha = karena sesungguhnya Allah; lã yudhĩ’u = tidak menyediakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.
washbir fa innallãha lã yudhĩ’u ajrol muhsinĩn
115. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah untuk bersabar saat beribadah, apa saja karena Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, seperti salat dan amal-amal baik lainnya (sedekah, zakat, fitrah).

fa lau lã = dan mengapa tidak; kãna = adalah; mina = dari; al qurũni = kurun keturunan; min qoblikum = dari sebelum kamu; ulũ = orang-orang yang mempunyai; baqiyyatin = peninggalan (sia-sia); yanhauna = mereka melarang; ‘anil fasãdi = dari kerusakan; fil ardhĩ = di bumi; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; mimman = di antara orang-orang; anjainã = Aku telah; minhum = di antara mereka; wattaba’a = dan mengikuti (menurutkan); al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; mã = apa yang; utrifũ = mereka bersenang-senang; fĩhi = padanya; wa kãnũ = dan mereka adalah; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.
fa lau lã kãna minal qurũni min qoblikum ulũ baqiyyatin yanhauna ‘anil fasãdi fil ardhĩ illã qolĩlan mimman anjainã minhum wattaba’al ladzĩna zholamũ mã utrifũ fĩhi wa kãnũ mujrimĩn
116. Mengapa tidak ada umat-umat sebelum kamu, orang-orang yang mempunyai kesadaran untuk melarang pekerjaan yang merusak di muka bumi, kecuali sebagian kecil di antara orang-orang yang Aku selamatkan di antara mereka. Dan orang-orang lalim hanya menurutkan apa yang menyenangkan mereka saja. Dan mereka itu orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengisahkan orang-orang masa lalu yang tidak mempunyai kesadaran memelihara alam semesta ini. Mereka suka merusak alam semesta ini, khususnya bumi, untuk kesenangan hati mereka saja. Mereka suka berbuat dosa, dan tidak mau bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, dan tidak mau bertobat, tidak mau berbuat kebaikan.
wa mã kaana = dan adalah tidak; robbuka = Rab kamu; liyuhlika = untuk membinasakan; al qurō = negeri-negeri; bi zhulmin = dengan aniaya; wa ahluhã = dan penduduknya; mushlihũn = orang-orang yang berbuat kebaikan.
wa mã kaana robbuka liyuhlikal qurō bi zhulmin wa ahluhã mushlihũn.
117. Dan Rab kamu tidak membinasakan dengan aniaya negeri-negeri yang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, Beliau tidak membinasakan negeri-negeri yang penduduknya berbuat kebaikan.
wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; robbuka = Rab kamu; laja’ala = tentu Dia menjadikan; nãsa = manusia; ummatan = umat; wãhidatan = yang satu; wa lã yazãlũna = dan mereka senantiasa; mukhtalifĩn = orang-orang yang berselisih.
wa lau syã-a robbuka laja’alan nãsa ummatan wãhidatan, wa lã yazãlũna mukhtalifĩn.
118. Dan kalau Rab kamu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia, umat yang satu, dan senantiasa mereka berselisih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak membuat manusia satu umat agar menjadi ujian, apakah mau saling membantu, saling memberi, saling membutuhkan atau tidak. Sebaiknya jangan berselisih. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 30 Malaikat memperkirakan, manusia itu akan saling membunuh.
illã = kecuali; man = orang; rohima = diberi rahmat; robbuka = Rab kamu; wa li dzãlika = dan untuk itulah; kholaqohum = Dia menciptakan mereka; wa tammat = dan sempurna (ditetapkan); kalimatu = kalimat (keputusan); robbika = Rab kamu; la-amla-anna = sungguh Aku penuhi; jahannama = jahanam; mina = dari; al jinnati = jin; wannãsi = dan manusia; ajma’ĩn = semuanya.
illã mar rohima robbaka, wa li dzãlika kholaqohum, wa tammat kalimatu robbikala-amla-anna jahannama minal jinnati wannãsi ajma’ĩn.
119. Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rab kamu, dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Dan keputusan Rab kamu telah ditetapkan: “Sungguh, akan Aku penuhi neraka jahanam dengan sejumlah jin dan manusia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan manusia untuk menjadi obyek pemberian rahmat. Namun, ada manusia yang tergoda setan dan jin, sehingga neraka juga akan dipenuhi sejumlah jin dan manusia yang membangkang kepada Allah. Mereka tidak bersyukur atas rahmat yang telah dinikmatinya.
wa kullan = dan masing-masing; naqushshu = dikisahkan ‘alaika = kepadamu; min ambã-i = dari sebagian berita; ar rusuli = para Rasul; mã = apa; nutsabbitu = yang Aku teguhkan; bihĩ = dengannya; fu-ãdaka = hatimu; wa jã-aka = dan telah datang kepadamu; fĩ = di; hãdzihi = dalam ini; al haqqu = kebenaran; wa mau’izhotun = dan pelajaran; wa dzikrō = dan peringatan; lil mu’minĩn = bagi orang-orang yang beriman.
wa kullan naqushshu ‘alaika min ambã-ir rusuli mã nutsabbitu bihĩ fu-ãdaka, wa jã-aka fĩ hãdzihil haqqu wa mau’izhotun wa dzikrō lil mu’minĩn.
120. Dan masing-masing, Aku kisahkan kepadamu dari sebagian berita para Rasul, yang dengannya, Aku teguhkan hatimu. Dan di dalamnya (surat ini) telah dijelaskan kebenaran dan pengajaran serta peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah para Rasul ini, untuk meneguhkan kebenaran, pengajaran, dan peringatan di hatimu (Muhammad saw.) untuk disampaikan kepada orang-orang yang beriman.
wa qul = dan katakanlah; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; i’malũ = bekerjalah; ‘alã = atas; makaanatikum = menurut kemampuanmu; innã = sesungguhnya aku; ‘ãmilũn = orang-orang yang bekerja.
wa qul lilladzĩna lã yu’minũna’malũ ‘alã makaanatikum innã ‘ãmilũn
121. Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Bekerjalah menurut kemampuanmu, sesungguhnya, aku pun bekerja.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diminta mengatakan seperti yang dinyatakan di dalam ayat ini. Orang yang bekerja dengan menyebut nama Allah, hasilnya berbeda dengan orang yang menyebut nama Allah.
wa antazhirrũ = dan tunggulah; innã = sesungguhnya; muntazhirũn = aku pun menunggu (juga).
wa antazhirrũ innã muntazhirũn
122. Dan tunggulah, sesungguhnya, aku pun menunggu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hasil pekerjaan yang mengatasnamakan Allah, dinilai sebagai ibadah, sedang pekerjaanyang tidak mengatasnamakan Allah, hasilnya hanya bisa dinikmati di dunia. Di akhirat akan dipertanyakan kenikmatan yang dirasakan di dunia dari mana asalnya? Mereka tidak bersyukur atas nikmat yang diberi dari Allah, berarti mereka kufur nikmat. Balasannya neraka.
wa lillãhi = dan bagi Allah; ghoibu = kegaiban; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa ilaihi = dan kepada-Nya; yurja’u = dikembalikan; al amru = persoalan; kulluhũ = seluruhnya; fa’bud-hu = maka beribadahlah kepada-Nya; wa tawakkal = dan tawakallah; ‘alaihi = kepada-Nya; wa mã = dan tidak; robbuka = Rab kamu; bi ghōfilin = akan lalai; ‘ammã = dari apa yang; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa lillãhi ghoibus samãwãti wal ardhi wa ilaihi yurja’ul amru kulluhũ fa’bud-hu wa tawakkal ‘alaihi, wa mã robbuka bi ghōfilin ‘ammã ta’malũn.
123. Dan milik Allah kegaiban di langit dan di bumi, dan kepada-Nya lah seluruh persoalan dikembalikan. Maka, beribadahlah kepada Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Rab kamu tidak pernah lalai pada apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memiliki ilmu gaib, lihat Q.s. Hud, 11 : 31, sejarah masa lalu yang gaib, hanya Allah yang mengetahuinya, Q.s. Hud, 11 : 49. “Sembahlah Allah” dalam surat ini terdapat pada ayat 50, 61, 84. Perintah bertawakal kepada Allah, dalam Surat ini terdapat pada ayat 56, dan 88.

010 Yunus

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Yunus
Kisah Nabi Yunus: Makiyah; kecuali ayat 40, 94, 95 Madaniyah
Surat ke 10, 109 ayat
Juz 11 beralih ke Juz 12 di Surat Hud, 11: 6

Catatan Awal
Surat ini berisi kisah Nabi Allah Yunus a.s. beserta para pengikutnya yang beriman teguh, dan ada yang tidak beriman. Selain itu ada kisah Nabi Nuh a.s., Nabi Musa a.s., dengan Firaun dan tukang-tukang sihirnya; dan kisah Bani Israil setelah keluar dari Mesir. Kisah para Nabi ini sebagai tamsil dan ibarat bagi kehidupan sekarang. Menegaskan keimanan pada Alquran itu benar, dan bukan sihir; Alquran tidak bisa ditandingi dengan karya-karya lain. Rasul hanya disuruh menyampaikan Risalah-Nya. Allah mengatur alam semesta di Arasy. Syafaat hanya atas izin Allah, para Nabi, dan para Wali Allah; Kegaiban Allah dijelaskan dengan diturunkannya Alquran ini yang dijamin murni. Allah menyaksikan dan mengamat-amati seluruh makhluk-Nya. Allah tidak beranak. hukum: Allah menetapkan perhitungan waktu berdasarkan peredaran matahari dan bulan; Larangan mengada-adakan sesuatu atas Allah, dan larangan mendustakan ayat-ayat Allah. Kisah lainnya: Sifat manusia ada yang hanya ingat kepada Allah ketika mereka dalam keadaan susah, dan melupakan-Nya ketika mereka senang; Ada kisah orang-orang yang ketika di dunia berkelaku an baik dan yang berkelaku an jelek tampak di Hari Kiamat. Ada penyesalan bagi orang-orang yang tidak mengAku i adanya Allah dan Rasul-rasul-Nya.

a’udzu billãhi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
alif lãm rō = Allah Mahatahu maknanya; allahu = Allah; lã roibba = tidak ada keraguan; fihi = pada-Nya; tilka = ini; ãyãtu = ayat-ayat; al kitãbi = Alkitab; al hakĩm = hikmah (mengandung banyak ilmu).
allahu lã roibba fihi, tilka ãyãtul kitãbil hakĩm
1. Allah Mahatahu maknanya, Allah tidak ada keraguan pada-Nya; inilah ayat-ayat Alkitab yang penuh hikmah (mengandung banyak ilmu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alif lãm rã dapat dipanjangkan, disamping yang tersebut di atas, dengan Allãhu lã rodda = Allah keberadaan-Nya tak terbantah. Allah mengajari manusia berbahasa lisan dan tulisan. Pelajarilah beraneka bahasa sedini mungkin, untuk dapat berhubungan dengan sesama manusia agar dapat bekerjasama mendapatkan berbagai ilmu. Ayat-ayat Allah itu banyak mengandung ilmu. Pelajarilah, kembangluaskan!!! Besarkanlah Allah dengan karya-karyamu. Dalam Surat Al Baqarah, 2 : 2, 3, 4 Alquran merupakan petunjuk dari Allah untuk orang-orang yang takwa. Dalam Surat Ali Imran, 3 : 3, 4 Alquran membenarkan Kitab yang telah diturunkan sebelumnya yaitu Taurat dan Injil, Al Furqōn (Zen Avesta, Tao Te Ching, Tripitaka, dan Weda?). Dalam Surat Al A’rãf, 7 : 2 Alquran untuk memberi peringatan bagi orang-orang kafir, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.

akaana = adakah (patutkah); linnãsi = bagi manusia; ‘ajaban = keheranan; an auhainã = ketika Aku mewahyukan; ilã = kepada; rojulin = seorang laki-laki; min = dari; hum = mereka; an andziri = agar ia (Muhammad saw.) memberi peringatan; an nãsa = manusia; wa basysyĩri = dan gembirakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; anna = bahwa; lahum = bagi mereka; qodama = kedudukan; shidqin = yang benar (tinggi); ‘inda = di hadapan; Robihim = Rob mereka; qōla = berkata; al kãfirũna = orang-orang kafir; inna = sesungguhyna; hãdzã = ini; lasãhirun = sungguh tukang sihir; mubĩn = yang nyata.

akaana linnãsi ‘ajaban an auhainã ilã rojulim min hum an andzirin nãsa wa basysyĩril ladzĩna ãmanũ anna lahum qodama shidqin ‘inda Robihim, qōlal kãfirũna inna hãdzã lasãhirum mubĩn.
2. Patutkah bagi manusia menjadi keheranan, ketika Aku mewahyukan kepada seorang laik-laki dari golongan mereka: “Berilah peringatan kepada manusia, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman, bagi mereka berkedudukan tinggi di hadapan Rob mereka.” Orang-orang kafir berkata: “Sesungguhnya (Muhammad saw.) ini tukang sihir yang nyata.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada orang-orang di sekitar kehidupan Nabi Muhammad saw., ketika Dia mewahyukan kepadanya (memerintah memberi) peringatan dan berita gembira bagi manusia yang beriman. Ternyata orang-orang menjadi terheran-heran, dan orang-orang kafir mempunyai prasangka jelek. Mereka menganggap Nabi Muhammad saw. sebagai tukang sihir. Nabi Sulaiman a.s. (Q.s. Al Baqarah, 2 : 102), Nabi Isa a.s. (Al Maidah, 5: 110) juga dianggap tukang sihir oleh orang-orang yang tidak mempercayai beliau-beliau itu diutus oleh Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya akan diberi kedudukan tinggi di hadapan Allah.

inna = sungguh Aku ; robbãkuullahu = Tuhan kamu adalah Allah; al ladzĩ = Dia Yang …; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; fĩ sittati = dalam enam; ayyaamin = masa; tsumma = kemudian; istawã = Dia bersemayam; ‘alal ‘arsyĩ = di Arasy; yudabbiru = Dia mengatur; al amro = segala urusan; mã min syafĩ’in = tidak seorang pemberi safaat; illã = kecuali; mim ba’di = dari sesudah; idznihi = izin-Nya; dzãlikumullãhu = demikian itulah Allah; Robukum = Rob kamu; fa’budũhu = maka sembahlah Dia; afalã = apakah tidak; tadzakkarũn = kamu mengambil pelajaran.
inna robbakuullahul ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardho fĩ sittati ayyaamin tsummastawã ‘alal ‘arsyĩ, yudabbirul amro, mã min syafĩ’in illã mim ba’di idznihi dzãlikumullãhu Robukum fa’budũhu, afalã tadzakkarũn.
3. Sungguh Aku , Rob kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan. Tidak seorang pun yang memberi safaat kecuali setelah ada izin-Nya. Demikian itulah Allah, Rob kamu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Hitungan satu masa menurut perhitungan manusia di bumi meliputi jutaan tahun, Allah Yang Maha Mengetahui ketetapan-Nya, yaitu: 1. Masa Allah meniupkan udara yang bercampur dengan api, air, tanah, dan ruhullah berupa cahaya, berproses dengan cara berputar-putar, melingkar-lingkar; 2. Masa proses pengembunan, penyatuan dan pemisahan udara, air, api, tanah dan cahayanya; 3. Masa proses pencairan, penyatuan dan pemisahan air, udara, api, tanah dan cahaya; 4. Masa proses pemadatan, pendinginan tanah, pemisahan, dan penyatuan air, udara, api dan cahaya; 5. Masa proses pendinginan dan penciptaan tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, pemisahan dan penyatuan tanah, udara, api, air dan cahaya; 6. Masa proses penciptaan manusia setelah pemisahan, pemadatan, dan penyatuan tanah, udara, api, cahaya, dan air semuanya siap, pas situasi dan kondisinya dengan fisik manusia. Proses pendinginan, pemisahan dan penyatuan api, cahaya, air, udara, dan tanah terus berlangsung. Manusia dengan ilmu yang diberi dan diizinkan Allah untuk digunakan, berupaya untuk mengelola dan menguasai dengan baik tanah (dengan mineral, tumbuh-tumbuhan dan binatangnya), air, api, cahaya, udara agar kegunaannya efektif, lebih baik, lebih bermanfaat, terjaga, tertata dengan tertib dan teratur sampai akhir jaman. Allah bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan langit dan bumi. Makhluk-Nya memberi safaat kepada makhluk lain (saling membantu) atas izin-Nya. Allah memerintah agar semua makhluk-Nya, khususnya manusia, agar menyembah hanya kepada Allah. Semua kejadian di alam semesta ini harus menjadi pelajaran oleh manusia untuk kepentingan hidupnya.Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1 : 2; Q.s. Al A’rãf, 7 : 54; Q.s. Hud, 11 : 7; Q.s. al Furqon, 25 : 59; Q.s. as Sajdah, 32 : 4; Q.s. Qōf, 50 : 38; Q.s. al Hadid, 57 : 4; Q.s. An Nazi’at, 79 : 27; Q.s.Asy Syams, 91 : 5-10.
Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; At Taubah, 9: 36; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyaa’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
ilaihi = kepada-Nya; marji’ukum = tempat kembalimu; jamĩ’ãn = semuanaya; wa’dallãhi = janji Allah; haqqōn = benar; innahũ = sesungguhnya Dia; yabda’u = Dia memulai menciptakan; al khalqo = makhluk; tsumma = kemudian; yu’ĩduhũ = Dia mengembalikan; liyajziya = karena Dia hendak memberi balasan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; bil qisthi = dengan adil; walladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; lahum = bagi mereka; syarōbun = (disediakan) minuman; min = dari; hamĩmin = air mendidih; wa ‘adzãbun = dan azab; alĩmun = yang pedih; bimã = karena; kaanũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka kafir.
ilaihi marji’ukum jamĩ’ãn, wa’dallãhi haqqōn, innahũ yabda’ul khalqo tsumma yu’ĩduhũ liyajziyal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti bil qisthi, walladzĩna kafarũ lahum syarōbum min hamĩmin wa ‘adzãbun alĩmum bimã kaanũ yakfurũn.
4. Kepada-Nya tempat kembali kamu semua, sebagai janji yang benar dari Allah, sesungguhnya, Dia menciptakan makhluk pada awalnya, kemudian Dia mengembalikannya, karena Dia hendak memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan beramal soleh dengan adil. Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang mendidih, dan azab yang pedih karena mereka kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia, Beliau menciptakan berbagai makhluk, dan yang terakhir makhluk manusia dengan sebuah perjanjian yang harus ditepati. Segala makhluk akan kembali kepada-Nya pada saatnya, dan akan diberi balasan sesuai dengan perbuatannya.
huwalladzĩ = Dia lah yang; ja’ala = menjadikan; asy syamsa = matahari; dhiyaa-an = bersinar; wal qomaro = dan bulan; nũron = bercahaya; wa qoddarohũ = dan Dia menetapkannya; manãzila = tempat-tempat beredar; li ta’lamũ = agar kamu mengetahui; ‘adada = bilangan; as sinĩna = tahun; wal hisãba = dan perhitungan; mã kholaqollãhu = Allah tidak menciptakan; dzãlika = demikian itu; illã = kecuali; bil haqqi = dengan hak; yufashshilu = Dia menjelaskan; al ãyaati = tanda-tanda (kebesaran)-Nya; li qoumin = kepada kaum; ya’lamũn = mereka mengetahui.
huwalladzĩ ja’alasy syamsa dhiyaa-an wal qomaro nũron wa qoddarohũ manãzila li ta’lamũ ‘adadas sinĩna wal hisãba, mã kholaqollãhu dzãlika illã bil haqqi yufashshilul ãyaati li qoumin ya’lamũn.
5. Dia lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tetapkan tempat-tempat beredarnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan. Allah tidak menciptakan yang demikian itu, kecuali dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran)-Nya kepada kaum yang mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan segala sesuatu (api, air, udara, tanah, tumbuh-tumbuhan, binatang-binatang, manusia, matahari, bulan, bintang) ada maksud dan tujuan-Nya. Salah-satunya menjelaskan kebesaran dan kekuasan-Nya. Harus menjadi ilmu yang beraneka macam. Makhluk-Nya agar berbakti hanya kepada-Nya. Semuanya harus menjadi obyek belajar, menjadi bahan penelitian, dicari manfaatnya. Makna bahasanya juga menjadi ladang ilmu yang luas. Semuanya untuk kepentingan hidup manusia.
inna = sesungguhnya; fikhtilãfi = pada pertukaran; al laili = malam; wan nahãri = dan siang; wa mã = dan apa; kholaqollãhu = Allah menciptakan; fissamãwãti = di langit; wal ardhi = dan bumi; la ayaatin = sungguh tanda-tanda; li qoumin = bagi kaum; yattaqũn = mereka bertakwa.
inna fikhtilãfil laili wan nahãri wa mã kholaqollãhu fissamãwãti wal ardhi la ayaatil li qoumin yattaqũn.
6. Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang, dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, sungguh ada tanda-tanda bagi orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Waktu pagi, siang, sore, malam, dan segala apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi menjadi ayat-ayat yang harus diperhatikan, dan menjadi pelajaran, menjadi ilmu yang banyak, dan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang bertakwa.
innal ladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; la yarjũna = mereka tidak mengharapkan; liqō-anã = pertemuan dengan Kami; wa rodhũ = dan mereka rido; bil hayaati = dengan kehidupan; ad dunyaa = dunia; wathma-annũ = dan merasa tenteram; bihã = dengannya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; hum = mereka; ‘an ãyaatinã = dari ayat-ayat Kami; ghōfilũn = orang-orang yang lalai.
innal ladzĩna la yarjũna liqō-anã wa rodhũ bil hayaatid dunyaa wathma-annũ bihã wal ladzĩna hum ‘an ãyaatinã ghōfilũn.
7. Sesungguhnya, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, dan mereka merasa puas dengan kehidupan dunia, serta merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan Allah bagi orang-orang yang tidak mengharapkan adanya pertemuan dengan-Nya, orang-orang yang cukup merasa senang dengan kehidupan di dunia saja, dan melalaikan ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah yang lainnya. Manusia dianjurkan mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk menjadi pengetahuan yang berguna dalam menjalani hidupnya dengan berbagai kepentingannya. Jangan sampai melalaikan ilmu yang diperlukan untuk berbagai keperluan hidupnya di dunia dan di akhirat.
ũlã-ika = mereka itu; ma’wãhumui = tempat mereka; an nãru = api neraka; bimã = dengan apa (disebabkan); kaanũ = mereka adalah; yaksibũn = mereka kerjakan.
ũlã-ika ma’wãhumun nãru bimã kaanũ yaksibũn.
8. Mereka itu tempatnya di api neraka karena apa yang sudah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan penegasan akibat dari orang-orang yang mengabaikan kehidupan di akhirat nanti. Kehidupan di dunia ini, sangat melimpah-ruah kesenangan. Namun, jangan terlalu terbuai oleh kesenangan dunia. Harus dikelola dengan baik dan teliti, agar manfaatnya meningkat, dan menciptakan kesejahteraan, keamanan, ketenteraman, kedamaian, kepuasan. Kita harus banyak mengingat kehidupan di dunia ini, untuk tujuan akhirat. Kita harus berupaya untuk menjalankan akhlak mulia, mengikuti sunah dan hadits Rasulullah Muhammad saw. dengan Alquran yang diwahyukan Allah kepadanya.
innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; yahdĩhim = mereka diberi petunjuk; Robuhum = Rob mereka; bi ĩmaanihim = dengan keimanan mereka; tajrĩ = mengalir; min tahtihimu = dari bawah mereka; al anhãru = sungai-sungai; fĩ jannãtin = dalam surga; na’ĩm = kenikmatan.
innalladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti yahdĩhim Robbuhum bi ĩmaanihim, tajrĩ min tahtihimul anhãru fĩ jannãtin na’ĩm.
9. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rab mereka karena keimanan mereka, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga kenikmatan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini berulang-ulang dinyatakan dalam berbagai variasinya, menjadi peringatan bagi pembacanya sejak awal.

da’wãhum = doa mereka; fĩ hã = di dalam sorga; sub-hanaka = Mahasuci Engkau; allãhumma = yaa Allah; wa tahiyyatuhum = dan salam penghormatan mereka adalah; fĩhã = di dalamnya; salãmun = salam sejahtera; wa ãkhiru = dan penutup akhir; da’wãhum = doa mereka; ani = adalah; al hamdulillãhi = segala puji bagi Allah; Robil ‘alamĩn = Penguasa seluruh alam.
da’wãhum fĩ hã sub-hanakallãhumma wa tahiyyatuhum fĩhã salãmun, wa ãkhiru da’wãhum anil hamdulillãhi Robil ‘alamĩn.
10. Doa mereka di dalam surga: “Mahasuci Engkau ya Allah”, dan salam penghormatan mereka: “salam sejahtera”, dan penutup doa mereka adalah: “segala puji bagi Allah Robil ‘alamin.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajari doa yang disukai-Nya kepada manusia yang menyukai-Nya.

wa lau = dan kalau; yu’ajjilullãhu = Allah menyegerakan; linnãsi = bagi manusia; asy syarro = kejahatan; isti’jãlahum = permintaan penyegeran mereka; bil khoiri = dengan kebaikan; laqudhiya = pasti diakhiri; ilaihim = kepada mereka; ajaluhum = ajal (umur) mereka; fa nadzaru = maka (akan tetapi) Aku biarkan; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yarjũna = mereka tidak mengharapkan; liqō-anã = pertemuan dengan Kami; fĩ thughyaanihim = dalam kesesatan mereka; ya’mahũn = mereka bingung.
wa lau yu’ajjilullãhu linnãsi asysyarrosti’jãlahum bil khoiri laqudhiya ilaihim ajaluhum, fa nadzarul ladzĩna lã yarjũna liqō-anã fĩ thughyaanihim ya’mahũn.
11. Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia (seperti) permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Akan tetapi, Aku biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bingung dalam kesesatan mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia, segala apa yang dilaku kan selalu diperhatikan-Nya. Manusia jangan sesat dalam mengikuti petunjuk dan peringatan-Nya. Manusia diberi hak hidup agar ada kesempatan untuk bertobat atas berbagai kesalahannya.

wa idzã = dan bila; massa = menimpa; al insaana = manusia; adh dhurru = bahaya; da’ãnã = dia berdoa kepada-Ku; lijambihĩ = dalam keadaan berbaring; au qōimaan = atau berdiri; fa lammã = maka setelah; kasyafnã = Aku hilangkan; ‘anhu = darinya; dhurrohũ = bahayanya; marro = dia melalui; ka-al lam = seakan-akan tidak; yad’unã = dia berdoa kepada Kami; ilã = untuk; dhurrin = bahaya; massahũ = menimpanya; kadzãlika = seperti demikianlah; zuyyina = memandang baik; lilmusrifĩna = bagi orang-orang yang melampaui batas; mã kaanũ = apa yang mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa idzã massal insaanadh dhurru da’ãnã lijambihĩ au qō’idan au qōimaan fa lammã kasyafnã ‘anhu dhurrohũ marroka-al lam yad’unã ilã dhurrim massahũ, kadzãlika zuyyina lilmusrifĩna mã kaanũ ya’malũn.
12. Dan bila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Aku dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, maka setelah bahaya itu Aku hilangkan darinya, dia kembali melalui (jalan sesat), seakan-akan dia tidak pernah berdoa kepada Aku untuk bahaya yang pernah menimpanya. Seperti demikianlah, orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik, apa yang selalu mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada manusia, berdoa itu harus dalam keadaan apapun, senang, susah, sedih, ketAku tan, marah, sengsara, sejahtera, bahagia, dan lain-lain. Doa itu menandakan adanya keimanan seseorang. Iman harus ditingkatkan terus dengan rajin belajar, bekerja, berjuang untuk suatu tujuan yang suci, atas nama Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; ahlaknã = telah Aku binasakan; al qurũna = kurun turunan (umat-umat); minqoblikum = dari sebelum kamu; lammã = ketika; zholamũ = mereka berbuat lalim; wa jã-at-hum = padahal telah datang kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinãti dengan keterangan-keterangan yang nyata; wa mã kaanũ = mereka tidak ada; li yu’minũ = hendak beriman; kadzãlika = seperti demikianlah; najzĩ = Akumemberi balasan; al qouma = kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa laqod ahlaknãl qurũna minqoblikum lammã zholamũ, wa jã-at-hum rusuluhum bil bayyinãti wa mã kaanũ li yu’minũ, kadzãlika najzĩl qoumal mujrimĩn.
13. Dan sesungguhnya Aku telah membinasakan umat-umat sebelum kamu ketika mereka berbuat lalim, padahal Rasul-rasul mereka telah datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman. Seperti demikianlah, Akumemberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, dengan menceriterakan umat-umat yang terdahulu, yang dibinasakan karena mereka tidak mau percaya, tidak mau menjalankan petunjuk-petunjuk para Rasul Allah.

tsumma = kemudian; ja’alnãkum = Akumenjadikan kamu; kholã-ifa = khalifah (pengganti-pengganti); fil ardhi = di bumi; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; linanzhuro = supaya Akumemperhatikan; kaifa = bagaimana; ta’malũn = kamu beramal.
tsumma ja’alnãkum kholã-ifa fil ardhi mim ba’dihim linanzhuro kaifa ta’malũn.
14. Kemudian Aku jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Aku dapat memperhatikan, bagaimana kamu berbuat (beramal).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia-manusia sekarang ini sebagai pengganti manusia-manusia masa lalu yang tidak mau percaya, tidak mau menjalankan petunjuk-petunjuk Allah melalui para Rasul-Nya. Manusia-manusia sekarang harus lebih baik dari manusia-manusia masa lalu. Manusia-manusia sekarang harus mempercayai ada-Nya Allah dan Rasul-rasul-Nya.

wa idzã = dan jika; tutlã = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyaatunã = ayat-ayat Kami; bayyinãtin = yang nyata; qōla = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yarjũna = (mereka) tidak mengharapkan; liqō-‘ana = perjumpaan dengan-Ku; i’ti = datangkanlah; bi qur’ãnin = dengan Alquran; ghoiri = selain; hãdzã = ini; au baddilhu = atau gantilah ia; qul = katakanlah; mã yakũnu = tidak pantas; lĩ = bagiku; an ubaddilahũ = Aku untuk menggantinya; min tilqō-i = dari pihakku; nafsĩ = diri sendiri; in attabi’u = tidaklah Aku mengikuti; illã = kecuali; mã yũhã = apa yang diwahyukan; ilayya = kepada-Ku; innĩ = sesungguhnya Aku ; akhōfu = Aku tAku t; in = jika; ‘ashoitu = Aku mendurhakai; Robĩ = Robku; ‘adzãba = siksa; yaumin ‘azhĩm = Hari Kiamat.
wa idzã tutlã ‘alaihim ãyaatunã bayyinãtin, qōlal ladzĩna lã yarjũna liqō-‘ana’ti bi qur’ãnin ghoiri hãdzã au baddilhu, qul mã yakũnu lĩ an ubaddilahũ min tilqō-i nafsĩ in attabi’u illã mã yũhã ilayya, innĩ akhōfu in ‘ashoitu Robĩ ‘adzãba yaumin ‘azhĩm
15. Dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Ku yang nyata, berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan-Ku: “Datangkanlah Alquran yang selain ini, atau gantilah ia.” Katakanlah: “Tidak pantas bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri, tidaklah aku mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya, aku takut, jika aku mendurhakai Robku dan terkena siksa Hari Kiamat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan orang-orang yang tidak percaya pada Hari Pertemuan dengan Allah (Hari Kiamat), dan memberitahu bagaimana menjawab persoalan yang disampaikannya.

qul = katakanlah; lau = kalau; syaa-allãhu = Allah menghendaki; mãtalautuhũ = tidak kubacakan dia (ayat); ‘alaikum = kepadamu; wa lã = dan tidak; adrōkum = Dia beritahukan kepadamu; bihĩ = dengannya; faqod = maka sesungguhnya; labisytu = Aku telah tinggal; fĩkum = bersamamu; ‘umuron = beberapa masa; min qoblihĩ = dari sebelumnya; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu berpikir.
qul lau syaa-allãhu mãtalautuhũ ‘alaikum wa lã adrōkum bihĩ, faqod labisytu fĩkum ‘umurom min qoblihĩ, afalã ta’qilũn
16. Katakanlah: “Kalau Allah menghendaki, tentu tidak kubacakan dia kepadamu, dan Dia (juga) tidak memberitahukannya kepadamu.” Maka sesungguhnya Aku telah tinggal beberapa masa yang lalu sebelumnya. Maka, apakah kamu tidak berpikir?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman sesudahnya (masa sekarang) untuk mengatakan seperti yang diwahyukan pada ayat 16 ini.
faman = maka siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimani = dari orang; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = dusta; au kadzdzaba = atau dia mendustakan; bi-ãyaatihĩ = terhadap ayat-ayat-Nya; innahũ = sesungguhnya dia; lã yuflihu = tidak beruntung; al mujrimũn = orang-orang yang berbuat dosa.
faman azhlamu mimanif tarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi-ãyaatihĩ, innahũ lã yuflihul mujrimũn
17. Maka siapakah yang lebih lalim dari pada orang yang mengadakan dusta kepada Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, orang-orang yang berbuat dosa itu tidaklah beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya, mereka itu orang-orang yang berbuat dosa. Mereka itu orang-orang yang tidak beruntung.

wa ya’budũna = dan mereka yang menyembah; min dũni = dari selain; allãhi = Allah; mã lã = sesuatu yang tidak; yadhurruhum = memberi mudarat kepada mereka; wa lã = dan tidak; yanfa’uhum = dan memberi manfaat kepada mereka; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; hã-ulã-i = mereka itu; syufa’ã-unã = pemberi safaat kepada mereka; indallãhi = di hadapan Allah; qul = katakanlah; atunabbi-ũna = apakah kamu mengabarkan; allãha = Allah; bimã = dengan apa; lã ya’lamũ = tidak Dia ketahui; fĩs samãwãti = di langit; wa lã fil ardhi = dan tidak di bumi; sub-hãnahu = Mahasuci Dia; wa ta’ãlã = dan Mahatinggi; ‘amã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka perserikatkan.
wa ya’budũna min dũnillãhi mã lã yadhurruhum wa lã yanfa’uhum wa yaqũlũna hã-ulã-i syufa’ã-unã indallãhi, qul atunabbi-ũnallãha bimã lã ya’lamũ fĩs samãwãti wa lã fil ardhi, sub-hãnahu wa ta’ãlã ‘amã yusyrikũn.
18. Dan mereka menyembah selain dari Allah, sesuatu yang tidak memberi mudarat, dan tidak pula memberi manfaat kepada mereka, dan mereka berkata: “Mereka itu pemberi safaat kepada-Kudi hadapan Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan apa yang tidak diketahui Allah di langit dan di bumi?” Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman tentang perilaku orang-orang kafir, dan apa yang harus dikatakan kepada mereka yang mengemukakan alasan, mengapa mereka menyembah selain Allah.
wa mã kaana = dan tidak ada; an nãsu = manusia; illã = kecuali; ummatan = umat; wãhidatan = satu; fahtalafũ = lalu mereka berselisih; walau lã = dan kalau tidak; kalimatun = kata (ketetapan); sabaqot = terdahulu; mir Robika = dari Rab kamu; laqudhiya = pasti telah diputuskan; bainahum = di antara mereka; fĩmã = tentang apa; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.
wa mã kaanan nãsu illã ummatan wãhidatan fahtalafũ walau lã kalimatun sabaqot mir Robika laqudhiya bainahum fĩmã fĩhi yakhtalifũn.
19. Dan tidak ada manusia (dahulunya), kecuali hanya satu umat, lalu mereka berselisih. Kalau tidak karena ada ketetapan yang terdahulu dari Rab kamu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pemberitahuan Allah kepada umat-Nya yang percaya kepada-Nya. Ada perselisihan di antara manusia, yaitu masalah ada-Nya Allah. Ada yang percaya, ada yang tidak percaya.
wa yaqũlũna = dan mereka berkata; lau lã = mengapa tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; ãyatum = suatu ayat (keterangan); mir Robihĩ = dari Robnya; fa qul = maka katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; al ghoibu = yang gaib; lillãhi = milik Allah; fantazhirũ = maka tunggulah olehmu; innĩ = sesungguhnya Aku ; ma’Akum = bersamamu; min = dari (termasuk); al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.
wa yaqũlũna lau lã unzila ‘alaihi ãyatum mir Robihĩ, fa qul innamãl ghoibu lillãhi fantazhirũ innĩ ma’Akum minal muntazhirĩn.
20. Dan mereka bertanya: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad saw.) suatu ayat dari Rabnya?” Maka katakanlah: “Sesungguhnya, yang gaib itu milik Allah, maka tunggulah olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu, termasuk orang-orang yang menunggu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat artinya mu’zijat. Mu’zijat yang gaib dari Allah itu diberikan kepada yang dikehendaki-Nya. Tunggulah dengan penuh iman kepada-Nya.

wa idzã = dan bila; adzaqna = Aku beri rasakan; an nãsa = manusia; rohmatan = suatu rahmat; min = dari; ba’di = sesudah; dhorrō-a = bahaya; massat-hum = menimpa mereka; idzã = tiba-tiba; lahum = dari mereka; makrun = tipu-daya; fĩ ãyaatinã = pada ayat-ayat Kami; quli = katakan; illãhu = Allah; asrō’u = lebih cepat; makron = tipu-daya; inna = sesungguhnya; rusulanã = utusan-utusan Kami; yaktubũna = mereka menulis; mã = apa; tamkurũna = kamu tipu-dayakan.
wa idzã adzaqnaan nãsa rohmatam mim ba’di dhorrō-a massat-hum idzã lahum makrun fĩ ãyaatinã qulillãhu asrō’u makron, inna rusulanã yaktubũna mã tamkurũna.
21. Dan bila Aku beri rasa kepada manusia suatu rahmat, sesudah (datang) bahaya menimpa mereka, tiba-tiba mereka mempunyai tipu-daya untuk (menentang) ayat-ayat-Ku. Katakanlah: “Allah lebih cepat (membalas) tipu-daya.” Sesungguhnya, utusan Malaikat-Ku (selalu) menulis apa yang kamu tipu-dayakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan tentang sifat manusia, ada yang selalu tidak mau menerima ayat-ayat Allah yang selalu datang kepadanya berupa berbagai kenikmatan dan bahaya. Kalau tidak beriman, mereka membuat tipu-daya, mengolok-olokkan ayat-ayat Allah itu. Allah mengingatkan, apa yang diolok-olokkan atas ayat-ayat Allah itu, ada malaikat yang mencatatnya. Orang yang beriman, saat menghadapi bahaya maupun rahmat (misalnya kesenangan) akan selalu ingat bahwa segala sesuatu itu, baik kesenangan, kesusahan, kebaikan, keburukan, keindahan, kejelekan asalnya dari Allah.

Huwa = Dia; al ladzĩ = yang; yusayyirukum = menjadikan kamu dapat berjalan; fil barri = di darat; wal bahri = dan di laut; hattã = sehingga; idzã = bila; kuntum = kamu adalah; fil fulki = di dalam bahtera; wa jaraina = dan meluncurlah; bihim = dengan mereka; bi rĩhin = dengan angin; thoyyibatin = yang baik; wa farihũ = dan mereka bergembira; bihã = karenanya; jã-atahã = datang kepadanya; rĩhun = angin; ‘ashifun = topan; wa jã-ahumu = dan menimpa mereka; al mauju = gelombang; min kulli = dari setiap (segenap); makaanin = tempat (penjuru); wa zhonnũ = dan mereka mengira; annahum = bahwa mereka; uhĩtho = terliputi (terkepung); bihim = dengan mereka; da’allãha = berdoa (kepada) Allah; mukhlishĩna = mengikhlaskan; lahu = kepada-Nya; addĩna = ketaatan agama; la-in = sesungguhnya jika; anjaitanã = Engkau menyelamatkan kami; min hãdzihĩ = dari ini; lanakũnanna = pastilah Akumenjadi; mina = dari (termasuk); asy syaakirĩn = orang-orang yang bersyukur.
huwal ladzĩ yusayyirukum fil barri wal bahri, hattã idzã kuntum fil fulki wa jaraina bihim birĩhin thoyyibatin wa farihũ bihã jã-atahã rĩhun ‘ashifun wa jã-ahumul mauju min kulli makaanin wa zhonnũ annahum uhĩtho bihim, da’allãha mukhlishĩna lahuddĩna la-in anjaitanã min hãdzihĩ lanakũnanna minasy syaakirĩn.
22. Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di darat dan di laut, sehingga bila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah ia membawa mereka dengan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, (tiba-tiba) datanglah badai dan gelombang dari segenap penjuru menimpa mereka, dan mereka mengira, mereka telah terkepung bahaya, lalu mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata (dan berkata): “Sesungguhnya, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang memungkinkan makhluk, khususnya manusia untuk dapat bepergian melalui darat, laut, atau udara. Setiap bepergian selalu ada kemungkinan bahaya mengancam kehidupan. Mungkin juga selamat. Oleh karena itu, selalulah berdoa sebelum berangkat, misalnya dengan doa: Bismilahi amantu billãh, tawakaltu alallah, lã khaula walã kuwwata ilã billãh. Kalau pulang dengan selamat, maka ucapkalah syukur alhamdulillahi Robil alamĩn.

fa lammã = maka setelah; anjãhum = Aku selamatkan mereka; idzã = tiba-tiba; hum = mereka; yabghũna = mereka melampaui batas; fil ardhi = di bumi; bi ghoiri = dangan tidak; al haqqi = benar; yaa ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; innamã = sesungguhnya hanyalah; baghyukum = keterlampauanbatasmu (kelalimanmu); ‘alã = kepada; anfusikum = dirimu sendiri; matã’a = kesenangan; al hayaati = kehidupan; ad dun-yaa = dunia; tsumma = kemudian; ilainã = kepada Kami; marji’ukum = tempat kembalimu; fanunabbi-ukum = lalu Aku jelaskan kepadamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu amalkan (kamu kerjakan).
fa lammã anjãhum idzã hum yabghũna fil ardhi bi ghoiril haqqi, yaa ayyuhan nãsu innamã baghyukum ‘alã anfusikum matã’al hayaatid dun-yaa, tsumma ilainã marji’ukum fanunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.
23. Maka setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka berbuat lalim di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya kelalimanmu akan menimpa diri sendiri. (nikmat) kelalimanmu itu hanya kesenangan hidup di dunia, kemudian kepada Ku-lah tempat kembalimu, lalu Aku jelaskan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kebiasaan manusia yang jelek, melupakan nikmat keselamatan yang dikaruniakan Allah, menyebabkan perbuatan lalim di bumi. Kelaliman karena mencari kenikmatan di dunia itu akan menimpakan penderitaan diri sendiri, nanti di akhirat. Mungkin juga ketika masih di dunia.

innamã = sesungguhnya hanyalah; matsalu = perumpamaan; al hayaati = kehidupan; ad dun-yaa = dunia; kamã-in = seperti air (hujan); anzalnãhu = Aku turunkan air itu; mina = dari; as samã-i = langit; fakhtalatho = lalu ia bercampur; bihĩ = dengannya; nabãtu = tumbuh-tumbuhan; al ardhi = bumi; mimmã = di antaranya (darinya); ya’kulu = memakan; an nãsu = manusia; wal an’ãmu = dan binatang ternak; hattã = sehingga; idzã = bila; akhodzati = menunjukkan; al ardhu = bumi; zukhrufahã = keindahannya; wãzzayyanat = dan terhias ia; wa zhonna = dan menyangka; ahluhã = pemiliknya; annahum = bahwa mereka; qōdirũna = mereka menguasai; ‘alaihã = atasnya; atãhã = datang kepadanya; amrunã = perintah (azab) kami; lailan = malam; au nahãron = atau malam; fa ja’alnãhã = lalu Aku jadikan; hashĩdan = tanaman yang sudah disabit; ka-an = seakan-akan; lam taghnã = belum pernah tumbuh; bil amsi = kemarin; kadzãlika = demikianlah; nufash shĩlu = Aku jelaskan; al ãyaati = ayat-ayat; liqoumin = bagi kaum (orang-orang); yatafakkarũn = mereka berpikir.
innamã matsalul hayaatid dun-yaa kamã-in anzalnãhu minãs samã-i fakhtalatho bihĩ nabãtul ardhi mimmã ya’kulun nãsu wal an’ãmu hattã idzã akhodzatil ardhu zukhrufahã wãzzayyanat wa zhonna ahluhã annahum qōdirũna ‘alaihã atãhã amrunã lailan au nahãron fa ja’alnãhã hashĩdan ka-an lam taghnã bil amsi, kadzãlika nufash shĩlul ãyaati liqoumin yatafakkarũn
24. Sesungguhnya, perumpamaan kehidupan dunia itu, seperti air (hujan) yang Aku turunkan dari langit, lalu dengannya (air itu) bertumbuhkembang tumbuh-tumbuhan di bumi, di antaranya, ada yang dimakan ternak. Apabila menunjukkan keindahannya dan terhias dengan kehijuannya. Pemiliknya mengira, mereka pasti menguasainya, (tiba-tiba) datanglah kepadanya azab Aku di waktu malam atau siang. Lalu Aku jadikannya laksana tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah, Aku jelaskan ayat-ayat-Ku kepada orang-orang yang berpikir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perumpamaan hidup di dunia menurut Allah. Semua kejadian ditetapkan Allah, kapan pun. Ayat-ayat Allah itu ada di berbagai kejadian di alam semesta ini, apakah yang menyebabkan hati manusia bergembira-ria, bahagia atau sedih, susah; merasa nyaman, tenteram, sejahtera, damai atau merasa resah-gelisah-rusuh; merasa enak atau muak; merasa sejahtera atau sengsara; selamat atau celaka. Hidup itu harus berpikir tentang kehidupan pemberian-Nya.
wallãhu = dan Allah; yad’ũ = Dia menyeru; ilã = ke; dãri = rumah; as salãmi = keselamatan (kedamaian, ketenteraman, sejahtera); wa yahdĩ = dan Dia memberi petunjuk; man = orang (siapa); yasyaa-u = Dia kehendaki; ilã = ke; shirōtin = jalan; mustaqĩm = yang lurus.
wallãhu yad’ũ ilã dãris salãmi wa yahdĩ man yasyaa-u ilã shirōtim mustaqĩm
25. Dan Allah menyeru (manusia) menuju tempat selamat (damai, tenteram, sejahtera, bahagia) dan Dia memberi petunjuk kepada yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyeru agar hidup selamat, dan memberi petunjuk agar menggunakan jalan yang lurus. Agar selamat harus mengikuti petunjuk dari Allah.
lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ahsanũl husnã = berbuat sangat baik; wa ziyaadah = dan tambahannya; wa lã yarhaqu = mereka itu tidak; wujũhahum = muka-muka mereka; qotarun = kehitaman; wa lã = dan tidak; dzillah = kehitaman; ũlã-ika = mereka itu; ash-hãbul jannah = penghuni surga; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = mereka kekal.
lilladzĩna ahsanũl husnã wa ziyaadah, wa lã yarhaqu wujũhahum qotarun wa lã dzillah, ũlã-ika ash-hãbul jannah, hum fĩhã khōlidũn.
26. Bagi orang-orang yang berbuat baik mendapat (pahala) yang terbaik dan tambahan, dan muka mereka tidak tertutup dengan hitam derita, dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang berbuat baik mendapat berbagai macam kesenangan, ketenteraman, ketenangan, kemudahan tanpa cacat atau kekurangan apa pun.
wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kasabũ = mereka mengerjakan; as sayyi-ãti = kejahatan; jazã-u = balasan; sayyi-atin = kejahatan; bi mitslihã = dengan yang semisal; wa tarhaquhum = dan menutupi mereka; dzillah = kehinaan; mã lahum = tak ada bagi mereka; minallãhi = dari Allah; min ‘ãshimi = dari seorang pelindung; ka-annamã = seakan-akan; ughsyiyat = ditutupi; wujũhuhum = wajah-wajah mereka; qitho’an = sebagian; minal laili = dari malam; muzhliman = gelap-gulita; ũlã-ika = mereka itu; ash-hãbun nãri = penghuni api neraka; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; khōlidũn = kekal.
wal ladzĩna kasabũs sayyi-ãti jazã-u sayyi-atim bi mitslihã wa tarhaquhum dzillah, mã lahum minallãhi min ‘ãshimi, ka-annamã ughsyiyah wujũhuhum qitho’am minal laili muzhlimã, ũlã-ika ash-hãbun nãri, hum fĩhã khōlidũn
27. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan kejahatan yang setimpal, dan mereka tertutup oleh kehinaan, tidak ada pelindung dari azab Allah bagi mereka. Muka mereka seakan-akan ditutupi gelap-gulitanya malam. Mereka itulah penghuni api neraka, mereka kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang melakukan kejahatan akan dibalas dengan kejahatan lagi. Mereka menjadi sangat hina. Tidak ada yang dapat melindungi dari azab Allah. Berlindunglah kepada Allah agar tidak terkena azab Allah.
wa yauma = dan pada hari; nahsyuruhum = Aku kumpulkan mereka; jamĩ’an = semuanya; tsumma = kemudian; naqũlu = Aku berkata; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; asyrokũ = (mereka) mempersekutukan; makaanAkum = tempat kamu; antum = kamu; wa syurokã-ukum = dan sekutu-sekutu kamu; fazayyalnã = lalu Aku pisahkan; bainahum = di antara mereka; wa qōla = dan berkata; tsurokã-uhum = sekutu-sekutu mereka; mã kuntum = kamu tidak ada; iyyaanã = kepada kami; ta’budũn = kamu menyembah.
wa yauma nahsyuruhum jamĩ’an tsumma naqũlu lilladzĩna asyrokũ makaanAkum antum wa syurokã-ukum, fazayyalnã bainahum, wa qōla tsurokã-uhum mã kuntum iyyaanã ta’budũn.
28. Pada hari Akumengumpulkan mereka semua, kemudian Aku berkata kepada orang-orang yang mempersekutukan (Rob): Tetaplah kamu dan sekutu-sekutumu di tempat itu.” Lalu Aku pisahkan di antara mereka, dan berkatalah sekutu-sekutu mereka: “Kamu tidak pernah menyembah kami.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada Hari Akhirat ternyata sekutu-sekutu orang kafir tidak merasa disembah oleh mereka yang menyembahnya.
fakafã = maka cukuplah; billãhi = dengan Allah; syahidan = menjadi saksi; bainanã = antara kami; wa bainAkum = dan antara kamu; inkunnã = bahwa kami; ‘an ‘ibãdatikum = dari penyembahan kamu; la ghōfilĩn = sungguh lalai (tidak tahu).
fakafã billãhi syahidam bainanã wa bainAkum inkunnã ‘an ‘ibãdatikum la ghōfilĩn.
29. Maka cukuplah Allah menjadi saksi antara Aku dan kamu. Aku tidak tahu tentang penyembahan kamu itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di dunia manusia yang mempersukutukan Allah selalu diperingatkan oleh orang-orang yang beriman, agar jangan mempersekutukan Allah, melalui bermacam-macam cara. Para Nabi dengan Kitab-kitabnya menghimbau agar jangan mempersekutukan Allah. Ada yang tidak mau memperhatikan himbauan itu, tidak mau menghiraukan. Bagaimana berhala itu tahu, mereka itu benda mati, mungkin juga benda hidup, tapi memang mereka tidak tahu, ada manusia yang menyembahnya. Di dunia, Allah Yang mengatur. Di Hari Akhirat, Allah juga Yang mengatur. Kalau makhluk-Nya tidak mau mempercayai-Nya, suatu hal yang merugi.
hunãlika = di sanalah; tablũ = merasakan; kullu = tiap-tiap; nafsin = diri (jiwa); mã aslafat = apa yang telah terdahulu (dikerjakan); wa ruddũ = dan mereka dikembalikan; ilãllãhi = kepada Allah; maulãhumu = pelindung mereka; al haqqi = benar; wa dholla = dan lenyaplah; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang; yaftarũn = mereka ada-adakan.
hunãlika tablũ kullu nafsim mã aslafat, wa ruddũ ilãllãhi maulãhumul haqqi, wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.
30. Di sanalah setiap orang merasakan (pembalasan) dari apa yang telah dikerjakannya, dan mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya, dan lenyaplah dari mereka, apa yang mereka ada-adakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, apa yang terjadi pada Hari Pembalasan. Kalau seseorang mengada-adakan sesuatu sebagai tandingan Allah, di sini dia akan merasakan penyesalan yang tidak akan ada berhentinya.

qul = katakanlah; man = siapa; yarzuqukum = memberi rezeki kepadamu; min = dari; as samã-i = langit; wal ardhi = dan bumi; amman = atau siapakah; yamliku = kuasa; as sam’a = pendengaran; wal abshōro = dan penglihatan; wa man = dan siapakah; yukhriju = mengeluarkan; al hayya = yang hidup; min = dari; al mayyiti = yang mati; wa yukhriju = mengeluarkan; al mayyita = yang mati; min = dari; al hayyi = yang hidup; wa man = dan siapakah; yudabbaru = mengatur; al amro = (segala) urusan; fasayaqũlũnallãhu = maka, mereka akan berkata: “Allah”; fa qul = maka katakanlah; afalã = mengapa tidak; tattaqũn = kamu bertakwa.
qul man yarzuqukum minas samã-i wal ardhi amman yamlikus sam’a wal abshōro wa man yukhrijul hayya minal mayyiti wa yukhrijul mayyita minal hayyi wa man yudabbarul amro, fasayaqũlũnallãhu, fa qul afalã tattaqũn.
31. Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang berkuasa (memberi) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang menghidupkan dari yang mati, dan yang mematikan dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka, mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertakwa?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar Nabi Muhammad saw. memberitahukan kepada orang-orang kafir tentang kekuasaan Allah, agar mereka mau bertakwa. Allah berhuasa menghidupkan dan mematikan makhluk-Nya, lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2 : 28, 73; Ali Imran, 3 : 109; Al A’rãf, 7 : 158; At Taubah, 9 : 116.

Fa = maka; adz dzãlikumu = itulah; allãhu = Allah; Robukumu = Rob kamu; al haqqu = yang sebenarnya; fa = maka; mãdzã = tidak ada; ba’da = sesudah; al haqqi = kebenaran; illa = kecuali; adh dholãlu = kesesatan; fa = maka; annã = bagaimana; tushrofũn = kamu disesatkan.
fadzãlikumullãhu Robukumul haqqu, famãdzã ba’dal haqqi illadh dholãlu, fa annã tushrofũn.
32. Maka, itulah Allah Rab kamu yang sebenarnya; maka, tidak ada kebenaran sesudahnya, kecuali kesesatan; maka, bagaimana kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penegasan tentang Allah kepada orang-orang yang sesat.

kadzãlika = demikianlah; haqqot = telah berlaku ; kalimatu = kata (pengetahuan, ilmu, hukum, ); Robika = dari Rob kamu; ‘alã = terhadap; al ladzĩna = orang-orang yang; fasaqũ = bodoh; annahum = sesungguhnya mereka; lã yu’minũn = tidak beriman.
kadzãlika haqqot kalimatu Robika ‘alãl ladzĩna fasaqũ annahum lã yu’minũn.
33. Demikianlah telah berlaku pengetahuan, ilmu, hukum, Rob kamu terhadap orang-orang bodoh, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak mau beriman, dicap oleh Allah sebagai orang yang bodoh. Pengetahuan, ilmu, hukum, Allah itu tersurat pada ayat-ayat sebelum ini. Perhatikanlah.

qul = katakanlah; hal = apakah; min = di antara; syurokã-ikum = sekutu-sekutumu; man = orang; yabda-u = memulai; al kholqo = penciptaan; tsumma = kemudian; yu’ĩduhu = ia mengmbalikannya; qulillãhu = katakanlah Allah; yabda-u = memulai; al kholqo = penciptaan; tsumma = kemudian; yu’ĩduhu = Dia mengembalikannya; fa-annã = maka, bagaimana; tu’fakũn = kamu dipalingkan.
qul hal min syurokã-ikum man yabda-ul kholqo tsumma yu’ĩduhu, qulillãhu
yabda-ul kholqo tsumma yu’ĩduhu, fa-annã tu’fakũn.
34. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu, ada yang dapat memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya?” Katakanlah: “Allahlah yang memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengembalikannya, maka, bagaimana kamu dipalingkan?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan lagi kekuasaan-Nya yang berbeda dengan makhluk-Nya.
qul = katakanlah; hal = apakah; min = dari; syurokã-ikum = sekutu-sekutu kamu; man = orang; yahdĩ = memberi petunjuk; ila = kepada; al haqqi = kebenaran; qulillãhu = katakanlah “Allah”; yahdĩ = memberi petunjuk; il haqqi = kepada kebenaran; afa = apakah; man = orang; yahdĩ = memberi petunjuk; ilã = kepada; al haqqi = kebenaran; ahaqqu = lebih berhak; an yuttaba’a = untuk diikuti; amman = ataukah orang; lã = tidak; yahidĩ = ia memberi petunjuk; illã = kecuali; an yuhdã = bahwa ia diberi petunjuk; fa mã lakum = maka mengapa kamu; kaifa = bagaimana; tahkumũn = kamu mengambil keputusan.
qul hal min syurokã-ikum man yahdĩ ilal haqqi, qulillãhu yahdĩ lil haqqi, afa man yahdĩ ilãl haqqi ahaqqu an yuttaba’a amman lã yahidĩ illã an yuhdã, fa mã lakum kaifa tahkumũn.
35. Katakanlah: “Apakah di antara sekutu-sekutumu ada yang dapat memberi petunjuk kepada kebenaran?” Katakanlah: “Allahlah yang dapat memberi petunjuk kepada kebenaran.” Apakah orang yang memberi petunjuk kepada kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan keputusan orang-orang yang mengimani ada-Nya Allah yang tidak memerlukan sekutu, Allah mampu memberi petunjuk kebenaran, dan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang diada-adakan oleh mereka sendiri. Seskutu-sekutu mereka tidak mampu memberi petunjuk.
wa mã = dan tidak; yattabi’u = mereka mengikuti; aktsaruhum = kebanyakan mereka; illã = kecuali; zhonna = sangkaan; innazh zhonna = sesungguhnya sangkaan; lã = tidak; yughnĩ = mampu (berguna); minal haqqi = dari kebenaran; syai-an = sedikit pun; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa mã yattabi’u aktsaruhum illã zhonna, innazh zhonna lã yughnĩ minal haqqi syai-an, innallãha ‘alimum bimã yaf’alũn.
36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti, kecuali sangkaan saja, sesungguhnya sangkaan itu tidak mampu (menyisihkan) kebenaran sedikit pun. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sangkaan (prasangka) baik atau jelek kebanyakan berakibat kurang baik bagi pelakunya. Jangan dibiasakan menyangka. Buktikan segala sesuatu dengan kenyataan yang ada.
wa mã = dan tidak; kãna = ada; hãdza = ini; al qur’ãnu = Alquran; an yuftarō = diada-adakan (dibuat); min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lãkin = dan bahkan; tashdiqo = ia membenarkan; al ladzĩ = yang; baina yadaihi = di antara kedua tangannya (sebelumnya); wa tafshila = dan menjelaskan; al kitãbi = Kitab; lã roiba = tidak ada keraguan; fĩhi = di dalamnya; mir Robil = dari Rab (Penguasa); ‘ãlamĩn = Penguasa alam.
wa mã kãna hãdzal qur’ãnu an yuftarō min dũnillãhi wa lãkin tashdiqol ladzĩ baina yadaihi wa tafshilal kitãbi lã roiba fĩhi mir Robil ‘ãlamĩn.
37. Dan tidak mungkin Alquran ini dibuat oleh selain Allah, dan bahkan ia membenarkan (Kitab-kitab) yang sebelumnya, dan menjelaskan kitab (pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab yang telah ditetapkan); tidak ada keraguan di dalamnya, dari Rab Penguasa alam.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kedudukan Alquran yang membenarkan Kitab-kitab sebelumnya dan menjadi sumber pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab untuk manusia dan seluruh alam.
am = atau; yaqũlũna = mereka mengatakan; aftarōhu = (Muhammad) yang membuatnya; qul = katakanlah; fa’tũ = maka datangkanlah; bi sũrotin = dengan sebuah surat; mitslihĩ = seperti Alquran; wad’ũ = dan panggillah; manistatho’tum = siapa-siapa kamu dapat; min dũnillãhi = dari selain Allah; in kuntum = jika kamu; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
am yaqũlũnaftarōhu, qul fa’tũ bi sũrotim mitslihĩ wad’ũ manistatho’tum min dũnillãhi in kuntum shōdiqĩn.
38. Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad yang membuatnya,’ Katakanlah: “Maka (cobalah) buatlah sebuah surat seperti Alquran, dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alquran dibuat langsung oleh Allah (lihat juga Surat Al Baqarah, 2 : …)
bal = bahkan; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bimã = dengan apa yang …; lam yuhĩthũ = mereka tidak mengetahui; bi ‘ilmihĩ = dengan pengetahuannya; wa lammã = dan belum; ya’tihim = datang kepada mereka; ta’wĩluhu = penjelasannya; kadzãlika = demikianlah; kadzdzaba = telah mendustakan; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = ia adalah; ‘ãqibatu = akibat (kesudahan); azh zhōllimĩn = orang-orang yang lalim.
bal kadzdzabũ bimã lam yuhĩthũ bi ‘ilmihĩ wa lammã ya’tihim ta’wĩluhu, kadzãlika kadzdzabal ladzĩna min qoblihim fanzhur kaifa kãna ‘ãqibatuzh zhōllimĩn.
39. Bahkan mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya betul-betul, dan belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah, orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan, maka perhatikanlah, bagaimana akibat orang-orang yang lalim itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelaliman itu akibat ada orang yang berdusta. Kelaliman mengakibatkan pelakunya mengalami (dikenai) penderitaan.
wa = dan; min hum = di antara mereka; man = orang; yu’minu = ia beriman; bihĩ = kepadanya; wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; lã yu’minu bih = ia tidak beriman kepadanya; wa Robuka = dan Rob kamu; a’lamu = Maha Mengetahui; bil mufsidĩn = dengan orang-orang yang membuat kerusakan.
wa min hum man yu’minu bihĩ wa min hum mal lã yu’minu bih, wa Robuka a’lamu bil mufsidĩn
40. Dan di antara mereka, ada orang yang beriman kepadanya (Alquran), dan di antara mereka ada (pula) orang yang tidak beriman kepadanya (Alquran), dan Rob kamu lebih mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak beriman selalu membuat kerasakan di muka bumi. Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka lakukan.
wa in = dan jika; kadzdzabũka = mendustakan kamu; fakul = maka katakanalah; lĩ = bagiku; ‘amalĩ = pekerjaanku; wa lakum = dan bagi kamu; ‘amalukum = pekerjaanmu; antum = kamu; barĩ-ũna = berlepas diri; mimmã = dari apa; a’malũ = Aku kerjakan; wa ana = dan Aku ; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa in kadzdzabũka fAkul lĩ ‘amalĩ wa lakum ‘amalukum, antum barĩ-ũna mimmã a’malũ wa ana barĩ-um mimmã ta’malũn.
41. Dan jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku, bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri dari apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri dari apa yang kamu kerjakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jika ada orang yang menganggap dusta, apa yang dikerjakan Nabi Muhammad saw. hendaknya dihimbau agar orang-orang itu percaya kepada kekuasaan Allah Yang Mahaesa, kalau mereka berkeras kepala, Allah menyarankan agar mengatakan hal yang diturunkan pada ayat 41 ini. Lihat juga pada Surat Al Kafirun (Q.s. 109).
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yastami’ũna = mereka memperdengarkannya; ilaika = kepadamu; afa = apakah; anta = kamu; tusmi’u = memperdengarkan; ash shumma = orang yang tuli; wa lau = bahkan; kãnũ = mereka adalah; lã ya’qilũn = mereka tidak mau mengerti.
wa min hum man yastami’ũna ilaika, afa anta tusmi’ush shumma wa lau kãnũ lã ya’qilũn
42. Dan di antara mereka, ada orang yang mendengarkan kamu. Apakah kamu dapat memperdengarkannya kepada orang-orang tuli, bahkan mereka tidak mau mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang bisa mendengar, tapi tidak mau mendengarkan apa yang harusnya didengar, dan tidak mau mengerti apa yang didengarnya. Dia dapat disebut orang tuli, walaupun pada hakekatnya mereka tidak tuli; Ada orang yang tidak bisa mendengar, tapi ingin bisa mendengar, dan yang sangat terpuji, ia ingin mengerti apa yang diperdengarkan seseorang. Inilah yang dipertanyakan Allah dalam ayat ini. Yang terpuji adalah orang yang bisa mendengar, mau mendengarkan, dan mau mengerti apa yang seharusnya didengar, dan dimengerti.
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yanzhuru = yang melihat; ilaika = kepadamu; afa-anta = apakah kamu; tahdĩ = memberi petunjuk; al ‘umya = orang yang buta; wa lau = walaupun; kãnũ = mereka adalah; lã yubshirũn = mereka tidak dapat melihat.
wa min hum man yanzhuru ilaika, afa-anta tahdĩl ‘umya wa lau kãnũ lã yubshirũn.
43. Dan di antara mereka, ada orang yang melihat kepadamu, apakah kamu dapat memberi petunjuk kepada orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat melihat (memperhatikan).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang yang dapat melihat, tapi tidak mau memperhatikan, dan tidak mau mengerti, apa yang dilihat, dan didengar. Orang seperti ini tidak mungkin menerima petunjuk, karena hati mereka tertutup. Allah membutakan mata dan hatinya. Ada orang yang tidak bisa melihat, tapi mau memperhatikan, dan ingin mengerti apa yang didengar dan dirasakan. Inilah yang dipertanyakan Allah dalam ayat ini. Orang buta dapat diberi petunjuk, dan dapat menerima petunjuk karena, atau kalau hati mereka terbuka, mau merasakan.
innalãha = sesungguhnya Allah; lã = Dia tidak; yazhlimun = menganiaya (melalimi); nãsa = manusia; syai-an = sedikit pun; wa lãkinna = akan tetapi; an nãsa = manusia itu; anfusahum = diri mereka sendiri; yazhlimũn = mereka melalimi (menganiaya)
innalãha lã yazhlimun nãsa syai-an wa lãkinnannãsa anfusahum yazhlimũn.
44. Sesungguhnya, Allah tidak menganiaya manusia sedikit pun, tetapi manusia itulah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia sudah diberi akal, pikiran, dan hati untuk mengarungi hidup pemberian Allah. Hidup pemberian Allah ini banyak orang yang menelantarkannya. Mereka tidak menggunakan akal, pikiran, dan hatinya untuk mensyukuri hidup karunia Allah ini. Karena itu, Allah menegaskan, sesungguhnya, mereka menganiaya diri mereka sendiri.
wa yauma = dan pada hari; yahsyuruhum = (Allah) mengumpulkan mereka, ka-al = (mereka) seakan-akan; lam yalbatsũ = mereka belum pernah tinggal; illã = kecuali; sã’atan = sesaat; minan nahãri = di siang hari; yata’ãro fũna = mereka saling berkenalan; bainahum = di antara mereka; qod = sesungguhnya; khasiro = rugilah; al ladzĩna = orang-orang yang; kadz dzabũ = (mereka) mendustakan; biliqō-illãhi = pertemuan dengan Allah; wa mã = dan tidak; kãnũ = mereka ada; muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.
wa yauma yahsyuruhum ka-al lam yalbatsũ illã sã’atam minan nahãri yata’ãro fũna bainahum, qod khasirol ladzĩna kadz dzabũ biliqō-illãhi wa mã kãnũ muhtadĩn
45. Dan pada hari, ketika Allah mengumpulkan mereka, mereka merasa seakan-akan belum pernah tinggal (di dunia), kecuali sesaat saja di siang hari. (Di waktu itu) mereka saling berkenalan di antara mereka sendiri. Sesungguhnya, rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan saat manusia dikumpulkan di akhirat. Allah mengingatkan, rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan rugi pula mereka yang tidak mendapat petunjuk. Saat kita hidup, dan saling berkenalan, sebaiknya harus banyak membaca ayat-ayat Allah, agar kita mengingat Allah, dan mengingat, suatu saat akan ada pertemuan dengan-Nya, dan agar kita mendapat petunjuk untuk menjalani hidup ini.
wa immã = dan jika; nuriyannaka = Aku perlihatkan kepadamu; ba’dho = sebagian; al ladzĩ = yang; na’iduhum = Aku ancam mereka; au = atau; natawaffayannaka = Aku wafatkan kamu; fa-ilainã = maka kepada-Ku; marji’uhum = tempat mereka kembali; tsummallãhu = kemudian Allah; syahĩdun = menjadi saksi; ‘alã mã = atas apa; yaf’alũn = mereka kerjakan.
wa immã nuriyannaka ba’dhol ladzĩ na’iduhum au natawaffayannaka fa-ilainã marji’uhum tsummallãhu syahĩdun ‘alã mã yaf’alũn.
46. Dan jika Aku perlihatkan kepadamu sebagian (siksa) yang Aku ancamkan kepada mereka, atau Aku wafatkan kamu (sebelum itu), maka kepada Aku lah tempat kembali mereka, kemudian Allah menjadi saksi, atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan ancaman siksa-Nya kelak di akhirat, dan tempat kembali makhluk itu kepada-Nya. Allah selalu mengawasi, dan akan menjadi saksi dari apa yang dikerjakan makhluk-Nya. Jadi, perjalanan hidup ini harus dilalui secara berhati-hati, jangan menyimpang dari jalan Allah.
wa likulli = dan tiap-tiap; ummatin = umat; rosũlun = Rasul; fa idzã = maka jika; jã-a = telah datang; rosũluhum = Rasul mereka; qudhiya = diputuskan; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = mereka tidak di aniaya.
wa likulli ummatir rosũlun fa idzã jã-a rosũluhum qudhiya bainahum bil qisthi wa hum lã yuzhlamũn.
47. Dan tiap-tiap umat mempunyai Rasul, maka jika telah datang Rasul mereka, diputuskan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak dianiaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, setiap umat mempunyai Rasul. Kalau semua orang mengikuti apa yang diarahkan oleh Rasul maka akan tercipta masyarakat yang adil, makmur, tenteram, damai, sejahtera, bahagia. Tidak ada orang yang teraniaya.

wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; matã = kapankah; hãdzã = ini; al wa’du = ancaman; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
wa yaqũlũna matã hãdzãl wa’du in kuntum shōdiqĩn.
48. Dan mereka (orang kafir) mengatakan: “Kapankah datangnya ancaman ini, jika kamu adalah orang-orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Suatu keanehan, setiap Rasul datang ke suatu umat, pasti ada orang yang tidak percaya pada apa yang disampaikan Rasul itu. Selalu ada orang yang menentang Rasul, tidak mau mengikuti petunjuknya, petunjuk dari Allah.
qul = katakanlah; lã amliku = Aku tidak berkuasa; li nafsi = bagi diriku; dhorron = mendatangkan mudarat; wa lã = dan tidak; naf’an = manfaat; illã = kecuali; mã = apa; syaa-allãh = kehendak Allah; likulli = bagi tiap-tiap; ummatin = umat; ajal = ajal; idzã = jika; jã-a = telah datang; ajaluhum = ajal mereka; fa lã = maka tidak; yasta’khirũna = mereka mengundurkan; sa’atan = sesaat; wa lã = dan tidak; yastaqdimũn = mereka mendahulukan.
qul lã amliku li nafsi dhorron wa lã naf’an illã mã syaa-allãh, likulli ummatin ajal, idzã jã-a ajaluhum fa lã yasta’khirũna sa’atan, wa lã yastaqdimũn.
49. Katakanlah: “Pada diriku tidak kuasa mendatangkan mudarat, dan tidak pula manfaat bagi siapapun, kecuali apa yang dikehendaki Allah’. Tiap umat mempunyai ajal, jika telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun, dan tidak pula mendahulukan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw., agar mengatakan apa yang dikemukakan ayat di atas, kalau ada orang yang mempertanyakan berita, seperti yang terungkap dalam ayat 46 di atas. Ajal manusia sudah ditetapkan saatnya oleh Allah.
qul = katakanlah; aro-aitum = apa pendapatmu; in atãkum = jika datang kepadamu; ‘adzãbuhũ = azab-Nya (siksa-Nya); bayaatan = di waktu malam; au nahãron = atau di waktu siang; mãdzã = apakah; yasta’jilu = minta disegerakan; min hu = darinya; al mujrimũn = orang-orang yang berdosa.
qul aro-aitum in atãkum ‘adzãbuhũ bayaatan au nahãrom mãdzã yasta’jilu min hul mujrimũn.
50. Katakanlah: “Apa pendapatmu, jika datang siksa-Nya kepadamu di waktu malam atau siang, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan darinya?”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siksa Allah itu datangnya tak terduga. Orang yang tidak beriman berlalai-lalai saja. Hatinya jauh dari Allah. Yang demikan itu, hidupnya merugi di dunia maupun di akhirat. Sedangkan orang yang beriman, hatinya dekat dengan Allah. Mereka selalu berdoa jangn sampai terkena siksa Allah, dan doa untuk keselamatan hidupnya di dunia dan di akhirat. Inilah orang-orang yang beruntung.

atsumma idzã mã waqo’a ãmantum bihĩ, al-ãna wa qod kuntum bihĩ tasta’jilũn
atsumma idzã mã waqo’a ãmantum bihĩ, al-ãna wa qod kuntum bihĩ tasta’jilũn
51. Apakah setelah terjadi (azab itu), kemudian kamu baru percaya kepadanya? Apakah sekarang (saat terjadi azab) padahal kamu (sebelumnya) selalu meminta azab disegerakan datangnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian manusia ketika datang seorang Rasul kepada kaumnya untuk mengingatkan adanya azab, ada yang menolak, ragu-ragu, dan sebagian lagi ada yang percaya. Azab di dunia diturunkan Allah, untuk ujian, baik untuk orang yang beriman, atau untuk orang tidak beriman, dan yang ragu-ragu. Orang yang beriman menerimanya dengan penuh kesadaran, kesabaran, ujian ini datang dari Allah dengan tujuan untuk menguatkan keimanannya. Orang yang tidak beriman dan yang ragu-ragu mengadapi azab dengan hati yang penuh keluh-kesah, sumpah-serapah, menyalahkan, mencari-cari pihak-pihak yang bisa disalahkan. Padahal, diri merekalah yang menyebabkan turunnya azab itu. Di akhirat azab diturunkan hanya untuk orang-orang tidak beriman, dan yang ragu-ragu beriman sebagai balasan tingkah-lakunya yang mengakibatkan banyak kerusakan di bumi.

tsumma = kemudian; qĩla = dikatakan; lilladzĩna = kepada orang-orang yang …; zholamũ = (mereka) lalim; dzũqũ = rasakanlah olehmu; ‘adzãba = siksa; al khuldi = kekal; hal = tidaklah; tujzauna = kamu diberi balasan; illã = kecuali; bimã = dengan apa; kuntum = kamu adalah; taksibũn = kamu kerjakan.
tsumma qĩla lilladzĩna zholamũ dzũqũ ‘adzãbal khuldi, hal tujzauna illã bimã kuntum taksibũn.
52. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim: “Rasakanlah olehmu siksa yang kekal, tidaklah kamu diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pekerjaan orang kafir itu menyiapkan bahan bakar yang akan dinyalakannya untuk membakar dirinya sendiri selama-lamanya karena mereka tidak beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, para Malaikat-Nya.

wa yastambi-ũnaka = dan mereka menanyakan kepadamu; ahaqqu = apakah itu benar; huwa = ia (azab itu); qul = katakanlah; ĩ = ya; wa Robĩ = (benar) demi Robku; innahũ = sesungguhnya ia (azab itu); la haqqu = sungguh benar; wa mã = dan tidaklah; antum = kamu; bi mu’jizĩn = dengan orang-orang yang terlepas.
wa yastambi-ũnaka ahaqqu huwa, qul ĩwa Robĩ innahũ la haqqu, wa mã antum bi mu’jizĩn.
53. Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah azab itu?” Katakanlah: “Ya, benar demi Robku, sesungguhnya azab itu benar, dan kamu tidak dapat terlepas darinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Benar, azab itu dari Allah bagi orang-orang yang terbelenggu oleh kekafiran.
wa lau dan kalau; anna = bahwa; likulli = bagi tiap-tiap; nafsin = diri; zholamat = ia lalim; mã = apa; fil ardhi = di atas bumi; laftadat = tentu dia tebus; bihĩ = dengannya; wa asarru = dan mereka menyembunyikan; an nadãmata = penyesalan; lamma = tatkala (ketika); ro awu = mereka melihat; al ‘adzãb = azab (siksaan); wa qudiya = dan diberi keputusan; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = mereka tidak dianiaya.
wa lau anna likulli nafsin zholamat mã fil ardhi laftadat bihĩ, wa asarrun nadãmata lamma ro awul ‘adzãb, wa qudiya bainahum bil qisthi wa hum lã yuzhlamũn
54. Dan kalau setiap diri yang lalim itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia mau menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalan, tatkala melihat siksaan itu. Dan telah diberi keputusan secara adil di antara mereka, dan mereka tidak dianiaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siksaan itu tidak tertebus dengan kekayaan sejagat raya, tidak terbeli dengan penyesalan seberapa pun besarnya kalau sudah di akhirat. Penyesalan di dunia, masih mungkin menyelamatkan dari api neraka. Penyesalan itu harus dinyatakan dengan sungguh-sungguh dan tidak mancla-mencle. Jangan menjadi orang lalim, jangan kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad.

Alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; lillãhi = kepunyaan Allah; mã = apa; fis samãwãti = yang ada di langit; wal ardhi = dan bumi; alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; wa’dallãhi = janji Allah; haqqun = benar; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
alã inna lillãhi mã fis samãwãti wal ardhi, alã inna wa’dallãhi haqqun wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.
55. Ingatlah, sesungguhnya, kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya, janji Allah itu benar, tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini sering diungkapkan (lihat Q.s. Al Fatihah, 1 : 1; Al Baqarah, 2 : 33, 96, 107, 115, 116, 142, 156, 234, 235, 255; 270, 283, 284 kerajaan langit dan bumi itu milik Allah. Manusia diberi kekuasaan di muka bumi ini untuk memelihara, menjaga sebagian kecil milik Allah untuk kepentingan hidupnya; 2 : 115, 142 Milik Allahlah timur dan barat; Ali Imran, 3 : 6, 29, 109, 116,129; dan An Nisa, 4 : 131; 132; 170.; Janji Allah itu benar, tapi tetap masih saja banyak yang tidak mengimani, dan banyak yang tidak mau tahu.
huwa = Dia; yuhyĩ = Yang menghidupkan; wa yumĩtu = Yang mematikan; wa ilaihi = dan kepada-Nya; turja’ũn = kamu dikembalikan.
huwa yuhyĩ wa yumĩtu wa ilaihi turja’ũn.
56. Dialah Yang menghidupkan dan Yang mematikan, dan kepada-Nya kamu dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini juga sering dikemukakan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 28 (Allah Mahakuasa mematikan dan menghidupkan makhluk-Nya); 73 Allah berkuasa menghidupkan makhluk yang sudah mati; Al A’rãf, 7 : 158; Dia Yang menghidupkan, dan Yang mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya… At Taubah, 9 : 116; Dia menghdupkan dan mematikan… tidak ada pelindung dan penolong bagimu, selain Allah, dan lain-lain.
yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah datang kepadamu; mau’izhatum = pelajaran; mir Robikum = dari Rab kamu; wa syifã-un = dan penawar; limmã = bagi apa (penyakit); fish shudũri = dalam dada; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatun = dan rahmat; lil mu’minĩn = untuk orang-orang yang beriman.
yaa ayyuhan nãsu qod jã-atkum mau’izhatum mir Robikum wa syifã-ul
57. Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rab kamu, dan penawar bagi penyakit di dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan ini pun sudah sering diungkapkan, sebagai pelajaran, Q.s. Al Baqarah, 2 : 1 (catatannya); 4, 5, 7, 37, 50, 66, 87, 221, 269, 275; penawar Q.s. ..; petunjuk, Q.s. ….; rahmat, Q.s. Al Fatihah, 1 : 1, 2,
qul = katakanlah; bi fadhlillãhi = dengan karunia Allah; wa bi rohmatihĩ = dan dengan rahmat-Nya; fa bi dzãlika = maka dengan demikian; fal yafrohũ = hendaknya mereka bergembira; huwa = ia (karunia dan rahmat); khoirun = lebih baik; mimma = dari apa; yajma’ũn = mereka kumpulkan.
qul bi fadhlillãhi wa bi rohmatihĩ fa bi dzãlika fal yafrohũ, huwa khoirum mimma yajma’ũn.
58. Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan demikian, hendaknya mereka bergembira. Karunia dan rahmat itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karunia dan rahmat Allah itu sesungguhnya, berupa petunjuk Allah di dalam Alquran dengan Hadits dan Sunah yang disampaikan Nabi Muhammad saw..
qul = katakanlah; aro-aitum = bagaimana pendapatmu; mã = apa; anjalallãhu = Allah yang melimpahkan; lakum = kepadamu; mir rizqin = tentang rezeki; fa ja’altum = lalu kamu jadikan; min hu = darinya; harōman = haram; wa halãlan = dan halal; qul = katakanlah; allãhu = Allah; adzina = memberi izin; lakum = kepadamu; am = atau; ‘alallãhi = kepada Allah; taftarũn = kamu mengada-adakan.
qul aro-aitum mã anjalallãhu lakum mir rizqin fa ja’altum min hu harōman wa halãlan qul allãhu adzina lakum, am ‘alallãhi taftarũn.
59. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu tentang rezeki Allah yang dilimpahkan kepadamu, lalu kamu jadikan haram dan halal sebagian darinya. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberi izin kepadamu, atau kamu mengada-adakan saja tentang Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rezeki Allah yang dilimpahkan kepada makhluk-Nya itu semula semuanya halal. Allah kemudian menentukan rezeki ada yang haram. Yang menentukan rezeki itu halal atau haram itu hanya Allah. Allah memberi petunjuk untuk itu, bukan manusia yang menetapkan halal dan haram rezeki.

wa mã = dan apa; zhonnu = dugaan; l ladzĩna = orang-orang yang; yaftarũna = (mereka) mengada-adakan; ‘alallãhi = tentang Allah; al kadziba = dusta; yaumal qiyaamah = pada Hari Kiamat; innallãha = sesungguhnya Allah; ladzũ = benar-benar mempunyai; fadhlin = karunia; ‘alannãsi = kepada manusia; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; yasykurũn = tidak bersyukur.
wa mã zhonnul ladzĩna yaftarũna ‘alallãhil kadziba yaumal qiyaamah, innallãha ladzũ fadhlin ‘alannãsi wa lãkinna aktsarohum yasykurũn.
60. Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah pada Hari Kiamat? Sesungguhnya, Allah benar-benar mempunyai karunia yang dilimpahkan kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman percaya pada Hari Kiamat, Allah akan menghisab makhluknya dengan adil. Bagi orang-orang yang tidak beriman, mereka merasa tidak perlu mengingat Allah, mereka tidak percaya ada-Nya Allah, dan Hari Kiamat. Sesungguhnya, sebelum manusia diciptakan, Allah telah mempersiapkan terlebih dahulu tempat tinggalnya, kebutuhan hidupnya. Inilah limpahan karunia Allah yang tidak terhingga, selama hidupnya di dunia. Tapi kebanyakan manusia tidak mengingat asal-usul hidupnya.

wa mã = dan tidak; takũnu = kamu adalah; fĩ sya’nin = dalam suatu situasi; wa mã = dan tidak; tatlũ = kamu membaca; minhu = dari suatu ayat; min qur’anin = dari alquran; wa lã = dan tidak; ta’malũna = kamu mengerjakan; min ‘amalin = dari suatu perbuatan; illã = melainkan; kunnã = Aku adalah; ‘alaikum = atas kamu; syuhũdan = menjadi saksi; idz = ketika; tufĩdũna = kamu melakukan; fĩh = padanya; wa mã ya’zubu = dan ia tidak luput; ‘ar Robika = dari Rob kamu; mim mitsqōli = dari sebarat; dzarrotin = zarah; fĩl ardhĩ = di bumi; wa lã = dan tidak; fis samã-i = di langit; wa lã = dan tidak; ashghoro = lebih kecil; min dzãlika = dari itu; wa lã = dan tidak; akbaro = lebih besar; illã = melainkan; fĩ kitãbim mubĩn = dalam kitab yang nyata.
wa mã takũnu fĩ sya’nin wa mã tatlũ minhu min qur’anin wa lã ta’malũna min ‘amalin illã kunnã ‘alaikum syuhũdan idz tufĩdũna fĩh, wa mã ya’zubu ‘ar Robika mim mitsqōli dzarrotin fĩl ardhĩ wa lã fis samã-i wa lã ashghoro min dzãlika wa lã akbaro illã fĩ kitãbim mubĩn.
61. Dan kamu tidak berada dalam suatu situasi, dan kamu tidak membaca suatu ayat Alquran, dan kamu tidak mengerjakan suatu perbuatan, melainkan Aku menjadi saksi atas apa yang kamu lakukan. Dan tidak lepas dari pengetahuan Rob kamu, walau sebesar zarah di bumi atau pun di langit, dan tidak ada yang lebih kecil, dan tidak pula yang lebih besar dari itu, semua ada catatannya dalam kitab yang nyata (di Lauh Mahfudz )
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui setiap gerak-gerik makhluk-Nya sesedikit, sekecil, atau sehalus apa pun, dan sebasar apa pun semuanya tercatat di dalam kitab-Nya di Lauh Mahfudz .

alã = ingatlah; inna = sesungguhnya; auliyaa-allãhi = wali-wali Allah; lã khaufun = tidak khawatir; ‘alaihim = padanya; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = bersedih hati.
alã inna auliyaa-allãhi lã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.
62. Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran padanya, dan tidak pula bersedih hati.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, bahwa para Nabi, Wali Allah, karena sudah melaksanakan tugasnya memberi peringatan, menyampaikan berita dari Allah, maka hati mereka tidak merasa khawatir akan terkena azab Allah, dan tidak pula bersedih hati, walaupun orang-orang yang dihimbaunya tidak mau mengikuti nasihatnya. Mereka sudah terbebas dari tanggung jawab kerasulannya pada Hari Kiamat.
alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa kãnũ = dan mereka adalah; yattaqũn = mereka selalu bertakwa.
alladzĩna ãmanũ wa kaanũ yattaqũn.
63. (Yaitu) orang-orang yang beriman, dan mereka itu (selalu) bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman dan selalu takwa adalah orang-orang yang tidak merasa khawatir saat Hari Kiamat, dan tidak merasa sedih, walaupun penerangan, himbauannya ada yang tidak memperhatikan, ada yang tidak mau mendengar.

lahumu = bagi mereka; al busyrō = kabar gembira; fĩl hayaati = dalam kehidupan; ad dun-yaa = di dunia; wa fil ãkhiroh = dan di akhirat; lã tabdĩla = tidak ada perubahan; li kalimãti = pada kalimat-kalimat; allãh = Allah; dzãlika = demikian itu; huwa = ia; al fauzu = kemenangan; al ‘azhĩm = yang besar.
lahumul busyrō fĩl hayaatid dun-yaa wa fil ãkhiroh, lã tabdĩla li kalimãtil lãh, dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
64. Bagi mereka, berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat, tidak ada perubahan untuk kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu merupakan kemenangan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat-kalimat Allah itu tuntunan untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat yang membawa ke keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, kedamaian, kemuliaan abadi, tidak ada perubahan, tidak pernah berubah. Mereka yang mau membacanya, memahaminya, mempraktikkan segala petunjuk, arahan untuk dapat mencapai hidup sejahtera, tenteram, damai, sejahtera, sempurna.
wa lã = dan jangan; yahzunka = menyedihkan kamu; qouluhum = perkataan mereka; inna = sesungguhnya; al ‘izata = keemuliaan (kekuasaan); lillãhi = kepunyaan Allah; jamĩ’an = seluruhnya; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui;
wa lã yahzunka qouluhum, innal ‘izatalillãhi jamĩ’an, huwas samĩ’ul ‘alĩm.
65. Dan perkataan mereka, jangan membuat kamu sedih, sesungguhnya, seluruh kemuliaan itu kepunyaan Allah, Dia Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perkataan mereka: “perbuatan bodoh, mengolok-olok, menganggap bohong, menganggap penyihir, dongeng-dongeng kuno”, jang membuat sedih. Untuk mencapai kemuliaan, manusia harus berusaha dengan menggunakan jalan yang diarahkan Allah. Dunia ini tempat manusia mengalami kemuliaan dan kerendahan. Allah hanya memiliki Kemuliaan yang harus diraih makhluk-Nya, khususnya manusia.

alã = ingat; inna = sesungguhnya; lillãhi = kepunyaan Allah; man = apa-apa (orang); fĩs samãwãti = di langit; wa man = dan apa-apa (orang); fil ardhi = di bumi; wa mã yattabi’u = dan tidak mengikuti; al ladzĩna = orang-orang yang …; yad’ũna = (mereka) menyeru; min dũnil lãhi = dari selain Allah; syurokã-a = serikat-serikat (sekutu-sekutu); ina yattabi’ũna = mereka tidak mengikuti; illa = kecuali; azh zhonna = persangkaan; wa in hum = dan mereka tidak; illã = kecuali (hanyalah); yakhrushũn = mereka berdusta.
alã inna lillãhi man fĩs samãwãti wa man fil ardhi, wa mã yattabi’ul ladzĩna yad’ũna min dũnil lãhi syurokã-a, ina yattabi’ũna illazh zhonna wa in hum illã yakhrushũn.
66. Ingatlah, sesungguhnya, kepunyaan Allah apa-apa yang ada di langit dan di bumi, dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, mereka tidak mengikuti (suatu keyakinan), kecuali persangkaan belaka. Dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan makhluk-Nya tentang kekuasan-Nya. Jangan mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Mereka menjadi pendusta. “Menyeru” artinya memuliakan, memohon sesuatu, membesarkan namanya, menghormati, memuja-muja. Keyakinan kepada sesuatu selain Allah sesungguhnya, mereka membohongi dirinya sendiri (hati nuraninya).
huwa = Dialah; al ladzĩ = Yang; ja’ala = menjadikan; lakumu = bagi kamu; al laila = malam; li taskunũ = supaya kamu beristirahat; fĩhi = di saat itu; wan nahãra = dan siang; mubshiron = terang-benderang; inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = dari yang demikian; la-ayaatin = terdapat tanda-tanda; li qoumĩn = bagi kaum; yasma’ũn = mereka mendengar.
huwal ladzĩ ja’ala lakumul laila li taskunũ fĩhi wan nahãra mubshiron, inna fĩ dzãlika la-ayaatil li qoumĩn yasma’ũn.
67. Dialah Yang menjadikan malam bagimu, supaya kamu berisitirahat saat itu, dan (menjadikan) siang terang-benderang. Sesungguhnya, pada pembagian waktu itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mendengar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi dan membeda-bedakan waktu untuk menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Orang yang menghargai waktu, berarti membesarkan Allah. Allah yang memiliki dan menguasai waktu. Manusia yang dapat menggunakan waktu, memanfaatkan waktu untuk keperluan hidupnya, harus bersyukur kepada Yang memberi waktu yaitu Allah.
qōlu = mereka berkata; it takhadzallãhu = Allah mengambil (mempunyai); waladan = anak; subhanahũ = Mahasuci Dia; huwal ghoniyyu = Dia Yang Mahakaya; lahũ = kepunyaan-Nya; mã = apa-apa; fis samãwãti = yang di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; in ‘indakum = kamu tidak mempunyai; min sulthōnim = dari hujjah (keterangan); bi hãdzã = dengan ini; ataqũlũna = apakah kamu mengatakan; alallãhi = tentang Allah; mã lã ta’lamũn = apa yang tidak kamu ketahui.
qōlut takhadzallãhu waladan, subhanahũ, huwal ghoniyyu, lahũ mã fis samãwãti wa mã fil ardhi, in ‘indakum min sulthōnim bi hãdzã, ataqũlũna alallãhi mã lã ta’lamũn.

68. Mereka berkata: “Allah mempunyai anak.” Mahasuci Dia. Dia Mahakaya. Kepunyaan-Nya apa-apa yang di langit dan yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah (keterangan) untuk ini. Apakah kamu mengatakan apa yang tidak kamu ketahui tentang Allah?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar jangan mengikuti pernyataan yang salah “Allah mempunyai anak”, “Allah memungut anak”. “Allah beranak”. Ada Allah Bapa, ada Allah Anak, ada Allah Rohul Kudus. Allah tidak memberi keterangan tentang ungkapan seperti itu. Pertanyaan pada ayat 88 di atas, menegaskan larangan: “jangan menirukan ungkapan yang tidak berasal dari Allah, atau ungkapan tentang Allah yang bukan berasal dari Allah. Allah Mahasuci, Allah Mahakaya. Semua apa yang ada di langit dan di bumi itu milik Allah.
qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; yaftarũna = (mereka) mengada-adakan; ‘alallãhi = tentang Allah; al kadziba = orang dusta; lã yuflihũn = mereka tidak beruntung.
qul innal ladzĩna yaftarũna ‘alallãhil kadziba lã yuflihũn.
69. Katakanlah: “Sesungguhnya, orang-orang yang mengada-adakan dusta tentang Allah, mereka tidak beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Yunus, 10 :17, 39, 60, 66
matã’un = kesenangan; fid dun-yaa = di dunia; tsumma = kemudian; ilainã = kepada-Ku; marji’uhum = tempat kembali mereka; tsumma = kemudian; nudzĩquhumu = Aku merasakan kepada mereka; al ‘adzãba = azab; asy syadĩda = keras, berat, pedih; bimã = dengan apa (karena); kaanũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka kafir.
matã’un fid dun-yaa tsumma ilainã marji’uhum tsumma nudzĩquhumul ‘adzãbasy syadĩda bimã kaanũ yakfurũn.
70. (bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian kepada Aku lah tempat kembali mereka, kemudian Aku timpakan kepada mereka siksa yang berat, karena mereka kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga Q.s. Yunus, 10 : 7, 23. Hidup di dunia ini hanya sebentar, hanya sementara. Akhirnya harus kembali kepada Yang Menciptakan. Manusia harus mempertanggungjawabkan kekhalifahannya di dunia ini, kepada Penciptanya.
watlu = dan bacakan; ‘alaihim = untuk mereka; naba-a = berita; nũhin = Nuh; idz = ketika; qōla = berkata; li qoumihĩ = pada kaumnya; yaa qoumi = yaa kaumku; in kãna = jika ada; kaburo = terasa berat; ‘alaikum = untukmu; mãqōmĩ = kedudukanku; wa tadzkĩrĩ = dan peringatanku; bi-ãyaatillãhi = dengan ayat-ayat Allah; fa’alallãhi = maka kepada Allah; tawakkaltu = aku bertawakal; fa ajmi’ũ = maka kumpulkan; amrokum = keputusanmu; wa syurokã-Akum = dan sekutu-sekutumu; tsumma = kemudian; lã yakun = hendaknya jangan; amrukum = keputusanmu; ‘alaikum = bagimu; ghummatan = ragu-ragu (dirahasiakan); tsumma = kemudian; ukdhũ = lakukanlah; ilayya = kepadaku; wa lã tunzhirũn = dan jangan beri tangguh kepadaku.
watlu ‘alaihim naba-a nũhin idz qōla li qoumihĩ yaa qoumi in kaana kaburo ‘alaikum mãqōmĩ wa tadzkĩrĩ bi-ãyaatillãhi fa’alallãhi tawakkaltu fa ajmi’ũ amrokum wa syurokã-Akum tsumma lã yakun amrukum ‘alaikum ghummatan tsummakdhũ ilayya wa lã tunzhirũn.
71. Dan bacakanlah untuk mereka, berita tentang Nuh, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Jika terasa berat untukmu kedudukanku, dan peringatanku dengan ayat-ayat Allah, maka aku bertawakal hanya kepada Allah, karena itu, kumpulkanlah keputusanmu, dan sekutu-sekutumu (untuk membinasakan aku), kemudian janganlah keputusanmu itu menjadi ragu-ragu untukmu, lalu lakukanlah kepada diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh untukku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk membacakan berita tentang Nuh, maksud-Nya agar manusia mau bercermin pada kejadian masa itu. Orang-orang jaman Nabi Nuh banyak yang membangkang, berkebaratan, Nuh ditunjuk sebagai Nabi dan memberi peringatan dengan ayat-ayat Allah. Zaman Nabi Muhammad saw. juga demikian. Bacaan ini menjadi penghibur hati Nabi Muhammad saw.

fain = maka, jika; tawal laitum = kamu berpaling; fa mã = maka tidak; sa-altukum = Aku meminta kepadamu; min ajrin = upah dari; in ajriya = illã = ‘alãllãh = wa umirtu = an akũna = agar aku menjadi; minal muslimĩn = menjadi orang yang berserah diri.
fain tawal laitum fa mã sa-altukum min ajrin, in ajriya illã ‘alãllãh, wa umirtu an akũna minal muslimĩn
72. Maka, jika kamu berpaling, aku tidak meminta upah kepadamu. Upahku hanya dari Allah, dan aku diperintah agar aku menjadi orang yang berserah diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dari gambaran Nabi Nuh di atas, Nabi Muhammad saw. diberi contoh nyata, seandainya umat Muhammad saw. juga berpaling, maka beliau akan menirukan arahan dari Nabi Nuh itu. Pada Surat lain, ada smacam variasi dalam cara pengungkapannya.
fakadz dzabũhu = Maka, mereka mendustakan Nuh; fanajjainãhu = lalu Aku selamatkan dia; wa man = dan orang-orang; ma’ahũ = bersamanya; fil fulki = dalam bahtera; wa ja’alnãhum = dan Aku jadikan mereka; kholã-ifa = penguasa; wa aghroqnã = dan Aku tenggelamkan; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyaatinã = dengan ayat-ayat-Ku; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘ãqibatu = akibat (kesudahannya); al mundzarĩn = orang-orang yang diberi peringatan.
fakadz dzabũhu fanajjainãhu wa mam ma’ahũ fil fulki wa ja’alnãhum kholã-ifa wa aghroqnãl ladzĩna kadzdzabũ bi ãyaatinã, fanzhur kaifa kaana ‘ãqibatul mundzarĩn.
73. Maka, mereka mendustakan Nuh, lalu Aku selamatkan dia, dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Aku jadikan mereka penguasa, dan Aku tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku. Maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir dari orang-orang yang mendustakan Nabi Nuh, mereka dimusnahkan. Hal ini menjadi peringatan kepada umat Nabi Muhammad saw. .
tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mim ba’dihĩi = dari sesudah Nuh; rusulan = Rasul-rasul; ilã = kepada; qoumihim = kaum mereka; fa jã-ũhum = maka (Rasul-rasul) datang kepada mereka; bil bayyinãti = dengan (keterangan) yang nyata; fa mã kãnũ = maka tidak ada mereka; li yu’minũ = mereka hendak beriman; bi mã = karena; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bihĩ = kepadanya; min qoblu = dari dahulu; kadzãlika = demikianlah; nathba’u = Aku kunci mati; ‘alã qulũbi = pada hati; al mu’tadĩn = orang-orang yang melampaui batas.
tsumma ba’atsnã mim ba’dihĩi rusulan ilã qoumihim fa jã-ũhum bil bayyinãti fa mã kãnũ li yu’minũ bi mã kadzdzabũ bihĩ min qoblu, kadzãlika nathba’u ‘alã qulũbil mu’tadĩn.
74. Kemudian setelah Nuh, Aku utus beberapa Rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak mau beriman, karena mereka sejak dulu mendustakannya. Demikianlah Aku kunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang dari zaman dahulu banyak yang tidak mau beriman, mendustakan agama, sampai sekarang pun banyak yang demikian karena hati-hati mereka dikunci oleh Allah.

tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mim ba’dihim = sesudah mereka (Rasul-rasul); mũsã = Musa; wa hãrũna = dan Harun; ilã fir’auna = kepada Fir’aun; wa mala-ihĩ = dan pemuka-pemukanya; bi ãyaatinã = dengan ayat-ayat-Ku; fastakbarũ = maka mereka menyombongkan diri; wa kãnũ = dan mereka adalah; qauman = kaum; mujrimĩn = orang-orang yang yang berdosa.
tsumma ba’atsnã mim ba’dihim mũsã, wa hãrũna ilã fir’auna wa mala-ihĩ bi ãyaatinã fastakbarũ wa kãnũ qaumam mujrimĩn.
75. Kemudian, sesudah Rasul-rasul itu, Aku utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya dengan (membawa) ayat-ayat- Ku, maka mereka menyombongkan diri, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya melambangkan pemuka-pemuka zaman sekarang yang menyombongkan diri dengan undang-undang, peraturan-peraturan yang dibuatnya. Mereka berdosa, karena undang-undang, peraturan-peraturan yang dibuatnya tidak berdasarkan Alquran, sunah, dan haditsnya.

fa lammã = maka, ketika; jã-ahumu = datang kepada mereka; al haqqu = kebenaran; min ‘indinã = dari-Ku; qōlũ = mereka berkata; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; la sihrun = adalah sihir; mubĩn = yang nyata.
fa lammã jã-ahumul haqqu min ‘indinã qōlũ inna hãdzã la sihrum mubĩn.
76. Maka, ketika datang kepada mereka kebenaran dari-Ku, mereka berkata: “Sesungguhnya, ini adalah sihir yang nyata.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang perbuatan sihir (Q.s. Al Baqarah, 2 : 102. Segala perbuatan, tingkah laku harus bedasarkan ketentuan dari Allah. Jangan mengikuti ajaran manusia, betapa pun pandainya, seperti ajaran Harut dan Marut, zaman Nabi Sulaiman a.s.. Nabi Sulaiman a.s. sendiri melakukan segala sesuatu yang ajaib itu atas tuntunan Allah, atas izin Allah. Demikian juga kemampuan Nabi Isa a.s.. Orang-orang yang tidak beriman kepadanya menganggap perbuatan para Nabi itu sihir (Q.s. An Nisa’ 4 : 108; Al Maidah, 5 : 110). Padahal bukan sihir, karena ada tuntunan Allah, dan atas izin Allah. Undang-undang dan peraturan di dalam Alquran itu sesungguhnya dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat di mana pun, dan kapan pun. Maka tiap-tiap negara, tiap-tiap masyarakat di suatu daerah membuat undang-undang, dan peraturan yang selaras dengan apa yang ditetapkan di dalam Alquran. Setiap kegiatan, apakah itu perorangan, atau menyangkut kelompok, tentu ada aturannya yang menyangkut kepentingan pribadi, atau kepentingan hidup berkelompok. Semuanya menyangkut akhlak, individual, dan akhlak kelompok; kepentingan hidup pribadi, dan kepentingan hidup berkelompok. Semuanya menyangkut hajat hidup diri sendiri maupun menyangkut hajat hidup berkelompok. Semuanya, kalau didasarkan ketentuan Allah dan Rasul-Nya akan menciptakan akhlakul karimah. Ini merupakan tujuan utama umat beragama. Namun, kalau kegiatan itu tidak cocok dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, tidak membina akhlakul karimah, maka undang-undang dan peraturan itu harus ditolak. Tidak dapat menjadi pedoman hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

qōla mũsã = Musa berkata; ataqũlũna = apakah kamu mengatakan; lilhaqqi = terhadap kebenaran; lammã = ketika; jã-Akum = databg kepadamu; asihrun = sihirkah; hãdzã = ini; wa lã yuflihu = dan tidak beruntung; as sãhirũn = ahli-ahli sihir.
qōla mũsã ataqũlũna lilhaqqi lammã jã-Akum, asihrun hãdzã wa lã yuflihus sãhirũn.
77. Musa berkata: “Apakah kamu mengatakan sihir terhadap kebenaran yang datang kepadamu?, padahal ahli-ahli sihir itu tidak mendapat kemenangan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 102. Larangan ilmu sihir yang berasal dari Harut dan Marut, ahli sihir pada zaman Nabi Sulaiman; Al Baqarah, 2 : 103 Ilmu dari Allah yang dapat menghidupkan orang mati, bukan sihir. Ilmu penyembuhan karena buah takwa dan iman kepada Allah bukan sihir. Kemampuan mengobati, atas izin Allah dan untuk memaslahatan makhluk-Nya itu bukanlah sihir. Itu kebenaran yang datang dari Allah melalui Nabi, dan orang-orang yang dipercaya untuk itu.
qōlũ = mereka berkata; aji’tanã = apakah kamu datang kepada kami; li talfitanã = untuk memalingkan kami; ‘ammã = dari apa; wajadnã = Aku dapati; ‘alaihi = darinya; ãbã-anã = nenek-moyang kami; wa takũna = dan menjadikan; lakumã = bagi kamu berdua; al kibriyaa-u = pembesar (pengyasa); fil ardhi = di bumi; wa mã nahnu = dan Aku tidak; lakumã = kepada kamu berdua; bimu’minĩn = dengan mempercayai.
qōlũ aji’tanã li talfitanã ‘ammã wajadnã ‘alaihi ãbã-anã wa takũna lakumãl kibriyaa-u fil ardhi, wa mã nahnu lakumã bimu’minĩn
78. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati dari (pekerjaan) nenek-moyang kami, dan supaya kamu berdua menjadi penguasa di bumi? Dan kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alasan orang untuk tidak mempercayai para Rasul Allah.

wa qōla = dan berkata; fir’aunu = Fir’aun; i’tũnĩ = datangkanlah kepada-Ku; bi kulli = dengan tiap-tiap (semua); sãhirin = ahli-ahli sihir; ‘alĩm = yang berilmu.
wa qōla fir’aunu’tũnĩ bi kulli sãhirin ‘alĩm.
79. Dan Fir’aun berkata (kepada pemuka-pemuka kaumnya): “Datangkanlah kepadaku semua ahli sihir yang berilmu”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Fir’aun yang menyuruh para pembesarnya mendatangkan ahil-ahli sihir yang pandai. Ada peralihan tema?

fa lammã = maka setelah; jã-a = datang; as saharotu = ahli sihir; qōla = berkata; lahum = kepada mereka; mũsã = Musa; alqũ = lemparkan; mã antum = apa yang kamu; mulqũna = orang yang melemparkan.
fa lammã jã-as sahararotu qōla lahum mũsã alqũ mã antum mulqũna.
80. Maka, setelah ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka: “Lemparkanlah, apa yang akan kamu lemparkan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Musa dengan ahli-ahli sihir.

fa lammã = maka setelah; alqou = mereka melemparkan; qōla = berkata; mũsã = Musa; mã ji’tum = apa yang kamu datangkan; bihi = dengannya; as sihru = sihir; innallãha = sesungguhnya Allah; sayubthiluh = akan membatalkannya; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yushlihu = tidak membiarkan berhasil; ‘amala = pekerjaan; al mufsidĩn = orang-orang yangmembuat kerusakan.
fa lammã alqou qōla mũsã mã ji’tum bihis sihru, innallãha sayubthiluh, innallãha lã yushlihu ‘amalal mufsidĩn.
81. Maka setelah mereka melemparkan, Musa berkata: “Apakah yang kamu datangkan itu sihir? Sesungguhnya, Allah akan membatalkannya.” Sesungguhnya, Allah tidak akan membiarkan berhasil pekerjaan orang-orang yang membuat kerusakan”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih cerita Nabi Musa a.s. dengan ahli sihir. Allah tidak menghendaki keberhasilan orang-orang yang akan membuat kerusakan di bumi.

wa yuhiqqu = dan membenarkan; allãh = Allah; al haqqo = yang benar; bi kalimãtihĩ = dengan kalimat-Nya; walau = walalupun; kariha = tidak menyukai; al mujrimũn = orang-orang yang berbuat dosa.
wa yuhiqqullãhul haqqo bi kalimãtihĩ walau karihal mujrimũn.
82. Dan Allah membenarkan yang betul dengan kata-kata-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menghendaki yang benar-benar betul atau yang betul-betul benar. Allah itu benar ada-Nya. Para Nabi itu adanya benar. Para Malaikat itu benar adanya. Alquran itu benar dari Allah. Neraka dan surga itu benar adanya. Dan orang-orang yang suka berbuat dosa tidak menyukai hal yang demikian.

fa mã ãmana = maka, tidak ada yang beriman; li mũsã = kepada Musa; illã = kecuali; dzurriyyatun = anak cucu; min qoumihĩ = dari kaumnya; ‘alã = atas; khoufin = rasa takut; min fir’auna = dari Fir’aun; wa mala-ihim = dan penguasa-penguasa; an yaftinahum = akan memfinah (menyiksa) mereka; wa inna fir’auna = dan sesungguhnya, Fir’aun; la’alin = berbuat sewenang-wenang; fil ardhi = di bumi; wa innahũ = dan sesungguhnya dia; la mina = sungguh dari; al musrifĩn = orang-orang yang melampaui batas.
fa mã ãmana li mũsã illã dzurriyyatum min qoumihĩ ‘alã khoufim min fir’auna wa mala-ihim an yaftinahum, wa inna fir’auna la’alin fil ardhi wa innahũ la minal musrifĩn.
83. Maka, tidak ada yang beriman kepada Musa, kecuali anak-cucu dari kaumnya (Musa) dengan perasaan takut, bahwa Fir’aun dan pemuka-pemukanya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya, Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di bumi, dan sesungguhnya, dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Riwayat Nabi Musa dan anak-cucunya di bawah kekuasaan Fir’aun yang sewenang-wenang.

wa qōla = dan berkata; mũsã = Musa; yaa qoumi = wahai kaumku; in kuntum = jika kamu adalah; ãmantum = kamu beriman; billãhi = kepada Allah; fa ‘alaihi = maka kepada-Nya; tawakkalũ = bertawakallah; in kuntum = jika kamu adalah; muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.
wa qōla mũsã yaa qoumi in kuntum ãmantum billãhi fa ‘alaihi tawakkalũ in kuntum muslimĩn.
84. Dan Musa berkata: “Wahai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika kamu orang-orang yang berserah diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Musa a.s. memberi nasihat kepada kaumnya, agar selalu beriman kepada Allah, dan selalu bertawakal kepada-Nya.

fa qōlũ = maka mereka berkata; ‘alallãhi = kepada Allah; tawakkalnã = Aku bertawakal; Robanã = ya Rab kami; lã taj’alnã = janganlah Aku Engkau jadikan; fitnatan = fitnah; lil qoumi = bagi kaum; adh dhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
fa qōlũ ‘alallãhi tawakkalnã Robanã lã taj’alnã fitnatal lil qoumidh dhōlimĩn.
85. Maka mereka berkata: kepada Allah, “Kami bertawakal, yaa Rab kami, janganlah kami, Engkau jadikan fitnah bagi kaum yang lalim”.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beriman selalu berdoa membesarkan Nama Allah, dan agar dijauhkan dari fitnah oleh orang-orang yang lalim.
wa najjinã = dan selamatkanlah kami; bi rohmatika = dengan rahmat Engkau; mina = dari; al qoumi = kaum; al kãfirĩn = orang-orang yang kafir.
wa najjinã bi rohmatika minal qoumil kãfirĩn
86. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu-daya) orang-orang yang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa kaum Nabi Musa yang dilanjutkan oleh Umat Islam. Memang, orang-orang kafir itu selalu membuat tipu daya kepada orang-orang muslim karena kepentingan keyakinannya yang sebetulnya sudah menyimpang dari kepercayaan kepada Allah Yang Maha-esa. Mereka menjadi musyrikin.
wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã = kepada; mũsã = Musa; wa akhĩhi = dan saudaraanya; an tabawwa-ã = hendaknya kamu berdua membuat; li qoumikumã = bagi kaummu berdua; bi mishro = di Mesir; buyũtan = beberapa rumah; waj’alũ = dan jadikanlah; buyũtAkum = rumah-rumah kamu; qiblatan = kiblat; wa aqĩmũ = dan dirikan; ash sholãta = salat; wa basysyiri = dan gembirakanlah; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
wa auhainã ilã mũsã wa akhĩhi an tabawwa-ã li qoumikumã bi mishro buyũtan waj’alũ buyũtAkum qiblatan wa aqĩmũsh sholãta wa basysyiril mu’minĩn
87. Dan Aku wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Hendaknya kamu berdua membuat beberapa rumah di Mesir (di sebelah manaɁ) untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumah itu sebagai kiblat (tempat salat), dan dirikanlah salat, dan gembirakanlah orang-orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s. agar membuat beberapa rumah di Mesir ( untuk tempat salat, dan agar menggembirakan orang-orang yang beriman.

wa qōla mũsã = dan Musa berkata; Robanã = yaa Rōb kami; innaka = sesungguhnya Engkau; ãtaita = telah engkau datangkan (berikan); fir’auna = Fir’aun; wa malã-ahũ = dan pemuka-pemukanya; zĩnatan = perhiasan; wa amwãlan = dan harta kekayaan; fil hayaati = dalam kehidupan; ad dun-yaa = dunia; Robanã = yaa Rob kami; li yudhillu = untuk mereka menyesatkan; ‘an sabĩlika = dari jalan Engkau; Robana = yaa Rob kami; athmis = binasakanlah; ‘alã amwãlihim = atas harta kekayaan mereka; wasydud = dan keraskan (kunci mati); ‘alã qulũbihim = atas hati mereka; falã = maka tidak; yu’minũ = mereka beriman; hattã = sehingga; yarowu = mereka melihat; al ‘adzãba = azab (siksa); al alĩm = pedih.
wa qōla mũsã Robanã innaka ãtaita fir’auna wa malã-ahũ, zĩnatan wa amwãlan fil hayaatid dun-yaa Robanã li yudhillu ‘an sabĩlika, Robanathmis ‘alã amwãlihim wasydud ‘alã qulũbihim falã yu’minũ hattã yarowul ‘adzãbal alĩm.
88. Dan Musa berkata; “Yaa Rob kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka (kaum)-nya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, yaa Rob kami, (akibatnya) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau, yaa Rob kami, binasakanlah harta kekayaan mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman sampai mereka melihat siksaan yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelajaran dari ayat ini, perhiasan dan harta kekayaan dunia dapat menyesatkan pemiliknya dalam mengikuti jalan Allah. Harta kekayaan dunia menyebabkan hati pemiliknya terkunci untuk dapat beriman kepada Allah. Harta dunia sebaiknya, dan seharusnya dijadikan sarana berinfak, bersodakoh, untuk mendekatkan diri kepada Allah, berdakwah untuk membesarkan Allah.

Qōla = (Allah) bersabda; qod = sesungguhnya; ujĩbat = telah diperkenankan; da’watukumã = permohonanmu berdua; fastaqĩmã = maka tetaplah kamu berdua; wa lã tattabi’ãnni = dan janganlah kamu mengikuti; sabĩla = jalan; al ladzĩna = orang-orang yang …; la ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
qōla qod ujĩbat da’watukumã fastaqĩmã wa lã tattabi’ãnni sabĩlal ladzĩna la ya’lamũn.
89. Allah bersabda: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonanmu berdua, maka tetaplah kamu berdua (pada jalan yang lurus), dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memperkenankan doa yang baik-baik dari hambanya, dan meminta hamba-Nya selalu berjalan di jalan yang ditunjuki-Nya, bukan jalan dari orang-orang yang tidak berpengetahuan.
wa jãwaznã = dan Aku seberangkan; bi banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; al bahro = laut; fa atba’ahum = lalu mereka diikuti; fir’aunu = Fir’aun; wa junũduhũ = dan tentaranya; baghyan = menganiaya; wa ‘adwan = dan memusuhinya; hattã = sampai; idzã = ketika; adrokahu = dia (Fir’aun) telah hampir; al ghoroqu = tenggelam; qōla = dia berkata; ãmantu = saya percaya; annahũ = bahwa; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = selain; al ladzĩ = Dia Yang; ãmanat = dipercaya; bihĩ = dengan-Nya; banũ isrō-ĩla = Bani Israil; wa ana = dan saya; minal muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.
wa jãwaznã bi banĩ isrō-ĩlal bahro fa atba’ahum fir’aunu wa junũduhũ baghyan wa ‘adwan, hattã idzã adrokahul ghoroqu qōla ãmantu annahũ lã ilãha illãl ladzĩ ãmanat bihĩ banũ isrō-ĩla wa ana minal muslimĩn.
90. Dan Aku seberangkan Bani Israil melalui laut, lalu mereka diikuti Fir’aun dengan bala tentaranya akan menganiaya dan memusuhinya, sampai ketika Fir’aun hampir tenggelam, berkatalah dia. “Saya percaya, tidak ada ilah kecuali Dia Yang dipercaya oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa Bani Israil yang dikejar-kejar Fir’aun dengan tentaranya melintasi Laut Merah, dan pengakuan Fir’aun tentang ada-Nya Allah. Secara panjang-lebar diceriterakan dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 40 – 123

al ãna = apakah sekarang; wa qod = padahal sesungguhnya; ‘ashoita = kamu telah durhaka; qoblu = sejak dulu; wa kunta = dan kamu; minal mufsidĩn = termasuk orang-orang yang membuat kerusakan.
al ãna wa qod ‘ashoita qoblu wa kunta minal mufsidĩn
91. Mengapakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya, kamu telah durhaka sejak dulu, dan kamu termasuk orang-orang yang membuat kerusakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pengakuan Fir’aun dinilai Allah terlambat. Jadi, dia tetap dianggap sebagai orang-orang yang membuat kerusakan. Dosanya tidak diampuni.

fal yauma = maka pada hari ini, nunajjĩka = Aku selamatkan kamu; bi badanika = dengan badanmu; litakũna = supaya kamu menjadi; liman = bagi orang; kholfaka = di belakangmu; ãyaatan = ayat-ayat (pelajaran); wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan; minan nãsi = dari manusia; ‘an ãyaatinã = dari ayat-ayat Kami; la ghōfilũn = sungguh mereka lalai.
fal yauma nunajjĩka bi badanika litakũna liman kholfaka ãyaatan, wa inna katsĩrom minan nãsi ‘an ãyaatinã la ghōfilũn.
92. Maka, pada hari ini, Aku selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi orang-orang yang di belakangmu, dan sesungguhnya, kebanyakan manusia lalai dari ayat-ayat-Ku.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyelamatkan badan Fir’aun untuk menjadi ayat-ayat (pelajaran) yang tidak terlupakan oleh manusia. Namun, banyak juga yang melalaikan ayat-ayat Allah. Banyak yang hidupnya bermalas-malas saja. Tidak bergairah mencari ilmu yang disediakan Allah di alam semesta ini. Padahal ilmu itu akan meningkatkan taraf hidup orang yang memilikinya.

wa laqod = dan sesungguhnya; bawwa’nã = Aku tempatkan; banĩ isrō-ila = Bani Israil; mubawwa’a = di tempat; shidqin = yang baik; wa rozaknãhum = dan mereka Aku beri rezeki; minath thoyyibãti = dengan yang baik-baik; famakhtolafũ = maka mereka tidak berselisih; hattã = sampai; jã-a = datang; humu = kepada mereka; al ‘ilmu = ilmu; inna = sesungguhnya; Robbaka = Rob kamu; yaqdhĩ = Dia memutuskan; bainahum = di antara mereka; yauma = hari; al qiayaamati = kiamat; fĩmã = tentang apa; kãnũ = mereka adalah; fĩhi = di dalamnya; yakhtalifũn = mereka perselisihkan.
wa laqod bawwa’nã banĩ isrō-ila mubawwa’a shidqin wa rozaknãhum minath thoyyibãti famakhtolafũ hattã jã-a humul ‘ilmu, inna Robbaka yaqdhĩ bainahum yaumal qiayaamati fĩmã kãnũ fĩhi yakhtalifũn.
93. Dan sesungguhnya, Aku telah menempatkan Bani Israil di tempat yang baik, dan Aku beri mereka rezeki yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, sampai datang kepada mereka pengetahuan (yang ada di dalam Taurat). Sesungguhnya, Rob kamu akan memutuskan di antara mereka pada Hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kelebihan kepada Bani Israil. Ceriteranya secara panjang-lebar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 :40 – 123.

fa in = maka jika; kunta = kamu adalah; fĩ syãkkin = dalam keraguan; mimmã = dari apa yang; anzalnã = Aku turunkan; ilaika = kepadamu; fas-ali = maka tanyakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; yaqro-ũna = (mereka) membaca; al kitãba = Kitab; min qoblik = dari sebelum kamu; laqod = sesungguhnya; jã-aka = telah datang kepadamu; al haqqu = kebenaran; mir robbika = dari Rob kamu; fa lã takũnanna = maka kamu jangan sekali-kali; mina = dari (termasuk pada); al mumtarĩn = orang-orang yang ragu.
fa in kunta fĩ syaakkim mimmã anzalnã ilaika fas-alil ladzĩna yaqro-ũnal kitãba min qoblik, laqod jã-akal haqqu mir robbika fa lã takũnanna minal mumtarĩn.
94. Maka, jika kamu (Muhammad saw.) dalam keraguan tentang apa yang Aku turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab dari (zaman) sebelum kamu. Sesungguhnya, telah datang kepadamu kebenaran dari Rob kamu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. agar jangan menjadi orang yang ragu menerima kebenaran dari Allah. Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. menanyakan kepada ahli Kitab, agar memahami bahwa memang kebenaran itu datangnya dari Allah.
wa lã = dan jangan; takũnanna = sekali-kali kamu adalah; mina = dari (termasuk); al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyaatillãhi = dengan ayat-ayat Allah; fa takũna = maka kamu menjadi; mina = dari (termasuk); al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.
wa lã takũnanna minal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtillãhi fa takũna minal khōsirĩn.
95. Dan sekali-kali janganlah kamu termasuk orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. (Kalau demikian) kamu temasuk orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. agar jangan mendustakan ayat-ayat Allah, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi.
inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; haqqot = telah pasti; ‘alaihim = bagi mereka; kalimatu = kalimat (keputusan); robbika = Rob kamu; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
innal ladzĩna haqqot ‘alaihim kalimatu robbika lã yu’minũn
96. Sesungguhnya, orang-orang yang telah pasti bagi mereka, putusan Rob kamu, mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang-orang yang menetapkan dirinya menjadi orang yang tidak beriman. Allah memutuskan ketetapan-Nya berdasarkan ketetapan akal-pikiran orangnya.

wa lau = walau; jã-at hum = telah datang kepada mereka; kullu = tiap-tiap (segala); ãyatin = ayat (keterangan); hattã = sampai; yarowu = mereka melihat; al ‘adzãba = azab; al alĩma = yang pedih.
wa lau jã-at hum kullu ãyatin hattã yarowul ‘adzãbal alĩma.
97. Walau telah datang segala ayat keterangan kepada mereka, sampai mereka melihat siksaan yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hal yang aneh bagi manusia yang tidak mau beriman, walaupun sekian banyak keterangan ayat-ayat Allah diturunkan, tetap saja mereka tidak mau beriman kepada Allah dan para Nabi, sampai Hari Kiamat.

fa lau = maka kalau; lã = tidak; kãnat = adalah; qoryatun = suatu negeri; ãmanat = beriman; fanafa’ahã = maka (lalu) memberi manfaat kepadanya; imãnuhã = imannya; illã = melainkan; qouma = kaum; yũnusa = Yunus; lammã = ketika; ãmanũ = mereka beriman; kasyafnã = Aku angkat (hilangkan); ‘anhum = dari mereka; adzãba = azab (siksaan); al khizyĩ = yang menghinakan; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dun-ya = dunia; wa matta’nãhum = dan Aku beri kenikmatan (kesenangan) mereka; ilã = sampai; hĩn = waktu tertentu.
fa lau lã kãnat qoryatun ãmanat fanafa’ahã imãnuhã illã qouma yũnusa lammã ãmanũ kasyafnã ‘anhum adzãbal khizyĩ fil hayãtid dun-ya wa matta’nãhum ilã hĩn.
98. Maka, mengapa tidak ada (penduduk) suatu negeri yang beriman, lalu imannya memberi manfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka (kaum Yunus) beriman, Aku hilangkan dari mereka siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Aku beri kesenangan mereka sampai pada waktu yang tertentu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Suatu keanehan, mengapa hanya kaum Yunus saja yang mau beriman kepada Allah? Mereka (kaum Yunus) tidak mendapat siksaan dunia, dan diberi kesenangan (kenikmatan) sampai waktu tertentu.

wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; robbuka = Rob kamu; la-ãmana = tentulah beriman; man = orang; fil ãrdhĩ = di bumi; kulluhum = semua mereka; jamĩ’ãn = seluruhnya; afa anta = apakah kamu; tukrihun = benci (paksa); nãsa = manusia; hattã = sehingga; yakũnũ = mereka adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman;
wa lau syã-a robbuka la-ãmana man fil ãrdhĩ kulluhum jamĩ’ãn, afa anta tukrihun nãsa hattã yakũnũ mu’minĩn.
99. Dan kalau Rob kamu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi. Apakah kamu (hendak) memaksa manusia sehingga mereka beriman?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbedaan agama di dunia, ternyata kehendak Allah, tidak usah dirisaukan. Persoalan iman kepada Nabi Muhammad saw. tidak usah dipaksakan. Allah telah memberi akal dan pikiran kepada manusia untuk menentukan pilihannya, sesuai dengan petunjuk di dalam Alquran. Allah memberi kebebasan, mau atau tidak mau membacanya. Da’wah Islamiah harus digalakkan dengan cara yang baik, memberi contoh, santun, tidak memaksa, tebarkan buku-buku petunjuk. Insya Allah iman mereka akan tumbuh.
wa mã kãna = dan tidak ada; li nafsin = bagi seseorang; an tu’mina = untuk dia beriman; illã = kecuali; bi idznillãh = dengan izin Allah; wa yaj’alu = dan (Allah) menimpakan; ar rijsa = siksaan; ‘alãl ladzĩna = kepada orang-orang yang …; lã ya’qilũn = (mereka) tidak menggunakan akal.
wa mã kãna li nafsin an tu’mina illã bi idznillãh, wa yaj’alur rijsa ‘alãl ladzĩna lã ya’qilũn.
100. Dan tidak ada seorang pun akan beriman, kecuali atas izin Allah. Dan Allah akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Iman atau tidak beriman kepada Nabi Muhammad saw. itu juga atas izin Allah. Allah akan menimpakan siksaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.
quli = katakanlah; un zhurũ = perhatikanlah; mãdzã = apa yang ada; fis samãwãti = di langit; wal ardhi = dan di bumi; wa mã tughnĩ = dan tidak berguna; al ãyãtu = ayat-ayat (keterangan); wan nudzuru = dan ancaman; ‘an qoumin = kaum (golongan); al lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
qulin zhurũ mãdzã fis samãwãti wal ardhi, wa mã tughnĩl ãyãtu wan nudzuru ‘an qoumil lã yu’minũn
101. Katakanlah: “Perhatikan, apa yang ada di langit dan di bumi. Dan tidak berguna keterangan-keterangan dan ancaman bagi orang-orang yang tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan untuk memperhatikan segala apa (ilmu) yang ada di langit dan di bumi. Semua itu akan menentukan, apakah seseorang itu mau beriman atau tidak, selamat atau celaka. Pelajarilah sebanyak-banyaknya ilmu yang berserakan di langit dan bumi, termasuk yang ada di dalam dirinya sendiri, demi keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Bagi orang-orang yang tidak beriman tidak ada gunanya berbagai keterangan, dan ancaman.

fa hal = maka tidakkah; yantazhirũna = mereka menunggu-nunggu; illa = kecuali; misyla = misal, seperti; ayãmi = kejadian, hari-hari; al ladzĩna orang-orang yang …; kholau = (mereka) yang terdahulu; min = dari; qoblihim = sebelum mereka; qul = katakanlah; fantazhirũ = maka tunggulah; innĩ = sesungguhnya aku ; ma’akum = bersama kamu; mina = dari (termasuk); al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.
fa hal yantazhirũna illa misyla ayãmil ladzĩna kholau min qoblihim, qul fantazhirũ innĩ ma’akum minal muntazhirĩn.
102. Maka tidaklah mereka menunggu-nunggu, kecuali kejadian (yang menimpa) orang-orang terdahulu, dari masa sebelum mereka. Katakanlah, “Maka, tunggulah, sesungguhnya, aku beserta kamu, termasuk orang-orang yang menunggu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ungkapan ini sering dikemukakan (Q.s. Yunus, 10 : 20). Orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman, semua sedang menunggu janji dirinya, dan janji Allah.
tsumma = kemudian; nunajjĩ = Aku selamatkan; rusulanã = Rasul-rasul Kami; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; kadzãlika = seperti itu; haqqon = menjadi hak (kewajiban); ‘alainã = atas Kami; nunji = menyelamatkan; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
tsumma nunajjĩ rusulanã wal ladzĩna ãmanũ, kadzãlika haqqon ‘alainã nunjil mu’minĩn.
103. Kemudian, Aku selamatkan Rasul-rasul-Ku dan orang-orang yang beriman, seperti itu menjadi kewajiban-Ku, menyelamatkan orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian ini berulang-ulang terjadi di dunia ini. Allah selalu meneyelamatkan para Rasul dan orang-orang yang beriman
qul = katakanlah; yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; in kuntum = jika kamu adalah; fĩ syakkin = dalam keraguan; min dĩnĩ = dalam agamaku; fa lã ‘abudu = maka Aku tidak menyembah; al ladzĩna = orang-orang yang; ta’budũna = kamu menyembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; walãkin = tetapi; a’budũlãh = Aku menyembah Allah; al ladzĩ = yang; yatawaffãkum = Dia mewafatkan kamu; wa umirtu = dan Aku diperintahkan; an akũna = supaya Aku menjadi; minal mu’minĩn = dari orang-orang yang beriman.
qul yaa ayyuhan nãsu in kuntum fĩ syakkim min dĩnĩ fa lã ‘abudul ladzĩna ta’budũna min dũnillãhi walãkin a’budũlãhal ladzĩ yatawaffãkum, wa umirtu an akũna minal mu’minĩn.
104. Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu masih dalam keraguan tentang agamaku, maka aku tidak menyembah apa yang kamu sembah selain Allah, tetapi aku menyembah Allah yang akan mewafatkan kamu dan aku, diperintahkan supaya aku menjadi orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan, seperti yang tersebut di dalam ayat ini, untuk menguatkan pendirian agama manusia. Allah memerintah Nabi Muhammad saw. agar beriman kepada-Nya.
wa an aqim = dan hendaknya hadapkan; wajhaka = mukamu; lidz dzĩni = kepada agama; hanĩfan = dengan ikhlas; wa lã takũnanna = dan sekali-kali jangan kamu; minal musyrikĩn = dari orang-orang yang musyrik.
wa an aqim wajhaka lidz dzĩni hanĩfan wa lã takũnanna minal musyrikĩn
105. Dan (aku diperintah): “Hadapkanlah mukamu ke agama itu dengan ikhlas, dan jangan sekali-kali kamu menjadi orang-orang yang musyrik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diperintah untuk memelihara, menekuni, memperhatikan, menegakkan dengan ikhlas, agama yang dianut dan ditetapkan Allah, dan larangan, jangan menjadi musyrik. Peringatan bagi orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, dan murtad.
wa lã tad’u = dan kamu jangan menyembah; min dũnilãhi = pada selain Allah; mã lã = tidak dapat; yanfa’uka = memberi manfaat kepadamu; wa lã = dan tidak; yadhurruka = memberi mudarat kepadamu; fa in = maka jika; fa’alta = kamu berbuat; fa innaka = maka sesungguhnya kamu; idzan = maka jika; mina = dari (termasuk); zhōlimĩn = orang-orang lalim.
wa lã tad’u min dũnilãhi mã lã yanfa’uka wa lã yadhurruka, fa infa’alta fa innaka idzam minazh zhōlimĩn.
106. Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat, dan tidak pula memberi mudarat kepadamu. Maka jika kamu berbuat demikian, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang lalim
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan larangan menyembah sesuatu dalam arti mengabdikan diri kepada makhluk (benda, manusia, harta). Perbuatan mengabdi kepada selain Allah adalah perbuatan orang-orang lalim.

wa in = dan jika; yamsaskallãhu = Allah menimpakan kepadamu; bi dhurrin = dengan kemudaratan; fa lã = maka tidak; kãsyifa = mengangkat (menghilangkan); lahũ = baginya; illã = kecuali; huwa = Dia; wa in = dan jika; yuridka = Dia menghendaki kepadamu; bi khoirin = dengan kebaikan; fa lã = maka tidak ada; rōdda = menolak (menyangkal); li fadhlihĩ = bagi karunianya; yushĩbu = Dia berikan; bihĩ = dengannya; man = siapa; yasyaa’u = Dia kehendaki; min ‘ibãdihĩ = dari hamba-hamba-Nya; wa huwa = dan Dia; al ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa in yamsaskallãhu bi dhurrin fa lã kãsyifa lahũ illã huwa, wa in yuridka bi khoirin fa lã rōdda li fadhlihĩ, yushĩbu bihĩ man yasyaa’u min ‘ibãdihĩ, wa huwal ghofũrur rohĩm.
107. Dan jika Allah menimpakan kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia, dan jika Dia menghendaki kebaikan kamu, maka tidak ada yang dapat menahan karunia-Nya. Dia memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki bagi hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kekuasaan Allah atas makhluk mutlak. Makhluk-Nya harus menerima apa yang dikehendaki-Nya. Makhluk-Nya harus berserah diri pada apa yang ditetapkan Allah.
qul = katakanlah; yaa ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sesungguhnya; jã-akumu = telah datang kepadamu; al haqqu = kebenaran; mir Robikum = dari Rob kamu; fa mani = maka barang siapa; ihtadã = mendapat petunjuk; fa innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yahtadĩ = memberi petunjuk; li nafsihĩ = bagi dirinya sendiri; wa man = dan barang siapa; dholla = sesat; fa innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yadhillu = menyesatkan; ‘alaihã = atas dirinya sendiri; wa mã = dan tidak (bukan); ana = Aku ; ‘alaikum = atas dirimu; bi wakĩlin = penjaga.
qul yaa ayyuhan nãsu qod jã-akumul haqqu mir robikum, fa manihtadã fa innamã yahtadĩ li nafsihĩ, wa man dholla fa innamã yadhillu ‘alaihã, wa mã ana ‘alaikum bi wakĩlin
108. Katakanlah: “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Alquran) dari Rob kamu. Maka, barang siapa yang mendapat petunjuk, maka sesungguhnya hanyalah memberi petunjuk bagi dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat, maka sesungguhnya hanya menyesatkan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga bagi dirimu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar menegaskan kebenaran petunjuk-Nya. Mereka yang menerima, akan mendapat petunjuk bagi masing-masing. Mereka yang tidak mau menerima, hidup mereka akan sesat. Nabi tidak bertanggung jawab pada kesesatan manusia, karena Nabi telah melaksanakan tugasnya untuk mengingatkan, mengabarkan, memberi tahu.
wat tabi’ = dan ikutilah; mã yũhã ilaika = apa yang diwahyukan kepadamu; washbir = dan bersabarlah; hattã = sampai; yahkumallãhu = Allah memberi keputusan; wa huwa = dan Dia; khoirul hãkimĩn = Hakim Yang sebaik-baiknya.
wat tabi’ mã yũhã ilaika washbir hattã yahkumallãhu, wa huwa khoirul hãkimĩn
109. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah sampai Allah memberi keputusan, dan Dialah Hakim Yang sebaik-baiknya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir Surat ini, Allah memerintahkan untuk mengikuti dengan kesabaran wahyu yang diberikan-Nya. Segala persoalan, Allah yang memutuskan pemecahannya. Allah lah Hakim Yang terbaik.

009 At Taubah

Attaubah
Surat Pengampunan (Surat Kebebasan)
Surat ke-9, Madaniah, 129 ayat
Juz 10 beralih ke juz 11 pada ayat 94.
Catatan Awal
Istilah Attaubah ini sering diulang dalam surat ini. Nama lain surat ini Bara-ah artinya pemutusan hubungan damai dengan kaum musyrikin karena mereka tidak menepati perjanjian yang telah disepakati. Diterjemahkan Surat Kebebasan karena pada ayat 2 dinyatakan adanya kebebasan bergerak, berperilaku bagi semua orang dalam waktu empat bulan. Diterjemahkan juga Surat Pengampunan karena Allah memberi pengampunan kepada setiap orang menyadari kekeliruannya, melanggari perjanjian yang telah dibuatnya sendiri. Arti lain, “pernyataan perang total” dengan kaum musyrikin, maka surat ini, tidak dimulai dengan basmalah. Tidak menunjukkan sifat kasih-sayang Allah.
Surat ini turun, ketika Nabi Muhammad saw. baru pulang dari Perang Tabuk, pada tahun ke-9 Hijriah. Diumumkan oleh Sayidina Ali r.a.
Isi pokok lainnya adalah: Allah selalu menyertai, dan melindungi orang-orang yang beriman; sifat-sifat orang yang beriman, dan yang tidak beriman dengan tingkatan-tingkatannya; Allah membalasi setiap amal-perbuatan manusia; segala sesuatu terjadi, karena ada Hukumullah dan Sunatullah; Allah selalu melindungi orang-orang yang beriman; kedudukan Nabi Muhammad saw. di hadapan Allah.
Ada hukum tentang harta: kewajiban menafkahkan bermacam-macam harta; jizyah, hukum perjanjian dan perdamaian; kewajiban umat Islam kepada Nabi; cara berperang orang Islam; dasar berpolitik dan bernegara.
Ada kisah Nabi, ketika hijrah bersama Abu Bakar di Bukit Tur; kisah Perang Hunain atau Perang Authas atau Perang Hawazim; kisah Perang Tabuk.

Attaubah
Surat Pengampunan (Kebebasan)

Barō-atun = pemutusan perhubungan; minallãhi = dari Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; ila = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhad = mengadakan perjanjian; tum = kamu; min = dari (dengan); al musyrikĩn = orang-orang musyrikin.
Barō-atum minallãhi wa rosũlihĩ ilalladzĩna ‘ãhattum minal musyrikĩn
1. Pemutusan perhubungan janji dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian dengan kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah dan Rasul-Nya memutuskan hubungan janji dengan orang-orang musyrik itu, karena orang-orang musyrik, selalu melanggari isi perjanjian (ingkar). Keputusan ini dari Allah dan Rasul-Nya, dalam situasi dan kondisi yang menentukan masa depan Islam.

fã sĩhũ = maka berjalanlah (bebaslah) kamu; fil ardhi = di bumi; arba’ata = empat; asyhurin = bulan; wa’lamũ = dan ketahuilah; annakum = sesungguhnya kamu; ghoiru = tidak (bukan); mu’jizillãhi = melemahkan Allah; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; mukhzi = menghinakan; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
fã sĩhũ fil ardhi arba’ata asyhurin wa’lamũ annakum ghoiru mu’jizillãhi, wa annallãha mukhzil kãfirĩn.
2. Maka berjalanlah (bebaslah) kamu di muka bumi empat bulan, dan ketahuilah, kamu tidak dapat melemahkan Allah. Sesungguhnya, Allah menghinakan orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kesempatan selama empat bulan, apakah mau bertobat, atau tetap tidak mengakui ada-Nya Allah dan Nabi-Nya (tidak mau menepati perjanjian), sambil mengingatkan, Allah tidak dapat dilemahkan. Allah akan menghinakan orang kafir.
wa adzãnun = dan seruan; minallãhi = dari Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; ila = kepada; an nãsi = manusia; yauma = pada hari; al hajjil akbari = Haji Akbar; innallãha = sesungguhnya Allah; barĩ-un = berlepas diri; min = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik; wa rosũluhu = dan Rasul-Nya; fa in = maka jika; tubtum = kamu bertobat; fa huwa = maka itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu; wa in = dan jika; tawallaitum = kamu berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annakum = sesungguhnya kamu; ghoiru = tidak (bukan); mu’jizĩllãhi = melemahkan Allah; wa basysyiri = dan beritakanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; bi’adzãbin = dengan azab; alĩm = pedih.
wa adzãnum minallãhi wa rosũlihĩ ilan nãsi yaumal hajjil akbari innallãha barĩ-um minal musyrikĩn, wa rosũluhu, fa in tubtum fa huwa khoirul lakum, wa in tawallaitum fa’lamũ annakum ghoiru mu’jizĩllãhi, wa basysyiril ladzĩna kafarũ bi’adzãbin alĩm.
3. Dan seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada Hari Haji Akbar, sesungguhnya, Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Maka, jika kamu (orang-orang musyrik) bertobat, itu lebih baik bagimu, dan jika kamu berpaling, ketahuilah, sesungguhnya, kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir, (mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang musyrik diminta memilih: mau bertobat, dan mau menjalin kerjasama dengan Islam dalam ketenangan, ketertiban bernegara, dan berekonomi, atau mau terus memusuhi Islam, dan membuat kekacauan, kerusuhan di mana-mana. Secara berulang-ulang orang kafir diperingatkan, mereka akan mendapat siksa yang pedih (ayat 34, 39, 55, 101, 118, dan dalam banyak surat-surat yang lain).

illalladzĩna = kecuali orang-orang yang …; ‘ãhadtum = kamu telah mengadakan perjanjian; minal musyrikĩna = dari orang-orang musyrik; tsumma = kemudian; lam yanqushũkum = mereka tidak mengurangi kamu; syai-an = sedikit pun; wa lam yuzhãhirũ = dan mereka tidak membantu; ‘alaikum = kepadamu; ahadan = seseorang; fa atimmũ = maka penuhilah; ilaihim = terhadap mereka; ‘ahdahum = janji mereka; ilã = sampai; mudda tihim = batas waktu mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muttaqĩn = orang-orang yang bertakwa.
illalladzĩna ‘ãhadtum minal musyrikĩna tsumma lam yanqushũkum syai-an wa lam yuzhãhirũ ‘alaikum ahadan fa atimmũ ilaihim ‘ahdahum ilã mudda tihim, innallãha yuhibbul muttaqĩn.
4. Kecuali orang-orang musyrik yang telah mengadakan perjanjian antara kamu dan mereka, kemudian mereka tidak mengurangi satu pun dari isi perjanjianmu itu, dan mereka tidak membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka, penuhilah janjinya, sampai batas waktunya. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu cara menghadapi orang-orang musyrik.

fa idza = maka bila; in salakha = sudah habis; al asyhuru = bulan-bulan; al hurumu = Haram; faqtulũ = maka bunuhlah; al musyrikĩna = orang-orang musyrik; haitsu = di mana saja; wajadtumũhum = kamu temui mereka; wa khudzũhum = dan tangkaplah mereka; wahshurũhum = dan kepunglah mereka; waq’udũ = dan intai; lahum = bagi mereka; kulla = tiap-tiap; marshodin = tempat pengintaian; fa in = maka jika; tãbũ = mereka bertobat; wa aqōmũ = dan mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtawuzzakãta = dan menunaikan zakat; fa khollũ = maka berilah kebebasan; sabĩlilahum = jalan mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
fa idzan salakhal asyhurul hurumu faqtulul musyrikĩna haitsu wa jadtumũ hum wa khudzũ hum wahshurũ hum waq’udũ lahum kulla marshodin, fa in tãbũ wa aqōmũsh sholãta wa ãtawuzzakãta fa khollũ sabĩlilahum, innallãha ghofũrur rohĩm.
5. Maka bila telah habis bulan-bulan haram, bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah, kepunglah, dan intailah mereka di tiap-tiap tempat pengintaian. Jika mereka bertobat dan mendirikan salat, menunaikan zakat, maka berilah kebebasan perjalanan mereka. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, bagaiamana memperlakukan orang-orang musyrik yang tidak mau bekerjasama membina kehidupan berpemerintahan yang baik.

wa in = dan jika; ahadun = seseorang; min = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrikin; is tajãroka = minta perlindungan kamu; fa ajirhu = maka lindungliah dia; hattã = sehingga; yasma’a = dia mendengar; kalãmallãhi = kalam Allah; tsumma = kemudian; abligh-hu = antarkan dia; ma’manah = tempat yang aman baginya; dzãlika = demikian itu; bi an nahum = karena sesungguhnya mereka; qoumun = kaum; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.
wa in ahadum minal musyrikĩnas tajãroka fa ajirhu hattã yasma’a kalãmallãhi tsumma abligh-hu ma’manah, dzãlika bi an nahum qoumul lã ya’lamũn.
6. Dan jika seseorang di antara orang-orang musyrik meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia, hingga dia mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu, karena sesungguhnya, mereka kaum yang tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, bagaimana memperlakukan orang-orang yang meminta perlindungan. Segala sesuatunya masih perlu diawasi, sampai benar-benar aman untuk semua.

kaifa = bagaimana; yakũnu = ada (jadi); lilmusyrikĩna = bagi orang-orang musyrikin; ‘ahdun = perjanjian; ‘indallãhi = terhadap Allah; wa ‘inda rosũlihĩ = dan terhadap Rasul-Nya; illa = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhadtum = kamu telah mengadakan perjanjian; ‘inda = di dekat; al masjidil harōmi = Masjidil Haram; fa mastaqōmũ = maka selama mereka berlaku lurus; lakum = kepada kamu; fastaqĩmũ = maka berlaku luruslah kamu; lahum = terhadap mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.
kaifa yakũnu lilmusyrikĩna ‘ahdun ‘indallãhi wa ‘inda rosũlihĩ illal ladzĩna ‘ãhadtum ‘indal masjidil harōmi, fa mastaqōmũ lakum fastaqĩmũ lahum, innallãha yuhibbul muttaqĩn.
7. Bagaimana dapat ada perjanjian bagi orang-orang musyrik terhadap Allah dan Rasul-Nya, kecuali orang-orang yang telah membuat perjanjian antara kamu dan mereka di dekat Masjidil Haram? Selama mereka berlaku lurus kepadamu, maka berlaku luruslah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada persoalan orang-orang musyrikin yang tidak berlaku lurus (tidak menaati perjanjian). Allah memberi arahan, harus dibedakan dengan orang-orang musyrik yang berlaku lurus.
kaifa = bagaimana; wa in = dan jika (padahal); yadh-harũ = mereka mengalahkan; ‘alaikum = atas kamu; lã yarqubũ = mereka tidak memelihara; fĩ kum = terhadap kamu; illaan = persaudaraan; wa lã = dan tidak; dzimmata = perjanjian; yurdhũnakum = mereka menyenangkan kamu; bi afwãhihim = dengan mulut mereka; wa ta’bã = dan menolak (enggan); qulũbuhum = hati mereka; wa aktsaruhum = dan kebanyakan mereka; fãsikũn = orang-oran fasik.
kaifa wa in yadh-harũ ‘alaikum lã yarqubũ fĩ kum illaan wa lã dzimmata, yurdhũnakum bi afwãhihim wa ta’bã qulũbuhum wa aktsaruhum fãsikũn.
8. Bagaimana (ada perjanjian di hadapan Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrik), padahal jika mereka mengalahkan kamu, mereka tidak memelihara hubungan persaudaraan kepadamu, dan tidak (pula memelihara) perjanjian. Mereka menyenangkan kamu dengan mulut mereka, sedang hati mereka menolak. Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah tentang perilaku dan sikap orang-orang musyrik. Harus dihadapi dengan berhati-hati, dan bijaksana.
asytarau = mereka menukar; bi ãyãtillãhi = ayat-ayat Allah dengan; tsamanan = harga; qolĩlan = kecil (sedikit); fa shaddũ = lalu mereka menghalangi; ‘an sabĩlihĩ = di jalan Allah; innahum = sesungguhnya mereka; sã-a = amat buruk; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.
asytarau bi ãyãtillãhi tsamanan qolĩlan fa shaddũ ‘an sabĩlihĩ, innahum sã-a mã kãnũ ya’malũn.
9. Mereka menukar ayat-ayat Allah dengan harga yang kecil (sedikit), lalu mereka menghalangi (manusia) di jalan Allah. Sesungguhnya, sangat buruk, apa yang mereka kerjakan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah lagi soal perilaku dan sikap orang-orang musyrik.
lã = tidak; yarqubũna = mereka memelihara; fĩ mu’minin = kepada orang-orang mukmin; illan = kerabat; wa lã = dan tidak; dzimmah = perjanjian; wa ulã-ika = dan mereka itu; hum = mereka; al mu’tadũn = orang-orang yang melampaui batas.
lã yarqubũna fĩ mu’minin illan wa lã dzimmah, wa ulã-ika humul mu’tadũn.
10. Mereka tidak memelihara (hubungan) kekerabatan kepada orang-orang mukmin, dan tidak (memelihara) perjanjian, dan mereka itu, orang-orang yang melampaui batas.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah lagi soal perilaku dan sikap orang-orang musyrik.
fa-in = maka jika; tãbũ = mereka bertobat; wa aqōmũ = mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtawu = dan menunaikan; az zakãta = zakat; fa ikhwãnukum = maka saudara-saudara kamu; fĩd dĩni = dalam agama; wa nufash shilu = dan Kami jelaskan; al ãyãti = ayat ayat itu; li qoumin = kepada kaum; ya’lamũn = mereka mengetahui.
fa-in tãbũ wa aqōmũsh sholãta wa ãtawuz zakãta fa ikhwãnukum fid dĩni wa nufash shilul ãyãti li qoumin ya’lamũn.
11. Maka, jika mereka bertobat dan mendirikan salat, serta menunaikan zakat, maka (mereka) adalah saudara-saudara kamu dalam agama. Dan Aku jelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mau mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Arahan Allah dalam menghadapi orang-orang yang bertobat.

wa in = dan jika; nakutsũ = mereka merusak; aimãnahum = janji mereka; mim ba’di = dari sesudah; ‘ahdihim = janji mereka; wa tho’anũ = dan mereka mencela; fĩ = pada; dĩnikum = agamamu; fa qōtilũ = maka perangilah; aimmata = pemimpin-pemimpin; al kufri = orang-orang kafir; innahum = sesungguhnya mereka; lã aimãna = tidak ada janji; lahum = bagi mereka; la’alahum = supaya mereka; yantahũn = mereka berhenti.
wa in nakutsũ aimãnahum mim ba’di ‘ahdihim wa tho’anũ fĩ dĩnikum fa qōtilũ aimmatal kufri, innahum lã aimãna lahum la’alahum yantahũn.
12. Dan jika mereka merusak janjinya, sesudah mereka berjanji, dan mereka mencela agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, supaya mereka berhenti, karena sesungguhnya, mereka tidak ada janjinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah dalam menghadapi orang-orang kafir.
alã = mengapa tidak; tuqōtilũna = kamu memerangi; qouman = kaum; nakutsũ = mereka menodai; aimãnahum = janji mereka; wa hammũ = dan mereka ingin sekali; bi ikhrōji = dengan mengusir; ar rosũli = Rasul; wa hum = dan mereka; bada-ũkum = memulai (memerangi) kamu; awwala = pertama; marrotin = kali; atakhsyaunahum = apakah kamu takut kepada mereka; fallãhu = padahal Allah; ahaqqu = lebih berhak; an takhsyauhu = untuk kau takuti; in kuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
alã tuqōtilũna qouman nakutsũ aimãnahum wa hammũ bi ikhrōjir rosũli wa hum bada-ũkum awwala marrotin, atakhsyaunahum, fallãhu ahaqqu an takhsyauhu in kuntum mu’minĩn
13. Mengapa kamu tidak memerangi kaum yang menodai perjanjiannya, padahal, mereka ingin sekali mengusir Rasul, dan merekalah yang pertama kali memerangi kamu? Apakah kamu takut kepada mereka? Padahal, Allahlah lebih berhak kamu takuti, jika kamu orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan alasan memerangi orang-orang kafir.

qōtilũhum = perangilah mereka; yu’adzdzibhumullãhu = Allah akan mengazab mereka, bi aidĩkum = melalui tangan-tanganmu; wa yukhzihim = dan Dia akan menghinakan mereka; wa yashurkum = dan Dia akan menolong kamu; ‘alaihim = terhadap mereka; wa yasyfĩ = dan Dia akan mengobati (melegakan); shudũra = hati (dada); qoumin = kaum; mu’minĩn = orang-orang yang beriman
qōtilũhum yu’adzdzibhumullãhu bi aidĩkum wa yukhzihim wan yanshurkum ‘alaihim wa yasyfĩ shudũra qoumin mu’minĩn.
14. Perangilah mereka, Allah akan mengazab mereka, dengan perantaraan tangan-tanganmu, dan Dia akan menghinakan mereka dan menolong kamu menghadapi mereka, dan Dia melegakan hati orang-orang yang beriman
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah orang-orang beriman untuk memerangi orang kafir.

wa yudz-hib = dan Dia menghilangkan; ghoizhō = panas; qulũbihim = hati orang-orang beriman; wa yatũbullãhu = dan Allah menerima tobat; ‘alã man yasyã-u = dari orang-orang yang dikehendaki; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
wa yudz-hib ghoizhō qulũbihim, wa yatũbullãhu ‘alã man yasyã-u, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
15. Dan Dia menghilangkan panas hati orang-orang mukmin, dan Allah menerima tobat yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui Kebijakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan sifat-sifat-Nya.
am = apakah; hasibtum = kamu mengira; an tutrokũ = kamu akan dibiarkan; wa lammã = sedang belum; ya’lamillãhu = Allah mengetahui; al ladzĩna = orang-orang yang; jãhadũ = (mereka) berjihad; min kum = di antara kamu; wa lam = dan tidak; yattakhidzũ = (mereka) mengambil; min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lã = dan tidak; rosũlihĩ = Rasul-Nya; wa lal mu’minĩna = dan tidak orang-orang yang beriman; wa lĩjatan = teman setia; wallãhu = dan Allah; khobirun = Maha Mengetahui; bi mã = dengan apa; ta’malũn = kamu kerjakan.
am hasibtum an tutrokũ wa lammã ya’lamillãhul ladzĩna jãhadũ min kum wa lam yattakhidzũ min dũnillãhi wa lã rosũlihĩ wa lal mu’minĩna wa lĩjatan, wallãhu khobirum bi mã ta’malũn.
16. Apakah kamu mengira akan dibiarkan, sedang Allah belum membuktikan orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan mereka tidak mengambil teman yang setia, selain Allah dan Rasul-Nya, beserta orang-orang yang beriman. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak akan membiarkan begitu saja, orang-orang yang berniat jihad di jalan Allah, dan tidak akan menolong orang yang pergi berperang, tapi dengan niat yang lain.
mã kãna = tidak pantas; lil musyrikĩna = bagi orang-orang musyrik; an ya’murũ = jika mereka memakmurkan; masãjidallãhi = masjid-masjid Allah; syãhidĩna = mereka mengakui; ‘alã anfusihim = atas diri mereka sendiri; bilkufri = dengan kafir; ulã-ika = mereka itu; habithot = sia-sia; a’mãluhum = amal mereka; wa fin nãri = dan di dalam api neraka; hum khōlidũn = mereka kekal.
mã kãna lil musyrikĩna an ya’murũ masãjidallãhi syãhidĩna ‘alã anfusihim bilkufri, ulã-ika habithot a’mãluhum wa fin nãri hum khōlidũn.
17. Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui dirinya kafir. Sia-sialah amal baik mereka. Mereka kekal di dalam neraka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah tentang orang-orang yang pantas, dan yang tidak pantas memakmurkan masjid.

innamã = sesungguhnya; ya’muru = yang memakmurkan; masajĩdallãhi = masjid Allah; man = orang; ãmana = beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan Hari Akhirat; wa akōma = dan mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtaz zakãta = dan menunaikan zakat; wa lam yakhsya = dan tidak takut; illãllãh = kecuali kepada Alãh; fa ‘asã = maka mudah-mudahan; ulãika = mereka itu; an yakũnũ = mereka menjadi; min = dari; al muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.
innamã ya’muru masajĩdallãhi man ãmana billãhi wal yaumil ãkhiri wa akōmash sholãta wa ãtaz zakãta wa lam yakhsya illãllãh, fa ‘asã ulãika an yakũnũ minal muhtadĩn.
18. Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah itu, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan tetap mendirikan salat, tetap menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi arahan orang-orang yang seharusnya memakmurkan masjid. Allah dengan santun-Nya mengharapkan, orang-orang yang memakmurkan masjid Allah itu mendapat petunjuk-Nya.

aja’altum = apakah kamu menganggap; siqōyata = pemberi minum; al hãjji = orang-orang yang mengerjakan ibadah haji; wa ‘imãrota = dan pemakmur (pengurus); al masjidil harōmi = Masjidil Haram; kaman = seperti orang; ãmanna = beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil akhiri = dan Hari Akhirat; wa jãhada = dan berjihad; fĩ sabĩlillãh = di jalan Allah; lã yastawũna = mereka tidaklah sama; indallãh = di hadapan Allah; wallãhu = dan Allah; lã yahdi = tidak memberi petunjuk; al qoumazhzhōlimĩn = kaum yang lalim.
aja’altum siqōyatal hãjji wa ‘imãrotal masjidil harōmi kaman ãmanna billãhi wal yaumil akhiri wa jãhada fĩ sabĩlillãh, lã yastawũna indallãh, wallãhu lã yahdil qoumazhzhōlimĩn.
19. Apakah kamu menganggap sama, orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji, dan mengurus Masjidil Haram sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di hadapan Allah, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan, orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji, dan orang-orang yang mengurus Masjidil Haram itu, belum tentu orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Mereka hanya mengharapkan perlindungan, dan ingin mendapatkan imbalan dari pekerjaannya.

al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa hãjarũ = dan mereka berhijrah; wajãhadũ = dan berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; bi amwãlihim = dengan hartanya; wa anfusihim = dan jiwa mereka; a’zhomu = lebih mulia (tinggi); darojatan = derajat; ‘indallãh = di hadapan Allah; wa ulã-ika = dan mereka itu; hum = mereka; ul fãizũn = orang-orang yang beruntung.
al ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wajãhadũ fĩ sabĩlillãhi bi amwãlihim wa anfusihim a’zhomu darojatan ‘indallãh, wa ulã-ika humul fãizũn.
20. Orang-orang yang beriman dan berhijrah, serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan jiwa mereka, itu lebih tinggi derajatnya di hadapan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan ciri-ciri orang-orang yang beriman.
yubasy syiru hum = menggembirakan mereka; Robbuhum = Rab mereka; bi rohmatim = dengan rahmat; min hu = dari-Nya; wa ridhwãnin = dan kerelaan; wa jannãtin = dan surga; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; na’ĩmun = kesenangan; muqĩmun = yang kekal.
yubasy syiru hum Rabuhum bi rohmatim min hu wa ridhwãnin wa jannaatil lahum fĩhã na’ĩmum muqĩmun.
21. Rab mereka menggembirakannya dengan rahmat dari-Nya, keridoan dan surga. Bagi mereka kesenangan yang kekal di dalamnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggembirakan orang-orang yang beriman dengan rahmat, artinya berkah, karunia, dan belas-kasih Allah.

Khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadan = selama-lamanya; innallãha = sesungguhnya Allah; indahũ = dari haribãn-Nya; ajrun = pahala; azhĩm = yang mulia
khōlidĩna fĩhã abadan, innallãha indahũ ajrun azhĩm.
22. Mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya. Sesungguhnya, dari Allah lah balasan yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan membalas keimanan seseorang dengan berbagai berkah, karunia, dan belas kasih-Nya yang banyak dan mulia.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; lã tattakhidzũ = jangan kamu jadikan; ãbã-akum = bapak-bapak kamu; wa ikhwãnakum = dan saudara-saudara kamu; auliyã-a = pemimpin; ini = jika; istahabbũ = menginginkan; al kufro = kekafiran; ‘ala = di atas; al ĩmãni = keimanan; wa man = dan siapa; yatawallahum = menjadikan mereka pemimpin; min kum = di antara kamu; fa ũlãika = maka mereka itu; hum = mereka; uzh zhōlimũn = lalim.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã tattakhidzũ ãbã-akum wa ikhwãnakum, auliyã-a inistahabbũl kufro ‘alal ĩmãni, wa man yatawallahum min kum fa ũlãika humuzh zhōlimũn.
23. Wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu (menjadi) pemimpin, jika menginginkan kekafiran atas keimananmu, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itu orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah, jangan mengambil pemimpin, jika mereka menginginkan kamu menjadi kafir. Pemimpin yang demikian itu lalim.

qul = katakanlah; in kãna = jika ada; ãbã-ukum = bapak-bapakmu; wa abnã-ukum = dan anak-anakmu; wa ikhwãnukum = dan saudara-saudaramu; wa azwãjukum = dan istri-istrimu; wa ‘’asyĩrotukum = dan keluargamu; wa amwãlun = dan harta-bendamu; iqtaroftumũhã = kamu usahakan; wa tijãrotun = dan perniagãn; takhsyauna = kamu khawatir; kasãdahã = kerugiannya; wa masãkinu = dan rumah-rumah tempat tinggal; turdhounahã = kamu senangi; ahabba = lebih mencintai; ilaikum = kepadamu; minallãhi = daripada kepada Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; wa jihãdin = dan berjihad; fĩ sabĩlilihĩ = di jalan-Nya; fa tarobashũ = maka tunggulah; hattã = sampai; ya’tiyallãhu = Allah mendatangkan; bi amrih = dengan keputusan-Nya; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi; al qouma = kaum; al fãsiqĩn = orang-orang yang fasik.
qul in kãna ãbã-ukum wa abnã-ukum, wa ikhwãnukum wa azwãjukum wa ‘’asyĩrotukum wa amwãlu niqtaroftumũhã wa tijãrotun takhsyauna kasãdahã wa masãkinu turdhounahã ahabba ilaikum minallãhi wa rosũlihĩ wa jihãdin fĩ sabĩlilihĩ fa tarobashũ, hattã ya’tiyallãhu bi amrih, wallãhu lã yahdĩl qoumal fãsiqĩn.
24. Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta bendamu yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang lebih kamu cintai daripada kepada Allah dan Rasul-Nya, dan daripada berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan, bahwa mencintai Allah dan Rasul-Nya itu harus melebihi segala apa yang ada di dunia ini.
laqod = sesungguhnya; nashorokumullãhu = Allah telah banyak menolong kamu di medan perang yang banyak; fĩ mawãthina = di medan peperangan; katsĩrotin = yang banyak; wa yauma = dan pada hari; hunaini = Perang Humaini; idz = ketika; a’jabatkum = menakjubkan kamu; katsrotukum = banyaknya kamu; fa lam = maka tidak; tughni = mencukupi (tidak memberi manfãt; ‘ankum = kepadamu; syai-an = sedikit pun; wa dhōqot = dan terasa sempit; ‘alaikum = kepadamu; al ardhu = bumi; bimã = dengan apa; rohubat = yang luas; tsumma = kemudian; wallaitum = kamu berpaling; mudbirĩn = orang-orang yang lari ke belakang.
laqod nashorokumullãhu fĩ mawãthina katsĩrotin wa yauma hunaini, idz a’jabatkum katsrotukum fa lam tughni ‘ankum syai-an wa dhōqot ‘alaikumul ardhu bimã rohubat tsumma wallaitum mudbirĩn.
25. Sesungguhnya, Allah telah menolong kamu (para Mukmin) di medan perang yang banyak. Dan pada hari Perang Hunain yang menakjubkanmu karena jumlah bala tentaramu banyak (dan kamu menjadi congkak), maka (jumlah bala tentara yang banyak itu) tidak memberi manfãt sedikit pun kepadamu, dan bumi yang luas ini (terasa) sempit bagimu, kemudian kamu berpaling lari ke belakang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pertolongan, peringatan, ujian. Perhatikanlah. Pelajari, resapi.
tsumma = kemudian; anzalallãhu = Allah menurunkan; sakĩnatahũ = ketenangan-Nya; ‘alã = kepada; rosũlihĩ = Rasul-Nya; wa ‘alã = dan kepada; al mu’minĩna = orang-orang beriman; wa anzala = dan Dia menurunkan; junũdan bala tentara; lam tarauhã = yang tidak kamu lihat; wa ‘adzdzaba = dan Dia mengazab; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; wa dzãlika = dan demikian itu; jazã-u = pembalasan; al kãfirĩn = orang-orang kafir
tsumma anzalallãhu sakĩnatahũ ‘alã rosũlihĩ wa ‘alãl mu’minĩna wa anzala junũdal lam tarauhã wa ‘adzdzabal ladzĩna kafarũ, wa dzãlika jazã-ul kãfirĩn.
26. Kemudian, Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan atas orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala-tentara yang tidak terlihat oleh kamu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Demikian itulah balasan bagi orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam keadaan genting, Allah memberikan pertolongan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman berupa bantuan yang tidak terlihat, dan menimpakan azab kepada orang-orang kafir.
tsumma = kemudian; yatũbullãhu = Allah menerima tobat; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = demikian itu; ‘alã = dari; ma = orang-orang; yasyã-u = Yang Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengmpun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
tsumma yatũbullãhu mim ba’di dzãlika ‘alã ma yasyã-u, wallãhu ghofũrur rohĩm.
Kemudian sesudah itu, Allah menerima tobat dari orang-orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menerima tobat dari orang-orang yang Dia kehendaki. Yang tidak Dia kehendaki adalah orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; innama = sesungguhnya hanyalah; al musyrikũna = orang-orang musyrik; najasun = najis; fa lã = maka jangan; yaqrobu = mereka mendekati; al masjidal harōma = Masjidil Haram; ba’da = sesudah; ‘ãmihim = tahun mereka; hãdzã = ini; wa in = dan jika; khiftum = kamu khawatir; ‘ailatan = menjadi miskin; fa saufa = maka nanti; yughnĩkumullãhu = Allah memberi kekayaan kepadamu; minfadhlihĩ = dari karunia-Nya; in syã-a = jika Dia mengendaki; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = kebijakan.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ innamãl musyrikũna najasun fa lã yaqrobul masjidal harōma ba’da ‘ãmihim hãdzã, wa in khiftum ‘ailatan fa saufa yughnĩkumullãhu minfadhlihĩ in syã-a, innallãha ‘alĩmun hakĩm.
28. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun mereka ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka nanti Allah akan memberi kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui kebajikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu tentang orang-orang musyrik dan tentang karunia-Nya yang akan diberikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh beriman. “sesudah tahun mereka ini” maksudnya sesudah tahun ke-9 Hijrah. Orang-orang musyrik itu dianggap najis, kotor karena mereka mempersekutukan Allah. Karena itu, mereka dilarang mendekati Masjidil Haram.
qōtilũ = perangilah; al ladzĩna = orang-orang yang…; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa lã bil yaumil ãkhiri = dan tidak kepada Hari Akhirat; wa lã yuharrimũna = dan mereka tidak mengharamkan; mã harromallãhu = apa yang diharamkan Allah; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; wa lã yadĩnũna = dan mereka tidak beragama; dĩnal haqi = agama yang benar; minal ladzĩna = dari orang-orang yang …; ũtũl kitãba = (mereka) diberi Alkitab; hattã = sehingga; yu’thũ = mereka membayar; al jizyata = upeti; ‘an yadin = dengan patuh; wa hum = dan mereka; shōghirũn = orang-orang yang kecil (tunduk, patuh).
qōtilũl ladzĩna lã yu’minũna billãhi wa lã bil yaumil ãkhiri wa lã yuharrimũna mã harromallãhu wa rosũluhũ, wa lã yadĩnũna dĩnal haqi minal ladzĩna ũtũl kitãba hattã yu’thũl jizyata ‘an yadin wa hum shōghirũn.
29. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan kepada Hari Akhirat, dan mereka tidak mengharamkan, apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberi Alkitab (Zen Avesta, Yahudi, Nasrani, Tao, Hindu, Budha), sehingga mereka membayar upeti dengan patuh, dan mereka itu, orang-orang yang tunduk.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah memerangi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang tidak beragama dengan benar, kecuali mereka membayar jizyah dengan patuh.
wa qōlati = dan berkata; al yahũdu ‘uzairun abnallãhi wa qōlatin nashōrol masĩhu abnullãhi, dzãlika qouluhum bi afwãhihim yudhōhi-ũna qoulal ladzĩna kafarũ min qoblu, qōtalahumullãh, annã yu’fakũn.
wa qōlatil yahũdu ‘uzairun abnallãhi wa qōlatin nashōrol masĩhu abnullãhi, dzãlika qouluhum bi afwãhihim yudhōhi-ũna qoulal ladzĩna kafarũ min qoblu, qōtalahumullãh, annã yu’fakũn.
30. Dan berkata orang-orang Yahudi: “Uzair itu putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah.” Demikian itu ucapan mereka dengan mulutnya. Mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah telah membinasakan mereka. Bagaimana mereka sampai berpaling?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan dan pertanyaan yang harus disimak dan dipikirkan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Koreksi atas perilaku beragama mereka. Maukah mereka mengubahnya? Hanya Allah yang akan memberikan hikmah kepada orang-orang yang terpilih.

attakhadzũ = mereka menjadikan; ahbãrohum = ulama-ulama mereka; wa ruhbãnahum = dan rahib-rahib mereka; arbãban = sebagai tuhan; min = dari; dũni = selain; allãhi = Allah; wal masĩh = dan Almasih; abna = putra; maryama = Maryam; wa mã = dan tidak; umirũ = diperintah; illã = kecuali; liya’budũ = untuk mereka menyembah; ilãhan = Ilah; wãhidan = Yang Satu; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = selain; huwa = Dia; Subhãnahũ = Mahasuci Dia; ‘ammã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka sekutukan.
attakhadzũ ahbãrohum wa ruhbãnahum arbãbam min dũnillãhi wal masĩhabna maryama wa mã umirũ illã liya’budũ ilãhan wãhidan, lã ilãha illã huwa, Subhãnahũ ‘ammã yusyrikũn.
31. Mereka menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan, selain Allah, dan (mereka mempersekutukan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka tidak diperintah, kecuali hanya untuk menyembah Allah Yang Maha-esa. Tidak ada ilah lain, selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penyimpangan beragama karena adanya informasi yang salah dari para pemuka agama, meyebabkan adanya persepsi yang salah tentang Allah. Berhati-hatilah, jangan sampai ada yang salah menyampaikan informasi.
yurĩdũna = mereka berkehendak; an yuthfi-ũ = untuk memadamkan; nũrollãhi = cahaya Allah; bi afwãhihim = dengan mulut mereka; wa ya’ba = dan segan (tidak menghendaki); allãhu = Allah; illã = kecuali; an yutimma = akan menyempurnakan; nũrohũ = cahaya-Nya; wa lau = walaupun; kariha = tidak menyukai; al kãfirũn = orang-orang kafir.
yurĩdũna an yuthfi-ũ nũrollãhi bi afwãhihim wa ya’ballãhu illã an yutimma nũrohũ wa lau karihal kãfirũn
32. Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, sedang Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada orang-orang yang berkehendak negatif dalam beragama. Harus diwaspadai. Allah juga berkehendak selalu menyempurnakan cahaya-Nya. Pasti Allah yang menang.
huwa = Dia; al ladzĩ = Yang; arsala = mengutus; rosũlahũ = Rasul-Nya; bil hudã = dengan petunjuk; wa dĩni = dan agama; al haqqi = yang benar; liyuzh-hirohũ = untuk memenangkannya; ‘alã = pada; addĩni = agama; kullih = seluruhnya; wa lau karihal musyrikũn.
huwal ladzĩ arsala rosũlahũ bil hudã wa dĩnil haqqi liyuzh-hirohũ ‘alãddĩnikullih, wa lau karihal musyrikũn.
33. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk memenangkannya pada satu agama yang menyeluruh, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa Dialah yang mengutus Rasul-Nya untuk menyatukan umat manusia seluruhnya dalam satu agama yang paling benar.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; inna = sesungguhnya; katsĩron = sebagian besar; mina = dari; al ahbãri = ulama-ulama Yahudi; war ruhbãni = dan rahib-rahib; laya’kulũna = sungguh mereka memakan; amwãlan = harta; nãsi = manusia; bil bãthili = dengan cara batil; wa yashuddũna = mereka menghalang-halangi; ‘an = dari; sabĩlillãh = jalan Allah; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yaknizũna = mereka menyembunyikan; adz dzahaba = emas; wal fidh dhota = dan perak; wa lã = dan tidak; yunfiqũnahã = mereka menafkahkannya; fi sabĩlillãhi = pada jalan Allah; fa basysyir = maka beritakan; hum = kepada mereka; bi’adzãbin = dengan siksaan; alĩm = yang pedih.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ inna katsĩrom minal ahbãri war ruhbãni laya’kulũna amwãlan nãsi bil bãthili wa yashuddũna ‘an sabĩlillãh, wal ladzĩna yaknizũnadz dzahaba wal fidh dhota wa lã yunfiqũnahã fi sabĩlillãhi fa basysyir hum bi’adzãbin alĩm.
34. Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya, sebagian besar dari ulama-ulama (Yahudi), dan rahib-rahib (Nasrani) memakan harta manusia dengan cara yang batil, dan mereka menghalang-halangi (manusia) di jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan mereka tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka dengan siksa yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar tidak meniru perbuatan batil ulama-ulama Yahudi dan rahib-rahib Nasrani, seperti yang dijelaskan dalam ayat ini.

yauma = pada hari; yuhmã = dipanaskan; ‘alaihã = atasnya; fĩ = dalam; nãri = api (neraka); jahannama = jahanam; fa tukwã = maka (lalu) dibakarlah; bi hã = dengannya; jibãhuhum = dahi mereka; wa junũbuhum = dan lambung mereka; wa zhuhũruhum = dan punggung mereka; hãdzã = inilah; mã = apa (harta); kanaz tum = kamu simpan; li anfusikum = untuk dirimu; fa dzũqũ = maka rasakanlah; mã =apa; kuntum = yang kamu; taknizũn = kamu simpan.
yauma yuhmã ‘alaihã fĩ nãri jahannama fa tukwã bi hã jibãhuhum wa junũbuhum wa zhuhũruhum, hãdzã mã kanaz tum li anfusikum fa dzũqũ mã kuntum taknizũn
35. Pada hari dipanaskan (emas dan perak) di neraka Jahanam, lalu dibakarlah dahi mereka, lambung dan punggung mereka (sambil dikatakan kepada mereka): “Inilah harta yang kamu simpan (dahulu), hanya untuk dirimu, maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Harta kekayaan berupa emas dan perak yang tidak dizakati, dan hanya disimpan-simpan untuk dirinya saja, pada Hari Akhirat menjadi bahan bakar pada dahi, lambung, dan punggung mereka. Mereka yang memilikinya dengan cara yang batil.

Inna = sesungguhnya; ‘iddata = bilangan; asy syuhũri = bulan; ‘indallãh = pada Allah; itsnã ‘asyaro = dua belas; syahron = bulan; fĩ kitãbi = dalam ketetapan; allãhi = Allah; yauma = pada hari; kholaqo = Dia nebciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; min hã = di antaranya; arba’atun = empat; hurumum = yang dihormati; dzãlika = demikian itu; ad dĩnu = agama; al qoyyim = yang lurus; fa lã = maka jangan; tadhlimũ = kamu menganiaya; fĩhinna = di dalamnya (bulan-bulan); anfusakum = dirimu; waqōtilũ = dan perangilah; al musyrikĩna = orang-orang musyrik; kãffatan = semuanya; kamã = sebagãimana; yuqōtilũnakum = mereka memerangi kamu; kãffatan = semuanya; wa’lamũ = dan ketahui lah; annallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.
inna ‘iddatasy syuhũri ‘indallãhitsnã ‘asyaro syahron fĩ kitãbillãhi yauma kholaqos samãwãti wal ardho min hã arba’atun hurumu, dzãlikad dĩnul qoyyim, fa lã tadhlimũ fĩhinna anfusakum, waqōtilũl musyrikĩna kãffatan kamã yuqōtilũnakum kãffatan, wa’lamũ annallãha ma’al muttxaqĩn.
36. Sesungguhnya bilangan bulan bagi Allah itu ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang disucikan. Demikian itulah ketetapan agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan itu, dan perangilah orang-orang musyrik semuanya, sebagaimana mereka memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang takwa
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi dengan ketetapan waktunya 12 bulan dalam setahun. Bulan yang disucikan adalah: Bulan Zulkaidah, Zul hijjah, Muharram, dan Rajab. Dalam empat bulan yang disucikan itu, khususnya Umat Islam, tidak diperkenankan melakukan perang. Namun kalau diperangi oleh orang musyrik, Allah memerintahkan membalas serangan itu. Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; Al A’rãf, 7: 54; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
innama = sungguh hanyalah; an nasĩ-u = mengundurkan; ziyãdatun = menambah; fil kufri = dalam kekafiran; yudhollu = disesatkan; bihi = dengannya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = mereka kafir; yuhillũ nahũ = mereka menghalalkannya; ‘ãman = suatu tahun; wa yuharrimũnahũ = dan mereka mengharamkannya; ‘ãman = tahun yang lain; liyuwathi-ũ = agar mereka menyesuaikan; ‘iddata = bilangan; mã = apa yang; harromallãhu = Allah mengharamkan; fa yuhillũ = maka mereka menghalalkan; mã harromallãh = apa yang Allah mengharamkan; zuyyina = dihiasi; lahum = bagi mereka; sũ-u = yang buruk; a’mãlihim = perbuatan mereka; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qoumal kãfirĩn = kaum orang-orang kafir.
innaman nasĩ-u ziyãdatum fil kufri, yudhollu bihil ladzĩna kafarũ yuhillũ nahũ ‘ãman wa yuharrimũnahũ ‘ãmal liyuwathi-ũ ‘iddata mã harromallãhu fa yuhillũ mã harromallãh, zuyyina lahum sũ-u a’mãlihim, wallãhu lã yahdĩl qoumal kãfirĩn.
37. Sesungguhnya, mengundur-undurkan (bulan haram) itu menambah kekafiran, orang-orang kafir disesatkan dengannya. Mereka menghalalkannya pada suatu tahun, dan mengharamkan pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah. Mereka memandang baik atas perbuatan mereka yang jelek. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan Allah tentang bulan-bulan haram itu tetap, tidak berubah. Ketentuan Allah itu untuk kebaikan makhluk-Nya. Allah selalu memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman, dan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; mã la kum = mengapa kamu; idzã = jika; qĩla = dikatakan; lakum = kepadamu; infirũ = berangkatlah; fĩ sabĩli = di jalan; allãh = Allah; its tsãqultum = mengapa kamu merasa berat; ilãl ardhĩ = di dunia; arodhĩtum = apakah kamu telah puas; bil hayãti = dengan kehidupan; ad dun-yã = dunia; minal akhiroh = dalam kehidupan akhirat; fa mã = maka tidaklah; matã’u = kenikmatan (kesenangan); al hayãti; kehidupan; ad dun-yã = dunia; fil akhiroti = dalam kehidupan akhirat; illã = hanya; qolĩl = sedikit (kecil).
Yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ mã lakum idzã qĩla lakumunfirũ fĩ sabĩlillãhits tsãqultum ilãl ardhĩ, arodhĩtum bil hayãtid dun-yã minal akhiroh, fa mã matã’ul hayãtid dun-yã fil akhiroti illã qolĩl.
38. Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu: “Berangkatlah kamu (untuk berperang) di jalan Allah.” Kamu merasa berat (dan ingin tinggal) di tempatmu? Apakah kamu telah merasa puas dengan kehidupan dunia yang sedikit (dibanding) dengan kehidupan di akhirat?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang perintah untuk berjihad di jalan Allah hendaknya, harus disambut dengan bersemangat, karena kehidupan di akhirat itu jauh lebih lama dibandingkan dengan kehidupan di dunia yang hanya sebentar.
Illã = jika tidak; tanfirũ = kamu berangkat; yu’adzdzibkum = Dia mengazab kamu; ‘adzãban = azab; ãlĩman = yang pedih; wa yastabdil = dan Dia menggantikan; qouman = kaum; ghoiro kum = selain kamu; wa lã = dan tidak; tadhurrũhu = kamu memudaratkan-Nya; syai-an = sesuatu apa; wallãhu = dan Allah; ‘alã = di atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Maha Kauasa
illã tanfirũ yu’adzdzibkum ‘adzãban ãlĩman wa yastabdil qouman ghoiro kum wa lã tadhurrũhu syai-an, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.
39. Jika kamu tidak berangkat (berperang), tentu Dia mengazab kamu dengan siksaan yang pedih, dan Dia akan menggantikan kamu dengan kaum selain kaummu, dan kamu tidak dapat memudaratkan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang musyrik dan orang-orang yang beriman yang tidak mau pergi berperang di jalan Allah.

illã = jika tidak; tanshurũhu = kamu menolongnya; fa qod = maka sesungguhnya; nashorohullãhu = Allah telah menolongnya; idz = ketika; akhrojahu = mengusirnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; tsaania = orang kedua; itsnaini = dua orang; idz = ketika; humã = keduanya; fil ghōri = di dalam gua; idz = ketika; yaqũlu = dia berkata; li shōhibihĩ = kepada sahabatnya; lã tahzan = jangan kamu sedih; innallãha = sesungguhnya Allah; ma’anã = beserta kita; fa = maka; anjalallãhu = Allah menurunkan; sakĩnatahu = ketenangan-Nya; ‘alaihi = kepadanya; wa ayyadahũ = dan Dia membantunya; bi junũdin = dengan bala tentara; lam tarauhã = kamu tidak melihatnya; wa ja’ala = dan Dia menjadikan; kalimata = seruan; al ladzĩna = orang-orang yang; kafaru = kafir; as suflã = rendah (tidak terdengar); wa kalimatullãhi = seruan Allah; hiya = itulah; al ‘ulyã = tinggi (didengar); wallãhu = dan Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
illã tanshurũhu fa qod nashorohullãhu idz akhrojahul ladzĩna kafarũ tsaaniatsnaini idz humã fil ghōri idz yaqũlu li shōhibihĩ lã tahzan innallãha ma’anã, fa anjalallãhu sakĩnatahu ‘alaihi wa ayyadahũ bi junũdin lam tarauhã wa ja’ala kalimatal ladzĩna kafarus suflã, wa kalimatullãhi hiyal ‘ulyã, wallãhu ‘azĩzun hakĩm.
40. Jika kamu tidak menolong Muhammad saw., maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, ketika orang-orang kafir mengusir bersama orang keduanya (Abu Bakar). Ketika keduanya di dalam gua, dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya, Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Muhammad saw., dan membantunya dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu tidak didengar (rendah), dan kalimat Allah didengar (tinggi = menang). Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang beriman, jika mereka tidak menolong Nabi Muhammad saw., Allah lah yang menolongnya.

anfirũ = berangkatlah kamu; khifãfan = dalam keadaan ringan; wa tsiqōlan = dan dalam keadaan berat; wa jãhidũ = dan berjihadlah; bi amwãlikum = dengan hartamu; wa anfusikum = dan dengan jiwamu; fi sabĩlillãh = di jalan Allah; dzãlikum = demikian itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu; inkuntum = jika kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.
anfirũ khifãfan wa tsiqōlan wa jãhidũ bi amwãlikum wa anfusikum fi sabĩlillãh, dzãlikum khoirul lakum inkuntum ta’lamũn.
41. Berangkatlah kamu (berperang) dalam keadaan ringan dan berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada perbedaan ucapan anfirũ dengan infirũ. Adakah perbedaan maknanya? Allah memerintah berjihad di jalan Allah dalam keadaan suka atau tidak suka dengan harta dan jiwa. Orang yang melakukannya, dinilai lebih baik daripada yang tidak mengikuti perintah-Nya.

lau kãna = kalau ada; ‘arodhon = keuntungan; qorĩban = dekat, mudah; wa safaron = dan perjalanan; qōshidan = dekat, sedang; lãttaba’ũka = tentu mereka mengikutimu; wa lãkin = tetapi; ba’udat = jauh; ‘alaihimu = bagi mereka; asy syuqqoh = jarak perjalanan yang dituju; wa sayahlifũna = dan mereka akan bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; lawis tatho’nã = kalau kami sanggup; la khorojnã = tentu kami berangkat; ma’akum = bersamamu; yuhlikũna = mereka membinasakan; anfusahum = diri mereka sendiri; wallãhu = dan Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; innahum = sesungguhnya mereka; la kãdzibũn = sungguh orang yang berdusta.
lau kãna ‘arodhon qorĩban wa safaron qōshidal lãttaba’ũka wa lãkim ba’udat ‘alaihimusy syuqqoh, wa sayahlifũna billãhi lawis tatho’nã la khorojnã ma’akum yuhlikũna anfusahum, wallãhu ya’lamu innahum la kãdzibũn.
42. Kalau ada keuntungan yang mudah dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, tentu mereka mengikutimu, tapi jarak perjalanan yang dituju itu amat jauh bagi mereka. Dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah: “Kalau kami sanggup, tentulah kami berangkat bersama kamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri, dan Allah mengetahui, mereka itu, sungguh orang-orang pendusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang berbasa-basi dengan sumpah atas nama Allah yang menyatakan ketidaksanggupan mereka pergi berperang di jalan Allah berarti mereka membinasakan diri mereka sendiri.
‘afallãhu = Allah memaafkan; ‘anka = kepada kamu; li ma = mengapa; adzinta = kamu memberi izin; lahum = kepada mereka; hattã = sehingga; yatabayyana = menjadi jelas; laka = bagi kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; shodaqũ = (mereka) benar; wa ta’lama = dan kamu mengetahui; al kãdzibĩn = orang-orang yang berdusta.
‘afallãhu ‘anka li ma adzinta lahum hattã yatabayyana lakal ladzĩna shodaqũ wa ta’lamal kãdzibĩn.
43. Allah memaafkan kamu, mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sehingga jelas bagimu orang-orang yang benar (berhalangan), dan (sebelum) kamu ketahui orang-orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memaafkan Nabi Muhammad saw. yang telah memberi izin untuk tidak pergi berperang dengan berbagai alasan. Alasan itu mungkin benar, mungkin juga dusta. Mereka yang beralasan benar, maupun yang dusta, menurut ayat 42 di atas, mereka itu berarti membinasakan diri mereka sendiri.

lã = tidak; yasta’dzinuka = akan minta izin kepada kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yu’minũna = (mereka) beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan Hari Akhirat; an yujãhidũ = untuk mereka berjihad; bi amwãlihim = dengan hartanya; wa anfusihim = dan jiwanya; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bil muttaqĩn = kepada orang-orang yang takwa.
lã yasta’dzinukal ladzĩna yu’minũna billãhi wal yaumil ãkhiri an yujãhidũ bi amwãlihim wa anfusihim, wallãhu ‘alĩmum bil muttaqĩn.
44. Tidak akan meminta izin kepadamu, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan Allah Maha Mengetahui kepada orang-orang yang takwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memastikan orang-orang yang beriman kepada-Nya dan pada Hari Akhirat tidak mungkin meminta keringanan untuk tidak berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Orang-orang yang beriman dengan senang hati berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
,
innamã = sesungguhnya orang; yasta’dzinuka = yang akan meminta izin kepadamu; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yu’minũna = tidak beriman; billãhi = kepada Allah; wa yaumil ãkhiri = dan Hari Akhirat; wartãbat = dan ragu-ragu; qulũbuhum = di hati mereka; fahum = maka mereka; fĩ roibihim = di dalam keragu-raguan mereka; yataroddadũn = mereka bimbang.
innamã yasta’dzinukal ladzĩna lã yu’minũna billãhi wa yaumil ãkhiri wartãbat qulũbuhum fahum fĩ roibihim yataroddadũn.
45. Sesungguhnya, orang yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan Hari Akhirat, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw. bahwa yang akan meminta izin untuk tidak pergi berperang hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, mereka yang masih ragu-ragu. Orang-orang yang beriman akan menyambut dengan penuh gairah melaksanakan perang jihad di jalan Allah.
walau = dan kalau; arōdu = mereka hendak; al khurũja = berangkat; la-a’addũ = tentu mereka menyiapkan; lahũ = untuk itu; uddatan = persiapan; wa lãkin = akan tetapi; karihallãhu = Allah tidak menyukai; in bi’atsahum = keberangkatan mereka; fatsabbathahum = maka Dia menahan mereka; wa qĩla = dan dikatakan; uq‘udũ = tinggallah kamu; ma’a = bersama-sama; al qō’idĩn = orang-orang yang tinggal.
walau arōdul khurũja la-a’addũ lahũ uddatan wa lãkin karihallãhun bi’atsahum fatsabbathahum wa qĩlaq ‘udũ ma’al qō’idĩn.
46. Dan kalau mereka hendak berangkat, untuk itu tentulah mereka menyiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya. Akan tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, sebab itu Dia menahan mereka, dan dikatakan (kepada mereka): “Tinggallah kamu bersama-sama orang-orang yang tinggal.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang perilaku orang-orang kafir.

lau = kalau; kharojũ = mereka berangkat; fĩkum = bersama kamu; mãzãdũkum = tidaklah menambah kamu; illã = selain; khobãlan = kerusakan; wa la-audho’ũ = dan tentu mereka bergegas maju; khilãlakum = di sela-sela (barisan)-mu; yabghũnakumu = mereka menghendaki kamu; ul fitnatah = kekacauan; wa fĩkum = dan bersama kamu; sammã’ũnna = orang-orang yang suka mendengarkan; lahum = pada mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmum = Maha Mengatahui; bidhdhōlimĩn = pada orang-orang yang lalim.
lau kharojũ fĩkum mã zãdũkum illã khobãlan wa la-audho’ũ khilãlakum yabghũnakumul fitnatah, wa fĩkum sammã’ũnna lahum, wallãhu ‘alĩmum bidhdhōlimĩn.
47. Kalau mereka berangkat bersama kamu, tidaklah mereka menambah kamu, selain kerusakan, dan pasti mereka bergegas maju di sela-sela (barisan)-mu membuat kekacauan, sedang di antara kamu ada orang-orang yang suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah Maha Mengetahui pada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang perilaku orang-orang kafir yang berangkat berperang.

laqodibtaghawul fitnata min qoblu wa qolabũlakal umũro hattã jã-al haqqu wa zhoharo amrullōhi wa hum kãrihũn
48. Sesungguhnya dari dahulu, mereka selalu mencari-cari kekacauan, dan memutar-balikkan segala urusan (menipu), untuk (merusak)-mu, sampai datang kebenaran (pertolongan Allah), dan menanglah Agama Allah, (padahal) mereka tidak menyukai.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang perilaku orang-orang kafir sebelum terjadi perang.
wa minhum = dan di antara mereka; man = orang; yaqũlu = ia berkata; i’dzan lĩ = izinkanlah saya; wa lã = dan jangan; taftinnĩ = kamu membuat fitnah kepadaku; alã = ketahuilah; fil fitnati = dalam fitnah; saqothũ = mereka terjerumus; wa inna = dan sesungguhnya; jahannama = neraka jahanam; lamuhĩthotum = penuh berisi; bil kãfirĩn = dengan orang-orang kafir.
wa minhum man yaqũlu’dzal lĩ wa lã taftinnĩ, alã fil fitnati saqothũ, wa inna jahannama lamuhĩthotum bil kãfirĩn.
49. Dan di antara mereka, ada yang berkata: “Izinkalah saya (tidak pergi berperang), dan janganlah kamu membuat fitnah kepadaku.” Ketahuilah, mereka telah terjerumus ke dalam fitnah, dan sesungguhnya, neraka jahanam penuh berisi orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fitnah itu dibuat oleh orang yang tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Berbohong itu, akibat jeleknya mengena kepada diri sendiri
in tushibka = jika kamu mendapatkan; hasanatun = kebaikan; tasu’hum = menjadikan mereka tak senang; wa in tushibka = dan jika kamu mendapat; mushĩbatun = bencana; yaqũlũ = mereka berkata; qod = sesungguhnya; akhodznã = kami telah mengambil; amronã = keputusan kami; min qoblu = dari dahulu; wa yatawallau = dan mereka berpaling; wa hum = dan mereka; farihũn = orang-orang yang bergembira.
In tushibka hasanatun tasu’hum, wa in tushibka mushĩbatun yaqũlũ qod akhodznã amronã min qoblu wa yatawallau wa hum farihũn.
50. Jika kamu mendapat suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang, dan jika bencana menimpamu, berkatalah mereka: “Sesungguhnya, sebelumnya kami telah mengambil keputusan kami (tidak mau berperang),” dan mereka berpaling dengan rasa gembira.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan sifat-sifat orang kafir.

qul = katakanlah; lan = tidak akan; yushĩbanã = menimpa kami; illã = melainkan; mã = apa yang; katabãllōhu = Allah telah menetapkan; lanã = bagi kami; huwa = Dia; maulaanã = pelindung kami; wa ‘alãlōhi = dan kepada Allah; fal yatawakkal = hendaknya bertawakal; al mu’minũn = orang-orang yang beriman.

qul lan yushĩbanã illã mã katabãllōhu lanã huwa maulaanã, wa ‘alãlōhi fal yatawakkalĩl mu’minũn.

51. Katakanlah: “Tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan kepada Allahlah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan mengatakan jawaban yang harus disampaikan kepada orang-orang kafir yang telah menyaksikan hal yang buruk menimpa orang-orang yang beriman, dan mengajari mendakwahi orang kafir agar percaya, Allahlah yang menentukan berbagai kejadian di dunia ini.

qul = katakanlah; hal = apalah; tarobashũna = kamu tunggu-tunggu; binã = bagi kami; illã = kecuali; ihdã = salah satu; al husnayaini = dua kebaikan; wa nahnu = dan kami; natarobashu = kami menunggu-nunggu; bikum = bagi kamu; an yushĩbakumullãhu = Allah akan menimpakan kepadamu; bi’adzãbin = dengan suatu azab; min ‘indihĩ = dari-Nya; au = atau; bi-aidĩnã = dengan tangan kami; fa tarobashũ = maka tunggulah; innã = sesungguhnya kami; ma’akum = bersama kamu; mutarobishũn = orang-orang yang menunggu-nunggu.
qul hal tarobashũna binã illã ihdãl husnayaini, wa nahnu natarobashu bikum an yushĩbakumullãhu bi’adzãbim min ‘indihĩ au bi-aidĩnã, fa tarobashũ innã ma’akum mutarobishũn.
52. Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (menang atau sahid), sedang kami yang menungu-nunggu bagi kamu, Allah menimpakan kepadamu suatu azab dari-Nya, atau (azab) dari tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersama kamu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan pengarahan jawaban yang seharusnya diberikan kepada orang-orang kafir yang tidak mau berperang.
qul = katakan; anfiqũ = nafkahkanlah; thou’an = dengan rela; au kurhan = dengan terpaksa; lan yutaqobbala = tidak akan diterima; minkum = dari kamu; innakum = karena sesungguhnya kamu; kuntum = adalah kamu; qouman = kaum; fãsiqĩn = orang-orang yang bodoh.
qul anfiqũ thou’an au kurhal lan yutaqobbala minkum, innakum kuntum qouman fãsiqĩn.
53. Katakanlah: “Nafkahkanlah (hartamu) dengan rela atau terpaksa. Nafkah itu tidak akan diterima (Allah) dari kamu, karena sesungguhnya, kamu adalah orang-orang yang fasik (bodoh).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nafkah harta orang kafir tidak diterima Allah karena caranya mencari, menyimpan, dan menggunakannya tidak sesuai dengan syariat yang ditetapkan Allah.

wa mã = dan tidak ada; mana’ahum = menghalangi mereka; an tuqbala = untuk diterima; min hum = dari mereka; nafaqōtuhum = nafkah mereka; illã = kecuali; annahum = sesungguhnya mereka; kafarũ = kafir; billãhi = kepada Allah; wa bi rosũlihĩ = dan kepada Rasul-Nya; wa lã ya’tũnash sholãta = dan tidak mendirikan salat; illã = kecuali, melainkan; wa hum = dan mereka; kusalã = malas; wa lã = dan tidak; yunfiqũna = mereka menafkahkan; illã = melainkan; wa hum = dan mereka; kãrihũn = orang-orang yang terpaksa.
wa mã mana’ahum an tuqbala min hum nafaqōtuhum illã annahum kafarũ billãhi wa bi rosũlihĩ wa lã ya’tũnash sholãta illã wa hum kusalã wa lã yunfiqũna illã wa hum kãrihũn.
54. Dan tidak ada yang menghalangi mereka, untuk diterima dari nafkah mereka, kecuali karena sesungguhnya, mereka kafir kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan mereka tidak mengerjakan salat, melainkan dengan malas, dan mereka tidak menafkahkan (harta mereka), melainkan dengan terpaksa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat catatan ayat 53.
fa lã = maka jangan; tu’jibka = menarik hati kamu; amwãluhum = harta benda mereka; wa lã = dan jangan; aulãduhum = anak-anak mereka; innamã = sesungguhnya; yurĩdullãhu = Allah menghendaki; li yu’adzdzibahum = untuk menazab mereka; bihã = dengannya; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dun-yã = dunia; wa taz-haqo = dan akan binasa; anfusuhum = nyawa mereka; wahum = sedang mereka; kãfirũn = kafir.
fa lã tu’jibka amwãluhum wa lã aulãduhum, innamã yurĩdullãhu li yu’adzdzibahum bihã fil hayãtid dun-yã wa taz-haqo anfusuhum wahum kãfirũn
55. Maka janganlah menarik hati kamu, harta benda dan anak-anak mereka (orang kafir). Sesungguhnya, Allah hendak menyiksa mereka dengannya (harta benda dan anak-anak), dalam kehidupan dunia, dan akan melayangkan nyawa mereka, dalam keadaan kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan harta, dan anak-anak orang kafir jangan menarik perhatianmu, karena hal itu akan menjadi siksaan bagi mereka di dunia sampai matinya.
wa yahlifũna = dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; innahum = sesungguhnya mereka; laminkum = bukan dari (golongan) kamu; wa mã hum = dan mereka bukan; min kum = dari kamu; wa lã kinna hum = akan tetapi mereka; qoumun = kaum; yafroqũn = orang-orang yang takut (kepadamu).
wa yahlifũna billãhi innahum laminkum wa mã hum min kum wa lã kinna hum qoumun yafroqũn
56. Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, sesungguhnya, kamu menyangka mereka dari (golongan)-mu, padahal mereka bukan dari (golongan)-mu, akan tetapi mereka itu adalah orang-orang yang takut (kepadamu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam situasi dan kondisi ketakutan orang-orang munafik mengaku sebagai orang Islam. Allah mengingatkan hal ini agar orang Islam waspada, bahwa mereka tidak termasuk Islam.

lau = kalau; yajidũna = mereka memperoleh; malja’an = tempat perlindungan; au maghōrōtin = atau gua-gua; au muddakholan = atau lubang-lubang tempat masuk; lawallau = tentu mereka berpaling (pergi); ilaihi = kepadanya; wahum = dan mereka; yajmahũn = mereka lari secepat-cepatnya.
lau yajidũna malja’an au maghōrōtin au muddakholal lawallau ilaihi wahum yajmahũn.
57. Kalau mereka mendapat tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (di dalam tanah), tentu mereka pergi ke sana dengan berlari secepat-cepatnya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan sifat-sifat orang kafir untuk menjadi pelajaran.
wa min hum = dan di antara mereka; man = orang; yalmizuka = dia mencela kamu; fish shodaqōti = dari sedekah-sedekah; fa in = maka jika; u’thũ = mereka diberi; min hã = darinya (sedekah itu); rodhũ = mereka senang hati; wa in = dan jika; lam = tidak; yu’thou = mereka diberi; minhã = darinya; idzã = tiba-tiba (tatkala); hum = mereka; yaskhothũn = mereka menjadi marah.
wa min hum man yalmizuka fish shodaqōti fa in u’thou min hã rodhũ wa il lam yu’thou minhã idzã hum yaskhothũn
58. Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) sedekah, maka jika mereka diberi darinya (sedekah itu), mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi darinya, tiba-tiba mereka menjadi marah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembagian sedekah menurut Islam, lihat ayat 60.
wa lau = jikalau; annahum = mereka sungguh-sungguh; rodhũ = mereka senang hati; mã = apa yang; ãtãhumullãhu = diberikan Allah kepada mereka; wa rosũluh = dan Rasul-Nya; wa qōlũ = dan mereka berkata; hasbunãllãhu = cukuplah Allah; sayu’tĩnãllãhu = Allah akan memberi kepada kami; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; wa rosũluh = dan Rasul-Nya; innã = sesungguhnya kami; ilãllãhi = kepada Allah; roghibũn = orang-orang yang berharap.
wa lau annahum rodhũ mã ãtãhu mullãhu wa rosũluh, wa qōlũ hasbunãllãhu sayu’tĩnãllãhu min fadhlihĩ wa rosũluh, innã ilãllãhi roghibũn.
59. Jikalau mereka sungguh-sungguh senang hati pada apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan mereka berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan Rasul-Nya, sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarakan suasana hati orang-orang yang bergembira menerima sebagaian karunia-Nya dan dari Rasul-Nya.
innama = sesungguhnya; ash shodaqōtu = sedekah; lil fuqorōi = orang-orang fakir; wa masãkĩni = orang-orang miskin; wal’ãmilĩna = pengurus; ‘alaihã = atas zakat; wal mu-allafati = dan para mu-alaf (dibujuk); qulũbuhum = hati mereka; wa fir riqōbi = dan untuk memerdekakan budak; wal ghōrimĩna = orang-orang yang berhutang; wa fĩ sabĩlillãhi = dan untuk jalan Allah; wabnis sabĩl = dan orang-orang yang dalam perjalanan; farĩdhotan = ketetapan; minallãh = dari Allah; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
innamash shodaqōtu lil fuqorōi wa masãkĩni wal’ãmilĩna ‘alaihã wal mu-allafati qulũbuhum wa fir riqōbi wal ghōrimĩna wa fĩ sabĩlillãhi wabnis sabĩl, fa rĩdhotam minallãh, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
60. Sesungguhnya, sedekah (zakat) itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil (pengurus) zakat, para mu’alaf (yang dibujuk) hati, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah, dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai ketetapan dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membuat ketetapan cara pembagian sedekah (zakat).

wa min = dan dari; humu = mereka; al ladzĩna = orang-orang yang; yu’dzũna = (mereka) menyakiti; an nabiyya = Nabi; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; huwa = ia (Nabi); udzunun = apa yang didengarnya; qul = katakanlah; udzunu = apa yang didengarnya; khoirin = yang baik; lakum = bagi kamu; yu’minu = ia beriman; billãhi = kepada Allah; wa yu’minu = dan ia mempercayai; lil mu’minĩna = pada orang-orang mukmin; wa rohmatun = dan menjadi rahmat; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ãmanũ = beriman; minkum = di antara kamu; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yu’dzũna = mereka menyakiti; rosũlallãhi = Rasul Allah; lahum = bagi mereka; ‘adzãbun alĩm = azab yang pedih.
wa min humul ladzĩna yu’dzũnan nabiyya wa yaqũlũna huwa udzunun, qul udzunu khoiril lakum yu’minu billãhi wa yu’minu lil mu’minĩna wa rohmatul lilladzĩna ãmanũ minkum, wal ladzĩna yu’dzũna rosũlallãhi lahum ‘adzãbun aĩm.
61. Dan di antara mereka, ada orang-orang yang menyakiti Nabi, dan mereka mengatakan, Nabi (mempercayai) apa yang didengarnya. Katakanlah: “Ia (mempercayai) semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, dan mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu.” Dan orang-orang yang menyakiti Rasul Allah, bagi mereka azab yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang kafir ada yang menyakiti Nabi. Seperti apa menyakitinya? Allah mengarahkan orang-orang yang beriman dalam menanggapi desas-desus orang-orang kafir. Ada peringatan bagi orang-orang kafir yang menyakiti Nabi.
yahlifũna = mereka bersumpah; billãhi = dengan (menyebut nama) Allah; lakum = kepada kamu; li yurdhũkum = untuk mencari kerelaanmu; wallãhu = dan Allah; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; ahaqqu = lebih berhak; an yurdhũhu = untuk mencari kerelaan-Nya; in kãnũ = jika mereka adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
yahlifũna billãhi lakum li yurdhũkum wallãhu wa rosũluhũ ahaqqu an yurdhũhu in kãnũ mu’minĩn.
62. Mereka bersumpah dengan (nama) Allah kepada kamu untuk mencari kerelaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya lebih berhak mereka cari kerelaan-Nya, jika mereka orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan perilaku orang-orang kafir mempengaruhi hati orang-orang mukmin. Allah dan Rasul-Nya lebih berhak untuk dimintai kerelaan-Nya.
alam = tidakkah; ya’lamũ = mereka (orang-orang munafik) mengetahui; annahũ = sesungguhnya mereka; man = siapa; yuhãdidillãha = menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; fa-annalahũ = maka sesungguhnya baginya; nãro jahannama = api jahanam; khōlidan = kekal; fĩhã = di dalamnya; dzãlika = demikian itu; al khijzyu = kehinaan; al ‘azhĩm = yang besar.
alam ya’lamũ annahũ man yuhãdidillãha wa rosũlahũ fa-annalahũ nãro jahannama khōlidan fĩhã dzãlikal khijzyul ‘azhĩm.
63. Tidakkah mereka (orang-orang munafik) mengetahui, siapa yang menentang Allah dan rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka jahanamlah bagiannya, dia kekal di dalamnya. Demikian itu suatu kehinaan yang besar?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan sindiran dan pemberitahuan bagi orang-orang munafik yang menentang Allah dan rasul-Nya.
yahdzaru = takut; al munãfiqũna = orang-orang munafik; an tunazzala = kalau diturunkan; ‘alaihim = kepada mereka; sũrotun = surat; tunabbi-uhum = yang menerangkan kepada mereka; bimã = tentang apa; fĩ qulũbihim = di dalam hati mereka; quli = katakanlah; as tahzi’ũ = berolok-oloklah kamu; innallãha = sesungguhnya Allah; mukhrijun = membuktikan; mã = apa; tadzarũn = yang kamu takutkan.
yahdzarul munãfiqũna an tunazzala ‘alaihim sũrotun tunabbi-uhum bimã fĩ qulũbihim, qulis tahzi’ũ innallãha mukhrijum mã tadzarũn.
64. Orang-orang munafik takut kalau diturunkan untuk mereka suatu surat (Alquran) yang menerangkan tentang apa yang (tersembunyi) di dalam hati mereka. Katakanlah (kepada mereka): “Teruskan kamu berolok-olok (terhadap Allah dan Rasul-Nya), sesungguhnya Allah akan membuktikan apa yang kamu takutkan itu.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu perilaku orang-orang munafik, dan bagaimana cara menanggapi sikap mereka.

wa la-in = dan jika; sa-altahum = kamu tanyakan kepada mereka; la yaqũlunna = tentu mereka menjawab; innamã = sesungguhnya hanyalah; kunnã = kami adalah; nakhũdhu = kami bersenda gurau; wa nal’abu = dan kami bermain-main; qul = katakanlah; abillãhi = apakah dengan Allah; wa ãyãtihĩ = dan ayat-ayat-Nya; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; kuntum = kamu adalah; tastahzi-ũn = berolok-olok.
wa la-in sa-altahum la yaqũlunna innamã kunnã nakhũdhu wa nal’abu, qul abillãhi wa ãyãtihĩ wa rosũlihĩ kuntum tastahzi-ũn.
65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya, kami hanyalah bersenda-gurau dan bermain-main.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu sikap dan perbuatan orang-orang kafir, dan apa yang harus dikatakan kepada mereka.

lã = jangan; ta’tadzirũ = kamu beralasan; qod = sesungguhnya; kafartum = kamu telah kafir; ba’da = sesudah; ĩmãnikum = kamu beriman; in na’fu = jika Kami memaafkan; ‘an thōifatin = terhadap segolongan; minkum = dari kamu; nu’adzdzib = Kami akan mengazab; thōifatan = segolongan; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; kãnũ = mereka adalah; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.
lã ta’tadzirũ qod kafartum ba’da ĩmãnikum, in na’fu ‘an thōifatim minkum nu’adzdzib thōifatam bi annahum kãnũ mujrimĩn.
66. Jangan kamu beralasan, sesungguhnya, kamu telah kafir sesudah beriman, jika Kami memaafkan kepada segolongan kamu, Kami akan mengazab golongan lain, karena sesungguhnya, mereka orang-orang yang berdosa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir diminta untuk tidak mencari alasan lain. Allah akan selalu mengazab orang-orang yang berdosa. Allah Maha Mengetahui segala rahasia makhluk-Nya.

al munãfiqũna = orang-orang munafik laki-laki; wal munãfiqōtu = orang-orang munafik perempuan; ba’dhuhum mim ba’dhin = sebagian dari sebagain yang lain; ya’murũna = mereka menyuruh; bil munkari = berbuat mungkar; wa yanhauna = dan mereka melarang; ‘anil ma’rũfi = berbuat kebaikan; wa yaqbidhũna = dan mereka menggenggamkan; aidiyahum = tangan mereka; nasullãha = mereka lupa kepada Allah; fanasiyahum = maka Allah melupakan mereka; inna = sesungguhnya; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; humu = mereka itu; al fãsiqũn = orang-orang bodoh.
al munãfiqũna wal munãfiqōtu ba’dhuhum mim ba’dhin, ya’murũna bil munkari wa yanhauna ‘anil ma’rũfi wa yaqbidhũna aidiyahum, nasullãha fanasiyahum, innal munãfiqĩna humul fãsiqũn.
67. Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dari sebagian yang lain, mereka menyuruh berbuat mungkar dan melarang berbuat kebaikan, dan mereka menggenggamkan tangannya (kikir). Mereka lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan kepada mereka. Sesungguhnya, orang-orang munafik itu orang-orang bodoh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan perilaku orang-orang munafik, dan mereka dicap sebagai orang-orang fasik (bodoh).

wa ‘adallãhu = dan Allah mengancam; al munãfiqĩna = orang-orang munafik laki-laki; wal munãfiqãti = orang-orang munafik perempuan; wal kuffãro = orang-orang kafir; nãro = api; jahannama = jahanam; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; hiya = ia; hasbuhum = cukup bagi mereka; wa la’anahumullãhu = Allah melaknati mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbum = azab; muqĩm = yang kekal.
wa ‘adallãhul munãfiqĩna wal munãfiqãti wal kuffãro nãro jahannama khōlidĩna fĩhã, hiya hasbuhum, wa la’anahumullãhu, wa lahum ‘adzãbum muqĩm.
68. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan orang-orang kafir dengan neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah ia (neraka jahanam) bagi mereka. Dan Allah mengutuk mereka, dan bagi mereka azab yang kekal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyediakan neraka jahanam untuk mengazab orang-orang kafir.

kal ladzĩna = seperti orang-orang yang; min qoblikum = dari sebelum kamu; kãnũ = mereka adalah; asyadda = lebih (sangat); min kum = daripada kamu; quwwatan = kekuatan; wa aktsaro = dan lebih banyak; amwãlan = harta-benda; wa aulãdã = dan anak-anak; fastamta’ũ = maka mereka menikmati; bi kholãqihim = dengan bagian mereka; fastamta’tum = maka kamu menikmati; bi kholãqikum = dengan bagian kamu; kama = sebagaimana; is tamta’a = menikmati; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblikum = dari sebelum kamu; bi kholãqihim = dengan bagian mereka; wa khudhtum = dan kamu mempercakapkan; kalladzĩ = sebagaimana yang …; khãdhũ = mereka mempercakapkan; ulãika = mereka itu; habithot = sia-sia; a’maluhum = amal mereka; fid dun-yã = di dunia; wal ãkhiroti = dan di akhirat; wa ulãika = dan mereka itu; humu = mereka; al khōsirũn = orang-orang yang merugi.
kal ladzĩna min qoblikum kãnũ asyadda min kum quwwatan wa aktsaro amwãlan wa aulãdã, fastamta’ũ bi kholãqihim fastamta’tum bi kholãqikum kamas tamta’al ladzĩna min qoblikum bi kholãqihim wa khudhtum kalladzĩ khãdhũ, ulãika habithot a’maluhum fid dun-yã wal ãkhiroti, wa ulãika humul khōsirũn.
69. (Keadaan kamu, hai orang-orang munafik), seperti orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta-benda dan anak-anaknya, mereka telah menikmati bagian mereka, maka kamu telah menikmati bagian kamu, sebagaimana orang-orang sebelum kamu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (barang batil), sebagaimana mereka mempercakapkannya. Amalan mereka menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan orang-orang munafik yang mempercakapkan barang batil orang-orang sebelum mereka, menyebabkan amalan mereka sia-sia, baik di dunia maupun untuk akhirat. Oleh karena itu, jangan suka mempercakapkan kelebihan-kelebihan orang-orang masa lalu. Lebih baik, lakukan, kerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang. Nikmati apa yang bisa dinikmati sekarang.

alam = tidakkah (belumkah); ya’tihim = datang kepada mereka; nabã-u = berita; al ladzĩna = orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; qoumi = kaum; nũhin = Nuh; wa ‘ãdin = ‘Adin; wa tsamũda = dan Samud; wa qoumi ibrōhĩma = dan Kaum Ibrahim; wa ash-hãbi mad-yana = dan Penduduk Madyan; wal mu’tafikãti = dan negeri-negeri yang telah musnah; atat-hum = telah datang kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinãt = dengan keterangan yang nyata; fa mã kãnallãhu = maka Allah tidak menganiaya; liyazh limahum = untuk menganiaya mereka; wa lãkin = akan tetapi; kãnũ = mereka adalah; anfusahum = diri mereka sendiri; yazh limũn = mereka menganiaya.
alam ya’tihim nabã-ul ladzĩna min qoblihim qoumi nũhin wa ‘ãdin wa tsamũda, wa qoumi ibrōhĩma wa ash-hãbi mad-yana wal mu’tafikãti, atat-hum rusuluhum bil bayyinãt, fa mã kãnallãhu liyazh limahum wa lãkin kãnũ anfusahum yazh limũn.
70.Tidakkah (belumkah) datang kepada mereka, berita tentang orang-orang sebelum mereka, yaitu Kaum Nuh, Add, Samud, Kaum Ibrahim, penduduk Mand-yan, dan penduduk negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan keterangan yang nyata, Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada umat manusia umumnya, khususnya kepada kaum kafirin tentang orang-orang dari berbagai penduduk bumi yang telah dimusnahkan. Allah tidak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Mereka tidak mengakui kedatangan Rasul-rasul bagi masing-masing kaumnya.

wal mu’minũna = dan orang-orang mukmin laki-laki; wal muninãtu = orang-orang mukmin perempuan; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = pelindung (penolong); ba’dhin = sebagian yang lain; ya’murũna = mereka menyuruh; bil ma’rũfi = berbuat dengan kebaikan; wa yanhauna = dan mereka mencegah; ‘anil munkari = dari perbuatan munkar; wa yuqĩmũna = dan mereka mendirikan; ash sholãta = salat; wa yu’tũna = dan menunaikan; az zakãta = zakat; wa yuthĩ’ũnallãha = dan mereka taat kepada Allah; wa rosũlah = dan Rasul-Nya; ulã-ika = mereka itu; sayarhamuhumullãh = Allah akan memberi rahmat kepada mereka; innalãha = sesungguhnya Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wal mu’minũna wal muninãtu ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin ya’murũna bil ma’rũfi wa yanhauna ‘anil munkari wa yuqĩmũnash sholãta wa yu’tũnaz zakãta wa yuthĩ’ũnallãha wa rosũlah, ulã-ika sayarhamuhumullãh, innalãha ‘azĩzun hakĩm.
71. Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (menjadi) penolong bagi sebagian yang lainnya, mereka menyuruh berbuat dengan kebaikan, dan mencegah berbuat mungkar, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan hidup seorang Mukmin.
wa’adallãhu = Allah telah menjanjikan; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman laki-laki; wal mu’minaati = dan orang-orang yang beriman perempuan; jannaatin = surga; tajrĩ = dialiri; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa masãkina = dan tempat-tempat; thoyyibatan = yang bagus; fĩ jannaatin = di surga; ‘adnin = Adnin; wa ridhwãnum = dan kerelaan; minallãhi = dari Allah; akbaru = lebih besar; dzãlika = demikian itu; huwa = itulah; al fauzu = keuntungan; al ‘azhĩm = besar.
wa’adallãhul mu’minĩna wal mu’minaati jannaatin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wa masãkina thoyyibatan fĩ jannaatin ‘adnin, wa ridhwãnum minallãhi akbaru, dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
72. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, surga yang dialiri sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga Adn, dengan kerelaan Allah yang besar. Itulah keuntungan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan janji, berita gembira-Nya kepada orang-orang yang beriman (lihat Q.s. Al Baqarãh, 2 : 25;

Yã ayyuha = wahai; an nabiyyu = Nabi; jãhidi = perangilah; al kuffãro = orang-orang kafir; wal munãfiqĩna = dan orang-orang munafik; waghluzh = dan bersikap keraslah; ‘alaihim = kepada mereka; wa ma’ wãhum = dan tempat mereka; jahannamu = jahanam; wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al mashĩr = tempat kembali.
Yã ayyuhan nabiyyu jãhidil kuffãro wal munãfiqĩna waghluzh ‘alaihim, wa mã wãhum jahannamu, wa bi’sal mashĩr.
73. Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah kepada mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam, itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafik karena mereka tidak mau menepati perjanjian, dan selalu membuat kekacauan, kerusuhan.

yahlifũna = mereka bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; mã qōlũ = tidak mengatakan; wa laqod = padahal sesungguhnya; qōlũ = mereka berkata; kalimata = kata-kata; al kufri = kafir; wa kafarũ = mereka itu kafir; ba’da = setelah (sesudah); islãmihim = mereka menyatakan Islam; wa hammũ = dan mereka mengingini; bi mã lam = pada apa yang tidak; yanãlũ = mereka capai; wa mã naqomũ = dan mereka tidak mencela; illã = kecuali; an aghnãhumullãhu = telah mencukupkan mereka; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; min fadh-lihĩ = dari karunia-Nya; fa in = maka jika; yatũbũ = mereka tobat; yaku = itu adalah; khoiron = lebih baik; lahum = bagi mereka; wa in = dan jika; yatawallau = mereka berpaling; yu’adzdzib-humullãhu = Allah akan mengazab mereka; ‘adzãban = dengan azab; alĩmã = yang pedih; fid dun-yã = di dunia; wal ãkhiroh = dan di akhirat; wa mã = dan tidak ada; lahum = bagi mereka; fil ardhi = di bumi; min waliyyin = pelindung; wa lã nashĩr = dan tidak ada penolong.
yahlifũna billãhi mã qōlũ wa laqod qōlũ kalimatal kufri wa kafarũ ba’da islãmihim wa hammũ bi mã lam yanãlũ, wa mã naqomũ illã an aghnãhumullãhu wa rosũluhũ min fadh-lihĩ, fa in yatũbũ yaku khoirol lahum, wa in yatawallau yu’adzdzib-humullãhu ‘adzãban alĩmã fid dun-yã wal ãkhiroh, wa mã lahum fil ardhi min waliyyin wa lã nashĩr.
74. Mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Padahal sesungguhnya, mereka telah menyataan kekafiran, dan mereka telah menjadi kafir sesudah mereka Islam, dan mereka menginginkan sesuatu (membunuh Nabi) yang tak dapat mereka capai, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya) kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah mencukupi anugerah-Nya kepada mereka. Maka, jika mereka tobat, itu lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, pasti Allah akan mengazab mereka dengan kepedihan di dunia dan di akhirat. Bagi mereka tidak ada pelindung dan penolong di muka bumi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu perilaku orang-orang kafir. Jika mereka berpaling Allah mengingatkan akan terkena azab di dunia dan di akhirat. Bagi orang kafir, tidak ada pelindung dan penolong.

wa min hum = dan di antara mereka; man = (ada) orang; ‘ãhadallãha = berjanji kepada Allah; la in = sesungguhnya jika; ãtaanã = Allah memberikan kepada saya; min fadhlihĩ = dari sebagian karunia-Nya; lana = sungguh saya; ash shoddaqonna = saya akan bersedekah; wa lanã = dan sungguh saya; kũnanna = saya adalah; mina = dari (termasuk); ash shōlihĩn = orang saleh.
wa min hum man ‘ãhadallãha la in ãtaanã min fadhlihĩ lanash shoddaqonna wa lanã kũnanna minash shōlihĩn
75. Dan di antara mereka, ada orang yang berjanji kepada Allah; sesungguhnya, jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepadaku, sungguh aku akan bersedekah, dan sungguh aku termasuk orang saleh.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Cerita seseorang yang berjanji kepada Allah, jika ia diberi sebagian karunia-Nya

fa lammã = maka setelah; ãtãhum = (Allah) memberinya; min fadhlihĩ bakhilũ = dia kikir; bihĩ = dengannya; wa tawallauw = dan mereka berpaling; wa hum = dan mereka; mu’ridhũn = orang-orang yang membelakangi.
fa lammã ãtãhum min fadhlihĩ bakhilũ bihĩ wa tawallauw wa hum mu’ridhũn.
76. Maka setelah Allah memberi dia sebagian karunia-Nya, dia kikir dengan karunia itu, dan mereka berpaling, dan dia adalah orang yang membelakangi (kebenaran).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan orang yang ingkar janji dan menyangkal kasih-sayang-Nya.

fa = maka; a’qobahum = (Allah) membangkitkan; nifãqon = kemunafikan; fĩ qulũbihim = di hati mereka; ilã = sampai ke; yaumi = waktu (hari); yalqounahũ = mereka menemui-Nya; bimã = dengan apa (sebab); akhlafullãha = mereka memungkiri Allah; mã wa ‘adũhu = apa yang mereka janjikan kepada-Nya; wa bimã = dan dengan sebab; kãnũ = mereka adalah; yakdzibũn = mereka berdusta.
fa a’qobahum nifãqon fĩ qulũbihim ilã yaumi yalqounahũ bimã akhlafaka
77. Maka Allah membangkitkan kemunafikan di hati mereka sampai ke waktu mereka menemui-Nya, dengan sebab mereka memungkiri Allah, apa yang mereka janjikan kepada-Nya, dan dengan sebab mereka berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena mereka mengingkari ada-Nya Allah, memungkiri janjinya, dan karena mereka berdusta, Allah membangkitkan kemunafikan di hatinya.

alam = tidaklah; ya’lamũ = mereka mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; sirrohum = rahasia mereka; wa najwãhum = bisikan mereka; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ‘allãmu = Maha Mengetahui; al ghuyũb = segala yang gaib.
alam ya’lamũ annallãha ya’lamu sirrohum wa najwãhum wa annallãha ‘allãmul ghuyũb.
78. Tidakkah mereka mengetahui, sesungguhnya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan sesungguhnya Allah amat mengetahui segala yang gaib?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada manusia-manusia yang sesungguhnya, mereka sudah mengetahui ada sesuatu yang gaib, dan Yang Mahagaib itu Adalah Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang dirahasiakan di hati mereka, dan apa yang dibisikkan di antara sesamanya.

Alladzĩna = orang-orang yang …; yalmizũna = (mereka) mencela; al muththowwi’ĩna = orang-orang yang memberi dengan rela; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang Mukmin; fish shodaqōti = dalam bersedekah; walladzĩna = dan orang-orang yang …; lã yajidũna = mereka tidak memperoleh; illã = kecuali; juhdahum = kesanggupan mereka; fa yaskharũna = maka mereka menghina; min hum = dari mereka; sakhirollãhu = Allah menghina; min hum = dari mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbun = azab; alĩm = yang pedih.
alladzĩna yalmizũnal muththowwi’ĩna minal mu’minĩna fish shodaqōti walladzĩna lã yajidũna illã juhdahum fa yaskharũna min hum, sakhirollãhu min hum wa lahum ‘adzãbun alĩm.
79. Orang-orang munafik yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan rela, dan mencela orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu untuk disedekahkan, kecuali sekedar sesuai dengan kesanggupan mereka, orang-orang munafik menghina mereka. Allah akan membalas celaan, penghinaan orang-orang munafik; bagi mereka, azab yang pedih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, orang-orang yang mencela dan menghina orang-orang mukmin yang ikhlas, rela bersedekah akan dibalas oleh-Nya dengan celaan, hinaan dan azab yang pedih.

astaghfir = mohonkan ampun; lahum = bagi mereka; au lã = atau tidak; tastaghfir = kamu mohonkan ampun; lahum = bagi mereka; sab’ĩna = tujuh puluh; marrotan = kali; fa lan = maka tidak; yaghfirallãhu = Allah memberi ampun; lahum = bagi mereka; dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; kafarũ = mereka kafir; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihĩ = dan rasul-Nya; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qouma = kaum; al fãsiqĩn = fasik.

astaghfir lahum au lã tastaghfir lahum sab’ĩna marrotan fa lan yaghfirallãhu lahum, dzãlika bi annahum kafarũ billãhi wa rosũlihĩ, wallãhu lã yahdĩl qoumal fãsiqĩn.

80. Mohonkan ampunan bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampunan bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun bagi mereka, karena sesungguhnya, mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan bahwa orang-orang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, walau dimintakan ampunan tujuh puluh kali, mereka tidak akan diberi ampun oleh Allah. Mereka juga tidak akan diberi petunjuk dalam menjalani hidupnya.

farikha = merasa gembira; al mukhallafũna = orang-orang yang ditinggal berperang; bi maq’adihim = karena tinggal; khilãfa = di belakang; rosũlillãhi = Rasulullah; wa karihũ = dan mereka tidak suka; an yujãhidũ = untuk mereka berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fĩ sabililãhi = di jalan Allah; wa qōlũ = dan mereka berkata; lã tanfirũ = kamu jangan berangkat; fil harri = dalam panas terik; qul = katakanlah; nãru jahannama = api jahanam; asyaddu = lebih sangat; harron = panas; lau = kalau, jika; kãnũ = mereka; yafqohũn = mereka mengetahui.
farikhal mukhallafũna bi maq’adihim khilãfa rosũlillãhi wa karihũ an yujãhidũ bi amwãlihim wa anfusihim fĩ sabililãhi wa qōlũ lã tanfirũ fil harri qul nãru jahannama asyaddu harron, lau kãnũ yafqohũn
81. Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) merasa gembira karena tidak ikut berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan mereka berkata: “Kamu jangan berangkat berperang dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api Jahanam sangat lebih panas, jika mereka mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan perilaku orang-orang yang tidak ikut berjihad di jalan Allah. Allah mengingatkan bahwa api jahanam yang akan diderakan kepada orang-orang kafir itu lebih panas.

fal yãdh-hakũ = maka mereka tertawa; qolĩlan = sedikit; wal yabkũ = dan mereka menangis; katsĩron = banyak; jazã-an = pembalasan; bimã = atas apa; kãnũ = mereka adalah; yaksibũn = mereka kerjakan.
fal yãdh-hakũ qolĩlan wal yabkũ katsĩron jazã-am bimã kãnũ yaksibũn
82. Maka mereka akan tertawa sedikit, dan akan menangis banyak, sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan keadaan akhir orang-orang kafir.

fa in = maka jika; roja’akallãhu = Allah mengembalikan kamu; ilã = ke; thō-ifatin = suatu golongnan; min hum = dari mereka; fasta’dzanũka = maka mereka meminta izin kepadamu; lil khurũji = untuk keluar; faqul = maka katakanlah; lan takhrujũ = kamu tidak boleh keluar; ma’iya = bersamaku; abadan = selamanya; wa lan tuqōtilũ = kamu tidak boleh memerangi; ma’iya = bersamaku; ‘aduwwan = musuh; innakum = sesungguhnya kamu; rodhĩtun = kamu rena (puas, senang hati); bil qu’ũdi = dengan duduk (tidak ikut berperang); awwala = pertama; marrotin = kali; faq’udũ = maka duduklah kamu; ma’a bersama; al khōlifĩn = orang-orang yang takut berperang.
fa ir roja’akallãhu ilã thō-ifatim min hum fasta’dzanũka lil khurũji faqul lan takhrujũ ma’iya abadan wa lan tuqōtilũ ma’iya ‘aduwwan, innakum rodhĩtum bil qu’ũdi awwala marrotin faq’udũ ma’al khōlifĩn.
83. Maka, jika Allah mengembalikan kamu ke suatu golongan dari mereka, kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), maka katakanlah: “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya, dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku, sesungguhnya, kamu telah rela, tidak ikut berperang pada pertama kali, maka duduklah kamu bersama orang-orang yang tidak ikut berperang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang dikembalikan-Nya ke gologannya, dan apa yang harus dikatakannya.
wa lã = dan jangan; tusholli = kamu menyolati; ‘alã ahadin = atas seseorang; min hum = di antara mereka; mãta = yang mati; abadan = selama-lamanya; wa lã = dan jangan; taqumu = kamu berdiri; ‘alã = di atas; qobrihĩ = kuburnya; innahum = sesungguhnya mereka; kafarũ = mereka kafir; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihĩ = dan Rasul-Nya; wa mãtũ = dan mereka mati; wa hum = sedang mereka; fãsiqũn = orang-orang fasik.
wa lã tusholli ‘alã ahadim min hum mãta abadan wa lã taqumu ‘alã qobrihĩ innahum kafarũ billãhi wa rosũlihĩ wa mãtũ wa hum fãsiqũn.
84. Dan jangan kamu menyolati jenazah dari seorang di antara orang-orang munafik yang mati untuk selama-lamanya, dan jangan kamu berdiri di atas kuburnya, sesungguhnya, mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati, sedang mereka dalam keadaan fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah bagi seorang muslim dalam bergaul dengan orang munafik.

wa lã = dan jangan; tu’jibka = menakjubkan kamu; amwãluhum = harta benda mereka; wa aulãduhum = dan anak-anak mereka; innamã = sesungguhnya (hanyalah); yurĩdullãhu = Allah menghendaki; an yu’adzdzibahum = untuk menyiksa mereka; bihã = dengannya; fiddun-yã = di dunia; wa taz-haqo = dan melayanglah; anfusuhum = nyawa mereka; wa hum = dan ketika mereka; kãfirũn = orang-orang kafir.
wa lã tu’jibka amwãluhum wa aulãduhum, innamã yurĩdullãhu an yu’adzdzibahum bihã fiddun-yã wa taz-haqo anfusuhum wa hum kãfirũn
85. Dan janganlah harta-benda dan anak-anak mereka (orang kafir) menarik hatimu, sesungguhnya Allah menghendaki untuk menyiksa mereka dengannya (harta dan anak-anak) di dunia, dan agar melayanglah nyawa mereka, ketika mereka dalam keadaan kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah lagi dalam bergaul dengan orang kafir.

wa idzã = dan jika; unzilat = diturunkan; sũratun = suatu surat; an ãminũ = hendaknya kamu berimanlah; billãhi = kepada Allah; wa jãhidũ = dan kamu berjihadlah; ma’a = bersama; rosũlihi = Rasul-Nya; is ta’dzanaka = minta izin kepadamu; uluth thouli = orang-orang yang mempunyai kesanggupan; min hum = di antara mereka; wa qōlũ = dan mereka berkata; dzarnã = biarkanlah kami; nakum = adalah kami; ma’a = bersama; al qō’idĩn = orang-orang yang duduk.
wa idzã unzilat sũratun an ãminũ billãhi wa jãhidũ ma’a rosũlihis ta’dzanaka uluth thouli min hum wa qōlũ dzarnã nakum ma’al qō’idĩn.
86. Dan jika diturunkan suatu surat (Alquran): “Berimanlah hendaknya kamu kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya, tentu orang-orang yang mempunyai kesanggupan (berperang) di antara mereka kepadamu dan berkata: “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menghimbau orang-orang kafir agar mau bertobat dan beriman kepada Allah, dan mau berjihad bersama rasul-Nya. Tapi ternyata, memang kekafiran itu melekat pada orang per orang. Alasannya bermacam-macam. Maka, kalau sudah kafir, tetaplah ia kafir, bagaimana pun: dibujuk, dirayu, dihimbau, diminta, sampai dipaksa pun mereka tidak akan mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

rodhũ = mereka rido; bi an yakũnũ = dengan keberadaan mereka; ma’a = bersama; al khowãlifi = orang yang tinggal; wa thubi’a = dan telah dicap (dikunci); ‘alã qulũbihim = pada hati mereka; fa hum = maka mereka; lã yafqohũn = mereka tidak mengerti.
rodhũ bi an yakũnũ ma’al khowãlifi wa thubi’a ‘alã qulũbihim fa hum lã yafqohũn.
87. Mereka rela dengan keberadaannya bersama orang yang tinggal (tidak berperang), dan pada hati mereka telah dikunci mati, karena itu mereka tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran dari Allah tentang orang kafir.
lãkini = tetapi; ar rosũlu = Rasul; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ma’ahũ = bersama Dia; jãhadũ = mereka berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; wa ulãika = dan mereka; lahumu = orang-orang yang memperoleh; al khoirotu = kebaikan; wa ulãika = dan mereka; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.
lãkinir rosũlu walladzĩna ãmanũ ma’ahũ jãhadũ bi amwãlihim wa anfusihim wa ulãika lahumul khoirotu, wa ulãika humul muflihũn.
88. Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama Dia, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka, dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: orang-orang yang beruntung memperoleh kebaikan adalah orang-orang yang berjihad bersama Rasul dengan harta dan jiwa mereka. Demikianlah gambaran orang-orang yang diberi petunjuk.
a’addallãhu = Allah telah menyediakan; la hum = bagi mereka; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; dzãlika = demikian itulah; al fauzu = kemenangan (keberuntungan); al ‘azhĩm = besar.
a’addallãhu la hum jannaatin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã, dzãlikal fauzal ‘azhĩm
89. Allah telah menyediakan surga bagi mereka, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyediakan Surga bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.
wa jã‘a = dan datang; al mu’adzdzirũna = orang-orang yang mempunyai uzur; minal a’rōbi = dari orang-orang Arab Dusun; li yu’dzana = agar diberi izin; lahum = bagi mereka; wa qo’ada = dan tinggal duduk; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzabũllãha = mendustakan Allah; wa rosũluh = dan Rasul-Nya; sayushĩbu = kelak akan menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min hum = di antara mereka; ‘adzãbun = azab; alĩmu = yang pedih.
wa jã‘al mu’adz dzirũna minal a’rōbi li yu’dzana lahum wa qo’adal ladzĩna kadzabũllãha wa rosũluh, sayushĩbul ladzĩna kafarũ min hum ‘adzãbun alĩmu.
90. Dan datang kepada Nabi orang-orang yang mempunyai ‘uzur dari orang-orang Arab Dusun, agar diberi izin untuk tidak pergi berjihad, sedang orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya tinggal duduk (tidak mau berjihad). Kelak akan menimpa kepada orang-orang kafir, azab yang pedih di antara mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang Arab dusun maupun orang-orang Arab Kota Madinah, kalau mereka kafir, kelak akan ditimpa azab yang pedih. orang-orang yang mempunyai ‘uzur untuk tidak berjihad, Insya Allah tidak akan ditimpa azab. Lihat ayat berikutnya.
laisa = tidak; ‘ala = atas; adh dhu’afã-i = atas orang-orang lemah; wa lã = dan tidak (berdosa); ‘alal mardhō = atas orang-orang sakit; wa lã ‘alal ladzĩna = dan tidak (berdosa) atas orang-orang yang …; lã yajidũna = mereka tidak memperoleh; mã = apa; yunfiqũna = yang mereka infakkan; harojun = berdosa (bersalah); idzã = jika; nashohũ = mereka jujur (ikhlas); lillãhi = kepada Allah; wa rosũlih = dan Rasul-Nya; mã ‘ala = (tidak) ada atas; al muhsinĩna = orang-orang yang berbuat kebaikan; min sabĩlin = dari jalan; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.
laisa ‘aladh dhu’afã-i wa lã ‘alal mardhō wa lã ‘alal ladzĩna lã yajidũna mã yunfiqũna harojun idzã nashohũ lillãhi wa rosũlih, mã ‘alal muhsinĩna min sabĩlin, wallãhu ghofũrur rohĩm.
91. Tidak berdosa (karena tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit, dan yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan atas orang-orang yang berbuat kebaikan (bagi orang-orang seperti itu), dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penayayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang orang-orang yang tidak terkena dosa akibat mereka tidak pergi berjihad di jalan-Nya. Jihad di jalan Allah itu sebuah jalan untuk berbuat kebaikan. “orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan” artinya mata pencaharian yang tidak bisa ditinggalkan untuk berperang (berjihad), seperti bertani, berdagang, bekerja di ‘pabrik’, dan lain-lain.

wa lã = dan tidak; ‘alal ladzĩna = atas orang-orang yang; idzã mã = apabila apa; atauka = mereka datang kepadamu; li tahmilahum = agar kamu membawa mereka; qulta = kamu berkata; lã ajidu = aku tidak memperoleh; mã = sesuatu; ahmilukum = aku membawamu; ‘alaihi = atasnya; tawallauw = mereka berpaling; wa a’yunuhum = dan mata mereka; tafĩdhu = mencucurkan; minad dam’i = dari air mata; hazanan = sedih; al lã = karena tidak; yajidũ = mereka memperoleh; mã yunfiqũn = apa yang mereka nafkahkan.
wa lã ‘alal ladzĩna idzã mã atauka li tahmilahum qulta lã ajidu mã ahmilukum ‘alaihi tawallauw wa a’yunuhum tafĩdhu minad dam’i hazanan allã yajidũ mã yunfiqũn.
92. Dan tidak (pula berdosa) atas orang-orang yang ketika datang kepadamu, agar kamu dapat membawa mereka (dengan kendaraan), dan kamu berkata: “Aku tidak memperoleh sesuatu (kendaraan) untuk membawamu. ”Mereka kembali, sedang mata mereka mencucurkan air mata karena sedih, karena mereka tidak memperoleh apa yang diharapkan (kendaraan untuk dapat berjihad).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penjelasan dari Allah lagi tentang orang-orang yang tidak berdosa ketika mereka tidak bisa ikut bertempur (berjihad) di jalan Allah.

Innamã = sesungguhnya hanyalah; as sabĩlu = jalan; ‘ala = atas (terhadap); al ladzĩna = orang-orang yang; yasta’dzinũnaka = mereka meminta izin kepadamu; wa hum = padahal mereka; aghniyã-u = orang-orang yang kaya; rodhũ = mereka rela; bi an-yakũnũ = bahwa mereka berada; ma’a = bersama; al khawãlifi = orang-orang yang tinggal; wa thoba’allãhu = dan Allah telah mencap (mengunci); ‘alã qulũbihim = di hati mereka; fa hum = maka mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak akan mengetahui
innamãs sabĩlu ‘alal ladzĩna yasta’dzinũnaka wa hum aghniyã-u, rodhũ bi an-yakũnũ ma’al khawãlifi wa thoba’allãhu ‘alã qulũbihim fa hum lã ya’lamũn.
93. Sesungguhnya, jalan (untuk menyalahkan), hanyalah terhadap orang-orang yang minta izin kepadamu, padahal mereka itu orang-orang kaya. Mereka rela berada bersama orang-orang yang tinggal (tidak ikut berjihad), dan Allah telah mengunci mati hati mereka. Maka mereka tidak mengetahui
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Allah tentang orang-orang kaya yang tidak mau pergi berjihad. Sesungguhnya, hati mereka telah dikunci Allah, sehingga hatinya tidak terbuka, bahwa berjihad itu artinya membuka pintu surga di akhirat.
AL JUZ’UL HADI ‘ASYAR
Juz 11

ya’tadzirũna = mereka mengemukakan uzur; ilaikum = kepadamu; idzã = jika; roja’tum = kamu telah kembali; ilaihim = kepada mereka; qul = katakanlah; lã ta’tadzirũ = janganlah kamu mengemukana uzur kamu; lan nu’mina = kami tidak akan percaya; lakum = kepadamu; qod = sesungguhnya; nabba’allãhu = Allah telah mengkhabarkan kepada kami; min akhbãrikum = dari pekabaranmu; wasayarōllãhu = dan Allah akan melihat; ‘amalakum = pekerjaanmu; warosũluhũ = dan Rasul-Nya; tsumma = kemudian; turoddũna = kamu akan dikembalikan; ilã = kepada; ‘ãlimi = Yang Mengetahui; al ghoibi = yang gaib; wasy syahãdati = dan yang nyata; fayunabbi-ukum = Maka Dia memberitahukan kepadamu; bimã = terhadap apa; kuntum = adalah kamu; ta’malũn = kamu kerjakan.
ya’tadzirũna ilaikum idzã roja’tum ilaihim, qul lã ta’tadzirũ lan nu’mina lakum qod nabba’allãhu min akhbãrikum, wasayarōllãhu ‘amalakum warosũluhũ tsumma turoddũna ilã ‘ãlimil ghoibi wasysyahãdati fayunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.
94. Mereka (orang-orang munafik) akan mengemukakan uzur kepadamu, apabila kamu telah kembali (dari medan perang) kepada mereka. Katakanlah: “janganlah kamu mengemukan uzur, kami tidak akan percaya kepadamu. Sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami dari pekabaran (rahasia)-mu. Allah dan Rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepadamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah untuk kesekian kalinya memperingatkan Nabi Muhammad saw. dan umat Islam tentang perilaku orang-orang munafik yang banyak membuat alasan untuk tidak ikut berperang sabil. Pada ayat ini, Allah menegaskan agar jangan percaya pada segala alasan uzur orang-orang munafik. Allah Mahatahu segala hal yang gaib dan yang nyata. Allah Maha Mengetahui semua rahasia hati dan apa yang dilakukan orang-orang munafik.
sayahlifũna = mereka akan bersumpah; billãhi = dengan (menyebut Nama) Allah; lakum = kepadamu; idzan-qolabtum = apabila kamu telah kembali; ilaihim = kepada mereka; litu’ridhũ = supaya kamu berpaling; ‘anhum = kepada mereka; fa-a’ridhũ = maka berpalinglah kamu; ‘anhum = dari mereka; innahum = sesungguhyna mereka; rijsun = keji (kotor); wa ma’wãhum = dan tempat mereka; jahannamu = jahanam; jazã’an = (sebagai) balasan; bimã = dengan apa; kãnũ = adalah mereka; yaksibũn = mereka kerjakan.
sayahlifũna billãhi lakum idzan-qolabtum ilaihim litu’ridhũ ‘anhum, fa-a’ridhũ ‘anhum, innahum rijsun, wa ma’wãhum jahannamu jazã’am bimã kãnũ yaksibũn
95. Mereka akan bersumpah kepadamu dengan (menyebut nama) Allah, apabila kamu telah kembali kepada mereka, supaya kamu berpaling dari mereka. Maka berpalinglah kamu dari mereka, sesungguhnya mereka itu keji, dan tempat mereka jahanam, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu bagaimana perilaku orang-orang munafik, dan memerintahkan untuk menghindari mereka (orang-orang munafik) yang bersifat keji (penipu, pembohong, pemalsu, penjilat, dan lain-lain). Balasan untuk pekerjaan mereka adalah neraka jahanam.
lahlifũna = mereka akan bersumpah; lakum = kepada kamu; litardhau = supaya kamu rela; ‘ankum = kepadamu; fa in = maka jika; tardhau = kamu rela; ‘anhum = kepada mereka; fa inallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yardhō = tidak rela; ‘ani = kepada; al qoumi = kaum; al fasiqĩn = orang-orang yang fasik.
lahlifũna lakum litardhau ‘ankum, fa in tardhau ‘anhum fa inallãha lã yardhō ‘anil qoumil fasiqĩn
96. Mereka akan bersumpah kepadamu, supaya kamu rela kepada mereka, maka jika kamu rela kepada mereka, maka sesungguhnya, Allah tidak rela kepada orang-orang yang fasik.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang perilaku orang-orang yang fasik. Jika Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang beriman rela mereka tidak mau membantu memakmurkan, menenteramkan, mensejahterakan dunia; Allah tidak rela karena mereka fasik.
al a’rōbu = orang-orang Arab Dusun (Badui); asyaddu = amat sangat; kufron = kafir; wa nifaqon = kafir; wa ajdaru = dan lebih wajar; allã = tidak; ya’lamũ mereka mengetahui; hudũda = hukum-hukum; mã = apa yang; anjalallãhu = diturunkan Allah; ‘alã = kepada; rosũlihi = Rausl-Nya; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana
al a’rōbu asyaddu kufron wa nifaqon wa ajdaru allã ya’lamũ hudũda mã anjalallãhu ‘alã rosũlihi, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
97. Orang-orang Arab Dusun (Badui) amat sangat kafir dan sangat munafik, dan mereka lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berceritera tentang orang Arab Dusun yang sangat tidak berbudaya, mereka dianggap wajar tidak mengetahui Hukum-hukum Allah.

wa minal a’rōbi = dan di antara orang-orang Arab Dusun (Badui); man = orang; yattakhidzu = memandang; mã = apa; yunfiqu = yang dinafkahkan (di jalan Allah); maghroman = denda (merugikan; wa yataRabashu = dan ia menanti-nanti; bikumu = bagi (atas) kamu; adda wã-iro = giliran bencana; ‘alaihim = atas mereka; dã-irotu = giliran bencana; as sau-i = buruk; wallãhu = dan Allah; samĩun = Maha Mendengar; ‘alĩmu = Maha Mengetahui.
wa minal a’rōbi man yattakhidzu mã yunfiqu maghroman wa yataRabashu bikumudda wã-iro, ‘alaihim dã-irotus sau-i, wallãhu samĩun ‘alĩmu
98. Dan di antara orang-orang Arab Dusun itu ada yang memandang apa yang dinafkahkan (di jalan Allah) itu sebagai denda (merugikan), dan mereka menanti-nanti bencana menimpamu. Merekalah yang akan mendapat bencana buruk, dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang-orang Arab Dusun yang menganggap apa yang dinafkahkan di jalan Allah itu denda dan merugikan mereka. Oleh karena itu, mereka mengarapkan bencana menimpa Nabi Muhammad saw. (Kaum Muslim). Allah menetapkan merekalah yang akan terkena bencana buruk.
wa minal a’rōbi = dan diantara orang-orang Arab Dusun; man = orang; yu’minu billãhi = dia beriman kepada Allah; wal yaumil akhiri = dan Hari Akhirat; wa yattakhidzu = dan dia memandang; mã = apa; yunfiqu = yang dinafkahkan; qurubãtin = sebagai pendekatan; ‘indallãhi = kepada Allah; wa sholawãtir rosũli = dan salawat kepada Rasul; allã = ketahuilah; innahã = sesungguhnya itu; qurbatul lahum = pendekatan bagi mereka; sayudkhiluhumullãhu = Allah akan memasukkan mereka; fĩ rohmatihi = ke dalam rahmat-Nya; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrur = Maha Pengampun; rohĩmu = Maha Penyayang.
wa minal a’rōbi man yu’minu billãhi wal yaumil akhiri wa yattakhidzu mã yunfiqu qurubãtin ‘indallãhi wa sholawãtir rosũli, allã innahã qurbatul lahum, sayudkhiluhumullãhu fĩ rohmatihi, innallãha ghofũrur rohĩmu.
99. Dan di antara orang-orang Arab Dusun itu ada yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan dia memandang apa yang dinafkahkan (di jalan Allah) itu sebagai pendekatan kepada Allah dan selawat Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya, nafkah (di jalan Allah) itu sebagai pendekatan bagi mereka kepada Allah. Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang-orang Arab Dusun yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.
was sãbiqũna = dan orang-orang yang terdahulu; al awwalũna = yang pertama; mina = di antara; al muhãjirĩna = orang-orang Muhajir; wal anshōri = dan orang-orang Ansor; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; attaba’ũhum = mengikuti mereka; bi ihsaanin = dengan baik; rodhiyallãhu = Allah rela; ‘anhum = kepada mereka; wa rodhũ = dan mereka rela; ‘anhu = kepada-Nya; wa a’adda = dan Dia menyediakan; lahum = bagi mereka; jannaatin = surga; tanjrĩ = mengalir; tahtahã = di bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadan = selama-lamanya; dhãlika = demikian itu; al fauzu = kemenangan; al ‘adzĩm = yang besar.

was sãbiqũna al awwalũna minal muhãjirĩna wal anshōri wal ladzĩna attaba’ũhum bi ihsaanir rodhiyallãhu ‘anhum wa rodhũ ‘anhu wa a’adda lahum jannaatin tanjrĩ tahtahal anhãru khōlidĩna fĩhã abada, dhãlikal fauzul ‘adzĩm.
100. Dan orang-orang yang terdahulu, yang pertama (masuk Islam), di antara orang-orang Muhajirin dan Ansor, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rela kepada mereka, dan mereka pun rela kepada-Nya, dan dia menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya. Demikian itu kemenangan yang besar.

wa mimman = dan di antara orang-orang yang; haulakum = di sekeliling kamu semua; min = dari; al a’rōbi = orang-oran Arab Baduy; munãfiqũna = ada orang-orang munafik; wa min = dan dari; ahlil madĩnati = penduduk Madinah; marodũ = mereka berlebih-lebihan; ‘alan nifãqi = terhadap kemunafikan; lã ta’lamuhum = kamu tidak mengetahui mereka; nahnu = Aku; na’lamuhum = Aku mengetahui mereka; sanu’adzdzibuhum = akan Aku siksa mereka; marrotaini = dua kali; tsumma = kemudian; yurodduna = mereka dikembalikan; ilã = ke dalam; ‘adzãbin ‘adhĩm = azab yang sangat berat.
wa mimman haulakum minal a’rōbi munãfiqũna, wa min ahlil madĩnati, marodũ ‘alan nifãqi lã ta’lamuhum, nahnu na’lamuhum, sanu’adzdzibuhum marrotaini tsumma yurodduna ilã ‘adzãbin ‘adhĩm.
101. Dan di antara orang-orang Arab Dusun di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah, mereka berlebih-lebihan kemunafikannya. Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi Aku mengetahui mereka. Aku akan menyiksa mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan ke dalam siksa yang sangat berat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan adanya aneka macam keyakinan penduduk Arab Dusun dan di Madinah. Mereka yang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad akan mendapat siksa yang besar.
wa ãkhorũna i’tarofũ bi dzunũbihim = dengan dosa-dosa mereka; kholathũ = mereka mencampur-baurkan; ‘amalan = pekerjaan; shōlihan = yang baik; wa ãkhoro = dan yang lain; sayyi-an = yang buruk; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an yatũba = Dia menerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; rohĩm = Maha Penyayang.
wa ãkhorũna’tarofũ bi dzunũbihim kholathũ ‘amalan shōlihan wa ãkhoro sayyi-an ‘asallãhu an yatũba ‘alaihim, innallãha ghofũrur rohĩm.
102. Dan (ada pula) orang-orang yang mengakui dosa-dosa mereka, mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan (pekerjaan) lain yang buruk. Mudah-mudahan, Allah menerima tobat mereka, sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan adanya bermacam-macam perilaku orang-orang di Jazirah Arab.

khuds = ambillah; min amwãlihim = dari sebagian harta mereka; shodaqotan = sedekah; tuthohhiruhum = kamu membersihkan mereka; wa tuzakkĩhim = dan kamu mensucikan mereka; bihã = dengan sedekah itu; wa sholli = dan doakanlah ‘alaihim, inna sholãtaka sakanul lahum, wallãhu samĩ’un ‘alĩm.
khuds min amwãlihim shodaqotan tuthohhiruhum wa tuzakkĩhim bihã wa sholli ‘alaihim, inna sholãtaka sakanul lahum, wallãhu samĩ’un ‘alĩm.
103. Ambillah sebagian dari harta mereka, dengan sedekah itu, kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan doakanlah mereka, sesungguhnya, doa kamu itu (menjadi) ketenteraman bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
alam = apakah tidak; ya’lamũ = mereka mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; yaqbalu = Dia menerima; at taubata = tobat; ‘an ‘ibãdihĩ = dari hamba-hamba-Nya; wa ya’khudzu = dan Dia mengambil; ash shodaqōti = sedekah; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; huwa = Dia; at tawwãbu = Maha Penerima tobat; ar rohĩm = Maha Penyayang.
alam ya’lamũ annallãha huwa yaqbalut taubata ‘an ‘ibãdihĩ wa ya’khudzush shodaqōti wa annallãha huwat tawwãbur rohĩm.
104. Apakah mereka tidak mengetahui, bahwa Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya, dan mengambil sedekah, dan sesungguhnya Allah, Dia Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang?
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan secara retoris Sifatnya Yang Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.

wa quli = dan katakanlah; i‘malũ = bekerjalah kamu; fasayarallãhu = maka Allah akan melihat; ‘amalakum = pekerjaanmu; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; wal mu’minũna = dan orang-orang mukmin; wa saturoddũuna = dan kamu akan dikembalikan; ilã = kepada; ‘alimi = Yang Mengetahui; al ghoibi = Yang gaib; wasy syahãdati = dan yang nyata; fayunabi’ukum = lalu Dia terangkan kepadamu; bimã = terhadap apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.
wa quli‘malũ fasayarallãhu ‘amalakum wa rosũluhũ wal mu’minũna, wa saturoddũuna ilã ‘alimil ghoibi wasy syahãdati fayunabi’ukum bimã kuntum ta’malũn.
105. Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia terangkan kepadamu tentang apa yang kamu kerjakan.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan Rasul dan orang-orang Mukmin menyuruh orang-orang kafir bekerja. Hasilnya, Allah akan menerangkan kepada mereka saat di dunia atau nanti di akhirat.

wa ãkhorũna = dan orang-orang yang; marjauna = mereka ditangguhkan; li amrillãhi = sampai keputusan Allah; immã = ada kalanya; yu’adz dzibuhum = Dia mengazab mereka; wa immã = dan kadang-kadang; yatũbu = Dia menerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; hakĩmu = Mahabijaksana.
wa ãkhorũna marjauna li amrillãhi immã yu’adz dzibuhum wa immã yatũbu ‘alaihim, wallãhu ‘alimun hakĩmu
106. Dan (ada pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah, ada kalanya Dia mengazab mereka, dan ada kalanya Dia menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan apakah seseorang itu diazab atau diterima tobatnya

wal ladzĩna = dan (ada pula) orang-orang yang; it takhodzũ = (mereka) menjadikan; masjidan = masjid; dhirōron = kemudaratan; wa kufron = dan kekafiran; wa tafrĩkon = dan memecah-belah; baina = antara; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; wa irshãdan = dan menunggu; liman = bagi orang-orang yang; hãroballãha = telah memerangi Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; min qoblu = dari dulu; wa layahlifunna = dan sungguh mereka bersumpah; in arodnã = kami tidak menghendaki; illa = kecuali; al husnã = kebaikan; wallãhu = dan Allah; yasyhadu = Dia menjadi saksi; innahum = sesungguhnya mereka; la kãdzibũn = sungguh-sungguh orang-orang pendusta.
wal ladzĩnat takhodzũ masjidan dhirōron wa kufron wa tafrĩkom bainal mu’minĩna wa irshãdal liman hãroballãha wa rosũlahũ min qoblu, wa layahlifunna in arodnã illal husnã, wallãhu yasyhadu innahum la kãdzibũn.
107. Dan (ada pula) orang-orang yang mendirikan masjid (karena hendak menimbulkan) kemudaratan, kekafiran, memecah belah antara orang-orang mukmin, dan menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dulu. Dan sesungguhnya, mereka bersumpah: “Kami tidak menghedaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi, sesungguhnya, mereka itu orang-orang yang berdusta.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu perilaku orang-orang kafir.

lã taqum = janganlah kamu berdiri (salat); fĩhi = di dalamnya; abada = selamanya; lamasjidun = sungguh masjid; ussisa = didirikan; ‘alat taqwã = atas dasar takwa; min awwali = dari awal; yaumin = yaumin; ahaqqu = lebih pantas; an taqũma = bahwa kamu berdiri (salat); fĩh = di dalamnya; fĩhi = di dalamnya; rijãlun = orang laki-laki; yuhibbũna = mereka senang (ingin); an yatathohharũ = mereka membersihkan diri; wallãhu = dan Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muth thohhirĩn = orang-orang yang bersih.
lã taqum fĩhi abada, lamasjidun ussisa ‘alat taqwã min awwali yaumin ahaqqu an taqũma fĩh, fĩhi rijãlun yuhibbũna an yatathohharũ, wallãhu yuhibbul muththohhirĩn.
108. Janganlah kamu salat di masjid itu selamanya, sesungguhnya Masjid Quba yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama itu lebih patut kamu salat di dalamnya. Di dalamnya, ada orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang salat di masjid yang didirikan dengan dasar seperti tersebut pada ayat 107. Allah memerintah agar salat di masjid yang didirikan atas dasar takwa. Allah suka kepada orang-orang yang bersih, dan yang ingin membersihkan diri.
afaman = apakah orang-orang yang …; assasa = mendirikan; bun-yaanahũ = masjidnya; ‘alã = di atas (dasar); taqwã = takwa; minallãhi = kepada Allah; wa ridwãnin = dan kerelaan; khoirun = yang baik; au = atau; man = orang; assasa = mendirikan; bun-yaanahũ = masjidnya; ‘alã = atas; syafã = pinggir (tepi); jurufin = jurang; hãrin = runtuh; fanhãro = lalu runtuh; bihĩ = dengan dia; fĩ nãri = ke api; jahannama = jahanam; wallãhu = dan Allah; lã = tidak; yahdĩ = memberi petunjuk; al qouma = kaum; adh dhōlimĩn = lalim.
afaman assasa bun-yaanahũ ‘alã taqwã minallãhi wa ridwãnin khoirun am man assasa bun-yaanahũ ‘alã syafã jurufin hãrin fanhãro bihĩ fĩ nãri jahannama, wallãhu lã yahdĩl qoumadh dhōlimĩn.
109. Apakah orang-orang yang mendirikan masjidnya di atas dasar takwa kepada Allah, dan kerelaan-Nya itu yang baik, ataukan orang-orang yang mendirikan masjidnya di tepi jurang yang akan runtuh, lalu masjid itu runtuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan cara mendirikan masjid yang bertentangan tujuannya (atas dasar takwa atau atas dasar yang menimbulkan perpecahan (ayat 107).

lã yazãlu = selalu; bun-yaanuhumu = bangunan-bangunan mereka; al ladzĩ = yang; banau = mereka bangun; rĩbatan = keraguan; fĩ qulũbihim = di dalam hati mereka; illã = kecuali; an taqoththo’a = telah hancur; qulũbuhum = hati mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.

lã yazãlu bun-yaanuhumul ladzĩ banau rĩbatan fĩ qulũbihim illã an taqoththo’a qulũbuhum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
110. Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa membuat keraguan di dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bangunan-bangunan yang didirikan tanpa dasar takwa akan membawa kehancuran jiwa dan raga.
inna = sesungguhnya; allãha = Allah; isytarō = membeli; min = dari; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; anfusahum = diri mereka; wa amwãlahum = dan harta mereka; bi anna = dengan-Nya; lahumu = untuk mereka; al jannah = surga; yuqōtilũna = mereka berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; fayaqtulũna = maka mereka membunuh; wa yuqtalũna = dan mereka dibunuh; wa’dan = janji; ‘alaihi = atasnya; haqqon = benar; fit taurōti = dari Taurat; wal injĩli = dan (dari) Injil; wal qur’ãn = dan dari Alquran; wa man = dan siapakah; aufã = lebih menepati; bi ‘ahdihĩ = dengan janjinya; minallãhi = daripada Allah; fastabsyirũ = maka bergembiralah kamu; bi bai’ikumu = dengan jual-belimu; al ladzĩ = yang; bãya’tum = telah kamu jual-belikan; bihĩ = dengannya; wa dzãlika = dan demikian (itu); huwa = ia; al fauzu = keuntungan; al ‘azhĩm = besar.
innallãhasytarō minal mu’minĩna anfusahum wa amwãlahum bi annalahumul jannah, yuqōtilũna fĩ sabĩlillãhi fayaqtulũna, wa yuqtalũna wa’dan ‘alaihi haqqon fit taurōti wal injĩli wal qur’ãn, wa man aufã bi ‘ahdihĩ minallãhi, fastabsyirũ bi bai’ikumul ladzĩ bãya’tum bihĩ, wa dzãlika huwal fauzul ‘azhĩm.
111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan harga surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau dibunuh, itu suatu janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka, bergembiralah kamu dengan jual-beli yang telah kamu lakukan, itulah keuntungan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu posisi orang mukmin yang berperang di jalan Allah yang tersurat pula di dalam Taurat, dan Injil. Allah selalu menepati janji.
attã-ibũna = orang-orang yang bertobat; al ‘ãbidũna = orang-orang yang beribadah (mengabdi); al hãmidũna = orang-orang yang memuji; as sã-ihũna = orang-orang yang mengembara; ar rōki’ũna = orang-orang yang ruku; as sãjidũna = orang-orang yang sujud; al ãmirũna = orang-orang yang menyuruh; bil ma’rũfi = dengan kebaikan; wan nãhũna = dan orang-orang yang mencegah; ‘anil munkari = dari kemungkaran; wal hãfizhũna = dan orang-orang yang memlihara; li hudũdillãh = bagi hukum-hukum Allah; wa basysyiri = dan gembirakanlah; al mu’minĩn = orang-orang mukmin.
attã-ibũnal ‘ãbidũnal hãmidũnas sã-ihũnar rōki’ũnas sãjidũnal ãmirũna bil ma’rũfi wan nãhũna ‘anil munkari wal hãfizhũna li hudũdillãh, wa basysyiril mu’minĩn.
112. Mereka itu, orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji Allah, yang mengembara, yang ruku dan sujud, yang menyuruh berbuat kebaikan, yang mencegah berbuat mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang mukmin itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan untuk menggembirakan orang-orang mukmin dengan berbagai perilaku yang tergambar dalam ayat ini.

mã kãna = tidak ada (tidak pantas); linnabiyyi = bagi Nabi; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; an yastaghfirũ = untuk memintakan ampunan; lil musyrikĩna = untuk orang-orang musyrik; wa lau = walaupun; kãnũ = mereka adalah; ulĩ qurbã = kerabãt dekat; mim ba’di = dari sesudah; mã tabayyana = apa yang telah jelas; lahum = bagi mereka; annahum = sesungguhnya mereka; ash-hãbul jahĩm = penghuni neraka jahim.
mã kãna linnabiyyi walladzĩna ãmanũ an yastaghfirũ lil musyrikĩna wa lau kãnũ ulĩ qurbã mim ba’di mã tabayyana lahum annahum ash-hãbul jahĩm
113. Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang yang beriman untuk memintakan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang yang musyrik, walau itu kaum kerabatnya sendiri, sudah jelas bagi mereka, orang-orang musyrik itu penghuni neraka jahim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi, orang-orang yang beriman tidak bisa memintakan ampun kepada Allah bagi orang-orang musyrik. Meminta ampun itu tanggung jawab masing-masing orang, dengan menunjukkan perubahan perilaku yang sesuai dengan syariat Islam.

wa mã kãna = dan tidak ada; istighfãru = permintaan ampun; ibrōhĩma = ibrahim; li abĩhi = untuk bapaknya; illã = kecuali; ‘am mau’idatin = karena suatu janji; wa‘adahã = ia janjikan; iyyãhu = kepada bapaknya; falammã = maka tatkala; tabayyana = jelas; lahũ = baginya; annahũ sesungguhnya dia; ‘aduwwun = musuh; lillãhi = bagi Allah; tabarro-a = (Ibrahim) berlepas diri; minhu = darinya; inna = sesungguhnya; ibrōhĩma = ibrahim; la-awwahun = lembut hati; halĩmun = penyantun.
wa mã kãnastighfãru ibrōhĩma li abĩhi illã ‘am mau’idatin wa‘adahã iyyãhu falammã tabayyana lahũ annahũ ‘aduwwul lillãhi tabarro-a minhu, inna ibrōhĩma la-awwahun halĩmun.
114. Dan tidak (diterima) permintaan ampun Ibrahim untuk bapaknya, karena ada janji (yang telah diucapkan) kepada bapaknya. Maka tatkala Ibrahim mengetahui bahwa dia, bapaknya musuh Allah, berlepas dirilah Ibrahim darinya. Sesungguhnya Ibrahim, seorang yang lembut hati lagi penyantun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Nabi Ibrahim dengan bapaknya, menjadi +cermin percontohan untuk kehidupan sekarang.

wa mã kãna = dan tidak ada; allãhu = Allah; liyudhilla = untuk Dia sesatkan; qouman = kaum; ba’da = sesudah; idz = ketika; hadãhum = Dia memberi petunjuk kepada mereka; hattã = sehingga; yabayyina = Dia jelaskan; lahum = bagi mereka; mã yattaqũn = apa yang mereka takuti; innallãha = sesungguhnya Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wa mã kãnallãhu liyudhilla qoumam ba’da idz hadãhum hattã yabayyina lahum mã yattaqũn, innallãha bi kulli syai-in ‘alĩm.
115. Dan Allah tidak menyesatkan suatu kaum, sesudah Dia memberi petunjuk kepada mereka, sehingga Dia jelaskan kepada mereka, apa yang harus mereka takuti. Sesungguhnya Allah mengetahui segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi ingat kepada manusia, tentang orang-orang yang disesatkan, dan apa yang seharusnya mereka takuti.
Innallãha = sesungguhnya Allah; lahũ = kepunyaan-Nya; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardi = dan bumi; yuhyĩ = Yang menghidupkan; wa yumĩtu dan Yang mematikan; wa mã lakum = dan tidak ada bagimu; min dũnillãhi = dari selain Allah; min waliyyin = dari pelindung; wa lã nashĩr = dan tidak penolong.
innallãha lahũ mulkus samãwãti wal ardi, yuhyĩ wa yumĩtu, wa mã lakum min dũnillãhi min waliyyin wa lã nashĩr.
116. Sesungguhnya kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi, Yang mematikan dan Yang menghidupkan. Tidak ada pelindung dan penolong bagimu selain Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan, peringatan ini sering disampaikan, sebagai penguat.
laqod = sesungguhnya; taballãhu = Allah menerima tobat; ‘alan nabiyyi = atas Nabi; wal muhãjirĩna = dan orang-orang Muhajirin; wal anshōri = dan orang-orang ansor; al ladzĩna = orang-orang yang …; at taba’ũhu = (mereka) mengikutinya; fĩ sã’ati = pada saat; al ‘usroti = kesulitan; mim ba’di mã = dari sesudah apa; kãda = hampir-hampir; yazĩghu = berpaling; qulũbu = hati; farĩqin = segolongan; minhum = dari mereka; tsumma = kemudian; tãba = Dia menerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; innahũ = sesungguhnya Dia; bihim = kepada mereka; roũfun = Maha Pengasih; rohĩm = Maha Penyayang.
laqot taballãhu ‘alan nabiyyi wal muhãjirĩna wal anshōril ladzĩnat taba’ũhu fĩ sã’atil ‘usroti mim ba’di mã kãda yazĩghu qulũbu farĩqim minhum tsumma tãba ‘alaihim, innahũ bihim roũfur rohĩm.
117. Sesungguhnya, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin, orang-orang ansor yang mengikuti Nabi pada saat kesulitan, setelah hati dari segolongan mereka hampir berpaling, kemudian Dia menerima tobat mereka. Sesungguhnya, Dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah kesulitan orang-orang Muhajirin, Ansor, dan segolongan lainnya yang hampir berpaling yang permohonan tobatnya diterima Allah.

wa alats tsalãtsati = dan atas tiga; al ladzĩna = orang-orang yang; khullifũ = (mereka) ditinggalkan; hattã = sehingga; idzã = sampai ketika; dhōqot = terasa sempit; ‘alaihimu = bagi mereka; al ardhu = bumi; bimã = dengan apa (padahal); rohubat = (bumi itu) luas; wa dhōqot = dan terasa sempit; ‘alaihim = bagi mereka; anfusuhum = jiwa mereka; wa zhonnũ = dan mereka mengira; al lã = bahwa tidak ada; malja’a = tempat lari; minalllãhi = dari Allah; illã = kecuali (melainkan); ilaih = kepada-Nya; tsumma = kemudian; tãba = Diamenerima tobat; ‘alaihim = atas mereka; li yatũbũ = agar mereka bertobat; innallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; at tawwabu = Maha Penerima tobat; ar rohĩm = Maha Penyayang.
wa alats tsalãtsatil ladzĩna khullifũ, hattã idzã dhōqot ‘alaihimul ardhu bimã rohubat wa dhōqot ‘alaihim anfusuhum wa zhonnũ al lã malja’a minalllãhi illã ilaih, tsumma tãba ‘alaihim li yatũbũ, innallãha huwat tawwabur rohĩm.
118. Dan (Allah menerima juga tobat) dari tiga orang yang ditinggalkan, sampai ketika bumi terasa sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka merasa sempit dalam diri mereka, dan mereka mengira, tidak ada tempat lari dari siksaan Allah, melainkan kepada-Nya, kemudian Dia menerima tobat dari mereka, agar mereka tetap bertobat. Sesungguhnya, Allah, Dialah Maha Penerima tobat dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah juga menerima tobat dari tiga orang yang ditinggalkan Nabi berhijrah.

yã ayyuha = wahai al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanu = beriman; it taqullãha = bertakwalah kepada Allah; wa kũnũ = dan jadilah kamu; ma’a = bersama; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanut taqullãha wa kũnũ ma’ash shōdiqĩn.
119 . Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan jadilah kamu bersama-sama dengan orang yang benar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah agar orang-orang yang beriman bertakwa kepada-Nya. Hal yang sering dilakukan Allah namun dengan tambahan anjuran yang berbeda.

mã kãna = tidak ada (tidak patut); li ahli = bagi penduduk; al madĩnati = Madinah; wa man = dan orang-orang; haulahum = di sekitar mereka; mina = dari; al a’rōbi = Arab Dusun (Badui); an yatakhollafũ = bahwa mereka tinggal di belakang (tidak ikut berperang); an = bersama; rosũlillãhi = Rosulullah; wa lã = dan tidak; yarghobũ = mereka lebih mencintai; bi anfusihim = kepada diri mereka sendiri; an nafsihi = daripada dirinya (Rasul); dzalika = demikian itu; bi annahum = karena sesungghnya mereka; lã yushĩbuhum = tidak menimpa mereka; zhōma-un = kehausan; wa lã = dan tidak; nashabun = kepayahan; wa lã = dan tidak; makhmashotun = kelaparan; fi sabilillãhi = di jalan Allah; wa lã = dan tidak; yatho-ũna = mereka menginjak; nauthi-an = suatu tempat; yaghĩzhu = menimbulkan amarah; al kuffaro = orang-orang kafir; wa lã = dan tidak; yanãlũna = mereka mendapat; min ‘aduwwin = dari musuh; nailan = bahaya (pendapatan); illã = malinkan; kutiba = ditulis; lahum = bagi mereka; bihĩ = dengannya; ‘amalun = amal; shōlihun = saleh; innallãha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yudhĩ’u = Dia menyia-nyiakan; ajro = pahala; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.
mã kana li ahlil madĩnati wa man haulahum minal a’rōbi an yatakhollafũ ar rosũlillãhi wa lã yarghobũ bi anfusihim an nafsihi, dzalika bi annahum lã yushĩbuhum zhōma-un wa lã nashabun wa lã makhmashotun fi sabilillãhi wa lã yatho-ũna nauthi-an yaghĩzhul kuffaro wa lã yanãlũna min ‘aduwwin nailan illã kutiba lahum bihĩ ‘amalun shōlihun, innallãha lã yudhĩ’u ajrol muhsinĩn.
120 . Tidak patut bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badui yang berdiam di sekitar mereka tinggal di belakang (tidak turut berperang) bersama Rasulullah, dan (tidak patut pula) mereka lebih mencintai diri mereka daripada diri Rasul-Nya. Demikian itu, karena sesungguhnya, mereka tidak akan ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) mereka menginjak suatu tempat yang menimbulkan amarah orang-orang kafir, dan mereka tidak medapat bahaya dari musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan suatu amal saleh. Sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.
. Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menilai penduduk Madinah dan orang-orang Arab Dusun tidak pantas, kalau mereka tidak turut berperang di jalan Allah. Sesungguhnya, berperang di jalan Allah itu ditulis dan dinilai sebagai amal saleh bagi mereka dan menjadi bekal menuju surga.

wa lã = dan tidak; yunfiqũna = mereka menafkahkan; nafaqotan = nafkah; shoghĩrotan = kecil; wa lã = dan tidak; yaqtho’ũna = mereka memotong (melintas); wãdiyyan = wadi (lembah); illã = melainkan (kecuali); kutiba = dituliskan; lahum = bagi mereka; liyajziyahumillãhu = karena Allah akan memberi balasan; ahsana = lebih baik; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.
wa lã yunfiqũna nafaqotan shoghĩrotan wa lã yaqtho’ũna wãdiyyan illã kutiba lahum liyajziyahumillãhu ahsana mã kãnũ ya’malũn.
121 . Dan mereka tidak menafkahkan nafkah yang kecil, dan (pula) tidak besar, dan mereka tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (sebagai amal saleh), karena Allah akan memberi balasan yang lebih baik bagi mereka dari apa yang telah mereka kerjakan.
. Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, setiap nafkah yang kecil atau pun besar untuk perang di jalan Allah, akan dicatat, dan akan dibalas dengan sesuatu yang lebih baik.

wa mã kãna = dan tidak patut (ada); al mu’minũna = orang-orang mukmin; li yanfirũ = untuk mereka pergi (berperang); kaffatan = semuanya; fa lau lã = maka mengapa tidak; nafaro = pergi, keluar; min kulli = dari tiap-tiap; firqotin = golongan; minhum = di antara mereka; thō-ifatu = beberapã orang; li yatafaqqohũ = untuk mereka memperdalam; fiddĩni = tentang agama; wa li yundzirũ = dan untuk memperingatkan; qoumahum = kaumnya; idzã = apabila; roja’ũ = mereka kembali; ilaihim = kepada mereka; la’allahum = supaya mereka; yahdzarũn = mereka menjaga diri.
wa mã kãnal mu’minũna li yanfirũ kaffatan, fa lau lã nafaro min kulli firqotim minhum thō-ifatul li yatafaqqohũ fiddĩni wa li yundzirũ qoumahum idzã roja’ũ ilaihim la’allahum yahdzarũn.
122. Dan tidak patut bagi orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Maka mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam ilmu agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah juga mengingatkan orang mukmin, agar tidak semuanya pergi berperang. Sebagian harus memperdalam ilmu agama dan memberi peringatan kepada kaumnya agar dapat menjaga dirinya.
yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; qōtilũ = perangilah; al ladzĩna = orang-orang yang; yalũnakum = (mereka) ada di sekeliling kamu; mina = dari; al kuffãri = orang-orang kafir; wal yajidũ = dan agar mereka mendapatkan; fĩkum = dari kamu; ghilzhoh = kekerasan; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = beserta; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ qōtilũl ladzĩna yalũnakum minal kuffãri wal yajidũ fĩkum ghilzhoh, wa’lamũ annallãha ma’al muttaqĩn
123. Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir di sekitar kamu, agar mereka mendapatkan kekerasan dari kamu, ketahuilah, Allah beserta orang-orang yang bertakwa.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah orang-orang yang beriman agar memerangi orang-orang kafir yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya.

wa idzã = dan bila; mã unzilat = diturunkan; sũrotun = suatu surat; fa min = maka di antara; hum = mereka; man = orang; yaqũlu = ia berkata; ayyukum = siapa di antara kamu; zãdat-hu = ia bertambah; hãdzihĩ = ini (surat); ĩmãnan = keimanan; fa amma = maka adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; fazãdat-hum = maka mereka menambah; ĩmãnan = keimanan; wa hum = dan mereka; yastabsyirũn = mereka merasa gembira.
wa idzã mã unzilat sũrotun fa min hum man yaqũlu ayyukum zãdat-hu hãdzihĩ ĩmãnan, fa ammal ladzĩna ãmanũ fazãdat-hum ĩmãnan wa hum yastabsyirũn.
124. Dan bila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka ada yang berkata: “siapakah di antara kamu yang bertambah imannya (dengan turunnya) surat ini?” Maka orang-orang yang beriman, (surat ini) menambah iman mereka, dan mereka merasa gembira.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan perbedaan antara orang-orang yang beriman, dan yang tidak beriman, saat diturunkan-Nya suatu surat melalui Nabi Muhammad saw..

wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalãm hati mereka; marodhun = penyakit; fa zadat-hum = maka mereka menambah; rijsan = kotor; ilã rijsihim = di samping kekotoran mereka; wa mãtũ = dan mereka mati; wa hum = dan mereka; kãfirũn = dalam keadaan kafir.
wa ammal ladzĩna fĩ qulũbihim marodhun fa zadat-hum rijsan ilã rijsihim wa mãtũ wa hum kãfirũn.
125. Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan turunnya surat itu), mereka menambah kotor di samping kekotoran mereka (yang sudah ada), dan mereka mati dalam keadaan kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan keadaan orang kafir saat diturunkan-Nya surat, sampai matinya.

awalã = apakah tidak (tidakkah); yarauna = mereka memperhatikan; annahum = bahwa mereka; yuftanũna = mereka diuji; fĩ kulli = dalam setiap; ‘amin = tahun; marrotan = sekali; au marrotaini = atau dia kali; tsumma = kemudian; lã yatũbũna = mereka tidak bertobat; wa lãhum = dan mereka tidak; yadzdzakkarũn = mereka mengambil pelajaran (ingat).
awalã yarauna annahum yuftanũna fĩ kulli ‘amin marrotan au marrotaini tsumma lã yatũbũna wa lãhum yadzdzakkarũn
126. Apakah tidak (tidakkah) mereka memperhatikan, mereka diuji sekali, atau dua kali dalam setiap tahun?, kemudian mereka tidak (juga) bertobat, dan tidak (juga) mau ingat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia itu selalu diuji dalam hidupnya. Banyaklah ingat dan bertobat kepada Allah.

wa idzã = dan bila; mã unzilat = diturunkan; sũratun = suatu surat; nazhoro = memandang; ba’dhuhum = sebagian mereka; ilã ba’dhin = kepada sebagian yang lain; hal = apakah; yarōkum = melihat kamu; min ahadin = dari seorang; tsumma = kemudian; in sharofũ = mereka berpaling; sharofallãhu = Allah memalingkan; qulũbahum = hati mereka; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; qoumun = kaum; lã yafqohũn = mereka tidak mengerti.
wa idzã mã unzilat sũratun nazhoro ba’dhuhum ilã ba’dhin, hal yarōkum min ahadin tsumman sharofũ, sharofallãhu qulũbahum bi annahum qoumul lã yafqohũn.
127. Dan bila diturunkan suatu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?” kemudian mereka pergi. Allah telah memalingkan hati mereka, karena sesungguhnya, mereka itu kaum yang tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu sikap orang-orang kafir. Hati mereka tidak mau mengerti ayat-ayat Allah.

laqod = sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; rosũlun = seorang Rasul; min anfusikum = dari golonganmu sendiri; ‘azĩzun = terasa berat; ‘alaihi = baginya; mã ‘anittum = apa deritamu; harĩshun = sangat menginginkan; ‘alaikum = bagimu; bil mu’minĩna = kepada orang-orang Mukmin; ro-ũfun = amat penyantun; ar rohĩm = penyayang.
laqod jã-akum rosũlum min anfusikum ‘azĩzun ‘alaihi mã ‘anittum harĩshun ‘alaikum bil mu’minĩna ro-ũfur rohĩm.
128. Sesungguhnya telah datang kepadamu, seorang Rasul dari golonganmu sendiri, terasa berat baginya deritamu, sangat menginginkan (kebaikan) bagimu, amat penyantun dan penyayang kepada orang-orang mukmin.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kedatangan seorang Rasul yang merasakan beratnya penderitaanmu, dan sangat menginginkan kebaikan

fain = maka jika; tawallau = mereka berpaling; faqul = maka katakanlah; hasbiyallãhu = cukuplah Allah bagiku; lã ilãha = tidak ada ilah lain; illã = selain; huwa = Dia; ‘alaihi = kepada-Nya; tawakkaltu = aku bertawakal; wa huwa = dan Dia; Rabul ‘arsyil ‘azhĩm = Pemilik arasy yang agung.
fain tawallau faqul hasbiyallãhu, lã ilãha illã huwa, ‘alaihi tawakkaltu, wa huwa Rabul ‘arsyil ‘azhĩm.
129. Maka, jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada ilah selain Dia, kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Pemiliki ‘arasy yang agung.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau orang-orang yang diseru mengabaikan, Allah memberi hiburan dengan mengatakan seperti yang tersebut dalam ayat ini.

008 Al Anfal

Audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
AL ANFÃL
Barang Rampasan Perang
Surat ke-8, 75 ayat, Madaniyah.
Juz 9 beralih ke Juz 10 pada ayat 41
Catatan awal
Isi Surat ini tergambar dari judulnya, yaitu soal pembagian barang rampasan perang. Khusus pada peristiwa Perang Badar Kubra, yang terjadi pada tahun kedua Hijriah. Peristiwa perang ini sangat menentukan Sejarah Islam selanjutnya. Diriwayatkan oleh sahabat Ibnu Abbas r.a. Saat itu pasukan Islam masih sedikit. Tapi ternyata, Allah menetapkan memberi pertolongan kepada pasukan Islam, sehingga dapat mengalahkan kaum kafirin yang jumlahnya lebih besar. Pasukan Islam memperoleh barang rampasan perang yang banyak. Para sahabat Rasul menanyakan bagaimana cara membaginya. Isi Surat ini terkait juga dengan aturan atau hukum perang pada umumnya. Selain itu, pokok-pokok isinya sebagai berikut.
Keimanan: Allah selalu beserta orang-orang yang beriman, membimbing, melindungi, memberi pertolongan, memberi pengajaran; Allah berhak menetapkan hukum agama yang sesuai dengan kebutuhan hidup yang baik dari manusia; Allah menjamin kemenangan orang yang beriman; harus selalu ingat, bertawakal kepada Allah untuk meningkatkan ketahanan mental; Pertolongan Allah beserta ribuan Malaikat-Nya selalu menyertai orang-orang yang beriman; Allah mempersatukan hati orang-orang yang beriman; Setan selalu mengganggu dan menipu manusia. Syirik itu termasuk dosa besar.
Hukum: aturan membagi barang rampasan perang; Harta rampasan perang boleh dimakan; cara-cara Islam berperang menghadapi orang-orang kafir. Tidak diperkenankan berbalik ketika menghadapi orang-orang kafir yang menyerang; wajib menaati pemimpin perang; hal tawanan perang; antara perang dan damai; wajib bersiap, baik dalam keadaan perang maupun dalam keadaan damai; tujuan perang; dilarang khianat kepada Allah, Rasul, kepada amanat, dan perjanjian.
Kisah-kisah: Orang-orang Islam enggan berperang sebelum perang, saat berperang, sesudah perang. Keadaan Nabi Muhammad saw. saat belum hijrah, saat terjadi perang dengan kaum musyrikin. Orang Yahudi membatalkan perjanjian damai. Kisah orang kafir, musyrikin, munafikin, fasiqin, dan Ahli Kitab.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Penyayang

yas-alũnaka = mereka akan menanyakan kepada kamu; ‘anil anfãli = tentang barang rampasan perang; qul = katakan; il anfãlu = barang rampasan perang; lillãhi = milik Allah; war rosũli = dan rasul-Nya; fattaqũllãha = maka bertawakallah kepada Allah; wa ashlihũ = dan perbaikilah; dzãta = hubungan; bainikum = di antara kamu; wa athĩ’ũllãha = dan taatlah kepada Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; in = jika; kuntum = kamu sekalian; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
yas-alũnaka ‘anil anfãli, qulil anfãlu lillãhi war rosũli, fattaqũllãha wa ashlihũ dzãta bainikum, wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ in kuntum mu’minĩn.
1. Mereka akan menanyakan kepadamu tentang harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul-Nya, maka bertawakallah kamu kepada Allah, dan perbaikilah hubungan di antara kamu. Taatlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Segala sesuatu itu milik Allah. Rasul-Nya diberi kuasa untuk mengatur milik Allah itu secara adil. Harta rampasan perang itu disebut ganimah. Empat per lima dari ganimah itu diberikan kepada orang-orang yang terlibat langsung peperangan. Seperlima sisanya dibagikan kepada lima golongan: a. Untuk Allah dan Rasul-Nya (untuk kemaslahatan umat manusia); b. Untuk kerabat Rasul, yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthallib; c. Untuk yatim-piatu; d. Untuk orang-orang fakir-miskin; e. Untuk musafir yang kehabisan bekal. Manusia, makhluk-Nya harus bertawakal hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Mahabijaksana, ketika makhluk-Nya menghadapi sebuah persoalan; makhluk-Nya harus berupaya menjalin hubungan dengan sesama makhluk dengan baik. Hindari kesalahpahaman, pertikaian dan permusuhan. Makhluk-Nya harus taat menjalankan hidupnya secara lurus, mengikuti perintah Allah dan Rasul, menjauhi apa yang dilarang-Nya. Demikianlah, cara hidup makhluk beriman.

Innamã = sungguh hanya; al mu’minũna = orang-orang mu’min; al ladzĩna = orang-orang yang …; idzã = apabila; dzukirallãhu = disebut nama Allah; wajilat = gemetarlah; qulũbuhum = hati mereka; wa idzã = dan jika; tuliyat = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyãtuhũ = ayat-ayat-Nya; zadat-hum = ia menambahkan mereka; ĩmãnan = keimanan; wa ‘alã = dan kepada; robbihim = Rabbnya; yatawakkalũn = mereka bertawakal.
Innamãl mu’minũnal ladzĩna idzã dzukirallãhu wa jilat qulũbuhum wa idzã tuliyat ‘alaihim ãyãtuhũ zadat-hum ĩmãnan wa ‘alã robbihim yatawakkalũn
2. Sesungguhnya, orang-orang mu’min itu, apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan jika dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya, menambah keimanannya, dan hanya kepada Rabnya mereka bertawakal.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang-orang yang beriman: a. Kalau mendengar nama Allah diucapkan, hatinya bergetar; b. Kalau dibacakan ayat-ayat Allah, imannya bertambah; c. Berserah diri, selalu berharap, dan takut hanya kepada Allah. Lihat ayat berikutnya, dan Q.s. Al Baqarah, 2 : 3.
alladzĩna = orang-orang yang …; yuqĩmuna = mendirikan; ash sholãta = salat; wa mimmã = dan dari apa; rozaqnãhum = telah Aku berikan rezeki kepada mereka; yunfiqũn = mereka menafkahkan.
alladzĩna yuqĩmunash sholãta wa mimmã rozaqnãhum yunfiqũn
3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah Aku berikan kepada mereka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang-orang yang takwa, yaitu orang-orang yang mendirikan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang didapat dari Allah. Lihat Q.s.Al Baqarah, 2 : 3,4.

ulã-ika = itulah; humu = mereka; al mu’minũna = orang-orang yang beriman; haqqon = sebenar-benarnya; lahum = bagi mereka; darojãtun = derajat (kehormatan); ‘inda = di hadapan; robbihim = Rabnya; wamaghfirotun = dan ampunan; wa rizqun = dan rezeki (kenikmatan); karĩm = mulia.
ulã-ika humul mu’minũna haqqol lahum darojãtun ‘inda robbihim wamaghfirotun wa rizqun karĩm
4. Mereka itulah orang-orang yang beriman yang sebenar-benarnya, mereka memperoleh derajat (kehormatan) di hadapan Rabnya dan ampunan serta rezeki (kenikmatan) yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang benar-benar beriman, cirinya lihat catatan ayat 2, dan 3. Orang-orang yang beriman mendapat kehormatan di hadapan Allah, mendapat ampunan, dan mendapat rezeki yang mulia dari Allah.

kamã = sebagaimana; akhrojaka = mengeluarkan kamu; robbuka = Rab kamu; min baitika = dari rumah kamu; bil haqqi = dengan kebenaran; wa inna = dan sesungguhnya; farĩqon = segolongan; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; lakãrihũn = benar-benar benci (tidak menyukai).
kamã akhrojaka robbuka min baitika bil haqqi, wa inna farĩqon minal mu’minĩna lakãrihũn.
5. Sebagaimana Rab kamu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran (menuju Perang Badar), sesungguhnya, sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pergi dari rumah” merupakan ungkapan halus dari “pergi berperang.” “sebagian dari orang-orang yang beriman tidak menyukainya” pada hakekatnya orang-orang Islam itu tidak suka berperang. Namun dalam kondisi memaksa, maka perang itu harus dilakukan (atas perintah Allah, dan harus atas nama Allah) demi menjaga kehormatan (harga diri), mempertahankan kebenaran, menegakkan keadilan, menjaga keamanan dan ketertiban, mencegah kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Peperangan menciptakan perdamaian. Perdamaian menciptakan dinamika hidup berkembang yang positif. Saat damai, orang-orang yang beriman harus bersiaga, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan petunjuk dan, kehendak Allah.

yujãdilũnaka = mereka membantahmu; fil haqqi = tentang kebenaran; ba’da mã = sesudah apa; tabayyana = nyata; ka-annamã = seakan-akan; yusãqũna = mereka dipaksa; ilãl mauti = menuju ke kematian; wa hum = sedang mereka; yanzhurũn = mereka melihat.
yujãdilũnaka fil haqqi ba’da mã tabayyana ka-annamã yusãqũna ilãl mauti wa hum yanzhurũn.
6. Mereka membantahmu (Muhammad saw.) tentang kebenaran yang sudah nyata (keyakinan adanya perintah Allah, pasukan Islam dapat dipastikan menang). Seakan-akan mereka dipaksa untuk menghadapi kematian, sedang mereka memahami (sebab-sebab kematian itu).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian Kaum Mukmin membantah untuk berperang, karena merasa didorong menghadapi kematian. Padahal peperangan dilakukan untuk membela kebenaran, atas perintah Allah. Peperangan ini sudah pasti terjadi karena Nabi Muhammad saw. yang menetapkannya atas wahyu dari Allah. Kematian di jalan Allah (berjihad) adalah kematian terhormat, dan dipastikan nanti di akhirat masuk surga. Hal ini sudah dipahami oleh orang-orang Islam.

wa idz = dan ingatlah ketika; ya’idukumullãhu = Allah menjanjikan kepadamu; ihda = salah satu; ath tho-ifataini = dua golongan itu; annahã = bahwa ia; lakum = untuk kamu semua (menjadi musuhmu); wa tawaddũna = sedang kamu semua menginginkan; anna = bahwa; ghoiro = tidak; dzãti = mempunyai; syaukati = kekuatan senjata; takũnu = adalah ia; lakum = untuk kamu semua; wa yuridullãhu = dan Allah menghendaki; an = untuk; yuhiqqa = membenarkan; al haqqo = yang benar; bi kalimatĩ = dengan ayat-ayat-Nya; wa yaqtho’a = dan Dia memusnahkan; dãbiro = seluruh; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
wa idz ya’idukumullãhu ihdath tho-ifataini annahãlakum wa tawaddũna anna ghoiro dzãtisyaukati takũnu lakum wa yuridullãhu an yuhiqqal haqqo bi kalimatĩ wa yaqtho’a dãbirol kãfirĩn.

7. Dan ingatlah, ketika Allah menjanjikan kepadamu, salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) menjadi musuhmu, sedang kamu menginginkan, yang tidak memiliki kekuatan senjatalah musuhmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar itu, dengan ayat-Nya, dan Dia memusnahkan orang-orang kafir semuanya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kelompok Nabi saw. akan menghadapi salah satu musuh, yaitu orang-orang kafir Qurais yang akan dikalahkan. Allah menghendaki Islam tegak dan berwibawa, dengan perintah memerangi orang kafir Qurais itu dan membinasakannya semua. Dua golongan itu adalah, pertama kelompok kafilah dagang dengan harta yang banyak, dan tidak bersenjata (al Ier). Kelompok kedua adalah orang-orang kafir (an Nafĩr) yang bersenjata, dan harus diperangi.

li yuhiqqa = Agar Dia membenarkan; al haqqo = yang benar; wa yubthila = dan membatalkan; al bathila = yang batil (musryik); wa lau = walaupun; kariha = tidak menyukai (benci); al mujrimũn = orang-orang yang berdosa
li yuhiqqal haqqo wa yubthilal bathila wa lau karihal mujrimũn.
8. Agar Dia menetapkan yang benar, dan membatalkan yang batil, walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya (membencinya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang benar itu akidah Islam, harus ditegakkan, dimuliakan. Yang batil adalah kepercayaan syirik (menyekutukan Allah dengan benda-benda. Orang-orang yang berdosa adalah orang-orang musyrik. Mereka tidak suka kepercayaan syiriknya diubah.

idz = ketika; tastaghĩtsũna = kamu sekalian meminta pertolongan; robbakum = Rabb kamu; fãstajãba = maka Dia memperkennkan; lakum = bagimu; annĩ = sungguh Aku; mumiddukum = mendatangkan bantuan untukmu; bi alfin = dengan seribu; minal malãikati = dari Malaikat; murdifĩn = datang berduyun-duyun.
idz tastaghĩtsũna robbakum fãstajãba lakum annĩ mumiddukum bi alfim minal malãikati murdifĩn
9. (ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabmu, lalu Dia memperkenankan bagimu, (dan bersabda): “Sesungguhnya, Aku mendatangkan bala bantuan untukmu dengan seribu Malaikat yang datang berduyun-duyun.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau kamu memohon bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang baik (yang diridoi Allah), tentu Allah akan memberi bantuan. Allah mengirim bala bantuan sebanyak seribu Malaikat berduyun-duyun.

wa mã = dan tidak; ja’alahullãhu = Allah menjadikannya; illã = melainkan; busyrō = kabar gembira; wa litathma’inna = dan agar menenteramkan; bihĩ = dengannya; qulũbukum = hati kamu sekalian; wa mã = dan tidak; an nashru = pertolongan; illã = kecuali; min ‘indillãh = dari haribãn Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wa mã ja’alahullãhu illã busyrō wa litathma’inna bihĩ qulũbukum, wa maan nashru illã min ‘indillãh, innallãha ‘azĩzun hakĩm
10. Dan Allah tidak menjadikan bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira, dan agar menenteramkan hatimu. Dan tidak adalah kemenangan itu, kecuali karena dari Allah. Sesungguhnya, Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bantuan itu berupa kabar gembira yang menenteramkan hati Nabi dan para pengikutnya. Kemenangan itu Allah Yang menentukan. Ketenteraman hati mengakibatkan hidup kreatif, teratur dan benar. Ketenteraman ini dapat dicapai dengan dzikrullah (mengingat Allah) dengan penuh keyakinan akan adanya pertolongan Allah. Yakin bahwa Allah itu Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahabijaksana. Selalu bersyukur atas segala limpahan karunia-nikmat-Nya yang terasa ataupun yang sudah tidak dirasa. Tilawah (membaca), Tasmi’ dan Tadzabur (mengambil pelajaran dari) Alquran dengan mengingat kebermaknaannya yang sempurna yang dapat menyejukkan, menenteramkan hati.

idz = ketika; yughosysyĩkumu = (Allah) menjadikan kamu; an nu’ãsa = mengantuk; amanatan = perasaan tenteram; min hu = dari-Nya; wa yunazzilu = dan Allah menurunkan; ‘alaikum = kepadamu; mina dari; as samã-i = dari langit; mã-an = air (hujan); liyuthohhirokum = untuk menyucikan kamu; bihi = dengannya; al aqdãm = telapak kaki (pendirian).
idz yughosysyĩkumun nu’ãsa amanatam min hu wa yunazzilu ‘alaikum minas samã-i mã-al liyuthohhirokum bihil aqdãm.
11. (Ingat) ketika Allah membuat kamu mengantuk, (akibat) perasaan tenteram dari-Nya, dan Allah menurunkan hujan dari langit, agar kamu dapat menyucikan dirimu, dan menghilangkan gangguan setan darimu, dan untuk menguatkan hatimu, memperteguh pendirianmu dengannya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, perasaan kantuk itu dapat menimbulkan tenteram. Kantuk ini dapat timbul juga karena kelelahan kerja, atau ada sesuatu yang membosankan. Kalau diikuti terus akibatnya tidak baik. Jadi, harus didorong untuk mempunyai keinginan, kemauan yang positif, mencapai sesuatu yang baik, berguna untuk hidup yang lebih baik. Perilaku yang positif pada orang yang tenang jiwanya adalah: a. Dzikrullah artinya mengingat Allah dengan menghadirkan nama-nama Allah yang baik (Asmaul Husna); b. Yaqin pada pertolongan Allah jika memerlukan pertolongan; c. Memperhatikan bukti-bukti kekuasaan Allah di dalam diri sendiri, diri orang lain, makhluk lain, alam semesta; d. Selalu bersyukur kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisi yang dialami setiap saat (yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, yang menggembirakan atau yang mencekam, menakutkan); e. Tilawah Tasmi’ dan Tadabbur Alquran artinya mengulang-ulang isi Alquran yang bermakna mulia, mengagungkan isi Alquran yang banyak mengandung pelajaran, nasihat, petunjuk, penyejuk hati.
Air dapat digunakan untuk bersuci dan berbagai kegunaan lainnya yang banyak (menghilangkan gangguan setan, menguatkan hati, meneguhkan pendirian, menyeimbangkan metabolisme tubuh (menyehatkan), dan keperluan-keperluan lainnya (turbin tenaga listrik air, pengairan pada perkebunan, dan pesawahan, menyuburkan tanah, memasak, melarutkan berbagai obat, melarutkan berbagai minyak, membuat berbagai minuman). Ingat Arasy Allah di atas air (Q.s. Hũd, 11 : 7). Tentang arasy adalah akal, pikiran, rasa yang ada pada manusia yang menyadari keberadaan Allah di dalam dirinya, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 22 catatannya; At Taubah, 9: 129; Yunus, 10: 3; Hud, 11: 7; Ar Ra’d, 13: 2; An Nahl, 16: 3; Al Isrō’; 17: 42; Thãhã, 20: 5; As Sajdah, 32: 4; Al Buruj, 85: 15.

Idz = ketika; yũhĩ = mewahyukan; robbukka = Rab kamu; ilãl malãikati = kepada para Malaikat; annĩ = sesungguhnya, Aku; ma’akum = bersama kamu; fatsabbitũ = maka teguhkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = mereka beriman; sa-ulkĩ fĩ = kelak Aku jatuhkan; qulũbi = hati; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; ar ru’ba = rasa takut; fadhribũ = maka pukullah (penggallah); fauqo = di atas; al a’nãqi = leher, tengkuk; wadhribũ = dan pukullah (potonglah); min hum = dari mereka; kulla = tiap-tiap; banaanin = ujung jari
Idz yũhĩ robbukka ilãl malãikati annĩ ma’akum fatsabbitũl ladzĩna ãmanũ, sa-ulkĩ fĩ qulũbil ladzĩna kafarũr ru’ba fadhribũ fauqol a’nãqi wadhribũ min hum kulla banaanin
12. (Ingat) ketika Rab kamu mewahyukan kepada para Malaikat: “Sesungguhnya, Aku bersama kamu, maka teguhkanlah semangat (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku turunkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, maka, penggallah leher-leher mereka, dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melalui para Malaikat agar mengingatkan Nabi Muhammad, Allah bersamanya untuk menghadapi orang-orang pembangkang (kafir) pada Perang Badar. Nabi diminta menguatkan semangat dan pendirian orang-orang yang telah beriman (Kaum Muslimin) dalam menghadapi orang-orang kafir. Allah memberitahu akan membuat orang-orang kafir menjadi takut kepada pasukan Islam. Allah memerintah agar memenggal leher orang-orang kafir atau memotong ujung jari mereka sebagai hukuman di dunia, dan agar mereka tidak berdaya menggunakan senjata, dan agar mereka tidak selalu membuat kegaduhan, keonaran. Di akhirat, Allah yang menetapkan hukumannya. Banyak dijelaskan di dalam Alquran ini.
dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; syãqullaha = mereka menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa man = dan barang siapa; yusyãqiqillãha = menentang Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; fa innallaha = maka sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōb = siksa.
dzãlika bi annahum syãqullaha wa rosũlahũ, wa man yusyãqiqillãha wa rosũlahũ fa innallaha syadĩdul ‘iqōb.
13. (Ketentuan) yang demikian itu, karena sesungguhnya, mereka menentang Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya, Allah sangat keras siksa-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan seperti pada ayat 11 di atas itu karena mereka menentang Allah dan Rasul-Nya.

dzãlikum = demikian itulah; fadzũqũhu = maka rasakanlah ia (siksa itu); wa anna = dan sesungguhnya; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãbannar = azab api neraka.
dzãlikum fadzũqũhu wa anna lil kãfirĩna ‘adzãbannar
14. Demikian itulah (hukuman Allah yang disegerakan di dunia ditimpakan atasnya, kaum kafir), maka rasakanlah, dan sesungguhnya, bagi orang-orang kafir, ada azab api neraka.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukuman Allah (dipenggal leher atau ujung jari tangannya, agar mereka tidak dapat menggunakan tangannya untuk memerangi orang-orang Islam) karena mereka menentang perintah Allah dan Nabi Muhammad.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; idzã = jika; laqĩtumu = kamu sekalian bertemu; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; zahfan = maju menyerang; falã = maka jangan; tuwallũ = kamu sekalian berpaling dari; humu = mereka; al adbãro = punggung (ke belakang).
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã laqĩtumul ladzĩna kafarũ zahfan falã tuwallũ humul adbãro
15. Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerang kamu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukum Allah dalam berperang melawan orang-orang kafir: menghadap, merapat, jangan berbalik ke belakang (mundur), kecuali kalau untuk bergabung dengan kelompoknya, atau untuk menata strategi, taktik berperang. Allah menyertai orang-orang yang berjihad.

waman = dan barang siapa; yuwallihim = berpaling dari mereka; yauma-idin = pada hari itu; duburahũ = belakangnya; illã = kecuali; mutaharrifan = berbelok; liqitãlin = untuk perang; au = atau; mutahayyizon = bergabung; ilã = kepada; fi-atin = golongan pasukan; faqod = maka sungguh; bã-a = dia kembali; bi ghodhonin = dengan kemurkaan; minallãhi = dari Allah; wa ma’wãhu = dan tempat kembalinya; jahannamu = jahanam; wa bi’sa = dan amat buruk; al mashĩr = tempat kembali.
waman yuwallihim yauma-idin duburahũ illã mutaharrifal liqitãlin au mutahayyizon ilã fi-atin faqod bã-a bi ghodhonim minallãhi wa ma’wãhu jahannamu wa bi’sal mashĩr.
16. Dan barang siapa mundur pada waktu perang itu, sungguh orang itu kembali dengan membawa murka dari Allah. Tempat kembalinya neraka jahanam, seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali berbelok (bersiasat perang) atau akan menggabungkan diri dengan pasukan lain.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berbalik dan berbelok untuk bersiasat dan bergabung dengan pasukan lain diperbolehkan. Melanggar aturan berperang, membawa kemurkaan Allah. Tempat kembalinya neraka jahanam, seburuk-buruk tempat kembali.

fa lam = maka bukan; taqtulũhum = kamu sekalian membunuh mereka; wa lãkinnallãha = akan tetapi Allah; kotalahum = membunuh mereka; wa mã = dan bukan; romaita = engkau yang melempar; idz = ketika; romaita = engkau melempar; walãkinallaha = akan tetapi Allah; romã = yang melempar; waliyublĩya = dan Dia hendak menguji; al mu’minĩna = hasanan = yang baik; innallaha = sesungguhnya Allah; samĩun = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
fa lam taqtulũhum wa lãkinnallãha wa mã romaita idz romaita, walã kinallaha romã, waliyublĩyal mu’minĩna min hu ba lã-an hasanan, innallaha samĩun ‘alĩm.
17. Maka bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar, ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar untuk memberi kemenangan yang baik kepada orang-orang mukmin. Sungguh, Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang di jalan Allah pada Perang Badar ini, atau pekerjaan apapun yang mengatasnamakan Allah, sesungguhnya pekerjaan itu, Allah yang mengerjakannya dengan hasil yang baik untuk bisa dinikmati orang-orang mukmin. Ibnu Jarir dan Ibnu Abas meriwayatkan, ketika Perang Badar Rasulullah melemparkan segenggam pasir ke arah pasukan kafir. Akibatnya, banyak pasukan kafir yang binasa. Pada peristiwa seperti itulah Allah menolong Nabi dan pasukannya. Nabi melemparkan pasir, sesungguhnya, Allah lah yang melemparkan pasir itu ke arah musuh pasukan Nabi.

dzalikum = demikianlah; wa annallãha = sesungguhnya Allah; mũhinu = menghinakan (melemahkan); kaidi = tipu daya; al kãfirĩn = orang-orang kafir.
dzalikum wa annallãha mũhinu kaidil kãfirĩn.
18. Demikianlah, sesungguhnya Allah melemahkan tipu-daya orang-orang kafir.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Demikianlah, Allah melimpahkan karunia kemenangan kepada orang-orang mukmin. Tipu daya orang kafir, mereka berpura-pura berpihak kepada orang-orang mukmin (masuk Islam) untuk menghancurkannya.

in = jika; tastaftihũ = kamu sekalian meminta keputusan; fa qod = maka sesungguhnya; jã-akumu = telah datang kepada kamu sekalian; al fat-hu = keputusan kemenangan; wa in = dan jika; tantahũ = kamu sekalian berhenti; fa huwa = maka itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu sekalian; wa in = dan jika; ta’ũdũ = kamu sekalian kembali; na’ud = Kami kembali; wa lan = dan tidak; tughniya = cukup mampu; ‘ankum = dan kamu sekalian; fi-atukum = golongan (pasukan kamu sekalian; syai-an = sedikit pun; wa lau = dan sekali pun katsurot = kamu sekalian banyak; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
in tastaftihũ fa qod jã-akumul fat-hu, wa in tantahũ fa huwa khoirul lakum, wa inta’ũdũ na’ud wa lan tughniya ‘ankum fi-atukum syai-an wa lau katsurot wa annallãha ma’al mu’minĩn.
19. Jika kamu meminta keputusan, maka keputusan kemenangan itu telah datang kepadamu, dan jika kamu sekalian berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali (menjadi kafir), niscaya Kami kembali (memberi pertolongan kepada orrang-orang mukmin), dan pasukanmu tidak akan dapat menolak bahaya sedikit pun, dan sekalipun jumlahnya (pasukanmu) banyak. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu memberi kesempatan kepada orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad untuk bertobat (tidak memusuhi Rasul). Kalau tidak mau bertobat, maka bahaya akan selalu mengancamnya, meskipun jumlah pasukannya banyak.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; athĩ’ullãha = taatlah kamu sekalian kepada Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa lã = dan jangan; tawallau = berpaling; ‘anhu = dari-Nya; wa antum = dan kamu sekalian; tasma’ũn = kamu sekalian mendengar.
yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ athĩ’ullãha wa rosũlahũ wa lã tawallau ‘anhu wa antum tasma’ũn
20. Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan jangan berpaling dari-Nya, dan kamu sekalian mendengar (perintah-perintah-Nya).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah ini sering disampaikan dalam berbagai variasi susunan kata (ungkapannya)

wa lã = dan jangan; takũnũ = kalian menjadi’ kalladzĩna = seperti orang-orang yang; qōlũ = mereka berkata; sami’nã = kami mendengar; wa hum = dan (pada hal) mereka; lã yasma’ũn = mereka tidak mendengar.
wa lã takũnũ kalladzĩna qōlũ sami’nã wa hum lã yasma’ũn.
21. Dan jangan kalian menjadi seperti orang-orang yang berkata: “Kami mendengar.” Padahal mereka tidak mendengar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ciri orang kafir: a. Perkataannya tidak sesuai dengan isi hatinya; b. Janjinya tidak ditepati; c. Kalau diberi amanah tidak disampaikan.

Inna = sesungguhnya; syarro = seburuk-buruk; addawãbbi = binatang (makhluk); indallãh = di hadapan Allah; ish shumu = tuli; bukmu = bisu; al ladzĩna = makhluk yang …; lã ya’qilũn = mereka tidak mengerti.
inna syarrodda wãbbi indallãhish shumum bukmul ladzĩna lã ya’qilũn.
22. Sesungguhnya, seburuk-buruknya binatang (makhluk) di hadapan Allah adalah makhluk yang tuli dan bisu dan makhluk yang tidak mau mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tuli artinya tidak dapat mendengar karena ada gangguan indra pendengarannya. Pada ayat ini, arti tuli adalah orang yang dapat mendengar, tapi tidak mau mendengar apa yang diserukan kepadanya. Mereka tidak mau mengerti, tidak mau memahami, tidak mau memikirkan atau menghayati makna seruan kebaikan, keadilan yang didengar. Atau ada alasan lain, misalnya karena ada rasa permusuhan, membenci, mempunyai keyakinan lain, mempunyai pandangan lain yang berbeda. Istilah sekarang mengena kepada orang yang diberi nasihat, nasihatnya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Nasihat itu tidak berbekas. Bisu di dalam ayat ini berarti orang yang sudah memiliki pengetahuan tentang kebenaran,keadilan tapi mereka tidak mau mengamalkannya, atau menyampaikan, menyebarluaskannya kepada orang lain. Mereka tidak mau berbicara dan tidak dapat berbicara karena mempunyai keyakinan, kepercayaan, pandangan yang berbeda. Makhluk yang tidak mau mengerti itu karena kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad, ingkar dari petunjuk Allah, dinilai makhluk yang paling jelek.

wa lau = dan kalau; ‘alimallãhu = (sekiranya) Allah mengetahui; fĩhim = pada mereka; khoiron = kebaikan; la-asma’ahum = tentu Dia jadikan mereka mendengar; wa lau = dan kalau; asma’ahum = Dia jadikan mereka mendengar; la tawallau = tentu mereka berpaling; wa hum = sedang mereka; mu’ridhũn = orang-orang yang memalingkan diri.
wa lau ‘alimallãhu fĩhim khoirol la-asma’ahum, wa lau asma’ahum la tawallau wa hum mu’ridhũn.
23. Dan kalau sekiranya (ungkapan halus) Allah mengetahui pada kebaikan mereka, tentu Dia jadikan mereka mendengar, dan kalau Dia jadikan mereka mendengar, tentu mereka berpaling juga, sedang mereka, orang-orang yang memalingkan diri.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah pasti Maha Mengetahui mereka itu tidak ada kebaikan sedikit pun. Dengan cara apa pun, mereka tidak akan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan tetap berpaling dari seruan Allah dan Rasul-Nya. Jadi, mereka ditulikan, dan dibutakan terhadap ayat-ayat-Nya. Sesungguhnya, yang membutakan dan menulikan itu diri mereka sendiri, akibat jalan pikirannya yang menyimpang dalam hal agama dan kepercayaannya.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; as tajĩbũ = penuhilah (seruan); lillãhi = dari Allah; wa lir rosũli = dan dari Rasul; idzã = jika (dia); da’akum = memanggil kamu sekalian; limã = kepad, a sesuatu; yuhyĩkum = yang menghidupkan kamu sekalian; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; yahũlu = membatasi; baina = antara; al mar-i = seseorang; wa qolbihĩ = dan hatinya; wa annahũ = dan sesungguhnya; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu sekalian.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũs tajĩbũ lillãhi wa lir rosũli idzã da’akum limã yuhyĩkum, wa’lamũ annallãha yahũlu bainal mar-i wa qolbihĩ wa annahũ ilaihi tuhsyarũn.
24. Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, jika dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya, kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan yang sering dilakukan dalam berbagai variasi. “menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu” artinya membuat hidup lebih berarti, bermanfaat untuk sendiri, keluarga, masyarakat, lingkungan hidup di dunia dan akhirat. Allah membatasi antara manusia dan hatinya, maksudnya antara diri seseorang dengan keinginan di dalam hatinya. Pelajari hati sendiri yang memiliki berbagai keinginan dan nafsu-nafsunya. Kepada Allah semua makhluk-Nya akan dikembalikan. Peringatan yang sering dikemukakan.

wattaqũ = dan takutlah kamu sekalian; fitnatan = fitnah (azab); lã tushĩbanna = tidak menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang …; zholamũ = mereka lalim; min kum = di antara kamu sekalian; khãshshatan = khusus; wa’lamũ = dan ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōb = siksa-Nya.
wattaqũ fitnatal lã tushĩbannal ladzĩna zholamũ min kum khãshshatan, wa’lamũ annallãha syadĩdul ‘iqōb.
25. Dan takutlah kamu kepada fitnah (bencana) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang lalim saja di antara kamu. Ketahuilah, Allah sangat keras azab-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan agar waspada pada fitnah, bencana, azab, ujian, cobãn-Nya yang tidak khusus hanya kepada orang-orang yang lalim. Harus dihadapi dengan bekal iman.

wadzkurũ = dan ingatlah; idz = ketika; antum = kamu; qolĩlun = sedikit; mustadh’afũna = orang-orang lemah; fil ardhi = di bumi; takhofũna = kamu sekalian takut; an = untuk; yatakhoth thafakumu = akan menculik kamu sekalian; an nãsu = orang-orang; fa-ãwãkum = maka Dia beri tempat kamu sekalian; wa ayyadakum = dan Dia kuatkan kamu sekalian; bi nashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; wa rozaqokum = dan Dia beri rezeki kamu sekalian; mina = dari; ath thoyyibãti = yang baik-baik; la’allakum = agar kamu sekalian; tasykurũn = kamu sekalian bersyukur.
wadzkurũ idz antum qolĩlum mustadh’afũna fil ardhi takhofũna an yatakhoth thafakumun nãsu fa-ãwãkum wa ayyadakum bi nashrihĩ wa rozaqokum minath thoyyibãti la’allakum tasykurũn.
26. Ingatlah, ketika kamu (Kaum Muhajirin) masih berjumlah sedikit dan tertindas di bumi (Mekah), dan kamu takut orang-orang Mekah akan menculik kamu, maka Dia memberi tempat menetap (Madinah), dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya, dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik, agar kamu bersyukur.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan masa lalu umat Islam untuk menjadi pelajaran dan agar bersyukur karena telah diberi pertolongan dan rezeki yang baik.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; lã takhũnũllãha = jangan mengkhianati Allah; war rosũla = dan Rasul; wa takhũnũ = juga jangan mengkhianati; amaanaatikum amanat yang dipercayakan kepadamu; wa antum = dan kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũ lã takhũnũllãha war rosũla wa takhũnũ amaanaatikum wa antum ta’lamũn.
27. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, juga jangan kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman: “jangan mengkhianati Allah, Rasul, dan amanat yang dipercayakan. Khianat artinya sikap mental yang culas, curang, tidak jujur kepada diri sendiri, orang lain, maupun kepada Allah; perbuatan tidak setia, tipu-daya, perbuatan yang bertentangan dengan janji. Khianat mempunyai pengertian yang hampir sama dengan nifak. Bedanya, nifak berkonotasi pada ajaran agama secara umum, misalnya khianat kepada Allah dan Rasul-Nya, perilakunya tidak menjalankan syariat yang seharusnya. (Ragib al Isfahani, ahli bahasa). Akibat khianat, orang bisa kehilangan kepercayaan. Khianat itu perbuatan dosa, dapat merusak kehidupan bermasyarakat, menimbulkan permusuhan, saling mencurigai. Dampak pengkhianatan sangat buruk, seperti yang dilakukan Ubay bin Ka’ab pada waktu Perang Uhud. Pasukan Muslim berkurang sampai 300 orang, dan kemenangan yang diharapkan menjadi tidak tercapai.

wa a’lamũ = dan ketahuilah; annamã = hanyalah; amwãlukum = harta kamu sekalian; wa aulãdukum = dan anak-anak kamu sekalian; fitnatun = fitnah, cobãn, ujian; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; ‘indahũ = di hadapan-Nya; ajrun = pahala; ‘azhĩm = yang besar.
wa a’lamũ annamã amwãlukum wa aulãdukum fitnatun wa annallãha ‘indahũ ajrun ‘azhĩm.
28. Dan ketahuilah, hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai ujian, sesungguhnya di hadapan Allah ada pahala yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, harta dan anak-anak itu ujian, cobãn yang harus dihadapi dengan sabar, dan harus mengikuti petunjuk Allah agar berhasil baik, selamat, dan mendapat pahala yang besar di dunia maupun di akhirat.

yã ayyuha = wahai; al ladzzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; in = jika; tattaqũllãha = kamu sekalian bertakwa kepada Allah; yaj’al = Dia menjadikan; lakum = untuk kamu; furqōnan = furqon; wa yukaffir = dan Dia menghapuskan; ‘ankum = dari kamu; sayyi-atikum = kesalahan-kesalahanmu; wa yaghfir = dan Dia mengampuni; lakum = untuk kamu; wallãhu = dan Allah; dzũl fadhli = mempunyai karunia; al ‘azhĩm = yang besar.
yã ayyuhal ladzzĩna ãmanũ in tattaqũllãha yaj’al lakum furqōnan wa yukaffir ‘ankum sayyi-atikum wa yaghfir lakum, wallãhu dzũl fadhlil ‘azhĩm.
29. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu takwa kepada Allah, tentu Dia akan memberikan furqon = kemampuan membedakan berbagai hal kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Allah memiliki karunia yang besar
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman dan bertakwa akan diberi kemampuan untuk dapat membedakan berbagai hal di dunia ini, khususnya yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, yang indah dan yang jelek, yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan. Karunia Allah yang besar itu upah dari iman dan takwa yang mengakibatkan dapat membedakan segala hal di muka bumi ini, selanjutnya akan dihapus segala kesalahannya, dan diampuni dosa-dosanya. Inilah salah-satu kunci pembuka pintu surga.

wa idz = dan (inratlah) ketika; yamkuru = merencanakan tipu-daya; bika = kepadamu; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; liyutsbitũka = untuk mereka menangkap dan memenjarakanmu; au yaqtulũka = atau mereka membunuhmu; au yukhrijũka = atau mereka mengusirmu; wa yamkurũna = dan mereka memikirkan tipu-daya; wa yamkurullãh = dan Allah membalas tipu-daya; wallãhu = dan Allah; khoiru = sebaik-baik; al mãkirĩn = pembalas tipu-daya
wa idz yamkuru bikal ladzĩna kafarũ liyutsbitũka au yaqtulũka au yukhrijũka wa yamkurũna wa yamkurullãh, wallãhu khoirul mãkirĩn
30. Dan ingatlah, ketika orang-orang kafir (Quraisy) merencanakan tipu-daya kepadamu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu-daya, dan Allah membalas tipu-daya itu. Allah itu sebaik-baik pembalas tipu-daya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang perilaku orang-orang kafir dengan berbagai upaya tipu-dayanya. Allah membalas upaya tipu-daya orang-orang kafir dengan tipu-daya yang ajaib (bersifat gaib).Tipu-daya Allah lah yang terbaik yang menghasilkan kemenangan hidup di dunia dan di akhirat.

wa idzã = dan jika; tutlã = dibacakan; ‘alaihim = kepada mereka; ãyãtunã = ayat-ayat Kami; qōlũ = mereka berkata; qod = sesungguhnya; sami’nã = kami telah mendengar; lau = kalau; nasyã-u = kami mau; lakulnã = tentu kami dapat berkata; mitsla = seperti; hãdzã = ini; in = tidak lain; hãdzã = (Alquran) ini; illã = hanyalah; asaathĩru = satir (dongeng); al awwalĩn = zaman awal (zaman dahulu)
wa idzã tutlã ‘alaihim ãyãtunã qōlũ qod sami’nã lau nasyã-u lakulnã mitsla hãdzã, in hãdzã illã asaathĩrul awwalĩn.
31. Dan jika ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya, kami telah mendengar (ayat-ayat seperti ini), kalau kami mau, tentu kami dapat berkata seperti ini. (Alquran) ini tidak lain hanya dongeng orang-orang zaman dahulu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan, kalau Alquran yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, bila dibacakan kepada orang-orang yang telah menganut agama terdahulu, seperti Majusi, Zoroaster (penyembah api, Persia), Shinto (Jepang, penyembah matahari), Lao-ts [Tao Te Ching] (Cina), Hindu: Weda, yang ditulis Mpu Bharada [Mahabharata], Walmiki [Ramayana], Krisna [Baghawad Gita], Buddha: Sidharta Gautama [Tripithaka], Mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Daud [Zabur] disebut agama Samawi = Islam. Agama Yahudi: Musa [Taurat, Tauret, Taurit yang terbagi dalam lima bagian (Pentateuch], yaitu: Kejadian (Genesisi), Keluaran (Exodus), Amanat (Leviticus), bilangan (Numeri), Ulangan (Deuteonomium), Kristen: Isa ibnu Maryam [injil]. Mereka mengatakan, apa yang dibacakan itu seperti dongeng (ceritera bohong) orang zaman dahulu. Alquran itu sesungguhnya membenarkan Kitab-kitab terdahulu, artinya melanjutkan kepercayaan kepada Allah Yang Maha-esa yang tidak tercampur syirik. Agama-agama terdahulu itu ternyata banyak tercampur dengan kepercayaan tahayul, dan khurafat sehingga Allah memperbaharui-Nya dengan Alquran melalui Nabi Muhammad, untuk meluruskan kembali kepercayaan yang sudah banyak menyimpang dari tuntunan Kitab-kitab yang terdahulu itu.

wa idz = dan ketika; qōlũ = mereka berkata; al lahumma = yã Allah; in = jika; kaana = adalah; hãdzã = ini; huwa = dia (Alquran); al haqqo = benar; min = dari; ‘indika = haribãn Engkau; fa amthir = maka hujanilah; ‘alainã = atas kami; hijãrotan = batu; mina = dari; as samã-i = langit; awi’tinã = atau datangkan kepada kami; bi ‘adzãbin = dengan azab; alĩm = yang sangta pedih.
wa idz qōlũl lahumma in kaana hãdzã huwal haqqo min ‘indika fa amthir ‘alainã hijãrotam minas samã-i awi’tinã bi ‘adzãbin alĩm.
32. Dan ketika mereka berkata: “Yã Allah, jika ini (Alquran) benar dari haribãn-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang sangat pedih.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang beragama terdahulu, mereka meragukan Alquran itu dari Allah. Mereka menantang, agar mereka dituruni azab dari Allah, jika Alquran itu memang dari-Nya. Namun Allah amat Penyabar, tidak menuruti tantangannya.

wa mã kaanallãhu = dan Allah tidak; liyu’adzdzibahum = akan mengazab mereka; wa anta = sedang kamu; fĩhim = di antara mereka; wa mã kaanallãhu = dan Allah tidak; mu’adzdzibahum = mengazab mereka; wa hum = sampai mereka; yastaghfirũn = mereka meminta ampun.
wa mã kaanallãhu liyu’adzibahum wa anta fĩhim, wa mã kaanallãhu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfirũn.
33. Dan Allah tidak menghukum (mengazab) mereka, sementara kamu di antara mereka, Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sampai mereka meminta ampun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menunda azab, maksudnya memberi kesempatan mereka mau bertobat. Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan, maka pada saat yang tidak terduga, Allah menurunkan azab-Nya. Waspadalah! Allah Mahakasih, Maha-adil, Mahabijaksana, Maha Penyabar.

Wa mã lahum = dan apa yang ada pada mereka; allã = sehingga tidak; yu’adzdzibahumullãhu = Allah mengazab mereka; wa hum = padahal mereka; yashuddũna = mereka halangi; ‘anil masjidil harōmi = (orang-orang masuk) ke masjidil Kharo wa mã kaanũ = dan bukanlah mereka; auliyã-uhũ = penguasa-penguasanya; illã = hanyalah; al muttaqũna = orang-orang yang bertakwa; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum lã = tidak; ya’lamũn = mereka mengetahui.
Wa mã lahum allã yu’adzdzibahumullãhu wa hum yashuddũna ‘anil masjidil harōmi wa mã kaanũ auliyã-uhũ illãl muttaqũna wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.
34. Mengapa Allah tidak mengazab mereka, padahal mereka halangi (orang-orang masuk) ke Masjidil Haram, padahal mereka itu bukan penguasa-penguasanya. Tidak lain, yang berhak menguasainya, hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak mengazab orang-orang kafir sekarang ini untuk memberi peluang mereka insyaf mengenai kekeliruannya, dan mau bertobat sebelum ajal menjemputnya. Kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan, Allah Mahaberat siksa-Nya. Masjidil Haram sekarang luasnya 328.000 m2 adalah masjid di tanah haram. Artinya tempat yang disucikan, dan diharamkan bagi umat lain. Tempat berdirinya Ka’bah sebagai arah kiblat umat Islam. Salat di masjid ini dinilai 100.000 kali lebih utama bila salat di masjid selainnya. Begitu juga kalau berdzikir, berdoa, bersedekah, atau beramal baik lainnya. Dapat menampung sebanyak 730.000 jamãh.

wa mã = dan tidak; kaana = ada lain; solãtuhum = salat mereka; ‘inda = di sekitar; al baiti = Baitul Haram itu; illã = hanyalah; mukã-an = siulan; wa tashdiyah = dan tepuk tangan; fadzũqũ = mzkz rasakanlah; al ‘adzãba = azab; bimã = dengan sebab; kuntum = kamu adalah; takfurũn = kamu kafir.
wa mã kaana solãtuhum ‘indal baiti illã mukã-an wa tashdiyah, fadzũqũl ‘adzãba bimã kuntum takfurũn.
35. Dan salat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di sini adalah azab dunia, dipenggal lehernya atau dipotong ujung-ujung jari tangannya karena mereka kafir, dan menentang Allah dan Rasul-Nya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = orang-orang kafir; yunfiqũna = mereka menafkahkan; amwãlahum = harti mereka; liyashuddũ = untuk mereka menghalangi; ‘an sabĩlillãh = dari jalan Allah; fa sayunfiqũ nahã = maka mereka menafkahkannya; tsumma = kemudian; takũnu = jadilah; ‘alaihim = bagi mereka; hasrotan = sesalan; tsumma = kemudian; yughlabũn = mereka akan dikalahkan; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = orang kafir; ilã = ke dalam; jahannama = Neraka Jahanam; yuhsyarũn = mereka dikumpulkan.
innal ladzĩna kafarũ yunfiqũna amwãlahum liyashuddũ ‘an sabĩlillãh, fa sayunfiqũ nahã tsumma takũnu ‘alaihim hasrotan tsumma yughlabũn, wal ladzĩna kafarũ ilã jahannama yuhsyarũn.
36. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir itu menafkahkan harta mereka untuk menghalangi orang menuju jalan Allah. Mereka menafkahkan harta (demikian itu), kemudian akan menjadi sesalan bagi mereka. Mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu akan dikumpulkan di Neraka Jahanam.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir menafkahkan hartanya untuk menghalangi orang yang berjalan di jalan Allah, dan hanya untuk kepentingan dunia saja. Orang yang beriman menafkahkan hartanya untuk lancarnya menjalani syariat Allah, dan mengharapkan rido Allah. Hasil akhirnya, sudah jelas. Orang kafir akan menyesal, dimasukkan ke dalam api neraka jahanam. Orang beriman mendapatkan kesejahteraan yang tidak bertara di surga.

liyamĩzallãhu = karena Allah hendak memisahkan; al khabĩtsã = yang buruk; mina = dari; ath thoyyibi = dari yang baik; wa yaj’ala = dan Dia menjadikan; al khabĩtsa = yang buruk; ba’dhohũ = sebagiannya; ‘alã = atas; ba’dhin = sebagian yang lain; fa yarkumahũ = lalu menumpukkann-Nya; jamĩ’an = semuanya; fa yaj’alahũ = maka menjadikan-Nya; fĩ jahannam = dalam neraka Jahanam; ũlã-ika = mereka itu; humu = mereka; al khōsirũn = orang-orang yang merugi.
liyamĩzallãhul khabĩtsã minathoyyibi wa yaj’alal khabĩtsa ba’dhohũ ‘alã ba’dhin fa yarkumahũ jamĩ’an fa yaj’alahũ fĩ jahannam, ũlã-ika humul khōsirũn.
37. Karena Allah hendak memisahkan golongan yang buruk dengan golongan yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu Dia menumpukkannya semuanya, dan Dia menjadikannya (masuk) dalam Neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menjadikan golongan yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain” pernyataan ini dari Allah Yang menetapkan golongan yang buruk dalam arti tidak mau percaya apa yang sudah ditetapkan Allah. Sebagiannya mempunyai kemampuan kekayaan di atas yang lainnya untuk membiayai penolakan perjuangan Nabi Muhammad dalam mengemban amanat Allah menghapus kekafiran, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan. Mereka yang lebih mampu mamupun yang tidak mempu membiayai penolakan atas perjuangan Nabi Muhammad saw. itu, kedua golongan itu semua akan dimasukkan ke dalam api Neraka Jahanam. Rugilah mereka.

qul = katakanlah; lilladzĩna = kepada oraang-orang yang …; kafarũ = kafir; in = jika; yantahũ = mereka berhenti; yughfar = diampuni; lahum = bagi mereka; mã = apa (dosa-dosa) yang; qod = sungguh; salafa = sudah lalu; wa in = dan jika; ya’ũdũ = mereka kembali; fa qod = maka sungguh; madhat = berlaku; sunatu = sunah; al awwalĩn = orang-orang dahulu.
qul lilladzĩna kafarũ in yantahũ yughfar lahum mã qod salafa wa in ya’ũdũ fa qod madhat sunatul awwalĩn
38. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu (Abu Sufyan dan rekan-rekannya), Jika mereka berhenti (dari kekafirannya; memerangi orang-orang Islam, memerangi Umat Muhammad saw.), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang lalu, dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh berlaku (kepada mereka) sunnatullah bagi orang-orang dahulu (dibinasakan).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Muhammad saw.. untuk mengatakan ayat ini kepada orang-orang kafir, sebagai peringatan.

wa qōtilũhum = dan perangilah mereka; hattã = sehingga, sampai; lã takũna = tidak ada lagi; fatnatun = fitnah; wa yakũna = dan adalah; ad diinu = agama; kulluhũ = semuanya; lillãh = bagi Allah; fa ini = maka jika; antahau = mereka berhenti; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; bimã = dengan apa yang …; ya’malũna = mereka kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.
wa qōtilũhum hattã lã takũna fatnatun wa yakũnad diinu kulluhũ lillãh, fa ini antahau fa innallãha bimã ya’malũna bashĩr.
39. Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah, maka jika mereka berhenti (menyebar fitnah), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Muhammad saw.. agar memerangi orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad. Tujuannya agar tidak ada lagi (berhenti menyebar) fitnah.

wa in = dan bila; tawallau = mereka berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; maulãkum = pelindungmu; ni’ma = sebaik-baik; al maulã = Pelindung; wa ni’ma = dan sebaik-baik; an nashĩr = Penolong.
wa in tawallau fa’lamũ annallãha maulãkum, ni’mal maulã wa ni’man nashĩr.
40. Dan bila mereka berpaling, maka ketahuilah, sesungguhnya Allah melindungimu. Dia adalah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mereka berpaling (tidak mau mengikuti seruanmu) Allah menghibur Nabi Muhammad bahwa hanya Allah yang akan melindungi dan menolong. Zaman sekarang juga demikian.

Juz 10

wa’lamũ = Dan ketahuilah; annamã = sesungguhnya; ghonimtum = kamu rampas dalam perang; minsyai-in = dari segala sesuaitu; fa anna = maka sesunggunya; lillahi = bagi Allah; khumusahũ = seperlimanya; wa lir rosũli = dan untuk Rasul; wa lidzi = dan untuk yang punya; al qurbã = kerabat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩni = dan orang-orang miskin; wabnis sabĩli = dan ibnu sabil; in kuntum = jika kalian adalah; ãmantum = kamu sekalian beriman; billãhi = kepada Allah; wa mã = dan kepada apa; anzalnã = Kami turunkan; ‘alã = kepada; ‘abdinã = hamba Kami; yauma = pada hari; al furqōni = pemisah; yauma = pada hari; al taqa = pertemuan; al jam’ãn = dua pasukan; Wallãhu = dan Allah; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.
wa’lamũ annamã ghonimtum minsyai-in fa anna lillahi khumusahũ wa lir rosũli wa lidzil qurbã wal yatãmã wal masãkĩni wabnis sabĩli in kuntum ãmantum billãhi wa mã anzalnã ‘alã ‘abdinã yaumal furqōni yaumal taqal jam’ãn. Wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.
41. Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, demikian itu jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqon, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi harta rampasan perang dengan syarat harus beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan-Nya di hari Furqon (yang membedakan. Surat ini diturunkan untuk menjelaskan perbedaan antara yang beriman dan yang kafir, dipertemukan dalam peperangan). Pembagian, seperti yang ditetapkan ayat ini bersifat waqi dan hakiki, bukan bersifat majas (kiasan), yaitu seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin, dan ibnu sabil, dan empat per limanya dibagikan kepada orang-orang yang ikut bertempur.

idz = ketika; antum = kamu sekalian; bil ‘udwati = di pinggir lembah; ad dun-yã = yang dekat; wa hum = dan mereka; bil udwati = di pinggir lembah; al qushwã = yang jauh; war rokbu = sedang kafilah; asfala = lebih rendah; min kum = dari kamu sekalian; wa lau = dan sekiranya; tawã ‘ad tum = kamu sekalian saling mengadakan persetujuan; la-akhtalaftum = pasti kamu sekalian berselisih; fĩ almi’ãdi = dalam perjanjian itu; wa lã kin = akan tetapi; liyaqdhĩllãhu = karena Allah hendak menetapkan; amron = suatu urusan; kaana = adalah ia; maf’ũlan = dilaksanakan; liyahlika = agar binasalah; man = orang; halaka = binasa; ‘an = dengan; bayyimatin = keterangan nyata; wa yahyã = dan hiduplah; man = orang; hayya = yang hidup; ‘am bayyinah = dengan keterangan yang nyata; wa innallãha = dan sesungguhnya Allah; lasamĩ’un = sesungguhnya Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
idz antum bil ‘udwatid dun-yã wa hum bil udwatil qushwã war rokbu asfala min kum, wa lau tawã ‘ad tum la-akhtalaftum fĩ almi’ãdi, wa lã kil liyaqdhĩllãhu amron kaana maf’ũlal liyahlika man halaka ‘am bayyimatin wa yahyã man hayya ‘am bayyinah, wa innallãha lasamĩ’un ‘alĩm.
42. Ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat, dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh, sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dikerjakan, yaitu agar yang binasa itu, binasa dengan bukti yang nyata, dan agar orang yang hidup itu, hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh Allah Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hatimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang binasa itu adalah orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya. Orang yang hidup adalah orang yang mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Keduanya menjadi bukti yang nyata dari perilakunya masing-masing. Ada yang ditolong, dan ada yang dibinasakan Allah, sesuai dengan keimanan atau kekafirannya.

idz = ketika; yurĩkumullãhu = Allah menampakkan mereka kepadamu; fĩ = di dalam; manãmika = mimpimu; qolĩlan = sedikit; wa lau = dan seandainya; arōkahum = (Allah) menampakkan mereka kepadamu; katsĩron = banyak; la fasyiltum = pasti kamu sekalian menjadi gentar; wa latanãza’tum = dan pasti kamu sekalian berbantah-bantahan; fĩl amri = dalam urusan itu; wa lã kinnallãha = akan tetapi Allah; sallama = telah menyelamatkan; innahũ = sesungguhnya Dia; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bidzãti = dengan segala isi; ash shudũr = hati.
idz yurĩkumullãhu fĩ manãmika qolĩlan, wa lau arōkahum katsĩrol la fasyiltum wa latanãza’tum fĩl amri wa lã kinnallãha sallama, innahũ ‘alĩmum bidzãtish shudũr.
43. (Ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan seandainya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak, tentu kamu menjadi gentar, dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, apa yang ada di dalam hatimu.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menolong makhluk-Nya dengan berbagai cara. Dalam ayat ini Allah menolong dengan cara memberi mimpi kepada Nabi yang dampaknya positif, menimbulkan semangat menghadapi dan mengalahkan lawan, tidak membuat gentar. Hal ini menjadi pelajar, peringatan bagaimana seorang pemimpin perang mengobarkan semangat berjuang bala tentaranya.

wa idz = dan ketika; yurrĩkumũhum = Allah menampakkan kepada kamu sekalian; idzi = ketika; al taqoitum = kamu sekalian berjumpa; fĩ = dalam; a’yunikum = penglihatankamu sekalian; qolĩlan = sedikit; wa yuqollilukum = dan Dia jadikan kamu sekalian sedikit; fĩ = dalam; a’yunihim = penglihatan mereka; liyaqdhiyallãhu = karena Allah hendak menetapkan; amron = suatu urusan; kaana = adalah ia; maf’ũlan = dilaksanakan; wa ilallãhi = dan kepada Allah; turja’u = dikembalikan; al umũr = segala urusan.
wa idz yurrĩkumũhum idzil taqoitum, fĩ a’yunikum qolĩlan wa yuqollilukum fĩ a’yunihim li yaqdhiyallãhu amron kaana maf’ũlan wa ilallãhi turja’ul umũr.
44. Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu sekalian, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu, dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak harus melaksanakan suatu urusan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada Nabi Muhammad saw.. bagaimana pertolongan Allah itu diturunkan kepada yang dikehendaki-Nya, dengan cara memperlihatkan musuh menjadi tampak sedikit, meskipun jumlahnya besar, sehingga memberi semangat juang yang tinggi. Dan bagaimana azab ditimpakan kepada musuh-musuh Allah dan Nabi-Nya dengan cara melalaikan mereka dalam menghadapi peperangan, karena mereka menganggap jumlah bala tentara kamu sedikit. Hal ini dapat diterapkan pada kejadian sehari-hari dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = jika; laqĩtum = kamu sekalian bertemu; fa-atan = pasukan; fatsbutũ = berteguh hatilah kamu sekalian; wadzkurũllãha = dan ingatlah kamu sekalian kepada Allah; katsiron = banyak-banyak; la’allakum = kamu sekalian; tuflihũn = kamu sekalian beruntung.
yã ayyuha al ladzĩna ãmanũ idzã laqĩtum fa-atan fatsbutũ wadzkurũllãha katsiron la’allakum tuflihũn.
45. Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu sekalian bertemu dengan pasukan (kafir), berteguh hatilah, dan ingatlah (berdoalah) kamu sekalian sebanyak-banyaknya kepada Allah agar kamu sekalian beruntung (dapat mengalahkan musuh).
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang orang yang beriman, jika bertempur menghadapi orang-orang kafir, agar selalu memanjatkan doa kepada Allah. Ingat kepada Allah dan berdoa harus menjadi kebiasaan sehari-hari

wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ = dan taatilah Allah dan Rasul-Nya; wa lã tanãza’ũ = dan jangan berbantah-bantahan; fatafsyalũ = yang menyebabkan kamu gelisah; wa tadzhab = dan hilang; rĩhukum = kekuatan kamu semua; wa ashbirũ = dan bersabarlah; innallãha = sesungguhnya Allah; ma’a = bersama; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.
wa athĩ’ũllãha wa rosũlahũ wa lã tanãza’ũ fatafsyalũ wa tadzhab rĩhukum, wa ashbirũ, innallãha ma’ash shōbirĩn.
46. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan jangan kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi resah, sehingga kekuatanmu hilang, dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada orang-orang yang sedang bertempur, dan pada saat-saat genting, penting, menghadapi persoalan-persoalan hidup.

wa lã = dan jangan; takũnũ = kamu sekalaian menjadi; kãlladzĩna = seperti orang-orang yang …; kharojũ = mereka yang keluar; min diyãrihim = dari kampung kediamannya (berperang); bathoron = rasa angkuh; wa ri-ã = dan riya; annãsi = manusia; wa yashuddũna = dan mereka menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãh = dari jalan Allah; wallãhu = dan Allah; bimã = dengan segala apa yang; ya’malũna = mereka kerjakan; muhĩthu = sangat mengetahui
wa lã takũnũ kãlladzĩna kharojũ min diyãrihim bathoron wa ri-ã-annãsi wa yashuddũna ‘an sabĩlillãh, wallãhu bimã ya’malũna muhĩthu.
47. Dan kamu jangan seperti orang-orang yang keluar dari kampung kediamannya (berperang) dengan rasa angkuh dan ingin dipuji (riya), dan menghalang-halangi orang dari jalan Allah. Allah sangat mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah: “jangan melakukan segala sesuatu yang disertai rasa angkuh (sombong), ingin dipuji, dan jangan menghalangi orang yang ingin mengikuti jalan Allah (lihat Q.s. ….. larangan ini sering diungkapkan

wa idz = dan (ingatlah) ketika; zayyana = pandangan menjadi baik; lahumu = bagi mereka; asy syaithōnu = setan; a’mãlahum = perbuatan mereka; wa qōla = setan berkata; lã = tidak ada; gholiba = yang menang; lakumu = bagi kamu sekalian; al yauma = pada hari ini; minannãsi = dari seorang manusia; wa innĩ = dan sesungguhnya aku (setan); jãrun = pelindung; lakum = bagi kamu; falammã = maka ketika; tarō-ati = saling melihat; al fi-ataani = kedua pasukan; nakashã = ia (setan) berbalik; ‘alã = atas; ‘aqibaihi = ke belakang; wa qōla = dan dia (setan) berkata; innĩ = sungguh saya; barĩ-um = berlepas diri; minkum = dari kamu sekalian; innĩ = sungguh saya; arō = saya (setan) melihat; mã lã = apa yang tidak; tarauna = kamu sekalian melihat; innĩ = sungguh saya (setan); akhōfullãh = saya (setan) takut kepada Allah; wallãhu = dan Allah; syadĩdun = sangat keras; al ‘iqōb = siksaan.
wa idz zayyana lahumusy syaithōnu a’mãlahum wa qōla lã gholiba lakumul yauma minannãsi wa innĩ jãrul lakum, falammã tarō-atil fi-ataani nakashã ‘alã ‘aqibaihi wa qōla innĩ barĩ-um minkum innĩ arō mã lã tarauna innĩ akhōfullãh, wallãhu syadĩdul ‘iqōb.
48. Dan (ingatlah) ketika setan menjadikan terasa indah bagi mereka (orang kafir) perbuatan dosa mereka dan mengatakan: “Tidak ada orang yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini, dan sungguh, aku adalah penolongmu.” Maka ketika kedua pasukan itu telah saling melihat, setan berbalik ke belakang, seraya berkata: “Sesungguhnya, aku berlepas diri dari kamu. Aku dapat melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh kamu, sesungguhnya, aku takut kepada Allah.” Allah sangat keras siksanya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan perbuatan setan yang selalu mencelaka-kan manusia. Sesungguhnya, setan itu takut juga kepada Allah. Hanya janji setan kepada Allah, akan menyeret sebagian besar manusia menjadi pengisi neraka. Berhati-hatilah terhadap musuh nyata setan ini.

idz yaqũlu = ketika berkata; al munãfiqũna = orang-orang munafik; walladzĩna = dan orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalam hatinya; marodhum = penyalit; ghorro = telah menipu; hã-ulã-i = mereka ini; diinuhum = agama mereka; wa man = dan siapa; yatawakkal = bertawakal; ‘alallãhi = kepada Allah; fa-innallãha = maka sungguh Allah; ‘azĩzun hakĩm = Mahaperkasa, Mahabijaksana.
idz yaqũlul munãfiqũna walladzĩna fĩ qulũbihim marodhum ghorrohã-u lã-i diinuhum, wa man yatawakkal ‘alallãhi fa-innallãha ‘azĩzun hakĩm.
49. (ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang mempunyai penyakit di dalam hatinya berkata: “Mereka itu (orang-orang Mukmin) ditipu agamanya.” (Allah bersabda): “Barang siapa bertawakal hanya kepada Allah, ketahuilah, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, ada orang munafik yang mempunyai penyakit di dalam hatinya, yang mempunyai prasangka jelek kepada orang-orang mukmin. Orang mukmin harus bertawakal hanya kepada Allah. Allah itu Maha dalam segala-Nya. Allah tidak pernah meninggalkan orang-orang mukmin, dalam arti selalu menolong, dan melindungi orang mukmin.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; yatawaffa = mewafatkan; al ladzĩna = orang-orang yang …; kafarũ = kafir; al malã-ikatu = para Malaikat; yadhribũna = mereka (para Malaikat) memukul; wujũhahum = muka mereka (orang kafir); wa adbãrohum = dan punggung mereka; wadzũqũ = dan rasakan oleh kamu sekalian; ‘adzãba = azab; al harĩq = membakar.
wa lau tarō idz yatawaffal ladzĩna kafarũ al malã-ikatu yadhribũna wujũhahum wa adbãrohum wadzũqũ ‘adzãbal harĩq.
50. Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka, (dan berkata), “Rasakanlah siksa neraka yang membakar.”
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, memberitahu bagaimana kelak orang-orang kafir itu dicabut nyawanya, dan siksa neraka yang akan dideritanya.

dzãlika = demikian itu; bimã = karena apa yang …; qoddamat = perbuatan; aidiikum = tangan-tangan kamu sendiri; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; laisa = tidak (bukan); bi zhollãmin = tidak melalimi; lil ‘abĩd = kepada hamba-hamba.
dzãlika bimã qoddamat aidiikum wa annallãha laisa bi zhollãmil lil ‘abĩd.
51. Demikian itu karena perbuatan tanganmu sendiri. Dan sesungguhnya, Allah tidak melalimi hamba-hamba-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pelaliman kepada orang-orang musyrik itu karena perbuatan mereka sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

kada’bi = serupa dengan keadaan; ãli fir’auna = pengikut Fir’aun; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; min qoblihim = dari sebelum mereka; kaffarũ = mereka mengingkari; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; fa-akhodzahumullãhu = maka Allah menyiksa mereka; bi dzunũbihim = karena dosa-dosa mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; qowiyyun = Mahakuat; syadĩdun = sangat keras; al ‘iqōbi = siksaan.
kada’bi ãli fir’auna, wal ladzĩna min qoblihim kaffarũ bi ãyãtillãhi fa-akhodza humullãhu bi dzunũbihim, innallãha qowiyyun syadĩdul ‘iqōbi.
52. Serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Sesungguhnya, Allah Mahakuat dan sangat keras siksa-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan siksa Allah itu sama dengan apa yang ditimpakan kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah. Mereka berasa kekuasaannnya menyamai Allah, lihat Q.s. ….

dzãlika = demikian itu; bi annallãha = karena sesungguhnya Allah; lam yaku = tidak akan ada; mughoyyiran = mengubah; ni’matan = suatu nikmat; an’amahã = Dia anugerahkan; ‘alã = kepada; qaumin = suatu kaum; hattã = sehingga; yughoyyirũ = mereka mengubah; mã = apa yang; bi-anfusihim = pada diri mereka sendiri; wa annallãha = dan sesungguhnya Allah; samĩ’un = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
dzãlika bi annallãha lam yaku mughoyyiran ni’matan an’amahã ‘alã qaumin hattã yughoyyirũ mã bi-anfusihim wa annallãha samĩ’un ‘alĩm.
53. Demikian itu, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perubahan suatu kaum dari baik menjadi buruk atau sebaliknya tergantung pada apa yang dilakukan kaum itu (lihat Q.s. ….). Allah Maha Mendengar apa yang mereka katakan, dan Allah juga Maha Mengetahui perilaku dan pekerjaan makhluk-Nya.

kada’bi = serupa dengan keadaan; ãli = pengikut; fir’auna = Fir’aun; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; min qoblihim = dari senbelum mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãti = dengan ayat-ayat; robbihim = Rabb mereka; fa-ahlaknãhum = maka Kami binasakan mereka; bi dzunũbihim = karena dosa-dosa mereka; wa aghroqnã = dan Kami tenggelamkan; ãla fir’auna = pengikut Fir’aun; wa kullun = dan semuanya; kaanũ = mereka adalah; zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.
kada’bi ãli fir’auna wal ladzĩna min qoblihim, kadzdzabũ bi ãyãti robbihim fa-ahkaknãhum bi dzunũbihim wa aghroqnã ãla fir’auna, wa kullun kaanũ zhōlimĩn.
54. Serupa dengan keadaan pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. Mereka mendustakan ayat-ayat Rabb mereka. Maka, Kami membinasakan mereka karena dosa-dosanya, dan Kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya karena mereka orang-orang yang lalim.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Quraisy yang kafir itu nasibnya sama dengan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya, Mereka dibinasakan Allah karena dosa-dosanya. Mereka melalimi diri mereka sendiri.

inna = sesungguhnya; syarro = seburuk-buruk; ad dawãbbi = binatang melata; ‘indallãhi = di hadapan Allah; al ladzĩna = (adalah) orang-orang yang …; kafarũ = kafir; fahum = maka (dan) mereka; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.
inna syarrodda wãbbi ‘indallãhil ladzĩna kafarũ fahum lã yu’minũn.
55. Sesungguhnya, binatang melata yang sangat buruk adalah orang-orang kafir, dan mereka tidak beriman.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu disamakan dengan binatang melata.

alladzĩna = orang-orang yang …; ‘ãhadta = kamu terimat perjanjian; min hum = dengan mereka; tsumma = kemudian; yangqudhũna = mereka mengingkarinya; ‘ahdahum = janji mereka; fĩ = pada; kulli = setiap; marrotin = kali; wa hum = dan mereka; lã yattaqũn = mereka tidak takut.
alladzĩna ‘ãhatta min hum tsumma yangqudhũna ‘ahdahum fĩ kulli marrotin wa hum lã yattaqũn.
56. Orang-orang yang terikat perjanjian dengan kamu, setiap kali mereka selalu mengingkarinya, karena mereka tidak takut kepada Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Salah satu ciri orang kafir adalah kalau berjanji mereka tidak menepatinya, mereka ingkar. Saat itu, orang-orang Yahudi berjanji untuk tidak menyerang, tidak memusuhi, ternyata mereka mengkhianati perjanjian itu. Oleh karena itu Umat Islam harus selalu berjaga-jaga, berhati-hati terus, namun jangan memulai menyerang. Tunjukkan Umat Islam beri’tikad baik untuk hidup bermasyarakat secara wajar, Islami.

fa immã = maka jika; tatsqofannahum = kamu sekalian menemui mereka; fil harbi = dalam peperangan; fa syarrid = maka cerai-beraikanlah; bihim = keadaan mereka; man = siapa saja; kholfahum = yang di belakang mereka; la’alahum = supaya mereka; yadzdzakkarũn = mereka mengambil pelajaran.
fa immã tatsqofannahum fil harbi fa syarrid bihim man kholfahum la’alahum yadzdzakkarũn
57. Maka, jika engkau (Muhammad) mengungguli mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka, dan lemahkanlah mereka, agar mereka mengambil pelajaran.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada Nabi Muhammad, kalau Umat Islam unggul dalam peperangan, orang-orang yang di belakang mereka (para pengikutnya) harus dilemahkan keyakinan atas apa yang sudah dilakukannya itu. Sesungguhnya mereka dalam posisi salah.

wa imma = dan jika; takhōfanna = kamu sekalian takut; min qaumin = dari kaum; khiyaanatan = yang berkhianat; fambid = maka kembalikan; ilaihim = kepada mereka; ‘alã sawã-in = dengan jujur; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al khō-inĩn = orang-orang yang berkhianat.
wa imma takhōfanna min qaumin khiyaanatan fambid ilaihim ‘alã sawã-in, innallãha lã yuhibbul khō-inĩn.
58. Dan jika kamu sekalian sungguh-sungguh takut pengkhianatan dari suatu kaum, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pengarahan agar tidak terjadi lagi pengkhianatan, maka perjanjian itu harus disodorkan kembali agar ditaati, dan harus diingatkan bahwa Allah tidak suka kepada orang yang berkhianat.

wa lã = dan janganlah; yahsabanna = mengira; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; sabaqũ = mereka terlepas dari; innahum = sesungguhnya; lã yu’jizũn = tidak dapat melemahkan (Allah).
wa lã yahsabannal ladzĩna kafarũ sabaqũ, innahum lã yu’jizũn.
59. Dan janganlah orang-orang kafir mengira, mereka akan dapat lepas dari kekuasaan Allah, Sungguh mereka tidak dapat melemahkan Allah.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perjuangan berat Nabi Muhammad dan para pengikutnya sampai sekarang adalah meyakinkan orang-orang kafir atas kekuasaan Allah di alam semesta ini yang di dalamnya ada manusia yang mempunyai beraneka ragam keinginan, kemauan, kesukaan. Orang-orang kafir tidak akan dapat melemahkan Allah.

wa a’iddũ = dan siapkanlah; lahum = untuk mereka; mastatho’tum = apa yang kamu sanggupi; min quwwatin = dari kekuatan; wa mir ribãthi = dan dari yang ditambat; al khoili = kuda; turhibũna = kamu menggetarkan; bihĩ = dengannya; ‘aduwwallãhi = musuh Allah; wa ‘aduwwakum = dan musuh kamu; wa ãkhorĩna = dan orang-orang lain; min dũnihim = dari selain mereka; lã ta’lamũnahum = kamu tidak mengetahui mereka; allãhu = Allah; ya’lamuhum = mengetahui mereka; wa mã = dan apa yang; tunfiqũ = kamu menafkahkan; min syai-in = dari sesuatu; fĩ sabĩlillãhi = untuk jalan Allah; yuwaffa = dicukupkan; ilaikum = kepadamu; wa antum = dan kamu; lã tuzhlamũn = kamu tidak dianiaya.
wa a’iddũ lahum mastatho’tum min quwwatin wa mir ribãthil khoili turhibũna bihĩ ‘aduwwallãhi wa ‘aduwwakum wa ãkhorĩna min dũnihim lã ta’lamũna humullãhu ya’lamuhum, wa mã tunfiqũ min syai-in fĩ sabĩlillãhi yuwaffa ilaikum wa antum lã tuzhlamũn.
60. Dan siapkanlah kekuatan apa saja (fisik dan nonfisik) yang kamu sanggup mengadakan untuk menghadapi mereka, seperti kuda-kuda yang siap pakai (berperang), dengan cara itu kamu dapat menggetarkan musuh Allah dan musuh kamu, dan orang-orang lain selain mereka, yang kamu tidak mengetahui, sedang Allah mengetahuinya. Dan apa saja yang kamu nafkahkan untuk sesuatu di jalan Allah, akan dicukupkan balasannya, dan kamu tidak akan teraniaya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Persiapan perang fisik dan nonfisik dengan berbagai ilmunya merupakan strategi yang harus dilakukan agar lawan Allah dan lawan orang yang beriman menjadi takut. Segala upaya, segala harta yang dinafkahkan untuk menghadapi lawan Allah dan lawan orang yang beriman akan mendapat balasan dari Allah.

wan in = dan jika; janahũ = mereka cenderung; lissalmi = kepada perdamaian; fajnah = maka hendaknya kamu cenderung; lahã = kepadanya; tawakkal = bertawakallah; ‘alãllãhi = kepada Allah; innahũ = sesungguhnya Dia; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wan in janahũ lissalmi fa-ajnah lahã tawakkal ‘alãllãhi, innahũ huwas samĩ’ul ‘alĩm.
61. Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka hendaklah kamu juga cenderung kepada perdamaian. Dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, jika orang-orang kafir itu cenderung untuk mau berdamai, maka orang mukmin pun harus cenderung untuk mau berdamai. Tentunya harus selalu waspada, seperti yang disarankan ayat 60 di atas. Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui segala apa yang dilakukan makhluk-Nya.

wa in = dan jika; yurĩdũ = mereka bermaksud; an yakhda’ũka = mereka akan menipu kamu; fa inna = maka sesungguhnya; hasbakallãh = cukuplah Allah bagimu; huwa = Dia; al ladzĩ = Yang; ayyadaka = memperkuat kamu; bi nashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; wa bi = dan bersama; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman.
wa in yurĩdũ an yakhda’ũka fa inna hasbakallãh, huwal ladzĩ ayyadaka bi nashrihĩ wa bil mu’minĩn.
62. Dan jika mereka bermaksud akan menipu kamu, maka sesungguhnya, cukuplah bagimu, Allah (menjadi pelindung). Dialah Yang memperkuat kamu bersama orang-orang yang beriman dengan pertolongan-Nya.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw.. dan Kaum mukminin, kemungkinan orang-orang kafir itu akan menipunya. Allah menganjurkan agar selalu percaya bahwa Allah lah yang akan memberi kekuatan dan melindungi Nabi bersama orang-orang yang beriman.

wa allafa = dan Dia telah mempersatukan; baina = antara; qulũbihim = hati-hati mereka; lau = walaupun; anfaqta = kamu membelanjakan; mã = apa (kekayaan); fil ardhi = dari bumi; jamĩ’an = semuanya; mã allafta = kamu tidak dapat mempersatukan; baina = antara; qulũbihim = hati-hati mereka; wa lã kinnallãha = akan tetapi Allah; allafa = mempersatukan; bainahum = di antara mereka; innahũ = sesungguhnya, Dia; azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.
wa allafa baina qulũbihim lau anfaqta mã fil ardhi jamĩ’am mã allafta baina qulũbihim wa lã kinnallãha allafa bainahum, innahũ azĩzun hakĩm.
63. Dan Dia telah mempersatukan hati-hati mereka, walaupun kamu membelanjakan kekayaan yang ada di bumi ini semuanya, tentu kamu tidak dapat mempersatukan hati-hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan di antara mereka. Sesungguhnya, Dia Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang mempersatukan hati-hati manusia. Nabi Muhammad saw.. atau siapa pun, seandainya menggunakan semua kekayaannya di dunia ini, tidak akan dapat mempersatukan hati-hati manusia. Hanya Allah saja yang dapat melakukan segala sesuatu di alam semesta ini.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi; hasbukallãhu = cukuplah bagi kamu Allah (Yang menjadi penolong); wa mani = dan orang; at taba’aka = yang mengikuti kamu; mina = dari; al mu’minĩn = orang-orang yang beriman
yã ayyuhan nabiyyu hasbukallãhu wa manit taba’aka minal mu’minĩn.
64. Wahai nabi, cukuplah Allah (Yang menjadi penolong) bagi kamu dan orang-orang beriman yang mengikuti kamu,
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah himbauan Allah kepada Nabi dan para pengikutnya agar selalu bergantung kepada-Nya. Upaya manusia, perkenan tercapainya juga tergantung pertolongan Allah.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi; harridhi = kobarkanlah semangat; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; ‘alal qitãli = untuk berperang; in yakun = jika ada; minkum = di antara kamu; ‘isyrũna = dua puluh; shōbirũna = orang-orang yang sabar; yaghlibũ = mereka mengalahkan; mi-ataini = dua ratus; wa in yakun = jika ada; minkum = di anrata kamu; mi-atun = seratus; yaghlibũ = mereka dapat mengalahkan; alfan = seribu; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; kafarũ = kafir; bi annahum = disebabkan mereka; qaumun = kaum (golongan); lã yafqohũn = orang-orang yang tidak mengerti (peperangan)
yã ayyuhan nabiyyu harridhil mu’minĩna ‘alal qitãli, in yakum minkum ‘isyrũna shōbirũna yaghlibũ mi-ataini, wa in yakum minkum mi-atun yaghlibũ alfam minal ladzĩna kafarũ bi annahum qaumul lã yafqohũn.
65. Wahai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh), dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, mereka dapat mengalahkan seribu orang-orang kafir, karena mereka itu orang-orang yang tidak mengerti.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi agar mengobarkan semangat berperang orang-orang mukmin dengan bekal pemahaman tentang dasar dan tujuan perang serta kesabaran untuk mendapatkan rido Allah. Jumlah orang yang sedikit dapat mengalahkan jumlah orang yang berlipat-lipat banyaknya jika dibekali ilmu, hukum, tekad, dan kesabaran untuk mendapat rido dari Allah. Lihat ayat 64.

al ãna = sekarang; khaffafallãhu = Allah telah meringankan; ‘ankum = kepadamu; wa’alima = dan Dia telah mengetahui; anna = sesungguhnya; fĩkum = pada kamu; dho’fãn = kelemahan; fa in = maka jika; yakun = ada; min kum = di antara kamu; mĩ-atun = seratus; shōbirotun = orang-orang yang sabar; yaghlibũ = mereka mengalahkan; mi’ataini = dua ratus; wa in = dan jika; yakun = ada; min kum = di antara kamu; alfun = seribu; yaghlibũ = mereka mengalahkan; alfaini = dua ribu; bi ‘idznillãh = dengan izin Allah; wallãhu = dan Allah; ma’a = bersama; ash shōbirĩn = orang-orang yang sabar.
al ãna khaffafallãhu ‘ankum wa’alima anna fĩkum dho’fãn, fa in yakum min kum mĩ-atun shōbirotun yaghlibũ mi’ataini, wa in yakum min kum alfun yaghlibũ alfaini bi ‘idznillãh, wallãhu ma’ash shōbirĩn.
66. Sekarang Allah telah meringankan untuk kamu, dan Dia telah mengetahui, dirimu ada kelemahan. Maka jika, ada di antara kamu seratus orang yang sabar, tentu mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh). Dan jika ada di antara kamu seribu (yang sabar), mereka dapat mengalahkan dua ribu (orang musuh) dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahakuat. Allah berhak membantu meringankan beban makhluk-Nya (Nabi Muhammad saw.. beserta para pengikutnya). Allah Maha Mengetahui kelemahan makhluk-Nya. Allah berhak menolong makhluk yang sabar dan diridoi untuk mengalahkan musuh yang jumlahnya lebih banyak, atas izin Allah. Sabar menegakkan kebenaran.

mã kaana = tidak pantas; li nabiyyin = bagi seorang nabi; an yakũna = dia adalah; lahũ = baginya; asrō = tawanan; hattã = sehingga; yutskhina = ia memecah-belah; fĩl ardhi = di muka bumi; turĩdũna = kamu menghendaki; ‘arodhod dun-yã = harta benda duniawi; wallãhu = dan Allah; yurĩdul akhiroh = menghendaki akhirat; wallãhu ‘azĩzun hakĩm = dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
mã kaana li nabiyyin an yakũna lahũ asrō hattã yutskhina fĩl ardhi, turĩdũna ‘arodhod dun-yã, wallãhu yurĩdul akhiroh, wallãhu ‘azĩzun hakĩm
67. Tidak pantas bagi seorang Nabi yang dapat melumpuhkan dunia mempunyai tawanan di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedang Allah menghendaki (pahala) akhirat. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Untuk mencapai kemenangan, Nabi Muhammad saw.. tidak pantas menawan musuh. Soal barang rampasan perang dan tebusan itu aturan Allah, bukan kehendak Nabi, bukan bermaksud keduniaan, tapi untuk keberhasilan dakwah agama Islam, melaksanakan peraturan Allah, mengagungkan Allah. Demi pahala akhirat. Lihat ayat 64.

lau lã = kalau tidak ada; kitãbun = ketetapan; minallãhi = dari Allah; sabaqo = terdahulu; lamassakum = tentu menimpa kamu; fĩmã = karena apa; akhodz tum = kamu telah mengambil; ‘adzãbun = siksaan; ‘azhĩm = yang berat.
lau lã kitãbum minallãhi sabaqo lamassakum fĩmã akhodz tum ‘adzãbun ‘azhĩm.
68. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang terdahulu dari Allah (ghanimah), tentu kamu ditimpa siksaan yang berat karena apa (tebusan tawanan) yang kamu ambil.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan membagi barang rampasan perang dan tebusan tawanan itu dari Allah, bukan manusia yang membuat aturan, juga bukan dari Nabi.

fa kulũ = maka makanlah; mimmã = dari apa (sebagaian); ghonimtum = rampasan perang kamu sekalian; halalan = halal; thoyyiban = baik; wa taqullãh = dan bertakwalah; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofurun = Maha Pengampun; rohĩma = Maha Penyayang.
fa kulũ mimmã ghonimtum halalan thoyyibaw wa taqullãh, innallãha ghofurur rohĩma
69. Maka makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu peroleh itu sebagai makanan yang halal dan baik. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah memakan sebagian rampasan perang sebagai makanan yang halal dan baik, bertakwa hanya kepada-Nya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

yã ayyuhan nabiyyu = wahai Nabi, qul = katakanlah; liman = kepada orang; fĩ aidiikum = dalam kekuasaanmu; minal asrō = dari tawanan; in = jika; ya’lamillãhu = Allah mengetahui; fĩ qulũbikum = di dalam hatimu; khoiron = kebaikan; yu’tikum = Dia akan memberikan kepadamu; khoirom = kebaikan; mimmã = dari apa; ukhida = telah diambil; minkum = dari kamu; wa yaghfir = dan akan mengampuni; lakum = kepada kamu; wallãhu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.
yã ayyuhan nabiyyu qul liman fĩ aidiikum minal asrō in ya’lamillãhu fĩ qulũbikum khoiron yu’tikum khoirom mimmã ukhida minkum wa yaghfir lakum, wallãhu ghofũrur rohĩmu.
70. Wahai Nabi, katakanlah kepada orang-orang tawanan yang ada di dalam kekuasaanmu: “Jika Allah mengetahui kebaikan di dalam hatimu, Dia akan memberi kepadamu sesuatu yang lebih baik daripada apa yang telah diambil darimu, dan Dia akan mengampuni kamu.” Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyampaikan pesan melalui Nabi untuk orang-orang kafir yang ditawan, agar tidak menimbulkan prasangka jelek yang terkait dengan peraturan ghonimah itu.

wa in = dan jika; yurĩdũ = mereka bermaksud; khiyaanataka = berkhianat kepadamu; faqod = maka sesungguhnya; khãnũllãha = mereka berkhiatan kepada Allah; min qoblu = dari sebelum; fa-amkana = lalu Dia menjadikan (kamu berkuasa); min hum = terhadap mereka; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.
wa in yurĩdũ khiyaanataka faqod khãnũllãha min qoblu fa-amkana min hum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.
71. Dan jika mereka (tawanan) bermaksud berkhianat kepadamu, maka sesungguhnya mereka itu telah berkhianat kepada sebelum ini, lalu Dia menjadikan (kamu berkuasa) terhadap mereka. Dan Allah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu Nabi Muhammad saw.. tentang perilaku orang-orang yang ditawan agar hati beliau tetap tenang dan waspada.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa hãjarũ = dan mereka berhijrah; wa jãhadũ = dan berjihad; bi amwãlihim = dengan harta mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fĩ sabĩlillãh = pada jalan Allah; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãwãu = memberikan perlindungan; wanashorũ = dan mereka memberikan pertolongan; ulã-ika = mereka itulah; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = menjadi pelindung; ba’dhin = sebgaian yang lain; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa lam = dan tidak; yuhãjirũ = mereka berhijrah; mã lakum = tidak ada bagimu; min walãyatihim = dari memberi pertolongan kepada mereka; min syai-in = dari sesuatu sedikit pun; hattã = sehingga; yuhãjirũ = mereka berhijrah; wa in = dan jika; istanshōrũkum = meminta pertolongan kepadamu; fid diini = dalam agama; fa’alaikumu = maka wajib bagimu; an nashru = memberi pertolongan; illa = kecuali; ‘alã qaumim = atas kaum; bainakum = antara kamu; wa bainahum = dan antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; Wallãhu = dan Allah; bimã = kepada apa; ta’malũna = kamu kerjakan; bashĩr = Maha Melihat.
innal ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wa jãhadũ bi amwãlihim wa anfusihim fĩ sabĩlillãh wal ladzĩna ãwãw wanashorũ ulã-ika ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin, wal ladzĩna ãmanũ wa lam yuhãjirũ mãlakum min walãyatihim min syai-in hattã yuhãjirũ, wa inistanshōrũkum fid diini fa’alaikumun nashru illa ‘alã qaumim bainakum wa bainahum mĩtsãqun. Wallãhu bimã ta’malũna bashĩr.
72. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat perlindungan dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu sebagai pelindung dari sebagian yang lain. Dan orang-orang yang beriman dan mereka belum berhijrah, tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu memberi perlindungan kepada mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam urusan agama, maka (wajib) atasmu memberikan pertolongan, kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dan mereka. Dan Allah Maha Melihat pada apa yang kamu kerjakan.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hijrah berarti: a. Pindah dari suatu tempat yang tidak aman ke tempat yang lebih aman; b. Pindah dari suatu keyakinan ke keyakinan yang lebih benar; c. Pindah dari pengetahuan yang gelap ke pengetahuan yang terang-benderang; Jihad berarti perjuangan menegakkan syari’at agama: a. Perang secara fisik menghadapi kejahatan dan kelaliman kaum kafir yang menyerang kaum Islam; b. Perjuangan melawan setan yang selalu menggoda manusia untuk dijerumuskan ke neraka; c. Perjuangan melawan nafsu-nafsu diri sendiri. Umat Islam diharapkan selalu ada upaya, bekerjasama untuk berhijrah dan berjihad seperti yang dijelaskan di atas melalu dakwah, dan lain-lain kegiatan.

wal ladzĩna kafarũ = dan orang-orang kafir; ba’dhuhum = sebagian mereka; auliyã-u = menjadi pelindung; ba’dhin = sebagian yang lain; illã = kecuali; taf’alũhu = kamu sekalian melaksanakannya; takun = terjadi; fitnatun = fitnah (kekacauan); fĩl ardhi = di bumi; wa fasãdun = dan kerusakan; kabĩr = yang besar.
wal ladzĩna kafarũ ba’dhuhum auliyã-u ba’dhin illã taf’alũhu takun fitnatun fĩl ardhi wa fasãdun kabĩr.
73. Dan orang-orang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain, (tidak ada jalan lain) kecuali, kamu melaksanakan (persaudaraan yang teguh), (jika tidak), akan terjadi fitnah (kekacauan) di muka bumi dan kerusakan yang besar.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian orang kafir menjadi pelindung sebagian yang lain. Jadi umat Islam juga harus berupaya mengeratkan persaudaraan, meningkatkan upaya dakwah positif agar menjadi cermin Islam yang sesungguhnya cemerlang agar tidak terjadi fitnah (kekacauan) dan kerusakan di muka bumi.

wal ladzĩna ãmanũ = dan orang-orang yang beriman; wa hãjarũ = dan berhijrah; wa jãhadũ = dan berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wal ladzĩna dan orang-orang yang …; ãwau = memberi perlindungan; wa nasharũ = dan mereka menolong; ũlã-ika = mereka itu; humu = mereka; al mu’minũna = orang-orang beriman; haqon = benar; lahu = bagi mereka; maghfirotun = ampunan; warizqun = dan rezeki; karĩm = yang mulia.
wal ladzĩna ãmanũ wa hãjarũ wa jãhadũ fĩ sabĩlillãhi wal ladzĩna ãwauw wa nasharũ ũlã-ika humul mu’minũna haqon, lahum maghfirotun warizqun karĩm.
74. Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah dan berjihad di jalan Allah, dan orang-orang yang memberi perlindungan dan mereka menolong (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah yang benar-benar beriman, Merekalah yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang mendapatkan ampunan dan rezeki yang mulia adalah mereka yang benar-benar beriman yaitu mereka yang berhijrah, berjihad di jalan Allah, yang memberi perlindungan dan memberi pertolongan kepada kaum muhajirin.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; mimba’du = dari sesudah itu; wa hãjarũ = dan berhijrah; wajãhadũ = dan berjihad; ma’akum = bersamamu; fa ũlã-ika = maka mereka itulah; minkum = dari kamu; wa ũlũ = dan orang yang mempunyai; al arhami = hubungan kerabat; ba’dhuhum = sebagian mereka; aulã = lebih utama; bi ba’dhin = dengan sebagian yang lain; fĩ kitãbillãhi = di dalam Kitab Allah; inallãha = sesungguhnya Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.
wal ladzĩna ãmanũ mimba’du wa hãjarũ, wajãhadũ ma’akum fa ũlã-ika minkum, wa ũlũl arhami ba’dhuhum aulã bi ba’dhin fĩ kitãbillãhi, inallãha bi kulli syai-in ‘alĩm.
75. Dan orang-orang yang beriman setelah itu kemudian berhijrah dan berjihad bersamamu, maka mereka termasuk golonganmu. Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat, sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) menurut Kitab Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjelaskan tentang orang yang termasuk golongan Islam, apakah berkerabat atau tidak berkerabat, akan menentukan haknya masing-masing, sesuai dengan ketentuan dalam Alquran.