Home » toleransi

Category Archives: toleransi

Sajak Toleran #1

Toleran

Mereka bicara buruk tentang Nabi
dan aku hanya bisa menagis
Mereka bicara kafir orang tua nabi
dan aku harus toleran kepadanya
Mereka berkata Abdul Muthalib dan Abu Thalib
kafir pada masanya
apakah mereka ingin menjelekkan
atau memuliakan nenek moyang
pengasuh dan pelindung Nabi?
(biarlah kebenaran tersingkap
di akhir zaman)
Mereka bicara bahwa Nabi lupa dalam salatnya
dan aku harus menerima mazhab seperti ini?
Mereka bicara Nabi tak tahu penyerbukan kurma
apakah mereka menggunakan akal
untuk belajar keutamaan Nabi?
Mereka mengatakan Nabi saw bermuka masam
kepada orang buta
yang ingin belajar agama
mungkinkan mereka punya
konsep kemaksuman yang berbeda?
Mereka mengatakan Nabi lupa rakaat salatnya
itukah kemaksuman yang mereka yakini?
Mereka mengatakan Nabi pernah kesiangan salat subuh
dan aku hanya bisa protes kritis di dalam hati
Mereka menyampaikan sumbang saran sahabat
dalam cara dan lafaz azan
akankah aku dipaksa percaya hadis seperti ini?
Mereka berkata Nabi maksum
meski sekali-sekali salah
mereka katakan itulah contoh bashar yang wajar
bagi seorang nabi

Mereka berkata
bahwa Allah mempunyai wajah,
tangan, dan turun dari arasy
alih-alih simbol kekuasaan dan kebesaran-Nya
bolehkah aku menghargai
perbedaan akidah seperti ini?
Mereka mengatakan
Nabi tertarik kepada istri anak angkatnya,
bukankah kehinaan orientalis
yang berpikir seperti ini?
Mereka berkata Nabi tersihir,
mengigau tentang kertas dan pena
menjelang akhir hayatnya
bukankah itu penyimpangan akidah muslim yang sebenarnya?

Apakah aku dipaksa ikut hadis akidah seperti ini?
Aku lupa tak boleh marah
dan harus menahan diri
Apakah penghinaan seperti ini
harus dilaporkan kepada polisi?
Apakah mereka berharap syafaat Nabinya
dengan keyakinan seperti ini?

Begitu berbeda pengetahuan kelompok-kelompok muslim
Begitu berbeda rujukan-rujukan mereka
Bolehkah aku percaya rujukan yang dirasa paling utama
tentang kemaksuman,
tentang siapa yang bermuka masam,
tentang sikap sidik, amanah, tablig, fatonah,
kesempunaan manusia,
dan sikap adil?

Siapakah yang berakal?
Siapakah yang membenci?
Siapakah yang belajar?
Siapakah yang benar?

Siapakah yang marah?
Siapakah yang salah?
Siapakah yang sedih?
Siapakah yang toleran
Siapakah yang berserah?

Sajak Kebenaran Matamu

Kebenaran Matamu

1
Syiah harus mengakui
potensi kebenaran
konsep Sunni.

Sunni harus mengakui
potensi kebenaran
konsep Syiah.

Islam harus mengakui
potensi kebenaran
konsep agama lain.

Agama lain harus mengakui
potensi kebenaran
konsep Islam.

2
Ada sebagian Sunni
yang berbuat baik dan benar,
tetapi ada juga
sebagian Sunni
yang berbuat buruk dan salah.

Ada sebagian Syiah
yang berbuat baik dan benar,
tetapi ada juga
sebagian Syiah
yang berbuat buruk dan salah.

Ada sebagian muslim
yang berbuat baik dan benar,
tetapi ada juga
sebagian muslim
yang berbuat buruk dan salah.

Ada sebagian nonmuslim
yang berbuat baik dan benar,
tetapi ada juga
sebagian nonmuslim
yang berbuat buruk dan salah.

3
Ada sebagian Sunni
yang bermanfaat bagi orang lain
dan mencegah terjadinya mudarat,
tetapi ada juga sebagian Sunni
yang berbuat mudarat
dan jarang memberi manfaat

Ada sebagian Syiah
yang bermanfaat bagi orang lain
dan mencegah terjadinya mudarat,
tetapi ada juga sebagian Syiah
yang berbuat mudarat
dan jarang memberi manfaat.

Ada sebagian muslim
yang bermanfaat bagi orang lain
dan mencegah terjadinya mudarat,
tetapi ada juga sebagian muslim
yang berbuat mudarat
dan jarang memberi manfaat

Ada sebagian nonmuslim
yang bermanfaat bagi orang lain
dan mencegah terjadinya mudarat,
tetapi ada juga sebagian nonmuslim
yang berbuat mudarat
dan jarang memberi manfaat

4
Sunni mungkin punya
konsep agama yang benar
Namun sebagian penganutnya
bisa melanggar
konsep agama itu

Syiah mungkin punya
konsep agama yang benar
Namun sebagian penganutnya
bisa melanggar
konsep agama itu

Islam mungkin punya
konsep agama yang benar
Namun sebagian penganutnya
bisa melanggar
konsep agama itu

Ajaran di luar Islam
mungkin punya
konsep agama yang benar
Namun sebagian penganutnya
bisa melanggar
konsep agama itu

5
Pemuka agama
mungkin punya
konsep agama yang benar

Namun bisa terjadi
pemuka agama
punya konsep agama yang salah
karena orientasi orientalisnya
atau karena ketidaktahuannya

6
Yang paling bagus adalah
orang memahami konsep agamanya
dan bertindak berdasarkan
konsep agamanya itu
dan berusaha
tidak merugikan orang lain

7
Perdebatan kebenaran agama
Telah terjadi sejak zaman Firaun
menghadapi kebenaran Nabi Yusuf dan Musa
dan orang maksum
menjamin kebenaran agamanya

8
Sekarang ini
manusia seolah
mengklaim maksum
meski tidak percaya kemaksuman Imam Mahdi
lalu memerangi orang-orang
yang berbeda dengannya
atas nama agama, keridaan Tuhan,
dan imbalan surga

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Naskah Monolog: Nisa dan Jaka Pitrah

Katakanlah namanya Nisa atau Anis. Dia pernah mengganti nama. Nama pertamanya Anis. Dia tinggal di daerah ini. Daerah yang indah permai namun bukan tak ada kekurangannya. Ketika masih seumuran SD, ibunya pernah menamparnya. Sebenarnya bisa dibilang bukan menampar melainkan mendorong. Akibatnya ia sedikit terhuyung menahan jatuh dari keseimbangan. Untung saja ia punya suami yang juga gagah seperti Bejita (ini tokoh di anime atau manga Dragon Ball). Katakanlah namanya Jaka Pitrah. Jika istri tidak nurut, menantang, atau melawan, Bejita ini bisa saja menamparnya, meneriakinya, atau memperlakukannya dengan sangat keras.

Berteriak-tetiak juga di dalam keluarga merupakan peristiwa aneh. Sebenarnya berteriak umtuk menuntut sesuatu bukanlah tradisi budaya rakyat sini. Rakyat sini cenderung memahami isyarat. Orang berakal juga pandai memahami isyarat. Jadi keinginan tidak perlu diteriakkan. Apakah di parlemen juga seseorang harus mengemukakan gagasannya dengan berteriak? Tidak juga, lobi disertai kopi dan apel malang atau apel washington mumgkin lebih berhasil daripada teriakan. Eh, apakah apel malang itu kode untuk suapan uang rupiah? Apakah apel washington itu uang dolar? Itu terjadi di era Presiden SBY pada peesidangan Angelina Sendal dan Anas Urbaningrum.

Masalah keluarga bisa terjadi dari hal tak sengaja hingga yang disengaja. Seseorang suami, istrii atau anak bisa memecahkan piring, membiarkan sampah berserakan, membiarkan cucian piring dan baju tidak dicuci, tidak masak, masakan terlalu asin atau pedas, membiarkan debu di lantai dan perabotan, menentukan bentuk bangunan rumah, kekurangan materi, menentukan prioritas belanja, … dan sebagainya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi politik yang berbeda dengan istrinya. Seorang suami bisa saja mempunyai orientasi agama atau mazhab yang berbeda dengan istrinya. Mungkin saja harus ada yang dikorbankan seperti ego pribadi. Namun, keputusan harus menjadi maslahat bagi semua pihak bahkan maslahat bagi anggota masyarat.

Mungkin khas setiap istri menguji suaminya dengan kesabaran. Suami dituntut sabar atau dites perihal yang bisa membuatnya marah. Istri juga harus siap respon suaminya sekasar apa: lembut, lembek, melempem, membentak, atau menampar.

Untungnya ada juga suku terbesar pada bangsa ini yang ibu dan ayahnya mendidik anaknya dengan kelembutan. Ketegasan beda dengan keras kepala. Ketegasan pada kebenaran, kebaikan, manfaat. Yang benar belum tentu baik. Yang baik belum tentu bermanfaat. Agama ini adalah benar, namun tidak selamanya seseorang harus berdakwah di sembarang waktu dan tempat. Tidak selamanya seseorang harus berdakwah kepada orang tua atau pejabat. Tidak selamanya yang benar itu bermanfaat. Orang lain mungkin bisa menolak dakwah seperti itu.

Bahkan orang di luar barat juga mengenal kelembutan perempuan wanita timur seperti ini. Ada isu, senakal-nakalnya manusia sini akan lebih baik daripada orang Arab. Mungkin kenakalan orang Arab hanya bisa disaingi dengan jin.

Lalu yang lebih luhur adalah ajaran agama yang disampaikan para nabi. Perempuan yang dididik seperti ini akan menjadi berkah tersendiri bagi suaminya. Suami tidak direpotkan dengan kebodohan, perlawanan, tuntutan materi, tuntutan kemewahan yang jika tidak dituruti, mereka cemberut, bahkan ada yang menuntut cerai. Sebagian dari perempuan itu menghinakan suaminya dengan kata kata, “miskin, jelek, menyesal memilih kau, suami tak mampu, pemalas, … dan sebagainya.”

Begitu banyak suami yang saat kaya menceraikan istrinya. Begitu banyak istri yang ketika jadi kaya atau dapat rezeki nomplok, jadi selebritis, malah menceraikan suaminya. Salah satu atau kedua pihak tentu adalah sosok matetialis yang menyedihkan.

Mulanya kedua pasang insan ini miskin ketika menikah. Mungkin saja ayah atau mertua mereka kaya. Namun tidak selamanya ayah atau mertua dengan mudah memberi atau mewariskan perusahaan atau pekerjaannya pada anak atau memamtunya. Mungkin hanya antek rezim Orba yang bisa begini. Mereka bisa berbagi tanah, lahan, perusahaan, hutan, gunung, tambang bagi anak, cucu, dan famili mereka. Bahkan sebagian penguasa sekarang di negeri ini juga masih berpikir seperti itu. Jadi pejabat seperti malah ingin dilayani, fasilitas negara digunakan untuk memperkaya diri dan kroni, lalu mereka membayar buzzerp untuk memutarbalikkan fakta.

Buzerp itu karena diberi sedikit uang, mau melakukan tindakan yang merusak bangsa dan negara. Mirip seperti Umar bin Saad dan pasukannya saat mengepung Imam Husain. Kepala Imam Husain ditancapkan di atas tombak, diarak dari kota ke kota. Itu seperti perilaku Muawiyah bin Abu Sufyan saat hampir kalah perang dengan Imam Ali. Mereka menancapkan Quran mati di atas tombak dan menuntut tahkim (hukum) berdasarkan Quran. Mereka tega membunuh Imam Husain, membawa kepalanya kepada Khalifah Yazid bin Muawiyah sebagai barang bukti pekerjaan mereka. Lalu mereka mendapatkan sedikit upah darinya.

Ini Covid, Coffeed, Kopit, atau Hoaks?

Ada cerita teman yang terkena stroke ringan dia diduga oleh dokter terkena covid. Karena itu dia diisolasi selama 4 hari. Ternyata pada hari pertama dia negatif, hari kedua dia negatif, hari ketiga dia negatif. Akhirnya di hari ke-4 ketika dia dinyatakan negatif, dia disuruh pulang. Untuk biaya dugaan covid itu ia harus membayar kurang lebih 24 juta sebagai biaya perawatan. Rumah sakit mengatakan bahwa dia boleh gratis asal mau menandatangani pernyataan bahwa dia mendapatkan perawatan covid. Dokter dengan kehati-hatiannya seperti begitu mudahnya seolah-olah pasien diduga coffid. Diberi tes rapid, diberi tes swab, diberi tes ini dan itu. Tentu saja pasien tidak berdaya, tidak bisa berargumen, dan pasrah dengan analisis dokter. Meski pasien tahu bahwa analisis dokter bisa salah, pasien tak bisa beradu argumen dengan dokter. Pasien berharap bahwa dokter tidak bermain-main dengan kesehatannya hanya demi mengejar setoran penanganan coffid. Pasien tidak berharap jadi kelinci percobaan dan rumah sakit mengumpulkan hipotesis dari dia dengam tindakan yang tidak diketahui pasien. Hanya dokter, menteri dan institusi kedokteran yang bisa berbicara tentang masalah ini, misalnya Ibu Siti Fadilah Supari atau Bapak Terawan. Saya tidak.

Ada lagi kasus lain orang tua yang berpindah dari suatu kota metropolotan ternyata ketika dia sakit dan masuk rumah sakit, dia serta merta divonis juga coffeed lalu meninggal dan mendapat penanganan covit. Tentu saja kasus coffeed akan meledak lalu karena ada kasus meninggal dan sebelumnya diduga kovit. Akhirnya keluarganya diisolasi. Insitusi tempat kerja keluarganya juga diisolasi, ditutup, dan disemprot disinfektan dan mendapat bagian dari proyek pemerintah terkait covid. Pemerintah Indonesia menggelontorkan dana begitu banyak untuk penanganan covid. Oleh jajaran pemerintah bawahannya anggaran itu jangan sampai dihambur-hamburkan, dibagikan di antara orang-orang, dipekerjakan, dibelanjakan, bahkan untuk kasus dugaan semata, dengan dalih kehati-hatian.

Mungkin ini mirip dengan kasus Israel yang atas dasar dugaan dan narasumber yang tidak jelas dia bisa menyerang orang-orang Palestina. Berdasarkan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya dia juga memberikan dugaan-dugaan itu memberikan simpulan-simpulan, memberikan berita-berita dugaan.

Bahkan kasus seperti itu juga terjadi ketika Tempo mengangkat suatu berita yang diulas oleh Doktor Ade Armando, dosen Universitas Indonesia, di saluran youtube Cokro TV-nya. Ade Armando mempertanyakan kredibilitas Tempo ketika mengangkat berita berdasarkan dugaan dan narasumber yang tidak jelas atau tidak mau disebutkan namanya. Sumber: https://youtu.be/BDeLfFtOFwo

Sesndainya benar, ini jelas berita yang tidak kredibel terkait dengan coffeed. Karena ada kasus meninggal diduga kopid. Orang-orang jadi panik dan saling mengisolasi diri bahkan berhenti dari pekerjaannya. Sekolah tutup dan kantor pemerintah pelayanan publik tutup menyebabkan konsumennya hilang. Jika orang tahu bahwa tetangganya di rumah sakit ditangani covid, dia sama sekali tidak akan mau untuk berhubungan dengannya. Dia akan menjaga jarak dengan tetangganya, bahkan tidak mau menyapa.

Mungkinkah ini yang menyebabkan angka statistik pasien coffeed dan kasus meninggal karena kopid meningkat tajam di Indonesia. Orang yang tidak sakit coffee kirimkan ke pelayanan kopit atau didiagnosis sebagai pasien coffid.

Memang dunia ini sangat aneh. Ketika negara lain melakukan lockdown, sebagian orang mendorong pemerintah Indonesia untuk lockdown. Padahal lockdown beresiko sangat besar. Pemerintah harus membiayai semua anggota masyarakat untuk mendapatkan kebutuhan makan dan belanja sehari-hari. Dengan adanya PSBB juga pemerintah memberikan subsidi ke semua sektor yang dibutuhkan. Bahkan masyarakat yang tidak mampu pun diberi bantuan uang secara langsung.

Kini gara-gara Indonesia menolak menjatuhkan sanksi kepada Iran, ada berita bahwa sejunlah negara menolak kunjungan dari Indonesia. Ini jelas cuma menakut-nakuti karena memang penerbangan ke berbagai negara dari banyak negara memang ditutup.

Indonesia menunjukkan ketidaktakutannya dengan membuang penggunaan dolar untuk berbisnis dengan berbagai negara, misalnya Cina, Iran, Rusia, Venezuela, Eropa. Ini akan membuat inflasi pada mata uang AS dan penguatan pada mata uang negeri lain termasuk Indonesia. Indonesia tidak terlalu butuh dolar. Kita bertransaksi dengan rupiah yang harga kursnya hampir sama dengan Iran.

Orang boleh berbeda pendapat atau opini. Orang boleh berbeda orirntasi politik. Orang boleh berbeda mazhab atau berpindah mazhab. Yang tidak boleh adalah hoaks. Tidak boleh hoaks. Termasuk tentang covid.

Facebook Ingin Profil Asli

Tulisan ini merupakan titipan dari teman saya. Saya membantunya memuat tulisan ini karena saya memahaminya

Teman saya memasang foto profil Jenderal Iran, Qosim Sulaimani di FB. Dia juga menuliskan bio yang tidak akurat tentang dirinya misalnya dia beralamat di Jakarta, bekerja Cirebon, berorientasi politik Hamas, bermazhab Ahlusunah, dan pendukung Iran.

Baru-baru ini FB-nya diban oleh FB dengan notifikasi bahwa dia melanggar panduan komunitas (community guidelines). Dia lalu diminta FB memasukkan nomor hp, memfoto kartu identitas (KTP, SIM, atau semacamnya), dan entah tuntutan lainnya. Teman saya ini sempat memasukkan nomor hp. Ketika diminta KTP, dia memberikan foto KTP di bawah cahaya yang sangat minim, dengan menutupi tulisan identitasnya. Namun robot server FB menolak KTP-nya dan teman saya memutuskan untuk BERHENTI MEMGGUNAKAN FB.

Pakar komputer Onno W. Purbo mengatakan bahwa peretasan dimulai dari pengumpulan info (social enggineering) dari identitas korban dari FB. Identitas itu berupa alamat, tempat sekolah, teman dekat, keluarga, dan sebagainya. Onno di saluran video youtubenya yaitu Onno Center, menanyakan kepada hadirin, jika ada seorang asing meminta lihat KTP, akankah orang memberikannya? Tidak. Tentu tidak. Sama sekali tidak. Mun ceuk si Cepot mah, “Euweuh, Doyot …!” Anehnya, banyak orang justru di FB membuka identitasnya. Lalu setiap orang bisa melihatnya: foto-foto, alamat, tanggal lahir (umur), sekolah, kelulusan, kesenangan, tempat kerja, teman dekat, hubungan keluarga, dan sebagainya. Onno seolah berkata, hanya orang bloon yang membuka identitasnya di FB padahal dia menolak memperlihatkan KTP-nya kepada orang lain.

FB juga sarana perjuangan. Mungkin berjuang membela pimpinan politik, membela orientasi politik, melawan kelaliman AS dan Israel, menyebarkan berita benar, dan meluruskan hoaks. Namun apakah FB membolehkan setiap perjuangan? Fakta tadi dan berikut ini merupakan bukti negasinya.

Jenderal Qosim Sulaimani dibunuh AS. Presiden Trump menampilkan euforianya saat pembunuhan itu terjadi. Ia mengibarkan bendera AS saat terbunuhnya Sang Jenderal Iran itu. Ia juga menuliskan pernyataan kemenangannya, kesenangannya, pertanggungjawabannya, atau dukungannya atas penbunuhan itu. Beberapa hari kemudian, Iran pun lalu membalas syahadah Qosim dengan menghujani pangkalan AS dengan roket. Sebuah tantangan perang terbuka yang tidak dilayani oleh AS. Jadi jangan takut kepada AS. Berlindunglah di bawah payung Iran karena AS takut dengan Iran. Apalagi Iran seolah mengklaim mendapatkan pertolongan dari Imam Zaman yaitu Imam Mahdi dan Imam Husain bin Ali. Kekuatan spiritual yang tidak bisa diremehkan.

Mungkin karena itulah FB teman saya diban. Lalu jika ada yang memberi identitas asli di FB, dia benar-benar mengabaikan peringatan dari Onno W. Purbo. Tetaplah berjuang. Gunakan identitas palsu di media sosial. Lawanlah kezaliman AS dan Israel.

Ingat juga ketika identitas youtuber Denny Siregar dibuka di internet. Orang asing bisa mengancamnya. Jika lawan menutup identitasnya, akankah kita menyodorkan identitas kita secara gratis? Kawan dan lawan selayaknya menutup identitasnya. Konon Imam Mahdi juga bukan tidak ada di dunia ini melainkan disamarkan identitasnya. Nabi Musa juga disamarkan identitasnya sehingga beliau as bisa hidup di istana Firaun. Nabi Yusuf juga disamarkan dari identitasnya untuk menjaga keamanannya dan keberlangsungan dakwahnya di Kerajaan Mesir.

Pantas saja dalam sejarah pendukung Imam Zaman ketika berhadapan dengan musuhnya akan saling berkenalan dulu. Mereka saling menyebutkan nama dan identitas masing-masing. Dengan begitu dia bisa mengkonfirmasi kematian musuhnya kepada keluarga musuhnya atau kepada kesatuannya. Korban bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang besar di pihaknya masing-masing. Pantas saja prajurit AS dipasangi kalung identitas agar dia tidak mati konyol yang tidak diketahui identitasnya.