Drama Musikal Sekarwangi dan Realitas Politik Khilafah

Menonton pertunjukan drama Sekarwangi adalah menonton opera atau drama musikal. Penonton melihat bahwa para aktornya acap kali menyanyikan lagu-lagu terkait dengan dialog atau peran yang dia mainkan. Lagu-lagunya menarik dan tidak ada permasalahan dengan lagu-lagu yang dinyanyikan itu. Namun seorang teman dosen yang sangat peka terhadap nada dan suara menyatakan bahwa suara fals atau sumbang bisa membuatnya sakit perut. Baginya pertunjukan yang baik adalah pertunjukan musik yang penyanyinya tidak membuatnya sakit perut. Pertunjukan angklung grup Lokahyang UPI Sumedang di awal pertunjukan patut diacungi jempol. Pembukaan yang cerdas. Continue reading →

Package Rock

#sucpdi

Ketika Coco Robert memperoleh kebenaran atau pelajaran ia akan memegang kebenaran itu erat-erat. Pasti ia bisa melihat selain kebenaran itu sebagai kesalahan. Namun ada kalanya ia tidak bisa memaksakan kebenaran itu kepada orang lain bahkan kepada teman dekatnya, Coker Clark dan Ahmad Wisnu Jono.

Menurut Musa Kazim, jika seseorang menentang kebenaran, penentangannya itu tidak akan mengubah kebenaran sama sekali. Orang itu malah yang semakin menjauh dari kebenaran. Sebaliknya, jika seseorang mengakui kebenaran, mungkin kebenaran itu beresiko baginya sementara waktu, namun ia akan ikut kebenaran yang abadi dalam dirinya.

Belakangan saya mendapati orang-orang yang berbeda paham dengan saya.

Saya meyakini kebenaran mutlak dari kenabian Muhammad saw dengan seperangkat perintah dan larangannya. Namun saya tidak bisa memaksakan kebenaran yang saya yakini kepada orang lain yang belum mencapainya atau berpandangan berbeda dengan saya. Bahkan di antara muslim pun ada yang meyakini bahwa Nabi Muhammad saw maksum meski bermuka masam, atau lupa jumlah rakaat salat, lalai dalam salatnya, salah dalam penyerbukan tanaman dunia. Sebaliknya, saya meyakini Nabi tidak bermuka masam dan tidak lalai dalam salatnya, memahami prnyerbukan dengan benar.

Dulu saya gemar memaksa. Saya selalu mengecam orang yang pikirannya “ngawur” atau berbeda dengan saya.

Sekarang saya melihat perbedaan orientasi politik sebagai fenomena biasa. Ada orang yang menyalahkan gubernur DKI dalam kasus RAPBD Aibon, ngawurnya penanganan banjir, atau pelanggaran penebangan kawasan Monas. Ada orang yang menyalahkan Jokowi karena ada banyak Cina di Indonesia, memberi kesempatan orang Cina atau Arab berinvestasi di Indonesia, membiarkan kasus muslim Uyghur, Cina, atau tuduhan membentuk dan membiarkan komunitas PKI, gay, dan lesbian. Ada yang menyalahkan Jokowi dalam kasus Jiwasraya. Ada yang menyalahkan Anies dalam penanganan banjir di DKI. Ada pendapat yang berbeda-beda.

Saya pernah berbeda pendapat dengan muslim lain ihwal multi level marketing (MLM). Ada bahkan dosen, mahasiswa, teman yang menawari saya berbagai macam MLM. Ketika ada fatwa haramnya sistem MLM, saya mengikuti fatwa itu. Saat itu saya tahu ada fatwa lain dari ulama lain yang membolehkan MLM. Bahkan konon katanya orang yang ikut MLM itu juga termasuk agamawan, intelektual, dan anggota DPR yang masa jabatannya lebih dari dua kali, dan pejabat penting lain. Ada pula “cendekiawan muslim” yang membolehkan MLM. Saya tidak bisa memaksakan agar mereka juga mengharamkan sistem MLM. Saya cuma bisa menolak tawaran mereka ketika mereka menawari saya untuk ikut MLM.

Untung saja mereka masih mengaku MLM. Adakah yang menggunakan sistem MLM meski mengaku bukan MLM?

Berbeda pendapat atau opini itu boleh. Yang tidak boleh adalah fitnah, hoaks atau menyebarkan berita bohong. Contoh fitnah adalah pejabat anu PKI, APBD anu dari investor Cina, penabat anu memasukkan Cina, pejabat anu adalah muslim dan selainnya adalah nonmuslim.

Meski kita tidak boleh fitnah, tetap saja kita tidak boleh gibah. Fitnah adalah menuduh orang sesuatu ysng tidak ada realitas keburukannya. Sedangkan gibah adalah membicarakan keburukan orang lain (ada realitas keburukannya)

Saya sebenarnya orang yang tidak percaya bahwa perbedaan orientasi politik bisa menyebabkan permusuhan atau perpecahan. Perbedaan orientasi politik adalah peristiwa yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang bisa mempunyai perbedaan orientasi politik dengan orang lain. Seseorang bisa berbeda agama dan orang lain. Seseorang bisa berbeda mazhab dengan orang lain. Orang bisa memilih Syafi’i, Hambali, Hanafi, Maliki, Syiah tanpa gangguan orang lain. Perbedaan-perbedaan itu semestinya tidak menyebabkan pertengkaran, permusuhan, atau perpecahan.

Seseorang tidak boleh memaksakan orientasi politiknya kepada orang lain. Seseorang tidak boleh memaksakan agamanya kepada orang lain. Seseorang tidak boleh memaksakan mazhabnya kepada orang lain. Seseorang juga tidak boleh selamanya mengkampanyekan orientasi politiknya kepada orang lain karena mungkin saja orang lain tidak suka dengan ksmpanye orientasi politiknya itu. Mungkin saja orang lain sudah mempunyai orientasi politik sendiri yang yang kukuh, ajeg, dan tidak mudah diganggu gugat. Saat orang lain mengkampanyekan orientasi politik yang berbeda dengannya ia akan merasa terganggu dan menganggap kampanye itu sebagai teriakan yang berisik. Pemaksaan politik adalah disorientasi politik. Pemaksaan mazhab adalah disorientasi mazhab.

Pada saat ini ada orang-orang yang terus-menerus berteriak mengkampanyekan orientasi politiknya. dengan begitu lawan politiknya pun tidak henti-henti mengkonternya (counter). Akhirnya jagat dunia maya menjadi berisik dengan percekcokan mereka. Dunia menjadi bising dan ucapan langit jadi tidak terdengar lagi. Justru seolah-olah merekalah yang menjadi langit yang berbicara.

Nanti pada saat Imam Mahdi muncul ada teriakan di langit yang yang berbunyi, “Telah datang kebenaran dan telah hilang kebatilan.”

Pada saat ini ada orang-orang yang mengkampanyekan orientasi politiknya dengan alasan lawan politiknya itu adalah orang-orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Dengan alasan itu, ia berupaya menyadarkan orang lain agar mempunyai orientasi politik yang sama. Ada orang yang mengkampanyekan Jokowi sebagai orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Ada pula orang yang kampanyekan Anies Baswedan sebagau orang yang berbahaya, licik, korup, dan bodoh. Dengan begitu orang-orang mengkampanyekan untuk membenci Jokowi atau Anies Baswedan. Adakah yang banyakan Ganjar pranowo sebagai orang yang licik korup dan bodoh? Tentu saja ada yaitu lawan politiknya. Jika Ganjar pranowo berasal dari PDIP, mungkin lawan politiknya seperti PKS akan menjelek-jelekkan GP. Salah satu keburukan dari partai adalah hanya orang-orang yang punya uang saja yang bisa tampil di panggung politik. Tetapi salah satu kebaikan demokrasi adalah hanya orang-orang yang baik saja yang berpotensi dipilih oleh masyarakat. Masyarakat menghendaki orang baik yang menjadi pemimpin mereka. Jika tidak, maka masyarakat akan punya pemimpin di hati mereka sendiri atau punya hakim untuk komunitas mereka sendiri.

Pada saat ini ada masyarakat yang tidak ingin diperintah oleh pemerintahan Jokowi. Ada guru yang menolak perubahan kurikulum dengan alasan dirinya (meerasa) lebih pandai daripada pemerintah. Video guru saat penataran kurikulum tersebar. Guru itu sepertinya berhadapan langsung dengan Menteri Nadiem Makarim dan pejabat sertifikasi lain. Dia mengatakan (sesuatu, dana) jangan diganggu, kementerian bisa memberi tetapi jangan paksa guru harus ini atau itu; jika tidak, ia mengusulkan pembubaran kementerian pendidikan, dan menawarkan (mengajari) pendidikan kepada Menteri. Katanya guru tak mau menjadi alat negara. Guru maunya menjadi pembangun peradaban.

Dalam video itu terbukti bahwa di Indonesia bahkan seseorang guru bisa melawan kebijakan menteri, mendebat kebijakan menteri, tidak setuju dengan kebijakan menteri, memgancam membubarkan kementerian. Bahkan hal itu disampaikan di muka umum dengan situasi tertawaan, candaan, dan gurauan. Terimakasih kita hidup di Indonesia yang yang ucapan seperti itu masih bisa ditoleransi seandainya kita hidup di Thailand atau Arab Saudi, mungkin raja sudah murka dan memerintahkan untuk menangkap kita. Pada masa Pak Harto pun seperti itu. Kita tidak bisa bicara seenaknya di depan pejabat.

Orang yang senang dipimpin oleh Jokowi akan menerima keputusan keputusan politik dan kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi. Dia akan menerima Jokowi sampai kebijakan itu merugikannya atau kebijakan itu ditolaknya. Dia akan berbalik dan akan mulai melawan kebijakan pemerintah Jokowi.

Sucpdi Peminta-Minta

#sucpdi

Ada dua orang peminta-minta berjalan berkeliling. Pemandangan yang tidak asing dilihat mata di perkotaan. Kita tidak kenal siapa dia, dari mana. Mereka berdua sepertinya suami istri atau bersaudara. Yang lelaki matanya terpejam digandeng oleh yang perempuan. Mereka lewat di depanku di warung sate, persis saat saya mau makan. Saat ini sekitar pukul 17.

Aku memberi mereka recehan 2000 perak. Jelas tidak cukup untuk apapun. Untuk makan tidal cukup. Untuk ongkos tidak cukup. Hanya sekedar menyumbang receh. Tetapi begitulah peminta-minta di sini, cuma dapat recehan. Sama seperti pengamen dapat recehan. Namun konon baik pengamen maupun peminta-minta bisa mengumpulkan puluhan ribu tiap harinya. Mungkin melebihi penghasilan yang bekerja. Kuli bangunan sekurangnya dapat 100 ribu usai kerja dari pagi sampai sore. Seniman hajat dapat 100 ribu setelah kerja bermusik seharian. Warung bala-bala atau tahu isi jika dapat keuntungan bruto 50–100 ribu sehari saja sudah pantas bersyukur. Warung bakso yang semangkoknya 10 ribu pantas bersyukur bila ada 50 pelanggan setiap harinya. Keberkahan memenuhi keluarga saat roda ekonomi berputar.

Tulisan ini akan difokuskan pada recehan. Recehan yang kuberikan itu sebenarnya tidak pantas. Tidak cukup untuk apapun. Semestinya kita tanyakan apa yang dia butuhkan. Kalau dia butuh makan, kita beri dia makan. Kalau dia butuh ongkos, kita beri dia ongkos. Kalau dia perlu pekerjaan, mungkin kita bisa memberi dia pekerjaan, misalnya memelihara domba atau sapi. Pekerjaan apapun bisa diberikan asal upahnya pantas. Upah pekerjaan tidak sesedikit upah pengamis. Jika pengemis lapar, memberinya makan di warteg adalah suatu kemewahan atau suatu yang biasa? Apakah dikatakan sedikit memberi sedekah makan nasi warteg yang harga seporsinya 15 ribu? Apakah sedikit memberi upah gratis 15 ribu? Tidak.

Level prminta-minta adalah 1000–2000 rupiah per sekali transaksi. Sepuluh kali transaksi ia sudah bisa pulang. Kadang-kadang orang tidak mau sedekah di pagi hari dengan alasan barang dagangan belum laku dan si pedagang belum punya laba. Sedekah di sore hari pun acap kali tidak diberikan karena si peminta-minta dianggap sudah cukup banyak memperoleh uang. Sayangnya ada anak-anak peminta-minta yang tak tahu makna uang yang sebenarnya. Lebih parah lagi sejumlah anak dieksploitasi orang tua untuk kepentingan orang tua. Bahkan orang tua dan anak-anaknya meminta-minta dengan daerah operasi yang berbeda.

Level pedagang harian adalah yang pendapatannya 20, 50, 100 ribu per hari. Pedagang ini seperti pedagang tahu isi, pedagang bakso.

Level pedagang musiman dan pencitraan adalah pedagang besar, grosiran, kontraktor atau proyekan. Ketika panen, uang terkumpul banyak dari pembeli (bandar). Dia pun bisa memperoleh laba sampingan lainnya. Panen kambing, sapi, atau kerbau bisa terjadi di musim rayagung.

Kejujuran dalam bekerja merupakan salah satu kunci keberhasilan. Allah swt memberkahi seseorang yang pulang ke rumahnya dalam keadaan capek karena mencari nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kerjanya akan memberi nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kejujuran membawa berkah baginya. Seeeorang yang tidak jujur akan kehilangan hartanya di dunia ataupun akhirat. Seseorang bisa kehilangan harta berupa kehilangan mata di akhirat karena tidak jujur pada diri sendiri.

Macetnya ekonomi masyarakat disebabkan investor atau pekerja menipu rekan kerjanya. Seseorang yang kerja di toko menipu pemilik toko. Seseorang pekerja menipu temannya sendiri. Atasan menipu dan menindas bawahan. Atasan tidak kasih sayang terhadap bawahannya. Pegawai ternak menipu investor ternak.

Imam Hasan konon ditugasi oleh ayahnya untuk menjamu orang-orang yang membutuhkan sehingga rumahnya seperti restoran tempat orang lapar makan atau penginapan tempat musafir tinggal.

Seorang tamu Imam Hasan membawa makanan untuk dibawanya pulang. Imam Hasan bertanya, mengapa engkau bawa pulang? Engkau bisa datang lagi esok hari ke sini jika lapar.

Orang ini menjawab bahwa ia ingin memberi seorang tua yang tinggal di pinggir kota. Imam Hasan bertanya cir-cirinya dan orang ini membenarkan. Lalu Imam Hasan menangis dan berkata, “Ketahuilah bahwa orang yang engkau sebutkan tadi adalah ayahku, Ali bin Abi Thalib. Ia berada di pinggir kota dan bekerja keras di kebun untuk membiayai semua makanan yang ada di sini.

Apakah ini cukup pantas untuk cerita #sucpdi atau apakah kita tidak lupa bahagia?