007 Al A’raf

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Al A’rãf
(Tempat Tertinggi)
Surat ke-7, Makkiyah, 206 ayat
Juz 8 beralih ke Juz 9 pada ayat 88

Catatan Awal.
Surat ini termasuk bagian dari Assab’uththiwãl (tujuh surat yang panjang). Nama ini terdapat pada ayat 46 yang menceriterakan keadaan orang yang berada di tempat tertinggi, di batas antara surga dan neraka. Surat ini menjelaskan aqidah-aqidah agama taukhid dengan doa dan ibadah; Allah yang mengatur dan menjaga alam semesta; Allah menciptakan hukum-hukum untuk kehidupan di dunia dan di akhirat; Allah bersemayam di Arasy; bantahan terhadap kaum kafirin, musyriqin, munafiqin, fasiqin, dan murtadin yang menyangkut kepalsuan dan syirik; ketauhidan itu sesuai dengan fitrah manusia; Musa berbicara langsung dengan Allah; perihal melihat Allah; perintah beribadah dengan merendahkan diri kepada Allah; Allah memiliki Asma’ul Husna;
Kisah-kisah: Menceriterakan beberapa generasi manusia yang dibinasakan; mengisahkan beberapa rasul dengan penjelasannya; misalnya, penciptaan Nabi Adam a.s. dan anak-cucunya yang dijadikan-Nya khalifah; Nabi Nuh a.s., Nabi Hud, Nabi Shaleh a.s., Nabi Syu’aib a.s., Nabi Musa a.s. dengan masing-masing kaumnya; Kisah-kisah ini terkait dengan surat atau ayat lainnya.
Menegaskan bahwa Alquran ini diturunkan kepada Nabiyang terakhir, berisi perintah agar seluruh manusia mengikuti pedoman yang ada di dalamnya dan melarang mengikuti selainnya; Ada petunjuk tentang adab orang mukmin, adab mendengarkan bacaan Alquran, dan berdzikir, Allah menjelaskan keterangan bahwa para Utusan; para Rasul dimintai tanggung jawab atas tugas yang diberikan-Nya; Timbangan atas segala perbuatan itu berdasarkan kebenaran dan keadilan; Orang yang beruntung adalah orang yang berat timbangan kebenaran dan keadilannya; Orang yang merugi adalah orang yang tidak menjalankan kebenaran dan keadilan; Allah pencipta semua makhluk; manusia diciptakan sebagai makhluk yang terbaik dan diberi kemampuan untuk memilih; kisah permusuhan Bani Adam sebagai khalifah di bumi dengan setan, dan sebagian jin; kehancuran suatu kaum itu karena pilihan hidupnya yang salah, bujukan setan; manusia diuji dengan kekayaan dan kemiskinan; istidraj azab Allah atas orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.

a’udzubillãhi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

alĩf lãm mĩm shōd

allãhu = Allah; lã = tidak ada; ilaha = ilah; ilallãh = selain Allah; Muhammad saw. = Muhammad saw.; ar rasulullah = Rasulullah; shōdiqũn haqqun = sungguh benar; mubĩn = yang nyata.

allãhu lã ila ha ilallãh Muhammadur rasulullah shōdiqũn haqqun mubĩn.

1. Allah, tidak ada ilah lain, selain Allah dan Muhammad saw. itu Rasulullah, sungguh nyata kebenarannya,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat cacatan Q.s. Al Baqarah: 2 : 1. Termasuk ayat mutasyãbihãt, artinya hanya Allah saja yang mengetahui dan memahami maksudnya. Ini hak Allah menyampaikan petunjuk, peringatan, penjelasan, penerangan, pelajaran dengan bahasa Arab melalui Jibril kepada Nabi Muhammad saw. seorang bangsa Arab Suku Quraisy, dan meminta manusia membaca, mempelajari, memahami, dan menanggapi, menafsirkan, atau mengamalkan atau mengajarkannya sesuai dengan alur pikiran yang positif, harus membesarkan Allah.

kitãbun = sebuah Kitab; unzila = diturunkan; ilaika = kepada kamu; fa lã = maka jangan; yakun = ada; fĩshodrika = di dalami dadamu; harojũm = kesempitan, kesedihan; min hũ = karenanya; litundzirō = supaya kamu memberi peringatan; bihĩ= dengannya; wa dzikrō = dan pelajaran; lil mu’minĩn = bagi orang-orang yang beriman.

kitãbun unzila ilaika fa lã yakun fĩshodrika harojũm min hũ litundzirō bihĩwa dzikrã lil mu’minĩn.

2. Sebuah Kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dan pelajaran dengan Kitab itu bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fungsi Alkitab itu untuk memberi petunjuk (Al Baqarah, 2 : 2), peringatan dan pelajaran, khusus bagi orang yang beriman. Hendaknya diterima dan dijalankan dengan lapang dada, menyenangkan bagi orang yang beriman itu. Surat ini merupakan isyarat perintah agar Alquran ini ditulis kemudian dibaca dengan ejaan bahasa Arab

attabi’ũ = ikutilah; mã unzila = apa yang diturunkan; ilaikum = kepadamu; mir robbikum = dari Rab kamu; wa lã tattabi’ũ = dan jangan mengikuti; min dunihĩ= dari selain Dia; auliyã-a = pemimpin-pemimpin; qolĩlan = amat sedikit; mã tadzakkarũn = apa yang kamu pelajari darinya.

attabi’ũ mã unzila ilaikum mir robbikum wa lã tattabi’ũ min dunihĩ auliyã-a, qolĩlam mã tadzakkarũn.

3. Ikutilah apa yang diturunkan Rab kamu kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia, amat sedikit apa yang kamu pelajari darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar mengikuti apa yang diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad saw., dan jangan mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Apa yang dipelajari dari Alkitab itu amat sedikit. Yang dipelajari amat sedikit itu harus diamalkan sebaik-baiknya, dan harus terkait dengan bagian-bagian kehidupan, atau ilmu-ilmu lainnya yang terkait dengan masing-masing keahlian. Semuanya harus selalu terkait dengan Allah.

wa kam = dan berapa banyak; min qoryatin = dari negeri-negeri; ahlaknãhã = telah Aku binasakan, fajã-ahã = maka datang kepadanya; ba’sunã = siksaan Aku; bayãtan = di waktu malam hari; au = atau; hum = mereka; qō-ilũn = orang-orang yang beristirahat di tengah hari.

wa kam min qoryatin ahlaknãhã fajã-ahã ba’sunã bayãtan au hum qō-ilũn

4. Dan berapa banyak negeri yang telah Aku binasakan, maka datanglah siksaan-Ku menimpa penduduknya di waktu malam hari atau ketika mereka beristirahat di tengan hari.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah negeri-negeri yang dibinasakan Allah, dan penduduknya mendapat siksaan dari-Nya. Harus menjadi cermin bagi orang-orang yang beriman

fa mã kaana = maka tidak ada; da’wãhum = seruan, keluhan mereka; idz = ketika; jã-ahum = datang kepada mereka; ba’sunã = siksaan Aku; illã = kecuali; an qōlũ = mereka mengatakan; innã = sesungguhnya Aku; kunnã = Aku adalah; dzōlimĩn = orang-orang yang lalim.

fa mã kaana da’wãhum idz jã-ahum ba’sunã illã an qōlũ innã kunnã dzōlimĩn.

5. Maka tidak ada keluhan mereka, ketika datang siksaan-Ku kepada mereka, kecuali mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Gambaran orang-orang yang kena siksa saat Hari Pembalasan, mereka menyesali diri mereka sendiri. Mereka lalim kepada dirinya sendiri. Seolah-olah mereka tidak mengenal dirinya sendiri.

fa lanas-‘alanna = maka sesungguhnya Aku akan menanyai; al ladzĩna = orang-orang yang …; ursila = diutus (Rasul); ilaihim = kepada mereka; wa lanas-‘alanna = dan Aku akan menanyai; al mursalĩn = para Rasul.

fa lanas-‘alannal ladzĩna ursila ilaihim wa lanas-‘alannal mursalĩn.

6. Maka sesungguhnya, Aku akan menanyai orang-orang yang telah diutus (Rasul) kepada mereka, dan sesungguhnya Aku akan menanyai juga para Rasul itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan menanyai orang-orang, dan Rasul-rasul yang telah diutus kepada mereka.

falanaqushshanna = maka sesungguhnya Aku akan menceriterakan; ‘alaihim = kepada mereka; bi ‘ilmin = dengan pengetahuan; wa mã kunnã = dan Aku tidaklah; ghō-ibĩn = gaib.

falanaqushshanna ‘alaihim bi ‘ilmin, wa mã kunnã ghō-ibĩn.

7. Maka sesungguhnya, Aku akan menceriterakan kepada mereka dengan pengetahuan (apa yang mereka kerjakan), dan Aku tidaklah gaib.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan secara ilmiah kenyataan hidupnya, dan apa saja yang pernah mereka kerjakan. Di dalam ayat lain Q.s. Yã sĩn, 36: 65 anggota tubuh diri mereka sendiri yang yang menceriterakannya. Saat itu, Allah jelas bukti-bukti keberadaan-Nya. Allah dekat sekali dengan makhluk-Nya.

wal waznu = dan timbangan; yauma’idzi = pada hari itu; il haqqu = kebenaran; fa man = maka siapa; tsaqulat = berat; mawãzĩnuhũ = timbangan kebaikannya; fa ‘ũlãika = maka mereka itu; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.

wal waznu yauma’idzinil haqqu, fa man tsaqulat mawãzĩnuhũ fa ‘ũlãika humul muflihũn.

8. Dan timbangan pada hari itu adalah kebenaran, maka siapa yang berat timbangan kebaikannya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Qōri’ah, 101 ; 6-7. Kebaikan di sini berarti adanya kepercayaan kepada kerasulan Nabi Muhammad saw., dan menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah melalui Nabi Muhammad saw.

wa man = dan siapa; khoffat = ringan; mawãzĩnuhũ = timbangannya; fa ũlaika = maka mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang ….; khosirũ = mereka merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; bi mã = dengan apa; karena; kaanũ = mereka adalah; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; yazhlimũn = mereka ingkar;

wa man khoffat mawãzĩnuhũ fa ũlaikal ladzĩna khosirũ anfusahum bi mã kaanũ bi ãyãtinã yazhlimũn.

9. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri karena mereka mengingkari ayat-ayat-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Qōri’ah, 101 ; 8. Orang yang mengingkari ayat-ayat Allah adalah orang yang tidak percaya bahwa Alquran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.; orang yang tidak menjalankan segala perintah, dan tidak menjauhi segala larangan dari Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; makkannãkum = menempatkan kamu; fil ardhi = di bumi; wa ja’alnã = dan Aku telah membuat; lakum = bagi kamu; fĩhã = di situ; ma’ãyisya = sumber penghidupan; qolilan = sedikit; mã = apa (kamu; tergantung hubungannya dengan bagian kalimat yang lain); tasykurũn = yang bersyukur.

wa laqod makkannãkum fil ardhi wa ja’alnã lakum fĩhã ma’ãyisya qolilam mã tasykurũn.

10. Dan sesungguhnya, Aku telah menempatkan kamu di bumi, dan Aku telah membuat bagimu sumber penghidupan di situ, tetapi sedikit dari kamu yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36. Sumber penghidupan itu berupa matahari (api), air, udara, tanah yang berjenis-jenis, dengan segala isinya, berupa barang tambang mineral, logam, minyak; tumbuh-tumbuhan, serta binatang-binatang yang dihalalkan untuk dimakan, dan yang diharamkan. Allah menyentuh hati orang yang beriman agar selalu bersyukur atas apa yang dinikmati selama hidupnya di dunia ini.

wa laqod = dan sesungguhnya; kholaqnãkum = Aku telah menciptakan kamu; tsumma = kemudian, lalu; shawwarnãkum = Aku bentuk kamu; tsumma = kemudian, lalu; qulnã = Aku bersabda; lil malãikati = kepada para Malaikat; as judũ = sujudlah; li ãdama = kepada Adam; fa sajadũ = maka mereka (para Malaikat) sujudlah; illã = kecuali; iblĩsa = iblis; lam yakum = dia tidak; minas sãjidiin = termasuk orang-orang yang sujud.

wa laqod kholaqnãkum tsumma shawwarnãkum tsumma qulnã lil malãikatis judũ li ãdama fa sajadũ illã iblĩsa, lam yakum minas sãjidiin.

11. Dan sesungguhnya, Aku telah menciptakan kamu (Adam), lalu Aku bentuk tubuhmu, lalu Aku bersabda kepada para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam”, maka mereka pun sujud, kecuali iblis, dia tidak termasuk makhluk yang sujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingatkan apa yang sudah diungkapkan dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 30 dan 34.

qōla = Allah bersabda; mã mana’aka = apa yang menghalangi kamu; allã = untuk tidak; tasjuda = bersujud; idz = ketika; amartuka = Aku memerintah kamu; qōla = Iblis berkata; ana = aku; khoirun = lebih baik; minhu = darinya; kholaqtanĩ= Engkau ciptakan saya; min nãrin = dari api; wa khlaqtahũ = dan Engkau ciptakan dia; min thĩn = dari tanah.

qōla mã mana’aka allã tasjuda idz amartuka, qōla ana khoirum minhu kholaqtanĩmin nãrin wa kholaqtahũ min thĩn.

12. Allah bersabda: “Apakah yang menghalangi kamu tidak sujud (kepada Adam) ketika Aku memerintah kamu?”, berkata Iblis: “saya lebih baik darinya, saya, Engkau ciptakan dari api, dan dia, Engkau ciptakan dari tanah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan penjelasan lebih jauh dari Q.s. Al Baqarah, 2 : 34 Iblis enggan dan takabur, karena melihat asal-usul dirinya, dan ia termasuk golongan kafir. Allah Mahamulia, sesungguhnya Allah memuliakan makhluk-Nya. Iblis diciptakan dengan zat yang lebih mulia daripada zat asal manusia. Seharusnya iblis meniru, apa Yang Diperbuat Allah. Karena iblis tidak mau memiliakan manusia, jadilah mereka durhaka kepada Allah.

qōla = Allah bersabda; fahbith = maka turunlah kamu; minhã = dari sana (surga); famã = maka tidak; yakũnu = patut; laka = bagi kamu; an tatakabbaro = kamu menyombongkan diri; fĩhã = di dalamnya; fa akhruj = maka keluarlah kamu; innaka = sesungguhnya kamu; minash shoghirĩn = dari golongan orang-orang yang hina.

qōla fahbith minhã famã yakũnu laka an tatakabbaro fĩhã fa akhruj innaka minash shoghirĩn.

13. Allah bersabda: “Turunlah kamu dari surga itu, karena tidak patut kamu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah kamu, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Surga itu tidak pantas ditempati oleh makhluk yang sombong. Maka, manusia tidak boleh menyombongkan diri karena asal-usulnya, karena kekayaannya, karena kepandaiannya, karena kedudukannya, dan lain-lain. Iblis, setan, dan sebagian dari jin itu sombong, oleh karena itu mereka diusir dari surga. Pada hakekatnya mereka menjadi hina karena kesombongannya itu.

qōla = iblis berkata; anzhirnĩ= beri tangguh saya; ilã yaumi = sampai hari; yub’atsũn = mereka dibangkitkan.

qōla anzhirnĩilã yaumi yub’atsũn.

14. Iblis berkata: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Iblis memohon tangguh waktu kematiannya kepada Allah sampai hari kebangkitan. Maksudnya agar dapat menggoda kehidupan manusia untuk menjadi temannya nanti di neraka. Manusia diberi tangguh dapat hidup di dunia agar menggunakan usianya untuk bertobat kepada Allah (Q.s. Al Baqarah, 2 : 225). Kalau kafir, siksa di neraka tidak ditangguhkan (Q.s. Al Baqarah, 2 : 162; Ali ‘Imran, 3 : 88).

qōla = Allah bersabda; innaka = sesungguhnya kamu; min = dari; al munzhorĩn = orang-orang yang diberi tangguh.

qōla innaka minal munzhorĩn.

15. Allah bersabda: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh.”

Catatan : Allah memberikan tangguh kepada makhluk-Nya, ada dua kemungkinan. Pertama memberikan kesempatan untuk mau bertobat, memohon ampun kepada Allah. Kedua, kesempatan untuk berbuat dosa karena kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, kemurtadan. Kelak, Allah tidak memberi tangguh untuk memberikan imbalan atas kebaikan amalnya, atau memberi hukuman kepada orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad.

qōla = Iblis berkata; fa bimã = maka karena; aghwaitanĩ= Engkau menghukum saya menjadi sesat; la aq’udanna = sungguh saya akan menghalangi; lahum = kepada mereka; shirōthōka = jalan Engkau; al mustaqĩm = yang lurus.

qōla fa bimã aghwaitanĩla aq’udanna lahum shirōthōkal mustaqĩm.

16. Iblis berkata: “Maka, karena Engkau menghukum saya sesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Karena kesombongannya, karena mengingkari atau menentang perintah Allah, setan dihukum. Setan itu sesat. Orang sesat adalah orang yang menentang perintah Allah. Pekerjaan orang yang sesat selalu berupaya dengan berbagai cara, dan dari berbagai jurusan menghalangi orang lain, makhluk lain agar tidak melalui jalan lurus yang disediakan Allah menuju haribaan-Nya.

tsumma = kemudian; la-atiyannahum = sungguh, saya akan mendatangi mereka; mim baini aidĩhim = dari muka mereka; wa min kholfihim = dan dari belakang mereka; wa ‘an aimaanihim = dari sebelah kanan mereka; wa ‘an syamã-ilihim = dan dari sebelah kiri mereka; wa lã tajidu = dan Engkau tidak mendapati; aktsarohum = kebanyakan mereka; syãkirĩn = orang-orng yang bersyukur.

stumma la-atiyannahum mim baini aidĩhim wa min kholfihim wa ‘an aimaanihim wa ‘an syamã-ilihim wa lã tajidu aktsarohum syãkirĩn.

17. Kemudian, sungguh saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka, orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi seluruh manusia agar selalu berhati-hati, waspada kepada gerik-gerik setan di dunia ini. Setan akan menggoda manusia dari berbagai jurusan, dan dengan berbagai cara agar manusia terjerumus ke dalam perangkapnya, menjadi orang-orang yang tidak bersyukur, atas apa yang telah diberikan Allah.

qōla = Allah bersabda; ukhruj = keluarlah kamu; min hã = dari surga; madz-ũman = terhina; mad-hũro = terusir; laman = sesungguhnya, siapa; tabi’aka = mengikuti kamu; min hum = di antara mereka; la-amla-anna = sungguh akan Aku penuhi; jahannama = jahanam; min kum = dengan kamu; ajma’ĩn = semuanya.

qōlakhruj min hã madz-ũmam mad-hũro, laman tabi’aka min hum la-amla-anna jahannama min kum ajma’ĩn.

18. Allah bersabda: “Keluarlah kamu dari surga sebagai orang yang terhina dan terusir, sesungguhnya, siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, sungguh, akan Aku penuhi neraka jahanam dengan kamu semuanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bandingkan dengan Q.s Al Baqarah, 2 : 36, dan 38 untuk Nabi Adam. Ayat ini khusus untuk iblis.

wa yã ãdamu = Dan (Allah bersabda kepada) Adam; us kun = tinggallah; anta = engkau, kamu; wa zaujuka = dan istrimu; al jannata = di surga; fa kulã = maka kamu berdua makanlah; min haitsu = dari apa saja; syi’tumã = kamu berdua sukai, ingini; wa lã taqrobã = dan kamu berdua jangan mendekati; hãdzihi = ini; asy syajarota = pohon; fa takũna = maka kamu berdua; mina = dari, termasuk; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa yã ãdamus kun anta wa zaujukal jannata fa kulã min haitsu syi’tumã wa lã taqrobã hãdzihisy syajarota fa takũna minazh zhōlimĩn.

19. Dan Allah bersabda: “Wahai Adam, tinggallah kamu dan istrimu di surga, makanlah kamu berdua, apa saja yang kamu berdua suka, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, kalau kamu berdua dekati, maka kamu berdua menjadi orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 35 perintah ini sudah disampaikan. Mendekati yang dilarang saja sudah dianggap, termasuk lalim. Apalagi sampai menjamah, atau sampai memakan buahnya.

fa waswasa = maka membisikkan pikiran jahat; lahuma = kepada keduanya; asy syaithōnu = setan; liyubdiya = untuk menampakkan; lahumã = kepada keduanya; mã wũriya = apa yang tertutup; ‘anhumã = dari keduanya; min = dari; sau-ãtihimã = aurat (kemaluan) keduanya; wa qōla = dan setan berkata; mã nahãkumã = tidak melarang kamu berdua; robbukumã = Rab kamu berdua; ‘an hãdzihi = dari ini; asy syajaroti = pohon; illã = kecuali; an takũnã = supaya kamu berdua jadi; malakaini = dua malaikat; au takũnã = atau kamu berdua jadi; minal khōlidĩn = dari orang-orang yang kekal.

fa waswasa lahumasy syaithōnu liyubdiya lahumã mã wuriya ‘anhumã min sau-ãtihimã wa qōla mã nahãkumã robbukumã ‘an hãdzihisy syajaroti illã an takũnã malakaini au takũnã minal khōlidĩn.

20. Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya (Adam dan istrinya), untuk menampakkan kepada keduanya, apa yang tertutup dari keduanya (keinginan; nafsu-nafsu; kemaluannya; aurat keduanya), dan setan berkata, “Rab kamu tidak melarang kamu berdua mendekati pohon ini, karena supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat, atau kamu berdua (tidak) menjadi orang-orang yang kekal dalam surga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam Q.s. Al Baqarah, 2 : 36 setan menggelincirkan Adam dan istrinya. Ayat ini menjelaskan lebih jauh tentang tipu-daya setan

wa qōsamahumã = dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya; innĩ = sesungguhnya; lakumã = kepada kamu berdua; lamina = sungguh termasuk; an nãshihĩn = orang-orang yang memberi nasihat.

wa qōsamahumã innĩlakumã laminan nãshihĩn.

21. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: “Sesungguhnya, saya termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran bagi manusia agar jangan percaya pada bujuk rayu setan. Mereka mengaku dirinya penasihat. Manusia harus kritis menggunakan akal dan pikiran yang dikaruniakan Allah, agar hidupnya selamat di dunia sampai ke akhirat.

fa dollãhumã = maka dia membujuk keduanya; bi ghurũr = dengan tipu-daya; fa lammã = maka setelah; dzãqo = keduanya merasakan; asy syajarota = (buah) pohon itu; badat = tampaklah; lahumã = kepada keduanya; sauãtuhumã = aurat keduanya; wa thofiqō = dan keduanya memulai; yakhshifãni = menutupi aurat keduanya; ‘alaihimã = atas keduanya; min waroqi = dengan daun; al jannah = surga; wa nadãhumã = dan memanggil keduanya; robbuhumã = Rab keduanya; alam = bukankah; anhakuma = telah Aku larang kamu berdua; ‘antilkuma = dari itu; asy syajaroti = pohon; wa aqul = dan telah Aku katakan; lakumã = kepada kamu berdua; inna = sesungguhnya; asy syaithōna = setan; lakumã = kepada kamu berdua; ‘aduwun = musuh; mubĩn = yang nyata.

fa dollãhumã bi ghurũr, fa lammã dzãqosy syajarota badat lahumã sauãtuhumã wa thofiqō yakhshifãni ‘alaihimã min waroqil jannah, wa nadãhumã robbuhumã alam anhakuma ‘antilkumasy syajaroti wa aqul lakumã innasy syaithōna lakumã ‘aduwum mubĩn.

22. Maka dia (setan) membujuk keduanya dengan tipu-daya (untuk memakan buah) pohon itu, maka setelah keduanya merasakan buah pohon, tampaklah aurat bagi keduanya, dan keduanya mulai menutupi auratnya dengan daun surga. Dan Rab mereka memanggilnya: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua terhadap pohon itu, dan telah Aku katakan kepada kamu berdua, bahwa sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini menjadi cermin. Kita harus memperhatikan peringatan Allah tentang setan sebagai musuh yang nyata, lihat Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 142; al A’raf, 7 : 36; Yũsuf, 12 : 5.

qōlã = kduanya berkata; robbanã = yã Rab kami; zholamnã = kami melalimi; anfusanã = diri kami sendiri; wa il lam = dan jika tidak; taghfir = Engkau mengampuni; lanã = bagi kami; wa tarhamnã = dan Engkau memberi rahmat kepadaku; lana = bagi kami; kũnanna = sungguh kami menjadi; mina = dari, menjadi; al khōsirĩn = orang yang merugi.

qōlã robbanã zholamnã anfusanã wa il lam taghfirlanã wa tarhamnã lanakũnanna minal khōsirĩn.

23. Keduanya berkata: “Yã Rab kami, kami telah melalimi diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, dan memberi rahmat kepada kami, sungguh kami akan menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa manusia yang harus diucapkan saat selesai salat fardhu.

qōla = (Allah) bersabda; ahbithũ = turunlah kamu berdua; ba’dhukum = sebagain kamu; liba’dhin = bagi sebagian yang lain; ‘aduwun = musuh; wa lakum = dan bagi kamu; fil ardhi = di bumi; mustaqorrun = tempat menetap; wa matã’un = dan kesenangan; ilãhĩn = sampai waktu yang ditetapkan.

qōla ahbithũ ba’dhukum liba’dhin ‘aduwun, wa lakum fil ardhi mustaqorrun wa matã’un ilãhĩn.

24. Allah bersabda: “Turunlah kamu sekalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu tempat menetap dan kesenangan di bumi sampai waktu yang telah ditetapkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 142; al A’raf, 7 : 22, 36; Yũsuf, 12 : 5. Di samping manusia menjadi musuh, juga binatang tumbuh-tumbuhan, alam, dan terutama setan.

qōlã = Allah bersabda; fĩhã = di sana (bumi); tahyauna = kamu hidup; wa fĩhã = di sana (bumi); tamũtũna = kamu mati; wa minhã = dan dari sana; tukhrajũn = kamu dibangkitkan, dikeluarkan.

qōlã fĩhã tahyauna wa fĩhã tamũtũna wa minhã tukhrajũn.

25. Allah bersabda: “di bumi kamu hidup dan di bumi kamu mati, dari bumi kamu dibangkitkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan asal-usul kita dan tempat kebangkitan kita nanti. Dalam sastra Jawa dikenal dengan istilah sangkan paraning dumadi yang artinya asal dan arah hidup makhluk (persangkaan asal dan arah hidup makhluk), khususnya manusia yang diberi kelebihan menggunakan akal, pikiran, dan rasa dalam keberadaan hidupnya sehingga dapat menciptakan bahasa yang dapat dijadikan alat untuk menyampaikan berbagai pedapat yang dapat disimpan dalam bentuk tulisan atau berbagai rekaman. Juga bisa menjadi ciri dari kelompok bangsa atau suku bangsa tertentu.

yã banĩãdama = wahai Anak Keturunan Adam, qod = sesungguhnya; anzalnã = Aku telah menurunkan; ‘alaikum = kepada kamu sekalian; libãsan = pakaian; yuwãrĩ= menutupi; sauãtikum = auratmu; wa rĩsyan = dan perhiasan; wa li bãsu = dan pakaian; at taqwã = takwa; dzãlika= demikian itu; khoiru = lebih baik; dzãlika = demikian itu; min ãyãtillãhi = dari sebagian tanda-tanda ada-Nya Allah; la’allahum = supaya mereka; yadzakkarũn = mereka ingat.

yã banĩãdama qod anzalnã ‘alaikum libãsan yuwãrĩsauãtikum warĩsyan, wa li bãsut taqwã dzãlika khoiru, dzãlika min ãyãtillãhi la’allahum yadzakkarũn.

26. Wahai Anak Keturunan Adam, sesungguhnya, Aku telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik. Demikian itulah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, supaya mereka ingat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini dan ayat berikutnya merupakan peringatan dan pembelajaran bagi Bani Adam, manusia turunan Adam. Manusia yang diciptakan Allah itu berbudaya, berpakaian untuk menutupi aurat, dan pakain perhiasan. Allah memberi pelajar bahwa pakaian takwalah yang lebih baik. Artinya lambang pakaian takwa itu terlihat dari penampilan, sikap, perbuatan, atau tingkah-laku, dan penampilan bahasanya yang santun, berisi, berbobot, bermakna yang berkeyakinan penuh kepada keesaan Allah dengan para Nabi Utusan-Nya..

yã banĩãdama = wahai Bani Adam; lã = jangan (sekali-kali); yaftinannakumu = kamu dapat dinipu; asy syaithōnu = setan; kamã = sebagimana; akhroja = ia mengeluarkan; abawaikum = kedua ibu-bapakmu; mina = dari; al jannati = surga; yanzi’u = ia menanggalkan; ‘anhumã = dari keduanya; libãsahumã = pakaian keduanya; liyuriya = untuk keduanya memperlihatkan; humã = keduanya; sauãtihimã = aurat keduanya; innahũ = sesungguhnya; yarōkum = ia dan golongannya melihat kamu; huwa = ia; wa qobĩluhũ = dan golongannya; min haitsu = di mana; lã = tidak; taraunahum = kamu melihat mereka; innã = sesungguhnya; ja’alna = Aku telah menjadikan; asy syayãthĩna = setan-setan; auliyã-a = pemimpin-pemimpin; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; lã yu’minũn = tidak beriman.

yã banĩãdama lã yaftinannakumusy syaithōnu kamã akhroja abawaikum minal jannati yanzi’u ‘anhumã libãsahumã liyuriya humã sauãtihimã, innahũ yarōkum huwa waqobĩluhũ min haitsu lã taraunahum, innã ja’alnasy syayãthĩna auliyã-a lilladzĩna lã yu’minũn.

27. Wahai Bani Adam, jangan sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga, ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan auratnya. Sesung-guhnya, ia dan golongannya dapat melihat di mana kamu, dan kamu tidak dapat melihat mereka. Sesungguhnya, Aku telah menjadikan setan-setan itu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia keturunan Adam perilaku dan sifat-sifat setan. Setan itu akan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah.

wa idzã = dan, apabila; fa’alũ = mereka melakukan; fãhisyatan = perbuatan keji; qōlũ = mereka berkata; wajadnã = kami dapati; ‘alaihã = mengerjakannya; abã-anã = nenek-moyang kami; wallãhu = dan Allah; amaronã = menyuruh Aku; bihã = dengannya; qul = katakanlah; innallãha = sesungguhnya Allah; lã ya’muru = tidak menyuruh; bil fahsyã-i = dengan perbuatan keji; ataqũlũna = mengapa kamu mengatakan; ‘alallãhi = kepada Allah; mã lã = apa yang tidak; ta’lamũn = kamu ketahui.

wa idzã fa’alũ fãhisyatan qōlũ wajadnã ‘alaihã abã-anã wallãhu amaronã bihã qul innallãha lã ya’muru bil fahsyã-i, ataqũlũna ‘alallãhi mã lã ta’lamũn.

28. Dan, apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami menyaksikan nenek-moyang kami mengerjakan yang demikian. Dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan keji, mengapa kamu mengatakan kepada Allah, apa yang tidak kamu ketahui?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan keji, contohnya membunuh anak perempuan, berbuat tidak adil, menentang perintah Allah, melakukan pekerjaan yang dilarang Allah. “mengatakan kepada Allah, apa yang tidak kamu ketahui” adalah perkataan orang kafir yang berbunyi: “Allah menyuruh membunuh anak perempuan”, padahal Allah tidak menyuruh perbuatan keji itu.
Allah mengingatkan agar selalu kritis apa yang dikerjakan, atau apa yang disarankan setan

qul = katakanlah; amaro = telah menyuruh; robbĩ= Rab Aku; bil qisthi = dengan adil; wa aqimũ = dan luruskan; wujũhakum = wajah kamu sekalian; ‘inda kulli = di setiap; masjidin = sujud, salat; wad’ũhu = kamu berdoalah; mukhlishĩna = dengan ikhlas; lahuddiin = kepada agamanya; kamã = sebagaimana; bada-akum = Dia menciptakan kamu sebelumnya; ta’ũdũn = kamu akan dikembalikan.

qul amaro robbĩbil qisthi wa aqimũ wujũhakum ‘inda kulli masjidin wad’ũhu mukhlishĩna lahuddiin, kamã bada-akum ta’ũdũn.

29. Katakanlah:“Rab Aku telah menyuruh berbuat adil, dan luruskanlah mukamu (ingatanmu) setiap sujud (salat), dan berdoalah dengan ikhlas dan taat kepada-Nya, sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada awalnya, demikian pula, setelah itu kamu akan dikembalikan kepada-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh kita berbuat adil. Ketika sujud kita harus sungguh-sungguh berdoa memohon yang baik-baik, yang menyenangkan, dan mengingat Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya dengan ikhlas pada awalnya, dan pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya.

farĩqon = segolongan; hadã = Dia beri petunjuk; wa farĩqon = dan segolongan; haqqo = pasti; ‘alaihimu = atas mereka; adh dholãlah = kesesatan; innahumu = sesungguhnya mereka; at takhodzu = mereka menjadikan; asy syayãtĩna = setan-setan; auliyã-a = pelindung; min dũnillãhi = dari selain Allah; wa yahsabũna = dan mereka mengira; annahum = bahwa mereka; muhtadũn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

farĩqon hadã wa farĩqon haqqo ‘alaihimudh dholãlah, innahumut takhodzusy syayãtĩna auliyã-a min dũnillãhi wa yahsabũna annahum muhtadũn.

30. Segolongan Dia beri petunjuk, dan segolongan lagi dipastikan mereka sesat. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung selain dari Allah, dan mereka mengira mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memastikan sebagian orang yang diberi petunjuk.dan sebagian lagi orang sesat. Orang yang sesat merasa mendapat petunjuk. Petunjuk mereka adalah kesesatan setan. Maka berhati-hatilah dengan setan-setan yang selalu menggoda kita. Kita harus selalu mengingat Allah Yang Mahatunggal. Tidak ada ilah lain selain Allah.

yã banĩãdama = wahai Bani Adam; khudzũ = pakailah; zĩnatakum = perhiasanmu; ‘inda = pada; kulli = setiap; masjidin = (memasuki) masjid; wa kulũ = dan makanlah; wasyrobũ = dan minumlah; wa lã = dan jangan; tusyrifũ = berlebih-lebihan; innahu = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al musrifĩn = orang-orang yang berlebihan.

yã banĩãdama khudzũ zĩnatakum ‘inda kulli masjidin wa kulũ wasyrobũ wa lã tusyrifũ, innahu lã yuhibbul musrifĩn.

31. Wahai Bani Adam, pakailah perhiasanmu pada setiap memasuki masjid (salat), makanlah dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran dan mengingatkan tentang tata cara hidup. Saat kita memasuki masjid, saat kita salat hendaklah menggunakan pakaian yang baik sebagai perhiasan. Perhiasan yang paling mulia di hadapan Allah adalah pakaian takwa kepada Allah. Perhiasan lainnya, seperti cincin, kemuliaan, pangkat, derajat, dan lain-lain merupakan perhiasan sampingan yang tidak usah terlalu dibanggakan.

qul = katakanlah; man = siapakah; harroma = mengharamkan; zĩnatallãhi = perhiasan Allah; al latĩ= yang; akhroja = Dia keluarkan; li’ibãdihĩ= untuk hamba-hamba-Nya; wath thoyyibãti = dan yang baik-baik; mina = dari; ar rizqi = rezeki; qul = katakanlah; hiya = ia, semuanya; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; ãmanũ = (mereka yang) beriman; fil hayati = dalam kehidupan; ad dun-yã = dunia; khōlishotan = khusus; yauma = hari; al qiyãmah = kiamat; kadzãlika = demikianlah; nufashshilu = Aku jelaskan; al ãyãti = ayat-ayat; liqoumin = bagi kaum, orang-orang; ya’lamũn = (mereka) mengetahui.

qul man harroma zĩnatallãhil latĩakhroja li’ibãdihĩwath thoyyibãti minar rizqi, qul hiya lilladzĩna ãmanũ fil hayatid dun-yã khōlishotan yaumal qiyãmah, kadzãlika nufashshilul ãyãti liqoumin ya’lamũn.

32. Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya, dan demikian pula siapakah mengharamkan rezeki yang baik-baik?” Katakanlah: “Semuanya itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia ini, khusus bagi orang-orang yang beriman pada Hari Kiamat. Demikianlah, Aku jelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Khusus untuk orang-orang yang beriman, perhiasan dan rezeki yang baik-baik itu bisa dinikmati di dunia maupun di akhirat. Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhirat, perhiasan dan rezeki itu hanya didapat untuk di dunia saja. Di akhirat mereka akan disiksa karena kekafiran, kemusyrikan, kemunafikan, kefasikan, kemurtadannya.

qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya, hanyalah; harroma = mengharamkan; robbiya = Rabku; al fawãhisya = pembuat keji; mã dzaharo = apa yang tampak, lahir; minhã = darinya; wa mã = dan apa yang; bathana = batin, tersembunyi; wal itsma = dan perbuatan dosa; wal baghyã = dan melanggar hak; bi ghoiri = dengan alasan; al haqqi = yang benar; wa antusyrikũ = dan kamu mempersekutukan sesuatu; billãhi = dengan Allah; mã lam = apa yang tidak; yunazzil = Dia turunkan; bihĩ= dengan itu; sulthōnan = hujjah, keterangan; wa antaqũlũ = dan kamu mengatakan; ‘alallãhi = tentang Allah; mã lã = apa yang tidak; ta’lamũn = kamu ketahui.

qul innamã harroma robbiyal fawãhisya mã dzaharo minhã wa mã bathana wal itsma wal baghyã bi ghoiril haqqi wa antusyrikũ billãhi mã lam yunazzil bihĩsulthōnan wa antaqũlũ ‘alallãhi mã lã ta’lamũn

33. Katakanlah: “Sesungguhnya, Rabku hanya mengharamkan perbuatan keji yang tampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, dan yang melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, dan jika kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu (makhluk) yang tidak ada keterangan untuk itu dari Allah. Allah mengharamkan kamu mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak kamu ketahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang dimaksud perbuatan keji yang tampak adalah menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya, membunuh anak perempuan karena ada kekhawatiran memberatkan keluarga; Perbuatan keji yang tidak tampak adalah membenci orang tanpa diketahui orangnya; Perbuatan dosa adalah berjinah, membunuh, mencuri, merampok, menipu, memalsu, mengurangi timbangan kalau menimbang untuk orang lain, bertengkar, atau bermusuhan dengan orang lain,
Perbuatan yang melanggar hak manusia tanpa alasan adalah membunuh orang karena ingin merebut hartanya; Mengatakan sesuatu tentang Allah yang tidak kamu diketahui adalah Allah mempunyai putra, Allah menyuruh membunuh anak perempuan, Allah menerima pemberian hasil ternak atau hasil pertanian.

walikulli = dan bagi tiap-tiap; ummatin = umat; ajal = ketentuan akhir hidupnya; fa idzã = maka jika; jã-a = telah dating; ajaluhum = akhir hidupnya; lã = tidak; yasta’khirũna = mereka dapat mengakhirkan; sã’atan = sesaat; wa lã = dan tidak; yastaqdimũn = mereka mendahulukan

walikulli ummatin ajal, fa idzã jã-a ajaluhum lã yasta’khirũna sã’atan wa lã yastaqdimũn.

34. Dan bagi setiap umat ada ketentuan waktu akhir hidupnya, ada ajalnya, maka jika telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengakhirkan, dan tidak dapat memajukannya sesaat pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu tentang ajal dari setiap bangsa, suku bangsa, kelompok orang, dan manusia secara sendiri-sendiri. Lihat Q.s …

yã banĩãdama = wahai Bani Adam; immã = jika; ya’tiyannakum = datang kepadamu; rusulun = Rasul-rasul; minkum = dari antara kamu; yaqushshũna = mereka mengisahkan; ‘alaikum = kepada kamu; ãyãtĩ= tanda-tanda-Ku; fa mani = maka barang siapa; at taqō = tãt; wa ashlaha = dan perbaikan; fa lã = maka tidak; khaufun = takut; ‘alaihim = atas mereka; wa lã = dan tidak; hum = mereka; yahzanũn = rasa sedih.

yã banĩãdama immã ya’tiyannakum rusulum minkum yaqushshũna ‘alaikum ãyãtĩ, fa manit taqō wa ashlaha fa lã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.

35. Wahai Bani Adam, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antara kamu yang menceriterakan ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang tãt dan mengadakan perbaikan, tidak ada rasa takut, dan tidak ada rasa sedih bagi mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: janji Allah, jika datang kepadamu Rasul-rasul dari antara kamu dan kamu tãt mengikuti aturannya, maka hidupnya akan tenang, damai, sejahtera. Tidak ada rasa takut, dan sedih di dalam hatinya. Lihat juga Q.s. ….

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; was takbarũ = dan menyombongkan diri; ‘anhã = dari-Nya; ula-ika = mereka itulah; ashhãbu = penghuni; an nãri = neraka; hum fĩhã = mereka di dalamnya; khōlidũn = kekal.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã was takbarũ ‘anhã ula-ika ashhãbun nãri, hum fĩhã khōlidũn.

36. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku, dan menyombongkan diri dari-Nya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku” adalah orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad.
“Orang yang menyombongkan diri dari-Nya” adalah orang-orang yang tidak suka berdoa, dan tidak salat. Mereka yang kaya, yang berkedudukan di dunia, yang merasa pandai sering menjadi sombong karena menganggap segalanya itu atas usaha dan susah-payahnya sendiri. Mereka tidak percaya bahwa segala kekayaan, pangkat, kepandaian itu Allah yang menentukan.

fa man = maka siapakah; azhlamu = yang lebih lalim; mimmani = daripada orang yang …; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = atas Allah; kadziban = kedustaan; au kadzdzaba = atau dia mendustakan; bi ãyãtihĩ= dengan ayat-ayat-Nya; ulã-ika = mereka itu; yanãluhum = mereka akan memperoleh; nashĩbuhum = bagian mereka; minal kitãbi = adri Kitab; hattã = sehingga; idzã = apabila; jã-at-hum = telah datang kepada mereka; rusulunã = utusan-utusan Aku; yatawaffaunahum = mewafatkan mereka; qōlũ = (mereka) berkata; aina = di mana; mã = apa yang …; kuntum = kamu adalah; tad’ũna = kamu sembah; min dũnillãh = dari selain Allah; qōlũ = (mereka) berkata; dhollũ = mereka telah lenyap; ‘annã = dari Aku; wa syahidũ = dan mereka mengakui; ‘alã anfusihim = atas diri mereka sendiri; annahum = bahwa mereka; kaanũ = mereka adalah; kãfirĩn = orang-orang kafir.

fa man azhlamu mimmaniftarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi ãyãtihĩ, ulã-ika yanãluhum nashĩbuhum minal kitãbi, hattã idzã jã-at-hum rusulunã yatawaffaunahum qōlũ ainamã kuntum tad’ũna min dũnillãh, qōlũ dhollũ ‘annã wasyahidũ ‘alã anfusihim annahum kaanũ kãfirĩn.

37. Maka, siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan atas Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Mereka akan mendapat bagian yang telah ditentukan di dalam Kitab, sehingga, jika telah datang kepada mereka utusan-utusan-Ku (Malaikat) untuk mewafatkan mereka, para Malaikat berkata: “Di mana berhala-berhala yang kamu sembah selain dari Allah?” Mereka menjawab: “Berhala-berhala itu telah lenyap dari Aku.” Mereka mengakui diri mereka adalah orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang mendustakan Allah dan mendustakan ayat-ayat-Nya berarti kafir. Kafir itu orang yang melalimi dirinya sendiri. Mereka baru menyadari hal tersebut setelah mereka diwafatkan.

qōla = Allah bersabda; ud khulũ = masuklah kamu; fĩ= pada; umamin = umat-umat; qod = sungguh; kholat = terdahulu; min = dari; qoblikum = sebelum kamu; min = dari; al jinni wal insĩ= jin dan manusia; fi = ke; an nãr = api neraka; kullamã = setiap; dakholat = masuk; ummatun = suatu umat la’anat = melaknat, mengutuk; ukhtahã = temannya; hattã = sehingga, sampai; idza = apabila; ad dãrokũ = mereka berkumpul; fĩhã = di dalamnya; jamĩan = semuanya; qōlat = berkatalah; ukhrōhum = orang-orang yang terakhir; li = kepada; ũlãhum = orang-orang terdahulu; robbanã = yã Rab Aku; hã-ulã-i = mereka itulah; adhollũnã = telah menyesatkan Aku; fa-ãtihim = maka datanglah kepada mereka; adzãban = siksaan; dhi’fam = berlipat-ganda; min = dari; an nãr = api neraka; qōlã = (Allah) bersabda; likullin = bagi masing-masing; dhi’fun = berlipat-ganda; wa lãkin = akan tetapi; lã ta’lamũn = kamu tidak mengetahui.

qōlad khulũ fĩumamin qod kholat min qoblikum minal jinni wal insĩfĩn nãr, kullamã dakholat ummatul la’anat ukhtahã, hattã idzad dãrokũ fĩhã jamĩan qōlat ukhrōhum li ũlãhum robbanã hã-ulã-i adhollũnã fa-ãtihim adzãban dhi’fam minan nãr, qōlã likullin dhi’fun wa lãkil lã ta’lamũn.

38. Allah bersabda: “Masuklah kamu ke dalam neraka bersama umat-umat yang sungguh terdahulu sebelum kamu dari jin dan manusia”. Setiap suatu umat masuk ke dalam neraka, mereka mengutuk temannya yang menyesatkan, sehingga apabila sampai mereka berkumpul di dalamnya, berkata orang-orang yang terakhir kepada orang-orang yang terdahulu: ”yã Rab Aku, mereka itulah yang telah menyesatkan Aku, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat-ganda dalam api neraka.” Allah berfirman: “Bagi masing-masing mendapatkan siksaan yang berlipat-ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia agar berhati-hati dengan informasi yang disampaikan oleh orang yang menyesatkan, orang yang menganggap dusta ada-Nya Allah, orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah agar tidak menyesal nanti di akhirat.

wa qōlat = dan berkatalah; ũlãhum = orang-orang yang terdahulu; li = kepada; ukhrōhum = orang-orang yang terakhir; fa = maka; mã kaana = tidak ada; lakum = bagi kamu; ‘alainã = atas Aku; min fadhlin = dari kelebihan; fa dzũqũ = maka rasakanlah; al ‘adzãba = azab, siksaan; bi mã = dengan apa, sebab; kuntum = kamu adalah; taksibũn = kamu kerjakan.

wa qōlat ũlãhum li ukhrōhum fa mã kaana lakum ‘alainã min fadhlin fadzũqũl ‘adzãba bi mã kuntum taksibũn.

39. Dan berkatalah orang-orang yang masuk terdahulu kepada orang-orang yang masuk terakhir: “Kamu tidak mempunyai kelebihan atas Aku, maka, rasakanlah siksaan ini, dengan sebab, apa yang telah kamu kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia tentang hal menyalahkan pihak lain, saat menanggung akibat ulahnya sendiri di dunia. Tidak ada yang mau disalahkan. Semuanya akan menanggung akibat perbuatannya masing-masing di dunia

innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang …; kadzdzabũ = menganggap dusta; bi = pada; ãyãtinã = ayat-ayat Aku; wastakbarũ = dan menyombongkan diri; ‘anhã = darinya; lã tufattahu = tidak dibukakan; lahum = bagi mereka; abwãbu = pintu-pintu; as samã-i = langit; wa lã yadkhulũna = dan mereka tidak masuk; al jannata = surga; hattã = sehingga; yalija = masuk; al jamalu = unta; fi sammi = pada lubang; al khiyãthi = jarum; wa kadzãlika = dan demikianlah; najzĩ= Aku memberi balasan; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

innalladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã wastakbarũ ‘anhã lã tufattahu lahum abwãbus samã-i wa lã yadkhulũnal jannata hattã yalijal jamalu fi sammil khiyãthi, wa kadzãlika najzĩl mujrimĩn.

40. Sesungguhnya, orang-orang yang menganggap dusta ayat-ayat Aku, dan menyombongkan diri darinya, tidaklah akan dibukakan pintu-pintu langit, dan mereka tidak masuk surga, sehingga unta dapat masuk ke lubang jarum. Demikianlah Aku memberi balasan kepada orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah, dan menyombongkan dirinya darinya, mereka sulit, dan tidak mungkin dapat memasuki pintu langit, seperti halnya unta masuk lubang jarum. Orang yang menyombongkan diri dari ayat-ayat Allah, artinya mereka tidak mau membaca, memperlajari ayat-ayat Allah. Pintu langit artinya pintu ilmu dan pengetahuan di dunia yang dapat membuka jalan kehidupan yang lebih baik, lebih menyenangkan, lebih memuaskan untuk dunia dan akhirat (surga) bagi orang-orang yang beriman kepada Allah. Bagi yang tidak beriman, jalan kehidupan yang lebih baik, lebih menyenangkan, lebih memuaskan itu hanya dikenyam di dunia saja. Di akhirat, mereka dipertanyakan hal keyakinannya tentang Allah yang menjadi sumber dari segala sumber kehidupan di dunia dan akhirat. Orang berdosa di sini artinya orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah dan mereka yang sombong karena berbagai alasan, misalnya: karena kekayaannya, ilmunya, kedudukannya, dan lain-lain.

lahum = bagi mereka; min jahannama = di api jahanam; mihãdun = tempat tidur; wa min fauqihim = dan dari atas mereka; ghowãsyin = selimut; wa kadzãlika = dan demikianlah; najzi = Aku memberi balasan; azh zholimĩn = orang-orang lalim.

lahum min jahannama mihãdun wa min fauqihim ghowãsyin, wa kadzãlika najzizhzholimĩn.

41. Bagi Mereka, tempat tidur di api jahanam, di atas mereka ada selimut dari api itu. Demikianlah Aku memberi balasan kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang pembalasan-Nya bagi orang-orang yang lalim, yakni orang-orang yang tidak mau percaya ada-Nya Allah. Mereka menganggap dusta ayat-ayat Allah, dan mereka menyombongkan diri dengan tidak mau mengikuti perintah Allah dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Mereka akan dimasukkan ke dalam api jahanam.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; wa’amilush shōlihãti = dan beramal saleh; lã nukallifu = Aku tidak memaksakan; nafsan = seseorang; illã = kecuali; wus’ahã = kesanggupannya; ũlã-ika = mereka itu; ash hãbu = penghuni; al jannah = surga; hum = mereka; fĩhã = di dalamnya; kholidũn = mereka kekal.

wal ladzĩna ãmanũ wa’amilush shōlihãti lã nukallifu nafsan illã wus’ahã ũlã-ika ash hãbul jannah, hum fĩhã kholidũn.

42. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Aku tidak memaksakan kepada seseorang, kecuali karena kesanggupannya, mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir dan orang yang beriman itu kehendak masing-masing orang. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya. Allah memberikan akal dan pikiran kepada manusia untuk memilih

wa naza’nã = dan Aku telah mencabut; mã fi = apa yang di dalam; shudũrihim = dada mereka; min ghillin = dari dendam, kedengkian; tajrĩ= mengalir; min tahtihimu = dari bawah mereka; sl anhãru = sungai-sungai; wa qōlu = dan mereka berkata; al hamdu lillãhi = segala puji bagi Allah; l ladzĩ = Yang; hadaanã = telah menunjuki Aku; li hãdzã = ke ini; wa mã = dan tidaklah; kunnã = Aku adalah; linahtadĩya = Aku akan mendapat petunjuk; lau = kalau; lã = tidak; an hadaanallãhu = Allah memberi petunjuk Aku; laqod = sesungguhnya; jã-at = telah datang; rusulu = Rasul-rasul; robbinã = Rab Aku; bil haqqi = dengan kebenaran; wa nũdũ = dan mereka diseru; antilkumu = itulah; al jannatu = surga; ũrits-tumũhã = diwariskannya; bimã = karena; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.

wa naza’nã mã fi shudũrihim min ghillin tajrĩmin tahtihimul anhãru, wa qōlul hamdu lillãhil ladzĩhadaanã li hãdzã wa mã kunnã linahtadĩya lau lã an hadaanallãhu laqod jã-at rusulu robbinã bil haqqi, wa nũdũ antilkumul jannatu ũrits-tumũhã bimã kuntum ta’malũn.

43. Dan Aku telah mencabut kedengkian yang berada di dalam dada mereka; mengalir sungai-sungai di bawah mereka, dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah Yang telah menunjuki Aku ke surga ini, dan tidaklah Aku akan mendapat petunjuk, jika Allah tidak memberikan petunjuk kepada Aku. Sesungguhnya, telah datang Rasul-rasul Rab Aku dengan membawa kebenaran.” Dan diserukan kepada mereka: “Itulah surga, diwariskan kepadamu karena apa yang telah kamu kerjakan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beriman kepada Allah itu hatinya tidak dengki, penyakit hati yang dapat menjerumuskan seseorang ke jalan yang salah. Orang yang beriman kepada Allah, penyakit dengkinya dicabut oleh Allah. Hati mereka menjadi terbuka untuk menerima petunjuk yang benar. Hadiahnya surga, tempat yang sangat menyenangkan, yang dialiri sungai-sungai yang jernih airnya.

wa nãdã = dan berseru; ash-hãbul jannati = penghuni surga; ash-hãban nãri = penghuni neraka; an qod = sesungguhnya; wa jadnã = Aku telah memperoleh; mã = apa yang; wa ‘adanã = dijanjikan; robbunã = Rab Aku; haqqon = sebenarnya; fa hal = maka, apakah; wajad tum = kamu memperoleh; mã = apa yang …; wa ‘adarobbukum = Rab kamu menjanjikan; haqqo = sebenarnya; qōlũ = mereka menjawab; na’am = ya, benar; fa-adzdzãna = maka menyeru; mu-adzdzinun = seorang penyeru; bainahum = di antara mereka; al la’natullãhi = laknat, kutukan Allah; ‘ala = atas, bagi; adz dzōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa nãdã ash-hãbul jannati ash-hãban nãri an qod wa jadnã mã wa ‘adanã robbunã haqqon fa hal wajat tum mã wa ‘adarobbukum haqqo, qōlũ na’am, fa-adzdzãna mu-adzdzinum bainahum al la’natullãhi ‘aladz dzōlimĩn.

44. Dan penghuni surga berseru kepada penghuni neraka: “Sesungguhnya, Aku telah memperoleh apa yang sebenarnya Rab Aku menjanjikan kepada Aku, maka, apakah kamu telah memperoleh apa yang Rab kamu janjikan dengan sebenarnya?” Mereka menjawab: “Ya, benar”. Maka, malaikat penyeru menyeru di antara mereka: “Kutukan Allah ditimpakan atas orang-orang yang lalim.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan penghuni surga dan penghuni neraka dapat berhubungan dengan seruan tentang janji Allah yang pasti benarnya. Yang mengakui kebenaran seruan Allah di dunia, mereka masuk surga. Yang menolak seruan Allah di dunia terkutuk, masuk neraka. Manusia yang terkutuk adalah manusia yang lalim pada dirinya sendiri.

al ladzĩna = orang-orang yang …; yashuddũna = mereka menghalangi; ‘an sabililllãhi = dari jalan Allah; wa yabghunahã = dan mereka menginginkan; ‘iwajaan = bengkok; wa hum = dan mereka; bil akhiroti = dengan akhirat; kãfirũn = mereka ingkar.

al ladzĩna yashuddũna ‘an sabililllãhi wa yabghunahã ‘iwajaan, wa hum bil akhiroti kãfirũn.

45. Orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan jalan itu bengkok, mereka mengingkari kehidupan akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menginginkan jalan itu bengkok berarti mereka mengingkari kehidupan akhirat. Golongan inilah yang terkutuk, akan masuk neraka. Mereka lalim pada diri sendiri dan juga kepada orang lain.

wa bainahumã = dan di antara kedua penghuni surga dan neraka; hijãb = ada batas; wa ‘alal a’rōfi = dan di atas A’rãf; rijãlun = beberapa orang laki-laki; ya’rifũna = mereka mengenal; kullan = masing-masing; bi sĩmãhum = dengan tanda-tanda mereka; wa nãdau = dan mereka menyeru; ash-hãba = penghuni; al jannati = surga; an salãmun = sejahtera; ‘alaikum = bagimu; lam yadkhulũhã = mereka belum memasukinya; wa hum = padahal mereka; yathma’ũn = mereka mengharapkan.

wa bainahumã hijãb, wa ‘alal a’rōfi rijãlun ya’rifũna kullam bi sĩmãhum, wa nãdau ash-hãbal jannati an salãmun ‘alaikum, lam yadkhulũhã wa hum yathma’ũn.

46. Di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas, dan di atas A’rãf ada beberapa orang lelaki yang mengenal masing-masing dengan tanda-tanda mereka, dan mereka menyeru penghuni surga: “Sejahtera bagimu.” Mereka tidak bisa memasukinya, padahal mereka sangat mengharapkan masuk ke surga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjadi nama surat. Di al A’raf mereka dapat saling menyapa. Manusia yang ketika di dunia tidak mau mengakui keberadaan Allah Yang sesungguhnya, dan tidak mengakui adanya para Rasul, di akhirat mereka mengarapkan masuk surga. Tentu saja sudah tidak bisa lagi.

wa idzã = dan apabila; shurifat = dipalingkan; abshōrum = pandangan mereka; tilqã-a = ke arah; ash-hãbin nãr = penghuni api neraka; qōlũ = mereka berkata; robbanã = yã, Rab Aku; lã tah’alnã = janganlah tempatkan Aku; ma’a = bersama-sama; al qoumidz dzōlimĩn = kaum yang lalim.

wa idzã shurifat abshōrum tilqã-a ash hãbin nãr, qōlũ robbanã lã tah’alnã ma’al qoumidz dzōlimĩn.

47. Dan apabila pandangan mereka dipalingkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata: “Yã Rab Aku, janganlah Engkau tempatkan Aku bersama-sama orang lalim itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di akhirat mereka mengharapkan terhindar dari penderitaan neraka. Harapan ini seharusnya dibina ketika hidup di dunia. Jangan sampai ada penyesalan setelah sampai tujuan hidup.

wa nãdã = dan penghuni; ash-hãbu = penduduk; al a’rãfi = tempat yang tinggi; rijãlan = beberapa orang lelaki; ya’rifũnahum = mereka mengenalnya; bi sĩmãhum = dengan tandfa-tanda mereka; qōlũ = mereka berkata; mã aghnã = tidak memberi manfãt; ‘ankum = bagi kamu; jam’ukum = kamu mengumpulkan; wa mã kuntum = apa yang kamu …; tastakbirũn = kamu sombongkan.

wa nãdã ash-hãbul a’rãfi rijãlan ya’rifũnahum bi sĩmãhum, qōlũ mã aghnã ‘ankum jam’ukum wa mã kuntum tastakbirũn.

48. Dan penghuni A’rãf berseru kepada beberapa orang yang mereka kenal dengan tanda-tanda mereka, dan mengatakan: “Tidaklah memberi manfãt kepadamu harta yang kamu kumpulkan, dan apa yang kamu sombongkan itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penghuni A’rãf adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat. Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang masih hidup di dunia agar mengenal Allah dan memperhatikan apa yang diturunkan-Nya. Jangan terlalu asyik mengumpulkan harta saja. Harus dipikirkan kegunaannya untuk akhirat. Jangan menyombongkan diri dengan kekayaan ilmu, harta, kedudukan tanpa mengingat Allah Yang Mengasihi.

ahã-ulã-il ladzĩna = inikah orang-orang yang …; aksamtum = kamu bersumpah; lã yanãluhumullãhu = mereka tidak akan menerima dari Allah; bi rahmatin = dengan rahmat; udkhulũ = masuklah kamu; al jannata = surga; lã khoufun = ada rasa takut; ‘alaikum = atas mereka; wa lã antum = dan kamu tidak; tahzanũn = sedih.

ahã-ulã-il ladzĩna aksamtum lã yanãluhumullãhu bi rahmatin, udkhulũl jannata lã khoufun ‘alaikum wa lã antum tahzanũn.

49. Inikah orang-orang yang telah bersumpah, bahwa mereka tidak akan menerima rahmat dari Allah? Kepada mereka dikatakan: “Masuklah kamu ke surga, dan kamu tidak akan merasa takut dan sedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi orang-orang yang beriman dan hidupnya tidak sombong dipersilahkan masuk ke surga. Di sana tidak ada rasa khawatir, takut, ataupun sedih.

wa nãdã = dan menyeru; ash-hãbun nãri = penghuni neraka; ash-hãbal jannati = penduduk surga; an afĩdhũ = limpahkanlah; ‘alainã = kepada Aku; minal mã-i = dari air; au mimmã = atau dari makanan; rozaqokumullãh = Allah memberikan rezeki kepada kamu; qãlũ = mereka, penghuni surga menjawab; innallãha = sesungguhnya Allah; harromahumã = mengharamkan keduanya; ‘alal kãfirĩn = bagi orang-orang kafir.

wa nãdã ash-hãbun nãri ash-hãbal jannati an afĩdhũ ‘alainã minal mã-i au mimmã rozaqokumullãh, qãlũ innallãha harromahumã ‘alal kãfirĩn.

50. Dan penghuni neraka menyeru kepada penghuni surga:“Limpahkanlah kepada Aku sedikit air atau makanan yang telah Allah rezekikan kepadamu.” Mereka, penghuni surga menjawab: “Sesungguhnya, Allah telah mengharamkan air dan makanan bagi orang-orang kafir.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di akhirat, Allah mengharamkan rezeki minuman dan makanan bagi orang-orang kafir. Di dunia, orang kafir masih diberi kesempatan untuk memilih: percaya kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, atau mereka tidak mau percaya.

alladzĩna = orang-orang yang; it takhodzũ = (mereka) menjadikan; diinahum = Dien mereka; lahwan = senda-gurau; wa la’iban = dan main-main; wa gharrot = dan telah menipu; hum = mereka; al hayãtu = kehidupan; ad dun-yã = dunia; fal yauma = maka pada hari ini; nansãhum = Aku melupakan mereka; kamã = sebagaimana; nasũ = mereka melupakan; liqō-a = pertemuan; yaumihim = hari mereka; hãdzã = ini; wa mã = dan apa; kãnũ = mereka adalah; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; yajhadũn = mereka mengingkari.

alladzĩnat takhodzũ diinahum lahwan wa la’iban wa gharrot humul hayãtud dun-yã fal yauma nansãhum kamã nasũ liqō-a yaumihim hãdzã wa mã kãnũ bi ãyãtinã yajhadũn.

51. Orang-orang yang menjadikan Dien mereka senda-gurau dan main-main, kehidupan dunia telah menipu mereka, maka pada Hari Kiamat ini, Aku akan melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka pada hari ini, dan mereka selalu mengingkari ayat-ayat-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia tentang Hari Kiamat (lihat surat-surat yang mengemukakan Hari Kiamat: Al Hãqqah, Al Waqi’ah, Al Qori’ah, Al Insyiqãq, Al Zalzalah, dan lain-lain.

wa laqod = dan sungguh; ji’nãhum = telah Aku turunkan kepada mereka; bi kitãbin = dengan sebuah Kitab; fash sholnãhu = maka, Aku jelaskan; ‘alã ‘ilmin = berdasarkan ilmu; hudan = menjadi petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; li qoumin = bagi kaum; yu’minũn = mereka beriman.

wa laqod ji’nãhum bi kitãbin fash sholnãhu ‘alã ‘ilmin hudan wa rohmatal li qoumin yu’minũn.

52. Dan sungguh, telah Aku datangkan sebuah Kitab kepada mereka, Aku jelaskan berdasarkan ilmu, menjadikan petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alkitab yang dijelaskan berdasarkan ilmu, artinya bacaan ini banyak mengandung berbagai ilmu dasar yang dapat terus berkembang sesuai dengan kemampuan berpikir dan meneliti berbagai ilmu di dunia ini. Semua ilmu yang ditemukan dan yang belum ditemukan ada di dalam Alkitab ini.

hal = apakah; yanzhurũna = mereka menunggu-nunggu; illã = hanya; ta’wĩlah = kesudahan kejadiannya; yauma = di hari; ya’tĩ= datang; ta’wĩluhũ = kesudahan kejadiannya; yaqũlu = berkatalah; al ladzĩna = orang-orang yang; nasũhu = (mereka) melupakannya; min qoblu = dari dahulu; qod = sesungguhnya; jã-at = telah dating; rusulu = Rasul-rasul; robbinã = Rab Aku; bil haqqi = dengan membawa kebenaran; fa hal = maka apakah; lanã = bagi Aku; min syufa’ã-a = dari pemberi safãt; fa yasyfa’ũ = maka mereka memberi safãt; lanã = bagi Aku; au = atau; nuroddu = Aku dikembalikan; fa na’mala = maka Aku beramal; ghoiro = selain; al ladzĩ= yang; kunnã = Aku adalah; na’malu = Aku beramal; qod = sesungguhnya; khasirũ = mereka merugikan; anfusahum = diri mereka sendiri; wa dholla = dan telah lenyap; ‘anhum = dari mereka; mã kaanũ = apa yang mereka adakan; yaftarũn = mereka ada-adakan.

hal yanzhurũna illã ta’wĩlah, yauma ya’tĩta’wĩluhũ yaqũlul ladzĩna nasũhu min qoblu qod jã-at rusulu robbinã bil haqqi, fa hal lanã min syufa’ã-a fa yasyfa’ũ lanã au nuroddu fa na’mala ghoirol ladzĩkunnã na’malu, qod khasirũ anfusahum wa dholla ‘anhum mã kaanũ yaftarũn.

53. Apakah mereka hanya menunggu-nunggu kesudahan kejadiannya? Di hari kejadian itu datang, berkatalah orang-orang yang melupakannya dahulu: “Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Rab Aku dengan membawa kebenaran, maka apakah bagi Aku, pemberi safãt akan memberi safaat kepada Aku, ataukah Aku dikembalikan ke dunia lalu Aku akan beramal yang lain dari yang pernah Aku amalkan dahulu?” Sesungguhnya, mereka telah merugikan diri mereka sendiri, dan telah lenyap dari mereka, apa yang mereka ada-adakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan kepada manusia agar tidak memohon tobat pada waktu yang sudah terlambat, sudah tiba saat kiamat. Kalau hal ini dilakukan, berarti mereka merugikan dirinya sendiri. Mereka tidak mendapatkan safaat dari Nabi Muhammad saw.

Inna = sesungguhnya; robbakumullahu = Allah Rab kamu; al ladzĩ= Yang; kholako = telah menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardho = dan bumi; fĩsittãti = dalam enam; ayyãmi = masa; tsumma = kemudian; is tawã = Dia berkuasa; ‘alã = di atas; al ‘arsyi = Arasy; yughsyĩ= Dia menutup; al laila = malam; an nahãro = siang; yathlubuhũ = mengikutinya; hatsĩtsã = dengan cepat; wasy syamsã = dan matahari; wal komaro = dan bulan; wan nujũma = dan bintang; musakh kharotin = tunduk; bi-amrihĩ= dengan perintah-Nya; alã = ingatlah; lahu = bagi-Nya; al kholqu = penciptaan; wal amru = dan perintah; tabãrokallahu = Allah Maha Pemberi berkah; robbul alamĩn = Rab seluruh alam.

Inna robbakumullahul ladzĩkholakos samãwãti wal ardho fĩsittãti ayyãmi tsummas tawã ‘alãl ‘arsyi yughsyĩl lailan nahãro yathlubuhũ hatsĩtsã wasy syamsã wal komaro wan nujũma musakh kharotim bi-amrihĩ, alã lahul kholqu wal amru, tabãrokallahu robbul ‘alamĩn.

54. Sesungguhnya, Allah Rab kamu Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia berkuasa di atas Arasy, Dia menutup malam dengan siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya matahari, bulan dan bintang tunduk dengan perintah-Nya. Ingatlah, bagi-Nya penciptaan dan pengurusan. Maha Pemberi Berkah Rab semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan langit dan bumi, lihat Q.s.Al Baqarah, 2: 29, 164; Ali ‘Imran, 3: 190; 191; Al An’ãm, 6: 1, 14, 73; At Taubah, 9: 36; Yunus, 10: 3, 6; Hud, 11: 7; Yusuf, 12: 101; Ar Ra’du, 13: 2-3; Ibrahim, 14: 10, 19, 32, 48; Al Hijr, 15: 85; An Nahl, 16: 3; Al Isrō, 17: 99; Al Kahfi, 18: 51; Thãhã, 20: 4-6; Al Anbiyã’, 21: 16; Al Mu’minun, 23: 17; An Nũr, 24: 35; Al Furqōn, 25: 59; Asy Syu’ara, 26: 24; Az Zukhruf, 43:9
Allah menegaskan, bahwa Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Hitungan satu masa menurut perhitungan manusia di bumi meliputi jutaan tahun, Allah Yang Maha Mengetahui ketetapan-Nya, yaitu: 1. Masa Allah meniupkan udara yang bercampur dengan api, air, tanah (ruhullah); berproses dengan cara berputar-putar, melingkar-lingkar; 2. Masa proses pengembunan, penyatuan dan pemisahan udara, air, api, tanah; 3. Masa proses pencairan, penyatuan dan pemisahan air, udara, api, tanah; 4. Masa proses pemadatan, pendinginan tanah, pemisahan, dan penyatuan air, udara, api; 5. Masa proses pendinginan dan penciptaan tumbuh-tumbuhan, terutama ganggang, binatang-binatang, pemisahan dan penyatuan tanah, udara, api, air; 6. Masa proses penciptaan manusia setelah pemisahan, pemadatan, dan penyatuan tanah, udara, api, dan air semuanya siap, pas situasi dan kondisinya dengan fisik manusia. Proses pendinginan, pemisahan dan penyatuan api, air, udara, dan tanah terus berlangsung. Manusia dengan ilmu yang diberi dan dĩzinkan Allah untuk digunakan, berupaya untuk mengelola dan menguasai dengan baik tanah (dengan tumbuh-tumbuhan dan binatangnya), air, api, udara agar kegunaannya efektif, lebih baik, lebih bermanfãt, terjaga, tertata dengan tertib dan teratur sampai akhir jaman. Allah bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan langit dan bumi. Arasy artinya akal, pikiran, dan rasa manusia yang memahami keberadaan Allah di dalam dirinya. Makhluk-Nya memberi safãt kepada makhluk lain (saling membantu) atas izin-Nya. Allah memerintah agar semua makhluk-Nya, khususnya manusia, agar menyembah hanya kepada Allah. Semua kejadian di alam semesta ini harus menjadi pelajaran oleh manusia untuk kepentingan hidupnya.Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1 : 2; Q.s. Yunus, 10:3; Q.s. Hud, 11 : 7; Q.s. al Furqon, 25 : 59; Q.s. as Sajdah, 32 : 4; Q.s. Qōf, 50 : 38; Q.s. al Hadid, 57 : 4; Q.s. An Nazi’at, 79: 27; Q.s.Asy Syams, 91 : 5-10.
Arasy adalah akal, pikiran, rasa yang ada pada manusia yang menyadari keberadaan Allah di dalam dirinya, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 22 catatannya; At Taubah, 9: 129; Yunus, 10: 3; Hud, 11: 7; Ar Ra’d, 13: 2; An Nahl, 16: 3; Al Isrō’; 17: 42; Thãhã, 20: 5; As Sajdah, 32: 4; Al Buruj, 85: 15.

ud’ũ = berdoalah; robbakum = kepada Rab kamu; tadhorru’an = berendah diri; wa khufyatan = dan suara yang lembut; innahũ = sesungguhnya Dia; lã yuhibbu = tidak menyukai; al mu’tadiin = orang-orang yang melampau batas.

ud’ũ robbakum tadhorru’an wa khufyatan innahũ lã yuhibbul mu’tadiin.

55. Berdoalah kamu kepada Rab kamu dengan merendah diri, dan suara yang lembut, Sesungguhnya, dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan manusia berdoa dengan cara merendah, dan suara yang lembut. Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.

wa lã = dan janganlah; tufsidũ = kamu membuat kerusakan; fil ardhi = di bumi; ba’da = setelah; ishlãhihã = memperbaikinya; wad’ũhu = dan berdoalah; khaufan = dengan perasaan takut; wa thoma’an = dan penuh harapan; inna = sesungguhnya; rohmatallãhi = rahmat Allah; qorĩbun = dekat; minal muhsinĩn = kepada orang-orang yang berbuat baik.

wa lã tufsidũ fil ardhi ba’da ishlãhihã wad’ũhu khaufan wa thoma’an, inna rohmatallãhi qorĩbum minal muhsinĩn.

56. Dan kamu janganlah membuat kerusakan di bumi setelah memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan perasaan takut dan penuh harapan. Sesungguhnya, rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang membuat kerusakan di bumi (lihat ayat ….) Allah memerintahkan berdoa dengan cara yang baik. Allah memberitahukan bahwa rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

wa huwal ladzĩ= dan dialah yang … ; yursilũ = meniupkan; ar riyãha = angin; busyron = berita gembira; baina yadai = di hadapan; rohmatĩhi = rahmat-Nya; hattã = sehingga; idzã = apabila; aqollat = membawa; sahãban = awan; tsiqōlan = hitam, tebal; suqnãhu = Aku halau dia; li baladin = ke negeri, tanah; mayyitin = mati, tandus; fa anzalnã = maka, lalu Aku turunkan; bihi = dengannya; al mã-a = air, hujan; fa akhrojnã = maka Aku keluarkan; bihi = dengannya; min kulli = dari berbagai; ats tsamarōt = buah-buahan; kadzãlika = seperti demikianlah; nukhriju = Aku bangkitkan; al mautã = orang yang telah mati; la’allakum = supaya kamu; tadzakkarũn = memberi pelajaran.

wa huwal ladzĩyursilũr riyãha busyrom baina yadai rohmatĩhi, hattã idzã aqollat sahãban tsiqōlan suqnãhu li baladim mayyitin fa anzalnã bihil mã-a fa akhrojnã bihĩmin kullits tsamarōt, kadzãlika nukhrijul mautã la’allakum tadzakkarũn.

57. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira dengan rakhmat-Nya, sehingga apabila angin mengandung awan tebal, Aku halau dia ke tanah yang tandus, lalu Aku turunkan hujan dengannya, maka Aku keluarkan dengan air pelbagai macam buah-buahan. Demikianlah, Aku membangkitkan orang-orang yang telah mati, supaya kamu mengambil pelajaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: angin sebagai pembawa berita gembira; Allah memberikan rahmat dengan berbagai kejadian, peristiwa alam: berhembusnya angin; terjadinya awan yang mengandung air; turunnya hujan; tumbuhnya berbagai tanaman yang bermanfãt untuk mendukung kehidupan; proses kematian; dan proses membangkitkan kembali dari kematian; semua menjadi bahan pembelajaran .

wal baladu = dan tanah; ath thoyyibu = yang baik; yakhruju = tumbuh; nabãtuhũ = tanaman; bi idzni robbihi = dengan izin Rab; wal ladzĩkhabutsa = dan tanah yang buruk; lã yakhruju = tidak tumbuh; illã = kecuali; nakidan = merana, kerdil; kadzãlika = seperti demikian; nushorrifu = Aku jelaskan; al ãyãti = tanda-tanda kekuasaan; li qaumin = bagi kaum; yasykurũn = yang bersyukur.

wal baladuth thoyyibu yakhruju nabãtuhũ bi idzni robbihi, wal ladzĩkhabutsa lã yakhruju illã nakidan, kadzãlika nushorrifũl ãyãti li qaumin yasykurũn.

58. Dan tanah yang baik, tumbuhlah tanaman-tanaman dengan subur dengan izin Allah, sedang tanah yang jelek tidak tumbuh, kecuali tanaman yang merana. Demikianlah, Aku jelaskan tanda-tanda kebesaran Aku bagi orang-orang yang bertengkar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tanda-tanda kebesaran Allah antara lain menetapkan tanah yang baik, subur dan tanah yang jelek, tidak subur. Semuanya merupakan ujian bagi umat yang beriman. Mencari pemecahan masalahnya, agar hidup lebih bermakna untuk semuanya.
Orang-orang yang bertengkar adalah orang-orang yang berselisih pendapat tentang keberadaan Allah dengan segala kekuasaan-Nya, dan Rasul-rasul yang diutus-Nya. memberikan penerangan, penjelasan, pengajaran kepada umatnya.

laqod = sungguh; arsalnã = Aku telah mengutus; nũhan = Nuh; ilã = kepada; qoumih = kaumnya; fa qōla = maka Nuh berkata; yã qoumi = wahai kaumku; a’budũllãha = abdilah Allah; mã lakum = tidak ada bagi kamu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruhũ = selain Dia; innĩ= sesungguhnya; akhōfu = aku khawatir, takut; ‘alaikum = bagi kamu ‘adzãba = azab, siksa; yaumin = hari; ‘azhĩm = yang besar.

laqod arsalnã nũhan ilã qoumih, fa qōla yã qoumi a’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruhũ, innĩakhōfu ‘alaikum ‘adzãba yaumin ‘azhĩm.

59. Sungguh, Aku telah mengutus Nuh kepada kaumnya, dia berkata: “Wahai kaumku, abdilah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu ilah selain Dia, sesungguhnya, aku takut kamu disiksa di hari yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutus Nuh agar kaumnya mengabdi hanya kepada Allah, tidak ada ilah lain selain Dia. Nuh khawatir kaumnya terkena siksa pada Hari Kiamat.

Qōla = berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; min qoumihĩ= dari kaumnya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōka = Aku memandang kamu; fĩdholãlin = dalam kesesatan; mubĩn = yang nyata.

Qōlal mala-u min qoumihĩinnã lanarōka fĩdholãlim mubĩn.

60. Berkata pemuka-pemuka kaumnya: “Sesungguhnya, Aku memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap umat selalu ada penentang keyakinan kepada ada-Nya Allah dan para Rasul-Nya.
Ada perbedaan pendapat tentang kesesatan. Kesesatan dari sudut pandang orang yang beriman, dan dari sudut pandang orang yang kafir. Kedua kelompok saling menganggap sesat.

qōlã = Nuh berkata; yã qoumi = wahai kaumku; laisa = tidaklah; bĩ= denganku; dholãlatun = kesesatan; wa lã kinnĩ= tetapi aku; rosulun = utusan; mir robbi = dari Rab; al ‘ãlamĩn = alam.

qōlã yã qoumi laisa bĩdholãlatun wa lã kinnĩrosulum mir robbil ‘ãlamĩn.

61. Nuh berkata: “Wahai kaumku, aku tidak dalam kesesatan, tetapi aku adalah utusan dari Rab semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Nuh menyampaikan pesan Allah kepada kaumnya, tapi dianggap sesat.

uballighukum = aku menyampaikan kepadamu; risãlãti = risalah; robbĩ= Rabku; wa anshohu = dan aku menasihatkan; lakum = kepadamu; wa a’lamu = dan aku mengetahui; minallãhi = dari Allah; mã lã ta’lamũn = apa yang tidak kamu ketahui.

uballighukum risãlãti robbĩwa anshohulakum wa a’lamu minallãhi mã lã ta’lamũn.

62. Aku menyampaikan risalah Rabku kepadamu, dan aku menasihati kamu, aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Nuh menyampaikan risalah dari Allah untuk disampaikan kepada umatnya, apa yang tidak diketahuinya.

awa ‘ajibtum = apakah mengherankan kamu; an jã-akum = ketika telah datang kepadamu; dzikrun = peringatan; mir robbikum = dari Rab kamu; ‘alã rojulim = melalui seorang laki-laki; minkum = di antara kamu; liyundzirokum = untuk memberi peringatan kepadamu; wa litattaqũ = dan supaya kamu bertakwa; wa la’allakum = dan agar kamu; turhamũn = kamu dirahmati.

awa ‘ajibtum an jã-akum dzikrum mir robbikum ‘alã rojulim minkum liyundzirokum wa litattaqũ wa la’allakum turhamũn.

63. Apakah mengherankan kamu ketika telah datang kepadamu peringatan dari Rabmu melalui seorang laki-laki di antara kamu, dan supaya kamu bertakwa, dan agar kamu mendapat rahmat?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara Allah dengan manusia yang menceriterakan datangnya seorang Rasul di antara mereka. Kedatangan Rasul itu tujuannya memberi peringatan, membina ketakwaan, dan agar mendapat rahmat.

fa kadzdzabũhu = maka mereka mendustakannya; fa anjainãhu = maka Aku selamatkannya; walladzĩna = dan orang-orang yang …; ma’ahũ = bersama dia; fil fulqi = dalam perahu; wa aghroqnã = dan Aku tenggelamkan; al ladzĩna = orang-orang yang; kaddzabũ = mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; innahum = sesungguhnya mereka; kaanũ = mereka adalah; qouman = kaum; ‘amĩna = buta.

fa kadzdzabũhu fa anjainãhu walladzĩna ma’ahũ fil fulqi wa aghroqnã al ladzĩna kaddzabũ bi ãyãtinã innahum kaanũ qouman ‘amĩna.

64. Maka mereka mendustãkan Nuh, maka Aku menyelamatkan bersama-sama dengan orang-orang yang ada di didalam perahu, dan Aku tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, sesungguhnya, mereka itu adalah kaum yang buta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meriwayatkan Nabi Nuh yang diselamatkan dengan perahu. Umatnya yang mendustakan ayat-ayat Allah ditenggelamkan. Mereka yang ditenggelamkan itu adalah kaum yang buta dalam arti tidak bisa melihat kebenaran yang dibawa oleh Nabi Nuh.

wa ilã ‘ãdin = dan kepada Kaum Ad; akhōhum = saudara mereka; hũdan = Hud; qōla = (Hud) berkata; yã qoumi = wahai Kaumku; ‘a budũllãha = beribadahlah kamu kepada Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; afalã tattaqũn = mengapa kamu tidak bertakwa.

wa ilã ‘ãdin akhōhum hũdan, qōla yã qoumi’ budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, afalã tattaqũn.

65. Dan kepada Kaum ‘Ad (Aku utus) saudara mereka Hud, dan berkata: “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada bagimu ilah selain Dia, mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud diutus Allah agar menyeru saudara-saudaranya beribadah hanya kepada Allah. Jangan beribadah kepada selain Dia. Seharusnya kamu bertakwa hanya kepada-Nya. Ayat ini merupakan peringatan, dan pembelajaran bagi manusia. Sering diulang, a.l. ….

qōla = berkata; al malã-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qoumihĩ= dari kaumnya; innã = sesungguhnya Aku; lanarōka = Aku memandang kamu; fĩsafahatin = dalam keadaan kurang akal; wa innã = dan sesungguhnya Aku; lanadzunnuka = Aku menganggap kamu; minal kãdzibĩn = dari orang-orang pendusta.

qōlal malã-ul ladzĩna kafarũ min qoumihĩinnã lanarōka fĩsafahatin wa innã lanadzunnuka minal kãdzibĩn.

66. Pemuka-pemuka orang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya, Aku memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya Aku menganggap kamu termasuk orang yang berdusta.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu mempunyai berbagai alasan untuk mendukung pendiriannya. Dalam ayat ini, orang kafir mengatakan orang yang beriman itu dalam keadaan kurang akal, orang yang berdusta.
Orang beriman menganggap orang kafir sebagai seorang pendusta, orang buta dalam melihat kebenaran dan keadilan. Mereka tidak mau melihat atau mendengarnya.

qōla = Hud berkata; yã qoumi = wahai kaumku; laisa = bukanlah; bĩ= bagiku; safãhatun = kurang akal; wa lã kinnĩ= akan tetapi aku; rosũlun = utusan; mir robbil ‘ãlamĩn = dari Rab alam semesta.

qōla yã qoumi bĩsafãhatun wa lã kinnĩrosũlum mir robbil ‘ãlamĩn.

67. Hud berkata: “Wahai kaumku, bukanlah aku ini kurang akal, akan tetapi aku adalah utusan Rab semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud membantah tuduhan kaum kafir, dan menegaskan dirinya adalah utusan Allah Yang menguasai alam semesta ini.

ubalighukum = aku menyampaikan; risalãlãti = risalah; robbĩ= Rabku; wa anã = dan aku; lakum = bagimu; nashihun = pemberi nasihat; amĩn = yang dapat dipercaya.

ubalighukum risalãlãti robbĩwa anã lakum nashihun amĩn.

68. Aku menyampaikan risalah Rabku kepadamu, dan aku adalah pemberi nasihat yang dapat dipercaya bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hud menegaskan kepada kaumnya bahwa dirinya adalah penyampai risalah dan penasihat yang dapat dipercaya.

awa’ajibtum = apakah kamu heran; an jã-akum = telah datang kepadamu; dzikrun = peringatan; mir robbikum = dari Rab kamu; ‘alã rojulin = atas seorang laki-laki; minkum = di antara kamu; liyundzirokum = untuk memberi peringatan kepadamu; wadzkurũ = dan ingatlah olehmu; idz = ketika; ja’alakum = (Allah) menjadikan kamu; khulafã-a = pengganti-pengganti; mim ba’di = dari sesudah; qoumi = kaum; nũhin = Nuh; wa zãdakum = dan Dia menambahkan kamu; fĩl kholqi = dalam penciptaan; bash thatan = tegap, kuat; fadzkurũ = maka ingatlah kamu; ãlã-a = nikmat-nikmat; allãhi = Allah; la’allakum = supaya kamu; tuflihũn = kamu beruntung.

awa’ajibtum an jã-akum dzikrum mir robbikum ‘alã rojulim minkum liyundzirokum, wadzkurũ idzja’alakum khulafã-a mim ba’di qoumi nũhin wa zãdakum fĩl kholqi bash thatan, fadzkurũ ãlã-a allãhi la’allakum tuflihũn.

69. Apakah kamu heran bahwa telah datang kepadamu peringatan dari Rabmu melalui seorang laki-laki dari antara kamu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah olehmu, ketika Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Dia menambahkan kepadamu penciptaan tubuh yang kuat. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, supaya kamu beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat 63, ada kesamaan dan perbedaan dalam pengungkapannya.

qōlũ = mereka berkata; aji’tanã = apakah kamu datang kepada Aku; li na’budallãha = agar Aku menyembah Allah; wahdahũ = Yang satu; wa nadzaro = dan Aku meninggalkan; mã kaana = apa yang …: ya’budu = Aku sembah; ãbã-unã = bapak-bapak Aku; fa’tinã = maka datangkanlah kepada Aku; bimã = dengan apa; ta’idunã = kamu ancamkan kepada Aku; ingkunta = jika kamu adalah; minash shōdiqĩn = dari orang-orang yang benar.

qōlũ aji’tanã li na’budallãha wahdahũ wa nadzaro mã kaana ya’budu ãbã-unã, fa’tinã bimã ta’idunã ingkunta minash shōdiqĩn.

70. Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada Aku agar Aku menyembah Allah Yang satu, dan meninggalkan apa yang telah disembah oleh bapak-bapak Aku? Maka, datangkanlah kepada Aku, apa yang kamu ancamkan kepada Aku, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Hud ditentang oleh kaumnya yang tidak percaya pada kenabiannya dengan meminta disegerakan datangnya Hari Kiamat.

qōla = Hud berkata; qod = sungguh; waqo’a = akan menimpa; ‘alaikum = kepadamu; mir robbikum = dari Rab kamu; rijsun = azab; wa ghodhob = dan murka; atujãdilũ nanĩ= apakah kamu akan mendebatku; fĩasmã-in = tentang nama-nama; sammaitumũhã = kamu menamakannya; antum = kamu; wa abã-ukum = dan nenek-moyangmu; mã nazzalallãhu = Allah tidak menurunkan; bihã = dengannya; min sulthōn = dari hujjah; fantazhirũ = maka tunggulah; innĩ= sesungguhnya aku; ma’akum = bersama kamu; mina = dari, termasuk; al muntazhirĩn = orang-orang yang menunggu.

qōla qod waqo’a ‘alaikum mir robbikum rijsun wa ghodhob, atujãdilũ nanĩfĩasmã-in sammaitumũhã antum wa abã-ukum mã nazzalallãhu bihã min sulthōn, fantazhirũ innĩma’akum minal muntazhirĩn.

71. Hud berkata: “Sungguh pasti kamu akan ditimpa azab dan murka dari Rab kamu. Apakah kamu akan mendebat kepadaku tentang nama-nama yang kamu dan nenek-moyangmu menamakannya, padahal Allah tidak menurunkan hujjah tentang itu. Maka, tunggulah olehmu, sesungguhnya aku bersama kamu termasuk orang-orang yang menunggu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hud menegaskan bahwa azab dan murka Allah akan ditimpakan kepada mereka yang tetap membantah kekuasaan dan keesaan Allah. Mereka menantang untuk disegerakan azab yang diancamkan kepada mereka yang kafir. Hud menjawab: “Tunggu saja waktunya, kita semua sedang menunggu waktu hidup yang hanya sekejap. “ Nanti di akhirat akan terbukti.

fa anjainãhu = maka, Aku selamatkan dia; walladzĩna = dan orang-orang yang; ma’ahũ = bersama dia; bi rohmatin = dengan rahmat; minnã = dari Aku; wa qothō’nã = dan Aku potong, tumpas; dãbiro = semua, sampai ke akarnya; al ladzĩna = orang-orang yang …; kadzdzabũ = mereka yang mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; wa mã kaanũ = dan mereka tidak ada; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

fa anjainãhu walladzĩna ma’ahũ bi rohmatim minnã wa qothō’nã dãbirol ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã, wa mã kãnũ mu’minĩn.

72. Maka, Aku selamatkan Hud dan orang-orang yang bersama dia dengan rahmat dari-Ku, dan Aku tumpas semua orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, dan mereka itu, orang-orang yang tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir dari orang-orang yang beriman dan yang tidak beriman di dunia. Yang beriman mendapatkan rahmat Allah, yang kafir ditumpas.

wa ilã = dan kepada; samũda = Kaum Samud; akhōhum = saudara mereka; shōliha = Shaleh; qōla = dia berkata; yã qoumi = wahai kaumku; a’budũllãha = beribadahkan kepada Allah; mã lakum = tidak ada bagimu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain dari Dia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah dating kepadamu; bayyinatun = bukti nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; hãdzĩhĩ= ini; naqotullãhi = unta betina Allah; lakum = bagimu; ãyatan = satu tanda; fadzarũhã = maka biarkan dia; ta’kul = makan; fi ardhillãhi = di bumi Allah; wa lã tamassũhã = dan kamu jangan mengganggunya; bi sũ-in = dengan menyakiti; fa ya’khudzakum = maka akan menimpa kamu; ‘adzãbun alĩm = azab yang pedih.

wa ilã samũda akhōhum shōliha, qōla yã qoumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, qod jã-atkum bayyinatum mir robbikum, hãdzĩhĩnaqotullãhi lakum ãyatan, fadzarũhã ta’kul fi ardhillãhi, wa lã tamassũhã bi sũ-in fa ya’khudzakum ‘adzãbun alĩm.

73. Dan kepada Kaum Samud, (Aku utus) saudara mereka Shaleh, dia berkata: “Wahai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah lain, selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rab kamu, unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, karena itu, maka biarkanlah ia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan menyakitinya. Jika kamu langgar, maka kamu akan ditimpa siksa yang sangat pedih.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini sampai ayat 79 mengisahkan Nabi Shaleh yang menghimbau kaumnya agar meyembah Allah dengan ujian seekor unta betina sebagai bukti kebesaran Allah yang tidak boleh diganggu dan disakiti.

wadzkurũ = dan kamu ingatlah; idz = ketika; ja’alakum = Dia menjadikan kamu; kholafã-a = pengganti-pengganti; min = dari; ba’di = sesudah; ‘ãdin = Kaum ‘Ad; wa bawwa-akum = dan Dia menempatkan kamu; fil ardhi = di bumi; tattakhidzũna = kamu dirikan; min suhũlihã = dari tanah datarnya; qushũron = istana-istana; wa tanhitũna = dan kamu pahat; al jibala = gunung-gunung; buyutan = rumah-rumah; fadzkurũ = maka kamu ingatlah; a’lã-allahi = nikmat-nikmat Allah; wa lã ta’tsau = dan kamu jangan melampaui batas; fil ardhi = di bumi; mufsidiin = orang-orang yang membuat kerusakan.

wadzkurũ idz ja’alakum kholafã-a mim ba’di ‘ãdin wa bawwa-akum fil ardhi tattakhidzũna min suhũlihã qushũron wa tanhitũnal jibala buyutan, fadzkurũ a’lã-allahi wa lã ta’tsau fil ardhi mufsidiin.

74. Dan Kamu ingatlah, ketika Dia menjadikan kamu pengganti-pengganti yang berkuasa sesudah kaum ‘Ad, dan Allah menempatkan kamu di bumi, lalu kamu dirikan istana-istana di tanah yang datar, dan kamu pahat gunung-gunung jadi rumah-rumah, maka kamu ingatlah akan nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela membuat kerusakan di muka bumi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menerangkan bahwa setiap kaum akan diganti dengan aneka kegiatan pembangunan yang dilakukan. Allah mengingatkan agar setiap kaum itu harus selalu mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah, dan jangan merajalela membuat kerusakan di muka bumi.

qōla = berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang …; is takbarũ = (mereka) menyombongkan; min qoumihi = dari kaumnya; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; is tudh’ifũ = (mereka) dianggap lemah; liman = bagi orang; ãmana = beriman; minhum = di antara mereka; ata’lamũna = tahukah kamu; anna = sesungguhnya; shōlihãm = Shaleh; mir robbihim = dari Rabnya; qōlũ = (mereka) berkata, menjawab; innã = sesungguhnya Aku; bimã = dengan apa; ursila = disampaikan; bihi = dengannya; mu’minũn = orang-orang yang beriman.

qōlal mala-ul ladzĩnas takbarũ min qoumihi, lilladzĩnas tudh’ifũ liman ãmana minhum ata’lamũna anna shōlihãm mir robbihim, qōlũ innã bimã ursila bihi, mu’minũn.

75. Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaumnya berkata kepada orang-orang yang telah beriman dan dianggap lemah di antar mereka: “Tahukah kamu, sesungguhnya Shaleh diutus menjadi Rasul oleh Rabnya?” Mereka, orang yang beriman menjawab: “Sesungguhnya, Aku adalah orang-orang yang beriman kepada wahyu yang dia sampaikan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tanya jawab antara orang-orang yang sombong dengan orang yang beriman, dilanjutkan ke ayat berikutnya.

qōla = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang …; as takbarũ = (mereka) menyombongkan diri; innã = sesungguhnya; bil ladzĩ= dengan orang-orang yang; ãmantum = kamu imani; bihĩ= dengannya; kãfirũn = ingkar, tidak mempercayai.

qōlal ladzĩnas takbarũ innã bil ladzĩãmantum bihĩkãfirũn.

76. Berkatalah orang-orang yang meyombongkan diri: “Sesungguhnya, Aku tidak mempercayai kepada orang yang kamu imani itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak mempercayai Rasul berarti sombong.

fa’aqorũ = maka mereka menyembelih; an nãqota = unta betina; wa ‘atau = dan mereka durhaka; ‘an amri = dari perintah; robbihim = Rabnya; wa qōlũ = dan mereka berkata; yã shōlihu = wahai Shaleh; i’tinã = datangkanlah kepada Aku; bimã = dengan apa; ta’idunã = kamu ancamkan kepada Aku; in kunta = jika kamu adalah; mina = dari; al mursalĩn = orang-orang yang diutus.

fa’aqorũn nãqota wa ‘atau ‘an amri robbihim wa qōlũ yã shōlihu’tinã bimã ta’idunã in kunta minal mursalĩn.

77. Maka mereka menyembelih unta betina itu, dan mereka mendurhakai perintah Rabnya, dan mereka berkata: “Wahai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada Aku, jika kamu benar-benar dari orang yang diutus,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada peristiwa penyembelihan unta betina Allah, dan tantangan orang-orang yang kafir, agar Allah mendatangkan azab yang diancamkan kepada orang kafir.

fa-akhodzat humu = maka menimpa mereka; ar rojfatu = gempa; fa-ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩdãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mayat- mayat yang bergelimpangan.

fa-akhodzat humur rojfatu fa-ashbahũ fĩdãrihim jãtsimĩn.

78. Maka gempa menimpa mereka, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di dunia berupa berbagai kejadian alam berupa gempa, angin taufan, tanah longsor, banjir, kecelakaan lalu-lintas, dan lain-lain. Di akhirat berupa api neraka yang membakar jasmani dan rohani sebagain manusia, sebagian jin, dan semua setan.

fa tawallã = maka dia, Shaleh berpaling; ‘anhum = dari mereka; wa qōla = dan dia berkata; yã qoumi = wahai kaumku; laqod = sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; risãlata = risalah; robbĩ= Rabku; wa nashahtu = dan aku telah memberi nasihat; lakum = kepadamu; wa lãkin = tetapi; lã tuhibbuna = kamu tidak menyukai; an nãshihĩn = orang-orang yang memberi nasihat.

fa tawallã ‘anhum wa qōla yã qoumi laqod ablaghtukum risãlata robbĩwa nashahtu lakum wa lãkil lã tuhibbunan nãshihĩn.

79. Maka dia, Shaleh, berpaling dari mereka, dan dia berkata: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah Rabku kepadamu, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap Nabiatau Rasul selalu ada pembangkangnya. Ini merupakan Hukumullah kehidupan di dunia. Ada unsur positif, dan ada unsur negatif. Kita harus berpihak kepada yang positif, agar dapat hidup tenang, tenteram, damai, sejahtera, bahagia, menyenangkan, memuaskan.

wa luthan = dan (Aku mengutus) Luth; idz = ketika; qōla = berkata; li qoumihĩ= kepada kaumnya; ata’tũna = mengapa kamu kerjakan; al fãhisyata = yang keji; mã sabaqokum = yang belum pernãh dikerjakan; bihã = dengannya; min ahadin = dari seseorang ; minal ‘ãlamĩn = di dunia ini

wa luthan idz qōla li qoumihĩata’tũnal fãhisyata mã sabaqokum bihã min ahadim minal ‘ãlamĩn.

80. Dan (Aku telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun di dunia?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan keji apa yang dilakukan Kaum Luth itu? Lihat ayat berikutnya.

innakum = sesungguhnya kamu; lata’tũna = sungguh kamu mendatangi; ar rijãla = laki-laki; syahwatan = nafsu syahwat; min dũni = dari selain; an nisã-i = perempuan; bal = bahkan; antum = kamu; qoumun = kaum; musrifũn = orang-orang yang melampaui batas.

innakum lata’tũnar rijãla syahwatam min dũnin nisã-i, bal antum qoumum musrifũn.

81. Sesungguhnya, kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan nafsu syahwatmu, bukan kepada perempuan, bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelompok homoseks sudah ada sejak zaman NabiLuth. Bahkan setelah Nabi Adam?

wa mã kaana = dan tidak ada; jawãba = jawaban; qoumihĩ= kaumnya; illã = hanya; an qōlũ = mereka mengatakan; akhrijũhum = usirlah mereka; min = dari; qoryatikum = negerimu ini; innahum = sesungguhnya mereka; unãsun = manusia, orang-orang yang berpura-pura; yatathohharũna = menyucikan dirinya.

wa mã kaana jawãba qoumihĩillã an qōlũ akhrijũhum min qoryatikum, innahum unãsun yatathohharũn.

82. Jawaban mereka, kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu, sesungguhnya, mereka itu orang-orang yang berpura-pura menyucikan dirinya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Beberapa Nabiterusir dari negerinya sendiri dengan berbagai sangkaan jelek, hinaan, ejekan, cercaan,

fa anjainãhu = maka Aku selamatkan dia; wa ahlahũ = dan keluarganya (pengikutnya); illã = kecuali; amro-atahũ = istrinya; kaanat = dia adalah; min = dari, termasuk; al ghōbirĩn = orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).

fa anjainãhu wa ahlahũ illã amro-atahũ kaanat minal ghōbirĩn.

83. Maka Aku selamatkan dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) kecuali istrinya, dia termasuk orang-orang yang dibinasakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: NabiLuth diselamatkan. Istrinya termasuk ke dalam orang-orang yang dibinasakan. Ia termasuk kelompok lesbian.

wa amtharnã = dan Aku hujani; ’alaihim = pada mereka; mathorō = hujan batu; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kaana = adalah; ‘aqibatu = akibat, kesudahan; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

wa amtharnã ’alaihim mathorō, fanzhur kaifa kaana ‘aqibatul mujrimĩn.

84. Dan Aku hujani mereka dengan batu, maka perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menurunkan hujan batu kepada orang-orang yang berdosa, berbuat keji.

wa ilã madyana = dan kepada penduduk Madyan; akhōhum = saudara mereka; syuaiban = Suaib; qōla = berkata; yã koumi = wahai kaumku; ’budũllãha = beribadahlah kepada Allah; mã = tidak ada; lakum = bagi kamu; min ilãhin = dari ilah; ghoiruh = selain Dia; qod = sesungguhnya; jã-atkum = telah dating kepadamu; bayyinatun = bukti nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; fa aufũ = maka sempurnakanlah; al kaila = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; wa lã tabkhasũ = dan jangan kamu kurangi; an nãsa = manusia; asy-yã-ahum = segala hak mereka; wa lã tufsidũ = dan kamu jangan membuat kerusakan; fil ardhĩ= di bumi; ba’da = setelah; ishlãhihã = Allah memperbaikinya; dzãlikum = demikian itu; khoirun = lebih baik; lakum = bagimu; inkuntum = jika kamu; mu’minĩn = orang-orang beriman

wa ilã madyana akhōhum syuaiban, qōla yã koumi’budũllãha mã lakum min ilãhin ghoiruh, qod jã-atkum bayyinatum mir robbikum, fa aufũl kaila wal mĩzãna wa lã tabkhasũn nãsa asy-yã-ahum wa lã tufsidũ fil ardhĩba’da ishlãhihã, dzãlikum khoirul lakum inkuntum mu’minĩn.

85. Dan kepada penduduk Madyan, Aku utus saudara mereka Syuaib, dia berkata: “Hai kaumku, beribadahlah kepada Allah, tidak ada ilah bagimu selain Dia. Sesungguhnya, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rab kamu, karena itu, sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu mengurangi segala hak manusia, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Demikian itu, lebih baik bagimu, jika kamu benar-benar orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah Syuaib sebagai utusan Allah dari Madyan menyuruh beribadah hanya kepada Allah, menyempurnakan takaran, timbangan, ukuran; jangan mengurangi hak manusia; jangan membuat kerusakan di muka bumi. Inilah pokok perilaku orang beriman.

wa lã taq’udũ = dan kamu jangan duduk-duduk; bi kulli = di setiap; shirōthin = jalan; tũ’idũna = kamu menakut-nakuti; wa tashuddũna = dan kamu menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; man = orang; ãmana = beriman; bihĩ= dengannya; wa tabghũnahã = dan kamu menginginkannya; ‘iwajaan = bengkok; wadzkurũ = dan ingatlah; idz = ketika; kuntum = kamu adalah; qolĩlan = kecil, sedikit; fakats tsarokum = maka Dia memperbanyak kamu; wanzhurũ = dan perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kaana = adalah; ‘ãqibatu = akibat, kesudahan; al mufsidiin = orang-orang yang membuat kerusakan.

wa lã taq’udũ bi kulli shirōthin tũ’idũna wa tashuddũna ‘an sabĩlillãhi man ãmana bihĩwa tabghũnahã ‘iwajaan, wadzkurũ idz kuntum qolĩlan fakats tsarokum, wanzhurũ kaifa kaana ‘ãqibatul mufsidiin.

86. Dan, janganlah kamu duduk-duduk di setiap jalan untuk menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan kamu menginginkan jalan Allah itu bengkok. Dan ingatlah, ketika keadaan kamu sedikit, lalu Dia memperbanyak kamu, dan perhatikanlah, bagaimana kesudahan orang-orang yang membuat kerusakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah: “duduk-duduk di setiap jalan untuk menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah”; “membuat jalan Allah bengkok”. Perintah Allah: “Memperhatikan akibat orang-orang yang membuat kerusakan.”

wa in kaana = dan jika ada; thōifatun = segolongan; minkum = di antara kamu; ãmanũ = mereka beriman; billadzĩ= dengan wahyu; ursiltu = aku diutus; bihĩ= dengannya, menyampaikannya; wa thōifatun = dan segolongan; lam yu’minũ = mereka tidak beriman; fashbirũ = maka kamu bersabarlah; hattã = sehingga; yahkumallãhu = Allah menetapkan hokum; bainana = di antara kita; wa huwa = dan Dia; khoirun = yang terbaik; al hãkimĩn = hakim.

wa in kaana thōifatum minkum ãmanũ billadzĩursiltu bihĩwa thōifatul lam yu’minũ fashbirũ hattã yahkumallãhu bainana, wa huwa khoirul hãkimĩn.

87. Dan jika ada segolongan di antara kamu telah beriman kepada (wahyu) yang aku diutus untuk menyampaikannya, dan ada pula segolongan lain yang tidak beriman, maka kamu bersabarlah, sehingga Allah menentapkan hukumnya di antara kita, dan Dialah Hakim Yang terbaik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta orang yang telah beriman bersabar bila ada orang yang tidak mau beriman kepada wahyu Allah, karena Allah lah yang menetapkan hukumnya. Jadi, Hukum Allah itu menetapkan: ada orang yang mau beriman kepada wahyu Allah, ada yang tidak mau beriman. Allah adalah Hakim Yang terbaik.

qōla = berkata; al malã-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; is takbarũ = menyombongkan diri; min qoumihĩ= dari kaumnya; lanukhrijannaka = sungguh, Aku akan mengusir kamu; yã syuaibu = wahai Syuaib; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; ma’aka = bersama kamu; min qoryatinã = dari negeri Aku ini; au = atau; lata’ũdunna = kamu sungguh-sungguh kembali; fĩmillatinã = dalam agama Aku; qōla = berkata; awalau = apakah meskipun; kunnã = adalah Aku; kãrihĩn = orang-orang yang tidak menyukai.

qōlal malã-ul ladzĩnas takbarũ min qoumihĩlanukhri jannaka yã syuaibu wal ladzĩna ãmanũ ma’aka min qoryatinã au lata’ũdunna fĩmillatinã, qōla awalau kunnã kãrihĩn.

88. Pemuka-pemuka dari kaum NabiSyuaib yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya, Aku akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri Aku ini, atau kamu kembali dengan sungguh-sungguh dalam agama Aku.” Syuaib berkata: “Apakah (kamu akan mengusir Aku) meskipun Aku tidak menyukainya?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Selalu terjadi konflik antara orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Orang yang tidak beriman mengusir orang-orang yang beriman dari kotanya, meskipun orang yang beriman tidak suka diusir.

qod = sungguh; iftaroinã = Aku mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = kebohongan; in ‘udnã = jika Aku kembali; fĩmillatikum = ke agamamu; ba’da = sesudah; idz = ketika; najjaanallãhu = Allah melepaskan Aku; min hã = darinya; wa mã = dan tidak; yakũnu = pantas; lanã = bagi Aku; an na’ũda = Aku akan kembali; fĩhã = kepadanya; illã = kecuali; an yasyã-allãhu = jika Allah menghendaki; robbunã = Rab Aku; wasi’a = luas, meliputi; robbunã = Rab Aku; kulla syai-in = segala sesuatu; ‘ilmã = pengetahuan; ‘alallãhi = kepada Allah; tawakkalnã = Aku bertawakal; robbana = Rab Aku; iftah = berilah keputusan; bainanã = antara Aku; wa baina = dan antara; qouminã = kaum Aku; bil haqqi = dengan benar; wa anta = dan Engkau; khoiru = terbaik; al fãtihĩn = Pemberi keputusan.

qodiftaroinã ‘alallãhi kadziban in ‘udnã fĩmillatikum ba’da idz najjaanallãhu min hã, wa mã yakũnu lanã an na’ũda fĩhã illã an yasyã-allãhu robbunã, wasi’a robbunã kulla syai-in ‘ilmã, ‘alallãhi tawakkalnã, robbanaftah bainanã wa baina qouminã bil haqqi wa anta khoirul fãtihĩn.

89. Sungguh, Aku mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, jika Aku kembali ke agamamu, sesudah Allah melepaskan Aku darinya. Dan tidak pantas bagi Aku akan kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Rab Aku menghendakinya. Pengetahuan Rab Aku meliputi segala sesuatu, kepada Allah saja Aku bertawakal: “yã Rab Aku, berilah keputusan di antara Aku dan kaum Aku dengan benar, dan Engkaulah Pemberi keputusan yang terbaik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang sudah beriman harus kuat berpegang pada keyakinannya kepada Allah dan Nabinya. Hal ini harus disertai upaya dan doa agar Allah memberi keputusan yang benar dan yang terbaik.

wa qōla = dan berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min qoumihĩ= dari kaumnya; la-ini = sungguh jika; it taba’tum = kamu mengikuti; syuaiban = Syuaib; innakum = sesungguhnya kamu; idzan = jika demikian; lakhōsirũn = tentu orang-orang yang merugi.

wa qōlal mala-ul ladzĩna kafarũ min qoumihĩla-init taba’tum syuaiban innakum idzal lakhōsirũn.

90. Pemuka-pemuka dari kaum NabiSyuaib yang kafir berkata: “Jika sungguh kamu mengikuti Syuaib, sesungguhnya, jika berbuat demikian, tentu kamu menjadi orang yang merugi.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka dari kaum NabiSyuaib yang kafir menakut-nakuti orang yang beriman.

fa akhodzat humu = maka menimpa mereka; ar rojfatu = gempa; fa ashbahũ = maka jadilah mereka; fĩdãrihim = di dalam rumah mereka; jãtsimĩn = mayat-mayat yang bergelimpangan.

fa akhodzat humur rojfatu fa ashbahũ fĩdãrihim jãtsimĩn.

91. Maka mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab di dunia berupa gempa, banjir, tanah longsor, angin ribut (topan), kecelakaan kendaraan, dan lain-lain hal yang menimbulkan penderitaan dan mematikan.

alladzĩna = orang-orang yang …; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; Syuaiban = Syuaib; ka-al lam = seakan-akan tidak, belum; yaghnau = mereka berdiam; fĩhã = di dalamnya; alladzĩna = orang-orang yang …; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; syuaiban = Syuaib; kaanũ = mereka adalah; hum = mereka; al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.

alladzĩna kadzdzabũ Syuaiban ka-al lam yaghnau fĩhã, alladzĩna kadzdzabũ syuaiban kaanũ humul khōsirĩn.

92. Orang-orang yang mendustakan Syuaib seakan-akan mereka belum pernah tinggal diam di dalam negeri itu, orang-orang yang mendustakan Syuaib, mereka itulah orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang beranggapan tidak benar tentang Rasul itu merugikan diri sendiri.

fatawallã = maka dia meninggalkan; ‘anhum = dari mereka; wa qōla = dan berkata; yã koumi = wahai kaumku; laqod = sesungguhnya; ablaghtukum = aku telah menyampaikan kepadamu; risãlãti = risalah-risalah; robbĩ= Rabku; wa nashahtu = dan aku telah memberi nasihat; lakum = kepada kamu; fa kaifa = maka, bagaimana; ãsã = aku bersedih hati; ‘alã qoumin = kepada kaum; kãfirĩn = orang-orang kafir.

fatawallã ‘anhum wa qōla yã koumi laqod ablaghtukum risãlãti robbĩwa nashahtu lakum, fa kaifa ãsã ‘alã qoumin kãfirĩn.

93. Maka dia (Syuaib) meninggalkan mereka, seraya berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah-risalah Rabku kepadamu, dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka, bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Syuaib pun tidak merasa sedih, meskipun harus meninggalkan mereka yang kafir karena Syuaib telah menunaikan tugasnya menyampaikan risalah-risalah Rabnya dan sudah memberi nasihat.

wa mã arsalnã = dan Aku tidak mengutus; fĩqoryatin = di sebuah negeri; min nabiyyin = dengan seorang Nabi; ilã = kecuali, melainkan; akhodznã = Aku timpakan; ahlahã = penduduknya; bil ba’sã-i = dengan kesempitan; wadhdhorrō-i = dan penderitaan; la’allahum = supaya mereka; yadhdhorro’ũn = mereka merendahkan diri.

wa mã arsalnã fĩqoryatim min nabiyyin ilã akhodznã ahlahã bil ba’sã-i wadhdhorrō-i la’allahum yadhdhorro’ũn.

94. Dan Aku tidak mengutus seorang Nabipun di sebuah negeri, kecuali penduduknya ada yang mendustakan keberadaan Aku, Allah, karena itu Aku timpakan kesempitan dan penderitaan, supaya mereka merendahkan diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kedatangan Utusan untuk mengabarkan keberadaan Allah biasanya ditolak oleh sebagian penduduknya yang sombong. Karena itu, Allah menimpakan kesempitan dan penderitaan, supaya penduduknya mau merendahkan diri. Artinya mengubah dirinya tidak menjadi sombong karena ilmunya, kekayaannya, kedudukannya, dan lain-lain, karena segala sesuatunya itu dari Allah. Bukan karena usahanya sendiri, tapi segala sesuatunya itu dari Allah. Allah yang menentukan segala sesuatunya di dunia ini.

tsumma = kemudian; baddalnã = Aku ganti; makãna = tempat; as sayyi-ati = yang jelek; al hasanata = yang baik; hattã = sehingga; ‘afau = mereka berkembang-biak; wa qōlũ = dan mereka berkata; qod = sungguh; massa = telah menimpa; ãbã-anã = nenek-moyang Aku; adh dhorrō-u = penderitaan; was sarrō-u = dan kesenangan; fa’akhodznãhum = maka Aku timpakan kepada mereka; baghtatan = dengan tiba-tiba; wa hum = dan, sedang, padahal mereka; lã yasy’urũn = mereka tidak menyadari.

tsumma baddalnã ma kãnas sayyi-atil hasanata hattã ‘afau wa qōlũ qod massa ãbã-anãdh dhorrō-u was sarrō-u fa’akhodznãhum baghtatan wa hum lã yasy’urũn.

95. Kemudian Aku ganti tempat yang jelek (susah) dengan yang baik (senang), sehingga mereka berkembang-biak, dan mereka berkata: “Sungguh telah menimpa nenek-moyang Aku penderitaan, dan kesenangan.” Maka, Aku timpakan kepada mereka siksaan dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesungguhnya, Allah yang menentukan tempat yang jelek (susah) atau yang baik (senang). Datangnya kesenangan atau siksaan pun Allah Yang menentukan. Kebanyakan manusia tidak menyadari dan banyak yang tidak bersyukur atas kasih-sayang Allah dalam berbagai kejadian di alam ini. Maka ditimpakan siksaan dengan tiba-tiba agar manusia tersadar pada kenyataan ada-Nya Allah Yang Mahakuasa.

walau = dan kalau; anna = sekiranya; ahla = penduduk; al qurō = negeri; ãmanũ = mereka beriman; wat taqau = dan mereka bertakwa; la fatahnã = pasti Aku bukakan; ‘alaihim = bagi mereka; barokãtim = keberkahan; min = dari; as samã-i = langit; wal ardhĩ= dan bumi; wa lãkin = akan tetapi; kadzdzabũ = mereka mendustakan; fa-akhodnãhum = maka Aku timpakan kepada mereka; bi mã = dengan sebab; kaanũ = mereka adalah; yaksibũn = perbuatan mereka.

walau anna ahlal qurō ãmanũ wat taqau la fatahnã ‘alaihim barokãtim minas samã-i wal ardhĩwa lãkin kadzdzabũ fa-akhodnãhum bi mã kaanũ yaksibũn.

96. Dan sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Aku bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat-Ku, maka Aku timpakan kepada mereka siksa karena perbuatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keberkahan dari langit dan bumi itu karena manusia beriman dan bertakwa kepada Allah. Siksa datang karena manusia berbuat semena-mena, mendustakan ayat-ayat Allah.

afa-amina = apakah merasa aman; ahlu = penduduk; al qurō = negeri; an ya’tiyahum = bahwa akan datang kepada mereka; ba’sunã = siksa Aku; bayãtan = pada waktu malam; wa hum = dan, sedang mereka; nã-imũn = mereka tidur.

afa amina ahlul qurō an ya’tiyahum ba’sunã bayãtan wa hum nã-imũn.

97. Apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa akan datang kepada mereka siksa dari Aku pada waktu malam, sedang mereka itu tidur?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan dari Allah, siksa-Nya datang pada setiap saat manusia sedang lengah, dalam berbagai situasi: sedang tidur, sedang bergembira-ria, sedang bermain, sedang bekerja, dan lain-lain. Waspadalah!!! Ingatlah selalu kepada Allah Yang menguasi makhluk-Nya.

awa amina = atau, apakah merasa aman; ahlu = penduduk; al qurō = negeri; an ya’tiyahum = bahwa akan datang kepada mereka; ba’sunã = siksa Aku; dhuhan = pada waktu pagi; wa hum = dan mereka; yal’abũn = mereka bermain.

awa amina ahlul qurō an ya’tiyahum ba’sunã dhuhan wa hum yal’abũn.

98. Atau, apakah penduduk negeri itu merasa aman, bahwa akan datang kepada mereka siksa Aku pada waktu pagi, dan mereka sedang bermain?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat catatan ayat 97. Siksa Allah itu datangnya kapan saja, sekehendak Allah, saat mereka sedang berlalai-lalai.

afa aminũ = apakah mereka merasa aman; makrollãhi = rencana, azab Allah; fa lã ya’manu = maka tidak merasa aman; makrollãhi = rencana, azab Allah; illãl qoumul khōsirũn.

afa aminũ makrollãhi, fa lã ya’manu makrollãhi illãl qoumul khōsirũn.

99. Apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Maka, tidak ada yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang rugi adalah orang yang tidak mau mengingat akan datangnya azab di dunia, terutama nanti di akhirat. Mereka merasa aman berbuat semena-mena di dunia tanpa mengingat keberadaan Allah.

awalam yahdi = apakah (Dia) belum (memberi petunjuk dengan) jelas; lilladzĩna = bai orang-orang yang …; yaritsũna = (mereka) mewarisi; al ardho = bumi, negeri; min = dari; ba’di = sesudah; ahlihã = penduduknya; al lau = bahwa kalau; nasyã-u = Aku menghendaki; ashobnãhum = Aku azab mereka; bidzunũbihim = dengan dosa-dosa mereka; wa nathba’u = dan Aku tutup; ‘alã qulũbihim = atas hati mereka; fahum = maka mereka; lã = tidak; yasma’ũn = mereka dapat mendengar (pelajaran).

awalam yahdi lilladzĩna yaritsũnal ardho mim ba’di ahlihã al lau nasyã-u ashobnãhum bidzunũbihim, wa nathba’u ‘alã qulũbihim fahum lã yasma’ũn.

100. Apakah belum jelas bagi pewaris sebuah negeri yang sudah lenyap penduduknya? Kalau Aku menghendaki tentu Aku azab mereka karena dosa-dosa mereka, dan Aku tutup hati mereka, maka mereka tidak dapat mendengar pelajaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, penjelasan, pelajaran tentang penduduk sebuah negeri yang dimusnahkan karena melakukan dosa. Mereka ditutup mata hatinya sehingga tidak dapat mendengar pelajaran dari Allah dan Nabinya.

tilka = itulah; al qurō = negeri-negeri; naqushshũ = Aku kisahkan; ‘alaika = kepadamu; min = dari; ambã-ihã = sebagian beritanya; wa laqod = dan sesungguhnya; jã-at-hum = telah dating kepada mereka; rusuluhum = Rasul-rasul mereka; bil bayyinaati = dengan bukti-bukti nyata; fa = maka, namun; mã kaanũ = mereka tidak; liyu’minũ = untuk mereka beriman; bimã = drngan apa, kepada apa; kadzdzabũ = mereka telah mendustakan; min qoblu = dari dahulu; kadzãlika = demikianlah; yathba’ullãhu = Allah menutupi; ‘alã = atas, pada; qulũbi = hati; al kãfirĩn = orang-orang kafir.

tilkal qurō naqushshũ ‘alaika min ambã-ihã, wa laqod jã-at-hum rusuluhum bil bayyinaati famã kaanũ liyu’minũ bimã kadzdzabũ min qoblu, kadzãlika yathba’ullãhu ‘alã qulũbil kãfirĩn.

101. Itulah negeri-negeri yang (telah Aku binasakan,) Aku kisahkan sebagian beritanya kepadamu. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan bukti-bukti yang nyata, namun mereka tidak juga mau beriman kepada apa yang dahulu mereka telah mendustakannya. Demikianlah, Allah menutup hati orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau Allah menutup mata hati seseorang, meskipun ditunjuki bukti-bukti keberadaan Allah, mereka tetap tidak mau mendengar kisah nyata negeri yang dihancurkan-Nya; mereka tidak mengakui keberadaan-Nya; mereka menolak apa yang diperintahkan-Nya, mereka melakukan apa yang dilarang-Nya.

wa mã wajadnã = dan Aku menemukan tidak; li aktsarihim = bagi kebanyakan mereka; min ‘ahdin = dari janji; wa in wajadnã = dan sesungguhnya Aku menemukan; aktsarohum = kebanyakan mereka; la fãsiqĩn = sungguh orang-orang fasik.

wa mã wajadnã li aktsarihim min ‘ahdin, wa in wajadnã aktsarohum la fãsiqĩn.

102. Dan Aku menemukan kebanyakan mereka tidak memenuhi janji, dan sesungguhnya, Aku menemukan kebanyakan mereka itu orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menemukan banyak manusia yang tidak memenuhi janji. Artinya, janji manusia akan mengakui keberadaan Allah dengan segala kekuasan-Nya di dunia dan di akhirat tidak dilakukan. Allah menemukan banyak orang fasik (bodoh), tidak mau menggunakan akal dan pikirannya dalam mengarungi perjalanan hidupnya.

tsumma = kemudian; ba’atsnã = Aku utus; mimba’dihim = dari sesudah Rasul-rasul; mũsã = Musa; bi ayãtinã = dengan tanda-tanda Aku; ilã = kepada; fir’auna = Fir’aun; wa mala-ihi = dan pemuka-pemukanya; fa = maka, lalu; zholamũ = mereka menlalimi, mengingkari; bihã = dengannya; fanzhur = maka perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kaana = ia adalah; ‘ãqibat = akibat; al mufsidiin = orang-orang yang membuat kerusakan.

tsumma ba’atsnã mimba’dihim mũsã bi ayãtinã ilã fir’auna wa mala-ihi fa zholamũ bihã, fanzhur kaifa kaana ‘ãqibatul mufsidiin.

103. Kemudian Aku utus Musa sesudah Rasul-rasul itu dengan membawa tanda-tanda-Ku kepada Fir’aun dan pemuka-pemukanya, lalu mereka mengingkarinya. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun dan pemuka-pemukanya mengingkari keberadaan Musa sebagai Rasul. Artinya, mereka juga tidak mengakui keberadaan Allah. Orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya pasti membuat kerusakan di dunia ini. Akibatnya, menimbulkan penderitaan bagi rakyatnya, dan bagi mereka sendiri.

wa qōla = dan berkata; mũsã = Musa; yã fir’aunu = wahai Firaun; innĩ= sesungguhnya aku; rosũlun = sorang Rasul; mir robbil ‘ãlamĩn = dari Penguasa alam

wa qōla mũsã yã fir’aunu innĩrosũlum mir robbil ‘ãlamĩn.

104. Dan Musa berkata: “Wahai Fir’aun, sesungguhnya aku ini seorang Rasul dari Penguasa alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Musa agar memberitahu siapa dirinya kepada Fir’aun dan para pemuka-pemukanya. Juga kepada orang-orang yang beriman untuk menjadi pelajaran.

haqĩqun = sebenarnya; ‘alã al lã aqũla = aku tidak mengatakan; ‘alallãhi = tentang Allah; illã = kecuali; al haqo = uang benar; qod = sesungguhnya; ji’tukum = aku datng kepadamu; bi bayyinatim = dengan bukti-bukti nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; fa arsil = maka lepaskanlah; ma’iya = bersama aku; banĩisrō-ĩla = orang-orang Bani israil

haqĩqun ‘alã al lã aqũla ‘alallãhi illãl haqo, qod ji’tukum bi bayyinatim mir robbikum fa arsil ma’iya banĩisrō-ĩla.

105. Sebenarnya, aku tidak mengatakan tentang Allah, kecuali yang benar, Sesungguhnya, aku datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Rabmu. Maka lepaskanlah orang-orang Bani Israil pergi bersamaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: NabiMusa a.s. menjelaskan hakekat Allah dengan bukti-bukti kebesaran dan kekuasaan Allah di alam ini. NabiMusa meminta kebebasan, kemerdekaan untuk orang-orang Bani Israil pergi memisahkan diri kepada Fir’aun

qōla = berkata; in kunta = jika kamu …; ji’ta = kamu dating; bi ãyatin = dengan suatu bukti; fa’ti = maka datangkanlah; bihã = dengan bukti itu; in kunta = jika kamu …; mina = dari; ash shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

qōla in kunta ji’ta bi ãyatin fa’ti bihã in kunta minash shōdiqĩn.

106. Dia, Fir’aun berkata: “Jika kamu datang membawa bukti dari Allah, maka kemukakan bukti itu, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun meminta bukti tentang Allah itu dijelaskan, dikemukakan

fa alqō = maka, ia menjatuhkan; ‘ashōhu = tongkatnya; fa-idzã = maka tiba-tiba; hiya = dia (tongkat itu; tsu’baanun = ular; mubĩn = nyata.

fa alqō ‘ashōhu fa-idzã hiya tsu’baanum mubĩn.

107. Maka, ia, Musa menjatuhkan tongkatnya, maka tiba-tiba tongkat itu menjadi ular yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Apa yang dilakukan NabiMusa ini bukan sulap dan bukan sihir, tapi kemampuan yang dianugrahkan Allah kepadanya.

wa naza’a = dan ia menarik; yadahũ = tangannya; fa idzã = maka tiba-tiba; hiya = dia (Musa); baidhō’u = putih, bercahaya; lin nãzhirĩn = bagi orang yang melihatnya.

wa naza’a yadahũ fa idzã hiya baidhō’u lin naiazhirĩn.

108. Dan, ia, Musa menarik tangannya, maka tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang yang melihatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ibidem catatan ayat 107.

Qōla = berkata; al mala-u = pemuka-pemuka; min qoumi = dari kaum; fir’auna = Fir’aun; inna hãdzã = sesungguhnya ini; la sãhirun = sungguh 9benar-benar) ahli sihir; ‘alĩm = yang berpengetahuan.

Qōlal mala-u min qoumi fir’auna inna hãdzã la sãhirun ‘alĩm.

109. Pemuka-pemuka kaum Firaun berkata: “Sesungguhnya (Musa) ini benar-benar seorang ahli sihir yang berpengetahuan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka kaum Fir’aun mengira Musa sebagai ahli sihir yang berilmu dan berpengetahuan.

yurĩdu = dia bermaksud; an yukhrijakum = akan mengeluarkan kamu; min ardhikum = dari bumimu/negerimu; fa mãdzã = maka apa yang; ta’murũn = kamu perintahkan.

yurĩdu an yukhrijakum min ardhikum, fa mãdzã ta’murũn.

110. Dia bermaksud akan mengeluarkan kamu dari negerimu, maka apa yang kamu perintahkan sekarang?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka Firaun memanas-manasinya, dan menanyakan perintah apa yang akan dikeluarkan.

qōlũ = berkata; arjih = tahanlah dia; wa akhōhu = dan saudara-saudaranya; wa arsil = dan kirimlah; fi madã-ini = di/ke kota-kota; hōsyirĩn = orang-orang yang berkumpul;

qōlũ arjih wa akhōhu wa arsil fil madã-ini hōsyirĩn.

111. Mereka (pemuka-pemuka) itu berkata: “Tahanlah dia (Musa) dan saudara- saudaranya, dan kirimlah orang-orang ke kota-kota untuk mengumpulkan ahli-ahli sihir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemuka-pemuka Fir’aun menyarankan agar Musa ditahan, dan mencari ahli-ahli sihir di berbagai kota.

ya’tũka = mereka akan datang kepadamu; bi kulli = dengan seluruh; sãhirin = ahli sihir; ‘alĩm = yang berpengetahuan.

ya’tũka bi kulli sãhirin ‘alĩm.

112. Mereka, semua ahli sihir yang berpengatahuan akan datang kepadamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli-ahli sihir dari berbagai kota berdatangan kepada Fir’aun.

wa jã-a = dan berdatangan; as sahorotu = ahli-ahli sihir; fir’auna = Fir’aun; qōlũ = mereka berkata; inna = sesungguhnya; lanã = bagi Aku; la-ajron = sesungguhnya mendapat upah; in kunnã = jika Aku adalah; nahnu = Aku; al ghōlibĩn = orang-orang yang menang.

wa jã-as sahorotu fir’auna qōlũ inna lanã la-ajron in kunnã nahnul ghōlibĩn.

113. Dan datanglah ahli-ahli sihir itu kepada Fir’aun, mereka mengatakan: “Apakah Aku sesungguhnya mendapat upah, jika Aku yang menang?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli sihir itu menuntut upah kepada Fir’aun, jika mereka menang menghadapi Musa.

qōla = (Fir’aun) berkata; na’am = yã, benar; wa inna = dan sesungguhnya; kum = kamu; lamina = sungguh termasuk, dari; al miqorrobĩn = orang-orang yang dekat.

Qōla na’am wa inna kum laminal miqorrobĩn.

114. Fir’aun berkata: “ya, benar, dan sesungguhnya kamu, benar-benar termasuk orang-orang yang dekat denganku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun membenarkan mereka akan diberi upah, dan menjanjikan akan menjadikan orang kepercayaannya.

qōlũ = mereka berkata; yã mũsã = wahai Musa; immã = apakah; an tulqiya = kamu akan melemparkan; wa immã = dan apakah; an nakũna = Aku adalah; nahnu = Aku; al mulqĩn = orang-orang yang melemparkan

qōlũ yã mũsã immã an tulqiya wa immã an nakũna nahnul mulqĩn.

115. Ahli-ahli sihir berkata: “Wahai Musa apakah kamu akan melemparkan lebih dahulu, atau Aku yang akan melemparkan?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara ahli sihir dengan NabiMusa saat akan bertanding antara ilmu sihir dengan Ilmu Allah yang diwahyukan kepada Musa.

qōla = (Musa) berkata; alqũ = lemparkanlah; fa lammã = maka setelah; alqau = mereka melemparkan; saharũ = mereka menyihir; a’yuna = mata; an nãsi = manusia wa = dan; as tarhabũ = menjadikan takut; hum = mereka; wa jã-ũ = dan mereka mendatangkan; bi sihrin = dengan sihir; ‘azhĩm = yang besar.

qōla alqũ fa lammã alqau saharũ a’yunan nãsi was tarhabũ hum wa jã-ũ bi sihrin ‘azhĩm.

116. Dia (Musa) berkata: “Lemparkanlah”. Maka setelah mereka melemparkan, dan menyihir mata orang banyak serta menjadikan mereka takut. Mereka melakukan sihir yang hebat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perbuatan yang menghasilkan sesuatu yang menakjubkan, kalau tanpa izin Allah, tanpa menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang adalah sihir. Sihir itu mengagumkan dan menakutkan.

wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã mũsã = hanya kepada Musa; an alqi = agar melemparkan; ‘ashōka = tongkatmu; fa idzã = maka tiba-tiba; hiya = ia (tongkat itu); talqofũ = menelan; mã ya’fikũn = apa yang mereka pertunjukkan.

wa auhainã ilã mũsã an alqi ‘ashōka, fa idzã hiya talqofũ mã ya’fikũn.

117. Dan Aku wahyukan kepada Musa: “Lemparkan tongkatmu.” Maka, tiba-tiba tongkat itu menelan apa yang mereka pertunjukkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesuatu perbuatan yang menghasilkan kejadian tertentu berdasarkan perintah Allah, hasilnya lebih kuat, dan lebih mengagumkan dibandingkan rekayasa manusia. Hal ini karena ada izin dari Allah.

fa waqo’a = maka terjadi/terbukti; al haqqu = yang benar; wa bathola = dan batallah/hilanglah; mãkaanũ = apa yang mereka ….; ya’malũn = kerjakan.

fa waqo’al haqqu wa bathola mã kaanũ ya’malũn.

118. Maka terjadi/terbukti yang benar itu, dan batallah apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pekerjaan yang berdasarkan perintah Allah selalu benar. Pekerjaan yang berdasarkan keinginan setan pasti lenyap.

fa ghulibũ = maka mereka dikalahkan; hunãlika = di sana, di tempat itu; wan qolabũ = dan mereka kembali; shōghirĩn = menjadi kecil, hina.

fa ghulibũ hunãlika wan qolabũ shōghirĩn.

119. Maka mereka dikalahkan di tempat itu, dan mereka kembali dengan kehinaan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kekalahan hidup itu bila kita kalah bersaing sehingga menjadi hina/dalam keadaan menjadi hina.

wa ulqiya = dan menjatuhkan dirilah; as saharatu = ahli-ahli sihir itu; sãjidiin = bersujud.

wa ulqiyas saharatu sãjidiin.

120. Dan ahli-ahli ilmu sihir itu menjatuhkan dirilah, bersujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli-ahli sihir itu bersujud tanda mengakui keunggulan Ilmu Allah.

qōlũ = para ahli sihir itu berkata; ãmannã = Aku beriman; bi robbil ‘ãlamĩn = kepada Rab Pemelihara alam.

qōlũ ãmannã bi robbil ‘ãlamĩn.

121. Mereka berkata: “Aku beriman kepada Rab Pemelihara alam.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para ahli sihir mengakui ada Penguasa alam Yang Maha dalam segala-Nya.

Rabi = Penguasa dari; mũsã = Musa; wa hãrũn = dan Harun

Rabi mũsã wa hãrũn.

122. Penguasa Musa dan Harun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Penguasa Musa dan Harun dan semua yang ada di alam semesta ini, lihat Al Fatihah, 1 : 2

qōla = berkata; fir’aunu = Fir’aun; ãmantum = apakah kamu beriman; bihĩ= kepadanya; qobla = sebelum; an ãdzana = aku memberi izin; lakum = kepadamu; inna = sesungguhnya; hãdzã = ini; lamakrun = suatu muslihat; makartumũhu = telah kamu rencanakan; fil madiinati = di dalam kota ini; litukhrijũ = untuk kamu mengeluarkan; minhã = darinya; ahlahã = penduduknya; fasaufa = maka kelak; ta’lamũn = kamu akan mengetahui.

qōla fir’aunu ãmantum bihĩqobla an ãdzana lakum, inna hãdzã lamakrum makar tumũhu fil madiinati litukhrijũ minhã ahlahã, fasaufa ta’lamũn.

123. Fir’aun berkata: “Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu?” Sesungguhnya perbuatan ini adalah suatu muslihat yang telah kamu rencanakan di dalam negeri ini untuk mengeluarkan penduduknya dari dalamnya, maka kelak akan mengetahui akibat perbuatan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan kekuasaannya yang ada, Fir’aun mengintimidasi, mengancam para ahli sihir

la uqoththi’anna = sungguh, aku akan memotong; aidiyakum = tanganmu; wa arjulakum = dan kakimu; min khilãfin = dari yang berlainan (bersilang), tsumma = kemudian; laushollibannakum = sungguh aku akan menyalib kamu; ajma’ĩn = semuanya.

la uqoththi’anna aidiyakum wa arjulakum min khilãfin tsumma laushollibannakum ajma’ĩn.

124. Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu bersilang, kemudian, sungguh aku akan menyalib kamu semua.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Fir’aun mengancam para penyihir yang menyatakan beriman kepada Allah Robbul ‘alamĩn. “memotong tangan dan kakimu bersilang” artinya tangan kanan dan kaki kiri dipotong, atau sebaliknya tangan kiri dan kaki kanan yang dipotong. Inilah bentuk kekejam pada zaman Fir’aun.

qōlũ = ahli sihir berkata; innã = sesungguhnya Aku; ilã = kepada; robbinã = Rab Aku; munqolibũn = dikembalikan.

qōlũ innã ilayã robbinã munqolibũn.

125. Ahli sihir berkata: “Sesungguhnya Aku akan dikembalikan kepada Rab Aku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli sihir sudah mempunyai sikap yang menunjukkan iman kepada Allah.

wa mã tanqimu = dan kamu tidak membalas dendam; minnã = kepada Aku; illã = kecuali; an amannã = karena Aku beriman; bi ãyãti = kepada ayat-ayat; robbinã = Rab Aku; lammã = ketika; jã atnã = datang kepada Aku; robbanã = yã Rab Aku; afrigh = limpahkan; ‘alainã = kepada Aku; shobron = kesabaran; wa tawaffanã = dan wafatkan Aku; muslimĩn = orang-orang yang berserah diri.

wa mã tanqimu minnã illã an amannã bi ãyãti robbinã lammã jã atnã, robbanã afrigh ‘alainã shobron wa tawaffanã muslimĩn.

126. Dan kamu tidak membalas dendam kepada Aku (penyiksaan), kecuali karena Aku beriman kepada ayat-ayat Rab Aku, ketika (ayat-ayat itu) datang kepada Aku. “Yã Rab Aku, limpahkanlah kesabaran kepada Aku dan wafatkanlah Aku (sebagai) orang-orang yang berserah diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para penyihir menyadari dalam imannya, kalau Fir’aun dan para pemukanya itu menyiksa karena mereka mengimani ayat-ayat Rab, maka ganjarannya pasti surga. Selanjutnya para penyihir itu mohon kepada Rabnya untuk diberi kesabaran dalam menjalani siksaan dari Fir’aun dan anak-buahnya. Kalau seandainya sampai wafat, mereka mohon diwafatkan dalam keadaan berserah diri hanya kepada Allah. Inilah doa permohonan yang perlu diucapkan saat kita berdoa.

wa qōla = dan berkata; almala-u = pemuka-pemuka; min koumi = dari kaum; fir’auna = Fir’aun; atadzaru = apakah kamu membiarkan; mũsã = Musa; wa qoumahũ = dengan kaumnya; li yufsidũ = untuk membuat kerusakan; fil ardhi = di bumi; wayadzaroka = dan meninggalkan kamu; wa ãlihataka = dan ilah-ilah kamu; qōla = Fir’aun menjawab, sanukottilu = kita akan membunuh; abnã-ahum = anak-anak laki-laki mereka; wa nastahyĩ= dan kita biarkan hidup; nisã-ahum = anak-anak perempuan mereka; wa innã = dan sesungguhnya kita; fauqohum = di atas mereka; qōhirũn = berkuasa.

wa qōlal mala-u min koumi fir’auna atadzaru mũsã wa qoumahũ li yufsidũ fil ardhi wayadzaroka wa ãlihataka qōla sanukottilu abnã-ahum wa nastahyĩnisã-ahum wa innã fauqohum qōhirũn.

127. Dan berkatalah pemuka-pemuka kaumnya kepada Fir’aun: “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di atas bumi ini, dan meninggalkan kamu dengan tuhan-tuhanmu?” Fir’aun menjawab: “Kita akan membunuh anak laki-laki mereka, dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka, kita berkuasa di atas mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada kesepakatan antara Fir’aun dan pemuka-pemuka kaum untuk membunuh anak-anak laki-laki dan mereka membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka, Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya merasa memiliki kuasa atas mereka. Lihat ayat 141.

qōla = berkata; mũsã = Musa; li qoumihi = kepada kaumnya; is ta’ĩnũ = mohon pertolonganlah; bil lãhi = kepada Allah; washbirũ = dan bersabarlah; inna = sesungguhnya; al ardho = bumi ini; lillãhi = milik Allah; yũritsuhã = diwariskan-Nya; man = siapa; yasyã-u = yang dikehendaki; min ‘ibãdihi = dari hamba-hamba-Nya; wa ‘ãqibatu = dan akibat kesudahan; lilmuttaqĩn = bagi orang-orang yang takwa.

qōla mũsã li qoumihis ta’ĩnũ bil lãhi washbirũ, innal ardho lillãhi yũritsuhã man yasyã-u min ‘ibãdihĩ, wa ‘ãqibatul lilmuttaqĩn.

128. Musa berkata kepada kaumnya: “Mohon pertolonganlah kepada Allah, dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini kepunyaan Allah. Diwariskan kepada siapa yang dikehendaki dari hamba-hambanya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang taqwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah melalui NabiMusa a.s. kepada umatnya dan kepada umat-umat sesudahnya.

qōlũ = berkata; ũdzĩnã = Aku telah ditindas; min qobli = dari sebelum; an ta’tiyanã = kamu dating kepada Aku; wa mim ba’di mã = dan dari sesudah; ji’tanãkamu datang kepada Aku; qōla = Musa berkata; ‘asã = mudah-mudahan; robbukum = Rab kamu; an yuhlika = akan membinasakan; ‘aduwwakum = musuhmu; wa yastakhlifakum = dan menjadikan kamu khalifah; fil ardhi = di bumi; fayanzhura = maka Dia akan melihat; kaifa = bagaimana; ta’malũn = perbuatanmu.

qōlũ ũdzĩnã min qobli an ta’tiyanã wa mim ba’di mã ji’tanã, qōla ‘asã robbukum an yuhlika ‘aduwwakum wa yastakhlifakum fil ardhi fayanzhura kaifa ta’malũn.

129. Mereka (kaum Musa a.s.) berkata: “Aku telah ditindas (oleh Fir’aun) dari sebelum kamu datang kepada Aku.” Musa berkata: “Mudah-mudahan Rab kamu membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi, maka Dia akan melihat bagaimana perbuatanmu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara kaumnya dengan Musa a.s. dengan doa untuk kaumnya, mudah-mudahan akan dijadikan khalifah di bumi. Allah akan melihat bagaimana perbuatan makhluk-Nya.

wa laqod = dan sesungguhnya; akhodznã = Aku telah menghukum; ãla fir’auna = Fir’aun; bis sinĩna = dengan beberapa tahun; wa naqshin = dan kekurangan; minats tsamarōtti = dari buah-buahan; la’allahum = supaya mereka; yadz dzakkarũn = mereka mengambil pelajaran.

wa laqod akhodznã ãla fir’auna bis sinĩna wa naqshim minats tsamarōtti la’allahum yadz dzakkarũn.

130. Dan sesungguhnya Aku telah menghukum Fir’aun dan kaumnya dengan musim kemarau beberapa tahun, dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini Allah memakai istilah menghukum kepada Fir’aun, bukan mencoba, atau menguji. Allah juga memberi pelajaran kepada Fir’aun.

faidzã = maka apabila; jã-at humu = dating kepada mereka; al hasanatu = kebaikan, kemakmuran; qōlũ = mereka berkata; lanã = bagi Aku (karena Aku); hãdzihi = ini; wa in = dan jika; tushibhum = musibah menimpa mereka; sayyi-atun = kejelekan, kesusahan; yaththoyyarũ = mereka melemparkan kesialan; bi mũsã = kepada Musa; wa man = dan orang; ma’ahũ = besertanya; alã = ingatlah, ketahuilah; innamã = sesungguhnya hanyalah; thō-iruhum = kesialan mereka; ‘indallãhi = dari Allah; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.

faidzã jã-at humul hasanatu qōlũ lanã hãdzihi, wa in tushibhum sayyi-atun yaththoyyarũ bi mũsã wa mam ma’ahũ, alã innamã thō-iruhum ‘indallãhi wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.

131. Maka, apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Ini karena usaha Aku.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka melemparkan kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya, kesalahan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sesungguhnya, kesalahan mereka itu adalah ketetapan dari Allah”. Ini berarti seseorang itu makmur atau miskin, susah itu karena ketetapan Allah, merupakan ujian dari Allah, tidak bisa ditolak. Harus dihadapi dengan sikap iman atau kafir. Keduanya, akan menjadi tanggung jawab atas sikap masing-masing di akhirat.

wa qōlũ = dan mereka berkata; mahmã = bagaimanapun; ta’tinã = kamu mendatangkan kepadaku; bihĩ= dengannya; min ãyatin = dari ayat, keterangan; litas-haronã = untuk menyihir Aku; bihã = dengan keterangan itu; fa mã nahnu = maka Aku tidak; laka = kepadamu; bi mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman.

wa qōlũ mahmã ta’tinã bihĩmin ãyatil litas-haronã bihã fa mã nahnulaka bi mu’minĩn.

132. Dan mereka berkata: “ Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Aku untuk menyihir Aku dengan keterangan itu, namun Aku sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang kafir menganggap ayat-ayat Allah itu sihir. Keimanan seseorang juga, sesungguhnya Allah lah yang menetapkannya.

fa arsalnã = maka Aku kirimkan; ‘alaihimu = kepada mereka; ath thũfãna = taufan; wa jarōda = dan belalang; wal qummala = dan kutu; wadh dhofãdi’a = katak; wad dama = dan darah; ãyãtin = bukti-bukti; mufashsholãtin = terperinci, jelas; fastakbarũ = maka mereka menyombongkan diri; wa kãnnũ = dan mereka …; qouman = kaum; mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

fa arsalnã ‘alaihimuth thũfãna wa jarōda wal qummala wadh dhofãdi’a wad dama ãyãtim mufashsholãtin fastakbarũ wa kãnũ qoumam mujrimĩn.

133. Maka, Aku kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagi orang-orang yang sombong, apa pun bukti dari alam yang jelas dan nyata, tetap saja mereka tidak mau beriman kepada Allah. Ini contoh dosa karena kesombongan orang.

wa lammã = dan ketika; wa qo’a = menimpa; ‘alaihimu = atas mereka; ar rijzu azab; qōlũ = mereka berkata; yã mũsã = wahai Musa; ud’u = berdoalah; lanã = bagi Aku; robbaka = Rab kamu; bi mã = dengan apa; ‘ahida = Dia janjikan; ‘indaka = bagi kamu; lain = jika; kasyafta = kamu dapat menghilangkan; ‘annã = dari Aku; ar rijza = azab; lanu’minanna = sungguh Aku akan beriman; laka = kepadamu; wa lanursilanna = dan sungguh Aku akan membiarkan; ma’aka = bersama kamu; banĩisrō-il = Bani Israil.

wa lammã wa qo’a ‘alaihimur rijzu qōlũ yã mũsã ud’ulanã robbaka bi mã ‘ahida ‘indaka, lain kasyafta ‘annar rijza lanu’minanna laka wa lanursilanna ma’aka banĩisrō-il.

134. Dan ketika azab menimpa mereka, mereka pun berkata: “Hai Musa, berdoalah untuk Aku kepada Rab kamu, dengan apa yang Dia janjikan denganmu, jika kamu dapat menghilangkan azab dari Aku, sungguh Aku akan beriman kepadamu, dan sungguh, Aku akan membiarkan Bani Israil pergi bersama kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sifat orang kafir selalu mengada-ada, mereka ingin didoakan agar terlepas dari azab yang dideritanya dengan janji, kalau azab itu hilang mereka akan beriman. Janji seperti ini sering dilanggar, tidak ditepati, tidak dĩngat-ingat kalau azabnya sudah berlalu

fa lammã = maka setelah; kasyafnã = Aku hilangkan; ‘anhumu = dari mereka; ar rijza = azab; ilã = hingga; ajalin = waktu yang ditetapkan; hum = mereka; bãlighũhu = sampai kepadanya; idzã = tiba-tiba; hum = mereka; yankutsũn = mereka mengingkari.

fa lammã kasyafnã ‘anhumur rijza ilã ajalin hum bãlughũhu idzã hum yankutsũn.

135. Maka setelah Aku hentikan azab itu hingga waktu yang ditentukan, tiba-tiba mereka mengingkarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah ciri orang kafir. Mereka selalu ingkar janji.

fantaqomnã = maka Aku menghukum; minhum = kepada mereka; fa-aghroqnãhum = maka Aku tenggelamkan mereka; fil yammi = di laut; bi-annahum = karena mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat Aku; wa kãnũ = dan mereka adalah; ‘anhã = pada ayat-ayat-Ku; ghōfilĩn = orang-orang yang lalai

fantaqomnã minhum fa-aghroqnãhum fil yammi bi-annahum kadzdzabũ bi ãyãtinã wa kãnũ ‘anhã ghōfilĩn.

136. Maka Aku hukum mereka, lalu Aku tenggelamkan mereka di laut karena mereka mendustakan ayat-ayat-Ku, dan mereka itu orang-orang yang lalai pada ayat-ayat-Ku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir ditenggelamkan di laut karena mereka selalu menganggp dusta dan melalai-lalaikan ayat-ayat Allah.

wa aurotsnã = dan Aku wariskan; al qouma = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; kãnũ = mereka adalah; yustadh’afũna = mereka telah tertindas; masyãriqol ardhi = bumi sebelah timur; wa maghōribaha = dan sebelah baratnya; al latĩ = yang; bãroknã = Aku berkati; fĩhã = padanya; wa tammat = dan telah sempurna; kalimatu = perkataan; robbika = Rab kamu; al husnã = yang baik; ‘alã = kepada; banĩ isrōĩla = Bani Israil; bimã = karena; shobarũ = mereka bersabar; wa dammarnã = dan Aku hancurkan; mã = apa; kãna = adalah yang; yashna’u = membuat; fir’aunu = Fir’aun; wa qoumuhũ = dan kaumnya; wa mã kãnũ = dan apa yang …; ya’risyũn = mereka bangun.

wa aurotsnãl qoumal ladzĩna kãnũ yustadh’afũna masyãriqol ardhi wa maghōribahal latĩbãroknã fĩhã, wa tammat kalimatu robbikal husnã ‘alã banĩ isrōĩla bimã shobarũ, wa dammarnã mã kãna yashna’u fir’aunu wa qoumuhũ wa mã kãnũ ya’risyũn.

137. Dan Aku wariskan kepada kaum yang tertindas itu negeri-negeri di bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Aku berkati. Dan telah sempurnalah perkataan Rab kamu yang baik sebagai janji untuk Bani Istrail karena kesabaran mereka, dan Aku hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya, dan apa yang telah mereka bangun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bani Israil yang sabar dalam tindasan Fir’aun diberi warisan Bumi bagian timur dan barat . Allah telah membekali dengan perkataan yang sempurna sebagai janji menuju ke surga.

wa jãwaznã = dan Aku seberangkan; bi banĩisrōila = Bani Israil; al bahro = ke sebarang lautan; fa atau = maka mereka sampai; ‘alã = ke; qoumin = kaum; ya’kufũna = mereka menyembah; ‘alã = ke; ashnãmin = berhala-berhala; lahum = bagi mereka; qōlũ = (Bani Israil) berkata; yã mũsa = wahai Musa; ij’al = buatlah; lanã = untuk Aku; ilãhan = sesembahan; kamã = sebagaimana; lahum = bagi mereka; ãlihatun = beberapa ilah; qōla = (Musa) menjawab; innakum = sesungguhnya kamu; qoumun = kaum; tajhalũn = yang bodoh.

wa jãwaznã bi banĩisrōilal bahro fa atau ‘alã qoumih ya’kufũna ‘alã ashnãmil lahum, qōlũ yã mũsaj’al lanã ilãhan kamã lahum ãlihatun, qōla innakum qoumun tajhalũn.

138. Dan Aku seberangkan Bani Israil ke seberang lautan, maka setelah sampai ke suatu kaum yang menyembah berhala-berhala mereka, Bani Israil berkata: “Hai Musa, buatlah untuk Aku sebuah ilah (sesembahan, berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini kaum yang bodoh.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa menyeberangkan Bani Israil, lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 50. Pada ayat ini Bani Israil masih menginginkan dibuatkan sebuah berhala. Jadi, NabiMusa menganggap Bani Israil sebagai kaum yang bodoh.

inna = sesungguhnya; hã-ulã-i = mereka itu; mutabbarun = akan dihancurkan; mã hum = apa yang mereka; fĩhi = di dalamnya; wa bãthilun = dan batal/sia-sia; mã kãinũ = apa yang mereka …; ya’malũn = mereka kerjakan

inna hã-ulã-i mutabbarum mã hum fĩhi wa bãthilum mã kãnũ ya’malũn.

139. Sesungguhnya apa yang mereka sembah itu akan dihancurkan, dan apa yang mereka kerjakan itu sia-sia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa menerangkan berhala itu akan dihancurkan, menyembah berhala itu pekerjaan sia-sia.

qōla = (Musa) berkata; aghoirollãhi = apakah selain Allah; abghĩkum = aku mencarikan kamu; ilãhan = sesembahan; wa huwa = padahal Dia; adhdholakum = melebihkan kamu; ‘alãl ‘ãlamĩn = atas semesta alam (seluruh umat).

qōla aghoirollãhi abghĩkum ilãhan wa huwa fadhdholakum ‘alãl ‘ãlamĩn.

140. Musa berkata: “Apakah aku akan mencarikan untuk kamu sesembahan selain dari Allah? Padahal, Dialah yang melebihkan kamu atas seluruh umat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa mengingatkan bahwa Bani Israil itu akan ditinggikan derajatnya melebihi umat lain kalau sesembahannya itu Allah Yang Mahagaib. Jangan menyembah ilah lain selain Allah.

wa idz = dan ketika; anjainãkum = Aku menyelamatkan kamu; min = dari; ãli fir’auna = keluarga Fir’aun; yasũmũnakum = mereka menindas kamu; sũa = sangat jahat; al ‘adzãb = azab; yuqottilũna = mereka membunuh; abnã-akum = anak-anak laki-lakimu; wa yastahyũna = dan membiarkan hidup; nisã-akum = anak-anak perempuanmu; wa fĩ= dan dari; dzãlikum = yang demikian; balãun = cobaan; mir robbikum = dari Rab kamu; ‘adhĩm = yang besar.

wa idz anjainãkum min ãli fir’auna yasũmũnakum sũal ‘adzãb, yuqottilũna abnã-akum wa yastahyũna nisã-akum, wa fĩdzãlikum balãum mir robbikum ‘adhĩm.

141. Dan ketika Aku menyelamatkan kamu dari keluarga Fir’aun yang menindas kamu dengan azab yang sangat jahat, mereka membunuh anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada kejadian itu adalah cobaan yang besar dari Rab kamu

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat juga ayat 127; Q.s. Al Baqarah, 2 : 49

wawã’adnã = dan Aku telah menjanjikan; mũsã = Musa; tsalãtsĩna = tiga puluh; lailatan = malam; wa atmamnãhã = dan Aku mengutamakannya; bi ‘asyrin = dengan sepuluh; fatamma = maka utamalah; mĩqōtu = waktu yang ditentukan; robbihĩ= Rabnya; arbaĩna lailatan = empat puluh malam; wa qōla mũsã = dan Musa berkata; li akhĩhi = kepada saudaranya; hãrũn = Harun; akhlufnĩ= gantikan aku; fĩqoumĩ= dalam kaumku; wa ashlih = dan perbaikilah; wa lã tattabi’ = dan jangan mengikuti; sabĩla = jalan; al mufsidiin = orang-orang yang berbuat kerusakan.

wawã’adnã mũsã tsalãtsĩna lailatan wa atmamnãhã bi ‘asyrin fatamma mĩqōtu robbihĩarbaĩna lailatan, wa qōla mũsã li akhĩhi hãrũnakhlufnĩfĩqoumĩwa ashlih wa lã tattabi’ sabĩlal mufsidiin.

142. Dan Aku telah menjajikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Aku sempurnakan dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Rabnya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya Harun, “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 51

wa lammã = dan ketika; jã-a = datang; Mũsã = Musa; li mĩqōtinã = pada waktu yang Aku tentukan; wa kallamahũ = dan berfirman kepadanya; robbuhũ = Rabnya; qōla = berkata; robbi = yã Rabku; arinĩ= kepadaku; anzhur = melihat; ilaik = Engkau; qōla = bersabda; lantarōni = kamu tidak dapat melihat Aku; wa lãkini = tetapi; unzhur = lihatlah; ilã = ke; al jabali = bukit itu; fa ini = maka jika; astaqorro = ia tetap; madiinahũ = pada tempatnya; fa saufa = maka akan; tarōnĩ= kamu melihat Aku; fa lammã = maka ketika; tajallã = menampakkan; robbuhũ = Rabnya; lil jabali = pada bukit; ja’alahũ = menjadikannya; dakkan = hancur luluh; wa kharro = dan tersungkur; mũsã = Musa; sho’iqon = pingsan; fa lammã = maka setelah; afãqō = dia sadar kembali; qōla = Musa berkata; subhãnaka = Mahasuci Engkau; tubtu = aku bertobat; ilaika = kepada Engkau; wa anã = dan aku; awwalu = pertama, awal; al mu’minĩn = yang beriman.

wa lammã jã-a Mũsã li mĩqōtinã wa kallamahũ robbuhũ, qōla robbi arinĩanzhur ilaik, qōla lantarōni wa lãkininzhur ilãl jabali fa ini astaqorro madiinahũ fa saufa tarōnĩ, fa lammã tajallã robbuhũ lil jabali ja’alahũ dakkan wa kharro mũsã sho’iqon, fa lammã afãqō qōla subhãnaka tubtu ilaika wa anã awwalul mu’minĩn

143. Dan ketika Musa datang untuk munajat pada waktu yang telah Aku tentukan, dan Rab telah berfirman langsung kepadanya, maka Musa berkata: “Ya Rabku, tampakkanlah Diri Engkau kepadaku agar aku dapat melihat Engkau”. Rab bersabda: “Kamu tidak akan sanggup melihat Aku, tetapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap pada tempatnya, niscaya kamu dapat melihat Aku”. Maka, ketika Rabnya menampakkan pada bukit itu, jadilah bukit itu hancur-luluh, dan Musa pun tersungkur pingsan. Maka, setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang yang pertama beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa ingin Allah menampakkan Dirinya. Allah mengingatkan hal itu tidak mungkin. Bisa membahayakan makhluk-Nya. Allah menampakkan Diri dengan berbagai kejadian dan keadaan di alam semesta ini membuktikan keberadaan dan kekuasaan Allah. Memperhatikan keberadaan Allah dapat dilakukan dengan memperhatikan alam semesta; betapa luas, betapa besar, betapa rumitnya. Itulah kekuasaan Allah yang amat mengagumkan, tak terjangkau oleh akal dan pikiran manusia.

qōla = Allah bersabda; yã mũsã = wahai Musa; inni = sesungguhnya, Aku; ishthofaituka = Aku memilih kamu; ‘alan nãsi = di atas manusia; bi risãlãti = dengan risalah-Ku; wa bi kalãmĩ= dan dengan perkataan-Ku; fakhudz = maka ambillah; mã ãtaituka = apa yang telah Aku berikan kepadamu; wa kun = dan jadilah kamu; minasy syãkirĩn = dari orang-orang yang bersyukur.

qōla yã mũsã innishthofaituka ‘alan nãsi bi risãlãti wa bi kalãmĩfakhudz mã ãtaituka wa kum minasy syãkirĩn.

144. Allah bersabda: “Wahai Musa, sesungguhnya Aku memilih kamu di atas manusia dengan risalah-Ku dan perkataan-Ku, maka ambillah apa yang telah Aku berikan kepadamu, dan jadilah kamu dari orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingatkan NabiMusa agar umatnya menjadi orang-orang yang bersyukur dengan risalah dan perkataan Allah yang akan menjadi petunjuk jalan, pelajaran untuk hidup yang lurus.

wa katabnã = dan telah Aku tuliskan; lahũ = untuk Musa; fĩalwãhi = pada batu tulis; min kulli = dari segala; syai-in = sesuatu; mũ’izhotan = pelajaran; wa tafshĩlan = dan penjelasan; likulli = bagi segala; syai-in = sesuatu; fa khudz hã = maka berpeganglah kepadanya; bi quwwatin = dengan kuat, teguh; wa’mur = dan suruhlah; qoumaka = kaummu; ya’khudzũ = mereka berpegang; bi ahsanihã = dengan sebaik-baiknya; sa-ũrĩkum = dan Ku-perlihatkan kepadamu; dãro = kampung, negeri; al fãsiqĩn = orang-orang yang fasik

wa katabnã lahũ fĩalwãhi min kulli syai-im mũ’izhotan wa tafshĩlal likulli syai-in fa khudz hã bi quwwatin wa’mur qoumaka ya’khudzũ bi ahsanihã, sa-ũrĩkum dãrol fãsiqĩn.

145. Dan telah Aku tuliskan untuk Musa dalam luh (batu tulis) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi semua, maka Aku berfirman: “Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang (kepada perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti akan Kuperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang pasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan sudah ada pelajaran dan penjelasan yang tertulis di dalam luh (batu tulis) agar dĩkuti sebaik-baiknya. Allah juga memberi pelajaran tentang negeri-negeri orang pasik yang dihancurkan.

sa-ashrifu = Aku akan memalingkan; ‘an ãyãtiya = dari ayat-ayat-Ku; al ladzĩna = orang-orang yang; yatakabbarũna = mereka menyombongkan diri; fil ardhi = di bumi; bi ghoiril haqqi = dengan tanpa hak; wa in = dan jika; yarau = mereka melihat; kulla = tiap-tiap; ãyatin = ayat; lã yu’minũ = mereka tidak beriman; bihã = dengannya, kepadanya; wa in = dan jika; yarau = mereka melihat; sabĩla = jalan; ar rusydi = petunjuk; lã yattakhidzũhu = mereka tidak mengamblinya; sabĩla = jalan; wa in = dan jika; yarau = mereka melihat; sabĩla = jalan; al ghoyyi = sesat; yattakhidzũhu = mereka mengambilnya; sabĩlan = jalan; dzãlika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; wa kãnũ = dan mereka adalah; ‘anhã = darinya; ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.

sa-ashrifu ‘an ãyãtiyal ladzĩna yatakabbarũna fil ardhi bi ghoiril haqqi wa in yarau kulla ãyatil lã yu’minũ bihã wa in yarau sabĩlar rusydi lã yattakhidzũhu sabĩla, wa in yarau sabĩlal ghoyyi yattakhidzũhu sabĩla, dzãlika bi annahum kadzdzabũ bi ãyãtinã wa kãnũ ‘anhã ghōfilĩn.

146. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku. Dan jika mereka melihat tiap-tiap ayat, mereka tidak beriman kepadanya, dan jika mereka melihat jalan yang membawa petunjuk, mereka tidak mau mengambilnya sebagai jalan, tetapi jika mereka melihat jalan yang sesat, mereka terus mengambilnya sebagai jalan. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka mendustakan ayat-ayat Aku, dan mereka adalah orang-orang yang lalai darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku” artinya, Allah membuat orang-orang itu menjadi kafir, karena memang dari gejala-gejala perbuatannya menghadapi ayat-ayat Allah, mereka itu sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman. Orang sombong adalah orang yang tidak mau percaya apa yang disampaikan para Nabiitu dari Allah. Ayat ini harus menjadi peringatan juga bagi generasi sekarang yang membaca Alquran tapi tidak melaksanakan aturan-aturannya, dan melakukan apa yang seharusnya dijauhi, tidak menjauhi apa yang dilarang Allah.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat Aku; wa liqō-i = dan pertemuan; al ãkhiroti = akhirat; habithot = sia-sia; ’mãluhum =amal mereka; hal = apakah, tidakkah; yujzauna = mereka diberi balasan; illã = kecuali; mã = apa yang; kãnũ = mereka adalah …: ya’malũn = mereka kerjakan.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã wa liqō-il ãkhiroti habithot a’mãluhum, hal yujzauna illã mã kãnũ ya’malũn.

147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku dan pertemuan akhirat, maka sia-sialah amal mereka, mereka tidak diberi balasan, kecuali apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang mereka kerjakan adalah pendustaan ayat-ayat Allah dan pertemuan pada hari akhirat. Jadi balasan mereka adalah neraka, karena kekafirannya.

wattakhodza = dan menjadikan; qoumu = kaum; mũsã = Musa; mim ba’dihi = dari sesudahnya; min huliyyihim = dari perhiasan-perhiasan mereka; ‘ijlan = anak lembu; jasadan = tubuh; lahũ = baginya; khuwãwun = suara; alam = apakah mereka; yarou = tidak mengetahui; annahũ = bahwa ia; lã yukallimuhum = tidak dapat berbicara dengan mereka; wa lã yahdĩhim = dan ia tidak memberi petunjuk mereka; sabĩlan = jalan; ittakhadzũhu = mereka menjadikan; wa kãnũ = dan mereka adalah; zhōlimĩn = lalim

wattakhodza qoumu mũsã mim ba’dihi min huliyyihim ‘ijlan jasadal lahũ khuwãwun, alam yarōu annahũ lã yukallimuhum wa lã yahdĩhim sabĩlat takhadzũhu wa kãnũ zhōlimĩn.

148. Dan kaum Musa sesudah kepergiannya ke gunung Tur, mereka membuat perhiasan-perhiasan seekor anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka, dan tidak dapat memberi petunjuk jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya sesembahan, dan mereka adalah orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 51

wa lammã = dan setelah; suqitha = menyesali; fĩaidĩhim = dalam perbuatannya; wa ro-au = dan mereka mengetahui; annahum = bahwa mereka; qod = sungguh; dhollũ = mereka telah sesat; qōlũ = mereka berkata; la-in lam = sungguh jika tidak; yarhamnã = memberi rahmat kepada Aku; robbunã = Rab Aku; wa yaghfir = dan mengampuni; lanã = bagi Aku; lanakũnanna = niscaya Aku menjadi; mina = dari; al khōsirĩn = orang-orang yang merugi.

wa lammã suqitha fĩaidĩhim wa ro-au annahum qod dhollũ, qōlũ la-in lam yarhamnã robbunã wa yaghfir lanã lanakũnanna minal khōsirĩn.

149. Dan setelah mereka menyesali perbuatannya, dan setelah mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka berkata: “Sungguh, bila Rab Aku tidak memberi rahmat kepada Aku dan tidak mengampuni Aku, niscaya Aku menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia itu suka berbuat sesat, kalau tidak ada kasih-sayang Allah, dan mereka tidak diampuni, tentu mereka menjadi orang-orang yang berugi. Manusia seharusnya menyadari setiap tingkah-lakunya harus selalu mengikuti jalan yang sudah ditetapkan Allah. Jangan menyimpang sedikit pun. Banyaklah beristighfar, memohon ampunan dari Allah. Manusia harus selalu ingat kepada Allah dan Hari Akhir dunia.

wa lammã = dan setelah; roja’a = kembali; mũsã = Musa; ilã qoumihĩ= ke kaumnya; ghodhbaana = dalam keadaan marah; asifãn = sedih hati; qōlã = dia berkata; bi’samã = alangkah buruknya; kholaftumũnĩ= kamu menggantiku; mim ba’dĩ= dari sesudahku; a’ajiltum = apakah kamu hendak mendahului; amra = perintah; robbikum = Rabmu; wa alqo = dan dia melemparkan; al alwãha = batu tullis (Taurat); wa akhodza = dan dia memegang; bi ro’sĩ= dengan kepala; akhĩhi = saudaranya; yajurruhũ = dia menariknya; ilaih = kepadanya; qōla = dia (Harun) berkata; ibna = anak; umma = ibu; inna = sesungguhnya; al qouma = kaum itu; istadh’afũnĩ= mereka menjadikan aku lemah; wa kãdũ = dan hampir-hampir mereka; yaqtulũnanĩ= mereka membunuh aku; fa lã = maka jangan; tusymit = kamu menjadikan gembira; biya = denganku; al a’dã-a = musuh-musuh; wa lã = dan jangan; taj’alnĩ= kamu jangan menjadikan/memasukkan aku; ma’a = beserta; al qoumi = kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa lammã roja’a mũsã ilã qoumihĩghodhbaana asifãn, qōlã bi’samã kholaftumũnĩmim ba’dĩ, a’ajiltum amra robbikum, wa alqol alwãha wa akhodza bi ro’sĩakhĩhi yajurruhũ ilaih, qōlabna umma innal qoumastadh’afũnĩwa kãdũ yaqtulũnanĩ, fa lã tusymit biyal a’dã-a wa lã taj’alnĩma’al qoumizh zhōlimĩn.

150. Dan setelah Musa kembali ke kaumnya dalam keadaan marah dan sedih hati, berkatalah ia: “Alangkah buruknya (perbuatan kamu) yang mengganti (ajaran)-ku sesudah kepergianku, apakah kamu akan mendahului perintah Rabmu?” Dan Musa melemparkan batu tulis (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya, (Harun) berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kamu telah menjadikan aku lemah dan hampir-hampir mereka membunuh aku, maka janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu memasukkan aku beserta orang-orang yang lalim itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: NabiMusa melihat kenyataan umatnya tidak mematuhi apa yang disampaikan NabiHarun, dan berbuat sekehendaknya sendiri. NabiMusa menjadi marah dan sedih. Setelah mendapat penjelasan dari NabiHarun, maka NabiMusa berdoa seperti pada ayat berikut.

qōla = Musa berdoa; robbighfirlĩ= Yã Rab ampunilah aku; waliakhĩ= dan saudaraku; wa adkhilnã = danmasukkanlah Aku; fĩrohmatik = ke rahmat-Mu; wa anta = dan Engkau; arhamur rōhimĩn = Maha Penyayang di antara para penyayang.

qōla robbighfir lĩwaliakhĩwa adkhilnã fĩrohmatik, wa anta arhamur rōhimĩn.

151. Musa berdoa: “Ya Rab, ampunilah aku dan saudaraku, dan masukkanlah Aku ke rahmat-Mu, dan Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kita harus meneladani doa NabiMusa saat Beliau menghadapi berbagai persoalan sulit dan berat bersama saudaranya Harun. “anta arhamur rōhimĩn” lihat Q.s. …

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; it takhadzũ = (mereka menjadikan; al ’ijla = anak lembu; sayanãluhum = kelak mereka akan ditimpa; ghodhobum = kemurkaan; mir robbihim = dari Rab mereka; wadzillatun = dan kehinaan; fil hayãti = dalam kehidupan; ad dunyã = dunia; wa kadzãlika = dan demikian itu; najzĩ= Aku memberi balasan; al muftarĩn = orang-orang yang membuat kebohongan.

innal ladzĩnat takhadzũl ’ijla sayanãluhum ghodhobum mir robbihim wadzillatun fil hayãtid dunyã, wa kadzãlika najzĩl muftarĩn.

152. Sesungguhnya, orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai ilah = sesembahan), kelak akan ditimpa kemurkaan dari Rab mereka, dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah, Aku memberi balasan kepada orang-orang yang membuat kebohongan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Balasan Allah kepada orang-orang yang suka berbohong adalah siksaan dan hinaan di dunia dan terlebih-lebih di akhirat. Di dunia masih mungkin ada ampunan.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; ‘amilu = (mereka) mengerjakan; as sayyiãti = kejahatan; tsumma = kemudian; tãbũ = mereka bertobat; mim ba’dihã = dari sesudahnya; wa ãmanũ = dan beriman; inna = sesungguhnya; robbaka = Rabmu; mim ba’dihã = dari sesudahnya; la = sungguh; ghofũrur rohĩm = Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

wal ladzĩna ‘amilus sayyiãti tsumma tãbũ mim ba’dihã wa ãmanũ inna robbaka mim ba’dihã la ghofũrur rohĩm.

153. Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan, kemudian sesudah itu bertaubat dan beriman, maka sesungguhnya sesudah itu Rab kamu adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Betapa pun jahatnya orang di dunia, kalau jauh sebelum meninggal dunia mereka bertobat, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

wa lammã = dan setelah; sakata = diam, reda; ‘am mũsa = dari Musa; al ghodhobu = amarah; akhodza = dia mengambil; al alwãh = batu tulis (Taurat); wa fĩ= dan di dalam; nukhatihã = naskahnya, tulisannya; hudan = petunjuk; wa rohmatu = dan rahmat; lilladzĩna = bagi orang-orang yang …; hum = mereka; li robbihim = kepada Rab mereka; yarhabũn = mereka takut.

wa lammã sakata ‘am mũsal ghodhobu akhodza al alwãh, wa fĩnukhatihã hudan wa rohmatul lilladzĩna hum li robbihim yarhabũn.

154. Setelah amarah Musa reda, lalu dia mengambil batu tulis (Taurat) dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Rabnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: batu tulis (Taurat) itu berisi petunjuk dan rahmat dari Allah Rabul ‘alamin, bagi yang takut (takwa) kepada-Nya.

wakhtãro = dan memilih; Mũsã = Musa; qoumahũ = kaumnya; sab’ĩna = tujuh puluh; rojulan = orang laki-laki; limĩqōtinã = untuk waktu yang telah Aku tentukan; fa lammã = maka ketika; akhodzat = menimpa; humu = mereka ar rojfatu = gempa; qōla = dia (Musa); robbi = yã Rabku; lau = kalau, jika; syi’ta = Engkau menghendaki; ahlaktahum = Engkau membinasakan mereka; min qoblu = dari sebelum ini; wa iyyãya = dan aku; atuhlikunã = apakah Engkau akan membinasakan Aku; bimã = dengan sebab; fa’ala = perbuatan; as sufahã-u = orang-orang yang bodoh; minnã = di antara Aku; in hiya = tidaklah itu; illã = melainkan; fitnatuka = cobaan Engkau; tudhillu = Engkau menyesatkan; bihã = dengannya; man tasyã-u = siapa yang Engkau kehendaki; wa tahdĩ= dan Engkau memberi petunjuk; man tasyã-u = siapa yang Engkau kehendaki; anta = Engkau; waliyyunã = Pelindung Aku; faghfir = maka maafkanlah/ampunilah; lanã = bagi Aku; warhamnã = dan berilah Aku rahmat; wa anta = dan Engkau; khoirul ghōfirĩn = Pemberi ampun yang sebaik-baikinya.

wakhtãro Mũsã qoumahũ sab’ĩna rojulal limĩqōtinã, falammã akhodzat humur rojfatu qōla robbi lau syi’ta ahlaktahum min qoblu wa iyyãya, atuhlikunã bimã fa’alas sufahã-u minnã, in hiya illã fitnatuka, tudhillu bihã man tasyã-u wa tahdĩman tasyã-u, anta waliyyunã faghfir lanã warhamnã, wa anta khoirul ghōfirĩn.

155. Dan Musa memilih tujuh puluh orang laki-laki dari kaumnya untuk (memohon taubat kepada Aku) pada waktu yang telah Aku tentukan. Maka ketika gempa menimpa mereka, dia, Musa berkata: “Yã Rab Aku, jika Engkau menghendaki, tentu Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini, apakah Engkau akan membinasakan Aku dengan sebab perbuatan orang-orang bodoh di antara Aku? Itu hanya cobaan Engkau. Engkau menyesatkan dengan coban itu kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki, Engkaulah pelindung Aku, maka ampunilah Aku dan berilah Aku rahmat, dan Engkaulah sebaik-baik Pemberi ampun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ayat ini merupakan alur balik dari ayat 152, 153, 154

waktub = dan tetapkanlah; lanã = bagi Aku; fĩhãdzihi = dari ini; ad dunyã = di dunia; hasanatan = kebaikan; wa fil ãkhiroti = dan di akhirat; innã = sesungguhnya; hudnã = Aku kembali (bertaubat); ilaika = kepada Engkau; qōla = (Allah) bersabda; ‘adzãbĩ= azab-Ku; ushĩbu = Aku timpakan; bihĩ= dengannya; man = siapa; asyã-u = Aku kehendaki; wa rohmatĩ= dan rahmat-Ku; wasi’at = luas, meliputi; kulla = segala; syai-in = sesuatu; fa sa’aktubuhã = maka Aku akan menetapkan; lilladzĩna = untuk orang-orang; yattaqũna = mereka takwa; wa yu’tũna = dan mereka menunaikan; az zakãta = zakat; wal ladzĩna = dan orang-orang yang …; hum = mereka; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; yu’minũn = mereka beriman.

waktub lanã fĩhãdzihid dunyã hasanatan wa fil ãkhiroti innã hudnã ilaika, qōla ‘adzãbĩushĩbu bihĩman asyã-u, wa rohmatĩwasi’at kulla syai-in, fa sa’aktubuhã lilladzĩna yattaqũna wa yu’tũnaz zakãta wal ladzĩna hum bi ãyãtinã yu’minũn.

156. Dan tetapkanlah bagi Aku kebaikan di dunia dan di akhirat, sesungguhnya Aku bertaubat kembali kepada Engkau. Allah bersabda: “Azabku akan Kutimpakan kepada siapa yang Kukehendaki, dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu; maka Aku akan menetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang takwa, dan yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Aku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia berkewajiban memohon kepada Allah segala apa yang diperlukan untuk kebaikan di dunia dan di akhirat. Allah mempunyai azab yang akan ditimpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Rahmat Allah itu meliputi segala sesuatu, namun Allah mengutamakan rahmat-Nya di akhirat hanya kepada orang-orang yang takwa, orang-orang yang menunaikan zakat, dan yang beriman kepada ayat-ayat-Nya.

alladzĩna = orang-orang yang…; yattabi’ũna = (mereka) mengikuti; ar rosũla = Rasul; an nabiyya = Nabi; al ummiyya = tidak pandai menulis; al ladzĩ= yang; yajidũnahũ = mereka mendapatinya; maktũban = tertulis; ‘indahum = pada mereka; fi taurōti = di Taurat; wal injĩli = dan Injil; ya’muruhum = (Nabi) menyuruh mereka; bil ma’rũfi = mengerjakan yang ma’ruf; wayanhãhum = dan melarang mereka; ‘anil munkari = dari yang mungkar; wayuhillu = dan menghalalkan; lahumu = bagi mereka; ath thoyyibãti = yang baik-baik; wayuharrimu = dan mengharamkan; ‘alaihimu = atas mereka; al khobãitsa = yang jelek-jelek; wa yadha’u = dan membuang; ‘anhum = dari mereka; ishrohum = beban mereka; wa aghlãla = belenggu-belenggu; al latĩ= yang; kãnat = adalah; ‘alaihim = atas mereka; fal ladzĩna = maka orang-orang yang …; ãmanũ = beriman; bihĩ= kepadanya; wa ‘azzarũhu = dan mereka memuliakannya; wat tabã’ũ = dan mereka mengikuti; an nũro = penerangan yang jelas; al ladzĩ= yang; unzila = diturukan; ma’ahũ = kepadanya; ulãika = mereka itulah; humu = mereka; al muflihũn = orang-orang yang beruntung.

alladzĩna yattabi’ũnar rosũlan nabiyyal ummiyyal ladzĩyajidũnahũ maktũban ‘indahum fi taurōti, wal injĩli ya’muruhum bil ma’rũfi wayanhãhum ‘anil munkari wayuhillu lahumuth thoyyibãti wayuharrimu ‘alaihimul khobãitsa wa yadha’u ‘anhum ishrohum wa aghlãlal latĩ kãnat ‘alaihim, fal ladzĩna ãmanũ bihĩwa ‘azzarũhu wat tabã’ũn nũrol ladzĩunzila ma’ahũ, ulãika humul muflihũn

157. Yaitu orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabiyang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Nabiitu menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf, dan melarang yang mungkar, dan menghalalkan bagi mereka yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka yang jelek-jelek, dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, dan memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti penerangan yang jelas yang diturunkan kepadanya (Alquran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabiitu harus dĩkuti nasihatnya. Orang yang beriman harus memuliakannya, menolongnya. Memulikan Rasulullah berarti memuliakan diri sendiri. Menolong Rasulullah berarti membantu menyebar-luaskan wahyu yang diterima dari Allah, dan ilmunya untuk dipelajari orang lain.

qul = katakanlah; yã ayyuhan nãsu = wahai manusia; innĩ= sesungguhnya aku; rosulullãhi Rasul Allah; ilaikum = untuk kamu; jamĩan = semua; il ladzĩ= yang; lahũ = bagi-Nya (Memiliki); mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; lã ilãha = yidak ada ilah (sesembahan); illã = kecuali, selain; huwa = Dia; yuhyĩ= Yang menghidupkan; wa yumĩt = dan mematikan; fa ãminũ = maka berimanlah kamu; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihin = dan Rasul-Nya; an nabbiyyi = Nabi; al ummiyyi = yang tidak bisa menulis; al ladzĩ= yang; yu’minu = dia beriman; billãhi = kepada Allah; wa kalimãtihĩ= dan kata-kata-Nya; wattabi’ũhu = dan ikutilah dia; la’alakum = agar kamu; tahtadũn = kamu mendapat petunjuk.

qul yã ayyuhan nãsu innĩrosulullãhi ilaikum jamĩanil ladzĩlahũ mulkus samãwãti wal ardhi, lã ilãha illã huwa yuhyĩwa yumĩt, fa ãminũ billãhi wa rosũlihin nabbiyyil ummiyyil ladzĩyu’minu billãhi wa kalimãtihĩwattabi’ũhu la’alakum tahtadũn.

158. Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Dialah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada ilah selain Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, dan Nabiyang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kata-kata-Nya (kitab-kitab-Nya), dan ikutilah dia agar kamu mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. diminta Allah menunjukkan jati dirinya dan Jati Diri Allah agar manusia mau beriman kepada Nabidan kepada Allah serta mengikuti petunjuk-Nya.

wa min qoumi = dan di antara kaum; mũsã = Musa; ummatun = umat; yahdũna = mereka memberi petunjuk; bil haggi = dengan hak; wa bihĩ= dan dengan itu (karena itu); ya’dilũn = mereka menjalankan keadilan.

wa min qoumi mũsã ummatun yahdũna bil haggi, wa bihĩya’dilũn.

159. Dan di antara kaum Musa, ada umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan hak, karena itu mereka menjalankan keadilan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pemberitahuan Allah kepada umat manusia tentang sebagian umat NabiMusa yang memberi petunjuk yang benar dan adil.

wa qoththo’nãhumu = dan Aku bagi mereka; itsnatai ‘asyrota = dua belas; asbãthan = suku-suku; umamaan = umat-umat, kaum-kaum; wa auhainã = dan Aku wahyukan; ilã = kepada; mũsã = Musa; idzistasqōhu = ketika meminta air kepadanya; qoumuhũ = kaumnya; anidhrib = pukullah; bi’ashōka = dengan tongkatmu; al hajar = batu itu; fambajasat = maka memancarlah; minhu = darinya; itsnatã ‘asyrota = dua belas; ‘ainan = mata air; qod = sungguh; ‘alima = mengetahui; kullu = tiap-tiap; unãsin = manusia; masyrobahum = tempat minum mereka; wa zhollalnã = dan Aku naungkan; ‘alaihimu = kepada mereka; al ghomãma = awan; wa anzalnã = dan Aku turunkan; ‘alaihimu = kepada mereka; al manna = manna (makanan semanis madu); wassalwã = dan salwa (sejenis burung puyuh); kulũ = makanlah; min thoyyibãti = dari yang baik-baik; mã rozaqnãkum = apa yang Aku rezekikan kepadamu; wa mã zholamũnã = dan mereka tidak menganiaya Aku; wa lãkin = tetapi; kãnũ = mereka adalah …; anfusahum = diri mereka sendiri; yazhlimũn = melalimi.

wa qoththo’nãhumutsnatai ‘asyrota asbãthan umamaan, wa auhainã ilã mũsã idzistasqōhu qoumuhũ anidhrib bi’ashōkal hajar, fambajasat minhutsnatã ‘asyrota ‘ainan, qod ‘alima kullu unãsim masyrobahum, wa zhollalnã ‘alaihimul ghomãma wa anzalnã ‘alaihimul manna wassalwã, kulũ min thoyyibãti mã rozaqnãkum, wa mã zholamũnã wa lãkin kãnũ anfusahum yazhlimũn.

160. Dan mereka Aku bagi menjadi dua belas suku sebagi kaum-kaum dan Aku wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu.” Maka memancarlah dari batu itu dua belas mata air. Tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Aku naungkan awan di atas mereka, dan Aku turunkan kepada mereka manna (makanan manis seperti madu) dan salwa (sebangsa burung puyuh). Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Aku rezekikan kepadamu. Mereka tidak menganiaya Aku, tetapi merekalah yang menganiaya dirinya sendiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membuat manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Semuanya ditentukan rezeki hidupnya. Semuanya dilindungi sesuai pada tempat kedudukannya masing-masing. Allah menyediakan berbagai kemudahan untuk hidup manusia. Manusia juga harus berupaya meraih berbagai kemudahan yang disediakan, dan Allah memerintah memakan makanan yang baik-baik dari apa yang telah disediakan di alam ini.

wa idz = dan ketika; qĩla = dikatakan; lahumu = kepada mereka; us kunũ = berdiamlah; hãdzihi = ini; al qoryata = negeri; wa kulũ = dan makanlah; min hã = darinya; haitsu = di mana saja; syi’tum = kamu kehendaki; wa qũlũ = dan makanlah; hiththotun = bebaskanlah dari dosa Aku; wad khulũ = dan masukilah; al albãbba = pintu gerbang; sujjadan = merunduk; naghfir = Aku akan mengampuni; lakum = bagi kamu; khothĩ’ãtikum = kesalahan-kesalahan kamu; sanazĩdu = akan Aku tambah; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa idz qĩla lahumus kunũ hãdzihil qoryata wa kulũ min hã haitsu syi’tum wa qũlũ hiththotun wad khulũl albabba sujadan naghfir lakum khothĩ’ãtikum, sanazĩdul muhsinĩn,

161. dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil): “Berdimlah di negeri ini (Baitul Makdis) dan makanlah dari (hasil) buminya di mana saja yang kamu kehendaki”, dan katakanlah: “Bebaskanlah Aku dari dosa Aku, dan masukilah pintu gerbangnya sambil merunduk (merendahkan diri), niscaya Aku akan mengampuni kesalahan-kesalahan kamu, Aku akan menambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan tempat tinggal sekelompok orang, dan disediakan-Nya berbagai rezeki di lingkungan hidupnya. Allah juga menganjurkan agar manusia mempunyai kebiasaan untuk berdoa kepada Allah, memohon ampun kalau melakukan kesalahan dalam menjalani hidup, dan berlaku santun kalau kita bertempat tinggal di suatu tempat. Jangan sombong, harus berbuat kebaikan. Allah akan memberikan ampunan, dan pahala kenikmatan, keselamatan, ketenangan, kesenangan kalau kita berlaku adil, berbuat baik.

fa baddala = maka mengganti; al ladzĩna = orang orang yang …; zholamũ = lalim; min hum = di antara mereka; qoulan = perkataan; ghoiri = bukan; al ladzĩ= yang; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; fa arsalnã = maka Aku kirimkan, timpakan; ‘alaihim = kepada mereka; rijzan = azab; mina = dari; as samã-i = langit; bimã = karena; kãnũ = mereka adalah; yazhlimũn = berbuat lalim.

fa baddalal ladzĩna zholamũ min hum qoulan ghoiril ladzĩqĩla lahum fa arsalnã ‘alaihim rijzam minas samã-i bimã kãnũ yazhlimũn.

162. Maka, orang orang lalim di antara mereka mengganti perkataan dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Aku timpakan atas mereka azab dari langit, karena mereka berbuat lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah itu tidak boleh diubah, diganti, ditukar kata-katanya karena akan menimbulkan perubahan makna, perbedaan arti, akhirnya menimbulkan ketidakadilan. Mereka jadi berbuat lalim. Segala kelaliman berakibat ketidaknyaman hidup. Azab Allah akan turun bila manusia berbuat lalim.

was alhum = dan tanyakan kepada mereka; ani = tentang; al qoryati = sebuah negeri; al latĩ= yang; kãnat = adalah; hãdhirota = hadir, dekat; al bahri = laut; idz = ketika; ya’dũna = mereka melanggar aturan; fis sabti = pada hari Sabtu; idz ta’tĩhim = ketika dating kepada mereka; hĩtaanuhum = ikan-ikan mereka; yauma = pada hari; sabtihim = Sabtu mereka; syurroan = permukaan air; wa yauma = dan hari; lã yasbitũna = bukan gari Sabat; lã ta’tĩhim = ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka; kadzãlika = begitulah; nablũhum = Aku uji mereka; bimã = karena; kãnũ = mereka itu; yafsuqũn = mereka berbuat bodoh

was alhum anil qoryatil latĩ kãnat hãdhirotal bahri, idz ya’dũna fis sabti idz ta’tĩhim hĩtaanuhum yauma sabtihim syurroan wa yauma lã yasbitũna, lã ta’tĩhim, kadzãlika nablũhum bimã kãnũ yafsuqũn.

163. Dan, tanyakan kepada mereka (Bani Israil) tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, yaitu ketika datang ikan, tampak di permukaan air di sekitar mereka, sedang di hari yang bukan hari Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah, Aku uji mereka, karena mereka berbuat bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Negeri yang dimaksud terletak di pantai Laut Merah antara kota Madyan dengan Bukit Thur. Ada aturan mereka tidak boleh bekerja pada hari Sabtu, karena hari Sabtu dikhususkan sebagai hari ibadah. Allah memberi cobaan, dalam rangka pembelajaran, pada setiap hari ibadah mereka, ikan banyak melimpah-ruah di permukaan air, sedang hari-hari lain, ikan-ikan itu tidak ada.

wa idz = dan ketika; qōlat = berkata; ummatun = suatu umat; min hum = di antara mereka; li ma = mengapa; ta’izhũna = kamu menasihati; qouman = kaum; allãhu = Allah; muhlikuhum = membinasakan mereka; au mu’adzibuhum = atau mengazab mereka; ‘adzãban = azab; syadĩdã = sangat keras; qōlũ = mereka berkata; ma’dzirotan = alas an; ilã robbikum = kepada Rab kamu; wa la’allahum = dan agar mereka; yattaqũn = mereka bertakwa.

wa idz qōlat ummatum min hum li ma ta’izhũna qouman allãhu muhlikuhum au mu’adzibuhum ‘adzãban syadĩdã, qōlũ ma’dzirotan ilã robbikum wa la’allahum yattaqũn.

164. Dan, ketika suatu umat di antara nereka berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan diazab dengan azab yang keras, dan akan dibinasakan?” Mereka berkata: “(Aku menasihati itu) agar mempunyai alasan kepada Rabmu, dan agar mereka bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran dari Allah, manusia itu harus diberi peringatan, nasihat tentang azab yang sangat keras kelak di akhirat, agar mereka bertakwa.

fa lammã = maka setelah; nasũu = mereka melupakan; mã dzukkirũ = apa yang diperingatkan kepada mereka; bihĩ= dengannya; an jainã = Aku selamatkan; al ladzĩna = orang-orang yang; yanhauna = mereka melarang; ‘ani = dari; as sũ-i = berbuat jahat; wa akhodznã = dan Aku timpakan; al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; bi ‘adzabin = dengan azab; ba-ĩsin = yang keras; bimã = karena; kãnũ = mereka adalah; yafsuqũn = mereka berbuat bodoh.

fa lammã nasũu mã dzukkirũ bihĩan jainãl ladzĩna yanhauna ‘anis sũ-i wa akhodznãl ladzĩna zholamũ bi ‘adzabim ba-ĩsim bimã kãnũ yafsuqũn.

165. Maka, setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Aku selamatkan orang-orang yang melarang berbuat jahat, dan Aku timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, karena mereka selalu berbuat bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran kepada manusia, bagaimana menjalani hidup. Hidup akan diberi keselamatan oleh Allah, kalau manusia itu mau melarang berbuat jahat kepada orang lain. Tentunya dengan memberi contoh bagaimana selalu berbuat baik. Orang-orang lalim ditimpa siksa karena mereka bertindak bodoh. Tahu hal yang salah tapi melakukannya. Demikian itu mereka berbuat bodoh.

fa lammã = maka setelah; ‘atau = mereka melanggar; ‘am mã = terhadap apa; nuhũ = mereka dilarang; ‘anhu = dari mengerjakannya; qulna = Aku katakan; lahum = kepada mereka; kũnũ = jadilah kamu; qirodatan = kera; khãsi-in = yang hina.

fa lammã ‘atau ‘am mã nuhũ ‘anhu qulna lahum kũnũ qirodatan khãsi-in.

166. Maka, setelah mereka melanggar pada apa yang dilarang mengerjakannya, Aku katakan kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran bagi manusia, mereka yang mengerjakan apa yang dilarang itu jadi bersifat kera, rakus, jika mendapat rezeki tidak mau memikirkan orang lain. Perasaannya rezeki yang didapat hanya untuk dirinya sendiri. Padahal rezeki itu bisa berfungsi sosial, untuk menyantuni orang lain. Kera yang hina dimaksudkan gambaran manusia yang bersifat sangat jelek. Manusia yang tidak berperikemanusiãn, tidak berperikeadilan soaial, tidak bertenggang rasa.

wa idz = dan ketika; ta-adzdzana = memberitahukan; robbuka = Rab kamu; layab’atsanna = sungguh Dia akan mengirimkan; ‘alaihim = kepada mereka; ilã yaumi = sampai hari; al qiyãmati = kiamat; man = siapa/orang; yasũmuhum = akan menimpakan kepada mereka; sũ-a = seburuk-buruk; al ‘adzãb = azab; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; la sarĩ’u = amat cepat; al ‘iqōb = siksa-Nya; wa innahũ = dan sesungguhnya Dia; laghofũron = sungguh Maha Pengampun; rohĩm = Maha Penyayang.

wa idz ta-adzdzana robbuka layab’atsanna ‘alaihim ilã yaumil qiyãmati man yasũmuhum sũ-al ‘adzãb, inna robbaka la sarĩ’ul ‘iqōb, wa innahũ laghofũror rohĩm.

167. Dan, Ketika Rab kamu memberi tahu: “Sungguh Dia akan mengirimkan orang-orang yang akan menimpakan azab yang sangat buruk kepada mereka (orang Yahudi) sampai Hari Kiamat.” Sesungguhnya Rab kamu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan mengirimkan orang-orang yang akan menimpakan azab yang sangat buruk kepada orang-orang Yahudi sampai Hari Kiamat. Sampai hari ini orang-orang Yahudi di Palestina dan di Amerika masih memperjuangkan hak-hak hidupnya untuk mendirikan Negara Israil di Palestina, Apakah ini yang dimaksud ayat ini?

wa qoththo’nahum = dan Aku membagi-bagi mereka; fil ardhi = di bumi; umamaan = beberapa golongan; min humu = di antara mereka; ash shōlihũna = orang-orang yang saleh; wa min hum = dan di antara mereka; dũna dzãlika = tidak demikian; wa balaunãhum = dan Aku coba mereka; bil hasanaati = dengan yang baik-baik; wasy syayyi-ãti = dan yang buruk-buruk; la’allahum = agar mereka; yar ji’ũn = mereka kembali.

wa qoththo’nahum fil ardhi umamam min humush shōlihũna wa min hum dũna dzãlika, wa balaunãhum bil hasanaati wasy syayyi-ãti la’allahum yar ji’ũn.

168. Dan Aku membagi-bagi mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan di antara mereka dan orang-orang yang saleh, dan di antaranya yang tidak demikian. Dan Aku coba mereka yang baik-baik (yang nikmat-nikmat) dan yang jelek-jelek (bencana, dan lain-lain) agar mereka kembali (ke jalan Allah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membagi-bagi manusia ada yang dilihat dari ciri-ciri fisik, dan dari ciri-ciri nonfisik, berdasarkan bangsa, suku, budaya, agama, dan lain-lain. Dari segi agama, ada yang saleh dan yang tidak saleh. Semuanya diberi cobaan, agar mereka kembali ke jalan Allah.

fa kholafa = maka datang generasi pengganti; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; kholfun = pengganti (generasi); waritsu = mereka mewarisi; al kitãaba = Alkitab; ya’khudzuna = mereka mengambil; ‘arodho = harta benda dunia; hãdzã = ini; al adnã = yang rendah; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; sayughfaru = akan diampuni; lana = bagi Aku; wa in = dan jika; ya’tihim = datang kepada mereka; ‘arodhun = harta benda dunia; mitsluhũ = semisal (sebanyak itu); ya’khudzũh = mereka mengambilnya; alam yu’khadz = bukankah diambil; ‘alaihim = atas mereka; mĩtsãqu = perjanjian; al kitãbi = Kitab; al lã yaqũlũ = bahwa mereka tidak mengatakan; ‘alãllãhi = terhadap Allah; illa = kecuali; al haqqo = yang benar; wa darosũ = dan mereka mempelajari; mã fĩhi = apa yang di dalamnya; wad dãru = dan kampung; al akhĩrotu = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; yattaqũn = (mereka) bertakwa; afa lã = maka, apakah tidak; ta’qilũn = kamu tidak berakal.

fa kholafa mim ba’dihim kholfun waritsul kitãaba ya’khudzuna ‘arodho hãdzãl adnã wa yaqũlũna sayughfaru lana wa in ya’tihim ‘arodhum mitsluhũ ya’khudzũh, alam yu’khadz ‘alaihim mĩtsãqul kitãbi al lã yaqũlũ ‘alãllãhi illal haqqo wa darosũ mã fĩh, wad dãrul akhĩrotu khoirul lilladzĩna yattaqũn, afa lã ta’qilũn.

169. Maka datang generasi sesudah mereka yang mewarisi Kitab, mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan mereka mengatakan: “Aku akan diampuni.” Padahal, jika datang kepada mereka harta benda yang sebanyak itu, niscaya mereka akan mengambilnya juga. Bukanlah perjanjian Kitab (Taurat) sudah diterima oleh mereka, bahwa mereka tidak mengatakan kepada Allah, kecuali yang benar, dan mereka mempelajari isi di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang takwa, apakah kamu tidak berakal?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan generasi yang akan datang terlalu mementingkan harta benda dunia, padahal di dalam Alkitabnya sudah ada perjanjian, bahwa manusia itu harus tidak terlalu mementingkan harta dunia dan akan selalu menjaga kebenaran dan keadilan. Harta dunia ini harus digunakan untuk kepentingan akhirat. Artinya harus dipergunakan dengan baik untuk kepentingan akhirat.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yamassikũna = (mereka) berpegang teguh; bil kitãbi = dengan Kitab; wa aqōmush sholãta = dan mendirikan salat; innã = sesungguhnya Aku; lã nudhĩ’u = Aku tidak menyia-nyiakan; ajrol = pahala; mushlihĩn = orang-orang yang melakukan perbaikan

wal ladzĩna yamassikũna bil kitãbi wa aqōmush sholãta, innã lã nudhĩ’u ajrol mushlihĩn.

170. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Kitab dan mereka mendirikan salat, sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan perbaikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa kita harus berpegang teguh pada isi Alkitab dan menidirikan salat, dan selalu melakukan perbaikan kalau kita tidak mau disia-siakan di akhirat nanti.

wa idz = dan ketika; nataqnã = Aku angkat; al jabala = gunung; fauqohum = di atas mereka; ka-annahũ = seakan-akan; zhullatun = naungan; wa zhonnu = dan mereka mengira; annahũ = ia (gunung) wãqium = menmpa; bihim = kepada mereka; khudzũ = ambillah; mã ãtainãkum = apa yang telah Aku berikan kepadamu; bi quwwatin = dengan kuat; wadzkurũ = dan ingatlah; mã fĩhi = apa yang di dalamnya; la’allakum = supaya kamu; tattaqũn = bertakwa.

wa idz nataqnal jabala fauqohum ka-annahũ zhullatun wa zhonnu annahũ wãqium bihim khudzũ mã ãtainãkum bi quwwatin wadzkurũ mã fĩhi la’allakum tattaqũn.

171. Dan (ingatlah) ketika Aku mengangkat gunung di atas mereka, seakan-akan sebagai naungan, dan mereka mengira, ia (gunung) itu menimpa kepada mereka. (Aku katakan kepada mereka): Peganglah dengan kuat apa yang telah Aku berikan kepadamu, dan ingatlah, apa yang ada di dalamnya, supaya kamu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berbuat sekehendak-Nya. Gunung diangkat-Nya. Dibuat-Nya gunung itu seakan-akan sebagai naungan dan menjadi peringatan kepada manusia agar selalu berpegang kuat-kuat pada peraturan yang ada di dalam Alkitab yang telah diberikan.

wa idz = dan ketika; akhodza = mengeluarkan, menurunkan; robbuka = Rab kamu; mim banĩãdama = dari anak-anak Adam; min zhuhũrihim = dari sulbi mereka; dzurriyyatahum = keturunan mereka; wa asyhadahum = dan (Allah) mengambil saksi dari mereka; ‘alã anfusihim = atas jiawa mereka; alastu = bukankah Aku ini; birobbikum = dengan Rab kamu; qōlũ = (mereka) menjawab; balã = ya, benar; syahidnã = Aku bersaksi; an taqũlũ = supaya kamu (tidak) mengatakan; yaumal qiyãmati = ketika Hari Kiamat; innã = sesungguhnya; kunnã = Aku adalah; ‘an hãdzã = tentang ini; ghōfilĩn = orang-orang yang lalai.

wa idz akhodza robbuka mim banĩãdama min zhuhũrihim dzurriyyatahum wa asyhadahum ‘alã anfusihim alastu birobbikum, qōlũ balã, syahidnã an taqũlũ yaumal qiyãmati innã kunnã ‘an hãdzã ghōfilĩn.

172. Dan (ingatlah) ketika Rab kamu menurunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengabil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya Allah berfirman): “ Bukankah Aku ini Rab kamu?” Mereka menjawab: “Ya, betul, Aku bersaksi.” Supaya nanti kamu pada Hari Kiamat tidak mengatakan: “Sesungguhnya, Aku orang-orang yang lalai (tidak diberi peringatan) tentang hal ini (keesaan Allah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sudah membuat persaksian sejak keturunan Adam yang pertama dalam kandungan sampai sekarang, bahwa hanya Allahlah satu-satunya Penguasa makhluk-Nya.

au taqũlũ = atau supaya kamu (tidak) mengatakan; innamã = sesungguhnya; asyroka = telah menyekutukan; ãbã-unã = bapak-bapak Aku; min qoblu = sejak dahulu; wa kunnã = dan Aku adalah; dzurriyyatan = keturunan; min = dari; ba’dihim = sesudah mereka; afatuhlikunã = apakah Engkau akan membinasakan Aku; bimã = disebabkan; fa’ala = perbuatan; al mubthilũn = orang-orang yang sesat.

au taqũlũ innamã asyroka ãbã-unã min qoblu wa kunnã dzurriyyatam mim ba’dihim, afatuhlikunã bimã fa’alal mubthilũn.

173. Atau, supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya, hanya bapak-bapak Aku yang telah menyekutukan (Allah) sejak dahulu, sedang Aku adalah keturunan yang datang sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan Aku karena perbuatan sesat orang-orang (dahulu).”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, jangan menyalahkan bapak-bapak mereka, jika manusia generasi sekarang ada yang sesat mempersekutukan Allah dengan ilah lain, karena jiwa mereka sebelum lahir sudah menjadi saksi atas keesaan Allah.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nufashshilu = Aku menjelaskan; al ãyãati = ayat-ayat itu; wa la’allahum = dan agar mereka; yarji’ũn = mereka kembali.

wa kadzãlika nufashshilul ãyãati wa la’allahum yarji’ũn.

174. Dan demikianlah, Aku menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali pada kebenaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Demikianlah, Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Jangan menyekutukan Allah dengan selain-Nya.

watlu = dan bacakanlah; ‘alaihim = kepada mereka; naba’a = berita; al ladzĩ= orang yang; ãtainãhu = telah Aku beri kepadanya; ãyãtinã = ayat-ayat-Ku; fansalakha = kemudian mereka melepaskan diri; minhã = dari ayat-ayat itu; fa = lalu; atba’ahu = ia mengikutinya; asy syaithōnu = setan; fa kãna = maka, dia termasuk; min = dari; al ghōwĩn = orang-orang yang sesat.

watlu ‘alaihim naba’al ladzĩãtainãhu ãyãtinã fansalakha minhã fa atba’ahusy syaithōnu fa kãna minal ghōwĩn.

175. Dan bacakanlah kepada mereka, berita orang yang telah Aku beri ayat-ayat-Ku, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu ia mengikuti setan, maka dia termasuk orang-orang sesat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan untuk membacakan berita orang yang telah diberi ayat-ayat-Nya, dan mereka melepaskannya, sehingga mereka tersesat. Ini adalah peringatan Allah, agar manusia tidak termasuk orang-orang yang sesat.

wa lau = dan kalau; syi’nã = Aku menghendaki; larofa’nãhu = niscaya Aku tinggikan ia; bihã = dengan ayat-ayat itu; wa lãkinnahũ = tetapi dia; akhlada = dia cenderung; ila = ke; al ardhĩ= bumi; wattãba’a = dan dia mengikuti; hawãh = hawa nafsunya; fa matsaluhũ = maka perumpamaannya; kamatsali = seperti; al kalbi = anjing; in tahmil = jika kamu menghalau; ‘alaihi = kepadanya; yalhats = ia menjulurkan lidahnya; aw tatruk-hu = atau kamu membiarkannya; yalhats = ia menjulurkan lidahnya; dzãlika = demikian itu; matsalu = perumpamaan; al qoumi = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzabũ = (mereka mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Aku; faq shushi = maka ceriterakanlah; al qoshosho = kisah-kisah; la’allahum = agar mereka; yatafakkarũn = mereka berpikir.

wa lau syi’nã larofa’nãhu bihã wa lãkinnahũ akhlada ilãl ardhĩwattãba’a hawãh, fa matsaluhũ kamatsalil kalbi, in tahmil ‘alaihi yalhats aw tatruk-hu yalhats dzãlika matsalul qoumil ladzĩna kadzabũ bi ãyãtinã, faq shushil qoshosho la’allahum yatafakkarũn.

176. Dan kalau Aku menghendaki, niscaya Aku tinggikan (derajat)-nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya, maka, perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya, ia mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia menjulurkan lidah juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku. Maka, ceriterakanlah kisah-kisah itu (kepada mereka) agar mereka berpikir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menentukan derajat orang dengan ujian iman atau tidak iman kepada ayat-ayat-Nya. Allah mengingatkan, manusia, pada umumnya cenderung memikirkan dunia. Seharusnya ada keseimbangan antara memikirkan dunia dengan memikirkan akhirat. Memikirkan dunia ditujukan untuk kepentingan akhirat.

sã-a = amat buruk; matsalan = perumpamaan; al qoumu = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi ãyãtinã = (dengan) ayat-ayat-Ku; wa anfusahum = dan diri sendiri; kãnũ = mereka adalah; yazhlimũn = mereka berbuat lalim.

sã-a matsalanil qoumul ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã wa anfusahum kãnũ yazhlimũn.

177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, dan (kepada) diri mereka sendirilah mereka berbuat lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau manusia menganggap ayat-ayat Allah itu dusta, berarti mereka melalimi diri mereka sendiri.

man = barang siapa; yahdillãhu = yang diberi petunjuk oleh Allah; fa huwa = maka dia; al muhtadĩ= orang yang mendapat petunjuk; wa man = dan barang siapa; yudhlil = Dia menyesatkan; fa’ũlãika = maka mereka itulah; humu = mereka itulah; al khōsirũn = orang-orang yang merugi

man yahdillãhu fa huwal muhtadĩ, wa man yudhlil fa’ũlãika humul khōsirũn.

178. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang Dia sesatkan, maka mereka itulah orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sangat menentukan orang-orang yang diberi petunjuk, dan orang-orang yang tidak diberi petunjuk. Orang yang diberi petunjuk adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan mau membaca Alquran serta mau mengikuti perintah dan menjauhi larangan Nabi. Sebaliknya mereka yang disesatkan Allah, amat rugi.

wa laqod = dan sesungguhnya; dzaro’nã = Aku jadikan; li jahannama = untuk mereka jahanam; katsĩron = kebanyakan; minal jinni = dari jin; wal insi = dan manusia; lahum = bagi mereka; qulũbun = hati; lã yafqohũna = mereka tidak memahami; bihã = ayat-ayat-Nya; wa lãhum = dan bagi mereka; a’yunun = mata; lã yubshirũna = mereka tidak untuk melihat; bihã = tanda-tanda-Nya; wa lahum = dan bagi mereka; ãdzãnun = telinga; lã yasma’ũna = mereka tidak mendengar; bihã = ayat-ayat-Nya; ulã-ika = mereka itu; kal an’ãmi = seperti binatang ternak; bal = bahkan; hum = mereka; adhollu = lebih sesat; ũlã-ika = mereka itu; hum = mereka; al ghōfilũn = orang-orang yang lalai.

wa laqod dzaro’nã li jahannama katsĩrom minal jinni wal insi, lahum qulũbul lã yafqohũna bihã wa lãhum a’yunul lã yubshirũna bihã, wa lahum ãdzãnul lã yasma’ũna bihã, ulã-ika kal an’ãmi bal hum adhollu, ũlã-ika humul ghōfilũn.

179. Dan sesungguhnya, Aku jadikan neraka jahannam untuk kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tidak (dipergunakan untuk) memahami ayat-ayat (Allah), dan mereka mempunyai mata tidak (dipergunakan untuk) melihat tanda-tanda kebenaran (Allah), dan mereka mempunyai telinga tidak untuk mendengarkan ayat-ayat (Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang tidak mempergunakan hati, mata, telinga untuk memahami, melihat, dan mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka akan dimasukan ke dalam neraka jahannam.

wa lillahi = kepunyaan Allah; al asmã-ul husnã = nama-nama yang baik; fad’ũhu = maka berdoalah kepada-Nya; bihã = dengan nama-nama itu; wa dzarũ = dan tinggalkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; yulhidũna = mereka mengingkari; fĩasmã-ih = dengan nama-nama-Nya; sayujzauna = mereka akan diberi balasan; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjkan.

wa lillahil asmã-ul husnã fad’ũhu bihã, wa dzarũl ladzĩna yulhidũna fĩasmã-ih, sayujzauna mã kãnũ ya’malũn.

180. Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu. Dan tinggalkanlah orang-orang yang mengingkari nama-nama-Nya. Mereka akan diberi balasan, apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, nama-nama-Nya dapat dijadikan doa. Allah juga memerintahkan agar meninggalkan orang-orang yang mengingkari ada-Nya nama-nama Allah. Allah akan memberi balasan, apa yang mereka kerjakan.

wa mimman = dan di antara orang-orang; kholaqnã = Aku ciptakan; ummatun = umat; yahdũna = mereka memberi petunjuk; bilhaqqi = dengan kebenaran; wa bihĩ= dan dengan kebenaran itu; ya’dilũn = mereka berbuat adil.

wa mimman kholaqnã ummatun yahdũna bilhaqqi wa bihĩya’dilũn.

181. Dan di antara orang-orang yang Aku ciptakan, ada umat yang memberi petunjuk tentang kebenaran, dan dengan itu pula, mereka berbuat adil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang manusia yang diciptakan-Nya itu ada yang berpihak pada kebaikan, kebenaran. Karena itu mereka berbuat adil.

wal ladzĩna = dan orng-orang yang; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = kepada ayat-ayat Aku; sanastadrijuhum = nanti Aku akan menarik mereka berangsur-angsur; min = dari; haitsu = arah; lã = tidak; ya’lamũn = mereka mengetahui.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã sanastadrijuhum min haitsu lã ya’lamũn.

182. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Aku, nanti Aku akan menarik mereka berangsur-angsur ke kebinasaan, dari arah yang tidak mereka ketahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau ada orang yang menganggap dusta ayat-ayat-Nya, Allah akan membinasakan mereka secara berangsur-angsur, dari arah yang tidak mereka ketahui.

wa umlĩ= dan Aku memberi tangguh; lahum = kepada mereka; inna = sungguh; kaidĩ= rencana-Ku; matĩnun = amat tegas, jelas

wa umlĩlahum, inna kaidĩmatĩnun.

183. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka, sungguh rencana-Ku itu amat tegas, jelas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, rencana-Nya memberi tangguh itu amat tegas, jelas memberi kesempatan apakah mau bertobat, atau mengikuti hawa nafsunya saja.

awalam yatafakkarũ, mã bishōhibihim min jinnatin, in huwa illã nadzĩrum mubĩn.

awalam yatafakkarũ, mã bishōhibihim min jinnatin, in huwa illã nadzĩrum mubĩn.

184. Apakah mereka tidak memikirkan, bahwa sahabat mereka (Muhammad saw.) tidak berpenyakit gila, dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, orang itu harus menggunakan pikiran, agar tidak menganggap Nabi Muhammad saw. itu seorang gila. Nabi Muhammad saw. itu hanyalah seorang pemberi peringatan.

awalam = tidaklah; yanzhurũ = mereka memperhatikan; fĩmalakũti = dalam kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhĩ= dan bumi; wa mã = dan apa; kholaqollãhu = yang diciptakan Allah; min syai-in = dari segala sesuatu; wa an’asã = dan mungkin; an yakũna = bahwa adalah; qodiqtaroba = sungguh telah dekat; ajaluhum = waktu kebinasaan mereka); fa bi-ayyi = maka yang mana; hadĩtsin = berita; ba’dahũ = sesudah (Alquran); yu’minũn = mereka beriman.

awalam yanzhurũ fĩmalakũtis samãwãti wal ardhĩwa mã kholaqollãhu min syai-in wa an’asã an yakũna qodiqtaroba ajaluhum, fa bi-ayyi hadĩtsim ba’dahũ yu’minũn.

185. Tidaklah mereka memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan mungkin telah dekat waktu (kebinasaan mereka, maka dengan berita yang mana lagi mereka akan beriman sesudah Alquran itu?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta makhluk-Nya memperhatikan kerajaan-Nya, dan memperingatkan Hari Kiamat yang “sudah dekat”, padahal masih banyak yang masih diragukan keimanannya kepada Allah dengan Alquran-Nya.

man = barang siapa; yudhlilillãhu = yang disesatkan Allah; fa lã = maka tidak (ada); hãdiya = orang yang memberi petunjuk; lahu = kepadanya; wa yadzaruhum = dan (Allah) membiarkan mereka; fĩthughyaanihim = dalam kesesatan mereka; ya’mahũn = mereka bingung, terumbang-ambing.

man yudhlilillãhu fa lã hãdiyallahu, wa yadzaruhum fĩthughyaanihim ya’mahũn

186. Barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak akan ada orang yang memberi petunjuk kepadanya, dan Allah membiarkan mereka terumbang-ambing dalam kesesatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, kalau seseorang sudah disesatkan Allah, maka tak akan ada makhluk yang memberi petunjuk, dan Allah membiarkan orang itu terumbang-ambing dalam kesesatannya. Lihat juga Q.s. Al Baqarah,2 :14, 15)

yas-alũnaka = mereka akan bertanya kepada kamu; ‘anis sã’ati = tentang saat kiamat; ayyaana = kapan; mursãhã = terjadinya; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya, hanyalah; ‘ilmuhã = pengetahuan tentang Hari Kiamat; inda robbi = pada Rabku; lã yujallĩhã = tidak dapat mejelaskan Hari Kiamat itu; liwaqtihã = bagi waktunya; illã huwa = kecuali Dia; tsaqulat = amat berat; fis samãwãti = di lamgit; wal ardhi = dan di bumi; lã ta’tĩkum = ia tidak dating kepadamu; illã = kecuali, melainkan; baghtatan = dengan tiba-tiba; yas’alũnaka = mereka akan bertanya kepada kamu; ka-‘annaka = seakan-akan kamu; hafiyyun = hafal (benar-benar mengetahui); ‘anhã = tentangnya; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya; ‘ilmuhã = pengetahuan tentang Hari Kiamat; indallãhi = pada Allah; wa lãkinna = akan tetapi; aktsaro = kebanyakan; an nãsi = manusia; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.

yas-alũnaka ‘anis sã’ati ayyaana mursãhã, qul innamã ‘ilmuhã inda robbi, lã yujallĩhã liwaqtihã illã huwa, tsaqulat fis samãwãti wal ardhi, lã ta’tĩkum illã baghtatan, yas’alũnaka ka-‘annaka hafiyyun ‘anhã, qul innamã ‘ilmuhã indallãhi wa lãkinna aktsaron nãsi lã ya’lamũn.

187. Mereka akan bertanya kepadamu tentang Hari Kiamat: “Kapan terjadinya?” Katakanlah: “Sesunguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada pada Rabku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktunya kecuali Dia, (Hari Kiamat itu) amat berat (bagi makhluk) di langit dan di bumi, ia tidak datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba. Mereka akan bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan tentang datangnya Hari Kiamat, hanya Allah Yang mengetahuinya.

qul = katakanlah; lã amliku = aku tidak berkuasa; li nafsĩ= bagi diriku; naf’an = manfãt; wa lã = dan tidak; dharron = mudarat; illã = kecuali; mãsyã-allãh = apa kehendak Allah; wa lau = dan sekiranya; kuntu = aku adalah; a’lamu = aku mengetahui; al ghoiba = yang gaib; lãstaktsartu = tentu aku memperoleh banyak; minal khoir = dari kebaikan; wa mã massaniyai = dan tidak menimpaku; as sũ-u = keburukan; in ana = tidak lain aku; illã = kecuali, hanayalah; nadzĩrun = pemberi peringatan; wa basyĩrun = dan pembawa berita gembira; li qoumin = bagi kaum; yu’minũn = mereka beriman.

qul lã amliku li nafsĩnaf’an wa lã dharron illã mãsyã-allãh, wa lau kuntu a’lamul ghoiba lãstaktsartu minal khoir, wa mã massaniyas sũ-u, in ana illã nadzĩrun wa basyĩrul li qoumin yu’minũn.

188. Katakanlah: “Aku tidak berkuasa (mendatangkan) manfãt bagi diriku, dan tidak pula (dapat menolak) mudarat, kecuali apa yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui hal yang gaib, tentulah aku banyak memperoleh kebaikan dan tidak ditimpa keburukan. Aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manfãt dan mudarat hidup itu kehendak Allah. Pengetahuan tentang hal yang gaib Nabihanya untuk kebaikan, bukan untuk kejahatan. Nabihanya bertugas memberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang yang beriman.

Huwa = Dialah; al ladzĩ= yang; kholaqokum = menciptakan kamu; min nafsin = dari diri; wãhidatin = yang satu; wa ja’ala = dan Dia jadikan; minhã = darinya; zaujahã = istrinya; li yaskuna = agar merasa senang; ilaihã = kepadanya; fa lammã = maka setelah; taghosysyãhã = mencampurinya; hamalat = ia mengandung; hamlan = kandungan; khofĩfan = yang ringan; fa marrot = maka ia terus; bih = dengannya; fa lammmã = maka setelah; atsqolat = ia merasa berat; da’awallãha = keduanya berdoa kepada Allah; robbahumã = Robb keduanya; la-in = sesungguhnya jika; ãtaitanã = Engkau memberi Aku; shōlihan = anak yang saleh; lanakũnanna = tentu Aku termasuk; minasy syãkirĩn = orang-orang yang bersyukur.

Huwal ladzĩkholaqokum min nafsin wãhidatin wa ja’ala minhã zaujahã li yaskuna ilaihã, fa lammã taghosysyãhã hamalat hamlan khofĩfan fa marrot bih, fa lammmã atsqolat da’awallãha robbahumã la-in ãtaitanã shōlihal lanakũnannam minasy syãkirĩn.

189. Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar ia merasa senang kepadanya. Maka, setelah dicampurinya, istrinya mengandung (bayi) yang ringan, dan terus merasa ringan (beberapa waktu). Maka setelah itu merasa berat, keduanya (suami-istri itu) berdoa kepada Allah, Rabnya: “Sesungguhnya, jika Engkau memberi Aku anak yang saleh, tentulah Aku termasuk orang-orang yang bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Al Baqarah: 2 : 30; ….) . Allah mengajari doa kepada suami-istri yang mengharapkan kelahiran anak.

fa lammã = maka setelah; ãtãhumã = (Allah) memberikan keduanya; shōlihan = anak saleh; ja’alã = keduanya menjadikan; lahũ = bagi Allah; syurokã-a = sekutu-sekutu; fĩmã = terhadap anak; ãtãhumã = Dia berikan kepada keduanya; fa ta’ãlallãhu = maka, Allah Mahatinggi; ‘ammã = dari apa yang; yusyrikũn = mereka sekutukan.

fa lammã ãtãhumã shōlihan ja’alã lahũ syurokã-a fĩmã ãtãhumã, fa ta’ãlallãhu ‘ammã yusyrikũn.

190. Maka, setelah Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang saleh, keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah diberikan-Nya kepada keduanya. Maka, Mahatinggi Allah dari apa yang mereka sekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang tua yang terlalu sayang kepada anaknya sampai melupakan Allah, dan menjadikan anak saleh itu sebagai berhala.

Ayusyrikũna = apakah mereka mempersekutukan; mã = apa (berhala); lã yakhluku = tidak dapat menciptakan; syai-an = sesuatu; wa hum = sedang mereka (berhala); yukhlakũn = mereka diciptakan.

ayusyrikũna mã lã yakhluku syai-an wa hum yukhlakũn.

191. Apakah mereka mepersekutukan Allah dengan berhala yang tidak dapat menciptakan sesuatupun? Sedang berhala-berhala itu sendiri diciptakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Anak itu diciptakan Allah. Jangan mempercayakan segala apa yang diperlukan dalam hidup kepada anak untuk dipenuhi. Anak jangan dipuja-puji melebihi kepada Allah. Anak jangan dijadikan berhala.

wa lã yastathi’ũna = dan mereka tidak dapat; lahum = kepada penyembahnya; nashron = pertolongan; wa lã anfusahum = dan tidak kepada dirinya sendiri; yanshurũn = mereka memberikan pertolongan.

wa lã yastathi’ũna lahum nashron wa lã anfusahum yanshurũn.

192. Dan berhala-berhala tidak dapat memberi pertolongan kepada penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun, berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berhala tidak dapat memberi pertolongan kepada orang-orang yang memuja-mujinya. Kepada dirinya sendiri juga tidak bisa menolong. Hanya Allah Yang Maha Gaib bisa menolong makhluk-Nya.

wa in = dan jika; tad’ũhum = kamu meyeru mereka; ilãl hudã = kepada petunjuk; lã = tidak; yattabi’ũkum = mereka mengikuti kamu; sawã-un = sama saja; ‘alaikum = untuk kamu; ada’autumũhum = apakah kamu menyeru mereka; am antum = atau kamu; shōmitũn = orang-orang yang diam.

wa in tad’ũhum ilãl hudã lã yattabi’ũkum, sawã-un ‘alaikum ada’autumũ hum am antum shōmitũn.

193. Jika kamu (orang-orang musyrik) menyeru berhala-berhala untuk memberi petunjuk, tidaklah berhala-berhala itu mengikuti kamu, sama saja untuk kamu menyeru mereka atau diam saja.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berhala-berhala itu sesungguhnya tidak mampu memberi petunjuk, tidak dapat menolong, tidak dapat melakukan sesuatu, tidak dapat mendengar seruan orang.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = berhala-berhala yang; tad’ũna = kamu menyeru; min dũnillãhi = dari selain Allah; ‘ibãdun = hamba (makhluk); amtsãlukum = serupa dengan kamu; fad’ũhum = maka serulah mereka; falyastajĩbũ = supaya mereka memperkenankan; lakum = kepada kamu; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

innal ladzĩna tad’ũna min dũnillãhi ‘ibãdun amtsãlukum, fad’ũhum falyastajĩbũ lakum in kuntum shōdiqĩn.

194. Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah makhluk yang serupa dengan kamu, karena itu, serulah mereka supaya mereka memperkenankan (permintaanmu), jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa berhala yang diharapkan memberi petunjuk, tidak akan dapat memenuhi permintaannya, karena berhala itu makhluk Allah juga, tapi dibuat manusia yang menipu dirinya sendiri.

alahum = apakah mereka mempunyai; arjulun = kaki-kaki; yamsyũna = mereka berjalan; bihã = dengannya; am lahum = atau mereka mempunyai; aidin = tangan; yabthisyũna = mereka memegang; bihã = dengannya; am lahum = atau mereka mempunyai; a’yunun = mata; yabshirũna = mereka melihat; bihã = dengannya; am lahum = atau mereka mempunyai; ãdzãnun = telinga; yasma’ũna = mereka mendengar; bihã = dengannya; qul = katakanlah; id’ũ = panggillah; syurokã ‘akum = sekutu-sekutumu (berhala-berhalamu); tsumma = kemudian; kĩdũni = lakukan tipu-daya untukku; fa lã tunzhirũn = maka kamu jangan memberi tangguh kepadaku.

Alahum arjulun yamsyũna bihã, am lahum aidin yabthisyũna bihã, am lahum a’yunun ybshirũna bihã, am lahum ãdzãnun yasma’ũna bihã, qulid’ũ syurokã ‘akum tsumma kĩdũni fa lã tunzhirũn.

195. Apakah berhala-berhala itu mempunyai kaki yang dengan itu mereka dapat berjalan, atau mereka mempunyai mata yang dengan itu mereka dapat melihat, atau mempunyai telinga, yang dengan itu mereka dapat mendengar? Katakanlah: “Panggillah berhala-berhalamu, kemudian lakukanlah tipu-dayamu kepadaku, dan jangan memberi tangguh (kepadaku).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa berhala itu tidak memiliki anggota tubuh yang dapat dimanfãtkan seperti manusia. Percaya kepada berhala (benda-benda) yang dapat melakukan sesuatu kepada manusia berarti menipu diri sendiri.

inna = sesungguhnya; waliyyĩyallãhu = pelindungku Allah; alladzĩ= yang; nazzala = menurunkan; al kitãba = Alkitab; wa huwa = dan Dia; yatawalla = melindungi; ash shōlihĩn = orang-orang yang saleh.

inna waliyyĩyallãhu alladzĩnazzalal kitãba, wa huwa yatawallash shōlihĩn.

196. Sesungguhnya, pelindungku adalah Allah, yang telah menurunkan Kitab (Alquran), dan Dia melindungi orang-orang yan saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa hanya Beliau Yang mewahyukan Alquran dan Yang melindungi orang-orang yang saleh.

wal ladzĩna = dan berhala-berhala; tad’ũna = kamu seru; min dũnihĩ= dari selain Dia; lã yastathĩ’ũna = mereka tidak dapat; nashrokum = menolong kamu; wa lã = dan tidak; anfusahum = diri mereka sendiri; yanshurũn = mereka menolong.

wal ladzĩna tad’ũna min dũnihĩlã yastathĩ’ũna nashrokum wa lã anfusahum yanshurũn.

197. Dan berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, mereka tidak dapat menolong kamu, dan tidak dapat menolong diri mereka sendiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Menguatkan pernyataan ayat 195, dan 196.

wa in = dan jika; tad’ũhum = kamu menyeru mereka; ilal hudã = untuk petunjuk; lã yasma’ũ = mereka tidak mendengar; wa tarōhum = dan kamu melihat mereka; yanzhurũna = mereka memandang; ilaika = kepada kamu; wa hum = padahal mereka; lã yubshirũn = mereka tidak melihat.

wa in tad’ũhum ilal hudã lã yasma’ũ wa tarōhum yanzhurũna ilaika wa hum lã yubshirũn.

198. Dan jika kamu menyeru mereka untuk memberi petunjuk, mereka tidak mendengarnya, dan kamu melihat, mereka itu memandang kamu, padahal mereka itu tidak melihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ibidem ayat di atas.

khudzi = berilah; al ‘afwa = maaf; wa‘mur = dan suruhlah; bil ‘urfi = dengan ma’ruf (kebaikan); wa a’ridh = dan berpalinglah; ‘anil jãhilĩn = dari orang-orang yang bodoh.

khudzil ‘afwa wa‘mur bil ‘urfi wa a’ridh ‘anil jãhilĩn.

199. Berilah maaf dan suruhlah orang-orang mengerjakan kebaikan dan berpalinglah dari yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya untuk memberi maaf kepada orang-orang yang membuat kesalahan dan tidak usah memperhatikan orang yang tidak mau mengikutinya (orang bodoh).

wa immã = dan jika; yanza ghonnaka = menipu, menggoda; minasy syaitōni = dari setan; nazghun = tipuan, godaan; fasta’idz = maka berlindunglah; billãh = kepada Allah; innahũ = sesungguhnya Dia; samĩ’un = Maha Mendengar; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

wa immã yanza ghonnaka minasy syaitōni nazghum fasta’idz billãh, innahũ samĩ’un ‘alĩm.

200. Maka bila kamu digoda setan, maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah ini terkenal dengan kalimat ta’awudz memohon perlidungan kepada Allah dari godaan setan dan jin yang akan dirajam. Ucapan lengkapnya: a’ũdzu billãhis samĩ’il ‘alĩmi minasy syaithōnir rojĩm.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; at taqau = mereka takwa; idzã = apabila; massahum = menimpa mereka; thō-ifun = segolongan (was-was); minasy syaithōni = dari setan; tadzakkarũ = mereka ingat; fa- idzã = maka tiba-tiba; hum = mereka; mubshirũn = orang-orang yang melihat (sadar).

innal ladzĩnat taqau idzã massahum thō-ifum minasy syaithōni tadzakkarũ fa- idzã hum mubshirũn.

201. Sesungguhnya orang-orang yang takwa, apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka tiba-tiba mereka sadar kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bimbingan dari Allah agar tidak terkena penyakit was-was, orang harus selalu ingat kepada-Nya.

wa ikhwaanuhum = dan teman-teman mereka; yamuddũnahum = membantu mereka (setan-setan); fil ghoyyi = dalam menyesatkan; tsumma = kemudian; lã yuqshirũn = tidak henti-hentinya.

wa ikhwaanuhum yamuddũnahum fil ghoyyi tsumma lã yuqshirũn.

202. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad) membantu setan-setan dalam menyesatkan, kemudian mereka tidak henti-henti (menyesatkan).
.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa orang-orang kafir, musyrik, fasik, dan murtad itu tidak pernah berhenti membantu setan menyesatkan manusia.

wa idzã = dan jika; lam ta’ tihim = kamu tidak membawa kepada mereka; bi-ãyatin = dengan suatu ayat; qōlũ = mereka berkata; lau lã = mengapa tidak; ijtabaitahã = kamu buat sendiri; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; attabi’u = aku mengikuti; mã yũhã = apa yang diwahyukan; ilayya = kepadaku; mir robbĩ= dari Rabmu; hãdzã = ini; bashō-iru = bukti yang nyata; mir robbikum = dari Rab kamu; wa hudan = dan sebagai petunjuk; wa rohmatun = dan rahmat; li qoumin = bagi kaum (orang-orang); yu’minũn = mereka beriman.

wa idzã lam ta’ tihim bi-ãyatin qōlũ lau lajtabaitahã, qul innamã attabi’u mã yũhã ilayya mir robbĩ, hãdzã bashō-iru mir robbikum wa hudan wa rohmatul li qoumiy yu’minũn.

203. Dan jika kamu tidak membawa suatu ayat (Alquran) kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat-ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya, aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Rabku, Alquran ini merupakan bukti yang nyata dari Rab kamu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk dan rahmat kepada Nabi Muhammad saw. dan pelanjutnya, bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan dari orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad.

wa idzã = dan bila; qurĩ-a = dibacakan; al qur’ãnu = Alquran; fastami’ũ = maka simaklah; lahu = kepadanya; wa anshitũ = dan perhatikanlah; la’allakum = agar kamu; turhamũn = kamu diberi rahmat.

wa idzã qurĩ-al qur’ãnu fastami’ũ lahu wa anshitũ la’allakum turhamũn.

204. Dan bila dibacakan Quran, maka simaklah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang, agar kamu diberi rahmat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah, bila Alquran sedang dibaca, harus disimak baik-baik, dipahami maknanya, pembaca dan pendengarnya mendapatkan rahmat.

wãdz kur = dan berdzikirlah kepada …; robbaka = Rab kamu; fĩnafsika = dalam hatimu; tadhorru’an = merendahkan diri; wa khĩfatan = dan rasa takut; wa dũna = dan tiddak; al jahri = suara yang tidak keras; minal qouli = dari perkataan (suara); bil ghuduwwi = pada waktu pagi; wal ãshōli = dan petang; wa lã = dan janganlah; takun = kamu menjadi; minal ghōfilĩn = termasuk orang-orang yang lalai.

wãdz kur robbaka fĩnafsika tadhorru’an wa khĩfatan wa dũnal jahri minal qouli bil ghuduwwi wal ãshōli wa lã takum minal ghōfilĩn.

205. Dan dzikirlah (dengan nama) Rab dalam hati kamu dengan merendahkan diri dan rasa takut , dengan tidak mengeraskan suara di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar selalu berdzikir di dalam hati, setiap saat (pagi dan petang), merendahkan diri, dan dengan rasa takut, tidak dengan suara yang keras, jangan lalai (pikiran yang kososng, tidak berkhayal, tidak melamun).

innal ladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; ‘inda = di sisi (hadapan); robbika = Rab kamu; lã yastakbirũna = mereka tidak menyombongkan diri; ‘an ‘ibãdatihĩ= waktu beribadah kepada-Nya; wa yusabbihũ nahũ = dan mereka menyucikan-Nya; wa lahũ = dan kepada-Nya; yasjudũn = mereka sujud.

innal ladzĩna ‘inda robbika lã yastakbirũna ‘an ‘ibãdatihĩwa yusabbihũ nahũ wa lahũ yasjudũn.

206. Sesungguhnya orang-orang yang di sisi Rab kamu, mereka tidak menyombongkan diri, takzim waktu beribadah kepada-Nya, dan mereka menyucikan-Nya, hanya kepada-Nya mereka sujud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk bagaimana cara beribadah dan sujud kepada Allah: tidak menyombongkan diri, sopan, takzim, dalam keadaan suci (jasmani dan rohani). Sujud hanya kepada Allah, memusatkan perhatian hanya kepada Allah dengan segala keagungannya, kemuliaannya.

006 Al An’am

‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.
AL-AN’ÃM
(BINATANG TERNAK)
Surat ke-6, 165 ayat.
Makiyah
Juz 7 berlaih ke Juz 8 pada ayat 111

Catatan Awal.
Binatang ternak, maksudnya binatang yang dipelihara manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan keperluan manusia, seperti kuda, unta, sapi, kerbau, kambing, biri-biri, domba, kelinci, marmut. Menurut kepercayaan Jahiliah, kaum musyriqin, binatang ternak ini dapat dipakai untuk persembahan, mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka. Ada hukum-hukum berkenan dengan binatang ternak ini. Dalam perkembangan dunia dewasa ini, termasuk binatang ternak adalah anjing, kucing, kelinci, ayam, bebek, angsa, puyuh, itik, kalkun, berbagai jenis ikan air tawar. Ikan air payau, dan ikan air asin. Ada yang disebut binatang kesayangan (pet).
Surat ini sebelum hijrah. Jumlah ayat 165. Isi pokok-nya:
1. Keimanan, menunjukkan bukti-bukti keesaan Allah dengan sifat-sifatnya yang sempurna, tidak ada cela. Kebenaran kenabian Muhammad saw. dan Nabi-nabi lain-nya, seperti Ibrahim, Ishaq, Ya’kub, Nuh, Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, Harun, Zakaria, Yahya, Isa, ilyas, Ilyasa’, Yunus, dan Luth. Menegaskan adanya risalah, wahyu, hari pembalasan, adanya kepercayaan orang-orang musyrik, dengan pengingkaran mereka kepada Hari Kiamat. Kepercayaan orang-orang musyrik dibantah secara logis, dan mudah diterima oleh akal sehat.
2. Hukum-hukum, adanya larangan melakukan adat-istiadat kaum jahiliah; makanan yang halal dan yang haram; sepuluh wasiat di dalam Alquran, ketauhidan, keadilan; larangan mencaci, memaki, menghina kepercayaan orang-orang musyrik. Ancaman dan pelaksanaan hukuman yang berat bagi mereka yang menolak kebenaran. Surat ini menjelaskan akidah-akidah agama.
3. Kisah-kisah tentang asal-usul kejadian manusia; beberapa generasi manusia yang dibinasakan; orang yang menentang para Rasul; kisah pengalaman Nabi Muhammad saw., cerita Nabi Ibrahim saat membimbing umatnya kepada ketauhidan, dan kisah para nabi lainnya.
4. Mengisahkan cara nabi memimpin, bidang-bidang keRasulan, dan tugas-tugas Rasul, sikap kepala batu kaum musyrikin; upaya kaum musyrikin untuk melemahkan Rasul; kepercayaan orang-orang musyrik kepada jin, setan, malaikat; beberapa prinsip keagamaan dan kemasyarakatan, dan nilai hidup keduniaan.

‘audzubillãhi min-nas sami’il alimi minasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMAANIRRAHĨM

al hamdu = pujian; lillãhi = bagi Allah; al ladzĩ = yang; kholaqo = telah menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhō = dan bumi; wa ja’ala = dan Dia telah menjadikan; azh zhulumãti = gelap; wan nũr = dan terang; tsumma = kemudian; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = orang-orang kafir; bi robbihim = kepada Rob mereka; ya’dilũn = mereka menyekutukan.

al hamdu lillãhil ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhō wa ja’alazh zhulumãti wan nũr, tsummal ladzĩna kafarũ bi robbihim ya’dilũn.

1. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan telah menjadikan gelap dan terang, kemudian orang-orang kafir mempersekutukan sesuatu dengan Rob mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2 segala pujian hanya bagi Allah Pemilik alam yang artinya sama dengan “langit dan bumi” lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 33 Allah mengetahui rahasia langit dan bumi; mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan; 107 Allah memiliki kerajaan langit dan bumi; 117 penciptaan langit dan bumi, dan untuk menciptakan segala sesuatu, Allah tinggal berujar “jadilah, maka jadilah ia; Ali Imran, 3: 133 luas surga seluas langit dan bumi; 189 kepunyaan Allah, kerajaan langit dan bumi; 190 penciptaan langit dan bumi; 191 penciptaan langit dan bumi tidak sia-sia; Al Mã idah, 5: 17 kepunyaan Allah langit dan bumi; 18 kerajaan Allah meliputi langit dan bumi; 40 Allah Mempunyai kerajaan langit dan bumi; Al An ‘am, 1: 1
Orang-orang kafir selalu mempersekutukan Allah dengan benda-benda ciptaannya sendiri atau yang ada di alam ini.

huwa = Dia; al ladzĩ = yang; kholaqokum = menciptakan kamu; min thĩnin = dari tanah; tsumma = kemudian; qodhō = Dia menentukan; ajala = waktu, ajal, ketentuan; wa ajalun = dan waktu; musamman = ditentukan; ‘indahũ = di haribãn-Nya; tsumma = kemudian; antum = kamu; tamtarũn = kamu ragu-ragu.

huwal ladzĩ kholaqokum min thĩnin tsumma qodhō ajala wa ajalum musamman ‘indahũ tsumma antum tamtarũn.

2. Dia yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan waktu kematianmu, dan waktumu berbangkit untuk menghadap-Ku, namun kamu masih ragu-ragu tentang hari kebangkitan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam ayat ini Allah memberitahu penciptaan manusia itu dari tanah (lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 117; Ali ‘Imran, 3: 47, 59; Yã sĩn, 36: 82.
Dalam Q.s. At Thoriq, 86: 6, 7 dikatakan manusia diciptakan dari air yang memancar keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.
Allah mengingatkan, setelah manusia itu mati, akan dibangkitkan lagi untuk pengabdian kepada Allah selanjutnya. Pada Q.s. Al Fatihah, 1: 2 Allah menyatakan Dirinya sebagai Penguasa alam semesta; Al Baqarah, 2: 21, Allah memerintahkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah; 22, Allah menghamparkan bumi dan memberi atap langit disediakan untuk manusia; 28, Allah mengingatkan manusia agar jangan kafir ketika dihidupkan yang sebelumnya mati, kemudian dikembalikan lagi kepada-Nya; 29, menciptakan segala sesuatu di bumi untuk keperluan manusia, dan juga menciptakan tujuh lapis langit; 30 Allah memberitahukan kepada Malaikat, Dia akan menciptakan manusia sebagai Khalifah di muka bumi.
Allah memperingatkan keragu-raguan manusia tentang hari kebangkitannya untuk menghadap-Nya. Masih ada saja orang yang meragukan hari kebangkitan ini. Seperti apa gambaran hari kebangkitan itu? Tidak ada orang yang mempunyai pengetahuan pasti, karena hal ini masih merupakan mahkluk gaib, peristiwa yang belum terjadi. Pasti tidak ada yang tahu, Hanya Allah saja yang Maha Mengetahui waktu yang akan datang itu.

wa huwallãhu = dan Dia, Allah; fis samãwãti = di langit; wa fil ardhĩ = dan di bumi; ya’lamu = Dia mengetahui; sirrokum = rahasiamu; wa jahrokum = dan yang kamu lahirkan; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mã taksibũn = apa yang kamu usahakan.

wa huwallãhu fis samãwãti wa fil ardhĩ ya’lamu sirrokum wa jahrokum wa ya’lamu mã taksibũn.

3. Dan Dialah, Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan, dan mengetahui pula apa yang kamu usahakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah sebagai Penguasa di langit dan di bumi mengetahui segala sesuatu rahasia tentang makhluk-Nya.

wa mã ta’tĩhim = dan tidak datang kepada mereka; min ãyatin = dari suatu ayat; min ãyãti = dari ayat-ayat; robbihim = Robmereka; illã = kecuali; kãnũ = mereka adalah; ‘anhã = darinya; mu’ridhĩn = orang-orang berpaling.

wa mã ta’tĩhim min ãyatim min ãyãti robbihim illã kãnũ ‘anhã mu’ridhĩn.

4. Dan tidak datang kepada mereka suatu ayat dari Robmereka, kecuali mereka selalu mendustakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada manusia, bila suatu ayat dari Allah selalu ada orang yang menganggap ayat itu tidak benar dari Allah (lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 39, 41, dan lain-lain.)

faqod = maka sesungguhnya; kadzdzabũ = mereka telah mendustakan; bil haqqi = dengan kebenaran; lammã = ketika; jã-ahum = datang kepada mereka; fa saufa = maka kelak; ya’tĩhim = sampai kepada mereka; ambã-ũ = berita; mã kãnũ = yang adalah mereka; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = mereka memperolok-olokkan.

faqod kadzdzabũ bil haqqi lammã jã-ahum, fa saufa ya’tĩhim ambã-ũ mã kãnũ bihĩ yastahzi-ũn.

5. Maka sesungguhnya, mereka telah mendustakan kebenaran, ketika kebenaran itu datang kepada mereka, kelak akan datang kenyataan dari berita yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, mereka yang selalu mendustakan ayat-ayat-Nya, kelak mereka akan menemukan kenyataan yang selalu mereka perolok-olokkan.
Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 14

alam = apakah tidak; yaraũ = mereka memperhatikan; kam = berapa banyak; ahlaknã = Aku telah membinasakan; min qoblihim = dari sebelum mereka; min qornin = dari kurun (generasi); makkannã hum = Aku teguhkan mereka; fĩl ardhĩ = di muka bumi; mã lam numakkin = yang belum Aku teguhkan; lakum = kepadamu; wa arsalnã = dan Aku telah mengirimkan assamã-a = langit; ‘alaihim = atas mereka; midrōrōn = lebah; wa ja’alnas = telah Aku jadikan; al anhãro = sungai-sungai; tajrĩ = mengalir; min tahtihim = dari bawah mereka; fa ahlaknãhum = dan Aku binasakan mereka; bi dzunũbihim = dengan dosa-dosa mereka; wa ansya’nã = dam Aku tumbuhkan; mim ba’dihim = dari sesudah mereka; qornaan = kurun (generasi); ãkhorĩn = yang lain.

alam yaraũ kam ahlaknã min qoblihim min qornim makkannã hum fĩl ardhĩ mã lam numakkil lakum wa arsalnas samã-a ‘alaihim midrōrōn wa ja’alnal anhãro tajrĩ min tahtihim fa ahlaknãhum bi dzunũbihim wa ansya’nã mim ba’dihim qornaan ãkhorĩn.

6. Apakah mereka tidak memperhatikan, berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Aku binasakan, padahal mereka telah Aku teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dengan keteguhan yang belum pernah Aku berikan kepadamu. Dan telah Aku kirimkan hujan lebat atas mereka, dan Aku jadikan sungai-sungai yang mengalir di bawah mereka, lalu Aku binasakan mereka, karena dosa-dosanya, dan Aku ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, banyak generasi sebelum kita yang telah dibinasakan-Nya, dan diganti oleh generasi yang lain, karena mereka telah melakukan dosa. Sebelumnya, mereka diteguhkan dengan berbagai karunia yang banyak. Namun, karena dosa-dosa yang telah mereka lakukan, maka mereka dibinasakan, dan diganti dengan generasi yang lebih baik.

walau = dan kalau; nazzalnã = Aku turunkan; ‘alaika = kepada kamu; kitãban = tulisan; fĩ qorthōsin = pada kertas; falamasũhu = lalu mereka merabanya; bi aidĩhim = dengan tangan mereka; laqōla = pasti berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; in hãdzã = ini tidak lain; illã = hanyalah; sihrum = sihir; mubĩn = yang nyata.

walau nazzalnã ‘alaika kitãban fĩ qorthōsin falamasũhu bi aidĩhim laqōlal ladzĩna kafarũ in hãdzã illã sihrum mubĩn.

7. Dan kalaupun Aku turunkan kepadamu tulisan pada kertas, lalu mereka meraba dengan tangannya, pasti orang-orang yang kafir berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada semua manusia, orang kafir akan menganggap hanya sihir, walaupun Allah telah menurunkan wahyu itu dalam bentuk tulisan pada lembaran kertas (lihat juga Q.s. Al Ma’idah, 5: 110)

wa qōlũ = dan mereka berkata; lau = kalau; lã = tidak; unzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; malakun = seorang Malaikat; walau = dan kalau; anzalnã = Aku turunkan; malakan = seorang Malaikat; laqudhiya = tentu diputuskan; al amru = perkataan itu; tsumma = kemudian; lã yunzhorũn = mereka tidak diberi tangguh.

wa qōlũ lau lã unzila ‘alaihi malakun, walau anzalnã malakal laqudhiyal amru tsumma lã yunzhorũn.

8. Dan mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad saw.) seorang Malaikat?” Padahal kalau Aku turunkan kepadanya seorang Malaikat, tentu telah diputuskan perkaranya, kemudian mereka tidak diberi tangguh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir selalu mencari alasan untuk menyatakan ketidakpercayaannya kepada Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan Allah.

walau = dan kalau; ja’alnãhu = Aku jadikan baginya; malakan = seorang Malaikat; laja’alnãhu = tentu Aku jadikan dia; rojulan = seorang lelaki; wa alalabasmã = tentu Aku membuat ragu-ragu; ‘alaihim = atas mereka; mã yalbisũn = apa yang mereka ragu-ragukan.

walau ja’alnãhu malakal laja’alnãhu rojulan wa alalabasmã ‘alaihim mã yalbisũn.

9. Dan kalau Aku jadikan Rasul itu Malaikat, tentu Aku jadikan dia seorang laki-laki, dan tentu Aku membuat ragu-ragu kepada mereka, seperti apa yang sudah mereka ragukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau Allah sudah menetapkan seseorang itu menjadi peragu, maka apa pun yang menjadi bukti keRasulan, mereka tetap akan ragu.

walaqodi = dan sesungguhnya; ustuhzi’a = telah diperolok-olokkan; bi rusulin = pada beberapa Rasul; min qoblika = dari sebelum kamu; fahãqo = maka turunlah; billadzĩna = pada orang-orang yang; sakhirũ = mencemooh; minhum = di antara mereka; mã kãnũ = mereka adalah; bihĩ = dengannya; yastahzi-ũn = mereka memperolok-olokkan.

walaqodis tuhzi’a bi rusulim min qoblika fahãqo billadzĩna sakhirũ minhum mã kãnũ bihĩ yastahzi-ũn.

10. Dan sesungguhnya, beberapa Rasul sebelum kamu telah diperolok-olokkan, maka turunlah cemoohan balasan kepada orang-orang yang memeperolok-olokkan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Rasul-Nya agar umatnya mencari pengalaman sendiri tentang kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah dan Nabi-Nya.
Orang yang suka memperolok-olokkan kedatangan seorang Rasul pasti akan dibalas cemoohannya di dunia dan nanti di akhirat.

qul = katakanlah; sĩrũ = kamu berjalanlah; fil ardhĩ = di muka bumi; tsumma = kemudian; unzhuru = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kãna = adalah; ‘aqibatu = akibat, kesudahan; al mukadzdzibĩn = orang-orang yang mendustakan.

qul sĩrũ fil ardhĩ tsummanzhuru kaifa kãna ‘aqibatul mukadzdzibĩn.

11. Katakanlah: “Berjalanlah kamu di muka bumi, kemudian perhatikanlah kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membimbing Rasul-Nya agar umatnya mencari pengalaman sendiri tentang kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah dan Nabi-Nya.

qul = katakanlah; liman = kepunyaan siapakah; mã = apa-apa; fi = di dalam; as samãwãti = di langit; wa = dan; al ardhi = bumi; qul = katakanlah; lillãhi = bagi (kepunyaan) Allah; kataba = Dia telah menetapkan; ‘alã nafsihi = atas diri-Nya; ar rohmah = kasih-sayang; layajma’annakum = sungguh Dia akan mengumpulkan kamu; ilã yaumi = pda hari; al qiyãmati = kiamat; lã roiba = tidak ada keraguan; fĩhi = padanya; alladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = mereka merugikan; anfusahum = diri mereka; fahum = maka mereka itu; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.

qul liman mã fis samãwãti wal ardhi, qul lillãhi, kataba ‘alã nafsihir rohmah, layajma’annakum ilã yaumil qiyãmati lã roiba fĩhi, alladzĩna khosirũ anfusahum fahum lã yu’minũn.

12. Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa-apa yang ada di langit, dan apa-apa yang di bumi?”, katakanlah: “Kepunyaan Allah.” Dia telah menetapkan Dirinya Maha Pengasih. Sungguh Dia akan mengumpulkan kamu pada Hari Kiamat yang tidak diragukan lagi kejadiannya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka tidak (mau) beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berulang-ulang mengingatkan keberadaan-Nya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan selalu mengingatkan tentang Hari Kiamat. Namun ada saja yang masih meragukan Hari Kiamat itu. Mereka tidfak mau beriman akan adanya Hari Kiamat, dan selalu berbuat semena-mena di dunia ini.

wa = dan; lahũ = kepunyaan-Nya; mã sakana = apa yang diam; fi = pada; al laili = pada malam; wan nahãri = dan siang; wa huwa = dan Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al alĩm = Maha Mengetahui.

wa lahũ mã sakana fillaili wan nahãri, wa huwas samĩ’ul alĩm.

13. Dan kepunyaan-Nya apa yang diam di malam dan di siang, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Apa yang diam di malam dan siang itu? Tentunya segala makhluk-Nya. Allah Maha mendengar dan Maha Mengetahui makhluk-Nya yang diam dalam kedua saat itu. Ayat ini menyatakan kekuasaan Allah yang tak terhingga di setiap saat.

qul = katakanlah; aghoirollãhi = apakah selain Allah; attakhidzu = Aku menjadikan; waliyyan = Pelindung; faathiri = Pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa huwa = dan Dia; yuth’imu = memberi makan; wa lã yuth’amu = dan tidak diberi makan; qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; umirtu = aku diperintah; an akũna = supaya aku menjadi; awwala = awal, pertama; man = orang; aslama = berserah diri; wa lã = dan jangan; takũnanna = kamu menjadi; min = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul aghoirollãhi attakhidzu waliyyan faathiris samãwãti wal ardhi wa huwa yuth’imu wa lã yuth’amu, qul innĩ umirtu an akũna awwala man aslama, wa lã takũnanna minal musyrikĩn.

14. Katakanlah: “Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah Pencipta langit dan bumi, dan Dia memberi makan, dan tidak diberi makan?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama berserah diri (Islam), dan janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang musyrik

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini memberi sentuhan kepada umat yang Nabunya menjadi juru selamat, melindunginya saat hidup di dunia, dan nanti di akhirat. Allah memerintah Nabi Muhammad saw. dengan para pengikutnya mengatakan seperti yang disebutkan dalam ayat ini, hal ini dimaksudkan agar manusia makhluk-Nya menyadari, siapa yang seharusnya menjadi Pelindung hidup di dunia ini, siapa yang memberi rezeki hidupnya. Allah memerintahkan agar makhluk-Nya, khususnya manusia harus berserah diri hanya kepada Allah, dan mengingatkan agar jangan menjadi manusia yang musyrik (menyekutukan Allah dengan yang selain Allah.

qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; akhōfu = (aku) takut; in ‘ashoitu = jika aku mendurhakai; robbĩ = Rabku; ‘adzãba = azab; yaumin = hari; ‘azhĩm = yang besar

qul innĩ akhōfu in ‘ashoitu robbĩ ‘adzãba yaumin ‘azhĩm.

15. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut azab yang besar di Hari Kiamat, jika aku mendurhakai Rabku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Menyuruh Nabi Muhammad saw. dan umatnya agar mengatakan apa yang ada dalam ayat ini kepada orang yang belum mau percaya kepada Alkitab yang diwahyukan kepadanya. Jangan mengabaikan perintah dan larangan Allah.

man = siapa; yusrof = dijauhkan; ‘anhu = darinya (azab); yauma idzin = pada hari itu; faqod = maka sesungguhnya; rohimahu = Dia telah merahmatinya; wa dzãlika = dan itulah; al fauzu = keuntungan; al mubĩn = nyata.

man yusrof ‘anhu yauma idzin faqod rohimahu, wa dzãlikal fauzul mubĩn.

16. Barang siapa yang dijauhkan dari azab pada hari itu, maka sesungguhnya Dia merahmatinya, dan itulah keuntungan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan secara berulang-ulang tentang Hari Kiamat, ada yang akan diuntungkan (orang yang mengakui ada-Nya Allah dan Rasul-Nya), dan ada yang diazab.(orang yang mendustakan Allah dan Rasulnya, khusus mendustakan Nabi Muhammad saw.).

wa in = dan jika; yamsaskallãhu = Allah menimpakan kepadamu; bi dhurrin = dengan suatu bencana; fa lã = maka tidak ada; kãsyifa = yang menghilangkan; lahũ = padanya; illã = kecuali; huwa = Dia sendiri; wa in = dan jika; yamsaska = Dia menimpakan kepadamu; bi khoirin = dengan kebaikan; fa huwa = dan Dia lah; ‘alã kulli = atas segala: syai-in = sesuatu; qodiir = Maha Menentukan.

wa in yamsaskallãhu bi dhurrin fa lã kãsyifa lahũ illã huwa, wa in yamsaska bi khoirin fa huwa ‘alã kulli syai-in qodiir.

17. Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bencana, tidak ada yang dapat menghilangkan bencana itu, kecuali Dia sendiri, dan jika Dia menimpakan kepadamu kebaikan, maka Dia lah Yang Maha Menentukan atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyatakan kekuasaan-Nya dalam berbagai kejadian di alam semesta. Tentang kebaikan, lihat juga Q.s. An Nisa’, 4: 17; Fushshilat, 41: 46 dll.

wa huwa = dan Dia lah; al qōhiru = berkuasa; fauqo = di atas; ‘ibãdihĩ = hamba-hamba-Nya; wa huwa = dan Dia; al hakĩmu = Mahabijaksana; al khobĩr = Maha Mengetahui

wa huwal qōhiru fauqo ‘ibãdihĩ, wa huwal hakĩmul khobĩr.

18. Dan Dia lah yang berkuasa di atas hamba-hamba-Nya, dan Dia lah Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. disuruh Allah untuk mengingatkan manusia tentang Sifat-sifat Allah.

qul = katakanlah; ayyu = perkara; syai-in = yang mana; akbaru = lebih besar, kuat; syahãdatan = kesaksian; qulillãhu = katakanlah: “Allah…”; syahĩdun = menjadi saksi; bainĩ = antara aku; wa bainakum = dan antara kamu; wa ũhiya = dan diwahyukan; ilayya = kepadaku; hãdzã = ini; al qur’ãnu = Alquran; li undzirokum = supaya aku memberi peringatan kepadamu; bihi = dengannya; wa man = dan siapa, orang; balagho = ia telah sampai; a-innakum = apa sesungguhnya kamu; latasyhadũna = sungguh kamu mengakui; anna ma’allãhi = bahwa disamping Allah; ãlihatan = tuhan-tuhan; ukhrō = yang lain; qul = katakanlah; lã asyhadu = aku tidak mengakui; qul = katakanlah; innamã = sesungguhnya hanyalah; huwa = Dia; ilãhun = Ilah; wãhidun = satu, esa; wa innanĩ = dan sesungguhnya aku; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa yang; tusyrikũn = kamu persekutukan.

qul ayyu syai-in akbaru syahãdatan, qulillãhu, syahĩdum bainĩ wa bainakum, wa ũhiya ilayya hãdzãl qur’ãnu li undzirokum bihi wa mam balagho a-innakum latasyhadũna anna ma’allãhi ãlihatan ukhrō, qul lã asyhadu, qul innamã huwa ilãhun wãhidun wa innanĩ barĩ-um mimmã tusyrikũn.

19. Katakanlah: “Siapakah yang kesaksiannya lebih kuat?” Katakanlah: “Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang telah menerima Alquran, apa sebab sesungguhnya, kamu mengakui adanya tuhan-tuhan selain Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia itu Ilah Yang Satu, dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang engkau persekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam ayat ini, Allah menegaskan kedudukan Muhammad saw. sebagai Nabi yang diberi wahyu dari-Nya, dan memperingatkan mereka yang mempunyai keyakinan lain, selain Allah Yang Mahaesa.

alladzĩna = orang-orang yang; ãtainãhumu = kepada mereka Aku berikan; al kitãba = Alkitab; ya’rifũnahũ = mereka mengetahui; kamã = seperti, sebaimana; ya’rifũna = mereka mengenal; abnã-ahum = anak-anak mereka; al ladzĩna = orang-orang yang; khosirũ = (mereka) merugikan; anfusahum = diri mereka; fahum = maka mereka; lã yu’minũn = (mereka) tidak beriman.

alladzĩna ãtainãhumul kitãba ya’rifũnahũ kamã ya’rifũna abnã-ahumul ladzĩna khosirũ anfusahum fahum lã yu’minũn.

20. Orang-orang yang Aku beri Alkitab, mereka mengetahui (Muhammad), seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka tidak mau beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang diberi Alkitab oleh Allah, sesungguhnya mereka mengetahui betul siapa Nabi Muhammad saw. itu, namun tetap saja, mereka banyak yang tidak mau beriman

wa man = dan sipakah; azhlamu = lebih lalim; mimmani = dari orang-orang iftarō = mengadakan; ‘alallãhi = pada Allah; kadziban = kebohongan; au = atau; kadzdzaba = ia mendustakan; bi-ãyãtihĩ = dengan ayat-ayat-Nya; innahũ = sesungguhnya; lã yuflihu = tidak beruntung; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

wa man azhlamu mimmaniftarō ‘alallãhi kadziban au kadzdzaba bi-ãyãtihĩ innahũ lã yuflihuzh zhōlimũn.

21. Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengadakan kebohongan kepada Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak beruntung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa orang membuat kebohongan tentang Allah dan yang mendustakan ayat-ayat-Nya, mereka digolongkan orang yang lalim dan hidupnya di dunia, dan di akhirat tidak beruntung. Mereka selalu gelisah, tidak ada ketenteraman dalam menjalani hidupnya.

wa yauma = dan pada hari; nahsyuruhum = Aku menghimpun mereka; jamĩ’an = semua; tsumma = lalu, kemudian; naqũlu = Aku berkata; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; asyrokũ = (mereka) musyrik; aina = di mana; syurokã-ukumu = sekutu-sekutu Kami; al ladzĩna = orang-orang yang; kuntum = kamu adalah; taz’umũn = kamu mengakui, mengatakan.

wa yauma nahsyuruhum jamĩ’an, tsumma naqũlu lilladzĩna asyrokũ ainasyurokã-u kumulladzĩna kuntum taz’umũn.

22. Dan pada hari Aku menghimpun mereka semua, lalu Aku berkata kepada orang-orang musyrik: “Di mana sesembahan kamu dahulu yang kamu katakan sekutu-sekutu Kami?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini Allah mengingatkan pada hari semua makhluk-Nya dihimpun (Hari Kiamat). Mereka yang musyrik ditanya tentang tuhan-tuhan yang dahulu dikatakan sekutu-sekutu Allah

tsumma = kemudian; lam takun = tidak ada; finatuhum = fitnah mereka; illã = kecuali; an qōlũ = bahwa mereka mengatakan; wallãhi = demi Allah; robbinã = Robkami; mã kunnã = Aku tidak menjadi; musyrikĩn = orang-orang musyrik.

tsumma lam takun finatuhum illã an qōlũ wallãhi robbinã mã kunnã musyrikĩn.

23. Kemudian tidak ada fitnah mereka, kecuali mereka mengatakan: “Demi Allah, Robkami, Aku tidak menjadi orang-orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan pengakuan yang jujur, tidak ada fitnah, bahwa hanya Allah Robmereka. Di dunia, sesungguhnya tidak ada sekutu-sekutu Allah.

unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; kadzabũ = mereka mendustakan; ‘alã = pada; anfusihim = diri mereka; wazholla = dan telah sesat, hilang; ‘amhum = dari mereka; mã = apa; kãnũ = yang mereka; yaftarũn = mereka ada-adakan.

unzhur kaifa kadzabũ ‘alã anfusihim wazholla ‘amhum mã kãnũ yaftarũn.

24. Perhatikanlah, bagaimana mereka mendustakan diri mereka sendiri, dan telah hilang, apa-apa yang mereka ada-adakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, sesungguhnya, apa yang mereka ada-adakan di dunia itu berarti mereka mendustai diri sendiri.

wa = dan; min = di antara; hum = mereka; man = orang; yastami’u = ia mendengarkan; ilaika = kepadamu; wa = dan; ja’alnã = Aku menjadikan; ‘alã = pada; qulũbihim = hati mereka akinnatan = sumbat; an yafquhũhu = untuk memahaminya; wa = dan; fĩ = pada; ãdzãnihim = telinga mereka; waqrō = tuli; wa in yarau = dan jika mereka melihat; kulla = segala; ãyati = tanda-tanda; lã yu’minũ = mereka tidak beriman; bihã = dengannya; hatã = sehingga; idzã = apabila; jã-ũka = mereka datang kepadamu; yujãdilũnãka = mereka membantahmu; yaqũlu = berkata; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; in hãdzã = ini tidak lain; illã = hanya, kecuali; asaathĩru = dongeng, satir; al awwalĩn = orang-orang dahulu.

wa min hum man yastami’u ilaika, wa ja’alnã ‘alã qulũbihim akinnatan an yafquhũhu wa fĩ ãdzãnihim waqrō, wa in yarau kulla ãyatil lã yu’minũ bihã, hatã idzã jã-ũka yujãdilũnãka yaqũlul ladzĩna kafarũ in hãdzã illã asaathĩrul awwalĩn.

25. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)-mu, padahal Aku telah menjadikan sumbat pada hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan Aku sumbat telinga mereka, dan jika melihat segala tanda, mereka tetap tidak beriman kepadanya, sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, berkatalah orang-orang kafir itu: “Alquran ini tidak lain hanyalah dongeng-dongeng orang dahulu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah menyumbat hati dan telinga orang kafir, sehingga meskipun mereka mendengar dan melihat ayat-ayat Allah, mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah. Alquran akan dianggap hanya dongeng orang-orang dahulu (lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 7) .

wa hum = dan mereka; yanhauna = (mereka) melarang; ‘anhu = dari Alquran; wa yan-auna = dan mereka menjauhkan; anhu = dari Alquran; wa in yuhlikũna = dan mereka membinasakan diri; illã = tidak lain, kecuali, hanya; anfusahum = diri mereka sendiri; wa mã yasy’urũn = dan mereka tidak menyadari.

wa hum yanhauna ‘anhu wa yan-auna anhu, wa in yuhlikũna illã anfusahum wa mã yasy’urũn.

26. Dan mereka melarang (orang lain mendengarkan) Alquran, dan mereka sendiri menjauhkan diri darinya, mereka tidak lain hanya membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan perilaku orang kafir.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; wuqifũ = mereka dihadapkan; ‘alan nãri = ke neraka; faqōlũ = maka mereka berkata; yãlaitanã = aduhai, sekiranya kami; nuroddu = Aku dikembalikan; wa lã = dan tidak; nukadzdziba = akan mendustakan; bi ãyãti = pada ayat-ayat; robbina = Robkami; wa nakũna = dan Aku menjadi; minal mu’minĩn = dari orang-orang yang beriman.

wa lau tarō idz wuqifũ ‘alan nãri faqōlũ yãlaitanã nuroddu wa lã nukadzdziba bi ãyãti robbina wa nakũna minal mu’minĩn.

27. Dan kalau kamu melihat, ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Aduhai, sekiranya Aku dikembalikan ke dunia, dan Aku tidak akan mendustakan ayat-ayat Robkami, dan Aku menjadi orang-orang yang beriman

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melukiskan penyesalan orang-orang kafir ketika mereka dihadapkan pada kenyataan di akhirat.

bal = bahkan; badã = telah nyata; lahum = bagi mereka; mã = apa; kãnũ = mereka adalah; yukhfũna = mereka sembunyikan; min qoblu = dari dahulu; wa lau = dan kalau; ruddũ = mereka dikembalikan; la’ãdũ = tentu mereka kembali; limã = pada apa; nuhũ = mereka dilarang; ‘anhu = darinya; wa innahum = dan sesungguhnya mereka; lakãdzibũn = sungguh pendusta-pendusta.

bal badã lahum mã kãnũ yukhfũna min qoblu, wa lau ruddũ la’ãdũ limã nuhũ ‘anhu wa innahum lakãdzibũn.

28. Bahkan telah nyata bagi mereka, apa yang mereka sembunyikan dahulu, dan kalau mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali pada apa yang dilarang pada dirinya, dan sesungguhnya, mereka itu adalah pendusta-pendusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menamakan orang-orang kafir itu pendusta-pendusta, karena memang mereka selalu mendustakan apa yang sesungguhnya sudah nyata kebenarannya dan apa yang pernah dilarang menyembunyikan ayat-ayat Allah di dunia

wa kōlũ = dan mereka berkata; in hiya = tidak lain kehidupan; illã = hanyalah; hayãtuna = kehidupan kita; ad dunyã = dunia; wa mã = dan tidaklah; nahnu = kita; bimab’ũtsĩn = orang-orang yang dibangkitkan.

wa kōlũ in hiya illã hayãtunad dunyã wa mã nahnu bimab’ũtsĩn.

29. Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita tidak akan dibangkitkan.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keyakinan orang kafir, bahwa kehidupan ini hanya di dunia saja, dan tak pernah ada hari kebangkitan kembali. Ini merupakan pendapat atau keyakinan yang salah.

wa lau = dan kalau; tarō = kamu melihat; idz = ketika; wuqifũ = mereka dihadapkan; ‘alã = kepada; robbihim = Robbnya; qōla = (Allah) berfirman; alaisa = bukankah; hãdzã = ini; bil haqqi = dengan benar; qōlũ = (mereka) berkata; balã = memang benar; wa robbina = dan demi Robkami; qōla = (Allah) berfirman; fadzũqũ = maka rasakanlah; al ‘adzãba = azab ini; bimã = dengan sebab, karena; kuntum = kamu adalah; takfurũn = kamu kafir.

wa lau tarō idz wuqifũ ‘alã robbihim, qōla alaisa hãdzã bil haqqi, qōlũ balã wa robbina qōla fadzũqũl ‘adzãba bimã kuntum takfurũn.

30. Dan kalau kamu melihat, ketika mereka dihadapkan kepada Robbnya, Allah berfirman: “Bukankah kebangkitan ini benar?” Mereka menjawab: “Ya, memang benar; demi Robkami. Allah berfirman: “Maka rasakanlah azab ini, karena kamu kafir.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini untuk mengingatkan kepada orang-orang yang masih membangkang, kafir saathidup di dunia. Setelah datang hari pembalasan nanti, mereka tidak bisa membantah. Mereka akan menyesal berkepanjangan, karena Allah mengazab mereka di akhirat karena kekafirannya.

qod = sungguh; khosiro = telah merugi; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan; bi liqō-illãh = perjumpãn dengan Allah; hattã = sehingga; idzã = jika; jã-ath-humu = datang kepada mereka; as sã’atu = saatkiamat; baghtatan = dengan tiba-tiba; qōlũ = mereka berkata; yã hasrotanã = aduhai, Aku menyesal; ‘alã mã = atas apa; farrothnã = kelalaian kami; fĩhã = pada Hari Kiamat ini; wahum = dan mereka; yahmilũna = mereka memikul; auzãrohum = beban dosa mereka; ‘alã = atas; zhuhũrihim = punggung mereka; alã = ingatlah; sã-a = sangat buruk; mã = apa yang; yazirũn = mereka pikul.

qod khosirol ladzĩna kadzdzabũ bi liqō-illãh, hattã idzã jã-ath-humus sã’atu baghtatan qōlũ yã hasrotanã ‘alã mã farrothnã fĩhã wahum yahmilũna auzãrohum ‘alã zhuhũrihim alã sã-a mã yazirũn.

31. Sungguh, telah rugilah orang-orang yang mendustakan perjumpãn dengan Allah, sehingga jika datang kepada mereka saatkiamat dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Aduhai Aku menyesal atas kelalaian Aku pada Hari Kiamat ini,” dan mereka memikul beban dosa mereka pada punggung mereka. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang Hari Kiamat yang akan datang dengan tiba-tiba (kiamat sugro maupun kiamat qubro). Jangan sampai kita menyesal karena kita mungkin lupa pada hari kita berjumpa dengan Allah.

wa mal hayãtu = dan sesungguhnya kehidupan; ad dun-yã = dunia; illã = hanyalah; la’ibun = permainan; wa lahwun = dan senda-gurau; wa lad dãru = dan sungguh kampung; al akhirōtu = akhirat; khoirun = lebih baik; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; yataqũn = (mereka) bertakwa; afalã = maka, apakah tidak; ta’qilũn = kamu menggunakan akal.

wa mal hayãtud dun-yã illã la’ibun wa lahwun, wa lad dãrul akhirōtu khoirul lilladzĩna yataqũn, afalã ta’qilũn.

32. Dan sesungguhnya, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda-gurau, dan kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, apakah kamu tidak menggunakan akal?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat yang harus dihadapi dengan takwa dan menggunakan akal. Kehidupan di dunia hanya bermain-main dan bersenda-gurau yang sifatnya sementara, sedang kehidupan di akhirat itu lebih baik dan kekal. Kehidupan di dunia harus berhati-hati dan harus dijalani dengan takwa. Jangan banyak “bermain-main” atau “bersenda-gurau” saja, kalau kita ingin mendapatkan kehidupan akhirat yang lebih baik.

qod = sesungguhnya; na’lamu = Aku mengetahui; innahũ = bahwa; layahzunuka = tentu akan menyedihkan kamu; al ladzĩ = orang-orang yang; yaqũlũna = mereka katakan; fa innahum = maka sesungguhnya mereka; lã yukadzdzibũnaka = mereka tidak mengangggap kamu dusta; wa lãkinna = akan tetapi; azh zhōlimĩna = orang-orang yang lalim; bi-ãyatillãhi = pada ayat-ayat Allah; yajhadũn = mereka menyangkal.

qod na’lamu innahũ layahzunukal ladzĩ yaqũlũna fa innahum lã yukadzdzibũnaka wa lãkinnazh zhōlimĩna bi-ãyatillãhi yajhadũn.

33. Sesungguhnya, Aku tahu, apa yang mereka katakan itu tentu akan menyedihkan kamu. Jangan bersedih hati. Sesungguhnya, mereka tidak menganggap kamu bohong, akan tetapi, orang-orang yang lalim itu menyangkal ayat-ayat Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menghibur dan menguatkan hati Nabi Muhammad saw., apa yang mereka katakan tidak dusta, hanya mereka lalim, karena menyangkal ayat-ayat Allah. Orang-orang yang menyangkal ayat-ayat Allah, tidak akan mendapatkan petunjuk Allah. Hidupnya akan tersesat.

wa laqod = dan sesungguhnya; kudzdzibat = telah didustakan; rusulun = Rasul-Rasul; min qoblika = dari sebeblum kamu; fashobarũ = maka bersabarlah; ‘alã = atas; mã = apa yang; kudzdzibũ = mereka didustakan; wa ũdzũ = dan mereka dianiaya; hattã = sampai; atãhum = datang kepada mereka; nashrunã = pertolongan Kami; wa lã = dan tidak; mubaddila = dapat mengubah; li kalimãtillãhi = bagi kalimat-kalimat Allah; wa laqod = dan sesungguhnya; jã-aka = telah dating kepadamu; min naba-i = dari sebagian berita; al mursalĩn = Rasul-Rasul.

wa laqod kudzdzibat rusulum min qoblika fashobarũ ‘alã mã kudzdzibũ wa ũdzũ hattã atãhum nashrunã, wa lã mubaddila li kalimãtillãhi, wa laqod jã-aka min naba ĩl mursalĩn.

34. Dan sesungguhnya, telah didustakan Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar atas pendustaan, dan penganiayaan yang dilakukan oleh mereka, sampai datang pertolongan Aku kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah janji-janji Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita Rasul-Rasul itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw.kejadian-kejadian masa-masa sebelumnya. Allah mengingatkan bahwa janji Allah itu tidak ada yang dapat mengubahnya. Sekarang telah datang sebagian berita tentang Rasul-Rasul yang dijanjikan Allah kepada Nabi Muhammad.

wa in kãna = dan jika ada atau menjadi; kaburo = besar, berat; ‘alaika = bagimu; i’rōdhuhum = mereka berpaling; fa-ini = maka jika; istatha’ta = kamu dapat; antabtaghĩya = kamu membuat; nafaqon = lubang; fil ardhĩ = di bumi; au sullaman = atau tangga; fis samã-i = ke langit; fata’tiyahum = lalu kamu mendatangkan kepada mereka; bi ãyatin = dengan ayat-ayat (keterangan); wa lau = dan kalau; sã-allãhu = Allah menghendaki; la jama’ahum = tentu Dia menjadikan mereka; ‘alãl hudã = atas petunjuk; falã = maka jangan; taqũnanna = kamu sekali-kali menjadi; minal jãhilĩn = termasuk orang-orang yang jahil.

wa in kãna kaburo ‘alaika i’rōdhuhum fa-inistatha’ta antabtaghĩya nafaqon fil ardhĩ au sullaman fis samã-i fata’tiyahum bi ãyatin, wa lau sã-allãhu la jama’ahum ‘alãl hudã, falã taqũnanna minal jãhilĩn.

35. Dan jika berpalingnya mereka terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit, lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka kerjakanlah). Dan jika Allah menghendaki, tentulah Dia menjadikan mereka semua mengikuti petunjuk, karena itu, jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan orang-orang pengikut agama selain Islam yang tidak mau beralih keyakinan, walaupun dengan upaya apa pun. Kalau Allah menghendaki memberi hidayah, mereka pasti akan mengikuti petunjuk Allah. Maka, serahkan persoalan mereka itu kepada Allah. Nabi Muhammad saw. diingatkan Allah, “jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang jahil.” Tapi, tetaplah harus ada upaya. Kerjakan apa yang dapat dikerjakan untuk mengingatkannya.

innamã = sesungguhnya hanyalah; yastajĩbu = akan memperkenankan; al ladzĩna = orang-orang yang; yasma’ũna = (mereka) mendengar: wal mautã = dan orang-orang yang mati; yab’atsuhumullãhu = Allah akan membangkitkan mereka; tsumma = kemudian; ilaihi = kepada-Nya; yurja’ũn = mereka dikembalikan.

innamã yastajĩbul ladzĩna yasma’ũna, wal mautã yab’atsuhumullãhu tsumma ilaihi yurja’ũn.

36. Sesungguhnya yang akan memperkenankan seruan Allah, hanyalah orang-orang yang mendengar, sedang orang-orang yang mati (pendengarannya), nanti Allah akan membangkitkan mereka, kemudian kepada-Nya, mereka dikembalikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan Nabi Muhammad saw. tentang orang-orang yang tidak mau mendengar seruan Allah. Kalau sudah berusaha, serahkan hasilnya kepada Allah. Allahlah yang menentukan takdir seseorang.

wa qōlũ = dan mereka berkata: lau lã = mengapa tidak; nuzzila = diturunkan; ‘alaihi = kepadanya; ãyatun = satu ayat (mukjizat); min = dari; robbihĩ = Robbnya; qul = katakanlah; innallãha = sesungguhnya Allah; qōdirun = berkuasa; ‘alã = untuk; an yunazzila = menurunkan; ãyatan = suatu ayat, mukjizat; wa lãkinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; lã ya’lamũn = mereka tidak mengetahui.

wa qōlũ lau lã nuzzila ‘alaihi ãyatum mir robbihĩ, qul innallãha qōdirun ‘alã an yunazzila ãyatan wa lãkinna aktsarohum lã ya’lamũn.

37. Dan mereka berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat dari Robbnya?”, katakanlah: “Sesungguhnya Allah berkuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan orang-orang yang tidak mau mendengar seruan Allah yang selalu menghujat, menuntut hal yang sesungguhnya sedang berproses, yaitu turunnya mukjizat dari Allah. Padahal ayat-ayat Alquran ini mukjizat yang sedang dalam proses turun sedikit demi sedikit. Mereka tidak mengetahui. Mereka juga tidak mau percaya, bahwa Alquran itu sebuah mukjizat yang luar biasa. Perasaan hati, telinga, dan mata mereka ditutupi Allah.

wa mã min = dan tidaklah dari; dãbbatin = binatang-binatang; fil ardhi = di bumi; wa lã = dan tidak; thō-irin = burung-burung; yathĩrũ = terbang; bi janãhaihi = dengan kedua sayapnya; illã = hanya, kecuali, kepada, dari, sampai, hingga; umamun = umat; amtsãlukum = semisal kamu; mã = tidaklah, bukanlah; farrothnã = Aku alpakan; fil kitãbi = di dalam Alkitab; min syai-in = dari sesuatu; tsumma = kemudian; ilã robbihim = hanya kepada Robbmu; yuhsyarũn = mereka akan dhimpun.

wa mã min dãbbatin fil ardhi wa lã thō-irin yathĩrũ bi janãhaihi illã umamun amtsãlukum mã farrothnã fil kitãbi min syai-in, tsumma ilã robbihim yuhsyarũn.

38. Dan tidaklah binatang-binatang di bumi, dan tidak pula burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, hingga umat semisal kamu, tidaklah Aku alpakan sesuatu pun dalam Alkitab, kemudian hanya kepada Robbmu, semuanya akan dihimpun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Semua makhluk Allah selalu diamati-Nya, dan semuanya akan dihimpun pada hari yang sudah ditetapkan.

wãl ladzĩna = dan orang-orang yang; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat-Ku; shummun = mereka pekak; wa bukmun = dan mereka bisu; fĩzh zhulumãti = dalam gelap-gulita; man = barang siapa; yasyã-illãhu = Allah menghendaki; yudhlilhu = Dia akan menyesatkan; wa man = dan barang siapa; yasyã-u = menghendaki; yaj’alhu = Dia menjadikannya; ‘alã shirothim = pada jalan; mustaqĩm = yang lurus.

wãl ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã shummun wa bukmun fĩzh zhulumãti, man yasyã-illãhu yudhlilhu wa man yasyã-u yaj’alhu ‘alã shirothim mustaqĩm.

39. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, mereka pekak, dan bisu dalam gelap-gulita, Allah menghendaki siapa-siapa yang akan Dia sesatkan, dan siapa-siapa yang akan Dia beri petunjuk pada jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahakuasa untuk menetapkan siapa-siapa yang akan Dia sesatkan (orang-orang yang tidak percaya kepada ada-Nya Allah, dan yang selalu berbuat jahat, curang), dan siapa-siapa orang yang akan diberi petunjuk pada jalan yang lurus (orang-orang yang percaya kepada ada-Nya, dan selalu berbuat kebaikan, patuh kepada perintah-Nya).

qul = tanyakanlah; aro aitakum = terangkanlah kepadaku; in atãkum = jika datang kepada kamu; ‘adzãbullahi = azab Allah; au = atau; atatkumu = datang kepada kamu; as sã-‘atu = saat, waktu, kiamat; ‘aghoira = apakah selain; allãhi = Allah; tad’u’una = kamu menyeru; inkuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang sidik, benar.

qul aro aitakum in atãkum ‘adzãbullahi au atatkumus sã-‘atu ‘aghoirallãhi tad’u’una inkuntum shōdiqĩn.

40. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika datang azab Allah kepadamu, atau datang kepadamu saatyang ditetapkan-Nya (kiamat), apakah kamu menyeru ilah lain selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengatakan apa yang tersurat dalam ayat ini untuk mengingatkan adanya Hari Kiamat, hari perhitungan yang pasti akan datang kepada orang-orang yang selalu memalingkan wajahnya, kalau diminta untuk mempercayai ke-Rasulannya.

bal = bahkan; iyyãhu = hanya kepada Dialah; tad’ũna = kamu menyeru; fa yaksyifu = maka Dia menghilangkan; mã = apa, bahaya; tad’ũna = kamu menyeru; ilaihi = kepadanya; in syã-a = jika Dia menghendaki; wa tansauna = dan kamu melupakan; mã = apa; tasyrikũn = yang kamu sekutukan.

bal iyyãhu tad’ũna fayaksyifu mã tad’ũna ilaihi in syã-a wa tansauna mã tasyrikũn.

41. Bahkan hanya kepada Dialah, kamu harus menyeru, maka Dia menghilangkan bahayamu menyeru selain Dia, jika Dia menghendaki, dan kamu melupakan apa yang kamu sekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kepada Siapa manusia itu harus menyeru. Jika Allah menghendaki, akan membuat lupa, apa yang disekutukannya.

wa laqod = dan sesungguhnya; arsalnã = Aku telah mengutus; ilã = kepada; umamim = umat-umat; min qoblika = dari sebelum kamu; fa’akhodznãhum = maka Aku siksa mereka; bil ba’sã-i = dengan kesengsaraan; wadh dhorrō-i = dan kemelaratan; la’allahum = agar mereka; yatadhorro’ũn = mereka tunduk.

wa laqod arsalnã ilã umamim min qoblika fa’akhodznãhum bil ba’sã-i wadh dhorrō-i la’allahum yatadhorro’ũn.

42. Dan sesungguhnya, Aku telah mengutus Rasul-Rasul kepada umat-umat sebelum kamu, dan Aku siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan, agar mereka tunduk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyiksa umat-umat sebelum Nabi Muhammad saw. dengan kesengsaraan dan kemelaratan agar mereka tunduk kepada perintah Allah dan Nabi-Nya. Kesengsaraan dan kemelaratan itu salah satu dari ujian Allah, agar apa yang dilakukannya itu harus ada kesadaran ada-Nya Allah yang selalu mengawasi hidupnya.

falau lã = maka mengapa tidak; idz = ketika; jã-ahum = diturunkan kepada mereka; ba’sunã = siksaan Kami; tadhorro’ũ = mereka menundukkan hati; wa lãkin = akan tetapi; qosat = menjadi keras; qulũbuhum = hati mereka; wa zayyana = dan menampakkan bagus; lahumu = kepada mereka; asy syaithōnu = setan; mã kãnũ = apa yang; ya’malũn = mereka kerjakan.

falau lã idz jã-ahum ba’sunã tadhorro’ũ wa lãkin qosat qulũbuhum wa zayyana lahumusy syaithōnu mã kãnũ ya’malũn.

43. Mengapa mereka tidak menundukkan hati ketika datang siksaan Aku kepada mereka? Bahkan hati mereka menjadi keras, dan setan pun menampakkan bagus kepada mereka, apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman tentang orang-orang yang diberi peringatan dengan siksaan, malah hati mereka menjadi keras. Ciri dari orang yang tidak takwa, apa yang mereka lakukan dirasakannya bagus. Padahal hasilnya malah kerusakan.

falammã = maka setelah; nasũ = mereka melupakan; mã = apa; dzukkirũ = diperingatkan kepada mereka; bihĩ = dengannya; fatahnã = Aku bukakan; ‘alaihim = bagi mereka; abwãba = pintu-pintu; kulli syai-in = segala sesuatu; hattã = sehingga; idzã = ketika, tatkala; farihũ = mereka bergembira; bimã = dengan apa; ũtũ = mereka diberi; akhodznãhum = Aku siksa mereka; baghtatan = dengan tiba-tiba; fa idzãhum = maka ketika mereka itu; mublisũn = orang-orang yang putus asa.

falammã nasũ mã dzukkirũ bihĩ fatahnã ‘alaihim abwãba kulli syai-in hattã idzã farihũ bimã ũtũ akhodznãhum baghtatan fa idzãhum mublisũn.

44. Maka setelah mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Aku bukakan pintu-pintu segala kesenangan, sehingga tatkala mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Aku siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itulah mereka putus asa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kenyataan yang dilukiskan dalam ayat ini, sudah sering terjadi di lingkungan hidup manusia di dunia, perhatikanlah berbagai kejadian, bencana, musibah yang dialami seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat tertentu.

fa quthi’a = maka dipenggal, dimusnahkan; dãbiru = seluruh; al qaumi = kaum; al ladzĩna = orang-orang yang; zholamũ = lalim; wal hamdulillãhi = dan segala puji bagi Allah; Rob= Penguasa; il ‘ãlamĩn = alam.

fa quthi’a dãbirul qaumil ladzĩna zholamũ, wal hamdulillãhi robbil ‘ãlamĩn.

45. Maka, orang-orang lalim itu seluruhnya dimusnahkan. Segala puji bagi Allah Yang memelihara alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang lalim, lambat atau cepat, akan dimusnahkan di dunia ini. Makhluk manusia khususnya dianjurkan untuk selalu menyampaikan pujian hanya kepada Allah (lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2)

qul = katakanlah: aro aitum = bagaimana pendapatmu; in = jika; akhodzallãhu = Allah mengambil; sam’akum = pendengaranmu; wa abshōrokum = dan penglihatanmu; wa khatama = dan Dia menutupi; ‘alã qulũbikum = atas hatimu; man = siapakah; ilãhun = ilah; ghoirullãhi = selain Allah; ya’tĩkum = mengmbalikannya kepadamu; bihi = dengannya; unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; nusharrifu = Aku mengulang-ulang; al ãyãti = tanda-tanda; tsumma = kemudian; hum = mereka; yashdifũn = mereka berpaling.

qul aro aitum in akhodzallãhu sam’akum wa abshōrokum wa khatama ‘alã qulũbikum man ilãhun ghoirullãhi ya’tĩkum bih, unzhur kaifa nusharriful ãyãti tsumma hum yashdifũn.

46. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu, jika Allah mengambil pendengaranmu, dan penglihatanmu, serta menutupi hatimu? Siapa ilah selain Allah Yang mengembalikannya kepadamu? Perhatikanlah, bagaimana Aku mengulang-ulang, memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami, namun tetap mereka berpaling juga.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak diberi hidayah oleh Allah, sebagaimana pun Allah mengulang-ulang tanda-tanda kebesaran-Nya, mereka tetap tidak mau memperhatikan-nya.

qul = katakanlah; aro-aitakum = bagaimana pendapat kamu; in atãkum = jika datang kepadamu; ‘adzãbullãhi = azab Allah; baghtatan = dengan tiba-tiba; au = atau; jahrotan = terang-terangan; hal = apakah, tidakkah; yuhlakũ = akan dibinasakan; illã = kecuali; al qaumu = kaum; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

qul aro-aitakum in atãkum ‘adzãbullãhi baghtatan au jahrotan hal yuhlakũ illãl qaumuzh zhōlimũn

47. Katakanlah: “Bagaimana pendapatmu, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan tiba-tiba atau terang-terangan?” Tidaklah akan dibinasakan, kecuali orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak akan membinasakan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Yang akan dibinasakan adalah orang-orang lalim

wa mã = dan Aku tidak; nursilu = Aku mengutus; al mursalĩna = para Utusan; illã = kecuali; mubasysyirĩna = memberi kabar gembira; wa mundzirĩna = dan memberi peringatan; faman = maka barang siapa; ãmana = beriman; wa ashlaha = dan mengadakan perbaikan; falã = maka tidak ada; khaufun = rasa takut; ‘alaihim = pada mereka; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = mereka bersedih hati.

wa mã nursilul mursalĩna illã mubasysyirĩna wa mundzirĩna, faman ãmana wa ashlaha falã khaufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.

48. Dan Aku tidak mengutus para Rasul, kecuali untuk memberi kabar gembira dan memberi peringatan. Maka barang siapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, tentu mereka tidak ada rasa takut, dan tidak pula mereka merasa bersedih hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi kabar gembira, dan peringatan kepada orang yang beriman dan orang-orang yang mengadakan perbaikan. Orang yang mengadakan perbaikan adalah orang yang tadinya kafir menjadi beriman, orang yang munafik menjadi orang yang beribadah sesuai dengan petunjuk dari Allah dan Nabinya, orang yang fasik menjadi penuh perhatian pada norma-norma agama, etika agama, emika agama, orang murtad menjadi kembali lagi peda kepercayaan kepada Allah Yang benar, dan lain-lain.

wa = dan; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat-Ku; yamassuhumu = akan meneimpa mereka; al adzãbu = azab; bi mã = dengan sebab; kãnũ = mereka adalah; yafsuqũn = mereka berbuat fasik.

wal ladzĩna kadzdzabũ bi ãyãtinã yamassuhumul adzãbu bi mã kãnũ yafsuqũn.

49. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Ku, mereka akan ditimpa azab, karena mereka berbuat fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sifat-sifat orang fasik: mendustakan ayat-ayat Allah; berbuat seenak hatinya (tidak memperhatikan dirinya, orang di luar dirinya, dan lingkungannya); tidak menyadari kesalahan dirinya; tidak menepati janji, kalau ia berjanji..

qul = katakanlah; lã = tidak; aqũlu = aku mengatakan; lakum = kepada kamu; ‘indĩ = ada padaku, kepunyaanku; khazã-inullãhi = perbendaharaan Allah; wa lã = dan tidak; a’lamu = aku mengetahui; al ghoiba = yang gaib; wa lã = dan tidak; aqũlu = aku mengatakan; lakum = kepadamu; innĩ = sesungguhnya aku; malakun = Malaikat; in attabi’u = aku mengikuti; illã = kecuali; mã = apa; yũhã = diwahyukan; ilayya = kepadaku; qul = katakanlah; hal yastawĩl a’mã wal bashĩru, afalã tatafakkarũn.

qul lã aqũlu lakum ‘indĩ khazã-inullãhi wa lã a’lamul ghoiba wa lã aqũlu lakum innĩ malakun in attabi’u illã mã yũhã ilayya, qul hal yastawĩl a’mã wal bashĩru, afalã tatafakkarũn.

50. Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu perbendaharaan Allah yang ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib, juga, aku tidak mengatakan kepadamu, aku seorang malaikat, aku tidak mengikuti, kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.” Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Apakah kamu tidak berpikir?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw. apa yang harus dikatakan kepada orang-orang fasik.

wa andzir = dan berilah peringatan; bihi = dengannya (Alquran); al ladzĩna = orang-orang yang; yakhōfũna = (mereka) takut; an yuhsyarũ = mereka akan dikumpulkan; ilã = kepada; robbihim = Robmereka; laisã = tidak ada; lahum = bagi mereka; min dũnihi = dari selain Dia; waliyyun = seorang Pelindung; wa lã = dan tidak; syafĩ-‘un = seorang penolong; la’allahum = agar mereka; yattaqũn = mereka bertakwa.

wa andzir bihil ladzĩna yakhōfũna an yuhsyarũ ilã robbihim laisã lahum min dũnihi waliyyun wa lã syafĩ-‘ul la’allahum yattaqũn.

51. Dan berilah peringatan dengan Alquran kepada orang-orang yang takut pada hari dikumpulkannya di hadapan Robmereka, tidak ada Pelindung atau pun penolong selain dari Allah, agar mereka takwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. memberi peringatan dengan Alquran kepada orang-orang yang takut datangnya Hari Kiamat.

wa lã = dan janganlah; tathrudi = kamu mengusir; al ladzĩna = orang-orang yang; yad’ũna = (mereka) menyeru; robbahum = Robmereka; bil ghodãti = pada pagi hari; wal ‘asyiyyi = dan petang; yurĩdũna = mereka menghendaki; wajhahu = wajah-Nya, keridoan-Nya; mã ‘alaika = tidak ada atasmu; min hisãbihim = dari perhitungan mereka; min syai-in = sedikit pun; wa mã min = dan tidak dari; hisãbika = perhitungan kamu; ‘alaihim = atas mereka; min syai-in = sedikit pun; fatathrudahum = maka kamu mengusir mereka; fatakũna = maka kamu menjadi; minazhzhōlimĩn = termasuk orang-orang yang lalim.

wa lã tathrudil ladzĩna yad’ũna robbahum bil ghodãti wal ‘asyiyyi yurĩdũna wajhahu, mã ‘alaika min hisãbihim min syai-in wa mã min hisãbika ‘alaihim min syai-in fatathrudahum fatakũna minazhzhōlimĩn.

52. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Robmereka di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki kerelaan-Nya. Tidak ada tanggung jawab Anda sedikit pun terhadap perhitungan amal mereka, dan tidak ada tanggung jawab sedikit pun terhadap perhitungan amalmu, maka kamu tidak berhak mengusir mereka, jika kamu mengusir mereka, maka kamu termasuk orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya untuk tidak melakukan apa yang tersurat dalam ayat ini. Allah memberi kebebasan dalam beramal kebaikan.

wa kadzãlika = dan demikianlah; fatannã = Aku menguji; ba’dhohum = sebagian mereka; biba’dhin = dengan sebagian yang lain; liyaqũlũ = supaya mereka mengatakan; ahã-ulã-i = inikah orang-orang yang; mannallãhu = Allah telah menganugerahi; ‘alaihim = kepada mereka; mim baininã = di antara kita; alaisallãhu = bukankah Allah; bi a’lama = lebih mengetahui; bisy syãkirĩn = pada orang-orang yang bersyukur.

wa kadzãlika fatannã ba’dhohum biba’dhil liyaqũlũ ahã-ulã-i mannallãhu ‘alaihim mim baininã, alaisallãhu bi a’lama bisy syãkirĩn.

53. Dan demikianlah, Aku telah menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, supaya mereka mengatakan: “Inikah orang-orang di antara kita yang telah Allah anugerahi ketakwaan?” Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah selalu menguji sebagian manusia dengan sebagian yang lain dengan ungkapan rasa takwa dan syukur atas segala karunia-Nya.

wa idzã = dan apabila; jã-aka = datang kepada kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yu’minũna = mereka beriman; bi-ayãtinã = pada ayat-ayat-Ku; fa qul = maka katakanlah; salãmun ‘alaikum = keselamatan atas kamu; kataba = telah menetapkan; robbukum = Robkamu; ‘alã nafsihi = atas Dirinya; ar rohmata = rahmat, kasih-sayang; annahũ = bahwa; man = barang siapa; ‘amila = berbuat; minkum = di antara kamu; sũ-an = kejahatan; bi jahãlatin = karena kebodohan; summa = kemudian; tãba = ia bertobat; mim ba’dihĩ = dari sesudahnya; wa ashlaha = dan ia mengadakan perbaikan; fa-annahũ = maka sesungguhnya Dia; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.

wa idzã jã-akal ladzĩna yu’minũna bi-ayãtinã fa qul salãmun ‘alaikum, kataba robbukum ‘alã nafsihir rohmata annahũ man ‘amila minkum sũ-am bi jahãlatin summa tãba mim ba’dihĩ wa ashlaha fa-annahũ ghofũrur rohĩmu.

54. Dan apabila orang-orang yang beriman pada ayat-ayat-Ku datang kepada kamu, maka katakanlah: “Salamun alaikum (selamat atas kamu), Robkamu telah menetapkan Dirinya rahmat. Barang siapa di antara kamu berbuat kejahatan karena kebodohan, kemudian ia bertaubat, dan mengadakan perbaikan sesudah itu, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, dan Maha Penyayang.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kepada Nabi Muhammad saw.dengan pesan kasih-sayang-Nya, seperti apa yang tersebut dalam ayat ini.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nifashshilu = Aku jelaskan; al ayãti = ayat-ayat itu; wa litastabĩna = agar jelaslah; sabĩlu = jalan; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

wa kadzãlika nifashshilul ayãti wa litastabĩna sabĩlul mujrimĩn.

55. Dan demikianlah Aku terangkan ayat-ayat itu agar jelaslah jalan orang-orang yang berdosa itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jalan orang-orang yang berdosa itu sesungguhnya sangatlah mudah dan ringan dilakukannya. Namun demikian, banyak yang tidak tersentuh hati mereka pada seruan Allah. Hatinya sudah banyak terpengaruh oleh bujukan setan dan sebagian jin.

qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; nuhĩtu = aku dilarang; in a’buda = bahwa aku menyembah; al ladzĩna = orang-orang yang; tad’ũna = kamu sembah; min dũnillãh = dari selain Allah; qul = katakanlah; lã attabi’u = aku tidak akan mengikuti; ahwã-akum = hawa nafsumu; qod = sungguh; dholaltu = aku tersesat; idzan = jika demikian; wa mã = dan tidaklah; ana = aku; mina = dari; al muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

qul innĩ nuhĩtu in a’budal ladzĩna tad’ũna min dũnillãh, qul lã attabi’u ahwã-akum, qod dholaltu idzan wa mã ana minal muhtadĩn

56. Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah dilarang untuk menyembah apa yang kamu sembah selain Allah.” Katakanlah: “Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu, sungguh tersesatlah aku, jika berbuat demikian, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw. sering digambarkan sebagai orang yang mengatakan sesuatu pesan dari Allah seperti ayat ini, untuk umat manusia yang percaya atau yang tidak percaya.

qul = katakanlah; innĩ = sesungguhnya aku; ‘alã bayyinatim = berdasarkan keterangan yang nyata; mir robbĩ = dari Rabku; wa kadzdzabtum = dan kamu mendustakan; bihĩ = keterangan itu; mã ‘indĩ = tidak ada padaku; mã tasta’jilũna = apa yang kamu minta disegerakan; bihĩ = kejadiannya; inil hukmu = tidaklah keputusan itu; illã lillãh = hanya ada pada Allah; yaqushshu = Dia menerangkan; al haqqo = kebenaran; wa huwa = dan Dia; khoirul fãshilĩn = pemberi keputusan yang terbaik.

qul innĩ ‘alã bayyinatim mir robbĩ wa kadzdzabtum bihĩ, mã ‘indĩ mã tasta’jilũna bihĩ, inil hukmu illã lillãh, yaqushshul haqqo, wa huwa khoirul fãshilĩn.

57. Katakanlah: “Sesungguhnya aku berdasarkan keterangan yang nyata, jelas dari Rabku, dan kamu mendustakan keterangan itu, tidak ada padaku, apa yang kamu minta disegerakan kejadiannya, keputusan hukum itu hanya ada pada Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya, dan Dialah Pemberi keputusan yang terbaik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tuntutan orang murtad, kafir, musyrik, fasik menunjukkan keraguan hatinya, bahkan mereka tidak mau mempercayai setiap keterangan yang datangnya dari Allah kepada Nabi Muhammad saw.. Apa yang minta disegerakan datangnya oleh orang kafir adalah datangnya kiamat, laknat Allah di dunia yang diancamkan kepada mereka. Beberapa kejadian ditampakkan Allah dewasa ini sebagai kejadian kiamat sughro.

qul = katakanlah; lau anna = kalau sekiranya; ‘indĩ = ada padaku; mã = apa; tasta’jilũna = yang kamu minta disegerakan; bihĩ = kedatangannya; laqudhiya = tentu telah diputuskan; al amru = perkara itu; bainĩ = padaku; wa bainakum dan pada kamu; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bizhzhōlimĩn = pada orang-orang yang lalim.

qul lau anna ‘indĩ mã tasta’jilũna bihĩ laqudhiyal amru bainĩ wa bainakum, wallãhu a’lamu bizhzhōlimĩn.

58. Katakanlah: “Kalau sekiranya ada padaku, apa yang kau minta disegerakan kedatangannya, tentu telah diputuskan perkara itu padaku dan pada kamu, dan Allah lebih mengetahui pada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk mengatakan seperti pada ayat di atas. Sesungguhnya hanya Allah yang menetapkan segala keputusan-Nya.

wa indahũ = pada Dirinya; mafatihu = kunci-kunci; al ghoibi = kegaiban; lã ya’lamuhã = tidak ada yang mengetahuinya; illã huwa = kecuali Dia; wa ya’lamũ = dan Dia mengetahui; mã = apa yang; fil barri = di darat; wal bahri = di laut; wa mã = dan apa yang; tasquthu = jatuh; min waroqatin = dari sehelai daun; illã = kecuali, melainkan; ya’lamuhã = Dia mengetahuinya; wa lã = dan tidak; habbatin = sebutir biji; fĩ zhulumãti = dalam kegelapan; al ardhĩ = bumi; wa lã = dan tidak; rothbin = biji basah; wa lã = dan tidak; yãbisin = biji kering; illã = melainkan, kecuali; fĩ kitãbin = di dalam kitab; mubĩni = yang nyata.

wa indahũ mafatihul ghoibi lã ya’lamuhã illã huwa, wa ya’lamũ mã fil barri wal bahri, wa mã tasquthu min waroqatin illã ya’lamuhã wa lã habbatin fĩ zhulumãtil ardhĩ wa lã rothbin wa lã yãbisin illã fĩ kitãbim mubĩni.

59. Dan pada Allah kunci-kunci semua yang gaib, ilmu, tidak ada yang mengetahui, kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yag di daratan dan di lautan, dan tidak sehelai daun pun yang jatuh, yang tidak diketahui-Nya, dan tidak sebutir biji basah atau kering jatuh dalam kegelapan malam yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Mahagaib. Kunci-kunci kegaiban, ilmu, semuanya ada pada Allah. Manusia hanya sedikit diberi ilmu gaib. Allah Maha Mengetahui segala apa yang ada di langit dan di bumi. Manusia diberi ilmu sangat sedikit. Cukup untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, dengan keterbatasan.

wa huwa = dan Dia; al ladzĩ = yang; yatawaffãkum = mewafatkan, menidurkan; bil laili = pada waktu malam; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mã jarohtum = apa yang kamu kerjakan; bin nahãri = pada waktu siang; tsumma = kemudian; yab’atsukum = Dia membangunkan kamu; fĩhi = kepadanya; liyuqdhō = untuk disempurnakan; ajalun = ajal, usia, umur; musamman = telah ditentukan; tsumma = kemudian; ilaihi = kepada Ilahi; marji’ukum = tempat kembali kamu; tsumma = kemudian; yunabbi-ukum = Dia menerangkan kepada kamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.

wa huwal ladzĩ yatawaffãkum bil laili wa ya’lamu mã jarohtum bin nahãri tsumma yab’atsukum fĩhi liyuqdhō ajalum musamman, tsumma ilaihi marji’ukum tsumma yunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.

60. Dan Dia menidurkan kamu di waktu malam, dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada waktu siang, kemudian Dia membangunkan kamu pada waktu siang untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan, kemudian kepada-Nya tempat kembalimu, lalu Dia memberitahu apa yang telah kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengatur hidup manusia siang-malam. Allah mengingatkan hanya kepada-Nya tempat kembali. Allah juga akan memberitahu apa saja yang telah dikerjakan selama hidupnya. Banyak-banyaklah memohon ampun atas kesalahan besar atau kecil yang pernah dilakukan.

wa huwa = dan Dia; al qōhiru = berkuasa penuh; fauqo = pada, atas; ‘ibãdihĩ = abdi-abdi-Nya; wa yursilu = dan diutus-Nya; ‘alaikum = untuk kamu; hafazhotan = (Malaikat-malaikat) penjaga; hattã = sampai; idzã = apabila; jã-a = telah dating; ahodakumu = salah seorang di antara kamu; al mautu = kematian; tawafat-hu = mewafatkannya; rusulunã = utusan=utusan Kami; wa hum = dan mereka; lã yufarrithũn = tidak melalaikan kewajibannya.

wa huwal qōhiru fauqo ‘ibãdihĩ, wa yursilu ‘alaikum hafazhotan hattã idzã jã-a ahodakumul mautu tawafat-hu rusulunã wa hum lã yufarrithũn.

61. Dan Dia Yang berkuasa penuh atas abdi-abdi-Nya, dan diutus-Nya untuk kamu Malaikat-malaikat penjaga, sampai datang kematian kepada salah seorang dari kamu, ia diwafatkan oleh utusan Aku (Malaikat), dan mereka (Malaikat) tidak melalaikan kewajiban.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu kekuasaan-Nya kepada semua makhluk, khususnya manusia dan para Malaikat penjaganya. Malaikat tidak pernah lalai dalam melaksanakan kewajibannya, manusia banyak yang sering lalai. Banyak-banyaklah memohon ampun kepada Allah.

tsumma = kemudian; ruddũ = mereka dikembalikan; ilallãhi = kepada Allah; maulãhumu = penguasa; al haqqi = yang hak (benar); alã = ketahuilah; lahu = bagi-Nya; al hukmu = segala hukum; wa huwa = dan Dialah; asra’u = paling cepat; al hãsibĩn = Penghitung.

tsumma ruddũ ilallãhi maulãhumul haqqi, alã lahul hukmu wa huwa asra’ul hãsibĩn.

62. Kemudian, mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa Yang hak, ketahuilah bahwa segala hukum itu kepunyaan-Nya, Dialah Penghitung Yang tercepat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, semua hamba Allah itu akan dikembalikan kepada-Nya. Segala hukum itu milik-Nya. Allah Penghitung tercepat.

qul = katakanlah; man = siapakah; yunajjĩkum = yang dapat menyelamatkan kamu; min zhulumãti = dari bencana; al barri = di darat; wal bahri = dan di laut; tad’ũnahũ = kamu berdoalah kepada-Nya; tadhorru’an = dengan mertendahkan diri; wa khufyatan = dan dengan suara lembut; lain = sungguh jika; anjaanã = Dia menyelematkan kami; min hãdzihĩ = dari ini; lanakũnanna = tentu Aku menjadi; minasy syãkirĩn = dari orang-orang yang bersyukur.

qul man yunajjĩkum min zhulumãtil barri wal bahri tad’ũnahũ tadhorru’an wa khufyatal lain anjaanã min hãdzihĩ lanakũnanna minasy syãkirĩn.

63. Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana di darat dan di laut?” Berdoalah kamu kepada-Nya dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut: “Sesungguhnya, jika Dia menyelamatkan Aku dari bencana ini, tentulah Aku menjadi orang-orang yang bersyukur.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah yang selalu menyelamatkan dari bencana makhluk-Nya ketika dalam perjalanan di darat, laut, dan udara. Allah menyuruh manusia berdoa ketika akan melakukan perjalanan di darat, laut, maupun udara. Kalau mendapatkan keselamatan, manusia hendaknya bersyukur atas segala nikmat-Nya. Allah itu Maha Penyelamat.

qullillahu = katakanlah, Allah; yunajjĩkum = Dia menyelamatkan kamu; minhã = darinya (bencana); wa min kulli = dan dari segala; karbin = kesukaran; tsumma = kemudian; antum = kamu; tusyrikũn = kamu mempersekutukan

qullillahu yunajjĩkum minhã wa min kulli karbin tsumma antum tusyrikũn.

64. Katakanlah: “Allah Yang menyelamatkan kamu darinya (bencana itu), dan dari segala kesukaran, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, dalam setiap perjalanan manusia, hanya Dialah yang menjaga keselamatannya. Maka, sebaiknya manusia itu jangan selalu kembali mempersekutukan-Nya dengan ilah lain.

qul = katakanlah; huwa = Dia; al qōdiru = berkuasa; ‘alã = untuk; ‘an-yab’atsa = mengirimkan; ‘alaikum = kepada kamu; ‘adzãban = azab; min = dari; fauqikum = atas kamu; au mintahti = atau dari bawah; arjulikum = kaki kamu; au yalbisakum = atau mencampurkan kamu; syiya’an = golongan-golongan; wa yudzĩqo = dan Dia menimpakan; ba’dhokum = sebagian kamu; ba’sã = bencana, keganasan; ba’dhin = sebagian yang lain; unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; nusharrifu = Aku menerangkan; al ãyãti = ayat-ayat itu; la’allahum = agar mereka; yafqohũn = mereka memahami.

qul huwal qōdiru ‘alã ‘an-yab’atsa ‘alaikum ‘adzãbam min fauqikum au mintahti arjulikum au yalbisakum syiya’an wa yudzĩqō ba’dhokum ba’sã ba’dhin, unzhur kaifa nusharriful ãyãti la’allahum yafqohũn.

65. Katakanlah: “Dia Yang berkuasa mengirimkan azab kepada kamu, dari atas kamu, atau dari bawah kamu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bermusuhan), dan Dia menimpakan keganasan dari sebagian kamu kepada sebagian yang lain.” Perhatikan, bagaimana Aku menerangkan ayat-ayat itu agar mereka memahami.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Yang berkuasa mengazab siapa pun. Nabi Muhammad saw. tidak berkuasa mengazab manusia (makhluk) lain. Ayat-ayat Allah itu diterangkan melalui berbagai kejadian di alam semesta ini, termasuk keganasan antar golongan yang bermusuhan. Siapa yang dikenai keganasan dari suatu golongan, apakah orang yang beriman atau orang kafir? Kalau orang beriman ditimpa keganasan musuh, maka mereka harus mawas diri, menyadari apa kesalahannya. Kemudian mereka harus memohon ampun kepada Allah, atas segala kekhilafannya. Mereka harus berupaya memperbaiki diri. Perhatikan ayat-ayat Allah, dan pahamilah, demi keselamat hidup di dunia dan di akhirat.

wa kadzdzaba = dan mendustakan; bihĩ = dengan ayat-ayat ini; qoumuka = kaummu; wa huwa = dan dia (azab); al haqqu = benar; qul = katakanlah; lastu = aku bukan; ‘alaikum = bagi kamu; bi wakĩlin = yang berkuasa

wa kadzdzaba bihĩ qoumuka wa huwal haqqu, qul lastu ‘alaikum bi wakĩlin.

66. Dan kaummu mendustakannya (ayat-ayat itu), padahal azab itu benar. Katakanlah: “Aku bukanlah yang berkuasa menghukum kamu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Azab Allah itu ditimpakan kepada orang-orang yang tidak mau mempercayai ayat-ayat Allah. Nabi Muhammad saw.dan para pengikutnya sampai sekarang tidak mempunyai wewenang menghukum orang-orang yang tidak mempercayai ayat-ayat yang diturunkan-Nya melalui beliau.

li kulli = untuk tiap-tiap; naba-in = berita; mustaqorrun = masa terjadinya; wa saufa = dan kelak; ta’lamũn = kamu akan mengetahui.

li kulli naba-in mustaqorrun, wa saufa ta’lamũn

67. Untuk tiap-tiap berita yang dibawa oleh Rasul-Rasul, ada masa terjadinya, dan kelak kamu akan mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw., beliau harus mencatat masa datangnya berita-berita yang dibawa oleh Rasul-Rasul yang akan dibertahukan kelak.

wa idzã = dan apabila; ro-aita = kamu melihat; al ladzĩna = orang-orang yang; yakhũdhũna = (mereka) memperolok-olokkan; fĩ ãyãtinã = pada ayat-ayat Kami; fa’aridh = maka tinggalkanlah, berpalinglah; ‘anhum = dari mereka; hattã = sehungga, sampai; yakhũdhũ = mereka memperolok-olokkan; fĩ hadĩtsin = tentang pembicaraan; ghoirihĩ = lainnya; wa immã = dan jika; yunsiyannaka = menjadikan kamu lupa; asy syaithōnu = setan; falã = maka jangan; taq’ud = kamu duduk-duduk; ba’da = susudah; adz dzikrō = teringat; ma’a = bersama; al qoumizh = kaum; zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa idzã ro-aital ladzĩna yakhũdhũna fĩ ãyãtinã fa’aridh ‘anhum hattã yakhũdhũ fĩ hadĩtsin ghoirihĩ, wa immã yunsiyannakasy syaithōnu falã taq’ud ba’dadz dzikrō ma’al qoumizh zhōlimĩn.

68. Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sampai mereka membicarakan persoalan lainnya, dan jika setan membuat kamu lupa, sesudah teringat, maka janganlah kamu duduk-duduk bersama-sama orang-orang lalim itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada hamba-hamba-Nya agar tidak berbuat lalim, harus meninggalkan orang-orang yang duduk memperolok-olokkan ayat-ayat Allah.

wa mã = dan bukanlah; ‘ala = pada, atas; al ladzĩna = orang-orang yang; yataqũna = (mereka) bertakwa; min hisãbihim = dari perhitungan mereka; min syai-in = sedikit pun; wa lã kin = akan tetapi; dzikrō = peringatan; la’allahum = agar mereka; yattaqũn = mereka bertakwa.

wa mã ‘alal ladzĩna yataqũna min hisãbihim min syai-in wa lã kin dzikrō la’allahum yattaqũn.

69. Dan (sedikit pun) bukanlah tanggung jawab orang-orang takwa atas perhitungan amal mereka, kewajiban mereka (orang-orang yang beriman) adalah memberi peringatan agar mereka (orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad) bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang beriman tidak perlu pusing-pusing memikirkan perhitungan amal orang-orang kafir. Kewajibannya memperingatkan orang-orang yang tidak beriman agar mereka takut pada hari perhitungan nanti. Inilah tanggung jawab orang-orang yang beriman, agar mau terus berdakwah mengagungkan nama Allah.

wa dzari = dan tinggalkanlah; al ladzĩna = orang-orang yang; at takhodzũ = (mereka) menjadikan; dĩnahum = agama mereka; la’iban = permainan; wa lahwan = dan senda-gurau; wa ghorrot = dan menipu; humu = mereka; al hayãtu = kehidupan; ud dun-yã = dunia; wa dzakkir = dan peringatkanlah; bihĩ = dengannya (Alquran); an tubsala = akan dijerumuskan; nafsun = setiap diri; bimã = karena apa; kasabat = mereka kerjakan; laisa = tidak ada; lahã = baginya; min dũnillãhi = dari selain Allah; waliyyun = Pelindung; wa lã syafĩ’un = dan tidak pula penolong; wa in ta’dil = dan jika mereka menebus; kulla = segala; ‘adlin = tebusan; lã yu’khadz = pasti tidak diterima; minhã = darinya; ũlã-ika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; ubsilũ = (mereka) dijerumuskan; bimã = disebabkan apa; kasabũ = mereka kerjakan; lahum = bagi mereka; syarōbun = minuman; min hamĩmin = dari air yang mendidih; wa ‘adzãbun = dan azab; alĩmun = sangat pedih; bimã = disebabkan apa; kãnũ = mereka adalah; yakfurũn = mereka ingkar.

wa dzaril ladzĩnat takhodzũ dĩnahum la’iban wa lahwan wa ghorrot humul hayawãtud dun-yã, wa dzakkir bihĩ an tubsala nafsum bimã kasabat laisa lahã min dũnillãhi waliyyun wa lã syafĩ’un wa in ta’dil kulla ‘adlil lã yu’khadz minhã, ũlã-ikal ladzĩna ubsilũ bimã kasabũ lahumsyarōbum min hamĩmin wa ‘adzãbun alĩmum bimã kãnũ yakfurũn.

70. Dan tinggalkanlah orang-orang yang beragamanya hanya sebagai permainan dan senda-gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Dan peringatkanlah mereka dengan Alquran, agar masing-masing diri tidak dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan apa yang mereka kerjakan, tidak ada baginya Pelindung, dan tidak pula penolong selain dari Allah. Dan jika mereka menebus dengan segala macam tebusan, pasti tidak akan diterima dari mereka. Mereka itulah yang dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan apa yang mereka kerjakan. Bagi mereka disediakan minuman dari air yang mendidih dan azab yang sangat pedih disebabkan mereka ingkar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, di dunia ini ada manusia yang dalam beragamanya itu hanya pura-pura, tidak bersungguh-sungguh, hanya mempermainkan orang yang beriman untuk kepentingan hidupnya di dunia. Allah memerintahkan agar meninggalkan orang-orang yang berpura-pura dalam beragamanya itu. Namum Allah mengingatkan juga, mereka harus diperingatkan agar mereka mau membaca Alquran. Dengan demikian, mereka mungkin akan menyadari, apa yang mereka lakukan itu salah. Mereka akan menyadari bahwa hanya Allah Yang akan menjadi Pelindungnya dari api neraka nanti di akhirat. Kalau tetap ingkar, maka mereka akan menanggung penderitaan siksa yang amat pedih di akhirat.

qul = katakanlah; anad’ũ = apakah kita akan menyeru; min dũnillahi = dari selain Allah; mã lã = sesuatu yang tidak; yanfa’unã = memberi manfaat kepada kita; wa lã = dan tidak; yadhurrunã = memberi mudarat kepada kita; wa nuroddu = dan kita dikembalikan; ‘alã = pada; a’qōbinã = tumit belakang kita; ba’da = setelah; idz hadaanallãhu = Allah memberi petunjuk kepada kita; kalladzi = seperti orang; istahwathu = telah menyesatkan; asy syayãthĩnu = setan; fil ardhĩ = di bumi; hoirōna = kebingungan; lahũ = baginya; ash-hãbun = sahabat-sahabat; yad’ũnahũ = memanggilnya; ilal huda = ke jalan yang lurus; i’tinã = marilah ikuti kami; qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; hudallãhi = petunjuk Allah; huwa = itulah; al hudã = petunjuk; wa umirnã = dan kita diperintahkan; linuslima = agar kita menyerahkan diri; lirobbil ‘ãlamĩn = kepada Penguasa alam.

qul anad’ũ min dũnillahi mã lã yanfa’unã wa lã yadhurrunã wa nuroddu ‘alã a’qōbinã ba’da idz hadaanallãhu kalladzistahwathusy syayãthĩnu fil ardhĩ hoirōna lahũ ash-hãbun yad’ũnahũ ilal huda i’tinã, qul inna hudallãhi huwal hudã, wa umirnã linuslima lirobbil ‘ãlamĩn.

71. Katakanlah: “Apakah kita akan menyeru selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat, dan tidak pula memberi mudarat kepada kita? Dan apakah kita akan dikembalikan ke belakang, setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan setan, sehingga kebingungan di muka bumi. Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya ke jalan yang lurus, dan mengatakan: “Marilah ikuti kami.” Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah yang benar, dan kita diperintahkan agar kita menyerahkan diri kepada Pemilik alam ini.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya mengatakan ayat ini kepada umat manusia. Berserah dirilah hanya kepada Allah Pemilik alam.

wa an aqĩmush sholãta = dan dirikanlah salat; wa attaqũhu = dan bertakwalah kepada-Nya; wa huwal ladzĩ = dan Dia Yang; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu dikumpulkan.

wa an aqĩmush sholãta wa attaqũhu, wa huwal ladzĩ ilaihi tuhsyarũn.

72. Dan hendaknya mendirikan salat, dan bertakwalah kepada-Nya, dan kepada-Nya, kamu akan dikumpulkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada umat manusia.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; kholaqo = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhō = dan bumi; bil haqqi = dengan benar; wa yauma = dan pada hari; yaqũlu = Dia berfirman; kun = jadilah; fayakũn = maka jadilah ia; qouluhu = fiman-Nya; al haqqu = benar; wa lahu = dan bagi-Nya; al mulku = kekuasan; yauma = pada hari; yunfakhu = ditiup; fish shũri = sang kala; ‘alimu = Yang Mengetahui; al ghoibi = gaib; wasy syahãdati = dan yang nyata; wa huwa = dan Dia; al hakĩmu = Mahabijaksana; al khobĩr = Maha Mengetahui.

wa huwal ladzĩ kholaqos samãwãti wal ardhō bil haqqi, wa yauma yaqũlu kun fayakũn, qouluhul haqqu, wa lahul mulku yauma yunfakhu fish shũri, ‘alimul ghoibi wasy syahãdati, wa huwal hakĩmul khobĩr.

73. Dan Dialah benar-benar Yang menciptakan langit dan bumi, dan pada hari Dia berfirman: “Jadilah” lalu jadilah ia, dan firman-Nya benar, dan bagi-Nya kekuasaan pada hari sangkala ditiup, Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata, dan Dialah yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyatakan Jati Diri dengan firman-Nya. Dia mengetahui Hari Kiamat yang bagi mahkluk-Nya masih gaib.

wa idz = dan tatkala; qōla = berkata; ibrōhĩmu = Ibrahum; li abĩhi = kepada bapaknya; ‘ãzaro = Azar; atattakhidzu = apakah kamu menjadikan; ashnãman = berhala-berhala; alihatan = Tuhan; innĩ = sesungguhnya aku; arōka = aku melihat kamu; waqoumaka = dan kaummu; fĩ dholãlin = dalam kesesatan; mubĩn = nyata.

wa idz qōla ibrōhĩmu li abĩhi ‘ãzaro atattakhidzu ashnãman alihatan, innĩ arōka waqoumaka fĩ dholãlim mubĩn.

74. Dan tatkala Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar: “Apakah kamu menjadikan berhala berhala itu sebagai Tuhan? Sesungguhnya, aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan Ibrahim ketika memperingatkan Bapaknya yang berlaku sesat.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nurĩ = Aku perhatikan; ibrōhĩma = Ibrahim; malakũta = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhĩ = dan bumi; waliyakũna = dan agar dia menjadi; mina = dari; al mũqinĩn = dari orang-orang yang yakin.

wa kadzãlika nurĩ ibrōhĩma malakũtas samãwãti wal ardhĩ waliyakũna minal mũqinĩn.

75. Dan demikianlah, Aku perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi, agar dia menjadi orang-orang dari golongan yang yakin.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyadarkan Nabi Ibrahim a.s. dan umat-umat sesudahnya tentang kerajaan Allah yang meliputi langit dan bumi. Semua penguasa yang ada di langit dan dibumi harus tunduk mengikuti aturan yang dibuat Allah.

falammã = maka ketika; janna = telah gelap; ‘alaihi = menyelimutinya; al lailu = malam; ro-ã = dia melihat; kaukabãn = bintang; qōla = dia berkata; hãdzã = ini; robbĩ = Rabku; falammã = maka ketika; afala = terbenam; lã uhibbu = tidak menyukai; al ãfilĩn = yang terbenam.

falammã janna ‘alaihil lailu ro-ãkaukabãn, qōla hãdzã robbĩ, falammã afala lã uhibbul ãfilĩn.

76. Maka, ketika malam telah gelap meyelimuti bumi, dia melihat bintang, lalu dia berkata: “Inilah Rabku.” Maka ketika bintang itu terbenam, dia berkata: “Aku tidak menyukai Rabku yang terbenam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. menebak-nebak Robbnya. Ini merupakan pembelajaran bagi umat-umat sesudahnya.

falammã = maka ketika; ro-a = dia melihat; al qomaro = bulan; bãzigan = terbit; qōla = dia berkata; hãdzã = inilah; robbĩ = Rabku; falammã = maka ketika; afala = ia terbenam; qōla = ia berkata; la-in lam = sungguh jika tidak; yahdinĩ = memberi petunjuk kepadaku; robbĩ = Rabku; la akũnanna = tentu aku termasuk; mina = dari; al qoumi = kaum; adh dhōllĩn = sesat.

falammã ro-ãl qomaro bãzigan qōlã hãdzã robbĩ, falammã afala qōla la-in lam yahdinĩ robbĩ la akũnna minal qoumidh dhōllĩn.

77. Maka ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata: “Inilah Rabku.” Ketika bulan itu terbenam, dia berkata: “Sungguh, jika Rabku tidak memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk golongan orang-orang yang sesat.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tebak-tebakan Nabi Ibrahim a.s. kalau dipikirkan dengan akal yang jernih, maka kesimpulannya, hanya dari petunjuk Allah saja yang akan mengarahkan kita pada jalan yang benar.

falammã = maka ketika; ro-a = dia melihat; asy syamsa = matahari; bãzigotan = terbit; qōla = dia berkata; hãdzã = inilah; robbĩ = Rabku; hãdzã = inilah; akbaru = lebih besar; falammã = maka ketika; afalat = terbenam; qōla = ia bekata; yã qoumi = yã, kaumku; innĩ = sesungguhnya aku; barĩ-un = berlepas diri; mimmã = dari apa yang; tusyrikũn = kamu persekutukan.

falammã ro-ãsy syamsa bãzigotan qōla hãdzã robbĩ hãdzã akbaru, falammã afalat qōla yã qoumi innĩ barĩ-um mimmã tusyrikũn.

78. Maka ketika matahari terbit, dia berkata: “Inilah Rabku, ini lebih besar.” Maka ketika ia terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. menyadari dan mengambil kesimpulan, Allah itu tidak ada yang dapat menyamai Keagungannya. Proses pembelajaran yang terus-menerus harus dilakukan umat manusia.

innĩ = sesungguhnya aku; wajjahtu = aku menghadapkan; wajhiya = diriku; lilladzĩ = kepada (Allah) Yang; fathoro = menciptakan; as samãwãti = langit; wal ardhō = dan bumi; hanĩfan = cenderung; wa mã ana = dan bukanlah aku; minal musyrikĩn = dari orang-orang yang musyrik.

innĩ wajjahtu wajhiya lilladzĩ fathoros samãwãti wal ardhō hanĩfan wa mã ana minal musyrikĩn.

79. Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Yang Menciptakan langit dan bumi, cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. menyadari dirinya harus selalu menghadap kepada Allah Yang Menciptakan langit dan bumi. Hatinya harus cenderung pada agama yang benar yang tidak menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya.

wa hãjjahũ = dan membantah kepadanya; qoumuhũ = kaumnya; qōla = dia berkata; atuhãjjũnnĩ = apakah kamu hendak membantahku; fillãhi = tentang Allah; wa qod = dan sesungguhnya; hadaani = Dia telah memberi petunjuk kepadaku; wa lã = dan aku tidak; akhōfu = takut; mã tasyrikũna = apa yang kamu persekutukan; bihĩ = dengan Allah; illã = kecuali; an yasyã-a = jika menghendaki; robbĩ = Rabku; syai-an = sesuatu; wasi’a = meliputi; robbĩ = Rabku; kulla syai’in = segala sesuatu; ‘ilman = ilmu; afalã = maka, apakah tidak; tatadzakkarũn = kamu tidak ingat.

wa hãjjahũ qoumuhũ, qōla atuhãjjũnnĩ fillãhi wa qod hadaani wa lã akhōfu mã tasyrikũna bihĩ, illã an yasyã-a robbĩ syai-an wasi’a robbĩ kulla syai’in ‘ilman, afalã tatadzakkarũn.

80. Dan membantahlah kaumnya kepada Ibrahim, dia (Ibrahim s.a.) berkata: “Apakah kamu akan membantah aku tentang Allah? Padahal, sesungguhnya Dia telah memberi petunjuk kepadaku, dan aku tidak takut kepada apa yang kamu pesekutukan dengan Allah itu, kecuali jika Rabku menghendaki malapetaka, dan ilmu Rabku meliputi segala sesuatu, maka apakah kamu tidak ingat?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. mengingatkan kaumnya, bahwa ilmu Allah meliputi segala apa pun yang ada di langit dan di bumi. Allah telah memberi petunjuk kepada Nabi Ibrahim a.s. Sekarang Nabi Ibrahim a.s. mengingatkan kaumnya agar tidak mempersekutukan Allah dengan segala sesuatu makhluk-Nya, misalnya angin, pohon, matahari, batu atau kayu, dan lain-lain. Mereka membuat patung yang dihormat-hormat, dipuja-puja, diberi sesaji, dan lain-lain.

wa kaifa = dan bagimana; akhōfu = aku akan takut; mã asyroktum = apa yang kamu persekutukan; wa lã takhōfũna = dan kamu tidak takut; annakum = bahwa kamu; asyroktum = kamu mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; mã lam = apa yang tidak; yunazzil = Allah menurunkan; bihĩ = tentang itu; ‘alaikum = kepadamu; sulthōnã = kekuatan, keterangan; fa-ayyu = maka manakah; al farĩqoini = dua golongan; ahaqqu = lebih berhak; bil amni = dengan keamanan; ingkuntum = jika kamu; ta’lamũn = kamu mengetahui.

wa kaifa akhōfu mã asyroktum wa lã takhōfũna annakum asyroktum billãhi mã lam yunazzil bihĩ ‘alaikum sulthōnã, fa-ayyul farĩqoini ahaqqu bil amni, ingkuntum ta’lamũn.

81. Dan bagaimana aku akan takut kepada apa yang kamu persekutukan dengan Allah, sedang kamu tidak takut, kamu mempersekutukan sesuatu dengan Allah. Allah Sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu kepadamu. Maka makakah di antara dua golongan yang lebih berhak mendapat keamanan dari malapetaka, jika kamu mengetahui?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Ibrahim a.s. membangkitkan kaumnya untuk berpikir, tentang apa yang sudah dan sedang diperbuat atas keyakinannya kepada ada-Nya Allah Yang menjamin keamanan hidupnya di dunia sampai akhirat.

alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa lam = dan tidak; yalbisũ = mereka mencampur-adukkan; ĩmaanahum = iman mereka; bi zhulmin = dengan kelaliman; ulã-ika = mereka itu; lahumu = bagi mereka; al amnu = keamanan; wa hum = dan mereka; muhtadũn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

alladzĩna ãmanũ wa lam yalbisũ ĩmaanahum bi zhulmin ulã-ika lahumul amnu wa hum muhtadũn.

82. Orang-orang yang beriman, dan mereka tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kelaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kelaliman di sini artinya orang yang mencampur-adukkan keimanan kepada Allah dengan benda-benda yang kasat mata dan yang tidak kasat mata.

wa tilka = dan itulah; hujjatunã = hujah Kami; ãtainãhã = Aku berikan itu; ibrōhĩma = (kepada) Ibrahim; ‘alã = menghadapi; qoumihi = kaumnya; narfa’u = Aku tinggikan; darojãtin = beberapa derajat; man = siapa; nasyã-u = Aku kehendaki; inna = sesungguhnya; robbaka = Robkamu; hakĩmun = Mahabijaksana; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

wa tilka hujjatunã ãtainãhã ibrōhĩma ‘alã qoumihi, narfa’u darojãtim man nasyã-u, inna robbaka hakĩmun ‘alĩm.

83. Dan itulah hujjah Aku yang Aku berikan kepada Ibrahim menghadapi kaumnya. Aku tinggikan beberapa derajat siapa yang Aku kehendaki. Sesungguhnya Robkamu Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi penjelasan atas tindakan-Nya, dan tindakan selanjutnya. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang dihendaki secara bijaksana.

wa wahabnã = dan Aku berikan; lahũ = kepadanya; ishãqo = Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; kullan = masing-masing; hadainã = Aku beri petunjuk; wa nũhan = dan Nuh; hadaina = Aku beri petunjuk; min qoblu = dari sebelum itu; wa min dzurriyyatihĩ = dan dari keturunannya; dãwũda = Dawud; wa sulaimaana = dan Sulaiman; wa ayyũba = dan Ayub; wa yũsufa = dan Yusuf; wa mũsã = dan Musa; wa hãrũna = dan Harun; wa kãdzalika = dan demikianlah; najzĩ = Aku membalas; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat baik.

wa wahabnã lahũ ishãqo wa ya’qũba, kullan hadainã, wa nũhan hadaina min qoblu, wa min dzurriyyatihĩ dãwũda wa sulaimaana wa ayyũba wa yũsufa wa mũsã wa hãrũna wa kãdzalika najzĩl muhsinĩn.

84. Dan Aku berikan kepadanya (Ibrahim), Ishaq, dan Ya’qub, masing-masing telah Aku beri petunjuk, dan kepada Nuh sebelum itu telah Aku beri petunjuk, dan kepada keturunannya, yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, dan Harun. Dan demikianlah Aku membalas ganjaran kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran kepada Umat Muhammad saw. bahwa orang-orang yang baik akan diberi ganjaran petunjuk yang benar untuk hidup di dunia sampai ke akhirat.

wa zakariyya = dan Zakaria; wa yahyã = dan Yahya; wa ‘ĩsã = dan Isa; wa ilyãsa = dan Ilyas; kullun = semuanya; mina = termasuk; ash shōlohĩna = orang-orang yang saleh.

wa zakariyya wa yahyã wa ‘ĩsã wa ilyãsa, kullum minash shōlohĩna.

85. Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang saleh adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dan melaksanakan apa yang ditunjuki Allah kepadanya

wa ismã’ĩla = dan Ismail; wal yasa’a wa yũnusa wa lũthōn, wa kullaan fadh dholnã ‘alal ‘ãlalamĩn.

wa ismã’ĩla, wal yasa’a wa yũnusa wa lũthōn, wa kullaan fadh dholnã ‘alal ‘ãlalamĩn.

86. Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, Luth, masing-masing Aku lebihkan di atas semesta alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang dilebihkan dari makhluk lain di alam semesta.

wa min ãbã-ihim = dan di antara Bapak-bapak mereka; wa dzurriyyãtihim = dan keturunan mereka; wa ikhwaanihim = dan saudara-saudara mereka; wajtabainãhum = dan Aku telah memilih mereka; wa hadainãhum = dan Aku beri petunjuk kepada mereka; ilã shirōtim = hanya ke jalan; mustaqĩm = yang lurus.

wa min ãbã-ihim wa dzurriyyãtihim wa ikhwaanihim, wajtabainãhum wa hadainãhum ilã shirōtim mustaqĩm.

87. Dan di antara bapak-bapak mereka, keturunan mereka, dan saudara-saudara mereka, Aku telah memilih mereka (untuk menjadi Nabi dan Rasul), dan Aku beri petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Yang memilih seseorang menjadi Nabi dan Rasul dan memberi kepadanya petunjuk.

dzãlika = itulah; hudallãhi = petunjuk Allah; yahdĩ = Dia memberi petunjuk; bihĩ = dengannya; man = siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; min ‘ibãdihĩ = dari antara hamba-hamba-Nya; walau = dan kalau; asyrokũ = mereka mempersekutukan; lahabitho = tentu hilanglah; ‘anhum = dari mereka; mã = apa (amalan); kãnũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.

dzãlika hudallãhi yahdĩbihĩ man-yasyã-u min ‘ibãdihĩ, walau asyrokũ lahabitho ‘anhum mã kãnũ ya’malũn.

88. Itulah petunjuk Allah yang dengannya Dia memberi kepada siapa di antara hamba-hamba yang dikehendaki-Nya. Dan kalau mereka mempersekutukan Allah, tentu hilanglah amalan-amalan yang telah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang telah diberi petunjuk, kalau kembali mempersekutukan Allah dengan benda-benda ciptaan Allah, maka amalan-amalan baik mereka akan hilang tak berbekas. Ini peringatan Allah yang berulang-ulang untuk hamba-hamba-Nya.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; ãtainãhumu = telah Aku berikan kepada mereka; al kitãba = kitab; wal hukma = dan ilmu; wan nubuwwata = dan kenabian; fa in = maka jika; yakfur = mereka mengingkari; bihã = padanya; hã-ũlã-i = mereka ini; fa qod = maka sesungguhnya; wakkalnã = Aku menyerahkan; bihã = padanya; qouman = kaum; laisũ = tidaklah mereka; bihã = padanya; bikãfirĩn = dengan orang-orang yang ingkar;

ũlãikal ladzĩna ãtainãhumul kitãba wal hukma wan nubuwwata, fa in yakfur bihã hã-ũlã-i fa qod wakkalnã bihã qoumal laisũ bihã bikãfirĩn.

89. Mereka itulah orang-orang yang telah Aku berikan kepada mereka Kitab, ilmu, dan kenabian. Maka jika orang-orang Quraisy mengingkarinya, sesungguhnya Aku akan menyerahkan perkara itu kepada kaum yang tidak akan mengingkarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kaum Quraisy yang tidak mengimani Nabi Muhammad saw. maka Kitab, ilmu dan kenabian itu akan diserahkan kepada kaum di luar Kaum Quraisy yang beriman.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; hadã = memberi petunjuk; allãh = Allah; fabi = maka dengan; hudãhum = petunjuk mereka; muktadih = ikutilah ia; qul = katakanlah; lã as-alukum = aku tidak meminta kepadamu; ‘alaihi = atasnya; ajron = upah; in huwa = tidak lain ia; illã = kecuali, hanyalah; dzikrō = peringatan; lil ‘ãlamĩn = untuk seluruh alam.

ũlãikal ladzĩna hadãllãh, fabi hudãhum muktadih, qul lã as-alukum ‘alaihi ajron, in huwa illã dzikrō lil ‘ãlamĩn.

90. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka, ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak minta upah kepadamu atas petunjuk itu. Alquran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi umat di seluruh alam.
.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Alquran itu petunjuk untuk umat manusia sedunia. Nabi Muhammad saw. tidak meminta upah apa pun dan kepada siapa pun yang diberi petunjuk.

wa mã qodarullãha haqqo qodrihĩ idz qōlũ mã anzalallãhu alã basyarim min sya-ĩ, qul man anzalal kitãbal ladzĩ jã-a bihĩ mũsã nũron wa hudal linnãsi, taj’alũnahũ qorōthĩsa tubdũ nahã wa tukhfũna katsĩrō, wa ullimtum mã lam ta’lamũ antum wa lã ãbã-ũkum, qulillãh, tsumma dzarhum fĩ khaudhihim yal’abũn.

wa mã qodarullãha haqqo qodrihĩ idz qōlũ mã anzalallãhu alã basyarim min sya-ĩ, qul man anzalal kitãbal ladzĩ jã-a bihĩ mũsã nũron wa hudal linnãsi, taj’alũnahũ qorōthĩsa tubdũ nahã wa tukhfũna katsĩrō, wa ullimtum mã lam ta’lamũ antum wa lã ãbã-ũkum, qulillãh, tsumma dzarhum fĩ khaudhihim yal’abũn.

91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan semestinya, ketika mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Taurat yang dibawa oleh Musa sebagai penerangan dan petunjuk bagi manusia, yang kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang berkeping-keping, kamu perlihatkan sebagiannya, dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahuinya?” Katakanlah: “Allah yang menurunkan Kitab itu”, kemudian biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan kisah Kitab-kitab masa lalu yang diturunkan kepada manusia. Mereka tidak mengajarkan dengan semestinya, ada yang disembunyikan, dirahasiakan. Allah meminta untuk “membiarkan” dalam arti sindiran, mereka bermain-main dalam kesesatan.

wa hãdzã = dan ini (Alquran); kitãbun = Kitab; anzalnãhu = yang Aku turunkan; mubãrokun = yang diberkahi; mushoddiqu = yang membenarkan; al ladzĩ = yang (Kitab); baina = antara; yadaihi = kedua tangannya (sebelumnya); wa litundziro = dan agar kamu memberi peringatan; ummal qurō = penduduk Mekah; wa man = dan orang-orang yang; haulahã = di sekitarnya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; yu’minũna (mereka) beriman; bil ãkhiroti = pada hari akhirat; yu’minũna = mereka beriman; bihĩ = padanya; wa hum = dan mereka; ‘alã sholãtihim = pada salat mereka; yuhãfizhũn = mereka memelihara.

wa hãdzã kitãbun anzalnãhu mubãrokum mushoddiqul ladzĩ baina yadaihi wa litundziro ummal qurō wa man haulahã, wal ladzĩna yu’minũna bil ãkhiroti yu’minũna bihĩ, wa hum ‘alã sholãtihim yuhãfizhũn.

92. Dan Alquran ini adalah Kitab yang Aku turunkan dengan keberkahan, yang membenarkan kitab yang diturunkan sebelumnya, dan agar kamu memberi peringatan kepada penduduk Ummul Quro (Mekah) dan orang-orang di sekitarnya. Orang-orang yang beriman pada kehidupan akhirat, tentu mereka beriman kepada Alquran, dan mereka selalu memlihara salatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan turunnya Alquran dan fungsionalisasinya.

wa man azhlamu mim maniftarō ‘alallãhi kadziban au qōla ũhiya ilayya wa lam yũha ilaihi syai-un wa man qōla saunzilu mitsla mã andzalallahu, wa lau tarō idzizh zhōlimũna fĩ ghomarōtil mauti wal malãikatu basithũ aidĩhim, akhrijũ anfusakum, al yauma tujzauna ‘adzãbal hũni bimã kuntum taqũlũna ‘alallãhi ghoirol haqqi wa kuntum ‘an ãyãtihĩ tastakbirũn.

wa man azhlamu mim maniftarō ‘alallãhi kadziban au qōla ũhiya ilayya wa lam yũha ilaihi syai-un wa man qōla saunzilu mitsla mã andzalallahu, wa lau tarō idzizh zhōlimũna fĩ ghomarōtil mauti wal malãikatu basithũ aidĩhim, akhrijũ anfusakum, al yauma tujzauna ‘adzãbal hũni bimã kuntum taqũlũna ‘alallãhi ghoirol haqqi wa kuntum ‘an ãyãtihĩ tastakbirũn.

93. Dan siapakah yang lebih lalim dari orang yang membuat-buat dusta kepada Allah, atau orang yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya,” padahal tidak ada sesuatu wahyu pun kepadanya. Dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” Luar biasa dahsyatnya, sekiranya kamu melihat orang-orang yang lalim, ketika dalam kesengsaraan sekaratulmaut, dan para Malaikat memukul dengan tangan-tangan mereka, sambil berkata: “Keluarkanlah nyawamu, pada hari ini kamu akan dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu mengatakan kepada Allah perkataan yang tidak benar, dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menceriterakan orang-orang yang sombong dan membuat-buat dusta kepada Allah saatmasih hidup di dunia, dan pada saatmenderita dalam sekaratulmaut dan balasan akibat perbuatan mendustakan Allah.

wa laqod = dan sesungguhnya; ji’tumũna = kamu datang kepada Kami; farōdã = sendiri-sendiri; kamã = seperti, sebagaimana; kholaknãkum = Aku menciptakan kamu; awwala = pertama; marrotin = kali; wa taroktum = dan kamu tinggalkan; mã = apa; khawwalnãkum = yang Aku karuniakan kepadamu; wa rō-a = dan belakang; zhuhũrikum = punggungmu; wa mã narō = dan Aku tidak melihat; ma’akum = beserta kamu; syufa’akumu = pemberi syafaat-mu; al ladzĩna = orang-orang yang; za’amtum = kamu angap; annahum = bahwa mereka; fĩkum = di antara kamu; syurokã-u = serikat-serikat; laqod = sungguh; takoththa’a = telah terputus; bainakum = antara kamu; wa dholla = dan telah lenyap; ‘ankum = dari kamu; mã kuntum = apa yang kamu adalah; taz’umũn = kamu sangka, kamu anggap.

wa laqod ji’tumũna farōdã kamã kholaknãkum awwala marrotin wa taroktum mã khawwalnãkum wa rō-a zhuhũrikum, wa mã narō ma’akum syufa’akumul ladzĩna za’amtum annahum fĩkum syurokã-u, laqod takoththa’a bainakum wa dholla ‘ankum mã kuntum taz’umũn.

94. Dan sesungguhnya kamu datang pada Aku sendiri-sendiri, sebagaimana Aku menciptakan kamu pada pertama kalinya, dan kamu tinggalkan di belakangmu, apa yang telah Aku karuniakan kepadamu, dan Aku tidak melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah pertalian antara kamu dan telah lenyap darimu apa yang kamu anggap sekutu Allah itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan seluruh umat manusia, terutama kepada kaum musyrikin, kafirin, munafikin, fasikin bahwa mereka akan kembali secara sendiri-sendiri untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan perilakunya masing-masing di dunia.

inallãha = sesungguhnya Allah; fãliqu = menumbuhkan; al habbi = butir tumbuh-tumbuhan; wan nawã = dan biji buah-buahan; yukhriju = Dia mengeluarkan; al hayya = yang hidup; mina = dari yang; al mayyiti = mati; wa mukhriju = dan mengeluarkan; al mayyiti = yang mati; mina = dari yang; al hayyi = hidup; dzalikumullãh = demikianlah Allah; fa-annã = maka mengapa; tu’fakũn = kamu berpaling.

inallãha fãliqul habbi wan nawã, yukhrijul hayya minal mayyiti wa mukhrijul mayyiti minal hayyi, dzalikumullãh, fa-annã tu’fakũn.

95. Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Yang memiliki sifat-sifat demikianlah Allah, maka mengapakah kamu berpaling?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan dengan sifat-sifat-Nya untuk meyakinkan keberadaan-Nya di dunia ini, agar manusia tidak dapat menyangkal keberada-Nya. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 255 Allah hidup kekal; Ali ‘Imran, 3: 2, 27, 156 Allah hidup kekal dan mandiri; Allah berkuasa menghidupkan dari yang mati; Allah berkuasa mengidupkan dan mematikan makhluk-Nya.

fãliqu = Dia membelah, menyingsingkan; al ishbãhi = subuh, pagi; wa ja’ala = dan Dia menjadikan; al laila = malam; sakanan = beristirahat; wa = dan; asy syamsa = matahari; wa = dan; al qomaro = bulan; husbãnan = perhitungan; dzãlika = itulah; taqdiiru = takdir, ketentuan; al azĩzu = Mahakuasa; al ‘alĩm = Maha Mengetahui

fãliqul ishbãhi wa ja’alal laila sakanan wasy syamsa wal qomaro husbãnan dzãlika taqdiirul azĩzul ‘alĩm.

96. Dia menerbitkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan menjadikan matahari dan bulan untuk hitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Yang Mahakuasa dan Maha Mengetahui untuk menetapkan waktu dan hitungan.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; ja’ala = menjadikan; lakumu = untukmu; an nujũma = bintang-bintang; litahtadũ = agar menjadi petunjuk bagimu; bihã = dengannya; fĩ zhulumãti = dalam kegelapan; al barri = daratan; wal bahri = dan lautan; qod = sesungguhnya; fash-sholna = Aku telah menjelaskan; al ãyãti = ayat-ayat, tanda-tanda; liqaumin = bagi kaum, orang-orang; ya’lamũn = mereka mengetahui.

wa huwal ladzĩ ja’ala lakumun nujũma litahtadũ bihã fĩ zhulumãtil barri wal bahri, qod fash sholnal ãyãti liqaumin ya’lamũn.

97. Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang untukmu, agar kamu menjadikannya penunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Aku telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Aku bagi orang-orang yang mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tanda-tanda kebesaran Allah itu diperlihatkan melalui ciptaan-Nya yang berguna untuk keperluan hidup manusia di dunia, dan dapat untuk mencapai kehidupan di akhirat.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; ansya-akum = menciptakan kamu; min nafsin = dari seorang; wãhidatin = satu; famustaqorrun = maka tempat tetap; wa mustauda’un = dan tempat simpanan, rahasia; qod = sesungguhnya; fash-sholna = Aku telah menjelaskan; al ãyãti = ayat-ayat, yanda-tanda; li qoumin = bagi kaum, orang-orang; yafqohũn = mereka memahami.

wa huwal ladzĩ ansya-akum min nafsin wãhidatin famustaqorrun wa mustauda’un, qod fash-sholnal ãyãti li qoumin yafqohũn.

98. Dan Dialah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka, bagimu ada tempat tetap, dan tempat rahasia. Sesungguhnya, Aku telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran Aku bagi orang-orang yang memahami.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kebesaran Allah itu ditunjukkan melalui penciptaan manusia yang diberi tempat tertentu di muka bumi ini, dan tempat yang dirahasiakan Allah, di mana, kemana, bagaimana selama hidupnya di dunia, dan nanti di akhirat. Harus dimengerti, dipikirkan, dipahami, dirasakan, dihayati.

wa huwa = dan Dialah; al ladzĩ = yang; anzala = menurunkan; minassamã-i = dari langit; mã-an = air; fa-akhrojnã = maka Aku keluarkan; bihĩ = dengan air itu; nabãta = nabati (tumbuh-tumbuhan); kullisyai-in = segala macam; fa-akhrojnã = maka Aku keluarkankan; minhu = darinya; khadhiron = hijauan; nukhriju = Aku keluarkan; minhu = darinya; habban = butir buah; mutarōkibãn = yang bersusun-susun; wa mina = dan dari; an nakhli = pohon kurma; min thol’ihã = dari mayangnya; qinwaanun = tangkai-tangkai; daaniyatun = menjulai; wa jannaatin = dan kebun-kebun; min a’nãbin = dari anggur; wazzaitũna = dan zaitun; warrummaana = dan delima; musytabihan = yang serupa; wa goiro = dan yang tidak; mutasyãbihin = serupa; anzhurũ = perhatikanlah; ilã tsamarihĩ = pada buahnya; idzã = ketika; atsmaro = berbuah; wayan’ihĩ = dan kematangannya; inna = sesungguhnya; fĩ = dari; dzãlikum = yang demikian; la-ãyãtin = sungguh ada tanda-tanda; laqoumin = bagi kaum, orang-orang; yu’minũn = mereka beriman.

wa huwal ladzĩ anzala minassamã-i mã-an fa-akhrojnã bihĩ nabãta kullisyai-in fa-akhrojnã minhu khadhiron nukhriju minhu habbam mutarōkibãn wa minan nakhli min thol’ihã qinwaanun daaniyatun, wa jannaatim min a’nãbin wazzaitũna warrummaana musytabihan wa goiro mutasyãbihin, anzhurũ ilã tsamarihĩ idzã atsmaro wayan’ihĩ, inna fĩ dzãlikum la-ãyãtil laqoumin yu’minũn.

99. Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, maka dengan air itu Aku keluarkan nabati (tumbuh-tumbuhan), maka Aku keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu hijauan, Aku keluarkan darinya butir buah yang bersusun-susun, dan dari pohon kurma ada tangkai mayang yang menjulai, dan Aku tumbuhkan pula kebun-kebun anggur, zaitun, dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah pada buahnya yang matang. Sesungguhnya, pada yang demikian itu, ada tanda-tanda kekuasaan, kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kekuasaan, kebesaran-Nya. Hal ini dapat diperluas perhatian kita pada apa-apa yang ada di sekeliling kita. Maka, kita akan melihat betapa kekuasaan Allah itu, betapa kebesaran Allah itu.

wa ja’alũ = dan mereka menjadikan; lillãhi = bagi Allah; syurokã-a = sekutu-sekutu; al jinna = jin; wa kholaqohum = padahal Dia yang menciptakan jin itu; wa khoroqũ = dan mereka mengada-adakan; lahũ = bagi-Nya; banĩna = anak laki-laki; wa banaatin = dan anak perempuan; bi ghoiri = dengan tidak; ‘ilmi = ilmu; subhãnahũ = Mahasuci Dia; wa ta’ãlã = dan Mahatinggi; ‘ammã = dari apa yang; yashifũn = mereka sifatkan

wa ja’alũ lillãhi syurokã-al jinna wa kholaqohum, wa khoroqũ lahũ banĩna wa banaatin bi ghoiri ‘ilmi, subhãnahũ wa ta’ãlã ‘ammã yashifũn.

100. Dan mereka (orang-orang musyrik) menyekutukan jin dengan Allah, padahal Dialah yang menciptakan jin-jin itu. Mereka mengada-adakan Allah dengan pernyataan Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan tanpa dasar ilmu. Mahasuci Dia, dan Mahatinggi dari apa yang mereka sifatkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepercayaan tahayul bahwa jin itu mempunyai kekuatan seperti Allah, inilah yang disebut musyrik. Demikian juga para Rahib yang mengatakan Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan. Pernyataan itu tidak berdasarkan ilmu yang benar.

badi’u = pencipta; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; annã = bagaimana; yakũnu = terjadi; lahũ = bagi-Nya; waladun = anak; wa lam = dan tidak; takun = ada; lahũ = bagi-Nya; shōhibah = teman perempuan; wa kholaqō = dan Dia menciptakan; kulla sya-i’ = segala sesuatu; wa huwa = dan Dia; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ’alĩm = Maha Mengetahui.

badi’us samãwãti wal ardhi, annã yakũnu lahũ waladun wa lam takul lahũ shōhibah, wa kholaqō kulla sya-i’, wa huwa bi kulli syai-in ’alĩm.

101. Allah Pencipta langit dan bumi, bagaimana Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingatkan umat Nasrani yang mempunyai ungkapan Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Rahul Qudus. Ungkapan ini menunjukkan adanya angapan bahwa Allah itu satu, tapi menjelma dalam tiga persona (trinitas). Ungkapan yang demikian itu menurut keyakinan Islam dianggap menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Lihat juga Al Baqarah, 2: 87; 253; Ali ‘Imran, 3: 44, 45, 49, 52.

dzalikumu = demikian itu; allãhu = Allah; robbukum = Penguasa kamu; lã = tidak ada; ilãha = ilah, tuhan; illã = selain; huwa = Dia; khōliqu = Pencipta; kulli = segala; syai-in = sesuatu; fã’budũhu = maka sembahlah Dia; wa huwa = dan Dia; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; wakĩlun = Pengurus.

dzalikumullãhu robbukum, lã ilãha illã huwa, khōliqu kulli syai-in fã’budũhu, wa huwa ‘alã kulli syai-in wakĩlun.

102. Demikian itulah Allah, Robkamu, tidak ada ilah lain selain Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia, dan Dia itu Pengurus segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan Dirinya dengan suruhan agar makhluk-Nya menyembah, mengabdi kepada Yang Mengurusnya. Jangan mengabdi kepada makhluk-Nya. Makhluk-Nya hanya sebagai abdi, pesuruh-Nya. Jangan menyembah kepadanya. Lihat juga Surat Al Fatihah, 1: 5.

lã tudrikuhu = Allah tidak dapat dicapai; abshōru = penglihatan mata; wa huwa = sedang Dia; yudriku = dapat mencapai (melihat); al abshōra = penglihatan, yang tampak; wa huwa = dan Dia; al lathĩfu = Maha Halus; al khobĩru = Maha Mengetahui.

lã tudrikuhu abshōru wa huwa yudrikul abshōra, wa huwal lathĩful khobĩru.

103. Dia tidak dapat dicapai penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang tampak, Dia mahahalus dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu beberapa sifat-Nya.

qod = sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; bashō-iru = beberapa pandangan (keterangan); mir robbikum = dari Robkamu; fa man = maka barang siapa; abshoro = melihat; falinafsihĩ = maka untuk dirinya sendiri; wa man = dan barang siapa; ‘amiya = buta; fa’alaihã = maka baginya; wa mã ana = dan aku bukan; ‘alaikum = bagi kamu; bi hofĩzhin = dengan penjaga.

qod jã-akum bashō-iru mir robbikum, fa man abshoro falinafsihĩ, wa man ‘amiya fa’alaihã, wa mã ana ‘alaikum bi hofĩzhin.

104. Sesungguhnya telah datang kepadamu beberapa keterangan dari Robbmu, maka barang siapa yang mau melihat (menerima keterangan) itu untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang buta (tidak menerima penerangan), maka kecelakãnlah baginya, dan aku bukanlah penjaga bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan bahwa sudah datang beberapa keterangan kepada umat manusia agar beragama dengan benar. Barang siapa yang menaati keterangan itu, maka selamatlah hidupnya di dunia sampai ke akhirat. Barang siapa yang menolak penerangan itu, maka celakalah hidupnya di akhirat nanti.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nushorrifu = Aku mengulang-ulang; al ãyãti = ayat-ayat, tanda-tanda; wa liyaqũlũ = dan supaya mereka berkata; darosta = kamu telah mempelajari; wa linubayyinahũ = dan agar Aku menjelaskannya; liqaumin = kepada kaum, orang-orang; ya’lamũn = mereka mengetahui.

wa kadzãlika nushorriful ãyãti wa liyaqũlũ darosta wa linubayyinahũ laqaumin ya’lamũn.

105. Dan Demikianlah, Aku mengulang-ulang ayat-ayat itu, supaya mereka berkata. “Kamu telah mempelajari ayat-ayat itu”, dan agar Aku menjelaskannya (Alquran) kepada orang-orang yang mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mengulang-ulang ayat-ayat” mungkin berupa kata, kelompok kata, atau satu ayat dengan ayat lain sama persis (lihat Al Baqarah, 2: 47 dan 122); berbeda redaksi, (Al Baqarah, 2: 40 dan 47). Penjelasannya ada pada ayat ini.

attabi’ = ikutilah; mã = apa; ũhiya = telah diwahyukan; ilaika = kepada kamu; min = dari; robbika = Robkamu; lã = tidak ada; ilãha = ilah, tuhan; illã = kecuali; huwa = Dia; wa a’ridh = dan berpalinglah kamu; ‘ani = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

attabi’ mã ũhiya ilaika mir robbika, lã ilãha illã huwa, wa a’ridh ‘anil musyrikĩn.

106. Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Robkamu, tidak ada ilah lain selain Dia, dan berpalinglah kamu dari orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan umat yang mengikutinya.

wa lau = dan kalau; syã-a = menghendaki; allãhu = Allah; mã asyrokũ = mereka tidak mempersekutukan; wa mã ja’alnãka = dan Aku tidak menjadikan kamu; ‘alaihim = bagi mereka; hafĩzhon = penjaga; wa mã anta = dan kamu bukan ‘alaihim = bagi mereka; bi wakĩlin = dengan pengurus.

wa lau syã-allãhu mã asyrokũ, wa mã ja’alnãka ‘alaihim hafĩzhon, wa mã anta ‘alaihim bi wakĩlin.

107. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan-Nya, dan Aku tidak menjadikan kamu penjaga bagi mereka, dan kamu bukanlah pengurus bagi mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat: “kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan-Nya” berarti Allah membuat ketetapan bagi orang yang mempersekutukan dan yang tidak mempersekutukan dengan benda-benda ciptaan-Nya. Nabi Muhammad saw. tidak dijadikan Allah untuk menjadi penjaga dan pengurus mereka yang musyrik. Manusia diberi hak untuk memilih, mana yang haq dan mana yang batil.

wa lã tasubbũ = dan kamu jangan memaki-maki; al ladzĩna = orang-orang yang; yad’ũna = meminta; min dũnillãhi = dari selain Allah; fa yasubbũllãha = maka mereka akan memaki-maki Allah; ‘adwan = melampaui batas; bi ghoiri = dengan tidak (tanpa); ‘ilmi = ilmu; kazhãlika = demikianlah; zayyannã = Aku jadikan memandang baik; li kulli = bagi setiap; ummatin = umat; ‘amalahum = pekerjaan mereka; tsumma = kemudian; ilã = hanya kepada; robbihim = Robmereka; marji’uhum = tempat kembali mereka; fayunabbi-uhum = maka, Dia menerangkan kepada mereka; bimã = dengan apa; kãnũ = mereka adalah; ya’malũn = mereka kerjakan.

wa lã tasubbũl ladzĩna yad’ũna min dũnillãhi fa yasubbũllãha ‘adwam bi ghoiri ‘ilmi, kazhãlika zayyannã li kulli ummatin ‘amalahum, tsumma ilã robbihim marji’uhum fayunabbi-uhum bimã kãnũ ya’malũn.

108. Dan janganlah kamu memaki-maki berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah, maka mereka akan memaki-maki Allah melampaui batas tanpa dasar ilmu. Demikianlah, Aku jadikan setiap umat memandang baik pekerjaan mereka. Kemudian, kepada Robmerekalah tempat kembalinya. Lalu, Dia menerangkan kepada mereka, apa yang sudah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Larangan Allah kepada Nabi Muhammad saw. dan para pengikut zaman berikutnya dan memberi peringatan tentang sikap hidup orang musyrik, dan akhir dari hidup makhluk-Nya yang harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah dikerjakan di dunia.

wa aqsamũ = dan mereka bersumpah; billãhi = atas nama Allah; jahda = bersungguh-sungguh; aimaanihim = sumpah mereka; la-in = sesungguhnya jika; jã-at-hum = datang kepada mereka; ãyatun = suatu mukjizat; layu’minunna = tentu mereka akan beriman; bihã = padanya; qul = katakanlah; innama = sesungguhnya hanyalah; al ãyãtu = mukjizat itu; ‘indallãhi = hanya dari Allah; wa mã = dan kamu tidak; yusy’irukum = kamu tidak sadar; annahã = bahwa sesungguhnya; idzã = apabila; jã-at = datang mukjizat; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.

wa aqsamũ billãhi jahda aimaanihim la-in jã-at-hum ãyatul layu’minunna bihã, qul innamal ãyãtu ‘indallãhi wa mã yusy’irukum, annahã idzã jã-at lã yu’minũn.

109. Dan mereka bersumpah dengan bersungguh-sungguh atas nama Allah, bahwa sesungguhnya, jika datang suatu mukjizat kepada mereka, tentu mereka akan benar-benar beriman kepadanya. Katakanlah: “Sesunguhnya mukjizat itu hanya dari Allah”, dan kamu tidak sadar, sesungguhnya mereka tidak akan beriman apabila datang mukjizat itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau ada orang musyrik yang mengaku beriman berarti mereka mendapatkan mukjizat. Dan mukjizat datang hanya dari Allah.

wa nuqollibu = dan Aku memutarbalikkan; af-idatahum = hati mereka; wa absōrohum = dan penglihatan mereka; kamã = sebagaimana; lam = tidak; yu’minũ = mereka beriman; bihĩ = dengannya (Alquran); awwala = pada awal; marrotin = kalinya; wa nadzaruhum = dan Aku biarkan mereka; fĩ = dalam; thughyaanihim = dalam kesesatan; ya’mahũn = mereka kebingungan.

wa nuqollibu af-idatahum wa absōrohum kamã lam yu’minũ bihĩ awwala marrotin wa nadzaruhum fĩ thughyaanihim ya’mahũn.

110. Dan Aku memutarbalikkan hati dan penglihatan mereka, sebagaimana mereka tidak beriman kepada Alquran pada awalnya, dan Aku biarkan mereka bingung dalam kesesatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dengan mudah Allah memutarbalikkan hati dan penglihatan seseorang, seandainya ia tidak beriman ataupun beriman saatAlquran dibacakan.

Juz 8

Sikap Kepala Batu Kaum Musyriqin, dan Sikap Mereka pada eRasulan Muhammad saw.

walau = dan kalau; annanã = sekiranya Kami; nazzalnã = Aku menurunkan; ilaihimu = kepada mereka; al malã-ikata = malaikat; wakallamahumu = dan berbicara dengan mereka; al mautã = orang mati; wa hasyarnã = dan Aku mengumpulkan; ‘alaihim = atas mereka; kulla = segala; syai-in = sesuatu; kubulan = berhadapan; mã kãnũ = tidak adalah mereka; liyu’minũ = mereka akan beriman; illã = kecuali; an yasyã = jika menghendaki; allãhu = Allah; wa lã kinna = akan tetapi; aktsarohum = kebanyakan mereka; yajhalũn = mereka tidak mengetahui, bodoh.

walau annanã nazzalnã ilaihimul malã-ikata wakallamahumul mautã wa hasyarnã ‘alaihim kulla syai-in kubulam mã kãnũ liyu’minũ illã an yasyã allãhu wa lã kinna aktsarohum yajhalũn.

111. Kalau sekiranya Aku menurunkan Malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka, dan Aku kumpulkan pula segala sesuatu ke hadapan mereka, tentu mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendakinya, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Walaupun segala macam cara dilakukan untuk dapat membuat mereka beriman pada keRasulan Muhammad saw., kalau Allah tidak menghendaki, pasti mereka tidak akan beriman. Dalam hal ini kebanyakan orang tidak mengetahui. Soal keimanan itu urusan Allah dengan makhluk-Nya yang sudah diberi akal dan pikiran untuk menetapkan pendiriannya.

wa kadzãlika = dan demikianlah; ja’alnã = Aku jadikan; li kulli = bagi tiap-tiap; nabiyyin = Nabi; ‘aduwwan = musuh; syayãthĩna = setan-setan; al insĩ = manusia; wal jinni = dan jin; yũhĩ = membisikkan; ba’dhuhum = sebagian mereka; ilã ba’dhin = kepada sebagian yang lain; zukhrufa = palsu, yang indah-indah; al qouli = perkataan; ghurũron = menipu, tipuan; wa lau = dan seandainya; syã-a = menghendaki; robbuka = Robkamu; mã fa’alũhu = tidaklah mereka mengerjakannya; fadzarhum = maka tinggalkan mereka; wa mã = dan apa; yaftarũn = mereka mengada-adakan.

wa kadzãlika ja’alnã li kulli nabiyyin ‘aduwwan syayãthĩnal insĩ wal jinni yũhĩ ba’dhuhum ilã ba’dhin zukhrufal qouli ghurũrō, wa lau syã-a robbuka mã fa’alũhu, fadzarhum wa mã yaftarũn.

112. Dan demikianlah, Aku jadikan musuh bagi tiap-tiap Nabi, yaitu setan-setan dari jenis manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan palsu yang indah-indah untuk menipu manusia. Dan jika Robkamu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, setiap Nabi itu ada musuhnya yang berupa manusia dan jin yang menjadi setan, yang membisikkan kata-kata indah tapi palsu. Maka tinggalkanlah mereka yang mengada-ada tentang Allah. Lihat Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 142; al A’raf, 7 : 22, 36; Yũsuf, 12 : 5.

wa litashghō = dan supaya cenderung; ilaihi = kepadanya (bisikan); af-idatu = hati; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yu’minũna = (mereka) tidak beriman; bil ãkhiroti = kepada hari akhirat; wa liyardhouhu = dan supaya senang kepadanya; wa liyaqtarifũ = dan supaya mereka mengerjakan; mã hum = apa yang mereka; muqtarifũn = orang-orang yang mengerjakan.

wa litashghō ilaihi af-idatul ladzĩna lã yu’minũna bil ãkhiroti wa liyardhouhu wa liyaqtarifũ mã hum muqtarifũn.

113. Dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat cenderung kepada bisikan itu, dan supaya mereka senang kepadanya, dan supaya mereka senang mengerjakan (dosa seperti) apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw. “Musuh-musuh Nabi itu membisikkan sikap dan perilaku kepada orang-orang yang tidak beriman pada hari akhirat agar melakukan dosa seperti yang mereka kerjakan.” Umatnya harus menyadari kondisi ini, agar terhindar dari kasak-kusuk seperti ayat di atas.

afaghoirollãhi = apakah selain Allah; abtaghĩ = aku mencari; hakaman = hakim; wa huwa = dan Dia; al ladzĩ = yang; anzala = menurunkan; ilaikumu = kepadamu; al kitãba = Kitab; mufashsholan = terperinci; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; ãtainãhumu = Aku databgjan kepada mereka; al kitãba = Kitab; ya’lamũna = mereka mengetahui; annahũ = bahwa ia; munazzalun = diturunkan; mir robbika = dari Rab kamu; bil haqqi = dengan sebenarnya; fa lã = maka jangan; takũnanna = kamu menjadi; min = dari; al mumtarĩn.= orang-orang yang ragu.

afaghoirollãhi abtaghĩ hakaman wa huwal ladzĩ anzala ilaikumul kitãba mufashsholan, wal ladzĩna ãtainãhumul kitãba ya’lamũna annahũ munazzalum mir robbika bil haqqi, fa lã takũnanna minal mumtarĩn.

114. Apakah kepada selain Allah aku mencari hakim, padahal Dialah yang telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci? Dan orang-orang yang telah Aku datangkan Kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Kitab itu diturunkan dari Rab kamu dengan sebenarnya. Karena itu, janganlah sekali-kali kamu menjadi orang yang ragu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mempertanyakan kepada umatnya agar tidak menjadi ragu.

wa tammat kalimatu robbika shidqon wa adlal lã mubaddila li kalimãtihĩ, wa huwas samĩ’ul ‘alĩmu.

wa tammat kalimatu robbika shidqon wa adlal lã mubaddila li kalimãtihĩ, wa huwas samĩ’ul ‘alĩmu.

115. Dan telah sempurnalah kalimat Rab kamu dengan kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang mengubah-ubah kalimat-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan bahwa Alquran itu telah sempurna mengungkapkan kebenaran dan keadilan

wa in tuthi’ aktsaro man fil ardhi yudhillũka ‘an sabĩlil lãhi, in yattabi’ũna illazhzhanna wa in hum illã yakhrushũn.

wa in tuthi’ aktsaro man fil ardhi yudhillũka ‘an sabĩlil lãhi, in yattabi’ũna illazhzhanna wa in hum illã yakhrushũn.

116. Dan Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, tidak lain, mereka hanya mengikuti prasangka belaka, mereka hanya berdusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan Alquran ini telah mengungkapkan semua persoalan hidup. Jadi, Muhammad saw. dan umatnya jangan mengikuti kitab-kitab lain yang menyesatkan.

inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; a’lamu = lebih mengetahui; man = orang; yadhillu = orang tersesat; ‘an = dari; sabĩlihĩ = jalan-Nya; wa huwa = dan Dia; a’lamu = lebih mengetahui; bi = pada, dengan; al muhtadĩn = orang-orang yang mendapat petunjuk.

inna robbaka huwa a’lamu man yadhillu ‘an sabĩlihĩ, wa huwa a’lamu bil muhtadĩn.

117. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah yang lebih mengetahui terhadap orang yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui pada orang –orang yang mendapat petunjuk.
Catatan : Allah Mahatahu segalanya.

fakulũ = maka makanlah; mimmã = terhadap apa (binatang); dzukiro = disebut; asmullãhi = nama Allah; ‘alaihi = atasnya; in kuntum = jika kamu; bi ãyãtihĩ = dengan, kepada ayat-Nya; mu’minĩn = beriman.

fakulũ mimmã dzukirosmullãhi ‘alaihi in kuntum bi ãyãtihĩ mu’minĩn.

118. Maka makanlah binatang yang disebut nama Allah atasnya (ketika diburu atau disembelih), jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan Allah bagi orang mu’min dalam hal memakan binatang.

wa mã lakum = dan mengapa kamu tidak; allã ta’kulũ = kamu tidak memakan; mimmã = dari apa (binatang); dzukiro = menyebut; asmullãhi = nama Allah; ‘alaihi = atasnya; wa qod = dan padahal; fashshola = Dia telah menjelaskan; lakum = kepada kamu; mã harroma = apa yang Dia haramkan; ‘alaikum = bagi kamu; illã = kecuali; madhthurirtum = apa yang kamu terpaksa; ilaihi = padanya; wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan (manusia); layudhillũna = sungguh hendak menyesatkan; bi ahwã-ihim = dengan hawa nafsu mereka; bi ghairi = dengan tidak, tanpa; ‘ilmi = pengetahuan; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; huwa = Dia; a’lamu = lebih mengetahui; bil mu’tadĩn = denganorang-orang yang melampaui batas.

wa mã lakum allã ta’kulũ mimmã dzukirosmullãhi ‘alaihi wa qod fashshola lakum mã harroma ‘alaikum illã madhthurirtum ilaihi, wa inna katsĩrol layudhillũna bi ahwã-ihim bi ghairi ‘ilmi, inna robbaka huwa a’lamu bil mu’tadĩn.

119. Dan, mengapa kamu tidak mau memakan binatang-binatang yang disebut nama Allah atasnya (ketika diburu atau disembelih), padahal Dia telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya bagimu, kecuali apa yang terpaksa kamu makan padanya. Dan sesungguhnya, kebanyakan manusia hendak menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rab kamu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Q.s. Ali ‘Imran, 3: 93; Al Ma’idah, 5: 3, 4, 93, 96

wa dzarũ = dan tinggalkanlah; dzōhiro = yang tampak; al itsmi = dosa; wa bãthinahũ = dan yang tersembunyi; innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yaksibũna = (mereka) mengerjakan; al itsma = dosa; sayujzauna = kelak akan diberi balasan; bimã = disebabkan; kãnũ = adalah mereka; yaqtarifũn = perbuatan mereka.

wa dzarũ dzōhirol itsmi wa bãthinahũ, innalladzĩna yaksibũnal itsma sayujzauna bimã kãnũ yaqtarifũn.

120. Dan tinggalkanlah dosa yang tampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang-orang yang mengerjakan dosa itu kelak akan diberi balasan disebabkan perbuatan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perintah dan peringatan Allah kepada manusia. Harus diperhatikan.

wa lã ta’kulũ = dan jangan kamu memakan; mimmã = dari apa; lam yudzkari = tidak disebut; ismullãhi = nama Allah; ‘alaihi = atasnya; wa innahũ = dan sesungguhnya perbuatan itu; lafisqun = fasik, bodoh; wa inna = dan sesungguhnya; asy syayãtĩna = setan-setan; layũhũna = mereka membisikkan; ilã = kepada; auliyã-ihim = kawan-kawan mereka; liyujãdilũkum = agar mereka membantah kamu; wa in = dan jika; atho’tumũhum = kamu menuruti mereka; innakum = sesungguhnya kamu; la musyrikũn = tentu orang-orang musyrik.

wa lã ta’kulũ mimmã lam yudzkarismullãhi ‘alaihi wa innahũ lafisqun, wa innasy syayãtĩna layũhũna ilã auliyã-ihim liyujãdilũkum, wa in atho’tumũhum innakum la musyrikũn.

121. Dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah atasnya (ketika memburu atau menyembelih), sesungguhnya perbuatan itu adalah kefasikan. Dan sesungguhnya, setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya, agar mereka membantah kamu, jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentu menjadi orang-orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menyatakan peraturan memakan binatang. Lihat juga Q.s. Ali ‘Imran, 3: 93; Al Ma’idah, 5: 3, 4, 93, 96; Al An’am, 119. Orang yang memakan binatang tidak dengan menyebut nama Allah adalah perbuatan fasik (bodoh).

awaman = apakah orang yang …; kãna = dia adalah; maitan = mati; fa ahyainãhu = kemudian Aku menghiduplannya; wa ja’alnã = dan Aku jadikan; lahũ = untuknya; nũron = cahaya yang terang; yamsyĩ = berjalan; bihĩ = dengan cahaya itu; fin nãsi = di tengah-tengah manusia; kaman = seperti orang; matsaluhũ = serupa dengan dia; fidhdhulumãti = dalam kegelapan; laisa = tidak dapat; bi khãrijin = keluar; minhã = darinya; kadzãlika = demikianlah; zuyyina = dijadikan memandang baik; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; mã kãnũ = apa yang mereka; ya’malũn = mereka kerjakan.

awaman kãna maitan fa ahyainãhu wa ja’alnã lahũ nũron yamsyĩ bihĩ fin nãsi kamam matsaluhũ fidhdhulumãti laisa bi khãrijim minhã, kadzãlika zuyyina lil kãfirĩna mã kãnũ ya’malũn.

122. Apakah orang-orang yang sudah mati, kemudian Aku menghidupkannya dan Aku jadikan cahaya yang terang untuknya, dan dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang dalam keadaan kegelapan dan tidak dapat keluar darinya? Demikianlah, bagi orang kafir dijadikan memandang baik, apa yang telah mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membandingkan orang yang hidup dengan petunjuk dari Allah yang jelas, terang dengan orang yang tidak diberi petunjuk (dalam kegelapan), tentu tidak sama. Orang kafir pandangannya selalu dibalikkan Allah: pekerjaan yang baik dianggap jelek, dan pekerjaan yang jelek dianggap baik. Mereka tidak mau menuruti peraturan Allah, tidak menyebut nama-Nya dalam hal memakan binatang (buruan atau ternak); hal itu dianggap baik.

wa kadzãlika = dan demikianlah; ja’alnã = Aku telah menjadikan; fi kulli = pada tiap-tiap; qoryatin = negeri; akãbiro = pembesar-pembesar; mujrimĩhã = orang-orang jahat, berdosa; liyamkurũ = agar mereka mengadakan tipu-daya; fĩhã = di dalam negeri itu; wa mã = dan tidaklah; yamkurũna = mereka memperdayakan; illã = kecuali, melainkan; bi anfusihim = pada diri mereka; wa mã = dan tidaklah; yasy’urũn = mereka menyadarinya.

wa kadzãlika ja’alnã fi kulli qoryatin akãbiro mujrimĩhã liyamkurũ fĩhã, wa mã yamkurũna illã bi anfusihim wa mã yasy’urũn.

123. Dan demikianlah, Aku telah menjadikan pada tiap-tiap negeri pembesar-pembesar yang jahat, agar mereka mengadakan tipu-daya dalam negeri itu, tetapi tidaklah mereka memperdayakan, melainkan pada diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, pada setiap negeri, pasti ada pembesar-pembesar yang jahat, tidak jujur, hanya mengingat hidup di dunia, dan tidak mengingat hidup di akhirat. Kalau mereka membuat tipu-daya kepada penduduknya, maka sesungguhnya, tipu-daya itu menjadi tanggung jawab dirinya.

wa idzã = dan apabila; jã-at-hum = dating kepada mereka; ãyatun = sesuatu ayat; qōlũ = mereka berkata; lan nu’mina = Aku tidfak akan beriman; hattã = sehingga; nu’tã = Aku diberi; mitsla = seperti; mã = apa; ũtiya = diberikan; rusulullãhi = Rasul-Rasul Allah; al lãhu = Allah; a’lamu = lebih mengetahui; haitsu = di mana; yaj’alu = Dia menjadikan; risãlatah = keRasulannya; sayushĩbu = akan menimpa; al ladzĩna = orang-orang yang; ajramũ = (mereka) berdoa; shoghōrun = kecil, kehinaan; ‘indallãhi = di hadapan Allah; wa ‘adzãbun = dan azab, siksa; syadĩdun = yang sangat pedih; bimã = dengan sebab; kãnũ = mereka adalah; yamkurũn = mereka membuat tipu-daya

wa idzã jã-at-hum ãyatun qōlũ lan nu’mina hattã nu’tã mitsla mã ũtiya rusulullãhil lãhu a’lamu haitsu yaj’alu risãlatah, sayushĩbul ladzĩna ajramũ shoghōrun ‘indallãhi wa ‘adzãbun syadĩdum bimã kãnũ yamkurũn.

124. Dan apabila datang kepada mereka suatu ayat, mereka berkata: “Aku tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami, seperti apa yang diberikan kepada Rasul-Rasul Allah. Allah lebih mengetahui, di mana Dia menjadikan keRasulan-Nya itu. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan dari Allah dan siksa yang pedih karena mereka membuat tipu-daya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang peri-laku orang-orang kafir yang selalu mencari-cari alasan dalam menolak ayat-ayat Allah. Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang selalu menolak perintah Allah, dan melakukan tipu-daya.

fa man = maka barang siapa; yuridillãhu = Allah menghendaki; an yahdiyahũ = akan memberikan petunjuk-Nya; yasyroh = Dia melapangkan; shodrohũ = dadanya; lil islãmi = untuk Islam; wa man = dan barang siapa; yurid = Dia kehendaki; an yudhillahũ = untuk Dia menyesatkannya; yaj’al = Dia akan menjadikan; shodrohũ = dadanya; dhoyyiqan = sempit; harojan = kesukaran; ka-annamã = seakan-akan; yashsha’adu = ia mendaki; fis samã-i = ke langit; kadzãlika = demikianlah; yaj’alullãhu = Allah menghendaki; ar rijsa = kekejian; ‘ala = atas; al ladzĩna = orang-orang yang; lã yu’minũn = mereka tidak beriman.

fa man yuridillãhu an yahdiyahũ yasyroh shodrohũ lil islãmi, wa man yurid an yudhillahũ yaj’al shodrohũ dhoyyiqan harojan ka-annamã yashsha’adu fis samã-i, kadzãlika yaj’alullãhur rijsa ‘alal ladzĩna lã yu’minũn.

125. Maka barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan petunjuk kepadanya, tentu Dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan, barang siapa yang Dia kehendaki akan menyesatkannya, Dia akan menjadikan dadanya sempit dan kesukaran, seakan-akan ia sedang mendaki ke langit. Demikianlah, Allah menjadikan kekejian atas orang-orang yang tidak beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk itu diberikan kepada orang-orang yang dengan ikhlas, berlapang dada mengakui ada-Nya Allah dan Nabi Muhammad saw. utusan-Nya. Orang-orang yang tidak mengakui ada-Nya Allah yang memberi wahyu kepada Nabi Muhammad saw. melalui Malaikat Jibril, maka Allah menyempitkan dadanya untuk mengakui Islam sebagai agama dari Allah.

wa hãdzã = dan inilah; shirōthu = jalan; robbika = Rab kamu; mustaqĩma = yang lurus; qod = sesungguhnya; fasholnã = Aku telah menjelaskan; al ãyãti = ayat-ayat; li qoumin = kepada kaum; yadzdzakkarũn = mereka memperhatikan

wa hãdzã shirōthu robbika mustaqĩma, qod fasholnal ãyãti liqoumin yadzdzakkarũn.

126. Dan inilah jalan Rab kamu yang lurus; sesungguhnya Aku telah menjelaskan ayat-ayat Aku kepada kaum yang memperhatikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah menjelaskan ayat-ayat-Nya hanya kepada kaum yang sungguh- sungguh memperhatikan. Kaum yang tidak memperhatikan tidak diberi penjelasan.

lahum = bagi mereka; dãru = rumah; as salãmi = perdamaian; ‘inda = di haribãn; robbihim = Rab mereka wa huwa waliyyuhum bi mã kãnũ ya’malũn.

lahum dãrus salãmi ‘inda robbihim, wa huwa waliyyuhum bi mã kãnũ ya’malũn.

127. Bagi mereka disediakan rumah perdamaian (surga) di haribãn Rab mereka, dan Dialah Pelindung mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka yang dengan ikhlas masuk dalam Islam, akan disediakan surga, tempat tinggal selamanya. Allah menjadi Pelindung mereka. Imbalan dari orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Nabinya.

wa yauma = dan pada hari; yahsyuruhum = (Allah) menghimpun mereka; jamĩ’an = semuanya; yã ma’syaro = hai golongan; al jinni = jin; qod = sesungguhnya; is-taktsartum = kamu telah banyak; min = dari; al insĩ = manusia; wa qōla = dan berkata; auliyã-uhum = kawan-kawan mereka; min = dari; al insĩ = manusia; robbana = ya Rab kami; is tamta’a = telah mendapat kenikmatan; ba’dhunã = sebagian kami; bi ba’dhin = dengan sebagian yang lain; wa balaghnã = dan Aku telah sampai; ajalana = ajal, waktu kami; al ladzĩ = yang; ajjalta = Engkau tentukan ajalnya, waktunya; lanã = bagi kami; qōla = (Allah) berfirman; an nãru = neraka; matswãkum = tempat tinggal kamu; khōlidĩna = yang kekal; fĩhã = di dalamnya; illã = kecuali; mã = apa, jika; syã-allãh = Allah menghendaki; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; hakĩmun = Mahabijaksana; ‘alĩm = Maha Mengetahui;

wa yauma yahsyuruhum jamĩ’an yã ma’syarol jinni qodis-taktsartum minal insĩ, wa qōla auliyã-uhum minal insĩ robbanas tamta’a ba’dhunã bi ba’dhin wa balaghnã ajalanãl ladzĩ ajjalta lanã, qōlan nãru matswãkum khōlidĩna fĩhã illã mã syã-allãh, inna robbaka hakĩmun ‘alĩm.

128. Dan (ingatlah) pada hari Allah menghimpun mereka semua. (Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.” Dan berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia: “Ya Rab kami, sebagian Aku telah mendapat kesenangan dari sebagian yang lain, dan Aku telah sampai pada waktu Aku yang telah Engaku tentukan bagi kami”. Allah berfirman: “Neraka, itulah tempat tinggal kamu yang kekal, kecuali, jika Allah menghendaki (yang lain).” Sesungguhnya Rab kamu itu Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menekankan peringatan Allah kepada bangsa jin dan manusia pada hari pembalasan.

wa kadzãlika = dan demikianlah; nuwallĩ = Aku jadikan pemimpin; ba’dho = sebagian; adz dzōlimĩna = orang-orang lalim; ba’dhon = sebagian yang lain; bimã = dengan apa, disebabkan apa ; kãnũ = adalah mereka; yaksibũn = mereka usahakan.

wa kadzãlika nuwallĩ ba’dhodz dzōlimĩna ba’dhom bimã kãnũ yaksibũn.

129. Dan demikianlah, Aku jadikan sebagian dari orang-orang yang lalim itu menjadi pimpinan bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang lalim itu mempunyai pemimpin yang ditetapkan Allah berdasarkan usaha untuk itu.

yã ma’asyaro = hai golongan; al jinni = jin; wa = dan; al insi = manusia; alam = apakah; ya’tikum = belum datang kepadamu; rusulun = Rasul-Rasul; minkum = dari antara kamu sendiri; yaqushshũna = mereka menceriterakan; ‘alaikum = kepada kamu; ãyãtĩ = ayat-ayat-Ku; wa yundzirũnakum = dan mereka memberi peringatan kepadamu; liqō-a = pertemuan; yaumikum = hari kamu; hãdzã = ini; qōlũ = mereka berkata; syahidnã = Aku menjadi saksi; ‘alã = atas; anfusinã = diri mereka sendiri; wa ghorrot-humu = dan telah menipu mereka; al hayãtu = kehidupan; ad dun-yã = dunia; wasyahidũ = dan mereka menjadi saksi; ‘alã = atas; anfusihim = diri mereka sendiri; annahum = bahwa sesungguhnya mereka; kãnũ = mereka adalah; kãfirĩn = orang-orang kafir.

yã ma’asyarol jinni wal insi alam ya’tikum rusulum minkum yaqushshũna ‘alaikum ãyãtĩ wa yundzirũnakum liqō-a yaumikum hãdzã, qōlũ syahidnã ‘alã anfusinã, wa ghorrot-humul hayãtud dun-yã wasyahidũ ‘alã anfusihim annahum kãnũ kãfirĩn.

130. Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu Rasul-Rasul dari antara kamu sendiri yang menceriterakan ayat-ayat-Ku, dan memberi peringatan kepadamu pada pertemuan pada hari ini?, Mereka berkata: “Aku menjadi saksi atas diri Aku sendiri”. Kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas mereka sendiri, bahwa sesungguhnya, mereka itu orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan kepada umat jin dan manusia tentang kedatangan Rasul-Rasul di antara umatnya masing-masing. Dan mereka menjadi saksi, bahwa memang benar ada Rasul yang memperingatkan pada pertemuan Hari Kiamat. Hanya karena ada tipu-daya kehidupan di dunia maka mereka terperangkap dalam kekafiran (banyak yang mengabaikan perintah Allah, dan melakukan perbuatan yang dilarang-Nya).

dzãlika = yang demikian itu; an lam yakun = bahwa tidak akan ada; robbuka = Rab kamu; muhlika = membinasakan; al qurō = negeri-negeri; bi dzulmin = dengan aniaya; wa ahluhã = dan penduduknya; ghōfilũn = orang-orang yang lalai.

dzãlika al lam yakur robbuka muhlikal qurō bi dzulmin wa ahluhã ghōfilũn.

131. Yang demikian itu karena Rab kamu tidak akan membinasakan negeri-negeri dengan aniaya, karena penduduknya lengah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Negeri-negeri yang dibinasakan Allah itu karena penduduknya banyak yang kafir. Dan berlaku seenaknya, semena-mena

wa likullin = dan bagi tiap-tiap orang; darojãtun = derajat; mimmã = dari apa yang…; ‘amilũ = mereka kerjakan; wa mã = dan tidaklah; robbuka = Rab kamu; bi ghōfilin = dengan lengah; ‘ammã = dari apa yang; ya’mãlũn = mereka kerjakan.

wa likullin darojãtum mimmã ‘amilũ, wa mã robbuka bi ghōfilin ‘ammã ya’mãlũn.

132. Dan Bagi tiap-tiap orang memperoleh derajat menurut apa yang mereka kerjakan, dan Rab kamu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah: “Derajat seseorang itu tergantung dari apa yang sudah mereka kerjakan.”

wa robbuka = dan Rab kamu; al ghoniyyu = Mahakaya; dzur rohmah = mempunyai rahmat; in yasyã’ = Jika Dia menghendaki; yudzhibkum = Dia akan melenyapkan kamu; wa yastakhlif = dan Dia menggantikan; mim ba’dikum = dari sesudah kamu; mã = apa, siapa; yasyã’u = Dia kehendaki; kamã = sebagaimana; ansyã-akum = Dia menjadikan kamu; min dzurriyyati = dari keturunan; qoumin = kaum, orang-orang; ‘ãkhorĩn = yang lain.

wa robbukal ghoniyyu dzur rohmah, in yasyã’yudzhibkum wa yastakhlif mim ba’dikum mã yasyã’u kamã ansyã-akum min dzurriyyati qoumin ‘ãkhorĩn.

133. Dan Rab kamu Mahakaya dan mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki, Dia akan melenyapkan kamu dan menggantikan dengan kaum sesudah kamu, siapa yang Dia kehendaki, sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, Dia Mahakuasa untuk melenyapkan suatu umat dan menggantikannya dengan umat yang lain, sekehendak-Nya.

inna = sesungguhnya; mã = apa; tũ’adũna = dijanjikan kepadamu; la-atin = pasti akan datang; wa mã antum = dan kamu tidak; bi mu’jizĩn = orang-orang yang menolak.

inna mã tũ’adũna la-atin wa mã antum bi mu’jizĩn.

134. Sesungguhnya, apa yang dijanjikan kepadamu, pasti akan datang, dan kamu sekali-kali tidak dapat menolaknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan: “Janji Allah pasti ditepati. Makhluk-Nya tidak dapat menolak, apa yang sudah ditetapkan.”

qul = katakanlah; yã qaumi’ = hai kaumku; i’ malũ = bekerjalah kamu; ‘alã = menurut; makãnatikum = kesanggupanmu; innĩ = sesungguhnya aku; ‘ãmilun = orang yang bekerja; fa saufa = maka kelak; ta’lamũna = kamu akan mengetahui; man = siapa; takũnu = adalah kamu; lahũ = baginya ‘ãqibatu = akibat, kesudahan, hasil; ad dãri = tempat kediaman; innahũ = sesungguhnya ia; lã yuflihu = tidak mendapatkan keuntungan; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim

qul yã qaumi’ malũ ‘alã makãnatikum innĩ ‘ãmilun, fa saufa ta’lamũna man takũnulahũ ‘ãqibatud dãri, innahũ lã yuflihuzh zhōlimũn.

135. Katakanlah, “Hai kaumku, bekerjalah kamu menurut kesanggupanmu, sesungguhnya, aku bekerja pula, kelak kamu akan mengetahui, siapa (di antara) kamu yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesunguhnya, orang-orang yang lalim itu tidak mendapatkan keuntungan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan kepada kaumnya Nabi Muhammad saw. masing-masing harus bekerja. Allah mengingatkan siapa yang akan mendapatkan hasil yang baik, atau tidak mendapatkan keuntungan apa pun bagi orang yang lalim.

wa ja’alũ = dan mereka menjadikan, menyediakan; lillãhi = untuk Allah; mimmã = dari apa yang; dzaro-a = telah Dia ciptakan; mina = dari; al hartsi = ladang; wa al an’a’ami = dan dari binatang ternak; nashĩban = bagian; fa qōlũ = lalu mereka mengatakan; hãdzã = ini; lillãhi = untuk Allah; bi za’mihim = menurut anggapan mereka; wa hãdzã = dan ini; lisyurakã-inã = untuk sekutu, berhala kami; fa mã = maka apa; kãna = yang ada; li syurakã-ihim = untuk serikat mereka; fa lã yashilu = maka dia tidak sampai; ilallãh = kepada Allah; wa mã kãna = dan apa yang ada; lillãhi = untuk Allah; fa huwa = maka dia; yashilu = sampai; ilã syurokã-ihim = kepada serikat mereka; sã-a = amat buruk; mã yahkumũn = apa yang mereka tetapkan.

wa ja’alũ lillãhi mimmã dzaro-a minal hartsi wa al an’a’ami nashĩban fa qōlũ hãdzã lillãhi bi za’mihim wa hãdzã lisyurakã-inã, fa mã kãna li syurakã-ihim fa lã yashilu ilallãh, wa mã kãna lillãhi fa huwa yashilu ilã syurokã-ihim, sã-a mã yahkumũn.

136. Dan mereka memberikan sebagian dari hasil ladang dan binatang ternak untuk Allah, padahal Allahlah yang telah menciptakannya, lalu mereka mengatakan dengan pertimbangan mereka: “Ini untuk Allah, dan ini untuk berhala-berhala kami”. Maka apa yang diberikan kepada berhala-berhala mereka itu tidak sampai kepada Allah, dan apa yang diberikan kepada Allah sampai kepada berhala-berhala mereka. Amat buruklah apa yang mereka tetapkan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ini untuk Allah” maksudnya hasil usaha yang disediakan untuk kepentingan fakir-miskin dan amal sosial lainnya, namun diberikan kepada penjaga-penjaga berhala. Allah mengingatkan, perbuatan musyrik itu sangat buruk, dan sangat dikutuk. Yang dimaksudkan berhala di sini, bukan yang berarti patung-patung sesembahan saja, tapi juga kehidupan dunia yang diagung-agungkan, dipuja-puja, dihormat-hormat, atau pada manusianya sendiri, atau sesuatu yang memberikan manfaat dalam hidupnya, atau dari para pemimpinnya, para penjaganya. Peribadatan mereka (menyantuni, memberikan sesuatu kepada fakir-miskin) tidak sampai kepada Allah, karena disampaikan melalui berhala, atau melalui para penjaga berhala. Oleh karena itu, dalam setiap pekerjaan, betapa pun sederhananya, bagi orang yang beriman kepada Allah, harus mengucapkan basmalah. Berarti orang harus selalu mengingat bahwa segala sesuatu itu bukan dari hasil usahanya sendiri, melainkan dari Allah.

wa kadzãlika = dan demikianlah; zayyana = menjadikan, memamndang baik; li katsĩrin = bagi kebanyakan; minal musyrikĩna = dari orang-orang musyrik; qotla = membunuh; auladihim = anak-anak mereka; syurōkã-uhum = serikat mereka; liyurdũhum = untuk membinasakan mereka; wa liyalbisũ = dan untuk mengaburkan; ‘alaihim = atas mereka; dĩnahum = agama mereka; wa lau syã-allãhu = dan jika Allah menghendaki; mã fa’alũhu = mereka tidak mengerjakannya; fa dzarhum = maka tinggalkanlah mereka; wa mã yaftarũn = dan apa-apa yang mereka ada-adakan.

wa kadzãlika zayyana li katsĩrim minal musyrikĩna qotla auladihim syurōkã-uhum liyurdũhum wa liyalbisũ ‘alaihim dĩnahum, wa lau syã-allãhu mã fa’alũhu, fa dzarhum wa mã yaftarũn.

137. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka menjadikan kebanyakan orang-orang musyrik memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan terhadap agama mereka. Dan jika Allah menghendaki, tentu mereka tidak mengerjakannya, karena itu, tinggalkanlah mereka dengan apa yang mereka ada-adakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebagian orang Arab adalah penganut syariat Ibrahim a.s. yang pernah diminta untuk mengurbankan anaknya, Ismail. Hal ini sampai kepada pemimpin-pemimpin agama yang memberikan peluang untuk pembunuhan anak-anak yang menyebabkan norma-norma agama menjadi tidak jelas. Artinya, mereka beralasan membunuh anak-anak mereka itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal sesungguhnya alasan mereka takut miskin dan takut ternoda. Jadi, tidak sesuai dengan kehendak Allah. Allah menghendaki hal yang demikian itu untuk menjadi contoh, dan lahan dakwah. Kalau tidak bisa didakwahi, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw., agar meninggalkan mereka yang selalu mengada-ada dalam ketentuan agama.

wa qōlũ = dan mereka mengatakan; hãdzihĩ = inilah; an’ãmun = binatang ternak; wa hartsun = dan tanaman; hijrun = larangan; lã yath’amuhã = tidak boleh memakannya; illã = kecuali; man = orang; nasyã-u = Aku kehendaki; bi za’mihim = menurut anggapan mereka; wa an’a’amun = dan binatang ternak; hurrimat = diharamkan; dhuhũruhã = punggungnya (=menungganginya); wa an’a’amun = dan binatang ternak; lã yadzkurũna = mereka tidak mengingat (=menyebut); asma = nama; allãhi = Allah; ‘alaiha = atas-nya; aftirō-an = mengada-adakan; ‘alaih = atas-Nya; sayajzĩhim = kelak (Allah) akan membalas mereka; bimã = dengan apa; kãnũ = mereka adalah; yaftarũn = mereka mengada-adakan.

wa qōlũ hãdzihĩ an’ãmun wa hartsun hijrul lã yath’amuhã illã man nasyã-u bi za’mihim wa an’a’amun hurrimat dhuhũruhã wa an’a’amul lã yadzkurũnasmallãhi ‘alaihaftirō-an ‘alaih, sayajzĩhim bimã kãnũ yaftarũn.

138. Dan mereka mengatakan, sesuai dengan anggapan mereka: “Inilah binatang ternak dan tanaman yang dilarang memakannya kecuali orang yang Aku kehendaki”, dan ini binatang ternak yang diharamkan menungganginya, dan ada pula binatang ternak yang mereka tidak menyebut nama Allah pada waktu menyembelihnya; semua itu untuk mendustakan ada-Nya Allah. Kelak Allah akan memberikan balasan terhadap apa yang mereka ada-adakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang musyrik itu suka membuat aturan sendiri karena mereka tidak mau percaya ada-Nya Allah dengan sesungguhnya. Peraturan mereka itu hanya mengada-ada saja. Ternak yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah berarti ternak kurban itu untuk berhala.

wa qōlũ = dan mereka mengatakan; mã = apa; fĩ = yang di dalam; buthũni = perut; hãdzihi = ini; al an’a’ami = binatang ternak; khōlishotun = khusus; li dzukũrinã = untuk laki-laki kami; wa muharromun = dan yang diharamkan; ‘alã = atas; azwãjinã = istri-istri kami; wa in yakum = tetapi jika (yang di dalam perut itu) adalah; maitatan = mati; fa hum = maka mereka; fĩhi = padanya; syurokã-u = bersama-sama, bersekutu; sayajzĩhim = kelak (Allah) akan membalas mereka; washfahum = ketetapan mereka; innahũ = sesungguhnya; hakĩmun = Mahabijaksana; ‘alĩm = Maha Mengetahui;

wa qōlũ mã fĩ buthũni hãdzihil an’a’ami khōlishotul li dzukũrinã wa muharromun ‘alã azwãjinã wa in yakum maitatan fahum fĩhi syurokã-u, sayajzĩhim washfahum, innahũ hakĩmun ‘alĩm.

139. Dan mereka mengatakan, apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk para laki-laki kami, dan diharamkan atas istri-istri kami, tetapi jika yang di dalam perut itu (dilahirkan) mati, maka mereka (laki-laki dan perempuan) boleh memakannya bersama. Kelak Allah akan membalas ketetapan mereka. Sesungguhnya, Allah Mahabijaksana dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Para pemimpin yang musyrik sering menentukan binatang-binatang ternak untuk pujaan yang hanya boleh dimakan oleh orang-orang tertentu saja.
“apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini” maksudnya binatang ternak yang tidak boleh ditunggangi, seperti Bahĩrah dan Sãibah (lihat Q.s. Al Mã-idah, 5:103).

qod = sesungguhnya; khasiro = rugilah; al ladzĩna = orang-orang yang; qotalũ = (mereka) membunuh; aulãdahum = anak-anak mereka; safahan = kebodohan; bighoiri = dengan tidak; ‘ilmin = pengetahuan; wa harromũ = dan mereka mengharamkan; mã rozaqohumullãh = apa yang telah Allah rezekikan kepada mereka; iftirō-an = mengada-adakan; ‘alãllãh = atas / terhadap Allah; qod = sesungguhnya; dhollũ = mereka sesat; wa mã kãnũ = maka tidaklah kamu; muhtadĩn = orang-orang yang medapat petunjuk.

qod khasirol ladzĩna qotalũ aulãdahum safaham bighoiri ‘ilmin wa harromũ mã rozaqohumullãhuftirō-an ‘alãllãh, qod dhollũ wa mã kãnũ muhtadĩn.

140. Sesungguhnya, rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan, dan tidak mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang telah direzekikan Allah kepada mereka, karena mengada-adakan Allah. Sesungguhnya, mereka itu sesat, dan tidak mendapat petunjuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, membunuh anak-anak dan mengharamkan apa yang telah direzekikan Allah kepada mereka itu perbuatan yang bodoh karena mereka tidak memiliki pengetahuan. Perbuatan mereka sesat karena tidak berdasarkan petunjuk Allah. Allah itu Maha Pemberi rezeki

wa huwal ladzĩ = dan Dialah yang; ansya-a = menumbuhkan; jannaatin = kebun-kebun; ma’rũsyãtin = yang subur; wa ghoiro = dan tidak; ma’rũsyãtin = subur; wan nakhla = dan pohon kurma; waz zar’a = dan tanaman-tanaman; mukhtalifan = bermacam-macam; ukuluhũ = rasanya; waz zaitũna = dan zaitun; war rummaana = dan delima; mutasyãbihan = yang serupa; wa ghoiro = dan tidak; mutasyãbihin = serupa; kulũ = makanlah; min tsamarihĩ = dari buahnya; idzã = apabila; atsmaro = berbuah; wa ãtũ = dan berikan; haqqohũ = haknya; yauma = pada hari; hashãdihĩ = memetiknya; wa lã = dan jangan; tusrifũ = kamu berlebihan; innahũ = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al musrifĩn = orang-orang yang berlebih-lebihan.

wa huwal ladzĩ ansya-a jannaatim ma’rũsyãtin wa ghoiro ma’rũsyãtin wan nakhla waz zar’a mukhtalifan ukuluhũ waz zaitũna war rummaana mutasyãbihan wa ghoiro mutasyãbihin, kulũ min tsamarihĩ idzã atsmaro wa ãtũ haqqohũ yauma hsshãdihĩ, wa lã tusrifũ, innahũ lã yuhibbul musrifĩn.

141. Dan Dialah yang menumbuhkan kebun-kebun yang subur dan yang tidak subur, dan pohon kurma, dan tanaman-tanaman yang bermacam-macam rasanya, dan zaitun dan delima, yang serupa dan yang tidak serupa. Makanlah buahnya apabila berbuah, dan berikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetiknya, dan janganlah kamu berlebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Contoh dari Allah tentang tanaman perkebunan buah-buahan. Di dunia ini perkebunan beraneka macam. Ada aturan pembagian hak zakat bagi orang-orang fakir-miskin ketika panen. Ada larangan untuk menikmati secara berlebihan. Bagi-bagilah secara baik kepada sesama makhluk Alllah.

wa minal an’ãmi = dan dari binatang ternak; hamũlatan = untuk pengangkut; wa farsã = dan untuk disembelih; kulũ = makanlah; mimmã = dari apa; rozaqumullãhu = Allah memberikan rezeki lepadamu; wa lã tattabi’ũ = dan jangan kamu mengikuti; khuthuwãti = langkah-langkah; asy syaithōn = setan; innahũ = sesungguhnya setan; lakum = bagi kamu; ‘aduwwum mubĩn = musuh yang nyata.

wa minal an’ãmi hamũlatan wa farsã, kulũ mimmã rozaqumullãhu wa lã tattabi’ũ khuthuwãtisy syaithōn, innahũ lakum ‘aduwwum mubĩn.

142. Dan di antara binatang ternak itu dijadikan (Allah) pengangkut dan untuk disembelih. Makanlah dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Contoh dari Allah tentang beternak. Allah memberi ternak untuk diambil manfaat tenaganya atau dagingnya, atau bagian tubuh lainnya sebagai rezeki. Allah mengingatkan dalam beternak juga harus berhati-hati. Jangan mengikuti langkah-langkah setan. Setan itu musuh yang nyata bagi manusia, Al Baqarah, 2 : 36, 168, 208; An Nisã’, 4 : 89; Al An’ãm, 6 : 112; al A’raf, 7 : 22, 36; Yũsuf, 12 : 5.

Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 168, 173 catatan tetang makanan yang haram dan yang halal; An Nisã’, 4 : 160 catatan tentang makanan yang haram bagi orang Yahudi; Al Mã-idah, 5 : 1 tentang larangan berburu pada saatmengerjakan haji; 3 tentang makanan yang haram saatmengerjakan haji.

tsamaaniyata = delapan (binatang); azwãjin = berpasangan; minadh dho’ni = dari domba; itsnaini = dua (pasangan); wa minal ma’zi = dan dari kambing; itsnaini = dua (pasangan); qul = katakanlah; ãdz dzakaroini = apakah dua yang jantan; harroma = (Allah) mengaramkan; ami = ataukah; al untsayaini = dua yang betina; ammasytamalat = atau yang terkandung; ‘alaihi = atasnya; arhãmu = rahim; al untsayaini = dua yang betina; nabbi-ũnĩ = terangkanlah kepadaku; bi ilmin = dengan pengetahuan; in kuntum = jika kamu adalah; shōdiqĩn = orang-orang yang benar.

tsamaaniyata azwãjim minadh dho’nitsnaini wa minal ma’zitsnaini, qul ãdz dzakaroini harroma amil untsayaini ammasytamalat ‘alaihi arhãmul untsayaini, nabbi-ũnĩ bi ilmin in kuntum shōdiqĩn.

143. Delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba dan sepasang kambing. Katakanlah: “Apakah dua jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepadaku dengan (dasar) pengetahuan, jika kamu memang orang-orang yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Contoh aneka macam ternak dengan aturannya. “Delapan binatang yang berpasangan” yaitu sepasang domba, sepasang kambing, sepasang unta, dan sepasang lembu. Sepasang artinya dua khewan yang sejenis yng berbeda kelaminnya, satu jantan, satu betina.

wa mina = dan dari; al ibili = unta; itsnaini = dua (sepasang); wa mina = dan dari; al baqori = sapi; itsnaini = dua (sepasang); qul = katakanlah; ãdz dzakaroini = apakah dua yang jantan; harroma = (Allah) mengharamkan; ami = ataukah; al untsãyaini = dua yang betina; ammãsytamalat = atau yang terkandung; ‘alaihi = di dalamnya; arhãmu = rahim; al untsayain = dua yang betina; am kuntum = atau kamu adalah; syuhadã-a = menjadi saksi; idz = ketika; wash shãkumullãhu = Allah menetapkan kepadamu; bi hãdzã = dengan ini; fa man = maka barang siapa; azhlamu = lebih lalim; mimmani = daripada orang-orang; iftarō = mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; kadziban = dusta; liyudhilla = untuk menyesatkan; annãsa = manusia; bi ghoiri = dengan tidak; ‘ilmi = pengetahuan; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qouma = kaum; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

wa minal ibilitsnaini wa minal baqoritsnaini, qul ãdz dzakaroini harroma amil untsãyaini ammãsytamalat ‘alaihi arhãmul untsayain, am kuntum syuhadã-a idz wash shãkumullãhu bi hãdzã, fa man azhlamu mimmaniftarō ‘alallãhi kadzibal liyudhillan nãsa bi ghoiri ‘ilmi, innallãha lã yahdĩl qoumazh zhōlimĩn.

144. Dan sepasang unta dan sepasang sapi. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah, ataukah dua yang betina, ataukah yang ada di dalam kandungan dua betinanya, atau apakah kamu menjadi saksi ketika Allah menetapkan ini kepadamu? Maka, siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta kepada Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peraturan yang dibuat tanpa petunjuk dari Allah berarti petunjuk yang bohong, akan menyesatkan

qul = katakanlah; lã ajidu = aku tidak mendapati; fĩ mã = di dalam apa yang; ũhiya = diwahyukan; ilayya = kepadaku; muharraman = sesuatu yang diharamkan; ‘alã = atas; thō’imin = orang yang memakan; yath’amuhũ = memakannya; illã = kecuali; an yakũna = jika ia (makanan); maitatan = bangkai; au daman = atau darah; masfũhan = tertumpah (mengalir); au lahma = atau daging; khinzĩrin = babi; fa innahũ = maka sesungguhnya; rijsun = kotor; au fisqon = atau kejahatan; uhilla = disembelih; li ghoirillãhi = bagi selain Allah; bihĩ = dengannya; fa manni = maka barang siapa; idhthurro = terpaksa; ghoiro = tidak/bukan; bãghin = sengaja; wa lã = dan tidak; ‘ãdin = melampaui batas; fa inna = maka sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; ghofũr = Maha Pengampun; arrohĩm = Maha Penyayang.

qul lã ajidu fĩ mã ũhiya ilayya muharraman ‘alã thō’imin yath’amuhũ illã an yakũna maitatan au damam masfũhan au lahma khinzĩrin fa innahũ rijsun au fisqon uhilla li ghoirillãhi bihĩ, fa mannidhthurro ghoiro bãghin wa lã ‘ãdin fa inna robbaka ghofũrur rohĩm.

145. Katakanlah: “Tidaklah aku dapati pada apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang memakannya, kecuali jika makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, maka sesungguhnya, semua itu kotor, atau kejahatan binatang yang disembelih atas nama selain Allah, maka barang siapa yang terpaksa, dan dia tidak sengaja, dan tidak pula melampaui batas, maka sesungguhnya, Rab kamu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2 : 173. Ada sedikit perbedaan redaksi.

wa ‘alal ladzĩna = dan atas orang-orang yang; hãdũ = (mereka) Yahudi; harromnã = Aku haramkan; kulla = segala; dzĩ zhufũrin = yang berkuku; wa mina = dan dari; al baqari = sapi; wal ghonami = dan kambing; harromnã = Aku haramkan; ‘alaihim = atas mereka; syuhũmahumã = lemak dari keduanya; illã = kecuali; mã = apa; hamalat = yang melekat; zhuhũruhumã = punggung keduanya; awil hawãyã = atau perut besar; au mãkhtalatho = atau apa yang tercampur; bi ‘azhmin = dengan tulang; dzãlika = demikianlah; jazainãhum = Aku beri balasan kepada mereka; bi baghyihim = karena kedurhakãn mereka; wa innã = dan sesungguhnya Kami; la shōdiqũn = sungguh yang benar.

wa ‘alal ladzĩna hãdũ harromnã kulla dzĩ zhufũrin, wa minal baqari wal ghonami harromnã ‘alaihim syuhũmahumã illã mã hamalat zhuhũruhumã awil hawãyã au mãkhtalatho bi ‘azhmin dzãlika jazainãhum bi baghyihim wa innã la shōdiqũn.

146. Dan atas orang-orang Yahudi, Aku haramkan segala binatang yang berkuku, dan dari sapi dan kambing, Aku haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu, kecuali lemak yang yang melekat di punggung keduanya, atau yang di perut besar atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah, Aku beri hukum mereka karena kedurhakãn mereka, dan sesungguhnya, Kamilah Yang Mahabenar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Halal dan haram itu aturan Allah. Perhatikanlah! Ada aturan haram khusus bagi orang Yahudi: “segala binatang yang berkuku” maksudnya binatang-binatang yang jari-jarinya tidak terpisah antara yang satu dengan yang lainnya, seperti pada unta, itik angsa, dan lain-lain. Ahli tafsir lain mengartikan binatang-binatang yang berkuku satu, seperti kuda, keledai, dan lain-lain

fa in = maka, jika; kadzdzabũka = menganggap kamu bohong; fa qul = maka katakanlah; robbukum = Rab kamu; dzũ = mempunyai; rohmatin = rahmat; wãsi’atin = yang luas; wa lã yuroddu = dan tidak dapat ditolak; ba’suhũ = siksa-Nya; ‘anil qoumi = dari kaum; al mujrimĩn = orang-orang yang berdosa.

fa in kadzdzabũka fa qur robbukum dzũ rohmatin wã si’atin wa lã yuroddu ba’suhũ ‘anil qoumil mujrimĩn.

147. Maka, jika mereka menganggap kamu bohong, maka katakanlah: “Rab kamu mempunyai rahmat yang luas, dan siksa-Nya tidak dapat ditolak oleh kaum yang berdosa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk cara menghadapi para pendosa, yaitu orang kafir, musyrik, munafik, fasik, murtad. Hal ini menjadi peringatan juga bagi orang yang beriman.

sayaqũlu = nanti akan mengatakan; alladzĩna = orang-orang yang; asyrokũ = (mereka) mempersekutukan; lausyã’a = jika menghendaki; allãhu = Allah; mã asyroknã = Aku tidak mempersekutukan; wa lã = dan tidak; abã-ũnã = bapak-bapak kami; wa lã = dan tidak; harromnã = Aku mengharamkan; min syai-in = dari barang sesuatu; kadzãlika = demikianlah; kadzdzaba = telah mendustakan; al ladzĩna = orang-orang yang; min qoblihim = dari sebelum mereka; hattã = sehingga; dzãqũ = mereka merasakan; ba’sanã = siksaan Kami; qul = katakanlah; hal = apakah; ‘indakum = pada kamu (mempunyai); min ‘ilmin = (dari) ilmu; fa = lalu, maka; tukhrijũhu = kamu mengemukakannya; lanã = kepada kami; in tattabi’ũna = tidaklah kamu menginguti; illa = kecuali; azhzhonna = prasangka; wa in antum = dan tidak lain kamu; illã = hanya, kecuali; takhrushũn = kamu berdusta.

sayaqũlul ladzĩna asyrokũ lausyã-allãhu mã asyroknã wa lã abã-ũnã wa lã harromnã min syai-in, kadzãlika kadzdzabal ladzĩna min qoblihim hattã dzãqũ ba’sanã, qul hal ‘indakum min ‘ilmin fa tukhrijũhu lanã, in tattabi’ũna illazhzhonna wa in antum illã takhrushũn.

148. Orang-orang yang mempersekutukan (Allah) nanti akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, Aku dan bapak-bapak Aku tidaklah mempersekutukan (Allah) dan Aku tidak mengharamkan barang suatu apa pun”. Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (Rasul) sehingga mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: “Apakah kamu mempunyai ilmu, lalu kamu dapat mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan dalih yang akan dikemukakan orang-orang musyrik dan orang-orang kafir atas apa yang dilakukannya. Itu semua hanya prasangka dan dusta mereka saja. Dalih itu hanya dari logika mereka sendiri, tidak berdasarkan wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasulullah, Muhammad saw..

qul = katakanlah; falillãhi = maka hanya dari Allah; al hujjatu = hujah, alasan; al bãlighoh = alasan yang jelas dan kuat; falau = maka, jika; syã-a = Dia menghendaki; lahadãkum = pasti Dia memberi petunjuk kepadamu; ajma’ĩn = semuanya;

qul falillãhil hujjatul bãlighoh, falausyã-a lahadãkum ajma’ĩn.

149. Katakanlah: “Maka hanya dari Allahlah hujah (alasan) yang jelas dan kuat. Maka, jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semua”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kembali kekuasaan-Nya dalam memberikan petunjuk yang benar kepada siapa yang dikehendaki. Manusia, makhluk-Nya harus mau berupaya untuk diberi petunjuk, dengan cara melakukan apa yang diperintahkan, dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.

qul = katakanlah; halumma = bawalah ke sini; syuhadã-akumu = saksi-saksi kamu; al ladzĩna = orang-orang yang; yasyhadũna = (mereka) mempersaksikan; annallãha = bahwa Allah; harroma = mengharamkan; hãdzã = ini; fa ‘in = maka jika; syahidũ = mereka mempersaksikan; falã = maka jangan; tasyhad = kamu menjadi saksi; ma’ahum = bersma mereka; wa lã = dan jangan; tattabi’ = kamu mengikuti; ahwã-a = hawa nafsu; al ladzĩna = orang-orang yang; kadzdzabũ = (mereka) mendustakan); bi-ãyãtinã = pada ayat-ayat Kami; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; lã yu’minũna = (mereka) tidak beriman; bil ãkhiroti = pada hari akhirat; wa hum = dan mereka; bi robbihim = dengan Rab mereka; ya’dilũn = mereka mempersekutukan.

qul halumma syuhadã-akumul ladzĩna yasyhadũna annallãha harroma hãdzã, fa ‘in syahidũ falã tasyhad ma’ahum, wa lã tattabi’ ahwã-al ladzĩna kadzdzabũ bi-ãyãtinã wal ladzĩna lã yu’minũna bil ãkhiroti wa hum bi robbihim ya’dilũn.

150. Katakanlah: “Bawalah ke sini saksi-saksi kamu yang mempersaksikan bahwa Allah telah mengharamkan ini (makanan yang kamu haramkan)”. Maka, jika mereka mempersaksikan, janganlah kamu turut mempersaksikan bersama mereka, dan kamu jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Rab mereka.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kesaksian yang diucapkan oleh orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, orang-orang yang tidak beriman pada kehidupan akhirat, dan orang-orang mempersekutukan Allah jangan diikuti, karena tidak memakai dasar ayat-ayat Allah. Mereka hanya menggunakan logika (hawa nafsu) mereka sendiri.

Qul = katakanlah; ta’ãlau = marilah; atlu = aku bacakan; mã harroma = apa yang diharamkan; robbukum = Rab kamu; ‘alaikum = bagimu; allã = janganlah; tusyrikũ = kamu mempersekutukan; bihĩ = dengan-Nya; syai-an = sesuatu; wa bil wãlidaini = dan kepada kedua orang tua; ihsaana = berbuat baiklah; wa lã taqtulũ = dan kamu jangan membunuh; auladakum = anak-anakmu; min imlãqin = karena kemiskinan; nahnu = Kami; narzuqukum = Aku memberi rezeki kepadamu; wa iyyãhum = dan kepad mereka; wa lã = dan jangan; taqrobũ = kamu dekati; al fawãhisya = perbuatan keji; mã zhoharo = apa yang tampak; minhã = darinya; wa mã bathona = dan apa yang tersembunyi; wa lã = dan jangan; taqtulũ = kamu membunuh; an nafsa = jiwa; al latĩ = yang; harromallãhu = diharamkan Allah; illã = kecuali; bil haqqi = dengan kebenaran; dzalikum = demikian itu; wash shōkum = dan (Allah) mewasiatkan; bihĩ = dengannya; la’allakum = supaya kamu; ta’qilũn = kamu memahaminya.

Qul ta’ãlau atlu mã harroma robbukum ‘alaikum, allã tusyrikũ bihĩ syai-an, wa bil wãlidaini ihsaana, wa lã taqtulũ auladakum min imlãqin, nahnu narzuqukum wa iyyãhum, wa lã taqrobũl fawãhisya mã zhoharo minhã wa mã bathona, wa lã taqtulũn nafsal latĩ harromallãhu illã bil haqqi, dzalikum wash shōkum bihĩ la’allakum ta’qilũn.

151. Katakanlah: “Marilah Aku bacakan apa yang diharamkan Rabmu atas kamu, janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu; berbuat baiklah kepada kedua orang tua, dan kamu janganlah membunuh anak-anakmu (karena takut) kemiskinan. Aku akan memberi rejeki kepadamu dan kepada mereka, dan kamu jangan mendekati perbuatan-perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi darinya, dan kamu jangan membunuh jiwa (seseorang) yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak (keadilan). Demikian, Allah mewasiatkan kepadamu, supaya kamu memahaminya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta dibacakan pesan (wasiat) yang diharamkan kepada semua makhluk-Nya yang berakal, mampu memahami norma-norma hidup.

wa lã taqrobũ = dan jangan kamu dekati; mãla = harta; al yatĩmi = anak yatim; illã = kecuali; bil latĩ = dengan yang (cara); hiya = dia; ahsanu = sangat baik; hattã = sehingga; yablugho = dia balig; asyuddah = dewasa; wa aufu = dan penuhilah; al kaila = takaran; wal mĩzãna = dan timbangan; bil qisthi = dengan adil; lã nukallifu = Aku tidak membebani; nafsan = seseorang; illã = kecuali; wus’ahã = kesanggupannya; wa idzã = dan apabila; qultum = kamu berkata; fa’dilũ = maka berlaku adillah kamu; wa lau = walau; kãna = (Dia) adalah; dzã qurbã = kerabat; wa bi ‘ahdillãhi = dan dengan janji dari Allah; aufũ = penuhilah; dzalikum = demikianlah; wash shōkum = (Allah) mewasiatkab kepadamu; bihĩ = dengannya; la’allakum = agar kamu; tadzakkarũn = kamu ingat.

wa lã taqrobũ mã lal yatĩmi illã bil latĩ hiya ahsanu hattã yablugho asyuddah, wa auful kaila wal mĩzãna bil qisthi, lã nukallifu nafsan illã wus’ahã, wa idzã qultum fa’dilũ wa lau kãna dzã qurbã, wa bi ‘ahdillãhi aufũ dzalikum wash shōkum bihĩ la’allakum tadzakkarũn.

152. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang sangat baik, sampai dia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Aku tidak membebankan kepada seseorang, kecuali yang sesuai dengan kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, hendaknya kamu berlaku adil, walaupun ia kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Demikianlah, Allah mewasiatkan kepadamu, agar kamu ingat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan aturan memelihara harta anak yatim, dan memerintahkan memelihara takaran dan timbangan walaupun dengan kerabat dekat, saudara. Ingat janji dengan Allah. Manusia harus percaya ada-Nya Allah, dan adanya hari pembalasan

wa anna = dan sesungguhnya; hãdzã = ini; shirōthĩ = jalan; mustaqĩman = lurus; fattabi’ũhu = maka ikutilah; wa lã = dan jangan; tattabi’ũ = mengikuti; as subula = jalan-jalan; fatafarroka = mencerai-berikan; bi kum = dengan kamu; ‘an sabĩlihi = dari jalan-Nya; dzalikum = demikian; wash shokum = (Allah) mewasiatkan kepadamu; bihi = dengannya; la ‘allakum = agar kamu; tattaqũn = kamu bertakwa.

wa anna hãdzã shirōthĩ mustaqĩman fattabi’ũhu, wa lã tattabi’ũs subula fatafarroka bi kum ‘an sabĩlihi, dzalikum wash shokum bihi, la ‘allakum tattaqũn.

153. Dan sesungguhnya, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, kamu jangan mengikuti jalan yang lain, karena jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah, Allah mewasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “jalan-Ku yang lurus” adalah apa yang ditetapkan dalam ayat 152 di atas dan berbagai petunjuk-Nya yang ada di dalam berbagai Kitab Suci yang diwahyukan Allah kepada para Nabi, dan yang terakhir kepada Nabi Muhammad saw..

tsumma = kemudian; ãtainã = telah Aku berikan; mũsã = Musa; al kitãba = Alkitab; tamãman = menyempurnakan; ‘alã = kepada; al ladzĩ = orang-orang yang; ahsana = berbuat kebaikan; wa tafshĩlan = dan penjelasan; likulli = bagi segala; syai-in = sesuatu; wa hudan = dan petunjuk; wa rohmatan = dan rahmat; la’allahum = agar mereka; biliqōoi = dengan perjumpãn; robbihim = Rab mereka; yu’minũn = mereka beriman.

tsumma ãtainã mũsãl kitãba tamãman ‘alãl ladzĩ ahsana wa tafshĩlal likulli syai-in wa hudan wa rohmatal la’allahum biliqōoi robbihim yu’minũn.

154. Kemudian telah Aku berikan Alkitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman kepada saatperjumpãn dengan Rab mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Taurat diturunkan Allah kepada Musa untuk menyempurnakan nikmat yang dikaruniakan kepada orang-orang yang berbuat baik. Umat Nabi Muhammad saw. pun akan diberi kenikmatan yang sempurna, jika berbuat baik. Allah pun terus-menerus memberikan berbagai penjelasan, petunjuk, dan rahmat kepada makhluk-Nya agar beriman kepada saatkiamat, dan saatberjumpa dengan-Nya.

wa hãdzã = dan inilah; kitãbun = Kitab (Alquran); anjalnãhu = Aku turunkan; mubãrokun = diberi berkah; fat tabi’ũhu = makla ikutilah dia; wat taqũ = dan bertakwalah; la’allakum = agar kamu; turhamũn = kamu diberi rahmat.

wa hãdzã kitãbun anjalnãhu mubãrokun fat tabi’ũhu wat taqũ la’allakum turhamũn.

155. Dan inilah Kitab (Alquran) yang Aku turunkan, dan diberi berkah. Maka, ikutilah dia, dan bertakwalah, agar kamu diberi rahmat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menganjurkan kepada manusia agar takwa, mengikuti petunjuk Alquran agar diberi rahmat.

an taqũlũ = supaya kamu (tidak) mengatakan; innamã = sesungguhnya hanya; unzila = diturunkan; al kitãbu = Alkitab; ‘alã thō-ifataini = atas dua golongan; min qoblinã = dari sebelum kami; wa in kunnã = dan sesungguhnya kami; ‘an dirōsatihim = dari bacaan mereka; la ghōfilĩn = sungguh orang yang lalai.

an taqũlũ innamã unzilal kitãbu ‘alã thō-ifataini min qoblinã wa in kunnã ‘an dirōsatihim la ghōfilĩn.

156. Supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami, dan sesungguhnya Aku lalai memperhatikan bacaan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar tidak mendustakan Alquran, Taurat, maupun Kitab-kitab lainnya yang diturunkan Allah kepada para Nabi.

au taqũlũ = atau supaya kamu mengatakan; lau = kalau, jika; annã = sesungguhnya kami; unzila = diturunkan; ‘alainã = atas kami; al kitãbu = Kitab; lakunnã = sungguh Aku adalah; ahdã = lebih medapat petunjuk; min hum = dari mereka; fa qod = maka sesungguhnya; jã-akum = telah datang kepadamu; bayyinatun = keterangan yang nyata; mir robbikum = dari Rab kamu wa hudan = dan petunjuk; wa rahmah = dan rahmat; fa man = maka, siapakah; azhlamu = lebih lalim; mimman = dari pada orang; kadz dzaba = mendustakan; bi ãyãtil lãhi = dengan ayat-ayat Allah; wa shodafa = dan dia berpaling; ‘anhã = darinya; sanajzĩ = kelak Aku akan memberi balasan; al ladzĩna = orang-orang yang; yashdifũna = mereka berpaling; ‘an ãyãtinã = dari ayat=ayat Kami; sũ-a = berat; al ‘adzãbi = azab, siksa; bimã = dengan apa, karena; kãnũ = mereka adalah; yashdifũn = mereka berpaling.

au taqũlũ lau annã unzila ‘alainãl kitãbu lakunnã ahdã min hum, fa qod jã-akum bayyinatum mir robbikum wa hudan wa rahmah, fa man azhlamu mimman kadz dzaba bi ãyãtil lãhi wa shodafa ‘anhã, sanajzĩl ladzĩna yashdifũna ‘an ãyãtinã sũ-al ‘adzãbi bimã kãnũ yashdifũn.

157. Atau supaya kamu (tidak) mengatakan: “Sesungguhnya, jika Kitab itu diturunkan kepada kami, tentu Aku lebih mendapat petunjuk daripada mereka.” Maka sesungguhnya telah datang kepadamu keterangan yang nyata dari Rab kamu, petunjuk dan rahmat, maka siapakah yang lebih lalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling darinya? Kelak, Aku akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Aku dengan siksaan yang berat, karena mereka selalu berpaling.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, petunjuk kepada siapa pun, sama saja, membawa rahmat. Orang-orang yang mendustakan petunjuk Allah dan berpaling dari ayat-ayat-Nya adalah lalim. Allah akan menyiksa berat bagi mereka yang berpaling dari Alquran.

hal = tidaklah; yanzhurũna = mereka menanti-nanti; illã = kecuali, selain; an ta’tiyahumu = dating kepada mereka; al malãikatu = Malaikat; au ya’tiya = atau datang; robbuka = Rab kamu; au ya’tiya = atau datang; ba’dhu = sebagian; ãyãti = ayat-ayat; robbik = Rab kamu; yauma = pada hari; ya’tĩ = dating; ba’dhu = sebagian; ãyãti = ayat-ayat; robbika = Rab kamu; lã yanfa’u = tidak bermanfaat; nafsan = diri sendiri; ĩmaanuhã = iman seseorang; lam takun = tidak, belum ada; ãmanat = ia beriman; min qoblu = dari sebelumnya; au kasabat = atau ia mengusahakan; fĩ ĩmaanihã = dalam imannya; khoiron = kebaikan; quli = katakanlah; intazhirũ = tunggulan olehmu; innã = sesungguhnya kami; muntazhirũn = orang-orang yang menunggu.

hal yanzhurũna illã an ta’tiyahumul malãikatu au ya’tiya robbuka au ya’tiya ba’dhu ãyãti robbik, yauma ya’tĩ ba’dhu ãyãti robbika lã yanfa’u nafsan ĩmaanuhã lam takun ãmanat min qoblu au kasabat fĩ ĩmaanihã khoiron, qulin tazhirũ innã muntazhirũn.

158. Mereka tidak menanti-nanti selain datangnya Malaikat untuk mencabut nyawa mereka, atau datangnya (siksa) Rab kamu, atau datangnya sebagian ayat-ayat Rab kamu. Pada hari datangnya sebagian ayat-ayat Rab kamu itu, tidaklah bermanfaat iman seseorang untuk dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan ketika telah beriman. Katakanlah: “Tunggulah olehmu, sesungguhnya, Aku pun orang-orang yang menunggu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan orang-orang yang tidak percaya pada ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.. Mereka menanti-nanti datangnya ayat-ayat Allah, sampai datangnya Malaikat Maut, mereka masih belum beriman. Kalau pun sudah beriman mereka tidak sempat untuk berbuat kebaikan berdasarkan ayat-ayat Allah yang benar.

Innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang …; farroqũ = (mereka) memecah-belah; dĩnahum = agama mereka; wa kãnũ = dan mereka adalah; syiya’an = bergolong-golongan; lasta = kamu tidak; minhum = di antara mereka; fĩ syãi’in = dalam sesuatu (sedikit pun); innamã = sesungguhnya, hanyalah; amruhum = urusan mereka; ilallãhi = hanya Allah; tsumma = kemudian; yunabbi-uhum = Dia akan menerangkan kepada mereka; bimã = dengan apa; kãnũ = mereka adalah; yaf’alũn = telah mereka perbuat.

Innalladzĩna farroqũ dĩnahum wa kãnũ syiya’al lasta minhum fĩ syãi’i, innamã amruhum ilallãhi tsumma yunabbi-uhum bimã kãnũ yaf’alũn.

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka menjadi bergolong-golongan, kamu tidak termasuk di antara mereka sedikitpun. Sesungguhnya, urusan mereka itu, terserah kepada Allah, kemudian Dia akan menerangkan kepada mereka, apa yang telah mereka perbuat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang orang-orang yang akan memecah-belah agama menjadi golongan-golongan. Nabi Muhammad saw. tidak termasuk ke dalam orang yang memecah-belah agama. Orang yang memecah-belah agama dimasukkan Allah ke dalam orang-orang yang tidak mempercayai Alquran, kafir.

man = barang siapa; jã-a = datang; bil hasanati = dengan kebaikan; falahũ = maka baginya; ‘asyru = sepuluh; amtsãlihã = kelipatan amalnya; wa man = dan barang siapa; jã-a = datang; bis sayyi-ati = dengan kejahatan; fa lã = maka tidak; yujzã = diberi balasan; illã = kecuali; mitslahã = seimbang dengannya; wa hum = dan mereka; lã yuzhlamũn = tidak dianiaya.

man jã-a bil hasanati falahũ ‘asyru amtsãlihã wa man jã-a bis sayyi-ati fa lã yujzã illã mitslahã wa hum lã yuzhlamũn.

160. Barang siapa yang datang dengan membawa amal kebaikan, maka baginya sepuluh kali lipat pahala amalnya, dan barang siapa yang datang dengan membawa amal kejahatan, maka dia hanya diberi balasan seimbang dengan kejahatannya, dan mereka tidak dianiaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membalas kebaikan sepuluh kali lipat, sedang kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatan yang dilakukannya. Tidak ada sesosok makhluk pun yang teraniaya pada hari pembalasan.

qul = katakanlah; innanĩ = sesungguhnya aku; hãdaanĩ = telah memimpin aku; robbĩ = Rabku; ilã shirōthin = hanya pada jalan; mustaqĩmin = yang lurus; dĩnan = agama; qiyaman = benar, lurus; millata = agama; ibrōhĩma = ibrahim; hanĩfan = yang lurus; wa mã = dan tidaklah; kãna = dia adalah; mina = dari; al musyrikĩn = orang-orang musyrik.

qul innanĩ hãdaanĩ robbĩ ilã shirōthim mustaqĩmin dĩnan qiyamam millata ibrōhĩma hanĩfan, wa mã kãna minal musyrikĩn.

161. Katakanlah: “Sesungguhnya Rabku telah memimpin aku pada jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang hanif, dan dia bukan orang yang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw.menyatakan kebenaran kenabiannya yang mengikuti Nabi Ibrahim.

qul = katakanlah; inna = sesungguhnya; sholãtĩ = salatku; wa nusukĩ = ibadahku; wa mahyãya = dan hidupku; wa mamãtĩ = dan matiku; lillãhi = hanya untuk Allah; robbi = Penguasa; al ’alamĩn = alam semesta.

qul inna sholãtĩ wa nusukĩ wa mahyãya wa mamãtĩ lillãhi robbil ‘a’alamĩn.

162. Katakanlah: “Sesungguhnya, salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Penguasa seluruh alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan seluruh pengikutnya mengatakan seperti yang dinyatakan di dalam ayat ini untuk menjadi pegangan hidup menuju akhirat.

lã syarĩkalah = tidak ada sekutu baginya; wa bi dzãlika = dan demikian itulah; umirtu = aku diperintah Allah; wa ana = dan aku; awwalu = sejak awal; al muslimĩn = orang yang berserah diri.

lã syarĩkalah, wa bi dzãlika umirtu wa ana awwalul muslimĩn.

163. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah aku diperintah Allah, dan aku sejak awal masuk menjadi orang yang berserah diri kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan yang diarahkan Allah ini harus menjadi pegangan hidup orang yang mengaku beragama Islam.

qul = katakanlah; aghoirollãhi = apakah selain Allah; abghĩ = aku mencari; robban = Penguasa; wa huwa = padahal Dia; robbukulli syai-i = Penguasa segala sesuatu; wa lã taksibu = dan tidak mengerjakan; kullu = tiap-tiap; nafsin = jiwa seseorang; illã = kecuali, melainkan; ‘alaihã = atasnya; wa lã taziru = dan tidak memikul dosa, beban; wãzirotun = orang yang berdosa; wizro = dosa, beban; ukhrō = orang lain; tsumma = kemudian; ilã = hanya kepada; robbikum = Rab kamu; marji’ukum = tempat kembali kamu; fayunabbi-ukum = maka Dia akan menerangkan kepadamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; fĩhi = di dalamnya; takhtalifũn = kamu perselisihkan.

qul aghoirollãhi abghĩ robban wa huwa robbukulli syai-i, wa lã taksibu kullu nafsin illã ‘alaihã, wa lã taziru wãzirotun wazro ukhrō, tsumma ilã robbikum marji’ukum fayunabbi-ukum bimã kuntum fĩhi takhtalifũn.

164. Katakanlah: “Apakah aku akan mencari Penguasa selain AllahɁ, padahal Dia itu Penguasa segala sesuatu, dan tidaklah seseorang berbuat dosa, melainkan mengena pada dirinya sendiri, dan seseorang yang berdosa, tidak akan memikul dosa orang lain, kemudian, hanya kepada Rab kamulah tempatmu kembali, maka Dia akan menjelaskan kepadamu tentang apa yang kamu perselisihkan”.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw. mengucapkan apa yang dinyatakan dalam ayat ini, untuk menjadi pegangan hidup, hanya kepada Allah lah semua makhluk-Nya bergantung dan akan kembali. Lihat juga Q.s. Al Ikhlas, 112 : 2

wa huwa = dan Dia; al ladzĩ = yang; ja’alakum = menjadikan kamu; kholã-ifa = penguas-penguasa; al ardhĩ = di bumi; wa rofa’a = dan Dia meninggikan; ba’dhokum = sebagian kamu; fauqo = di atas; ba’dhin = sebagian lainnya; darojãtin = beberapa derajat; liyabluwakum = karena Dia hendak menguji kamu; fĩ mã = tentang apa; ãtãkum = telah dia berikan kepadamu; inna = sesungguhnya; robbaka = Rab kamu; sarĩ’u = sangat cepat; al ‘iqōbi = siksa; wa innahũ = dan sesungguhnya Dia; la ghofũru = sungguh Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

wa huwal ladzĩ ja’alakum kholã-ifal ardhĩ wa rofa’a ba’dhokum fauqo ba’dhin darojãtil liyabluwakum fĩ mã ãtãkum, inna robbaka sarĩ’ul ‘iqōbi, wa innahũ la ghofũrur rohĩm.

165. Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu di atas sebagian lainnya beberapa derajat, karena Dia hendak mengujimu atas apa yang Dia berikan kepadamu, sesungguhnya Rab kamu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya, Dia Maha Pengampun, dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Keyakinan yang ditanamkan Allah harus dihayati dan diikuti arahan-Nya, harus diperhatikan peringatan-Nya, harus disimak pemberitahuan-Nya.

005 Al Maidah

‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Al Maidah, Madaniyyah
(Hidangan)
Surat ke-5 120 ayat
Juz 6 beralih ke Juz 7 pada ayat 83

Catatan awal
Meskipun ada ayat yang diturunkan di Mekah, namun diturunkannya setelah Nabi Muhammad s.a.w. hijrah ke Madinah, yaitu pada waktu Haji Wadã’. Surat ini disebut juga surat al Uqud (perjanjian), dan al Munqidz (yang menyelamatkan). Sesuai dengan kata-kata yang terdapat di dalamnya. Kata al Uqud terdapat pada ayat pertama, dan al Munqidz terdapat pada akhir surat yang menceritakan kisah Nabi Isa a.s., penyelamat pengikut-pengikut setianya dari azab Allah. Isinya:
1. Allah tidak memperkenankan adanya kepercayaan trinitas, yaitu Allah Bapa, Allah Ruhul Kudus, dan Allah Anak. Keimanan: Mempertuhan Nabi Isa a.s. itu tidak benar;
2. Ada Hukum-hukum Perjanjian, Hukum melanggar syi’ar Allah, Hukum makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan, Hukum mengawini wanita Ahli Kitab, Hukum wudhu, tayamum, mandi; Hukum membunuh orang, Hukum mengacau dan mengganggu ketertiban, dan keamanan, Hukum Qishãs, Hukum melanggar perjanjian dan kafaratnya, Hukum khamar, berjudi, mengundi nasib, berkorban untuk berhala, Hukum membunuh binatang waktu ihram, Hukum persaksian dalam berwasiat.
3. Ada kisah-kisah Nabi Musa a.s. saat menyuruh umatnya masuk Palestina;, Kisah Habil dan Kabil, Kisah Nabi Isa a.s..
4. Ada ketentuan pergaulan sesama muslim yang harus baik, lemah-lembut, dan dengan orang kafir, munafik, musyrik, fasik, murtad harus tegas, keras; Islam disempurnakan pada zaman Nabi Muhammad. Beliau penyempurna agama dan Alkitab; Ada keharusan bagi semua manusia untuk jujur, adil, menepati dan/atau memenuhi janji; sikap orang yang beriman dalam menghadapi berita-berita bohong; akibat berteman dengan orang yang bukan muslim; kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi; kewajiban Rasul hanya menyampaikan kebenaran agama (Dienullah); sikap orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada orang-orang Islam, Ka’bah itu lambang kemuliaan manusia, pusat perkembangan Islam; Allah memperingatkan agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan jahiliah, larangan bertanya yang mengakibatkan pandangan beragama sempit.

Al Mã-idah
(Hidangan)
‘audzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Pemurah, dan Maha Penyayang.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; awfũ = penuhilah olehmu; bi = dengan; al ‘uqũdi = janji-janji; uhillat = dihalalkan; lakum = bagi kamu; bahĩmatu = binatang; al an’ãmi = ternak; illã = kecuali; mã = apa-apa; yutlã = yang dibacakan; ‘alaykum = kepada kamu; ghoyro = bukan / tidak; muhilli = menghalalkan; ash shaydi = berburu; wa antum = dan kamu; hurumun = ihram (mengerjakan haji); innallãha = sesungguhnya Allah; yahkumu = Dia menetapkan hukum; mã = apa-apa; yurĩd = yang Dia kehendaki.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ awfũ bil ‘uqũdi, uhillat lakum bahĩmatul an’ãmi illã mã yutlã ‘alaykum ghoyro muhillish shaydi wa antum hurumun innallãha yahkumu mã yurĩd.

1. Hai orang-orang yang beriman, penuhilah olehmu aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. Allah tidak menghalalkan berburu, saat kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya, Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendakinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di sini, Allah menyapa dengan sebutan orang yang beriman. Jadi sifat-nya lebih khusus, berbeda dengan sapaan pada Surat an Nisã’ yang menyapa dengan sapaan: “Hai sekalian manusia”, walaupun selanjutnya Allah menyapanya dengan sapaan kepada orang-orang yang beriman.
“aqad” artinya perjanjian, mencakup janji setia manusia, sebagai hamba Allah kepada Rabnya dan dengan manusia lain dalam pergaulan sosial, seperti yang dikemukakan dalam ayat-ayat sebelumnya, serta dengan alam semesta pada umumnya, dan lingkungan hidup pada khususnya yang harus dijaga, dipelihara kelestariannya.
Binatang yang dihalalkan dan yang tidak dihalalkan, di samping yang sudah ditetapkan di dalam Alquran, berupa binatang ternak, ada ketetapan lain, yang dijelaskan di dalam berbagai hadist dan sunah Nabi.
Kehendak Allah menetapkan hukum-hukumnya adalah agar alam semesta ini lestari, selalu ada keseimbangan, ada keharmonisan hubungan makhluk dengan Khaliknya, makhluk dengan makhluk yang lain, yaitu manusia yang lain, selain dirinya, dan alam semesta, lebih khusus lagi lingkungan hidupnya, mulai lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat yang beraneka macam, sampai lingkungan dunia yang lebih luas. Makhluk-Nya harus mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; amanũ = beriman; lã = jangan; tuhillũ = kamu melanggar; sya’ã-iri = syi’ar-syi’ar; allãhi = Allah; wa lã = dan jangan; syahro = bulan-bulan; al harōma = suci; wa lã = dan jangan; al had-ya = binatang hadiah (qurban); wa lã = dan jangan; al qalã-ĩda = binatang yang diberi kalung untuk kurban; wa lã = dan jangan; ãmmĩna = orang-orang yang mengunjungi; al baital harōma = ke Baitullah; yabtaghũna = mereka bermaksud mencari; fadhlan = karunia; min = dari; rabbihim = Rab mereka; wa ridhwãnan = dan kerelaan; wa idzã = dan apabila; halaltum = kamu telah menyelesaikan ibadah haji; fash-thōdũ = maka berburulah kamu; wa lã = dan jangan; yajrimannakum = membuat kamu berdosa; syana-ãnu = kebencian; qaumin = suatu kaum; an shaddũkum = mereka menghalangi kamu; ‘anil masjidi = dari masjid; al harōmi = haram (suci); an ta’tadũ = kamu melapaui batas (menganiaya diri); wa ta’ãwanũ = dan tolong menolonglah kamu; ‘alal birri = dalam atau atas kebaikan; wat taqwã = dan taqwa; wa lã ta’ãwanũ = dan jangan kamu bertolong-tolongan; ‘alal itsmi = dalam berbuat dosa; wal ‘udwãni = dan permusuhan; wat taqullãha = dan bertakwalah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; syadĩdu = sangat keras; al ‘iqōbi = siksa

yã ayyuhal ladzĩna amanũ lã tuhillũ sya’ã-irillãhi wa lã syahrol harōma wa lal had-ya wa lal qalã-ĩda wa lã ãmmĩnal baital harōma yabtaghũna fadhlam mir rabbihim wa ridhwãnan, wa idzã halaltum fash-thōdũ wa lã yajriminnakum syana-ãnu qaumin an shaddũkum ‘anil masjidil harōmi an ta’tadũ wa ta’ãwanũ ‘alal birri wat taqwã wa lã ta’ãwanũ ‘alã al itsmi wal ‘udwãni, wat taqullãha innallãha syadĩdul ‘iqōbi.

2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan mengganggu binatang had-ya, dan binatang-binatang kala’id, dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah, ketika mereka mencari karunia dan kerelaan dari Rabnya, dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan kamu jangan pernah benci kepada suatu kaum, karena mereka menghalangimu menuju Masjidil Haram, medorongmu berbuat aniaya kepada mereka. Dan bertolong-tolonganlah dalam pekerjaan yang baik, atas dasar takwa, dan jangan bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesugguhnya Allah Maha berat siksanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “syiar-syiar Allah” artinya segala amal-perbuatan yang dilakukan dalam rangka ibadah haji dan di tempat-tempat mengerjakannya, misalnya berkunjung ke maqam Rasulullah dan para sahabatnya, berdo’a, salat di maqam Ibrahim, mengerjakan sya’i, tawaf, dan lain-lain.
“bulan-bulan haram” lihat catatan pada Surat Baqarah ayat 194. Di sini berarti pada bulan-bulan itu dilarang melakukan peperangan.
“binatang had-ya” kata hadiah dalam bahasa Indonesia berasal dari kata ini. Di sini berarti binatang unta, kambing, biri-biri, lembu yang dibawa ke Ka’bah untuk kurban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, disembelih di Tanah Haram dan dagingnya diberikan kepada fakir-miskin dalam rangka ibadah haji.
“binatang-binatang kala’id,” binatang had-ya yang di lehernya diberi kalung sebagai ciri, bahwa binatang itu untuk kurban di Ka’bah.
“mereka mencari karunia” artinya keuntungan yang didapat dari Allah hasil perdagangan, menjadi orang upahan, dan lain-lain.
“mencari karunia dan keridoan dari Rabnya” artinya pahala dari Allah karena ibadah haji.
Allah mengingatkan, perbuatan dosa itu akan dibalas dengan siksaan yang berat. Untuk menghindarinya, harus memohon ampun sebanyak-banyaknya atas kelemahan hidupnya.

hurrimat = diharamkan; ‘alaykumu = bagimu; al maytatu = bangkai; wad damu = dan darah; wa lahmu = dan daging; al khinzĩri = babi; wa mã = dan apa (binatang); uhilla = disembelih; lighoirillahi = dengan tidak (menyebut nama) Allah; bihĩ = dengannya; wal munkhaniqotu = dan yang tercekik; wal mauqũdzatu = dan yang dipukul; wal mutaroddiyatu = dan yang jatuh; wan nathĩhatu = dan binatang yang ditanduk; wa mã = dan apa (binatang); akala = menerkam; as sabu’u = binatang buas; illã = kecuali; mã dzakkaitum = kamu menyembelihnya; wa mã = dan apa (binatang); dzubiha = disembelih; ‘alan nushubi = untuk berhala; wa antastaqsimũ = dan kamu mengundi nasib; bil azlami = dengan anak panah; dzãlikum = demikian itu; fisqun = fasik; al yawma = pada hari ini; ya-isa = putus asa; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min dĩnikum = dari agamamu; fa lã = maka janganlah; takhsyauhum = kamu takut kepada mereka; wakhsyauni = dan takutlah kepada-Ku; al yawma = pada hari ini; akmaltu = Aku sempurnakan; lakum = bagi kamu; dĩnakum = agama kamu; wa atmamtu = dan Aku cukupkan; ‘alaykum = bagi kamu; ni’matĩ = nikmat-Ku; wa rodhĩtu = dan Aku telah merelakan; lakumu = bagi kamu; al islãma = Islam; dĩnan = ad dĩn (agama); fa manni = maka barang siapa; idhthurro = terpaksa; fĩ makhmashatin = dalam kelaparan; ghoyro = bukan (tanpa); mutajanifin = disengaja; li-ismin = untuk berbuat dosa; fainnallãha = maka sesungguhnya Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩmu = Maha Penyayang.

hurrimat ‘alaykumul maytatu wad damu wa lahmul khinzĩri wa mã uhilla lighoirillahi bihĩ wal munkhaniqotu wal mauqũdzatu wal mutaroddiyatu wan nathĩhatu wa mã akalas sabu’u illã mã dzakkaitum wa mã dzubiha ‘alan nushubi wa an tastaqsimũ bil azlami, dzãlikum fisqu, al yawma ya-isal ladzĩna kafarũ min dĩnikum fa lã takhsyauhum, wakhsyauni al yawma akmaltu lakum dĩnakum wa atmamtu ‘alaykum ni’matĩ wa rodhĩtu lakumul islãma dĩnan fa mannidhthurro fĩ makhmashatin ghoyro mutajanifilli-ismi, fainnallãha ghofũrur rohĩmu.

3. Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih dengan tidak menyebut nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah, mengundi nasib dengan anak panah itu kefasikan. Pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusepurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridoi Islam itu sebagai agamamu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan, tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “darah” artinya darah yang keluar dari tubuh, seperti yang tersurat dalam al An Ãm ayat 145.
Binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kalau sempat disembelih sebelum mati, halal dimakan.
“mengundi nasib dengan anak panah” ini kebiasaan orang Arab Jahiliyah yang menggunakan 3 buah anak panah yang belum diberi bulu untuk menentukan suatu pekerjaan, apakah akan dilakukan atau tidak, dengan cara mereka menulisi satu anak panah, dengan tulisan “tidak dikerjakan”, satu diberi tulisan “kerjakan”, dan yang satu lagi tidak diberi tulisan apa-apa. Panah-panah itu ditempatkan di suatu ruangan dalam Ka’bah. Bila mereka ingin menetapkan apakah suatu pekerjaan itu harus dilakukan atau tidak, mereka meminta Juru Kunci Ka’bah mengambilkan anak panah itu. Kalau yang terambil oleh Juru Kunci itu anak panah yang tidak bertulisan, maka pengundian itu harus diulangi.
“barang siapa terpaksa” maksudnya dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam ayat ini, kalau terpaksa.

yas-alũnaka = mereka akan menanyakan kepadamu; mãdzã = apa-apa yang; uhilla = dihalalkan; lahum = bagi mereka; qul = katakanlah; uhilla = dihalalkan; lakumu = bagi kamu; ath thoyyibbatu = yang baik-baik; wa mã = dan apa; ‘alamtum = yang kamu ajarkan; mina = dari; al jawãrihĩ = binatang buas; mukkallabĩna = dengan melatih untuk berburu; tu’allimũnahunna = kamu mengajarkan; mimmã = dari apa; ‘allamakumullãhu = Allah mengajarkan kepadamu; fã kulũ = maka makanlah; mimmã = dari apa; amsakna = ia tangkap; ‘alaykum = untukmu; wa = dan; adzkurũ = sebutlah; asmallãhi = nama Allah; alaih = baginya; wattaqũ = dan bertakwalah; allãha = kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; sarĩu = amat cepat; al hisãb = perhitungan

yas-alũnaka mãdzã uhilla lahum, qul uhilla lakumuth thoyyibbatu, wa mã ‘alamtum minal jawãrihĩ mukkallabĩna tu’allimũnahunna mimmã ‘allamakumullãhu, fã kulũ mimmã amsakna ‘alaykum wadzkurusmallãhi alaih, wattaqullãha, innallãha sarĩul hisãb.

4.Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik, dan buruan yang ditangkap oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut yang diajarkan Allah kepadamu, maka makanlah dari binatang yang ditangkapnya untukmu. Dan sebutlah nama Allah waktu melepas binatang itu. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “yang diajarkan Allah kepadamu” binatang buas itu dilatih berburu sesuai dengan kodratnya untuk kepentingan manusia. Manusia diberi kelebihan menggunakan akal dan pikiran untuk dapat mempengaruhi binatang buas itu.
“makanlah dari binatang yang ditangkapnya untukmu” binatang buas yang sudah dilatih itu tidak memakan sedikit pun bagian dari binatang buruannya itu, dan hanya diberikan untukmu.
“sebutlah nama Allah waktu melepas binatang itu” maksudnya agar saat binatang buas menangkap binatang buruan itu berarti sudah disebut nama Allah. Manusia mewakili binatang itu dalam menyebutkan nama Allah, saat melakukan pekerjaan menangkap binatang buruan.

al yawma = pada hari ini; uhilla = dihalalkan; lakumu = bagi kamu; ath thoyyibãtu = yang baik-baik; watho’ãmu = dan makanan; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtu = (mereka) diberi; al kitãba = Kitab; hillun = halal; lakum = bagi kamu; watho’ãmukum = dan makanan kamu; hillun = halal; lahum = bagi kamu; watho’ãmukum = dan makanan kamu; hillun = halal; lahum = bagi mereka; wal muhshonãtu = dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan; mina = dari; al mu’minãti = dari perempuan-perempuan yang beriman; wal muhshanãtu = dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan; mina = dari; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtu = (mereka) diberi; al kitãba = Kitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; idzã = jika; ãtaitumũhunna = kamu memberikan kepada mereka; ujũrahunna = maskawin mereka; muhshinĩna = mengawininya; ghoyro = bukan; musãfihĩna = berzinah; walã = dan tidak; muttakhidzĩ = dan tidak menjadikan; akhdaanin = gundik; wa man = dan barang siapa; yakfur = ingkar, kafir; bil ĩmaani = dengan sesudah beriman; fa qod = maka sungguh; habitha = terhapus; ‘amaluhũ = amalnya; wa huwa = dan dia;
fil ãkhiroti = di hari akhirat; minal khãsirĩn = termasuk orang-orang yang merugi

al yawma uhila lakumũth thoyyibãh, wa tho’ãmũl ladzĩna ũtũl kitãba hillul lakum, wa tho’ãmukum hillul lahum, watho’ãmukum hillul lahum, wal muhshonãtu minãl mu’minãti wal muhshonãtu minãl ladzĩna ũtũl kitãba ming qoblikum idzã ãtaytumũ hunna ujũrohunna muhshinĩna ghoyro musãfihĩna wa lã muttakhidzĩ akhdãnin, wa may yakfur bil ĩmãni fa qod habitho ‘amaluh, wa huwa fĩl ãkhiroti minãl khōsirĩn.

5. Pada hari ini, dihalalkan bagi kamu makanan yang baik-baik dari mereka. Sembelihan orang-orang yang diberi Alkitab itu halal bagi kamu, dan makanan kamu pun, halal pula bagi mereka. Dan dihalalkan mengawini perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman, dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Alkitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin, dengan maksud menikahinya, dan tidak menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman, maka hapuslah amalannya, dan ia termasuk orang-orang yang merugi di hari akhirat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Pada hari ini” artinya masa Haji Wada, ibadah haji terakhir yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w.. Makanan yang baik-baik dari orang-orang Ahli Kitab, halal bagi Muslim. Makanan orang-orang Muslim juga halal bagi Ahli Kitab.
“perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan” artinya perempuan-perempuan yang memiliki kemerdekaan dalam menentukan agamanya.
“yang kafir sesudah beriman” orang yang mengaku beriman tapi tidak mau menerima dan tidak menaati hukum yang berlaku dalam agama Islam.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = ketika, bila, apabila, tatkala, kalau; qumtum = berdiri, mengerjakan; ilã = untuk; ash sholãti = salat; faghsilũ = maka basuhlah; wujũhakum = wajah kamu; wa aidiyakum = dan tanganmu; ila = sampai; al marōfiqĩ = siku-siku; wamsahũ = dan sapulah; bi ru-ũsikum = pada kepalamu; wa arjulakum = dan kaki-kakimu; ila = sampai; al ka’baini = kedua mata kaki; wa in = dan jika; kuntum = kamu adalah; junuban = berjunub; faththohharũ = maka bersucilah kamu; wa in = dan jika; kuntum = kamu adalah; mardhō = sakit; au = atau; alã = dalam, pada, di; safarin = perjalanan; au jã-a = atau datang; ahodun = seorang; minkum = di antara kamu; min = dari; al ghō-ithi = tempat buang hajat; au = atau; lãmastumun = kamu menyentuh; an nisã-a = perempuan; fa = maka; lam = tidak; tajidũ = kamu mendapatkan; mã-an = air; fatayammamũ = maka bertayamumlah; sho’ĩdan = debu, tanah; thoyyiban = yang bersih, baik; famsahũ = maka usaplah; bi wujũhikum = pada muka kamu; wa aidĩkum = dan tangan-tanganmu; minhu = dengannya (tanah); mã yurĩdullãhu = Allah tidak menghendaki; li yaj’ala = untuk menjadikan; ‘alaykum = bagi kamu; min harojin = dari kesulitan; wa lãkin = akan tetapi; yurĩdu = Dia menghendaki; liyuthohhirokum = untuk menyucikan kamu; waliyutimma = dan untuk menyempurnakan; ni’matahũ = nikmat-Nya; alaykum = kepada kamu; la’alakum = supaya kamu; tasykurũn = bersyukur.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã qumtum ilãsh sholãti faghsilũ wujũhakum wa aidiyakum ilal marōfiqĩ wamsahũ bi ru-ũsikum wa arjulakum ilal ka’baini wa in kuntum junuban faththohharũ, wan in kuntum mardhō au alã safarin au jã-a ahodum minkum minal ghō-ithi au lã mastumun nisã-a fa lam tajidũ mã-an fatayammamũ sho’ĩdan thoyyiban famsahũ bi wujũhikum wa aidĩkum minhu, mã yurĩdullãhu li yaj’ala ‘alaykum min harojiw wa lãkiy yurĩdu liyuthohhirokum waliyutimma ni’matahũ alaykum la’alakum tasykurũn.

6. Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, basuhlah mukamu, dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepalamu, dan basuhlah kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari tempat buang hajat (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tapi Dia berkehendak menyucikanmu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “jika kamu sakit” artinya sakit yang tidak boleh terkena air.
“menyentuh perempuan” kata halus dari menyetubuhi perempuan (istri). Jadi, kalau menyentuh biasa sesudah wudu atau tayamum, tidak perlu mengulang lagi.
Lihat Q.s. An Nisã’, 4: 43.

wadz kurũ = dan ingatlah; ni’matallãhi = nikmat dari Allah; ‘alaykum = kepada kamu; wa mitsãqohu = dan perjanjian-Nya; al ladzĩ = yang; watsaqokum = Dia janjikan kepada kamu; bihĩ = dengannya; idz qultum = ketika kamu mengatakan; sami’nã = kami dengar; wa atho’nã = dan kami tãt; wa taqullãh = dan bertakwalah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; ‘alimum = Maha Mengetahui; bidzãtish shudũri = isi hati.

wadz kurũ ni’matallãhi ‘alaykum wa mitsãqohul ladzĩ watsaqokum bihĩ idz qultum sami’nã wa atho’nã, wa taqullãh, innallãha ‘alimum bidzãtish shudũri

7. Dan, Ingatlah karunia nikmat Allah kepadamu, dan perjanjian-Nya yang telah dĩkat bersamamu, ketika kamu mengatakan: “Kami dengar dan kami tãti.” Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui isi hatimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “dan perjanjian-Nya” maksudnya: perjanjian Allah dengan makhluk-Nya dan saat seseorang atau sekelompok orang yang harus mendengar dan menãti apa yang dĩkrarkan pada waktu baiat.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; kũnũ = jadilah kamu; qowwãmĩna = orang-orang yang menegakkan; lillãhi = karena Allah; syuhadã-a = saksi-saksi; bil qisthi = dengan adil; wa lã = dan jangan; yajrimannakum = membuat kamu berdosa; syana-aanu = kebencian; qaumin = kaum; ‘alã = atas; allã = untuk tidak; ta’dilũ = kamu adil; i’dilũ = berlaku adillah; huwa= ia (itu); aqrobu = lebih dekat; lit taqwã = kepada takwa; wat taqwallãha = dan bertakwalah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; khobĩrun = Maha Mengetahui; bimã = dengan apa; ta’malũn = kamu kerjakan.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ kũnũ qowwãmĩna lillãhi syuhadã-a bil qisthi, wa lã yajrimannakum syana-aanu qaumin ‘alã allã ta’dilũ, i’dilũ huwa aqrobu lit taqwã, wat taqwallãha, innallãha khobĩrum bimã ta’malũn.

8. Hai orang-orang yang beriman, kamu harus menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksilah dengan adil, dan kebencianmu terhadap suatu kaum, janganlah mendorong kamu berlaku tidak adil. Berlaku adil itu sangat dekat dengan takwa, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah sangat mengetahui, apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menyeru orang-orang yang beriman untuk selalu menegakkan kebenaran dan keadilan kepada siapa pun saudara, keluarga dekat atau jauh, tetangga, teman-teman dekat atau jauh, orang-orang sekaum.

wa ‘adallãhu = dan Allah menjanjikan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilũ = dan beramal; ash shōlihãti = saleh; lahum = bagi mereka; maghfiratun = ampunan; wa ajrun = dan pahala; ‘azhĩm = besar

wa ‘adallãhul ladzĩna ãmanũ wa ‘amilũsh shōlihãti, lahum maghfiratun wa ajrun ‘azhĩm.

9. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ada ampunan dan pahala yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh.

walladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; wakadzabũ = dan mereka mendustakan; bi ãyãtinã = dengan ayat-ayat Kami; ulãika = mereka itu; ashhãbu = penghuni; al jahĩmi = neraka Jahim.

walladzĩna kafarũ wakadzabũ bi ãyãtinã ulãika ashhãbul jahĩmi.

10. Adapun orang-orang yang kafir dan yang menganggap dusta ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka jahim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat pengertian kafir di halaman 23; Q.s. Al Fatihah, 1: 7. Mereka akan dimasukkan ke neraka Jahim (lapisan bawah neraka, kerak neraka).

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; udzkurũ = ingatlah; ni’matallãhi = nikmat Allah; ‘alaykum = bagimu; idz = ketika, tatkala; hamma = berkehendak; qoumun = kaum; an yabsuthũ = melakukan usaha (jahat); ilaikum = kepadamu; aidiyahum = tangan-tangan mereka; fakaffa = maka Dia menahan; aidiyahum = tangan-tangan mereka; ‘ankum = terhadap kamu; wattaqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; wa ‘alallãhi = dan kepada Allah; fa = hendaknya, maka; al yatawãkali = kamu bertawakal; al mu’minũna = orang-orang mukmin.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanudzkurũ ni’matallãhi ‘alaykum idz hamma qoumun an yabsuthũ ilaikum aidiyahum fakaffa aidiyahum ‘ankum, wattaqũllãha, wa ‘alallãhi fal yatawãkalil mu’minũna.

11. Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah yang diberikan kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud jahat kepadamu, Allah menahan tangan jahat mereka terhadapmu, dan bertakwalah kepada Allah, hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah melindungi orang-orang yang beriman dari perbuatan jahat orang kafir.

wa laqod = dan sesungguhnya; akhodzallãhu = Allah telah mengambil; mĩtsãqo = perjanjian; banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; wa ba’atsnã = dan Kami telah mengangkat; min humu = di antara mereka; atsnai ‘asyaro = dua belas (orang); naqĩban = pemimpin; wa qōlallãhu = dan Allah berfirman; innĩ = sesungguhnya Aku; ma’akum = bersama kamu; lain = sungguh; aqomtumu = kamu mendirikan; ash sholãta = salat; wa ãtaitumu = dan kamu menunaikan; az zakãta = zakat; wa amantum = dan kamu beriman; bi rusulĩ = kepada Rasul-rasul-Ku; wa ‘azzartumũhum = dan kamu membantu mereka; wa aqrodhtumullãha = dan kamu meminjamkan Allah; qordon = pinjaman; hasanan = baik; al la-ukaffiranna = sungguh Aku menghapus; ‘ankum = dari kamu; sayyiãtikum = kesalahan-kesalahanmu; wa la udkhilannakum = dan sungguh akan memasukkan kamu; jannãtin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; faman = maka barang siapa; kafaro = kafir, ingkar; ba’da = sesudah; dzãlika = demikian itu; minkum = di antara kamu; faqod = maka sungguh; dholla = dia telah sesat; sawã-a = sama, lurus; as sabĩli = jalan.

wa laqod akhodzallãhu mĩtsãqo banĩ isrō-ĩla wa ba’atsnã min humutsnai ‘asyaro naqĩban wa qōlallãhu innĩ ma’akum lain aqomtumush sholãta wa ãtaitumuz zakãta wa amantum bi rusulĩ wa ‘azzartumũhum wa aqrodhtumullãha qordon has anal la-ukaffiranna ‘ankum sayyiãtikum wa la udkhilannakum jannãtin tajrĩ min tahtihal anhãru, faman kafaro ba’da dzãlika minkum faqod dholla sawã-as sabĩli.

12. Dan, sesungguhnya Allah telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israil, dan telah Kami angkat dari mereka 12 orang pemimpin, dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan beriman kepada Rasul-rasul-Ku, dan kamu membantu mereka, dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Sesungguhnya, Aku akan menghapus dosa-dosamu, dan kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang dialiri sungai-sungai. Barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sebenarnyalah mereka telah sesat dari jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Allah telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israil, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 40 s/d 123, 211, 246, 248; Ali ‘Imran, 3; 49, 52, 93.
“pinjaman yang baik” artinya: menjanjikan sesuatu perbuatan yang baik dan benar dan menepati atau melaksanakannya, menafkahkan harta untuk kewajiban yang baik secara ikhlas.

fa bimã = maka dengan sebab; naqdhihim = mereka melanggar; mĩtsãqohum = perjanjian mereka; la’annãhum = Kami mengutuk mereka; wa ja’alnã = dan Kami jadikan; qulũbahum = hati mereka; qōsiyatan = keras membatu; yuharrifũna = mereka mengubah; al kalima = kata-kata; ‘am mawãdhi’ihĩ = dari tempat-tempatnya; wanasũ = dan mereka melupakan; hazhzhan = bagian; mimmã = dari apa; dzukkirũ = mereka telah diperingatkan; bihĩ = dengannya; wa lãtazãlu = dan kamu senantiasa; tath tholi’u = kamu akan melihat; ‘alã = atas; khō-inatin = orang yang khianat; minhum = di antara mereka; illã = kecuali; qolĩlan = sedikit; minhum = dari mereka; fã’fu = maka memãfkan; ‘anhum = pada mereka; washfah = dan biarkanlah; innallãha = Allah sesungguhnya; yuhibbu = Dia mencintai; al muhsinĩna = orang-orang yang berbuat baik.

fa bimã naqdhihim mĩtsãqohum la’annãhum wa ja’alnã qulũbahum qōsiyatan yuharrifũnal kalima ‘am mawãdhi’ihĩ wanasũ hazhzham mimmã dzukkirũ bihĩ, wa lã tazãlu tath tholi’u ‘alã khō-inatim minhum illã qolĩlam minhum, fã’fu ‘anhum, washfah, innallãha yuhibbul muhsinĩna.

13. Tetapi karena mereka melanggar janji, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya, dan mereka menyengaja melupakan sebagian dari yang sudah diperingatkan kepadanya, dan kamu (Muhammad s.a.w.) akan selalu melihat sifat khianat mereka, kecuali sedikit dari mereka yang tidak berkhianat, karenanya, mãfkanlah mereka, biarkanlah mereka, sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengutuk Bani Israil karena mereka melanggar janji, banyak berkhianat, dan mereka suka “mengubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya” maksudnya: mengubah makna kata, mengubah bentuknya, menghilangkan atau menambahkan kata-kata dalam kalimat, mengubah kalimat, mengubah bahasa. Bahasa asli Alkitab Bani Israil tidak terpelihara dengan baik, sedang bahasa Alquran tetap terpelihara sejak turunnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. ke Halifah Usman bi Afan samapi sekarang, dan akhir jaman.

wa mina = dan di antara; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = berkata; innã = sesungguhnya kami; nashōrō = orang-orang Nasrani; akhodznã = kami telah mengambil; mĩtsãqohum = perjanjian mereka; fanasũ = maka (tetapi) mereka melupakan; hazhzhon = bagian; mimma = dari apa (…); dzukkirũ = mereka diperingatkan; bihĩ = dengannya; fa aghroinã = maka Kami timbulkan; bainahumu = di antara mereka; al ‘adãwata = permusuhan; wal baghdhō-a = dan kebencian (kemarahan); ilã = samapai; yaumi = hari; al qiyãmati = kiamat; wa saufa = dan kelak; yunibbi-uhumullãhu = Allah akan memebritahukan kepada mereka; bimã = dengan apa; kaanũ = mereka adalah; yashna’ũn = (mereka) kerjakan.

wa minal ladzĩna qōlũ innã nashōrō akhodznã mĩtsãqohum fanasũ hazh zhom mimma dzukkirũ bihĩ fa aghroinã bainahumul ‘adãwata wal baghdhō-a ilã yaumil qiyãmati wa saufa yunibbi-uhumullãhu bimã kaanũ yashna’ũn.

14. Dan, di antara orang-orang, ada yang mengatakan: “Sesungguhnya, kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang sudah saling berjanji dengan Kami, tetapi mereka sengaja melupakan sebagian dari peringatan yang sudah diberikan kepadanya; karena itu Kami tumbuhkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan menyampaikan berita kepada mereka, apa yang sudah dikerjakannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan Kaum Nasrani sudah berjanji, mereka melupa-lupakan janji mereka kepada Allah. Janji mereka adalah: 1. mengakui ada-Nya Allah dan para Rasul-Nya, termasuk yang akan datang Nabi Muhammad s.a.w.; 2. Janji bahwa tidak ada ilah lain selain Allah; 3. Hanya kepada Allah saja, manusia mengabdi dan memohon pertolongan, bahkan jangan memohon pertolongan kepada para Nabi, karena mereka hanya sebagai pesuruh Allah dalam menyampaikan perintah dan larangan-Nya.

yã ahla = wahai ahli; al kitãbi = Kitab; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepadamu; rosũlunã = Rasul (Utusan) Kami; yubayyinu = dia menjelaskan; lakum = kepada kamu; katsĩron = banyak; mimmã = dari apa; kuntum = adalah kamu; tukhfũna = kamu sembunyikan; minal kitãbi = dari (isi) Kitab; wa ya’fũ = dan diabaikan (dimãfkan, dibiarkan); ‘an kitsĩrin = dari kebanyakan; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepada kamu; minallãhi = dari Allah; nũrun = cahaya (penerangan) wa kitãbun = dan Kitab; mubĩn = jelas, nyata, terang

yã ahlal kitãbi qod jã-akum rosũlunã yubayyinu lakum katsĩrom mimmã kuntum tukhfũna minal kitãbi wa ya’fũ ‘an kitsĩrin, qod jã-akum minallãhi nũrun wa kitãbum mubĩn.

15. Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya, telah datang kepadamu Rasul Kami, yang menjelaskan kepadamu banyak isi Alkitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang diabaikannya. Sesungguhnya, telah datang penerangan dan Kitab yang menjelaskan dari Allah kepadamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada para Ahli Kitab (Zoroaster, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, Tao, Konghucu), Beliau mengetahui ada firman-Nya yang disembunyikan, dan ada yang diabaikan, tidak diperhatikan, dianggap tidak penting. Turunnya Alquran merupakan pelengkap, penjelasan, perbaikan untuk seluruh umat manusia. Jadi, sebaiknya para Ahli Kitab itu harus mempelajari Alqur’an juga (lihat juga ayat 17).

yahdĩ = memberi petunjuk; bihillãhu = Allah dengannya (Kitab); mani = orang; at taba’a = mengikuti; ridwaanahũ = kerelaan-Nya; subula = jalan; as salãmi = keselamatan; wa yukhrijuhum = dan Dia mengeluarkan mereka; minazhzhu-lumãti = dari kegelapan; ilaan nũri = kepada cahaya terang; bi idznihĩ = dengan izin-Nya; wa yahdĩhim = dan Dia memberi petunjuk mereka; ilã = kepada; shirōthin = jalan; mustaqĩm = lurus.

yahdĩ bihillãhu manit taba’a ridwaanahũ subulas salãmi wa yukhrijuhum minazhzhu-lumãti ilaan nũri bi idznihĩ wa yahdĩhim ilã shirōthim mustaqĩm.

16. (Dengan Kitab itulah) Allah menunjuki orang-orang yang rela mau mengikuti jalan menuju selamat, dan dengan Kitab itu pula, Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang benderang atas izin-Nya, dan menunjuki ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk kepada mereka yang rela mengikutinya menuju keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Kitab itu memberi penerangan (penjelasan) kepada mereka yang mendapatkan izin-Nya.

laqod = sungguh; kafaro = telah kafir; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = (mereka) berkata; innallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; al masih = Al Masih; ubnu maryama = Ibnu Maryam; qul = katakanlah; faman = maka siapakah; yamliku = yang menguasai; minallãhi = dari Allah; syai-an = sesuatu; in arōda = jika Dia menghendaki; an yuhlika = untuk membinasakan; al masĩh = Al Masih; abna maryama = putra Maryam; wa ummahũ = dan Ibunya; wa man = dan siapa (orang); fil ardhi = di bumi; jamĩ’an = seluruhnya; wa lillahi = dan kepunyaan Allah; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan apa; bainahumã = yang dia antara keduanya; yakhluqu = Dia menciptakan; mã yasyã-u = apa yang Dia sukai; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = di atas segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

laqod kafarol ladzĩna qōlũ innallãha huwal masihubnu maryama qul faman yamliku minallãhi syai-an in arōda an yuhlikal masĩhabna maryama wa ummahũ wa man fil ardhi jamĩ’an, wa lillahi mulkus samãwãti wal ardhi wa mã bainahumã yakhluqu mã yasyã-u, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.

17. Sesungguhnya, telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya, Allah itu al Masih putra Maryam.” Katakanlah: “Siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah, jika Dia berkehendak membinasakan al Masih putra Maryam itu beserta ibunya, dan seluruh orang-orang yang ada di bumi?” Milik Allahlah kerajaan langit dan bumi, dan segala apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan pemaham trinitas Umat Kristen itu salah: Allah Bapa, Allah Anak, Allah Ruhul Kudus (lihat juga Q.s. Al Mã-idah, 5: 63, 117). Yang benar adalah Allah Yang Mahaesa, Tempat segalanya bergantung, Allah tidak beranak, dan tidak diperanakkan. Allah tidak ada yang setara dengan-Nya (lihat Q.s.Al Ikhlas, 112) . Allah menciptakan segala makhluk sekehendak-Nya. Makhluk-Nya bukan anak-Nya.

wa qōlati = dan berkata; al yahũdu orang-orang Yahudi; wan nashōrō = dan orang-orang nasrani; nahnu = kami; abnã-ullãhi = Anak-anak Allah; wa ahibbã-uhũ = dan kekasih-kekasih-Nya; qul = katakana; fa lima = maka mengapa; yu’adzdzibukum = Dia menyiksa kamu; bidzunũbikum = karena dosa-dosa kamu; bal = bahkan (tetapi); antum = kamu; basyarun = manusia; mimman = di antara orang; kholaqo = Dia ciptakan; yaghfiru = Dia mengampuni; liman = bagi siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa yu’adzdzibu = dan mengazab; man = orang (siapa); yasyã’u = Dia kehendaki; wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan apa; bainahumã = yang ada diantaranya; wa ilaihi = dan kepunyaan-Nya; al mashĩru = tempat kembali.

wa qōlatil yahũdu wan nashōrō nahnu abnã-ullãhi wa ahibbã-uhũ, qul fa lima yu’adzdzibukum bidzunũbikum, bal antum basyarum mimman kholaqo, yaghfiru liman yasyã-u wa yu’adzdzibu man yasyã’u, wa lillãhi mulkus samãwãti wal ardhi wa mã bainahumã wa ilaihil mashĩru.

18. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini anak-anak Allah, dan kekasih-kekasih-Nya.” Katakanlah: “Mengapa Allah menyiksa kamu?, itu karena dosa-dosamu.” Kamu ini manusia biasa, seperti orang-orang lain yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Dia menyiksa siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan, kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi serta apa saja yang ada di antara keduanya. Dan, kepada Allahlah segala sesuatu itu kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, jangan membuat idiom manusia itu anak-anak Allah, karena Allah tidak beranak. Memang Allah mengasihi semua makhluk-Nya (bukan hanya manusia). Allah Pencipta makhluk-Nya yang beraneka macam. Allah mengasihi semuanya, tapi Allah juga menyiksa makhluk yang berdosa sekehedak-Nya. Yang tidak disiksa pun ada, meskipun mereka berdosa. Semuanya jadi ujian bagi makhluk-Nya, apakah mau bertobat atau tetap ingkar janji, lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2, 3, 5; Al Baqarah, 2: 7, 27, 39, 40.

yã ahla = wahai ahli; al kitãbi = Kitab; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepadanya; rosũlunã = Rasul Kami; yubayyinu = dai menjelaskan; lakum = kepada kamu; ‘alã = atas; fatrōtim = keputusannya; mina = dari; ar rusuli = para Rasul; an taqũlũ = supaya kamu mengatakan; mã jã-anã = tidak datang kepada kami; min = dari; basyĩrin = pembawa berita gembira; wa lã nadzĩrin = dan tidak pembawa peringatan; faqod = maka sungguh; jã-akum = telah datang kepada kamu; basyĩrun = pembawa berita gembira; wa nadzĩrun = dan pembawa peringatan; wallãhu = dan Allah; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

yã ahlal kitãbi qod jã-akum rosũlunã yubayyinu lakum ‘alã fatrōtim minar rusuli an taqũlũ mã jã-anã mim basyĩrin wa lã nadzĩrin, faqod jã-akum basyĩrun wa nadzĩrun, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.

19. Wahai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, mene- rangkan syariat Kami kepadamu ketika terputus pengiriman rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: “Tidak datang kepada kami, baik pembawa berita gembira, maupun seorang pemberi berita peringatan.” Sesungguhnya telah datang kepada kamu pembawa berita gembira, dan seorang pemberi peringatan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan sejak dulu sampai sekarang, tentang kedatangan Rasul pembawa berita gembira dan berita peringatan (lihat ayat 13).

wa idz = dan ketika; qōla = berkata; mũsã = Musa; li qaumihĩ = kepada kaumnya; yã qoumi = wahai kaumku; idzkurũ = ingatlah; ni’matallãhi = nikmat-nikmat Allah; ‘alaykum = atas kamu; idz = ketika; ja’ala = Dia menjadikan; fĩkum = di antara kamu; ambiyã-a = para Nabi; wa ja’alakum = Dia menjadikan kamu; mulũkan = penguasa-penguasa; wa atãkum = dan Dia memberikan kamu; mã lam yu’tĩ = sesuatu yang tidak Dia berikan; ahodan = seseorang; mina = dari; al ‘alamĩn = alam.

wa idzqōla mũsã li qaumihĩ, yã qoumidz kurũ ni’matallãhi ‘alaykum idz ja’ala fĩkum ambiyã-a wa ja’alakum mulũkan wa atãkum mã lam yu’tĩ ahodam minal ‘alamĩn.

20. Dan, ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah yang dikaruniakan kepadamu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu, dan dijadikannya kamu, orang-orang yang berkuasa, dan diberikan-Nya kepadamu, apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun umat-umat yang lain di dunia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia tentang nikmat yang telah dikaruniakan-Nya. Nikmat Allah itu harus disyukuri melalui ucapan dan laku pengabdian kepada Allah, dan manusia serta makhluk lain yang memerlukan bantuan hidup. Jangan memusuhi manusia lain atau makhluk lain. Harus dengan kasih-sayang.

yã qaumi = yã kaumku; adkhulũ = masuklah; al ardho = tanah, bumi; al muqaddasata = suci; al latĩ = yang; kataballãhu = ditetapkan Allah; lakum = bagi kamu; wa lã = dan jangan; tartaddũ = kamu berbalik (lari); alã = ke; adbãrikum = belakangmu; fatanqolibũ = maka kamu akan kembali; khãsirĩn = orang-orang merugi.

yã qaumidkhulũl ardhol muqaddasatal latĩ kataballãhu lakum wa lã tartaddũ alã adbãrikum fatanqolibũ khãsirĩn.

21. Wahai kaumku, masuklah ke Tanah Suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang karena takut kepada musuh, karena itu, kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah Nabi Musa agar kaumnya masuk ke Tanah Suci Palestina. Jangan takut kepada orang kafir. Ini merupakan ujian keimanan orang-orang yang mengaku umat Nabi Musa.
Untuk sekarang ini, jika seseorang hijrah dari suatu tempat ke tempat lain, maka niatkan dan tekadkan untuk mencari dan menyebarkan kebaikan dan kebenaran, jangan menebarkan keonaran, kejahatan, kerusakan.

qōlũ = Mereka berkata; yã mũsã = yã Musa; inna = sesungguhnya; fĩhã = di dalam sana; qouman = kaum; jabbãrina = gagah perkasa, tangguh; wa innã = dan sesungguhnya kami; lannadkhulahã = kami tidak akan memasukinya; hattã = sampai; yakhrujũ = mereka keluar; minhã = dari sana; fain = maka jika; yakhrujũ = mereka keluar; minhã = dari sana; fainnã = maka sesungguhnya kami; dãkhilũn = orang-orang yang masuk.

qōlũ yã mũsã inna fĩhã qouman jabbãrina wa innã lannadkhulahã hattã yakhrujũ minhã fain yakhrujũ minhã fainnã dãkhilũn.

22. Mereka berkata: “Wahai Musa, di negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya, kami tidak akan memasuki negeri itu, sebelum mereka keluar dari negeri itu. Jika mereka keluar dari negeri itu, pasti kami akan memasukinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesungguhnya, orang-orang yang menolak, menyangkal perintah Nabinya adalah orang yang kurang kuat imannya, fasik bahkan munafik. Mereka selalu mencari alasan untuk tidak menjalankan perintah Nabinya.

qōlũ rojulaani minal ladzĩna yakhōfũna an ‘amallãhu ‘alaihimadkhulũ ‘alaihimul bãba fa-idzã dakholtumũhu fainnakum ghōlibũna, wa ‘alãllãhi fatawakkalũ inkuntum mu’minĩn.

qōlũ = berkata; rojulaani = dua orang laki-laki; minal ladzĩna = di antara orang-orang yang; yakhōfũna = (mereka) takut; an ‘ama = orang yang diberi nikmat; allãhu = Allah; ‘alaihima = atas keduanya; adkhulũ = masukilah, serbulah; ‘alaihimu = atas mereka; al bãba = pintu; fa-idzã = maka jika; dakholtumũhu = kamu telah memasukinya; fainnakum = maka sesungguhnya kamu; ghōlibũna = orang-orang yang menang (mengalahkan); wa ‘alãllãhi = dan kepada Allah; fatawakkalũ = maka bertawakallah; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

23. Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang yang takut kepada Allah, dan Allah telah memberi nikmat kepada keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang kota itu, maka bila kamu memasukinya, pasti kamu akan menang. Dan, hanya kepada Allah saja hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dalam hidup ini, selalu ada saja perbedaan pendapat, ada yang takut kepada manusia, tapi kepada Allah mereka tidak takut, mereka meragukan; ada yang hanya takut kepada Allah sedang kepada manusia tidak takut. Berhati-hatilah kepada orang yang takut kepada orang, tapi kepada Allah, mereka tidak takut.

qōlũ = mereka berkata; yã mũsã = yã Musa; innã = sesungguhnya kami; lan nadkhulahã = kami tidak memasukinya; abadan = selama-lamanya; mãdãmũ = selagi mereka; fĩhã = di dalamnya; fadzhab = maka pergilah; anta = kamu; waRab uka = dan Rab kamu; faqōtilã = maka berperanglah kamu berdua; innã = sesungguhnya kamu; hãhunã = di sini; qō’idũn = orang-orang yang diam (duduk).

qōlũ yã mũsã innã lan nadkhulahã abadam mãdãmũ fĩhã, fadzhab anta waRab uka faqōtilã innã hãhunã qō’idũn.

24. Mereka berkata: “Wahai Musa, kami selamanya benar-benar tidak akan memasuki kota, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu, pergilah kamu bersama Rab mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya akan diam (duduk) menanti di sini saja.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhirnya, mereka benar-benar menolak untuk memasuki pintu kota. Mereka tidak mau bekerjasama menghadapi musuh. Terbukti mereka tidak beriman pada kekuatan Allah Yang Mahaperkasa.

qōla = berkata; Rab i = yã Rab ; innĩ = sesungguhnya aku; lã amliku = tidak menguasai; illã = kecuali; nafsĩ = diriku; wa akhĩ = dan saudaraku; fa fafruq = maka pisahkanlah; bainanã = antara kami; wa baina = dan antara; al qaumi = kaum; al fãsiqĩn = orang-orang bodoh.

qōla Rab i innĩ lã amliku illã nafsĩ wa akhĩ, fa fafruq bainanã wa bainal qaumil fãsiqĩn.

25. Musa berkata: “Ya Rab , sesungguhnya aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku, karena itu pisahkanlah antara kaum kami dan orang-orang bodoh itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musa memohon kepada Allah Yang Menguasai dirinya agar dipisahkan dari orang-orang yang bodoh.

Qōla = berkata; fa innahã = maka sesungguhnya ia (negeri itu); muharramatun = diharamkan; ‘alaihim = bagi mereka; “arba’ĩna sanatan” = empat puluh tahun; yatĩhũna = mereka mengembara kebingungan; fĩl ardhi = di bumi; fa lã = maka jangan; ta’sã = kamu putus asa; ‘ala = terhadap; al qaumi = kaum; al fãsiqĩn = fasik, bodoh.

Qōla fa innahã muharramatun ‘alaihim “arba’ĩna sanatan” yatĩhũna fĩl ardhi fa lã ta’sã ‘alal qaumil fãsiqĩn.

26. Allah berfirman: Sesungguhnya, negeri itu diharamkan bagi mereka selama empat puluh tahun, selama itu mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (Padang Tĩh) itu. Maka janganlah kamu berputus asa, memikirkan orang-orang yang bodoh itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi langangan-Nya adalah orang yang bodoh. Perilaku bodoh akan membawa akibat yang tidak menyenangkan dalam hidup di dunia, terutama nanti di akhirat.
Berikut ini, Allah meminta menceriterakan kisah Habil dan Qabil, contoh perilaku cerdas, dan perilaku bodoh dari turunan Adam.

watlu = dan bacakanlah; ‘alaihim = kepada mereka; naba-a = berita, cerita; abnãi ãdama = dua orang anak Adam; bi = dengan; al haqqi = benar; idz = ketika; qorrobã = keduanya mempersembahkan kurban; qurbaanan = kurban; fa tuqubbilã = maka diterima; min ahadihimãi = salah satu dari keduanya; wa lam = dan tidak; yutaqabbal = diterima; minal ãkhari = dari yang lain; qōla = dia berkata; la aqtulannaka = sungguh aku akan membunuh kamu; qōla = ia berkata; innamã = sesungguhnya hanyalah; yataqobalullãhu = Allah akan menerima; mina = dari; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.

watlu ‘alaihim naba-abnãi ãdama bil haqqi idz qorrobã qurbaanan fa tuqubbilã min ahadihimã wa lam yutaqabbal minal ãkhari qōla la aqtulannaka, qōla innamã yataqobalullãhu minal muttaqĩn.

27. Ceriterakanlah kepada mereka, kisah dua anak Adam, Habil dan Qabil, menurut kisah yang benar, ketika keduanya mempersembahkan kurban, salah seorang dari kedua bersudara itu diterima, Habil, dan yang lain, Qabil tidak diterima. Qabil berkata: “Aku pasti membunuhmu.” Habil berkata: “Sesungguhnya, Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini menjadi contoh dari orang yang berperilaku cerdas, dan yang berperilaku bodoh. Habil memberi kurban khewan yang sehat, kuat, gemuk, dan rupa yang menyenangkan, sedang Qabil memberi kurban seonggok gandum yang belum tua dengan kualitas dan kuantitas yang tidak menggambarkan keihklasan dan kerelaan berkurban. Harus menjadi pelajaran hidup kita di dunia, kita harus menerima dengan syukur segala apa yang dikaruniakan Allah dan apa yang telah diusahakan oleh kita.

lain = sungguh jika; basathta = kamu menggerakkan; ilayya = kepada saya; yadaka = tanganmu; litaqtulanĩ = untuk membunuh aku; mã = tidak; ana = aku; bibãsithin = menggerakkan; yadiya = tanganku; ilaika = kepada kamu; li-aqtulaka = untuk membunuh kamu; innĩ = sesungguhnya aku; akhofu = aku takut; ullãha = Allah; Rab a = Pemelihara; al ‘ãlamĩn = alam.

laim basathta ilayya yadaka litaqtulanĩ mã ana bibãsithin yadiya ilaika li-aqtulaka, innĩ akhofũllãha Rab al ‘ãlamĩn.

28. “Sungguh, kalau kamu menggerakkan tanganmu untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku untuk membunuhmu, sebenarnya, aku takut kepada Allah, Penguasa seluruh alam.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Takut kepada Allah, bukan berarti tidak boleh membela diri, kalau kita terancam jiwanya. Di dalam ayat ini Habil bersifat pasif.

innĩ urĩdu an tabũ-a bi-itsmĩ wa itsmika fatakũna min ashhãbin nãri, wa dzalika jazã-uzh zhōlimĩn.

Innĩ = sesungguhnya; urĩdu = aku ingin; an tabũ-a = agar kamu kembali; bi-itsmĩ = dengan dosaku; wa itsmika = dan dosa kamu; fatakũna = maka kamu menjadi; min ashhãbi = dari pemilik; an nãri = neraka; wa dzalika = dan yang demikian itu; jazã-u = pembalasan; azh zhōlimĩn = orang-orang yang lalim.

29. Sesungguhnya, aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dosa karena membunuhku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itu merupakan pembalasan bagi orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa jika seseorang membunuh saudaranya sendiri, atau sesama manusia tanpa hak, maka dia akan menanggung dosanya sendiri, dosa karena membunuh, dan dosa dari orang yang dibunuh tanpa hak.

fathawwa ‘at = maka menjadikan mudah; lahũ = baginya (qobil); nafsuhũ = hawa nafsunya; qotla = membunuh; akhĩhi = saudaranya; faqotalahũ = maka ia membunyhnya; fa-ashbaha = maka jadilah ia; mina = dari orang-orang yang; al khãsĩrĩn dari orang-orang yang merugi.

fathawwa ‘atlahũ nafsuhũ qotla akhĩhi faqotalahũ fa-ashbaha minal khãsĩrĩn.

30. Karena hawa nafsu Qabil menjadi beranggapan mudah membunuh saudaranya, maka dibunuhnyalah, jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Qabil bernafsu memiliki istri yang seharusnya menjadi istri Habil. Setan memberi kemudahan untuk membunuh saudaranya itu, maka jadilah ia teman setan di neraka, rugi. Berhati-hatilah dengan nafsu-nafsu yang kita miliki. Kita harus dapat mengendalikannya, jangan kita yang dikendalikan nafsu.

faba’atsãllãhu = maka Allah mengirimkan; ghurōban = seekor burung gagak; yabhatsu = menggali; fil ardhi = di atas tanah (bumi); liyuriyahũ = untuk memperlihatkannya; kaifa = bagaimana; yuwãrĩ = menutupi; sau-ata = mayat; akhĩhi = saudaranya; qōla = ia berkata; yã wailatã = aduh, celaka aku; a’ajaztu = mengapa aku tidak mampu; an akũna = aku menjadi; mitsla = seperti; hãdza = ini; al ghurōbi = burung gagak ini; fa-uwãriya = maka aku menutupi (menguburkan); sau-ata = mayat; akhĩ = saudaraku; fa ashbaha = maka jadilah ia; mina = dari; an nãdimĩn = orang-orang yang menyesal.

faba’atsãllãhu ghurōban yabhatsu fil ardhi liyuriyahũ kaifa yuwãrĩ sau-ata akhĩhi, qōla yã wailatã a’ajaztu an akũna mitsla hãdzal ghurōbi fa-uwãriya sau-ata akhĩ fa ashbaha minan nãdimĩn.

31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali bumi untuk memperlihatkan kepada Qabil, bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: Aduhai, celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti gagak itu, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini. Karena kejadian itu, dia menjadi seorang di antara orang-orang yang menyesal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ceritera Qabil dan Habil ini merupakan kejadian yang universal, artinya terjadi di mana dan kapan pun, selama dunia ini berkembang. Manusia sekarang pun dapat melakukan pembunuhan seperti yang tergambar di atas, karena ada cemburu karena keberhasilan orang lain dalam hidupnya, tentunya karena orang tersebut tidak mendapatkan hidayah atau petunjuk dari Allah. Kalau mendapatkan petunjuk, maka ia akan mengembangkan akhlak mulia yang dicontohkan para Nabi.
“bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya” ayat ini memberi contoh, bahwa manusia itu dapat belajar dari makhluk-makhluk lain yang derajatnya lebih rendah, untuk menjalani hidupnya, seperti lembu atau sapi, unta, semut, lebah, nyamuk, gagak, bul-bul, monyet, serigala, harimau, gajah, dan lain-lain.

min ajli = oleh karena; dzãlika = demikian; katabnã = kami tetapkan; ‘alã = atas; banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; annahũ = bahwa; man = barang siapa; qotala = membunuh; nafsam = seseorang; bighoiri = bukan karena; nafsin = seseorang; au fasãdin = atau membuat kerusakan; fil ardhĩ = di muka bumi; faka-annamã = maka seakan-akan; qotala = ia membunuh; an nãsa = manusia; jamĩan = seluruhnya; wa man = dan orang; ahyãhã = menghidupkannya; faka-annamã = maka seakan-akan; ahya = Ia menghidupkan; nãsa = manusia; jamĩan = seluruhnya; walaqod = dan sesungguhnya; jã-at-hum = telah dating kepada mereka; rusulunã = Rasul-rasul Kami; bil bayyinãti = dengan keterangan-keterangan; tsumma = kemudian; inna = sungguh; katsĩron = banyak; minhum = di antara mereka, dari mereka; ba’da = sesudah; dzãlika = itu, demikian; fĩl ardhĩ = di muka bumi; lamusrifũn = sungguh orang yang melampaui batas.

min ajli dzãlika katabnã ‘alã banĩ isrō-ĩla annahũ man qotala nafsam bighoiri nafsin au fasãdan fil ardhĩ faka-annamã qotalan nãsa jamĩan wa man ahyãhã faka-annamã ahyan nãsa jamĩan, walaqod jã-athum rusulunã bil bayyinãti tsumma inna katsĩrom minhum ba’da dzãlika fĩl ardhĩ lamusrifũn.

32. Oleh karena itu, Kami menetapkan hukum bagi Bani Israil, barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Dan sesungguhnya, telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan membawa keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu, sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain” artinya membunuh orang bukan karena kishash.
“seakan-akan dia telah membunuh seluruh manusia” artinya kalau seseorang membunuh orang lain, maka hal itu berarti membunuh semua keturunannya. Jadi hukum ini berlaku bukan hanya untuk Bani Israil, tapi untuk semua manusia. Di sini Allah menunjukkan kemurahannya dalam mengharagai perbuatan yang baik. Betapa besar penghargaan Allah kepada yang mau memelihara kehidupan seorang manusia lain dalam Islam. Memelihara kehidupan seseorang manusia dalam arti luas, berarti meningkatkan taraf hidup ilmu, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, kesenangan, kesejahteraannya.
Kedatangan Rasul yang membawa keterangan yang jelas itu ternyata kemudian tidak banyak diperhatikan. Manusia selalu banyak membuat kerusakan di muka bumi, banyak yang melampaui batas kehidupan yang wajar, berarti mereka itu kafir, munafik, musyrik, atau fasik.

innamã = sesungguhnya hanyalah; jazã’u = pembalasan; uladzĩna = orang-orang yang; yuhãribũnallãha = mereka memerangi Allah; wa rosũlahũ = dan Rasul-Nya; wa yas’auna = dan mereka berusaha, berbuat; fil ardhĩ = di muka bumi; fasãdan = kerusakan; an yuqattalũ = mereka dibunuh; au yushollabũ = atau mereka disalib; au tuqaththa’a = atau dipotong; aidĩhim = tangan mereka; wa arjuluhum = dan kaki mereka; min khilãfin = dari silangannya; au yunfau = atau mereka dibuang; minal ardhi = dari negeri tempat tinggalnya; dzãlika = demikian itu; lahum = bagi mereka; khizyun = hinaan; fĩddun-yã = di dunia; wa lahum = dan bagi mereka; fil ãkhiroti = di akhirat; ‘adzãbun = ajab, siksa; ‘azhĩm = besar.

innamã jazã’ũladzĩna yuhãribũnallãha wa rosũlahũ wa yas’auna fil ardhĩ fasãdan an yuqattalũ au yushollabũ au tuqaththa’a aidĩhim wa arjuluhum min khilãfin au yunfau minal ardhi, dzãlika lahum khizyun fĩddun-yã wa lahum fil ãkhiroti ‘adzãbun ‘azhĩm.

33. Sesungguhnya, pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, mereka hanya dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu sebagai penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat, mereka beroleh siksa yang amat berat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membuat kerusakan di muka bumi” adalah orang yang melakukan sesuatu tidak dengan menyebut nama Allah. Meskipun dampak positifnya tampak di dunia, pada akhirnya, ternyata membuat kerusakan; semena-mena membabat hutan, menambang minyak, batu bara, logam, membuat bangunan sampai merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, dan lingkungan sosial.
“dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang” maksudnya memotong tangan kanan dan kaki kiri, dan kalau melakukan kejahatan sekali lagi, maka dipotong tangan kiri dan kaki kanannya.

illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; tãbũ = bertobat; min qobli = sebelum; an taqdirũ = kamu menangkap; ‘alaihim = atas mereka; fa’lamũ = maka ketahuilah; annallãha = sesungguhnya Allah; ghofũru = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

illãl ladzĩna tãbũ min qobli an taqdirũ ‘alaihim, fa’alamũ annallãha ghofũrur rohĩm.

34. kecuali orang-orang yang tobat di antara mereka, sebelum kamu dapat menangkap mereka. Ketahuilah, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hukuman Allah itu ada pengecualian, bila orang yang bersalah itu bertobat.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; at taqũllãha bertakwalah kepada Allah; wabtaghũ = dan carilah; ilaihi = kepada-Nya; al wasĩlata = yang mendekatkan; wajãhidũ = dan berjihadlah; fĩ sabĩlihĩ = di jalan-Nya; la’allakum = supaya kamu; tuflihũn = kamu mendapat keberuntungan.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũt taqũllãha wabtaghũ ilaihil wasĩlata wajãhidũ fĩ sabĩlihĩ la’allakum tuflihũn.

35. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan Allah, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: orang yang beriman adalah orang yang memegang amanah Allah dan melaksanakannya dengan penuh keyakinan ada-Nya Allah (lihat Q. S. Al Baqarah, 2: 5 dengan catatannya).
Takwa adalah suasana batin yang penuh keyakinan ada-Nya Allah, lihat: Q.s. Al Fatihah, 1: 6-7; Al Baqarah 2: 2, 3, 4 dengan catatannya
Jalan yang mendekatkan diri kepada Allah artinya jalan yang dilalui sesuai dengan ketakwaan kepada-Nya.
Berjihad di jalan Allah, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 218 dengan catatannya.
Orang yang mendapatkan keberuntungan adalah orang yang mendapatkan ampunan Allah, dan yang melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; lau anna = sekiranya, kalau; lahum = bagi mereka, mereka mempunyai; mã = apa-apa; fi = di; al ardhĩ = bumi; jamĩ’an = seluruhnya; wa mitslahũ = dan sebanyak itu, semisalnya; ma’ahũ = bersmanya; liyaftadũ = untuk menebus diri; bihĩ = dengannya; min ‘adzãbi = dari siksa; yaumi = hari; al qiyãmati = kiamat; mã tuqubbila = tidak diterima; minhum = dari mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbun = azab, siksa; alĩm = yang amat menyakitkan.

innal ladzĩna kafarũ lau anna lahum mã fil ardhĩ jamĩ’an wa mitslahũ ma’ahũ liyaftadũ bihĩ min ‘adzãbi yaumil qiyãmati mã tuqubbila minhum, wa lahum ‘adzãbun alĩm.

36. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir, sekiranya mereka mempunyai apa yang ada di seluruh bumi, dan mempunyai sebanyak itu pula untuk menebus diri mereka dari azab hari kiamat, niscaya tebusan itu tidak mencukupi untuk diri mereka, dan mereka akan menerima azab yang amat menyakitkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ancaman bagi orang kafir. Lihat juga Q.s. Ali ‘Imran, 3: 10, 11, 12;

yurĩdũna = mereka ingin; an yakhrujũ = supaya mereka keluar; minan nãri = dari api neraka; wa mã = dan tidak; hum = mereka; bikhãrijĩna = orang-orang yang keluar; minhã = darinya; wa la hum = dan bagi mereka; ‘adzãbum = siksaan; muqĩm = lama, kekal.

yurĩdũna an yakhrujũ minan nãri wa mã hum bikhãrijĩna minhã wa la hum ‘adzãbum muqĩm.

37. Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sama-sekali tidak dapat keluar darinya, mereka mendapat azab yang lama, kekal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah memberi tahu keadaan di neraka, lihat: Q.s. Al Baqarah, 2: 24

was sãriqu = dan pencuri laki-laki; was sariqotu = dan pencuri perempuan; faktho’ũ = maka potonglah; aidiyahumã = tangan keduanya; jazã-an = pembalasan; bimã = dengan apa; kasabã = keduanya lakukan; nakãlaan = siksaan, pembalasan; minallãhi = dari Allah; wallãhu = dan Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana.

was sãriqu was sariqotu faktho’ũ aidiyahumã jazã-am bimã kasabã nakãlãm minallãhi, wallãhu ‘azĩzun hakĩm.

38. Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai pembalasan atas apa yang mereka lakukan, dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini adalah hukum yang diperintahkan Allah untuk dilaksanakan, jika terjadi pencurian. Demikian hukum ini diberlakukan seperti pada peristiwa Thu’mah (lihat catatan Q.s. An Nisã’: 4: 105.

faman = maka, barang siapa; tãba = bertobat; min = dari; ba’di = sesudah; zhulmihĩ = kelalimannya; wa ashlaha = dan ia memperbaiki diri; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; yatũbu = akan menerima taubat; ‘alaihi = atasnya; innallãha = sesungguhnya Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; ar rohĩm. = Maha Penyayang.

faman tãba mimba’di zhulmihĩ wa ashlaha fa innallãha yatũbu ‘alaih, innallãha ghofũrur rohĩm.

39. Maka, barang siapa bertobat sesudah melakukan kejahatan itu, dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya, Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, kalau orang yang melakukan kesalahan itu berikrar tobat dan membuktikan dengan kebaikan-kebaikan perilakunya, maka hukuman yang dijatuhkan ayat 38 tidak diberlakukan untuk sementara. Tapi, kalau ikrar tobatnya itu dilanggar berulang sampai tiga kali, maka hukuman itu baru dilaksanakan. Itu pun dengan adanya pertimbangan-pertimbangan psiko-sosial yang dikenakan kepada pelakunya. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang kepada makhluk-Nya.
“memperbaiki diri” mengubah perilaku jahat menjadi tidak jahat, dari kafir menjadi beriman, dan lain-lain dengan bukti-bukti nyata dalam kehidupan sehari-hari.

alam ta’lam = tidakkah kamu mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; lahũ = bagi-Nya; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; yu’adzdzibu = Dia mengazab; man = orang; yasyã-u = Dia kehendaki; wa yaghfiru = dan Dia mengampuni; liman = bagi orang; yasyã-u = Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

alam ta’lam annallãha lahũ mulkus samãwãti wal ardhi yu’adzdzibu man yasyã-u wa yaghfiru liman yasyã-u, wallãhu ‘alã kulli syai-in qodĩr.

40. Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya, Allahlah yang menguasai kerajaan langit dan bumi, disiksa-Nya siapa yang dikehendaki, dan diampuni bagi siapa yang dikendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan kekuasaan atas langit dan bumi dengan segala isinya, dengan pertanyaan retoris.

yã ayyuha = wahai; ar rosũlu = Rasul; lã yahzunka = jangan kamu sedih; al ladzĩna = orang-orang yang; yusãri‘ũna = (mereka) bersegera; fil kufri = dalam kekafiran; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; qōlũ = berkata; amannã = kami beriman; bi afwãhihim = dengan mulut mereka; wa lam tu’min = padahal belum beriman; qulũbuhum = hati mereka; wa minal ladzĩna = dan dari orang-orang yang; hãdũ = Yahudi; samã’ũna = orang-orang yang suka mendengarkan; lil kadzibi = pada yang bohong; sammã’ũna = orang-orang yang suka mendengarkan; li qoumin = kepada kaum; ãkhorĩna = yang lain; lam = tidak; ya’tũka = datang kepada kamu; yuharrifũna = mereka mengubah; al kalima = perkataan; mim ba’di = dari sesudah; mawãdhi’ihĩ = tempat-tempatnya; yaqũlũna = mereka mengatakan; in = jika; ũtĩtum = diberikan kepada kamu; hãdzã = ini; fakhudzũhu = maka ambillah dia; wa in lam = dan jika tidak; tu’tauhu = diberikannya; fahdzarũ = maka hati-hatilah kamu; wa man = dan barang siapa; yuridi = menghendaki; al lãhu = Allah; fitnatahũ = fitnahnya, kesesatannya; fa lan = maka tidak; tamlika = kamu mampu menolak; lahũ = baginya; minallahi = dari Allah; syai-an = sedikit pun; ũlã-ika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; lam yurĩdi = tidak menghendaki; al lãhu = Allah; an yuthohhiro = hendak membersihkan; qulũbahum = hati mereka; lahum = bagi mereka; fid dun-yã di dunia; khizyun = kehinaan; wa lahum = dan bagi mereka; fil akhiroti = di akhirat; ‘adzãbun = azab, siksa; ‘azhĩm = besar.

yã ayyuhar rosũlu lã yahzunkal ladzĩna yusãri‘ũna fil kufri minal ladzĩna qōlũ amannã bi afwãhihim wa lam tu’min qulũbuhum, wa minal ladzĩna hãdũ, samã’ũna lil kadzibi sammã’ũna li qoumin ãkhorĩna lam ya’tũka yuharrifũnal kalima mim ba’di mawãdhi’ihĩ, yaqũlũna in ũtĩtum hãdzã fakhudzũhu wa in lam tu’tauhu fahdzarũ , wa man yuridil lãhu fitnatahũ fa lan tamlika lahũ minallahi syai-an, ũlã-ikal ladzĩna lam yurĩdil lãhu an yuthohhiro qulũbahum lahum fid dun-yã khizyun, wa lahum fil akhiroti ‘adzãbun ‘azhĩm.

41. Wahai Rasul, janganlah kamu bersedih hati, karena orang-orang yang bersegera memperlihatkan kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan: “Kami beriman”, padahal hati mereka belum beriman, dan di antara orang-orang Yahudi amat suka mendengar berita-berita bohong, dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu, mereka mengubah kata-kata dalam Taurat dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini, kata yang sudah diubah oleh mereka, kepada kamu, maka terimalah, dan jika diberi yang bukan ini, maka berhati-hatilah.” Barang siapa yang dikehendaki kesesatannya oleh Allah, pasti kamu tidak akan mampu menolak sesuatu yang ditetapkan Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang tidak hendak disucian hatinya. Mereka beroleh kehinaan di dunia, dan di akhirat mereka mendapat siksa yang amat berat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang Yahudi amat suka mendengar berita-berita bohong” maksudnya, orang Yahudi itu senang mendengarkan perkataan pendeta yang membohongi mereka, atau senang mendengarkan perkataan dari Nabi Muhammad s.a.w. yang disampaikan dengan cara yang tidak jujur.
“perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu” maksudnya para pemimpin mereka yang belum pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad s.a.w. karena mereka sangat benci kepada beliau.
“mereka mengubah kata-kata” maksudnya sama seperti pada keterangan ayat 13. yaitu mengubah makna kata, mengubah bentukannya, menghilangkan atau menambahkan kata-kata dalam kalimat, atau keseluruhan kalimat menjadi berubah maknanya.

sammã’ũna = Mereka itu orang-orang yang suka mendengarkan berita bohong; lil kadzibi = pada yang bohong; akkãlũna = orang-orang yang banyak memakan; lis suhti = bagi yang haram; fa in = maka jika; jã-ũka = mereka datang kepadmu; fahkum = maka putuskanlah; bainahum = di antara mereka; au = atau; a’ridh = berbaliklah; ‘anhum = dari mereka; wa in = dan jika; tu’ridh = kamu berpaling; ‘anhum = dari mereka; fa lan = maka tidak; yadhurrũka = mereka memudaratkan; syai-an = sedikit pun; wa in = dan jika; hakamta = kamu memutuskan; fahkum = maka putuskanlah; bainahum = di antara mereka; bil qisthi = dengan adil; innal lãha = sesungguhnya Allah; yuhibbu = menyukai; al muqsithĩn = orang-orang yang berbuat adil.

sammã’ũna lil kadzibi akkãlũna lis suhti, fa in jã-ũka fahkum bainahum au a’ridh ‘anhum wa intu’ridh ‘anhum fa lan yadhurrũka syai-an wa in hakamta fahkum bainahum bil qisthi, innal lãha yuhibbul muqsithĩn.

42. Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan makanan haram, Jika orang Yahudi datang kepadamu untuk meminta keputusan, maka putuskanlah perkara itu di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling dari mereka, maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikit pun. Dan, jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah perkara itu dengan adil di antara mereka. Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang adil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, orang Yahudi (orang kafir, musyrik, munafik, dan fasik itu suka mendengarkan berita-berita bohong. Mereka dibohongi oleh pendeta-pendeta Yahudi yang mengaku, mereka menyampaikan risalah-risalah dari Allah. Tapi sudah mereka ubah sekehendak hatinya. Ada yang ditutup-tutupi, ada yang ditambah, ada yang dikurangi, ada yang diganti, ada yang dihilangkan.
“banyak memakan makanan haram” maksudnya memakan makanan dari uang pelicin, uang sogok, uang rokok, uang hasil judi, uang renten pinjaman, dan lain-lain makanan yang diterima dan diserahkan secara tidak ikhlas, dan tidak menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Allah memberikan pengarahan, bagaimana memperlakukan mereka secara adil.

wa kaifa = dan bagaimana; yuhakimũnaka = mereka mengangkatmu menjadi hakim; wa ‘indahumu = dan pada mereka mempunyai; at taurãtu = Taurat; fĩhã = di dalamnya; hukmullãhi = hukum-hukum Allah; tsumma = kemudian, yatawallauna = mereka berpaling; mim ba’di = dari sesudah; dzãlika = itu; wa mã ũlã-ika = dan bukankah mereka; bil mu’minĩn = dengan orang-orang yang beriman.

wa kaifa yuhakimũnaka wa ‘indahumut taurãtu fĩhã hukmullãhi tsumma yatawallauna mim ba’di dzãlika, wa mã ũlã-ika bil mu’minĩn.

43. Dan, bagaimanakah mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka memiliki Taurat yang di dalamnya ada hukum Allah , kemudian mereka berpaling dari putusanmu. Dan mereka benar-benar bukan orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa setiap umat itu ada hakimnya masing-masing. Orang yang beriman harus mengikuti hukum dalam Alquran sebagai Kitab yang terakhir diturunkan melalui Nabi Muhammad, s.a.w..

innã = sesungguhnya Kami; anzalna = Kami telah menurunkan; at taurōta = Taurat; fĩhã = di dalamnya; hudan = petunjuk; wa nũrun = dan cahaya; yahkumu = memutuskan perkara; biha = dengannya; an nabiyyũna = Nabi-nabi; al ladzĩna = orang-orang yang; aslamũ = (mereka) menyerahkan diri; lilladzĩna = kepada orang-orang; hãdũ = Yahudi; warRab aaniyyũna = dan orang-orang berilmuketuhanan mereka; wal ahbãru = dan para cendekia; bima = dengan sebab; astuhfizhũ = mereka diperintah memelihara; min kitãbillãhi = dari kitab Allah; wa kaanũ = dan mereka menjadi; ‘alaihi = baginya; syuhadã-a = saksi-saksi; fa lã = maka jangan; takhsyawu = kamu takut; an nãsa = manusia; wakhsyauni = dan takutlah kepada-Ku; wa lã = dan jangan; tasytarũ = dan jangan kamu tukar; bi-ãyãtĩ = dengan ayat-ayat-Ku; syamanan = harga; qolĩlaan = sedikit; wa man = dan orang; lam yahkum = tidak memutuskan perkara; bimã = dengan apa; anzala = menurunkan; allãhu = Allah; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; al kãfĩrũn = orang-orang kafir.

innã anzalnat taurōta fĩhã hudaw wa nũrun, yahkumu bihan nabiyyũnal ladzĩna aslamũ lilladzĩna hãdũ warRab aaniyyũna wal ahbãru bimastuhfizhũ min kitãbillãhi wa kaanũ ‘alaihi syuhadã-a, fa lã takhsyawun nãsa wakh syauni wa lã tasytarũ bi-ãyãtĩ syamanan qolĩlaan, wa mal lam yahkum bimã anzalallãhu fa-ũlã-ika humul kãfĩrũn.

44. Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya ada petunjuk dan penjelasan (penerangan), dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh Nabi-nabi yang berserah diri kepada Allah, oleh orang-orang yang berilmuketuhanan mereka, dan para cendekia mereka, karena mereka diperintahkan memelihara Kitab-kitab Allah, dan mereka menjadi saksi atas kebenaran Kitab-kitab itu. Karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, tapi takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bahwa Kitab Taurat, injil, Weda, Tao, dan lain-lainnya itu juga diturunkan dari Allah. Hukum-hukum Allah yang ada di dalamnya sama
“mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah” ini berarti di dalam Kitab Taurat, Injil, dan lain-lainnya itu sudah ada perintah agar Kitab-kitab itu jangan dipalsukan, diubah kata-katanya, dihilangkan sebahagiannya, ditambahi sebagiannya, kemudian ada pula yang dirahasiakan isinya.

wa katabnã = dan Kami telah menetapkan; ‘alaihim = kepada mereka; fĩhã = di dalamnya; annannafsã = bahwa jiwanya; binnafsi = dengan jiwa; wal ‘aina = dan matanya; bil ‘aini = dengan mata; wal anfa = dan hidung; bil anfi = dengan hidung; wal udzuna = dan telinga; bil udzuni = dengan telinga; was sinna = dan gigi; bis sinni = dengan gigi; wal jurũha = dan luka-luka; qishōshun = kisas (balasannya); fa man = maka orang yang; tashoddaqo = bersedekah; bihĩ = dengannya (kisas); fahuwa = maka dia; kaffãrotun = tebusan dosa; lahũ = baginya; wa man = dan orang yang; lam yahkum = tidak memutuskan perkara; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; fa-ulã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; azh zhōlimũn = orang-orang yang lalim.

wa katabnã ‘alaihim fĩhã annannafsã binnafsi wal ‘aina bil ‘aini wal anfa bil anfi wal udzuna bil udzuni was sinna bis sinni wal jurũha qishōshun, fa man tashoddaqo bihĩ fahuwa kaffãrotullahũ, wa mal lam yahkum bimã anzalallãhu fa-ulã-ika humuzh zhōlimũn.

45. Dan, telah Kami tetapkan di dalam Taurat mereka, bahwa jiwa harus dibayar dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, luka-luka pun ada kisasnya. Orang yang melepaskan hak kisasnya, demikian itu menjadi penebus dosanya. Orang yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang sudah diturunkan Allah, maka mereka itu termasuk orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah telah menetapkan hukum di dalam Taurat, Injil, Weda, Tao, dan lain-lain seperti yang tersebut dalam ayat ini.

wa qaffainã = dan Kami telah susulkan; ‘alã = pada, di atas; ãtsãrihim = jejak-jejak mereka; bi ‘ĩsãbni maryama = dengan Isa putra Maryam; mushoddiqon = yang membenarkan; al limã = terhadap apa (Kitab); baina = antara dua; yadaihi = tangannya (kejadian sebelumnya); mina = dari, yaitu; at taurōti = Taurat; wa atainãhu = dan Kami telah memberikannya; al injĩla = Injil; fĩhi = di dalamnya; hudan = petunjuk; wa nũrun = dan cahaya; wa mushoddiqo = dan membenarkan; al limã = terhadap apa (Kitab); baina = antara dua; yadaihi = tangannya (kejadian sebelumnya; mina = dari, yaitu; at taurōti = Taurat; wa hudan = dan menjadi petunjuk; wa mau’izhata = dan pelajaran; li = bagi; al muttaqĩn = orang-orang yang bertakwa.

wa qaffainã ‘alã ãtsãrihim bi ‘ĩsãbni maryama mushoddiqol limã baina yadaihi minat taurōti wa atainãhul injĩla fĩhi hudan wa nũrun wa mushoddiqol limã baina yadaihi minat taurōti wa hudan wa mau’izhatal lil muttaqĩn.

46. Dan Kami susulkan jejak Nabi-nabi Bani Israil dengan Isa putra Maryam, membenarkan Kitab sebelumnya, yaitu Taurat, dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan keterangan, dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat, dan menjadi petunjuk dan pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kitab Allah itu susul-menyusul, terakhir melalui Nabi Muhammad s.a.w. semuanya saling membenarkan petunjuk dan pengajaran hukum bagi orang-orang yang bertakwa.

wal yahkum = dan hendaknya memutuskan; ahlu = pengikut; al injĩli = Injil; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; fĩhi = di dalamnya; wa man = dan orang; lam yahkum = tidak memutuskan; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; al fãsiqũn = orang-orang yang fasik.

wal yahkum ahlul injĩli bimã anzalallãhu fĩhi, wa mal lam yahkum bimã anzalallãhu fa-ũlã-ika humul fãsiqũn.

47. Dan, hendaknya orang-orang pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya” maksudnya sesuai dengan apa yang ada di dalam Injil, sampai pada masa turunnya Alquran. Setelah turunnya Alquran, memutuskan perkara harus menurut Alquran.
“orang-orang fasik” adalah orang yang tidak memutuskan perkara menurut Hukum Allah, dengan tiga macam alasan: a. akibat ada rasa cemburu, benci, dan rasa ingkarnya kepada Hukum Allah, seperti yang disebutkan juga pada ayat 44, mereka termasuk kafir; b. akibat ada hawa nafsu yang ingin membuat kerugian kepada orang lain, mereka termasuk lalim; c. akibat kebodohan, ketidaktahuan, dan kemasabodohan mereka terhadap adanya wahyu yang diturunkan Allah, seperti dalam ayat 45 ini, mereka termasuk orang fasik.

wa anzalnã = dan Kami telah menurunkan; ilaika = kepada kamu; al kitãba = Kitab; bil haqqi = berisi kebenaran; mushoddiqo = yang membenarkan; limã = terhadapa apa; baina = di antara; yadaihi = dua tanganmu; mina = dari; al kitãbi = Kitab; wa muhaiminan = dan yang menjaga; ‘alaihi = atasnya; fahkum = maka putuskanlah; bainahum = di antara mereka; bimã = dengan apa; anzalallãh = Allah menurunkan; wa lã = dan jangan; tattabi’ = kamu mengikuti; ahwã-akum = nafsu mereka; ‘ammã = dari apa; jã-aka = telah datang kepadamu; mina = dari; al haqqi = kebenaran; likullin = bagi tiap-tiap umat; ja’alnã = Kami telah menjadikan; minkum = pada kamu; syir’atan = peraturan; wa minhãjan = dan jalan yang terang; wa lau = dan kalau; syã-allãhu = Allah menghendaki; laja’alakum = tentu Dia menjadikan kamu; ummatan = umat; wãhidatan = yang satu; wa lãkin = akan tetapi; liyabluwakum = Dia hendak menguji kamu; fĩ mã = pada apa, di dalam apa; ãtãkum = Dia berika kepadamu; fastabiqũ = maka berlomba-lombalah; al khoirōt = kebajikan; ilallãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kembalimu; jamĩ’an = semua; fayunabbi-ukum = maka Dia memberitahukan kepadamu; bi mã = dengan apa; kuntum = kamu adalah; fĩhi = di dalamnya; takhtalifũn = kamu perselisihkan.

wa anzalnã ilaikal kitãba bil haqqi mushoddiqol limã baina yadaihi minal kitãbi wa muhaiminan ‘alaihi, fahkum bainahum bimã anzalallãh, wa lã tattabi’ ahwã-akum ‘ammã jã-aka minal haqqi, likullin ja’alnã minkum syir’atan wa minhãjã, wa lau syã-allãhu laja’alakum ummatan wãhidatan wa lãkil liyabluwakum fĩ mã ãtãkum, fastabiqũl khoirōt, ilallãhi marji’ukum jamĩ’an fayunabbi-ukum bi mã kuntum fĩhi takhtalifũn

48. Dan, telah Kami turunkan kepadamu Alquran yang membawa kebenaran, membenarkan apa yang sudah diturunkan sebelum Alquran, dan batu ujian untuk Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang sudah Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang diwahyukan kepadamu. Untuk tiap-tiap umat manusia, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, pasti kamu dijadikan-Nya satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu untuk wahyu yang Kami berikan kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada Allahlah tempat kembali kamu semuanya, maka diberitahukan-Nya kepadamu, apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Cãtatan: Allah mengingatkan, Alquran diturunkan untuk menunjukkan kebenaran ada-Nya Allah Yang Esa.
“batu ujian” maksudnya, Alquran menjadi tolok ukur benar-tidaknya ayat-ayat yang tertulis dalam Kitab-kitab sebelum Alquran.
“Untuk tiap-tiap umat manusia” maksudnya, umat Nabi Muhammad s.a.w., dan umat-umat sebelumnya, mempunyai aturan dan jalannya sendiri-sendiri, berlaku pada saatnya. Umat manusia sekarang diuji. Seharusnya mengikuti aturan dan jalan yang ditunjukkan Allah melalui Nabi Muhammad s.a.w.. Hanya sayangnya, banyak manusia yang berselisih, tidak mempercayai Nabi Muhammad s.a.w. sebagai nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi sesudah beliau.

wa anihkum = dan hendaklah kamu memutuskan; bainahum = di antara mereka; bimã = dengan apa, menurut apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; wa lã tattabi’i = dan jangan kamu mengikuti; ahwã-ahum = nafsu-nafsu mereka; wahdzarhum = dan hati-hatilah terhadap mereka; an yaftinũka = supaya mereka tidak menyesatkan kamu; ‘am ba’dhi mã = dari sebagian apa; anzalallãhu = Allah menurunkan; ilaika = kepada kamu; fa in = maka jika; tawallau = mereka berpaling; fa’lam = maka ketahuilah; annamã = bahwa; yuridullãhu = Allah menghendaki; an yushĩbahum = akan menimpakan musibah kepada mereka; biba’dhĩ = dengan sebagian; dzunũbihim = dosa-dosa mereka; wa inna = dan sesungguhnya; katsĩron = kebanyakan mereka; minannãsi = dari manusia yang; la fãsikũn = sungguh-sungguh fasik, bodoh.

wa anihkum bainahum bimã anzalallãhu wa lã tattabi’i ahwã-ahum wahdzarhum an yaftinũka ‘am ba’dhi mã anzalallãhu ilaika fa in tawallau fa’lam annamã yuridullãhu an yushĩbahum biba’dhĩ dzunũbihim wa inna katsĩrom minannãsi la fãsikũn.

49. Dan, sebaiknya kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diwahyukan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu menghadapi mereka, supaya mereka tidak membuat kamu menyimpang dari sebagian yang telah diwahyukan Allah kepadamu. Jika mereka menyimpang dari hukum yang telah diwahyukan Allah, ketahuilah, sesungguh-nya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka karena sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya, sebagian besar manusia adalah orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan agar umat Islam memutuskan perkara mereka berdasarkan apa yang diwahyukan-Nya. Kalau mereka menyimpangkan wahyu Allah, Beliau akan menimpakan musibah kepada mereka.
“sebagian besar manusia adalah orang-orang fasik” ini akibat ulah manusianya sendiri yang suka mencari-cari, hal-hal yang di luar apa yang sudah diwahyukan Allah, mengubah, menambah, dan, atau menguranginya.

afahukma = apakah hukum; al jãhiliyyati = jahiliah; yabghũna = mereka kehendaki; wa man = dan siapalah; ahsanu = lebih baik; minallãhi = dari Allah; hukman = hukum-Nya; li qaumin = bagi kaum; yũqĩnũn = mereka yakin.

afahukmal jãhiliyyati yabghũna, wa man ahsanu minallãhi hukmal liqaumin yũqĩnũn.

50. Apakah Hukum Jahiliah yang mereka kehendaki?, dan hukum dari siapakah yang lebih baik selain dari Hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan secara retoris pilihan manusia atas hukum, yang menjadi peringatan dan pembelajaran bagi manusia.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã tattakhidzu = jangan kamu mengambil; al yahũda = orang Yahudi; wan nashōrō = dan Nasrani; auliyã-a = pemimpin-pemimpin; ba’dhuhum = sebagai mereka; auliyã-u = pemimpin; ba’din = sebagian yang lain; wa man = dan orang, siapa-siapa; yatawallahum = mengangkat mereka; minkum = di antara kamu; fa innahũ = maka sesungguhnya ia; minhum = termasuk (golongan) mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yahdĩl = tidak memberi petunjuk; qauma = kaum; azh zhōlimin = lalim.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã tattakhidzul yahũda wan nashōrō auliyã-a ba’dhuhum auliyã-u ba’din, wa man yatawallahum minkum fa innahũ minhum, innallãha lã yahdĩl qaumazh zhōlimin.

51. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin kamu, sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

Catatan; Allah memperingatkan kepada orang Islam. Lihat juga Q.s. Ali ‘Imraan, 3: 28

fa taro = maka kamu akan melihat; al ladzĩna = orang-orang yang; fĩ qulũbihim = di dalam hati mereka; marodhun = penyakit; yusãri‘ũna = mereka bersegera; fĩhim = pada mereka (Yahudi dan Nasrani); yaqũlũna = mereka berkata; nakhsyã = kami takut; an tushĩbanã = akan menimpa kami; dã-irotun = bencana, bahaya; fa’asãllãhu = Allah mudah-mudahan; an ya’tĩya = Dia akan mendatangkan; bil fathi = dengan kemenangan; au = atau; amrin = keputusan; min ‘indihĩ = dari Beliau; fa = maka; yush bihũ = mereka menjadi; ‘alã mã = atas apa yang; asar rũ = mereka rahasiakan; fĩ = di dalam; anfusihum = diri mereka; nãdimĩn = orang-orang yang menyesal.

fa tarol ladzĩna fĩ qulũbihim marodhun yusãri‘ũna fĩhim yaqũlũna nakhsyã an tushĩbanã dã-irotun, fa’asãllãhu an ya’tĩya bil fathi au amrim min ‘indihĩ fayushbihũ ‘alã mã asarrũ fĩ anfusihum nãdimĩn.

52. Maka, kamu akan melihat orang-orang munafik yang mempunyai penyakit di dalam hatinya bersegera mendekati orang Yahudi dan Nasrani, seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan kepada Rasul-Nya, atau sesuatu keputusan dari Allah. Karena itu kelak, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang mukmin tentang perilaku orang munafik.

wa yaqũlu = dan (mereka) mengatakan; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ahã-ũlã-i = inikah; al ladzĩna = orang-orang yang; aqsomũ =(mereka) bersumpah; billãhi = dengan Allah; jahda = sungguh; aimaanihim = sumpah mereka; innahum = sesungguhnya, bahwa; la ma’akum = benar-benar beserta kamu; habithot = rusaklah; a’mãluhum = amal-amal mereka; fa ashbahũ = maka mereka menjadi; khasĩrĩn = orang-orang yang rugi.

wa yaqũlul ladzĩna ãmanũ ahã-ũlã-il ladzĩna aqsomũ billãhi jahda aimaanihim innahum la ma’akum, habithot a’mãluhum fa ashbahũ khasĩrĩn.

53. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang sungguh-sungguh bersumpah atas nama Allah, bahwa mereka benar-benar beserta kamu?” Rusak binasalah segala amal mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang merugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih peringatan Allah tentang perilaku orang munafik.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; man = orang, barang siapa; yartadda = murtad; minkum = di antara kamu; ‘an dĩnihĩ = dari agamanya; fa saufa = maka akan; ya’tillãhu = Allah mendatangkan; bi qoumin = dengan suatu kaum; yuhibbuhum = Dia mencintai mereka; wa yuhibbũnahũ = dan mereka mencintai-Nya; adzillatin = lemah-lembut; ‘alal mu’minĩna = kepada orang-orang mukmin; a’izzatin = keras; ‘alãl kãfirĩna = kepada orang-orang kafir; yujãhidũna = mereka berjihad; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wa lã = dan tidak; yakhãfũna = mereka takut; laumata = celaan; lã-imin = orang-orang yang mencela; dzãlika = demikian itu; fadhlu = karunia; allãhi = Allah; yu’tĩhi = Dia berikan kepadanya; man = orang, siapa-siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; wãsi’un = Mahaluas; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ man yartadda minkum ‘an dĩnihĩ fa saufa ya’tillãhu bi qoumin yuhibbuhum wa yuhibbũnahũ, adzillatin ‘alal mu’minĩna a’izzatin ‘alãl kãfirĩna yijãhidũna fĩ sabĩlillãhi wa lã yakhãfũna laumata lã-imin, dzãlika fadhlullãhi yu’tĩhi man yasyã-u, wallãhu wãsi’un ‘alĩm.

54. Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu murtad dari agamanya, kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang dicintai Allah, dan mereka pun mencintai-Nya, mereka bersikap lemah-lembut kepada orang mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan mereka tidak takut pada celaan dari orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas pemberian-Nya dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “murtad” adalah orang kafir yang telah mengakui kebenaran agama Allah, kemudian menjadi kafir lagi, amalan yang sudah dilakukannya menjadi sia-sia. Manusia berkehendak berdasarkan pilihannya. Allah memberikan karunia kepada yang dikehendaki-Nya.

innamã = sesungguhnya hanya; waliyyukumullãhu = pemimpin kamu itu Allah; wa rosũluhũ = dan Rasul-Nya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanu = beriman; al ladzĩna = orang-orang yang; yuqĩmũna = (mereka) mendirikan; ash sholãta = salat; wa yu’tũna dan (mereka) menunaikan; az zakãta = zakat; wa hum = dan mereka; rōki’ũn = orang-orang yang menunduk

innamã waliyyukumullãhu wa rosũluhũ wal ladzĩna ãmanul ladzĩna yuqĩmũnash sholãta wa yu’tũnaz zakãta wa hum rōki’ũn.

55. Sesungguhnya, penolong kamu hanyalah Allah, dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat, dan menunaikan zakat dengan menundukkan diri kepada Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, seharusnya manusia itu mengakui hanya Allah saja yang menjadi pemimpin dan penolongnya. Lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1: 5; Al Baqarah, 2: 107; Ali ‘Imraan, 3: 22, 56, 91, 150; An Nisã’, 4: …..

wa man = dan orang, dan barang siapa; yatawallallãha = dan Allah menjadikan pemimpin, penolong; wa rosulahũ = dan Rasul-rasul-Nya; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; amanũ = beriman; fa inna = maka sesunggguhnya; hizballãhi = pengikut Allah; humu = mereka; al ghōlibũn = orang-orang yang menang.

wa man yatawallallãha wa rosulahũ wal ladzĩna amanũ fa inna hizballãhi humul ghōlibũn.

56. Dan, barang siapa yang mengambil Allah, dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya, pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pengikut agama Allah” yaitu orang yang menjadikan Allah, Rasul-Nya, dan orang yang beriman menjadi penolong.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna= orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã tatakhidzdzu = janganlah kamu mengambil (menjadikan); al ladzĩna = orang-orang yang; at takhadzũ = (mereka) mengambil (menjadikan); dĩnakum = agamamu; huzuwan = ejekan; wa la’ibam = dan permainan; mina = di antara; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Kitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; wal kuffãro = dan orang-orang kafir; auliyã-a = pemimpin; wat taqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; inkuntum = jika kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã tatakhidzdzul ladzĩnat takhadzũ dĩnikum huzuwan wa la’ibam minal ladzĩna ũtũl kitãba min qoblikum wal kuffãro auliyã-a, wat taqũllãha inkuntum mu’minĩn.

57. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengangkat pemimpinmu dari orang-orang yang membuat agamamu menjadi bahan ejekan, dan bahan permainan, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi Alkitab sebelummu, dan orang-orang kafir atau musyrik. Dan bertakwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang telah diberi Alkitab sebelummu” adalah orang Yahudi, Nasrani, Hindu, Buddha, Confutse, dan Kaum Sabi-in

58. Dan, apabila kamu menyeru mereka untuk mengerjakan salat, mereka menjadikannya bahan ejekan, dan permainan. Kenyataan demikian itu karena mereka sesungguhnya adalah kaum yang tidak mau mempergunakan akal.

59. Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya karena kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu, sesungguhnya adalah orang-orang yang fasik.

qul = katakanlah; hal = apakah; unabbi-ukum = aku memberitahukan kepadamu; bisyarrin = dengan yang lebih buruk; min = dari; dzãlika = demikian itu; matsũbatan = pembelaan; ‘indallãhi = di hadapan Allah; man = orang; la’anahul lãhu = Allah melaknatinya; wa ghodhiba = dan memurkai; ‘alaihĩ = kepadanya; wa ja’ala = dan Dia menjadikan; minhumu = di antara mereka; al qirodata = kera; wal khanãzĩra = dan babi; wa ‘abada = dan penyembah; ath thōghũta = tagut; ũlã-ika = mereka itu; syarrun = lebih buruk; makaanan = tempat; wa adhollu = dan lebih tersesat; ‘an sawã = dan barang yang dikirim” issabĩli = jalan.

qul hal unabbi-ukum bisyarrim min dzãlika matsũbatan ‘indallãhi, mal la’anahul lãhu wa ghodhiba ‘alaihi wa ja’ala minhumul qirodata wal khanãzĩra wa ‘abadaththōghũta, ũlã-ika syarrum makaanan wa adhollu ‘an sawã-issabĩli.

60. Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik itu dari Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan ada orang-orang yang menyembah thagut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.

Catatan : “mereka ada yang dijadikan kera dan babi” adalah orang Yahudi yang tidak menghormati Hari Sabtu, lihat al Baqarah ayat 65 dengan catatannya. Mereka bertabiat seperti kera (rakus, serakah, suka bertengkar) dan babi (tamak, jorok, suka makanan yang menjijikkan).

wa idzã = dan jika; jã-ũkum = mereka datang kepadamu; qōlũ = (mereka) berkata; ãmannã = kami beriman; wa qod = dan sesungguhnya; dakholũ = mereka datang; bil kufri = dengan kekufuran; wa hum = dan mereka; qod = sesungguhnya; kharojũ = mereka keluar (pergi); bihĩ = dengannya; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan (kepada) apa; kaanũ = adalah mereka; yaktumũn = mereka sembunyikan.

wa idzã jã-ũkum qōlũ ãmannã wa qod dakholũ bil kufri wa hum qod kharojũ bihĩ, wallãhu a’lamu bimã kaanũ yaktumũn.

61. Dan apabila orang-orang Yahudi atau orang munafik datang kepadamu, mereka mengatakan: “Kami telah beriman,” padahal mereka datang kepadamu dengan kekafirannya, dan mereka pergi darimu dengan kekafirannya pula. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang tidak beriman mengaku-aku beriman, ini ada semacam versi keimanan menurut anggapan diri mereka yang tidak mengikuti syariat Islam. Mereka dapat dikatagorikan sebagai, kafir (tidak mempercayai keradaan Allah), munafif (berkeyakinan ganda), dan fasik (berlaku dan berbuat seperti orang bodoh).

wa tarō = dan kamu akan melihat; katsiron = kebanyakan; minhum = di antara mereka; yusãri’ũna = mereka bersegera; fil itsmi = di dalam dosa; wal ‘udwaani = dan permusuhan; wa aklihimu = dan makan mereka; as suhta = haram; labi’sa = sungguh sangat buruk; mã kaanũ = apa yang mereka; ya’malũn = (mereka) kerjakan.

wa tarō katsirom minhum yusãri’ũna fil itsmi wal ‘udwaani wa aklihimus suhta labi’sa mã kaanũ ya’malũn.

62. Dan kamu akan melihat kebanyakan dari mereka, orang-orang Yahudi, bersegera berbuat dosa, membuat permusuhan, dan memakan makanan yang haram. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “bersegera berbuat dosa” maksudnya tidak melakukan syariat Islam; Mereka memusuhi Islam. Keyakinan lama yang terus dikukuhi sebagai sesuatu yang dianggap benar adalah pekerjaan yang amat buruk. Ini perkataan Allah. “memakan makanan yang haram” lihat catatan ayat 42.

lau lã = mengapa tidak; yanhãhumu = melarang mereka; ar Rab aaniyyũna = orang-orang alim Yahudi; wal ahbãru = dan rahib-rahib mereka; ‘an qoulihimu = dari ucapan mereka; al itsma = dosa (bohong); wa aklihimu = dan makan mereka; as suhta = haram; labi’sa = sungguh amat buruk; mã = apa yang; kaanũ = mereka adalah; yashna’ũn = (mereka) kerjakan.

lau lã yanhãhumur Rab aaniyyũna wal ahbãru ‘an qoulihimul itsma wa aklihimus suhta, labi’sa mã kaanũ yashna’ũn.

63. Mengapa orang-orang alim mereka, rahib-rahib mereka tidak melarang mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?. Benar-benar amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang peri laku para alim-ulama Yahudi, dan rahib-rahibnya.
“tidak melarang mengucapkan perkataan bohong”, misalnya tentang pernyataan trinitas: Allah Bapa; Allah Anak; Allah Ruhul Kudus. Padahal yang kedua terakhir itu adalah makhluk Allah. Mereka menyejajarkannya dengan Allah Maha Pencipta, dan Mahakuasa (Q.s. Al Mã-idah, 5: 17, 117).

wa qōlati = dan berkata; al yahũdu = orang-orang Yahudi; yadullãhi = tangan Allah; maghlũlatun = terbelenggu; ghullat = terbelenggu; aidĩhim = tangan mereka; wa lu’inũ = dan mereka dilaknat; bimã = disebabkan apa; qōlũ = mereka berkata; bal = bahkan; yadãhu = kedua tangan-Nya; mabsũthotaan = keduanya terbuka; yunfiqũ = Dia menafkahkan; kaifa = sebagaimana; yasyã-u = Dia kehendaki; walayazĩdanna = dan sungguh akan menambah; katsĩron = kebanyakan; minhum = dari mereka; mã unzila = apa yang diturunkan; ilaika = kepada kamu; mir Rab ika = dari Rab kamu; thughyaanan = kedurhakaan; wa kurfron = dan kekafiran; wa alqoinã = dan Kami timbulkan; bainahumu = di antara mereka; al ‘adãwata = permusuhan; wal baghdhō-a = dan kebencian; ilã = sampai, kepada; yaumil qiyãmah = hari kiamat; kullamã = setiap; auqodũ = mereka menyalakan; nãron = api; lil harbi = untuk penerangan; athfa-ahallãh = Allah memadamkannya; wa yas’auna = dan mereka berusaha; fĩl ardhi = di bumi; fasãdaan = (membuat) kerusakan; wallãhu = dan Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; al mufsidĩn = orang-orang yang membuat kerusakan.

wa qōlatil yahũdu yadullãhi maghlũlah, ghullat aidĩhim wa lu’inũ bimã qōlũ bal yadãhu mabsũthotaan, yunfiqũ kaifa yasyã-u, walayazĩdanna katsĩrom minhum mã unzila ilaika mir Rab ika thughyaanan wa kurfron, wa alqoinã bainahumul ‘adãwata wal baghdhō-a ilã yaumil qiyãmah, kullamã auqodũ nãrol lil harbi athfa-ahallãh, wa yas’auna fĩl ardhi fasãdaan, wallãhu lã yuhibbul mufsidĩn.

64. Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu,” sebenarnya, tangan merekalah yang terbelenggu, dan merekalah yang dilaknat, karena apa yang telah mereka katakan itu. Sesungguhnya, tangan Allah terbuka. Allah menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Alquran diwahyukan kepadamu dari Rab mu, sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan telah Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya, dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Tangan Allah terbelenggu” maksudnya Allah tidak dapat memberikan apa-apa, kikir.
“tangan merekalah yang terbelenggu” artinya, orang-orang Yahudi akan terjajah di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain di dunia. Ini merupakan kutukan Allah. Di akhirat, mereka akan terbelenggu oleh api neraka karena kedurhakaannya.
“Setiap mereka menyalakan api peperangan”, maksudnya, jika mereka berkhutbah, khutbah mereka tidak berbekas di hati para jamãhnya.
“mereka berbuat kerusakan di muka bumi” pekerjaan mereka tidak mengatasnamakan Allah (tidak mengucapkan basmalah), sehingga apa pun yang mereka kerjakan hasil akhirnya akan merusakkan dunia, menimbulkan peperangan, wabah penyakit, kerusakan akhlak, dan lain-lain.

wa lau = dan kalau; anna = sekiranya; ahlal kitãbi = Ahli Kitab; ãmanũ = (mereka beriman); wattaqau = dan mereka bertakwa; lakaffarnã = tentu Kami hapuskan; ‘anhum = dari mereka; syayyi-ãtihim = kesalahan-kesalahan mereka; wa la-adkholnãhum = dan tentu Kami masukkan mereka; jannãtin = surga; na’ĩm = kenikmatan.

wa lau anna ahlal kitãbi ãmanũ wattaqau lakaffarnã ‘anhum syayyi-ãtihim wa la-adkholnãhum jannãtin na’ĩm.

65. Dan, sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami hapus kesalahan-kesalahan mereka, dan tentulah Kami masukkan mereka ke surga-surga kenikmatan.

Catatan : Ini janji Allah yang tidak pernah diperhatikan oleh para Ahli Kitab sampai sekarang.

wa lau = dan kalau; annahum = sekiranya mereka; aqōmũ = (mereka) menegakkan; at taurōta = Taurat; wal injĩla = dan Injil; wa mã = dan apa (Alquran); unzila = yang diturunkan; ilaihim = kepada mereka; mir Rab ihim = dari Rab mereka; la akalũ = niscaya mereka mendapat makanan; min fauqihim = dari atas mereka; wa min tahti = dan dari bawah; arjulihim = kaki mereka; minhum = di antara mereka; ummatun = umat, golongan; muqtashidatun = pertengahan; wa katsĩrun = dan banyak; minhum = di antara mereka; sã-a = amat buruk; mã ya’malũn = apa yang mereka kerjakan.

wa lau annahum aqōmũt taurōta wal injĩla wa mã unzila ilaihim mir Rab ihim la akalũ min fauqihim wa min tahti arjulihim minhum ummatum muqtashidatun wa katsĩrum minhum sã-a mã ya’malũn.

66. Dan, seandainya mereka bersungguh-sungguh menjalankan hukum Taurat, injil, dan Alquran yang diturunkan kepada mereka dari Rab nya, pasti mereka akan mendapat makanan dari atas mereka, dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka, ada golongan pertengahan. Dan, alangkah buruknya apa yang telah dikerjakan oleh kebanyakan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka akan mendapat makanan dari atas mereka, dan dari bawah kaki mereka” maksudnya, Allah akan mengaruniakan rahmat-Nya dengan menurunkan hujan yang mengakibatkan tumbuhnya berbagai tanaman dengan berbagai hasil buah serta manfaat lainnya melimpah-ruah.
“ada golongan pertengahan” artinya orang yang berlaku jujur, lurus, tidak menyimpang dari aturan kebenaran
“kebanyakan mereka” tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan hukum Taurat, Injil, dan Alquran, sehingga hasil pekerjaannya buruk, mengakibatkan terjadi banyak peperangan, perusakan, perselisihan, kekacauan.
Ayat berikut ini menyampaikan informasi tentang kewajiban Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Rasul itu menyampaikan wahyu dari Allah kepada umat manusia

yã ayyuha = wahai; ar rosũlu = Rasul; balligh = sampaikan; mã = apa-apa yang; unzila = diturunkan; ilaika = kepada kamu; mir Rab ika = dari Rab kamu; wa il lam = dan jika tidak; taf’al = kamu kerjakan; fa mã = maka tidak; ballaghta = kamu menyampaikan; risãlatahũ = risalah-Nya; wallãhu = dan Allah; ya’shimuka = Dia memlihara kamu; minan nãsĩ = dari manusia; innallãha = sesungguhnya Allah; la yahdĩ = Dia tidak memberi petunjuk; al qouma = kaum; al kãfirĩn = orang-orang kafir.

yã ayyuhar rosũlu balligh mã unzila ilaika mir Rab ika wa il lam taf’al fa mã ballaghta risãlatahũ, wallãhu ya’shimuka minan nãsĩ, innallãha la yahdĩl qoumal kãfirĩn.

67. Wahai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Rab mu. Dan jika tidak kamu kerjakan, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w., para pengikutnya harus menyampaikan atau menyebarluaskannya ke seluruh dunia. Kalau tidak, berarti para pengikutnya tidak menyampaikan risalah amanat-Nya.
“Allah memelihara kamu dari gangguan manusia” maksudnya, tak seorang pun dapat membunuh Nabi Muhammad s.a.w. saat beliau bertugas menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia.

qul = Katakan; yã ahla= wahai Ahli; al kitãbi = Kitab; lastum = kamu tidak; ‘alã = atas; syai-in = sesuatu; hattã = sehingga; taqĩmu = kamu menegakkan; at taurōta Taurat; wa injĩla = dan Injil; wa mã = dan apa (Alquran); unzila = diturunkan; ilaikum = kepada kamu; min = dari; Rab ikum = Rab kamu; wa layazĩdanna = dan sungguh akan menambah; katsĩron = kebanyakan; minhum = di antara mereka; mã = apa; unzila = yang diturunkan; ilaika = kepada kamu; min = dari; Rab ika = Rab kamu; thughyaanan = kedurhakaan; wa kufrōn = dan kekafiran; fa lã ta’sa = maka janganlah kamu berputus-asa; ‘alãl qoumi = atas kaum; al kãfirĩn = kafir.

qul yã ahlal kitãbi lastum ‘alã syai-in hattã taqĩmut taurōta wa injĩla wa mã unzila ilaikum mir Rab ikum wa layazĩdanna katsĩrom minhum mã unzila ilaika mir Rab ika thughyaanan wakufrōn, fa lã ta’sa ‘alãl qoumil kãfirĩn.

68. Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikit pun, hingga kamu mau menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Alquran yang diturunkan kepadamu dari Rab mu.” Sesungguhnya, apa yang diturunkan Rab mu kepadamu (Muhammad s.a.w.) akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan mereka; karena itu janganlah kamu bersedih hati atas perlakuan orang kafir itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak menganggap beragama orang yang membaca Taurat, Injil, dan Quran, jika mereka tidak menegakkan dan melaksanakan apa yang dianjurkan di dalamnya (lihat catatan ayat 13, 17).

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman (mukmin); wal ladzĩna = dan orang-orang yang; hãdũ = Yahudi; washshōbiũna = dan Shabi’in; wan nashōrō = dan orang-orang nasrani; man = orang (siapa); ãmana = beriman; billãhi = kpeada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan hari akhirat; wa ‘amila = dan beramal; shōlihan = saleh; fa lã = maka tidak; khoufun = khawatir; ‘alaihim = atas mereka; wa lã hum = dan mereka tidak; yahzanũn = sedih.

innal ladzĩna ãmanũ wal ladzĩna hãdũ washshōbiũna wan nashōrō man ãmana billãhi wal yaumil ãkhiri wa ‘amila shōlihan fa lã khoufun ‘alaihim wa lã hum yahzanũn.

69. Sesungguhnya, orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabi’in, dan orang-orang Nasrani, siapa pun di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, tidak ada kekhawatiran bagi mereka, dan mereka tidak akan bersedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “siapa pun di antara mereka” lihat Q.s. al Baqarah, 2: 62 (hampir sama). Allah memperingatkan kepada para pembaca Alkitab.

laqod = sesungguhnya; akhodznã = Kami telah mengambil; mitsãqo = perjanjian; banĩ isrō-ĩla = Bani Israil; wa arsalnã = dan Kami telah mengutus; ilaihim = kepada mereka; rusulã = Rasul-rasul; kullamã = setiap; jã-ahum = dating kepada mereka; rosũlun = seorang Rasul; bimã = dengan apa; lã tahwã = tidak menginginkan; anfusuhum = hawa nafsu mereka; farĩqon = sebagian; kadzdzabũ = mereka dustakan; wa farĩqon = sebagian; yaqtulũn = mereka bunuh.

laqod akhodznã mitsãqo banĩ isrō-ĩla wa arsalnã ilaihim rusulã, kullamã jã-ahum rosũlum bimã lã tahwã anfusuhum farĩqon kadzdzabũ wa farĩqon yaqtulũn.

70. Sesungguhnya, Kami telah saling berjanji dengan Bani Israil, dan telah Kami utus Rasul-rasul kepada mereka, tatapi setiap datang Rasul kepada mereka dengan membawa apa yang tidak dĩngini oleh hawa nafsunya, maka sebagiaan Rasul-rasul itu, mereka anggap bohong, dan sebagian yang lainnya, mereka bunuh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kami telah saling berjanji dengan Bani Israil” artinya Bani Israil itu sudah beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Hanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. ternyata mereka tidak mau mengimani sebagai Rasul. Kalau mereka terus demikian, maka, amal-perbuatan mereka tidak diakui Allah, dan akan menimbulkan kekacauan. Seharusnya mereka mengikuti perubahan aturan yang ditetapkan Nabi Muhammad s.a.w.

wa hasibũ allã takũna fitnatun fa’amũ wa shammũ tsumma tãballãhu ‘alaihim tsumma ‘amũ wa shamũ katsĩrum minhum, wallãhu bashĩrum bimã ya’malũn.

wa hasibũ allã takũna fitnatun fa’amũ wa shammũ tsumma tãballãhu ‘alaihim tsumma ‘amũ wa shamũ katsĩrum minhum, wallãhu bashĩrum bimã ya’malũn.

71. Dan, mereka mengira tidak akan terjadi suatu bencana pun atas mereka karena membunuh Nabi-nabi, karena itu mereka menjadi buta dan tuli, kemudian Allah menerima tobat mereka, kemudian kebanyakan dari mereka buta dan tuli lagi. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Di antara Bani israil itu banyak yang tidak mempercayai Nabi Muhammad sebagai Utusan Allah, maka terjadilah banyak bencana. Mereka menjadi “buta dan tuli.” Artinya mereka tidak mau melihat dan mereka tidak mau mendengar apa yang diturunkan Allah. Berikut ini pernyataan Allah kepada orang-orang yang menganggap Isa a.s. itu sebagai Allah.

laqod = sesungguhnya; kafaro = telah kafir; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = berkata; inallãha = sesungguhnya Allah; huwa = Dia; al masĩh = = Al Masih; ubnu maryama = putra Maryam; wa qōla = dan berkata; al masĩhu = Al Masih; yã banĩ isrōil = wahai Bani Israil; a’budullãha = sembahlah Allah; Rab ĩ = Rōbku; wa Rab akum = dan Rab kamu; innahũ = sesungguhnya; man = orang, barang siapa; yusyrik = mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; fa qod = maka sesungguhnya; harromallãhu = Allah mengharamkan; ‘alaihi = kepadanya; al jannata = surga; wa ma’wãhu = dan tempatnya; an nãru = neraka; wa mã = dan tidaklah; lizhzhōlimĩna = bagi orang-orang lalim; min anshōr = dari penolong.

laqod kafarol ladzĩna qōlũ inallãha huwal masĩhubnu maryama wa qōlal masĩhu yã banĩ isrōila’budullãha Rab ĩ wa Rab akum innahũ man yusyrik billãhi fa qod harromallãhu ‘alaihil jannata wa ma’wãhun nãru wa mã lizhzhōlimĩna min anshōr.

72. Sesungguhnya, telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Allah itu al Masih putra Maryam,” padahal al Masih sendiri berkata: “Wahai Bani Israil, sembahlah Allah Rab ku dan Rab mu.” Sebenarnya, orang yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, pasti Allah mengharamkan surga baginya, tempatnya di neraka, tidak adalah seorang penolong pun bagi orang-orang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada kaum Nasrani yang mengatakan: Allah itu Al Masih putra Maryam. Sampai sekarang pernyataan salah kaprah seperti ini masih terus bergaung. Sesungguhnya, Al Masih putra Maryam itu makhluk Allah yang diutus untuk meluruskan kepercayaan hidup Bani Israil yang dikarunia banyak kelebihan dibanding dengan yang lain. Karunia kelebihan bani Israil ini kalau tidak digunakan untuk kesejahteraan dunia, hanya ingin kekuasaan di dunia, maka tidak diridoi Allah. Dunia ini akan menjadi kacau, mungkin akan mengakibatkan kiamat.

laqod = sesungguhnya; kafaro = telah kafir; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = mereka berkata; innallãha = sesungguhnya Allah; tsãlitsu tsalatsatin = tiga dari yang tiga; wa mã min ilãhin = dan tidak ada ilah; illã = selain; ilãhun = Ilah; uw wãhidun = satu, esa; wa in = dan jika; lam = tidak; yantahũ = mereka berhenti; ‘ammã = dari apa; yaqũlũna = mereka katakan; layamassanna = tentu akan menyentuh; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; minhum = di antara mereka; adzãbun = azab; alĩm = pedih.

laqod kafarol ladzĩna qōlũ innallãha tsãlitsu tsalatsatin wa mã min ilãhin illã ilãhuw wãhidun wa il lam yantahũ ‘ammã yaqũlũna layamassannal ladzĩna kafarũ minhum adzãbun alĩm.

73. Sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Allah salah satu dari yang tiga,” padahal tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti mengatakan demikian itu, pasti orang-orang kafir di antara mereka itu akan disentuh siksa yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah lebih menegaskan ayat sebelumnya

afalã = mengapa tidak; yatũbũna = mereka bertobat; ilallãhi = kepada Allah; wa yastaghfirũ = dan mereka memohon ampun; nahũ = kepada-Nya; wallãhu = dan Allah; ghofurun = Maha pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

afalã yatũbũna ilallãhi wa yastaghfirũ nahũ, wallãhu ghofurur rohĩm.

74. Karena itu, mengapa mereka tidak bertobat dan memohon ampun kepada Allah?, padahal Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang selalu membuka kesempatan untuk bertobat dan memohon ampun kepada Makhluk-Nya yang kafir, munafik, musyrik, fasik. Kalau kesempatan itu tidak digunakan, maka peringatan Allah pada ayat sebelum ini, akan mengenai mereka.

ma = bukankah; al masĩhu = Al Masih; ibnũ = putra; maryama = Maryam; illã = melainkan; rosũlun = seorang Rasul; qod = sungguh; kholat = telah berlalu; min = dari; qoblihi = sebelumnya; ar rusulu = beberapa Rasul; wa ummuhũ = dan ibunya; shiddĩqoh = seorang wanita (berperilaku) benar; kaanã = keduanya adalah; ya’kulaani = keduanya memakan; ath tho’ãm = makanan; unzhur = perhatikanlah; kaifa = bagaimana; nubayyinu = Kami menjelaskan; lahumu = kepada mereka; al ayãti = keterangan-keterangan; tsumma = kemudian; anzhur = perhatikanlah; annã = ke mana; yu’fakũn = mereka berpaling.

mal masĩhubnũ maryama illã rosũlun qod kholat min qoblihir rusulu wa ummuhũ shiddĩqoh, kaanã ya’kulaanith tho’ãm, unzhur kaifa nubayyinu lahumul ayãti tsummanzhur annã yu’fakũn.

75. Al Masih, putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesunguhnya sudah ada beberapa rasul sebelumnya, ibunya seorang yang sangat jujur, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan kepada para Ahli Kitab tanda-tanda kekuasaan Kami, kemudian perhatikanlah, bagaima-na mereka menyimpang dari ayat-ayat Kami itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “keduanya biasa memakan makanan” maksudnya: Isa a.s. dan ibunya adalah manusia yang memerlukan makan, minum, dan lain-lain keperluan hidup sebagaimana umumnya manusia. Demikianlah Allah menjelaskan kepada para Ahli Kitab tentang Al Masih ini, tetapi mereka tetap tidak mempercayai ayat-ayat Allah.

qul = katakanlah; ata’budũna = mengapa kamu menyembah; min dũnillãhi = dari selain Allah; mã lã = apa yang tidak; yamliku = berkuasa; lakum = kepadamu; dhorran = memberikan bahaya; wa lã = dan tidak; naf’aan = memberi manfaat; wallãhu = dan Allah; huwa = Dia; as samĩ’u = Maha Mendengar; al ‘alĩm = Maha Mengetahui.

qul ata’budũna min dũnillãhi mã lã yamliku lakum dhorran wa lã naf’aan, wallãhu huwas samĩ’ul ‘alĩm.

76. Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadamu, dan tidak pula manfaat?” Dan Dia Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah berulang-ulang kepada kaum Nasrani.

qul = katakanlah; yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lã = jangan; taghlũ = kamu berlebihan; fĩ dĩnikum = dalam beragamamu; ghoyro = dengan tidak; al haqqi = kebenaran; wa lã = dan jangan; tattabi’ũ = kamu mengikuti; ahwã-a = nafsu; qoumin = kaum; qod = sungguh; dhollũ = mereka telah sesat; min qoblu = dari sebelumnya; wa adhollũ = dan mereka menyesatkan; katsĩron = kebanyakan; wa dhollũ = dan mereka tersesat; ‘an sawã-i = dari yang lurus; as sabĩl = jalan.

qul yã ahlal kitãbi lã taghlũ fĩ dĩnikum ghoyrol haqqi wa lã tattabi’ũ ahwã-a qoumin qod dhollũ min qoblu wa adhollũ katsĩron wa dhollũ ‘an sawã-is sabĩl.

77. Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam Dienmu. Jangan pula kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sejak dulunya, dan mereka menyesatkan banyak manusia, karena mereka tersesat dari jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, ada orang (Ahli Kitab) yang berlebihan dalam menjalankan Dĩn-nya. Mereka menjadi tersesat. Waspadalah selalu karena sekarang pun masih terus berkembang, menjadi aliran-aliran sesat.

lu’ina = telah dilaknat; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; min = dari; banĩ isrō-ila = Bani Israil; ‘alã = pada, di atas; lisaani = lisan; dãwũda = Daud; wa ‘ĩsã = dan Isa; abni maryama = putra maryam; dzãlika = demikian itu; bimã = disebabkan; ‘ashou = mereka durhaka; wa kaanũ = dan mereka adalah; ya’tadũn = (mereka) melampaui batas.

lu’inal ladzĩna kafarũ mim banĩ isrō-ila ‘alã lisaani dãwũda wa ‘ĩsãbni maryama, dzãlika bimã ‘ashouw wa kaanũ ya’tadũn.

78. Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil pada apa yang dikatakan tentang Daud dan Isa putra Maryam, demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu selalu melakukan atau mengatakan sesuatu yang melampaui batas kewajaran, sehingga Allah melaknatinya.

kaanũ = mereka adalah; lã yatanãhauna = tidak saling melarang; ‘am munkarin = dari perbuatan mungkar; fa’alũhu = mereka lakukan; labi’sa = sungguh amat buruk; mã = apa; kaanũ = mereka adalah; yaf’alũn = (mereka) perbuat.

kaanũ lã yatanãhauna ‘am munkarin fa’alũhu, labi’sa mã kaanũ yaf’alũn.

79. Mereka, satu dengan yang lainnya selalu tidak saling melarang tindakan mungkar yang diperbuatnya. Sesungguhnya, amatlah buruk apa yang selalu mereka perbuat itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu tidak saling melarang perbuatan mungkar, seperti menyembah berhala, mengusir Utusan Allah, melakukan kejahatan.

tarō = kamu melihat; katsĩron = kebanyakan; minhum = di atara mereka; yatawallauna = (mereka) menjadikan pemimpin; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; labi’sã = sungguh amat buruk; mã = apa; qoddamat = yang telah disediakan; lahum = bagi mereka; anfusuhum = dari mereka sendiri; in sakhithallãhu = bahwa Allah murka; ‘alaihim = kepada mereka; wa fĩ = dan di dalam; al ‘adzãbihum = azab mereka; khōlidũn = (mereka) kekal.

tarō katsĩrom minhum yatawallaunal ladzĩna kafarũ, labi’sã mã qoddamat lahum anfusuhum in sakhithallãhu ‘alaihim wa fĩl ‘adzãbihum khōlidũn

80. Kamu melihat, kebanyakan mereka tolong-menolong dengan orang-orang kafir dan musyrik. Sesungguhnya, amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka, dan mereka akan kekal dalam siksaan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir melakukan suatu perbuatan yang buruk, akibatnya akan menimpa diri mereka sendiri. Siksa di neraka kekal, tidak ada hentinya.

wa lau = dan seandainya; kaanũ = mereka adalah; yu’minũna = (mereka) beriman; billãhi = kepada Allah; wa = dan; an nabiyyi = Nabi; wa mã = dan apa; unzila = yang diturunkan; ilaihi = kepadanya; mattakhadzũhum = mereka tidak mengambil orang-orang kafir; auliyã-a = pelindung, pemimpin, penolong; wa = dan; lãkinna = akan tetapi; katsĩron = kebanyakan; minhum = di antara mereka; fãsiqũn = bodoh.

wa lau kaanũ yu’minũna billãhi wan nabiyyi wa mã unzila ilaihi mattakhadzũhum auliyã-a wa lãkinna katsĩrom minhum fãsiqũn.

81. Seandainya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi Musa, dan apa yang diturunkan kepada para nabi, tentu mereka tidak memakai orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan mereka itu orang-orang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan untuk manusia, di dunia ini banyak orang yang kafir, munafik, musyrik, dan fasik.

latajidanna = sungguh kamu akan mendapati; asyadda = paling keras; annãsi = manusia; ‘adãwatan = permusuhan; lilladzĩna = terhadap orang-orang yang; ãmanu = beriman; al yahũda = orang-orang Yahudi; wal ladzĩna = dan orang-orang yang; asyrokũ = (mereka) musyrik; wa latajidanna = dan sungguh kamu akan mendapati; aqrobahum = mereka paling dekat; mawaddatan = persabatan; lilladzĩna = terhadap orang-orang yang; ãmanu = (mereka) beriman; al ladzĩna = orang-orang yang; qōlũ = (mereka) berkata; innã = sesungguhnya kami; nashōrō = orang-orang Nasrani; dzãlika = demikian itu; bi-anna = disebabkan; minhum = di antara mereka; qissĩsĩna = pendeta-pendeta; wa ruhbaanan = dan rahib-rahib; wa annahum = dan mereka; la yastakbirũn = mereka tidak menyombongkan diri.

latajidanna asyaddannãsi ‘adãwatal lilladzĩna ãmanul yahũda wal ladzĩna asyrokũ, wa latajidanna aqrobahum mawaddatal lilladzĩna ãmanul ladzĩna qōlũ innã nashōrō dzãlika bi-anna minhum qissĩsĩna wa ruhbaanan wa annahum la yastakbirũn.

82. Sesungguhnya, kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya dengan orang-orang yang meriman, yakni orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya, kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya, kami ini orang-orang Nasrani.” Demikian itu, karena di antara orang-orang Nasrani, ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib yang tidak menyombongkan diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menggambarkan situasi hubungan dengan orang Yahudi yang memusuhi, dan dengan orang Nasrani yang bersahabat. Semuanya perlu dihimbau agar mau beriman kepada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad s.a.w., sehingga tidak ada permusuhan, dan saling menyombongkan diri. Semuanya akan menjadi bersaudara dalam iman yang sama, membina kehidupan yang aman, tenteram, damai, sejahtera, bahagia.

Juz 7

Peringatan Kepada Kaum Muslimin pada Adat-Istiadat Jahiliah yang Terlarang.

wa idzã = dan apabila; sami’ũ = mereka mendengarkan; mã = apa; unzila = yang diturunkan; ilã = kepada; ar rosũli = Rasul; tarō = kamu lihat; a’yunahum = mata mereka; tafĩdhũ = mencucurkan; mina = dari; ad dam’i = air mata; mimmã = dari apa, disebabkan; ‘arofũ = mereka ketahui; mina = dari; al haqqi = kebenaran; yaqũlũna = mereka berkata; Rab ana = yã Rab ; ãmannã = kami telah beriman; faktubnã = maka catatlah kami; ma’a = bersama; asy syãhidĩn = orang-orang yang menjadi saksi.

wa idzã sami’ũ mã unzila ilãr rosũli tarō a’yunahum tafĩdhũ minad dam’i mimmã ‘arofũ minal haqqi, yaqũlũna Rab ana ãmannã faktubnã ma’asy syãhidĩn.

83. Dan, apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Muhammad s.a.w., kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran Alquran yang telah mereka ketahui dari Kitab-kitab mereka, seraya berkata: “Robana, kami telah beriman, maka catatlah, kami bersama-sama dengan orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan dari Allah tentang orang-orang yang terkesan ketika apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dibacakan kepada mereka. Mereka menyadari kebenaran isi Alquran yang sesuai dengan isi Kitab-kitab mereka.

wa mã = mengapa; lanã = kami; lã nu’minu = tidak beriman; billãahi = kepada Allah; wa mã = dan apa; jã anã = datang kepada kami; mina = dari; al haqqi = kebenaran; wa nathma’u = dan kami menginginkan; an yud-khilanã = agar memasukkan kami; Rab unã = yã Rab kami; ma’a = beserta, ke dalam; al qoumi = kaum; ash sholihĩn = orang-orang yang saleh.

wa mã lanã lã nu’minu billãahi wa mã jã anã minal haqqi wa nathma’u an yud-khilanã Rab unã ma’al qoumish sholihĩn.

84. “Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah, dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat menginginkan agar Rab kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang saleh?”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pertanyaan retorik dari orang-orang yang telah beriman untuk diperhatikan oleh generasi berikutnya. Maksudnya, agar mereka termasuk orang-orang yang saleh.

fa = maka; atsãbahumullãhu = Allah memberi pahala kepada mereka; bimã = dengan apa; qōlũ = mereka katakana; jannãtin = surga; tajrĩ = mengalir; min = dari; tahtiha = atas; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa dzalika = dan itulah; jazã-u = balasan; al muhsinĩn = orang-orang yang berbuat kebaikan.

fa atsãbahumullãhu bimã qōlũ jannãtin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wa dzalika jazã-ul muhsinĩn.

85. Karena itu, Allah memberi mereka pahala surga dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya, atas perkataan yang mereka ucapkan. Mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan untuk orang-orang yang berbuat kebaikan karena keimanannya yang ikhlas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan kepada seluruh umat manusia, apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan untuk kebaikan akan mendapat balasan kenikmatan yang berlipat-lipat banyaknya.

wal ladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir (menolak, membantah); wa kadzdzabũ = dan mereka mendustakan; bi-ãyãtinã = pada ayat-ayat kami; ũlãika = mereka itulah; ashhãbu = penghuni; al jahĩm = neraka jahim.

wal ladzĩna kafarũ wa kadzdzabũ bi-ãyãtinã ũlãika ashhãbul jahĩm.

86. Dan, orang-orang kafir dan yang menganggap dusta ayat-ayat Kami, mereka menjadi penghuni neraka jahim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan umat manusia, jika ada yang membantah, menolak, tidak mempercayai ayat-ayat Allah, bersip-siaplah untuk menghuni neraka jahim.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã = jangan; taharrimũ = kamu mengharamkan; thoyyibãti = yang baik-baik; mã = apa-apa; ahallallãhu = Allah menghalalkan; lakum = bagi kamu; wa lã = dan jangan; ta’tadũ = melampaui batas; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = Dia tidak menyukai; al mu’tadĩn = orang-orang yang melampaui batas

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã taharrimũ thoyyibãti mã ahallallãhu lakum wa lã ta’tadũ, innallãha lã yuhibbul mu’tadĩn.

87. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan apa-apa yang baik, dan Allah telah menghalalkan bagimu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan dan pelajaran apa-apa yang baik dan halal, dan apa-apa yang haram, dan yang melampaui batas. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas kewajaran.

wa kulũ = dan makanlah; mimmã = dari apa; rozakokumullãhu = Allah telah memberi rezeki kepada kamu; halalan = yang halal; thoyyiban = yang baik; wattaqũllãha = dan bertakwallah kamu kepada Allah; al ladzĩ = orang-orang yang; antum = kamu; bihĩ = dengan-Nya, kepada-Nya; mu’minũn = orang-orang yang beriman.

wa kulũ mimmã rozakokumullãhu halalan thoyyiban, wattaqũllãhal ladzĩ antum bihĩ mu’minũn.

88. Dan, makanlah makanan yang halal dan baik dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah Yang telah kamu imani.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Makanan yang halal adalah makanan yang didapat secara halal dan yang diperbolehkan dan baik dimakan, misalnya: makanan yang tidak mengandung racun berbahaya, seperti nasi, ubi-ubian, jagung, kacang-kacangan, sayur-sayuran, bumbu-bumbu, daging, ikan, dan lain-lain.
Makanan yang tidak halal adalah makanan yang telah ditetapkan di dalam Alquran dan hadis, dan yang didapat dari mencuri, menipu, dan hasil perbuatan jahat lainnya. Contohnya: makanan beracun, daging babi, daging ampibi, daging binatang bertaring, daging sembelihan yang tidak mengatasnamakan Allah (lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 168, 172, 173; Al Maidah, 5: 3, 4, 5).

lã yu-ãkhidzukumullãhu = Allah tidak menghukum kamu; bil laghwi = dengan gurauan; fĩ aimaanikum = dalam sumpahmu; wa lãkin = tetapi; yu-akhidzukum = Dia menghukum kamu; bimã = dengan sebab; ‘aqqodtumũ = kamu sengaja; al aimaana = sumpah-sumapah itu; fakaffãrotuhũ = maka kafarat (denda)-nya; ith’a’amu = memberi makan; ‘asyarati = sepuluh; masãkĩna = orang-orang miskin; min ausathi = dari setengahnya; mã = apa; tuth’imũna = makanan yang kamu berikan; ahlĩkum = keluargamu; au kiswatuhum = atau memberi mereka pakaian; au tahrĩru = atau memerdekakan; roqobatin = seorang budak; faman = maka barang siapa; lam yajid = tidak mendapatkan; fashiyãmu = maka berpuasalah; tsalãtsati = tiga; ayyãmin = hari; dzãlika = demikian itu; kaffãrotu = kafarat, denda; aimaanikum = sumpah-sumapahmu; idzã = jika; holaftum = kamu bersumpah; wahfazhũ = dan jagalah; aimaanakum = sumpah-sumpahmu; kadzãlika = seperti demikianlah; yubayyinullãhu = Allah menerangkan; lakum = kepada kamu; ãyãtihĩ = ayat-ayat-Nya; la’allakum = agar kamu; tasykurũn = bersyukur.

lã yu-akhidzukumullãhu bil laghwi fĩ aimaanikum wa lãkin yu-akhidzukum bimã ‘aqqodtumũl aimaana, fakaffãrotuhũ ith’a’amu ‘asyarati masãkĩna min au sathi mã tuth’imũna ahlĩkum au kiswatuhum au tahrĩru roqobatin faman lam yajid fashiyãmu tsalãtsati ayyãmin, dzãlika kaffãrotu aimaanikum idzã holaftum, wahfazhũ aimaanakum, kadzãlika yubayyinullãhu lakum ãyãtihĩ la’allakum tasykurũn.

89. Allah tidak menghukum kamu karena ucapan sumpah-sumpahmu yang tanpa sadar (dibuat senda gurau, bermain-main), tetapi Dia menghukum sumpah-sumpah yang sengaja diucapkan dengan kafarat, yaitu memberi makan sepuluh orang miskin, dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukannya, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Demikian itu adalah kafarat atas pelanggaran sumpah-sumpahmu. Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah, Allah menerangkan kepadamu hukum sumpah, agar kamu bersyukur kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan aturan untuk orang yang mengucapkan sumpah. “sumpah-sumpah yang sengaja diucapkan” maksudnya sumpah yang dengan sadar diucapkan, tapi kemudian tidak dijalankan atau tidak dibuktikan, artinya melanggar sumpah. Jadi yang mengucapkan sumpah harus membayar denda.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; innamã = sesungguhnya; al khamru = minuman keras; wal maisiru = dan judi; wal anshōbu = dan berhala-berhala; wal azlãmu = dan mengundi nasib dengan anak panah; rijsum = perbuatan keji; min ‘amali = dari perbuatan; asy syaithōni = setan; fa ajtanibũhu = maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu; la’allakum = agar kamu; tuflihũn = (kamu) beruntung.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ innamãl khamru wal maisiru wal anshōbu wal azlãmu rijsum min ‘amalisy syaithōni fa ajtanibũhu la’allakum tuflihũn.

90. Wahai orang-orang yang beriman, meminum khamar, berjudi, berkurban untuk berhala, mengundi nasib dengan anak panah itu perbuatan keji, termasuk perbuatan setan, maka jauhilah pebuatan-pebuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menghimbau kepada orang-orang yang beriman, agar tidak melakukan perbuatan keji. Lihat cacatan Surat al Maidah: 3.

innamã = sesungguhnya hanya; yurĩdu = bermaksud; asy syaitōnu = setan; an yũqi’a = hendak menimbulkan; bainakumu = di antara kamu; al ‘adãwata = permusuhan; wal baghdhō-a = dan kebencian; fil khamri = pada minuman keras; wal maisiri = dan berjudi; wa yashuddakum = dan menghalangi kamu; ‘an dzikrĩllãhi = dari mengingat Allah; wa ‘anish sholawãti = dan dari salat; fahal = maka maukah; antum = kamu; muntahũn = orang-orang yang berhenti.

innamã yurĩdusy syaitōnu an yũqi’a bainakumul ‘adãwata wal baghdhō-a fil khamri wal maisiri wa yashuddakum ‘an dzikrĩllãhi wa ‘anish sholawãti, fahal antum muntahũn.

91. Sesungguhnya, setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian dia antara kamu, lantaran meminum khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dalam mengingat Allah dan salat, maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menunjukkan kasih sayang-Nya kepada orang yang beriman dengan melarang meminum khamar, berjudi, mengundi nasib dengan anak panah atau yang sejenisnya, karena akan menyebabkan seseorang lupa untuk mengingat-Nya. Allah memerintah kita semua agar menghentikan pekerjaan yang dilarang.

wa athĩ-ũllãha wa athĩ-ũr rasũla wahdzarũ, fa in tawallaitum fa’lamũ annamã ‘alã rasũlinãl balãghul mubĩn.

wa athĩ-ũllãha = dan tãtlah kamu kepada Allah; wa athĩ-ũr rasũla = dan tãtlah kepada Rasul; wahdzarũ = dan berhati-hatilah kamu; fa in = maka jika; tawallaitum = kamu berpaling; fa’lamũ = maka ketahuilah; annamã = hanyalah; ‘alã = pada; rasũlinã = Rasul Kami; al balãghu = penyampai (amanat); al mubĩn = yang jelas.

92. Dan, tãtlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan berhati-hatilah. Jika kamu tidak percaya, maka ketahuilah, sesungguhnya kewajiban rasul Kami, hanyalah menyampaikan amanat dengan jelas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan agar kita harus tãt kepada perintah Allah dan Rasul-rasul-Nya. Nabi Muhammad Rasulullah hanyalah sebagai penyampai amanat yang jelas dari Allah.

laisa = tidaklah, bukanlah; ‘ala = atas; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; junãhun = berdosa; fĩmã = tentang apa (makanan); tho’imũ = telah mereka makan; idzã = jika; mat taqau = mereka bertakwa; wa ãmanũ = dan beriman; wa ‘amilũsh shōlihãti = dan beramal saleh; tsumma = kemudian; at taqau = mereka bertakwa; wa ãmanũ = dan mereka beriman; tsumma = kemudian; at taqau = mereka bertakwa; wa ahsanũ = dan mereka berbuat kebaikan; wallãhu = dan Allah; yuhibbu = Dia menyukai; al muhsinĩn = orang-orang yang berubuat kebaikan.

laisa ‘alal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilũsh shōlihãti junãhun fĩmã tho’imũ idzã mat taqauw wa ãmanũ wa ‘amilũsh shōlihãti tsummat taqauw wa ãmanũ tsummat taqauw wa ahsanũ, wallãhu yuhibbul muhsinĩn.

93. Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, serta mengerjakan amalan saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman dan melakukan kebajikan. Dan Allah sangat menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Makanan yang sudah mereka makan dahulu sebelum beriman dan bertakwa, tidak menyebabkan dosa, bila sekarang mereka bertakwa, beriman, dan beramal saleh.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; la yabluwannakumullãhu = sungguh Allah akan menguji kamu; bi syai-in = dengan sesuatu; minash shaydi = dari binatang buruan; tanãluhũ = kamu memperolehnya; aidĩkum = tangan kamu; wa rimãhukum = dan tombakmu; liya’lamallãhu = karena Allah mau mengetahui; man = siapa; yakhōfuhũ = takut kepada-Nya; bil ghoibi = dengn yang gaib; famani = maka barang siapa; i’ tadã = melanggar batas; ba’da = sesudah; dzãlika = itu; falahũ = maka baginya; ‘adzãbun alĩm = azab yang pedih.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ la yabluwan nakumullãhu bi syai-im minash shaydi tanãluhũ aidĩkum wa rimãhukum liya’lamallãhu man yakhōfuhũ bil ghoibi, famani’tadã ba’da dzãlika falahũ ‘adzãbun alĩm.

94. Wahai orang-orang yang beriman, Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu, maksudnya Allah menguji kaum muslimin yang mengenakan ihram dengan melepaskan binatang-binatang buruan hingga mudah ditangkap, tapi Allah melarang berburu pada saat mengenakan ihram.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã taqtulũ = jangan kamu membunuh; ash shaida = binatang buruan; wa antum = dan kamu; hurumun = berihram; wa man = dan barang siapa; qotalahũ = membunuhnya; minkum = di antara kamu; muta’ammidan = dengan sengaja; fajazã-un = maka balasannya; mitslu mã = seperti apa; qotala = ia membunuh; minan na’ami = dari binatang ternak; yahkumu = memutuskan hokum; bihĩ = dengannya; dzawã ‘adlin = dua orang yang adil; minkum = di antara kamu; hadyan = sebagai kurban; bãligho = sampai (di bawah); alka’bati = Ka’bah; au kaffãrotun = atau sebagai kafarat (denda); tho’amu = memberi makan; masãkĩna = orang-orang miskin; au ‘adlu = atau mengganti; dzãlika = seperti itu; shiyãman = berpuasa; liyadzũqo = supaya ia merasakan; wa bãla = akibat buruk; amrih = pekerjaannya; afa = telah memãfkan; allãhu = Allah; ‘ammã = tentang apa; salafa = telah lalu; wa man = dan barang siapa; ‘ãda = kembali; fayantaqimullãhu = maka Allah akan menyiksa; minhu = darinya; wallãhu = dan Allah; ‘azĩzun = Mahaperkasa; dzuntiqōm = Pemilik Hak Menyiksa.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã taqtulũsh shaida wa antum hurumun, wa man qotalahũ minkum muta’ammidan fajazã-um mitslu mã qotala minan na’ami yahkumu bihĩ dzawã ‘adlim minkum hadyam bãligholka’bati au kaffãrotun tho’amu masãkĩna au ‘adlu dzãlika shiyãmal liyadzũqo wa bãla amrih, afallãhu ‘ammã salafa wa man ‘ãda fayantaqimullãhu minhu, wallãhu ‘azĩzun dzuntiqōm.

95. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barang siapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan orang yang adil di antara kamu sebagai hadya yang dibawa sampai ke Kabah, atau dengan membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan, supaya dia merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya. Allah telah memãfkan apa yang telah lalu. Dan barang siapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya, Allah Mahakuasa, dan Pemilik Hak menyiksanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “janganlah kamu membunuh binatang buruan” yakni binatang buruan yang boleh dimakan, kecuali burung gagak, elang, kalajengking, tikus, dan anjing buas, serta ular.
“hadya” lihat catatan ayat 2.
“dibawa sampai ke Kabah” maksudnya dibawa ke daerah haram untuk disembelih di sana, dan dagingnya dibagikan kepada fakir-miskin.
“seimbang dengan makanan yang dikeluarkan” yakni makanan yang sama dimakan oleh subyek atau pelaku, kurang-lebih seberat 6,5 ons beras.
“Allah telah memãfkan apa yang telah lalu” maksudnya membunuh binatang sebelum ayat yang mengharamkan ini turun.

uhilla = dihalalkan; lakum = bagimu; shaidu = binatang buruan; al bahri = laut; wa tho’ãmuhũ = dan memakannya; matã’an = kesenangan, lezat; lakum = bagimu; wa lĩssayyãroti = bagi yang dalam perjalanannya; wa hurrima = dan diharamkan; ‘alaykum = bagi kamu; shaidu = binatang buruan; al barri = darat; mã dumtum = selama kamu; hurumaan = berihram; wat taqũllãha = dan bertakwalah kamu kepada Allah; al ladzĩ = yang; ilaihi = kepada-Nya; tuhsyarũn = kamu dikumpulkan.

uhilla lakum shaidul bahri wa tho’ãmuhũ matã’al lakum wa lĩssayyãroti wa hurrima ‘alaykum shaidul barri mã dumtum hurumaan, wat taqũllãhal ladzĩ ilaihi tuhsyarũn.

96. Dihalalkan bagimu binatang buruan dan makanan yang berasal dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan; dan diharamkan kepadamu menangkap binatang buruan darat, selama kamu berihram. Dan bertakwalah kepada Allah, Yang kepada-Nya kamu akan dikumpulkan.

ja’alallãhu = Allah telah menjadikan; al ka’abata = Ka’bah; al baita = rumah; al hsrōma = suci; qiyãman = menegakkan; linnãsi = bagi manusia; wa syahro = dan bulan; al harōma = suci; wal hadya = dan binatang kurban; wal qolã-ida = dan binatang yang berkalung; dzãlika = demikian itu; li ta’lamũ = agar kamu mengetahui; annallãha = sesungguhnya Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; mã fĩ = apa yang di dalam; as samãwãti = langit; wa mã fĩ = dan apa-apa yang ada di al ardhĩ = bumi; wa annallãha = dan susungguhnya Allah; bi kulli = atas segala; sya-in = sesuatu; ‘alĩm = Maha Mengetahui.

ja’alallãhul ka’abatal baital hsrōma qiyãmal linnãsi wa syahrol harōma wal hadya wal qolã-ida, dzãlika li ta’lamũ annallãha ya’lamu mã fĩs samãwãti wa mã fil ardhĩ wa annallãha bi kulli sya-in ‘alĩm.

97. Allah telah menjadikan Ka’bah, Rumah Suci sebagai pusat peribadatan dan urusan dunia bagi manusia, dan demikian pula Bulan Haram, Allah membuat hadya, kalaid itu, agar kamu mengetahui, bahwa Allah sangat mengetahui apa yang ada di langit, dan apa yang ada di bumi, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu .

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan bahwa Ka’bah itu harus digunakan untuk beribadat yang berurusan dengan Allah yang bersifat gaib, dan dengan dunia yang kita hadapi secara nyata.
Lihat juga Al Baqarah, 2: 284 dan Surat Ali ‘Imran, 3: 29; 129; An Nisa, 4: 131; 132.

i’lamũ = ketahuilah; annallãha = Allah sesungguhnya; syadĩdu = amat keras; al ‘iqōbi = siksa-Nya; wa annallãha = dan Allah sesungguhnya; ghofũrun = Maha Pengampun; ar rohĩm = Maha Penyayang.

i’lamũ annallãha syadĩdul ‘iqōbi wa annallãha ghofũrur rohĩm.

98. Ketahuilah, Allah sesungguhnya sangat keras siksa-Nya, dan juga Allah sesungguhnya Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan, bahwa Dia amat keras siksa-Nya, namun Dia juga Maha Pengampun bagi mereka yang mau bertobat atas kekafiran, kemunafikan, kemusyrikan, kefasikan, dan kemurtadannya. Allah juga Maha Penyayang kepada seluruh makhluk-Nya.

mã = apa, bukan, tidak (kewajiban; tergantung hubungannya dengan bagian kalimat yang lain); ‘alã = atas, untuk; ar rosũli = Rasul; illã = tidak lain hanya; al balãghu = penyamapaian (amanat Allah); wallãhu = dan Allah; ya’lamu = mengetahui; mã tubdũna = apa yang kamu nyatakan; wa mã taktumũn = dan apa uang kamu sembunyikan.

mã ‘alãr rosũli illãl balãghu, wallãhu ya’lamu mã tubdũna wa mã taktumũn

99. Kewajiban Rasul, tidak lain hanyalah menyampaikan amanat Allah, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan, dan apa yang kamu sembunyikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rasulullah Muhammad s.a.w. itu pesuruh Allah. Kewajibannya menyampaikan amanat Allah kepada umat manusia, makhluk-Nya yang dimuliakan Allah. Sepanjang sejarah manusia, selalu saja ada manusia yang tidak mau percaya atas apa yang dibawa oleh para Nabi-Nya. Manusia suka menyembunyikan kata hatinya yang salah.

qul = katakanlah; lã yastawĩ = tidaklah sama; al khabĩtsu = yang buruk; wa = dan, dengan; ath thoyyibu = yang baik; walau = walau, meskipun, kalaupun; a’jabaka = menarik hati kamu; katsrotu = banyak; al khabĩtsi = yang jelek; fat taqũllãha = maka kepada Allahlah bertakwa; yã ũlil albãbi = wahai orang-orang yang berakal; la’allakum = agar kamu; tuflihũn = (kamu) meruntung.

qul lã yastawĩl khabĩtsu wath thoyyibu walau a’jabaka katsrotul khabĩtsi, fat taqũllãha yã ũlil albãbi la’allakum tuflihũn.

100. Katakanlah: “Tidak sama yang jelek dengan yang baik, meskipun banyak yang jelek menarik hatimu; bertakwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kamu mendapatkan keberuntungan,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan hal yang jelek dan yang baik itu tidak sama. Untuk memilih yang baik, kita harus bertakwa kepada Allah. Setelah itu gunakan akal dan pikiran kita, agar kita mendapatkan keberuntungan. Berikut ini larangan bertanya tentang hal yang menyebabkan kemudaratan.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang…; ãmmanũ = beriman; lã tas-alũ = jangan menanyakan; ‘an asy-yã-a = suatu perkara; intubda = jika diterangkan; lakum = kepada kamu; tasu’kum = menyusahkan kamu; wa in = din jika; tas’alũ = kamu menanyakan; ‘anhã = dari perkara; hĩna = ketika; yunazzalu = diturunkan; al qur’anu = Alquran; tubda = diterangkan; lakum = kepada kamu; ‘afallãhu = Allah memãfkan; ‘anhã = dari perkara itu; wallãhu = dan Allah; ghōfũrun = Maha Pengampun; halĩm = Maha Penyantun.

yã ayyuhal ladzĩna ãmmanũ lã tas-alũ ‘an asy-yã-a intubda lakum tasu’kum wa in tas’alũ ‘anhã hĩna yunazzalul qur’anu tubda lakum ‘afallãhu ‘anhã, wallãhu ghōfũrun halĩm

101. Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu menanyakan kepada Nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu, dan jika kamu menanyakannya ketika Alquran sedang diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu. Allah memãfkan kamu tentang hal-hal itu; Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan kepada orang-orang yang beriman, untuk tidak menanyakan suatu hal kalau penjelasannya akan menyusahkan kamu. Hal-hal yang dipertanyakan itu antara lain: …….. Juga jika sebuah ayat sedang dibacakan Allah melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, engkau jangan menanyakannya, kelak ayat itu akan diterangkan kepadamu.

qod = sesungguhnya; sa-alahã = telah menanyakan soal; qoumun = golongan, kaum; min qoblikum = sebelum kamu; tsumma = kemudian; ashbahũ = jadilah mereka; bihã = karenanya; kãfirĩn = orang-orang kafir.

qod sa-alahã qoumum min qoblikum tsumma ashbahũ bihã kãfirĩn.

102. Sesungguhnya, telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu kepada Nabi mereka, kemudian mereka tidak percaya kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sesudah diterangkan hukum-hukum yang mereka tanyakan, si penanya tidak menãtinya, artinya mereka tidak percaya, dan menjadi kafir.

mã ja’alallãhu = Allah tidak menjadikan; min = dari; bahĩrotin = bahirah; wa lã = dan tidak; sã-ibatin = saibah; wa lã = dan tidak; washĩlatin = wasilah; wa lã = dan tidak; hãmin = ham; wa lãkinna = akan tetapi; al ladzĩna = orang-orang yang…; kafarũ = kafir; yaftarũna = mereka membuat-buat; ‘alãllãhi = terhadap Allah; al kadziba = kebohongan; wa aktsaruhum = dan kebanyakan mereka; lã ya’qilũn = mereka tidak berakal.

mã ja’alallãhu mim bahĩrotin wa lã sã-ibatin, wa lã washĩlatin wa lã hãmin, wa lãkinnal ladzĩna kafarũ yaftarũna ‘alãllãhil kadziba wa aktsaruhum lã ya’qilũn

103. Allah tidak pernah satu kali pun mensyariatkan adanya bahĩrah, sãibah, washilah, dan hãm. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat dusta tentang Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: bahĩrah, adalah kebiasaan penamaan masa jahiliah, unta betina yang sudah pernah beranak lima kali, dan anak yang kelima jantan; unta itu dĩris telinganya hingga terbelah, lalu dilepas dan tidak boleh ditunggangi dan tidak boleh diperah air susunya.
Sãibah, adalah unta betina yang dibiarkan lepas pergi ke mana saja karena ada nazar yang dilakukan orang Arab Jahilliah ketika akan melakukan perjalanan jauh dan berat dengan harapan perjalannya itu berhasil dan selamat.
Washilah, adalah domba betina yang melahrkan anak kembar dua, jantan dan betina. Yang jantan disebut washilah yang tidak boleh disembelih dan diserahkan kepada berhala.
Hãm adalah unta jantan yang telah mampu membuntingkan unta betina sepuluh kali. Unta jantan itu tidak boleh diganggu. Perlakuan bahĩrah, sãibah, washilah, dan hãm itu merupakan kepercayaan tahayul orang Arab Jahiliah. Tidak boleh menjadi kebiasaan. Kebiasaan ini harus dihilangkan.

wa idzã = dan jika; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; ta’alau = marilah; ilã = kepada; mã = apa; anzalallãhu = yang diturunkan Allah; wa ilã = dan kepada; ar rosũli = Rasul; qōlũ = (mereka) berkata (menjawab); hasbunã = cukuplah kami; mã = apa; wajadnã = yang kami dapati; ‘alaihi = atasnya; ãbã-anã = bapak-bapak kami; awalau = apakah meski; kaana = adalah; ãbã-uhum = bapak-bapak mereka; lã ya’lamũna = mereka tidak mengetahui; syai-an = sesuatu apa pun; wa lã yahtadũn = dan mereka tidak mendapatkan petunjuk.

wa idzã qĩla lahum ta’alau ilã mã anzalallãhu wa ilãr rosũli qōlũ hasbunã mã wajadnã ‘alaihi ãbã-anã awalau kaana ãbã-uhum lã ya’lamũna syai-an wa lã yahtadũn.

104. Jika dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diwahyukan Allah, dan ikutilah Rasul”, mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami, mengerjakan apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami.” Dan, apakah mereka akan mengikuti juga nenek-moyang mereka menskipun tidak mengetahui apa-apa, dan pula tidak mendapatkan petunjuk?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintah kepada orang-orang yang belum beriman. Mereka selalu menolak, dan Allah mempertanyaan secara retorik, apa yang menjadi keberatan mereka, mengapa mereka tidak mau percaya pada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang…; ãmanũ = beriman; ‘alaykum = atas kamu; anfusakum = dirimu; lã yadhurrukum = tidak memberi mudarat kepada kamu; man = orang; dholla = sesat; idza = apabila; ahtadaitum = kamu mendapat petunjuk; ilallãhi = kepada Allah; marji’ukum = tempat kembali kamu; jamĩ’an = semua; fayunabbi-ukum = maka Dia akanmenerangkannya kepada kamu; bimã = tentang apa; kuntum = kamu adalah; ta’malũn = kamu kerjakan.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ ‘alaykum anfusakum lã yadhurrukum man dholla idzahtadaitum ilallãhi marji’ukum jamĩ’an fayunabbi-ukum bimã kuntum ta’malũn.

105. Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; orang yang sesat itu tidak akan memberi mudarat kepadamu, apabila kamu telah mendapatkan petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semuanya kembali, maka Dia akan menerangkan kepadamu, apa yang sudah kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang yang beriman agar menjaga dirinya, maksudnya menjaga keimanannya agar tidak tergoda menjadi sesat.
“apabila kamu telah mendapatkan petunjuk” maksudnya, kesesatan orang lain tidak akan memberi mudarat kepadamu, asal kamu telah menerima dan mengakui kebenaran petunjuk dari Allah, yakni berbuat yang makruf dan mencegah perbuatan yang mungkar.
Berikut ini anjuran berwasiat dengan saksi-saksi.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang…; ãmanũ = beriman; syahãdatu = penyaksian; bainikum = di antara kamu; idzã = apabila; hadhara = menghadiri; ahada kumu = salah seorang dari kamu; al mautu = kematian; hina = ketika; al washiyyati = berwasiat; itsnaani = dua orang; dzawã adlin = mempunyai keadilan; minkum = di antara kamu; au = atau; akharōni = dua orang lain; min ghairikum = dari selain kamu; in antum = jika kamu; dhorobtum = kamu bepergian; fil ardhi = di muka bumi; fa ashōbatkum = lalu menimpa kamu; mushĩbatu = musibah; al mauti = kematian; tahbisũnahumã = kamu menahan keduanya; mimba’di = dari sesudah; ash sholãti = salat; fayuqsimaani = lalu keduanya bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; inirtabtum = jika kamu ragu-ragu; lã nasytarĩ = kami tidak membeli; bihĩ = dengan wasiat; tsamanan = harga; walau kaana = walaupun adalah; dzã qurbã = kerabat; wa lã = dan tidak; naktumu = kami menyembunyikan; shahãdatallãhi = kesaksian Allah; innã = sesungguhnya kami; idza = jika demikian; al lamina = termasuk; al atsimĩn = orang-orang yang berdosa;

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ syahãdatu bainikum idzã hadhara ahada kumul mautu hinal washiyyatitsnaani dzawã adlim minkum au akharōni min ghairikum in antum dhorobtum fil ardhi fa ashōbatkum mushĩbatul mauti tahbisũ nahumã mimba’dish sholãti fayuqsimaani billãhi inirtabtum lã nasytarĩ bihĩ tsamanan walau kaana dzã qurbã wa lã naktumu shahãdatallãhi innã idzal laminal atsimĩn.

106. Wahai orang-orang yang beriman, apabila seorang dari kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang di antara orang yang berlainan agama dengan kamu, jika kamu dalam perjalanan di muka bumi, lalu kamu ditimpa bahaya kematian. Kamu tahan kedua saksi itu untuk bersaksi, sesudah salat, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu; “Demi Allah, kami tidak akan membeli dengan sumpah ini harga yang sedikit untuk kepentingan seseorang, walaupun dia karib kerabat, dan tidak pula kami menyembunyikan persaksian Allah; sesungguhnya, kalau tidak demikian, kami termasuk orang-orang yang berdosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman tentang aturan orang yang berwasiat.
“dua orang di antara orang yang berlainan agama dengan kamu” dari ayat ini ternyata, mengambil dua orang saksi yang berlainan agama itu diperbolehkan.

fain = maka jika; utsiro = dapat diketahui; ‘alã annahuma = atas keduanya; is tahaqqō = keduanya dapat berbuat; itsman = dosa; fa-ãkhrōni = maka dua orang yang lain; yaqũmaani = keduanya berdiri; maqōma humã = tempat kedudukan keduanya; minal ladzĩna = dari orang-orang yang …; as tahaqqo = berhak; ‘alaihimu = atas mereka; al aulayaani = dua orang lebih dekat; fayuqsimaani = maka keduanya bersumpah; billãhi = dengan (nama) Allah; lasyahãdatunã = sesungguhnya kesaksian kami; ahaqqu = lebih berhak; min syahãdatihimã = dari kesaksian keduanya; wa ma’tadainã = dan kami tidak melanggar batas; innã = sesungguhnya kami; idzan = jika demikian; lamina = tentu termasuk; azh zhãlimĩn = orang-orang lalim.

fain utsiro ‘alã annahumas tahaqqō itsman fa-ãkhrōni yaqũmaani maqōma humã minal ladzĩnas tahaqqo ‘alaihimul aulayaani fayuqsimaani billãhi lasyahãdatunã ahaqu min syahãdatihimã wa ma’tadainã innã idzal laminazh zhãlimĩn

107. Kalau diketahui kedua saksi itu memperbuat dosa, maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak, yang lebih dekat kepada orang yang meninggal, mengajukan tuntutan untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah atas nama Allah: “Sesungguhnya, persaksian kami lebih layak diterima daripada persaksian kedua orang saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, sesungguhnya, kalau kami demikian, tentulah termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kalau diketahui kedua saksi itu memperbuat dosa” maksudnya, saksi itu melakukan kecurangan dalam persaksiannya, dan hal itu diketahui sesudah mereka mengucapkan sumpah. Allah memberi petunjuk bagi orang yang bersaksi (menjadi saksi).

dzãlika = itu; adnã = lebih dekat; an ya’tũ = agar mereka datang; bi = dengan asy syahãdati = kesaksian; ‘alã = atas; wajhihã = wajah yang sebenarnya; au = atau; yakhãfũ = mereka takut; an turodda = akan dikembalikan; aimaanun = sumpah; ba’da = setelah; aimaanihim = sumpah mereka; wat taqũllãha = dan takutlah kepada Allah; wasma’ũ = dan dengarkanlah; wallãhu = dan Allah; lã yahdĩ = tidak memberi petunjuk; al qauma = golongan; al fãsiqĩn = orang-orang bodoh.

dzãlika adnã an ya’tũ bisy syahãdati ‘alã wajhihã au yakhãfũ an turodda aimaanum ba’da aimaanihim wat taqũllãha wasma’ũ, wallãhu lã yahdĩl qaumal fãsiqĩn.

108. demikian itu lebih dekat untuk menjadikan para saksi mengemukakan persaksiannya, menurut apa yang sebenarnya, dan lebih dekat untuk menjadikan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya kepada ahli waris sesudah mereka bersumpah. Dan bertawakallah kepada Allah, dan dengarkanlah perintah-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang bodoh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “dan lebih dekat untuk menjadikan mereka merasa takut akan dikembalikan sumpahnya kepada ahli waris sesudah mereka bersumpah” maksudnya, sumpah saksi-saksi yang berlainan agama itu ditolak oleh saksi-saksi yang terdiri dari karib-kerabat, atau berarti orang-orang yang bersumpah itu akan mendapat balasan sampai ke turunannya di dunia dan di akhirat karena melakukan sumpah palsu.
Berikut ini ayat yang mengungkapkan salah satu peristiwa di hari kiamat.

yawma = ada hari; yajma’ullãhu = Allah mengumpulkan; ar rusula = Rasul-rasul; fayaqũlu = lalu Dia bertanya; mãdzã = bagaimanakah; ujibtum = kamu dijawb; qōlũ = mereka menjawab; lã ‘ilmalanã = tidak ada pengetahuan kami; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; ‘allãmu = Maha Mengetahui; al ghuyũbi = perkara-perkara yang gaib.

yawma yajma’ullãhur rusula fayaqũlu mãdzã ujibtum, qōlũ lã ‘ilmalanã innaka anta ‘allãmul ghuyũbi.

109. Ingatlah di suatu hari, ketika Allah mengumpulkan para Rasul lalu bertanya kepada mereka: “Apa jawaban kaumku terhadap seruanmu?” Para Rasul menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami tentang itu.” Sesungguhnya, Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang kegaiban tugas para Rasul dan tanggapan kaumnya terhadap seruannya. Para Rasul mengemban tugas dari Allah Yang Mahagaib. Yang disampaikan itu sesuatu yang nyata dan gaib. Tanggapan kaumnya juga bersifat gaib, tidak dapat diketahui oleh para Rasul-Nya.
Ayat berikut ini mengingatkan tentang beberapa kisah Nabi Isa a.s. untuk menjadi pilihan manusia apakah akanmenjadi kafir, munafik, musyrik, atau fasik.

idz = ketika; qōlallãhu = Allab bersabda, yã ‘ĩsa = wahai Isa; abna maryam = putra Maryam; adzkur = ingatlah; ni’matĩ = nikmat-Ku; ‘alaika = kepada kamu; wa ‘alã = dan kepada; wãlidatik = ibu kamu; idz = ketika; ayyadtuka = Aku menguatkan kamu; bi rũhil qudusi = dengan Ruh Qudus tukallimu = kamu berbicara; an nãsa = manusia; fil mahdi = dalam buaian; wa kahlan = dan sesudah dewasa; wa idz = dan ketika; ‘alamtuka = Aku mengajar kamu; al kitãba = Kitab; wal hikmata = dan Hikmah; wat taurōta = dan Taurat; wal injĩla = dan Injil; wa idz = dan ketika; takhluqu = kamu membentuk; minath thĩni = dari tanah; kahai-ati = seperti bentuk; ath thairi = burung; bi idznĩ = dengan izin-Ku; fatanfukhu = maka kamu meniup; fĩhã = ke dalamnya; fatakũnu = maka jadilah ia; thoiron = burung; bi idznĩ = dengan izin-Ku; wa tubri’u = dan kamu menyembuhkan; al akmaha = orang buta; wal abrosho = dan orang sakit lepra; bi idzni = dengan izin-Ku; wa idz = dan ketika; tukhriju = kamu mengeluarkan; al mautã = orang mati; bi idznĩ = dengan izin-Ku; wa idz = dan ketika; kafaftu = Aku menahan; banĩ isrōĩla = Bani Israil; ‘anka = dari kamu; idz = ketika; ji’tahum = kamu datang kepada mereka; bilbayyinãti = dengan penjelasan-penjelasan; foqōla = maka berkata; alladzĩna = orang-orang yang….; kafarũ = kafir; minhum = di antara mereka; in hãdzã = tidakkah ini; illã = hanyalah; sihrum = sihir; mubĩn = yang nyata.

Idz qōlallãhu yã ‘ĩsabna maryamadzkur ni’matĩ ‘alaika wa ‘alã wãlidatik, idz ayyadtuka bi rũhil qudusi tukallimun nãsa fil mahdi wa kahlan, wa idz ‘alamtukal kitãba wal hikmata wat taurōta wal injĩla, wa idz takhluqu minath thĩni kahai-atith thairi bi idznĩ fatanfukhu fĩhã fatakũnu thoirom bi idznĩ wa tubri’ul akmaha wal abrosho bi idzni, wa idz tukhrijul mautã bi idznĩ, wa idz kafaftu banĩ isrōĩla ‘anka idz ji’tahum bilbayyinãti foqōlalladzĩna kafarũ minhum in hãdzã illã sihrum mubĩn.

110. Ingatlah, ketika Allah bersabda: “Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Kudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia ketika dalam buaian, dan sesudah dewasa; dan ingatlah ketika Aku mengajar menuliskan hikmah Taurat dan Injil kepadamu; dan ingat pula ketika kamu membentuk dari tanah seekor burung dengan izin-Ku kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung yang sebenarnya. Dan ingatlah, ketika kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu, dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan Ingatlah, ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kubur menjadi hidup kembali atas izin-Ku; dan ingatlah, ketika Aku menghalangi Bani Israil dari keinginan mereka membunuh kamu, ketika kamu mengemukakan penjelasan-penjelasan yang benar, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kisah ini sudah dipaparkan pada Q.s. Ali ‘Imran, 3: 49 dalam redaksi yang berbeda.
Allah mengingatkan kisah Nabi Isa ibnu Maryam dan tanggapan orang-orang yang tidak mempercayai kisah ini diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

wa idz = dan ketika; auhaitu = aku ilhamkan, aku wahyukan; ilã = kepada; al hawãriyyĩna = pengikut setianya; an ãminũ = hendaknya berimanlah; bĩ = kepada-Ku; wa birasũlĩ = dan kepada Rasul-Ku; qōlũ = mereka menjawab; ãmannã = kami telah beriman; wasy had = dan saksikanlah; bi annanã = sesungguhnya kami; muslimũn = orang-orang muslim, patuh.

wa idz auhaitu ilãl hawãriyyĩna an ãminũ bĩ wa birasũlĩ qōlũ ãmannã wasy had bi annanã muslimũn.

111. Ingatlah ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab: “Kami telah beriman, dan saksikanlah wahai Rasul, sesungguhnya kami adalah orang yang patuh mengikuti seruanmu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan peristiwa Nabi Isa a.s. dengan para pengikut setianya.

idz = ketika; qōla = berkata; al hawãriyyũna = pengikut-pengikut yang setia; yã ‘isãbna maryama = wahai Isa putra Maryam; hal = apakah; yastathĩ’u = dapat; Rab uka = Penguasa kamu; an yunazzila = menurunkan; ‘alainã = kepada kami; mã idatan = makanan; mina = dari; as samã-i = langit; qōla = Isa menjawab; at taqũllãha = berakwalah kepada Allah; in = jika; kuntum = kamu adalah; mu’minĩn = orang-orang mukmin (beriman)

idz qōlal hawãriyyũna yã ‘isãbna maryama hal yastathĩ’u Rab uka an yunazzila ‘alainã mã idatam minas samã-i, qōlat taqũllãha in kuntum mu’minĩn.

112. Ingatlah ketika pengikut-pengikut Isa berkata: “Wahai Isa putra Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?” Isa menjawab: “Bertakwalah kepada Allah, jika kamu betul-betul orang yang beriman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Isa a.s. diuji oleh pengikut-pengikutnya untuk membuktikan bahwa dirinya itu seorang nabi.
Sikap dan perbuatan orang yang bertakwa tergambar dalam Q.s. Al Baqarah, 2: 2, 3, 4. beserta keterangannya. Nabi Isa a.s. menjawab dengan perintah agar bertakwa kepada orang-orang yang menginginkan hidangan dari langit. Hal ini memerlukan proses gaib yang tidak dapat dimengerti oleh orang-orang yang tidak menggunakan akal dan pikirannya.

qōlũ = mereka berkata; nuridu = kami ingin; an na’kula = untuk memakan; minhã = dari makanan itu; wa tathmainna = dan menenteramkan; qulũbunã = hati kami; wa na’lama = dan kami meyakini; an qod = bahwa sungguh; shodaqtanã = kamu berkata benar kepada kami; wa nakũna = dan adalah kami; ‘alaihã = atas hal itu; mina = dari; asy syãhidĩn = orang-orang yang menyaksikan.

qōlũ nuridu an na’kula minhã wa tathmainna qulũbunã wa na’lama an qod shodaqtanã wa nakũna ‘alaihã minasy syãhidĩn.

113. Mereka berkata: “Kami ingin memakan hidangan itu, agar hati kami tenteram, dan agar hati kami yakin, bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setelah hidangan tersedia atas kuasa Allah, maka para pengikut Nabi Isa a.s. ingin memakan hidangan itu dengan alasan agar hati mereka menjadi tenteram dan yakin, dan mereka menjadi saksi peristiwa turunnya hidangan langsung dari Allah.

qōla = berdoa; ‘isabnu maryamallahumma = Isa ibnu Maryam kepada Allah; Rab anã = yã Rab kami; anzil = turunkanlah; ‘alainã = kepada kami; mã idatan = hidangan (makanan); mina = dari; as samãi = langit; takũnu = jadikan ia; lanã = bagi kami; ‘ĩdan = hari raya; li awwalinã = dari kami yang pertama; wa ãkhirinã = dan dari kami yang kemudian; wa ãyatan = dan tanda-tanda (kekuasaan); minka = dari Engkau; warzuqnã = dan berilah kami rezeki; wa anta = dan engkau; khoiru = sebaik-baik; ar roziqĩn = pemberi rezeki.

qōla ‘isabnu maryamallahumma Rab anã anzil ‘alainã mã idatam minas samãi takũnu lanã ‘ĩdal li awwalinã wa ãkhirinã wa ãyatam minka, wãrzuqnã wa anta khoirur roziqĩn.

114. Isa putra Maryam berdoa kepada Allah: “Ya Allah Tuan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang hari kejadiannya menjadi hari raya bagi kami, yaitu orang-orang yang pertama seiman, dan orang-orang yang sesudah kami, dan menjadi tanda atas kekuasaan Engkau, berilah kami rezki, sesungguhnyalah Engkau Pemberi rezki Yang Paling Utama.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mewahyukan tentang ceritera Nabi Isa ibnu Maryam yang diminta para pengikutnya yang setia untuk memohon kepada Allah agar diberi hidangan dari Allah.

qōlallãhu = Allah berfirman; innĩ = sesungguhnya, Aku; munazziluhã = menurunkan (makanan) itu; ‘alaykum = kepada kamu; fa man = maka barang siapa; yakfur = ia ingkar; ba’du = sesudah itu; minkum = di antara mereka; fa-innĩ = maka sesunggunya, Aku; u’adz dzibuhũ = Aku akan mengazabnya. ‘adzãban = siksaan; lã u’adzibuhũ =belum pernah Aku menyikasanya; ahadan = seseorang; minal ‘ãlamĩn = di alam semesta ini.

qōlallãhu innĩ munazziluhã ‘alaykum fa man yakfur ba’du minkum fa-innĩ u’adz dzibuhũ ‘adzãbal lã u’adzibuhũ ahadam minal ‘ãlamĩn.

115. Allah Berfiman: “Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan untukmu, barang siapa yang kafir di antaramu sesudah turunnya hidangan itu, sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorang pun di antara umat manusia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Firman Allah memperingatkan umat Nabi Isa.

wa idz = dan ketika; qōlallãhu = Allah berfirman; yã ‘isabna maryama = yã Isa ibnu Maryam; ‘a anta = adakah kamu; qulta = kamu mengatakan; linnãsi = kepada manusia; at takhidzũnĩ = jadikanlah aku; wa ummiya = dan ibuku; ilãhaini = dua ilah; min dũnillãhi = dari selain Allah; qōla = Isa menjawab; subhaanaka = Mahasuci Engaku; mã yakũnu = tidak ada keyakinan; lĩ = bagiku; an aqũla = bahwa aku mengatakan; mã laisa = apa yang bukan; lĩ = bagiku; bihaqqin = dengan hak; inkuntu = jika aku adalah; qultuhũ = aku mengatakannya; faqod = maka sesungguhnya; ‘alimtahũ = Engkau mengetahuinya; ta’lamu = Engkau mengetahui; mã fĩ = apa yang di dalam; nafsĩ = diriku; wa lã a’lamu = dan aku tidak mengetahui; mã fĩ nafsika = apa yang ada dalam Diri Engkau; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; ‘alãmu = Engkau Maha Mengetahui; al ghuyũb = yang gaib.

wa idz qōlallãhu yã ‘isabna maryama ‘a anta qulta linnãsit takhidzũnĩ wa ummiya ilãhaini min dũnillãhi, qōla subhaanaka mã yakũnu lĩ an aqũla mã laisa lĩ bihaqqin inkuntu qultuhũ, faqod ‘alimtahũ, ta’lamu mã fĩ nafsĩ wa lã a’lamu mã fĩ nafsika, innaka anta ‘alãmul ghuyũb.

116. Dan, ingatlah, ketika Allah bertanya: “Wahai Isa putra Maryam, pernahkan kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah selain Allah?” Isa menjawab: “Mahasuci Engkau, tidaklah patut aku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui, apa yang ada pada diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada Dirimu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan dengan sebuah pertanyaan tentang kedudukan Isa Ibnu Maryam terhadap Allah. Jangan dianggap sama atau dipersamakan dengan Allah.

mã qultu = aku tidak pernah mengatakan; lahum = kepada mereka; illã = kecuali; mã = apa yang; amartanĩ = Engkau perintahkan kepadaku; bihĩ = dengannya; ani’budũllãha = sembahlah Allah; Rab ĩ = Penguasaku; wa Rab aqum = dan Penguasamu; wa kuntu = dan aku adalah; ‘alaihim = atas mereka; syahĩdan = menjadi saksi; mã dumtu = selama aku; fĩhim = di antara mereka; fa lammã = maka setelah; tawaffaitanĩ = Engkau wafatkan aku; kunta = Engkau adalah; anta = Engkau; ar roqĩba = pengawas; ‘alaihim = atas mereka; wa anta = dan Engkau; ‘alã = atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; syahĩdun = menjadi saksi.

mã qultu lahum illã mã amartanĩ bihĩ ani’budũllãha Rab ĩ wa Rab aqum wa kuntu ‘alaihim syahĩdam mã dumtu fĩhim, fa lammã tawaffaitanĩ kunta antar roqĩba ‘alaihim, wa anta ‘alã kulli syai-in syahĩdun.

117. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka, kecuali apa yang Engkau katakan kepadaku, yaitu: “Sembahlah Allah, Penguasa aku dan Penguasa kamu,” dan aku adalah saksi bagi mereka, selama aku berada di antara mereka. Setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Isa a.s. menghimbau umatnya agar menyembah Allah, Penguasa semuanya. Tapi setelah beliau wafat, umatnya mengada-ada, mengubah-ubah himbauan Nabi Isa a.s. itu hingga ada keyakinan trinitas, seperti pada catatan Q.s. Al Mã-idah, 5: 17, 63

in tu’adz dzibhum = jika Engkau mengazab mereka; fainnahum = maka sesungguhnya mereka; ‘ibãduka = hamba-hanba Engkau; wa in taghfir = dan jika Engkau mengampuni; lahum = kepada mereka; fainnaka = maka sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; al ‘azĩzul hakĩm = Maha Perkasa, Mahabijaksana.

in tu’adz dzibhum fainnahum ‘ibãduka wa in taghfir lahum fainnaka antal ‘azĩzul hakĩm.

118. Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkau Mahaperka-sa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Isa a.s. mengingatkan melalui ayat ini, bahwa Allah itu Mahaperkasa lagi Mahabijaksana dalam menyiksa atau mengampuni hamba-hamba-Nya.

Qōlallãhu = Allah berfirman; hãdzã = inilah; yaumu = suatu hari; yanfa’u = bermanfaat; ash shōdiqĩna = orang-orang yang benar; shidquhum = kebenaran mereka; lahum = bagi mereka; jannãtun = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadã = selama-lamanya; ar rodhiyallãhu = Allah suka, rido; ‘anhum = terhadap mereka; warodhũ = dan mereka suka, rido; ‘anhu = terhadap-Nya. dzãlika = demikianlah; al fauzu = keberuntungan; al ‘azhĩm = maha besar.

Qōlallãhu hãdzã yaumu yanfa’ush shōdiqĩna shidquhum, lahum jannãtun tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã abadãr rodhiyallãhu ‘anhum warodhũ ‘anhu, dzãlikal fauzul ‘azhĩm.

119. Allah berfirman: “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang sungguh-sungguh benar. Bagi mereka surga yang dialiri sungai-sungai di bawah-nya; mereka kekal di dalamnya. Allah rida kepada mereka, mereka pun rida kepa-da-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Melalui Ceritera Umat Nabi Isa a.s., Allah menyampaikan firman tentang hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang mementukan pilihannya dengan benar.

lillãhi = bagi Allah; mulku = kerajaan; as samãwãti = langit; wal ardhi = dan bumi; wa mã = dan apa-apa; fĩ hĩnna = di dalamnya; wa huwa = dan Dia; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodĩr = Mahakuasa.

lillãhi mulkus samãwãti wal ardhi wa mã fĩ hĩnna, wa huwa ‘alã kulli syai-in qodĩr.

120. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Akhir Q.s. Al Mã-idah mengingatkan para pembaca bahwa alam semesta adalah kerajaan milik Allah Penguasa segala sesuatu (lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2 bahwa pujian itu hanya bagi Allah Yang memiliki alam semesta).

004 An Nisa

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

An Nisã’, Madaniyah
Surat ke-4; 176 ayat
Juz 4 beralih ke Juz 5 pada ayat 24 beralih ke Juz 6 pada ayat 148

Catatan Awal
Nama An Nisã’ ini berhubungan dengan isi surat yang banyak membicarakan tentang perempuan seperti Surat Ath Thalak. Disebut juga Surat An Nissa Al Kubrã’ sedang Surat Ath Thalak disebut Surat An Nisã’ Ash shughrã.’

Isinya merupakan peringatan kepada orang yang beriman, bahwa syirik itu perbuatan dosa yang paling besar, akibat kekafiran; Ada hukum tentang kewajiban para washi, dan para wali; hukum poligami; mas kawin; memakan harta anak yatim dan orang yang tidak dapat mengurus hartanya; pokok-pokok hukum waris; perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya; perempuan yang haram dinikahi; hukum mengawini budak; larangan memakan harta secara bathil; hukum syikak dan nusyuz; salat harus suci lahir dan batin; hukum suaka; hukum membunuh orang Islam; salat khauf; larangan mengucapkan kata-kata buruk, jorok, jelek, kasar; hukum pusaka kalalah; Ada kisah Nabi Musa a.s. dan pengikut-pengikutnya; Isi lainnya: Asal manusia itu semula hanya satu; keharusan menjauhi adat-istiadat jahiliyah dalam memperlakukan perempuan; aturan bergaul dengan istri; hak seseorang sesuai dengan kewajibannya; perilaku Ahli Kitab terhadap kitab yang diturunkan kepadanya; dasar-dasar berpemerintahan; cara mengadili seseorang yang berperkara; keharusan siap-siaga dalam menghadapi musuh; sikap orang munafik, saat menghadapi peperangan; berperang di jalan Allah itu kewajiban setiap mukalaf (orang yang sudah dewasa dan yang wajib menjalankan hukum agama); norma dan aturan berperang; cara menghadapi orang munafik; derajat orang yang berjihad di jalan Allah.
a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang dirajam.

bi = dengan; ismi = nama; allahi = Allah; ar rahmaani = rahmat, pemurah, pengasih, pemberi; ar rahĩm = rahim (tempat bayi dikandung), penyayang.

bismillahir rahmaanir rahĩm

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah, Pengasih, dan Penyayang.

yã ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; at taqũ = bertakwalah; robbakumu = Robb kamu; al ladzĩ = yang; kholaqokum = menciptakan kamu; min nafsin = dari diri; wãhidatin = yang satu; wa kholaqo = dan Dia menciptakan; min hã = darinya; zawjahã = istrinya, jodohnya, pasangannya; wa batstsa = dan Dia kembang-biakkan; min humã = dari keduanya; rijãlan = laki-laki; katsĩran = banyak; wa nisã-an = dan perempuan; wattaqqũllãha = dan bertakwalah kepada Allah; al ladzĩ = yang; tasã-alũna = kamu saling meminta; bihi = dengan-Nya; wa arhãma = dan hubungan keluarga; inallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah Dia; ‘alaykum = pada kamu; roqĩban = penyangga, penjaga, pengawas.

yã ayyuhan nãsut taqũ robbakumul ladzĩ kholaqokum min nafsin wãhidatin kholaqo min hã zawjahã wa batstsa min humã rijãlan katsĩran wa nisã-an wattaqqũllãhal ladzĩ tasã-alũna bihi, wa arhãma, inallãha kãna ‘alaykum roqĩban.

1. Wahai manusia semuanya, bertawakallah kepada Rabbmu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya, Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertawakallah kepada Allah yang dengan nama-Nya, kamu saling meminta kepada yang lainnya, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahukan tentang awal kejadian manusia. Manusia diminta untuk selalu bertawakal kepada Penguasanya.
Kata “darinya Allah menciptakan istri” ada yang menafsirkan “dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam (Bukhari dan Muslim). Ada yang menafsirkan “dari unsur tanah yang serupa” saat Adam pertama kali diciptakan.
Ada perintah, ketika manusia saling meminta, harus menyebut nama Allah (lihat Q.s. 1, Al Fatihah: 1); dan harus memelihara hubungan kasih-sayang antarsesama makhluk. Ini harus dibudayakan dengan etika, aestetika, dan emika yang sebaik-baiknya.
Allah mengingatkan, Beliau selalu menjaga, dan mengawasi seluruh makhluk-Nya.

wa-atũ = dan berikanlah; al yatãmã = anak-anak yatim; amwalahum = harta-harta mereka; wa lã = dan jangan; tatabaddalu = kamu menukar; al khōbĩtsa = yang buruk; biththoyyibi = dengan yang baik; wa lã = dan jangan; ta’kulũ = kamu makan; amwãlahum = harta-harta mereka; ilã amwãlikum = pada harta kamu; innahũ = sesungguhnya hal itu; kãna = adalah ia; hũban = dosa; kabĩrō = besar.

wa-atũl yatãmã amwalahum wa lã tatabaddalul khōbĩtsa biththoyyibi, wa lã ta’kulũ amwãlahum ilã amwãlikum, innahũ kãna hũban kabĩrō.

2. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka, kamu jangan menukar yang baik dengan yang jelek,dan jangan makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan dan perbuatan seperti itu dosa besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang harta anak yatim yang sudah baligh (dewasa lahir dan batin) harus diberikan, dan larangan menukarkan yang baik dengan yang jelek, dan memakan hartanya. Perbuatan itu merupakan dosa besar. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 217, 219; An Nisã’, 31, 48

wa in = dan jika; khiftum = kamu takut; allã = bahwa tidak; tuqsithũ = kamu berlaku adil; fil yatãmã = terhadap anak-anak yatim; fankihũ = maka nikahilah; mã thōba = apa yang baik; lakum = bagi kamu; minan nisã-i = dari perempuan-perempuan; matsnã = berdua; wa tsulãtsa = dan bertiga; wa rubã’a = dan berempat; fa-in = maka jika; khiftum = kamu takut; allã = bahwa tidak; ta’dilũ = kamu berlaku adil; fawãhidatan = maka satu saja; au mã = atau apa; malakat = yang kamu miliki; aimaanukum = tangan kananmu (budakmu); dzãlika = demikian itu; adnã = lebih dekat; allã = bahwa tidak; ta’ũlũ = kamu berbuat aniaya.

wa in khiftum allã tuqsithũ fil yatãmã fankihũ mã thōbalakum minan nisã-i matsnã wa tsulãtsa wa rubã’a, fa-inkhiftum allã ta’dilũ fawãhidatan au mã malakat aimaanukum dzãlika adnã allã ta’ũlũ.

3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil atas hak-hak perempuan yatim, bilamana kamu menikahinya, maka nikahilah, dan dengan perempuan-perempuan lain yang kamu senangi; dua, tiga atau empat. Kemudian, jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu, lebih dekat kepada perbuatan yang tidak aniaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan pernikahan dalam Islam. Islam memperbolehkan poligami dengan syarat-syarat tertentu. Poligami juga dilakukan oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Budak-budak, anak yatim dapat dinikahi dengan aturan yang telah ditetapkan Allah. Jangan berbuat aniaya.

wa ãtũ = dan berikanlah; an nisã-a = perempuan-perempuan; shoduqōtihinna = maskawin mereka; nihlatan = ikhlas (wajib); fa in = maka jika; thibna = mereka baik hati; lakum = kepada kamu; ‘an syai-in = dari suatu, sebagian; minhu = dari padanya (maskawin); nafsan = sendirian, senang hati; fakulũhu = maka makanlah ia; hanĩ-an = dengan puas; marĩ-a = cukup.

wa ãtũn nisã-a shoduqōtihinna nihlatan fa in thibna lakum ‘an syai-im minhu nafsan fakulũhu hanĩ-am marĩ-ã.

4. Berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu menjadi makanan yang sedap, lagi baik akibatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengatur soal mahar dalam pernikahan.

wa lã = dan jangan; tu’tũ = kamu serahkan; as sufahã-a = orang-orang yang belum sempurna analnya; amwãlakumu = harta kamu; al latĩ = yang; ja’alallãhu = menjadikan Allah; lakum = bagi/kepada kamu; qiyãman = pemeliharaan; warzuqũhum = dan berilah mereka belanja; fĩhã = padanya; waksũhum = dan berilah mereka pakaian; wakũlũ = dan berkatalah; lahum = kepada mereka; qoulan = perkataan; ma’rũfãn = yang baik.

wa lã tu’tũs sufahã-a amwãlakumul latĩ ja’alallãhu lakum qiyãman warzuqũhum fĩhã waksũhum wakũlũ lahum qoulam ma’rũfãn.

5. Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta pokok kehidupan yang karena Allah ada dalam kekuasanmu. Berilah mereka belanja dan pakaian dari hasil harta itu, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengatur harta warisan yang jatuh kepada orang yang belum matang akalnya.

wabtalũ = dan ujilah (periksalah); al yatãmã = anak-anak yatim; hattã = sehingga; idzã = jika, bila; balaghu = mereka cukup umur; an nikãha = nikah; fa in = maka jika; ãnastum = kamu anggap; minhum = di antara mereka; rusydan = cerdas; fadfa’ũ = maka serahkanlah; ilaihim = kepada mereka; amwãlahum = harta-harta mereka; wa lã = dan jangan; ta’kulũhã = kamu memakannya; isrōfan = lebih dari batas; wa bidãran = dan tergesa-gesa; an yakbarũ = bahwa mereka dewasa; wa man = dan barang siapa; kãna = adalah dia; ghoniyyan = kaya, mampu; falyasta’fif = maka hendaknya ia menahan diri; wa man = dan barang siapa; kãna = adalah dia; faqĩran = miskin; falya’kul = maka ia boleh memakan; bil ma’rũfi = dengan sepantasnya; fa idzã = maka apabila; dafa’ = menyerahkan; tum = kamu ilaihim = kepada mereka; amwãla = harta-harta; hum = mereka; fa = maka; asyhidũ = adakan saksi-saksi; ‘alayhim = atas mereka; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = pada Allah; hasĩbã = mempunyai perhitungan.

wabtalũl yatãmã hattã idzã balaghun nikãha, fa in ãnastum minhum rusydan fadfa’ũ ilaihim amwãlahum, wa lã ta’kulũhã isrōfan wa bidãran an yakbarũ, wa man kãna ghoniyyan falyasta’fif, wa man kãna faqĩran falya’kul bil ma’rũfi, fa idzã dafa’tum ilaihim amwãlahum fa-asyhidũ ‘alayhim wa kafã billãhi hasĩbã.

6. Dan perhatikanlah anak yatim itu, sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian, jika menurut pendapatmu, mereka telah matang (cerdas memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Kamu jangan memakan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan, dan jangan tergesa-gesa membelanjakannya, sebelum mereka dewasa. Jika para pemelihara itu mampu, maka hendaklah ia menahan diri untuk memakan harta anak yatim itu, dan jika miskin, maka bolehlah pemelihara itu makan harta itu menurut yang patut. Kemudian, jika kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi untuk mereka atas penyerahan itu. Dan, cukuplah Allah sebagai pengawas atas persaksiannya itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan aturan memelihara anak yatim.

lir rijãli = bagi laki-laki; nashĩbum = nasab, bagian; mimmã = dari harta; tarōka = peninggalan; al wãlidaani = dari kedua orangtua; wal aqrobũna = dan kerabat mereka; wa lin nisã-i = dan bagi perempuan; nashĩbum = nasab, bagian; mimmã = dari harta; taroka = peninggalan; al wãlidaani = dari kedua orangtua; wal aqrobũna = dan kerabat mereka; mimmã = dari harta; qolla = sedikit; minhu = darinya; au katsuro = atau banyak; nashĩbam = nasab, bagian; mafrũdhō = yang telah ditetapkan

lir rijãli nashĩbum mimmã tarōkal wãlidaani wal aqrobũna wa lin nisã-i nashĩbum mimmã tarokal wãlidaani wal aqrobũna mimmã qolla minhu au katsuro, nashĩbam mafrũdhō.

7. Bagi laki-laki, ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, dan bagi perempuan, ada hak bagian pula dari harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak, menurut bagian yang telah ditetapkan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagian dari aturan waris.

wa idzã = dan jika; hadhora = hadir; alqismata = pembagian itu; ũlul qurbã = kerabat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩnu = dan orang-orang miskin; farzukũhum = berilah mereka rezeki; minhu = dari hartanya; wa qũlũ = dan katakanlah; lahum = kepada mereka; qoulan = perkataan; ma’rũfa = yang baik, sopan.

wa idzã hadhora alqismata ũlul qurbã wal yatãmã wal masãkĩnu farzukũhum minhu wa qũlũ lahum qoulam ma’rũfã.

8. Dan, apabila ketika pembagian harta itu hadir kerabat, anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu sekedarnya, dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Bagian dari aturan pembagian harta waris.

walyakhsya = dan hendaklah takut; al ladzĩna = orang-orang yang; law = seandainya; tarokũ = mereka meninggalkan; min kholfihim = di belakang mereka; dzurriyyatan = keturunan, anak-anak; dhi’ãfan = lemah; khōfũ = mereka khawatir; ‘alayhim = atas mereka; falyattaqũllãha = maka bertakwalah kepada Allah; wal yaqũlũ = dan hendaknya mereka mengatakan; qoulan = perkataan; sadĩdã = yang benar.

walyakhsyal ladzĩna law tarokũ min kholfihim dzurriyyatan dhi’ãfan khōfũ ‘alayhim falyattaqũllãha wal yaqũlũ qoulan sadĩdã.

9. Dan, hendaklah orang-orang takut kepada Allah, seandainya meninggalkan anak-anak yang lemah yang dikhawatirkan kesejahteraanya di belakang mereka. Oleh karena itu, hendaknya mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka mengatakan hal yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Generasi tua harus mengkhawatirkan kesejahteraan generasi muda dengan cara bertakwa kepada Allah. Artinya, segala penanganan kepada anak-anak (pendidikan) harus ada aturan yang diridoi Allah.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ya’kulũna = mereka memakan; amwãla = harta; al yatãmã = anak yatim; zhulman = secara lalim; innamã = sesungguhnya; ya’kulũna = mereka memakan; fĩ buthũnihim = dalam perut (bahasa Sunda: beuteung) mereka; nãron = api; wa sayashlawna = dan mereka akan masuk; sa’ĩro = neraka yang menyala-nyala.

innal ladzĩna ya’kulũna amwãlal yatãmã zhulman innamã ya’kulũna fĩ buthũnihim nãron, wa sayashlawna sa’ĩro

10. Sesungguhnya, orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim dengan cara yang lalim, mereka itu menelan api sepenuh perutnya, dan mereka akan masuk ke dalam api neraka yang membakar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah bagi orang yang memakan harta anak-anak yatim, menyangkut harta dunia yang harus diolah, dikerjakan dengan baik.

yũshĩkumullahu = Allah mewasiatkan kepadamu; fĩ aulãdikum = untuk anak-anak kamu; lidz dzakari = bagi anak laki-laki; mitslu = seperti; hadhdhi = bagian; al untsayaini = dua anak perempuan; fa in = maka jika; kunna = adalah mereka; nisã-an = perempuan; fauqo = di atas; atsnataini = dua orang perempuan; falahunna = maka bagi mereka; tsulutsã = dua pertiga; mã = apa, harta; taroka = yang ditinggalkan; wa in kãnat = dan jika ia adalah; wãhidatan = seorang; falaha = maka baginya; annishfu = separuh; wa li abawaihi = dan untuk kedua orangtua, ibu-bapak; likulli = bagi masing-masing; wãhidin = seorang; min huma = dari keduanya; as sudusu = seperenam; mimmã = dari harta; taroka = ia tinggalkan; in kãna = jika ia adalah; lahũ = baginya; waladun = anak laki-laki; fa in lam = maka, jika tidak; yakun = adalah ia; lahũ = baginya; waladun = anak laki-laki; wa waritsahũ = dan mewarisinya; abawãhu = ibu-bapaknya; fali ummihi = maka bagi ibunya; ats tsulusu = sepertiga; fa inkãna = maka, jika adalah ia; lahũ = baginya; ikhwatun = saudara-saudara; fali ummihi = maka bagi ibunya; as sudusu = seperenam; mim ba’di = dari sesudah; washiyyatin = berwasiat; yũshĩ = ia wasiatkan; bihã = dengannya; au dainin = atau (dibayarkan) hutang; ãbã-ukum = orangtua kamu; wa abnã-ukum = dan anak-anakmu; la tadrũna = kamu tidak mengetahui; ayyuhum = siapa di antara mereka; aqrobu = lebih dekat; lakum = bagi kamu; naf’an = manfaatnya; faridhotan = ketetapan; minallãhi = dari Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana.

yũshĩkumullahu fĩ aulãdikum lidzdzakari mitslu hadhdhil untsayaini, fa in kunna nisã-an fauqotsnataini falahunna tsulutsã mã taroka wa in kãnat wãhidatan falahan nishfu, wa li abawaihi likulli wãhidim min humas sudusu mimmã taroka in kãna lahũ waladun fa in lam yakul lahũ waladun wa waritsahũ abawãhu wa li ummihits tsulusu, fa in kãna lahũ ikhwatun fa li ummihis sudusu, mim ba’di washiyyatin yũshĩbihã au dainin, ãbã-ukum wa abnã-ukum la tadrũna ayyuhum aqrobu lakum naf’an, faridhotam minallãhi innallãha kãna ‘alĩman hakĩmã.

11. Bagimu, Allah mewasiatkan pembagian harta pusaka untuk anak-anakmu, yaitu satu bagian anak laki-laki, sama dengan dua bagian anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagian mereka, dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika perempuan seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta peninggalan. Dan untuk dua orang ibu-bapak, masing-masing seperenam dari harta peninggalan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika yang meninggal itu tidak mempunyai anak, dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya medapat seperenam. Pembagian-pembagiaan tersebut, setelah dipenuhi wasiat yang sudah ia buat, dan sesudah dibayar hutangnya. Untuk orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui, siapa di antara mereka yang lebih dekat atau lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menetapkan aturan pewarisan secara garis besar, dan dapat diterapkan pada berbagai kondisi hubungan kekerabatan yang ada pada setiap keluarga. Titik perhatian dari yang meninggal dunia ke jumlah anak (ada atau tidak ada), istri atau suami, ibu-bapak (nenek-kakek, kalau masih hidup) saudara kandung laki-laki atau perempuan.

wa lakum = dan bagi kamu; nishfu = separuh; mã taroka = apa (harta) yang ditinggalkan; azwãjukum = istri-istri kamu; inlam yakun = jika tidak ada; al lahunna = bagi mereka; waladun = anak laki-laki; fain kãna = maka, jika ada; lahunna = bagi mereka; waladun = anak laki-laki; falakumu = maka bagi kamu; ar rubu’u = seperempat; mimmã = dari apa (harta); tarokna = mereka tinggalkan; mimba’di = dari sesudah; washiyyatin = dipenuhi wasiat; ay yushĩna = mereka berwasiat; bihã = dengannya; audainin = atau hutang; wa lahunna = dan bagi mereka; ar rubu’u = seperempat; mimmã = dari apa (harta); taroktum = kamu tinggalkan; in lam yakun = jika tidak ada; lakum = bagimu; waladun = anak laki-laki; fa in kãna = maka, jika ada; lakum = bagimu; waladun = anak laki-laki; falahũnna = maka bagi mereka; ats tsumunu = seperdelapan; mimmã = dari apa (harta); taroktum = kamu tinggalkan; mim ba’di = dari sesudah; washiyyatin = dipenuhi wasiat; yũshĩna = mereka berwasiat; bihã = dengannya; audainin = atau hutang; wa in kãna = maka, jika ada; rojulu = seorang laki-laki; ay yũratsu = diwariskan; kalãlatan = tidak mempunyai ibu, bapak, anak; awimro-atun = atau perempuan; walahũ = dan baginya; akhun = saudara laki-laki; au ukhtun =atau saudara perempuan; falikulli = maka bagi tiap-tiap; wãhidin = seorang; minhumã = dari keduanya; as sudusu = seperenam; fa in = maka jika; kãnũ = adalah mereka; aktsaro = lebih banyak; min dzãlika = dari yang demikian itu (seseorang); fahum = maka bagi mereka; syurokã-u = berserikat; fits tsulutsi = dalam sepertiga; mim ba’di = dari sesudah; washiyyatin = dipenuhi wasiat; yushō = diwasiatkan; bihã = dengannya; audainin = atau hutang; ghairo = tidak; mudhōrrin = memudaratkan; washiyyatan = wasiat, ketetapan; minallãhi = dari Allah; wallãhu = dan Allah; ‘alimun = Maha Mengetahui; halĩm = Maha Penyantun.

wa lakum nishfu mã taroka azwãjukum inlam yakul lahunna waladun, fain kãna lahunna waladun falakumur rubu’u mimmã tarokna mimba’di washiyyatiy yushĩna bihã audain, wa lahunnar rubu’u mimmã taroktum in lam yakul lakum waladun, fa in kãna lakum waladun falahunnats tsumunu mimmã taroktum mim ba’di washiyyatin yũshĩna bihã audainin, wa in kãna rojuluy yũratsu kalãlatan awimroatuw walahũ akhun au ukhtun falikulli wãhidim minhumas sudusu, fa in kãnũ aktsaro min dzãlika fahum syurokã-u fits tsulutsi mim ba’di washiyyatiy yushō bihã audainin, ghairo mudhōrrin washiyyatam minallãhi, wallãhu ‘alimun halĩm.

12. Dan bagi kamu, suami, seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat, dan sesudah dibayar hutangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan, jika kamu tidak mempunyai anak. Jika mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau sesudah dibayar hutang-hutangmu. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah, dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai saudara laki-laki seibu saja, atau seorang saudara perempuan seibu saja, maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi, jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya, atau sudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudharat kepada ahli waris. Allah menetapkan yang demikian itu sebagi syariat yang benar, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Perhatikan aturan membagi waris dilihat dari kedudukan orang yang meninggal itu laki-laki atau perempuan. Memberi mudharat kepada ahli waris adalah tindakan-tindakah, seperti:
a. mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka;
b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. Sekali pun kurang dari sepertiga, bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

tilka hudũdullãh = itulah aturan-aturan dari Allah; wa man = dan barang siapa; yuthi’illãha = menaati Allah; wa rosũlahu = dan Rasul-Nya; yudkhilhu = Dia akan memasukkannya; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawah; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wadzãlika = dan demikian itu; al fauzu = keuntungan; al ‘azhĩm = yang besar.

tilka hudũdullãh, wa man yuthi’illãha wa rosũlahu, yudkhilhu jannaatin tajrĩmin tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wadzãlikal fauzul ‘azhĩm.

13. Hukum-hukum itu sungguh aturan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang dialiri sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal ; dan itulah kemenangan yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan hukum dan aturannya, hadiahnya surga.

wa man = dan barang siapa; ya’shi = mendurhakai; allãha = Allah; wa rosũlahũ dan Rosul-Nya; wa yata’adda = dan ia melanggar; hudũdahũ = aturan-aturan-Nya; yudkhilhu = Allah memasukkannya; nãron = api neraka; khōlidan = kekal; fĩhã = di dalamnya; wa lahũ = dan baginya; ‘adzãbum = azab, siksa; muhĩn = menghinakan

wa man ya’shillãha wa rosũlahũ wa yata’adda hudũdahũ yudkhilhu nãron khōlidan fĩhã wa lahũ ‘adzãbum muhĩn.

14. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan rasul-Nya dengan cara melanggar aturan-aturan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang mereka kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah, orang yang tidak menaati aturan Allah itu durhaka. Balasannya dimasukkan ke dalam api neraka.

wal lãtĩ = dan wanita-wanita yang; ya’tĩna = mereka melakukan (mendatangkan); al fãhisyata = perbuatan keji; min nisã-ikum = dari istri-istri kamu; fastasyhidũ = maka datangkanlah saksi-saksi; ‘alayhinna = atas mereka; arba’atan = empat orang; minkum = di antara kamu; fa-in = maka jika; syahidũ = mereka memberikan kesaksian; fa-amsikũhunna = maka tahan (kurung)-lah mereka; fĩ al buyũti = di dalam rumah; hattã = sampai; yatawaffãhunna = mereka mati; almautu = mati, kematian; au = atau; yaj’alallahu = Allah memberikan; lahunna = kepada mereka; sabĩlan = jalan.

wal lãtĩ ya’tĩnal fãhisyata min nisã-ikum fastasyhidũ ‘alayhinna arba’atam minkum fa-insyahidũ fa-amsikũhunna fĩ al buyũti hattã yatawaffãhunna almautu au yaj’alallahu lahunna sabĩlan.

15. Terhadap para perempuan yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu. Kemudian, apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah perempuan-perempuan itu di rumah, sampai menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ketentuan Allah bagi perempuan yang berbuat keji. Perbuatan keji adalah: zina. Menurut jumhur mufasirin, sesuai dengan ayat ini: “perbuatan mesum, seperti: zina, homoseksual. Perbuatan keji lainnya: menjelek-jelekkan orang, memfitnah, mencaci-maki, berbicara kotor, menipu, memalsu, mencuri, mencopet, makan di warung tanpa bayar, berbohong, membunuh orang tanpa hak, …..

wal ladzãni = dan dua orang yang; ya’tiyaanihã = melakukannya (perbuatan keji); minkum = di antara kamu; fa-ãdzũ hummã = maka berilah hukuman keduanya; fã in = maka jika; tãbã = keduanya bertobat; fa-ashlahã dan memperbaiki dirinya; fa-a‘ridhũ = maka biarkanlah; ‘anhumã = dari keduanya; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; tawwãban = Maha Penerima Taubat; ar rahĩmã = Maha Penyayang.

wal ladzãni ya’tiyaanihã minkum fa-ãdzũ hummã, fã in tãbã fa-ashlahã fa-a‘ridhũ ‘anhumã, innallãha kãna tawwãbar rahĩmã.

16. Terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya. Kemudian, jika keduanya bertobat dan memperbaiki diri, maka biarkan mereka. Sesungguhnya, Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya perbuatan keji. Hukuman terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji seperti yang tertera pada ayat 15.

innamã = sesungguhnya, hanyalah; at taubatu = tobat itu; ‘alãllãhi = di hadapan Allah; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ya’malũna = mereka mengerjakan; as sũ-a = kejahatan; bi jahãlatin = dengan kejahilan, kebodohan; tsumma = kemudian; yatũbũna = mereka bertobat; min qorĩbin = dari dekat / dengan segera; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; yatũbullãhu = Allah menerima taubat; ‘alayhim = atas mereka; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Maha Bijaksana

innamãt taubatu ‘alãllãhi lilladzĩna ya’malũnas sũ-a bi jahãlatin tsumma yatũbũna min qorĩbin fa-ũlã-ika yatũbullãhu ‘alayhim, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã.

17. Sesungguhnya, tobat dari Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran mereka jahil, yang kemudian, mereka tobat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah tobatnya; Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya tobat atas suatu kesalahan, kekhilafan, kejahatan. Jangan dibiasakan melakukan kesalahan, dan kejahatan. Ada kejahatan yang terjadi karena kejahilan:
* perbuatan maksiat dilakukan, pelakunya tidak mengetahui bahwa perbuatan itu maksiat, kecuali dipikirkan dahulu;
* durhaka kepada Allah, baik dengan sengaja atau tidak dengan sengaja;
* melakukan kejahatan karena didorong oleh emosi atau nafsu yang meluap, berlebihan, sehingga berbuat kejahatan secara tidak sadar

wa laisati = dan tidaklah; at taubatu = tobat itu; lilladzĩna = bagi orang-orang yang; ya’malũna = (mereka) mengerjakan; as sayyi-ãti = kejahatan; hattã = sehingga; idzã = apabila; hadhoro = datang; ahadahumu = salah seorang di antara mereka; al mautu = kematian; qōla = ia mengatakan; innĩ = sesungguhnya saya; tubtu = saya bertobat; al ãna = sekarang; wa lã = dan tidak; al ladzĩna = orang-orang yang; yamũtũna = (mereka) mati; wahum = dan (sedang) mereka; kuffãrun = kekafiran; ulã-ika = mereka itulah; a’tadnã = Kami sediakan; lahum = bagi mereka; ‘adzãban = azab, siksa; alĩman = yang pedih.

wa laisatit taubatu lilladzĩna ya’malũnas sayyi-ãti hattã idzã hadhoro ahadahumul mautu qōla innĩ tubtul ãna wa lãl ladzĩna yamũtũna wahum kuffãrun, ulã-ika a’tadnã lahum ‘adzãban alĩman

18. Dan tobat itu tidaklah diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan sampai datang ajalnya, baru seseorang di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya saya bertobat sekarang.” Dan tidak pula diterima tobat orang-orang yang mati, sedang mereka dalam kekafiran. Bagi orang-orang yang demikian itu, telah Kami sediakan siksa yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah tentang tobat yang tidak diterima.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã yahillu = tidak halal; lakum = bagi kamu; antaritsũn = kamu memusakai; nisã-a = perempuan-perempuan; karhãn = dengan paksa; wa lã = dan jangan; ta’dhulũhunna = kamu menyusahkan mereka; litadzhabũ = untuk mengambil kembali; bi ba’dhi mã = sebaian apa; ãtaitumũ hunna = telah kamu berikan kepada mereka; illã = kecuali; an ya’tĩna = mereka melakukan; bi fãhisyatin = perbuatan keji; mubayyinatin = yang nyata; wa ‘ãsyirũ hunna = dan bergaullah dengan mereka; bil ma’rũfi = dengan cara yang baik; fa-in = maka jika; karihtumũ hunna = kamu tidak menyukai mereka; fa’asã = maka mungkin; antakrahũ = kamu tidak menyukai; syai-an = sesuatu; wa yaj’alallãhu = padahal Allah menjadikan; fĩhi = padanya; khoiron katsĩron = kebaikan yang banyak.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã yahillu lakum antaritsũn nisã-a karhãn, wa lã ta’dhulũhunna litadzhabũ bi ba’dhi mã ãtaitumũ hunna illã an ya’tĩna bi fãhisyatim mubayyinatin, wa ‘ãsyirũ hunna bil ma’rũfi, fa-in karihtumũ hunna fa’asã antakrahũ syai-an wa yaj’alallãhu fĩhi khoiron katsĩron.

19. Wahai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu memusakai perempuan dengan paksa, dan janganlah kamu menghalangi mereka kawin, dan menyusahkan mereka, karena kamu hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali bila mereka melakukan pekerjaankeji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara baik. Kemudian, bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memusakai perempuan” artinya mewarisi dan mewariskan perempuan. Islam tidak memperbolehkan kebiasãnini, walawpun tidak dengan paksa. Hal ini merupakan kebiasaan bangsa Arab jahiliyah, apabila seseorang meninggal dunia, maka anaknya yang tertua, atau anggota keluarga lainnya mewarisi jandanya. Janda tersebut boleh dikawini sendiri, atau dikawinkan dengan orang lain, yang maharnya diambil oleh pewaris, atau tidak dibolehkan kawin lagi. Ayat ini mengubah, memperbaiki norma kebiasaan bangsa Arab Jahiliyah.
“pekerjaan keji yang nyata” artinya membangkang perintah, atau melakukan sesuatu yang menyakitkan hati, menyusahkan orang lain, dengan beberapa saksi yang menguatkan.

wa in = dan jika; arot tumu = kamu ingin; as tibdãla = mengganti; zaujin = istri; makãna = tempat; zaujin = istri (yang lain); wa ãtaitum = dan kamu telah memberi; ihdãhunna = seorang di antara mereka; qinthōran = harta yang banyak; falã = maka jangan; ta’khudzũ = kamu mengambil; minhu = darinya; syai-ãn = sesuatu sedikit pun; ata’khudzũnahũ = apakah kamu mengambilnya kembali; buhtaanan = dengan cara dusta; wa itsmaan = dan dosa; mubĩnã = yang nyata.

wa in arot tumus tibdãla zaujim makãna zaujin wa ãtaitum ihdãhunna qinthōran falã ta’khudzũ minhu syai-ãn, ata’khudzũnahũ buhtaanan wa itsmãm mubĩnã

20. Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan harta yang banyak kepada seseorang di antara mereka, maka janganlah kamu mengambil kembali harta itu darinya barang sedikit pun. Apakah kamu akan mengambil kembali barang itu dengan jalan tipu-daya (menuduh yang bukan-bukan), dan dengan jalan dusta yang nyata?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mengganti istrimu dengan istri yang lain” artinya menceraikan istri yang tidak disukai karena berbagai persoalan, dan kawin dengan perempuan lain. Ayat ini memberitahu aturan menikah.

wa kaifa = dan bagaimana; ta’ khudzũnahu = kamu mengambilnya kembali; wa qod = dan sungguh; afdhō = telah bergaul; ba’dhukum = sebagian kamu; ilã ba’dhin = kepada sebagian yang lain; wa akhodzna = dan mereka telah mengambil; minkum = dari kamu; mĩtsãkon = janji; gholĩdhon = teguh, kuat.

wa kaifa ta’ khudzũnahu, wa qod afdhō ba’dhukum ilã ba’dhin wa akhodzna minkum mĩtsãkon gholĩdhon.

21. Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah membuat perjanjian yang kuat dari kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan nikah, kalau bercerai dengan istri yang sudah digauli sebagai pasangannya, harta yang sudah diberikan tidak boleh diambil lagi.

wa lã tankihũ = jangan kamu nikahi; mã nakaha = siapa yang telah menikahi; ãbã-ukum = bapak-bapak kamu; minan nisã-i = dari perempuan-perepuan; illã = kecuali; mã qod salafa = apa yang telah lalu; innahũ = sesungguhnya; kãna = itu adalah; fãhisyatan = perbuatan setan; wa maqtaan = dan dibenci wa sã-a = dan seburuk-buruk; sabĩlaan = jalan.

wa lã tankihũ mã nakaha ãbã-ukum minan nisã-i illã mã qod salafa innahũ kãna fãhisyatan wa maqtaan wa sã-a sabĩlaan.

22. Dan janganlah kamu nikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi ayahmu, kecuali pada masa yang sudah lalu. Sesungguhnya, perbuatan demikian itu amat keji dan dibenci Allah, dan itulah seburuk-buruk jalan perbuatan yang pernah dilakukan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peraturan nikah, tidak boleh menikahi perempuan yang telah dinikahi Bapak.

hurrimat = diharamkan; ‘alaykum = bagi kamu; ummahãtukum = ibu-ibu kamu; wa banaatukum = dan anak-anak perempuanmu; wa akhawwãtukum = dan saudara-saudara perempuanmu; wa ‘ammãtukum = dan saudara-saudara perempuan bapakmu; wa khãlãtukum = dan saudara-saudara perempuan ibumu; wabanaatu = dan anak-anak perempuan; al akhi = saudaramu laki-laki; wa banaatu = dan anak-anak perempuan; al ukhti = saudaramu perempuan; wa ummahãtukumu = dan ibu-ibumu; al lãtĩ = yang; ardho’nakum = menyusui kamu; wa akhawãtukum = dan sudara-saudara perempuan kamu; minar rodhō’ati = dari sepersusuan; wa ummahãtu = dan ibi-ibu; nisã-ikum = istri kamu; wa robã-ibukumu = dan anak-anak istri kamu; al lãtĩ = yang; fĩ hujũrikum = dalam pemeliharaan kamu; min nisã-ikumu = dari istri-istri kamu; al lãttĩ = yang; dakholtum = kamu pergauli; bi hinna dengan mereka; fa in = maka; lam = jika; takũnũ = adalah kamu; dakholtum = kamu pergauli; bi hinna = dengan mereka; falã junãha = maka tidak berdosa; ‘alaykum = bagi kamu; wa holã-ilu = dan istri-istri; abnã-ikumu = anak-anak kamu; al ladzĩna = yang; min ashalãbikum = dari tulang rusukmu (anak-anakmu); wa antajma’ũ = dan kamu menghimpun; baina = antara; al ukhtaini = dua perempuan bersaudara; illã = kecuali; mã qod salafa = apa yang terjadi masa lalu; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah Dia; ghofũron = Maha Pengampun; rohimã = Maha Penyayang.

hurrimat ‘alaykum ummahãtukum wa banaatukum, wa akhawwãtukum, wa ‘ammãtukum, wa khãlãtukum, wabanaatul akhi wa banaatul ukhti wa ummahãtukumul lãtĩ ardho’ankum, wa akhawãtukum minar rodhō’ati wa ummahãtu nisã-ikum, wa robã-ibukumul lãtĩ fĩ hujũrikum min nisã-ikumul lãttĩ dakholtum bi hinna fa il lam takũnũ dakholtum bi hinna falã junãha ‘alaykum wa holã-ilu abnã-ikumulladzĩna min ashalãbikum wa antajma’ũ bainal ukhtaini illã mã qod salafa innallãha kãna ghofũror rohimã

23. Diharamkan untukmu mengawini ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan*; anak-anak perempuan* dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (merua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu dan sudah kamu ceraikan, maka tidak berdosa kamu mengawininya; dan diharamkan bagimu istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan dalam perkawinan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lalu. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih peraturan nikah.
*Yang dimaksud ibu dan anak perempuan di sini adalah ibu, nenek, buyut dan seterusnya ke atas; dan yang dimaksud anak perempuan di sini adalah anak, cucu, buyut dan seterusnya ke bawah, semuanya tidak boleh dikawini, karena masih ada pertalian darah.

Juz 5

Beberapa Hukum Perkawinan

wal muhshonaatu = dan perempuan yang bersuami; minan nisã-i = dari perempuan-perempuan; illã = kecuali; mã malakat = apa yang kamu miliki; aimaanukum = tangan kananmu (budak-budak); kitãballahi = ketetapan Allah; ‘alaykum = bagi kamu; wa uhilla = dan dihalalkan; lakum = untukmu; mã warō-a = apa yang selain; dzãlikum = demikian itu; an tabtaghũ = kamu mencari; bi amwãlikum = dengan hartamu; muhshinĩna = untuk dikawini; ghoiro = bukan; musãfihĩna = untuk berzina; fama = maka apa-apa; astamta’tum bihi = telah kamu nikmati dengannya; minhunna = di antara mereka; fa-ãtũhunna = maka berikan kepada mereka; ujũrahunna = mahar (maskawin) mereka; farĩdhotan = suatu kewajiban; wa lã junãha = dan tidak berdosa; ‘alaykum = bagi kamu; fĩmã = terhadap apa (sesuatu); tarōdhoitum = kamu saling meridokan; bihĩ = dengan perempuan-perempuan itu; mim ba’di = dari awalnya; al farĩdhoti = ditentukan; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah Dia; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana

wal muhshonaatu minan nisã-i illã mã malakat aimaanukum, kitãballahi ‘alaykum, wa uhilla lakum mã warō-a dzãlikum an tabtaghũ bi amwãlikum muhshinĩna ghoiro musãfihĩna, famastamta’tum bihi, minhunna fa-ãtũhunna ujũrahunna farĩdhotan, wa lã junãha ‘alaykum fĩmã tarōdhoitum bihĩ, mim ba’dil farĩdhoti, innallãha kãna ‘alĩman hakĩmã

24. dan diharamkan juga kamu menikahi perempuan bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki*. Allah telah menetapkan hukum atas kamu sebagai aturan-Nya. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian, yaitu mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini, bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya dengan sempurna, sebagai suatu kewajiban; dan tiada mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih peraturan nikah.
Budak artinya abdi, hamba, jongos, orang gajian; orang yang dibeli dan dijadikan budak yang kehilangan hak hidup merdeka, sesukanya. Dewasa ini sudah tidak ada perbudakan. Adanya pembantu, pegawai, karyawan, buruh yang mempunyai hak hidup tertentu, lebih bebas dibandingkan dengan budak.

wa man = dan barang siapa; lam yastathi’ = tidak mampu; minkum = dari kamu; thoulan = perbelanjãn; an yankiha = untuk menikahi; al muhshonaati = perempuan-perempuan merdeka; al mu’minaati = yang beriman; famim mã = maka dari apa; malakat = memiliki; aimaanukum = tangan kananmu (budak); min fatayãtikum = dari perempuan-perempuanmu; al mu’minaati = yang beriman; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bi ĩmaanikum = dengan keimananmu; ba’dhukum = sebagian kamu; mimba’dhin = dari sebagian yang lain; fankihũ = maka nikahilah; hunna = mereka; bi idzni = dengan seizing; ahlihinna = tuannya; wa ãtũhunna = dan berilah mereka; ujũrohunna = maskawin mereka; bil ma’rũfi = menurut kebaikan; muhshonaatin = perempuan-perempuan yang merdeka (memelihara diri); ghoiro = bukan/tidak; musãfihãtiw = wanita-wanita penzina; wa lã = dan bukan; muttakhidzãti = wanita yang mengambil pria lain; akhdaanin = gendak; fa idzã = maka bila; uhshinna = mereka telah menjaga diri; fain = maka jika; ataina = mereka melakukan; bi fãhisyatin = dengan perbuatan keji; fa’alayhinna = maka (hukuman) atas mereka; nishfu = separuh; mã = apa; ‘alal muhshonaati = atas perempuan-perempuan yang merdeka yang (bersuami); minal ‘adzãbi = dari hukuman (siksa); dzãlika = demikian itu; liman = bagi orang; khasyiya = (dia) takut; al ‘anata = susah menjaga diri; minkum = di antara kamu; wa antashbirũ = dan jika kamu bersabar; khoirun = lebih baik; lakum = bagi kamu; wallãhu = dan Allah; ghofũrun = Maha Pengampun; rohĩma = Maha Penyayang.

wa mal lam yastathi’ minkum thoulan an yankihal muhshonaatil mu’minaati famim mã malakat aimaanukum min fatayãtikumul mu’minaati, wallãhu a’lamu bi ĩmaanikum, ba’dhukum mimba’dhin, fankihũ hunna bi idzni ahlihinna wa ãtũhunna ujũrohunna bil ma’rũfi muhshonaatin ghoiro musãfihãtiw wa lã muttakhidzãti akhdaanin, fa idzã uhshinna fain ataina bi fãhisyatin fa’alayhinna nishfu mã ‘alal muhshonaati minal ‘adzãbi, dzãlika liman khasyiyal ‘anata minkum, wa antashbirũ khoirul lakum, wallãhu ghofũrur rohĩma.

25. Dan siapa-siapa di antara kamu yang merdeka dan tidak cukup perbelanjaannya untuk menikahi perempuan merdeka lagi beriman, ia boleh menikahi perempuan yang beriman dari budak-budak yang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu, sebagian kamu adalah dari sebagian yang lain, karena itu nikahilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang benar, sedang mereka pun perempuan-perempuan yang memelihara diri, bukan pezina, dan bukan pula wanita yang mengambil pria lain sebagai gendaknya; dan apabila mereka telah menjaga diri dengan nikah, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separuh hukuman dari hukuman perempuan-perempuan merdeka yang bersuami. Kebolehan menikahi budak itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri dari perbuatan zina di antaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Masih aturan nikah. Boleh menikahi budak dengan adab dan kesantunan yang tertentu. Ada aturan hukuman orang-orang yang berzina.
Ada wanita yang memelihara pria pemuas nafsu berahinya, disebut gigolo.

yurĩdullahu = Allah menghendaki; li yubayyina = untuk (Dia) menerangkan; lakum = kapada kamu; wa yahdiyakum = dan Dia memberi petunjuk kepada kamu; sunana = jalan; al ladzĩna = orang-orang yang; min qoblikum = dari sebelum kamu; wa yatũba = dan Dia hendak menerima tobat; ‘alaykum = bagi kamu; wallãhu = dan Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; hakĩm = Mahabijaksana.

yurĩdullahu li yubayyina lakum wa yahdiyakum sunanal ladzĩna min qoblikum wa yatũba ‘alaykum, wallãhu ‘alĩmun hakĩm.

26. Allah hendak menerangkan hukum syariat-Nya kepadamu, dan menunjukimu jalan-jalan orang sebelum kamu (para Nabi dan Solihin), dan hendak menerima tobatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menerangkan hukum-hukum-Nya ini di dalam Alquran yang mencakup jalan atau cara yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan para Solihin masa lalu, sebelum Nabi Muhammad saw.(lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1: 5,6). Maksudnya, agar hidup ini lebih ringan dan tobatnya diterima Allah.
Setiap menetapkan aturan, Allah menyatakan Dirinya, dan Nabi Muhammad saw.juga, bahwa Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana; Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang;

wallãhu = dan Allah; yurĩdu = Dia hendak; an yatũba = untuk menerima tobat; ‘alaykum = kepada kamu; wa yurĩdu = dan menghendaki; al ladzĩna = orang-orang yang; yat tabi’ũna = (mereka) mengikuti; asy syahawãti = hawa nafsu; an tamĩlũ = supaya kamu berpaling; mailan = berpaling; ‘azhĩmã = sejauh-jauhnya;

wallãhu yurĩdu an yatũba ‘alaykum wa yurĩdul ladzĩna yat tabi’ũnasy syahawãti an tamĩlũ mailan ‘azhĩmã.

27. Allah hendak menerima tobatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud agar kamu menyimpang sejauh-jauhnya dari kebenaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau mengikuti atau menjalankan hukum-hukum Allah, berarti harus mengekang hawa nafsu, agar tidak menyimpang dari kewajaran hidup mencpai kesenangan, ketenangan, ketenteraman, kedamaian, kesantaian, tidak berlebihan.
Allah membuat peraturan dapat menikahi budak, dengan syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi.

yurĩdullahu = Allah menghendaki; an yukhoffifa = Dia memberi keringanan; ‘ankum = kepada kamu; wa khuliqo = dan dijadikan; al insaanu = manusia; dho’ĩfã = lemah.

yurĩdullahu an yukhoffifa ‘ankum, wa khuliqol insaanu dho’ĩfã

28. Allah hendak memberi keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi keringanan untuk dapat beribadah dalam mengekang hawa nafsu. Harus menjalankan syariat Islam.
Allah membuat manusia bersifat lemah, namun diberi juga kekuatan untuk dapat menjalankan hidupnya dengan baik. Jangan merasa lemah. Gunakan kekuatan yang diberikan Allah untuk beribadah semaksimal mungkin.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã ta’kulũ = jangan kamu saling memakan; amwãlakum = hartamu; bainakum = sesamamu; bil bãthili = dengan cara yang batil (tidak benar); illã = kecuali; an takũna = kamu adalah; tijãrotan = perniagãn; ‘an tarōdhim = suka-sama suka; minkum = dari kamu; wa lã taqtulũ = dan jangan membunuh; anfusakum = dirimu; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bikum = bersama kamu; rohĩma = Maha Penyayang.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã ta’kulũ amwãlakum bainakum bil bãthili illã an takũna tijãrotan ‘an tarōdhim minkum, wa lã taqtulũ anfusakum, innallãha kãna bikum rohĩma.

29. Hai orang-orang yang beriman, kamu jangan saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang tidak benar, kecuali dengan jalan berjual-beli suka-sama-suka di antara kamu. Dan, kamu jangan membunuh dirimu; sesungguhnya, Allah Maha Penyayang, bersamamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh diri” artinya membunuh diri sendiri atau membunuh orang lain. Membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, membuat celaka diri sendiri, karena berbuat dosa yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah pada Hari Pembalasan Q.s. Al Fatihah, 1: 4. Hidup itu sesungguhnya harus menjadi satu kesatuan, harus bersatu dalam tujuan hidup, agar selamat, sentosa, sejahtera, bahagia, tenteram, damai; memuaskan, menyejukkan.

wa man = dan barang siapa; yaf’al = ia berbuat; dzãlika = demikian; ‘udwaanan = bermusuhan; wazhulman = dan aniaya; fasaufa = maka akan; nushlĩhi = Kami masukkan ia; nãron = api; wa kãna = dan adalah; dzãlika = demikian itu; ‘alãllahi = bagi Allah; yasĩrã = mudah.

wa man yaf’al dzãlika ‘udwaanan wazhulman fasaufa nushlĩhi nãron, wa kãna dzãlika ‘alãllahi yasĩrã.

30. Barang siapa berbuat seperti itu dengan pelanggaran hak, dan aniaya, maka Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu, mudah bagi Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pelanggaran hak azasi manusia, dan menganiaya orang itu perbuatan dosa. Menganiaya orang berarti menyakiti secara fisik maupun psikis, membuat orang hidup sengsara, sakit hatinya.
Manusia itu harus memilih jalan yang paling baik, selamat, menyenangkan. Jangan memilih jalan yang jelek, jahat, menyimpang, menakutkan, merusak, membuat celaka, menganiaya orang. Memilih yang demikian itu dapat mudah, dapat juga susah, sulit, tergantung kekuatan iman kepada Allah. Yang imannya kuat, mereka dengan ringan memilih jalan selamat yang menyenangkan.

in tajtanibũ = jika kamu menjauhi; kabã-irro = dosa-dosa besar; mã tunhauna = kamu dilarang (mengerjakan); ‘anhu = darinya; nukaffir = kamu hapus; ‘ankum = dari kamu; sayyi’ãtikum = kesalahan-kesalahanmu; wa nudkhilkum = dan Kami masukkan kamu; madkholan = ke tempat masuk; karĩmã = mulia

in tajtanibũ kabã-irro mã tunhauna ‘anhu nukaffir ‘ankum sayyi’ãtikum wa nudkhilkum madkholan karĩmã.

31. Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar, serta dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosa kecil), dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dosa besar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 217, 219; An Nisã’ 4: 2, 48.
Ayat ini menunjukkan kasih-sayang Allah kepada makhluk-Nya, khususnya manusia. Kalau ada upaya menjauhi dosa besar, seperti berzina, membunuh tanpa hak, membunuh diri, …. atau dosa kecil, seperti minum khamar, berjudi, mencuri, berbicara kasar, berlaku tidak sopan, dan lain-lain, maka kesalahan-kesalahan kecilnya akan dihapus.

wa lã = dan jangan; tatamannau = kamu berangan-angan; mã = apa yang; fadhdholallahu = Allah memberi karunia apa; bihi = dengannya; ba’dhokum = sebagian kamu; ‘alã = pada; ba’dhin = sebagian yang lain; lirrijali = bagi laki-laki; nashĩbun = bagian; mimmã = dari apa; aktasabũ = mereka usahakan; wa lin nisã-i = dan bagi perempuan-perempuan; ashĩbum = bagian; mimmã = dari apa; aktasabna = mereka usahakan; was-alũ = dan mohonlah; allãha = Allah; min fadhlihi = dari karunia-Nya; innãllãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bikulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

wa lã tatamannau mã fadhdholallahu bihi, ba’dhokum ‘alã ba’dhin lirrijali nashĩbum mimmã aktasabũ wa lin nisã-i nashĩbum mimmã aktasabna, was-alũllãha min fadhlihi, innãllãha kãna bikulli syai-in ‘alĩmã.

32. Jangan kamu iri hati atas apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian dari kamu yang lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi laki-laki, ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan manusia untuk tidak iri atas karunia-Nya. Karunia Allah itu ujian bagi yang memahami.
Karunia Allah, rezeki manusia itu tidak sama. Ada yang lebih banyak, ada yang lebih sedikit, laki-laki atau perempuan. Segala sesuatu tentang rezeki itu tergantung pada usaha masing-masing orang. Allah menyuruh orang untuk memohon sambil berusaha untuk mendapatkan rezeki karunia Allah itu. Memberi dengan ikhlas kepada orang lain, makhluk lain berarti menyimpan rezeki untuk bekal di akhirat. Kalau memberi dengan tidak ikhlas, tidak diterima rezeki untuk akhiratnya.

wa li kullin = dan bagi tiap-tiap; ja’alnã = Kami jadikan; mawãlĩya = pewaris-pewaris; mimmã = dari apa (harta); taroka = peninggalan; al wãlidaani = kedua orangtua; wal aqrobũna = dan kerabat; walladzĩna = dan orang-orang yang; aqodat = telah mengikat; aimaanukum = sumpahmu; fa-ãtũhum = maka berilah mereka; nashĩbahum = bagian mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; alã = di atas; kulli = segala; syai-in = sesuatu; syahĩda = menyaksikan.

wa li kullin ja’alnã mawãlĩya mimmã tarokal wãlidaani wal aqrobũna, walladzĩna aqodat aimaanukum fa-ãtũhum nashĩbahum, innallãha kãna alã kulli syai-in syahĩda.

33. Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari yang ditinggalkan ibu-bapak dan kerabat karib, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. Dan jika ada orang-orang yang telah bersumpah setia dengan kamu, maka berilah bagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “pewaris-pewaris” seperti yang diwahyukan pada ayat 11 dan 12 di atas.
Orang-orang yang telah bersumpah setia adalah istri atau suami, anak angkat, ibu-bapak angkat.

arrijãlu = laki-laki; qowwãmũna = lebih kuat (memimpin); ‘alaan nisã-i = bagi perempuan; bimã = sebab; fadhdholallãhu = Allah telah melebihkan; ba’dhohum = sebagian mereka; ‘alã = di atas; ba’dhin = sebagian yang lain; wa bimã = dan dengan sebab; anfaqũ = mereka menafkahkan; min amwãlihim = dari harta mereka; fashshōlihãtu = maka perempuan-perempuan yang soleh; qōnitaatun = yang taat; hãfizhōtun = yang menjaga diri; lilghoybi = ketika tidak hadir; bimã = dengan sebab; hafizhollãhu = Allah memlihara; wallãtĩ = dan perempuan-perempuan yang; takhōfũna = kamu khawatirkan; nusyũzahunna = kedurhakãnnya; faizhũhunna = maka nasihatilah mereka; wahjurũhunna = dan pisahkan mereka; filmadhōji’i = dari tempat tidur; wadhribũhunna = dan pukullah mereka; fa-in = maka jika; atho’nakum = mereka menaati kamu; falã = maka janganlah; tabghũ = kamu mencari-cari; ‘alayhinna = terhadap mereka; sabĩlan = jalan yang menyusahkan; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘aliyyan = Mahatinggi; kabĩrã = Mahabesar

arrijãlu qowwãmũna ‘alaan nisã-i bimã fadhdholallãhu ba’dhohum ‘alã ba’dhin wa bimã anfaqũ min amwãlihim fashshōlihãtu qōnitaatun hãfizhōtul lilghoybi bimã hafizhollãhu, wallãtĩ takhōfũna nusyũzahunna faizhũhunna wahjurũhunna filmadhōji’i wadhribũhunna, fa-in atho’nakum falã tabghũ ‘alayhinna sabĩlan, innallãha kãna ‘aliyyan kabĩrã.

34. Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan karena Allah telah melebihkan mereka (laki-laki) sebagian atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Karena itu, perempuan yang saleh adalah yang taat kepada Allah, lagi memelihãra diri, ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memlihara mereka. Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka, dan pisahkan tempat tidurnya dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu, maka kamu janganlah mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya, Allah Mahatinggi dan Mahabesar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memelihara diri” artinya tidak berlaku serong, mau menjaga rahasia suami dan harta bendanya.
“Allah telah memelihara mereka” maksudnya: Allah telah mewajibkan suami beriman dan menggauli istrinya dengan baik, dan memberikan nafkah lahir-batin dengan semestinya; istri menerima baik perlakuan suami, menjaga diri (tidak serong), menjaga rahasia dan harta suami
“nusyuz “ artinya meninggalkan kewajiban bersuami-istri, istri meninggalkan rumah tanpa izin suami.
“kamu janganlah mencari-cari jalan untuk menyusahkannya” maksudnya: untuk memberi pengajaran kepada istri yang dikhawatirkan pembangkangannya, mula-mula harus diberi nasihat, bila nasihat tidak mempan, istrinya itu dipisahkan tempat tidurnya; bila tidak mempan juga, baru boleh dipukul dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama sudah ada hasilnya, tidak perlu perlakuan lebih lanjut.

wa-in khiftum = dan jika kamu khawatir; syiqōqo = adanya perpecahan; bainihimã = antara keduanya; fab’atsũ = maka utuslah, kirimlah; hakaman = seorang penengah; min ahlihi = dari keluarga (pihak laki-laki); wa hakaman = dan penengah; min ahlihã = dari keluarga (pihak perempuan); in-yurĩdã = jika keduanya menghendaki; ishlãhan = perdamaian; yuwaffiqi = akan memberi taufik; al lãhu = Allah; bainahumã = kepada keduanya (suami-istri); inna = sesungguhnya; al lãha = Allah; kãna = Dia adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; khobĩra = Maha Memahami/Mengerti.

wa-in khiftum syiqōqo bainihimã fab’atsũ hakamam min ahlihi, wa hakamam min ahlihã, wa hakamam min ahlihã in-yurĩdã ishlãhan yuwaffiqil lãhu bainahumã innal lãha kãna ‘alĩman khobĩra.

35. Jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka carilah seorang hakam dari keluarga laki-laki, dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberikan taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada budaya persengketaan. “hakam” artinya juru damai. Taufik artinya pertolongan Allah.

wa’ budũllãha = dan mengabdilah kepada Allah; wa lã = dan jangan; tusyrikũ = kamu mempersekutukan; bihĩ = dengan-Nya; syai-an = sesuatu; wa bil wãlidaini = dan kepada kedua orangtua; ihsaanan = (berbuat) baik; wa bi dzĩl qurbã = dan dengan kerabat dekat; wal yatãmã = dan anak-anak yatim; wal masãkĩni = dan orang-orang miskin; wal jãri = dan tetangga; dzĩl qurbã = yang dekat; wal jãri = dan tetangga; al junubi = yang jauh; wash shãhibi = dan sahabat; bil jambi = sejawat; wabnis sabĩli = dan ibnu sabil; wa mã malakat = dan yang kamu miliki; aimaanukum = budak-budamu; innallãha = sesungghunya Allah; lã yuhibbu = tidak menyukai; man kãna = orang-orang yang adalah; mukhtãlan = sombong; fakhũro = membanggakan diri.

wa’ budũllãha wa lã tusyrikũ bihĩ, syai-an wa bil wãlidaini ihsaanan wa bi dzĩl qurbã wal yatãmã wal masãkĩni wal jãri dzĩl qurbã wal jãril junubi wash shãhibi bil jambi wabnis sabĩli wa mã malakat aimaanukum, innallãha lã yuhibbu man kãna mukhtãlan fakhũro.

36. Dan beribadahlah kepada Allah, dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Berbuat baiklah kamu kepada kedua orangtua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “tetangga yang dekat dan yang jauh” ada yang mengartikan tempat yang berjarak, atau hubungan kekeluargãn, ada yang mengartikan hubungan muslim dan nonmuslim.
“ibnu sabil” orang yang melakukan perjalanan yang bertujuan baik, tidak melakukan maksiat, orang yang kehabisan bekal, dan anak yang tidak diketahui ibu-bapaknya.
Allah mengingatkan manusia untuk tidak sombong dan tidak membanggakan diri, karena Beliau tidak suka hal itu ada pada makhluk-Nya.

alladzĩna = orang-orang yang; yabkhalũna = (mereka) kikir; wa ya’murũna = dan (mereka) menyuruh; an nãsa = manusia (lain); bil bukhli = dengan kikir; wa yaktumũna = dan mereka menyembunyikan; mã ãtãhumullahu = Allah memberikan apa (karunia) kepada mereka; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; wa-a‘tadnã = dan Kami sediakan; lil kãfirĩna = kepada orang-orang kafir; ‘adzãba = azab, siksa; am muhĩnã = menghinakan.

alladzĩna yabkhalũna wa ya’murũnan nãsa bil bukhli wa yaktumũna mã ãtãhumullahu min fadhlihĩ, wa-a‘tadnã lil kãfirĩna ‘adzãbam muhĩnã

37. yaitu orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan siksa yang menghinakan bagi orang-orang kafir.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kafir” di sini artinya orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah dan bersifat kikir, menyuruh orang untuk kikir, dan menutup-nutupi karunia Allah.

walladzĩna = dan orang-orang yang; yunfiqũna = (mereka) menafkahkan; amwãlahum = harta mereka; riã-an = riya’ ; annãsi = manusia; wa lã = dan tidak; yu’minũna = mereka beriman; billãhi = kepada Allah; wa lã bil yaumil ãkhiri = dan tidak kepada hari akhirat; wa man = dan barang siapa; yakuni = ia menjadikan; asy syaithōnu = setan; lahũ = baginya; qorĩnan = sebagai teman; fasã-a = maka sejahat-jahat; qorĩnã = teman.

walladzĩna yunfiqũna amwãlahum riã-an nnãsi wa lã yu’minũna billãhi wa lã bil yaumil ãkhiri, wa man yakunisy syaithōnu lahũ qorĩnan fasã-a qorĩnã.

38. Dan orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia; dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian; dan barang siapa yang mengambil setan menjadi temannya, maka setan itu adalah seburuk-buruk teman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “riya” adalah perbuatan dan tingkah laku yang ingin dilihat dan dipuji orang.
Allah memperingatkan, bagaimana sebaiknya harta itu dinafkahkan. Harta harus dinafkahkan secara ikhlas, berdasarkan iman, tanpa beban, dan harus mengatasnamakan Allah. Jangan mengatasnamakan setan.

wa mã dzã = dan apakah; ‘alayhim = bagi mereka; law = kalau (sekiranya); ãmanũ = mereka beriman; billãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhiri = dan hari akhirat; wa anfaqũ = dan mereka menafkahkan; mimmã = sebagian apa; rozakohumullãhu = Allah memberikan rezeki kepada mereka; wa kãna = dan adalah; allãhu = Allah; bihim = kepada mereka; alĩmã = Maha Mengetahui.

wa mã dzã ‘alayhim law ãmanũ billãhi wal yaumil ãkhiri wa anfaqũ mimmã rozakohumullãhu, wa kãnallãhu bihim alĩmã.

39. Apa kemudharatannya bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang telah diberikan Allah bagi mereka? Dan Allahlah Yang Maha Mengetahui keadaan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mempertanyakan secara retoris tentang orang-orang yang tidak mau beriman kepada Allah, kepada hari akhirat, dan tidak mau menafkahkan sebahagian rezeki yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini merupakan pelajaran, peringatan bagi manusia. Maka, belajarlah untuk selalu mengikuti perintah Allah dengan sunah dan hadis dari para Nabi sebaik-baiknya.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã yazhlimu = Dia tidak menganiaya; mitsqōla = seberat; dzarrotin = sebutir debu; wa intaku = dan jika kamu ada; hasanatan = kebaikan; yudhō’ifhã = Dia melipatgandakannya; wa yu’ti = dan Dia memberikan; min = dari; ladunhu = haribãn-Nya; ajron = pahala; ‘azhĩma = yang besar.

innallãha lã yazhlimu mitsqōla dzarrotin wa intaku hasanatan yudhō’ifhã wa yu’ti mil ladunhu ajron ‘azhĩma.

40. Sesungguhnya, Allah tidak menganiaya seseorang, walawpun sebesar zarrah, dan jika ada kebaikan sebutir debu, niscaya Allah akan melipatgandakannya, dan memberikan pahala yang besar dari haribãn-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah tidak mengurangi sedikit pun pahala orang-orang yang mengerjakan kebaikan dan kebenaran, bahkan akan dilipatgandakan kebaikan dan kebenaran yang dikerjakannya. Kalau amal yang dikerjakan tidak benar, Allah akan memperingatkan secara halus atau kasar, keras. Kalau terus dilakukan, Allah akan menghukum segera di dunia sebagai peringatan, atau ditangguhkan sampai nanti hidup di akhirat. Allah Mahaleluasa ampunan-Nya.

fa kayfa = maka bagaimana; idzã = bila; ji’nã = Kami datangkan; min kulli = dari tiap-tiap; ummatin = umat; bi syahĩdin = dengan seorang saksi; waji’nã = dan kami datangkan; bika = kepada engkau; ‘alã hã-ulã-i = atas mereka itu; syahĩdã = sebagai saksi.

fa kayfa idzã ji’nã min kulli ummatin, bi syahĩdin waji’nã bika ‘alã hã-ulã-i syahĩdã.

41. Maka bagaimanakah halnya orang kafir nanti, bila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari tiap-tiap umat, dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad s.a.w.) menjadi saksi atas mereka sebagai umatmu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Setiap Nabi menjadi saksi atas segala perbuatan umatnya yang mengikuti atau yang melanggar perintah Allah. Allah mempertanyakan orang yang tidak mempercayai Nabi Muhammad saw.sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Umatnya harus mempertanggungjawabkan setiap perilakunya di dunia.

yawma-idzin = pada hari itu; yawaddu = ingin; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; wa ‘ashōwu = dan orang-orang yang mendurhakai; ar rosũla = Rasul; law = kalau, supaya, sekiranya; tusawwã = disamakan; bihimu = dengan mereka; al ardhu = bumi; wa lã yaktumũnallãha = dan mereka tidak dapat menyembunyikan dari Allah; hadĩtsã = suatu kejadian;

yawma-idzin yawaddul ladzĩna kafarũ wa ‘ashōwur rosũla law tusawwã bihimul ardhu wa lã yaktumũnallãha hadĩtsã.

42. Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasul, ingin supaya mereka disamakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian pun dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “disamakan dengan tanah” maksudnya mereka ingin seperti atau menyatu hancur menjadi tanah. Hal ini karena penyesalan mengapa mereka durhaka, tidak mempercayai Nabi Muhammad s.a.w yang terakhir diutus untuk mengadakan pembaharuan dalam hidup beragama di dunia ini.
“mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian pun dari Allah” maksudnya, di hadapan Allah, kaki, tangan, telinga, mulut, mata mereka menjadi saksi, apa saja yang sudah mereka lakukan selama hidupnya.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; lã taqrobu = jangan kamu dekati; ash sholãta = salat; wa antum = dan kamu; sukãrã = mabuk; hattã = sehingga; ta’lamũ = kamu mengetahui (mengerti); mã takulũlũna = apa yang kamu ucapkan; wa lã junuban = dan jangan dalam keadaan junub; illã = kecuali; ‘a’abirĩ = sekedar; sabĩlin = lewat saja; hattã = sehingga; taghtasilũ = kamu mandi; wa in kuntum = dan jika kamu adalah; mardhō = sakit; au ‘alã safarin = atau dalam perjalanan; au jã-a = atau datang; ahadum = seseorang; minkum = di antara kamu; mina = dari; al ghōithi = got (tempat buang air); au lãmastumu = atau kamu menyentuh; an nisã-a = perempuan; falam = maka kemudian; tajidũ = kamu mendapatkan; mã-an = air; fatayammũ = maka bertayamumlah kamu; sho’ĩdan = debu tanah; thoyyiban = bersih; famsahũ = maka sapulah, basuhlah; bi wujũhikum = pada wajahmu; wa iadĩkum = dan tanganmu; innallãha kãna ‘afuwwan ghofũrã = sesungguhnya Allah, Dia adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ lã taqrobush sholãta wa antum sukãrã hattã ta’lamũ mã takulũlũna wa lã junuban illã ‘a’abirĩ sabĩlin hattã taghtasilũ, wa in kuntum mardhō au ‘alã safarin au jã-a ahadum minkum minal ghōithi au lãmastumun nisã-a falam tajidũ mã-an fatayammũ sho’ĩdan thoyyiban famsahũ bi wujũhikum wa iadĩkum innallãha kãna ‘afuwwan ghofũrã.

43. Hai orang-orang yang beriman, kamu jangan salat ketika kamu sedang mabuk, sehingga kamu sadar dan mengerti apa yang kamu ucapkan, dan janganlah kamu menghampiri masjid, ketika kamu dalam keadaan junub, terkecuali hanya sekedar lewat, sampai kamu mandi. Dan jika kamu sakit, atau sedang dalam musafir, atau datang dari tempat buang air, atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapatkan air, maka kamu bertayamumlah dengan tanah yang suci, sapulah mukamu, dan tanganmu. Sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengingat-kan, orang yang melaksanakan salat harus dalam keadaan suci lahir dan batinnya.
“menyentuh perempuan” artinya bersetubuh.
Allah melarang salat bagi orang yang sedang mabuk, junub (selesai bersanggama). Setelah sadar dari mabuk, dan bagi yang junub, mandi menghilangkan hadas besar, baru boleh salat.
Ada aturan bertayamum.
Lihat Q.s. Al Maidah, 5; 6

alam = apakah tidak; taro = kamu memperhatikan; ilal ladzĩna = kepada orang-orang yang; ũtũ = mereka diberi; nashĩba = bagian; minal kitãbi = dari Alkitab; yasytarũna = mereka membeli; adh dholãlata = kesesatan; wa yurĩdũna = dan mereka menghendaki; an tadhillu = supaya kamu tersesat; as sabĩla = jalan..

alamtaro ilal ladzĩna ũtũ nashĩbam minal kitãbi yasytarũnadh dholãlata wa yurĩdũna an tadhillũs sabĩla.

44. Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bagian Alkitab (Taurat)? Mereka memilih membeli kesesatan dengan petunjuk, dan mereka mempunyai maksud supaya kamu juga tersesat, menyimpang dari jalan yang benar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang yang telah beriman agar tidak terpengaruh ajakan mereka yang menyesatkan. Mereka membeli kesesatan dengan petunjuk. *lihat juga Q.s. Al Fatihah, 1: 7; Al Baqarah, 2: 16, 86, 108, 175; Ali ‘Imran, 3: 177; An Nisã’, 4, 51

wallãhu = dan Allah; a’lamu = Maha Mengetahui; bi a’dã-ikum = tentang musuh-musuhmu; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; waliyyaan = (menjadi) pelindung; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = kepada Allah; nashĩro = meminta pertolongan.

wallãhu a’lamu bi a’dã-ikum, wa kafã billãhi waliyyaan wakafã billãhi nashĩro.

45. Sesungguhnya, Allah lebih mengetahui daripada kamu tentang musuh-musuhmu, dan cukuplah Allah menjadi pelindung bagimu, cukuplah Allah menjadi penolong bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Musuh orang mu’min itu iblis, setan, orang kafir, orang musyrik, munafik, fasik, murtad. Pelindung dan penolong orang mu’min hanya Allah, dan para Malaikat.

minal ladzĩna = dari orang-orang yang; hãdũ = Yahudi; yuharrifũna = mereka mengubahi; al kalima = perkataan; ‘an = dari; mawãdhi’ihi = tempat-tempatnya; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; sami’nã = kami mendengar; wa ‘ashoinã = tapi kami mendurhakai; wasma’ = dan dengarlah; ghoiro = tidak/bukan; musma’in = mendengar; wa rō’inã = dan peliharalah kami; lãyyan = memutar-mutar; bi-alsinatihim = dengan lidah mereka, wa tho’naan = dan mencela; fiddĩni = pada agama (dĩn); wa law = dan kalau; annahum = bahwa mereka; qōlũ = (mereka) mengatakan; sami’nã = kami mendengar; wa atho’nã = dan kami taat; wasma’ = dan dengarlah; wanzhurnã = dan perhatikanlah kami; la kãna = tentu itu adalah; khoiron = lebih baik; lahum = bagi mereka; wa aqwama = dan lebih tepat; wa lãkin = akan tetapi; la’anahumullãhu = Allah mengutuk mereka; bi kufrihim = karena kekafiran mereka; falã = maka tidak; yu’minũna = mereka beriman; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

minal ladzĩna hãdũ yuharrifũnal kalima am mawãdhi’ihi, wa yaqũlũna sami’nã wa ‘ashoinã wasma’ ghoiro musma’in wa rō’inã lãyyam bi-alsinatihim wa tho’naan fiddĩni, wa law annahum qōlũ sami’nã wa atho’nã wasma’ wanzhurnã la kãna khoirol lahum wa aqwama wa lãkil la’anahumullãhu bi kufrihim falã yu’minũna illã qolĩlã.

46. Itulah, orang-orang Yahudi, mereka mengubah kata-kata pada kalimat-kalimatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan mereka mengatakan pula: “Dengarlah”, sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan mereka mengatakan: “rã’ina” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengarkan dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami,” tentulah itu lebih baik bagi mereka, dan lebih tepat; akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman, kecuali iman yang sangat tipis.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mengubah kata-kata pada kalimat-kalimatnya” artinya mengubah, menambah atau mengurangi arti kata-kata dalam kalimat.
“Kami mendengar, tetapi kami tidak mau menurutinya” maksudnya antara kata yang diucapkan dengan artinya berbeda; mereka tidak mau menuruti apa yang sudah didengarnya. Contoh: “dengarlah,” “sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.” Maksudnya: mereka mengatakan “dengarlah”, tapi hati mereka mengatakan: “mudah-mudahan kamu tidak dapat mendengarnya (tuli). Ini kebiasaanyang dilakukan oleh orang munafik. Lain di kata, lain di hati.
“rã’ina” lihat Catatan, pengetahuan, ilmu, hukum, ahlak, dan adab Q.s. Al Baqarah, 2: 104.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka ) diberi; al kitãba = Alkitab; ãminũ = berimanlah kamu; bimã = dengan apa; nazzalnã = Kami turunkan; mushoddiqon = yang membenarkan; limã = dengan apa (Kitab); ma’akum = ada padamu; min qobli = dari sebelum; annathmisa = Kami mengubah; wujũhã = wajah-wajah; fanarud dahã = lalu Kami putarkan; ‘alã adbãrihã = pada arah belakangnya; aw nal ’anahum = atau Kami laknati; kamã = sebagaimana; la’annã = Kami melaknati; ash hãba = pemilik; as sabti = hari Sabtu; wa kãna = dan adalah; amrullãhi = ketetapan Allah; maf’ũlan = berlaku.

yã ayyuhal ladzĩna ũtũl kitãba ãminũ bimã nazzalnã mushoddiqol limã ma’akum min qobli annathmisa wujũhã fanarud dahã ‘alã adbãrihã aw nal’anahum kamã la’annã ash hãbas sabti, wa kãna amrullãhi maf’ũlan.

47. Hai orang-orang yang telah diberi Alkitab, berimanlah kepada apa yang telah Kami turunkan (Alquran), yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu, sebelum Kami mengubah mukamu, lalu Kami putarkan ke belakang, atau Kami kutuk mereka, sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Himbauan, peringatan, dan kutukan kepada pembaca Ahli Kitab.
“sebelum Kami mengubah mukamu, lalu Kami putarkan ke belakang” maksudnya, merupakan kalimat menghinakan, merendahkan, karena mereka selalu mengabaikan pemberitahuan dari Allah.
“Kami telah mengutuk orang-orang yang berbuat maksiat pada hari Sabtu.” Lihat juga Q.s. al Baqarah, 2: 65; dan al A’rãf, 7: 163.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã yaghfiru = Dia tidak mengampuni; an yusyraka = dipersekutukan; bihi = dengan-Nya; wa yaghfiru = dan Dia mengampuni; mã = apa; dũna = yang selain; dzãlika = yang itu; liman = bagi siapa; yasã-u = Dia kehendaki; wa man = dan orang yang; yusyrik = mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; faqodi = maka sesungguhnya; iftarō = ia telah berbuat; itsman = dosa; ’azhĩma = besar.

innallãha lã yaghfiru an yusyraka bihi, wa yaghfiru mã dũna dzãlika liman yasã-u, wa man yusyrik billãhi faqodiftarō itsman ‘’azhĩma.

48. Sesungguhnya, Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Tentang dosa besar, lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 217, 219; An Nisã’, 4: 2, 31. Pemikiran tentang Allah yang terdiri dari Allah Bapak, Allah Putra, dan Allah Ruhul Qudus ini menurut padangan Islam termasuk atau dianggap syirik. Menurut Islam Allah itu tunggal, esa, tidak ada yang dapat menyamai (lihat Asma’ul Husna).

alamtaro = tidakkah kamu perhatikan; ilal ladzĩna = kepada orang-orang yang; yuzakkũna = (mereka) membersihkan; anfusahum = diri mereka; bal = tetapi (sebenarnya); il lãhu = Allah; yuzakkĩ = Dia membersihkan; man = siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa lã yuzhlamũna = dan mereka tidak dianiaya; fatĩlaan = sedikit pun.

alamtaro ilal ladzĩna yuzakkũna anfusahum, balil lãhu yuzakkĩ man yasyã-u wa lã yuzhlamũna fatĩlã.

49. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya, Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?” Ini ditujukan kepada umat Yahudi dan Nasrani yang mempunyai keyakinan mereka akan masuk neraka hanya beberapa hari saja dan selanjutnya mereka masuk surga. Diri kita sendiri perlu diperhatikan juga, sudah benarkah keimanan kita?! Lihat juga Q.s. al Baqarah, 2: 80, dan 111; al Mãidah, 5: 18.

unzhur = perhatikanlah; kaifa = seperti bagaimana, betapa; yaftarũna = mereka mengada-adakan; ‘alallãhi = terhadap Allah; al kadziba = dusta; wa kafã = dan cukuplah; bihi = perbuatan itu; itsman = dosa; mubĩnã = nyata.

unzhur kaifa yaftarũna ‘alallãhil kadziba wa kafã bihi, itsmam mubĩnã.

50. Perhatikanlah, betapa mereka mengada-adakan dusta atas Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata bagi mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “betapa mereka mengada-adakan dusta atas Allah?” maksudnya mereka menyebut-nyebut Allah Bapak, Allah Putra, Allah Ruhul Qudus, ini istilah yang mengada-ada. Tidak ada dalam Alkitabnya; mereka memastikan diri hanya beberapa hari saja masuk neraka dan selanjutnya akan masuk surga. Siapa Yang menentukan seseorang masuk neraka atau surga? Allah saja yang menentukan, bukan hasil pemikiran atau pertimbangan manusia.

alamtaro = apakah tidak kamu perhatikan; ilalladzĩna = kepada orang-orang yang; ũtũ = (mereka) memberi; nashĩbam bagian; minal kitãbi = dari Alkitab; yu’minũna = mereka beriman; bil jibti = kepada jibti; wath thōghũti = dengan thoghut; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; lil ladzĩna = kepada orang-orang yang; kafaru = (mereka) kafir; hã-ulã-i = mereka itu; ahdã = lebih mendapat petunjuk; min = dari; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; sabĩlã = jalan.

alamtaro ilalladzĩna ũtũ nashĩbam minal kitãbi yu’minũna bil jibti wath thōghũti wa yaqũlũna lil ladzĩna kafaru hã-ulã-I ahda minal ladzĩna ãmanũ sabĩlã.

51. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi sebahagian dari Alkitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah, jibti dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik) Mekah, bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Alkitab?” lihat juga Q.s. an Nisã’, 4: 44. Mereka mengubah firman Allah sehingga menyesatkan orang banyak (ada Allah Bapak, Allah Putra, dan Allah Ruhul Qudus). Tidak ada tuntunan seperti itu di dalam Alkitab dari Allahnya. Mereka akhirnya menyembah, memuliakan yang bukan Allah, yang disebut “jibti” dan “thaghut” ini berarti setan, dan apa yang disembah selain Allah Swt.

ũlãika = mereka itulah; al ladzĩna = orang-orang yang; la’anahumullãhu = dilaknat Allah; wa man = dan barang siapa; yal’anillãhu = yang dilaknat Allah; falan = maka sekali-kali tidak; tajida = mendapat; lahũ = baginya; nashĩrō = penolong.

ũlãikal ladzĩna la’anahumullãhu, wa man yal’anillãhu falan tajida lahũ nashĩrō.

52. Mereka itulah orang yang dilaknat Allah. Barang siapa yang dilaknat Allah, niscaya kamu tidak akan memperoleh seorang penolong pun pada hari yang ditentukan (kiamat)

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat ayat-ayat sebelumnya: Q.s. Al Baqarah, 2: 107, 120, 270, 286; Ali ‘Imran, 3: 22, 56, 91, 150, 173; An Nisã’, 4: 45.

am ataukah; lahum = bagi mereka; nashĩbun = bagian; min = dari; al mulki = kekuasaan; fa idzan = maka jika demikian; la yu’tũna = mereka tidak memberikan; nãsa = manusia; naqĩrō = sedikit pun.

am lahum nashĩbum minal mulki fa idzãl la yu’tũnan nãsĩ naqĩrō.

53. Ataukan ada bagi mereka bagian dari kerajaan(kekuasaan)? Kendati pun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun kebajikan pada manusia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka tidak akan memberikan sedikit pun kebajikan pada manusia” maksudnya, kalau ada yang berkuasa, berkedudukan, berkuasa, berjabatan, mereka selalu membuat kekacauan, pertetangan, pertengkaran, kerusuhan, dalam pemerintahannya di dunia. Mereka tidak sepantasnya mempunyai kedudukan, kekuasaan, atau jabatan dalam pemerintahan di dunia, karena tidak memberikan keamanan, ketenteraman, kesenangan, kesejahteraan.

am = atau; yahsudũna = mereka dengki; an nãsa = manusia (Muhammad s.a.w.) ‘alã = atas; mã = apa (karunia); atãhumullãhu = Allah memberikan kepada mereka; min fadhlihĩ = dari karunia-Nya; faqod = maka sungguh; atainã = Kami telah memberikan; ãla = keluarga; ibrōhĩma = Ibrahim; al kitãba = Alkitab; wa = dan; al hikmata = Alhikmah (ilmu dan pengetahuan); wa ãtainãhum = dan Kami telah memberikan kepada mereka; mulkan = kerajãn; ‘azhĩmã = besar.

am yahsudũnan nãsa ‘alã mã atãhumullãhu min fadhlihĩ, faqod atainã ãla ibrōhĩmal kitãba wal hikmata wa ãtainãhum mulkan ‘azhĩmã.

54. ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad s.a.w.) lantaran karunia yang telah diberikan Allah kepadanya? Sesungguhnya, Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaanyang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “karunia yang telah diberikan Allah” kepada nabi Muhammad saw.adalah kenabian dan kerasulannya, Alquran, dan kemenangan di dunia dan akhirat. Kaum Yahudi dan Nasrani tidak mau mempercayainya. Mereka dengki, padahal Allah juga telah memberikan Alkitab, ilmu dan pengetahuan serta kerajaanbesar kepada keluarga Ibrahim. Namun, mereka masih merasa iri, dengki saja karena ilmu dan pengetahu-annya tidak digunakan dengan semestinya. Bukti hukum sebab-akibat Allah berlaku bagi Kaum Yahudi dan Nasrani.

faminhum = maka di antara mereka; man = orang; ãmana = ia beriman; bihĩ = dengan-Nya; wa minhum = dan di antara mereka; man = orang; shodda = ia menghalangi; ‘anhu = dari-Nya; wa kafã = dan cukuplah; bi jahanama = dengan jahanam; sa’ĩrō = yang menyala-nyala.

faminhum man ãmana bihĩ, wa minhum man shodda ‘anhu wa kafã bi jahanama sa’ĩrō.

55. Maka di antara mereka, orang-orang yang dengki itu, ada yang beriman kepada-Nya, dan di antara mereka ada yang menghalangi manusia beriman kepada-Nya. Dan Cukuplah bagi mereka jahanam yang menyala-nyala apinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, di antara manusia dengki itu, ada yang beriman kepada Allah, ada yang menghalangi orang lain beriman kepada-Nya. Semuanya diancam akan dibakar neraka jahanam.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; bi ãyãtinã = pada ayat-ayat Kami; saufa = kelak akan; nushlĩhim = Kami masukkan mereka; nãrōn = api; kullamã = setiap; nadhijat = hangus (terbakar); julũduhum = kulit-kulit mereka; baddalnãhum = Kami ganti mereka; julũdan = kulit-kulit; ghoirohã = selainnya; lĩdzũqũ = supaya merasakan; al ‘adzaba = siksa (azab); innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘azĩzan = Mahaperkasa; hakĩmã = Mahabijaksana

innal ladzĩna kafarũ bi ãyãtinã saufa nushlĩhim nãrōn kullamã nadhijat julũduhum baddalnãhum julũdan ghoirohã lĩdzũqũl ‘adzaba, innallãha kãna ‘azĩzan hakĩmã.

56. Sesungguhnya orang-orang yang kafir pada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam api. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kafir di sini berarti mereka yang tidak menyimak dan mengamalkan isi ayat Alkitab tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.Orang Yahudi dan Nasrani tidak mempercayai kenabian dan kerasulan Muhammad s.a.w., karena itu disebut kafir. Ada salah satu gambaran tentang siksaandi neraka.

walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa amilu = dan beramal; ash sholihati = kebaikan; sanudkhiluhum = mereka akan Kami masukkan; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min = dari; tahtiha = bawah; al anharu = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fihã = di dalamnya; abadaan = selama-lamanya; lahum = bagi mereka; fĩhã = di dalamnya; azwãjun = istri-istri; muthohharoh = yang suci; wanudkhiluhum = dan Kami masukkan mereka; zhillan = naungan; zhalĩlaan = nyaman.

walladzĩna ãmanũ wa amilush sholihati sanudkhiluhum jannaatin tajrĩ min tahtihal anharu, khōlidĩna fihã abadaan, lahum fĩhã azwãjum muthohharoh, wanudkhiluhum zhillan zhalĩlaan.

57. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya, selama-lamanya di dalamnya dengan istri-istri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah kepada orang-orang yang beriman. Lihat juga ayat-ayat sebelumnya, misalnya: Q.s. …..

innal lãha = sesungguhnya Allah; ya’murukum = Dia menyuruh; an tuadũ = untuk menyampaikan; al amaanaati = pesan, amanat; ilã ahlihã = hanya kepada yang berhak menerimanya; wa idzã = dan jika; hakamtum = kamu menetapkan hokum; bainan = di antara; nãsi = manusia; an tahkumũ = supaya kamu menetapkan hokum; bil ‘adli = dengan adil; innallãha = sesungguhnya Allah; ni’immã = sebaik-baik; yaizhũkum = Dia memberi pelajaran kepadamu; bihĩ = dengannya; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; samĩ’an = Maha Mendengar; bashĩrã = Maha Melihat.

innal lãha ya’murukum an tuadũl amaanaati ilã ahlihã wa idzã hakamtum bainan nãsi an tahkumũ bil ‘adli, innallãha ni’immã yaizhũkum bihĩ, innallãha kãna samĩ’am bashĩrã.

58. Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan bila kamu disuruh menetapkan hukum di antara manusia hendaknya secara adil. Sesungguhnya, Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu” artinya Allah itu Mahaguru Yang Terbaik yang menyuruh makhluk-Nya yang terbaik menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, yaitu orang-orang yang beriman. Dan Allah menyuruh makhluk-Nya menetapkan hukum dengan adil.

yã ayyuha wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; athĩ’ũllãha = taatilah Allah; wa athi’ur rasũla = dan taatilah Rasul-Nya; wa ũlil amri = dan pemimpin; minkum = di lingkunganmu; fa in = maka jika; tanãza’tum = kamu berselisih; fĩ syai-in = tentang sesuatu; farudũhu = maka kembalikanlah ia; ilãllãhi = kepada Allah; war rosũli = dan Rasul-Nya; in kuntum = jika kamu adalah; tu’minũna = (kamu) beriman; bil lãhi = kepada Allah; wal yaumil ãkhir = dan hari akhirat; dzãlika = demikian itu; khairun = lebih baik; wa ahsanu = dan sebaik; ta’wĩlã = kesudahan akibatnya

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ athĩ’ũllãha wa athi’ur rasũla wa ũlil amri minkum, fa in tanãza’tum fĩ syai-in farudũhu ilãllãhi war rosũli in kuntum tu’minũna bil lãhi wal yaumil ãkhiri, dzãlika khairun wa ahsanu ta’wĩlã.

59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan pemimpin di lingkungan kamu. Kemudian, jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alquran), dan Rasul (sunah dan haditsnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih baik bagimu, dan sebaik kesudahan akibatnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan perintah Allah yang harus diingat, (lihat juga Q.s Ali ‘Imran, 3: 32, 132) diperhatikan, dilaksanakan saatber-hablum minannas, harus terkait dengan hablum minallãhu, dan hablum minal alamĩn.

alamtaro = apakah tidak kamu perhatikan; ilalladzĩna = kepada orang-orang yang; yadz’umũna = mereka mengaku; annahum = sesungguhnya mereka; ãmanũ = beriman; bimã = kepada apa; unzila = diturunkan; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan apa; unzila = diturunkan; min qoblika = dari sebelum kamu; yurĩdũna = mereka hendak; an yatahãkamũ = mereka berhakim; ilãth thōghũti = kepada Thaghut; wa qod = dan sungguh; umirũ = mereka diperintah; an yakfurũ = mereka untuk mengingkari; bihi = dengannya (thaghut); wayurĩdu = dan menghendaki; sy syaithōnu = setan; an yudhillahum = untuk menyesatkan mereka; dholãlan = penyesatan; ba’ĩdã = sejauh-jauhnya.

alamtaro ilalladzĩna yadz’umũna annahum ãmanũ bimã unzila ilaika wa mã unzila min qoblika yurĩdũna an yatahãkamũ ilãth thōghũti wa qod umirũ an yakfurũ bihi, wayurĩdusy syaithōnu an yudhillahum dholãlam ba’ĩdã.

60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, ada orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, tapi mereka masih mau berhakim kepada thaghut. Mereka bersikeras, padahal mereka sudah diperingatkan untuk mengingkari thaghut itu. Allah mengingatkan, setanlah yang berperan menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.

wa idzã = dan apabila; qĩla = dikatakan; lahum = kepada mereka; ta’a’alaw = marilah; ilã mã = kecuali apa (hukum); anzalallãhu = telah diturunkan Allah; wa ilar rosũli = dan kepada Rasul; ro-aita = kamu lihat al munãfiqĩna = orang-orang munafik; yashuddũna = (mereka) menghalangi; ‘anka = dari kamu; shudũdã = halangan yang keras/kuat.

wa idzã qĩla lahum ta’a’alaw ilã mã anzalallãhu wa ilar rosũli ro-aital munãfiqĩna yashuddũna ‘anka shudũdã.

61. Apabila dikatakan kepada mereka: “Tunduklah kamu kepada hukum yang diturunkan Allah, dan Rasul-Nya,” niscaya kamu melihat orang-orang munafik menghalang-halangi manusia dengan sekuat-kuatnya, bila mendekati kamu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, ada orang-orang munafik yang akan menghalang-halangi manusia tunduk mengikuti hukumullah dan Rasul-Nya.

fa = maka; kaifa = bagaimanakah; idzã = apabila; ashōbat-hum = menimpa mereka; mushĩbatum = musibah; bimã = dengan sebab; qoddamat = perbuatan; aidĩhim = tangan-tangan mereka; tsumma = kemudian; jã-ũka = mereka datang kepadamu; yahlifũna = mereka bersumpah; billãhi = demi Allah; in arodnã = sekali-kali kami tidak menghendaki; illã = kecuali (selain); ihsaanan = kebaikan; wa taufĩqō = perdamaian yang sempurna.

fakayfa idzã ashōbat-hum mushĩbatum bimã qoddamat aidĩhim tsumma jã-ũka yahlifũna billãhi in arodnã illã ihsaanan wa taufĩqō.

62. Maka bagaimanakah halnya, apabila orang-orang munafik ditimpa sebuah musibah karena perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian datang kepadamu sambil bersumpah: “Demi Allah, kami betul-betul tidak menghedaki selain penyelesaian yang baik, dan perdamaian yang sempurna.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan, kelak akan ada orang munafik yang mengadukan musibah akibat perbuatan tangannya sendiri, Allah memberikan petunjuk pada ayat berikut.

ũlãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; ya’lamullãhu = Allah mengetahui; mã fĩ = apa yang di dalam; qulũbihim = hati mereka; fa-a’ ridh = maka berpalinglah kamu; ‘anhum = dari mereka; wa ‘izhhum = dan berilah mereka pelajaran; wa qul = dan katakanlah; lahum = kepada mereka; fĩ anfusihim = dalam jiwa mereka; qaulan = perkataan; balĩghō = berkesan.

ũlãikal ladzĩna ya’lamullãhu mã fĩ qulũbihim, fa-a’ ridh ‘anhum wa ‘izhhum wa qul lahum fĩ anfusihim qaulam balĩghō.

63. Mereka adalah orang-orang yang telah diketahui Allah, apa yang ada di dalam hati mereka. Karena itu menghindarlah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakan kepada mereka perkataan yang berkesan pada jiwa mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Memberi pelajaran” maksudnya, mereka harus diberitahu tentang Allah dengan sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, Rasul-rasul-Nya, mendirikan salat; membayar infak, zakat, fitrah, sodakah; berpuasa wajib di bulan Ramadhan, dan puasa-puasa sunat lainnya; menunaikan ibadah haji kalau mampu.
“perkataan yang berkesan”, maksudnya hal yang terkait dengan akhlak Islam yang mulia yang terekam dalam Alquran, dan hadist.

wa mã arsalnã = dan Kami tidak mengutus; mir rosũlin = dari seorang Rasul; illã = melainkan, kecuali; liyuthō’a = untuk ditaati; bi-idznillãhi = dengan idzin Allah; wa law = dan kalau; annahum = sesungguhnya mereka; izh = ketika; zholamũ = mereka menganiaya; anfusahum = diri mereka; jã-ũka = mereka datang kepada kamu; fastaghfarũllãha = maka mereka memohon ampun kepada Allah; wastaghfara = dan memohonkan ampun; lahumu = untuk mereka; ar rosũlu = Rasul; lawajadũllãha = tentu mereka mendapati Allah; tawwaba = Maha Penerima tobat; ar rohĩman = Maha Penyayang.

wa mã arsalnã mir rosũlin illã liyuthō’a bi-idznillãhi, wa law annahum izh zholamũ anfusahum jã-ũka fastaghfarũllãha wastaghfara lahumur rosũlu lawajadũllãha tawwabar rohĩman.

64. Dan, Kami tidak mengutus seseorang Rasul, kecuali untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya, jika mereka, ketika menganiaya dirinya, lalu datang kepadamu, dan memohon ampun kepada Allah; dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menganiaya dirinya” maksudnya: berhakim kepada selain Nabi Muhammad s.a.w..Kalau orang munafik itu memohon ampun, maka Allah itu Maha Penerima tobat, dan Maha Penyayang.

falã warobbika = maka demi Robb kamu; lã yu’minũna = mereka tidak beriman; hattã = hingga; yuhakkimũka = mereka menjadikan kamu hakim; fĩmã = terhadap apa; syajaro = perselisihan; bainahum = di antara mereka; tsumma = kemudian; lã yajidũ = mereka tidak mendapatkan; fĩ anfusihim = dalam hati mereka; harojan = keberatan; mimmã = terhadap apa; qodhoita = kamu putuskan; wa yusallimũ = dan mereka menerima; taslĩmã = penerimaan sepenuh (hatinya).

falã warobbika lã yu’minũna hattã yuhakkimũka fĩmã syajaro bainahum tsumma lã yajidũ fĩ anfusihim harojam mimmã qodhoita wa yusallimũ taslĩmã.

65. Maka, demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak merasa keberatan dalam hati mereka menerima dengan sepenuhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, hakekatnya, keimanan orang munafik harus diragukan, sampai mereka benar-benar menerima sepenuh hatinya pemutusan perkara yang mereka perselisihkan berdasarkan Hukumullah dan Sunaturrasul.

walaw = dan kalau; annã = sesungguhnya; katabnã = kami perintahkan; ‘alayhim = kepada mereka; aniqtulũ = bunuhlah olehmu; anfusakum = dirimu; awikhrujũ = atau keluarlah kamu; min diyãrikum = dari kampungmu; mã fa’alũhu = mereka tidak melakukannya; illã = kecuali; qolĩlun = sedikit; minhum = dari mereka; walaw = dan kalau; annahum = sesunggunya mereka; fa’alũ = (mereka) melaksanakan; mã = apa (pelajaran); yũ ‘azhũna = yang diberikan; bihi = kepadanya; lakãna = demikian itu (tentu ia); khoiron = lebih baik; lahum = bagi mereka; wa asyadda = dan lebih; tatsbĩtã = menguatkan.

walaw annã katabnã ‘alayhim aniq tulũ anfusakum awikhrujũ min diyãrikum mã fa’alũhu illã qolĩlum minhum walaw annahum fa’alũ mã yũ ‘azhũna bihi, lakãna khoirol lahum wa asyadda tatsbĩtã.

66. Dan sesungguhnya, kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu, atau keluarlah kamu dari kampungmu,” pasti mereka tidak melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya, kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepadanya, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan imannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi petunjuk untuk menguji keimanan orang munafik itu dengan cara mereka disuruh membunuh dirinya atau keluar dari kampung halamannya. Ujian ini pasti akan dilakukan oleh sedikit saja dari mereka. Padahal hal seperti itu menunjukkan bukti keimanannya, memang sudah berubah. Hal ini menjadi pelajaran bagi orang yang beriman, agar harus selalu berhati-hati menghadapi orang-orang munafik.

wa idzãn = dan kalau demikian; la-ãtainãhum = pasti kami berikan; min = dari; ladunnã = haribãn Kami; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar

wa idzãl la-ãtainãhum milladunnã ajron ‘azhĩmã.

67. dan kalau demikian, pasti Kami berikan pahala yang besar dari Kami (kepada mereka).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalau perintah Allah dilaksanakan (membunuh diri atau keluar dari kampung halaman, sebagai penebus dosa karena kekafiran mereka), mereka akan mendapatkan pahala yang sangat besar.

wa lahadainahum = dan pasti Kami beri petunjuk mereka; shirōthan = jalan; mustaqĩmã = lurus (benar).

wa lahadainahum shirōthom mustaqĩmã.

68. dan pasti Kami tunjuki jalan yang lurus (kepada mereka).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir yang tobat, dan melakukan perintah bertobatnya, akan diberi petunjuk jalan yang benar.

wa man = dan barang siapa; yuthi’illãha = menaati Allah; wa = dan; ar rosũla = Rosul; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; ma’a = bersama-sama; al ladzĩna = orang-orang yang; an’amallãhu = Allah menganugerahi nikmat; ‘alayhim = kepada mereka; minan nabiyyĩna = dari para Nabi; wash shiddĩqĩna = dan para Shiddiqin; wasysyuhadã-i = dan para Syuhada; wash shōlihĩna = dan orang-orang saleh; wa hasuna = dan sebaik-baik; ũlã-ika = mereka itulah; rofĩkō = teman.

wa man yuthi’illãha war rosũla fa-ũlã-ika ma’al ladzĩna an’amallãhu ‘alayhim minan nabiyyĩna wash shiddĩqĩna wasysyuhadã-i wash shōlihĩna wa hasuna ũlã-ika rofĩkō.

69. Dan, barang siapa yang menaati Allah dan rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi hikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para siddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh.. Dan, mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “para siddiqin” adalah orang-orang yang teguh keimanannya kepada kebenaran Rasul, orang-orang yang diberi anugerah kenikmatan, seperti yang disebutkan dalam Q.s. al Fatihah, 1: 7.

dzãlika = demikian itu; al fadhlu = karunia; minallãhi = dari Allah; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah ‘alĩmã.

dzãlikal fadhlu minallãhi, wa kafã billãhi ‘alĩmã.

70. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah yang cukup mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat-ayat berikutnya mengenai taktik, tujuan, adab berperang, dan keharusan siap-siaga menghadapi musuh.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; khudzũ = ambillah olehmu; hidzrokum = kewaspadaanmu, kesiapsiagãnmu; fanafirũ = pergilah kamu; tsubãtin = berkelompok-kelompok; awinfirũ atau pergilah, majulah; jamĩ’ã = bersama-sama.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ khudzũ hidzrokum fanafirũ tsubãtin awinfirũ jamĩ’ã.

71. Hai orang-orang yang beriman, bersiap-siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!

wa inna = dan sesungguhnya; minkum = di antara kamu; laman = ada orang; layubaththi-anna = sangat berlambat-lambat; fain = maka jika; ashōbatkum = menimpa kamu; mushĩbatun = musibah; qōla = ia berkata; qod = sungguh; an’amallãhu = Allah telah menganugerahkan nikmat; ‘alayya = atas diriku; idz lam = karena tidak; akun = adalah aku; ma’ahum = bersama-sama mereka; syahĩdã = menyaksikan (perang).

wa inna minkum lamal layubaththi-anna fain ashōbatkum mushĩbatum qōla qod an’amallãhu ‘alayya idz lam akum ma’ahum syahĩdã.

72. Dan sesungguhnya, jika di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat ke medan pertempuran. Maka, jika kamu ditimpa musibah, ia berkata: “Sesungguhnya, Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berperang bersama-sama mereka.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sangat berlambat-lambat ke medan pertempuran” adalah orang yang sangat berkeberatan untuk pergi berperang, tidak mau bekerjasama dalam memperjuangkan kebaikan dan kebenaran. Dia menganggap sebagai keberuntungan karena tidak terkena musibah perang.

wala-in = dan sesungguhnya jika; ashōbakum = kamu memperoleh; fadhlum = karunia; minallahi = dari Allah; layakũlanna = tentu ia mengatakan; ka-al lam takun = seakan-akan tidak pernah ada; bainakum = antara kamu; wa bainahũ = dan antara ia; mawaddatun = kasih-sayang; yã laitanĩ = aduhai, kiranya aku; kuntu = aku adalah; ma’ahum = bersama-sama mereka; fa-afũza = tentu aku mendapat kemenangan; fauzan = kemenangan; ‘azhĩmã = besar.

wala-in ashōbakum fadhlum minallahi layakũlanna ka-al lam takum bainakum wa bainahũ mawaddatun yã laitanĩ kuntu ma’ahum fa-afũza fauzan ‘azhĩmã.

73. Dan sungguh, jika kamu beroleh karunia kemenangan dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih-sayang antara kamu dengan dia: “Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar pula.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jika umat Islam mendapatkan kemenangan, atas izin Allah, mereka berangan-angan, kemenangan itu di dapat karena jasanya.

fa = maka; alyuqōtil = hendaknya berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; al ladzĩna = orang-orang yang; yasyrũna = (mereka) menukar; al hayawãta = kehidupan; ad dun-yã = dunia; bil ãkhiroti = dengan akhirat; wa man = dan barang siapa; yuqōtil = berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; fayuqtal = maka terbunuh; au yaghlib = atau memperoleh kemenangan; fasaufa = maka kelak; nu’tĩhi = akan Kami berikan kepadanya; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar.

falyuqōtil fĩ sabĩlillãhil ladzĩna yasyrũnal hayawãtad dun-yã bil ãkhiroti wa man yuqōtil fĩ sabĩlillãhi fayuqtal au yaghlib fasaufa nu’tĩhi ajron ‘azhĩmã.

74. Karena itu, hendaklah orang-orang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat dengan berperang di jalan Allah. Barang siapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat” adalah orang-orang mukmin yang mengutamakan kehidupan akhirat di atas kehidupan dunia. Kehidupan akhirat itu menjadi fokus kehidupan di dunia. Kehidupan dunia itu sarana untuk mencapai kehidupan di akhirat.
“berperang di jalan Allah” maksudnya bukan hanya dalam arti yang sesungguhnya, tapi juga dalam arti memerangi nafsu-nafsu setan, nafsu-nafsu khewani, memerangi dalam arti mengendalikan nafsu-nafsu diri sendiri, memerangi nafsu-nafsu yang ada di lingkungan masyarakat (lingkungan rumah tangga, lingkungan masyarakat RT., RW. dan lingkungan yang lebih luas lagi, regional, nasional, internasional).

wa mã lakum = dan mengapa kamu; lã tuqōtilũna = kamu tidak mau berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wal mustadh’ afĩna = dan orang-orang yang lemah; mina = dari; ar rizãli = laki-laki; wan nisã’i = dan perempuan; wal wildaani = dan anak-anak; al ladzĩna = orang-orang yang; yaqũlũna = mereka berdoa; robbanã = yã Robb kami; akhrijnã = keluarkanlah kami; min hãdzihi = dari ini; al qoryati = negeri; azh zhãlimi = yang lalim; ahluhã = penduduknya; waj’al = dan berilah; lanã = untuk kami; mil ladunka = dari haribãn-Mu; waliyyan = pelindung; waj’al = dan berilah; lanã = untuk kami; min ladunka = dari haribãn-Mu; nashĩrã = penolong.

wa mã lakum lã tuqōtilũna fĩ sabĩlillãhi wal mustadh’ afĩna minar rizãli wan nisã’I wal wildaanil ladzĩna yaqũlũna robbanã akhrijnã min hãdzihil qoryatizh zhãlimi ahluhã, waj’al lanã mil ladunka waliyyã, waj’al lanã min ladunka nashĩrã.

75. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan-perempuan, maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya lalim, dan berilah kami pelindung dan penolong dari Engkau.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang di jalan Allah berarti memerangi orang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan murtad yang selalu membuat kelaliman, keonaran di dunia yang menimbulkan kesengsaraan, kemelaratan.

alladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; yuqōtilũna = mereka berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; waladzĩna = dan orang-orang yang; kafarũ = kafir; yuqōtilũna = mereka berperang; fĩ sabĩlith thōghũti = di jalan togut; faqōtilũ = maka perangilah; auliyã = kawan-kawan; asy syaitōni = setan; inna kaida = sesungguhnya tipu-daya; asy syaitōni = setan; kãna = adalah; dho’ĩfã = lemah.

alladzĩna ãmanũ yuqōtilũna fĩ sabĩlillãhi, waladzĩna kafarũ yuqōtilũna fĩ sabĩlith thōghũti faqōtilũ auliyã-asy syaitōni, inna kaidasy syaitōni kãna dho’ĩfã.

76. Orang-orang beriman yang berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut, maka perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya, tipu-daya setan itu lemah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hidup ini selalu dalam peperangan menegakkan kebenaran, keadilan; mencegah kejahatan, kebohongan, kecurangan, kepalsuan.

alamtaro = tidakkah kamu perhatikan; ilalladzĩna = kepada orang-orang yang; qĩlalahum = dikatakan kepada mereka; kuffũ = tahanlah; aidiyakum = tanganmu; wa aqĩmũ = dan dirikanlah; ash sholãta = salat; wa ãtũ = dan tunaikanlah; az zakãta = zakat; falammã = maka setelah; kutiba = diwajibkan; ‘alayhimu = atas mereka; al qitãlu = perang; idzã = tiba-tiba; farĩqun = segolongan; minhum = dari mereka; yakhsyauna = mereka takut; an nãsa = manusia; kakhasy-yatillãhi = seperti takut (kepada) Allah; au asyadda = atau lebih; khasy-yatan = takut; wa qōlũ = dan mereka berkata; robbanã = yã Robb kami; lima = mengapa; katabta = Engkau wajibkan; ‘alaina = atas kami; al qitãla = perang; law lã = mengapa tidak; akhkhortanã = Engkau tangguhkan kami; ilã ajalin = sampai waktu; qorĩbin = dekat; qul = katakanlah; matã’u = kesengan; ad dun-yã = dunia; qolĩlun = sedikit; wa = dan al ãkhirotu = akhirat; khoirun = lebih baik; liman = bagi orang; it taqō = bertakwa; wa lã = dan tidak; tuzhlamũna = kamu dianiaya; fatĩlã = sedikit pun.

alamtaro ilalladzĩna qĩlalahum kuffũ aidiyakum wa aqĩmũsh sholãta wa ãtũz zakãta falammã kutiba ‘alayhimul qitãlu idzã farĩqum minhum yakhsyaunan nãsa kakhasy-yatillãhi au asyadda khasy-yatan, wa qōlũ robbanã lima katabta ‘alainal qitãla law lã akhkhortanã ilã ajalin qorĩbin, qul matã’ud dun-yã qolĩlun wal ãkhirotu khoirul limanit taqō wa lã tuzhlamũna fatĩlã.

77. Tidakkah kamu perhatikan, orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu dari berperang, dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat.” Setelah diwajibkan berperang atas mereka, sebagian dari mereka (golongan munafik) tiba-tiba takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, atau lebih takut lagi, mereka berkata: “yã Tuhan kami, mengapa Engkau mewajibkan perang kepada kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang takwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyuruh Nabi Muhammad saw.dan para pengikutnya memperhatikan perilaku orang-orang munafik dalam menanggapi perintah dan larangan Allah, dan peringatan apa yang harus disampaikan kepada mereka. Orang-orang Islam harus berpegang teguh pada peringatan Allah yang berbunyi “kehidupan (kesenangan) di dunia ini hanya sebentar, singkat. Lebih baik banyak memperhatikan untuk kehidupan di akhirat, tapi juga jangan terlalu melupakan kehidupan di dunia, harus ada keseimbangan.

aina mã = di mana saja; takũnũ = kamu berada; yudrik kumu = kamu akan mendapatkan; al mautu = maut; wa law = walaw, meskipun; kuntum = kamu berada; fĩ burũjin = di dalam benteng; musyayyadatin = yang kokoh; wa in = dan jika; tushib-hum = menimpa mereka; hasanatun = kebaikan; yaqũlũ = mereka berkata; hãdzihĩ = ini adalah; min indallahi = dari hariba Allah; wa in = dan jika; tushibhum = menimpa mereka; sayyi-atun = bencana; yaqũlũ = mereka berkata; hãdzihi = ini adalah; min indika = dari kamu (Muhammad s.a.w.); qul = katakanlah; kullun = semuanya; min ‘indallãhi = dari haribãn Allah; famã li = maka mengapa; hã-ulã-i = mereka itu; al qaumi = kaum; lã = tidak; yakãdũna = mereka hampir-hampir; yafqohũna = mereka memahami; haditsã = pembicaraan.

ainamã takũnũ yudrik kumul mautu wa law kuntum fĩ burũjim musyayyadatin, wa in tushibhum hasanatun yaqũlũ hãdzihĩ min indallahi, wa in tushibhum sayyi-atun yaqũlũ hãdzihi, min indika qul kullum min ‘indallãhi, famã li hã-ulã-il qaumi lã yakãdũna yafqohũna haditsã.

78. Di mana saja kamu berada, kematian itu akan menemuimu, meskipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini dari Allah.” Dan kalau mereka ditimpa bencana, mereka mengatakan: “Ini datangnya dari kamu (Muhammad s.a.w.), katakanlah: “Semuanya datang dari Allah.” Maka, mengapa orang-orang munafik hampir-hampir tidak memahami persoalan pembicaraan sedikit pun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memperoleh kebaikan” artinya kemenangan dalam peperangan atau rezeki.
“pembicaraan” artinya pelajaran dan nasihat-nasihat yang diberikan kepada orang munafik.
Nabi Muhammad disuruh Allah mengatakan bahwa bencana itu datangnya dari Allah juga, dalam arti kalau manusia yang diberi petunjuk itu selalu tidak mengindahkan, maka Allah mempunyai hak menurunkan bencana, mungkin sebagai peringatan, pelajaran, mungkin sebagai hukuman. Manusia harus memahami perilaku Allah Yang Maha Gaib, ajaib.

mã ashōbaka = musibah apa saja; min hasanatin = berupa kebaikan; faminallãhi = maka dari Allah; wa mã = dan apa; ashōbaka = musibah kamu; min sayyi-atin = dari bencana; famin = maka dari; nafsika = dirimu sendiri; wa arsalnãka = dan kamu Kami utus; linnãsi = kepada manusia; rosũlan = Rasul; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; syahĩddã = menjadi saksi.

mã ashōbaka min hasanatin faminallãhi, wa mã ashōbaka min sayyi-atin famin nafsika, wa arsalnãka linnãsi rosũlan wa kafã billãhi syahĩddã.

79. Apa saja kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, adalah dari dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada seluruh manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini penjelasan ayat 78. Seseorang yang selalu membantah perintah Allah adalah diri yang harus menanggung apa yang sudah dilakukan. Bencana di dunia ini karena ulah manusia. Allah menurunkannya sebagai peringatan, pelajaran, atau sebagai hukuman.

man = barang siapa; yuthi’i = menaati; ar rosũla = Rasul; fa qod = maka sesungguhnya; athã’allãha = taat kepada Allah; wa man = dan barang siapa; tawallã = berpaling; famã = maka tidak; arsalnã = Kami utus; ka = kamu; ‘alayhim = kepada mereka; hafĩzhan = pemelihara.

man yuthi’ir rosũla fa qod athã’allãha wa man tawallã famã arsalnãka ‘alayhim hafĩzhan.

80. Barang siapa yang menaati rasul, sesungguhnya, ia telah menaati Allah. Dan Barang siapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara mereka.” Artinya Rasul tidak bertanggung jawab atas perbuatan orang kafir, dan tidak menjamin agar mereka tidak berbuat kesalahan. Masing-masing individu memang harus bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri. Nabi Muhammad hanya sekedar memberi tahu, mana yang benar dan salah berdasarkan norma-norma agama dari Allah yang dibawanya.

wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; thō’atun = taat; fa idzã = maka bila; barozũ = mereka telah pergi; min ‘indika = dari hadapanmu; bayyata = mengambil keputusan di malam hari; thō-ifatun = segolongan; minhum = dari mereka; ghoiro = bukan/selain; alladzĩ = orang yang; taqũlu = dia katakan; wallãhu = dan Allah; yaktubu = Dia menulis; mã = apa; yubayyitũna = yang mereka putuskan; fa-a’ridh = maka berpalinglah; ‘anhum = dari mereka; wa tawakkal = dan bertawakal; ‘alal lãhi = kepada Allah; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; wakĩlã = pelindung.

wa yaqũlũna thō’atun fa idzã barozũ min ‘indika bayyata thō-ifatum minhum ghoirolladzĩ taqũlu, wallãhu yaktubu mã yubayyitũna fa-a’ridh ‘anhum wa tawakkal ‘alal lãhi, wa kafã billãhi wakĩlã.

81. Dan mereka, orang-orang munafik, mengatakan: “Kewajiban kami hanyalah taat.” Tetapi, apabila mereka telah pergi dari kamu, sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari dan mengambil keputusan lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka, dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah, jika kita berhubungan kerja dengan orang-orang kafir, musyrik, munafik, fasik, kita harus berupaya terus, agar mereka meyakini keberadaan Allah yang benar, dengan segala kekuasaannya. Kita jangan lengah mengamati sikap, gerak, dan tingkah-laku mereka, sebab mungkin membahayakan kita.

afalã = apakah tidak; yatadabbarũna = mereka memperhatikan; al qur’ana = Alquran; walaw = jika; kãna = ia adalah; min = dari; ‘indi = sisi, pihak; ghoiri = selain, bukan; al lãhi = Allah; lawa jadũ = tentu mereka mendapati; fĩhi = di dalamnya; ikhtilãfan = pertentangan; katsĩrã = banyak.

afalã yatadabbarũnal qur’ana, walaw kãna min ‘indi ghoiril lãhi lawa jadũ fĩhi ikhtilãfan katsĩrã.

82. Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Alquran? Kalau sekiranya Alquran itu bukan dari Allah, tentulah mereka menemukan banyak pertentangan di dalamnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menegaskan posisi orang kafir, musyrik, munafik, fasik dalam berkeyakinan pada Alkitabnya, dibandingkan dengan Alquran yang di dalamnya mencakupi segala apa yang ada di dalam Alkitabnya, tidak ada pertentangan tujuan, kecuali adanya pembaruan, perubahan, perbaikan, pelurusan terutama dalam peribadatannya. Mereka harus percaya bahwa pembaruan, perubahan, perbaikan, pelurusan itu semua dari Allah, Tuhan bagi semua makhluk-Nya.

wa idzã = dan apabila; jã-ahum = datang kepada mereka; amrun = berita, perkara; mina = dari; al amni = keamanan; awi = atau; al khaufi = ketakutan; adzã’ũ = mereka menyiarkan; bihi = dengannya; wa law = dan kalau; raddũhu = mereka mengembalikan, meyerahkannya; ilã = kepada; ar rasũli = Rasul; wa ilã = dan kepada; ũlil amri = penguasa; minhum = dari mereka; la’alimahu = tentu akan mengetahui; al ladzĩna = orang-orang yang; yastambithũnahu = (mereka) menyelidikinya; minhum = di antara mereka; walaw lã = dan kalau tidak; fadhlullãhi = karunia Allah; ‘alaykum = kepada kamu; warohmatuhu = dan rahmat-Nya; lãttaba’tumu = tentu kamu mengikuti; asy syaitōna = setan; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

wa idzã jã-ahum amrum minal amni awil khaufi adzã’ũ bihi, wa law raddũhu ilãr rasũli wa ilã ũlil amri minhum la’alimahul ladzĩna yastambithũnahu minhum, walaw lã fadhlullãhi ‘alaykum warohmatuhu, lãt taba’tumusy syaitōna illã qolĩlã.

83. Dan apabila datang kepada mereka berita keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan, kalau mereka menyerahkannya kepada rasul dan Ulil Amri (penguasa) di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya, akan dapat mengetahui dari Ulil Amri (penguasa) itu, kalau tidak karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja di antaramu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Ulil Amri’ maksudnya: para sahabat Nabi Muhammad saw.yang menguasai daerah tertentu, dan para cendekiawan di antara mereka.
Kegiatan dan persoalan agama harus dan perlu diketahui, diatur, dan dipercaya oleh penguasa dunia, bahwa semua kejadian di dunia ini karena ada karunia dan rahmat dari Allah. Jangan sampai mengikuti setan, musuh manusia yang sudah diberi akal-pikiran.
Berikuti ini dijelaskan kewajiban berperang, dan adab-adabnya.

fa qōtil = maka berperanglah; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; lã = tidak; tukallafu = kamu dibebani; illã = kecuali, selain, melainkan; nafsaka = dirimu sendiri; wa harridhi = dan kobarkanlah semangat; al mu’minĩna = orang-orng mu’min; ‘asallãhu = mudah-mudahan Allah; an yakuffa = akan menolak; ba’sa = kekuatan; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; wallãhu = dan Allah; asyaddu = sangat; ba’san = kekuatan; wa asyaddu = dan sangat; tankĩlã = keras.

fa qōtil fĩ sabĩlillãhi lã tukallafu illã nafsaka, wa harridhil mu’minĩna ‘asallãhu an yakuffa ba’salladzĩna kafarũ, wallãhu asyaddu ba’san wa asyaddu tankĩlã.

84. Maka, berperanglah kamu di jalan Allah. Kamu tidaklah dibebani kecuali rasa berkewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah berke-kuatan amat besar, dan amat keras siksa-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berperang itu harus di jalan Allah. Berperang itu menahan serangan orang kafir: Orang kafir adalah orang yang bersekutu dengan setan, mereka menolak, menyangkal perintah Allah, menutup mata, telinga dan hati serta pikirannya dari kebenaran, tidak percaya kepada Allah, Nabi, Rasul-Nya, dan tidak mensyukuri nikmat hidupnya, tidak mensyukuri nikmat Allah dan bersifat kikir, menyuruh orang untuk kikir, dan menutup-nutupi karunia Allah, orang yang menganggap dusta ayat-ayat Allah.

man = barang siapa; yasyfa’ = memberi pertolongan; syafã-’atan = pertolongan; hasanatan = baik; yakun = adalah; lahũ = baginya; nashĩbum = bagian; minhã = darinya; wa man = dan barang siapa; yasyfa’ = memberi pertolongan; syafã-’atan = pertolongan; syayyi-atan = buruk; yakun = adalah; lahũ = baginya; kiflun = memikul; minhã = darinya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; muqĩtã = Mahakuasa.

man yasyfa’ syafã-’atan hasanatan yakul lahũ, nashĩbum minhã wa man yasyfa’ syafã-’atan syayyi-atan yakul lahũ, kiflum minhã wa kãnallãhu ‘alã kulli syai-im muqĩtã.

85. Barang siapa yang memberikan syafaat (bantuan, pertolongan) yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian pahala dari syafaatnya itu. Dan barang siapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian dosa dari syafaat buruknya itu. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memberikan syafaat yang baik” ialah setiap syafaat yang ditujukan untuk melindungi hak seorang muslim, atau menghidarkannya dari suatu kemudharatan.
“syafaat yang buruk, artinya syafaat yang tidak melindungi hak seorang muslim, atau menyebabkan bahaya atau kemudharatan.

wa idzã = dan bila; huyyĩtum = kamu ditinggikan (dihormati); bi tahiyyatin = dengan penghormatan; fahayyũ = maka hormatilah; bi ahsana = dengan yang lebih baik; minhã = darinya; au ruddũhã = atau kembalikan ia; innallãha sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; hasĩbã = memperhitungkan.

wa idzã huyyĩtum bi tahiyyatin fahayyũ bi ahsana minhã au ruddũhã innallãha kãna ‘alã kulli syai-in hasĩbã.

86. Apabila kamu dihormati dengan sesuatu perbuatan, maka balaslah penghormatan itu dengan perbuatan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya Allah Maha memperhitungkan segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “balaslah dengan yang serupa” penghormatan dalam Islam adalah ucapan: “Assalamu ‘alaykum.” Balasannya harus: wassalamu ‘alaykum wa Rahmatullahi wa Barokatuh

allahu = Allah; lã = tidak (ada); ilãha = ilah (lain); illã = kecuali, selain, melainkan; huwa = Dia; layajma’annakum = Dia akan mengumpulkan kamu (sekalian); ilã yaumi = sampai hari; al qiyãmati = kiamat; lã royba = tidak ada keraguan; fĩhi = di dalamnya, padanya; wa man = dan barang siapa; ashdaqu = lebih benar; minallãhi = dari Allah; haditsã = perkataan.

allahu lã ilãha illã huwa, la yajma’annakum ilã yaumil qiyãmati lã royba fĩhi, wa man ashdaqu minallãhi haditsã.

87. Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia. Sesungguhnya, Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan, perkataan siapakah yang lebih benar, selain dari perkataan Allah?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kepada orang-orang yang tidak percaya tentang ada-Nya Allah Yang Mahaesa, dan Nabi Muhammad adalah Utusan-Nya. Alquran ini kumpulan kata-kata Allah yang benar, harus dipercaya.

famã = maka mengapa; lakum = bagi kamu; fil munãfiqĩna = dalam orang-orang munafik; fi-ataini = ada dua golongan; wallãhu = dan Allah; arkasahum = menjerumuskan mereka; bimã = dengan apa; kasabũ = yang mereka usahakan; aturĩdũna = apakah kamu bermaksud; an tahdũ = akan memberi petunjuk; man = orang; adhollallãu = Allah menyesatkan; wa man = dan barang siapa; yudhlilillãhu = Allah menyesatkan; falan = maka tidak; tajida = kamu mendapatkan; lahũ = baginya; sabĩlã = jalan.

famã lakum fil munãfiqĩna fi-ataini, wallãhu arkasahum bimã kasabũ, aturĩdũna an tahdũ man adhollallãu, wa man yudhlilillãhu falan tajidalahũ sabĩlã.

88. Maka, mengapa kamu terpecah menjadi dua golongan, dalam menghadapi orang-orang munafik, padahal Allah sudah membalikkan mereka ke kekafiran karena perbuatan mereka sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah? Barang siapa yang disesatkan Allah, usaha bagamanapun, kamu tidak mendapatkan jalan untuk memberi petunjuk kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kamu terpecah menjadi dua golongan” yakni golongan mukmin yang membela orang munafik, dan golongan mukmin yang memusuhi orang munafik.
“orang-orang yang telah disesatkan Allah” adalah orang-orang yang tidak mau memahami petunjuk dari Allah.
Orang munafik itu karena pikirannya sendiri. Mereka menolak petunjuk dari Allah karena ada perasaantak percaya, bahwa petunjuk itu dari Allah. Allah akan lebih menyesatkan mereka. Siapa pun yang berusaha untuk memberi petunjuk, tidak akan ada hasilnya. Mereka tidak mau percaya bahwa Alquran adalah satu-satunya petunjuk untuk hidup di dunia menuju akhirat, bagi siapa yang diberi rahmat dari Allah.

waddũ = mereka ingin; law takfurũna = kalau kamu menjadi kafir, kamã = sebagaimana; kafarũ = mereka kafir; fatakũnũna = maka kamu menjadi; sawã-an = sama; falã = maka jangan; tattakhidzũ = kamu menjadi seperti; minhum = dari mereka; auliyã-a = pemimpin; hattã = sehingga; yuhajirũ = mereka berhijrah; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; fa in = maka jika; tawallaw = mereka berpaling; fakhudzũhum = maka tawanlah mereka; waqtulũhum = dan bunuhlah mereka; haitsu = di mana saja; wajad tumũhum = kamu menemui mereka; wa lã = dan jangan; tattakhidzũ = kami jadikan; minhum = di antara mereka; waliyyan = pemimpin; wa lã = dan jangan; nashĩrã = penolong.

waddũlũ takfurũna kamã kafarũ fatakũnũna sawã-an, falã tattakhidzũ minhum auliyã-a hattã yuhajirũ fĩ sabĩlillãhi, fa in tawallaw fakhudzũhum waqtulũhum haitsu wajad tumũhum, wa lã tattakhidzũ minhum waliyyan wa lã nashĩrã.

89. Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir, sebagaimana mereka sendiri telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama dengan mereka. Maka, janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah di jalan Allah, Maka, jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan pula menjadi penolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Maka, jika mereka berpaling” diriwayatkan, beberapa orang Arab datang kepada Rasulullah saw.di Madinah, lalu mereka masuk Islam, kemudian mereka ditimpa “demam Madinah”, karena itu, mereka kembali kafir, lalu mereka keluar dari Madinah. Mereka berjumpa dengan sahabat Nabi, lalu sahabat Nabi menanyakan sebab-sebab mereka meninggalkan Madinah. Mereka menerangkan bahwa mereka ditimpa “demam Madinah”. Sahabat Nabi bertanya, “Mengapa kamu tidak mengambil teladan yang baik dari Rasulullah s.a.w.?” Sahabat-sahabat Nabi terbagi menjadi dua golongan, karena persoalan itu, Sebahagian berpendapat bahwa mereka telah menjadi munafik, sebagian yang lain berpendapat, mereka masih Islam. Lalu turunlah ayat ini, yang mencela kaum Muslimin, karena terbagi menjadi dua golongan, dan memerintahkan supaya orang-orang Arab itu ditawan dan dibunuh, jika mereka tidak berhijrah ke Madinah, karena mereka disamakan dengan kaum musyrikin yang lain.
Lihat juga Q.s. An Nisã’ 4: 139, 144.

illã = kecuali, selain, melainkan; al ladzĩna = orang-orang yang; yashilũna = (mereka) mengadakan hubungan; ilã qaumin = kepada kaum; bainakum = antara kamu; wa bainahum = dan antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; au = atau; jã-ũkum = mereka datang kepadamu; hashirat = merasa berat; shudũruhum = hati mereka; an yuqōtilũkum = untuk memerangi kamu; au yuqōtilũ = atau mereka memerangi; qaumahum = kaum mereka; walaw = dan kalau; syã-allãhu = Allah menghendaki; lasallathohum = tentu memberi kekuasaankepada mereka; ‘alaykum = atau kamu; fa laqōtalũkum = maka pasti mereka memerangi kamu; fa-ini’tazalũkum = tapi jika mereka membiarkan kamu; falam = maka tidak; yuqōtilũkum = mereka memerangikamu; wa alqaũ = dan mereka mengemukakan; ilaykumu = kepadamu; as salama = perdamaian; famã = maka tidak; ja’alallãhu = Allah (tidak) menjadikan; lakum = bagimu; ‘alayhim = atas mereka; sabĩlã = jalan.

illãl ladzĩna yashilũna ilã qaumim bainakum wa bainahum mĩtsãqun au jã-ũkum hashirat shudũruhum an yuqōtilũkum au yuqōtilũ qaumahum walaw syã-allãhu lasallathohum ‘alaykum fa laqōtalũkum, fa-ini’tazalũkum falam yuqōtilũkum wa alqaũ ilaykumus salama famã ja’alallãhu lakum ‘alayhim sabĩlã.

90. Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian damai, atau orang-orang yang datang kepadamu, sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaankepada mereka terhadap kamu, lalu pasti mereka memerangimu. Tetapi, jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangi kamu, serta mengemukakan perdamaian kepadamu, maka Allah tidak memberi jalan bagimu untuk melawan dan membunuh mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian damai” ayat ini menjadi dasar “hukum suaka”
“orang-orang yang datang kepadamu, sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.” Artinya, tidak memihak, dan telah mengadakan hubungan dengan kaum muslimin.
“jika mereka membiarkan kamu dan tidak memerangi kamu, serta mengemukakan perdamaian kepadamu” maksudnya menyerah.
Ayat ini mengemukakan toleransi antarumat yang hidup dalam suatu lingkungannya.

satajidũna = kelak akan kamu dapati; ãkhorĩna = golongan yang lain; yurĩdũna = mereka menghendaki; an-ya’manũkum = mereka aman dari kamu; wa ya’manũ = dan mereka aman; qaumahum = kaum mereka; kullamã = setiap kali; ruddũ = mereka diajak kembali; ilã = kepada; al fitnati = fitnah; urkisũ = mereka terjerumus; fĩhã = di dalamnya; fainlam = maka jika tidak; ya’tazilũkum = mereka membiarkan kamu; wa yulqũ = dan mengemukakan; ilaykumu = kepada kamu; as salama = perdamaian; wa yakuffũ = dan mereka menahan; aidiyahum = tangan-tangan mereka; fa khudzũhum = maka tawanlah mereka; waqtulũhum = dan bunuhlah mereka; haitsu = di mana saja; tsaqiftumũhum = kamu dapati mereka; wa ũlã-ikum = dan mereka itu; ja’alnã = Kami jadikan; lakum = untuk kamu; ‘alayhim = atas mereka; sulthōnan = kekuasaan; mubĩnã = nyata.

satajidũna ãkhorĩna yurĩdũna an-ya’manũkum wa ya’manũ qaumahum kullamã ruddũ ilal fitnati urkisũ fĩhã, fainlam ya’tazilũkum wa yulqũ ilaykumus salama wa yakuffũ aidiyahum fa khudzũhum waq tulũhum haitsu tsaqiftumũhum, wa ũlãikum ja’alnãlakum ‘alayhim sulthōnam mubĩnã.

91. Kelak, akan kamu dapati golongan-golongan yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman darimu, dan aman pula dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), mereka pun terjun ke dalamnya. Karena itu, jika mereka tidak membiarkan kamu, dan tidak mengemukakan perdamaian kepadamu, serta tidak menahan tangan mereka untuk memerangimu, maka tawanlah mereka, dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan alasan yang nyata kepadamu untuk menawan dan membunuh mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Islam berupaya untuk dapat hidup damai di antara umat yang bergolong-golongan (lihat ayat sebelun ini). Puncak persoalan di Madinah saatitu, adanya kaum Munafiqin yang ingin selamat dari Kaum Muslimin dan ingin selamat juga dari kaum Kafirin yang menjadi musuh Islam. Allah memerintahkan, bagi mereka yang memerangi Islam harus ditawan atau dibunuh di mana pun ia ditemui, dengan alasan, mereka akan selalu membuat kekacauan, dan kerusuhan.

wa mã kãna = dan tidak boleh (tidak layak); li mu’minin = bagi seorang Mu’min; an yaqtulã = akan membunuh; mu’minan = seorang mu’min; ilã = kecuali; khothō-an = bersalah; wa = dan; man = barang siapa; qotala = membunuh; mu’minan = seorang Mu’min; khoto-an = bersalah; fatahrĩru = maka hendaknya memerdekakan; roqobatin = hamba sahaya; mu’minatin = yang beriman; wa diyatun = mrmbayar diat; musallamatun = diserahkan; ilã = kecuali; ahlihĩ = keluarganya; illã = kecuali, selain, melainkan; an yashshaddaqũ = mereka menyedekahkan; fa-in = maka jika; kãna = ada; min qaumin = dari kaum; ‘aduwwin = permusuhan; lakum = bagimu; wa huwa = dan dia; mu’minun = seorang mukmin; fa tahrĩru = maka hendaknya memerdekakan; raqabatin = hamba sahaya; mu’minatin = yang beriman; wa-in kãna = dan jika ada; min qaumin = dari kaum; bainakum = di anta kamu; wa bainahum = dan di antara mereka; mĩtsãqun = perjanjian; fadiyatun = maka membayar diat; musallamatun = diserahkan; ilã = kepada; ahlihĩ = keluarganya; wa tahrĩru = dan memerdekakan; raqabatin = hamba sahaya; mu’minatin = yang beriman; fa man = maka barang siapa; lam yajid = tidak mendapatkan; fashiyãmu = maka berpuasa; syahraini = dua bulan; mutatãbi’aini = berturut-turut; taubatan = tobat; minallah = dari Allah; wa kãnallãhu = dan Allah itu; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Maha Bijaksana.

wa mã kãna li mu’minin an yaqtulã mu’minan ilã khothō-an wa man qotala mu’minan khoto-an fatahrĩru roqobatim mu’minatin wa diyatum musallamatun ilã ahlihĩ illã an yashshaddaqũ, fa-in kãna min qaumin ‘aduwwin-lakum wa huwa mu’minun fa tahrĩru raqabatin mu’minatin, wa-in kãna min qaumin bainakum wa bainahum mĩtsãqun fadiyatun musallamatun ilã ahlihĩ wa tahrĩru raqabatim mu’minatin, fa mal lam yajid fashiyãmu syahraini mutatãbi’ain, taubatan minallah, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã.

92. Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin yang lain, kecuali karena tidak sengaja, dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tidak sengaja, hendaknya ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh, kecuali jika mereka, keluarga si terbunuh bersedekah. Jika si terbunuh dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka hendaknya si pembunuh memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika si terbunuh dari kaum kafir, yang ada perjanjian damai antara mereka dengan kamu, maka hendaknya si pembunuh membayar diat yang diserahkan kepada keluarga si terbunuh, serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaknya si pembunuh berpuasa selama dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membunuh dengan tidak sengaja” semisal, menembak rusa, terkena seorang muslim.
“diat” adalah penyerahan sejumlah harta karena perbuatan yang dapat dihukum, seperti menghilangkan nyawa seseorang atau melukai anggota badan.
“keluarga si terbunuh bersedekah” maksudnya, keluarga si terbunuh itu membebaskan si pembunuh dari pembayaran diat.
“Barang siapa yang tidak memperolehnya” maksudnya, jika si pembunuh itu tidak mempunyai hamba atau tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman, atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan.
“Puasa dua bulan berturut-turut” adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

wa man = dan barang siapa; yaqtul = membunuh; mu’minan = seorang Mukmin; muta’ammidan = dengan sengaja; fajazã-uhu = maka balasannya; jahannamu = neraka jahanam; khōlidan = kekal; fĩhã = di dalamnya; wa ghodhiballãhu = dan Allah murka; ‘alayhi = kepadanya; wa la’anahũ = dan melaknatinya; wa a-‘addalahu = dan Dia menyediakan; ‘adzãban = azab, siksa; ‘azhĩmã = besar.

wa man yaqtul mu’minam muta’ammidan fajazã-uhu jahannamu khōlidan fĩhã wa ghodhiballãhu ‘alayhi wa la’anahũ, wa a-‘addalahu, ‘adzãban ‘azhĩmã.

93. Dan, barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah jahanam, kekal ia di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya, serta menyediakan azab yang besar baginya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seorang muslim membunuh seorang muslim lain dengan sengaja, karena ada pertengkaran yang beremosi tinggi (tidak dapat membendung amarah), Allah murka, mengutuki, dan menyediakan siksa yang sangat berat kepada si pembunuh. Bagaimana si terbunuh? Kalau dua-duanya dalam situasi yang sama (tidak dapat menahan amarah), dua-duanya terkena murka Allah, dikutuki, dan mendapat siksa yang berat. Kalau dalam situasi membela diri dari luapan amarah lawannya, Allah Maha Mengetahui tingkat keimanan seseorang.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; idzã = ketika, bila, tatkala, apabila, bila, tatkala, kalau; dhorobtum = kamu berperang; fĩ sabĩlil lãhi = di jalan Allah; fa tabayyanũ = maka teliti kenyataan; wa lã = dan jangan; taqũlũ = kamu membunuh; liman = kepada orang yang; alqō = mengatakan; ilaykumus salãma = mengucapkan salam; lasta = kamu bukan; mu’minan = seorang mukmin; tabtaghũna = kamu mencari; ‘arodho = harta benda; al hayãti = kehidupan; ad dun-yã = dunia; fa’indallãhi = maka di haribãn Allah; maghōnimu = rampasan perang; katsĩratun = yang banyak; kadzãlika = demikianlah; kuntum = kamu adalah; min qoblu = dari dulu; fa mannallãhu = Allah menganugerahkan nikmat; ‘alaykum = kepada kamu; fatabayyanũ = maka telitilah olehmu kenyataan; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bimã = dengan apa yang; ta’malũna = kamu kerjakan; khobĩrã = Maha Mengetahui.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ idzã dhorobtum fĩ sabĩlil lãhi fa tabayyanũ wa lã taqũlũ liman alqō ilaykumus salãma lastamu’minan tabtaghũna ‘arodhol hayãtid dun-yã, fa’indallãhi maghōnimu katsĩratun, kadzãlika kuntum min qoblu fa mannallãhu ‘alaykum fatabayyanũ, innallãha kãna bimã ta’malũna khobĩrã.

94. Hal orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi berperang di jalan Allah, maka telitilah, dan janganlah kamu membunuh orang yang mengucapkan “salam” kepadamu, dan kamu mengatakan: “Kamu bukan seorang mukmin”, lalu kamu membunuh dengan maksud mencari harta benda untuk kehidupan di dunia, karena pada Allah, ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaanmu dahulu, maka Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

“mengucapkan ‘salam’ kepadamu” juga bagi orang yang mengucapkan “lã ilãha illalah” kamu jangan membunuhnya.
“Begitu jugalah keadaanmu dahulu” maksudnya, orang itu belum jelas keislamannya, seperti juga kamu dahulu.

lã yastawĩ = tidaklah sama; al qō’idũna = orang-orang yang duduk; mina = di antara al mu’minĩna = orang-orang mukmin; ghoyru = tidak, bukan; ũlĩdh dhorori = mempunyai uzur; wal mujãhidũna = dan orang-orang yang berjihad; fĩ sabilillãh = di jalan Allah; bi amwãlihim = dengan harta benda mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; fadhdholallahu = Allah melebihkan; al mujahidĩna = orang-orang yang berjuhad; bi amwãlihim = dengan harta benda mereka; wa anfusihim = dan jiwa mereka; ‘alãl qo’idĩna = atas orang-orang yang duduk; darojatan = satu derajat; wa kullan = dan masing-masing; wa ‘adallãhu = Allah menjanjikan; al husnã = kebaikan; wa fadhdholallãhu = Allah melebihkan; al mujãhidĩna = orang-orang yang berjihad; ‘alãl qō’idĩna = atas orang-orang yang duduk; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar.

lã yastawĩl qō’idũna minal mu’minĩna ghoyru ũlĩdh dhorori wal mujãhidũna fĩ sabilillãh bi amwãlihim wa anfusihim, fadhdholallahul mujahidĩna bi amwãlihim wa anfusihim ‘alãl qo’idĩna darojatan, wa kullan wa ‘adallãhul husnã, wa fadhdholallãhul mujãhidĩna ‘alãl qō’idĩna ajron ‘azhĩmã.

95. Tidaklah sama antara mukmin yang tidak turut berperang karena uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya dengan orang-orang yang tidak turut berjihad satu derajat. Kepada masing-masing mereka, Allah menjanjikan pahala yang baik, surga, dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tidak berjihad dengan pahala yang besar,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada perbedaan antara orang-orang yang berjihad dan yang tidak berjihad karena uzur dan dengan orang-orang yang tidak berjihad dengan tidak ada uzur.
Dalam teks asli, terjemahannya “orang-orang yang duduk”, maksudnya, orang yang tidak turut berperang.

darojatin = beberapa derajat; minhu = darinya; wa maghfirotan = dan ampunan; wa rahmatan = dan rahmat; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ghofũro = Maha Pengampun; ar rohĩmã = Maha Penyayang.

darojatim minhu wa maghfirotan wa rahmatan wa kãnallãhu ghofũror rohĩmã.

96. yaitu beberapa derajat dari-Nya, dan ampunan serta rahmat. Dan, Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat 95. Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang memberikan ampunan dan rahmat derajat yang tinggi kepada orang-orang yang mau berjuang di jalan Allah

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; tawaffãhumu =mewafatkan mereka; al malã-ikatu = Malaikat; zhōlimĩi = (keadaan) menganiaya; anfusihim = diri mereka; qōlũ = mereka berkata; fĩma = bagaimana; kuntum = keadaan kamu; qōlũ = mereka berkata; kunnã = kami adalah; mustadh’afĩna = orang-orang yang tertindas; fĩl ardhi = di bumi (di negeri ini); qōlũ = mereka berkata; alam = tidakkah; takun = adalah; ardhũllãhi = bumi Allah; wãsi’atan = luas; fatuhãjirũ = maka kamu beripndah-pindah; fĩhã = di dalamnya; fa ulã-ika = maka mereka itu; ma’wãhum = tempat mereka; jahannamu = neraka jahanam; wa sã-at = dan seburuk-buruk; mashĩrã = tempat kembali.

innalladzĩna tawaffãhumul malã-ikatu zhōlimĩ anfusihim qōlũ fĩma kuntum, qōlũ kunnã mustadh’afĩna fĩl ardhi, qōlũ alam takun ardhũllãhi wãsi’atan fatuhãjirũ fĩhã fa ulã-ika ma’wãhum jahannamu wa sã-at mashĩrã.

97. Sesungguhnya, orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya kepada mereka: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab: “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri Mekah.” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Tempat orang-orang itu di neraka jahanam, dan jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “menganiaya diri sendiri” yang dimaksudkan adalah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama Nabi ke Madinah, padahal mereka sanggup. Mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir harus ikut Perang Badar. Di antara mereka ada yang terbunuh dalam keadaan membela orang kafir. Mereka dimasukkan ke neraka jahanam karena tidak patuh kepada Nabi Muhammad s.a.w..

illã = kecuali; al mustadh’afĩna = orang-orang yang tertindas; min = dari; ar rijãli = laki-laki; wan nisã-i = dan perempuan; wal wildaani = dan anak-anak; lã yastathĩ’ũna = mereka tidak mampu; hĩlatan = daya-upaya; wa lã yahtadũna = mereka tidak mendapat petunjuk; sabĩlã = jalan.

illãl mustadh’afĩna minar rijãli wan nisã-i wal wildaani lã yastathĩ’ũna hĩlatan wa lã yahtadũna sabĩlã.

98. kecuali mereka yang tertindas dari laki-laki, perempuan, atau anak-anak yang tidak mampu, tidak berdaya, dan tidak mendapat petunjuk jalan untuk berhijrah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ada yang tidak mampu hijrah karena tidak berdaya, cacat, lumpuh, sakit, usia sangat tua, mereka tertindas hidupnya.

fa ũlã ika = maka mereka itu; ‘asãllãhu = Allah mudah-mudahan; an ya’fuwa = akan memaafkan; ‘anhum = pada mereka; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘afuwwan = Maha Pemaaf; ghofũrã = Maha Pengampun.

fa ũlã ika ‘asãllãhu an ya’fuwa ‘anhum, wa kãnallãhu ‘afuwwan ghofũrã.

99. Mudah-mudahan Allah memaafkan mereka. Sebenarnyalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang tidak mampu berjuang di jalan Allah karena tidak berdaya, cacat, lumpuh, sakit, usia sangat tua, mudah-mudahan Allah memaafkan dan mengampuni kekurangannya.

wa man = dan barang siapa; yuhãjir = (mereka) berhijrah; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; yajid = ia mendapat; fĩl ardhi = di muka bumi; murãghoman = tempat perlindungan; katsĩran = banyak; wa sa’atan = dan luas; wa man = dan barang siapa; yakhruj = keluar; mim baitihi = dari rumahnya; muhajiron = berhijrah; ilãllãhi = kepada Allah; wa rasũlihi = dan Rasul-Nya; tsumma = kemudian; yudrik-hu = menerimanya; al mautu = kematian; faqod = maka sesungguhnya; wa qo’a = telah tetap; ajruhũ = pahalanya; ‘alãllãhi = pada Allah; wa kãna = dan adalah; allãhu = Allah; ghofũran = Maha Pengampun; ar rohĩmã = Maha Penyayang.

wa man yuhãjir fĩ sabĩlillãhi yajid fĩl ardhi murãghoman katsĩran wa sa’atan, wa man yakhruj mim baitihi muhajiron ilãllãhi wa rasũlihi, tsumma yudrik-hul mautu faqod wa qo’a ajruhũ ‘alãllãhi, wa kãnallãhu ghofũrar rohĩmã.

100. Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka menemukan tempat hijrah yang luas di muka bumi, dengan rezeki yang banyak. Barang siapa yang keluar dari rumah dengan maksud berhijrah menuju Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat tujuan, maka sungguh telah tetap pahalanya ada pada Allah. Dan Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hidup di dunia ini harus selalu berhijrah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu posisi ke posisi lain, berjihad di jalan Allah mencari ilmu, dan mengamalkannya dalam rangka mengagungkan Allah.

wa idzã = dan apabila; dhorobtum = kamu bepergian; fĩl ardhĩ = di bumi; falaisa = maka tidaklah; ‘alaykum = bagimu; junãhun = berdosa; an taqshurũ = kamu mengkashar (menyingkat); mina = dari; ash sholãti = salat; in khiftum = jika kamu takut; an yaftinakumu = akan memfitnah (menyerang); al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; inna = sesungguhnya; al kãfirĩna = orang-orang kafir; kãnũ = mereka adalah; lakum = bagi kamu; ‘aduwwan = musuh; mibĩnã = yang nyata.

wa idzã dhorobtum fĩl ardhĩ falaisa ‘alaykum junãhun an taqshurũ minash sholãti, in khiftum an yaftinakumul ladzĩna kafarũ, innal kãfirĩna kãnũ lakum ‘aduwwam mibĩnã.

101. Apabila kamu bepergian di muka bumi, tidak mengapa, jika kamu meng-qashar salatmu; juga, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya, orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “meng-qashar” artinya mengurangi jumlah rakãt salat dari 4 menjadi dua, dan juga meringankan rukun-rukunnya, jika dalam keadaan ketakutan di waktu hadhar (bingung), atau dalam perjalanan jauh biasa.

wa idzã = dan apabila, bila, kalau, jika, karena; kunta = kamu adalah; fĩhim = di antara mereka; fa-aqamta = maka kamu mendirikan; lahumu = bersama mereka; ash shalãta = salat; faltaqum = maka hendaklah berdiri; thō-ifatun = segolongan; minhum = dari mereka; ma’aka = bersama kamu; wal ya’khudzũ = dan hendaknya mereka menyandang; aslihatahum = senjata mereka; faidzã = maka apabila; sajadũ = mereka telah bersujud; falyakũnũ = maka hendaklah mereka; min warō-ikum = di belakang kamu; wal ta’ti = dan hendaklah datang; thō-ifatun = segolongan; ukhrō = yang lain; lam yushollũ = mereka belum salat; falyushollũ = maka salatlah mereka; ma’aka = bersama kamu; wal ya’khudzũ = hendaklah mereka mengambil; hidzrohum = kewaspadaan mereka; wa aslihatahum = dan senjata mereka; waddalladzĩna = orang-orang yang ingin; kafarũ = (mereka) kafir; law = sekiranya, sendainya, kalau; taghfulũna = kamu lengah; ‘an aslihatikum = dari senjatamu; wa amti’atikum = dan harta benda kamu; fayamĩlũna = maka mereka akan menyerbu; ‘alaykum = kepada kamu; mailatan = serbuan; wãhidatan = satu kaligus; wa lã junaha = dan tidak berdosa; ‘alaykum = bagi kamu; in kãna = jika ia adalah; bikum = dengan kamu; adzãn = kesusahan; mim mathorin = dari hujan; au = atau; kuntum = kamu adalah; mardhō = sakit; an tadho’ũ = akan melakukan; aslihatakum = senjatamu; wa khudzũ = dan ambillah; hidzrokum = kewaspadaanmu; innallãha = sesungguhnya Allah; a’adda = Dia menyediakan; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãban = siksa, azab; muhĩnã = menghinakan.

wa idzã kunta fĩhim fa-aqamta lahumush shalãta faltaqum thō-ifatum minhum ma’aka wal ya’khudzũ aslihatahum faidzã sajadũ falyakũnũ min warō-ikum wal ta’ti thō-ifatun ukhrō lam yushollũ falyushollũ ma’aka wal ya’khudzũ hidzrohum wa aslihatahum waddalladzĩna kafarũ law taghfulũna ‘an aslihatikum wa amti’atikum fayamĩlũna ‘alaykum mailatan wãhidatan wa lã junaha ‘alaykum in kãna bikum adzãm mim mathorin au kuntum mardhō an tadho’ũ aslihatakum wa khudzũ hidzrokum, innallãha a’adda lil kãfirĩna ‘adzãbam muhĩnã.

102. Apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka sebahagian golongan mereka mendirikan salat bersamamu dengan menyandang senjata, kemudian, apabila mereka yang salat bersamamu sujud dalam rakãt pertama, maka hendaknya mereka pindah di belakangmu untuk menghadapi musuh, dan hendaknya datang golongan yang kedua yang belum salat, lalu salatlah mereka denganmu, mereka hendaknya bersiaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah menyiapkan senjata, dan menjaga harta-bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan tiba-tiba, dan tidak ada dosa padamu untuk meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit, tetap siap-siagalah kamu. Sesungguhnya, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menetapkan cara-cara salat dalam keadan perang. Mereka yang tertinggal salatnya serakãt, maka rakãt kedua diselesaikan oleh yang di belakang Nabi, Nabi duduk menunggui mereka yang menyelaikan rakãt kedua yang tertinggal itu. Nilai hukumnya sama berjamãh dengan Nabi yang menyelesaikan salat lebih dahulu.
Salat khauf dikerjakan jika keadaan memungkinkan, kalau tidak, salat dilakukan sedapat-dapatnya saja, misalnya dengan hanya membaca tasbih.

fa idzã = maka bila; qodhoitumu = kau telah menyelesaikan; ash sholãta = salat; fãdzkurũllãha = maka ingatlah Allah; qiyãman = ketika berdiri; wa qu’ũdan = dan ketika duduk; wa ‘alã junũbikum = dan ketika berbaring; fa idzã = maka bila; athma’nantum = kamu telah merasa aman; fa aqĩmũ = maka dirikanlah; ash sholãta = salat; inna = sesungguhnya; ash sholãta = salat; kãnat = adalah; ‘alã = atas, bagi, untuk; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman; kitãban = (kewajiban yang) telah ditetapkan, ditentukan; mauqũtã = waktunya.

fa idzã qodhoitumush sholãta fãdzkurũllãha qiyãman wa qu’ũdan wa ‘alã junũbikum, fa idzã athma’nantum fa aqĩmũsh sholãta, innash sholãta kãnat ‘alãl mu’minĩna kitãbam mauqũtã.

103. Maka, apabila kamu telah menyelesaikan salatmu, ingatlah selalu kepada Allah di waktu berdiri, duduk, dan di waktu berbaring. Jika kamu sudah merasa aman, maka dirikanlah salat sebagaimana biasa. Sesungguhnya, salat itu kewajiban yang sudah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi tahu, bagaimana melakukan salat saatkeadaan genting dan salat dalam keadaan biasa. Mengingat Allah harus selalu dilakukan dalam keadaan bagaimana pun.

wa lã = dan janganlah; tahinũ = kamu lemah; fĩbtighã-i = dalam mengejar; al qaumi = kaum (musuh); intakũnũ = jika kamu adalah; ta’lamũna = kamu menderita sakit; fa innahum = maka sesungguhnya mereka pun; ya’lamũna = menderia sakit; kamã = sebagaimana; ta’lamũna = kamu menderita sakit; wa tarjũna = dan kamu mengjarapkan; minallãhi = dari Allah; mã = apa; lã = tidak; yarjũna = mereka harapkan; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana.

wa lã tahinũ fĩbtighã-il qaumi, intakũnũ ta’lamũna fa innahum ya’lamũna kamã ta’lamũna, wa tarjũna minallãhi mã lã yarjũna, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã

104. Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar musuhmu. Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita sakit juga, seperti kamu, sedang kamu mengharap sesuatu dari Allah, apa yang tidak mereka harapkan. Dan Allah itu Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi semangat kepada prajurit yang terluka ketika sedang mengejar musuh. Allah membedakan orang yang beriman dan yang tidak beriman ketika melakukan sesuatu.

innã = sesungguhnya Kami; anzalnã = telah menurunkan; ilaika = kepadamu; al kitãba = Kitab; bil haqqi = dengan kebenaran; litahkuma = supaya kamu mengadili; bainan nãsi = di antara manusia; bimã = dengan apa; arãkallãh = Allah mewahyukan (menurunkan) kepadamu; wa lã = dan jangan; takun = kamu menjadi; lil khã-inĩna = bagi orang yang khianat; khashĩmã = penentang.

innã anzalnã ilaikal kitãba bil haqqi litahkuma bainan nãsi bimã arãkallãh, wa lã takun lil khã-inĩna khashĩmã.

105. Sesungguhnya, Kami telah menurunkan Kitab kepadamu yang membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penentang orang yang tidak bersalah, karena membela orang yang berkhianat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengharuskan menjaga kebenaran, dan keadilan. Adil itu tidak memihak dalam menetapkan berlakunya hukum. Siapa pun yang bersalah harus dihukum.
Ayat ini, dan beberapa ayat berikutnya diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.berkenan dengan peristiwa pencurian barang yang dilakukan Thu’mah. Ia menyembunyikan barang curiannya di rumah seorang Yahudi. Tu’mah tidak mengakui perbuatannya, dan mengalihkan tuduhan pencurian itu kepada orang Yahudi. Hal ini diajukan oleh kerabat Thu’mah kepada Nabi s.a.w., mereka meminta agar Nabi membela Thu’mah, dan menghukum orang Yahudi. Nabi Muhammad saw.hampir-hampir menyetujuinya, namun Allah menurunkan ayat ini, agar dalam menegakkan keadilan jangan mengorbankan kebenaran, jangan membela orang yang bersalah. Siapa pun yang memiliki kebenaran harus dibela.
Orang berkhianat di sini berarti orang yang tidak mengakui kesalahan yang dilakukan, dan mengalihkan kesalahannya kepada orang lain yang tidak melakukan kesalahan.

wãstaghfirillãh = dan mohon ampunlah kepada Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; kãna = adalah; ghofũran = Maha Pengampun; ar rahĩmã = Maha Penyayang.

wãstaghfirillãh, innallãha kãna ghofũrar rahĩmã.

106. dan, mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Sebelum menetapkan berlakunya hukum kepada seseorang, hakim harus memohon ampun lebih dahulu kepada Allah, untuk mendapatkan petunjuk keadilan dari Allah. Mengadili harus adil yang mencerminkan kasih dan sayang Allah kepada semua makhluk-Nya.

wa lã = dan jangan; tujãdil = kamu berdebat; ‘anil ladzĩna = dari orang-orang yang; yakhtaanũna = mereka menghkhianati; anfusahum = diri mereka; inallãha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yuhibbu = menyukai; man = orang; kãna = adalah; khawwaanan = orang yang berkhianat; atsĩmã = bergelimang dosa..

wa lã tujãdil ‘anil ladzĩna yakhtaanũna anfusahum inallãha lã yuhibbu man kãna khawwaanan atsĩmã.

107. Dan janganlah kamu berdebat untuk membela orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat dan bergelimang dosa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Petunjuk Allah, jangan berdebat untuk membela “orang yang mengkhianati dirinya“ artinya jangan membela orang yang berbohong, orang yang menuduhkan kesalahanannya kepada orang lain. Dirinya melakukan kesalahan, orang lain difitnah, dituduh melakukan kesalahannya; Orang yang mempercayai Ilah itu lebih dari satu; orang yang fasik, syirik, musyrik, munafik, murtad.

yastakhfũna = mereka bersembunyi; minan nãsi = dari manusia; wa lã = dan jangan; yastakhfũna = mereka bersembunyi; minal lãhi = dari Allah; wa huwa = dan Dia; ma’ahum = beserta mereka; idz yubayyitũna = ketika pada suatu malam menetapkan; mã lã = Dia tidak; yardhō = Dia meridoi; min = dari; al qouli = perkataan (keputusan); wa kãnallãhu = dan Allah adalah; bimã = dengan apa; ya’malũna = mereka kerjakan; muhĩthã = Maha Meliputi.

yasytakhfũna minan nãsi wa lã yastakhfũna minal lãhi wa huwa ma’ahum idz yubayyitũna mã lã yardhō minal qouli, wa kãnallãhu bimã ya’malũna muhĩthã.

108. Mereka dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah ada bersama mereka, ketika pada suatu malam, mereka menetapkan keputusan rahasia yang tidak diridoi Allah. Ilmu Allah itu meliputi segala apa yang mereka kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Mereka dapat bersembunyi dari manusia”, Allah mengingatkan bahwa manusia itu dapat bersembunyi melalui kedok dirinya dan melalui manusia lain yang dipengaruhinya untuk melaksanakan “keputusan rahasia” yang tidak diridoi Allah. Ilmu Allah itu meliputi segala apa yang mereka kerjakan.

hã antum hã ulã-i = beginilah kamu itu; jãdaltum = kamu berdebat; ‘anhum = dengan mereka; fĩl hayãti = dalam kehidupan; ad dun-yã = dunia; faman = maka barang siapa; yujãdilullaha = (mereka) mendebat Allah; ‘anhum = dari mereka; yawmal qiyãmati = hari kiamat; am man = atau siapakah; yakũnu = menjadi; ‘alayhim = atas mereka; wakĩlã = pelindung.

hã antum hã ulã-i jãdaltum ‘anhum fĩl hayãtid dun-yã faman yujãdilullaha ‘anhum yawmal qiyãmati am man yakũnu ‘alayhim wakĩlã.

109. Beginilah, kamu sekalian selalu berdebat membela mereka untuk kehidupan di dunia. Maka, siapakah yang akan mendebat Allah untuk membela mereka pada hari kiamat? Atau siapakah yang menjadi pelindung mereka terhadap siksa Allah?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, bila kamu berdebat membela mereka untuk kehidupan di dunia, maka akan kehilangan pembela pada hari kiamat, dan kehilangan pelindung atas siksaanAllah.

wa man = dan barang siapa; ya’mal = (ia) melakukan; sũ-an = kejahatan; au yazhlim = atau menganiaya; nafsahũ = dirinya; tsumma = kemudian; yastaghfirillãha = (ia) memohon ampun kepada Allah; yajidillãha = (ia) mendapati Allah; ghofũrar rohĩmã = Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

wa man ya’mal sũ-an au yazhlim nafsahũ, tsumma yastaghfirillãha yajidillãha ghofũrar rohĩmã.

110. Dan barang siapa mengerjakan kajahatan dan menganiaya dirinya, kemudian, ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjanjikan ampunan dan kasih sayang bagi orang yang memohon ampun setelah melakukan kejahatan atau menganiaya diri sendiri. Memohon ampun harus bersungguh-sungguh, artinya tobat dan berjanji di dalam hati untuk tidak melakukan lagi kejahatan atau penganiayaan dirinya.

wa man = dan barang siapa; yaksib = mengerjakan; itsman = dosa; fa innamã = maka sesungguhnya hanya; yaksibuhũ = ia memgerjakan; ‘alã nafsihi = atas dirinya sendiri; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘alĩman = Maha Mengetahui; hakĩmã = Mahabijaksana.

wa man yaksib itsman fa innamã yaksibuhũ ‘alã nafsihi, wa kãnallãhu ‘alĩman hakĩmã.

111. Barang siapa yang mengerjakan dosa, sesungguhnya, ia mengerjakannya untuk kemudharatan dirinya sendiri. Dan, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, orang yang mengerjakan dosa, sesungguhnya, ia menyengsarakan dirinya sendiri.

wa man = dan barang siapa; yaksib = mengerjakan; khathĩ-atan = kesalahan; au = atau; itsman = dosa; tsumma = kemudian; yarmi = menuduhkan; bihĩ = dengannya; barĩ-an = orang yang tidak bersalah; faqodi = maka sesungguhnya; ahtamala = ia menanggung; buhtaanan = kebohongan; wa itsmam = dan dosa; mubĩnã = nyata.

wa man yaksib khathĩ-atan au itsman tsumma yarmibihĩ, barĩ-an faqodihtamala buhtaanan wa itsmam mubĩnã.

112. Dan barang siapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya, ia telah berbuat kebohongan, dan dosa yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, kalau seseorang melakukan kesalahan, lalu kesalahan itu dituduhkan kepada orang lain, maka dia menanggung tiga dosa. Pertama dosa kesalahan dirinya, kedua kesalahan berbohong, ketiga dosa menyengsarakan orang akibat fitnah yang dilakukannya.

walaw = dan sekiranya; lã = tidak; fadhlullãhi = karunia Allah; ‘alaika = kepadamu; wa rohmatuhũ = dan rahmat-Nya; lahammat = tentulah bermaksud; thō-ifatum = segolongan; minhum = dari mereka; in yudhillũka = mereka akan menyesatkan kamu; wa mã = dan tidak; yudhillũna = menyesatkan; illã = kecuali; anfusahum = diri mereka sendiri; wa mã = dan tidak; yadhurrũnaka = mereka menyusahkan kamu; min syai-in = dari sesuatu (sedikit pun); wa anzalallãhu = dan Allah telah menurunkan; ‘alaika = kepada kamu; al kitãba = kitab; wal hikmata = dan pengetahuan; wa ‘allamaka = dan dia mengajari kamu; mã lam takun = apa yang tidak; ta’lamu = kamu ketahui; wa kãna = dan adalah; fadhlulãhi = Allah mengaruniai; ‘alaika = kepada kamu; ‘azhĩmã = besar.

walaw lã fadhlullãhi ‘alaika wa rohmatuhũ la hammat thō-ifatum minhum in yudhillũka wa mã yudhillũna illã anfusahum, wa mã yadhurrũnaka min syai-in, wa anzalallãhu ‘alaikal kitãba wal hikmata wa ‘allamaka mã lam takun ta’lamu, wa kãna fadhlulãhi ‘alaika ‘azhĩmã.

113. Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rakhmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan, melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak memba-hayakan kamu sedikit pun. Dan juga, karena Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu, apa yang belum kamu ketahui. Sesungguhnya, karunia Allah sangat besar bagimu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, selalu ada golongan orang yang berkeinginan keras me-nyesatkan orang beriman. Orang beriman harus berpegang teguh kepada Alkitab yang penuh hikmah, dan yang telah mengajarkan apa yang belum diketahui. Mereka yang berkeinginan menyesatkan, mereka sendiri yang akan tersesat makin jauh, karena tidak mengimani Alkitabnya, dan sunah Nabinya. Allah mengingatkan kepada nabi Muhammad saw.bahwa karunia allah itu sangat besar baginya.

lã khairo = tidak ada kebaikan; fĩ katsĩrin = dalam kebanyakan mereka; min najwãhum = dalam bisikan-bisikan mereka; illã = kecuali; man = orang; amaro = menyuruh; bi shodaqotin = dengan bersedekah; au ma’rũfin = atau berbuat kebaikan; au ishlãhim = atau mengadakan perdamaian; bainan nãsi = di antara manusia; wa man = dan barang siapa; yaf’al = berbuat; dzãlika = demikian; abtighō-a = (karena) mencari; mardhōtillãhi = kerelaan Allah; fasaufa = maka akan; nu’tĩhi = kami berikan kepadanya; ajron = pahala; ‘azhĩmã = besar.

lã khairo fĩ katsĩrim min najwãhum illã man amaro bi shodaqotin au ma’rũfin au ishlãhim bainan nãsi, wa man yaf’al dzãlikabtighō-a mardhōtillãhi fasaufa nu’tĩhi ajron ‘azhĩmã.

114. Tidak ada kebaikan dari kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan, barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridoan-Ku, maka kelak Kami memberi pahala yang besar kepadanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang yang memberi sedekah, beramal makruf, mengadakan hubungan baik di antara manusia akan diberi pahala yang besar oleh Allah kalau semua perbuatannya itu disertai harapan mendapatkan keridoan Allah. Kalau mereka tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka balasan pahala besarnya hanya di dunia saja. Di akhirat, mereka akan dibakar dengan api neraka.

wa man = dan barang siapa; yusyãqiqi = menentang; ar rasũla = Rasul; mim ba’di = dari sesudah; mã tabayyana = apa yang sudah jelas; lahu = baginya; al hudayã = petunjuk (kebenaran); wa yattabi’ = dan dia mengikuti; ghoiro = bukan; sabĩli = jalan; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; nuwallihi = Kami palingkan dia; mã tawallã = apa yang dia kuasai; wa nushlihĩ = dan Kami masukkan dia; jahannama = jahanam; wa sã-at = dan seburuk-buruk; mashĩrã = tempat kembali.

wa man yusyãqiqir rasũla mim ba’di mã tabayyana lahul hudayã wa yattabi’ ghoiro sabĩlil mu’minĩna nuwallihi, mã tawallã wa nushlihĩ jahannama wa sã-at mashĩrã.

115. Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa melakukan kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ia leluasa melakukan kesesatan yang telah dikuasainya itu” artinya Allah membiarkan ia bergelimang dalam kesesatan. Mereka pandai berkata-kata, tapi menyesatkan. Terkait dengan ayat 114, “orang yang memberi sedekah, beramal makruf, mengadakan hubungan baik di antara manusia”, balasannya hanya untuk di dunia saja.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã yaghfiru = tidak mengampuni; an yusyraka = yang mempersekutukan; bihĩ = dengan-Nya; wa yaghfiru = dan Dia mengampuni; mã = apa; dũna = yang selain; dzãlika = yang itu; liman = bagi siapa; yasyã-u = Dia kehendaki; wa man = dan barang siapa; yusyrik = mempersekutukan; billãhi = dengan Allah; faqod = maka sesungguhnya; dholla = ia telah sesat; dholãlan = kesesatan; ba’idã = yang jauh..

innallãha lã yaghfiru an yusyraka bihĩ, wa yaghfiru mã dũna dzãlika liman yasyã-u, wa man yusyrik billãhi faqod dholla dholãlam ba’idã.

116. Sesungguhnya, Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya, ia telah tersesat sejauh-jauhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan tentang dosa syirik (lihat hal. 22, 27, dan Q.s. An Nisã’: 4: 48) dengan perbuatannya yang akan menyesatkan sejauh-jauhnya.

in yad’ũna = tidaklah mereka sembah; min dũnihĩ = selain dari Dia; illã = kecuali; inaatsan = berhala; wa in yad’ũna = dan tidaklah mereka sembah; illã = kecuali; syaithōnan = setan; marĩdō = yang durhaka.

in yad’ũna min dũnihĩ illã inaatsan wa in yad’ũna illã syaithōnam marĩdō.

117. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan dengan menyembah berhala itu, mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “berhala atau inaatsan” artinya perempuan-perempuan. Patung berhala yang disembah orang Arab Jahiliah itu berupa perempuan, dan diberi nama perempuan, seperti: al Lãta, al Uzza, al Manah. Di sini, dapat berarti juga: “orang-orang mati,” benda-benda yang tidak berjenis, dan benda-benda yang lemah, tidak berdaya.

la’anahul lãhu = Allah telah mengutuknya; wa qōla = dan (setan) berkata; la-attakhidzanna = sungguh saya akan mengambil; min ‘ibãdika = dari hamba-hamba Kamu; nashĩban = bagian; mafrũdhō = yang ditentukan.

la’anahul lãhu wa qōla la-attakhidzanna min ‘ibãdika nashĩbam mafrũdhō.

118. yang dilaknati Allah, dan setan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil bagian hamba-hamba Engkau yang sudah ditentukan untuk saya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini dan ayat berikutnya merupakan peringatan Allah kepada orang yang beriman agar waspada pada tipu-daya setan.
“hamba-hamba Engkau yang sudah ditentukan untuk saya” artinya manusia yang ditetapkan Allah menjadi manusia jahat, karena sejak awalnya, manusia, dengan akal dan pikiran yang dikaruniakan Allah, karena pendiriannya mereka selalu membantah, menyangkal, menolak apa yang telah ditetapkan Allah. Mereka menutup diri (mata, telinga, perasaan) pada keterangan, penerangan, pelajaran, petunjuk, nasihat, hiburan dari Allah. Jadi, Allah lebih menyesatkannya. Mereka menjadi teman (bagian) setan.

wa la-udhillannahum = dan sungguh saya akan menyesatkan mereka; wa la-‘umanniyannahum = dan sungguh saya akan membangkitkan angan-angan kosong mereka; wa la-ãmurannahum = dan sungguh saya akan menyuruh mereka; falayubattikunna = maka sungguh mereka akan memotong; ãdzãna = telinganya; al an’a’ami = binatang ternak; wa la-ãmurannahum = dan sungguh saya akan menyuruh mereka; falayughayyirunna = maka sungguh mereka akan mengubah; kholqollãhi = ciptaan Allah; wa man = dan barang siapa; yattakhidzi = mengambil (menjadikan); asy syaithōna = setan; waliyyaan = pelindung; min dũnillãhi = dari selain Allah; faqod = maka sesungguhnya; khasira = (ia) menderita rugi; khusraanan = kerugian; mubĩnã = nyata.

wa la-udhillannahum wa la-‘umanniyannahum wa la-amurannahum falayubattikunna ãdzãnal an’a’ami wa la-ãmurannahum falayughayyirunna kholqollãhi wa man yattakhidzisy syaithōna waliyyãm min dũnillãhi faqod khasira khusraanam mubĩnã.

119. dan saya benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, dan akan menyuruh mereka memotong telinga-telinga binatang ternak, lalu benar-benar mereka memotongnya, dan saya suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka mengubahnya. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai pelindung selain Allah, maka sesungguhnya, ia menderita kerugian yang nyata.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka memotong telinga-telinga binatang ternak” kebiasaanorang Arab jahiliyah, ternak yang akan dipersembahkan kepada berhala-berhala harus dipotong telinganya. Binatang yang sudah dipotong telinganya, tidak boleh dikendarai atau tidak dipergunakan untuk keperluan manusia, dibiarkan lepas saja.
“mengubah ciptaan Allah” artinya mengebiri binatang, mengubah warna rambut, mengubah muka untuk merahasiakan dirinya atau untuk mempercantik, dan lain-lain tujuan negatif. Ada yang mengartikan: mengubah agama Allah, mengubah wahyu Allah.” Kalau “mengubah ciptaan Allah” untuk tujuan hidup yang lebih baik, seperti peralatan penunjang hidup, membuat payung, membuat kain, membuat rumah, dan lain-lain itu diperbolehkan, bahkan dianjurkan, asal tidak merusak alam.

ya’iduhum = (setan) memberi janji kepada mereka; wa yumannĩhim = dan memberikan angan-angan kosong kepada mereka; wa mã = dan tidaklah; ya’iduhumu = menjanjikan kepada mereka; asy syaithōnu = setan; illã = kecuali; ghurũrō = tipuan.

ya’iduhum wa yumannĩhim wa mã ya’iduhumusy syaithōnu illã ghurũrō.

120. Setan itu memberikan janji-janji, dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka, padahal setan tidak menjanjikan apa-apa, selain angan-angan kosong, tipuan belaka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah tentang hal setan.

ulã-ika ma’wãhum jahannamu wa lã yajidũna ‘anhã mahĩsha.

121. Tempat mereka di neraka jahanam. Mereka tidak mendapatkan tempat lari darinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang mengikuti bujukan setan.

walladzĩna = dan orang-orang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilu = dan mereka berbuat; ash shōlihãti = saleh, baik; sanudkhiluhum = kelak akan Kami masukkan mereka; jannaatin = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadaan = selama-lamanya; wa’da = janji; allãhi = Allah; haqqō = benar; wa man = dan siapakah; ashdaqu = lebih benar; minallãhi = dari Allah; qĩlã = perkataan.

walladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti sanudkhiluhum jannaatin tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã abadaan, wa’dallãhi haqqō, wa man ashdaqu minallãhi qĩlã.

122. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang dialiri sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya, Allah telah membuat janji yang benar. Dan, siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji Allah bagi orang yang beriman dan berbuat kebaikan (berulang-ulang: Q.s. Al Baqarah, 2: 25,82,103; Ali ‘Imraan: 57).

laisa = tidak (bukan); bi amaaniyyikum = dengan angan-anganmu yang kosong; wa lã = dan tidak; amaaniyyi = angan-angan kosong; ahli = ahli; al kitãbi = Kitab; man = barang siapa; ya’mal = mengerjakan; sũ’an = kejahatan; yujza = akan diberi balasan; bihĩ = kejahatan itu; wa lã = dan tidak; yajid = dia mendapat; lahũ = baginya; min dũnillãhi = dari selain Allah; waliyyan = pelindung; wa lã = dan tidak; nashĩrō = penolong.

laisa bi amaaniyyikum wa lã amaaniyyi ahlil kitãbi man ya’mal sũ’an yujza bihĩ, wa lã yajid lahũ min dũnillãhi waliyyan wa lã nashĩrō.

123. Pahala dari Allah itu bukan angan-anganmu yang kosong, dan bukan pula angan-angan dari para Ahli Kitab. Barang siapa melakukan kejahatan, niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu, dan ia tidak mendapatkan pelindung ataupun penolong, selain dari Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “angan-anganmu yang kosong” –mu di sini dapat diartikan kaum muslimin, ada pula yang menafsirkan sebagai kaum musyrikin. Maksudnya: pahala dari Allah di akhirat itu bukan menurut angan-angan dan cita-cita mereka, tetapi yang sesuai dengan tuntunan agama Allah dan Rasul-Nya.

wa man = dan barang siapa; ya’mal = dia mengerjakan; mina = dari yang; ash shōlihãti = saleh; min = dari; dzakarin = laki-laki; au = atau; untsã = perempuan; wa huwa = dan dia; mu’minun = orang-orang yang beriman; fa = maka; ũlã-ika = mereka itu; yadkhulũna = (mereka) masuk; al jannata = surga; wa lã = dan tidak; yudzlamũna = mereka dianiaya; naqĩrã = sedikit pun.

wa man ya’mal nimash shōlihãti min dzakarin au untsã wa huwa mu’minun fa ũlã-ika yadkhulũnal jannata wa lã yudzlamũna naqĩrã.

124. Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dan ia seorang yang beriman, maka mereka itu akan dimasukkan ke surga, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.
Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ia seorang yang beriman” lihat Q.s. al Baqarah, 2: 3,4.

wa man = dan siapakah; ahsanu = lebih baik; dĩnaan = Diena (Agama); mimman = dari orang yang; aslama = menyerahkan; wajhahũ = ke haribãn-Nya; lillãhi = kepada Allah; wa huwa = dan dia; muhsinun = orang yang berbuat baik; wattaba’a = dan menaati; millata = agama; ibrōhĩma = Ibrahim; hanĩfã = benar, lurus; wa takhadzallãhu = dan Allah mengambil; ibrōhĩma = Ibrahim; kholĩlã = kesayangan.

wa man ahsanu dĩnãm mimman aslama wajhahũ lillãhi wa huwa muhsinun wattaba’a millata ibrōhĩma hanĩfã, wa takhadzallãhu ibrōhĩma kholĩlã.

125. Dan, siapakah yang lebih baik Diennya, selain dari orang-orang yang ikhlas menyerahkan diri ke haribãn Allah, dan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia menaati Agama Ibrahim yang lurus? Dan, Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Agama yang baik adalah agama yang diarahkan mulai oleh Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Isma’il, Musa, Dawud, Isa, sampai Nabi Muhammad saw.Dalam akhir do’a Kanzul Arasy disebutkan: Lã ilãha illallãhu Subhana Ãdamu Shofiyyul lãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Nũhun Najiyyullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Ibrãhĩmu Kholĩlullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Ismã’ĩlu dzabĩhullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Mũsã Kalĩmullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Dãwũdu kholĩfatullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana ‘Ĩsa Rũhullãhi; Lã ilãha illallãhu Subhana Muhammadun Rasũlullãhi warhamnã bi barokati, taurōti Mũsã, wa zabũri Dãwũda, Injĩli ‘Ĩsã, wa Furqōni Muhammadin Rosũlillãhi Shalallãu ‘alayhi wa sallam bi rohmatika yã arhamar rōhimĩna wal hamdu lillãhi robbil ‘ãlamĩna. Lihat juga Q.s. Al Ahqãf, 46: 35.
Berserah diri kepada Allah secara ikhlas artinya menghambakan atau mengabdikan diri kepada Allah secara bersih, murni dari syirik, bersih dari bid’ah, bersih dari ria.
“mengerjakan kebaikan” artinya melakukan segala sesuatu yang baik, seperti menolong orang atau makhluk lain yang memerlukan bantuan, dalam bingkai ibadah hanya kepada Allah, mencari nafkah dengan cara yang baik, makan dan minum dengan baik, berperilaku baik dalam berhubungan dengan orang lain, atau makhluk lain di lingkungannya, dan sebagainya.

wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mã = apa-apa; fissamãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; wa kãnallãhu = dan sesungguhnya Allah; bikulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; muhĩthã = meliputi.

wa lillãhi mã fissamãwãti wa mã fil ardhi, wa kãnallãhu bikulli syai-im muhĩthã.

126. Kepunyaan Allah segala apa yang di langit dan yang di bumi, dan pengetahuan Allah pun meliputi segalanya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Fatihah, 1: 2; Al Baqarah, 2: 19, 22, 29, 30, 33, 107, 116, 117, 164, 234, 235, 255, 270, 271, 283, 284. Di dalam Ali ‘Imran, 3: 5, 29, 83, 109, 124, 129, 133, 180, 189, 190, 191. Di dalam An Nisã’-nya sendiri: 4: 131, 132, 153, 170. Al Mã-idah, 5: …

wa yastaftũnaka = dan mereka meminta farwa kepada kamu; fĩnnisã-i = tentang perempuan; qulillãhu = katakanlah Allah; yuftĩkum = memberi fatwa kepada kamu; fĩ hinna = tentang mereka; wa mã = dan apa yang; yutlã = dibacakan; ‘alaykum = kepada kamu; fĩl kitãbi = dalam Kitab; fĩ yatãma = tentang anak-anak yatim; annisã-i = perempuan; al lãtĩ = yang; lã = (kamu) tidak; tu’tũnahunna = memberikan kepada mereka; mã = apa-apa; kutiba = ditetapkan; lahunna = bagi mereka; wa targhobũna = dan kamu ingin; an tankihũhunna = kamu akan menikahi mereka; wal mustadh’afĩna = dan yang lemah-lemah; mina = dari; al wildaani = anak-anak; wa an taqũmũ = dan hendaknya kamu pelihara; lilyatãmã = untuk anak-anak yatim; bil qisthi = dengan adil; wa mã = dan apa-apa yang; taf’alũ = kamu kerjakan; min khairin = dari kebaikan; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bihĩ = dengannya; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

wa yastaftũnaka fĩnnisã-i qulillãhu yuftĩkum fĩ hinna wa mã yutlã ‘alaykum fĩl kitãbi fĩ yatãmannisã-il lãtĩ lã tu’tũnahunna mã kutiba lahunna wa targhobũna an tankihũhunna wal mustadh’afĩna minal wildaani wa an taqũmũ lilyatãmã bil qisthi wa mã taf’alũ min khairin fa innallãha kãna bihĩ ‘alĩmã.

127. Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan-perempuan. Katakanlah: “Allah memberi fatwa tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Alkitab (Alquran) yang memfatwakan tentang perempuan yatim yang tidak kamu berikan apa yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka, dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan, Allah menyuruh kamu, agar kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya, Allah Maha Mengetahuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini dijelaskan aturan memberikan hak orang-orang yang lemah, dan cara menyelesaikan persoalan rumah-tangga.
“apa yang dibacakan kepadamu dalam Alquran” lihat Q.s. An Nisã’ , 4: 2, 3
“memfatwakan tentang perempuan yatim yang kamu tidak memberikan apa”; maksud “apa” di sini adalah barang pusaka dan maskawin.
“sedang kamu ingin mengawini mereka” menurut adat Arab jahiliah, seorang wali berkuasa atas perempuan yatim yang dalam asuhannya, dan berkuasa atas hartanya. Jika perempuan yatim itu cantik dan dikawini, hartanya diambil. Jika perempuan yatim itu jelek rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki lain, supaya dia tetap dapat menguasai hartanya. Kebiasaanseperti itu, menurut ayat ini, dilarang.
Anak yatim harus dipeliahara dengan baik, adil, penuh kesantunan. Harta anak yatim jangan dipakai untuk keperluan wali, dan harus diberikan kalau dia sudah mampu mengelolanya.

wa ini = dan jika; imro atun = seorang perempuan; khōfat = khawatir; mimba’lihã = dari suaminya; nusyũzan = membuat kesalahan; au i’rōdhan = atau pergi meninggalkan (mengabaikan); fa lã = maka tidak; junãha = mengapa; ‘alayhimã = atas keduanya; an yushlihã = keduanya akan berdamai; bainahumã = antara keduanya; shulhãn = perdamaian; wash shulhu = dan perdamaian itu; khairun = lebih baik; wa uhdhiroti = dan kebiasaan; al anfusu = jiwa (manusia); asy syuhha = kikir; wa in tuhsinũ = dan jika kamu berbuat kebaikan; wa tattaqũ = dan kamu memelihara diri; fã innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bimã = dengan apa; ta’malũna = kamu kerjakan; khōbĩrã = Maha Mengetahui.

wa inimro atun khōfat mimba’lihã nusyũzan au i’rōdhan fa lã junãha ‘alayhimã an yushlihã bainahumã shulhãn, wash shulhu khairun, wa uhdhirotil anfususy syuhha, wa in tuhsinũ wa tattaqũ fã innallãha kãna bimã ta’malũna khōbĩrã.

128. Dan, jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau bersikap tidak acuh kepada suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka, walawpun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan, jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu dari nusyuz dan sikap tak acuh, maka sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “nusyuz” dari pihak suami adalah bersikap keras terhadap istrinya, tidak mau menggauli, dan tidak mau memberikan haknya, yaitu barang pusaka dan maskawin.
“keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya” misalnya istri bersedia beberapa haknya dikurangi, asal suaminya mau berbaik kembali.
“manusia itu menurut tabiatnya kikir” maksudnya, tabiat manusia itu ada yang tidak suka, dan tidak mau melepaskan sebagian hak-haknya kepada orang lain dengan ikhlas, meskipun demikian, jika istri melepaskan sebahagian hak-haknya, maka suami boleh menerimanya.

wa lantastathĩ’ũ = dan kamu tidak dapat; an ta’dilũ = kamu berbuat adil; baina = di antara; an nisã-i = istri-istri; walaw = walawpun; haroshtum = kamu ingin sekali; fa lã = maka janganlah; tamĩlũ = kamu condong; kullal maili = seluruh kecondongan; fa tadzarũhã = maka kamu membiarkannya; kalmu’allaqati = seperti terkatung-katung; wa in = dan jika; tushlihũ = kamu mengadakan perbaikan; wa tattaqũ = dan kamu memelihara; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; ghofũra = Maha Pengasih; ar rohĩmã = Maha Penyayang.

wa lantastathĩ’ũ an ta’dilũ bainan nisã-i walaw haroshtum fa lã tamĩlũ kullal maili fa tadzarũhã kalmu’allaqati, wa in tushlihũ wa tattaqũ fa innallãha kãna ghofũrar rohĩmã.

129. Dan, kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istrimu, walawpun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung, dan jika kamu mengadakan perbaikan dan pemeliharaan diri dari kecurangan, maka sesungguhnya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi tahu, suami yang poligami tidak akan dapat berlaku adil.
Perbuatan curang karena ada istri yang lebih kamu cintai yang menyebabkan istri yang lainnya tidak mendapat perhatian, terabaikan nafkah lahir dan batinnya.

wa in = dan jika; yatafarroqã = keduanya bercerai; yughnillãhu = Allah akan memberi kecukupan; kullaan = masing-masing; min sa’atihĩ = dari karunia-Nya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; wãsi’an = Mahaluas; hakĩmã = Mahabijaksana.

wa in yatafarroqã yughnillãhu kullãm min sa’atihĩ wa kãnallãhu wãsi’an hakĩmã.

130. Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunianya. Demikian itu karena Allah Mahaluas karunia Mahabijaksana-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menjanjikan kecukupan kepada orang yang bercerai. Allah Mahaluas karunia-Nya, dan Mahabijaksana.

wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mã = apa-apa; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhĩ = di bumi; wa laqod = dan sesungguhnya; wash shoina = kami telah mewasiatkan; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = mereka diberi; al kitãba = kitab; min qoblikum = dari sebelum kamu; wa iyyãkum = dan kepada kamu; anit taqqũllãha = agar kamu bertakwa kepada Allah; wa in = dan jika; takfurũ = kamu kafir (ingkar); fa innalillãhi = maka sesungguhnya Allah; mã = apa-apa; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhĩ = di bumi; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ghoniyyan = Mahakaya; hamĩdã = Maha Terpuji.

wa lillãhi mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wa laqod wash shoinal ladzĩna ũtũl kitãba min qoblikum wa iyyãkum anit taqqũllãha, wa in takfurũ fa innalillãhi mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wa kãnallãhu ghoniyyan hamĩdã.

131. Dan kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu, dan juga kepada kamu, bertakwalah kepada Allah. Tetapi, jika kamu kafir, maka ketahuilah, sesungguhnya, apa yang ada di langit dan apa yang di bumi semuanya kepunyaan Allah, dan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sesungguhnya, apa yang ada di langit dan apa yang di bumi semuanya kepunyaan Allah” maksudnya, jika kamu kafir tidak akan medatangkan kemudharatan bagi Allah, karena Allah tidak berkehendak apa-apa kepadamu. Allah hanya berkehendak, agar semua makhluk-Nya beribadah kepada-Nya. Jangan membantah perintah dan tidak mengerjakan larangan Allah. Jangan seperti setan, iblis, dan sebagian dari jin, dan manusia yang melanggar perintah, dan mengerjakan larangan Allah.
Lihat juga Al Baqarah 116; 284 dan Surat Ali ‘Imran: 29; 129; An Nisa: 170

wa lillãhi = dan kepunyaan Allah; mã = apa-apa yang; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa yang; fil ardhĩ = di bumi; wa kafãa = dan cukuplah; bil lãhi = dengan (sebagai); wakĩlã = pelindung.

wa lillãhi mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wa kafãa bil lãhi wakĩlã.

132. Dan kepunyaan Allahlah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah seperti ini berulang-ulang dikemukakan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 19, 22, 29, 30, 33, 107, 116; 117, 164, 234, 235, 255, 270, 271, 283, 284; Ali ‘Imran, 3: 5, 29, 83, 109, 124, 129, 133, 180, 189, 190, 191; An Nisa, 4: 126, 131, 132, 153, 170.

in yasyã’ = jika (Allah) menghendaki; yudzhibkum = Dia memusnahkan kamu; ayyuha = wahai; an nãsu = manusia; wa ya’ti = dan Dia mendatangkan; bi ãkhōrĩna = dengan yang lain; wa kãna = dan adalah; al lãhu = Allah; ‘alã = atas; dzalika = demikian itu; qōdiirã = Mahakuasa.

in yasyã’ yudzhibkum ayyuhan nãsu wa ya’ti bi ãkhōrĩna, wa kãnal lãhu ‘alã dzalika qōdiirã.

133. Jika Allah menghendaki tentu Dia musnahkan kamu, wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain sebagai penggantimu. Dan Allah Mahakuasa berbuat demikian,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini peringatan Allah kepada manusia. Allah dapat dengan mudah memusnahkan manusia, dan mengganti dengan makhluk penggantinya.

man kãna = barang siapa adalah; yurĩdu =menghendaki; tsawãba = pahala; ad dun-yã = dunia; fa ‘indallãhi = maka di hadapan Allah; tsawãbu = pahala; ad dun-yã = dunia; wal ãkhirati = dan akhirat; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; samĩ’an = Maha Mendengar; bashĩrō = Maha Melihat.

man kãna yurĩdu tsawãbad dun-yã fa ‘indallãhi tsawãbud dun-yã wal ãkhirati wa kãnallãhu samĩ’am bashĩrō.

134. Barang siapa yang menghedaki pahala di dunia saja, ia merugi karena pada Allah, ada pahala dunia dan pahala akhirat. Dan Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Rugilah orang yang hanya mengharapkan pahala di dunia saja, karena tidak kekal dan hanya sebentar. Yang penting justru pahala akhirat yang kekal.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; kũnũ = jadilah kamu; qowwãmĩna = orang-orang yang menegakkan; bil qisthi = dengan keadilan; syuhadã-a = menjadi saksi; lillãhi = untuk Allah; wa law = walawpun; ‘alã = atas, terhadap; anfusikum = dirimu sendiri; aw = atau; il wãlidaini = kedua orangtua; wa = dan; al aqrōbĩna = kaum kerabat; in yakun = jika ia ada; ghoniyyan = kaya; au = atau; faqĩran = miskin; fallãhu = maka Allah; aula = lebih dekat (tahu); bihimã = dengan keduanya; fa lã = maka janganlah; tattabi’ũ = kamu mengikuti; al hawã = nafsu; an ta’dilũ = supaya kamu berbuat adil; wa in = dan jika; talwũ = kamu memutarbalikkan; au = atau; tu’ridhũ = kamu menentang, enggan; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; kãna = Dia adalah; bimã = dengan (terhadap) apa; ta’malũna = kamu kerjakan; khobĩrã = Maha Mengetahui.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ kũnũ qowwãmĩna bil qisthi syuhadã-a lillãhi wa law ‘alã anfusikum awil wãlidaini wal aqrōbĩna, in yakun ghoniyyan au faqĩran fallãhu aula bihimã, fa lã tattabi’ũl hawã an ta’dilũ, wa in talwũ au tu’ridhũ fa innallãha kãna bimã ta’malũna khobĩrã.

135. Wahai orang-orang yang beriman jadilah engkau orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, meskipun untuk dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatannya. Maka kamu janganlah mengikuti hawa nafsu karena ingin menghindari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan kata-kata, atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ia” maksudnya orang yang digugat atau terdakwa.
Kaya dan miskin itu ujian bagi manusia. Allah lebih mengetahui kemaslahatan dari kondisi itu. Usaha manusia untuk menjadi kaya akan diperhatikan Allah. Manusia tetap diuji dengan setiap kondisi yang diterima dari Allah.
Kebenaran, maksudnya kebenaran ada-Nya Allah. Atau persoalan hidup yang dihadapi setiap makhluk hidup atau makhluk mati (tak bernyawa). Hidup itu, yang terdiri dari jiwa raga, itu kebenaran dari Allah.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; ãminũ = (tetap) berimanlah; billãhi = kepada Allah; wa rosũlihi = dan Rasul-Nya; wa = dan; al kitãbi = Kitab; al ladzĩ = yang; nazzala = Dia turunkan; ‘alã rosũlihĩ = kepada Rasul-rasul-Nya; wa = dan al kitãbi = Kitab; al ladzĩ = yang; anzala = (Allah) turunkan; min qoblu = dari sebelumnya; wa = dan; man = barabg siapa; yakfur = (mereka) kafir; billãhi = kepada Allah; wa malãikatihĩ = dan Malaikat-Nya; wa kutubihĩ = dan Kitab-kitab-Nya; wa rusulihi = dan Rasul-rasul-Nya; wal yaumi = dan hari; al ãkhiri = akhirat; faqod = maka sesungguhnya; dholla = ia telah sesat; dholãlan = kesesatan; ba’ĩdã = jauh.

yã ayyuhal ladzĩna ãmanũ ãminũ billãhi wa rosũlihi, wal kitãbil ladzĩ nazzala ‘alã rosũlihĩ, wal kitãbil ladzĩ anzala min qoblu wa man yakfur billãhi wa malãikatihĩ wa kutubihĩ wa rusulihi wal yaumil ãkhiri faqod dholla dholãlam ba’ĩdã.

136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, serta Kitab yang diturunkan Allah sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Seruan Allah kepada orang-orang yang beriman, dan peringatan kepada orang-orang kafir.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; tsumma = kemudian; kafarũ = mereka kafir; tsumma = kemudian; ãmanũ = mereka beriman; tsumma = kemudian; kafarũ = mereka kafir; tsumma = kemudian; azdãdũ = bertambah; kufron = kekafiran; lam = tidak; yakunillãhu = Allah tidak akan; li yaghfiro = untuk memberi ampun; lahum = bagi mereka; wa lã = dan tidak; liyahdiyahum = untuk memberi petunjuk kepada mereka; sabĩlã = jalan.

innal ladzĩna ãmanũ tsumma kafarũ tsumma ãmanũ tsumma kafarũ tsummazdãdũ kufrol lam yakunillãhu li yaghfiro lahum wa lã liyahdiyahum sabĩlã.

137. Sesungguhnya, orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman kembali, kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka Allah sekali-kali tidak memberi ampunan kepada mereka, dan tidak pula menunjuki mereka ke jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menggambarkan kejelekan orang kafir yang tidak mempunyai pendirian tetap, kekafirannya akan bertambah.
“bertambah kekafirannya” maksudnya, di samping kekafirannya, mereka menjelekkan, merendahkan Islam, dan berperilaku tidak terpuji.

basysyiri = kabarkanlah; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; bi anna = bahwa; lahum = bagi mereka; ‘adzãban = siksa; alĩmã = sangat pedih.

basysyiril munãfiqĩna bi anna lahum ‘adzãban alĩmã.

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik, bahwa mereka akan mendapat siksaanyang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah meminta kepada orang-orang yang beriman untuk memberi peringatan, pelajaran kepada orang-orang munafik, kafir, syirik, fasik, murtad bahwa mereka tetap dalam pendiriannya, mereka akan disiksa dengan keras.

alladzĩna = orang-orang yang; yattakhidzũna = (mereka) mengambil; al kãfirĩna = orang-orang kafir; auliyã-a = pelindung, penolong; min dũni = dari selain; al mu’ minĩna = orang-orang mukmin; ayabtaghũna = apakah mereka mencari; ‘indahumu = di hadapan mereka; al ‘izzãta = kekuatan; fa inna = maka sesungguhnya; al ‘izãtalillãhi = kekuatan Allah itu; jamĩ’ã = semuanya.

alladzĩna yattakhidzũnal kãfirĩna auliyã-a min dũnil mu’ minĩna, ayabtaghũna ‘indahumul ‘izzãta fa innal ‘izãtalillãhi jamĩ’ã.

139. Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi penolong dan memperlainkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan dari orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. An Nisã’, 4:89,144.
“wali” jamaknya auliya artinya pelindung atau penolong, berarti juga teman yang akrab yang dapat saling menolong dalam berbagai persoalan hidup.

waqod = dan sungguh; nazzala = Allah menurunkan; ‘alaykum = kepada kamu; fĩ = di dalam; al kitãbi = Kitab; an idzã = bahwa apabila; sami’tum = kamu mendengar; ayãtillãhi = ayat-ayat Allah; yukfaru bihã = diingkarinya; wa yustahza-u bihã = dan diperolok-olokkannya; falã = maka jangan; taq’udũ = kamu duduk-duduk; ma’ahum = beserta mereka; hattã = sehingga; yakhũdhũ = mereka memasuki; fĩ = di dalam; hadĩtsin = pembicaraan; ghoirihi = lainnya; innakum = sesungguhnya kamu; idzãn = jika demikian (kalau begitu); mitsluhum = seperti mereka; innallãha = sesungguhnya Allah; jãmi’u = mengumpulkan; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; wal kãfirĩna = dan orang-orang kafir; fĩ = dalam; jahannama = (neraka) jahanam; jamĩ’an = semuanya.

waqod nazzala ‘alaykum fĩl kitãbi an idzã sami’tum ayãtillãhi yukfaru bihã wa yustahza-u bihã falã taq’udũ ma’ahum hattã yakhũdhũ fĩ hadĩtsin ghoirihi, innakum idzãm mitsluhum, innallãha jãmi’ul munãfiqĩna wal kãfirĩna fĩ jahannama jamĩ’an.

140. Dan sungguh Allah telah menurunkan kepadamu Alquran, apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan oleh orang-orang kafir, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain, karena sesungguhnya, kalau kamu berbuat demikian, tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya, Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahanam,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah melarang orang Islam duduk bersama orang-orang kafir yang mengingkari dan memperolok-olokkan Ayat-ayat Allah. Ayat ini menegaskan, jika seorang beriman duduk dan mendengarkan orang kafir memperolok-olokkan Dienullah (Islam), maka orang itu akan dianggap termasuk orang munafik, kecuali kalau menjauh. Allah memberitahu apa yang akan dilakukan bagi orang-orang munafik.

alladzĩna = orang-orang yang; yatarobbashũna = mereka menunggu-nunggu; bikum = bagi dirimu; fa in = maka jika; kãna = ada; lakum = bagi kamu; fat-hum = kemenangan; minallãhi = dari Allah; qōlũ = (mereka) berkata; alam = bukankah; nakum = kami berada; ma’akum = beserta kamu; wa in = dan jika; kãna = ada; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; nashĩbun = bagian (kemenangan); qōlũ = (mereka) berkata; alam = bukankah; nastahwidz = kami turut memenangkan; ‘alaykum = bagi kamu; wa namna’kum = dan membela kamu; mina = dari; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; fallahu = maka Allah; yahkumu = memberi keputusan; bainakum = di antara kamu; yawma = hari; al qiyãmati = kiamat, musnah; wa lan = dan tidak akan; yaj’alallãhu = menjadikan Allah; lil kãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘alãl mu’minĩna = atas orang-orang mukmin; sabĩlã = jalan.

alladzĩna yatarobbashũna bikum fa in kãna lakum fat-hum minallãhi qōlũ alam nakum ma’akum, wa in kãna lil kãfirĩna nashĩbun, qōlũ alam nastahwidz ‘alaykum wa namna’kum minal mu’minĩna, fallahu yahkumu bainakum yawmal qiyãmati wa lan yaj’alallãhu lil kãfirĩna ‘alãl mu’minĩna sabĩlã.

141. orang-orang yang menunggu-nunggu peristiwa yang akan terjadi pada dirimu, hai orang-orang mukmin. Maka, jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah, mereka berkata: “Bukankah kami turut berperang beserta kamu?” dan jika orang-orang kafir mendapat kemenangan, mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat, dan Allah tentu tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang mukmin.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Ayat ini menggambarkan sikap orang munafik seperti pohon ditiup angin, ke kanan atau ke kiri tergantung arah tiupan angin. Di samping itu, orang kafir sering berlaku sebagai mata-mata, memberitahukan rahasia, dan berbagai hal yang terkait dengan orang mukmin kepada orang kafir. Kalau mereka berperang menyertai orang mukmin, perangnya tidak bersungguh-sungguh.

inna = sesungguhnya; al munãfiqĩna = orang-orang munafik; yukhãdi’ũnallãha = mereka menipu Allah; wa huwa = dan Dia; khãdi’uhum = membalas tipuan mereka; wa idzã = dan apabila; qōmũ = mereka berdiri; ilash = kepada (untuk); sholãti = salat; qōmũ = mereka berdiri; kusãlã = malas; yurō-ũna = mereka ria; an nãsa = manusia; wa lã = dan tidak; yadzkurũnallaha = mereka mengingat Allah; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

innal munãfiqĩna yukhãdi’ũnallãha wa huwa khãdi’uhum, wa idzã qōmũ ilash sholãti qōmũ kusãlã, yurō-ũnan nãsa wa lã yadzkurũnallaha illã qolĩlã.

142. Sesungguhnya, orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas. Mereka riya dengan salat di hadapan manusia, dan mereka tidak menyebut nama Allah, kecuali sedikit sekali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah akan membalas tipuan mereka” maksudnya: Allah membiarkan pengakuan palsu mereka di dunia, dan diperlakukan sama dengan orang mukmin sejati, di akhirat Allah menyediakan neraka sebagai balasan tipuan mereka.
“riya” artinya melakukan sesuatu amal hanya untuk dilihat orang, ingin dipuji orang, ingin dikenal orang, bukan untuk memperoleh ridha Allah.
“menyebut nama Allah sedikit sekali, maksudnya: mereka jarang salat, dilakukan hanya bila dilihat orang, hanya untuk pamer dan ingin diakui sebagai mukmin.

mudzabdzabĩna = mereka dalam keadaan ragu; baina = di antara; dzãlika = yang demikian; lã ilã = tidak pada; hã-ulã-i = ini, itu; wa lã ilã = dan tidak pada; hã-ulã-i = ini, itu; wa man = dan barang siapa; yudhlilillãhu = disesatkan Allah; falan = maka tidak; tajida = mendapat; lahũ = baginya; sabĩlã = jalan.

mudzabdzabĩna baina dzãlika lã ilã hã-ulã-i wa lã ilã hã-ulã-i, wa man yudhlilillãhu falan tajida lahũ sabĩlã.

143. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara iman atau kafir, mereka tidak temasuk golongan orang kafir atau golongan orang beriman. Barang siapa yang disesatkan Allah, maka baginya tidak akan mendapatkan petunjuk jalan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “yang disesatkan Allah” karena ingkar dari perintah Allah, tidak mau memahami petunjuk, pelajaran dengan berbagai perumpamaan dari Allah.

yã ayyuha = wahai; al ladzĩna = orang-orang yang; amanũ = beriman; lã tattakhidzũ = jangan kamu mengambil; al kãfirĩna = orang-orang kafir; auliyã-a = pelindung, penolong; min dũni = dari selain; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; aturĩdũna = apakah kamu ingin; an taj’alũlillãhi = Allah akan menjadikan (kamu); ‘alaykum = bagi kamu; sulthōnan = alasan kekuasaan; mubĩnã = nyata.

yã ayyuhal ladzĩna amanũ lã tattakhidzũl kãfirĩna auliyã-a min dũnil mu’minĩna, aturĩdũna an taj’alũlillãhi ‘alaykum sulthōnam mubĩnã.

144. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali, dengan selain orang-orang mukmin. Inginkah kamu membuat alasan yang nyata bagi Allah untuk menyiksamu?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah untuk orang-orang yang beriman dengan pertanyaan retorik. Lihat Q.s. An Nisã’, 4:89, 139.

inna = sesungguhnya; al munãfiqĩna = orang-orang munafik fĩ = pada, di dalam; ad darki = tingkat; al asfali = terbawah; min = dari; an nãri = neraka; wa la = dan tidak; an tajida = kamu mendapat; lahum = bagi mereka; nashĩrã = penolong.

innal munãfiqĩna fĩd darkil asfali minan nãri wa lan tajida lahum nashĩrã.

145. Sesungguhnya, orang-orang munafik itu ditempatkan pada tingkat yang paling bawah di neraka, dan kamu tidak mendapatkan seorang penolong pun bagi mereka,

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan ancaman keras kepada orang munafik. Mereka tidak dapat ditolong oleh siapa pun.

illã = kecuali; al ladzĩna = orang-orang yang; tãbũ = bertobat; wa ashlahũ = dan mengadakan perbaikan; wa’tashamũ = dan mereka berpegang teguh; billãhi = kepada Allah; wa akhlashũ = dan mereka mengikhlaskan; dĩnahum = Dĩn mereka; lillãhi = karena Allah; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; ma’a = beserta; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; wa saufa = dan kelak; yu’ti = memberikan; al lãhu = Allah; al mu’minĩna = orang-orang mukmin; ajran = pahala; ‘azhĩmã = besar.

illãl ladzĩna tãbũ wa ashlahũ wa’tashamũ billãhi wa akhlashũ dĩnahum lillãhi fa-ũlã-ika ma’al mu’minĩna wa saufa yu’til lãhul mu’minĩna ajran ‘azhĩmã.

146. kecuali orang-orang yang tobat dan membuat perbaikan, dan berpegang teguh pada Dienullah, dan ikhlas mengerjakan agama mereka karena Allah. Maka, mereka itu bersma dengan orang yang beriman, dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “membuat perbaikan” maksudnya melakukan sesuatu untuk memperbaiki dan menghilangkan akibat buruk dari pekerjaanyang dulu.

mã = mengapa, bagaimana; yaf’alu = berbuat; al lãhu = Allah; bi’adzãbikum = dengan menyiksa kamu; in syakartum = jika kamu bersyukur; wa amantum = dan kamu beriman; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; syãkiran = Maha Mensyukuri; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

mã yaf’alul lãhu bi’adzãbikum in syakartum wa amantum, wa kãnallãhu syãkiran ‘alĩmã.

147. Bagaimana mungkin Allah akan menyiksamu, padahal kamu bersyukur dan beriman? Allah Maha mensyukuri dan Maha Memgetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah Maha mensyukuri” artinya Allah menyukai dan mensyukuri hamba-Nya yang bersyukur dengan cara memberi banyak pahala atas amal baik yang dilakukan hamba-Nya, memaafkan segala kesalahannya, dan menambah kenikmatannya.

Juz 6

Larangan Mengucapkan Kata-kata yang Tidak Sopan Kepada Seseorang

la yuhibbullãhul = Allah tidak menyukai; jahro = terus terang; bissũ-i = dengan yang buruk; minal qauli = dari ucapan; illã = kecuali; man = orang; zhulima = teraniaya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; samĩ’an = Maha Mendengar; ‘alĩmã = Maha Mengetahui.

la yuhibbullãhul jahro bissũ-i minal qauli illã man zhulima, wa kãnallãhu samĩ’an ‘alĩmã.

148. Allah tidak menyukai ucapan buruk yang langsung, kecuali orang yang teraniaya. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Allah tidak menyukai ucapan buruk” maksudnya Allah memberi peringatan, melarang mengucapkan kata-kata yang menyinggung perasaan, kata kotor, kata yang menyatakan iri, dengki, kasar; mencela, memaki, memfitnah; tidak sopan, menceriterakan keburukan orang lain kepada lawan berbicara (ghibah), kecuali jika orang itu terniaya, boleh menceriterakan keburukan penganiayanya sesuai dengan kenyataannya kepada hakim atau penguasa.

in tubdũ = jika kamu menyampaikan; khairan = kebaikan; au tukhfũhu = atau kamu menyembunyikan; au ta’fũ = atau kamu memaafkan; ‘an sũ-in = dari kesalahan; fa innallãha = maka Allah sesungguhnya; kãna = Dia adalah; ‘afuwwan = Maha Pemaaf; qadiirã = Mahakuasa.

in tubdũ khairan au tukhfũhu au ta’fũ ‘an sũ-in fa innallãha kãna ‘afuwwan qadiirã.

149. Jika kamu menyatakan suatu kebaikan, atau menyembunyikan, atau memaafkan kesalahan orang lain, maka sesungguhnya, Allah Maha Pemaaf dan Mahakuasa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini, Allah menganjurkan perbuatan baik, merahasiakan kejelekan orang, dan memaafkan kesalahan orang. Allah akan memaafkan kesalahan orang yang berbuat kebaikan seperti yang dianjurkan pada ayat ini. lihat juga Q.s. Al An‘am, 6: 17; Fushshilat, 41: 46 dll.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; yakfurũna = (mereka) Kafir; billãhi = kepada Allah; wa rusulihĩ = dan Rasul-rasul-Nya; wa yurĩdũna = dan mereka bermaksud; an yufarriqũ = untuk membedakan; bainallãhi = antara Allah; wa rusulihĩ = dan Rasul-rasul-Nya; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; nu’minũ = kami beriman; biba’dhin = dengan sebagian; wa nakfuru = dan kami kafir; bi ba’din = dengan sebagian; wa yuridũna = dan mereka bermaksud; an yattakhidzũ = untuk mereka mengambil; baina = antara; dzãlika = demikian itu; sabĩlã = jalan.

innal ladzĩna yakfurũna billãhi wa rusulihĩ, wa yurĩdũna an yufarriqũ bainallãhi wa rusulihĩ, wa yaqũlũna nu’minũ biba’dhin wa nakfuru bi ba’din wa yuridũna an yattakhidzũ baina dzãlika sabĩlã.

150. Sesungguhnya, orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya bermaksud memperbedakan antara keimanan kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: “Kami beriman kepada Allah, dan kafir kepada Rasul, dengan maksud mengambil jalan tengah antara kafir dan iman itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memperbedakan” maksudnya beriman kepada Allah dan kafir kepada Rasul-rasul-Nya. Hal ini dijelaskan pada ayat berikut ini
Nabi Muhammad saw.tidak dipercaya sebagai Rasul, sampai sekarang pun masih banyak yang demikian.

ulãika = itulah; humu = mereka; al kãfirũna = orang-orang kafir; haqqã = sebenar-benarnya; wa a’tadnã = dan Kami menyediakan; lilkãfirĩna = bagi orang-orang kafir; ‘adzãban = azab, siksa; muhĩnã = menghinakan.

ulãika humul kãfirũna haqqã, wa a’tadnã lilkãfirĩna ‘adzãbam muhĩnã.

151. Merekalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya. Kami sudah menyediakan siksaanyang menghinakan untuk orang-orang kafir seperti itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Jadi, orang yang setengah-setengah; mengaku ada-Nya Allah, tapi tidak mempercayai bahwa Nabi Muhammad saw.itu Utusan Allah, Rasul Allah berarti kafir yang sebenar-benarnya. Dewasa ini masih banyak yang demikian.

walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = beriman; billãhi = kepada Allah; wa rusulihĩ = dan Rasul-rasul-Nya; wa lam = dan mereka tidak; yufarriqũ = membeda-bedakan; baina = antara; ahadin = seseorang; minhum = dari mereka (Rasul-rasul); ulã-ika = mereka itulah; saufa = kelak; yu’tĩhim = dia akan memberikan kepada mereka; ujũrahum = pahala mereka; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ghofũra = Maha Pengampun; ar rahĩmãi = Maha Penyayang.

walladzĩna ãmanũ billãhi wa rusulihĩ wa lam yufarriqũ baina ahadim minhum ulã-ika saufa yu’tĩhim ujũrahum wa kãnallãhu ghofũrar rahĩmã.

152. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya, dan tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan pahala kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu pengertian iman. Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 3,4.

yas-aluka = akan meminta kepadamu; ahlul kitãbi = Ahli Kitab; an tunazzila = agar kamu menurunkan; ‘alayhim = untuk, atas, bagi mereka; kitãban = Kitab; mina = dari; as samã-i = langit; faqod = maka sesungguhnya; sa-alũ = mereka telah meminta; mũsã = Musa; akbara = lebih besar; min dzãlika = dari yang demikian; faqōlũ = maka mereka berkata; arinãllãha = perlihatkan Allah kepada kami; jahrotan = nyata; fa-akhodzat = maka menyambar; humu = mereka; ash shã’iqatu = petir; bi zhulmihim = karena kelaliman mereka; tsumma = kemudian; attakhãdzũ = mereka mengambil; al ‘ijla = anak sapi; mimba’di = dari sesudah; mã jã-at = apa yang dating; humu = kepada mereka; al bayyinaatu = bukti-bukti yang nyata; fa’afaunã = maka Kami memaafkan; ‘an dzãlika = dari demikian itu; wa atainã = dan Kami berikan; mũsã = Musa; sulthōnan = kekuasaan, keterangan; mubĩnã = nyata.

yas-aluka ahlul kitãbi an tunazzila ‘alayhim kitãbam minas samã-i, faqod sa-alũ mũsã akbara min dzãlika faqōlũ arinãllãha jahrotan fa-akhodzat humush shã’iqatu bi zhulmihim tsumma attakhãdzũl ‘ijla mimba’di mã jã-at humul bayyinaatu fa’afaunã ‘an dzãlika wa atainã mũsã sulthōnam mubĩnã.

153. Ahli Kitab meminta kepadamu, agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah kitab dari langit. Sesungguhnya, mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata.” Maka mereka disambar petir karena kelalimannya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang bukti-bukti yang nyata kepada mereka, lalu Kami memaafkan mereka dari hal itu. Dan telah Kami berikan keterangan yang nyata kepada Musa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “mereka menyembah anak sapi” benda ini terbuat dari emas. Ayat ini merupakan Catatan, pengetahuan, ilmu, hukum, ahlak, dan adab sejarah masa lalu yang harus menjadi cermin untuk hidup kita sekarang dan untuk pembelajaran keturunan kita untuk masa yang akan datang.

wa rofa’nã fauqohumuth thũra bi mĩtsãqihim wa qulnã lahumudkhulul bãba sujjadan wa qulnã lahum lã ta’dũ fĩs sabti wa akhodznã minhum mĩtsãqon gholĩzhon.

wa rofa’nã fauqohumuth thũra bi mĩtsãqihim wa qulnã lahumudkhulul bãba sujjadan wa qulnã lahum lã ta’dũ fĩs sabti wa akhodznã minhum mĩtsãqon gholĩzhon.

154. Dan telah Kami angkat ke atas kepala mereka bukit Thursina karena mereka mengingkari perjanjian yang telah Kami ambil dari mereka, dan Kami perintahkan kepada mereka: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan pula kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai Hari Sabtu, dan Kami telah mengambil perjanjian yang kokoh dari mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud” yang dimaksud pintu gerbang adalah pintu-pintu kota Baitul Maqdis; yang dimaksud bersujud artinya menundukan diri dalam sikap menghormat.

fa = maka; bimã = disebabkan; naqdhihim = pelanggaran mereka; mitsãqohum = perjanjian mereka; wa kufrihim = dan kekafiran mereka; bi ãyãtillãhi = pada ayat-ayat Allah; wa qotlihimu = dan pembunuhan mereka; al ambiyã-a = nabi-nabi; bi ghoiri = dengan tidak haqqi = benar; waqaulihim = dan perkataan mereka; qulũbunã = hati kami; ghulfun = tertutup; bal = tetapi, bahkan; thoba’a = telah mengunci mati; allãhu = Allah; ‘alaihã = atas (hati) mereka; bi kufrihim = karena kekafiran mereka; fa lã yu’minũna = maka mereka tidak beriman; illã = kecuali; qolĩlã = sedikit.

fabimã naqdhihim mitsãqohum wa kufrihim bi ãyãtillãhi wa qotlihimul ambiyã-a bi ghoiri haqqi waqaulihim qulũbunã ghulfum bal thoba’allãhu ‘alaihã bi kufrihim fa lã yu’minũna illã qolĩlã.

155. Maka Kami lakukan terhadap mereka, beberapa tindakan karena mereka melanggar perjanjian, dan karena kekafiran mereka pada keterangan-keterangan Allah, dan karena mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan karena mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan Allah sesungguhnya telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman, kecuali sebagian kecil dari mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan” antara lain: mereka dikutuk, disambar petir, menjelma menjadi kera, dan lain-lain.

wa bi kufrihim = dan karena kekafiran mereka; wa qaulihim = dan perkataan mereka; ‘alã = kepada; maryama = Maryam; buhtaanan = dusta; ‘azhĩmã = besar.

wa bi kufrihim wa qaulihim ‘alã maryama buhtaanan ‘azhĩmã.

156. Dan karena kekafiran mereka terhadap Isa dan tuduhan mereka kepada Maryam dengan dusta yang besar, zinah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada zaman Nabi Isa a.s. banyak orang yang tidak percaya atas kerasulan Isa a.s. Mereka juga tidak percaya Maryam hamil tanpa dijamah laki-laki. Mereka menuduh zinah kepada Maryam.

wa qaulihim = dan perkataan mereka; innã = sesungguhnya (kami); qotalna = (kami) telah membunuh; al masiha = Al Masih; ‘ĩsa = Isa; ibna maryama = putra Maryam; rasũlallãhi = (Isa) Rasulullah; wa mã = dan mereka tidak; qotalũhu = membunuhmya; wa mã = dan mereka tidak; shalabũhu = menyalibnya; wa lãkin = akan tetapi; syubbiha = diserupakan dengannya; lahum = bagi mereka; wa inna = dan sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; akhtalafũ = (mereka) berselisih; fĩhi = tentang dia (Isa a.s.); lafĩ = benar-benar dalam; syakkĩn = keraguan; minhu = darinya; mã = tidak ada; lahum = bagi mereka; bihĩ = dengannya (yang dibunuh itu); min ‘ilmin = dari pengetahuan (keyakinan); illa = kecuali; at tibã-‘a = mengikuti; azhzhanniwa = persangkãn; wa = dan; mã qotalũhu = tidaklah mereka membunuhnya; yaqĩnaan = yakin.

wa qaulihim innã qotalnal masiha ‘ĩsabna maryama rasũlallãhi wa mã qotalũhu wa mã shalabũhu wa lãkin syubbiha lahum, wa innalladzĩnakhtalafũ fĩhi lafĩ syakkĩm minhu, mã lahum bihĩ min ‘ilmin illãt tibã-‘azhzhanni wa mã qotalũhu yaqĩnaan

157. dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya, kami telah membunuh al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya, dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang mereka bunuh adalah orang yang diserupakan dengan Isa. Sesungguhnya, orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh, kecuali mengikuti perkiraan belaka, mereka juga tidak yakin, apakah Isa yang dibunuh itu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “kami telah membunuh al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” ucapan itu merupakan ejekan, karena mereka sendiri tidak mengakui Isa itu Rasulullah.
Menurut ayat ini Nabi Isa tidak terbunuh. Para pelaku juga meragukan, siapa yang sebenarnya dibunuh itu.

bal = tetapi; rofa’ahu = telah mengangkatnya; allãhu = Allah; ilaihi = kepada-Nya; wa kãnallãhu = dan Allah adalah; ‘azĩzan hakĩmã = Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

bar rofa’ahullãhu ilaihi, wa kãnallãhu ‘azĩzan hakĩmã.

158. Tetapi yang sebenarnya, Allah telah mengangkat Isa ke haribãn-Nya, dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan bantahan kepada orang-orang Yahudi, bahwa mereka telah membunuh Nabi Isa, a.s..

wa in = dan tidak; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; illã = kecuali; layu’minanna = benar-benar ia akan beriman; bihĩ = dengannya; qobla = sebelum; mautihĩ = kematiannya; wa yawmal qiyãmati = dan pada hari kiamat; yakũnu = adalah ia (Isa a.s.); ‘alayhim = terhadap mereka; syahĩdã = menjadi saksi.

wa im min ahlil kitãbi illã layu’minanna bihĩ qobla mautihĩ wa yawmal qiyãmati yakũnu ‘alayhim syahĩdã

159. Tidak ada seorang pun dari Ahli Kitab yang tidak beriman kepada Isa sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti, Isa akan menjadi saksi terhadap mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ahli Kitab (Hindu, Budha, Tao, Yahudi, Nasrani) pada hari kematian, saatamal sudah tidak diterima Allah lagi, semuanya bersaksi bahwa Isa itu rasul Allah, dan bukan anak Allah.

fa bizhulmin = maka disebabkan kelaliman; minal ladzĩna = dari orang-orang; hãdũ = Yahudi; harramnã = Kami mengharamkan; ‘alayhim = atas mereka; thoyyibãtin = yang baik-baik; uhillat = yang awalnya dihalalkan, dibolehkan; lahum = bagi mereka; wa bi shoddihim = dan karena mereka menghalangi; ‘an sabĩlil lãhi = dari jalan Allah; katsĩrã = banyak.

fa bizhulmim minal ladzĩna hãdũ harramnã ‘alayhim thoyyibãtin uhillat lahum wa bi shoddihim ‘an sabĩlil lãhi katsĩrã.

160. Maka, disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan kepada mereka memakan makanan yang baik-baik, yang dahulunya dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia menunju jalan Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: kelaliman orang Yahudi adalah meminum khamar, memakan babi, binatang bertaring, binatang yang hidup di dua alam (di air dan di darat), mengundi nasib dengan anak panah. Makanan yang dahulunya halal, sekarang haram, seperti disebutkan yaitu babi, binatang bertaring (anjing, bangsa harimau, dan lain-lain), binatang yang hidup di dua alam (di air dan di darat: kodok, penyu, ular, buaya),

wa akhadzihimu = dan mereka makan (mengambil); ar ribã = riba; wa qod = dan sesungguhnya; nuhũ = mereka telah dilarang; ‘anhu = darinya; wa aklihim = dan makan mereka; amwãla = harta; an nãsi = manusia; bil bãthili = dengan (cara) batil; wa a’tadnã = dan Kami sediakan; lil kãfirĩma = bagi orang kafir; minhum = di antara mereka; ‘adzãban = azab, siksa; alĩmã = yang pedih.

wa akhadzihimur ribã wa qod nuhũ ‘anhu wa aklihim amwãlan nãsi bil bãthili, wa a’tadnã lil kãfirĩma minhum ‘adzãban alĩmã.

161. dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya, mereka telah dilarang melakukannya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil, Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka, siksa yang amat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: orang yang memakan riba dan dengan cara yang batil itu termasuk orang kafir. Mereka disediakan siksa yang amat pedih di akhirat. Semua agama melarang riba dan memakan harta orang dengan cara yang batil. Yang termasuk memakan harta dengan jalan yang batil adalah dengan cara menipu, memalsu, membohongi pembeli, mengurangi timbangan, mengambil keuntungan terlalu banyak.

lãkini = akan tetapi; ar rōsikhũna orang-orang yang mendalam; fĩl ‘ilmi = pada ilmu; minhum = di antara mereka; wal mu’minũna = dan orang-orang mukmin; yu’minũna = (mereka) beriman; bimã = dengan apa; unzila = (yang) diturunkan; ilaika = kepada kamu; wa mã = dan apa; unzila = (yang) diturunkan; min qoblika = dari sebelum kamu; wal muqĩmĩna = dan orang-orang yang mendirikan; ash sholãta = salat; wal mu’tũna = dan orang-orang yang menunaikan; az zakãta = zakat; wal mu’minũna = dan orang-orang yang beriman; bil lãhi = kepada Allah; wal yaumi = dan hari; al ãkhĩri = akhir; ũlã-ika = mereka itulah; sanu’tĩhim = akan kami berikan kepada mereka; ajron = pahala, ganjaran; azhĩmã = besar

lãkinir rōsikhũna fĩl ‘ilmi minhum wal mu’minũna yu’minũna bimã unzila ilaika wa mã unzila min qoblika, wal muqĩmĩnash sholãta, wal mu’tũnaz zakãta wal mu’minũna bil lãhi wal yaumil ãkhĩri, ũlã-ika sanu’tĩhim ajron azhĩmã.

162. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu, Alquran, dan apa yang telah diturunkan sebelum kamu, dan orang-orang yang mendirikan salat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah, dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami beri pahala (ganjaran) yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 2, 3, 4. tentang iman dengan masing-masing peraturan peribadatannya pada masing-masing zaman.

innã = sesungguhnya Aku, au hainã = telah mewahyukan; ilaika = kepada kamu; kamã = sebagaimana; au hainã = (Kami) telah mewahyukan; ilã = kepada; nũhin = Nuh; wan nabiyyĩnna = dan Nabi-nabi; mim ba’dihĩ = setelah itu; wa au hainã = dan Kami wahyukan; ilã = kepada; ibrōhĩma = Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan Ismail; wa ishãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; wal asbathi = dan anak-anak-cucunya; wa ‘ĩsã = Isa; wa ayyuba = Ayub; wa yũnusa = Yunus; wa hãrũn = Harun; wa sulaimaana = Sulaiman; wa ãtainã = dan Kami berikan; dawũda = (kepada) Dawud; zabũra = Zabur.

innã au hainã ilaika kamã au hainã ilã nũhin wan nabiyyĩnna mim ba’dihĩ, wa au hainã ilã ibrōhĩma, wa ismã’ĩla, wa ishãqo, wa ya’qũba wal asbathi wa ‘ĩsã wa ayyuba, wa yũnusa, wa hãrũn, wa sulaimaana wa ãtainã dawũda zabũra.

163. Sesungguhnya, Kami telah memberikan wahyu kepadamu, seperti Kami telah memberikannya kepada Nuh, dan Nabi-nabi yang setelah itu. Kami telah memberikan pula wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya: Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Wahyu yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw. itu selaras dengan pembaruan wahyu dari para nabi sebelumnya, yaitu kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya: Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman, kemudian Kitab Zabur kepada Dawud.

wa rusulan = dan Rasul-rasul; qod = sungguh; qoshoshnãhum = telah Kami kisahkan; ‘alaika = kepada Kamu; min qoblu = dahulu; wa rusulan = dan Rasul-rasul; lam naqshush-hum = tidak Kami kisahkan itu; ‘alaika = kepada kamu; wa kallamallãhu = dan Allah telab berbicara; mũsã = (kepada) Musa; taklĩmaan = pembicaraan langsung.

wa rusulan qod qoshoshnãhum ‘alaika min qoblu wa rusulal lam naqshush-hum ‘alaika, wa kallamallãhu mũsã taklĩmaan.

164. Dan Kami sungguh telah mengutus rasul-rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu, yaitu Allah telah berbicara langsung kepada Musa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pada ayat ini, Allah memberitahukan telah mengutus banyak rasul, ada ceritera yang diberitakan, dan ada yang tidak diberitakan kepada Nabi Muhammad s.a.w..
“Allah telah berbicara langsung kepada Musa a.s..” Hal ini merupakan keistimewaan Nabi Musa, a.s. sehingga beliau disebut Kalimullah, sedang rasul-rasul lain mendapat wahyu Allah melalui Jibril. Nabi Muhammad saw.juga pernah berbicara langsung dengan Allah, pada malam hari ketika beliau mikraj (perjalanan Nabi Muhammad saw.dari Masjidil Aksa ke Sidratul Muntaha, saatmenerima perintah salat 5 waktu dari Allah).

rusulan = Rasul-rasul; mubasysyirĩna = pembawa berta gembira; wa mundzirĩna = dan pemberi peringatan; li-allã = agar tidak; yakũna = ia ada; linnãsi = bagi manusia; ‘alãllãhi = kepada Allah; hujjatun = membantah; ba’da = setelah; ar rusuli = Rasul-rasul-Nya; wa kãnãllãhu = dan sesunguhnya Allah; ‘azĩzan = Mahaperkasa; hakĩmã = Mahabijaksana.

rusulam mubasysyirĩna wa mundzirĩna li-allã yakũna linnãsi ‘alãllãhi hujjatum ba’dar rusuli, wa kãnãllãhu ‘azĩzan hakĩmã.

165. Mereka Kami utus sebagai rasul-rasul pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Rasul-rasul Allah, sesudah diutus-Nya itu. Dan Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan tugas Rasul agar manusia tidak membantahnya. Tapi selalu saja ada manusia yang menolak, menyangkal, membantah kebenaran berita dan peringatan dari Allah itu. Mereka sombong, berperilaku menyimpang dan hidup seenaknya saja. Mereka merasa benar saja, apa yang mereka lakukan yang tidak berdasarkan petunjuk wahyu Allah kepada para Nabi-Nya. Ini merupakan gejala sosial yang tidak boleh dibiarkan. Tapi kalau bertindak tidak boleh gegabah, harus hati-hati, dan halus. Agar tidak menyinggung perasan.

lãkini = akan tetapi; allãhu = Allah; yasyhadu = Dia menyaksikan, mengakui; bimã = dengan apa (Alquran); anzala = Dia menurunkan; ilaika = kepoadamu; anzalahũ = Dia menurunkannya; bi ilmihĩ = dengan ilmu-Nya; wal malãikatu = dan para Malaikat; yasyhadũna = mereka menjadi saksi; wa kafã = dan cukuplah; billãahi = dengan Allah; syahĩdã = menjadi saksi.

lãkini llãhu yasyhadu bimã anzala ilaika anzalahũ bi ilmihĩ, wal malãikatu yasyhadũna, wa kafã billãahi syahĩdã

166. (Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu.) Akan tetapi Allah mengakui Alquran yang diturunkan-Nya kepadamu, Allah menurunkan Alquran dengan ilmu-Nya, dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi. Cukuplah Allah Yang mengakuinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menghibur Nabi, meskipun umat manusia tidak mau mengakui Al-quran sebagi petunjuk hidup, Allah dan para Malaikat menjadi saksi dan mengakuinya.

inna = sesungguhnya; alladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; washaddũ = dan mereka menghalang-halangi; ‘an sabĩlillãhi = dari jalan Allah; qod = sungguh; dhollũ = mereka telah sesat; dholãlaan = kesesatan; ba’ĩdã = sejauh-jauhnya.

innalladzĩna kafarũ washaddũ ‘an sabĩlillãhi qod dhollũ dholãlãm ba’ĩdã.

167. Sesunguhnya, orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi jalan manusia kepada Allah, benar-benar dalam kesesatan yang jauh sekali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan pembelajaran, dan peringatan bagi manusia.

inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; wa zholamũ = dan lalim (kepada diri mereka sendiri); lam yakunillãhu = yakin Allah tidak; li yaghfira = akan mengampuni; lahum = kepada mereka; wa lã = dan Dia tidak; liyahdiyahum = menunjukkan mereka; thorĩqō = jalan.

innal ladzĩna kafarũ wa zholamũ lam yakunillãhu li yaghfira lahum wa lã liyahdiyahum thorĩqō.

168. Sesunguhnya, orang-orang yang kafir dan melakukan kelaliman, Allah tentu tidak akan mengampuni dosa mereka, dan juga tidak akan menunjukkan jalan kepada mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang kafir itu orang yang melalimi dirinya sendiri. Allah tidak akan mengampuni dosanya. Mereka tidak diberi petunjuk jalan yang benar dalam hidupnya.

illã = hanya, kecuali; thoriqō = jalan; jahannama = Jahanam; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; abadan = selama-lamanya; wa kãna = dan adalah; dzãlika = demikian itu; alallãhi = bagi Allah; yasĩrō = mudah.

illã thoriqō jahannama khōlidĩna fĩhã abadan, wa kãna dzãlika alallãhi yasĩrō

169. kecuali jalan ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya, dan yang demikian itu mudah bagi Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan bagi manusia, jangan melalimi diri sendiri.

yã ayyuhan nãsu = wahai manusia; qod = sungguh; jã-akumu = telah dating; ar rosũlu = seorang Rasul; bil haqqi = dengan kebenaran; min = dari; robbikum = Robb kamu; fa-ãminũ = maka berimanlah kamu; khoiron = lebih baik; lakum = bagi kamu; wa-in = dan jika; takfurũ = kamu kafir; fa innallahi = maka sesungguhnya Allah; mã = segala apa; fi = di; as samãwãti = langit; wal ardhĩ = dan bumi; wa kãna = dan adalah; allahu = Allah; ‘alĩmun = Mahatahu; hakĩmã = Mahabijaksana.

yã ayyuhan nãsu qod jã-akumur rosũlu bil haqqi mir robbikum fa-ãminũ khoirol lakum wa-in takfurũ fa innallahi mã fis samãwãti wal ardhĩ, wa kãnalllahu ‘alĩmun hakĩmã.

170. Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul Muhammad s.a.w., kepadamu dengan membawa kebenaran dari Robbmu, maka berimanlah kamu. Itulah yang terbaik bagimu, dan jika kamu kafir, (hal itu tidak merugikan Allah sedikit pun), karena sesungguhnya, apa yang ada di langit dan di bumi itu kepunyaan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, dan Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat juga Q.s. Al Baqarah, 2: 284; Ali ‘Imran, 3: 29; 129: An Nisa, 4: 131, 132.

yã ahlal kitãbi = Wahai Ahli Kitab; la = jangan; taghlũ = kamu melampaui batas; fĩ dĩnikum = dalam beragama kamu; wa lã = dan jangan; taqũlũ = kamu mengatakan; alallãhi = kepada Allah; illã = kecuali; al haqo = benar; inna = sesungguhnya; ma = hanyalah; al masĩhu = Al Masih; ‘Ĩsãbnu maryama = Isa putra Maryam; rosulullãhi = Rasul Allah; wa kalimatuhũ = dan ucapan-Nya; alqōhã = Dia menyampaikannya; ilã maryama = kepada Maryam; wa rũhun = dan ruh; minhu = dari-Nya; fa ãminũ = maka berimanlah kamu; billãhi = kepada Allah; wa rusulihi = dan Rasul-rasul-Nya; wa lã = dan jangan; taqũlũ = kamu mengatakan; tsalatsãtun = tiga; antahũ = hentikanlah; khoiron = lebih baik; lakum = bagi kamu; innamãllãhu = sesungguhnya hanyalah Allah; ilãhun = Ilah; wãhĩdun = satu, esa; subhãnahũ = Mahasuci Dia; an yakũna = bahwa Dialah mempunyai; lahũ = bagi-Nya; waladun = seorang anak (laki-laki); lahũ = kepunyaannya; mã = apa-apa; fis samãwãti = di langit; wa mã = dan apa-apa; fil ardhi = di bumi; wa kafã = dan cukuplah; billãhi = dengan Allah; wakĩlã = pelindung, pelindung.

yã ahlal kitãbi la taghlũ fĩ dĩnikum wa lã taqũlũ alallãhi illãl haqo, innamal masĩhu ‘Ĩsãbnu maryama rosulullãhi wa kalimatuhũ alqōhã ilã maryama wa rũhum minhu, fa ãminũ billãhi wa rusulihi, wa lã taqũlũ tsalatsãtun antahũ khoirol lakum, innamãllãhu ilãhun wãhĩdun subhãnahũ an yakũna lahũ waladun lahũ mã fis samãwãti wa mã fil ardhi wa kafã billãhi wakĩlã.

171. Wahai Ahli Kitab, kamu jangan melampaui batas dalam ad Dĩnmu, dan janganlah kamu mengatakan sesuatu kepada Allah, kecuali yang benar. Sesungguhnya, al Masih, Isa Putra Maryam adalah utusan Allah, dan yang diciptakan dengan sabda-Nya yang dipercayakan-Nya kepada Maryam, dan dengan tiupan ruh-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan: “Tuhan itu tiga”. Hentikan ucapan seperti itu. Demikian lebih baik bagimu. Sesungguhnya, Allah adalah Robb Yang Mahaesa, Mahasuci dari pikiran mempunyai anak. Segala yang ada di langit dan di bumi itu kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai pemelihara.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “jangan melampaui batas dalam ad Dĩnmu” maksudnya, jangan mengatakan Nabi Isa, a.s. itu putra Allah,Tuhan seperti kebiasaanumat Nasrani.
“diciptakan dengan sabda-Nya” maksudnya, Allah menciptakan Nabi Isa, a.s. itu dengan kalimat “kun” jadilah, maka jadilah Isa, a.s. tanpa bapak (lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 116, 117; Ali ‘Imran, 3: 47, 59; Yã sĩn, 36: 82.

lan yastankifa = tidak sekali-kali enggan; al masĩhu = Al Masih; an yakũna = bahwa dia menjadi; ‘abdan = hamba; lillãhi = bagi Allah; wa lalmalã-ikatu = dan Malaikat; al muqarobũna = yang terdekat; wa man = dan barang siapa; yastankif = (ia) enggan; ‘an ‘ibãdatihĩ = dari menyembah-Nya; wa yastakbir = dan ia menyombongkan diri; fasayahsyuruhum = maka Dia (Allah) akan mengumpulkan mereka; ilaihi = kepada-Nya; jamĩ’ã = semuanya.

lan yastankifal masĩhu an yakũna ‘abdal lillãhi wa lalmalã-ikatul muqarobũna, wa man yastankif ‘an ‘ibãdatihĩ, wa yastakbir fasayahsyuruhum ilaihi jamĩ’ã.

172. Al Masih dan para Malaikat yang sangat dekat kepada Allah, pasti tidak segan menjadi hamba Allah. Barang siapa yang merasa segan beribadah kepada Allah, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini merupakan peringatan kepada umat Kristen agar tidak mencampur- adukkan makhluk sebagai hamba yang harus beribadah kepada Allah, dengan Zat Allah yang tidak dapat disamakan dengan makhluk-Nya (Isa Al Masih).

fa amma = maka sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; wa ‘amilush shōlihãti = dan beramal saleh; fa yuwaffĩhim = dan Dia akan menyempurnakan mereka; ujũrohum = pahala mereka; wayazĩduhum = dan Dia menambah mereka; min fadhlihi = dari karunia-Nya; wa amma = dan sesungguhnya; al ladzĩnã = orang-orang yang; as tankafũ = (mereka) enggan; wastakbarũ = dan mereka meyombongkan diri; fayu’adzibuhum = maka Dia akan menyiksa mereka; ‘adzãban = siksa (azab); alĩman = pedih; wa lã = dan (mereka) tidak; yajidũna = mereka mendapatkan; lahum = bagi mereka; min dũnillãhi = dari selain Allah; waliyyan = pelindung; wa lã nashĩrã = dan tidak penolong.

fa ammal ladzĩna ãmanũ wa ‘amilush shōlihãti fa yuwaffĩhim ujũrohum wayazĩduhum min fadhlihi, wa ammal ladzĩnãs tankafũ wastakbarũ fayu’adzibuhum ‘adzãban alĩmã wa lã yajidũna lahum min dũnillãhi waliyyan wa lã nashĩrã.

173. Maka sesungguhnya, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah akan menyempurnakan pahala, dan menambah sebagian karunia-Nya untuk mereka. Dan sesungguhnya, orang-orang yang enggan (mengakui kebenaran wahyu Allah) dan menyombongkan diri, Allah akan menyiksa mereka dengan siksaanyang amat pedih, dan mereka tidak memperoleh pelindung dan penolong, selain dari Allah.

yã ayyuhannãsu = wahai manusia; qod = sungguh; jã-akum = telah datang kepadamu; burhãnun = bukti kebenaran; min = dari; robbikum = dari Robb kamu; wa anzalnã = dan Kami telah menurukan; ilaykum = kepada kamu; nũran = cahaya; mubĩnã = terang.

yã ayyuhannãsu qod jã-akum burhãnum mir robbikum wa anzalnã ilaykum nũram mubĩnã.

174. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran (Muhammad s.a.w.) dari Robbmu, dengan mukjizatnya, dan telah Kami turunkan cahaya penerangan yang sejelas-jelasnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Arti “cahaya penerangan yang sejelas-jelasnya” adalah Alquran yang menjelaskan aturan hidup manusia, termasuk di dalamnya tentang kedudukan Isa al Masih sebagai makhluk yang diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah, jangan disamakan dengan atau dianggap Allah.

fa ammã = maka sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = beriman; billãhi = kepada Allah; wa’tashamũ = dan mereka berpegang teguh; bihĩ = kepada-Nya; fasayud-khiluhum = maka Dia akan memasukkan mereka; fĩ rohmatin = dalam rahmat; minhu = dari-Nya; wa fadhlin = dan karunia; wa yahdĩhim = dan Dia akan memberi petunjuk kepada mereka; ilaihi = kepada-Nya; shirōthan = jalan; mustaqĩmã = yang lurus.

fa ammãl ladzĩna ãmanũ billãhi wa’tashamũ bihĩ fasayudkhiluhum fĩ rohmatim minhu wa fadhlin wa yahdĩhim ilaihi shirōtham mustaqĩmã.

175. Maka orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada aturan-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang banyak, surga dengan limpahan karunia-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus menuju kepada-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Aturan Allah itu tercakup dalam Rukun Iman dan Rukun Islam. Semua ayat dalam Alquran itu merupakan aturan Allah. Membaca ayat-ayat Allah yang disertai Hadis akan mengarahkan kita ke jalan yang lurus agar dapat bertemu dengan-Nya nanti di akhirat.

yastaftũnaka = mereka akan meminta fatwa kepada kamu; kulillãhu = katakanlah Allah; yaftĩkum = memberi fatwa kepadamu; fi = tentang; al kalãlah = kalalah; inimru-un = jika seseorang; halaka = meninggal dunia; laisa = tidak ada; lahũ = baginya; waladun = seorang anak (laki-laki); wa lahũ = dan baginya; ukhtun = saudara perempuan; falahã = maka baginya; nishfu = seperdua; mã = apa (harta); taroka = ia tinggalkan; wa huwa = dan ia (saudara laki-laki); yaritsuhã = mewarisinya (saudara perempuan); in lam yakun = jika tidak ada; lahã = baginya (mempunyai); waladun = seorang anak (laki-laki); fain = maka jika; kãnata = adalah keduanya; atsnataini = dua orang; falahuma = maka bagi keduanya; ats tsalutsãni = dua pertiga; mimmã = dari apa (harta); taroka = ia tinggalkan; wa in = dan jika; kãnũ = adalah mereka; ikhwatan = beberapa saudara; rijãlan = laki-laki; wa nisã-an = dan perempuan; falidzdzakari = maka bagi laki-laki; mitslu = seperti, sebanyak; hazhi = bahagian; al untsayaini = dua saudara perempuan; yubayyinullãhu = Allah menerangkan; lakum = kepadamu; an tadhillũ = supaya kamu tidak sesat; wallãhu = dan Allah; bi kulli = dengan segala; syai-in = sesuatu; ‘alĩmun = Maha Mengetahui.

yastaftũnaka kulillãhu yaftĩkum fil kalãlah, inimru-un halaka laisa lahũ waladun wa lahũ ukhtun falahã nishfu mã taroka, wa huwa yaritsuhã in lam yakul lahã waladun fain kãnatatsnataini falahumãts tsalutsãni mimmã taroka wa in kãnũ ikhwatar rijãlan wa nisã-an falidzdzakari mitslu hazhil untsayaini yubayyinullãhu lakum an tadhillũ, wallãhu bi kulli syai-in ‘alĩmun

176. Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, yaitu: Jika seseorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak, dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudara yang laki-laki mempusakai seluruh harta saudara perempuan, jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya, dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang wafat. Dan jika mereka, ahli waris itu, terdiri dari saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sebanyak bagian -dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan hukum ini kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Kalalah” artinya seseorang yang wafat dan tidak meninggalkan ayah dan anak. Yang mewarisi adalah saudara laki-laki dan, atau saudara perempuan.

Kesimpulan Surat An Nisã’

Surat an Nisã’, berisi perintah untuk bertakwa; manusia berasal dari yang satu, Adam; ada hukum-hukum yang menyangkut anak yatim, rumah tangga, warisan, perempuan yang haram dinikahi; hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan; hukum perang; pelajaran yang harus diambil dari kekalahan dalam Perang Badar yan terkait dengan hujjah-hujjah yang dikemukakan para Ahli Kitab; terakhir perintah kepada kaum mukminin dan mukminat untuk tetap takwa dan sabar; menguatkan hubungan sosial dengan manusia lain, agar medapatkan keberuntungan di diunia dan di akhirat.

Di samping itu Surat an Nisã” berisi aqad-aqad perkawinan, perceraian, warisan, perjanjian, wasiat, mengemukakan hukum yang bersifat umum dan menerangkan jalan untuk menetapkan hukum. Pokok-pokok agama juga dikemukakan, seperti keesaan Allah, dan hal kenabian Muhammad saw. Pada akhir Surat an Nisã’ mengemukakan hujjah-hujjah tentang kekeliruan kaum Yahudi, dan Nasrani, kaum musyrikin, munafikin, fasikin. Surat an Nisã’ dimulai dengan seruan yã ayyuyhannãs sebagi ciri dari surat-surat Makiyah yang dibedakan dengan surat-surat Madaniyah yang memulainya dengan seruan yã ayyuhaladzĩmã ãmanu. Seruan ini, sesungguhnya menyeru seluruh manusia, bedanya apakah ia beriman atau tidak beriman.

003 Ali Imran

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang.

Ali ‘Imran
Surat ke 3, 200 ayat, Madaniyah
Jus 3 beralih ke Juz 4 pada ayat 92

Catatan Awal
Surat Ali ‘Imran berisi kisah keluarga Ali ‘Imran dengan kelahiran Maryam dari keluarganya. Kelahiran Nabi Isa a.s. yang menyimpang dari norma biasa, dengan beberapa mukjizatnya, yang menegaskan agama Tauhid dari para Nabi; Selain itu, ada kisah Perang Badar dan Perang Uhud. Ada hukum musyawarah; bermubahalah; larangan melakukan riba. Isi yang lain, tentang perbedaan cara memahami ayat-ayat Mutasyãbihãt; beberapa Asmaul Husna; sifat-sifat orang yang takwa. Rido Allah untuk agama Islam; Mengingatkan untuk tidak berteman atau mempercayai orang kafir; perjanjian para Nabi dengan Allah; perumpamaan-perumpamaan, peringatan bagi orang mukmin; dan ahli Kitab; tentang Ka’bah sebagai tempat ibadah yang paling awal; perlunya memperhatikan ciptaan Allah.

Surat al Baqarah dan surat Ali ‘Imran dinamai ‘Az Zahrawãni” (=Dua yang Cemerlang) karena keduanya mengungkapkan informasi yang disembunyikan atau ditutup-tutupi oleh para Ahli Kitab sebelum Islam, yaitu tentang kelahiran Nabi ‘Isa a.s., dan datangnya Nabi Muhammad saw..

Pokok-pokok isi Surat Ali ‘Imran antara lain:
1. Keimanan: menyangkut dalil dan alasan untuk membantah umat Kristen yang menuhankan Nabi Isa, a.s. (Ada Allah Bapa, dan ada Allah Anak, ada Allah Rohul Kudus); menjelaskan terjadinya kekalahan Perang Uhud, dan kemenangan Perang Badar yang perlu menjadi pelajaran. Kekalahan dan kemenangan itu harus dilandasi dengan iman dan takwa kepada Allah, agar mendapat anugerah Syuhada’ bagi yang meninggal dalam peperangan. Kalau tidak, maka kematian dalam peperangan itu menjadi sia-sia, karena balasannya neraka. Surat ini mengingatkan, ajaran keesaan Allah itu sudah disampaikan oleh para Nabi sebelumnya, sejak Nabi Adam, termasuk agama Kristen sendiri, hanya dalam prosesnya terjadi penyimpangan prinsip, akibat pendeta atau rahibnya menafsirkan Sabda Allah salah, jadi salah kaprah.
2. Hukum-hukum: bermusyawarah, dijelaskan lagi dalam Surat Asy Syũra, 42, 53 ayat; bermubahalah; melakukan riba;
3. Kisah-kisah: seperti yang disebutkan di atas yaitu keluarga ‘Imran, Perang Badar, Perang Uhud, yang menjadi pelajaran, dan harus diteladani;
4. Lain-lain: golongan manusia dalam memahami ayat-ayat mutasyãbihãt; sifat-sifat Allah; sifat-sifat orang yang takwa; Islam adalah agama yang diridoi Allah; kemudharatan mengambil kepercayaan dan teman orang kafir; perjanjian Allah dengan para Nabi; perumpamaan-perumpamaan; peringatan-peringatan untuk mukmin; peringatan-peringatan untuk Akhli Kitab; Ka’bah adalah bangunan peribadatan yang tertua, dengan bukti-buktinya; manfaat, selalu mengingat Allah, dan merenungi ciptaan-Nya

a’udzubillãhis samĩ’il ‘alĩmi min-nasy syaitōnnir rojĩm

BISMILLÃHIRAHMÃNIRRAHĨM

Alif Lãm Mĩm

1. Allah, Lã ilaha ilahuwal Muta’ãli = Allah, tidak ada ilah lain, selain Dia Yang Mahatinggi

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini dapat dipanjangkan, seperti ayat dalam Surat Al Baqarah. Allah, Lailãha Ilallah Muhammadur Rasulullah atau yang lainnya, seperti Allah, Lã ilaha ilahuwal Muta’ãli = Allah, tidak ada ilah lain, selain Dia Yang Mahatinggi, atau Allãhu Laylaha ila Antal Malik = Allah tidak ada ilah lain selain Dia Yang Maha Menguasai.

Allah = Allah; lã = tidak; ilãha = AIlah; illã = kecuali, melainkan; huwa = Dia; al hayyu = yang hidup (kekal); al qoyyũm = selalu berdiri sendiri

Allah lã ilãha illã huwal hayyul qoyyũm

2. Allah, tiada ilah lain selain Dia Yang hidup kekal dan selalu mandiri.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kepastian tentang Allah. Allah itu tunggal, sendiri tidak memerlukan yang lain; yang lain memerlukan-Nya. Hidup Allah kekal dan mandiri. Lihat juga Surat 2 Al Baqarah: 255 (ayat Kursi); Surat 112, Al Ikhlas. Lihat juga Asma’ul Husna. Ayat ini dianjurkan untuk diulang-ulang agar menguatkan iman kepada sifat Allah yang kekal, tunggal, mandiri, tidak ada yang bisa menyamai. Mahkluk-Nya selalu mengalami perubahan.

nazzala = Dia telah menurunkan; ‘alayka = kepadamu; al kitãba = Alkitab (Alqur’an); bil = dengan; haqqi = sebenarnya; mushodiqon = membenarkan; limã = terhadap apa; bayna yadaihi = antara dua tangannya (ungkapan bahwa dua hal yang dinyatakan itu sungguh benar); wa anzala = dan Dia menurunkan; at taurōta = Taurat; wal injĩla = dan Injil.

nazzala ‘alaykal kitãba bil haqqi mushodiqollima bayna yadaihi wa anzalat taurōta wal injĩla

3. Allah menurunkan Alkitab kepadamu dengan kebenaran yang sesungguhnya; membenarkan kitab Taurat dan Injil yang diturunkan sebelumnya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Menguatkan Surat al Baqarah, 2: 2. Dan Surat-surat lainnya. Alqur’an itu isinya benar dari Allah, membenarkan isinya yang benar, dan dalam arti memperbaiki, meluruskan Kitab-kitab sebelumnya: Zabur, Taurat, Injil, Tao Te Cing, Weda, Tripitaka, Sang Hyang Kamahayanikam.

min = dari; qoblu = sebelumnya; hudan = menjadi petunjuk; linnãsi = bagi manusia; wa anjala = dan Dia menurunkan; al furqōn = pembeda; inna = sesungguhnya; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = (mereka) kafir; bi ãyãtillãhi = kepada ayat-ayat Allah; lahum = bagi mereka; ‘adzabun = siksa; syadĩd = yang berat; wallãhu ‘azĩzun dzuntiqōm = dan Allah Maha Perkasa dan memiliki siksa pembalas.

minqoblu hudal linnãsi wa anjalal furqōn, innal ladzĩna kafarũ bi ãyãtillãhi lahum ‘adzabun syadĩd, wallãhu ‘azĩzun dzuntiqōm

4. Sebelum Alqur’an menjadi petunjuk bagi manusia, Dia menurunkan al Furqon (pembeda yang benar dan yang salah). Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai siksa pembalas.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu, di samping Alqur’an, ada Kitab-kitab lain yang memberikan petunjuk “pembeda yang benar dan yang salah serta berbagai benda di dunia , atau hal-hal lain yang sifatnya berpasangan” terdapat dalam: Zabur, Taurat, Injil, Tao Te Cing, Weda, Tripitaka, Sang Hyang Kamahayanikam. Semua ayat-ayat Allah harus dipercaya. Orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah (menyembunyikan atau menutup-nutupinya, atau mengubah-ubah) akan mendapat siksa yang keras.

innallãha = sesungguhnya Allah; lã = tidak; yakhfã = tersembunyi; ‘alayhi = bagi-Nya; syai un = sesuatu pun; fil ardhĩ = di bumi; wa lã fis samã i = dan tidak pula di langit.

innallãha lã yakhfã ‘alayhi syai un fil ardhĩ wa lã fis samã i

5. Sesungguhnya, bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi maupun di langit.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maha Mengetahui apa-apa yang ada di langit, dan apa-apa yang ada di bumi. Allah Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi, disembunyikan dan apa-apa yang terungkap dari dalam lubuk hati seluruh makhluk-Nya, di alam semesta ini, termasuk manusia. Dalam ayat-ayat lain ungkapannya agak berbeda-beda, misalnya pada Surat Al Baqarah: 2: 30; 33; 96; 234; 235; 255; 270; 271; 283.

huwalladzĩ = Dialah yang; yushowwirukum = membentuk kamu; fil arhãmi = dalam rahim; kayfa = seperti; bagaimana; yasã-u = Dia kehendaki; lã = tidak ada; ilãha = ilah (tuhan); illa = kecuali; melainkan; huwa = Dia; al ‘azizul hakĩm = Mahaperkasa dan Mahabijaksana.

huwalladzĩ yushowwirukum fil arhãmi kayfa yasã-u lã ilãha illa huwal ‘azizul hakĩm.

6. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana kehendak-Nya. Tak ada ilah lain, selain Dia Yang Mahaperkasa, lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membentuk manusia di dalam rahim sesuka-Nya, menjadi ginecology dan berbagai ilmu cabangnya.
“Tak ada ilah lain selain Dia”; lihat ayat 18. Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana menciptakan alam semesta yang luasnya tak terhingga. Kepercayaan dan keyakinan seperti ini harus dibudayakan oleh seluruh umat manusia.

huwa = Dialah; al ladzĩ = yang; anzala = menurunkan; ‘alayka = kepadamu; al kitãba = Alkitab; minhu = dari-Nya; ayatum-muhkamatun = ayat-ayat mukhkamat; hunna = itulah; ummul kitãbi = pokok-pokok Alkitab; wa ukhoru = dan yang lain; mutasyãbihãtun = ayat-ayat mutasyabihat; fa amma = maka; adapun; alladzĩna = orang-orang yang; fĩ qulũbihim = dalam hati mereka; zaighun = condong pada kesesatan; fa yattabi’ũna = maka mereka mengikuti; mãtasyãbaha = ayat-ayat mutasyabihat; minhu = darinya; ubtighã-a = untuk mengharapkan; al fitnati = fitnah; wabtighã-a = dan mencari-cari; menginginkan; ta’wĩlihi = ramalannya, perkiraannya; wa mã ya’lamu = padahal mereka tidak mengetahui; ta’wĩlahu = dugaan; ramalan; keingiannya; illãllahu = kecuali; hanya dari Allah; warrōsikhũna = dan orang-orang yang mendalam; fĩl ‘ilmi = pada ilmu; yaqũlũna = mereka berkata; ãmannã = kami beriman; bih = kepadanya; kullum = semuanya itu; min = dari; ‘indi = pada; robbinã = Robkami; wa mã = dan tidaklah; yaddakkaru = mengambil manfaat, pelajaran, illã = kecuali; hanya; melainkan; ũlũl = orang-orang yang mempunyai; albãbi = akal, pikiran, nalar

huwal ladzĩ anzala ‘alaykal kitãba minhu ayatum-muhkamatun hunna ummul kitãbi wa ukhoru mutasyãbihãtun fa ammalladzĩna fĩ qulũbihim zaighun fa yattabi’ũna mã tasyãbaha minhubtighã-al fitnati wabtighã-a ta’wĩlihi, wa mã ya’lamu ta’wĩlahu illãllahu, warrōsikhũna fĩl ‘ilmi yaqũlũna ãmannãbih, kullum min ‘indi robbinã wa mã yaddakkaru illã ũlũl albãbi.

7. Dialah yang menurunkan Alkitab kepada kamu. Di antara isinya, ada ayat-ayat muhkamãt, itulah pokok-pokok isi Alqur’an, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihãt. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat mutasyãbihãt, untuk menimbulkan fitnah darinya, mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyãbihãt, semuanya itu dari Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran dari padanya, kecuali orang-orang yang bernalar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “ayat-ayat muhkamãt” yaitu ayat-ayat yang jelas, tegas maksudnya dan mudah dipahami.
“ayat-ayat mutasyabihãt” adalah ayat-ayat yang mengandung pengertian yang tersembunyi, atau ada beberapa pikiran ganda, simbol dengan makna yang tidak dapat, atau tidak mudah ditebak. Ayat-ayat ini harus diselidiki secara mendalam; hakekat dan maknanya hanya diketahui Allah, seperti yang berhubungan dengan hal yang gaib atau setengah gaib, misalnya tentang ilmu, alam semesta, kiamat, surga, neraka, iblis, setan, jin, dan lain-lain. Alam semesta dan seluruh ilmunya itu, contoh dari hal yang setengah gaib (85%) karena banyak hal yang belum diketahui secara keseluruhan atau sebagiannya oleh manusia. Orang-orang yang berakal dan berpikiran sajalah yang selalu berupaya untuk mendapatkan manfaat dan pelajaran dari hal yang gaib dan setengan gaib itu. Jangan sampai menimbulkan fitnah.

robbanã = yã Rob kami; lã tuzigh = jangan Engkau condongkan kepada kesesatan; qulũbanã = hati kami; ba’da = setelah; idz hadaitanã = Engkau memberi petunjuk kepada kami; wa hab = dan berilah; lanã = untuk kami; milladunka = dari Engkau; rohmatan = rahmat; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; al wahhãb = Maha Pemberi karunia.

robbanã lã tuzigh qulũbanã ba’da idz hadaitanã, wa hablanã milladunka rohmatan, innaka antal wahhãb.

8. (Mereka berdoa): “Ya Rob kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan, sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi karunia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa yang diajarkan Allah kepada orang yang beriman, agar segala apa yang dirasakan, yang dipikirkan, yang dilakukan mendapat karunia dan rahmat dari Allah. Oleh karena itu, setiap perbuatan kita harus diawali dengan niat dan mengucapkan basmalah dan ta’udz.

robbanã = yã Tuhan kami; innãka = sesungguhnya Engkau; jãmi’un nãsi = mengumpulkan manusia; li yaumin = pada hari; lã royba fĩh = tidak ada keraguan padanya; innallãha = sesungguhnya Allah; lã yukhliful mĩ’ãd = tidak menyalahi janji.

robbanã innãka jãmi’un nãsi li yaumil lã royba fĩh, innallãha lã yukhliful mĩ’ãd

9. “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk menerima pembalasan pada hari yang tidak ada keraguan padanya.“ Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Doa peringatan dari Allah tentang Hari Penghisaban yang tidak diragukan kebenaran janji Allah itu. Banyak ayat yang mengungkapkan tentang Hari Kiamat ini. Budaya ingat Hari Penghisaban.

innalladzĩna = sesungguhnya, orang-orang yang; kafarũ = kafir; lantughniya = tidak dapat menolak; ‘anhum = dari mereka; amwãluhum = harta benda mereka; wa lã aulãduhum = dan tidak anak-anak mereka; minallãhi = dari (siksa) Allah; syaian = sedikit pun; wa ũlãika = dan mereka itu; hum = mereka; waqũdu = bahan bakar; an nãri = api

innalladzĩna kafarũ lantughniya ‘anhum amwãluhum wa lã aulãduhum minallãhi syaian wa ũlãika hum waqũdunnãri.

10. Sesungguhnya orang-orang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikit pun tidak dapat menolak siksa Allah kepada mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pembelajaran untuk orang yang beriman dan peringatan untuk orang kafir, harta-benda yang diusahakan mereka, dan anak-anaknya tidak dapat menjadi bekal kehidupan di akhirat, jika segala usahanya itu tidak mengatasnamakan, dan tidak untuk Allah yang penuh kasih-sayang. Mereka akan disiksa dalam api neraka karena tidak mengimani perintah Allah melalui Nabi Muhammad saw.. Jadi, manusia yang beriman harus menjalani hidup ini harus berhati-hati sekali.

kada’bi = seperti keadaan; ãli fir’auna = keluarga Fir’aun; walladzĩna = dan orang-orang yang; min qoblihim = dari sebelum mereka; kadzdzabũ = mereka mendustakan; bi-ayãtinã = dengan ayat- ayat-Ku; fa-akhodza hum = maka menyiksa mereka; mullãhu = Allah; bidzunũbihim = disebabkan dosa-dosa mereka; wallahu = dan Allah; syadĩdul ‘iqōbi = sangat keras siksa-Nya.

kada’bi ãli fir’auna walladzĩna min qoblihim kadzdzabũ bi-ayãtinã fa akhodza humullãhu bidzunũbihim wallahu syadĩdul ‘iqōbi

11. Keadaan mereka,seperti keadaan Fir’aun dan orang-orang sebelumnya; Mereka mendustakan ayat-ayat-Ku, karena itu Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang penganut Zabur, Taurat, Injil, Tao Thee Cing, Weda, Tripitaka, Sang Hyang Kamahayanikam disamakan dengan keluarga Fir’aun, mereka dianggap mendustakan ayat-ayat Allah, karena ada ayat Allah yang disembunyikan, ditutup-tutupi, diubah-ubah. Atau mereka merasa gengsi mengakui “agama baru” yang diturunkan melalui anak yatim-piatu, miskin Muhammad saw..

qul = katakanlah; lilladzĩna = kepada orang-orang yang; kafarũ = kafir; satughlabũna = kamu pasti dikalahkan; wa tuhsyarũna = dan kamu akan digiring; ilã = hanya; jahannama = ke dalam jahanam; wa bi’sa = dan seburuk-buruk; al mihãdu = tempat.

qul lilladzĩna kafarũ satughlabũna wa tuhsyarũna ilã jahannama wa bi’sal mihãdu

12. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir; “Kamu pasti akan dikalahkan di dunia ini, dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam. Itulah tempat yang seburuk-buruknya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kalimat ini dari Allah kepada Nabi Muhammad saw. dengan para pengikutnya. Orang kafir itu, baik dalam keadaan perang maupun damai, harus selalu dianggap musuh (menurut sebagian ahli tafsir. Nabi Muhammad saw. sendiri hidup berdampingan dengan orang Kristen, Yahudi, dan lain-lain yang tidak memusuhi Islam). Mereka (orang kafir yang memusuhi, maupun yang tidak memusuhi Islam), dipastikan akan kalah, di dunia maupun di akhirat. Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka karena ketidakpercayaannya kepada Nabi Muhammad saw. sebagai Rasulullah.

qod kãna = sungguh telah ada; lakum = bagi kamu; ãyatun = tanda-tanda; fĩ fiataini = pada dua golongan; al taqotã = berperang; fiatun = segolongan; tuqōtilu = berperang; fĩ sabĩlillãhi = di jalan Allah; wa ukhrã = dan yang lain; kãfiratun = kafir; uyyaraunahum = mereka melihat (orang-orang muslim); mitslaihim = dua kali sebanyak mereka; ra’yal ‘aini = pandangan mata sendiri; wallãhu = dan Allah; yuayyidu = Dia (Allah) menguatkan; binashrihĩ = dengan pertolongan-Nya; man = orang (siapa); yãsyã-u = Dia (Allah) kehendaki; inna fĩ = sesungguhnya pada yang; dzãlika = demikian itu; la’ibratan = (terdapat) pelajaran; li-ũlil abshōr = bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.

qod kãna lakum ãyatun fĩ fiatainil taqotã fiatun tuqōtilu fĩ sabĩlillãhi wa ukhrã kãfiratun-yaraunahum mistlaihim ra’yal ‘aini, wallãhu yuayyidu binashrihĩ man-yãsyã-u, inna fĩ dzãlika la’ibratan li-ũlil abshōr.

13. Sesungguhnya, sudah ada tanda bagi kamu, pada dua golongan yang telah bertempur di perang Badar. Segolongan bertempur di jalan Allah, segolongan yang lain kafir, yang dengan mata kepala mereka melihat, seakan-akan orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya, kejadian itu menjadi pelajaran, bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanda kemenangan, seperti yang diungkapkan pada ayat 12 di atas sudah ada pada peristiwa Perang Badar. Harus menjadi keyakinan orang-orang yang mengikuti Jalan Allah.
Kisah Perang Badar dan Perang Uhud ini pada hakekatnya, terjadi selama dunia ini terkembang, dan selalu ada orang yang beriman, dan orang yang kafir. Peperangan dewasa ini, dan untuk selanjutnya, dalam rangka persaingan antara yang berbuat benar, dan yang berbuat salah, berbuat yang jelek, jahat dan berbuat yang baik, dan lain-lain persaingan akhlak agama.

zuyyina = dijadikan pandangan indah; linnãsi = pada manusia; hubbu = kecintaan; asy syahawãti = yang diingini; syahwat; minan nisã-i = pada perempuan-perempuan; wal banĩna = dan anak-anak; wal qonãthĩri = dan harta; al muqantharati = yang banyak; minadz dzahabi = dari emas; wal fidhdhati = dan perak; wal khaili = dan kuda; al musawwamati = yang bagus-bagus; wal an’a’ami = dan binatang ternak; wal hartsi = dan sawah-ladang; dzalika = demikian itu; matã’u = kesenangan; al hayawãti = hidup; ad dun-ya = dunia; wallãhu = dan Allah; indahũ = pada-Nya; husnu = yang baik; al ma-ãbi = tempat kembali.

zuyyina linnãsi hubbusy syahawãti minan nisã-i wal banĩna wal qonãthĩril muqantharati minadz dzahabi wal fidhdhati wal khailil musawwamati, wal an’a’ami wal hartsi, dzalika matã’ul hayawãtid dun-ya, wallãhu indahũ husnul ma-ãbi.

14. Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: perempuan, anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah-ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan kepada Allahlah tempat kembalinya yang terbaik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberikan rasa ingin, cinta, senang, indah, enak; Allah memberikan rasa ingin memiliki atau menguasai sesuatu; kesenangan hidup di dunia itu merupakan limpahan rezeki kasih-sayang Allah kepada makhluk-Nya. Jangan lupa menyampaikan rasa syukur kepada Allah yang memberikan segala rezeki kesenangan, kenikmatan itu, semuanya akan menjadi sebuah ibadah kepada Allah. Ungkapan rasa syukur, salah satunya adalah dengan menginfakkan sebagian rezekinya kepada yang membutuhkan. Kembalikan kasih-sayang Allah itu menjadi sarana beribadah secara berlapis-lapis kepada Allah melalui infak, sedekah, zakat, fitrah, dan lain-lain.
Manusia jangan terbelenggu oleh cinta harta dunia, karena hidup di dunia ini hanya sementara, sebentar. Yang kekal, lama itu kehidupan akhirat, insya Allah berdekatan dengan-Nya, kalau kita mengikuti peraturan atau Hukumullah, Sunatullah, dan Sunaturrasul selama kita diberi hidup. Hidup ini juga menjadi ibadah, kalau kita niati untuk membina kehidupan bersama manusia lain, makhluk lain. Jangan berniat merugikan manusia lain, makhluk lain. Hidup bersama, saling menguntungkan, saling memberi, saling menerima.

qul = katakan; a-unabbi-ukum = mau aku beri berita; bi khaerin = dengan yang baik; min dzalikum = dari yang demikian; lilladzĩna = untuk orang-orang; at taqau = mereka bertakwa; ‘inda robbihim = pada Rob mereka; jannãtun = surga; tajrĩ = mengalir; min tahtiha = dari bawahnya; al anhãru = sungai-sungai; khōlidĩna = mereka kekal; fĩhã = di dalamnya; wa ajwãjun = dan pasangan-pasangan; muthohharotun = yang disucikan; wa ridhcãnun = dan diberi rido; minallãhi = dari Allah; wallãhu = dan Allah; bashirun = Maha Melihat; bil ‘ibãdi = pada para pengabdi-Nya

qul a-unabbi-ukum bi khaerim min dzalikum lilladzĩnat taqau ‘inda robbihim jannãtun tajrĩ min tahtihal anhãru khōlidĩna fĩhã wa ajwãjum muthohharotun wa ridhcãnum minallãhi, wallãhu bashirum bil ‘ibãdi.

15. Katakanlah: “Inginkah aku kabari kamu, apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang takwa kepada Allah, ada surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. Dan ada pula istri-istri yang disucikan karena keridoan Allah. Allah Maha Melihat kepada hamba-hamba-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Yang demikian itu (harta dunia dan lain-lain kesenangan, kenikmatan) harus dijadikan sarana takwa kepada Allah agar kelak diberi imbalan yang lebih baik. Di dunia sudah baik, dapat dihayati dengan menyenangkan, sudah dirasakan nikmatnya. Apa yang harus dilakukan di dunia, agar menjadi bekal ke akhirat dengan lebih menyenangkan, dan lebih banyak nikmatnya!! Lakukan apa yang diperintah Allah. Jangan dilakukan, kalau dilarang. Itulah takwa. Janji Allah, di sana ada surga. Didapat dengan ibadah yang baik-baik. Jangan yang jelek-jelek.

aladzĩna = = yaitu orang-orang; yaqũlũna = (mereka) berdoa; robbanã = yã Rob kami; innanã = sesungguhnya kami; ãmannã = kami telah beriman; fagh firlanã = maka ampunilah kami; dzunũbanã = dosa-dosa kami; wa qinã = dan peliharalah kami; ‘adzab = siksa; an nãr = api neraka.

Aladzĩna yaqũlũna robbanã innanã ãmannã fagh firlanã dzunũbanã wa qinã ‘adzaban nãr.

16. Yaitu orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Inilah perintah dari Allah untuk mengucapkan doa secara berulang-ulang kepada orang yang takwa. Pengakuan beriman kepada Allah dan Nabi-nabinya, pengakuan dosa, memohon ampunan atas segala dosa. Imbalannya surga.

ashshōbirĩna = orang-orang yang sabar; washshōdiqĩna = orang-orang yang benar; wal qōnitĩna = dan orang-orang yang tetap taat; wal munfiqĩna = dan orang-orang yang menafkahkan hartanya; wal mustaghfirĩna = dan orang-orang yang memohon ampun; bil ashãr = pada waktu sahur.

ashshōbirĩna washshōdiqĩna wal qinitĩna wal munfiqĩna wal mustaghfirĩna bil ashãr.

17. Orang-orang yang sabar dan yang benar tetap taat menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan yang memohon ampun di waktu fajar menyingsing.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang sabar saat diberi hidup miskin atau pun kaya (semuanya ujian dari Allah); tetap taat menafkahkan hartanya di jalan Allah dengan benar; orang-orang yang selalu memohon ampun, terutama di waktu fajar menyingsing, dan setiap saat, setelah selesai salat fardu dan sunat, itulah jalan ke surga.
Orang-orang yang sabar dengan benar artinya orang yang takwa kepada Allah dengan usaha. Orang yang sabar, tidak benar dapat menyiksa diri, merugikan diri sendiri, bahkan merugikan orang lain.
Menafkahkan hartanya di jalan Allah, lihat Alqur’an, S: 2, Al Baqarah : 3, 215, 245, 261, 262, 265.

syahidallahu = Allah bersaksi; annãhu = bahwa; laylaha = tidak ada ilah; illã = kecuali; huwa = Dia; wal malaikãikatu = dan Para Malaykat; wa ũlul ‘ilmi = orang-orang yang berilmu; qō-imam = menegakkan; bilqisthi = dengan keadilan; lã ilãha = tidak ada ilah; illã = kecuali; huwa = Dia; al ‘azĩzu = Mahaperkasa; al hakĩm = Mahabijaksana

syahidallahu annãhu, laylaha illã huwa, wal malaikãikatu wa ũlul ‘ilmi qō-imam bilqisthi lã ilãha illã huwal ‘azĩzul hakĩm.

18. Allah bersaksi, Para Malaykat, dan orang-orang berilmu yang menegakkan kebenaran menyatakan demikian, bahwa tidak ada ilah lain kecuali Dia; Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Sendiri bersaksi, seperti yang dikatakan Para Malaykat dan orang-orang berilmu, bahwa Allah itu tidak ada ilah lain selain Dia Yang Mahaperkasa dan Mahabijaksana.
Orang berilmu adalah orang yang beramal, beribadah, mengatakan atau menuliskan tentang kebenaran dengan bersistem dan melalui syariah tertentu.
Orang-orang yang menegakkan kebenaran artinya menggali berbagai kebenaran, ilmu Allah yang banyak mengungkapkannya melalui pembicaraan, dan tulisan. Berbagai kebenaran itu bukti-bukti keilmuan yang beraneka macam, seperti ilmu agama, ilmu filsafat, ilmu jiwa, berbagai ilmu sosial, fisika, ilmu pertambangan, kimia, biologi, geologi, geografi, ilmu matematika, ilmu seni, ilmu sastra, ilmu sejarah dengan berbagai cabangnya, dan penggabungan antara ilmu yang satu dengan yang lainnya. Ribuan yang sudah dikenal dan diselidiki, sekitar 15%; lebih banyak lagi yang belum diketahui dan belum diselidiki, 85%.

innaladdĩna = sesungguhnya agama; ‘indallãhi = bagi Allah; al islãm = Islam; wa makhtalafa = dan tidak berselisih; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; al kitãba = Alkitab; illa = kecuali; mim ba’di = dari sesudah; mã jã-ahumu = datang kepada mereka; al ilmu = ilmu; baghyam = karena kedengkian; bainahum = di antara mereka; wa man = dan barang siapa; yakfur = kafir; bi ãyãtilllãhi = pada ayat-ayat Allah; fainallãha = maka sesungguhnya Allah; sarĩ’u = sangat cepat; al hisãbi = perhitungan-Nya.

innaladdĩna ‘indallãhil islãm, wa makhtalafal ladzĩna ũtũl kitãba illa mim ba’di mã jã-ahumul ilmu baghyam bainahum, wa man yakfur bi ãyãtilllãhi fainallãha sarĩ’ul hisãbi.

19. Sesungguhnya, agama yang diridoi Allah hanyalah Islam. Tidak ada perselisihan dari orang-orang yang yang telah diberi Alkitab, kecuali sesudah datang pengetahuan (yang salah) karena kedengkian mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Hanya agama Islam yang diridoi Allah. Agama dari Para Nabi yang terdahulu tetap diakui untuk masa lalu. Sekarang hanya agama Islam yang berperan memperbaiki hal-hal yang belum sempurna, ada yang berubah dari apa yang telah diturunkan dahulu karena perbaikan tersebut atau karena yang dahulu itu sudah diubah-ubah oleh para penulisnya, atau ada yang dirahasiakan, disembunyikan. Para Ahli Kitab juga tidak berselisih pendapat, kecuali orang-orang kafir yang dengki, cemburu, berprasangka jelek, bernafsu pribadi (egois).

fãin = maka jika; hãjjũka = mereka mendebat kamu; faqul = maka katakanlah; aslamtu = aku menyerahkan; wajhiya = diriku; lillahi = kepada Allah; wa man = dan orang yang; at taba’an = mengikuti aku; wa qul = katakanlah; lillãdzĩna = kepada orang-orang yang; ũtu = mereka diberi; al kitãba = Alkitab; wal ummiyyĩna = dan orang-orang yang ummi (tidak pandai menulis); a-aslamtum = apakah engkau masuk Islam; fain = maka jika; aslamũ = mereka masuk Islam; fakadi = maka sungguh; ihtadau = mereka mendapat petunjuk; wa in = dan jika; tawalaw = mereka berpaling; fa innamã = maka sesunggunya hanya; ‘alaykal = kewajiban atasmu; balãghu = menyampaikan; wallãhu = dan Allah; bashĩrun = Maha Melihat; bil ibãdi = kepada hamba-hambanya.

fãin hãjjũka faqul aslamtu wajhiya lillahi wa manit taba’an, wa qul lillãdzĩna ũtul kitãba wal ummiyyĩna a-aslamtum fain aslamũ fakadihtadau, wa in tawalaw fa innamã ‘alaykal balaghũ, wallãhu bashĩrun bil ibãdi.

20. Jika mereka mendebat kamu tentang kebenaran Islam, maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah, dan demikian pula orang-orang yang mengikutiku.” Dan, katakanlah kepada orang-orang yang diberi Alkitab dan kepada orang-orang yang tidak dapat baca-tulis: “Apakah kamu mau masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ayat-ayat Allah. Dan Allah Maha Melihat kepada hamba-hamba-Nya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia itu diberi kebebasan menentukan pilihannya, percaya, atau tidak percaya pada kebenaran wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah, Nabi Muhammad saw.melalui Malaykat Jibril. Kalau percaya, berarti mereka mendapat petunjuk yang benar. Kalau tidak percaya, berarti mereka rugi tidak mendapat petunjuk menuju jalan lurus ke arah Allah. Kalau tidak percaya, mereka menjadi sesat, bertambah sesat karena kesombongannya, kedengkiannya, kecemburuannya, prasangka jeleknya, atau karena egoisnya.

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yakfurũna = (mereka) kafir; bi = kepada; ãyãtillãhi = ayat-ayat Allah; wa yaqtulũna = dan mereka membunuh; an nabiyyĩna = para nabi; bighairi = tidak dengan; haq = benar; wa yaktulũna = dan mereka membunuh; al ladzĩna = orang-orang yang; ya’murũna = mereka menyuruh; bil qisthi = dengan adil; minan nãsi = dari manusia; fabasysyir hum = maka beritahulah mereka; bi’adzabin alĩm = tentang siksa yang sangat pedih.

innalladzĩna yakfurũna bi ãyãtillãhi wa yaqtulũnan nabiyyĩna bighairi haq wa yaktulũnal ladzĩna ya’murũna bil qisthi minan nãsi fabasysyir hum bi’adzabin alĩm.

21. Sesungguhnya, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah, dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar, dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka gembirakanlah mereka, bahwa orang-orang kafir itu akan menerima siksa yang sangat pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang kafir yang “membunuh para Nabi” karena mereka tidak percaya pada kebenaran yang dibawa para Nabi itu, mereka akan mendapat siksaan yang sangat pedih di akhirat. . Lihat: Q.s. Al Baqarah, 2: 61.
Peringatan untuk orang kafir yang akan diazab, dinyatakan dengan gaya paradok “gembirakanlah mereka dengan siksa pedih yang akan mereka terima”.
“menyuruh manusia berbuat adil”, seperti menginfakkan sebagai rezekinya di jalan Allah, saat melaksanakan syarat-syarat pernikahan atau perceraian, memperlakukan orang lain, makhluk lain,

ulãika = mereka itu; al ladzĩna = orang-orang yang; khabithat = lenyap; hilang; a’mãluhum = amal-amal mereka; fĩd dun-ya = di dunia; al akhiroti = dan di akhirat; wa mã lahum = dan mereka tidak (memperoleh); min nashirĩn = dari penolong.

ulãikal ladzĩna khabithat a’mãluhum fĩd dun-ya wal akhiroti wa mã lahum min nashirĩn.

22. Mereka itu orang-orang yang kehilangan amal kebaikannya di dunia dan di akhirat, dan mereka sama sekali tidak mendapat penolong.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi peringatan, orang kafir yang membunuh para Nabi yang menganjurkan manusia berbuat adil; mereka kehilangan amal kebaikan di dunia dan di akhirat. Mereka tidak mendapatkan penolong.

alam = tidakkah; taro = kamu memperhatikan; ilã = kepada; al ladzĩna = orang-orang yang; ũtũ = (mereka) diberi; an nashiban = bagian; mina = dari; al kitãbi = Alkitab; yud’auna = mereka diseru; ilã = kepada; kitabillãhĩ = Kitab Allah; liyakhkuma = supaya ia menetapkan hukum; bainahum di antara mereka; tsumma = kemudian; yatawalla = berpaling; farĩqum = sebagian; minhum = di antara mereka; wa hum = dan mereka; mu’ridhũn = (mereka) membelakangi.

alam taro ilãl ladzĩna ũtũn nashibam minal kitãbi yud’auna ilã al kitabillãhi liyakhkuma bainahum tsumma yatawallu farĩqum minhum wa hum mu’ridhũn.

23. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian kecil Alkitab yang menyeru mereka mengikuti Kitab Allah yang menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebagian mereka berpaling dan selalu menolak kebenaran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Yahudi, Nasrani, dan orang Shobĩn hanya membaca bagian-bagian kecil Alkitabnya. Akibatnya, ada informasi yang tidak didapat tentang kebenaran dari Allah. Mereka menolak kebenaran yang telah dijanjikan Allah, yang sesungguhnya mereka nanti-nantikan, mereka harapkan kedatangan Nabinya.

dzalika = demikian itu; bi-annahum = karena sesungguhnya mereka; qōlũ = (mereka) mengatakan; lantamassana = kami tidak akan disentuh; an nãru = api neraka; illã = kecuali; ayyammam = beberapa hari; ma’dũdatin = yang dapat dihitung; wa ghorrohum = dan mereka diperdayakan; fĩ dĩnihim = pada agama mereka; mã kãnũ = apa (yang mereka) adalah; yaftarũn = (mereka) ada-adakan.

dzalika bi-annahum qōlũ lantamassanan nãru illã ayyammam ma’dũdat, wa ghorrohum fĩ dĩnihim mã kãnũ yaftarũn.

24. Karena itu mereka berpendapat: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali hanya beberapa hari yang dapat dihitung.” Mereka diperdayakan keyakin-an mereka, karena apa yang selalu mereka ada-adakan (dalam Alkitabnya).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 80. Seharusnya mereka membaca secara keseluruhan dan teliti Alkitabnya, kemudian percayalah bahwa Alqur’an itu juga firman Allah, agar tidak terperdaya oleh Alkitabnya yang dibaca sebagian-sebagian, sehingga kurang lengkap, dan ada yang diubah-ubah oleh para imamnya.

wa kayfa = maka bagaimana; idzã = apabila; jama’nãhum = kami kumpulkan mereka; li yaumi = pada hari; lã royba = tidak diragukan; fĩhi = padanya; wa wuffiyãt = dan disempurnakan (balasan); kullu = tiap-tiap; nafsim = diri; mã = apa; kasabat = yang ia usahakan; wahum = dan mereka; lã yazhlamũn = (mereka) tidak dianiaya.

wakayfa idzã jama’nãhum li yaumil lã royba fĩhi wa wuffiyãt kullu nafsim mã kasabat wahum lã yazhlamũn

25. Bagaimana nanti, kalau mereka Kami kumpulkan di Hari Kiamat yang tidak diragukan lagi terjadinya? Dan disempurnakanlah balasan kepada setiap diri dari apa yang telah diusahakannya, sedang mereka tidak dianiaya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pertanyaan bagi orang yang tidak percaya pada apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw.. Masing-masing diri akan mempertanggungjawabkan apa yang telah diusahakannya atas kepercayaannya kepada Allah dan para Utusannya.

quli = katakanlah; allahumma = yã Allah; mãlika = Yang Merajai; al mulki = kerajãn; tu’ti = Engkau beri; al mulka = kerajãn; man = orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; wa tanzi’u = dan engkau cabut; al mulka = kerajãn; mimman = dari orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; wa tu’izzu = Dan engkau muliakan; man = orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; wa tudzillu = dan Engkau hinakan; man = orang; tasyã-u = Engkau kehendaki; biyadika = di tangan Engkau; al khaĩr = (segala) kebaikan; innaka = sesungguhnya Engkau; alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodiir = Mahakuasa.

qulillahumma mãlikal mulki tu’til mulka man tasyã-u wa tanzi’ul mulka mimman tasyã-u wa tu’izzu man tasyã-u wa tudzillu man tasyã-u biyadikal khaĩr, innaka alã kulli syai-in qodiir.

26. Katakanlah: “ Yã Allah Yang mempunyai kerajãn, Engkau berikanlah kerajãn kepada orang yang Engkau kehendaki, dan cabutlah kerajãn dari orang yang Engkau kehendaki. Muliakanlah orang yang Engkau kehendaki, dan hinakanlah orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau segala kebajikan. Sesungguhnya, engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memiliki, menguasai seluruh kerajãn di muka bumi ini. Yang memimpin kerajãn itu, Allah yang menentukan. Allah Mahakuasa memuliakan dan menghinakan seseorang. Setiap orang harus mempertanggungjawabkan kemuliãn atau kehinaannya di muka bumi ini. Allah sangat menghargai orang yang bijak dan melakukan kebajikan. Orang bijak adalah orang mengakui Kemahakuasaan Allah yang mengutus para Nabi dan Rasul di muka bumi, sesuai dengan kehendak-Nya. Orang yang mengakui kemahakuasaan Allah akan melakukan segala apa yang diperintahkan Allah, dan menjauhi pekerjãn yang dilarang-Nya. Itulah kebajikan. Kebajikan itu dapat dilakukan untuk kepentingan diri sendiri, untuk kepentingan orang lain, makhluk lain, untuk kepentingan lingkungan hidup tempat kita tinggal.

tũliju = Engkau masukkan; al layla = malam; fin nahãri = ke siang; wa tũliju = Engkau masukkan; an nahãra = siang; fi layli = ke malam; wa tukhriju = dan Engkau keluarkan; al hayya = yang hidup; minal mayyĩti = dari yang mati; wa tukhriju = dan Engkau keluarkan; al mayyita = yang mati; minal hayyi = dari yang hidup; wa tarzuqu = dan Engkau beri rezeki; mantasyã-u = orang yang Engkau kehendaki; bi ghairi = tanpa; hisãb = perhitungan.

tũlijul layla fin nahãri wa tũlijun nahãra fi layli wa tukhrijul hayya minal mayyĩti wa tukhrijul mayyita minal hayyi wa tarzuqu mantasyã-u bi ghairi hisãb

27. Engkau masukkan malam ke dalam siang, dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau memberi rezeki, orang yang engkau kehendaki tanpa hisab.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Malam dan siang silih berganti; hidup-mati-hidup lagi dengan rezekinya masing-masing yang tak terhisab, Allah Yang mengaturnya
Menurut para ahli, hidup itu ada beberapa tahap: 1. hidup di alam ruh (gaib); 2. hidup di alam rahim; 3. hidup di alam dunia; 4. hidup di alam kubur; 5. hidup di alam barzah; 6. hidup di padang masyhar (saat Hari Kiamat); 7. hidup di surga atau di neraka (di alam akhirat).

lã yattakhidzi = jangan mengambil; al mu’minũna = orang mu’min; al kafirĩna = orang-orang kafir; auliyã-a = pemimpin; min dũni = dari sekain; al mu’minĩna = orang-orang mu’min; wa man = dan barang siapa; yaf’al = ia berbuat; dzãlika = demikian; falaysa = maka bukan; minallãhi = dari Allah; fĩ sya-in = dalam suatu; illã = kecuali; an tattaqũ = kamu memelihara diri; minhum = dari mereka; tuqōtan = sesuatu yang ditãkuti; wa yukhadzdzirũkumu = dan memperingatkan kamu; allãhu = Allah; nafsahũ = dirimu; wa ilallahi = dan kepada Allah; al mashĩru = tempat kembali.

lã yattakhidzil mu’mukminũnal kafirĩna auliyã-a min dũnil mu’minĩna wa man yaf’alu dzãlika falaisã minallãhi fĩ sya-in illã an tattaqũ minhum tuqōtan wa yukhadzdzirũ kumullãhu nafsahũ wa ilallahil mashĩru.

28. Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena siasat nemelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Allah memperingatkan siksa-Nya terhadap dirimu, karena hanya kepada Allah kamu kembali.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang mukmin harus memperhatikan pemimpinnya. Kalau pemimpinnya orang kafir dikhawatirkan kita akan terbawa arus, dan mengikuti mereka. Jadi, sebaiknya jangan berada di bawah kekuasaan orang kafir. Allah menegaskan, kalau orang mukmin mau bekerja sama dengan orang kafir, niscaya pertolongan Allah kepada kaum mukminin akan lepas. Dalam keadaan terpaksa, seorang mukmin dapat berada di bawah orang kafir demi untuk siasat memelihara keselamatan diri, dan kalau ada sesuatu yang dibutuhkan, atau ada yang ditakuti.

qul = katakanlah; intukhfũ = jika kamu menyembunyikan; mã fĩ = apa yang di dalam; shudũrikum = hatimu; au tubdũhu = atau kamu katakan; ya’lamhu = pasti mengetahunya; allãhu = Allah; wa ya’lamu = dan Dia mengetahui; mã fi = apa yang di …; as samãwãti = langit; wa mã fi = dan apa yang di …; al ardhĩ = bumi; wallãhu = dan Allah; ‘alã kulli = atas segala; syai-in = sesuatu; qodiir = Mahakuasa.

qul intukhfũ mã fĩ shudũrikum au tubdũhu ya’lamhullãhu, wa ya’lamu mã fis samãwãti wa mã fil ardhĩ wallãhu ‘alã kulli syai-in qodiir

29. Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu, atau kamu ucapkan; pasti Allah mengetahuinya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Lihat Al Baqarah, 2: 116; 284 dan Surat Ali ‘Imran, 3: 129; An Nisa : 131; 132; 170. Lihat juga ayat 116; Surat Ali ‘Imran: 3: 129; An Nisa, 4: 131; 132; 170; Al Mã’idah
Allah Maha Mengetahui seluruh makhluk-Nya yang berada di langit maupun yang di bumi.

yawma = pada hari; tajidu = mendapati; kullu nafsin = tiap-tiap (masing-masing) orang; mã ‘amilat = apa yang ia perbuat; min khairin = dari kebaikan; muhdharaan= yang dihadapkan; wa mã ‘amilat = dan apa yang ia perbuat; min sũ-in = dari kejahatan; tawaddu = ia ingin; law anna = bahwa sekiranya; bainahã = antara ia; wa bainahũ = dan antara hari itu; amadan = ada masa; ba’ĩdan = yang jauh; wa yukhadzdziru kumullãhu = dan Allah telah memperingatkan kamu; nafsah = dirinya; wallãhu = dan Allah; ro-ũfun = Maha Penyayang; bil’ibãd = pada hamba-hamba-Nya.

yawma tajidu kullu nafsim mã ‘amilat min khairim muhdharã wa mã ‘amilat min sũ-in tawaddu law anna bainahã wa bainahũ, amadam ba’ĩdan, wa yukhadzdziru kumullãhu nafsah, wallãhu ro-ũfum bil’ibãd.

30. Pada hari ketika masing-masing orang diperlihatkan (memperoleh) segala kebajikan yang telah diperbuat, begitu juga kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin, masa itu diberi waktu antara yang sangat jauh. Dan Allah telah memperingatkan dirinya (tentang siksa Hari Kiamat itu). Dan Allah sangat penyayang kepada hamba-hamba-Nya (yang beribadah).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan, saat Hari Kiamat tiba, dan masing-masing orang diperlihatkan segala amal-amalannya yang baik atau pun yang jelek, maka barulah muncul rasa penyesalan kaum kafirin, munafikin, musyrikin, dan fasikin, dan murtadin. Mereka menginginkan, waktu yang telah ditetapkan Allah jangan datang sesegera itu. Pada hal Allah telah memperingatkannya, memberikan banyak kesempatan kepada semua hamba-hamba-Nya yang beribadah dan mengadakan perbaikan hidupnya.
Peringatan Allah tentang Hari Kiamat yang sesungguhnya sangat panjang, namun Setetelah tiba kenyataannya, rasanya hidup di dunia ini baru saja dilalui. Jadi, jangan berlengah-lengah untuk beribadah semaksimal mungkin dalam berbagai kebaikan. Jauhkanlah amal kejahatan, kejelekan, agar tidak timbul penyesalan pada Hari Penghisaban itu.

qul = katakanlah; inkuntum = jika kamu; tuhibunallãha = mencintai Allah; fattabi’ũnĩ = maka ikutilah aku; yuhbibkumullãhu = Allah mencintai kamu; wa yaghfir lakum = dan Dia mengampuni kamu; dzunũbakum = dosa-dosamu; wallahu = dan Allah; ghofũru = Maha Pengampun; arrohĩm = Maha Penyayang.

qul ingkuntum tuhibunallãha fattabi’ũnĩ yuhbibkumullãhu wa yaghfir lakum dzunũbakum wallahu ghofũrurrohĩm.

31. Katakanlah: “Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada orang-orang yang beriman, kalau seseorang mengaku mencintai Allah, seharusnya ia mengikuti sunah dan hadits Rasul-Nya. Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosanya.

qul = katakanlah; athĩ’ullãha = taatilah Allah; war rosũla = dan Rasul-Nya; fain = maka jika; tawallaw = kamu berpaling; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; lã yuhibbu = tidak mencintai; al kafirĩn = orang-orang kafir.

qul athĩ’ullãha war rosũla fain tawallaũ fa innallãha lã yuhibbul kafirĩn.

32. Katakanlah: “Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan orang-orang yang takwa dan yang beriman agar selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya (lihat juga Q.s. Ali ‘Imran, 3: 132; An Nisã’, 4: 59). Allah tidak menyukai orang kafir.

innallãha = sesungguhnya Allah; ashthofã = Dia telah memilih; ãdama = Adam; wa nũhan = dan Nuh; wa ãla ibrōhĩma = dan keluarga Ibrahim; wa ãla ‘imraana = dan keluarga ‘Imran; alal ‘ãlamĩn = di dunia ini.

innallãha ashthofã ãdama wa nũhan wa ãla ibrōhĩma wa ãla ‘imraana alal ‘ãlamĩn

33. Sesungguhnya, Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat di dunia (pada masanya masing-masing).

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berita dari Allah sebagai peringatan untuk dipercaya oleh seluruh manusia.

dzarriyyatan = suatu keturunan; ba’dhuhã = sebahagiannya; mim ba’dhin = dari sebagian yang lain; wallãhu = dan Allah; samĩ’un alĩm = Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

dzarriyyatam ba’dhuhã mim ba’dhin, wallãhu samĩ’un alĩm

34. Satu keturunan yang sebahagiannya, keturunan dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberitahu dan mengingatkan bahwa Nabi Adam, Nabi Nuh, keluarga Nabi Ibrahim, dan keluarga ‘Imran itu masih mempunyai hubungan kekerabatan (satu keturunan). Lihat ayat 33

idz kōlati = ketika berkata; ‘imroatu ‘imrōna = istri ‘Imran; robbi = yã Robb; innĩ = sesungguhnya aku; nadzartu = aku menazarkan; laka = kepada Engkau; mã = apa yang; fĩ = ada; bathnĩ = di dalam perutku; muharraran = menjadi hamba yang berkhidmat; fataqobbal = maka terimalah; minnĩ = dariku; innaka = sesungguhnya Engkau; anta = Engkau; as samĩul ‘alĩm = Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.

idz kōlati ‘imroatu ‘imrōna robbi innĩ nadzartu laka mã fĩ bathnĩ muharraran fataqobbal minnĩ innaka antas samĩul ‘alĩm.

35. Ingatlah, ketika istri ‘Imran berkata: “Ya Robbku, sesungguhnya (hamba) mena-zarkan kepada-Mu, anak dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah nazar dariku. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Mendengar, lagi Maha Mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang ceritera seorang ibu (istri Imron) yang mengharapkan anak yang ada di dalam kandungannya, agar menjadi hamba Allah yang saleh, dan mengabdikan diri kepada Allah di Baitul Maqdis. “nazar” artinya sama dengan kaul yaitu janji kepada diri sendiri ingin berbuat sesuatu jika maksud tercapai. Menazarkan artinya menjanjikan atau mengharapkan pada diri sendiri agar dapat melakukan sesuatu. Dalam ayat ini, Istri ‘Imran menazarkan anaknya kepada Allah, artinya istri ‘Imran mengharapkan agar anaknya menjadi anak yang saleh.

falammã = maka tatkala; wa dho’athã = ia melahirkannya; qōlat = ia berkata; robbi = yã Robb; innĩ = sesungguhnya aku; wa dho’tuhã = aku telah melahirkannya; untsã = seorang anak perempuan; wallãhu = dan Allah; a’lamu = lebih mengetahui; bimã = dengan apa; wa dho’at = ia melahirkan; wa laisa = dan tidaklah; adzdzakaru = anak laki-laki; kal untsã = seperti anak perempuan; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; sammaituhã = (aku) telah menamainya; maryama = Maryam; wa innĩ = dan sesungguhnya aku; u’ĩdzuhã = (Aku) melindungkannya; bika = kepada Engkau; wa dzurriyyatahã = serta keturunannya; minasy syaitōnir rojĩm = dari setan yang terkutuk

falammã wa dho’athã qōlat robbi innĩ wa dho’tuhã untsã wallãhu a’lamu bimã wa dho’at wa laisa adzdzakaru kal untsã wa innĩ sammaituhã maryama wa innĩ u’ĩdzuhã bika wa dzurriyyatahã minasy syaitōnir rojĩm

36. Maka, ketika istri ‘Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: “Ya Robbi, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan; Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah sama dengan anak perempuan. Sesungguhnya, aku telah menamai dia, Maryam, dan aku memohon perlindungan untuknya, serta anak-anak keturunannya dalam pemeliharaanEngkau, dijauhkan dari godaan setan yang terkutuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Siti Maryam lahir dari keturunan ‘Imran. Diharapkan oleh ibunya anak laki-laki, namun lahir perempuan. Doa ibunya, agar Siti Maryam dalam pemeliharaanAllah dan dilindungi dari godaan setan yang terkutuk sampai ke anak keturunannya.

fataqobbalahã = maka ia menerima; robbuhã = Robbnya; biqobũlin = dengan penerimaan; hasanin = yang baik; wa anbatahã = dan Dia menumbuhkannya; nabãtan = dengan pertumbuhan; hasanaan = yang baik; wa kaffalahã = dan memeliharanya; zakariyyã = Zakariya; kullamã = setiap kali; dakhola = masuk; ‘alaihã = padanya; zakariyya = Zakariya; al mihrãba = mihrab (mimbar); wa jada = dia dapati; ‘indahã = di dalamnya; rizqōn = makanan; qōla = dia berkata; yã maryamu = yã Maryam; annã = dari mana; laki = bagimu; hãdzã = makanan ini; qōlat = ia berkata; huwa = makanan itu; min ‘indillãhi = dari Allah; innallãha = sesungguhnya Allah; yarzuqu = Dia memberi rezeki; man = orang; yasã-u = Dia kehendaki; bighairi = tanpa; hisãb = perhitungan.

fataqobbalahã robbuhã biqobũlin hasanin wa anbatahã nabãtan hasanaan wa kaffalahã zakariyyã, kullamã dakhola ‘alaihã zakariyyal mihrãba wa jada ‘indahã rizqōn, qōla yã maryamu annã laki hãdzã qōlat huwa min ‘indillãhi, innallãha yarzuqu man yasã-u bighairi hisãb

37. Maka Tuhannya menerimanya sebagai nazar dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik, dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di dalamnya, Zakariya berkata: “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh makanan ini?” Maryam menjawab: “Makanan ini dari Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Maryam dalam pemeliharaanZakariya, setelah diterima Allah nazar istri ‘Imran. Ada ceritera yang tidak masuk akal, setiap Zakariya masuk ke mihrabnya, ia menyaksikan tersedianya makanan, rezeki yang datang dari Allah secara gaib. Ujian bagi orang yang beriman untuk percaya pada kejadian ajaib itu. Dalam kejadian sehari-hari seseorang, rezeki dari Allah yang didapat secara gaib itu berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Masing-masing orang yang beriman, dapat merasakan keajaiban rezeki yang didapatnya setiap hari, secara tak terduga. Rezeki itu harus disyukuri, dan Allah akan menambahi rezeki yang lebih banyak, bukan hanya di dunia, tapi nanti di akhirat.

hunãlika = di sanalah; da’ã = berdoa; zakariyyã = Zakariya; robbahũ = Robbnya; qōla = dia berkata; robbi = Robbku; hablĩ = berilah aku; min ladunka = dari Engkau; dzurriyyatan = keturunan (seorang anak); thoyyibatan = yang baik; innãka = sesungguhnya Engkau; sami’u = Maha Mendengar; ad du’ã-i = doa.

hunãlika da’ã zakariyyã robbahũ, qōla robbi hablĩ milladunka dzurriyyatan thoyyibatan innãka sami’ud du’ã-i.

38. Di sanalah Zakariya berdoa kepada Robbnya, seraya berkata: “Ya Robbku, berilah aku dari Engkau seorang turunan yang baik. Sesungguhnya, Engkau Maha Pendengar doa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memberi pelajaran, kalau seseorang menginginkan sesuatu, harus berdoa. Allah Maha Pendengar doa.

fanãdat-hu = maka menyapanya; al malã-ikatu = Malaykat; wahuwa = dan dia; qō-imun = sedang beridir; yushollĩ = dia salat; fil mihrãbi = di mihrab; annallãha = sesungguhnya Allah; yubasysyiruka = menyanpaikan kabar gembira kepadamu; bi yahyã = dengan Yahya; mushoddiqom = membenarkan; bi kalimati = dengan kata-kata; minallãhi = dari Allah; wa sayyiddaan= dan menjadi ketua, pemimpin; wa hashũraw = dengan menahan diri; wan nabiyyaan= dan seorang Nabi; minash sholihĩn = dari orang-orang yang saleh.

Fanãdat-hul malã-ikatu wahuwa qō-imun yushollĩ fil mihrãbi annallãha yubasysyiruka bi yahyã mushoddiqom bi kalimatim minallãhi wa sayyiddaanwa wa hashũraw wan nabiyyãm minash sholihĩn

39. Maka Malaykat Jibril menyapa Zakariya, ketika ia sedang berdiri melakukan salat di mihrab, kata Malaykat: “Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepada kamu tentang kelahiran seorang putramu”, Yahya membenarkan kata-kata itu dari Allah, menjadi pemimpin yang ditaati, dapat menahan diri dari hawa nafsu, dan seorang nabi yang termasuk keturunan orang-orang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peristiwa penyampaian berita kelahiran anak Zakariya yang akan menjadi pemimpin yang ditaati, yang dapat menjaga diri dari hawa nafsunya, dan akan menjadi seorang nabi.

qōla = (Zakaria) berkata; robbi = Robbku; annã = bagaimana; yakũnu = terjadi; lĩ = bagiku; ghulãmun = seorang anak; wa qod = dan sungguh sedang; balaghōniya = aku telah sampai; al kibaru = besar / tua; wa amroatĩ = dan istriku; ‘ãqirun = mandul; qōla = (Allah) berfirman; kadzãlika = demikianlah; allãhu = Allah; yaf-’alu = Dia berbuat; mã yasã’u = apa yang Dia kehendaki.

qōla robbi annã yakũnu lĩ ghulãmun wa qod balaghōniyal kibaru wa amroatĩ ‘ãqirun, qōla kadzãlikal lãhu yaf-’alu mã yasã’u.

40. Zakariya berkata: “Ya Tuhanku, bagaimana aku dapat memperoleh anak, sedang aku telah sangat tua dan istriku pun seorang yang mandul?” Berfirman Allah: “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Zakaria mempertanyakan, kemungkinan istrinya dapat hamil, saatkondisi dirinya yang sudah tua, dan istrinya diperkirakan mandul.

qōla = dia (Zakariyya) berkata; robbi = Robbku; ij’al lĩ = jadikanlah untukku; ãyatan = tanda-tanda; qōla = Allah berfirman; ãyatuka = tanda-tandamu; allãtukallima = kamu tidak berkata-kata; an nãsa = manusia; tsalãtsata = tiga; ayyãmin = hari; illã = kecuali; ramzã = isyarat; wadzkur = berdzikirlah (sebutlah); robbaka = nama Rōbbmu; katsĩran = sebanyak-banyaknya; wa sabbih = dan bertasbihlah; bil ‘asyiyyi = di waktu petang; wal ibkãr = dan pagi hari.

qōla robbij’al lĩ ãyatan, qōla ãyatuka allã tukalliman nãsa tsalãtsata ayyãmin illã ramzã, wadzkur robbaka katsĩran wasabbih bil ‘asyiyyi wal ibkãr.

41. Berkata Zakariya: “Berilah aku suatu tanda, (bahwa istriku itu mengandung).” Allah berfirman: “Tanda bagimu, kamu tidak berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbih di waktu petang dan pagi hari.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini merupakan petunjuk bagi manusia, agar setiap kejadian, ujian yang dihadapinya, hendaknya mereka banyak berdzikir, mengingat Allah sebanyak-banyaknya.

wa idz = dan ketika; qōlati = berkata; al malãikatu = Malaykat; yã maryamu = hai maryam; innallãh = sesungguhnya Allah; ashthofãki = Dia memilih kamu; wa thohharoki = dan Dia menyucikanmu; washthofãki = dan Dia memilihmu; ‘alã nisãi = atas wanita-wanita; al ‘ãlamĩna = semesta alam.

wa idzqōlatil malãikatu yã maryamu innallãhashthofãki wa thohharoki washthofãki ‘alã nisãil ‘ãlamĩna.

42. Ingatlah, ketika Malaykat Jibril berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala perempuan sedunia yang semasa dengannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Maryam terpilih sebagai manusia perempuan yang disucikan dan dilebihkan Allah dari segala perempuan di dunia pada masanya.

yã maryam = Hai Maryam; uqnutĩ = taatlah; li robbiki = kepada Robbmu; wasjudĩ = dan jusudlah; wa arka’ĩ = dan rukuklah; ma’ar rōki’ĩna = bersama orang-orang yang rukuk.

yã maryam uqnutĩ li robbiki wasjudĩ wa arka’ĩ ma’ar rōki’ĩna.

43. Hai Maryam, taatlah kepada Robbmu, sujud dan rukuklah bersama-sama dengan orang yang rukuk.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Maryam diminta oleh Malaykat Jibril agar taat kepada Robbnya, sujud, dan rukuk bersama-sama dengan orang lain yang sujud dan rukuk. Sujud dan rukuk itu sudah harus dilakukan oleh umat-umat terdahulu dalam beribadat salat kepada Allah.

dzãlika = demikian itu; min ambã-i = dari berita-berita; al ghoybi = gaib; nũhĩhi = Kami wahyukan; ilaik = kepadamu; wa mã kunta = dan kamu tidak berada; ladaihim = pada mereka; idz yulqũna = ketika mereka melemparkan; aqlãmahum = anak-anak panah mereka; ayyuhum = siapa di antara mereka; yakfulu = yang akan memelihara; maryama = Maryam; wa mã kunta = dan kamu tidaklah berada; ladaihim = bersama mereka; idz yakhtashimũn = ketika mereka bersengketa.

dzãlika min ambã-il ghoybi nũhĩhi ilaik, wa mã kunta ladaihim idz yulqũna aqlãmahum ayyuhum yakfulu maryama wa mã kunta ladaihim idz yakhtashimũn.

44. Demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad saw.), padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka untuk mengundi, siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di antara mereka ketika mereka bersengketa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Berita-berita gaib yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw.adalah tentang keluarga ‘Imran, keluarga Zakariya sebagai pemelihara Maryam, dan kemudian kelahiran Isa Ibnu Maryam yang di luar kebiasaan.
Malaykat menyampaikan berita gaib ini kepada makhluk manusia yang dikehendaki Allah. Kita boleh berharap menerima berita gaib dari Allah, dan kita harus mengimani, bahwa itu dari Allah. Hati-hati dengan bisikan setan, iblis, dan sebagian jin, dan manusia yang menggoda manusia lain agar menyimpang dari jalan Allah.

idz qōlati = ketika berkata; al malãikatu = Malaykat; yã maryamu = hai Maryam; innallãha = sesungguhnya Allah; yubasysyiruki = menyampaikan kabar gembira kepadamu; bi kalimatim = dengan kalimat; minhu = dari-Nya; us muhu = namanya; al masĩhu = Almasih; ‘ĩsabnu maryama = Isa Putra Maryam; wa jĩhan = dan terkemuka; fĩd dun-yã = di dunia; wal akhirati = dan di akhirat; wa mina = dan (salah seorang) dari; al muqarrobĩn = orang-orang yang didekatkan.

idz qōlatil malãikatu yã maryamu innallãha yubasysyiruki bi kalimatim minhus, muhul masĩhu ‘ĩsabnu maryama wa jĩhan fĩd dun-yã wal akhirati wa minal muqarrobĩn

45. Ingatlah ketika Malaykat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan dengan kalimat yang datang dari-Nya, namanya al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk yang didekatkan kepada Allah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kejadian atau kelahiran ‘Isa Almasih merupakan kejadian atau peristiwa yang luar biasa, terjadi karena kalimat Allah, bukan putra Allah. Allah bukan Allah Bapak makhluk-Nya.

wa yukallimu = dan dia berbicara; an nãsa = manusia; fil mahdi = dalam buaian; wa kahlan = dan (ketika) dewasa; wa mina = dan (salah seorang) dari; ash shōlihĩn = orang-orang yang saleh.

wa yukallimun nãsa fil mahdi wa kahlan wa minash shōlihĩn

46. dan dia berbicara dengan manusia ketika masih dalam buaian, dan sesudah itu dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Isa sudah pandai berbicara saatmasih dalam buaian. Kisah ini diungkapkan dengan gaya flashback (melihat balik ke belakang)

qōlat = dia (Maryam) berkata; robbi = Robbku; annã = bagaimana; yakũnu lĩ = jadilah bagiku; waladun = seorang anak; walam yamsasnĩ = dan aku belum pernah disentuh; basyarun = seorang manusia; qōla = (Allah) berfirman; kadzãliki = demikianlah; al lãhu = Allah; yakhluqu = Dia menciptakan; mã yasã-u = apa yang Dia kehendaki; idzã = apabila; qodhō = Dia menetapkan; amran = sesuatu; fa-innamã = maka sesungguhnya hanyalah; yaqũlu = Dia berkata; lahu = kepadanya; kun = jadilah; fa yakũni = maka jadilah ia.

qōlat robbi annã yakũnu lĩ waladuw walam yamsasnĩ basyarun, qōla kadzãlikil lãhu yakhluqu mã yasã-u, idzã qodhō amran fa-innamã yaqũlu lahu, kun fa yakũn

47. Maryam berkata: “Ya Robbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal, aku belum pernah disentuh oleh seorang manusia (laki-laki) pun.” Allah berfirman: “Demikianlah, Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah cukup hanya berkata kepadanya: “Jadilah,” lalu jadilah dia.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Dialog antara Maryam dengan Allah yang berkuasa menciptakan makhluk-Nya dari tidak ada menjadi ada. Makhluk-Nya dapat mencipta juga, bedanya, makhluk-Nya mencipta dari sesuatu yang sudah ada, menjadi ada yang baru. Tentunya, atas perkenan Allah juga. Kalau Allah tidak berkenan, makhluk-Nya tidak dapat berbuat apa-apa. (lihat juga: Q.s. Al Baqarah, 2: 117; Ali ‘Imraan, 3: 59; Maryam, 19: 35; Yã Sĩn, 36: 82; Al Mu’min, 40: 68

wa yu’allimuhu = dan Dia mengajarkan kepadanyia; al kitãba = Alkitab; wal hikmata = dan Alhikmah; wat taurōta = dan Taurat; wal injĩla = dan Injil.

wa yu’allimuhul kitãba wal hikmata wat taurōta wal injĩla

48. Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Alkitab, Alhikmah, Taurat, dan Injil.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengajarkan Alkitab, Alhikmah (Weda [Tripitaka], Tao The Ching), Zabur, Taurat, dan Injil kepada Nabi Muhammad saw., dan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

wa rosũlan = dan sebagai Rasul; ilã = hanya untuk; banĩ Isrō-ĩla = Bani Israil; annĩ = (sesungguhnya) aku; qod = sungguh; ji’tukum = aku telah datang kepadamu; bi ãyatim = dengan ayat (mu’jijat); mirrobbikum = dari Robbmu; annĩ = sesungguhnya aku; akhluqu = aku membuat; lakum = untukmu; minaththĩni = dari tanah; kahai-ati = seperti bentuk; ath thairi = burung; fa anfukhu = maka aku meniupkan; fĩhi = padanya; fayakũnu = maka ia menjadi; thoiron = seekor burung; bi idznil lãh = dengan izin Allah; wa ubri’u = dan aku menyembuhkan; al akmaha = orang buta; wa = dan; al abrasha = penyakit lepra; wa uhyi = dan aku menghidupkan; al mautã = orang mati; bi idzni = dengan izin; al ilãh = Allah; wa unabbiukum = dan aku kabarkan kepadamu; bimã = dengan apa yang; ta’kulũna = kamu makan; wa mã = dan apa yang; taddakhirũna = kamu simpan; fĩ buyũtikum = di rumahmu; inna = sesungguhnya; fĩ dzãlika = pada yang demikian; la ãyata = ada suatu tanda; allakum = bagimu; inkuntum = jika kamu; mu’minĩn = orang-orang yang beriman.

wa rosũlan ilã banĩ Isrō-ĩla, annĩ qod ji’tukum bi ãyatim mirrobbikum, annĩ akhluqu lakum minath thĩni kahai-atith thairi fa anfukhu fĩhi fayakũnu thoirom bi idznil lãh, wa ubri’ul akmaha wal abrasha wa uhyil mautã bi idznil lãh, wa unabbiukum bimã ta’kulũna wa mã taddakhirũna fĩ buyũtikum, inna fĩ dzãlika la ãyatal lakum inkuntum mu’minĩn

49. Dan sebagai Rasul hanya untuk Bani Israil, ‘Isa a.s. berkata kepada mereka: “Sesungguhnya, aku telah datang kepadamu dengan membawa tanda mukjizat dari Tuhanmu, yaitu, aku membuat seekor burung dari tanah untukmu, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya, dan orang yang berpenyakit lepra; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu, apa yang kamu makan, dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya, pada yang demikian itu, adalah suatu tanda kebenaran kerasulanku bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menceriterakan perjuangan Nabi Isa untuk diakui sebagai Nabi bagi Kaum Bani Israil, dengan menunjukkan beberapa mukjizat (tanda-tanda) kenabian dan kerasulannya. Kemampuan ilmu gaib seperti itu mungkin dimiliki oleh seseorang saatsekarang ini, dan bukan tipuan, keterampilan tangan dan tubuh, pengalihan perhatian, atau sulap. Namun demikian, tidak ada orang sekarang ini yang mampu menghidupkan orang yang sudah mati. Yang masih dapat dihidupkan, mungkin jika seseorang dalam keadaan yang disebut mati suri, mungkin masih dapat dihidupkan kembali. Jadi, janganlah menganggap atau mengaku dirinya nabi kalau diperkenankan Allah dapat memperpanjang usia orang lain, makhluk lain. Akuilah hanya sebagai pewaris sebagian ilmu Nabi, ilmu Allah.

wa mushoddiqon = dan membenarkan; limã = pada apa yang; baynayadayya = antara sebelumku; minat taurōti = dari Taurat; wali-uhilla = dan untuk menghalalkan; lakum = bagimu; ba’dhol ladzĩ = sebagian yang sebelumnya; hurrima = diharamkan; ‘alaykum = bagi kamu; wa ji’tukum = dan aku datang kepadamu; bi ãyatin = dengan ayat (mukjizat); mir rōbikum = dari Robkamu; fat taqũ = dan bertakwalah; allãha = Allah; wa athĩ’ũna = dan taatlah kepadaku.

wa mushoddiqol limã baynayadayya minat taurōti wali-uhilla lakum ba’dhol ladzĩ hurrima ‘alaykum, wa ji’tukum bi ãyatim mir rōbikum fat taqũllãha wa athĩ’ũna

50. Dan, aku (Muhammad saw.) datang kepadamu membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan aku menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu; dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda mukjizat dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “aku menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu” bagi rahib yang tidak boleh beristri, menurut Alqur’an boleh beristri.
Mukjizat Nabi Muhammad saw.yang terutama adalah Alqur’an, dan lain-lain kejadian ajaib yang dialami Nabi selama hidupnya.

innallãha = sesungguhnya Allah; robbĩ = Robbku; wa robbukum = dan Robkamu; fa-a’budũhu = maka mengabdilah kepada Dia; hãdzã = itulah; shirōtun = jalan; mustaqĩm = yang lurus.

innallãha robbĩ wa robbukum fa-a’budũhu, hãdzã shirōtum mustaqĩm

51. Sesungguhnya Allah itu Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu mengabdilah kepada Dia, itulah jalan yang lurus.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Pernyataan orang yang beriman Islam, mereka mengakui jalan yang lurus. Umat-umat lain seharusnya mengubah tata-cara ibadahnya seperti yang disunahkan Nabi Muhammad saw.. Bagi yang belum beriman betul kepada Allah Yang Mahaesa, hal ini amat sulit untuk dilaksanakan. Mereka masih mengikuti kebiasaan beribadah seperti zaman nabi-nabi yang terdahulu. Mereka harus banyak belajar memperbaiki diri. Mereka harus banyak mengadakan perubahan diri.

falammã = maka ketika; ahassa = menyadari; ‘Isã = Isa; min humu = dari mereka; al kufro = kafir; qōla = dia berkata; man anshōrĩ = siapa menjadi penolong-penolongku; ilãl lãh = untuk Allah; qōla = berkatalah; al hawãriyyũna = orang-orang hawari; nahnu = kami; anshōru = penolong-penolong; al lãhi = Allah; ãmannã = kami beriman; bil lãhi = kepada Allah; wasy had = dan saksikanlah; bi-annã = bahwa kami; muslimũn = orang-orang yang menyerahkan diri.

falammã ahassa ‘Isã min humul kufro qōla man anshōrĩ ilãl lãh, qōlal hawãriyyũna nahnu anshōrul lãhi ãmannã bil lãhi wasy had biannã muslimũn

52. Tatkala Isa mengetahui mereka, Bani Israil ingkar, berkatalah dia: “Siapakah yang menjadi penolong-penolongku untuk menegakkan agama Allah?” Sahabat-sahabatnya yang setia menjawab: “Kamilah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah, sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Kaum Nabi Isa a.s. pun ada yang ingkar, dan ada yang mau mengakui dan menolong menegakkan agama Allah. Demikian juga umat nabi Muhammad saw.ada yang beriman, ada yang kafir, munafik, musyrik, fasik, dan ada yang murtad.

robbana = yã Robkami; ãmannã = kami telah beriman; bimã = kepada apa; andzalta = yang Engkau turunkan; wat taba’nã = dan kami telah mengikuti; ar rosũla = Rasul; faktubnã = maka catatlah kami; ma’a = bersama; asy syãhidĩn = orang-orang yang menjadi saksi.

robbana ãmannã bimã andzalta wat taba’nãr rosũla faktubnã ma’asy syãhidĩn

53. “Ya Robkami, kami telah beriman kepada apa yang sudah Engkau turunkan, dan telah kami ikuti rasul; karena itu, masukkanlah kami ke golongan orang-orang yang menjadi saksi keesaan-Mu.”

Pernyataan orang kaum Nabi Isa a.s. yang beriman dan doa permohonannya untuk dimasukkan sebagai golongan orang yang bersaksi atas keesaan Allah.

makarũ = pembangkang, pemberontak; wa makarallãhu = dan membuat perlawanan kepada Allah; wallãhu = sesungguhnya Allah; khoyru = sebaik-baik; al mãkirĩn = pelawan

makarũ wa makarallãhu, wallãhu khoyrul mãkirĩn

54. Orang-orang pembangkang membuat perlawanan kepada Allah. Allah sebaik-baik pelawan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: lihat Surat 2: Al Baqarah: 9 Orang kafir hendak menipu Allah. Padahal, mereka menipu dirinya sendiri.

idzqōlallãhu = ketika Allah berfirman; yã ‘isã = wahai Isa; innĩ = sesungguhnya Aku; mutawaffĩka = akan mewafatkan kamu; wa rōfi’uka = dan mengangkat kamu; ilayya = kepada-Ku; wa muthohhiruka = serta menyucikan kamu; minal ladzĩna = dari orang-orang yang; kafarũ = kafir; wa jã’ilu = dan menjadikan; al ladzĩna = orang-orang yang; at taba’ũka = (mereka) mengikuti kamu; fauqo = di atas; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; ilã = hingga; yaumi = hari; al qiyãmati = kiamat; tsumma = kemudian; ilayya = kepada-Ku; marji’ukum = tempat kembali kamumu; fa-ahkumu = lalu Aku memutuskan; bainakum = di antaramu; fĩmã = tentang apa-apa; kuntum = adalah kamu; fĩhi = di dalamnya; takhtalifũna = kamu perselisihkan

idzqōlallãhu yã ‘isã innĩ mutawaffĩka wa rōfi’uka ilayya wa muthohhiruka minal ladzĩna kafarũ wa jã’ilul ladzĩnat taba’ũka fauqol ladzĩna kafarũ ilã yaumil qiyãmati tsumma ilayya marji’ukum fa-ahkumu bainakum fĩmã kuntum fĩhi takhtalifũna

55. Ingatlah, ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya, Aku akan menyampaikan akhir ajalmu kepadamu, dan akan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian, hanya kepada-Kulah engkau kembali, lalu Aku memutuskan hal-hal yang selalu kamu perselisihkan di antaramu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah berfirman kepada Nabi Isa a.s. tentang ajalnya.
“menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang kafir” maksudnya, pengikut Isa itu akan menang melawan orang kafir.
Allah akan memetapkan menghentikan atau meneruskan perselisihan antara Umat Islam dengan Umat Kristen.

fa-amma = maka adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; kafarũ = kafir; fa-u adzdzibuhum = maka akan Aku siksa mereka; adzaban = siksa; syadĩdaan= sangat berat; fid dun-yã = di dunia; wal akhirati = dan akhirat; wa mã lahum = dan tidak bagi mereka; min nãsirĩn = dari penolong.

fa-ammal-ladzĩna kafarũ fa-u adzdzibuhum adzaban syadĩdaanfid dun-yã wal akhirati wa mã lahum min nãsirĩn

56. Orang-orang kafir akan Aku siksa dengan siksa yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong.

Catatan : Orang kafir akan disiksa di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak ada yang mendapatkan pertolongan. Dewasa ini orang kafir tampaknya tidak mendapatkan siksaan yang berat. Tampaknya saja, padahal kenyataannya mereka menderita karena ilmu, harta kekayaan, kekuasaan yang dimiliki menghukum mereka karena segala sesuatunya tidak mengingat asalnya dari Allah. Jadi, mereka selalu gelisah, tidak merasa puas, selalu merasa kekurangan, selalu merasa dimusuhi. Mereka disiksa oleh nafsu-nafsunya sendiri.

wa amma = dan adapun; al ladzĩna = orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wa amilũ = dan mereka beramal; ash shōlihãti = baik, saleh; fa = maka; yuwaffĩhim = Dia akan menyempurnakan; ujũrahum = pahala (ganjaran) mereka; wallãhu = dan Allah; lã = tidak; yuhibbu = menyukai; azh zhōlimĩn = orang-orang lalim

wa ammal ladzĩna ãmanũ wa amilũsh shōlihãti fayuwaffĩhim, ujũrahum, wallãhu lã yuhibbuzh zhōlimĩn.

57. Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, Allah akan memberikan balasan pahala (ganjaran) amalan-amalan mereka dengan sempurna. Allah tidak menyukai orang-orang yang lalim.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah akan memberikan balasan pahala yang sempurna untuk orang yang beramal saleh pada zamannya. Setelah turun agama Allah, Islam, semuanya harus sesuai dengan ajaran Islam. Kalau tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak menyebut Nama Allah sebelum mengerjakan sesuatu, ditolak karena tidak terkait dengan kasih-sayang Allah kepada makhluk-Nya. Allah juga tidak suka kepada orang-orang yang lalim, tidak mengaku Nabi Muhammad sebagai Rasulullah.

dzãlika = demikianlah; natlũhu = kami membacakannya; ‘alayka = kepada kamu; minal ãyãti = dari sebagian ayat-ayat; wadz dzikri = dan dzikir (Alqur’an); al hakĩm = yang penuh hikmah.

dzãlika natlũhu ‘alayka minal ãyãti wadz dzikril hakĩm

58. Demikianlah kisah Isa, Kami membacakannya kepadamu sebagai bagian dari bukti-bukti kerasulanmu, dan membacakan Alqur’an yang penuh hikmah.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah membacakan kisah Isa a.s. kepada Nabi Muhammad saw.sebagai salah satu bukti kerasulannya (ayat 33 – 44 menyampaikan berita keutamaan keluarga ‘Imran; 45 – 57 berita tentang ‘Isa a.s.).
“adz dzikril hakĩm” dapat diterjemahkan Alqur’an yang mengandung banyak ilmu dan pengetahuan.

inna matsala ‘ĩsã ‘indallãhi kamatsali ãdama kholqohũ min tsurãbin tsumma qola lahũ kun fa yakũn.

59. Demikianlah penciptaan Isa seperti yang dikisahkan Allah, adalah seperti penciptaan Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menciptakan Isa itu seperti halnya menciptakan Adam a.s. dari tanah. Isa a.s. dengan cara tertentu, sekehendak Allah. Isa a.s. itu makhluk, jangan disamakan atau disejajarkan, atau diumpamakan sebagai bapak dan anak dengan Allah. Allah Zat Yang Esa, Al Khalik tidak dapat disamakan dengan makhluk.
Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 117; Ali ‘Imran, 3: 47; Yã sĩn, 36: 82; Al Mu’min, 40: 68

al haqqu = kebenaran itu; mir robbika = dari Robkamu; falã = maka janganlah; takum = kamu termasuk; min = dari; al mumtarĩn = orang-orang yang ragu. .

alhaqqu mir robbika falã takum minal mumtarĩn.

60. Kebenaran (yang datang) dari Robkamu, karena itu, janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Manusia harus percaya, apa yang telah diceriterakan Allah, itulah yang benar. Turunnya agama Allah, Islam, jangan diragukan. Lihat Q.s. Al Baqarah, 2: 147 (sama)

faman = maka siapa; hãjjaka = membantah kamu; fĩihi = tentang (kebenaran) itu; mimba’di = dari sesudah; mã jã-aka = apa yang datang kepadamu; minal ‘ilmi = dari ilmu; fa qul = maka katakanlah;. ta’ãlaw = marilah; nad’u = kita memanggil; abnã-anã = anak-anak kami; wa abnã-akum = dan anak-anak kamu; wa nisã-anã = dan istri-istri kami; wa nisã-akum = dan istri-istri kamu; wa anfusanã = dan diri-diri kami; wa anfusakum = dan diri-diri kamu; tsumma = kemudian; nabtahil = kita bermohon dengan sungguh-sungguh; fanaj’al = maka kita jadikan/mintakan; la’natallahi = la’nat Allah; ‘alãl kãdzibĩn = atas orang-orang yang berdusta.

faman hãjjaka fĩihi mimba’di mã jã-aka minal ‘ilmi fa qul ta’ãlaw nad’u abnã-anã wa abnã-akum wa nisã-anã wa nisã-akum wa anfusanã wa anfusakum tsumma nabtahil fanaj’al la’natallahi ‘alãl kãdzibĩn.

61. Siapa yang membantah tentang kisah Isa sesudah datang ilmu yang meyakinkan kamu, maka katakanlah kepadanya: “Marilah kita memanggil anak-anak kami, dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah, dan kita minta, supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “sesudah datang ilmu yang meyakinkan kamu” artinya, ada orang Kristen terikat dengan ilmu yang telah diketahuinya, namun ada yang disembunyikan karena ada gengsi atas kedatangan Islam
“bermubahalah” artinya, orang-orang yang berbeda atau berselisih pendapat, karena ada seseorang yang berdusta. Masing-masing orang berdoa kepada Allah, agar Allah membuktikan mana yang benar dan mana yang dusta. Yang berdusta akan dikenai laknat Allah.

inna = sesungguhnya; hadzã = ini; lahuwa = adalah ia; al qoshoshu = kisah; al hakku = yang benar; wa mã min = dan tidak ada dari; ilãhin = Allah; illa = selain, kecuali; allãhu = Allah; wa innallãha = dan sesungguhnya Allah; la huwa = sesungguhnya dia; al ‘azĩzul = Mahaperkasa; hakĩm = Mahabijaksana

inna hadzã lahuwal qoshoshul hakku, wa mã min ilãhin illãllãhu, wa innallãha la huwal ‘azĩzul hakĩm

62. Sesungguhnya, inilah kisah yang benar, dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab:Alqur’an itu berisi kisah tentang Allah yang benar. Tidak ada ilah lain, selain Dia. Allah itu Maha Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

fain = maka jika; tawalaw = mereka berpaling; fainna = maka sesungguhnya; allãha = Allah; ‘alĩmun = Maha Mengetahui; bil mufsidĩn = terhadap orang-orang yang membuat kerusakan.

faintawalaw fainnallãha ‘alĩmun bil mufsidĩn.

63. Maka jika mereka berpaling (dari kebenaran), sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang-orang yang berpaling dari kebenaran Allah, mereka tampaknya melakukan kebaikan, tapi sesungguhnya mereka membuat kerusakan, karena setiap pekerjãnnya tidak dimulai dari niat, mengatasnamakan Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

qul = katakanlah; yã ahla = wahai ahli; al kitãbi = Alkitab; ta’alaw = marilah; ilã kalimatin = hanya kepada satu kalimat; sawã-in = yang sama; bainanã = antara kami; wa bainakum = dan antara kamu; allã na’buda = bahwa kita tidak menyembah; illa = kecuali; allãha = Allah; wa lã = dan tidak; nusyrika = kita menyekutukan; bihi = drngan-Nya; syai-an = sesuatu; wa lã = dan tidak; yattakhidza = menjadikan; ba’dhunã = sebagian kita; ba’dhan = sebagaian yang lain; arbãban = Robb; min dũni = dari selain; allãh = Allah; fain = maka jika; tawallaw = mereka berpaling; faqũlũ = maka katakanlah; asy hadũ = saksikanlah; bi annã = bahwa kami; muslimũn = orang-orang yang berserah diri.

qul yã ahlal kitãbi ta’alaw ilã kalimatin sawã-im bainanã wa bainakum allã na’buda illallãha wa lã nusyrika bihi, syai-an wa lã yattakhidza ba’dhunã ba’dhan arbãbam min dũnillãh, fain tawallaw faqũlũsy hadũ bi annã muslimũn.

64. Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah berpegang pada ketetapan kalimat yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apa pun, dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan, selain Allah.” Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw.untuk mengatakan ajakan kepada Ahli Kitab agar bersaksi bahwa tidak ada ilah lain selain Allah, dan jangan menuhankan selain Allah. Jangan menuhankan Nabi Isa; ada Tuhan Bapa dan Tuhan Anak.

yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; tuhãjũna = kamu berbantah-bantahan; fĩ ibrãhĩma = tentang Ibrahim; wa mã unzilati = padahal tidak diturunkan; at taurãtu = Taurat; wal injĩlu = dan injil; illã = melainkan; mimba’dihĩ = sejak sesudah Ibrahim; afalã = apakah tidak; ta’qilũn = kamu berpikir.

yã ahlal kitãbi lima tuhãjũna fĩ ibrãhĩma wa mã unzilatit taurãtu wal injĩlu illã mimba’dihĩ afalã ta’qilũn

65. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu berbantah-bantahan tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil itu diturunkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyapa Ahli Kitab dengan dua pertanyaan. Kita harus menggunakan akal dan pikiran, kalau kita ingin memahami kekuasaan Allah.

hã antum = beginilah kamu; hã ulã-i = kamu ini; hãjajtum = kamu berbantah-bantahan; fĩmã = tentang apa; lakum = bagimu; bihĩ = dengannya; ilmun = pengetahuan; fa lima = maka mengapa; tuhãjjũna = kamu berbantah-bantahan; fĩmã = tentang apa; laisa = tidak ada; lakum = bagimu; bihĩ = dengannya; ‘ilmun = pengetahuan; wallãhu = dan Allah; ya’lamu = Dia mengetahui; wa antum = sedang kamu; lã ta’lamũn = kamu tidak mengetahui.

hã antum hã ulã-i hãjajtum fĩmã lakum bihĩ ilmun fa lima tuhãjjũna fĩmã laisa lakum bihĩ ‘ilmun, wallãhu ya’lamu wa antum lã ta’lamũn.

66. Beginilah, kamu ini sepantasnya berbantah-bantahan tentang hal yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Mereka berbantah-bantahan tentang Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan nabi Muhammad saw.. Mereka tidak mengetahui tentang Nabi Ibrahim a.s.

Mã kãna = tidak ada, bukanlah ia; ibrãhĩmu = Ibrahim; yahũdiyaan= seorang Yahudi; wa lã nashrōniyyã = dan bukan orang Nasrani; wa lãkin = akan tetapi; kãna = adalah dia; hanĩfan = seorang yang jujur; musliman = seorang yang berserah diri; wa mã kãna = dan dia bukan; minal musyrikĩn = dari orang-orang musyrik

Mã kãna ibrãhĩmu yahũdiyãw wa lã nashrōniyyã wa lãkin kãna hanĩfam musliman, wa mã kãna minal musyrikĩn

67. Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia seorang yang jujur, tidak sesat, dan lagi seorang yang berserah diri kepada Allah, dan dia (Ibrahim) sesungguhnya bukanlah dari golongan orang-orang musyrik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan tentang kedudukan Nabi Ibrahim itu tidak sama dengan Yahudi dan Nasrani yang sekarang, yang sudah menyimpang.
“seorang yang jujur” artinya orang yang lurus hati, tidak curang, tulus dalam berbicara, dan berbuat; ikhlas menerima apa yang sudah ditetapkan.
Musyrik atau syirik adalah pendosa paling besar; akibat menduakan Allah; menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya; menganggap Allah terdiri dari dua atau tiga wujud; atau menganggap Allah lebih dari satu; banyak.

inna = sesungguhnya; awla = paling dekat; an nãsi = manusia, orang; bi ibrahĩma = dengan/kepada Ibrahim; al ladzĩna = bagi orang-orang yang; at taba’ũhu = (mereka) mengikutinya; wa hãdzã = dan ini; an nabiyyu = Nabi; walladzĩna = dan orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wallãhu = dan Allah; waliyyu = pelindung; al mu’minĩna = orang-orang yang beriman.

Inna awlan nãsi bi ibrahĩmal ladzĩnat taba’ũhu wa hãdzãn nabiyyu wal ladzĩna ãmanũ, wallãhu waliyyul mu’minĩna.
68. Sesungguhnya, orang yang paling dekat dengan Ibrahim adalah pengikut-pengikutnya, dan (Nabi Muhammad saw.) ini beserta orang-orang yang beriman; Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Nabi Muhammad saw.itu beriman kepada Allah dan yakin bahwa Nabi Ibrahim itu Utusan Allah. Nabi Muhammad itu saw.sangat dekat dengan Ibrahim dalam hal keturunan.

waddat = ingin; thōifatun = segolongan; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; law = sekiranya; yudhillũnakum = mereka menyesatkan kamu; wa mã = dan tidaklah; yudhillũna = mereka menyesatkan; illã =melainkan, kecuali; anfusahum = diri mereka sendiri; wa mã yasy’urũn = dan mereka tidak menyadari;

waddat thōifatum min ahlil kitãbi law yudhillũnakum wa mã yudhillũna illã anfusahum wa mã yasy’urũn.

69. Segolongan Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan, melainkan dirinya sendiri yang sesat, tapi mereka tidak menyadarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan kaum Mukmin yang berpegang teguh pada tali Allah, tidak akan dapat tersesat, kalau berpegang teguh pada prinsip yang ada dalam Agama Islam. Ahli Kitab kalau berpegang pada prinsip Allah yang benar, akan selamat. Ahli Kitab ada yang tidak menyadari bahwa apa yang diyakininya itu telah sesat (lihat ayat-ayat berikutnya!).

yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; takfurũna = kamu mengingkari; bi = dengan/pada; ayãtillãhi = ayat-ayat Allah; wa = dan / sedangkan / padahal; antum = kamu; tasyhadũn = kamu menyaksikan.

yã ahlal kitãbi lima takfurũna bi ayãtillãhi wa antum tasyhadũn.

70. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., padahal kamu mengetahui kebenarannya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Peringatan Allah kepada Ahli Kitab, dan pembelajaran bagi Umat Islam untuk mendakwahi mereka yang masih sesat.

yã ahlal kitãbi = wahai Ahli Kitab; lima = mengapa; talbisũna = kamu mencampur-adukkan; al haqqo = yang benar; bil bãthili = dengan yang salah; wa taktumũna = dan kamu menyembunyikan; al haqqo = yang benar (kenabian Muhammad saw.); wa antum = dan kamu; ta’lamũn = (kamu) mengetahui.

yã ahlal kitãbi lima talbisũnal haqqo bil bãthili wa taktumũnal haqqo wa antum ta’lamũn.

71. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang benar dan yang salah, dan menyembunyikan kebenaran kenabian Muhammad, padahal kamu mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah menyapa Ahli Kitab dan masih memperingatkan dengan pertanyaandan tuduhan yang pasti benarnya. Para pengikutnya banyak yang tidak memperhatikannya. Bagi yang memperhatikan, mereka mengakui kebenaran Nabi Muhammad saw..

wa qōlat = dan berkata; thōifatun = segolongan; min ahlil kitãbi = dari Ahli Kitab; ãminũ = berimanlah kamu; billadzĩ = dengan yang; unzila = diturunkan; ‘alal ladzĩna = atas orang-orang yang; ãmanũ = (mereka) beriman; wajha = permulaan; an nahãri = siang; wakfurũ = dan ingkarilah; akhirahũ = pada akhirnya; la’allahum = supaya mereka; yarji’ũn = (mereka) kembali.

wa qōlat thōifatum min ahlil kitãbi ãminũ billadzĩ unzila ‘alal ladzĩna ãmanũ wajhan nahãri wakfurũ akhirahũ, la’allahum yarji’ũn.

72. Segolongan lain dari Ahli Kitab berkata kepada sesamanya: “Perlihatkanlah seolah-olah kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat Rasulullah) pada permulaan siang, dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka, orang mukmin kembali ke kekafiran.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw.beserta orang-orang yang beriman tentang perilaku beberapa Ahli Kitab yang munafik, dan berniat menipu orang-orang yang beriman.

wa lã = dan jangan; tu’minũ = kamu percaya; illã = kecuali, melainkan; liman = kepada orang; tabi’a = yang mengikuti; dĩnakum = agamanu; qul = katakan; inna = sesungguhnya; al hudã = petunjuk; hudallãhi = petunjuk Allah; an yu’ta = bahwa akan diberikan; ahadũn = seseorang; mitslã = seperti; mã = apa; ũtĩtum = diberikan kepadamu; au = atau; yuhãjjũkum = mereka membantahmu; ‘inda robbikum = pada Robbmu; qul = katakanlah; innal fadhla = sesungguhnya karunia; biyadillãhi = di tangan Allah; yu’tĩhi = Dia berikan itu; man = siapa orang; yasyã’u = Dia kehendaki; wallãhu wãsi’un ‘alĩm = dan Allah Mahaluas Ilmu-Nya

wa lã tu’minũ illã liman tabi’a dĩnakum qul innal hudã hudallãhi an yu’ta ahadũm mitslã mã ũtĩtum au yuhãjjũkum ‘inda robbikum, qul innal fadhla biyadillãhi, yu’tĩhi man yasyã’u, wallãhu wãsi’un ‘alĩm.

73. Dan, janganlah kamu percaya, kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu (Yahudi dan Nasrani). Katakanlah: “Sesungguhnya, petunjuk yang harus dĩkuti, ialah petunjuk Allah, dan jangan kamu percaya, bahwa akan diberikan kepada seseorang, seperti apa yang diberikan kepadamu, dan jangan pula kamu percaya bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu kepada Tuhanmu.” Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Mahaluas Ilmu-Nya.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ini kata para Ahli Kitab yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad saw., untuk diketahui strategi mereka dalam membohongi orang-orang di sekitarnya. Allah memberitahu apa yang harus dikatakan kepada para Ahli Kitab.

yakhtashshu = Dia menentukan; bi rohmatihĩ = dengan rahmat-Nya; man yasã-u = siapa Yang Dia kehendaki; wallãhu = dan Allah; dzul fashlil ‘azhĩm = mempunyai karunia yang agung.

yakhtashshu bi rohmatihĩ man yasã-u, wallãhu dzul fashlil ‘azhĩm.

74. Allah menentukan rahmat kenabian kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah Maharahman dan Rahim. Rahmat kenabian itu hak Allah. Allah memberikan rahmat itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah memberikan rahmat kepada seluruh makhluk-Nya (lihat Al Fatihah).

wa min = dan di antara; ahlil kitãbi = Ahli Kitab; man = orang; inta’manhu = jika kamu percayakan; bi qinthōrin = dengan harta yang banyak; yu-addihĩ = ia mengembalikannya; ilaika = kepada kamu; wa minhum = dan di antara mereka; man = orang; in ta’manhu = jika kamu mempercayakannya; bi dĩnãril = dengan satu dinar; lã yu’addihĩ = ia tidak mengembalikannya; ilaika = kepadamu; illã = kecuali; mã dumta = kamu selalu; ‘alayhi = atasnya; qō-iman = berdiri, menagihnya; dzalika = demikian itu; bi annahum = karena sesungguhnya mereka; qōlũ = (mereka) berkata; laisã = tidak ada; ‘alainã = atas kami; fil ummiyyĩna = terhadap orang-orang ummi; sabĩlun = (jalan) dosa; wa yaqũlũna = dan mereka berkata; ‘alallãhi = kepada Allah; al kadzĩba = dusta; wa hum = dan mereka; ya’lamũn = (mereka) mengetahui..

wa min ahlil kitãbi man inta’manhu bi qinthōrin yu-addihĩ ilaika wa minhum man in ta’manhu bi dĩnãril lã yu’addihĩ ilaika illã mã dumta ‘alayhi qō-iman, dzalika bi annahum qōlũ laisã ‘alainã fil ummiyyĩna sabĩlun wa yaqũlũna ‘alallãhil kadzĩba wa hum ya’lamũn.

75. Di antara Ahli Kitab, ada yang kamu percayai harta yang banyak, lalu dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka, ada yang kamu percayakan uang satu dinar, kemudian tidak dikembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu, lantaran mereka berpendapat: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.“ Mereka berkata dusta kepada Allah, padahal mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “Di antara Ahli Kitab, ada yang kamu percayai harta yang banyak” artinya kamu mempercayakan hartamu untuk dijadikan modal usaha Ahli Kitab.
“Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.“ artinya berhutang satu dinar kepada Umat Islam, mereka tidak merasa berdosa. Jadi, seolah-olah Allah membeda-bedakan hukum-Nya, padahal hukum Allah itu sama bagi seluruh makhluk-Nya di dunia. Berhutang satu dinar dengan berhutang banyak kepada semua umat di dunia itu sama hukumnya, dosa. Hutang harus dibayar, betapa pun kecilnya hutang itu.
Ahli Kitab berkata: “Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi.“ Berarti, Ahli Kitab itu berdusta kepada Allah, padahal mereka mengetahui hukum-Nya.

balã = sesungguhnya bukan; man = orang; siapa pun; awfã = (ia) menepati; bi’ahdihĩ = janjinya; wat taqō = dan ia bertakwa; fa innallãha = maka sesungguhnya Allah; yuhibũ = Dia menyukai; al muttaqĩn = orang-orang yang takwa.

balã man awfã bi’ahdihĩ wat taqō fa innallãha yuhibũl muttaqĩn

76. Sebenarnya bukan demikian, tapi siapa yang menepati janji yang dibuatnya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Janji kepada siapa pun harus ditepati. Itulah salah-satu tanda dari orang-orang yang takwa kepada Allah. Janji Allah pun akan ditepati, pada sãtnya yang tepat. Allah tidak membedakan hukum-Nya meskipun bagi orang yang berbeda keyakinan.

innalladzĩna = sesungguhnya orang-orang yang; yasytarũna = mereka menukar; bi ahdi = dengan janji; allãhi = Allah; wa aimaanihim = dan sumpah mereka; tsamanan = harga; qolĩlan = sedikit; ũlãika = mereka itu; lã kholaqo = tidak mendapat bagian; lahum =bagi mereka; fil akhirati = di akhirat; wa lã yukallimuhumullãhu = Allah tidak berbicara dengan mereka; wa lã yandhuru = dan Dia tidak melihat; ilaihim = kepada mereka; yawma = pada hari; al qiyãmati = kiamat; wa lã yuzakkihim = dan Dia tidak menyucikan mereka; wa lahum = dan bagi mereka; ‘adzãbun alĩmun = siksa yang pedih.

innalladzĩna yasytarũna bi ahdillãhi wa aimaanihim tsamanan qolĩlan ũlãika lã kholaqo lahum fil akhirati wa lã yukallimuhumullãhu wa lã yandhuru ilaihim yawma l qiyãmati wa lã yuzakkihim wa lahum ‘adzãbun alĩmun.

77. Sesungguhnya, orang-orang yang menukar janji, dan sumpah-sumpah mereka dengan Allah, dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian pahala di akhirat. Allah tidak akan berkata-kata, dan tidak akan melihat kepada mereka pada Hari Kiamat, dan tidak pula menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya.
“orang-orang yang menukar janji dan sumpah-sumpah mereka dengan Allah, dengan harga yang sedikit”. Maksudnya, orang-orang yang dahulu berjanji akan selalu takwa kepada Allah, dan selalu mematuhi apa yang tersurat di dalam Alkitabnya, ternyata kedatangan Nabi Muhammad saw.tidak diakui. Jadi, Alkitabnya yang mengabarkan tentang akan datangnya Utusan Allah dari sesama keturunan Ibrahim itu tidak dihargai sebagaimana mestinya, berarti menghargai dengan harga yang sedikit, mereka menyalahi janji.
Ayat ini merupakan peringatan bagi mereka yang suka berjanji. Janji itu harus ditepati. Kalau janji tidak ditepati, Allah tidak mau berbicara dengan mereka di hari akhirat. Mereka tidak akan disucikan, dan mereka akan mendapatkan azab yang menyakitkan.

wa inna = dan sesungguhnya; minhum = di antara mereka; la farĩqon = ada segolongan; yalwũna = (mereka) memutar-balik; alsinatahum = lidah mereka; bil kitãbi = dengan kitabnya; li tahsabũhu = supaya kamu menyangka; minal kitãbi = bagian dari Alkitab; wamã huwa = dan ia bukan; minal kitãbi = dari Alkitab; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; huwa = ia; min ‘indillãhi = dari Allah; wamã huwa = dan ia bukan; min ‘indallãhi = dari Allah; wa yaqũlũna = dan mereka mengatakan; ‘alallãhi = atas Allah; al kadziba = dusta; wa hum ya’lamũn = dan mereka mengetahui.

wa inna minhum la farĩqon yalwũna alsinatahum bil kitãbi li tahsabũhu minal kitãbi wamã huwa minal kitãbi wa yaqũlũna huwa min ‘indallãhi wamã huwa min ‘indillãhi wa yaqũlũna ‘alallãhil kadziba wa hum ya’lamũn.

78. Sesungguhnya, di antara mereka, ada segolongan yang memutar-balik lidahnya saatmembaca Alkitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu bagian dari Alkitab, padahal itu bukan dari Alkitab, dan mereka mengatakan: “Yang dibaca ini dari Allah”, padahal itu bukan dari Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: “memutar-balik lidahnya” maksudnya: orang berbicara A tapi yang dimaksud B. atau mengubah ucapan sehingga yang sebenarnya berarti A, kata itu diucapkan menjadi seperti B (lihat juga larangan Allah pada Q.s. Al Baqarah, 2: 104). Hal ini sekarang masih terjadi. Mereka membaca Alkitab yang sudah direkayasa oleh mereka, dan itu disampaikan seperti dari Alqur’an. Padahal itu bukan dari Alqur’an.

mã kãna = tidak mungkin terjadi; li basyarin = bagi seorang manusia; an yu’tiyahu = bahwa memberikannya; allãhu = Allah; al kitãba = Alkitab; wal hukma = dan hikmah; wannubũwwata = dan kenabian; tsumma = kemudian; yaqũla = ia berkata; linnãsi = kepada manusia; kũnũ = (hendaklah) kamu menjadi; ‘ibãda = penyembah-penyembah; lĩ = bagiku (Nabi Isa a.s.); min dũnillãhi = dari selain Allah; wa lãkin = akan tetapi; kũnũ =(hendaklah) kamu menjadi; robbaniyyĩna = orang-orang robbani; bimã kuntum = disebabkan kamu; tu’allimũna = kamu mengajarkan; al kitãba = Alkitab; wa bimã kuntum = dengan sebab kamu adalah; tadrusũn = kamu mempelajari.

mã kãna li basyarin an yu’tiyahullãhul kitãba wal hukma wannubũwwata tsumma yaqũla linnãsi kũnũ ‘ibãdal lĩ min dũnillãhi wa lãkin kũnũ robbaniyyĩna bimã kuntum tu’allimũnal kitãba wa bimã kuntum tadrusũn

79. Tidak wajar, seorang manusia yang diberi Allah Alkitab, hikmah, dan kenabian yang berkata kepada manusia lain: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku (Nabi Isa a.s.), bukan penyembah Allah.” Wajar, kalau dia berkata: “Hendaklah kamu menjadi orang-orang sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah (Robbãni), karena kamu selalu mengajarkan Alkitab, dan karena kamu tetap dan selalu mempelajarinya.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Allah mengingatkan bahwa manusia itu tidak pantas disembah seperti kepada Allah. Nabi Isa tidak pantas mengatakan dia ingin disembah, dihargai seperti kepada Allah. Hal ini menjadi perselisihan pemahaman. Benarkah umat Kristen menyembah, menghormati Nabinya, seperti menghormati Allah? Mengapa ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Tuhan Ruhul Qudus?

wa lã ya’murakum = dan ia tidak menyuruhmu; an tattakhidzũ = bahwa kamu menjadikan; al malãikata = Malaykat; wannabiyyĩna = dan para Nabi; arbãbãn = sebagai Robb; aya’murukum = apakah ia menyuruh kamu; bil kufri = dengan kekafiran; ba’da = sesudah; idz = ketika; antum = kamu; muslimũn = Islam.

wa lã ya’murakum an tattakhidzũl malãikata wannabiyyĩna arbãbãn, aya’murukum bil kufri ba’da idz antum muslimũn.

80. dan tidak wajar pula ia menyuruhmu menjadikan Malaykat dan para Nabi sebagai tuhan. Apakah patut ia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah menganut agama Islam?

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menjelaskan kenyataan pada saatNabi Muhammad saw.dinobatkan sebagai Nabi, sampai sekarang.

wa idz = dan ketika; akhodzallãhu = Allah mengambil; mĩtsãqo = perjanjian; an nabiyyĩna = para Nabi; lamã = sungguh apa; ataitukum = Aku berikan kepada kamu; min kitãbin = dari Kitab; wa hikmatin = dan hikmah; tsumma = kemudian; jã-akum = datang kepada kamu; rasũlun = seorang Rasul; mushoddiqun = membenarkan; limã = terhadap apa; ma’akum = ada padamu; latu’minunna = sungguh kamu akan beriman; bihi = dengannya; walatanshurunnahũ = sungguh kamu menolongnya; qōla = Dia berfirman; a-akrortum = apakah kamu mengakui; wa-akhodztum = dan kamu mengambil; ‘alã dzalikum = atas yang demikian itu; ishrĩ = perjanjian-Ku; qōlũ = mereka berkata; aqrornã = kami mengakui; qōla = Dia berfirman; fasyhadũ = maka saksikanlah; wa anã = dan Aku; ma’akum = bersama kamu; minasyãhidĩn = dari para saksi.

wa idz akhodzallãhu mĩtsãqon nabiyyĩna lamã ataitukum min kitãbin wa hikmatin tsumma jã-akum rasũlum mushoddiqul limã ma’akum latu’minunna bihi, walatanshurunnahu, qōla a-akrortum wa-akhodztum ‘alã dzalikum ishrĩ qōlũ aqrornã qōla fasyhadũ wa anã ma’akum minasyãhidĩn.

81. Dan ingatlah, ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepada Muhammad saw., dan menolongnya. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami mengakui.” Allah berfirman: “Kalau begitu, saksikanlah wahai para Nabi, dan Aku menjadi saksi pula bersama kamu.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini mengemukakan tentang perjanjian Allah dengan para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.ditetapkan, dipilih sebagai Utusan Allah. Jadi, ada perjanjian antara Allah dan para Nabi tentang kedatangan Nabi Muhammad itu. Para Nabi sudah mengakui bahwa Nabi Muhammad itu membenarkan apa yang ada dalam Alkitab para Nabi semua.

faman = maka barang siapa; tawallã = (ia) berpaling; ba’da = sesudah; dzãlika = demikian itu; fa-ũlã-ika = maka mereka itu; humu = mereka; al fãsiqũn = orang-orang yang fasik

faman tawallã ba’da dzãlika fa-ũlã-ika humul fãsiqũn.

82. Barang siapa berpaling setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Ayat ini menegaskan jika ada orang yang ingkar pada janji yang sudah dibuat, yang menolak kedatangan Utusan-Nya, mereka akan dicap sebagai orang fasik. Orang fasik adalah orang bodoh, orang yang tidak mempercayai, tidak mengakui Nabi Muhammad saw.sebagai Utusan Allah, orang yang tidak mengindahkan perintah dan larangan Allah. Mereka bertabiat atau berkelakuan buruk, jelek, curang, jahat, jahil, pelit, rakus; pemarah, pencuri, perampok, penodong, penipu, pemalsu, pembohong, penghasut, pemfitnah, pembangkang; pembual; berlaku atau berbicara tidak sopan.

afaghoiro = maka apakah selain; dĩnillãhi = agama Allah; yabghũna = mereka mencari; wa lahũ = dan kepada-Nya; aslama = menyerahkan diri; man = orang (segala apa); fis samãwãti = di langit; wal ardhĩ = dan di bumi; thau-’ãn = dengan suka; wa karhan = dan terpaksa; wa ilaihi = dan kepada-Nya; yurja’ũn = mereka dikembalikan.

afaghoiro dĩnillãhi yabghũna wa lahũ aslama man fis samãwãti wal ardhĩ thau-’ãn wa karhan wa ilaihi yurja’ũn.

83. Maka, apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah? Padahal kepada-Nyalah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Agama Allah dari mulai Adam sampai sekarang itu satu, hanya Allah menyampaikannya kepada manusia agak berbeda, sesuai dengan kemampuan manusia pada zamannya masing-masing. Seharusnya manusia mengikuti perubahan yang direncanakan Allah. Jangan menolak karena ada sedikit perbedaan dengan Alkitab yang dipegangnya. Alqur’an mencakupi semua Alkitab yang pernah ada, dengan perbaikan, pembaruan informasi dengan menggunakan Bahasa Arab.

qul = katakanlah; ãmannã = kami beriman; billãhi = kepada Allah; wa mã unzila = dan apa yang diturunkan; ‘alainã = atas kami; wa mã unzila = dan apa yang diturunkan; ‘alã ibrōhĩma = kepada Ibrahim; wa ismã’ĩla = dan Ismail; wa ishãqo = dan Ishaq; wa ya’qũba = dan Ya’qub; wal asbãthi = dan anak-anaknya; wa mã ũtiya = dan apa yang diberikan; mũsã = (kepada) Musa; wa ‘ĩsã = dan Isa; wan nabiyyũna = dan para Nabi; mir robbihim = dari Robmereka; lã nufarriqu = kami tidak membeda-bedakan; bayna= antara; ahadim = seorang; minhum = di antara mereka; wa nahnu = dan kami; lahũ = kepada-Nya; muslimũn = berserah diri.

qul ãmannã billãhi wa mã unzila ‘alainã wa mã unzila ‘alã ibrōhĩma wa ismã’ĩla wa ishãqo wa ya’qũba wal asbãthi wa mã ũtiya mũsã wa ‘ĩsã wan nabiyyũna mir robbihim lã nufarriqu baynaahadim minhum wa nahnu lahũ muslimũn.

84. Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa, dan para Nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan hanya kepada-Nyalah kami berserah diri.”

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Orang Islam itu mengimani semua para Nabi karena semuanya mengajarkan keesaan Allah. Orang Islam tidak membedakan seorang Nabi dengan Nabi yang lain. Namun demikian, umat islam tahu dan menyadari cara peribadatan dari para Nabi itu berbeda. Seharusnya, cara peribadatan yang terakhirlah yang seharusnya dĩkuti oleh semua manusia. Persoalan ini, hanya Allah yang mengetahui jalan keluarnya.

wa man = dan barang siapa; yabtaghi = (ia) mencari; ghaira = selain; al islãmi = Islam; dĩnan = agama; falan yuqbala = maka tidak diterima; minhu = darinya; wa huwa = dan ia; fil akhirãti = di akhirat; minal khãsirĩn = dari orang-orang yang merugi.

wa man yabtaghi ghairal islãmi dĩnan falan yuqbala minhu wa huwa fil akhirãti minal khãsirĩn

85. Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sesungguhnya tidak akan diterima agamanya itu, dan di akhirat, dia termasuk orang-orang yang rugi.

Catatan pengetahuan, ilmu, hukum, budaya, dan adab: Islam adalah agama yang terakhir diturunkan Allah untuk membimbing hidup manusia menuju ke kehidupan yang lebih baik. Jadi, kalau ada yang memilih selain agama Islam, maka amalan keagamaanya tidak diterima Allah. Mereka termasuk orang-orang yang