Home » toleransi

Category Archives: toleransi

Islam Bukan Hanya Fikih dan Memaksakan Fikih

Sebenarnya kajian fikih kelompok-kelompok Islam itu sangat bagus selama tidak mengurusi kelompok lain. Kajian fikih bidah itu sangat bagus selama tidak memancing pertengkaran dengan kelompok lain. Kalau sudah bertengkar, babak belurlah umat ini. Musuh yang sebenarnya justru tertawa dengan pertengkaran internal umat Islam. Mereka bahkan mengompori agar pertengkaran jadi lebih berkobar. Seolah-olah diadu domba seperti ISIS pada perang Suriah. Katanya ISIS itu Islam, namun ISIS diperalat (proxy) Israel untuk membunuhi umat Islam di Suriah.

Bangsa lain sudah mendarat di bulan, mendarat planet lain, membuat baterai, membuat sepeda listrik, ponsel, aplikasi baidu, namun bangsa ini dengan dalih memurnikan akidah Islam menyerang kelompok Islam lain, menganggap kelompok lain merusak Islam. Memang memurnikan akidah itu penting, namun merasa maksum hingga menyerang sesama muslim itulah yang jadi bermasalah.

Kelompok semacam NU itu cenderung mengurusi internal umatnya. NU memberikan fatwa larangan (haram) pada MLM sementara ada komunitas Islam lain yang membolehkannya. Alih-alih memaksakan fatwa ini pada kelompok lain, NU melaksanakan kewajiban (larangan) itu secara pribadi. Mereka tidak pantas mengurusi kelompok lain meski berani berbeda pendapat dengan kelompok yang membolehkan MLM. NU melihat bahwa banyak yang ikut MLM bertahun-tahun sampai jual tanah dan rumah, akhirnya malah keluar MLM tanpa beroleh laba perdagangan. Sebut saja MLM yang ada: MLM keperluan sehari-hari (sabun, odol), MLM pulsa, bahkan MLM madu propolis, atau obat-obatan.

Sebaliknya, beberapa kelompok lain justru mengurusi kelompok lain. Asyura mendapat pelarangan. Orang khutbah atau berceramah di mimbar tentang bidah tawasul, khilafiah tahlilan, yasinan, ziarah kubur, qunut, solawatan, marhabanan, 23 rakaat tarawih, zahar niat, zahar zikir, bersyair di corong masjid (marhabanan, ya lal wathan, din as salam, solawat kafi, sabyan), Muludan (Rabiul Awal), Rajaban, Nisfu, Syaban, Asyura (Safar), Rebo Wekasan, Arbain. Orang luar membidahkan NU di depan orang NU. Kelompok ini alih-alih mengatur komunitasnya, mereka menjelek-jelekkan atau memaksa kelompok lain seperti dirinya. Akibatnya muslim bertengkar dengan muslim lain karena yang satu menyerang, yang lain membela diri.

Ada orang yang meminta maaf kepada jamaah kelompok lain dan menyalahkan amalannya, “Maaf, ya, nisfu Syaban itu hadisnya dlaif …, maaf ya, Muludan itu bidah …, maaf ya, mengucapkan selamat natal itu bidah …, tahun baruan itu bidah …, valentinan itu haram …, Asyura dan Arbain itu bukan tradisi milik Syiah saja, ahlul bait Nabi saw itu milik semua muslim.” Jangan sampai seseorang menganggap dirinya sebagai guru bagi lawan bicaranya.

Bahkan tradisi membidahkan ini tiap tahun diselenggarakan. Masuk bulan Muharam, tradisi Asyura diharamkan. Masuk bulan Safar tradisi Rebo Wekasan diharamkan. Masuk bulan Syaban, tradisi Nisfu Syaban diharamkan. Masuk Rajab, tradisi Rajaban diharamkan. Masuk bulan Februari, valentin diharamkan. Masuk bulan Desember, ucapan selamat Natal, tahun baruan, niup terompet diharamkan. Tiap tahun bertengkar tentang pertengkaran yang sama dengan tahun lalu. Kalau tidak ketemu orangnya, mereka menyebarkan isyu bidah di medsos. Capek, deh.

Apakah saat ini ada kelompok Islam yang lebih banyak mengurusi diri sendiri, kelompok sendiri? Adakah kelompok Islam yang mengurusi masalah fikih halal/haram, sunnah/bidah?

Bahkan urusan pilihan demokrasi dan pilihan orientasi politik pun difatwakan. Sekelompok orang mengurusi masalah khilafiah ini. Analogi yang kurang tepat adalah mirip ormas melabel sertifikat halal untuk kulkas atau cat tembok.

Sebenarnya Islam lebih daripada mengurusi fikih meskipun memang fikih itu penting. Urusan penting lain adalah akidah dan akhlak. Di samping itu, jelas fatwa fikih (akidah dan akhlak) itu berbeda-beda. Ada istifta atau meminta fatwa lalu keluar fatwanya. Dulu juga Buya Hamka oleh Pak Harto diminta fatwa mengikuti ritual Natalan atau mengucapkan selamat Natal. Buya Hamka mengeluarkan fatwa haram. Apakah Pak Harto senang mengikuti fatwa Buya Hamka? Buya Hamka akhirnya keluar dari jabatan ketua MUI. Meski begitu kemampuan Buya Hamka tidak hilang. Buya Hamka hanya dipinggirkan saja.

Para muqolid (orang yang bertaklid pada fatwa) harus sadar bahwa fatwa itu hanya untuk mengikat dirinya sendiri. Bukan dipaksakan kepada orang lain. Tak usah repot mengurusi orang lain (kelompok lain) atau memaksa orang lain ikut suatu fatwa. Tak bisa memaksa orang sama dengannya. Bahkan Nabi saw pun yang maksum diprotes sahabatnya. Apakah Nabi saw memaksakan kehendaknya atau memaksakan fatwanya? Mungkinkah sahabat lebih pintar daripada Nabi saw dan pemikiran sahabat akan diterima Tuhan dibanding Nabi saw? Tidak juga.

Apakah ada kelompok yang bahkan tidak membahas akidah kecuali sebagai bagian dari fikih? Apakah ada kelompok orang yang tidak bisa membedakan akidah dan fikih? Apakah ada kelompok orang yang menyatakan bahwa ziarah kubur adalah akidah? Apakah ada yang menyatakan bahwa menangisi wafatnya kerabat, perbedaan qunut, zahar niat, zahar basmalah, menggerakkan telunjuk tasyahud, tahlil, tawasul, mulud, solawat adalah pembahasan akidah? Jangan sampai bingung yang memasukkan fikih ke dalam akidah.

Apakah kelompok tersebut salah mengidentifikasi fikih sebagai akidah? Sesuatu yang sebenarnya fikih digeser (atau tidak sengaja tergeser) ke masalah akidah. Mereka menduga bahwa masalah ziarah adalah masalah akidah. Masalah akidah sebenarnya seperti ideologi. Akidah bermuara pada dua kalimat syahadat. Maka seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat adalah seorang muslim. Adapun pandangan tentang sifat 20 Tuhan itu masalah akidah khas Asyariyah Maturudiyah. Keragaman pandangan tentang kemaksuman Rasulullah itu adalah keragaman akidah dalam Islam. Ada kelompok yang menyatakan (naudzubillah) Nabi saw lupa dalam salatnya, terlambat salat subuh, bermuka masam, salah dalam penyerbukan, tertarik pada istri anak angkatnya. Jadi pengertian maksum berbeda-beda dalam akidah kelompok-kelompok Islam.

Jika dilihat, mazhab akidah dalam Islam pun tidak hanya satu. Ahlusunnah mempunyai sejumlah mazhab akidah seperti Asyariyah, Maturidiyah, Muktazilah, Wahabi, Khawarij, Itsna Asyariyah. Syiah juga punya sejumlah mazhab akidah seperti Itsna Asyariyah, Zaidiah, Ismailiyah.

Memang ada yang memberikan fatwa bahwa jika seorang muslim mengingkari Muhammad saw sebagai nabi, dia keluar dari Islam. Dia melanggar akidah Islam. Tetapi tidak semua dosa besar mengakibatkan seseorang keluar dari Islam. Meninggalkan salat, berzina, mencuri, membunuh meski dosa besar tidak selamanya mengakibatkan pelakunya keluar dari Islam.

Perkara orang ini munafik atau ingkar (kafir) pada masalah akidah, itu adalah masalah lain.

Apakah ada yang murtad namun merahasiakan kemurtadannya kepada muslim lain? Apakah ada yang hendak merongrong Islam dari dalam? Apakah ada yang ingin Islam semau gue? Apakah ada yang merusak Islam? Apakah ada yang mengklaim Islam dari sumber tertentu (jalur sahabat atau ahlul bait Nabi saw) namun kegiatannya bidah dan merusak Islam?

Mungkin ada kelompok yang, alih-alih mengatur jamaahnya untuk mengetatkan fikihnya, mereka juga mengatur jamaah lain dan memaksa jamaah lain seperti fikih dirinya. Contohya masalah tahlil, jumlah rakaat tarawih yang sebenarnya masalah fikih. Tahlilan atau haul diperingati oleh Ahlusunah maupun Syiah. Demikian pula dengan Asyura. Seseorang bisa mendengar ceramah Asyura dari berbagai kelompok muslim: Buya Yahya (Albahjah, Cirebon, https://youtu.be/g57u-VDQiT0, https://youtu.be/g57u-VDQiT0), Habib Riziek Shihab (https://youtu.be/_6mvjEZkltA), Gus Baha (https://youtu.be/Kel88-MLeyw), Gus Muwafiq (https://youtu.be/pfedGlUjOE8), Kyai Said Aqil Siroj (https://youtu.be/bW-S9ch8Slk), Habib Hasan bin Ismail Al Muhdor (https://youtu.be/eAuHN9iILf0), Habib Muhammad bin Alwi (Syiah, https://youtu.be/pFdnNdpDHW0), Habib Musa Kazhim (Syiah, https://youtu.be/a_vWjvEl5OE), Rahmat Baequni (https://youtu.be/MMUW_VGmjJU). Asyura bukan milik Syiah semata. Ahlul bait juga bukan milik Syiah semata. Duka untuk Ahlul Bait Nabi saw tidak hanya dialami Sunni dan Syiah, bahkan semua manusia.

Jangan sampai ada kelompok yang berupaya membubarkan kelompok lain dengan dalih meluruskan akidah. Orang bisa berduka dan tahlilan karena kematian kerabat. Yang menyelenggarakan majlis duka juga tidak terlarang dan tidak mengganggu akidah. Apakah ada kelompok yang bersikeras mengatakan bahwa majlis duka atau tahlilan merusak akidah? Apakah ada kelompok yang cenderung mengatakan tahlilan, solawatan, muludan, tawasulan, qunut, ziarah sebagai ritual yang merusak akidah? NU mempunyai tradisi yang kuat. Kelompok lain malah menyerang NU sebagai perusak akidah, di luar Islam atau kutub terjauh dari Islam. Padahal khilafiah punya keterbatasan ketika kelompok ini tidak mengklaim maksum atau semaksum Imam Mahdi.

Mungkin kelompok ini keliru dalam memahami perbedaan fikih (yang mereka sebut akidah). Syiah mrmiliki banyak kesamaan dengan NU.

Dikatakan bahwa manusia itu musuh kebodohannya. Dia benci dengan kebodohannya. Dia membenci kebodohannya. Namun jangan sampai karena bloon (atau dungu menurut terminologi Rocky Gerung), ia menyerang atau membungkam kelompok lain agar tumpas lalu dirinya jadi terlihat pandai.

Jika suatu person mengklaim maksum, patutkah ia memaksakan fatwanya kepada kelompok lain? Padahal Nabi saw yang maksum pun tidak memaksakan kepada sahabat-sahabat terdekatnya. Tadi juga ada gambaran riwayat protes sahabat kepada Nabi saw. Berarti protes kepada kelompok yang suka membidahkan juga diperbolehkan.

Ini Covid, Coffeed, Kopit, atau Hoaks?

Ada cerita teman yang terkena stroke ringan dia diduga oleh dokter terkena covid. Karena itu dia diisolasi selama 4 hari. Ternyata pada hari pertama dia negatif, hari kedua dia negatif, hari ketiga dia negatif. Akhirnya di hari ke-4 ketika dia dinyatakan negatif, dia disuruh pulang. Untuk biaya dugaan covid itu ia harus membayar kurang lebih 24 juta sebagai biaya perawatan. Rumah sakit mengatakan bahwa dia boleh gratis asal mau menandatangani pernyataan bahwa dia mendapatkan perawatan covid. Dokter dengan kehati-hatiannya seperti begitu mudahnya seolah-olah pasien diduga coffid. Diberi tes rapid, diberi tes swab, diberi tes ini dan itu. Tentu saja pasien tidak berdaya, tidak bisa berargumen, dan pasrah dengan analisis dokter. Meski pasien tahu bahwa analisis dokter bisa salah, pasien tak bisa beradu argumen dengan dokter. Pasien berharap bahwa dokter tidak bermain-main dengan kesehatannya hanya demi mengejar setoran penanganan coffid. Pasien tidak berharap jadi kelinci percobaan dan rumah sakit mengumpulkan hipotesis dari dia dengam tindakan yang tidak diketahui pasien. Hanya dokter, menteri dan institusi kedokteran yang bisa berbicara tentang masalah ini, misalnya Ibu Siti Fadilah Supari atau Bapak Terawan. Saya tidak.

Ada lagi kasus lain orang tua yang berpindah dari suatu kota metropolotan ternyata ketika dia sakit dan masuk rumah sakit, dia serta merta divonis juga coffeed lalu meninggal dan mendapat penanganan covit. Tentu saja kasus coffeed akan meledak lalu karena ada kasus meninggal dan sebelumnya diduga kovit. Akhirnya keluarganya diisolasi. Insitusi tempat kerja keluarganya juga diisolasi, ditutup, dan disemprot disinfektan dan mendapat bagian dari proyek pemerintah terkait covid. Pemerintah Indonesia menggelontorkan dana begitu banyak untuk penanganan covid. Oleh jajaran pemerintah bawahannya anggaran itu jangan sampai dihambur-hamburkan, dibagikan di antara orang-orang, dipekerjakan, dibelanjakan, bahkan untuk kasus dugaan semata, dengan dalih kehati-hatian.

Mungkin ini mirip dengan kasus Israel yang atas dasar dugaan dan narasumber yang tidak jelas dia bisa menyerang orang-orang Palestina. Berdasarkan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya dia juga memberikan dugaan-dugaan itu memberikan simpulan-simpulan, memberikan berita-berita dugaan.

Bahkan kasus seperti itu juga terjadi ketika Tempo mengangkat suatu berita yang diulas oleh Doktor Ade Armando, dosen Universitas Indonesia, di saluran youtube Cokro TV-nya. Ade Armando mempertanyakan kredibilitas Tempo ketika mengangkat berita berdasarkan dugaan dan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya. Sumber: https://youtu.be/BDeLfFtOFwo

Sesndainya benar, ini jelas berita yang tidak kredibel terkait dengan coffeed. Karena ada kasus meninggal diduga kopid. Orang-orang jadi panik dan saling mengisolasi diri bahkan berhenti dari pekerjaannya. Sekolah tutup dan kantor pemerintah pelayanan publik tutup menyebabkan konsumennya hilang. Jika orang tahu bahwa tetangganya di rumah sakit ditangani covid, dia sama sekali tidak akan mau untuk berhubungan dengannya. Dia akan menjaga jarak dengan tetangganya, bahkan tidak mau menyapa.

Mungkinkah ini yang menyebabkan angka statistik pasien coffeed dan kasus meninggal karena kopid meningkat tajam di Indonesia. Orang yang tidak sakit coffee kirimkan ke pelayanan kopit atau didiagnosis sebagai pasien coffid.

Memang dunia ini sangat aneh. Ketika negara lain melakukan lockdown, sebagian orang mendorong pemerintah Indonesia untuk lockdown. Padahal lockdown beresiko sangat besar. Pemerintah harus membiayai semua anggota masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan makan dan belanja sehari-hari. Dengan adanya PSBB juga pemerintah memberikan subsidi ke semua sektor yang dibutuhkan. Bahkan masyarakat yang tidak mampu pun diberi bantuan uang secara langsung.

Kini gara-gara Indonesia menolak menjatuhkan sanksi kepada Iran, ada berita bahwa sejunlah negara menolak kunjungan dari Indonesia. Ini jelas cuma menakut-nakuti karena memang penerbangan ke berbagai negara dari banyak negara memang ditutup.

Indonesia menunjukkan ketidaktakutannya dengan membuang penggunaan dolar untuk berbisnis dengan berbagai negara, misalnya Cina, Iran, Rusia, Venezuela, Eropa. Ini akan membuat inflasi pada mata uang AS dan penguatan pada mata uang negeri lain termasuk Indonesia. Indonesia tidak terlalu butuh dolar. Kita bertransaksi dengan rupiah yang harga kursnya hampir sama dengan Iran.

Orang boleh berbeda pendapat atau opini. Orang boleh berbeda orirntasi politik. Orang boleh berbeda mazhab atau berpindah mazhab. Yang tidak boleh adalah hoaks. Tidak boleh hoaks. Termasuk tentang covid.

Facebook Ingin Profil Asli

Tulisan ini merupakan titipan dari teman saya. Saya membantunya memuat tulisan ini karena saya memahaminya

Teman saya memasang foto profil Jenderal Iran, Qosim Sulaimani di FB. Dia juga menuliskan bio yang tidak akurat tentang dirinya misalnya dia beralamat di Jakarta, bekerja Cirebon, berorientasi politik Hamas, bermazhab Ahlusunah, dan pendukung Iran.

Baru-baru ini FB-nya diban oleh FB dengan notifikasi bahwa dia melanggar panduan komunitas (community guidelines). Dia lalu diminta FB memasukkan nomor hp, memfoto kartu identitas (KTP, SIM, atau semacamnya), dan entah tuntutan lainnya. Teman saya ini sempat memasukkan nomor hp. Ketika diminta KTP, dia memberikan foto KTP di bawah cahaya yang sangat minim, dengan menutupi tulisan identitasnya. Namun robot server FB menolak KTP-nya dan teman saya memutuskan untuk BERHENTI MEMGGUNAKAN FB.

Pakar komputer Onno W. Purbo mengatakan bahwa peretasan dimulai dari pengumpulan info (social enggineering) dari identitas korban dari FB. Identitas itu berupa alamat, tempat sekolah, teman dekat, keluarga, dan sebagainya. Onno di saluran video youtubenya yaitu Onno Center, menanyakan kepada hadirin, jika ada seorang asing meminta lihat KTP, akankah orang memberikannya? Tidak. Tentu tidak. Sama sekali tidak. Mun ceuk si Cepot mah, “Euweuh, Doyot …!” Anehnya, banyak orang justru di FB membuka identitasnya. Lalu setiap orang bisa melihatnya: foto-foto, alamat, tanggal lahir (umur), sekolah, kelulusan, kesenangan, tempat kerja, teman dekat, hubungan keluarga, dan sebagainya. Onno seolah berkata, hanya orang bloon yang membuka identitasnya di FB padahal dia menolak memperlihatkan KTP-nya kepada orang lain.

FB juga sarana perjuangan. Mungkin berjuang membela pimpinan politik, membela orientasi politik, melawan kelaliman AS dan Israel, menyebarkan berita benar, dan meluruskan hoaks. Namun apakah FB membolehkan setiap perjuangan? Fakta tadi dan berikut ini merupakan bukti negasinya.

Jenderal Qosim Sulaimani dibunuh AS. Presiden Trump menampilkan euforianya saat pembunuhan itu terjadi. Ia mengibarkan bendera AS saat terbunuhnya Sang Jenderal Iran itu. Ia juga menuliskan pernyataan kemenangannya, kesenangannya, pertanggungjawabannya, atau dukungannya atas penbunuhan itu. Beberapa hari kemudian, Iran pun lalu membalas syahadah Qosim dengan menghujani pangkalan AS dengan roket. Sebuah tantangan perang terbuka yang tidak dilayani oleh AS. Jadi jangan takut kepada AS. Berlindunglah di bawah payung Iran karena AS takut dengan Iran. Apalagi Iran seolah mengklaim mendapatkan pertolongan dari Imam Zaman yaitu Imam Mahdi dan Imam Husain bin Ali. Kekuatan spiritual yang tidak bisa diremehkan.

Mungkin karena itulah FB teman saya diban. Lalu jika ada yang memberi identitas asli di FB, dia benar-benar mengabaikan peringatan dari Onno W. Purbo. Tetaplah berjuang. Gunakan identitas palsu di media sosial. Lawanlah kezaliman AS dan Israel.

Ingat juga ketika identitas youtuber Denny Siregar dibuka di internet. Orang asing bisa mengancamnya. Jika lawan menutup identitasnya, akankah kita menyodorkan identitas kita secara gratis? Kawan dan lawan selayaknya menutup identitasnya. Konon Imam Mahdi juga bukan tidak ada di dunia ini melainkan disamarkan identitasnya. Nabi Musa juga disamarkan identitasnya sehingga beliau as bisa hidup di istana Firaun. Nabi Yusuf juga disamarkan dari identitasnya untuk menjaga keamanannya dan keberlangsungan dakwahnya di Kerajaan Mesir.

Pantas saja dalam sejarah pendukung Imam Zaman ketika berhadapan dengan musuhnya akan saling berkenalan dulu. Mereka saling menyebutkan nama dan identitas masing-masing. Dengan begitu dia bisa mengkonfirmasi kematian musuhnya kepada keluarga musuhnya atau kepada kesatuannya. Korban bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang besar di pihaknya masing-masing. Pantas saja prajurit AS dipasangi kalung identitas agar dia tidak mati konyol yang tidak diketahui identitasnya.

Sajak Terima Kasih Pahlawanku

Terima Kasih Pahlawanku

Wahai pahlawanku
Hari ini kami menikmati
Tenaga, harta, dan jiwamu
Dalam mencapai kemerdekaan
Kini tugasku adalah
Mengisi kemerdekaan
Dengan belajar, berbakti, dan berbuat baik
Terima kasih, pahlawanku

Indonesia, 17 Agustus 2020

Tikus dan Korupsi

Benarkah alam, bumi, langit, dan seisinya diberikan Tuhan bagi manusia?

Bukankah alam ini diberikan bagi tikus yang setiap hari mencuri persediaan makanan manusia padahal manusia bekerja keras mengumpulkannya untuk persediaan berhari-hari atau berbulan-bulan. Manusia bekerja di ladang gandum, sawah, menggembala domba dan sapi, beternak ayam dan ikan sebagai tabungan simpanan bahan makanan.

Tikus-tikus itu dengan seenaknya bersembunyi di lubang, lorong, tempat-tempat gelap dan sepi. Lalu saat malam, hewan nocturno itu beroperasi mengambili milik makhluk lain, yaitu milik manusia. Mengapa tikus ini tidak mencari makan tempat lain atau mencari makanan di hutan yang tak berpemilik? Mengapa tikus tidak mempunyai konsep kepemilikan sehingga dia bebas saja mengambil milik manusia?

Padahal manusia ini adalah tuannya. Seluruh alam diminta bersujud kepada Adam, kakek umat manusia. Semua makhluk, binatang, tumbuhan, lumpur, bebatuan, termasuk jin dan malaikat diperintah bersujud kepada manusia. Meski ada sekelompok jin yang bernama iblis tidak mau taat kepada perintah Allah swt, tikus ‘kan bukan jin. Mengapa tikus menyusahkan manusia dengan mencuri milik manusia? Tidak hanya itu mereka juga mengobrak-abrik dapur dan membuat kotor dapur.

Raja-raja adalah representasi dari Nabi Adam dan para utusan Tuhan setelahnya. Makhluk lain harus taat kepada Nabi Adam secara mutlak. Karena itu Nabi Adam harus maksum. Jika tidak, perintah dan larangannya bisa saja salah. Jika tidak maksum, mungkin saja hukum yang dibuatnya salah. Mungkin Imam Mahdi di akhir zaman juga harus maksum. Jika tidak, ia bisa seperti Jokowi, Ahok, Ganjar Pranowo, Doni Ahmad Munir, atau Tri Rismaharani.

Mungkin sebaiknya tikus ditembak saja dengan senapan angin. Mungkin karena itulah ular, elang, dan burung hantu diciptakan, di antaranya untuk memakan tikus. Tetapi ular juga membahayakan manusia. Jika ular masuk ke rumah, dia bisa menggigit dan mrmbahayakan manusia.

Mungkin sebagian manusia tidak berakal seperti tikus. Mereka tidak punya aturan kepemilikan. Mereka juga tidak menghormati penghulu manusia yaitu Adam as. Padahal binatang lain bersujud kepada Adam as. Adam as dan manusia beradab menghormati hak milik. Tentu manusia seperti Adam as juga rela berbagi, memberi, dan berderma jika orang lain kelaparan atau dalam kebutuhan. Tetapi pencurian dan korupsi sama sekali tidak bisa diterima.

Korupsi juga dilakukan. Bahkan korupsi dilakukan tidak untuk kebutuhan makan hari itu saja. Korupsi milyaran akan membuat dia bisa hidup tujuh turunan tanpa harus bekerja lagi. Mereka bisa memguasai berbagai sumber hajat hidup masyarakat dan memperkaya dirinya dan kroninya. Karena itu, hukuman cambuk atau perbudakan bagi para pencuri cukup pantas untuk diterapkan. Hukuman perbudakan seperti itu dilakukan Nabi Yusuf terhadap Bunyamin saat skenario Bunyamin mencuri piala raja. Saudara Bunyamin berkata bahwa Bunyamin mencuri seperti Yusuf mencuri. Skenario Yusuf mencuri pun sebenarnya adalah makar saja. Hukum cambuk juga diterapkan nabi bagi para pencuri. Hukum potong tangan? Entahlah.

Kapankah Imam Mahdi min aali Muhammad saw akan muncul sehingga keadilan akan ditegakkan dan disebarkan di dunia ini? Mungkin saja Imam Mahdi sebenarnya sudah ada. Tugas manusia adalah menyambung lidah dan tangan beliau.

Tuhan memberi rezeki kepada semua makhluk di di dunia, tanpa kecuali manusia. Tikus diberi wahyu untuk memperoleh rezekinya di manapun. Tidak hanya tikus, manusia pun melihat ayam rebutan rezeki dengan sesamanya, bahkan sesama keluarganya. Sesuatu yang memalukan bila dilakukan manusia. Akan memalukan bila manusia rebutan rezeki, bahkan sampai menempuh cara yang tidak halal. Manusia bisa berbagi dan menerima aturan yang adil. Manusia juga belajar keadilan dari Tuhannya. Keadilan Tuhan direpresentasikan melalui utusan-Nya. Tanpa ada utusan Tuhan, manusia kadang-kadang bingung mencari rida Tuhannya.

Manusia adalah khalifah Tuhan di dunia. Ketika semua makhluk sujud kepada Adam as, bahkan manusia lain pun harus sujud kepada Adam as. Tanpa petunjuk Adam as, manusia kesulitan mencapai rida Tuhannya. Ini pula hujah bahwa Imam Mahdi harus maksum. Namun, bisa saja ada muslim yang meyakini bahwa yang maksum hanya Nabi Muhammad saw dan para nabi lain. Aali Muhammad atau keluarga Muhammad (Imam Mahdi) mungkin tidak maksum. Menurut riwayat Imam Mahdi bisa menghidupkan orang mati, memiliki tongkat Musa, mengalahkan Dajjal, pasukannya menyeberangi lautan, memanggil garuda untuk bersyahadat, dan memiliki mukjizat lainnya. Riwayat itu bisa dibaca melalui hadis-hadis. Muslimin bisa bertanya kepada ulama tentang hal ini. Mungkinkah Imam Mahdi semacam ini yang diamanatkan Rasululllah agar ditaati manusia tidak maksum.

Untuk menghindari bahaya tikus di dapur, memang manusia harus membuat lemari yang tidak bisa dijangkau, dirusak, atau dimasuki tikus. Itulah keadilan alam. Manusia tidak perlu meminta tikus tidak mencuri makanannya. Manusialah yang harus membuat lemari yang tidak bisa dibongkar tikus.

Orang-orang mesti melempar sisa makanan ke kebun belakang rumah untuk dimakan ayam, tikus, dan binatang lain. Inilah keadilan alam.

Ya sahibuz zaman, adrikni. Ya wajihan indallah isyfa lana indallah.